Sabuk Kencana

Karya : Khu Lung
Cersil ini mulanya berjudul : Ikat Pinggang Kemala diterjemahkan OKT
Kemudian dilanjutkan oleh Tjan ID dengan judul Sabuk Kencana
Diterbitkan Sastra Kumala 1973
Jilid : 1

GUNUNG Bong-san terletak di sebelah Timur Laut keresidenan Lok-yang dalam bilangan propinsi Hoo-lam, meskipun gunungnya tidak tinggi tetapi wilayah pegunungannya sangat lebar. Bagian Utara gunung Bong-san tersebut, orang kuno menyebutnya sebagai Pak Bong-san.
Di atas Pak Bong-san banyak tersebar kuburan serta batu2 nisan yang bertaburan di sepanjang lereng, tulang belulang serta tengkorak manusia berserakan di mana2 sehingga seluruh bukit nampak putih berkilauan, perduli tersengat sinar matahari, hembusan angin ataupun curahan hujan, tak seorangpun yang ambil perduli, hal ini membuat suasana kelihatan begitu menyedihkan dan begitu mengenaskan…
Setiap kali malam menjelang datang, kerlipan cahaya api bertaburan di seluruh bukit, desiran angin bersuit laksana jeritan iblis, hawa yang lembab dan dingin terutama ditengah malam yang basah oleh curahan hujan serta hembusan topan, seluruh bukit diliputi oleh hawa setan yang mengerikan, membuat bulu kuduk setiap orang terasa pada bangun berdiri…
Malam itu, awan tebal menyelimuti seluruh angkasa, cahaya rembulan tertelan dibalik kegelapan, hujan turun rintik2 membasahi seluruh permukaan, se akan2 kegelapan yang menggila menyelimuti seluruh bukit Pak Bong-san, suasana kelihatan makin mengerikan semakin menyeramkan…
Pada saat itulah, ketika kentongan pertama haru saja lewat dari kaki gunung Pak Bong-san muncul dua sosok bayangan manusia, satu kate dan yang lain tinggi, menempuh deraan hujan gerimis serta kabut yang tebal, dengan gerakan tubuh yang ringan, gesit tapi cepat laksana kilat meluncur naik ke atas puncak. .
Ditinjau dari ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan kedua orang itu, meski gerakan tubuh s i pendek, rada kurang mahir, tetapi dalam pandangan seorang ahli s ilat, segera akan diketahui bahwa kedua orang itu bukan lain adalah jago2 Bulim.
Sungguh cepat sekali gerakan mereka dalam sekejap mata kedua sosok bayangan hitam itu sudah mencapai di atas puncak dan berdiri di depan sebuah batu nisan yang tinggi lagi besar. Bayangan manusia berperawakan pendek itu berjongkok membaca sejenak tulisan di atas batu nisan kuburan itu, lalu menoleh dan ujarnya ke pada si manusia berperawakan tinggi besar itu: “Suhu ! Kuburan ini bukan lain adalah kuburan dari keluarga Chee, tetapi . . .” Ia merandek sejenak, lalu menambahkan: “Orang itu kirim surat undangan kepada suhu diajak bikin perhitungan ditempat ini, sebenarnya antara suhu dengan orang itu pernah terikat permusuhan apa sih ? apakah dalam hati suhu sudah temukan asal mulanya peristiwa ini?” Kiranya kedua sosok bayangan manusia itu bukan lain adalah guru dan muridnya.
Mendengar ucapan dari muridnya ini, sang guru lantas menghela napas panjang.
“Aaaai . . . ! urusan ini memang rada aneh” sahutnya. “aku sudah pikirkan berulang kali, tetapi masih belum jelas juga siapakah sebenarnya musuhku itu ? tetapi kalau ditinjau dari gaya tulisan yang ternyata di atas surat tantangan tersebut, aku rasa pihak lawan pastilah seorang perempuan. Tapi sungguh mengherankan, sudah puluhan tahan lamanya aku berkelana dalam dunia persilatan, boleh dikata jarang sekali mengikat tali permusuhan dengan orang lain, apalagi dengan kaum wanita, bukankah hal ini. .” Sementara sang guru masih berucap, tiba2 dari tengah udara berkumandang suara alunan seruling yang merdu merayu. seketika itu juga ia berhenti berbicara, wajahnya menunjukkan tanda2 tercengang, telinga dan perhatian segera dicurahkan untuk mendengarkan suara tersebut.
Lapat2 irama seruling mengalun datang makin nyaring, irama lagunya sebentar meninggi sebentar kemudian merendah, begitu merayu, begitu mempesonakan suaranya membuat pikiran orang jadi kosong.. dibuai dalam lamunan.
Tiba2 irama seruling tadi berubah meninggi makin lama makin tinggi hingga akhirnya mencapai puncaknya, irama tersebut melengking ditengah udara menembusi awan menggema ke empat penjuru, suaranya keras laksana derapan kaki kuda sepasukan prajurit menambah panas suasana, membuat seluruh permukaan diliputi hawa napsu membunuh…? Lama…lama sekali… mendadak irama itu berubah mendatar dan akhirnya merendah, begitu dalam suaranya seakan ada nyanyian kematian berkumandang dari akhirat membuat orang merasa melongo dan kosong . . . dan terakhir irama seruling tadi berhenti sama sekali.
Dua sosok bayangan manusia guru dan murid itu sama2 berdiri menjublek, mereka dibikin tertegun, melongo oleh irama seruling aneh itu, se-akan2 pada saat ini mereka telah melupakan tujuan mereka yang sebenarnya.
Pada saat itulah tiba2 dari bawah lereng muncul empat buah lentera yang ber-goyang2 dan berkelap-kelip ditengah hembusan angin serta rintikan hujan, lima sosok bayangan tubuh yang kecil mungil laksana kilat berkelebat ke arah puncak bukit.
Dalam sekejap mata, kelima sosok bayangan tubuh yang kecil mungil itu sudah tiba di atas puncak dan serentak berhenti kurang lebih delapan depa di hadapan guru dan murid orang itu.
Di bawah sorotan sinar lentera yang menerangi empat penjuru, masing2 pihakpun segera dapat melihat raut muka masing2.
Tampaklah dua orang yang datang duluan, sang guru telah berusia lima enam puluh tahunan, memakai jubah warna abu2 dengan sebuah Huncwee sepanjang tiga depa terselip di atas pinggangnya, huncwee tersebut berwarna hitam pekat, tak usah diragukan lagi siapapun akan segera menduga benda itu terbuat dari besi bercampur baja murni.
Wajahnya persegi empat dengan warm merah padam, jenggot serta kumisnya pendek, dari sepasang matanya memancarkan sinar tajam laksana kilat, potongan mukanya penuh berwibawa.
Sedang sang murid baru berusia empat lima belas tahunan dengan memakai baju warna biru, sebilah pedang tersoren dipunggungnya. Dia adalah seorang bocah bermuka putih, beralis lancip dart bermata jeli. Walaupun tampan sekali wajahnya namun masih belum lenyap sifat kekanakannya.
Dari lima orang yang muncul belakangan, empat orang diantaranya berdandan sebagai pelayan usianya baru lima enam belas tahunan, dengan masing2 mencekal sebuah lentera dan ditengah mereka berdiri seorang gadis berbaju merah.
Potongan badan gadis itu sangat menggiurkan, usianya tidak lebih dari dua puluh tahun, tetapi wajahnya pucat pias bagaikan mayat, sedikitpun tidak nampak adanya warna darah, raut mukanya tidak lebih dari pada sesosok mayat hidup.
Ditengah tanah pekuburan yang liar dan tak terawat, tengkorak manusia berserakan di-mana2, serta ditengah malam buta yang dingin menyeramkan, seandainya tiada sorotan empat buah lentera, niscaya orang akan dibikin bergidik setelah menyaksikan raut wajah tersebut, meski dia adalah seorang jagoan kelas satu dari dunia persilatanpun.
Demikianlah, ketika guru dan murid dua orang dapat menyaksikan wajah sang gadis yang amat menyeramkan itu, mereka terkejut dan sama2 merasa ngeri.
“Siapakah dia !” pikir mereka hampir berbareng.” Agaknya belum pernah kudengar namanya disebut dalam dunia persilatan” Sementara mereka sedang melamun, tiba2 terdengar gadis berbaju merah itu menegur dengan tiada dingin: “Benarkah anda bernama Bong-san Yen Shu Si kakek Huncwee dari gunung Bong-san Yu Boo adanya ?” Sembari berkata, sepasang matanya dengan memancarkan sinar tajam menatap si kakek itu dalam-dalam.
Si kakek itu bertindak kalem, ia balas menatap wajah gadis itu dengan s inar mata tajam, lalu mengangguk.
“Tidak salah !” sahutnya, “Lohu bukan lain adalah si kakek Huncwee dari gunung Bong-san, Yu Boo adanya, entah siapakah nona ? permusuhan apakah yang telah mengikat antara kita berdua ? harap nona suka kasi penjelasan !” Dara berbaju merah itu tidak langsung menjawab, sebaliknya ia bertanya kembali: “Anda datang memenuhi janji hanya seorang dirikah ?” atau sudah mengundang bala bantuan ?”.
Pertanyaan ini membuat si kakek huncwee dari gunung Bong-san tertegun, tapi dengan cepat ia dapat memahami maksud ucapan tersebut, si kakek itu segera mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Haa–haa—sudah puluhan tahun lamanya aku orang she Yu berkelana dalam dunia persilatan, aku yakin tindak tandukku masih terbuka dan mencerminkan sifat seorang lelaki sejati. Nona, kau tak usah kuatir, kecuali muridku Gong Yu seorang, loohu sama sekali tidak mengundang bala bantuan, seandainya kedatangan nona barusan telah menemukan sesuatu, maka lohu tegaskan bahwa mereka sama sekali tiada sangkut pautnya dengan diriku!” “Hm ! bagus kalau begitu” dengus sang dara berbaju merah dengan suara dingin.
Sepanjang hidupnya si kakek huncwee dari gunung Bongsan selalu berkelana di dalam dunia persilatan, puluhan tahun sudah ia angkat nama pengalamannya boleh dikata luas sekali.
Dari nada ucapan si gadis berbaju merah barusan, ia tahu gadis tersebut telah menyangsikan kejujurannya.
Hal ini membuat ia tersinggung, air mukapun segera berubah hebat.
Haruslah diketahui, sejak terjunkan diri ke dalam dunia persilatan, si kakek huncwee dari gunung Bong san tidak pernah bicara bohong barang sekecappun, apa yang diutarakan selalu benar dan sejujurnya, tidak aneh kalau kesangsian yang tercermin dalam wajah gadis berbaju merah barusan amat menyinggung perasaannya sehingga air mukapun berubah hebat.
Murid kesayangan dari si kakek huncwee dari gunung Bong-san, yakni Gong Yu meski baru berusia empat lima belas tahunan, namun ia sudah mewarisi hampir seluruh ilmu silat yang dimiliki gurunya si kakek huncwee dari gunung Bong-san tenaga dalamnya tidak lemah, apabila sepanjang tahun selalu berkelana didalam dunia kangouw mendampingi gurunya, pengalaman maupun pengetahuannya luas sekali.
Sejak kemunculan gadis berbaju merah itu, ia sudah merasa tidak senang hati karena sikapnya yang angkuh, perkataannya yang ketus dan dingin serta wajahnya yang hambar, pucat pias sama se kali tidak berperasaan.
Kini, mendengar gadis itu menyangsikan kejujuran gurunya, bahkan menunjukkan tanda2 menghina.
Ia semakin gusar dibuatnya, hawa amarah terasa bergolak dengan hebatnya dalam rongga dada.
Sekalipun ia tahu gadis berbaju merah itu pasti memiliki ilmu silat yang lihay, terbukti dari keberaniannya menantang si kakek huncwee dari gunung Bong-san untuk bikin penyelesaian di atas tanah pekuburan keluarga Chee, namun ia tidak jeri.
Ia sadar gadis berbaju merah itu bukan manusia sembarangan, namun hawa amarah yang berkobar dalam dadanya sukar terkendalikan kembali, tak tahan ia menghardik: “Ciss ! guruku adalah seorang angkatan tua dalam dunia persilatan, nama besarnya dihormati banyak orang dan sepanjang hidup tak pernah bicara bohong. Hmm ! sungguh tak nyana kau budak jelekpun berani pandang enteng kaum tua bahkan menghinanya pula—“.
“Setan cilik ! tutup bacotmu yang bau” tukas seorang budak dengan suara yang nyaring. “Hm ! agaknya kau sudah makan nyali beruang, jantung harimau, berani benar mencaci maki nona kami sebagai budak jelek ! hati2 kau, sekali lagi berani bicara tidak karuan, nona mudamu segera akan potong lidahmu yang bau itu !”.
Bentakan berasal dari salah satu dayang si gadis berbaju merah itu, dia adalah dayang tertua diantara dayang2 lainnya dan merupakan pemimpin pula diantara keempat dayang tersebut, ia bernama Siauw Leng.
Kiranya gadis berbaju merah ini the Tong-hong bernama Beng Coe, dia adalah puteri dari Tonghong Koen seorang jago Bu-lim yang pernah menggetarkan dunia persilatan dengan permainan kedua belas batang senjata rahasia peluru emasnya, begitu lihay permainan silatnya sehingga boleh dikata merupakan salah satu ilmu sakti dalam dunia persilatan.
Karena kelihaian nya inilah maka ia diberi gelar si Malaikat peluru emas oleh umat Bu-lim.
Sejak kecil Tonghong Beng Coe mendapat didikan ilmu silat dari ayahnya, sekalipun tenaga dalamnya tidak sesempurna yang dimiliki orang tuanya namun delapan sembilan bagian sudah ia warisi.
Ke empat dayang itupun belajar silat dari nonanya sejak kecil, berkat kecerdikan mereka serta bakatnya yang bagus, maka ilmu silat ke empat orang dayang inipun boleh dikata sudah mencapai kesempurnaan, lihay luar biasa.
Disamping pemimpinnya yang bernama, Siauw Leng, ketiga orang dayang lainnya masing2 bernama Siauw Lin, Siauw Cie serta Siauw Giok.
Walaupun antara Tonghong Bengcu dengan ke empat orang dayang itu terikat hubungan antara majikan dan pembantu, dalam kenyataan hubungan mereka lebih erat dari pada saudara kandung sendiri.
Belum habis Gong Yu berbicara, tiba2 telah ditukas oleh Siauw Leng, hal ini semakin menggusarkan hatinya, dengan wajah sinis dan memandang rendah kembali ia membentak.
Budak busuk! jangan tak tahu malu, selembar wajahmu yang kaku macam mayat hidup sungguh mengerikan bagi yang memandang, se-olah2 baru saja keluar dari liang kubur.
Hemm, kalau bukan si budak berwajah jelek, lalu harus disebut apa? Hmm…” “Anak Yu, kenapa kau tak tahu sopan? ayoh cepat tutup mulutmu!” tiba2 gurunya si kakek huncwee dari gunung Bongsan membentak.
Meskipun ucapan dari Gong Yu belum habis diutarakan, namun ia tak berani membangkang perintah gurunya, terpaksa ia bungkam dalam seribu bahasa, sekalipun begitu hatinya merasa sangat tidak puas sepasang biji matanya yang jeli dengan penuh rasa gemas melotot sekejap ke arah Siauw Leng.
Dalam pada itu, setelah menegur muridnya, kakek huncwee dari gunung Bong-san segera berpaling ke arah Tonghong Beng Coe dan menjura dalam2, ujarnya: “Muridku lancang dengan sudah mengeluarkan kata2 yang tidak senonoh, harap nona suka memaafkan kesalahannya dan jangan marah !” Tonghong Beng Coe melirik sekejap ke arah Gong Yu, kemudian mendengus dingin.
Sikap yang angkuh dan jumawa ini amat menusuk penglihatan namun si kakek huncwee dari gunung Bong-san pura2 berlagak pilon, ia lanjutkan kata2nya: “Nona, Bolehkah aku tahu siapa nama besar anda ? permusuhan apakah yang pernah kita buat ? harap anda suka menjelaskan kepada diri lohu !” “Nonamu bernama Tonghong Beng Coe !” jawab sang dara dengan sepasang mata memancarkan cahaya membunuh, ia tatap wajah sang dara dengan sepasang mata mendendam.
“Si peluru sakti Tonghong Koen adalah ayah nonamu. Hey bajingan tua ! sekarang kau sudah mengerti bukan ?” Walaupun suara Tonghong Beng Coe kedengaran rada gemetar, dari sepasang matanya memancar cahaya membunuh, namun selembar wajahnya yang sangat pucat pias bagaikan mayat kaku dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan.
“Oooow…! kiranya kau adalah nona Tonghong” Seru si kakek huncwee dari gunung Bong san dengan nada tercengang. Lohu benar2 tidak paham, dendam sakit hati apakah yang sebenarnya pernah terikat antara aku dengan diri nona ? harap nona suka bicara terus terang !” Menyaksikan sikap tercengang yang ditunjukkan Si kakek huncwee dari gunung Bong-san, Tonghong Beng Coe menyangka si kakek itu sedang pura2 berlagak pilon, ia jadi semakin gusar.
Setelah tertawa dingin, bentaknya: “Bajingan tua! kau tak usah berlagak pilon lagi, tiga bulan berselang ayahku telah menemui ajalnya di depan tanah pekuburan keluarga Chee ini, nona tidak percaya kalau begitu cepat kau telah melupakan peristiwa berdarah ini !” Pengalaman yang dimiliki si kakek huncwee amat luas, dari ucapan tersebut dengan cepat ia dapat dibikin paham tantangan Tong-hong Beng Coo terhadap dirinya untuk bikin perhitungan di depan tanah kubur keluarga Chee pada malam ini benar2 merupakan suatu kesalahan paham yang mengerikan sekali…
Walaupun ia rada tertegun, namun dengan tenang dan sabar ujarnya kembali: “Meskipun lohupun pernah dengar tentang terjadinya peristiwa berdarah ini, namun aku tak tahu duduk perkara sebenarnya, lagi pula sama sekali tiada sangkut pautnya dengan diri loohu” “Kurang ajar…si setan tua ini tak mau mengaku juga” pikir Tonghong Beng Co, setelah menyaksikan si kakek tua itu tak mau mengaku. Kenapa aku tidak ambil keluar barang bukti agar ia saksikan dengan mata kepala sendiri? akan kulihat, apa yang hendak ia katakan nanti”.
Berpikir sampai disitu hatinya lantas bergerak, ia merogoh ke dalam saku dan ambil keluar sebilah golok emas bersisik ikan atau Gie-Lim Kiem-To yang panjangnya kurang lebih delapan coen, lalu benda tadi ditunjukkan pada si orang tua itu seraya tertawa dingin.
“Bajingan tua ! coba kau lihat benda apakah ini ?”.
“Aaah—!”.
Golok emas bersisik ikan Gie Lim Kiem To merupakan senjata penjaga keselamatannya yang telah menggemparkan dunia persilatan selama puluhan tahun ini, terhadap barang sendiri tentu saja si akek huncwee dari gunung Bong-san mengenalinya, tidak aneh kalau ia lantas tahu bahwa benda tersebut adalah miliknya begitu sang dara mengambil keluar dari sakunya.
Maka dari itu, ia lantas berseru kaget setelah menyaksikan golok emas bersisik emas Gie Lim Kiem To tersebut dengan wajah tercengang ia mundur dua langkah ke elakang, lalu tanyanya kepada sang gadis dengan suara rada gemetar: “Gooo… golok ikan bersisik ikan ini memang merupakan senjata penjaga keamanan lohu selama aku berkelana dalam dunia persilatan, tetapi pada beberapa bulan berselang tiba2 hilang lenyap, entah nona dapatkan benda ini dari mana ?”.
Tonghong Beng Coe tertegun menyaksikan sikap kaget dan melengak dari Bong-san Yen Shu tetapi dengan cepat ia merasa yakin dan pasti bahwa sikakek tua inilah pembunuh ayahnya almarhum.
“Hey bajingan tua !” katanya kemudian sambil tertawa dingin. “Ayahku mati di jung golok emas ini dan kini barang bukti sudah ada di depan mata, apakah kau hendak menyangkal lebih jauh ?”.
“Sekarang Bong-san Yen Shu pun sadar, lenyap nya golok emas tersebut pada beberapa bulan berselang bukan hanya kebetulan saja, tetapi merupakan siasat dari seseorang untuk memfitnah dirinya.
Tentu saja orang yang memfitnah dirinya tentu adalah musuh besarnya, tetapi siapakah orang itu? Dalam dunia persilatan, Tonghong Koen bukanlah manusia sembarangan, dia adalah seorang jago Bu lim yang berkepandaian tinggi, kesempurnaan ilmu silatnya boleh dikata hampir sejajar dengan kepandaian yang ia miliki.
Dan sekarang terbukti Tonghong Koen telah menemui ajalnya di ujung golok emas bersisik ikan milik dirinya yang dicuri, hal ini membuktikan pula bahwa ilmu silat yang dimiliki sang pembunuh benar2 luar biasa bahkan jauh di tas kepandaian silatnya.
Kalau betul orang itu berkepandaian lihay dan menaruh dendam pula dengan dirinya, mengapa ia tak langsung mencari dirinya dan menuntut balas dengan tangan sendiri? mengapa ia harus gunakan siasat keji, untuk memfitnah dirinya..? Sekalipun pengalaman serta pengetahuan si kakek huncwee dari gunung Bong-san sangat luas, tak urung ia dibikin tercengang juga oleh peristiwa ini, ia merasa heran bingung dan tidak habis mengerti.
Golok emas bersisik ikan Gie Lim Kiem To adalah benda milik pribadinya, sekarang terbukti Tonghong Koen binasa di ujung golok tersebut, kenyataan ini tak mungkin bisa dibantah lagi, dan tak mungkin baginya untuk menerangkan kenyataan tersebut, sekalipun ia bicara sampai lidah membusuk dan air liur mengering, apakah Tonghong Beng Coe sudi mempercayainya ? Maka dari itu, berada dalam keadaan seperti ini kakek huncwee dari gunung Bong-san cuma bisa menatap wajah sang nona dengan sinar mata mendelong, mulutnya terkatup rapat2.
“Bajingan tua !” Teriak Tonghong Beng Coe sambil gertak gigi menahan rasa benci yang meluap dalam hati. “Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, apa gunanya kau bersembunyi dan menyangkal terus macam cucu kura2. Kini golok emas bersisik ikan sebagai barang bukti, apa yang hendak kau katakan lagi ?” Bicara sampai di situ tiba2 nada suaranya berubah dengan suara keras bagaikan guntur membelah bumi hardiknya: “Hutang darah bayar dengan darah, bajingan tua ! serahkan nyawamu !” Badannya segera maju ke depan, golok emas bersisik ikan yang berada dalam genggamannya dengan menciptakan serentetan cahaya keemas2an laksana kilat menusuk ke arah pinggang si kakek huncwee dari gunung Bong-san.
Serangannya dilancarkan cepat, gerakan tubuhnya lincah, benar2 terhitung gerak-gerik seorang jagoan lihay.
Bong san Yen Shu terkesiap menyaksikan datangnya serangan, buru2 ia enjot badannya mundur delapan depa ke belakang.
Menyaksikan serangannya mengenai pada sasaran yang kosong. Tonghong Beng Coe jejakkan kakinya ke atas tanah, ujung bajunya berkibar tersampok angin diiringi bentakan nyaring cahaya ke-emas2an menyambar ke depan menusuk kembali ke arah tubuh lawan.
Tonghong Beng Coe adalah ahli waris seorang jago kenamaan, sekalipun gerakan tubuhnya sangat lihay namun si kakek huncwee dari gunung Bong-san pun merupakan seorang jago kenamaan dalam Bu-lim, tenaga dalam yang dilatih selama puluhan tahun benar2 amat sempurna, Tong hong Beng Coe mana bisa menandingi dirinya? Tetapi Bong-san Yen Shu sudah menyadari bahwasanya peristiwa tni terjadi karena kesalah pahaman belaka, meskipun tubrukan2 dari Tong hong Beng Coe amat ganas, jurus serangannya amat keji namun ia tidak melayani semua serangan nona tersebut. Ia takut seandainya sampai terjadi pertarungan dimana ia salah turun tangan hingga melukai nona tersebut, bukan saja pamornya akan merosot karena menganiaya seorang nona muda, disamping itu bagaimanakah pertanggungan jawab terhadap sahabat2 kangouw.
Maka dari itu, terhadap serangan2 yang ganas dari Tonghong Beng Coe sama sekali tidak dilayaninya, dengan andalkan kegesitan ia berkelit dan menghindar terus kesana kemari.
Satu pihak menyerang mati2an dengan keluarkan segenap jurus serangannya yang paling keji dan paling ganas untuk membalaskan dendam kematian orang tuanya.
Dilain pihak demi menjaga pamor serta nama baiknya selama puluhan tahun dalam dunia persilatan, perduli diancam dengan serangan sekeji dan seganas apapun selalu menghindar dengan andalkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurna.
Begitulah seraya menghindar Si kakek huncwee dari gunung Bong san berteriak tiada hentinya: “Nona! tahan! nona! harap tahan. . .” Dendam orang tua sedalam lautan, apalagi musuh besar berada di depan mata, pada saat ini sepasang mata Tonghong Beng Coe telah berubah merah membara, ia tidak sudi berhenti, sekalipun Bong-san Yen Shu telah berteriak sehingga lidahnya membusuk, air liur mengering ia tetap tidak ambil gubris, golok emas sepanjang delapan coen tersebut melancarkan serangan2 mematikan dan tiada hentinya mengancam bagian2 penting di atas tubuh sikakek tersebut.
Manusia dari tanah liatpun memiliki tiga bagian watak tanah liat, apalagi manusia benar2. Meskipun iman Bong-san Yen Shu amat tebal, namun lama kelamaan ia dibikin naik pitam juga oleh desakan2 Tonghong Beng Coe yang tak mau tahu akan teriak2anya, ia tidak sabar sehingga akhirnya dengan alis berkerut bentaknya: “Hey bocah! kalau kau terus menerus menyerang aku dengan membabi buta, apakah kau hendak paksa lohu pun harus turun tangan balas melancarkan serangan!” “Bajingan tua!” Seru Tonghong Beng Coe pula sambil menyerang kalap tiada hentinya Jikalau malam ini nonamu tak dapat membinasakan dirimu di ujung golok ini, arwah ayahku dialam baka tidak akan merasa tenteram ! tak usah banyak bicara lagi, ayoh cepat serahkan jiwamu !” Saat ini sikakek huncwee dari gunung Bong-san benar2 tak dapat menahan diri, hawa gusar telah memuncak. Ia segera membentak.
“Budak ingusan! kau begitu keterlaluan tak tahu keadaan, jangan salahkan kalau lohu terpaksa harus memberikan perlawanan” Ditengah bentakan keras, badannya bergerak ke depan, ujung baju tersampok angin, gerakan tubuhnya tiba2 berubah, sepasang telapak berputar dan menari memenuhi angkasa, dalam sekejap mata ilmu cengkeraman Sah cap Lak-Thay Kiem-na Cioe yang terdiri dari tiga puluh enam jurus telah dilancarkan ke depan laksana sambaran kilat.
Dalam beberapa detik kemudian, secara beruntun ia telah lepaskan tiga buah jurus serangan dahsyat, bukan saja luar biasa bahkan cepatnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Haruslah diketahui, si kakek huncwee dari gunung Bongsan terhitung sebagai jagoan kelas wahid dalam dunia persilatan dewasa ini, kepandaian silat yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan, Tonghong Beng Coe mana sanggup menerima datangnya ketiga serangan yang cepat dan luar biasa itu ??? Ditengah desakan gencar, seketika itu juga gadis she Tonghong itu terdesak mundur dua langkah ke belakang.
Kejadian ini semakin menggusarkan Tonghong Bong Coe, ia membentak keras, golok emas bersisik ikannya yang sepanjang delapan coen dengan menciptakan serentetan cahaya emas yang berkilauan memenuhi seluruh angkasa, ia maju mendesak dan langsung membabat dada si Bong-sun Yen Shu.
Si kakek huncwee dari gunung Bong-san mendengus dingin, sepasang telapak dilancarkan berbareng, dengan jurus “Tong Ciong-Kie-Kouw” atau memalu gembreng memukul tambur, ia babat sepasang pundak sang nona.
“Tahan!” tiba2 terdengar bentakan nyaring berkumandang datang.
Baru saja suara bentakan itu menggema datang, terasa segulung tenaga pukulan yang lunak tapi kuat menerobos datang dari antara kedua orang yang sedang bermusuhan itu sehingga memaksa mereka berdua tak sanggup berdiri tegak dan mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.
Tonghong Beng Coe serta si kakek huncwe dari gunung Bong san jadi amat terperanjat, mereka sama2 alihkan sinar matanya ke arah mana berasalnya tenaga serangan berhawa lunak itu.
Tampaklah seorang pemuda berusia dua puluh tahunan dengan memakai baju berwarna abu2 potongan sastrawan, telah berdiri ditempat itu dengan sikap tenang.
Kepalanya tertutup oleh sebuah kopiah model pelajar, wajahnya halus dan ganteng, sebuah seruling kumala tersoren pada pinggangnya dan sebuah kipas berada ditangan kanannya.
Waktu itu ia sedang tersenyum, dengan langkah yang angkuh, lambat2 berjalan ke depan dan akhirnya berhenti diantara kedua orang itu.
Ditengah malam berhawa dingin yang sangat menusuk tulang, perbuatan pemuda sastrawan itu berjalan sambil goyangkan kipasnya boleh di kata merupakan suatu perbuatan yang sedikit keterlaluan.
Menyaksikan tingkah laku serta gerak gerik sang pemuda sastrawan itu, si Kakek huncwee dari gunung Bong-san merasa tercengang, dengan wajah penuh rasa kaget dan keheranan ia memandang sastrawan itu dengan sinar mata tertegun.
Dalam hati Tonghong Beng Coe pun merasa amat kaget dan tercengang, namun di atas wajahnya yang pucat pias bagaikan mayat sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun.
Sejak kecil Tonghong Beng Coe kehilangan kasih sayang seorang ibu, berada dalam bimbingan ayahnya Tonghong Koen yarg selalu memanjakan dirinya ia tumbuh jadi dewasa, sehingga akhirnya terbentuklah watak yang angkuh dan tinggi hati dalam hati gadis ini.
Sekarang, menyaksikan sikap yang angkuh dan ketus dari pemuda sastrawan itu, timbul hawa amarah dalam hatinya, ia segera membentak nyaring: Hey ! Kutu Buku, apa maksudmu datang kemari ? ayoh cepat enyah dari sini, apakah kau sudah bosan hidup?” Se-akan2 sama sekali tidak mendengar dampratan dari Tong-hong Beng Coe, si pemuda sastrawan itu gelengkan kepalanya sambil bergumam seorang diri: “Aaaaai . ! manusia binasa karena harta, burung mati karena makanan, jaman dulu hingga kini tidak pernah berubah, kau merampas, aku merebut, semuanya selalu begitu !”.
Tiba2 ia berpaling ke arah Tonghong Beng Coe dan tertawa, tanyanya dengan suara lantang: “Nona ! Kalian berdua saling adu jiwa ditempat ini, tolong tanya kalian sedang memperebutkan harta ? ataukah karena saling memperebutkan makanan ?”.
Selesai bicara pemuda sastrawan itu tertawa manis.
Berdebar keras jantung sang nona menyaksikan senyuman orang, timbul suatu perasaan yang aneh sekali didalam hatinya, tetapi ucapan tersebutpun menimbulkan rasa benci dalam hatinya.
Sepasang biji mata Tonghong Beng Coe yang jeli segera melotot bulat, sinar tajam menyorot keluar menyilaukan mata, bentaknya: “Darimana datangnya pelajar edan, berani benar bicara ngaco belo di hadapan nonamu, ayoh cepat enyah dari sini !”.
Pemuda sastrawan itu mendongak tertawa ter-bahak2, suaranya nyaring dan bersih menawan hati membuat orang merasa hatinya bergetar dan berdebar keras.
Setelah sirap gelak tertawanya, air muka yang semula penuh senyuman tiba2 berobah jadi keren, ujarnya serius: “Nona, kenapa kau tak bisa membedakan mana yang hitam mana yang putih, mana yang benar dan mana yang salah? bukannya pergi mencari musuh besar yang sebenarnya, malahan karena bukti golok emas lantas menuduh orang lain yang sama sekali tiada sangkut pautnya dengan peristiwa ini sebagai musuh besar pembunuh ayahmu? dengan tindakanmu yang serba ngawur ini, apakah kau tidak takut arwah ayahmu dialam baka merasa tidak tenteram?” Ia merandek sejenak untuk tukar napas, setelah itu tambahnya lebih jauh: “Terhadap tindak tandukmu yang serba tidak pakai aturan, meskipun cayhe tidak ingin banyak cari urusan dengan dirimu, tetapi mengikuti kebiasaan aneh dari cayhe, paling sedikit aku harus kasih sedikit pelajaran pahit getir sebagai peringatan bagimu. Tetapi… mengingat cita2mu untuk membalas dendam adalah perbuatan yang luhur, maka aku bisa maafkan perbuatanmu kal3i ini! Sedangkan mengenai pembunuh sebenarnya yang telah membinasakan ayahmu. Ehm bicara terus terang saja, cayhepun pernah menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala sendiri…” Tiba2 pemuda sastrawan itu membungkam, sepasang matanya yang jeli dan tajam laksana kilat segera dialihkan ke atas wajah Tonghong Beng Coe dan menatapnya tajam2.
Terhadap sikap angkuh dari pemuda sastrawan itu, Tonghong Beng Coe merasa amat tidak puas, timbul hawa gusar dalam hati kecilnya. Tetapi setelah mendengar bahwasanya pemuda sastrawan itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri s iapakah pembunuh ayahnya, pikiranpun segera berubah, ia berusaha menahan hawa gusar dalam hatinya.
Sepasang sinar mata yang jeli dengan cepat di alihkan ke atas wajah si sastrawan yang ganteng menanti lanjutan dari ucapan tersebut, ia ingin tahu siapakah pembunuh sebenarnya yang telah membinasakan ayahnya ! Si kakek huncwee dari gunung Bong-san, sendiripun merasa kegirangan setengah mati ketika mendengar bahwasanya si pemuda sastrawan itu tahu siapakah pembunuh sebenarnya dari Tong hong Koen, buru2 ia menjura kearah orang itu dalam2.
“Sauw-hiap, apabila kau tahu siapakah musuh sebenarnya dari nona Tonghong, harap kau suka berbicara langsung kepadanya, bukan saja lohu bisa bebas dari fitnahan keji itu, bahkan nona Tonghong pun bisa menuntut balas dendam berdarahnya agar arwah Tonghong Koen dialam baka bisa tenteram. bantuanmu bukan saja akan membuat loohu serta nona Tonghong merasa sangat berterima kasih, sekalipun arwah Tonghong Koen ayah dari nona Tonghong yang berada dialam baka pun bisa merasa berlega hati atas budi kebaikan dari s iauw-hiap yang tak terhingga ini!” Pemuda sastrawan itu tertawa angkuh.
“Tidak sulit apabila anda berdua inginkan agar cayhe menyebutkan siapakah pembunuh sebenarnya dari Tonghong Koen” ujarnya. Tetapi cayhepun ada suatu syarat sebagai imbalan dari jasa ini, bagaimana menurut pendapat anda berdua?” Tonghong Beng Coe merasa amat tidak puas dengan ucapan dari si pemuda sastrawan itu, ia merasa tidak sepantasnya orang minta satu imbalan atas jasa2nya itu seolah2 mereka sedang adakan jual beli saja. ia lantas cibirkan bibirnya yang kecil, sambil mendengus dingin serunya.
“Hmmm ! dipandang dari wajahmu yang mirip seorang kutu buku, sungguh tak nyana lihay sekali dalam jual beli, seandainya nonamu tak mau kasih imbalan untukmu, kau mau apa ?” “Sederhana sekali !” jawab sastrawan itu tanpa pikir panjang, Cayhe akan menyingkir ke sisi kalangan dan sambil berpeluk tangan menyaksikan kalian berdua lanjutkan pertarungan yang dikarenakan suatu urusan penasaran belaka.” Si kakek huncwee dari gunung Bong-san pun merasa tidak puas dengan syarat yang diajukan sastrawan tersebut, ia merasa syarat itu mirip dengan suatu pemerasan. tetapi apa yang dapat ia lakukan dalam keadaan seperti ini ? Setelah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya sambil tertawa ia berkata: “Bagaimana kalau anda sebutkan dahulu apakah syarat yang kau inginkan ? asal kami merasa cocok dan cengli, lohu pasti akan laksanakan semampuku.” “Percuma kalau cuma kau seorang yang sanggupi syarat ini, bagaimana seandainya nona Tong hong tak mau terima ?” tanya Sang sastrawan sambil melirik ke arah Tonghong Beng Coe.
Meskipun dalam hati Tonghong Beng Coe rada sangsi juga akan perkataan dari si sastrawan tersebut, tetapi sebagai seorang gadis yang cerdik, setelah ia bayangkan kembali pelbagai perubahan yang muncul di atas wajah Bong-sau Yen Shu sejak ia lontarkan tuduhan bahwa dia adalah pembunuh ayahnya, gadis inipun merasa persoalan rada sedikit mencurigakan, ia merasa kemungkinan besar pembunuhan berdarah itu bukan hasil karya dari sikakek huncwee dari gunung Bong-san.
Seandainya pembunuhan ini hasil karya dari Bong-san Yen Shu, dengan watak serta kedudukan si kakek huncwee itu dalam dunia persilatan tak mungkin ia akan menyangkal terus2an.
Karena berpikir demikian, Tonghong Beng Coe ingin sekali cepat2 mengetahui nama sebenarnya dari musuh besarnya itu, agar ia bisa cepat2 balaskan dendam berdarah ayahnya.
Tetapi iapun merasa tidak puas dengan tindakan sang sastrawan yang mengajukan syarat sebagai imbalan atas jasanya itu, ditambah pula sikap angkuh yang ditunjukkan sastrawan itu semakin tidak memuaskan hatinya.
Sebagai seorang gadis yang berwatak angkuh pula, ia tak mau turunkan gengsi sendiri dengan ajukan permohonan kepada lawannya.
Dalam pada itu si kakek huncwee dari gunung Bong-san telah melirik sekejap ke arah Tonghong Beng Coe. tiba2 ia putar badan dan menjura dalam2 kepadanya.
“Nona !” ia berkata: “Agar duduknya perkara bisa jadi jelas dan pembunuh sebenarnya dari ayahmu pun bisa dibikin terang, lohu berharap agar nona sudi menyanggupi syarat dari siauw-hiap ini, dengan begini urusanpun bisa diselesaikan . . .” “Baiklah !” Ambil kesempatan baik ini Tonghong Beng Coe mengangguk. ..Memandang di atas wajah emas Loo-pek, kusanggupi permintaan dari pelajar edan ini !” Pada saat ini, Tonghong Beng Coe telah sadar bahwa si kakek huncwee dari gunung Bong-san bukanlah pembunuh ayahnya, semua yang di alami selama ini hanya suatu kesalahan paham belaka, terhadap si kakek itu ia merasa menyesal dan malu, maka sebagai taraf pertama dari perwujudan rasa sesalnya ia sebut si Bong san Yen Shu sebagai ..Loo-pek” atau Empek tua.
Mendengar sang dara sudah menyanggupi, Bong san Yen Shu pun berpaling kembali kearah pemuda sastrawan itu.
“Sekarang nona Tonghong pun sudah menyatakan kesanggupannya, harap anda suka sebutkan syarat yang kau harapkan !” katanya.
“Padahal kalau diutarakan keluar, syaratku itu tidak seberapa berat.” kata sastrawan itu sambil melirik ke arah Bong san Yen Shu serta Tonghong Beng Coe dan tertawa.
“Berhubung cayhe hendak menangkap sepasang kadal kumala beracun keji “Pek-to Giok Tiat” yang telah mencapai masa suburnya, maka aku butuh bantuan orang untuk melindungi keselamatanku, agar sewaktu cayhe menangkap binatang berbisa itu tidak sampai diganggu orang lain !” Berbicara sampai di situ, mendadak lenyap roman angkuhnya, sinar mata yang tajam menggidikkanpun sirap sama sekali, ia pandang kedua orang itu dengan muka serius.
“Entah sudikah kalian berdua membantu usahaku ini ?” serunya.
Walaupun sinar mata sastrawan sirap sama sekali, namun kejadian ini cukup menggetarkan hati Tonghong Beng Coe serta si kakek huncwee dari gunung Bong-san.
“Betapa sempurnanya tenaga lwekang yang dimiliki sastrawan ini !” pikir mereka berdua hampir berbareng.
Sastrawan itu mengatakan hendak menangkap sepasang kadal kumala beracun keji “Pek tok-Giok-Tiat”, bagi pendengaran Tonghong Beng Coe, gadis ini tidak merasakan sesuatu, namun berbeda dengan sikakek huncwee dari gunung Bongsan yang berpengetahuan luas, ia merasa amat terperanjat, segera pikirnya: “Kadal kumala beracun keji Pek-Tok-Giok- Tiat merupakan salah satu diantara tiga jenis binatang paling beracun dikolong langit, mengapa sastrawan ini hendak tangkap binatang beracun itu dengan menempuh bahaya ? kenapa tidak ku tanyakan dahulu maksud tujuan sebenarnya?”.
Karena berpikir demikian, ia lantas berpaling ke arah sastrawan itu dan tanyanya: “Kadal Kumala beracun keji merupakan binatang langka yang jarang ditemui dalam kolong langit dan beracun sekali, apa maksud anda menangkap binatang itu ? dapatkah kau kasih penjelasan ?” ” Pemuda sastrawan itu melirik sekejap ke arah si kakek huncwee dari gunung Bong san, sikapnya yang angkuh serta jumawapun segera pulih kembali menyelimuti wajahnya, ia menjawab dingin: “Maaf, tak dapat kujelaskan latar belakang dari maksud tujuanku ini” Si kakek huncwee dari gunung Bong san ketanggor batunya, terpaksa ia bungkam dalam seribu bahasa.
“Eeeei sebenarnya kalian berdua mau bantu atau tidak ? harap kasih keputusan yang tegas” tiba2 sastrawan itu bertanya kembali.
“Berhubung binatang itu terlalu keji dan beracun, sedang andapun tidak sudi menjelaskan apa maksud tujuan anda menangkap binatang tersebut, maka lohu merasa kurang leluasa untuk . . ” Bong-san Yen Shu segera membungkam, hanya sepasang matanya yang tajam segera dialihkan ke arah si sastrawan tersebut.
Menyaksikan tingkah laku orang, agaknya si pemuda sastrawan itu mengerti apa yang sedang dimaksudkan lawan, ia tertawa nyaring.
“Haaa.. haaa. .haaa…tentang soal ini kau boleh legakan hati, walaupun cayhe tidak sudi menjelaskan keperluanku untuk menangkap binatang beracun itu, tetapi cayhe berani jamin, aku tak akan mengandalkan binatang beracun itu untuk mencelakai orang” “Baik, kalau memang anda berkata demikian, maka lohu serta nona Tonghong dengan suka hati akan menolong usaha anda dan bantu menjagakan segala gangguan yang datangnya dari luar” akhirnya si kakek itu mengangguk.
“Kalau begitu, jual beli kita pun boleh di kata sudah beres, bagus, kita tetapkan dengan sepatah kata ini saja” seru sang sastrawan dengan wajah kegirangan.
Tiba2 se-olah2 ia teringat akan sesuatu air mukanya berubah hebat.
“Aduuhhh ..” Teriaknya.
Kepada Tonghong Beng Coe serta Bong san Yen Shu segera ia berseru: “Harap kalian berdua cepat2 ikuti diriku”.
Ia enjotkan badannya dan tidak nampak gerakan apakah yang telah digunakan tahu2 bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia sudah melayang sejauh puluhan tombak dari tempat semula . .
Sekali lagi Tonghong Bong Coe serta si kakek huncwee dari gunung Bong-san dibikin kagum akan kehebatan serta kesempurnaan ilmu meringankan tubuh dari sisasterawan tersebut.
“Nona Tonghong, mari kita segera susul dirinya !” ajak sikakek huncwee dari gunung Bong san.
Tidak menanti jawaban dari gadis itu lagi, tangan kanannya segera menyambar tangan Gong Yu, enjotkan badan dam segera menyusul dimana pemuda itu berlalu.
Buru2 Tonghong Bong Coe beserta ke empat orang dayangnya enjotkan badan menyusul, dari belakang Bong-san Yen Shu.
Dua lelaki lima perempuan semuanya tujuh orang sama2 mengembangkan ilmu sinkangnya berlarian ditengah jalan gunung yang sempit, dalam beberapa loncatan mereka sudah berada empat lima puluh tombak dari tempat semula.
Sementara mereka masih berlarian, tiba2 dari hadapan mereka berkumandang datang suara bentakan keras “Setan tua ! demi sepasang benda tersebut, siauya sudah menunggu lama sekali di tengah tanah pekuburan yang sunyi dam terpencil ini. Eei. .datang2 kau lantas hendak memungut hasil ? kau kira urusan bisa selesai dengan begitu gampang dan enaknya ?”.
Suara bentakannya nyaring dan lantang, setiap patah kata bagaikan martil menghantam di atas dada membuat hati tergetar keras, jelas menunjukkan ucapan tersebut muncul dari seorang tokoh sakti yang memiliki tenaga dalam amat sempurna! Si kakek huncwee dari gunung Bong-san segera kenali suara itu sebagai suara dari Sastrawan tersebut, ia semakin terkesiap: “Siapakah sebenarnya sastrawan itu? berasal dari manakah dia? usianya masih muda namun memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, apa gunanya ia tangkap sepasang Kadal Kumala Beracun keji itu?” Sementara ia masih termenung, tiba2 terdengar suara gelak tertawa yang serak dari seorang tua disusul munculnya serentetan, kata2 yang tajam melontar keluar: “Hey pelajar rudin! Kadal Kumala Beracun Keji adalah binatang tak bertuan, siapapun boleh menangkapnya bilamana sanggup, dengan andalkan apa kau ingin mengangkangi binatang itu seorang diri? Hmmm! kalau masih tidak tahu diri jangan salahkan kalau aku Gia Kang-Tok Shu bertindak kejam dan telengas kepadamu?” “Aaaa . kiranya orang itu adalah Gia-Kang Tok Shu salah satu dari pada empat manusia beracun dari Bu-lim” pikir si kakek huncwee dari gunung Bong-san dengan hati terperanjat. Selamanya si kakek Kelabang Beracun ini malang melintang di daerah sebelah Barat dan selatan wilayah Biaw, sejak kapan gembong iblis ini telah berpindah tempat ke dataran Tionggoan.” Pada waktu itu ke empat buah lampu lentera yang dibawa empat orang dayang pribadi Tonghong Beng Coe telah dipadamkan, sekalipun suasana di sekeliling tempat itu gelap gulita, namun dengan andalkan tenaga dalam yang sempurna dari masing2 orang, benda yang berada satu dua tombak di hadapan mereka masih bisa dikenali dengan nyata.
Setelah menghentikan gerak tubuhnya, si kakek huncwee dari gunung Bong-san segera berpaling kearah Tonghong Beng Coe dan bisiknya lirih: “Nona ! harap kau suka menguntil dibelakang loohu, hati2 dengan gerak gerikmu, jangan sampai menimbulkan suata yang berisik, dari pada jejak kita diketahui gembong iblis tua itu !” “Ehmmmm, aku tahu.” Tonghong Beng Coe mengangguk.
Demikianlah, Gong Yu, Tonghong Beng Coe beserta ke empat orang dayangnya menahan napas dan merangkak maju ke depan dengan langkah sangat ber-hati2.
Kurang lebih dua tombak disisi kalangan dimana sastrawan tersebut sedang berdiri saling ber-hadap2an dengan Gie Kang Tok Shu kebetulan terdapat sebuah kuburan kuno yang tinggi dan besar, tempat itu bisa digunakan sebagai tempat persembunyian.
Tujuh orang sama2 menyembunyikan diri di belakang kuburan kuno tadi, seluruh perhatiannya segera dicurahkan ke arah depan.
Tampaklah beberapa tombak di hadapan sastrawan tersebut berdiri seorang kakek tua yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang belaka, potongan badannya bagaikan sesosok mayat hidup, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, dipunggungnya tersoren sebilah senjata kaitan kelabang dan roman mukanya mengerikan sekali.
Tiba2 terdengar sastrawan itu tertawa dingin sambil menjengek: “Nama besar Gia Kang-Tok Shu hanya bisa menakut2i suku Biauw yang masih liar belaka, Hmm ! jangan harap bisa menakut2i siauya mu, aku lihat lebih baik kau ikuti saja nasehat dari siauya, dan segera kau harus pulanglah ke wilayah Biauw dan hiduplah tenang di sana, kalau tidak …Hmm.. hmm… jangan sampai menggusarkan siauyamu, aku nanti bisa suruh kau bisa datang tak dapat pulang lagi dalam keadaan hidup2 !” Ucapan ini sangat menggusarkan Gia-Kang Tok-Shu, ia mendongak dan tertawa aneh, suaranya tinggi melengking bagaikan jeritan kuntilanak ditengah malam buta, amat mengerikan ! “Anjing cilik! siapakah gurumu dan kau berasal dari perguruan mana ?” Bentaknya keras2. “Berani benar bersikap jumawa di hadapanku dan tidak pandang sebelah matapun kepada orang lain !” “Hmm! siapakah guru siauyamu dan berasal dari perguruan manakah aku, dengan andalkan kedudukanmu sebagai iblis keji tak berpendidikan di luar perbatasan masih belum sesuai untuk bertanya, aku lihat, kalau kau masih tahu diri cepat2lah gelinding balik ke wilayah Biauw !” Gia-Kang-Tok-Shu adalah salah satu diantara empat manusia beracun yang tersohor dalam dunia persilatan disamping Bu-lim-It-Mo, Siang Sat, Sam-Koay serta Su-Tok.
Kepandaian silatnya telah berhasil dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan, dalam dunia persilatan dewasa ini boleh dikata terhitung salah seorang tokoh maha sakti.
Bagi orang2 kangouw biasa cukup berjumpa dengan salah satu diantara sepuluh manusia sesat itupun telah merepotkan mereka, siapa sangka si sastrawan ini bernyali besar, bukan saja tidak kenal tingginya langit tebalnya bumi bahkan bicara sesumbar seenaknya sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap gembong iblis ini, ia benar2 tak tahu diri.
Diam2 si kakek huncwee dari gunung Bong -san pun merasa kuatir buat keselamatan si pemuda itu sehingga tampak terasa keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Di sebelah sini si kakek huncwee dari gunung Bong-sin menguatirkan keselamatan si sastrawan tersebut, sebaliknya si anak muda itu dengan wajah angker dan sambil goyang kipas tetap berdiri tenang ditengah kalangan, sikapnya angkuh dan jumawa, seakan-akan tidak pandang sebelah matapun terhadap Gia-Kang Tok-Shu yang berada dihadapannya.
Tiga empat puluh tahun Gia-Kang-Tok-Shu malang melintang dalam dunia persilatan tak pernah dihina dan dipandang remeh orang macam ini hari, mendengar ucapan tersebut saking gusarnya hampir2 saja dada terasa mau meledak, napsu membunuh segera berkobar memenuhi benaknya.
Tampaklah dari sepasang matanya memancarkan cahaya buas, ia membentak: “Anjing cilik! berapa besar sih tenaga dalam yang kau miliki? berani benar bersikap kurang sopan terhadap lohu? malam ini apabila aku tak berhasil membinasakan kau si anjing cilik di bawah telapakku, lohu tidak sudi disebut jago diantara sepuluh manusia sesat lagi.” “Hmm, siapa yang bilang kau sesuai untuk di sebut jagoan diantara sepuluh manusia sesat?” jengek si sastrawan sambil tertawa dingin.
“Tidak sesuai ? bagus terimalah sebuah serangan lohu ini?” Ditengah bentakan keras, sepasang telapaknya sama2 didorong ke depan dengan hebatnya.
Ditengah bentakan yang maha dahsyat, gulungan angin puyuh memancar ke empat penjuru dan menyapu seluruh jagad, ditengah deruan kerFas tercium bau amis yang sangat memuakkan.
Sastrawan itupun seorang jago yang telah lima belas tahun lamanya dididik oleh seorang tokoh sakti dunia persilatan, bukan saja sudah mewarisi segenap kepandaian yang dimiliki orang itu, dengan bakatnya yang bagus serta rejekinya yang baik beberapa kali ia mendapat pengalaman aneh, sehingga tidak aneh kalau kepandaian silatnya benar2 luar biasa.
Walaupun usianya masih muda namun kepandaian silatnya telah mencapai pada puncaknya, hanya yang kurang kedua buah urat pentingnya belum sampai ditembus, seandainya kedua tempat penting ini sudah tertembus, niscaya tenaga dalamnya akan hebat bagaikan gulungan air di sungai Tiangkang.
.
Sekalipun begitu, ditinjau dari kemampuan yang ia miliki saat ini boleh dikata ia terhitung salah seorang jago sakti dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago yang bisa menandingi kepandaiannya.
Bukan saja kepandaian silatnya lihay, sastrawan itupun berotak cerdas, dikala sepasang mata Gia Kang Tok Shu memancarkan cahaya buas diam2 ia sudah bikin persiapan, ia tahu karena hawa gusar yang memuncak telah menimbulkan ulat jahat dalam hati si kakek kelabang tersebut, asal turun tangan niscaya ia akan menyerang dengan ilmu Gia Kang Tok Kang nya yang luar biasa.
Maka dari itulah, baru saja Gia-kang Tok shu mendorong telapaknya dan sastrawan itu mencium bau amis, ia segera sadar bahwa dugaannya tidak meleset, sepasang alisnya kontan melenting dan mendengus dingin, badannya bergerak langsung menubruk ke dalam lingkaran angin puyuh yang berbau amis tadi.
Pada waktu itu sastrawan tersebut telah kerahkan ilmu khie-kang, Hiat-bun Kan Goan Khie kangnya mengelilingi seluruh badan dan jalan darah penting.
Dalam kolong langit tidak pernah dijumpai cara berkelahi macam ini, terhadap datangnya angin serangan yang maha dahsyat, bukan saja tidak berkelit malahan menubruk masuk dan menyongsong datangnya serangan, bukankah tindakan ini sama artinya cari kematian buat diri sendiri ? Menyaksikan perbuatan si anak muda itu, si kakek huncwee dari gunung Bong-san serta Tong hong Beng Coe sekalian merasa terkesiap.
“Aduuuuh, habislah sudah !” teriak mereka dalam hati.
Sebaliknya Gia Kong Tok Shu merasa kegirangan setengah mati, pikirnya: “Keparat cilik ! kau terlalu jumawa dan angkuh. Hmmm ! jangan dikata siapa saja yang terkena ilmu beracun Gia Kang Tok kang ku tidak tertolong lagi, cukup andalkan tenaga pukulanku ini saja sudah dapat menghancurkan tubuhmu hingga berkeping-keping …..” oooo0oooo TETAPI, si sastrawan itu bukanlah manusia bodoh, seandainya tidak punya keyakinan untuk menang, mana ia berani bertindak gegabah ?? Sewaktu tubuhnya menubruk masuk ke dalam lingkungan angin puyuh yang berbau amis itu, lengan kanannya tiba2 meluncur ke depan menotok jalan darah di dada Gia Kang Tok Shu.
Bukan saja gerakannya aneh dan sakti, bahkan cepatnya melebihi sambaran kilat.
Jangan dilihat Gia Kang-Tok Shu adalah salah seorang diantara sepuluh manusia sesat dunia persilatan dan merupakan jago kelas satu dalam kolong langit, tetapi berada di bawah serangan gencar serta aneh dari si sastrawan itu, jangan dikata untuk berkelit, ingatan kedua belum sampai berkelebat dalam benaknya, tahu2 totokan tersebut telah bersarang di atas dadanya.
Serangan totokan dari si sastrawan ini bukan ilmu jari sembarangan, ia telah pergunakan ilmu maha sakti dari dunia persilatan “Kan Goan Ci Kang” adanya.
Ilmu jari Kan Goan Ci Kang tersebut luar biasa sekali, meski sekeping bajapun akan tertotok hancur apabila terhajar oleh serangan tersebut, apalagi manusia ? Meskipun tenaga lweekang yang dimiliki Gia Kang Tok Shu amat sempurna, bagaimanapun juga ia terdiri dari darah dan daging, darimana ia sanggup menerima datangnya serangan tersebui? Terdengar ia menjerit ngeri, suaranya menyayatkan hati. .
tahu2 isi perutnya telah terhajar hancur, darah segar mengucur keluar darn tujuh lubang indranya, dan tidak sempat banyak berkutik badannya roboh binasa diatas tanah.
Demikianlah, seorang gembong iblis yang sudah terlalu banyak melakukan kejahatan selama hidupnya telah binasa dalam keadaan mengenaskan ditangan seorang pemuda tak dikenal.
Dalam pada itu si kakek huncwe dari gunung Bong-san sekalian tujuh orang yang bersembunyi dibalik kuburan kuno sama2 menjerit kaget, mereka dibikin tertegun oleh peristiwa tersebut.
“Ilmu shat apakah ini ? sungguh luar biasa dan dahsyat bukan kepalang … pikir mereka hampir berbareng.
Ditinjau dari gerak gerik yang serba lembut dari sastrawan ini, meskipun angkuh dan jumawa namun wajahnya yang tampan serta halus sama sekali tidak terpancar bahwa dia adalah seorang jago Bu-lim yang memiliki ilmu silat sangat lihay” pikir si kakek huncwee dari gunung Bong-san pula dalam hatinya. Siapa nyana dia betul2 kosen, agaknya ilmu tenaga dalamnya telah mencapai apa yang disebut sebagai “Lak-Hoo-Koei-It” suatu tingkat yang tiada taranya dalam ilmu silat….
Sementara si kakek huncwee itu masih termenung, tiba2 terdengar si sastrawan itu berteriak ke arah tempat persembunyian mereka: “Kini sudah tak ada urusan lagi, cuwi sekalian boleh segera munculkan diri !” Mendengar teriakan itu si kakek huncwee meloncat keluar duluan, ia segera menghampiri si sastrawan itu dan menjura dalam2.
“Ilmu silat yang sauw-hiap miliki benar2 luar biasa” katanya. “Hal ini membuat lohu merasa sangat kagum, entah dapatkah anda beritahu nama serta asal perguruanmu ?…” Seraya berkata sepasang matanya menatap wajah sastrawan itu tajam2.
“Cayhe Hoo Thian Heng” jawab sang sastrawan itu dengan sikap dingin. “Sedangkan mengenai asal perguruanku, di kemudian hari kalian bakal tahu sendiri, maaf apabila dewasa ini cayhe tak dapat menjelaskan!” Berbicara sampai di sini, sinar matanya berputar menyapu sekejap ke arah Tonghong Beng Coe sekalian, tambahnya: “Kadal kumala beracun keji adalah binatang beracun yang langka dan jarang sekali ditemui dalam kolong langit, sekarang dalam saatnya bagi binatang itu untuk keluar dari gua, cayhe harap cuwi sekalian suka meninggalkan tempat ini sejauh lima tombak demi menjaga keselamatan sendiri dan carilah tempat untuk menyembunyikan diri, pertinggi kewaspadaan serta jaga dan hadanglah setiap orang yang hendak melancarkan bokongan dengan ambil kesempatan ini, asal usaha cayhe sukses besar, niscaya akan kujelaskan siapakah pembunuh sebenarnya dari Tonghong Kun…” Sementara mereka sedang bercakap2, tiba2 terdengar jeritan lengking yang sangat aneh berkumandang keluar dari kuburan kuno yang terletak beberapa tombak sebelah kiri mereka, suara itu tinggi melengking dan amat menyeramkan, membuat bulu kuduk semua orang hingga berdiri.
Sekilas cahaya tajam berkelebat dalam mata Hoo Thian Heng, wajahnya yang ganteng menampilkan sikap tegang, buru2 serunya: “Inilah saatnya bagi binatang beracun itu untuk munculkan diri, harap kalian cepat2 mengundurkan diri !” Ketika berhadapan muka dengan Gia Kang Tok Shu tadi, si anak muda ini sama sekali tidak menunjukkan sikap tegang, bahkan berdiri dengan sikap hambar melirik sekejappun tidak.
Sebaliknya sekarang, baru saja mendengar jeritannya Hoo Thian Heng telah menunjukkan wajah tegang, hal ini bisa menunjukkan bahkan kadal kumala beracun keji ini jauh lebih sulit dihadapi daripada menghadapi seorang jago Bu lim kelas satu.
Menyaksikan sikap tegang yang diperlihatkan Hoo Thian Heng, si kakek huncwee yang dari gunung Bong san tak berani untuk bertindak gegabah, buru2 ia enjotkan badan, dalam dua kali loncatan telah berada enam tombak dari tempat semula, setelah memeriksa situasi sekelilingnya ia segera menyembunyikan diri, meloloskan senjata tajam dan bersiap sedia dengan pusatkan segenap perhatiannya.
Menanti ke tujuh orang itu sudah mengundurkan diri semua, Hoo Thian Heng baru menyulut sebuah obor lalu diletakkan di atas tanah, dan ia sendiri mundur sejauh tujuh depa dari tempat semula, duduk bersila menghadap ke arah kuburan kuno dimana berasalnya suara aneh tadi dari dalam sakunya ia ambil keluar sesuatu dan dijejalkan ke dalam mulutnya, sepasang mata berkilat, seluruh perhatiannya ditujukan ke arah kuburan kuno tersebut.
Hujan rintik telah berhenti, hanya angin dingin berhembus tiada hentinya, sekalipun tidak terlalu kencang namun cukup membuat orang merasa tersiksa.
Tanah pekuburan di atas gunung Pak Beng san dasarnya memang sudah seram dan mengerikan apa lagi berada dalam kegelapan yang mencengkeram serta suasana yang diliputi ketegangan, membuat orang merasa semakin bergidik semakin ngeri …..
Tiba2 dari bilik semak belukar di empat penjuru tempat itu berkumandang keluar suara gemerisik yang nyaring be-ribu2 ekor ular beracun secara teratur sekali muncul dari delapan penjuru dan langsung tergerak ke arah kuburan kuno tersebut.
Kalau diberitakan aneh sama sekali, rombongan ular2 beracun itu bergerak dari sisi tubuh Hoo Thian Heng tak seekorpun yang menunjukkan reaksi, se olah2 tidak merasakan bahwa di situ ada manusia, mereka teruskan gerakannya meluncur ke depan kuburan kuno itu.
Kurang lebih lima depa dari kuburan kuno tadi, ular2 beracun itu segera berhenti dan bergerombol jadi satu.
mereka berhenti tak berkutik se-akan2 sedang menantikan sesuatu.
Ketika itulah jeritan aneh tadi berkumandang kembali, suaranya sangat menusuk pendengaran, diikuti dari balik kuburan kuno tadi menyembur keluar segumpal kabut putih dan sesaat kemudian dua ekor makhluk aneh berbadan putih, berkaki empat berbentuk seperti Toke dan panjangnya dua depa munculkan diri dari balik goa.
Makhluk aneh inilah yang disebut sebagai Kadal Kumala Beracun Keji Pek Tok Giok Tiat.
Setelah keluar dari goa, sepasang kadal kumala beracun keji itu menyemburkan kabut putih tiada hentinya, kabut tersebut amat beracun dan hebatnya luar biasa.
Barang siapa yang menghisap kabut putih tadi, kendati memiliki tenaga dalam amat sempurnapun seketika akan merasakan kepalanya pening tujuh keliling dan merasa mual sekali, lama kelamaan isi hatinya akan kaku dan akhirnya mati binasa.
Untung Bong-san Yen Shu bertujuh berada enam tombak dari tempat itu, sehingga mereka tidak sampai keracunan.
Sebaliknya kendati Hoo Thian Heng berada enam tombak dari tempat itu, tetapi berhubung ia sudah menghisap pil mustajab penawar racun dalam mulutnya maka meski kabut putih itu sangat beracun namun tidak mempengaruhi dirinya sama sekali.
Dalam pada saat itu sepasang kadal kumala tersebut menggerakkan ke empat buah matanya menyapu rombongan ular2 tersebut, beberapa saat kemudian tiba2 binatang ini meloncat ke dalam rombongan ular beracun itu, masing2 makhluk tadi menggigit seekor ular kecil sepanjang tiga depa yang memancarkan cahaya ke-emas2an kemudian mengunyah dengan lahapnya.
Ular2 lainnya setelah menyaksikan kejadian itu, se-olah2 mendapat pengampunan mereka bersama putar badan dan bergerak meninggalkan tempat itu, dalam sekejap mata seekorpun tak bersisa lagi.
Bong-san Yen Shu sekalian jadi kagum dan tertarik oleh peristiwa tersebut, inilah keajaiban dunia yang tak bisa dirubah ataupun dicari keduanya ….
Setelah rombongan ular2 itu berlalu, di depan kuburan kuno itupun tinggal kedua ekor kadal kumala tadi sedang menikmati dua ekor ular emas kecil dengan lahapnya, dari mulut mereka mengeluarkan suara nyaring yang aneh, seakan2 mereka sedang merasa bangga.
Sejak kemunculan dua ekor kadal itu, wajah Ho Thian Hong menunjukkan perasaan semakin tegang, sepasang matanya mengawasi kedua ekor kadal kumala itu tak berkedip, seluruh kekuatannya sudah dihimpun untuk siap melancarkan tubrukan.
Beberapa saat kemudian kedua ekor kadal kumala itu sudah habis menelan ular emas tersebut dan memperdengarkan jeritan kemenangan yang nyaring, tiba2 empat mata mereka yang kecil tertarik oleh kobaran api kurang lebih tujuh depa di hadapan Hoo Thian Heng, kedua ekor kadal itu kelihatan ragu2, sejenak kemudian lambat laun bergerak menuju ke arah kobaran api ini.
Ho Thian Heng jadi kegirangan setengah mati, ia siapkan segenap tenaganya untuk menyergap.
Ketika kedua ekor kadal kumala beracun keji itu tiba kurang lebih lima enam depa dari kobaran api itu. mendadak segulung angin puyuh berhembus lewat menggulung kobaran api tadi hingga padam.
Kedua ekor kadal kumala Pak TOk-Glok Tiat tersebut benar2 amat cerdik, ketika menyaksikan padamnya api itu mereka kelihatan terkejut dan merasa adanya tanda bahaya, buru2 badannya berputar dan melompat lari masuk ke arah goa.
Justeru karena takut sergapannya tidak berhasil maka Hoo Thian Heng hendak pancing kedua ekor kadal itu meninggalkan guanya lebih jauh dengan gunakan kobaran api tersebut, siapa nyana Thian tidak memberi bantuan dan timbul kejadian diluar dugaan, kobaran api yang sangat besar tiba2 terhembus padam oleh gulungan angin puyuh sehingga kedua ekor kadal kumala itu mengerti bahaya dan melarikan diri.
Kesempatan baik sukar dicari kembali dan dalam sekejap mata akan lenyap Hoo Thian Heng tak mau buang kesempatan itu dengan sia2, sepasang lengannya segera dipentang lebar2, jari tengah serta jari telunjuk sepasang tangannya bergerak cepat menotok ke arah tubuh kedua ekor kadal kumala itu.
“Binatang, kau hendak lari kemana ? kena!” bentaknya.
Ditengah bentakan keras, serentetan kabut putih meluncur keluar menghantam di tubuh kedua ekor kadal kumala tersebut. Plook ! Plook ! serangan tersebut dengan telak bersarang pada sasarannya.
Walaupun kena diserang, kedua ekor kadal kumala itu seakan2 tidak merasa, mereka hanya berguling belaka di atas tanah untuk kemudian bangun dan lari lagi.
Menyaksikan keampuhan binatang itu, Hoo Thian Heng tertegun, ia tidak sangka ilmu jari Kan Goan Ci Kang nya yang lihay ternyata sama sekali tidak mempan.
Walaupun hatinya melengak, ia tak berani berayal, sambil mengempos hawa murni ilmu jari Kan Goin Ci Kang nya dilancarkan kembali.
Ditengah saat yang amat kritis itulah, tiba2 terdengar dua kali suara gemerincingan se-olah2 senjata saling beradu, sesosok bayangan putih dengan diiringi dua titik cahaya emas meluncur ke luar dari balik kuburan kuno dimana ada sarang kadal kumala tersebut, hanya sekilas pandang bayangan tadi sudah lenyap kembali kecuali tertinggal sisa bau wangi yang menawan hati ditengah udara.
Hoo Thian Heng melengak, buru2 ia kerahkan segenap tenaganya menghantam ke arah sepasang kadal kumala itu, bersamaan pula badannya ikut menubruk ke depan.
Serangan yang dilancarkan kali ini dengan segenap tenaga berhasil juga merobohkan binatang tersebut, tetapi si anak muda itu segera berdiri mendelong, kiranya kadal kumala beracun keji ltu tinggal seekor belaka, kadal kedua telah lenyap tak berbekas.
Hoo Thian Heng segera sadar, binatang itu pasti sudah diserobot orang, ia jadi sadar sampai alisnya berkerut, tapi apa yang dapat ia lakukan? Sebab bukan saja ia tak tahu siapakah yang serobot kadal kumala itu, bahkan tadipun ia cuma melihat berkelebatnya sesosok bayangan putih mengiringi dua titik cahaya emas, bagaimanakah raut muka serta potongan badannya tak ia lihat sedikitpun, Ditinjau dari hal ini sudah cukup membuktikan bahwa kepandaian silat yang dimiliki orang itu benar2 lihay, atau paling sedikit tidak lebih rendah dari kepandaiannya.
Walaupun begitu iapun merasa bersyukur sebab orang itu tidak serobot kedua2nya, ia masih tinggalkan seekor bagi dirinya.
Dari dalam saku Hoo Thian Heng segera ambil ke luar sebilah pisau belati sepanjang tujuh coen, ditengah berkelebatnya cahaya emas mengikuti bagian yang lunak di atas lambung kadal kumala tadi ia membelek dan menyodet perut binatang itu dan mencukil keluar sebutir mutiara tadi ke dalam mulutnya.
Setelah mutiara ditelan ia masukkan kembali pisau belatinya ke dalam saku lalu duduk bersila di atas tanah, dan pejamkan matanya mengatur pernapasan, ia hendak gunakan hawa murninya untuk melebur mutiara tadi agar kekuatannya bisa berlipat ganda.
Saat itulah Bong-san Yen Shu bertujuh baru munculkan diri dari tempat persembunyian dan mengelilingi Hoo Thian Heng untuk ber-jaga2 atas serangan dari pihak luar.
Beberapa saat berlalu, Hoo Thian Heng telah berhasil melebur mutiara tadi dengan mengandalkan tenaga dalamnya lalu tenaga gabungan tadi bergerak mengelilingi delapan urat tiga puluh enam jalan darah hingga mencapai cap jie Tiongloo, setelah mengitari tubuh dua kali dan merasa badannya makin segar, ia baru tarik kembali hawa murninya, tersenyum dan bangun berdiri !” “Sauw-hiap !” Bong-san Yen Shu sekalian segera menjura dengan wajah menyesal. Pesan yang kau titipkan kepada lohu sekalian ternyata tak dapat kami jalankan dengan baik, harap sauw-hiap suka memaafkan !” Aaaai . . . ilmu silat orang itu terlalu lihay, dalam persoalan ini aku tak bisa salahkan kalian beberapa orang, hanya saja ..” Ia melirik sekejap ke arah beberapa orang itu, lalu menggeleng dan menghela napas tiada hentinya.
Walaupun si kakek huncwee sekalian mendengar bahwa Hoo Thian Heng tidak akan menyalahkan mereka, tetapi dari perubahan wajahnya mereka dapat melihat betapa sedihnya hati pemuda itu.
Sejak munculnya Hoo Thian Heng, Tonghong Beng Coe selalu merasa tidak puas dengan sikap angkuh si anak muda itu, tetapi sekarang ia merasa sudah sepantasnya kalau si anak muda itu bersikap angkuh, sebab ilmu silat yang dimilikinya benar2 luar biasa dahsyatnya.
Disamping itu iapun merasa senang terhadap pemuda she Hoo ini, melihat si anak muda itu bersedih hati karena kehilangan salah seekor kadal kumala tersebut, ia menghela napas panjang dan jalan menghampiri s i anak muda itu.
Sepasang matanya yang jeli memancarkan cahaya berkilat, ia tatap wajah pemuda itu dan ujarnya dengan suara lembut: “Hoo sauw-hiap ” walaupun kadal kumala Pek Tok Giok Tiat merupakan salah satu diantara tiga binatang paling beracun dikolong langit tetapi belum tentu benda tersebut merupakan barang yang benar2 berharga, buat apa kau selalu bersedih hati hanya karena persoalan itu “.
Bukan saja suaranya empuk mempesonakan bahkan merdu bagaikan nyanyian burung nuri, nada suaranya jelas kedengaran membawa perhatian yang mendalam.
Walaupun Hoo Thian Heng adalah seorang pemuda berwatak angkuh, tetapi s ikapnya itu hanya terpancar diluaran saja, apalagi dia adalah seorang pemuda yang masih gampang terpengaruh oleh asmara.
Ia merasa terharu dan simpatik terhadap gadis ini, sambil tersenyum jawabnya: “Nona Tonghong, bukannya cayhe tak bisa berpikir luas, tetapi kau harus tahu, untuk mendapatkan sepasang kadal kumala itu aku sudah menanti selama tiga bulan ditengah tanah kuburan yang seram dan terpencil ini, siapa sangka bukan saja pada saat ini sudah kehilangan seekor bahkan bayangan manusiapun tidak nampak, jelas bukankah hal ini sama artinya aku telah jatuh kecundang ditangan orang lain? coba nona pikirkan, apakah cayhe harus rela hati dan berpeluk tangan belaka? bagaimana hatiku tidak sedih …?” “Oooouw – – – kiranya demi makhluk tersebut, kau sudah menanti selama tiga bulan ditempat ini?” “Seandainya aku tidak berjaga selama tiga bulan ditempat ini, darimana cayhe bisa tahu kalau ayahmu dibunuh oleh seseorang?” (OodwoO) Jilid : 2 TONGHONG BENG COE merasa semakin keheranan, ia bertanya kembali.
“Benda itu kecuali bisa digunakan untuk melawan racun, apalagi kasiat mutiara tersebut??? kau telah membuang waktu selama tiga bulan lebih ditempat ini untuk tunggui binatang tersebut, apakah kau sedang melatih suatu ilmu beracun??” ” Hoo Thian Heng tahu nona ini bisa bertanya demikian sebab ia tak tahu apakah kasiat dari pil mutiara dari kadal kumala berusia ribuan tahun itu, padahal orang yang tahu akan kasiat mutiara tersebut kecuali satu dua orang diantara lima manusia aneh dari dunia persilatan, boleh dikata jarang sekali yang tahu.
Maka ia lantas tertawa angkuh, gerak-gerik pun pulih kembali seperti sedia kala, sombong dan jumawa.
“Nona bukannya cayhe bicara sesumbar dalam dunia persilatan dewasa ini jarang sekali orang yang tahu akan hasiat mutiara kadal kumala tersebut kecuali bisa digunakan untuk mengusir racun, padahal kecuali itu masih ada keguaaan yang jauh lebih besar lagi” Pada waktu itu Tonghong Beng Coe telah menaruh pandangan lain atas sikapnya yang angkuh maka dari itu ia tidak menunjukan perasaan apapun sebaliknya malah nada suaranya kedengaran makin halus.
“Sebenarnya apa sih kasiatnya?” tanyanya kembali dengan suara manja, dari sepasang matanya memancarkan sinar memohon: Hoo Thian Heng menyapu sekejap wajah Bong-san Yen Shu serta Tonghong Beng Coe sekalian, kemudian jawabnya lantang.
“Orang2 dikolong langit hanya tahu bahwa salah satu diantara tiga jenis binatang paling beracun dikolong langit ini bisa mengeluakan cairan yang sangat beracun, apabila cairan tersebut dipoleskan diatas senjita atau digunakan untuk melatih ilmu beracun, maka barang siapa yang terluka niscaya akan tidak ketolongan lagi. Tetepi mereka tidak tahu bahwa bilamana mahkluk tersebut telah hidup seribu tahun keatas, maka cairan beracun dalam tubuhnya akan menggumpal dan membentuk jadi seburir pil beracun dalam lambungnya, inilah yang dikatakan sebagai Lweetan oleh kalangan persilatan …” Ia berhenti dan menyapu kembali wajah orang2 itu dengan sinar mata tajam.
Dalam pada itu Bong-san Yen Shu bertujuh sedang menatap wajah Hoo Than Heng dengan mata terbelalak, seluruh perhatiannya telah di curahkan untuk mendengarkan keterangaa tersebut.
Terdengar Hoo Thian Heng berkata kembali.
“Pil beracun ini merupakan mustika yang tiada ternilai harganya, bagi orang yang berlatih silat cukup menelan sebutir saja sehingga dapat bergabung dengan tenaga murninya, bukan saja tidak mempan terhadap segala macam ilmu beracun, dan tidak mempan terhadap bahaya racun macam apapun bahkan tenaga dalamnya bisa bertambah bagaikan berlatih selama enam puluh tahun. Sebaliknya bila seseorang dapat menelan dua butir, maka kasiatnya benar2 akan semakin besar, kecuali tenaga dalamnya akan bertambah seperti hasil latihan seratus dua puluh tahun bahkan dari tua ia akan pulih jadi muda, sepanjang hidup tetap awet muda, jikalau dua tempat pentingnya bisa ditembusi, maka kepandaiannya tak terhingga lagi, ia berhasil mencapai suatu titik di mana tak terkalahkan oleh siapapun juga.
Berbicara sampai disitu, sianak muds itu merandek dan menghela napas panjang, tambahnya: “Sayang sekali takdir menentukan lain, sekali pun cahye sudah berjaga dengan susah payah selama tiga bulan, siapa sangka pada saatnya muncul seseorang yang berhasil merampas salah satu di antara kadal kumala itu, bahkan memiliki pula ilmu silat yang sangat tinggi, hal ini tak bisa salahkan kalian teledor dalam penjagaan, tetapi harus salahkan rejekiku yang jelek. Hanya tidak tahu siapakah orang itu2, disamping itu dalam kolong langit kecuali dua diantara lima manusia aneh Bu-lim yang tahu kasiat tersebut, sepuluh manusia sesatpun tidak tahu, tetapi orang itu mengetahui akan kasiat ini, hal inilah yang membuat cayhe jadi kaget dan curiga”.
Setelah habis mendengar penjelasan dari hoo Thian Heng, Sikakek huncwee dari gurung Bong san serta Tonghong Beng Coe sekalian baru tahu bahwa kasiat dari Tok-tan kadal kumala ini jauh lebih hebat dari pada jinsom serta sebangsanya yang sering tersiar dalam Bu-lim, benda itu benar2 merupakan benda mustika yang tak ternilai harganya.
Diam2 mereka ikut merasa sayang buat rejeki Hoo Thian Heng, namun dalam keadaan seperti ini mereka tak dapat bicara lain kecuali tundukkan kepala dengan mulut membungkam.
Pada saat ini orang yang merasa paling sedih boleh dikata Tonghong Beng Coe adanya, sebab dalam hati kecilnya diam2 ia sudah mencintai sastrawan angkuh tapi tampan ini, ia sudah jatuh hati terhadap Hoo Thian Heng.
Dalam pada itu Hoo Thian Heng ikut merasa terharu setelah menyaksikan sikap beberapa orang itu, ia sadar merekapun ikut merasa sedih akan rejekinya yang kurang baik.
Ia lantas mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Sudahlah, kalian tak usah bersedih hati karena diriku, aku bahkan amat berterima kasih atas kesudian kalian suka membantu usahaku.
Meski salah satu diantara kadal kumala itu lenyap diserobot orang, bukankah aku telah mendapatkan pula salah satu diantaranya, sekalipun kedua buah jalan darahku tak berhasil ditembusi, tetapi asalkan berlatih rajin bukannya tak ada kemungkinan “Jien Tok'” kedua jalan darah tersebut berhasil kutembusi, sekarangpun aku Hoo Thian Heng sudah merasa puas dengan hasil yang kudapatkan”.
Bicara sampai disitu, mendadak tiada suara: “Tujuan cayhe telah terpenuhi, aku rasa saat inilah masaku untuk berpamitan dengan kalian semua !”.
Si kakek Huncwee dari Gunung Bong san mengerti apa yang dimaksudkan, buru2 ia menjura: “Nah, kalau begitu silahkan siauw-hiap bicara secara langsung !”.
Hoo Thian Heng tertawa angkuh.
“Orang yang membinasakan Tong-hong Koen bukan lain adalah Pak Mo-Siang Sat atau sepasang malaikat gurun pasir!” Begitu nama itu diutarakan, sikakek Huncwe dari Gunung Bong-san tersentak kaget, segera pikirnya: “Eeei …. darimana bisa kedua orang gembong iblis itu ??” Sementara itu Tonghong Beng Coe bagaikan tersambar guntur disiang hari bolong, ia tertegun dan berdiri melongo, ia tidak mengira kalau musuh besarnya bukan lain adalah Pak Mo Siang Sat.
Ia tahu sepasang malaikat dari gurun pasir itu adalah salah satu diantara sepuluh manusia sesat dunia persilatan, ilmu silatnya sangat lihay sekali.
Diam2 ia berbisik dalam hati: “Ooooh ayah — dendam sakit hati ini mungkin tak bisa puterimu tuntutkan balas sendiri demi kau orang tua . . . ” la sadar dengan andalkan kepandaian silat yang dimilikinya saat ini ditambah dengan bantuan keempat orang dayangnya, masih belum tandingan dari sepasang malaikat tersebut, kalau toh nekad pergi niscaya jiwanya akan dikorbankan dengan sia2.
Tetapi sakit hati ayahnya lebih dalam dari lautan, ia merasa lebih baik mati konyol daripada dikutuk orang sebagai anak tak berbakti, sekalipun harus menempuh bahaya dan badan harus hancur luluh, ia harus mencari Pak-Mo Siang-Sat untuk diajak adu jiwa.
Setelah ambil keputusan didalam hati, ia lantas gertak gigi dan serunya dengan nada penuh kebencian: “Aku Tonghong Beng Coe apabila tak bisa menyembelih kedua orang gembong iblis itu dengan tangan sendiri, aku bersumpah tidak jadi orang.ø” Suaranya keras, tegas dan tandas, dari sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat dan roman mukanya menunjukan kebulatan tekadnya.
Hoo Thian Heng serta Bong san Yen-Shu yang menyaksikan kejadian itu diam2 mengangguk kagum.
Tiba2 Tonghong Beng Coe maju selangkah ke depan, kepada Bong-san Yen-Shu seraya menjura ujarnya: “Yu Loocianpwee, karena rasa duka atas binasanya ayahku untuk beberapa saat keponakan telah salah menuduh Loocianpwee sebagai pembunuh ayahku, kelancanganku ini harap suka di maafkan oleh kau orang tua!” Kemudian kepada Hoo Thian Heng pun ia menjura dan ujarnya lebih jauh: “Atas kesudian sauw-hiap untuk memberitahukan pembunuh sebenarnya yang telah membunuh orang tuaku, aku Tonghong Beng Coe akan mengingatnya didalam hati.
Dalam pembalasan dendam ini seandainya aku beruntung bisa selamat, suatu hari budi kebaikan ini pasti akan kubalas.
Tetapi kalau tidak beruntung dan aku binasa, biarlah budi ini akan kubalas dalam penjelmaanku untuk kedua kalinya dikolong langit…” Habis bicara air mata nona itu terasa mengembang hampir2 saja mengucur keluar membasahi pipinya, namun ia berusaha untuk menahan diri agar air mata tidak membasahi wajahnya.
“Selamat tinggal!” tiba2 Tong hong Beng Coe gertak gigi dan berseru, tidak menanti jawaban lagi, ia putar badan dan berkelebat pergi dari s itu.
“Nona Tong hong, tunggu sebentar!” Si Kakek Huncwee dari gunung Bong-san berseru: Berada ditengah udara Tonghong Beng Coe menarik pinggangnya kebelakang, putar badan dan melayang beberapa tombak dari kalangan, memandang kearah sikakek tua itu ia bertanya: “Yu Loo-cianpwee, ada urusan apa?”.
“Nona! meskipun loolap tak ada hubungan sama sekali dengan ayahmu almarhum namun kita toh sama2 berasal dari dunia persilatan, kematian ayahmu ditangan Sepasang Malaikat dari Gurun pasir kendati tak ada sangkut pautnya dengan loolap tetapi beliau binasa diujung golok emasku, karena persoalan golok emas ini aku ingin mencari sepasang malaikat itu dan dimintai keterangan apa maksudnya mencuri golok emasku kemudian menfitnah loolap, Aku ingin menuntut suatu keadilan dari sepasang malaikat tersebut, oleh sebab itu sengaja aku ingin berangkat bersama2 nona, agar bilamana perlu loolap pun bisa memberi bantuan buat nona sekuat tenaga yang kumiliki”.
Tonghong Beng Coe dibuat sangat terharu oleh perkataan sikakek huncwee dari gunung Bong san yang begitu bersemangat, setia kawan dan suka memberi bantuan kepadanya.
Namun, pada dasarnya nona ini angkuh dan keras kepala, meskipun ia tahu dengan andalkan kepandaian yang dimilikinya sekarang masih bukan tandingan dari lawannya, walaupun ia tahu harapan untuk berhasil membalas dendam amat tipis, namun ia tak sudi mendapat bantuan dari orang lain.
Oleh karena itu sehabis mendengar perkataan itu, sang nona termenung dan membungkam dalam seribu bahasa, ia merasa sangsi dan ragu2 untuk memberikan jawabannya.
Sementara nona itu berniat menampik, mendadak Hoo Thian Heng buka suara dan bicara dengan suara lantang: “Nona, Sepasang malaikat dari Gurun Pasir merupakan gembong iblis diantara sepuluh manusia sesat, kepandaian silatnya luar biasa, tenaga lweekangnya yang mereka milikipun amat sempurna, aku kuatir meskipun nona berada ber-sama2 Yu Loo-hiap kalian berdua masih bukan tandingan dari kedua orang Malaikat itu . . .” Berhenti sejenak untuk menatap kedua orang itu, kemudian tambahnya: “Diantara kalian berdua, satu pihak ingin menuntut balaskan dendam kematian ayahnya dan pihak lain ingin menuntut keadilan atas fitnahan yang ditimpakan kepada dirinya, benar urusan ini tiada sangkut paut dengan cayhe, namun berhubung barusan kalian berdua telah membantu cayhe, sebagai rasa terima kasihku, cayhe suka berangkat ber-sama2 kalian berdua dan menyumbangkan sedikit tenaga untuk bantu mensukseskan harapan kalian, tetapi sebelumnya itu aku pun ingin menerangkan, cayhe berbuat begini bukan karena urusan jual beli, aku membantu kalian karena muncul atas hati rela, entah bagaimana menurut pendapat kalian berdua???” Dasar angkuh, selesai bicara pemuda itu mendongak dan tertawa lantang.
Tong-hong Beng Coe dan si Kakek Huncwee dari gunung Bong san tergoncang setelah mendengar ucapan itu, inilah diluar pemikiran mereka berdua, maka dari itu dengan sinar mata keheranan mereka menatap Hoo Thian Heng tajam2.
“Sungguh aneh sekali” pikir Si kakek Huncwee dari gunung Bong-san dengan hati tertegun. “Di pandang dari wajahnya ganteng dan lurus, Hoo Thian Heng tidak mirip seorang manusia sesat yang licik dan keji, namun apa sebabnya ia memiliki watak yang kukoay, angkuh, jumawa dan berubah tiada menentu ? …. semoga saja ia berhati lurus, kalau tidak niscaya ia merupakan musih tangguh yang paling menakutkan bagi kita orang2 aliran larus dalam dunia persilatan !” Tawaran yang diajukao secara sukarela oleh Hoo Thian Heng tentu saja sama halnya “Pucuk dicinta ulam tiba” bagi sikakek Huncwee dari gunung Bong-san, buru2 ia maju kedepan dan menjura.
“Hoo Sauw hiap sudi membantu usaha kami … aaah ! sungguh bagus, bersyukurlah atas kemurahan Thian, kali ini sepasang Malaikat dari Gurun Pasir tak bakal lolos lagi dari tuntutan keadilan !” Hoo Thian Heng membungkam, ia berpaling ke arah si kakek Huncwee dari gunung Bong-san dan tertawa angkuh.
Sebetulnya Tonghong Beng Coe ada niat untuk menampik tawaran si Kakek Huncwee dari Gunung Bong-san untuk berangkat ber-sama2, tetapi sekarang, setelah ia mendengar Hoo Thian Heng pun akan berangkat ber-sama2 mereka, entah apa sebabnya nona ini jadi berubah pendapat, mulutnya segera bungkam dalam seribu bahasa.
“Kalau begitu marilah kita berangkat sekarang juga !” kata si Kakek Huncwee dari gunung Bong san kemudian.
Sepasang biji mata Tonghong Beng Coe yang jeli mengerling sekejap kearah Hoo Thian Heng lalu ia mengangguk.
Pemuda itu terseryum tawar, tiba2 ujarnya: “Yu Loo hiap, nona Tonghong, silahkan kalian beberapa orang berangkat lebih dahulu, cayhe akan menyusul belakangan, lima hari kemudian pada tengah malam kentongan kedua kita berjumpa lagi disarangnya sepasang malaikat, yaitu didalam rimba diselat Kan Tjie Kok gunung Im san, siapa yang datang duluan dia musti menunggu yang lain!” Begitu ia selesai bicara lantas mendongak dan bersuit nyaring.
Suitan itu tajam dan tinggi menjulang ke angkasa memecahkan kesunyian yang mencekam malam itu, sebentar kemudian dari tempat kejauhan menggema pula suara sahutan berupa ringkikkan panjang yang tak kalah kerasnya diikuti munculnya suara derapan yang santar.
Sungguh cepat sekali pertama kali mendengar ringkikkan tersebut masih berada ditempat kejauhan, dalam sekejap mata muncul sesosok bayangan hitam bagaikan hembusan angin taupan meluncur datang.
Bayangan hitam itu laksana sambaran kilat membelah bumi, dalam waktu singkat telah tiba dihadapan Hoo Thian Heng dan mendadak berhenti berlari.
Ketika itulah si Kakek Huncwee dari gunung Bong-san sekalian baru dapat melihat bahwa bayangan hitam itu bukan lain adalah seekor keledai hitam mulus tanpa pelana, setibanya didepan anak muda itu sang keledai segera meringkik lirih.. kepalanya dengan manja dielus pada bahu Hoo Thian Heng, suatu pertanda binatang itu amat jinak dan menyayangi majikannya! Hoo Thian Heng yang di-elus2 binatang kesayangannya segera tertawa, sambil membelai pula leher keledai itu ia berkata.
“Siauw Hiat, selama beberapa bulan ini kau tentu banyak menderita bukan… !” Manusia mengajak binatang bicara, tidaklah suatu lelucon yang tak lucu?? Dalam pada itu Hoo Thian Heng telah enjotkan badannya meloncat naik keatas punggung keledai, kepada si kakek Huncwee dari gunung Bong san sekalian sambil menjura serunya.
“Sampai berjumpa kembali dilembah Kan Ce Kok!” Ditengah derapan kaki yang amat ramai, tahu-tahu keledai tersebut telah membawa majikannya puluhan tombak dari tempat semula.
Jelas lari keledai ini tidak kalah dengan lari kuda Cian lie-kia yang sehari bisa menempuh seribu li.
Manusia angkuh, keledai jempolan …. dua macam makhluk yang berbeda wujud ini meninggalkan kesan yang mendalam dalam benak tujuh orang.
Dengan ter-mangu2 Tong-hong Beng Coe mengawasi kearah mana Hoo Thian Heng lenyapkan diri, malam sangat gelap, benda apapun tidak kelihatan, gadis itu merasakan sesuatu perasaan yang aneh, ia merasa se-olah2 dalam hati kecilnya telah kehilangan sesuatu.
Tapi, mengapa ia bisa mendapat perasaan seperti itu? Ia sendiripun tak tahu …
“Nona Tong-hong! Mari kita segera berangkat!” tiba2 si Kakek Huncwee dari gunung Bong san berseru memecahkan kesunyian.
“Baik!” sahut si nona agak terperanjat, ia segera mengangguk.
Badannya bergerak ringan, dalam sekali enjotan ia meluncur kedepan ditengah lindungan ke empat orang dayangnya, ujung baju tersampok angin dalam sekejap mereka telah meluncur turun kebawah puncak.
“Anak Yu! ayoh berangkat!” buru2 si Kakek Huncwee dari gunung Bong-san menarik tangan muridnya Gong Yu.
Begitulah si kakek tua beserta muridnya pun segera berkelebat turun gunung menyusul lima orang gadis sebelumnya” Dalam sekejap mata beberapa orang itu telah lenyap dibalik kegelapan malam yang merekah seluruh jagad.
Tidak lama si Kakek Hunewee dari gunung Bong san sekalian berlalu mendadak dari belakang sebuah kuburan kuno lima tombak dari gelanggang muncul sesosok bayangan manusia.
Orang itu munculkan diri dengan gerakan gesit, sembari memandang kearah mana beberapa orang itu lenyapkan diri ia tertawa menyeringai suaranya seram dan mengerikan, untuk kemudian orang itu enjotkan badannya menyusul turun gunung.
oooo0oooo MALAM, sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, saking hening dan sepinya mendatangkan suasana yang seram, menakutkan bagi siapapun juga.
Angin Barat laut berhembus kencang menggidikkan tubuh setiap makhluk yang berlalu lalang terutama sekali didaerah Utara dan Mongolia luar, waktu itu musim dingin sedang mencekam hawa dingin meresap ketulang sumsum membuat hidung dan telinga terasa amat sakit.
Meskipun malam itu diterangi oleh cahaya rembulan yang putih keperak-perakan, namun hembusan angin Barat laut yang kencang menyapu daun kering, serta pasir dan debu merusak pemandangan indah malam itu.
kentongan kedua baru saja tiba, beberapa li diluar lembah Kan Tjie kok digunung Im san dalam sebuah hutan rimba mendadak muncul lelaki perempuan tujuh orang, dua lelaki dan lima orang gadis remaja.
Siapakah orang itu? Sungguh aneh sekali, mengapa orang2 itu munculkan diri diatas sebuah bukit yang gersang lagipula ditengah malam yang begitu menyeramkan! Mungkinkah mereka adalah kaum pelancong yang sengaja datang kemari untuk menikmati keindahan alam? Aaaah, tidak benar, untuk menikmati keindahan alam ditengah malam buta sudah pada umumnya hanya dilakukan oleh kaum sastrawan tidak mungkin diantaranya terdapat kaum gadis, apalagi gadis muda belia.
Atau mungkin mereka adalah serombongan pemburu? Tapi tidak mirip juga, karena ketujuh orang itu meskipun menggembol senjata tajam yang digunakan untuk memburu.
Lalu siapakah orang itu? sungguh aneh sekali.
Ternyata laki perempuan tua muda tujuh orang ini bukan lain adalah Tonghong Beng Coe beserta dayangnya serta si kakek Huncwee dari gunung Bong san dengan murid kesayangannya Gong Yu.
Sekian lama Tong hong Beng Coe mengawasi sekeliling hutan itu dengan sinar matanya yang jeli, kemudian dengan nada kecewa ia berseru: “Kenapa ia belum juga munculkan diri ???” “Mungkin sebentar lagi ia akan tiba!.. jawab si kakek Huncwee dari gunung Bong-san sambil tertawa.
Mendengar jawaban itu, Tong hong Beng Coe berpaling, sepasang matanya dengan memancarkan cahaya ke ragu2an melototi wajah Bong-san Yen Shu tak berkedip.
“Aku merasa rada sangsi, benarkah ia suka membantu usaha kita ???” katanya.
“Nona menurut pendapat loolap tidak demikian adanya” kata si orang tua itu setelah termerung sejenak. “Meskipun tingkah polahnya rada kukoay dan sukar diraba, namun dia bukan seorang manusia yang tak pegang janji, bahkan wajahnya kelihatan jujur, aku lihat ia tentu merupakan jago segolongan dengan kita. Cuma- – memang kuakui tindakan serta perbuatannya rada kejam, telengas dan sadis !” Tong-hong Beng Coe mengangguk sementara ia hendak buka suara, mendadak terdengar suara gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang datang.
“Haaa… haaa. . . haaa. . . maaf kalau kedatangan cayhe rada terlambat selangkah sehingga merepotkan cuwi beberapa orang harus menunggu agak lama !” Tong-hong Beng Coe bertujuh sama2 tersentak kaget, mereka berpaling.
Beberapa tombak dibelakang mereka, dibawah sorotan sinar putri malam berdirilah seorang pemuda tampan berbaju warna abu2, sambil goyang kipas ditangannya ia berdiri gagah disitu.
Melihat munculnya sang pemuda, si kakek Huncwee dari gunung Bong-san mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Haaa- – haaa. . . haaa barusan kita membicarakan Co Coh, Co Coh telah tiba, Hoo sauwhiap! kau sungguh seorang jago yang pegang janji !” ” Tak usah ditanya lagi, pemuda ganteng tersebut bukan lain adalah jago kita Hoo Thian Heng yang berhasil membinasakan si Kakek Kelabang Beracun salah seorang diantara empat manusia beracun serta menangkap sepasang cecak kumala ditanah pekuburan Bong san.
Lambat2 Hoo Thian Heng maju menghampiri Tong-hong Beng Coe beberapa orang, air mukanya adem dan sinar matanya berkilat.
“Nona Tong hong !” segera tegurnya hambar. “Walaupun belum lama cayhe munculkan diri kedalam dunia persilatan, namun aku mengerti apa yang dimaksud dengan pegang janji, perkenalan cayhe dengan diri nonapun belum lama, apa sebabnya nona begitu gampang mengambil pertimbangan atas diriku, dan apa alasannya pula sehingga nona tidak percaya atas diri cayhe” Merah padam selembar wajah Tong hong Beng Coe setelah kena disemprot, ia tahu apa yang diucapkan barusan tentu sudah didengar semua oleh Hoo Thian Heng.
Masih beruntung wajah sebenarnya terselubung oleh selapis topeng yang tebal, orang lain tak dapat melihat perubahan wajah itu, kalau tidak, gadis ini tentu dibikin amat jengah.
Memperbincangkan seorang dibelakang orang itu sendiri sudah merupakan suatu perbuatan yang tercela, apalagi menaruh kesangsian terhadap seseorang yang belum lama terkenal, hal ini merupakan suatu pantangan berat.
Kena ditegur didepan umum, dara itu jadi sangat malu, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Walaupun orang lain tak dapat meligat bagai manakah perubahan wajahnya ketika itu, namun ditinjau dari kepalanya yang tertunduk dengan s ikap ter sipu2 kemudian melihat pula mulutnya membungkam, semua orang tahu hati kecil gadis itu tentu amat susah.
“Yu Thay hiap !” tiba2 Hoo Thian Heng buka suara lagi memecahkan kesunyian yang mencekam. “Aku tahu sepuluh manusia sesat dari Bu lim amat jahal, ganas dan keji, jikalau mereka disingkirkan itu berarti kita telah menyingkirkan bencana besar bagi kaum Rimba persilatan, mengapa kalian masih menuduh cayhe bertindak terlalu telengas ?” Bicara sampai disitu sinar matanya berkilat tajam, namun cuma sebentar untuk kemudian punah kembali. Dengan wajah serius ia meneruskan: “Buat aku, tindakan ini baru merupakan mula pertama, sejak hari ini asalkan diantara sepuluh manusia sesat berjumpa dengan aku Hoo Thian Heng, tak ada ampun lagi akan kusingkirkan semua dari muka bumi !” Si Kakak Huncwee dari gunung Bong-san terkesiap, dengan andalkan kepandaian silat serta tenaga lweekang yang amat dahsyat, ia memang bisa melakukan seperti apa yarg diutarakannya, itu berarti saat naas bagi seluruh manusia sesat telah berada diambang pintu ! pikirnya, Meskipun Si Kakek Huncwee dari gunung Bong san tahu berapa buas, ganas, keji dan telengas nya sepuluh manusia sesat, dan menyadari pula sudah pantas menjatuhi hukuman mati terhadap gembong iblis ganas tersebut, namun bagaimana pun juga dia sudah berusia lanjut, napsu angkara murka serta ambisinya sudah jauh berkurang, lagi pula dasar wataknya welas kasih, selama banyak tahun berkelana dalam dunia persilatan, kecuali terhadap manusia yang betul2 ganas dan banyak melakukan perbuatan terkutuk, jarang sekali ia melukai jiwa manusia.
Tidaklah aneh, sehabis mendengar perkataan dari Hoo Thian Heng, ia begitu terkejut, kaget dan terkesiap.
Demikianlah, dengan membawa perasaan welas kasih serta rasa peri kemanusiaan yang tebal ia menasehati pemuda she Hoo itu.
“Meskipun sepuluh manusia sesat adalah gembong2 iblis yang banyak melakukan kejahatan” ia berkata. “Dan memang sudah sepantasnya manusia semacam ini dibasmi dari muka bumi, namun tahukah sauw-hiap? bisa menyadarkan seseorang yang sesat jauh lebih baik dari pada membinasakan orang itu sendiri ?? tahukah kau berfaedahnya seorang manusia sesat bisa bertobat untuk kemudian banyak melakukan jasa bagi umat manusia guna menebus dosadosanya ? maka dari itu aku berharap Sauwhiap bisa mengobralkan cinta kasihmu terhadap manusia, berilah kesempatan bagi orang2 itu memperbaiki jalan hidupnya agar mereka berguna bagi umat manusia dan tanah air !” “Yu Thay-hiap, welas kasihmu serta rasa peri kemanusiaanmu yang tebal membuat cayhe tergerak hati dan merasa sangat kagum” sahut Hoo Thian Heng sambil tersenyum, “Untuk selanjutnya cayhe tentu akan mengikuti petunjukmu dan sebisa mungkin mengobralkan rasa cinta kasihku terhadap umat manusia, namun hal ini pun tergantung bagaimanakah nasib serta keberuntungan orang2 itu !” Secara lapat2 Si Kakek Huncwee dari gunung Bong-san merasa, walaupun nada ucapan Hoo Thian Heng angkuh, dingin dan sesumbar, namun ia memiliki kegagahan yang luar biasa, ia memiliki kewibawan dan keagungan yang tak boleh dipandang enteng oleh siapapun.
Dalam hati diam2 pikirnya: “Memandang kegagahan serta kepandaian silat yang dimiliki orang ini, tidak selang beberapa bulan kemudian ia pasti berhasil menggetarkan seluruh dunia persilatan dan angkat diri sebagai seorang gembong iblis atau mungkin sebaliknya jadi tokoh s ilat yang dikagumi semua orang “.
Berpikir akan hal itu ia mendongak lantas tertawa terbahak2, serunya: “Semoga saja gembong2 iblis itu bisa bertobat dan berubah pikiran untuk melakukan perbuatan baik –” “Hmm ! semoga saja apa yang Yu Thayhiap harapkan bisa tercapai seperti yang diinginkan !”.
Bicara sampai disitu mendadak Hoo Thian Heng melirik sekejap kearah Tonghong Beng Coe, menjumpai dara itu masih tundukkan kepala dengan mulut membungkam, ia tahu gadis itu amat sedih hati, tak kuasa timbul rasa menyesal dalam hati kecilnya, pemuda itu merasa apa yang disemprotkan tadi memang rada terlalu keras. memang tidak pantas mengucapkan kata2 sekasar itu terhadap seorang nona muda belia.
Karena berpikiran demikian, ia lantas maju dan menjura kearah Tonghong Beng Coe.
“Nona, harap kau suka memberi maaf atas kelancanganku mengutarakan kata2 yang tidak sononoh, aku harap nona jangan pikirkan dalam hati!” ia berkata.
Meskipun Tong hong Beng Coe tidak menyangka manusia angkuh dan tinggi hati semacam Hoo Thian Heng secara tiba2 bisa minta maaf kepadanya, suatu kejadian yang tak mungkin terjadi.
Sang gadis jadi terkejut bercampur kegirangan, hatinya terasa amat manis penuh kehangatan.
Sepasang biji mata Tong hong Beng Coe yang bening jeli kontan bercahaya terang, kepada Hoo Thian Heng buru2 ia menjura.
“Aaaah. . . jangan . . . jangan minta maaf kepadaku” serunya manja. “Sauw hiap kau tak usah sungkan, dalam kenyataan memang Akulah yang salah, tidak pantas aku menggunakan hati seorang siauw-jien untuk menuduh yang bukan-bukan atas seorang Kun-cu, dalam kejadian ini tak bisa salahkan kalau Sauw-hiap jadi mengambek!” Menjumpai sepasang muda mudi itu saling mengalah dan banyak adat, si kakek Hun-cwee dari gunung Bong-san tak kuat menahan diri lagi, ia mendongak dan tertawa ter bahak2.
“Haaaa…haaaa…haaaa… Hoo Sauw hiap, nona Tonghong, persoalan yang telah lewat biarkanlah berlalu, kalian berduapun tak usah berlaku banyak adat lagi, aku lihat sekarang adalah tugas kira untuk memasuki lembah dan tuntut keadilan atas diri sepasang malaikat” “Baik!. Tonghong Beng Coe segera menurut setelah mendengar ajakan itu. Sepasang pundak bergerak, sang badanpun meluncur kearah mulut lembah diikuti keempat orang dayangnya dari belakang.
“Nona, harap tunggu sebentar!” mendadak Hoo Thian Heng berseru.
Tonghong Beng Coe segera berhenti dan berpaling, kepada Hoo Thian Heng tegurnya: “Hoo-Sauw-hiap, kau masih ada urusan apa lagi.?” “Nona, aku mohon bertanya, didalam lembah gunung yang begini luas apakah kau sudah tahu pasti dimana letak tempat tinggal sepasang malaikat itu?” Hoo Thian Heng bertanya sambil tersenyum.
Tonghong Beng Coe melengak dari sepasang biji matanya yang jeli memancarkan cahaya bimbang. Lama sekali, ia memandangi wajah Hoo Thian Heng dengan pandangan mendelong untuk kemudian menggeleng.
“Aku tidak tahu, apakah sauw hiap tahu ?” Sama halnya dengan diri nona sendiri, cayhe pun menginjak lembah ,an Tjie kok ini untuk pertama kalinya !” jawab pemuda itu seraya menggeleng.
Sepasang alis Tonghong Beng Coe yang bersembunyi dibalik topeng berkerut kencang, ia lantas berpaling kearah sikakek Huncwee dari Gunung Bong san.
“Yu Loocianpwee, apakah kau tahu dimanakah sepasang malaikat itu berdiam ???” Namun sebagai jawaban, sikakek Huncwee dari Gunung Bong-san inipun menggeleng.
“Loolap pun belum pernah detang kemari!” Si nona berdiam diri.
“Waaah — kalau begitu terpaksa kita harus melakukan pengusutan yang teliti dlsekitar tempat ini !” serunya kemudian.
“Ehmm, aku rasa memang terpaksa kita harus berbuat demikian !” “Hoo Thian Heng mengangguk membenarkan.
“Kalau begitu, ayoh kita segera berangkat !” sambung si kakek Huncwee dari Gunung Bong san.
Tidak menanti jawaban orang lagi, ia tarik tangan murid kesayangannya Gong Yu, mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan berkelebat ke arah lembah Kan Tjie Kok.
Tonghong Bengcu melirik sekejap kearah Hoo Thian Heng, kemudian dia menggerakan sepasang pundak, diiringi ke empat orang dayangnya ia segera berkelebat mengikuti Bongsan Yen Shu berdua.
Melihat semua orang sudah berangkat, Hoo Thian Heng segera mengempos napas dan menguntil dibelakang Tonghong Beng Coe sekalian.
Langkahnya kelihatan begitu tenang, air mukanya biasa dan sama sekali tidak kelihatan gugup atau tergesa.
Ujung baju tersampok angin, sang badan bergerak bagaikan awan yang melayang diangkasa, meski kelihatan sangat lambat dalam kenyataan cepatnya luar biaaa.
Sewaktu si Kakek Huncwee dari gunung Bong san serta Tonghong Bong Coe sekalian berpaling dan menjumpai langkah Hoo Thian Hong yang tenang namun mantap, mereka segera mengenali ilmu meringankan tubuh sianak muda itu bukan lain adalah “Leng-hi, poh” atau jalan me-layang2 suatu ilmu meringankan tubuh tingkat atas.
Dalam dunia persilatan dewasa ini, belum tentu ada beberapa orang yang berhasil menguasahi ilmu meringankan tubuh Jalan Melayang2 tersebut.
Bahkan, kemungkinan besar “Oe Lwee Ngo Khi” atau Lima manusia aneh dari kolong langit pun belum tentu berhasil mengusahi ilmu meringankan tubuh “Leng hi poo” itu.
Setibanya dimulut lembah, orang2 itu temukan kedua belah sisi jalan merupakan dinding bukit yyng terjal dan tinggi menjulang ke angkasa, batu cadas yang tajam dan berbentuk aneh tersebar di-mana2, antara bukit yang terjal terlintang sebuah lorong lembah yang sempit lagi kecil, luasnya hanya muat dua orang jalan berbareng.
Baru saja sikakek Huncwee dari Gunung Bong-san beberapa orang tiba dimulut lembah, mendadak terasa pandangan mata jadi kabur, sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, kiranya Hoo Thian Heng yang selama ini menguntil tertus dibelakang dengan sikap tenang telah melampaui beberapa orang itu.
Jalan direngah lembah sempit lagi kecil, dua orang jalan berbarengpun sudah susah dan tak ada ruang kosong, entah dengan cara bagaimana ternyata pemuda itu berhasil melampaui beberapa orang tadi dengan aman dan tenteram.
Kepandaian apa yang telah ia gunakan, tak seorang pun yang tahu, sungguh suatu kejadian yang aneh dan misterius, membuat orang bergidik dan ngeri…
Setibanya didepan Si kakek Hunewee dari gunung Bongsan, Hoo Thian Heng segera berseru lirih.
“Silahkan mengikuti diriku!” Sembari berkata, sang badan melayang kedepan laksana sambaran kilat cepatnya susah dilukiskan dengan kata2.
Melihat hal itu Si kakek Huncwee dari gunung Bong san segera berpaling kearah Tonghong Beng Coe dan berseru: “Nona, ayoh cepatan dikit!” Diam2 ia mengempos napas, kakinya makin di percepat, sambil menarik tangan murid kesayangannya Gong Yu, dengan cepat ia menguntil dibelakang Hoo Thian Heng masuk kedalam lembah.
Tonghong Beng Coe tidak mau berayal, diam-diam iapun mengempos tenaga kemudian lari mendampingi sikakek Huncwee dari gunung Bongsan dengan ilmu meringankan tubuh perguruannya” “Tui-hong Hwie” atau sutera Terbang Mengejar angin.
Dengan adanya kejadian ini, kasihan keempat orang dayang tersebut, dalam sekejap mata mereka sudah ketinggalan beberapa tombak jauhnya.
“Hebat juga nona ini !” pikir Si kakek Huncwee dari gunung Bong san sewaktu melihat Tonghong Beng Coe berhasil lari mendampingi dirinya dengan wajah tak berubah, kakek tua itu merasa sangat kagum, Inilah yang dinamakan ombak belakang sungai Tiang kang mendorong ombak didepannya, orang2 generasi Muda menggantikan generasi Tua, aku rasa dunia persilatan memang sudah sepantasnya jadi milik tunggal kaum muda mudi !” Dalam kenyataan jago tua ini tidak tahu, kepandaian silat yang dimiliki Tong-hong Bong Coe bukan saja sudah mendapat warisan dari semua ilmu silat yang dimiliki ayahnya Tongbong Koen, bahkan iapun merupakan anak murid kesayangan dari Soat-san Sin-nie atau Nie-kouw sakti dari gunung Es salah satu diantara lima manusia aneh dari Kolong langit.
Menanti sikakek Huncwe dari gunung Bong-san angkat kepala memandang pula Hoo Thian Heng yang ada didepan, ia temukan pakaian warna hijau yang dikenakan pemuda itu masih berkibar terus tiada hentinya, sang badan bergerak laksana awan diangkasa, meskipun ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya telah digunakan hingga mencapai puncaknya, namun sia2 belaka usahanya untuk menyusul sianak muda tadi, ia tetap ketinggalan satu tombak lebih lima enam dibekang.
Meskipun mulut selat itu amat sempit, namun makin kedalam selat tadi makin luas, dalam seperminum teh kemudian medan dihadapannya sudah amat luas dan sama sekali terbuka.
Hoo Thian Heng yang lari didepan mendadak berhenti, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan kearah sebuah rimba yang rimbun dan banyak pepohonan kurang lebih beberapa puluh tombak dihadapannya.
Menjumpai pemuda itu berhenti, sikakek Huncwee dari gunung Bong san segera mengerti, si anak muda itu tentu sudah menjumpai sesuatu segera ia mengepos napas dan meloncat kesamping Hoo Thian Heng.
“Sauw hiapl adakah yang telah kau jumpai??” Hoo Thian Heng mengangguk.
“Dibalik pepohonan yang lebat dan rimbun berdiri sebuah rumah gubuk, kemungkinan besar disanalah sepasang malaikat itu berdiam !” Sembari berkata ia menuding kearah hutan lebat beberapa puluh tombak dihadapannya.
Si kakek Huncwee dari gunung Bongsan segera pusatkan perhatiannya dan menengok kearah mana dituding oleh Hoo Thian Heng tersebut.
Ketika itu dari tengah udara mendadak melayang lewat segumpal awan hitam yang segera menutupi sorotan cahaya putih keperak perakan dari putri malam, seketika itu juga suasana di sekeliling tempat itu jadi sangat gelap, saking gelapnya hampir2 apapun tak kelihatan.
Dengan segenap kemampuannya si kakek Huncwee dari gunung Bong san memandang kemuka namun sia2 belaka usahanya ini, sebab kecuali benda disekitar sepuluh tombak yang terlihat juga pepohonan yang lebat-lebat lagi gelap, jangan dikata rumah gubuk dimaksudkan, hanya tiang pun sama sekali tidak kelihatan.
Haruslah diketahui, bilamana tenaga dalam seorang belum berhasil mencapai puncak kesempurnaan, tidak mungkin ketajaman matanya bisa menembusi kegelapan dan melihat jelas benda sejauh sepuluh tombak dalam keadaan semacam itu.
Meskipun si kakek Hun-cwee dari gunung Bong san sendiri memiliki tenaga murni hasil latihan selama puluhan tahun dan ia boleh disebut jago kangouw nomor wahid, namun bagaimanapun juga ia masih belum bisa menandingi bakat Hoo Thian Heng, ia kalah jauh kalau dibandingkan sianak muda ini.
Lagipula Hoo Thian Heng telah menelan pil mutiara dari Pek tok Giok Tiat” atau sepasang Cecak kumala, meski baru lewat beberapa hari ia sudah mengalami banyak perubahan, tenaga dalamnya bertambah lipat ganda, matanya tambahtajam, tubuhnya tambah ringan dan gesit, benda sejauh dua puluh tombak dapat ia lihat dengan jelas dan nyata.
Sementara itu Tong-hong Beng Coe pun telah menyusul datang, apa yang sedang dibicarakan si kakek Huncwee dari gunuug Bong-san dengan Hoo Tnian Heng bisa ia dengar semua dengan nyata, karena itu habis mendengar perkataan itu dara inipun alihkan s inar matanya mengawasi kedepan: Namun… seperti halnya sikakek Hun-cwee dari gunung Bong-san iapun tak berhasil menemukan sesuatu apapun kecuali kegelapan yang mencekam seluruh jagad.
Tak kuasa dengan suara lirih Tong hong Beng Co bertanya kepada sianak muda itu.
“Hoo Sauw-hiap! kenapa aku tidak temukan sesuatu apapun ???” Dasar watak seorang bocah perempuan, tabiat nya angkuh, sombong dan tinggi hati, ia anggap ilmu silat yang dimilikinya melebihi orang lain dan tak pernah pandang sebelah mata kepada orang lain, namun sejak melihat betapa dahsyatnya tenaga lweekang serta ilmu meringankan tubuh dari Hoo Thian Hong terhadap kesempurnaan ilmu silat anak muds ini, dara tersebut menaruh rasa kagum dan memuji tiada hentinya.
Ditambah lagi Hoo Thian Hong memiliki wajah yang ganteng, gagah dan mempesonakan hati setiap gadis..
Dicari sesungguhnya, ia sudah jatuh cinta terhadap lelaki sombong, lelaki tinggi hati ini.
Hanya yaa, memang dasar watak umum dari setiap gadis, ia memiliki s ifat congkak dan suka menjaga gengsi diri sendiri, meski dalam hati amat mnyintai lelaki itu, namun ia merasa kurang enak untuk mengutarakan serta memperlihatkan rasa cinta dan sayangnya . . .
perempuan tetap perempuan, memang makhluk paling aneh dikolong langit. Ingin menunjukkan rasa cintanya namun tak berani melakukan, dalam hati sayangnya bukan main namun mulut tetap membungkam, apa sebabnya perempuan bisa begitu?? sungguh membuat orang tak paham, mungkin inilah sudah sifat alam setiap gadis??? entahlah …
Demikianlah, ditengah bisik lirih dari Tong hong Beng Coe barusan, bukan saja suaranya lirih, bernadakan manis dan merdu bahkan membawa kemanjaan yang merupakan ciri khas seorang perempuan.
Meskipun begitu, Hoo Thian Heng tidak ambil pusing, sianak muda itu tetap berlagak pilon. Mungkin pemuda ini memang tak tahu akan sifat2 aneh kaum gadis, mungkin juga ia tahu hanya pura2 berlagak tak mengerti.
Sebab pada waktu itu, seluruh perhatiannya sedang dipusatkan kedepan mengawasi gerak-gerik rumah gubuk dihadapannya.
Haruslah diketahui, sepasang Malaikat dari gurun Pasir merupakan salah satu diantara sepuluh manusia sesat yang menggetarkan sungai telaga, bukan saja ilmu silat yang dimiliki sangat lihay tiada tandingannya. bahkan merekapun merupakan gembong2 iblis yang tersohor paling licik, paling kejam diantara sepuluh manusia sesat lainnya.
Pepatah kuno mengatakan, “Naga sakti yang tangguh tak akan melawan ular setempat.” Lembah Kan- Tjie Kok merupakan sarang dari sepasang malaikat, kedua iblis itu menguasai daerah kekuasaannya bagai melihat jari2 tangan sendiri, sedangkan diantara mereki beberapa orang itu baru mula pertama menginjak lembah tersebut, terhadap daerah disekelilingnya tidak begitu menguasai, dalam hal ini Sepasang Malaikat sudah menang posisi lebih dahulu.
Dengan andalkan kepandaian silat serta tenaga murni yang dimiliki, meskipun tidak jeri terhadap segala macam bokongan atau perangkap2 yang sengaja dipasang sepasang Malaikat, namun musuh dalam posisi gelap dan diri sendiri dalam keadaan terang, bagaimanapun juga posisinya kurang menguntungkan.
Bukan begitu saja, keselamatan si Kakek Hun-cwee dari gunung Bong-san bertujuh pun merupakan jaminan serta kewajibannya untuk melindungi, seumpama ia sedikit teledor sehingga salah satu diantara mereka berhasil dilukai sepasang Malaikat, bukankah kejadian ini akan sangat memalukan dirinya????? Musuh tangguh ada didepan mata, mana berani ia cabangkan pikiran dan menjawab pertanyaan nona itu??? Oleh sebab itu, sehabis mendengar pertanyaan tadi sianak muda tersebut tertawa sombong, sahutnya sembarangan: “Jaraknya amat jauh nona, mana dapat kau lihat tegas.????” Meskipun perkataan ini diutarakan tanpa mengandung maksud apapun, namun jelas siapapun akan merasa dibalik ucapan tadi tersembunyi arti tak pandang sebelah matapun terhadap si nona.
Inilah yang dikatakan pepatah sebagai “Yang berbicara tiada maksud, yang mendengar mendapat arti” Kontan air muka Tong-hong Beng Co berubah hebat, sepasang alisnya menjungkat, gengsinya benar2 tersinggung, nona ini merasa terhina dan dipandang enteng oleh pihak lawan.
“Hmmm! kau terlalu sombong dan jumawa” pikirnya didalam hati. “Kalau tidak kuperlihatkan satu dua jurus kepandaian silatku, kecewa aku jadi ahli waris Soat san Sin-nie salah seorang diantara Lima orang manusia aneh dari kolong langit!” Karena dalam hati berpikir demikian, ia segera mendengus dingin, sang badan berkelebat cepat, dengan ilmu meringankan tubuh “Tui-Hong Hwie-sie” atau Sutera Terbang mengejar Angin, ia berkelebat kearah depan.
Walaupun dara itu menguasahi ilmu silat dari dua keluarga, apa yang dikuasahi telah mencapai puncak kesempurnaan, namun Hoo Thian Heng pun bukan manusia biasa, ketika merasa dari sisi tubuhnya menyamber lewat desiran tajam ia lantas sadar.
Baru saja Tong-hong Beng coe melejit kede pan, lengan kanan sianak muda itu laksana kilat telah diulur dan menyambar pergelangan nona tersebut.
“Kau ingin mencari mampus ?” hardiknya lirih.
Secara tiba2 pergelangan tangannya dicekal, sebagai makhluk manusia yang memiliki daya refleks tanpa disadari gadis itupun memberikan perlawanan ilmu Boe-siang Siankang” ajaran gurunya Soat san Sin-Nie yang telah dipesan wanti2 jangan digunakan bilamana tidak perlu segera disalurkan mengelilingi seluruh badan kemudino meronta keras.
Baru saja jari tangan Hoo Thian Heng menempel diatas pergelangan Tong-hong Beng Coe secara tiba2 ia merasakan dari lengan nona itu memancarkan suatu daya pantul yang kuat membuat seluruh lengannya menjadi kesemutan.
Hoo Thian Hang amat terperanjat, buru2 hawa murni “Kan Goan Ceng Khie Sin Kang” nya disalurkan menembusi lengan kanan kemudian menyebar kelima jari, dengan paksakan diri ia pertahankan cengkeraman nya.
Tonghong Beng Coe amat terkesiap, ia sudah menggunakan tenaga murni “Boe Siang Sinkang” untuk coba meronta, nyatanya bukan saja gagal meloloskan diri dari cekalan tangan Hoo Thian Heng, bahkan ia merasa ada segulung tenaga tekanan yang sangat berat menerobos keluar melalui jari2 tangan sianak muda itu.
Sementara ia bersiap menambahi tenaga lwekangnya menjadi dua lipat ganda, mendadak terdengar Hoo Thian Heng menghardik dengan suara lirih namun tajam: “Simpan kembali tenaga murnimu nona, atau nanti kau tak dapat menahan tenaga Kian Goan Ceng khie Sin-kang ku sehingga salah tangan melukai dirimu!” “Kian Goan Ceng-khie Sin-kang” enamn patah kata begitu nyelonong masuk kedalam telinganya Tong-hong Beng Coe terperanjat buru2 ia menurut dan membuyarkan kembali tenaga Sian-kangnya.
Kiranya gadis itu pernah mendengar suhunya Soat-sin Sinnie mengungkapkan tentang persoalan itu, ilmu sakti “Boe Siang Sian-kang” merupakan kepandaian istimewa dari kaum pendeta yang tiada tandingan dalam dunia persilatan dewasa ini kecuali semacam ilmu yaitu “Kian Goan Ceng-khie Sinkang.” Menurut suhunya, ilmu sakti “Kian Goan Ceng khie Sinkang.” memiliki daya pukulan yang lebih besar daripada ilmu sakti “Boe Siang Sian kang” cuma ilmu sakti “Kian Goan Khie sin-kang” ini merupakan ilmu mujijat yang sudah ribuan tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Ratusan tahun berselang, dalam dunia persilatan memang pernah dikabarkan ada seorang manusia aneh yang berhasil menguasai ilmu sakti yang telah lenyap ribuan tahun berselang ini, cuma tak seorangpun pernah menjumpai manusia aneh tersebut.
Berpikir sampai disitu, tak kuasa ia lantas berpikir: “Mungkinkah dia adalah anak murid si manusia aneh dari Bu-lim yang pernah diberitakan pada seratus tahun berselang?” 0leh sebab itu tidak aneh kalau Tong hong Beng Coe amat terperanjat setelah mendengar di sebutkannya ilmu sakti “Kian Goan Ceng Khi Sin-kang” tentu saja tanpa banyak cincong hawa murninya dibuyarkan.
Menanti Tonghong Beng Coe telah menarik kembali seluruh hawa murninya tenaga tekanan yang muncul dari balik jari2 tangan Hoo Thian Heng semakin lemah dan akhirnya lenyap sama sekali.
“Nona! apa hubunganmu Soat san Sin-nie?” tiba2 Hoo Thian Heng bertanya.
Tonghong Beng Coe tertegun, ia lantas tahu tentu Hoo Thian Heng bisa menebak asal-usulnya karena kenal dengan ilnu “Boa Siang kang” tersebut.
Sementara itu sianak muda tadi telah melepaskan cekalan pada pergelangan tangan kanan sang dara.
“Dia adalah guruku?” terpaksa nona itu menjawab dengan serius.
Meskipun tanya jawab yang dilakukan kedua orang itu amat lirih, tapi si Kakek Huncwee dari gunung Bong san yang ada beberapa depa disisi mereka dapat menangkap semua pembicaraan itu dengan jelas, segera ia berpikir dalam hatinya: “Tidak aneh kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki budak cilik ini amat lihay dan bisa mengimbangi kecepatan kakiku yang sudah kulatih selama puluhan tahun dengan susah payah, kiranya dia adalah ahli waris dari si Niekouw sakti dari Gunung Es”.
Mendadak ucapan “Kian Goan Ceng Khie Sinkang” berkelebat kembali didalam benaknya, kontan si orang tua ini terkesiap.
“Aaaah—-mungkinkah sianak muda ini adaliah anak murid manusia aneh itu ?—- tapi mustahil kalau manusia aneh itu masih hidup dikolong langit” pikirnya kembali.
Sementara sikakek Huncwee dari Gunug Bong san dibuat tercengang, kaget dan ter-heran2 terdengar Hoo Thian Heng telah berkata kembali dengan suara lirih: “Tabiat sepasang malaikat dari gurun pasir amat licik, buas, keji dan sadis, tak boleh terlalu enteng kita pandang mereka, lagipula musuh ada ditempat gelap sedang kita ada ditempat terang, setiap penjuru sangat tidak menguntungkan posisi kita, aku minta nona jangan bertindak sembrono lagi, agar supaya kita bisa terhindar dari bahaya pembokongan” .
Nada ucapan Hoo Thian Heng kali ini walaupun masih bernada berat dan rendah namun tidak lagi dingin serta hambarnya.
Tentu saja hal ini disebabkan sianak muda itu sudah tahu apa hubungan sebenarnya antara Tong hong Beng Coe dengan Soat-san Sin-nie.
Bukan saja tak kedengaran dingin atau hambar, bahkan mengandung maksud memperhatikan keselamatannya.
Tonghong Beng Cue merasa hatinya nyaman, manis dan hangat, segera ia mengangguk tanda mengerti.
Dalam pada itu keempat orang dayang Tonghong Beng Coe-pun secara beruntun telah tiba disana.
Dengan sepasang matanya yang tajam Hoo Thian Hong menyapu sekejap kearah si Kakek Huncwee dari gunung Bong-san, lalu ujarnya kembali: “Yu thay-hiap, kalian beberapa orang bersembunyi saja disekitar pepohonan yang lebat ini, aku serta nona Tonghong akan berangkat kesana untuk melihat2” Habis berkata tanpa menanti jawaban dari si kakek dari gunung Bong san lagi ia segera menarik ujung baju sang dara sambil berseru: “Ayoh berangkat!” Bersamaan dengan itu, badannya mencelat sejauh tujuh delapan tombak, jaraknya dengan gubuk tinggal sepuluh tombak.
Buru2 Tonghong Beng Coe menggerakkan badannya menyusul dari belakang, selama ini gadis tersebut bungkam terus dalam seribu bahasa.
Hoo Thian Heng benar2 bernyali besar, badannya bergerak terus untuk kemudian berhenti kurang lebih dua tombak di depan gubuk tersebut.
Dipandang sepintas lalu wajahnya kelihatan tenang sedikitpun tak ada perubahan namun kenyataan ia merasa sangat tegang, seluruh perhatiannya dipusatkan jadi satu, sikapnya tenang dan hawa murni disiap siagakan, asal dari balik gubuk itu menunjukkan tanda2 mencurigakan, ia akan segera melancarkan serangan.
Lama sekali Hoo Thian Heng serta Tonghong Beng Coe menanti diluar gubuk, menjumpai disekitar sana tidak menunjukkan gerak-gerik atau pertanda apapun, timbul rasa curiga dalam hati mereka berdua, pikirnya: “Sepasang malaikat dari Gurun Pasir bukan sembarangan, tenaga lwekang yang mereka miliki sangat lihay, mustahil dengan kedatangan nona Tonghong sampai jarak dua tombak dari gubuk mereka masih belum diketahui, apalagi kamipun tidak menyembunyikan jejak, tidak mungkin sepasang malaikat itu tak tahu.
Mungkinkah kedua orang gembong iblis ini sudah kena dicelakai orang?? mengapa tidak kujajal keadaan yang sebenarnya??… ” Karena punya pikiran yang demikian, ia lantas membungkuk dan memungut dua biji batu sebesar telur kemudian dianggap sebagai senjata rahasia segera ditimpuk kearah gubuk.
“Plaaak! Plaaaaak” dua kali bentrokan keras bergema memecahkan kesunyian yang mencekam malam gulita itu.
Namun setelah dua suara itu tadi lewat, bukan saja suasana disekeliling tempat itu pulih kembah dalam keheningan, bahkan dari dalam gubuk itupun tidak menunjukkan adanya suatu pertanda ataupun gerak gerik.
“Sungguh aneh, mengherankan” pikir sianak muda itu setelah melihat percobaannya tidak menimbulkan reaksi.
“Tidak selayaknya sepasang malaikat itu membiarkan orang asing mengganggu ketenteraman sarangnya, atau mungkin mereka tak ada dirumah dan kebetulan sedang pergi meninggalkan sarangnya ?. . . ” Berpikir sampai disitu, Hoo Thian Heng segera berpaling dan pesannya kepada Tong hong Beng Coe yang ada disisinya.
“Nona! coba kau tunggu sebentar disini, aku hendak maju kedepan untuk melakukan pemeriksaan lebih teliti!” Habis bicara, tanpa menanti jawaban dari gadis itu lagi, badannya segera berkelebat kedepan, kipasnya disentak terbuka kemudian dari tangan kanan dipindahkan ketangan kiri sementara hawa murninya disalurkan ketangan kanan s iap menghadapi segala kemungkinan.
Setibanya didepan gubuk, sianak muda itu merandek sejenak, setelah ragu2 sesaat akhirnya ia melangkah masuk kedalam.
Melihat pemuda itu melangkah masuk kedalam gubuk, Tong hong Beng Coe sangat kuatir, ia merasa perbuatan Hoo Thian Heng sama artinya menempuh mara bahaya.
Tanpa menghiraukan pesan pemuda itu lagi, ia segera menghunus pedangnya kemudian meloncat kedepan pintu gubuk dan langsung menerjang kedalam Namun.. ketika ia tiba dalam gubuk itu, seketika Tong-hong Beng Coe berdiri terpaku.
Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak terdengaran sedikit suarapun, bahkan saking heningnya mendatangkan suasana seram, ngeri dan menakutkan.
Diatas lantai rebah terlentang dua sosok tubuh yang kurus kering, kedua orang itu adalah kakek tua yang sudah berusia enam puluh tahunan, mulut mereka penuh berlepotan darah.
Salah satu diantara kedua kakek itu sudah putus nyawa, sedang yang lainnya masih hidup meskipun napasnya sudah amat lemah dan tinggal satu2nya, sementara Hoo Thian Heng berdiri disisi mayat dengan wajah tercengang bahkan kelihatan begitu tertegun sampai tak kedengaran sedikit suarapun.
Tong-hong Beng Coe tak dapat menahan diri sehabis melihat peristiwa itu, ia maju menghampiri sianak muda itu dan berseru: “Hoo Sauw hiap, apa artinya semua ini ? bukankah mereka adalah sepasang malaikat dari gurun pasir ???” Hoo Thian Heng mengangguk.
“Dipandang dari dandanannya tak bakal salah lagi mereka adalah sepasang malaikat dari Gurun Pasir, Ia menjawab.
“Agaknya kedatangan kita orang sudah terlambat satu langkah, entah mereka telah roboh ditangan siapa.. .” Dugaan pemuda itu sedikitpun tidak salah, kedua orang kakek tua yang roboh menggeletak di atas lantai adalah Sepasang Malaikat dari Gurun Pasir, yang sudah mati adalah Toa sat atau si kakak dan yang masih kempas kempis menanti ajalnya adalah Jie-sat atau sang adik.
Hoo Thian Heng segera menghampiri sikakek atau Jie sat yang belum mati itu, kepadanya segera ia menegur.
“Eeeeiii… Setan tua, siapa yang mencelakai dirimu ???” Mendengar ada suara teguran, kakek tua itu lambat2 membuka matanya, setelah memandang wajah pemuda itu sejenak lalu sahutnya.
“Peng Pok Sin Mo! …” Meski telah menjawab, suaranya lirih dan lemah sekali.
“Apa?? Peng Pok Sin Mo??” seru Hoo Thian Heng tercengang se-akan2 berita tersebut tak masuk dalam akalnya.
Peng Pok Sin Mo atau si Iblis Sakti Bayangan Es adalah pemimpin dari Boe lim Sip Shia atau Sepuluh manusia sesat dari rimba persilatan, kepandaian silatnya lihay dan merupakan manusia paling ditakuti di kolong langit dewasa itu.
Kini dikabarkan ia telah membinasakan Sepasang malaikat dari Gurun Pasir, dua anggota di antara sepuluh manusia sesat dari dunia persilatan, suatu keanehan yang tak mungkin terjadi. Apa sebabnya gembong iblis itu membunuh anggotanya sendiri??? suatu kejanggalan yang tak masuk diakal.
Tong-hong Beng Coe yang selama ini membungkam disamping gelanggang, saat ini tak dapat menahan sabar lagi, ia bermaksud cepat2 balaskan sakit hati mendiang ayahnya.
Karena tidak ingin me-nyia2kan waktu sehingga keburu Malaikat kedua inipun menemui ajalnya, sang badan segera maju kedepan sembari membentak.
“Setan tua, sebenarnya apa kesalahan yang telah dilakukan ayahku sehingga kalian berdua memusuhi ayahku??? mengapa kalian membokong ayahku sampai menemui ajalnya??? bangsatl!!! ayoh cepat jawab!” Dari bentakan ini, Jie-sat segera mendapat tahu sepasang muda mudi yang didepannya saat ini tentu musuh2nya ia tidak takut, sebab kakek iblis ini sadar jiwanya sebentar lagi bakal habis.
Karena itu kena dibentak, bukannya terjelos, malahan ia balas mengawasi gadis itu tajam2.
“Nona! siapa sih ayahmu itu?” ia bertanya.
“Tonghong Koen!” Tiba2 dari kelopak mata Jie sat yang sudah keriput mengembang air mata, sementara wajahnya berobah hebat dan kelihatan semakin bengis.
“Oooou.. jadi Nona adalah keturunan dari Tonghong Koen?” Serunya lirih, suaranya makin lemah “Aaaai–.! nona, memang kuakui terus terang, ayahmu mendiang telah menemui ajalnya di tangan kami dua bersaudara, kemudian mustika yang ia simpanpun berhasit kami rampas ….. tapi..
tapi—justru karena perbuatan kami itulah sekarang kami dua bersaudara harus menemui ajalnya pula ditangan Peng Pok Sin-mo, inilah kesalahan yang kami perbuat dan harus kami tanggung jawab sendiri resikonya, karena tamak dan ada niat jahat untuk mengincar barang milik orang lain, akhirnya kamipun harus menerima nasib seperti ini…” Memang sudah jamak, di-saat2 menjelang kematiannya, barang siapapun perduli dia manusia yang paling jahat, paling kejipun tentu akan menunjukkan penyesalannya.
Tidak luput hal inipun menimpah diri Jie-sat meskipun semasa hidupnya banyak perbuatan keji yang telah dilakukan, namun setelah malaikat elmaut akan mencabut jiwanya, iapun memperlihatkan rasa sesal yang amat mendalam.
“Apa kau bilang ?” Seru Tong-hong Beng Coe dengan nada tercengang, “Mustika apa yang berhasil kalian rampas dari tangan ayahku ?” “Bukankah bukankah nona tahu akan pedang panjang milik mendiang ayahmu… ?” Seru Jie-sat. “Bukankah diujung gagang pedang itu terdapat ronce atau pita panjang yang ditaburi dengan kumala Hoeit Tjoe ?” “Ehmmm ! benar ….” Tong-hong Beng Coe segera mengangguk membenarkan perkataan itu. “Memang benar diujung gagang pedang ayahku terdapat kumala seperti itu ….” “Nah, itulah dia, bencana tersebut datangnya dari pita bertaburkan kumala tersebut…” katanya . . . katanya didalam Giok Pei atau kumala itu tersimpan sebuah peta lukisan yang ada hubungan ….ada hubungan dengan kitab ilmu silat maha sakti yang terpendam disuatu tempat ….” “Aaaaah . . !” tak tahan Tong-hong Beng Coe berseru tertahan, sambil menatap Malaikat kedua ini tajam2, serunya: “Dimana kumala giok-pei itu ? sekarang benda itu ada dimana ?” Jie-sat menyeringai seram: “Telah dirampas Peng Pok Sin-mo!” “sahutnya.
Dari dalam sakunya tiba2 Tonghong Beng Coe mengeluarkan pisau belati milik si kakek Hun-cwee dari gunung Bong-san, kemudian tanyanya lagi: “Bagaimana dengan pisau belati ini ? sebenarnya apa yang telah terjadi ?” Sementara Jie-sat siap menjawab, tiba2 seluruh badannya berkelejet keras, ia tahu saat kematiannya telah tiba, namun kakek tua itu coba mempertahankan diri, sambil mengempos tenaga terakhirnya ia hendak menjelaskan duduknya perkara namun sayang seribu kali sayang, walaupun ia ada maksud takdir tidak mengijinkan ia berbuat demikian.
“Nona.. nona …loolap…suuu….sudah tak tak bertenaga untuk me… menerangkan duduknya per. . . perkara, kaaa..
kalau ingin taaa ….tahu yang le ..lebih jelas,. per-pergi dan cari.lah.. Peng ,. .. Peng Pok-. . .” Belum sempat ia menyelesaikan kata2nya, takdir telah menentukan sukmanya terus berangkat sepasang kaki menjejak kejang, dan nyawa pun melayang keluar dari raganya untuk kemudian menghadap Raja Akherat.
oooo0oooo HOO THIAN HENG merasa pasti, setelah Peng Pok Sin-mo berhasil membinasakan sepasang malaikat dan merampas peta petunjuk dimana terpendam kitab mustika “Yoe Leng Pit Kip”, tak mungkin ia kembali ke pulau Thian Bun To dimana ia menjadi To cu pemilik pulau tersebut.
Pastilab iblis sakti Bayangan Es atau Peng Pok Sin-mo ini langsung mengikuti petunjuk tersebut berangkat ke tempat yang dimaksudkan sebagai tempat terpendamnya kitab mustika kemudian menggali, menemukan dan bersembunyi disebuah hutan yang jauh terpencil untuk mempelajari isinya.
Sepasang Malaikat dari Gurun pasir telah mati, kemana Peng Pok Sin Mo pergi? tak seorangpun yang tahu, mungkin untuk mencari jejaknya saja harus membuang banyak waktu dan tenaga.
Kepandaian silat yang dimiliki Iblis bayangan es ini bukan main dahsyatnya, terutama sekali ilmu Peng Pok Mo-kang nya amat lihay, dahsyat dan menyeramkan, karena keunggulan inilah ia berhasil merampas kedudukan sebagai pemimpin sepuluh manusia sesat dari dunia persilatan dan angkat diri sebagai gembong iblis paling lihay dalam dunia persilatan dewasa ini.
Seumpama kitab mustika “Yoe Leng Pit Kip” kena ditemukan oleh gembong iblis ini, kemudian menyembunyikan diri dipegunungan terpencil dan mempelajarinya, lama kelamaan kepandaian silat yang sudah lihay akan jauh lebih dahsyat sampai terjadi keadaan seperti itu tokoh Bulim manakah yang bisa mengalahkan dan menaklukkan dirinya? ..
Kalau gembong Iblis itu tidak cepat2 dicari dan peta mustika itu buru2 dirampas, mungkin akibat yang bakal terjadi sukar dibayangkan mulai sekarang.
Dalam hati sianak muda itu segera berpikir: “Giok-pei kumala tersebut berhasil dirampas Sepasang Malaikat dari gurun pasir dari tangan Tonghong Koen dus berarti peta mustika itu pernah mereka lihat. Kemungkinan juga mereka pun tahu dimana letak disimpannya kitab mustika tersebut. Mengapa tidak kutanyakan saja di mana kitab pusaka tersebut terpendam? bukankah dengan begatu lebih gampang buat kami untuk mengejar dan merampas kembali mustika itu!” Ingatan ini laksana kilat berkelebat dalam benak Hoo Thian Heng.
Pada saat ingatan tadi berkelebat lewat, pada saat itulah Jie sat lagi pejamkan matanya sambil berkelejat, segumpal hawa akhirnya belum sempat tersebar buyar.
Laksana kilat sianak muda itu mengulur sepasang tangannya dan menempelkan diatas tubuh Jie-sat, sebelah tangan ditempelkan pada Jin-tiong Jie-sat sementara tangan yang lain ditempelkan keatas dadanya, hawa murni segera disalurkan melalui telapak tangan menembusi ulu hati Jiesat dan lambat2 meluncur kedalam tubuh melindungi hawa akhir dari Jie-sat agar jangan, keburu buyar.
Dengan tindakan ini, Hoo Thian Heng berhasil memaksa sukma Jie-sat tertahan untuk sementara waktu dalam rongga badan kasarnya.
“Hey apakah kau pernah melihat sendiri peta mustika itu?” dengan sepasang mata berkilat dan menatap Jie sat tajam2, teriaknya lantang.
“Tahukah kau dimana kitab pisaka itu terpendam ?” Sebenarnya hawa akhir dalam tubuh Jie sat sudah hampir buyar, secara tiba2 menyusup datang segulung aliran panas dari telapak sianak muda menembusi ulu hatinya, hawa akhir segera terlindung dan mengumpul kembali, semangatnya kembali berbangkit dan sekilas rasa kejut melintas diatas wajahnya.
Namun dalam keadaan seperti ini, tiada kesempatan baginya untuk berpikir banyak, ia tak sempat untuk berpikir siapakah sianak muda yang berada dihadapannya, iapun tak dapat membatin secara bagaimana seorang anak muda bisa memiliki tenaga lwekang demikian dahsyat ….
Mendengar pertanyaan itu, simalaikat kedua segera berpaling kearah Hoo Thian Heng, tersenyum dan mengangguk.
“Meuurut catatan diatas peta petunjuk tersebut, kitab pusaka itu terpendam dilembah Pek Yan Gay gunung In Boe san yang termasuk di Propinsi In lam. kemungkinan besar pada saat ini Peng Pok Sin-Moo telah berangkat menuju kesana jikalau sauw hiap ada maksud mengejar iblis tua itu, berangkatlah sekarang juga. seumpama kata siblis tua itu yang berhasil dapat menemukan kitab pusaka itu, ia pasti jauh menyingkirkan dari suatu tempat yang terpencil, dimana ia akan berlatih rajin, kalau sampai terjadi begitu sulitlah buat kalian untuk menemukaa jejaknya kembali ” Setelah peroleh keterangan yang dibutuhkan, Hoo Thian Hong pun menarik kembali sepasang telapaknya.
Seketika itu juga malaikat kedua muntah darah segar, badannya berkelejit, sepasang mata melotot dan putus nyawa, kali ini sukmanya benar2 meninggalkan raganya untuk melaporkan diri pada raja Akhirat.
Dalam pada itu sikakek Huncwee dari Gunung Bong san, murid kesayangannya Gong Yu, beserta keempat dayangnya Tong hong Bong Coe secara beruntun telah menyusul ke dalam gubuk.
“Kini, urusan sudah tertera amat jelas, bagai mana menurut pendapat kalian berdua ?” Tanya Hoo Thian Hong sambil menatap wajah sikakek Hunewee dari Gunung Bong-san serta Tong hong Beng Coe dua orang.
“Meskipun ayahku bukan mati ditangan Peng Pok Sin-mo” jawab Tong hong Beng Coe tanpa berpikir panjang lagi.
Namun kalau bukan dia yang menganjurkan sepasang malaikat dari gurun pasir untuk merampas mustika milik ayahku, tidak nanti ayahku bisa dibunuh oleh sepasang malaikat itu, mengingat pula diantara ayahku dengan Sepasang Malaikat dari Gurun Pasir tidak terikat dendam ataupun sakit hati. Maka dari itu bicara pulang pergi iblis tua itulah penyebab kematian ayahku, walaupun bukan ia yang turun tangan namun sama saja ayahku terbunuh ditangannya!” Bicara sampai disitu, sepasang matanya mendadak memandarkan cahaya tajam, sambil gertak gigi terusnya sengit: (OodwoO) Jilid 3 “WALAUPUN ilmu iblis Pek Mo-kang yang jauh dimiliki iblis tua itu menjagoi seluruh kolong langit, nama besarnya terderet sebagai pemimpin Sepuluh Manusia Sesat dan kepandaian silatnya sukar dilukiskan dengan kata2, meskipun ilmu silat aku Tong hong Beng Coe cetek, tak becus dan bukan tandingan iblis tua itu, namun dendam berdarah atas kematian ayahku lebih dalam dari samudra aku bersumpah akan menuntut balas meski badan harus hancur lebur, dengan andalkan kepandaian yang ku miliki, aku hendak ada jiwa dengan iblis tua itu.” Tidak malu gadis ini menyebut dirinya sebagai akhli waris tokoh kenamaan, walaupun cuma seorang gadis namun keberanian, kebaktian, kegagahannya serta kekerasan hatinya tidak kalah dibandingkan dengan kaum pria.
Si kakek Huncwee dari gunung Bong san yang mendengar ucapan itu, hatinya betul2 terharu. Diam2 ia ambil keputusan untuk membantu usaha nona itu dalam membalaskan dendam kematian ayahnya.
Haruslah diketahui, walaupun ilmu silat yang dimiliki si kakek Huncwee dari gunung Bong san amat lihay, dan-la termasuk tokoh nomor wahid dalam cincin persilatan dewasa ini, namun kalau dibandingkan dengan Peng Pok Sin mo pemimpin sepuluh manusia sesat, ia masih ketinggalan jauhsiorang tua itu saeiar1 bahwa dia masih bukan tandingannya.
Tetapi keadaan pada saat ini jauh berbeda. Tong hong Beng Coe hanya seorang nona yang masih muda, meskipun tahu bahwa kepandaiannya bukan tandingan lawan, namun ia memiliki keberanian untuk adu jiwa dengan iblis tua itu.
Apalagi dia adalah seorang tokoh silat yang sudah tersohor puluhan tahun lamanya, masa ia harus kalah dengan seorang nona.
oleh sebab itulah ditengah kobaran semangat Tong hong Beng Coe muncul juga semangat jantan dalam benak sikakek Hun cwee dari gunung Bong san, ia bulatkan tekad untuk membantu sang dara itu dan memusuhi Peng Pok sin mo yang tersohor.
Tentu saja, dibalik persoalan ini masih tersembunyi alasan lain, yaitu menyangkut golok emas sisik ikannya, ia berniat mencari Peng Pok sin-mo untuk menanyai persoalan ini sampai jelas dan menuntut keadilan darinya.
Baru saja Tong bong Beng Coe menyelesaikan kata2nya, dari sepasang mata sikakek Hun cwee dari gunung Bong-san memancarkan cahaya tajam, sambil menatap gadis itu ia tertawa ter-bahate.
“Haa – – haa – – haa – – tidak malu nona menyebut dirinya sebagai ahli waris perguruan kenamaan, cukup andalkan keberanian serta kebaktianmu ini sudah cukup membuat orang merasa amat kagum ” Ia merandek sejenak, lalu terusnya: “Sepanjang hidup ayahmu gagah dan mulia hatinya, meskipun loohu belum pernah saling jumpa dan saling berkenalan, namun sudah lama aku mengaguminya, kini ayahmu mati dalam keadaan kecewa, berdiri diatas keadilan yang ditegakkan dalam Bu-lim, tidak pantas kalau loohu berpeluk tangan belaka, disamping itu untuk mencari jelas duduknya perkara akan golok emas sisik ikan yang digunakan mereka kejantanan tersebut, loohu pun tak boleh bungkam diri. seandainya nona tidak merasa keberatan bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat ke gunung Im Boe san untuk mengejar iblis tua itu dan menjajal kehebatan ilmu iblis Peng Pok Mo kang dari setan tua itu ?” “Nona Tong-hong ” Hoo Thian Heng yang ada disamping mendadak menimbrung dengan nada dingin.
“Dendam sakit hati ayahmu memang termasuk persoalan penting, namun masih ada satu masalah yang jauh lebih penting daripada urusan membalas dendam ” Tong-hong Beng Coe maupun sikakek Huncwee diri gunung Bong-san terperanjat, sambil menatap wajah sianak muda itu tanyanya hampir berbareng: “Persoalan apakah itu sauw hiap?” Hoo Thian Heng tertawa angkuh.
“Tahukah kalian berdua apa sebabnya Tong-hong Tiiay hiap dibunuh ?” ia bertanya.
“sebab dalam Giokpei kumala yang tergantung digagang pedang ayahku tersimpan peta mustika yang menyangkut kitab pusaka yoe Lan pit Kip ” jawab sang nona.
“Nah, itulah dia ” seru Hoo Thian Heng sambil mengangguk- “Kitab pusaka yoe Leng pit Kip adalah kitab kuno yang sakti, dalam kitab tersebut tercatat ilmu silat serta sin kang maha sakti yang tiada tandingan dikolong langit dewasa ini, asalkan seseorang berhasil mempelajari salah satu saja diantara ilmu sakti yang tercantum dalam kitab itu, sudah cukup bagi orang itu untuk malang melintang dalam dunia persilatan dan sulit menemukan tandingan. Jikalau kita biarkan kitab tadi diperoleh Peng Pek Stn-mo untuk kemudian berhasil ia latih salah satu diantara ilmus sakti itu, bukan saja sakit hati nona Tonghong tak bisa terbalas, bahkan badai yang maha dahsyatpun segera akan melanda seluruh kolong langit” Berbicara sampai kesitu mendadak air muka Hoo Thian Heng berubah, agaknya ia sangat memperhatikan perubahan wajah kedua orang itu, terdengar ia meneruskan: “oleh sebab itu, peta petunjuk yang amat berharga ini harus cepat? kita rebut kembali dari tangannya.” selesai mendengar ucapan itu, dalam hati kakek Huncwee dari gunung Bongsan serta Tang hong Beng Coe berpikir- “Sungguh kecewa kenapa tak terpikir olehku sampai kesoal itu ???” Padahal bukannya kedua orang itu tak pernah berpikir sampai kesitu, berhubung Tong -hong Beng Coe sedang bersedih hati mengingat kematian ayahnya, apa yang berkecamuk dan memenuhi benaknya hanyalah bagaimana cara membalas dendam, sama sekali tak berpikiran olehnya sampai kesoal itu.
sedangkan sikakek Huncwee dari gunung Bong san, ia terpengaruh oleh sikap gagah, bersemangat dari Tong-hong Beng Coe- tanpa sadar semangat jantannya ikut berkobar dan sedikit teledor.
Namun kini, setelah disadarkan oleh Hoo Thian Heng, baik Tong hong Beng Coe maupun sikakek Hun-cwee dari gunung Bong-san merasa masalah ini jauh lebih penting dan serius.
Dihati kecilnya kedua orang itu sama-sama punya perhitungan, mereka tahu dengan andalkan ilmu silat yang mereka miliki tak mungkin bisa menandingi Peng Pok s in-Mo.
pembalasan dendam inipun dilakukan dengan andalkan semangat jantan belaka berhasil atau tidak?? boleh di kata tiada pegangan yang meyakinkan, apalagi merampas mustika itu ??? Mendadak dari sepasang mata Hoo Thian Heng memancarkan cahaya tajam, sambil menatap kedua orang itu ujarnya.
“Walaupun belum lama cayhe terjunkan diri kedalam dunia persilatan, dan selama ini memegang semboyan, siapa tidak melanggar aku. akupun tidak melanggar dia- namun berhubung keadaan ini hari jauh berbeda, meskipun Peng Pok sin-mo tidak mengganggu diriku, namun kitab ilmu silat yang maha sakti seperti itu tak boleh sekali terjatuh ketangan iblis tua itu kalau tidak keadaannya bagaikan harimau tumbuh sayap, demi ketenteraman serta keamanan seluruh umat Bulim, terpaksa cayhe akan melanggar kebiasaan dan mengikuti kalian berdua berangkat kegunung In Boe-san” Pada dasarnya sejak semula sikakek Hun-cwee dari gunung Bong san memang ada maksud hendak mengundang Hee Thian Heng berangkat ber-sama2, namun berhubung wataknya yang ku koay dan sebentar panas sebentar dingin, sukar ditentukan untuk beberapa waktu ia rada ragu2 untuk buka suara.
Kini mendengar sianak muda itu menawarkan diri ia jadi kegirangan setengah mati, seraya menjura serunya: “seandainya sauw hiap suka berangkat ber-sama2 kami, inilah keberuntungan buat umat Bulim” Hoo Thian Heng berpaling menatap siorang tua itu dan tertawa angkuh.
“yu Thay hiap, harap kau jangan memandang masalah ini terlalu enteng. Haruslah kau ketahui Peng Pok sin mo adalah pemimpin sepuluh manusia sesat dari dunia persilatan dewasa ini, terutama sekali ilmu sakti Peng Pok Mo kang nya sudah menjagoi kolong langit, bukan saja amat beracun dan ganas bahkan lihaynya luar biasa, meskipun ilmu Hian bun Kian Goan ceng Khie yang cayhe latih masih bisa digunakan untuk mempertahankan diri, namun…. kalau sampai terjadi suatu kekerasan, siapa menang siapa kalah sukar diramalkan mulai saat ini” sikakek Huncwee dari gunung Bong san percaya sianak muda itu tidak mendustai dan apa yang dikatakan merupakan kenyataan, ia lantas mengangguk- “Apa yang sauw hiap ucapkan sedikitpun tidak salah” sahutnya membenarkan.
“Kepandaian silat yang dimiliki Peng Pok sin mo serta ilmu iblis Peng Pok Mo kang nya memang tak boleh dipandang enteng namun kau harus ingat sejak jaman dahulu kala kaum sesat tak bisa menang kan kaum lurus, dengan ilmu sakti yang dimiliki sauw-hiap saat ini, jikalau terjadi pertarungan melawan iblis tua itu, menurut pendapat loohu meskipun belum tentu menang asalkan kau suka berlaku hati2, belum tentu sauw hiap menderita kalah” “Ucapan yu Loocianpwee sangat tepat sekali” tiba2 Tong hong Beng Coe menimbrung dengan nada manja.
“Walaupun tenaga Iweekang iblis tua itu amat sempurna, ilmu iblis Peng Pok Mo-kang nya keji dan sangat beracun, asalkan kita ber-hati2, belum tentu bisa menderita kalah” Mendengar perkataan itu Hoo Thian Heng menatap wajah TOng-hong Beng Coe dan tersenyum.
“Berhubung masalah ini menyangkut masa depan seluruh umat Bulim, mau tak mau cayhe terpaksa mengerahkan segenap tenaga yang kumiliki dan berusaha menurut takdir” sahutnya.
Bicara sampai disitu, ia merandek dan menatap sekejap kearah sikakek Hun-cwee dari gunung Bong-san, kemudian tambahnya.
“Persoalan tak boleh diundur lagi, aku takut kalau diundur lebih lama bakal terjadi diluar dugaan, sekarang cayhe akan berangkat selangkah duluan, harap kalian berdua segera menyusul datang sampai jumpa lagi dikaki gunung InBoe-san lembah Pek yan Cay” selesai bicara badannya melejit dan diiringi dengan angin tajam ia melayang keluar dari dalam gubuk.
Tampak tubuhnya mendadak menyusut kemudian melejit ditengah udara setinggi puluhan tombak, setelah itu bagaikan sambaran kilat melesat ke mulut lembah.
Buru2 Tong-heng Beng Coe serta sikakek Hun-cwe dari gunung Bong-san menyusul keluar dari dalam gubuk, menanti sinar mata mereka di alihkan kearah mulut lembah, bayangan Hoo Thian Heng sudah lenyap tak berbekas.
Dari tempat kejauhan terdengar suara derap kaki kuda bergema memecahkan kesunyian yang mencekam malam hari itu, mengikuti hembusan angin sepoi berkumandang datang suara senandung yang nyaring dan lantang: “selapis gunung, dua lapis bukit. Kali ini kalau maksud tercapai. Menyapu iblis, mengusir siluman, dengan bangga menguasai hutan dan bukit. Dunia persilatan jadi milikku pribadi-..” Suaranya keras, lantang, kuat dan penuh bersemangat, seluruh lembah penuh dengan suara pantulan yang bergema memekikkan telinga.
sikakek Hun cwee dari gunung Bong San yang dapat memahami arti dari senandung itu, hatinya kontan terjelos, pikirnya: “sungguh besar ambisi orang ini. bukan saja dia merupakan Malaikat elmaut bagi kawanan iblis, dikemudian hari besar kesempatannya untuk menjagoi seluruh kolong langit, bilamana sampai terjadi begini, aai…entah kebahagiaan atau bencana ang menimpa seluruh umat Bu-lim” sementara sikakek Huncwee dari gunung Bong san sedang melamun, mendadak Tong-hong Beng Coe yang berdiri disisinya telah buka suara dan bertanya dengan nada manja: “yu Loo cianpwee, menurut pendapatmu kepandaian silat yang dimiliki Hoo sauw-hiap mungkinkah bisa mengungguli Peng Pok sin-mo ??” sikakek Hun cwee dari gunung Bong san berpaling dan memandang sekejap wajah dara itu, kemudian jawabnya: “Ilmu silat yang dimiliki orang ini tinggi dan lihay sukar diukur, terutama sekali tenaga sakti Hian-bun-Kian-goan- Ceng-kienya, bukan saja merupakan ilmu sakti tingkat teratas dari kaum pendeta bahkan termasuk ilmu sakti yang sudah lenyap dari muka bumi hampir mendekati seratus tahun lamanya dia memang termasuk salah seorang jagoan aneh yang sukar dijumpai dalam dunia persilatan seratus tahun mendatang ” Berbicara sesungguhnya, walaupun sikakek Huncwee dari gunung Bong-san merasa ilmu silat yang dimiliki Hoo Thian Heng amat luar biasa sukar diukur, namun sanggupkah sianak muda itu menandingi kepandaian silat dari Peng Pok sin-mo pemimpin dari sepuluh manusia sesat, baginya masih sulit untuk ditentukan, siapa menang siapa kalah masih merupakan teka-teki- Oleh karena itu mendapat pertanyaan dari Tong-hong Beng coe ia tidak memberikan jawaban siapa yang lebih unggul diantara mereka berdua, sebaliknya hanya memuji kehebatan ilmu silat dari Hoo Thian Heng yang sukar dilukiskan dengan kata2 dan merupakan seorang jago yang sulit ditemukan keduanya dalam seratus tahun ini.
Sebelum ia mendapat keyakinan siapa lebih unggul diantara mereka berdua, orang tua ini tidak mau menebak secara sembarangan, sebab ia tahu sedikit saja ia salah berkata bisa mempengaruhi nama baik serta kedudukannya dalam dunia persilatan.
Karena itulah, terhadap pertanyaan yang diajukan Tonghong Beng coe ia tidak berani menjawab secara langsung dan terangkan.
Agaknya Tong hong Beng coe merasa sangat tidak puas dengan jawaban tersebut, sepasang alisnya seketika melentik, “yu Loocianpwee” serunya.
“Yang kutanya kan apakah ia bisa menangkan Peng Pok sin mo mengapa kau orang tua mengelindur sampai sejauh itu?” “ooouw” Sengaja sikakek hun-cwee dari gunung Bong san memperdengarkan seruan tertahan se-akan2 ia baru sadar apa yang dijawab tidak tepat, sementara otaknya berputar kencang untuk mencari jawaban yang lebih tepat.
Mendadak satu ingatan cerdik berkelebat lewat ia segera menatap wajah gadis itu dan menyahut: “Nona kepandaian silat yang dimiliki kedua orang sama2 lihay dan boleh terhitung tokoh kelas wahid dewasa ini, sebelum mereka bergebrak memang sulit untuk menduga siapakah lebih unggul diantara kedua orang itu, lohu tak berani menebak secara sembarangan.” Tong hong Beng Coe segera menyadari apabila sikakek Huncwee dari gunung Bong san menjumpai kesulitan dalam memberikan Jawa bannya justru karena soal ini ia jadi memikirkan keselamatan sianak muda itu. Tidaklah mungkin Hoo Thian Heng bakal menjumpai mara bahaya? Tiba2 terdengar sikakek Hun cwee dari gunung Bong san berkata kembali.
“Nona keledai dari Hoo sauw hiap bisa lari sangat cepat, waktupun sekarang sudah tidak pagi lagi, mari Lebih baik kita segera menyusul dirinya, dari pada nanti ia menjumpai mara bahaya seorang diri” Begitu ucapan sikakek huncwee dari gunung Bong san diutarakan, hati kecil Tong bong Beng Coe bagaikan menjumpai sampan kecil ditengah samudra luas, segera ia mengangguk.
“Benar, kalau begitu mari kita segera menyusul Hoo sauw hiap” Habis bicara, sepasang pundaknya bergerak cepat bagaikan seekor burung walet yang meleset ditengah udara, ujung gaun berkibar tertiup angin laksana sambaran kilat ia meluncur kearah mulut lembah- Jelas nona ini telah mengeluarkan ilmu meringankan tubuh perguruannya Tui Hong Hwie sie atau sutera terbang Mengejar angin hingga mencapai pada puncaknya.
Cukup ditinjau dari hal ini bisa ditarik kesimpulan betapa risau dan cemasnya hati nona ini.
sudah lama sikakek Hun cwee dari gunung Bong san mendengar akan kebebatan ilmu meringankan tubuh Tui hong Hwie sie dari soat-san sin-nie, setelah ini hari melihat dengan mata kepala sendiri, dan membuktikan bahwa apa yang diberitahukan dalam Bu lim merupakan kenyataan, dalam hati ia merasa amat kagum.
Leng. La n, TJoei, Giok. empat dayang sewaktu melihat siorjia mereka berlalu dari sana. mereka berempat tak berani berlaku ayal lagi, buruR ilmu meringankan tubuhnya disalurkan dan menyusul dari belakang.
Tentu saja sikakek Hun cwee dari gunung Bong san pun tak berani berlaku ayal, menatap murid kesayangannya ia berseru: “yu-ji, ayoh cepat kita susu mereka berlima”.
Sembari berseru tangannya dengan cepat menyambar tangan Gong yu kemudian laksana awan di angkasa, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya meluncur kemulut lembah menyusul Tong hong Beng Coe sekalian….
-ooo00000ooo- Sang surya mulai condong kesebelan Barat, senja hari telah tiba, burung- berkicauan dan beterbangan kembali kesarangnya, suasana ketika itu amat sunyi dan suram.
Suasana setengah gelap setengah terang, angin Barat laut berhembus kencang meninggalkan bawa dingin yang menusuk tulang, dalam keadaan seperti ini bagi kaum pelancong maupun pedagang hanya ada satu pilihan yaitu: “Hari sudah gelap, cepat? mencari tempat pemondokan” Dalam keadaan seperti itulah didusun Ma-tiang-peng kira2 seratus lie dari gunung In-boe-san secara tiba2 muncul tujuh orang manusia, lima orang gadis dandua orang pria.
Debu yang melekat dimuka serta pakaian mereka bertujuh menandakan bahwa beberapa orang ini baru saja habis melakukan perjalanan jauh.
Meskipun begitu, dari sepasang mata mereka bertujuh masih memancarkan cahaya tajam, wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan keletihan, siapakah bertujuh orang itu?? Tak usah ditanya lagi, mereka adalah sikakek Hun-cwee diri gunung Bongsan, murid kesayangannya Gong yu. Tong hong Beng Coe serta ke empat orang dayangnya.
Dusun Mi Tiang Peng adalah sebuah dusun besar yang terletak diantara dua kecamatan yaitu kecamatan Louw-san dengan Koci Teng, disini letak tempat peristirahatan dari kaum pedagang maupun para pelancong yang datang dari Barat maupun Timur.
suasana ramai meliputi seluruh dusun, tamu berlalu lalang tiada hentinya, meskipun pada saat itu musim dingin telah tiba, namun keadaannya masih tetap seperti sedia kala.
Terutama sekali selama beberapa hari ini, suasana dalam dusun itu kelihatan rada luar biasa dan berbeda sekali dengan keadaan pada hari2 biasa.
Kiranya selama beberapa hari ini, dalam dusun tersebut secara mendadak kedatangan berpuluh-puluh bahkan beratus2 rombongan orang2 kangouw, walaupun mereka tidak terlalu lama berdiam didusun itu namun tingkah laku maupun gerak-gerik orang2 itu aneh dan misterius, setiap kali tokoh2 Bu lim itu selesai beristirahat didusun itu tentu berangkat menuju kearah yang sama yaitu kearah selatan.
Ditinjau diri gerak gerik serta sikap orang2 Bulim itu, siapapun dalam sekali pandang akan sadar dan tahu, bahwa disekitar sana tepatnya arah selatan telah terjadi sesuatu peristiwa yang luar biasa, kalau tidak tak mungkin demikian kebetulan, setiap jago kangouw, rombongan demi rombongan melewati tempat itu dan berangkat ke arah selatan.
Jahe makin tua makin pedas keadaan seperti inipun tak lolos dari pandangan mata si kakek Hun-cwee dari gunung Bong-san. ia sadar kehadiran para jago kangouw disekitar tempat itu tentu disebabkan telah terjadinya suatu persoalan yang maha besar-Tapi, apa sebenarnya telah terjadinya ? tentu saja ia tak tahu Disebabkan soal itulah, secara diams tanpa menimbulkan kecurigaan si orang tua ini memperhatikan gerak gerik orangitu.
‘Hoo siang Kie’ adalah rumah makan rangkap rumah penginapan yang terbesar dalam dusun itu, dalam setahun empat musim selalu penuh sesak dengan tamu yang berkunjung, terutama sekali pelayan rumah makan ‘Hoo Siang Kie’ yang ramah tamah terhadap para tetamu, pelayanan yang memuaskan membuat usaha mereka memperoleh kemajuan yang amat pesat.
Ketika senja hari menjelang, lampus lentera sudah menerangi seluruh ruangan rumah makan ‘Hoo Siang Kie’ pada saat itu baik rumah makan maupun rumah penginapan sudah ada tujuh delapan bagian terisi oleh para tamu maupun pelancong.
seperti halnya tamus lain, si Bong-san yen shupun mengajak Tong hong Beng Coe berenam singgah disana, setibanya didepan pintu rumah makan ‘Hoo Siang Kie’ orang tua itu melongok sejenak kedalam ruangan, mendadak hatinya rada bergerak, segera pikirnya- “Rumah makan ini amat ramai, kenapa aku tidak mengajak mereka untuk beristirahat disini sekalian mencari berita, apa sebabnya jago jago kangow itu bermunculan disekitar daerah ini???” Karena punya pikiran begitu, ia lantas menengok sekejap kearah Tong-hong Beng coe sambil berkata: “Nona bagaimana kalau kita bermalam dan bersantap ditempat ini saja ” sembari berkata ia langsung melangkah masuk kedalam ruangan. Tong hong Beng Coe, Gong y u beserta keempat orang dayang pun secara beruntun mengikuti dari belakang.
Tujuh orang itu langsung naik keatas loteng, kebetulan ada beberapa tempat yang masih luang, tanpa menanti pelayanan dari jongos lagi, mereka ambil tempat duduknya masing2.
seorang pelayan lantas membawakan handuk untuk membersihkan muka serta sepoci air teh panas dengan ramah ia memandang sekejap beberapa orang itu lalu bertanya: “Loo ya, siocia, kalian hendak bersantap apa?” si Bong san yenshu memilih beberapa macam sayur kemudian memesan juga nasi untuk bersantap.
“Loo ya” sambil tertawa pelayan itu berkata kembali.
“Ditempat kami sedang tersedia arak Moay Tay yang paling bagus, hawa udara amat dingin, apakah kau orang tua tidak ingin memesan arak untuk menghangatkan badan ” sebetulnya Bong-san yen shu tak ada minat untuk minum arak. namun setelah mendengar tawaran itu ia termenung sejenak dan akhirnya mengangguk- “Baiklah sediakan sepoci arak bagus untukku disamping itu tambah lagi dua macam sayur sebagai peneman minum arak-” “Baik, baik—” dengan wajah penuh senyuman pelayan itupun mengundurkan diri untuk menyiapkan pesanan tetamunya.
sepeninggal pelayan itu. Tong hong Beng Coe berpaling kearah sikakek Hun cwee dari gunung Bong san dan berbisik lirih.
“Loocianpwee sepanjang perjalanan kita menyusul kemari, kenapa masih belum kelihatanjuga bayangan tubuhnya ? apa mungkin keledainya jauh lebih cepat daripada lari kaki kita ?” Bibir kakek Hun cwee bergerak mau menjawab, atau secara tiba2 dari anak tangga berkumandang datang huaru langkah kaki yang amat berat dan santar.
sebentar kemudian muncullah dua orang kakek tua yang berbadan sangat aneh, satu berpakaian warna kuning dan yang lain berwarna hijau.
Melihat munculnya dua orang kakek berdandan luar biasa ini, sikakek Hun cwee dari gunung Bong-san terkesiap, segera pikirnya.
“Eeeei kenapa kedua orang siluman tua inipun datang kemari ? mereka bersaudara tiga dan selamanya tidak pernah saling berpisah, sekarang si Loojie dan Lao sam sudah tiba disini, sembilan puluh persen si Loo-toa pun pasti berada disekitar tempat ini” Kiranya dua orang kakek tua berdandan luar biasa yang baru muncul dari bawah loteng bukan lain adalah Tiga manusia aneh yang namanya terderet diantara sepuluh manusia sesat dunia persilatan, yang memakai baju kuning adalah Loojie sedang yang pakai baju hijau adalah Loosam.
Tiga manusia aneh ini berasal dari Liauwtong tepatnya Kota Liauw yang, tiga bersaudara adalah saudara kandung asal pemburu. Lootoa bernama Toan Liong, Loojie bernama yoan Hauw sedang Loo sam bernama Toan Pa, kepandaian silat yang berhasil mereka miliki amat lihay dan luar biasa.
Berhubung bakat tiga bersaudara ini amat bagus, sejak kecil mereka mendapat didikan ilmu silat maha sakti dari seorang manusia aneh tanpa nama, sejak munculkan diri kedalam dunia persilatan lima puluh tahun berselang, nama besarnya telah menggetarkan dunia persilatan dan ditakuti jago lain.
sejak muncul dalam dunia kangouw, anehnya ketiga orang bersaudara ini tak pernah saling berpisah, kemana saja mereka pergi tentu bertiga, perduli menjumpai musuh tangguh atau tidak, musuh berjumlah banyak atau sedikit tiga bersaudara tentu turun tangan berbareng oleh sebab itulah orang2 kangouw menyebut mereka bertiga sebagai ” Liauw Tong sam koay” atau tiga manusia aneh dari Liauw-tong.
Walaupun nama besar Liauw-tong sam Koay berderet diantara sepuluh manusia sesat, namun sepanjang hidup malang melintang dalam dunia persilatan kecuali melakukan perbuatan2 keji, ganas dan tindak tanduknya telengas, meski kejam namun tak sesat.
sekarang secara tiba2 Liauw-tong sam Koay munculkan diri disitu, tentu saja kehadirannya membuat Bongsan yenshu amat terperanjat.
Karena dari kehadiran iblis kejam ini, ia dapat menarik kesimpulan bahwa disekitar tempat itu pasti sudah terjadi suatu peristiwa yang maha besar, kalau tidak tiga manusia aneh dari Liauw tong tak mungkin jauhs datang kemari- Karena berpikir demikian, jari tangannya segera dicelupkan kedalam air air teh dan menulis beberapa patah kata diatas meja.
“Kakek2 aneh berbaju kuning dan hijau itu adalah sang Loojie serta Loosam dari Liauw-tong sam Koay, kita harus lebih ber hati2 dalam hal berbicara maupun gerak gerik” Habis menulis ia mengusap kembali tulisan tadi dengan tangan.
Tong hong Beng Coe mengangguk, sinar mata nya yang jeli langsung melirik kearah dua siluman tersebut.
Dalam pada itu Loojie serta Loo sam dari Liauw-tong sam Koay telah ambil tempat duduk dan pesan arak serta sayur.
Terdengar sikakek berbaju kuning berpaling ke arah sikakek berbaju hijau dan berkata: “samte aku rada sangsi dengan andalkan kepandaian ilmu silat yang dimiliki gembong iblis tua itu masa ia bisa jatuh kecudang ditangan seorang budak ingusan bahkan peta rahasianya kena dirampas sekalian, aku pikir persoalan ini rada sedikit mengherankan. Menurut pendapat In heng, kemungkinan besar sigembong iblis tua itu sedang main gila, dia pakai akal muslihat untuk menipu kita semua, sedangkan sendiri ia meloloskan diri Bagaimana menurut pendapatmu? ” “Dugaan serta katakmu sangat beralasan jie-ko” jawab sikakek berbaju hijau yang disebut- samte itu sesudah termenung sejenak “Tapi khabarnya budak itu sangat lihay, ilmu silat serta tenaga Iwekang yang dimilikinya sukar diukur dengan kata2, terutama sekali sabuk kencananya yang ada satu tombak dua kaki panjangnya itu, Waah katanya lihay sekali dan memiliki perubahan jurus sukar diukur, gembong iblis tua itu sudah biasa malang melintang dalam dunia persilatan dengan angkuh serta jumawa, kapan ia pernah dikecundangi? seandainya ia benar-2 bukan roboh ditangan budak ingusan itu kenapa ia harus ceritakan kisah yang memalukan ini sehingga merusak pamor serta nama baik sendiri ” Bicara sampai disitu si Loo sam merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian tambahnya: “Menurut dugaan siauwte persoalan ini memang benar2 telah terjadi dan bukan kabar isap jempol belaka, kalau tidak buat apa ia sebar luaskan rahasia tempat penyimpanan kitab pusaka tersebut kepada seluruh umat Bu lim?” “Mungkin kau benar samte, hanya heran kenapa sigembong iblis tua itu tidak mengundang seorang dua orang pembantu untuk membantu usahanya menyusul budak ingusan tadi kegunung in Bong-san dan merampas kembali kitab pusaka itu?… kenapa justeru ia sebar luaskan berita ini keseluruh dunia persilatan? karena itu bagaimanapun juga aku rasa dibalik masalah ini tentu terselip akal muslihat, kalau tidak mengapa si gembong iblis tua itu begini tolol ???” “Kecurigaan jie ko memang benar dan sangat beralasan” kata Sam Koay sambil mengangguk, beberapa saat lamanya ia termenung dengan mulut membungkam.
Ketika ia angkat kepala kembali, selintas rasa girang berkelebat diatas wajahnya, sambil menatap jie-koay segera tanyanya: “Jie-ko, apa kau masih ingat dengan dongeng burung bangau berebut mutiara ??” “Burung bangau berebut, sang nelayan yang pungut hasil”, dongeng ini amat populer sekali pada masa itu, jangan dikata orang dewasa, anak kecilpun tahu kisah tersebut dengan jelas.
oleh karena itu setelah mendengar perkataan tadi jie-koay jadi teringat akan sesuatu.
“samte, maksudmu sigembong iblis tua itu sedang menjalankan siasat nelayan cerdas yang mendapat hasil ??.?” “Tidak salah ” Sam Koay mengangguk- “Sepanjang hidup sisetan tua itu berkepala besar dan jumawa, bukan saja tak pernah pandang sebelah matapun kepada orang lain, iapun jarang sekali bergaul dengan jago lain, kali ini ia jatuh ke-cundang ditangan seorang budak ingusan, peristiwa ini merupakan peristiwa yang paling memalukan buat dirinya dalam keadaan seperti ini tak mungkin dia masih punya muka untuk mohon bantuan orang lain.
Kini peta rahasia itu kena dirampas orang, kau anggap ia mau sudahi persoalan itu sampai disini saja ? setan tua itu adalah manusia kawakan, ia tahu kitab pusaka yoe Leng Pit Kip adalah kitab mustika yang diincar dan di idam2kan oleh jago-golongan sesat maupun golongan lurus dalam dunia persilatan, asalkan kabar ini disebar luaskan, para tokoh Bulim baik dari golongan lurus maupun golongan sesat tentu saling berdatangan untuk ikut memperebutkan kitab tadi, sementara ia sendiri bersembunyi disamping kalangan, menanti para jago sudah saling bertarung, saling membunuh dan kehabisan tenaga ia baru munculkan diri untuk melakukan pembunuhan dan merampas kembali kitab pusaka itu. coba jie-ko pikir, benar tidak begitu?” Apa yang diucapkan Sam koay dari permulaan sampai akhir sangat beralasan semua, membuatjie koay yang mendengar mengangguk dan memuji tidak hentinya.
“sa mte Penjelasanmu amat tepat sekali, Ih heng jadi kagum dibuatnya, tidak aneh kalau toako selalu memuji dirimu sebanding dengan Coe-Kat Liang…” “AaahJie ko kenapa kaupun ikutkan memuji diri siauwte” kata Sam Koay merendah meskipun begitu karena bangga sikakek berbaju hijau inipun tak tahan tertawa ter kekeh2, lagak nya tengik membuat orang merasa perutnya jadi mual.
sejak kakek berbaju kuning dan hijau itu munculkan diri diatas loteng, perhatian semua tetamu sudah ditujukan kepada mereka, sekarang begitu jie koay gelak tertawa, seluruh perhatian para tamu makin dicurahkan kepada kedua orang itu. Dalam pada itu pelayan telah menghidangkan sayur dan arak- Walaupun Bong-san yen shu serta Tong-hong Beng coe bersantap, tetapi sepasang telinga ke dua orang itu dipentang lebar- dan memperhatikan terus apa yang dibicarakan kedua orang siluman itu- Beberapa patah kata yang barusan mereka dengar, membuat Bong san yen shu maupun Tong hong Beng Coe mengucurkan keringat dingin- Meskipun mereka tidak menyangka dalam belasan hari yang singkat, peristiwa ini sudah tersebar luas keseluruh dunia persilatan, hati mereka diliputi rasa kaget, girang, keheranan dan cemas- Kaget, karena di lembah Pek yan Gay gunung In boesan bakal terjali pertarungan >engit dalam memperebutkan mustika, entah berapa banyak jago-Bu lim kenamaan yang bakal berguguran diatas lembah tersebut.
girang, karena peta rahasia tersebut kembali kena dirampas orang, usaha Peng Pok sin mo selama inipun menjumpai kegagalan total.
Keheranan, karena ditinjau dari pembicaraan dua siluman ini, orang yang berhasil merampas peta rahasia tersebut dari tangan Peng Pok sin mo adalah seorang nona muda.
seorang nona yang masih muda belia ternyata berhasil merampas sebuah peta mustika dari tangan seorang gembong iblis yang menamakan dirinya pemimpin sepuluh manusia sesat dunia persilatan kehebatan serta kelihayan Ilmu silat nya tentu luar biasa.
Dalam dunia persilatan dewasa ini jangan dikata dari generasi angkatan muda, meninjau dari generasi tuapun kecuali oe Lwee Ngo Khei atau lima manusia aneh dari kolong langit jarang ada yang bisa menandingi kepandaian silat Peng Pok sin-mo.
Meskipun dikata nona itu adalah ahli waris dari oe-lwee- Ngo-khie- meninjau usianya yang masih muda, tidak mungkin ilmu silatnya bisa lebih lihay diri si setan tua. Lalu siapakah nona muda itu ??? Kecuali rasa kaget, girang, keheranan dan cemas merekapun tercengang, Cemas, karena rencana mereka untuk merampas kembali peta rahasia tersebut jadi berantak-kan.
harapanpun semakin tipis.
Ditengah gelak tertawa sam Koay yang amat menusuk telinga, tiba2 dari s isi sebelah kiri Bong-san yenshu menggema datang suara dengusan dingin yang amat nyaring.
Dengusan itu kaku dan mengandung arti memandang hina pihak lawan. Jelas dengusan tadi sengaja diperdengarkan buat dua siluman tersebut, kalau tidak mengapa dengusan tadi menggema disaat Sam Koay sedang tertawa seram ?? Dikarenakan dengusan dingin itu nyaring namun rendah, jaraknya dengan kedua siluman itu pun jauh, apa lagi samkoay sedang tertawa keras, orang lain tak mendengar kecuali Bong-san yen shu seorang, sikakek Huncwee dari gunung Bong san terkejut.
“siapkah orang itu ???” pikirnya- sungguh bernyali, kalau sampai dengusan tersebut kedengaran kedua siluman itu, waaaah—” meskipun bukan sengaja diperdengarkan, keonaran segera bakal terjadi”- Karena tercengang, tanpa kuasa siorang tua itu berpaling kesebelah kiri dimana berasalnya dengusan tadi- Tengokan ini membuat Bong-san yen shu yang menyapu kesebelah kiri, kecuali menemukan serombongan kaum pedagang serta pelancong, hanya seorang pemuda ganteng berbaju putih yang paling menarik perhatian.
Pemuda sastrawan itu mempunyai raut muka bulat telur, alisnya bagaikan semut beriring, matanya bagaikan bintang timur, hidungnya mancung dan bibirnya kecil merekah, ia betul2 seorang pria tampan yang amat mempersonakan hati siapa pun.
sayang bibirnya kecil lagi tipis, biji matanya bening dan jeli.
tingkah lakunya kurang gagah dan kurang menampakkan jiwa seorang lelaki sejati.
Mungkin dikarenakan dia adalah seorang pelajar, maka tingkah lakunya terlalu halus sehingga lebih mirip dengan seorang gadis perawan.
sementara Bongsan yen shu sedang memperhatikankan pemuda sastrawan itu, raut muka yang pada mulanya penuh dihiasi senyuman mengejek tiba2 berubah, senyuman menghina lenyap tak berbekas dan sebagai gantinya, sastrawan itu berpaling kearah Tong-hong Beng Cu serta Bong-san yen shu sambil tersenyum manis.
Kiranya sewaktu mendengar dengusan dingin tadi. Tong hong Beng Cupun alihkan sinar matanya kearah pemuda sastrawan itu, kebetulan pemuda tadi tersenyum, sedang mata segera bentrok jadi satu.
Kontan Tong hong Beng Cu merasakan jantungnya berdebar keras-“Sungguh tampan pemuda ini”pikirnya- Pemuda menyukai kecantikan, sedang pemudi menyukai ketampanan, sejak jaman dahulu kala hingga sekarang tak berubah- Kendati Tong hong Beng Cu gagah dan merupakan seorang pendekar wanita dalam dunia persilatan, namun tak terlepas dari siIat asalnya sebagai wanita, menjumpai pemuda tampan hatinya segera tertarik, Rasa suka yang timbul dalam keadaan seperti ini tentu saja bukan dikarenakan rasa cinta namun menunjukkan kenormalan nya, bahwa dia benar-perempuan sejati- Dalam hati Tong hong Beng Cos berpikir demikian, lain halnya dengan Bong-san yen shu, iapun mempunyai jalan pikiran sendiri. Ia merasa pemuda sastrawan ini kecuali kekurangan siIat pria, ia tampan dan berbakat bagus untuk melatih silat- “seumpama sastrawan ini bisa diterima sebagai murid oleh seorang tokoh lihay dan dilatih tiga-lima tahun, tidak sulit menjadi seorang pendekar luar biasa dalam dunia persilatan” pikirnya.
Tapi dengan cepat ia merasa jalan pikirannya tidak benar, tadi terangkan ia melihat senyuman mengejek menghiasi bibir sastrawan itu, di atas wajahnya yang ganteng terlintas pandangan menghina, walaupun sekarang telah lenyap namun keadaan tersebut belum terlupakan olehnya.
Hal ini jelas membuktikan kalau dengusan dingin tadi berasal dari pemuda sastrawan itu.
Berpikir sampat kesitu, kembali Bong-san yen shu terperanjat.
“siapakah pemuda sastrawan ini?? berani benar ia pandang enteng tokoh lihay dari sepuluh manusia sesat-Jelas ia tak pandang sebelah matapun terhadap Loo jie serta Loo-sam dari Liauw-tong sam Koay, kalau tidak mana ia berani berbuat begitu? tapi mengapa pula ia tersenyum manis kepada kami? apakah ia kenal dengan kami ??…” oleh sebab itulah dalam hati kecil Bong san yen shu penuh diliputi rasa kaget, heran dan tercengang…
Menanti ia memandang kembali kearah pemuda sastrawan itu, sementara sianak muda sedang menempelkan cawannya ke ujung bibir, air mukanya tenang tanpa perubahan, seakan2 dengusan dingin serta senyuman manis tadi hanya terjadi karena kebetulan dan sama sekali tak terpikirkan dalam hatinya.
Benarkah hanya suatu kebetulan belaka?…..
Ooooo0oooooO TiBA-tiba dari mulut loteng berkelebat lewat sesosok bayangan merah diikuti munculkan seorang kakek tua berbaju warna merah darah, dandanannya aneh dan luar biasa tiada berbeda dengan dandanan Toan Hauw serta Toan Pa kecuali warna baju yang berbeda.
siapakah orang itu ? tak usah disebut siapa pun akan tahu.
sikakek tua berbaju merah ini bukan lain adalah Loo toa dari Liauw-tong sam koay. Toan Liong adanya.
sementara Toan Liong baru saja munculkan diri dimulut loteng, Toan Hauw serta Toan Pa sama2 bangun berdiri sambil menyapa: “Toako, kau sudah datang ” “Ehmmm Hian te berdua sudah lama menunggu ?” Toan Liong mengangguk,- seraya berkata dengan langkah lebar ia berjalan mendekati meja dan duduk diantara dua saudaranya.
Pelayan dengan cepat menyiapkan sumpit dan cawan jie koay Toan Hauw segera memenuhi cawan toakonya dengan arak dan diangsurkan di hadapannya.
“Toako selama ini kau tentu susah dan kecapaian” ujarnya sambil tertawa lebar.
“Mari kita keringkan dulu secawan arak untuk menghangatkan badan kita” siluman pertama Toan Liong tertawa keras, ia sambuti cawan arak itu dengan sekali teguk menghabiskan isinya.
setelah meletakan cawan keatas meja, dengan sepasang mata melotot galak ia menyapu sekejap ke seluruh ruangan loteng dengan sinar mata tajam.
Bong-san yen shu tidak ingin dirinya dikenali oleh ketiga siluman dari Liauw-tong ini terutama sekali oleh siluman pertama, b urus ia tundukkan kepalanya melengos dari pandangan mata Toan Liong.
“Toako bagaimana keadaannya?” terdengar sam-koay, Toan Pa bertanya memecahkan kesunyian.
“Hmmm-” Toan Liong mendehem.
“samte dugaanmu ternyata tidak salah, bukan saja jago2 dari kalangan sesat maupun lurus pada berdatangan kemari, bahkan ciangbunjin dari partai Kiong lay Pay yang menyebut dirinya “sin-Koen Boe tek” atau kepala sakti tanpa tandingan Tie Kong beserta kedua orang adik seperguruannya “Kian Koen cian” atau sitelapak jagad Pek seng serta “Ia Tiong Gan” atau siwalet ditengah mega Khong It Hoei, kemudian Kauwcu dan Hu Kauw cu perkumpulan Im yang Kauw yang menyebut dirinya Im yang siauw su atau sipelajar Im yang. TJi Tiong Kian dengan “Im Tong siauw-sur atau Dewi Im Tong, mo yoe yauw dengan membawa puluhan jago lihay perkumpulannya telah berkumpul didusun ini, disamping itu masih banyak jago dari partai2 lain berdatangan kemari, aku lihat gunung In Boe san bakal jadi gelanggang terbuka dalam perebutan mustika tersebut. Wah– tentu bakal ramai sekali ” si Bong-san yen shu serta Tong-hong Beng Coe yang mendengar perkataan Toan Liong ini sama2 terperanjat- Lebih2 Tonghong Beng Coe, ia merasa hatinya seperti tertindih dengan batu cadas yang sangat berat- Kitab pusaka “YOE LENG PIT KIP” sudah jadi incaran semua jago dunia persilatan, untuk merebut benda itu kecuali ia berhasil mengalahkan tokoh-tokoh lihay dari partai kenamaan, kalau tidak- maka sulitnya seperti mendaki ke angkasa- Disamping menguatirkan soal kitab pusaka, gadis inipun menguatirkan keselamatan Hoo Thian Heng, sejak perpisahan dilembah Kan TJi-kok sepanjang perjalanan ia menyusul kemari, namun sampai sekarang jejaknya masih belum juga kelihatan, entah pemuda itu sudah tiba lebih dahulu digunung InBoe san atau…
si Bong-san yen shu serta Tong hong Beng Coe dibikin terperanjat, pemuda sastrawan yang ada disisi mereka jauh lebih terperanjat lagi- Tampak pemuda ganteng itu kerutkan dahi, sepasang alis melentik sedang sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, sekilas hawa membunuh berkelebat di atas wajahnya- Dalam keadaan seperti ini, seandainya Bong-san yen shu memperhatikan, ia pasti akan terkesiap dan bergidik, Ketika Toa koay, Toan Liong menyelesaikan kata-katanya, sam koay Toan Pa melanjutkan: “Kitab pusaka “YOE LENG PIT KIP” merupakan kitab ilmu silat yang amat menarik perhatian banyak orang, setelah kabar berita itu tersiar, tidak heran para jago baik dari kalangan Pek to maupun Hek-to saling berdatangan untuk ikut dalam perebutan itu, menurut dugaanku, bukan saja perebutan mustika digunung In-boe-san ini bakal sangat ramai bahkan hebat dan mengerikan” Ia merandek sejenak untuk tukar napas, setelah itu terusnya: “sepanjang masa Peng Pot sin mo terkenal akan licik serta banyak akal, makin tua ia semakin bahaya, setelah peti rahasianya dirampas mengapa ia tidak rebut kembali mustika itu secara diams sebaliknya malah menyiarkan berita ini keseluruh Bu lim sehingga mengakibatkan para jago berdatangan untuk ikut merebutkan benda mustika itu? apa sebenarnya maksud yang di kandung? — tak usah dijelaskan sudah amat terang, karena ia sudah menyusun suatu akal muslihat yang licin. Barusan siauwte telah membicarakan soal tingkah laku setan tua itu denganjie ko, menurut kesimpulan yang berhasil siauw te kumpulkan, bukan saja tipu muslihat yang disusun setan tua ini amat berbahaya bahkan keji dan telengas. oleh sebab itu ikut sertanya kita bersaudara dalam perebutan mustika ini, harus bertindak terlalu berhati-hati, jangan sampat akhirnya bukan saja gagal merampas mustika itu bahkan jatuh kecundang ditangan Iblis tua itu. Kalau sampai terjadi hal begini, waduh — pamor kita bisa hancur berantakan” sepanjang hidup, Toa koay Toan Liong terlalu percaya dengan apa yang diucapkan oleh sam-te nya yang dianggap sejajar dengan TJoe-kat Liang, atau dengan perkataan lain, selama Liauw tong sam koay malang melintang dalam dunia persilatan, kendati diluaran semua pucuk pimpinan dipegang Toan Liong, dalam kenyataan Toan Pa lah yang pegang peranan, terutama sekali setiap kali menjumpai persoalan yang penting bagaimana cara menghadapi dan menanggulangi, Toan Liong tentu bertanya dulu kepada Toan Pa untuk kemudian siluman ketiga inilah yang susun rencana oleh karena itu, sehabis Toan Pa mengutarakan kataknya, Toan Liong kelihatan tertegun, sepasang matanya terbelalak buas- sambil menatap sang adik, ia berseru.
“sam-te jadi kalau begitu sisetan tua itu sengaja menyiarkan kabar kosong yang mengatakan peta mustika itu kena dirampas orang? jadi ia sengaja menyebar kabar kosong???” “Itu sih tidak mungkin, aku rasa kabar itu ada benarnya ” “Tadi bukankah kau mengatakan bangsat tua itu sedang menyusun akal muslihat ???” “siauw te merasa dibalik persoalan ini masih terdapat banyak hal yang patut dicurigakan” kata Toan Pa dengan wajah serius.
” untuk sementara waktu tak usah kita bicarakan benar atau tidaknya peta mustika itu dirampas orang, ditinjau dari kelihayan ilmu silat yang dimiliki budak ingusan itu, bisa kita tinjau betapa kejamnya tipu muslihat setan tua itu, sengaja ia umumkan berita ini keseluruh kangouw agar para jago berdatangan, inilah siasat pinjam golok membunuh orang yang pasti ia hendak menciptakan pembunuhan masai yang mengerikan diatas tokoh silat golongan Pek-to serta golongan Hek to, setelah mereka saling membunuh saling tusuk hingga jumlahnya makin sedikit, dan semasa orang kehabisan tenaga.
Nah— pada saat itulah setan tua itu akan munculkan diri dan membasmi sisa jago yang sudah kehabisan tenaga, kemudian merampas kitab pusaka itu, menyembunyikan diri dan melatih sin-kang tadi selama tiga lima tahun kemudian ia munculkan diri lagi dalam dunia persilatan, sampai waktunya jago dari mana yang bisa menandingi dirinya.
“Kalau begitu, apa yang harus kita bertiga lakukan?” tanya Toan Liong dengan sepasang alis berkerut, agaknya ia dibikin sadar oleh ucapan saudaranya ini. – “Bagaimanapun toh kita tidak akan berpeluk tangan melihat kitab pusaka itu berada di depan hidung kita” “Heee—. heeee— heee—” Toan Pa tertawa kering.
“Apa yang dimuat dalam kitab pusaka tersebut merupakan ilmu silat maha sakti yang tiada keduanya dikolong langit, asalkan seseorang bisa berlatih semacam saja sudah cukup untuk menjagoi seluruh jagad. tentu saja kita tiga bersaudara harus mendapatkan mustika itu, hanya saja —” Bicara sampai disitu ia merandek sejenak, setelah termenung terusnya: “Kali ini, kita bersaudara harus bekerja sangat hatia, jangan sembrono dan musti waspada sebelum mendapat kesempatan yang menguntungkan jangan sekali2 turun tangan, lebih baik menyembunyikan diri lebih dahulu disisi kalangan menanti situasi telah memuncak, barulah kita main serobot saja” “Usulmu ini amat bagus sekali samte” Toan Liong mengangguk dan memuji.
“Baiklah, kalau begitu kita bekerja menurut rencana ini saja.” “sebelum ada kesempatan bagus jangan turun tangan secara sembrono” Bong-san Yen Shu yang secara tidak sengaja mencuri dengar rencana yang disusun Liauw-tong Sam Koay, dalam hati segera mempunyai pandangan lain terhadap ketiga orang siluman ini, ia merasa ketiga orang siluman tersebut bukan saja memiliki ilmu silat yang aneh dan sukar diukur, terutama sekali kecerdasan Tean Pa liauw-tong ketiga, sungguh tak boleh dipandang enteng.
Karena punya pandangan begini, hatinya rada bergerak dan segera pikirnya: “Telah terjadi banyak perubahan dalam masalah ini, aku harus berusaha secepat mungkin menemukan kembali Hoo Thiang Heng dan menceritakan perkembangan yang telah terjadi, agar iapun hisa secepatnya menyusun rencana kerja sama kita selanjutnya.” Sementara ia masih melamun, mendadak dari telinganya berkumandang datang suara yang halus, lembut tapi nyaring nyelonong masuk ke telinga.
“Dewasa ini Gunung In-Boe san sudah dipenuhi dengan jago2 kangouw yang berkepandaian lihay, berhasilkah perjalanan kita kali ini untuk merampas mustika itu masih sukar dikatakan, pada keadaan biasa siauw-seng selalu anggap usaha manusia dapat menangkan takdir, namun sekarang terpaksa aku harus mengubah caraku berpandang, kerja mengikuti garis2 takdir” Kendati suara itu halus dan lembut namun nyaring dan jelas sekali, Sikakek Huncwee dari gunung Bong-san sadar tentu ada seseorang telah mengirim berita kepadanya dengan ilmu menyampaikan suara.
siapakah orang itu? tentu saja dari nada suaranya Bong-san Yen shu bisa mengerti dia bukan lain adalah Hoo Thian Heng yang sedang dinanti2kan kehadirannya. Mendengar bisikan itu, Bong-sanYen-shu amat terperanjat.
“Apa? iapun berada diatas loteng ini? mengapa aku tidak menemukan dirinya?” ia berpikir.
Karena punya pikiran demikian, sepasang biji matanya segera berputar menyapu keadaan di sekeliling loteng.
siapa sangka baru saja ia mengerling suara dari Hoo Thian Heng kembali nyelonong masuk kedalam telinganya.
“Tak usah kau cari lagi jejakku, saat ini aku sedang menyaru dan kau tak akan mengenali diriku walaupun telah kau lihat dengan mata kepalamu, hati-hati dengan ketiga siluman itu. Jangan sampai jejakmu konangan, aku rasa jejak kita semakin rahasia semakin baik Apa yang mereka bicarakan tadi aku pikir kaupun bisa menangkap bukan? tak usah aku banyak bicara lagi, sejak detik ini tingkah lakumu serta nona TOnghong sekalian harus lebih ber hati2, berusahalah menyembunyikan asal-usul, lebih baik lagi menirukan cara mereka, cari suatu tempat yang baik untuk menyembunyikan diri dan jangan bertindak secara sembrono” saat ini Bong san Yen shu baru tahu, kiranya sianak muda itu telah menyaru, tidak aneh kalau selama ini ia tak berhasil temukan dimana pemuda she Hoo itu berada.
Tiba2 teringat olehnya akan sisastrawan berbaju putih yang ada disisi kirinya, mungkinkah Hoo Thian Heng menyaru sebagai pemuda tampan berbaju putih ini?? Karena punya pikiran demikian, tanpa sadar sepasang matanya mengerling sekejap kearah pemuda tampan berbaju putih itu.
urusan aneh kembali terjadi, se-akan2 Hoo Thian Heng adalah cacing pita didalam perutnya apa yang hendak ia lakukan berhasil dibade oleh sianak muda itu Baru saja ia berpaling kearah sastrawan berbaju putih itu, suara Hoo Thian Heng kembali menggema datang.
“Tak usah kau tengok dirinya (Nya dalam hal ini berarti dia wanita), bukan saja Dia adalah sastrawan tetiron dialah manusia yang berhasil merampas peti mustika dari tangan Peng Pok sin-mo, Dia pula yang secara diam2 merampas salah sebuah cecak kumala sewaktu ada digunung Pak Bong san tempo dulu, meskipun aku tidak kenal Dia, namun perguruan kami ada hubungan yang erat sekali” Kembali Boog san Yen shu terperanjat.
Ia tak berani percaya, sastrawan ganteng yang kelihatan lemah gemulai tidak seharusnya mengatakan dia adalah seorang nona yang lemah lembut, ternyata berhasil merampas peta mustika kitab ilmu silat dari tangan seorang gembong iblis, pemimpin sepuluh manusia sesat dariBu-lim, dan menghancurkan Peng Pok sin-mo yang menggetarkan seluruh jagad. ia tak berani percaya seratus persen, karena kejadian ini tak masuk diakal.
Terutama sekali, Dia adalah seorang nona muda, bukan saja tak masuk diakal bahkan merupakan kejadian langka dalam dunia persilatan.
suasana makin lama makin gelup, awan semakin menutupi seluruh jagad. angin Barat- laut berhembus makin lama makin kencang bukan saja membuat napas orang jadi sesak, bahwa hawa dingin serasa menembusi tulang belulang dan meresap kesumsum.
Dalam keadaan seperti ini. Bong-san Yen shu serta TOnghong Beng Coe sekalian tak ingin membuang banyak tempo lagi, ketika banyak tetamu yang mulai meninggalkan rumah makan tersebut, merekapun segera bereskan rekening, meninggalkan rumah makan “Hoo siang Kie”, keluar dusun dan berangkat kegunung In- Boe san.
Walaupun angin dingin berhembus kencang, tua, muda tujuh orang yang memiliki ilmu silat tinggi tidak merasa terlalu dingin, dengan tenang mereka lanjutkan perjalanan.
sekeluarnya dari dusun Ma-Tiang-Peng hanya terpaut seratus li, dengan kecepatan lari ketujuh orang itu, tidak sampai setengah harian tempat yang dituju dapat dicapai.
Ketika mereka sudah melakukan perjalanan sejauh belasan li, mendadak Bong-san-Yen-shu memperlambat langkahnya, sambil berjalan ia menuding kearah depan.
“Nona” serunya kepada TOng-hong Beng-coe.
“Tidak jauh disebelah depan sana ada sebuah jalan kecil yang langsung menghubungkan tempat ini dengan kaki gunung In Boe-san, melewatijalan kecil ini kita melewati kecamatan Hee-Koei disitu kita bisa beristirahat sambil mempersiapkan rangsum kering, kemudian ditengah malam buta kita berangkat kelembah Pek Yan Hay dan cari tempat yang strategis untuk bersembunyi, bagaimana menurut pendapatmu ???” “Boan-pwee belum lama menerjunkan diri ke dalam dunia persilatan” sahut Tong hong Beng Coe seraya mengangguk.
“segala macam persoalan diputuskan sendiri oleh Loocianpwee” “Baiklah, kalau begitu harap nona suka mengikuti dibelakang Loohu ” sambil berkata ia mempercepat langkahnya, berangkat lebih dahulu kearah depan sana.
Tiba2… suara kelenengan kuda yang amat merdu dari nyaring berkumandang dari arah belakang. Mendengar adanya suara nyaring, beberapa orang itu berpaling, tampaklah seekor kuda merah yang tinggi besar dengan membawa sesosok bayangan putih, laksana sambaran kilat berkelebat lewat.
sungguh cepat sekali pertama kali mendengar suara itu, kuda tadi masih ada di tempat yang jauh, mungkin ada beberapa li, dalam sekejap mata telah berada didepan mata.
Buru-buru Bong san Yen shu beserta Tong hong Beng Coe sekalian tujuh orang menyingkir kesamping. mereka bermaksud meneruskan perjalanan lagi setelah kuda tadi lewat.
Baru saja mereka bertujuh menyingkir, kuda tadi sudah berada didepan mereka semua.
Pada waktu itu tentu saja semua orang dapat kenali siapakah penunggang kuda merah itu, sebab dia bukan lain adalah sisastrawan ganteng yang pernah dijumpai diloteng “Hoo siang Kie” kemaren malam.
Tepat sampai dihadapan ketujuh orang itu, kuda merah tadi mendadak meringkik keras, sepasang kaki depannya berdiri untuk kemudian di turunkan kembali dengan tenang, agaknya kuda itu tidak menyangka disaat ia lari cepat, majikannya secara tiba2 bisa menahan tali les. Untung kuda itu adalah kuda jempolan.
“Kuda bagus” tak kuasa lagi Tong- hong Beng-Coe berseru memuji.
Bukan saja kuda itu gagah dan keren, kecuali petak kecil warna putih diatas jidatnya, seluruh tubuh kuda tadi berwarna merah darah dari atas hingga keekor tak ada warna campuran lain.
seandainya dalam keadaan seperti ini kita bertanya pada nona Tong hong, di manakah letak kebagusan kuda itu sehingga ia keterlepasan memuji ? maka sebagai jawaban ia pasti menggeleng dengan mata terbelalak ” Entahlah…. ” Mendengar kudanya dipuji sebagai “Kuda bagus”, pemuda sastrawan berbaju putih itu kelihatan sangat gembira, sepasang biji matanya yang jeli dan bening memancarkan cahaya berkilat, sebaris giginya yang putih bersih menghiasi bibirnya yang tersungging senyuman manis.
senyuman manis ini kontan membuat Tong hong Beng Coe merasa amat jengah pipinya terasa panas sehingga tak kuasa ia tundukkan kepalanya rendah2, untung rasa jengah ini tersembunyi dibalik topengnya yang tebal. Meskipun kepalanya tertunduk. dalam hati ia berpikir.
“Bukan saja tampan sekali sastrawan ini, sepasang giginya pun rajin dan putih, senyuman nya menawan hati, bahkan boleh dikata gemas dan menggiurkan, ia tidak mirip seorang pria ” Berbeda dengan sinona, Bongsan Yen shu adalah seorang jago kawakan yang sudah lama berkelana dalam dunia persilatan, pengetahuannya sangat luas, begitu melihat kuda berwarna merah dengan sedikit titik putih itu ia kenalinya sebagai Hwee Lioe Kie seekor kuda Tjian lian Kie yang sehari dapat menempuh perjalanan sejauh ribuan lle.
Walaupun demikian, iapun heran, menurut kabar berita yang tersebar dalam dunia persilatan, Kuda Hwee Lioe Kie telah lenyap banyak tahun bersama2 lenyapnya seorang cianpwee seorang manusia gagah, tidaklah aneh kalau secara tiba2 bisa muncul kembali pada hari ini? lagipula peristiwa itu sudah terjadi puluhan tahun berselang, seharusnya kuda Hwee Lioe Kie itu sudah tua dan mati.
“Mungkinkah kuda Hwee Lioe Kie yang dipakai si anak muda ini adalah keturunan dari kuda Hwee Lioe Kie dulu hari?.” saking herannya tak tahan sijago tua ini segera maju memberi hormat pada sang muda berbaju putih, sembari tersenyum ia bertanya: “Aku siorang tua numpang bertanya nona, bukankah kuda nona ini adalah kuda Hwee Lioe Kie?”.
Penunggang kuda itu rada melengak, hanya sejenak untuk kemudian ia jadi tenang kembali seperti sedia kala.
Tampak sepasang alisnya berkerut, kemudian sambil tersenyum ia mengangguk.
“Tidak salah kudaku ini memang kuda Hwe Lioe Kie” jawabnya tenang namun mantap, “Yu Thay-hiap, tajam benar penglihatanmu, tak kecewa thay hiap disebut orang sebagai seorang lo cianpwe yang tersohor dikolong langit.” Kata2 ini mempunyai dua arti, secara terangkan ia memuji ketajaman mata Bong san Yen shu yang berhasil kenali kudanya sebagai kuda jempolan Hwee Lie Kie, dalam kenyataan ia sedang memuji akan kehebatan siorang tua itu berhasil menebak penyaruannya..
” Nona itu sungguh amat nakal cerdik namun menarik hati.” “Bagaimana ia bisa tahu kalau aku adalah seorang nona yang sedang menyaru seperti seorang pria? apakah penyaruanku masih kurang sempurna?” sementara nona berbaju putih itu masih dibuat keheranan, Tong hong Beng coe yang berdiri di samping dengan kepala tertundukpun tiba2 angkat kepala dan berseru tertahan, sepasang matanya yang jeli terbelalak besar, sebentar ia memandang Bong-san Yen sho kemudian memandang pula sastrawan nampan berbaju putih itu, iapun dibuat keheranan.
Tentu saja ia heran sebab Bong sen Yen shu menyapa sastrawan ganteng itu dengan sebutan “Nona ” Mendadak terdengar Bong san Yen shu tertawa ter bahak2.
“Ha ha ha ha mana, mana loohu cuma sembarangan menduga saja, tak disangka dugaanku sama sekali tidak meleset ” Habis bicara kembali ia tertawa ter-bahak2. ucapannyapun mengandung dua arti yang berbeda.
Dalam pada itu si sastrawan gadungan sudah melayang turun dari kudanya dan berdiri tegak diatas permukaan.
Mendadak air mukanya berubah serius, sepasang biji matanya dengan tajam menatap wajah Bong-san Yen shu.
“Yu thayhiap ” katanya sungguh-sungguh “Didepan orang budiman tidak bicara bohong di depan Khong Hu-cu tak selalu berbicara jujur, dari mana kau bisa memecahkan rahasia penyamaranku ini? apakah dalam penyaruanku ini terdapat bagian yang mencurigakan? harap kau suka bicara terus terang, kalau tidak…” Ia terdiam sejenak. sementara sepasang matanya dengan memancarkan cahaya yang menggidikkan melototi Bong san Yen shu tak berkedip.
sikakek Huncwee dari gunung Bong san terkesiap, dengan ter mangu2 ia balas menatap sastrawan ganteng yang berdiri dihadapannya, dalam keadaan gelisah tak sepatah katapun berhasil ia utarakan.
Tong hong Beng Coe tak tahu kesulitan orang bukannya membantu siorang tua itu, malahan dengan manja iapun ikut menimbrung.
“Benar Yu Locianpwee dari mana bisa kau temukan penyamarannya? Ayoh cepat katakan, kenapa aku gagal menemukan penyaruannya itu” Bong san Yen su termenung sejenak. setelah melirik sekejap kearah Tong hong Beng Coe, ia baru menatap sastrawan gadungan itu sembari menjawab.
“Nona bicara terus terang, penyaruanmu amat sempurna kecuali wajah serta raut muka mu terlalu halus, lembut dan ayu sehingga mengejutkan orang lain, boleh dikata tiada titik kelemahan apapun, sesungguhnya orang lain sulit untuk mengetahui, bahwa nona sedang menyaru sebagai seorang pria” Bicara sanpai disitu ia merandek.
sebetulnya siorang tua ini tak ingin bicara terus terang, namun berhubung si sastrawan gadungan itu mendesak. lagi pula Tong hong Beng Coepun ikut menimbrung terus, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia buka suara. Karena itu, setelah merandek sejenak sambungnya lebih jauh.
“sebenarnya ditengah jalan tadi loohu telah berjumpa dengan seorang sahabat, bukan saja orang itu tahu bahwa nona adalah seorang gadis yang sedang menyaru sebagai pria, bahkan ia-pun mengetahui asal usul perguruan nona, bahkan…” Belum habis Bong san Yen shu menyelesaikan kata2nya, hati sastrawan gadungan itu sudah tercekat.
“siapakah orang itu?” pikirnya.
“Bagaimana mungkin dia bisa tahu akan perguruanku? suhu dia orang tua sudah lama mengasingkan diri di pegunungan yang terpencil, selama hampir seratus tahun tak pernah ketemu dengan siapapun juga meskipun tokoh paling lihay dalam dunia persilatan dewasa ini, Ci Lwee Ngo Khie atau Lima Manusia Aneh dari Kolong Langit pun tak tahu.” Karena tak kuat menahan diri, tidak menunggu Bong san Yen shu menyelesaikan kata2nya dengan cepat ia menukas: “siapakah orang itu ?” “Hoo Thian Heng ” karena tidak ingin mendusta, Bong-san Yen shu berterus terang.
“Hoo Thian Heng ?” Dengan termangu2 pemuda gadungan itu ikut mengulangi nama tersebut, kemudian dengan pandangan mendelong ia pandang wajah Bong-san Yen shu.
“Yu, Thay-hiup, macam apakah Hoo Thian Heng itu ?” kembali ia bertanya. Kali ini tiba giliran Bong san Yen shu yang berdiri tertegun, pertanyaan ini terlalu sulit untuk menjawab.
Hoo Thian Heng, macam apakah Hoo Thian Heng itu? lalu suruh ia menjawab apa.
Lagi pula ia sendiri kurang begitu tahu tentang Hoo Thian Heng, siapakah sebenarnya dia orang tua inipun tak tahu.
Mulut Bong san Yen shu tidak menyahut, di atas wajah pemuda gadungan itu segera perlihatkan rasa kurang puas.
“Macam apakah Hoo thian Heng itu? apakah Yu Thay hiap hendak merahasiakan asal usulnya?” ia menegur dengan nada dingin.
Ucapan dari pemuda ini sungguh kasar dan tidak sungkan2 membuat telinga orang terasa tertusuk oleh jarum.
Merah padam selembar wajah Bongsan Yen shu, ia didesak hingga serba salah oleh ucapan pemuda tersebut.
“Yu Loocianpwe” secara tiba2 Tong hong Beng coe pun ikut menimbrung dari samping.
“Kapan kau telah berjumpa dengan dia? kenapa aku tidak tahu?.” sepanjang perjalanan Tong hong Beng coe selalu berdampingan dengan Bongsan Yen shu dan tak pernah meninggalkan siorang tua ini barang setapakpun, kapan si kakek Huicwee dari gunung Bongsan ini berjumpa dengan Hoo Thian Heng? kenapa ia sama sekali tak tahu? Bukankah peristiwa ini sangat aneh, dengan perasaan heran dan tercengang pikirannya terasa terpelosok ditengah awang-.
Melihat orang tercengang, Bong-san Yen shu sebera tertawa tergelak.
“Sewaktu ada didusun Ma Tiang Peng, di loteng rumah makan Hoo siang Kie” sahutnya.
Tonghong Beng Coe semakin keheranan.
“Kau telah berjumpa dengan dirinya?” kembali ia bertanya.
“Tidak ” “Lalu secara bagaimana ia beritahu kepadamu bahwa enci ini sebetulnya adalah seorang gadis yang sedang menyaru sebagai pria ?” “la mengirimkan beritanya melalui ilmu menyampaikan suara.” “Jadi dia berada diloteng tersebut pada saat yang bersamaan dengan kita …” “Tidak salah ” “Lalu mengapa kami tidak menemukan dirinya ? bukankah loteng rumah makan itu tidak terlalu luas ?” “sekalipun kita berjumpa deagan diapun, belum tentu bisa mengenali kembali ” “Apa sebabnya ?” “Karena ia telah menyamar sebagai orang lain.” “oouw” sekarang Tong hong Beng coe baru mengerti duduknya perkara.
“Dalam pada itu sipemuda gadungan masih berdiri disisi kalangan, separuh harian lamanya ia mendengar pembicaraan itu tanpa berhasil mengetahui siapakah yang dimaksudkan, ia masih belum tahu siapakah sebenarnya “Dia” itu Mungkinkah dia adalah seorang yang pernah dikenal?… Tetapi nama “Hoo Thian Heng” terlalu asing baginya, dalam benak maupun ingatannya sama sekali tak terlintas bayangan apapun terhadap nama itu. Lagipula belum sampai dua hari ia turun gunung boleh dikata tak seorang manusiapun yang dikenal.
sungguh suatu teka-teki…
Ia memandang sekejap wajah Tong- hong Beng Coe, tiba2 hatinya bergerak sang badan bergeser kesisi gadis itu, tangannya segera menarik pergelangannya dan menegur dengan nada ramah.
“Adik cilik, kau she apa?” Dimana pemuda gadungan tadi berdiri berjajaran kurang lebih delapan depa dari Tong-hong Beng Coe, hanya dalam sekali kelebatan saja ia sudah berada disisi gadis itu, dapat dibayangkan betapa cepatnya gerakan tubuh yang dimiliki, sungguh mengejutkan.
Bong san Yen shu terkesiap2 kecuali ia merasakan pandangan matanya jadi kabur, sama sekali tak telihat olehnya gerakan tubuh apakah yang telah digunakan pemuda gadungan itu dan bagaimana caranya ia berkelebat ???? Kalau dibicarakan, iapun termasuk seorang tokoh silat kawakan yang sudah puluhan tahun berkelana dalam dunia persilatan, bukan saja kepandaian silat yang dimilikinya sangat lihay, bahkan pengetahuannya sangat luas dan pengalamannya matang…
Tetapi, siapa nyana ini hari harus kecundang ditangan seorang pemuda gadungan. orang tua ini gagal untuk melihat jelas gerakan apa yang digunakan orang itu dalam bergerak, bukan saja tak pernah lihat, bahkan mendengarpun belum pernah.
sejak berjumpa diatas loteng rumah makan, Tong hong Beng Coe sudah menaruh kesan baik terhadap pemuda gadungan ini, hanya ketika itu ia belum tahu kalau anak muda ini adalah pemuda gadungan, ia mengira dia adalah lelaki sejati, meskipun waktu itu menaruh kesan baik namun antara lelaki dan wanita ada batasavnya, ia tak dapat mengutarakan perasaan hatinya.
Kini, melihat pemuda gadungan itu mencekal tangannya dengan penuh kemesraan dan ajak dia berbicara, sang hati merasa amat kegirangan.
“siauw-moay bernama Tong-hong Beng Coe dan cici ?” balas tanyanya sambil tertawa.
“oooouw . . .jadi kau adalah nona Tong-hong, puteri kesayangan dan sipeluru sakti Tonghong Thay hiap???” seru pemuda gadungan itu seraya menatap sang nona tajam2.
Tong hong Beng Coe kegirangan setengah mati ketika mendengar orang mengungkap soal ayahnya.
“Cici, jadi kau kenal dengan ayahku ?” serunya. Tapi dengan cepat hatinya kembali berduka terusnya: “sayang, ayahku sudah dibunuh mati oleh sepasang Malaikat dari Gurun Pasir…” Tak tahan, titik2 air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
“Aaaai… dalam peristiwa ini bukan sepasang Malaikat dari Gurun Pasir saja yang harus disalahkan, Peng Pok sin-mo siiblis tua inipun harus ikut menanggung seluruh dosa” kata pemuda gadungan itu sambil menghela napas panjang.
“seandainya bukan dia yang mengikat hati sepasang Malaikat, tak mungkin ayahmu bisa menemui ajalnya ditangan sepasang Malaikat itu” “cici jadi kaupun tahu latar belakang dari peristiwa ini ” Pemuda gadungan itu mengangguk.
“Akupun dengar dari mulut orang lain” kata nya.
“Moay2, orang yang sudah mati tak akan bisa hidup kembali, bersedih hatipun tak ada gunanya, kau harus segera berangkat untuk mencari Peng Pok Loo mo biang keladi dari pembunuhan ini, kemudian menuntut balas buat kematian ayahmu” “Terima kasih atas nasehatmu cici, aku mengerti?” sahut Tong hong Beng Cu sambil mengangguk. mendadak ia menatap wajah pemuda gadungan itu tajam2.
“cici? kau masih belum beritahukan she serta namamu.” Pemuda gadungan itu tertawa.
“Aku she Poei bernama Hong” sahutnya.
“Adikku siapa sih sebenarnya Dia yang barusan kau bicarakan dengan Yu Thay hiap? dapatkah kau beritahukan kepadaku?” -ooo^ooo- Jilid 4 TONG-hong Beng Coe mengangguk. sementara siap menjawab tiba2 dari jalan kecil dimana mereka datang tadi muncul tiga sosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan bagaikan kilat.
gerakan tubuh ketiga sosok bayangan manusia itu amat cepat, dalam sekejap mata mereka sudah berada dihadapannya.
Ditinjau dari gerakan tubuh mereka yang begitu cepat melebihi hembusan angin, siapapun bisa menarik kesimpulan bilamana ilmu meringankan tubuh dari ketiga orang ini telah mencapai puncak kesempurnaan, bahkan ilmu silat yang mereka milikipun tidak lemah.
sementara bayangan orang- itu baru berkelebat lewat dalam benak TOng-hong Beng coe sekalian, ketiga sosok bayangan manusia itu telah berhenti dan berdiri mengejar beberapa tombak di hadapan mereka.
Bong-san Yen shu terperanjat, segera pikirnya.
“Eeeei…. kenapa tiga manusia beracun ini pun sudah berdatangan semua didaerah Tionggoan.” Kiranya ketiga orang ini adalah Bu-lim su Tok yang disebut pula Biauw kiang su Tok atau Empat manusia Beracun dari Wilayah Biauw. mereka terdiri dari “Pek sie Tok-shu” atau si Kakek seratus Bangkai Kiang Tiang Koei, “Hian im Tok-shu” atau si Kakek Bisa Dingin Cia Ie Chong. “Han Peng Tok-shu” atau si Kakek Racun Es Chin Tin san beserta “Giak-Kang Tokshu” atau sikakek kelabang Beracun Nao Hiong Hoei.
saudara mereka yang terakhir sikakek kelabang beracun telah menemui ajalnya digunung Bong-san terhajar ilmu jari Kian Goan Tjikang dari Hoo Thian Heng, maka dari itu sekarang tertinggal tiga manusia beracun saja.
Membicarakan soal ilmu silat sejati dari keempat manusia beracun ini, sebenarnya tiada keistimewaan yang mengejutkan, kepandaian mereka hanya terhitung sebagai tokoh silat biasa dalam Bu-lim atau kira2 seimbang dengan kepandaian Bong-san Yen shu.
Namun dalam ilmu beracunnya mereka sangat lihay, bahkan buas, ganas dan telengas dalam menghadapi mangsanya mereka tak kenal ampun dan tak tahu apa yang disebut peri kemanusiaan oleh sebab keganasan mereka inilah nama-nama iblis itu tercantum diantara Bu-lim sip shia atau sepuluh manusia sesat dari dunia persilatan.
Berdiri berbareng ditengah jalan, ketiga orang manusia beracun itu mengawasi Bong-san Yen shu sekalian dengan sinar mata buas, jelas kedatangan mereka mengandung maksud tertentu.
Mendadak terdengar Pek Sie Toksu atau si Kakek Seratus Bangkai tertawa seram dan menjengek.
“Aku kira sipelajar rudin itu manusia macam apa, tak tahu kiranya kenalan dari Bong-san si setan tua “.
sambil bicara sepasang matanya melotot buas kearah Bong-san Yen shu serunya kembali.
“Eeeei setan tua she-Su. apakah kau berasal dari satu rombongan dengan pelajar rudin ini ???”.
Walaupun dalam hati Bong san Yen shu mengeluh atas kehadiran ketiga orang manusia beracun itu, namun bagaimanapun juga dia adalah jago kawakan dari dunia persilatan, melihat keangkuhan serta penghinaan dari Pek sie Tok-shu timbul rasa gusar dalam hati kecilnya.
“Kalau benar kenapa? dan kalau tidak benar mau apa?” Matanya segera mendelik besar kemudian mendengus.
“setan tua dari gunung Bong-san kau berani bersikap kurang ajar terhadap loohu?” teriak Pek sie Tok shu teramat gusar.
“Agaknya kau sudah bosan hidup lebih jauh?” “Kiang Tiang Koei” Tegur Bong san Yen-shu dengan suara gusar.
“Ditempat liar seperti wilayah Biauw kau boleh malang melintang dan cari gara2 sesuka hatimu, tetapi disini, didaerah Tionggoan bukan tempat kalian beberapa orang liar malang melintang seenaknya” Baru saja Bong san-Yen-shu menyelesaikan kataknya.
dengan sepasang mata melotot buas Kiang Tiang Koei telah menghardik keras.
“Keparat setan tua kau cari mampus” Ditengah bentakan keras, mendadak telapak tangannya didorong keluar, segulung angin tajam, diikuti gulungan angin puyuh segera menggulung kearah dada Bong-sanYenshu.
Melihat dirinya diserang, sikakek Huncwee dari gunung Bong-san tak berani berlaku ayal, buru2 hawa murni disalurkan ke sepasang telapak dengan mengerahkan tujuh bagian hawa murninya iapun dorong telapak menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
Dua gulung tenaga cukulan sebera saling bertemu ditengah udara menimbulkan ledakan suara yang keras.
“Braaaak…” ditengah bentrokan yang keras bagaikan gempa bumi bergeletar, debu pasir berterbangan memenuhi angkasa, desiran angin berpusing mengancam daerah sekeliling sana.
Pek sie Tok shu tak dapat menahan diri, ia dipaksa mundur selangkah ke belakang, sedangkan tubuh Bong-san Yen shu pun bergoyang tiada hentinya, walaupun tidak sampai terdesak mundur namun sepasang kakinya sudah masuk ke dalam tanah sedalam tiga coen.
setelah saling adu kekerasan satu kali, dalam hati kecil masing2 pihak punya perhitungan sendiri2, mereka berdua sadar bahwasanya kekuatan mereka adalah seimbang.
Pek sie Tok shu penasaran karena tak dapat merobohkan lawannya, diam2 hawa murninya di salurkan mengelilingi seluruh badan, sementara ia siap melancarkan serangan kedua, mendadak pemuda berbaju putih itu lambat2 berjalan mendekati Bong-san Yenshu kemudian berkata: “Yu Thay hiap. untuk sementara waktu harap kau suka mengundurkan diri, biarlah siauw-seng yang coba menjajal kekuatan dari manusia2 kurcaci yang tak tahu tebalnya bumi tingginya langit ini. Hmm berapa besar sih kepandaian yang dimiliki manusia liar dari pegunungan ini, berani benar datang kedaerah Tionggoan cari gara2 dan pandang remeh orang Bulim ” Bicara sampai disitu sinar matanya dengan pandangan menghina menyapu sekejap wajah Pek sie Ttk-su bertiga, tegurnya dingin: “ooouw jadi kalian bertiga datang kemari khusus untuk mencari gara2 dengan diriku??” “KALAU sudah tahu, kenapa banyak cincong dan cerewet tanya terus” hardik Pek s ie shu dengan mata melotot.
Poei Hong mendengus dingin.
“Ada urusan apa kalian mencari diriku?” ia bertanya.
“Kuda mu ini sangat bagus” Kata Pek Sie Tok shu sambil menuding kuda Hichee Lioe Kie tersebut ia tertawa seram “Berhubung loohu ada sedikit urusan penting yang harus segera diselesaikan, maka aku ingin pinjam binatang itu beberapa hari.” Dikolong langit tak ada urusan yang begitu tak kenal adat, nama orangpun belum tahu lantas ingin pinjam kuda milik orang lain.
Lagipula bukannya ia tahu kuda tersebut adalah seekor kuda jempolan Hwee Liok Kie, Walaupun diluaran ketiga manusia racun itu mengatakan hendak pinjam, dalam kenyataan bukankah mereka ada maksud merampas ? Mendengar perkataan yang tak kenal adat ini, Poei Hong tidak marah sebaliknya malahan tersenyum manis.
“Apakah kalian kenal dengan diriku ?” ia bertanya.
“Tidak kenal.” “Kalau memang kalian tidak kenal siapakah aku, mana boleh secara sembarangan pinjam kuda milikku ?” Pek sie Ttk-shu tersudut, ia tak bisa menjawab, tetapi dengan cepat sepasang matanya memancarkan cahaya buas.
“Keparat cilik, tak usah banyak bicara” hardiknya, “Loohu hanya tahu mau pinjam kuda milikmu itu, yang lain aku tak mau tahu ” “Seandainya kuda itu milik kalian, lalu aku hendak pinjam kuda itu darimu apakah kalian bisa meminjamkan binatang tersebut kepadaku” ia balik bertanya.
“Ooouw, jadi kalau begitu kau tak sudi pinjamkan kudamu itu kepada kami bertiga?” Pek sie Ttk-shu menegaskan, sepasang matanya melotot semakin bulat. Poei Hong tertawa dingini “Kalau sudah tahu kenapa banyak bertanya lagi?” selesai bicara ia mendongak tertawa lantang.
Poei Hong sigadis nakal yang menyaru sebagai pria benarcerdik, ternyata ia sudah kembalikan apa yang diucapkan oleh Pek sie Tok-shu tadi kepadanya sendiri Kemarahan Pek sie Ttk-shu semakin memuncak. tiba2 ia tertawa seram, suara tertawanya mirip jeritan kuntilanak ditengah malam buta, tajam, tinggi dan menyeramkan, membuat bulu kuduk pada bangun berdiri “Keparat cilik” teriaknya sambil menatap Poei Hong tajam, “sungguh besar nyalimu berani benar kau kembalikan Kata2 loohu kepada loo hu sendiri, tahukah kau siapakah loohu?” “siapa kau?” ejek Poei Hong sinis. “Kau toh tidak tempelkan nama setanmu itu diatas keningmu, siauw ya mana bisa tahu, Lagipula siauw-ya tidak sudi mengetahui namamu.
Tapi heee…heee kalau memang kau ingin beritahu kepadaku, Nah laporkan dulu siapakah nama setanmu itu, agar siauwya pun bisa menambah pengetahuanku sebenarnya manusia macam apakah kalian bertiga, berapa besar kedudukan kalian sehingga berani begitu sombong dan tak kenal diri, datang mau pinjam kuda jempolan milik siauw-ya” Beberapa patah kata yang diucapkan Poei Hong barusan, bukan saja nakal dan pedas bahkan mengejek ketiga manusia beracun ini habis2an.
Biauw Kiang su Tok atau disebut juga Bu-lim su Tok empat Manusia beracun dari Dunia persilatan terderet diantara Bu-lim sip shia sepuluh manusia sesat dari rimba persilatan, kepandaian silat serta kehebatan racun mereka sudah menggetarkan baik golongan Pek-to maucun golongan Hek-to malang melintang selama culuhan tahun dalam dunia persilatan boleh dikata belum pernah diejek bahkan dihina orang lain.
sewaktu mengutarakan Kata2 ejekannya tadi, air muka Poei Hong sama sekali tak berubah, meskipun ringan dan enteng tidak membawa emosi namun cukup membuat hati orang panas.
Hawa amarah yang berkorbar dalam dada ke tiga manusia beracun itu langsung memuncak, saking kheki dan dongkolnya hampir saja mereka merasakan dadanya mau meledak.
Diantara ketiga orang itu, tabiat sikakek Racun Es Chin Tin san paling berangasan, baru saja Poei Hong menyelesaikan kataknya, sang badan telah berkelebat kesisi Pek sie Tok su, sepasang matanya melotot buas sambil mendelik kearah Poei Hong teriaknya gusar: “Keparat cilik kau sudah bosan hidup ?? berani benar bicara tidak keruan dihadapan kami Bu lim su Tok, kalau tahu diri ayoh cepat serahkan kudamu itu buat toako kami, memandang diatas kuda jempolanmu itu loohu bisa ampuni selembar jiwamu, kalau tidak Hmmm jangan salahkan kalau lohu akan bertindak telengas dan hantar jiwamu menghadap raja akhirat ” “Ooouw … ” sehabis mendengar perkataan itu, se-olah2 kaget Poei Hong berseru tertahan, namun dengan cepat air mukanya telah berubah adem, dengan sikap menghina ia menyapu sekejap wajah ketiga orang itu.
“Aku kira kalian adalah orang keenam dari mana, tak tahunya empat manusia beracun dari wilayah Biauw.
bukankah kalian berempat? mengapa sekarang tinggal tiga orang ? mana yang satunya lagi ?” Habis bicara kembali ia mendongak dan tertawa panjang.
Dalam perkiraan ketiga orang itu, dengan kebesaran nama mereka yang telah menggetarkan dunia persilatan, begitu disebut keluar pihak lawan pasti kaget dan ketakutan lalu menyerahkan kuda jempolan tersebut tanpa membantah.
siapa sangka, meskipun pihak lawan cuma orang sastrawan yang lemah lembut tetapi tak sudi menunjukkan kelemahannya, kecuali wajah nya rada kaget sewaktu mendengar disebutnya nama itu, seakan2 pihak lawan sama sekali tak pandang sebelah matapun kepada mereka bertiga.
Bukan begitu saja, ditinjau dari air mukanya yang sinis, agaknya ia terlalu pandang enteng Bu-lim su Tok.
sikap Poei Hong yang begitu tak pandang sebelah matapun kepada orang lain, bagi jago2 Bu lim biasapun tak bakal bisa menahan dia, apalagi empat manusia beracun yang sudah tersohor akan kebinalan serta kekejamannya, seandainya mereka tidak jeri karena pihak Bong san Yen shu berjumlah banyak, mungkin sejak tadi mereka sudah turun tangan tanpa banyak bicara.
Walaupun mereka tak berani turun tangan secara gegabah karena pihak lawan berjumlah banyak, tetapi setelah mendengar penghinaan serta melihat sikap Poei Hong yang begitu pandang enteng mereka tak bisa menahan diri Baru saja Poei Hong berhenti tertawa, Han Peng Tok-shu mulai unjuk gigi. ia membentak keras.
“Pelajar rudin sampai dimanakah kepandaian silatmu, begitu berani pandang enteng loohu bertiga, kalau ini hari tidak kusuruh kau menggeletak disini jadi mayat, loohu malu disebut orang sebagai Bu lim su Tok ” Ditengah bentakan keras, sang badan menubruk kedepan.
tangan kanan berkelebat cepat, lima jarinya dipentang lebarmencengkram bahu kiri Poei Hong.
Melihat datangnya serangan begitu ganas, sepasang alis Poei Hong berkerut kencang, ia mendengus dingin, pinggang dikebas kemudian dimentalkan kesamcing dengan ilmu meringankan tubuh Tjhiet Tjhiat Tay Na le, ia menyingkir kepinggir kalangan.
Tubrukan ganas yang dilancarkan chin ti san ini boleh dikata cepat melebihi sambaran petir ataupun hembusan angin, dalam perhitungannya pihak lawan tak bakal lolos dari cengkeramannya.
siapa sangka, peristiwa terjadi diluar dugaan, sastrawan yang kelihatan begitu lemah lembut tak bertenaga ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sempurnanya.
Disaat cengkeramannya hampir mengenai sasaran, mendadak ia merasakan bayangan putih berkelebat lewat, dengan suatu gerakan yang enteng dan gampang sastrawan tadi berhasil meloloskan diri dari ancaman.
Merasakan serangannya mengenai sasaran kosong, orang she Chin ini tertegun beberapa saat ia berdiri menjublak.
“gerakan tubuh apa yang telah digunakan pelajar rudin ini?” pikirnya dalam hati.
“Secara bagaimana ia meloloskan diri dari cengkeramanku? mengapa gerakan tubuhnya begitu cepat bagaikan sambaran kilat?” Jangan dikata Chin Tin san sekalipun Pek sie Tok shu maupun Hian Im Kok-su serta Tong hong Beng Coe sekalian yang ada disisi kalanganpun tak berhasil melihat jelas gerakan tubuh apakah itu.
Pepatah kuno mengatakan: seorang ahli turun tangan, segera akan diketahui berisi atau tidak.
sikakek seratus bangkai Kiarg Tiang Koei segera merasakan, bukan saja gerakan tubuhnya amat cepat bahkan seumur hidup belum pernah dilihat, jelas ilmu sakti itu adalah serangkaian ilmu meringankan tubuh yang telah lama lenyap dari peredaran Bu lim, kalau tidak dengan andalkan pengalaman serta pengetahuannya berkelana selama puluhan tahun dalam dunia persilatan tak mungkin tak bisa dikenalinya.
“Dia pasti bukan manusia sembarangan” segera pikirnya.
“Pelajar rudin ini dapat mewarisi ilmu meringankan tubuh yang sudah lama lenyap dari peredaran dunia persilatan, ia tentu memiliki pula kepandaian lain yang tak kalah lihaynya bagaimanapun juga aku harus selidiki dulu asal usulnya sampai jelas.” Tidak kecewa Pek sie Tek-shu diangkat sebagai pemimpin empat marusia beracun, ia cukup waspada cerdik, Karena berpikir demikian, badannya segera bergerak meloncat kesisi tubuh Han Peng Tek-shu.
Dalam pada itu Chin Tia san sedang bersiap sedia untuk melancarkan serangan kedua yang lebih dahsyat.
“sam-te. tunggu sebentar ” buru buru Pek sie Tok-su menghardik, Mendengar toakonya mencegah, terpaksa Han Peng Tokshu tarik kembali serangannya dan menatap Pek sie Tok shu dengan pandangan tercengang, ia tak mengerti apa sebabnya sang lootoa menghalangi maksudnya untuk menubruk pihak lawan. Dengan pandangan dingin Pek sie Tok shu mengawasi Poei Hong beberapa saat, lalu sambil tertawa dingin katanya: “Sungguh tak disangka loohu bertiga sudah salah melihat, kiranya anda adalah seorang tokoh silat yang sangat lihay, memandang dari ilmu meringankan tubuh yang kau gunakan barusan jelas merupakan serangkaian ilmu sakti yang sudah banyak tahun lenyap dari Bu-lim, entah siapa gurumu itu?? dapatkah kau beri penjelasan???”.
Jahe memang semakin tua semakin pedas. Bukan saja Pek sie Tok shu cukup waspada bahkan berakal licik, cerdik dan teliti.
Walaupun ia dapat menduga bahwa ilmu meringankan tubuh yang digunakan Poei Hong adalah semacam ilmu maha sakti, namun ia tak kenal ilmu apakah itu, ia sadar seandainya ditanyakan secara terang terangan, pihak lawan tak akan suka beri tahu.
oleh karena itu, ia hanya mengatakan kalau ilmu meringankan tubuh tersebut saja mirip dengan semacam ilmu sakti yang sudah banyak tahun lenyap dari peredaran Bu lim, ia bermaksud agar Poei Hong beritahu dengan sendirinya.
Tetapi Poei Hong pun bukan manusia bodoh, dia adalah seorang nona yang sangat cerdik, tentu saja ia tak akan tertipu begitu saja dan mengatakan apakah nama ilmu meringankan tubuh itu serta berasal dari perguruan mana.
“Tidak salah” tampak Poei Hong mengangguk.
“Ilmu meringankan tubuh yang aku gunakan barusan memang serangkaian ilmu sakti yang sudah banyak tahun lenyap dari peredaran dunia persilatan” “Aaaah— benar juga dugaanku-” pikir Pek sie Tok-shu kegirangan.
sementara ia masih kegirangan karena menganggap perangkapnya bakal mengena, mendadak terdengar Poei Hong tertawa lantang.
“Haaaa— haaa— setan tua kalau kau sudah tahu bahwa siauw ya memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah lama lenyap dari peredaran Bu lim, tentu saja tahu bukan asal usul dari siauw ya mu? Hmm kenapa kau masih cerewet terus disini, cepat sipat kuping lipat ekor pulang ke wilayah Biauw mu dan baik2 hidup jadi manusia disana, apakah kau ingin menanti sampai s iauw-ya unjuk gigi memunahkan kepandaian kalian….” Perkataan dari Poei Hong ini bukan saja amat tepat, bahkan mengandung maksud menggertak ketiga manusia beracun itu.
“Heee — heee lu— kau kira aku siorang tua benar2 jeri kepadamu?” jengek Pek sie Tok shu sambil tertawa dingin.
Poei Hong mendengus dingin.
“Kalau takut, buat apa banyak bicara dan pentang bacot teruskan” Dengan nama besar Bu lim su Tok dalam dunia persilatan, Walaupun tak bisa dikatakan tak ada orang yang berani mengganggu mereka. namun jago2 Bu lim dewasa ini jarang ada yang berani pandang remeh keempat manusia beracun itu.
sebagai contohnya saja Bong-san Yen shu yang ada disisi kalangan, iapun termasuk salah seorang tokoh silat yang sudah puluhan tahun lamanya berkelana dalam dunia persilatan, Walaupun begitu terhadap empat manusia beracun pun ia tak berani pandang terlalu enteng.
sebenarnya berasal dari manakah si sastrawan berbaju putih ini???? berani benar sianak muda tersebut ini tidak pandang sebelah matapun terhadap empat manusia beracun yang ditakuti orang Bu lim? Baru saja Poei Hong menyelesaikan kataknya, Pek sie Tok shu sudah mendongak tertawa seram.
suaranya keras dan tinggi melengking bagaikan jeritan setan ditengah malam buta. begitu menyeramkan suaranya sehingga mendirikan bulu roma setiap orang.
Ditengah gelak tertawa seram itulah Pek sie Tok shu mengumpulkan segenap tenaga Iweekang yang dimilikinya siap melancarkan serangan mematikan, “Pelajar rudin, kau coba terima dulu sebuah pukulan loohu ini” teriaknya sambil menatap Poei Hong tajam2.
sepasang telapak dengan membawa segulung hawa pukulan yang maha dahsyat segera menggulung kedepan bagaikan hembusan angin puyuh ditengah desiran keras secara lapat2 membawa bau busuk mayat yang amat menusuk hidung.
Itulah pukulan “Pek sie Tok ciang” atau ilmu pukulan beracun seratus mayat yang ia paling andalkan.
Bong san Yen shu yang melihat kejadian itu jadi amat terperanjat, karena takut Poei Hong tak tahu lihay sehingga terluka karena terhantam pukulan beracun itu. buru2 ia berteriak: “Poei siauw hiap hati2, itulah pukulan beracun seratus mayat yang amat bahaya.” Merasakan dirinya diserang begitu hebat, sepasang alis Poei Hong berkerut, dari sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat, namun dalam sekejap mata sudah lenyap tak berbekas.
“Setan tua, kau ingin cari mampus” hardiknya keras.
Di tengah bentakan keras, sepasang telapak mendadak didorong kedepan, segulung hawa pukulan yang kuat tapi lunak segera menyambut datangnya serangan telapak dari Pek sie Tok shu tersebut.
Menjumpai serangan Poei Hong begitu ringan biasa dan tiada keistimewaan, dalam hati Pek-sie Tok shu tertawa dingin pikirnya.
“Hmm aku masih mengira sikeparat cilik ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, tak tahunya cuma begini saja.” Baru saja ia habis berpikir, dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat telah saling berbentrok ditengah udara.
“Braaak” ditengah bentrokan keras terjadi suatu ledakan yang menggetarkan seluruh jagad, pasir debu beterbangan memenuhi angkasa, angin berpusing menggulung ranting dan daun setinggi empat lima tombak dari permukaan bumi.
Dalam bentrokan itu tubuh Poei Hong hanya bergetar sedikit saja kemudian berdiri tenang kembali seperti sedia kala, air mukarya tidak berubah kecuali ujung baju yarg berkibar keras ditinjau sepintas lalu seakan2 sianak muda itu sama sekali tak pernah menggunakan Iweekangnya untuk beradu tenaga dengan orang lain.
sebaliknya kemudian diri Pek sie Tok-shu jauh berbeda, bukan saja pada saat itu juga badannya tergetar mundur tiga tombak kebelakang, bahkan sepasang alisnya menjungkat, air mukanya berubah hijau membesi, jelas ia sudah menderita luka dalam yang parah.
Ilmu telapak apakah yang telah digunakan ? dipandang sepintas lalu se olah2 biasa tiada keistimewaan, namun dalam kenyataan mengandung tenaga lwekang yang demikian dahsyat.
Beruntung dalam serangan barusan Poei Hong hanya menggunakan tenaga sebesar enam, tujuh bagian belaka, seandainya ditambah satu bagian lagi saja niscaya Pek Sie Tek shu kalau tidak binasa, paling sedikit akan terluka parah.
Walaupun akibat yang diterima Pek Sie Tok-shu saat tak begitu parah, isi perutnya sudah terhantam goncang, hampir2 saja darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Sekarang, Pek Sie Tok-shu baru terperanjat, ia baru tahu sastrawan lemah lembut yang berdiri dihadapannya saat ini, bukan manusia sembarangan, dia adalah seorang jagoan yang memiliki ilmu silat maha sakti.
Oleh karena itu sambil diam2 salurkan hawa murninya menahan golakan darah panas dalam rongga dada, ia birpikir: “Sebenarnya siapakah sastrawan lemah ini ??? berasal dari manakah dia ??? dan siapakah guru nya ??? ditinjau dari usianya yang begitu muda tak nyana memiliki tenaga lwekang sehebat itu ilmu silat apa yang telah ia gunakan ??? dipandang sepintas lalu pukulan itu lembut dan tak bertenaga, mengapa akhirnya bisa menunjukkan kehebatan tiada taranya ???” Dalam pada itu si Kakek bisa dingin Cia Ie Chong serta seratus bangkai.
“Toako, parahkah luka yang kau derita ???” tanya mereka hampir berbareng dengan nada kuatir.
“Luka ringan tak mengapa” jawab sikakek seratus bangkai Kiang Tiang Koei seraya menggeleng.
Mendengar jawaban itu sikakek bisa dingin baru berlega hati, ia segera berpaling dan menatap Poei Hong dengan wajah tenang berdiri gagah kurang lebih enam depa dihadapannya, ujung baju berkibar tertiup angin sementara dari sepasang matanya memancarkan cabaya tajam, senyuman hambar menghiasi bibirnya. senyuman itu menunjukkan keangkuhan serta ketinggian hati.
Dalam deretan empat manusia beracun, sikakek bisa dingin Cia le Chong terderet jago kedua pada sepuluh tahun berselang tenaga lwekangnya memang sedikit di bawah Kiang Tiang Koei, namun dalam sepuluh tahun ini berhubung keadaan masing2 yang berbeda, tenaga Iweekang dari sikakek bisa dingin ini jauh melampaui toako-nya.
Berhubung tenaga Iweekangnya amat sempurna inilah, didalam tabiat ia mengalami banyak perubahan.
Walaupun tingkah lakunya masih kejam dan telengas, watak jahatnya belum berubah, tetapi ia tidak seceroboh dan seberangasan tempo dulu.
setiap kali menemui persoalan selalu tenang tapi waspada, membuat orang sulit untuk menebak gerak geriknya.
sikakek bisa dingin ini sadar, sikap Poei Hong bisa sombong dan sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap mereka bertiga hal ini dikarenakan sianak muda itu memiliki kepandaian silat yang amat lihay.
Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benak sikakek bisa dingin, batinnya: “Mungkinkah tenaga Iweekang yang dimiliki keparat cilik ini sudah berhasil mencapai puncak kesempurnaan sehingga orang lain sama sekali tak dapat melihat apakah ia memiliki tenaga Iweekang atau tidak ???..” sementara ia masih termenung, loo-sam sikakek Racun Es sudah tak dapat menahan diri, terdengar ia membentak keras: ” Keparat cilik, kau berani melukai toakoku.” sambil berkata sepasang telapak berputar siap mengirim sebuah pukulan dahsyat menghajar tubuh Poei Hong.
“sam-te, jangan kurang ajar ” tiba2 Pek sie Tok-shu membentak keras.
Buru-buru sikakek Racun Es menarik kembali telapak tangannya, dengan paksa ia sedot kembali hawa pukulan yang sudah siap dilancarkan keluar itu.
Ternyata Pek sie Tok shu pun sedang berpikir, mungkinkah tenaga Iwekang yang dimiliki s ianak muda itu sudah mencapai puncak kesempurnaan sehingga ia dapat merahasiakan kepandaiannya Karena punya pendapat demikian, ia lantas berpikir.
“Benarkah tenaga, Iwekang keparat ini sudah mencapai puncaknya?? kalau benar… waaah, dengan andalkan kekuatan kami bertiga pasti bukan tandingannya…” oleh sebab itu melihat Loo sam akan turun tangan, buru2 ia menghardik dan mencegah adik nya turun tangan secara gegabah, karena ia tahu tenaga Iwekang yang dimiliki Han Peng Tok-shu jauh lebih rendah daripada dirinya, seumpama turun tangan ia bakal menderita kerugian.
Mendengar bentakan itu Han Peng Tok shu berhenti dan mundur kembali kebelakang, sementara Pek si Tok shu maju selangkah kedepan sambil menatap wajah Poei Hong tertawa dingin tiada hentinya.
“Keparat cilik meskipun kau rada2 memiliki permainan ilmu setan, namun loohu sekalian tak akan dibuat jeri. hanya saja– -pada saat ini Loohu sekalian masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, tak ada banyak waktu buat ribut serta cekcok dengan kalian lebih jauh. Kalau kau punya nyali, sebutkan asal seperguruanmu, setelah loohu selesai mengerjakan pekerjaanku, pasti akan kucari kalian untuk diajak berduel” Walaupun beberapa patah kata yang diucapkan Pek sie Tok shu barusan kedengaran begitu gagah dan bersemangat, padahal dalam kenyataan cuma gertak sambal belaka.
Bong san Yenshu beberapa orang adalah manusia luar biasa, yang punya banyak pengalaman dalam Bu-lim tentu saja merekapun paham apa maksud dari ucapan Pek sie Tokshu barusan, hal ini terpaksa diutarakan karena ada hubungannya dengan kecurigaan yang ia derita barusan.
Bukan saja ia sudah menderita rugi, bahkan terluka didalam pula, ia sadar seumpama terjadi pertarungan maka mereka bakal kewalahan dan akhirnya kalah.
Disamping itu si Kakek Huncwee dari gunung Bong-san pun paham, apa yang dimaksudkan Pek sie Tok-shu sebagai “Masih ada urusan penting yang harus diselesaikan.” Karena itu, sehabis mendengar ucapan itu dalam hati diam2 merasa geli.
Tentu saja Poei Hong sigadis cantik yang cerdik dan pandai inipun bisa menerka isi hati orang, tetapi ia berlaku sabar dan tidak sampai bocorkan rahasia itu, ia tersenyum dan menyahut dengan wajah adem.
“siauw-ya mu bernama Poei Hong, tentang perguruan Hmmm dengan andalkan kedudukan kalian Empat manusia beracun dari wilayah Biauw masih belum sederajat untuk mengetahuinya .” Air mukanya tiba2 berubah kecut dengan mata melotot wajah adem dan suara lantang lagi? Dengan nama besar Empat manusia Beracun di-dalam dunia persilatan, ternyata diusir, digertak dan dihina oleh seorang pemuda sastrawan yang tidak dikenal asal usulnya, kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat memalukan.
Kalau mengikuti watak serta tabiat Empat manusia Racun pada hari2 biasa, belum sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya mereka pasti sudah mengumbar hawa amarahnya.
Tetapi keadaan ini hari jauh berbeda, mempertimbangkan kekuatan lawan yang begitu banyak serta kuat, cukup si pemuda sastrawan seorangpun sudah luar biasa apalagi masih ada si kakek Huncwee dari gunung Bongsan beserta lima orang gadis seorang pria, seumpama sampai terjadi pertarungan mereka pasti akan menderita kalah.
Pepatah kuno mengatakan: Kalau urusan kecil tak bisa ditahan maka masalah besar akan hancur berantakan.
Berada dalam keadaan serta situasi seperti ini, terpaksa untuk sementara waktu mereka menahan sabar serta mulai susun rencana pembalasan setelah persoalan digunung Im wu-san selesai.
Disebabkan beberapa macam faktor inilah begitu Poei Hong menyelesaikan kata2nya, Pek sie Tok shu pun tidak banyak bicara kecuali tertawa kering tiada hentinya.
“Ayoh kita berangkat” seru Tiang Koci kemudian kepada si Loojie serta Loo-sam.
Berbareng dengan seruan itu, badannya bergerak meninggalkan tempat itu disusul s i manusia racun kedua serta si manusia racun ketiga dari belakang, dalam sekejap mata mereka sudah dibalik pepohonan.
Melihat ketiga manusia beracun itu sudah berlalu, Poei Hong tertawa cekikikan dengan merdunya.
suara gelak tertawanya lantang membelah bumi bukan saja merdu bagaikan genta dan nyaring bagaikan jeritan burung hong, bahkan sangat menggetarkan hati setiap orang.
Jelas membuktikan betapa sempurna tenaga Iweekang yang dimiliki gadis she Poei ini, seumpama tenaga Iweekangnya disalurkan lebh dahsyat lagi kedalam gelak tertawa itu, kemungkinan besar isi perut orang bisa tergetar hancur berantakan.
Bong san Yen shu yang mendengar gelak tertawa itu jadi terperanjat, ia tahu lihay, buru2 kepada murid kesayangannya Gong Yu serta Toan-hong Bang Coe sekalian lima orang gadis hardiknya: ” Cepat kerahkan tenaga sin-kang untuk lindungi jantung ” Tentu saja maksud Poei Hong gelak tertawa bukan ada tujuan untuk mencelakai Bong-san Yen shu bertujuh, tetapi yang benar karena ia gembira melihat empat orang manusia beracun yang tersohor dalam dunia persilatan ternyata punya nyali kecil seperti tikus, hanya saling beradu satu pukulan saja sudah dibikin ketakutan sampai melarikan diri ter-birit2, berhubung tak dapat menahan emosi dihati sengaja bergelak tertawa tanpa disengaja hawa murninya ikut tersalur dalam tertawa itu.
Baru saja hawa murni disalurkan, tiba2 Poei Hong menjumpai air muka Bong-san Yen shu sekalian yang ada disisinya berubah hebat ia jadi kaget, hawa murni dibuyarkan, gelak tertawapun berhenti.
Masih untung ia sadar dengan cepat, kalau tidak kendali tenaga Iweekang dari Bong san Yen shu serta Tong-hong Beng Coe bertujuh lebih lihaypun niscaya akan terserang dan menderita luka hebat.
setelah gelak tertawa berhenti, Poei Hong berpaling kearah Bong-san Yen shu sekalian, dengan senyuman penuh minta maaf katanya: “Aaaai… maaf, maaf… karena gembira yang kelewat batas hampir2 saja aku lukai kalian semua, harap saudara2 semua suka memaafkan keteledoranku ini ” Bong-san Yen shu tertawa hambar.
“Haaa- –haaa—haaa -nona Poei, janganlah kau berkecil hati. Meskipun lolap percaya tenaga Iweekang ku masih belum seberapa, tapi untuk berjaga diri rasa2nya masih lebih dari cukupi” “Ehmm ” Poei Hong tersenyum dan mengangguk “Yu thay hiap adalah tokoh kenamaan dalam dunia persilatan dewasa ini, tenaga Iweekang yang kau miliki amat sempurna, tentu saja terhadap serangan hawa murniku yang tak seberapa tidak bakal mempan, hanya saja…” Bicara sampai disitu ia merandek, lalu berpaling menyapu sekejap wajah Tong-hong Beng Coe beberapa orang, terusnya: “Jikalau pandanganku tidak salahi bagi Tong Hong moay moay kemungkinan besar masih bisa tahan, tetapi buat beberapa orang lainnya… . aku takut mereka bakal konyol ditengah jalan ” Didalam hati Bong san Yen shu mengangguk berulang kali dan membenarkan kata-2 silelaki “Gadungan” ini, pikirnya: “Perempuan ini bukan saja cerdas dan pintar ketajaman mata nyapun sangat mengagumkan, ia betul2 sekuntum bunga aneh yang sukar ditemu kan dalam dunia persilatan.” Karena berpikir demikian, sambil tersenyun ia mengangguk dan lantas berkata: “Pendapat nona Poei sedikitpun tidak salah muridku Gong Yu beserta keempat dayang dari nona Tong hong memang bakal konyol dan tidak tahan, apabila waktu berlangsung sesaat lagi ” sementata itu Tong-hong Beng cu menghampiri Poei Hong, ia cekal tangan silelaki “Gadungan” itu, lalu dengan nada halus dan manja tanyanya: “Enci Hong ilmu pukulan apa sih yang barusan kau gunakan ? kelihatannya se-akan2 ringan, lunak dan tak bertenaga tetapi berkesudahan begitu hebat sampai2 sikakek seratus bangkai yang sudah tersohor akan keganasannya pun ketakutan dan melarikan diri ter-birit2 ?” Mendapat pertanyaan itu, Poei Hong alihkan sinar matanya keatas wajah Tong-hong Beng Coe yang dingin dan hambar itu. lama sekali ia baru berkata: “Adikku aku ingin bertanya, bukankah diatas wajahmu itu kau kenakan sebuah topeng kulit manusia yang dibuat sangat istimewa ?” Begitu ucapan ini diutarakan, Bong san Yen shu serta Gong Yu sama2 dibuat melengak.
Tapi dengan cepat pula guru dan murid dua orang inipun dibuat sadar dan mengerti, segera pikirnya: “Pantas… tidak aneh kalau sejak bertemu, air mukanya selalu kelihatan begitu dingin, ketus dan hambar sedikitpun tidak perlihatkan perubahan apapun jua, ternyata ia mengenakan semacam topeng kulit manusia yaag sengaja di buat sangat istimewa.” sementara itu Tonghong Beng coepun dibuat tertegun oleh pertanyaan tadi, setelah jejak nya konangan, tentu saja ia tak bisa mungkir lebih jauh.
“Enci sungguh tajam pandangan matamu, ternyata rahasiaku yang selama ini kupegang rapat2 akhirnya berhasil kau bongkar juga” serunya sambil mengangguk. Poei Hong tertawa.
“Hal ini bukan disebabkan aku punya sepasang mata yang tajam, tapi kesemuanya ini dikarenakan akupun memiliki sehelai kulit topeng yang sama seperti milikmu itu” katanya.
seraya tersenyum ia lantas merogo ke dalam sakunya dan ambil keluar sehelai kulit topeng yang dimaksudkan, kemudian terusnya: “Coba kau lihat kulit topeng ini, bukankah kalau kau padukan satu sama lainnya akan kelihatan sama dan tiada berbeda sama sekali ??” Tong hong Beng Coe diam, ia lantas menyambuti kulit topeng tadi diikuti tangannya meraup keatas wajah sendiri dan melepaskan kulit topeng yang ia kenakan selama ini.
Begitu kulit topeng terlepas, wajah yang semula dingin, hambar dan tiada berperasaan itu sudah berubah jadi selembar wajah yang halus, manis dan cantik sekali bagaikan bidadari.
“Aaaai –heran, heran –sungguh mirip sekali ” serunya keheranan setelah ia perpadukan kedua lembar kulit topeng yang ada ditangannya itu.
“Ehmm kalau memang kedua lembar kulit topeng ini mirip satu sama lain itulah sangat bagus sekali” kata Poei Hong.
Tong-hong Beng Coe semakin keheranan dibuatnya, timbul kecurigaan dalam hati kecilnya.
“Enci Hong ” sejera ia bertanya. “Apakah antara kedua lembar kulit topeng ini ada sangkut paut satu dengan lainnya???” Poei Hong mengangguk, “Benar” jawabnya “Memang antara kedua lembar topeng itu mempunyai sangkut paut yang erat sekali ” “Enci Htong lalu… apakah hubungan serta sangkut pautnya.” “Jangan tanya sekarang adikku, tunggulah sampai urusan digunung In Boesan selesai, nanti aku akan beri keterangan yang kau butuhkan, itu waktu akupun akan sekalian membawa dirimu pergi menjumpai seseorang ” Tong hong Beng Coe tercengang dan keheranan setengah mati, ingin sekali ia bertanya lebih jauhi akan tetapi berhubung Poei Hong sudah berkata begitu, terpaksa ia batalkan niatnya.
Beberapa saat kemudian ia baru berkata: “Enci Hong, kau belum- beritahu kepadaku ilmu pukulan apakah yang telah kau gunakan untuk memukul mundur sikakek seratus bangkai” Poei Hong termenung beberapa saat lamanya, setelah itu ia baru menjawab: “Sebenarnya aku tidak ingin beri keterangan kepada siapapun juga, tetapi sekarang setelah terbukti bahwa di antara kita berdua mempunyai hubungan serta sangkut paut yang erat sekali, keadaan jadi berubah, tentu saja boleh beritaku kepadamu, cuma…” Berbicara sampai disitu mendadak ia membungkam, sementara sinar matanya melirik sekejap kearah Bong-san Yen shu berdua.
sikakek Huncwe dari gunung Bong san adalah seorang jago kangouw yang sudah kawakan dan banyak pengalaman menjumpai keadaan seperti itu ia lantas bisa membade maksud hati Poei Hong yang sebetulnya, jelas gadis itu tidak ingin orang luar ikut mendengar. Karena sudah tahu maksudnya la lantas tersenyum dan berkata: “Nona Poei, silahkan kalian membicarakan urusan pribadi diantara kalian sendiri, aku beserta muridku akan berangkat selangkah duluan, kita berjumpa lagi nanti didepan sana.” seraya berkata ia tarik tangan Gong Yu dan berseru: “Anak Yu, ayoh kita berangkat duluan.” “Yu Thay hiap” baru saja mereka berdua mau berangkat, tiba2 Poei Hong berseru.
Bong-san Yen sbu berhenti dan berpaling.
“Nona Poei, kau masih ada urusan apa lagi?” tanyanya.
Menatap wajahnya, Poei Hong tersenyum.
“Yu thay-hiap harap kau jangan menyalahartikan maksudku.” ia berseru.
“Bukan sengaja aku bertindak rahasia atau takut terjadinya sesuatu yang tak diinginkan setelah kau dapat tahu nama dari ilmu pukulan tersebut, aku hanya berharap kepada kalian setelah mengetahui nama dari ilmu pukulan yang aku gunakan barusan untuk sementara waktu jangan bocorkan sampai ditempat luaran, dari pada musuh besarku setelah tahu akan kabar beritaku ini lantas menyembunyikan diri kedalam gunung yang lebat dan menyusahkan diriku dalam percarian?” Bong-san Yen shu mengangguk, “Nona, kalau kau merasa loolap boleh dipercaya, harap kau suka berlega hati ” katanya.
Pada saat inilah Poei Hong baru berkata.
“ilmu pukulan yang barusan aku gunakan adalah ilmu sakti “Koe Li s in kang”, hanya sayang tenaga latihanku masih cetek sehingga tak dapat perlihatkan sepersepuluh kehebatan sebenarnya dari ilmu tersebut “.
Berhubung Tong hong Beng CU tak tahu akan asal usul dari ilmu “Koe Li sin-kang” atau Ilmu sakti Kura-kura mereka ini, maka sehabis mendengar nama itu air mukanya tidak menunjukkan reaksi apapun.
Lain halnya dengan Bong san Yen shu, seketika itu juga ia terkesiap dan berdiri menjublak.
“Aaah ” tak kuasa ia berseru kaget. sepasang mata terbelalak lebar, air mukanya penuh dengan rasa kaget, tercengang, ia menatap wajah Poei Hong tak berkedip. Lama sekali ia baru bertanya.
“Lalu apa hubungan nona dengan Kioe sian sin Po ??-” “Dia adalah guruku” “Aaaaaa …” sekali lagi Bong san Yenshu berseru kaget, ia lantas bertanya lebih jauh.
“Kalau begitu nona telah mendapatkan kitab warisan dari dia orang tua?” sepasang alis Poei Hong langsung menjungkat, hawa gusar kelihatan melintasi wajahnya, tetapi cuma sebentar, air mukanya sudah pulih lagi seperti sedia kala, pikirnya.
“Aku tak bisa menyalahkan dirinya, dia mana tahu kalau In su sudah berhasil melatih badannya jadi kuat, kokoh dan tak bakal rusak sepanjang masa, lagi pula beliau sudah ada ratusan tahun mengasingkan diri dipegunungan yang terpencil sejak ratusan tahun berselang orang2 Bu lim sudah tak ada yang bisa menjumpai dia, dia orang tua lagi, tentu saja orang2 menganggap beliau sudah lama wafat, siapa tahu kalau dia orang tua sampai detik ini masih hidup di kolong langit dalam keadaan sehat walafiat?” Karena berpikir demikian, ia lantas menggeleng.
“Tidak” sahutnya.
“Aku mendapat warisan serta didikan langsung dari dia orang tua” sepasang mata Bong-san Yen shu terbelalak semakin besar, ia semakin kaget dibuatnya.
“Apa? jadi dia orang tua masih hidup dikolong langit dalam keadaan sehat wal-afiat” “Ehmm” sambil mengangguk Poei Heng mendehem, jelas ia mengartikan kalau apa yang dikatakan merupakan kenyataan dan tidak salah.
Bong san Yen shu betul2 berdiri menjublaki mimpipun ia tak menyangka Koe sian sin Po yang sudah menggetarkan dunia persilatan sejak ratusan tahun berselang ternyata masih hidup dikolong langit dalam keadaan sehat wal-afiat, bahkan berhasil mendidik seorang murid yang masih begitu muda dan cantik pula.
seumpama ucapan ini tidak salah dan Koe sian Poo benar2 masih hidup dikolong langit, maka usianya kurang lebih sudah mendekati dua ratus tahun– Manusia bisa hidup hampir mendekati dua ratus tahun siapa mati, tentu saja ilmu silat yang ia miliki telah mencapai puncak kesempurnaan, tidak aneh kalau badannya bisa dilatih jadi kokoh dan keras bagaikan baja.
cuaca gelap dan mendung, kabut tebal menutup seluruh jagad seakan hendak ambruk menindih bumi.
Angin Barat daya bertiup kencang sangat menusuk tulang, hembusan yang keras dan dahsyat membuat suasana kelihatan begitu menyeramkan.
suasana seperti ini sudah terjadi dan berlangsung selama beberapa hari ber turut2, kalau dilihat keadaannya bisakah cuaca menjadi baik lewat tiga lima hari lagi, masih sukar ditetapkan.
salju turun dengan derasnya melapisi seluruh permukaan dengan warna yang putih, permukaan salju makin lama kian menebal membuat pemandangan jadi putih, sunyi dan indah menawan ooooooooooo GUNUNG In-Boe-san terletak dipropinsi Koh-Tjhiu, letaknya dua ribu seratus meter dari permukaan laut, puucak gunung tinggi menjulang keangkasa dan ber-deret2 memanjang keluar, pemandangan indah tapi cukup mengerikan bagi yang melihat.
Malam semakin kelam, kentongan pertama baru saja lewat, salju telah berhenti berdiri hanya angin barat daya berhembus makin lama makin kencang, hawa dingin mencekam seluruh angkasa menusuk tulang dan meresap kesumsum.
Dalam keadaan cuaca seperti inilah, dari kaki gunung In boe san mendadak muncul dua orang kakek tua yang berambut dan berjenggot putih, yang satu berdandan sastrawan dengan- menggembel sebilah pedang dipinggang, sedang yang lain berdandan mirip nelayan dengan membawa sebuah bambu pancingan yang panjangnya ada tujuh kaki dengan warna merah ungu..
Apa maksud kedua orang kakek tua itu datang kemari ? mungkinkah mereka orang gila ? masa ditengah malam buta dimusim salju yang dingin,jauh2 mendatangi pegunungan In bee-san yang terpencil dan jauh dari keramaian dunia ini ? atau…
Meski kedua orang kakek tua itu sudah berusia lanjut, rambut dan jenggotnya telah memutih, tetapi semangatnya berkobar, terutama sekali sepasang matanya yang tajam berkilat bagaikan sambaran kilat, jelas menunjukkan kalau tenaga Iweekang mereka telah mencapai puncak kesempurnaan.
Kiranya kedua orang kakek tua ini adalah tokoh2 silat dewasa ini,” si sastrawan adalah sian hee-In Kiam” atau si Pedang Tunggal dari sian Hee san Yauw Kie, sedang sang nelayan bukan lain adalah “Goan Kang Gie Hu” atau si Nelayan dari sungai Goan Kang, Tong soe Kiat adanya…
Baru saja si gedang tunggal dari gunung Sian Hee-san serta sinelayan dari sungai Goan Kiang munculkan diri, mendadak dari suatu tempat dua tiga puluh tombak diluar mereka muncul kembali tiga sosok bayangan hitam, gerakan tubuh mereka amat cepat bagaikan sambaran kilat dan langsung menuju kearah-Pek-Yan Gay.
“susul ” seru Yauw Kie sipedang tunggal dari sian-Hee san cepat begitu melihat bayangan tadi.
seraya berseru, sang badan dengan cepat mencelat kemuka, laksana anak panah terlepas dari busurnya segera mengejar kemuka.
si Nelayan dari sungai Goan-Kiang tak berani berayal, iapun buru2 enjotkan tubuh menyusul dari belakang.
Berlatih giat selama puluhan tahun, tenaga Iwekang yang dimiliki kedua orang ini sudah mencapai puncak kesempurnaan, kecepatan gerak badannya melebihi hembusan angin, gesit, sebat ringan dan cepat.
Gerakan tubuh mereka berdua memang cepat sampai2 susah dilukiskan dengan kata2, tapi tiga sosok bayangan hitam yang berada didepan mereka pun bukan manusia sembarangan, kecepatan lari mereka tak ada dibawah mereka berdua.
Terlihatlah ketiga sosok bayangan hitam itu bagaikan tiga gulung asap ringan saja, dalam sekejap mata telah tiba diatas puncak Pek Yan-Gay.
Pek Yan Gay. Puncak tebing yang sepanjang tahun tertutup oleh lapisan kabut putih tebal, pada saat ini kelihatan kosong melompong dan sunyi senyap tak kelihatan sedikit benda mencurigakanpun.
Padahal, dalam kenyataan dibalik ketenangan, kesunyian yang mencekam tersembunyilah suatu badai amis darah, ditempat inilah tidak lama kemudian akan berlangsung suatu pertarungan seru antara sesama umat Bu lim untuk memperebutkan kitab pusaka “Yoe Leng Pit Kip”.
Ketika ketiga sosok bayangan hitam itu melayang sampai dipuncak Pek-Yan-Gay, enam rentetan cahaya mata yang tajam bersama2 menyapu sekejap kesekeliling kalangan, diikuti salah satu diantara mereka memperdengarkan seruan tertahan.
“Eeee… toako, kenapa tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun ??? apakah kabar berita itu cuma isapan jempol belaka ???” Kiranya ketiga sosok bayangan manusia ini adalah Liauw Tong sam-koay yang pernah kita bicarakan tempo dulu, Toan Liong, Toan Hauw serta Toan Pa tiga bersaudara, sedangkan yang barusan bicara bukan lain adalah siluman kedua Toan Hauw.
“Aku kira tak mungkin” sahut siluman pertama Toan Liong setelah termenung beberapa saat.
“sekarang waktu masih terlalu pagi lebih baik kita mencari suatu tempat yang setrategis untuk menyembunyikan diri, nanti kita bicarakan lagi.” “Ucapan toako tidak salah,” siluman ketiga Toan Pa menanggapi dan menyatakan setuju.
Bicara sampai disitu ia lantas menuding ke arah sebelah kiri. di mana belasan tombak kemudian terdapat sebuah batu cadas sebesar beberapa tombaki katanya.
“Mari kita bersembunyi saja dibelakang tebing batu besar itu guna menantikan perubahan situasi selanjutnya”.
Yauw Kie sipedang tunggal dari sian-Hee san serta Tong soe Kiat sinelayan dari sungai Goan-Koan jadi terperanjat setelah mendengar ucapan itu, “Aduuuuh . . . celaka “serunya tertahan.
Ternyata pada saat ini, kedua tokoh Bu-lim itupun sedang bersembunyi dibelakang batu tebing yang dimaksudkan.
Tentu saja, dengan andalkan kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini, mereka tak akan takut terhadap Liauw tong sam Koay, namun justru persoalan terletak karena kedua orang ini tidak ingin munculkan diri secara resmi dalam situasi dan saat seperti ini.
Dalam pada itu siluman pertama Toan Liong telah berpaling ke arah batu cadas yang dimaksudkan kemudian menganggut.
“Bagus sekali ” serunya.
Disaat siluman pertama menanggapi dan ketiga sosok bayangan manusia itu siap meloncat ke depan, tiba2 dari belakang sebuah batu besar di belakang mereka berkumandang datang gelak tertawa yang amat menyeramkan disusul teguran seseorang.
“Heee heee– hee -sungguh cepat kabar berita ini tersiar dalam dunia persilatan, tak disangka kalian tiga bersaudara yang jauh berdiam di wilayah Liauw Tong pun sudah mendapat kabar ini dan buru2 berangkat kemari untuk ikut melihat keramaian”. Bersama dengan suara itu, muncul sesosok bayangan manusia.
Liauw Tong sam Koay sama2 terperanjat, dengan cepat mereka berpaling dan segera kenali orang yang barusan munculkan diri ini bukan lain adalah Toonu dari pulau Thian Bun To, si jagoan sakti yang dikabarkan telah peroleh peta petunjuk tempat tersimpannya kitab pusaka” Yu Leng Pit Kip”.
Peng Pok sin-mo adanya.
“Aku sangka siapa yang telah datang ? Hee… hee…hee – tak tahunya adalah Toocu ” Toan Liong sebera berseru sambil tertawa seram.
Ia merandek sejenak kemudian sengaja tertawa ketus dan menyindir kembali: “Kami dengar Toocu telah berhasil mendapatkan peta mustika petunjuk dari kitab pusaka Yoe Leng pit Kip. karena itu kami tiga bersaudara sengaja datang kemari untuk mengucapkan selamat buat Toocu, sekalian untuk memberi bantuan kepada Toocu bilamana perlu” Nama besar Peng Pok sin-mo si T^ocu dari pulau ThianBun To bukan saja tertera sebagai pemimpin Bu lim capshia sepuluh manusia sesat dari dunia persilatan, iapun merupakan seekor rase tua yang licik cerdik dan banyak akal tentu saja ia dapat menangkap sindiran diantara ucapan siluman pertama Toan Liong barusan.
Kalau berada di-hari2 biasa, gembong iblis tua ini pasti tak akan tahan atas sindiran pedas tersebut, tidak mengherankan seumpama ketiga siluman itu sejak tadi sudah ia sikat habis.
Tapi, keadan malam ini jauh berbeda, saat ini ia sedang membutuhkan bantuan orang lain, Meskipun sigembong iblis tua ini sudah periksa peta petunjuk kitab pusaka “Yoe Ling Pit Kip”, bahkan menghapalkan dan mengingat baik-baik letak tempat itu, tapi ia sadar, gadis muda yang berhasil merampas peta petunjuk itupun dengan mudah akan menemukan letak tempat tadi, kemudian mengikuti peta tersebut mencari tempat kitab pusaka itu.
Sebenarnya gembong iblis ini ada maksud mengejar sendiri untuk kemudian cari kesempatan merampas kitab pusaka itu, tapi ia takut berbuat demikian, karena ia sudah merasakan kerugian besar ditangan gadis tadi.
Gadis tersebut bukan saja licin, cerdik dan lihay bahkan ilmu silatnya sangat luar biasa, tenaga Iweekangnya telah berhasil mencapai puncak kesempurnaan, ia tak paham secara bagaimana seorang gadis yang masih begitu muda ternyata memiliki tenaga Iweekang yang begitu sempurna dan begitu dahsyat??? Kitab pusaka “YOE LING PITKIP” merupakan sebuah kitab ilmu silat yang luar biasa, jurus silat serta ilmu kepandaian yang termuat dalam kitab tadi sangat dahsyatnya, asalkan bisa melatih satu macam saja diantaranya sudah cukup untuk menjagoi seluruh dunia persilatan.
Mungkinkah ia rela membiarkan kitab pusaka semacam ini dirampas orang ??? ia berpeluk tangan belaka ????? Tentu saja tidak Tidak, lalu apa yang ia harus lakukan ??? seandainya mengandalkan nama besar serta kedudukannya sebagai pemimpin sepuluh manusia sesat dari dunia persilatan ia mengundang bantuan orang lain untuk ber-sama2 menghadapi seorang budak ingusan yang tak dikenal dan tak tahu asal usul kemudian merampas kembali kitab pusaka tersebut, ia takut ditertawakan orang lain, mungkinkah ia bisa tancapkan kaki kembali dalam dunia kangouw ??? Lagi pula seandainya ia benar2 minta bantuan orang lain, setelah berhasil merampas kembali kitab pusaka itu, maka mereka harus mempelajari kitab tersebut secara bersama sama.
Dengan kejadian ini, meski akhirnya ilmu sakti yang teramat dalam kitab itu berhasil dikuasai, namun berhubung ada dua orang, tidaklah mungkin ia menjagoi seluruh kolong langit dan disebut jago nomor satu dari jagad.
setelah putar otak pulang pergi, akhirnya si gembong iblis tua ini berhasil menemukan sebuah rencana keji yang bagus dan sempurna.
Langkah pertama dari rencana kejinya ini adalah memerintahkan muridnya sang duta Bayangan Eng Hek Thian Tiauw sengaja menyiarkan kabar berita yang menyangkut kitab pusaka “Yoe Ling pit Kip” ini kedalam dunia persilatan.
Maksudnya berbuat demikian jelas sekali, ia memang ada maksud memancing para jago lihay para tokoh silat baik dari golongan Hek-to maupun golongan pek-to sama2 mendatangi tebing Pek Yan Gay, kemudian biarkan para tokoh silat ini turun tangan berbareng menghadapi gadis itu dan merampas balik peta petunjuk mustika itu. Rencana keji dari si iblis tua itu bukan saja kejam bahkan sadis, dan telengas.
Coba bayangkan saja kitab pusaka “YOE LING PITKIP” adalah kitab mustika yang diincar dan diinginkan oleh setiap orang Bu-lim, perduli dari perguruan serta partai manapun mereka sama2 ingon mendapatkan benda tadi, suatu pertikaian berdarah tak bisa terhindar lagi.
Atau… kecuali siapapun tidak inginkan benda itu, dan mustika tadi dimusnahkan dihadapan umum.
Tapi siapa yang berhasil mendapatkan tak sudi, orang lain yang ikut memperebutkan pun tak akan mau.
sebab, asalkan peta petunjuk itu masih tetap ada berarti harapan untuk menemukan kitab pusaka masih ada, atau dengan perkataan lain orang lainpun masih punya harapan untuk memperebutkan kitab pusaka itu.
seandainya ada orang yang mengusulkan pendapat ini, Peng Pok sin-mo si iblis tua inilah per tama2 yang akan setuju.
Bukan saja setuju, bahkan iapun akan mengutarakan alasan2 yang kuat agar para jago melepaskan pertikaian antara sesama dan menyetujui usulnya untuk memusnahkan peta petunjuk tersebut.
sebab dengan musnahnya peta mustika tadi, berarti para jago kehilangan mata tujuan dalam perebutkan itu, dan dengan hati berat mereka harus membuyarkan diri Untung letak penyimpanan kitab pusaka itu sudah ia hapalkan diluar kepala, asalkan tiga empat bulan sudah berlalu, secara diam2 la akan mendatangi tebing Pek Yan Gay seorang diri lalu mengikuti letak yang telah ia hapalkan menggali kitab tersebut, kemudian mencari sebuah tempat terpencil, berlatih giat dan tiga lima tahun kemudian, setelah ilmu saktinya berhasil dikuasai ia munculkan diri kembali dalam dunia persilatan, menjaring seluruh jago Bu-lim dan mendirikan sebuah perguruan atau partai yang punya pengaruh luas serta menguasahi seluruh dunia persilatan.
Dalam keadaan seperti ini, kekuatannya akan berlipat ganda, partai serta perguruan2 yang ada akan diundang, bagi mereka yang menurut dipaksa masuk anggota, bagi mereka yang membangkang dihancur ratakan dengan tanah.
saat itulah seluruh jagad akan menjadi miliknya tunggal.
Rencana keji gembong iblis tua ini memang dahsyat, tapi bisakah berjalan menurut yang dia inginkan ? Manusia berusaha Tuhanlah yang berkuasa…
Dalam pada itu, Peng Pok sin-mo tetap berlaku tenang dan sama sekali tidak ada perubahan diatas wajahnya sehabis mendengar sindiran itu, ia tertawa seram, katanya: “Maksud baik yang saudara2 sampaikan kepadaku, membuat In heng merasa sangat berterima kasih hanya sayang…” sengaja ia merandek sejenak untuk kemudian terusnya: “Walaupun peta mustika itu benar sudah In heng dapatkan, tapi saat ini sudah kena dirampas kembali oleh orang lain ” “oooouw -” sengaja Toan Liong siluman pertama menunjukkan sikap kaget dan keheranan.
“siapakah orang orang itu ??? berani benar ia main rampas benda yang sudah menjadi milik Toocu ” “Aa a a i– kalau dibicarakan sungguh memalukan sekali ” seru Peng Pok sin-mo sambil tertawa getir.
“orang yang berhasil merampas peta mustika itu dari tanganku tidak bukan cuma seorang budak ingusan yang tak kukenal nama maupun asal usulnya semua ini harus disalahkan Ih-heng terlalu ceroboh, gegabah dan tak pandang mata kepada orang lain sehingga akhirnya harus menerima akhir begini” “Benarkah sudah terjadi peristiwa seperti ini? …” Toan Pa siluman ketiga agak kurang percaya.
“Toan sau te, kau anggap perkataan dari aku Loe Thian ciang tak bisa dipercaya?” Peng Pok sin mo menegaskan dengan wajah serius. Toan pa tertawa menyeringai.
“Meskipun aku Toan toa sama tak berani punya pikiran demikian dihadapan Toocu, tapi persoalan ini memang agak luar biasa sehingga membuat orang tak berani percaya…” Ia merandeki setelah mendehem dingin terusnya.
“Tapi yaaah, anggap saja semua yang dikatakan tadi omong kosong belaka, kami tiga bersaudara jauh2 dari ribuan li datang kemari tentu saja bukan cuma iseng belaka. apa maksud kedatangan kami? Toocu sebagai seorang manusia cerdas tentu bisa membade isi hati kami bukan” “Tentu saja tentu saja” Peng Pok sinmo tertawa menyeringai sambil mengangguk.
“Kitab pusaka itu merupakan benda tanpa majikan, siapa yang melihat ikut punya bagian, hanya saja…” Ia merandeki sepasang matanya laksana kilat menyapu sekejap empat penjuru lalu bergantian mengawasi ketiga siluman itu satu persatu, setelah itu ia baru tertawa kering dan menambahkan.
“Persoalan yang terjadi malam ini sudah tersebar luas diseluruh dunia persilatan, kalau dugaan Ih heng tidak salahi disekeliling Pek Yan Gay saat ini sudah penuh berkumpul tokoh2 silat kenamaan dari pelbagai lapisan. Terus terang saja lo heng katakan, bukannya aku terlalu pandang enteng kalian, kalau mau andalkan kekuatan kalian bertiga saja untuk merebut posisi teratas dalam perebutan malam ini, aku takuthemm -heemm–.” Takut apa meski Peng Pok sin mo atau Loe Thian ciang tidak teruskan dengan kedudukan Liauw Tong sam Koay diantara deretan sepuluh manusia sesat dunia persilatan, tentu saja dapat mengartikan apakah ucapan selanjutnya dari Peng Pok sin mo ini.
Baru saja Peng Pok sin mo menyelesaikan kata2nya, siluman pertama Toan Liong dengan nada tidak puas telah tertawa seram, katanya.
“Toocu jujur dari suka berterus terang, pantaslah toocu diangkat sebagai pemimpin Bu lim sip Hiong oleh kalangan jago2 dunia persilatan, kegagahan serta kehebatan Toocu memang jauh berbeda dengan kebanyakan orang ” oleh khalayak umum lt Mo atau Iblis tunggal s iang sat, atau sepasang Malaikat, sam Kong atau Tiga manusia aneh serta su Tok atau empat manusia beracun disebut sebagai Bu- lim sip shia sepuluh manusia sesat dari dunia persilatan tetapi bagi mereka sendiri menyebut diri sebagai Bu-lim sip Hong sepuluh jagoan gagah dari dunia persilatan. Bicara sampai disitu, dengan air muka ssrius Toan Liong menambahkan lebih jauh.
“Dugaan Toocu tidak meleset, bukan saja persoalan ini sudah menggetarkan dunia persilatan, bahkan menurut siauwte ketahui kecuali para tokoh persilatan dari kalangan Hek to serta kalangan Pek-to yang berdatangan ketebing Pek Yan Gay ini, bahkan Ciangbunjien dari partai Kiong-Lay Pay beserta Kauw cu dan Huk-Kauw cu perkumpulan lm Yang Kauwpun dengan membawa jago2 lihay sudah berdatangan semua kemari. Buat kami sendiri, meski sudah menempuh ribuan liejauh jauh datang kemari, perduli apa yang terjadi, bisa mendapatkan kitab pusaka itu atau tidaki pokoknya paling sedikit kami bisa melihat sekejap saja bagaimanakah bentuk kitab mustika yang sudah tersohor sajak ratusan tahun berselang, dengan demikian perjalanan kamipun tidak sia2 belaka, menurut pendapat Toocu, benarkah ucapan dari aku Toan Loo-toa ?” “Ehmm . . . perkataan dari Toan Loo-toa memang cengli sekali” Peng Pok sin mo mengangguk berulang kali.
“sekarang sudah terbukti kalau ciangbunjien partai Kiong Pay bersama2 Kauacu dari Im Yang Kauw dengan membawa jago2 lihaynya berdatangan semua kemari, sudah jelaslah kalau mereka begitu bernapsu mendapatkan kitab pusaka itu…” Bicara sampai disitu ia merandeki kemudian termenung beberapa saat, setelah itu barulah ia menambahkan: “Ditinjau dari keadaan yang terbentang saat ini, kita tak boleh terlalu pandang enteng pertarungan dalam memperebutkan kitab pusaka yang bakal terjadi malam ini – Aku pikir lebib baik kita… ” “Lebih baik bagaimana ?” tukas siluman pertama Toan Liong dengan cepat, “silahkan toocu bicara langsung dan blak2an, dengan demikian kita bisa berunding dan berdamai” “Kalian tiga bersaudara adalah manusia2 cerdas, tentu kalian tahu bukan pepatah kuno yang mengatakan: “Bersatu kita Teguhi Bercerai kita Runtuh…” “Heeeee..hecee….heeee….asalkan Toocu bersungguh hati.
tentu saja kami bersaudara akan turut perintahmu” Timbrung siluman ketiga Toan pa sambil tertawa seram.
“Apakah Toan samte masih belum bisa mempercayai diri In- heng?” Belum sempat Toan Pa memberikan jawabannya, mendadak dari lima tombak dari kalangan berkumandang datang suara gelak tertawa seram seseorang.
“Kalau kami bersaudara sih merasa amat yakin jika Toocu memang bersungguh hati untuk mengajak kami bekerja sama.” Bersamaan dengan ucapan itu, desiran angin tajam berhembus lewat disusul munculnya bayangan manusia.
Beberapa tombak dari sisi kalangan, tahu2 sudah berdiri tiga orang kakek tua yang telah berusia antara lima, enam puluh tahunan. Menjumpai ketiga orang itu, Peng Pok s in- mo segera tertawa seram.
“Heeeee— heeee— heeee— sungguh tak kusangka kalianpun sudah mendengar kabar ini dan berangkat datang kemari, sungguh menggembirakan, sungguh menggembirakan, ku-sambut keinginan kalian dengan senang hati”.
Bicara sampai disttu, sinar matanya lantas beralih keatas wajah Liauw-Tong sam Koay dan menyapu sekejap.
sambungnya.
“Asalkan kalian bisa mempercayai aku Loe-Thian ciang, dengan senang hati kuterima keinginan kalian untuk bekerja sama dengan diriku, setelah kita berhasil mendapatkan kitab pusaka itu pasti akan kubentangkan dan kita latih bersama2 kalau tidak . . . yaaaahi terserah pada pendapat kalian sendiri …”.
Kiranya ketiga orang kakek tua yang barusan munculkan diri bukanlain adalah tiga manusia beracun dari antara Biauw- Kiang su-Tok, simanusia beracun pertama, Kakek seratus Bangkai Kiang-Tiang Koei, manusia beracun kedua sikakek Bisa Dingin cia Ie chong, serta manusia beracun ketiga sikakek Racun Es Chin Tin sau.
Dalam pada Itu sikakek seratus Bangkai telah mengangguk sehabis mendengar tawaran itu.
“Baiklah kira tetapkan dengan sepatah kata ini” Bicara sampai disitu, ia lantas berpaling kearah Liauw Tong sam Koay dan bertanya.
“Bagaimana pendapat Toan heng?? silahkan kalian ambil keputusan dengan cepat?” Pada dasarnya Liauw Tong sam Koay memang ada maksud untuk ajak Peng Pok sin mo bekerja sama dan sama2 menghadapi kekuatan tokoh silat pelbagai perguruan dan berbareng merampas kitab pusaka. Namun berhubung iblis tua itu sudah terkenal akan kelicikan serta kekejiannya, mereka takut tertipu dan ragu2 untuk menjatuhkan keputusannya.
sekarang, mereka lihat Biauw Kiang soe Tok sudah menyanggupi untuk bekerja sama dengan Peng Pok sin mo, dengan demikian ke-ragu2an dalam hati merekapun segera punah.
Karenanya begitu sikakek seratus bangkai menyelesaikan kata2nya, siluman pertama Toan Liong sudah menggangguk, “Toocu adalah pemimpin dan Bu lim sip Hiong, Jikalau memang terbukti Toocu bersungguh hati perkataan apa lagi yang hendak kami bersaudara utarakan? tentu saja kami mengekor dan mendengarkan keputusan anda” Peng Pok sinmo tertawa seram.
“Toan Loo-toa, hebat benar ucapanmu barusan, aku orang she Loejadi tak berani untuk menerimanya ” Ia merandek sejenaki lalu tambahnya.
“Untung sekali sejak detik ini kita adalah orang sendiri, In heng pun tak usah terlalu banyak memakai adat kesopanan, asalkan cuwi sekalian benar2 bersungguh hati untuk bekerja sama, tak usah dimurungkan lagi kitab pusaka “YOE-LENG PIT KIP” sudah menjadi barang saku kita semua…” selesai bicara ia mendongak dan tertawa ter-bahak2 dengan seramnya.
Tiba2 ia teringat akan sesuatu, gelak tertawa nya sirap, sambil menatap wajah sikakek seratus bangkai Kiang Tiang Koei tanyanya: “Eeeei…dimanakah Ngo Loo-te? kenapa tidak kelihatan ia jalan ber sama2 kalian?” “Kami sendiripun sedang mencari dirinya,” sahut Kiang Tiang Koei seraya menggeleng. Tiba2….
“Hmmm ” dengusan dingin yang perlahan namun tajam secara mendadak berkumandang datang dari balik sebuah pohon siong tua yang rimbun dan banyak dedaunnya kurang lebih dua tombak dari sisi kalangan.
Mendengar dengusan ini. Peng Pok sin- mo bertujuh sama2 terkesiap. dengan cepat mereka berpaling dan mengawasi pohon siong tua itu tajam-tajam.
Tampak puncak pohon siong terasa bergoyang daun berkibar disusul melayang turunnya sesosok bayangan manusia dengan ringannya bagaikan asap. mula2 turun orang itu melayang empat lima tombak keangkasa setelah itu barulah melayani turun seperti kapas.
Menjumpai ilmu meringankan tubuh yang begini hebat, untuk kesekian kalinya Peng Pok sin mo sekalian terperanjat, tak kuasa mereka berpikir: “siapakah orang ini ??? ilmu meringankan tubuhnya sungguh hebat dan luar biasa, jelas kepandaian tersebut telah dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan ” (OodwoO) Jilid 5 KETIKA tubuh orang itu melayang turun ke atas permukaan, gerakannya halus, lambat dan manis, sedikitpun tidak menimbulkan suara maupun debu, saking ringannya tubuh orang itu se-akan2 terdiri dari kapas yang ringan- Menanti orang itu sudah berdiri diatas ranah, Peng Pok Sinmo sekalian baru bisa melihat jelas wajah orang itu.
Ternyata orang itu adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahunan dengan dandanan seorang sastrawan, pada pinggangnya terselip sebuah seruling terbuat dari pualam sementara tangannya menggoyangkan sebuah kipas sikap maupun lagaknya betul2 mempersonakan dan tak malu disebut seorang pemuda sastrawan yang ganteng dan menawan hati.
Siapakah pemuda sastrawan ini tak usah di sebut dialah Hoo Thian Heng jago muda kita.
Walaupun Peng Pok Sin Mo bertujuh tak ada yang kenali Hoo Thian Heng, dan tak tahu pula sampai taraf manakah ilmu silat yang ia miliki ?? tapi meninjau dari ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan sewaktu melayang turun dari puncak pohon siong, mereka dapat menduga sedikit banyak dalam hal ilmu silat pemuda ini mempunyai simpanan yang tak boleh dianggap enteng oleh karena itu Peng Pok Sin-mo sekalian bertujuh tak berani beriaku gegabah, terutama sekali setelah mereka dapat lihat Hoo Thian Heng cuma seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, badannya lembut, halus dan semampai, keruan kaget nerekapun heran, tercengang dan sangsi.
sebab, menurut dugaan mereka semula, seseorang bisa memiliki ilmu meringankan tubuh begitu dahsyat, paling sedikit usianya tentu sudah lima puluh tahun keatas, dan sudah lama tersohor dalam dunia persilatan siapa sangka dugaan mereka sama sekali tidak benar dan diluar dugaan, bukan saja pihak lawan suma seorang pemuda sastrawan ingusan bahkan potongan badannya halus- dan lemah, hal ini tentu saja membuat mereka tercengang, heran dan sangsi.
sambil menggoyangkan kipasnya, selangkah demi selangkah Hoo Thian Heng maju kedepan dan berhenti beberapa tombak di hadapan ketujuh orang itu, sepasang matanya yang bening bagaikan bintang kejora dengan angkuh menyapu sekejap wajah orang2 itu, kemudian ia mendengus kembali.
“Heee… heeee… Tak kusangka Peng Pok sin mo yang disebut pemimpin sepuluh manusia sesat rimba persilatan, tidak lebih hanya seekor kurcaci yang berhati licik, keji dan telengas, pandai menggunakan akal untuk menipu orang lain.” jengeknya dingin seraya menatap iblis sakti bayangan es ini tajam2.
Air muka Peng Pok sin mo kontan berubah hebat setelah mendengar ejekan ini, sepasang matanya melotot buas, serentetan cahaya tajam bagaikan sambaran kilat berkelebat diatas wajah pemuda itu, hardiknya penuh kegusaran.
“setan cilik”, kau sudah bosan hidup lebih lama dalam dunia, berani amat kau mencerca orang seenaknya?” “Cis” Hoo Thian Beng tertawa dingin dan memandang gembong iblis itu dengan wajah sinis.” Terhadap kau manusia kurcaci yang tidak berharga dan pandainya main licik, main tipu, masih belum berharga bagi siauw-ya untuk memaki. Kau tak usah tebal muka tak tahu malu” Betapa murkanya Peng Pok sin mo disindir begini pedas, selama puluhan tahun berkelana dalam dunia persilatan, dengan andalkan Peng Pok Mo kang serta serangkaian ilmu sakti anehnya iblis tua ini sudah malang melintang dalam Bu lim tanpa tandingan, bukan saja ia sudah terbiasa berlagak sok dan angkuh, tidak pandang sebelah matapun terhadap orang lain, bahkan iapun telengas kejam, keji dan sadis, perduli siapapun yang berani menyakiti hatinya pasti akan dibunuh mati.
oleh karena itu seluruh umat Bu- lim pada menaruh tiga bagian rasa jeri kepadanya, mereka tak ingin mengikat permusuhan dengan dirinya sehingga mendatangkan banyak kerepotan buat diri sendiri Masih untung, meski tingkah laku gembong iblis tua ini kejam dan telengas namun selama hidupnya ada dua peraturan yang tak terhitung begitu jahat.
Pertama, siapa tidak mengganggu dirinya, iapun tak akan mengganggu orang, bagi yang berani mengganggu tentu akan dibunuh sampai mati.
Kedua, ia tidak mau melakukan perbuatan atau mencelakai orang tanpa mendatangkan faedah bagi dirinya.
seumpama mengikuti kebiasaan yang dianut iblis tua ini, perbuatan Hoo Thian Hong pasti akan ditimpali dengan suatu akibat yang fatal, dalam keadaan gusar mungkin ia akan menyerang pemuda itu habis2an.
Tetapi keadaan pada hari ini jauh berbeda, sebelum ia berhasil mencari tahu asal usul serta nama pemuda sastrawan ini, ia tidak ingin turun tangan secara gegabah sehingga menanamkan bibit permusuhan bagi dirinya dikemudian hari.
Meski ia belum tahu sampai di manakah taraf kepandaian yang dimiliki Ho Thian Hong, tapi pepatah kuno mengatakan satu kali terpagut ular, selama hidup takut dengan tali tambang.
Berhubung iblis tua ini sudah peroleh satu kali peringatan pedas, ia makin waspada dan tak berani terlalu gegabah memandang enteng seorang pemuda yang masih muda belia.
Lagipula dari ilmu meringankan tubuh tingkat atas yang diperlihatkan Hoo Thian Hong sewaktu melayang turun dari puncak pohon tadi, ia dapat melihat meski usia pemuda ini masih muda sekali, namun tenaga lweekangnya telah mencapai puncak kesempurnaan, ilmu silatnya tentu bukan sembarangan dan ia sadar pemuda dihadapannya adalah seorang musuh tangguh yang susah dilayani.
Karena itu, walaupun gembong iblis ini sangat murka, air mukanya tetap tenang2 saja, ia tertawa dingin dan berseru: “setan cilik, Nyalimu sungguh tidak kecil, berani benar berlaku kurang ajar terhadap Loohu, dan bicara sembarangan mengaco belo. Hmrn kalau bukan loohu memandang usiamu yang masih muda dan tak tahu diri. kemudian aku tak ingin menggunakan usiaku yang lebih tua menganiaya yang muda.
detik ini juga akan kusuruh kau menggeletak mati diatas tanah ” Bicara sampai disini, nada suaranya tiba2 berubah, hardiknya.
“setan cilik cepat sebutkan kau anak murid s iapa ? katakan siapa gurumu dan berasal dari perguruan mana. setelah persoalan disini selesai, loohu akan berangkat mencari setan tua guru mu itu untuk tuntut keadilan serta menegur caranya yang salah mengajari seorang murid ” Gembong iblis tua ini betul2 licik, jelas ia sudah tahu kalau Hoo Thian Hong memiliki serangkaian ilmu silat yang lihay, seumpama terjadi suatu pertarungan, siapa menang siapa kalah susah ditentukan. Muridnya saja sudah begini lihay, apalagi gurunya ?….
Tentu saja, Peng Pok sin mo terpaksa harus berkata demikian, kalau tidak bukankah ia akan ditertawakan oleh tiga manusia aneh, empat manusia beracun sebagai seorang manusia hatinya kecil.
Kendati iblis tua ini licik dan banyak akal, tetapi ini hari ia ada naas karena sudah bertemu dengan Hoo Thian Keng yang cerdik dan pandai. Terdengar Hoo Thian Hong mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Haaa haaa bagus sekali perkataanmu itu, siapa yang kurang ketat dalam memberi pelajaran?” Air mukanya berubah membesi setelah mendengus dingin terusnya: “Dengan andalkan kedudukanmu sebagai gembong iblis tua masih belum sesuai untuk mengetahui perguruanku, sebaliknya saat ini aku harus menyelesaikan dulu dinasku sebagai pemegang buku kematian di neraka” Peng Pok sio mo kheki, dongkol bercampur geli, segera bentaknya kembali: “setan cilik mulutmu penuh dengan omongan setan. terus2 mengaco belo sana kemari. Eeeei baiklah mendengarkan nasehat loohu, cepat tinggalkan tempat ini dan angkat kaki kalau tidak…heee….” “Kalau tidak bagaimana?” “Akan ku musnahkan seluruh ilmu silatmu I” “Haaa- -haa—haaa- masalahnya sanggupkah kau berbuat demikian?” ejek Hoo Thian Hong sambil tertawa lantang.
“Aku rasa untuk membereskan kau setan cilik masih belum jadi suatu masalah besar.” “Baik…baiklah, kalau memang kau mengatakan tak jadi persoalan anggap saja tak jadi persoalan, namun sekarang cayhe sebagai pemegang buku kematian di neraka harus menyelasaikan tugas dahulu, atas hutang2mu yang telah dibuat barusan, aku ingin minta pertanggungan jawabnya dahulu, sedangkan mengenai soal jual beli diantara kita, bicarakan saja besok atau lusa” “sebenarnya siapakah setan cilik ini?” pikir Peng Pok s in-mo dengan hati tercengang dan tidak mengerti. ” Kenapa ia sebut-sebut pula tentang urusan jual beli? sejak kapan loohu pernah berhutang kepada orang lain-…?” sementara Peng Pok sin-mo masih diliputi oleh keheranan dan rasa tidak mengerti, mendadak terdengar Hoo Thian Hong dengan suara lantang telah berkata kembali.
“selama cayhe membereskan soal hutang piutang, selalu berlaku bijaksana dan adil. mengenai hutang dari Pak Mo siang san sepasang malaikat dari Gurun pasir, berhubung tak ada penagihnya untuk sementara boleh kita kesampingkan dahulu, tapi hutang yang telah kau buat atas diri si peluru sakti Tong hong Koen aku rasa sudah tercatat selama beberapa bulan bahkan penagihnya, ahli waris dari Tong hong Koen, telah datang kemari, aku rasa hari ini juga kau harus pertanggung jawabkan hutangmu ini ” sekarang Peng Pok sin mo baru sadar apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh sianak muda itu, kontan ia tertawa seram.
“setan cilik pandai benar kau bekerja ” serunya keras2.
“Bicara pulang pergi selama setengah harian, ternyata kedatanganmu adalah hendak menagih hutang dari Tong hong Keen” Ia merandek air mukanya membesi, dan dengan nada ketus bentaknya lebih jauh: “Tidak salah meski Tong- hong Keen bukan mati ditangan loohu, tapi secara tidak langsung loohulah yang menyusun rencana ini, setan cilik kalau kau ingin menuntut hutang buat Tong hoag Keen- Nah, silahkan mulai turun tangan-..” Bicara sampai disitu, ia menatap wajah Hoo Thian Hong tajam2 sementara tangannya bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Hoo Thian Hong mendengus dingin, mendadak ia berpaling kearah pohon siong tadi dan teriaknya lantang.
“Nona Tong hong, silahkan unjukkan diri untuk menuntut hutangmu” Bersamaan dengan teriakkan itu tampak daun dan ranting pohon siong bergoyang diikuti desiran angin tajam menembusi angkasa, bayangan manusia berkelebat lewat, tahu2 disisi Hoo Thian Hong telah bertambah dengan lima orang gadis dua orang pria, tujuh orang banyaknya.
Siapakah ketujuh orang itu ?? tak usah diterangkan tentu saja mereka adalah Tong hong Beng Coe beserta keempat dayang serta sikakek Huncwee dari gunung Bong-san dengan murid kesayangannya Gong Yu.
Begitu menjumpai Peng Pok sin-mo, sepasang mata Tonghong Beng Coe kontan melotot bulat-bulat, dengan penuh genangan air mata tiba2 ia cabut keluar pedang panjangnya yang tersoren dipunggung.
“iblis tua ” teriaknya keras2. “Kembalikan nyawa ayahku ” Ditengah bentakan nyaring, pergelangan bergetar pedang menari, dengan sebuah gerakan laksana naga sakti, dengan cepat bagaikan kilat menusuk ulu hati Peng Pok sin mo.
“Nona Tong hong jangan gegabah ” Menjumpai hal itu, dengan hati terperanjat buru2 Hoo Thian Hong membentak.
Walaupun Hoo Thian Hong sudah mencegah, namun gerakannya masih terlambat satu langkah.
Terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, pedang panjang ditangan Tong-hong Beng Coe tahu2 sudah pukul pental oleh hantaman telapak Peng Pok -sin-mo, disusul tubuh gadis itu dengan sempoyongan mundur sejauh lima depa ke belakang, dengan susah payah ia baru berhasil menegakkan badannya kembali.
Walau akhirnya badan bisa dikuasai kembali keseimbangannya, tetapi darah panas dirongga dada telah bergolak keras, sampai2 sukar ditekan dan dikuasahi, tak tahan lagi ia muntahkan darah segar, sang badan bergeletar bergoyang hampir2 roboh keatas tanah.
Hoo Thian Hong, keempat dayang beserta Bong san Yen shu sekalian jadi kaget, masing2 orang menggerakkan badannya meloncat kesisi Tong hong Beng Coe dan memayang badannya.
Air muka Tong-hong Beng Coe kelihatan pucat pasi bagaikan mayat, sepasang mata terpejam rapat, napasnya lemah sementara ia sudah jatuh tidak sadarkan diri, jelas luka dalam yang dideritanya tidak ringan.
Melihat keadaan itu sepasang alis Hoo Thian Hong langsung berkerut, dari sakunya ia ambil keluar sebuah botol kecil terbuat dari porselen putih dan diserahkan ketangan Bong-san Yen shu sembari berseru: “Isi botol ini merupakan pil seratus nyawa Cing Yang si Ming Tan pemberian seorang cian-pwee lihay kepada cayhe harap merepotkan Yu thay hiap suka menghadiahkan sebutir kepadanya, menanti ia sudah sadarkan diri suruh dia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan satu kali, dengan cepat luka dalamnya akan sembuh dan kuat kembali seperti sedia kala.” Habis bicara ia enjot badannya dan melayang ke depan di mana ia berhenti dan berdiri tegak kurang lebih delapan depa dihadapan Peng Pok sin mo, sepasang matanya dipentang lebar, serentetan cahaya tajam berkelebat lewat untuk kemudian sirap kembali.
“sungguh dahsyat tenaga lwekang yang dimiliki setan cilik ini” pikir Peng Pok sin mo dengan hati tergetar keras “Tidak aneh kalau ia berani pentang bacot besar dan bicara sombong jelas tenaga Iweekangnya telah berhasil dilatih sehingga mencapai puncak paling top. sehingga untuk sementara orang sama sekali tak menduga kalau ia memiliki kepandaian lihay.” Sementara Peng Pok sin mo masih berpikir didalam hatinya, mendadak terdengar Hoo Thian Hong tertawa dingin dan menegur, “setan tua kaupun terhitung jagoan nomor wahid dalam kolong langit, sekarang kau sudah turun tangan begini keji terhadap seorang gadis muda dari angkatan muda, apakah kau tidak merasa malu???” Merah padam selembar wajah Peng Pok sin-mo, namun dengan cepat ia sudah tertawa dingin dengan seramnya.
“Hoe… hee.. hee… setan ciliK, apakah kau merasa hatimu amat sakit” “lblis tua” Bentak Hoo Thian Hong penuh kegusaran, sepasang alisnya melentik. “Mulutmu kotor dan cabul, malam ini kalau siauw ya tak bisa suruh kaupun menerima keadaan seperti dia, aku akan tebas sendiri tanganku kemudian berlalu, sehari dalam dunia persilatan masih ada kau iblis tua, siauwya tak akan menginjak dunia barang setengah langkahpunooooooooo KATA2 ini sungguh jumawa sombong hampir membuat orang yang ikut mendengar merasa badannya merinding.
siiblis sakti bayangan Es Loo Thian ciang sebagai pemimpin sepuluh manusia sesat Rimba Persilatan, bukan saja tertawa, lwekangnya telah berhasil mencapai puncak kesempurnaan, bahkan ilmu sakti Pek Pong s in kang yang dilatih dari hawa es didasar tanda kutub utarapun sangat beracun dan lihaynya luar biasa.
sepanjang tahun malang melintang dalam Bu lim tanpa tandingan, sekarang kena disindir dan dikatai dengan kata2 yang begitu jumawa, air muka Peng Pok sin mo seketika berubah hebat, langsung saja ia perdengarkan gelak tertawa nya yang bisa mendirikan bulu roma.
suara tertawanya, tinggi melengking bagaikan jeritan kuntilanak. bukan saja tak enak didengar bahkan sangat menusuk telinga, membuat orang bergidik dan merasa ngeri.
Jelas siiblis tua ini sudah dibuat naik pitam hingga sukar mengendalikan diri sendiri Begitu gelak tertawa sirap. selapis hawa membunuh berkelebat diatas wajahnya, sepasang mata melotot buas, cahaya tajam bagaikan kilat menatap wajah Hoo Thian Hong tak berkedip.
“Setan cilik ” bentaknya sangat murka. ” Kau terlalu jumawa dan tak pandang sebelah mata kepada orang she Po, kalau malam ini loohu menderita kalah ditanganmu, sejak ini hari akan mengundurkan diri kedalam pegunungan dan sepanjang masa aku akan munculkan diri kembali kedalam kolong langit ” “Baik kita tetapkan dengan sepatah kata ini,” dengus Hoo Tbian Hong dengan sepasang alis berkerut. “Nah. silahkan mulai turun tangan ” Habis bicara ia awasi iblis tua ini, hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh badan kemudian bersiap sedia menantikan datangnya serangan lawan- Dipandang dari luaran air mukanya tenang sekali, sama sekali tak ada perubahan, padahal dalam kenyataan secara diam2 ia sudah salurkan hawa sakti Kian Goan Ceng Khie sin kang nya hingga mencapai pada puncak. setiap saat ia dapat melepaskan satu pukulan yang mematikan- Pada saat ini hawa gusar yang berkobar dalam dada Peng Pok sio mo sudah tak terkendalikan lagi, meski demikian iapun sadar pemuda sastrawan yang masih muda dan kelihatan begitu lemah tak bertenaga sebenarnya memiliki ilmu silat tiada tandingan, ia tak berani terlalu pandang enteng musuhnya ini.
Tetapi Hoo Thian Hong adalah seorang pemuda dari generasi muda, dengan andalkan kedudukan si iblis tua dalam dunia persilatan, sebelum sianak muda itu turun tangan ia merasa tidak enak untuk berebut turun tangan lebih dahulu, apalagi saat ini berada dihadap ia tiga manusia aneh serta empat manusia beracunoleh karena itu setelah Hoo Thian Hong menyelesaikan kata2nya, Peng Pok sin mo segera tertawa seram, katanya.
“Loohu merasa kurang bernapsu untuk berkelahi dengan seorang boan-pee macam kau, setan cilik. aku lihat lebih baik kau turun tanganlah lebih dahulu, loohu akan menerima seluruh seranganmu itu” “sayang.. siauw-ya pun panya peraturan yang sudah biasa kupegang erat2” sela Hoo Thian Hong.
“Peraturan apakah itu?” “Perduli s iapapun pihak lawannya, Belum pernah aku turun tangan lebih dahulu” “Kurang ajar setan cilik kau terlalu jumawa” teriak Peng Pok sin-mo sambil mencak2 kegusaran.
“Jumawa??” tiba2 Hoo Thian Hong mendongak dan tertawa ter-bahak2 “Tidak… tidak terlalu jumawa, kalau aku tidak punya kejumawaan mana berani menantang pemimpin sepuluh manusia sesat dari rimba persilatan untuk berduel” “oooow… jadi kau benar2 hendak memaksa lohu untuk turun tangan-?” “siapa yang sedang mengajak kau bergurau?” sebenarnya, Peng Pok sin mo masih tetap mempertahankan diri untuk tidak melancarkan serangan lebih dahulu, tapi setelah Hoo Thian Hong berkata demikian, iapun tidak main sungkan2 lagi.
“Baik” bentaknya kemudian, “Kalau begitu, bersiap21ah dirimu untuk menerima seranganku.” Ditengah bentakan keras. Peng Pok sin-mo telah salurkan ilmu sakti Peng Pok Mo kang-nya.
seandainya iblis tua itu melancarkan serangannya, maka Hoo Thian Hong pun tentu akan menerima datangnya serangan dengan kerahkan tenaga sakti “kiai-Goan Ceng Khie” andalannya, siapa menang siapa kalah segera akan ditentukan dalam bentrokan kekerasan ini Disaat yang amat kritis itulah, tiba2 terdengar bentakan keras bergema memecahkan kesunyian- Bersamaan dengan suara itu melayang datang dari tengah udara sesosok bayangan merah, dialah pemimpin dari Liauwtong sam Koay, siluman pertama Toan Liong adanya.
Begitu melayang turun ia lantas meloncat ke-sisi Peng Pok sin-mo dan berkata kepada iblis tua itu.
“Untuk membunuh seekor ayam buat apa harus menggunakan golok penjagal kerbau??? untuk membereskan seorang setan cilik yang tak tahu diri dan masih bau ketek, kenapa Tocu harus susah turun tangan sendiri ?? baiklah serahkan saja kepada aku Toan Loo-toa untuk bereskan”.
Mendapat tawaran ini pikiran Peng Pek sin mo rada bergerak, segera pikirnya: “Kenapa aku tidak ijinkan Toan Loa-toa untuk turun tangan menjajal dulu kekuatan setan cilik ini? ambil kesempatan ini aku bisa mencari tahu asal usulnya dari beberapa jurus serangan yang ia gunakan”.
Karena dalam hati berpikir demikian, ia lantas tertawa seram dan menyetujui tawaran tadi.
“Baiklah” ia berkata. “Jikalau memang Toan Loote ada maksud untuk memberi pelajaran kepada setan cilik ini, hal ini malah kebetulan sekali buat diriku” Badannya bergerak dan ia segera melayang mundur beberapa tombak kebelakang, di mana ia berdiri berbareng dengan Toan Hauw sekalian- Menanti Peng Pok sin mo telah mengundurkan diri, Toan Liong siluman pertama segera melototkan matanya, dengan sinar mata buas ia awasi Wajah Hoo Thian Heng lalu tertawa seram.
“setan cilik yang tak tahu diri, siapa namamu? berasal dari perguruan mana?” hardiknya. “Ayoooh cepat sebutkan dengan jelas, biar lohupun bisa cepat2 memberi pelajaran kepadamu.” “siluman sialan, siaw-yamu bernama Hoo Thian Heng” jawab sianak muda sambil tertawa dingin, “Tentang siapakah guruku dan dari mana perguruanku, Hmmm si iblis tua itupun sudah tidak pantas untuk bertanya, apalagi kau seorang kurcaci penjilat pantat orang.. lebih baik kurangi saja bacotmu itu.” Toan Liong benar2 dibuat naik pitam oleh penghinaan ini.
ia membentak gusar.
“Anjing cilik kau tak usah banyak lagak dan jual tingkah dihadapanku, terima dahulu sebuah pukulan loohu ini.” Ditengah bentakan gusar, telapak tangannya tiba2 berputar membentuk satu lingkaran kemudian didorong ke muka, segulung angin pukulan yang maha dahsyat dan penuh dengan hawa tekanan bergulung keluar menumbuk dada Hoo Thian Hong.
sianak muda ini mendengus dingin sang badan bergerak sebat, tahu2 ia sudah menyingkir delapan depa kesamping dan meloloskan diri dari datangnya ancaman serangan itu.
Melihat sianak muda itu hanya berkelit menghindarkan diri saja dari serangannya dan tidak berani menyambut pukulan tadi, dalam anggapan Toan Liong pastilah Hoo Thian Hong sudah di buat jeri oleh kedahsyatan ilmu pukulannya sehingga tak berani menyambut. Ia jadi bangga dan perdengarkan gelak tertawanya yang nyaring dan keras.
“Hmmm – aku kira kau sianjing cilik mempunyai kepandaian yang sangat lihay sehingga berani bicara sesumbar, sombong dan jumawa. Hoee… heee… ternyata dalam kenyataan tidak lebih cuma seorang manusia yang suka bicara besar dan seorang kurcaci yang tak berani menerima seranganku barang satu juruspun ” sepasang alis Hoo Thian Hong kontan menjungkat, ia tertawa dingin tiada hentinya.
“Toan Liong ” bentaknya. “Kau anggap siauw-yamu takut kepadamu ?????” “Kalau tidak takut, kenapa tak berani menerima datangnya seranganku ini ?????…” “Haaa… haa…” sianak muda mendongak tertawa terbahak2.
“Kau harus tahu setiap hutang tentu ada pemiliknya, yang siauw-ya cari malam ini adalah Peng Pok Loo mo, persoalan ini sama sekali tiada sangkut paut maupun hubungannya dengan kalian Liauw Tong sam Koay, oleh karena itu sengaja aku berkelit dari datangnya serangan dan tidak menerima pukulan tadi, sebab kalau tidak asalkan siauwya terima pukulan tadi dengan keras lawan keras, cuma andalkan sedikit tenaga Iweekang yang kau miliki jangan harap bisa peroleh keuntungan yang di harapkan, bahkan aku takut kau. bakal menderita luka dalam yang tidak ringan ” Suatu penghinaan yang diutarakan secara halus sebagai seorang jago kawakan tentu saja Toan Liong mengerti makna dan kata2 tadi. Hawa gusar yang berkobar dalam rongga dadanya seketika memuncak. ia meraung keras dan membentak: “Setan cilik kau tak usah terlalu jumawa, terima dahulu sebuah seranganku ini” Bersamaan dengan selesainya ucapan tadi, segulung angin pukulan yang dahsyat telah menggulung keluar mengikuti dorongan telapak tangannya, hawa murni bagaikan angin puyuh dengan dahsyatnya langsung menghantam dada Hoo Thian Heng jago muda kita. Hoo Thian Heng masih menyabarkan diri, sekali lagi ia berkelit kesamping.
“Siluman tua, benarkah Kau hendak tantang aku berduel ????” bentaknya.
“Siapa yang kesudian mengajak kau bergurau” Ditengah pembicaraan itu mendadak ia mengirim sebuah pukulan lagi.
Sepasang alis Hoo Thian Hong seketika menjungkat, Ujung baju lengan kanannya di kebas dengan hawa murni “Kian Goan Ceng Khie” ia sambut datangnya serangan yang dilancarkan oleh Toan Liong tadi.
“Bluuummm.-” ditengah bentrokan keras yang berlangsung ditengah udara terjadilah suatu ledakan yang maha dahsyat bagaikan guntur membelah bumi, pasir debu ranting dan dedaunan beterbangan memenuhi udara, gulungan angin puyuh membuyar menyambar seluruh penjuru, suatu kejadian yang mengerikan dan menakutkan.
Ditengah bentrokan maha dahsyat inilah, masing-masing pihak tampak bergetar keras untuk kemudian jadi tenang kembali, se akan2 tenaga dalam yang dimiliki masing2 pihak berada dalam keadaan seimbang.
Padahal dalam kenyataan apa yang terlihat di luar tidak sama sekali benar, sebab didalam kebasan ujung baju Hoo Thian Hong tadi, ia cuma menggunakan enam bagian tenaganya belaka sementara dalam pukulannya tadi Toan Liong telah menggunakan segenap tenaga lweekang yang ia miliki.
Dalam keadaan seperti ini meski Toan Liong tidak tahu tenaga murni yang barusan digunakan Hoo Thian Hong adalah kepandaian sakti Bu-lim “Kian Goan Ceng Khie” dan tidak tahu sianak muda itu hanya menggunakan enam bagian tenaganya cukup memandang dari usia Hoo-Thian Hong yang masih muda ternyata sanggup menerima datangnya serangan dengan tenaga hampir mencapai sembilan bagian ini tanpa cidera sudah cukup membuat ia kaget, terperanjat, takut, dan ngeri.
“sebenarnya siapakah keparat cilik ini?” berasal dari perguruan manakah pikir Toan Liong didalam hati, “Memandang usianya yang masih muda ternyata memiliki tenaga lwekang yang begitu sempurna, secara bagaimana ia melatih diri sendiri..” Belum habis ia berpikir, mendadak terdengar Hoo Thian Heng tertawa dingin dan berseru: “Bagaimana? eeeei— iblis tua, apakah kau mempunyai keyakinan bisa menangkan siauw-ya mu?” sepasang mata Toan Liong kontan melotot buas, dengan sinar mata berkilat ia awasi sianak muda itu dan tertawa seram.
“setan cilik, walaupun tenaga lwekang mu luar biasa, tapi loohu tak akan jeri kepadamu, kalau tidak percaya, bagaimana kalau terima lagi sebuah seringan dari loohu” serunya.
Ditengah pembicaraan itu, diam2 kumpulkan segenap tenaga lweekang yang dimiliki, sepasang lengan berputar dan dorong sang telapak ke muka.
segulung hawa pukulan bagaikan amukan ombak ditengah samudera luas, mengiringi deruan angin puyuh dan sambaran geledek langsung menghantam dada Hoo Thian Heng: Terlihat sianak muda she Hoo kerutkan alis. sinar mata berkilat tajam dengan dinginnya, seraya mendengus bentaknya.
“Siluman tua, kalau memang kau cari mati. jangan salahkan kalau siauw-ya mu terpaksa akan turun tangan telengas” Ditengah bentakan keras, lengan kanan didorong kemuka, telapak berputar lalu memuntahkan Hawa sakti “Kian Goan CengKhie sin Kang” dengan cepat meluncur keluar menyambut datangnya deruan angin pukulan dari Toan Liong.
“Braaaak bluuummm…..” sekali lagi terjadi bentrokan dahsyat menimbulkan goncangan bumi bagaikan bumi mau kiamat, pasir, batu beterbangan memenuhi angkasa, tanah sekeliling sepuluh tombak persegi penuh dengan desiran angin puyuh, suasana pada saat itu amat mengerikan dan membuat orang jadi bergidik.
Haruslah diketahui ilmu sakti, “Kian Goan Ceng Khie sin Kang” merupakan kepandaian aneh yang mengutamakan kekerasan, dewasa ini jarang sekali ada orang Bu lim yang sanggup menerima datangnya serangan itu Dalam pada itu, meski dalam serangannya barusan Toan Liong telah menggunakan segenap tenaga yang ia miliki, tapi sanggupkah ia melawan ilmu sakti Bu- lim yang amat luar biasa ini?? Apalagi dalam serangannya barusan Hoo Thian Hong telah menggunakan tenaga saktinya hingga mencapai delapan bagianoleh karena itu, sewaktu sepasang telapak saling berbentrok satu sama lainnya Toan Liong seketika merasakan dadanya menggetar keras. seakan2 digodam dengan martil besar seberat ribuan kati, darah panas kontan bergolak dan dengan cepat menerjang keatas, sang badan dipukul mundur sempoyongan sejauh lima depa lebih.
Bersamaan itu pula sepasang lengannya terasa amat sakit hingga merasuk ketulang sumsum, se olah2 telah terkilir patah dalam bentrokan barusansungguh tidak malu Toan Liong disebut tokoh silat kalangan Hok to diantara sebuluh manusia sesat rimba persilatan, tenaga Iweekangnya betul2 hebat dan terpuji.
Berada dalam keadaan seperti ini ia tidak dibikin bingung ataupun gugup, setelah berhasil menguasahi keseimbangan badan- la segera kertak gigi menahan rasa sakit pada sepasang pergelangannya, diam2 hawa murni dsalurkan mengelilingi badan dan menekan golakan darah di rongga dada, setelah itu barulah sinar matanya dialihkan keatas wajah Hoo Thian Heng.
Dalam perkiraan siluman pertama ini, meski dalam bentrokan barusan ia tidak mendapat untung, sedikit banyak pihak lawanpun tidak akan jauh lebih baik daripada dirinya, meski tidak muntah darah, anak muda itu tentu roboh terlentang.
siapa sangka setelah ia berpaling, ternyata apa yang terbentang didepan mata jauh berada di-luar dugaan- Tampak ujung baju Hoo Thian Heng berkibar tertiup angin, ia tetap berdiri dengan angker dan gagahnya, bahkan sama sekali tidak tergetar atau bergoyang.
Ditinjau dari keadaannya jelas ia tidak terluka, bahkan terhuyung mundur barang setengah langkahpun tidak.
sampai detik ini Toan Liong siluman pertama baru sadar, walaupun usia pihak lawan masih muda, tetapi kehebatan tenaga lweekangnya telah mencapai puncak kesempurnaan yang sukar dilukiskan dengan kata2.
Berada dalam keadaan seperti ini, kendati s iluman pertama dari Liauw Tong sam Koay gagah dan terlalu pandang tinggi diri sendiripun, tak urung di buat pecah nyali dan bergidik.
Ketika itulah, siluman kedua Toan Hauw, siluman ketiga Toan Pa telah melayang datang, kemudian secara terpisah berdiri dikiri kanan toakonya, sembari diam2 mereka salurkan hawa murninya bersiap sedia atas serangan dari Hoo Thian Hong, kepada toako mereka kedua orang tua itu bertanya: “Bagaimana dengan luka itu??? apakah sangat parah ?????” “Masih untung baikan” jawab Toan Liong sambil tertawa getir dan gelengkan kepala.
setelah melihat toakonya selamat, siluman kedua dan ketiga sama2 berpaling, empat buah mata melotot buas kearah sianak muda, kemudian mendengarkan gelak tertawa yang menyeramkan.
“setan cilik ” bentak Toan Hauw siluman…
JILID 05 HAL. 32/33 HILANG ia merupakan bakat alam yang sukar dijumpai dalam Bulim selama ratusan tahun mendatang, seumpama ia tidak yakin menang, tentu saja tak akan berani bicara besar apa lagi jumawa…
Mendengar ucapan itu, air muka Toan Hauw serta Toan-Pa berubah hebat, diam2 makinya di dalam hati.
“Anjing cilik berani benar memandang enteng loohu bersaudara, bilamana malam ini kami tak bisa membereskan dirimu dan kasi sedikit hajaran, Liauw Tong sam Hiong tak akan bisa tancapkan kaki dan menjagoi dunia persilatan lagi” Tiba2 Toan Pa siluman nomor tiga maju lebih kedepansambil tertawa dingin bentaknya: “Anjing cilik yang tak tahu diri melulu bicara kosong terus apa gunanya, lebih baik kita jajal dulu kepandaian silat masing2 orang” seraya berkata sang badan mendadak meluruk kedepan, sepasang kepalan dibentangkan dan teriaknya. “sambutlah seranganku ini” Bersamaan itu pula, jurus serangan telah di lancarkan, tangan kiri dengan gerakan “Tjhiu Hwce Piepa” atau tangan sakti mementil piepa, sedangkan tangan kanan dengan gerakan “Ceng Im Jut siauw” atau Mega Hijau muncul dari gunung berbareng meluruk kemuka.
sepasang telapak dengan disertai desiran angin tajam, laksana sambaran kilat cepatnya mengancam titik kelemahan diatas dada serta lambung Hoo Thian Heng.
Begitu Toan Pa siluman nomor tiga turun tangan, Toan Hauw siluman nomor duapun menggerakkan badannya meluruk kemuka, telapak serta jari tangan digunakan berbareng, telapak kanan membabat bahu sedangkan jari tangan kiri menotok “Khie hay hiat” sebuah jalan darah mematikan- Tidak malu mereka disebut tokoh maha sakti dalam kalangan Hek to, serangan2 yang dilancarkan bukan saja aanat cepat sukar dilukiskan, bahkan mantap dan telengas.
Hoo Thian Heng belum lama tinggalkan perguruannya, dalam dunia persilatan ia tidak lebih cuma seorang prajurit tak bernama, justru peristiwa yang terjadi pada malam ini diatas tebing Pek Yan Gay di mana jago2 lihay baik dari golongan Pek to sama2 berkumpul, merupakan kesempatan yang paling bagus baginya untuk angkat nama.
Dalam hati kecil s ianak muda ini secara diam2 sudah ambil keputusan, ia hendak menggunakan kesempatan yang begitu baik pada malam ini untuk perlihatkan seluruh kepandaian maha sakti yang dimilikinya, agar para jago dari golongan sesat keder dan jeri kepadanya, dengan begitu maka nama besarnya akan tersohor dikolong langit.
oleh karena itu, meski ia melihat sangat jelas bahwasanya serangan telapak serta jari tangan Toan Hauw dan Toan Pa telah mencapai di depan mata, namun sianak muda ini masih tetap berdiri tenang2 saja seolah2 tak pernah terjadi sesuatu apapun bukan saja tidak bergerak maupun bergoyang, bahkan memandang sekejap pun tidak.
Menanti sang telapak serta jari tangan kedua orang siluman itu telah menempel dibadan, dan jaraknya tinggal dua, tiga coen dari permukaan kulit, ia baru mendengus dingin, sang badan bergeser kesamping meloloskan diri dari ancaman kemudian secepat kilat melancarkan serangan balasansepasang telapak berkelebat lewat, dengan mengeluarkan gerakan ” Han ci Hua Liuw” atau Memisah cabang menolak daun Liuw sebuah jurus serangan yang maha dahsyat secara terpisah ia mengancam jalan darah penting ditubuh kedua orang siluman itu.
Toan Hoauw, Toan Pa, turun tangan berbareng dalam perkiraan mereka meskipun tak berhasil melukai Hoo Thian Hong dibawah serangan telapak serta jari tangan mereka, sedikit banyak mereka akan berhasil memaksa sianak muda itu terdesak murdur sejauh tiga depa.
sebab menurut perhitungan mereka, seumpama sianak muda she Hoo ini tidak mundur, maka ia akan terhajar oleh serangan gabungan mereka.
sementara kedua orang silumap itu masih merasa berbangga dalam hati kecilnya, sebab mereka lihat Hoo Thian Heng tidak bergeser maupun bergerak. tiba2 pandangan mata terasa silau diikuti bayangan lawan entah dengan menggunakan gerakan apa telah lenyapkan diri, dengan begitu dua jurus serangan mereka lancarkan telah mengenai sasaran kosong.
Merasakan jejak lawan lenyap tak berbekas, ke dua orang siluman itu sadar keadaan tidak menguntungkan, sementara mereka siap berubah jurus berganti posisi, sepasang telapak Hoo Thian Heng laksana sambaran kilat secara terpisah telah menyerang datang.
JILID 05 HAL.38/39 HILANG Jikalau sianak muda itu ada maksud membinasakan Toan Hauw serta Toan Pa ketika itu, cukup asalkan ia salurkan hawa sakti “Kian-goan-tji-kang”nya dalam jurus “Hun-ci-hud siauw” tersebut, seperti halnya sikakek kelabang beracun sewaktu ada di gunung Pak- bong-san, dalam sekali jurus saja niscaya telah mati konyol.
Karena tak ada maksud berbuat demikian inilah, ketika Toan Houw serta Toan Pa memisahkan diri kekanan dan kekiri, Hoo Thian Heng segera tarik kembali serangannya dan tertawa ter-bahak2 dengan lagak sombong.
“Ha ha ha orang2 rimba persilatan mengatakan ilmu silat serta tenaga lweekang yang dimiliki Liauw-tong sam Koay amat dahsyat dan tak ada tandingan, siapa sangka cuma begitu saja. kalian tidak lebih hanya manusia bernama kosong yang tak sanggup menerima serangan barang sejuruspun-” Habis berkata kembali ia mendongak dan tertawa terbahak2.
Merah padam selembar wajah Toan Pa, saking jengahnya hampir boleh dikata wajah mereka mirip babi panggang, saking mendongkolnya hampir-hampir marah mereka mau meledak rasanya.
Dengan penuh kegusaran Toan Hauw siluman nomor dua berteriak marah: “Anjing busuk yang tak tahu diri kau tak usah jual lagak didepan kami. hmm kau kira kami benar2 tak sanggup mengalahkan diri mu ??? justru lohu berdua mengingat kau masih muda dan merupakan generasi belakangan, maka sengaja kami mengalah dua jurus untukmu. Hmm dengan andalkan kepandaian silat yang loohu bersaudara miliki, tidak mungkin kalau sampai takuti seorang setan cilik yang belum hilang bau teteknya seperti kau. Tak usah kaujual lagak dan jumawa lagi ” Ditengah raungan keras, sang badan mencelat kemuka, kembali ia melancarkan rangsakan ke arah Hoo Thian Hong.
sepasang telapak berderak berbareng, tangan kanan dengan jurus “Clauw Kew Thian Bun” atau Bersembah sujud Pintu Langit, menotok jalan darah “Sua-keng-hiat” di tubuh lawansementara itu tangan kirinya dengan gerakan “Kiem Thau Cau” atau Macan Tutul pentang Cakar kelima jari tangannya dipentangkan lebar2 mencengkeram jalan darah “Gian-cing hiat” diatas bahu.
Dalam pada itu kebetulan Toan Liong siluman pertama telah selesai mengatur pernapasan, menjumpai Toan Hauw turun tangan seorang diri, ia lantas sadar kalau saudaranya bukan tandingan Hoo Thian Hong, buru-2 teriaknya: “Gunakan sam Cay” sembari berteriak. la sendiripun segera mencelat kedalam kalangan- Mendengar teriakan itu, buru2 Toan pa mengerem gerakan tubuhnya dan berdiri dihadapan Hoo Thian Hong.
Dalam sekejap mata tampaklah enam buah bayangan telapak berputar, menyambar tiada hentinya mengikuti kedudukan sam Cay yang terdiri dari Langit, Bumi dan Manusia.
Jurus serangan amat ganas, tiap gerakan telengas, dengan hebat dan dahsyatnya merangsek tempat2 mematikan disekeliling tubuh Hoo Thian Hong.
Haruslah diketahui rangkaian barisan sam-Cay Giang Tin ini telah membuang banyak pikiran serta keringat Liauw-tong sam Koay, mereka melatih, mempelajari dan mencari selama banyak tahun, hingga tahun permulaan mereka baru berhasil ciptakan kepandaian ini, jadi secara resmi baru malam ini ilmu tersebut muncul dalam dunia persilatan- Barisan telapak sam Cay Ciang Tin ini bukan saja memiliki perubahan sangat banyak, bahkan kelihayannya tiada terhingga, setiap jurus serangan setiap gerakan tentu aneh, sakti dan telengas.
Begitu barisan sam Cay Ciang Tin dibentangkan, seketika itu juga Hoo Thian Hong terkurung dalam lapisan bayangan telapak. tiga sosok bayangan manusia berputar, bergerak maju, mundur dengan suatu gerakan yang manis dan tepat.
Bagian 07 Kendati Hoo Thian Heng adalah ahli waris seorang tokoh sakti dunia persilatan, kepandaian silat yang ia miliki amat sakti dan luar biasa, setelah menjumpai barisan Telapak Sam cay clang Tin yang dipergunakan Liauw-tong Sam Koay, tak urung hatinya dibikin terperanjat juga segera pikirnya: “Ilmu silat yang dimiliki Liauw tong Sam Koay betul2 luar biasa, aku tak boleh terlalu pandang enteng diri mereka ” Karena punya pikiran demikian, ia tak berani berayal lagi, hawa murninya buru2 disalurkan dari pusar “Tan Thian” mengelilingi seluruh badannya, setelah itu badannya bergerak serasa mega yang berjalan diatas angkasa, enteng, ringan, Cepat dan gesit, berada ditengah kurungan bayangan telapak Tiga manusia aneh yang menggetarkan rimba persilatan, ia terobos kesana berkelit kemari, disamping itu, telapak tiap kali mengirim serangan balasan bilamana menjumpai titik2 kelemahan-Dalam sekejap mata dua puluh jurus telah berlalu Walaupun Liauw-tong Sam Koay pada saat ini sudah kerahkan segenap kehebatan serta kedahsyatan barisan Sam cay ciang Tin nya, bukan saja gagal mencari kemenangan, bahkan untuk menowel ujung baju sianak muda itupun tak bisa.
Haruslah diketahui Hoo Thian Heng adalah seorang jago muda berbakat alam, bukan saja ia memiliki tulang bagus untuk berlatih silat, otak nyapun encer, keCerdasan otaknya lebih tinggi setingkat daripada orang lain.
selama dua puluh jurus terkurung dalam barisan sam Cay Ciang Lin, ia selalu hadapi tiap gerakan dengan sikap tenang, dalam pada itu semua keistimewaan serta perubahan2 dahsyat dari barisan tadi mulai dipelajari, diselami kemudian dipahami.
Dan kini ia berhasil nemahami keistimewaan serta kunci2 kehebatan dari barisan sam Cay Ciang Tin tersebut, dia mulai tidak sabaran dan tak mau buang waktu lebih lama lagi untuk bertarung melawan ketiga orang itu.
Mendadak ia mendongak dan perdengarkan suitan nyaring, dan lantang….
suitan itu keras bagaikan pekikan naga sakti keras menggema seluruh angkasa memantul kese-luruh lembah dan menusuk pendengaran tiap manusia.
Ditengah suitan itulah, mendadak gerakan tubuhnya berubah, sang badan mulai melayang sebentar ketimur, sebentar kebarat cepatnya laksana kilat, sepasang lengan menari kian kemari diiringi tenaga desiran, babatan yang luar biasa.
Ternyata pada saat ini Hoo Thian Hong telah mengeluarkan ilmu pukulan andalannya, “Hian-thian Ciang”.
Begitu rangkaian ilmu telapak Hian Tian ciang dibentangkan, belum sampai berjalan sepuluh jurus Toan Liong, Toan Hauw serta Toan Pa sudah dipaksa hingga kalang kabut dan terpaksa harus kerahkan segenap tenaganya untuk pertahankan posisi masing2 jelas perubahan barisan sudah menunjukkan tanda tanda kekacauan JILID 5 HAL46 s/d 47 HILANG Kelihatan jelas serangan tersebut bakal bersarang telak.
tiba2 ia buang badannya kesamping. dengan suatu gerakan yang manis sianak muda she Hoo itu berkelit dari datangnya serangan sementara sebuah serangan balasanpun telah dilepaskan.
sepasang telapak diputar kemudian membalik dengan gerakan “Ya Ma Han Cong” atau Kuda Liar membiak suri secara terpisah satu ke kiri yang lain ke kanan menyodok lambung Toan Liong serta Toan pa.
Jurus serangan ini bukan saja digunakan amat kritis bahkan jauh diluar dugaan kedua orang siluman itu.
Pada saat ini, asalkan telapak kedua orang itu diteruskan membabat kebawah, niscaya Hoo Thian Hong tak bakal lolos dari ancaman maut.
Tetapi Toan Liong serta Thoan Pa tidak berbuat demikian, sebab seandainya telapak mereka ditekan kebawah meneruskan serangannya, meskipun Hoo Thian Hong berhasil mereka bunuh namun mereka berduapun bakal terhajar telak oleh serangan balasan simak muda itu dalam keadaan seperti itu merekapun tak mungkin bisa hidup lebih jauh.
Maka dari itu, walaupun boleh dikata jurus serangan ini digunakan Hoo Tian Hong dengan menempuh bahaya, tapi dalam istilah kaum persilatan inilah yang dibuat: Membeli serangan lawan untuk menolong diri sendiri Dalam keadaan seperti ini, walaupun Toan Liong, Toan Pa sedang amat gusar dan mendendam sebab kematian saudara mereka Toan Hauw ditangan Hoo Thian Hong, dan mereka berniat untuk membinasakan pemuda itu, namun merekapun tak ingin ikut berkorban, mereka tak sudi adu jiwa dengan musuh besarnya.
Karena punya pikiran demikian, sewaktu Toan Liong serta Toan Pa melihat sepasang telapak Hoo Thian Hong menyodok datang dan secara terpisah mengancam lambung, hati mereka terperanjat, buru2 mereka enjot badan masing2 orang melayang mundur tujuh delapan depa ke belakang.
setelah kedua orang siluman itu mengundurkan diri, Hoo Thian Hong pun segera meloncat bangun, diam2 bisiknya dalam bati. “sungguh memalukan, sungguh mengecewakan” Agaknya Toan Liong serta Toan Pa sangat tidak puas dengan keadaan yang mereka terima saat ini, melihat sianak muda itu meloncat bangun, mereka berdua kembali merangsek maju, empat telapak menari, berputar silih berganti, dengan angin puyuh menyapu seluruh jagad melanda datang dengan hebatnya.
Terhadap datangnya serangan, Hoo Tnian Heng tidak menangkis ataupun balas menyerang, ia hanya berkelit dan melayang kesamping sejauh delapan depa kemudian perdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat sinis.
“siluman tua ” bentaknya. “Masih bisa terhitungkan ucapan yang kau utarakan tadi ???” “Kenapa tidak berlaku ???” seru Toan Liong penuh kegusaran- “Kalau memang masih berlaku, ayoh cepat sipat telinga simpan ekor dan enyah kembali ke-wilayah Liauw Tong hm .
hee…heee . . . mungkin kalian masih ingin melanjutkan pertarungan ini ” Toan Liong tertawa seram, suaranya tinggi melengking bagaikan tangisan kuntilanak ditengab malam buta, begitu mengerikan sampai2 mendirikan bulu roma semua orang.
“setan cilik ” teriaknya penuh rasa dendam. “seandainya kau tidak membinasakan Jie-te kami tentu saja ucapan itu masih berlaku, tapi sekarang, jie-te kami telah menemui ajalnya di tangan kau setan cilik, dendam berdarah sedalam lautan ini harus kami tuntut balas” “oooouw…jadi kalian mau membalas dendam?” Dengan wajah sinis dan pandang remeh Hoo Thian Hong mendongak tertawa ter-bahak2 “Haaa…. haaaa… bahkan kalian bertiga turun tangan bergabungpun masih bukan tandingan siauw ya mu, apalagi sekarang kalian tinggal berdua, kalau benar2 ingin membalas dendam, aku lihat lebih baik kalian pulang lalu ke Liauw tong, disana berlatihlah rajin selama sepuluh tahun, setelah itu baru cari s iauw ya kembali untuk menuntut balas” Mendengar ucapan itu pikiran Toan Liong rada bergerak.
segera pikirnya: “Ilmu silat yang dimiliki anjing cilik ini memang lihay dan luar biasa, sampai2 barisan sam Cay Tin yang kami bertiga latih dengan susah payah selama banyak tahunpun tak berhasil menangkan dirinya, lagipula sekarang Loo jie sudah mati, tinggal aku serta Loo-sam berdua, kami berdua mana bisa menangkan dirinya lagi?? lebih baik sudahi saja kesempatan yang ini JILID 5 Hal 53 s/d 54 HILANG BERBICARA sampai disitu, ia merandek sejenak untuk tukar napas, setelah itu terusnya.
“Aku rasa toocu tentu memahami bukan akan kata2 yang berbunyi gunung nan hijau, air tetap mengalir, seorang Koencu ingin membalas dendam, sepuluh tahunpun masih belum terlambat, perjanjan kami lima tahun kemudian akan segera berlangsung dalam sekejap mata, biarkan anjing cilik ini hidup lima tahun lebih lama pun tiada halangan” Dari kata2 itu Pan Pok sin mo dapat memahami maksud Toan Liong, disebabkan lihaynya ilmu silat yang dimiliki pihak lawan, dan menyadari bahwa dirinya bukan tandingan, Liauw tong Jie koay hendak pinjam alasan janji lima tahun untuk mengundurkan diri, mereka hendak gunakan waktu selama lima tahun ini untuk mendalami ilmu silat dalam usahanya balaskan dendam Jie-koay dikemudian hari.
Menurut cengli, cara berpikir dari Toan Liong ini sangat tepat dan tidak salah, sebab dalam kenyataan ia cuma berbuat demikian saja untuk kemudian mempersiapkan diri dalam pembalasan dendam kemudian hari. kalau tidak mengikuti emosi belaka bisa jadi balas dendam tak berhasil, dua lembar jiwa sendiri ikut melayang.
Tetapi, Peng Pok sin mo punya cara pikir yang berbeda, ia punya maksud2 tertentu. Dalam anggapannya dengan usia Hoo Thian Hong yang begitu muda terbukti sudah memiliki ilmu silat amat lihay, lima tahun kemudian ilmu silatnya tentu peroleh kemajuan pula bahkan kemungkinan besar dikemudian hari kepandaiannya jauh lebih dahsyat. Bila sampai terjadi keadaan ini, siapa yang bisa melawan dan menandingi dirinya?? Masih ada lagi, para tokoh silat yang ikut menghadiri pertemuan diatas tebing Pek yan-Gay ma lam ini, walaupun dewasa ini belum pada munculkan diri tetapi dalam hatinya ia sudah ada perhitungan mereka pasti jago2 lihay yang sukar dilawan dan berkepandaian lihay.
seumpama kedia orang siluman itu tak mengundurkan diri, andalkan kekuatan mereka berenam kira2 masih bisa berdiri seimbang dengan kekuatan para tokoh silat dari pelbagai perguruan atau partai, kalau tidak pihaknya akan tinggal dia beserta tiga manusia beracun dari wilayah Biauw kendati belum tentu mereka akan kalah dari kekuatan pihak lain, tetapi jelas dalam hal kekuatan pihaknya bertambah lemah.
oleh karena itu baru saja Toan Liong menyelesaikan kata2nya, Peng Pok sin- mo telah tertawa seram.
“Toan lootoa, kau terlalu jujur…” serunya.
Mendadak sepasang matanya melolot buas dan memancarkan serentetan cahaya dingin ya tajam, ujarnya lebih jauh: “Loohu tidak percaya, dengan andalkan kekuatan kita berenam tak bisa bereskan seorang keparat cilik, kalau betul demikian, buat apa di kemudian hari kita cari nama dan berkelana lagi dalam dunia persilatan ?” Hoo Thian Hong yang mendengar ucapan itu jadi sangat terperanjat, segera pikirnya.
“Aduuuh celaka kalau keenam orang gembong iblis ini betul tak perduli akan gengsi lagi dan meluruk aku berbareng, sekalipun ilmu silatku lebih lihay pun tak akan sanggup aku seorang menahan mereka berenam ” Hoo Thian Hong memang sadar seandainya keenam orang gembong iblis itu turun tangan berbareng, bukan saja ia tak akan kuat menahan bahkan bisa binasa di tangan mereka, tapi urusan sudah jadi begini, mana boleh ia perlihatkan rasa jeri ?? Lagipula malam ini merupakan suatu kesempatan baik baginya untuk getarkan seluruh dunia persilatan, bahkan kitab pusaka “YOE LlNG PU KIP” sangat mempengaruhi jatuh bangunnya umat Bu-lim.
Jikalau kitab pusaka “YOE LING PIT KIP” ini sampai kena direbut keenam orang gembong iblis ini, kemudian tiga lima tahun lagi mereka muncul dengan bekal ilmu sakti, waktu itu siapa yang bisa melawan mereka ? bukankah suatu badai darah akan melanda seluruh umat persilatan ?? Karena punya pikiran demikian, sepasang alisnya langsung menjungkat, dari sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat, perlahan2 tapi mantap menyapu keenam orang gembong iblis itu satu persatu.
“Maju ” pada saat itulah. tiba2 Peng Pok sin- mo membentak keras.
Bersamaan dengan suara bentakan, tubuhnya bergerak lebih dahulu kedepan, sepasang telapak diayun berbareng merangsek tubuh Hoo Thian Hong.
Melihat pemimpin mereka sudah maju,Biauw Kiang sam Tok atau manusia beracun dari wilayah Biauwpun buru2 maju kedepan ikut melancarkan serangan gencar.
Toan Liong, Toan pa ragu2 sejenak, akhirnya merekapun ikut menubruk sambil mengirim pukulan.
Enam gembong iblis yang rata2 merupakan tokoh sakti kalangan Hok to dewasa ini, sekarang turun tangan bergabung, kekuatan serta kehebatannya benar2 luar biasa sukar dibayangkan dengan kata2.
Seketika itu juga dua belas buah bayangan telapak berkelebat, menyambar dan menari memenuhi seluruh angkasa, angin pukulan menderu2 hawa serangan bagaikan ombak dahsyat ditengah2 samudra menggulung tiada habisnya,jurus serangan gerak pukulan semuanya mengarah jalan darah serta bagian tubuh penting dari sianak muda she Hoo itu.
Berada ditengah kurungan para tokoh persilatan yang lihay, Hoo Thian Hong tak berani berlaku ayal, ia segera mendongak perdengarkan suitan nyaring.
Ditengah suitan nyaring itulah, sang badan laksana kilat meluncur kedepan menyongsong datang nya serangan, ilmu telapak maha sakti Hian Thian-ciang-hoatpun segera dimainkan dengan hebat.
sinelayan dari sungai Goan kung Tong soei Kiat serta sipedang tunggal dari sian-hee san, Yauw Kie yang selama ini bersembunyi dibelakang batu karang, walaupun tak bisa menebak asal usul dari Hoo Thian Hong, namun karena mereka dapat lihat secara bagaimana ia melawan barisan sam Cay-tin dari Liauw tong sam- Kong kemudian membinasakan Toan Hauw, kemudian melihat pula s ianak muda itu jalan bersama2 Bong-san Yen-ho, kedua tokoh silat ini berani memastikan kalau ia adalah jagoan dari kalangan lurus.
Kini melihat enam orang gembong iblis menggabungkan diri untuk meluruk dia seorang diri, hati mereka jadi sangat terperanjat.
Mengetahui ilmu silat keenam orang gembong ilbis ini sangat lihay, terutama ilmu sakti Peng-Pok s in Kang dari Peng Pok sin- mo, serta ilmu beracun dari Biauw-kiang sam Tok, kendatipun Hoo Thian Hong memiliki ilmu silat lebih lihaypun jangan harap bisa menangkan keenam orang iblis itu.
Sementara si nelayan dari sungai Goan kang serta sipedang tunggal dari Sian Hee-san siap JILID 5 HAL 60 S/D 61 HILANG kedua, manusia racun ketiga melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri, mereka sadar pemuda sastrawan yang ganteng dan kelihatan lemah lembut ini sebenarnya merupakan musuh tangguh yang susah dilayani.
Walaupun nama besar Biauw Kiang Sam Tok terderet diantara Bu lim Sip Shia sepuluh manusia sesat dari Rimba Persilatan, sepanjang hidup malang melintang dalam Bu lim dengan segala perbuatan kejinya, tetapi setelah malam ini berjumpa dengan Poei Hong, mereka merasa jeri dan tak berani turun tangan secara gegabah berdiri ter-mangu2 beberapa tombak dari sisi kalangan, tak seorang msnusiapun berani berkutik.
Dalam pada itu pertarungannya yang berlangsung antara Hoo Thian Heng melawan Peng Pok Sin mo beserta Toan Liong, Toan Pa berjalan semakin seru.
Tampak tubuh sianak muda itu melayang ke sana kemari dengan ringannya, sebentar ke Timur sebentar lagi keBarat, berada ditengah kurungan bayangan telapak Peng Pok Sin-mo serta Toan Liong, Toan Pa yang memenuhi angkasa, ia selalu berkelebat secepat kilat, membuat orang jadi kebingungan dan kelabakan sendiri…
Sepasang telapak berputar silih berganti, jurus2 serangan terdahsyat dari ilmu telapak IHianThian ciang meluncur keluar tiada habisnya, makin lama pukulannya makin gencar dan semakin mendahsyat.
Dalam sekejap mata tiga puluh jurus telah lewat, walaupun Peng Pok sin mo serta Toan Liong, Toan Pa telah mengerahkan segenap kekuatan serta kepandaian yang dimiliki, tetap tak berhasil memaksa Hoo Thian Hong berdiri seimbang dengan mereka.
selewatnya tiga puluh jurus, Hoo Thian Hong mulai tidak sabaran, mendadak ia bersuit nyaring, suaranya keras dan nyaring bagaikan pekikan naga sakti, membuat hati orang tergetar keras.
Ditengah suitan nyaring itu, telapak kirinya mendadak mengeluarkanjurus Koen Tuen Jut Kay atau Jagad Bumi Baru Terbuka, hawa pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra langsung membabat kearah Toan Liong serta Toan Pa.
Merasakan datangnya serangan ini amat dahsyat dan sangat luar biasa, Toan Liong, Toan Pa tak berani menerima dengan keras, buru2 mereka berpisahan satu kekanan yang lain kekiri dan melayang mundur dua depa kebelakang.
Melihat Toan Liong, Toan Pa berkelit kesamping. Hoo Thian Hong segera buyarkan serangan telapak kirinya, lalu berubah gerakan dan langsung mengancam lima buah jalan darah penting diatas dada Peng Pok sin mo.
Peng Pok sin-mo sangat terperanjat, ia lihat dari ujung kelima jari tangan Hoo Thian Hong memancar keluar lima gulung asap putih yang tebal, ia kenali kepandaian ini sebagi “Kian Goan Tji Kang”.
Buru2 badannya menjatuhkan diri kebelakang, sepasang kaki dengan cepat mental permukaan tanah kemudian dengan badan hampir menempel diatas tanah meleset beberapa tombak kebelakang.
Hoo Thian Hong mendengus dingin, ia siap menyusul kedepan atau secara tiba2 desiran angin tajam menyerang datang dari belakang, Toan Liong. Toan Pa secara terpisah dari kiri kanan telah nyelonong masuk.
-ooo00ooo- Jilid 6 SEPASANG alis sianak muda itu menjungkat kaki bergeser cepat, laksana sambaran kilat cepatnya ia sudah memutar diri sebesar seratus delapan puluh derajat. “Siluman tua kau cari mati” hardiknya lantang.
Ditengah bentakan yang nyaring, sepasang telapak bekerja cepat, tenaga pukulan Kian Goan-Cie Kang telah meluncur keluar dari ujung jarinya sepuluh gulung asap putih yang tebal dan tajam secara terpisah menyodok kearah jalan darah penting didada Toan Liong serta Toan Pa.
Dua orang siluman dari Liaow-tong ini jadi kaget, mereka sadar keadaan tidak menguntungkan, sementara sang badan sedang melayang ke samping untuk menghindar, tiba2 beberapa buah jalan darah penting didadanya terasa sesah amat sakit, napasnya jadi sesak dan tak ampun lagi mereka menjerit kesakitan.
Ditengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati itulah, tubuh mereka roboh keatas tanah, darah segar muncrat keluar dari mulut, jantung serta urat nadi pada putus dan binasalah kedua orang siluman itu seketika itu juga.
Mimpipun Peng Pok Sin mo tidak menyangka pemuda sastrawan yang berdiri dihadapannya saat ini telah berhasil menguasahi ilmu jari “Kian Goan cie Kang” yang luar biasa saktinya itu.
sementara Biauw-kiang sam Tok pun dibuat pecah nyali, mereka berdiri menjublak dan termangu oleh kehebatan ilmu sakti lawan, dengan pandangan bodoh diawasinya wajah Hoo Thian Hong tak berkedip.
Bagaimanapun juga Peng Pok sin-mo tidak malu disebut pemimpin dari seluruh manusia sesat rimba persilatan, walaupun hatinya sedang terperanjat dan ketakutan setengah mati, namun air mukanya tetap tenang2 saja sambil menatap wajah anak muda itu, ia tertawa seram.
“Setan cilik, apa hubunganmu dengan Lam-hay Hiap Kee ?” tegurnya.
Ternyata ilmu jari Kian Goan cie Kang ini sudah pernah menggemparkan dunia persilatan pada seratus tahun berselang, kepandaian tersebut merupakan ilmu andalan Lam hay Hiap Kee si saudagar kosen dari Lam-hay, salah satu diantara Ngo Lwee Ngo Khie. Lima manusia aneh dari kolong langit.
Delapan puluh tahun berselang, ketika Peng-Pok sin- mo untuk pertama kalinya munculkan diri dalam dunia persilatan, ia pernah menyaksikan sendiri secara bagaimana Lam-hay Hiap Kee membinasakan tujuh orang tokoh s ilat dari kalangan Hek to yang tersohor akan kekejiannya pada waktu itu dengan ilmu jari Kian Goan- Cie kang.
oleh karena itu, sewaktu ia melihat dari kelima jari Hoo Thian Hong yang direntangkan meluncur keluar lima gulung asap putih yang tebal dan tajam, si iblis sakti Bayangan es ini segera kenali sebagai ilmu jari Kian Goan cie Kang. Terdengar Hoo Thian Hong mendongak tertawa ter bahak2.
“Haaa…haaa – buat kami bangsa kaum pedagang, yang dibicarakan adalah untung ruginya suatu pekerjaan, selama nya tak pernah mengungkap soal hubungan asal-usul, kalau tidak secara bagaimana suatu perdagangan bisa diselesaikan dengan memuaskan? kalau rugi misalnya siapa yang mau ganti?” Ia merandek sejenak wajah yang ganteng segera berubah membesi, bentaknya lebih jauh dengan suara lantang: “Eeei iblis tua kalau malam ini tidak kau bereskan dahulu hutang2 yang telah kau buat atas diri s ipeluru sakti Tong-hong Keen beserta sepasang malaikat dari Gurun Pasir, jangan harap kau bisa berlalu dari tebing Pek Yan Gay dalam keadaan selamat” Walaupun Hoo Thian Hong tidak menerangkan apa hubungannya dengan Lam hay Hiap Kee si saudagar kosen dari Lam-hay, tetapi bagi orang2 yang sudah kenal akan kebiasaan si saudagar kosen tersebut tentu bisa meraba asal usul s ianak muda ini dari ucapannya barusan.
Walaupun pada delapan puluh tahun berselang ketika untuk pertama kalinya terjun kedalam Bu lim, Peng Pok sinmo pernah berjumpa satu kali dengan Lam-hay Hiapkee, tetapi ia sudah banyak mendengar akan keistimewaan sijago tua itu dalam penbicaraan, tokoh silat dari Lamhay itu selalu masukkan unsur2 perdagangan setiap ucapannya.
Dengan ucapan Hoo Thian Hong barusan tentu saja Peng Pok sin- mo mengerti amat jelas siapakah sianak muda itu Jelas dia adalah ahli waris dari si saudagar kosen dari lautan – selataniblis tua itu mulai mempertimbangkan diri, Liauw tong sam kay telah binasa semua, sedang Biauw-kiang sam Tok mati kutunya sejak kemunculan si sastrawan tampan berbaju putih, dari sikap tiga manusia beracun itu gembong iblis tua inipun bisa menduga pastilah anak muda berbaju putih itu bukan manusia yang gampang diganggu.
Kalau tidak dengan kepandaian beracun yang dimiliki Biauw Kang sam Tok kenapa mereka begitu ketakutan dan mati kutu?” Selesai mempertimbangkan keadaan, si iblis tua itu mulai mendapat gambaran, ia tahu keadaannya pada malam ini jauh lebih banyak bahaya daripada rejeki, kemungkinan besar tebing Pek Yan Gay, ini merupakan tempat kubur tulang belulangnya.
Jangan dipandang Peng Pok sin- mo malang melintang dalam Bu- lim tanpa tandingan, pada saat ini ia mengeluh, takut dan merasa ngeri, rasa bergidik mulai menyelimuti seluruh benak nya.
Ia cuma bisa berdiri menjublek dan menatap wajah si anak muda itu dengan ter-mangu2. semut, binatang terkecilpun tidak ingin mati apalagi manusia.
Peng Pok sin- mo sadar, dengan andaikan kepandaian silat yang dimilikinya ia masih bukan tandingan Hoo Thian Hong, namun iapun tak mau terima kematian begitu saja. setelah tertegun beberapa saat, mulai bulatkan tekad, sambil gertak gigi pikirnya: “Kenapa aku tidak kerahkan segenap kepandaian yang kumiliki untuk adu jiwa dengan setan cilik ini ?” Karena berpikir demikian, sepasang matanya langsung melotot buas, dengan wajah penuh hawa napsu membunuh ia awasi Hoo Thian Hong tajam2. setelah itu perdengarkan gelak tertawanya yang amat menyeramkan.
Suara tertawanya begitu mengerikan bagaikan jeritan kuntilanak di tengah malam buta, bukan saja amat menusuk pendengaran bahkan membuat hati orang bergidik dan ketakutan.
“setan cilik terimalah seranganku ini” teriaknya keras.
Ditengah bentakan sang badan bergerak ke-depan, sepasang telapak dengan disertai hawa pukulan yang maha dahsyat langsung menghantam diri Hoo Thian Hong.
Jago muda kita mengerti, dalam keadaan seperti ini iblis tua itu sudah punya maksud untuk mengadu jiwa, meski ia tidak jeri Hoo Thian Hong tak ingin berlaku gegabah, ia tertawa dingin, badannya berkelebat kesamping meloloskan diri dari datang nya ancaman.
“Tahan” mendadak dari samping kanan kedua orang itu berkumandang datang suara bentakan seseorang.
Bentakan itu sangat keras menggetarkan telinga, jelas suara tadi dipancarkan oleh seorang tokoh silat yang memiliki tenaga Iweekang amat sempurna.
Hoo Thian Hong maupun Peng Pok sin- mo tertegun, kemudian masing2 menarik kembali serangannya dan melayang mundur beberapa langkah kebelakang, setelah itu berbareng menengok kearah mana berasalnya suara tadi.
Terlihatlah dari belakang sebuah batu karang besar kira2 dua tombak disisi kanan berkelebat keluar bayangan manusia tiga lelaki dan satu perempuan- Gerakan mereka sangat cepat, terasa angin dingin berkelebat lewat, tahu2 ketiga orang lelaki dan seorang wanita itu sudah berdiri disisi Peng Pok sin- mo. siapakah keempat orang itu ? Mereka adalah kauw cu serta Hu Kauw cu dari perkumpulan im Yang Kauw, Im- yang siauw su atau sipelajar im Yang, Go Tiong Kian, in Tong sian cu atau Dewi In Tong, Mo Yauw beserta Hu hoat atau pelindung mereka Keen Hay Kiau Go atau Ikan Hiu Emas dari laut Keen hay soe Keen dan Ketua ruangan bagian hukuman perkumpulan “Thiat Bian Giam Loo” atau si raja akhirat berwajah besi Shaw Goan ciang.
Menjumpai keempat orang itu berdiri disini Peng Pok sinmo, Hoo Thian Hong lantas mengira mereka datang untuk membantu iblis tua itu, tak terasa ia perdengarkan dengusan dinginnya “saudara2 sekalian munculkan diri menghalangi pertarungan kami, apakah kalian ada maksud membantu iblis tua itu ???” tegurnya dingin.
“Kemungkinan memang ada maksud berbuat demikian, hanya saja untuk sementara waktu masih belum bisa diputuskan” jawab lm yang siuw -su tertawa. Hoo Thian Hong tertegun ia segera awasi wajah orang tajam2.
“siapakah anda ??? apa maksudmu dengan perkataan barusan??” tanyanya.
“Loohu adalah Im yang Kauw cu, Ci Tiong Kian dengan gelar sipelajar lm Yang, Hoo sauw hiap sebagai ahli waris dari Lam hay Hiap-kee salah seorang diantara lima manusia aneh dari kolong langit tentu pernah mendengar nama kecil ku bukan “.
“ooooauw”. mendadak Hoo Thian Hong mendongak dan tertawa ter bahak2 “Haaaaa . . haaaaa . . haaaa . . . aku kira manusia mana yang begitu berani-berani menghalangi maksudku, tak tahu kiranya Im- Yang Kauw cu yang nama besarnya telah menggemparkan sungai telaga” “Bocah cilik kalau bicara sedikitlah tahu akan rasa sungkan- ” tegur Im- Yang siuw-su dengan wajah membesi. “Hmm, kau kira loohu punya banyak waktu senggang untuk ikut mencampuri urusan orang lain? aku cuma ada beberapa perkataan hendak dibicarakan dengan Thian bun Toocu” “Hoeee . . . heeee . . .kalau memang demikian, silahkan kauwcu berbicara dengan dirinya”.
Im Yang siuwsu mengangguk. tiba2 ia berpaling kearah Peng Pok sin- mo dan bertanya dengan suara dingin- “Apakah peta petunjuk mustika itu benar2 telah dirampas orang?” Mendapat pertanyaan ini. pikiran Peng Poksinmo rada bergerak, sebuah rencana bagus segera berkelebat dalam benaknya, ia berpikir: “situasi yang terbentang pada saat ini sangat tidak menguntungkan diriku, kenapa aku tidak menggunakan peta petunjuk mustika itu sebagai umpan untuk menarik Im Yang siuwsu kepihak ku?, setelah menghadapi setan cilik itu urusan baru dibicarakan lagi …” Karena berpikir demikian, ia lantas tertawa seram dan mengangguk.
“Tidak salah peta petunjuk mustika itu memang sudah dirampas oleh seorang gadis ingusan sewaktu aku tidak bersiap sedia, meski demikian-..” “Kenapa?” Peng Pok sin mo tertawa seram.
“Dimana letak tersimpannya kitab pusaka itu sudah kuhapalkan didalam benak, asalkan-..” Berbicara sampai di situ mendadak ia membungkam.
Im Yang Siuuw-su bukan manusia sembarangan, walaupun Peng Pok Sin- mo tidak meneruskan kata2nya, tetapi apa maksud sebenarnya dari iblis tua itu sudah diketahui olehnya.
segera ia tersenyum, katanya.
“Asalkan aku suka bekerja sama dengan dirimu untuk pukul mundur musuh tanggUh, bukankah kau akan serahkan kitab pusaka itu untuk dipelajari ber-sama2?” “sungguh tak malu Ci-heng disebut ketua sebuah perkumpulan besar, perkataanmu tepat sekali” puji Peng Pok sin- mo tertawa.
“Tak usah Toosu terlalu memuji diriku tetapi…ucapan dari toosu barusan tak bisa membuat aku orang she Ci percaya seratus persen bagaimana baiknya?” Air muka Peng Pok sin mo segera berubah jadi amat serius.
“Tentang soal ini harap kauwcu boleh berlega hati, loohu tak akan berani membohongi diri kauw cu” katanya.
Im Yang siuw cu termenung beberapa saat, akhirnya ia mengangguk.
“Baiklah tiada halangan bagiku untuk sementara mempercayai perkataanmu, tetapi …” Mendadak wajahnya berubah amat serius, ia menambahkan- “Kalau kau berani tidak jujur, jangan harap kau bisa lolos dari cengkeraman perkumpulan kami” Bicara sampai disitu, ia lantas berpaling ke-arah Hoo Thian Hong dan menjura penuh hormat.
“Hoo sauw-hiap.” katanya. “sebenarnya tidak patut bagi aku orang she Ci untuk mencampuri persoalan diantara kalian berdua, tetapi memandang diatas kitab pusaka itu mau tak mau terpaksa aku orang she ci harus ikut campur tangan, Siauw hiap mau bukan untuk sementara waktu kau beri muka buat diriku? memandang diatas wajah aku orang she ci, hutang piutang ini batu ditagih dikemudian hari ?” “Haaaa-haaaa..,” Hoo Thian Heng mend ongak tertawa terbahak2 “Apakah kau benar percaya bahwa setiap ucapan dari iblis tua itu bisa dipercaya” “Meskipun orang she ci tak berani mempercayai ucapannya seratus persen, tapi aku rasa ia belum punya keberanian untuk membohongi diri ku” “Kauwcu. kau terialu percaya pada kekuatanmu sendiri ” seru Hoo Thian Heng sambil tertawa dingin.
“Aku mau percaya pada kekuatanku sendiri atau tidak, apa sangkut pautnya dengan diriku?” balas Im Yang siuw-su dengan air muka berubah hebat.
“cayhe sedang bikin perhitungan dengan iblis tua ini, lalu apa sangkut pautnya pula antara persoalan ini dengan diri Kauw cu?” “Bocah ingusan, kau mau apa?” Tiba2 Im Yang siuw-su membentak.
“Aku minta kau cepat enyah dari sini dan tak usah mencampuri urusan orang lain” “Kalau lohu sengaja mau ikut campur? kau mau apa?” “Sanggupkah kau mencampuri urusan ini?” “Ooouw… jadi kau anggap aku Im Yang Siuw Su adalah seorang manusia kurcaci yang bernyali kecil dan takut mati ?” “Hmm, meski punya nyali dan berani menghadapi urusan, apa gunanya ?” “Bocah cilik?” seru lm Yang Siuwsu sambil tertawa dingin.
“Jadi kau hendak menantang loohu untuk beradu kekuatan?” “Kalau kau punya kegembiraan untuk berbuat demikian, tentu saja akan cayhe iringi dengan senang hati” Dalam pada itu mendadak dari sekeliling tempat itu bermunculan bayangan manusia, dalam sekejap mata secara beruntun disekeliling kalangan bertambah dengan empat lima puluh sosok bayangan manusia, mereka segera mengelilingi kalangan pertempuran itu rapat2″ Darimana datangnya orang sebegitu banyak dalam waktu singkat? Tak usah diterangkan, orang2 itu adalah para jago Bu lim yang mendapat kabar dan sama2 berdatangan ke tebing Pek Yan Gay untuk ikut serta dalam perebutan kitab pusaka “YOE LING PlT KIP”.
sepasang mata Im Yang siuw su yang tajam perlahan2 menyapu sekejap wajah para jago yang barusan munculkan diri itu, mendadak ia mendongak tertawa terbahak2.
“Keparat cilik ” serunya. “Kau lihat bukan ? semua orang berdatangan kemari untuk saling memperebutkan kitab pusaka Yoe Ling pit Kip. aku lihat lebih baik kau suka mendengarkan nasehat dari aku orang she Ci, untuk sementara waktu tunggulah dengan hati sabar, menanti kitab pusaka tersebut telah munculkan diri, kau pun boleh mendapatkan satu bagian, kita masing2 andalkan kepandaian silat yang dimiliki untuk memperebutkan kitab pusaka tersebut”.
Barusan saja Im Yang siuw su menyelesaikan kata2nya, mendadak. terdengar seseorang berseru memuji: “Ucapan dari Im Yang Kauw-su sangat tepat dan cengli sekali, baiklah kita tetapkan demikian saja, sebelum kitab pusaka itu munculkan diri, perduli siapapun asal berani mengganggu Thian Bun Toocu barang seujung rambutpun, kami semua tak akan mengampuni dirinya ” Bersamaan dengan suara itu, sesosok bayangan manusia melayang masuk kedalam kalangan- Mengikuti berasalnya suara tadi, Im Yang siuw-su berpaling, ia segera kenali orang tadi sebagai ciangbunjien partai Kiong Lay Pay, si “sin KeenBoe Tek” atau Kepalan sakti tanpa tandingan Tie Keng adanya.
sejak munculkan diri ditempat itu, Poei Hong tidak bicarapun tidak turun tangan, pada saat ini hatinya tiba2 merasa sangat gelisah, pikirnya : “Aduuuh celaka. Jikalau iblis ini benar2 telah menghapalkan tempat rahasia disimpannya kitab pusaka itu, lalu apa gunanya aku merampas peta petunjuk mustika itu dari tangannya ??? ditinjau dari situasi yang terbentang pada saat ini aku harus berusaha untuk membinasakan Iblis tua itu …” Karena berpikir demikian, kakinya segera bergeser dan melayang tiga depa kehadapan Peng Pok sin- mo, diam2 ilmu sakti “Kee Lie sin Kang” atau kura2 merekahnya disalurkan keseluruh badan- Mendadak sang telapak didorong kedepan, segulung tenaga lunak yang dingin dan tak berwujud langsung menghajar kearah dada Peng Pok sin mo.
sewaktu melihat si sastrawan berbaju putih itu mendekati dirinya, Peng Pok sin mo berdiri tertegun, menanti ia lihat Poei Hong mulai menggerakkan telapak tangannya menghajar datang, iblis tua ini baru kaget.
Buru2 badannya bergeser meloloskan diri ke samping, tetapi ia cepat, pihak lawan jauh lebih cepat sebelum sampai mengerti apa yang terjadi segulung tenaga pukulan yang lunak tak berwujud telah bersarang diatas badannya dengan telak.
Dada terasa amat sesak dan sumpek. diikuti ia mendengus berat, jantung serta urat nadinya tergetar putus semua, mengikuti semburan darah segar dari mulut, badannya terjungkal keatas tanah dan roboh binasa seketika itujuga.
serangan yang dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, apalagi merupakan sebuah bokongan diluar dugaan, kendati ia memiliki ilmu silat yang bagaimana lihay pun sulit untuk meloloskan diri Apalagi pada saat ini seluruh perhatian para jago baik dari golongan Hok to maupun Pek to dicurahkan keatas tubuh Hoo Thian Hong, siapa pun tidak akan menyangka sipemuda sastrawan berbaju putih itu bisa melancarkan sebuah serangan bokongan kearah Peng Pok sin- mo tanpa mengeluarkan sedikit suarapun- Baru saja tubuh Peng Pok sin- mo terhuyung jatuh keatas tanah, seluruh jago yang hadir dalam kalangan jadi gempar, per-tama2 Im Yang siuw su perdengarkan raungan gusarnya.
sang badan bergerak ke depan, telapak tangan dengan di sertai angin pukulan yang amat tajam langsung menghantam dada Poei Hong si gadis yang menyaru sebagai pria.
Im Yang siuw-su sebagai kauw-cu dari perkumpulan Im Yang Kauw, ilmu silat serta tenaga lwekang yang dimilikinya sangat lihay sekali tetapi Poei Hong pun bukan manusia sembarangan, ilmu silat yang ia milikipun luar biasa.
Barusan saja Im Yang Siuw-su melancarkan serangan, sepasang alis Poei Hong telah melentik, bentaknya gusar: “Bajingan terkutuk. kau cari mati ” Ditengah bentakan gusar, telapak tangannya telah didorong keluar, segulung tenaga lunak tak berwujud segera menyambut datangnya serangan dari Im Yang siuw su.
sepasang telapak saling berbentrok satu sama lain, terdengarlah ledakan keras yang bergema memecahkan kesunyian, seketika itu juga Im Yang siuw-su terpukul mundur lima langkah ke belakang dengan sempoyongan tenggorokan terasa amis, dan tak tertahan lagi ia muntahkan darah segar.
Melihat kejadian itu si “Dewi In tong” Un Yoi Yauw, si ikan Hiu emas dari laut Keen hay, soe Keen beserta siraja akhirat berwajah besi shaw Goan ciang sekalian jadi kaget, tubuh mereka bergerak berbareng, enam buah telapak diayun bersama, segulung hawa pukulan yang luar biasa dahsyatnya kontan menghantam kearah diri Poei Hong.
Ketiga orang ini rata2 termasuk tokoh lihay nomor wahid dalam kolong langit dewasa ini, meskipun Poei Hong sendiripun bukan manusia biasa, ia adalah ahli waris dari Kee sian-sincoo dan baru ini menelan pula pil sakti Cecak putih berusia ribuan tahun, namun untuk menerima datangnya serangan gabungan ini, ia akan lebih banyak menemui bencana daripada rejeki.
Poei Hong adalah manusia cerdik, otaknya encer, tentu saja ia tak mau menerima kerugian yang ada didepan mata, sambil tertawa ia segera meloncat kesamping untuk menghindarkan diri Ilmu meringankan tubuh “Tjhiet ciat-Thay-Kah-fn-Sin-hoat” yang dimiliki betul2 luar biasa, dalam sekali berkelebatan saja gadis itu sudah loloskan diri dari kurungan angin pukulan yang dahsyat dan men-deru2 laksana gulungan ombak ditengah samudera.
0000 “KRAAAAK… ” Diiringi suara bentrokan keras, sebatang pohon siong yang besar telah patah jadi dua bagian, diiringi percikan serbuk yang halus pohon tadi tumbang keatas tanah.
Diam2 Poei Hong menjulurkan lidahnya, dalam hati ia berpikir: suatu serangan gabungan yang-amat lihay, untung yang diserang adalah aku kalau berganti orang lain sekalipun tidak mati paling sedikit akan menderita luka parah….” Kendati dalam hati ia berpikir demikian, tetapi langkah kakinya sama sekali tidak mengendor, dengan sebat ia kitari ketiga orang itu.
Ditengah sorotan cahaya yang lapat2 serta berada diatas permukaan salju nan putih, semua orang meras akan adanya sesosok bayangan putih dengan menciptakan diri jadi beribu bayangan mengelilingi sekitar tubuh mereka dengan cepatnya, saking silaunya sampai- mata terasa berkunang, sebelum mereka tahu apa yang terjadi, gelak tertawa ringan telah bergema dari belakang tubuh mereka bertiga.
Mo Yoe Yauw bertiga amat terperanjat, srett senjata tajam yang tersoren dipinggang telah di cabut keluar, tiga bilah pedang lunak yang memancarkan cahaya putih ber sama2 menggetar dari arah yang berlawanan menciptakan puluhan jalur sinar ke-perak2an.
Dalam sekejap mata puluhan tombak sekeliling kalangan pertarungan telah terbungkus dalam cahaya perak yang menyilaukan mata.
Ternyata didalam sengitnya ketiga orang itu telah mengeluarkan ilmu pedang Im-Yang Kiam Hoat kepandaian andalan perkumpulan mereka.
selama ini Bong-san Yen hu hanya berdiri tenang saja disisi kalangan sambil menghisap Huncweenya yang hitam pekat, sepasang mata dan seluruh perhatiannya dicurahkan kedalam kalangan pertarungan.
Bukan dia saja, bahkan beratus2 pasang mata pada saat ini berbareng dipusatkan kedalam kalangan untuk menyaksikan jalannya pertarungan sengit itu tak seorangpun yang bersuara, tak seorangpun berkutik, semua orang se akan2 sudah terpesona dibuatnya.
Nelayan dari sungai Goan Kiang, Tong se Kiat tanpa terasa mulai meraba senjata istimewanya berupa Jala kawat yang digembol dipundak, ujarnya kepada YaUw Ke “Yauw heng, tenaga pukulan yang dimiliki sastrawan berbaju putih itu bukan saja amat dahsyat diluar dugaan, bahkan langkah kakinya cermat dan tepat. Semuanya merupakan ilmu s ilat maha sakti yang sudah lama lenyap dari peredaran dunia persilatan,” “Benar.” sipedang tunggal dari gunung Sian Hee San membenarkan. “Ilmu silat yang dimiliki pemuda ini benar2 sangat lihay sukar dilukiskan dengan kata2, tetapi ketiga jago lihay dari perkumpulan Im Yang Kauw pun tidak kalah dahsyatnya, tidak aneh kalau ambisi perkumpulan ini untuk menguasahi jagad sangat besar.” “In Tiong Goan” atau burung belibis ditengah awan Khong In Hwee dari partai Kiong Lay Pay sejak semula telah mengikat hubungan rahasia dengan s idewi In Tiong bahkan ia mendapat perhatian yang istimewa dari perempuan Im Yang Kauw ini. Seumpama disitu tak ada ciangbunjien nya” Sin Koen Boe Tek” atau kepalan sakti tanpa tandingan Tie Kang coan serta suhengnya “Kau Koen ciang ” atau Si Telapak Jagad Poei Seng, mungkin sejak semula ia sudah terjunkan diri kedalan kalangan untuk membantu pihak perkumpulan Im Yang Kauw.
Sekarang, ia dengar ucapan dari sipedang tunggal dari gunung Sian-Hee-san bernadakan ketidak puasan terhadap perkumpulan Im Yang- Kauw, seketika timbul perasaan antipatik dalam hatinya.
Ia segera mendengus dingin dan berkata: “Hmm keparat cilik itu hanya andalkan sedikit ilmu meringankan tubuh belaka, apanya yang patut dibanggakan???”.
Maksud dari ucapan ini amat jelas sekali, ia merasa sangat tidak puas dengan sastrawan berbaju putih itu Dalam pada itu sikakek seratus bangkai Kiang Tiang- Koei merasa putus asa dan kecewa, ia lihat diantara gabungan tujuh jago lihai, kini sudah ada empat menemui ajalnya, sementara ia bertiga pun pernah merasakan kelihayan dari ilmu silat sastrawan berbaju putih itu, ia mulai sadar harapannya untuk mendapatkan kitab pusaka ” YOE LING PIT KIP” semakin tipis.
Walaupun hubungannya dengan Peng Pek sin mo serta Liauw tong sam Koay hanya terbatas, pada cari untung dan sama sekali tak ada rasa kesetia kawanan, tetapi melihat kematian orang2 itu ia merasa sedih juga.
sekarang, mendengar ucapan dari s iburung Belibis ditengah awan Khong It Hwee, hatinya jadi rada bergerak. dengan wajah penuh kebencian segera ujarnya: “Jikalau bukan keparat cilik berbaju putih itu turun tangan membinasakan diri sin-mo, saat ini Toocu pasti sudah umumkan dimanakah letak tersimpannya kitab pusaka itu, dan kita semua sama2 punya harapan untuk memperoleh kitab pusaka tersebut”.
“Tapi sekarang setelah ia berbuat demikian, berarti pula kalau satu2nya harapan kitapun ikut musnah”.
“Ilmu silat dari keparat cilik ini memang tidak lemah, tapi kalau dibandingkan dengan si burung belibis ditengah mega Khong Thay-hiap yang sudah ternama, aku pikir ia masih kalah satu tingkat” Pada dasarnya para jago memang punya perasaan yang sama, hanya tak seorang pun berani mengutarakan, sekarang kena dipanasi oleh ucapan sikakek seratus bangkai, timbul golakan hebat dalam hati para jago.
Ada diantara mereka yang tak dapat menahan diri segera berteriak keras: “Kita bunuh saja keparat cilik ini, agar siapapun jangan harap bisa menelan peta mustika itu seorang diri “.
Disanjung oleh sikakek seratus bangkai dihadapan para jago, siburung belibis ditengah mega Khong it Hwee merasa amat senang hati, bersamaan itu pula ia ada minat untuk tarik kedua orang suhengnya terjun kedalam kancah ini, segera ujarnya: “setelah kita memasuki gunung mustika, apakah ingin pulang dengan jangan kosong belaka?”.
Habis bicara, sepasang kaki menutul permukaan tanah, dengan gerakan “Ku Gan Gong Thiao ” atau Belibis sakti meluncur keangkasa ia menubruk kedalam kalangan pertarungan.
Tiba2 dari hadapannya meluncur datang pula sesosok bayangan manusia merintangi jalan perginya dengan membabatkan sebuah pukulan.
“Lebih baik anda kurangi saja campur tangan yang tak berguna” seru orang itu lantang.
si burung belibis ditengah awan Khong It Hwee tidak menyangka ditengah jalan bisa muncul musuh tangguh, ia segera merasakan segulung angin tajam yang dingin dan hebat menghantam datang Ia kaget dan berlaku waspada, untung ilmu meringankan tubuhnya memang luar biasa, berada di tengah udara badannya berjumpalitan dan bersalto beberapa kali. dengan pinggang menekuk kaki menjejak sebuah gerakan “Lam Gan Pak Hwee” atau Belibis selatan Terbang keutara ia melayang kearah sisi kanan.
Ketika ia sudah melayang turun keatas tanah, air mukanya berubah hebat, sepasang senjata Poan Koan Pit yang digembol dibelakang punggung segera dicabut keluar dan s iap menusuk kedepan.
Bagaikan angin puyuh sikepalan sakti tanpa tandingan Tie Kong Cian segera menghadang di hadapan adik seperguruannya sambil berkata: “sute, kau boleh mengundurkan diri dan jaga kan keselamatanku disamping kalangan, lebih baik biarkan loohu yang nrohonpetunjuk beberapa jurus serangan sakti dari sauw-hiap ” Dua patah kata permulaan jelas ditujukan kepada siburung belibis ditengah mega. sedangkan kata terakhir ditujukan kepada “sastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng.
sepasang alis sianak muda she Hoo segera mengerut kencang setelah melihat siapa yang munculkan diri, air mukanya berubah amat serius.
“Tie Loocianpwee apakah kau ada maksud untuk adu kepandaian dengan diri Cayhe…” ia bertanya.
sikepalan sakti tanpa tandingan mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Haaa. . . haaa. . . sauw hiap adalah ahli waris dari Lamhay Hiap Kee, cianpwee dua patah kata tak berani aku terima, menjumpai ilmu sakti yang dimiliki sauwiap begitu hebat sehingga dalam sekejap mata berhasil membinasa kan Liauwtong sam Koay, loohu jadi punya minat besar untuk mohon petunjuk beberapa jurus sakti dari Lamhay. . .” Sementara Hoo Thian Heng masih dibuat serba salah, siburung belibis ditengah mega Khong it Hwee yang berdiri disisi kalangan telah menimbrung.
“ciangbun suheng apa gunanya banyak bicara dengan dirinya? tak berguna tarik urat terus dengan manusia macam itu, lebih baik dikasi pelajaran juga agar iapun tahu bahwa silat partai Kiong-laypay bukan sembarangan, agar kemudian hari ia jangan terlalu pandang enteng orang lain”.
Tie Kong cian mendehem ringan, akhirnya sambil mengelus jenggotnya yang panjang terurai ia berkata: “Hoo sauwhiap. maaf terpaksa loohu harus menyalahi diri mu ” Ucapan ini diakhiri dengan sebuah pukulan dahsyat yang dikirim dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Hoo Thian Heng sisastrawan berbaju biru itu sadar, kakek tua ini bisa menjagoi dunia persilatan dengan julukan kepalan sakti tanpa tandingan ilmu silatnya tentu sangat dahsyat sukar dilukiskan, walaupun ia tak berani berlaku gegabah namun sikapnya tetap tenang dan mantap.
Bahunya ditekan kebawah, badan berputar, langkah bergeser dengan sebat dan cepat iapun balas mengirim sebuah pukulan.
Haruslah diketahui tenaga sakti “Kian Goan-Ceng Khie” bisa digunakan keras maupun lunak dalam serangannya barusan pukulan sianak muda itu kelihatan lemah seakan2 tak bertenaga, namun ketika dua gulung angin pukulan saling berbentrok ditengah udara segera terjadilah suatu ledakan yang amat dahsyat bagaikan letusan gunung berapi.
oleh tenaga pantulan akibat bentrokan barusan, tubuh si kepalan sakti tanpa tandingan Tie Kong dan tergetar keras sampai2 mundur setengah langkah kebelakang dengan sempoyongan.
Untung ia punya pengalaman luas. badannya segera bergeser kesamping untuk buang datangnya tekanan, hawa murni segera dikumpulkan di lengan kanan dan sekali lagi disodok kedepansegulung angin pukulan dengan membawa desingan tajam serta angin menderu2 langsung menumbuk dada Hoo Thian Heng.
Melihat kehebatan lawan Hoo Thian Heng kerutkan dahinya, sungguh tidak malu kakek tua ini menggunakan sebutan “sin koen” atau kepalan Sakti didepan namanya, nyata ia memang betul2 bebat.
Jago kita tak berani berayal, telapak segera meluncur keluar dengan jurus “Koen Tuen Jut-say” atau Bumi Jagad Baru terbuka menyambut datangnya serangan.
Dimana telapaknya berkelebat lewat, ditengah udara segera menggema suara getaran amat keras sampai menggetarkan telinga dan mendebarkan jantung, batang ranting pohon disekeliling kalangan pada patah dan rontok ketanah, keadaannya amat mengerikan.
Sementara itu si Telapak Jagad Poei sing yang ada disamping kalangan merasa terkesiap setelah dilihatnya dua buah serangan dilancarkan ciangbun suhengaya tidak berhasil mencapai hasil. ia sadar kalau dirinya tidak ikut terjun ke dalam kalangan, niscaya nama besar partai Kiong Lay Pay akan hancur luluh diatas tebing Pek Yan Gay pada malam ini juga.
Mendadak sepasang kepalan melintang sambil menutul permukaan tanah ia meleset kedalam kalangan, mengitari kebelakang punggung Hoo thian Heng, kemudian sepasang telapak membuat gerakan lingkaran didepan dada, dan laksana kilat melancarkan sebuah serangan dahsyat kearah lawan dengan jurus “sian Kan coan Koen ” atau Memutar Jagad Mengelilingi Bumi.
Gong Yu murid kesayangan si kakek Huncwee dari gunung Bong-san dapat melihat kejadian itu, merasakan keadaan HHoo Thian Hong amat berbahaya karena terancam oleh serangan bokongan dari Poei seng ia jadi kaget dan segera berteriak keras: “Engkoh Hoo, hati2 dengan serangan bokongan yang datang dari belakang…” Barusan ia selesai bicara, tubuh Hoo Thian Hong sudah berkelit kesamping, dengan gerakan “Tiong Biauw CiBun” atau Pujian Khalayak Pintu Sorga, telapak kanan menerobos ketiak kiri langsung menghantam keluar.
“BruuukJ” seketika itu juga si telapak Jagad Poei seng merasakan adanya segulungan angin puyuh melanda datang dan menekan dada nya berat2.
Ia tak kuat menahan diri, akhirnya dengan sempoyongan tubuhnya mundur tiga langkah ke belakang ia berusaha menahan golakan darah panas dalam rongga dada sementara sepasang telapak diayun kedepan berulang kali.
siburung belibis ditengah mega Khong It Hwee tertawa dingin, tiba2 senjata Poan Koan Pit yang ada ditangannya dan berwarna biru bercahaya itu ditusukkan kearah jalan darah penting di tubuh Hoo Thian Hong.
Melihat orang she Khong maju menyerang, si anak muda she Hoo merasa mendongkol pikirnya: ” Keparat ini mengandung maksud jahat yang terkutuk, apa lagi ujung senjatanya telah dipolesi racun keji, beginikah cara tindak tanduk jago dari kalangan lurus ?” Karena berpikir demikian, timbullah napsu membunuh diatas wajahnya .
Ilmu pukulan Hian Thian sio Giang dengan menggunakan delapan bagian tenaga sakti dipersiapkan ditangan, asalkan orang itu tak tahu diri dan menyerang terus maka ia akan memberikan peringatan tajam kepadanya.
Dalam pada itu pertarungan berlangsung antara Poei Hong melawan tiga jago lihay dari perkumpulan im Yang Kauw pun berjalan dengan serunya, berada didalam kurungan tiga bilah pedang tajam, gadis itu melayang berkelebat kesana kemari bagaikan segulung angin ringan, kalau bukan mendengarkan gelak tertawanya yang ringan dan merdu, ia tentu meniupkan udara panas kebelakang leher tiga orang lawannya.
Kejadian ini tentu membuat si Dewi In Tong Mo Yoe Yauw beserta si ikan hiu emas dari laut Koen-hay, soe Koen dan siraja akhirat berwajah besi siaw Coao Giang jadi ketakutan setengah mau, hampir2 mereka kehilangan sukma saking ngerinya.
Dikala Poei Hong mempermainkan ketiga orang itulah si pelajar im Yang. Gi Tiong Kian telah selesai bersemedhi, luka dalam yang ia derita pun sudah sembuh kembali seperti sedia kala.
setelah memeriksa sejenak keadaan situasi yang terbentang didepan mata dalam hati ia berpikir.
“Hoeeee . . heee . .justru aku tak percaya keparat cilik itu benar2 memiliki tiga kepala enam lengan, malam ini kalau aku sipelajar Im Yang gagal memaksa kau bermain sebentar diakhirat, sia2 aku menjabat sebagai ketua perkumpulan im Yang Kauw “.
Apalagi setelah ia teringat akan dendam sebuah pukulannya im Yang siuw su makin bernapsu untuk membalas dendam.
senjata kipas Im Yang san nya segera dikibaskan hingga terbuka, senjata ini benar2 hebat, warnanya hitam pekat dan kuat tahan terhadap segala bacokan senjata mustika.
Permukaan kipas sebelah berwarna hitam, sebelah lain berwarna merah dan terbuat dari serat yang sangat kuat.
dengan andalkan senjata aneh yang amat lihay inilah sudah banyak tokoh2 silat dunia kangouw yang menderita kalah ditangannya.
Dengan majunya Im Yang maka keadaan dalam kalanganpun mengalami perubahan, tampak awan hitam menutupi seluruh jagad, cahaya merah berterbangan menguasai bumi, gelak tertawa Poei Hong tak kedengaran lagi, bahkan ilmu langkah “Tjhiet hiat-Thay Na- H Hoat” pun tidak selincah dan segesit seperti tadi lagi.
Tentu saja dalam keadaan seperti ini bukan saja ia tak ada waktu untuk mengumbar kenakalannya dengan meniup leher, bahkan posisinya mulai terancam dan ia terkurung oleh mara bahaya.
sepasang alis Poei Hong langsung menjungkat sambil cibirkan bibirnya ia depak kakinya keatas permukaan salju, pikirnya: “Bagus sekali coba libat saja, malam ini juga nonamu akan bereskan kalian manusiai iblis “.
Ditengah jeritan kaget para jago disisi kalangan seuntai ikat pinggang kumala yang panjangnya dua tombak telah berkelebat menyambar keangkasa. Meskipun hanya disentak perlahan, ikat pinggang kumala itu bagaikan seekor naga sakti meluncur kedalam gulungan bayangan kipas ditangan im Yang siuw su kemudian langsung menotok kearah jalan darah Kie hoat-hiat didadanya, suatu serangan yang benar2 luar biasa.
Tidak percuma Ci Tiong Kian menjadi ketua perkumpulan im Yang Kauw, menghadapi situasi yang amat kritis dan membahayakan jiwanya ia tidak gugup, kaki kiri segera melangkah silang tangan kanan dengan gerakan “wu lu Too Gwat” atau Awan Hitam menghalangi rembulan, disertai segulung tenaga kuat menghalau datangnya ikat pinggang kumala Poei Hong.
sang nona tertawa ringan, pergelangan ditekan kebawah, dengan “Giok Kauw sam Hiao” atau Naga kumala tiga kali menguak ia serang jalan darah Thian Teng hiat ditubuh Dewi In Tong Mo Yoi Yauw, si ikan hiu emas dari laut Koen-hay soe Koen serta siraja akhirat berwajah besi shaw Goan ciang.
Menyaksikan kehebatan serangan sang nona, Bong-san Yen shu yang ada disisi kalangan berpikir sambil menghembus keluar segulung asap Huncwee: “Ahli waris dari s in-Po benar2 hebat, ilmu silatnya tiada tara dikolongan langit dewasa ini.” Sementara itu Dewi In-Tong, Mo Yoe Yauw mendengus dingin dan melayang mundur kebelakang, sedangkan si ikan hiu emas dari laut Koen-hay serta siraja akhirat berwajah besi dengan gerakan “Tiang Kiauw WucPoo” atau ombak Besar Menyapu Jembatan, nyaris berhasil pula meloloskan diri dari bahaya.
Setelah ketiga orang itu mundur kebelakang, mereka maju kembali. Tiga bilah pedang tajam menusuk kedepan menciptakan berkuntum kuntum bunga pedang yang memenuhi angkasa, suatu serangan nekad yang amat dahsyat.
Im Yang siuw-su tak mau ketinggalan dengan ilmu langkah “Yoe Hun Biauw Ca Po” atau ilmu langkah sukma gelandangan, senjata kipasnya menotok. membabat, mengebas, membentur, menusuk menghantam, menebas serta menyapu dengan hebatnya.
Demikianlah, dua rombongan pertarungan berjalan dengan serunya, sementara kedua orang sastrawan muda itu melayani setiap serangan dengan jurus yang hebat dan sakti, dengan demikian memancing perhatian para jago lainnya, seluruh perhatian hadirin di curahkan kedalam kalangan.
sejak terjunkan diri kedalam kalangan pertarungan, sebenarnya Poei Hong tidak ingin menciptakan banyak pembunuhan yang tak berguna, maksudnya ia hanya ingin memberi peringatan kepada keempat orang jago lihay dari perkumpulan im Yang Kau ini agar mereka tahu diri dan segera mengundurkan diri.
Tidak disangka keempat orang itu bukan tidak mengundurkan diri, malahan mengerubut dirinya dengan serangan2 mematikan, hal ini membangkitkan hawa amarahnya, napsu membunuh mulai melintas.
sementara itu pertarungan telah berlangsung hingga mencapai ratusan jurus, dari sepasang mata Poei Hong mulai memancarkan cahaya tajam.
Tiba2 pergelangarnya, disentak. ikat pinggang kumala dengan membawa desiran tajam secara beruntun memainkan jurus “seng Kauw Li Hiat” atau Naga sakti tinggalkan sarang, “Pek Ang-Kwan Jiet” atau Biang lala putih mengalingi sang surya, “Thian Way HweeAng” atau Bianglala terbang Keluar Langit serta “Lok Im Hwee-Hong” atau Menyapu rontok tersapu puyuh memaksa keempat orang itu terdesak mundur sampai beberapa tombak jauhnya.
Im Yang siuw-su tak mau unjukan kelemahan meski terdesak hebat dengan andalkan ilmu langkah sukma gelandangannya ia berkelebat kesana-kemari sambil melancarkan serangan balasan, Menyaksikan keadaan itu poei Hong tertawa nyaring, pikirnya “Im Yang Kauw-cu yang tebal muka, agaknya kau sudah bosan hidup?, suaranya nyaring dan merdu bagaikan nyanyian burung nuri, ikat pinggang kumala berkelebat gencar dengan gerakan “so Hiang Ceng Im” atau bayangan Harum Menutup Badan ia serang lawannya dan membelenggu tubuh Im Yeng siuw su yang kebetulan sedang menubruk datang erat2.
Menanti lengan kanannya disendal dengan sekuat tenaga.
mengiringi jeritan ngeri yang menyayatkan hati tubuh Im Yang siauw-su berubah jadi setitik hitam diikuti badannya meluncur jatuh kedalam jurang yang dalamnya ada laksaan tombak.
dalam sekejap mata bayangannya telah lenyap tertelan kabut lembah.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini membuat para jago dalam kalangan jadi terkesiap. terutama sekali s i dewi In- Tong Mo Yoe Yauw. air mukanya berubah pucat pias, dibawah sorotan sinar rembulan tampak betapa sedih duka. benci dan mendendamnya perempuan itu.
si raja akhirat berwajah besi sha Goan ciang mengerutkan sepasang alisnya yang tebal, lalu menghela napas sedih, katanya: “saat ini Kauw cu sudah mendapat bencana, dendam sakit hati kita lebih baik dituntut balas dikemudian hari saja.” selesai bicara ia bersuit nyaring kemudian berlari meninggalkan tebing itu disusul oleh Dewi In tong, Ma Yoe Yauw serta siikan hiu emas dari laut Koen Ha y soe Koen dari belakang.
Dalam sekejap mata mereka sudah lenyap di balik kegelapan.
Dari dalam sakunya Poei Hong ambil keluar sapu tangan untuk membesut keringat yang mengucur keluar membasahi wajahnya. kemudian ia berpaling kearah kalangan pertarungan disisi nya.
siapa nyana pertarungan yang tadi sedang berlangsung dengan serunya itu, saat ini pun telah berakhir.
Ternyata sementara Kiong lay sam Kiat sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan Hoy Thian Hong, tiba2 mereka nampak Im Yang Kauwcu tergulung jatuh kedalam jurang oleh ikat pinggang Poei Hong, ketiga orang itu jadi ngeri dan sesaat meloncat mundur dari kalangan.
Menyaksikan musuh cintanya Im Yang Kauw-cu jatuh kedalam jurang, siburung belibis ditengah awan Khong it Hwee merasa amat gembira tetapi mengingat peta rahasia petunjuk kitab pusaka itu sudah, terjatuh ketangan Poei Hong yang liehay, iapun merasa kecewa.
sementara ia merasa serba salah, terdengarlah sikepalan sakti tanpa tandingan Tie Kong cian tertawa ter bahak2 sambil berkata.
“Ilmu telapak Hian-Thian ciang dari Hoo sauw hiap benar2 hebat sekali, loohu sekalian merasa kagum dan takluk, apabila kemudian hari ada jodoh harap sauwhiap suka mampir sebentar digunung Kiong Lay kami sekalian titip salam buat gurumu Lam Hay Hiap-Kee cianpwee.” sebaliknya si telapak Jagad Poei seng pun merasa amat berterima kasih sekali kepada sianak muda ini, karena Hoo Thian Heng sampai detik terakhir tidak pernah mengeluarkan ilmu sakti nya. dengan demikian nama baik partai Kiong Lay Pay masih bisa dipertahankan.
Hanya si Walet Ditengah Mega Khong it Hwie seorang memancarkan sinar mata buas, melihat mana Hoo Thian Heng merasa amat jemu.
sementara itu para jago yang hadir diatas puncak termasuk pula tiga manusia beracun dari wilayah Biauw sudah melihat bahwasanya sepasang muda-mudi ini memiliki ilmu silat amat lihay, dalam keadaan seperti ini siapa lagi yang berani mempersoalkan Peta mustika kitab pusaka Yoe Leng pit Kit ? Dalam sekejap mata lima puluhan jago Kang-ouw yang hadir disana diam2 tanpa mengeluarkan sedikit suarapun pada berlalu turun gunung.
Menyaksikan para jago sudah mengundurkan diri s i kepalan sakti tanpa Tandingan Tie Kong Koan tak berani berdiam lebih lama lagi disitu kepada Poei seng serta Khong it Hwie kedua orang sutenya ia berseru: “soete, ayoh berangkat” Mengiringi ucapan tersebut, ketiga orang itu sama2 kerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dalam dua tiga lompatan lenyap ditengah kegelapan malam yang mencekam.
Dalam pada itu Tonghong Beng Coe telah selesai memulihkan tenaga murninya, ketika membuka mata tampaklah olehnya kecuali Leng, tan coei serta Giok keempat orang dayangnya, masih ada siBong-san Yenshu Yoe Boe.
siauw-hiap Gong Yu, nona Poei Hong serta Hoo Thian Hong delapan orang berdiri di hadapannya.
Diatas permukaan salju menggeletak jenasah dari Peng Pok sin mo beserta Liauw-Tong-sam Kong.
Musuh besar pembunuh ayahnya telan mati, sakit hati telah terbalas. Tonghong Beng Coe merasakan hatinya lega dan tenteram, akhirnya apa yang di harap2kan terkabul juga.
Demikianlah, semua orang lalu menggali sebuah liang besar diatas permukaan salju dengan menggunakan senjata masing2 kemudian melemparkan keempat sosok mayat itu kedalam liang dan menguburnya.
setelah semuanya selesai, menggunakan kesempatan malam masih mencekam semua orang bergerak turun dari puncak.
Diatas gunung Im Boe san angin utara bertiup menderu deru, pertarungan sengit telah selesai, suasana pulih kembali di tengah kesunyian, keadaan seperti sedia kala. hanya kali ini diatas permukaan bertambah dengan sebuah gundukan tanah baru……..
Langit diliputi awan mega yang gelap berwarna abu abu, bunga salju telah berhenti turun, namun seluruh permukaan tanah telah berubah memutih laksana sebidang kertas nan putih.
Rembulan muncul diupuk sebelah Barat, memancarkan cahayanya keseluruh jagad dengan sinar yang berwarna keperak perakan. kadang2 awan hitam bergerak menutupi cahayanya, untuk kemudian setelah awan berlalu, cahaya yang adem dan bening muncul kemudian di seluruh permukaan bumi.
Kabut halus laksana sutera mengelilingi puncak Pek Yan- Gay yang sunyi dan sepi, sinar sang putri malam lambat2 menyorot makin ke bawah, menyinari dasar tebing yang landai dan curam.
Beberapa saat kemudian, cahaya rembulan bergeser makin kebawah, akhirnya menyoroti sebuah pohon yang tumbuh dilambung jurang, itulah sebuah pohon Bwee tua yang penuh dengan cabang2 ranting yang lebat, dan harum semerbak tersiar amat menusuk hidung.
sekeliling ranting penuh tumbuh akar2 rotan yang melingkar kian kemari laksana sebuah sarang laba2 yang besar lagi kuat, dalam sarang akar rotan tadi melingkar sesosok makhluk hidup, lambung yang mengembing mengempis menunjukkan bahwa makhluk tersebut masih hidup dan tetap bernapas.
Beberapa saat kembali telah lewat, kali ini cahaya rembulan menembusi ranting pohon Bwee melewati akar rotan dan menyoroti diatas wajah seseorang berdandan siucay yang pucat pias bagaikan mayat.
Dialah Im Yang Kauw-Cu yang menggetarkan dunia persilatan dan ditakuti jagoan baik dari golongan Hok-to maupun dari golongan Pekto, “Im Yang-siuw su” Cie Tiong Kian adanya.
Dua jam berselang ia dipukul jatuh kedalam jurang oleh nona Poei Hong murid kesayangan dari Koe Sian sinpo dengan selembar ikat pinggang kumala.
Entah gemborg iblis ini masih dilindungi dewa peruntungan ? dengan tepat dan sama sekali tidak meleset, tubuhnya terlempar jatuh ke dalam kurungan akar2 rotan yang banyak tumbuh diatas pohon Bwee tua itu, sehingga selembar jiwanya nyaris tercabut dari rongga badannya.
Walaupun dikatakan jaring rotan tersebut menimbulkan daya pental yang kuat, coba dibayangkan saja jatuh dari sebuah tempat setinggi ratusan tombak tanpa salurkan hawa sin kang untuk melindungi badan getaran yang terjadi akibat bantingan tersebut amat dahsyat sekali, tidak ampun im Yang siuw su terbanting hingga jatuh tidak sadarkan diri Untung sekali tenaga lweekangnya amat sempurna, dua jam kemudian napasnya mulai normal kembali, badanpun mulai menggeliat dan bergerak.
saat ini kesadarannya lambat2 mulai pulih kembali seperti sedia kala, terasa seluruh badan dingin kaku bagaikan berada didalam gudang es, keempat buah anggota badannya kaku sukar digerakan kembali, perasaan yang terjelos membuat ia merasa ngeri dan seram Ia mengira dirinya benar-2 berada di alam baka dimana ia disiksa dalam neraka yang diinginnya luar biasa.
Tiba tiba angin sepoi2 berhembus lewat membawa bau harum yang menyerbak. timbul perasaan curiga dan ragu dalam hati kecilnya.
Benarkah dialam baka dalam neraka pun penuh dengan tumbuhan bunga Bwee??? Ingin sekali ia gerakan kelopak matanya membuka mata dan melihat, sebenarnya ia berada dimana??? Tapi iapun takut apabila ia benar2 berada dalam neraka, d engan perbuatan serta tingkah lakunya selama masih hidup, mungkin ia akan disiksa, dianiaya dan harus kerja paksa dalam neraka yang kekal ini Siapa yang punya keberanian untuk menghadapi kenyataan yang begitu mengerikan, begitu mengenaskan ?? maka niat untuk buka mata melihat sekelilingnya dibatalkan kembali, ia membatin: “Eeehmm.. Kenapa aku tidak periksa keadaan disekelilingku dengan memakai ketajaman pendengaranku” Pemusatan pikiran memberikan hasil yang diharapkan, empat penjuru sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, tak ada pekikan burung, tak ada jeritan jengkerik. semuanya hening, sunyi, kecuali hembusan angin yang lembut dan sepoi2.
Ia mulai sadar, dirinya masih hidup dikolong langit, untuk membuktikan dirinya manusia atau setan, ia gigit ujung lidah sendiri, terasa amat sakit…hatinya amat gembira, hal ini menunjukkan bahwa ia masih hidup, dia masih jadi manusia..
Hatinya tak ragu2 lagi, dengan cepat2 kelopak matanya dipentangkan lebar2, pinjam sorotan cahaya rembulan tampaklah sekeliling tempat itu adalah bukit serta tebing nan curam, sekarang ia berada dalam sebuah jala diatas pohon Bwee tua yang terdiri dari akar2 rotan- Per-lahan2 ingatannya pulih kembali bagaimana la dikalahkan oleh seorang nona yang menyaru sebagai seorang sastrawan berbaju putih kemudian secara bagaimana ia terguling masuk kedalam jurang oleh sebuah ikat pinggang kumala.
0ooooo0 WALAUPUN hatinya gusar. Mendendam, tapi apa gunanya ??? yang harus dipikirkan sekarang adalah pulihkan kembali keempat buah anggota badannya dari kekakuan, loloskan diri dari mara bahaya, giat berlatih ilmu silat dan mencuci bersih penghinaan yang diterima malam ini.
Matanya segera dipejamkan kembali, hawa murni disalurkan mengelilingi seluruh badan untuk pulihkan kembali tenaganya seperti sedia kala.
Entah lewat berapa saat lamanya, hawa murni telah menembusi seluruh anggota badan serta jalan darahnya, perlahan2 tangan maupun kakinya mulai dapat bergerak. hawa hangat menyusup keseluruh lubang pori-pori memberikan kehangatan serta kenikmatan yang tak terhingga.
Dalam pemeriksaan yang teliti, ia tegukan dirinya sama sekali tidak terluka. ia sehat tanpa membawa penyakit.
sepasang matanya kembali terbentang lebar, kabut putih tebal menutupi seluruh jagad, ditengah hembusan cahaya yang menyorot masuk. ia tahu saat ini fajar tentu sudah menyingsing.
Menengok kebawah melalui celah2 rotan, tebing yang curam dengan dasar yang tak terhingga menanti dibawah siap menelan.
setiap benda yang jatuh kebawah kabut begitu tebal, pemandangan sangat mengerikan, membuat bulu kuduk pada bangun berdiri Meski ia pernah berlatih Ilmu “Yoe Hun-Biauw Ca Gi sut” Atau ilmu langkah sukma Gentanyangan, tapi berada dalam keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk meloncat naik keatas puncak tebing, tiada tenaga pula untuk melayang turun kedasar jurang tanpa hancur lebur termakan cadas2 yang tajam dan runcing itu…
“Kumohon hidup tak bisa, mohon mati tak dikasih ooooh Thian apakah kau hendak menggunakan cara yang demikian keji… demikian kejam untuk menghukum hambamu yang telah banyak melakukan kejahatan serta pembunuhan ini”.
Rasa sedih, kecewa dan putus asa membuat hatinya mangkel, mendongkol, jeritan lengking yang tajam, menyayatkan hati segera berkumandang keangkasa, mengalun diempat penjuru dan sirap tertelan kabut.
Cahaya menembus masuk lewat awan yang tebal, makin lama sinar tersebut kian tajam, bisa di duga betapa cerah sinar mentari ketika itu betapa indahnya pemandangan sekeiling tempat itu.
Mengerahkan sepasang matanya yang tajam laksana burung elang, ditelitinya setiap tebing curam yang terbentang didepan mata, ia merasa alam semesta begitu keji, begitu kejam mengurung makluk Bumi yang tak berdaya ini.
Ia tarik kembali sinar matanya dengan penuh kekecewaan, putus asa, rasa lapar mulai menyerang badan, dahaga lapar membuat perutnya sakit seperti di-lilit2 Ia merasa begitu tersiksa begitu menderita..
sepanjang hidup tak pernah ia kenal kata2 ” Lapar” maupun-.Dahaga”, teringat sayur dan makanan yang lezat tiap hari dihidangkan didepan meja, bau harum yang semerbak membuat perutnya semakin lapar. Tenggorokannya semakin haus dahaga..
Tak ada burung tak ada binatang, sungguh sialan pohon bweetua inipun hanya ada bunga yang harum. Mengapa tak ada buah apel? buah pear? atau binatang kecil lain yang dapat digunakan untuk menangsal perut?…
Makin dipikir ia merasa makin mendongkol, mungkinkah Thian pilih kasih? Mungkin dia sudah melupakan hambanya? mengasingkan dia? Dalam keadaan putus asa, ia tak tahan terpaksa sambil duduk bersemedi diatas jaring rotan mulai salurkan hawa murninya mengelilingi badan.
setelah lewat tiga lingkaran badan, semangatnya pulih kembali seperti sedia kala. badannya terasa segar bahkan lapar maupun dahagapun sudah terlupakan …
Kabut putih yang melayang diatas puncak mulai berkurang, cahaya sang surya menembus ke dasar jurang menyoroti sekeliling tebing dimana ia tergantung saat ini.
Ketika itu merupakan saat yang paling bagus sayang ia tidak pergunakan secara baik, ketika ia memeriksa keadaan disekelilingnya dengan sinar mata, tak dijumpai sebuah jalanpun untuk meloloskan diri putus asa membuat hatinya kembali mendongkol, Thianlah sebagai sasaran pertama dari caci makinya itu.
Bayangan sang surya makin bergeser, hatinya makin terjelos. rasa lapar kembali menyerang datang, rasa haus membuat tenggorokannya terasa sakit, ia mulai menderita kembali, tersiksa lahir maupun batin Im Yang siuw-sutak kuat menahan diri ia cekal perutnya kencang2 sepasang mata terbentang lebar-lebar, manusia yang bernama Cie Tiong Kian ini mulai mencari, mulai berharap bisa temukan sebuah benda, seekor makhluk yang dapat dimakan sebagai nangsal perut. Meski ada seekor ular beracun pun bolehlah ia akan rangkap binatang berbisa itu dan ditelan dengan lahap.
Tapi tak ada makhluk apapun, binatang berbisa pun tak ada sekelilingnya cuma ada bunga Bwee, tumpukan salju, rumput, lumut dan batu cadas bagaimana ia bisa telan benda seperti itu.
Akhirnya, dalam keadaaan apa boleh buat ia harus memilih salah satu diantara benda-benda itu, ia harus pilih salah satu diantaranya untuk menangsal perut, ia memilih tumpukan salju yang berceceran disekelilingnya.
Ketika bunga salju menggelinding masuk lewat kerongkongan- hawa dingin yang menusuk badan menembus hingga keujung kaki dan tiap atas rambut seluruh badan gemetar tiada hentinya.
sepanjang hidup ia cuma tahu menyusun rencana berakal licik, kekuasaan serta ilmu silat. Kini ia baru tahu apa arti dan makna sebenarnya dari lapar, dahaga dan menderita.
Akhirnya ia patahkan ujung rotan yang masih muda, dimasukkan kedalam mulut, mengunyah dan mengganyangnya guna mengatasi rasa lapar yang menyerang makin hebat.
Dengan berbuat demikian, keadaan jauh lebih baikan, meskipun tiap kali ia menggigit terasa amat sulit untuk menelannya kedalam perut, bahkan kadang kala batuk2 keras, ia teruskan juga mengunyah, bagaikan seekor kerbau makan rumput, seluruh bibir penuh dengan basa putih.
Menanti rasa mual menyerang perut dipetiknya beberapa kuntum bunga Bwee sebagai bahan penangsal perut.
susah payah, sehari lewat dengan lambatnya.
Keesokan hari, sang sarya muncul kembali di-tengah udara, menembusi kabut yang tebal bergeser ketebing dan menyoroti kembali pohon bwee tua itu.
“Im Yang Siuw-su” Cie Tiong Kian mulai berpikir, ia harus berdaya untuk cari jalan keluar, tak dapat ia mati diatas pohon tanpa berusaha tanpa menempuh bahaya Mengikuti akar rotan dengan hati2 dan perlahan ia merambat ketepi tebing, menyingkap akar serta rotan meraba diatas tebing yang terjal dan tegak lurus, dimana jari tangannya bergerak. tersentuh batu2 cadas yang keras, dingin lagi licin.
Puluhan tombak sekeliling tebing telah digerayangi, namun tak ditemukan tempat yang dirasakan dapat menembusi tempat itu, rasa lapar dahaga, kecewa, putus asa membuat tenaganya mengendor. badan mulai menjadi lemas, ingin sekali sepasang tangannya mengendor, melepaskan diri dari cekalan akar rotan dan jatuhkan diri kedala m jurang, menghancur lumatkan badan nya didasar jurang yang dalamnya ratusan tombak itu.
Tapi sepasang tangannya tidak mengendor, malahan ia cekal akan rotan itu semakin kencang, makin erat. inilah daya upaya yang bisa diberikan manusia disaat jiwanya terancam mara bahaya.
Mata dipejamkan rapat2, membiarkan rasa pening dan mulai bergelora di badan bergerak lewat, setelah itu mulai teruskan kembali usahanya mencari dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman maut.
Menanti Im Yang siauw-su tiba disebuah tebing yang terakhir, mendadak jari tangannya meraba sebuah permukaan yang membusung kedalam, ternyata disitulah terdapat sebuah gua.
Ia tak berani percaya apa yang ditemukan adalah suatu kenyataan, dikiranya lekukan tadi hanya sebuah celah2 belaka -antara tebing yang datar lagi curam.
Namun setelah diperiksa lebih seksama, maka ditemukan olehnya enam depa disekeliling tempat itu merupakan tempat yang berlubang, saat inilah ia baru yakin bahwa ia telah tiba di sebuah gua yang cukup besar dan dapat digunakan untuk menyembunyikan badan.
Mengikuti celah2 tebing, mengukur letak lubang kemudian meminjam akar rotan tadi ia merangkak turun dan menerobos masuk kedalam gua tersebut.
Meminjam cahaya sang surya yang menerobos awan menyinari tempat itu, sang pemimpin dari perkumpulan Im- Yang- Kauw ini memperhatikan keadaan disekitarnya, ia yakin tempat dimana ia berada saat ini merupakan sebuah gua batu yang dalam tak terhingga.
Dari pemeriksaan selanjutnya, iapuntahu bahwa gua itu bukan gua alam, empat penjuru dinding masih tertinggal bekas cangkul yang tajam disana sini, tak perlu dipikir lebih jauh bisa di ambil kesimpulan, gua tersebut tentu tembus di suatu tempat lain, mungkin menghubungkan tempat itu dengan sebuah tempat yang digunakan tokoh silat sakti untuk melatih ilmu silatnya.
Dalam keadan kritis mendadak peroleh harapan untuk hidup, Im- Yang siuwsu amat girang. Tak kuasa ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak. setelah tertawa, ia pasang telinga, ternyata tak ada suara pantulan yang muncul, hal ini semakin meyakinkan hatinya bahwa gua itu amat dalam dan menghubungkan tempat itu dengan suatu tempat lain.
Dari dalam saku, ia ambil keluar batu api, menyulut dan memeriksa keadaan disana. Dasar gua datar lagi bersih dinding tebing licin bersinar, apa yang dilihat semakin menambah keyakinannya bahwa apa yang diduga semula tak bakal salah lagi.
obor disorot kearah bawah, dialas debu yang tebal seakan akan tertinggal sebuah bekas binatang merangkak yang menuju kedalam bahkan baunya busuk, apek, amis dan sangat memuakkan.
Meniti jalan likuan serta tikungan dalam gua kemudian mencocokkan pula dengan arah angin, Im Yang Kauw cu menduga bahwa ujung gua sebelan depan ada kemungkinan berada diatas tebing Pek-Yan Gay.
Rasa girang membuat semangatnya berkobar, apalagi dia adalah seorang jagoan kelas satu dalam dunia persilatan, ilmu meringankan tubuhnya segera disalurkan dengan gerakan yang cepat bergerak kedalam gua.
Dalam sekejap mata kurang lebih setengah lie telah lewat, mendadak medan gua dihadapannya membentang lebar, muncullah sebuah keraton yang luas, indah dan terbuat dari batu marmer, begitu megah keraton tersebut sehingga menyaingi keindahan istana kaisar.
Diatas pintu besar bertaburkan mutiara dan intan permata yang memancarkan cahaya cemerlang berwarna hijau.
Diatas pintu melintang sebuah papan nama yang bertuliskan kata kata: Istana setan “Yoe Ling Koei Hu” empat huruf emas, gaya tulisan kuat lagi indah sekali.
Menyaksikan betapa luas dan megahnya keraton setan ini, im Yang siuw su merasa kagum akan arsitek serta pembangunan yang begini hebat itu.
Jalan yang malang melintang, ruang batu yang berderet deret, mungkin bisa ditempati dan ditinggali oleh puluhan orang sekaligus, diam2 ia merasa girang, suatu saat bisa lolos dari tempat itu ia pasti akan menggunakan istana setan ini sebagai markas besar perkumpulannya .
Tengah hatinya kegirangan, mendadak Im- Yang siuw-su tersentak kaget, suara jeritan aneh berkumandang dari empat penjuru, dalam sekejap diatas permukaan gua tersebut telah bermunculan ratusan bahkan ribuan ekor kalajengking berwarna merah darah begitu banjak binatang tersebut sehingga seluruh permukaan seakan akan tergenang oleh permadani merah.
Laksana kilat ia cabut keluar senjata kipasnya, denganjurus “Hay Tau-Hung Laa” atau ombak Menggulung Gelombang Menyambar ia sapu ratusan bahkan ribuan ekor kalajengking itu sehingga terpental sejauh beberapa tombak. jeritan aneh bergemah makin berisik, banyak diantara binatang2 itu roboh binasa ataupun terluka, suasana hiruk pikuk dan kacau tidak karuan- Untung sekali, setelah menderita kerugian besar itu binatang2 beracun tadi tak berani mendesak lebih dekat lagi.
mereka sama sama jauh menyingkir. segera ia padamkan obor, masukkan kedalam saku dan berpikir didalam hati: “Aaaaaa mungkin didalam keraton setan tak akan ada lagi binatang2 yang membosankan ” Ia tidak ragu2 lagi, hawa murni disalurkan mengelilingi badan kemudian memegang gelang pintu dan ditariknya kedepan- sementara pintu bergerak kesamping dengan membawa suara mencicit yang keras, Im Yang siuw-su meloncat kesamping untuk bersiap siaga terhadap segala serangan yang muncul secara tiba2.
Walaupun kesiap-siagaannya cukup teliti, setelah pintu batu terbentang lebar dari balik ruangan sama sekali tak terjadi sesuatu gerakanpun, tak ada senjata rahasia beracun yang berhamburan, tak ada pula tombak2 tajam yang saling menyambar, melihat hal tersebut ia jadi tertawa geli sendiri, menertawakan diri sendiri yang keliwat hati2 sehingga macam orang ketakutan- Walaupun begitu. Im Yang Siauw-su yang tersohor akan kelicikan, keganasan, kekejian serta kekejamannya ini tak berani bertindak gegabah ilmu sakti Hian Lat Im Kang segera disalurkan melindungi badan, dengan langkah yang sangat ber-hati2 selangkah ia masuk kedalam.
Diatas dinding ruangan kembali dijumpai mutiara serta intan yang berhamburan dimana2 membuat suasana dalam ruangan terang benderang.
Sekilas pandang ia merasakan ruang tersebut mirip dengan sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk perkumpulannya para anak buah, begitu luas dan dibelakang ruangan menonjol ke atas sebuah panggung batu yang datar, diatas panggung tertera sebuah meja besar indah dan megah, dibelakang meja tersusun sebuah kursi Thay-su le yang berlapiskan kulit harimau.
Sekali pandang, siapapun akan menduga ditempat inilah Yoe Leng Kauwcu memimpin Tahta kekuasaannya keseluruh dunia persilatan beberapa puluh tahun berselang.
Rasa girang tak dapat ditahan lagi, sambil tertawa terbahak2 pikirnya: “Dikemudian hari aku pasti akan menggantikan kedudukannya ” tak kuasa lagi semangatnya ber-kobar2 kembali.
Dari sisi pintu ruang tengah ia menerobos masuk kedalam, berbelok kekiri kemudian menikung kekanan, ditemuinya sepanjang jalan keraton setan itu sudah dipenuhi dengan sarang laba2 serta debu yang tebal, perabot rumah tangga yang ada disitu sudah lapuk dan rusak semua, kalau dihitung mungkin sudah ada ratusan tahun lamanya keraton setan ini tak berpenghuni.
Akhirnya tiba disebuah ruangan, benda2 serta perabot yang teratur rapi dalam ruangan, bisa diduga disinilah Yoe Leng Kauwcu bersemayam selama ini.
Dugaannya sedikitpun tidak meleset, diatas pembaringan yang terbuat dari batu marmer duduk bersila seperangkat tengkorak manusia yang masih utuh.
Walau “Im Yang siuw-su” Cie Tiong Kian tinggi hati dan sombong, setelah berada dihadapan kerangka manusia dari seorang tokoh maha sakti ini, ia merasa dirinya begitu kecil dan bukan apa2nya, tak kuasa ia jatuhkan diri berlutut dan menghunjuk hormat kearah tengkorak tadi.
Namun setelah menjura ia rada menyesal pikirnya: “Bagaimana jeleknya akupun seorang Kauwcu dari sebuah perkumpulan besar kenapa aku bertekuk lutut dan menghunjuk hormat terhadap seperangkat kerangka manusia yang tak berguna ini” Ingatan tersebut cuma sebentar berkelebat dalam benaknya, rasa ingin tahu segera menarik seluruh perhatiannya untuk meneliti dan memeriksa keadaan setiap ruangan tersebut.
Menanti sinar matanya terbentur dengan barang yang berada diatas meja terbuat dari pualam putih, rasa girang mendadak bergelora dalam hati.
Ia menjerit kegirangan lalu bagaikan sesosok bayangan setan tubuhnya menubruk kedepan dengan cepatnya.
Ternyata diatas meja pualam putih itu terletak sebuah kotak besi, sebilah pedang mustika lengkap dengan sarungnya serta sebuah botol obat berwarna hijau. Disamping itu terdapat pula sebuah mantel berwarna hitam pekat yang berbentuk aneh sekali.
Ia tak kuat menahan diri, kotak besi tadi segera dibuka dan… dihadapan matanya muncullah tiga jilid kitab yang tersusun jadi satu pada kitab paling atas tertulislah empat huruf besar dari tinta emas: “YOE LING PIT KIP”.
Inilah kitab mustika yang di cari2 dan diperebutkan oleh setiap jago dunia persilatan, tak nyana semua orang berebut tanpa hasil, dirinya karena bencana mendapat keuntungan yang besar. Teringat kesemuanya ini Im Yang siuw-su tak kuasa menahan diri lagi, ia mendongak dan tertawa ter bahak2.
ooo o 000 KOEI Chiu terletak didaratan tinggi dalam musim salju yang amat dingin udara disekeliling propinsi tersebut istimewa bekunya, dan angin berhembus jauh lebih ganas dari daerah2 di Barat maupun selatan- Sekalipun dingin, bagi Bongsan Yen Shu atau si kakek Huncwee dari gunung Bong-san yang tersohor dalam dunia persilatan, hawa dingin sama sekali tidak mempengaruhi kondisi badannya, pagi2 benar ia sudah bangun dari tidurnya.
sewaktu ia berpaling memandang kearah pembaringan seberangnya, ditemui tempat itu telah kosong, bayangan Gong Yu si murid kesayangan nya sudah lenyap tak berbekas.
Menyaksikan kejadian itu, sikakek tua ini lantas menggerutu: “Hmm pagi benar sisetan cilik itu sudah bangun ” Meski diluaran ia menggerutu dalam hati merasa sangat girang, sebab bocah itu bukan saja memiliki tabiat yang jujur, polos dan rajin, ia-pun memiliki bakat bagus untuk berlatih ilmu silat, asalkan bertemu dengan guru kenamaan tidak sulit untuk menciptakan bocah ini sebagai jagoan Bu-lim dikemudian hari.
Dengan tenang dan lambat Bong-san Yen shu mengisi Huncwee nya dengan daun tembakau lalu membuka pintu dan bertindak keluar. Huncwee nya yang hitam mengkilap segera dijejalkan kedalam mulut, menyulut dan menyedotnya dengan asyik, setelah itu selangkah berjalan lewat beranda, melewati kebun dengan bunga yang indah semerbak dan bertindak terus kearah depan- Ia berjalan perlahan, namun tetap. sikapnya ringan dan diliputi kegembiraan- -00000000- Jilid 7 SEWAKTU kaki depan sedang melangkah kedalam kebun bunga itulah, dari kedua belah samping berkumandang datang suara sapaan yang merdu dan halus: “Selamat pagi suhu ” “Selamat pagi Loocianpwee “.
Teguran yang mendadak dan diluar dugaan ini hampir saja membuat Bong-san Yen shu menjerit kaget, sinar matanya segera menyapu kearah mana berasalnya suara tersebut.
Tampaklah semua anak muda hampir boleh dikata telah berkumpul semua disana.
Tidak terasa lagi ia menyemburkan segulung asap Huncweenya yang hitam dan tebal lalu tertawa ter-bahak2.
“Haa…haa…benar2 gelombang belakang sungai Tiangkang mendorong gelombang didepannya ” ia berseru. “Bukan saja ilmu silat aku s iorang tua ketinggalan jauh, bahkan dalam acara bangun pagipun aku masih tak bisa menangkan diri kalian. Yaaa…. yaaa agaknya sudah pantas bagiku untuk mendaftarkan diri pada perkumpulan orang2 tak berguna” Kepulan asap huncweenya menggulung sekelompok demi sekelompok tiada berputusan di-tengah udara, asap hitam mana segera mengumpul jadi satu dan melayang kesana kemari-terhembus angin, lagaknya bagaikan naga sakti yang bergerak sambil pentangkan cakarnya, lama sekali tidak mau juga buyar.
Bagi Gong Yu. pemandangan semacam itu sudah terbiasa baginya dan ia tidak merasa heran, tapi buat Hoo Thian Heng, Poei Hong, Tonghong Beng Coe, Ling, Lan, Coei, Giok empat dayang beserta Lie Wan Hiang peristiwa ini mencengangkan hati mereka sampai2 beberapa orang itu berdiri me-longo2.
Nona Wan Hiang tahun ini baru berusia empat belas tahun, meski masih muda wajahnya sudah kelihatan begitu cantik, manis dan menawan hati.
Dialah putri tunggal dari cian-Liong-Poocu Lie Kie Hwie sang ketua benteng dari benteng cien-Liong. sejak kecil gadis ini sudah disayang dimanja orang tuanya, tidak aneh kalau semenjak kecil pula ia sudah dididik dasari ilmu silat aliran Kun-lun-pay.
Bocah perempuan ini dasarnya cerdik, rajin dan berbakat, apa yang diajarkan sebentar saja sudah dikuasai dengan hapal hampir seluruh ilmu silat yang dimiliki Lie Kie-Hwie telah diwariskan semua kepadanya, apa yang kurang baginya ialah latihan yang lebih giat serta pengalaman dalam menghadapi musuh.
Nona cilik ini belum pernah menyaksikan pemandangan seaneh ini, dasar usianya masih muda, sifat ke-kanak2annya belum hilang, tak tertahan lagi ia bertepuk tangan sambil berteriak: “Bagus, bagus sungguh menyenangkan Yu Loocianpwee.
ayoh sekali lagi ayoh sekali lagi” Permintaan ini seketika membuat sikakek hunewee dari gunung Bong-san jadi merasa serba salah, bukannya ia tak bisa mengepulkan asap huncwee lagi, melainkan bila ia berbuat demikian maka martabatnya bakal turun dimata kawanan muda-mudi ini. Maka dari itu ia cuma tersenyum dan tidak ambil perduli seruan tersebut.
Menjumpai si kakek huncwee dari gunung Bong-san menampik permintaannya, nona Lie Wan Hiang segera cemberut wajahnya yang bulat telur memancarkan rasa kecewa yang bukan kepalang.
Gong Yu yang berada disisi gadis itu jadi tidak tega, segera ia memohon- “suhu, memandang diatas wajah Wan Hiang moay-moay, bermainlah sekali lagi.” Menyaksikan murid kesayangannya begitu akur dan sayang terhadap Lie Wan Hian, hati Bong-san Yen shu rada bergerak, iapun segera berobah pikiran katanya: “Baiklah harap kalian suka menyaksikan aku orang tua bermain kepulan asap sekali” sembari bicara ia cekal huncweenya lantas dihisap beberapa kali. setelah itu menutup bibirnya kemudian secara tiba2 dipantang dan menyembur keluar dua gulung asap lingkaran yang melayang secara berantai.
Terhempas oleh goncangan udara, lingkaran asap tadi lambat2 berubah bentuk sehingga akhirnya terwujudlah dua gulung asap berbentuk jantung hati yang mengalun, melayang dan berserak ditengah udara.
Gong Yu dan Lie Wan Hiang saling berpandangan sekejap, air muka mereka berdua berubah merah padam menahan jengah, kepala tertunduk rendah2 se-akan2 takut dijumpai orang.
Padahal dalam kenyataan merekapun tak usah kuatir, sebab pada saat ini air muka si sastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng. Poei Hong maupun nona Tonghong Beng Coepun telah berubah merah jengah, mereka merasa malu dan kikuk sekali.
Menjumpai tindak tanduk anak muda itu, si kakek huncwee dari gunung Bong-san merasa geli didalam hati, pikirnya: “Aaai kalian anak2 muda agaknya sudah terjaring semua dalam soal cinta asmara “.
Terbayang kembali kisah sedih yang menimpa dirinya dalam soal asmara, kakek tua ini menghela napas panjang.
se-konyong2…
Dari luar pintu kebun bunga berkumandang datang suara seruan seseorang dengan suara yang serak lagi tua: “Yu thay-hiap. sepanjang masa kau selalu riang gembira, persoalan apa yang membuat kau menghela napas ? apakah disebabkan aku yang jadi tuan rumah tak bisa melayani tetamunya dengan baik????”.
sungguh luar biasa baru saja suara tersebut berkumandang, manusianya telah sampai, tampaklah sesosok bayangan manusia yang tinggi, besar dalam sekejap mata telah berdiri dihadapannya.
Tonghong Beng Coe merasa kagum, walaupun ia tahu Cian-Liong-Poocu Lie Kie Hwie adalah salah satu diantara tiga jago pedang Bu-lim-sam-Toa-Kiam-Hiap yang menjagoi Bulim dewasa ini, tak disangka kecuali dalam ilmu pedang, ilmu meringankan tubuhnya pun sangat luar biasa, ia bersorak dalam hati dan memandang tertegun-Dalam pada itu si Kakek Huncwee dari gunung Bong-san telah tertawa terbahak-bahak.
“Haaha ha haaa Poocu, menurut aku, kaulah yang terlalu sungkan barusan siauw-te menghela napas, hal ini disebabkan-…” Bicara sampai disitu ia lantas menuding ke arah Gong Yu seraya melanjutkan- “Yaaaa, tidak bukan tidak lain memikirkan bocah cilik yang sama sekali tak berbakat ini”.
Cian-Liong Poocu sadar bahwasanya si kakek huncwee dari gunung Bong-san ini sudah terbiasa berkelakar serta bicara seenak sendiri, meski berada dihadapan anak muridnya sendiri tak pernah ia membedakan mana yang tua dan mana yang muda maka terhadap ucapannya ia tidak ambil gubris.
Sebaliknya dalam pendengaran sepasang muda mudi itu, ucapan tersebut mendapatkan tanggapan lain, mereka masih mengira siorang tua ini sudah berhasil mengetahui rahasia hati mereka, merah padamlah selembar wajah kedua orang itu.
Lain halnya dengan nona Poei Hong, ia merasa tabiat Gong Yu amat jujur, polos dan rajin ia tak tahu dalam bagian manakah dari pemuda tersebut yang tidak memuaskan gurunya, dari samping ia lantas menghibur: “Yu cianpwee, tabiat maupun bakat Gong siuw-hiap amat bagus, murid sebagus ini kenapa kau katakan tidak baik???” Baru saja ucapan tersebut diutarakan keluar, kembali terdengar suara yang serak tua bergema datang: “siapa bilang bocah itu tidak berbakat??? serahkan saja kepadaku….” suara itu meski kedengaran sangat halus lagi lembut, namun nyata dan jelas sekali, agaknya suara tersebut dipancarkan datang dari suatu tempat beberapa li jauh nya dari s itu.
sementara semua orang yang hadir dalam kalangan merasa kaget bercampur heran, sambil kerutkan sepasang alisnya si sastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng sudah berkata: “Aaah suhu dia orang tua telah datang” Belum sirap suara itu, dari arah yang berlawanan kembali bergema datang suara pembicaraan yang halus tapi nyaring, agaknya suara tersebut jauh lebih tinggi nadanya daripada suara pertama tadi, sambil tertawa terdengar orang itu berkata: “Hey, pedagang perut gede, barang itu siang2 sudah kupesan duluan kau tak boleh berebutan barang dagangan dengan diriku lho “.
Poei Hong merasa suara orang itu sangat dikenal olehnya, dengan alis melentik dan nada kegirangan ia lantas berseru: “Engko Hoo, gurukupun telah datang “.
Bong-san Yen shu atau sikakek huncwee dari gunung Bong-san merasa tidak puas dengan tingkah laku para anak muda yang begitu cepat terlibat dalam soal asmara, tapi mendapat kunjungan dari dua orang tokoh sakti dunia persilatan yang sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri, ia tak ada niat lagi untuk ajak anak muda itu bergurau.
Kiranya selama dua tiga hari ini Hoo Thian Heng bergaul dan berkumpul dengan akrabnya dengan Poei Hong serta Tonghong Beng coe, bahkan diantara mereka bertiga sudah saling menyebut pihak masing2 sebagai Heng-moay atau kakak beradik.
Dalam sekejap mata itulah semua orang merasakan pandangannya jadi kabur, terasa ada dua gulung asap ringan dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun telah melayang masuk kedalam kebun bunga.
Menanti semua orang alihkan perhatiannya ketengah kalangan, maka disana telah bertambah dengan seorang nyonya berwajah setengah tua yang memakai sebuah mantel terbuat dari kulit Tiauw serta seorang saudagar berusia pertengahan yang yang memiliki perut gendut.
Begitu menjumpai kehadiran dua orang tokoh sakti itu.
sisastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng serta nona Poei Hong buru2 bangun berdiri untuk menghunjuk hormat kepada gurunya masing2.
cian-Liong Poocu Lie Kie Hwiepun segera menghunjuk hormat kepada kedua manusia sakti dari dunia persilatan yang disebut Koe sian sin-poo serta Lam Hay Hiap-Kee ini, ujarnya: “Tempat ini tidak layak untuk digunakan menyambut kehadiran Loo sin-sian berdua, silahkan masuk kedalam ruang tamu agar boanpwee sekalian bisa menghunjuk hormat sebagai mestinya kepada kalian berdua”.
Bu-lim Jie-seng atau sepasang Rasul Rimba Persilatan ini mengangguk. demikianlah di bawah pimpinan cian-Liong Pocu mereka berjalan menuju keruang tamu.
Menanti semua orang sudah hadir dalam ruang tengah, tuan rumah perempuan Ceng-Hong Li-hiap atau sipendekar wanita burung Hong hijau Thiosee pun segera munculkan diri untuk bertemu dengan dua orang tokoh sakti dari dunia persilatan ini.
Menanti semua orang sudah selesai menghunjuk hormat.
Koe sian sin-Poo sambil membereskan rambutnya yang terurai berkata: “Aku sinenek tua serta saudagar berperut gendut sudah ada seratus tahun lamanya tak pernah menginjakkan kaki dalam dunia persilatan lagi, ini hari kami buru2 mendatangi benteng Cian-Liong-Poo, tahukah kalian apa sebabnya ?”. Para jago sama2 membungkam.
Per-lahan2 sinar mata Koe sian sin-poo menyapu sekejap wajah semua orang, setelah itu sambungnya: “sebabnya…bukan lain untuk menanggulangi bencana yang bakal menimpa seluruh rimba persilatan pada tiga tahun mendatang”.
Perkataan ini membuat para jago sama2 terperanjat, Poei Hong paling tercengang, ia berseru: “suhu, Peng Pok sin-mo sudah mati, dari sepuluh manusia sesat dunia persilatan ada tujuh orang sudah binasa, sedangkan peta mustika kitab pusaka Yoe Ling pit Kip pun tidak hilang, sampai sekarang masih berada ditangan tecu, entah siapa lagi yang begitu bernyali berani menciptakan malapetaka bagi dunia persilatan ?”.
“Apa yang bakal terjadi tepatnya aku tidak begitu jelas” sahut Koe sian sin-poo dengan sepasang alis berkerut. “Hanya saja kau harus ingat, segala persoalan kadang2 bisa terjadi jauh diluar dugaan orang “.
Hoo Thian Heng kebingungan, ia merasa amat sukar untuk memahami apa yang diucapkan Koe sian sin-poo cianpwee barusan, tak kuasa lagi ia lantas berpikir dalam hatinya: “Kau sendiripun tidak begitu jelas dengan apa yang bakal terjadi, kenapa begitu berani kau katakan bahwa tiga tahun mendatang dunia persilatan bakal dilanda malapetaka” Hampir saja pemuda ini buka mulut menegur siorang tua itu, syukur ia masih sadar Koe sian sin-poo yang berada dihadapannya adalah seorang tokoh mana sakti yang luar biasa, iapun angkatan tua dari padanya.
“Tiga hari berselang” ujar wanita setengah tua itu kembali.
“Loo Pouw-sat dari gunung Altai telah meramalkan bahwa tiga tahun kemudian dalam dunia persilatan pasti akan terjadi suatu bencana, suatu malapetaka yang maha dahsyat, karena itu dengan ilmu Ban-Lie-Coan-Im beliau menitahkan aku sinenek tua serta si saudagar berperut gendut untuk sama2 mendatangi benteng Cian-Liong-Poo guna mencari orang2 atau bakat2 baru yang bisa menahan, membendung serta menyingkirkan malapetaka tersebut tiga tahun kemudian.
Disamping itu Beliau pun menitahkan kami berdua untuk mewariskan seluruh kepandaian silatku serta ilmu silat aliran Lam-hay kepada orang itu dalam tiga tahun ini “.
Bicara sampai disitu sepasang matanya dengan tajam menyapu sekejap wajah semua orang, ketika si Dewi tua ini menemukan bahwasanya Gong Yu adalah sebatang bahan kumala yang indah serta belum diasah, ia mengangguk tiada hentinya. “Bocah, kemarilah .” ia berseru.
Dewasa ini Gong Yu baru berusia lima belas tahun, meski demikian ia sudah memiliki tingkah laku seorang dewasa yang telah matang dalam pengalaman, mendengar sapaan itu dengan langkah tegak dan lebar ia berjalan ke-depan menghampiri perempuan setengah tua itu.
Dalam pada itu si Lam-Hay siang In atau saudagar Kosen dari Lam-hay dengan sepasang matanya yang jeli mengawasi terus Gong Yu tajam2, menyaksikan bakat sang bocah amat bagus, tak kuasa lagi sembari mengelus perutnya yang gendut ia tertawa ter-bahak2.
“Haaa haaa haaa toa-cie, sungguh lihay ketajaman matamu, bocah ini halus penuh kesopanan tapi gagah bagaikan panglima perang, bakatnya memang benar2 bagus, aku rasa jual beli kita kali ini tak bakal menderita rugi “.
Dengan mata kepala sendiri Lie Wan Hiang, menyaksikan Gong Yu kekasih yang dicintai telah dipandang begitu tinggi oleh dua orang tokoh maha sakti, tentu saja hatinya merasa sangat girang, tapi iapun merasa murung karena gadis ini sadar bakalan lama sekali ia tak bisa berjumpa dengan engkoh kesayangannya ini.
Gong Yu yang ada disitu segera menyadari apa yang menyebabkan Lie Wan Hiang merasa murung dan tidak senang hati, buru2 ia kerdipkan matanya berulang kali.
Jendela dari sukma ini kadang kala dapat mengutarakan isi hati yang hendak disampaikan kepada pihak lawan, terutama sekali dalam pandangan kekasih dari kerdipan mata tadi agaknya Lie Wan Hiang berhasil mendapatkan jaminan serta kepercayaan dari kekasihnya, rasa murung kontan tersapu lenyap berganti dengan senyuman manis yang mempersonakan.
Koe sian si-poo tahu sepasang muda mudi ini sudah terjerumus dalam jaring cinta, pikirannya mendadak rada bergerak pikirnya: ” Kenapa aku tidak bawa serta nona ini untuk kuwarisi sekalian seluruh kepandaian silatku??? bukankah dikemudian hari ia dapat banyak membantu Gong Yu dalam melaksanakan tugas sucinya ???”.
Ka dang2 perhitungan manusia tak dapat menangkan perhitungan takdir, apa yang dipikirkan Koe sian sin-poo sekarang memang tepat dan tidak salah, siapa sangka justru Bencana yang bakal melanda dunia persilatan di kemudian hari terjadi karena gadis ini, karena dia banyak tokoh2 silat dunia persilatan mati membuat Gong Yu merasa tidak tenteram bahkan hampir menemui ajalnya.
sekalipun susah payah Koe sian sin-poo serta Lam-Hay sang In untuk kedua kalinya turun gunung, siapa bisa menyangka dikemudian hari bakal timbul bencana karena kesalahan hitung mereka sendiri ??? Bagaimanapun peristiwa ini bakal terjadi di kemudian hari untuk sementara tidak kita ungkap lagi disini.
Dalam pada itu Koe sian si-poo punya perhitungan sendiri, sambil menggape kearah Lie Wan Hiang serunya: “Bocah manis, kaupun kemarilah, aku si nenek tua ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu ” Lie Wan Hiang adalah seorang gadis cerdik, ia segera maju menghampiri Koe sian sin-poo dan langsung menghunjuk hormat kepada orang tua ini.
Dengan pandangan yang tajam serta teliti Rasul rimba persilatan ini mengawasi gadis itu dari atas hingga kebawah, segera ia merasa bahwa gadis ini benar2 amat berbakat untuk berlatih ilmu silat maha sakti. Maka ia lantas bertanya kembali: “Bocah, apakah kau benar2 mencintai engko Yu mu ini ?”.
Meski baru berusia empat belas tahun, di-mana masa remaja baru saja berkembang, namun Lie Wan Hiang sudah tahu malu.
Mendengar pertanyaan itu ia jengah, buru2 mengangguk lalu tundukkan kepalanya rendah2.
“Maukah kau ikut aku sinenek tua pergi belajar ilmu silat ?” kembali Koe sian sin-Poo bertanya.
sekali lagi Lie Wan Hiang mengangguk.
“Toa-ci, sudah cukup ” tiba-tiba si saudagar kosen dari Laut selatan menyela. “Untuk mensukseskan jual beli ini, seharusnya kau mulai rundingkan dengan Cian-Liong Poocu suami isteri apabila mereka semua setuju, maka jual beli ini baru bisa dianggap berhasil” cian Liong Poocu, Lie Kie Hwie serta isterinya burung Hong hijau Thio see mendengar bahwa puteri kesayangan mereka mendapat perhatian dari Koe san sin-po dan diterima sebagai muridnya untuk diwarisi ilmu silat maha sakti, dengan hati girang segera memberikan persetujuannya.
setelah Lie Wan Hiang mendapat persetujuannya dari kedua orang tuanya untuk angkat Koe sian sin-poo sebagai guru, persoalan Gong Yu jauh lebih gampang diselesaikan.
Terpaksa sikakek huncwee dari gunung Bong san harus menahan rasa sayangnya untuk serahkan murid kesayangannya kepada kedua orang tokoh maha sakti tersebut. Lambat2 Koe sian sin-poo alihkan sinar matanya kearah Tonghong Beng Boe ia berkata: “Nona tahukah kau apa hubunganmu dengan muridku Poei Hong?” “Boanpweee tidak tahu, harap Loo sin sian suka memberi petunjuk.” “Kalian asal sebenarnya kalian berdua adalah sepasang saudara kembar” ujar si nyonya setengah tua sambil menghela napas rendah.
Poei Hong tersenyum, Tonghong Beng Coe pun sejak semula punya prasangka ini. sebab sewaktu pertama kali mereka berdua saling berjumpa, gadis ini telah temukan bahwa masing-masing orang memiliki topeng kulit manusia yang mirip dan tak berbeda sama lain nya.
sisastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng membelalakkan sepasang matanya lebar2, sejak tadi ia pasang telinga mendengarkan ucapan nyonya tua itu dengan seksama, kini setelah mengetahui bahwasanya kedua orang itu adalah saudara kembar, meledaklah rasa girang yang me-luap2.
Diantara para jago yang hadir dalam kalangan saat ini, boleh dibilang ia paling merasa gembira dengan berita tersebut.
Kiranya pendekar muda ini meski berwatak angkuh serta tinggi hati, salama hidup tak pernah pandang tinggi kaum wanita, tapi setelah beruntun berkenalan dengan Tonghong Beng Coe serta Poei Hong, ia merasa begitu tertarik dengan sepasang gadis cantik itu. sehingga tanpa terasa timbullah tali asmara dalam hati kecilnya.
seorang lelaki sejati mencintai kaum gadis cantik sebetulnya bukan terhitung suatu kejadian aneh, justeru celakanya baik Tonghong-Beng Coe maupun Poei Hong sama2 merupakan gadis cantik yang rupawan dan bersamaan pula telah jatuh cinta kepadanya.
Kejadian ini membuat pemuda she Hoo jadi bimbang, haruskah ia tinggalkan ikan untuk mendapatkan telapak beruang, ataukah tinggalkan telapak beruang untuk mendapatkan ikansementara ia masih kesal dan murung, mendadak didapatinya berita bahwa kedua orang itu ternyata adalah sepasang saudara kembar timbullah suatu niat untuk mendapatkan ikan serta telapak beruang dalam waktu yang bersamaan- Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, terdengar Koe sian sin-poo dengan suaranya yang nyaring telah berkata kembali: “Delapan belas tahun berselang, ketika aku sinenek tua lewat di see Gak Hoa-san mendadak bertemu dengan dua orang tokoh sakti dari aliran hitam yang sedang mencoba memperkosa seorang nyonya muda berwajah cantik dengan kekerasan, diatas punggung nyonya cantik itu menggendong seorang bayi kecil yang belum genap berusia satu tahun, ketika bayi itu tadi menangis tiada hentinya.
“Menyaksikan apa yang hendak dilakukan kedua orang bajingan itu, aku sinenek tua jadi amat gusar, dalam suatu pertarungan sengit aku berhasil membinasakan salah satu di antaranya, sementara orang kedua rada licik, mengambil suatu kesempatan bagus ternyata ia melarikan diri” “Aku sinenek tua masih ingat, orang yang berhasil melarikan diri itu memiliki perawakan badan tinggi besar lagi kekar, diatas keningnya terdapat sebuah codet bekas babatan senjata”.
“Aaah dia adalah Peng Pok sin-Mo ” teriak Poei Hong dengan nada terperanjat.
” Tepat sekali ” sambung Tonghong Beng Coe dengan alis melentik. ” Kemarin malam, berada dibawah sorotan sinar rembulan aku melihat jelas sekali, diatas kening jahanam tersebut benar2 terdapat sebuah codet bekas babatan senjata”.
Koe sian sin-Poo menyapu sekejap kearah sepasang kakak beradik itu, lalu sambungnya lebih jauh: “setelah kejadian itu aku baru tahu, kiranya bajingan yang berhasil meloloskan diri itu bernama Loe Thian Ciang. itulah nama asli kecil Peng Pok sin-Mo” Nyonya tua ini merandek sejenak lalu terusnya lagi: “Beruntung nyonya itu belum diperkosa, karena kasihan maka aku sinenek tua lantas membawa ibu dan anak ini pulang kegunung Koei-san dan sementara berdiam disana.
Dis itulah nyonya muda itu menceritakan kisah asalusulnya, ternyata ia she Poei bernama oen Hoa puteri dari Poei To seorang guru silat kenamaan dikota Loksyang, setelah dewasa ia dikawinkan dengan Tonghong Koen putra dari Tonghong Leng yang berdiam dikota Kay-hong.” “sejak kecil Tonghong Koen amat dimanja karena itu setelah dewasa ini jadi jumawa lagi amat cemburuan.
suatu hari datanglah Go Lee saudara misan kerabat jauh dari Tonghong Koen untuk tinggal selama beberapa saat dirumah mereka tabiat orang itu sangat buruk dan gemar sekali dengan paras elok. menemukan iparnya Poei ong Hoa berparas sangat cantik lagi menarik. la tidak memperdulikan apakah iparnya sudah punya bayi kembar atau tidak, selalu dicobanya untuk menggoda, maupun menjawil kesana kemari dengan maksud di ajak main cinta.
Mula2 Poei oen Hoa selalu menyingkir atau menjauhi saudara misan yang berperangai jelek ini, lama kelamaan ia tak tahan dan mulai menegur dengan kata2 pedas, namun Go Lee tetap membandel dan tebal muka, bukan nya berhenti menggoda ia malah semakin nekad.
suatu hari sewaktu Go Lee kembali menggoda iparnya yang cantik itu, mereka kepergok oleh Tonghong Koen, menyaksikan kejadian itu Tonghong Koen jadi naik pitam, tanpa menyelidiki dahulu duduknya perkara ia tuduh istrinya main serong dan antara kedua orang itu sudah melakukan perbuatan2 terkutuk yang menodai nama baiknya, disamping segera mengusir Go Lee si bajingan tengik itu dari rumah, iapun mengusir Poei oen Hoa untuk segera pulang kerumah orang tuanya.
sia2 belaka penjelasan yang diberikan oen Hoa kepada suaminya. Tonghong Koen tetap berkeras kepala tak mau tahu atas semua penjelasan tersebut, ia tetap dalam tuduhan semula.
Mengikuti adat istiadat ketika itu bilamana sang bini tidak melanggar salah satu diantara tujuh pasal sang suami yang dapat memulangkan isterinya.
oen Hoa malu pulang kerumah orang tuanya, dalam keadaan putus asa ia tinggalkan sehelai topeng kulit manusia, habis mencium dahi bayinya yang satu, dengan membawa bayinya yang lain tinggalkan kota Kay-hong menuju keutara kekota Tiang-an untuk sementara mondok dirumah bibinya Hong sip Kioe-Nio.” Koe sian sin-poo merandek sejenak untuk tukar napas, setelah berhenti sejenak ia meneruskan kembali.
“Dalam perjalanan ini penderitaan oen Hoa belum selesai, sepanjang jalan Go Lee menguntit terus di belakangnya sambil menggoda dan mengucapkan kata cabul, semua dibiarkan saja oleh oen Hoa, tapi akhirnya nyonya muda ini jadi naik pitam juga, pedangnya segera meloloskan dan menerjang sang misan hidung bangor itu habis2an, sebagai puteri seorang guru silat kenamaan ilmu silatnya tentu saja tidak lemah.” “Mana mungkin bajingan cabul itu bisa menandingi dirinya? menurut bisikan hatinya ingin sekali ia cabut jiwa orang itu apa lacur oen Hoa adalah seorang gadis berbelas kasihan, selama hidup tak pernah ia bunuh selembar jiwa manusiapun, maka itu ia cuma mengutungi telinga kiri Go Lee saja sebagai peringatan bagi manusia bangor tersebut.” “semenjak itu perjalanannya keutara tidak mendapat rintangan ataupun gangguan lagi, baru saja ia bisa menghembuskan napas lega, siapa sangka bajingan itu belum juga jera, diam2 ia sudah bersekongkol dengan Peng Pok sinmo, Loe Thian ciang untuk sama2 melakukan perbuatan terkutuk itu”.
“Aaai.. kalau bukannya waktu itu secara kebetulan aku sinenek tua lewat digunung Hoa san-…”.
Bicara sampai disitu, sinyonya tua itu berpaling kearah murid kesayangannya Poei Hong.
“Budak cilik, apakah kau anggap kau bisa hidup sampai sekarang ?” serunya.
sepasang alis Poei Hong melentik, biji matanya yang bening memancarkan cahaya duka.
“oouw suhu. tentunya kau orang tua telah menerima diriku sebagai murid, lalu dimanakah ibu ? sekarang ia berada dimana ?”.
Dipandangnya wajah gadis itu, kemudian Koe sian sin-poo menghela napas panjang. “Aaii… ibumu tentu saja masih hidup “.
sementara itu Tonghong Beng Coe yang berada disisi kalangan tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, titik2 air mata jatuh berlinang dengan derasnya membasahi seluruh wajahnya.
“Tidak aneh kalau selama banyak tahun ayah tak pernah memberitahukan persoalan tentang ibu kepadaku, siapa sangka ternyata beginilah kejadiannya ooouw ibu. kau sungguh kasihan sekali ” keluhnya.
Begitu sedih hatinya, bicara sampai disitu gadis Tonghong tak bisa menahan diri lagi, ia menangis ter-sedu2.
Menemukan adiknya menangis begitu sedih, Poei Hong ambil keluar sepucuk sapu tangan berwarna hijau dan diam2 membesut air mata yang jatuh membasahi pipi gadis itu.
katanya: “ooouw …. suhu, kalau benar ibu masih hidup, entah sekarang ia berada dimana???”.
Peristiwa menyedihkan macam ini paling mudah mempengaruhi orang lain untuk ikut berduka, mengetahui betapa menderitanya oen Hoa serta betapa jeleknya peruntungan Tong hong Beng Coe serta Poei Hong, semua orang merasa sedih, seketika itu juga seluruh ruangan dilicuti oleh kabut kemurungan- Bukan begitu saja, bahkan Lam-Hay siang In sang saudagar kosen dari laut selatan yang punya pandangan lebih luaspun tak dapat menahan rasa sedih tersebut, kelihatan jelas betapa murung dan kesalnya wajah sang jago berperut gendut ini.
“sekarang ibumu tinggal didusun Wie-Kiok Tin yang letaknya diluar kota Tiang-an, didusun itulah bibimu Hong sip Kioe Nio berada …” kata Koe sian sin-poo sedih. Ia melirik sekejap keatas wajah murid kesayangannya, setelah itu menambahkan- “Bocah, dalam hati kecilmu pasti kau sesal kan gurumu kenapa selama banyak tahun tak kuceritakan kejadian ini kepadamu dan terus mengelabuhi dirimu bukan ?”.
“oouw,suhu…” Poei Hong mengeluh sedih.
“Pantangan terberat bagi seseorang yang sedang belajar silat adalah pikiran yang cabang serta perhatian yang tak dapat dipusatkan jadi satu” ujar Koe sian sin-poo dengan wajah serius. “seandainya kabar berita ini kuberitahukan sejak semula, maka tindakanku ini hanya mendatangkan keburukan bukan keuntungan bagimu, tentang soal ini apakah kau masih belum jelas ?”.
Poei Hong bungkam dalam seribu bahasa, sepasang saudara kembar ini cuma bisa saling berangkulan dengan eratnya sambil melelehkan air mata.
Tiba2 Koe Sian Sin-poo mendehem ringan, mendengar suara itu Poei Hong segera lepaskan rangkulannya pada Tonghong Beng Coe dau mengundurkan diri kesisi nyonya tua itu.
“Bukankah kau berhasil merampas selembar peta mustika petunjuk kitab pusaka Yoe Leng Pit Kip dari tangan Peng Pok sin-mo?” tanya Loo sin-sian itu kemudian- “Benar ” Poei Hong mengangguk.
“Menurut petunjuk yang tertera diatas peta, dimanakah letak tersimpannya kitab pusaka itu ?”.
“Ditebing Pek-Yan-Gay ” “sudah ditemukan ?”.
“Belum selama beberapa hari beruntun aku dengan engkoh Hoo mendatangi tebing Pek Yan-Gay dan melakukan pencarian dengan teliti mengikuti petunjuk peta tersebut, namun sama sekali tidak ditemukan sedikit tanda2 yang mencurigakanpun, karena itu dengan putus asa dan kecewa kami pulang…”.
Koe sian sin-poo mengerutkan dahinya rapat2, setelah termenung beberapa saat lamanya dia berkata: “Kitab pusaka YOE LONG PIT KIP bukanlah kitab pusaka berisi ilmu silat mana sakti seperti yang disiarkan dalam dunia persilatan, menurut apa yang kuketahui isi kitab itu tidak lebih merupakan ilmu silat beraliran kiri yang sesat, keji dan ganas.
Beberapa ratus tahun berselang kepandaian silat ini pernah muncul dalam Bu-lim tapi dalam waktu singkat telah punah kembali.
sejak aku lahir dikolong langit tak pernah perkumpulan yang menyebut diri sebagai perkumpulan Yoe Leng Kauw itu munculkan diri kembali dalam dunia persilatan- ” Kitab ilmu silat macam begini tidak akan mendatangkan manfaat apabila terjatuh ditangan kaum pendekar dan kalangan lurus, tapi seandainya benda tersebut didapatkan oleh para gembong iblis dari aliran sesat maka paling mudah menimbulkan malapetaka dalam dunia persilatan, iblis2 itu bisa menggunakan ilmu sesat tadi untuk mencelakai serta memusnahkan umat manusia, daripada mendatangkan bencana, keluarkanlah peta tadi, agar aku bisa memusnahkannya dari muka bumi ” Dengan cepat Poei Hong ambil keluar peta mustika tersebut dari dalam saku kemudian dipersembahkan ketangan gurunya.
Koe sian Sin-poo memperhatikan sekejap peta mustika tadi, kemudian di-lipat2nya benda tadi jadi segumpal kecil, setelah itu diletakannya benda itu keatas telapak tangan-Dalam sekejap mata, peta mustika tadi bergemerisik lalu punah dan hancur jadi abu.
Menyaksikan peristiwa itu, semua jago yang ada didalam ruangan sama2 dibikin terkesiap.
“llmu silat apakah itu?” pikir mereka hampir berbareng.
setelah memusnahkan kertas yang berisi peta mustika tadi, lambat2 Koe sian sin-poo berpaling, memandang kearah sikakek hun-cwee dari gunung Bong-san serta Cian Liong Poocu Lie Kie Hwie dengan sinar mata minta maaf, ujarnya: “Aku serta si saudagar berkerut gendut segera akan berangkat tinggalkan tempat ini dengan membawa serta Gong Yu dan wan Hiang, kalianpun boleh mengundurkan diri untuk teruskan percakapan diantara kalian” Kedua orang tua itu mengiakan- setelah memberi hormat mereka segera mengundurkan diri dari ruang tengah.
sepeninggalnya kedua orang tua itu, air muka Koe sian-poo berubah jadi amat serius, ia berpaling kearah Hoo Thian Heng dan berkata: “Bocah, tahukah kau apa hubunganmu dengan diriku??? kalau dibicarakan dari soal tingkatan sulit bagiku untuk menjelaskan sampai terang, pokoknya kau adalah keturunan dari keluarga Hoo kami yang ada dikota siang-yang dan akulah yang serahkan dirimu ketangan si saudagar berperut gendut ini untuk dirawat serta dididik ilmu silat.
” Gurumu cuma pandai dan gemar akan ilmu berdagang, yang dibicarakan melulu soal jual beli belaka sehingga akhirnya mendidik kau jadi angkuh, dingin- kaku dan tinggi hati. syukur meski begitu kau masih belum tinggalkan tingkah laku seorang diri kalangan lurus, itulah bagus sekali “.
Ucapan ini membuat Hoo Thian Heng jadi terperanjat, peluh dingin segera mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Perlahan-lahan air muka Koe sian sin-poo pulih kembali seperti sediakala, seraya menuding kearah Poei Hong serta Tonghong Beng Coa katanya dengan nada menyayang: “Jikalau mata tuaku belum melamur, kalian bertiga tentunya sudah jatuh cinta satu sama lainnya bukan?? demikianpun bagus juga, aku sinenek tuapun akan segera mewujudkan apa yang kalian harapkan dan cita-citakan selama ini.” Bicara sampai disitu ia merandek dan berpaling kearah Lam hay siang In si saudagar kosen dari Laut selatan- “Eee…. saudagar perut gendut, setuju kah kau???” Wajah saudagar perut gendut yang dasarnya jenuh dengan daging segera dikerutkan sehingga tinggal sepasang matanya yang kecil s ipit, ia tertawa terbahak-bahak.
“Haaa… ..haaa. …haaa inilah suatu dagang bermodal besar yang pasti bakalan datangkan keuntungan berlipat ganda, tentu saja perusahaan kami menerimanya dengan hati girang”.
Meskipun Poei Hong dan Tonghong Beng Coe samai merupakan pendekar wanita yang berpandangan maupun berjiwa besar, membicarakan soal pernikahan, tak urung dibikin jengah juga sehingga kelihatan sekali gerak geriknya penuh perasaan kikuk.
Sekarang digoda pula oleh Lam-hay Siang In, mereka semakin likat sampai2 tak berani angkat kepalanya, sambil tundukan kepalanya rendah2 dan cibirkan bibir mereka berbisik: “Hmmm sungguh menyebalkan” Lam-hay Siang In atau si Saudagar kosen dari laut Selatan meng-usap2 perutnya yang gendut, sekali lagi mendongak tertawa ter-bahak2.
“Haaa,..haaa…bagus, bagus sekali belum saja jadi menantu kalian sudah berani memaki yang jadi gurunya?” “Eeeei…. kau betul2 tak tahu diri” tegur Koe Sian Sie-poo dengan mata melotot. “Sudah tua bangka masih juga ajak kaum boan-pwee bergurau…” “Apa salahnya?” goda sang saudagar kosen dari Lam-hay ini sambil memperlihatkan muka setan.
Tingkah laku yang lucu dari tokoh maha sakti mendatangkan rasa geli bagi semua orang yang ada didalam ruangan, namun mereka tak berani tertawa kecuali tutup mulut-sambil menahan suara cekikikan yang serasa meloncat keluar dari ujung bibir.
Koe Sian Sin-Poo tidak menggubris si saudagar perut gendut lagi, air mukanya kembali berubah serius kepada Hoe Thian Heng katanya: “Kaupun tak usah pulang ke Lam-hay lagi, sekarang juga hantariah Tonghong kakak beradik berangkat kekota T iang-an untuk mencari ibunya, setelah bertemu sampaikan maksud hatiku kepadanya, katakan bahwa aku setuju apabila mereka dua bersaudara sama2 dikawinkan dengan dirimu, setelah nikah mau tinggal dikota kay-hong juga boleh, mau dikota siang-yang pun terserah pada kalian sendiri” sembari bicara dari dalam sakunya ia ambil keluar sekantong mutiara yang memancarkan cahaya gemerlapan, tak usah dibilang lagi harganya tentu melebihi sebuah kota.
setelah itu sambungnya lebih jauh: “Ambil dan bawalah barang2 ini, yang separuh boleh kalian gunakan untuk keperluan nikah sedang yang separuh lagi gunakanlah untuk membeli sawah, kerbau dan rumah”.
Dengan penuh rasa hormat dan berterima kasih Hoo Thian Heng menerima pemberian tersebut, sembari menjura dalam2 katanya: “Budi kebaikan serta pemberian yang Loo Couw-cong berikan, Cucu sepanjang hidup tak nanti melupakannya dikemudian hari apabila Loo Couw-cong serta suhu turun gunung, kami mohon dengan sangat agar suka memerlukan singgah sebentar dikota Kay-hong, dengan begini aku yang jadi cucu bisa berbakti dan melayani Loo Couw-cung serta suhu sebisanya” Lam-hay siang in atau si saudagar kosen dari Laut selatan tertawa ter-bahak2.
“Haaa….haaa bocah kalau mau masih punya liang-sim, semestinya sediakan beberapa guci arak berusia banyak tahun serta Ham-Kang-hoa yang paling kudoyani untuk melayani aku siorang tua” “Aaai…. aku lihat, makin tua kau semakin tak tahu diri.” gerutu Koe siau sin-poo dengan alis melentik:. “Tak aneh kalau muridmupun kau bawa jadi rusak macam kau.. aku baru tahu kiranya kau adalah seorang rakus yang pikiran isi perutmu yang gendut belaka, kau bukan pedagang sejati yang lebih utamakan membicarakan soal jual beli” Tiba2 nyonya tua itu merasa ucapannya rada sedikit keterlaluan, ia lantas tertawa dan menambahkan: “Loote, tentunya kau tidak akan merasa gusar karena ucapan dari toa-ci rada sedikit kasar bukan?” “ooouw …… tentu saja tidak. tentu saja tidak” jawab si saudagar Kosen dari Laut selatan sambil mengelus perutnya yang gendut, ia benar2 berjiwa besar dan tidak pikirkan sindiran tersebut kedalam hati.
sementara itu Koe sian sin-poo telah berpaling kembali, sembari menatap wajah Hoo Thian Heng bertiga pesannya: “setelah menikah, kalian tak boleh abaikan latihan ilmu silatmu, kalian harus mulai bersiap siaga menghadapi malapetaka yang bakal melanda dunia persilatan dikemudian hari. Di samping itu kalianpun harus pasang mata baik2 mengawasi sepak terjang serta tingkah laku perkumpulan2 rahasia dalam dunia persilatan, seandainya keadaan sangat gawat. segeralah kirim kabar kelembah Leng-im-Kok digunung Thay-Liang-san untuk laporkan kejadian itu kepadaku” sementara Hoo Thian Heng mengiakan, Gong Yu serta Lie Wan Hiang yang ada diluar ruangan telah siap dengan buntalan masing2, demikianiah Koe sian sin-poo serta Lam- Hay siang In masing2 orang menggandeng seorang bocah segera tinggalkan tempat itu dengan suatu gerakan yang cepat laksana sambaran kilat, dalam sekejap mata mereka telah lenyap dari pandangan.
Bong-san Yen Shu si kakek huncwee dari gunung Bong-san menghisap huncweenya berulang kali, kemudian mengepulkan asapnya segumpal demi segumpal sehingga menutupi hampir seluruh jagad.
“Akupun sudah semestinya kembali ke gunung Bong-san ” katanya.
Ucapan si kakek ini kedengaran sekali membawa nada kesepian, murung, kesal dan sedih.
Cian Liong Poocu Lie Kie Hwie serta isterinya burung hong Hijau Thio see meskipun merasa girang hati karena putrinya diterima seorang tokoh sakti sebagai muridnya, tak urung merekapun merasa sedih hati atas perpisahan ini, mendengar pula ucapan si kakek huncwee dari gunung Bong-san yang membawa nada sedih dan murung, tak terasa muncul pula perasaan semacam itu dalam hati kecil mereka, suami istri berdua lantas menahan si kakek tua itu sebisanya.
Melihat maksud baik tuan rumah tak bisa ditampik lagi, si kakek huncwee dari gunung Bong-san inipun terpaksa batalkan niatnya untuk berdiam beberapa hari lagi dalam benteng.
sementara itu Hoo Thian Heng dengan membawa Poei Hong, Tonghong Beng Coe serta empat orang dayang segera berpamit kepada tuan rumah dan berangkat ke utara menuju kota Tiang an.
Cian- Liong Poocu tahu kedua orang gadis itu keburu ingin menemukan kembali ibunya, maksud kepergian mereka tak dapat ditahan lagi, sedangkan Hoo Thian Heng pun harus melindungi keselamatan mereka sepanjang jalan, oleh karena itu ia tidak menahan lebih jauh.
sambil tertawa s i burung hong hijau Thio see berkata: “Eeei…. kalian bertiga jangan lupa beritahu hari besar pernikahan kalian kepada kami suami isteri berdua yang bodoh looo… kami berdua pasti akan berangkat kekota Kayhong atau siang-yang untuk menghadiri pesta perkawinan kalian sekalian mencicipi arak kegirangan”.
Poei Hong serta Tonghong Beng Coe merasa amat girang sekali, meski demikian wajah mereka telah berubah merah dadu saking jengahnya menahan rasa malu.
Hoo Thian Heng buru2 menjura,janjinya: “Begitu ada kabar tentang hari pernikahan kami, kartu undangan pasti akan kami kirim kemari guna mengundang cianpwe sekalian datang kekota Kay-hong untuk ikut serta bergembira dengan kami.” Selesai berkata ia lantas meloncat naik ke atas kuda tunggangannya untuk menyusul beberapa orang gadis yang telah berangkat duluan.
Kuda “Hwee-Lioe-kie” dari Poei Hong serta keledai “Hek-jie” dari Hoo Thian Heng meskipun merupakan kuda2 jempolan yang dapat lari cepat, apa lacur kuda2 yang ditunggangi Tonghong Beng Coe beserta keempat orang dayangnya merupakan kuda2 biasa yang tak bisa mengimbangi kecepatan kuda2 tersebut, maka dari itu perjalanan tak bisa dilakukan seperti apa yang diharapkan.
Pada waktu itu sudah mendekati pertengahan bulan dua belas,jarak dengan tutupan tahun sudah tidak terlalu jauh lagi.
Pikiran kedua orang gadis itu semakin gelisah lagi, mereka berharap bisa temukan kembali ibunya Poei oen Hoa dalam waktu singkat, sedangkan Hoo Thian Heng sendiripun mengharapkan pula bisa berjumpa dengan ibu mertuanya sebelum akhir tahun, dengan demikian pada tahun baru mendatang, seluruh keluarga dapat berkumpul dan bergembira bersama.
siapa tahu, kuda2 dari dayang2 tersebut tak bisa lari cepat, mereka selalu ketinggalan jauh, maka dengan hati mangkel dan perasaan apa boleh buat mereka kendorkan kembali kecepatan kuda masing2.
Hari itu mereka sudah memasuki Propinsi Auw Pak.
sewaktu beristirahat disebuah rumah penginapan Hoo Thian Heng menyampaikan usulnya kepada Tonghong Beng Coe untuk mengutus keempat orang dayangnya pulang kekota Kay-hong lebih dahulu setelah itu mereka bertiga melanjutkan perjalanan siang malam, dengan berbuat demikian mungkin sebelum tutupan tahun nanti mereka sudah tiba dikota T iangan.
Tonghong Beng Coe sendiripun merasakan pula membawa serta keempat orang dayang itu hanya menyusahkan mereka serta membuang waktu dengan percuma saja, maka dari itu usul dari Hoo Thian Heng disetujui dengan suara bulat, Leng Lam, Coei Giok empat orang dayang segera dipanggil, setelah disampaikan pesan2 penting mereka diutus pulang lebih dahulu kekota Kay-hong.
Keesokan harinya tiga ekor kuda berlari dengan cepatnya meninggalkan rumah penginapan melanjutkan perjalanan ke utara. tidak sampai empat lima hari mereka telah keluar kota Tong Kwan.
Dalam pada itu bulan dua belas tanggal dua puluh lima telah menjelang datang, kalau dihitung waktunya satu dua hari lagi mereka bisa tiba didusun Wie-Kiok-Tin luar kota Tiang-an. karena itu perjalanan tidak dilakukan secepat semula lagi, mereka lanjutkan perjalanan dengan riang gembira dan penuh gelak tertawa.
Tampaklah Poei Hong sambil mengelus bulu merah dari kuda Hwee-Lioe-Kie nya berkata: “Liong-jie selama beberapa hari ini aku selalu menyusahkan dirimu saja kau tentu merasa amat lelah bukan ???”.
Kuda Hwee-Lioe-Kie meringkik panjang, se-akan2 ia merasa amat berterima kasih atas hiburan serta perhatian dari majikannya.
Hoo Thian Heng serta Tonghong Beng Coe yang melihat kecerdikan kuda tersebut, mereka sama2 memuji kuda Hwee Lioe-Kie benar2 merupakan kuda mustika yang jempolan.
Kuda itu benar2 cerdik, mendengar semua orang memuji akan kehebatannya, sepasang telinga segera dipentangkan lebar2, empat anggota kaki bergerak semakin cepat, dengan di pimpin olehnya mereka lari laksana sambaran kilat membelah bumi.
Agaknya keledai Hek Jie dari Hoo Thian Heng tak mau kalah, binatang itupun membedal cepat2 kakinya menyusul kuda dihadapan nya, dengan demikian maka tertinggalah Tonghong Beng Coe seorang diri yang harus berusaha keras menyusul dua orang lainnya.
setelah melewati Hoa-Im dan Lam-Thian. sewaktu sang surya lenyap dibalik gunung mereka telah tiba didusun Wie- Kiok-Tinluar kota Tiang-an.
Hong sip Kioe Nio adalah salah satu di antara keluarga kaya yang ada dalam dusua itu, tentu saja dengan gampang sekali rumah nya berhasil ditemukan.
Demikianiah, ketiga orang muda itu dengan cepat telah tiba didepan perkampungan Liok Yang-san-Cung dan segera melayang turun dari atas kuda.
sang penjaga pintu menjumpai tetamu yang datang berdandan keren danperlente, dimana yang lelaki ganteng rupawan, sedang yang perempuan cantik mempesonakan.
segera lari masuk kedalam perkampungan untuk melaporkan kehadiran tiga orang itu.
Dalam waktu singkat, dari dalam kampung muncul seorang Koan-Kee atau pengurus rumah rangga yang segera membawa tetamu nya masuk kedalam kampung.
setelah berada dalam ruang tamu, sisastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng mengutarakan maksud kedatangannya sembari mengajukan harapannya agar bisa berjumpa dengan Tonghong Hujien.
Tengah mereka bercakap cakap. dari luar pintu ruangan tamu munculah dua orang wanita, seorang adalah nenek tua yang rambutnya telah berubah semua, sedang perempuan kedua masih berusia pertengahan, bajunya sederhana sekali dengan roman muka agung, baik potongan badan maupun raut wajahnya persis mirip Poei Hong serta Tonghong Beng Coe berdua.
Tentu saja perempuan inipun dapat melihat jelas bahwa raut muka sepasang gadis yang berada didalam ruangan tamu persis satu sama lainnya dengan wajah sendiri, atau dengan perkataan lain wajah kedua orang gadis itu merupakan penjelmaan dari wajah semasa masih muda dulu.
Hatinya sangat terperanjat, dua orang kakak beradik ini satu di utara yang lain di selatan secara bagaimana bisa berkumpul jadi satu??? Enam buah mata saling berbentur satu sama lain, masing2 orang merasakan hatinya tergetar keras.
Poei Hong serta Tonghong Beng Coe tak kuasa menahan diri lagi, mereka sama2 berseru: “oouw ibu….” Tubuh mereka berdua bagaikan burung walet terbang diangkasa segera berkelebat menubruk kedalam pangkuan Tonghong Hujien Poei oen Hoa.
Melihat sepasang putri kesayangannya sudah menginjak dewasa, lagi pula berwajah amat cantik bagaikan bidadari.
Nyonya tua itu merasa hatinya kejut bercampur sedih, disamping rasa girang yang me-luap2.
sepasang anak kembar ini sejak bayi telah berpisah dari kasih sayang ibu kandung mereka, kini mendapat cinta kasih itu kembali, saking girangnya bagaikan lebah dalam sarang, mendengung dan mengoceh tiada hentinya, hal ini malahan membuat Hoo Thian Heng merasa bagaikan diasingkan.
sisastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng bukan manusia bodoh, ia tahU diri dam tak ingin perlihatkan sikap kurang hormat dihadapan mertUanya, setelah merapikan bajU ia lantas majU kedepan dan menghunjuk hormat dalam2 kepada nyonya tua itu, kemudian berlutut pula didepan Hong sip Kioe Nio.
Menjumpai Hoo Thian Heng berwajah ganteng, gagah, dan penuh sopan santun, si nenek tua itu jadi simpatik dan amat senang sekali, terutama sewaktu diajukannya beberapa pertanyaan ternyata dijawab semua oleh pemuda itu dengan lancar, hatinya makin senang.
Begitu gembiranya Hong sip Kioe Nio, sampai2 akhirnya ia hela napas panjang dan mengeluh: “seandainya cucuku yang bodoh sun in Liong bisa mendapatkan separuhnya darimu Wahh… aku akan merasa amat bangga sekali” Keesokan harinya, Tonghong Hujien mengundang Hoo Thian Heng untuk menghadap ke hadapannya, setelah meneliti seluruh badan sastrawan berbaju biru ini dari atas hingga ke bawah, ia mengangguk tiada hentinya.
“Ehmm.. kau memang naga diantara manusia, sebagai keturunan dari Koe sian sin-poo serta anak murid dari Lamhay siang In, si saudagar Kosen dari Laut selatan, aku rasa tidak bakal salah lagi Kemarin malam siauw-li telah menuturkan seluruh kejadian serta duduknya perkara kepadaku. Bocah aku amat setuju apabila mereka kakak beradik bisa dikawinkan dengan dirimu, dan menjadi istrimu yang setia, semoga kau bisa mencintai mereka berdua dengan segenap hati dan menjadi seorang suami yang baik dan terpuji ” Mendengar Poei oen Hoa, sang Tonghong Hujien ini setuju untuk mengawinkan kedua orang putrinya kepada dia seorang, sisastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng jadi amat girang, dengan amat hormat ia lantas menjura kearah nyonya itu dalam2.
“Gak-boe ” sapa nya. (Gak-Boe artinya lbu mertua).
00000000 Jilid 8 UNTUK sementara waktu kita tinggalkan s isatrawan berbaju biru Hoo Thian Heng yang berhasil mengawini dua orang gadis cantik sekaligus. Mari kita balik pada Tiga manusia beracun dari propinsi Biauw.
sewaktu berada ditebing Pek Yan Gay gui – Bung Im Boesan yang termasuk dalam propinsi Koei Chiu dimana mereka saksikan tujuh orang saudara angkatnya ada empat orang telah menemui ajalnya, bahkan Im-yang siauw su, Cie Tiong Kian sebagai ketua perkumpulan Im Yang Kauwpun kena terguling jatuh kedalam jurang oleh ikat pinggang Poei Hong, yang menyaru sebagai sastrawan berbaju putih, mereka lalu sadar dengan kekuatan beberapa orang tidaklah mungkin bisa mendapat harapan untuk peroleh peta mustika kitab pusaka Yoe Leng pit Kip tersebut.
Pek si-Tok-shu atau si kakek seratus bangkai Kiang Tiang Koei sebagai pemimpin diantara tiga manusia beracun itu cukup cerdik dan s igap. ditengah terlemparnya tubuh Im Yang siuw-su kedalam jurang yang dalamnya tak terhingga itu, ia lantas berpaling kearah Looe-jie serta Loo sini sambil berseru lirih: “Hei. kalian mau tunggu apa lagi? sekarang kita tidak pergi ?? nanti apa bisa lolos dari s ini ???”.
Berbicara sampai disitu tanpa menunggu jawaban lagi, bajunya yang berwarna biru dikibaskan kemudian bagaikan seekor burung bangau melejit ketengah udara dan meluncur turun kebawah tebing, disusul oleh manusia beracun, kedua Hiam-Im-Tok-shu atau si kakek bisa dingin cia Ie Chong sana si manusia beracun ketiga Han-Peng-Tok-shu atau si kakek racun si Chin Tin san- Menanti tubuh mereka bertiga sudah meluncur dua puluh tombak jauhnya, sewaktu berpaling maka tampaklah pada waktu itu para jago yang berada diatas tebing Pek-Yan-Gay pun sama2 melayang turun kebawah.
Tiga manusia beracun pernah melakukan kejahatan, hati mereka kuatir apabila gadis yang menyaru sebagai sastrawan berbaju putih itu mendendam kepada mereka atas perbuatannya dimana dengan paksa akan merampas kuda jempolannya, mereka sudah jera terhadap pemuda tetiruan tersebut. Karena ketiga orang itu sadar bila mereka sampai bertemu kembali dengan orang itu niscaya tiga lembar jiwa mereka bakal melayang.
Mengingat betapa lihaynya pihak lawan, pecahlah nyali tiga manusia beracun itu, mereka melarikan diri se-kuat2nya dari tempat itu.
Gunung In Boe-san meskipun sepanjang tahun tertutup oleh kabut yang tebal, sekalipun malam ini rembulan memancarkan cahayanya keempat penjuru bintang bertaburan diangkasa. cukup permukaan salju yang putih sudah memantulkan sinar yang cemerlang.
Tiga manusia beracun mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka hingga mencapai pada puncaknya, walaupun diantara sepuluh manusia sesat kepandaian mereka terhitung paling lemah, tapi cukup sebanding kalau dibandingkan dengan tokoh2 kelas wahid lainnya tentu saja selihay dan secepatnya mereka tak bisa dikatakan luar biasa.
Tampaklah tiga sosok bayangan manusia melayang dengan cepatnya diatas permukaan salju, menanti mereka sudah tiba dikaki gunung Im Boe-san fajarpun telah menyingsing, kokokan ayam bergema diempat penjuru.
Pek si Tok shu yang lari didepan tiba2 dikejutkan oleh teguran Hian im Tok shu, Cia le chong: “Loo-toa, kita akan pergi kemana ? apakah kau punya rencana lain?” Pada saat itu Pek si Tok-shu atau si Kakek seratus bangkai keadaannya bagaikan ikan yang terperangkap didalam jaring, ia cuma tahu menyingkir jauh2 dari gunung Im-Boe-san dan jangan sampai kena disusul oleh dua ekor anjing kecil tersebut, otaknya kosong melompong dan bingung, tentu saja ia tak punya rencana apapun. Kini setelah ditegur oleh Hian im Tok-shu, ia baru mendusin, pikirnya: “Aah, benar, bukan tindakan yang tepat kalau lari terus menerus tanpa tujuan, kita harus berunding dan menyusun rencana lebih dahulu “. Im Tok-shu serta Han-Peng-Tok-shu pun lantas berhenti.
Membicarakan dari watak maupun tabiat tiga manusia beracun dari wilayah Biauw ini, maka Kiang Tiang Koei adalah orang yang paling cerdik dalam menghadapi segala perubahan maupun segala situasi, Cia le Chong adalah orang yang paling licik, banyak akal, sedangkan orang yang paling kejam, ganas dan kasar adalah simanusia beracun ketiga Chin Teng san- Ketiga orang ini saling berunding dan saling bertukar pendapat, akhirnya didapatilah sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa musuh tangguh bermunculan di-mana2 sementara komplotan mereka makin hari makin menipis, banyak diantaranya sudah menemui ajalnya.
Dalam keadaan ter-lunta2 tanpa rekan, tanpa sahabat mereka rasa satu2nya jalan yang paling tepat adalah pulang dulu kegunung Kho-Lee Kong-san dan sementara waktu bersembunyi didalam sarang mereka.
Selesai berunding tiga manusia beracun itu lantas kabur kearah Barat, sementara itu jalan raya masih sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun yang berlalu lalang, tiga orang membentuk satu garis lurus berkelebat dengan cepatnya kearah depan, menanti siang hari telah tiba mereka sudah tiba dikota Hoei swie.
setelah mengalami pertarungan sengit, sekarang harus pula melakukan perjalanan cepat, ketiga orang kakek tua ini merasa amat lapar, haus dan letih sekali, tanpa banyak bicara lagi begitu sampai dikota mereka langsung mencari sebuah rumah makan untuk beristirahat sambil menangsal perut.
Warung makan kecil kebanyakan pada saat seperti ini hanya menjual bakpao, pia, serta kue2 kecil lainnya, untuk bersantap kenyang bukannya saatnya.
Mengenai keadaan tersebut Kiang Tiang-Keei maupun cia In chong mengerti sangat jelas, maka dari itu setibanya dikota Hoei-swie mereka lantas mencari rumah makan yang rada besar dan mencari tempat duduk dekat jendela.
Pelayan segera menghidangkan tiga mangkuk Bakmie kuah serta semangkuk besar kukusan daging, dasar perut sudah lapar tanpa sungkan2 lagi ketiga orang kakek itu dengan lahapnya menyikat seluruh makanan yang ada, keadaan mereka persis dengan angin puyuh yang menyapu daun kering, dalam sekejap mata telah tersapu bersih tanpa sisa.
Begitu habis, mereka meneriaki sang pelayan untuk menambahi lagi dengan hidangan lain sampai akhirnya tiga orang kakek itu menghabiskan empat puluh mangkuk banyaknya.
Kejadian yang luar biasa ini seketika memancing perhatian dari tetamu2 lain, dengan sinar mata tercengang mereka saling berpandangan- Menyaksikan mereka bertiga diawasi banyak orang, Han Peng Tok shu Chin Teng san jadi naikpitam, dasar wataknya yang buas dengan sinar mata galak dipelototinya orang2 di sekitarnya.
“Maknya…. mau apa kalian awasi terus kakek moyangmu?” makinya keras2.
Didepan jendela duduk seorang pemuda berperawakan tinggi besar lagi kekar, wataknya agak berangasan- melihat tiga orang kakak tua berbaju biru yang kasar main kasar dan main maki seenaknya, ia jadi amat tidak puas, mendengar makian tersebut alisnya langsung dikerutkan dan balas memaki: “Hmm Tuan kau sudah bukan nona manis yang berusia delapan belas, kenapa takut ditonton orang? takut nggak laku kawin atau takut lama dilamar orang??” Sebenarnya waktu itu Hian-Im-Tok-Shu Cie Ie Chong ada maksud mencegah adiknya yang nomor tiga ini bikln onar, tapi setelah mendengar diantara makian pemuda itu membawa nada sindiran yang pedas, ia segera mendengus, ucapan yang hendak diutarakan pun di telan kembali ditengah jalan.
Diantara tiga manusia beracun Han-Peng Tok-Shu Chin Teng san paling ganas dan kejam, kalau orang lain tidak mengganggu dia mungkin ia akan berdiam diri, sekarang mendengar sindiran pedas dari pemuda tersebut hawa gusarnya langsung meledak, ia membentak keras badannya bagaikan seekor burung elang segera melayang ketengah udara dan menyambar kedepan, sepasang telapak dibentangkan bagaikan cakar setan langsung mencengkeram batok kepala pemuda itu.
Peristiwa ini terjadi sangat mendadak. bagaikan menjumpai bayangan setan disiang hari belong, para tetamu yang kebetulan hadir dalam rumah makan itu jadi panik dan gaduh, jeritan kaget bergema memenuhi seluruh ruangan, Walaupun pemuda itupun mengerti sedikit banyak ilmu silat kasaran, mimpipun ia tidak mengira si kakek tua yang memakai baju kasar sebetulnya memiliki ilmu silat sangat lihay, hatinya amat terkesiap.
Ingin sekali ia menyingkir tapi tidak sempat lagi, diiringi jeritan ngeri yang menyayatkan hati, batok kepalanya kena dicengkeram telak, otak segera berhamburan diatas lantai, jiwapun melayang seketika itu juga.
Han-Peng-Tok-shu Chin Teng san masih merasa belum puas, ketika tubuhnya melayang turun keatas tanah, sekali sepak ia tendang mayat pemuda itu ketengah jalan, lalu masukkan sepasang tangannya yang berlopotan darah kedalam mulut dan dihisapnya dengan nikmat, sehingga keadaannya waktu itu mirip dengan iblis penghisap darah.
Beberapa orang tetamu yang bernyali kecil tak kuat melihat adegan yang mengerikan itu. mereka pada jatuh tidak sadarkan diri, sampai-sampai para pelayan serta pemilik kedai pun gemetar keras saking takutnya.
Chin Teng san belum juga puas, sinar mata nya yang buas menyapu wajah para tetamu lainnya, mendadak ia bergerak cepat, telapak tangannya kembali bekerja mengancam seorang kakek tua berbadan gemuk yang duduk disekitar sana, tapi sebelum ia sempat melancarkan serangan mematikan tiba2 dari luar kedai menggema datang dua bentakan nyaring.
Mengikuti bentakan tersebut melayang datang dua sosok bayangan manusia, Cahaya pedang berkilauan menembus udara, dengan dahsyat langsung menusuk jalan darah “Im Tok-Hiat” pada pergelangan Han-Peng Tok shu.
“Binatang keji yang baru lolos dari jaring, kalian masih berani mengganas dihadapan umum sambil membunuh orang seenaknya?” bentak bayangan manusia tadi nyaring.
Chin Teng san terperanjat, buru2 ia tarik, kembali telapaknya sambil melayang mundur kebelakang, ia sadar jagoan yang barusan datang adalah seorang tokoh Bu-lim yang memiliki ilmu silat sangat lihay.
sementara itu si manusia racun pertama, si kakek seratus bangkai Kiang Tiang Koei telah bangkit berdiri, sambil tertawa dingin serunya: “Aku kira tokoh mana sakti dari mana yang telah datang dan berani mencampuri urusan pribadi kami tiga bersaudara, tidak tahunya adalah Goan Kiang Gie-Hu atau si Nelayan dari sungai Goan Kiang serta sian Hee-It-Kiam atau si pedang tunggal dari sian Hoe-san Hee…..heee…..kalau kalian benar2 bernyali, ayoh mari kita bereskan persoalan ini ditepi sungai Liang- Kiang sebelah selatan kota” “Hmm sungguh kecewa nama kalian tercantum diantara sepuluh manusia sesat dari kolong langit, setelah membunuh orang hendak ngeloyor pergi. Hukum Negara memang tak bisa berbuat apa2 terhadap kalian bertiga, tapi kau kira jalan dari loohu sudi melepaskan ikan2 yang sudah terperangkap didalam jaring???”, jengek si Nelayan dari sungai Goan Kiang Tong soe Kiat sambil mendengus dingin.
Manusia beracun kedua Hian-Im-Tok-shu Cia Ie Chong merasa amat mendongkol, sepasang mata nya memancarkan cahaya berkilat, ia tertawa seram.
“Loo-tua, Loo-sam buat apa banyak usil dan bersilat lidah lebih jauh dengan keledai tua ini??? sungguh menyebalkan kalau sebentar lagi hamba negeri pada berdatangan. HHmmm ayoh kita pergi” serunya.
Besamaan dengan ucapan tersebut, ujung baju dikebebaskan dan meluncurkan tiga sosok bayangan biru kearah depan, begitu cepat lari mereka dalam sekejap mata telah berada ditepi sungai.
Menjumpai ketiga manusia beracun itu melarikan diri, sipedang tunggal dari sian-Hee san serta si Nelayan dari sungai Goan-Kiang segera mengejar dari belakang, gerakan tubuh merekapun tidak kalah cepatnya.
sambil lari Pek-si-Tok-shu Kiang Tiang Keei berputar tiada hentinya, manusia beracun ini tersohor karena akalnya yang cerdik, tentu saja banyak akal yang bisa muncul dari benaknya, ia berpikir: “Meskipun ilmu silat dari Goan-Kiang-Gie Hu serta sian-Hee It-Kiam sangat luar biasa rasanya kami bertiga masih sanggup untuk melayani kemauan mereka, hanya bagaimana kesudahannya apabila para jago yang baru turun dari bukit Pek-Yan-Gay sama2 menyusul kemari dan mengerubuti kami bertiga????” “Aaai waktu itu menyesalpun tak berguna, aku lihat lebih baik untuk sementara waktu kita harus menyingkir dahulu dari dua setan alas ini” sementara otaknya baru berputar, mendadak terdengar simanusia beracun ketiga Han-Peng-Tok-shu-chin-Teng san berseru: “Loo-toa, bukankah kita berjanji akan melakukan duel sengit ditempat ini??” Manusia beracun kedua Hian-Im-Tok-shu-Cia Ie Chong jauh lebih cerdik, menjumpai Pek-si-Tok-shu berkelebat masuk kedalam hutan yang ada ditepi sungai, ia lantas mengerti kehendak saudara tuanya ini.
“Tutup mulut ayoh ikuti saja dirinya” segera hardiknya.
sang tubuh dengan cepat menyusul ke depan diikuti Loosam dari belakang.
Pada hari2 biasa Chin Teng san simanusia beracun ketiga paling kagum atas tingkah laku dari Loo-toa serta Loo-jie, walaupun ia tak tahu permainan setan apa yang sedang dilakukan kedua orang itu, tapi ia jakin bahwa tindakan saudara2nya tentu tak bakal salah.
Barusan saja tiga bersaudara itu menyusup kedalam hutan, mendadak terdengar suara yang serak tapi nyaring berkumandang datang dari tepi sungai: “Yauw-heng, sungguh licik dan lihay ketiga ekor ikan tersebut, aku lihat selembar jalaku ini agaknya tidak berdaya untuk menjaring mereka…” suara yang lain serak tapi nyaring pula segera menjawab ucapan tersebut, terdengar orang itu menyahut: “Apa kau menyangka ikan2 itu benar2 sudah menyingkir jaUh ? kalau kau menduga demikian maka kelirulah sangkaanmu itu, padahal mereka justru belum pergi jauh, saat ini mereka lagi pasang telinga dan buka mata untuk mengawasi gerak gerik kita berdua “.
Mendengar ucapan itu simanusia beracun ke tiga Chin Teng san jadi amat terperanjat, pikirnya: “Sungguh lihay ketajaman mata orang she-Yauw itu dari mana ia bisa tahu kalau kami sedang bersembunyi sambil mengawasi gerak gerik mereka ??”.
Ia tidak menyangka kalau ocehan dari si pedang tunggal sian-Hee-It-Kiam Yauw Kie itu hanya akal licik yang hendak digunakan untuk memperdayai mereka.
Baru saja dadanya ingin bergerak. simanusia racun kedua telah menekan pundaknya sambil tertawa.
” Kalau kau bergerak, bukankah dengan tepat malah masuk kedalam perangkap mereka ???” bisiknya lirih.
setelah mendengar ucapan itu, simanusia racun ketiga baru sadar, kiranya pihak lawan sedang menggunakan akal untuk memperdayai mereka, ia jadi sadar dan mengangguk.
“oooouw kira nya begitu ” pikirnya.
Dalam pada itu orang yang buka suara pertama kali tadi, kembali berkata dengan suara nyaring: “Apakah kau maksudkan ketiga ekor ikan yang lolos dari jaring sedang bersembunyi di-dalam hutan tersebut ???”.
“Kenapa tidak ” sahut orang kedua. “Rupanya tiga manusia beracun dari wilayah Biauw tidak lebih hanya pencoleng2 kurcaci yang bisanya curi ayam, tangkap anjing belaka, manusia macam begini mana sesuai dicantumkan diantara sepuluh manusia sesat dari kolong langit ? hai…haa…Tongheng, aku lihat lebih baik kita lepaskan saja mereka satu kali ini, coba lihat ketiga ekor cucu kura2 itu hanya berani bersembunyi belaka. oouw sungguh patut dikasihani…” Betapa gusar dan murkanya Han-Peng-Tok Shu atau si kakek Racun es Chin Teng san setelah mendengar penghinaan tersebut, begitu marahnya sampai rambut dan jenggot sama2 berdiri, mata melotot bulat dan mulutnya mendesis buas. ia ingin menubruk keluar dan adu jiwa dengan kedua orang itu: Pek-si-Tok-shu si kakek seratus bangkai yang menyaksikan keadaan saudaranya, buru2 cekal lengannya erat2 dan mengirim beberapa kerlingan mata kearahnya, dicegah oleh sang Loo toa, simanusia racun ketiga tak bisa berbuat lain kecuali menghela napas panjang dalam hatinya.
sementara ia menghela napas, suara yang serak dan nyaring tadi kembali berkumandang keluar dari luar hutan, terdengar ia berseru: “Yauw-heng, tahukah kau??? seandainya tiga manusia beracun dari wilayah Biauw benar2 adalah tiga ekor ikan, orang lain suka buka jaring melepaskan mereka, jaring aku si Loo-Tong yang lebih besar dan lebih kuat pun akan melepaskan mereka pula untuk loloskan diri. Justru yang kutakuti adalah setelah ketiga ekor kura2 ini berhasil tapa jadi siluman kura”.
“Waaah mereka akan ciptakan gelombang terbitkan bencana, membunuh orang seenaknya inilah bahaya dan patut diatasi mulai sekarang “.
Mengikuti ucapan tersebut teriringlah helaan napas masgul, meski tiga manusia beracun tak dapat melihat jelas bagaimanakah perubahan air muka kedua orang itu, mereka bisa menduga kedua tokoh silat tersebut tentu sedang murung dan kesal.
Lewat beberapa saat kemudian, barulah terdengar orang kedua bicara dengan suara lirih: “Bukankah sastrawan berbaju biru Hoo Thian Hong serta nona yang bersenjata ikat pinggang kumala itu telah masuk kedalam kota ?? mari kita kesana dan undang mereka datang untuk sama2 melakukan pencarian??? Hmmm aku tidak takut mereka berhasil terba kelangit”.
“Benar, kita berbuat demikian saja” seru orang pertama tadi dengan suara yang lirih, begitu lirih se-akan2 bisikan nyamuk.
Selesai bicara terdengarlah ujung baju tersampok angin, beruntun kedua orang itu sama2 tinggalkan tempat itu dan dalam sekejap mata telah lenyap dari pendengaran.
Tidak lama setelah Goan Kiang Gie Hu atau si nelayan dari sungai Goan Kang, serta sian Hoe It Kiam atau si pedang tunggal dari sian-Hoe-san meninggalkan tepi sungai, tiga manusia beracun dari wilayah Biauw sama2 meloncat keluar dari dalam hutan.
“Mari kita cepat pergi dari sini” seru Pek si Tok shu, Kiang Tiang Kei dengan air muka terkejut serta ketakutan. “Menanti musuh tangguh pada berdatangan, bukankah kita bakal kerepotan dan mati konyol?” -00000000- MELIHAT saudara tuanya gugup serta ketakutan, Hian im Tok shu si Kakek bisa Dingin cia le chong segera tertawa terbahak2.
“Haaa.. .haaa…,Loo-toa, kali ini dugaanmu meleset sama sekali. Menurut pendapatku kedua orang tua bangka itu tidak bakal kembali lagi.” “Bagaimana kau bisa tahu??” tanya Pek-si Tek-shu, agaknya orang she-Kiang ini rada kurang percaya.
Hian-Im Tok-shu Gia le Chong mengelus2 jenggotnya yang terurai dijanggut, memandang sang surya yang baru muncul dari balik awan ia termenung berpikir sebentar setelah itu katanya: ” Kalau apa yang dikatakan kedua orang itu benar, mereka tidak akan berbuat misterius dan sok rahasia tapi sengaja membiarkan kita ikut mendengar kedua orang setan tua itu tidak lebih hanya takut kita tiga saudara bikin onar lagi didusun serta kota2 kecil sekeliling tempat ini. disamping itu merekapun harus mentaati pula pantangan bagi orang Bu-lim untuk mengejar musuh kedalam hutan, maka dari itu digunakannya siasat ini untuk memperdayai kita?” Pek-Sie-Tok-Shu Kiang Tiang Koei merasa pendapat ini sedikitpun tidak salah, ia lantas manggut2. Mendadak…
Gelak tertawa aneh berkumandang dari belakang tubuh mereka, suara ituamat dingin, kaku dan menyeramkan begitu mengerikan sampai bulu roma pada bangun berdiri. Mereka bertiga jadi sangat terperanjat.
Dengan gerakan cepat, tiga manusia beracun dari Wilayah Biauw ini meloncat mundur beberapa tombak kebelakang, sinar mata dengan tajam menyapu sekeliling tempat itu.
Tapi suasana amat sunyi, hening dan tidak nampak sesosok bayangan manusiapun kecuali alang2 yang bergoyang terhembus angin sungai.
Terang2an mereka dengar suara tertawa seram itu muncul dari belakang tubuh mereka, sekarang kenapa tak nampak sesosok bayangan manusiapun? ketiga orang itu jadi tertegun dan melengak. hati mereka tercengang, heran dan merasa ngeri….
“Heeeeee….. heeeee…..” sekali lagi gelak tertawa aneh tadi bergema menusuk pendengaran, suaranya seram membuat jantung berdetak keras. Kali ini ke tiga orang manusia beracun itu mendengar jelas, suara tadi muncul dari lima depa disisi tubuh mereka.
Tiga manusia beracun dari wilayah Biauw semakin ketakutan lagi, sukma mereka seraya telah melayang dari raganya.
Haruslah diketahui ilmu silat yang dimiliki tiga manusia beracun ini meski tidak bisa menandingi kelihayan Peng Pok sin- mo. tapi merekapun masih terhitung jagoan nomor wahid dalam dunia, persilatan hembusan angin maupun gugurnya dedaun disekeliling beberapa tombak tak akan berhasil mengelabuhi pendengaran mereka.
Kini suara tertawa itu muncul dari lima depa dibelakang tubuh nya namun mereka bertiga tak seorangpun yang merasa. seandainya pihak lawan ada maksud mencabut jiwa mereka bertiga, bukankah sangat gampang bagaikan membalik telapak sendiri? Tanpa ragu2 lagi tiga saudara bagaikan telah sepakat sama2 putar badan dan lari dari s itu, tiga sosok bayangan biru laksana kilat telah meluncur dua tombak kedepan dalam hati mereka berpikir “Aaaai kali ini, mungkin kami sudah lolos dari tangannya.” siapa sangka kejadian kembali berlangsung diluar dugaan mereka, baru saja ketiga orang itu menghentikan gerakannya seraya menyapu sekeliling tempat itu, tertawa seram tadi kembali berkumandang dari belakang mereka bertiga.
Meski manusia racun pertama cerdas, manusia racun kedua licik dan manusia racun ketiga buas, terhadap musuh yang mengeluarkan suara tanpa kelihatan wujud dibelakang mereka ini, ketiga orang itu tak bisa berkutik.
Begitu mendengar suara tersebut, ketiga orang kembali berkelebat kedepan melarikan diri tapi tertawa seram tadi seakan2 melekat dibelakang mereka kemana saja ketiga orang itu pergi dan sebagaimana cepatnya mereka lari, suara tersebut selalu muncul di belakang tubuh mereka.
simanusia racun perta ma Pek-si-Tok-shu membentak keras, badannya langsung kabur kearah Barat diikuti manusia racun kedua dan ketiga, mereka sama2 lari ter-birit2 seperti di uber setan.
Perduli bagaimana cepat tiga manusia beracun dari wilayah Biauw melarikan diri, tertawa seram tersebut tiada berputusan menggema datang terus.
Tidak lama kemudian ketiga orang itu sudah memasuki daerah pegunungan Pek-In-san.
Pek-In-san masih termasuk rentetan pegunungan Biauw yang tingginya dua ribu dua ratus meter dari permukaan air laut, letaknya tepat saling ber-hadap2an dengan gunung Im- Boe-san.
Diatas gunung pepohonan tumbuh dengan subur dan rimbunnya, awan putih melayang dekat dengan permukaan, jalan pegunungan ber-liku2 penuh dengan tikungan tajam, tebing curam lagi terjal, jurang yang dalam menganga siap menantikan korbannya, bukan begitu saja, binatang buaspun banyak berkeliaran disana-sini dengan ular2 berbisa malang melintang di-mana2, diantara kesemuanya ini kabut beracunlah terhitung paling lihay.
Begitu berbahaya dan mengerikannya gunung Pek-In-san ini, sehingga gunung tersebut dijuluki gunung angker siapapun tak berani menerobos masuk kedalam secara gegabah.
Tiga manusia beracun dari wilayah Biauw bukannya tidak mengerti akan mara bahaya, tapi mereka terpaksa harus melarikan diri ke-sana, dalam keadaan seperti ini tidak lain yang bisa dilakukan kecuali mengikuti suratan Takdir.
Kiranya si manusia racun pertama Pekssi Tok shu Kiang Tiang Koei sembari melarikan diri ter-birit2 otaknya berputar keras pikirnya: “Kendati ilmu silatmu sangat lihay, tidak nanti berani memasuki daerah pegunungan Pek-In-san ini. HHmm kalau bajingan keparat ini masih juga mengejar terus tanpa pikirkan untung ruginya, akan kupancing dia memasuki daerah lembah gunung yang penuh dengan kabut beracun.
Hmmm….hmmm…..sampai saatnya, kalau bukan mati terpagut ular berbisa, kau akan mati karena menghirup hawa beracun” Apa yang dipikirkan memang bagus sekali tapi tertawa seram yang berkumandang dari belakang menggema tiada hentinya, se-akan2 orang itu sama sekali tidak tahu akan keseraman serta kengerian gunung Pek In san.
Dengan napas ngos2an ketiga orang itu lari terus kedepan, seperminum teh kemudian tiga puluh li sudah dilewati, menurut dugaan mereka asalkan telah memasuki daerah pegunungan maka mereka bertiga bisa beristirahat dengan lega hati, siapa sangka musuh yang ada dibelakang tidak mau juga melepaskan mangsanya, ia selalu membayangi bagaikan kutu dalam rambut.
Makin lari tiga manusia beracun itu semakin terperanjat bercampur ngeri, bagaikan tiga ekor kelinci yang diancam pemburu, mereka ngaCir kekiri kekanan dengan hebatnya hampir boleh dikata seluruh punggung gunung Pek-In-san telah dijelajahi.
Entah sudah berapa lama mereka lari dan berapa jauh dilalui, keringat telah mengucur keluar membasahi tubuh mereka, napas ter-sengkal2 bagaikan kerbau, baju biru yang mereka kenakan basah kuyup bagaikan diguyur air segentong, celana pada robek tersangkut duri dan rotan bahkan tangan merekapun lecet dan sehingga mengucurkan darah tersangkut duri yang tajam.
Selama hidup belum pernah tiga manusia beracun dari wilayah Biauw mengalami pengalaman yang begitu memalukan, sungguh mengenaskan keadaan orang2 itu.
Meskipun demikian, suara tertawa seram yang bergema dari belakang tubuh mereka masih belum- juga berhenti, bagaikan bayangan setan mengikuti terus kemana mereka pergi.
Sejak semula simanusia racun ketiga, Han-Peng-Tok-Shu chin Teng San sudah tidak sabaran, seandainya ia tidak kagum terhadap Loo-toa serta Loo-jie, Tadi ia sudah kehabisan sabar, Sekarang. Setelah ia tahu Loo-toa tak bisa mengetahui Loo-jie tak bisa memperhas ketenangan hati. ia jadi mendongkol, sambil meraung keras mendadak tubuhnya berhenti berlari, sepasang alis berkerut dan putar badan dengan sebat. Teriaknya keras2: “Maknya setan alas jangan rneng gertak. orang orang belaka dengan permainan setaramu, kalau punya kepandaian ayoh tunjukan diri, aku Han-Peng-Tok-shu chiu Teng San berada disini, berani kau layani diriku bertarung sebanyak tiga ratus gebrakan?” Menjumpai Loo-sam berhenti dan menantang perang, mau tak mau Pek-Si-Tok-Shu-Kiang Tiang Koei serta Hian In-Tokshu- cia ie ciong ikut berhenti berlari, mereka sama2 menggabungkan diri jadi satu.
“Heeee….heeee…..lebih baik jangan banyak tingkah jangan dikata bertarung sebanyak tiga ratus gebrakan, untuk menghadapi sebuah jari kelingkingku pun kau sudah tak sanggup, ” sewaktu pihak lawan mengucapkan kata2 itu, dengan sebat tiga bersaudara itu putar badan, sekarang mereka dapat saksikan kurang lebih lima depa dihadapannya berdirilah searang kakek tua yang tinggi besar dan gemuk.
Wajah orang itu sangat dikenal oleh tiga manusia beracun, begitu menjumpai bahwasanya pihak lawan bukan lain adalah sikakek gemuk mereka sama2 menjerit kaget, bagaikan terpagut ular beracun air muka mereka bertiga, sama2 berubah hebat.
Kiranya orang itu bukan lain adalah si kakek gemuk yang hendak dicengkeram Han Peng-tok-shu sewaktu berada dirumah makan dalam kota Hoei-swie siang tadi.
orang itu menyusul datang dengan kencangnya, tak usah ditanya bisa diduga maksud kedatangannya tentu hendak mencari balas.
“Mengherankan kalau benar orang ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, kenapa ia sama sekali tidak menunjukan tanda2 hendak berkelit ataupun menghindar sewaktu aku hendak mencengkeram batok kepalanya??” pikir Han-Peng Tok-shu Chin Teng san dengan hati tercengang. “Aku tidak percaya kalau batok kepalanya lebih keras daripada baja.” Karena punya pikiran demikian, tak tahan lagi dengan perasaan ingin tahu ia lirik sekejap batok kepala sikakek gemuk yang gede dan aneh itu.
Agaknya orang itu bisa menebak apa yang sedang dipikirkan chin Teng san, kembali ia tertawa seram, sembari gelengkan kepalanya ia berkata: “Bocah keparat dengan andaikan ilmu silat kucing kaki tiga mu, kau anggap bisa mengganggu atau merusak seujung rambut loohu?? Hmm jangan bermimpi disiang hari bolong.
Terus terang kuberitahu kepadamu, pagi tadi kalau bukan Sian-Hen-It-Kiam keparat cilik she-Tauw itu menolong selembar jiwamu Hmm Hmm saat ini mungkin tulang kerangkamu pun sudah punah sama sekali” Biauw-Kiang sam-Tok atau tiga manusia beracun dari wilayah Biauwjadi merasa geli habis mendengar ucapan itu.
mereka merasa sikakek gemuk ini telah membalikan kenyataan, tidak lebih ia hanya main gertak sambal sembari mengibul.
Bagaimana dalam kenyataannya? seperti apa yang diucapkan sikakek gemuk itu. jikalau waktu itu sian-Hee-It- Kiam Yauw Kie tidak melancarkan serangan memaksa Han- Peng Tok shu mundur ke belakang, asal jari tangan chin Teng san menempel sedikit saja diatas rambutnya, maka bagaikan kena listrik bertegangan tinggi ia akan mati binasa dalam keadaan mengerikan, dalam sekejap mata tubuhnya akan punah tinggal segumpal darah kental.
Bagaimana bisa begini? dan apa alasannya? dalam cerita selanjutnya akan diterangkan lebih jauh.
Dalam pada itu rasa takut yang menyerang hati tiga manusia beracun sudah lenyap bebefapa bagian, teringat mereka tiga bersaudara terdiri dari jago-jago lihay, bahkan tercantum pula sebagai anggota sepuluh manusia sesat dari kolong langit yang disegani tokoh silat baik dari golongan hitam maupun dari golongan lurus, sekarang apabila harus merasa ketakutan bagaikan tikus ketemu kucing Bukankah keadaan itu sangat memalukan ?? Lagi pula walaupun dikatakan sikakek gemuk ini memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, dengan gabungan mereka bertiga apa yang perlu ditakuti lagi.
Kemungkinan besar bangsat ini cuma andaikan ilmu langkah serta ilmu meringankan tubuhnya yang rada aneh hendak menggertak mereka, kalau tidak kenapa ia tidak turun tangan terhadap mereka bertiga ? tentu ia punya rencana hendak menakut-nakuti mereka bertiga sampai kehabisan tenaga, setelah itu baru menggunakan kesempatan itu turun tangan membereskan mereka.
seandainya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki benarbenar dahsyat, kenapa ia tidak meloncat melampaui mereka kemudian menghadang perjalanan mereka ?? kenapa ia selalu hanya menguntit saja dari belakang ?? Berpikir sampai disitu Pek-si-Tok-shu Kiang Tiang Koei merasa apa yang diduga tak bakal salah lagi, semangat, kemantapan serta keberaniannya pulih kembali seperti tempo dulu, ia segera tertawa seram.
“siapakah anda??” ia menegur. “Kami tiga bersaudara sama sekali tidak bermusuhan dengan dirimu, hubungan kita bagaikan air sungai yang tidak mengganggu air sumur apa sebabnya kau menguntil terus tiada habisnya? haruslah kau ketahui kami tiga manusia beracun dari wilayah Biauw bukan manusia yang bisa diganggu dan diremehkan seenaknya” si kakek gemuk itu sama sekali tidak naik pitam, ia malah tertawa tergelak.
“Nah begitulah baru mirip seorang jagoan kangouw, ketika kujumpai keadaan kalian macam cucu kura2 yang tak berani nongolkan kepala serta macam kijang yang lari ketakutan, hatiku jadi ikut dongkol Hmmm, masa seorang jagoan kenamaan kok nyalinya sekecil nyali tikus sungguh memalukan” Bicara sampai disitu ia lantas geleng2kan kepalanya dan melanjutkan: “Mengenai nama besar dari aku siorang tua jangan dikata kalian, meskipun sucouw mu yang sudah modar Pek-Tok- Tong-cu atau si-jejaka seratus racun Lie In muh masih harus sebut aku sebagai Lo-Couw Cong, coba katakan kalau sesuai tidak untuk tanya namaku?”, Ia merandek sejenak. kemudian terusnya: “Membicarakan saal hutang piutang yang kalian buat tadi pagi, yang kalian bunuhkan orang lain, sedang akupun bukan hamba negeri, apa perlunya aku ikut campur sama saja” seraya menuding kearah Han-Peng-Tok-shu Chin Teng san serunya: “Keparat cilik ini hendak bikin sebuah jendela diatas batok kepalaku, secara bagaimana kau bisa katakan kalau hubungan kita bagaikan air sungai yang tidak mengganggu air sumur??” sewaktu berbicara, sikakek gemuk itu geleng2kan kepalanya, sehingga ludah muncrat kesana kemari persis hujan gerimis disiang hari bolong.
semula Pek-si-Tok-shu Kiang Tiang Koei serta Hian-Im-Tokshu Cia le Chong merasa terperanjat sewaktu mendengar pihak lawan mengetahui asal usul perguruannya, tapi dengancepat merekapun berpikir: “Aaaah benar, tadi kami sudah sebutkan gelar kami sebagai Tiga manusia beracun dan Wilayah Biauw, sebagai jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan sudah sepantasnya kalau kakek gemuk ini bisa menduga siapakah nama kakek guru kami dan berasal dari perguruan manakah kami ini”.
Karena punya pikiran demikian, kedua orang itupun tidak pikirkan persoalan ini lebih mendalam lagi.
Kan-Peng Tok-Shu chin Teng san hatinya panas, sebagai orang yang berhati kejam dan buas, ia tak tahan dihina terusterusan, sambil tertawa seram badannya meluruk kedepan, sepasang lengan dengan salurkan hawa beracun, Han-Peng Tok-Kang segera didorong kedepan.
orang ini berniat membinasakan sikakek gemuk itu dalam sekali gebrakan, maka dari itu tenaga beracunnya dikerahkan hingga mencapai delapan bagian, kehebatannya benar-benar laksana angin puyuh membelah bumi, begitu dahsyat sampai daun, debu dan pasir beterbangan di angkasa.
Dengan cepat sikakek gemuk itu menyingkir kebelakang, sambil gelengkan kepalanya yang-gede dan aneh itu gumamnya: “Waaah….. waaah….bahaya, bahaya sekali kalau sampai dibiarkan pukulan Racun es ini bersarang dibadan, seluruh cairan darah dalam badan akan membeku. Eeeee….bukan main tersiksanya kalau sampai begitu….Hiiiii ngeri.” sambil berteriak ia lantas angkat kaki lari dari situ. ilmu meringankan tubuhnya benar2 hebat, dalam sekejap mata ia sudah berada dua puluh tombak jauhnya dari tempat semula.
Menyaksikan sikakek gemuk itu kabur ter-birit2, tiga orang manusia beracun itu jadi kecewa segera pikirnya.
“Sialan…. makinya, ternyata si tua bangka celaka itu tidak lebih cuma macan2an dari kertas, bisanya cuma main gertak sambal belaka ….Huuu.,..sialan benar” Tanpa terasa lagi kejadian barusan terbentang kembali didepan mata, teringat betap angenesnya sewaktu melarikan diri ter-birit2 tadi, dari malu mereka jadi gusar, begitu sakit hati ketiga orang ini sampai ingin menguliti kakek sialan itu kemudian menggigit dagingnya keras2.
Mereka bertiga sama2 membentak keras bagaikan anak panah yang terlepas dari busur segera melesat kedepan mengejar sikakek gemuk yang sudah ngacir lebih duluan.
Kakek gemuk itu lihay juga, meskipun tiga manusia beracun dari wilayah Biauw telah kerahkan segenap tenaga yang dimiliki-nya, ilmu meringankan tubuh sudah digunakan mencapai puncaknya, namun jarak diantara mereka masih tetap seperti sedia kala.
Beberapa tebing telah dilewati, beberapa puncak sudah dilampaui tapi yang paling menjengkelkan adalah sikakek gemuk itu tetap bergerak dengan ringannya mengikuti hembusan angin, mereka bertiga cuma bisa melihat tak bisa menyusul orang. Diam2 mereka bertiga jadi mendongkol, pikirnya. “Hmm aku tidak percaya kalau tak dapat menyusul dirimu” Mereka segera kerahkan ilmu meringankan tubuh Pat-Poh- Kan-san yang jarang sekali digunakan.
Para pengejar laksana sambaran kilat berkelebat kedepan, orang yang dikejar masih tetap seperti sedia kala bergerak lenggang2 kangkung seenaknya saja.
Tidak lama kemudian sikakek gemuk itu telah menerobos masuk kedalam sebuah lembah hingga dilihatnya tiga manusia beracun itu masih mengejar tiada hentinya ia lantas berpaling dan tertawa nyengir.
Melihat diri mereka diejek, ketiga orang itu jadi naik pitam.
“Hmm, akan kulihat kau hendak lari ke mana?” pikir mereka didalam hati.
Dalam sekejap mata tiga manusia beracun secara beruntun telah meloncat masuk kedalam lembah, tapi secara mendadak bayangan sikakek gemuk itu telah lenyap tak berbekas.
Tidak temukan jejak musuhnya ada disana Hian-Peng Tok- Shu Chin Teng San betul2 sangat murka, ia tak tahan dan mulai berkaok2 memaki kalang kabut: Dalam pada itu Pek-si-Tok-shu-Kiang-Tiaag Koei mengawasi keadaan disekelilingnya. tiga penjuru merupakan dinding tebing yang tinggi menjulang keangkasa, tegak lurus dan curam sekali, kiranya lembah tersebut merupakan sebuah lembah buntu.
Belum berhasil ditemukan apa sebabnya bayangan sikakek gemuk itu bisa lenyap secara tiba-tiba, Hian-Im-Tok-Shu-cia le chong telah kerutkan sepasang alisnya seraya berkata: “Loo-toa, bajingan itu pancing kita masuk kedalam lembah, apakah ia mempunyai rencana keji terhadap kita orang??” “Loo-jie, kau tak usah ragu-ragu dan menduga yang bukanbukan, digeledah saja ” dengus Han-Peng-Tok-Shu Chin Teng san tidak sabaran Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tubuhnya segera berkelebat kearah lembah untuk melakukan penggeladahan.
Pek-Si-Tok-Shu serta Hian-Im-Tok-Shu sama sama merasa tindakan Loo-sam rada gegabah, meski demikian mereka ikuti juga tindakan saudaranya, masing-masing berpisah pada dua arah yang berhadapan untuk mulai dengan penggeledahan mereka.
Ketiga orang itu sudah menjelajahi hampir seluruh lembah, namun belum juga menemukan bayangan dari s ikakek gemuk itu, dalam keadaan putus asa akhirnya mereka bertiga kumpul diatas sebuah batu cadas.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara gelak tertawa berkumandang keluar dari celah celah tebing kemudian menggema dan memantul dalam seluruh lembah, sehingga dalam waktu singkat seluruh angkasa telah dipenuhi oleh gelak tertawa sikakek gemuk itu.
“Keparat itu sedang main setan, kita jangan sampai terperangkap ” seru Siracun ketiga dengan alis berkerut.
Pek-Si-Tok-Shu mengelus jenggotnya, setelah berbatuk ia berteriak: “Hey sahabat. Tadi kau mentertawakan kami tiga bersaudara, sekarang bukankah kau sendiri pun main sembunyi macam cucu kura- kura ??” “Bukankah aku si orang tua berada sama-sama kalian tiga orang keparat cilik telur busuk??……” Kembali suara itu muncul dari belakang tubuh mereka, ketika ketiga- orang manusia beracun itu berpaling maka tampaklah sikakek gemuk yang punya kepala besar, aneh lagi licin sehingga memantulkan sinar tajam itu sudah berdiri di belakang mereka.
Setengah harian dipermainkan terus oleh sikakek gemuk itu, lama kelamaan tiga manusia beracun dari wilayah Biauw tidak kuat menahan diri, perut mereka terasa hampir meledak bertemu dengan musuh bebuyutan sepasang mata kontan merah membara.
Ketiga orang itu sama-sama membentak keras, enam buah telapak berbareng melancarkan pukulan yang dahsyat bagaikan gulungan angin puyuh menyapu jagad, dengan disertai desiran tajam serta bau busuk bangkai segera menerjang kearah dada lawan.
Tenaga serangan itu datangnya memang sangat dahsyat, tetapi cukup s ikakek gemuk itu kebaskan tangannya kedepan, serangan yang begitu dahsyat tadi seketika lenyap tanpa bekas.
“Haa haaa….,haaa keparat cilik, ayoh tambah tenaga lagi, kalau curra begini mana bisa mengapa apakah diri Loohu ??” jengek nya sambil tertawa tergelak.
Menyaksikan kehebatan lawan, ketiga orang manusia beracun itu jadi amat terperanjat. Pek-Si-Tok-Shu melirik sekejap kearah rekan rekannya kemudian pada saat yang bersamaan ketiga orang itu sama sama membuat gerakan setengah lingkaran busur didepan dada……
Braak enam buah bayangan telapak serempak didorong kedepan, tiga macam hawa pukulan beracun yang maha dahsyat dengan bergabung jadi satu garis lurus laksana gulungan ombak ditengah samudra serta mengiringi sambaran geledek sekali lagi menggasak keluar. “Aduuuh….” jerit sikakek gemuk sambil s ipitkan matanya.
“Braaak.. diiringi getaran keras tubuhnya yang besar lagi gemuk itu segera tergulung angin pukulan tersebut dan mencelat ke tengah angkasa.
Melihat lawannya terpental, tiga manusia beracun sama2 tertawa tergelak, suara mereka keras dan seram, seluruh rasa mangkel. dongkol dan marah yang selama ini berkumpul dalam dada segera tersalurkan semua.
Dalam perkiraan ketiga orang itu… sikakel gemuk itu tentu bakal menemui ajalnya termakan serangan beracun itu.
Sebab mereka sadar tiga macam ilmu pukulan beracun yang mereka gunakan merupakan pukulan beracun yang maha dahsyat, siapapun tokoh sakti dalam dunia persilatan dewasa ini tak ada yang sanggup menahannya, jangan dikata pukulan beracun itu sendiri, cukup tenaga gabungan tiga orang pun sudah mencapai empat lima ribu kati, tenaga sebesar itu cukup untuk menggetar hancur isi perut seseorang.
Sungguh tak nyana seorang tokoh sakti dunia persilatan yang memiliki ilmu silat maha lihay harus menemui ajalnya ditangan mereka tiga bersaudara tanpa mengerti duduknya perkara, kejadian ini sedikit banyak patut disayangkan.
Tapi ingatan lain segera berkelebat memenuhi benak mereka, siapa suruh orang itu tidak tahu diri dan mengganggu terus sampai menggusarkan kami….
Walaupun dalam hati tiga manusia beracun dari wilayah Biauw berpikir demikian, sepasang matanya sama sekali tidak berhenti memandang arah jatuhnya korban mereka.
Tampak tubuh sikakek gemuk itu berjumpalitan dan berguling tiada hentinya ditengah udara, rambutnya yang putih berkibar ditiup angin, dengan kaki diatas kepala dibawah tubuhnya terbanting jatuh keatas tanah, keadaannya persis dengan sebiji labu masak….. Kekejaman tiga manusia beracun ini sungguh melebihi harimau lapar, karena takut si kakek gendut itu belum putus nyawa, sewaktu tubuh korban mereka terbanting keatas tanah, secara serentak enam buah bayangan telapak kembali berkelebat menambahi dengan sebuah pukulan dahsyat lagi.
Kejadian aneh tiba2 berlangsung didepan mata, sikakek gemuk yang diduga pasti akan menemui ajalnya itu mendadak berteriak keras: “Aduuuh mak, mati aku…..” sepasang lengan dikebaskan ditengah udara tenaga serangan yang menggulung kearahnya mendadak lenyap tak berbekas.
Tiga orang manusia beracun itu jadi terkesiap. sukma mereka terasa bagaikan melayang dari badan- Pek-si-Tok-Shu- Kiang-Tiang Koei segera menghardik lirih.
“Angin kencang berhenti” Tiga sosok bayangan biru laksana anak panah lepas dari busur segera berkelebat kete-ngah lembah.
Terdengar sikakek gemuk bersuit nyaring, suaranya tinggi melengking bagaikan jeritan kuntilanak ditengah malam buta.
Bersamaan dengan jeritan tersebut bayangan hitam segera beterbangan dari seluruh penjuru lembah, suara cicit serta raungan aneh bergema amat ramai, suasana ketika itu sangat hiruk-pikuk dan menusuk pendengaran.
Empat, lima belas tombak sekeliling mulut lembah, secara mendadak muncul ular beracun, tokek beracun, cicak beracun, laba2 beracun, kelabang terbang serta tawon hitam sekalian ber-juta2 macam binatang beracun mengerumuni seluruh permukaan tanah, begitu dahsyat sehingga permukaan langsung menghitam bagaikan permadani alam. suatu pertemuan pelbagai binatang beracun yang paling dahsyat selama ratusan tahun belakangan.
Tiga manusia beracun dari Wilayah Biauw adalah seorang ahli dalam ilmu beracun, mereka sadar binatang-binatang itu sangat berbisa, asalkan kena ditempeli niscaya akan mati binasa.
Mereka jadi terperanjat dan pecah nyali, dengan hati kebat kebit segera mengundurkan diri dari situ.
” Keparat keparat cilik, setelah kalian datang kelembah Cian-Cang-Kek ku kenapa buru buru hendak pergi?? bukankah kalian disebut orang tiga manusia beracun dari Wilayah Biauw, kenapa musti takut dengan binatang binatang cilik yang tak berarti itu ??..” Bicara sampai disitu, ia lantas mengelus jenggotnya yang terurai sepanjang dada. sambil goyang kepala terusnya: “sekarang siang hari telah tiba, eeeei keparat cilik sekalian, kemarin kalian sudah berlarian sepanjang malam, pagi inipun belum sarapan, apakah perut kalian tidak merasa lapar?? aku telah mempersiapkan perjamuan selaksa racun untuk menghormati kalian tamu tamu agung kalau dikatakan, bukankah santapan lezat ini merupakan hidangan istimewa buat dirimu ?? ” Tidak menanti orang itu menyelesaikan kata-katanya tiga manusia berbisa segera putar badan menghadap kearah sikakek gemuk itu mereka sadar telah bertemu dengan seorang tokoh silat maha sakti, tiada harapan lagi buat mereka bertiga untuk loloskan diri, karena itu tak rasa lagi air muka mereka berubah hebat, perasaan jeri,ngeri dan berduka meliputi seluruh wajahnya.
Walaupun Tiga manusia beracun dari Wilayah Biauw tersohor dalam dunia persilatan karena ilmu berbisanya, tetapi kepandaian yang mereka kuasai terbatas sekali. Alasannya sewaktu belum lama mereka masuk perguruan dan belajar ilmu dari gurunya, Tok Nio-cu suhu mereka secara tiba tiba mati dibunuh musuh bebuyutannya, oleh karena itu kepandaian yang mereka dapatkan terutama dalam ilmu racun mereka belum menguasai terlalu mendalam.
Dalam keadaan ilmu yang terbatas, jangan dikata mendahar binatang2 beracun, untuk menangkap makhluk makhluk berbisa inipun mereka masih ragu ragu.
Melihat keadaan terkepung, merasakan pula kepandaiannya tidak ungguli orang. Terpaksa Peks si-Tok-shu Kiang merasakan pula kepandaiannya tidak ungguli orang, terpaksa Pek-si-Tok-shu Kiang Tiang Koei maju kedepan sembari menjura, katanya: “Tak nyana cianpwee seorang tokoh maha sakti dari dunia persilatan, boanpwee sekalian punya mata tak berbiji, apabila perbuatan perbuatan kami sebelumnya telah melanggar serta berbuat dosa kepada cianpwee, harap cianpwee sudi kiranya untuk memafkan.” si Kakek gemuk itu tidak menggubris atas ucapan tersebut, kembali ia tertawa terkekeh kekeh.
“Pepatah kuno mengatakan : Tuan Rumah tidak dahar, tetamu tak akan minum haa ….haa….haa….agaknya aku yang menjadi tuan rumah harus bergerak dahulu baru tetamu tetamuku mau ikut mencicipi perjamuan selaksa Racun ini “.
Bicara sampai disitu ia lantas merogo ke-dalam sakunya dan ambil keluar sebuah botol arak yang terbuat dari porselen serta sebuah cawan yang menyiarkan cahaya tajam, katanya kembali: ” Keparat cilik sekalian, arak ini merupakan arak simpanan Bunga Merah Ciang-Hong-I-Hua yang dibuat setelah dicampuri rumput pemutus usus serta pelbagai jenis bisa bisa yang hebat. siapa saja yang meneguk arak ini maka dia akan selalu awet muda, tidak mempan terhadap serangan beracun badannya bertambah gemuk dan pikirannya bertambah terbuka, mari mari, mari kita keringkan secawan.” sembari gelengkan kepalanya berulang kali ia buka tutup botol arak tadi dan menuangnya kedalam cawan, arak tadi warnanya hijau gelap dan baunya amis sekali.
seandainya sikakek gemuk itu tidak mengatakan dari bahan apa saja arak tersebut dibuat, tiga manusia beracun dari wiiayah Biauw tentu akan sambuti pemberian arak itu dengan senang hati. tapi kini setelah mengetahui arak itu terdiri dari pelbagai macam jenis racun yang lihay, mereka tak berani menyambutnya.
Kembali sikakek genuk itu angsurkan cawan araknya kepada tiga orang itu, tiga manusia beracun dari wilayah Biauw mundur berulang kali kebelakang dengan ketakutan.
“Boanpwee sadar bahwa rejeki kami tipis sekali, lebih baik arak kehormatan itu menikmati sendiri saja buat Loocianpwee” katanya.
Memandang tiga orang tetamunya yang berdiri dengan wajah likat, sikakek gemuk itu kembali tertawa tergelak.
“Tiga sahabat cilikku yang terhormat kalau kalian tidak doyan minum arak. silahkan mencicipi sayur serta hidangan lezat ini” saat ini keempat orang itu sudah saling berubah sebutan bagi lawannya, rasa permusuhanpun makin lama semakin hilang.
Bersamaan dengan selesainya ucapan sikakek gemuk itu, sepasang tangannya menyambar kedepan menangkap seekor ular berbisa yang bentuk badannya kecil dan bersisik kuning emas serta seekor labal beracun.
Bagaikan makan bak-pao saja orang tua gemuk itu masukkan laba2 beracun tadi kedalam mulut lantas dikunyah dengan penuh rasa nikmat, pemandangan yang sangat mengerikan ini membuat tiga bersaudara tersebut jadi bergidik dan merasa hatinya tidak tenteram.
selesai mengunyah laba2 beracun, kembali ia robek robek badan ular racun bersisik emas itu, lalu sepotong demi sepotong dimasukkan kedalam mulut, dikunyah dan ditelan dengan lezatnya, darah amis segera muncrat menodai seluruh mulutnya.
Begitu nikmat siorang tua gemuk itu mengunyah santapan istimewanya, membuat Pek si-Tok-shu Kiang Tiang Koei serta Hian-Im Tok-Shu Cia le Chong berdua yang menyaksikan jadi muak hampir2 saja mereka muntah, sepasang alis dikerut kencang.
Han-Peng-Tok-Shu chin Teng-san adalah seorang bodoh yang tak pernah menggunakan akalnya, sejak tadi perutnya sudah keroncongan minta diisi. sekarang melihat sikakek gemuk itu menikmati santapannya dengan begitu lezat, dalam hati ia lantas berpikir: “Begitu nikmat ia sikat hidangan istimewa tersebut seakan2 masakan yang lezat. Ehmm…. mungkin binatang jelek itu memang rasanya nikmat, daripada menanggung rasa lapar yang menyiksa badan, kenapa aku tidak ikut mencicipi? taruh kata akhirnya aku mati keracunan rasanya jauh lebih baik daripada mati jadi setan gentayangan” Karena punya pikiran demikian, ia lantas maju kedepan dan menyambar seekor kadal beracun yang panjangnya satu depa, kemudian sambil pejam mata dimasukkan kedalam mulut dan mulai dikunyah. Ternyata rasanya segar, gurih dan nikmat sekali. Tak tahan lagi segera ia mendongak dan tertawa terbahak2.
“Haaa haaaa….bagus bagus sekali, Loo-toa, Loo-jie, ayoh cepat sikat binatang2 jelek itu Waaah….rasanya sungguh segar, gurih dan nikmat.” Dalam menghadapi masalah apapun, yang paling ditakuti adalah tak adanya orang yang sudi buka jalan. setelah Loosam berkaok-kaok dengan penuh kegirangan, Pek-si-Tok shu serta Hian-Im-Tok-shu segera ikut berebut maju, menyambar binatang-binatang berbisa itu dan dikunyah dengan penuh kenikmatan.
setelah dilihatnya ketiga orang itu saling berebut mendahar binatang-binatang beracun yang dihidangkan, kembali sikakek gemuk itu gelengkan kepalanya berulang kali.
“Nah beginilah baru bisa disebut sebagai anak murid perguruan Ciat-Tok-Bun yang tersohor itu Ehmmm.
Keberanian serta kenekatan kalian memang masih patut dipuji”.
Mendengar mereka dipuji-puji oleh sikakek gemuk itu, tiga manusia beracun-dari Wilayah Biauw ini jadi kegirangan setengah mati.
Tengah mereka sedang bergembira, mendadak dari tengah lembah berhembus datang angin keras yang membawa bau amis, disusul segulung bau harum semerbak menyambar datang menusuk hidung, dari balik lembah Cian-Ciang-Kok muncullah kabut yang segera membentuk jadi segumpal awan tebal.
Dibawah sorotan sinar matahari, kabut tersebut memancarkan cahaya keemas emasan tiba tiba meluncur turun dari tengah udara bagaikan sebutir peluru, lalu menyebar ke empat penjuru lambat-lambat, diantaranya ada yang menggumpal laksana sebuah roda kereta yang secara tiba-tiba merekah dan memancarkan lima buah warna warni bagaikan bianglala, bau harum semakin tebal dan menyebar ke seluruh penjuru lembah.
“Aaah kabut beracun Huang-Mao-Ciang” teriak Pek-si-Tok- Shu Kiang Tiang Koei dengan hati terperanjat.
Mendengar seruan itu air muka Hian-Im-Tok-Shu Cia Ie Chong berubah hebat, sementara Han-Peng-Tok-shu-Chin Teng san sembari mengusap kering darah amis yang berpelepotan diujung bibir bertanya: “Loo-toa, apa sih yang disebut kabut beracun Huang-Mao- Ciang itu?? kenapa membuat Loo-jie jadi ketakutan setengah mati?”.
Menyaksikan kebodohan Loo-sam mereka yang sama sekali tak paham apa yang disebut kabut beracun Huang-Mao-Ciang, Pek-Si-Tok Shu menghela napas lirih.
“Habislah sudah Aaaaaai tak nyana lembah Cian-Ciang-Kok merupakan tanah kubur bagi kita tiga bersaudara. Loo-sam selamanya kau tak pernah pikirkan masalah apapun kedalam hati, sekarang akan kuberitahukan kepadamu dan lain kali tak usah tanya lagi. Menurut ilmu pengetahuan kabut beracun adalah suatu gas jahat yang sering muncul didalam hutan, dipuncak gunung ataupun didalam lembah. Kabut macam begini banyak sekali terdapat dipropinsi In-Lam serta Koei- Cioe.
Sepanjang tahun semuanya ada empat macam kabut, Dimusim semi kabut itu disebut kabut Rumput hijau atau Cing Cau Ciang. Dimusim panas kabut itu disebut kabut bunga Hwee kuning atau Huang Bwee Ciang, dimusim gugur kabut itu disebut kabut Padi Baru atau Sim Hoo Ciang disamping itu masih ada pula kabut-kabut beracun yang bernama kabut bunga Tauw atau Tauw- Hoa- Ciang, kabut bunga seruni atau Kiok- Hoa-Ciang, kabut bunga Koei atau Koei- Hoa-Ciang serta nama-nama lain yang aneh “.
Pek Si-Tok-Shu masih ingin meneruskan kata-katanya, namun dengan cepat Hiaa-Im Tok-Shu menarik ujung baju loo-toa nya sembari berbisik: “Cepat lihat ” Tampak sikakek gemuk itu sedang pentangkan mulutnya lebar2, kabut beracun lima warna yang sedang me-layang2 diudara dengan cepat terhisap dan meluncur masuk kedalam mulut nya semua, dengan tenang kakek gemuk itu menelan asap beracun tadi dan dinikmati dengan penuh kenikmatan- Tiga manusia beracun yang menyaksikan peristiwa itu jadi terbelalak dan berdiri melongo, pikir mereka. “Kepandaian apakah ini?” Tak tahan lagi diatas tiga lembar wajah mereka yang jelek terlintaslah rasa kagum dan salut.
Tidak selang seperminum teh kemudian, si kakek gemuk itu sudah habis menghisap seluruh kabut beracun yang melayang diatas lembah itu kedalam perutnya, menjumpai wajah tiga manusia beracun yang demikian mengenaskan, ia jadi geli dan tertawa ter-kekeh2.
Bersamaan dengan melebarnya mulut sikakek gemuk itu, serentetan cahaya emas mendadak meluncur keluar bagaikan anak panah terlepas dari busur, pohon serta tumbuhan yang ada dua tombak dihadapannya mendadak jadi layu, daun ranting berguguran kemudian matilah pohon tersebut.
Apa yang barusan didemontrasikan benar2 merupakan suatu kepandaian yang tak pernah dijumpai selada hidup ketiga orang beracun ini, meski merekapun ahli dalam ilmu pukulan beracun, namun tak ada yang mengira bahwa dikolong langit ada orang yang bisa melancarkan serangan mautnya lewat tiupan mulut.
Tiga manusia beracun dari Wilayah Biauwjadi sangat kagum dan takluk benar-benar, mereka anggap sikakek gemuk ini sebagai malaikat yang baru turun dari nirwana.
Bukan begitu saja, saking kagumnya ketiga orang itu, mereka sama-sama berlutut diatas tanah, menjalankan penghormatan besar dan mohon sikakek gemuk itu sudi kiranya mewariskan kepandaian maha saktinya kepada mereka.
Mendengar permintaan ketiga orang itu, air muka sikakek gemuk itu mendadak berubah jadi serius. Katanya: “Loohu adalah ciangbunjien keturunan ketiga dari perguruan Ciat-Tok-Bun. tempo dulu orang-orang sebut aku sebagai Ban-Tok-Ci-ong atau Maha Raja Laksa Racun. Karena tiap hari terjerumus dalam menyelidiki ilmu racun dan pukulan racun maka selama seratus tahun ini tak pernah munculkan diri kembali dalam dunia persilatan menanti ilmu silat Ban-tok Koei-Tiong yang loohu latih telah mencapai puncak kesempurnaan, anak murid dari perguruan Cian-Tok-Bun telah punah dan tiada jejaknya lagi.” “Beberapa waktu berselang aku baru berhasil temukan kembali jejak dari kalian tiga ekor binatang tolol, ternyata kepandaiai mau pun pengetahuanmu dalam hal ilmu beracun sangat cetek sekali, bukan saja amat cetek bahkan sama sekali tiada berarti, kalian tidak lebih cuma bikin malu nama besarku saja. Hmmm mulai ini hari kalian harus berdiam dilembah selaksa kabut ini dan berlatih lebih giat, pelbagai ilmu beracun akan kuwariskan kepada kalian. Tapi kalian harus perhatikan selama berlatih kepandaian kalian dilarang keluar dari mulut lembahku ini barang setengah langkahpun, apakah kalian sanggup melakukannya???” Tiga manusia beracun dari wilayah Biauw segera jatuhkan diri berlutut diatas tanah, sahutnya serentak: “Anak murid keturunan kesepuluh menjunjung tinggi semua titah yang diucapkan Couw su tecu sekalian akan mentaati dengan setia.” 00000000 Jilid 9 SEMENJAK pertempuran dipuncak Pek-Yan-Gay yang terletak digunung in-Boe San dalam propinsi Koei-chiu untuk memperebutkan peta mustika dari kitab pusaka Yoe Leng pit Kip. dalam sekejap mata dua tahun telah lewat.
selama dua tahun ini dunia persilatan benar2 merasakan ketenangan yang luar biasa, meski ada terjadi bentrokan2 kecil namun semuanya merupakan pertarungan tak berarti, sepanjang masa keheningan tak sekalipun muncul peristiwa hebat yang menggemparkan.
Tentu saja selama beberapa waktu ini banyak jagoan dari kaum Liok-lim yang bermunculan, tidak ketinggalan pula jago2 muda dari kaum pendekar bermunculan disana-sini bagaikan jamur dimusim hujan.
Antara golongan Hek-to serta golongan Pek-to sepanjang jaman memang selalu bermusuhan bagaikan air ketemu api, walaupun tak bisa dihindari pertarungan2 yang menimbulkan bencana kematian, boleh dikata peristiwa tersebut bagaikan riak gelombang kecil ditengah samudra luas, tidak berharga untuk diungkap.
setahun kembali sudah lewat, perkumpulan Im-Yang-Kauw yang terkenal akan kekuatan serta pengaruh besarpun tiada kabar beritanya, se-akan2 mereka punah tanpa sebab hilang lenyap dari muka bumi bagaikan uap di-siang hari…
Bukan begitu saja, bahkan para tokoh silat dari kalangan Hek-to yang punya nama tersohor seperti: Tiang-Pek-Siang- Hiong atau sepasang orang gagah dari gunung Tiang-Pek-san, cin-Nia-su-Cay atau Empat srigala dari bukit Chin-Nia, Boe-san sam-sioe atau Tiga manusia-jelek dari gunung Boe-san, Hian- Auw Tjhiet-Yan atau Tujuh Walet dari telaga Hian Auw, Bin- Lam-Liok-Pa atau Enam Raja ganas dari Hokkian selatan, say- Pak-Nao-Hiong atau lima manusia bengis diri gunung Lauwsan serta Cenghay-Ang-Hoa-Touw too atau sipendeta berambut merah dari Ceng hay pun tiada kabar beritanya, mereka semua hilang dari peredaran Bulim.
Masih hidupkah manusia-manusia ganas serta iblis-iblis bengis ini?? ataukah mereka sudah mati semua ?? tak seorangpun yang tahu jelas. Atau mungkin mereka berkumpul di suatu tempat dan sedang mempersiapkan suatu rencana baru yang maha besar? siapapun tak berani menduga.
Ketenangan serta keheningan yang meliputi seluruh dunia persilatan membuat Bu- lim Jie seng atau ada Rasul rimba persilatan ikut lenyap dari keramaian oe-Lwee-Ngo-Khie atau lima manusia aneh dari kolong langitcun bisa menggunakan waktu senggang ini untuk berpesiar menikmati pemandangan indah serta bersenang-senang minum arak, main catur atau cuma kongkouw-kongkouw belaka.
Dari pihak sembilan partai besar, seperti Siauw-lim-pay, Butong- pay, Hoa-san-Pay, Kun-lun-pay, Go-bie-pay, Khong-tong- Pay, Thian-Cong-pay serta Heng-san-pay sama2 mengawasi gerak gerik anak muridnya dengan ketat, mereka berusaha untuk menghindari pelbagai bentrokan2 yang tak berguna.
sedangkan dari partai Im-san-Pay, Kiong-Lay-Pay, Pek-Hoopay, Thian-Tay-pay, Hin-An pay, Tiang-pek-Pay karena kekurangan anggota serta manusia2 berbakat, menggunakan kesempatan ini mereka memupuk kader2 baru serta memperlihay jago2 mereka yang bisa diandalkan untuk menjaga keutuhan partai mereka masing2.
Makin tahun dunia persilatan berubah semakin hening semakin sunyi dari tahun sebelumnya, begitu hening, begitu sepi sehingga mendatangkan perasaan sumpek dan kesal dihati setiap orang.
Pada mulanya si sastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng masih tiada hentinya mengawasi gerak-gerik dari tokoh2 silat kalangan, hitam, sejak para gembong iblis itu secara beruntun mengundurkan diri dari dunia persilatan dan hilang lenyap dari keramaian, iapun dapat hidup dengan bahagia dirumah bersama kedua orang istrinya.
selama ini dari pihak Poei Hong walaupun belum melahirkan seorang putrapun, dari Tonghong Beng Coe secara beruntun telah melahirkan sepasang anak kembar, dengan demikian iapun telah memberikan bibit menyambung keturunan buat keluarga Hoo.
Pada waktu Hoo Thian Heng tinggal diluar kota Kay-hong disana ia bangun sebuah perkampungan yang dinamakan perkampungan pa In-san- cung letaknya tidak lebih dari satu li dari induk rumah keluarga Tonghong.
Loo Hujien, Poei oeti Hoa amat menyayangi cucu luarnya, maka ia lantas utus siauw Leng, siauw Lan, siauw Coei serta siauw-Giok empat orang dayang untuk pindah kedalam perkampungan Pa- In-san- cung, dimana mereka melayani nonanya dengan seksama.
semua orang dibikin repot oleh empat orang bayi kembar tersebut, sedangkan keempat orang bayi kembar tadipun makin tumbuh makin menarik hati, membuat orang yang lihat jadi ketarik dan menyenangkannya.
Keempat bocah itu semuanya lelaki, yang sulung diberi nama In Boen dan In Boe sedang yang kecil diberi nama In Jien serta In Gie. Hoo Thian Heng yang kini sudah jadi ayah jadi kegirangan luar biasa, sebentar ia meraba yang ini sebentar lagi membopong yang itu. sepanjang hari tersenyum simpul terus, watak sombong, dingin, kaku serta tinggi hati yang pernah diperlihatkan tiga tahun berselang kini sudah lenyap tak berbekas.
Gian Liong Poocu Lie Kie Hwie serta isterinya siburung hong Hijau Thio See sejak putri kesayangan mereka Lie Wan Hiang bersama-sama dengan pendekar cilik Gong Yu mengikuti sepasang Rasul Rimba Persilatan berangkat kelembah Leng-in- Kok untuk belajar silat, setiap hari mereka merasa kesepian, oleh karena itu setiap tahun mereka tentu mengunjungi perkampungan Pa-In san-cung dan mertamu disana sampai beberapa bulan lamanya.
Sikakek huncwee dari gunung Bong-san Yu Boepun merasa kesepian, tapi ia pandai menghibur diri, sebagai seorang yang suka merantau, ia selalu berkelana kesana kemari disamping untuk hilangkan segala kemurungan-Boleh dikata diantara jago2 lihay hanya dia seorang yang masih mengembara tiada putusnya dalam rimba persilatan.
Suatu hari, ketika itu magrib telah menjelang datang ditengah musim semi yang berhawa sejuk.
sang surya telah bersembunyi dibalik gunung, senja telah menjelang datang. Ketua kampung perkampungan Pa-In-sancung, Ho Thian Hong ber-sama2 Cian-Liang Poocu- Lie- Kie- Hwie yang kebetulan mertamu disana sedang berrjalan2 ditepi sungai yang letaknya diluar perkampungan.
Air jernih mengalir dengan tenangnya rerumput nan hijau tumbuh subur bagaikan permadani, bunga2 tumbuh semerbak menyiarkan bau harum, pepohonan membuat suasana bertambah rindang, menyambut sinar lembayung dari sang surya yang bersembunyi di-balik bukit, pemandangan ketika itu benar2 indah dan mempesonakan.
Lie Kie Hwie benar2 dibikin terpesona sampai ia berdiri termangu2, atau secara tiba2 ia dikejutkan oleh sampokan ujung baju yang membelah angkasa, tampaklah Hoo Thian– Heng sedang berdiri ditepi sungai sambil pasang telinga memperhatikan sesuatu.
“Keponakan Thian Heng, apakah kau telah menemukan suatu peristiwa yang mencurigakan ??” segera ia bertanya dengan nada tercengang. Hoo Thian Heng mengangguk.
“secara lapat2 boanpwe mendengar ada seekor kuda sedang berlarian dari jalan raya berbelok menuju kearah perkampungan kita dengan kecepatan laksana kilat.” sahutnya. “Aku rasa kehadiran orang ini tentu dengan membawa berita yang penting.” Mendengar perkataan itu cian-Liong-PooCit segera ikut pasang telinga untuk mendengar, sedikitpun tidak salah terdengarlah suara keliningan serta derap kaki kuda yang santar secara lapat2 berkumandang datang kira2 lima li dari tempat ini. Hatinya jadi terperanjat. Pikirnya: “Tenaga lweekang dari Thian Heng-te benar benar luar biasa, tak kusangka dalam waktu s ingkat ia berhasil mencapai kemajuan yang amat pesat. Agaknya berlatih ilmu silat yang paling penting adalah bakat yang paling baik aku sudah banyak tahun berlatih giat, tapi s ia2 belaka. Kepandaianku tak dapat mengungguli kemampuan pemuda ini…..” sementara ia masih menghela napas dalam hatinya suara keleningan tadi makin lama ber gerak semakin dekat, Dalam sekejap mata penunggang kuda itu sudah mulai nampak didepan mata.
Ketika kedua orang itu menjumpai siapakah penunggang kuda tersebut, mereka sama2 perdengarkan jeritan kaget.
Kiranya orang itu adalah seorang kakek tua berusia enam puluh tahunan, wajahnya persegi empat warna merah padamjenggot pendek menghiasi janggutnya dan memakai baju warna abu-abu, ditangan kakek itu mencekal sebuah benda yang panjangnya kira-kira tiga depa. Benda itu bukan cambuk kulit melainkan sebuah pipa huncwee yang panjang lagi berwarna hitam pekat.
Tak usah dipandang untuk kedua kalinya, siapapun akan tahu bahwa orang itu bulan lain adalah sikakek huncwee dari gunung Bong san, Yu Boe adanya.
Sepanjang hidup Bong-san-Yen-Shu paling gemar berkelana dengan jalan kaki, jarang sekali ia menunggang kuda, ini hari ia datang dengan terburu-buru bahkan membedal kudanya secepat itu. kalau bukan menjumpai peristiwa penting yang maha besar, tak bakalan ia berbuat demikian- “Ayoh cepat pulang ” tak kuasa lagi kedua orang itu berseru hampir berbareng.
Laksana anak panah teriepas dari busur, mereka enjotkan badan dan melayang kearah perkampungan, menanti s i kakek Huncwee dari gunung Bong-san biru saja meloncat turun dari atas pelana, Hoo Thian Heng serta Lie Kie Hwie telah tiba didepan perkampungan dan menyambut kedatangannya dengan hormat.
Si kakek huncwee dari gunung Bong-san segera menyerahkan kuda itu ketangan seorang pelayan, sebagai seorang tetamu yang sering datang berkunjung, iapun tidak memakai segala peradatan. Begitu turun dari kuda langsung berjalan masuk kedalam kampung dan menuju keruang tamu.
Dalam pada itu ruang tamu terang benderang bermandikan cahaya, ketika mereka bertiga melangkah masuk kedalam, serentetan suara teguran yang merdu menggema memecahkan kesunyian, kedua orang nyonya Hoo yaitu Poei Hong serta Tonghong Beng Coe sambil menarik si burung hong hijau Thio see telah muncul menyambut kedatangan mereka.
Diantara sesama pendekar, tak pernah mereka bicarakan tentang segala tetek bengek kesopanan maupun adat istiadat.
Begitu ambil tempat duduk Hoo Thian Heng siketua kampung perkampungan Pa-In-san-Cung segera menanyakan maksud kedatangan siorang tua itu. “Yu Loocianpwe, apa sebabnya kau datang kemari dengan ter-gesa2 macam diuber setan?” Bong-san Yen-shu tidak langsung menjawab pertanyaan tuan rumah, bagaikan sepanjang perjalanan tak pernah menghisap huncweenya saat ini ia hisap asap huccwee tersebut dalam-dalam, bergumpal gumpal asap putih segera menyebar memenuhi seluruh ruang tamu.
Air muka sikakek huncwee dari gunung Bong-san yang tegang membuat suasana dalam ruangan jadi sunyi-senyap tak kedengaran sedikit suarapun, beberapa saat kemudian barulah terdengar orang tua itu berkata: “Malapetaka mulai melanda seluruh dunia persilatan, aku lihat cuwi sekalian belum mendapat kabar berita dari tempat luaran, aku lihat mulai sekarang kalian semua tak bakal bisa hidup tenteram lagi dirumah masing2, ketenangan serta kebahagian sudah lewat, bibit bencana mulai menentang dihadapan kita.” Ucapan ini bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong, semua orang pada melengak dan berdiri menjublek.
“Cianpwee, kenapa tidak kau utarakan sejelas2nya kabar berita ini” seru Tonghong Beng Coe dengan gagah, meski saat ini perempuan tersebut kembali hamil, namun kegagahannya sama sekali tidak berkurang.
“Akan kulihat kurcaci dan badut dari mana yang begitu bernyali berani terbitkan malapetaka” sikakek Huncwee dari gunung Bong-san menghirup seteguk air teh yang dihidangkan pelayan, memandang kearah Tonghong Beng Coe yang dipengaruhi emosi dalam hati ia merasa geli. Tapi sebagai seorang angkatan tua tentu saja ia tak mau tertawa dihadapan perempuan itu.
“Kalau cuma beberapa kurcaci cilik serta badut2 gentong nasi, tentu saja aku tak perlu repot2 melakukan perjalanan ribuan li untuk datang kemari minta bantuan” katanya sambil tersenyum.
“Coba bayangkan saja, tempo dulu apakah loohu jeri terhadap sepuluh manusia iblis dari kolong langit yang tersohor akan keganasan serta kelihayannya itu ???”.
Maksud dari ucapan tersebut jelas sekali, malapetaka yang timbul kali ini jauh lebih lihay dan ber-lipat2 ganda lebih mengerikan dari pada malapetaka yang diterbitkan sepuluh manusia sesat tempo dulu.
si burung hong hijau Thio see kerutkan sepasang alisnya rapat2, agaknya ia merasa tidak sabaran sebab sikakek huncwee dari gunung Bong-san ini bicara putar kayun belaka, sementara pokok persoalan sama sekali tidak di-singgung2.
“Toako cepat katakan sebenarnya apa yang telah terjadi ??” serunya keras2 cian- Liong-Poocu Lie Kie Hwie segera melotot sekejap kearah istrinya, agaknya ia menegur bininya tidak pantas kehilangan tata sopan di hadapan sikakek itu.
Tentu saja sikakek huncwee dari gunung Bong-san dapat menyaksikan seluruh kejadian itu, tak terasa ia lantas tertawa ter-bahak2.
“Haa…haa…hia… teguran dari Te-hoe sedikitpun tidak salah. makin tua aku memang bertambah pikun, tidak kusampaikan kabar berita yang amat penting dan amat serius ini kepada kalian sebaliknya malah mengucapkan kata2 yang tidak berguna…”.
sinar matanya per-lahan2 menyapu sekejap para jago yang berkumpul didalam ruangan, air mukanya mendadak berobah amat keren dan serius, setelah ter-batuk2 terusnya: “sejak pertarungan diatas tebing Pek-Yan-Gay, kawanan iblis makin lama makin berkurang, boleh dikata hampir selama tiga tahun ini, dunia persilatan benar2 diliputi keheningan, tenang dan damai, siapa tahu pada tujuh hari berselang, dipropinsi selatan maupun Barat telah terjadi peristiwa pembunuhan berdarah yang sangat menggemparkan dunia persilatan-” “Para korban dari pembunuhan biadab itu kebanyakan merupakan pemuda-pemuda Bu-lim yang punya pamor hebat serta pemimpin2 kaum patriot yang menjagoi suatu daerah tertentu.” “Ditinjau dari peristiwa tersebut, pembunuhan biadab ini pasti bukan terjadi karena kebetulan, menurut perkiraan loohu dibalik peristiwa ini tentu sudah tersusun suatu rencana besar yang keji dan buas. Bahkan termasuk pula ambisi untuk merajai seluruh dunia persilatan, mendatangkan malapetaka serta bencana bagi umat Bu-lim”.
“Yu Cianpwee, tahukah kau orang tua siapa-siapa saja yang menjadi korban dalam pembunuhan biadab itu ??” sela Poei Hong tiba-tiba.
Menggunakan kesempatan itu sikakek hun cwee dari gunung Bong-san menghisap huncweenya, setelah menghembuskan segulung asap hitam terusnya: “Korban-korban dalam pembunuhan biadab itu kebanyakan sudah dikenal oleh kalian semua, meski tidak kenal tentu pernah mendengar nama besar mereka. orang-orang itu adalah siok-Tiong-It- Liong atau sinaga sakti dari su-Buan- Glen Kie. Tiga bersaudara In yang dijuluki Tian-Lam-sam-Kiat atau tiga manusia perkasa dari Tian-lam, Kang-sek Pay-coe, see Ceng dari Anhoei Barat, Ci-Kiong-Kiem-Tan atau busur merah peluru emas Him Liang Pek. sang Cong Piauw-tauw perusahaan ekspedisi Cin-Wie Piauw-Kiok dari ouw-lm selatan, Kheng-sen-Ciauw-Coe atau sipenebang kayu dari gunung Kheng-san di ouw-pak. Tio Geng Ko, serta Kang-Lam-Pu-In- Tuo-Nong atau si petani bongkok dari Kangsee selatan Tian Cim Ceng. Dalam satu malam yang sama bukan saja mereka menemui ajalnya dalam keadaan mengerikan, bahkan bini, anak sampai pelayanpun dibabat habis semua, tidak selembar jiwapun dibiarkan hidup”.
Para enghiong serta Bu-lim cianpwee ini rata-rata dikenal oleh jago-jago kita, mendengar berita duka itu mereka sama2 naik pitam air muka mereka berubah hebat, napsu membunuh mulai meliputi seluruh wajah, agaknya timbul niat membalas dendam dalam hati orang2 itu.
sikakek huncwee dari gunung Bong-san merandek sejenak.
Ia ketuk-ketukkan pipa huncwee nya yang berwarna hitam pekat itu diatas lantai ruangan, kemudian ujarnya kembali dengan suara berat: “saat ini bayangan kaum iblis agaknya mulai bergeser kesebelah Utara, dua hari berselang gembong iblis itu sudah kelihatan bermunculan di perkampungan Kiok-It-san-Cung dari sian-Hee-It-Kiam Yauw Kie yang ada di Lam-yang. Atas kejadian itu sinelayan dari sungai Goan-Kang, Tong su Kiat telah mengadakan perundingan rahasia dengan loohu, ia bersependapat denganku, gembong2 iblis itu berani malang melintang tanpa pandang sebelah matapun kepada kita semua, dibelakang layar mereka pasti ada tulang punggung yang menunjang gerakan tersebut.
oleh karena itu ambil kesempatan ini kita harus mengundang beberapa orang tokoh lihay untuk membendung perbuatan mereka serta mencari tahu siapakah otak yang memimpin gerakan tersebut dari belakang layar, kita harus berusaha untuk membalaskan dendam sakit hati daripara korban pembunuhan biadab itu.” ” Karena kejadian inilah mau tak mau loohu harus melakukan perjalanan siang malam untuk datang kemari minta bantuan dari keponakan Thian Hong agar suka turun tangan membantu atasi kejadian ini”.
Dengan mata melotot dan alis melentik Poei Hong serta Hoo Thian Hong sebera menyetujui permintaan itu, mereka lantas titahkan pelayan untuk siapkan keledai jempolan “Hek Jie” serta kuda jempolan “Liong jie”.
si burung hong hijau Thio see melirik sekejap kearah Tonghong Beng Coe yang lagi bunting, tiba2 ia berkata: “Hian-tit, tepatkah tindakanmu itu ? sekarang kawanan iblis sudah menyebar diseluruh penjuru tempat, mereka bisa munculkan diri dikota Lam- yang, apakah tidak mungkin bisa muncul pula dikota Kay-hong ini untuk terbitkan keonaran? menurut pendapatku yang bodoh, lebih baik Poei Hong tetap tinggal dirumah saja menjaga keselamatan dari Tonghong Beng Coe, sedangkan perjalanan menuju ke kota Lam- yang, kenapa tidak suruh suamiku menemani Thian Hong pergi ke sana ? aku rasa setelah perkampungan Kiok-lt-san-cung dibelai dan dijaga begini banyak tokoh2 sakti, keselamatannya tanggung bisa dijamin “.
Untung sekali si burung Hong hijau mengusulkan pendapatnya, kalau tidak entah bagai mana jadinya dengan perkampungan Pa-In-san Cung ??? Para jago merasakan apa yang diucapkan nyonya Lie sangat beralasan sekali, maka diputuskan Poei Hong tetap tinggal dirumah sementara Lie Kie Hwie sang Poocu dari benteng Cian-Liong-Poo menggantikan kedudukan nya.
Thian Hong lantas mempersilahkan sikakek huncwee dari gunung Bong-san menunggang kuda jempolan Hwee-Lioe-Kie untuk menggantikan kudanya yang sudah kecapaian sementara ia sendiri tetap menunggang keledai jempolannya, cambuk bergeletar ditengah malam yang sunyi, mengiringi ringkikan panjang dari HekJie, empat kaki bergerak cepat dengan dipimpin dahulu oleh pemuda itu mereka segera berangkat ke Lam- yang.
sementara itu Lie Kie Hwie sang Poocu dari benteng Cian- Liong-Poo menunggang kedua oei-Piauw-nya sendiri menyusul dibelakang kuda Hwee-Lioe-Kie, dalam sekejap mata mereka bertiga sudah lenyap dari pandangan mata.
suara derap kuda makin lama makin menjauh sehingga akhirnya tak kedengaran lagi, saat itulah dibawah sorotan sinar rembulan ketiga orang jago perempuan itu saling berpandangan sekejap lalu bergumam: “Semoga selamat sepanjang jalan dan pulang dengan membawa apa yang diharapkan.” sambil menggandeng tangan adiknya, dengan perasaan penuh perhatian Poei Hong berkata: “Adikku sayang, udara malam dimusim semi yang dingin ini tidak baik bagi kesehatanmu yang lagi bunting jabang bayi, mari kita segera masuk kedalam dan beristirahat “.
Mengikuti dibelakang kedua orang itu, si burung hong hijau Thio see pun masuk kedalam perkampungan Pa-In-san- Cung, ia lantas memerintahkan para pelayan menutup pintu kampung, memperketat penjagaan dan mempersiapkan ronda malam untuk menghadapi segala kemungkinan.
sekembalinya kedalam kamar, baik si burung hong hijau Thio see maupun Poei Hong merasa betapa beratnya tugas mereka untuk melindungi keselamatan perkampungan.
pikirnya didalam hati: “Jangan sampai terjadi peristiwa apapun dalam perkampungan sementara suamiku pergi, kalau tidak dikemudian hari tentu akan ditertawakan olehnya betapa tidak mampunya aku “.
Hasil dari pertandingan itu menetapkan si burung hong hijau Thio see dengan membawa siauw Leng, siauw Lan dua orang dayang meronda pada tengah malam pertama, sedangkan Poei Hong dengan membawa siauw Coei serta siauw Giok meronda pada tengah malam berikutnya.
Demikian, ketika tiba gilirannya untuk meronda, dengan kerahkan ilmu Ciet-Ciat-Thay-Nan-fe. Poei Hong mengelilingi perkampungan Pa-In-san-cung tersebut untuk melakukan pengontrolan.
Ketika itu sang rembulan memancarkan cahayanya keseluruh jagad, pepohonan bergoyang meninggalkan bayangan, perkampungan Pa-In-san-Cung diliputi kesunyian yang luar biasa. sekonyong- konyong . . .
Jeritan setan bergema dari empat penjuru disusul meloncat masuknya berpuluh-puluh sosok bayangan hitam dari luar perkampungan, gerakan mereka sebat dan gesit laksana burung elang, seketika itu juga Poei Hong ter kurung rapat2.
Pendengaran Poei Hong sangat tajam, merasakan desiran angin rada berbeda dan aneh ia lantas sadar, malam itu telah hadir tokoh2 silat yang tak diundang mencari satroni dengan perkampungan mereka.
segera ia mendongak. tampaklah dua belas orang manusia berkerudung telah berdiri angker dihadapannya.
orang2 berkerudung itu memakai baju hitam ditangan mencekal sebilah pedang dan memancarkan dua rentetan cahaya mata yang tajam lagi dingin dari balik kain kerudung, tak seorangpun yang buka suara, semuanya bungkam dalam seribu bahasa, gerak-gerik kaku dan mengerikan persis seperti dua belas sosok sukma gentayangan- Poei Hong sebagai anak murid dari Koe sian-sin-Poo salah satu diantara sepasang Rasul Rimba Persilatan, tentu saja tidak anggap sebelah matapun terhadap manusia2 macam sukma gentayangan ini, diam2 ia kerahkan ilmu sakti “Koe Lie sin-kang” atau kura2 merekah siap menghadapi segala kemungkinan, dengan tenang ia menanti serangan musuh, di samping itu sinar mata yang tajam lagi dingin pun ditarik kembali.
“siapakah kalian ? dengan alasan apa kalian begitu lancang menyatroni perkampungan Pa-in-san-Cung ? ayoh cepat utarakan maksud kedatangan kalian ” tegurnya dingin.
Bagaikan kena penyakit bisu kedua belas orang manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, setelah saling mengerling sekejap tiba2 senjata pedang ditangan mereka bergerak cepat. sreet sreet serentetan desiran angin tajam mengiringi bunga2 pedang yang menyilaukan mata menyerbu datang dari empat arah delapan penjuru, langsung menggencet Poei Hong yang ada di tengah kalangan habis2an.
Bukannya menjawab, orang berkerudung itu malah melancarkan serangan mematikan Poei Hong jadi naik pitam, ia gusar bercampur mendongkol. “Berhenti” Bentaknya nyaring.
Bentakan itu membuat kedua belas orang ma nusia berkerudung itu merasakan hatinya tergetar keras, air muka dibalik kain kerudung-pun berubah hebat, pikirnya: “Tak nyana tenaga lweekang yang dimiliki orang itu begitu dahsyat, tak pernah kujumpai manusia sehebat ini” Tanpa pikir lagi mereka telah tarik kembali pedangnya sambil mundur ketempat semula “Hmmm kalian semua tak dapat mengutarakan apa alasannya mencari satroni dengan perkampungan kami, tapi aku tahu kalian pasti punya hubungan yang erat sekali dengan pembunuhan2 biadab yang terjadi di propinsi selatan maupun Barat. Bukankah begitu?” Rengek Poei Hong sinis, air mukanya kontan berubah jadi kaku, dan adem bagaikan es.
Begitu tajam teguran tersebut, dua belas manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa.
sepasang mata Poei Hong amat tajam dan pandai melihat gelagat, dari bentrokan mata dengan orang-orang berkerudung itu, ia lantas tahu bahwa apa yang diduga semula sedikitpun tidak meleset. Tak tertahan ia lantas mendongak tertawa lantang.
Tempo dulu sewaktu berada dipuncak Pek-Yan-Gay, jago wanita ini pernah mengeluarkan jurus-jurus saktinya untuk mengobrak abrik kawanan iblis, kemudian gelak tertawa tiada hentinya, atas kelihayan tersebut orang kangouw lantas menjuluki dia sebagai siauw-Bin-Loo-sat atau siiblis wanita berwajah riang.
semula kedua belas orang manusia berkerudung ini tidak kenal siapakah Poei Hong, sebab setelah gadis ini menunjukkan kesaktian nya beberapa tahun berselang, ia lantas mengundurkan diri dan tidak berkelana kembali dalam rimba persilatan, tetapi setelah gelak tertawa nyaring bergema berulang kali, mereka mulai teringat akan siiblis wanita berwajah riang yang dilukiskan dengan memakai baju apa.
bagaimana raut mukanya serta berapa usianya, mencocokan kesemuanya itu ternyata tepat, hati mereka jadi sangat terperanjat, mereka terkesiap hebat.
Tak kuasa lagi, kedua belas orang itu sama2 mundur tiga langkah kebelakang.
siauw-Bin-Loo-sat Poei Hong tarik kembali gelak tertawanya, sepasang mata segera melotot bulat, hardiknya: “Aku rasa sekarang kalian tentu bisa menduga bukan siapakah aku, asalkan kalian suka mengaku siapakah dalang dari pembunuhan biadab ini, akan kuampuni selembar jiwa kalian semua, kecuali meninggalkan telinga sebelah kiri sebagai peringatan “.
Walaupun Poei Hong bertindak cukup bijaksana, namun kedua belas orang manusia berkerudung inipun merasa serba susah, sebab maju celaka mundurpun bakal celaka pula, taruh kata mereka lari dari hadapan musuh tangguh ini, sekembalinya kemarkas peraturan perkumpulan telah siap menerima tubuh mereka, bahkan kemungkinan sebelum binasa mereka akan merasakan dahulu bagaimana tersiksanya terbakar oleh api belerang.
Karena sadar bukan tandingan, mereka segera bersuit nyaring, suitan itu menandakan keadaan yang terdesak dan mohon bantuan.
Begitu nyaring suitan tadi, ditengah malam buta yang sunyi suara mengalun hingga mencapai puluhan li jauhnya.
sebenarnya siauw-Bin-Loo-sat Poei Hong tidak ingin mengejutkan anggota perkampungan lainnya, kini dengan menggemanya suara suitan nyaring tersebut, semua orang jadi terjaga dari tidurnya, genta bahaya yang berada dalam perkampungan segera dibunyikan bertalu2 suasana ramai dan hiruk pikuk.
Bayangan manusia berkelebat silih berganti, bahaya lampu menerangi seluruh jagad, si burung hong hijau Thioo see dengan mencekal gedang berlarian datang disusul s iauw Leng siauw Lan, siauw Goei serta siauw Giok yang melindungi keselamatan Tong hong Beng coe.
Menyaksikan semua orang telah bermunculan, Poei Hong kerutkan sepasang alisnya, air muka menunjukan masgul dan murung, tapi dengan cepat ia bisa menguasabi keadaan, aturnya.
“cianpwee, harap kau suka membawa siauw Ling, siauw Lan dua orang dayang melindungi keselamatan anggota perkampungan serta isi kampung, sedangkan Adik Coe bersama2 siau Coei serta siauw Giok pergilah melindungi anak2 kita, perduli bagaimanapun keadaannya kalian jangan sekali2 keluar dari rumah dan tak usah pula kuatirkan keselamatanku, ingatlah baik2 Ingatlah baik2” Sementara mereka masih bicara, kurang lebih dua puluh lijauhnya dari perkampungan menggema datang pula suara sultan yang tak kalah nyaringnya, gadis itu segera sadar peluang baik dengan cepat akan hilang, kalau ia tidak bereskan dahulu kedua belas orang manusia berkerudung ini mungkin posisi akan tidak menguntungkan dirinya.
Apalagi gembong2 iblis yang berada dibelakang memiliki kepandaian silat jauh lebih lihay, ia tak dapat sangsi lagi, sedikit berayal dalam melakukan tindakan berarti ancaman malapetaka buat diri sendiri. Berpikir demikian, ia lantas gertak gigi, bentaknya nyaring: “Lihat serangan” -oooooooo- ILMU Koe Lie Sin-kang atau ilmu sakti kura merendah tidak malu disebut kepandaian maha sakti, selama tiga tahun ini Poei Hong telah memanfaatkan kemujaraban dari pil kadal raksasa putih yang didapatkan digunung Bong-san tempo dulu dan berhasil menembusi kedua buah nadi penting Jien serta Tok yang ada didalam tubuhnya, tenaga lwee kang kontan berlipat ganda dan jauh lebih dahsyat dari keadaan tiga tahun berselang.
Tempo dulu, didalam sekali gebrakan ia masih sanggup membinasakan Peng Pok Sin-mo, coba bayangkan saja kedua belas orang manusia berkerudung ini, meski mereka terhitung jagoan kelas wahid dalam dunia persilatan, namun sanggupkah orang2 itu menahan datangnya serangan dahsyat ini ??.
“Braaak ” ditengah getaran yang sangat keras, dua sosok bayangan hitam sambil menjerit ngeri mencelat kearah belakang, mayat mereka terlempar tiga tombak dari permukaan dan roboh menerjang dinding pekarangan.
sepuluh orang manusia berkerudung lainnya, setelah menyaksikan bagaimana rekan mereka binasa dalam mengerikan, jadi gusar berkobarkan sifat ganas serta buas mereka.
sambil meraung keras, pedang panjang berkelebat memenuhi angkasa, disertai desiran bunga2 pedang yang menyilaukan mata, mereka serang gadis itu dengan serangan yang paling ganas, paling keji.
siauw-Bin-Loo-sat Poei Hong tertawa nyaring, ujung baju putihnya berkelebat menyambar kesana kemari, dalam beberapa saat kemudian kembali beberapa orang manusia berkerudung pada berjatuhan mati.
sehingga akhirnya tinggal lima orang belaka, pecahlah nyali mereka. Masih untung ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki lumayan sehingga berulang kali berhasil lolos dari jarum, meski demikian mereka sudah ketakutan setengah mati, sukma serasa telah melayang keluar tinggalkan raganya.
Dari gerak gerik serta serangan kelima orang ini, dengan cepat Poei Hong dapat kenali asal usulnya, tiba-tiba ia membentak keras: “oouw…, kiranya kalian adalah Hian-Auw Chiet-Yan tujuh walet dari Telaga Hian-Auw. Hmmm mengingat pada hari-hari biasa jarang sekali kalian melakukan kejahatan, pun Hujien suka membuka sebuah jalan hidup dan melepaskan kalian dari cengkeraman kematian. Cepat- cepatlah lepaskan diri dari ikatan organisasi kaum iblis terkutuk itu. Kalau tidak Hmm jika terjatuh kembali ketanganku, kalian akan kubinasakan tanpa ampun. Nah sekarang pergilah”.
Lima manusia berkerubung itu tidak mengucapkan sepatah katapun, setelah mengepit dua sosok mayat saudaranya, mereka menjura dalam-dalam kearah siauw-Bin-Loo-sat setelah itu ujung baju hitam berkibar ditengah malam buta, bagaikan sukma-sukma gentayangan mereka lenyap dibilik kegelapan.
Baru saja kelima orang manusia berkerudung itu berlalu, suitan nyaring telah tiba di luar perkampungan, begitu nyaring dan tajam nya jeritan tersebut sehingga sangat menusuk pendengaran.
siauw Bin Loo sat Poei Hong langsung mendengus dingin- “Hmmm setelah kalian berani mencari satroni dengan perkampungan kami, kenapa tidak cepat2 unjukan diri untuk terima kematian? aku lihat lebih baik cepat2lah kalian ikut mendaftarkan diri didepan pintu neraka menyusul rekan2mu sebelumnya?” “Hmmm….Hmmmm…. budak busuk sombong benar kau.
berani bicara besar dihadapan kami” Bersamaan dengan suara tersebut munculkan tiga sosok bayangan hitam bagaikan hembusan angin malam. tahu2 mereka telah melesat, lewati pagar pekarangan dan melayang turun keatas permukaan tanah.
suara dari orang yang barusan bicara, Poei Hong merasa se-akan2 pernah mendengarnya disuatu tempat, hanya saja pada saat ini ia tiada waktu untuk berpikir lebih jauh, sepasang matanya yang tajam bulat menatap orang2 itu dengan bengis.
Pemimpin dari gembong iblis inipun mengenakan baju hitam kerudung hitam, hanya saja disisi mantelnya yang berwarna hitam bersulamkan benang perak. sementara diatas dadanya bersulaman empat huruf yang berbunyi “Hiong-Hun Nomor tiga,” sedangkan dua orang lainnya pun mempunyai sulaman yang serupa diatas dadanya, hanya saja tulisan mereka berbunyi: “Lee-Pok Nomor lima” dan “Lee-Pok nomor enam.” Hiong Hun artinya Roh Bengis, sedangkan Lee-Pok artinya sukma ganas.
Melihat tulisan2 itu Poei Hong terkesiap sementara si burung Hong Hijau Thio hee serta seluruh penjaga kampung yang hadir dalam kalanganpun merasa terjelos hatinya setelah membaca tulisan yang mengerikan itu, air muka mereka berubah hebat, hati merasa sangat tidak tenteram.
Dalam pada itu tiga gembong iblis tersebut telah tiba diluar tembok pekarangan kampung dan temukan lima sosok mayat yang bergelimpangan diatas tanah menjumpai mayat2 itu mereka segera berpikir: “Aaai meski disini menggeletak lima sosok mayat tidak mungkin kedua belas orang sukma gentayangan yang dikirim datang jatuh di tangan musuh semua” Ia bisa berpikir demikian bukannya tanpa alasan yang kuat.
Haruslah diketahui dua belas orang Yoe-Leng atau sukma gentayangan yang dikirim datang keperkampunganpa In-san- Cung malam ini terdiri dari Hian-Auw- Chiet Yan tujuh walet dari telaga Hian-Auw serta “say-Pak-Nao-Hiong Lima Manusia Bengis dari Perbatasan Utara” yang tempo hari berselang merupakan tokoh2 aliran iblis yang disegani orang, mereka masing2 memiliki ilmu silat maha sakti, meski lima orang manusia aneh dari kolong langit dewasa inipun belum tentu bisa membereskan orang2 itu didalam satu gebrakan belaka, kecuali orang itu benar2 memiliki ilmu silat maha sakti yang tiada tandingan nya dikolong langit.
Ingatan tersebut laksana sambaran kilat berkelebat dalam benak tiga gembong iblis itu, tiga pasang mata dengan buas dan bengis mengawasi nyonya berbaju putih dihadapan nya tajam2.
Udara malam cerah bagaikan air, cahaya rembulan menyoroti seluruh permukaan jagad Poei Hong berdiri dengan angker serta agung nya dalam kalangan- wajahnya yang cantik serta potongan badannya yang menggiurkan menambahkan kesema raknya pemandangan ketika itu.
Lee-Pok nomor lima yang tinggi kurus serta Lee-Pok nomor enam yang gemuk kate merasa heran dan tidak percaya, mereka tidak percaya kalau perempuan cantik laksana bidadari yang lemah lembut ini memiliki ilmu silat maha sakti yang tiada tandingannya dikolong langit.
Tanpa terasa mereka berpaling keempat penjuru, tampaklah si burung hong hijau Thio see dengan mengenakan baju warna abu-abu serta gaun hitam berdiri penuh kegusaran di sana senjata pedangnya telah dipersiapkan da lam genggaman. “Hmmm Hmm…….. kembali seorang nyonya ??” “Apakah dalam perkampungan ini tak ada seorang lelakipun yang bisa bermain silat??” pikir mereka. “Kalau begitu, kedua belas sosok sukma gentayangan yang dikirim datang tentu sudah roboh binasa semua ditangan dua orang nyonya ini”.
sementara mereka berdua hendak menghardik, tiba-tiba terdengar Hiong-Hun nomor Tiga tertawa seram.
“Hmmm .Hmm aku kira siapakah yang begitu bernyali berani turun tangan keji terhadap dua belas sosok sukma gentayangan dari perkumpulan Yoe Leng Kauw, kiranya semua korban adalah hasil karya dari kau siauw-Bin-Loo-sat.
Hmm Hmm tidak heran sampai jadi begini, tidak heran kalau sampai jadi begini”. Ucapannya dingin, kaku, seram dan kasar sekali.
Mengetahui Nyonya cantik berbaju patih yang ada dihadapannya ternyata bukan lain adalah siauw-Bin-Loo-sat yang telah membinasakan Peng Pok sin-mo dalam sekali gebrakan serta melempar tubuh Im-Yang-Kauwcu kedalam jurang, Lee-Pok nomor Lima serta Lee-Pok nomor enam menjadi amat terperanjat, dengan air muka berubah bebat mereka mundur beberapa langkah kebelakang.
Dengan tangan kiri membereskan rambutnya yang awutawutan, siauw-Bin-Loo-sat Poei Hong tertawa lantang, serunya: “Mau sukma Gentayangan juga boleh, roh Bengis sukma Ganas juga sesuka pokoknya barang siapa yang berani mencari satroni dengan perkampungan pa In-san-Cung kami, hati-hati saja dengan batok lepalanya, jangan2 bisa pulang tinggal namanya belaka “: Habis bicara, bibirnya yang kecil mungil kembali dipentangkan memperdengarkan gelak tertawa yang keras, lantang dan nyaring.
Walaupun gelak tertawa itu sangat mempersonakan hati orang, namun nada ucapan yang diutarakan membuat tiga orang manusia berkerudung itu merasakan hatinya bergidik, tanpa sadar bulu kuduk pada bangun berdiri Hiong-Hun Nomor Tiga tidak malu diangkat sebagai pemimpin rombongan, sepasang alis yang tersembunyi dibalik kain kerudung segera dikerutkan rapat2 lalu tertawa dingin tiada hentinya.
“siauw-BinLoo-sat ” tegurnya kasar. ” Walaupun kau membunuh orang tanpa berubah air muka, haruslah diketahui aku Hiong-Hun si Roh Bengis Nomor Tiga pun mempunyai nama jelek yang bisa mendirikan bulu roma, batok kepala siapa yang akhirnya dipenggal…. heee heeee rasanya saat ini masih terlalu pagi untuk dikatakan “.
“ooouw…. jadi kau yakin bisa menangkan diriku ??” jengek siiblis wanita berwajah Riang ini dengan alis melentik, ia tersenyum sampai dekiknya kelihatan nyata. Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut ia maju beberapa langkah kedepan.
selama tiga tahun ini, Hiong-HHun si Roh Bengis Nomor Tiga mengasingkan diri dalam Cian-Ciang-Kok atau Lembah selaksa Kabut untuk meyakini ilmu pukulan Han-Pek-Tok-ciang nya lebih mendalam, cairan darah binatang berbisa yang disantapnya tiap hari sangat membantu dalam menambah tenaga lweekangnya, keberhasilannya saat ini sudah melebihi keadaan tempo dulu, meskipun demikian ia masih belum dapat menangkan keyakinan diri terhadap kepandaian sakti yang dimiliki seperti halnya dengan siauw-bin-Loo-sat Poei Hong Tanpa sadar lagi tubuhnya mundur empat, lima langkah ke belakang dengan rasa jeri.
siauw-Bin- Loo-sat terlalu licik dan pintar, pada saat itulah mendadak telapak tangannya diayun kedepan melancarkan sebuah serangan.
Air muka Hiong Hun si Roh Bengis Nomor Tiga berubah hebat, buru2 dengan memakai ilmu langkah “Hua-In-sing- Hong-sut” atau Menciptakan Bayangan Membuyarkan wujud meloncat mundur delapan depa kebelakang.
Kiranya dalam serangan barusan, nyonya muda itu sama sekali tidak menyertaikan hawa pukulan barang sedikitpun, dengan wajah mengejek serta menghina ia tertawa nyengir.
“Jangan takut, jangan takut” godanya “Asalkan malam ini juga kalian suka mengutarakan apa tujuan kalian mencari satroni dengan pekampungan kami serta rencana keji apa yang telah susun dibalik pembunuhan biadab terhadap Siok- Tiong-It- Liong sinaga sakti dari Su cuan serta Tian-Lam-Sam Kiat tiga manusia perkasa dari It-Lam sekalian ma sing2 berada d -propinsi Barat dan Selatan- Tentang batok kepala kalian itu…,…Hmmm… .untuk sementara waktu pun Hujien akan titipkan dahulu diatas leher masing2.” Siauw-Bin-Loo-Sat ada niat untuk menggoda serta mempermainkan mereka berdua, jelas dan keji, saat ini tak pandang sebelah matapun terhadap orang2 itu.
Hiong Hun si Roh Bengis nomor Tiga yang dasarnya sudah buas, kasar, berangasan dan keji, saat ini tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, ia meraung keras, sepasang lengan tiba2 berputar membentuk satu lingkaran kemudian didorong kearah depan- “Budak rendah, budak sialan, kau anggap loohu benar2 jeri kepadamu?…” dampratnya keras.
Angin pukulan menderu-deru, hawa dingin laksana gulungan ombak menyapu keluar dengan dahsyatnya.
Merasakan datangnya serangan sangat lihay. Siauw-Bin- Loo-sat kerutkan dahinya, diam2 hawa sin-kang “Koe-Lien-Sin- Kang” disalurkan melindungi seluruh badan- Sebagai seorang manusia berwatak angkuh, tinggi hati dan sombong ia bermaksud menjajal sampai dimanakah kehebatan tenaga lweekang yang dimiliki siorang berkurudung ini, disamping hendak menilai sampai dimana pesatnya kemajuan yang dicapai orang ini setelah berlatih giat selama tiga tahun- Ketika angin serangan berhembus menyambar badannya, hawa dingin serasa menusuk tulang sumsum segera merembes masuk kedalam tubuhnya, seluruh badan jadi menggigil kedinginan. Diam-diam Poei Hong lantas berpikir: “Luar biasa bangsat ini betul2 luar biasa, masih untung yang diserang adalah aku yang sudah salurkan hawa s in-kang untuk melindungi badan- kalau diganti orang lain-bukankah dia bakal mati kaku saking kedinginan nya ??”. Tanpa terasa ia tertawa nyaring, serunya: “Eeeeei…. Han Peng-Tok-sha, sejak kapan kau sudah mengubah dirimu menjadi Hiong-Hun si Roh Bengis nomor tiga??” Han-Peng-Tok-shu Chin Teng san merasa amat terperanjat, per-tama2 ia sudah dibikin kaget ketika melihat serangan Han- Peng-Tok-Kang nya yang telah dilancarkan dengan memakai tenaga delapan bagian bukan saja tak berhasil melukai pihak lawan bahkan tubuh orang pun tidak bergeming barang sedikitpun- Begitu dahsyat tenaga lweekang pihak lawan cukup membuat hatinya jeri.
Apalagi sekarang, berada dihadapan umum asal-usulnya berhasil dibongkar pihak lawan, ia semakin jeri lagi hatinya terasa terjelos.
si kakek Racun Es Chin Teng san salah satu dari tiga manusia beracun Biauw Kiang sam Tok mulai menyesal, ia menyesal tidak seharusnya menguntit sikakek huncwee dari gunung Bong-san datang keperkampungan pa in san cung ini untuk mencari gara2. bukankah sekarang sama artinya mencari penyakit buat diri sendiri? Lee Pok si sukma Ganas nomor enam meski sudah mendengar akan kehebatan siauw Bin Loo-sat, dalam hati ia masih tidak puas. Apa lagi dia bersaudara selama berada diuUnung Tiang-Pek-san tak pernah bertemu dengan musuh tandingan, ia tidak puas terhadap siapa pun sebelum dijajal kepandaiannya.
“Budak hina ” segera bentaknya sambil tertawa dingin.
“Jangan kau bertingkah macam maknya, nih. Lihat serangan “.
Bersamaan dengan bentakan itu, sepasang telapak dengan kerahkan tenaga sepuluh bagian segera didorong kedepan.
Dengan berbuat demikian, ia sudah melanggar peraturan Bu-lim, meski mereka berdiri berhadap-hadapan, namun serangannya dikala Poei Hong tidak siap terhitung pula sebagai suatu serangan bokongan.
Apa yang dipikirkan memang tepat dan hebat, siapa sangka bukan kebanggaan yang di dapat, sebaliknya penghinaan serta rasa malu yang diperoleh dari kecurangan ini.
Ketika sepasang telapaknya didorong kedepan, siauw-Bin- Loa-sat cuma tertawa nyaring, lengannya yang putih bersih dikebaskan lambat-lambat.
sungguh aneh sekali, ketika kebasan itu menyambar lewat, angin pukulan yang dahsyat laksana ambruknya gunung Thaysan itu lenyap tak berbekas, sebaliknya segulung desiran tajam dari pihak lawan, laksana gulungan ombak menghantam tepian pantai dengan ganas dan dahsyat menyapu datang.
sekarang ia baru sadar, nama besar jagoan wanita ini bukan nama kosong belaka, hatinya terjelos kaget dan jeri.
Masih untung pengalamannya dalam menghadapi musuh amat luas, segera pikirnya: “Kalau kubiarkan angin pukulan ini bersarang telak dibadanku, apakah aku bisa hidup…” Dengan sekuat tenaga kakinya dijejakkan ke atas tanah, mengikuti datangnya hembusan angin pukulan ia meluncur keluar.
Tindakan tersebut memang merupakan suatu tindakan yang tepat, tapi sayang walaupun gerakkannya cukup cepat, badannya masih kena tergulung juga sehingga terpental sejauh dua tombak lebih dari tempat semula.
“Brak…..” badannya menumbuk diatas dinding, membuat kepala jadi pening pandangan kabur dan berkunang2 kendati begitu selembar jiwanya berhasil diselamatkan juga dari ancaman maut.
sewaktu menjumpai adiknya bikin gara2 tadi, Lee-Pok si sukma Ganas nomor lima sadar, ia tentu celaka. Belum sempat ia turun tangan menghalangi saudaranya itu, sang tubuh sudah terpental jauh hingga menumbuk dinding pekarangan, ia jadi terkejut bercampur gusar.
Takut siauw-Bin-Loo-sat memburu kedepan seraya melancarkan serangan mematikan kepada saudaranya, pedang panjang segera dicabut keluar. Pergelangannya menggetar dan terciptalah serentetan bunga-bunga pedang menghadang jalan perginya.
Padahal tindakan tersebut sebenaknya tidak perlu dan tak berguna, sebab sebagai seorang jagoan terkenal, tentu saja Poei Hong tak sudi melakukan serangan dikala orang berada dalam bahaya.
Justru tindakan tersebut malah menggusarkan hati si burung hong hijau Thlo See yang sedari tadi berdiri disisi kalangan, air muka nyonya itu berubah mendingin- Hardiknya: “Bangsat tempat ini bukan tempatmu untuk main cabut golok gerakan prdang kau tak usah banyak bertingkah “.
Bayangan tubuh berwarna abu-abu bergerak lewat, sreeeet dengan jurus “Can- Liong cay Ya” atau Panglima Naga Meluruk Rimba ia tusuk tubuh Lee Pok si sukma Ganas nomor lima dengan suatu serangan gencar.
Pedang panjang Lee Pok s isukma ganas nomor lima segera digetarkan menciptakan selapis pelangi, dengan gerakan “Leng ln Jut-siuw” atau Mega Tebal Menggulung Bukit ia tangkis datangnya ancaman itu.
“Traang….” terdengar suara bentrokan nyaring yang gegap gempita disusul percikan bunga api muncrat memenuhi angkasa, kedua orang itu sama2 tergetar keras dan meloncat mundur kebelakang untuk memeriksa senjata masing2 apakah gompel atau rusak oleh bentrokan itu.
sepasang alis si burung hong hijau Thio see berkerut kencang, pergelangannya tergetar ampai terasa kaku, ia sadar tenaga lweekang yang dimiliki pihak lawan jauh lebih lihay etengah tingkat daripadanya, tindakanya semakin berhati2.
Lee Pok si sukma ganas nomor lima benar2 penasaran, ia tidak memberi kesempatan bagi lawannya untuk berkelit, sambil tertawa dingin jengeknya: “Budak hina, kiranya kau adalah anak murid dari partai Kun-lun-“.
sembari bicara sepasang mata memandang lawannya dengan buas, napsu membunuh meliputi seluruh benaknya, ia melangkah maju. pergelangan menekan kebawah dan pedangnya sekali lagi digetarkan kedepansreeet sreeeet Isreeeet……. secara beruntun ia melancarkan tiga buah serangan berantai masing2 dengan jurus “Pek-Hong-Ceng ci” atau Bangau Putih Pentang sayap “Poo-Cau-seng-Coa” atau Menyingkap Rumput Mencari Ular serta “Yu-Hong-si-soei” atau Lebah Bermain Diputik Bunga.
sib urung hong hijau Thioo see adalah seorang nyonya sudah punya umur, ia tak terhitung gadis muda lagi. Namun setelah menyaksikan si manusia berkerudung itu melancarkan jurus2 serangan yang mengarah bagian2 terlarang tubuhnya, tak urung merah padam pula selembar wajahnya karena jengah.
Dari malu ia jadi gusar, beruntun tiga jurus serangan mematikan dari ilmu Im- Liong Pat-sin suatu ilmu pedang aliran Kun-lun-Pay segera dilancarkan dengan gencar. Masing2 “Liong CuJut seng” atau Anak Naga Menampakkan diri, ” Liong Hwie Cay Thian- atau Naga sakti terbang diangkasa serta Liong Leng Hay Lien atau Pekikan Naga Meretakkan samudra.
Dengan serangan itu untuk sementara desakan lawan berhasil dibendung.
sebenarnya ilmu pedang “Im Liong Pat-sin ini merupakan suatu ilmu pedang maha sakti yang telah menggemparkan seluruh dunia persilatan, sayang tenaga dalam yang dimiliki si burung hong hijau Thio see belum sempurna, dengan begitu kehebatannya tak dapat di pancarkan sebagaimana mestinya, jikalau ilmu itu digunakan sendiri oleh suaminya sang Poocu dari benteng cian Liong-Poo. Lie Kie Hwie, keadaannya tentu jauh lebih dahsyat.
siauw Bin Loo sat yaig memiliki ketajaman mata luar biasa, tentu saja dapat menyaksikan keadaan itu dengan jelas, rambutnya segera tersingkap kebelakang, ujung baju berkibar tertiup angin, sambil tertawa nyaring tiba2 ujarnya.
“Untuk menghadapi kawanan kurcaci yang tiada berarti ini, tak perlu ciau pocu susah2 turun tangan sendiri, biarlah boanpwee yang bereskan gentong2 nasi tak berguna ini.” Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, pergelangan tangan diayun cepat kedepan, secara terpisah namun dahsyat ia mengirim sebuah serangan gencar kearah Hiong-HHun si Roh bengis nomor tiga serta Lee Pok si sukma ganas nomor lima.
Dua orang gembong iblis ini sadar, betapa dahsyatnya tenaga sin-kang yang dimiliki pihak lawan, mereka tak berani menerima datangnya serangan itu dengan keras buru2 ilmu meringankan tubuhnya disalurkan untuk berkelit kesamping.
Mengambil kesempatan tersebut Lee Pok si-sukma ganas nomor enam salurkan hawa murninya untuk mengobati luka yang diderita, dalam pada itu darah panas yang bergelora didalam dadanya dengan paksa berhasil diletakan kebawah, menanti ia buka mata dan menyaksikan kedua orang rekannya kena dipaksa Siauw Bin Loo-sat berada dibawah angin, ia amat gusar, senjata roda emas Siang Jiet Goat Kiem Loen-nya segera dilepaskan dari punggung dan bagaikan kalap menusuk kedepan- Ia meraung dahsyat, dengan gerakan “ciang Hay Lok Jiet” atau Matahari rontok Mengaduk laut, sepasang roda tersebut dibabat kearah bawah, cahaya emas berkilauan menusuk mata, desiran angin dahsyat menderu menggulung debu dan pasir.
“Nah begitu baru tepat.” teriak Siauw Bin Loo-Sat sambil tertawa nyaring. “Semestinya sejak tadi kalian bertiga harus turun tangan berbareng.
Ujung baju berkibar kesana kemari, langkah kaki berkelebat ringan laksana awan yang melayang diangkasa, gerak geriknya sama sekali tidak mirip seseorang yang sedang melangsungkan suatu pertarungan sengit antara hidup dan mati.
Watak Han-Peng-Tok-Shu chin Teng San memang ganas, kasar dan berangasan. Tapi ia masih ingat sekali dengan peristiwa yang terjadi diatas puncak Pek-Yan-Gay tiga tahun berselang, menjumpai ilmu langkah pihak lawan begitu aneh, lincah dan sakti, ia lantas sadar meski dirinya memperoleh penemuan aneh yang tak terduga, tapi membicarakan kepandaian sebenarnya ia masih belum bisa menandingi kehebatan lawannya, tak kuasa lagi diam2 ia menghela napas panjang.
Ketika itulah, mendadak dalam sakunya terasa ada sesuatu makhluk sedang bergerak-gerak. alisnya langsung melentik, hawa girang meluap luap. Tangannya bergerak cepat merogoh ke dalam sakunya dan mengambil keluar suatu benda, kiranya makhluk tersebut adalah seekor ular bersisik emas.
Binatang berbisa ini banyak terdapat dilembah selaksa Kabut yang letaknya digunung Pek-In-san, racunnya sangat ganas dan mematikan- cukup tergores luka oleh s isiknya yang tajampun sukar diobati apalagi kalau sampai digigit, racun segera akan menyerang jantung dan didalam sekejap mata sang korban akan roboh dan mati dengan badan layu.
setelah Hiong-Hun si roh bengis nomor tiga mengambil keluar ular bersisik emas yang berkepala tiga itu, kegembiraannya kembali terbayang diatas wajah, watak sombong angkuh serta tinggi hatinya kelihatan nyata tertera di depan mata, sambil menggerakkan ular bersisik emas yang memiliki tiga buah kepala itu disambar kesana kemari, leletan lidah yang merah membara menambah kengerian serta keseraman ditengah malam buta yang gelap itu.
sebagaimana kebiasaan kaum wanita paling takut dengan ular, begitu makhluk jelek ini munculkan diri, siauw Bin Loosat merasa hatinya bergidik bulu kuduk pada bangun berdiri.
Tiba2 ia membentak gusar, pergelangan tangannya bergeletar dan sebuah ikat pinggang kumala sepanjang satu tombak telah mencekal dalam genggamannya.
Walaupun Poei Hong berada dalam keadaan gusar, namun ia tetap tertawa keras, suaranya nyaring, lantang dan merdu bagaikan paluan genta ditengah malam yang sunyi.
Hiong Hun si Roh bengis nomor tiga dengan andaikan binatang berbisa ditangannya menubruk lebih dahulu kedepan, pergelangan ditekan kebawah lantas menggetar keras, dengan jurus “Yu Liong sin-Hong” atau Naga Romantis menggoda burung hong, laksana kilat menerobos kedepan mengancam tiga buah jalan darah mematikan didada Poei Hong.
Makhluk berbisa seperti ini merupakan senjata aneh yang paling sulit dihindari lagipula masih ada sebilah pedang serta sepasang roda emas Jiet-Gwat Kiem Loen membokong datang dengan menggunakan kesempatan itu, posisi nyonya tersebut amat bahaya dan kritis sekali.
siauw-Bin-Loo-sat tetap tertawa nyaring, kakinya melangkah sempoyongan kesana kemari meloloskan diri dari ancaman tiga macam senjata tajam pihak lawan, setelah itu pergelangan tangannya dengan lincah dan sebat menekan, menggeletar. Menggunakan jurus “Giok-Ciauw-sam-seng” atau Naga Kumala tiga kali mencuak disertai deruan angin tajam, ia erang jalan darah “Thian-Teng-hiat” serta “Thay-yang-hiat” ditubuh tiga manusia berkerudung hitam itu.
Hiong- hun si Roh Bengis nomor tiga, Leepok si sukma Ganas nomor lima serta Lee-kok si sukma Ganas nomor enam sama2 meraung gusar, mereka keteter dan terpaksa buyarkan serangan sambil meloncat kebelakang.
Dalam satu jurus siauw-Bin-Loo-sat berhasil paksa tiga orang musuhnya ngacir kebelakang, langkahnya semakin lincah, dengan ringan dan sebat ia miringkan badan kemudian berputar kencang, ikat pinggang kumala mengimbangi gerakan langkah kaki disertai gelak tawa nyaring secara beruntun melancarkan lima serangan dengan lima belas gerakan masing2 memakai gerakan “Lok In Hwee Hong” atau Mega Buyar Tersapu Taupan, “Pek An Kwan Jie” atau Biang lala putih mengalingi sang surya, “Gioksu Yauw Hong” atau Pohon pualam Datangkan Angin, serta “ciau Ciauw Li Hiat” atau Naga sakti tinggalkan sarang.
Tiga orang manusia berkerudung hitam itu terdesak makin hebat, mereka jadi repot dan meloncat kesana kemari untuk menghindarkan diri dari ancaman bahaya maut, jangan dikata membalas, mendekati tubuh nyonya muda ini-pun tidak sanggup, Dalam hal senjata tajam, pepatah ada mengatakan satu Coen lebih panjang, satu Coen pula lebih hebat, ikat pinggang kumala itu panjangnya ada satu tombak lebih dua depa, sementara senjata tajam yang digunakan tiga orang manusia berkerudung hitam itu tidak lebih cuma empat depa, coba bayangkan saja. mana mungkin mereka sanggup mendekati tubuh lawannya.
Hiong Hun isi Roh bengis nomor tiga, sejak munculkan diri kembali dalam dunia persilatan, dengan andalkan ular berbisa sisik emas berkepala tiga ini berulang kali ia mendapat hasil yang diharapkan tanpa meleset, keganasan serta kekejamannya telah mendatangkan rasa ngeri dan seram bagi jago2 yang berkelana dalam rimba persilatan.
siapa sangka malam ini ia telah berjumpa dengan musuh bebuyutannya, bukan saja ia gagal menunjukkan kehebatan dari senjata andalannya itu, bahkan untuk mendekati pun gagal saking mendongkol dan gemasnya tiga orang gembong iblis ini sama2 berteriak aneh, jeritan lengking mereka bergema memecahkan kesunyian ditengah malam buta itu.
Pada waktu itu para penjaga kampung yang menonton jalannya pertarungan dan sisi kalangan, menjumpai Nyonya majikan mereka gagah perkasa, dimana dalam sejurus serangan telah paksa musuhnya mundur dalam keadaan mengenaskan, mereka bersorak sorai dengan gembiranya, gelak tertawa serta teriakan mengejek menggema memenuhi angkasa.
Peristiwa ini segera membangkitkan hawa gusar dalam hati tiga orang gembong iblis itu, dari malu mereka jadi marah, timbullah niat jahat dalam hatinya, dari dalam kantong terbuat dari kulit macan diraupnya segenggam senjata rahasia kemudian tiada hentinya di sambit kearah siauw-Bin-Loo-sat.
Dalam sekejap mata be-ratus2 batang senjata rahasia menyambar kian-kemari dibawah sorotan sinar rembulan, cahaya biru diujung senjata menunjukan betapa beracunnya benda tadi, desiran tajam menggidikkan hati setiap orang.
Menjumpai ketiga gembong iblis ini bukan saja tidak mengikuti aturan Bu-lim dan main kerubut saja, bahkan menggunakan pula senjata rahasia beracun, hatinya makin lama semakin gusar, gelak tertawa pun semakin nyaring.
Ikat pinggang kumala ditangannya berputar dan menari semakin rapat, ketika itu mesti hujan anginpun tak bakal menembusi pertahanannya.
Ditengah suara berdentingan yang sangat ramai, seluruh golok beracun, panah beracun piauw beracun jarum beracun serta kelelawar beracun kena tersampok jatuh semua keatastanah.
Menyaksikan senjata rahasia beracunnya tidak mempan terhadap lawan tangguhnya ini, Hiong Hun si Roh bengis nomar tiga menggerutuk giginya dengan gemas, tiba2 bentaknya lantang: “Cepat mundur ” sejak tadi Lee Pok si sukma Ganas nomor lima serta Lee Pok si sukma ganas nomor enam sudah bikin persiapan, mendengar seruan tersebut laksana kilat mereka loncat mundur dua tombak kebelakang, pedang serta sepasang senjata roda emas Jiet Gwat Kiem Loen dilintangkan didepan dada siap menghadapi segala perubahan.
semula siauw Bin Loo sat menduga pihak lawan telah mengucapkan kode rahasia untuk ajak kedua rekannya melarikan diri, baru saja badannya melintang siap menghadang jalan pergi mereka, tiba2 dilihatnya dari sepasang mata Hiong Hun si Roh bengis nomor tiga memancarkan cahaya buas, hatinya kaget dan kewaspadaan segera ditingkat lipat gandakan.
sedikitpun tidak salah, ketika gembong iblis itu meloncat ketengah udara, kain mantel berwarna hitamnya segera digelembungkan sehingga mirip roda kereta, setelah itu berputar satu lingkaran dari ujung kain mantel tadi menyambarlah pelbagai macam bubuk halus berwarna merah yang segera menyebar keempat penjuru.
Angin malam berhembus lewat, dalam sekejap mata bau harum yang aneh telah menyebar rata diseluruh pelosok tempat, belasan penjaga kampung Pa-In-san-Cung masih belum sadar datangnya malapetaka bagi keselamatan jiwanya, waktu itu mereka masih mengawasi ketengah kalangan dengan pandangan keheranan.
siburung hong hijau Thioo see adalah seorang pendekar berpengalaman, menyaksikan kejadian itu hatinya jadi cemas.
Buru-buru teriaknya: “Awas. Hati hati bubuk beracun, ayoh cepat menyingkir “.
Belum habis ia berteriak, kepalanya terasa amat pening, mengikuti robohnya siauw Ling, siauw Lan serta belasan orang penjaga kampung. Perempuan gagah ini roboh, binasa ke atas tanah.
siauw-Bin-Loo-sat Poei Hong pernah menelan pil sakti dari kadal berusia ratusan tahun sekarang iapun tutup seluruh pernapasannya. Maka dari itu tubuhnya sama sekali tidak terpengaruh oleh racun keji tadi.
Menjumpai semua orang roboh menggeletak termakan oleh bubuk beracun yang disebar lawan, hatinya terasa amat gusar, sepasang mata melotot bulat2, tenaga murni segera di salurkan kesepasang tangan dan dengan gemas nya didorong kearah tubuh Hiong- Hun s i Roh Bengis nomor tiga yang baru melayang turun keatas permukaan keras2.
sementara tubuhnya masih melayang turun ke atas permukaan tanah tadi, menggunakan kesempatan itu Hiong- Hun si Roh Bengis nomor tiga melirik sekejap kearah siauw- Bin-Loo-sat, menjumpai nyonya muda itu tetap berdiri tegak tak gemilang, bahkan sinar matanya melotot kearah nya dengan penuh napsu membunuh, hatinya bukan saja amat terkesiap dan ngeri, bahkan ia mulai gugup. Gelagapan terhadap kenyataan yang dihadapinya.
Melihat pula datangnya serangan yang begitu dahsyat mengancam dia dikala sang tubuh masih berada ditengah udara, ia sadar dirinya tak luput dari bencana, tak kuasa lagi gembong iblis ini mengeluh: “Aduuuuh. Celaka, habislah sudah diriku” Buru-buru tenaga murni yang dimilikinya dikerahkan semua kearah dada, lambung serta perut untuk melindungi jantung serta isi perut lainnya.
serangan yang dilancarkan Poei Hong kali ini merupakan suatu serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar, kehebatannya sangat luar biasa laksana ambruknya gunung Thay-san, mirip pula mengaduknya ombak besar di tengah samudra luas.
Begitu hebat datangnya desiran tajam itu, perawakan tubuh Hiong- Hun si Roh Bengis nomor tiga yang tinggi besar sampai mencelat sejauh lima tombak ketengah udara kemudian “Braaak” menghantam dinding tembok pekarangan keras2 sampai jebol dan mencelat keluar perkampungan.
Menyaksikan bahwasanya Poei Hong musuh mereka sangat lihay, Lee-Pok si sukma Ganas nomor lima serta Lee-Pok si sukma Ganas nomor enam ketakutan setengah mati, mereka merasa sukma serasa telah melayang tinggalkan badannya, diiringi jeritan lengking yang tajam dan lantang buru2 mereka lari keluar kampung menyambar tubuh Hiong- Hun si Roh bengis nomor tiga yang hampir putus napas, kemudian bagaikan ikan yang baru lepas dari jaring buru2 melarikan diri terbirit-birit dari s itu.
Dalam keadaan seperti ini, siauw-Bin-Loo-sat tidak sempat untuk mengejar kedua orang gembong iblis itu lagi, buru buru ia larikesisi tubuh siburung hong hijau Thio see dan memeriksa napasnya.
Tapi badan si jago perempuan ini sudah mulai mendingin, napasnya telah berhenti dan sukmanya telah melayang tinggalkan raga untuk melapor kehadapan raja akhirat.
sedangkan siauw Ling, siauw Lan beserta belasan orang penjaga perkampungan Pa-In-san-Cung lainnyapun telah mati binasa semua dalam keadaan mengerikan.
siauw-Bin-Loo-sat benar2 merasa sedih, air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajahnya, dari sedih, duka dan kecewa ia jadi kalap. Gusar dan tak dapat menahan emosi.
sambil mendongak Poei Hong tertawa tergelak dengan lantangnya.
suara gelak tertawa tersebut penuh diliputi rasa sedih, berduka yang bukan kepalang, nyonya muda ini hendak menggunakan suara gelak tertawa yang nyaring ini untuk mengusir segala kesumpekan yang mengganjal dalam hatinya.
sementara itu Tonghong Beng Coe, siauw Coe serta siauw Giok dengan membawa putra-putra dari Hoo Thian Heng telah keluar dari tempat persembunyian, menjumpai peristiwa berdarah yang tragis ini mereka cuma bisa menangis dan ikut bersedih hati.
-0000000- TEMPAT ini merupakan sebuah selat-sempit yang terletak amat rahasia dibukit Hoe Goe san, tak ada bayangan manusia tampak disekeliling tempat ini.
Batu cadas berserakan di-mana2, semak belukar hampir memenuhi seluruh permukaan walaupun tidak dapat dikatakan sangat luas, tetapi cukup digunakan untuk berkumpulnya ratusan orang Liok Lim-eng hiong.
Diatas langit biru yang cerah, rembulan baru saja munculkan diri menyinari seluruh jagad, belasan ekor kuda jempolan yang tinggi besar serta berbulu warna-warni mengunyam rumput hijau dengan tenangnya disebuah tanah lapang yang luas, sebagian besar kuda2 itu sudah dipersiapkan pelananya, se-akan2 binatang tadi telah siap diberangkatkan.
Mengikuti keadaan pada umumnya, dengan hadirnya manusia2 kasar ditempat itu, suasana tentu hiruk pikuk dan kacau balau. Namun suasana dalam selat ketika itu sunyi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun. Begitu sepi sehingga cuma terdengar suara hembusan angin serta gemerisikan daun2.
Belasan sosok bayangan manusia, berkelebat laksana sukma gentayangan ditengah tanah yang sunyi dan sepi, kemudian mereka berdiri berbaring dan suasana tetap tenang.
Pada saat itulah, tiba2 dari luar selat berkumandang datang suitan nyaring yang sangat memekikan telinga, begitu suitan tadi menggema datang, air muka manusia2 yang hadir disana sama2 berubah hebat, rata2 mereka tunjukkan suatu sikap yang sangat aneh. Dalam sekejap mata, dari luar selat telah melayang datang dua sosok bayangan manusia.
serentak para jago berloncatan bangun dari atas tanah setelah menyaksikan kehadiran dua orang itu, sikap serta gerak gerik mereka menunjukkan rasa hormat yang mendalam.
seorang kakek tua berperawakan kecil pendek segera b erbatu- batuku dengan nada suara yang parau ujarnya: “sejak cu-wi sekalian berbakti kepada perkumpulan kami, hanya dalam beberapa hari saja telah berhasil membuat banyak jasa buat kejayaan perkumpulan Yoe-Leng-Kauw kita, bukan saja tiap rintangan serta hadangan berhasil disingkirkan, bahkan setiap tugas berhasil dilaksanakan dengan memuaskan”.
“Kejadian ini bukan saja membuat Kauw-cu kita merasa sangat gembira, bahkan loohu sendiripun ikut merasa berbangga. Hanya saja…” Berbicara sampai disitu, sepasang matanya yang tajam bagaikan mata burung elang itu menyapu sekejap kearah semua orang. Lalu terusnya: “Tugas yang harus kita pikul mulai saat ini akan bertambah berat, setiap tokoh silat serta jago2 Bu-lim yang menganggap dirinya dari golongan putih harus dibasmi dan disingkirkan satu persatu dari muka bumi “.
Pada saat itulah dari antara gerombolan manusia berkumandang suara seseorang yang besar, kasar dan parau.
ia berkata: “Tokoh-tokoh maha sakti dari kalangan Hok to yang menunjang perkumpulan kita banyak laksana awan dan hujan, jikalau kita benar2 hendak menaklukan seluruh dunia persilatan dan berkuasa penuh diatas kolong langit, kenapa tidak secara langsung kita basmi manusia2 dari sembilan partai besar? dengan berbuat demikian bukankah keadaan kita sama hal nya membunuh ayam dan anjing dengan menggunakan golok penjagal kerbau? Suatu persoalan kecil yang di-besar2kan ?” sikakek kecil pendek yang berdiri ditengah kalangan sama sekali tidak dibikin jadi gusar dengan timbrungan orang ini, ia mengelus beberapa lembar kumis tikusnya, setelah itu lambat2 sahutnya: “Pertanyaan yang diajukan Yoe Leng si-sukma gentayangan nomor dua puluh empat rasanya merupakan pertanyaan yang ingin kalian ajukan pula bukan?? sekalian loohutempo dulupun setuju dengan tindakan seperti ini Tetapi setelah mengalami perundingan tingkat tinggi yang berulang kali ia susah payah akhirnya dapat kita tarik kesimpulan bahwa rencana tersebut apabila kita jalankan terus, niscaya akan berakhir dengan keadaan seperti tokoh2 kita tempo dulu.
Coba bayangkan saja selama ratusan tahun ini beberapa banyak tokoh lihay, manusia cerdik yang mempunyai cita2 tersebut, tapi siapakah diantaranya yang berhasil? mengapa mereka selalu gagal total? tahukah kalian apa sebabnya?” “Mungkin kekuatan sembilan partai besar terlalu tangguh ??”.
“Bukan “.
“Mungkin kekuatan, serta kemampuan sendiri kurang sempurna ??”.
“juga bukan “.
“Lalu apa sebabnya ??”.
sikakek berperawakan katai kecil itu tersenyum, kepada si kakek berperawakan jangkung dan kurus itu katanya: “Loo-jie, kaupun ikut serta didalam melakukan perundingan tingkat atas ini, tiada halangan bukan kalau kau yang beri penjelasan kepada Cu-wi sekalian ?”.
sikakek kurus tinggi mengelus jenggot kambingnya, lalu memandang rembulan yang tergantung diawang-awang, setelah itu sahutnya: “Menurut keputusan dari perundingan tingkat tinggi perkumpulan kita, sebab utama dari kegagalan yang dialami dalam tiap pertempuran Bu lim adalah dikarenakan hidup terpisahnya para jago serta para pemimpin dunia persilatan dipelbagai tempat. orang-orang ini bertempat tinggal tak menentu, sering kali membuat orang yang menyusun rencana jadi gagal untuk menilai sampai dimanakah kekuatan sebenarnya yang dimiliki, karena salah tafsiran inilah sering kali kita menderita kerugian besar.
Kesalahan paling besar ini selama ratusan tahun berselang hingga kini tak pernah ditemukan orang.
“Dalam ilmu berperang, Sun-zoe berkata: Banyak dihitung akan menang, kurang dihitung tidak menang, hitung yang diartikan di sini menunjukan rencana serta perhitungan kita akan kekuatan sendiri serta kekuatan yang dimiliki musuh.” “Coba kalian bayangkan saja, mereka2 yang tidak tergabung dalam sembilan Partai Besar bukan saja sikap serta tindak-tanduknya tak menentu, jejaknya pun sulit ditemukan, meski Coe Kat Liang hidup kembali pun tak bakal bisa mendapatkan akal yang tepat, dalam keadaan seperti ini tak bisa disalahkan lagi kalau berulang kali kita menderita kerugian.” “Perkumpulan kita ada perintah melakukan pembersihan lebih dahulu terhadap para perintang2 yang hidup terpencar, setelah penghalang2 dipelpagai tempat berhasil disapu bersih, kita baru- menyusun kembali rencana penyerangan yang lebih jauh lagi.
“Dari sembilan partai besar, sepanjang masa mereka memiliki pendapat sendiri yang berbeda satu sama lain, meski diluar mereka kerja sama dalam hati mereka saling menaruh curiga dan tidak cocok satu dengan lainnya, asalkan kita bisa menggunakan kesempatan yang sangat baik ini dengan tepat, jangan di kata setahun.
Dalam setengah tahunpun kita bisa menjagoi seluruh dunia persilatan. Para tokoh silat yang berkuasa sekarang akan jadi anak buah kita, mereka akan turut perintah dan menurut kepada kita. Hal ini bukankah sangat menggembirakan ??”.
Bicara sampai disitu tak kuasa lagi ia mendongak dan tertawa ter-bahak2.
sebagian besar jago yang hadir dalam kalangan ketika itu tertarik dan jadi bersemangat kembali oleh bayangan indah dimasa mendatang, diatas wajah mereka terlintaslah rasa girang yang bukan kepalang.
suara berisik serta ribut yang agak gaduh seketika memecahkan kesunyian serta keheningan yang mencekam selat tersebut sejak tadi.
Dikala semua orang sedang saling membicarakan persoalan itu dengan gaduh, mendadak si kakek tua berperawakan pendek kecil itu bertepuk tangan keras2, lalu bersuit nyaring dan menghardik berat: “Ada perintah”.
Begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana seketika pulih kembali dalam keheningan tak kedengaran sedkit suara pun juga.
” Hiong Hun si Roh bengis nomor dua” seru kakek itu dengan wajah kaku dan menyeramkan. sikakek tua kurus tinggi yang berdiri bersanding dengan dirinya sebera menjura dalam. “Ada” serunya mengiakan.
“Bawa Lee Pok si sukma ganas nomor tiga, nomor empat, nomor tujuh dan serta Yoe-Leng si sukma gentayangan nomor tiga belas sampai nomor dua puluh empat, malam ini juga pada kentongan ketiga berangkat perkampungan Kiok-It san- Cung. Basmi dan bunuh semua delapan belas jiwa dari keluarga sian-Hee-It Kiam Tauw Lie serta sinelayan dari sungai Goan Kang Tong su Kiat, sikakek huncwee dari gunung Bong-san YuBoe dan seluruh pembantu yang diundang datang jangan sampai ada diantara mereka yang berhasil loloskan diri dalam keadaan hidup2, basmi dan hancurkan mereka.” “Terima perintah” sahut sikakek tinggi kurus itu.
“Lee Pok si sukma ganas nomor satu, nomor dua serta Yoe- Leng si sukma gentayangan nomor satu sampai nomor duabelas sekarang juga mengikuti aku berangkat keutara kekota Ham- yang” titahnya kembali.
semua orang mengiakan, mereka sebera mengenakan kain kerudung muka serta kain mantelnya, setelah itu meloncat naik keatas kuda.
Beberapa langkah sikakek pendek kecil itu berjalan kedepan, sepasang alis tikusnya mendadak berkerut, ia berhenti dan berseru kembali: “Loo-jie, kalau Loo-sam dengan membawa anak buahnya telah kembali semua, mereka segera diperintahkan untuk berangkat ke puncak gunung Biauw Hong san di Propinsi Hoopak utara untuk menantikan tugas serta perintah baru lainnya.” sikakek tinggi kurus itu mengangguk tanpa mengerti.
sikakek pendek kecil itu menunduk memandang tulisan “Hiong Hun si Roh bengis nomor satu” yang bersulam diatas dada mantel hitamnya, kemudian dengan rasa puas dan sombong ia tertawa tergelak. meloncat naik ke atas kuda kemudian membawa anak buahnya berlalu dari s itu.
sepeninggalnya Hiong Hun s i Roh bengis nomor satu, Hiong Hun si Rojh bengis nomor duapun membentak lirih: ” Cepat ikuti diriku” Tampak bayangan manusia berkelebat dengan cepatnya menuju keluar selat, dalam sekejap mata mereka telah lenyap tak berbekas.
Dalam selat sempit digunung Hok Gouw san hanya tertinggal enam belas ekor kuda jempolan dimana sambil goyang2kan ekornya dengan merdeka menikmati rerumput hijau.
XXXoXXX Jilid 10 SAAT ini merupakan saat yang paling menyeramkan- Perkampungan Kiok ln San cung yang terletak diluar kota Lam-yang terbenam dibalik kegelapan malam yang luar biasa, meski demikian dalam sebuah ruangan duduklah lima orang sedang berbicara dengan asyiknya.
Diantara beberapa orang itu kegembiraan sinelayan dari sungai Goan- Kang, Tong-Su-Kiat paling besar, sambil mencekal cawan- kumala yang penuh berisikan arak warna hijau ujar nya kepada sikakek huncwee dari gunung Bong san sambil tertawa ter-bahak2.
“Aku masih mengira Yap-heng hanya bisa memainkan akrobatik dalam mengepulkan asap2 huncwee yang tebal, tidak kusangka kau sudah menjelajahi hampir seluruh pelosok dikolong langit, bahkan berjiwa pendekar dan merupakan seorang kesatria yang patut dipuji tidak kesalnya kau telah melakukan perjalanan ribuan li untuk mencarikan bala bantuan buat Tauw Loo-te ku ini, bagaimanapun juga jerih payahmu ini harus dihormati dengan arak wangi, bagaimana kalau kita teguk tiga cawan arak?” Wajah persegi empat dari Si- kakek huncwee dari gunung Bong-san yang dasarnya berwarna merah, saat ini telah berubah jadi merah padam bagaikan raut muka Kwan-Kong.
sambil meng-elus2 jenggotnya ia menjawab: “Tong-heng, bukannya kau tidak tahu siapakah siauwte, dalam merokok huncwee aku punya kegemaran yang sangat luar biasa, namun dalam hal minum arak aku sama sekali tidak tertarik dan tiada kebiasaan untuk meneguk terlalu banyak, lagipula kawanan iblis sebentar lagi akan menyerang kemari.
Kalau sampai aku dibuat mabok. Kehilangan selembar jiwa tuaku dalam keadaan tidak sadar sih tidak mengapa, tapi kalau sampai dijebloskan kedalam neraka tingkat kesembilan, si Raja Akhirat akan kebingungan seharusnya memasukkan siauw-te kejenis yang mana ??” “Kalau dikatakan sisetan arak ? bicara dalam soal keahlian sama sekali tidak berpengalaman. Kalau dikatakan si setan Huncwee? kok bau araknya begitu tebal waah.. ..ini bisa berabe, ini bisa berabe…” Selama beberapa hari ini sipedang tunggal dari sian-Heesan selalu bermuram durja memikirkan ancaman yang bakal menimpa dirinya, meskipun begitu setelah mendengar gurauan dari s ikakek huncwee dari gunung Bong san barusan, tak urung la dibikin geli juga sehingga tertawa tergelak.
si nelayan dari sungai Goan-Kang melihat ia tak berhasil paksa sikakek hun-cwee dari gunung Bong-san memasuki lingkungannya, sinar mata lantas dialihkan kearah Hoo Thian Heng.
“Tiga tahun berselang, sewaktu berada di puncak Pek-Yan- Gay beruntung sekali ia dapat menyaksikan kehebatan serta kesaktian sauw-hiap. Dalam hati aku merasa amat kagum sekali” serunya.”sungguh tak disangka tiga tahun kemudian kita bisa duduk dalam satu meja perjamuan yang sama sambil minum arak. Bukankah hal ini yang dikatakan sebagai jodoh ? maaf aku meski usianya sudah amat tua namun hendak menyebut dirimu sebagai Loote. Eeei Loo-te malam ini kita akan bersama-sama bekerja keras menghadapi kawanan iblis kurcaci. Kalau tidak meneguk tiga cawan arak, mana bisa kobarkan semangat kita untuk bertempur, mari kita teguk arak. Agar dalam pertarungan nanti bisa membunuh musuh se-puas2nya.” Mendengar ucapan itu sepasang alis Hoo Thian Heng berkerut, sebenarnya ia memang doyan minum arak. Maka dengan tanpa ragu2 diterimanya tawaran tersebut.
“Pemberian dari angkatan tua, mana boleh ditolak oleh aku dari angkatan muda ??” serunya sambil angkat cawan.
“Boanpwee terima hadiah tiga cawan arak dari cianpwee”.
selesai bicara ia memenuhi tiga cawan arak dan berkali-kali diteguk masuk kedalam perutnya.
si nelayan dari Goan-Kang Tong su Kiat amat doyan minum, tapi ia tak akan berani meneguk dengan begitu kasar macam Hoo Thian Heng sebab arak tersebut merupakan arak jempolan yang berkadar alkohol sangat besar, diam-diam ia puji akan kepolosan dari pemuda tersebut.
“Bagus bagus bagus sekali. Kau patut dipuji” tak terasa lagi ia berteriak sambil bertepuk tangan memuji.
si pedang tunggal dari sai-Hee-san yang bertindak sebagai tuan rumah, tentu saja tak boleh berpeluk tangan saja untuk tidak menghormati tamunya dengan arak.
Maka iapun mencari pasangannya, sambil angkat cawan arak ujarnya kepada Cian-Liong Poocu Lie Kie Hwie sambil tertawa terbahak-bahak.
“Nama besar thay-hiap sudah lama kami dengar dan kami kagumi, hanya sayang selama ini tak ada kesempatan untuk saling berjumpa, pertemuan ini hari benar2 membanggakan hatiku. Nama besar thay-hiap bukan nama kosong belaka.
Untuk menghormati dan mengucapkan rasa terima kasihku atas kesediaan thay-hiap untuk melakukan perjalanan ribuan li datang kemari untuk memberi bantuan cayhe, ingin menghormati dirimu dengan tiga cawan arak sebagai tanda hormatku kepadamu”.
selesai bicara ia lantas meneguk habis arak nya, begitu terbuka dan polos sikap sang tuan rumah.
“Kita sebagai orang2 dari dunia persilatan, sudah sepantasnya saling membantu dikala kawan ada kesulitan, tak usah Tauw-heng pikirkan didalam hati” sahut Cian-Liong Poocu Lie Kie Hwie dengan wajah serius.
Bicara sampai disitu ia merandek sejenak. lalu angkat cawan araknya dan berkata kembali: “Kalau memang Tauw-heng bertindak demikian sungkan kepadaku, siauw-tee akan terima penghormatanmu ini dengan hati bangga”.
selesai bicara iapun meneguk habis isi arak tersebut dalam sekali tegukan.
suasana dalam perjamuan dalam ruangan itu berjalan semakin meriah, keterbukaan sikap para jago menambah keakraban diantara mereka, gelak tertawa serta senda gurau tiada hentinya berkumandang memecaakan kesepian.
Tiba2…. dari luar jendela berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat sinis dan menyeramkan.
Mendengar suara itu sipedang tunggal dari sian-Hee-san Tauw Khie, sinelayan dari sungai Goan-kang Tong su Kiat, sikakek huncwee dari gunung Bong-san YoeBoe serta Cian- Liong-Poocu sama2 berubah air mukanya.
Batas waktu yang ditetapkan musuh ada kentongan kedua, tak disangka kehadiran musuh begini cepat dan sama sekali berada diluar dugaan.
semua orang sama2 meloncat bangun dari tempat duduk.
dalam beberapa kelebatan keempat orang itu telah melayang turun ditengah lapangan berlatih silat.
Ujung baju biru Hoo Thian Hong berkelebat tertiup angin, dalam beberapa langkah iapun sudah berdiri disisi kanan para jago, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap keliling tempat itu.
Tampaklah dihadapannya telah berdiri dua baris manusia2 berkerudung hitam, ditangan mereka sama2 mencekal senjata tajam, jumlahnya tidak lebih tidak kurang enam belas orang banyaknya.
Diantara orang2 itu berdirilah seorang manusia berperawakan tinggi kurus, wajahnya tertutup oleh kain kerudung hitam sehingga tak dapat dilihat bagaimanakah raut mukanya, hanya sepasang mata yang dingin dan tajam muncul dibalik kerudung, meski demikian bentuk serta potongan tubuhnya terasa amat dikenal sekali.
orang itu memiliki dandanan pakaian yang aneh dan kukoay, diatas kain mantelnya yang berwarna hitam tersulam benang perak disisinya, disamping itu tertera pula tulisan “Hiong-Hun si-Roh Bengis nomor dua” didepan dada nya, keadaan serta sikapnya amat menyeramkan.
Di samping kiri serta disamping kanannya masing2 berdiri manusia berkerudung hitam yang memiliki tulisan Lee-Pok sisukma ganas nomor tiga, nomor empat, serta nomor tujuh, sedangkan sisanya dua belas orang masing2 bertuliskan Yoe- Leng si-sukma gentayangan nomor tiga belas sampai nomor dua puluh empat.
Dari dandanan orang2 itu, Hoo Thian Heng berpikir dalam hatinya: “Ditinjau dari huruf 2 serta nomor urut yang ada didepan dada manusia2 berkerudung hitam ini, mereka tentu merupakan komplotan serta anak buah dari sebuah perkumpulan sesat yang baru didirikan serta memiliki gerak kerja yang teramat rahasia, kemudian ditinjau pula dari pandangan matanya yang terasa sangat dikenal…” Belum selesai ia melanjutkan lamunannya, tuan rumah dari perkampungan Kiok-It-san-Cung sipedang tunggal dari sian- Hee-san Tauw Kie telah menegur dengan suara berat: “sahabat, malam2 buta kalian membawa anak buah menyatroni perkampungan kami, sebenarnya ada urusan apa ? dapatkah kalian memberikan alasan2 yang tepat ?”.
Diatas air muka Hiong-Hun si Roh Bengis nomor dua yang kurus kering dibalik kain kerudung terlintas hawa napsu membunuh yang tebal, pikirnya: “Hmm kalian dua orang setan tua, apakah sudah lupa akan peristiwa pengejaran serta penggeledahan terhadap kami bersaudara diluar kota Hoei-swie tiga tahun berselang ?” Teringat akan peristiwa yang sangat memalukan itu, diatas sinar matanya yang dingin dan tajam kembali terlintas napsu membunuh semakin tebal, ia mendengus dingin lalu tertawa seram.
“oouw.. .tentang soal ini ? siraja Akhirat telah menetapkan kalian mati pada kentongan ketiga, siapa yang bisa menahan kalian hidup sampai kentongan lima ? Pun Hiong- Hun datang kemari atas perintah dari “Yoe-Leng-sin-Koen”, kemungkinan besar nasib anda untuk hidup dikolong langit sudah ditakdirkan telah selesai, maka sengaja aku datang kemari untuk mengundang kau agar suka melanjutkan perbuatan2 ksatriamu dialam baka… sebab didunia sana sudah kekurangan manusia2 gagah macam kalian…”.
sepasang alis sipedang tunggal dari s ian-Hoe san Tauw Kie berkerut kencang, meskipun dia adalah seorang pendekar berjiwa kesatria dan berwatak welas kasih, setelah diejek dan diper-olok2 oleh musuhnya dengan kata2 tidak senonoh, tak urung hatinya mendongkol juga.
sementara ia hendak buka suara untuk menegur, terdengar sinelayan dari sungai Goan Kang Tong su Kiat sambil meraba jaring ikan nya telah tertawa ter-bahak2.
“Haa…haa…haa….sebenarnya antara dunia yang nyata serta alam baka terpisahkan oleh suatu perbatasan yang tak bisa dilampaui oleh siapapun sebelum takdir tiba. Rupanya telah terjadi kebakaran hebat dalam neraka tingkat kedelapan belas sehingga kalian roh2 bengis serta sukma2 ganas berhasil ngeloyor datang kemari untuk bikin onar lagi dikolong langit.
Bagus, bagus sekali, selama banyak tahun selembar jaring ikanku yang bobrok ini belum pernah mendapat hasil lagi. Dari suara yang kau perdengarkan tadi, aku rasa kau mirip dengan kawanan ikan yang lolos dari sungai Lian-Kang, kini kalian antarkan sendiri kedalam perangkap.
Nah, tak usahlah kamu salahkan diri Loohu dan merasa penasaran dalam keberangkatanmu kembali keneraka tingkat ke delapan belas”.
seraya berkata per-lahan2 ia turunkan jaring ikannya dari atas punggung.
Beberapa patah perkataan yang diucapkan si nelayan dari sungai Goan-Kang barusan, bukan saja telah membuat air muka Hiong- Hun si Roh Bengis nomor dua berubah hebat, semua orang jago yang hadir disanapun merasa bahwa dibalik ucapan itu tentu ada maksud menunjukkan sesuatu, tak mungkin sinelayan ini bicara hanya untuk mengejek belaka.
Terutama sekali sipedang tunggal dari sian-Hee-san Tauw Kie, dia adalah salah satu diantaranya yang ikut mengejar serta penggeledahan tiga manusia beracun dari Wilayah Biauw diluar kota Hoei-swie tiga tahun berselang.
Meskipun kejadian itu sudah lewat tapi ia masih teringat dengan nyata sekali, tak kuasa lagi ia berseru tertahanseruan tertahan itu sendiri tidak penting, dengan adanya kejadian ini si Hiong- Hun Roh Bengis nomor dua jadi sangat gelisah.
Alasannya ia tidak ingin peristiwa yang sangat memalukan itu dibeberkan oleh kedua orang itu dihadapan umum, meskipun saat ini ia sudah jadi Hiong- Hun si Roh Bengis nomor dua, dan tidak mirip dengan Hian-Im-Tok-shu cia Ie chong tempo dulu, sedikit banyak peristiwa ini akan merusak nama baik serta martabatnya.
sepasang alis yang tebal dibalik kain kerudung langsung dikerutkan kencang2, tiba2 ia membentak: “Tangkap kedua orang bajingan tua ini jangan biarkan mereka lolos dari tangan kita.” Bersamaan dengan itu, dari antara dua belas orang sukma gentayangan melayang keluar dua sosok bayangan manusia, satu langsung menubruk kearah sipedang tunggal dari sian- Hee-san sedang yang lain menubruk kearah si nelayan dari sungai Goa n- Kang, jeritan laksana pekikan srigala, cengkeraman disambar keluar bagaikan hembusan angin taupan- Sipedang tunggal diri sian-Hes-San sama sekali tidak menyangka pihak lawan bisa melancarkan serangan sesaat setelah tidak akur dalam pembicaraan, tindakan mereka sama sekali tidak mengikuti peraturan Bu- lim.
Tanpa banyak bicara sepasang telapaknya segera didorong kedepan menyambut datangnya serangan itu.
Cakar simanusia berkerudung hitam, itu berkelebat kesana kemari membawa derungan angin dahsyat, desiran angin serangan tiap kali mengancam bagian tubuh yang mematikan, keganasan serta kekejian jurus serangannya benar2jarang ditemui dalam kolong langit.
Meskipun nama besar sipedang tunggal dari sian-Hoe-san Tauw Khie terkenal dalam dunia persilatan karena ilmu pedangnya yang dahsyat, namun serangkaian ilmu telapak Lok-soat-Ciang dari perguruannya pun merupakan kepandaian silat maha sakti yang jarang ditemui dalam Bu-lim, berhubung wataknya yang pendiam dan tak suka menonjolkan diri, bahkan seluruh perhatian dicurahkan dalam satu hal, maka setelah berlatih giat selama puluhan tahun lamanya, kehebatan ilmu telapaknya ini boleh dibandingkan dengan keampuhan ilmu pedangnya .
Maka dari itu meskipun ilmu cakar Tok-Pa op-san-Jiauw atau tiga belas cakar macan tutul beracun yang diandalkan manusia berkerudung itu sangat luar biasa dan kedahsyatannya serta keganasannya bukan kepalang, namun ia tak berhasil peroleh keuntungan apapun dari pihak lawannya.
Untuk sementara waktu kedua orang itu saling serang menyerang dengan serunya, susah untuk menentukan siapa menang siapa kalah. Masing-masing pihak sama2 gagah dan sama2 kosen- seluruh kepandaian yang diandalkan di kerahkan keluar untuk berusaha merobohkan lawannya dalam waktu singkat.
Dilain pihak. simanusia berkerudung hitam yang menubruk kearah sinelayan dari sungai Goan-Kang keadaannya jauh lebih mengenaskan.
sinelayan dari sungai Goan-Kang Tong su Kiat. manusia aneh yang gemar bergurau ini rasa sedikit susah dilayani, bukan saja ia kenali sekali ilmu cakar “Tek-Pa-Cap-san Jiauw” yang digunakan lawan, bahkan dari potongan badannya ia bisa menebak bahwa orang ini adalah “Hoa-Bin-Pa” atau simacan tutul berwajah kembang chin Hoan, walaupun ia sama sekali tidak menyingkap kain kerudung yang dikenakan pihak lawan.
Chin-Nia-su Pa menjagoi diwilayah pegunungan chin Nia sampai propinsi su Cuan serta propinsi siam say pelbagai kejahatan yang terjadi disana, membunuh, merampok.
memperkosa gadis serta istri orang semuanya dilakukan oleh manusia2 ini, hal ini membuat para kesatria yang bercokol didaerah sana merasa amat tidak tenteram.
sementara itu empat saudara tersebut dengan andalkan ilmu cakarnya malang melintang tiada hentinya disana-sini.
entah sejak kapan mendadak jejak mereka lenyap tak berbekas, sejak itu keempat manusia terkutuk tadi tidak pernah munculkan diri kembali dalam dunia persilatansinelayan dari sungai Goan Kang bukan saja mempunyai tabiat suka mengucapkan kata2 yang lucu dan bersendagurau, iapun memiliki ketajaman ingatan yang luar biasa, sejak semula ia sudah dengar dari sahabat2 Bu-lim, tentang raut muka serta potongan badan bajingan2 itu, bahkan sampai kepandaian andalan mereka pun dapat dikenali dengan jelas.
Memang sejak semula ia ada maksud membinasakan bajingan ini dari muka bumi, sekarang setelah mengetahui asal-usul lawan, iapun tidak bertindak sungkan lagi.
Jaring ikannya dengan cepat disimpan kembali diatas pundak. dan ilmu “Cheng-Men Chie” atau ilmu jari penggempur nadi yang tak pernah digunakanpun segera dilancarkan dengan hebat.
Ilmu jari penggempur nadi ini merupakan suatu kepandaian tingkat atas dari kalangan beragama, terutama sekali terhadap para jago yang khusus menggunakan ilmu cakar, kehebatannya semakin berlipat ganda.
Dengan digunakannya kepandaian sakti tersebut, seorang berkerudung itu mulai mengeluh, Ia keteter hebat belum sampai tiga lima jurus posisinya sudah sangat berbahaya.
Menyaksikan kehebatan lawan, orang berkerudung ini mulai jeri dan ketakutan, ia tidak mengira pihak musuh mempunyai kehebatan diluar dugaan- Hiong-Hun si Roh Bengis nomor dua dalam menyaksikan pula bagaimana terdesaknya anak buah yang ia perintahkan turun kegelanggang sepasang alis yang tebal dibalik kain kerudung segera dikerutkan rapat2, pikirnya: “Agaknya untuk membereskan persoalan yang ditugaskan malam ini, aku harus mengeluarkan banyak pikiran dan tenaga ….” Belum habis ia berpikir, Yoe Leng si Sukma gentayangan nomor tujuh belas tiba menjerit ngeri yang menyayatkan hati diikuti sambil mencekal lengan kanan dan air muka pucat pias bagaikan mayat meloncat mundur kebelakang, sebuah lengan kanannya telah di pukul hancur hingga cacad oleh serangan lawan- Pada saat itulah dua sosok bayangan hitam melayang masuk kedalam kalangan, diiringi jeritan keras yang memekikan telinga mereka langsung menubruk kearah sinelayan dari sungai Goan Kang Jurus silat yang digunakan kedua orang manusia berkerudung ini tiada berbeda sekali dengan kepandaian yang digunakan simacan tutul berwajah kembang chin Hoan- Tenaga lweekang yang dimiliki sinelayan dari sungai Goan- Kang amat sempurna, ilmu jari penggempur nadipun merupakan lawan dari ilmu tiga belas cakar macan tutul beracun, namun kedua orang itupun merupakan tokoh2 sakti dari kalangan hitam, mereka dapat bekerja sama dengan erat, apalagi serangan menubruk kearahnya dengan cara mengadu jiwa untuk sesaat sikakek tua itu tak bisa bergerak banyak.
Menghadapi cara bertempur yarg tidak menghiraukan keselamatan sendiri ini, si nelayan dari sungai Goan-kang tidak berani memandang remeh, ilmu gerakan “Yoe-In-Cian Cong” atau Ikan ikan bermain petak segera di gunakan bekerja sama dengan ilmu jari penggempur nadi menghadapi dua orang lawan sekaligus.
sementara itu simanusia berkerudung yang bertempur melawan sipedang tunggal dari s ian Hee-san pada mulanya ia benar2 berhasil memaksa musuh kalang kabut dan kacau dengan sendirinya. Tapi lama kelamaan mengikuti beredarnya waktu yang berlalu dengan cepat, akhirnya ia bertarung dalam keadaan seimbang. Tidak lama kemudian, ia malah dipaksa jatuh dibawah angin.
Hal ini bukan disebabkan ilmu silat yang dimiliki sipedang tunggal dari sian-Hee-san secara tiba2 memperoleh kemajuan pesat, sebaliknya dia yang harus melawan jurus2 serangan aneh yang digunakan musuh jadi kaget, gugup dan kelabakan sendiri Untung ilmu Lok-soat-Ciang tersebut belum digunakan segenap tenaga, maka untuk sementara iapun masih bisa menjaga diri diri bahaya maut.
sipedang tunggal dari siin-Hee-sanpun bermain tenang, ia pusatkan segenap perhatian serta tenaganya untuk mainkan ilmu telapak Lok soat Ciang tersebut sehebat2nya, makin lama kehebatannya semakin nampak dan akhirnya tampaklah sampai dimana sebenarnya keganasan ilmu telapak itu.
Dengan kejadian ini simanusia berkerudung hitam itu semakin terdesak. makin bertarung, hatinya makin terperanjat, peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi badannya.
Disaat yang amat kritis itulah, mendadak ia dengar Loosam simacan tutul berwajah kembang chin Hoan perdengarkan jeritan ngeri yang memekikkan telinga ditengah malam buta.
la kaget tapi dengan cepat memperingatkan diri agar bertindak tenang, wajah yang hijau dibalik kain kerudung perlahan2 berubah memerah kembali, ia berusaha membendung golakan dalam hatinya.
sipedang tunggal dari sian-Hee-san Tauw Kie melirik sekejap kesamping, ia dapat melihat sinelayan dari sungai Goan Kang Tong-su Kiat telah berhasil memukul lawannya sampai terluka, sedang dia, ia masih belum berhasil meringkus simanusia berkerudung itu, tak terasa alisnya meng kerut ke atas.
Dengan jurus “Lok-soat-Hwie-Bok” atau Bebek terbang disinar lembayung ia pukul Yoe-Leng si sukma gentayangan nomor delapan belas hingga mencelat sejauh dua tombak dari kalangan- Hajaran yang bersarang ditubuh manusia berkerudung hitam Yoe-Leng – si sukma Gentayangan nomor delapan belas ini sungguh dahsyat sekali, terdengar ia mendengus berat.
Badannya yang roboh keatas tanah tak sanggup bangun kembali. Pada saat itulah…
Sreeet Sreeet Sreeet secara beruntun meloncat keluar empat, lima sosok bayangan manusia ketengah kalangan.
Kecuali dua orang manusia berkerudung yang membimbing bangun Yoe-Leng -si sukma Gentayangan nomor delapan belas kesisi kalangan guna diobati, tiga orang lainnya dengan mencekal pedang dan menggetarkan senjata tersebut sehingga memancarkan cahaya berkilat langsung menusuk tubuh sipedang tunggal dari sian-Hee-san Tauw Kie dari pelbagai jurusan yang berbeda.
Cian- Liong Poocu Lie Kie Hwie s iap meloncat masuk untuk membantu sahabatnya, namun sikakek huncwee dari gunung Bong-san yang menghisap huncweenya telah mengulangi niatnya.
“Jangan keburu napsu” katanya. ” Kurcaci ini tidak lebih hanya manusia kelas tiga, pertunjukan bagus masih berada dibelakang, lebih baik kita nikmati dahulu keindahan serta kehebatan ilmu pedang dari Tauw- heng. seandainya ia benar menemui bahaya, saat itu rasanya belum terlambat kalau kita turun tangan menyelamatkan jiwanya.” “Eeeehmm berbuat demikianpun rasanya tidak salah” pikir Cian Liong Poocu.
Ia lantas berpaling melirik sekejap kearah siseruling kumala kipas emas Hoo-Thian- Hong Tampak pemuda itu sambil tersenyum memandang awan putih yang bergerak diangkasa, se-akan2 terhadap pertarungan sengit antara hidup mati yang sedang berlangsung di hadapannya sama sekali tidak mendengar, ketenangan hatinya benar2 luar biasa sekali.
-00000000- DALAM pada itu empat bilah pedang telah menciptakan beribu2 datang bayangan tajam serta berrjuta2 kuntum bunga pedang yang menyilaukan mata, ditengah bentrokan nyaring yang sering terjadi, percikan bunga api menambah keseraman suasana ketika itu, desiran angin tajam menusuk tulang, begitu dahsyat pertarungan tersebut sampai ujung baju para penonton disisi kalangan sama-sama berkibar.
Lie Kie Hwie adalah seorang ahli dalam ilmu pedang, dengan cepat ia dapat menangkap kehebatan dalam pertarungan itu, diam2 ia kagum dan memuji akan kesempurnaan serta kesaktian ilmu yang dimiliki sipedang tunggal dari sian Hoe san.
Memandang pula jurus2 serangan aneh yang digunakan tiga manusia berkerudung itu hatinya merasa amat terperanjat.
Kiranya jurus pedang yang digunakan ketiga orang itu bukan berasal dari dunia persilatan, tapi termasuk aliran Laut Timur, Menurut cerita seratus tahun berselang dari partai laut timur telah muncul seorang pendekar aneh yang disebut Jiak- Kioe-Kiam-Khek atau si pendekar pedang bola daging Kioe Ek, orang ini punya badan yang aneh yaitu pendek dan gemuk seperti bola daging.
selama berada didaratan Tionggoan banyak kejahatan yang dilakukannya, sehingga akhirnya ia diusir pulang kepulaunya oleh Lam- Hay siang In dari Bu- lim Jie seng sepasang Rasul dari Rimba Persilatansiapapun tidak mengira kalau tiga manusia berkerudung yang hadir pada saat ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan makhluk aneh tersebut, tanpa sadar semua orang mulai merasakan kuatir bagi keselamatan dunia kangouw.
Mendadak terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang dari arah sebelah kiri kalangan.
Dengan cepat ia berpaling, tampak sesosok bayangan hitam mencelat ketengah udara lalu terbanting ketanah dan tidak berkutik lagi, tak usah ditanya itulah hasil karya dari Goan-Kang-Gie-Hu atau si Nelayan dari sungai Goaa Kang, Tong soe Kiat.
setelah sang nelayan Tong soe Kiat berhasil menghajar roboh Yoe-Leng nomor enam belas, manusia berkerudung hitam lainnya tentu saja bukan tandingan dari jago tua ini.
Rupanya dia tahu gelagat jelek. ilmu cengkeraman Tok-Pa Cap sah Jiauw atau tiga belas cakar macan tutul beracunnya segera ditarik pulang….sreeet pedang yang tersoren dipunggung laksana kilat diloloskan.
Menyaksikan hal tersebut, sang nelayan sakti dari sungai Goan-Kang segera tertawa ter bahak2.
“Hahaha….Hey manusia yang menyebut dirinya sebagai Chin Nia su Cay atau empat srigala dari bukit Chin-Nia kejahatan yang kalian lakukan sudah ber-tumpuk2, diantara tiga srigala tinggal kau si srigala berhidung belang saja yang masih utuh, jangan kau anggap ini hari bisa lolos dari sini dalam keadaan hidup2” Meskipun mulutnya berkicau tiada hentinya gerakan tubuhnya sama sekali tidak kendor, langkah kakinya tetap dengan andalkan ilmu “Yu-Ih-Cian-Cong” (ikan gabus main petak) kesana kemari, suatu saat tatkala pihak lawan mengeluarkan gerakan “Yap-Teh-Ciang-Hoa” atau sembunyikan bunga didasar daun, kaki kirinya segera melangkah kemuka, dua jari tangan kanannya ditegangkan kemudian menerobos kemuka coba merampas senjata lawan.
Menyaksikan datangnya sodokan jari lawan begitu dahsyat dan cepat, air muka manusia berkerudung hitam itu berubah hebat, belum sempat ia ganti jurus mengubah gerakan jalan darah Hian-Kie-Hiat diatas dadanya sudah kena tersodok telak. la mendengus berat kemudian roboh keatas tanah mati seketika itu juga.
Melihat anak buahnya pada mati dan roboh terluka, air muka Hiong-Hun atau “Roh Bengis” nomor dua dibalik kain kerudung hitam nya berubah hebat, dia kaget berbareng gusar.
Yoe Leng nomor sembilan belas dan Yoe Leng nomor dua puluh segera enjotkan badannya mau meluruk kemuka, namun niat tersebut segera dihalangi oleh “Lee-Pok” atau sukma ganas nomor tujuh, dengan sorot mata memancarkan cahaya bengis selangkah demi selangkah ia maju mendekati sang nelayan darisuagai Goan-Kang itu.
Perawakan tubuh “Lee-Pok” nomor tujuh yang tinggi kekar serta sepasang matanya yang bulat besar bagaikan genta itu segera mengingatkan kakek tua itu akan seseorang, hatinya bergetar keras.
“Mungkinkah dia adalah gembong iblis itu?” ingatan ini berkelebat dalam benaknya disusul munculnya bayangan tubuh Ang-Hoat-Touw-To atau si Touw-to berambut merah.
Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, bayangan tubuh “Lee-Pok” nomor tujuh yang tinggi besar dan kekar itu sudah tiba dihadapan mukanya.
Tanpa sadar sang Nelayan dari sungai Goan Kang, Tong soe Kiat mundur satu langkah kebelakang, pikirnya dalam hati: Kalau dugaanku tidak salah waah. Bahaya sekali keadaanku, bajingan ini berhasil melatih seluruh tubuhnya jadi kebal dan tidak mempan senjata tajam, apabila ilmu “cin-Mehcie” ku tidak berhasil menundukkan dirinya, apa dayaku ?? jangan2 pamorku akan merosot ditangannya”.
Meskipun berpikir begitu namun sebagai jago kawakan yang punya pengalaman luas dalam dunia kangouw hatinya sama sekali tidak jadi gentar, jaring ikan yang berada dipunggungnya segera diloloskan kemudian mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Haah…haah…haah…sungguh tak nyana Ang Hoat-Tauwto yang pernah malang melintang di sekitar wilayah cing-Hay dan menjagoi daerah tersebut, sekarang telah jadi pengawal setan orang lain. oooh Kiong-hie…kiong.-hie atas kehebatanmu itu “.
“Tajam amat sepasang mata rase tua ini” diam2 “LeePok” nomor tujuh membatin dengan hati terperanjat. “Aku dengar tujuh puluh dua jurus ilmu jaring saktinya pernah malang melintang dalam Bu- lim tanpa tandingan, ingin kucoba bagaimana sih kelihayannya “. Karena berpikir demikian maka dia lantas tertawa dingin seraya menjengek: “Hey tua bangka bangkotan percuma kalau kita bersilat lidah saja dengan kata2 kosong, kau tak usah urusi siapakah aku orang tua, lebih baik cari saja keputusan siapa yang lebih kuat diantara kita berdua ” Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, tangannya langsung diayun kemuka, maka dalam sekejap mata sebuah Boks Hie besar serta pukulannya yang panjang dan berwarna hitam berkilauan sudah disiapkan dalam genggaman.
Ia membentak keras, kaki kirinya melangkah satu tindak kemuka. pemukul Boks Hie yang ada ditangan kanan dengan jurus “Ceng-Long Khe-Koei” atau menolong situli membantu si buta segera ditotok kemuka, sedangkan Boks Hie yang ada ditangan kiri dengan disertai desiran angin tajam membabat kemuka memakai jurus “swan-saks-Tiam-Tauw” atau Mengangguk kepada batu, satu jurus dengan dua gerakan yang berbeda kehebatannya luar biasa.
Tak usah diragukan lagi kedua macam senjata tersebut terbuat dari baja murni, beratnya pun jauh melebihi ratusan kati sehingga bagi orang biasa sukar untuk menggunakannya .
Tatkala Goan-Kang-Gie-Hu atau nelayan sakti dari sungai Goan-Kang menyaksikan serangan dari “Lee-Pok” nomor tujuh atau tepat nya Ang-Hoat Tauwto dari Ceng Hay amat cepat, dahsyat dan luar biasa, diam2 hatinya terkesiap juga.
Untung dia telah bersiap sedia sejak semula, dengan begitu serangan kilat dari gembong iblis tersebut tidak sampai mengenai sasaran.
Dengan ilmu langkah “Yoe-Hie-Cian-Cong” atau Ikan main petak se-olah2 seekor ikan belut, nelayan she-Tong ini loncat kesana kemari meloloskan diri dari ancaman lawan, suatu saat ia tertawa ter-bahaks^ kemudian dalam sekali kelebatan badannya sudah melayang delapan tombak dari tempat semula.
sreet… jala ikannya ditebarkan kemuka dengan suatu gerakan yang manis, dalam sekejap mata daerah sekitar satu setengah tombak di-sekeliling tubuhnya terkurung dalam bayangan jalanya.
Menyaksikan betapa serunya pertarungan yang sedang berlangsung, Giok-Tek-Kim-sie suseng atau sang pelajar yang bersenjata seruling kumala kipas emas Hoo Thian Keng merasa amat kagum, batinnya didalam hati: “Senjata Boks-Hie bertemu dengan senjata jala ikan, pertempuran yang sedang berlangsung saat ini betul2 merupakan suatu pertarungan yang seru dan jarang ditemui dalam kolong langit”.
Kedua macam senjata tersebut, yang satu merupakan perlambang daripada senjata tajam jenis keras, sedang yang lain merupakan lambang dari senjata bersifat lembek, yang pertama lebih menguntungkan kalau digunakan dalam pertempuran jarak dekat sedang yang terakhir lebih cocok untuk mengiringi pertarungan jarak jauh.
Ditambah pula kedua orang itu merupakan tokoh2 dari dua golongan yang saling bertentangan yakni golongan putih dan golongan hitam, tentu saja pertarungan yang terjadi kali ini betul2 luar biasa.
Dalam pada itu suasana dikalangan pertempuran sebelah kananpun telah meningkat lebih tegang dan sengit.
Tiga pucuk pedang dari Yoe Leng nomor dua puluh dua,” Yoe-Leng” nomor dua puluh tiga dan ” Y oe- Leng” dua puluh empat kendati ganas dan telengas, namun untuk beberapa saat lamanya tak sanggup meng-apa2kan pihak lawannya.
sebaliknya sian-Hee-It-Kiam atau sipedang tunggal dari sian-Hee-san, Ya uw- Kie melayani serangan musuhnya dengan hati tenang dan ilmu pedang Chiet-Ciat-Liuw-Hee-Kiam-Hoatnya dimainkan sebegitu rupa sehingga seluruh tubuh pedang tersebut mengeluarkan suara mencicit yang amat memekikkan telinga, mengikuti berkembangnya cahaya pedang yang memancar keluar kekuatan daya tekannya kian lama kian bertambah dahsyat, seketika itu juga tiga orang manusia berkerudung itu keteter hebat dan terjerumus pada posisi dibawah angin, namun ketiga orang itu belum juga kapok, mereka masih bertahan terus dengan sekuat tenaga.
Melihat kekerasan kepala pihak musuhnya, sepasang alis Yauw Kie kontan berkerut, diam2 ia gelisah pula mengingat setelah melangsungkan pertempuran beberapa babak, badan nya mulai terasa lelah, apalagi sekarang harus mengerahkan segenap kekuatannya untuk berjuang dan bertahan, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.
Melihat kesempatan baik yang selama ini dinantikan telah tiba, tiga manusia berkerudung itu membentak keras, pedangnya berkelebat kedepan dengan memakai jurus ampuh dari ilmu pedang Lautan Timur yang disebut “Hoen Toan Bong In” atau Nyawa putus dipulau dewata, seketika itu juga cahaya pedang berkilauan memenuhi seluruh angkasa.
Menyaksikan kejadian itu sang Poocu dari benteng cian- Liong-Poo, Lie Kie Hwiejadi amat terperanjat, ia bersuit nyaring, dengan suatu gerakan yang cepat laksana sambaran kilat meloncat kedalam kalangan pertempuran, namun sayang kehadirannya masih tetap terlambat satu tindak.
Terdengar dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, Yoe-Leng nomor duapuluh empat kena tersambar pedang lawan, seketika segenap pergelangan kanannya yang mencekal pedang terbabat putus jadi dua bagian, sementara lengan kiri “Sian- Hee-It-Kiam” Yauw Kie pun kena tersambar senjata musuh sehingga muncul sebuah mulut luka yang amat panjang, darah segar segera mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Lie Kie Hwie mengerem tubuhnya ditengah udara, belum sempat ia bertindak sesuatu mendadak terdengar gelak tertawa yang amat menyeramkan berkumandang datang, disusul munculnya dua sosok bayangan manusia persis di depan wajahnya, kedua orang itu bukan lain adalah “Lee-Pek” nomor tiga dan “Lee-Pok” nomor empat.
Mereka mempunyai badan yang kurus dan tinggi, sedang yang lain punya perawakan yang pendek lagi kecil seperti seorang bocah cilik.
Disamping perbedaan yang amat menyolok itu, kedua orang tadipun mempunyai keistimewaan lain yaitu simanusia kate itu mempunyai kepala yang sangat gede sedangkan si jangkung kurus punya sepasang mata yang sipit sehingga kalau tidak diperhatikan dengan cermat sukar untuk menemukan mata orang itu.
Manusia aneh semacam ini akan mendatangkan kesan yang mendalam bagi siapapun yang melihat, sekilas pandang sepanjang masa sukar untuk melupakannya kembali.
Maka itu si Kakek Huncwee dari gunung Bong-san yang selama ini berdiri disisi kalangan segera tertawa ter-bahak2 setelah menyaksikan kemunculan dua manusia aneh itu, ia maju kedepan dengan langkah lebar kemudian menyapa: “selamat berjumpa.. selamat berjumpa sungguh tak nyana sianak jadah berwajah singa dari gunung Lau-san serta si Hakim kejam bermata sipit dari gunung Kouw-Lauw-san telah ber-sama2 datang mengunjungi perkampungan ciok-It-san- Cung kami Ha h haah…” berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kepada Lie Kie Hwie sang pocu cari benteng Cian- Liong-Poo dan melanjutkan: “Malam ini kita dapat berjumpa dengan orang2 berilmu seperti mereka, hal itu menandakan betapa beruntungnya kita berdua. saudaraku bagaimana kehendakmu ?? kau mau seret sihakim kejam kedalam pengadilan?? ataukah hendak mempermainkan si raja singa yang sudah naik pitam ?? katakanlah terus terang, tak usah sungkan2 “.
Diam2 Lie Kie Hwie merasa kagum bercampur kuatir terhadap sikap saudara angkatnya yang masih sempat bercanda walaupun berhadapan dengan musuh tangguh didepan mata.
sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya, si Hakim Kejam bermata sipit yang memakai simbul “Lee-pok” nomor tiga sambil memicingkan matanya telah berjalan menuju kehadapan Bong-san Yen-shu, sebaliknya say-Bin Toojien dari gunung Lauw-san yang memakai simbul “Leepok” nomor empat seraya gelengkan kepalanya yang gededan tertawa dingin tiada hentinya menyusup datang.
sreet…… sekilas cahaya merah yang memanjang meluncur keluar dari balik mantelnya yang berwarna hitam, dan tahu2 ia sudah mengirim satu babatan kilat.
Ilmu pedang yang dimiliki gembong iblis dari kalangan hitam ini benar2 luar biasa, cukup babatan pedangnya barusan sudah menggetarkan hati siapapun yang melihat, membuat “sian-Hee-It-Kiam” Yauw Kie yang sedang merawat lukanya disisi kalanganpun ikut mengerutkan dahinya.
Dalam pada itu Lie Kie Hwie si Poocu dari benteng Cian- Liong-Poo telah bereaksi, hawa pedangnya membumbung keangkasa, dengan jurus ” Liong- cu Cu seng” atau Anak Naga menampakkan diri ia balas mengirim satu- babatan ganas kearah say-Bin-Toojien- Tidak malu dia disebut sebagai seorang jagoan pedang yang besar, berbicara dari sikap maupun balasan serangan yang dilancarkan cukup dipuji dan dikagumi. Maka dari pihak perkampungan Kiok-It-san-cung pun untuk sementara waktu bisa berlega hati atas keselamatannya .
Dipihak lain, pertarungan antara Bong-san Yen-Shu melawan si Hakim Jahat bermata sipit berjalan dengan lucu dan penuh gurauan yang menimbulkan gelak tertawaan orang.
Kendati sepasang Poan-Koan-Pit yang diandalkan sang Hakim jahat bermata sipit diputar sedemikian rupa ditengah udara sehingga menimbulkan beratus-ratus cahaya tajam berwarna biru mengurung tubuh lawan rapat2 namun setiap kali pihak musuh berhasil meloloskan diri dengan suatu gerakan manis.
Bukan begitu saja, bahkan setiap kali berhasil melepaskan diri dari ancaman kalau bukan menyusup ke belakang punggung lawan untuk menowel pantatnya sambil tertawa haha hihi, tentu ia menerobos lewat bawah ketiak si Hakim jahat bagaikan seekor burung walet untuk me-ngitik2 musuhnya.
Kalau cuma meraba-raba atau menowel-nowel belaka sih masih mendingan, yang paling memusingkan kepala mulutnya nyerocos terus ngoceh tidak karuan, sebentar memuji tulang pay-kut nya yang empuk. sebentar lagi meneriakkan: Pantat yang montok membuat si Hakim jahat bermata sipit jadi gusarnya bukan kepalang, matanya melotot gede dan otototot hijau pada menonjol keluar semua.
sayang matanya terlalu sipit, sekalipun ia sudah pentang dan melotot sebesar2nya juga percuma.
Untuk wajahnya memakai kain kerudung berwarna hitam, sehingga orang lain tak perlu menyaksikan wajahnya yang lucu itu.
Hatinya benar2 gemas bercampur mendongkol, diam2 ia bersumpah apabila si kakek hun cwee dari gunung Bong-san berhasil diringkus, bukan saja sekujur badannya akan dicecah dengan senjata Poan-koan-pitnya, lidah sikakek yang jahil pun akan dicabut keluar.” Tetapi, sanggupkah dia berbuat begitu???- meskipun ia telah kerahkan segenap kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya untuk merangsek dan meneter musuhnya, namun setiap kali pihak lawan berhasil meloloskan diri bagaikan segumpal asap. kemana dia tusuk kesitu pula kakek itu menghilang.
Pemandangan semacam ini tidak lolos dari pengamatan sipedang tunggal dari s ian-Hee san, Yauw Kie serta sastrawan berbaju biru berkipas emas tentu saja tak terlewat pula dari pandangan “Hiong Hoen” nomer dua, dibawah sorot sinar rembulan yang remang2 tampak wajahnya menyeringai buas sehingga nampak lebih bengis dan mengerikan. Pikirnya di dalam hati: “sungguh tak kusangka didalam sebuah perkampungan yang kecil ternyata bersembunyi begitu banyak jago2 Bu-lim yang berkepandaian tinggi, kalau dibiarkan begini terus dan aku belum juga mau turun tangan, bisa jadi seluruh pasukanku akan musnah disini dan aku bakal menderita kekalahan total yang memalukan ” Berpikir demikian, sinar matanya lantas di alihkan kearah pihak musuh dimana hanya tertinggal sang pelajar berbaju biru serta sian Hee-It-Kiam yang sedang merawat lukanya.
suatu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, ia merasa raut wajah sastrawan itu seperti pernah dikenalnya disuatu tempat, cuma ia lupa dimanakah pernah bertemu dengan orang itu.
Meski “Hiong-Hoen” nomer dua bertabiat kejam dan licik, namun sejak memperdalam ilmunya dilembah selaksa kabut dan munculkan diri kembali kedalam kalangan Bu-lim, dimana ia segera diberi kedudukan tinggi oleh Yoe-Leng sin-koen, apalagi sesudah siok-Tiong-ft-Liong, ouw-pak Kheng-san ciauw- coe sekalian jago Bu- lim tidak dapat loloskan diri dari tangan jahatnya, ia semakin kepala besar dan jumawa, dianggapnya dalam kolong langit ini kepandaian silatnya yang paling lihay, maka dari itu meski hatinya sangsi namun sama sekali tidak jeri.
Dia tertawa dingin, bagaikan segulung asap hitam badannya berkelebat kehadapan sastrawan berbaju biru itu, tegurnya.
“Hey keparat cilik, tidak baik kalau nganggur terus, ayoh ikutilah diriku melepaskan otot-otot yang kaku.” sembari berseru sreet sebuah pukulan telah dilepaskan, terasa gulungan angin pukulan berhawa dingin yang dahsyat dan mengerikan menghantam ketubuh Hoo Thian Heng.
Rupanya dia punya niat untuk membereskan sianak muda ini lebih dahulu kemudian baru meringkus sian-Hee-It-Kiam.
setelah dua orang jago tadi dibikin tak berkutik maka dengan leluasa dia bisa terjunkan diri kedalam kalangan pertempuran.
Dengan bantuan yang diberikan, tidak mustahil dalam sekejap mata seluruh musuh2nya bisa dipukul roboh.
Begitulah dikala ia melancarkan satu babatan dahsyat kearah Hoo Thian Heng itulah, dipihak lain “Yoe Leng” nomor tiga belas, empat belas, sembilan belas, dua puluh serta dua puluh satu, lima sosok bayangan manusia serentak terjunkan diri pula kedalam kalangan pertempuran, tak terhindarkan lagi suatu pertempuran massal yang sengit pun segera berlangsung.
Dalampada itu sisastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng yang diserang secara mendadak. tidak sampai keder dibuatnya, dengan kalem dan tenang ia berkelit kesamping kemudian meloncat kebelakang punggung “Hiong Hoen” nomer dua, telapak tangannya yang putih halus segera ditekan lambat2 kebawah.
Meskipun dikatakan lambat, padahal bagi orang yang berkepandaian silat amat lihay seperti dia justru hal itu merupakan suatu ancaman besar, jangan dibilang kena terhantam cukup kesenggol saja sudah dapat merontokkan tulang2 tubuhnya.
“Hiong-Hoen” nomer dua bukan anak kemarin sore, sewaktu menyaksikan serangannya mengenai sasaran kosong dan ia kehilangan jejak musuhnya, dengan pengalamannya yang luas dia lantas menduga kalau pihak lawan pasti telah menyingkir kebelakang.
Ilmu beracun Hian-Im-Tok-kangnya segera dikerahkan, sang telapak dikibaskan kebelakang dibarengi badannya berputar cepat, dalam dugaannya sang anak muda itu pasti terhajar pental oleh hantaman itu siapa sangka bentrokan keras dari dua gulung angin pukulan itu hanya mengakibatkan sepasang bahu Hoo Thian Heng bergetar sedikit, diikuti badannya telah melayang mundur kebelakang dalam keadaan selamat.
Dalam serangannya barusan- gembong iblis tua ini telah menggunakan tenaga dalamnya mencapai lima bagian, namun badannya terpukul mundur juga kebelakang hal ini membuat darah panasnya meluap. dengan wajah penuh kegusaran ia mendengus dingin.
” Keparat cilik, hebat sekali ilmu silatmu, coba rasain lagi sebuah pukulanku ini” teriaknya.
Dua lengan dipentangkan kemuka, sambil mengerahkan sepuluh bagian hawa sakti “Hian-Im Tok-Kang”nya kembali ia kirim satu pukulan maut.
Hoo Thian Hong tertawa nyaring, menggunakan jurus “Thian-Wong-Loo-Mo” atau Jala langit menjaring iblis ia sambut datangnya ancaman itu.
Blumm… dengan cepat dua gulung angin serangan yang maha dahsyat itu saling membentur ditengah udara sehingga menimbulkan suara ledakan yang gegap gempita, batang pohon sama2 patah dan roboh keta nah, pasir debu beterbangan keangkasa membuat suasana berubah jadi mengerikan- Hoo Thian Hong mengerutkan dahinya, ia tetap berdiri tegak ditempai semula tanpa bergeming barang sedikitpun juga, sebaliknya “Hiong-Hoen” nomor dua kena dihantam sampai mundur tiga langkah kebelakang, hatinya kontan terkesiap.
Haruslah diketahui tenaga pukulan “Hian Im-Tok-shu” atau si- Kakek bisa dingin Cia Ie Chong dalam urutan Biauw-Kiang su-Tok empat manusia beracun dari wilayah Biauw telah berhasil melampaui kemampuan sang loo-toa, “Pek-si-Tokshu” atau sikakek seratus bangkai Kiang Tiang Koei, apalagi sekarang bukan saja setelah berlatih giat dalam lembah selaksa kabut bahkan menelan pula pelbagai makhluk berbisa berusia ratusan tahun, tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan pesat.
Dengan kemampuannya sekarang jangan dibilang tubuh manusia yang terdiri dari darah daging, sekalipun sebuah batu karangpun akan hancur lebur termakan serangannya.
Tidak aneh kalau hatinya kontan jadi terkesiap setelah dilihatnya pihak lawan bukan saja tidak bergeming sama sekali oleh pukulannya bahkan dia sendiri malahan merasakan darahnya bergolak kencang dalam rongga dadanya, hal ini membuat dia jadi sadar bahwa pihak. lawan adalah seorang musuh yang sangat tangguh.
“Siapakah orarg ini ?” dalam keadaan terkesiap bercampur kaget suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia tingkatkan kewaspadaannya kemudian dari pinggangnya ia lepaskan seekor ular berbisa Thiat-sian-Tok-Coa, sambil tertawa dingin serunya: “Aku rasa kau bukan lain adalah sisastrawan berbaju biru berseruling kumala dan berkipas emas yang kesohor lihay, malam ini kita bisa saling bertemu muka disini, hal ini merupakan suatu kebetulan- Mumpung sudah ketemu dendam sakit hati yang pernah kau lakukan terhadap Siauw-Tang-sam Yoe sewaktu ada ditebing Pek-Yan-Gay tiga tahun berselang sudah seharusnya dibikin beres ?” Padahal, sesungguhnya antara dia dengan Liauw-tang sam- Koay sama sekali tidak terjalin ikatan maupun hubungan apapunjuga, hanya saja sengaja dia berkata demikian agar bisa menutupi maksud tujuan yang sebenarnya daripada kehadirannya malam itu.
sejak diperingatkan oleh Koe-sian sin-Poo, watak jumawa dan tinggi hati dari Hoo Thian Heng sudah banyak berkurang, mendengar ucapan itu dari dalam sakunya dia lantas ambil keluar seruling kumala serta kipas emasnya siap menantikan serangan musuh, kemudian sambil tertawa lantang sahutnya: “Kalau dugaanku tidak meleset, aku rasa saudara tentulah Hian-Im-Tok-shu Cia Ie Chong dari empat manusia berbisa asal Wilayah Biauw yang sudah terkenal dalam dunia persilatan, bukankah begitu ?”.
“Hiong-Hoen” nomer dua bungkam dalam seribu bahasa tanda membenarkan.
Sekilas senyuman menjengek dan pandang hina terlintas diujung bibir HHoo Thian Hong, ujarnya lebih lanjut: “Menurut apa yang kuketahui, sejak dulu hingga sekarang sepuluh manusia sesat dari kolong langit adalah manusia2 kurcaci yang selalu mementingkan diri sendiri. Hmm sejak kapan sih timbul rasa persahabatan dan rasa setia kawan dalam hati kalian ?…Hoy, tahukah kau akan kabar berita adikmu “Gia-Kang Tok-shu” atau sikakek kelabang beracun Ngo Hiong Hoei ?”.
“Apakah siauw-hiap pernah berjumpa dengan dirinya??” sambil menahan rasa geli didalam hati, Hoo Thian Hong menjawab dengan wajah serius: “Bukan saja telah berjumpa, bahkan siauw heng telah menghantarkan dia melakukan perjalanan” “Dia pergi kemana?” “Menuju kealam baka” “Apa?” Hian Im Tok-shu menjerit kalap. saking mendongkolnya ia merasakan kepalanya sakit seperti mau meledak dengan mata melotot buas dan wajah menyeringai seram ia meraung aneh, pergelangan tangannya digetarkan kemuka, ruyung lemas Thian suan-Juan-Pian nya segera menciptakan diri jadi sekilas bayangan hitam yang menghantam kemuka. Bau amis yang memuakan segera terselebar ke-mana2 membuat keadaan tambah mengerikan.
Ujung baju Hoo Thian Hong berkibar ter-sampok angin, sambil mencekal seruling kumala dia bersuit nyaring, kipasnya dikebaskan kemuka mengirim deruan angin puyuh, begitu turun tangan jurus mematikan segera di lontarkan tanpa sungkan2.
“Hiong Hoen” nomer dua bukanlah manusia lemah yang gampang dikecundangi, serangkaian ilmu ruyung “Leng Coa Pian Hoat” ajaran “Ban Tok Ci ong” segera dimainkan sedemikian rupa sehingga hujan dan angin sukar tembus.
sambil melayani lawannya bertarung sengit, diam2 Hoo Thian Heng melirik kearah kalangan lain, dijumpainya siin Hee It Kiam Yauw Kie yang menderita luka sekarang telah terjunkan diri kembali kedalam kalangan pertempuran melayani musuh yang berjumlah banyak.
sang nelayan sakti dari sungai Goan Kang mulai menunjukkan tanda2 kekalahan, situasi yang dihadapi Bongsan Yen-shupun amat kritis, sedangkan Cian-Liong Poocu kendati untuk sementara waktu masih bisa bertahan keadaannya pun mulai payah, alisnya segera berkerut.
Mendadak kipasnya dilipat dan ditarik kembali, diikuti ilmu totokan Kan Goan-cie yang lihay pun meluncur kemuka tiada hentinya.
Dalam pada itu “Hiong-Hoen” nomer dua sedang ber-siap2 melepaskan bisa racunnya, belum sempat ia bertindak sesuatu, mendadak terasalah segulung desiran angin tajam meluncur datang mengancam jalan darah “Khie-Lay hiat”, ia jadi terkejut, sadar bahwa serangan tadi tak bisa dihindari lagi badannya segera menjongkok kebawah.
Dengan gerakan tersebut kendati jalan darahnya terhindar dari totokan musuh, tak urung lengan kanannya kena tersampok juga oleh desiran angin totokan lawan sehingga jadi kaku dan linu.
Ia sadar dalam keadaan seperti ini tak mungkin lagi baginya untuk meneruskan pertarungan ini, dengan gerakan keledai malas ber-guling2, ia jatuhkan diri keatas tanah kemudian bergelinding menjauhi kalangan- Lengan kiri ditekuk. meminjam kekuatan tersebut buru2 badannya mencelat bangun, suitan tanda bahaya pun diperdengarkan berulang kali.
Mengikuti suitan tersebut segenap “Lee-Pek” serta “Yoe- Leng” yang sedang bertempur sama2 menarik diri dan mengundurkan diri kesisi Hiong Hoen nomor dua.
Rasa gusar yang bergelora dalam dada gembong iblis ini benar2 susah dilukiskan dengan kata2, dengan sorot mata bengis disapunya sekejap wajah para jago kemudian ia berseru dingin: “Kejadian malam ini kita tunda dulu sampai lain hari, Hmm tunggu saja pembalasan kami yang lebih kejam sampai jumpa “.
Diikuti bentakan nyaring, ia kerahkan ilmu meringankan tubuh Hoa-Im-san-Hong-sut nya berkelebat lebih dahulu meninggalkan tempat itu disusul para iblis lainnya, dalam sekejap mata seluruh bayangan tubuh mereka telah lenyap dari pandangan mata.
0oo0 BULAN TIGA Telah berakhir, namun musim semi masih nampak indah menyelimuti jagad. Bunga2 indah bersemi, pemandangan sangat indah. Hawa terasa hangat menambah kegembiraan setiap insan manusia.
Tapi suasana dalam perkampungan pa-In-san-cung diluar kota Kay-Hong berbeda jauh dengan keadaan disekitarnya, semua penghuni nya berada dalam keadaan duka nestapa, tak kedengaran orang bernyanyi riang, tak ada orang tertawa riang, tak terdengar suara pembicaraan yang menggembirakan- Yang terdengar hanya keluh kesah, helaan napas sedih, suara gerutu penuh kemangkelan serta pelampiasan rasa dongkol yang meluap-luap.
Jangankan orang lain, sekalipun sikakek huncwee dari gunung Bong-san yang paling lapang dada dan pada hari2 biasa paling suka bergurau kini bungkam dalam seribu bahasa dengan muka murung.
JILID 10 HAL. 32 S/D 33 HILANG “Coba dengar burung kucica mulai berkicau merdu, mungkin ini hari kiia akan kedatangan tamu agung ???”.
gumam siauw-Bin-Loo-sat Poei Hong seorang diri “semoga saja bukan tamu2 jahat yang tak diundang ” sambung Ho Thian Hong dari samping.
Poei Hong mengerling sekejap kearah suaminya, lalu menggerutu: “Eeei… apa yang terjadipada dirimu?? semua persoalan yang dihadapi segera dihubungkan dengan gembong2 iblis itu, rupanya nyalimu sudah dibikin pecah oleh keangkeran mereka ??”.
“Hmm kau anggap aku jeri terhadap mereka ???”.
orang yang berada dalam keadaan pikiran kalut dan hati mangkel, sering kali tabiatnya memang berubah jadi kasar dan seram, demikianpula keadaan Hoo Thian Hongpa saat ini.
Mendengar ucapan yang dirasakan sebagai ejekan tadi kontan meluncurlah kata2 yang bernada keras dan ketus.
Jangan dibilang orang lain, meskipun diri nya sendiri setelah mendengar seruan tadi hatinya jadi tercengang apalagi Poei Hong sebagai seorang gadis berhati halus.
Mimpipun siauw-Bin-Loo-sat tak pernah menyangka kalau suaminya yang pada hari2 biasa selalu menyayangi dirinya, menuruti kemauannya sekarang bisa berubah sikap dan bicara kasar dengan dirinya.
sebagai seorang gadis yang tinggi hati, tentu saja ia tak dapat menahan rasa dongkol dalam hatinya, air mata tak terbendung lagi mengucur keluar dengan derasnya, bahu bergetar keras dan isak tangis yang menyedihkan pun berkumandang memecahkan kesunyian- Melihat istrinya menangis, Hoo Thian Heng jadi gelisah, ia gugup dan tak tahu apa yang harus dilakukansementara itu Cian-Liong Poocu Lie Kie Hwie serta Bongsan Yen-shu yang berada dalam ruangan itu saling bertukar pandangan sekejap. siapapun bungkam dalam seribu bahasa.
Lie Kie Hwie yang lebih berpengalaman dalam soal rumah tangga mengerti jelas bahwasanya sebagai orang luar lebih baik jangan ikut mencampuri urusan rumah tangga orang lain, ia segera mengerling sekejap kearah Bong-san Yen-shu seraya berseru: ” Yoe- heng, setelah air hujan membasahi seluruh jagad kemarin malam udara ditempat luar tentu rindang dan nyaman- Bagaimana kalau kita jalan2 keluar ??” si Kakek huncwee dari gunung Bong-san menyemburkan asap huncweenya kearah tengah udara, sambil mengetuk sisa tembakau keatas lantai ia mengangguk dan melangkah keluar dari ruangan itu.
“Apabila hian-te ada kegembiraan untuk menghirup udara segar, tentu saja aku si Lao koko dengan senang hati akan mengiringinya” Cian- Liong Poocu tersenyum kearah Hoo Thian Hong, tanpa mengucapkan kata-kata lagi segera bertindak keluar.
setibanya diluar pintu perkampungan, sikakek huncwee dari gunung Bong-san menarik napas dalam2, sambil mengelus jenggotnya yahg terurai kebawah ujarnya lantang: “Manusia mana yang bisa luput dari kedukaan ? loo-te, kobarkan semangatmu kau harus tahu penjagalan besar besaran dalam Bu-lim baru mencapai taraf permulaan, kita tak boleh cepat putus asa,bangkit dan kobarkan semangat Jantan kita untuk melakukan perlawanan gigih ” Dengan sinar mata sedih bercampur murung ” cian- Liong Poocu” Lie Kie Hojie melirik sekejap kearah kakak tuanya, menjumpai kegagahan serta keteguhan hatinya yang keras laksana batu karang, tanpa terasa hatinya jadi terharu, segera sahutnya: “Pikiran siauwte pada saat inipun rada sedikit terbuka, aku sadar seandainya kami sepasang suami istri masih tetap berdiam dalam benteng Cian-Liong-Poo, niscaya seluruh keluarga kami telah terbasmi habis.” “Aaai….kematian memang melepaskan manusia dari penderitaan dan kemurungan ” Gumpalan asap putih yang disembur dari mulut Bong-san Yenshu melayang ditengah udara kemudian buyar, mendengar keluhan adik angkatnya ini, hati langsung terasa masgul dan sangat tidak enak ” Kau tentu masih ingat bukan akan peringatan dari Bu-lim Jie-seng tatkala berkunjung ke rumahmu tiga tahun berselang ?” akhirnya ia berseru.
“Aku masih ingat bukankah dia bilang bahwa Loo Pouw-sat dari gunung Altai telah meramalkan bahwa dunia persilatan akan JILID 10 HAL. 38 s/D 39 HILANG Dalam seperminum teh kemudian, kedua orang jago tua dalam dunia persilatan inipun telah meneguk beberapa cawan arak dalam rumah makan Goei sian Law.
sekalipun selama ini Bong-san Yenshu menikmati araknya, namun huncweenya yang berwarna hitam pekat itu tiada hentinya mengepulkan asap hitam yang tebal.
Bagian 15 Sedangkan cian-Liong-Poocu telah meneguk kering tiga cawan arak, ketika sumpitnya hendak menjepit sepotong daging kedalam mulutnya, mendadak terasa desiran angin berhembus lewat, sesosok bayangan merah berkelebat lewat dari arah depan- Walaupun kaget, Poocu dari benteng cian Liong-Poo ini tidak sampai jadi gugup, dengan cepat ia tunjukan gerakan refteks yang manis dan mengagumkan- Badannya bergeser sedikit kesamping membiarkan bayangan merah tadi dengan membawa desiran angin tajam menyambar lewat dari sisi telinganya.
Traak diiringi suara nyaring, benda itu menancap diatas tiang loteng hingga tembus tiga coen dalamnya.
Pada saat yang bersamaan Bong-san Yen shu mengenjotkan badannya melayang ketengah udara, tampak bayangan abu-abu berkelebat lewat seolah-olah seperti seekor burung burung Walet menembusi awan dia terobos ke luar dari jendela, kemudian dengan jurus “Toa Bong-ceng-ci” atau Rajawali Raksasa pentang Sayap mumbul lima depa tingginya keatas atap rumah makan- Dengan gerakan tubuhnya yang cepat laksana kilat itu, semestinya dia berhasil menyandak pembokong tersebut, siapa tahu tatkala tubuhnya telah berdiri diatas atap rumah, tak terlihat sesosok bayangan manusiapun disitu, suasana tetap sunyi senyap.
Jago tua ini berseru tertahan, ia tercengang dan tidak habis mengerti akan kecepatan gerakan musuh. Akhirnya dengan hati berat ia menerobos kembali keruangan menggunakan gerakan burung walet pulang sarang.
Dalam pada itu cian Liong Poocu Lie Kie-Hwee telah mencabut keluar senjata rahasia tadi dari atas tiang, benda tadi dibungkus dengan sapu tangan, sedang matanya melototi senjata tadi- dengan wajah ter-mangu2.
si kakek huncwee dari gunung Bong-san segera ikut memandang senjata rahasia itu dengan seksama, teriihatlah bahwa senjata itu kecil mungil terbuat dari emas dan berbentuk bunga-To merah, air mukanya kontan berubah hebat serunya.
“Bukankah senjata rahasia itu adalah senjata rahasia beracun milik To-Bin-Yauw-Hoo atau si siluman Rase berwajah buah To? entah disebabkan persoalan apa sehingga hian-te mengikat tali permusuhan dengan perempuan itu ?”. Lie Kie Hwie menghela napas sedih.
“Aaaai kalau dibicarakan sangat panjang ceritanya. Toako Rupanya malam ini siauw-te tak bisa loloskan diri dari kematian lagi seandainya aku mati, aku berharap toako suka menjaga Wan-jie ku bagaikan terhadap putri kandung sendiri.
Agar sukmaku yang berada dialam baka bisa tenteram dan berlega hati”.
Mimpipun Bong-san Yen-shu tidak mengira kalau para gembong iblis yang lihay sama2 sedang bergolak. Diam2 pikirnya dalam hati: “sebenarnya apa yang hendak dilakukan iblis-iblis keparat itu ? hendak mereka ubah dunia kangouw yang telah lama berada dalam ketenangan serta ketentraman ini jadi apa? “.
Meskipun pada hari2 biasa dia hadapi setiap masalah dengan wajah riang, tak urung saat ini alisnya berkerut juga.
“Hiante” ujarnya kemudian- ” Kau tak usah murung dan bersedih hati, sekalipun To Bin Yauw-Hoo adalah manusia yang sangat lihay, tidak nanti dia berani mendatangi perkampungan Pa- In-san- cung kita untuk bikin onar” Lie Kie Hwie tersenyum sedih, per- la han2 ia bungkus senjata rahasia “Toan Hun To Hoa” atau bunga To pencabut nyawa itu dengan sebungkus kertas, setelah itu dimasukan kedalam kantung senjata rahasianya.
Dengan adanya peristiwa tersebut, kedua orang itu tiada napsu untuk melanjutkan santapannya, setelah meneguk beberapa cawan arak lagi mereka segera bereskan rekening dan berlalu dari rumah makan Coei-sian-Loo tersebut.
Dalam perjalanan kembali kedalam perkampungan, tiada hentinya sikakek huncwee dari gunung Bong-san menanyakan asal mula terikatnya dendam permusuhan dengan To Bin-Hoo, namun cian Liong Poocu cuma menghela napas panjang belaka, sepatah katapun tidak diucapkan keluar.
Begitulah akhirnya kedua orang itu kembali keperkampungan Pa-In-san-cung dengan mulut membungkam tatkala masuk kedalam ruang tamu secara mendadak mereka temukan disitu telah bertambah dengan dua orang tamu, seorang adalah nikoaw tua sedang yang lain adalah kakek berwajah gagah.
Nikouw tua itu memakai baju rahib berwarna hijau, kakinya memakai kaus putih dan sepatu terbuat dari kain, sebuah tasbeh terkalung diatas lehernya.
Dipandang dari raut wajahnya yang alim dan penuh welas kasih, siapapun akan segera mengenali si Nikouw itu sebagai soat-san sin-nie yang menduduki urutan kedua dalam oe- Lwee-Ngo-Khie atau lima manusia aneh dari kolong- langit, atau bukan lain adalah guru dari Tonghong Beng Coe, nyonya perkampungan tersebut.
sebaliknya sikakek tua yang hadir disamping rahib tadi memakai jubah yang sangat lebar, wajahnya berwarna merah padam, sikapnya ayal2an dan sebuah cupu2 kuno terbuat dari tembaga tergantung pada pinggangnya, dia adalah” Thian- Hoe-Cioe sian” atau sidewa mabok dari istana langit, orang keempat dalam oe-Lwee-Ngo-Khie.
Kedua orang tokoh sakti dari dunia persilatan ini sudah banyak tahun tidak munculkan diri didepan keramaian, sungguh tak nyana ini hari mereka telah muncul secara berbareng, tidak aneh burung kucicak berkicau tiada hentinya pagi tadi.
Kedua orang tokoh sakti tersebut duduk di atas kursi kebesaran, sementara sisastrawan berbaju biru HHoo Thian Hong serta siauw-Bin Loo-sat Poei Hong mendampingi dikedua belah sisinya.
Buru-buru Bong-san Yen-shu tarik kembali sikap ugal2annya, dengan penuh rasa hormat ber-sama2 “Cian- Liong Poocu”” Lie Kie Hwie maju kedepan menjura seraya membahasakan diri sebagai Boa npwee.
sudah tentu pembicaraan yang kemudian berlangsung hanya berkisar mengenai iblis2 berkerudung hitam belaka.
setelah menganalisa dari sebutan “Hiong Hoen”, “Lee-Pek” serta “Yoe-Leng” yang tertera diatas dada tiap gembong iblis itu, mereka semua sama2 berpendapat bahwasanya iblis-iblis itu semua tentu dikendalikan oleh suatu perkumpulan beraliran sesat.
Tapi perkumpulan sesat apakah yang mengendalikan mereka ? siapapun tidak tahu. Cuma saja mereka semua berpendapat ada ke JILID 10 HAL. 46 S/D 47 HfLANG sedangkan Kakek huncwee dari gunung Bong san tetap tinggal diruang tengah bermain catur dengan Hoo Thian Hong.
Dalam kepandaian bermain catur, kedua orang itu sebenarnya seimbang tetapi malam ini pikiran Bong-san Yenshu sedang kalut, dalam tiga babak ia menderita kekalahan terus.
Siauw-Bin Loo-sat Poei Hong yang mengikuti jalannya permainan catur itu disamping dengan cepat dapat menemukan ketidak beresan pada diri jago tua itu. Maka sambil tersenyum segera serunya: “cianpwee kalau dalam hatimu masih ada urusan lebih baik permainan catur ini disudahi saja, pergilah beristirahat “.
“cianpwee persoalan apakah yang mengganjel hatimu?” Hoo Thian Hong ikut menimbrung dari samping sambil menggulung kertas papan catur. “Dapatkah kau utarakan keluar agar boanpwee sekalian bisa ikut menyumbangkan sedikit tenaga kami “.
seraya mengelus jenggotnya yang terurai ke bawah, Bongsan Yen Shu termenung sejenak. akhirnya diapun menceritakan kejadian siang tadi dirumah makan Coei-sian- Loo, dimana Lie Kie Howie telah diserang oleh senjata Toan Hun-To-Hoa dari To-Bin Yauw-Hoo… selesai mendengar kisah itu, “siauw-Bin- Loo-sat” Poei Hong berseru tertahan.
“Aduuuh celaka engkoh Hong, cepat tengok kekamar Lie Thay hiap. mungkin pada saat ini dia sudah tidak berada didalam kamarnya”.
Hoo Thian Hong terkesiap. ia berseru tertahan kemudian berkelebat menuju kekamar tamu yang ada disebelah belakang.
Pintu kamar masih terkunci rapat, maka pemuda itu berputar kejendela belakang, disitu ia temukan “cian-Liong Poocu” Lie Kie Howie sudah tak berada ditempatnya, bahkan ia sudah pergi sambil menggembel senjata tajam.
Buru-buru ia loncat masuk kedalam ruangan kemudian bukakan pintu kamar, dimana Bong-san Yen-Shu serta Siauw- Bin Loo-sat telah menunggu.
“Hujien- Dugaanmu tepat sekali” puji Hoo Thian Hong dengan penuh rasa kagum.
“Hmm siapa yang sudi mendengarkan rayuanmu” sela Poei Hong sambil mendepak kakinya keatas tanah. “Ayoh cepat berangkat mencari jejaknya, jangan sampai terlambat daripada Lie Thayhiap keburu menjumpai bahaya maut”.
“Mari kita tentukan tiga puluh li disekeliling kota Kay-Hong sebagai daerah pencarian, aku akan lari kearah Timur sedang tiga arah lainnya kuserahkan kepada kamu berdua siapa yang lebih dahulu ketemu jejaknya segera beritahu yang lain. Akur ?”.
Begitu selesai berkata, badannya laksana kilat telah meluncur keluar dari ruangan dan berkelebat pergi.
sastrawan berbaju biru Hoo Thian Hong serta wanita iblis berwajah riang Poei Hong tak berani bertindak ayal lagi, segera mereka enjotkan badan bagaikan burung walet yang terbang keangkasa dengan gesit dan ringan memulai pencariannya.
Untuk sementara waktu kita tinggalkan dahulu Bong-san Yen-Shu bertiga dengan pencariannya. Mari kita balik menceritakan keadaan “cian-Liong Poocu” Lie Kie Howie.
sejak diserang oleh senjata rahasia Bunga To pencabut nyawa siang tadi dirumah makan “Coei-sian-Loo”, kendati hatinya keras bagaikan baja, tak urung dalam hati merasa kaget campur bergidik juga.
Menggunakan kesempatan dikala Bong-san Yen-shu pergi mengejar musuh, dengan menggunakan ilmu sinkang “Thay- Ching-sin-kang” aliran Kun-Lun Pay ia hisap senjata rahasia itu kedalam genggaman.
siapa sangka begitu senjata rahasia tadi tertera didepan matanya, bagaikan terpagut kala berbisa seketika itu juga air mukanya berubah hebat, seluruh tubuh gemetar keras.
Delapan belas tahun berselang, setiap jago Bu-lim dalam dunia persilatan tentu akan bergidik setiap kali bertemu dengan senjata rahasia “Toan-Hun To-Hoa” atau bunga To pencabut nyawa ini sebab tak pernah ada seorangjugopun berhasil lolos dari ujung senjata rahasia itu dalam keadaan selamat, senjata rahasia “Toan-Hoen-To-Hoa” sudah dipandangnya sebagai lencana atau tanda perintah pencabutan nyawa. Namun bukan karena alasan ini Lie Kie Howie merasa ngeri dan bergidik.
Yang membuat dia gelisah dan tidak tenteram adalah pemilik dari senjata rahasia itu sendiri, setelah ini hari jejaknya ditemukan, Lie Kie Howie sadar, bahwa keselamatan serta keamanannya mulai terancam setiap saat JILID 10 HAL. 52 s/D 53 HILANG gunung ia telah berjumpa dengan siluman Rase berwajah bunga To, Hoan so so.
Pada waktu itu bukan saja Lie Hong punya roman yang ganteng dan menawan hati, dia pun gagah dan kosen, tentu saja siluman Rase yang sudah tersohor akan kecabulannya itu tidak mau melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Hoan so so sadar, menggaet pemuda dari kalangan lurus adalah jauh lebih sukar dari pada merayu jago2 dari kalangan Liok-lim, maka dibuatnya satu rencana yang licik dan licin.
Mula-mula ia bersihkan dahulu wajahnya dari make-up yang tebal serta tangalkan pakaian yang mentereng, kemudian memakai baju sederhana dan menggeletak ditepi jalan pura-pura menderita luka.
sebelumnya ia telah menyelidiki dahulu jalan mana yang akan dilewati Lie Hong dalam kelananya, dan ternyata siasat menyiksa diri ini berhasil mengelabuhi Lie Hong sipemuda ingusan.
Coba bayangkan saja, seorang pemuda ingusan yang baru turun gunung dan belum punya pengalaman, mana ia tahu akan kelicikan orang lain ?.
Tidak sampai berapa lama, dengan suatu tindakan yang lembut penuh kehalusan To Bin Yauw Hoo berhasil menjerumuskan si burung angsa ini kedalam kualinya dan perlahan-lahan menikmati keperjakaan pemuda itu.
Mungkin inilah yang dinamakan takdir? perempuan itu benar2 pandai main cinta, sehingga membuat pendekar muda ini mencintai dirinya sampai mendekati setengah gila.
Seandainya dalam keadaan seperti ini, dia dapat melepaskan diri dari jalan yang sesat dan kembali kejalan yang benar, tidak berbuat jahat tidak berbuat cabul lagi, peristiwa ini tentu merupakan suatu kejadian yang indah dan berharga.
Pepatah kuno mengatakan- sungai dan gunung bisa dirubah, watak manusia susah dirubah, lama kelamaan siluman Rase berwajah bunga To inipun mulai memperlihatkan ekor rasenya.
selama ini Lie Hong betul2 berhasil dikelabuhi, tapi tidak lama kemudian rahasia penyamaran perempuan yang dicintainya ini terbongkar dan diapun berhasil mengetahui raut wajah sebenarnya siluman rase ini.
Betapa hancur lebur hatinya ketika itu, ia tidak mengira perempuan yang digaulinya selama ini sebenarnya adalah perempuan cabul. Tapi dengan wataknya yang luhur dan berbudi Lie Hong tidak tega membalas dendam, terpaksa segala penderitaannya ditekan didalam hati, bahkan seringkali, dia berusaha menasehati Hoan so so agar bertobat dan kembali ke-jalan yang benar.
siapa tahu To-Bin Ya uwlloo tidak pernah menggubris nasehatnya, ia masih tetap berbuat menurut kehendak hatinya.
Perempuan ini benar2 sangat licik dan kejam, dengan menggunakan titik kelemahan Lie Hong yang berbudi luhur seringkali dia pancing pemuda itu untuk melakukan kesalahan dan perbuatan yang terkutuk, namun untung pemuda ini cepat menyadari akan kesalahannya. Dipihak lain sejak murid kesayangannya turun gunung, hingga beberapa tahun lamanya Hoei Hay siangjien tak pernah mendapatkan kabar berita mengenai pemuda she Lie ini, jejaknya bagaikan batu yang tenggelam ditengah samudra.
Dua tahun telah lewat dengan cepat sedang Lie Hong belum juga kembali kegunung Kun-lun untuk meneruskan pendidikannya. Apa boleh buat akhirnya terpaksa Hoei Hay siangjien turun gunung untuk mencari sendiri jejak muridnya.
Dunia begitu luas, mencari seseorang ditengahi keluasan jagad yang tiada ujungnya sama halnya seperti mencari jarum didasar samudra.
Tapi Hoei Hay siangjien tidak putus asa, dengan susah payah ia mencari dan menyelidiki terus, Akhirnya jerih payah tokoh sakti ini mendapatkan hasil dari seseorang ia mendengar bahwa dalam rangkulan To-Bin-Yauw-Hoo memang terdapat seorang pemuda yang bernama Lie Hong.
Betapa gusar dan malunya Hoei Hay siangjien mendengar berita itu, ia tidak menyangka kalau murid kesayangannya tidak tahan uji dan terperosok kelembah kehinaan- Dalam keadaan gusar hweesio tua ini ada maksud memusnahkan ilmu silat Lie Hong dan menjatuhi hukuman sesuai dengan peraturan perguruan, namun disaat lain ia menyadari akan tabiat muridnya yang jujur dan berbudi luhur, ia duga muridnya tentu sudah terkena siasat licik siluman rase berwajah bunga To tersebut.
Hasil dari penyelidikannya secara diam2 membuktikan bahwa dugaannya sama sekali tidak meleset, siangjien ini berhasil mengetahui bahwa muridnya tidak pernah melakukan kejahatan, ia masih sanggup mempertahankan budinya yang luhur dan jujur.
Menghadapi kenyataan seperti ini Hoei Hay siangjien tak bisa berbuat lain kecuali menghela napas panjang, akhirnya diam2 ia bawa pulang muridnya keatas gunung Kun-lun dan mengganti namanya jadi Lie Kie Howie.
Kejadian yang menimpa diri Lie Kie Howie dirahasiakan terus oleh Hoei Hay siangjien-selama lima tahun lamanya ia larang muridnya meninggalkan gunung Kun-lun barang setindak pun.
Kemudian sebanyak beberapa kali To-Bin Yauw-Hoo mendatangi gunung Kun-lun dan melukai banyak sekali anak murid perguruan tersebut, namun setiap kali ia berhasil digebah pergi oleh Hoei Hay siangjien- Beberapa waktu kemudian tiba2 jejak To-Bin Yauw-Hoo lenyap dari peredaran dunia persilatan, saat itulah Lie Kie Howie baru diijinkan turun gunung.
Dengan penderitaannya selama lima tahun, ilmu silat yang ia miliki memperoleh kemajuan luar biasa, dalam waktu singkat nama besarnya telah menggemparkan dunia psrsilatan dan iapun berhasil merebut kedudukan sebagai salah satu diantara tiga jagoan pedang terbesar abad itu.
Dalam suatu perjumpaan yang sama sekali tak terduga, ia berkenalan dengan siburung hong hijau Thiosee, dalam percintaan yang kemudian berlangsung akhirnya menikahlah sepasang muda mudi itu. Mereka saling cinta mencintai sayang menyayangi, dan kemudian membeli tanah luas dibawah gunung fn-Boe-san dimana didirikan benteng Cian Liong-Poo. Hiduplah Lie Kie Howie sepasang suami istri dengan penuh kebahagiaan disitu.
sungguh tak nyana bencana masih juga mengintai jagoan pedang ini, dalam pertempuran yang terjadi dalam perkampungan Kiok-ft-san cung, istri kesayangannya burung hong hijau Thio see keracunan dan mati.
Belum lama istrinya dikubur kembali To-Bin Yauw-Hoo menemukan jejaknya, sebagai seorang kenamaan dalam Bulim Lie Kie Hwie tidak ingin namanya hancur dalam waktu yang singkat.
JILID 10 HAL. 60 S/D 61 HILANG Dengan bukti2 tersebut sudah cukuplah jelas menerangkan bahwa Lie Kie Hwie kalau bukan tertawa, tentulah sudah mengalami nasib yang jelek.
suitan nyaring berkumandang ditengah kesunyian, bagaikan seekor burung Hong, Poei Hong melayang keangksa menembusi hutan lebat dan cepat2 kembali keperkampungan Pa-In-san- cung, ia duga sikakek hunewee dari gunung Bongsan serta engko Heng nya tentu sudah balik.
siapa sangka belum sempat ia masuk kedalam perkampungan, mendadak terdengar suara bentrokan senjata tajam berkumandang tiada hentinya dari balik gedung, diiringi suara Rengekan serta tertawa seram yang mengerikan.
Mimpipun perempuan ini tidak menduga kalau kawanan iblis melancarkan serangan kembali kedalam perkampungannya, hawa gusar kontan meluap. dalam dua tiga kali loncatan ia melayang masuk kedalam ruangan suatu gerakan yang cepat sekali.
Dalam pada itu pertarungan telah berlangsung dengan serunya, Bong-san Yen-shu mendapat tandingan seorang gembong iblis berkerudung hitam yang berperawakan kecil pendek. mereka saling serang menyerang dengan gencarnya.
Walaupun suasana diliputi ketegangan, orang tua itu masih tiada hentinya hahahihhi tertawa menggoda, dihadapan soatsan sin-nie serta Thian-Hoe-Cioe-sian dia mempermainkan musuhnya habis2an, kalau bukan meraba pahanya, mencubit pantatnya, setiap kali ada kesempatan tangannya selalu menyambar ke-arah kain kerudung orang untuk mengintip raut wajahnya.
Tetapi manusia berkerudung itupun bukan manusia lemah yang gampang dipermainkan, setiap kali kakek huncwee dari gunung Bong-san ini hendak menyingkap kain kerudungnya dengan gerakan yang tepat dan manis selalu berhasil melepaskan diri.
-000O000- DALAM PADA itu tatkala sastrawan berbaju biru Hoo Thian Hong menjumpai istrinya pulang dengan langkah tergopohgopoh sambil tangannya mencekal sebilah pedang suatu ingatan jelek berkelebat dalam benaknya cepat2 ia menghampiri kesisinya sambil menegur: “Bagaimana berita tentang Lie cianpwee?”.
Poei Hong menghela napas sedih, secara garis besarnya dia menceritakan apa yang dilihatnya dalam hutan bunga To serta bagaimana akhirnya ia jumpai pedang itu menggeletak ditanah.
Mendengar penuturan tersebut Hoo Thian Hong menghela napas sedih, ia tidak menyangka kalau persoalan tersebut bisa berubah jadi kacau dan tidak karuan macam begitu.
Dan kini musuh tangguh berada didepan mata, tidak sempat lagi baginya untuk berpikir panjang.
-00000000- Jilid 11 SEMENTARA itu jeritan ngeri yang menyayatkan bati berkumandang dari tengah kalangan, disusul robohnya seseorang keatas tanah.
Dengan hati terperanjat, Hoo Thian Heng berdua menoleh ke tengah kalangan, namun sewaktu dijumpainya orang yang roboh adalah manusia berkerudung yang memakai kode “Yoe Leng” nomor tujuh, merekapun untuk sementara waktu bisa berlega hati.
Kiranya “Yoe-Leng” nomor tujuh yang menyaksikan pihak lawan mempermainknn diri nya terus menerus dengan andalkan kelincahan serta kegesitan gerak tubuhnya, bahkan mulutnya ber-kaok2 mengejek dan tangannya gerayang sana gerayang sini menggoda dirinya, lama kelamaan jadi mendongkol dan kheki sehingga giginya menggerutuk tiada hentinya.
Kendati dia punya perawakan yang pendek kecil, ilmu silatnya telah mencapai taraf yang sangat tinggi terutama sekali permainan ilmu pedangnya. sesudah dipermainkan berulang kali, sebagai seorang tokoh kalangan hitam yang berangasan dan tak bisa menahan diri lama kelamaan tentu saja tidak tahan Cahaya buas seketika memancar keluar dari balik matanya, pedang digetar keluar dan dengan memakai jurus ular bisa memagut bagaikan seekor ular gesit senjatanya berputar tiga lingkaran ditengah udara kemudian menyusup masuk lewat depan dada langsung mengancam jalan darah Koan-Goan, Tan-Thia nserta Kie-To pada tubuh kakek huncwee tersebut.
“serahkanjiwamu ” bentaknya keras.
Rupanya si- kakek huncwee dari gunung Bong-san tidak mengira kalau pihak lawan bisa mengeluarkan jurus serangan seaneh ini, menyaksikan datangnya ancaman yang sangat mengerikan ini hatinya terperanjat juga.
Kalau mengikuti tabiatnya dia akan menyahut dengan ucapan “Belum tentu”, namun situasi tidak mengijinkan ia berteriak demikian sebab jiwanya benar benar terancam dan tidak mungkin lagi baginya untuk meloloskan diri dengan jalan melompat kesamping.
Untung kakek tua ini memiliki pengalaman yang sangat luas, walaupun berhadapan dengan maut tidak sampai gugup dibuatnya. Cepat2 ia tarik napas dalam2 dan menarik lambungnya kedalam.
Dengan jalan begini walaupun secara nyaris tusukan lawan berhasil dihindari tak urung jubah bagian dadanya kena disambar juga.
“Breet…” muncul sebuah robekan sepanjang dua coen diatas baju bagian dadanya, membuat raut wajahnya yang persegi empat langsung berubah jadi merah padam.
Hawa gusarnya segera berkobar, dalam marahnya huncwee besi yang ada ditangan segera menyapu kemuka.
Wesss… laksana kilat pergelangannya menyapu keluar dengan jurus “Boe-Yauw-Yen-Bong” atau Kabut mengitar asap membumbung, inilah jurus serangan mematikan yang paling diandalkan oleh Bong-san Yen-Shu.
Traang… ditengah bentrokan nyaring, pedang manusia berkerudung itu kena dihajar sampai terpental beberapa depa jauhnya.
Dengan terpentalnya pedang lawan maka terbukalah pintu kelemahan ditubuh manusia berkerudung itu.
Bong-san Yen-Shu tak mau sia2kan kesempatan tadi dengan percuma, sambil tertawa ter bahak2 huneweenya disapu keluar dengan memakai jurus “To coan-seng-ft” atau Bintang berputar langit berpindah. Diiringi desiran angin tajam langsung menghantam jalan darah Hian-Kie-Hiat ditubuh “Yoe-Leng” nomor tujuh.
Melihat datangnya serangan mematikan yang begitu dahsyat, manusia berkerudung itu terkesiap. saking kagetnya sukmanya terasa melayang tinggalkan raga. la sadar bahwa sulit bagi dirinya untuk lolos dari serangan tersebut, maka bahunya lantas direndahkan kebawah diikuti pinggangnya menekuk kebelakang, ia bermaksud meloloskan diri dari ancaman musuh terhadap jalan darah mematikannya.
siapa sangka dengan perbuatannya ini justru dia sudah salah perhitungan, sebab perawakannya memang kecil lagi pendek dengan merendahnya sang tubuh dengan sendirinya jalan darah Hian-Kie-Hiat berhasil dihindari, namun justru karena itu batok kepalanya malahan disajikan kedepan mata lawan.
Kreetaak… huncwee baja dari Bong-san Yen-Shu dengan telak menghajar jalan darah Thian-Teng-Hiat lawan, jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma berkumandang memenuhi angkasa, sukmanya seketika melayang tinggalkan raganya untuk laporan didepan raja Akhirat.
Kalau ditulis kejadian itu rasanya memang berlangsung amat lambat, padahal dalam kenyataan cepatnya luar biasa.
Pada saat itulah dari pihak lawan segera melayang keluar tujuh sosok bayangan manusia, dari kode yang terlihat diatas dada mereka jelas tertera tulisan “Lee-Pek” nomor satu sampai tujuh.
siauw-Bin-Loo-sat Poei Hong tertawa dingin, dengan cepat matanya menyapu kearah posisi lawan, disitu ia saksikan kecuali hadir tiga orang “Hiong-Hoen”, tujuh orang “Lee-pok” serta dua puluh dua orang “Yoe-leng” masih hadir pula dua manusia aneh tanpa kode.
Yang satu punya perawakan badan yang bulat dan gemuk seperti B ligo, jenggot hitam terurai sepanjang dada.
sedangkan yang lainnya adalah makhluk berambut putih, berwajah seperti bunga mawar, berpunggung bungkuk serta membawa sebuah tongkat- Kioe-Tauw-Koay-Tung. atau tongkat panjang berkepala burung, waktu itu dengan mata yang tajam sedang mengawasi dirinya tak berkedip.
Belum sempat Poei Hong putar otak memikirkan siapakah kedua orang makhluk aneh itu, “Lee-pok” nomor satu telah tertawa dingin sambil menjengek: “Telah lama kudengar orang berkata bahwa dalam perkampungan Pek-In-san-cung bersembunyi naga sakti serta harimau ganas, setelah ini hari berjumpa sendiri aku baru tahu kalau kabar berita yang tersiar ditempat luaran ternyata bukan kabar angin belaka. Hmm sungguh tak nyana manusia2 yang bergabung dalam oe-Lwee-Nao-Khie lima manusia aneh dari kolong langit pun hadir disini. Heeh…heeh”. setelah tertawa dingin terusnya lebih jauh: “Dalam perkumpulan kami terdapat semacam barisan yang disebut “Ham-Hoen-Chiet Lee-Tin” atau barisan tujuh iblis penghancur sukma, aku ingin mengundang Thian-Hoe-Cioesian yang tersohor akan kelihayannya didalam dunia persilatan untuk men-coba2 barisan ini, entah beranikah saudara menjajalnya?” Mendengar tantangan itu sastrawan berbaju biru HHoo Thian Hong mengayunkan seruling kumalanya ketengah udara, belum sempat ia loncat masuk kedalam barisan “Thian Hoe Cioe-sian” Lauw Bong Ling sudah ayun cupu2 tembaganya sambil tertawa ter-bahak2.
“Haah..haah….haah…saudara cilik, bukankah orang lain menantang loo-kokomu untuk bergebrak ?? lebih baik tunggu saja sampai ronde berikutnya untuk main2 sepak bola “.
Baru saja ia menyelesaikan kata2nya, makhluk aneh berbentUk bola yang gemuk lagi pendek dalam barisan lawan telah mendengus dingin.
Kendati cupu2 araknya masih dicekal dalam genggaman, Thian-Hoe-Cioe-sian melangkah masuk kedalam kalangan pertempuran dengan langkah gontai dan sempoyongan, dia sama sekali tidak menggubris atas dengusan dingin orang.
sementara itu “Lee-pok” nomor satu telah mempersiapkan diri, tampak cahaya ke-biru2an berkelebat kemuka, Poan- Koan-Pitnya yang telah direndam dalam cairan racun sudah membabat kemuka dengan dahsyat, disusul senjata lain seperti senjata pit, dua bilah pedang, sepasang roda emas Siang Jiet-Gwat-Kiem-Loen, Bok-Hie baja serta pemukulnya serentak memenuhi angkasa.
Desiran angin tajam berdesiran disekeliling badan, dibawah serbuan kalap para iblis kalangan hitam dengan senjata masing2 yang aneh, kendati Si Dewa Mabok masih tetap mempertahankan sikap maboknya, namun dalam hati ia sama sekali tidak berani bertindak gegabah.
Ilmu langkah “Ciong-Meh-poh” benar2 merupakan suatu ilmu langkah yang luar biasa, ditambah lagi sidewa mabok ini menyerang dengan andalkan ilmu telapak Bodhie-ciang, kekuatannya semakin menjadi. setiap serangan yang ia lancarkan pasti berhasil memaksa ketujuh iblis itu mundur kebelakang dengan hati jeri.
Menyaksikan kejadian ini soat-san-sin-Nie yang nonton dari sisi kalangan diam2 mengangguk. dia menganggap kepandaian sakti semacam ini sudah banyak tahun lenyap dari kalangan dunia persilatan namun ternyata hawa murni dari sahabat karibnya si dewa Mabok telah peroleh kemajuan yang sangat pesat, tidak malu ia jadi ahli waris dari Thian Yang Coei shu atau sikakek pemabok dari ujung langit, seorang tokoh maha sakti jaman berselang.
Teringat akan ahli waris, diam2 soat-san sin-Nie menghela napas sedih.
Alasannya Tonghong Beng Coe simurid kesayangannya kendati memiliki tulang serta bakat yang sangat bagus untuk belajar silat dan ada kemungkinan bisa menciptakan dia sebagai sekuntum bunga aneh dalam dunia kangouw, tapi sayang sekarang dia telah jadi ahli melahirkan anak, sepanjang tahun perutnya bunting terus menerus, boleh dibilang ilmu silat telah tak berguna sama sekali baginya…
sementara ia berpikir sampai disitu, situasi dalam barisan Tujuh iblis Penghancur sukma telah mengalami perubahan besar, suasana mulai diliputi ketegangan, tidak kedengaran lagi suara gelak tertawa dari Thian-Hoe Cioe-sian berkumandang keluar.
Haruslah diketahui barisan “Ham-Hoen-Chiet Ciat-ok-Tin” ini merupakan pecahan dari ilmu barisan chiet-seng-Tin-Hoat atau barisan tujuh bintang yang tercantum dalam kitab pusaka “Yoe-Leng Pit-Kip” bagian tengah, oleh Yoe-Leng sin-koen ilmu barisan tersebut diajarkan kepada tujuh orang “Lee-pok” tersebut dengan tujuan untuk digunakan menghadapi jago2 lihay dunia persilatan sebangsa oe-Lwee-Ngo-Khie dan lain2nya.
Barisan tersebut betul2 hebat dan lihay, sekalipun usia Thian-Hoe cioe-Sian sudah mencapai delapan puluh tahun lebih, dan ilmu sakti Sian-Thian- Koen-Goan-Ie- Kie- Kang yang di latihnya telah mencapai taraf puncak kesempurnaan, namun bila ingin lolos dan barisan dalam waktu singkat bukanlah suatu pekerjaan gampang. Diam2 siauw-Bin- Loo-sat Poei Hong menguatirkan keselamatan sikakek tua itu.
Dalampada itu si dewa Mabok yang berada didalam barisanpun diam2 sudah merasa tercekat hatinya setelah menyaksikan gempuran2 hawa sakti sian-Thian-Koen-Goan-Ie-Kie-Kang serta ilmu telapak Bodhie-ciang nya sama sekali tidak berhasil membobol pertahanan lawan, kendati angin pukulan menggulung, menyapu, menerjang kekiri dan kekanan dengan dahsyatnya.
Namun bagaimanapun juga dia adalah seorang tokoh silat maha sakti abad itu, sekalipun dia terkurung rapat dalam barisan orang pikirannya sama sekali tidak jadi kalut, dengan hati yang mantap otaknya berputar terus mencari akal untuk merobohkan lawan- Dalam barisan “Ham-Hoen-Chiet-ok-Tin- ini, “Lee-pok” nomor satulah yang pegang peranan penting sebadai sumbu berputarnya barisan itu, dan dia pula yang menjadi otak serta pegang komando bagi rekan2 lainnya.
Apabila seseorang terserang maka dalam waktu singkat keenam bilah senjata tajam lainnya segera akan membentuk selapis tembok cahaya yang kuat untuk membendung serangan lawan- sedangkan orang yang terserang dengan menggunakan kesempatan tadi menghindar tepat dibelakang sang penyerang, dalam posisi seperti ini kendati jurus serangannya sangat lihay pun percuma belaka.
oleh sebab itulah tidak aneh kalau serangan telapak Bodhie-ciang dari s i Dewa Mabok yang begitu lihay dan punya pengaruh besar sama sekali tidak berhasil meng-apa2kan pihak lawansebaliknya pihak musuh bisa menyerang diri dewa mabok ini setiap saat dengan menggunakan jurus serangan yang terlihay dan tersakti dengan kekuatan terbesar, membuat jago tua kita mau tak mau selalu harus waspada dan hati2.
Kalau cuma barisan itu saja tentu masih mendingan, yang lebih menjengkelkan lagi, entah usul dari siapa ternyata diujung jubah hitam setiap Lee-Pok itu telah ditaburi oleh obat pemabok dalam kadar yang tinggi, dibawah getaran pakaian yang kencang bubuk obat pemabok itu beterbangan memenuhi angkasa membuat suasana berubah jadi kekuning2an dan tubuh Cioe sian terkurung rapat.
Dengan begitu situasi berubah semakin kritis, Hoo Thian Hong yang semula masih tenang sekarang ikut merasa tegang.
Tujuh orang “Lee-pok” dengan tujuh macam senjata tajam yang berbeda secara bergilir menyerang lawannya, setiap kali dibalas dengan serangan, mereka segera berkelit kebelakang lawan, dengan begitu situasipun lantas berubah, posisi s idewa mabok semakin terjepit dan dengusan serta tertawa dingin mulai berkumandang tiada hentinya.
Menyaksikan situasi itu tiga orang “Hiong Hoen- yang berdiri disisi kalangan jadi kegirangan setengah mati, mereka anggap dalam pertempuran malam ini nama besar perkumpulan Yoe-Leng Kauw pasti akan cemerlang kembali dalam dunia persilatan.
Dengan cahaya mata bengis ketiga orang Hiong-Hoen itu palingkan wajahnya dan menyapu per-lahan2 wajah soat-san sin-nie, siauw Bin Loo-sat. Lan-It-Suseng serta Bong-san Yen- Shu.
Pikirnya didalam hati: “Malam ini kalau kalian ingin loloskan diri dari sini dalam keadaan selamat…Hmm kecuali rembulan muncul dari Barat dan sang surya lenyap di Timur “.
Cara berpikir orang ini terlalu pagi dikemukakan, bukankah begitu?? sebab secara tiba2 situasi dalam barisan “Ham-Hoen- Chiet-Ciat ok-Tin- atau tujuh iblis penghancur sukma telah mengalami perubahan besar, kejadian anehpun berlangsung berulang kali.
Dari balik kabut kuning yang tebal secara mendadak memancar sekilas cahaya putih yang menyilaukan mata, diiringi suara desiran tajam cahaya tadi langsung menyambar batok kepala tujuh orang iblis tersebut.
Ang-Hoat-Tauwto dari Ceng-Hay yang menempatkan diri sebagai “Lee-Pek” nomor tujuh tatkala menyaksikan enam orang iblis lainnya segera mengundurkan diri ter-gopoh2, dengan andalkan kepandaian silatnya yang dimiliki segera menghadang kedepan- Ia menganggap semburan arak dari setan pemabok ini tidak nanti bisa melukai orang, paling banter badannya cuma basah kuyup belaka oleh semprotan tadi.
Sungguh cepat datangnya sambaran kilat putih itu, baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, semburan arak lawan telah tiba diatas batok kepalanya.
Diiringi suara gemersikan yang amat nyaring, asap hijau tiba2 mengepul diatas batok kepala Ang-Hoat Tauw-to diikuti berkobarnya api membakar rambut iblis itu.
“Lee-Pok” nomof tujuh mendengus berat, sambil menjerit kesakitan dan me-raung2 sekarat badannya bergulingan diatas tanah.
Kiranya Thian-Hoe Cioe-sian telah menemukan betapa keji dan jahatnya barisan “Ham-Hoen-Chiet-Lee-Tin- ini, ia sadar bukan pekerjaan yang gampang untuk menghancurkan barisan tersebut, apalagi setelah melihat pihak musuh main curang dengan menyebarkan bubuk obat pemabok ketengah udara, dia segera mendengus dingin- Untuk sementara waktu tekanan pukulannya dikurangi, hawa murni dipusatkan seluruhnya dalam perut dan arak yang berada dalam lambung dibakar sehingga mencapai suhu panas yang tertinggi. setelah itu ia sembur keluar arak panas tadi dengan ilmu sakti sian-Thian- Koen- Goan- It- Kie- Kangnya .
semburan arak mendidih ini boleh dikata menyerupai hantaman martil seberat ribuan kati, kendati Ang-Hoat Tauwto dari wilayah Ceng-Hay ini berhasil melatih ilmu kebal, tak urung kepalanya dibikin pusing juga sehingga matanya berkunang2.
Dasar dia memang lagi apes, dengusan berat baru bergema diangkasa kain hitam kerudung mukanya mendadak terbakar, api berkobar dengan hebatnya membakar apa saja yang ada disitu.
Tidak ampun lagi kulit kepalanya hangus terbakar, rambutnya yang merah dan tebal itupun terbakar ludas tak berbekas, dalam sekejap mata dia jadi gundul kelimis dengan luka2 terbakar mencuak di-mana2.
Bayangkan saja betapa sakit dan menderitanya “Lee-Pok” nomor tujuh waktu itu, ia men-jerit2 dan me-raung2 kesakitan “omitohud ” Soat-san Sin-Nie segera merangkap tangannya memuji keagungan sang Buddha setelah menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu Sementara Thian-Hoe Cioe-Sian dengan langkah sempoyongan dan tanpa menjumpai hadangan telah keluar dari barisan tersebut.
seketika barisan Ham-Hoen-chiet-Lee-Tinjadi kacau balau tidak karuan, para iblis sama2 mengerti bahwa musuh tangguh itu tak dapat dikurung lagi, maka dengan wajah penuh rasa kaget dan terkesiap sama2 menolong Lee-Pok nomor tujuh dan memadamkan api yang membakar badannya, kemudian kembali ketempat semula.
“oouw… sungguh lihay barisan Ham-Hoen-chiet-Lee ok Tin tersebut” Gerutu Thian-Hoe Cioe-Sian LauwBong Ling sambil menenteng Cupu2 tembaganya. “Hampir saja aku tak dapat berjumpa muka lagi dengan sahabat lama” “Ilmu kepandaian menyembur arak bagaikan kilat dari sahabat benar2 telah mencapai puncak kesempurnaan bahkan tepat dan jitu cara penggunaannya” Puji soat-san Sin-nie dengan wajah penuh welas kasih. “seandainya harus berganti pin- nie yang menghadapi mereka, belum tentu aku bisa keluar dari barisan itu dalam keadaan selamat “.
Baru saja ucapan itu selesai diutarakan, mendadak terdengar suara gelak tertawa menggema dari tengah kalangan disusul munculnya seorang nenek tua berambut putih.
“Apa gunanya kalian berdua saling memuji dan saling merendah ? dianggapnya perbuatan kamu berdua patut dipuji?? Hmm padahal menurut pengamatanku beberapa macam kepandaian silat yang dimiliki oe-Lwee-Nao-Khie belum tentu bisa digunakan untuk menjagoi dunia persilatan ” Ia merandek sejenak. kemudian sambil goyangkan kepala sambungnya lebih jauh: “Sekalipun aku sinenek tua tidak memiliki kepandaian silat yang mengejutkan hati, namun dalam ilmu tongkat sedikit banyak masih punya-sedikit simpanan, hey Nikouw siluman, apakah kau sudi melayani aku sebanyak beberapa gebrakan untuk melepaskan otot2 badanku yang telah kaku ???”.
“omintohud telah lama pin-nie dengar nama besar dari Pek- Hoat-Ang-Gan-Tuo-Pwee Lolo yang berasal dari Hoe-song, kendati sudah lama aku punya minat untuk menyambangi dirimu sayang tiada ketika yang bagus untuk saling berjumpa.
Dan sekarang secara tiba2 Loo-loo muncul ditengah daratan Tionggoan, entah apa maksud kedatanganmu ?? hanya pesiar belaka ataukah ada…”.
Belum habis nikouw itu menyelesaikan kata2 nya si Popo bungkuk berambut putih berwajah cantik yang paling benci kalau mendengar ada orang menyebut dirinya dengan sebutan Bungkuk telah berubah air mukanya, dengan wajah penuh kegusaran dia menukas: “siluman nikouw, buat apa banyak cincong yang tak berguna ?? kau pingin ikut campur dalam urusan aku sinenek tua ?? Hmm ayoh cepat masuk kedalam gelanggang dan mari kita tentukan siapa yang menang dan siapa kalah diantara kita “.
Bukan saja sikapnya kasar bahkan nada ucapannya amat menusuk pendengaran siapapun juga.
Jumawa sekali sikap nenek tua dari wilayah Hoe-Song atau Jepang ini, Siauw-Bin Loo-sat Poei Hong jadi tidak tahan, telah siap turun tangan untuk menjajal kepandaian sang nenek.
Mendadak…terdengar suara gelak tertawa yang amat nyaring bergema dari ujung pohon bambu disisi kalangandisusul seseorang berseru.
“ciss kau tak usah banyak lagak disini, justru karena kau adalah manusia yang kurang beradab maka sengaja sin-nie berlaku sungkan dan ramah terhadap dirimu, aku lihat lebih baik kau jangan tak tahu diri dan berlagak sok terus menerus”.
Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tampak sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas ranting pohon Liuw, kemudian selangkah demi selangkah berjalan masuk menuju ketengah lapangan- Kakek huncwee dari gunung bong-san sekalian segera menoleh kearah orang itu, tampak-orang yang berbicara tadi berdandan sebagai seorang sastrawan, jubahnya berwarna putih dan ditangannya memegang sebuah Teh-koan bikinan Kang-say.
Suatu ingatan tiba2 berkelebat dalam benak Hoo Thian Hong sastrawan berbaju biru itus ia segera teringat siapakah orang yang baru datang sehingga tanpa sadar ia berseru tertahan- “Aaah mungkinkah dia adalah Fa-Gak-Teh- Khek ??? ” .
Sedikitpun tidak salah, orang yang baru saja munculkan diri ini bukan lain adalah “Pa-Gak-Teh-Khek” atau sijago minum teh dari gunung Pa-Gak, Louw Poet Thong, seketika itu juga ilmu langkah “Leng Hie Foh” atau langkah melayang yang diperlihatkan mengejutkan hati para gembong iblis yang hadir disitu.
Harus diketahui, ilmu meringankan tubuh tingkat yang tertinggi adalah “Leng-Khong-Hie-Pouw” atau jalan menyebrang ditengah udara, meskipun tidak gampang untuk mencapai hingga taraf sebegitu tinggi, namun beberapa orang jago baik dari kalangan Hek-to maupun kalangan Pek-to yang hadir dalam kalangan dewasa ini telah berhasil mencapai hingga taraf tersebut, maka tidak begitu mengherankan.
Hanya ilmu gin-kang “Leng-Hie-Poh” saja yang mungkin didalam dunia persilatan dewasa itu cuma si jago minum teh ini saja yang berhasil mempelajarinya.
Apa sebabnya ??? sebab kalau ilmu gin-kang “Leng-Khong- Hie-Touw” yang paling diutamakan adalah penggabungan tenaga murni pada suatu tempat yang kemudian diolah menjadi suatu tenaga dorongan yang maha besar, asalkan seseorang berhasil melatih tenaga lwekangnya hingga mencapai tingkat yang sempurna kemudian berhasil mengumpulkan tenaga murni tadi pada suatu tempat sehingga dapat diolah jadi suatu tenaga meluncur yang dahsyat, tidak susah orang itu menguasai ilmu meringankan tubuh tadi.
Sebaliknya kalau ilmu gin-kang “Leng Hie-Poh” lain daripada yang lain, seandainya diantara selangkangan orang itu tidak dapat mengatur tenaga dorongan yang tepat sehingga seseorang dapat naik turun sekehendak hatinya, kendati tenaga dalamnya berhasil mencapai pada taraf yang bagaimana juga percuma.
Lalu apa sebabnya diantara lima manusia aneh dari kolong langit, hanya Pa-Gak-Teh-Khek sijago minum teh dari gunung Pa-Gak seorang saja yang berhasil melatih ilmu tersebut ?? sebenarnya jawabannya aneh dan janggal, karena kepandaian tadi justru berhasil dia kuasai berhubung tenaga minum tehnya yang kuat.
Haruslah diketahui air teh yang dia minum bukanlah air teh biasa, daun teh yang dia gunakan adalah daun teh yang khusus hanya dihasilkan diatas gunung Pa-Gak-san belaka kemudian diseduh dengan air sungai Yang-cu-Kang dengan cara penyeduhan yang sangat rahasia.
Bila seseorang minum air teh semacam ini terus menerus selama enam puluh tahun maka lama kelamaan dari antara selangkangan bisa muncul deruan angin yang lama kelamaan bisa diatur sebagai tenaga dorongan dalam ilmu meringankan tubuhnya.
Kalau dikatakan sukar sebenarnya cara itu tidak begitu memusingkan kepala, tapi kalau dilaksanakan barulah akan dirasakan banyak kesukaran2nya.
oleh sebab itulah ilmu gin-kang “Leng-Hie-Poh” dari Louw Poet Thong hanya dia seorang saja yang bisa mempelajari.
Dalam pada itu dengan langkah yang enteng selangkah demi selangkah Pa-Gak-Teh-Khek Louw Poet Thong berjalan masuk ketengah gelanggang, dia angkat Teh-Koan bikinan Kang-saynya lebih dulu untuk meneguk setegukan air teh, kemudian mengangguk kepada soat-san-sin-Nie serta Thian- Hoe-Cioe-sian sekalian dan akhirnya seraya menjura kearah Popo bungkuk berambut putih berwajah cantik tadi serunya: “Hey POPO bungkuk antara kami lima manusia aneh dari kolong langit dengan dirimu sama sekali tak parnah terikat dendam permusuhan ataupun sakit hati apapun, kenapa kau sekarang muncul sebagai kaki tangan kawanan iblis ??? apabila kedatanganmu kedaratan kami adalah untuk menikmati keindahanalam serta mengadakan kontak serta hubungan dengan rakyat kami, sebagai tuan rumah kami lima manusia aneh dengan senang hati akan menyambut kedatanganmu sebagai tamu agung, tapi kalau kau ada maksud merusak masyarakat bangsa Han kami, membantu sampah masyarakat bikin onar diwilayah kami… Hmm terpaksa kami akan gebuk anjing mengusir setiap pengacau dari s ini…”.
sungguh tajam nada ucapan tersebut membuat popo bungkuk yang telah saksikan sendiri betapa hebatnya ilmu gin-kang “Leng-Hie-Poh” tersebut harus berpikir tiga kali sebelum bertindak.
“Hiong-Hoen” nomor satu Pek-si-Tok-shu atau kakek seratus bangkai takut kalau salah seorang pembantunya yang diundang dengan susah payah ini terpengaruh oleh kata2 lihay pihak lawan sehingga urungkan niatnya untuk membantu, maka buru2 ia tertawa dingin seraya berseru: “Popo bukankah jauh2 kau datang dari wilayah Hoe-song (Jepang) kedaratan Tionggoah adalah ingin menjajal kepandaian silat dunia persilatan sini ??? inilah kesempatan yang paling baik bagimu untuk turun tangan lagi pula kau harus tahu ilmu langkah Leng-Hie-Peh yang didemonstrasikan siluman teh barusan bukanlah kepandaian silat yang sebenarnya, apa yang kau lihat cuma suatu ilmu sihir yang melamurkan mata belaka… Aku berani menjamin, asal Popo mau turun tangan maka tidak sampai belasan gebrakan pihak lawan sudah akan mencicipi gebukan tongkat saktimu.” Meskipun ucapan ini terlalu tidak masuk di-akal dan kedengarannya lucu, namun Popo bungkuk ini mempercayainya seratus persen, segera pikirnya dalam hati: “Aaah. ucapannya sedikitpun tidak salah, mustahil beberapa lembar tulang pay-kutnya yang kurus itu sanggup menahan beberapa gebukan tongkatku yang keras dan hebat”.
Berpikir sampai disitu dia lantas tertawa nyaring, sambil anggukkan kepala sang badan dengan maju kedepan.
Kemudian toyanya berputar mengemplang kepala musuh dengan jurus “sou-Hoa-Kay-Teng” atau Bunga salju menutupi kepala, meskipun suatu jurus serangan yang sederhana namun dalam permainannya benar2 hebat, desiran angin tajam men-deru2 bukan saja hebat bagaikan gempuran gunung bahkan beberapa puluh tombak sekeliling tubuhnya telah terkurung dalam bayangan tongkat saktinya.
siapa sangka bukan saja pihak lawan tak terkurung bahkan sambil tertawa ter-bahak2 tiba2 badannya mumbul ketengah udara kemudian melepaskan satu tendangan kilat membuat rambut putih nenek bongkok itu terurai dan badannya maju beberapa langkah kemuka dengan sempoyongan, hampir saja ia jatuh mencium tanah. Hatinya kontan jadi terkesiap.
Kiranya Pa-Gak-Teh-Khek telah mengetahui betapa dahsyatnya tongkat nenek bongkok yarg besar dan beratnya mencapai ratusan kati itu, ia pikir tongkatnya saja begitu besar tentu tenaganya luar biasa pula. Maka ia tidak sudi adu keras lawan keras dengan lawan, menggunakan kelebihannya ia berusaha menpecundangi kelemahan lawan.
Begitu badannya sudah berada ditengah udara, dengan mengepas jatuhnya kemplangan tongkat musuh ia kirim satu, tendangan kilat.
Tendangan ini merupakan tendangan tanpa bayangan yang merupakan ilmu sakti dalam dunia persilatan, meskipun ringan tendangan tersebut namun kekuatan yang digunakan tepat pada saatnya ini bukansaja membuatpergelangan nenek bungkuk itu jadi kaku dan linu bahkan hampir2 saja badannya jatuh terjengkang ketanah.
selama hidup belumpernah nenek tua ini menderita kerugian sebesar ini, merah padamlah selembar pipinya yang mulai kisut, dari balik biji matanya yang bening terpancar keluar sorot mata penuh kegusaran. Dia mendengus dingin, dengan jurus “Yang-Koan-Thian-sioe” atau Angkat kepala memandang langit tongkatnya laksana titiran angin puyuh menyapu ke luar, angin pukulan laksana gempuran taupan seketika menyapu ketubuh lawan.
Pa-Gak-Teh-Khek tidak layani gempuran musuh, badannya terus menerus berkelebat kesana kemari menghindarkan diri dari serangan. sebentar tubuhnya bagaikan cecak merayap.
sebentar lagi bagaikan ikan belut menyusup membuat nenek bungkuk berambut putih ini jadi kheki dan mendongkol sekali.
Justru yang paling keterlaluan, tabiat ke-kanak2an sijago minum teh dari gunung Pa-Gak ini belum hilang, kalau bukan dia tendang punggung sang nenek yang bungkuk tentu menyiram rambutnya yang telah beruban dengan air teh, gelak tertawa suara olok2an terus menerus berkumandang memenuhi angkasa.
Tingkah pola si jago minum teh dari gunung Pa-Gak yarrg kocak ini tentu saja membuat siauw-Bin Loo-satjadi terpingkal2, Bong-san Yen-shu serta Thian Hoe Cioe-sian tertawa ter-bahak2. Hoo Thian Heng memegang perutnya karena sakit dan soat-san sin Nie tersenyum simpul.
Gabungan tertawa itu segera berubah jadi ber-puluh2 batang anakpanah tajam yang seakan2 menembusi ulu hati dua orang mahtuk aneh serta puluhan orang manusia berkerudung itu, keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuh mereka.
Gelak tertawa tadi segera menyadarkan kembali nenek tua itu dari kegusarannya, per-lahan2 ia jadi tenang kembali, dengan wataknya yang dingin dan tinggi hati mana ia pernah dihina orang secara begitu? suara tertawa sedih yang tinggi melengking bagaikan jeritan kuntilanak bergema menembusi kesunyian malam, di antara kelebatan rambut putihnya tahu2 ia sudah berlalu dari situ dan lenyap dibalik kegelapan.
seperginya nenek bongkok tadi sijago minum teh dari gunung pa Gak segera tertawa ter-bahak2, ia melayang turun lagi keatas permukaan tanah.
Mendadak tampak sesosok gulungan bulat seperti bola bergelinding tiba, sambil tertawa seram makhluk aneh berbentuk bola tadi telah muncul ditengah kalangan, ditangannya ia mencekal sebilah pedang lemas berwarna perak yang aneh sekali bentuknya.
“Keparat cilik” ia berseru menantang. “Apabila kau punya nyali, ayoh hadapilah aku si orang tua.” Nama busuk Jiak-Kioe-Kiam-Khek atau pendekar bola daging Kioe Ek sudah lama mendengung dalam dunia persilatan jauh sebelum lima manusia aneh dari kolong langit turun gunung berkelana.
Kendati bentuk tubuh orangnya sangat aneh namun sebetulnya dia bukanlah manusia yang gampang dilawan.
Hanya saja Pa- Gak-Teh- ini adalah manusia berwatak keras didalam lunak diluar, tentu saja ia jadi naik pitam setelah mendengar tantangan tersebut. Dengan alis berkerut sahutnya: “Bilamana cianpwee memang bermaksud memberi petunjuk. Nah, silahkan turun tangan ” Tinggi badan Jiak-Kioe-Kiam-Khek ini tidak mencapai empat depa, bukan saja kepalanya besar kakinya pendek dan pinggangnya kasar seperti gentong, kepalanya gundul kelimis sampai bersinar, membuat bentuknya sangat menggelikan hati siapapun jua.
Dalam pada itu terdengar Kioe Ek tertawa seram sekali, tujuannya muncul didaratan Tiong-goan kali ini sebenarnya hendak mencari Lam Hay-siang-in sipedagang kosen dari Lam- Hay untuk membalas dendam sakit hati pada masa yang silam.
siapa sangka jejak kedua orang rasul sakti itu sudah lama lenyap dari keramaian dunia persilatan, ber-bulan2 lamanya ia mencari namun tiada kabar berita yang didapat, akhirnya dipuncak gunung Bauw-Hong-san dalam wilayah Kie-Gak ia telah berjumpa dengan tiga orang “Hiong-Hoen” tersebut.
Pada saat itu luka dalam yang diderita “Hiong-Hoen” nomor tiga yaitu Han-Peng-TOk shu telah sembuh, atas anjuran “Hiong-Hoen” nomor satu berangkatlah dia bersama rombongan menuju keperkampungan Pek-In-san-cung untuk mencari balas terhadap diri anak murid dua orang tokoh maha sakti itu Ditengah perjalanan kembali mereka berjumpa dengan Popo bungkuk berambut putih berwajah cantik yang datang dari negeri Hoe-song (Jepang) maka semakin kuatlah rombongan mereka.
Menurut kemampuan ilmu silat yang dimiliki nenek bungkuk itu, sebenarnya ia jauh lebih kosen dari pada lima manusia aneh oe-Lwee-Ngo- Khie, sayang seribu kali sayang secara kebetulan ia telah berjumpa dengan ilmu langkah Leng-Hie- Poh serta tendangan “Boe Im-Tui” dari sijago minum teh, maka konyollah dia dan harus menelan kekalahan yang tragis.
Dalam pada itu Jiak- Kioe- Kiam-Khek telah diliputi penuh kegusaran, diam2 napsu membunuh telah berkobar dalam dadanya, saat ini ia tidak berlaku sungkan lagi, tanganrya bergetar, seketika itu juga dari ujung pedangnya memancar keluar ber-puluh2 jalur cahaya putih yang tajam dimana tubuh Pa-Gak-Teh-Khek segera terkurung dalam desiran serta babatan dahsyat.
Dari permulaan tadi s ijago minum teh dari gunung Pa-Gaksan sudah melihat akan kehebatan ilmu pedang yang dimiliki musuh, kewaspadaan telah dipertingkat dan ia layani musuhnya sangat hati2.
sambil mencekal Teh-koan nya, jagoan tua ini mondar mandir berkelebat kesana kemari untuk mengajak pihak musuh main petak.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Louw Poet Thong betul2 luar biasa, bukan saja ia dapat meloloskan diri dari setiap serangan bahkan memaksa Jiak- Kioe- Kiam-Khek harus berubah air muka saking dongkol dan mangkeinya.
“Breeet…” tiba2 terdengar suara baju tersambar robek, tahu2 jubah putih yang dikenakan sijago minum teh dari gunung pa- Gak-san tersambar ujung senjata lawan hingga terkutung separuh.
Makhluk aneh berbentuk bola daging ini betul2 luar biasa, tampak bagaikan segumpal asap hijau ber-sama2 pedangnya ia bergelinding kesana kemari sanbil setiap kali berusaha mencari kelemahan orang untuk mengirim serangan mematikan.
Menjumpai betapa keji dan buasnya gembong iblis ini, diam2 dalam hati kecil Pa-Gak-Teh-Khek timbul rasa gusar juga, pikirnya didalam hati: “Kau anggap aku Lauw Poet Thong benar2 jeri terhadap dirimu??…”.
Karena marah maka mulailah sijago minum teh dari gunung Pa Gak-san ini mencari kesempatan untuk mengirim satu tendangan tanpa bayangan yang sudah tersohor akan kelihayannya.
Dukkk… suatu saat, mendadak ia kirim satu tendangan kemuka.
Tendangan ini bukan saja tanpa bersuara tanpa bayanganbahkan arah yang diancampun tepat dan diluar dugaan.
Mahluk aneh berbadan bola daging itu tidak menyangka kalau pihak lawan bisa bertindak begitu, baru saja terdengar desiran angin tajam menyambar lewat, tahu2 punggungnya yang tebal sudah termakan oleh tendangan kilat lawan.
Haruslah diketahui dalam tendangannya barusan Pa Gak Teh Khek sijago minum teh dari gunung Pa Gak san telah mengerahkan segenap tenaganya yaag disertai hawa sakti Kim- Kong sinkang ke ujung kakinya, maka bisa di bayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.
“Bruuk…..” ditengah suara bentrokan yang keras, tidak ampun lagi tubuh Jiak Kioe Khek yang bulat berisi bagaikan bola daging itu tertendang mencelat sampai mumbul dua tombak tingginya ketengah udara.
JILID 11 HAL. 36 S/D 37 HILANG diatas batok kepala lawan membuat Jiak Kioe Kiam- Khek segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan hampir saja tidak sanggup bangun.
Bagaimanapun juga dia masih cukup kosen, laksana kilat badannya bergelinding diatas tanah dan loncat balik ketempat semula.
Bunga pedang segera tersebar memenuhi angkasa, jurus serangan yang dilancarkan semakin aneh dan dahsyat.
Dalam pada itu Pa-Gak Teh- Khek sendiripun tidak memperoleh banyak keuntungan dari tendangan keras lawan keras tersebut, secara lapat2 ia rasakan ujung kakinya jadi sakit sehingga sepasang-alisnya segera berkerut kencang2.
sepasang tangannya segera bertolak pinggang dengan memakai ilmu “Boe-Im-Hoei-Kiak” atau Kaki Terbang tanpa Bayangan yang terdiri dari seratus gerakan, sepasang kakinya mengirim tendangan kilat berantai.
Jiak- Kioe Kiam-Khek mandah tubuhnya di buat bal2an oleh pihak lawan tanpa mengurangi daya pental tubrukannya, ia selalu saja bergelinding kesana kemari sambil melepaskan, babatan pedang yang dahsyat dan rapat….
Pa-Gak Teh- Khek yang harus mengirim tendangan berantai tiada hentinya setelah bergebrak beberapa puluh jurus keringat mulai mengucur keluar membasahi keningnya, kembali ia membumbung dua tombak tingginya ketengah udara.
Jiak- Kioe Kiam-Khek tidak mau kasih kesempatan bagi lawannya untuk mengatur pernapasan, sambil menempel permukaan tanah dia meluncur kemuka dan berkelejit keangkasa membawa desiran angin tajam yang maha dahsyat…
sementara itu siauw-Bin Loo-sat Poei Hong yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalanganjadi kuatir bagi keselamatan orang tua itu, kepada Hoo Thian Heng segera bisiknya: “Engkoh Heng, makhluk aneh ini sukar sekali dilawan, bilamana kita mengulur waktu lebih lama lagi jangan2 Pa-Gak Teh-Khek cianpwee akan kehabisan tenaga dan terluka ditangan siluman tersebut.
Aku lihat ilmu pukulan yang bagaimana lihaypun sukar untuk menjebolkan kekebalan badannya yang tahan ditendang maupun digebuk kecuali ilmu jari Kan-Koen-Ciemu “.
Hoo Thian Heng mengangguk, ia segera ambil keluar seruling kumala serta kipas emasnya, kemudian kepada jago minum teh dari gunung Pa-Gak yang masih berada ditengah udara serunya: “cianpwee seandainya kau sudah tiada kegembiraan untuk bermain bola lagi, mari turunlah kebawah untuk minum beberapa cawan air teh, serahkan saja siluman bola daging itu kepadaku agar boanpweepun bisaikut bermain sepak bola “.
Menggunakan kesempatan dikala makhluk bola daging itu sedang bergelinding datang …. sreeet seruling kumalanya dibabat keluar dengan jurus “Kang-shia-Lok-Bwee” atau bunga Bwee berguguran dikota sungai.
Pedang lemas lawan segera tertotok telak. diikuti pergelangan kanannya menekan kebawah, serentetan cahaya emas bagaikan gulungan ombak ditengah hembusan taupan menghantar kedepan membuat tubuh bola daging itu tergulung dan mencelat sejauh beberapa tombak.
Hoo Thian Heng tidak berhenti sampai disitu saja, kembali tubuhnya berkelebat ke muka menyongsong datangnya serangan pedang lawan yang aneh, maka berlangsunglah suatu pertempuran sengit antara dua orang jago lihay ini.
Kioe Ek tidak menyangka kalau pemuda sastrawan yang berada dihadapannya telah dididik oleh sipedagang kosen dari Lam-hay sehingga begitu lihay dan kosen, diam2 alisnya berkerut, pikirnya: “Muridnya saja sudah begini lihay, bisa dibayangkan betapa sulitnya memusuhi sang guru. Aaai… rupanya selama hidup aku tak akan berhasil lagi untuk membalas sakit hatikupada masa silam “.
Runtuhlah semangat makhluk aneh ini karena kecewa danputus asa.
Kendati begitu, pedang lemas berwarna peraknya tidak berhenti menyerang bahkan jurus2 serangan yang dilontarkan semakin dahsyat, pikirnya didalam hati: “Apabila pada malam-ini aku tak bisa meringkus seorang bocah macam ini, sehingga kejadian ini sampai tersiar didalam dunia persilatan, apakah aku masih punya muka untuk berjumpa dengan orang ???”.
Berpikir sampai disitu, gerakan pedang ditangannya berputar semakin gencar.
Tampaklah seluruh angkasa penuh dengan kibaran bunga2 pedang serta cahaya emas yang berkilauan, pertarungan kian lama kian bertambah sengit.
Diam2 siauw-Bin-Loo-sat melirik sekejap kesekeliling kalangan, ia lihat Pa-Gak-Teh-Khek sedang ber-cakap2 dengan soat-san sin-Nie serta Thian-Hoe Cioe-sian sedang para iblis lainnya pusatkan seluruh perhatian ketengah kalangan, diam2 hatinya jadi gelisah sehingga men-depak2kan kakinya ketanah.
“Sungguh tolol manusia ini” pikirnya didalam hati “Kenapa ilmu jari sakti Kan-Goan-cienya belum juga dipergunakan”.
Rupanya sikakek huncwee dari gunung Bong san dapat ikut merasakan kegelisahan orang, dengan suara lirih segera hiburnya: “Janganiah ribut atau berisik sehingga memecahkan perhatiannya, Thian Heng Hian-tit bukanlah seorang manusia tolol, dia tentu sudah punya-rencana masuk dalam hatinya, hanya kekejutan saja yang akan dialami tanpa menjumpai bahaya”.
sementara itu sisastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng telah mengeluarkan ilmu langkah Chiet-Ciat-Thay Na-It untuk melayani musuh nya.
Ia berputar mengelilingi tubuh Jiak- Kioe Kiam Khek dari laut Timur ini sembari setiap saat menyerang dengan kipas emas serta seruling kumalanya, serangkaian ilmu seruling serta ilmu kipas ajaran si Pedagang Kosen dari Lam- Hay dimainkan sedemikian rupa sampai menunjukkan kehebatan yang tak terhingga.
Meskipun demikian ia belum berhasil juga menembusi benteng pertahanan hawa pedang lawan.
sianak muda ini tahu bahwa makhluk berbentuk bola daging ini adalah bekas panglima yang kalah ditangan suhunya, dengan kemunculannya kembali dalam dunia persilatan bisa diduga bahwa ilmu pedangnya pasti sudah peroleh kemajuan yang amat pesat.
Dengan wataknya yang sombong dan tinggi hati ia tidak mau segera keluarkan ilmu jari sakti Koan-Goan-Cienya untuk merobohkan musuh, dalam hati sianak muda itu tetap berharap agar bisa mengalahkan lawannya hanya dengan mengandalkan ilmu seruling serta ilmu kipasnya.
siapa sangka ilmu pedang aliran Laut Timur ini betul2 aneh dan sakti, kendati ia sadah kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya belum juga mendapatkan hasil yang diinginkan. Maka ia lantas berpikir: “seandainya makhluk aneh ini tidak bergebrak lebih dahulu melawan jago minum teh dari gunung Pa- Gak-san sehingga banyak sekali tenaga murninya terbuang, belum tentu aku pribadi bisa melayani serangannya sampai ratusan jurus. Aai…
buat apa aku harus menuruti adat yang sama sekali tidak menguntungkan ?”.
setelah ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, ambisi yang semula menyelimuti dadanya pun berangsur menghilang, ia bisa bertempur lebih mantap dan seksama sehingga dalam sekejap mata dua ratus jurus telah lewat.
makin bertarung Kioe Ek sijago pedang bola daging dari laut Timur ini semakin terperanjat, ia tercengang bilamana kenyataan membuktikan bahwa tenaga lweekang dari bocah muda ini jauh lebih dahsyat daripada Pa- Gak-Teh Khek.
Air muka tiga orang manusia “Hiong-Hoen” dibalik kerudung hitamnya pun berangsur berubah jadi hijau membesi, mereka menduga serbuannya malam ini bakal menderita kekalahan total lagi.
Mendadak tampak “Hiong-Hoen” nomor satu ber-bisik2 disisi telinga “Hlong Hoen” nomor dua serta “Hiong Hoen” nomor tiga, diikuti ke dua orang itu mengangguk, dari balik matanya memancar keluar cahaya buas yang menggidikkan hati.
siauw-Bin Loo-sat cukup waspada, sejak pengalaman pahitnya tempo dulu perempuan ini jauh lebih cerdik dan hati2, mengaksikan ketiga orang gembong iblis itu berbisik2 merencanakan siasat busuk. dengan cepat ia kirim kisikan kepada oe Lwee sam Khie.
Mendapat laporan, sepasang mata Pa Gak Teh Khek segera mengincer ketiga manusia laknat itu dan mengawasi setiap gerak geriknya tanpa berkedip.
sementara itu pertarungan yang berlangsung ditengah kalangan telah mencari pada taraf penentuan antara mati dan hidup. suatu ketika Jiak Kioe Kiam Khek manusia berbentuk bola daging itu kerutkan dahinya mendadak tergetar dan sentilan pedang lemas berwarna keperak2an itu sehingga berbunyi aneh, cahaya perak tersebar keempat penjuru, bagaikan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra dengan ganasnya menerjang datang dan membobol pertahanan kipas serta seruling sastrawan berbaju biru.
Hoo Thian Heng cepat mengegos kesamping diikuti seruling kumalanya meluncur keluar.
“Kena” Tiba2 ia membentak keras.
Ilmu jari Kun Goan cie dengan berubah jadi desiran angin tajam laksana kilat menyerang tubuh Jiak Kioe Kiam Khek.
Dikala desiran angin tajam itu menderu ke muka, babatan pedang lemas lawan telah tiba didepan mata, buru2 pemuda she Hoo mengegos namun sayang kendati gerakannya cepat tak urung lengan kirinya kena tersambar juga sehingga terluka dan darah segur muncrat membasahi tubuh nya.
Cepat2 ia tutup jalan darah diseluruh tubuhnya, lalu melayang mundur kebelakang.
Pada saat yang bersamaan tadi Jiak Kioe Kiam Khek sedang menyerang dengan jurus mematikan “Hay Kouw seksan” atau samudra mengering batu menembusi pertahanan lawannya, tiba-tiba mereka melihat datangnya sesosok bayangan putih dengan cepat dia melepaskan satu babatan kemuka.
seruling kumaia tersebut dengan sebat kena dipukul pental namun dengan adanya hadangan tadi maka babatan pedangnya yang mengancam bagian penting musuhpun meleset.
Ia tidak mau membuang kesempatan dengan percuma untuk melukai musuh, sang pergelangan segera menekan kebawah dan pedangnya langsung didorong kemuka.
Baru saja ujung pedangnya menempel di atas lengan kiri musuh, serentetan desiran angin tajam telah menembusi dadanya.
Kendati gembong iblis ini memiliki tenaga lweekang yang amat sempurna, tak urung separuh badannya jadi kaku juga termakan serangan tadi, ia terkesiap. sambil bersuit nyaring badannya segera melayang pergi dari situ.
Dalam pada itutampak bayangan manusia berkelebat dalam kalangan, suara suitan berkumandang saling susul menyusul, dalam sekejap mata tiga puluhan orang berkerudung hitam itu telah mengundurkan diri semua dari sana.
Kiranya tiga manusia yang menyebut dirinya sebagai “Hiong Hoen” itu telah menyadari bahwa usahanya untuk membalas dendam pada malam itu kembali akan menemui kegagalan, maka direncanakaniah suatu siasat busuk.
Ia titahkan Hiong Hoen nomor satu dengan melindungi anak buahnya mengundurkan diri lebih dahulu dari sana, kemudian oleh “Hiong Hoen” nomor dua serta “Hiong Hoen” nomor tiga secara serentak loncat ketengah udara dan menyebarkan obat bubuk beracun “sam-Poh Toan-Hoen” atau tiga langkah Pencabut nyawa keseluruh angkasa.
seandainya rencana busuk ini bisa berjalan dengan lancar, maka sekalipun para jago memiliki ilmu silat yang bagaimana tinggipun tak akan lolos dari bahaya maut.
Untung siauw-Bin Loo-sat Posi Hong berhasil memecahkan siasat busuk lawan, baru saja “Hiong Hoen” nomor dua dan “Hiong Hoen” nomor tiga mumbul ketengah udara, laksana kilat Pa-Gak-Teh-Khek telah mencelat ke angkasa dan mengirim dua buah tendangan kilat.
Dukk Dukk dengan telak kedua orang gembong iblis itu kena tertendang hingga mencelat dua tombak jauhnya dari tempat semula.
“Hiong Hoen” nomor dua dan “Hiong Hoen” nomor tiga menjerit kesakitan, darah panas bergolak dalam rongga dadanya, hampir saja mereka muntah darah segar, dengan hati terkesiap kedua orang iblis ini buru2 melarikan diri suara siutan bergema kian lama kian menjauh dan akhirnya lenyap dari pandangan, dalam waktu yangamat singkat kawanan iblis itu sudah mengundurkan diri semua.
Rembulan memancarkan cahayanya ditengah awan, para jago yang hadir dalam perkampungan Peks In-san-cung dengan hati lega sama2 masuk kedalam ruangan.
“siauw-Bin Loo-sa tPoei Hong segera menitahkan pelayannya siauw-Coei untuk mengambil dua stel jubah luar, satu diberikan kepada sijago minum teh dari gunung Pa-Gak san dan yang lain untuk Hoo Thian Heng.
seraya membalutkan luka dilengan sianak muda itu, Poei Hong mengomel terus tiada hentinya dengan wajah kheki: “Hm penyakit jumawamu kembali kau perlihatkan, bukankah pepatah kuno sering mengatakan: Tahu keadaan sendiri tahu keadaan lawan, maka seratus kali bertempur seratus kali akan menang, kenapa kau layani terus gembong iblis itu bertarung ?? tanpa mengeluarkan ilmu simpanan ?? seandainya kau kurang cermat hingga babatan pedang itu berganti tempat, coba katakan, bagaimanakah pertanggunganjawabmu terhadap aku, adik Coe serta anak2mu.” Hoo Thian Heng menginsyafi betapa cinta dan sayangnya sang istri terhadap dirinya, timbul rasa menyesal dalam hati kecilnya, buru2 ia berbisik lirih: “Ucapan hujlen sedikitpun tidak salah, lain kali siauw-seng tidak berani berbuat gegabah lagi ” Habis berkata ia perlihatkan muka setan sehingga membuat isterinya siauw-Bin Loo-sat tertawa cekikikan.
Keesokan harinya soat-san sin-nie, Thian Hoe Cioe-sian serta Pa-Gak Teh-Khek sama2 berangkat menuju kearah selatan sedang si kakek huncwee dari gunung Bong-san dengan membawa dua pucuk surat rahasia dari Hoo Thian Heng serta Poei Hong berangkat ke lembah Leng-fn-Kok yang terletak digunung Tay Liang-san untuk melaporkan situasi dalam Bu lim dewasa ini kepada Boe-Lim jie-seng.
setelan para jago berangkat semua, Hoo-Thian Heng yang masih menguatirkan terus mati hidupnya “cian Liong Poocu” Lie Kie Hwie, segera berangkat sendiri menuju kehutan bunga To untuk melakukan pemeriksaan yang seksama, dari hasil penyelidikan yang diperoleh ia menganggap bahwa kemungkinan Lie Kie Hwie ditawan musuh jauh lebih besar dari pada dibunuh.
Maka setelah berunding dengan kedua orang isterinya, ia mengambil keputusan untuk terjunkan diri kedalam dunia persilatan sambil secara diam2 mencari tahu jejak To-Bin Yauw-Hoo atau siluman Rase berwajah bunga To Hoan so-so dan berusaha menolong Lie Kie Hwie sang Poocu dari benteng cian Liong Po lolos dari mara bahaya.
Untuk berjaga2 dan menghindarkan diri dari segala hal yang tidak diinginkan terutama sekali atas kembalinya para iblis untuk bikin keonaran, Tonghong Beng Coe dengan membawa putranya pindah ke gedung sebelah Timur dimana Poei Hong mendapat tugas mtuk menjaga serta melindungi keselamatannya.
Beberapa hari kemudian para jago menemukan bahwasanya perkampungan Pek-In-san cung yang pernah dibuat kumpulpara orang gagah berada dalam keadaan sunyi senyap. pintu besar tertutup rapat dan tiada sesosok bayangan manusiapun terlihat berlalu lalang di sana kecuali tiga lima orang pelayan yang mendapat tugas untuk menjaga keamanan perka mpungan tersebut.
Apa sebenarnya yang terjadi ?? tiada seorang manusiapun yang tahu, mereka hanya men-duga2 saja apa yang telah menimpa di perkampungan itu.
-000O000- BULAN empat telah tiba, ditengah musim panas yang hangat tumbuhan tampak rimbun dan menghijau dimana2.
pohon Liu bergoyang tertiup angin, bunga beraneka warna menyiarkan bau harum yang semerbak.
Saat itu lohor telah menjelang, diatas jalan raya yang menghubungkan propinsi ouw-lam dengan Kioe-cioe tampak muncul dua orang penunggang kuda, diatas kuda duduklah sepasang muda-mudi yang ganteng dan cantik jelita, usia mereka sangat muda dan kuda tunggangan merekapun merupakan sepasang kuda jempolan yang jarang ditemui dikoiong langit.
Gadis cantik, pemuda gagah ditambah pula dengan sepasang kuda jempolan, sepanjang JILID 11 HAL. 54 S/D 55 HfLANG ouw- Lam merupakan bukit yang membujur sampai beratus- 2 kilometer panjangnya, bukit yang membentang disebelah Barat merupakan yang tertinggi dan berhubungan dengan dataran tinggi In Lam serta Koei-cioe. sedangkan sebelah utara berhubungan dengan dataran rendah yang mana terdapat telaga Tong-Teng ouw, pemandangan alamnya indah sedang tanahnya subur. Arah yang dituju kedua orang muda mudi ini bukan lain adalah telaga Tong Teng ouw.
Dari suhunya bukan saja mereka memperoleh sepasang kuda Giok Say -Goe yang dapat melakukan perjalanan seribu li dalam sehari, merekapun dapatkan dua macam benda mustika yang jauh lebih berharga, yakni selembar ikat pinggang kumala serta sebilah pedang pendek.
Pedang itu panjangnya ada satu depa lebih empat coen, warnanya merah darah dan cahaya pedang akan mencapai dua depa jauhnya apabila diputar diangkasa, karena merupakan senjata penakluk iblis dari sakyamuni pada masa yang silam maka pedang itu dinamakan pedang Muni Kiam.
Sebaliknya ikat pinggang kumala tersebut walaupun cuma sepertiga dari ikat pinggang milik Siauw Bin Loo sat namun memancarkan cahaya yang cemerlang bahkan secara lapat2 menyiarkan bau harum yang semerbak.
Menurut kabar yang tersiar katanya ikat pinggang itu bisa digunakan uutuk memunahkan pelbagai macam racun, sebab ikat pinggang tadi telah direndam dengan kayu harum liur naga serta Lan si berusia ribuan tahun selama enam puluh tahun lebih oleh pouwsat tua tadi tidak aneh kalau benda ini merupakan benda mustika.
Menurut keadaan yang umum. pedang mustika harus dihadiahkan untuk pendekar dan ikat pinggang untuk gadis cantik, tetapi berhubung nona Wan Hiang begitu menyukai pedang Muni Kiam sedang Gong Yu tidak ingin menampik permintaannya maka akhirnya pedang itu didapatkan wan Hiang sedang Gong Yu membawa ikat pinggang.
Begitulah perjalanan dilakukan dengan penuh riang gembira, tiada kegentaran atau rasa takut menyelimuti wajah mereka.
Hari ini mereka telah memasuki kota Siang Hiang, kendati sang surya belum condong ke barat, namun berhubung Gong Yu takut adik Wan Hiang-nya lelah maka ia usulkan untuk beristirahat disebuah rumah penginapan.
Tatkala sang pelayan menjumpai kehadiran dua orang tamu agung itu, buru2 ia maju menarik tali les sambil bongkokkan badan berseru: “silahkan khek-koan beristirahat dalam penginapan kami”.
Menyaksikan lagak tengik jongos itu kontan Lie Wan Hiang kerutkan alisnya, Teeer… pergelangannya bergetar dan cambuk tadi langsung membabat tubuh pelayan tersebut.
Pelayan itu jadi terperanjat, buru2 ia lepaskan tali les kuda itu sambil merangkak bangUn dari atas tanah, pikirnya dalam hati sambil menatap wajah nona itu dengan sinar mata mendelong: “Kenapa orang2 yang menginap dalam rumah penginapan ini pada hari belakang selalu saja manusia buas ?? sehingga gadis cantik macam diapun begitu galak”.
Belum habis ia berpikir, sang pemuda yang mendampingi gadis itu telah melayang turun dari kudanya.
“Kenapa berdiri mendelong terus disitu??? ayoh cepat bawa kuda ini kekandang dan kasih makan sampai kenyang,” serentetan suara yang merdu bagaikan kicauan burung nuri berkumandang memecahkan kesunyian, begitu empuk dan enak suaranya sampai membuat badan jadi syurr-syuuran.
Dengan rasa takut pelayan itu buru2 maju dengar, badan sempoyongan, melihat pelayan itu takut kembali nona manis itu tertawa cekikikan.
Sang pelayan tidak berani tinggal lebih lama lagi disitu, buru2 ia tuntun kedua ekor kuda tadi dan segera berlalu.
“Aaaa adik Wan terlalu dimanjakan suhunya sehingga tabiatnya jadi jelek” pikir Gong Yu dalam hatinya. “Dengan watak seperti ini mana ia dapat melakukan perjalanan dalam dunia persilatan?” Maka ia lantas berseru: “Adik Wan-..” Lie Wan Hiang berpaling sambil melotot, Gong Yu jadi keder dan segera telan kembali perkataan yang hendak meluncur keluar itu.
Akhirnya dengan mulut membungkam kedua orang itu berjalan menuju keruang dalam, di mana sipengusaha penginapan sedang asyik membaca buku cerita “see-Yoe””, saking tegangnya dia membaca sampai suara ribut2 diluar tak terdengar olehnya.
Melihat sikap pengurus rumah perginapan itu, Lie Wan Hiang semakin dongkol, tidak tanggung2 lagi cambuknva segera diayun kemuka.
Teeer Teeer… dua cambukan dahsyat merobek buku tamu yang ada diatas meja hingga berhamburan keangkasa.
Pengurus itu jadi kaget, buru2 ia bangun bercjiri seraya menjura: “ooouw… kiranya Lie-hiap telah berkunjung kerumah penginapan kami, tempat kami merupakan rumah penginapan kelas satu, kamarnya paling bersih dan harganya murah “.
senang hati Wan Hiang melihat sikap ramah pengurus rumah penginapan ini, timbul rasa simpatik dalam hatinya maka ia lantas tersenyum dan mengangguk, cambukpun tidak diayun kembali.
Dengan dipimpin pengurus rumah penginapan itu masuklah mereka menuju kekamar sebelah utara, ruangan itu bersih cuma kurang menyenangkan maka Gong Yu kembali berpikir: “Wan-moay pasti tak akan senang dengan kamar ini “.
siapa tahu dugaannya ternyata meleset, bukankah menampik nona itu malah berseru memuji, dengan sendirinya Gong Yu tidak berani komentar lagi.
Demikianiah setelah cuci muka dengan air panas masing2 lantas naik kepembaringan untuk beristirahat.
Dikala Gong Yu hampir terlelap dalam tidurnya, mendadak Wan Hiang loncat bangun sambil menghantam dada pemuda itu berulang kali, serunya manja: “Engkoh jahat, apa kau sudah lupa dengan pesan suhu??? bukankah beliau suruh kau baik2 merawat diriku??? kenapa kau bikin aku saban hari harus marah, dongkol dan menahan lapar” “Aduuh… hampir saja aku lupa…” seru Gong Yu tertahan, belum selesai ia berseru, suara gerutu gadis itu sudah datang ber-tubi2.
Gong Yu tak bisa berbuat lain kecuali tertawa kemudian merangkul pinggangnya, ditarik dan dipeluk erat2, sepasang bibirnya langsung ditempelkan keatas bibir gadis itu.
“Ehmm…” Lie Wan Hiang menggeliat kegirangan- mulutpun lantas membungkam dalam seribu bahasa.
Ketika kedua orang itu keluar dari kamarnya, malam telah tiba, sang pelayan jauh2 segera menyingkir ketika melihat gadis itu menampakkan diri Lie Wan Hiang berdua langsung menuju ke hadapan pengurus penginapan, terdengar nona itu berseru: “Hey…rumah makan mana yang terbaik dalam kota siang- Hiang ini ?..”.
“ooh…soal ini ??…” sambil garuk2 kepala untuk beberapa saat la manya pengurus rumah penginapan itu tak sanggup menjawab.
Gong Yu tahu kesulitan orang, maka dari samping dia cepat2 kasih kisikan: “Nah, katakanlah rumah makan dari propinsi manakah yang paling bagus ??…”.
Wan Hiang gemas karena pemuda itu banyak usil mulut, ia kerling sekejap kearahnya dengan mata melotot.
Gong Yu tersenyum, ia tidak berbicara lagi.
Dalam pada itu sang pengurus berpikir se-bentar lalu menjawab: “Banyak orang menyukai masakan dari propinsi su-Chwan, bagaimana menurut pendapat nona ?”.
Lie Wan Hiang memang belum pernah mencicipi masakan su-Chwan maka mendengar perkataan tersebut ia segera bersorak kegirangan, sedikit ujung kakinya menutul permukaan tanah bagaikan seekor burung walet ia sudah loncat keluar dari ruangan tersebut.
Melihat kelihayan orang, sang pelayan menjulurkan lidahnya seraya berseru didalam hati: “Aduuh mak, untung aku tidak sampai bikin onar dihadapannya….”.
Dengan membawa Lie Wan Hiang, berangkatlah Gong Yu menuju kerumah makan “siokJie”, dimana ia pesan lima macam sayur dan satu macam kuah.
sayur2 itu semuanya pakai merica, sudah tentu Lie Wan Hiang dibikin kepedasan sampai air matapun ikut meleleh keluar.
“Ehm…sayur su-chwan benar2 paling sedap dikolong langit” Terdengar ia me muji tiada hentinya.
“Dimana letak kesedapannya ?” “sebab mengandung lima macam sari yang lezat.” Gong Yu mengangguk perlahan, kemudian berpaling kelain arah, mendadak ia saksikan sepasang mata sedang mengintip mereka berdua, rupanya orang itu sedang memperhatikan gerak gerik mereka dan raut wajah orang tadi terasa sangat dikenal olehnya, cuma untuk beberapa saat ia tak dapat memperoleh jawaban siapakah dla, tanpa terasa pemuda kita mendengus dingin.
Lie Wan Hiang yang mendengar dengusan tersebut segera menyalahkan artinya, dia mengira Gong Yu sedang mangkel terhadap dirinya, air mukanya kontan berubah, sambil bangkit berdiri segera lari turun kebawah loteng.
-00000000- Jilid 12 GONG YU salah mengartikan sikap s igadis itu. dikiranya Lie Wan Hiang telah menemukan suatu kejadian yang mencurigakan hati, buru2 ia bereskan rekening dan menyusul keluar, namun tatkala ia tiba diluar bayangan nona itu sudah lenyap tak berbekas.
Hatinya jadi gelisah, dengan kecepatan paling tinggi ia kembali kerumah penginapan namun disitu tak dijumpai seorang manusiapun hal ini membuat Gong Yu semakin gelisah.
Sekarang dia baru mengerti apa sebabnya gadis itu berlalu, tentu Wan Hiang mendongkol terhadap dirinya.
Ia lantas mendepakkan kakinya keatas tanah dan bergumam tiada hentinya.
“Wan-moay, kau telah salah paham tadi Sewaktu ada dirumah makan aku bukan lagi mendengus karena marah terhadap dirimu, aku mendengus karena menemukan ada orang seda mengawasi gerak gerik kita berdua …” Baru saja ia menyelesaikan kata katanya, mendadak terdengar gelak tertawa berkumandang dari atas tiang penglari, begitu mendadak munculnya suara itu membuat Gong Yu jadi amat terperanjat.
Namun dengan cepat ia dapat kenali suara siapakah gelak tertawa barusan, segera ia bersorak kegirangan.
“Adik Wan ” serunya. “Bagaikan selembar daun kering Lie Wan Hiang melayang turun keatas tanah tanpa mengeluarkan sedikit suarapun.
Dengan cepat Gang Yu menyongsong kedatangan dara itu dan iapun segera menccritakan apa yang dilihatnya sewaktu ada dirumah makan “SiokJie ” tadi.
Mendengar, penuturan tersebut sepasang alis Lie Wan Hiang kontan melentik, dengan mata melotot dan bibir mencibir ia cabut keluar pedang pendeknya dari sarung, cahaya merah yang tajam segera berkilauan menerangi seluruh ruangan.
“Hmmm barang siapa yang berani menoari gara2 dengan kita berdua, silahkan dia rasakan bagaimana tajamnya pedang Muni Kiam ini…” “Budak ingusan, jangan omong besar”.
serentetan suara yang amat dingin berkumandang masuk dari luar jendela kamar.
Mendengar suara itu, sepasang muda mudi ini membentak berbareng kemudian dengan kerahkan ilmu meringankan tubuh “Cia Hong Leng Im” atau menunggang angin membonceng awan laksana kilat mereka melayang keluar dari ruangan kamar.
siapa sangka pihak lawanpun bukan manusia sembarangan, dalam sekejap mata itu pula jejak2nya telah lenyap tak berbekas, ia tidak pergi jauh sebaliknya Cuma bersembunyi ditempai kegelapan saja.
Melihat jejak musuhnya lenyap. Lie Wan Hiang semakin naik pitam, dalam hati ia bersumpah akan membacok tubuh orang itu sebanyak tiga kali bila keCandak nanti.
Bibirnya dicibirkan tinggi2, sekali enjot badan ia loncat keatas atap dan dari situ dia periksa keadaan disekelilingaya tampak sesosok bayangan manusia bagaikan gulungan asap sedang berlari menuju kearah pagoda Jie It Teng dibawah sorotan sinar rembulan.
Jarak orang itu-sudah mencapai ratusan tombak dari mereka berdua, namun Lie Wan Hiang tidak mau menyudahi begitu saja ia bersuit nyaring, disusul berkelebatnya sesosok bayangan hijau menuju kearah depan.
sebenarnya Gong Yu ingin menghalangi niat dara tersebut namun tidak sempat lagi karena gadis itu sudah keburu pergi.
Ia sadar betapa licik dan berbahanya dunia persilatan, diatas manusia masih ada manusia takut sampai terjadi apa2 atas diri dara itu. maka buru2 ia mengejar.
Dalam pada itu orang yang berlari didepan tidak langsung bersembunyi dibalik hutan yang membentang dihadapan mereka, sebalinya malah sengaja ambil jalan besar untuk berlari tiada hentinya, kendati Wan Hiang tiada berpengalaman segera sadarlah dia bahwa dibalik perbuatan orang itu pasti terselip siasat licik.
Dasarnya ia memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna, begitu ingatan tadi berkelebat dalam benaknya sang badan lantas bergerak makin cepat hingga jaraknya tinggal lima puluh tombak.
Mendadak orang yang berada didepan itu menoleh, tatkala dijumpainya sang nona mengejar laksana titiran bintang dilangit, ia jadi terperanjat, tenaganya dikempos dan gerak larinya semakin cepat.
Tampaklah jarak diatara kedua orang itu makin lama semakin dekat,alis orang itu berkerut semakin kencang.
Mendadak ia loncat ke samping, seraya putar badan sepasang telapaknya didorong kemuka berbareng memakai jurus “sian- Coan-Kan-Koen” atau Memutar balik dunia.
Angin pukulan men-deru2 bagaikan gulungan ombak ditengah samudra, tidak ampun lagi segera melanda bayangan tubuh sang gadis yang sedang mengejar dari belakang.
Lie Wan Hiang membentak ngaring, sepasang kakinya menjejak tanah dan segera loncat lima depa ketengah angkasa, setelah membiarkan angin pukulan menyambar lewat dari bawah kakinya pedang Muni-Kiam yang memancarkan cahaya tajam segera membelah angkasa mengancam tubuh lawan.
Merasakan datangnya ancaman, orang itu tertegun diikuti ia berseru kaget. cepat2 badannya dibuang kebelakang kemudian dengan gerakan “Yan chin Cap-Pwee-Hoan” atau Yan-Chin bersalto delapan belas kalii….Pluuung.”. badannya tercebur kedalam sungai. Memandang air sungai yang mengalir deras Lie Wan Hiang meludah ketanah dan berderu: “Hemm sekarang buktinya, siapa yang tekebur dan omong besar?…” Belum habis ia berseru, Gong Yu telah menyusul datang seraya mempcringatkan. “Adik Wan-kita terkena s iasat memancing harimau turun gunung..,.” Pada saat itulah dari tempat kejauhan terdengar suara ringkikkan kuda berkumandang datang.
Lie Wan Hiang jadi kheki bercampur mendongkol, dengan gemas ia melotot sekejap ke arah Gong Yu kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan lari balik melalui jalan semula.
Jarak antara telaga Jiet-It-Teng sampai kota siang- Hiang paling sediklt ada tiga puluh liejauhnya, sekalipun mereka berdua memiliki sayappun tak mungkin bisa sampai ditempat tujuan dalam sekejap mata.
Mendengar kedua ekor kuda jempolannya meringkik tiada hentinya, Lie Wan Hiang merasa sangat gelisah, lebih-lebih Gong Yu- yang bertanggung jawab atas keselamatan adiknya serta kedua ekor kuda tadi, ilmu meringankan tubuh menunggang angin membonceng mega dikerahkan sampai pada puncaknya hingga hanya nampak dua titik cahaya kilat meluncur ditengah jalan.
Belum sempat mereka masuk kedalam kota, terdengar suara ringkikan kuda mereka telah berkumandang-lagi dari tempat kejauhan, kali ini suara itu berasal dari arah Baratdaya.
Mendengar itu sepasang muda-mudi inipun berputar arah, dengan memecahkan diri jadi dua bagian mereka mengapung dari dua arah yang berlawanan.
Kiranya orang yang mencuri kuda jempolan milik Gong Yu berdua bukan lain adalah Kiong-Lay sam Kiat atau tiga manusia gagah dari partai Kiong Lang yang sudah tersohor dalam dunia persilatan.
orang munculkan diri untuk memancing pergi Gong Yu berdua bukan lain adalah Kun-Keon-Ciang si telapak jagad Poei seng, sedang kan orang yang turun tangan mencuri kedua ekor kuda jempolan itu sudah tentu bukan lain adalah Boe-Tek-sin-Koen atau si kepalan sakti tanpa tandingan Tie Kong cuan serta In-Tiong-Gan atau “si walet ditengah mega Khong It Hoei.
seperti diketahui Kiong-Lay samKiat bukanlah manusia bangsa kurcaci yang suka mencuri barang milik orang lain, tapi apa sebabnya untuk kali ini mereka telah melakukan perbuatan yang sangat memalukan itu?? Dibalik peristiwa itu sebenarnya terselip suatu kejadian yang maha besar.
In-Tiong-Gau atau siburung walet ditengah mega Khong It Hoei adalah keponakan dan it Bok cinjien itu ciangbunjien dari partai Kiong- Lay-Pay bukan saja punya tabiat yang jelek dan licik, diapun gemar sekali akan pipi licin alias perempuan.
Nasehat dari suhengnya sin- Keen Bu-Tek-Tie Keng cuan serta Kan Keen-Ciang Poei-seng sama sekali tidak digubris, sebaliknya mereka yang jadi suhengnya tidak berani bertindak terlalu berlebihan mengingat betapa sayangnya suhu mereka pada masa yang lampau. sekalipun begitu, belum pernah sute mereka ini melakukan pcrbuatan jahat yang menyolok mata.
suatu ketika kedua orang suhengnya menemukan bahwasanya Khong It Hoei telah mempolesi ujung senjata Poan-Kean-Pitnya dengan racun, mereka anggap perbuatan itu bukanlah tindakan seorang pendekar sejati.
sudah tentu Khong it Hoei lantas mengajukan alasan2nya yang dirasakan masuk diakal untuk menangkis semua tuduhan suhengnya. sin-Keen-Bu-Tek maupun Kan Keen ciang tidak pandai berbicara, kendati dalam hati merasa ada sesuatu yang tidak beres dibalik kejadian itu namun merekapun tak dapat mengutarakan-dimanakah letak ketidak benaran perbuatan sutenya ini maka terpaksa mereka biarkan kejadian itu lewat dengan begitu saja.
Beberapa tahun kemudian, karena suatu urusan Khong it Hoei siburung walet ditengah mega ini harus berangkat ka- Propinsi s iam-say utara, pada suatu kesempatan ia berkenalan dengan Mo Yoe Yauw isteri Im-Yang-sioe su dan jatuh cinta, secara diam2 maka dilangsungkannya suatu hubungan cinta gelap tanpa sepengetahuan siapapun juga.
Akhirnya atas bujukan Mo Yoe Yauw yang setiap hari merayu dan melelehkan hati pemuda itu, masuklah Khong It Hoei jadi anggota perkumpulan Im-Yang-Kauw.
Im-Yang siusu In Tlong Kian sendiri adalah seorang manusia yang berambisi besar, sekalipun isterinya main serong dengan manusia dari partai Kiong-Lay Pay ini, namun ia tetap berlagak pilon, namun secara diam2 ia berusaha untuk menarik Kiong-lay sam-kiat masukjadi anggota perkumpulannya.
Dan terakhir dalam suatu pertempuran sengit diatas tebing Pek Yan Gay, sang ketua dari perkumpulan Im- yang Kauw ini kena dihantam siauw Bin Loo-sat hingga terjungkel ke dalam jurang yang sangat dalam.
Janda Im- yang Kauwcu, Mo You Yauw lah yang pegang tumpuk pimpinan atas seluruh anggota perkumpulan lm Yang Kauw, menggunakan kesempatan yang sangat baik ini Khong It Hoei segera berangkat kegunung im-san, dimana secara bebas dan tanpa takut apapun melanjutkan hubungan cinta dengan Mo Yen- Yauw.
Kejadian ini berlangsung dua tahun lamanya tanpa mengalami sesuatu apapun mendadak suatu malam in Tiong Kian munculkan diri dalam kamar mereka, kemunculannya yang secara mendadak ini bukan saja mengejutkan sepasang kekasih yang sedang menikmati sorganya dunia bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah kemunculannya yang lain daripada yang lain, bukan saja hanya dia memakai sebuah mantel hitam yaug memancarkan cahaya gemerlapan, dari sepasang matanya pun menyorot keluar sinar hijau yang menggidikkan hati.
Dalam kesempatan itu in Tiong Kian sama sekali tidak membinasakan Khong It Hoei yang “Melalap” istrinya itu, sebagai gantinya dia ajukan syarat yaitu memerintahkan dia untuk berusaha menarik kedua orang suhengnya, sikepalan sakti tanpa bayangan Tio Keng Cuan serta sitelapak jagat Poei Seng masukjadi anggota perkumpulan.
Dalam keadaan demikian tentu saja Khong it Hoei menyanggupi syarat tadi, malam itu juga dia pulang kegunung Kiong Lay, dimana dengan gertak sambal ia paksa Tie Keng cuan serta Poei Seng untuk menyanggupi masuk jadi anggota perkumpulan im Yang Kauw.
Dengan kembalinya in Tiong Kian maka semua kekuasaan atas perkumpulan im yang Kauw punjatuh kembali ketangannya, dari markas besarnya digunung Imsan dipindah semua, kekuatannya kedalam gua setan Yoe Leng Keei Hoe ditengah tebing Pek Yan Gay berada digunung Im Boe san dalam bilangan propinsi Keei- cioe, perkumpulan lm-yang Kauw JILID 12 HAL. 14 S/D 15 HILANG maka secara diam2 ia campurkan racun jahat yang dibawanya itu kedalam air minum mereka.
Menanti Tie Keng cuan serta Poe seng menyadari dirinya kena diracuni oleh sutenya yang keji, keadaan sudah terlambat.
Dalam keadaan begitu, sekali lagi Khong it Hoei bersandiwara dengan alasan2 yang dirasakannya masuk diakal, ia berkata: “suheng berdua harap maapkan perbuatan siauwte, aku berbuat demikian adalah disebabkan dirikupun kena diracuni mereka. Asal suheng berdua mau berangkat mendiri keperkumpulan Yoe- Leng- Kauw dan menjelaskan sendiri didepan Kauwcu, aku rasa dia tidak nanti akan paksa kalian untuk menuruti kemauannya dengan berbuat begitu bukan saja racun yang mengeram dalam tubuh kalian bisa dipunahkan akupun bisa ikut selamat pula dari bencana kematian.” setelah mendengar perkataan tersebut Tie- Keng cuan serta Poei seng dua orang tak bisa berkata lagi kecuali menghela napas dan mengikuti sutenya berangkat keselatan.
Ditengah perjalanan Tie Keng cuan telah bersinggah dirumah seorang sahabat lamanya, itu Khong it Hoei tidak senang hati namun dalam hati ia lantas berpikir: “Dengan susah payah aku baru berhasil memancing dua orang tua bangka ini turun gunung, kenapa aku tidak bersabar beberapa hari daripada “karena urusan kecil mengakibatkan kegagalan dari rencana ini?…” Maka ia pun bersabar diri dan mengikuti terus kemauan suheng2nya. Ketika mereka memasuki wilayah ouw lam, jejak Gong Yu serta Lie Wan Hingga yang menunggang kuda jempolan segera ditemukan mereka.
suatu ingatan berkelebat dalam benak Khong it Hoei, pikirnya didalam hati.
“Kenapa aku tidak berusaha merampas kedua ekor dua jempolan itu untuk dihadiahkan kepada Yoe- Leng -sin- Keen In Tiong Kian serta kekasih Pia uw- Biauw- Hujien Yn Yau???….
Ketika ia sampaikan maksud hatinya ini kepada kedua orang suhengnya, mula2 Tie Keng Guan serta-Poei Seng tidak setuju, maka Khong- it Hoei segera membentangkan rencananya.
Dia bilang seandainya kedua orang suhengnya mau membantu dia untuk merampas kedua kuda jempolan tadi sebagai kado, maka dihadapan Yoe Leng siu-Keeh nanti bisa berbicara lebih leluasa, dikatakan perbuatan macam itupun bukan pekerjaan membakar api membunuh orang, lagi pula binatang ajaib semacam itu tidak pantes ditunggangi bocah umur belasan, dari pada mereka kehilangan jiwa lebih baik kedua ekor kudanya dirampas saja. bukan saja perbuatan ini sama artinya menyelamatkan jiwa kedua orang muda mudi itu bahkan sekali panah dapat dua burung.
Mendengar penjelasan itu dan dirasakan masuk diakal, maka kedua orang itu tidak menampik setelah tiba dikota siang Hiang, dengan susah payah akhirnya ditemukan juga rumah penginapan yang dihuni Gong Yu serta Lie Wan Hiang.
siapa tahu ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan Lie Wan Hiang tanpa sengaja tadi telah mempertingkat kewaspadaan Kiong-Lay sam Kiat, sebagai jagoan lihay tentu saja mereka mengerti sampai dimanakah taraf kepandaian yang dimiliki pihak lawan Karena itu maka akhirnya dibuatlah satu siasat, yaitu Kan- Keen- Ciang Poei-seng mendapat tugas memancing perginya musuh dan Khong it Hoei serta Tie Keng cuan mendapat tugas mencuri kuda.
seperti telah diketahui dalam kejar mengejar tersebut hampir saja Poei seng sitelapak jagad modar diujung pedang Lie Wan Hiang kalau bukan dia secara kebetulan tercebur ke dalam sungai, sedang kedua ekor kuda tadi adalah kuda mustika, Khong it Hoei serta Tie Kean cuan harus mengeluarkan banyak tenaga baru berhasil melarikan kedua ekor kuda itu menuju To-Hoa Peng.
siapa tahu kuda itu meringkik terus sepanjang perjalanan, hal ini menggusarkan Khong It Hoei yang segera mencambuki kuda itu se-jadi2nya, atas kejadian itu sang kuda bukannya lari menuruti jalan yang benar sebaliknya malah lari menuju kearah jembatan baru.
Pada ketika itulah secara lapat2 terdengar suara suitan nyaring berkumandang datang dari kejauhan, begitu mendengar suitan tadi sang kuda meringkik panjang tiada hentinya.
Dengan hati kaget buru2 Khong It Hoei berpaling kearah berasalnya suara tadi, dibawah sorot sinar rembulan tampaklah sesosok bayangan manusia laksana sambaran kilat sedang meluncur datang.
Buru2 ia cambuk kuda itu sikeras-kerasnya bukan jalan lurus yang diambil sebaliknya di larikan kuda2 itu kebawah kaki gunung Hong san sin Keen Bu-Tek sikepalan sakti tanpa bayangan Tie Keng cuan merasa amat bersedih hati, ia tidak mengira kalau nama besarnya yang dipupuk dengan susah payah selama ini harus hancur berantakan ditangan sutenya.
Belum habis ia berpikir, tampak sesosok bayangan manusia laksana sambaran kilat melayang turun dihadapan kedua ekor kuda tersebut, orang itu adalah seorang pemuda berbaju hijau.
Dengan pandangan tajam itu menyapu sekejap wajah kedua orang itu kemudian berseru: “oouw….. aku kira siapa yang sedang mengajak bergurau kami berdua, tak tahunya adalah Kiong Lay sam Kiat cianpwee” Merah jengah selembar wajah Tie Keng cuan, dengan cepat ia melayang turun dari kudanya, lalu dengan pandangan gusar ia melototi Khong It Hoei sekejap tegurnya: “sute kenapa kau belum juga menyerahkan kembali kuda itu kepada diri sauwhiap?” Menyaksikan kelihayan orang, diam2 si setan gantung putih Khong it Hoei pun merasa terperanjat, ia terkenal dalam dunia persilatan sebagai jago yang lihay dalam ilmu meringankan tubuh, namun bila haus dibandingkan dengan pemuda ini jelas dia masih ketinggalan satu tingkatan- Bagaimanapun juga dia adalah manusia licik yang banyak akal, mendengar teguran suhengnya dia lantas tertawa terbahak2.
“Haaah….haa….toako, bukankah tadi kita sudah berjanji hanya hendak menjajal kepandaian silat yang dimiliki sauwhiap ini saja?” “Kapan aku pernah mengucapkan kata2 seperti itu?” Pikir Tie Keng cuan dalam hati.
sebelum benaknya sempat berputar lebih jauh, siadik seperguruan yang licik dan banyak akal itu telah berkata lebih jauh.
“Tak usah diragukan lagi ilmu kepalan yang dimiliki sauwhiap ini pasti lihaynya luar biasa Toako aku rasa kaupun tak perlu berlagak sungkan lagi” sin Roen Boe Tek menyadari bahwasanya sang sute kembali sedang mengatur permainan namun dihadapan orang luar dia merasa kurang leluasa untuk menegur, lagi pula dalam situasi yang serba kikuk ini memang hanya bertanding ilmu silat saja yang dapai menolong dia lepaskan diri dari rasa malu.
Jagoan yang berhati jujur ini terpaksa harus keraskan kepala pura2 berlagak pilon, ia tersenyum hambar.
Gong Yu bukanlah anak muda yang goblok dengan otaknya yang encer dia lantas mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi didepan matanya, dengan tanpa sadar timbul pula rasa ant ipatiknya terhadap sikepalan sakti tanpa bayangan dan membenci sisetan gantung putih Khong it Hoei.
la tersenyum manis, kemudian menyahut: “Cianpwee kau tak usah berlaku sungkan2 lagi, Cayhe Gong Yu bisa memperoleh beberapa petunjuk ilmu kepalan sakti dari cianpwe sepanjang hidup akan selalu merasa bangga, Nah siiahkan-” sembari berkata ia pusatkan seluruh tenaganya keatas pusar, kemudian berdiri tegak bagaikan batu karang ditengah, diantara berkibarnya, ujung baju pemuda ini kelihatan keren dan gagah.
Sebaliknya Tie Keng Cuan sendirian menaruh rasa simpatik terhadap pemuda itu, namun berada dalam keadaan yang serba sulit bagaikan menunggang diatas punggung harimau, terpaksa ia elus jenggotnya yang terurai sepanjang dada dan mengangguk. “Kalau begitu loolappun tidak akan berlaku sungkan2 lagi ” Kepalannya didorong kemuka, desiran angin tajam segera memancar keempat penjuru.
Karena takut pemuda she Gong ini tidak sanggup menyambut datangnya serangannya, maka dalam penyerangannya barusan dia cuma menggunakan lima bagian tenaga saja.
siapa sangka pihak lawan sama sekali tidak mengeluarkan kepalannya untuk melawas, tampak ia cuma mengebaskan telapaknya kedepan angin pukulannya sendiri yang begitu dahsyat seketika lenyap tak berbekas.
sekarang Tie Keng Cuan, baru mengerti bahwasanya pemuda tersebut memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, tanpa terasa memancing pula kegembiraannya untuk melayani musuh, ia tertawa ter-bahak2, angin pukulan semakin dahsyat mengurung tubuh musuh, bagaikan hembusan taupan menggulung dan menghantam tiada hentinya.
JILID 12 HAL. 24 S/D 25 HILANG “Sekalipun kepandaian silat yang dimiliki keparat cilik itu sangat lihay, akhirnya kecundang juga ditangan aku siorang tua haaah … baaah …. haaah ….” Belum habis ia berbangga diri, mendadak terdengar gelak tertawa yang nyaring berkumandang datang dari atas pohon besar dihadapannya.
Gemetar seluruh tubuh Khong it Hoei begitu mendengar suara gelak tertawa tadi, sukma terasa telah melayang dari raganya. Buru2 ia putar kudanya dan lari balik melalui jalan semula dengan kecepatan yang luar biasa, namun gelak tertawa tersebut berkumandang tiada hentinya dari arah belakang.
setelah melewati Yong-Hong serta Gie-Tong, akhirnya Khong it Hoei tiba kembali diluar kota siang- Hiang, sisetan gantung putih ini mulai sangsi harus masuk kedalam kota?? ataukah berputar menuju kejalan raya ouwlam dan Keei-cioe ??? Belum sempat dia ambil keputusan, mendadak gelak tertawa merdu tadi telah bergema dari belakang tubuhnya.
Lemas sekujur badan Khong it Hoei mendengar suara tertawa itu, dia tidak mengira kalau kecepatan lari orang itu bisa menyamai larinya seekor kuda jempolan Cian- Li- Kiang- Keuw dan diapun tak paham jagoan Bulim dari manakah yang memiliki kepandaian sehebat itu.
Dengan hati kebat-kebit cepat2 ia menoleh kebelakang, tampaklah kurang lebih beberapa tombak dibelakang tubuhnya berdiri seorang dara berbaju hijau, walaupun dibawah sorotan cahaya rembulau yang redup hingga susah melihat jelas raut wajahnya, namun dia yakin bawah gadis itu adalah pemilik kuda jempolan yang dicurinya ini.
Sebagai pencuri yang telah mencuri barang orang lain, setelah tertangkap basah sedikit banyak berubah juga air muka orang itu sekalipun Khong it Hoei punya muka yang tebal.
Dengan wajah dingin kaku Lie Wan Hiang mencibirkan bibirnya yang kecil, pedang Muni Kiam diputar sehingga memancarkan selapis cahaya merah lalu tegurnya: “Anjing bajingan rupanya kau sudah makan hati beruang nyali macan hingga berani mencuri kuda Cay-Ya-Giok-say-Cu milik nona mu, dimana yang seekor lagi?” JILID 12 HAL.30 S/D 31 HILANG Dalam pada itu Lie Wan Hiang telah mendengus dingin, denganalis berkerut mendadak ia maju selangkah kedepan.
pedang pendeknya diayun keluar segera terlihatlah serentetan cahaya pedang berwarna merah memancar sejauh dua depa.
Merasakan hebatnya babatan pedang musuh, nenek tua itu tak berani bertindak gegabah, buru2 ia meloncat kebelakang untuk menghindarkan diri…
“Hiiii hiiii … .,” Lie Wan Hiang segera tertawa cekikikan, “Manusia macam gentong nasi seperti kaupun ingin merampas pedang ku, apakah tidak takut ditertawakan orang hingga giginya pada terlepas semua? ayoh cepat enyah dari s ini kalau sampai urusan nonamu terganggu, awas,akan kugunakan kau perempuan bungkuk sebagai tumbal?” Hinaan ini seketika merubah air muka si nenek bungkuk jadi merah pa dam, dengan penuh kegusaran ia menghardik: “Budak sialan, rupanya kau Sudah bosan hidup didunia., “, “Weeees,…. tanpa banyak cakap lagi tongkat berkepala burungnya segera dikemplang kedepan, ang in sera ngan sebera men-deru2, bayangan hitam menyelimuti sekujur badan gadis itu dan keadaannya benar2 ganas luar biasa.
Pedang Muni Kiam memang sebilah pedang mustika yang sangat tajam, walaupun begitu Lie Wan Hiang tidak mengadu senjatanya dengan tongkat kepala burung lawan.
Kakinya segera melayang kesamping menggunakan ilmu gerakan tubuh Tay-Nah It-Chiet Cit Sinhoat ia berputar kebelakang punggung nenek itu lalu membenturnya keras2.
Dasar Lie Wan Hiang masih muda usia, sifat kekanak2annya belum hilang, menggunakan kesempatan dikala badannya menumbuk bungkuk lawan, jari tangan kirinya segera menutul keatas gundukan punggung tersebut.
Sekujur badannya Loe Peng Sim gemetar keras saking kagetnya, bagaikan seekor rase yang ketakutan mendadak ia putar badan lalu perdengarkan tertawa anehnya yang seram mengandung rasa gusar bercampur malu.
Rambut putihnya dikebas kemuka, tongkat kepala burungnya dengan memakai jurus IHeng Sauw Cian Kim atau Menyapu Rata selaksa Prajurit, dengan diiringi desiran angin tajam langsung menyapu kearah pinggang nona Lie Wan Hiang.
Seandainya gebukan ini mengenai sasaran, niscaya gadis itu akan hancur berantakan jadi beberapa bagian.
Lie Wan Miang bukanlah manusia lemah, sebelum tongkat musuh menyambar tiba dia sudah enjotkan badannya melayang ketengah udara, kemudian menggunakan kesempatan dikala nenek bungkuk itu tidak sempat memutar balik tongkatnya, dengan tangannya, ia cengkeram rambut putih orang.
sekali lagi nenek bungkuk itu menjerit kaget, terasa kepalanya amat sakit seperti di tusuk2 dengan be-ribu2 batang jarum, tahu-tahu belasan lembar rambut putihnya sampai ke-akar2nya telah dicabut Lie Wan Hiang dan berkibaran ditengah angkasa terhembus angin.
Nenek bungkuk ini memang sedang apes, sejak menginjakkan kakinya di daratan Tiong goan dia telah menderita kekalahan total ditangan sijago minum Teh dari gunung Pak-Gak san sewaktu ada diperkampungan Pek-Insan- Cung.
Harus menelan pil pahit ditangan lima manusia aneh dari kolong langit, bagi nenek tua ini tidak begitu memalukan, sebab bagaimana pun juga mereka adalah golongan tua yang sudah punya nama dan terkenal akan kelihayannya, tapi sekarang dia harus menelan pil lagi ditangan seorang budak ingusan, sedikit banyak dalam hati ia merasa tidak puas, malu bercampur gusar.
Maka ilmu silat aliran Hoe song (Jepang) yang dimiliki pun segera dikerahkan hingga mencapai pada puncaknya, Weeee…. Weeeess angin pukulan bagaikan hembusan taupan menyapu menggulung dan melanda tiada hentinya keseluruh tubuh lawan, bayangan tombak menyelimuti seluruh angkasa membuat suasana jadi seram dan menegangkan. Menyaksikan kehebatan lawan, dalam hati Lie Wan Hiang segera berpikir: “Kau sinenek tua sialan benar2 tidak tahu diri, seandainya tadi aku bermaksud memenggal batok kepalamu, sudah kulakukannya sejak tadi tak mengalami kesulitan apapun Hmm benar2 tak tahu gelagat…” Berpikir demikian timbul rasa gusar dalam hati kecilnya, ilmu pedang Muni-Kiam-Hoat-nyapun lantas dimainkan dengan hebat.
setelah ilmu pedang Muni-Kiam-Hoat dikerahkan tampaklah cahaya merah menyelimuti seluruh jagad, cahaya pedang memancar hingga mencapai lingkungan seluas dua depa, sungguh tidak malu disebut ilmu pedang mustika yang digunakan untuk menundukan iblis.
sementara itu bayangan tombak berseliweran dengan hebatnya hingga suasana berubah makin terang, hawa sedang membumbung tinggi keangkasa mengimbangi desakan lawan, kedua belah pihak sama2 kerahkan segenap perhatian serta tenaganya untuk melangsungkan suatu pertempuran yang maha dahsyat dan seru.
Khong It Hoei si setan gantung putih yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan makin lama merasa hatinya semakin bergidik, diam2 pikirnya.
“Jikalau aku harus menunggu sampai salah satu diantara mereka memperoleh kemenangan, mungkin sulit bagiku untuk meloloskan diri dari pada nanti kenapa2 aku tidak ngeloyor pergi sekarang juga?” Maka diam2 ia putar kudanya kemudian melarikannya kearah jalan raya Guw lam Keei-cie.
Cay-Ya-Giok-say Cu tidak malu disebut seekor kuda jempolan, walaupun dia berada dibawah kekuasaan seorang jago Bu-lim yang sangat lihay, namun tidak lupa untuk mengirim kabar kepada majikannya guna mohon bantuan.
Ia mendongak lalu meringkik panjang, suaranya nyaring dan membumbung tinggi keangkasa.
Mendengar ringkikan kuda kesayangannya, Lie Wan Hiang jadi gelisah. Ia bersuit nyaring . . . sreeeet sreeeet sreeeet secara beruntun ia lepaskan tiga buah tusukan hebat.
Tiga tusukan sembilan susulan menggetarkan dua puluh tujuh buah jalur cahaya merah yang menyilaukan mata, keseluruhan serangan itu mengancam jalan darah penting disekujur badan lawan.
“Dalam keadaan yang serba membingungkan ini sulit, bagi si- nenek bungkuk untuk menentukan jalur pedang manakah merupakan tusukan pedang yang sebenarnya, ditengah kekagetan serta kebingungannya mendadak terdengar suara kain robek tersambar pedang, tahu2 sepasang ujung bajunya telah terbabat putus oleh pedang, Muni-kiam lawan.
Gemetar sekujur badan si nenek bungkuk. sukmanya terasa melayang keluar dan raganya sambil membuang tongkat kepala burungnya keatas tanah ia berdiri termangu-mangu ditempat semula.
sekalipun Lie Wan Hiang memiliki tabiat yang kasar, berangasan dan gampang naik darah tapi dasar hatinya halus dan penuh welas kasih, dia tidak ingin melukai nenek bungkuk tersebut tanpa alasan yang kuat, maka setelah dilihatnya pihak lawan berdiri menjublak ditempat semula tanpa mengucapkan sepatah katapun, diapun lantas tarik kembali pedangnya .
sambil jejakkan kakinya keatas udara, dia berseru: “Nonamu harus berangkat selangkah lebih dulU karena masih ada Urusan lain yang harus segera diselesaikan, untuk kali ini nyawamu kuampuni. Nah cepat2lah enyah dari daratan Tiong goan dan kembali kenegerimu sendiri” Ucapan itu berkumandang datang makin lama makin lirih, jelas Lie Wan Hiang sudah pergi jauh.
Menyaksikan hal tersebut nenek bungkuk berambut putih ini cuma bisa menghela napas sedih, dengan rasa kecewa bercampur putus asa ia seret tongkat berkepala burungnya yang berat selangkah demi selangkah memasuki kota siang- Hiang.
0000000000 UNTUK sementara kita tinggalkan dahulu nona Lie Wan Hiang yang mengerahkan ilmu meringankan tubuh menunggang angin membonceng awannya berlarian dijalan raya antara ouwlam dan Kioe-cioe untuk mencari kuda kesayanganrya Cay-Ya-Giok-say-Cu.
sementara itu Gong Yu yang berada dikaki gunung Hengsan untuk menolong jiwa mereka Keng cuan yang keracunan telah mendapatkan ucapan kata terima kasih yang tak terhingga dari siorang tua itu, bahkan sikepalan sakti ini sampai jatuhkan diri berlutut dihadapannya.
sudah tentu saja Gong Yu tidak berani menerima penghormatan besar dari siorang tua itu, buru2 ia membimbingnya bangun.
sikap Goog Yu yang merendah dan amat simpatik ini segera menambah rasa kagum Tie Keng Cuan sikepala sakti tanpa tandingan ini terhadap dirinya, ia merasa bukan saja pemuda tersebut memiliki ilmu silat yang maha sakti bahkan berbudi luhur dan halus terpelajar, Atas bujukan Gong Yu, maka akhirnya naiklah Tie Keng cuan diitas punggung kuda Cau Ya Giok cay yu untuk kembali kedalam kota.
Ditenguh perjalanan, orang tua itupun lantas menceritakan secara bagaimana ia beserta sute-nya sitelapakjagat Poei seng diancam oleh Khong it Hoei untuk menjadi anggota Yoe- Leng Kauw kemudian bagaimana mereka sampai diracuni dan akhirnya apa sebabnya pula mereka sampai mencuri kuda jempolan tersebut.
Mendengar penuturan tersebut Gong Yu segera kerutkan.sepasang alisnya rapat2, serunya “oooouw sungguh tak nyana hati manusia memang benarbenar sukar diukur, cianpwee tak usah terlalu menyesali diri sendiri karena persoalan tersebut. Haruslah diketahui bahwa tiada manusia di kolong langit ini yang tak pernah berbuat salah, yang penting adalah bisakah dia menyadari akan kesalahan yang pernah dilakukan untuk kemudian disesali? apalagi cianpwee bertindak begitu salah disebabkan oleh karena keadaan yang memaksa ” Ketika mereka berdua tiba diluar kota siang Hiang, kebetulan belum lama berselang Lie Wan Hiang telah berangkat mengejar Khong it Hoei.
siapa tahu justru karena kesalahan ini dikemudian hari akan terjadi suatu peristiwa yang tragis.
Tiga hari lamanya Gong Yu berdiam dirumah penginapan Hoat-Iay dalam kota siang- Hiang untuk menunggu kedatangan Lie Wan Hiang, namun tiada kabar berita apapun yang berhasil ia dapatkan.
Kejadian ini membuat Tie Keng cuan si kepalan sakti tanpa tandingan merasa semakin malu.
Akhirnya Gong Yu meninggalkan pesan kepada pengurus rumah penginapan itu sekalian dibeberkan rencana perjalanannya, apabila Lie Wan Hiang telah kembali dia diminta untuk menyampaikannya .
Dengan senang hati pengurus rumah penginapan itupun menyanggupi.
Begitulah setibanya dikota Gak Yan, si kepalan sakti tanpa tandingan segera terpisah dengan pemuda kita untuk berangkat ke gunung Keen-san guna mengunjungi sahabatnya.
sebenarnya Gong Yu punya rencana untuk mengajak Lie Wan Hiang berpesiar keselat Tong-Wu-shia disebelah utara, siauw siang di sebelah selatan kemudian kegunung Wan-sanmenyeberangi sungai Tiang-kang, telaga Tong Ting dan tempat2 lain yang indah.
Tetapi sekarang, dalam keadaan seperti ini ia sudah tiada minat lagi untuk menikmatinya .
Maka diapun melarikan kudanya, per-lahan2 dijalan raya antara ouwlam dan Keei-cioe, dan berharap setelah Lie Wie Hiang berhasil mendapatkan kembali kudanya lantas bisa.
menyusulnya dengan cepat.
Begitulah diluar Gak-yang dia berputar melalui Pouw-kie serta Ham-leng dan akhirnya tiba dikota Boe-ciang.
Dikota tersebut ber-turut2 dia menginap dua hari dimanapun ia berada tanda2 rahasia, segera ditinggalkan tapi bayangan Lie Wan Hiang belum kelihatan juga, akhirnya pemuda kita menyeberangi sungai Tiangkang dan meneruskan perjalanannya keutara dengan hati tidak gembira.
selama dalam perjalanan pelbagai kejadian yang menjengkelkan hati sering kali dijumpai dan karena kuda jempolannya sering kali pula muncul manusia2 rakus yang mengincar serta hendak merampasnya.
Lama kelamaan kejadian ini menjengkelkan hatinya juga, walaupun dasarnya dia adalah seorang pemuda yang berhati luhur namun menyaksikan betapa rakus dan rakus dan rendah martabat orang2 kangouw itu naik pitam juga sianak muda ini.
Ditambah pula dia sedang uring2an karena Lie Wan Hiang belum berhasil juga ditemukan, setiap serangannya tentu hebat dan akibatnya banyak sekali jago2 lihay dari kalangan hitam terjungkal ditangannya.
Dengan wajahnya yang ganteng, gagah dan seringkali memakai baju warna hijau, dalam waktu singkat dalam dunia persilatan segera berdengung santar gelar sijago ganteng ber baju hijau.
seluruh propinsi Hoolam telah dijelajahi semuanya. namun sipendekar berbaju hijau Gong Yu belum juga menemukan Lie Wan Hiang.
JILID 12 HAL. 44 S/D 45 HILANG sementara itu dalam benak Gong Yupun terbayang sekali wajah Lie Wan Hiang yang cantik, hatinya terasa gembira sebab sebentar lagi bakal berjumpa dengan kekasihnya yang sudah lama dirindukan ini.
Banyak persoalan terasa mengganjel dalam dadanya, ia ingin mencurahkan semua persoalan itu kepadanya setelah berjumpa nanti, tapi… secara tiba2 ia bertemu dengan satu masalah yang mencurigakan hatinya, hal ini membuat ia kelihatan tidak tenang.
Masalah itu adalah: Kenapa ia tidak berangkat ke utara untuk mencari dirinya? sebaliknya malah ambil arah yang berlawanan? apakah selama ini dia merasa gusar terhadap diri ku??? suara ringkikkan kuda disebelah depan kedengaran semakin nyata hal ini membuktikan apabila jarak antara kedua ekor kuda tunggangannya itu kian lama kian bertambah dekat.
Dalam dadanya segara bermunculan pelbagai perasaan aneh, dia merasa heran, dirinya yang berada dipunggung kuda Giok Liong pun bisa mendengar ringkikan dari kuda Giok- Cong mengapa sebaliknya dia tidak mendengar akan suara ringkikan itu??? Apa sebabnya ia berlagak pilon tiap kali dia sengaja hendak menghindari perjumpaan dengan dirinya ??? Kejadian2 lampau semasa masih berada di dalam lembah Leng Im Kek pun segera terbayang kembali dalam benaknya, dia merasa walaupun tabiat Lie Wan Hiang radaan berangasan dan seringkali mengumbar amarahnya terhadap dia, namun tidak sampai seperminum teh la manyahawa gusarnya telah lenyap tak berbekas, bahkan mereka segera rujuk kembali.
Dalampada itu jarak antara kedua ekor kuda itu sudah tinggal setengah lie, ketika dia angkat kepalanya memandang kearah depan, tampaklah seekor kuda putih laksana angin sedang lari kencang kemuka, jelas kuda itu adalah kuda Giok Cong sedang orang yang ada diatas pelana bukan lain adalah Lie Wan Hiang.
Cambuknya segera dikebaskan ketengah udara sehingga berbunyi nyaring. Giok Liong meringkik panjang kemudian lari sekencangnya kearah muka. Dalam sekecap mata kedua ekor kuda itu telah berlari saling susul menyusul.
“Adik Wan ” tanpa bisa dicegah lagi sipendekar ganteng berbaju hijau berseru lantang.
Mendengar seruan itu gadis yang berada di atas cunggung kuda sebelah depan itu menoleh kebelakang dan melotot sekejap kearah Gong Yu.
Alisnya, matanya, hidungnya serta raut wajahnya yang bulat telur jelas merupakan ciri khas dari Lie Wan Hiang, namun nona itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi.
Bukan begitu saja, dari sorot matanya jelas dia menunjukkan suatu perasaan asing yang aneh.. se-akan2 dia sama sekali tidak kenal dengan pemuda kita.
sebelum sianak muda itu sempat berpikir lebih jauh, sang kuda telah tiba disuatu persimpangan jalan, disitu sang kuda Giok Ciong segera mengambil jalan kearah Eng-Kee-Wan yang langsung menuju ke sin-Kio ketika tiba dijalan Tiang-Lok kembali kuda tadi membelok kearah sungai Loo-kang dimana dengan mengikuti teci sungai berlari terus menuju ke arah Timur…
“Adik Wan Adik Wan…” Teriak Gong Yu tiada hentinya sepanjang jalan.
Dara cantik yang berada didepan tetap berlagak pilon dan sama sekali tidak memperdulikan teriakan orang.
Untung orang yang berlalu lalang diatas jalan raya itu sangat jarang, kalau tidak tentu banyak orang yang akan cedera tertumbuk kuda yang berlari dengan kencangnya ini.
Menyaksikan Lie Wan Hiang sama sekali tidak menggubris teriakan2nya. bisa dibayangkan betapa sedihnya hati Gong Yu ketika itu. segera pikirnya didalam hati: “Apakah aku seorang lelaki sejati selamanya harus tunduk terus dibawah telapak kakinya?” Ingin sekali ia putar les kudanya untuk mengambil jalan lain, tapi sebelum niatnya itu dilaksanakan kembali pikirnya.
“Bagaimanapun juga dia masih kecil, lagi pula sebelum turun gunung suhu telah berpesan wanti2 kepadaku agar menjaga dirinya baik2, baiklah aku akan mengalah terus kepada-siapa suruh aku harus menjadi engkohnya” Karena berpikir begitu hawa gusar yang telah membara dalam dadanya pun segera lenyap ia berpikir lebih jauh: “Akan kubuntuti terus dirimu secara begini akan kutunggu sampai rasa gusarmu hilang.” Sementara sianak muda ini putar otak membayangkan hal yang bukan2, gadis yang berada didepan mendadak lenyap tak berbekas begitu memasuki daerah Peng-Kung.
“Bagus….bagus sekali, rupanya dia hendak mengajak aku bermain petaka..” batinnya.
Maka sipendekar ganteng berbaju hijau inipun berputar2 diseluruh kota Peng Kang sambil setiap kali mencari kabar berita dari orang disekitar sana mengenai jejak adik kesayangannya ini.
Sungguh kasihan pemuda kita, ini tapi pun tidak menyangka kalau gadis yang ada di depannya tadi telah menggunakan siasat licin untuk menipu dirinya, menggunakan kesempatan tatkala Gong Yu sedang melamun, mendadak ia larikan kuda Glok cong nya masuk kedalam semak belukar yang lebat.
Menunggu sianak muda itu sudah memasuki kota, sambil tertawa geli dara itu munculkan diri kembali dan larikan kudanya cepat2 menjauhi daerah tersebut.
Peng Kang walaupun merupakan sebuah kota keresidenan namun jalan raya yang terdapat dalam kota amat terbatas sekali tak selang beberapa saat kemudian Gong Yu telah berhasil mendapatkan keterangan bahwasanya tiada seorang gadis berkuda putih pernah memasuki kota itu.
“Mungkinkah dia naik ke langit atau turun kebumi?” pikir Gong Yu dengan hati tercengang.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera berseru tertahan, sambil menghantam batok kepala sendiri gumamnya.
“Kurang ajar budak ingusan itu tentu sudah main gila dengan diriku, kenapa sejak tadi tidak kupikirkan sampai kesitu.” Bagaimanapun juga sebagai seorang pemuda yang cerdik ia hanya tertipu sebentar saja.
sekeluarnya dari kota sianak muda itu segera mencari berita dari seorang petani yung ada disawahnya, sedikit pun tidak salah ia berhasil mendapatkan keterangan yang menyatakan bahwa nona itu sudah berangkat menuju kekota Tiang Iok.
Cepat2 kudanya dilarikan se-kencang2nya, ketika senja telah menjelang dia baru tiba di kota Tiang Lok.
Begitu masuk kota cepat2 sianak muda ini mencari berita lagi mengenai jejak adiknya.
Yang dipikirkan sekarang hanyalah menemukan kembali Lie Wan Hiang, tentu saja rasa laparnya terlupakan olehnya.
Menanti keluar dari kota lagi tengah malam telah tiba, suasana sunyi senyap bagaikan dikuburan.
Untung malam itu adalah malam bulan lima belas disaat bulan purnama, cahaya terang rembulan menerangi seluruh jagad membuat suasana yang sunyi kelihatan lebih semarak.
Tengah pemuda itu berjalan dengan hati duka, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara ringkikan kuda berkumandang datang, jelas suara tadi berasal dari tepi sungai Bie LOO.
Dari ringkikan kuda yang mengenaskan, sianak muda ini dapat mengambil kesimpulan bahwasanya majikan kuda tadi telah menemui peristiwa yang ada diluar dugaan.
Teringat akan keselamatan dari Lie Wan Hiang. Gong Yu segera melarikan kudanya cepat2 menuju kearah mana berasalnya suara ringkikan tadi.
Ditengah kegelapan malam yang sunyi terdengar suara derap kaki kuda Giok Liong melaju dengan cepatnya kedepan.
JILID 12 HAL. 53 S/D 56 HILANG Gong Yu segera gertak giginya kencang2, dengan mata yang terpejam rapat pusatkan seluruh perhatiannya jadi satu, hawa sinkang Thay si Hiat Thian pun disalurkan tiada hentinya, sedikit demi sedikit… dengan susah payah akhirnya jarum lembut yang mengeram dalam tubuh gadis itu berasal dihisapnya keluar.
Melihat pertolongannya telah berhasil, dengan cepat ia lepaskan tempelannya pada dada gadis itu, dan menggunakan kain selimut yang telah dipersiapkan sejak semula ia tutup tubuh sang gadis yang polos.
Perlahan2 ia menghembuskan napas panjang, seraya menyeka keringat yang membasahi tubuh nya ia berdiri termangu mangu, suatu perasaan nyaman seolah-olah dari neraka menyelimuti hatinya.
Benar memang manusia menolong merupakan suatu tugas yang berat, apalagi orang yang harus ditolong adalah seorang gadis muda yang cantik dan berada dalam keadaan polos tanpa busana, bagi seorang pemuda berdarah panas macam Gong Yu bukan saja dirasakan berat bahkan amat menyiksa batinnya, sebab sedikit salah bertindak bisa mengakibatkan dia mengalami jalan api menuju neraka.
sementara itu setelah jarum lembut yang bersarang dalam tubuhnya telah dihisap keluar aliran darah dalam tubuh gadis itupun berjalan lancar kembali, semua rasa sakit segera tersapu lenyap dan diapun sadar dari pingsannya.
Menjumpai pemuda ganteng yang mengejar dirinya terus menerus tadi sekarang sedang duduk ditepi pembaringan bahkan seluruh badannya basah oleh keringat, dara itu berseru kaget, ia membentak keras diikuti . . Ploook , . . .
ploook beberapa buah gaplokan keras dengan telak bersarang diatas pipi s ianak muda itu.
Gong Yu sendiri mimpipun tidak menyangka kalau gadis itu bisa cepat mendusin, semakin tidak mengira kalau dia bakal digaplok keras, kendati ilmu Thay-si-Hian Thian-sinkang nya mempunyai suatu daya pental yang kuat, tak urung pipinya terasa panas pedas dan sakit juga.
Belum sempat dia berseru kesakitan, kembali terdengar gadis manis itu berteriak kaget, tangannya cepat menyambar selimut dan menyusupkan badannya keujung pembaringan.
Kiranya secara tiba2 dia baru menyadari bahwa badannya telanjang bulat tanpa busana.
Melihat tingkah laku sang gadis, Gong Yupun lantas paham apa sebenarnya yang telah terjadi, ia menggerutu terhadap diri sendiri kemudian membuka pintu dan berjalan keluar, matanya tak berani menarik lagi kearah tubuh gadis itu kendati hanya sekejappun.
Ketika ia tiba diluar kamar, waktu telah menunjukkan kentongan ketiga tengah malam. Tidak lama kemudian terdengar pintu kamar terbuka dan muncullah seraut wajah yang cantik jelita.
Kepada Gong Yu ia tersenyum manis lalu menggape sianak muda itu agar masuk kedalam. Dengan hati ragu2 dan penuh kesangsian Gong-Yu berjalan masuk kedalam, ia saksikan gadis ayu itu sedang duduk di atas pembaringan dengan wajah penuh air mata. Ia tiada kegembiraan untuk menikmati tangisan sang dara sapaya lirih. “Adik wan”.
Bukannya berhenti menangis, gadis itu malah menangis semakin sedih hingga terdengar senggukan yang mengenaskan.
Cepat2 GongYu meraih tubuhnya dan dipeluk kencang2. ia cium bibir dara itu lalu panggilnya lagi dengan suara penuh kasih sayang: “Adik Wan …” Belum habis ia berseru, mendadak gadis iiu meronta keras dan melepaskan diri dari pelukan anak muda itu, sekali melayang tahu2 ia sudah duduk diatas sebuah kursi. “siapakah yang kesudian jadi adik Wan-mu ?” teriaknya penuh kegusaran.
Perbuatan dara manis yang luar dugaan ini kontan membuat Gong Yu jadi tidak habis mengerti, dengan termangu2 dipandangnya wajah gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pandang punya . . .pandang lama sekali ….. akhirnya dia berhasil membuktikan bahwa gadis cantik yang berada, dihadapannya sekarang benar2 bukan Lie Wan Hiang yang diidam2kan, kiranya diantara alis adik kesayangannya sama sekali tidak terdapat tahi lalat merah yang begitu besar.
Rasa kaget yang menyelimuti hatinya saat ini benar2 sukar dilukiskan dengan kata2, matanya terbelalak besar mulutnya.
melongo dan ia jadi gelagapan setengah mati, untuk beberapa saat sianak muda ini tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.
Melihat anak muda itu kaget, tercengang bercampur bingung, nona berbaju putih itu tidak dapat menahan rasa gelinya-lagi, ia-segera tertawa cekikikan.
“Bagaimana? sudah kau lihat lebih jelas lagi bahwa aku bukanlah adik Wan yang kau idam2kan?” Merah jengah selembar wajah pendekar ganteng berbaju hijau ini. dia tahu bahwa dirinya sudah melihat orang bagaimanakah diriku dan jengahnya pemuda tersebut tak usah disebutpun sudah lah jelas.
Namun, bagaimanapun juga dia merasa peristiwa ini rada aneh dan mengherankan tanpa terasa pikirnya dalam hati.
“Benarkah dikolong langit terdapat kejadian yang demikian aneh ??? bukan saja mereka berdua memiliki raut waiah yang tak berbeda, bentuk badan maupun usianya pun persis sama, benarkah didunia ini terdapat manusia kembar yang bagaikan pinang dibelah dua…?” sementara ia masih berpikir dengan pikiran kacau, tampak nona berbaju putih itu telah mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka air mata yang mengalir keluar dengan derasnya, perlahan2 ia berjalan kehadapannya lalu berkata lirih: JILID 12 HAL. 62 S/D 64 HILANG Jilid 13 NADA suaranya walaupun jauh lebih berpengalaman daripada Lie Wan Hiang, tetapi kehalusan serta kemerduannya tiada berbeda sama sekali.
Kalau bukan karena ada persamaan yang begini banyak mana mungkin Gong Yu sampai salah melihat orang ?? maka sekali lagi ia terjerumus dalam lamunan yang mendalam.
Tiba2 nona berbaju putih itu berseru: “Hey, kenapa sih kau ?? urusan hati melulu yang dipikirkan, masa kau tidak sudi menjawab pertanyaanku ??”.
“oouw…” dengan kaget Gong Yu tersentak bangun dari lamunannya, sekarang dia baru ingat akan pertanyaan yang diajukan gadis tersebut.
Maka diapun lantas memberikan sedikit perkenalan mengenai dirinya pribadi, tentu saja ia kesampingkan masalah ikatan perkawinan antara dia dengan Lie Wan Hiang sejak masih ada dalam perguruan.
Ia tidak ingin mengatakannya adalah disebabkan sebagai seorang pemuda, Gong Yu merasa sungkan dan malu untuk mengutarakan nya keluar.
Denga tenang dan kalem nona berbaju putih itu mendengarkan semua penuturan sianak muda itu, alisnya kadang2 nampak berketut sedang biji matanya mengerling bening, wajah nya ber-seri2 dan senyuman menghiasi bibirnya.
Menanti Gong Yu selesai bercerita, ia lantas berseru sambil tertawa manis: “oooh betapa beruntungnya aku Hoan Pek Giok. ternyata bisa berkenalan dengan pendekar ganteng berbaju hijau yang menjadi ahli waris dari Bu- lim Jie seng “.
Gong Yupun lantas memuji tiada henti- nya akan kecantikan wajah nona Hoan yang di katakan bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan, namanya yang indah serta pakaiannya yang serasi dan menambah keagungannya itu.
Pujian2 setinggi langit tersebut tentu saja menggembirakan hati Hoan Pek Giok. suara tertawa cekikikan yang merdu berkumandang tiada hentinya, sepasang sujen yang menghiasi pipi pun menambah kecantikan wajahnya.
Tentu saja, mencari manusia yang berwajah tampan, berkepandaian silat lihay serta berbudi luhur macam Gong Yu bukanlah suatu urusan gampang, sekarang dirinya dipuji setinggi langit oleh pemuda tampan itu, mana mungkin dia tidak merasa kegirangan ?? Apalagi gadis itu sedang berada dalam usia remaja, di-puji2 oleh lawan jenisnya yang menarik sudah tentu tidak mengherankan kalau ia kesenangan- Hoan Pek Giok merasakan jantungnya ber-debar2 keras, dengan wajah jengah dan ke-malu2an ia berbisik, “Aku… mungkin aku tidak ada seperseribu dari adik Wan mu itu ??…”.
Dibalik ucapan tersebut kedengaran begitu mengenaskan dan mengandung rasa cemburu yang besar. Namun Gong Yu yang berhati jujur sama sekali tidak merasakan hal itu, bahkan ia menyahut lagi dengan nada bersungguh2: “Nona, ucapanmu tadi terlalu memuji dan merendahkan dirimu sendiri, terus terang saja kukatakan bahwa kecantikan wajahmu kalau dibandingkan dengan adik Wan ku boleh dibilang seimbang, bahkan tiada bedanya bagaikan kakak beradik yang kembar “.
Dengan wajah sangsi Hoan Pek Giok Sinona berbaju putih itu meraba raut wajah sendiri, lalu pikirnya dalam hati: “seringkali ibu berkata bahwa kecantikan wajahku tiada tandingannya dikolong langit, kenapa sekarang muncul pula seseorang yang bukan saja mempunyai kecantikan yang sama dengan diriku, bahkan kembar seperti pinang di belah dua, benarkah itu? aneh…aneh…”. Maka dengan alis berkerut segera tegurnya: “sauw-hiap. bukankah apa yang kau ucapkan tidak sejujurnya ??”.
si pendekar ganteng berbaju hijau ini dasar nya memang seorang pemuda yang cerdik, namun ia tidak dapat memahami perasaan hati seorang gadis, maka mendapat pertanyaan itu dengan jujur ia segera menjawab: “Apabila dalam ucapanku barusan ada hal2 yang bohong, biarlah sekarang juga aku ber sumpah dihadapanmu “.
selesai berkata benar2 dia lantas angkat sumpah.
Menggunakan kesempatan itu Hoan Pek Giok menubruk kedalam pelukan sianak muda itu, dengan tangannya yang halus laksana kilat ia tutupi bibir lawan, pinggangnya meliuk dan dengan manja serunya: “Hmm. siapa suruh kau sungguh2 angkat sumpah?? aku percaya sudah akan perkataan mu…”.
Dengan manja dan aleman ia makin menggeliat dalam pelukan Gong Yu, serentetan bau harum gadis perawan bagaikan arak yang memabokkan segera menyerang kedalam tubuh si anak muda itu Terangsang oleh bau aneh tadi, Gong Yu tak dapat menguasai diri lagi. ia segera tarik pinggang HoanPek Giok dan dipeluknya kencang2.
Bagaikan kena aliran listrik, dengan lemas dan pasrah HoanPek Giok rebahkan diri dalam pelukan lawan, bibirnya yang basah diangkat keatas siap menerima bibir lawan sementara sepasang matanya terpejam rapat2. Gong Yu merasakan sekujur darah panas dalam tubuhnya bergolak kencang, suatu perasaan untuk melakukan ha12 yang melanggar susila menyelimuti seluruh benaknya, tangan yang kosong per- la han2 mulai bergeser keatas gundukan daging montok yang ada didepan dada nona itu kemudian diremas2nya dengan penuh kenikmatan.
Dikala kesadarannya hampir hilang tertelan oleh napsu birahi itulah…tiba2 .satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dengan cepat ia mendusin dari rangsangan napsu dan serunya d idalam hati: “oooh Gong Yu Gong Yu macam begitukah murid dari Bu lim Jie-seng??? dimanakah akal budimu ????? pantaskan kau lakukan perbuatan mesum yang terkutuk dan melalukan itu ????…..”.
Begitu ingatan tadi berkelebat dalam benaknya, golakan napsu dalam dadanya pun seketika tertekan kembali, ia jadi tenang dan sadar seratus persen- Hoan Pek Giok yang telah menyerahkan dirinya bulat2 kedalam pelukan sang pemuda untuk diperlakukan apapun jua, tatkala lama sekali menunggu belum nampak juga sianak muda itu melakukan suatu gerak gerik yang diinginkan dia jadi tercengang, maka ia lantas buka mata dan menatap wajah Gong Yu tajam2.
Si anak muda itu tersenyum melihat gadis mana memandang kearahnya, justru karena senyuman inilah tiba2 Hoan Pek Giok tak dapat menguasai diri, ia peluk s ianak muda itu kencang2 kemudian menghantarkan bibirnya yang kecil mungil dan panas membara tadi ke atas bibir lawan sentuhan bibir yang halus dan merangsang tadi tak bisa ditolak oleh Gong Yu dengan begitu saja, se-olah2 bendungan yang bobol si-anak muda itu balas memeluk lawan jenisnya lalu menciumnya ber-tubi2…..
Angin taupan men-deru2 dan melanda seluruh jagad….
lama sekali baru kedengaran suara dengusan napas yang memburu per-lahan2 reda kembali… suasanapun jadi tenang kembali.
Dibawah sorotan cahaya lampu yang redup, nampak Hoan Pek Giok bersandar dalam pelukan Gong Yu dengan wajah tersipu2.
“Adik Giok” bisik sianak muda itu dengan nada lirih. Hoan Pek Giok menyahut.
” Engkoh Yu, perutku sudah lapar, bagaimana kalau kita mencari makan dulu untuk menangsal perut ???” Demikianlah sambil bergandengan tangan keluarlah mereka berdua dari rumah penginapan itu untuk menangsal perut disuatu rumah makan, setelah itu barulah kembali lagi kerumah penginapan- Karena menyaksikan sikap Hoan Pek Giok yang begitu Hot dan bernapsu besar, Gong Yu tidak berani tidur sekamar dengan gadis itu sebaliknya malah minta sebuah kamar yang tersendiri untuk beristirahat.
Keesokan harinya, sebelum Gong Yu mendusin dari tidurnya Hoan Pek Giok telah muncul d idalam kamarnya, sambil duduk disisi pembaringan la berseru lirih: “Engkoh Yu hari sudah siang… coba lihat sang surya telah berada di-awang2. ayoh cepat bangun. Apa semalam kau telah mimpi bertemu dengan nona Wan Hiang mu itu ???”.
Gong Yu menggeliat bangun, menanti si anak muda itu telah cuci muka dan membersihkan badan. Hoan Pek Giok menyandarkan diri kembali dalam pelukan orang, dia merasakan bahu pria ganteng ini mengeluarkan suatu perasaan yang aneh dan menggoncangkan imannya. Nona itu tak dapat menahan diri lagi.
ia lantas peluk tubuh sang pemuda kencang2, bibirnya kembali dihantar keatas bibir orang dan menciumnya dengan penuh napsu.
Gong Yu tidak ingin sia2kan kesempatan baik ini dengan begitu saja, apalagi terangsang oleh tingkah laku sang dara yang “Hot”, merasakan ciuman yang panas dan penuh daya rangsang ia lantas peluk pinggang orang, bibirnya balas dikecup dan dadanya yang montok dan menonjol besar itu ditekankan keatas dada sendiri seketika itu juga dia merasakan suatu kenikmatan yang sukar dilukiskan dengan kata2…badai kembali mengamuk dalam kamar itu…
Lama sekali…akhirnya terdengar Gong Yu berkata memecahkan kesunyian yang mencekam ruangan tersebut: “Nona Hoan, bukankah kau menunggang seekor kuda jempolan Cay-Ya-Giok-say-Cu ?? darimana kau dapatkan kuda hebat semacam itu ??…” Hoan Pek Giok tersenyum manja, ia bersandar dalam pelukan orang dan sambil mempermainkan jari tangan sianak muda itu. sahutnya: “Aku berlalu dari rumah secara diam-diam JILID 13 HAL. 12 S/D 13 HILANG ataukah lari kuda itu terlalu kencang, setelah saling kejar mengejar beberapa saat lamanya aku masih juga tertinggal dalam suatu jarak yang cukup jauh dibelakang “. Dia bereskan rambutnya yang kalut terhembus angin, kemudian melanjutkan- “Setelah melewati s iang-Tek orang itu menuju ke ouw-Han, rupanya dia sangat hapal dengan jalanan didaerah sekitar sana. Pada suatu ketika mendadak perjalanannya dihadang orang, seseorang muncul dari tempat kegelapan seraya memutar pedangnya yang memancarkan cahaya kuning, kepada pencuri kuda tadi bentaknya: “sahabat, tinggalkan kudamu itu kalau pingin selamat”.
Mendengar bentakan tadi, dengan hati mendongkol sipenunggang kuda tersebut tertawa dingin, balasnya: “Bangsat keparat yang bermata picik, tahu kah kau siapa aku ???”.
“Hmm perduli amat siapakah d irimu” jawab sipembegal dengan suara bengis, tingkah lakunya garang dan buas.
Kembali sipenunggang kuda itu tertawa dingin- “Hmm.
segala macam bangsat tak bermodal pun berani cari gara2 dengan diriku tahukah kau bahwa aku adalah sisetan gantung putih dari perkumpulan Yoe-Leng-Kauw ? Hm kalau tidak kuhabisi jiwa anjingmu, kau tentu tidak akan mengerti tingginya langit dan tebal nya bumi “.
Habis mengucapkan kata2 tersebut sipenunggang kuda itu loncat turun dari kudanya dan segera mencabut keluar sepasang Poan-Koan-Pit yang diselipkan dipunggungnya.
Ternyata sang pembegal sedikitpun tidak jeri, bukan saja tidak gentar malahan mendongak dan tertawa ter-bahak2.
meminjam sorotan sinar rembulan aku temukan wajah orang itu suram dan matanya ber-api2 seperti menahan dendam.
sesudah tertawa seram beberapa saat lamanya, orang itu lantas bergumam seorang diri: “Yoe Leng Kauw Yoe Leng Kauw Him Toako saksikanlah kau dari akhirat bahwa ini hari adikmu akan menuntut balas bagi kematian mu yang mengenaskan itu “.
selesai bergumam orang itu membentak keras, badannya segera menubruk kedepan sambil melancarkan serangan mematikan, pedangnya diputar sedemikian rupa sehingga membentuk JILID 13 HAL. 16 S/D 17 HILANG “Huuu…..enaknya kalau ngomong kalau bukan gara2 dikejar dirimu terus menerus hingga aku terdesak. tidak nanti aku sampai berjumpa dengan iblis terkutuk itu Kalau kudanya yang hilang sih masih mendingan, hampir saja selembar jiwaku yang berhargapun ikut melayang. Coba katakan apakah kau bisa mengganti jiwaku?” Mendadak pendekar ganteng berbaju hijau itu teringat akan sebuah kata untuk menggoda maka ia lantas berseru: “Dan sekarang….. ” Sengaja ia tarik nada suaranya panjang2 sementara matanya melirik penuh arti: “Sekarang kenapa?? ayoh cepat jawab” karena tidak mengerti apa yang sedang ditertawakan oleh Gong Yu, maka Hoan Pek Giok segera menjewer telinga pemuda itu.
“Aduuuh, ampun-,… adikku sayang ampun-” Teriak Gong Yu kesakitan- “Baiklah biar aku Jawab.. biar aku Jawab” Melihat Si anak muda itu sudah menyerah, dengan wajah berseri2 Hoan Pek Giok pun segera melepaskan jewerannya.
“Aduuh mak” goda sang pemuda seraya menjulurkan lidahnya. “Sungguh lihay, siapa yang sudi jadi suamimu kalau kau begitu galak…..” Kembali Hoan Pek Giok ayun telapaknya memperlihatkan gerakan mau memukul, cepat2 Gong Yu ayun tangan kirinya, dengan jurus “Naga sakti mengaduk Lam-Hay” ia cengkeram pergelangan gadis tersebut.
“Adikku sayang, jangan marah jangan marah…..dengarkan dulu perkataanku…” Hoan Pek Giok tidak mau menyerah begitu saja, walaupun tangan kanannya dicekal Gong Yu secara mendadak tangan kirinya mencubit paha sianak muda tersebut membuat pemuda kita kesakitan dan menierit.
Begitulah, setelah saling bergurau dan bermesraan beberapa saat lamanya mereka baru keluar dari kamar untuk mencari sarapan- Baru saja sarapan selesai dihidangkan, mendadak dari depan pintu ruangan berhenti sebuah kereta kuda.
Menjumpai kereta tersebut, air muka Hoan Pek Giok segera berubah hebat. cepat2 ia tarik tangan sianak muda itu untuk diajak kabur dari sana dan menyingkir jauh2.
siapa sangka belumjauh ia menyingkir, mendadak dari balik kereta berkumandang keluar suara panggilan yang nyaring dan lantang: “Giok-jie, ayoh kembali”.
Hoan Pek Giok tidak berani berkutik, terpaksa ia putar badan dan lari kedalam pelukan seorang nyonya cantik yang sedang melangkah keluar dari keretanya. “lbu ” serunya.
Dengan penuh kasih sayang nyonya cantik itu memeluk putrinya kedalam pelukan, setelah melototi diri Gong Yu sekejap ia dorong tubuh gadis itu masuk kedalam kereta.
Taar… diiringi suara cambuk berderai, dengan meninggalkan debu yang beterbangan diangkasa kereta itu meluncur kedepan meninggaikan kota Bie-Loo….
000000 LAMA sekali s i pendekar ganteng berbajuh hijau berdiri termangu2 disisijalan, kemudian ia baru mendusin dan tersentak kaget.
Ketika matanya melirik sekejap kesekeliling tubuhnya, ia jumpai banyak pasang mata sedang memandang kearahnya dengan sinar mata tercengang.
Hal ini adalah jamak, seorang kongcu-ya yang tampan dan gagah semacam dia berdiri ter-mangu2 ditengah jalan raya, tentu saja segera akan menarik perhatian banyak orang.
Apa yang masih tertinggal dalam hati Gong Yu saat ini hanyalah kemurungan dan kesedihan, ia menghela napas panjang.
“Aaai… ternyata mereka, mereka begitu mirip satu sama lainnya…” Yang ia maksudkan dengan “Mereka” bukan lain adalah Lie Wan Hiang serta Hoan Pek Giok.
Dengan membawa perasaan berduka Gong Yu balik kembali kekamarnya, ia segera perintahkan pelayan untuk persiapkan pelana diatas kuda Giok- Liong, setelah membereskan rekening berangkatlah dia menuju kearah Tiang-sah.
selama dalam perjalanan walaupun ia tidak larikan kudanya cepat2, namun bagi “Giok Liong” seekor kuda jempolan yang biasa menempuh seribu li dalam sehari tentu saja lari nya jauh lebih cepat daripada lari kuda2 biasa.
Ketika tengah hari sudah menjelang tiba dan jaraknya dengan Kiauw-Tauw tinggal belasan li, kudanya telah berhasil menyusul kereta berkerudung yang ditumpangi Hoan Pek Giok beserta ibunya.
Dengan seksama diperhatikannya sekejap kereta tersebut, ia jumpai kereta ini tiada bedanya dengan kereta2 kuda biasa, tidak aneh kalau larinya begitu lambat.
Dia merasakan suatu ketidak serasian antara kereta berkerudung serta sang nyonya cantik yang jadi saisnya, tanpa terasa dalam hati dia berpikir: JILID 13 HAL. 23 s/D 24 HILANG mengintip sedikit saja isi karena tadi, maka keadaannya tentu akan berubah sama sekali.
Namun dia tidak bertindak begitu, dia telah membuang suatu kesempatan baik dengan sia2.
Pendekar ganteng berbaju hijau yang jujur dan berbudi luhur ini bukan saja tidak jadi menyingkap penutup kereta tersebut, bahkan untuk menghindari segala kecurigaan orang, sengaja ia larikan kudanya lima tombak dibelakang kereta tersebut.
Tidak lama kemudian sampailah kereta itu diluar kota Kiauw-Tauw, menggunakan kesempatan tatkala melewati jalan yang ramai dengan lalu lintas, diam2 sianak muda itu membedal kudanya melampaui kereta tersebut.
Dia tidak ingin memancing rasa sedih dalam hati Hoan Pek Giok serta kesalahan paham ibunya, maka selama ini dia tak berani berpaling barang sekejappun- Rupanya “Qiok Liong” sang kuda jempolan mengerti akan maksud hati majikannya, dengan suatu gerakan yang cepat namun tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ia berlari melampaui kereta dan berlari cepat kemuka.
Walaupun begitu Hoan Pek Giok yang duduk diujung kereta berhasil melihat juga Gong Yu yang sedang melampaui keretanya, maka ia berseru kaget dan teriaknya: “Engkoh Yu “.
Gong Yu adalah seorang lelaki yang romantis, mendengar teriakan itu dengan cepat dia berpaling, dari kejauhan ia saksikan Hoan Pek Giok sedang memandang kearahnya dengan wajah sedih bercampur murung.
sebenarnya dia hendak hampiri dara itu untuk dihibur dengan beberapa patah kata, namun ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, dia merasa seandainya dirinya bertindak begitu bukan saja telah menghianati cinta kasih Lie Wan Hiang terhadap dirinya bahkan kemungkinan besar akan semakin menyeret gadis itu semakin salah paham terhadap dirinya.
Maka dia menghela napas panjang dan meneruskan perjalanannya menuju kedepan.
setelah melewati Tiang-sah, ditengah senja yang sudah menjelang tiba ia sampai dikota siang Hiang.
Pelayan rumah penginapan Hoat Lay yang telah mengenali keloyoran Gong Yu situan muda yang ganteng ini segera menyambut kedatangannya dengan penuh rasa hormat. Ia maju menyambut tali les siauak muda dan serunya “Kongcu-ya, selama dalam perjalanan kau tentu sangat lelah bukan, kemarin malam nona Lie telah datang kemari dan menginap semalam disini, dia bertanya juga tentang diri kongcuuya serta kapan berangkat meninggalkan tempat ini, keesokan harinya dia telah berangkat ke- Utara.” “oooouw….” seru Gong Yu, ia serahkan kudanya kepada pelayan dan segera beristirahat dalam kamarnya.
semalaman tak terjadi sesuatu apapun, keesokan harinyaia melanjutkan kembali perjalanannya menuju keutara.
Kali ini dia melakukan perjalanan siang malam tiada hentinya, setelah keluar dari Han- Kouw dikota Cam Keesie ia berhasil peroleh keterangan yang mengatakan belum seharian- lamanya lie Wan Hiang melewati kota tersebut.
Kembali si pendekar tampan berbaju hijau Gong Yu melakukan perjalanan cepat menuju kedepan, akhirnya di Uoe-seng-Koan ia berhasil menyusul Lie Wah Hiang.
Perjumpaan yang sangat diharap2kan ini menggirangkan hati kedua belah pihak, bahkan kuda Giok Liong serta Giok- Cong pun meringkik tiada hentinya tanda kegirangan.
JILID 13 HAL. 28 S/D 29 HfLANG ke arah jalan raya diluar hutan pohon Liu, mendengar suara derap kaki kuda sudah menjauh Lie Wan Hiang segera munculkan diri dari tempat persembunyiannya sambil tertawa ia tarik kudanya untuk berjalan keluar dari balik pepohonan bambu.
siapa tahu belum habis dia tertawa, mendadak tampak sesosok bayangan hitam meluncur keatas Giok Cong dengan kecepatan laksana kilat.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini seketika mengejutkan hati Lie Wan Hiang, ia berseru kaget Kembali putar telapaknya melancarkan sebuah babatan- Terhadap jurus serangannya ternyata orang itu sangat hapal, sebelum bahunya bergerak dan lengan diayun, sepasang tangannya yang kuat bagaikan jepitan baja telah memeluk tubuhnya kencang2.
Dengan penuh kegusaran Lie Wan Hiang membentak.
sekuat tenaga ia coba meronta dan melepaskan diri dari pelukan orang, siapa tahu orang itu mempunyai tenaga sakti yang luar biasa besarnya, kendati ia sudah meronta dengan sekuat tenaga belum berhasil juga melepaskan diri Sekarang dia baru merasa menyesal kenapa telah mempermainkan Gong Yu hingga mengakibatkan dia digerayangi orang tanpa bisa melawan dalam keputus asaan dia lantas menjerit “Engkoh Yu…” Pada saat itulah serentetan suara yang sangat dikenali olehnya berkumandang dari sisi telinganya.
“Adik Wan adik Wan. ..aku berada disini ” setelah mendengar suara itu Lie Wan Hiang baru tahu kalau Gong Yu lah yang sedang menggoda dirinya, hatinya jadi lega dan ia segera pejamkan mata sambil merebahkan diri kedalam sang pelukan kekasih.
Dengan memuat dua orang, kuda Giok-Cong per-lahan2 berjalan kedepan, sementara Giok Liong telah menanti kurang lebih dua puluh tombak dikejauhan, ekornya bergoyang tiada hentinya menandakan diapun ikut kegirangan.
Rupanya kuda itu merasa bangga dan senang karena kerja samanya dengan sang majikan berhasil peroleh kemenangan mutlak.
Dengan gemas Lie Wan Hiang mencibir ke arah kuda Giok Liong, diikuti cambuknya segera menyambar ketengah udara.
Melihat perbuatan dara itu Gong Yu enjotkan badannya melayang balik keatas punggung Giok Liong, kemudian dia tujukan muka setan kearah Lie Wan Hiang dan kaburkan kudanya kemuka.
Mimpipun Lie Wan Hiang tak pernah menyangka engko Yu nya yang jujur dan polos, hanya terpisah dalam beberapa hari saja telah berubah jadi makin cerdik hingga diri sendiri terjatuh kedalam perangkapnya.
Hati gadis memang selamanya susah diduga, kalau mengikuti adatnya pada hari2 biasa dia tentu sudah kalap.
namun keadaan singa betina yang kalah bertarung hari ini bukan saja tidak marah sebaliknya malahan merasakan sesuatu yang aneh pada diri engkoh Yu-nya, dia merasa sesuatu yang baru, merangsang dan menyenangkan.
Tanpa sadar suatu senyuman yang amat manis tertera diatas wajahnya, dibawah sorotan cahaya sang surya gadis itu semakin menawan hati.
Gong Yu membedal kudanya cepat2, dia mengira Lie Wan Hiang tentu akan mengampuni dirinya dengan begitu saja.
siapa tahu, sekalipun Giok Liong sudah lari sejauh dua li belum kelihatan juga ada kuda lain yang melewati dirinya, maka terpaksa ia tahan tali les.
Gong Yu kuatir Lie Wau Hiang main setan lagi, cepat dia berpaling kebelakang. setelah dilihatnya gadis itu membuntut dibelakang barulah hatinya jadi lega.
sementara itu tampak serombongan burung gagak terbang melintasi kepala mereka dan kembali kesarang, Gong Yu segera berseru sambil menuding keatas: “Adik Wan, hari hampir malam, ayoh cepat sedikit berangkat ke Siauw-Lim, kisah pengalaman kita masing2 nanti saja baru dituturkan”.
Lie Wan Hiang mengangguk tanda setuju, maka diapun lantas mencemplak kudanya mendahului s ianak muda itu.
Gong Yu diam2 merasa tercengang, heran dan tidak habis mengerti melihat gadis itu begitu menurut dan lain daripada biasanya.
Padahal tiada yang perlu diherankan, goda menggoda sudah merupakan bumbu dan suatu cinta asmara yang bisa menggembirakan hati kaum gadis.
Begitulah kendati dalam hati sianak muda itu tercengang dan tidak habis mengerti namun ia tak berpikir panjang, kudanya segera dilarikan untuk menyusul sang dara yang telah menjauh.
Ketika rembulan sudah berada di-awang2, mereka berduapun telah memasuki kota Liauw- Lim-Tin- Disebuah rumah penginapan mereka pesan satu kamar untuk beristirahat, apa yang kemudian dilakukan oleh sepasang kekasih yang telah lama berpisah ini kiranya tak usah diterangkan pun sudah jelas, mereka diliputi oleh kemesraan, rindu dan kehangatan- Beberapa saat kemudian Lie Wan Hiang mulai ber-kaok2 karena lapar, ia paksa Gong Yu untuk ajak dia bersantap disebuah rumah makan, disitu mereka pesan beberapa macam sayur dan arak. kemudian sambil ber-cakap2 mereka menikmati santapan- Mula2 Gong Yu lah yang harus memberikan laporannya lebih dulu, dimana tentu saja ia rahasiakan sebagian dari pengalamannya yang berhubungan dengan Hoan Pek Giok yang harus disembuhkan olehnya dalam keadaan telanjang bulat.
Gong Yu bertindak demikian bukanlah disebabkan karena dia punya maksud tertentu, hal ini dilakukan karena dia sadar bagaimanakah reaksi yang akan diperlihatkan sang nona setelah mendengar hal tersebut, maka untuk menghindari sebala kemungkinan untuk sementara peristiwa itu tetap dirahasiakan dulu.
Setelah Gong Yu menyelesaikan penuturannya, maka sekarang tibalah giliran Lie Wan Hiang untuk mengisahkan pengalaman.
Tampak gadis itu membasahi dahulu bibirnya dengan arak.
kemudian berkata.
“sejak kita berpisah untuk mencari sepasang kuda kesayangan kita pada malam itu aku berlari disepanjang perjalanan dengan menggunakan ilmu ginkang Menunggang angin membonceng mega. akhirnya di Pek Ma Boe aku berhasil menghadang jalan pergi sisetan gantung putih Khong it Hoe, siapa kira bajingan itu cukup licik, melihat keadaan tidak menguntungkan dia segera putar kudanya balik kearah desa sing Hiang.
sebetulnya dia sudah tak mampu untuk melarikan diri lebih jauh, tapi justru pada saat itulah aku telah bertemu dengan nenek bongkok berambut putih dari Hoe seng yang pingin merampas pedang Muni kiam milikku hingga terjadi pertarungan, menggunakan kesempatan itulah kembali dia melarikan diri Menanti aku menyadari akan hal ini, sayang JILID 13 HAL. 36 S/D 37 HILANG “setelah aku berhasil mendapatkan kabar berita mengenai dirimu maka sedikit banyak rasa cemas dan kuatirku terhadap dirimu bakalnya berkurang.
Maka dengan melalui To G wan, siang Tek. Hati sioe, Goan Kang, siang- Hiang kemudian lewat sim swie kembali lagi kerumah penginapan Hoat Lay dikoca sing Hiang. disana aku mendapat kabar dari pemilik rumah penginapan yang mengatakan engkau sudah berangkat keutara, maka aku segera menyusul kekota Gak Yang.” Ia mengerling dalam2 kearah Gong Yu dengan sinar mata penuh rasa cinta dan sayang, setelah merandek sejenak terusnya.
“Bukankah kita sudah berjanji akan berpesiar kegunung Keen san serta telaga Tong Ting? tetapi pada saat itu aku sudah tidak bergairah lagi untuk memikirkan persoalan itu, malam itu juga aku berangkat menuju keutara”.
Gong Yu merasa sangat terharu setelah menyaksikan betapa suci murninya cinta kasih Lie Wan Hiang terhadap dirinya, ia tangkap tangannya yang halus dan digenggamnya keras-keras.
“Wan Moay ” serunya lirih.
sang Nona berpaling dan tersenyum manis.
“Belum sampai sepuluh li aku tinggalkai kota Gak-yang” terusnya lebih jauh. “Mendadak kudengar suara ringkikan kuda berkumandang diangkasa, suara itu merupakan suara ringkikan yang kucari dan kukejar selama beberapa waktu ini, tentu saja sekali didengar lantas kukenali dengan cepat, dalam hati aku segera berpikir: “Bagus sekali kiranya bajingan anjing itu berada disini, malam ini juga akan ku tangkap dirimu, aku tidak percaya kalau kau berhasil melarikan diri lagi dari genggamanku”. ^ Karena berpikir demikian maka aku segera menyusul kemuka, siapa sangka ketika itulah, mendadak tampak sesosok bayangan putih laksana kilat menyambar datang. Bisa dibayangkan betapa gusarnya aku ketika itu, segera aku membentak dengan suara yang keras bagaikan geledek: “Bajingan anjing berhenti “.
Rupanya kuda “Giok-Chong” dapat kenali suara bentakan majikannya, begitu aku menghardik dia lantas meringkik panjang dan angkat kedua kaki depannya keatas.
Lihay juga ilmu menunggang kuda yang dimiliki orang itu, meskipun kuda itu berdiri namun dia tidak sampai terlempar dari atas pelana, dicambuknya kuda “Giok-Chong” itu berulang kali dengan maksud menerjang kearah muka.
Tapi pada saat ini kuda “Giok-Chong” sudah susah dikendalikan lagi, bukannya lari ke depan sebaliknya dia malah angkat kaki depan nya berulang kali.
sementara itu meminjam cahaya rembulan yang menyoroti jagad aku dapat melihat jelas wajah orang itu, dia adalah seorang kakek yang kurus kecil tinggal kulit pembungkus tulang, matanya sipit dan alisnya tipis, mulutnya menjorok kemuka sehingga tampak prongos. pakaian yang dikenakan berwarna kuning telur dan sebuah kantung kulit terbuat dari kulit macan tergantung di pinggangnya.
Tatkala kakek itu menyaksikan aku menghadang jalan perginya, napsu membunuh segera memancar keluar dari matanya, sambil tertawa seram teriaknya: “Budak ingusan, sewaktu ada ditepi sungai Pek-Loo-Kiang ternyata kau tidak sampai modar terhajar jarum sakti pencabut sukma milikku. ..Hmm hitung2 nasibmu memang bagus sekali tapi malam ini Loohu akan hantar sendiri sukmamu kembali keakhirat”.
Ucapan ini membuat hatiku tercengang, segera pikirku: “Aaah. bujingan tua ini tentu sudah salah melihat orang…”.
Maka segera tanyaku: “Anjing tua begal kuda sebut namamu untuk terima kematian “.
Kakek tua kurus kering itu kelihatan rada tertegun, namun dengan cepat dia sudah tertawa seram lagi.
“Budak ingusan, bukankah malam itu sudah kukatakan kepadamu ?? Loohu adalah “ciang-Bie-Sioe” sikakek beralis eodet Tong Yong yang berasal dari propinsi Soe-coan ??” rupanya kau adalah seorang pelupa”.
Sewaktu masih kecil aku pernah dengar ayahku menceritakan akan kelihayan dari jarum sakti pencabut sukma dari sikakek beralis codet, mendengar ucapan itu diam2 aku jadi terperanjat, hawa sakti “Koe-Lie-Sinkang” segera kusalurkan melindungi seluruh badan, kemudian sambil tertawa nyaring jengekku: “Haah…haah…haah…sungguh tak kusangka s ikakek beralis codet yang punya nama besar dalam dunia persilatan ternyata bukan lain adalah bajingan pembegal kuda yang memalukan, hmm. sungguh bikin orang jadi kecewa dan menggelikan “.
JILID 13 HAL42 S/D 43 HILANG tua itu kena kukecundangi, bisa dibayangkan betapa gusarnya dia waktu itu hingga berulang kali kakek tadi berkaok2 aneh.” sepasang lengannya mendadak mulur semakin panjang, dari antara persendian tulangnya terdengar suara gemerutukan serta ledakan2 yang keras dan nyaring, dalam keadaan gusar dia sudah kerahkan hawa murninya hingga mencapai dua belas bagian, alisnya yang codet melentik, dari balik matanya yang sipit memancar keluar sorot mata yang tajam dan dingin, mulutnya yang prongos mengkeret kebelakang, wajahnya berubah jadi hijau membesi.
keadaannya betul2 mengerikan, selangkah demi selangkah ia maju mendekati diriku.
Meskipun dalam hati aku tidak takut menyaksikan wajahnya, namun rasa tegang membuat hatiku jadi bergidik dan bulu roma sama2 bangun berdiri. Pikirku d idalam hati: ” Kenapa aku tidak menyerangnya lebih dulu”.
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benakku, bajingan tua tadi telah memutar sepasang telapaknya didepan dada masing2 membentuk gerakan setengah lingkaran, lalu bentaknya: “Budak ingusan, serahkan nyawamu”.
sungguh dahsyat serangan yang dilancarkan bajingan tua ini, segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak ditengah samudra menghantam dadaku, sebelum angin serangan tiba desiran tajam telah menderu2 lebih dahulu.
Mungkin dia menganggap aku pasti tak akan berhasil lolos dari serangan mautnya, siapa sangka aku tertawa nyaring, dengan ilmu gerakan “chiet-Ciat-Tay-Nah-it” aku menyusup ke belakang punggungnya lalu meniupkan segulung hawa panas diatas tengkuknya, perbuatan ini tentu saja membuat hatinya jadi terperanjat dan hampir saja sukmanya terasa terbang melayang dari raganya.
Pada saat yang berbarengan, serangan dahsyat yang ia lancarkan telah mengenai sasaran kosong dan menghantam diatas tanah.
Bluuum… pasir dan tanah beterbangan hingga mencapai empat lima tombak tingginya ditengah udara, sebuah liang yang besar dan dalam muncul diatas permukaan tanah.
Ditinjau dari hasil hantamannya ini bisa kubayangkan sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki bajingan tua itu, aku tak berani pandang enteng dirinya dan kuanggap dia sebagai jagoan kelas wahid dalam dunia persilatan.
setelah dua serangan mautnya menemui sasaran kosong apalagi tengkuknya kena kutiup dengan hawa panas, keberanian sikakek beralis codet itu kontan jadi hancur dan buyar, buru2 ujung kakinya menutul tanah dan segera loncat delapan depa kemuka.
Baru saja kakinya menempel diatas tanah, aku telah menyusul kebelakang tubuhnya, sekali lagi kutiup tengkuknya dengan hawa panas. Rasa kaget dan takutnya kali ini benari tercermin diatas wajahnya, hampir saja ia jadi semaput.
Namun bagaimanapun juga dia adalah manusia yang sudah lama tersohor dalam Bu-lim, ketenangan batinnya jauh melebihi orang lain. sekalipun nyalinya sudah pecah namun dia masih sanggup mengeluarkan ilmu ginkang Yan-Ching- Cap-Pwee-Hoan nya untuk bergelinding sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Bajingan tua ini boleh dikata siluman tua yang sudah punya umur, meskipun telah bergelinding sejauh tiga tombak namun dia tidak lantas bangkit berdiri, bagaikan roda kereta ia berputar kencang hingga akhirnya berdiri dengan bersandar disisi dinding tebing.
Dengan sikap berdirinya ini maka ilmu Chiti Ciat-Tay-Nah-It ku kehilangan kemanjurannya aku tak bisa mempermainkan dirinya lebih jauh. saat itulah dia telah berkata kembali: “Walaupun loohu tahu bahwasanya nona memiliki ilmu s ilat yang maha sakti dan lihay namun loohu masih belum puas.
kau harus tahu bahwa aku angkat nama karena senjata rahasiaku yang lihay, entah maukah nona memberi petunjuk dalam hal ilmu melepaskan senjata rahasia ??”.
Gong Yu yang mendengar kisah tersebut hingga sampai disini tak bisa menahan diri lagi, dengan alis berkerut ia menimbrung: “Wan-moay, kau tentu tak sanggupi permintaannya bukan??? jarum sakti pencabut sukmanya lembut bagaikan bulu kerbau, siapa yang terkena dalam tiga hari pasti mati ” Menggunakan kesempatan itu Lie Wan Hiang menghirup kuah ayam dalam mangkuknya, tatkala menyaksikan betapa kuatir dan cemasnya Gong Yu atas keselamatan jiwanya, ia jadi kegirangan setengah mati.
“Engkoh Yu “sahutnya. “Apa kau sudah lupa ?? bukankah aku mempunyai ilmu sakti Ku Lie sin-kang yang melindungi badan terhadap serangan senjata rahasia ?”.
“oooh ..” Gong Yu berseru tertahan dan garuk2 kepalanya yang tidak gatal, gumamnya lebih jauh: “Kenapa aku jadi begitu tolol dan goblok ???…”. Lie Wan Hiang tersenyum, sambungnya kembali: “sikakek beralis codet Tong Yong betul2 manusia yang sangat licik, begitu selesai dia berkata sepasang tangannya diayun berulang kali, dalam sekejap mata belasan bilah golok terbang diiringi pula dengan Tok Ci-Lie yang durinya sangat berbisa menyambar datang bagaikan hujan gerimis.
Kau tahu, cara melepaskan golok terbang serta Tok Ci-Lie yang ia gunakan betul2 keji. Golok terbang tipis bagaikan daun sedang Tok Ci-Lie beratnya mencapai setengah kati, dua macam senjata rahasia yang berbeda bobotnya ini meluncur datang dengan getaran yang berbeda, membuat orang sukar untuk berjaga2.
Ditambah pula cara melepaskan senjata rahasia dari kakek beralis codet sudah begitu mahir dan lihay, datangnya laksana sambaran kilat hingga membuat akujadi tertegun dan melongo, diantaranya ada yang menyambar datang dengan gerakan lurus dan kelihatan lambat, namun setelah ada ditengah jalan mendadak berubah jadi cepat dan miring kesamping.
Aaai seandainya bukan jago lihay Bu-lim yang dihadapi mungkin segera akan roboh binasa ditangannya. tetapi aku…” Bicara sampai disitu ia merandek. kegembiraannya memuncak. sambil angkat cawan arak segera diteguknya sampai habis, kemudian terusnya: “Kusalurkan hawa sakti Koe-Lie sin Kang menyelimuti seluruh badan, begitu senjata rahasia itu menyambar tiba kurang lebih satu tombak didepan badan, tanpa keluar sedikit suarapun segera rontok semua keatas tanah.
Melihat kelihayanku kakek bajingan itu putar biji matanya yang sipit, mendadak badannya kedepan sejauh lima depa, bayangan hitam berkelebat lewat dan…. sreeet berpuluh puluh desiran tajam membanjir datang, bagaikan hujan gerimis entah berapa jumlahnya jarum lembut bagaikan bulu kerbau menyelimuti sekitar badanku.
Benda-benda halus itu dilepaskan dari sebuah tabung yang diberi per kuat, meski kecil bentuknya namun mempunyai daya serang yang aneh dan dahsyat, dalam keadaan begini hampir saja hawa khiekang pelindung badanku tertembusi.
Pada saat itulah mendadak ia loncat ke tengah udara kemudaan melayang keatas pelana kuda Giok Chong.
Aku jadi dongkol bercampur kheki, sambil membentak keras pedang Muni Kiam yang kusembunyikan dibalik baju diluncurkan kedepan, ilmu pedang terbang yang baru saja kuyakinkan segera kugunakan. Tampak cahaya merah meluncur keluar bagaikan bianglala, dikelilingi hawa pedang yang menggidikkan hati pedang tadi berputar diatas batok kepala kakek beralis codet, diikuti suara jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian….”.
“Bagus tepat sekali caramu untuk membunuh bajingan tua tadi ” teriak Gong Yu sambil mendeprak meja keras2.
saking kerasnya dia hantam permukaan meja sampai meja yang kuat itu ambrol dan muncul sebuah lubang besar.
Untung tenaga serangannya, sebagian besar telah ditarik balik begitu tangannya menghantam meja tadi, sehingga meskipun kepalannya mencium permukaan meja namun sama sekali tidak menimbulkan suara apapun, bahkan mangkuk serta cawan yang ada dimejapun tidak sampai tergetar.
“Engkoh Yu, kenapa sih kau begitu benci dan mendendam terhadap bajingan tua itu ? ?” mendadak Lie Wan Hiang menegur.
Merah jengah selembar wajah Gong Yu, untung pada saat ini dia sudah dipengaruhi oleh air kata2 sehingga kejengahan tersebut tidak sampai diketahui orang. Diluar ia tak berbicara, dalam hati pikirnya: “Bajingan tua itu sangat keji dan telengas bukan saja dia sudah lukai nona Hoan Pek Giok sehingga selembar jiwanya hampir saja melayang, bahkan letak serangan pada tubuh nyapun sangat terkutuk”.
Namun satu ingatan aneh segera berkelebat dalam benaknya, pikirnya lebih jauh: “Sungguh aneh sekali bukankah jarum sakti pencabut sukma itu dipancarkan lewat tabung yang diberi per, kenapa justru letak luka dari nona Pek Giok adalah diatas kedua tetek serta dibawah pusar antara kedua belah pahanya ????”.
Padahal kejadian itu tidak aneh, sebab dalam tabung besi itu terdapat dua macam penutup tabung, yang satu bisa digunakan untuk menembakkan jarum dalam jumlah satu per satu, sedangkan pada penutup tabung yang lain bisa ditembakkan jarum dalam jumlah yang banyak sekaligus.
Dan Hoan Pek Giok terkena oleh tembakan yang pertama.
Dalam pada itu ketika Lie Wan Hiang melihat kekasihnya tak dapat mengemukakan alasan apa sebabnya dia begitu membenci kakek beralis codet. dalam hati segera pikirnya: “Aaah, benar, engkoh Yu amat mencintai dan menyayangi diriku, tentu saja karena hati bajingan tua itu terlalu kejam dan telengas terhadap diriku maka dia begitu mendendam dan membenci dirinya ” setelah berpikir demikian rasa cinta dan kasih sayang nona ini terhadap Gong Yupun tanpa terasa semakin mendalam, tanpa terasa dicekalnya tangan pemuda itu dengan hangat lalu berkata: ” Karena aku tak mau terlalu banyak terbitkan pembunuhan yang tak berguna maka hanya sebuah telinga kiri kakek beralis codet Tong Yong saja yang kutebas kutung, kalau kau tahu betapa benci dan mendendamnya engkoh Yu terhadap dirinya, sebutir batok kepalanya tentu akan kutebas sekalian hingga kutung.
Namun tak apalah, untuk sementara waktu biarlah kutitipkan dahulu diatas lehernya, suatu hari pasti akan kuambil kembali batok kepala itu bila dia masih meneruskan perbuatan jahat serta terkutuknya ” .
Berbicara sampai disitu tak tahan lagi dia tertawa cekikikan.
Terhadap sikakek beralis codet ini sebetul- nya Gong Yu mendendam dan membencinya hingga ingin sekali membinasakan dirinya, namun bagi orang yang berbudi luhur macam dia tentu saja lebih suka mengampuni jiwanya bila orang itu memang ada niat untuk bertobat.
Pada saat itulah, tiba2…Tok Tok Tok dari balik anak tangga muncul dua orang manusia, seorang tinggi kurus dan yang lain gemuk pendek.
Yang tinggi kurus memakai jubah warna hitam dengan sebilah pedang tersoren dipunggungnya, dia sudah berusia lima puluh tahunan.
Sedang yang gemuk pendek punya dandanan yang sama dengan rekannya, sedang diatas punggung menggembel sebuah buntalan panjang, mungkin isinya adalah sepasang senjata aneh, usianya pun diantara lima puluh tahunan.
Setibanya diatas loteng mereka berdua segera memilih tempat duduk dekat dinding tembok, sesudah memesan arak dan sayur segera melahapnya dengan bernapsu.
Karena dandanannya yang menyolok, tanpa terasa Gong Yu menaruh perhatian terhadap mereka.
Terdengar sikakek gemuk pendek itu berkata dengan suara yang serak dan kasar: “Toako bajingan itu masih muda belia, kenapa Jiak-Cioe- Kiam-Khek loocianpwee dari laut Timur pun mengalami kerugian besar ditangannya ?? apakah dia benar2 ahli waris dari Bu-limJie-Seng ??” .
“Siapa yang bilang bukan ???” jawab sikakek kurus tinggi sambil mengelus jenggotnya yang putih. “Ilmu jari Kian-Goan eie merupakan ilmu rahasia dari Lam-Hay “.
Mendengar percakapan itu Lie Wan Hiang gerakkan bibirnya mau bicara namun dengan cepat Gong Yu menyikut lengannya sambil mengerdip. nona itu mengerti apa yang dimaksud kan, maksudnya untuk berbicarapun segera diurungkan. Terdengar kakek gemuk pedek itu bicara lagi.
“Bajingan itu dari perkampungan Pa In-San-Cung menuju ke propinsi Ouw Pak, kemudian memeriksa dan menyelidiki kesana kemari seakan-akan sedang mencari sesuatu, gerakgeriknya amat mencurigakan sekali, bahkan aku dengan lima manusia aneh dari kolong langit telah menulu ke selatanjangan2 mereka mau bikin kacau markas besar kita”.
“Mungkin saja memang demikian keadaannya” jawab kakek tinggi kurus itu setelah meneguk araknya. “oleh sebab itulah dari pihak markas besar telah kirim surat perintah ular terbang untuk panggil pulang Tiga Roh-Bengis, enam sukma ganas serta dua puluh empat sukma gentayangan untuk perlahanlahan mengundurkan diri, mereka diwajibkan menemukan orang itu diwilayah selatan dan berusaha membasmi atau menawannya”. kakek gemuk pendek angkat cawannya meneguk araknya berulang kali, sesudah cukup puas seraya menyeka mulutnya yang basah ujarnya kembali: “Rombongan pertama serta rombongan kedua yang kita kirim telah berkunpul semua digunung Kee-Kong-san, kalau rombongan ketiga tak bisa keburu pulang dari propinsi Ciatkang, aku lihat rencana kita malam nanti bakal gagal total.” Kakek tinggi kurus itu tidak langsung menjawab, dengan matanya yang tajam bagaikan burung elang dia sapu sekejap para tetamu yang ada diatas loteng, setelah dirasakan disekitar tempat itu tidak ditemukan orang kangouw, dia lantas menyahut: “Aaaah hal itu belum tentu, asalkan sin-koen berhasil menahan Jiak loocianpwee agar jangan berlalu dan malam ini juga bisa tiba disini, sekalipun rombongan ketiga belum sempat kembali, sama saja kita masih sanggup untuk turun tangan, bahkan kemungkinan besar usaha kita malam nanti bakal memperoleh kesuksesan besar “. Mendengar perkataan itu sikakek gemuk pendek tertawa.
Rupanya sikakek tinggi kurus itu tahu kalau rekannya kurang percaya, kembali katanya: “Jangan kau anggap dalam pertarungan tempo dulu, bangsat muda itu yang menang, kejadian yang sebenarnya adalah Pa-Gak Teh-Khek dari lima manusia aneh telah bikin lelah lebih dulu Jiak Loocianpwee sehingga tenaga murninya banyak berkurang. Dalam kenyataan pertarungan itu hanya bisa dianggap seri, sebab meskipun jalan darah Jiak cianpwee tertotok namun bangsat keparat she-Hoo itupun tidak berhasil peroleh kebanggaan apa2. Dan kini keadaan situasi telah berubah, keparat itu tinggal seorang diri tanpa teman, cukup melihat jumlah kita yang banyakpun dia bakal keder lebih dahulu, tenaga Iweekangnya tentu mengalami kemunduran dan kekalahan pasti ada ditangannya” Kakek gemuk pendek itu mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Toako jadi maksudmu dengan meminjam kesempatan yang sangat baik ini kita bunuh saja harimau itu. bukan begitu??”. Berbicara sampai disini, segera, teriaknya lantang: “Pelayan- ambil dua kati arak Kao-Liang” sementara itu Lie Wan Hiang yang mendengar kedua orang manusia itu sedang merencanakan siasat busuk untuk mencelakai suhengnya si sastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng, hatinya jadi mendongkol dan tanpa terasa dia mendengus dingin.
Gong Yu takut kedua orang penjahat itu menaruh curiga, mendengar dengusan tadi buru2 ia tunjukkan sikap se-olah2 sedang mohon maaf karena kurang hati2.
sedikitpun tidak salah, mendengar dengusan dingin itu kakek kurus tinggi itu segera berpaling kearah sudut loteng, namun setelah dilihatnya dua orang muda-mudi sedang bercekcok. rasa curiga pun seketika lenyap tak berbekas.
sementara itu pelayan telah datang menghidangkan dua poci arak serta beberapa macam sayur.
Kedua orang kakek tua itupun tidak bicara lagi, masing2 sibuk dengan pekerjaannya sendiri untuk menyikat sayuran serta arak tersebut.
Dari keadaan itu Gong Yu bisa menebak bahwasanya kedua orang kakek itu sebentar lagi tentu akan berlalu, maka dipanggilnya pelayan untuk bereskan rekening, kemudian menarik tangan sigadis untuk diajak turun ke-bawah loteng dan bersembunyi ditempat kegelapan.
Belum lama setelah kedua orang muda mudi itu menyembunyikan diri, turunlah kedua orang kakek tinggi pendek itu. tanpa sangsi ataupun curiga barang sedikitpun langsing menuju kearah Timur, gerakan tubuh mereka cepat dan enteng.
Gong Yu cepat2 menarik tangan Lie Wan- Hiang untuk menguntit dari tempat kejauhan, tampaklah disuatu tempat yang sunyi kedua orang kakek tadi ambil keluar sebuah mantel hitam serta sebuah kain kerudung hitam daribuntalannya kemudian dikenakan dibadan masing- masing .
setelah itu bagaikan dua ekor burung elang dalam dua tiga kali loncatan tubuh mareka sudah berada dua puluh tombak lebih dari tempat semula, jelas mereka jago jago lihay dari dunia pesilatan.
sekalipun Gong Yu serta Lie Wan Hiang memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna, dalam keadaan begini tak berani bertindak gegabah, dengan sangat hati2 dan waspada mereka meluncur dari belakang menguntit mereka berdua.
Terlihatlah empat sosok bayangan manusia laksana bintang yang menyambar dilangit berlarian d iba wah sinar rembulan- Jarak dari Liuw-Lim menuju ke Kioe-Li-Kwan hanya dua puluh li, dalam sekejap mata mereka telah tiba ditempat itu Dari tempat kejauhan sipendekar ganteng berbaju hijau Gong Yu serta Lie Wan Hiang telah dapat menangkap suara pembicaran orang serta bentrokan senjata yang berkumandang datang secara lapat2, hati mereka jadi cemas bercampur gelisah.
Dalam keadaan begitu tanpa menghiraukan akibatnya lagi, sepasang muda mudi itu bersuit nyaring, badan mereka berkelebat keangkasa bagaikan dua gulung asap hitam segera melayang lewati batok kepala dua orang berkerudung itu.
Mimpipun sikakek gemuk serta sikakek kurus tak pernah menyangka kalau pembicaraan mereka sewaktu ada dirumah makan Liuw-Lim bakal mengundang bencana besar bagi pihak mereka.
Dalam sekejap mata kedua orang itu sudah melewati belasan pos penjagaan dan tiba didalam kota.
Memandang kearah depan tampaklah diatas sebuah bukit yang ada didalam kota tadi telah penuh dengan bayangan manusia yang ber jejal2, bayangan kipas cahaya pedang menggulung dan menyambar dengan hebatnya.
Gong Yu sipendekar ganteng berbaju hijau amat menguatirkan keselamatan suhengnya, ia tak mau buang tempo lebih banyak lagi. sepasang lengan dipentangkan dengan ilmu meringankan tubuh Menunggang Angin Membonceng mega yang dikerahkan hingga mencapai pada puncaknya ia melayang ke muka lalu bagaikan seekor burung elang meluncur kearah kalangan pertempuran.
Dalampada itu dari tengah kalangan tiba2 berkumandang suara jeritan kaget.
Dari tengah udara Gong Yu dapat disaksikan dengan jelas betapa kaki suhengnya Hoo Thian Heng telah tertusuk oleh pedang jiak-Kioe-Khek sipendekar bola daging dari Tang Hay dengan jurusnya “Hoan Toan-Bong-In” atau Nyawa Putus dipulau dewata, dimana suhengnya mundur sempoyongan dan roboh keatas tanah.
Melihat lawannya roboh makhluk aneh berbentuk bulat seperti bola itu kebaskan jenggot nya dan tertawa dingin pedangnya digetarkan dan kembali menyerang dengan jurus “Ci-To-Hu ang-Liong” atau Naga Kuning Membabi buta” serangannya ganas dan langsung mengancam dada Hoo Thian Heng.
-0000- GONG YU terperanjat menyaksikan suheng nya terancam mara bahaya, dengan gusar dia membentak keras, tangan kirinya didorong kemuka melancarkan sebuah serangan dengan hawa sakti Tay-si-Hian-Thian sinkang.
sreet….. diiringi deruan angin pukulan yang maha dahsyat, tubuh makhluk aneh bulat bola itu seketika tergulung dan mencelat sampai sejauh empat lima tombak.
Bersamaan dengan itu tangan kanannya menghisap keluar, tubuh Hoo Thian Heng yang- hampir mencium tanah itu seketika terhisap oleh segulung tenaga yang maha dahsyat dan tertahan ditengah angkasa, ambil kesempatan itu Gong Yu putar tangannya menyambar pinggang sang suheng kemudian dibawanya turun keatas permukaan –ooo00ooo- Jild 14 LIE WAN HIANG sendiri setelah melihat suhengnya Hoo Thian Heng berhasil ditolong Gong Yu, pedang pendek Muni- Kiamnya langsung disapu keluar.
sreeet… menyongsong datangnya tubuh Jiak-Kioe Kiam- Khek yang mental balik pedangnya segera menebas kemuka mengancam batok kepalanya.
Ketika itu puluhan orang berkerudung hitam yang hadir dikalangan sedang ber-siap2 menyambut kemenangan yang bakal jatuh di tangan mereka, sungguh tak nyana secara tiba2 muncul panglima langit dari angkasa, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, cahaya pedang serta hawa serangan dengan cepat memenuhi angkasa.
Jiak Kiot Kiam Kfaek menarikan sekilas cahaya keperak2an, menggunakan daya pental tubuhnya yang mencelat balik secara mendadak ia lancarkan serangan mematikan kearah musuhnya.
siapa sangka sebelum serangannya mencapai pada sasarannya mendadak muncul sekilas bianglala berwarna merah, diikuti tangan kanannya jadi sangat ringan, kejadian ini membuat hatinya kaget dan terkesiap.
Makhluk tua ini jadi amat terperanjat, sambil meraung gusar buru2 badannya bergelinding sejauh dua tombak dari tempat semula dan segera loncat bangun.
Menanti ia berpaling kearah kalangan, tampaklah sepasang muda mudi dengan gagah nya telah berdiri keren disana.
sang pemuda mengenakan baju berwarna hijau, dadanya lebar dan punggungnya berotot, wajahnya sangat ganteng sekali, pada saat itu dia sedang membalut luka ditubuh Hoo Thiaa Heng, sikapnya hambar dan jumawa sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap orang disekelilingnya.
Sedangkan sang nona cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan, ditangannya mencekal sebilah pedang pendek sepanjang satu depa, cahaya merah memancar keluar dari senjata tersebut.
Ketika diperiksanya kembali pedang lemas yang dimilikinya.
ia bertambah kaget sebab senjatanya tahu2 sudah terpapas kutung separuh bagian.
Tiba tiba … ia teringat akan sesuatu, dia teringat bahwasanya pada beberapa ratus tahun berselang dalam dunia persilatan pernah muncul sebilah mustika penakluk iblis dari kalangan Budha. Pedang sakti Muni Kiam, ia lantas sadar bahwa senjata yang ada ditangan gadis itu pasti pedang mustika itu.
Lalu iapun teringat akan hantaman sang pemuda yang membuat badannya mencelat jauh hatinya bergidik dan tercengang.
Dia merasa heran darimana pemuda itu bisa memiliki kepandaian sedahsyat itu ?? sian Thian Khiekang apakah yang dimiliki pemuda tersebut ???… Mungkinkah Tay sie Hiat Thian sing kang?? Wajahnya yang gemuk dan penuh dengan daging itu bekerut kencang, susah bagi orang untuk mengetahui perasaan hatinya saat itu, entah sedang gusar atau terkesiap?? seketika itu juga suasana diatas tebing ciat Liong sia jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara, semua orang dibikin tertegun dan kaget oleh ilmu sakti serta kecantikan wajah Gong Yu serta Lie Wan Hiang.
Dikala para jago sedang berdiri tertegun itulah, angin tajam menyambar lewat, sikakek kurus kering serta sikakek gemuk pendek tadi laksana kilat telah melayang, turun ditengah kalangan- Begitu berjumpa dengan sepalang muda mudi yang saat ini sedang berdiri ditengah kalangan, hati mereka kontan terkesiap, pikirnya hampir, berbareng: “Eeeeh… rupanya pembicaraan kami sewaktu ada diloteng rumah makan Liuw lim tadi secara tidak sengaja telah kedengaran mereka… aduuuh… celaka sekarang bukan sukses malahan memancing hadirnya musuh tangguh…” Kendati didalam hati mereka berpikir demikian namun perasaan tersebut tak berani di utarakan keluar, sementara keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi baju mereka.
Lie Wan Hiang pun dapat menangkap kehadiran dua orang Lee Pok nomor lima dan dan enam ini, dia tersenyum, biji matanya berputar memancarkan cahaya tajam.
“Siang Pek Siang Hiong dua jagoan gunung Pek-san merupakan gembong2 iblis yang membunuh orang tak berkedip^ dalam keadaan begini hati mereka bergidik juga sampai bulu roma pada bangun berdiri.
Apa sebabnya kedua orang iblis itu secara tiba2 merasa begitu jeri terhadap Lie Wan Hiang ? ? Alasannya pertama karena kehadiran nona gagah ini adalah keteledoran mereka berdua.
Dan kedua mereka takut nona itu buka suara hingga rahasianya terbongkar dihadapan rekan-rekannya .
Seandainya sampai begini keadaannya dan rahasia mereka terbongkar, maka tak ampun lagi mereka tentu akan disiksa sampai mati oleh pembakaran api Yoe-Hoe dari perkumpulannya .
Untung Lie Wan Hiang hanya tersenyum hambar dan tidak mengucapkan apapun, untuk sementara waktu mereka dapat berlega hati.
Dalam pada itu dengan gerakan yang tercepat si pendekar ganteng berbaju hijau Gong Yu telan selesai membalut luka suhengnya Hoo Thian Heng, kemudian dia lantas bangkit berdiri sebetulnya paras muka Hoo Thian Heng si sastrawan berbaju biru ini boleh dikata ganteng dan tampan, namun kini setelah berdiri dihadapan suteenya ia jadi tersingkir, ketampanannya bagaikan cahaya kunang2 dibandingkan dengan cahaya rembulan.
Tampak biji matanya berputar tajam, setelah menyapu sekejap wajah semua orang yang hadir dikalangan, ujarnya dengan suara lantang: “Aku lihat cuwi sekalian merupakan jago2 pilihan dalam kalangan Hek-to, ditinjau dari kehadiran kalian dalam jumlah yang besar serta tak berani menemui orang dengan wajah sebenarnya terutama sekali ber-cita2 menangkap suheng kami, aku duga persoalan ini pasti bukanlah disebabkan persoalan dendam atau sakit hati pribadi, bukankah begitu ?…”.
Berbicara sampai disitu dia merandek sejenak, sepasang matanya per-lahan2 beralih dari satu wajah kewajah lain.
kemudian sambung nya lebih jauh.
“Terlepas dari persoalan bagaimanakah tingkah laku serta perbuatan cuwi sekalian dimasa yang lampau. Berbicara mengenai peristiwa yang telah terjadi pada malam ini dimana kalian mengerubuti suhengku dengan jumlah yang lebih banyak hingga dia terluka, aku berharap kalian semua segera pulang kemarkas dan katakan kepada pemimpin kalian, bahwa didalam satu bulan kemudian perkumpulan yang diselenggarakan harus dibubarkan, kalau tidak…… Hmm inilah contohnya…”.
Berbicara sampai disitu sepasang lengannya segera menggape dan menarik kearah belakang, seketika itu juga tubuh Jiak-Kioe Kian Khek sibola daging dari Tang-Hay yang bulat dan padat berisi itu tanpa terasa telah bergelinding kearah depan- Gong Yu tekuk kaki kanannya kebelakang, setelah mengincar tepat pada arahnya dan salurkan hawa sakti Taysie- Hian Thian sinkang kearah kaki, tiba2 ia lantas melancarkan sebuah tendangan kilat.
Bluuuk..: diiringi suara yang amat keras Jiak Kioe Kiam- Khek dari laut Tang-hay menjerit ngeri, tubuhnya mencelat ketengah udara dan bergelindingan hingga sejauh dua puluh tombak lebih, dengan keras badannya terbanting dibawah tebing Cian-Liong-Nia dan menggelinding terus sampai kedasar tanah.
Tendangan maut ini bukan saja telah melumpuhkan tenaga daya pental yang terpancar ke luar dari tubuhnya yang bulat, bahkan membuat tulang serta tubuhnya jadi sakit sekali seakan2 tulang belulangnya telah patah semua, untuk sementara waktu ia tak sanggup berkutik dan sukmanya seolah2 melayang dari raganya.
sepanjang hidup belum pernah tiga Roh Bengis, tujuh sukma ganas serta dua puluh empat orang sukma gentayangan menyaksikan ilmu silat yang demikian sakti serta anehnya, saking kaget dan takutnya mereka sampai menjerit dan kabur ter-birit2 dari s itu.
Menyaksikan musuh2nya pada kabur setelah melihat betapa lihaynya tendangan Gong Yu, Lie Wan Hiang kegirangan setengah mati, sambil acungkanjempoinya ia berseru memuji.
Hoo Thian Heng sendiri setelah lukanya dibubuhi obat, rasa sakit yang merasuk ketulangpun sudah banyak berkurang, menjumpai sute nya Gong Yu serta sumoaynya Lie Wan Hiang telah berhasil mengusir mara bahaya yang mengancam jiwanya serta melihat pula tenaga dalam yang mereka miliki jauh melebihi keberhasilan dirinya, dalam hati merasa malu bercampur menyesal, katanya: “Gong sute, Lie sumoay. dari mana kalian bisa tahu kalau Hoo- heng sedang terkurung dikota Kloe-Li Kwan??” “Sewaktu ada dirumah makan Liuw Lim secara tidak sengaja kami telah mendengar kabar yang mengatakan suheng terjebak disini, maka sepanjang perjalanan kami menguntit sampai kesini “jawab Gong Yu dengan alis melentik.
“Hoo subeng ” ujar Lie wan Hiang pula.” Ada urusan apa kau datang kekoka Kioe Li Kwan ini ???”.
Hoo Thian Heng sisastrawan berbaju biru berseruling kumala serta berkipas emas ini menghela napas panjang, dihadapan sumoay-nya yang selalu riang gembira dan polos ini dia merasa tidak tega untuk menceritakan peristiwa tragis yang telah menimpa keluarga nya.
Tetapi diapun sadar bahwa rahasia ini tak bisa disimpan lama2, maka dengan alis berkerut katanya: “Aaaai …. kalau dibicarakan kisah ini panjang sekali ceritanya, lebih baik kita kembali dulu kekota Liuw Lim Ceng, disana akan kuceritakan perlahan lahan-” “Suheng luka dikakimu belum sembuh, tidak leluasa bagimu untuk melakukan perjalanan, lebih baik biarlah siauwte yang membopong dirimu untuk melanjutkan perjalanan ini “.
“Aaaah, cuma luka sekecil ini apa artinya.” tampik Hoo Thian Heng sambil gelengkan kepalanya dan tertawa.
“Lagipula sudah dibubuhi obat mustajab bikinan suhu, dalam waktu singkat lukanya tentu akan menutup dan sembuh kembali, ayoh berangkat”.
Bersama dengan selesainya ucapan itu tampak cahaya biru berkelebat lewat, tanpa menanti jawaban dari sute serta sumoaynya lagi ia lari turun lebih dahulu dari tebing Ciat-Liong Nia.
Melihat kakak seperguruannya telah berangkat terpaksa sipendekar Ganteng berbaju hijau Gong Yu dengan menggandeng tangan Lie Wan Hiang diajaknya menyusul dari belakang, bayangan hijau segera berkelebat lewat turun dari tebing itu.
Ditengah jalan beberapa kali Hoo Thian Heng berpaling kebelakang, menjumpai sate serta sumoaynya sanggup menyusul dibelakangnya tanpa ngotot dan mengeluarkan banyak tenaga, dalam hati segera pikirnya: “Sungguh lihay tenaga dalam yang dimiliki sute serta sumoay, rupanya kesempurnaan tenaga Iweekangnya jauh berada diatas diriku ” sebagai orang yang mempunyai sifat ingin menang, ia tak mau unjukan kelemahannya di hadapan orang, maka segenap.
tenaganya segera disalurkan untuk bisa berlari jauh lebih cepat lagi. bagaikan segulung asap tipis laksana kilat badannya meluncur kemuka.
Karena suhengnya secara tiba2 percepat larinya terpaksa Gong Yu berduapun harus kerahkan tenaganya yang lebih besar untuk menyusul dibelakangnya.
Jarak antara Kioe Li Koan dengan kota Liuw Lim terpaut hampir dua puluh li, namun bagi tiga orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh amat sempurna ini, dalam sekejap mata jarak yang demikian jauhnya telah tertempuh. setibanya dalam penginapan Liuw Lim mereka loncat balik kekamarnya lewat tembok pekarangan, kemudian setelah memasang lampu dan meneguk air teh kata Lie-Wan Hiang denjian nada bergurau: “Hoo suheng, apakah kau diusir oleh suci serta Tonghong cici? kalau tidak kenapa ngeluyur seorang diri ditempat luaran?” Berbicara sampai disitu tak tahan lagi ia tertawa sendiri Hoo Thian Heng menghirup seteguk air panas, kemudian kepada Gong Yu ujarnya dengan memberi nasehat.
“Maka dari itu suteku kau harus menggunakan sunengmu sebagai contoh dan janganlah sekali2 main2 perempuan ditempat luaran, daripada mencari penyakit buat diri sendiri” Air muka Gong Yu kontan berubah hebat, rupanya ucapan yang diutarakan tanpa mengandung maksud apa2 ini dengan tepat telah mengena dilubuk hatinya.
Dalam pada itu Lie Wan Hiang sedang memungut cambuk kuda yang terletak diatas meja mendengar perkataan tadi pergelangan tangannya kontan digetarkan ketengah udara, Tar diiringi suara ledakan cambuk yang nyaring serunya.
“Hmmm dia berani ?” suara ledakan cambuk yang amat nyaring ini seketika mengejutkan Gong Yu yang sedang memikirkan Hoan Pek Giok, hatinya terkesiap dan tanpa sadar serunya berulang kali: ” Hamba tidak berani,.,. hamba tidak berani” Menjumpai kekasihnya ketakutan setengah mati, Lie Wan Hiang jadi senang dan tertawa cekikikan.
Terutama sekali Hoo Thian Heng s i sastrawan berbaju biru, ia tertawa terbahak2 sampai sakit perutnya .
Merah jengah selembar wajah Gong Yu, dia jadi kikuk dan malu sekali, katanya.
“Suheng, lebih baik bicarakan persoalan pokok yang penting, sebenarnya karena persoalan apa sampai kau tiba di kota Kioe-Li Kwan ini..” senyuman yang menghiasi sastrawan bersuling kumala berkipas emas ini seketika lenyap tak berbekas, wajahnya jadi suram dan kesal. Dengan alis berkerut pikirnya: “Eeeh, tak mungkin aku bisa ceritakan semua peristiwa yang telah terjadi secara demikian langsung dan blak2an, lebih baik ku pertimbangkan lebih dahulu masak ” Berpikir demikian ia lantas pura2 unjukkan senyumannya dan berkata.
“Aku rasa lebih baik kalian yang menceritakan lebih dulu kisah perjalanan kamu berdua sejak keluar dari lembah Leng im Kok.” Lie Wan Hiang cibirkan bibirnya kearah Gong Yu dengan maksud agar sianak muda itulah yang menceritakan pengalaman mereka.
Tentu saja pemuda ganteng ini tak berani menolak. diapun lantas menceritakan kisah perjalanan mereka selama ini terkecuali kisah perjumpaan serta perkenalannya dengan Hoan Pek Giok, selama beberapa hari ini Hoo Thian Hongpun telah memperoleh cara untuk mengatasi kesulitannya, maka begitu Gong Yu menyelesaikan ceritanya dia lantas menghirup air teh untuk membasahi kerongkongannya dan berkata: “Maksud tujuanku meninggalkan Pa In San Cung kali ini sama sekali bukan disebabkan karena diusir oleh sucimu ataupun Tong-hong Moay Moay, tapi yang terutama adalah untuk mengejar dan mencari tahu jejak dari ayahmu si Cian Liong Poocu Lie-cianpwee …” Begitu ucapan ini diutarakan keluar, baik Lie Wan Hiang maupun Gong Yu sama2 terperanjat dan berseru tertahan- Tidak menunggu pertanyaan dari kedua orang muda mudi itu, Hoo Thian Heng berkata lebih jauh: “Kemungkinan besar sebab lenyapnya Lie-cianpwee adalah dikarenakan diculik oleh To Bin Yauw Hoe si siluman rase berwajah buah To, Hoan soh soh ” Diapun lantas menceritakan secara bagaimana Bong-san Yen shu bersama Lie Kie Hoe minum arak dirumah makan coei siao Loo lalu berjumpa dengan Hoan soh soh dan bagaimana kemudian orang tua she Lie itu lenyap tak berbekas…
“suheng, dari mana kau bisa merasa begitu yakin kalau empek Lie telah ditangkap musuh dan bukan sebaliknya sedang mengejar siluman rase itu ?” tanya Gong Yu.
“Coba bayangkan saja” jawab Hoo Thian Heng sambil membelai luka diatas kakinya.
“Pedang pusaka milik Lie cianpwee telah tertinggal didalam hutan bunga To diluar kota Kay Hong, itu jelas berarti kalau dia telah kehilangan daya bertahan nya, kalau bukan ditangkap lalu kenapa ?” “Mungkinkah Empek Lie telah dibunuh ?” Dengan cepat Hoo Thian Heng menggeleng.
“soal ini telah kupikirkan dengan teliti dan seksama, kami rasa hal ini tak mungkin terjadi. sebab pertama, disekitar tempat itu tak dijumpai jenazah Lie cianpwee yang terbunuh.
Kedua seandainya dia sedang mencari balas, tidak mungkin Lie cianpwee menyembunyikan diri karena itulah aku rasa beliau pasti sudah terjebak di dalam perangkap musuh hingga terluka dan tertangkap “.
Mau tak mau Gong Yu harus mengakui akan kemungkinan hal tersebut, untuk beberapa saat lamanya dia bungkam dalam seribu bahasa.
Mimpipun Lie Wan Hiang tak pernah menyangka kalau secara tiba2 ayahnya bisa temui kejadian seperti ini, ia jadi gelisah dan tidak tenteram, tiba2 timbrungnya: “Hoo suheng, apakah kau telah mendapatkan titik terang atau tanda2 yang menunjukkan di manakah ayahku berada ??”.
“Aaai…l” sastrawan berbaju biru Hoo Thian Heng menghela napas panjang. “sudah hampir dua puluh tahun lamanya To- Bin Yauw-Hoe tak pernah munculkan diri didalam dunia persilatan, bukan saja licik bagaikan seekor rase diapun lihay.
jangan dikata banyak orang kangouw tidak kenali dirinya, sekalipun mereka yang pernah kenal setelah lewat sekian banyak tahun wajahnya tentu sudah banyak berubah, dan siapa yang akan memperhatikan dirinya lagi ?? lagipula siapa yang tahu letak sarang rasenya ??…”.
“Kalau begitu, bukankah ayahku sukar untuk ditemukan kembali…” bisik Lie Wan HHvang dengan suara lirih, titik air mata mulai jatuh berlinang membasahi wajahnya.
“Persoalannya bukan begitu dan jalanpun belum buntu, contohnya saja perjalananku kekota Kioe Li Kwan kali ini, tanpa sengaja aku telah memperoleh kabar yang dapat dipercaya dari jago kangouw aku mendapat tahu bahwasanya dua hari berselang dikota Kioe Li Kwan telah muncul seorang nyonya muda yang amat cantik ditemani oleh suaminya yang ganteng, mereka berdiam selama beberapa hari disitu.
Menurut kata orang itu rupanya suami dari nyonya cantik tadi sedang menderita sakit yang parah, tak pernah orang itu meninggalkan kamarnya barang satu langkahpun” Berbicara sampai disitu ia melirik sekejap sepasang mudamudi itu, lalu sambungnya lebih jauh: “Maka dari itu tergesa2 aku tinggalkan im Bong menuju kemari dan menginap dirumah penginapan song-pwan satu2nya rumah penginapan yang ada dikota Kiok Li Kwan ini, setelah tanya sana tanya kemari akhirnya aku berhasil membuktikan bahwa apa yang kudengar bukan berita bohong, karena itu diam2 aku lantas menyusup ketebing Ciat Liong Nia untuk bikin penyelidikan. siapa sangka para gembong iblis itu muncul secara tiba2 ditempat itu, dalam pertarungan tersebut bukan saja aku terkurung bahkan hampir saja korbankan selembar jiwaku. Aaai … kalau bukan sute serta sumoay muncul serta membantu diriku tepat pada saatnya, entah bagaimana nasibku sekarang??”.
Akhirnya dia menghela napas sedih, nadanya begitu terbuka dan kosong. Gong Yu termenung sesaat, lalu katanya: “Suheng, apakah kau telah melakukan penyelidikan yang cermat dan seksama dirumah penginapan yang pernah didiami suami istri setengah baya itu ?? misalnya saja tulisan atau tanda2 pengenal yang ditinggaikan diatas dinding tembok.” “Aduuh…. aku telah melupakan persoalan itu tapi tak apa, keledai sakti “Hek Jie” ku masih tertinggal di rumah penginapan “Siong cwan” dikota Kioe-Li kwan, biarlah besok pagi aku berangkat kesitu untuk melakukan pemeriksaan yang lebih teliti”.
Ketika pembicaraan telah-selesai, tanpa terasa fajar telah menyingsing dlufuk sebelah Timur.
Selesai bersantap pagi tanpa sungkan lagi Hoo Thian Heng berangkat kekota Kioe-Li Kwan dengan menunggang kuda “Giok-Liong” terpaksa Gong Yu harus berangkat dengan menunggang satu kuda bersama sumoaynya Lie Wan Hiang.
Jarak sejauh dua puluh li dalam waktu singkat telah ditempuh oleh kuda2 jempolan cau Ya-Giok-Say-cu.
Setibanya didepan rumah penginapan, pemilik penginapan “Siong- cwan” mengira tamu nya telah berangkat pagi2 dan kini baru kembali, mimpipun dia tak pernah menyangka kalau kemarin malam, diatas tebing ciat-Liong-Nia telah berlangsung suatu pertarungan sengit yang hampir saja merenggut nyawa jago muda itu.
Kepada pemilik penginapan itu Hoo Thian Heng segera tanyakan dimana letak kamar yang pernah dihuni To-Bin Yauw-Hoe, dan sangat kebetulan sekali kamar tersebut bukan lain adalah kamar yang ditempati dirinya sendiri Ketiga orang itu segera masuk kedalam kamar, dalam suatu pemeriksaan yang seksama dan teliti itu akhirnya dari suatu sudut tembok yang rahasia dan tertutup sekali letaknya, Lie Wan Hiang berhasil temukan tulisan “Kie Hwie” disana serta sebuah tanda panah yang menuding kearah selatan.
Penemuan terbaru yang berhasil mereka temukan ini semakin membuktikan kalau Cian Liong Poocu Lie Kie Hwie memang tertawan ditangan musuh, sedikit banyak kenyataan ini untuk sementara waktu bisa melegakan hati beberapa orang itu. Dengan alis berkerut kencang dalam hati Gong Yu berpikir: “Ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki empek Lie, ternyata diapun sampai kena tertawan, bukankah hal ini menunjukkan bila kepandaian silat dari To-Bin Yauw-Hoe benar benar luar biasa dan jauh melebihi orang lain, tapi…seandainya ia tertawan, kenapa empek Lie rela berjalan sendiri ber-sama2nya, kalau begitu jalan darahnya tentu sudah ditotok dan sukar berjalan sendiri. Ditinjau dari hal ini bisa dibayangkan bahwa dia pasti menggunakan kereta kuda sebagai pengganti kaki…
Berpikir begitu dia lantas panggil datang si empunya rumah penginapan, dan tanyanya: “Dengan cara bagaimana sepasang suami istri setengah baya itu meninggaikan tempat ini?” Pemilik rumah penginapan itu termenung sejenak kemudian jawabnya: ” Nyonya muda itu memiliki paras muka yang amat cantik dengan suara yang lengking dan nyaring, oleh sebab itu aku masih ingat dengan jelas dirinya mereka berangkat dengan menunggang kereta kuda, bahkan kereta kuda itupun dibeli dari ong Loo Chiet dengan harga yang sangat tinggi ” “Nyonya cantik ?… kereta kuda ?…” Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa sadar Gong Yu berseru tertahan dan menghantam meja keras2.
“Aaaah, dia… pasti dia… kalau begitu pastilah orang itu… ” gumamnya.
“siapakah dia itu….?” hampir bersamaan waktunya Hoo Thian Heng serta Lie Wan Hiang bertanya.
Gong Yu tidak memperdulikan pertanyaan kedua orang itu, sebaliknya kepada pemilik rumah penginapan itu tanyanya kembali: “Apakah atap kereta itu ditutup dengan kain terpal berwarna hitam, apakah kuda yang menghela kereta tersebut yang satu berwarna kuning dan yang lain berwarna hitam, apakah nyonya itu berusia antara tiga puluh tahunan, bentuk bunga To dan memakai gaun berwarna merah darah?…” “sedikitpun tidak salah” pemilik rumah penginapan itu mengangguk tiada hentinya. “Apakah khek-koan mempunyai hubungan tali persaudaraan dengan dirinya?…” sebelum dia meneruskan kata2nya Gong Yu telah menukas dan ulapkan tangannya. “Disini tak ada urusanmu lagi, silahkan berlalu” Setelah pemilik rumah penginapan itu berlalu, dengan nada kesal dan menyesal kata Gong Yu.
” Ketika berada diluar kota Pak-Loe-shia, aku pernah bertemu dengan kereta serta perempuan cantik itu, saat tersebut aku sedang balik kekota siang- Hiang untuk mencari jejak adik Wan. sebenarnya pada ketika itu dalam hatiku muncul suatu perasaan ingin tahu, aku ingin membuka kerai kereta tadi dan mengintip isinya, namun aku segera sadar bahwa mengintip rahasia pribadi orang adalah kurang sopan dan kurang ajar, maka kubataikan niatku itu. Aaai kenapa aku jadi orang demikian jujurnya ??…”.
“Yang paling kita takuti adalah putusnya kabar berita yang menunjukkan dimana mereka berada ” kata Hoo Thian Heng dengan alis berkerut. “setelah kita mengetahui bahwasanya To-Bin Yauw-Hoe dengan membawa Cian-Liong Poocu telah memasuki Wilayah ouw-lam, urusan bisa kita bereskan lebih gampang lagi. dengan adanya kita suheng-te bertiga berangkat ber-sama2, sekalipun harus terjun ketela ganaga atau sarang harimau Lie Locianpwee harus kita tolong hingga lolos dari mara bahaya. Mengenai kejadian yang menimpa dirimu ketika itu, kita tak bisa salahkan dirimu.” JILID 14 HALAMAN HILANG pokok se-hari2 amat murah, jumlah uang se-besar sepuluh tahil perak cukup untuk membiayai hidup sebuah keluarga yang sederhana selama setengah tahun, bisa dibayangkan betapa terima kasihnya sang pemilik rumah penginapan itu atas hadiah yang diterimanya.
Demikianlah tiga orang dengan menunggang tiga ekor kuda jempolan laksana kilat. berangkat melakukan perjalanan, setelah melewati gunung Kie-Kong-san, mereka langsung ambiljalan yang menghubungkan antara propinsi ouw-lam dengan ouw-pak.
Ditengah jalan pendekar ganteng berbaju hijau Gong-Yu merasa pikirannya kalut dan dipenuhi dengan pelbagai masalah yang membingungkan hatinya, dalam hati ia berpikir: “Mungkinkah antara To Bin Yauw-Hoe siluman rase berwajah bunga To dengan empek Lie pernah terjalin hubungan gelap yang luar biasa pada masa yang silam ??..
Aaah benar. bukankah nona Hoan Pek Giok mempunyai raut wajah, potongan alis, mata serta hidung yang sama persis dengan adik Wan ?? apakah dia adalah hasil hubungan dari empek Lie dengan siluman rase itu ???…”.
JILID 14 HALAMAN HILANG pada sama matang2nya seorang perempuan, mula pertama dia ingin menggunakan kenangan lama untuk mempengaruhi pikiran Lie Kie Hwie, dalam anggapan sang kekasih tentu akan teringat kembali akan kehangatan tubuhnya pada masa lampau dan terjerat kembali dalam pelukannya.
siapa sangka apa yang terjadi jauh diluar dugaannya, bukan saja Lie Kie Hwie tidak terpengaruh oleh buaian serta rayuan mautnya, bahkan sama sekali tidak ada niat untuk memuaskan napsu setan-nya yang berkobar kobar bagaikan jilatan api, hal ini membuat dia jadi mendongkol, gemas dan jengkel, kepingin sekali dia hadiahkan sekuntum bunga To pencabut sukma kepadanya.
setiap kali Cian Liong Poocu Lie Kie Hwie selalu sengaja memancing kegusaran, dengan harapan bisa peroleh kebebasan batin lewat perbuatannya ini.
oleh sikap serta tindak tanduknya yang menjengkelkan hati ini, siluman rase berwajah bunga To jadi mendongkol dan bencinya setengah mati, dalam hati dia telah mengambil keputusan hendak mengurungnya seumur hidup dan menyiksanya perlahan-lahan sampai mati. sedangkah Hoan Pek Giok pada saat ini JIIID 14 HALAMAN HILANG Baru saja orang itu menginjakkan kakinya di lembah, suara bentakan nyaring bergema memecahkan kesunyian : “siapa disitu? berani benar menyatroni lembah seribu bunga To kami tanpa permisi, ayoh berhenti dan cepat balik kalau kau tidak pingin modar turuti saja perintah ini ” siapa sangka bukan saja orang itu tidak berhenti setelah mendengar bentakan tersebut malahan mendongak dan tertawa ter-bahak2, begitu nyaring suara tertawanya hingga membuat jantung siluman rase berwajah bunga To berdebar keras.
Terutama sekali gerakan tubuhnya yang cepat dan ringan bagaikan bayangan setan, dalam sekali loncatan badannya sudah mencapai empat lima tombak jauhnya, semakin menggetarlah hatinya.
Ilmu langkah sukma gentayangan seperti ini pernah dikenalinya selama siluman rase ini masih berkelana didalam dunia kangouw pada masa yang silam, bisa dibayangkan betapa terperanjatnya dia setelah menjumpai kepandaian sakti itu dimiliki orang as ing tersebut.
sungguh cepat gerakan tubuhnya sekejap kemudian orang itu sudah berhenti beberapa tombak di hadapannya, dengan sorot matanya tajam dan membetot sukma ditatapnya wajah perempuan itu tajam2.
sepanjang hidup belum pernah siluman rase berwajah bunga To Hoan son soh jeri atau takut kepada siapapun, menjumpai orang itu sama sekali tidak memperdulikan dirinya dan memandang dia dengan pandangan rendah, hawa gusarnya kontan memuncak. sreeeet… dari punggungnya ia cabut keluar sebatang ranting bunga To.
Menyongsong datangnya sang surya, tampak cahaya tajam berkilauan, bayangan bunga To memenuhi angkasa dan jelas pula menunjukkan bahwa benda itu merupakan sebuah senjata aneh yang ampuh dan terbuat dari baja murni.
Ujung batang tajam lagi runcing dan bisa digunakan sebagai pedang, sisi kepingan bunga tajam lagi berwarna kebiru2a n, jelas senjata tersebut telah dipoles dengan racun keji yang mematikan barang siapa yang terkena.
Air muka orang itu tetap tenang dan sama sekali tidak berubah, sambil menatap ranting bunga To tersebut ia tersenyum mengejek.
sepasang alis To-Bin Yauw-Hoe kontan berkerut, matanya melotot besar, sambil membentak keras laksana kilat dia lancarkan sebuah serangan dengan jurus ” Toh- Lie- Ceng- Coen” atau Juara Kelas merebut gadis manis.
Bagaikan bayangan setan saja sambil tertawa ter-bahak2 orang itu gerakan badannya menyingkir kesamping, tampak bayangan hitam berkelebat lewat, tahu2 tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Menghadapi musuh yang tangguh dan kosen semacam ini kendati dalam hati To-Bin Yauw Hoe merasa terperanjat sekali, namun sebagai jago kangouw yang sudah banyak pengalaman dalam menghadapi pelbagai macam lawan, dia tetap tenang tanpa unjukkan rasa jeri atau kaget.
Menyaksikan bayangan tubuh lawan secara tiba2 lenyap tak berbekas, dia lantas menduga kalau musuhnya tentu sudah menyingkir kebelakang, maka secara tiba2 ia melangkah maju sambil putar badan, tanpa memandang untuk kedua kalinya batang ranting bunga To ditangannya menyapu keluar mengikuti geseran kaki kanannya dengan jurus “Toh-Ciang- Lie-Tay” atau Indah sentosa keturunan Lie, angin segera menderu2 bagaikan gulungan taupan.
JILID 14 HAL. 35 S/D 40 HILANG Lie Kie Hwie si ketua dari benteng cian-Liong Poopun ikut diboyong kedalam markas mereka, sejak itu dalam dunia kangouw tidak pernah menjumpai lagi bayangan tubuh dari jago pedang ini.
Dalam pada itu Hoo Thian Heng sisastrawan berbaju biru, Gong Yu sipendekar tampan berbaju hijau serta Lie Wan Hiang dengan menunggang kuda jempolan telah berangkat kearah selatan dengan melalui jalan raya yang menghubungkan propinsi ouw-pak dengan ouwlam, kemudian mengikuti jejak yang didapatkan dari orang2 disekitar sana mereka berhasil membuntuti hingga tiba dilembah seribu bunga To.
Namun sayang seribu kali sayang, mereka temukan bangunan rumah ditengah be-ribu2 batang pohon To itu berada dalam keadaan kosong, keadaan ini membuat Lie Wan Hiang jadi sedih hingga mengucurkan air mata.
Gong Yu melakukan pemeriksaan yang seksama disekeliling sana. mendadak dari suatu sudut rumah ia temukan sebuah sarung pedang yang telah penuh dengan debu, dengan cepat benda itu dipungutnya.
Hoo Thian Heng yang ikut menyaksikan benda tadi segera berseru tertahan, ujarnya: “Wan sumoay, ternyata sedikitpun tidak salah dugaan kita.
ayahmu benar2 pernah dikurung disini, coba kau lihat bukankah sarung pedang yang berada ditangan Gong sute adalah sarung pedang milik pribadinya ??…”.
sejak kecil Lie Wan Hiang telah kenali sarung pedang itu, bahkan sering kali pula digunakannya untuk bermain, sudah tentu ia segera kenali benda tersebut sebagai benda miliki ayahnya.
Tapi…kemanakah Lie Kie Hwie telah pergi??? apakah dia masih hidup atau sudah mati ??? Kembali ketiga orang itu dibikin kebingungan oleh masalah yang amat rumit ini.
Haruslah diketahui, lembah seribu bunga To yang terletak di atas gunung soat-Hong-san me rupakan suatu tempat yang letaknya amat rahasia, dan sekarang siluman rase itu telah tinggalkan sarangnya untuk pindah ketempat lain, mungkinkah hal ini disebabkan oleh karena dia mempunyai sarang lain yang jauh lebih rahasia letaknya?? Dunia jagad demikian luas. setelah titik terang yang mereka peroleh dengan susah payah mendadak terputus ditengah jalan, ketiga orang ini jadi bingung setengah mati.
Dilakukannya pemeriksaan yang seksama di sekeliling tempat itu, namun tak ada sesuatu tanpa apapun yang berhasil ditemukan, akhirnya dikala sang surya telah condong keufuk barat, dengan hati berat mereka naik kembali keatas pelana kudanya masing2 dan menuruni gunung soat Hong-san tersebut Malam ini, mereka menginap dikota Ciang-Yang.
Karena menguatirkan keselamatan ayahnya wajah Lie Wan Hiang selalu tampak murung sedih dan tidak senang hati, sedangkan Hoo Thian Heng serta Gong Yu yang menjadi suhengnya tentu saja merasa kesal juga menjumpai adik seperguruan mereka bersedih hati, malam ini suasana diliputi kekesalan serta kegelisahan. suatu ketika, mendadak terdengar Lie Wun Hiang bergumam seorang diri: “sudah begini lama ayahku lenyap tak berbekas, entah bagaimana sedih hati ibuku? Ai…… dimanakah ibuku sekarang berada? apakah dia-pun sedang mencari jejak ayahku?” selama ini Hoo Thian Hong paling takut kalau mendengar gadis tersebut menanyakan soal ibunya, maka sepanjang jalan dia selalu berusaha untuk menghindari pertanyaan ini. Dan sekarang secara tiba2 ia ungkap per-soalan ini, dalam hati segera pikirnya: “Aduuuh celaka rupanya persoalan paling sulit yang kutakuti selama ini bakal kujumpai juga ” .
Untung Lie Wan Hiang cuma bergumam sendiri dan tidak tanyakan persoalan itu langsung dengan Hoo Thian Hong, maka sementara waktu pemuda itu boleh meraba lega hati.
Mendadak…. Gong Yu yang selama ini berdiam diri telah menimbrung dari samping: “setelah enpek Lie lenyap tak berbekas entah bagaimanakah pendapat Pek Bo mengenai peristiwa ini ??? “.
Rupanya dia sedang mencari kabar sampingan yang lebih banyak sebagai bahan analisanya terhadap diri siluman rase berwajah bunga To.
Mendengar pertanyaan itu, Kontan Hoo Thian Hong melototi sutenya dengan hati mendongkol.
“Keadaan burung hong hijau cianpwee juga seperti halnya kita” sahutnya cepat. “semua persoalan yang berhubungan dengan Toh Bi Yauw Hoe sama sekali tak diketahui olehnya” “Hoo suheng, mungkinkah ibu juga munculkan diri kedalam dunia kangouw untuk mencari ayah ???” tanya Lie Wan Hiang lirih, air mata nya jatuh berlinang membasahi pipi.
Terhadap pertanyaan ini Hoo Thian Hong sudah bikin persiapan matang2, sejak semula maka begitu ditanya dengan lancar dan sama sekali tidak menunjukkan tanda2 berbohong jawabnya: “Ibumu paling gelisah dan cemas diantara siapapun juga, ketika kami lakukan pencarian, kearah selatan, seorang diri dia telah berangkat keutara untuk bikin pemeriksaan ” Jawaban ini segera membuat Lie Wan Hiang serta Gong Yu mempercayainya seratus persen, sebab mereka menyangka toa suheng nya ini tentu bicara jujur dengan mereka.
Dalam pada itu Hoo Thian Hong sendiri diam2 merasa jengah, merah padam selembar wajahnya, sepanjang hidupnya dikolong langit baru kali ini dia bicara bohong, maka tidak aneh kalau dia merasa malu pada dirinya sendiri “Dikolong langit tak akan ada rahasia yang bisa tersimpan rapat” hibur Gong Yu kemudian. “Asalkan kita mencari dengan seksama dan teliti, mungkin saja dari mulut kawanan Kangouw yang kita temui akan berhasil didapatkan kabar mengenai mereka”.
“Benar” seru Hoo Thian Heng membenarkan. “Rumah makan adalah tempat yang paling sering disinggahi orang Kangouw. sute sumoay, ayoh berangkat kita bersantap makan dahulu ” Habis bicara tanpa menantikan jawaban kedua orang muda mudi itu. lagi, ia berlalu lewat dari kamar, diikuti oleh Gong Yu dan Lie Wan Hiang dari belakang. baru saja mereka tiba, di pintu depan, dari hadapan mereka muncul seorang tua berambut putih yang berdandan sebagai seorang nelayan, kakek itu berjalan dengan langkah ter-gesa2 dan lewat dihadapannya.
ooooooooo DALAM sekilas pandang, Hoo Thian Heng segera kenali kakek tua berdandan nelayan itu sebagai Goan-Kang-Gie-Hu atau nelayan dari sungai Goan-kang Tong su Kiat adanya, ia segera percepat langkahnya mengejar kedepan. teriaknya: “Tong cianpwee, tunggu sebentar” ^ Mendengar suara teguran, si Nelayan dari sungai Goankang ini segera berhenti dan menoleh kebelakang, tatkala dijumpainya Hoo Thian Heng berdiri disitu dia jadi kegirangan segera sahutnya: “Loote, sungguh tak nyana kita bisa berjumpa disini ayoh berangkat mari kita naiki gunung Bu-tong san, jangan sampai terlambat”.
Perkataannya ini diutarakan tanpa ada ujung ataupun pangkalnya, bukan saja membuat Lie Wan Hiang serta Gong Yu yang sedang menyusul tiba jadi kebingungan setengah mati, sekalipun Hoo Thian Hong sendiripun jadi bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Tatkala dijumpainya tiga orang muda mudi itu memandang kearahnya dengan wajah tertegun, Tong soe Kiat melengak.
namun dengan cepat dia sadar kembali apa yang sudah terjadi.
“Begini saja ” katanya kemudian. “Mari kita mencari suatu tempat yang sepi untuk membicarakan persoalan ini” Didepan mereka merupakan sebuah rumah makan Hoo Thian Hong segera mengajak mereka bertiga menuju kesana, dan mencari tempat yang agak sepi didekat jendela. sebentar kemudian sayur dan arak telah dihidangkan.
Mungkin si Nelayan dari sungai Goan Kang ini sudah lama tak pernah minum arak, begitu arak dihidangkan dia segera menyambar poci itu dan diteguknya sampai puas, kemudian dia baru berpaling memandang sekejap kearah Gong Yu serta Lie Wan Hiang.
Terasalah sepasang muda-mudi itu bukan saja gagah dan cantik jelita, hawa murninya jelas berada diatas tingkatan Hoo Thian Hong sendiri, menyaksikan kejadian itu diam2 ia merasa tercengang dan tidak habis mengerti.
Dengan sepasang alis berkerut kencang Hoo Thian Hong segera perkenalkan kedua belah pihak, ujarnya: “cianpwee ini adalah si Nenek nelayan dari sungai Goan Kang yang bernama Tong soe-Kiat, ilmu jari penggetar nadi serta tujuh puluh dua jurus ilmu jaring ikannya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan.” Pendekar tampan berbaju hijau Gong Yu serta Lie Wan Hiang masing2 mengangguk tanpa memberi hormat.
Kemudian sastrawan berbaju biru itu menuding kearah Lie Wan Hiang dan melanjutkan “sedang nona itu adalah sumoayku Lie Wan Hiang, dia bukan lain adalah mutiara kesayangan dari Lie Kie Hwie cianpwee, poocu dari benteng Cian Liong Poo.” “ooouw….” seru Tong soe Kiat, dia lantas tuding Gong Yu dan berkata: ” Kalau begitu dia pastilah sutemu yang bernama Gong Yu dengan julukan sipendekar tampan berbaju hijau haaa.,.naaa…bagus bagus sekali dengan adanya kalian suheng-te bertiga, maka bencana yang bakal menimpa partai Bu tong pun bisa teratasi ” “Bukankah partai Bu-tong adalah partai yang paling besar, kuat dan paling berkuasa diantara sembilan partai lainnya, siapa yang berani mencabut kumis harimau? apakah sukma ganas serta roh2 bengis itu?” “Dugaanmu tepat sekali, bahkan aku dengar katanya Yoe Leng sin Keen bakal hadir sendiri dalam penyerbuan tersebut selama dua hari belakangan ini. partai Butong sudah diobrakabrik sampai kacau dan tidak keruan, secara beruntun Boesu kenamaan dari kota Lok-yang yang bernama Poei Coh, silengan baja monyet sakti dari kota sian Yang Ang Ceng Kiansijari langit soen Pok Kauw dari Gie Pak serta sitabib sakti Yoe siok Peng dari ci Kang menemui ajalnya dalam keadaan yang mengenaskan.” Sepasang alis Hoo Thian Hong berkerut, sebelum dia sempat bertanya terdengar orang tua itu sudah berkata lebih jauh: “Didalam sepuluh hari belakangan ini, partai Ciong-Lay keok, partai Cing shia musnah, partai Go-bie bubar dan partai Hong-san takluk. diatas gunung2 kenamaan itu semuanya telah ditancapi panji berwarna abu2 bergambar tengkorak dari perkumpulan Yoe-Lee Kauw, dan kini mereka sedang kerahkan segenap tenaga yang dimilikinya untuk menyerbu partai Bu-tong. Aaai…hampir boleh dikata seluruh dunia persilatan telah ketimpa bencana seandainya partai Bu-tong rontok pula ditangan mereka, jelas tujuan mereka yang berikutnya adalah partai siauw-lim. Asal Butong pay dan siauw-limpay sudah goncang dan rontok. maka dalam kolong langit akan sulit untuk mendapatkan jago dunia yang bisa menandingi mereka “.
Ucapan tersebut diutarakan dengan nada sedih dan murung, tercermin betapa risaunya hati kakek tua ini.
Lie Wan Hiang yang mendengar perkataan tersebut, alisnya segera berkerut, gerutunya: “Hmm, kalau dari dulu2 tahu begini, sewaktu ada diatas bukit ciat-Liong-Nia dikota Kioe-Li Kwan tak nanti kulepaskan malaikat2 ganas tersebut”.
“sudah…sudahlah, urusan telah lewat apa gunanya kau menggerutu dan sesalkan, persoalan paling penting yang harus kita kerjakan sekarang adalah bagaimana caranya menolong partai Bu-tong lepas dari kepungan musuh “.
Hoo Thian Hong mengangguk tanda setuju, mendadak dengan alis berkerut tanyanya: “T0ng cianpwee, darimana kau peroleh kabar berita ini???”.^ si Nelayan dari sungai Goan-Kang menghela napas panjang.
“Kemarin, ketika aku sedang beristirahat di sebuah rumah penginapan dalam kota Ceng- Wan, tiba2 sikepalan sakti tanpa bayangan Tie Keng cuan melayang masuk lewat jendela belakang, dia beritahu kepadaku katanya bencana besar telah mengancam dunia persilatan dewasa ini, Yoe-Leng sin- Keen telah menetapkan pada bulan lima hari Toan- Yang hendak menyapu rata partai Bu-tong. dia bertanya kepadaku apakah aku punya cara untuk menemukan ahli waris dari dua rasul atau lima manusia aneh guna membantu pihak Bu-tong Pay menghalau bencana tersebut, ketika ku hitung2, waktunya ternyata hari Toan- Yang tinggal beberapa hari lagi sedang akupun tak tahu harus pergi ke mana untuk mencari kalian, terpaksa ku sanggupi permintaannya dengan catatan bertindak mengikuti takdir. Waktu itu akupun bertanya kepadanya darimana dia peroleh kabar tersebut, disisi telingaku, bisiknya: “sute ku sitelapak Kian-Kean yang memberitahukan kepadaku”, selesai berkata demikian tergesa2 ia berlalu dari sana. sikapnya amat hati2 se-olah2 takut kalau dia dikuntit orang dari belakang.” “setelah mendapat kabar itu maka aku lantas berangkat dengan harapan bisa bertemu dengan loote didaerah sekitar propinsi ouw-lam serta ouw-pak. Haah.. haah…haah ternyata Thian telah mempertemukan kita di sini…”.
saking girangnya si nelayan dari sungai Goan-kang tak sanggup mempertahankan diri lagi, ia mendongak dan tertawa bergelak.
“Tie loocianpwee memang seorang yang baik hati” ujar Gong Yu dari samping, “sayang namanya telah rusak akibat tingkah laku serta perbuatan sutenya sisetan gantung putih Khong It Hoe. Kalau memang kabar ini diperoleh dari mulutnya, aku rasa tak bakal salah lagi, mari kita segera berangkat dan lakukan perjalanan siang malam, aku rasa masih sempat bagi kita untuk tiba dipartai Bu-tong sebelum tiba saatnya. Cuan… Tong loocianpwe apakah kau punya kuda…” “Hoee… heee… heee… dengan adanya sam-wi sauw-hiap yang berangkat ke gunung Bu-tong untuk membantu mereka, loohu percaya bencana yang mengancam partai Bu-tong pasti berhasil dihalau, biarlah loohu menyusul dari belakang saja sambil menantikan arah kemenangan dari kalian bertiga ” Baru saja dia menyelesaikan kata2nya, mendadak terdengar desiran angin menyambar lewat, sesosok bayangan putih laksana kilat telah menyambar kearah dada orang tua itu.
Lie Wan Hiang membentak nyaring, sumpit ditangannya bekerja cepat… Trak tahu-tahu bayangan putih tadi telah dijapitnya dengan sumpit bambu itu.
Ketika diperiksa dengan seksama ternyata bayangan putih tadi bukan lain adalah secarik kertas.
Menanti mereka turun kebawah loteng untuk mencari sipelempar kertas tadi. bayangan tersebut telah lenyap tak berbekas dibalik tetamu lain yang sedang bersantap disitu.
Terpaksa mereka kembali kemejanya sendiri dan membuka kertas tadi, diatas kertas tersebut terteralah empat bait tulisan yang berbunyi demikian: “Diluar memperbaiki jalan, diam2 menyeberangi sungai.. Pura2 menyerang Bu tong, yang sebenarnya menghancurkan sauw lim….” Dibelakang tulisan tadi terlukis sebuah kepalan, jelas orang yang memberikan peringatan itu bukan lain adalah si kepalan sakti tanpa bayangan Tie Keng cuan adanya.
“Aaah. Pastilah pihak Yoe leng Kauw telah mengubah rencananya ditengah jalan” seru Goan Kang cie Hu memberi komentar. “Kalau tidak begitu tak nanti Loo Tie jauh2 datang kemari untuk menghantar surat sayang kita tak sempat menanyakan persoalan ini lebih jelas lagi ” “Aku pikir loocianpwee itu tentu mempunyai kesulitan sendiri yang tak bisa disampaikan kepada kita “.
“Ditinjau dari nama Yoe Leng Kauw yang dipergunakan perkumpulan itu…” Hoo Thian Heng setelah memandang sekejap keadaan disekelilingnya. Kemungkinan sekali kitab pusaka Yoe Leng pit Kip yang terdapat di tebing Pek Yan Gay telah berhasil didapat kan oleh Yoe Leng sin Keen dan dipelajarinya. Meskipun ilmu silat yang termuat dalam kitab pusaka itu merupakan ilmu silat yang maha ampuh dari kalangan sesat, namun selama waktu latihannya masih pendek. dia tak usah kita takuti. Cuma saja dia berani menantang sembilan partai besar untuk berduel, dibelakangnya tentu punya backing yang kuat, aku harap sute serta sumoay jangan punya perasaan pandang rendah musuh dikala menghadapi mereka nanti ” Gong Yu serta Lie Wan Hiang tidak berani membantah peringatan dari toa suhengnya, mereka tunduk dan percaya penuh atas setiap perkataan dari pemuda she Hoo ini.
Hoo Thian Heng sendiripun dapat merasakan hal itu dari sikap serta wajah kedua orang adik seperguruannya, maka dia berkata lebih jauh: “Kalau kita tinjau dan bicarakan tindak tanduk serta perbuatan2 pihak Yoe- Leng Kauw yang bikin bencana dalam Bu-lim tiga bulan belakangan ini, serta tindakannya merubah rencana ditengah jalan, aku pikir kauwcu mereka Yoe Leng sin-Koen pastilah seorang manusia yang licik, lihay dan banyak akalnya. Aku percaya dengan kepandaian silat yang dimiliki sute serta sumoay masih sanggup menghadapi setiap pertarungan macam apapun, namun aku tetap berharap agar kalian berdua selalu peningkat kewaspadaan jika menghadapi mereka, agar supaya kalian jangan terjerumus kedalam perangkap mereka “. Berbicara sampai disitu dia merandek sejenak. kemudian sambungnya kembali: “Perjalanan dari kota Cian-Yang menuju kegunung siongsan hampir mencapai tiga ribu li jauh nya, aku percaya dengan kecepatan lari kuda Cau-Ya-Giok say-Cu kalian yang bisa lari seribu li dalam sehari masih sanggup tiba ditempat tujuan tepat pada saatnya. Demikian saja biarlah I-heng yang berangkat ke Bu-tong san untuk membantu merekam, sedangkan kalian boleh berangkat malam ini juga menuju kegunung siong san untuk membantu pihak siauw lim, baik partai Bu tong maupun partai siauw lim merupakan tulang punggung dari dunia persilatan, perduli manapun diantara kedua tempat ini yang ketimpa bencana, kita wajib menolong serta membantu mereka.” sipendekar tampan berbaju hitam Gong Yu serta Lie Wan Hiang mengerti betapa genting dan tegangnya persoalan yang mereka hadapi, maka detik itu juga mereka berpamitan kepada suheng nya Hoo Thian Hong serta Goao Kang Gie Hu untuk kembali kerumah penginapan guna berkemas kemas, setelah itu dengan menunggang kuda jempolan mereka berangkat ke Utara.
Untuk sementara baiklah kita tinggalkan dulu perjalanan Gong Yu serta Lie Wan Hiang yang berangkat ke utara untuk menolong pihak sauw lim pay, dalam pada itu Hoo Thian Hong bersama Tong soe Kiat segera berangkat ke Bu tong san dengan menunggang keledai Hok jienya yang bisa berlari cepat.
sedikitpun tidak salah, sepanjang jalan sering kali mereka bertemu dengan jago2 kango-uw bersama-sama berangkat menuju kearah yang sama, bahkan mereka awasi kedua orang ini dengan sorot mata penuh rasa permusuhan.
si Nelayan dari sungai Goan-kang takut Hoo Thian Hong tidak kuat menahan kesabarannya sehingga menerbitkan keonaran dan mengganggu perjalanan mereka, berulang kali dia menasehati pemuda tersebut agar bersabar dan tidak memperdulikan mereka.
Begitulah mereka berdua segera melewati daerah pegunungan Bu-Leng san berbelok ke utara menyebrangi sungai Tiang- kang, melewati Tong- Yang dan mengikuti lereng pegunungan Bu-tong san menuju kekota sak-Hoa-Kia.
sak-Hoa-Kia merupakan satu2nya kota yang terletak dibawah gunung Bu-tong san, kearah Timur mereka bisa tiba dikota Kok-shia dan suasana dikota tersebut boleh dikata tak begitu ramai.
Ditempat ini mereka sering kali berpapasan dengan para toosu dari partai Bu-tong yang berlalu lalang kesana kemari.
Diam2 si nelayan dari sungai Goan-kang merasa bahwa mereka dapat tiba ditempat tujuan tepat pada saatnya, sedikit banyak iapun merasa lega hati, apalagi setelah menyaksikan sikap para toosu yang tenang jelas diatas gunung belum terjadi sesuatu peristiwa diluar dugaan.
Menanti Hoo Thian Hong telah menitipkan keledai “Hok Jie” nya disebuah rumah penginapan, segera ujarnya: “Loote, bagaimana juga kita tiba disini lebih duluan dari mereka, bagaimana kalau mencari rumah makan dahulu untuk meneguk beberapa cawan arak sebelum naik keatas gunung?” Belum sempat Hoo Thian Heng menjawab, mendadak dari ujung jalan ditempat kejauhan muncul seorang tootiang tua yang memakai jubah warna kuning dengan wajah bersih dan jenggot sepanjang dada.
semua toosu berjubah biru, putih serta hitam yang berjumpa dengan tootiang tadi segera bongkokkan badan memberi hormat, hal ini menunjukan bila kedudukan dalam partai Bu-tong sangat tinggi.
Gerakan badannya sepintas lalu tampak sangat lambat namun dalam kenyataan cepatnya luar biasa, dalam sekejap mata ia sudah tiba didepan mereka.
sementara si nelayan dari sungai Goan Kang Tong Soe Kiat masih berdiri tertegun, toosu tua itu telah menjura dalam2 kearahnya sambil menegur: “Tong sicu sudah banyak tahun kita tidak bertemu, tampaknya kau makin lama semakin gagah sungguh beruntung ini hari Hian Hok bisa berjumpa dengan diri tayhiap. bagaimana kalau mampir diistana Ci Yang Kiong kami untuk menginap beberapa hari?” sekarang Tong Soe Kiat sinelayan dari sungai Goan-kang ini baru teringat bahwasanya toosu tua yang berada dihadapan kini bukan lain adalah Hian Hok Toojien sute dari Hia Ciang itu ciangbunjien dari partai Bu-tong.
Bersama dengan Hian siauw Tootiang, Hia Biauw Tootiang, Hian Go Tootiang, Hian Ke Tootiang serta Hian Gong Tootiang mereka di sebut Bu-tong Chiet-kiam atau tujuh jago pedang dari partai Bu-tong.
Bukan saja ilmu pedangnya sangat lihay. imannya kuat dan punya nama yang cemerlang sebagai kaum yang lemah toosu inipun ramah dan berbudi luhur. Maka setelah teringat siapakah toosu itu Tong Soe Kiat segera tertawa ter-bahak2: “Dari ribuan li jauhnya aku situa bangka she Tong dengan mengajak Hoo Loo-tee datang kegunung Bu-tong bukan lain adalah karena ingin bertemu dengan ciangbunjien kaliansungguh tak dinyana kita sudah berjumpa muka disini .haaahhaaah…..
haaah bagus. bagus, sangat kebetulan sekali “.
Hian Hok Too tiang tidak tahu apa sebabnya jago tua dari sungai Goan-kang inijauh2 meluruk partainya, dalam hati segera pikirnya: “Persoalan besar apakah yang sedang dia hadapi sehingga jauh2 dari ribuan li datang kemari ?? jangan2 disebabkan anak murid partai kami yang telah berlaku kurang ajar terhadapnya”.
Berpikir demikian tanpa terasa sepasang alisnya segera berkerut kencang.
Rupanya Tong Soe Kiat bisa menebak apa yang sedang dipikirkan toosu tua itu, kembali ia tertawa terbahak2.
“Hian Hok Too-tiang, kau tak usah menebak hal yang bukan2, nanti akan kujelaskan maksud tujuan kedatangan kami kesini “. Berbicara sampai disitu dia lantas memperkenalkan: “Dia adalah ahli waris dari Lam- hay, orang kangouw menyebutnya sebagai sisastrawan berbaju biru berseruling kumala berkipas emas Hoo Thian Hong, Hoo sauwhiap”.
Mendengar disebutnya nama itu diam2 Hiat Hok Tootiang merasa terperanjat, namun buru2 ia memberi hormat sembari berkata: “sudah lamapinto mengenali nama besar sauwhiap. hanya sayang belum pernah saling berkenalan “.
Belum sempat ia meneruskan kata2nya, sambil mengelus jenggot dan tertawa sinelayan dari sungai Goan-kang telah menyela: “Kita semua adalah orang2 Bu-lim, apa gunanya segala macam tata cara yang tengik dan busuk itu ” Maka mereka bertiga pun masuk kedalam sebuah rumah makan, Hian Hok Tootiang memesan masakan berpantang dan menemani disamping.
-00000000- Jilid 15 SAMBIL minum arak dan bersantap mulailah Tong Soe Kiat sinelayan dari sungai Goan-kang ini membeberkan rencana perkumpulan Yoe Leng Kauw yang hendak menyerang partai Bu-tong serta partai siauw-limpada saat yang bersamaan, disamping itu diapun menambahkan: “Karena takut partai kalian tidak bikin persiapan sama sekali sehingga jatuh ketangan musuh, maka sengaja aku dagang kemari dengan membawa Hoo sauhiap untuk membantu kalian”.
Mengenai keonaran serta kebrutalan yang dilakukan pihak Yoe Leng Kauw pada bulan belakangan ini, pihak partai Butong telah mengetahuinya dengan jelas, bahkan tujuh jago pedang dari Bu-tong pernah mengusulkan kepada ciangbunjiennya Hian cing tootiang untuk bekerja sama dengan para jago dari partai lain guna menanggulangi bencana besar ini.
Namun disebabkan masalahnya terlalu besar dan mempengaruhi perbagai partai lainnya, hasil perundingan tersebut belum berhasil dilaksakan.
siapa sangka sekarang mendapat kabar yang mengatakan kawanan gembong iblis itu telah berkumpul disekitar gunung Bu-tong untuk menghancurkan partai tersebut, kendati Hian Hok Tootiang adalah toosu yang beriman tebal tak urung hatinya dibikin terkejut bercampur gusar juga.
“Demikianpun boleh juga..” teriaknya.
saking mendongkol dan khekinya sampai ia tak sanggup bersantap lebih jauh.
selesai berdahar, mereka bertigapun segera kerahkan ilmu meringankan tubuh untuk merangkak kegunung Bu-tong.
Rupanya toosu tua itu ada maksud menguji sampai dimanakah kemampuan yang dimiliki Hoo Thian Hong sisastrawan berbaju biru yang namanya telah menggetarkan sungai telaga, sepanjang perjalanan ia kerahkan ilmu ginkang pot Poh Kan sannya hingga mencapai pada puncaknya, terlihatlah sang badan bagaikan kilat meluncur keatas dengan dahsyatnya.
Tetapi setelah ia menoleh kebelakang dan menyaksikan keadaan pemuda tersebut, hatinya jadi sangat kagum.
Karena selama ini Hoo Thian Hong selalu membuntut dibelakang nya dengan sikap yang tenang, bukan saja dia tampak lelah atau payah bahkan wajahnya biasa saja seakan2 sedang berjalan lambat.
Dia tahu orang lain memiliki kepandaian silat yang lihay dan tidak ingin dipamerkan, kalau tidak mungkin dia sebagai sang tuan rumah sudah kehilangan pamor sejak tadi.
Dalam pada itu Tong Soe Kiat yang ketinggalan dibelakang segera berteriak keras: “Hey…kenapa kalian lari begitu cepat??? mau apa sih terburu2 naik kegunung ?? rupanya kalian ada maksud hendak melelahkan aku situa bangka she -Tong agar cepat modar???”.
Dalam kenyataan gerakan tubuh Goan-kang Gie-Hoe tidak bisa dikatakan lambat, tubuhnya selalu menguntil dibelakang Hoo Thian Heng dengan selisih yang tetap. hanya saja dia memang sengaja ber-teriak2 agar pertandingan secara diam2 itu bisa diurungkan.
setelah lewati kolam pelepasan pedang mereka langsung menuju keruang tamu dalam istana ci-yang Kiong, setelah Hian Hok Tootiang memerintahkan seorang toojien berjubah biru untuk melayani tamunya, dia sendiri langsung menuju kedalam untuk menghadap ciangbun-jiennya dan melaporkan apa yang didengarnya barusan.
Bisa dibayangkan betapa kagetnya Hian cing cinjien setelah mendengar laporan itu, dengan cepat dia undang tujuh jago pedang-nya untuk berkumpul dan secara diam2 memerintahkan mereka untuk perketat penjagaan di sekitar gunung.
Malam itu bintang bertaburan diangkasa, rembulan munculjauh di-awang2 memancarkan cahayanya yang redup, lampu disekeliling kuil diatas gunung Bu-tong telah padam dan suasana diliputi keheningan serta kesunyian.
Kentongan kedua dengan cepatnya berlalu dan kentongan ketiga hampir lewat, namun sama sekali tak terlihat adanya tanda2 mencurigakan yang membuktikan bahwa ada musuh hendak menyerbu partai mereka, semua orang mulai sangsi dan ragu2 dengan kabar yang di bawa Goan-kang Gie Hu,jangan2 berita orang tua itu keliru pikir mereka hampir serentak.
Mendadak…. tiga jalur anak panah berapi muncul ditengah udara diikuti suara ledakan keras bergema memecahkan kesunyian ditengah malam buta itu.
Genta banyak yang ada disegala penjurupun serentak berbunyi nyaring Taang …. Taang …. ditengah dengungan suara tersebut jeritan ngeri yang menyayatkan hati muncul dari mana2.
Bayangan hitam berkelebat keluar dari empat penjuru, gunung Bu tong san seketika dipenuhi dengan manusia2 tak dikenal, sebagai kuda liar yang dicambuk mereka menerjang terus naik kepuncak.
Namun rintang2an ampuhpun muncul dari balik tempat penyembunyian, menyaksikan pihak lawan sudah bersiap sedia tiga puluh enam orang manusia berkerudung hitam yang mendapat tugas untuk membasmi partai Bu tong ini jadi terperanjat, pikir mereka: “Sungguh tidak malu partai Bu tong disebut sebagai suatu partai yang sangat besar, ternyata kewaspadaan serta penjagaan mereka begitu ketat dan kuat, kita tak boleh pandang terlalu enteng diri mereka”.
Dalam penyerbuan keatas gunung Bu tong san kali ini, ketiga manusia Roh Bengis, tujuh sukma ganas serta dua puluh empat sukma gentayangan dipimpin oleh dua orang perempuan kerudung hitam.
Baru saja mereka tiba ditepi telaga pelepasan pedang, mendadak…. Sreeet Sreeet secara beruntun muncul tiga puluh enam orang too-tiang berjubah biru, sambil menghunus pedang mereka halangi jalan pergi tamu2 tak diundang itu.
Haruslah diketahui didalam partai Bu-tong, anak murid yang menggunakan hurup “Biauw” sebagai permulaan namanya merupakan anak murid angkatan kedua, bukan saja ilmu silatnya lihay terutama sekali ilmu pedangnya luar biasa sekali, dalam dunia persilatan boleh dibilang sebagai jagoan kelas wahid.
Terutama sekali ketiga puluh enam orang ini, mereka merupakan inti daripada anak murid angkatan kedua dan mahir menggunakan ilmu barisan pedang sah-Cap-Lak-Thian Kang-Tin.
Barisan pedang Thian-Kang Kiam-Tin dari partai Bu-tong bisa disejajarkan dengan kelihayan barisan Loo-Han-Tin dari partai siauwlim, barisan tersebut jarang sekali digunakan bilamana tidak berjumpa dengan musuh yang sangat tangguh.
Begitu menyaksikan kemunculan tootiang-tootiang berjubah biru itu, para Roh Bengis sukma Ganas tahu akan kelihayan orang, sebelum mendapat perintah dari perempuan berkerudung hitam itu semua orang sama2 menghentikan langkahnya.
Dalam pada itu tujuh orang toojien berjubah kuning munculkan diri dari pelbagai arah yang berbeda disisi telaga pelepas pedang, dalam sekejap mata mereka telah berdiri didepan ketiga puluh enam orang toojien berjubah biru itu.
Pemimpin dari rombongan toojien itu sambil mencekal pedang segera menegur kearah Piauw Biauw Hujien yang memimpin rombongan tersebut: “Partai kami tak pernah berbuat salah terhadap diri Hujien, mengapa ditengah malam buta kalian naik kegunung kami dan membinasakan anak murid kami yang tak berdosa??? disamping itu, maapkan kalau pinto Hiansiuw berpengalaman cetek. tolong tanya Hujien berasal dari perguruan atau partai mana???”. Perempuan berkerudung hitam itu tertawa nyaring, “Aku rasa tootiang tentulah pimpinan dari tujuh jago pedang, aku yang rendah bukan lain adalah Piauw Biauw Hujien Mo Yoe Yauw dari perkumpulan Yoe Leng Kauw, adapun maksud dari kedatangan kami adalah untuk menyampaikan firman dari suamiku Yoe Leng-sin Keen untuk mengundang partai kalian masukjadi anggota perkumpulan kami, sayang kedatangan kami dihalangi oleh anak murid partai kalian yang tidak tahu diri, maka apabila anak buah kami sudah turun tangan terlalu berat disini aku Mo Yoe Yauw minta maaf terlebih dulu.” selesai berkata dia lantas menjura dalam2.
Diantara tujuh orang jagoan pedang dari Bu tong Pay tabiat Hian Thong Tootiang paling berangasan, mendengar ucapan tersebut dia lalu mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Haaa….haaa….partai kami adalah perguruan agama Too yang maha suci dan maha Agung, sejarahnya sudah hampir mencapai beberapa ratus- ribu tahun lamanya. Hm perkumpulan Yoe Leng Kauw itu perkumpulan apa? berani benar pentang bacot besar menginginkan yang bukan2.
Kedatangan kalian ditengah malam buta apalagi membinasakan anak murid kami sudah merupakan dosa yang besar, apalagi sikap kalian yang diperlihatkan sekarang lebih2 tak boleh diampuni. Hoy perempuan siluman, pinto akan tangkap dirimu untuk diserahkan kepada ciangbunjien guna dijatuhi hukuman”.
Habis berkata tampak bayangan kuning berkelebat lewat, tahu2 ia sudah berdiri dihadapan perempuan siluman itu “Piauw Biauw Hujien” Mo Yoe Yauw tertawa ter-kekeh2.
“Hoy toosu tua hidung kerbau, kau berani bicara gede apakah tidak takut ditertawakan orang sampai giginya pada rontok apa yang nyonya mu katakan tadi tidak lebih cuma ucapan sopan santun saja, Hmm jangan dianggapnya Bu-tong chiet Kiam benar2 hebat dan tiada tandingannya dikolong langit sekarang, kalau memangnya kau ada maksud minta pelajaran, biarlah aku perintahkan “Lee-Pok” nomor tujuh untuk menemani dirimu bermain beberapa jurus.” Bersamaan dengan selesainya perkataan tadi dari antara rombongan orang2 berkerudung hitam itu muncul seorang manusia berkerudung yang mempunyai perawakan tinggi besar, dibalik kerudungnya tampak sepasang matanya bulat besar bagaikan kelereng, dengan langkah lebar dia langsung menghampiri Hian Thong Tootiang.
Perawakan Hian Thong Tootiang pun tinggi kekar, melihat musuhnya sudah hampir kedepan, dia segera loloskan pedangnya dari sarung. ” Cabut keluar senjatamu ” teriaknya: “Toosu tua hidung kerbau ” jengek Lee-Pok nomor tujuh sambil tertawa dingin, sinar mata buas memancar keluar dari matanya. “Di tepi alam baka sudah ada dua orang menantikan kedatanganmu, kalau memang kau ingin ter-buru2 berangkat kesitu, baiklah aku sihweeshio akan menghantarkan dirimu untuk melakukan perjalanan jauh ” Dari punggungnya orang itu segera ambil keluar sebuah Hok Hie baja yang beratnya hampir mencapai seratus kati serta sebuah penangkalnya yang panjang.
Begitu senjata aneh itu dikeluarkan, tujuh jago pedang dari Bu-tong Pay sama2 terperanjat, terdengar Hian Hok Toojien yang berdiri disamping berseru memberi peringatan: “sute. hati2 gembong iblis itu adalah Ang Hoat Tauwto dari Ceng Hay “.
Hian Thong Tootiang mendengus dingin, pedangnya segera digetarkan dan melancarkan satu serangan kilat ketubuh lawan.
Lee-Pok nomor tujuh tertawa seram, pemukul Bok Hie nya dengan memancarkan sekilas cahaya hitam segera menyapu keluar mengunci datangnya serangan tersebut, kemudian dengan jurus “Tiang Poan Ku Hud” atau sampai tua bersemayam dikuil dia hantam dada Hian Thong Toojien dengan Boks hie raksasanya, angin tajam laksana guntur membelah bumi seketika memenuhi angkasa.
Hian Thong Toojien tekuk pinggang nya kebelakang sambil bergeser kesamping, dengan suatu gerakan yang manis namun nyaris, ia berhasil lolos dari maut, ilmu pedang Tay Cing Kiam Hoat perguruannyapun segera dimainkan dengan hebat.
sementara itu Hian siuw Tootiang yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan ia merasa amat terperanjat, ia sadar dengan kemampuan Ang Hoat Tauwto dari Ceng Hay yang demikian dahsyatnya. Hian Thong Toojien masih bukan tandingannya, dan dia pun sadar bahwa situasi yang berada didepan mata malam ini sangat gawat, sebagai orang yang teliti ia segera kirim tanda bahaya kepada ketua partainya.
Dalam pada itu Ciangbunjien dari partai Bu-tong, Hian cing cinjien telah mendapat kabar bahwa musuh tangguh telah menyerang gunung mereka, namun dia percaya dengan dihalangi oleh tiga puluh enam orang anak murid angkatan keduanya serta ketujuh orang sutenya pihak musuh untuk sementara bisa di halaukan.
sekalipun dibelakang gunung bersemayam pula dua orang susioknya yang lihay. sebelum keadaan memaksa ia tak ingin mengganggu ketenteraman mereka.
Dan kini secara tiba2 ia peroleh tanda bahaya yang dikirim sutenya, ketua partai Bu tong ini tak berani bertindak gegabah lagi, tanpa banyak bicara dia segera meloncat keluar daripendopo dan langsung menuju kepuncak Thian coe Hong dibelakang gunung.
Melihat Hian cing cinjien telah berlalu, dengan alis berkerut sinelayan dari sungai Goan-kang Tong soe Kiat segera berkata: “Hoo lote, bagaimana kalau kita berangkat ketelaga pelepas pedang untuk me-lihat2 berapa banyak gembong iblis yang menyerang Bu-tong Pay malam ini ?” sudah teatu Hoo Thian Hong sisastrawan berbaju biru tidak menolak. merekapun segera kerahkan ilmu meringankan tubuhnya berangkat kebawah gunung.
sepanjang perjalanan mereka jumpai para toosu partai Butong berkeliaran dimana mana menjaga keamanan, karena mereka sudah tahu bahwa kedua orang ini adalah tamu agung partai mereka, maka perjalanan mereka tak dihalangi oleh siapapun.
Waktu itu Hian Thong Toojien telah menderita kekalahan ditangan Ang Hoat Tauwto dari Ceng-hay, untung dia tidak sampai terluka.
Hian siauw Tootiang sadar bahwa musuh yang menyerang gunung mereka malam ini sangat tangguh, dia segera memerintahkan ketiga puluh enam utusan orang toojien berjubah biru itu untuk mengatur barisan Thian- Kang Kiam- Tin, sedangkan tujuh jago lainnya dengan mengikuti kedudukan tujuh bintang masing2 berdiri ditengah barisan tersebut.
Barisan ini merupakan barisan chiet-Seng-Thian Kang Lian- Hoa-Tin ciptaan dari Ceng Yang Cinjlen beberapa tahun berselang, barisan ini belum pernah dipergunakan untuk menghadapi musuh maka orang kangouw tak ada yang tahu akan kelihayan dari barisan tersebut.
setelah barisan diatur, Hian siuw Tootiang segera menjura kearah Piauw Biauw Hujien dan berkata: “Dari partai kami terdapat sebuah barisan pedang yang amat kecil, apabila hujien bisa membobol pertahanan barisan ini, pinto sekalian tentu tak akan menghalangi perjalanan kalian lebih jauh.” Piauw Biauw Hujien tidak langsung menjawab, kepada nenek bongkok berkerudung hitam yang berdiri disisinya ia bertanya: “Loo Hoat-hoet, bagaimana pendapatmu mengenai barisan pedang ini…. apakah ada cara pemecahannya?? ” Perempuan bongkok itu tertawa nyaring.
“Para hidung kerbau dari Bu-tong pay memang paling pandai menggunakan permainan setan ini untuk mengacau pikiran orang, hmm tidak akan lebih hebat dari apa yang kau bayangkan, paling banter barisan itu adalah barisan Thian Kang Kiam Tin yang mereka dengung2kan akan kelihayannya.
Haah… haah… haaah… jangan kuatir…biar kubobol barisan cakar ayam ini “.
selesai berkata sambil putar tongkatnya dia segera menerjang masuk kedalam barisan. Dengan terjunnya perempuan bongkok itu, Piauw Biauw Hujien dengan memimpin tiga orang roh bengis, tujuh orang sukma ganas serta dua puluh empat orang sukma gentayangan segera menyusul dari belakang.
Mendadak Hiong Hoen nomor dua maju ke muka lalu membisikkan sesuatu kesisi telinga Piauw Biauw Hujien Mendengar bisikan tadi, Hujien itu tersenyum dan mengangguk. diikuti ketiga orang Hiong Hun itu segera ambil keluar puluhan butir pil berwarna merah dari sakunya dan dibagikan kepada semua orang.
Gerak-gerik serta tingkah laku mereka yang aneh dan misterius itu membuat para toosu jadi tercengang dan tidak habis mengerti.
Hoo Thian Hong yang sementara itu telah bersembunyi dibelakang sebuah pohon Pak ditepi telaga pelepas pedang dapat memperhatikan tingkah laku mereka, dalam hati segera pikirnya.
“Jangan2 bajingan itu hendak menggunakan senjata peledak yang maha dahsyat untuk menghadapi para toosu itu?” Belum habis ia berpikir puluhan orang manusia berkerudung hitam itu telah menerjang masuk kedalam barisan, seketika bayangan golok cahaya pedang memenuhi angkasa.
Terutama sekali siperempuan bongkok yang berkerudung hitam itu, tongkatnya diputar sedemikian rupa sehingga menimbulkan suara desiran yang amat nyaring.
senjata dari tiga manusia Roh bengis lebih aneh lagi ” Hiong Hun” nomor satu bersenjatakan sepasang Iaba2 berwajah manusia, Hiong- HHun nomor dua bersenjatakan seekor ular berantai besi sedangkan HHiong HHun nomor tiga bersenjatakan seekor ular bersisik emas yang berkepala segi tiga, lidahnya menjulur kesana kemari sambil perdengarkan teriakan-teriakan aneh, bentuknya mengerikan sekali.
Melihat musuhnya telah bertindak. Hian siuw Tootiang segera ayunkan pedangnya, barisan chiet seng Thian Kang Lian Hoan Tin pun segera mulai bergerak.
Tampak selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata bagaikan gulungan ombak ditengah badai menggulung kearah puluhan orang berkerudung hitam yang menerjang masuk kedalam barisan itu.
Gelombang demi gelombang sambung bersambungan tiada hentinya, betul2 hebat desakan tersebut.
Merasakan adanya hadangan yang kuat, Piauw Biauw Hujien, perempuan bongkok serta sam Hiong. chiet LeeJie cap si Yoe Leng sama2 keluarkan segenap kepandaian yang dimilikinya untuk menerjang kedepan, namun usaha mereka selalu gagal, tak seorangpun di antara mereka yang berhasil menempuh tembok cahaya yang kuat dan dahsyat itu.
Keadaan mereka saat ini bagaikan lalat yang terkurung didalam botol, meskipun diterjang kesana kemari percuma saja.
Tujuh bayangan kuning serta tiga puluh enam orang toosu berjubah biru berkelebet ke sana kemari bagaikan gangsingan, setiap kali ada peluang pedang mereka segera mengirim tusukan maut .
Tusukan2 itu semuanya mengancam pada arah yang tetap dan telak. meskipun mereka sendiri sama sakali tidak memandang barang sekejap matapun.
Hoo Thian Hong serta Tong soe Kiat sinelayan dari sungai Goan Kang yang bersembunyi dibelakang pohon, kian lama kian merasa kagum atas kelihayan serta ampuhnya barisan pedang ini.
seperminum teh kemudian, ruang lingkup dari belasan manusia berkerudung hitam itu kian lama kian bertambah sempit dan kecil, gerak gerik mereka semakin terganggu dan tidak leluasa, namun tak seorangpun diantara mereka yang berhasil lolos dari barisan tersebut.
Perempuan bongkok itu mulai tidak sabar, ditengah kalangan ia ber kaok2 kegusaran.
Pada saat itulah jeritan ngeri berkumandang dari empat penjuru, sukma gentayangan nomor tiga, nomor empat dan sebelas tertusuk pedang lawan dan roboh binasa.
Disamping itu terdapat pula banyak manusia yang berkerudung yang terluka dan mengucurkan darah, situasi yang mereka hadapi kian lama kian bertambah bahaya.
Melihat situasi yang mereka hadapi, Piauw Biauw Hujien mengerutkan dahinya, mendadak ia membentak nyaring: “Berhenti” Bersamaan dengan suara bentakkan tersebut tampak tiga sosok bayangan hitam meloncat ke tengah udara, bagaikan roda kereta tubuh mereka berputar kencang diangkasa, berpuluh2 bubuk halus berwarna merah segera menyebar keempat penjuru Hoo Thian Hong yang menyaksikan peristiwa itu dari tempat persembunyiannya jadi kaget, tidak sempat berteriak lagi, segera ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya Menunggang angin membonceng mega meloncat keluar dari balik pohon dan mengirim, dua buah pukulan udara kosong.
Bubuk berwarna merah itu sebagian besar telah menyebar keempat penjuru dan memenuhi kalangan.
sekalipun reaksi dari Hoo Thian Hong cukup hebat dan sebat, namun sayang kedatangannya masih terlambat satu tindak. para toosu Bu-tong pay yang mencium bau harum aneh itu seketika roboh menggeletak keatas tanah dan menemui ajalnya.
Dengan adanya peristiwa ini barisan chiet seng Thian Kang Lian Hoa Tin pun seketika hancur berantakan, para manusia berkerudung hitam tadipun ambil kesempatan ini menerjang keluar dari kalangan dan bagaikan harimau ganas mulai menjagal dan membunuh para toosu yang tidak keracunan.
Diantara tujuh jago pedang kini tinggal tiga orang saja yang masih hidup, sedangkan dari ketiga puluh enam orang toojien berjubah biru, hampir separuh nya telah mati binasa.
Hoo Thian Hong jadi amat gusar, seruling kumalanya segera dikeluarkan dan dicekal di tangan kiri sedangan tangan kanannya ambil keluar kipas emas dan mulai melindungi para toosu itu untuk mengundurkan diri Tong soe Kiat sinelayan dari sungai Goan-kang pun tak ada kesempatan untuk mengeluarkan senjata jaring ikannya, dengan ilmu meringankan tubuh ia melayang kesana kemari membinasakan lawan2nya dengan ilmu penghancur nadi.
Hian siauw Tootiang, Hian Hok Tootiang, Hiat Hiauw Tootiang serta sebelas orang toojien berjubah biru yang nyaris lolos dari bahaya kini jadi kalap. mata mereka berubah jadi merah ber api2.
Meskipun punya niat untuk beradu jiwa namun disebabkan pikiran mereka tidak tenang, tenaga yang terpancar keluarpun mengalami kerugian yang besar.
Dalam sekejap mata kembali dua orang toojien berjubah biru menggeletak mati terhantam lawannya.
Bala bantuan yang datang dari atas gunung berupa anak murid angkatan kedua, ketiga dan keempat yang jumlahnya mencapai dua puluh orang tak bisa menolong banyak, bahkan keadaan mereka bagaikan anak kambing yang menghantarkan diri ke mulut harimau.
seketika itu juga telaga pelepas pedang berubah jadi medan penjagalan manusia, darah manusia menggenangi seluruh permukaan, mayat para toosu Bu-tong Pay berserakan di-mana2, pemandangan waktu itu benar2 mengerikan sekali.
Dalam pada itu seluruh pakaian dari Hoo Thian Hong pun telah berubah jadi merah karena darah, seandainya pada malam ini ia tidak hadir isitu mungkin partai Bu-tong telah musnah saat itu juga.
Keadaan ini tentu saja dapat dimengerti oleh para manusia berkerudung hitam itu, segera terdengar orang2 itu berteriak2: “Jangan lepaskan sastrawan berbaju biru itu, bunuh saja manusia she-Hoo itu”. Piauw Biauw Hujien pun berteriak: “Barang siapa yang sanggup memenggal batok kepala sastrawan berbaju biru itu, segera kunaikan pangkatnya jadi wakil Kauwcu disamping hadiah uang sebesar seribu kati emas”.
Dalam sekejap mata Hoo Thian Hong jadi incaran para gembong iblis itu, semua orang sama2 berebut untuk memperoleh jasa dan pahala, maka pemuda itu jadi repoi dan terdesak hebat.
Di-saat2 yang amat kritis itulah mendadak dari balik gunung muncul tiga sosok bayangan manusia, mereka adalah Ceng Yang cinjin serta Ci Yang cinjien dua orang paman guru dari Hian cing Tootiang ketua dari partai Bu-tong.
Begitu terjun kedalam kalangan, kedua orang jago tua ini segera unjukan kelihaiannya, angin pukulan men-deru2 dan dalam sekejap mata beberapa orang musuhnya berhasil dirobohkan Namun bagaimanapun juga tangguhnya mereka, pihak lawan bukanlah manusia sembarangan yang bisa dirobohkan dengan gampang kian lama desakan terhadap merekapun semakin hebat sehingga akhirnya kedua orang jago tua itu mulai keteter hebat.
Dalam keadaan seperti ini tak ada lain jalan lagi daripada mengundurkan diri, mendadak terdengar Hian cing Tootiang berseru: “Semua anak murid partai Bu-tong segera mengundurkan diri kedalam istana Ci Yang Kiong”.
Dengan diserukannya perintah ini, para toosu Bu-tong Pay yang sudah payah dan hampir musnah itu sama2 mengundurkan diri keatas gunung, sementara Hoo Thian Hong sekalian dengan segenap kekuatan bertahan dan menghalau pengejaran pihak musuh.
Menanti semua orang sudah mengundurkan diri, keempat orang itu baru loncat mundur dan berkelebat masuk kedalam pendopo, pintu besarpun dengan cepat ditutup rapat2.
Tebal pintu pendopo itu ada beberapa depa, semuanya berlapiskan baja murni yang kuat, maka untuk beberapa saat lamanya para gembong iblis itu tak sanggup menerjang masuk kedalam.
Sementara para toosu beristirahat sambil membalut luka yang mereka derita, cing Yang cinjlen, ci Yang cinjien serta Hoo Thian Heng sama2 meronda diatas atap ci Yang Kiong sambil ber-jaga2 terhadap serangan api dari pihak musuh.
Untuk sementara suasana jadi tenang kembali, “Piauw Biauw Hujlen” Mo Yoe Yauw segera perintahkan anak buahnya untuk mengepung istana ci Yang Kiong rapat-rapat sedangkan tiga manusia “Hiong Hoen”, Tujuh “Lee-pok” serta dua puluh satu orang sukma gentayangan ber-teriak2 diluar istana sambil mencaci maki dengan ucapan yang kotor.
“Hey, Hian cing tootiang dariBu-tong Pay, dengarkan baik2 asal kau suka memimpin anak muridmu untuk bergabung dengan perkumpulan Yoe Leng Kauw perkumpulan kami, dari lawan segera akan berubah jadi kawan, dan kau akan kami beri kedudukan sebagai wakil Kauweu “.
Ada pula yang berteriak: “Hey, para tootiang dari Bu-tong Pay, dengar baik2 barangsiapa diantara kalian yang sanggup memenggal batok kepala dari Sastrawan berbaju biru, perkumpulan kami segera akan membubarkan diri dari gunung Bu-tong san ini “.
Teriak2an itu berkumandang saling susul menyusul membuat hati jadi jeri dan tak enak didengar.
Beberapa kali s inenek bongkok dari Hu-sang sertaJ iak Kioe Kiam Khek loncat keatas wuwungan rumah untuk menyerang dari sana namun setiap kali pula mereka dipaksa untuk loncat turun kembali oleh serangan maut dari ci Yang cinjin, ci Yang Cinjin serta Hoo Thian Heng.
Maka untuk sementara pengepungan diperketat dan mereka menghentikan segala kegiatannya.
Fajar mulai menyingsing dari ufuk sebelah Timur, melihat usaha penyerangan mereka belum juga mendatangkan hasil, akhirnya “Hiong Hun” nomor dua mendekati Piauw Biauw Hujien dan mengajukan siasatnya.
” Hujien- asal kita kumpulkan batang2 pohon serta kayu yang ada disekeliling istana Ci Yang Kiong kemudian ditumpukkan diluar istana dan menyerang mereka dengan api, maka tidak sampai satu hari satu malam istana Ci Yang Kiong beserta toosu-toosu hidung kerbau itu pasti akan musnah termakan api ” Mendengar siasat tersebut Piauw Biauw HHjienjadi sangat girang, segera pujinya: “Kau benar2 tidak malu jadi penasehat perkumpulan kita, sekembalinya dari sini pasti akan kulaporkan keluar biasaanmu ini kepada sin Keen agar pangkatmu dinaikkan”.
Buru2 “Hiong Hun” nomor dua mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu, kemudian memerintahkan para iblis lainnya untuk kumpulkan daun ranting yang ada disekitar sana untuk ditumpukkan disekitar istana Ci Yang Kiong.
siasat ini betul2 amat keji, seandainya istana Ci Yang Kiong benar2 mereka bakar, bukan saja para toosu yang sedang merawat lukanya dalam istana bakal musnah bahkan Hoo Thian Hong serta kedua orang imam tua itu pun bakal mati konyol disitu.
Kelihatannya peristiwa yang sangat mengerikan segera akan berlangsung diatas gunung itu.
sang surya telah memancarkan cahayanya menyinari seluruh jagad, diluar istana Ci Ying Kiong batang2 pohon telah ditumpuki hingga setinggi enam tujuh depa, disekeliling kayu serta bangunan telah disiram pula dengan minyak tanah, dalam keadaan seperti ini asal seorang saja diantara gembong iblis itu menyulut api, maka semua nyawa Toosu Toosu Butong Pay itu akan musnah ber-sama2 dengan hancurnya istana Ci Yang Kiong jadi puing yang berserakanooooooooo UNTUK sementara waktu baiklah kita tinggalkan dahulu partai Bu-tong yang sedang dirundung kemalangan.
Baiklah mari kita tengok suasana diatas gunung siong-san dimana berdiri dengan angkernya partai s ia uw-lim yang telah berumur ribuan tahun lamanya.
Hari itu udara sangat bersih, karena tepat pada hari Tiong Yang maka suasana amat ramai, banyak penduduk yang berdiri berjejer ditepi sungai menonton perlombaan perahu naga yang saling kejar mengejar….
Be-ratus2 orang hwesio dari kuil siauw-limpada hari ini banyak yang turun kedesa disekitar gunung untuk menyaksikan keramaian tersebut, hingga suasana diatas gunung boleh dikata sunyi dan sepi.
Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang sangat ramai berkumandang memecah kesunyian, diiringi suara ringkikkan panjang kuda itu berhenti tepat didepan kuil, diikuti munculnya dua orang pendekar muda dari atas pelana.
Kehadiran sepasang muda mudi yang amat misterius ini, dengan cepatnya pula sudah di dengar oleh Thian Hong siangjlen ketua dari partai siauw lim, hweshio tua itu dengan cepat munculkan diri untuk menyambut sendiri kedatangan mereka.
Diikuti suara genta dibunyikan ber-talu2, genta kuno yang didirikan pada tahun kedua puluh pada ahala Geoi ini dapat menyampaikan suaranya hingga sejauh ratusan li.
satu jam kemudian para hwesio yang berpesiar dikota Kay Hong, Yan say serta su-swie telah berkumpul kedalam kuil mereka.
Tatkala senja menjelang tiba, penjagaan disekeliliing kuil segera diperkuat.
sedikitpun tidak salah, tatkala kentongan pertama baru saja lewat mendadak dari arah gunung sebelah depan berkumandang tanda bahaya, gunung siong-san telah kedatangan enam orang tamu tak diundang yang berkerudung kain hitam.
Manusia2 berkerudung itu meskipun memiliki ilmu siat yang sangat lihay, dan datang dengan membawa ambisi untuk menang, namun setelah menyaksikan penjagaan disekitar kuil tak urung hati mereka dibikin terkesiap juga.
Apalagi setiap tanda bahaya dibunyikan, semua lampu yang ada diatas puncak gunung jadi terang benderang bagaikan disiang hari bolong.
Kiranya malam itu dibawah pimpinan Beng Te Hujien Hoan soh soh berangkatan” seng soe Poan” atau Hakim mati hidup shaw Goan Ciang, si setan gantung hitam su Keen seru sitelapak Jagat Poei seng lima orang dengan tujuan menghancurkan partai sauw lim, kini setelah jejak mereka konangan, melalui jalan gunung yang sempit mereka langsung melayang kearah lapangan didepan kuil.
Tetapi setibanya dikalangan, kembali hati mereka bergidik sehingga bulu roma pada bangun berdiri Rupanya ditengah kalangan telah bersiap2 ratusan orang hweesio dengan senjata lengkap. setiap lima langkah berdiri satu penjaga, setiap sepuluh langkah satu pos pertahanan, suasana angker dan mengerikan- Barisan Loo han Tin yang terdiri dari seratus delapan orang, dibawah pimpinan Thian sim siansu penanggung jawab dari Loo Han Tong beserta Thian Kin, Thian ing siansu kedua sutenya dan Boe Kak tiga empat orang murid angkatan kedua telah dipersiapkan di-sana. Kelima orang itu tertegun, dalam hati segera pikirnya.
“Partai saaw lim benar2 tidak malu disebut sebagai pimpinan dari sembilan partai besar, cukup ditinjau dari keangkeran serta kewibawaan mereka saat ini sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan seluruh sungai telaga “. Terdengar Beng Te Hujien tertawa nyaring, lalu berseru: “Aduuh …. aduuh …. rupanya kalian hweesio2 gede mempunyai kepandaian untuk mengetahui kejadian yang akan datang ? rupanya kabar berita cukup lihay dan tajam .” “omitohud ” Thian sim siansu merangkap tangannya memberi hormat. “Pinceng rasa hujien tentulah nyonya dari Yoe Leng sin koen bukan ?? malam buta datang kekuil kami, entah ada keperluan apa yang hendak kau sampaikan kepada kami ?? “.
“Soal itu sih Ehmmm lebih baik suruh Thian Hong sangjlen tampil sendiri kedepan, Pun hujien mau bicara langsung dengan dirinya ….” Belum sempat Thian sim siansu menjawab Thian ing s iansu yang ada disisi suhengnya telah menimbrung sambil tertawa lantang: “Haaah.. . haaah…. haaa. .. hujien ada keperluan apa?? katakan saja kepada suhengku juga sama saja, apa bedanya ciangbun suheng dengan suhengku ini ???”.
Beng-Te Hujien tertawa merdu, suaranya tinggi melengking penuh dengan kegenitan dan kecabulan, sambil goyangkan pinggangnya yang ramping ia berseru: “Kalau begitu suheng mu ini bisa ambil keputusan???”.
“Omintohud orang beribadat pantang untuk bicara bohong, asalkan Hujien suka utarakan maksud kedatanganmu, selama loolap sanggup untuk mengambil keparusan tak nanti kuhiraukan permintaan itu, kalau tidak biarlah kulaporkan persoalan itu kepada Ciangbun suheng” “Pun hujien mendapat pirman dari Yoe-Leng sin-koen untuk mengundang Hong tiang kuil kalian Thian Hong siangjlen untuk menjabat kedudukan wakil ketua dari perkumpulan kami harap kau sampaikan pirman ini kepadanya.” ujar Hoan soh soh dengan sikap serius, selesai bicara dari sakunya dia ambil keluar sebuah sampul dan diletakkan diatas telapaknya lalu perlahan lahan didorong kemuka.
Bagaikan sekilas bayangan abu2, sampul surat tadi langsung melayang kehadapan Thian sim siansu.
Dengan cepat hweesio ini hendak menyambutnya dengan tangan, namun dia rasakan kekuatan lawan tidak lemah, maka segera pikirnya: “Sungguh dahsyat dan sempurna tenaga Iwekang yang dimiliki perempuan ini, aku tidak boleh bertindak gegabah.” Tanpa sadar ia pertinggi kewaspadaannya.
Thian Kie siansu adalah seorang hweesio yang bertabiat berangasan, mendengar ucapan tersebut hawa gusarnya memuncak. apalagi menyaksikan siluman perempuan itu melemparkan surat tanda menyerah kepada pihaknya, dengan penuh kemarahan segera bentaknya: “Hm, perkumpulan macam apa Yoe- Leng- kauw itu, berani benar berbicara besar. Hmmm surat ini lebih baik tak usah dilihat …” Dia sambar sampul tadi kemudian dirobek nya hingga hancur ber-keping2 dan terbang memenuhi angkasa.
Terhadap tingkah laku Thian Kie siansu yang kasar ini, Hoan soh soh sama sekali tidak gusar, sebaliknya dia malah tertawa nyaring dengan bangganya.
“Hiii . . . hiii . . , hiiii. . . keledai gundul, rupanya kau memang cari mati buat diri sendiri, jangan salahkan kalau hujien turun tangan terlalu kejam ” Dengan selesainya ucapan tadi, tiba2 terdengar Thian Kie siansu menjerit ngeri, sekujur badannya dalam waktu singkat berubah jadi hitam pekat, setelah berkelejet dan meronta sekarat, hweesio tadi mendengus berat dan roboh binasa.
Thian sim siansu terkejut bercampur gusar menjumpai sutenya mati dalam keadaan mengenaskan dihadapan mukanya, meskipun ia gusar dan sedihnya bukan kepalang namun hweesio ini sadar bahwa musuh tangguh ada didepan mata, ia tak mau bertindak gegabah sehinga mengacau keadaan.
Kecuali perintah anak murid diluar barisan untuk menggotong pergi jenasah dari Thian Kie siansu, dengan cepat hwesio ini dilancarkan dua pukulan berantai yang maha dahsyat untuk menghalau robekan kertas yang tersebar diatas tanah hingga tergulung keluar dari kalangan- Pada hari2 biasa, hubungan Thian Ing siansu dengan Thian Kie siansu paling akrab, menyaksikan rekannya mati binasa hawa gusar yang berkobar dalam dadanya sukar ditahan lagi, sambil menyeret tongkat bajanya seberat delapan puluh kati ia melangkah keluar dari barisan, dengan mata melotot dan alis berkerut teriaknya keras: “sungguh tak kunyana kau berhati kejam melebihi kalajengking, malam ini lolap akan cabut jiwamu untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat manusia serahkan jiwa anjingmu” serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya.
Nyonya neraka hitam ini menyingkir satu langkah kesamping, jengeknya dengan nada genit: “Eeeei hweesio tua, buat apa kau galak2 macam setan kelaparan” Melihat kemplangannya mengenai sasaran kosong, Thian Ing siansu meraung gusar, diiringi desiran angin serangan yang maha dahsyat dia angkat tongkat bajanya dan menghantam kembali dari atas dengan jurus “Boesiong Ta Hauw” atau Boesiong memukul harimau.
Rupanya si nyonya neraka hitam Hoan soh soh mengerti lihay, dengan sebat badannya mengegos kesamping, bagaikan bayangan setan tahu2 dia sudah melayang keluar dari ruang lingkup tersebut, ejeknya lagi sambil tertawa merdu: “Hweesio gede…coba kau lihat betapa panjang dan gemuknya senjatamu itu…aduuh.. aduuh, kalau sampai aku yang rendah kena “Di tusuk” aduuh mak. sakitnya… aku bisa tidak tahan lhoo…”.
Benar2 kotor dan cabul ucapan perempuan itu apalagi dihadapan be ratus2 orang hweesio, membuat para paderi itu sama2 kerutkan dahi dan membatin: “Cabul benar perempuan laknat ini, dia benar2 lonte busuk yang tak tahu malu…”.
Dalam pada itu setelah dua buah kemplangan mautnya tidak mendatangkan hasil, Thian In siansu segera sadar bahwa perempuan ini tidak gampang untuk dilawan, diam2 serunya: “Aduhhh celaka. . . rupanya perempuan lonte ini ada maksud menggusarkan hatiku hingga pikiranku jadi kacau, aku tak boleh bertin dak menuruti napsu angkara murka …” sebagai paderi yang beriman tebal, setelah sadar maka napsu angkara murkanya segera ditekan, pikiran dipusatkan jadi satu lalu tarik napas dalam2, dalam sekejap mata pikirannya jadi tenang danpikiran yang kalut menjadi jernih kembali.
Dengan tajam ditatapnya wajah perempuan berkerudung hitam itu, mendadak tongkat bajanya disapu ketengah udara.
Hoan soh soh adalah siluman rase berwajah bunga To yang sudah tersohor dalam dunia persilatan pada masa yang silam, pengalamannya dalam menghadapi musuh boleh dibilang sudah matang sekali, dari gerakan lawannya tentu saja dia bisa menebak jurus ampuh apakah yang hendak digunakan- Badannya segera meloncat ketengah udara dan melayang kemuka, sambil berputar dia songsong datangnya hantaman tongkat baja lawan- Tindakannya ini benar2 mengerikan dan berbahaya sekali, membuat empat orang manusia berkerudung hitam yang ada disisi kalangan serentak menjerit kaget.
sedikitpun tidak salah, jurus serangan yang digunakan Thian ing siansu barusan adalah jurus “Wie Ceng Pat Hong” atau Pengaruh Menggetarkan delapan penjuru, dalam kecungan bayangan tongkat yang sangat rapat kendati sang korban hendak menghindar kemanapun tak mungkin bisa meloloskan diri, kecuali kalau orang itu mengerti dimanakah letak keistimewaan dari jurus itu dan memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna.
sungguh tak nyana bukan saja Hoan soh soh sudah berhasil menebak keistimewaan dari serangan itu bahkan sukar dilawan, diam2 Thian ing siansu sendiri pun mulai merasa kesal dan gelisah.
Hoan soh soh sendiri, meskipun secara nyaris dia berhasil meloloskan diri dari ancaman bahaya maut tak urung hatinya dibikin terkesiap juga sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi keseluruh tubuhnya, menggunakan kesempatan dikala badannya melayang turun kebawah dia segera cabut keluar senjata pedang bunga Toh nya.
Mengikuti bergetarnya sang mangan bayangan segera terpancar keluar hingga memenuhi angkasa.
Begitu senjata aneh tersebut diloloskan keluar, secara tiba2 Thian mg siansu teringat akan seseorang, hatinya jadi bergidik dan segera bentaknya: “Toh Bin Yauw Hoe, setelah kau melenyapkan diri selama delapan belas tahun, mengapa sekarang muncul kembali untuk bikin keonaran lagi dalam dunia persilatan “.
Nyonya neraka hitam ini tidak takut jejaknya konangan dan diketahui orang, dia segera tertawa nyaring.
“Hey hweesio gede, ternyata kau masih belum melupakan diriku bagus …. bagus . . . . mumcung berbulan masih bersinar terang dan bintang bertaburan diangkasa mari kita bermain beberapa jurus untuk menyemarakkan suasana yang indah ini.” Ucapan ini diutarakan ringan dan seenaknya se-olah2 perkataan orang kawan yang akrab.
seketika membuat anak murid dari angkatan “Kak” sama2pentangkan matanya bulat2 sambil mengawasi susiokcouw mereka, sedang dalam hati men-duga2 apa gerangan hubungan mereka berdua dimasa yang silam.
Thian Ing siansu semakin naik pitam, wajahnya merah padam dan matanya bersinar tajam, makinya.
“siluman perempuan, kau benar2 perempuan lonte yang tak tahu malu dan berakhlak bejad” Diiringi suara desiran tajam tongkat bajanya segera menyodok kearah perut bagian bawah perempuan itu dengan jurus “Ti Coe Ti-ong Liuw” atau Air mengalir dibatu pengasah.
“Hiiih… hiiih.-, hiuh hweesio gede rupanya kaupun ingin main menowel dengan senjatamu” goda Hoan soh soh sambil tertawa cabul. ” Kalau mau menyerang janganlah mengancam bagian tubuh yang terlarang, kalau kau pingin menowel bawah pusarku pakai saja tanganmu yang kekar itu…” Walaupun diluar dia bicara porno, namun tubuhnya sama sekali tidak berayal, bagaikan segumpal asap perempuan itu mengigos kesamping kalangan.
Thian Ing siansu gusarnya bukan kepalang, tujuh puluh dua jurus ilmu toya penakluk iblis dari partai sauw-Lim segera dimainkan se-dahsyat2nya.
Namun nyonya neraka hitam tetap tertawa mengejek tiada hentinya, bahkan sering kali pedang bunga Toh nya dengan menciptakan diri jadi sekilas cahaya tajam membokong dari punggung hweesio itu.
Menyaksikan sutenya tak sanggup merebut kemenangan, Thian Sim siansu segera mengangkat tonkatnya tinggi2, bayangan manusia berkelebat lewat empat orang manusia berkerudung hitam yang dibawa perempuan cabul itu seketika terkurung didalam barisan Loo-IHan-Tin.
Haruslah diketahui barisan Loo Han Tin dari partai Sauw-lim merupakan suatu kepandaian yang maha ampuh, barang siapa yang telah masuk kedalam barisan itu, tipis sekali harapannya bisa keluar dalam keadaan selamat.
Kelima orang manusia berkerudung itu semuanya merupakanjago pilihan dari dunia persilatan, pada hari2 biasa mereka selalu sombong dan mengunggulkan diri sendiri, meskipun dari mulut orang mereka pernah mendengar akan kelihayan barisan Loo Han Tin dari kuil Sauw-lim Sie, namun dalam hati mereka masih sangsi.
Kini setelah berada didalam barisan, terasalah setiap tongkat dari hweesio2 itu se-akan2 menyambar datang dari tiap jengkal tanah yang mereka pijak, kedudukan mereka tiada hentinya berputar terus hingga tak ada suatu tempat kedudukan yang pasti.
Sungguh rapat bayangan tongkat yang melanda datang, bukan begitu saja bahkan menghasilkan suatu tekanan yang aneh dan sangat kuat, kendati ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bagaimana sempurnanya, setelab berada ditengah udara tubuh mereka seketika terhisap kembali oleh daya tekanan yang kuat.
Lama kelamaan kelima orang itu jadi gugup dan terkejut, mereka bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
sementara itu sitelapak jagad Poei seng berpikir dalam hatinya: “Kalau harus mengorbankan selembar jiwaku dengan percuma dan sama sekali tak berguna ini, bukankah kematianku sia2 belaka” Hoan soh soh sendiri wajahnya pun sudah berobah jadi amat misterius, diapun sadar bahwa dengan andalkan kekuatan mereka berlima tak nanti sanggup menerjang keluar dari kepungan.
Begitulah dengan susah payah lima orang manusia berkerudung itu bertahan dan bertarung terus mati2an sambil berharap2 bala bantuan segera tiba.
Thian Ing siansu segera tertawa ter gelak2 sesudah dilihatnya pihak lawan terkurung serunya.
“sekarang cuwi sekalian tak mau menyerah mau tunggu sampai kapan lagi? apakah kalian betul2 mau hantarkan nyawa ber-sama perempuan siluman ini.” “Ciiis….keledai gundul, tak usah kau pamerkan dahulu kehebatan kalian” teriak Hoan soh soh. “Pun HHujien masih punya kemampuan untuk menerjang keluar dari barisan Loo- Han Tin kalian yang tidak seberapa itu. Hmm kalau tidak percaya, saksikan saja nanti” “Baiklah, akan kulihat kalian semut2 yang kepanasan dalam kuali masih sanggup bertahan sampai berapa lama ?” Mendadak Thian Sim siansu menggerakkan tongkatnya menghantam permukaan tanah, mengikuti gerakan tersebut barisan Loo Han tin pun seketika ikut berubah, ditengah menyambarnya bayangan toya yang sangat rapat si setan gantung hitam menjerit kesakitan, lengan kiri mereka masing2 terhajar telak sehingga lumpuh dan terjulur kebawah.
Diikuti si Hakim mati-hidup Shaw Goan ci-ang serta sitelapak jagad Poei Sengpun menderita luka.
Menyaksikan musuhnya, masih berjuang terus mati2an, Thian sim siansu mengerutkan dahinya. tongkatnya digerakkan tanda perketat-nya serangan dalam barisan- Jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggema diangkasa.
si setan gantung hitam Su Koen menggeletak keatas tanah dan mati seketika itu juga termakan totokan toya lawan- Melihat anak buahnya telah mati dan teriuka Hoan Soh Soh semakin panik, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi badan, diam2 makinya didalam hati: “Kenapa sampai sekarang s isetan tua itu belum juga memunculkan diri ?…. “.
Disaat yang amat kritis itulah mendadak dari bawah puncak gunung Siong san berkumandang datang suara suitan yang amat nyaring.
Sungguh cepat gerakan orang itu, baru saja suara sultan tadi sirap dari tengah udara telah melayang turun dua sosok manusia.
orang itu berperawakan tinggi besar dengan kepala yang besar sekali, ia keren juga pakaian berwarna biru dan bersikap ketolol-tololan.
sedang yang lain berdandan seorang siucay, memakai mantel berwarna abu2 dan memancarkan cahaya yang amat tajam.
Begitu tiba ditengah kalangan, sepasang tangannya segera diayunkan kedepan segulung angin pukulan yang maha dahsyat diiringi puluhan titik cahaya putih meluncur ketengah kalangan.
seketika itu juga jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul dalam sekejap mata dua puluh orang padri siauw lim Pay telah roboh binasa termakan jarum sakti Pek Kut Yoe Leng Ciam tersebut.
Menyaksikan kehadiran orang itu, empat orang manusia berkerudung hitam yang terkepung daiam barisan segera loncat keluar dan kalangan, teriak mereka hampir berbareng: “sin Koen-..” “Bagaimana sikap hweesio2 itu???” tanya Yoe Leng sin Koen dengan wajah yang adem dan seram.
“Keledai2 gundul itu betul2 tak tahu diri” jawab Hoan soh soh sambil bergoyang pinggul. “sampai2 undangan yang kita berikan sebelum dibaca telah dikembalikan “.
“Ban Tok cianpwee, coba lihat bukankah sudah kukatakan bahwa orang2 itu terlalu sombong dan tidak pandang sebelah maupun terhadap orang lain?? coba lihat. bukankah perkataanku sangat tepat…” ujar Yoe Leng sin-koen sambil berpaling.
sikakek tinggi besar yang mempunyai kepala raksasa itu segera goyang2kan badannya.
“Kalau begitu lakukanlah seperti apa yang kau inginkan.” Dalam pada itu wajah Yoe Leng sin Koen yang semula berwarna putih pucat mendadak berubah jadi hitam pekat, dari matanya memancar keluar sorot cahaya berwarna hijau, mukanya jadi buas dan menyeramkan.
sreeeeet… pedangnya segera dicabut ke luar dan sarungnya, kemudian dengan suara yang dingin dan menyeramkan serunya: “Mari kita bunuh habis keledai2 gundul itu, jangan lepaskan barang seorang pun diantara mereka ” Bersama dengan selesainya ucapan itu pergelangannya segera digetarkan, diiringi berkelebatnya cahaya perak. batok kepala bergelindingan keatas tanah bagaikan buah semangka.
Para paderi siauw-lim-pay yang melihat kesadisan orang jadi kalap. mereka meraung keras dan bagaikan harimau yang terluka segera menubruk kedepan.
Thian sim siansu serta Thian Ing siansu dengan menggunakan dua batang toya bajanya bertahan sekuat tenaga.
Namun sayang kepandaian silat yang dimiliki Yoe Leng sin Koen benar2 sangat lihay, di tambah pula senjata yang digunakan adalah sebilah pedang mustika, keadaannya boleh dibilang bagaikan harimau tumbuh sayap. mana mungkin kedua orang itu sanggup mempertahankan diri.
Dalam sekejap mata, dari jumlah ratusan orang padri yang berjaga didalam kalangan sudah ada separuh banyaknya mati binasa, suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema dimana2 membuat bumi bergoncang dan udara jadi suram.
Tiing,…tiiiing….tiiiing…, genta tanda bahaya dibunyikan ber-talu2, diikuti suara suitan nyaring menggema diangkasa, bayangan abu2 kuning, biru serta pelbagai warna lainnya sama2 menerobos masuk lewat depan kalangan dan bertempur sengit melawan orang2 berbaju hitam.
Kembali terdengar dua buah jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma Thian sim siansu serta Thian Ing siansu mati konyol tertebas badannya jadi empat bagian oleh senjata Yoe leng sin Koen.
Dengan matinya dua orang padri sakti itu, para padri lainnya jadi keder dan bergidik, Yoe Lang sin Koen tidak berhenti sampai disitu saja, dengan andalkan sebilah pedang mustika dia teruskan amukannya membabat ke sana menusuk kemari, se-akan2 menebang bambu tak seorangpun diantara hweesio yang ada disitu sanggup menandingi kelihayannya.
Yang paling lihay lagi adalah pedang mustikanya yang sangat tajam itu, semua toya baja yang tebal dan besar itu begitu terbentur dengan senjatanya segera putus jadi dua bagian.
Ilmu silat dari kakek berkepala besar itu lebih2 lihay lagi, setiap kali telapak tangannya berkelebat, pihak lawan bagaikan layang2 yang putus benang segera mencelat ketengah udara dan mati binasa dengan isi perut hancur berantakan- Dalam waktu yang singkat para padri dari partai sauw-lim sudah hampir musnah ditangan beberapa orang gembong iblis itu.
Kehadiran Thian Hong siangjlen, Gong Yu serta Lie Wan Hiang terlambat satu tindak, namun dengan keterlambatannya itulah mengakibatkan banyak korban berjatuhan.
Meskipun Thian Hong sianjien adalah orang paderi yang beriman tebal, namun setelah menyaksikan kebrutalan lawan hawa gusarnya sukar dibendung lagi, segera bentaknya keras: “lblis terkutuk sungguh keji perbuatan kalian, di manakah perikemanusiaan dalam hati manusia?” Badannya segera menerjang masuk kedalam kalangan, toya kumala hijaunya dengan gunakan gerakan “Kim-Kong Hoek-Mo” atau Malaekat sakti menundukan iblis, dengan menciptakan selapis kipas cahaya ke-hijau2an dia sapu tubuh Yoe Leng sin Koensang ketua diri perkumpulan Yoe Leng-kauw ini tertawa seram,jengeknya dengan nada sinis: “Thian Hong, apa gunanya kau bersikap wntuk melawan kami, aku nasehati dirimu lebih baik takluk saja kepada perkumpulan kami, sebab perbuatanmu itu berarti menolong jiwa anak muridmu serta mendatangkan keberuntungan bagimu sendiri” Meskipun dimulut dia mengoceh terus tapi Yoe Leng Kiam nya sama sekali tidak berhenti bergerak. dengan jurus “Kiong Hun Boe Kie” atau sukma ganas tiada kawan ia songsong datangnya hantaman toya kumala hijau tersebut.
“Traang..” ditengah suara bentrokan nyaring, kedua belah pihak sama2 merasakan pergelangan tangannya jadi kaku, masing2 segera loncat mundur beberapa tombak kebelakang, setelah dilihatnya senjata mereka tidak gumpil atau rusak kedua orang itu segera maju kembali untuk meneruskan pertarungan.
Kiranya toya kumala hijau yang digunakan Thian Hong sangjlen saat ini merupakan pusaka dari partai siauw- lim, meskipun pedang Yoe Leng Kiam adalah senjata mustika dan tajamnya luar biasa namun masih belum sanggup untuk membabatnya hingga putus.
sipendekar ganteng berbaju hijau Gong Yu serta Lie Wan Hiang yang merupakan jago2 berhati welas, sesudah menyaksikan kekejaman serta kebrutalan musuh mereka tak dapat menahan diri lagi, sambil bersuit nyaring tubuh mereka segera berkelebat kemuka dan terjunkan diri kedalam kalangan pertempuran.
Lie Wan Hiang putar pedang Muni Kianmya sehingga cahaya merah memancar keempat penjuru, cahaya pedang sepanjang empat depa itu menggulung, menyapu kian kemari, menggerakkan hati orang yang melihat membuat nona neraka hitampun jadi terperanjat dan merasakan bulu roma pada bangun berdiri Menanti dia mendongak dan melihat siapakah gerakan gadis kosen itu, rasa kaget yang timbul dalam batinya sukar dilukiskan lagi dengan kata2. “Giok-jie, kau sudah edan ” bentaknya. Jelas dia sudah salah melihat orang.
Dalam kenyataannya paras muka dari Lie Wan Hiang memang sama sekali tak berbeda dari Hoan Pek Giok puteri kesayangannya.
Lie Wan Hiang menoleh, tatkala dilihatnya perempuan berkerudung hitam itu mencekal pedang bunga To yang memancarkan cahaya biru, segera bentaknya nyaring: “Perempuan siluman, berani benar kau datangi gunung yang tersohor ini untuk menjagal para paderi suci. Hmmm aku Lie Wan Hiang tidak akan membiarkan kau berbuat brutal seenaknya ” “Lie Wan Hiang…. Lie Wan Hiang” gumam Hoan soh soh sambil meloncat mundur beberapa tombakjauhnya :.. Tiba tiba dia teringat seseorang, segera tegurnya: “Budak sialan, apakah kau adalah putri dari Lie Hong manusia rendah itu??..” sembari berkata dari balik matanya memancar keluar serentetan cahaya buas yang mengerikan- Meskipun Lin Wan Hiang merasakan bahwa perempuan yang berada dihadapannya bernama Lie Hong, dia segera mendengus sahutnya: “Jangan banyak bicara, nonamu sama sekali tidak kenal dengan manusia yang bernama Lie Hong ” Badannya segera berkelebat kemuka, dengan gerakan tubuh “Chiet-Ciat Tay Na ie” dalam Suatu gerakan yang manis dan sakti tahu2 dia sudah melayang dioelakang punggung perempuan berkerudung hitam itu.
Pedang Muni Kiam nya kembali berkelebat, dengan jurus “Hoei Tauw An” atau berpaling kebelakang adalah te-pian, dengan kekerasan dia bendung jalan mundur dari nyonya neraka hitam itu Hoan soh soh terkesiap. dengan sekuat tenaga ia menyingkir dengan gunakan ilmu gerak sukma gentayangan, dia berharap bisa melepaskan diri dari musuh yang sangat menakutkan ini.
Siapa sangka gadis kosen yang berada dibelakangnya bagaikan bayangan saja tiada hentinya menempel dan mengejar terus dibelakang.
sementara itu sipendekar tampan berbaju Hijau Gong Yu yang menyaksikan hantaman telapak tangan kakek berkepala besar itu dahsyat laksana gulungan ombak ditengah amukan badai, dimana para hweesio sauw-lim pay yang tersapu segera mencelat dan mati dengan isi perut hancur lebur hatinya jadi sangat terperanjat. Dalam hati segera pikirnya: ” Entah dari manakah pihak perkumpulan Yoe- Leng Kauw berhasil mengundang manusia super sakti semacam ini, mungkin aku sendiri pun tidak punya keyakinan untuk menangkan dia”.
Walaupun dalam hati berpikir begitu namun keberanian serta semangat bertempur sama sekali tidak kendor, selama hidup tak pernah ia merasa takut ataujeri terhadap siapapun- Diiringi suitan nyaring yang membumbung tinggi keangkasa, tubuhnya mencelat keudara dan melayang ketengah kalangan- Dengan kerahkan ilmu sakti Tay si Hian-Thian sinkang menyambut kehadiran angin pukulan dari sikakek berkepala besar tadi dihantamnya kemuka.
Baru saja kakek berkepala raksasa itu merasakan anehnya suara suitan yang menggema diangkasa, tahu2 hawa pukulan yang dia lancarkan se-olah2 tercebur didalam samudra yang amat luas lenyap tak berbekas, bukan begitu saja bahkan secara lapat2 terasa munculnya satu daya hisap yang maha kuat menarik badan nya maju kedepan, kuda2nya seketika tergempur dan badannya tergetar keras.
Peristiwa ini tentu saja mengejutkan hatinya dalam hati dia lantas berpikir: “siapakah jago kosen itu? jangan2 dua rasul sakti dari dunia persilatan telah muncul disini?” Dengan cepat dia mendongak tampaklah dihadapan mereka berdiri seorang pemuda ganteng berbaju hijau, usianya baru delapan belas tahun, wajahnya putih bersih dengan alis yang hitam tajam dan mata yang b ulat jernih, sementara itu pemuda tersebutpun sedang menatap wajahnya tajam2.
Kakek tua itu segera tertawa ter-bahak2 seraya goyangkan kepalanya yang besar itu serunya: “Bocah keparat, apakah kau yang melancarkan serangan dahsyat barusan ini?” “Sedikitpun tidak salah, memang cayhelah yang melancarkan serangan ” Mendadak sekilas cahaya buas memancar keluar dari sepasang mata kakek itu serunya.
“Oooouw aku rasa mungkin kaulah yang disebut orang kangouw sebagai s i sastrawan berbaju biru berseruling kumala berkipas emas Hoo Thian Hong?” “Loo-tiang. tolong dilihat lebih seksama lagi, pakaian yang kukenakan berwarna biru atau hijau??” Kakek ita melengak, setelah goyangkan kepalanya berulang kali dia manggut2. “Aaaa, betul, kau memang memakai baju hijau bukan berwarna biru.
Gong Yu tidak tahu hubungan dendam atau sakit hati apakah yang sudah terikat antara toa suhengnya dengan kakek tua ini, dengan nada menyelidik segera tanyanya: “Loo-tiang, ada persoalan apakah kau hen dak mencari Hoo Thian Hong sisastrawan berbaju biru itu ???”.
“Aku mau mencari balas dengan dirinya, dia sudah membinasakan cucu muridku sikakek kelabang racun Nao Hiong Hoei “.
Mendengar perkataan itu Gong Yu segera teringat kembali akan peristiwa yang pernah terjadi tiga tahun berselang ditanah pekuburan gunung bong-san sebelah utara alisnya segera berkerut dan ujarnya: “Mengenai peristiwa itu, dengan mata kepalaku sendiri aku turut menyaksikan jalannya kejadian tadi, cucu muridmu si Gia Kang Tok shu hendak merampas kadal kumala berusia seribu tahun yang telah di-nanti2kan sastrawan berbaju biru beberapa tahun lamanya, oleh sebab itu kedua belah pihak segera bertempur, alhasil cucu muridmu menemui ajalnya terkena ilmu jari Kian-Goan-Ci dari Hoo Thian Hong “. Dia merandek sejenak. kemudian melanjutkan : “setiap persoalan ada sebabnya dan setiap sebab ada akibatnya, bilamama lootiang hendak menuntut balas terhadap Hoo Thian Hong disebabkan karena masalah ini, maka perlakuan loo-tiang merupakan satu tindakan yang tidak terpuji, lagipula kepalan dan kaki tak bermata, pada waktu itu seandainya cucu muridmu tidak mati terhajar ilmu jari Kian Goan ci dan sebaliknya Hoo Thian Honglah yang menemui ajalnya terhajar ilmu pukulan kelabang beracun- bagaimana kesudahannya ?? dendam mendendam balas membalas bukankah akan ber langsung terus ?????” “Loo-tiang, kau sebagai seorang jago yang lihay dan punya pengalaman yang luas, semestinya bisa mempertimbangkan sendiri, mana yang benar dan mana yang salah, janganlah mendengarkan hasutan orang lain sehingga mencemarkan nama baik sendiri” ” Karena pikiran yang salah kalian telah mengakibatkan gunung suci ini berubah jadi tempat penjagalan yang sadis, brutal dan tidak berperi kemanusiaan, kalau sekarang kau tidak lepaskan golok penjagal untuk berpaling ketepian, mau tunggu sampai kapan lagi kalian baru mau bertobat ?? Lootiang cayhe ikut merasa sayang buat kegagahan serta nama besar Loo-tiang yang begitu mengagumkan ” Ucapan ini bukan saja membuat gembong iblis yang tersohor akan keganasannya ini jadi geleng kepala, untuk beberapa saatpun dia sampai tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun- Akhirnya sambil gelengkan kepalanya yang besar, kakek itu berkata: “Bocah cilik aku kagum atas keberanianmu yang luar biasa, namun aku Ban Tok Ci ong siraja diraja dari selaksa racun tidak akan tunduk, apa lagi digebah pergi hanya dengan dua tiga patah katamu saja.” “Rupanya kau tidak ingin mendengar nasehat dan mau berbuat keji lebih lanjut ?” tegur Gong Yu dengan alis berkerut.
“Hoeeh… heeeh… heeee… selamanya loohu berbuat dan bertindak sekehendak hatiku, siapa yang berani menghalangi atau mencegah perbuatanku ?”.
“Lalu bagaimana menurut pendapatmu?” “Mari kita beradu dengan tiga buah pukulan, apabila kau sibocah cilik menderita kalah lebih baik cepat2lah tinggalkan tempat ini, loohu akan membakar kuil siauw-lim ini hingga hancur berantakan jadi abu…” Diam2 Gong Yu merasa bergidik mendengar ucapan tersebut, dia tahu tak mungkin kakek tua itu bisa dinasehati atau dicegah perbuatannya hanya dengan andalkan ucapan belaka, namun sebagai pemuda yang berwatak keras kepala dan gagah, dia jadi tidak puas. segera teriaknya: “Bagus sekali, sebaliknya kalau cayhe lah yang berhasil menangkan pertandingan ini, lalu apa yang hendak kau lakukan ???”.
“Bocah cilik” ujar Ban-Tok Ci-ong s i Raja dari selaksa racun setelah termenung sebentar. “Aku tidak percaya kalau kau sanggup menerima hantaman dari loohu dengan kekuatan tenaga Iweekang sebesar seratus delapan puluh tahun hasil latihan.,.”. Meskipun dalam hati Gong Yu merasa bergidik, namun ujarnya pula dengan suara lantang: “cayhepun tidak sudi kena digertak hanya dengan beberapa patah kata saja. bisakah aku menyambut seranganmu atau tidak. itu urusan pribadiku sendiri silahkan Loo-tiang tetapkan syarat pertarungan diantara kita ini”.
“Baiklah, kalau loohu yang menderita kalah sekarang juga aku angkat kaki dari sini dan sejak ini tak akan mencampuri urusan dunia kangouw lagi, bahkan hutang darahku terhadap sisastrawan berbaju biru yang telah membinasakan cucu murid kupun akan kuhapus sama sekali” sepasang biji mata Gong Yu berputar, pikirnya didalam hati: “Tua banaka ini menyebut dirinya sebagai Ban-Tok Ci-ong atau Raja diraja dari selaksa Racun, kepandaiannya tentu tak akan terlepas daripada penggunaan racun, didalam ketiga buah seringainya tadi dia pasti akan selipkan tenaganya yang luar biasa, aku tak boleh menggusarkan hati orang ini apabila tidak ingin menemui kesulitan dalam menghadapi nya nanti”.
DALAM waktu yang s ingkat dia telah berhasil mendapatkan cara untuk menghadapi musuh tangguh ini.
Pada saat itulah terdengar Ban Tok Ci-ong si Raja diraja dari selaksa racun tertawa ter bahak2.
“Haaa…haaa… bocah cilik. ber-hati21ah seranganku yang pertama segera akan tiba.” sreeet… bersama dengan selesainya ucapan tadi, dia telah melancarkan satu pukulan yang maha dahsyat.
Angin pukulannya men-deru2 laksana gulungan angin taupan, diiringi suara desiran yang tajam laksana kilat menumbuk kemuka.
Gong Yu tidak berani bertindak gegabah, buru2 ia kerahkan ilmu sakti “Tay-si-Hian-sinkang” nya untuk melawan.
Buum..” dua kekuatan saling bertemu diengah udara hingga menimbulkan suara ledakan yang sangat keras, tak kuasa lagi badan Gong Yu goncang hebat.
si Raja diraja dari selaksa Racun segera tertawa terbahak2, suaranya keras bagaikan geledek, jengeknya : “Hey, bocah cilik seranganku yang cuma memakai tenaga lima bagianpun tidak sanggup kau hadapi, aku lihat kau pasti bakal menderita kalah total “.
sepasang telapaknya kembali berputar didepan dada membentuk gerakan setengah busur, sreeet.. diiringi desiran tajam tenaga serangan memancar keempat penjuru, bagaikan gulungan ombak yang sangat dahsyat menyapu kedepan.
Buru2 Gong Yu menghadapinya dengan ilmu “Menghisap” dari hawa sinkangnya, dalam satu sedotan yang dahsyat seketika itu juga semua tenaga pukulan yang dilancarkan Ban- Tok Ci-ong lenyap tak berbekas.
si Raja di raja dari selaksa Racun inijadi terperanjat tatkala dirasakan keadaan rada aneh, berbareng dengan lenyapnya tenaga serangan itu sang badanpun tanpa sadar ikut maju setengah langkah kedepan.
Kejadian ini membuat dia jadi tidak senang hati, dengan paras muka kurang puas serunya: “Baiklah bocah cilik anggap saja dalam pertarungan babak kedua ini loohu lah yang menderita kalah “.
Diluar dia bicara demikian sementara dalam hati pikirnya: “Rupanya bocah cilik ini telah berhasil melatih semacam tenaga sinkang aneh yang khusus digunakan untuk menghisap tenaga milik orang lain. Kenapa aku tidak tumpahkan tenaga dalamnya per-lahan2 dikala permulaan kemudian di tengah jalan mendorongnya dengan segenap tenaga?? Haah..haah…haah… saat itu dia pasti akan menderita kekalahan total” Berpikir demikian tanpa terasa dia jadi bangga dan tertawa ter-bahak2.
“Keparat tua bangka, jangan keburu gembira dulu ” bentak Gong Yu setelah menyaksikan keadaan lawan. “sampai waktunya kau bakal tahu sendiri siapakah sebenarnya yang jauh lebih lihay diantara kita berdua “.
sembari mengerahkan tenaga sinkangnya hingga mencapai dua belas bagian guna berrjaga2 atas serangan lawan, dengan wajah penuh senyuman ujarnya lantang: “Menang atau kalah bakal ditentukan oleh serangan yang terakhir ini, aku berharap agar too-tiang suka mengalah kepadaku”.
Ban Tok ci ong melirik sekejap kearena pertarungan sewaktu dijumpainya para jago sedang saling bergebrak dengan serunya, dia lantas tertawa dan berkata: “Hey bocah cilik, terimalah seranganku ini”.
sedikitpun tidak salah, dalam melancarkan serangannya kali ini dia lakukan sangat lambat dan perlahan tenaga serangan yang digunakanpun cuma mencapai delapan bagian belaka.
Kesempatan baik tak boleh dibuang dengan percuma, laksana kilat Gong Yu mendorong sepasang telapaknya kemuka…. Duuusss…. hawa sakti segera meluncur kedepan.
Angin pukulan memencar keempat penjuru laksana berlaksa2 ekor kuda yang lari berbareng diiringi desiran suara yang tajam menggetarkan jantung segulung hawa sin- kang meluncur kemuka menghantam tubuh lawannya.
Tajam dan lengking desiran angin bukan saja membuatBan-Tok Ci ong terperanjat bahkan para jago yang sedang bertarung pun sampai menghentikan pertempuran dan menengok kearah mereka dengan hati terkesiap.
setelah menangkap suara desiran tajam tadi diam2 Raja diraja dari selaksa racun ini merasa menyesal karena dia hanya menggunakan tenaga delapan bagian belaka, namun waktu tidak mengijinkan dirinya untuk berpikir lebih jauh, secara otomatis sepasang lengannya bergerak keatas sembari menambahi dua bagian tenaga murninya. Namun sayang tindakannya ini telah terlambat satu tindak.
“Brrruuk…. ” ledakan dahsyat menimbulkan goncangan yang maha dahsyat diseluruh permukaan bumi, pasir dan debu berterbangan memenuhi angkasa, angin pusaran menderu2 dikalangan oleh segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat tubuh Ban Tok Ci ong siraja diraja dari selaksa racun tergetar mundur kebelakang hingga sejauh tiga langkah.
Dadanya dirasakan bagaikan tergodam oleh sebuah martil besar, seketika itu juga darah panas dalam dadanya bergolak keras, untung tenaga lweekangnya sangat sempurna, dengan paksakan diri ia berhasil menekan golakan tersebut.
sebaliknya Gong Yu cuma gontai sedikit saja untuk kemudian berdiri tegak kembali di tempat semula.
“Aaah, sudah…sudahlah ” teriak Ban-Tok Ci-ong dengan suara lantang. “Hoy bocah cilik kau boleh disebut sebagai lelaki yang pemberani dan berotak cerdas, loohu mengaku kalah ditanganmu haah…haah…haah…sampai jumpa lain saat”.
Diiringi gelak tertawa yang amat keras, laksana serentetan cahaya emas tubuhnya segera meluncur ke tengah udara dan berlalu dari situ.
Dengan perginya Ban-Tok Ci-ong karena, malu, berarti “Yoe Leng sin-Koen” ci Tiong Kian telah kehilangan sebuah lengannya yang paling kosen dan luar biasa.
Haruslah diketahui, didalam rencananya untuk menyapu bersih partai siauw-lim dari muka bumi, dia terlalu mengandalkan semua kemampuan serta tenaganya pada sikakek tua berkepala besar ini, dan kini setelah Raja di-raja dari selaksa Racun ngeloyor pergi dari situ sambil menahan malu, impiannya untuk merebut kemenanganpun seketika buyar dan hilang lenyap dari ingatan.
Apabila dia tidak mengundurkan diri dengan menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, kemungkinan besar akibatnya akan semakin runyam, ingatan tersebut laksana kilat berkelebat dalam benaknya. Dia segera bersuit nyaring tanda mengundurkan diri dari s itu.
Diikuti…. sreet sreet… secara beruntung dan lancarkan tiga buah serangan mematikan dengan tiga jurus sakti yang termuat dalam kitab pusaka” Yoe Leng pit Kip” yaitu “Hoen Yoe Tay si” atau sukma Gentayangan didunia. “Hoen Koei Te Hoe” sukma bertulang ke alam baka serta “Hiong Hoen si Jion” atau sukma ganas menggigit orang. Lie Wan Hiang terdesak hebat, terpaksa ia mundur kebelakang untuk menghindar.
Menggunakan kesempatan itulah sepasang kakinya menjejak permukaan tanah, laksana seekor alap2 dia menerobos tengah udara dan meluncur kearah bawah gunung.
Mimpipun Yoe Leng sin Koen tidak menyangka kalau penyerbuannya malam ini bakal menderita kekalahan total, kalau tidak dia pasti akan kerahkan kekuatannya untuk menyapu rata seluruh partai siauw-lim, maka bisa dibayangkan betapa benci dan dendamnya Ci Tiang Kian terhadap gadis berbaju hijau itu Disamping itu, keempat orang jago lihay yang dipimpin Nyonya Neraka Hitam Hoan so soh, kecuali sisetan gantung putih Khong It Hoei yang telah ngeloyor pergi lebih dahulu, sisetan gantung Ham soe Koen serta Hakim Mati hidup shaw Goan Cian saling susul menyusul telah menemui ajalnya.
Kini yang tertinggal hanya si telapak jagad Poei Seng seorang, namun dalam keadaan seperti ini dia tak sempat untuk memikirkan nasib anak buahnya lagi, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh sukma gentayangan buru2 badannya berkelebat menyusul kekasih gelapnya untuk melarikan diri dari puncak Siauw lim sie.
Walaupun musuh tangguh akhirnya berhasil dipukul mundur, namun Thian Hong Siang-jien sang ketua dari partai Siauw- lim merasakan hatinya amat pilu, bagaimanapun- juga kemenangan yang berhasil mereka peroleh saat ini harus ditebus dengan korban yang sangat banyak.
Dari perkumpulan Yo Leng Kauw, diantara iujuh orang yang dibawa hanya dua orang yang mati dan satu terluka, sebaliknya dipihak partai Siauw-lim dari murid angkatan keempat yang menggunakan tingkatan “Kak” telah mati empat puluh tujuh orang, sedang dari angkatan yang ketiga dengan tingkatan “Go” korban yang berjatuhan semakin parah, mereka yang mati mencapai enam puluh tiga orang.
Terutama sekali yang paling memilukan hatinya adalah kematian ketujuh orang murid partai siauw-lim anggota dari Cap Pwee Loo -Han yang amat tersohor dalam dunia persilatan, sedang mereka semua adalah saudara seperguruannya.
Dia sendiri sebagai seorang ketua dari partai terbesar dalam Bu lim bukan saja harus menelan pil pahit ini, bahkan lengan kirinya pun telah teriuka kena sambaran pedang Yoe Leng sin-Koen, seandainya Lie Wan Hiang tidak menolong tepat pada saatnya, emah bagaimana akibatnya ?? Sambil mencekal toya kumala hijaunya padri tinggi dari Siauw-lim Pay ini jadi berdiri termangu- mangu saja ditengah kalangan, air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi wajahnya, memandang bayangan manusia yang hilir mudik dikalangan untuk menolong mereka yang terluka, ia pandang mayat yang bergelimpangan serta darah yang menggenangi permukaan siauw lim-sie dengan wajah sayu.
Ia benar2 tak tega menyaksikan pemandangan yang mengenaskan itu, lama sekali akhir nya dia putar badan mempersilahkan si Pendekar tampan berbaju hijau serta Lie Wan Hiang untuk masuk kependopo tengah untuk minum air teh.
Mendadak Gong Yu teringat akan sesuatu, segera ujarnya kepada Thian Hong siang-jien- “Aku yang rendah Gong Yu selalu merasa curiga dan tak habis mengerti, sebetulnya markas besar perkumpulan Yoe Leng Kauw terletak dimana ? mengapa kita tidak gusur tawanan yang berhasil ditangkap tadi untuk diperiksa ? asal alamat dari markas besar mereka ketahuan, tidak sulit bagi kita untuk menyusun siasat pembalasan dikemudian hari”.
Thian Hong siang-jien membenarkan pendapat sianak muda itu. segera ia turunkan titah untuk menggusur tawanan tersebut kehadapannya.
setelah tawanan itu digusur kedalam ruang pendopo, tiba2 Gong Yu merasa paras muka orang itu se-akan2 pernah dikenalnya disuatu tempat, tanpa terasa segera tanyanya: “Bukankah kau adalah sitelapak jagad Peei seng dari ciong-Lay Pay??” Kakek berbaju hitam itu mengangguk.
“Aaaah.,..” Gong Yu berseru tertahan, dia segera menceritakan pengalaman pahit yang dialami Poei seng sitelapak jagad serta Tie Kong cuan sikepalan sakti tanpa tandingan yang telah terseret kelembah kehancuran akibat tingkah laku serta perbuatan sutenya Khong It Hoei, disamping itu diapun menceritakan pula bagaimana mereka peroleh kabar berita tentang rencana penyerbuan orang2 Yoe- Leng Tauw terhadap partai siauw Lim serta Bu-tong dari Poei cianpwee ini.” Akhirnya dia, menambahkan: “Hong-tiang bagaimanapun juga Poei cian-pwee sama sekali tidak bersalah ataupun terlibat dalam rencana penyerbuan terhadap partai siauw-lim pada malam ini, berkat kabar beritanya itulah kita bisa bersiap sedia. Menurut pandangan boanpwee tidak sepantasnya kalau kita anggap dia dan perlakukan dia sebagai seorang tawanan”.
Thian Hong sang jien mengangguk tanda setuju bahkan dia turun tangan sendiri untuk membukakan belenggu ditubuh Poei seng, setelah itu mempersilahkan dirinya duduk sebagai tamu agung.
Demikianlah setelah Gong Yupun memperkenalkan dirinya serta sumoaynyu Lie Wan Hiang, segera tanyanya.
“Poei cianpwee, menurut berita yang kalian kirim untuk kedua kalinya, dalam surat itu tertulis kata2 sebagai berikut: “Pura2 menyerang Bu tong, sekuat tenaga menyerang siauw-lim. apakah pihak Bu-tong sama sekali tidak diserbu olah kawanan perkumpulan Yoe Leng Kauw?” “Aaai…, kemungkinan besar pada saat ini partai Bu-tong sedang berada dalam keadaan yang amat bahaya.” “Apakah Yoe Leng sin koen telah merubah rencananya di tengah jalan?” “sedikitpun tidak salah, mula2 dia hendak membawa tiga Roh Bengis, tujuh sukma ganas, dua puluh empat sukma gentayangan serta Piauw biauw Hujien dan Beng Te Hujien ditambah sinehek bongkok dari negeri Hoe sang serta Jiak Kioe Kiam Khek dari laut Tang Hay untuk menyerbu partai siauw. lim.
siapa sangka sewaktu kami tiba dikota cia kan, secara kebetulan telah berjumpa dengan Ban Tok ci ong siraja diraja dari selaksa racun, gembong iblis ini memiliki tenaga lweekang sebesar tiga kali enam puluh tahun hasil latihan, kecuali dua rasul sakti dari kolong langit rasanya tak seorang manusiapun yang sanggup menandinginya.” setelah diminta dan di rengek2 oleh tiga manusia Hiong Hoen sambil menangis terisak2 akhirnya gembong iblis ini suka berangkat ke partai siauw lim guna membantu usaha mereka, setelah peroleh bantuan ini Yoe Leng sin Koen lantas merasa bahwa kekuatannya jadi semakin besar, dia percaya dengan kekuatannya serta kekuatan Bu Tok Ci ong sudah lebih dari cukup untuk melenyapkan partai siauw lim dari muka bumi karena itulah dia lantas membagi rombongan jadi dua bagian, sebagian menyerang partai siauw lim sedangkan rombongan yang lain berangkat menuju kegunung Butong…” Mendengar kabar ini Gong Yu lantas berpikir didalam hati: “Meskipun suheng telah berangkat kegunung Bu tong san untuk membantu pihak mereka, namun ditinjau dari jago2 yang dikirim tentu aku rasa kekuatan pihak Yoe Leng-Kauw terlalu ampuh bagi dirinya seorang.
seandainya partai Bu-tong bersikap gegabah dan pandang rendah musuhnya seperti halnya dengan partai siauw-lim.
bukankah keadaan akan bertambah runyam.” Hatinya jadi cemas bercampur gelisah, ingin sekali tubuhnya cepat2 berangkat menuju ke- gunung Bu-tong-san.
sementara itu terdengar suara Lie Wan Hiang bertanya: “Poei cianpwee, sebenarnya markas besar perkumpulan Yoe Leng Kauw berada dimana?” “Berada dipropinsi Koei chiu.,…” Belum habis dia berkata tiba2 tambak cahaya putih berkelebat lewat dengan cepatnya.
Diikuti terdengar sitelapak jagad Poei seng menjerit ngeri, tubuhnya seketika roboh binasa keatas tanah termakan oleh jarum iblis tulang putih dari Yoe Leng sin Koen- Gong Yu sekalian jadi kaget, sebelum mereka sempat bertindak sesuatu terdengar sambaran angin tajam berkelebat, jelas sang pembunuh telah melarikan diri dari sana.
Peristiwa ini tentu saja semakin membuat Thian Hong siang-jien jadi bertambuh malu, untuk sesaat lamanya dia cuma bisa berdiri ter-mangu2 tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapunsetelah mendengar kabar berita dari Poei seng tadi, Gong Yu serta Lie Wan Hiang jadi amat menguatirkan keselamatan suhengnya yang berada diatas gunung Bu-tong-san, akhir nya setelah berunding beberapa saat lamanya mereka ambil keputusan untuk mohon diri Terhadap bantuan serta kepandaian sakti yang dimiliki sepasang muda mudi ini baik Thian Hong siang-jlen maupun anak muridnya merasa kagum bercampur terima kasih.
Melihat sianak muda itu mau berlalu, maka sang ketua dari partai s iauw-lim ini disertai seluruh anak muridnya yang masih hidup segera menghantar keberangkatan mereka dengan segala ucapan yang meriah, bukan mereka kagum terhadap mereka, terutama sekali bantuannya yang amat besar dimana telah menyelamatkan be-ratus2 orang padri dari kuil mereka.
Gong Yu serta Lie Wan Hiang tidak am bil pusing terhadap sikap mereka lagi, dalam keadaan seperti ini yang mereka pikirkan hanya satu, yaitu keselamatan suhengnya Hoo Thian Heng yang kemungkinan besar telah menjumpai mara bahaya dipuncak gunung Bu-tong Begitu meloncat naik keatas kudanya, mereka segera melarikan kedua ekor kuda jempolannya menuruti kegunung siong-san, dalam sekejap mata bayangan mereka berdua telah lenyap dari pandangan.
Memandang bayangan punggung kedua orang itu Thian Hong siangjlen menghela napas tiada hentinya.
Demikianlah dia lantas titahkan anak muridnya untuk membereskan jenasah suheng-te serta anak muridnya yang binasa dalam pertarungan tersebut, kemudian ia menutup diri di dalam kamar semedhinya sambil merenungkan kejadian yang baru saja berlangsung.
oooooo Jilid 16 HARI itu cuaca sangat bersih, angin gunung bertiup sepoi2 membuat suasana terasa nyaman.
Diluar istana Ci Yang Kiong digunung Bu tong-san, kayu serta ranting telah ditumpuk hingga mencapai ketinggian enam tujuh depa, terkena sorot matahari yang menyengat kayu2 itu sebagian telah mengering, apa lagi di sekeliling sana telah disiram dengan minyak setiap saat kemungkinan kebakaran bisa terjadi.
sang surya kembali sudah condong ke-Barat namun suara teriakan masih terdengar ber-saut2an- Teria kan2 itu semuanya mengandung nada mengejek.
menghina dan tidak menguntungkan nama baik Hoo Thian Hong sisastrawan berbaju biru itu.
se-akan2 semua bencana yang bakal menimpa partai Butong adalah diakibatkan hadirnya pemuda tersebut.
Walaupun Hian cing Tootiang sendiri adalah seorang toosu yang berpikiran luas dan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, namun tak urung banyak juga mereka2 yang takut mati mulai tergoyah hatinya mendengar hasutan serta teriakan2 itu.
sering kali Hoo Thian Hong menemukan berpuluh2 pasang mata yang aneh sedang melirik dan memandang kearahnya, hal ini membuat dia kian lama kian bertambah kaget dan bergidik, Namun dalam hati kecilnya dia bisa memahami sikap orang2 itu, bagaimanapun juga seseorang jika berada dalam keadaan yang amat berbahaya, dia tentu akan ber-harap2 bisa mendapat kesempatan untuk hidup lebih jauh dan untuk mencapai keinginannya itu kadang kala orang tak akan memikirkan lagi pelbagai peraturan atau tata kesopanan, bahkan terhadap orang yang paling disayangipUn kadang kala tak sayang2nya dijual demi kepentingan diri sendiri sudah tentu dengan kepandaian silat yang dimilikinya, tidak susah baginya untuk meloloskan diri dari s itu.
Namun mungkinkah Hoo Thian Hong si sastrawan berbaju biru yang tersohor akan kegagahannya akan berbuat demikian??? tidak dengan budi pekertinya, nama besarnya, pendidikannya serta jiwanya, tak nanti dia sudi melakukan hal itu.
Maka keadaannya serta situasinya semakin terjepit, kian lama mara bahaya yang mengancam keselamatannya semakin besar.
setelah berjaga selama-seharian penuh di atas atap istana Ci-Yang-Kiong ber-sama2 Ci Yang cinjien serta Cing Yang cinjien dua orang tiang loo dari Bu-tong Pay, kini badannya terasa mulai jadi lelah dan kehabisan tenaga.
Dalam pada itu Hiong-Hoen nomor dua yang menyaksikan para toosu dari Bu-tong pay belum juga mau menyerah, dia segera mendekati atasannya “Piauw biauw Hujien” untuk mengajukan satu usul.
Perempuan itu mengangguk tanda setuju dan atas perintah Hiong Hun nomor dua inilah, dua puluh satu orang sukma gentayangan dengan membawa sebuah batang pohon yang besar mulai mendobrak pintu istana Ci Yang Kiong yang tebal.
Brukk….Brukk…. diiringi suara yang keras seluruh bangunan goncang dengan dahsyatnya.
Hian cing Tootiang jadi kuatir dengan perbuatan mereka, buru2 dia perintahkan tukang panahnya yang bersembunyi diloteng genta untuk melepaskan anak panah.
seketika itu juga hujan anak panah berhamburan diseluruh permukaan tanah, dalam hujan panah yang amat dahsyat inilah dua puluh satu orang sukma gentayangan terpaksa harus menarik diri.
Mendadak….terdengar suara suitan yang amat nyaring berkumandang nyaring dari bawah gunung Bu-tong-san, diikuti berkelebatnya sesosok bayangan hitam muncul dari balik bukit.
Begitu bayangan manusia itu munculkan diri, segenap anggota perkumpulan Yoe Leng Kauw bersorak-sorai dengan gembiranya.
Ditengah tempik sorak yang ramai, menggemalah serentetan suara diangkasa: “Hey Hian cing Tootiang dari Bu tong Pay, dengarkanlah baik2…… Hiancing Tootiang dariButong Pay dengarkan baik2 Pun Kauwcu Yoe Leng sin Koen baru saja pulang dari partai siauw lim dengan membawa sembilan butir batok kepala dari Cappwee Loo Han saat ini Thian Hong sang jien beserta segenap anak muridnya telah takluk dan menyerah, mereka telah menggabungkan diri dengan perkumpulan kami.
“Kau harus tahu bahwa Sin Koen kami adalah orang yang berbudi luhur dan bijaksana, atas persetujuannya kami hendak menawarkan kedudukan wakil kauwcu buat Hiang cing Tootiang..” “Akan kami beri waktu setengah perminum teh bagi kalian untuk mempertimbangkan tawaran kami ini, rejeki atau bencana serta mati atau hidup dari beberapa ratus jiwa para toosu yang ada didalam istana ci-Yang Kiong semuanya tergantung pada keputusan dari ciangbun-jien kalian-” orang yang berteriak barusan bukan lain adalah “Piauw Biauw Hujien” Mo Yoe Yauw. Suaranya merdu dan lengkingnya tinggi bukan saja nyaring bahkan nyata dan bisa didengar dengan sangat jelas.
Terutama sekali ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad, ucapan itu membuat hati para toosu yang ada didalam istana ci Yang Kiong merasakan hatinya bergidik.
Si Nelayan dari sungai Goan Kang dengan tangan mencekal jaring ikannya bersiap sedia dengan alis berkerut.
Sedangkan Hoo Thian Heng sisastrawan berbaju biru merasakan hatinya tidak tentram, pikirnya.
“Apakah sute Gong Yu serta Sumoay Lie Wan Hiang sudah datang terlambat diatas gunung Siong-san?” Terdengar teriakan tadi kembali diulanginya beberapa kali, suaranya makin lama semakin nyaring sehingga berdengung ditengah udara tiada hentinya.
Hiang Cing Tootiang itu ciangbunjlen dari partai Bu-tong sama sekali tidak memperdulikan teriakan lawan, dia tahu bahwa pihak musuh mempunyai banyak akal licik untuk menjebak mereka, sudah tentu dia tak mau tertipu mentah2.
Dengan cepatnya seperminum teh sudah lewat.
Melihat pihak Bu-tong Pay belum juga mau menyerah, Yoe Leng sin Koen, CiTiong Kian jadi naik pitam.
Ia segera turunkan perintah untuk menyulut api dan membakar kayu2 kering yang telah bertumpukan disekeliling istana Ci Yang- Kiong.
Pada saat yang bersamaan pula dari tempat kejauhan secara lapat2 berkumandang datang suara ringkikan kuda yang amat keras ditinjau dari leng kingnya suara ringkikan tersebut jelas kuda2 itu bukan kuda sembarangan.
Dalam sakejap mata ringkikan kuda itu sudah tiba dipunggung gunung Bu-tong.
Mendadak satu perasaan yang tidak enak datang dari dasar hati Yoe Leng sih Koen, dia segera titahkan “Hiong Hun” nomor tiga dengan membawa Lee-pok nomor lima dan enam untuk pergi menghadang kedatangan orang itu.
sedang sisanya telah membuat obor dan siap membakar kayu2 bakar disekitar istana Ci-Yang Kiong.
Mendadak…..terdengar suara genta diatas loteng istana berbunyi ber-talu2… anak panah menghujani seluruh permukaan, diikuti pintu istana Ci-Yang Kiong terpentang lebar2, dua ratus orang toosu anak murid partai Bu-tong dengan senjata terhunus telah menyerbu keluar bagaikan gulungan air bah.
Hawa pedang seketika memenuhi angkasa bagaikan tumpukan ombak salju melanda dan menggulung seluruh permukaan bumi.
Bersamaan itu pula Ci Yang cinjien serta Hoo Thian Heng yang bera di diatas atappun melayang turun kedalam kalangan pertempuran dan masing2 mencari lawannya.
suitan nyaring, teriakan gusar serta jeritan ngeri berkumandang tiada hentinya, dalam waktu yang singkat lapangan luas didepan istana Ci-Yang Kiong telah berubah jadi medan pertempuran yang amat seru.
Kiranya Hoo Thian Heng sisastrawan berbaju biru yang mendekam diatas atap bangunan secara lapat2 berhasil menangkap suara ringkikan dari kuda Cay-Ya-Giok-say-Cu, berbareng itu pula dia temukan bilamana pihak lawan hendak menyurut api dan membakar tumpukan kayu bakar disekitar istana Ci-Yang Kiong.
Pemuda itu jadi terperanjat, dia mengerti bahwa kesempatan baik bagi mereka untuk maloloskan diri sebentar lagi akan lenyap. seandainya mereka biarkan pihak lawan menyulut api dan membakar tumpukan kayu bakar itu, niscaya korban di pihak Bu tong Pay yang mati akan bertambah banyak.
oleh sebab, itu dia segera kirim tanda kepada Hian Cing Tojin agar memberikan reaksi secara tiba2.
sedikitpun tidak salah, serbuan yang dilancarkan tak ter duga2 ini mendatangkan hasil yang luar biasa, meskipun para anggota perkumpulan Yoe Leng Kauw yang hadir ditempat itu rata2 merupakan jago lihay dari dunia persilatan, namun untuk beberapa saat lama-nya mereka dibikin kelabakan juga sampai kacau tidak keruan.
Jangan dikata anak murid partai Bu tong memiliki serangkaian ilmu pedang yang luar-biasa, sekalipun orang2 biasa bilamana menyerbu dalam gelombang yang dahsyat dan tak disangka pun sukar dibendung dengan cepat.
Dengan cepatnya medan pertempuran telah meluas hingga ke tengah. Lawan dari Hian Cing Tootiang adalah “Hiong Hoen” nomor satu, sikakek seratus bangkai Kiang Tiang Koei, sedangkan lawan dari Hian Hok Tootiang adalah Lee-pok nomor dua, “Kioe Ci Tok Kay sipengemis racun berjari sembilan Kouw Im.
Hian siuw Tootiang serta Hian biauw Tootiang bekerja sama melawan “Piauw biauw Hujien” Mo Yoe Yauw.
cing Yang cinjlen dengan sepasang telapak menghadang si nenek bongkok dari negeri Hoe sang Jepang Leo Peng sim.
sedangkan ci Yang Cinjien dibikin mengucurkan keringat dingin oleh desakan serta teteran gencar Jiak Kioe Kiam Khek sibola daging dari Tang-hay.
Musuh Hoo Thian Heng sisastrawan berbaju biru bukan lain adalah Ci Tiong Kian yang pernah dijumpai sewaktu berada di tebing Pek Yan Gay tempo dulu dan kini telah menggetarkan seluruh dunia persilatan dengan julukannya Yoe Leng sin Koen.
setelah berpisah tiga tahun, bukan saja tenaga lweekang yang dimiliki Yoe Leng sin Koen peroleh kemajuan yang sangat pesat, ilmu silat yang dimilikipun luar biasa ampuh terutama sekali sebilah pedang dan mantelnya yang aneh, semakin memperkuat kedudukannya bagaikan harimau tumbuh sayap.
Untuk mempertahankan diri dari teteran musuh, terpaksa Hoo Thian Heng harus main ilmu2 sakti kipas emas seruling kumalanya hingga mencapai pada puncaknya, kipas menyambar silih berganti menimbulkan hembusan taupan, seruling beterbangan mengiringi suitan nyaring digabungkan dengan gerakan tubuh “chie Ciat Tay Na Ie” tiada hentinya dia berkelit kesana mengigos kemari.
sekalipun begitu kedudukannya masih tetap berada dalam posisi yang sangat berbahaya, jiwanya setiap saat ada kemungkinan lenyap diujung pedang lawan- Mimpipun dia tidak menyangka bila panglima yang pernah menderita kalah ditangan isterinya “siauw Bin Loo-sat” Poei Hong pada tiga tahun berselang kini telah menjadi seorang gembong iblis yang luar biasa lihaynya.
Tak usah dipikir lebih dalam lagi, segera dia mengerti bahwa manusia she Ci ini pasti sudah berhasil mempelajari dari isi kitab pusaka Yoe Leng pit Kip.
Air muka Yoe Leng sin Koen makin lama berubah semakin hitam, cahaya berwarna hijau memancar keluar dari sepasang matanya, sambil tertata seram jengeknya: “Manusia she Hoo, sampai kapan kau baru sudi takluk dan menyerah kepadaku ???”.
Kendati keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya, Hoo Thian Heng pantang untuk menyerah, dengan sikap yang masih gagah, sahutnya: “sekalipun aku tidak becus, ingin pula kunasehati dirimu dengan sepatah dua patah kata. Bilamana kau tahu diri saat inilah merupakan saat yang paling baik bagimu untuk melarikan diri Kalau tidak, bilamana menunggu hingga pendekar tampan berbaju hijau yang baru datang dari gunung siong san tiba disini, ingin melarikan diripun mungkin sudah terlambat.. “.
Mendengar ucapan tersebut bati Yoe-Leog sin-Keen bergidik, segera pikirnya didalam hati: “Aku datang kemari dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh “Cia-Hong- Hoei-Heng” atau Membonceng angin terbang melayang, sekalipun ditengah jalan telah berhenti beberapa saat lamanya namun kedatanganku pun belum lama. seandainya keparat cilik itu tidak memilik kuda jempolan yang luar biasa mana mungkin bisa menyusul diriku kemari?”. Berpikir demikian dia lantas tertawa lega, jengeknya dengan nada dingin: “Jangan mimpi disiang hari bolong dikolong langit dewasa ini tak nanti ada orang yang bisa tiba digunung Bu-tong dari gunung siong-san hanya dalam sehari saja kecuali aku Yoe- Leng sin Kun. hmmm….. Hmmm aku lihat lebih baik kau tak usah mengibul yang bukan2…” “siapa yang mengibul?? kau atau aku??” mendadak dari arah belakang berkumandang datang serentetan suara yang amat nyaring.
sungguh cepat reaksinya, laksana kilat badannya berputar, kebelakang sambil bersiap sedia, kendati terperanjatnya bukan kepalang namun sedikitpun dia tak mau unjukan kelemahan.
siapa tahu belum saja badannya berdiri tegak. dua gulung benda hitam secara tiba2 meluncur kebadannya.
Yoe- Leng sin Koen mendengus dingin, dengan sebat dia ayun tangannya kemuka….
Duuus… duuus.. kedua benda tadi berhasil ditangkapnya dengan tepat namun dengan cepat pula dia berseru kaget bercampur gusar, ternyata benda yang dipegangnya sekarang bukan lain adalah batok kepala dari “Lee-pok” nomor lima serta “Lee-pok” nomor enam. Tiang Pek siang-Hiong atau sepasang manusia gagah dari Tiang-Pek san.
Disamping itu, diapun dapat melihat jelas wajah pihak lawannya, dia bukan lain adalah gadis berbaju hijau yang pernah ditemuinya sewaktu ada didepan kuil siauw-lim sie malam tadi.
Dalam hati segera pikirnya: “Setelah nona ini hadir ditempai ini, jelas sipemuda berbaju hijau yang berhasil memukul mundur Ban Tok Ci-ong si raja diraja dari selaksa racun dengan sebuah pukulannya pun telah tiba pula disini”.
Ingatan tertebut dengan cepatnya berkelebat dalam benaknya, sebelum dia sempat angkat kepalanya untuk memeriksa, terdengar gadis itu telah berkata kembali dengan nada nyaring: “Engkoh Yu, gembong iblis ini aku lihat masih mempunyai sedikit kepandaian kucing kaki tiga, kuberikan saja kepadamu untuk bermain joget kera, tapi ingat lho…jangan sampai kau lenyapkan selembar jiwanya…” Begitu meyakinkan ucapannya, se-akan2 musuh yang berada dihadapannya bagaikan kura2 didalam keranjang, hampir saja Yoe Leng sin Koen jatuh pingsan saking gusarnya.
Pada saat ini wajahnya telah berubah semakin hitam, muta elangnya memancarkan cahaya hijau yang menggidikkan hati.
dia tahu bahwa pertempuran pada malam ini merupakan ujian yang paling berat dari nasib dirinya dikemudian hari.
Tapi… dapatkah dia utarakan rasa takut yang telah mencekam hati kecilnya ?? “Tidak tidak boleh ” jeritnya didalam hati. “Aku harus berhasil menaklukkan seluruh dunia persilatan, aku harus melenyapkan keparat cilik ini dari muka bumi, sebelum dia modar aku tidak akan berpeluk tangan…” Berpikir demikian, tanpa sadar dia angkat kepalanya.
Tampaklah pemuda tampan berbaju hijau itu sedang mencium pipi gadis cantik disisi tubuhnya, kemudian tertawa nyaring dan berseru: “Hamba akan jalankan titah dari yang mulia ” Nona cantik itu tertawa cekikikan, mendadak ia enjotkan badannya melayang ketengah udara, pedang pendeknya bergetar keras menciptakan selapis cahaya bianglala berwarna merah dan langsung menebas batok kepalaJiak Kioe Kiam Khek Kioe Ek.
Dalam pada itu Yoe Leng sin Koen ci Tong Kian sambil mencekal pedang Yoe leng Kiam tertawa seram tiada hentinya dengan sinar mata yang buas dan wajah menyeringai seram di tatapnya pemuda tersebut dengan penuh kebencian- Bisa dimaklumi betapa benci dan mendendamnya ketua dari perkumpulan Yoe Leng Kauw ini terhadap diri Gong Yu.
Penyerbuannya diatas kuil siauw lim sie hampir saja mencapai hasil seperti apa yang diharapkan, namun secara tiba2 muncul bocah muda ini hingga usahanya mengalami kegagalan total.
Dan sekarang kembali dia muncul diatas gunung Bu tong untuk mencampuri urusannya. siapa yang tidak benci dan dendam bilamana usaha serta pekerjaannya selalu saja dikacau?.
Sipendekar tampan berbaju hijau sendiri dapat melihat pula bahwasanya Yoe Leng sin Koen yang sekarang bukan lain” adalah Ci Tiong Kian sipelajar Im-yang serta kauwcu dari perkumpulan Im-yang Kauw pada masa yang silam, dalam hati dia lantas berpikir: “Bukankah bajingan ini sudah digulung oleh suci Poei Heng hingga masuk kedalam jurang Pek Yan Gay dengan jurus “Soh Im Ning Hiang” atau bayangan putih membeku wangi? kenapa sekarang bisa muncul lagi disini dalam keadaan yang hidup dan bahkan lihaynya luar biasa ??…” sebagai pemuda yang benci akan kejahatan dan muak dengan segala kebrutalan, setiap kali teringat akan pembunuhan berdarah diatas puncak gunung Siong-san, hawa amarahnya segera berkobar kembali dengan mata bercahaya tajam serunya lantang: “Ci Tiang Kian, kejahatanmu sudah ber-tumpuk2 bagaikan bukit, sebagai umat manusia siauw seng berhak untuk mewakili Thian membasmi dirimu dari muka bumi. Namun untuk kali ini kuberi satu kesempatan bagimu untuk merubah tingkah lakumu yang salah di masa silam.
JILID 16 HAL 36 S/D 37 HILANG menggantikan kedudukan Ci-Yang Cinjien untuk menghadapi Jiak-Kioe Kiam- Khek, sibola daging dari Tiang Hay, pertarungan antara mereka berdua berjalan dengan seimbang dan serunya, sementara Ci Yang Cinjien sendiri telah mundur kebelakang membantu Cing Yang Cinjien mengerubuti sinenek bongkok dari negeri Hoe seng. Maka untuk sementara waktu situasi berhasil diatasi dan aman.
setelah dirasakan keadaan bisa diandalkan, pemuda kita baru memandang kembali wajah Yoe Leng sin Koen yang berubah jadi menyeramkan itu, dia tahu pihak lawan sudah diliputi oleh kegusaran, maka sambil tertawa dingin jengeknya: “Buat apa kau bertanya lagi???”.
sebelum bertindak mendadak Yoe Leng sin Koen teringat kembali sesuatu kejadian yang aneh, dia merasa tercengang dengan kekuatan dari si sastrawan berbaju biru. Didalam bentrokannya tadi dia merasa bahwa tenaga lweekang yang dimilikinya jauh lebih tinggi satu tingkat daripada Hoo Thian Heng..
sedangkan keparat cilik ini adalah sutenya, kenapa dia bisa menahan getaran dari hasil pukulan “Ban Tok Ci ong” si Raja di raja dari selaksa racun? sekalipun dikatakan tenaga Iweekang sutenya jauh lebih lihay dari suhengnya tak nanti kelebihan tersebut terpaut begitu besar….lalu apa yang sudah terjadi Jangan2 keparat cilik ini sudah bermain setan? sedang Ban Tok Ci-ong merasa tidak tega melukai dirinya karena melihat usianya yang masih muda dan mempunyai bakat yang baik sehingga mengalah buat sianak muda ini? Berpikir sampai disitu keberaniannya berkobar kembali, dia segera tertawa seram.
“Keparat cilik, dengan ketajaman mata pun kauwcu sejak tadi aku sudah tahu kalau kau hanya bisa menggertak sambal belaka. Hmmm. beranikah kau bertaruh tiga babak dengan diriku?” Gong Yu pura2 menunjukkan rasa kaget, namun dengan cepat ia berhasil menenangkan kembali hatinya.
“Jangan dikatakan tiga babak. sekalipun sepuluh babak siauw-heng juga tidak jeri untuk menghadapinya.” dia menyahuti. setelah merandek sejenak. tanyanya lebih jauh: “Entah bagaimanakah pertaruhan kita itu?” Diam2 Yoe Leng sin Koen memperhatikan perubahan wajah lawannya, setelah dirasakan bahwa dugaannya sama sekali tidak meleset dan merasa yakin pertaruhan ini pasti dimenangkan olehnya dia lantas berkata: “Tentu saja tidak lain daripada beradu ilmu meringankan tubuh, ilmu pukulan telapak serta ilmu mempergunakan senjata, Barang siapa yang berhasil menangkan dua babak.
dialah yang menang.” Gong Yu tersenyum.
“Lalu apakah keuntungannya bagi sang pemenang dan apa pula kewajiban-bagi yang kalah?” Yoe Leng sin Koen termenung berpikir sejenak. setelah itu jawabnya: “Pihak yang kalah diwajibkan melaksanakan segala perintah yang diucapkan oleh pihak yang menang.” “Apakah ada batas2nya? umpama saja termasuk memenggal batok kepala sendiri ataukah memenggal batok kepala orang lain? “Perhatikaniah kata “segala” dalam ucapanku tadi, percuma kau mengatakan yang lebih banyak kalau tak tahu artinya kata tersebut.” “oooooh…begitu ? lalu apakah ada batas2 waktunya ? umpama kata cuma beberapa hari atau harus mendengarkan perintah pihak yang menang sepanjang hidupnya ?” “sudah tentu sepanjang hidupnya ” Tiba2 Gong Yu mendongak dan tertawa ter-bahak2.
“Heee… heee.. : beee… sejak dulu hingga sekarang, seggla macam perjanjian hanya berlaku bagi kaum koen-cu dan sama sekali tak berguna bagi kaum siauw-jien manusia rendah martabatnya ” “Apa kau bilang ?” teriak Yoe Leng sin Koen dengan wajah berubah hebat. “Siapakah koen cu dan siapakah siauwjien, dewasa ini masih terlalu pagi untuk dibicarakan ” sipendekar tampan berbaju hijau Gong Yu tertawa hambar.
“Lebih baik kita bicarakan dulu kebiasaan kaum siauw-jien sebelum membicarakan kaum koen cu. seandainya beruntung siauwjien bisa merebut kemenangan tersebut maka aku tidak ingin memerintahkan kau untuk memenggal batok kepalamu tapi aku berharap agar kau suka memotong sebuah jari tanganmu sebagal peringatan agar kau suka bertobat, kaupun tak usah mendengarkan perintah ku sepanjang masa, cukup asal kau bubarkan segenap anggota perkumpulan Yoe- Leng Kauw mu saja, bisakah kau laksanakan hal tersebut diatas??”.
Ucapan ini membuat Yoe- Leng sin Koen tertegun, dalam hati segera pikirnya: “Mungkinkah sianak muda inc mempunyai keyakinan untuk menangkan diriku?” Tanpa terata hatinya jadi sangsi.
Namun ucapan telah diutarakan keluar, seka lipun menyesal juga tak ada gunanya, maka dia segera mendengus dingin.
“Hmmm kau anggap sin-Keen adalah manusia macam apa?”.
“kalau memang demikian, perintahkanlah anak buahmu yang sedang bertempur untuk menghentikan pertarungan ” kata Gong Yu kemudian setelah melirik sekejap para jago yang sedang bertempur sengit.
Dari medan pertempuran Yoe Leng sin Koen pun bisa menyaksikan bahwa pihaknya tidak berhasil mendapatkan keuntungan apa2 dalam pertarungan ini, maka dia segera tunjukkan tanda setuju.
Dia lantas bersuit nyaring dan segenap anggota perkumpulan Yoe Leng Kauw yang sedang bertempur segera mengundurkan diri ke belakang.
Gong Yupun lantas menyampaikan maksud hatinya kepada para tosu dari pihak Bu-tong Menggunakan kesempatan ini Lie Wan Hiang segera menceritakan keadaan situasi dipartai siauw- lim kepada toa suhengnya Hoo Thian Heng.
Hian cing Tootiang yang ikut mendengarkan dari samcing tentu saja merasa sangat girang dia lantas perintahkan anak muridnya untuk membagi diri jadi dua kelompok dan berdiri diutara serta selatan- Disambing itu mengusulkan cing Yang Too tiang serta Jiak Kioe Kiam Khek sebagai saksi dalam pertaruhan ini.
Pertandingan babak adalah beradu ilmu meringankan tubuh.
Jiak- Kioe Kiam Khek tampil ketengah kalangan, dari Ang Hoat Tauwto dimintanya tiga batang jarum “Ngo Im Keei Ciam” kemudian ujarnya: “Setelah jarum ini kusambitkan ketengah udara, kedua belah pihak harus mencelat ketengah udara, bagi siapa yang berhasil mencapai ketinggian melebihi lawannya dan bisa berdiam lebih lama diangkasa dialah yang menang, sebaliknya bagi yang tak dapat melakukan, hal itu dianggapnya, kalah.” Mendeagar hal tersebut diam2 Yoe Leng sin Koen merasa kegirangan- Tentu saja Lie Wan Hiang pun mengetahui kegunaan dari mantel lawannya, dengan cepat dia memperotes.
“sewaktu bertanding nanti. sin Koen harus melepaskan mantel yang kau kenakan itu, dengan demikian, kedua belah pihak baru bisa mengadu kepandaian yang murni dan adil” Yoe Leng sin Koen tertawa ter-bahak2.
“Haaa…haaa… sungguh keterlaluan sekali ucapanmu itu, seandainya ada orang memohon kepada nona untuk melepaskan gaun yang kau kenakan apakah kau juga mau?” Baru saja dia menyelesaikan kata2nya tiba2 terdengar suara bentakan keras berkumandang diangkasa, sesosok bayangan hijau berkelebat lewat dan tahu2 Ploook sebuah tempelengan keras dengan telak bersarang diatas pipi Yoe Leng sin Koen yang pucat pias bagaikan mayat itu.
Gaplokan ini bukan saja dilakukan amat cepat bahkan nyaring sekali sehingga dapat didengar oleh segenap jago yang hadir ditengah kalangan tersebut.
Yoe Leng sih Keen tertegun dia tak menyangka pihak lawan bisa memiliki gerakan tubuh yang demikian cepatnya, sampai kepandaian sakti yang dimilikinya belum sempat di gunakan tahu2 pipinya sudah mendapat persen.
“Adik Wan, apa gunanya- kau ribut dengan manusia semacam itu” ujar Gong Yu sambil tertawa. “Biarkanlah dia menangkan pertandingan babak pertama ini, bukankah kita masih punya kesempatan dua babak untuk merebut kemenangan??” Lie Wan Hiang mengerling sekejap kearahnya dan tidak berbicara lagi..
Yoe Leng sin Koen Ci Tiong Kian sendiri, meskipun didalam hati sangat gusar, namun karena takut terjadi hal2 yang tidak diinginkan maka sekalipun pipinya mentah2. kena di gaplok orang dia tetap diam saja.
Dalampada itu Cing Yang Cinjien telah memperingatkan kedua belah pihak untuk bersiap sedia Jiak Kioe Kiam Khek segera ayun kan ” Ngo- Ing Loei ciam” tersebut ketengah udara..
“Bluum…” bersamaan dengan meledaknya suara dentuman yang keras, dua sosok bayangan manusia meluncur ke angkasa.
si Pendekar tampan berbaju hijau Gong Yu dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh Menunggang angin Membonceng awan meluncur lurus ketengah udara, sedangkan Yoe Leng sin-Keen dengan andalkan mantelnya yang ampuh mengejar dari belakang, kedua belah pihak sama2 berhasil mencapai pada ketinggian beberapa ratus tombak.
Pemandangan yang luar biasa ini bukan saja membuat para jago yang ada dikalangan sama2 geleng kepala dan menjulurkan lidahnya, Yoe-Leng sin Koen yang ada ditengah udarapun merasa sangat terperanjat, pikirnya.
“satu hari manusia macam ini masih hidup dikolong langit, aku Yoo Leng sin Kun tidak mungkin bisa merajai seluruh dunia persilatan, aku harus berusaha keras melenyapkan bibit bencana ini dari muka bumi..” Maka semakin besarlah niatnya untuk melenyapkan pemuda ini dalam pertandingan tersebut.
Gong Yu tak mau unjukkan kelemahan, ilmu gerakan tubuh Hong im Cap Pwee Pian- atau Angin dan Mega delapan belas kali berubah ajaran Loo Pouw sat dari gunung Altai segera dikerahkan dengan hebatnya, tampaklah tubuh sianak muda itu bagaikan seekor naga sakti berkelebat kesana kemari dengan gagah-nya.
Yoe Leng sin Koen sendiri meskipun dia tidak sampai menderita kalah berkat bantuan mantelnya, namun tubuhnya yang berada ditengah udara tak dapat bergerak dengan lincah nya seperti pemuda tersebut, dengan sendiri nya tampak jelas sekali perbedaannya.
Kurang lebih setengah perminum teh kemudian, tubuh kedua orang itu baru melayang kembali keatas tanah.
sudah tentu tampak si pendekar berbaju hijau tiba lebih dahulu diatas tanah, sehingga dalam pertandingan babak pertama Yoe Leng sin Koen lah yang menang.
sekalipun begitu kedua belah pihak sama2 memahami apa sebabnya Yoe Leng sin Koen berhasil merebut kemenangan, bahkan ci Tiong kian sendiripun merasakan wajahnya tak bersinar.
Pertandingan babak kedua adalah beradu tenaga pukulan.
Jiak Kioe Kiam Khek pernah menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya ilmu pukulan Yoe- Leng sin-Keen dimana ia pernah menghancurkan batu cadas gunung dari jarak sepuluh tombak. dia percaya kauwcunya pasti berhasil merebut kemenangan, maka segera usulnya: “Pada jarak sepuluh tombak. masing2 membuat sebuah lingkaran bulat seluas tiga depa, barang siapa yang terhantam hingga keluar dari lingkaran garis tersebut dialah yang kalah “.
Masing2 pihak tiada usul lain, maka kedua orang itupun segera membuat garis lingkaran dan masuk kedalam lingkaran tersebut.
Begitu jarum Ngo-Ing Loei-ciang berdentuman diangkasa, Yoe-Leng sin Koen laksana kilat segera mengirim satu serangan lebih dahulu dengan I lmu pukulan “Kioo-lm Hiat sat- Kang”, seketika angin taupan melanda seluruh permukaan bumi.
Gong Yu rada terlambat melancarkan serangannya maka dia menderita kerugian dalam serangan tersebut.
Terdengar dua desiran tajam menyambar ke depan membelah angkasa.
Blumm Blumm ditengah ledakan dahsyat pasir dan debu beterbangan ke mana2, pohon serta ranting kayu seluruh tombak diluar garis pertarungan sama2 patah dan roboh keatas tanah.
Tubuh Gong Yu tergoncang beberapa saat kemudianjadi tenang kembali, sebaliknya Yoe leng sin Keeo merasakah jantungnya berdebar keras, darah panas bergolak kencang, hampir2 saja badannya meleset keluar dari garis lingkaransemua jago yang menonton jalannya pertempuran ini jadi ikut tegang, keringat dingin tanpa sadar mengucur keluar membasahi tubuh mereka.
Gong Yu bersuit nyaring, hawa sakti Ta siy Hian Thian sinkang segera dihimpun kedalam lengannya, secara berantai dia kirim beberapa pukulan mematikan, serangan demi serangan dilancarkan dengan dahsyat.
Yoe Leng sin Koen tersirap darah panasnya, sekalipun dia sudah kerahkan tenaga lweekangnya hingga mencapai dua belas bagian namun semakin berlangsung kebelakang, dia semakin tak kuasa mempertahankan diri.
Terasalah tenaga tekanan lawan begitu ampuh dan kuatnya, gulungan angin taupan yang melanda tiba membuat hati orang jadi bergidik dan terkesiap setiap hantaman yang menggulung tiba menggetarkan badannya sehingga kuda2nya jadi tergempur, badannya semakin sempoyongan bagaikan pohon Liuw yang terhembus angin kencang..
Sebaliknya Gong Yu si pendekar tampan berbaju hijau sendiri tetap tegak bagaikan batu karang, sepasang kakinya se-olah2 terpantek diatas permukaan tanah sedikitpun tidak goyah, hawa murni menyelimuti sekujur badan membuat pakaian yang dia kenakan pada menggembung besar, mantap dan kekar laksana gunung Thay-san, angker dan berwibawa bagaikan malaikat langit yang turun dari kahyangan- Menyaksikan keangkeran serta kegagahan lawan baik Jiak Kioe Kiam Khek sibola daging dari laut Tang Hay maupun segenap anggota perkumpulan Yoe Leng Kauw, diam2 merasa terperanjat dan pecah nyali.
Sebaliknya Hian Cing Tootiang itu ciang-bunjien dari partai Bu-tong serta anak muridnya jadi gembira dan kegirangan setengah mati.
Lie Wan Hiang sendiri diam2 merasa kagum dan senang melihat kegagahan calon suaminya yang luar biasa ini.
Dalam waktu yang amat singkat itulah tiba2 sepasang telapak Gong Yu ditarik kearah belakang. bersama dengan daya hisapnya itu tanpa, bisa dikuasai lagi badan Yoe Leng sin Koen mencelat keluar dari garis lingkaran- Tempik sorak yang gegap gempita seketika meledak diluar kalangan, begitu keras, suara tepuk tangan dan teriakan memuji itu sampai membuat Yoe Leng sin Koen terkejut dan mendusin dari rasa cengangnya, sekarang dia baru merasa bahwa tubuhnya sudah terlempar keluar dari garis lingkaran Buru2 telapaknya dihantamkan keatas permukaan dengan sekuat tenaga, badannya seketika membumbung tinggi keangkasa, dengan gerakan inilah dia berhasil melepaskan diri dari pengaruh daya hisap tenaga sinkang dari Gong Yu.
Kendati begitu, hatinya terkesiap juga sehingga sekujur badannya merinding dan bulu kuduk pada bangun berdiri.
Terpaksa dia harus mengaku kalah didalam pertandingan babak yang kedua ini.
Dengan kemenangan dari Gong Yu dalam pertandingan barusan maka berarti keadaan jadi seimbang yaitu sekali menang dan sekali kalah babak penentuanpun bakal tergantung dalam pertandingan babak terakhir.
Yoe Leng sin Koen- ci Tiong Kian tertawa seram, sreeet….
dari sarungnya dia cabut keluar sebilah pedang mustika yang memancarkan cahaya ke-perak2an, begitu tajam cahayanya sampai sinar rembulan pun lenyap tak tertampak.
Dia tahu bahwa pedang pendeknya ini merupakan sebilah pedang mustika, bukan saja tajamnya luar biasa, asal gagang pedangnya di tekan maka dari tubuh pedang itu segera akan menyembul keluar cairan obat beracun yang amat ganas, barang siapa yang terkena semprotan cairan beracun itu, kendati memiliki tenaga lwekang yang amat lihaypun percuma saja.
Wajahnya pada saat ini sudah berubah jadi hitam pekat.
otot2nya menonjol keluar semakin nyata, naps u membunuh memancar keluar dari balik matanya yang buas, hal ini menandakan bukan saja dia telah mengambil keputusan untuk menangkan pertandingan yang terakhir, disamping itu dia pun sudah membuat langkah perhitungan seandainya dia menderita kekalahan nanti.
Dalampada itu sipendekar tampan berbaju hijau telah mengambil keluar sebuah ikat pinggang kumala yang berwarna hijau dan panjangnya mencapai empat depa.
Begitu senjata itu dicabut keluar, cahaya tajam yang amat menusuk pandangan segera memenuhi angkasa…
Tak usah dikatakan lagi, ikat pinggang tersebut sudah pasti adalah sebuah benda mustika, tak kuasa Yoe Leng sin Koen mengerutkan dahinya dalam2. sedangkan para jago yang menonton jalannya pertarungan itu merasa hatinya jadi tegang.
Jiak Keei Kiam Khek pernah merasakan kerugian yang sangat besar di tangan pendekar tampan berbaju hijau ini, dengan sendirinya dia tahu akan kelihayan orang, sambil gelengkan kepalanya yang botak dalam hati dia menghela napas tiada hentinya. Jarum ” N go Ing Loei ciam” segera diayunkan JILID 16 HAL. 54 S/D 55 HILANG diikuti menggunakan jurus “Hoen piauw pok-Biauw” atau Sukma melayang. Nyawa meraba yang dia tangkis serangan lawan kemudian loncat mundur delapan depa kebelakung.
Pedangnya bergetar kencang, dari ujung pedang meluncur keluar sekuntum bunga pedang yang amat besar, dengan jurus “Lee Keei-Tan Hoe” atau setan ganas mengisi perut berbarengan dengan gerakan gedangnya dia ikut merangsek kemuka.
Gong Yu sama sekali tak berkutik sama sekali dari tempatnya semula, menggunakan jurus “Lee-sanTay HHoo” atau Membongkar gunung membendung sungai, dengan suatu gerakan yang sangat sederhana dia berhasil memunahkan serangan lawan, diikuti dengan memakai jurus “Cian-Liongjut- Hay” atau Naga selam muncul disamudra, laksana ular ganas ikut pinggangnya kembali menggulung tubuh lawannya.
Dengan gusar Yoe Leng sin Koen meraung keras, badannya mencelat dua tombak ke angkasa, sepasang kakinya menjejak lurus dengan mengubah kakinya diatas dan kepala di bawah, pedangnya bergetar kencang menciptakun sebuah lingkaran bianglala perak kemudian langsung menusuk batok Kepala Gong Yu dengan kecepatan bagaikan hembusan angin- Jurus serangan “Hoen Yoe Tay si” atau sukma gentayangan, didunia ini benar2 tak boleh dipandang ringan.
Hian cing Tootiang dari Bu-tong Pay pun merupakan seorang ahli pedang, setelah menyaksikan kehebatan serta kelihayan dari jurus serangan yang digunakan Yoe Leng sin Koen, diam2 ia merasa sayang dan kecewa, pikirnya dalam hati.
“sayang manusia ini berwatak ganas -keji dan suka membuat keberingasan bagi umat dunia, bilamana suatu hari wataknya bisa dirubah dan dia mau bertobat serta kembali kejalan yang benar, tidak sulit baginya untuk menjadikan dirinya sebagai seorang maha guru dalam ilmu pedang.” sementara itu tatkala Gong Yu menyaksikan pedang Yoe Leng sin Koen menerobos ke bawah sambil mengirim satu tusukan maut dengan sebat dia mengegos kesamping lengannya menekan kebawah dan segera menyentak ikat pinggangnya ke atas.
sreeet….disertai hawa serangan yang maha dahsyat. ikat pinggangnya meluncur ke angkasa dengan jurus “Tiong Hong- KeunJiet” atau Bianglala panjang menutupi sang surya, salah satu jurus ampuh dari “Giok-Tay-sip-sie” atau sepuluh jurus ilmu ikat pinggang sakti.
Ujung ikat pinggang berkelebat menembusi hawa pedang yang memancar keluar dari senjata lawan, diiringi desiran angin tajam langsung menotok jalan darah Hian Kie hiat didada musuh.
Terlihatlah sebentar lagi jalan darah itu bakal tertotok disaat yang terakhir itulah mendadak dia putar badannya laksana kilat, dengan kain mantel hitamnya yang kebal terhadap segala bacokan senjata dia bendung datangnya ancaman tersebut. “Dukk.” Ujung ikat pinggang dengan telak menghajar diatas kain mantel Cl Tiong Kian- Kalau dibicarakan menurut peraturan pertandingan pi-bu, maka ketua dari perkumpulan Yoe Leng Kau ini harus mengaku kalah, tapi Yoe-Leng-sin-Kee sebagai keluarga dari seorang2 jay-Hoa-Cat sipenjahat pemetik bunga tentu saja tidak sudi berbuat demikian, dengan muka tebal dan tidak tahu malu dia teruskan serangannya mengancam bagian2 tubuh lawan yang penting.
cing Yang Tootiang sebagai saksi segera memprotes dan menjatuhkan vonis kalah bagi Ci Tong Kian, namun Jiak Kioe Kiam Khek ngotot menolak keputusan tersebut.
sementara kedua orang saksi itu sedang ribut dengan sendrinya, suasana ditengah kalanganpun kembali terjadi perubahan- Kiranya sejak gebrakan yang pertama tadi Yoe-Leng sin Koen selalu berada dalam posisi yang terdesak dan terancam bahaya, selama ini dia tak sanggup melancarkan serangan balasansekalipun semua jurus serangan pedang yang termuat dalam kitab pusaka Yoe Leng Pit-Kip telah digunakan semua, namun keadaan pihak lawan masih tetap tenang seperti sedia kala.
Dalam keadaan demikian dia berpikir, seandainya tidak melancarkan serangan maut dengan menggunakan kesempatan ini maka akibat dari pertandingan ini tentu akan merugikan dirinya sendiri setelah berpikir demikian, maka semua rasa jeri atau takut seketika lenyap dari benaknya.
Cuma saja, untuk melaksanakan rencana kejinya itu dia membutuhkan suatu jarak tertentu yang menguntungkan, maka dari itu sebelum jarak yang dibutuhkan terpenuhi, sambil tertawa seram dia lari hilir mudik tiada hentinya diseluruh kalangan- Menyaksikan tingkah laku lawannya yang aneh ini timbul perasaan was- was dalam hati kecil pemuda kita, pikirnya: “sungguh aneh tingkah laku orang ini, apakah dia hendak memperlihatkan permainan setan?” Karena berpikir demikian, sekalipun dia mengejar terus dari belakang namun dengan teliti dan seksama diperhatikannya terus setiap tingkah laku musuhnya.
Pada saat itulah mendadak Yoe Leng sin-Keen tertawa seram, tubuhnya laksana kilat berputar kebelakang, pedangnya diangkat sejajar dengan dada, kemudian dengan Jurus Jie seng Keng Poen- atau Manusia dan Malaikat gusar bersama . , , terdengar “Kletuk” dari tubuh pedang pendeknya tahu2 memancar keluar cairan beracun yang jangat deras.
Melihat gerak gerik musuhnya sangat aneh, Gong Yu segera mengetahui bahwa pihak lawannya mau main gila dengan pedangnya itu segera dia unjukkan reaksi yang tak kalah cepatnya Ikat pinggang kumalanya sepanjang empat depa dengan memainkan jurus “Lok Im Hong Hong” atau Mega Rontok Tersapu Puyuh segera membendung depan tubuhnya, berbarengan pula tenaga sakti Tay si Hian Thia sin kang disalurkan melindungi sekujur badannya.
Dengan tindakan tersebut, bukan saja air beracun yang memancar datang kearahnya tidak sanggup mendekati tubuhnya, bahkan bagaikan terhadang oleh sebuah dinding besi yang tebal dan kuat cairan racun tadi segara rontok ketanah dan membakar benda yang ada diatas tanah.
Lie Wan Hiang menjerit kaget setelah menyaksikan kejadian ini, demikian pula halnya dengan para toosu dari Bu tong Pay mereka sama2 berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar.
semua peristiwa itu hanya berlangsung dalam waktu yang amat singkat.
Tatkala dilihatnya pihak lawan memperlakukan dirinya dengan tindakan yang begitu kejam, telengas, rendah dan tak tahu malu, seketika itu juga Gong Yu naik pitam, mendadak pergelangan bajanya ditekan kebawah, dengan jurus “Keei Hoe Mo” atau Menghantam setan menundukkan iblis ia ciptakan senjata nya jadi beribu2 bayangan hijau dan mengurung seluruh tubuh lawannya.
Yoe Leng sin Koen terperanjat, buru2 pedangnya berputar dengan memakai jurus “ok Lee Tiauwseng” atau setan ganas melarikan diri, meminjam perlindungan cahaya pedang nya dan dia berusaha meloloskan diri dari tempat itu.
siapa sangka Gong Yu sudah terlanjur gusar, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut… Krraak diiringi suara yang amat nyaring, jari tengah serta jari telunjuk tangan kiri Yoe Leng sin Koen segera tersambar hingga patah jadi dua bagian- Ci Tiong Kian menjerit kesakitan, badannya dengan cepat meloncat ketengah udara, teriak nya dengan penuh kebencian- “Gong Yu bangsat keparat, nantikanlah saat pembalasanku atas-dendam putusnya jari tanganku ini sedangkan mengenai anak buah perkumpulanku, seperti yang telah dijanjikan tadi, aku tak akan mengingkarinya…” Ucapan yang terakhir kudengar- amat lirih dan kecil, jelas ketua dari perkumpulan Yoe Leng Kauw itu sudah jauh meninggalkan gunung Bu-tong san- Dengan larinya sang pemimpin, para anggota perkumpulan Yoe Leng Kauw termasuk Jiak- Kioe Kiam Khek serta si nenek bongkok sekalian jadi lemas lunglai, mereka putus asa dan sama2 berdiri murung.
“Engkoh Yu urusan tidak sedemikian gampangnya” kata Lie Wan Hiang dengan alis berkerut. “Gembong2 iblis itu semuanya merupakan manusia keji yang buas dan berhati ganas, bilamana kita tidak membasminya malam ini juga, kelak pasti akan meninggalkan bibit bencana buat dikemudian hari”.
Gong Yu tahu bahwa adik seperguruannya Lie Wan Hiang amat membenci manusia2 itu, tetapi setelah ia mengutarakan sendiri janjinya untuk memberi kesempatan bagi mereka agar bisa bertobat, mana boleh mengingkari janji ?? “Adik Wan ” katanya kemudian dengan wajah serius.
“Biarkanlah mereka pergi dari s ini”.
Dalam pada itu Piauw Biauw Hujien dengan membawa anak buahnya yang terdiri diri tiga “Hong-Hoen” lima “Leepok” serta tujuh belas ” Yoe- Leng” dengan hati lesu dan badan lemas melarikan diri ter-birit2 meninggalkan gunung Bu tong san- Hian cing Too tiang yang mengetahui akan kejujuran Gong Yu serta wataknya yang terlalu pegang janji, sudah tentu tidak memerintahkan anak buahnya untuk menghalangi jalan pergi iblis2 tersebut.
setelah Jiak-Kioe Kiam-Khek Kee Ek serta si nenek bongkok Loo Peng sim berlalu pula dari situ, Hoo Thian Heng baru mendekati sute serta sumoynya dan memperkenalkan mereka dengan ci Yang cinjien, chin- Yang cinjin, Hian cing tootiang sekalian.
Jilid 16 b

Sumber Ebook oleh : Dewi KZ & aaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s