Raja Yang Mengembara

Raja Yang Mengembara

Kian Liong Koen Yoe Kanglam

Karya : Wang Du Lu Saduran : OKT Jilid ke : I Dinihari jam lima tiga perempat maka ramailah istana kaisar seperti biasa. Di sebelah kiri di tabuhlah tambur “Liong Hong Kouw” dan di sebelah kanan dipalulah lonceng “Keng Yang Ciong.” lalu tampak iring-iringan para orang kebiri dan dayang, yang mengiringi Raja memasuki ruang sidang istana, untuk raja duduk diatas kursi naga, tahta kerajaan. Dan lalu para orang bangsawan, raja-raja muda, menteri-menteri, jenderal-jenderal dan para pembesar tinggi lainnya, memberi hormat kepada junjungannya dengan menyerukan tiga kali ‘Ban-swee’ atau ‘Hiduplah Raja !” Setelah Raja, yaitu Kian Liong Kun. Atau yaitu Kaisar Kian Liong, mempersilahkan menterinya peng-sin, bangkit lantas ia mengutarakan syukurnya bahwa ia, dengan bantuan para menteri dan pembesar, berhasil mengendalikan negara dengan tak kurang suatu apa, hingga negara aman sentosa dan rakyat makmur berbahagia.
Para menteri juga mengucap syukur seraya memuji junjungannya mereka yang gagah pandai dan arif bijaksana itu.
Kemudian Raja berkata :”Kebetulan saja kemarin tim mengingat suatu twie lian maka itu coba keng semua memikirnya dan membuat suatu timpalannya siapa yang berhasil, tim akan menghadiahkannya.” “Twie Lian” ialah semacam syair (lian) yang membutuhkan sumbangan atau timpalannya (twie).
Mendengar demikian para menteri memohon agar Raja suka menulis lian itu, untuk mereka melihatnya, guna mencoba memikir dan menimpalinya.
Raja menurut, ia lantas menulis Bunyi’lian itu.
Giok Tee heng penglui kouw in kie ie cian hong toothian cok tin artinya : Tuhan Allah mengatur angkatan perang. Guntur tamburnya, Mega benderanya, Hujan panahnya. Angin goloknya, Langit medannya.
Para menteri lantas diberi lihat lian itu kesudahannya mereka saling mengawasi. Tidak ada seorang jua yang sanggup membuat timpalannya.
Menampak demikian, Raja memperlihatkan roman tidak puas.
Melihat paras Raja itu, Bun Hoa Tian Tay Hak-su Tan Hong Bouw, Tayhaksu atau penulis Agung dari pendopo istana Bun Hoa Tian, mengajukan diri.
“Dapatkah keng menimpali lian ini ?” Raja bertanya.
“Sin tua dan berpengetahuan rendah, tak…….
Halaman 6-7 ga ada “Sungguh keng pandai !” Raja memuji sambil tertawa.
Iapun-senang melihat pemuda itu tampan. Ia lantas memberi selama dengan tiga cawan arak dan memberi hadiah bunga emas dan sutera, kemudian memerintahkan hong-bun khoa mengantarnya pulang untuk menanti waktu ujian.
Seng Siu mengucap terima kasih, terus ia mengundurkan diri.
Setelah itu Raja mengajukan satu soal lain. Ialah halnya ia berniat mengembara ke Kanglam Selatan. Ia tanya siapa menterinya yang bersedia mengiringnya.
Semua menteri heran dan terperanjat mereka bungkam, ketika raja mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, tetap mereka berdiam saja. Itulah urusan sangat besar dan berbahaya, tak ada yang berani bertanggung jawab. Tapi Raja menjadi tidak senang dan berkata, “Tim tak membutuhkan pengiring nanti tim pergi seorang diri !” Dan lantas ia membubarkan sidang kerajaan itu, dan mengundurkan diri.
Semua menteri bubaran dengan hati tidak tenteram.
Raja pergi ke pondok Jin Ho Tian disana menulis fiman yang merupakan surat wasiat, setelah selesai ia serahkan kepada Ciang Khiong Taykam Eng Lok, kepala dayang kebiri di dalam istana seraya berkata “Tim hendak pesiar ke Kanglam, lamanya sepuluh tahun, cepatnya lima, pasti tim akan kembali. Besok kau serahkan firman ini kepada Thayhoksu Tan Hong Bouw dan Lauw Yong dan lainnya menteri untuk dibacakan dimuka umum!” Eng Lok tidak bisa berbuat lain dari pada menerima baik pesan Itu.
Habis itu Raja menyalin pakaian menyamar sebagai seorang saudagar, sesudah beres ia keluar dari Houw-cay mui, pintu belakang untuk meninggalkan istana guna memulai dengan pengembaraanya buat merantau. Esoknya pagi-pagi para menteri berkumpul seperti biasa didalam istana. Mereka lantas menjadi gempar karena Raja tak muncul.
Sebaliknya Thaykam Lok menyerahkan surat wasiat kepada kedua menteri, Tan Hong Bouw dan Lauw Yong.
Pesan Raja singkat saja.
“Tim meninggalkan tanah yang untuk pesiar ke Kanglam paling lama sepuluh tahun cepatnya lima. Selama itu semua urusan negara tim wakilkan kepada kedua menteri Tan Hong Bouw dan Lauw Yong. Semua menteri lainnya harus melihat Tan Hong Bouw seperti melihat tim sendiri.
Sekian!” Semua menteri menjadi tidak tenteram hatinya, tetapi mereka tidak bisa berdaya lagi, dari itu terpaksa mereka mesti menerima tugas berat itu.
0o0od-wo0o0 Sekelarnya dari Houw-cay-mui, Kaisar Kian Liong bertindak deagan perlahan, tanpa merasa ia tiba di kota dusun Su Eng Tin yang ramai. Melihat rumah makan dengan merek Kie Lam Lauw, dimana dipengumuman restoran itu sedia segala macam masakan Boanciu dan Han, ia bertindak masuk kedalamnya, terus naik ke loteng.
Seorang jongos menyambut dengan manis ia melayani dengan telaten. Dia tanya tetamunya hendak bersantap sendiri atau mengundang tatamu.
“Sendiri saja.” sahut Raja. “Kau sediakan barang masakanmu yang paling jempol;” Jongos itu sudah lantas menyajikan, kemudian ia berdiri menantikan.
“Tempatmu ini ramai juga, “ kata Raja.
“Ya. karena ini jalanan penting ke kota” sahut si jongos, “Pula bakal diadakan arak-arakan tepekong. Baiklah besok tuan pesiar.” Raja mengangguk.
“Baik,” katanya.
Karena itu, malam itu Raja bermalam dirumah makan tersebut, yang merangkap penginapan. Esok paginya, habis dahar dan menitipkan bungkusannya, ia keluar untuk jalanjalan.
Ia mendapatkan jalan besar penuh sesak. Setengah harian ia pesiar, sampai ia merasa lapar, ia singgah direstoran Seng Lauw, untuk bersantap. Rumah itu tinggi beberapa puluh tombak, dari atas ia terdengar suara tetabuan dan nyanyian, Undakan pertama dan kedua sudah penuh dengan tetamu; maka Raja naik keundakan terakhir, yang masih kosong. Disini sekeliling tembok dihias dengan pelbagai macam pigura, gambar lukisan dan tulisan-tulisan india serta diperlengkapi juga banyak macam barang kuda.
Ia lantas memilih kursi dan memesan barang makanan.
Senang Raja Barang hidangan cocok dengan seleranya dan memandang kebawah loteng, ia melihat keramaian.
Sampai lewat tengah hari, baru ia turun, jongos mengikuti, untuk menerima uang bayaran, jumlahnya delapan liang, enam chie dan empat hun.
Raja merogoh kesakunya ketika mendadak ia nampak terperanjat. Sakunya kosong, Ia lupa tidak membekal uang.
“Maaf, akulupa bawa uang” katanya, “terpaksa, Besok saja aku datang membayarnya.” “Menyesal, tak dapat, tuan,” kata tuan rumah ”Celaka kami kalau setiap tetamu membilang tidak membawa uang dan menjanji kau besok lusa. Kalau begitu, biar pokok kami sebesar gunung Tay San, pasti kami bakal ludas. Apabila benar tuan tidak punya uang, baik buka saja baju tuan, untuk dititipkan disini.” Raja lantas menjadi tidak senang. “Jikalau aku tidak tinggalkan bajuku?” ia tanya.
“Tak dapat kau lalu dari sini! Biarpun Seri Raja, jikalau dia makan tanpa membayar, dia mesti meninggalkan jubah naganya . .” “Kurang ajar!” berseru Raja bagaikan guntur, kakinya mendukap meja dan kepalanya melayang pada tuan rumah makan itu.
Raja pandai silat dan tenaganya besar, meja terpelanting dan si tuan rumah roboh terguling. Lantas melabrak terus sampai mendadak kesitu ada datang seorang anak tanggung yang tampan, yang maju misah.
“Sabar tuan,” katanya, hormat sambil tersenyum.
“Kalau ada urusan, mari kita bicara dengan baik” Melibat orang manis budi. Raja berhenti menyerang, .”Kau mencegah aku, apakah tuan rumah ini sanakmu?” ia tanya. “Kau-she dan nama apa?’ “Bicara sebenarnya, diempat penjuru lautan kita bersaudara,” sahut anak muda itu manis. “karena itu tak dapat aku menonton saja bila terjadi sesuatu. Aku bukan sanaknya tuan rnmah, kebetulan saja aku lewat disini dan melihat kejadian ini. kalau suka, tolong tuan tuturkan duduknya kejadian, supaya urusan dapat didamaikan.
Umpama kata kesalahan tuan rumah tidak berarti, dengan memandang padaku, aku minta tuan suka menyudahinya.
Aku Ciu Jie Ceng. penduduk sini, rumahku tak jauh disana silahkan tuan mampir padaku.” Senang Raja melihat orang bicara beralasan nan parih Karena ini suka ia menceritakan sebabnya peristiwa, yang disebabkan ia lupa membawa uang dan tuan rumah bicara kasar.
“Ah, itulah perkara kecil,” kata Jie Ceng. ‘Uang makan itu tidak berarti, nanti aku bayarkan.” Ia benar benar mengeluarkan uang sepuluh tahil. yang ia berikan pada tuan rumah, kemudian seraya memegang tangan orang, ia kata: “Maafkan aku, kita bicara saja sampai aku lupa menanyakan she dan nama tuan.” “Aku Kho Thian Su, asal dari Pak khia,’ sahut Raja, yong memakai nama palsu.
She “Kho” itu berarti “tinggi”, dan nama ‘Thian Su’ maksudnya “hadiah Thian”.
Itulah nama yang tepat, sebab kaisar diartikan “Thian Cu!’ anak Tuhan.
Jit Ceng menarik tangan orang she Kho itu, buat terus, diajak pergi kerumahnya, yang benar tak terpisah jauh “Masih ada siapa dirumahmu ini?”’ tanya Raja.
“Barusan kau mengeluarkan uang jumlah besar, nanti orang tuamu menanyakan ….” “Itulah tak apa. tuan,” sahut Jit Ceng “Aku sudah tidak punya ayah, tinggal ibu yang janda. Silahkan duduk, nanti aku masuk kedalam meminta ibuku keluar menemui tuan.” Tuan rumah ini lantas pergi kedalam, menemui ibunya, Oey sie, untuk menerangkan hal pertemuannya dengan Kho Thian Su, yang ia telah undang, maka ia minta ibunya suka menemui tetamu itu.
Oey sie girang mendapatkan anaknya berhati mulia dan gemar bergaul.
“Nah, pergi kau lekas menyuguhkan teh,” titahnya.
Jlt Ceng turut perintah ibu itu, ia menuangkan air teh.
Raja minum teh, habis ia berkata: “Pergi kau masuk, sampaikan terima kasihku kepada ibumu.” Oey-sie sudah berada dibelakang pintu angin.
“Terima kasih kembali!” katanya sambil mengintai, hingga ia melihat tetamunya yang mempunyai tampang agung, alisnya “alis naga” dan matanya “mata burung hong-sang,” hingga ia mau percaya orang bukan ini barang orang biasa.
“nyonya, berapa usia puteramu sekarang?” tanya Raja.
“Kenapa dia tidak bersekolah?’“ “Dia sekarang berumur lima belas tahun,” sahut Oey sie.
‘Pernah dia bersekolah tapi dia sangat gemar bergaul, dia lebih suka belajar silat daripada surat maka itu aku bersukur sekali andaikata tuan dapat mendidiknya.” “Nyonya, “kata Raja. “Aku hendak bicara tetapi tak tahu aku nyonya dapat menerima atau tidak ….” “Apakah itu tuan ? Silakan tuan mengutarakannya …” “Melihat tampang anak nyonya dibelakang hari dia mestinya tak berada dibawah sembarang orang “kata Raja.
“Aku muridnya Taybaksue Lauw Yong aku berniat ngambil anak nyonya sebagai anak pungut supaya kemudian dia dapat diangkat apa nyonya setuju?” Oey-sie berkesan baik terhadap tetamunya ia girang,, ia menerima baik permintaan si tetamu.
“Jikalau tuan sudi menolong aku bersyukur sekali sahutnya. Lantas ia menyuruh, anaknya menjalankan kehormatan pada tamu itu untuk mengangkat ayah. Ciu Jit Ceng menuruti kata-kata ibunya ia, memberi hormat.
Raja merogo sakunya, mengeluarkan sebutir mutiara besar, ia serahkan itu pada anak angkat selaku tanda mata.
Jit Ceig menerima itu sambil mengucap terima kasih, terus ia serahkan pada ibunyauntuk disimpan.
“Sekarang tuan tinggal dimana?” kemudian Uy-sie menanya. “Apakah sekarang juga tuan hendak mengajak anakku ini!” “Sekarang ini aku hendak pesiar ke Lam Khia “ jawab raja, “kalau Jit Ceng sudi tak ada halangannya untuk ia turut bersama.” Uy sie setuju araknya turut, maka itu Jit Ceng. pun menyatakan suka ikut.
Oleh karena itu waktu sudah magrib, ia menyuruh bujangnya menyajikan barang hidangan, buat tetamunya dahar ditemani Jit Ceng, habis mana anak itu berkemas menjediakan sebuah buntalan, buat turut ayah angkatnya itu. Ia mengambil selamat tinggal dari ibunya.
Ibu dan anak saling memesan setelah mana, raja pamitan dari nyonya rumah, dan mengajak si arak pungut pergi ke Kie Lam Cauw, hotelnya.
Satu malam raja melewati dihotel itu besok paginya, setelah dahar bersama Jit Ceng la berangkat meninggalkan Su Liong Tin, menuju kekota Hay-pian kwan.
Mereka sampai selang beberapa hari. ketika itu masih siang, mereka lantas mencari hotel.
“Apakah tempat ini mempunyai tempat pesiar?” raja tanya jongos selagi ia cuci muka.
„Ada beberapa tempat tetapi umum saja” sahut si jongos “Yang dapat dilihat cuma taman bunganya Yap Keng Cang puteranya Nyonya Yap Taman itu dibangun disisi restoran Keng Tin Lauw, Disana antaranya telah didirikan rangon Heng Hoa Lauw yang indah sekali.” Setiap hari Yap Kongcu pergi disana, orang luar diijinkan masuk, tetapi apa bila dia kebetulan tidak ada orang dapat melihat-melibatnya sebentar. Biasanya datang pagi lewat lohor baru ia pulang, Kalau tuan mau pergi, pergi lah sebentar lohor pulangnya tuan dapat terus bersantap disini” “Ingin aku pergi kesana,” kata raja yang terus tanya nama jongos dan tuan rumah untuk ia menitipkan bungkusannya.
Jongos itu menyebut diri Ciu Hong dan majikannya ialah iparnya suami adiknya bernama Giam Leng bahwa mereka sudah tinggal lama ditempat itu. jadi tetamunya tak usah menguatirkan mereka.
“Yang perlu yalah supaya tuan lekas pergi dan lekas kembali” pesannya.
Raja mengangguk setelah menanyakan jalannya ia ajak Jit Ceng. Ia menuju ke Timur. Lalu menikung ke kiri, kejalan Hay pian Lay. Dekat jalan besar itu lantas terlihat sebuah lauwteng yang tinggi dan besar. Itulah Keng Tin Lauw yang terkurung tembok pekarangan luas Ketika Itu, rumah makan itu sudah ramai hingga raja dan Jit Ceng mesti duduk dengan berdesakan, Dikiri dan kanan pitu ada banyak macam bunga yang di tanam didalam pot.
Di dalam rumah makan sudah penuh dengan tetamu.
Tempo raja mengajak Jit Ceng naik ditangga lauwteng seorang jongos menghampirikannya dan kata sambil tertawa: “Maaf. tuan, kamu terlambat ruang kami sudah penuh. Lain kali saja tuan datang berkunjung pula.” “Kami tidak ingin bersantap.” kata raja, cukup asal kau mengantari kami melihat-lihat Heng Hoa Lauw. nanti aku presen padamu.” “Dapat aku mengantarmu tuan. cuma sebentar akan tiba waktunya Yap Kongcu datang.” kata jongos itu. “Dapatkah tuan berjanji untuk tidak menyetuh barang apa juga serta akan keluar sebelum jam Sien sie? Kalau tuan gagal aku bisa salah dari Yap Kongcu, aku bisa susah…” “Baik.” sahut Raja, yang suka membuat janjinya.
Jongos itu mengantari ia membuka pintu taman dimana ada lorong batu yang rata dan licin , yang membawanya ke sebuah paseban diatas mana ada ukiran empat huruf bunyinya „Heng Hoa Cun le,” yang berarti bunga heng selama hujan musim semi,’ Lalu ada gunung palsu yang ada airnya, yang mengalir. air mana berkumpul dalam sebuah pangempang. Justeru ditengah empang itu berdiri ranggon Heng Hoa Lauw. Dari puncak gunung ada jembatan gantung, yang menghubungi tiga susun ranggon yang berloneng huruf-huruf ban-jie, yang mirip lambang swastika.
Dapat dimengerti jikalau rangson itu adem sekali. Itulah untuk musim panas, sedang buat musim dingin, ada dayanya untuk mendapat hawa hangat, buat menyingkir dari angin dan hawa dingin.
Ranggon itu terbuat indah, sempurna perlengkapannya, dan banyak sekali pohon bunganya terutama anggrek serta perbagai rumput segala apa terukir dan memakai kaca beraneka warna. Kursi meja terbuat dari kayu wangi dan memakai alas marmer. Banyak pigura indah lukisan dan tulisannya, banyak pula barang-barang kuno.
Meja tempat bersantap atau minum arak diatur ditingkat, ketiga, tingkat terakhir, hanya ketika itu, ruang itu kosong, disitu tak ada seorang juga.
“Mustahil tak dapat aku duduk disini,” pikir Raja, yang hatinya ketarik sekali. Maka terus ia kata pada pengantarnya „Pergi kau menghangati arak, hendak aku minum disini ! Kau layani aku baik baik nanti aku persen padamu” Jongos itu kaget tidak terkira, muka lantas menjadi pucat sekali.
„Jangan, tuan, jangan . . . .” katanya ketakutan. „Inilah mejanya Yap Kongcu. Segera juga jam Sien sie bakal tiba, meja bakal dipakai dia. Mana aku berani ? Tadipun, sebelum kita masuk kemari telah aku jelaskan pada tuan segala hal disini. Maka itu aku minta tuan jangan memikir yang tidak-tidak……Mari, tuan, mari lekas jalan-jalan, supaya kita lekas keluar dari sini. Aku minta janganlah nanti terbit onar. Kalau jam Sien-sie tiba. bukan cuma jiwaku yang terancam, tuan sendiri bisa mendapat susah . .” “Ngaco!!” beutak Raja. “Mustahil karena takut pada Yap Keng Ciang kau menjadi tidak takut padaku? Nanti aku ajar adat padamu !” Mendadak Kaisar Kian Liong menyamber si jongos, untuk diangkat tubuhnya dibawa kemuka jendela, diancam buat dilemparkan keluar, kebawah.
“Jikalau kau tidak turut perkataanku, akan kumampusi kau detik ini juga “ ia mengancam.
Jongos itu jadi kaget dan takut sekali „Ampun, tuan, ampun,” ia meratap. „Nanti hambamu menghangati arak” Raja tertawa dingin, ia mengasi turun tubuh orang „Nah, pergilah kau menyediakan segalanya” katanya.
„Jangan kau takut aku yang bertanggung jawab !” Jongos itu terpaksa menyajikan segala barang hidangan yang diperuntuksn Yap Kian Liong, akan tetapi ia ingin melepas tangan, diam-diam ia minta rekannya pergi memberi tahukan pada Yap Keng Ciang.
Raja tidak curiga apa-apa bersama Jit Ceng, ia duduk bersantap.
Yap Keng Ciang itu putera dari Tee Yak, Yap Ciauw Hong komandan tentera kota Hav Piau Kwan. Dia licik dan jahat. dengan mengandali pengaruh ayahnya, dia suka berbuat sewenang – wenang, bahkan berani merampas sawah dan rumah serta anak isteri orang Memeras rakyat atau kaum saudagar sudahlah umum baginya Dia mirip rampok. Tak heran dia banyak uangnya dan dia membangun apa yang dia suka. Demikian taman dan ranggon Heng Hoa Lauw , Ciauw Hong pun menyetujui sepakterjang puteranya itu.
Untuk aksinya itu. Keng Ciang mempunyai sejumlah gundal atau tukang pukul dengan mereka itu ia bergerak setiap hari, berpelesiran atau berbuat jahat.
Demikian lohor itu, selagi Keng Ciang berkumpul bersama gundal-gundalnya, tiba-tiba datang seorang bujangnya, yaug nyampaikan kisikan dari jongos Heng Lauw tentang dua orang memasuki ranggon untuk makan minum disana, bahwa si jongos tak dapat menjengah, hingga ia menurut saking terpaksa.
“Kurang ajar betul !” teriak Yap Keng Ciang, gusar sekali “Mari kita, labrak padanya!” Maka ia berangkat bersama sekalian gandul dan bujang-bujangnya. yang dipimpin oleh guru silat bujang-bujangnya itu. Dengan berlari-lari mereka menuju ke Heng Hoa Lauw hingga mereka tiba dengan jepit.
“Dengar perintahku!” kata Yap Kongju sudah mcnjuruh mengurung tamannya itu.
“Tangkap kalau aku perintah tangkap dan bunuh kalau aku perintah bunuh ! Jangan masih ada yang lolos ! Siapa yang gagal dia bakal dihukum berat!” Setelah itu Keng Ciang bertindak naik ke ranggon diiringi delapan kauwtauw, guru silat serta dua orang buukek, tatamu yang menumpang tinggal padanya.
Tiba diatas ranggon, kong-cu ini lantas mendapat lihat dua orang yang dilaporkan itu. Seorang berusia kira kira empat puluh, romannya agung dan gagah, dan seorang lagi anak tanggung umur kira-kira empat belas tahun yaog romannya tampan, si jongos berdiri dipinggiran dengan muka pucat dan berduka.
„Orang hutan dari mana berani main gila disini ?” Keng Ciang segera membentak “Kenapa Kau berani memaksa jongosku merampas barang hidangan ku? Bilang, mau hidup atau mau mampus ? Kau ba melawan daku ! Apakah kau tak tahu liehaynya kongcu kamu ? Lekas kau beritahu she dan namamu supaya aku tak usah turun tangan!” Melihat majikannya, si jongos maju untuk berlutut.
“Ampun, kongcu,’“ katanya sambil mengangguk, “terpaksa aku melayani mereka karena aku diancam dan dipaksa, hampir dibinasakan . .” Raia dan Ciu Jit Ceng sudah lantas dapat melihat rombongan orang itu, terus Raja melihat orang yang jalan dimuka mempunyai kepala seperti ”kepala ular” dan mata seperti ‘mata tikus”. yang suaranya sama seperti suara gembreng pecah tetapi pakaianya mentereng. Melihat lagak orang, menyaksikan kelakuan si jongos, ia lantas menduga kepada Yap Keng Ciang, puteranya Yap Ciang Hong.
Maka ia tertawa dmgin dan menjawab tawar.
“Looya aku ini bernama Kho Thio Su dan pemuda ini anak angkatku Ciu Jit Ceng, kami lagi pesiar ketika kami sampat disini, kami ketarik dengan tempat ini serta barang hidanganmu, maka kami lantas mampir dan dahar! Habis kau mau apa? Jikalau kau tahu diri, lekas kau berlutut dan mengangguk padaku, guna memohon ampun, kalau tidak, kematianmu berada didepan matamu ! tidak nanti seorang pun dari kamu akan dapat lolos?” Keng Ciang gusar bukan main. “Bekuk dia !” dia lantas membentak. Beberapa kauwtauw sudah lantas maju. Raja tidak bersenjata, ia lantas mendupak meja, setelah mana ia menyambar kursi yang didudukinya, untuk dipakai menyerang terlebih dahulu. Ia bertenaga besar dan berani, Kauwtauw yang pertama lantas terhajar roboh Yap Keng Ciang kaget, nyalinya menjadi ciut, tanpa ayal lagi, ia putar tubuhnya buat mengangkat kaki. Apa lacur, barang makan kue yang melulahkan menyebabkan ia terpeleset jatuh, hingga Raja dapat lompat kepadanya menyamber tubuhnya buat diangkat tinggi.
Para Kaiuwtauw kaget hendak mereka menolong tetapi sudah kasip.
„Pergilah kau“ berseru Raja, yang melemparkan tubuh orang tawanannya keluar jendela, hingga disaat berikutnya, dari ranggon tingkat ketiga itu, Keng Ciang jatuh ke gunung palsu, terbanting tingginya delapan atau sembilan tombak, hingga tubunnya ringsek dan jiwanya terbang melayang.
“Celaka! Celaka ! Kongcu mati !” demikian orang banyak ! Orang-orangnya si Kongcu . . . berteriak-teriak.
Diantara mereka ada budak yang lantas lari pulang guna memberi kabar kepada Yap Ciauw Hong Semua kauwtauw tidak berani turun tangan, tetapi merekapun tidak berani menyingkir. maka mereka mengatur orang-orangnya mengurung ranggon itu.
Raja melihat suasana buruk itu “Mari kita turun” ia mengajak Jit Ceng.
Anak-argkat itu menurut, ia mengikut turun. Syukur untuk mereka. Raja dapat memungut sepasang golok dan Jit Ceng mengambil sepasang thia-cio. Mereka menerjang turun. Tapi kurungan rapat walaupun beberapa musuh telah Kena dirobohkan, sulit untuk mereka dapat lekas menoblos keluar. Ketika itu Teetok Yap Ciauw Hong digedungnya.
selagi dia pelesiran bersama gundik gundiknya, telah dibikin kaget dengan berita kematian anaknya. Dia pingsan diatas kursinya hingga bingunglah gundik-gundiknya itu, mereka itu repot menyadarkannya dengan dikasih minum air jahe.
Tempo dia Mendusin, dia lantas menangis menggerunggerung.
Kemudian barulah dia menanya tegas perihal duduknya Kejadian.
“Lekas!” ia menitahkan akhirnya. Ia lantas mengepalai sepasukan tentaranya. Tatkala ia sampai ditaman, kedua musuh hampir memecahkan kurungan, Ia segera memerintahkan menggunakan tambang-tambang jerat guna menjerat kaki musuh.
Kaki Jit Geng lantas saja terserimpit Ia roboh. Raja kaget, ia sempat untuk menolong. Iapun kena terjerat, hingga ia jatuh. Disaat mereka terancam bahaya untuk dibekuk itu, mendadak rombongan serdadu itu mundur sendirinya Maka keduanya lekas lekas meloloskan diri, untuk menerjang pula.
Riuh suara tentara itu, diantaranya terdengar mereka yang mengatakan bahwa Yap Tee-tok mendadak terserang penyakit hebat dia muntah-muntah darah dan roboh terbinasa hingga repot tentaranya itu menolong buat terus dibawa pulang kekantornya Karena itu. kurungan pecah sendiri orang lupa buat menangkap orang-orang jahat. Raja dan Jit Ceng, dengan senjatanya ditangan masing-masing, keluar dari dalam taman. Justru itu mereka berpapasan dengan Giam Leng, pemilik hotel yang datang dengan tersipu-sipu, romannya ketakutan, ia memapaki kedua tetamunya. Kata dia : “Aku dengar tuan-tuan berkelahi dengan pemilik taman, karena itu aku datang buat mencari keterangan l” „Bagus kau datang !” kata Raja. yang girang untuk kebaikan pemilik hotel itu. “Mari turut aku !” Raja kembali ke Heng Hoa Lauw, untuk mencari perabot tulis, buat menulis sehelai surat yang ia terus masuki kcdalam sampul di ditutup rapat.
“Ayah, baik ayah lekas menyingkir,” kata Jit Ceng.
„Meski Yap Ciauw Hong sudah mati tapi dialah orang berpangkat besar, perkara ini tentu tidak bakal sudah sampai disini” “Jangan kuatir, anak.” kata Raja, menghibur. “Asal Giam Leng segera pergi kekota raja membawa suratku ini, urusan ini akan beres sendirinya.” la lantas panggil Giam Leng, katanya perlahan. “Lekas kau bawa surat ini kekotaraja, ke gedung Tay-bak su Lauw Yong. Kau bilang ada firman, kau bakal lantas diterima dengan baik. Kau tuturkan segala kejadian disini dan minta Tay-baksu lekas bertindak. Kau jangan takut-takut ! Tapi ingat jangan kau buka rahasiaku !” Mendengar demikian, Giam Leng dan Jit Ceng lantas menduga dengan siap mereka berhadapan keduanya lantas berlutut, memberi hormat sambil mohon diberi maaf.
„Sudah !”’kata Raja. “Jangan banyak berisik ! Pergi lekas!” Jit Ceng berdiam, sedang Giam Leng sudah lantas berangkat.
Hari itu Lauw Yong lagi berada didalam gedungnya tatkala ia menerima laporan seorang pengawal pintunya hal datangnya orang tak dikenal yang katanya membawa firman rahasia.
Ia menjadi kaget tetapi segera ia perintah undang pembawa firman itu yalah Giam Leng. Ia berlutut menyambut firman dalam mana disambutkan hal raja sudah sampai Haypian kwan tetapi bertemu dengan Yap Tutok dan anaknya anak siapa ia telah tewaskan karena jahatnya benar Yap Teetok mati mendadak. Tetapi dia jahat juga. Maka dia memerintahkan menterinya lekas menitahkan Kiu-bun Teetok Gan Nie Lim membawa pasukan ke Hay-pian-kwan guna menghukum Ciauw Hong dan Keng Ciang yang mayatnya mati dihukum picis dan serumah tangganya dihukum mati semua, bukan kepalang kagetnya Lauw Yong hingga ia sendiri yang pergi kepada Gan Nie Lima guna menyampaikan perintah raja.
Gan Teetok pun kaget ia lantas bekerja la mengepalai delapan belas siewie dan dua ribu serdadu Gie Lim Kun , Disaat itu juga ia berangkat ke Hay – pian – kwan guna menjalankan tugasnya. Demikian mayatnya Yap Teetok dan anaknya dihukum picis dan seluruh keluarganya dihukum mati.
Rakyat heran atas kejadian itu, ketika kemudian mereka mendapat keterangan semuanya bergirang dan memuji syukur. Dengan begitu. selanjutnya mereka bebas dari ancaman maut yang bisa datang secara tiba-tiba.
Buat gantinya Yap Ciauw Hong diangkat Yauw Bun Seng, teetok dari Shoasay.
Gan Nie Lim telah menemui Raja ditempatnya Giam Leng disitu ia menerima pesan untuk ia berangkat pulang ke kota raja. Raja sendiri habis ia memberi presen pada Giam Leng dan Cu Hong terus mengajak Jit Ceng melanjuti perjalanan mereka lebih jauh.
Kota lainnya yang dituju Raja jalan ke camavan Hay ceng. Ketika itu hawa agak bagus. Tempo Raja sampai di tepi sungai hari sudah malam, ia ajak Jit Ceng singgah di hotel. Esok paginya perjalanan dilanjutkan dengan naik perahu sewaan yan memuat barang dan penumpang, syukur ruang kendaraan air itu luas, Pemilik perahu dengan sejilid buku merah di tangannya menemui setiap penumpang untuk mencatat namanya dan menerima uang sewaan kemudian iapun menerima titipan barang dan uang sambil ia memesan para penumpangnya itu harus bersungguh hati bersujut Raja heran, ia minta keterangan pada salah seorang menumpang yang usianya telah lanjut.
„Barangkali tuan baru pernah melakukan perjalanan kemari, tuan tidak tahu kebiasaan disini,” orang tua itu menerangkan “Beberapa lie disungai ini ada sebuah bukit diatas mana ada gerejanya, yaitu gereja Loo Mo Sin Bin.
Malaikat Loo Mo itu angker. Setiap orang liwat. disini mesti mengantar uang, babi atau kambing, buat sembahyang, guna mohon perlindungan, nanti dia selamat belayar, kalau tidak, meskipun tadinya sungai tenang, lantas ada gangguannya, perahu karam dan jiwa melayang. Pula sebentar kita senua harus mendarat untuk passng hio digereja” Raja udak percaya keterangan itu, maka tempo pemilik perahu sampai kepadanya, ia lantas tertawa dan kata : „Tak usah kamu membuang buang uang percuma Kau boleh belayar dengan hati lega, kalau sebentar ada bahaya angin besar, yalah si siluman main gila. aku akan menghadapinya. Aku mempunyai surat Jimat yang liehay.
yang orang sakti ajari padaku, guna menakluki dia ! Aku tanggung keselamatan kamu l” Para tetamu tidak percaya perkataan Raja itu, hingga ada yang berkata : “Tuan jikalau kau tidak mempunyai uang, kau bilang terus terang, nanti kami talangi kau berdua menderma. Pelayaran ini tak dapat dipandang seperti pelayaran main-main. Ingatlah, disini ada mengenai keselamatan jiwanya puluhan orang” Raja mengerutkan alis karena orang tidak percaya padanya. Ia lantas berpikir. Hanya sekejap, ia mendapat akal.
Ia merogo kedalam sakunya, dari baju dalamnya, yang memakai kancing mutiara, meloloskan mutiara mustika Pie Sui Cu. semuanya lima butir mutiaranya itu, semua memang mustika, yang masing-masing mustika Pie Sui Cu.
Semuanya lima butir mutiaranya itu semua memang mustika yang masing-masing mempunyai khasiat menentang logam, kayu, air, api dan tanah, hingga ia tak sembarang mendapat kecelakaan. Sambil menggenggam mutiaranya itu, ia kata “Tuan-tuan, jikalau kamu tidak percaya, kau lihat aku meuggunai ilmu memisah air ‘ “Baiklah, kau boleh coba !” berkata orang banyak.
Raja bertindak ketepian perahu, semua orang mengawasinya. Ia berpura-pura membaca jampe kemudian tangannya dimasuki kedalam air. Segera juga air terpisah beberapa tombak, dalamnya setombak kira-kira.
Semua orang menjadi heran, semuanya hersorak memuji.
Raja mengangkat tangannya, air kembali sifat seperti biasa.
Menampak demikian, sekarang semua uang percaya Raja, bahkan pemilik perahu 1antas mengembalikan uangnya semua penumpang yang ia telah kumpul itu.’ Habis itu ia mulai berlayar.
Angin bertiup keras, karena itu kendaran air laju pesat.
Segera juga orang sudah mendekati bukit di tengah sungai, tapi di depan bio Loo Sin, si Malaikat Hantu.
Dari arah kuil lantas terdengar suara tambur dan gembreng riuh. Ditepian, didepan bio, kedapatan seratus lebih perahu Jalan perahu perahu yang lebih tiba lebih dulu Orang ramai mendengar suara petasan. Disini perahu Raja tidak berhenti hanya berlayar terus.
Tatkala itu tengah hari betul, udara besih, angin tenang.
Tiba-tiba datang angin yang keras, yang membangkitkan gelombang, atas mana. perahu Raja jadi tertahan lajunya.
Air ombak muncrat keatas perahu membikin basah dan hemak bajunya para penumpang Semua orang menjadi kaget, semua takut.
„Tuan,1ekas gunai ilmumu!” beberapa orang berseru pada Raja. “Tentu Loo Mo Sin yang datang! Kita bisa celaka! Lekas!” Raja sementara itu sudah lantas bcrpikir ia ingat halnya dahulu hari ketika kaisar Kong Tay Cong berperang ke Timur ditengah laut dia bertemu Raja Naga yang datang menghadap hingga gelombang hampir membikin perahu Raja menjadi keram, kemudian gelombang sirap dan laut tenang kembali setelah Raja itu menulis dua huruf “Bian Tiauw” artinya, “Tak usah menghadap,” yang di-lempar kelaut.
„Mungkin juga Raja Naga hendak menghadap tim, baik tim coba menulis dua huruf itu.” ia mengambil keputusan.
Maka ia berkata : “Kamu sabar, nanti aku membikin hu!” Lantas dengan cepat Raja mengeluarkan sehelai kertas merah, sambil berpura menjampe, ia menulis huruf huruf “bian tiauw” itu, kemudian ia menyuruh Jit Ceng bawa ke kepala perahu, untuk dilepaskan dimuka air.
Sungguh luar biasa, didalam tempo sekejap angin berhenti dan sungai tenang pula seperti biasa.
Semua penumpang menjadi heran, dengan kegirangan mereka memuji, semuanya lantas mengucap terima kasih.
Sejak itu orang tak usah bersembahyang lagi sungai terus tenang-tenang saja, hingga perjalanan tak pernah terganggu.
Perahu Raja berlayar terus sampai dipelabuhan dimana para peuumpang pada mendarat maka Raja dan Jit Ceng pun meninggalkan perahu. Mereka berjalan-jalan. Ditepi terlihat deretan rumah, rumah yang ini yang mirip dengan perumahan di Kang-Lam utara. Disitu kedapatan banyak perahu terus, yang berlayar mundar mandir dan dari dalam perahu terdengar suara seruling tak hentinya. Mereka juga melihat banyak pay hong semacam gapura yang bertuliskan pujian untuk orang-orang jaman dahulu yang setia, bakti dan putih bersih. Semua itu menambahkan keindahannya kota Lam khia.
Selagi Raja dengan Jit Ceng jalan perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan itu mendadak seorang menubruk Raja dan kakinya kena menginjak kaos kaki terperanjat, dengan gugup dia meminta maaf. Terus dia pergi dengan tergopoh gopoh sedang paras mukanya menunjuk dia sangat berduka Rupanya ada sesuatu keperluannya disebelah depan itu.
Menampak demikian. Raja berlompatan untuk menyandak. la mengulur tangannya, memegang orang itu Walaupun ia tidak kenal, Raja toh menanya orang itu mempunyai urusan apa maka dia agak berduka dan kesusu „Maaf, tuan, tak disengaja barusan aku membikin kotor kaos kaki tuan,” kata orang itu bingung. “Tolong tuan lepaskan tangan tuan, supaya aku tidak gagal menolong jiwa orang…” Berkata Begitu, orang itu berontak, melepaskan diri.
Raja menyusul pula.
„Apa urusan orang itu?” tanyanya. “Kau beritahukan padaku, mungkin aku dapat membantu kau!” Orang itu memutar tubuh, untuk mengairi kemudian memberi hormat sambil menjura “Mendengsr dari suaramu tuan rupanya kau bukan penduduk setempat.”katanya.
“Sudikah tuan memberitahukan she dan namamu yang besar serta tempat asalmu, begitupun maksud tuan datang kemari?” Raja tidak berkeberatan memberikan keterangannya “Aku Kho Thian Su dari Pek-khia” sahutnya. “Aku menjadi murid dari Ting tong Lauw yong dan bekerja dalam kementerian Perang Karena aku mcndengar keindahan kota Lamkhia ini, aku pergi kemari. Inilah, anak angkatku. Ciu Jit Ceng.” “Aku mengajak dia supaya dia menjadi tambah pengalamannya Kau mempunyai urusan penting apa, coba kau beritahukan padaku,’“ Mendengar jawaban itu, orang itu mendadak menjadi kegirangan.
“Syukur, syukur” katanya, “Aku memang lagi membantu Kakakku mencari orang bijaksana, kebetulan sekali kita bertemu sini. Dasar keponakan perempuanku yang celaka bakal ketolongan Tuan, aku Tan Teng, dan kakakku Tan Ceng, kami penduduk asli hidup kami lumayan. Sayang kami tidak mempunyai anak laki-laki.
Cuma kakakku itu mendapat seorang anak perempuan yang diberi nama So Cun dan sekarang berumur enam belas tahun. Keponakanku itu sudah ditunangkan kepada seorang pemuda dari keluarga Siauw, pihak laki-laki sudah memilih hari nikah, tapi apa lacur, dia diganggu siluman hingga dia mendapat sakit luar biasa, jiwanya setiap saat terancam bahaya Kami sudah minta pertolongan beberapa orang sakti, tetapi tidak ada hasilnya bahwa si imamlah yang menderita kena ditelan siluman. Kami mengundang pendeta yang berilmu juga tak berguna, maka juga kami menjadi sangat berduka lagi kuatir dan bingung. Tadi malam kakakku mendapat impian tentang seorang malaikat yang berjubah emas, Kim Kah Sin, membilangi bahwa hari ini akan datang dua orang berilmu dari Pak khia, bernama Kho Thian Su dan Ciu Jit Ceng yang pandai menaklukkan siluman, yang dapat menolong keponakanku itu supaya mereka diminta pertolongannya. Maka itu, sejak pagi-pagi kakakku menyuruh aku menantikan dua orang itu disini.
Tidak disangka aku beruntung bertemu dengan tuan tuan berdua. Dan, aku memohon belas kasihan kamu sudilah kamu menolong kami kalau keponakanku itu dapat ditolongi, kami suka menghadiahkan tuan-tuan dengan tiga laksa tahil dan mutiara seratus butir, untuk membalas budi kebaikan tuan tuan” Habis berkata, Tan Teng lantas berlutut dan mengangguk-angguk, melihat mana Raja mencegah dengan mengangkat bangkit tubuh orang. Raja heran atas impian itu.
“Dengan sebenarnya, saudara Tan Teng, aku tidak mengerti ilmu rnenaklukan siluman. Apa yang aku pernah pelajari cuma sedikit ilmu, silat mana dapat aku melawan siluman, yang bisa terbang dan menghilang. Dia dapat melihat kita, kita tak dapat melihat padanya. Maka itu baik saudara cari orang berilmu lainnya, supaya aku tidak menggagalkan kamu.” Tan Teng menyangka orang merendahkan diri atau menolak, ia berlutut pula kembali ia memohon dengan sangat.
„Inilah petunjuk malaikat, tidak bakal salah,” kata ia, mendesak. “Buat mencari lain orang, kemana aku mencarinya? Aku mohon. tuan sukalah kau tolong jiwa keponakanku itu.” Sambil berlutut itu, hartawan Inipun menangis.
Ketika itu orangnya Tan Teng telah lari pulang.
mengasih kabar kepada kakaknya maka toa-wan gwee hartawan yang tua itu, sudah lantas datang dengan membawa dua buah joli. Ia juga turut berlutut sambil memohon berulang-ulang.
Banyak orang yang berlalu-lintas menjadi heran hingga mereka pada berhenti dan berkerumun untuk menyaksikan.
Beberapa orang yang tahu keluarga Tan lagi diganggu siluman, menduga mereka itu Lagi minta bantuan orang yang berilmu maka itu ramailah mereka itu kasak-kusuk Menampak demikian. Raja menjadi tidak enak hati, Ingin ia menolong tetapi bersangsi. Maka ia lantas memimpin bangun dua saudara itu seraya berkata: “Kamu bangun dulu. Hal ini perlu dibicarakan lebih jauh” Raja memikir untuk meloloskan diri tapi Jit Ceng, yang hatinya bersih dan polos, tak tega menyaksikan kedukaannya dua saudara Tan itu.
“Ayah mengapa ayah tidak mau menolongi mereka?“ katanya, air matanya mengembasg. Ia sangat terharu. “Mari pergi bersama akan melawan siluman mungkin kita berhasil …” Mendengar demikian Tan Ceng dan Tan Tang menjadi girang sekali.
„Tuan puteramu telah meluluskan maka silahkan tuan turut kami. katany membujuk. “Marilah tuan, joli sudah sedia” Mereka lantas menarik tangan raja dipimpin ke joli, sedang Jit Ceng naik joli tanpa sungkan lagi, hingga Kaisar Kian Liong jadi terpaksa mesti turut dua wanita itu.
Tak lama, tibalah mereka di Kie Coan, rumah keluarga Tan itu.
Bujang sudah lantas membuka pintu depan dan kedua tuan rumah mengundang tamunya turun dari joli, untuk masuk ke dalam.
“Seperti aku sudah bilang, aku tidak mengerti ilmu menangkap siluman.“ Raja berkata pula, “karena kamu memaksa, hendak aku coba. Ini pun karena desakan anakku Syukurlah kalau aku berhasil, kalau tidak kamu jangan buat tertawaan. Di mana adanya siluman itu, mari kamu ajak kami kesana. Buat untuk melihat-lihat.” “Sekarang ini masih siang siluman itu belum datang,“ berkata Tan Ceng. “Dia biasa berada didalam kamar anakku, diruang belakang, didalam paseban Bouw tan Teng. Sekarang silahkan tuan duduk dulu, untuk bersantap disini “ „Kalau begitu.” kata Raja „baik pindahkan anakmu kelain ruang. barang santapan kau atur di kamar purerimu itu disana aku nanti duduk dahar dan minum sambil menantikan siluman itu.” Tan Ceng suka mengiringi kehendak Raja Tan Ceng tanya teramunya membutuhkan barang-apa lainnya.
“Untukku,kau sediakan sebatang toya,” berkata Raja.
“Beberapa orang yang berani kuat kamu siapkan, kalau siluman datang mereka mesti membantu kami dengan memukul gembreng dan membakar petasan guna membantu menambah keangkeran. Aku juga minta disiapkan obat pasang dan banyak lentera kaca, supaya kalau siluman meniup semua api lainnya, lentera itu tidak turut padam. Obat pasang itu harus disulut karena katanya itu berkhasiat menakuti siluman. Diantara kamu, siapa yang takut dia boleh pergi menyembunyikan diri.” Dua saudara Tan menyuruh orang orang menyiapkan semua barang keperluan itu, kemudian mereka mengundang Kho Thian Su dan anaknya pergi ke kamar So Cun.
Mereka duduk menemani, Ketika itu sudah lewat tengah hari. Raja minum tanpa malu, lalu lewat lohor. Ia bersantap…..bersantap malam.
Kemudian mereka minum perlahan-lahan sambil memasang omong terus sampai magrib, sampai rembulan mulai muncul sang puteri malam terang dan indah sekali Raja pergi membuang air kecil sebentar, kemudian bersama. Jit Ceng dan kedua tuan rumah, ia berkumpul di lorak, diluar kamar, menyaksikan keindahan rembulan.
Dengan lewatnya sang waktu, sampailah datang pada jam tiga. Tiba-tiba terlihat dari arah timur melayangnya mega hitam, yang dateng kearah paseban, lalu sekejap saja rnuncul angin keras, yang membikin lentera pada padam dan mega hitam mengalingi si Puteri Malam, Semua orang terkejut, lantas mereka pada menyingkir, untuk menyembunyikan diri.
Raja dan Ciu Jit Ceng berdiam sambil memasang mata, guna melihat sesuatu.
Segera terlihat tibanya seorang dengan dandanan imam, yang usianya ditaksir lima puluh tahun, dipinggangnya tergantung pedang, tangannya mencekal kebutan. Sambil membentak dia menanya : „Siapa berani makan minum didalam paseban ini hingga kemenanganku menjadi terganggu karenanya ” Raja tidak takut, dia malah menyahut: „Kau siapa ? Kau siluman darimana berani main gila disini, berani mengganggu wanita baik-baik ? Lekas kau rubah kelakuanmu, supaya kau tidak mendapat dosa hingga kau nanti tertimpa guntur !” Siluman itu gusar.
“Kau bernyali besar, kau berani usil” bentaknya.
“Rupanya kau sudah bosan hidup! Kau tak tahu, dengan Tan So aku berjodoh. Aku tahu banyak imam pendeta telah diundang tetapi tidak ada hasilnya! Aku berkasihan terhadap mereka karena aku tahu mereka mencari uang, tetapi kau, berani kurang ajar begini! Lekas kau menyingkir, jangan banyak mulut pula, nanti kau tak peroleh uang dan hilang juga nyawa anjingmu !” Raja menjadi gusar sekali.
“Kau sangat kurang ajar!” bentaknya. “Kau kenali aku Kho Thian Su, akan aku hajar padamu!” Lalu Raja menggerakan toyanya, untuk menyerang.
Imam itu menghunus pedangnya untuk menangkis, guna membuat perlawanan, maka mereka jadi bertarung Raja berlaku bengis, ia menyerang terus, hingga lekas juga lewat sepuluh jurus.
Orang orangnya dua saudara Tan berkumpul mereka berseru-seru, kemudian dengan dianjuri Ciu Jit Ceng, mereka menembak dengan senapan mereka Baru sekarang siluman itu kewalahan, lantas dia berkelit dari toya, lantas dia lompat, untuk menyingkir, sembari lari dia berseru : „Jangan susul aku.” Raja tak menghiraukan ia mengejar Sembari lari si siluman sering melihat kebelakang. setelah mendapat kenyataan! dikejar terus mendadak dia menjatuh diri ke tanah untuk bergulingan atas mana dalam sekejap itu dia menyalin diri menjadi tubuh asalnya.
Raja terkejut, ia melihat satu makluk tinggi setombak lebih, pinggangnya besar kepalanya mirip banteng, mukanya berbulu merah, kulit mukanya hijau giginya bercaling matanya seperti kelenengan kuningan mulutnya lebar dan merah, dan dengan kulitnya yang tajam, mengancam menyengkeram Raja terkejut hingga semangatnya seperti terbang, segera muncullah yuninya merupakan seekor naga emas dengan lima buah kuku naga mana maju untuk menghadangi siluman itu.
Menampak demikian siluman ketahui dia lagi berhadapan dengan raja, lantas dia menciptakan diri menjadi sesilir angin halus untuk terbang tinggi sambil meninggalkan sehelai kertas kecil, Raja berdiam saja menyaksikan siluman itu pergi sampai Jit Ceng dan yang lainnya menghampirkan memberi tahukan bahwa barusan mereka itu melihat seekor naga emas yang bersinar, yang membuat siluman kabur Jit Ceng lantas memungut kertas itu, yang ada tulisannya, yang mana ia serahkan kepada Raja.
Surat itu berbunyi. “Jodoh telah ditetap nanti jangan keliru menikahkan dengan seorang she Siauw. Thay Pek Kim Chee yang mencegahnya. Jit Ceng dengan So Cun harus merupakan sepasang burung hong-hong.” Raja membaca mendengar itu dua saudara Tan menekan dahinya. Kata mereka:,,Oh Intinya anakku tidak berjodoh dengan keluarga Shauw! Jadi anakku harus menikah dengan putramu Ciu Jit Ceng! Karena jodoh ini dijodohkan malaikat entah bagaimana pikiran tuan? Tetapi aku mengharap bisalah kita berbesan,” Raja setuju dan menyatakan akur, “Bagus!” katanya. „Kami lagi meloncong kami tidak mempunyai barang apa-apa, maka itu, harap terima saja ini sebutir mutiara.” Sembari berkata, ia mengeluarkan mutiaranya.
Tan Ceng mencinta mutiara itu sambil menghaturkan terima kasih.
Habis itu mereka memasang lilin dan hio, guna menghaturkan terima kasih kepada malaikat bintang Thay Pek Kim Chee, kemudian kedua tetamu diundang beristirahat didalam kamar tulis.
Sekembalinya kedalam dua saudara memberi tahukan isteri mereka, yang menyambut kabar itu dengan girang, maka mereka terus merencanakan persiapan untuk besok pagi upacara nikah dilangsungkan. Mereka tak kuatir pihak Siauw menentang, karena sebelumnya telah diumumkan siapa dapat menolong Nona Tan, dia bakal diambil menjadi menantu. Bagusnya, segera apa sudah disediakan dari siang-siang.
Besoknya dua saudara Tan menemui Thian Su, untuk menanya umurnya Jit Ceng Ia baru lima belas tahun, jadi So Cen lebih tua satu tahun. Ini tidak menjadi halangan. Lalu tanggal, bulan dan hari lahir mereka di catat, untuk di akuri oleh ahli tenung untuk dicarikan hari baik. Kebetulan sekali, hari Itu yalah besok, maka segera di ambil persiapan. Karena itu juga, pihak Tan menjadi repot, terutama untuk mengundang sanak beraya dan sahabat-sahabat.
Demikianlah besoknya, dengan cara sederhana kedua mempelai dipertemukan Pesta diramaikan dengan musik dan dihadiri banyak tetamu. Upacara berjalan dengan rapih sampai sepasang mempelai diantar masuk dalam kamar mereka.
Tan Wangwee dan isteri girang sekali mendapatkan menantu tampan dan pintar itu.
Tiga hari kemudian, Raja pamitan, guna melanjuti perjalanannya. Ia mesti mengajak Jit Ceng maka beratlah keluarga Tan berpisahan. Tak dapat mereka mencegah.
Perjalanan Raja dilanjuti seperti biasa siang berjalan, malam singgah, sampai pada suatu hari, mereka terhalang rimba dan sungai melintang dihadapan mereka. Disitu tidak ada perahu.
Tengah Raja dan anak pungutnya coba mencari kendaraan air, mereka melihat seorang wanita hamil mendukung anak umur setahun lebih, diikuti tiga anak yang terbesar umur enam atau tujuh tahun. Nyonya menangis menggerung-gerung, rupanya mau membuang diri ke sungai tetapi masih berat . . .
Raja lari menghampiri buat mencegah Nyonya itu bukan berterima kasih, justru gusar dan kata keras : ..Kita tak kenal satu pada lain, kitapun tak bersahabat kau laki-laki, kenapa kau lancang menyentuh aku ? Bukankah adat istiadat melarang pria dan wanita berpegang tangan ? Jangan menantang aku Lekas minggir !” Raja tak senang, dia kata : “Kenapa menegur aku? Kau mesti ingat pepatah yang membilang, menolong satu jiwa berharga satu tahil emas. Kau mau bunuh diri. Kau kan lagi mengandung penasaran coba kau beritahukan itu padaku mungkin aku dapat menolong kau. Ingatlah, tidak dapat kau mengorbankan jiwanya anak-anak ini” “Penasaranku, penasaran besar sekali!” nyonya itu, masih sengit. “Dalam perkara ini. cuma dari Baginda Raja yang dapat menolong aku, karena itu, percuma aku beritahukan padamu !” “Kau beritahu, tak apa,” Raja mendesak “Aku Kho Thian Su, aku bekerja dibawahan Thay-siang Lauw Yong, aku rasa pasti aku dapat menolongmu. Kau ceritalah biar jelas, nanti ada jalan untukku menolong kau” Nyonya itu dapat dibujuk. Ia menjadi sabar dan suka bercerita.
„Aku penduduk sini, aku she Kho dan menjadi isterinya Thio Kui Hong dan dusun sebelah depan itu.” Demikian ia menutur.
“Suami ku dagang ayam untuk melewati hari. Kemarin ia menjual ayamnya pada Hanlim Kie Jin San didesa Kie Kee Cun didepan sana. Dia membikin pesta sebulan anaknya. Suaminya menjual ayam seharga sepuluh tahil, tiga chie delapan hun Karena biasa dagang kecil, suamiku tidak kenal uang. tahu dia yang diberikan uang tembaga, ketika kemudian dia mendapat tahu dan pergi pada si Hanlim, dia menjangkal. Mereka jadi berselisih, terus berkelahi. Suamiku kesalahan memukul dahi kiri Kie Jin San. marah, dia suruh hamba-hambanya menangkap suamiku yang terus dibawa kepada camat di Kim-peng.
Disana suamiku dikompres hingga dia mesti mengaku bahwa siang bolong dia mencoba membunuh orang, karena itu dia dijatuhkan hukuman mati. sekarang dia dikurung dldalam penjara, Aku sendiri lalu hendak dijual kerumah hitam. Mana dapat aku menerima perlakuan ini. Maka sekarang aku hendak membuang diri kesungai. Demikian, tuan. Benarkah tuan dapat menolongi suamiku ? Pasti kami sangat bersyukur kepada tuan …” Raja percaya keterangan itu, ia menjadi gusar “Sungguh jahat anjing itu!” katanya, segera ‘Sekarang begini. Aku mempunyai urusan penting, tak dapat aku pergi ke Kie Ku Cun. kau saja yang pergi kesana. Disini ada seratus tahil perak, kau berdamai dengan keluarga Kie itu kau tebus suamimu.” Berkata begitu. Raja menyerahkan uangSi nyonya percaya perkara suaminya bisa beres, ia menerima uang itu. la menghaturkan terima kasih, kemudian batal membunuh diri…
Ia ajak anak-anaknya berlalu. Baru beberapa tindak, ia sudah kembali, ia berlutut didepan Raja seraya mananya she dan nama orang serta kampung halamannya.
“Aku Kho Thian Su.” kata Raja. “kebetulan saja aku lewat disini, maka tak usah kau menghaturkan terima kasih padaku. Kalau kau kuatir Kie Jin San tidak mau mengerti, baiklah aku besok nanti datang kerumahmu untuk mendengar kabar.” Raja lantas berlalu Ia mencari pondokan. Besoknya pagi, ia menepati janji, ia pergi kerumah Kui Hong.Ia disambut dengan girang oleh Kho-sie dan mertuanya.
Kenarin Kho-sie tak keburu pergi kerumah Jin San, sekarang ia minta mertua yang tolong pergi membawa uang, guna menebus suaminya. Kira dua jam, nyonya Thio pulang dengan tidak keruan macam, ia menangis dan rambutnya riap riapan.
Ia kata uangnya ditukar dengan uang tembaga, ia sendiri dipukuli, lalu diusir. tanya Jin San paksa mau menjual juga nona mantunya. Jin San tak sudi beramal Nyonya Thio jadi bersusah hati. Raja baliknya menjadi tidak senang.
“Mari antar aku!”katanya pada Touw sinyonya tua.
Ibunya Kui Hong menurut, ia kembali Sampai didepan Kie kee Cun. Raja suruh Touw-sie pulang la sendiri yang memanggil hamba tuan rumah, untuk dikabarkan hal datangannya itu, buat ia minta bicara.
Kie Jin San menyambut tetamunya dikamar tulis Kedua pihak lantas belajar kenal, lalu Raja membicarakan urusan Thio Kui Hong. Ia minta dengan hormat, supaya Kui Hong dibebaskan dan urusannya dibereskan. Ia kata, dengan begitu, iapun berhutang budi.
“Dapat aku bebaskan dia keluar kalau dia sanggup menyerahkan uang sepuluh laksa tahil!” kata Jin San “Jumlah sepuluh laksa tahil yang kau minta itu tidak banyak,” kata Raja, “Cuma hal itu harus ditanyakan dahulu kepada kawanku” “Mana dia kawanmu itu?” “ini dia.” kata Raja yang lantas melayangkan kedua tangannya, atas mana Jin San roboh terpental setombak lebih. Dia kaget dan kesakitan, dia gusar. Maka sembari memayah bangun dia berseru: ”Hajar padanya! Hajar” Hanlim ini mempunyai dua atau tiga ratus pegawai, semua mereka ini lantas maju mengurung diantaranya ada yang menutup pintu depan dan belakang Beberapa kauwtau atau guru silat, diperintah menyerbu ke kamar tulis.
„Siapa yang berhasil membekuk, dia dapat bagian banyak” Jin San serukan. Ia tidak lari hanya mau menonton! Raja mengangkat kursi, ia menghajar roboh orang yang paling dulu menerjang padanya, terus ia merampas goloknya, guna dipakai berkelahi, maka belasan orang lainpun terguling. Tapi musuh berjumlah besar sukar buat ia dapat keluar.
Sumber : Dewi KZ

One Response to Raja Yang Mengembara

  1. nikeaura says:

    Cianpwe, tolong lanjutan cerita Raja Yang mengembara, terima aksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s