Si Tangan Kilat.

Si Tangan Kilat.
Karya : Liang Ie Shen.
Diceritakan Oleh : GAN KOK HWIE (G.K.H).
Penerbit : U.P. RAJAWALI EMAS – JAKARTA.
Terbitan : Tahun 1970-an.
BAGIAN 01 : PARA PENDEKAR DARI KIE-LIAN-SAN.
KATA Nyo su-gi. “Kukira nona Li itu pergi mengantarnya ke Ki-lian-san? “Kukira tidak mungkin.” demikian reka Nyo Wan-ceng.
Menurut gelagat semalam, kulihat dia jatuh hati kepada Geng-toako, memangnya dia sedang jelus terhadapku, mana mungkin dia sudi membiarkan Geng-toako pulang ke Kie-lian-san untuk berkumpul bersamaku? Seumpama Geng-toako ingin pulang, pastilah dia akan berusaha menahannya.” namun kata2 ini tidak enak ia utarakan secara terang2an Selanjutnya Nyo Su-di bertanya pula terhadap mereka : “Bagaimana luka2 Geng kongcu, apakah kalian tahu ?” Nyo Wan-ceng menjawab : “Semalam aku tidak melihatnya, cuma kudengar suaranya agaknya keadaan sudah jauh lebih baik.” In-tiong-yan ikut bicara : “Aku malah berhasil melihatnya, cuma entah ilmu silatnya sudah pulih atau belum, lahirnya kelihatan seperti orang biasa.” “Bagus, asal keadaannya sudah rada baik, boleh lah hatiku lega.” ujar Nyo Su-gi, “Hun-Iihiap, persoalan pang kami, mendapat beberapa kali bantuanmu, sudikah kau berkunjung ke Ki-lian-san untuk bertemu dengan Pangcu kita ?” “Liong-pangcu adalah pahlawan gagah jaman sekarang, sejak lama memang aku ingin menyambangi beliau. Tapi sekarang aku perlu pergi kesuatu tempat, ada urusan penting yang harus kuselesaikan disana, kelak kalau ada kesempatan, pasti aku akan berkunjung ke Ki-lian-san untuk berkenalan dengan Liong pangcu dan para pembantunya.” Kiranya selama In-tiong-yan ada bertemu dengan Geng Tian, dari mulut Geng Tian ia sudah tahu jejak Hek-swanhong.
Waktu itu Wan-yen Hou hendak menerjang masuk kekamar dalam untuk menggeledah, didalam keadaan yang ter-gesa2 Geng Tian hanya sempat mengucapkan beberapa patah kata : “Hek-swan-hong di Tay-toh, dia ingin selekasnya bisa bertemu dengan kau.” In-tiong-yan sendiri tidak tahu, untuk keperluan apa Hek-swan-hong meluruk kekotaraja negeri Kim maka terpaksa ia batalkan niatnya dalam perjalanan mereka ke Ki-lian-san, lantaran dia harus selekas mungkin menyusul ke Tay-toh mencari pujaan hatinya.
Mendengar orang punya urusan penting Nyo Su-gi tidak berani memaksa, terpaksa mereka harus berpisah disitu dan ambil pamit sambil melambaikan tangan.
Setelah Ing-tiong-yan pergi, berkata Nyo Su-gi : “Nona Nyo, kutitip satu persoalan kepada kau !” “Paman terlalu berat kata, ada pesan apa silahkan katakan saja.” “Kuminta kau pulang ke Ki-lian-san untuk memberi laporan, sekaligus kau bisa mencari jejak Geng kongcu.
Pasukan pemerintah sedang menggempur Ki-lian-san, meski tiada Li Hak-siong, yang membantu kita secara diam2, Tapi bila Geng kongcu kepergok oleh, pasukan pemerintah, tentulah kurang leluasa. Apalagi anak buah Wan-yen Hou berada dalam pasukan besar itu. “Lebih banyak orang ikut melindunginya kan lebih baik.” Heran Nyo Wan-ceng, tanyanya : “Apa kau tidak akan kembali ?” “Pantasnya aku harus pulang, dengan adanya kau, kepandaian mu pun lebih tinggi dari aku, kau dapat mewakili aku membereskan persoalan ini. Aku ingin pergi menyelesaikan urusan lain.” “Ah, apakah urusan yang amat penting itu? Boleh tidak beritahu kepadaku ?” “Aku hendak kembali ke Liang-ciu untuk menolong adik angkatku itu.” “Bukankah tadi kau mengatakan cara alap2 sudah menemukan jejakmu, maka kau menyingkir keluar kota, kenapa harus kembali pula untuk menyerempet bahaya ?” Berkerut alis Nyo Su-gi katanya : “Bagi seorang teman saja kita boleh terluka dengan pundak tertusuk pisau, apalagi dia adalah adik angkatku ?” Keadaan memaksa Nyo Wan-ceng untuk bicara terus terang tanyanya : “Apakah adik angkatmu itu bernama Pek Kian-bu ?” “Benar dia adikku kedua. Puluhan hari yang lalu ditengah jalan dia diculik oleh Cian Tiang-jun, Apakah kau sudah tahu kejadian itu ?” “Kejadian itu belum kuketahui, tapi akan tahu persoalan lain.” “Persoalan apa ?” “Pek-jiti mu itu kukira bukan orang baik.” “Dari mana kau bisa tahu ?” “Tahukah kau lantaran apa Ih-pak-siang-hiong dan Siantiong- siang-sat bermusuhan dengan dia ? Ada sedikit pertikaian dengan Ih-pak siang-hiong yang bernama Khong Ceh.” “Pertikaian apa ?” Berkerut alis Nyo Su-gi, persoalan menyangkut urusan pribadi orang, maka tidak enak ia menjelaskan, sahutnya : “Mungkin, hanya persoalan salah paham belaka.” “Aku malah mendapat kabar yang dapat dipercaya, kukira persoalan bukan salah paham melulu.” “Kabar apa ? Dari mana kau dapat ?” hatinya menjadi rada kurang senang.
“Paman Nyo lima puluh tahun yang lalu, kami adalah sekeluarga dengan ayah kau toh teman baik harap maafkan keponakan bicara tidak tahu gelagat. Menurut ‘kabar’ yang kudengar, Pek Kian-bu terpincut akan paras cantik Khong Ling, karena perbuatan nafsu iblisnya tidak terlaksana, maka ia bunuh Khong Ling untuk menutup mulut.” Nyo Su-gi menahan, amarah, katanya : “Kabar angin, mana boleh dipercaya ?” “Kudapat kabar ini dari salah seorang suci Khong Ling.” “Cara bagaimana: dia bisa tahu ?” “Meski dia tidak melihat sendiri dengan matanja sendiri.
tapi dia cukup tahu, mengenai perangai dan watak Sumoaynya. Pepatah ada orang, kalau ingin orang lain tidak tahu kecuali kau tidak berbuat Pek Kian-bu melakukan perbuatan hina dan rendah, tidak mungkin tiada orang tidak tahu. Sekarang Sucinya itu sedang mencari bahan2 bukti, akan datang suatu ketika perkara ini pasti dibikin terang.” “Kalau toh tidak ada bukti yang nyata kenapa kau hanya mendengar tuduhan sepihak saja.” Memangnya apa pula yang dikatakan oleh Pek kian-bu ? “Katanya Keng Ling adalah perempuan cabul, bergaul dengan seorang buaya darat, dia tidak tahu kalau perempuan cantik itu adiknya Khong Ceh, bersama buaya darat itu mereka dia bunuh.” Tak tertahan berkobar amarah Nyo Wan-ceng, katanya: “Khong Ling pasti bukan perempuan rusak seperti yang dikatakan itu. Pek Kian-bu sendiri yang berbuat jahat, masih juga dia merusak nama baik orang, sungguh keji dan jahat.” Tergerak hati Nyo Su-gi katanya tiba2: “Pek Kian-bu baik atau buruk kami kesampiag kan dulu. Dari hou wi samte aku ada mendengat katanya gurumu adalah Bu-limthian- kiau Tam Thayhiap, apa benar ?” Nyo Wan-ceng tidak tahu apa maksud orang mencari tahu asal usul perguruannya, segera ia manggut2 sahutnya ; “Benar…!” “Lalu itu dari mana kau bisa tahu Siang-hiong dan Siangsat datang menuntut balas kepada Pek Kian bu ?” “Bicara terus terang, waktu itu secara diam2 aku menguntit mereka.” Memberi muka Nyo Su-gi, katanya keras : “Jadi, orang yang membokong dengan senjata rahasia kepada Pek Kianbu dibara bobrok itu ternyata……….adalah kau ?” Nyo Wan ceng menyahut tawar: “Tajam benar pandangan paman, benar memang perbuatan keponakan !” “Kenapa kau melakukan itu ? Meskipun kau sangka Pek Kian-bu seorang durjana, adalah pantasti kau menggunakan cara terang2an mengadu kepada aku ! Sebelum salah atau benar dibikin terang, kau lantas menggunakan cara menggelap ini !” “Aku lakukan-karena terpaksa. Paman kuharap kau jangan marah dulu, bagaimana kalau kau dengarkan penjelasanku lebibh lanjut ?” Terpaksa Nyo Su-gi menekan rasa gusarnya, katanya: “Baik, ingin kudengar bagalmana penjelasaamu. Syukur kalau penjelasanmu masuk diakal, kalau tidak, selanjutnya kau tidak usah panggil aku paman lagi.” “Apakah Geng Tian sudah menyerahkan surat rahasia kiriman Wanyen Tiang-ci itu kepada kau ?” “Ooh….. , jadi kaulah yang menyerahkan surat rahasia itu kepada Geng Tian ?” “Toh Hoklah yang berhasil merampasnya dari duta yang dikirim Wanyen Tiang-ci ke Liang-ciu.
Toh Hok menyerahkan kepada aku, aku lalu menyerahkan kepada Geng Tian, Harad tanya, waktu Geng Tian menyerahkan surat rahasia itu, apakah dia pernah berpesan wanti2 kepada kau, minta kepada kau se-kali2 jangan sampai diketahui oleh orang ketiga ?” “Benar!, apakah itu maksudmu ? Kau hendak mengelabui Pek Kian-bu ?” “Bukan, ini maksud Toh Hok. Diapun berpendapat Pek Kian-bu kurang-dapat dipercaya. Paman aku tahu kau sama dia pernah angkat saudara, seumpama waktu itu juga aku mengadu keburukan Pek Kian-bu, kau pasti tidak akan mau percaya tuduhanku. Em…… sekarang kau toh masih tidak percaya, benar tidak ?” Sejenak Nyo Su-gi melengak. katanya : “Benarkah Toh Hok yang mengatakan begitu ? Lalu dari mana pula dia tahu persoalan ini ?” “Kalian punya hubungan dengan Kim-keh-nia, memangnya aku berani meminjam omongan Toh Hok untuk main fitnah ?” Dengan mendelong Nyo Su-gi menggumam : “Aku tidak percaya……, aku tidak percaya……..” bahwasanya hatinya sudah goyah beberapa bagian.
“Toh Hok adalah seorang yang tabah matang dan pandai bekerja kukira tidak akan sampai hati menuduh keburukan Jite tanpa mempunyai alasan yang kuat.” Berkata Nyo Wan-ceng lebih lanjut : “Dari mana Toh Hok tahu persoalan ini, waktu itu kami ter-gesa2 mana aku tidak minta keterangan kepadanya. Kelak kau pasti punya kesempatan bertemu dengan dia boleh kau tanya. Paman, kau tidak menasehati supaya kau jangan hanya mendengar tuduhan sepihak, kalau begitu akupun mengharap paman jangan hanya percaya kalau Pek Kian-bu itu adalah seorang baik.” Berkerut alis Nyo Su-gi, katanya: “Aku pasti akan menemui Toh Hok, tapi ini urusan nanti, sekarang aku harus segera kembali ke Liang Ciu.” “Kau hendak kesana menolongnya ?” “Sebelum urusan menjadi terang duduknya perkara, mana bisa aku membiarkan adik angkatku terjatuh ketangan musuh.” “Kalau dia sudah menyerah kepada musuh, bagaimana ? Kau kembali hendak menolong dia bukankah berarti masuk kedalam perangkap mereka ?” Tak terasa berkobar pula amarah Nyo Su-gi, katanya: “Seumpama dia pernah melakukan perbuatan vang memalukan itu, itu hanya perbuatan pribadinya yang kurang genah. Dia hidup bersamaku dua puluh tahun, belum lama Ceng-liong-pang didirikan, lantas dia menjadi anggotanya. Kalau dikata dia bakal mengkhianati pang kita, bertekuk lutut menyerah kepada musuh, bagaimana juga, aku tidak bisa percaya !” “Kalau perbuatan sudah bejat, maka urusan besar kukira belum tentu ia berteguh hati. Apa lagi dia melakukan perkosaan yang dipandang rendah dan hina oleh kaum ksatria, urusan toh bertautan satu sama yang lain.” “Urusan toh belum jelas duduk perkaranya, mana boleh kau lantas berkeputusan serdiri ?” Mendengar nada orang sudah lembek, Nyo Wan-ceng membujuk pula : “Betul setelah duduk perkaranya dibikin terang barulah terapkan tindakan hukumnya. Malam itu, aku membokongnya dengan senjata rahasia, perbuatanku memang kurang dihargai, memang aku harus mengaku salah. Tapi kalau toh duduk perkaranya belum dibikin terang, kenapa pula kau harus menyerempet bahaya ini.
Padam amarah Nyo Su-gi, tapi masih berkata: “Kelak kalau sudah dibikin terang, kalau dia benar orang jahat seperti yany kau tuduhkan, tidak perlu kau menuntut balas bagi Khong Liang dengan tanganku sendiri akan kubunuh dia ! Sekarang bagaimana juga aku harus kembali berusaha menolongnya. Apakah dia benar dia menyerah kepada musuh, hal ini juga harus kusaelidiki ! Kalau benar meski harus mempertaruhkan jiwaku ini aku harus memberantasnya, supaya tidak meninggalkan bibit bencana bagi Pang kita, kalau tidak, aku berpeluk tangan melihat dia terjatuh ketangan musuh, bukan saja mendurhakai ikatan persaudaraan, akupun malu kepada Pang kita.” Kata2 ini terucapkan setelah hatinya tenang.
Nyo Wan-ceng tahu tidak mungkin menghalangi keinginan hatinya, terpaksa ia berkata: “Kalau paman bersikeras ingin pergi, baiklah keponakan pulang dulu melapor kepada Liong-pangcu. Paman harus meningkatkan kewaspadaan dan hati2, lebih baik kau menunggu utusan Liong-pangcu ke Liong-ciu baru turun tangan.” Tertawa Nyo Su-gi ujarnya: “Aku tahu cara hagaimana bekerja, sepanjang jalan ini kaupun harus hati2. Baiklah tanggung jawab melindungi Geng kongcu sekarang kuserahkan kepada kau.” Tak berhasil membujuk orang, terpaksa Nyo Wan-ceng biarkan Nyo Su-gi kembali , ke Liang Ciu.
Seorang diri ia mengejar jejak Geng Tian.
“Kalau mereka menuju ke Ki-lian-san, tidak sukar untuk menyandaknya. Kuatirnya nona Lie itu belum tentu sudi ikut dia menuju ke Ki-lian-san.” demikian pikir Nyo Wanceng.
Terpaksa sepanjang jalan ini dia mencari tahu khabar berita mereka.
(Bersambung Ke-Bagian 02)

One Response to Si Tangan Kilat.

  1. Farida Surya says:

    Di mana saya bisa membaca atau membeli buku Si tangan kilat Karangan Liang Yu Sheng ini ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s