Kitab Langit Sejati (Cermin Langit)

Kitab Langit Sejati (Cermin Langit)
Pada awal terbentuknya peradaban, manusia masih banyak belajar dari alam, mereka sering berperang memperebutkan daerah perburuan dan juga memperluas wilayah sendiri. Waktu itu para dewa masih tidak mau ikut campur dengan kehidupan manusia, suatu ketika Dewa Air dan Dewa Api bertarung tanpa alasan yang jelas selama belasan hari, hasil pertarungan yang akhirnya di menangkan oleh Dewa Api sang jawara cahaya mengalahkan kegelapan, tetapi Dewa Air yang mewakili kegelapan tidak terima kalah begitu saja, dia bunuh diri dengan membenturkan badannya sampai hancur ke gunung Buzhou (penyangga langit dan bumi buatan Pan Gu). Tindakannya ini menimbulkan bencana, pilar-pilar penyangga langit roboh, keempat sudut bumi tertarik secara terpisah, bagian barat laut langit runtuh dan matahari, bulan, dan bintang mulai bergeser ke arah itu. Bagian tenggara bumi tenggelam, lalu air serta debu mulai tertarik ke arah tenggara. Setengah dari langit runtuh, dan lubang hutam muncul di langit. Bumi terbelah, api besar melalap gunung dan lautan, binatang menjadi panik dan menjadi liar menyerang manusia. Mahluk hidup yang tersisa mulai berteriak dan memohon pada ibu mereka, Nu Wa.
Dewi Nu Wa mulai bergerak menuju sungai suci mencari kristal warna-warni lalu mulai mencairkan kristal itu dan digunakan untuk menambal langit dan memadamkan api. Dari semua kristal itu yang tidak dapat dilelehkan dengan tenaga Dewi Nu Wa ada 10 buah yang sangat keras tidak dapat dihancurkan oleh tenaganya, malahan menyerap tenaga Dewi itu, akhirnya diukirlah Kitab Sakti Cermin Langit (Hwen Tian Bao Jien) yang terdiri dari 10 tahap yang sangat digdaya, dan tiap tahap melambangkan kebesaran alam.
Menurut legenda, kung fu Sakti Cermin Langit ini pernah digunakan Kaisar pertama Dinasti Zhou (1100 SM) Qi Hwa, yang bahkan di gabungkan dengan kung fu Enersi Semesta dari Fu Xie yang kemudian disempurnakan dengan pemahaman baru, lalu juga di gunakan oleh Kaisar Qin Shi yang mendirikan Tembok Besar China, kemudian pada masa dinasti Sui dikuasai oleh ketua Perguruan Tao Chao Yang Tze, yang berpura-pura gila padahal berusaha untuk mempertahankan wilayah Kerajaan Sui dari suku liar daerah Barat dan akhirnya di kalahkan oleh Telapak Budha pada akhir Dinasti Sui, kemudian memudarkan nama Kung Fu tanpa Tanding pegangan Putra Langit (kaisar). Pada awal Dinasti Song, kung fu ini kembali muncul di kuasai oleh orang dari barat, Khan dari Turki, yang menjadi tokoh Pesilat nomor satu, tanpa tanding di kolong langit, tetapi juga akhirnya dikalahkan oleh Telapak Budha juga oleh Pendekar Long, setelah mengalahkan Khan Huang Fu Ji ini Pendekar Long memilih meninggalkan dunia persilatan dan hidup tenang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s