PENDEKAR SAKTI IM-YANG

IM-YANG-SIN-TAIHAP (PENDEKAR SAKTI IM-YANG)
Rajakelana

Ditengah kelarutan malam, hujan turun sangat lebat, langit serasa mau runtuh oleh deru gemuruh guntur yang menggelegar, seiring percikan cahaya kilat yang susul menyusul, angin badai bertiup kencang menantang gulungan gelombang laut yang mengamuk, hutan didaratan kecil itu bergoyang menyambut kencangnya terpaan angin yang membawa butiran air hujan, laksana laksaan jarum menghantam dedaunan, menimbulkan suara gemerisik seiring hempasan gelombang laut yang menghantam bibir pantai, istana megah di pulau itu kokoh berdiri gagah tiada bergeming, walaupun bola lompian yang menyala, dan bergantung disana sini bergoyang oleh tiupan angin yang membelai nakal.
Didalam istana itu seorang laki-laki remaja berumur dua belas tahun pulas dengan tidurnya, dan tiada sedikitpun terganggu oleh amukan badai, selimut tebalnya yang harum demikian hangat membungkus tubuhnya, dengan wajah polos tanpa beban, anak remaja itu merajut mimpinya, helaan nafas yang tenang dan nyaman menikmati kenyenyakan tidur yang sangat memulaskan.
Dini harinya, anak remaja itu bangun dari tidur disambut rintik hujan, seakan badai semalam tidak pernah terjadi, anak remaja itu turun dari ranjangnya dan melangkah keluar dari kamarnya, terus melangkah keluar menuju halaman yang terang oleh cahaya lampu lompian yang berwarna warni, tubuh kecilnya disentuh sejuknya hembusan angin yang mengandung hawa dinginnya air hujan, lalu anak remaja itu membuka bajunya dan melangkah kehalaman istana yang lembut diatas hamparan rumput beludru.
Dia bersedekap menyembah sambil menghirup dalam udara dan mengisi penuh ruang paru-parunya, kemudian dengan perlahan dihembuskan dan kemudian dihirup kembali, berulang kali anak remaja itu melakukannya, kemudian tangannyapun bergerak seiring gerak kakinya, pada mulanya gerakan itu lambat, namun lama kelamaan makin cepat, sehingga tubuhnya sudah berubah hanya bayangan yang bergerak kesana sini, anak remaja itu terus bergerak melakukan jurus-jurus yang seakan tidak pernah habis, anak remaja itu terus bersilat walaupun matahari sudah terbit dan naik sampai tinggi, baru gerakan silat itu ia hentikan saat menjelang siang.
Luar biasa daya tahan anak remaja itu, bergerak cepat tanpa henti selama delapan jam, dan hebatnya pula saat dia berhenti tidak sedikitpun nafasnya sesak, nafasnya sangat tenang seakan dia tidak pernah melakukan hal apapun, wajahnya yang tampan berseri menghirup udara yang bertiup dari hutan membawa aroma wangi tanah yang basah, dan semerbak aroma bunga hutan Anak remaja itu adalah Kwaa-han-bu buyut luar pemilik pulau kura-kura, bengcu taisu yang budiman kim-khong-taihap, empat tahun yang lalu istana itu masih ramai dihuni oleh keluarganya, namun ketika Pah-sim-sai-jin datang untuk yang kedua kalinya, keluarganya menyambut pah-sim-sai-jin di tepi pantai bersama pat-hong-heng-te, dan ketika itu Kwaa-han- bu tidak diikut sertakan, dan disuruh menjaga istana, sebagai anak penurut Kwaa-han-bu menuruti perintah ibunya dan sanak keluarganya.
Kwaa-han-bu berkeliling diluar istana dan melihat-lihat keadaan, hal itu dilakukan karena ia diserahi tugas menjaga istana, jadi kwaa-han-bu tidak mau diam dalam istana, tiga bangunan lain di pulau itu ia masuki untuk melihat-lihat keadaan, karena sebenarnya Kwaa-han-bu boleh juga dikatakan adalah tamu di pulau kura-kura milik buyutnya ini, karena Kwaa-han- bu sejak lahir sampai berumur tujuh tahun berada di kota Kunleng dimana keluarganya menetap, ayahnya kwaa-san-lun adalah cucu dari putri bungsu kim- khong-taihap Kwee-hong-in yang menikah dengan Kwaa-kun-liong.
Keluarga kwaa di kota Kunleng terkenal turun temurun dengan kedermawanannya, ibunya adalah Kam-siang-lan yang berasal dari kangshi putri seorang tihu, keluarga ibunya adalah pengabdi setia kerajaan turun temurun, bahkan misan buyutnya pada zaman lima wangsa terkenal sebagai jenderal yang setia, yakni Kam-si-ek ayah dari kim-siauw-eng.
Kwaa-han-bu sejak umur empat tahun sudah dilatih ilmu silat oleh kong-bo-couwnya kwee-hong-in, sehingga enam ilmu khas keluarga kwee yang diciptakan oleh bengcu dari ilmu silat enam istrinya, sudah dikuasai baik oleh kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu memang luar biasa cerdas dan berbakat, sehingga umur tujuh tahun ia sudah lebih handal dari pat-hong- hengte, ketika kakek Kwee-gan-liong meninggal, mereka sekeluarga berkunjung kepulau kura-kura, namun akhirnya menetap di pulau kura-kura, karena ayahnya ikut serta she-taihap lainya untuk menanggulangi kejahatan Pah-sim-sai-jin yang sudah menguasai barat dan utara.
Dan dalam usaha mulia itu, ayahnya dan she-taihap yang lain tewas ditangan Pah-sim-sai-jin, dan malam ketika keluarganya kepantai menghadapi Pah-sim-sai- jin kwaa-han-bu berkeliling disekitar empat bangunan, bahkan saat malam sudah sangat larut, Kwaa-han-bu mendatangi pekuburan keluarga pulau kura-kura yang berdekatan dengan air terjun, Kwaa-han-bu tertidur didekat kuburan kong-bo-couwnya Kwee-hong-in.
Dan dalam tidur yang hampir menjelang pagi itu, Kwaa-han-bu mimpi bertemu dengan kong-bo- couwnya Kwee-hong-in dan beserta kong-bo- couwnya itu ada seorang kakek yang sangat tua sekali, dalam mimpi itu Kwaa-han-bu melihat kong- bo-couwnya dibawa kakek yang sangat tua itu ke air terjun, dan juga Kwaa-han-bu melihat kong-bo- couwnya bergayut sangat manja memeluk tangan kakek tua itu, dan dibibir kuala air yang dipugar, keduanya duduk dan berbicara demikian akrab, senyum kakek tua itu demikian bijak, sementara kong-bo-couwnya senyum berseri-seri dalam pembicaraan yang mereka lakukan.
Kemudian kakek itu membawa kong-bo-couwnya kebalik air terjun dan lalu menghilang, Kwaa-han-bu berseru memanggil nenek buyutnya dan berlari kearah air terjun, dan ketika kakinya masuk kedalam kuala air, ia merasa menginjak sesuatu yang membuat kakinya tersengat sesuatu, dan Kwaa-han- bu pun terbangun, dan ternyata hari sudah siang, Kwaa-han-bu spontan melihat kakinya yang telanjang, ternyata kakinya sedang di gigit seekor kura-kura kecil yang merayap di bawah kakinya, Kwaa-han-bu melepaskan kura-kura itu dari kakinya dan berdiri, Kwaa-han-bu penasaran dengan mimpinya dan menatap air terjun dengan pikiran berkecamuk bertanya-tanya, ada apa dibalik air terjun.
Kwaa-han-bu melangkah mendekati kuala air dan masuk kedalamnya, kemudian berjalan kearah air terjun yang mencurah deras kekubangan air, sehingga menerbitkan buih putih, Kwaa-han-bu berusaha melihat kebalik air terjun, ternyata dibaliknya ada goa dengan mulut sebesar dua pelukan orang dewasa, tubuhnya yang kecil naik kedinding kuala air dan masuk kebalik air terjun, dan dengan merangkak Kwaa-han-bu masuk merangkak kedalam lubang gua, lorong gua dimasuki dengan merangkak, ada sekitar dua meter, dan makin kedalam ternyata goa itu semakin lebar, sehingga Kwaa-han-bu sudah bisa berdiri dan berjalan.
Kemudian sampailah Kwaa-han-bu disebuah ruangan berukuran dua kali tiga meter, dan di ruangan itu ada sebuah peti besar yang terbuat dari kayu yang tebal, Kwaa-han-bu duduk termenung didepan peti besar itu, pikirannya berkecamuk, menghubungkan mimpinya dengan peti itu, dan dia yakin bahwa kakek tua itu adalah buyutnya Kim-khong-taihap, ayah dari kong- bo-couwnya kongcouw.! apakah kong-couw hendak menunjukkan sesuatu padaku !? seru Kwaa-han-bu lirih, seruannya itu membuat ia merasa lemah dan letih yang sangat, Kwaa-han-bu menyandarkan tubuhnya kedinding, dan rasanya nyaman sekali, sehingga membuat Kwaa-han-bu mengantuk berat dan dia pun tertidur.
Kembali Kwaa-han-bu bermimpi, ia berada disebuah pantai dan kakek yang tadi bersama nenek buyutnya muncul dari tengah laut, kakek itu berjalan mendekatinya yang berada di pantai, kakek itu tersenyum memandangnya dan mengelus kepalanya, rasanya nyaman sekali, tapi disamping mengelus kepalanya, kakek tua itu juga menghembus ubun- ubunya, hatinya terasa sesak haru, naik sedu sedannya sehingga Kwaa-han-bu sesugukan, Kwaa- han-bu menatap wajah kakek itu, dan diwajah penuh wibawa itu tersungging seulas senyum, membuat hatinya nyaman sekaligus menghilangkan sedu sedannya.
Kemudian kakek itu mengelus kembali kepalanya, bahkan mengelus mukanya, tiada tara rasa nyaman menyergap hati Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu terpejam merasakan elusan pada wajahnya, Kwaa-han-bu membuka mata ketika ia tidak lagi merasakan tangan lembut itu di wajahnya, ternyata kakek itu telah kembali ketengah laut, dan lalu menghilang entah kemana.
Kwa-han-bu terbangun, hatinya terasa ringan dan nyaman, lalu dibukalah peti besar itu, dan dilamnya ada lima buah kitab, kemudian ada harpa emas dan sebuah kipas yang ada tulisan kungcu siawcu dan kemudian lima bilah pedang, sebuah cambuk dan sebuah sabuk warna kuning keemasan, dan sebuah sabuk kepala dengan manik mutiara hitam, kemudian terakhir ada gulungan kertas yang diikat pita warna kuning.
Kwa-han-bu mengambil gulungan kertas lalu membukanya, dan ada tulisan yang berbunyi Anakku ! milikilah hikmah ilmu , Dengan ilmu hidup jadi bermutu Anakku ! milikilah rasa malu , Dengan malu hidup terjaga selalu Anakku ! kendalikanlah hawa nafsu, Supaya diri terjaga dari jerat si aku Anakku ! kendalikanlah dalam berlaku ,Supaya diri terjaga dari sikap buru-buru Anakku ! jangan tergoda oleh bujuk rayu, Karena bujuk rayu sarat dengan tipu Anakku! Jangan berbuat yang tidak perlu,Karena akan merugikan masa dan waktu Tiga kitab diwariskan pada anak cucu, Intisari dari berbagai macam ragam ilmu Tiga warisan dari genarasi yang terdahulu, Dirangkum untuk bekal generasi baru Dua kitab berisi catatan dari siansu suhu , ramuan obat dan induknya ilmu Kwee-Han-Tiong Kwaa-han-bu mengambil kitab pertama berjudul bu- tek-cin-keng, kemudian kitab kedua sin-yok-jeng- keng (kitab seribu pengobatan tubuh), kitab yang ketiga berjudul im-yang-pat-sin-im-hoat (ilmu suara sakti delapan im-yang), kitab yang keempat berjudul im-yang-bun-sin-im-hoat (ilmu suara sakti sastra im- yang) dan kitab kelima berjudul im-yang-sian-sin- lie (tarian sakti dewa im-yang).
Kwaa-han-bu tiba-tiba teringat akan keluarganya yang sedang menghadang Pah-sim-sai-jin, lalu ia buru-buru keluar dari dalam goa, dan diluar Kwa-han- bu disambut matahari pagi yang cerah, berarti sudah semalam Kwa-han-bu berada didalam goa, padahal siang ketika Kwaa-han-bu masuk ke dalam goa, Pah- sim-sai-jin muncul, dan mencari-cari siapa lagi penghuni pulau kura-kura yang masih hidup, pencarian Pah-sim-sai-jin ketika itu sampai malam hari, dan karena tidak menemukan seorangpun, lalu meninggalkan pulau malam itu juga, sehingga Pah- sim-sai-jin tidak bertemu dengan Kwaa-han-bu.
Kwa-han-bu berlari menuju pantai, namun alangkah terkejutnya ketika melihat banyak mayat-mayat bergelimpangan, dan lebihnya lagi bahwa mayat- mayat itu adalah mayat keluarganya dan saudara- saudaranya pat-hong-heng-te, Kwaa-han-bu terduduk lemas menatap semua mayat yang bergelimpangan itu, setelah matahari naik tinggi, Kwaa-han-bu menggali dua puluh satu makam di areal pekuburan keluarganya, untuk menguburkan mayat ibunya, enam mayat pek-bonya dan saudara-saudaranya.
Pekerjaan menguburkan mayat keluarganya diselesaikan sampai tengah malam, lalu tanpa mengenal lelah Kwaa-han-bu menggali lima lobang besar didalam hutan ditepi pantai, untuk menguburkan seratus mayat pat-hong-heng-te, penguburan seluruh mayat selesai saat fajar menyingsing.
Kwa-han-bu kembali ke istana, dan sebelum Kwaa- han-bu memasuki istana, ia kembali kedalam goa dibalik air terjun untuk mengambil lima buah kitab kongcouwnya kim-khong-taihap, lalu setelah itu ia pun keluar, dan sekaligus Kwaa-han-bu mandi membersihkan diri dikubangan air yang jernih dan sejuk, kemudian Kwaa-han-bu masuk kedalam istana lalu beristirahat.
Kwa-han-bu terbangun ketika malam sudah tiba, lalu ia mempersipakan makan untuk mengisi perutnya yang lapar sekali saat bangun, Kwaa-han-bu makan sendirian di meja makan yang besar itu yang sebelumnya dipenuhi oleh keluarga besarnya she- taihap, setelah selesai makan, Kwaa-han-bu menuju ruang tengah yang luas dan indah dengan perabotan meja dan kursi, serta hiasan dinding yang beraneka ragam dan tertata rapi.
Kwa-han-bu meletakkan lima kitab diatas meja, dan mengambil kitab yang pertama, lalu membukanya, dihalaman pertama itu tertera tulisan dari kong- couwnya kim-khong-taihap yang berbunyi Butek-cin-keng induk segala ilmu Salinan dari yang mulia siansu suhu Selami maknanya tanpa kenal jemu didalamnya sarat rahasia yang bermutu Kwee-Han-Tiong Kemudian Kwaa-han-bu membaca isinya yang mengandung pelajaran tentang ragam semedi, ragam kuda-kuda, ragam gerak tangan, ragam gerak-kaki dan ragam gerak tubuh, dan terakhir adalah ragam titik darah dan syaraf, Kwaa-han-bu asyik sekali membaca isi kitab itu hingga larut malam, dan bahkan sampai tertidur di kursi.
Keesokan harinya mulailah Kwa-han-bu mempelajari ragam semedhi yang terkandung dalam kitab Bu-tek- cin-keng, Kwa-han-bu yang berumur delapan tahun tanpa kenal lelah melatih memahamkan ilmu Bu-tek- cin-keng, sehingga dalam tiga tahun, kitab Bu-tek-cin- keng pun tammat dipelajari, sehingga tubuh dan pikirannya sudah menyerap sari ilmu didalamnya seperti siulian-tin-liong (bersemedi menundukkan naga) berupa ilmu daya tempur, hun-kong-coan- im (kirim suara menyibak cahaya), goat-koan-sim- hang (menunggang sukma menutup rembulan) berupa ilmu menghilang, Siu-to-Po-in (sambut mustika menyapu awan) berupa ilmu penawar pukulan, serta san-phak-eng-coan (mengirim bayangan menghantam gunung ) ilmu pemisah raga.
Setelah menammatkan pelajaran kitab Bu-tek-cin- keng, Kwaa-han-bu mengambil kitab kedua, dan dihalaman pertama Kwaa-han-bu membaca tulisan kong-couwnya yang berpesan im-yang-sian-sin-lie sari ilmu turunan kedua inti ilmu turunan kwee tocu pulau kura-kura gunakan sabuk dan kipas sebagai dua senjata resapi gerakan dan tarikan ia sepenuh hati dan jiwa Kwee-Han-Tiong Setelah membaca pesan tersebut, Kwaa-han-bu kembali memasuki goa dan mengambil sabuk berwarna kuning emas dan kipas, setelah itu Kwaa- han-bu mulai pelajarannya dengan tekun, dan ilmu Im-yang-sian-sin-lie adalah rangkuman dari sembilan jurus kelaurga kwee yakni bian-sin-kun , lo-hai-san- hoat , pat-sian-kiam-hoat , kim-peng-hok-te-pat , sin-tiauw-poh-chap-sha , in-hong-sin-kin , in-coan- sin-yan ,hong-lo-im-yang-kiam dan goat-tiam- hong-pian tiga jurus terdahulu adalah milik pendahulu kim-khong-taihap yakni Kwee-lun dan Kwee-seng sementara enam jurus adalah ciptaan kim-khong- taihap sendiri dari sari ilmu keenam istrinya.
Karena enam ilmu ciptaan kim-khong-taihap sudah diakuasai mahir oleh Kwaa-han-bu, maka dalam jangka setahun ilmu im-yang-sian-sin-lie dapat dikuasai dengan baik, jika Kwaa-han-bu bergerak dengan ilmu ini, maka dua ujung sabuk yang disandangnya ikut juga bergerak dengan kekuatan sin-kang bian-sin-kun, dan juga sabuk bisa berubah keras seperti pedang dan juga bisa lembut seperti cambuk atau bentuk aslinya sabuk, dan dua sisi ujung sabuk dialiri dua hawa sakti im-yang yang bersumber dari kedua bahunya, sementara tangan yang memegang kipas juga mengeluarkan dua hawa im-yang, pendeknya, jika ilmu Im-yang-sian-sin-lie di mainkan Kwaa-han-bu, maka seakan dia memiliki empat tangan dengan empat bayangan senjata, yakni pedang, cambuk, sabuk dan kipas.
Setelah bersilat selama delapan jam, Kwa-han-bu melangkah ke kuala air terjun, lalu mandi dan membersihkan diri, setelah itu Kwaa-han-bu memasuki istana untuk memasak makanan yang masih tersisa, karena sudah empat tahun perbekalan makanan di istana itu ia makan, wajahnya berseri-seri melakukan pekerjaannya yang sudah biasa ia lakukan selama ia ditinggal sendiri di pulau buyutnya ini, setelah semua selesai, maka dengan nikmat ia menyantap makanannya, kemudian kwa-han-bu istirahat di ruang tengah sambil membaca-baca buku sastra dan buku-buku yang menambah wawasannya yang memang banyak terdapat di rak lemari.
Kwa-han-bu berencana bahwa nanti malam, ia akan membuka kitab ketiga setelah menyelesaikan pelajaran im-yang-sian-sin-lie demikian asik ia membaca buku sastra yang dipegangnya, dan selama empat tahun disela waktunya dalam melatih pelajaran silat ia tekun membaca kitab-kitab kuno peninggalan moyangnya, banyak syair dan ungkapan yang sudah hafal dalam kepalanya, banyak juga sudah ia menghafal ayat-ayat dhammapada pelajaran hidup dari sang budha, dan demikian juga to-tek-keng kitab pelajaran agama to.
Pada malam harinya Kwaa-han-bu membuka kitab ketiga, dan dihalaman pertama kim-khong-taihap memberi pesan yang berbunyi im-yang-bun-sin-im-hoat sari ilmu turunan ketiga inti ilmu turunan kam yang hidup berkelana dan setia gunakan telunjuk atau mouwpit sebagai dua senjata resapi gerakan pahami ajaran dalam berbagai kata Kwee-Han-Tiong Kesokan harinya Kwa-han-bu memulai pelajarannya pada kitab yang ketiga, ilmu ini adalah rangkuman kim-khong-taihap akan jurus hwi-yang sinciang (tenaga inti panas) , dan swat-im sinciang (tenaga inti dingin) , hong-in-bun-hoat (ilmu sastra angin dan mega) serta dipadukan dengan kim-kong-sim- in (suara sakti tenaga emas) Demikianlah Kwaa-han-bu belajar dengan giat, tekun tiada mengenal lelah, pelajaran demi pelajaran ia lalui, latihan demi latihan ia lakukan dengan semangat yang menyala-nyala, dan akhirnya ilmu Im-yang- bun-sin-im-hoat selesai dipelajari selama dua tahun.
Saat Kwaa-han-bu berlatih dengan ilmu Im-yang- bun-sin-im-hoat tangan dan kakinya bergerak melukis dan menuliskan kata-kata yang terbersit dalam hatinya, indah dan kokoh gerakan tubuhnya, unik dan menakjubkan gerakan menulis di udara seiring tulisan kaki diatas tanah, gerakan menulis itu mengandung ujar-ujar fasal dua belas to-tek-keng yang berbunyi Lima warna membutakan mata, Lima bunyi menulikan telinga Lima rasa merusak mulut Mengejar kesenangan merusak pikiran, Barang berharga membuat kelakuan menjadi curang Setiap gerakan tangan yang menuliskan huruf diudara mengeluarkan hawa im sementara kaki yang menuliskan huruf mengeluarkan hawa yang, sehingga bumi yang dipijak laksana bara, sejak dinihari sampai siang hari Kwaa-han-bu melatih ilmu im-yang-bun- sin-im-hoat setelah itu Kwaa-han-bu menuju air terjun untuk mandi, dan kemudian kembali dengan rutinitasnya memasak makanan dan membaca kitab- kitab kuno.
Kwaa-han-bu sudah berumur empat belas tahun, wajahnya yang tampan rupawan, dengan bola mata yang bening dan tajam, dibawah alis mata hitam tebal sebentuk golok, rambutnya ikal panjang bergelombang sampai kebahu, badanya kekar dan halus putih kemerah-merahan, hidungnya mancung amat menarik, bibirnya laksana seulas limau, dan dagunya bak lebah tergantung, memang dia adalah pemuda rupawan yang menakjubkan.
Kwaa-han-bu mengambil kitab keempat yakni im- yang-pat-sin-im-hoat dan membukanya, dan dihalaman pertama Kwaa-han-bu mendapat pesan dari kongcouwnya Kwee-han-tiong yang berbunyi im-yang-pat-sin-im-hoat sari ilmu turunan pertama inti ilmu turunan kwaa yang sakti lagi berbudi mulia siauwte memadukan warisan suhu yang amat berharga resapi dan salami gerak sejiwa dengan alam raya kwee-han-tiong Kwa-han-bu membalik lembaran-lemebaran berikutnya dan dengan asik membaca, Kwaa-han-bu meperhatikan dan memahami uraian dan tata gerak yang ada didalamnya, ilmu im-yang-pat-sin-im-hoat adalah gabungan dari im-yang-pat-hoat (ilmu delapan im-yang) dan hong-hi-sin-jai (petikan sakti menata pelangi).
Keesokan harinya Kwaa-han-bu memulai pelajarannya dengan tekun dan semangat yang berkobar, kita tinggalkan dulu Kwaa-han-bu dengan pelajaran dan latihannya, sekarang mari kita tengok kedaratan besar, tepatnya ihwal dunia kangowu selama dua tahun terakhir.
Keadaan Tionggoan, setelah dua tahun dalam kungkungan Pah-sim-sai-jin, kondisi kehidupan rakyat yang lemah memang babak bundas, disamping tindasan dan keberutalan kejahatan, mereka juga di tekan dengan pemungutan pajak yang mencekik, sendi-sendi perekenomian hancur, sehingga kemiskinan melanda, dan pada gilirannya melahirkan rampok dan pencuri, bajak laut dan para tukang pukul, metode hidup homo-homoni-lupus (manusia adalah serigala manusia bagi manusia lainnya) berlaku dikalangan masyarakat, ini semua dipicu lahirnya rasa putus asa, dan usaha mempertahankan diri dan tekanan hidup yang bertubi-tubi.
Ditengah kelamnya tirani pah-sim-sai-jin dengan hek- te nya, dunia kangowu dihentak dengan kabar pusaka pulau es, sehingga banyak kalangan ingin mendapatkan dan memilikinya, dengan demikian rimba persilatan pun marak dengan perlombaan untuk mendapatkan pusaka pulau es.
Pulau es adalah pulau yang terletak di wilayah utara tepatnya di laut kuning, sejak menjelang akhir dinasti Tang, pulau itu sangat terkenal, karena sebagian keluarga raja yang terlibat perang saudara berpindah kepulau es dan menetap disana, keluarga raja yang terkenal sakti dan berilmu tinggi, pulau es makin santer kedaratan besar ketika raja pulau es yang bernama Han-tiong sering berkelana ke daratan besar dan bertemu dengan banyak tokoh-tokoh kangowu.
Pulau es semakin menjadi buah bibir dan harapan kalangan persilatan dengan munculnya bukek-sian-su si manusia dewa yang diketahui berasal dari pulau es, Bukek-sian-su setiap tahun pada je-it musim semi membagi-bagikan ilmu kepada siapa saja yang bertemu dengan beliau, tanpa pandang pilih buluh, orang yang baik maupun yang jahat semuanya mendapatkan.
Kebiasaan Bukek-siansu itu di lanjutkan oleh muridnya yang orang kenal dengan sebutan Koai-lojin, guru dan murid itu tidak terikat dengan dunia, keduanya lepas dari beban penilaian, keduanya tidak terikat beban rasa, dan setahun yang lalu ketika Koai-lojin membagi-bagikan ilmu sebagaimana biasanya, terdengar berita pulau es muncul kembali setelah seratus tahun hilang, entah hilang atau berpindah tempat, memang pulau itu unik, uniknya adalah bahwa baik pasang maupun surut tingi permukaan laut tetap, jadi seakan pulau itu terapung, hanya jika badai besar datang melanda maka pulau itu terguncang dioambang ambing badai yang bisa jadi dia berpindah dan bahkan tenggelam.
Kemunculan pulau es menjadi daya tarik bagi kalangan kangowu, kalau bisa mendapatkan sumbernya kenapa harus mendapatkan dari cabangnya, kalau bisa dapat semua kenapa harus mendapatkan satu dua saja, demikianlah memang sifat nafsu manusia yang tidak kenal puas, oleh karena itu wilayah utara pun dibanjiri para pendatang, wilayah utara di datangi banyak orang kangowu dari berbagai kota.
Kota Kenlung sebelah utara kota yinchuan, kota ditepi pantai laut kuning dibanjiri banyak pendatang, jalan raya yang besar itu dilalui banyak orang yang hilir mudik, para wanita-wanita penghibur melembai- lambai dari ruangan atas rumah bordir memanggil mencari perhatian para kongcu yang lewat, diselingi senyum memikat dan tawa cekikan dengan aroma genit, sebagian ada yang tertarik dan memasuki rumah bordir Sebuah likoan yang megah yang bagian rumah makannya sangat besar dengan puluhan meja, rata- rata likoan, pokoan dan rumah bordir di tiap kota berdiri megah, karena tempat-tempat itu di kuasai oleh hek-te di setiap kota dan wilayah, likoan yang megah itu adalah milik The-kun, murid pertama dari pak-kek-hek-te di Yuguan, tamu yang datang hari itu sangat banyak, sehingga ruang makan yang luas itu penuh sesak.
Kebanyakan yang hadir itu adalah anak buah hek-te, diantaranya empat orang pemuda tampan utusan dari ngo-ok-hengcia pemegang kendali Lam-kek-hek-te di selatan, kemudian dua orang pemuda utusan dari see- kek-hek-te yang dipimpin oleh See-kwi-liong, dan empat orang wanita muda cantik utusan dari Tung- kek-hek-te yang dipimpin oleh im-kan-kok-sianli-sam, empat orang pemuda utusan dari pak-kek-hek-te yang dipimpin oleh Pah-sim-sa-jin sebagai pemegang utama seluruh hek-te.
Kemudian seorang kakek berumur enam puluh tahun berrnama cu-keng-in, seorang pertapa dari Luliang- san, setahun yang lalu ia mendengar akan munculnya pulau es, tekadnya terpatri untuk mendapatkan pusaka pulau es, sehingga ia dapat menundukkan sepak terjang dari tung-kek-hek-te yang banyak dikeluhkan penduduk desa dikaki Luliang-san, kemudian tiga orang lelaki umur empat puluh tahun yang datang dari lembah naga, ketiganya adalah bekas pimpinan piauw-kiok yang terpaksa gulung tikar, setelah terbentuknya Pak-kek-hek-te untuk yang kedua kalinya, berita pulau es membuat mereka bersemangat untuk memperkuat kesaktian dalam menghadapi kebrutalan Pak-kek-hekte.
seorang nenek tua berumur enam puluh tahun, bernama Sim-hong-lin dari teluk pohai, dua belas tahun yang lalu, ketika Pah-sim-sai-jin membentuk Pak-kek-hek-te di xining, suaminya yang seorang kauwsu ditewaskan oleh Pah-sim-sai-jin, dan dua anak gadisnya tewas setelah diperkosa berkali-kali, Sim-hong-lin saat itu tidak berada di rumah, karena ia sedang ke Yuguan untuk menemani menantu perempuannya yang melahirkan cucu pertamanya.
Kemudian dua orang muda berumur dua puluh empat tahun, keduanya dari lembah huai, dua orang kakak beradik yang menyimpan dendam kepada Pah-sim- sai-jin yang telah menewaskan keluarga mereka ketika dua belas tahun yang lalu.
kemudian seorang gadis cantik berumur dua puluh tahun, dia bernama siangkoan-lui-kim, dia berasal dari wilayah barat tepatnya dibukit ayam, di kota nanning, dia adalah putri seorang pendekar kenamaan dengan julukan kee-san-hiap (pendekar bukit ayam), setelah kehadiran Pah-sim-sai-jin, golongan pendekar bagaikan lampu yang mau kehabisan minyak, ketika mendengar munculnya pulau yang merupakan legenda tempat para dewa, Lui-kim bertekad untuk mendapatkan pusaka yang berada di pulau tersebut walaupun ayahnya melarang, tapi Lui-kim mengemukakan alasan bahwa tirani Pah-sim-sai-jin harus dilenyapkan, dan ini kesempatan baginya untuk mewujudkan semangat kependekarannya, ayahnya tidak bisa membantah sehingga dilepaskanlah putrinya untuk mencoba peruntungan.
Seorang pengemis berumur lima puluh tahun, bernama Tio-can, dia baru datang dari pegunungan himalaya, dan berguru pada seorang pertapa di arnapurna, setelah hampir dua puluh tahun, ia kembali kepedalaman tiongkok, dan berketepatan ketika memasuki kota Yangtse, Tio-can mendengar kemunculan pulau es, walaupun ia baru turun gunung, namun pulau legendaris itu tetap membetik minatnya untuk mencoba peruntungan.
Kemudian dua orang rampok dari Nancao, keduanya adalah bekas pimpinan piuwkiok yang jatuh miskin akibat kesadisan pah-sim-sai-jin, dengan kemunculan pulau es, maka berkobar semangat untuk mendapatkan ilmu-ilmu sakti, yang tentunya menguatkan kedudukan mereka sebagai rampok.
kemudian tiga orang bajak dari sungai huang-ho, mereka juga adalah bekas pimpinan piauwkiok yang bangkrut, mereka sudah beroperasi di sungai huang- ho selama lima tahun sebagai bajak yang menakutkan, semuanya yang hadir didalam likoan itu mempunyai harapan besar akan beruntung, mereka menunggu sampai tiga hari karena informasi bahwa laut kuning sedang bergelombang tingi, angin bertiup kencang dan bisa memicu badai, dan tiga hari lagi diperkirakan cuaca akan membaik.
Tiga hari kemudian, puluhan perahu layar bergerak dan melintas dipermukaan laut kuning, tokoh-tokoh yang tersebut di likoan the-kun, ada diantara puluhan perahu, suasana ramai layaknya sedang mengadakan arung jeram, perahu-perahu melintas dengaan cepat menunjukkan bahwa orang-orang diatas perahu memiliki sin-kang yang tinggi, dua orang tosu berada jauh didepan, mereka menaiki perahu saat masih malam hari Yap-sicu, jika dilihat dari peta ini, empat hari pelayaran dengan kecepatan angin lumayan kuat, akan sampai pada simpang tiga pulau, sesampainya disimpang tersebut kita mengarah pulau yang berwarna hitam, sehingga sampai sebuah batu karang, lalu mengarah kesebelah timur karang, dan satu hari kemudian akan sampai pada tumpukan karang es, nah ! disekitar itulah pulau es kalau begitu Khu-sicu, dalam dua hari kita bisa sampai pada simpang tiga pulau itu, marilah ! kita kerahkan kekauatan sehingga kita bisa samnpai setidaknya satu hari sebelum orang-orang. sahut Yap- kok benar Yap-sicu. ujar Khu-lam segera melatakkan peta ditangannya dan meraih dayung, perahu pun mereka dengan dayung dengan pengerahan sin-kang yang tinggi, sehingga perahu makin melaju kencang.
Dua hari kemudian, simpang tiga pulau itu sudah kelihatan, namun alangkah terkejutnya mereka, bahwa tiga perahu bajak ada di hadapan mereka dan sedang melempari tiga buah perahu kecil, dua perahu sudah terguling dan satu perahu masih bertahan, penghuni perahu itu adalah tiga lelaki dari lembah naga, sementara tiga perahu besar adalah miliki tiga orang bajak sungai huang-ho.
Tiga lelaki lembah naga berhasil masuk kedalam sebuah perahu bajak, kemudian terjadilah pertempuran diatas perahu, tiga bekas piauwsu bergerak cepat dan kuat, sehingga berselang setengah jam beberapa anak buah bajak banyak yang terlempar kelaut dengan luka yang parah, pimpinan bajak marah dan ikut mengeroyok tiga lelaki lembah naga, perlawanan sedikit alot dengan masuknya pimpinan bajak, namun sebagian anak buah bajak melompat keluar dan terjun kelaut untuk menyelamatkan diri, karena kapal mereka dipanah oleh bajak lain dengan api sehingga layar terbakar.
Sementara pimpinan bajak terus bertempur dengan ketiga lawannya, sehingga pada satu kesempatan dia membacok tangan seorang lawannya hingga putus, darah muncrat ditengah hawa panas api yang kian berkobar, namun pimpinan bajak tidak dapat mempertahankan nyawanya, dari intaian dua pedang lawannya, sehingga pedang kedua lawanya berhasil menusuk perut dan membacok kakinya Kedua orang dari lembah naga itu hendak melompat terjun, yang seorang tidak sempat menyelamatkan diri, karena balok tiang yang membara jatuh menimpa tubuhnya, dan seorangnya sempat menceburkan diri kelaut, namun malang ia lupa bahwa ia tidak pandai berenang, akhirnya ia tewas tenggelam.
Satu kapal bajak telah tenggelam, dua kapal bajak berlomba mengarah kepulau hitam, tiba-tiba kapal didepan memanah kapal dibelakangnya, sementara yang dibelakang membalas dengan melemparkan pelor-pelor sebesar buah kelapa menghantam dinding kapal hingga ringsek dan hancur.
pertempuran dua bajak sangat ramai dan seru, pekik dan perintah terdengar susul menyusul, sampai sore hari pertempuran itu berlangsung, dan bagi kedua kapal bajak setali tiga uang, yang satu tenggelam setelah dilalap si jago merah, dan yang satunya lagi juga tengelam karena kebocoran kapal yang parah, banyak mayat yang bergelimpangan terapung di permainkan riak gelombang, dan juga tidak sedikit yang masih hidup dan berenang menggapai pegangan.
Dua orang tosu tercenung memikirkan langkah selanjutnya, sementara beberapa perahu sudah datang dari belakang bagaimana Yap-sicu ? tanya khu-lam sebaiknya khu-sicu, kita tunggu saja disini, sampai bajak yang masih hidup merasa kelelahan dan kita bisa dengan tenang melintas. hmh begitupun bagus, tapi orang-orang yang dibelakang kita akan menyusul kita, setidaknya nanti malam. tidak apa-apalah, karena saat malam tiba, kita langsung bergerak. sahut Yap-kok, khu-lam mengangguk.
Saat siang berganti malam, dua orang tosu mendayung perahunya dengan hati-hati, keduanya dengan awas memperhatikan kedua sisi perahu, dan baru saja mereka sampai di areal pertempuran dua bajak, kapal mereka berguncang, gerakan mencurigakan terdengar dan kontan keduanya memukulkan dayung kearah dua bayangan tubuh yang berenang mendekati mereka, kedua orang itu kena hantam dayung hingga pingsan, namun kapal mereka masih bergoyang, dua tosu menggerakkan pedang mereka menyerang tiga orang yang hendak naik ke atas perahu mereka, ketiga bajak itu terjungkal kembali ke laut, sesaat suasana kembali tenang, keduanya tetap dalam kondisi siaga.
sebuah perahu mendekat, ternyata perahu yang dinaiki dua orang pemuda dari see-kek-hek-te, mereka melihat banyak mayat yang mengambang, dan melihat dua orang tosu dalam sebuah perahu ternyata dua tosu bau cela seorang pemuda hek-te, lalu memukul permukaan air laut, sehingga menimbulkan gelombang yang menggulung kearah perahu dua tosu, dua tosu melakukan hal yang sama dan gelombang laut bergerak menyambut gelombang yang datang, dan kedua gelombang pecah dan sisa gelombang menghantam perahu dua pemuda see- kek-hek-te.
sialan mari kita gulingkan perahu tosu bau itu sute ! teriaknya, lalu keduanya memukul permukaan laut, dan ternyata dua tosu sudah lebih dahulu memukul permukaan laut, dan dua gelombang tinggi menghantam perahu dua pemuda hek-te hingga terbalik, bahkan berulang-ulang dua tosu melakukan, sehingga kedua pemuda itu lelah dipermainkan gelombang buatan itu.
Kedua tosu tidak dapat lagi melakukannya, karena sebuah gelombang besar menghantam kapal mereka dari arah belakang dan untungnya datang dari belakang, sehingga mereka masih dapat mempertahankan keseimbangan kapal yang terlempar kedepaan, kedua tosu menoleh kebelakang, ternyata empat pemuda utusan Lam-kek yang membuat gelombang itu Mereka terus mengejar perahu dua tosu yang terlempar kedepan, dua tosu bersiap menghadapi segala kemungkinan, saat kedua perahu berdekatan, tiga pemuda melompat kekapal dua tosu dengan senjata ditangan, kedua tosu menyambut dengan cekatan, pertempuran seru terjadi di atas perahu layar yang kecil itu, sampai delapan puluh jurus pertempuran itu berlangsung, dan ternyata ketiga pemuda Lam-kek-hek-te terbentur menghadapi dua tosu yang kosen itu, mereka terdesak sehingga mereka menerima ciuman senjata tajam kedua tosu, dan mereka terlempar kedalam laut.
Pemuda hek-te yang masih di atas perahu hendak melarikan diri, namun dua tosu tidak membiarkannya, Khu-lam langsung melompat ke perahu dan menyerang pemuda keempat utusan lam-kek-hek-te, si pemuda berusaha melawan namun hanya dua puluh gebrakan dia terjungkal ditusuk pedang Khu- lam, Khu-lam mengambil alih perahu itu dan mendayung mendekati perahu mereka, enam orang hek-te terlalu menganggap remeh pada dua orang tosu kosen itu, kedua tosu berumur lima puluh tahun itu adalah dua pertapa dari Beng-san yang sudah mendalami ilmu sebelum para pemuda hek-te itu lahir.
Kedua tosu terus mendayung kedua kapal itu mengarah ke arah batu karang, dan dua jam kemudian mereka sampai, lalu memutar kearah timur, keduanya terus mendayung sampai pagi hari kita istirahat dulu dan mempertahankan arah perahu, setidaknya besok kita akan sampai kepulau es. ujar yap-kok dengan muka berseri-seri semoga saja tidak ada lagi halangan. sahut khu-lam berharap Empat perahu dibelakang mereka salin berlomba mendekat, dan keempat perahu itu di tumpangi oleh Cu-keng-in, Sim-hong-lin, tiga gadis utusan Tung-kek- hek-te dan dua orang pemuda lembah Huai, kemudian menyusul perahu yang di tumpangi Tio-can, melihat kedatangan Tio-can ketiga gadis utusan tung- kek-hek-te tertawa cekikan dan berkata sambil mencibir dua tosu bau, seorang nenek peot, seorang kakek ompong, seorang pengemis, dan dua orang pemuda tampan. semua yang disebut melihat pada tiga gadis cantik berdandan norak itu.
perempuan centil ! jaga mulutmu sebelum kurobek- robek. sahut Sim-hong-lin menegur dengan keras hik..hik.. nenek peot, pusaka pulau es untuk apa kamu ikut perebutkan, apa mau kamu bawa mati !? cela seorang dari gadis utusan tung-kek-hek-te itu urusanku dan apa pedulimu !? tantang sim-hong- lin sambil melototkan mata berkilat marah dan kalian masih bau kencur untuk apa kesini !? timpalnya lebih pedas hikhik liok-lim ini kami yang kuasai, dibawah panji thian-te-ong, siapa yang coba bermain api dengan kami, maka akan mati teriak gadis itu siapa itu thian-te-ong !? sela Tio-can hah..! kamu tidak kenal thian-te-ong yang sakti tiada terlawan dan menguasai seluruh jagad raya. teriak utusan tung-kek-hek-te kesal karena ada yang tidak tahu dengan raja mereka, semuanya juga melihat Tio- can dengan pandangan heran, Tio-can yang melihat orang semua memandangnya heran, maka dia tertawa hahahaha memang aku tidak kenal siapa itu thian- te-ong, apa dia sebangsa manusia, monyet atau siluman. ujar Tio-can, makin panas dan kesal hati ketiga gadis cantik mendengar bahwa raja mereka diperkirakan seperti monyet heh..! orang tua goblok, buta dan tuli..! brakk baru saja selesai sumpah serapah utusan tung-kek, perahu mereka hancur berantakan di pukul oleh Tio-can, dan ketiganya terlempar kelaut, seorang dari mereka tewas seketika, dua orang berenang menjauh dengan muka pucat awas kamu ya kalau sampai kuadukan kamu pada thian-te-ong maka kamu akan tahu rasa. sumpah mereka berdua sambil berenang, tapi sampai kapan mereka bertahan di tengah laut lepas itu adukan saja sana ! emangnya aku takut sama monyet yang kamu banggakan. sahut tio-can berselang bebrapa saat, sebuah perahu yang di tumpangi empat pemuda utusan pak-kek-hek-te mendekat, perahu itu didayung mendekati dua gadis yang melambai-lambai pada mereka ada apa ji-sumoi !? sudah..! tarik dulu kami kedalam perahu. sahutnya masih kesal, kedua utusan itu sudah saling kenal ketika berada di likoan The-kun bahkan bercinta sekalian, kedua gadis itu naik keperahu, kemudian empat pemuda kasak-kusuk dengan dua gadis sumoi mereka.
Tio-can dengan cuek mendayung perahunya melewati beberapa kapal lainnya sicu..! darimanakah asalmu sehingga kamu tidak kenal dengan pah-sim-sai-jin !? tanya Cu-keng-in, Tio- can menatap orang yang menanyanya sambil berhenti mendayung lo-sicu ! siapa pula Pah-sim-sai-jin, apakah Thian-te- ong dan Pah-sim-sai-jin adalah orang yang sama ? dan saya ini lo-sicu, memang baru turun dari arnapurna di himalaya. Sahut Tio-can hmh pantas kalau begitu, ketahuilah sicu ! tionggoan sudah mutlak dikuasai pah-sim-sai-jin atau thian-te-ong selama dua tahun. ujar Cu-keng-in menjelaskan wah luar biasa kalau begitu, tapi bagaimana bisa, bukankah she-taihap masih ada !? tanya Tio-can, semua orang untuk kedua kali menatap Tio-can.
dan kenyataannya sicu, Pah-sim-sai-jin telah menewaskan semua she-taihap di setiap wilayah, bahkan yang she-taihap di pulau kura-kura. jawab Cu-keng-in, Tio-can terkejut serasa tidak percaya hmh dan mereka itu anak buah Pah-sim-sai-jin !? Tanya Tio-can sambil menunjuk keperahu utusan pak- kek-hek-te benar, dan mereka itu belum apa-apa karena setidaknya mereka baru empat tahun belajar sela Sim-hong-lin.
sudahlah kalau begitu, dan terimaksih atas informasi lo-sicu. ujar Tio-can, lalu Tio-can mendayung kembali perahunya sehingga melejit, semuanya tersadar akan tujuan mereka, lalu kemudian merekapun mendayung dengan cepat, terlebih dua tosu yang merasa keduluan, dan kemudian beberapa perahu layar juga melintasi area itu, perahu-perahu- itu melejit laksana panah saling kejar mengejar Tio-can yang didepan merasa tertantang sehingga ia mengerahkan tenaga saktinya untuk mendayung perahunya, dan hasilnya lumayan karena ia mampu menambah jarak dengan perahu-perahu dibelakanngya, di belakangnya perahu Cu-keng-in bersama kapal dua tosu, kemudian kapal Sim-hong- lin, dan dibelakangnya perahu siangkoan-lui-kim yang bersamaan dengan perahu dua pemuda lembah huai, lalu perahu kecil yang padat ditumpangi enam orang utusan hek-te, lalu kapal-kapal lainnya yang susul menyusul.
Tiba-tiba tatkala sore hari hujan turun deras, orang- orang yang mendayung masuk kedalam gubuk perahu untuk berlindung, dan naasnya saat malam hujan turun makin deras, bahkan sudah bercampur tiupan angin yang kencang, pasang naik gelombang bergemuruh, sebagian kembali keluar untuk mempertahankan keseimbangan perahu, laut makin bergelora, suasana makin menegangkan dan mencekam, terlebih suara petir menggelegar susul menyusul menambah keguncangan hati yang menimbulkan kengerian yang menakutkan.
Tio-can berusaha sekuat tenaga bertahan dari amukan badai, beberapa perahu sudah terguling, tiupan angin yang sangat kencang menghalau gelombang setinggi lima meter, menggulung semua yang ada didepannya, Tio-can , Cu-keng-in, Sim-hong-lin, . dua tosu dan siangkoan–liu-kim yang masih bertahan, akhirnya lenyap di hantam dua gelombang besar yang menggulung susul menyusul.
Amukan badai, gemuruh gelombang, petir yang menyambar, hujan yang tertumpah bersatu padu dalam gelora gerak alam, dan ketika fajar menyingsing laut kembali teduh, kemilau permukaan laut laksana hamparan kaca emas ditimpa sang fajar, dipermukaan laut beberapa mayat yang terapung dipermainkan riak arus dalam laut, pecahan-pecahan perahu dan balok-balok layar juga berserakan, dan ditepi pantai sebuah pulau, lima jasad tergeletak, tiga jasad perempuan dan dua jasad laki-laki.
menjelang siang, dua dari jasad laki-laki siuman, lelaki yang pertama adalah dari utusan pak-kek-hek-te dan seorangnya adalah seorang lelaki dari dua bersaudara dari lembah huai, lalu setengah jam kemudian tiga wanita itu siuman, dua orang wanita itu adalah dua utusan Tung-kek-hek-te, dan seorang lagi Siangkoan- lui-kim. mereka berlima saling menatap, dan kemudian melihat kearah pulau, pulau itu berhutan lebat sehingga terkesan hitam.
ini bukan pulau es ujar lelaki dari lembah huai apapun namanya pulau ini, aku akan melihat, apa ada yang bisa diijadikan pengganjal perut. sahut Lui- kim sambil berdiri, pemuda lembah huai itu pun berdiri benar, aku juga akan melihat kedalam hutan untuk sekedar pengganjal perut. Ujar pemuda itu sambil menyusul Liu-kim.
keaadaan mereka yang memang berbeda haluan, spontan kelimanya terbagi dua kelompok siapakah namamu taihap !? tanya Lui-kim tiba-tiba aku Yo-hun dari lembah huai, dan kamu siapakah namamu lihap !? aku Siangkoan-lui-kim dari Nanning. menurut Yo-taihap pulau apakah ini !? tanya Lui-kim, belum lagi pertanyaan itu terjawab, keduanya tersentak kaget dengan munculnya ular belang kuning dan hitam yang sangat banyak mendesis disekitar mereka, keduanya sontak berkelit, namun menegerikannya beberapa ekor ular bergerak melayang terbang menyerang mereka, dengan sigap pedang mereka terayun sehingga enam ekor ular itu putus dan mati, tersebar bau amis tak sedap, perut yang lapar dan keroncongan itu terasa diaduk-aduk mau muntah, keduanya lari kembali kearah pantai.
Sementara ketiga utusan hek-te juga sudah memasuki hutan Ciong-suheng, ini bau apa yah kok demikian menyengat. aku tidak tahu Lin-sumoi. sahut Ouw-ciong, pemuda utusan dari pak-kek-hek-te bagaimana mau tahu Toan-lin, kita baru saja sampai disini dan mencium aroma menyengat ini. cela wanita rekannya bukan begitu Pouw-eng, karena bisa jadi, Ciong- suheng tahu, kan Ciong-suheng sudah banyak mencium, dan dia ahli dalam bidang itu. sahut Toan- lin mengerling Ouw-ciong sambil senyum aku sih ahli dalam mencium, tapi buka aroma seperti ini, tapi kalau aroma tubuh wanita banyak aku tahu. sela Ouw-ciong hik..hik apakah semua bagian tubuh wanita kamu ciumi Ciong-suheng ? tanya Toan-lin dan keduanya tertawa cekikan tentu dong, dan kalau mau bukti, sinilah biar kubuktikan. wekzmaunya, nggak mau ah, hik..hik. cela Pouw- eng, dan keduanya tertawa cekikian menggoda Ouw- ciong yang cengegesan.
Setelah agak jauh kedalam hutan, ternyata aroma itu dari sarang lebah berwarna merah, segera ketiganya menjauh terus masuk kedalam hutan hmh tidak ada satupun binatang buruan disini. sungut Toan-lin, kemudian terdengar desis binatang melata iiihh.. ular belang seru toan-in, ular-ular itu menyerang dengan ganas sambil terbang, ketiganya bergerak membacok dan berlari, mereka berlari bukan kearah luar hutan, tetapi berlari makin kedalam hutan mencari selamat.
Setelah setengah jam mereka berlari, lalu mereka beristirahat, Toan-lin bersandar disebuah pohon, demikian juga Pouw-eng, sementara Ouw-ciong merebahkan badan ditanah tidak jauh dari kedua wanita rekannya iihh..auww.: Pouw-eng dan Toan-lin menjerit ketakutan, bulu roma keduanya meremang karena tiba-tiba mata mereka melihat beberapa kepala mengerikan muncul dari semak belukar, kepala itu berwarna-warni, dan dalam sekejap mereka telah dikuriung sepuluh orang laki-laki aneh, wajah mereka berwarna warni, ada yang merah, hijau, kuning, biru, hitam, abu-abu, demikian juga tubuh mereka.
Ouw-ciong serta merta berdiri dan terheyak ketika melihat mereka telah dikurung orang berwarna-warni siapa kalian !? tanya Ouw-ciong dengan nada gemetar, tanpa menjawab tiga orang dari orang aneh itu bergerak, ketiga utusan hek-te berkelit, tapi anehnya mereka sudah tertangkap dan tengkuk mereka dipegang laksana menjinjing seekor kucing.
Kemudian mereka membawa ketempat kumpulan mereka yang terdiri dari pondok-pondok, bahkan ada pondok yang berada diatas pohon-pohon yang memang besar-besar, ketiga utusan hek-te melonggo dengan wajah pucat pias ketika mereka diletakkan ditengah lapangan, dan dua orang dari yang menawan mereka masuk kedalam, dan beberapa wanita dengan corak muka yang berwarna warni senyam senyum melihat mereka , kemudian seorang lelaki tua muncul, wajahnya berwarna warni ada merah , ada kuning dan ada hijau, dan tubuhnya juga demikian, dia berbeda dari orang-orang yang ada disekitarnya yang hanya satu warna.
Umur kakek itu enam puluh tahun, dia menatap tajam pada ketiga tawanan itu, ketiganya makin ngeri ketika beradu pandang dengan mata yang tajam itu kalian ini siapa, dari mana dan tujuannya kemana !? cepat jawab..! tanya si kakek sambil membentak, makin menggigil tubuh ketiganya, lalu Ouw-ciong dengan gemetar menjawab terbata-bata ka..ka.kami dari daratan besar, namaku Ouw-ciong, dan ini temanku Toan-lin dan Pouw-eng. heh..! dia she-Ouw, hu..huhu..huhu..hu kakek itu tiba-tiba menangis, suara tangis kakek itu disambut tangis anak buahnya, ketiga utusan hek-te main merasa takut dan ngeri melihat kumpulan orang aneh yang sedang menangis sedih untung kamu she-ouw, hu..hu..hu.. karena saya juga adalah she Ouw hu..hu , saya Ouw-jit raja pulau neraka, hu..hu,..hu.. ujar si kakek disela-sela tangisnya yang makin menguguk dan disambut tangis anak buahnya, Ouw-ciong melonggo, aku beruntung, tapi kenapa mereka menangis, padahal kalau raja ini she-ouw dan aku she-ouw tentu itu peretmuan yang menyenangkan, tapi kok malah menangis sedih begini, pikir Ouw-ciong bingung kalau aku beruntung, bagaimana dengan kedua temanku ini ? tanya Ouw-ciong kedua wanita ini bukan she-Ouw, jadi mereka harus di panggang hidup-hidup. Jawab Ouw-jit , tersedak Toan-in dan Pouw-eng mendengar bahwa mereka akan diupanggang tapi mereaka adalah temanku ! sela Ouw-ciong hmh apakah mereka kekasihmu !? tanya Ouw-jit, Ouw-ciong terdiam sejenak benar! mereka adalah kekasihku jawab Ouw-ciong hmh buktikan dulu kalau mereka ini kekasihmu. ujar Ouw-jit, Ouw-ciong menatap kakek itu bagaimana saya membuktikanya !? anak bodoh, masa tidak bisa membuktikan bahwa kedua wanita jelek ini kekasihmu, kamu jangan bohong, walaupun kamu she-ouw boleh jadi she-mu itu juga bohong ! ujar Ouw-jit dengan mata melotot ti..tidak aku memang she-Ouw, baik aku bisa membuktikan keduanya kekasihku. sahut Ouw-ciong dengan ketar-ketir dan wajah pucat.
Ouw-ciong mendekati Toan-lin dan Pouw-eng yang masih digeluti rasa takut ji-moi kalian ciumlah aku mesra. bisik Ouw-ciong, lalu keduanya bergantian mengecup pipi dan bibir Ouw- ciong, sedikit mereka mendapat kekuatan setelah tersentak birahi sehingga meredupkan rasa takut mereka, setelah adegan ciuman itu, Ouw-ciong menoleh pada Ouw-jit hah..itu bukan bukti anak goblok ! kalau cuma ciuman, semua kami disini menciumi perempuan yang ada. ujar Ouw-jit dengan mata berkilat, terbelalak ketiga utusan hek-te, dan hati mereka bergumam kalau ciuman belum bisa jadi bukti lalu apakah mereka harus bercumbu, ketiganya saling menatap ayok .. buktikan, kalau kedua wanita ini pacarmu, kalau tidak bisa, maka kamu sendiri akan kubunuh karena mencoreng she-Ouw dengan kebohonganmu. bentak Ouw-jit, Ouw-ciong sudah yakin bahwa bukti itu yang diminta, lalu segera dia memeluk Pouw-eng dan Toan-lin, merekapun bercumbu dan saling meremas ditonton orang-orang aneh setengah gila itu, setelah ketiganya telanjang, tiba-tiba mereka menangis bersama-sama.
Ouw-ciong dan kedua rekannya heran sehingga ketiganya berhenti teruskan..hu..hu..hu.. , teruskan. ujar Ouw-jit raja pulau neraka, lalu bermesum rialah Ouw-ciong, Pouw- eng dan Toan-lin di lapangan terbuka dan ditontton orang aneh sambil menangis, mereka memberi semangat pada Ouw-ciong hayo she ouw tekan yang kuat huu..hu, ya,. terus hu.hu ayok angkat kakinya hu..hu. ya begitu ..
hu..hu .
Mendengar keganjilan itu ketiga utusan hek-te yang saling pilin tidak bisa menahan ketawa, tapi tersedak karena spontan orang-orang aneh itu tertawa , hahaha..kamu kenapa she-Ouw apamu yang sakit, mereka spontan mendirikan ouw-ciong dan melihat bagian bawah ouw-ciong dan menatap tubuh Pouw- eng dan Toan-lin aku tidak apa-apa dan pacarku juga tidak apa-apa. sahut Ouw-ciong lalu tadi kenapa kamu menjerit kesakitan ? tanya Ouw-jit, Ouw-ciong dan kedua rekannya bingung, memang aneh orang-orang ini, sedih harus tertawa dan gembira harus menagis.
Dengan hati bingung Ouw-ciong kembali memeluk kedua rekan wanitanya, mereka melanjutkan permainan cinta dengan birahi yang bertalu-talu, ketiganya asyik dengan getaran-getaran nafsu, tanpa menggubris suara tangis disekitar mereka, Ouw-jit merasa senang, matanya yang berderai diusap-usap menyambut Ouw-ciong yang dianggap sebagai keluarga dan dua kekasihnya.
sebenaranya kalian ini mau kemana !? tanya Ouw- jit kami rencana mau kepulau es Ouw-ong. untuk apa she-Ouw mendatangi pulau yang sombong dan merasa baik sendiri dan gagah sendiri itu. cela Ouw-jit apa maksud Ouw-ong pulau es sombong dan baik sendiri !? tanya Pouw-eng heran huh..! maksud saya, penghuni pulau es itu kumpulan orang-orang sombong, walhal moyangnya juga tidak lebih dari bekas raja. jawab Ouw-jit mendengus geram bukannya penghuni pulau es itu kumpulan orang- orang sakti !? sela Pouw-eng kembali bertanya sakti-sakti ya, sakti tapi juga merasa hebat dan gagah sendiri sepertinya Ouw-ong benci dengan mereka. sela Ouw-ciong huh..! bukan saya saja yang benci dengan penghuni pulau es, bahkan nenek moyangku dan semua nenek moyang penghuni pulau neraka ini juga benci. sahut Ouw-jit dengan mendengus geram kenapa bisa nenek moyang penghuni pulau neraka benci ? tanya Toan-lin dulunya moyang kami juga berasal dari pulau es, namun karena moyang kami duhukum maka dibuanglah kesini, pulau ini adalah pulau pembuangan bagi pulau es. jawab Ouw-jit penuh dendam jika demikian, penghuni pulau neraka juga turunan orang-orang sakti. sela Pouw-eng benar sekali, makanya she-Ouw tidak boleh kesana laksana pengemis, disini juga banyak kesaktian yang tidak kalah dengan pulau es. sahut Ouw-jit banrakah Ouw-ong !? tanya pouw-eng benar sekali.. kalian boleh belajar ilmu-ilmu hebat disini dan aku akan membimbing kamu Ciong-ji, hu..hu..hu.. jawab Ouw-jit sambil menagis mengungkapkan kegembiraannya Ouw-ciong, Pouw-eng dan Toan-lin saling pandang mencoba memaklumi kegilaan perilaku itu, lalu keesokan harinya, Ouw-jit mengajak mereka ke sebuah tempat dalam hutan yang lebat, setelah sampai, ternyata tempat pekuburan sekarang.., coba tunjukkan sampai dimana kepandaian kalian ! perintah Ouw-jit, lalu Ouw-ciong memperagakan ilmu yang dipelajari dari pah-sim-sai- jin , pah-sim-sai-jin mengajari hek-te baru ilmu thian- te-cio-kang (telapak meledakkan jagat) , thian-te- toan-jiauw (cakar pemutus jagad) dua dari jurus thian-te-tin-hoat-chit dan ilmu pedang beng-cui-in- kiam (pedang bianglala mengejar arwah) hmh luar biasa tapi masih mentah, dari siapa kamu dapatkan ilmu itu !? ilmu ini dari raja kami di daratan besar, julukannya bagi kami adalah thian-te-ong. jawab Ouw-ciong hu..huhu luar biasa julukan itu, namun dia goblok dan tidak becus mengajar, atau kamu yang tolol, sehingga sudah seumuran kamu, hanya itu yang dapat kamu pelajari bukan begitu Ouw-ong, Thian-te-ong itu orang sakti tiada lawan, dia telah menguasai seluruh tionggoan, dan dia mengajar kami baru setahun tiga tahun. sahut Ouw-ciong membela haha..! tiga tahun kalau hanya itu yang kamu dapatkan, itu artinya Thian-te-ong itu tidak sepenuh hati mengajar kamu. cela Ouw-jit, Ouw-ciong terdiam sambil menggaruk kepala yang tidak gatal hu..hu.tapi tidak apa, setelah kamu disini dan dua kekasihmu, kalian dalam jangka lima tahun akan menjadi orang sakti luar biasa, huhu ujar Ouw-jit menambahkan, ketiganya tersenyum gembira heh kenapa kalian sedih, apa kalian tidak senang !? tanya Ouw-jit, ketiganya terkejut dan menyadari keadaan lalu merekapun menagis mengungkapkan kegembiraan.
Sementara malam itu dipantai diluar hutan pulau neraka, Liu-kim dan Yo-hun menelusuri pantai mencari tempat yang cocok untuk bermalam, ketika mereka sampai disebuah batu karang yang mencuat mereka melihat perahu yang terbalik, lalu mereka mengambil perahu itu dan menariknya kepantai kemudian membaliknya secepatnya kita tinggalkan pulau ini siangkoan-lihap, saya merasa tidak enak dengan tidak keluarnya tiga orang utusan hek-te itu dari hutan. benar Yo-taihap, marilah kita gunakan perahu ini untuk mencari tempat lain asal tidak dipulau berbahaya ini. sahut Liu-kim, lalu mereka menarik perahu itu kelaut dan menaikinya, dan dengan tangan telanjang mereka mendayung, perahu itu melaju meninggalkan pulau neraka.
Setengah malam mereka mendayung, lalu mereka istirahat dan membiarkan perahu itu dibawa arus, dan karena lelah mendayung dengan tangan setengah malam, mereka tertidur diatas perahu, dan ketika keduanya bangun, keduanya berada disebuah dipantai, dan mereka terkejut ketika seorang lelaki botak memandangi mereka kalian nyennyak sekali tidurnya. ujar lelaki botak itu siapakah lopek !? tanya Liu-kim aku seorang nelayan dan sedang mencari ikan, aku melihat perahu kalian terombang ambing mengarah pusaran maut, jadi aku tarik kepantai. terimakasih, dan nama lopek siapakah !? sela Yo- hun apa itu nama !? tanya orang itu heran, Liu-kim dan Yo-hun saling pandang heran kalian ini darimana !? dan kenapa bisa sampai kesini !? tanya sinelayan botak kami dari daratan besar, dan kami hendak ke pulau es, tapi malang kami di terpa badai. jawab Yo-hun lopek sendiri apakah penghuni pulau ini !? tanya Yo- hun bukan, saya hanya nelayan yang sampai kepulau kecil ini, saya dari pulau nelayan tak jauh dari sini, marilah singgah kepulau kami. jawab si nelayan sambil mendayung perahunya, Yo-hun dan Liu-kim pun hendak mendayung menyusul si nelayan, namun keduanya terkejut, karena tiba-tiba perahu mereka melejit laksana anak panah lepas dari busurnya ditarik perahu orang gundul yang mengaku dari pulau nelayan, dan hanya dua kali kayuh, mereka sudah sampai kesebuah tebing yang banyak terdapat tali bergelantungan Lelaki gundul itu melompat dari kapal dan menangkap tali dan luar biasa seperti cecak merayap cepat keatas, Yo-hun dan Liu-kim melonggo mendongak ketas, lelaki gundul itu melihat kebawah heh. Kenapa kalian belum naik . ayok.. ! naiklah serunya dari atas, Yo-hun dan liu-kim melompat dan menagkap tali kemudian berusaha naik merayap keatas, lelaki gundul itu heran, lalu dia menarik kedua tali dimana keduanya bergantungan, dan sekali betot, tubuh mereka melenting keatas, keduanya berpoksai untuk menurunkan daya luncuran, dan kemudian mereka mendarat dengan ringan Dengan menyimpan decak kagum, Yo-hun dan Liu- kim mengikuti si nelayan dari belakang berjalan ketengah pulau, dan sesampai diperkampungan nelayan, Yo-hun dan Liu-kim makin heran dengan kumpulan orang aneh itu, semua laki-lakinya botak dengan memakai cawat, sementara perempuan menutupi tubuh meraka dengan kulit kayu atau kulit binatang.
mereka disambut ramah oleh semua orang aneh itu, mereka ini kumpulan orang aneh yang tidak punya nama dan terbelakang, dan lelaki botak adalah ciri khas mereka, dan yang tidak kalah uniknya, semua mereka memiliki gerakan yang kuat dan cepat, seakan gerakan itu bawaan lahir, karena anak-anak mereka juga demikian cekatan dan kuat, dan rahasia luar biasa ini membetik niat Yo-hun dan Liu-kim untuk lebih jauh meegenal kumpulan orang-orang gundul yang bukan heuwsio ini.
lo-pek, kami melihat kumpulan nelayan ini memiliki gerakan luar biasa, tentunya kumpulan nelayan ini adalah orang-orang sakti lagi berilmu tingii. sela yo- hun kami memiliki tempat keramat yang kami datangi setiap hari, dan melihat-lihat gambar yang ada disana, dan itu yang kami tiru sejak turun temurun. sahut lelaki itu lo-pek, siapakah pimpinan dari kumpulan kalian disini !? tanya Liu-kim pimpinan ? kami tidak punya pimpinan, dan kami tidak perlu pimpinan. jawab si nelayan, Liu-kim dan Yo-hun saling pandang bolehkah kami ketempat keramat itu untuk melihat- lihat !? tanya Yo-hun penuh harap tidak tidak boleh, kalian disini hanya tamu dan bukan penghuni pulau. jawab lelaki itu tegas.
Tegambar wajah kecewa di wajah Liu-kim dan Yo- hun lo-pek, ditempat kami banyak terjadi kejahatan, dan kami harus menundukkannya dengan ilmu yang lebih tinggi, untuk itu kami berusaha mencari pulau es, namun gagal, dan kami melihat hal luar biasa disini, sekiranya di perkenankan kami ingin mempelajari ilmu yang dipelajari oleh para nelayan disini. ujar Liu- kim dengan nada membujuk apa itu kejahatan !? tanya lelaki itu, sehingga membuat keduanya melonggo kejahatan itu adalah . adalah tindakan orang untuk merugikan oleh orang lain. jawab Yo-hun kenapa orang mau berbuat seperti itu !? tanya lelaki itu, Yo-hun dan Liu-kim saling pandang, lalu Yo- hun berusaha menjawab karena manusia ditempat kami itu rakus, dan ingin menang sendiri, sehingga meraka berbuat jahat, Yo- hun berusaha menjelaskan, lalu keadaan hening bagaimana lo-pek dapatkah kami mempelajari apa yang dipelajari oleh para nelayan ditempat keramat !? tanya Yo-hun tidak boleh ! jawab lelaki itu dengan tegas, wajah keduanya sangat sedih dan kecewa, lelaki itu melihat wajah keduanya yang tertunduk dengan muka sedih dan lelaki itu mendiamkannya dan tidak berkata apa- apa, Yo-hun kembali menatap wajah lelaki gundul itu dan berkata lopek ! dapatkah kami mempelajari gerakan lopek sendiri !? lelaki itu terdiam dan memandang dua orang yang menataopnya penuh harap hmh bisa, tapi kalian tidak boleh tinggal disini. baik, kami akan tinggal di pulau dimana lopek menemukan kami, dan tentunya lopek setiap hari mencari ikan, bukan !? sela Lui-kim benar aku akan selalu singgah dipulau itu, aku tidak dapat mengajarkan tapi hanya dapat memberi contoh. sahut lelaki itu demikian pun sudah membuat kami senang lopek. sela Yo-hun Selama dua hari Yo-hun dan Liu-kim berada di pulau nelayan, setelah itu keduanya kembali kepulau dimana keduanya bertemu denagn si nelayan, dan sejak itu Yo-hun dan Liu-kim di datangi lelaki gundul untuk mencontohkan gerakan-gerakan silat pada keduanya, dan dengan penuh perhatian keduanya mencontoh gerakan-gerakan yang mereka lihat.
Disebuah pulau lain disekitar pulau neraka, tiga jasad tergeletak dipantai, ketiga jasad itu juga adalah korban badai yang mengamuk, tubuh ketiganya diombang ambing laut dan melemparkannya ketepi pantai, tiga jasad itu salah satunya sudah mati, ketiga jasad itu salah satunya perempuan tua, dua orang jasad siuman dan berusaha merayap menjauh air laut, keduanya adalah Cu-keng-in dan Khu-lam, sementara yang tewas adalah nenek tua Sim-hong- lin.
setelah merasa kuat, keduanya lalu menguburkan perempuan tua itu, dan kemudian memasuki hutan untuk mencari makanan, selama tiga jam mereka menjelajah hutan, akhirnya mereka menemukan ular besar berwarna kuning, ular besar itu pun di tangkap, lalu mereka panggang untuk mengganjal perut yang lapar darimanakah asal totiang !? tanya Cu-keng-in saya dari bengsan, lohap, dan lohap sendiri darimanakah !? saya dari Luliang-san. apakah rencana totiang dengan keadaan kita ini !? tanya Cu-keng-in saya akan membuat rakit untuk kembali kedaratan besar. sahut Khu-lam ide yang bagus, dan saya juga akan membantu totiang untuk membuat rakit, sehingga kita dapat keluar dari sini, ujar Cu-keng-in mengangguk membenarkan ide dari Khu-lam.
Dua hari kemudian, saat mereka mencari-cari kayu yang tepat untuk membuat rakit, mereka menemukan goa, lalu keduanya menemukan gambar- gambar orang bersilat didinding goa, mereka terus menelusuri dan akhirnya mereka menemukan sebuah nama yang bertuliskan Ouw-sian-kok, Ouw-sian-kok adalah putra tocu dari pulau neraka yang sezaman dengan Han-tiong suhu dari Bukek-siansu Keduanya saling berpandangan dengan pikiran yang berkecamuk gerakan-gerakan silat dalam gambar ini luar biasa unik dan rumit. ujar Cu-keng-in menurut saya juga demikian, mungkin kita tidak berjodoh dengan pulau es, dan kita berjodoh Ouw- sian-kok. sahut khu-lam benar .. sebaiknya kita pelajari dulu sambil mempersiapkan rakit. ujar Cu-keng-in, lalu mereka tinggal di dalam goa, untuk mempelajari jurus-jurus yang tegambar didinding menurut dasar ilmu mereka masing-amsing.
Sementara enam buah pulau dari tempat itu, dua buah jasad juga terdampar, namun seorang dari jasad itu sudah gembung, jasad yang mati adalah tosu she- yap, sementara yang masih hidup adalah Tio-can, Tio- can menguburkan jasad tosu itu dan memasuki hutan untuk mencari makanan, satu jam kemudian Tio-can mendapat seekor ular besar, Tio-can menengkap ular dan memangganynya, setelah kenyang ia kembali menjelajahi pulau lebih kedalam dan menemukan subuah goa yang banyak terdapat gambar-gambar orang bersilat didinding gua.
Dengan teliti Tio-can memperhatikan gambar demi gambar, dan disatu sudut tertera nama Bu-tek-lojin, butek-lojin adalah tokoh legendaris dari zaman lima wangsa, seangkatan dengan Kiam-mo-taisu, seorang tokoh kate yang bersikap angin-anginan, dan membawa maunya sendiri, tokoh yang tidak memiliki pendirian, wajah Tio-can berseri-seri, dengan semangat menyala-nyala Tio-can mempelajari jurus- jurus yang terlukis di dinding goa.
Didaratan besar tepatnya di Yuguan sedang diadakan pertemuan besar antara sesama hek-te, ini merupakan pertemuan pertama, setelah Pah-sim-sai- jin membagi-bagi pemegang komando kepada rekan- rekannya, sebenarnya pertemuan itu bukan peretmuan umum, hanya pestanya saja yang berlaku umum, setelah pesta diadakan tiga-hari tiga malam, pah-sim-sai-jin mengajak sembilan rekannya untuk mengadakan pertemuan tertutup.
See-kwi-liong dari barat, Ngo-ok-hengcia dari selatan, Im-kan-kok-siali-sam dari timur, dan Pah-sim-sai-jin sendiri dari utara setelah tiga tahun, kita dapat lagi berkumpul untuk membicarakan perihal hek-te disetiap wilayah, dan sekaligus akan membivarakan rencana pengembangan kedepan. ujar pah-sim-sai-jin, dan semua rekannya diam dan memperhatikan pertama-tama yang ingin saya ingin ketahui adalah jumlah hek-te disetiap wilayah, sekarang berapa jumlah Lam-kek-hek-te, ngo-ok-hengcia !? tanya Pah- sim-sai-jin menatap kelima ngo-ok hengcia Lam-kek-hek-te berjumlah sembilan ratus orang Thian-te-ong. jawab Lu-tiok, kemudian pah-sim-sai-jin menetap See-kwi-liong See-kek-hek-te berjumlah delapan ratus thian-te- ong. sahut see-kwi-liong Tung-kek-hek-te berjumlah tujuh ratus thian-te-ong sela Lou-si-sian hmh..berati jumlah semua hek-te diseluruh wilayah adalah tiga ribu empat ratus orang, karena jumlah Pak-kek-hek-te sebanyak seribu orang. ujar Lu-koai kemudiah hal apakah lagi thian-te-ong ? tanya Li- ceng-si dan yang kedua, apa kalian juga mengutus murid ke pulau es setahun yang lalu !? benar thian-te-ong. jawab see-kwi-liong kami juga mengutus. sela Lu-eng-hwa kami juga sela In-kok-cu lalu bagaimana hasilnya !? tanya Pah-sim-sai-jin sampai hari ini, tiga utusan yang kutunjuk tidak kembali. jawab Lou-si-sian utusan kami juga demikian sahut Liem-bouw dan Toan-sin berberengan hmh artinya semua utusan kita tidak kembal , dan itu artinya misi kepulau es gagal ujar Pah-sim-sai-jin lalu apa rencana dari thian-te-ong !? tanya Lu-tiok begini, saya ingin supaya kalian disetiap wilayah, mengambil seorang murid khusus, untuk kalian warisakan ilmu yang ada pada kalian, dan sembilan orang itu akan kita adakan pibu tiga tahun mendatang. sahut Lu-koai kami akan lakukan Thian-te-ong. jawab mereka serempak bagus.. dan besok kita akan adakan pibu sepuluh orang terkuat dari masing-masing wilayah, dan empat yang terkuat dari empat puluh orang itu akan kujadikan murid khusus. ide yang sangat cemerlang Thian-te-ong. sela Lu- eng-hwa, yang lain pun mengangguk.
Kemudian pertemuan itupun selesai, dan pesta kecil dilakukan sebelum mereka keluar dari pertemuan itu, tiga wanita cantik separuh baya dikerubuti tujuh lelaki yang sudah tergolong tua, tawa genit dan cekikan nakal menghiasi permainan yang semakin panas, Li- ceng-si menggelinjang tidak karuan diremas tiga lelaki tua, sementara Lou-si-sian sudah bermain kuda- kudaan sambil cekikikan dengan tiga lelaki lain, dan disebelah lain Lu-koai merejang Lu-eng-hwa dengan penuh birahi yang menggelora, memang kemesuman merupakan bumbu paling nikmat dikalangan manusia mesum dan bejat, seperti sepuluh orang yang sedang berpesta maksiat sampai lewat malam.
Dan keesokan harinya pibu pun dilaksanakan, sepuluh orang terkuat dari tiap wilayah di adakan pibu, pibu berlangsung sangat meriah dan seru, pemuda-pemuda tampan dan gadis-gadis cantik saling menunjukkan kebolehan mereka selama ini, pibu itu berlangsung hampir sebulan, dan akhirnya didapatkan empat calon terkuat diantara seluruh hek-te, empat terkuat itu semuanya laki-laki, yaiti Ciu-tong dan Gu-can-lung dari Pak-kek-hek-te, Ma-tin-bouw dari See-kek-hek-te dan Liu-sam dari Lam-kek-hek-te.
Setelah pibu selesai, maka kembalilah Hek-te ke wilayahnya masing-masing, empat orang yang terkuat, sejak itu tinggal di bimbing ketat oleh Pah- sim-sai-jin, dan disamping keempatnya, Pah-sim-sai- jin mengambil seorang murid perempuan untuk dijadikan murid kelima yang bernama Can-hang-bi, sementara sembilan rekannya mengambil murid seorang satu untuk diajar ketat dan penuh perhatian.
Luar biasa memang cara berpikir Pah-sim-sai-jin untuk membina dan membentuk kekuatannya, metode membuat penjahat yang diprakarsai dengan mengambil generasi muda, dan generasi muda yang masih labil dan rasa ingin tahu besar serta rasa ingin mencoba yang kuat diarahkan pada nilai-nilai kehidupan menyimpang dan mengarahkan pada kemesuman Generasi yang merupakan pagar kekuatan masa sekarang, dan corak harapan terbaik masa depan telah di racuni oleh Pah-sim-sai-jin, pemuda- pemudanya diracuni pertimbangannya sehingga cendurung pada pelampiasan nafus yang tidak kenal batas, sementara pemudinya diracuni rasa malunya sehingga cendrung memamfaatkan daya tariknya yang memang luar biasa untuk menundukkan lawan jenisnya, asusila menjadi kebanggan, menonjolkan diri merupakan kebiasaan, melapaskan segala keinginan merupakan keharusan.
memprihatinkan memang generesai yang terbentuk pada tangan orang seperti Pah-sim-sai-jin, nilai kemanusian hilang, harga diri terhempas berkecai remuk, potensi hati yang dimiliki hanya untuk meraih senang, menang, dan kenyang, potensi pikir hanya untuk melakukan sesuatu yang licik, picik dan jijik, dan sementara jiwa hanya untuk menonjolkan penyangkalan, penistaan dan pembodohan diri.
Inilah bentuk dan warna pembinaan Pah-sim-sai-jin dalam hek-te disetiap wilayah, tentunya pola ini akan membumi hanguskan sendi-sendi kemanusiaan, dan jika dilihat dari latar belakang pah-sim-sai-jin sendiri, dia seorang manusia yang lahir tanpa identitas jelas, dan lingkungannya yang dikelilingi hal yang memabukkan, madat, arak dan kemesuman, dan ironisnya Lu-koai sendiri sepi dari bimbingan rohani dan kasih sayang.
Dan terlebih dari itu, kerawanan masa kecil Lu-koai di topang oleh kekuatan luar biasa untuk mewujudkan kecenderungan yang membentuknya, sehingga tersalur tanpa hambatan dan tanpa kendali, dan ironisnya, itu menjadi prinsip hidup yang dia paksakan pada setiap orang, dan hal itu sedang tumbuh dan perkembang dalam pengayomannya.
Tiga tahun kemudian, pertemuan kedua pun diadakan, setelah pesta pertemuan sehari semalam yang penuh dengan kemaksiatan, maka pibu pun dilakuakn, semua murid hadir di lianbhutia , di lapangan tersebut sudah didirikan panggung yang dikelilingi dan dikerumuni atusias oleh murid-murid pertemuan pibu kita kali ini adalah untuk mengadu antara murid-murid sepuluh pimpinan Hek-te. ujar Liem-bouw yang diserahi tugas memandu acara, semua murid bersorak gembira nahmarilah kita mulai pibu ini, kepada sepuluh murid pimpinan hek-te supaya segera naik ke atas panggung.. seru Liem-bouw, tanpa menunggu lama, sepuluh bayangan muncul diatas panggung, mereka terdiri dari empat wanita dan enam laki-laki, salah satu wanita adalah Can-hang-bi murid Pah-sim-sai-jin, sementara tiga yang lain adalah murid Im-kan-sianli- sam Setelah diatas panggung, otomatis mereka yang berdekatan saling berhadapan, lima pasang pibu sudah siap, lalu see-kwi-liong memberi aba-aba, lima kelompok pertempuran pun berlangsung seru dan meriah, masing-masing dari mereka mengerahkan seluruh kemampuan yang untuk menundukkan lawan, dan uniknya pibu itu, bahwa lawan pertama belum tentu akan menjadi lawan seterusnya, karena diantara mereka sering berganti lawan, ketika serangan melenceng ke tubuh lain, sehingga pertemuan sesaat itu terus berlanjut sehingga lawan pun berganti, atau bahkan ada diantara mereka yang kembali berhadapan.
Pibu itu memeng centang perenang, tapi sangat seru, karena prinsipnya bahwa siapa saja adalah lawan, aturan pada pibu ini sehingga berjalan baik adalah tidak boleh mengeroyok, jadi hal yang terjadi hanyalah berganti-ganti lawan, atau kembali menghadapi lawan yang sama, semua murid menonton sambil berteriak riuh rendah Setelah tiga jam akhirnya sepuluh murid muda itu berhenti, hasilnya sangat membanggakan, sepuluh murid itu memperlihatkan kebolehan yang sangat luar biasa dan rata-rata mereka imbang, hanya memang harus ada yang terkuat dan itu dipegang oleh Can- hang-bi murid kelima dari Pah-sim-sai-jin, setelah pibu pertama selesai, pesta kembali diadakan sampai larut malam, dan keesokan harinya pibu yang kedua dilakukan yakni antara empat murid utama pah-sim- sai-jin.
Empat murid utama tampil dan dua kelompok pibu pun berlangsung, gerakan-gerakan jitu dan luarbiasapun di demonstrasikan, gerakan pancingan yang penuh dengan bahaya dikeluarkan, deru pukulan sakti saling beradu mebuat panggung bergetar, semuanya disambut dengan sorak riuh rendah dari murid-murid, sementara Pah-sim-sai-jin memperhatikan semua gerakan empat muridnya yang sedang berpibu.
Empat jam kemudian, pibu pun berhenti, keempatnya seimbang , dan sekarang diakhir pibu keempatnya sama-sama lemas kecapean, tepuk gemuruh menyambut ketika see-kwi-liong menghentikan pibu, empat murid menjura kearah Pah-sim-sai-jin, setelah itu pesta kembali dilanjutkan sampai jauh malam.
Pada hari ketiga, Pah-sim-sai-jin memimpin pertemuan pertemuan kita kali ini sangat menggembirakan dan membanggakan, dimana pibu-pibu yang telah kita lakukan dan saksikan memberikan hiburan yang amat menyenangkan. ujar Pah-sim-sai-jin melihat semua hadirin dengan senyum bangga. semua murid menyambut dengan tepuk tangan yang bergemuruh Pada pertemuan hari ini, saya akan menggambarkan formasi kepemimpinan hek-te secara umum maupun secara khusus. kami siap mendengarkan thian-te-ong. sela Liem- bouw dengarlah ! formasi hek-te secara umum yang pertama adalah pemimpin besar Hek-te, yakni saya sendiri Thian-te-ong, kemudian dibawah saya ada pimpinan kedua yakni thian-te-bo-kiu (sembilan biang jangad) mereka adalah Ngo-ok-hengcia , Im- kan-kok-sianli-sam dan See-kwi-liong, dan dibawah mereka adalah thian-te-mo-si (empat setan jagad), mereka adalah empat murid utamaku, inilah formasi hek-te secera umum. lalu bagaimana formasi yang khusus Thian-te-ong ? tanya Lou-si-sian formasi khusus adalah formasi yang berada di setiap wilayah, yakini, pimpinan wilayah, yang tentunya dipegang oleh kalian sembilan, dibawah kalian adalah cap-pi-kwi (sepuluh lengan iblis), itu gelar saya berikan kepada kesepuluh murid kita, dan yang terakhir adalah hek-kek-bun (pintu kutub hitam) gelar itu diberikan kepada setiap murid kepala disetiap hek-te dan jumlah mereka itu ada empat puluh orang, masing-masing sepuluh orang tiap wilayah. Jawab Lu-koai, semuanya mengangguk.
Setelah itu pesta pun di gelar kembali, sampai pagi, sementara sepuluh orang pentolan hek-te di sebuah kamar luas mengadakan pesta khusus kalangan pimpinan, tanpa kenal puas sepuluh orang itu mereguk kenikmatan-kenikmatan yang melelapkan, selama seminggu pesta dengan tema mesum itu berlangsung, kemudian masing-masing komando kembali lagi ke wilayah masing-masing.
Kembali kita kekota Ken-lung, kota di pantai laut kuning, disebuah likoan yang megah dan indah Tio- can sedang bersantap didalam likoan The-kun, setelah empat tahun mempelajari ilmu penginggalan Butek lo- jin, kesatiannya makin maju pesat, gin-kangnya naik beberapa tingkat, dan sin-kangnya semakin kuat, dan ilmu yang dia pelajari di dinding goa adalah jit-goat- sin-ciang (pukulan sakti bulan matahari) dan jit-goat- sin-lun (roda sakti bulan matahari).
Tio-can meninggalkan pulau dengan dua bilah kayu yang dipasang pada kakinya, lalu ia melompat ke atas permukaan laut, dan luar biasa sekali, Tio-can meluncur dan berlari diatas permukaan air laut, Tio- can amat takjub dengan dirinya, Tio-can senyum terkulum mengucapkan selamat pada dirinya, karena mendapatkan ilmu yang luar biasa itu Selama dua hari Tio-can di permukaan laut, kadang dia berhenti disebuah karang untuk istirahat, kadang disebuah pulau, sesampai didaratan besar, orang banyak di tepi pantai, yang meyaksikan kedatangannya dari tengah laut melonggo tercengang, bahkan ada yang berlutut bahwa dewa laut sedang melintas didepan mereka.
Tio-can senyam-senyum melihat tingkah para nelayan, dan Tio-can makin geli hatinya, ketika tangannya menggondol pundi uang seorang penjual ikan, yang baru saja menerima uang hasil penjualannya satu ember ikan cucut, tanpa ia disadari karena sanking terkesimanya melihat Tio-can, Tio-can menghilang dari pendangan mereka, semakin terbelalak mereka, sehingga makin membuat para nelayan menyembah- nyembah.
Tio-can sudah berada didalam kota, dan sedang menyantap makanan di likoan The-kun, enam anak umur lima dan enam tahun mendekati likoan, dan berdiri sambil menadahkan tangan pada orang yang keluar masuk likoan, kehadiran anak-anak itu membuat dua orang tukang pukul hartawan muda she-The berdiri dan mendekat heh..! kalian anak-anak malas, sana..! enyah dari sini ! kasihanilah kami paman, sudah dua hari ini kami tidak makan. suara seorang anak memelas membujuk lah..! kok membantah, mau kutampar ya ! hah mau ditampar !? sahut tukang pukul sambil mengangkat tangannya yang kuat dan kekar, anak-anak itu menjauh, tapi masih disekitar likoan, tukang pukul yang tadi mengancam melangkah mendekati enam pengemis cilik ittu, dan kontan saja keenamnya lari tunggang langgang.
Kedua tukang pukul itu tertawa melihat enam pengemis cilik yang tunggang langgang, dan hegh keduanya tersedak karena menelan benda keras, mulut mereka berdarah ternyata dua gigi depan mereka ambrol dan menghantam tenggorokan dan bahkan tertelan, namun tersangkut ditenggorokan, kontan keduanya berusaha memuntahkan dengan mencolok tenggorokan, kemudian muntahlah keduanya berkali-kali, hingga isi perut keduanya kosong, muntahan keduanya bercampur darah karena gusi yang berdarah.
Wajah keduanya pucat, dua gigi seri bagian atas ompong, nampak lucu muka keras dan bercambang itu, tenggorokan mereka masih terasa nyeri dan asam, keduanya didekati empat rekannya kalian ini kenapa !? tanya pimpinan tukang pukul ada yang melempar sesuatu kemulut kami twako. jawab seorang dari keduanya dengan muka marah, mereka mencari-cari benda apa yang menghantam mulut dua orang rekannya, dan mereka melihat dua patahan sumpit hmh ada tamu yang coba-coba menghina kita. ujar pimpinan tukang pukul itu, lalu mereka masuk kedalam likoan dan memyapu pandangan pada setiap tamu.
sebelum kami paksa, lebih baik kalian mengaku, siapa yang telah coba menghina anak buah kwi- eng (si bayangan iblis) The-kun. teriak pimpinan itu dengan keras, semua tamu saling melihat, namun semuanya diam kalau tidak ada yang mengaku, kalian tidak boleh ada yang keluar sebelum ada keputusan dari siauw- ya.! ujar pimpinan itu sambil keluar dan memasuki sebuah bangunan bertingkat dimana The-kun tinggal, tidak lama kemudian The-kun muncul dengan wajah bengis dan marah.
siapa yang telah menghina anak buahku, cepat mengaku sebelum kalian semua aku sembelih ! bentak The-kun dengan muka merah menatap tajam pada semua tamu yang tunduk dengan wajah pucat, tiba-tiba Tio-can berkata aneh sekali kongcu, anak buahmu terluka di luar, kok mencari pelakunya didalam sini ? The-kun dan enam anak buahnya memandang Tio-can yang bersikap cuek, dan The-kun kembali memandang anak buahnya siauwya, kamu mencari pelaku didalam, karena yang menghantam gigi dari kedua rekan ini adalah patahan sumpit. ujar pimpinan tukang pukul membela diri.
The-kun melihat sumpit Tio-can, dan tio-can malah menggoyang-goyang sumpitnya sambil senyam- senyum, dua sumpit bekas pakai yang dipegang Tio- can itu pendek, naik darah The-kun melihat muka Tio- can yang senyam-senyum, The-kun segera menyerang Tio-can, namun yang diserang hilang dari kursinya, sehingga pukulan The-kun menghancurkan kursi, dengan marah The-kun malah melemparkan meja kearah kilas bayangan Tio-can yang menghidar kesebelah kiri brakk.. meja yang melayang itu menghantam seorang anak buahnya dan untungya disambut dengan pukulan hingga hancur, Tio-can pringas-pringis melangkah keluar, The-kun menerjang cepat namun tetap saja luput, Tio-can sudah jauh mencelat kehalaman likoan, The-kun tidak mau sudah, ia terus merangsak dengan amarah memuncak, Tio-can tiba- tiba bergerak membalas dengan ilmu yang dipelajarinya di arnapurna, pertempuran seru dan gesit pun terjadi, keduanya saling menekan dengan trik serangan berbahaya, pada jurus ke delapn piluh The-kun terdesak hebat, dia berusaha mengelak dari gencarnya serangan Tio-can, hingga pada jurus keseratus, The-kun terlempar dengan perut melilit, karena dicium tendangan Tio-can, The-kun muntah- muntah, bahkan terakhir memuntahkan darah, sehingga The-kun pingsan.
Enam anak buahnya datang menyerbu secara bersamaan, dengan gerakan ringan, Tio-can menyambut enam serangan dengan kibasan tangan dan tendangan yang penuh tenaga sin-kang, tak ayal dalam lima gebrakan, Tio-can sudah merobohkan mereka dengan luka patah tulang dan tulang remuk.
Orang-orang dipasar menjadi gempar melihat kejadian itu, dimana The-kun sebagai murid kepala Pak-kek-hek-te, dan dalam hirarki kepengurusan hek- te, The-kun itu termasuk hek-kek-bun dan hari itu hartawan muda yang merasa memiliki dunia itu kena batunya, dia tergeletak pingsan ditonton orang banyak, sementara Tio-can sudah melenggang meninggalkan tempat itu.
Para nelayan yang melihat Tio-can terpana, sehingga mereka berbisik-bisik membicarakan Tio-can, dan dua hari kemudian, dari hembusan bisik-bisik warga kota Keng-lun tentang Tio-can dan kejadian yang menimpa The-kun, muncullah sebuah julukan yang di alamatkan pada Tio-can dengan julukan Ui-hai-sian- (dewa laut kuning), The-kun yang kena batunya terpaksa harus terbaring selama seminggu, karena luka dalam yang dideritanya.
Hari itu The-kun duduk dimeja tempat pembayaran, dan memantau tamu-tamu yang datang, keadaanya sudah pulih tiga hari yang lalu setelah terbaring seminggu, dua orang kakek memasuki likoan The-kun, keduanya adalah Cu-keng-in yang sudah berumur enam puluh empat dan khu-lam yang berumur lima puluh empat tahun, selama empat tahun, mereka mempelajari jurus yang dilukis oleh Ouw-san-kok, anak ketua pulau neraka generasi kedua, buangan dari pulau es, dan ilmu yang meraka pelajari adalah te-yang-sin-ciang (pukulan sakti inti bumi) dan jit- yang-kiam (pedang inti matahari).
Setelah tammat mempelajari seluruh lukisan, keduanya berlutut di depan mulut goa ouw-suhu, saya Cu-keng-in dan sute Khu-lam akan meninggalkan pulau, kiranya apa yang kami pelajari dapat berguna bagi banyak orang. ujar Cu-keng-in dengan hikmat, Cu-keng-in menghadirkan Ouw-san- kok, suhu mereka didalam benaknya, demikian juga dengan Khu-lam yang juga berlutut disampingnya.
Setelah itu keduanya meninggalkan goad an menuju kepantai, sebuah rakit buatan mereka sudah siap di tepi pantai, kemudian keduanya menarik rakit yang sudah dua tahun selesai, dan juga sudah dipergunakan selama ini untuk menagkap ikan dilaut untuk makanan mereka, keduanya naik keatas rakit, dan menatap lama pada pulau dimana sudah empat tahun meraka diami kita berangkat sekarang in-suheng !? tanya Khu-lam ya.. marilah Lam-sute. sahut Cu-keng-in, lalu keduanya menggerakkan dayung yang disalurkan sin- kang dahsyat luar biasa, bagaikan permadani terbang, rakit itu meluncur di permukaan laut, dan dua hari kemudian, setelah daratan besar kelihatan, mereka memperlambat laju rakit dan tidak ingin mengambil perhatian para nelayan yang berjubel di pantai dengan kesibukan masing-masing.
Keduanya mendarat dan meninggalkan pantai, lalu memasuki kota untuk mencari likoan, likoan The-kun juga yang meraka masuki, seorang pelayan mendekati dan mempersilahkan mereka duduk, The- kun yang berada di meja pembayaran menatap kedua kakek itu dengan curiga, sejak dia dipencundangi Ui-hai-sian, The-kun menjadi curiga pada setiap wajah baru, The-kun memanggil pelayan yang tadi melayani Cu-keng-in dan Khu-lam setelah mereka selesai makan, kamu tanya mereka darimana ! ujar The-kun baik siauw-ya sahut pelayan dan segera kembali bekerja.
Setelah Keng-in dan Khu-lam selesai makan, pelayan mendekati keduanya jiwi lopek.., kalian ini darimanakah ? Tanya pelayan dengan seulas senyum ramah, namun nada pertanyaan yang curiga itu demikian kentara pada penglihatan dua orang sakti itu, Khu-lam menatap pelayan itu dengan tatapan heran saya dari Beng-san dan suheng saya ini dari Luliang- san. jawab Khu-lam lalu apa urusan kalian datang kekota Ken-lung ini ? tanya pelayan pelayan mau tahu urusan orang, ada apakah !? tanya Khu-lam dengan nada jengkel siauw-ya kami, merasa penting untuk mengetahui urusan setiap tamu di Ken-lung ini, karena kota ini dibawah kendalinya. jawab pelayan apakah siauw-ya mu juga kungcu Ken-lung !? tanya Khu-lam tidak, tapi siauw-ya adalah murid kepala dari Pak- kek-hek-te, dan oleh Thian-te-ong, telah memberikan kota ini dibawah kendali siauw-ya. lalu dimanakah tuanmu itu sekarang ? tanya Khu- lam, si pelayan salah duga, dikiranya pertanyaan itu karena jerih itu dimeja pembayaran, jadi kalian jangan macam- macam kalau mau selamat. jawab pelayan itu mengeloyor pergi.
suheng, hari ini kita akan mulai melakukan tugas, dan kita mulai dari murid kepala Pak-kek-hek-te ini. ujar Khu-lam benar sute, berikan sedikit pelajaran padanya, untuk menghantam mental jumawa yang diwarisinya. sahut Cu-keng-in, Khu-lam berdiri dan melangkah mendekati meja seakan hendak membayar makanan, The-kun pasang aksi, karena dia mendengar dari pelayannya, bahwa mereka adalah saudara seperguruan dari Luliangsan dan Bengsan, dan mereka jerih dengan Pak-kek-hek-te yang mana dia sebagai murid kepalanya.
semua makanan kalian tujuh tahil. ujar The-kun langsung sebelum Khu-lam bertanya, suara The-kun lantang sambil memasang wajah tajam, namun Khu- lam tersenyum hari ini kami makan tidak bayar, akan tetapi akan kami bayar dengan memberikan pelajaran berharga padamu. sahut Khu-lam, muka The-kun berubah merah, dan amarahnya meledak, The-kun berdiri dan alangkah terkejutnya ia, karena dia tidak dapat menahan tubuhnya yang dibetot dari kursi dan dilemparkan, sehingga ia melabrak tiang likoan hingga patah bangsat ! teriak The-kun segera berdiri dan menyerang Khu-lam, pertempuran serupun terjadi, Khu-lam menggunakan ilmu yang dia tekuni selama ini di Bengsan, dan karena setiap gerakan mengandung sin-kang yang luar biasa, dan didasari ging-kang yang tinggi, maka jurus-jurus lama yang ia memiliki meningkat tujuh kali lipat, dan bagi The-kun yang memang juga bukan orang sembarangan, masih dapat mengimbangi jurus-jurus Khu-lam, tadi Khu-lam dapat melemparkan The-kun dengan mudah, karena Khu-lam melakukan dengan cengkraman ilmu yang dia dapat dalam goa.
Setelah pertempuran berjalan seimbang, Khu-lam mengeluarkan ilmu barunya, dan tidak ayal pada jurus ke lima puluh, perut The-kun kena cakar, dan tidak hanya itu, dadanya menerima hantaman pukulan yang mengandung hawa panas, takpelak The- kun memuntahkan banyak darah segar dan pingsan seketika, karena ususnya serasa robek, jantungnya serasa terpanggang.
Semua pengunjung yang sedang makan terkejut, untuk kedua kalinya The-kun yang sakti, dengan julukannya yang mentereng, kwi-eng kembali pingsan setelah sepuluh hari yang lalu dipecundangi orang baru, para pelayan terperangah dan langsung mendekati The-kun, kemudian menggotongnya kedalam.
mari suheng kita berangkat ! seru Khu-lam, Cu- keng-in berdiri, dan keduanya meninggalkan likoan, berjalan menuju kegerbang kota sebealah barat, likoan jadi gempar, dan pelayan yang tadi menjadi jara juru The-kun pucat ketakutan siapakah mereka tadi ? tanya tukang pukul keduanya saudara seperguruan, yang satu dari Luliangsan dan yang satunya lagi yang memukul siauwya dari Bengsan. Jawab pelayan itu, orang- orang yang mendengar lalu berbisik-bisik, dan poyokan yang dialamatkan kepada kedua saudara perguruan adalah san-ji-liong (naga dari dua gunung).
The-kun terbaring diranjangnya, dan untuk kali ini, hampir delapan bulan dia terbaring, banyak shinse dipanggil untuk mengobatinya, dua rekanya sempat berkunjung untuk melihat keadaannya kun-suheng, berikan ciri-ciri ketiga orang itu, biar lima dari kita melacaknya dan menyeretnya kesini ! ujar In-kan-bhok benar kun-sute ! hal ini sangat menghina Pak-kek- hek-te. sela Li-beng menguatkan, lalu The-kun pun menceritakan ciri-ciri dari Ui-hai-sian atau Tio-can dan San-ji-lion.
baik kalau begitu sute, kami akan melacak mereka, jadi sute tenang saja, kita akan bereskan tiga orang itu. ujar Li-beng menghibur The-kun, setelah ngobrol kesana kemari, keduanya pun pamit.
Setelah delapan bulan terbaring, keadaan The-kun pun pulih dan normal kembali, dan dia kembali melakukan aktifitasnya sehari-hari menghitung keuntungan likoan, keuntungan rumah bordir dam dua bua pokoan miliknya, memang uang The-kun melimpah dari hasil ketiga sumber keuangannya, The-kun seorang kongcu yang tidak memiliki istri, tapi didalam rumahnya ia memelihara tujuh orang selir.
Dua bulan kemudian, The-kun dengan kereta kudanya hendak menuju pokoan miliknya, dan ditengah jalan ia melihat seorang perempuan cantik dan berumur matang, wanita itu demikian anggun penuh daya tarik membuat darah The-kun berdesir, perempuan itu sedang makan di rumah makan dadakan di pinggir jalan bersama seorang lelaki tampan yang juga sudah berumur, sepertinya mereka itu adalah suami istri berhenti..! teriak The-kun, lalu dia turun dari dalam kereta, orang-orang yang berdagang di pinggir jalan dan emperan-emperan toko segera menyingkir, karena kongcu ini terkenal berangasan dan culas, The- kun dengan tatapan remeh memandang semua orang dan melangkah memasuki kedai makan dimana wanita yang membetot sukmanya makan.
pemilik kedai makan dadakan menyambutnya dengan membungkuk-bungkuk dalam ada apakah siauw-ya, sehingga mampir kerumah makanku yang kecil dan buruk ini ? phuahh.. , aku tidak ada keperluan denganmu, tapi aku ingin menciduk perempuan cantik ini. sahut The- kun sambil menolak pemilik rumah makan hingga jatuh terjengkang, The-kun melangkah mendekat wanita yang membuat dia blingsatan setengah mampus, wanita itu memandangnya dengan tajam, dan pemuda itu juga melihat dengan pandangan heran The-kun sesaat merasa terheyak melihat pandangan tajam wanita itu, tapi The-kun menduga bahwa pandangan itu cuman gertak sambal, untuk menutupi rasa takut yang menyergap hati mereka, dan terlebih mata wanita yang agak melotot membuat tenggorokannya makin kering, karena indahnya dua bola mata itu.
Dua orang itu adalah Yo-hun yang berumur dua puluh sembilan tahun dan Siangkoan-Lui-kim berumur dua puluh lima tahun, selama ini keduanya berada disebuah pulau, yang berdekatan dengan pulau nelayan, mereka setiap hari bertemu dengan lelaki gundul dari pulau nelayan, untuk mencontohkan gerakan-gerakan silat dihadapan keduanya, dan gerakan-gerakan itu mereka tiru, lalu mereka latih terus menerus, hal itu mereka lakukan sampai lima tahun, dan lelaki gundul dari pulau nelayan setiap hari singgah walaupun hanya sekedar melihat keduanya berlatih.
Pada tahun kedua, setelah mereka berlatih ilmu yang sudah selesai mereka matangkan, keduanya duduk ditepi pantai untuk melepas lelah, wajah cantik Liu- kim semakin berbinar, setelah melihat kenyataan betapa luar biasa ilmu tangan kosong yang mereka dapatkan, getaran pukulan mereka bagaikan sengatan halilintar, dan kenyataanya memang benar, bahwa ilmu itu adalah milik Bukek-siansu yang bernama Pek-lek-jiu (tangan halilintar), Yo-hun memandang wajah Lui-kim yang berseri, dan semakin membuat hatinya bergetar, semakin dia tidak dapat untuk mengutarakan isi hatinya, namun kali ini Yo-hun memberanikan diri, karena tidak tahan lagi di ombang perasaan yang mengguncang hatinya Kim-moi .. panggilnya lirih penuh perasaan, panggilan dari lihap kepada moi-moi berubah setahun yang lalu, Lui-kim tersentak merasakan hal aneh dengan nada panggilan tersebut, nadanya penuh getaran pada pendengarannya, tidak biasanya nada panggilan itu, ia dengar dari mulut Yo-hun, wajahnya panas hatinya berdetak, Lui-kim mencoba menatap wajah Yo-hun ada apakah Hun-ko ? entah bagaimana suaranya pun begertar, Yo-hun menggeser tubuhnya mendekati Lui-kim kim-moi, hal ini akan kutarakan, dan aku tidak sanggup lagi membendungnya. apakah yang ingin Hun-ko katakan ? kim-moi a. aku . merasakan nyaman berdekatan denganmu Kim-moi, hatiku hangat melihat bahwa kau ada disisiku, kau demikian memikat hatiku Kim-moi dan.. dan aku tidak kuasa lagi meyimpan perasaan ini, aku..aku cinta padamu Kim-moi. lepas rasanya beban yang menghimpit hati Yo-hun, Lui-kim merasa berdebar, dan darahnya tersirap mendengar pernyataan dan pengakuan yang teramat indah didengar telinganya, hatinyapun tiadalah beda dengan apa yang dirasakan oleh Yo-hun, dan semuanya ia simpan rapat dan rapi dalam hatinya, walaupun kadang tidurnya gelisah mesra, jika ia melihat tubuh Yo-hun yang terbaring agak jauh dari tempatnya.
Dan siang itu, saat kelelahan badan serasa hilang, hembusan angin laut yang bergerak nakal membelai sinom rambutnya, sebuah pernyataan panjang dan pengakuan betapa lelaki tampan tiada cacat yang disampingnya menyimpan sejuta rasa padanya, lelaki yang menjadi bunga mimpinya, hal itu mebuat dia tertunduk gemetar, terlebih saat jemarinya diraih tangan yang kuat dan lembut meremas jemarinya, perasaan indah menyusup dalam kalbunya maafkan aku Kim-moi, jika pernyataan hatiku ini menyinggungmu. ujar Yo-hun penuh rasa hambar dan sesal sambil melepas jemari Lui-kim, Lui-kim membuka matanya yang terlelap nikmat oleh remasan jemari Yo-hun Hun-ko .., cintamu bukanlah gayung tidak bersambut, pernyataanmu Hun-ko membuat aku terlelap, hatiku bulat menerima cintamu Hun-ko, aku juga cinta padamu Hun-ko. sahut Lui-kim penuh perasaan, Yo- hun terpana memandang mata yang bulat penuh binar perasaan, hatinya menjerit bahagia.
Tiada kebagaian yang paling indah, kecuali impian jadi kenyataan, cinta mendapat sambutan, dan hati mendapat tempat, Yo-hun menarik Lui-kim kedalam pelukannya duhai cintaku, bahagia ini tidak terlukiskan, jawabanmu membuat aku nyaman tiada terperikan. bisik Yo-hun mesra, Lui-kim merebahkan kepalanya didada bidang Yo-hun, dan sangat nyaman ketika tangan itu membelai rambutnya, dan makin terlelap saat bibir Yo-hun mengecup keningnya, pipinya dan terakhir bibirnya, menyalalah api asmara, bergeloralah birahipun berpendar, selama setengah jam perpaduan asamara itu saling memilin, dan keduanya kembali sadar bahwa mereka harus sabar.
Kim-moi, setelah kita sampai didaratan besar, hal yang pertama kita lakukan adalah kita akan ke Nanning menemui orang tua mu dan aku akan melamarmu kepada mereka. ujar Yo-hun, Lui-kim tertunduk bahagia, kekasihnya ternyata seorang lelaki pilihan aku hanya ikut padamu koko, aku bahagia dengan cintamu Hun-ko. sahut Lui-kim sambil menyembunyikan wajahnya didada kekasihnya.
Keesokan harinya, nelayan gundul datang dan memulai gerakan dengan tongkatnya, dan gerakannya serta gaung suara yang ditimbulkannya sungguh luar biasa, setelah nelayan gundul berhenti, keduanya pun meniru gerakan tersebut, dan seharian gerakan itu mereka ulang-ulang, sementara nelayan gundul pergi mencari ikan, dan datang lagi setelah keesokan harinya, demkianlah yang mereka lakukan setiap hari, dan semakin lama gerakan itu makin sempurna, dan sinelayan gundul juga takjub dengan hasil yang mereka dapatkan, dan ilmu yang oleh Bukek-siansu diberi nama thian-te-it-kiam (pedang tunggal jagad) selesai mereka rapungkan selama tiga tahun.
Pagi saat mereka berencana akan meninggalkan pulau, nelayan gundul menemui mereka apa kalian sudah latihan !? tanya si nelayan paman yang baik, pagi ini kami akan meninggalkan pulau, dan kami berdua mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga, atas kebaikan paman yang sudi membagi pengetahuan kepada kami. jawab Yo-hun jadi kalian akan meninggalkan pulau dan kembali kedaratan besar !? benar paman, dan hari ini kami mohon pamit dan minta restu dari paman. sahut Lui-kim baiklah, semoga kalian selamat sampai ditujuan. terimaksih paman. sahut keduanya menjatuhkan diri berlutut dihadapan nelayan gundul yang sudah agak tua dan berkeriput itu apa yang kalian lakukan, jangan seperti itu bangkitlah ! seru nelayan itu mundur dua tindak, keduanya mendongak menatap nelayan itu paman, tolong restuilah kami ! ujar Yo-hun dengan nada mengharap, keduanya lalu menunduk, nelayan itu bingung dengan tingkah kedua orang yang sudah lima tahun mencontoh-contoh gerakannya, lalu si nelayan berkata aku tidak mengerti apa yang kalian maksud, tapi baiklah aku merestui kalian. Yo-hun dan Lui-kim maklum bahwa nelayan ini orang aneh terimakasih paman. sahut Yo-hun dengan hati lega, karena telah mendapatkan restu dari suhu mereka ini, walaupun si nelayan tidak mengerti akan hubungan itu, lalu Yo-hun menarik tangan Lui-kim berdiri, dan keduanya menaiki perahu mereka yang sudah lima tahun mereka gunakan untuk mencari ikan paman, kami berangkat. seru Yo-hun ya.. berangkatlah ! sahut nelayan gundul, lalu Yo-hun dan Lui-kim sesaat melihat nelayan gundul dan sudah tua itu, tidak terasa Lui-kim terenyuh akan kepolosan nelayan tua yang tidak perrnah menyadari telah manabur ribuan kebaikan pada mereka, Yo-hun dan Lui-kim melambaikan tangan, dan dibalas nelayan itu dengan senyum.
kemudian keduanya pun mengayuh perahu, maka berdesirlah suara permukaan laut, saat perahu melejit kedepan di tolak dua kekuatan dahsyat, dan hal ini membuat keduanya tercengang, memang hal ini yang akan mereka lakukan, mangayuh dayung dengan sin- kang, namun mereka tidak membayangkan, bahwa tenaga sin-kang mereka bertambah puluhan kali lipat sebelum mendapat pelajaran dari si nelayan gundul.
Tiga hari kemudian mereka sampai kedaratan besar, sesampai di pantai, Yo-hun menawarkan perahu mereka dengan harga murah pada nelayan seharga sepuluh sepuluh tahil perak, dan sebentar saja perahu mereka dibeli seorang nelayan, kemudian mereka memasuki kota dan mencari tempat untuk makan kim-moi, kita makan di rumah makan ini saja. ujar Yo-hun ketika melihat kedai makan di emperan took, dan Lui-kim mengangguk, keduanyapun masuk dan mengambil tempat duduk sambil memasan makanan, makanan cepat saji pun terhidang, dan merekapun hendak makan, namun acara makan itu tertunda dengan kedatangan the-kun yang mendekati mereka dengan pandangan kurangajar pada Lui-kim.
cantik! Aku tanggung tubuhmu yang gemulai, akan kuhiasi dengan perhiasan emas, dan plak The-kun merasa kepalanya seperti disambar petir menerima tamparan Lui-kim yang tiba-tiba berdiri, entah kapan tangan lembut itu menampar, sementara The-kun terjengkang kesamping dengaan gigi geraham lepas dari gusinya, mulutnya berdarah dan dia meludahkan giginya dengan muka berubah marah, sebenarnya kalau The-kun tidak dihinggapi birahi yang menyentak melihat tubuh Lui-kim yang gemulai, tidak semudah itu ia tertampar, dan setidaknya walaupun tetampar gerahamnya tidak akan copot dari gusinya.
Anak buah the-kun berdatangan, sementara The-kun merangsak menyerang dengan marah, namun gerakan tangan yang luar biasa cepat laksana kilat sudah menampar mukanya berkali-kali plak..plaakkk, plakkk Lui-kim mendesak the-kun keluar kedai makan, dan melanjutkan hajarannya pada The-kun yang terperanjat setengah mati tidak percaya bahwa mukanya jadi bulan-bulanan seperti itu.
Orang berkerumun melihat peristiwa itu, akhirnya setelah dua puluh gebrakan The-kun terhempas mencium tanah dan pingsan, karena lagi-lagi perutnya kena pukulan Lui-kim, sehingga membuat ususnya berantakan dan tidak bisa normal lagi untuk mencerna makanan, dan muka The-kun memar babak bundas.
Orang yang berkerumun terheyak melihat Kwi-eng pingsan dengan muka memar dan bengkak, orang yang selama setahun melihat peristiwa yang dialami The-kun geleng-geleng kepala, akan apes dan sialnya the-kun hartawan muda dan sombong itu, tiga kali dalam kurun waktu setahun, The-kun pingsan dipecundangi orang luar, dan para nelayan yang ikut melihat peristiwa itu terpana, dan merekapun berbisik-bisik melihat Lui-kim dan Yo-hun yang kembali duduk dalam kedai dan melanjutkan makan Setelah membayar makanan, Yo-hun dan Liu-kim meninggalkan kota Ken-lung , dan seharian orang hanya berbicara peristiwa yang mengenaskan bagi The-kun, hingga dari mulut mereka tersebar poyokan untuk Yo-hun dan Liu-kim dengan julukan Ui-hai- liong-siang (sepasang naga laut kuning).
The-kun digotong kedalam keretanya, dan dibawa pulang anak buahnya, dua minggu kemudian keadaan The-kun sampai ketelinga sembilan rekannya, murid kepala di Pak-kek-hek-te, lalu mereka datang menjenguk dan mereka semakin marah setelah melihat keadaan The-kun yang mengenaskan, The- kun hanya mampu makan bubur, tubuh The-kun menjadi kurus kering.
dua yang terdahulu belum kita dapatkan, dan sekarang yang ketiga muncul. ujar Li-beng dengan gemas para pendatang ini, saya yakin keluar dari dari laut kuning. sela seorang rekan The-kun itu artinya, ini ada hubungannya dengan pusaka pulau es lima tahun yang lalu. sahut yang lain benar, hal itu sudah pasti. sahut Li-beng jadi bagaimana suheng, apa yang harus kita lakukan ? sebaiknya kita laporkan kepada Thian-te-ong jawab Li-beng benar, tentunya kalau ini ada hubungan dengan pulau es lima tahun yang lalu, berarti musuh kita ini bukan orang sembarangan, dan sangat perlu Thian-te- ong ketahui. Sela yang lain, semuanya mengangguk membenarkan Lalu sepulang dari Ken-lung mereka menghadap Pah- sim-sa-jin di ruangan tengah yang sedang bermesraan dengan wanita-wanita cantik yang dikhusukan melayaninya, jumlah wanita itu dua puluh orang, semuanya sedang melayani Pah-sim-sai-jin, berganti- ganti mereka direjang nikmat oleh Pah-sim-sai-jin.
Sembilan murid kepala itu meminta kepada pengawal rumah untuk menyampaikan kepada Pah-sim-sai-jin akan kedatangan mereka untuk melaporkan hal yang penting, lalu pengawal jaga itu masuk kedalam dan kemudian keluar kata Thian-te-ong kalian datang sore hari saja. ujar pengawal baik kalau begitu, nanti sore kami datang lagi. Sahut Li-beng, kemudian mereka pun pulang.
Sore harinya sembilan orang itu datang lagi dan diterima Pah-sim-sai-jin di ruang tengah rumahnya yang megah dan besar ada apa, apa hal penting yang hendak kalian laporkan padaku !? tanya Pah-sim-sai-jin dengan sikap agung Thian-te-ong, setahun terakhir ini ada kejadian yang menimpa salah seorang murid kepala yakni The-kun. jawab Li-beng hmh.. apa yang menimpanya !? etahun yang lalu, dia dipecundangi seorang tua berumur lima puluh tahun lebih yang dijuluki Ui-hai- sian kemudian untuk kali kedua dia dipecundangi dua orang tua juga berumur enam puluh lebih dan lima puluh lebih yang di juliki San-ji-liong dan terakhir dua minggu yang lalu The-kun dipecundangi oleh sepasang pendekar yang dijuliki Ui-hai-liong-siang hmh lalu ! apa yang telah kalian lakukan !? tanya Pah-sim-sai-jin dengan nada suara tajam dan air mukanya berubah merah kami sudah berusaha mencari jejak orang-orang itu beberapa bulan yang lalu, tapi tidak berhasil. baik , apakah hanya itu ? ada lagi Thian-te-ong, bahwa kami punya keyakinan bahwa orang-orang ini erat kaitannya dengan pusaka pulau es lima tahun yang silam. jawab Li-beng baik, kalian bubar, biar ini ditangani oleh Thian-te- mo-si ujar Pah-sim-sai-jin, dan kesembilan murid kepala itu meninggalkan Pah-sim-sai-jin.
Pah-sim-sai-jin memanggil empat orang muridnya Thian-te-mo-si, keempatnya datang menghadap Ciu-tong, Gu-can-lung, Ma-tin-bouw dan Liu-sam, kalian berempat ada tugas yang harus diselesaikan dengan cepat. baik suhu, apakah pekerjaan yang harus kami selesaikan ? sahut Ciu-tong pekerjaannya adalah mencari lima orang yang baru muncul di rimba persilatan dan telah menghina hek- te baik suhu, siapakah mereka yang hendak kami cari ? sela Ma-tin-bouw kalian cari orang yang berjulukan Ui-hai-sian san- ji-liong dan Ui-hai-liong-siang baik suhu. jawab mereka serempak kalian berempat bawa kepala mereka kesini ! baik suhu segera akan kami laksanakan. sahut Ciu- tong lantang, lalu mereka meninggalkan Thian-te ong dan mempersiapkan diri.
San-ji-liong sedang beristirahat disubuah hutan di sebelah utara kota Yuguan, namun saat sedang menikmati makanan tiba-tiba muncul serombongan Pak-kek-hek-te, kedua kakek itu sedang menyantap panggang kelinci, tiba-tiba serombongan pak-kek-hek- te muncul ini dia dua orang yang mengacau di Ken-lung. teriak sorang, mendengar itu sepuluh orang langsung mengurung San-ji-liong wah sepertinya cecunguk Pak-kek-hek-te minta dihajar lagi In-suheng ! ujar Khu-lam kalau mau minta dihajar Lam-sute, mari kita kasih hajaran. sahut Keng-in Keduanya lalu bergerak menyerang dengan gesit, sepuluh orang pengeroyok itu kalang kabut, dan dalam empat gebrakan empat orang sudah ambruk mencium tanah, enam orang berusaha terus merangsak maju, namun lagi-lagi tubuh mereka jadi bulan-bulanan dua kakek yang kosen itu, ketika empat orang tumbang, dua puluh orang tiba-tiba muncul dan langsung menyerang San-ji-liong, dalam beberapa saat gerakan San-ji-liong tertahan, namun sepuluh jurus kemudian keroyokan itupun mulai berantakan, dua orang terlempar kena hantam pukulan Keng-in dan menyusul dua orang kena tendangan Khu-lam.
Setelah itu susul menyusul tamparan dan pukulan San-ji-liong menghantam para pengeroyok, akhirnya enam orang melarikan diri, dan sisanya tergeletak meringis kesakitan bahkan sebagian besar tewas, San-ji-liong meninggalkan hutan memasuki kota Yuguan, di yuguan San-ji-liong bermalam di sebuah likoan, pemiliknya adalah In-pouw-ci, salah satu anggota Pak-kek-hek-te, malam itu enam orang yang melarikan diri berketepatan bersembunyi di rumah In- pouw-ci pemilik likoan dan telah menceritakan keadaan mereka yang dipecundangi oleh San-ji-liong Malam itu In-pouw-ci beserta dua rekannya berendap- endap diatas atap kamar San-ji-liong In-suheng, sepertinya kita kedatangan tamu. bisik Khu-lam kita lihat dulu apa maunya mereka. sahut Keng-in, lalu keduanya melompat keatas dan duduk diatas kuda-kuda atap kamar, dan tidak berapa lama sebuah benda berasap dijatuhkan dari atap kedalam kamar, San-ji-liong bergerak menjebol atap hingga hancur dan keduanya melayang keluar, tiga orang diatas atap terkejut dan hendak lari, namun Khu-lam segera bergerak menotok ketiganya dan membawanya kebawah.
cepat katakana, apa maksud kalian memasukkan asap beracun kedalam kamar!? bentak Khu-lam, namun sebelum mendapat jawaban, Khu-lam dan Cu- keng-in sudah dikurung empat puluh orang yang sudah meneglilingi halaman bukoan serang ..! teriak In-pouw-ci tiba-tiba, halaman luas itu jadi ajang pertempuran yang ramai, empat puluh orang susul menyusul menyerang dan menekan San- ji-liong, namun San-ji-liong bergerak cepat dan gesit membagi-bagi pukulan mematikan pada keroyokan tersebut, dalam lima puluh jurus dua puluh orang telah terjungkal tidak berdaya.
San-ji-liong semakin gencar mendesak para pengeroyok, sehingga sepuluh gebrakan berikutnya sepuluh orang tewas dengan luka dalam yang menghanguskan organ dalam mereka akibat dari pukulan te-yang-sin-ciang dari dua kakek kosen itu, dan tidak lama kemudian dua orang lagi terlempar dan ambruk ketanah dalam keadaan tewas, pengeroyok tinggal delapan orang, mereka undur ketakutan, nyali mereka ciut, lalu tiba-tiba empat orang muncul dan langsung menyerang San-ji-liong, keempat penyerang itu adalah Thian-te-mo-si murid utama pah-sim-sai-jin.
Serangan Thian-te-mo-si demikian cepat, sehingga San-ji-liong terdesak mundur, namun setelah menyadari keadaan lawan, San-ji-liong mengerahkan kekuatan ilmu baru mereka, sehingga serangan Thian- te-mo-si dapat diimbangi, pertempuran tingkat tinggi pun berlangsung seru dan menakjubkan, Khu-lam melawan Ciu-tong dan Gu-can-lung, sementara Cu- keng-in menghadapi Ma-tin-bouw dan Liu-sam, pertempuran dua kelompok itu sangat luar biasa, tempat pertempuran sudah porak-poranda akibat hawa pukulan sakti yang berpendar.
Hingga tiga ratus jurus San-ji-liong masih dapat bertahan, namun ketika adu pukulan sakti terjadi untuk kesekian kalinya, San-ji-liong tertekan demikian hebat, yang masing-masing membendung dua tenaga dari kedua lawan masing-masing, lalu san-ji-liong mencabut pedang dan mengeluarkan jit-yang-kiam dengan gerakan lincah dan mantap, jurus pedang san- ji-liong mencecar kedua lawan laksana gulungan ombak samudra, cahaya yang berkeredapan yang keluar dari sin-kang dalam memainkan jurus Jit- yang-kiam amat menyilaukan mata dan bahkan kilauan pedang termasuk bagian dari keampuhan jurus yang dimainkan San-ji-liong Pertempuran senjata ini sangat seru, gulungan dan sinar pedang yang mengintai nyawa berpendar saling beradu dan bertemu, Beng-cui-in-kiam digerakkan empat pemuda gembelengan menghadapi Jit-yang- kiam yang dimainkan dua orang kakek kosen, percikan bunga api yang menyilaukan berpendar saat pedang beradu, pertempuran luar biasa dahsyat itu telah hampir tiga jam, namun Thian-te-mo-si belum lagi dapat mendesak San-ji-liong walaupun masing- masing dikeroyok dua orang, jangankan terdesak, bahkan mereka mendapat serangan san-ji-liong tidak kalah berbahayanya, keadaan itu membuat mereka marah sehingga mereka mengeluarkan ilmu pedang kedua yang diajarkan Pah-sim-sai-jin yakni Eng-lo-in- kiam terdengarlah gaung yang menyesakkan nafas dan membuat sakit telingga.
San-ji-liong mengerahkan tenaga sakti untuk membendung suara yang membuat sesak nafas, dan gerakan mereka makin di perhebat menyerang Thian- te-mo-si, malam semakin larut dan perlawanan San-ji- liong mulai melemah akibat pengaruh gaung suara yang menggetarkan sukma, sentakan pedang membuat pertahanan keduanya kacau, sehingga keduanya terdesak hebat, namun ditengah keterdesakan itu dua buah bayangan muncul dan membantu San-ji-liong, Thian-te-mo-si terkejut dan undur kebelakang karena kuatnya serangan pedang yang menghantam pedang mereka.
Dua orang yang baru muncul itu adalah Yo-hun dan Siangkoan-Lui-kim atau Ui-hai-liong-siang bagaimana keadaan jiwi-cianpwe ? tanya Yo-hun hahahaha, bukankah keduanya ini pemuda dan pemudi yang bersama kita ditengah laut In-suheng !? seru Khu-lam gembira, namun sebelum Keng-in menjawab terdengar sumpah serapah dari thian-te- mo-si yang menyerang dengan ganas, dan pertempuranpun berlanjut, namun kali ini Thian-te-mo- si harus menerima pil pahit karena dua bantuan yang berpihak San-ji-liong memiliki ilmu yang juga tidak kalah hebatnya.
Ui-hai-liong-siang mengeluarkan ilmu thian-te-it- kiam membuat Thian-te-mo-si tercengang dan kaget merasakan kuatnya dan tingginya ilmu pedang tersebut, Thian-te-mo-si bertahan sekuat daya, namun sabetan pedang dan tusukan pedang sudah mulai melukai tubuh mereka dan akhirnya Ma-tin-bouw tidak dapat mengelak lagi saat pedang Keng-in menebas lengannya hingga putus, dan disusul pedang Lui-kim menusuk perut Gu-cang-lun, keduanya ambruk ketanah, namun dengan cepat kedua saudaranya meraih tubuh keduanya dan melarikan diri tidak usah dikejar ! teriak Keng-in kepada Yo-hun yang hendak mengejar, Yo-hun membatalkan niatnya terimakasih jiwi taihap atas bantuan sehingga kami selamat dari kebinasaan. ujar Keng-in menjura aih..cianpwe, sudah jamak kita saling tolong menolong. sahut Yo-hun hahahahehehe.., seungguh pertemuan kita ini tiada disangka, karena kita yang sama-sama ditengah laut dipermainkan amukan badai, ternyata selamat, dan hari ini, kita bertemu di daratan besar sela Khu-lam sambil tertawa senang kami juga tidak menyangkal betapa menggembirakan pertemuan ini, tapi kenalkan dulu, saya ini Yo-hun dan ini Siangkoan-Lui-kim sumoi saya. sahut Yo-hun haha.. saya adalah Khu-lam dan ini suheng saya adalah Cu-keng-in. ujar Khu-lam.
marilah kita duduk dulu, dan tidak salah kiranya kita saling menceritakan pengalaman kita selama dipisahkan amukan badai laut kuning, apa yang terjadi pada kalian anak muda yang baik ? sela Keng-in sambil duduk, Yo-hun tersenyum dan diapun ingin sekali tahu apa yang dialami dua cianpwe ini, sambil juga duduk Yo-hun menjawab jiwi cianpwe, kami selamat dari amukan badai, demikian juga tiga orang hek-te, kami berlima sampai disebuah pulau yang namanya kami tidak tahu, namun ketika kami masuk ke dalam hutan, banyak sekali ular belang didalamnya. lalu selanjutnya bagaimana Hun-ji !? tanya Khu-lam kami dengan sumoi keluar hutan, dan sementara tiga orang hek-te juga mungkin memasuki hutan, namun sampai malam hari ketiganya tidak keluar, kami meninggalkan pulau itu setelah mendapat sebuah perahu yang terbalik dan masih utuh, dan dengan perahu itu kami meninggalkan pulau. hmh terus kalaian kemana Hun-ji !? tanya Keng-in selama satu malam kami mendayung, akhirnya kami bertemu seorang nelayan, dan kami dibawa ketempatnya disebuah pulau yang bernama pulau nelayan. lalu ilmu pedang yang luar biasa itu, apakah kalian dapat di pulau itu !? tanya Khu-lam benar ciampwe, dan kumpulan nelayan itu masih primitif karena mereka tidak mempunyai nama, dan mereka hidup dengan kekeluargaan yang kuat, dan ciri khas laki-laki pada kumpulan itu semuanya gundul, dan walaupun mereka nampak terbelakang tapi mereka memiliki ilmu yang luar biasa tingginya. lalu bagaimana kalian mendapatkan ilmu dari kumpulan orang-orang seperti itu !? tanya Keng-in kami hanya mencontoh gerakan yang mereka lakukan, dan itu kami latih selama lima tahun di pulau dimana nelayan itu bertemu dengan kami. artinya kalian tidak tinggal bersama kumpulan itu. sela Khu-lam benar cianpwe, dan nelayan yang bertemu dengan kami itulah yang mencontohkan gerakan-gerakan itu. sahut Yo-hun lalu jiwi cianpwe, bagaimana bisa selamat dan apa yang dialami !? tanya Lui-kim, Khu-lam tersenyum memandang Lui-kim lalu menjawab kami juga selamat dan terdampar disebuah pulau yang namanya juga kami tidak tahu, kami yang terdampar kepulau itu tiga orang, saya, suheng dan nenek tua dari teluk pohai itu, namun nenek tua itu sudah tewas. Lui-kim dan Yo-hun mendengarkan dengan antusias lalu bagaimana selanjutnya cianpwe !? tanya Lui- kim kami memasuki hutan dan berencana mau membuat rakit untuk meninggalkan pulau, namun ternyata dipulau itu kami menemukan sebuah goa yang banyak lukisan-lukisan orang bersilat, nah..! sejak itu kami pelajarilah gerakan dari gambar-gambar itu selama empat tahun. jawab Khu-lam, sesaat semuanya terdiam dan hening.
hmh.. menurut cianpwe, masih adakah diantara kita yang masih hidup !? tanya Yo-hun meneurut saya masih ada satu lagi. jawab Khu-lam siapakah itu cianpwe ? tanya Lui-kim aku tidak tahu siapa dia, namun yang jelas satu diantara kita. jawab Khu-lam lalu bagaimana cianpwe menduga demikian !? tanya Lui-kim karena beberapa hari kami berada di kota Ken-lung kami mendengar julukan Ui-hai-sian yang katanya, orang itu baru muncul dari laut kuning. jawab Khu- lam hmh benar, kami juga mendengar julukan itu di kota Ken-lung dan juga kami mendengar julukan san-ji-liong tentunya itu julukan kedua cianpwe. sela Yo-hun benar Hun-ji. sahut Khu-lam lalu apa julukan yang orang Ken-lung berikan pada kalian !? tanya Keng-in sambil tersenyum, Yo-hun juga tersenyum kami dijuluki mereka dengan julukan Ui-hai-liong- siang jawab Yo-hun hmh julukan yang indah dan gagah. sela Khu-lam, Yo-hun dan Lui-kim tersenyum lalu kemanakah tujuan kalian Hun-ji !? tanya Keng- in cianpwe, pertama-tama kami harus kembali ke barat, tepatnya ketempat sumoi di Nanning, jawab Yo-hun, kedua kakek itu saling pandang lalu tersenyum apakah sepasang naga akan menikah !? sela Khu- lam tersenyum penuh selidik, Yo-hun tersenyum sementara Lui-kim merasa panas mukanya karena jengah dengan tepatnya dugaan Khu-lam benar cianpwe, karena itulah niat pertama setelah keluar dari laut kuning sahut Yo-hun, lalu kedua kakek itu melipat tangan dan berkata sambil tersenyum girang kionghi..kionghi kami turut senang mendengarnya kim-ji , hun-ji ucapan selamat itu diterima dengan senyum oleh Yo-hun dan siangkoan Lui-kim.
Keesokan harinya empat pendekar jebolan laut juning itu meninggalkan kota Yuguan dan berpisah di pertigaan jalan, karena Ui-hai-liong siang ingin segera sampai kekota nanning di wilayah barat sementara perjalanan San-ji-liong hanya menurutkan kaki kemana pergi. Ui-hai-liong-siang mengambil arah menuju gerbang kota sebelah utara yuguan sementara San-ji-liong mengambil arah sebelah gerbang barat kota menuju kota Dunhuang.
Didaerah pantai kota Kaifeng kesibukan berjalan sebagaimana biasanya, para nelayan baru mendarat dari melaut, di pantai mereka sibuk menawarkan ikan tangkapannya, ibu-ibu yang ingin mendapatkan ikan- ikan segar, hilir mudik melihat-lihat jenis ikan, para penampung ikan dalam jumlah besar juga tidak ketinggalan melihat-lihat ikan yang akan dibawa kepasar ikan didalam kota, deburan ombak yang menghempas pantai menambah riuh rendah suasana kesibukan di pantai itu.
Sebuah perahu melaju dari tengah laut yang ditumpangi seorang lelaki rupawan nan tampan menuju pantai, bebarapa orang memperhatikan karena merasa heran, karena orang yang datang dari tengah laut tentulah nelayan, dan kalau bukan nelayan tentulah penghuni pulau kura-kura, dan sepuluh tahun pulau-kura-kura sudah tidak berpenghuni, para tukang menyeberang juga tidak pernah lagi menyeberangkan orang ke pulau kura- kura sejak sepuluh tahun yang lalu.
Namun pada pagi yang cerah itu, seorang pemuda berpakain indah dan rapi, melaju tenang diatas sebuah perahu menuju pantai, sabuk warna kuning tersampir lembut di kedua pundaknya yang kekar, satu ujungnya sampai kelutut sementara ujung yang lain melingkar lebar di lehernya sehingga lingkaran sabuk itu berjuntai diatas dadanya dan ujungnya melambai di bagian tubuh belakangnya sampai dibawah pinggul.
Pemuda rupawan itu adalah Kwaa-han-bu, ia berdiri tegap demikian agung dan mempesona di atas perahu, beberapa nelayan dan ibu-ibu mendekat kepantai untuk melihat lebih dekat, ketika perahu itu menyentuh bibir pantai, pemuda itu turun dengan senyum ramah menatap orang-orang yang mendekatinya siapakah gerangan engakau anak muda !? tanya seorang lelaki berumur lima puluh tahun, sambil menjura Kwaa-han-bu menjawab lunak dan ramah dihiasi senyum yang tidak lekang dari bibirnya aku Kwaa-han-bu dari pulau kura-kura lopek, sicu dan toanio yang baik. jawab Kwaa-han-bu, semua yang mendengar jawaban itu takjub dan berseri-seri tentulah Bu-ji turunan dari she-taihap, bukan ? kembali orang tua itu bertanya benar sekali lopek. jawab Kwaa-han-bu apakah selain Bu-ji masih ada orang di pulau kura- kura !? tidak ada lopek, hanya saya sendirian. sahut kwa- han-bu baiklah lopek dan sicu semua, aku permisi dulu untuk melanjutkan perjalanan, dan sampai bertemu lagi. ujar Kwaa-han-bu melambaikan tangan dan melangkah pergi, dan dibalas lambaian oleh orang- orang itu dengan senyum berseri-seri, entah apa yang membuat penduduk itu merasa gembira, namun yang jelas ada secercah kegembiraan yang tumbuh dihati mereka, setelah mengetahui she-taihap masih ada, ada sesuatu yang menggeliat hangat bergerak direlung batin mereka, setelah melihat she-taihap menginjakkan kaki didaratan besar, ada keharuan yang menyesak jiwa mereka, saat melihat senyuman, tatapan dan lambaian she-taihap kepada mereka.
Setelah tiga tahun mempelajari Im-yang-pat-sin-im- hoat Kwaa-han-bu melanjutkan pelajaran pada kitab yang berisi tentang pengobatan, dan selama setahun Kwaa-han-bu memahamkan ilmu pengobatan tersebut, setelah itu Kwa-han-bu membawa semua kitab kedalam goa dibalik air terjun, dan memasukkan kembali kedalam peti.
Waktu dini hari keesokan harinya, Kwaa-han-bu berlatih di halaman istana, ilmu serapan Bu-tek- cingkeng di mainkan, tubuh Kwaa-han-bu bergerak luar biasa cepat, hingga bentuk bayangannya saja tidak dapat terlihat jelas karena seperti lintasan cahaya, kemudian tubuh Kwaa-han-bu berubah menjadi dua dan terpisah sejauh sepuluh meter, dan kedua tubuh itu bergerak sama entah mana tubuh aslinya.
Setelah itu Kwaa-han-bu memainkan ilmu im-yang- sian-sin-lie kipas ditangan, sabuk tersampir dibahu, gerakan yang cepat dan luar biasa demikian indah, kokoh dan menakjubkan, hawa im dan yang demikian kentara dihalaman yang luas itu, dua ujung sabuk bergerak bagai lambaian dua tangan, gerakan kedua ujung sabuk beraneka posisi, kadang meluncur, melibat, menegang, membacok, menotok dan mengibas, dan kedua ujung kadang sama kombinasi, namun terkadang beda kombinasi, tarian gerak yang sangat indah dan gemulai, lembut namun menyimpan daya serang dan pertahanan yang luar biasa.
Setelah selesai semua jurus dikeluarkan, Kwaa-han-bu merubah gerakan, telunjuknya membuat gerakan menulis demikian juga kakinya, Kwaa-han-bu memainkan ilmu im-yang-bun-sin-im-hoat gerakannya luar biasa gesit, indah dan mengandung gaya seni yang menakjubkan, setiap gerakan menimbulkan suara gemerisik dedaunan yang diterpa hembusan angin, dan suara itu memiliki kekuatan tersendiri, mempengaruhi sukma yang mendengarnya, hingga pada tingkat puncaknya membuat orang yang mendengarnya menangis atau tersenyum.
Hari sudah malam, dan Kwaa-han-bu masih bergerak lincah dengan ilmu silatnya yang berdaya seni luar biasa itu, kemudian gerakan itu berubah, gerakan melukis sudah berubah dengan pukulan, cakaran, jotosan dan tamparan, Kwaa-han-bu sudah memainkan ilmu im-yang-pat-sin-im-hoat suara gemerisik masih terdengar dengan daya mangis yang berbeda, dan suara gemerisik itu diselingi pekikan, auman, siulan, desisan dan ringkikan yang keluar dari mulut Kwaa-han-bu, dan daya magis suara ini hingga pada puncaknya akan membuat orang yang mendengarnya tercenung diam mematung dan pingsan atau tertidur.
Kwa-han-bu berhenti bergerak, saat senja temaram mengarak di cakrawala, luar biasa latihan yang dilakukan oleh Kwa-han-bu, bergerak dua hari satu malam tanpa henti dan nafas itu masih tenang dan lembut, keringat hanya membasahi keningnya, setelah itu Kwaa-han-bu menuju telaga untuk membersihkan diri dan kemudian memasak makanan, Kwaa-han-bu sudah berumur delapan belas tahun, Kwaa-han-bu hanya mengulang-ngulang latihannya dari semua ilmu yang dipelajarinya setiap hari dengan jangka waktu yang demikian panjang.
Sebulan kemudian, saat fajar menyingsing, Kwa-han- bu meninggalkan pantai kura-kura menuju daratan besar dikeremangan pagi yang dihiasi syafak merah dilangit bagian timur, perahu bergerak melaju cepat melintas hamparan laut yang tenang, saat matahari terbit Kwa-han-bu sudah sampai dibibir pantai kota kaifeng, dan disambut ramai oleh orang-orang yang berketepatan berada di tepi pantai sebagaimana di sebutkan diatas.
kwa-han-bu memasuki pasar kota kaifeng, wajah rupawan itu mengundang perhatian, penampilan yang agung dengan sampiran sabuk warna kuning tidak dapat tidak membetik mata untuk memandang dan menikmati pesonanya, terlebih para wanita penghibur yang memang marak disetiap kota, wanita-wanita itu menjerit-jerit centil memanggil-manggil dari bangunan tingkat atas rumah border, dan terdengar keluhan kecewa karena Kwaa-han-bu tidak pun memandang kepada mereka.
Kwa-han-bu memasuki likoan kecil dan sederhana, seorang pelayan menyambutnya dengan ramah twako, aku pesan nasi dan lauknya serta teh panas. ujar Kwaa-han-bu, pelayan itu mengangguk dan segera kebelakang untuk menyiapkan pesanan, tidak lama pesanan pun tersaji silahkan dinikmati kongcu ! ujar pelayan, Kwa-han- bu menatap pelayan dengan senyum ramah terimakasih twako sahut Kwaa-han-bu, pelayan itu berbalik dan meninggalkan Kwa-han-bu Baru saja Kwa-han-bu menyelesaikan makannya, enam orang berbadan besar dan kekar memasuki likoan, tamu yang sedang makan terkejut, dan muka mereka berubah pucat, terlebih pelayan yang hanya seorang itu, pemilik likoan segera datang mendekat sambil menyembah-nyembah a…ada apakah tuan ?.. a. apakah yang salah ? ma..mamafkan kami. huh..! bukankah kamu sudah diperingatkan, jangan membuka likoan sebelum matahari naik tinggi, dan kamu telah merusak keuntungan Wan-kongcu. tapi tuan, bukankah matahari sudah tinggi, dan para pedagang jalanan sudah sarapan di likoan Wan- kongcu, dan bahkan pemilik toko-toko juga sudah memesan makanan di likoan Wan-kongcu sahut pemilik likoan kecil itu membela diri.
tapi kamu masih memiliki pengunjung, bahkan sampai tujuh orang..! bentak pimpinan orang–orang kasar dan kekar itu kami sudah mengikuti peraturan Wan-kongcu, jika likoan saya ada tamu, kenapa juga harus dikangkangi !? sahut pemilik likoan sedih dan merasa tertekan hah! kamu mau menantang Wan-kongcu !? bentak pimpinan itu sambil melototkan mata, Kwa-han-bu yang mendengar perbantahan itu merasakan ketidak adilan yang berlaku didepan matanya, lalu Kwa-han- bu berdiri dan mendekati enam orang kasar itu.
sebaiknya cuwi kembali ! dan sampaikan kepada Wan-kongcu, bahwa peraturan yang menindas itu mulai hari ini tidak berlaku lagi. ujar Kwaa-han-bu, semua orang yang berada dalam dan luar kedai makan terkejut mendengar pernyataan pemuda rupawan itu, terlebih enam orang kasar itu heh..! kamu siapa !? apa akamu mau mati sehingga menantang Wan-kongcu !? sebelum cuwi babak belur saya tamper, sebaiknya kembali dan tinggalkan tempat ini, serta jangan lupa sampaikan pada kongcumu, bahwa penghuni pulau- kura-kura menantang kezaliman ini. sahut Kwaa-han- bu tegas dan lantang, semua yang mendengar, baik yang berada dalam likoan dan beberapa orang diluar yang mengerumuni menyaksikan perbantahan terkesima, dan dua lelaki tua berumur tujuh puluh tahun merinding iba, lalu keduanya menangis dihentak sedu sedan luapan gembira, karena mendengar pernyataan Kwaa-han-bu yang bernilai legendaris, dan seorang dari mereka berkata disela tangisnya yang membuncah kalau tidak mau celaka , jangan kelakuan burukmu terdengar sampai ke pulau kura-kura she-taihap telah datang, tirani akan melayang, penjahat akan tunggang langgang, tionggoan akan kembali terang. sahut kakek kedua dengan nada penuh semangat bartabur gembira dan bahagia Semua orang yang tadi tertarik melihat perbantahan itu memandang heran pada dua kakek yang menangis sesugukan, dan berujar penuh semangat disela-sela tangisan, enam orang kekar itu juga tak dapat tidak surut dan undur terkejut, tanpa bicara mereka segera menyingkir, pemilik likoan tercenung menatap pemuda yang membelanya, pulau kura-kura baginya yang berumur tiga puluh lima tahun, hanya pulau biasa yang dihuni oleh she-taihap yang sudah tewas oleh pah-sim-sai-jin.
terimakasih kongcu atas pembelaan, namun malapetaka akan menimpa kami dengan pernyataan kongcu. ujar pemilik likoan bernada cemas paman, sedaya upaya yang ada padaku, kezaliman ini akan kulenyapkan, jadi tenangkan hati paman. sahut Kwaa-han-bu menenangkan pemilik likoan dan aku akan tetap disini menunggu reaksi dari pernyataanku. Kwaa-han-bu menambahkan sehingga wajah pemilik likoan sedikit tenang Satu jam kemudian, dua puluh tukang pukul beserta seorang lelaki berumur dua puluh tujuh tahun datang dengan muka sangar, Kwa-han-bu berdiri dan keluar dari likoan, sebelum lelaki yang baru datang dengan dua puluh orang kasar itu angkat bicara sudah didahului oleh Kwaa-han-bu apakah sicu she-Wan !? lelaki itu mendelik marah merasa tertampar dengan pertanyaan itu, karena biasanya ia yang menekan dan memulai pembicaraan, tiba-tiba didahului pemuda belasan tahun dihadapannya bangsat ..kamu pemuda kencur, apa kamu yang membanggakan pulau-kura-kura yang tinggal namanya itu !? bentak she-Wan, Kwaa-han-bu tersenyum lembut, tapi senyum ramah dan lembut itu dibarengi hal luar biasa plakplakplakplak wajah lelaki itu empat kali ditampar Kwaa-han-bu, lelaki itu terjengkang ambruk ketanah sambil memegangi kedua pipinya yang rasanya bengkak hinga dua kali lipat. Wajahnya meringis kesakitan, namun tubuhnya tidak bisa bangkit, karena pandangannya nanar, kepalanya pening tidak terperikan Anak buahnya segera menyerang, namun sekali kibas tujuh orang yang kebih duluan mendekati Kwaa-han- bu terlempar melayang jatuh menimpa rekannya yang lain, mereka jatuh tumpang tindih, dengan wajah meringis kesakitan, melihat kibasan yang melempar tujuh orang dari mereka, membuat yang lainnya undur namun siaga mengurung Kwaa-han-bu Wan-kongcu ternyata sudah bisa bangkit, dengan segera Wan-kongcu mencabut pedangnya dan menyerang Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu dua kali berkelit, dan kali ketiga trang,,, cep adouwhhh. pedang Wan-kongcu dijepit dua jari Kwaa-han-bu dan metahkannya, dan patahan itu dengan kuat menancap tiga dim di pahanya, membuat Wan-kongcu menjerit histeris, darah mengucur deras, kembali Wan-kongcu ambruk ketanah dengan bersimbah darah Orang-orang sangat ramai menonton peristiwa itu, Wan-kongcu jadi mati kutu, wajahnya sudah pucat pias, Kwaa-han-bu menarik kerah baju Wan-kongcu yang kesakitan dan ketakutan hingga Wan-kongcu berdiri, Wan-kongcu makin meringis kesakitan karena lukanya terasa nyeri, karena dipaksa berdiri, kemudian Kwaa-han-bu mendudukkan Wan-kongcu di sebuah kursi ditengah halaman likoan, dan disaksikan orang banyak katakan, apa saja yang kamu usahakan dikaifeng ini !? bentak Kwaa-han-bu, Wan-kongcu yang sudah mati kutu berkata dengan tubuh menggigil sa..sa..saya memiliki likoan, du..dua buah pokoan dan se..sebuah rumah bordil. hmhsekarang dengakan aku she-wan ! persyaratanmu pada likoan lain tidak berlaku lagi, pokoanmu tutup karena merusak daya usaha dan daya pikir, demikian juga rumah bordilmu tutup karena hal itu menjijikkan dan memalukan, mengerti !? ujar Kwaa-han-bu me..memengerti taihap. sahut Wan-kongcu dengan hati kebat-kebit ketakutan dan semua pekerja dipokoan dan bordilmu, berikan uang tanggungan selama tiga bulan untuk laki-laki dan setahun untuk perempuan, karena mereka akan kehilangan pekerjaan ujar Kwaa-han-bu, Wan- kongcu tercenung membayangkan kebangkrutannya.
kamu dengar dan mengerti !? bentak Kwaa-han-bu membuyarkan lamunan Wan-kongcu ba-baik taihap, aku akan laksanakan sesuai perintah taihap. bagus, dua hari waktu saya berikan kepadamu untuk menuntaskan semuanya. ba..ba..baik taihap. terus saya ingin tahu, berapa banyak pokoan dan tempat bordil yang ada kaifeng ini. ada empat tempat bordil dan enam pokoan. milik siap saja tempat-tempat itu!? dua tempat bordil dan dua pokoan milik Coa-kongcu, dua pokoan dan satu tempat bordil milik Kui-kongcu baik, tunggu sebentar. ujar Kwaa-han-bu dan melangkah mendekati pemilk likoan, dan meminta sesuatu padanya, pemilik likoan segera kedalam, dan tidak berapa lama pemilik likoan keluar membawa alat tulis, Kwa-han-bu menulis dua buah surat, lalu Kwaa-han-bu mendekati kembali Wan-kongcu kalian empat orang kesinilah ! seru Kwaa-han-bu memanggil empat orang anak buah Wan-kongcu, empat orang pengawal, dengan wajah pucat dengan langkah gemetar mendekati Kwaa-han-bu dua orang kalian, masing-masing bawa surat ini dan berikan kepada Coa kongcu dan Kui-kongcu. ujar Kwaa-han-bu menyerahkan surat yang baru ditulisnya, empat orang itu mengangguk dan segera pergi.
dan sekarang she-wan, pulanglah dan dua hari lagi saya akan mendatangi rumahmu ! ujar Kwaa-han-bu, lalu Wan-kongcu digotong anak buahnya meninggalkan tempat itu.
Dua kakek yang menangis tadi mendekat, Kwaa-han- bu menatap keduanya dengan senyum, dan menyambutnya dengan kedua tangan, kemudian meraih tangan kurus tinggal kulit membalut tulang itu, dan wajahnya menuduk dan mencium punggung tangan itu, tindakan yang luar biasa, sehingga membuat orang terenyuh, dua kakek itu kembali sesugukan, dari mata yang kurus dan cekung berderai linangan air mata bahagia.
she-taihap, terimaksih Thian.! she-taihap telah muncul kembali, turunan bengcu datang lagi. ujar kedua kakek itu penuh sesak sambil memandang sunyuman Han-bu yang lembut dan menyejukkan itu, hati keduanya nyaman sekali dua kakek yang mulia, saya Kwaa-han-bu, doakan siauwte untuk menjalani tugas hidup yang masih membentang. doakan siauwte untuk tidak lupa diri. sahut Kwaa-han-bu lembut Bu-ji, apa yang kamu minta untuk kami doakan, lebih dari itu akan kami minta pada Thian, banyak harapan kami bertabur dipundakmu, seiring laksaan doa kami pujikan pada Thian untukmu. terimakasih kakek. sahut Kwaa-han-bu, lalu kedua kakek itu berlalu dengan senyum tersungging dibibir keduanya, orang-orang kemudian bubar sambil kasak kusuk membicarakan peristiwa hari itu paman.., selain dari tekanan para kongcu itu, apa lagi yang menekan keadaan penduduk Kaifeng !? tanya Kwaa-han-bu kepada pemiliki likoan she-taihap, yang menekan kehidupan penduduk hampir diseluruh tionggoan ini adalah, maraknya kejahatan dan tingginya pungutan pajak, namun terlepas dari dua hal itu, semuanya dipicu oleh satu tirani yang timbulkan oleh Pah-sim-sai-jin. jawab pemilik likoan, Kwa-han-bu mengangguk-angguk jika seorang dapat mempengaruhi hampir seluruh wilayah, tentunya dia punya anggota yang banyak. benar she-taihap, Pah-sim-sai-jin memiliki kubu di empat wilayah yang disebut dengan hek-te, untuk wilayah selatam ini berkedudukan di Hanzhong dengan sebutan Lam-kek-hek-te. terimakasih paman, informasi yang sangat berguna bagi saya. lalu apa selanjutnya yang akan taihap lakukan !? saya akan menuntaskan para kongcu dulu, dan bagaimana selanjutnya nanti akan kupikirkan, namun informasi paman telah jelas bagi saya, apa yang akan saya hadapi. jawab Kwa-han-bu Setelah meninggalkan likoan, Kwa-han-bu berjalan mendekati rumah megah bercat merah, tempat itu kediaman Song-kungcu, dua orang penjaga pintu menatap tajam padanya, dengan suara keren seorang pengawal bertannya siapa kamu, dan apa urusanmu datang kemari !? aku Han-bu she kwaa, dan urusanku kemari ingin bertemu taijin perihal pungutan pajak yang terlalu besar hingga mencekik dan menyengsarakan rakyat. jawab Kwaa-han-bu dengan senyum lembut apakah kamu penduduk kota ini !? tidak .. tapi tempatku ada diseberang kota kaifeng ini. kalau kamu bukan penduduk tempat ini, tidak ada hak bagimu untuk mencampuri urusan kebijakan taijin untuk rakyat disini. sicu ..! cukup berhargakah jika aku katakan, bahwa aku penghuni pulau kura-kura !? dan oleh karena itu, aku sangat berhak mencampuri hal apa saja yang tidak menyamankan penduduk kaifeng khususnya dan wilayah selatan umumnya. sahut Kwaa-han-bu, mendengar pernyataan itu kedua pengawal terkejut dan terkesima Keduanya langsung berubah sikap setelah mendengar pulau kura-kura maafkan kami taihap, jika demikian kami akan sampaikan kedalam, dan tunggulah sebentar ujar seorang dari kedua pengawal, lalu kawannya segera melapor kedalam, dan tidak berapa lama pengawal itu keluar silahkan taihap, taijin bersedia menerima taihap. baik dan terimaksih jiwi sicu. Kwaa-han-bu diantar kedalam oleh seorang pengawal, Kwaa-han-bu menjura dan memperkenalkan diri, dan song-taijin lelaki berumur lima puluh tahun mempersilahkannya duduk.
taijin yang baik, saya baru tadi pagi sampai disini, dan saya mendengar bahwa pungutan pajak yang diberlakukan sangat besar, dan itu menekan dan menyengsarakan rakyat, apakah tidak bisa dikurangi dan diperingan sehingga rakyat tidak terbebani !?ujar Kwaa-han-bu dengan tenang dan lembut she-taihap, jika sekiranya kondisi wilayah normal seperti dulu, tidak ada pemaksaan liar dari segelintir penjahat yang mengkungkung keadaan kami, hal yang di harapkan taihap dapat kami lakukan. terimaksih taijin yang baik, saya juga yakin bahwa taijin tidak berlaku sewenang-wenang, dan tentu kebijakan ini ada pemicu yang memaksa, dan katakanlah padaku taijin yang baik, penjahat manakah gerangan yang memaksa taijin !? she-taihap yang budiman, kedatanganmu merupakan secercah sinar yang aku harap tidak hanya sekedar mengkilat, tapi lebih dari itu, kalau bisa dapat menerangi kembali kegelapan yang menyelimuti kaifeng khusunya. harapan taijin itu, aku akan upayakan semampu kekuatan daya yang ada padaku. terimakasih sebelumnya taihap, dan sekarang dengarlah she-taihap, Tionggoan umumya, telah hampir sepuluh tahun di kuasai oleh seorang penjahat kelas berat, dangan kemampuan luarbiasa hebat, dan kaki tangannya yang teratur rapi dan kuat, mencengkram kehidupan rakyat, dia adalah Pah-sim- sai-jin, dan olehnya juga kelurga taihap di pulau kura- kura bersabung nyawa. ujar song-taijin memandang wajah Kwaa-han-bu yang tenang dan lembut lanjutkanlah ta-jin yang baik ! sela Kwaa-han-bu Pah-sim-sai-jin membentuk satu kota khusus, yang berisi penjahat dan pelaku kezaliman, kota ini di isitilahkan dengan hek-te, dan untuk wilayah selatan ini disebut dengan Lam-kek-hek-te, kemudian dari kota inilah semua aktivitas kejahataan menyebar menindas kota-kota lain, semua kungcu diseluruh wilayah dipaksa membayar upeti yang diantarkan kokota-kota hitam tersebut setiap tahunnya, dan untuk wilayah selatan Lam-kek-hek-te itu berada di kota Hanzhong. ujar Song-taijin, Kwaa-han-bu manggut-manggut mendengarkan apakah ada lagi bagian terdekat dari kaki tangan Pah-sim-sai-jin yang langsung berhadapan dengan taijin sendiri selaku pemerintah di kota ini !? masih ada she-taihap, yakni bahwa untuk menjamin kelancaran upeti masuk kekota hitam, maka disetiap kota ada anak buah mereka yang membaur dengan rakyat, dan menguasai bidang-bidang penting dalam aktivitas rakyat. hmh contohnya bidang-bidang penting itu, apa taijin !? contoh hal-hal penting itu adalah, bidang dagang, bidang jasa dan bidang kecakapan apakah maksud taijin bahwa bidang dagang seperti likoan dan rumah makan, bidang jasa seperti piuawkiok, dan bidang kecakapan seperti bukoan !? benar sekali taihap ! jawab song-taijin hmh lalu, kapan taijin akan mengantarkan upeti ke Hanzhong !? masih lama taihap, karena baru tiga bulan yang lalu upeti dikirimkan kesana. baiklah kalau begitu taijin, aku akan bekerja beberapa hari ini, dan semoga Kaifeng khususnya dan kota-kota pada umumnya di wilayah selatan ini, akan dapat normal kembali. semoga saja she-taihap, dan perhatian she-taihap dari pulau kura-kura selama ini, saya haturkan banyak terimakasih. sahut Song-tai-jin, lalu Kwaa-han-bu pamit dan meninggalkan kediaman Song-tai-jin.
Dua hari kemudian terjadi hal yang menggemparkan dikota Kaifeng dimana dua rumah bordil ditutup dan empat pokoan juga ditutup, para pekerja diberikan tanggungan hidup tiga bulan untuk laki-laki dan satu tahun untuk perempuan, Kwa-han-bu mendatangi rumah wan-kongcu, rumah itu tergolong perumahan elit dan megah, ketika melihat kedatangan Kwaa-han- bu wan-kongcu yang masih dibalut luka dipahanya menyambut Kwa-han-bu dengan ketar ketir Wan-kongcu, saya telah mendengar bahwa empat pokoan telah ditutup dan dua tumah bordir juga saya sudah tutup bordir dan pokoan saya taihap, dan juga saya sudah berikan tanggungan hidup para pekerja sebagaimana yang taihap katakan sahut Wan-kongcu dengan nada suara bergetar empat anak buahmu yang saya suruh menyampaikan surat, panggilkan kesini ! ujar Kwaa- han-bu, Wan-kongcu melambai pada anak buahnya dan menyuruh memanggil empat orang yang disuruh Kwa-han-bu supaya menghadap, empat orang itu pun datang menghadap kalian ceritakan bagaimana tanggapan surat yang kalian sampaikan ! perintah kwa-han-bu, seorang dari mereka menjawab kami sudah mengantar surat yang taihap berikan kepada Kui-kongcu, dan setelah membaca surat taihap, Kui-kongcu menjawab, akan melaksanakan sesuai yang diperintah. lalu bagaimana dengan Coa-kongcu !? tanya Kwaa- han-bu, seorang dari yang mengantar surat kepada Coa kongcu bercerita kami sudah mengantarkan surat yang taihap berikan kepada anak buah Coa kongcu, dan bagaimana jawabannya kami tidak tahu taihap. suasana hening Bagaimana tanggapan Coa-kongcu ? mari kita mundur dua hari yang lalu Tio-twako.., menurutmu apa isi surat dari she-taihap ini !? hmh itu bukan urusan kita Hong-cin, kita disuruh menyampaikan, ya kita sampaikan. sahut she-Tio, keduanya dengan buru buru berjalan mengarah ke sebelah utara kota Kaifeng, dan sore harinya mereka pun sampai di kediaman Coa-kongcu, dua orang pengawal jaga mencegat mereka heh.. kalian ini siapa !? tanya pengawal kami anak buah Wan-kongcu, dan hendak mengantarkan surat ini kepada Coa-kongcu. Jawab she-Tio sambil memperlihatkan sepucuk surat surat apa ini dan dari siapa !? isinya kami tidak tahu, dan surat itu ditulis she-taihap dari pulau kura-kura. sudahlah kalau begitu, biar kami saja yang sampaikan kepada kongcu. baik, kalau begitu kami permisi. sahut she-Tio, lalu keduanya meninggalkan kediaman Coa-kongcu.
cih.. pulau-kura-kura, hahaha..hahaha, pulau kura- kura kan sudah tidak berpenghuni lagi. cela salah seorang pengawal mungkin orang ini hanya menggertak, dan mencoba memakai nama pulau kura-kura. mau cari mampus barangkali orang yang menulis surat ini. sela pengawal lain lalu bagaimana, apakah kita sampaikan pada kongcu!? ya kita sampaikan, biar kongcu nanti yang akan memutuskan. Dua pengawal masuk kedalam dan menghadap Coa- kongcu, lelaki tampan berumur dua puluh tujuh tahun.
siawya, kami menerima surat dari anak buah Wan- kongcu. ujar pengawal, lalu surat itu diberikan kepada Coa-kongcu, dan Coa-kongcu menerima dan membuka surat dan membaca surat yang berbunyi pokoan merusak membuat orang jadi lemah dalam usaha dan pemikiran, menebar kemesuman dirumah bordir pekerjaan menjijikkan dan menghinakan, kedua tempat ini mesti anda tutup dan bubarkan bagi pekerja wanita selama setahun diberikan tanggungan, sementara bagi pekerja laki-laki berikan tanggungan hidup selama tiga bulan supaya anda selamat ! hal ini harus anda lakukan, sebab jika tidak anda akan menerima akibat yang mengerikan yang lebih hebat dari kematian penghuni pulau kura-kura hanya sekali memberikan kesempatan, lebih dari itu hukuman akan anda rasakan kwa-han-bu hahah..hahha lelucon yang menggelikan, apa itu pulau kura-kura yang penghuninya sudah habis digilas Thian-te-ong. coa-kungcu mencela sambil tertawa, dan dua pengawal ikut juga senyum-senyum, dan beberapa pengawal mendekati ruangan tengah karena tertarik hal yang membuat tuan mereka tertawa.
isinya apa sih siauw-ya sehingga mebuat siauwya tertawa. seorang pengawal bertanya isinya omong kosong dari orang yang mau cari mampus ditangan anak buah thian-te-ong, hahha..hahha lalu apa yang harus kami lakukan siauw-ya !? kalian segera menemui Wan-kongcu, dan katakan padanya bahwa kalian datang untuk menyeret penulis surat ini kehadapan saya. baik siauwya.. sahut mereka serempak, lalu anak buah Coa-kongcu bubar, dan dua orang segera berangkat keselatan kota kaifeng untuk menemui Wan-kong-cu, pagi sekali pada keesokan harinya, kedua anak buah Coa kongcu sampai di kediaman Wan-kong-cu Dua pengawal wan-kongcu mencegat dan bertanya kalian ini siapa dan kenapa pagi-pagi sekali datang kesini !? katakan pada Wan-kongcu, kami anak buah Coa- kongcu ingin bertemu. kedua pengawal itu segera tahu urusan, bahwa ini urusan surat, lalu berkata jiwi sicu, wan-kongcu sepagi ini masih tidur dan terlebih kakinya sedang terluka dan baru diobati semalam, jadi hal yang mau disampaikan, sampaikan saja kepada kami, dan nanti akan kami sampaikan kepada kongcu kami. Kedua orang itu terkejut, apakah Wan-kongcu dilukai orang yang mengaku dari pulau kura-kura itu !? benar jiwi-sicu, lalu hal apakah yang ingin kalian sampaikan kepada Wan-kongcu !? kami hanya ingin menyeret orang yang mengaku dari pulau kura-kura itu hah.! menyeret she-taihap !? kedua pengawal wan-kongcu terperangah, lalu berkata jiwi-sicu, kalian ingin menyeret she-taihap tapi datang kesini, she-taihap tidak ada disini, dan kami tidak tahu kemana dia. sudah kalau begitu, kami permisi. sahut kedua pengawal Coa-kongcu, dan berlalu dari situ.
Pada waktu sorenya, kedua anak buah Wan-kongcu melapor siauw-ya, tadi pagi dua anak buah dari Coa-kongcu datang kesini, dengan niat ingin menyeret she-taihap mendengar laporan itu Wan-kongcu terperangah ha..! apa she-coa itu mau mampus ! lalu apa kalian jawab. kami katakan bahwa she-taihap tidak ada disini, dan keduanyapun pergi. hmh.. sudah kalau begitu ! dan apakah penutupan pokoan sudah dilakukan ? sudah siauwya.. pembagian tanggungan pada pekerja !? sudah siauw-ya, dan sedang dilakukan oleh Can- twako, mungkin nanti malam baru selesai. hmh.. sudah kalau begitu, dan kalian pergilah. kedua pengawal itu berdiri dan meninggalkan Wan-kongcu.
Saat Kwaa-han-bu berada dirumah Wan-kongcu dalam suasana hening baiklah kalau begitu, Coa-kongcu telah memilih, maka akan diberikan pilihan itu padanya, dan sekarang Wan-kongcu saya mau tanya , apakah kamu termasuk salah satu anggota Lam-kek-hek- te !? mendengar pertanyaan itu, makin berdesir darah Wan-kongcu benar taihap ! berapa orang kalian yang menjadi anggota Lam-kek- hek-te di kota ini !? ada empat puluh orang. hmh dalam tiga hari kumpulkan rekan-rekan anda itu di sini. baik taihap. jawab Wan-kongcu lirih, kemudian Kwaa-han-bu berdiri dan berkata ingat kongcu ! tiga hari lagi aku akan datang kesini. Wan-kongcu mengangguk, Kwaa-han-bu kemudian meninggalkan kediaman Wan-kongcu.
Di rumah Coa-kongcu, semua anak buah yang berjumlah tiga puluh orang berkumpul, dari sekian orang itu ada sepuluh rekannya sesama Lam-kek-hek- te kalian siap-siap semua, karena besok kita akan mencari seorang yang mengaku dari pulau-kura-kura yang bernama Kwaa-han-bu, orangnya masih muda dan menyandang sabuk di bahunya. ujar Coa-kongcu tidak usah kalian repot-repot aku sudah disini. sela sebuah sura, semua terkejut setengah mati melihat seorang muda dengan menyandang sabuk warna kuning dibahunya ada duduk diantara mereka, entah bagaimana Kwaa-han-bu seakan ikut mendengar perintah Coa-kongcu, namun tidak dilihat dan disadari mereka semua.
Kwaa-han-bu berdiri dan tiba-tiba sabuknya meluncur cepat laksana panah tanpa digerakkan oleh tangannya kearah Coa-kongcu, Coa kongcu mengelak melompat menjauh, namun terlambat karena tangannya sudah terbelit, dan tubuhnya terbetot malayang kearah Kwaa-han-bu krekauuuh, krekk .. aghhr krek….krek adouwhhh prak. heghh ..brakk Coa-kongcu jatuh berlipat menimpa kursi, dua sendi bahunya patah dan tanggal, dua sendi lututnya lepas, sepuluh buku jarinya hancur remuk, demikian juga sepuluh buku jari kakiknya, kejadian itu luar biasa cepat, mebuat semua yang ada disitu melonggo, dan setelah tubuh Coa kongcu ambruk mereka menyadari keadaan.
Coa-kongcu pingsan dipuncak nyeri dan sakit yang tidak terperikan, sepuluh anggota Lam-kek menyerang, namun dengan gerakan indah dan luar biasa cepat kesepuluh orang itu mengalami nasib yang sama dengan Coa-kongcu, sepuluh jasad tak berdaya telah teronggok dalam hitungan menit, dua puluh orang itu berlutut meminta ampun ampun taihap kami ini hanya bawahan, walaupun bawahan kalian punya akal untuk menimbang bukan ? dan kalian tetap dihukum. sahut Kwaa-han-bu sambil bergerak cepat mempermainkan kedua puluh orang dengan dua tangan, dan dua ujung sabuk yang seperti bernyawa itu, pekikan dan jerit kesakitan terdengar susul menyusul, dalam waktu lima belas menit, kedua puluh orang itu sudah tergeletak dengan sebelah sendi bahu lepas dan sebelah sendi lutut lepas, dan luarbiasanya jika bahu kanan yang lepas maka pasangannya lutut kiri yang lepas.
Dua puluh orang itu meringis kesakitan, dan menatap celingak-celinguk mencari-cari Kwaa-han-bu, namun Kwaa-han-bu sudah pergi dari situ, mereka saling memandang A-cong apamu yang patah !? bahu kiriku dan lutut kananku. jawab yang dipanggil acong aduh. kalau aku, bahu kananku yang lepas dan lutut kiriku yang lepas, akhirnya ketika kedua puluh orang itu berdiri, sepuluh orang bertumpu pada kaki kanan. dan sepuluh orang bertumpu pada kaki kiri kalian kenapa tidak mengangkat aku tiba-tiba Coa- kongcu berteriak, ternyata Coa-kongcu sudah siuman kami tidak bisa siauw-ya, selamat tinggal. sahut pimpinan pengawal, lalu melompat-lompat dengan bertumpu pada kaki kananya menuju kamar Coa- kong-cu, enam selir Coa-kongcu yang meringkuk di ranjang terkejut, melihat anak buah Coa-kongcu memasuki kamar mereka dengan melompat-lompat.
toanio ! koncu sudah tidak berguna dan kami juga tidak berdaya, aku hanya mau mengambil sedikit dari harta kongcu untuk menopang hidupku. ti..tidak ! kami hanya disisakan masing-masing dua pundi uang oleh taihap itu. jawab selir pertama Coa- kongcu hah.. apakah she-taihap telah membawa harta kongcu !? teriaknya dengan nada kecewa benar, sudah minggir kamu, kami mau keluar. sahut selir itu, enam selir itu berdiri dan hendak keluar, lalu anak buah Coa-kongcu hendak menangkap, namun para perempuan itu menolaknya sehingga ia tejengkang, dan para selir berlari keluar kamar, berlari kekamar masing-masing untuk berkemas meninggalkan rumah Coa-kongcu.
Sementara orang yang tadi menerobos kamar Coa kongcu kembali keruang tengah habislah kita sekarang, harta she-coa ini telah diambil pula oleh she-taihap. keluhnya sambil mencoba meraih lukisan didinding, kemudian hiasan giok, rekannya yang lain segera melompat-lompat mengambil perabotan kecil dan hiasan dinding, yang kiranya dapat dijual atau ditukar dengan makanan, dalam sekejap rumah Coa-kongcu yang mewah dan indah, dengan perabotan hiasan yang banyak ludes digondol anak buahnya sendiri.
Dua puluh pengawal itu keluar dengan melompat- lompat, dan sebelah tangan membawa hiasa-hiasan berharga, Coa-kongcu dan sepuluh rekannya yang sudah siuman saling memandang kalau sudah begini kita hanya menunggu mati. sela seorang dari mereka benar, ah sekiranya she-coa ini tidak takabur, dan mau menuruti pesan surat itu, kita tidak akan seperti ini. sahut yang lain ini semua gara-gara she-coa ini. sela yang lain dengan nada sesal dan jengkel Coa-kongcu melihat mereka dengan mata tajam dan berkata kenapa kalian menyalahkan aku, kan kalian juga menyetujui bahwa kita tidak mengikuti pesan surat itu. bantah Coa-kongcu marah, semuanya diam dan hening, pikiran mereka berkecamuk sesal, namun apalah hendak dikata nasi telah menjadi bubur.
Dua hari kemudian, kota kaifeng gempar mendengar peristiwa yang dialami Coa kongcu, berita ini santer, karena kedua puluh anak buahnya yang awalnya gagah, tapi hari mereka datang melompat-lompat kepasar menukarkan hiasan-hiasan dari kemala, untuk ditukarkan dengan makanan, dan ketika ditanya hal yang meraka alami, merekapun bercerita apa adanya, dan dari cerita itu, yang unik dan jadi perhatian pendengar adalah, tulang patah yang mereka alami, bahwa bagian atas dan bawah berlawanan, lalu entah mulut siapa yang mulai, dan menjuluki Kwaa-han-bu dengan julukan im-yang-sin- taihap (pendekar sakti im-yang) dan ini menyebar dalam sehari dikota Kaifeng.
Esok harinya, Kwaa-han-bu mendatangi rumah Wan- kongcu sambil membawa dua buah peti besar, ditempat Wan-kongcu ada lima lima belas orang yang menunggunya kongcu, kamu katakan bahwa anak buah Lam-kek- hek-te ada empat puluh orang di kota ini, tapi kenapa hanya lima belas orang yang datang ? maaf taihap, yang tersisa hanya kami, sebelas orang tidak bisa bergerak di tempat Coa kongcu, dan sisanya melarikan diri ke Hanzhong. jawab Wan- kongcu hmhbaiklah kalau begitu, adakah diantara kalian yang memimpin piauwkiok dan bukoan !? taihap, enam orang dari rekan ini bersama saya, dan tujuh orang bersama Kui-kongcu adalah pemilik piawkiok dan bukoan. jawab Wan-kongcu sambil menunjuk Kui-kongcu, dan Kui kong-cu menjura dengan hati bergetar, karena dia mendengar apa yang dialami rekannya Coa-kongcu tentu kalian tahu tempat-tempat bukoan dan piuwkiok yang di pimpin rekan kalian yang melarikan diri ? kami tahu taihap. baik, sekarang Kui-kongcu, saya ingin kamu dan tujuh rekanmu menutup dan membubarkan piauwkiok dan bukoan tersebut, dan kamu Wan- kongcu dan enam rekanmu, menutup dua pokoan dan dua rumah bordil milik Coa-komgcu, dan tanggungan para pekerja ada dalam peti harta coa-kongcu ini. ujar Kwaa-han-bu, mereka semua mengannguk manut.
kalian lakukanlah mulai besok, dan harus selesai dalam jangka tiga hari, saya masih tetap dikota ini sampai hal ini selesai, dan saya berada di kediaman Song-kungcu. baik taihap, akan kami lakukan. jawab mereka serempak, lalu Kwaa-han-bu tiba-tiba menghilang dari pertemuan itu, lima belas orang itu terperangah sambil mengucek-ngucek mata mereka, seakan mata mereka yang rabun dan kurang awas.
Kota Kaifeng untuk ketiga kalinya heboh, dengan penutupan pokoan dan rumah bordil milik Coa-kongcu serta piauwkiok dan bukoan milik anggota Lam-kek- hek-te, sejarah yang dialami Kaifeng berlaku lagi saat dimana Kim-khong-taihap membersihkan kaifeng dari cengkraman durjana yang memperalat kungcu, karena rasa gembira hatinya Song-kingcu, maka Song-kungcu mengadakan pesta dan mengundang Liem-kungcu dan Tan-kungcu bertemu dengan Kwaa- han-bu.
pesta kalangan pemerintah itu sangat meriah, para kepala pengawal tiga kungcu hadir semu, demikian juga para pimpinan staf pemerintahan, ditengah pesta yang mengembirakan itu, tiga kungcu semeja dengan Kwaa-han-bu im-yang-sin-taihap, katanya dulu sekali, dua ratus tahun lebih yang lalu, saat kim-khong-taihap keluar dari pulau kura-kura melakukan hal yang sama, sebagaimana yang taihap lakukan sekarang ini, dan untuk itu atas nama seluruh rakyat kaifeng, kami bertiga kuncu kota kaifeng mengucapkan banyak terimakasih kepada taihap khusunya, dan kelaurga pulau kura-kura umunya. ujar Liem-kungcu yang berumur enam puluh tahun, Kwaa-han-bu senyum mendengar julukan yang diberikan padanya sam-taijin yang baik, bukankah mempertahan kebaikan, dan menanggulangi kejahatan, adalah tugas kita semua, jadi sudah satu kepatutan hal itu kita lakukan, dan juga saya berterimaksih kepada sam-kungcu, yang telah mendukung saya untuk melakukan yang terbaik untuk kota kita ini. sahut Kwaa-han-bu arig, ketiga kungcu itu manggut- manggut.
kalau sudah seperti ini keadaannya, maka kami akan kembali menurunkan pungutan pajak, dan kami yakin, walaupun lam-kek-hek-te akan bereaksi, tentu taihap ada bersama kami. sela Tan-kungcu menatap Kwaa-han-bu benar Tan-taijin, perjalananku akan mengarah ke Hanzhong untuk menuntaskan kemelut wilayah selatan ini, dan tentunya Sam-taijin janganlah lupa mendoakanku. sahut Kwaa-han-bu hahaha..hahaha, luarbiasa she-taihap, apa yang kami dengar dan lihat ini, dan doa kami laksana curahan hujan untuk Im-yang-sin-ta-hap, she-taihap dari pulau kura-kura, keturunan bengcu taisu yang mulia nan budiman ujar Liem-kungcu Sebelah barat gerbang kota paoteng banyak orang berduyun-duyun, orang tua dan anak-anak, dan juga rombongan itu membawa barang-barang yang banyak, sepertinya rombongan beberapa keluarga yang hendak mengungsi, dari arah yang berlawanan seorang pemuda rupawan sedang berjalan sambil menikmati pemandangan, hendak memasuki kota Paoteng, pemuda itu adalah Kwaa-han-bu yang sudah meninggalkan kaifeng sebulan yang lalu.
Kwaa-han-bu yang melihat iring-iringan penduduk yang keluar dari gerbang kota, mendekati seorang lelaki tua kakek.. apakah yang terjadi, dan rombongan ini mau kemana !? tanya Kwaa-han-bu, lelaki tua itu memandang sayu pada Kwaa-han-bu kami ini penduduk lemah yang tidak berdaya, kami hendak mengungsi kekota yang lebih aman, karena kota paoteng sudah laksana neraka. jawab kakek itu kamu anak muda, sebaiknya jangan memasuki kota, karena disana sedang terjadi kerusuhan. ujar kakek itu memberi saran, mendengar itu Kwaa-han-bu langsung berkelabat meluncur kearah kota, lelaki tua itu meleletkan lidah terkesima, Kwaa-han-bu memasuki kota, asap tebal menyelimuti kota dari rumah-rumah yang terbakar, hiruk pikuk jerit tangis dan teriakan minta tolong terdengar, beberapa lelaki sambil menunggang kuda melabrak penduduk yang sedang berlarian dengan mengumbar tawa, seorang samseng yang hendak mebakar sebuah rumah, ia hendak melempar sebuah obor, namun ditarik oleh Kwaa-han-bu yang tiba-tiba muncul, sehingga samseng itu terlempar dari atas kuda dan mencium tanah.
Kemudian beberapa samseng lain melewati lorong itu, dan spontan mereka menghentikan kudanya, karena melihat seorang pemuda tampan dengan sabuk kuning yang tersampir di kedua bahunya, dan juga marah ketika melihat rekan mereka tergeletak dibawah kaki pemuda itu, dengan muka meringis kesakitan bangsat ! mau cari mampus bentak orang yang paling depan dan memacu kudanya kearah Kwaa- han-bu dengan kecepatan tinggi, dan hendak melabraknya, namun Kwaa-han-bu mencelat keatas melewati kepala orang itu, Kwaa-han-bu menjambak rambut orang itu, sehingga ia terjengkang dan terlempar dari atas kuda, rekannya yang lain memacu kuda masing-masing, Kwaa-han-bu bergerak gesit dan ringan diantara barisan kuda, menarik semua penunggangnya hingga terlempar dari atas kuda, mereka meringis kesakitan sambil memagng kepala atau pantat masing-masing.
Kwaa-han-bu mendekati mereka dan menotok mereka hingga kaku, kemudian Kwaa-han-bu memacu kuda ketengah kota, dan serombongan penunggang kuda sedang berteriak-teriak mengancam sambil tertawa, Kwaa-han-bu memacu kuda yang ditungganginya kearah rombongan samseng, melihat laju kuda yang cepat mengarah kepada mereka dan penunggangnya pemuda tampan bersabuk kuning yang tidak mereka kenal, meraka bergerak menyambut dengan acungan pedang.
Dan sebelum kuda-kuda itu bertabrakan Kwaa-han-bu mendorong sebuah pukulan, maka serangkum hawa dingin menerpa rombongan tersebut, semua samseng yang diatas kuda mengigil kedinginan, hingga terjatuh dari kudanya masing-masing, sementara rombongan kuda-kuda yang melejit hendak melabrak kuda yang ditungganginya, dengan gerakan luar biasa Kwaa-han- bu menekan kakainya keperut kuda dan mengepos tenaga sakti, dan kuda itu melayang keatas, sehingga melewati rombongan kuda yang berlari panik Sepuluh samseng yang sedang kedinginan melihat atraksi luar biasa itu terkesima, kuda Kwaa-han-bu mendarat ringan diatas tanah, lalu Kwaa-han-bu turun dan mendekati mereka, namun sebelum Kwaa-han-bu bicara, serangkum tenaga sakti menderu menghantam tubuhnya, Kwa-han-bu mengibaskan tangannya blammm suara ledakan beradunya pukulan terdengar, Kwaa-han-bu berbalik dan menoleh kebelakang, dan dihadapannya seorang kakek tua berumur tujuh puluh tahun lebih, berdiri dengan tongkatnya dengan nafas sesak, ternyata adu pukulan itu telah membuat si kakek bergetar dan hampir jatuh.
Kakek itu adalah Lu-tiok, salah satu dari Ngo-ok- hengcia, dan tidak berapa lama seorang pemuda tampan muncul dengan senyum sinis berdiri disampaing Lu-tiok, dia adalah murid Lu-tiok salah satu dari Cap-pi-kwi, namanya adalah Bu-kim-to, keduanya melangkah mendekati Kwaa-han-bu, Lu- tiok merasa penasaran bahwa pukulannya tidak berpengaruh, walhal dia sudah mengirimkan pukulan sakti yang apabila mengenai pohon besar akan tumbang, bahkan akibat adu pukulan itu membuat jantungnya berguncang.
pemuda hijau, kamu lumayan berisi, dan sayang jika semuda ini harus mati. ujar Lu-tiok dengan jumawa menutupi perasaan hatinya yang bergetar, Kwaa-han- bu tersenyum mendengar perkataan itu kakek tua peot, tenagamu sudah sangat lemah tidak berkekuatan, dan sayang sekali jika setua ini masih menumpuk dosa dan kejahatan. jaga mulutmu pemuda ingusan, kamu tidak tahu berhadapan dengan siapa !? bentak Bu-kim-to marah hahah..hahaha.., pemuda bangkotan, jaga mulutmu ! apa kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan pada kalian. balas Kwaa-han-bu membentak, Lu-tiok terkesima, karena jawaban yang mereka terima, jelas mempermainkannya dan muridnya, karena mereka dijawab dengan hal yang sama, dan nada yang sama.
berapa rangkap nyawa yang kamu punya, sehingga berani mempermainkan aku ! sela Lu-tiok dengan nada marah nyawaku sih tidak ada rangkapnya, namun aku bisa memberikan kalian, perasaan nyawa rangkap itu. heh..! kamu terlalu sombong dan memandang rendah, ciaat .. Bu-kim-to tidak kuasa menahan amarahnya, mendengar betapa suhunya dipandang demikian remeh, seranganya cepat luar biasa, kepalan tangannya menekuk dengan telunjuk yang mengacung kebawah, gerakan persis monyet, ketika menyerang Bu-kim-to mengeluarkan salah satu jurus andalah suhunya sin-kauw-hoat (jurus kera sakti).
Kwa-han-bu dengan tenang melayani Bu-kim-to dengan jurus sin-tiauw-poh-chap-sha pertempuran berlangsung seru, gerakan Kwaa-han-bu yang demikian unik dan rumit membuat Bu-kim-to kelabakan, memang Kwaa-han-bu sedang mempermainkan Bu-kim-to, karena hampir seratus jurus, Kwaa-han-bu tidak pernah membalas, peluang- peluang untuk memasukkan serangan ia lewatkan begitu saja, tapi walaupun demikian Bu-kim-to tidak pernah mendapatkan sasaran, ilmunya sudah dikerahkan dengan sekuat tenaga berbareng emosi yang memuncak, karena Kwaa-han-bu terkesan mempermainkannya, karena tidak pernah membalas.
Lu-tiok yang juga memperhatikan jalannya pertempuran meleltkan lidah kagum, Bu-kim-to telah maksimal mengeluarkan jurus-jurus pamungkas yang di ajarkannya, pertahanan Kwaa-han-bu sangat kuat, gerakannya demikian ringan, sehingga membuat Bu- kim-to panik sendiri mengejar-ngejar lawannya, sekali Kwaa-han-bu mengirimkan serangan, hamper dipastikan Bu-kim-to akan rubuh, akan tetapi Kwaa- han-bu tidak melakukannya, Lu-tiok yang melihat kenyataan itu bergetar hatinya dan cemas.
kalau kamu memang punya kepandaian, kenapa hanya mengelak dan bertahan, apa kamu tidak pandai menyerang !? teriak Bu-kim-to gemas dan jengkel hehehe.. haha, apa kamu mau saya balas, baik akan saya balas, nih aku kasih sedikit, bersiaplah kamu pemuda bangkotan ! sahut Kwaa-han-bu sambil berpoksai kebelakang, dan mengambil sebatang arang, lalu bergerak menyerang dengan cepat dengan jurus Bu-kim-to sendiri, Bu-kim-to terkejut menerima serangan jurusnya sendiri, Kwaa- han-bu yang memiliki sin-kang dan gin-kang yang jauh diatas Bu-kim-to tunggang langgang mengelak dan berkelit, namun bagian jurus penyerangan yang dimainkan Kwaa-han-bu terlalu hebat, dan dalam sepuluh gebrakan Bu-kim-to sudah kalang kabut tidak karuan, dan tiga puluh jurus kemudian Bu-kim-to terjengkang karena dikait kaki Kwaa-han-bu, muka Bu-kim-to sudah belepotan warna hitam coreng moreng hahaha..haha.. sekarang tepat sekali jurusmu dengan wajahmu yang seperti monyet cela Kwaa-han-bu sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Bu- kim-to yang hitam, Bu-kim-to makin marah karena mukanya yang tampan telah dihina demikian rupa, dia melengking sambil mengayun tongkatnya dan keluarkan ilmu tongkatnya, dan Lu-tiok juga tidak bisa menahan marah, melihat muridnya di permainkan Lu-tiok lalu terjun dan mengeroyok Kwaa-han-bu, perlawanan sedikit berimbang, tekanan-tekanan yang diterima Kwaa-han-bu demikian kuat dan berbahaya, dua tongkat mengurung gerakannya, namun pemuda gembelengan ini masih tersenyum monyet tua juga tidak mau ketinggalan rupanya, biarlah aku juga cat mukamu supaya seperti monyet. ujar Kwaa-han-bu disela-sela gerakanya yang demikian ringan, makin panas hati suhu dan murid itu mendengar perkataan Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu merubah jurusnya, dia mengeluarkan jurus im-yang- bun-sin-im-hoat terdengar gemerisik disetiap gerakan Kwaa-han-bu yang mulai melukis dan menulis diawan, suara itu kontan membuat pertahanan suhu dan murid itu melemah, suara itu demikian menusuk hati dan melelapkan, sementara gerakan tangan itu yang seakan sedang menulis membayangi muka meraka, dan akhirnya seratus jurus kemudian muka Lu-tiok pun kena obok-obok gerakan tangan yang indah penuh seni itu, muka keriput itu coreng moreng, sementara Bu-kim-to kena tendang perutnya hingga melenguh pingsan.
Lu-tiok melompat menjauh kebelakang dan mukanya pucat pias, bulu romanya merinding merasakan mukanya yang baru di-obok-obok, dan kulit mukanya jadi panas dingin karena hawa im-yang yang keluar dari tangan pemuda itu , hatinya bergumam ngeri, bagaimana kalau pemuda ini bermaksud lebih dari sekedar iseng dan mempermainkan, apa mukanya tidak dikerat sayat demi sayat, pikirnya ngeri anak muda siapakah kamu !? tanya Lu-tiok dengan nada jerih aku Im-yang-sin-taihap akan merebus kamu tidak matang tidak mentah, tidak mati dan tidak hidup. jawab Kwaa-han-bu masih bersikap mengikuti pola jumawa sebagaimana musuhnya, sehingga membuat Lu-tiok makin keder dan gemetar, terbayang dia legenda sang bengcu yang memperlakukan musuhnya menjadi tidak mati dan tidak hidup.
apakah kamu she-taihap !? tanya Lu-tiok dengan hati semakin ciut, Kwaa-han-bu tersenyum sambil membuang arang ditangannya benar kakek peot ! jawab Kwaa-han-bu, mendengar itu Lu-tiok menjatuhkan diri ampun..ampunkan aku taihap. ujar Lu-tiok menghiba dan menyembah-nyembah dihadapan Kwaa-han-bu kenapa kamu kakek peot menyembah-nyembah minta ampun ? aku ini bukan Thian ! taihapmafkan..maafkanlah aku. sahut Lu-tiok mengubah pernyataannya lahkamu salah apa padaku, sehingga minta maaf, apa kamu pikun kakek peot 1? ujar Kwaa-han-bu, mendengar itu menangislah Lu-tiok, dia merasa tidak berdaya, dia minta ampun, taihap ini bukan thian dan itu benar, dia minta maaf, taihap ini merasa tidak pernah ia salahi, dan dia selalu dijawab dengan sebutan peot, membuat hatinya hancur remuk , iba , sesal dan takut.
Melihat Lu-tiok menangis Kwaa-han-bu tersenyum lembut dan bertanya lembut kakek apa yang menyebabkan kamu menangis !? Lu-tiok mendongak merasakan suara taihap itu berubah, ketika melihat wajah tampan yang lembut dan tersenyum dia makin sesugukan, Bu-kim-to siuman dan melihat gurunya berlutut seesugukan membuat dia kalap dan marah, lalu menerjang dengan kekuatanya yang masih tersisa, dan dengan gerakan cepat dan akurat krek.augh..krek..aduhh.prakkk.. Bu-kim-to ambruk pingsan, sendi lengan dibahu kirinya patah, sendi lutut kananya tanggal, jemari tangan kananya remuk dan jemari kaki kirinya remuk.
Lu-tiok yang melihat kejadian luar biasa cepat itu terdiam dan terenyuh saat melihat muridnya ambruk pingsan, sepuluh orang anak buahnya yang kedinginan, makin terbelalak pucat, dan muka mereka semakin hijau, gigi mereka bergemelutuk menggigil kedinginan, bebarapa penduduk yang tadi berlarian bersembunyi mengeluarkan kepala dari tempat persembunyian, hati mereka takjub menonton pertempuran yang berlangsung sampai melihat sikap kakek tua itu.
kakek.. ! muridmu telah menerima hukuman, dan sekarang giliran kakek. ujar Kwaa-han-bu, Lu-tiok mendongak menatap Kwaa-han-bu anak muda, apakah kamu akan juga mematahkan tulang-tulangku !? benar kakek. apakah aku tidak dimaafkan !? kakek, apakah kamu pantas dimaafkan, sebutkan alasannya kenapa kakek merasa pantas dimaafkan !? ujar Kwaa-han-bu, Lu-tiok terdiam merenung apakah menurutnya ia pantas dimaafkan, terbayanglah ia perjalanannya bersama Pah-sim sai- jin yang membantai Gobipai , Siawlimpai, Kunlun-pai dan ratusan orang saat pembentukan pak-kek-hek-te dan tung-kek-hek-te.
kenapa kamu terdiam kakek, katakanlah, apakah menurutmu kakek pantas dimaafkan!? jika orang tidak berbudi, maka aku tidak dimaafkan jawab Lu-tiok hahaha. kakek, apakah kamu mengharapkan budi dari orang yang kamu aniaya !? taihap, aku tahu aku sudah salah dan banyak berbuat jahat, tapi sekarang aku sadar dan menyesal, jika memang aku tidak dimaafkan lakukanlah apa yang kamu ingin lakukan !? baik kakek akan aku lakukan. Kwaa-han-bu mengulurkan tangan, namun Lu-tiok mengelak dan melawan, menyerang dengan tongkatnya dengan tidak kalah bahayanya, Kwaa-han-bu tersenyum melihat perubahan sikap itu, walhal dia hanya ingin menguji ketabahan dan kepasrahan rasa sesal Lu-tiok, namun ternyata ungkapan sesal Lu-tiok hanya polesan.
Kwaa-han-bu keluarkan jurus im-yang-sian-sin-lie tangannya yang bergerak seiring ujung sabuk juga bergerak laksana ular hidup, meluncur membelit dan menotok Lu-tiok, hampir juga lima puluh jurus Lu-tiok mempertahankan dirinya, dan akhirnya suara tulang patahpun terdengar susul menyusul, seiring lenguhan dan teriakan sakit dari mulut Lu-tiok.
Lu-tiok ambruk pingsan teronggok dengan kedua lengan tanggal dari bahu, demikian juga dua lutut, dan jemari kedua tangan dan kaki remuk, sepuluh orang yang ketakutan dan kedinginan itu meringis belas kasihan, saat Kwa-han-bu mendekati mereka, orang-orang yang tadi menyembunyikan diri bermunculan kalian semua, bawa kedua pimpinan kalian dan kelua dari kota ini. ujar Kwaa-han-bu, sepuluh orang itu dengan kaki gemetar berdiri, lalu dengan susah payah mereka mengangkat Lu-tiok dan Bu-kim-to, dan segera keluar dari kota Paoteng.
terimaksih she-taihap. ujar seorang lelaki diantara kerumunan orang-orang yang bermunculan dari tempat persembunyian sama-sama paman, dan sudah kepatutan manusia saling tolong menolong, nah..sekarang para sicu, kembalilah kerumah masing-masing, dan berbenahlah apa yang bisa dibenahi dari akibat kerusakan hari ini. baik taihap, dan sekali lagi kami ucapkan terimakasih. sahut mereka, Kwaa-han-bu mengangguk, dan orang-orang itupun segera kembali ketempat masing-masing.
Sepuluh orang yang membawa Lu-tiok dan muridnya berhenti disebuah hutan, tubuh mereka semakin lemah dan kaku kita istirahat dulu disini, aku tidak tahan lagi, perutku rasanya kaku dan tulangku ngilu. benaraku juga merasakan hal yang sama. sahut yang lain, lalu mereka meletakkan Lu-tiok dan Kim-to, tidak berapa lama mereka duduk, dua puluh orang rekan mereka datang kalian darimana saja !? bentak orang yang menyuruh istirahat tadi maaf twako, kami tidak berani muncul setelah melihat Bu-twako pingsan, dan suhu berlutut. hmh.. sudahlah, kalian nyalakan api untuk menghangatkan tubuh kami, dan sepuluh orang dari kalian, bawa suhu dan Bu-twako ke Hanzhong, dan laporkan apa yang kita hadapi kepada empat suhu. baik twako. sahut mereka, lalu sepuluh orang mengangkat Lu-tiok dan Bu-kim-to, dan segera meninggalkan hutan, sementara sepuluh orang lainnya, sebagian membuat api unggun yang besar dan sebagian mencari binatang buruan.
apa selanjutnya yang akan kita lakukan twako !? tanya salah seorang anak buah yang menderita akibat pukulan Kwaa-han-bu entahlah, sudah lima hari rasa dingin ini masih menusuk ketulang, bahkan kita sudah menghangatkan tubuh selama dua jam dekat api ini, tapi tetap juga tulang kita terasa ngilu. jawab pimpinan rombongan dengan nada putus asa apakah kita akan selamat twako !? tanya yang lain dengan nada mengeluh kalau kita tidak mendapatkan tabib dalam tiga hari ini, aku tidak tahu apa yang akan kita alami. jawabnya sambil menyandarkan diri disebuah pohon.
Dua jam kemudian, tiba-tiba seorang dari mereka kejang dan menggelepar, lalu diam karena nyawanya sudah melayang, rekannya yang sehat membawa mayat dan menguburkannya ditempat yang agak jauh, sembilan orang yang menderita pukulan itu makin putus asa melihat seorang rekannya yang sudah mati , keesokan harinya, dua dari mereka menyusul temannya yang tewas bagaimana twako, sudah tiga orang yang tewas, sementara tabib sulit didapat. sudahlah, sepertinya kami semua tidak akan selamat. jawabnya makin lemah, dan pada siang harinya tiga orang dari mereka tewas, sepuluh orang yang sehat, kembali menguburkan mayat rekannya, dan akhirnya pada malam harinya empat yang tersisa pun menghembuskan nafas terakhir.
Setelah selesai menguburkan empat mayat itu, sepuluh orang anggota Lam-kek-hek-te duduk termenung mengelilingi api ungun, mereka sudah dua malam bersama rekan mereka yang menderita pukulan pukulan taihap itu sungguh luar biasa, suhu dan To- twako tapa daksa, sepuluh teman kita tewas menderita susul menyusul. ujar seorang diantara mereka hmh kira-kira apakah Thian-te-ong akan dapat mengatasi Im-yang-sin-taihap !? sela seorang yang lain sudahlah, sebaiknya kita cepat ke Hanzhong dan bergabung dengan kawan-kawan disana. sahut yang lain, lalu suasana hening, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka melewatkan malam dihutan itu, dan keeesokan harinya mereka berangkat ke Hanzhong.
Kota Hanzhong gempar setelah kedatangan sepuluh orang anggota yang membawa Lu-tiok dan Bu-kim-to yang tapadaksa, empat dari Ngo-ok-hengcia berkumpul mengitari Lu-tiok yang rebah di ranjang siapa yang melakukannya she-Lu !? tanya Ouw-gin she-taihap dengan julukan Im-yang-sin-taihap. jawab Lu-tiok lirih orangnya bagaimana !? tanya Phang-kek orangnya masih muda sekitar umur delapan belas tahun, wajahnya tampan, dan sabuk kuning tersampir di bahunya. tidak apa she-Lu, kami akan menagih perbuatannya ini dengan nyawanya. sela Toan-sin dengan nada gemas.
apa langkah selanjutnya yang kalian akan buat untuk mengatasi im-yang-sin-taihap !? tanya Lu-tiok lemah, sesaat semuanya diam hal pertama yang akan kita lakukan adalah mencegat Im-yang-sin-taihap dengan pasukan besar, jadi untuk itu kita akan mengirim hek-kek-bun beserta empat ratus pasukan untuk mengganyang im- yang-sin-taihap. jawab Toan-sin kemana mereka dikirim she-Toan !? tanya In-kok-cu kita mencegatnya di kong-ciak-san (bukit merak) antara Hopei dan Punam. jawab Toan-sin, semuanya terdiam bagaimana menurut kalian dengan pendapat saya !? tanya Toan-sim saya setuju dengan pendapat she-Toan. sela Ouw- gin, dan semuanya mengangguk setuju.
keesokan harinya, hek-kek-bun yang berjumlah sepuluh orang, beserta empat ratus pasukan berkumpul, Toan-sin berdiri, dan dengan lantang berkata para murid semua, dengar dan perhatikan ! hari ini kalian empat ratusan dibawah komando hek-kek-bun akan berangkat menuju kong-ciak-san, disana kalian dirikan tenda, dan menyusun startegi untuk menundukkan seorang yang akan melewati daerah itu menuju Punam, dan ingat ..! kalian harus hati-hati dan jitu dalam menyusun strategi, karena orang yang akan kalian tewaskan ini, seorang yang tidak boleh dipandang ringan. semua pasukan terdiam dengan hati bergumam heran, bahwa untuk menundukkan seorang mereka laksana mau berperang.
orang ini disebut dengan julukan im-yang-sin-taihap, dan dia adalah she-taihap dari pulau kura-kura, orangnya masih sangat muda berumur delapan belas tahun, dan dia memakai sabuk yang selalu tersampir dibahunya. ujar Toan-sin sambil menyapuh pandangan kepada seluruh anak murid apa kalian mengerti ! mengerti suhu terdengar jawaban bergemuruh bagus.. dan sekarang berangkatlah ! ujar Toan-sin menutup pembicaraan, dan pasukan pun bergerak meninggalkan Hanzhong menuju kong-ciak-san.
Di kota Hopei Kwaa-han-bu memasuki kedai kecil, hal ini dilakukan karena likoan dan rumah makan besar, kemungkinan besar adalah milik anggota Lam-kek- hek-te, yang tentunya sudah memusatkan perhatian padanya paman.. tolong segelas teh hangat dan tiga potong roti. ujar Kwa-han-bu, kemudia ia duduk setelah menyampaikan pesanannya kepada pemiliki kedai, hanya tujuh orang didalam kedai, dan sedang memandangi Kwaa-han-bu dengan pandangan terkesima, semua tamu itu adalah rakyat kecil, para pedagang keliling dan pedagang buah-buahan.
Kota hopei dalam seminggu terakhir sudah geger dengan kemunculan Im-yang-sin-taihap, terlebih apa yang terjadi dikota Paoteng, dimana salah satu pimpinan Lam-kek-hek-te telah dikalahkan Im-yang- sin-taihap, dan juga berita keadaan Kaifeng yang sudah normal menjadi gejolak rasa harap yang mencuat dibenak para penduduk, dan bahkan mereka mendengar sebuah istilah yang marak, yang katanya istilah itu pernah menjadi buah bibir dua ratus tahun yang silam di kota kaifeng, perawakan pendekar perkasa yang baru muncul itu sangat mudah dikenal, karena orangnya masih muda, wajahnya tampan, dan sabuk kuning selalu tersampir di bahunya.
Dan orang muda dengan perawakan tersebut itu sekarang duduk disebuah meja disudut ruangan kedai, pemilik kedai datang menghampiri Kwaa-han- bu, karena dia memang banyak luang dalam mengelola kedainya yang hanya berjumlah sepuluh meja, dan tamunya juga tidak beberapa banyak yang datang maaf kongcu jika saya berlaku lancang, kalau boleh tahu apakah kongcu she-taihap yang berjulukan im- yang-sin-taihap !? tanya pemilik kedai makan, Kwaa- han-bu menyambut kedatangan pemilik kedai yang mendekatinya, dan makin terasa rias ramah pada wajahnya yang rupawan benar sekali paman, dan kalau memang ada waktu, duduk dan bercakap-cakaplah denganku paman. jawab Kwaa-han-bu, tutur kata yang sopan dan lemah lembut itu sudah membuat senang hati pemilki kedai, lalu dia duduk saya Kao-ming she-taihap, ujarnya memperkenalkan diri terimakasih Kao-siok telah sudi berbincang-bincang dengan saya. sahut Kwaa-han-bu sambil meminum tehnya kao-siok, apakah di sini likoan-likoan besar dimiliki oleh anggota Lam-kek-hek-te !? benar she-taihap, dan itu sangat meresahkan, karena semua pelanggan dan waktu di monopoli oleh mereka. jawab Kao-ming lirih hmh lalu kalau piauwkiok bagaimana paman !? ya .. piauwkiok juga, dan disini ada dua piauwkiok dan keduanya dimilki oleh anak buah Lam-kek-hek- te. dimanakah dua piauwkiok itu paman !? hek-houw (harimau hitam) piauwkiok ada di barat kota dan hek-liong (naga hitam) piauwkiok ada di utara kota. jawab Kao-ming, percakapan itu demikian akrab, dan diselingi wajah berseri-seri dari Kao-ming, karena dia merasa senang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Kwaa-han-bu yang dia yakin bahwa pendekar rupawan ini memiliki tugas mulia melenyapkan tirani dari kotanya.
Malam itu Kwaa-han-bu bergerak menuju tempat hek-liong piauwkiok, serombongan anggota piauwkiok ternyata baru sampai dari perjalanan karena mereka sibuk menurunkan beberapa peti dan menyimpannya di gudang setelah ini, kita bersih-bersih dan menghadap suma- twako. teriak pimpinan rombongan, sambil masuk kedalam, para piauwsu mengangguk dan melanjutkan pekerjaan, setelah selesai merekapan masuk masuk kedalam Tiga jam kemudian merekapun berkumpul diruang tengah, didepan lelaki tampan berumur dua puluh delapan tahun suma twako, barang yang kami bawa dari Punam adalah barang Lou-kungcu dan hendak disampaikan kepada Kam-wangwe, dan biaya sudah di lunasi saat keberangkatan dari Punam. ujar pimpinan rombongan sambil menyerahkan tiga pundi uang, suma-pangcu menerima tiga pundi uang dan membukanya, setelah itu dia tersenyum puas lumayan juga bayaran yang diberikan Lou-kungcu, dan besok ketika mengantar kerumah Kam-wangwe kalian minta persenan bongkar muat barang dan bonus jasa ! baik twako, namun disamping itu, kami ingin menyampaikan berita penting kepada twako. berita apa itu ji-te !? tanya suma-pangcu serius empat suhu di Hanzhong menempatkan empat ratus anggota Lam-kek-hek-te di kong-ciak-san untuk mencegat seorang pemuda yang berjulukan im-yang- sin-taihap. heh! empat ratus orang untuk mencegat satu orang !? aneh betul empat suhu berbuat hal itu. sela Suma pangcu terheran-heran benar twako, dan keheranan itu juga kami tanyakan, dan jawabannya karena orang itu bukan orang sembarangan, dan juga anak muda itu merupakan she-taihap dari pulau kura-kura. wah ..kalau begitu kita juga harus berkumpul dengan rekan-rekan yang lain, kalau begitu besok sampaikan kepada teman-teman kita untuk berkumpul disini besok malam, untuk membicarakan tindakan kita mendukung pasukan yang ada di kong-ciak-san. apakah menurut twako hal itu perlu kita lakukan ? dan menurut saya, jumlah empat ratus untuk mencegat seseorang sudah hal yang berlebihan. hmh tidak demikian ji-sute, kita mengumpulkan rekan-rekan yang lain hanya untuk bertindak waspada, jika sekiranya pemuda itu sudah berada disini, dan kita dapat meringkusnya, bukankah itu hal yang baik bagi kita di mata suhu. jika demikian halnya, aku setuju twako. sahut tio- tan-ji Kwa-han-bu yang mendengar berita itu, tercenung ditempat persembunyiannya, dan sekelabat ia meninggalkan tempat setelah Suma-pangcu menutup pertemuan, Kwa-han-bu berencana untuk lebih dalam mengkaji langkah yang akan diambilnya, untuk menghadapi empat ratus anak buah Lam-kek-hek-te, Kwaa-han-bu bermalam disebuah kelenteng yang tidak dipakai lagi.
Keesokan harinya, Suma-pangcu mengundang semua rekannya yang beroperasi dikota Hopei untuk membicarakan ide dan rencananya, dan pada malamnya pertemuan itupun terlaksana, empat puluh anggota Lam-kek-hek-te sudah berkumpul di rumah Suma-pangcu para sute dan twako, saya mengundang kalian malam ini, ingin menyampaikan bahwa suhu di Hanzhong menempatkan anggota Lam-kek-hek-te di kong-ciak-san hanya untuk mencegat seorang prmuda yang berjulukan im-yang-sin-taihap. hmh.. hal itu juga sudah saya dengar dua hari yang lalu Suma-pangcu, lalu maksudnya kita berkumpul untuk apa !? sela Kui-pangcu dari hek-houw- piauwkiok begini Kui-pangcu dan cuwi semua, bagaimana kalau kita meringkus pemuda itu jika sudah sampai disini, dan kemudian kita serahkan kepada pasukan yang ada di kong-ciak-san, tentunya hal itu menyenangkan suhu di Hanzhong. sahut Suma-pangcu.
suma-pangcu, mungkin pangcu tidak mendengar kabar dari arah kaifeng. sela Cu-wangwe pemilik salah satu likoan dan pokoan berita apa dari Kaifeng Cu-wangwe ? benar saya tidak tahu. saya mendengarnya dua minggu yang lalu, bahwa Kaifeng sudah tidak dikuasai oleh Lam-kek-hek-te, dan seminggu yang lalu bahwa kota Paoteng juga sudah tidak dikuasai lam-kek-hek-te, bahkan suhu she-tiok dan Bu-twako sudah cacat seumur hidup dibuat oleh pemuda itu. sahut Cu-wangwe, dan mendengar berita itu membuat sebagian peserta pertemuan terkejut.
lalu, menurut Cu-wangwe, apakah kita diam saja, dan membiarkan pemuda itu diurus oleh anak buah lam-kek-hek-te yang berada di kong-ciak-san ? benar suma-pangcu, suhu di hanzhong tentu telah memikirkan matang-matang pengerahan pasukan tersebut, kalau suhu saja sampai mengerahkan empat ratus pasukan, lalu bagaimana kita yang empat puluh orang bisa meringkus im-yang-sin-taihap. sahut Cu- wangwe dengan nada ketus, semua mengangguk membenarkan perkataan Cu-wangwe.
tiba-tiba terdengar perkataan yang membuat mereka terperangah dan bergetar benar sekali kata Cu-wangwe, mapukah kalian meringkus Im-yang-sin-taihap yang sekarang ada disini !? empat puluh orang itu terkejut mendengar perkataan itu, dan munculnya pemuda rupawan bersabuk kuning dengan senyum menghias dibibirnya, mereka bersiap siaga menyerang Kwaa-han-bu, namun tidak ada yang berani mendahului.
kalian semua kalau tidak mau celaka, sebaiknya berlutut kalau tidak majulah, biar aku berikan hajaran sedikit pada kalian. bentak Kwaa-han-bu, empat puluh orang lam-kek-hek-te merangsak maju menyerang Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu bergerak luar biasa membagi-bagi tamparan dan totokan pada pengeroyoknya yang merangsak maju, terdengar susul menyusul jeritan kesakitan dan lenguhan nyeri, dalam dua puluh gebrakan, empat puluh orang itu sudah rubuh tidak erdaya, Kwaa-han-bu duduk dikursi dan menatap tajam pada empat puluh orang Lam- kek-hek-te.
Kaifeng, Paoteng, Cinan, dan sekarang hopei harus bebas dari Lam-kek-hek-te, kalian mengerti !? bentak Kwaa-han-bu, semuanya tertunduk takut dan pucat sekarang kalian jawab, apakah kalian akan menuruti perintahku atau kubuat kalian seperti suhu kalian she- Lu !? ancam Kwaa-han-bu, semua menatap dengan cemas dan gelisah, tubuh merka menggigil cepatlah jawab, mumpung aku masih memberikan kalian pilihan. apakah kami akan diampuni jika mengikut perkataan taihap !? tanya Cu-wangwe tergantung pada kalian, jika kalian berguna dan bermamfaat untuk melenyapkan kejahatan maka kalian diampuni, tapi jika tidak, maka kalian akan tetap dibuat cacat seumur hidup jawab Kwaa-han-bu lalu untuk apa kami memilih taat, jika kami juga akhirnya akan cacat ? ketaatan tentu ada dasar, dan dasar itu yang menetukan, dan dasar itu akan kita uji dalam beberapa hari ini. sahut Kwaa-han-bu tegas.
jadi kalian tentukanlah, apa hari ini kalian menerima hukuman atau nanti setelah pengujian selesai, yang kemunkinan anda selamat atau terkapar cacat. ujar Kwaa—han-bu, semuanya hening terdiam saya akan taat. sahut Song-wangwe pemilik likoan dan rumah bordil sekaligus pokoan, semua rekannya menatapnya meragu, kemudian disusul Gu-kauwsu, dan akhirnya merekapun semua setuju.
kami semua sudah setuju, dan hal apa yang ingin taihap lakukan !? tanya Suma-pangcu hal yang pertama, khusus bagi yang memiliki likoan untuk tidak lagi menopoli pengunjung, sehingga merugikan likoan dan kedai makan orang lain, yang kedua bagi yang memiliki pokoan dan rumah bordil, supaya besok menutup tempat tersebut, dan memberikan tanggungan kepada pekerja, yang wanita selama satu tahun, dan tiga bulan untuk pekerja laki-laki. ujar Kwaa-han-bu, semuanya tertunduk mendengarkan, dan tiba-tiba Cu-wangwe angkat bicara taihap, jika hal itu kami lakukan, apakah kami akan diampuni !? Kwaa-han-bu tiba-tiba bergerak dan terdengarlah suara patah dan remuknya tulang yang disusul jeritan setinggi langit dari mulut Cu-wangwe, Cu-wangwe terhempas pingsan.
Semua yang yang menyaksikan kejadian cepat dan mengenaskan itu semakin pucat, dan terperangah ketika tiba-tiba tubuh Cu-wangwe terhempas, kejadian yang luar biasa cepat dan mereka tidak duga, Kwaa-han-bu berkata seakan tidak pernah terjadi apa-apa sekarang kita lanjutkan, bagi yang punya piauwkiok dan bukoan agar ditutup ! semuanya terdiam mengkirit ngeri sambil melirik Cu-wangwe yang pingsan, dan lalu mereka dengan bergetar menjawab baik taihap, akan kami lakukan apa yang diperintahkan. selanjutnya, setelah hal yang sampaikan tadi sudah tuntas, maka hal berikutnya adalah, pasukan Lam- kek-hek-te yang ada di Kong-ciak-san, saya ingin gambaran jelas tentang bukit itu. ujar Kwaa-han-bu, semuanya terdiam sambil saling berpandangan jika kalian tidak ada yang mengetahui detail bukit itu, besok dua orang dari kalian berangkat kesana dan membaca daerah bukit itu. saya tahu taihap. sela Tio-tan-ji hmhgambarkanlah padaku ! jalan yang melintas dibukit itu ada dilereng bagian timur, disisi kanan jalan merupakan dinding tebing dan sebelah bawah kiri jalan adalah tebing yang landai oleh semak-semak belukar, dilereng sebelah barat, merupakan areal yang sangat luas dan bersambung dengan tebing sebelah kanan jalan lintas, dan dibagian selatan adalah daerah belukar dengan hutan yang lebat dan banyak rawa-rawa didalamnya, dan disebelah utara merupakan jurang yang curam cukup jelas kalau begitu, hanya apakah ada jalan lain dari sini menuju ke bukit selain jalan lintas itu ? ada taihap, jika kita keluar dari gerbang utara kota ini, maka akan sampai didesa sebelah utara lereng bukit, dan dari desa itu akan memasuki hutan belukar yang lebat dan tebing curam, terus berjalan hingga sampai pada sebuah sungai yang diapit dua tebing, dan satu tebing itu adalah jurang sebelah utara kong- ciak-san. gambaran yang sangat jelas. sahut Kwaa-han-bu dan hal yang terakhir, setelah kalian selesaikan urusan kalian disini, maka kalian keluar dari kota ini dan jangan kembali, diluar kota ini kalian silahkan memilih, mau ketimur dan bergabung dengan teman kalian di kong-ciak-san atau kekota lain. ujar Kwaa- han-bu, semuanya kembali diam dan menunduk dan ingat, aku masih ada disini menunggu tuntasnya masalah rumah bordil, likoan, pokoan, bukoan dan piauwkiok setelah mangatakan itu Kwaa-han-bu lalu menghilang dari kursi itu, semuanya terkesima dan meleletkan lidah karena terheyak takjub.
Dua hari kemudian kota Hopei gempar dengan penutupan tiga rumah bordil, lima pokoan, tiga bukoan dan dua piauwkiok, dan makin menjadi buah bibir ketika anggota Lam-kek-hek-te meninggalkan kota Hopei, she-kao pemilik kedai minum makin diburu orang untuk mendengar cerita yang keluar dari mulutnya, bahwa semua itu adalah berkat Im-yang- sin-taihap, dan diapun menceritakan obrolan- obrolannya dengan Kwaa-han-bu, suasana gembira meliputi penduduk Hopei, nama im-yang-sin-taihap dielu-elukan dan tentunya semakin santer julukan itu di wilayah selatan bahkan sampai ke Nancao dan menembus perbatasan kewilayah barat, terlebih diwilayah timur, bahkan sudah sampai ke kibun dimana Tung-kek-hek-te berada.
Kwaa-han-bu keluar dari pintu utara kota hopei, dan dua hari kemudian sampailah ia ke desa lereng kong- ciak-san, lalu ia memasuki hutan belukar, dan sehari kemudian sampailah kesungai yang diceritakan Tio- tan-ji, jurang itu sangat tinggi dan juga licin, namun bagi Kwaa-han-bu yang sakti liar biasa, tebing itu bukan halangan, dengan gerakan ringan dan mantap Kwaa-han-bu mendaki tebing itu laksana laba-laba dengan menggunakan sabuknya, dimana saat ujung sabuk menghantam tanah tebing, ujung sabuk itu melekat kuat, dan Kwaa-han-bu menggejot tubuhnya dengan cepat dan melenting ke udara melebihi ujung sabuk yang melekat, dan saat masih diudara ujung sabuk yang tadi melekat sudah meluncur lagi keatas dan melekat lagi, dan tubuh kwa-hanbu menyentak kuat dan tubuhnya melenting lagi keatas melewati ujung sabuk, demikianlah selanjutnya sehingga hanya dengan sepuluh kali hentakan, Kwaa-han-bu sudah diatas tebing, dan dari bibir tebing Kwaa-han-bu melihat tumpukan tenda yang banyak diareal yang luas itu.
Ada sekitar dua ratus orang di areal itu sedang mengadakan pembicaraan, Kwaa-han-bu mengerahkan tenaga saktinya, sehingga dia dapat mendengar percakapan dari tempat ia bersembunyi dengan jelas berita yang kita dengar, bahwa kemungkinan Im- yang-sin-taihap akan melintas di bukit ini dua hari lagi, jadi untuk itu, seratus pasukan panah yang di ujung jalan sebelah timur supaya bersiap-siap memanah saat anak muda itu kelihatan, dan ketika ia sibuk menghindar dan menangkap anak panah, kumpulan batu yang sudah ditumpuk diatas tebing supaya di jebol dan digulingkan, sehingga ia terpanah atau tertimpa atau jatuh kedalam semak dibawah jalan yang sudah dipasang pancang-pancang runcing. ujar Tio-kang orang tertua dari hek-kek-bun, semuanya terdiam mendengarkan apa kalian mengerti !? menegrti twako ! jawab mereka serempak Kwa-han-bu terdiam dan merenung untuk memikirkan langkah selanjutnya, dan membayangkan strategi musuh yang hendak dipakai untuk membinasakannya, Kwaa-han-bu menunggu sampai dua hari sambil menyelidiki lebih jauh kedudukan pasukan Lam-kek-hek-te, saat dimana pasukan sudah menduduki posisi masing-masing, dimana seratus orang berada di atas tebing jalan dan seratus pasukan pemanah menuju sebelah timur jalan, dan dua ratus orang mengambil sebelah barat jalan untuk menutup jalan untuk mencegat dia sekiranya ia berbalik kebelakang.
Saat pengambilan posisi dilakukan, pasukan Lam-kek- hek-te pun mulai membagi pasukan, setelah satu jam pasukan itupun terpisah, seorang murid kepala yang memimpin seratus pasukan diatas tebing jalan mensiagakan pasukan kita tunggu tanda dari pasukan di barat kalau-kalau im-yang-sin-taihap sudah melewati jalan, dan tunggu aba-aba saya untuk meruntuhkan tumpukan batu ini. ujar pimpinan, semua mengangguk siap, dan tiba-tiba Kwaa-han-bu muncul dan membuat pasukan itu terperangah panik, kontan mereka menyerang dan mengeroyok Kwaa-han-bu Pertempuran seru dan ramaipun terjadi, Kwaa-han-bu dengan gesit dan mantap membendung keroyokan dengan ilmu im-yang-sian-sin-lie, pasukan itu porak- poranda, karena dalam empat kali gebrakan dua tangan dua ujung sabuk telah menumbangkan lima belas orang, pekik dan jerit kesakitan susul menyusul, Kwaa-han-bu tidak menyia-nyiakan waktu, sehingga dalam waktu setengah jam pasukan diatas tebing sudah rubuh dan ambruk tidak berdaya, mereka semua menderita patah dan lepas sendi lutut sebelah kakinya kalian tetap disini dan jangan kemana-mana. bentak Kwaa-han-bu sambil mematahkan sendi yang lain pada tubuh pimpinan pasukan, sehingga membuat pimpinan itu pingsan jika kalian lari dan beranjak dari sini, maka kalian akan seperi pimpinan kalian ini. ancam Kwaa-han-bu dan berkelabat cepat dari tempat itu menuju kesebelah barat jalan.
Dua ratus orang yang sedang bersiaga bersembunyi didalam hutan, Kwaa-han-bu bergerak laksana siluman melumpuhkan kempulan-kumpulan kelompok yang bersembunyi didalam hutan, sehingga menjelang sore hari pasukan bagian barat itu ambruk semua dengan menderita patah sebelah kaki dan patah sebelah lengan, kemudian remuk sebelah jemari tangan dan kaki Ketika malam sudah larut, seratus pasukan pemanah bosan dan kecapean mungkin besok Im-yang-taihap melewati jalan, kita harus gantian tidur dan jaga. teriak pimpinan pasukan, lima puluh dari mereka istirahat, sedang lima puluh lagi berjaga, namun baru dua jam bejaga, lima puluh orang itu heboh ketika dua puluh dari mereka ternyata sudah kaku dan bisu, namun ditengah kepanikan itu tiba-tiba kwa-han-bu menyerang mereka dengan cepat dan gesit, sepuluh dari mereka sudah ambruk tidak berdaya, saat lima puluh orang yang sedang tidur terbangun, mereka langsung merangsak maju membantu kawan-kawannya mengeroyok Kwaa-han-bu, namun tujuh puluh orang itu dalam dua puluh gebrakan ambruk semua dengan derita patah kaki dan tangan.
Totokan dua puluh orang yang kaku dilepas kwa-han- bu yang tidak menderita patah tulang hanya kalian, dan kalian saya lepaskan untuk mengurus rekan kalian yang butuh pertolongan. ujar Kwaa-han-bu dan berkelabat dari tempat itu, dan melanjutkan perjalanan ke kota Punam untuk membebaskan penduduk dari cengkraman Lam-kek-hek-te.
Penanganan kebutuhan pasukan yang berada kong- ciak-san di serahkan kepada empat puluh anggota lam-kek-hek-te yang berada di punam, pagi itu mereka membawa ransum menuju kong-ciak-san dalam empat kereta kuda, sesampai di kong-ciak-san mereka terkejut bukan main melihat semua anggota tergeletak tidak berdaya ada apa twako, kenapa bisa seperti ini !? tanya pimpinan lam-kek-hek-te kota Punam kita sudah dipecundangi habis-habisan oleh Im-yang- sin-taihap. Jawab orang itu sambil meringis kesakitan lalu apa yang harus kami lakukan !? tinggalkanlah ransom itu, dan pergilah ke Hanzhong untuk melaporkan keadaan. baik, kalau begitu twako, kami segera berangkat. Setelah sampai dikota Punam, Kwaa-han-bu mendatangi beberapa bukoan yang diketahui sebagai lam-kek-hek-te, namun dari tiga bukoan, tidak menemukan anggota lam-kek-hek-te, Kwaa-han-bu kemudian mendatangi empat piuwkiok, dan hasilnya juga nihil, selama tiga hari Kwaa-han-bu melihat situasi keberadaan anggota Lam-kek-hek-te, namun tetap tidak ada keberadaan angota tersebut, mungkin mereka sudah lari ke Han-zhong pikir Kwaa-han-bu, dan hal itu ada benarnya, karena empat puluh orang lam-kek-hek-te sedang menuju Han-zhong untuk melapor, karena keadaan aman dan terkendali, Kwaa- han-bu meninggalkan Punam dan melanjutkan perjalanan.
Selama lima bulan perjalanan dari Punam ke- Hanzhong, semua perkotaan telah ditinggalkan oleh Lam-kek-hek-te, penduduk selama perjalanan itu mengelu-ngelukan kedatangan Kwaa-han-bu yang sampai kekota mereka, karena keluarnya para Lam- kek-hek-te, karena terkait kemunculan she- taihap dari pulau kura-kura yang berjulukan im-yang-sin- taihap, dan yang membuat penduduk takjub, pendekarnya masih belum memasuki kota mereka, lam-kek-hek-te sudah duluan hengkang, wilayah selatan menyambut kemunculan Im-yang-sin-taihap laksana tanah kering kerontang disiram hujan yang lebat, bagaikan beban yang berat tiba-tiba diletakkan, lega, puas dan nyaman.
Kota Hanzhong gempar dengan membanjirnya anggota-anggota lam-kek-hek-te yang berkedudukan dikota-kota memasuki Han-zhong, berita sepak terjang Im-yang-sin-taihap yang mempreteli keberadaan mereka disetiap kota, membuat Ngo-ok- hengcia tercenung tidak habis piker, terlebih berita tentang peristiwa empat ratus pasukan di kong-ciak- san hal ini sungguh membuat penasaran ! sela Toan-sin dengan kesal kita harus bagaimana lagi !? tanya Ouw-gin kalau Hanzhong juga akan jatuh ketangan im-yang- sin-taihap, artinya kekauasaan hek-te telah lenyap dari wilayah selatan sela Phang-keng sebaiknya kita buat persiapan untuk menyambutnya. sela In-kokcu apa ide penyambutan yang ada dalam pemikiranmu she In !? tanya Ouw-gin kita buat benteng barisan yang akan dihadapi oleh Im-yang-sin-taihap. maksudmu bagaimana she-In !? sela Toan-sin begini, lima ratus pasukan kita bagi tiga, dua ratus di gerbang selatan dan masing-masing seratus lima puluh di pintu gerbang utara dan barat. lalu seterusnya bagaimana !? sela Phang-keng barisan ini merupakan barisan depan yang ditempatkan diluar gerbang kota, kemudian didalam kota kita dan empat belas murid kita akan menjadi benteng terakhir dalam mempertahankan kota, kalau seandainya dia berhasil menjebol barisan depan yang kita bentuk. menurut saya ide itu cukup dapat diterima, namun formasinya tidak tepat. sela Toan-sin bagusnya bagaimana menurutmu she-Toan !? tanya In-kokcu menurut peristiwa yang dialami pasukan di kong- ciak-san, bahwa empat ratus pasukan dipereteli Im- yang-sin-taihap dalam satu malam, dan ini memahamkan kepada kita bahwa im-yang-sin-taihap bukan hanya sakti ilmunya, namun juga cerdas sekali. lalu bagaimana formasi yang ingin anda katakan she-Toan !? begini, kita membentuk pasukan siap tempur, artinya hanya siap digunakan saat yang tepat, untuk mengetahui kapan tepatnya, kita harus mengetahui dari pintu mana Im-yang-sin-taihap memasuki kota, setelah kita ketahui, maka pasukan yang lima ratus kita kerahkan kepintu gerbang itu dengan tiga gelombang maksudnya tiga gelombang bagaimana !? tanya in- kokcu maksud tiga gelombang itu adalah, serangan gelombang pertama yang menyerang seratus orang, jika porak-poranda disusul seratus lagi, dan jika masih porak-poranda disusul tiga ratus orang lalu bagimana jika juga porak-poranda !? sela Ouw- gin jika juga masih porak-poranda, empat murid kita ditambah sepuluh orang murid kepala memasuki pertempuran, dan kekuatan yang terakhir terpaksa kita, akan mengadu nyawa dengan im-yang-sin- taihap. hmh formasi itu sangat baik dan saya setuju. sahut Phang-keng saya juga ! sela Ouw-gin baik kalau begitu, jika semua sepakat maka empat murid kita utus keluar ke tiga gerbang kota untuk melihat kedatangan im-yang-sin-taihap. ujar Toan-sin, lalu ketiga temannya mengangguk, kemudian keempat murid dipanggil menghadap.
Lu-eng , Sim-khong , The-khang ! kalian bertiga pergilah ke gerbang selatan, barat dan utara, sejauh setengah hari perjalanan, dan tetaplah disana untuk melihat kedatangan im-yang-sin-taihap yang ciri- cirinya sudah kita kenal, jika kedatangan pemuda itu sudah kelihatan maka segera secepatnya kembali kesini untuk melaporkan, sehingga kita dapat mengatur barisan kearah gerbang darimana im-yang- sin-taihap masuk, dan tanda bagi kalian bertiga bahwa musuh sudah diketahui, adalah panah api yang dilepaskan kelangit. ujar Toan-sin dengan tegas, ketiga murid mengangguk dan kamu Ouw-ceng, persiapkan pasukan dan bagi tiga, pasukan pertama seratus orang, pasukan kedua seratus orang, dan pasukan ketiga tiga ratus orang, setelah itu laporkan kepada kami supaya diberi pengarahan. ujar Toan-sin, Ouw-ceng mengangguk, lalu keempatnya berdiri dan malakukan tugas masing- masing.
Ouw-ceng lalu mengumpulkan pasukan, sementara tiga rekannya menuju tiga gerbang kota, Lu-eng menuju gerbang kota sebelah selatan, dan sore hari sampailah ia dipintu gerbang selatan, lalu Lu-eng berlari cepat keluar gerbang kota sampai setengah malam lamanya, dan sampailah ia disebuah desa yang bernama desa Cubun, Lu-eng mendatangi sebuah rumah yang terbesar dan terbaik didesa itu, karena perhitungannya rumah itu adalah setidaknya rumah jungcu (kepala desa) atau rumah tichu (tuan tanah).
Lu-eng menjebol pintu rumah, sehingga membuat pemilik rumah terkejut, namun saat pemilik rumah keluar dari kamar tidur Lu-eng telah menepuk tengkuknya, hingga tubuhnya lemas kalian jangan macam-macam ! bentak Lu-eng, membuat pemilik rumah dan istrinya menggigil ketakutan, dan kemudian datang empat orang dari belakang, dan sekelabat lu-eng bergerak cepat, dan sudah menotok mereka hingga kaku.
jika kalian ingin selamat, kalian harus mengikuti perintahku, menegerti !? bentkak Lu-eng, pemilik rumah itu mengagguk-angguk ayah ! seru seorang keluar dari kamar, seorang pemuda tanggung keluar, namun ketika melihat ayahnya ibunya meringkuk lemas, demikian juga petugas ayahnya tergeletak tidak berdaya, dia menjadi takut hendak keluar minta tolong, namun sebelum maksud itu dilakukan, tubuhnya sudah terbetot oleh tenaga yang kuat, dan tubuhnya melayang kearah Lu-eng.
Lu-eng manampar pipi pemuda tanggung itu, pemuda itu menjerit kesakitan dan meronta,palakkk..plak Lu-eng kembali menampar, bahkan sampai dua kali, sehingga pemuda tanggung itu terdiam cepat katakan ! siapa lagi yang ada dirumah ini !?, bentak Lu-eng, pemuda remaja itu semakin ketakutan dudua pembantu rumah, dan putri saya. jawab pemilik rumah tidak tahan melihat mulut putranya yang robek berdarah dan pipi yang bengkak menghijau hmh toanio, kamu panggil mereka kesini ! ujar Lu- eng, nyonya itu berdiri dengan gemetar dan pergi mamanggil putrinya dan dua pembantunya, setelah semua penghuni rumah berkumpul siapa namamu !? tanya Lu-eng pada pemilik rumah saya Song-kun. jawab pemilik rumah apakah kamu jungcu desa ini !? tidak, saya seorang tichu dengarlah song-tichu, saya akan tinggal disini untuk beberapa hari, jika kalian tidak macam-macam kalian akan selamat, tapi jika sebaliknya, maka kalian semua akan kubunuh ancam Lu-eng, sehingga membuat keluarga Song pucat ketakutan.
nah, sekarang berikan sebuah kamar padaku, dan besok kalian berkerja sebagaimana biasa, dan katakan bahwa aku saudara kalian dari timur. ba..baik kongcu. sahut mereka serempak, lalu sebuah kamar diberikan pada Lu-eng, dan Lu-eng pun istirahat untuk melewatkan malam.
Keesokan harinya Song-tichu bekerja seperti biasa menagih utang pada penduduk desa yang dikawal empat tukang pukulnya, dan hari kedua Lu-eng ikut song-tichu menagih hutang kepada penduduk, Song- tichu seorang yang culas dan jumawa, serta juga tidak punya belas kasihan dalam mempermainkan nasib penduduk yang miskin, dan hal ini membuat Lu- eng senang dan betah tinggal dirumah Song-tichu, Lu- eng makin akrab dengan kedua anak song-tichu Song-bili dan Song-kek.
Song-bili anak gadis tichu punya sifat yang manja dan mau menurutkan keinginan sendiri, demikian juga putra tichu seorang yang keras dan sombong, Lu-eng dengan Song-bili sudah dua hari terlibat hubungan mesum secara diam-diam, Song-bili sangat menikmati hubungan itu, karena ia memang sangat mencintai Lu- eng.
Suatu malam Lu-eng mengindap-indap di rumah Sim- jungcu, karena sudah tiga hari sejak melihat anak gadis jungchu yang cantik, bahkan mengalahkan wajah Song-bili, dan ini membuat Lu-eng ingin merasakannya, dengan kepandaiannya Lu-eng masuk kamar Sim-bi-hwa dari atap kamar, gerakannya yang ringan tidak membangunkan Bi-hwa dari tidurnya yang nyenyak, namun saat Lu-eng mengeranyangi tubuhnya, Bi-hwa tersentak kaget, dan tangan lu-eng segera menotoknya hingga lemas.
Lu-eng melanjutkan kegiatan nafsu iblisnya, tangannya membuka semua baju Bi-hwa hingga telanjang, tubuh Bi-hwa yang indah dengan lekukan yang menggemaskan dibalut kulit yang putih membuat Lu-eng makin bernafsu, dengan segera Lu- eng membuka pakaiannya dan menggagahi Bi-hwa, Bi-hwa tidak berdaya, suaranya tidak bisa keluar, tubuhnya kaku dipermainkan tangan kasar milik Lu- eng, hanya air mata ketidak berdayaan dan hantaman rasa sakit ketika Lu-eng dengan kasar merejang tubuhnya, sampai tiga kali Lu-eng mencapai klimaks birahinya, dan setelah itu dia berpakaian kembali, dan dengan senyum puas dia berkata jika kamu macam-macam, maka seluruh desa ini akan aku hancurkan dan penduduknya aku bunuh ancamnya sambil melompat ketas dan keluar dari kamar.
satu jam kemudian Bi-hwa lepas dari totokan, dia mengerung sedih dibawah bantal, memikirkan keadaanya yang telah ternoda dan dihina, dia merasa malu dengan keadaannya, ayahnya tentu merasa sedih jika mengetahui apa yang dia alami, dan coa- koko pacarnya akan jijik padanya, jika mengetahui dia telah ternoda.
Sim-bi-hwa berdiri dan memakai kembali bajunya dengan berurai air mata, kemudian dia keluar saat fajar, dan berlari keluar kampong, hingga saat matahari terbit Bi-hwa sampai dihutan diluar desa, perutnya yang lapar dia tidak pedulikan, dia hanya punya pikiran untuk mati saja daripada menanggung aib.
Pada siang harinya sampailah Bi-hwa kesebuah tebing yang curam dan dalam, yang dibawahnya mengalir sungai dengan batu-batu yang besar, dia duduk sambil menagis ayah maafkan anakmu ini, ibuaku telah ternoda, aku akan bunuh diri ibu ! maafkan aku , Coa-koko aku malu akan aib yang menjijikkan ini. keluhnya dengan sesugukan, Bi-hwa meracau memanggil- manggil semua teman-temannya, perutnya yang tidak diisi dari sejak tadi pagi tidak dipedulikannya, setelah lama dia duduk meracau dan menangisi keadaan, saat matahari sudah condong kebarat, dan senja merah mulai terlukis diangkasa, Bi-hwa berdiri lalu melangkah ketepi jurang sambil memejamkan mata dan melompat, tubuhnya melayang deras kebawah, namun sebuah sabuk melilit tubuhnya dan membetot tubuhnya sehingga melambung keatas, dan seorang pemuda tampan meraih tubuhnya dan mendudukkan kembali diatas tebing.
kenapa..!? kenapa aku engkau halangi, aku mau mati saja hu..huhu keluhnya dengan hati hancur, pemuda yang adalah Kwaa-han-bu menatap lembut, Kwaa-han-bu melihat kenekatan itu saat Bi-hwa melompat dan dengan gerakan luar biasa laksana kilat Kwaa-han-bu melenting dan menggerakkan sabuknya menggapai tubuh Bi-hwa yang meluncur dan menariknya kembali keatas.
cici..! perbuatanmu ini sungguh tidak terpuji, kenekatan yang tidak layak untuk dilakukan. tegur Kwaa-han-bu, Bi-hwa melihat pemuda tampan berumur sembilan belas tahun yang mencela perbuatannya, lalu dia menangis lagi dengan sedih, Kwaa-han-bu segera membujuknya cici, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, dan tidak ada musibah yang menimpa yang tidak ada jalan penyelesaiannya. aku sudah tidak berharga lagi, kehormatanku direnggut paksa seorang bajingan, noda ini hanya bisa dicuci dengan kematianku, aku harus bagaimana !? hanya itu yang dapat aku lakukan, hu..hubu.. sahut Bi-hwa disela-sela tangisnya cici, hal memalukan telah menimpamu, dan itu memang mengenaskan, namun ketahuilah cici, kenekatan yang baru kamu lakukan itu bukan penyelesaian, bahkan akan menambah beban bagi orang disekitarmu, bayangkan bagaimana hancurnya hati kedua orang tuamu akan apa yang kamu lakukan. ujar Kwaa-han-bu sambil duduk didepan Bi- hwa orang muda, akan lebih baik bagi orang tuaku aku hilang daripada merasa malu. hmhbenarkah demikian cici ? bagaimana mereka bisa merasa malu dengan bencana yang kamu hadapi ? bahkan menurut saya mereka akan prihatin dan berusaha untuk memberimu ketabahan dan kekuatan. tapi .. apa yang bisa orang tuaku lakukan dengan bajingan itu !? cici, kalau anda mau dan sudi, berceritalah padaku apa yang cici alami ! ujar Kwaa-han-bu, Bi-hwa memandang Kwaa-han-bu inkong, kamu ini tentu seorang pendekar, dan mungkin kamu akan bisa mengalahkan bajingan itu, tapi aku tetap akan kotor selamanya. cici, hal yang sangat aneh dan terlalu picik, jika menghukum diri karena musibah yang dialami, dan itu tidak tepat. sahut Kwaa-han-bu tegas dan suara lantang, membuat Bi-hwa terhenyak meremang sambil menatap Kwaa-han-bu.
in-kong dengarlah ! aku semalam diperkosa oleh seorang bajingan didalam kamarku, dan aku diancam harus diam, dan tidak memberitahukan kepada orang lain, sebab jika hal ini diketahui oleh orang lain, maka kampung kami akan binasa dibuat bajingan itu, oleh karena itu aku ambil kenekatan ini, karena ancaman itu tentunya dia akan datang lagi untuk melakukan kebejatannya padaku, dan aku tidak mau. ujar Bi- hwa, Kwa-han-bu melihat kebenaran analisa sari ancaman itu benar cici, namun menghindar diri yang harus dilakukan, bukan bunuh diri. lalu in-kong, apa yang harus kulakukan !? keluh Bi- hwa dengan lirih sementara matahari sudah tenggelam dan malampun tiba.
cici.., aku akan mengantarmu kembali kerumahmu, dan orang yang menzalimimu akan mendapat hukuman, dan sampaikanlah kepada orang yang layak tahu akan apa yang cici alami, karena dengan demikian, cici akan punya teman untuk memberikan kekuatan pada cici. sahut Kwaa-han-bu, Bi-hwa terdiam dan suasanapun hening marilah cici ! ajak Kwaa-han-bu, lalu merekapun meninggalkan tebing dan kembali ke desa, saat hendak memasuki desa, beberapa lelaki termasuk Coa-keng pacar Bi-hwa sedang terburu-buru keluar desa.
Kwa-han-bu tiba-tiba menghilang dari samping Bi- hwa, dan tujuh orang lelaki itu melihat Bi-hwa Hwa-moi ! syukurlah, ternyata kamu ada disini, darimana saka kamu Hwa-moi, ayah dan ibumu gelisah seharian. seru Coa-keng dengan wajah gembira dan lega, Bi-hwa melihat kesamping, namun Kwaa-han-bu tidak ada, hal itu membuat Bi-hwa terperangah ngeri , wajahnya tiba-tiba pucat.
Hwa-moi, kamu kenapa !? ayok kita pulang ! ujar Coa-keng sambil meraih tangan Bi-hwa yang masih terkejut dan tidak bisa mengeluarkan suara karena sanking shoknya, sesampai didepan rumahnya, kedua orang tuanya merasa gembira dan lega ketika melihat Bi-hwa selamat dan tidak kurang satu apapun, setelah teman-teman Coa-keng pergi, Sim-jungcu membawa putrinya masuk dan diikuti oleh Coa-keng dari belakang Hwa-ji ..! apa yang salah nak, kemana engkau pergi sejak semalam !? tanya Sim-jungcu, Bi-hwa menangis sesugukan dan memluk ibunya, Sim-hujin ikut menangis memeluk anaknya, setelah agak tenang Bi-hwa berkata ayah, ibu maafkan aku, tidak ada yang salah, namun apa yang kualami membuat aku sedih dan sengsara. Hwa-ji, ceritakanlah, apa yang kamu alami ! sela ibunya, Bi-hwa melihat Coa-keng, lalu menunduk, Sim-jungcu yang melihat hal itu berkata Keng-ji, tolong temui tugas jaga malam ini, dan katakan untuk menemuiku. ujar Sim-jungcu, Coa- keng juga merasa sedikit janggal dengan tatapan pacarnya, namun mendengar perkataan Sim-jungcu dia mengangguk dan pergi.
Hwa-ji, sekarang ceritakanlah apa yang terjadi nak !? ayah ..ibu, aku mengalami hal yang memalukan, semalam aku di perkosa Lu-kongcu saudara baru dari Song-tichu. jawab Bi-hwa, wajah kedua orang tua itu menjadi pucat dan marah, namun kemudian cemas lemas mendengar perkataan Bi-hwa lalu kenapa engkau menghilang seharian nak? tanya Sim-hujin bu .. aku tidak berdaya dan sangat sedih, aku diancam si bejat itu kalau memberitahu, ia akan menghancurkan desa ini, jadi saya pergi keluar desa. heh.. kenapa kamu pergi keluar desa, apa yang mau kau lakukan Hwa-ji !? tanya ayahnya ayah ..ibu maafkan aku, aku hendak mengakhiri hidupku, namun digagalkan oleh seseorang, dan dia menghantarku kembali, namun ketika Keng-ko muncul, pemuda itu hilang aduh Hwa-ji janganlah engkau nekad anakku, aduh syukurlah ada inkong yang menolongmu, hingga kami tidak sengsara kehilanganmu nak. jerit ibunya sambil memeluk putri satu-satunya itu.
ibu aku malu dengan keadaanku ini, bagaimana pandangan Keng-ko padaku, jika hal ini ia ketahui. apa yang bisa kita lakukan koko !? tanya Sim-hujin pada suaminya hmhberhadapan dengan keluarga Song, kita hanya akan jadi bulan-bulanan, terlebih orang she-Lu yang jelas sakti, sehingga dapat memasuki rumah kita dan membuat celaka anak kita. jawab Sim-jungcu sedih dan iba dengan ketidak berdayaan mereka lalu apakah kita akan sampaikan kepada keng-ji tentang anak kita !? kita akan sampaikan apa adanya, dan bagaimana nanti terserah reaksinya. jawab Sim-jungcu urusan orang she-Lu, biarlah aku yang tangani paman, dan terbuka kepada orang yang harus tahu kebenaran suatu hal yang bijaksana. suara terdengar jelas, namun tidak ada orangnya ah.. itu suara inkong ayah. sela Bi-hwa dan sampai lama hening tidak ada orang yang datang hmh luar biasa orang itu. ujar Sim-jungcu takjub tapi kenapa dia tidak muncul !? sela Sim-hujin dia telah menyelamatkan nyawa anak kita, sekaligus harga diri anak kita didepan keng-ji. maksud koko !? tanya Sim-hujin tidak mengerti dia menyelamatkan anak kita dari kenekatan untuk bunuh diri, dan juga menyelamatkan harga diri anak kita yang mungkin jatuh dimata Keng-ji dan teman- temannya, karena jika melihat anak kita berduaan memasuki desa malam-malam akan menimbulkan sangkaan yang bukan-bukan. jawab Sim-jungcu.
istrinya manggut-manggut mengerti.
Kwaa-han-bu mengikuti Coa-keng yang menemui petugas malam paman, kalian dipangil paman Sim untuk bertemu. ada apa yah !? sela seorang dari mereka aku juga tidak tahu paman !? sahut Coa-keng baiklah, kami akan kesana. sahut mereka serempak, ketika mereka sedang berjalan mengarah kerumah jungcu, Kwaa-han-bu muncul sam-siok, aku hendak kerumah keluarga Song, tolong tunjukkan dimanakah rumahnya ? kamu siapa anakmuda !? tanya mereka curiga siapa aku, nanti paman tanyakan saja kepada jungcu. jawab Kwaa-han-bu, mendengar perkataan itu seorang dari mereka menjawab kongcu berjalan lurus kesana, dan disimpang yang kelihatan itu kearah kiri dan terus saja jalan itu diikuti, dan nanti ketemu jembatan, nah diseberang jembatan itu ada rumah yang besar pagarnya warna merah, itu rumah song-tichu. terimakasih paman. sahut Kwaa-han-bu, dan segera melangkah dan mengikuti jalan yang digambarkan petugas jaga malam itu.
Kwa-han-bu mengendap-endap diatas atap rumah Song-tichu, dan disebuah kamar, dua orang sedang bercakap-cakap mesra Eng-ko, sudah satu minggu disini, apakah kamu betah tinggal dengan kami !? tentu sayang, aku betah sekali disini, terlebih keberadaan kamu membuat hatiku sangat betah. kalau begitu tinggallah disini, dan Eng-ko akan menjadi orang yang kaya sebagai suamiku. urusan itu nanti saja kita bicarakan, jika pekerjaanku sudah selesai. apa sih pekerjaan itu Eng-ko, sudah seminggu Eng- ko disini, namun tidak adapun yang dikerjakan kecuali makan, minum dan mengikuti ayah menagih utang. tanya Song-Bi-li manja dan merajuk hehehe kok malah merajuk. bujuk Lu-eng pringas- pringis habis.. eng-ko penuh rahasia. sahut Bi-li manja Li-moi, tugasku itu menyelidiki kedatangan seseorang, yang jika sudah sampai disini, aku akan kembali ke Hanzhong. lah.. kenapa orang itu harus ditunggu kedatangannya, apakah dia orang besar sehingga perlu diketahui kedatangannya !? dia itu musuh Li-moi, jadi kami perlu tahu dia akan memasuki kota dari arah mana, sehingga pasukan dapat dipersiapkan pada arah kedatangannya. artinya, engko, bertugas memperhatikan pintu gerbang selatan, dan di pintu yang lain jelas ada teman eng-ko yang bertugas sama. benar Bi-moi wah untuk menghadapi satu orang, sampai segitunya persiapan yang dibuat. ya ..iya, jangan dikira walaupun seorang, tapi dia itu sakti. sahut Lu-eng, lalu kemudian suasana hening, dan tidak lagi terdengar percakapan selain dari desahan-desahan nafas yang memburu.
Kwaa-han-bu melayang masuk kedalam kamar sambil melempar lampu penerang hingga padam, dan dengan gerakan cepat tangannya menghantam muka Lu-eng yang terkejut dan kondisi tidak siap, sehingga dalam sesaat tubuhnya sudah kaku, lalu dibawa terbang keatas dan meninggalkan desa siapa kamu !? bentak Lu-eng yang masih telanjang pakai dulu baju kamu !? sahut Kwaa-han-bu, Lu-eng melihat baju yang diraihnya ternyata adalah celana dan baju dalam bili yang dia raih, tak dapat tidak Lu- eng terpaksa memakai celana dalam yang kecil dan sebatas paha, lalu memakai baju dalam berwarna merah jambu, Lu-eng melipat lutut karena jengah dengan pakaiannya ketika memperhatikan baik-baik orang didepannya, tersirap darahnya dan meremang bulu tengkuknya.
ternyata yang menangkapnya adalah Im-yang-sin- taihap a..apa maksudmu membawa aku kemari !? kamu telah berbuat zalim pada putri jungcu, plaak..plaak dua tamparan tidak bisa dihindarkan Lu-eng karena cepatnya gerakan Kwaa-han-bu, kedua sudut bibir Lu-eng mengeluarkan darah dan dia marah bukan main, lalu ia nekat menyerang Han-bu, namun serangan nekat itu membuat dia jadi bulan-bulanan pukulan Han-bu, dan pada akhirnya kedua kakinya patah membuat ia menjerit setinggi langit saking sakitnya.
Dua tanganmu akan selamat, jika kamu menceritakan apa yang kalian lakukan di hanzhong dengan kedatanganku. ancam Kwaa-han-bu, Lu-eng terkejut rahasianya telah diketahui, hatinya makin ciut cepat jawab, rencana apa yang ingin kalian lakukan untuk menyambutku di Hanzhong ! bentak Kwaa- han-bu, Lu-eng terdiam lama, Kwaa-han-bu meraih pundak Lu-eng dan sedikit meremas, Lu-eng merasa sendi lengannya mau copot dan rasa ngilu yang tidaj terperikan mendera urat syarafnya apakah kamu tidak mau menceritakannya !? bentak Kwaa-han-bu sambil menambah kekutan remasannya, kiut miut muka Lu-eng menahan sakit, namun ia tetap tidak menyerah dan plok.trak terdengar sendi dan lengan itu terpisah, keluar air mata lu-eng menahan sakitnya, Kwaa-han-bu tanpa bicara meraih bahu satunya lagi dan hendak meremas namun Lu-eng berkata ampun..apun akan aku katakana. iba Lu-eng dengan air mata berkaca-kaca menahan sakit, Kwaa-han-bu mengehentikan remasannya kami di hanzhong mempersiapakan lima ratus pasukan untuk menyambut kedatangan she-taihap, dan kekuatan itu akan dikerahkan kepintu darimana anda datang. lalu kenapa kamu menunggu saya didesa cubun !? saya ditugasi memata-matai gerbang selatan. jawab Lu-eng, Kwaa-han-bu tiba-tiba menghilang dari hadapan Lu-eng.
Kwaa-han-bu meninggalkan Lu-eng yang sudah tidak berdaya, hanya tangan kanannya saja yang tidak patah, dia mencoba menggeser tubuhnya untuk bersandar disebuah pohon untuk melewatkan malam, namun ia menderita sekali karena bajunya tidak dapat menghalang dinginnya angin malam, apalagi ditengah hutan itu yang lebat yang tentunya nyamuknya sangat banyak, karena saking putus asanya Lu-eng menghantam kepalanya sendiri hingga pecah dan ia pun tewas, dan ternyata tujuannya menyelamatkan sebelah tangannya adalah untuk mengakhiri hidupnya, karena kalau sempat tangannya itu patah, maka dia tidak akan bisa melakukannya, karena lebih baik mati daripada tersiksa tapadaksa.
keesokan harinya Kwaa-han-bu berganti pakaian, sabuk dan kipasnya dia simpan dibuntalan, dia membuat penyamaran, dari ilmu pengobatan yang dia warisi, dia mencari getah kayu, dan membuat penyamaran dengan getah itu, dan hasilnya sungguh luar biasa, matanya yang tajam, sekarang pelupuknya tertarik sehingga matanya jadi cipit, pipinya yang tadinya berlekuk kokoh sekarang kempot sebelah, kemudian Kwaa-han-bu membasuh wajahnya dengan air yang sudah dicampur dengan getah daun, sehingga mukanya nyaris kehijauan, muka itu jelek dan tidak sedap dipandang, Kwaa-han-bu tersenyum sendiri ketika melihat wajahnya di dalam air.
Kwaa-han-bu berangkat memasuki kota Hanzhong, dan saat memasuki kota, keadaan yang terkesan genting dan penuh siaga membuat suasana dalam kota tegang, akitvitas rumah bordir dan pokoan terlihat sepi, Kwaa-han-bu mendatangi sebuah pokoan yang dijaga dua orang tukang pukul sicu, kenapa kota sepi !? apakah ada orang didalam ? aku jauh-jauh kesini ingin mengadu untung. ujar Kwaa-han-bu berlagak urakan laksana raja judi cari penantang pokoan buka hanya setengah hari, dan anda datang terlambat. wah kenapa bisa begitu, bukankah Lam-kek-hek-te adalah kota yang semarak dan gemerlapnya dunia, yang aktivitasnya hidup dua puluh empat jam !? benar, tapi karena saat ini keadaan tidak normal, maka pulanglah atau menginap di likoan atau bersenang-senang di rumah bordil, dan besok pagi anda akan bisa main judi. sahut seorang tukang pukul hah tidak normal !? kenapa kota hitam ini tidak normal !? cibir Kwaa-wa-han-bu pasang muka kecewa itu adalah urusan kami, jadi sebaiknya anda istirahat dan besok datang lagi untuk berjudi setengah hari. hmh.. baiklah, besok jam berapa buka !? setelah matahari naik, pokoan akan buka. jawab penjaga, Kwaa-han-bu manggut-manggut dan meninggalkan dua tukang pukul itu Kwaa-han-bu memasuki sebuah likoan untuk makan, dan pengunjungnya juga tidak seberapa hanya ada empat tamu pelayan..! seru kwa-han-bu, seorang prlayan mendekatinya sediakan arak dan makanan dengan lauk terenak dari likoan ini. baik kongcu ! sahut pelayan itu dan berbalik, tidak berapa lama pelayan itu datang menghidangkan makanan heh.. pelayan , kenapa kota begini sepi, apa yang terjadi, dan juga pokoan hanya setengah hari. situasi lagi tidak normal tuan. sahut pelayan sambil menghidangkan makanan apa sebab tidak normal ? katanya Ngo-ok-hengcia mempersiapkan seluruh kekuatan untuk menghadapi seorang pendekar yang dijuluki im-yang-sin-taihap. lah apa susahnya kalau menghadapi seorang saja !? hal itu, aku tidak tahu tuan, hanya saja katanya pendekar itu sakti, dan empat ratus pasukan yang dikirim ke kong-ciak-san beberapa bulan yang lalu tewas seluruhnya ditangan pendekar itu. wah..luar biasa itu pendekar. seru Kwaa-han-bu dengan lagak kaget dan kali ini, jika pendekar itu berani datang kesini, maka dia akan digilas lima ratus pasukan. sela seorang tamu menimbrungi pembicaraan Kwaa-han- bu yang duduk dua meja didepan Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu melihat seorang lelaki tampan berumur dua puluh delapan tahun, memandang kepadanya dengan sinis lima ratus orang, itu artinya nyaris semua penduduk disini. sahut Kwaa-han-bu benar, memangnya kamu darimana !? aku ini dari Punam, hendak bermain judi mengadu untung disini, namun kata penjaga pintu, aku terlambat karena pokoan hanya buka sampai setengah hari. jawab kwa-han-bu hal itu benar, karena Ngo-ok-hengcia merencanakan pengerahan pasukan besar untuk menghadapi im- yang-sin-taihap, dan tiga murid ngo-ok sudah berjaga- jaga di luar gerbang kota untuk mengintai kedatangan pendekar itu. bukankah menurut anda hal itu berlebihan ? bahkan sampai di intai segala. Sahut Kwaa-han-bu memancing lebih jauh pembicraan.
memang benar berlebihan kalau yang dihadapi bukan im-yang-sin-taihap. wah begitu yah, lalu bagaimana pula rencana Ngo- ok-hengcia untuk membinasakan im-yang-sin-taihap jika sudah sampai kesini, tentunya bisa lumat pendekar itu. ujar Kwaa-han-bu benar makanya saya bilang, jika pendekar itu sampai disini maka dia akan binasa, karena Ngo-ok- hengcia telah membuat rencana jitu. rencana !? bagaimana rencana menghadapi pendekar itu. jika seandainya pendekar itu datang dari pintu selatan, maka seluruh pasukan akan dikerahkan kepintu itu dengan tiga gelombang serangan, pokoknya pendekar itu akan digulung sampai tewas. sahut lelaki itu sinis lalu malam hari apakah tidak ada hiburan yang buka !? tanya Han-bu ada anda kerumah bordil saja untuk menghibur diri, karena rumah bordil buka sampai larut malam. sahut lelaki itu, dan Kwaa-han-bu manggut-mangut.
Setelah makan, Kwaa-han-bu menyewa kamar untuk istirahat sambil memikirkan langkah selanjutnya, dan keesokan harinya Kwaa-han-bu memasuki pokoan yang ia datangi kemarin siang, dan bertemu dua tukang pukul yang sama sicu ! apakah pokoan sudah buka !? sudah silahkan masuk dan bersenang-senang. sahut tukang pukul, Kwaa-han-bu memasuki ruangan pokoan dan ternyata orang sudah ramai, suara hiruk pikuk dan omongan-omongan kasar dan suara tertawa kemenangan serta keluhan terdengar disana- sini.
Kwa-han-bu sengaja datang agak siangan, sehingga dapat membaca keadaan pengunjung satu buah pokoan apakah anda mau main !? tanya seorang Bandar ya benar, pasang berapa yang paling kecil tanya Kwaa-han-bu berlagak terkecil sepuluh tahil. sahut sibandar hmh baiklah aku pasang sepuluh tahil dulu dan pasang nomor kecil. ujar Kwaa-han-bu, maka permainanpun dimulai, orang yang main dimeja itu ada tujuh orang termasuk Kwaa-han-bu.
Setelah dua jam, orang-orang semua berhenti dan bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan pokoan kenapa semua orang hendak meninggalkan tempat !? tanya Kwaa-han-bu pada orang didekatnya karena semua akan disiagakan untuk menghadapi musuh. jawab orang itu bukankah pasukan sudah disiagakan ? tanya kwa- han-bu berlagak kecewa yang disiagakan dua puluh empat jam adalah pasukan terdepan sejumlah seratus orang, dan yang pasukan kedua dan ketiga masih boleh bermain, tapi hanya setengah hari. jawab orang itu, Kwaa-han-bu manggut-manggut dan dia pun ikut keluar dan kembali kepenginapannya.
Keesokan harinya Kwaa-han-bu keluar saat matahari naik, Kwaa-han-bu mendatangi kediaman Ngo-ok- hengcia, dan sesampai dipintu gerbang dia dicegat empat orang penjaga daerah ini terlarang untuk orang luar, kamu siapa !? bentak salah seorang penjaga aku ini datang dari luar kota, dan hendak menantang Ngo-ok-hengcia. sahut Kwaa-han-bu, empat orang itu terkejut, namun selanjutnya mereka sudah ambruk dengan kondisi kaku dan bisu, Kwaa-han-bu dengan kecepatan kilat sudah merubuhkan mereka.
Lalu Kwaa-han-bu menerobos kedalam, dan dua puluh orang sudah menyerangnya dengan serangan bertubi- tubi, Kwaa-han-bu tanpa membuang waktu bergerak cepat dan membagi-bagi pukulan dan totokan, sehingga membuat mereka terlempat dan ambruk tidak berdaya.
Pekik kesakitan, dan teriakan-teriakan marah terdengar, sehingga membuat ngo-ok-hengcia keluar, keempatnya terkejut melihat hampir setengah pasukan siaga sudah ambruk tidak berdaya bangsat ..! pagi-pagi begini ada pengacau yang hendak mati ! teriak Toan-sin, lalu menyerang dengan ganas, Kwaa-han-bu mengelak dan membalas dengan cekatan, dua pukulan sakti bertemu blamm.. tempat itu laksana disambar petir memekakkak telinga dan bergetar kuat, Toan-sin undur tujuh tindak, sementara Kwaa-han-bu hanya bergeming, melihat itu tiga rekanya langsung curiga dan menyerbu, mereka cendrung bahwa lawan mereka ini adalah musuh yang ditunggu-tunggu.
Pertempuran dahsyat dan luar biasa cepat berlangsung, empat tokoh tua yang kosen mengeroyok Kwaa-han-bu, jurus im-yang-bun-sin- im-hoat bergerak indah dan kokoh memapaki semua serangan empat tokoh lihai lagi matang, dua pedang satu rosario dan hauwce mengintai dan mencecar tubuh Kwaa-han-bu yang bergerak luar biasa cepat, pertempuran tingkat tinggi terjadi dengan hawa yang berkesiuran membuat tempat itu kacau balau, gerakan-gerakan Kwaa-han-bu yang mengeluarkan gemerisik dedaunan, membuat empat lawannya harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk bertahan.
Pertempuran itu sudah berlangsung sampai empat ratus jurus, dan nafas keempat jago tua tua itu sudah senin kamis, terlebih sinar matahari yang hampir kepuncak demikian menyengat, namun pertempuran itu masih berlangsung seru dan segit, Kwaa-han-bu dengan trik memamfaatkan daya tahan, memaksa keempatnya untuk terus bergerak, hal ini membuat empat kakek tua itu makin ngos-ngosan, sementara Kwaa-han-bu masih dengan nafas yang tenang.
Dan pada satu kesempatan Toan-sin tidak dapat mempertahankan hauwcenya hingga lepas, dan Kwaa-han-bu menangkap ujung hauwce dan menyusulkan gerakan luar biasa indah, dalam gerak tulisannya diangkasa dan crokk..tuk Toan-sin menerima hantaman ujung hauwcenya yang runcing menusuk tenggorokannya dan mengetuk kepalanya, hingga jakunnya tembusdan tengkoraknya retak didalam, Toan-sin ambruk tewas seketika.
Tiga rekannya terus merangsak maju, Kwaa-han-bu masih bergerak dengan jurus melukisnya yang indah penuh kekuatan, mengancam kedudukan tiga tokoh tua, Kwaa-han-bu yang memegang hauwce menjadi lebih berbahaya dengan jurusnya, sehingga pada satu kesempatan ujung hauwce menembus kening In-kok- cu dan tidak bersambat tewas dengan muka bersimbah darah melihat hal itu, Ouw-gin dan Phang- keng segera melarikan diri kearah timur, semua anggota yang tinggal empat puluh orang terkesima melihat dua pimpinannya tergeletak tidak benyawa dan dua orang lagi lari terbirit-birit.
Kwaa-han-bu menatap mereka dengan tajam, hingga membuat mereka tertunduk pucat ketakutan bagaimana dengan kalian, apakah seharusnya kubantai kalian disini !? bentak Kwaa-han-bu, serta merta semuanya berlutut meminta ampun hmh sebentar lagi teman-teman kalian akan datang, jadi sekarang cepat kumpulkan harta yang ada didalam rumah ini, setelah itu tempat ini harus dibakar. ujar Kwaa-han-bu dengan tegas Empat puluh orang itu masuk kedalam rumah dan mengeluarkan harta yang ada didalamnya, yang terdiri dari lima puluh peti berisi uang perak dan emas, serta perhiasan yang semuanya terbuat dari emas, setelah lima puluh peti itu dikeluarkan maka tempat itupun dibakar, dan ketika api melalap bangunan dua ratus orang lari mneyerbu ketempat itu, namun mereka terkejut ketika empat puluh orang teman mereka berdiri di depan pintu gerbang dan melihat seorang lelaki jelek berdiri gagah disamping tumpukan peti ada apa ini !? tanya pimpinan pasukan sambil memandang heran pada teman-teman mereka yang berbaris di pintu gerbang kita tidak bisa berbuat apa-apa, dua pimpinan kita telah tewas, dan dua lagi melarikan diri. bukankah dia itu yang semalam berjudi dengan kita !? sela yang lain benar .. dan aku adalah im-yang-sin-taihap. sahut Kwaa-hanbu menjawab, dan mebuat mereka terkesima tidak tahu harus berbuat apa.
kalian yang merasa perlu mempertahankan martabat kejahatan kalian majulah, biar keberikan pelajaran setimpal. tantang Kwaa-han-bu melangkah mendekati kerumunan orang diluar gerbang, orang- orang itu undur dengan wajah pucat, tidak ada yang berani menyerang, lalu muncul dua ratus orang lagi dan makin penuh tempat itu, seorang dari mereka berteriak seraangg .!. dan teriakan itu serta merta membuat orang-orang itu maju menerjang, berhenti..! teriak Kwaa-han-bu, dan luarbiasa, ratusan orang yang menerjang itu tiba-tiba terjungkal bahkan tiga puluh orang yang paling depan memuntahkan darah, dan tewas karena jantung mereka pecah akibat bentakan suara itu.
Orang yang dibelakang dengan sempoyongan undur kebelakang, seratus orang tergeletak pingsan, dan seratus orang tergeletak dengan nafas sesak, dan sisanya sempoyongan mundur menjauh, setelah satu jam berselang seratus orang yang pingsan yang bangkit hanya enam puluh orang, dan empat puluh lainnya tidak bangkit lagi karena sudah melayang nyawanya, siapa lagi yang hendak nekad, silahkan maju ! tantang Kwaa-han-bu, tiga ratus orang lebih itu sudah ciut nyalinya, pimpinan mereka tidak ada lagi, sementara kediaman pimpinan sudah hampir habis dilalap sijago merah, mental mereka terhempas jatuh, sikap keras mereka mencair, yang tersisa hanyalah ketakutan.
Lalu orang-orang yang dibelakang bergerak melarikan diri sekencang-kencangnya, kwa-han-bu melompat dan berteriak berhenti! beberapa orang yang hendak melarikan diri itu terjungkal, namun ada seratus orang juga yang masih dapat selamat, walaupun jantung mereka hampir copot oleh suara bentakan itu, Lam-kek-hek-te yang tersisa di halaman kediaman Ngo-ok-hengcia tinggal dua ratus orang dengan wajah pucat pias, mereka serta merta berlutut kalian ! angkat semua peti itu dan ikuti saya ! bentak Kwaa-han-bu, maka lima puluh peti itu diangkat masing-masing empat orang, dan mengikuti Kwaa-han-bu yang menuju ke tempat dia menginap, para wanita penghibur yang melihat iring-iringan itu terkesima dan saling memggosip.
Pemilik likoan tercengang melihat iring-iringan itu memasuki tempatnya, wajahnya pucat, sebagai anggota lam-kek-hek-te dia juga dapat celaka, pikirnya letakkan semua peti didalam rumah makan, dan kalian boleh istirahat, kalian semua tetap disini dan jangan coba-coba melarikan diri. ancam Kwaa-han- bu, kemudian Kwaa-han-bu naik keatas dan memasuki kamarnya.
Sekitar tiga jam kemudian Kwaa-han-bu berada didalam kamarnya, dan ketika hari sudah sore, Kwaa- han-bu turun, tapi bukan lagi dengan wajah jelek melainkan dengan wajah aslinya yang tampan rupawan, dan bajunya yang panjang berwarna biru dengan pinggir warna hitam yang membelah dari bawah sampai kepinggang dikedua sisinya, dan kontras dengan celananya yang berwarna hitam, sabuk kuning tersampir dikedua bahunya, dan kipas terselip diikat pinggangnya, rambutnya yang tergerai panjang diikat kuncir kuda, diikat pita warna putih, kepalanya memakai ikat kepala berwarna biru, membuat wajah yang tampan itu semekin rupawan, dan tubuh kekar itu semakin menunjukkan wibawa dan kharisma yang cemerlang.
Semua yang ada disitu melonggo takjub, mereka hanya tahu bahwa Im-yang-sin-taihap adalah pemuda tampan rupawan yang masih muda, dan baru sekarang mereka bertemu orangnya langsung, Kwaa- han-bu yang memasuki ruang makan melangkah mendekati sebuah meja dan duduk dikursi apakah kalian sudah makan !? tanya Kwaa-han-bu, orang-orang Lam-kek-hek-te ada yang menjawab sudah, ada juga yang tidak baik, bagi yang sudah makan, pergi keseluruh rumah bordir dan bawa kesini semua pekerja yang ada disana ! ujar Kwaa-han-bu, lalu mereka bergerak meninggalkan likoan, dan yang tersisa hanya lima puluh orang apa kalian belum makan !? belum taihap jawab mereka serempak kalau begitu makanlah dulu. ujar Kwaa-han-bu, lalu mereka pun ambil tempat duduk, dan pemilik likoan dengan hati bangkrut melayani dan mengeluarkan makanan.
Pada malam harinya, semua pekerja di rumah bordil berkumpul, semuanya ada lima ratus wanita yang cantik-cantik kalian semua mungkin telah bekerja dibawah tekanan atau mungkin juga tidak, namun kalian ketahuilah, bahwa Lam-kek-hek-te sudah tidak ada lagi, dan pekerjaan yang kalian lakukan itu sungguh tidak patut dan menjijikkan. ujar Kwaa-han-bu menatap semua wanita-wanita yang tertunduk diam dan saya menyuruh kalian dikumpulkan kesini untuk menghentikan kegiatan mesum itu, dan kalian semua kembalilah ketempat kalian masing-masing, dan kalian semua akan diberi tanggungan hidup selama setahun, maka hiduplah normal kembali, dan bekerjalah hal-hal yang baik, atau menikahlah kalau memang ada harapan kesana. ujar Kwaa-han-bu, anggota Lam-kek-hek-te tercenung mendengar perkataan Im-yang-sin-taihap setelah nanti kalian mendapat bagian, kembalilah kekampung halaman kalian masing-masing, atau menetaplah disini dengan pekerjaan yang baik. apa yang taihap sampaikan akan kami taati. Sahut seorang wanita separuh baya baik, sepuluh orang dari kalian jejerkan sepuluh meja, dan duduklah disitu. Ujar Kwaa-han-bu, setelah sepuluh orang tertua duduk, sepuluh peti pun diangkat kesisi meja masing-masing, lalu lima ratus wanita itu dibariskan didepan sepuluh meja, kemudian masing- masing bergilir menerima uang tanggungan selama setahun, berupa dua puluh tahil emas, dan lima puluh tahil perak, dan lima puluh tahil tembaga, kemudian seperangkat perhiasan berupa cincin, gelang dan kalung emas, wanita-wanita dengan suka cita menerima uang dan perhiasan yang tidak pernah mereka bayangkan akan mereka terima, mereka mengucapkan terimakasih dihadapan Kwaa-han-bu dan pergi dari tempat itu.
Setelah semua mendapat bagian, masih ada tersisa tiga puluh peti lagi sisanya ini masing-masing kalian, ambillah masing- masing dua puluh lima tahil emas. ujar Kwaa-han-bu, sehingga setelah diambil bagian dua ratus orang Lam- kek-hek-te, masih tersisa dua puluh lima peti kalian bekerjalah dengan baik dan mamfaatkan bagian itu untuk memulai kehidupan baru, dan saya tahu bahwa di rumah kalian, kalaian juga sudah mempunyai harta yang melimpah, namun ini adalah tanda bahwa kalian akan memulai hal yang baik. ujar Kwaa-han-bu, semuanya menunduk tercenung akan hal yang mereka alami yang laksana mimpi.
ini ada dua puluh lima peti, jadi kalian masih ada pekerjaan untuk menghabiskan harta ini, besok pagi kalian dibagi pada tiga kelompok, masing-masing lima puluh orang untuk membawa delapan peti, keluar pintu gerbang barat, utara dan selatan kota, kalian telusuri setiap kota, dan berikan setiap kungcu satu peti untuk pembangunan fasilitas umum kota tersebut dan sepucuk surat dariku. baik taihap, akan kami laksanakan. jawab mereka serempak bagus, dan semua peti harus sudah sampai ditangan kungcu, baru kalian kembali kesini, aku tidak bisa menjamin, apakah kalian akan dapat dipercaya atau tidak, tapi jika dalam empat bulan, kalian tidak seorangpun yang melapor padaku tentang tugas ini, maka itu artinya rombongan itu menghianati kepercayaan. ujar Kwaa-han-bu tegas, semuanya diam tertunduk.
Lalu Kwaa-han-bu memanggil tiga orang yang bernama Kao-gan, Kui-kok dan Lou-liong kalian bertiga adalah ketua rombongan, dan jika terjadi penghianatan, maka kalian bertiga sebagai pimpinan rombongan akan saya cari. ancam Kwaa- han-bu, ketiganya mengangguk dan menjura dalam kami akan berupaya agar kepercayaan she-taihap berjalan sesuai yang she-taihap sampaikan.
baik dan terimaksih atas niat yang bagus dan baik itu. ujar Kwaa-han-bu Kemudian Kwaa-han-bu menulis dua puluh empat surat dan diberikan kepada ketiga pimpinan rombongan dan ada satu peti lagi, itu coba buka dan bagi tiga ! ujar Kwaa-han-bu, kemudian merekapun membuka satu peti dan dibagi tiga nah masing-masing, kalian bawa dan bagikan dimana desa kalian jumpai, berikan bagian kepada setiap jungcu untuk disumbangkan kepada orang yang tidak mampu didesa itu, dan sampaikan pesan bahwa ini datang dari Hanzhong untuk orang tidak mampu. ujar Kwaa-han-bu, semuanya mengangguk baik ! jadi berangkatlah besok, dan saya menunggu sampai empat bulan disini, dan sebelum empat bulan, saya harap kalian sudah melapor kesini. baik taihap akan kami usahakan. hmh.. dan kalian yang lima puluh orang, tugas kalian adalah membakar seluruh pokoan dan rumah bordil yang ada disini, dan pekerjaan ini harus selesai dalam jangka seminggu. ujar Kwaa-han-bu, lima puluh orang itu menjura menyanggupi.
Keesokan harinya, berangkatlah tiga rombongan, dan keluar dari pintu gerbang yang telah ditunjuk, sementara pembakaran pokoan dan rumah bordil terjadi dalam kota, selama dua bulan berjalan, wilayah selatan makin gempar, delapan kungcu menerima masing-masing satu peti dan sepucuk surat dari Kwaa-han-bu yang berbunyi kungcu yang baik hati ! harta dari hanzhong satu peti , untuk pembangunan kota yang anda pimpin ini , jadi bersyukurlah pada Thian yang memberi, dan jangan coba anda hianati , sebab kalau dihianati maka anda akan celaka sendiri, berhadapan dengan im-yang-sin-taihap yang sudah membagi Tio-can atau Ui-hai-sian memasuki kota hehat, perjalanannya yang cukup panjang dari wilayah utara hingga sampai ke wilayah timur, dan disepanjang perjalanan banyak kesengsaraan yang dia saksikan, namun dia tidak perduli, bahkan terkesan menyalahkan keadaan orang yang tertindas itu, kenapa tidak punya nyali dan kekuatan untuk melawan.
Hari yang cerah dengan cuaca yang sangat terik, Ui- hai-sian memasuki sebuah likoan dan memesan makanan kepada pelayan, ketika sedang bersantap, empat orang lelaki muda memasuki likoan can-twako, hari ini kami berempat mau mengadakan pesta di tempatmu ini, jadi sebaiknya twako kosongkan rumah makan ini untuk pesta kita. pesta apa itu sute !? Cu-twako kan mau ke kibun untuk memenuhi undangan tok-bi-hoa (bunga cantik beracun) salah satu murid terkasih dari sam-subo, twako sendiri tahulah, bahwa jika dipanggil ke Kibun, itu artinya akan dikelilingi perempuan-perempuan cantik lagi pilihan, hahaha..hahaha.. benarkah itu Cu-twako !? tanya she-Can pemilik likoan benar Can-sute, makanya sebelum aku berangkat, kita akan mengadakan pesta, dan Kui-sute sudah memasan lima gadis cantik untuk kita. sahut seorang pemuda yang sangat tampan yang bernama Cu-jin- an.
baiklah kalau begitu. sahut Can-beng pemilik likoan, kemudian dia menyuruh pelayannya untuk mengusir semua tamu, pelayanpun melakukannya lopek.. segera kamu hentikan makanmu, karena tempat ini mau diadakan pesta, dan anda harus pergi. ujar pelayan pada para tamu, para tamu pun berdiri dan meninggalkan tempat.
Ui-hai-sian melotot dengan muka merah dan marah bangsat tidak tahu orang sedang makan, main usir saja. bentak Tio-can sambil mengibaskan tangannya, dan tubuh pelayan itu terbanting kebelakang dan melabrak meja, suara gaduh itu mengundang perhatian lima anak buah Tung-kek-hek-te yang hendak berpesta, dua dua orang dari mereka segera datang mendekati Tio-can dengan muka merah karena marah, namun sebelum suara bentakan keluar dari mulut keduanya, Tio-can sudah mengirim pukulan yang membuat keduanya terlempar jauh hingga melabrak dinding.
tidak tahu Ui-hai-sian lagi makan, dan tidak suka diganggu. ujar Tio-can, mendengar julukan yang baru disebutkan dan ditimur julukan ini belum dikenal, membuat Can-beng dan dua rekannya menerjang brak meja dimana Tio-can duduk hancur berkeping-keping dihantam tiga pukulan kuat, kemudian mereka terus mengejar bayangan Tio-can yang mengelak.
Pertempuran seru terjadi dalam likoan, akibat beradunya pukulan sin-kang, sehingga membuat tempat itu berantakan dan porak-poranda tiga cecunguk tadak tahu diri mau mampus. sungut Tio-can marah, lalu dia bergerak lebih cepat, dan membuat ketiga lawannya pening dan akhirnya prak plak duk.. kepala Kui-lam pecah hingga tewas seketika, muka Cu-ji-an gempor hingga mulutnya bersimbah berdarah, dan Can-beng terlempar melabrak tiang, dadanya remuk kena tendangan Tio-can, sesaat Can-beng menggigil menahan sakit, lalu mati, dua temannya yang meringis kesakitan terkejut dan pucat, dua rekannya sudah tewas, sementara yang satu melenguh pingsan bersimbah darah, wajah yang tadinya tampan berubah tidak karuan, karena dagunya sudah bergeser dari rahangnya.
kalian enyah dari hadapanku ! bentak Tio-can, dua orang itu menyeret tiga temanya dari dalam likoan, dan segera meninggalkan tempat itu pelayan sediakan lagi makanan untukku ! bentak Tio-can, dua pelayan dengan buru-buru mempersiapkan hidangan, dan mengantarnya kemeja Tio-can, Tio-can bersantap lagi seakan tidak pernah ada kejadian yang berlaku.
Ketika hendak keluar dari rumah makan, Tio-can dihadang oleh tiga puluh orang Tung-kek-hek-te, tanpa basa-basi Tio-can diserang dengan membabi buta, Tio-can dengan dua kali pukulan sakti memporak-porandakan pengeroyok, lalu disusul dengan gerakan cepat membagi-bagi pukulan, sehingga para pengeroyok ambruk susul menyusul, dalam waktu satu jam, tiga puluh orang tidak ada lagi yang mampu berdiri, sebagian besar dari mereka tewas akibat pukulan Ui-hai-sian Tio-can meninggalkan rumah makan dengan anteng, ketika dia sampai dipintu gerbang sebelah timur, dua orang wanita cantik menyusulnya, keduanya adalah Kao-hong-bi dan Khu-in-hong murid im-kan-kok-sianli- sam, mereka kebetulan berada di Hehat untuk mengadakan perjalanan rutin, memeriksa keadaan anak buah Tung-kek-hek-te di berbagai kota, dan Kao- hong-bi yang berjulukan tok-bi-hoa senang dengan Cu-jian-an.
Dan ketika mereka bermesraan malam itu, Kao-hong- bi mengajak Cu-jin-an untuk ikut ke Kibun, dan hal ini menggembirakan Cu-jin-an, sehingga dia mengajak tiga adik seperguruannya untuk mengadakan pesta, namun saying, pesta itu berubah jadi bencana, tulang mukanya ambrol dan dua temannya tewas.
Ketika hal itu diketahui Kao-hong-bi, maka ia segera menyuruh anggota lain segera mendatangi likoan dimana Ui-hain-sian berada, namun untuk kedua kalinya mereka terkejut, ketika seorang dari mereka dengan luka parah menyampaikan bahwa sebagaian besar mereka tewas oleh Ui-hai-sian, dan hal ini membuat Kao-hong-bi dan Khu-in-hong marah.
Keduanya segera mengejar Ui-hai-sian dan menyusulnya di pintu gerbang sebelah timur berehenti dulu Ui-hai-sian ! bentak Kao-hong-bi hehehe ada apa lagi, apa kalian juga minta dihajar !? bentak ui-hai-sian dengan sorotan mata yang tajam kakek bau yang sombong ! cela kao-hong-bi marah sambil menyerang dengan pukulan tenaga sakti, dan disambut tTo-can blamm.. dua pukulan sakti beradu, Tio-can mundur dua tindak, dan Kao-hong-bi undur tiga tindak, kemudian pertempuran dilanjutkan dengan ilmu tangan kosong, pengerahan gin-kang di maksimalkan, gerak tipu dan pancingan dikeluarkan, luar biasa seru dan menegangkan, hingga dua ratus jurus berlangsung, keadaan masih imbang, dan belum ada yang mampu mendesak, lalu Tio-can mengubah gerakannya dengan mengeluarkan ilmu barunya jit- goat-sin-ciang Dan dua puluh jurus kemudian Kao-hong-bi terdesak hebat, kepepet dan kalang kabut, namun sebelum Kao-hong-bi ambruk, Khu-in-hong maju menerjang, sehingga Kao-hong-bi dapat menguasai kedudukannya.
Tio-can mengerahkan kekuatan ilmu barunya, untuk menghadapi kedua gadis muda yang berilmu tinggi itu, pertahanan ilmunya laksana benteng yang kokoh, dan hawa panas dan dingin yang dikeluarkan oleh setiap gerakannya, merupakan keuntungan dalam mempengaruhi serangan lawan, namun kedua gadis gemblengan ini juga tidak kalah kuatnya, menekan dan mencoba mendesaknya.
Dan ketika seratus jurus berlangsung, tio-can mulai terdesak, namun masih sulit kalau untuk ditumbangkan, dan kedua gadis itu makin meningkatkan daya serangan, dengan mengeluarkan segala kemampuan yang dimilki, Tio-can mengeluarkan senjatanya yang sudah ditempa dalam perjalanan sepanjang utara ke timur, yakni dua buah roda yang bergigi, dengan dua lingkaran roda ditanganya Tio-can mengeluarkan ilmu barunya jit- goat-sin-lun (roda sakti bulan matahari), kedua gadis itu juga sudah mencabut pedang untuk menghadapi Tio-can pertempuran dengan senjata berlangsung makin seru, senjata roda Tio-can berputar demikian unik dan luar biasa, kadang senjata itu di lempar namun berputar dan kembali kepergelangan tangan Tio-can, dan keunikan ini membuat Hong-bi dan In-hong sibuk dan kalang kabut, sementara dari putaran kedua roda itu, juga mengeluarkan hawa yang berbeda, pada satu kesempatan gigi roda Tio-can menyambar paha Kao- hong-li, dan untungnya dapat disambar dengan pedang trang. putaran roda itu melemah namun tetap juga melukai betisnya sehingga tergores mengeluarkan darah Kao-hong-bi mengerenyit perih, namun tidak mengkendorkan perlawanannya, desakan dan tekanan senjata roda itu masih dapat diimbangi, walaupun mereka tidak lagi mampu menyerang Tio- can, dan Tio can disamping mendesak dengan senjatanya yang unik, juga mengirimkan pukulan- pukulan sakti dari ji-goat-sin-ciang, sehingga kedudukan dua gadis itu sangat berbahaya, dan tidak berapa lama lagi akan amburuk, namun sebelum hal itu terjadi, sebuah bayangan datang menerjang dari arah belakang Tio-can, dan kontan serangan Tio-can terhenti karena menghindar dari cecaran pedang penyerangan yang tiba-tiba.
Penyerang yang datang adalah seorang gadis cantik juga yang bernama Lauw-bi-hong, saudara seperguruan Kao-hong-bi dan Khu-in-hong, dengan masuknya saudara mereka ini, membuat semangat pertempuran Kao-hong-li dan Khu-in-hong yang sempat terpapar, kini bangkit lagi, ketiganya menyerang Tio-can dengan gulungan tiga pedang yang luar biasa cepat dan berbahaya, Tio-can masih dapat mengimbangi walaupun sangat berat dirasakan, Tio-can mengerahkan daya pertahanannya, hingga ketiga gadis itu harus juga berusaha mati-matian untuk melumpuhkannya.
Malam sudah tiba, namun pertempuran itu masih berlangsung seru dan menegangkan, akhirnya pada satu ketika, pedang Lauw-bi-hong menyambar pundak Tio-can, sehinga tersayat dan mengeluarkan darah, kemudian pedang Khu-in-hong menyambar dadanya, sehingga merobek baju dan menggores tipis kulitnya, lalu Tio-can membuat serangan nekat dengan melempar dua senjatanya, dan memukul kearah Lauw-bi-hong dengan tenaga sakti, Hong-ni dan In-hong mencelat menghindar, namun Lauw-bi-hong terpaksa menayambut pukulan Ti-can, dan akibatnya, kuda-kuda Lauw-bi-hong tergempur, sehingga ia terjerembab jatuh, dan saat senjata roda memasuki pergelangannya, Tio-can sudah melarikan diri dari tempat itu.
Pertempuran yang melelahkan itu sangat menguras tenaga, dan mebuat ketiga gadis cantik itu duduk diam lama untuk memulihkan kembali tarikan nafas dan kekuatan mereka, setelah dua jam barulah keadaan mereka pulih kembali Bi-hong, untunglah kamu datang hingga kita dapat mengusir kakek jelek itu. ujar Kao-hong-bi benar, tapi bagaimana kamu sampai kesini Bi-hong, bukankah kamu di-kibun bersama subo !? sela In- hong menimpali aku kesini karena disuruh subo, untuk memanggil kalian berdua kembali ke-Kibun. hmh tidak biasanya begitu, ada apa Bi-hong sehingga kami harus dipanggil ? tanya In-hong benar, tentunya ada hal yang penting, bukan? sela Hong-bi ya memang ada hal yang penting, dan sesuatu yang luarbiasa telah terjadi. jawab Bi-hong, Hong-bi dan In-hong terheran hal apakah yang penting dan luar biasa itu Bi- hong !? tanya Kao-hong-bi keadaan kita di wilayah selatan mengalami bencana besar, Lam-kek-hek-te sudah lenyap, dan ngo-ok- hengcia hanya tinggal dua orang lagi, dan keduanya sudah sampai dikibun sebulan yang lalu bersama tiga muridnya jawab Lauw-bi-hong.
siapakah orangnya yang telah menaklukkan Ngo-ok- hengcia, dan bahkan mengambil alih wilayah selatan !? tanya Hong-bi heran menurut kakek she-Phang, bahwa yang mengacaukan Lam-kek-hek-te adalah seorang pemuda berumur sembilan belas tahunan, yang dijuluki Im-yang-sin-taihap, dan dia adalah she-taihap dari pulau kura-kura. kalau Han-zhong sudah dikauasai, tentunya pendekar itu akan memasuki wilayah timur. sela Khu-in-hong benar sekali, maka subo menyuruh saya menyusul kalian supaya kembali kekibun. sahut Lauw-bi-hong kalau begitu marilah kita berangkat ! ujar Kao-hong- bi berdiri dan merekapun berkelabat dan meninggalkan pintu gerbang kota.
Tio-can yang sedang terluka luar, berlari menuju sebuah sumber air, dan istirahat sambil membersihkan lukanya, selama dua hari Tio-can berada ditempat itu menunggu lukanya sampai kering, kemudian dia melanjutkan perjalanan kemana kaki membawanya, dua minggu kemudian Tio-can sampai dikota Sin-tung, dan dia menginap disebuah likoan, dan ketika malam hari, Tio-can hendak keluar dari likoan untuk mencari angina, sambil menikmati keadaan kota waktu malam Suasana kota ramai oleh tempat pokoan dan rumah bordil, ketika Tio-can melewati sebuah pokoan, dia melihat tiga gadis yang mengeroyoknya berbicara dengan penjaga pintu, Tio-can bersembunyi dan memperhatikan ketiga gadis itu suruh mereka bertiga ke tempat kami menginap ! seru Kao-hong-bi, dan merekapun meninggalkan tempat itu, Tio-can dengan diam-diam mengikuti, dan setengah jam kemudian Kao-hong-bi dan dua rekannya memasuki sebuah likoan yang sangat besar dan mewah.
Tio-can mengendap-endap diatas atap, dan bergerak laksana kelelawar malam, dan mencoba mengerahkan ketajaman pendengarannya untuk mencari kamar ketiga gadis sakti itu, dan usahanya berhasil, Hong-bi, In-hong dan Bi-hong berada pada sebuah kamar yang luas dan besar, dengan ranjang yang sangat besar, dan bahkan kamar itu ada meja dan kursi aku mau mandi dulu. ujar Hong-bi dan memasuki sebuah ruangan tempat mandi dalam kamar itu, In- hong dan Bi-hong membaringkan diri diranjang yang besar dan lembut Bi-hong, kesaktian Im-yang-sin-taihap itu tentu luar biasa sehingga mampu mengalahkan ngo-ok- hengcia. tentulah demikian In-hong. sahut bi-hong sambil membuka baju luarnya kamu bilang dia itu masih muda, umurnya sembilan belas tahun, lebih muda dari kita lima tahun, saya yakin dia itu tampan. bagaimana kamu bisa katakan demikian in-hong !? bukankah dia adalah she-taihap dari pulau kura- kura !? sahut In-hong sambil bangkit duduk dan membuka baju luarnya.
benar, tapi apa hubungan dengan perkiraan kamu bahwa Im-yang-sin-taihap itu tampan !? menurut bayangan saya, she-taihap dipulau kura- kura tidak ada yang jelek, karena penghuni disana adalah legenda di wilayah selatan, mereka adalah keturunan kim-khong-taihap yang katanya memiliki enam istri yang cantik-cantik. darimana kamu tahu demikian !? kamu juga pasti tahu, bahwa ketika kita berumur empat lima tahun, bahwa she-taihap seluruhnya adalah orang yang dielukan, dan sangat dibanggakan oleh orang-orang tua. iya ..sih, dan ketika Thian-te-ong memaksa kita memasuki Tung-kek-hek-te, tidak ada lagi cerita she- taihap. sahut Bi-hong tapi untuk apa kamu pikirkan itu, yang jelas dia adalah musuh kita, yang tentunya akan berusaha membunuh kita. ujar Bi-hong memang dia adalah musuh kita, dan sayang sekali ketampanannya, kalau sempat dia mati muda. sahut In-hong membayangkan wajah tampan entah milik siapa hik..hik In-hong ngelamunkan Im-yang-sin-taihap atau pemuda yang akan datang sebentar lagi. ujar Bi-hong, in-hong tersenyum-senyum masam, lalu tidak berapa lama hong-bi keluar bicarain apa, kok senyam senyum !? tanya Hong-bi sambil mengeringkan rambutnya yang indah hik..hik In-hong membayangkan ketampanan wajah im-yang-sin-taihap. sahut Bi-hong sambil turun dari ranjang menuju kamar mandi apa benar im-yang-sin-taihap berwajah tampan !? mana saya tahu, melihatnya saja saya belum pernah, itu tuh In-hong seperti monyet kesambet tearasi, hik..hik sahut Bi-hong sambil menutup kamar mandi.
In-hong, jika tampan, emangnya kamu mau apa dengan im-yang-sin-taihap. tanya Hong-bi suka-suka akulah, pikiran pikiranku sendiri. sahut In- hong senyum nakal cih kalau aku, jika ketemu dia, walaupun tampan selangit akan ku habisi dia, karena dia musuh kita. iya deh, aku ingin lihat bagaimana nanti jika ketemu she-taihap, keturunan dari kim-khong-taihap yang beristri enam. sahut In-hong sambil memeluk guling kembali dengan hayalannya iih kamu kegatelan ya, nanti aja kamu tuntaskan dengan lelaki yang kita suruh kesini. cibir Hong-bi, dan In-hong diam tidak menjawab tetap asyik dengan fantasinya.
Tio-can meninggalkan kamar itu, dengan pikiran dipenuhi orang muda yang diceritakan sebagai she- taihap, keturunan dari bengcu legendaris kim-khong- taihap, karena meneurut sepengetahuannya bahwa she-taihap sudah habis dan tidak ada lagi yang katanya tewas ditangan Pah-sim-sai-jin, Tio-can kembali kepenginapannya dan berencana akan mengikuti ketiga gadis itu.
Keesokan harinya Tio-can mengintai likoan dimana Kao-hong-bi dan dua rekannya menginap, dan berketepatan ketiganya keluar dan melanjutkan perjalanan, Tio-can dengan mengatur jarak mengikuti ketiga gadis itu, sehingga dua minggu kemudian mereka memasuki kota Kibun, selama tiga hari Tio- can berada didalam kota, cerita yang dia dengar adalah kemunculan Im-yang-sin-taihap yang telah menguasai wilayah selatan, dan sekarang berada di Thianjin, sementara di tempat im-kan-kok-sianli-sam, Ouw-gin dan Phang-keng beserta tiga murid Sim- khong, The-khang dan Ouw-ceng sudah berada lebih tiga bulan yang lalu di kibun.
Setelah mengadakan perjalanan selama lima bulan, Ouw-gin dan Phang-keng yang merasa tidak berdaya melawan Im-yang-sin-taihap melarikan diri kegerbang timur, selama tiga hari tiga malam mereka menancap gas memasuki wilayah timur, dan ketika sampai disebuah hutan, keduanya istirahat dan mengisi perut dengan panggang daging ular tidak kusangka bahwa pemuda itu demikian sakti ouw-gin berkata memecahkan suasana hening benar sekali she-Ouw, dan apa yang kita alami tentunya membuat marah Thian-te-ong menurutmu she-Phang, apakah thian-te-ong dapat mengatasi im-yang-sin-taihap ? entahlah she-Ouw, Thian-te-ong juga bukan orang sembarangan, bahkan telah menewaskan seluruh she-taihap. hmh semoga saja, Thian-te-ong tidak kalah dari Im- yang-sin-taihap.
lalu apa yang kita lakukan setelah sampai dikibun dan bertemu dengan im-kan-kok-sianli-sam? tanya ouw-gin tentunya, kita akan bicarakan hal selanjutnya bersama im-kan-kok-sianli-sam. sahut Phang-keng hmh baiklah kalau begitu mari kita berangkat. sahut Ouw-gin dan segera berlari dan disusul Phang- keng, empat bulan kemudian mereka sampai dikota Hungcih, dan selama tiga hari mereka berdiam di kota itu, dan ternyata tiga murid mereka sudah menyusul dan mereka bertemu dikota itu.
Ouw-ceng, bagaimana keadaan kota hanzhong kamu tinggalkan ? saat saya, dan dua ratus pasukan kembali ke kediaman suhu, tempat kita dalam keadaan terbakar, dan juga saya melihat dua suhu telah tergeletak, dan puluhan peti ada diluar. sialan, harta itu hasil pungutan selama sepuluh tahun, dan tidak satu senpun kita dapat bawa. sungut Phang-keng lalu bagaimana Ouw-ceng !? tanya ouw-gin ketika pasukan saya perintahkan menyerang, saya diam-diam melarikan diri, dan berlari kepintu utara untuk menemui The-khang dan menceritakan keadaan kota, lalu kami ketimur untuk menemui Sim- khong, kemudian kami keselatan untuk memberitahu Lu-eng, namun kami dapatkan Lu-eng sudah jadi mayat dengan kepala pecah di sebuah hutan. artinya Im-yang-sin-taihap masuk dari pintu selatan, dan Lu-eng telah berbuat teledor hingga kita kecolongan. sahut Phang-keng kesal teruskan ceritamu Ouw-ceng ! perintah Ouw-gin setelah itu, kami bertiga segera lari mengarah ketimur, karena kami yakin bahwa dua suhu jika selamat, akan mengarah ke wilayah timur ketempat Tung-kek-hek-te. hmh baiklah kalian istirahat malam ini, dan besok kita lanjutkan perjalanan ke kibun sela Ouw-gin, lalu ketiganya meninggalkan Ouw-gin dan phang-keng.
keesokan harinya mereka berlima melanjutkan perjalanan, sehingga sebulan kemudian mereka sampai dikota ki-bun, mereka disambut im-kan-kok- sianli-sam dengan perasaan heran hmh hal yang mengejutkan kedatangan kalian ini Ngo-ok-hengcia, walhal setahun lagi pertemuan akan dilakukan dengan Thian-te-ong. ujar Lou-si-sian kedatangan kami bukan untuk hal pertemuan yang akan dilakukan tahun depan. sahut Ouw-gin hmh.. lalu kenapa kalian meninggalkan selatan !? tanya Li-ceng-si kekuatan kita diwilayah selatan telah hancur dan lenyap. heh she-Ouw, apa yang terjadi, apa kalian tidak becus memimpin Lam-kek-hek-te !? cela Lou-si-sian jaga mulutmu she-lou kalau bicara ! sela Phang- keng geram menahan amarah sudah, ceritakanlah she-Phang, apa yang terjadi ? sela Lu-eng-hwa menengahi suasana yang panas itu lanjutkan ceritamu she-Ouw, aku malas cerita didepan perempuan bau kencur sok belagu dan merasa paling hebat. sahut Phang-kek yang masih jengkel melihat Lou-si-sian keadaan seperti ini kita tidak seharusnya saling bentrok, sementara kebersamaan kita, sangat dibutuhkan dalam menghadapi masalah ini. ujar Ouw-gin mendinginkan suasana yang tegang ceritakanlah she-ouw apa yang terjadi ? tanya Lu- eng-hwa untuk kedua kalinya kekuatan Lam-kek-hek-te telah terbentur dengan munculnya she-taihap dari pulau kura-kura, orangnya masih muda berumur sembilan belas tahun, dan dijuluki Im-yang-sin-taihap. tentunya kalian sudah berusaha maksimal she- Ouw !? sela Lu-eng-hwa benar Lu-siocia, kekuatan kita di berbagai kota di sapu bersih oleh pendekar ini, sejak dari kaifeng hingga ke Hanzhong, dan kami telah berusaha mencegat pemuda itu, sehingga Lu-tiok dan muridnya tapa daksa, dan hanya sebulan mereka dimarkas, lalu kemudian meninggal. sahut Ouw-gin, mendengar hal itu semuanya hening kami juga telah membentuk pasukan sebesar empat ratus orang, untuk mencegat pendekar itu di kong- ciak-san diluar kota Punam, namun pasukan itu berhasil diperdayakan oleh Im-yang-sin-taihap, lalu lima bulan yang lalu im-yang-sin-taihap memasuki kota Han-zhong dan berhadapan dengan kami berempat, namun pemuda itu harus diakui luarbiasa sakti, hingga kami tidak dapat menghadapinya, dan kami harus menyingkir setelah In-kokcu dan Toan-sin tewas ditangan pemuda itu. ujar Ouw-gin.
Im-kan-kok-sianli-sam terperangah karena terkejut mendengar tiga Ngo-ok-hengcia telah binasa wah jika Ngo-ok-hengcia tidak kuasa membendung kekuatan pemuda itu, tentunya kita harus lebih hati- hati ujar Lu-eng-hwa benar Lu-siocia, bahkan saya yakin Im-yang-sin- taihap, sudah memasuki wilayah timur ini, dan tidak lama lagi anggota Tung-kek-hek-te akan membanjir kekota ini. sela Phang-keng dengan nada tajam sambil melirik Lou-si-sian hmh. menurut she-Ouw apa yang harus kita lakukan ? tanya Li-ceng-si menurut saya, segeralah kumpulkan kekuatan di Kibun ini, dan kerahkan menghadapi Im-yang-sin- taihap yang tidak akan lama lagi akan kedengaran beritanya di wilayah timur ini. jawab Ouw-gin hmh baiklah kalau begitu, mari kita kumpulkan, dan setelah itu kita bicarakan langkah selanjutnya. ujar Lu-eng-hwa Keesokan harinya, Lauw-bi-hong disuruh menyusul kedua saudaranya Kao-hong-bi dan Khu-in-hong yang mengadakan kunjungan rutin kekota-kota bagian utara wilayah timur, dan sebulan kemudian terdengar berita bahwa Im-yang-sin-taihap sudah berada di kota Thianjin, dan itu artinya dua belas kota wilayah timur dari arah selatan sudah di kuasai Im-yang-sin-taihap, dan sebulan berikutnya seratus anggota Tung-kek- hek-te sudah memasuki kota Ki-bun, dan melaporkan keadaan kota mereka yang di datangi oleh Im-yang- sin taihap Setelah ketiga murid im-kan-kok-sianli-sam sudah kembali ke kibun, maka im-kan-kok-sianli-sam mengadakan pertemuan kembali dengan kelima rekan mereka dari wilayah selatan untuk membicarakan langkah selanjutnya.
bagaimana hal selanjutnya she-Ouw, apa langkah kita berikutnya ? tanya Lu-eng-hwa membuka pembicaraan anggota Tung-kek-hek-te di kibun ini kebanyakan adalah wanita. ujar Ouw-gin benat She-Ouw dari delapan ratus jumlah anggota, enam ratus adalah wanita, dan dua ratus laki-laki. sela Li-ceng-si menurut saya, jika kita menunggu maka kemungkinan apa yang kami alami akan terjadi pula disini, maka sebaiknya kita ubah taktik, yakni kita yang bergerak. ujar Ouw-gin maksudnya bagaimana she-Ouw ? sela Lou-si-san maksudnya begini Lou-siocia, kita semua akan keluar dari Ki-bun, dan akan bergerak menuju arah kedatangan Im-yang-sin-taihap, dan pasukan ini dibagi tiga. pembagiannya bagaimana she-Ouw ? tanya Lu-eng- hwa pasukan pertama sebanyak tiga ratus orang, yang dipimpin tiga murid kalian, kemudian pasukan kedua sejumlah dua ratus orang yang terdiri dari laki-laki, dipimpin oleh tiga murid kami, dan pasukan ketiga sebanyak tiga ratus orang, yang kita pimpin berlima. jawab Ouw-gin, semuanya manggut-manggut lalu strateginya bagaimana she-Uuw !? tanya Lu- eng-hwa strateginya adalah, jika umpama pasukan pertama bertemu dengan im-yang-sin-taihap, maka akan terjadi pertempuran, dan setidaknya setengah hari pasukan kedua sudah sampai ketempat itu, dan jika perlu dibantu maka pasukan tersebut akan maju dan setengah hari dibelakang pasukan kedua, kita sudah sampai pada tempat itu dan dapat melihat situasi. kakek-Ouw, apakah pasukan yang susul menyusul itu memungkinkan kita akan tetap kalah di tangan yang hanya seorang pemuda !? tanya Kao-hong-bi, hatinya heran dan tidak habis pikir, membayangkan bagaimana mungkin, betapa hanya seorang akan mampu menghadapi lautan pasukan, betapapun tingginya ilmu orang itu, tapi menghadapi pasukan adalah hal yang mustahil pikirnya.
Kao-socia, menurut biasa tentunya Im-yang-sin- taihap akan kalah dan dikerubuti oleh pasukan yang banyak, namun kenyataan yang kita alami lain, dimana empat ratus pasukan kami dapat dikalahkan oleh im-yang-sin-taihap, jadi kita tidak bisa menggolongkan sosok Im-yang-sin-taihap kepada biasa, karena disamping ilmunya yang tinggi, dia juga mempunyai kecerdasan dan perhitungan yang luarbiasa tingi jawab Ouw-gin Semua terdiam merenungkan perkataan Ouw-gin hmh jika demikian, strategi yang disampaikan she- ouw akan kita lakukan, dan bisa jadi kekalahan pasukan diselatan, karena polanya yang menunggu, dan im-yang-sin-taihap dapat memperhitungkan langkah dan strateginya, dan kali ini kita tidak menunggu, tapi malah bergerak maju menjumpainya, dan ini ide yang sangat bagus. sahut Li-ceng-si, semuanya mengangguk membenarkan, setelah menyepakati segala hal, merekapun bubar.
Disebuah hutan sebelah barat kota Lamhong, Ui-hai- liong-siang sedang beristirahat, mereka sedang memanggang daging kelinci, yang kelihatan sebentar lagi akan matang, minyak gajihnya sudah menetes- netes dengan aroma yang sedap membetik selera apakah dagingnya belum matang Kim-moi !? sebentar lagi Hun-ko! sahut Lui-kim sambil membalik-balik panggang kelinci diatas bara api, tiba- tiba enam orang muncul dari rerimbunan hutan, mereka mengurung tempat itu, bahkan jumlah mereka makin bertambah, hingga jumlah orang yang mengurung sebanyak dua puluh orang lebih hmh kalian telah mengacau di Lamhong, dan mencelakakan empat orang teman kami kata pimpinan mereka dengan muka merah karena marah, Lui-kim meloncat keatas dan menancapkan kayu panggangan kesebuah pohon, dan kemudian turun dan berdiri didekat Yo-hun kalian juga kalau mau merasakan hajaran majulah ! tantang Yo-hun, mereka yang melihat demonstrasi kekuatan Lui-kim yang menancapkan kayu panggangan kesebuah pohon, dan tertancap dalam, menggetarkan hati sebagian dari mereka, namun enam orang bergerak menyerang, Yo-hun dan Lui-kim maju menerjang, dan adu jotos pun berlangsung seru.
Yo-hun dan Lui-kim dengan gerakan indah dan cepat, memukul dan menampar sehingga dalam sepuluh gebrakan, enam orang itu terjungkal ambruk ketanah, dengan luka pukulan yang tidak ringan, sepuluh orang merangsak maju, dan disusul yang lainnya sehingga Ui-hai-liong-siang dikerubuti, namun Ui-hai-liong-siang dengan tenang bergerak melumpuhkan seorang demi seorang, dan hanya sepeminum teh pertempuran itu berlangsung, dua puluh tiga orang sudah ambruk dengan wajah meringis kesakitan, karena luka pukulan dan tamparan Diantara mereka ada tujuh orang yang tewas karena lukanya yang parah, Lui-kim segera melompat ketempat pohon dimana panggang kelincinya ditancapkan mari kita cari tempat lain Hun-ko ! seru Lui-kim sambil berkelabat kearah barat, Yo-hun menyusul kekasihnya, dan disebuah aliran sungai keduanya duduk dan menyantap panggang kelinci dengan nikmat.
Setelah keduanya menghabiskan panggang kelinci, tiba-tiba hari yang cerah itu berubah mendung, dan laksana dicurahkan dari langit, hujan turun mengguyur lebat, keduanya segera mencari tempat berlindung, namun yang ada hanya pepohonan kayu dan semak belukar Hun-ko, sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan. benar Kim-moi, kita sudah kepalang basah, dan menunggu disinipun tidak ada gunanya malah membuang waktu. sahut Yo-hun, kemudian Yo-hun meraih tangan mungil Lui-kim dan menariknya berlari, dengan senyum hangat Lui-kim berlari disamping Yo- hun, sepasang kekasih itu berlari cepat menembus hujan yang lebat menuju perbatasan wilayah barat.
Sampai malam hujan terus turun seakan enggan untuk reda, bayangan Ui-hai-liong-sian yang berlari cepat menembus lebatnya hujan, hingga menjelang pagi keduanya sampai di sebuah pondok ditengah persawahan milik penduduk, keduanya istirahat didalam pondok, dan dengan setumpuk api mereka menghangat tubuh bagaimana Kim-moi, apakah kita teruskan atau menunggu pagi, baru berangkat. kita menunggu pagi saja Hun-ko. sahut Lui-kim, kemudian yo-hun mendekati Lui-kim dan memeluknya dari belakang, Lui-kim yang sedang mengerahkan hawa sakti untuk menghangatkan tubuhnya, bertambah hangat ketika dipeluk oleh Yo- hun, Lui-kim menyandarkan kepalanya dileher Yo-hun, dan kedua tubuh yang basah itu saling menghangatkan dengan hawa sakti, sementara nyala api pada tumpukan kayu bakar menambah romantisnya suasana ditengah gemerisik curahan hujan yang menimpa atap pondok yang mereka tempati Keesokan harinya hujan sudah reda, Lui-kim bangun dari tidurnya, ternyata keduanya tidur dengan posisi duduk, tangan Yo-hun yang melingkar diperutnya demikian lembut, Yo-hun bangun saat merasakan hembusan nafas Lui-kim membelai lehernya kamu sudah bangun sayang !? sela yohun mempererat pelukannya sembari mencium kening Lui- kim, baju dibadan mereka hampir kering marilah kita lanjutkan perjalanan, dan setidaknya siang hari nanti kita sudah sampai ke kota Lijiang. ujar Lui-kim bergerak untuk berdiri, dan Yo-hun pun melepas pelukannya dan ikut berdiri, keduanya keluar dari pondok, dan segera berlari cepat, keduanya dipagi yang basah itu saling berlomba, diselingi celoteh-celoteh mesra dan suara tawa renyah.
Siang harinya, sampailah keduanya di kota Lijiang, keduanya segera mencari likoan untuk istirahat dan membersihkan diri, pada hari kedua mereka berada di kota Lijiang, saat keduanya sedang makan, pemilik likoan dan sepuluh orang mendatangi meja mereka, Yo-hun dan Lui-kim heran ada apa sicu !? tanya Yo-hun pada pemilik likoan karena kalian pendatang dikota ini, maka kami akan mengajukan beberapa pertanyaan. jawab pemiliki likoan kenapa harus demikian !? tanya yo-hun ini sudah peraturan, jadi jawab saja ! siapa kalian yang ingin tahu urusan orang, apakah kalian ini pemerintah kota ini !? benar, kami adalah penguasa kota ini, dan seluruh kota di wilayah barat ini ada dibawah kuasa See-kek- hek-te. jawab pemilik likoan kalian ini siapa !? darimana dan hendak kemana ? sela seorang dari mereka kemana kami, itu adalah urusan kami, dan kami tidak harus mengatakan pada orang lain. sela Lui-kim bangsat, artinya kalian menentang See-kek-hek-te ! bentak pemilik likoan dan hendak menampar muka Lui-kim, namun sebelum tangan itu sampai krekk adouuuh terdengar pikikan pemilik likoan karena tangannya ditangkap dan dipatahkan Lui-kim, yang lain segera maju, Lui-kim dan Yo-hun berdiri dan melemparkan meja kearah anak buah see-kek-hek-te brakk.. meja itu hancur di bacok oleh seorang yang paling depan, namun dia kecele, karena sebuh pukulan telah mengenai mukanya, dan membuat dia terjungkal dengan hidung patah dan berdarah, anak buah see-kek-hek-te terus merangsak maju, dan suasana jadi kacau balau, meja dan kursi patah dan hancur Yo-hun dan Lui-kim membagi-bagi pukulan penuh tenaga, sehingga membuat mereka tidak berdaya untuk menyerang lagi, dalam jangka lima belas menit, sepuluh orang itu sudah lemas meringis kesakitan, dan tidak berapa lama dua puluh orang see-kek-hek- te datang memasuki likoan, dan segera menyerang Ui-hai-liong-siang, tapi mereka juga bukan tandingan sepasang pendekar gemblengan dari pulau nelayan itu, dalan waktu yang tidak lama, kedua puluh orang itu sudah babak belur, dan dua belas dari mereka tewas.
kalian merasa memiliki kekuasaan pada orang lain, hingga berbuat semena-mena, tapi kalian jangan coba-coba menyombongkan diri dihadapan Ui-hai- liong-siang. ujar Lui-kim ketus, kemudian Yo-hun dan Lui-kim kembali keatas dan mengambil buntalan mereka, lalu meninggalkan kota Lijiang, sejak itu nama Ui-hai-liong-siang menjadi berita hangat, dan itu terbukti karena julukan mereka sudah menjadi buah bibir di kota Dali, sementara keduanya belum sampai kekota itu Ketika berada dikota Dali, tiga puluh orang hek-te telah mencegat mereka ditengah kota ui-hai-liong-siang ..hari ini kalian harus menerima kematian ! bentak pimpinan hek-te yang beroperasi di kota Dali, Ui-hai-liong-siang segera di kerubuti dan diserang habis-habisan, namun enam kali gebrakan, keroyokan itu sudah porak-poranda, dua pukulan sakti pek-lek-jiu menghantam barisan pengeroyok, dan akibatnya delapan orang terlempar dan tewas seketika Ui-hai-liong-siang terus bergerak dengan gesit mengejar para pengeroyok yang sudah ciut nyalinya dan kalang kabut, dan dalam waktu dua jam, tiga puluh anggota hek-te sudah tergeletak tidak berdaya, dan dua puluh orang dari mereka tewas ini baru pelajaran ringan bagi kalian, dan satu saat kota Yinchang akan kami rebut, dimana See-kwi-liong akan berhadapan dengan ui-hai-liong-siang ujar Lui- kim dengan tegas dan lantang, orang-orang yang menonton dari kejauhan merasa hangat dan gembira, ketika melihat tiga puluh orang samseng kota mereka tidak berdaya, dan perkataan lui-kim itu terdengar jelas, dan mebuat hati mereka berpihak pada sepasang pendekar yang berjulukan Ui-hai-liong-siang.
Kemudian Ui-hai-liong-siang melanjutkan perjalanan, dan sebulan kemudian mereka sampai di kota Kunming, dan hari mereka memasuki kota, empat puluh orang hek-te mendatangi keduanya yang sedang berjalan-jalan di taman kota, rombongan hek- te yang mengelilingi mereka membuat orang berkerumun untuk menonton dari kejauahan, dan ketika memperhatikan dua orang yang di kelilingi, hati warga tergetar, karena ternyata sepasang pendekar yang lagi hangat dibicarakan, dan jadi buah bibir di wilayah barat, kenyataan itu membuat hati penduduk antusias untuk menonton kelanjutan peristiwa yang sedang berlangsung.
bunuh dan cincang Ui-hai-liong-siang ! teriak pimpinan rombongan, Ui-hai-liong-siang tidak menunggu, malah teriakan itu merupakan aba-aba bagi mereka untuk menerjang, dua pukulan sakti dikeluarkan, sehingga hawa kilat halilintar berkeredapan menyambar pasukan hek-te, teriakan histeris terdengar ketika dua pukulan itu menghantam barisan, lalu Ui-hai-liong-siang bergerak gesit laksana bayangan saking cepatnya berkelabat diantara para pengeroyok yang pusing dan bingung, tatapan mereka kabur, sehingga mereka tidak berdaya saat pukulan dan tamparan menghantam tubuh mereka.
Hampir setengah hari pertempuran itu berlansung dengan seru dan ramai, dan empat puluh orang hek- te tidak ada lagi yang mampu berdiri, dan sebagian besar dari mereka tewas, dan yang lain terluka parah, orang-orang yang menonton bergerak mendekat, Ui- hai-liong-siang menatap orang-orang yang mendekat itu, seorang tua berumur lima puluh tahun lebih menjura dengan sinar wajah gembira terimakasih Ui-hai-liong-siang, peristiwa ini sungguh membuat hati kami merasa lega, seakan kemelut dikota ini akan hilang walaupun sehari dua hari, kami sudah sangat bersyukur. ujar orang tua itu, Lui-kim mengerti dengan maksud penjangkaan waktu yang singkat itu, lalu berkata paman dan sicu sekalian, sebelum See-kwi-liong tewas, see-kek-hek-te akan tetap merajalela di wilayah barat, namun kita akan berusaha untuk meredam tirani See-kwi-liong, jika saatnya tiba, doakanlah kami paman dan sicu semua, semoga dapat menundukkan See-kwi-liong. ungkapan Lui- kim langsung menggugah harapan mereka, maka mereka langsung berteriak hidup..! ui-hai-liong-siang. hidup..! ui-hai-liong-siang. Selama dua hari Ui-hai-liong-siang berada di Kunming, dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan kekota Nanning dimana Kee-san-taihap ayah dari lui- kim bertempat tinggal, dan sebulan kemudian Ui- liong-siang sampai dikota Nanning, dan hal ini membuat Lui-kim bergetar rindu, lebih enam tahun ia meninggalkan kota Nanning dan meninggalkan ayah ibunya, saat itu dia berumur dua puluh tahun, sekarang umurnya sudah hampir dua puluh tujuh tahun Kedatangan Ui-hai-liong-siang disambut oleh penduduk, karena julukan yang baru muncul demikian santer, orang tidak menyangka, bahwa perempuan dari sepasang pendekar itu adalah putri pendekar dari bukit ayam, ketika Ui-hai-liong-siang melewati pasar kota Nanning banyak mata memandang, hati mereka harap-harap gembira dengan kedatangan sepasang pendekar yang sudah menoreh nama selama setengah tahun diwilayah barat ini.
Ui-hai-liong-siang mendatangi tok-hek-liong bukoan (perguruan naga hitam beracun) dimana Lauw-heng sebagai kauwsu adalah pimpinan see-kek- hek-te di kota Nanning, Lauw-heng berketepatan berkumpul dengan rekan-rekannya sesama hek-te sedang membicarakan kemunculan Ui-hai-liong-siang, murid kepala yang sedang melatih murid di lianbhutia segera menghadang kedatangan Ui-hai-liong-siang, dan beberapa murid langsung melapor kedalam.
apakaha kalian Ui-hai-liong-siang !? tanya murid kepala benar, dan segera panggil kauwsu kalian untuk berhadapan dengan kami ! jawab Yo-hun dengan lantang, murid kepala dan beberapa murid segera bergerak menyerang, dan terjadilah pertempuran yang ramai, dan dua kali gebrakan murid kepala sudah terlempar dan ambruk ketanah dengan kondisi yang mengenaskan, mukanya merah terpanggang dan tidak berapa lama nyawanya melayang, murid- murid yang hendak menyerang langsung ciut nyalinya melihat ganasnya pukulan yang mengeluarkan kilat dari sepasang pendekar itu, pada saat yang menegangkan itu Lauw-kauwsu beserta empat puluh rekannya keluar ternyata kalian sudah sampai kesini ! ujar lauw- kauwsu dengan nada sinis benar, dan apakah kamu kauwsu dari bukoan ini !? tanya Yo-hun benar, dan kalian telah keterlaluan membuat onar ditempatku. sahut Lauw-kauwsu dengan tapan mata tajam heh.. kauwsu, ini situasi onar yang terakhir kamnu rasakan, sebab nyawamu akan segera minggat dari tubuhmu yang penuh dengan kekejian itu. bentak Lui-kim yang tahu bagaimana kejamnya kauwsu yang memimpin hekte di kotanya ini bangsat tidak tahu diri, ciaat bentak Lauw- kauwsu menyerang dengan dahsyat dan ganas, Lauw-kauwsu yang sebenarnya tidak tahu diri menganggap enteng Lui-kim, dan betapa terkejutnya dia ketika dalam tiga gebrakan Lui-kim telah menghantam dadanya, hingga nafasnya sesak dan jantungnya rasa tersetrum bergetar, matanya melotot, mulutnya menganga pucat, dan akhirnya hoakk..hoak mulutnya memuntahkan darah hitam dan nyawanyapun putus.
Anggota hek-te yang lain segera menyerang, murid- murid yang melihat guru besar mereka tewas mengerikan, langsung ambil langkah seribu meninggalkan bukoan, dan tinggallah anggota hek-te mengeroyok Ui-hai-liong-siang, namun empat puluh orang itu laksana laron menyerang api, dan terpental sendiri diterpa badai panas yang keluar dari gerakan sepasang pendekar kosen jebolan pulau nelayan.
Dan dalam waktu tiga jam, empat puluh hek-te tewas tergeletak tidak bernyawa, kemudian Yo-hun membakar bukoan, dan kemudian keduanya meninggalkan tempat itu, beberapa penduduk yang menyaksikan peristiwa itu berhamburan menuju kota, dan menyebar berita tentang tewasnya seluruh hek- te, dan dibakarnya bukoan pimpinan hek-te di Nanning.
berita itu membuat penduduk merasa gembira dan lega, ketika Ui-hai-liong-siang kembali kepusat kota, dan hendak menuju pintu barat sebelah kota, beberapa orang mendekati, mereka menjura dengan wajah berseri dan merasa puas terimakasih Ui-hai-liong-siang. ujar salah seorang dari mereka, Yo-hun tersenyum paman, kejahatan sudah merupakan kewajiban untuk ditentang, jadi sudah kepatutan apa yang kami lakukan. sahut Yo-hun benar taihap, dan rasanya bagai mimpi hari ini kami melihat kekejaman runtuh berkeping-keping dikota ini, semoga saja ini pertanda, bahwa wilayah barat akan menyambut cahaya terang yang akan menghilangkan kabut yang selama ini menyelimuti. ujar orang tua itu benar sekali paman, dan itu harapan kita semua. sahut Yo-hun lalu siang-taihap hendak kemana lagikah !? paman, saya adalah siaongkoan Lui-kim putri dari Kee-san-taihap dibukit ayam, dan kami hendak ke bukit ayam. jawab lui-kim dengan senyum lembut, mendengar jawaban itu, semakin berbinar wajah mereka dan semakin dalam mereka menjura dengan hati bangga.
Kemudian Ui-hai-liong-siang melanjutkan perjalanan menuju pintu gerbang barat kota, di lepas pandangan senang bertabur takjub warga kota pada sepasang pendekar yang ternyata si gadis adalah bagian dari mereka, penduduk nanning yang berdiam di bukit ayam, setelah keluar dari pintu barat kelihatanlah bukit ayam, hati Yo-hun bergetar dan berkeringat dingin, dia terdiam sepanjang perjalanan, sementara Lui-kim penuh rasa rindu yang tidak terlukiskan akan pertemuan yang nanti terjadi di bukit ayam, dan dia akan bertemu dengan kedua orang tuanya.
Lui-kim melihat kekasihnya yang berjalan disampingnya dengan muka agak pucat Hun-ko, kamu kenapakah !? tanya Lui-kim, Yo-hun menatap wajah Lui-kim yang cantik mempesona, hatinya kian gemetar ah.. tidak apa-apa Kim-moi. jawab Yo-hun sambil menatap bukit ayam, Lui-kim meraih tangan Yo-hun, dan dia merasakan tangan itu dingin, dan hal ini membuat dia heran koko, apakah kamu sakit, kenapa tanganmu dingin dan lenganmu basah berkeringat !? kim-moi, akuaku ah entahlah aku.. aku merasa detakan jantungku terlalu cepat, dan ada sedikit takut seiring menyelinap rasa gembira. jawab Yo-hun, Lui- kim tersenyum apa yang kamu takutkan hun-ko !? tanya Lui-kim mesra sambil memeluk lengan Yo-hun aku takut bagaimana cara menyampaikan niat kita pada ayahmu, dan aku takut jika aku dotolak. lalu apa yang membuatmu gembira Hun-ko !? aku merasa gembira engkau adalah kekasihku, rasa dan luapan cinta dan sayangmu sudah aku rasakan, aku bahagia didekatmu kim-moi. aku juga Hun-ko, cintaku padamu tidak bertepi, rasa kagumku akan dirimu juga tidak berbatas, aku adalah milikmu koko, jadi kuatkanlah hatimu, tidak ada halangan bagi kita untuk mengecap cinta ini. sahut Lui-kim penuh kemesraan dan binar cinta, Yo-hun berhenti dan meraih tubuh semampai dan lunak kekasihnya sungguh engkau moi-moi memberikan ketenangan, dan membuat hati ini nyaman dan teduh. bisik Yo- hun mengecup pipi dan bibir Lui-kim, sesaat lumatan itu membuat hentakan birahi yang hangat, dan kedua tubuh yang berdiri dan berpelukan dipinggir hutan yang sunyi itu, keduanya saling pagut dan remas penuh saying.
Dengan nafas memburu, kedua bibir itu lepas, dan Lui- kim merasa wajahnya panas dan segera menyembunyikannya didada bidang Yo-hun marilah bawa aku ke lereng bukit, dan segeralah lamar aku pada ayahku koko. bisik Lui-kim lirih dalam dekapan kekasihnya, Yo-hun menggendong Lui-kim dan segera melompat dan berlari cepat menuju lereng bukit ayam, Lui-kim menikmati hangatnya dalam gendongan Yo-hun, dan Lui-kim mengeratkan pelukannya pada leher dan merapatkan kepalanya pada dada itu.
Menjelang sore hari, tibalah keduanya di sebuah lembah yang indah dengan taburan bunga ci-lan yang semerbak, Lui-kim turun dari gendongan Yo-hun karena di lembah itu pondok kedua orang tuanya sudah terlihat, lalu keduanya menuruni lembah dan memasuki halaman rumah kayu yang besar dengan halaman yang luas, tiba-tiba sebuah bayangan cepat menyerang mereka, tapi dengan mudah Ui-hai-liong- siang mengelak ayah ..ini aku Lui-kim ! teriak Lui-kim, lelaki berumur lima puluh tahun lebih itu berdiri tegap, dan memandang tajam pada Lui-kim, dan hatinya bergetar Lui-kim, anakku ! Kee-san-taihap memanggil nama putrinya dengan nada bergetar rindu, Lui-kim berlari memeluk ayahnya dan tangis rindu bahagia pun pecah.
Seorang wanita berumur lima puluh tahun, namun masih terlihat garis kecantikannya menuruni tangga ibu..! seru Lui-kim dan berlari mengejar ibunya, dan Lui-kim membuncahkan tangis dipelukan ibunya ah anakku Lui-kim kamu sudah datang nak. desah ibu Lui-kim disela tangis penuh bahagia, setelah pertemuan mengharukan itu, Siangkoan-hui ayah lui- kim mengajak masuk anaknya dan Yo-hun kedalam rumah.
ayah..ibu, ini adalah Yo-hun, temanku dalam perjalanan. ujar Lui-kim memperkenalkan Yo-hun.
aku yo-hun paman, dari lembah Huai. sela Yo-hun sambil menjura, kedua orang tua itu tersenyum dan mengangguk, lalu menatap putrinya kim-ji, tujuh tahun sudah engkau meninggalkan kami, untuk mewujudkan cita-citamu ke pulau es, lalu kini engkau sudah menjadi wanita yang sangat dewasa, ceritakanlah pengalamanmu anakku. sela ibunya banar Kim-ji, kami sangat ingin mendengarnya, terlebih gerakan mengelak darimu membuat ayat terkejut. sambung ayahnya, Lui-kim tersenyum dan memandang Yo-hun yang juga tersenyum ayah sebenarnya kami tidak sampai kepulau es. kami ? apakah kami itu kim-ji, apakah kamu dengan Hun-ji ini !? potong Siangkoaan-hui heran benar ayah boleh dikatakan begitu, karena orang berburu pusaka pulau es ratusan orang jumlahnya, namun ditengah laut, badai datang dan meneggelamkan semua orang, saya dan Hun-ko terdampar disebuah pulau yang sangat banyak ular belangnya, dan kemudian kami berusaha meninggalkan pulau tersebut, dan sampai di pulau dekat pulau nelayan, dan disitulah saya dan hun-ko belajar dengan seorang penghuni pulau nelayan selama lima tahun. cerita itu hanya ringkasan dari cerita Lui-kim, dan tentunya ia menceritakan lebih dari itu hingga kedua orang tuanya berdecak kagum.
Pertemuan bahagia itu amat demikian terasa, dan dua hari kemudian di ruang tengah pondok siangkoan-hui, empat orang yang menghuni rumah itu duduk berhadapan, dengan hati dikuatkan Yo-hun berkata paman siangkoan, selama tujuh tahun saya dan Kim- moi hidup bersama, dan Kim-moi dan saya memiliki perasaan yang sama, tiada cita-cita kami setelah keluar dari pulau nelayan kecuali hanya untuk menemui paman. Siangkoan-hui menatap lembut pemuda yang sudah tergolong tua itu, sudah tiga puluh satu tahun dan pantas dengan anaknya yang sudah berumur dua puluh tujuh tahun lanjutkanlah Hun-ji, apa yang hendak kamu sampaikan pada kami. sela Siangkoan-hui paman, besar harapan saya, sekiranya saya dan Kim- moi disandingkan dan diresmikan sebagai suami istri, dan semoga niat ini dapat paman perkenankan. ujar Yo-hun dengan nafas ringan setelah menyampaikan inti maksudnya, lepas rasanya beban yang menghimpit selama dua hari ini, Lui-kim yang mendengar itu, mukanya panas merasa jengah dan malu, lalu ia berdiri dan meninggalkan pertemuan kecil itu.
Siangkoan-hui tersenyum melihat tingkah anaknya hun-ji, anak kami Lui-kim juga sudah menceritakan jelas pada kami, dan saya sebagai orang tua sungguh merasa bangga dengan keuletan kamu Hun-ji, dan kami sangat berterimakasih, betapa selama tujuh tahun kamu dapat menjaga kehormatan anak kami, dan dari itu saja Hun-ji kami sudah merasa takjub dan tertarik akan dirimu, dan harapanmu yang besar itu melebihi besarnya harapan kami, bahwa anak akami ada dalam pimpinanmu. jawab Siangkoan-hui, jawaban yang luar biasa bernada limpahan setuju itu membuat Yo-hun tertunduk bahagia, dan air matanya menitik mendengar peletakan kepercayaan yang penuh dan mutlak itu.
Seminggu kemudian pernikahan pun dilangsungkan, beberapa kenalan di kota Nanning diundang, penduduk yang mendengar akan pernikahan putri Kee-san-taihap yang mereka tahu adalah Ui-hai-liong- siang, tanpa diundang berbondong-bondong mendatangi bukit ayam, Kee-san-taihap terkesan dan terkejut akan banyaknya tamu yang datang, dan karena halaman rumah itu luas masih dapat menampung hampir dua ratus tamu itu Hui-twako, kamu tahu kenapa orang-orang ini berdatangan !? tanya Tang-seng, adik sepupu dari istrinya yang berdiam didalam kota hmh jujur memang aku tidak tahu Seng-te, apakah kamu tahu !? tentu aku tahu, karena kepoanakanku yang sedang bersanding dengan suaminya itu telah menggemparkan wilayah barat ini, keduanya di juluki Ui-hai-liong-siang. ah benarkah seng-te !? ujar Siangkoan-hui rasa tidak percaya banar twako, bahkan Lauw-kauwsu dari tok-hek- liong yang sekaligus pimpinan hek-te di sini, sudah ditewaskan keponakanku itu bersama suaminya sebelum mereka menjumpai twako. wah demikiankah rupanya !? gumah siangkoan-hui takjub dan gembira.
Setelah sore hari, para tamu pun berangsur-angsur meninggalkan pesta, susul menyusul mereka menyalami kedua mempelai dengan perkataan kionghi ui-hai-liong-siang. ucapan selamat itu disambut senyum kedua mempelai dan membuat Siangkoan-hui merasa bangga dan haru, anaknya telah dengan keras menentangnya untuk diizinkan mencari pulau es, hanya untuk menghadapi antek- antek Pah-sim-sai-jin, dan cita-cita itu ternyata membuahkan hasil, dan anaknya disalami dengan julukan naga, dan bukan hanya itu, anaknya yang ulet bahkan mendapatkan pasangan yang luar biasa Yo-hun pemuda tangguh yang bermartabat tinggi, yang tidak dipermainkan oleh bisikan nafsu keji.
Malam itu kedua mempelai memasuki kamar pengantin, Yo-hun dengan rasa cinta dan rindu memeluk istrinya, Lui-kim yang hangat dengan tidak sabar menyambut pelukan suaminya dengan desahan nafas cinta, kecupan-kecupan hangat membuat gerakan-gerakan dan gelinjang indah, dengan tenang dan telaten birahi cinta mengalir, berombak gemulai, dan lama kelaman menjadi lahar madu cinta yang panas, menyentak dan menyergap urat syaraf, nikmatnya perpaduan cinta yang suci, dan menyimpan bara birahi yang panas tumpah semalam suntuk, kedua pengantin itu dengan hati bahagia meraih pernak pernik birahi sayang dan mesra, berlomba mendaki berkali-kali dan terhempas pada hamparan kenyamanan yang tiada terlukiskan.
Pah-sim-sai-jin bagaikan harimau terluka ketika melihat tiga muridnya datang membawa kekalahan ceritakan apa yang terjadi dan mana Gu-can-lung, dan kenapa tanganmu sampai putus Tin-bouw ! teriak Pah-sim-sai-jin. kami bertemu San-ji-liong di luar kota Yuguan dan menempurnya, dan keduanya sudah terdesak hebat, namun tiba-tiba Ui-hai-liong-siang muncul dan membantu san-ji-liong, akhirnya kami terdesak. lalu.., bagaimana!? mereka berhasil memotong tangan Tin-bouw dan menusuk perut Can-lung, kami terpaksa melarikan diri dengan membawa keduanya yang pingsan. terus apa yang terjadi dengan cang-lung!? ditengah perjalanan Can-lung tidak dapat bertahan hingga ia meninggal, suhu! bangsat ! orang-orang yang menentang thian-te-ong teriaknya marah dan memukul meja hingga pecah berantakan.
awas kalian semua ! akan kumakan hati dan jantung kalian. dengus pah-sim-sai-jin geram menyumpahi pendekar-pendekar yang baru muncul dari laut kuning baik kalian tinggal disini dan urus semuanya, saya akan keluar untuk membereskan para pengacau itu. ujar Pah-sim-sai-jin dengan nada marah lalu suhu ! jika para pimpinan datang untuk pertemuan yang enam bulan lagi akan diadakan, apa yang kami lakukan !? sela Ciu-tong, Pah-sim-sai-jin terdiam, dan saat itu seorang perempuan cantik memasuki ruangan, dia adalah Can-hang-bi muridnya yang kelima ada apa hang-bi !? tanya Pah-sim-sai-jin masih kesal suhu telah terjadi hal yang mengejutkan diselatan bahkan sekarang kondisi timur juga bergolak. apa maksudmu hang-bi !? , begini suhu, utusan dari timur datang barusan, dan hendak melapor kepada suhu, namun karena suhu ada pertemuan, maka mereka menemuiku. hmh.. hal apa yang mereka sampaikan !? kata mereka bahwa Lam-kek-hek-te telah hancur, dan kita sudah tidak punya apa-apa lagi disana. jawab Can-hang-bi, muka Pah-sim-sai-jin yang tadi merah kini semakin merah padam sial bagimana bisa Lam-kek-hek-te hancur!? tanyanya dengan hati panas diselatan muncul she-taihap dari pulau kura-kura yang berjulukan im-yang-sin-taihap, dan sekarang Ngo-ok-hengcia hanya tinggal kakek she-ouw dan she-phang yang kini berada dikibun bersama im-kan- kok-sianli-sam jawab Can-hang-bu, Pah-sim-sai-jin meremas pegangan kursi saking marahnya, hingga pecahan kayu di genggaman Lu-koai menjadi tepung lalu apa yang dilakukan im-kan-kok-sian-li-sam ? kata utusan itu, mereka akan mencegat Im-yang-sin- taihap dengan delapan ratus pasukan. hah goblok dan sangat sia-sia! cela Pah-sim-sai-jin suhu, mereka berbuat demikian tentu beralasan dan alasannya mungkin saya tahu. sela Can-hang-bi.
apa alasannya!? tanya Pah-sim-sai-jin menatap tajam muridnya karena pasukan diselatan pernah mengadakan tindakan seperti yang kata pelapor mencegat Im- yang-sin-taihap dengan empat ratus pasukan, namun nyatanya empat ratus pasukan ditewaskan oleh im- yang-sin-taihap. huh..! ini tidak bisa dibiarkan. ujar Pah-sim-sai-jin dengan nada jengkel, dan tiba-tiba seorang datang melapor Thian-te-ong yang mulia! ada orang aneh di luar dan hendak menemui thian-te-ong, katanya dia adalah Ouw-ciong yang dulu diutus mencari pulau es. ujar pengawal , mendengar itu Pah-sim-sai-jin dan murid- muridnya keluar, diluar tiga orang dengan tubuh berwarna-warni berdiri tegap, seorang laki-laki dan dua perempuan, lelaki itu menjura ketika melihat Pah- sim-sai-jin selamat bertemu kembali Thian-te-ong! hmh.. selamat bertemu! sahut Pah-sim-sai-jin datar thian-te-ong yang mulia ! saya adalah Ouw-ciong yang enam tahun yang lalu diutus oleh Thian-te-ong untuk mencari pusaka di pulau es. hmh.apa yang terjadi padamu, dan kedua temanmu ini siapa!? saya adalah Pouw-eng dan ini adalah Toan-lin, kami berdua adalah utusan subo im-kan-kok-sianli-sam di Tung-kek-hek-te. sahut Pouw-eng hmh,mari masuk! ajak Pah-simn-sai-jin, lalu semuanya masuk kedalam nah..! sekarang apa yang kalian alami dan kenapa tubuh kalian seperti itu!? thian-te-ong yang mulia ! kami tidak menemukan pulau es, karena ditengah laut kami di hantam badai dan terdampar ke pulau neraka, dan disanalah kami menetap selama ini dan mengikuti kebiasaan penghuni pulau neraka. apa dan bagaiamana penduduk pulau neraka itu!? mereka adalah penduduk buangan dari pulau es, jadi artinya mereka itu masih sangat dekat dengan pulau es. lalu..! apa yang kalian lakukan selama ini disana!? kami selama enam tahun telah belajar ilmu-ilmu pulau neraka dan menurut saya tidak kalah hebatnya dari ilmu-ilmu pulau es. hmh.benarkah demikian !? sela Pah-sim-sai-jin tidak percaya benar Thian-te-ong. sahut Ouw-ciong baikcoba kita kelianbhutia, aku ingin melihat sampai dimana ilmu yang kalian dapatkan. ujar Pah- sim-sai-jin, ,lalu mereka pun memasuki lianbhutia Ciu-tong ! kamu hadapi Ouw-ciong, dan kamu hang- bi hadapi Pouw-eng ! ujar Pah-sim-sai-jin, lalu empat orang memasuki lapangan lianbhutia, dan tidak berapa lama pertempuran pun dimulai Pertempuran yang luar biasa seru berlangsung ketat dan ulet, pertempuran yang penuh dengan gerakan- gerakan mematikan, Pah-sim-sai-jin memperhatikan kedua pertempuran itu dengan seksama, dan ketika menginjak jurus ke dua ratus Hang-bi dan ciu-tong mulai terdesak, pukulan-pukulan pulau neraka yang berhawa yang membuat panas tempat pertempuran, dan lima puluh jurus kemudian Hang-bi terjengkang ketika menerima subuah dorongan kuat dari Pouw-eng dan Ciu-tong terhempas ketika kuda- kudanya dipatahkan, dan hantaman dorongan yang kuat menerpa tubuhnya.
kemudian Pah-sim-sai-jin menerjang memasuki pertempuran, Pah-sim-sai-jin mengeluarkan ilmu yang juga dikeluarkan dua muridnya thian-te-cio-kang Ouw-ciong dan Pouw-eng mengelak dan membalas dengan tidak kalah gencarnya, pertempuran itu demikian seru dan cepat, sampai dua jam pertempuran itu imbang, namun ketika pah-sim-sai-jin kerahkan seluruh kandungan ilmu thian-te-tin-hoat- chit Ouw-ciong dan pouw-eng kelabakan dan terdesak hebat Toan-lin! sekarang kamu ikut maju! perintah Pah- sim-sai-jin, Toan-lin segera memasuki pertempuran dan pah-sim-sai-jin merasakan tiga kekuatan besar membendung serangannya, pertempuran imbang kembali hingga seratus jurus, setelah puas menjajaki ilmu ketiga penghuni pulau neraka itu, Pah-sim-sai-jin melompat mundur cukup..! ketiganya langsung berhenti ilmu yang kalian dapatkan tidak mengecewakan. ujar Pah-sim-sai-jin, setelah itu mereka kembali kedalam dan mengadakan pesta kecil tepat sekali kedatangan kalian, karena keadaan kita terancam oleh beberapa pendekar yang mencoba menggerogoti kekuatan kita. ujar pah-sim-sai-jin thian-te-ong tidak usah cemas, kami akan membantu untuk melenyapkan orang-orang itu. sahut Ouw- ciong bagus..! dan saya harap kalian dapat mengatasinya, karena kalian yang akan kuutus untuk menyelesaikannya! baik thian-te-ong, apa yang harus kami lakukan!? musuh yang kita hadapi itu ada enam orang, dan lima diantaranya saya yakin adalah orang yang juga berburu pulau es dengan kalian. hmh siapakah mereka itu thian-te-ong yang mulia! pertama seorang yang berjulukan ui-hai-sian yang kedua san-ji-liong yang ketiga adalah Ui-hai-liong- san dan yang terakhir adalah im-yang-sin-taihap lalu ! bagaimana thian-te-ong!? apa rencana yang mau dijalankan!? sela Toan-lin kalian bertiga bersama ciu-tong , Liu-sam dan hang-bi segera kalian cari Ui-hai-sian, san-ji-liong dan Ui-hai- liong-siang. sahut pah-sim-sai-jin baik ! akan kami laksanakan thian-te-ong! jawab Ouw-ciong, kemudian pesta pun dilanjutkan, dan tiga hari kemudian berangkatlah enam orang utusan untuk memburu musuh yang disebut pah-sim-sai-jin, sementara Pah-sim-sai-jin menyuruh Ma-tin-bouw yang buntung untuk berangkat ke Tung-kek-hek-te untuk melihat keadaan disana.
San-ji-liong hampir sampai ke kota xining, dan ternyata di kota itu juga mereka sudah diincar oleh hek-te yang beroperasi dikota itu, keberadaan para pendekar yang muncul dari laut kuning, membuat para hek-te di utara berusaha untuk melenyapkan mereka, hal ini sangat dirasakan oleh kedua pendekar tua itu, dan sudah beberapa kota mereka masuki, selalu mereka berurusan dengan hek-te, dan berkat kesaktian mereka, sejauh ini masih mereka dapat atasi, dan hal ini membuat nama mereka semakin terkenal di utara.
Ketika hendak memasuki gerbang kota Xining, dua puluh orang sudah mengelilingi mereka dengan pedang telanjang, kedua pendekar tua itu dengan tenang dan siap menghadapi keroyokan suheng! ternyata dimana kota kita lalui, kita selalu disambut baik para algojo kota. ujar Khu-lam sambil tersenyum benar sute, dan karena itu akan semakin banyak pelaku kejahatan yang dapat kita lenyapkan. sahut Keng-in diam dan jangan banyak bacot kalian san-ji-liong! bentak pimpinan rombongan seraaang..! teriaknya dan anak buahnya pun segera bergerak menerjang dengan ganas, San-ji-liong berkelabat bagai burung walet terbang kesana kemari, sambil membagi-bagi pukulan dan tendangan, sehingga dalam waktu yang tidak lama sepuluh orang sudah ambruk tidak berdaya Gelombang keroyokan terus merangsak maju tanpa sedikitpun jerih, dan tiba-tiba dua puluh orang hek-te muncul dan memasuki kencah pertempuran, hingga pertempuran itu kian ramai dan seru, namun pengeroyok itu laksana menerjang badai karena ketika mereka mendekat kontan tubuh mereka melayang dan ambruk tidak bergerak, dan pada saat pengeroyok tinggal tujuh orang, tiba-tiba enam orang muncul, dua orang langsung menerjang San-ji-liong, dua orang itu adalah Pouw-eng dan Toan-lin, muka mereka yang berwana-warni menjadi pusat perhatian para penduduk yang menonton di tempat persembunyian.
Keng-in dan Khu-lam yang melihat serangan segera mengelak dan kemudian membalas serangan dengan tidak kalah lihainya, pertempuran tingkat tinggi pun berlangsung, gerakan cepat dan gesit membuat empat tubuh itu berubah menjadi bayangan yang samara bergerak kesana kemari, setelah berjalan enam puluh jurus, Keng-in heran bahwa ilmu kedua penyerangnya yang berwajah lucu ini, sepertinya sama aliran dengan ilmu mereka, hal ini juga dirasakan oleh Khu-lam, demikian pula dengan Pouw- eng dan Toan-lin hmh tidak disangka ternyata kalaian dua tua bangka masih hidup dari terpaan badai. ujar Pouw- eng sinis hehehe..hahha., ternyata dua gadis bau kencur sudah berubah jadi dua badut setelah digulung samudra. sahut Khu-lam bangsat..! teriak Pouw-eng merasa terhina disebut badut, dan menyerang dengan ganas dan dahsyat.
Pertempuran pun berlanjut semakin cepat dan seru, pertempuran itu layaknya seperti latihan, dan hal ini memang benar karena jurus-jurus yang dikeluarkan sama, namun ketika menginjak jurus ke dua ratus Pouw-eng dan Toan-lin harus mengakui ilmu kedua kakek itu lebih matang dan asli, mereka pun mulai terdesak, dan semakin lama makin tidak kuat menahan tekanan hawa panas yang keluar dari kibasan serangan San-ji-liong, dan hingga pada satu kesempatan buk.. pukulan Khu-lam menghantam perut Toan-lin, sehingga toan-lin terlempar dua meter, dan untungnya dia masih dapat menjejak tanah walaupun sempoyongan, nafasnya sesak namun tidak terluka, kemudian Pouw-eng terpaksa mundur dengan nafas sesak ketika cakar Keng-ing mengenai perutnya dan untungnya hanya merobek bajunya, karena ia sudah melompat menjauh.
Ouw-ciong memasuki pertempuran dan menyerang Keng-in blammm. Dia tenaga sakti beradu membuat tempat itu bergetar, Ouw-ciong mundur lima tindak, sementara Keng-in munduru tiga tindak, ketiga pewaris pulau neraka itu pun kembali merangsak maju dengan gerak-gerak pancingan yang mematikan, Keng-in dan Khu-lam yang dikeroyok tiga penghuni pulau neraka, bergerak luar biasa cepat mengimbangi tekanan berat dari ketiga lawannya Pertempuran berlanjut semakin seru dengan masuknya Ouw-ciong, san-ji-liong benar-benar ulet dalam membendung serangan tiga lawannya, keduanya ditekan demikian ganas dan kuat, sehingga san-ji-liong tidak lagi mampu menyerang, namun walaupun demikian ketiga lawannya belum juga mampu menundukan san-ji-liong karena kokohnya pertahanan keduanya Cu-Keng-in dan Khu-lam mencabut pedang dan mengeluarkan ilmu jit-yang-kiam dan ketiga penghuni pulau neraka pun melakukan hal yang sama, pertempuran senjata berlangsung sangat seru, lima senjata bergerak dengan hentak yang sama, suara gaung pedang makin santer dan hawanya makin membuat tempat itu panas menyengat kulit, San-ji-liong mengerahkan seluruh kemampuan untuk membendung tiga serangan yang amat berat, dan untungya serangan itu memiliki gerak dasar yang sama dengan ilmu mereka, sehingga kembang dan geraknya dapat mereka raba dan ketahui sebelum mencelakakan mereka Pertempuran senjata ini pun berlangsung seimbang, ketiga penghuni pulau neraka tidak dapat menembus pertahanan dua pendekar kosen itu, dan gerakan mereka sudah dapat dibaca sehingga susah bagi mereka menundukkan kedua jago tua itu, Ciu-tong maju menerjang membantu tiga rekannya, dan hal ini membuat daya serangan makin kuat menakan pertahanan San-ji-liong, namun keduanya dengan tabah mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki, dan sampai seratus jurus mereka tetap mampu untuk bertahan, walaupun sekarang mereka tidak lagi mampu membalas serangan empat lawannya.
San-ji-liong sangat memahami bahwa kedudukan mereka sangat merugikan, karena tidak mampu memberikan serangan balasan, dan tentu kalau keadaan ini berlangsung lama, maka lambat laun mereka akan tumbang dan ambruk, San-ji-liong sedayanya membendung serangan yang makin bertubi-tubi.
Patut dipuji ketabahan dua pendekar tua yang mengalami keroyokan tingkat tinggi itu, beberapa luka sabetan telah melukai tubuh mereka, namun semangat tempur mereka masih laksana benteng ketaton, dan pertempuran sudah menginjak jurus kedua ratus, tetap San-ji-liong dapat bertahan, keduanya sudah bertekat akan terus melawan sampai titik darah terakhir, dan tekat ini menimbulkan kekuatan yang tidak lumrah, gerakan mereka makin gencar dan gesit sehingga dengan tidak terduga crakk..aghhh. sebuah bacokan pedang yang kuat yang dilancarkan Khu-lam menghantam paha Ciu- tong, hingga kaki itu putus sebatas paha, membuat ciu-tong ambruk, hal yang tidak terduga itu membuat tiga penghuni pulau neraka melonggo dan lengah, dan ketiganya sangat terkejut, ketika serangan susulan dari dua jago tua itu membuat mereka kelabakan, bahkan pundak Pouw-eng kena sabetan pedang Keng-in, sehingga mengeluarkan banyak darah.
Pouw-eng merasa perih dan membuat dia marah, hingga menyerang membabi buta, dan disusul kedua rekannya, hal ini tidak menyurutkan ketegaran san-ji- liong, hasil serangan mereka yang jitu menambah semangat tempur keduanya, tiba-tiba Liu-sam serta Hang-bi yang juga terkesima segera menerjang, pertempuran semakin ramai, San-ji-liong dengan sekuat tenaga terus bertahan, membendung tekanan dari serangan yang berdaya tinggi dan kuat dari kelima pengeroyoknya, dan sungguh hal yang sangat luar biasa, apa yang telah ditunjukkan dua jago tua itu, yang walaupun dikeroyok oleh lima musuh berkepandaian tinggi dan sakti, namun mereka masih mampu bertahan hingga seratus jurus lebih.
Hari sudah sore, pertempuran sudah lebih setengah hari, San-ji-liong tanpa mengenal lelah terus bertahan walaupun luka sabetan sudah banyak mereka terima, dan pada satu ketika cep pedang Ouw-ciong menusuk pundak Keng-in dan membuat syarafnya terhentak lengah dan crakk pedang Toan-lin membacok perutnya hingga robek lebar dan crass.. pedang Liu-sam membacok lehernya hingga hampir putus, Keng-in ambruk dan tewas seketika.
Khu-lam dengan nekat dan tiba-tiba meninggalkan Hang-bi dan Pouw-eng menerjang Liu-sam dengan gerakan jitu dan luar biasa cepat, hal ini sangat mengejutkan dan membuat kelimanya tercengang, dan sadar ketika terdengar keluhan Liu-sam yang ambruk tewas dengan sebagian kepalanya terbelah, dan empat orang itu langsung menerjang Khu-lam, dan empat pedang menghantam tubuh Khu-lam hingga perutnya robek besar di tembus pedang Ouw- ciong, tangannya putus di bacok pedang Hang-bi, dadanya tembus oleh pedang Toan-lin, dan bahunya putus oleh bacokan Pouw-eng, Khu-lam pun ambruk tewas menyusul suhengnya, dua jago tua yang hanya dua tahun menorehkan nama, menutup mata di keremangan senja yang temaram, dibawa empat ujung pedang yang bersimbah darah mereka.
Ouw-ciong terkesima melihat dua tubuh tua yang bersimbah darah kedua tokoh tua ini sealiran dengan ilmu kita, namun kelihatannya lebih asli dari yang kita terima dari Ouw- ong ujar Ouw-ciong lirih benar dan sungguh hebat pertahanan ilmu pedang mereka, yang kita sendiri mungkin tidak dapat kuasai sahut Pouw-eng, sementara Hang-bi melihat keadaan Ciu-tong yang buntung kakinya, karena kehabisan darah, dan akhirnya Ciu-tong tidak bisa bertahan dan tewas menyusul rekannya Liu-sam Toan-lin dengan hati gemas menedang mayat san-ji- liong sehingga melayang kejurang di luar pintu gerbang kota, dan mayat Liu-sam dan Ciu-tong beserta tiga puluh mayat anggota hek-te mereka kuburkan di luar pintu gerbang, kemudian mereka meninggalkan pintu gerbang kota yang menjadi saksi bisu pertumpahan darah yang mengenaskan.
Ui-hai-sian sudah tiga hari berada di Ki-bun, dan selama dua hari ini, Ui-hai-sin merasakan keanehan penduduk kota Ki-bun, dimana anggota Tung-kek-hek- te sedang membuat persiapan-persiapan yang sepertinya mencurigakan, karena merasa penasaran, Ui-hai-sian malam itu mengendap-endap untuk mencuri dengar di kamar pemilik likoan, karena pemilik liokoan tadi siang di datangi dua orang berperawakan kekar, sepertinya sedang menyampaikan sesuatu yang penting.
Gun-ko, apakah kamu juga harus ikut dalam pasukan yang dibentuk oleh subo!? benar Kui-moi, dan kita tidak bisa menolak, jadi selama aku tidak ada, likoan ini bisa kalian jalankan dengan anak buah kita baiklah Gun-ko, hal itu mudah bagi kami, namun kamu hati-hati lah karena saya dengar im-yang-sin- taihap itu luar biasa sakti. kamu tenang saja Kui-moi, Im-yang-sin-taihap tidak akan mampu menghadapi delapan ratus pasukan dengan sendirian ya tapi aku masih cemas, karena katanya empat ratus pasukan diselatan, dapat dikalahakan oleh Im- yang-sin-taihap. ahh.. itu karena salah strategi Kui-moi ! maksud Gun-ko salah bagaimana !? pasukan diselatan itu salah, karena mereka menunggu, sehingga Im-yang-sin-taihap dapat membaca keadaan dan memporak-porandakan mereka. lalu pasukan yang dibentuk ini apakah tidak demikian Gun-ko!? tidak polanya lain, karena delapan ratus pasukan ini akan bergerak menjumpai Im-yang-sin-taihap dengan tiga gelombang ! tiga gelombang!? maksudnya bagaimana Gun-ko!? gelombang pertama terdiri dari tiga ratus orang dipimpin oleh sam-suci, kemudian dua ratus pasukan yang terdiri dari laki-laki dipimpin oleh murid Ngo-ok- hengcia, dan terakhir tiga ratus pasukan yang dipimpin oleh sam-su-bo dan dua Ngo-ok-hengcia lah kalau dipecah begitu, bukankah mudah bagi im- yang-sin-taihap membasmi habis pasukan itu, gun- ko!? tidak Kui-moi, karena jarak antara pasukan hanya setengah hari, jadi sebelum Im-yang-sin-taihap menguasai keadaan, pasukan kedua sudah muncul, dan setengah hari berikutnya, pasukan ketiga muncul jawab pemilik likoan, istrinya terdiam dan manggut- manggut lalu.., jika lusa kalian akan berangkat, tentunya hanya perempuan yang tinggal di kota ini. sela istrinya benar, dan tentunya disamping kalian, akan ada tamu-tamu pedagang yang mungkin lewat kota ini. sahut pemilik likoan, lalu keduanya pun terdiam, suasana pun hening.
Ui-hai-sian berkelabat dari atas atap dan kembali kekamarnya, apa yang didengarnya membuat dia tercenung, dan maikin tertarik dengan sepak terjang im-yang-sin-taihap yang membuat keder Lam-kek- hek-te, semalam suntuk ia berpikir apa yang akan ia perbuat, dan yang pastinya ia akan menonton pertempuran yang unik itu, namun hatinya juga ingin mencoba sejauh apa sih kesaktian dari im-yang-sin- taihap yang mengegerkan itu.
Keesokan paginya, Ui-hai-sian meninggalkan kota, dan menuju arah selatan, ilmu lari cepatnya yang laur biasa menembus pagi yang masih gelap berhiaskan embun pagi, Ui-hai-sian berharap dapat menjumpai Im-yang-sin-taihap, yang tentunya mengarah ke kota Ki-bun, dan dia ingin sekali menjajaki kepandaian im- yang-sin-taihap.
Tiga minggu kemudian sampailah Ui-hai-sian di sebuah bukit sebelah timur dari kota Hailun, dan dia berburu binatang untuk mengisi perut, dan di rerimbunan hutan dibawah pohon besar, Tio-can melihat seekor kijang yang sedang menyusui anaknya, Ui-hai-sian melempar batu sebesar kepalan tangan anak kecil kearah kepala kijang tak.. lemparannya bertemu dengan sebuah benda yang juga melincur dari samping, dan suara itu membuat kijang berdiri dan mengajak lari anaknya sial..! dengus Ui-hai-sian dan mengirimkan pukulan sakti ke arah samping, darimana datangnya benda yang menjatuhkan batunya, semak itu dilanda pukulan dahsyat, sehingga semak berhamburan, bahkan dua pohon tumbang Ui-hai-sian kecewa, karena tidak ada pun bayangan yang muncul dari balik rerimbunan, ketika ia berbalik, Ui-hai-sian kontan terperanjat, dan melompat tinggi sambil menyumpah serapah hah..hantu belau monyet buduk! setelah mendarat diatas tanah, hatinya tergetar melihat seorang pemuda tampan rupawan bersabuk kuning ada dihadapannya, namun perasaan takjub itu ia tutupi dengan sikapnya yang angin-anginan heh pemuda tidak sopan, kau membuat orang terkejut, apa kamu mau berlagak didepanku !? tidak ada yang mau berlagak cianpwe, maafkan jika telah mengejutkan cianpwe! sahut Kwaa-han-bu enak saja meminta maaf, kamu telah menghinaku dengan melunturkan lemparanku, dan terus kamu juga telah mengejutkanku! hmh lalu apa yang harus aku lakukan cianpwe supaya aku dimaafkan!? kenapa kamu menghalangi lemparan batuku untuk merobohkan kijang itu !? karena kijangnya masih menyusui cianpwe jawab Kwaa-han-bu apa urusanmu dengan kijang menyusui apa tidak, apa kamu jantannya !? hehehe..hahaha.., cianpwe, kenapa omongan yang dikeluarkan tidak ada makna!? heh..! apa maksudmu anak muda, omongan mana yang tidak ada makna!? dengus Tio-can luar biasa cianpwe, omongan sendiri tidak dimengerti ! sahut Kwaa-han-bu dan berbalik meninggalkan tempat itu heh..anak muda, berhenti kau ! teriak Tio-can dan melompat kedepan Kwaa-han-bu, namun matanya terbelalak, ketika sekilat dia melihat tubuh kwaa-han- bu sudah berada dua tombak meninggalkannya, dengan hati kesal, Tio-can mengejar Kwaa-han-bu, dan selama setengah jam Tio-can mengejar-ngejar bayangan Kwaa-han-bu, Tio-can makin penasaran, karena dia tidak mampu memperpendek jarak antara dirinya dengan Kwaa-han-bu Ketika seekor kelinci kelihatan dibawah semak, Kwaa- han-bu menagkapnya, kemudian menyembelihnya, ketika Kwaa-han-bu sedang menguliti kelinci, Tio-can baru sampai ditempat itu dengan nafas sedikit memburu kamu kenapa cianpwe!? tanya Kwaa-han-bu hah. anak muda kurangajar, kamu pura-pura tidak tahu telah mempermainkan aku ! bentak Tio-can kesal dan marah siapa yang mempermainkan cianpwe, aku sedang mencari-cari binatang buruan untuk dimakan ! sahut Kwaa-han-bu polos kamu tahu kan, bahwa aku mengejar-ngejarmu !? aku tahu bahwa cianpwe ada dibelakngku, dan menurutku cianpwe juga berlomba denganku untuk mencari buruan! jawab Kwaa-han-bu, mata Tio-can mendelik gusar, namun dia telan lagi karena merasa tidak berdaya beradu kata dengan pemuda ini siapakah kamu anak muda !? Tanya Tio-can dengan nada masih kesal aku Kwaa-han-bu, dan cianpwe ini siapakah !? aku Ui-hai-sian ! dan apa kamu punya julukan!? julukan cianpwe, apakah itu perlu !? ya..julukan, apa julukanmu !? dan itu perlu bagiku, karena aku sedang mencari seseorang! julukanku Im-yang-sin-taihap cianpwe! bagus sekarang kamu hadapi aku anak muda ! teriak Ui-hai-sian sambil menyerang, Kwaa-han-bu berkelit, namun serangan Ui-hai-sian sungguh cepat dan berbahaya, selama dua puluh jurus Kwaa-han-bu masih menghindar, kemudian Kwaa-han-bu mulai membalas, dan pertempuran berlangsung dengan seru cianpwe, sudahlah, untuk apa pertempuran ini, sebaiknya kita panggang kelinci ini, dan bicara baik- baik! seru Kwaa-han-bu tidak., sebelum engkau dapat merobohkan aku, atau kamu aku robohkan ! sahut Ui-hai-sian, Kwaa- han-bu merasa serangan orang tua itu semakin gencar dan mengincar bagian-bagian berbahaya pada tubuhnya, Kwaa-han-bu mengeluarkan ilmu im-yang- bun-sin-im-hoat gerakan melukis diudara membuat serangan ganas dari Ui-hai-sian terpuruk dan terbentur, dan hanya lima puluh jurus Ui-hai-sian mampu bertahan, dan jurus selanjutnya, dia sudah terdesak hebat, dan akhirnya nafasnya tersedak ketika dadanya kena totol telunjuk Kwaa-han-bu, sehingga Ui-hai-sian terdiam untuk menenangkan getaran jantungnya yang berguncang.
sudahlah cianpwe, aku tidak mau lagi meladeni, karena aku lapar sekali! ujar Kwaa-han-bu sambil duduk, dan lalu mengambil kelinci yang tergeletak di bawah pohon, Ui-hai-sian terdiam, karena memang perutnya juga merasa lapar, disamping usaha memperbaiki tarikan nafasnya.
Kwaa-han-bu menlamuri daging kelinci dengan bumbu, dan setelaah itu Kwaa-han-bu membuat api, dan menjerang kelinci yang sudah dibumbui diatas bara api apakah kamu akan membagi daging kelinci itu padaku !? tanya Tio-can kalau cianpwe mau, tentu aku bagi. tentu aku mau, karena perutku juga lapar, tapi kenapa engkau mau membaginya padaku!? hehehe..cianpwe ini lucu, kenapa aku mau membagi, ya karena kita sama-sama lapar cianpwe! tapi aku telah membuat kamu marah dan kesal. saya tidak marah dan kesal pada cianpwe! tadi aku mengajakmu untuk bertempur! Dan kelakuanku mungkin membuat kamu geram dan marah. pertempuran tadi karena cianpwe hanya ingin kenal. darimana kamu menduga bahwa aku ingin kenal!? karena cianpwe mengatakan tadi ingin mencari seseorang, dan juga tidak mau sudah sebelum cianpwe roboh. jawab Kwaa-han-bu, Ui-hai-sian manggut-manggut daging panggangnya sudah matang cianpwe, marilah kita makan! ujar Kwa-han-bu, sambil merobek daging panggang, dan memberikannya pada ui-hai-sian, merekap pun bersantap dengan lahap dan nikmat, dan dalam waktu yang tidak lama daging panggang itu sudah berpindah kedalam perut mereka, dan kemudian keduanya minum sepuas-puasnya.
taihap.., saya dengar kamu adalah she taihap dari pulau kura-kura. ujar ui-hai-sian tiba-tiba benar, saya memang dari pulau kura-kura, dan disana adalah keluarga buyut luar saya she-kwee sahut Kwaa-han-bu dan juga saya mendengar, bahwa taihap sudah melenyapkan hek-te di wilayah selatan. benar, tapi sebelum seluruh hek-te lenyap dari Tionggoan, maka tidak ada jaminan bahwa hek-te tidak lagi tumbuh di wilayah selatan. sahut Kwaa- han-bu.
sebenarnya cianpwe darimana dan hendak kemana!? saya seorang pertapa di Arnapurna himalaya, dan saya tidak punya tujuan, hanya kemana langkah membawa. sahut Ui-hai-sian tentu ada alasan, bukan!? sehingga cianpwe di juluki ui-hai benar karena selama empat tahun saya berada di laut kuning. sahut Ui-hai-sian taihap..! saya dengar bahwa empat ratus pasukan telah anda kalahkan di selatan, dan itu sungguh luar biasa. wah sepertinya cianpwe sangat memperhatikan sepak terjang saya, apakah itu dasar sehingga ingin kenal dengan saya!? benar..taihap..! hmh.. hal itu memang benar cianpwe, dan syukur kepada Thian aku diberikan kemudahan untuk dapat menundukkan pasukan itu sahut Kwaa-han-bu.
sudahlah cianpwe, karena hari sudah siang, dan perjalanan masih panjang, jadi saya permisi dulu! ujar Kwaa-han-bu baiklah taihap, dan selamat jalan. sahut Ui-hai-sian, Kwaa-han-bu berdiri dan meninggalkan Ui-hai-sian, Kwaa-han-bu berlari cepat kearah timur.
Selama dua hari perjalanan Kwaa-han-bu dibayangi seseorang, hal itu sudah dicurigai Kwaa-han-bu, dan ketika sampai disebuah desa, kwaa-han-bu sembunyi dan mengintai siapa yang membayanginya, dan ternyata dua jam kemudian Ui-hai-sian memasuki desa, Kwaa-han-bu merasa heran, akan kelakuan Ui- hai-sian yang mengikutinya, Ui-hai-sian selama satu hari bertahan didesa itu, sepertinya mencari sesuatu, kemudian Ui-hai-sian meninggalkan desa dan berlari cepat kwaa-han-bu yang memperhatikan gera-gerik Ui-hai- sian makin heran, lalu Kwaa-han-bu sekarang yang mengikuti Ui-hai-sian, Ui-hai-sian yang mempercepat larinya meninggalkan desa karena menurutnya im- yang-sin-taihap tidak istirahat didesa yang dilewati, namun sampai dua hari Ui-hai-sian tidak melihat bayangan im-yang-sin-taihap, kemudia ia berhenti dan menyimpang di sebuah hutan, Kwaa-han-bu terus membayangi Ui-hai-sian yang melewatkan malam dihutan tersebut, keesokan harinya Ui-hai-sian masih menunggu sampai setengah hari dalam hutan, Kwaa- han-bu yang melihat Ui-hai-sian yang kadang naik kepohon yang tinggi dan menatap kearah selatan membuat Kwaa-han-bu makin yakin bahwa Ui-hai- sian memiliki maksud tertentu pada dirinya.
Akhirnya Ui-hai-sian laksana dikejar setan berlari cepat kearah timur, dan saking cepatnya hanya bayangannya saja yang kelihatan, Kwaa-han-bu mengikuti terus dari belakang tanpa sedikitpun disadari Ui-hai-sian, namun menjelaang sore di sebuah jalan yang diapit dua bukit, muncul seratus orang wanita mencegat Ui-hai-sian, dan tidak lama dari bukit sebelah kanan turun seratus wanita lagi, bersamaan dari bukit sebelah kiri muncul seratus wanita, pasukan wanita itu adalah pasukan pertama Tung-kek-hek-te yang dipinpin oleh Kao-hong-bi, Lauw-bi-hong dan Khu-in-hong.
Ui-hai-sian terperanjat, ternyata ia sudah dikurung pasukan pertama Tung-kek-hek-te, dan apesnya yang memimpin adalah tiga orang yang sudah mengenalnya, Kao-hong-bi langsung menyerang dan disusul dua rekannya, tak ayal Ui-hai-sian kalang kabut mempertahankan diri, sampai seratus jurus Ui- hai-sian dapat bertahan, Kwaa-han-bu dari bukit sebelah kiri menonton pertempuran itu, dan mengerahkan kekuatan pendengarannya untuk mendengar hal yang dibicarakan.
Kwaa-han-bu juga heran dengan kemunculan tiga ratus pasukan wanita itu kalian hanya berani main keroyok. cela Ui-hai-sian tidak usah banyak bacot tua bangka, kita lanjutkan pertempuran kita yang dengan tidak malu kamu melarikan diri bentak Hong-in jangan kalian capek-capek berhadapan dengan aku, karena sebentar lagi im-yang-sin-taihap akan muncul, karena ia berada dibelakangku sahut Ui-hai-sian berkilah dan memamfaatkan nama im-yang-sin- taihap, dan hasilnya lumayan berpengaruh, karena kalau sempat mereka bertiga sudah kecapean, dan bisa jadi mereka tidak bisa membendung im-yang-sin- taihap selama setengah hari, dan itu akan menjadi kekalahan besar, piker mereka ketiganya langsung mengehentikan desakan, Ui-hai- sian melompat dan melarikan diri ke selatan, dan semua itu tidak luput dari perhatian dan pendengaran im-yang-sin-taihap, dan mengertilah ia kenapa Ui-hai- sian mengikutinya karena ingin menyaksikan ia di keroyok pasukan wanita ini, yang tentunya adalah anak buah Tung-kek-hek-te.
biarlah ia lolos kali ini, dan sekali lagi kita jumpa dengannya maka nyawanya akan kita tagih! ujar hong-bi geram mari kita lanjutkan perjalanan, dan hati-hati serta bersiaga, karena kemungkinan Im-yang-sin-taihap ada didepan kita teriak Lauw-bi-hong, lalu tiga ratus pasukan itu bergerak maju.
Kwaa-han-bu tercenung memperhatikan iring-iringan pasukan wanita itu, pasukan itu tidak menunggu seperti yang terjadi di kong-ciak-san, tapi bahkan bergerak dan sepertinya sudah bergerak dari kibun dan hendak mencegat dia dimana bertemu yang hendak menuju ketimur, Kwaa-han-bu tetap diam dan bersembunyi di bukit itu, menjelang sore dua ratus pasukan lewat dari jalan yang diapit dua bukit, dan pasukan ini adalah dua ratus laki-laki, Kwaa-han-bu makin merenung pola musuh yang ingin mencegatnya, sampai malam kwaa-han-bu berada dibukit itu sambil mengisi perutnya dengan panggang buruannya, dan tengah malam iring-iringan obor dia nampak bergerak dari timur, segera Kwaa-han-bu memadamkan api panggangannya.
Satu jam kemudian, rombongan yang banyak terdiri dari wanita melewati jalan itu, Kwaa-han-bu memperhatikan iring-iringan pasukan itu kita berhenti dan melewatkan malam disini! teriak Lu-eng-hwa, lalu pasukan itupun berhenti, dan sebagian naik keatas bukit, Kwaa-han-bu menyingkir masuk kedalam hutan, dan ia naik kesebuah pohon yang tinggi.
Sepuluh orang wanita sampai ditempat dimana Kwaa- han-bu memanggang kelinci hmh sepertinya bekas api ini baru dibuat memanggang daging, dan aromanya masih tercium sela seorang diantara mereka benar..! dan bisa siapa saja, mungkin im-yang-sin- taihap, mungkin orang lain. sahut yang lain.
biar sajalah untuk apa dipikirkan siapa yang memanggang daging, yang penting kita istirahat untuk memulihkan tenaga, karena mana tahu besok rombongan pertama sudah bertemu dengan im-yang- sin-taihap! sambung yang lain sambil menyalakan lagi bekas perapian itu, hingga tempat itu terang benderang, dan sebagian mereka sudah ada yang baring, empat orang gadis cantik berumur tiga puluh tahunan menghangatkan diri dekat perapian, kwaa- han-bu yang tidak jauh dari tempat itu diatas sebuah pohon yang tinggi, menyandarkan tubuh diantara cabang pohon, dan sesakali melirik kearah sepuluh orang wanita yang berada dibawah.
Swi-lin.., saya dengar wajah Im-yang-sin-taihap itu tampan rupawan. ah dari siapa kamu dengar itu yang-hui!? aku dengar dari anggota yang mundur ke ki-bun dari kota thian-jin. benar apa yang dikatakan yang-hui, Swi-lin, karena aku juga mendengar demikian, bahkan katanya im- yang-sin-taihap masih berumur dua puluh tahun, masih muda bukan!? sela Ceng-hwa sayang yah.. jika dia harus mati muda, dan tubuhnya yang pasti bagus akan tercincang. sahut Eng-hai bagaimana ya kalau sempat bercinta dengan pemuda hijau seperti itu, pasti panas dan menggemaskan. yah, hik..hik aku jadi bergairah sekali Ceng-hwa! sela Eng-hai dengan tawa genit kalau bergairah, bayangkan saja eng-hai, nggak ada yang melarang. sahut Ceng-hwa Tiga dari mereka merem melek sambil senyam- senyum, Swi-lin jadi gemas kalian ini menghayalkan yang nggak pernah dilihat! iya memang im-yang-sin-taihap belum pernah dilihat, tapi kan sudah didengar bahwa dia adalah pemuda belia nan tampan rupawan, dan dia selalu memakai sabuk kuning tersampir di kedua bahunya, wah tentunya dia itu sangat mengagumkan penuh kharisma yang kuat, dan daya tarik yang hebat! sahut Eng-hai, Swi-lin yang mendengar ungkapan itu menangkap sebuah bayangan dibenaknya, yang kontan membuat dia bergairah, dan diapun larut menghayalkan im-yang-sin-taihap.
Kwaa-han-bu yang mendengar pembicaraan itu mukanya merah dan jengah, sesaat jiwanya berombak menerbitkan getaran birahinya oleh pembicaraan yang menyanjungnya penuh gairah dari empat wanita yang amat matang itu, dan Kwaa-han- bu menarik nafas dalam-dalam dan menepis getaran itu, malampun kian larut, suasana hening, Swi-lin dalam tidurnya meracau menginggau ohh..taihap aku aku tidak tahan lagi, peluklah aku! lalu dia diam, Kwaa-han-bu geleng-geleng kepala sambil menatap kebawah, dan Kwaa-han-bu terperangah, ketika melihat tubuh Eng-hai menngelinjang sambil menginggau ahh..ahh. ohh taihap yang tampan, gigit, lumaat aku kuatkuatahhh taihapauhauhh lalu tubuhnya menegang.
Kwaa-han-bu malu sendiri dan dia berkelabat dari tempat itu naik lebih tinggi keatas bukit, sampai kelereng sebelah dan merebahkan tubuhnya diatas tanah, dan berusaha tidur, dan keesokan harinya saat fajar terbit Kwaa-han-bu bangun, lalu dia siulian menghirup udara segar, semedi itu ia lakukan sampai terbit matahari, dan lapat-lapat ia mendengar gerakan disebelah bukit, dan teriakan untuk bergerak melanjutkan perjalanan.
Kwaa-han-bu membuka matanya dan berdiri, kemudian bergerak menuruni bukit, dan iringan pasukan itu sudah bergerak, Kwaa-han-bu segera mencari sumber air untuk membersihkan diri, satu jam kemudian, Kwaa-han-bu menemukan sebuah anak sungai yang jernih, dengan perasaan riang Kwaa-han-bu mandi menikmati dingin air yang menyergap pori-porinya.
selama setengah jam kwaa-han-bu didalam air membersihkan diri, dan berpikir langkah-langkah yang akan dilakukannya, setelah mengeringkan badan dan mengganti bajunya, Kwaa-han-bu masih menunggu dihutan selama setengah hari untuk melihat kemungkinan rombongan yang lain, dan ternyata sudah lewat setengah hari tidak ada lagi rombongan, maka Kwaa-han-bu berlari menyusul rombongan itu, dan dia berencana bahwa nanti malam saat rombongan istirahat, dia akan bergerak untuk memperdaya pasukan rombongan terakhir yang berjumlah tiga ratus wanita, dan kalau ini berhasil dia akan melakukan hal yang sama pada pasukan kedua dan yang pertama.
Tengah malam itu pasukan beristirahat disebuah hutan, Kwaa-han-bu melihat dua kemah besar di dirikan, dan api unggun yang besar dinyalakan, sementara anak buah yang banyak itu berkumpul- kumpul menyebar di sekitar kemah itu dan menyalakan api unggun sendiri untuk mengusir nyamuk dan dinginnya malam, Li-ceng-si, Lou-si-sian dan Lu-eng-hwa, Phang-keng dan Ouw-gin mengitari api unggun yang besar menurut saya she-ouw! jika kita sudah sampai di kota Hai-lun, dan pasukan belum bertemu dengan im- yang-sin-taihap sebaiknya kita menunggu Im-yang- sin-taihap di kota Hai-lun hmh hal itu sesampai disana saja kita pikirkan, dan saya yakin, seminggu lagi perjalanan kita ini, akan bertemu dengan im-yang-sin-taihap. sahut Ouw-gin, Kwaa-han-bu yang ada dilembah jalan masih mengerahkan pendengarannya untuk mendengarkan pembicraan lima pimpinan pasukan itu.
Setelah menunggu satu jam, Kwaa-han-bu bergerak dengan ringan laksana burung hantu mendekati perkemahan, dia meloncat dari pohon kepohon dengan gerakan luar biasa cepat, dan beberapa kelompok pasukan yang bertumpuk sebelah arah jalan, ditotok dengan unik dan aneh, anehnya adalah tubuh Kwaa-han-bu berdiri diatas dengan sikap menyembah, lalu tubuhnya tiba-tiba berubah jadi dua, dan satu tubuh meluncur kebawah ketengah-tengah rombongan yang sedang tidur pulas, Kwaa-han-bu menotok lima orang anggota tung-kek-hek-te , tubuh Kwaa-han-bu bergerak tanpa halangan, karena gerakan tubuh tidak pun sedikit mengeluarkan angina dan suara, ilmu itu adalah intisari yang diserapnya dari kitab Bu-tek-cin-keng yang bernama san-phak-eng- coan ilmu yang dapat membagi dirinya menjadi dua .
Kwaa-han-bu selama hampir dua jam bergerak kesana-kemari diantara tubuh-tubuh yang rebah tertidur, dan akhirnya seluruh tumpukan pasukan yang berada disekitar dua kemah besar itu tidak menyadari bahwa mereka telah kaku karena masih pulas, dan tumpukan pasukan yang berada agak jauh kedalam hutan dibiarkan im-yang-sin-taihap, karena lima pimnpinan di dua kemah besar itu yang merupakan hal penting untuk ditundukkan.
kwaa-han-bu menghentakkan kaki kanannya keatas tanah buk. tempat itu bergetar dan kontan lima pimpinan didalam kemah bergerak cepat keluar dari dalam kemah sebentar lagi fajar akan terbit Ngo-ok-hengcia, dan aku sudah datang menemui kalian! teriak Kwaa-han- bu, Ouw-gin dan Phang-keng segera menyerang dengan dahsyat, dan disusul oleh Im-kan-kok-sianli- sam Lima tenaga sakti dengan kekuatan luar biasa mengarah ke tubuh Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu memapaki pukulan Ouw-gin dan Phang-keng dan menerima tiga pukulan im-kan-kok-sianli-sam dengan Siu-to-Po-in blaam tempat itu laksana dihantam suara geledek, Kwaa-han-bu mundur tiga langkah, sementara Ouw- gin dam Phang-keng mundur lima langkah, hal ini sangat mengejutkan Im-kan-kok-sianli-sam, karena mereka tidak menyangka kekuatan Im-yang-sin- taihap membewahi lima kekuatan mereka, terbukti dari jauhnya pergeseran dua rekannya dibanding dengan bergesernya kuda-kuda Im-yang-sin-taihap.
Kemudian kelimanya kembali menerjang dari berbagai arah, Kwaa-han-bu mengeluarkan ilmunya yang dapat menggerakkan dua ujung sabuknya laksana dua tangan yakni ilmu im-yang-sian-sin-lie ketika pertempuran sedang seru-serunya, seratus orang mengelilingi tempat itu, dan mereka adalah anggota yang bertumpuk agak jauh disebelah dalam hutan, mereka terbangun dan terkejut setelah mendengar ledakan, lalu dengan buru-buru mereka berdiri dan berlari menuju tempat pimpinan mereka, dan mereka sangat terperangah melihat tumpukan kawan-kawan mereka dengan tubuh rebah, mata melotot namun tidak bisa bergerak, sedang menonton pertandingan yang berlangsung, beberapa dari mereka berusaha untuk memunahkan totokan, namun tidak berhasil, dan akhirnya mereka mengelilingi tempat pertempuran luar biasa itu dengan sikap siap siaga.
Pertempuran tingkat tinggi dengan gerakan luar biasa cepat, membuat mata yang menyaksikan nanar, terlebih suasana masih sangat pagi yang hanya diterangi api unggun, jurus demi jurus mengalir laksana air bah, dan sampai terbit matahari pertempuran itu masih berlangsung seru, ilmu Kwaa- han-bu yang luar biasa laksana empat tangan, demikian kokoh membendung semua serangan kelima lawannya, dan lawannya tidak dapat tidak harus hati-hati, karena kedua ujung sabuk itu lebih berbahaya karena lebih panjang jangkauannya, lebih berbahaya perubahan gerakannya, serta kegesitannya tidak kalah luar biasa.
Ketika hari menjelang sore, daya tempur kelima lawannya mulai kendur, nafas mereka telah sesak setelah bertempur seharian, terlebih Ouw-gin dan Phang-keng yang sudah berumur lebih tujuh puluh tahun, sehingga pada satu ketika, daun kipas Kwaa- han-bu tidak bisa dielakkan Ouw-gin sehingga merobek daging pipinya, lalu disusul perubahan luar biasa, dimana kipas terbalik, dan ujung gagang kipas dan tuk.akhkkh.. gagang kipas mengetuk pelipis Ouw-gin, hingga kepala Ouw-gin remuk, dan ouw-gin pun tewas setelah menggelapar akibat goncangan di kepalanya.
Melihat Ouw-gin tumbang, Lu-eng-hwa berteriak memerintahkan anak buahnya untuk maju menyerang, seratus pasukan merangsak maju, namun tiba-tiba Kwaa-han-bu membentak berhenti..! suara bentakan itu membuat orang-orang yang sudah dekat terjungkal memuntahkan darah, bahkan ada yang jantungnya pecah, tidak kurang dari dua puluh orang yang tergeletak tidak bernyawa, melihat keadaan itu, maka yang lainnya mundur dengan wajah pucat dan nafas sesak merasakan jantung mereka empot-empotan, dan bentakan ini sedikit banyaknya mempengaruhi Phang-keng yang sangat dekat dengan Kwaa-han-bu, sehingga Phang- keng sontak lemah dan tidak dapat mengelak, ketika ujung sabuk menghantam lehernya pratkrekk tulang leher Phang-keng patah, sehingga ia ambruk tewas dengan mata melotot dan lidah menjulur keluar.
im-kan-kok-sianli-sam terus merangsak maju, namun dua kekuatan mereka sudah hilang, sementara nafas mereka juga sudah sesak karena kelelahan, dan satu saat cambuk lu-eng-hwa dibelit ujung sabuk sebelah kanan dan sabuk hijau Lou-si-sian berpilin dengan ujung sabuk kwa-hanbu yang sebelah kiri, kemudian dengan luncuran luar biasa cepat kwaa-han-bu menyerang Li-ceng-si, Li-cengsi melompat mundur sambil menyabetkan pedang, namun tarian kipas demikian indah laksana ular dan tuk..aughh pergelangan tangan Li-ceng-si remuk, sehingga membuat ngilu dan perih luar biasa, sementara pedangnya jatuh ketanah dan sebuah pukulan dengan punggung tangan menghantam dadanya, Li- ceng-si terlempar sambil memuntahkan darah segar, sementara Lu-eng-hwa dan Lou-si-sian terkesiap lengah, ujung Kwaa-han-bu menghentak dengan tiba- tiba, dan tidak ayal dua senjata lawannya terbetot, dan luar biasanya ujung sabuk Lou-si-sian membelit kakinya, sehingga Lou-si-sian jatuh terjengkang, sementara ujung cambuk Lu-eng-hwa menotok perutnya sendiri, Lu-eng-hwa merasakan mual sehingga ia terduduk.
Dan tidak hanya sampai disitu dua ujung sabuk Kwaa-han-bu tiba-tiba melepas dua senjata lawan dan melilit kaki Lu-eng-hwa dan Lou-si-sian, kemudian sabuk Kwaa-han-bu menegang lurus kesamping kanan dan kiri, kedua pentolan tung-kek-hek-te itu laksana dua binatang buruan yang tergantung diujung sabuk yang menegang laksana balok besi, Kwaa-han- bu memutar sabuknya laksana ketitiran membuat dua tubuh itu berputar, kemudian Kwaa-han-bu melemparkan kedua tubuh lawannya, sehingga keduanya melayang sambil berputar ambruk ketanah, Lou-si-sian muntah-muntah, demikian juga Lu-eng- hwa.
Lu-eng-hwa dan Lou-si-sian berusaha mempertahankan keseimbangan ketika berusaha berdiri, sementara anak buahnya menyerang Kwaa- han-bu, setelah lima menit keduanya menguasai diri, dua puluh anak buah mereka terlah terkapar bergelimpangan, hal ini membuat keduanya makin tergetar dan ciut yalinya, terlebih ketika melihat Li- ceng-si berkelonjotan dengan darah yang terus muncrat dari rongga mulutnya dan tidak lama kemudian diam kaku tewas. Lu-eng-hwa dan Lou-si- sian cepat menyingkir melarikan diri.
Enam puluh puluh pasukan yang mengelilingi tempat itu makin undur dan meremang ketakutan ketika melihat seorang subo mereka tewas berkelonjotan, dan dua subo yang lain melarikan diri, dan tanpa piker panjang mereka juga ambil langkah seribu, mereka lari berhamburan keluar dari hutan, dua ratus anak buah yang masih tergeletak kaku tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Sebagian pasukan melarikan diri kearah selatan, menuju pasukan kedua, dan pasukan ini terpaksa dikejar oleh Kwaa-han-bu karena akan mengacaukan rencananya, dan dalam waktu singkat tiga puluh orang itu tersusul dan dicegat oleh Kwaa-han-bu yang tiba-tiba lewat diatas mereka, tiga puluh orang wanita itu langsung berlutut kami menyerah taihap! seru seorang yang ternyata Eng-hai yang memimpikan dia sampai menggelinjang tegang, muka Kwaa-han-bu merasa panas dan jengah baik.., kalian tahu, bahwa Tung-kek-hek-te sudah tidak ada lagi, dan pimpinan kalian disini tinggal dua orang lagi, dan itu pun sudah melarikan diri benar taihap dan tolong ampunkan kami! pinta Eng- hai kalian dimaafkan jika kalian membubarkan diri, dan tidak memasuki lagi kota kibun! sahut Kwaa-han-bu, semuanya terdiam baik taihap, Apapun kata taihap akan kami lakukan, dan kami tidak akan memasuki kota kibun lagi sahut Eng-hai hmh baiklah kalau begitu, sekarang kalian kembali kehutan tadi, dan kalian sampaikan juga perintah yang harus kalian lakukan, bahwa tidak akan memasuki kota kibun lagi ujar Kwaa-han-bu dan lalu menghilang dari hadapan mereka Eng-hai dan rekan-rekannya yang lain kembali kehutan, dan menungu totokan teman-temannya punah, dan totokan itu punah sendiri ketika matahari sudah terbit keesokan harinya, lalu merekapun menyampaikan pesan Kwaa-han-bu kepada dua ratus orang tersebut masih untung kita tidak dibinasakan im-yang-sin- taihap, dan kita diampuni jika kita tidak lagi kembali kekibun demikian ungkapan Eng-hai kepada teman- temanya, lalu merekapun bubar dan kembali kearah timur dan memasuki kota ki-bun untuk mengambil barang-barang dan segera meninggalkan kota itu.
Kwaa-han-bu menyusul pasukan kedua, setelah satu hari satu malam berlari cepat. Kwaa-han-bu mendapatkan pasukan yang terdiri dari dua ratus lelaki-laki, pasukan itu bergerak maju menapak jalan yang disebelah sisi kananya ada bukit batu, dan disebelahnya lagi ada tebing sedalam empat meter, Kwaa-han-bu bergerak cepat mengarah kebukit batu, dan berencana akan meruntuhkan sebuah batu yang banyak menonjol dilereng bukit tersebut.
Pasukan it uterus bergerak dan ketika sampai dijalan menurun terdengar suara gemuruh, bukit batu itu longsor dan membawa reruntuhan batu sebesar kepala orang dewasa, pasukan itu panik berhamburan menghindar, Kwaa-han-bu terus memukul lerengan dengan tenaga saktinya yang luar biasa, sehingga membuat longsoran lereng makin besar, pasukan yang berhamburan sebagian besar terlempar kedalam jurang yang berada disisi sebelah jalan, namun walaupun tidak dalam, cukup membuat mereka pingsan atau bahkan tewas, yang berhasil hanya lima puluh orang sampai diujung jalan, namun keadaan mereka juga sudah payah karena dua puluh dari mereka terluka lecet berdarah.
Ouw-ceng, The-kang dan Sim-kong menatap lereng yang longsor itu dengan heran, dan lima puluh orang itu terkejut ketika im-yang-sin-taihap tiba-tiba muncul dari atas bukit, dan turun mendekati mereka, Ouw- ceng yang sudah pernah bertemu Im-yang-sin-taihap jadi keder, namun karena dua temannya masih ada, dan tiga puluh anggota yang masih kuat, dia berusaha menenangkan diri im-yang-sin-taihap sudah datang mari kita serang! teriaknya, lalau merekapun langsung menyerang Kwaa-han-bu yang masih bersalto diudara, hal itu sudah dalam perkiraan Kwaa-han-bu, sehingga tanpa gugup kwaa-han-bu bergerak laksana burung garuda membalas serangan dari pengeroyoknya Kwaa-han-bu menginjak bahu dan kepala pengeroyok sesuka hatinya, melompat kesana kemari, dan sebagian kepala yang terinjak bukan saja sebagai landasan kaki, tapi berbareng dengan serangan sehingga beberapa dari mereka bahunya patah dan beberapa tulang leher patah, dan ketika Kwaa-han-bu menginjak tanah, lima belas orang sudah ambruk, sebagian tewas dan sebagian patah tulang bahu.
Kwaa-han-bu memusatkan serangan pada ketiga pimpinan rombongan, Ouw-ceng, The-kang dan Sim- kong kalang kabut dan jerih, hendak melarikan diri tidak punya kesempatan, karena serangan im-yang- sin-taihap sangat gencar mengarah kepada mereka, dan akhirnya sebuah pukulan menghantam dada Ouw-ceng, dan cakaran meremas tenggorokan The- kang, lalu sebuah tendangan menghantam kepala Sim-kong, ketiganya berkelonjotan dan lalu tewas.
Lima belas orang sisanya terus nekad menyerang, Kwaa-han-bu bergerak cepat dan dalam waktu kurang dari setengah jam, lima belas orang ambruk dengan patahnya tulang bahu dan tulang lutut mereka dengan posisi menyilang, yakni jika yang patah bahu kanan, maka kaki kiri yang patah sebagai pasangan, dan sebaliknya jika bahu kiri yang patah, maka kaki kanan yang patah sebagai pasangan kalian dengar! tung-kek-hek-te sudah tidak ada lagi, karena pasukan dibelakang kalian sudah saya obrak- abrik! ujar Kwaa-han-bu, dua puluh orang itu melonggo seiring denyutan perih yang terbit dari luka ditubuh mereka kalian dibiarkan hidup untuk menguburkan mayat- mayat ini, mengerti..!? bentak Kwaa-han-bu mengerti taihap. jawab mereka serempak, lalu Kwaa-han-bu menghilang dari hadapan mereka, dan membuat dua puluh orang itu makin meremang ketakutan.
Kwaa-han-bu melanjutkan rencananya pada pasukan yang berada didepan, dan pasukan itu Kwaa-han-bu dapati saat malam, ketika pasukan sedang beristirahat disebuah desa, tiga ratus pasukan itu mengambil paksa rumah jungcu, dan sepuluh buah rumah yang tergolong besar dan kuat, serta memiliki halaman yang luas.
Kao-hong-bi, Lauw-bi-hong dan Khu-in-hong berdiam disebuah rumah bercat kuning, Kwaa-han-bu mengincar ketiganya, dan berkebetulan mereka bertiga, ditemani lima orang anak buah, Kwaa-han-bu mengendap-endap diatas atap dan menguntit kebagian dalam rumah.
cih membosankan sekali pekerjaan kita ini, sudah hampir mau sebulan perjalanan ini, namun kita bekum bertemu muka im-yang-sin-taihap! ujar In- hong dengan nada ketus dan kesal saya juga sudah hampir merasa bosan, usul dua kakek tua itu membuat hati gemas kalau sudah begini sahut Hong-bi sudahlah! Kita jalani saja, dan kalau sampai kota Hailun, dan kita belum menjumpai im-yang-sin-taihap, kita berhenti saja disana, dan menunggu mereka untuk membicarakan ulang strategi ini. sahut Bi-hong menenangkan benar..! dan aku sependapat denganmu Bi-hong! sela In-hong oh..ya bagaimana in-hong, apakah kamu masih membayangkan im-yang-sin-taihap!? tanya Hong-bi tiba-tiba, dan membuat ketiganya tertawa cekikikan ya selama dua minggu ini, aku terus membayangkannya, dan membuat aku semakin cinta saja hik..hik..hikpayah kamu ini In-hong ! cela Bi-hong benar sekalai itu, bagaimana bisa kamu mencintai orang yang tidak pernah kamu lihat! sela Hong-bi mudah sekali membayangkan ketampanan im-yang- sin-taihap hong-bi! sahut in-hong apa ! dengan membayangkan sabuk kuning yang tersampir dipundaknya!? tanya Hong-bi sinis benar, bukankah amat mudah melukiskan wajah yang tampan dengan mata setajam elang dengan lengkungan alis bagaikan golok, bibir yang sedikit tebal ranum, dagu dengan sebentuk rahang yang bagus, dan lehernya yang kokoh tersampir sabuk kuning menambah keagungan wajah yang rupawan itu sahut In-hong dengan mata merem melek membayangkan ungkapannya akan wajah Im-yang- sin-taihap Kwaa-han-bu tidak dapat tidak pringas pringis diatas atap mendengar bualan tiga wanita itu sudahlah, aku mau kekamarku, dan disana akan lebih hangat membayangkannya sambil berbaring dan memeluk guling yang lembut ujar In-hong sembari berdiri dan memasuki kamarnya, Bi-hong dan Hong-bi saling menatap dan tertawa cekikan aku juga ah sela Bi-hong manja, dan berdiri dari kursinya hingga tinggalah Hong-bi sendirian, dan diapun tidak lama masuk kedalam kamarnya.
Kwaa-han-bu bergerak laksana kucing mengendap- endap diatas atap kekamar In-hong, dan ketika mengintip dari celah atap takpelak wajahnya panas merah, jengah dan malu, karena In-hong terbaring telanjang sambil meremas-remas dirinya sendiri, dan memanggil-manggil namanya, Kwaa-han-bu pindah kesebalah atap kamar Bi-hong dan hal yang serupapun dia saksikan, Bi-hong melenguhkan namanya sambil meremas-remas dirinya, hanya bedanya Bi-hong tidak telanjang, tapi masih memakai bajunya dengan kondisi yang tersingkap.
Kwaa-han-bu pindah kesebelah atap kamar Hong-bi, Hong-bi berbaring dengan baju dalamnnya yang tipis berwarna merah, dan dia tidur dengan terlentang sambil mengangkat kedua tangannya hingga melingkar diatas kepalanya, dan bulu halus ketiaknya yang telanjang terpampang seksi, kulitnya yang putih menambah nyata warna hitam bulus halus ketiaknya, kwaa-han-bu jadi pusing melihat pemandangan itu, dan segera ia menyingkir dari atap, dan berlari kearah selatan desa, didalam hutan Kwaa-han-bu duduk bersila melakukan siulian untuk menenangkan gejolak yang muncul akibat tiga pemandangan yang menyirapkan darahnya sebagai lalaki normal.
Kwaa-han-bu tidak bisa menjalankan rencananya pada malam itu untuk menundukkan ketiga pimpinan pasukan, dan terpaksa dia harus berhadapan langsung sehingga ia menunggu di luar desa sebelah selatan, ketika matahari sudah tinggi, pasukan itupun bergerak, Kwaa-han-bu sengaja duduk bersila dipinggir jalan, dan ketika pasukan itu melihatnya segera mereka mengurungnya.
apakah kamu Im-yang-sin-taihap!? tanya In-hong dengan nada bergetar, Kwaa-han-bu membuka mata menatap In-hong sedikit hatinya jengah karena telah melihat tubuh telanjang in-hong benar, ada apakah ? kenapa kalian mengurungku!? tanya Kwaa-han-bu lembut, In-hong yang agak maju ketika bertanya, tidak kuasa menyembunyikan perasaannya yang mesra bertabur birahi, ketika melihat kenyataan wajah im-yang-sin-taihap yang luarbiasa rupawan, baik In-hong maupun Bi-hong dan Hong-bi terkesima melihat wajah kwaa-han-bu.
kenapa kalian menatapku seperti itu!? tanya Kwaa- han-bu tiba-tiba, sehingga membuat ketiganya kelabakan dengan wajah merah merona, ketiganya gugup dan sesaat lupa dengan tujuan mereka, karena disergap rasa malu kepergok akan pandangan mereka yang tidak kuasa menatap takjub, lalu mereka sadar im-yang-sin-taihap, kamu telah menyulut permusuhan dengan hek-te di seluruh tionggoan, maka untuk itu kamu harus binasa! bentak Bi-hong agak gugup masih tergetar dengan perasaannya, karena bagaimanapun semalam dia telah membayangkan im-yang-sin-taihap mencumbunya hingga merasa puas, walaupun dia bermain dengan dirinya sendiri, tapi pendekar dihadapannya ini yang menjadi objek pemicu kepuasannya.
Ketiganya saling menatap karena merasa bentakan itu sumbang dan janggal, karena tidak bernada benci, tapi malah sebaliknya, dan hal ini tidak luput dari perhatian semua anggota ayok seraang..! teriak Hong-bi, dan teriakan itu disambut dengan sebuah bentakan luar biasa berhentii..! pasukan yang merangsak maju bergetar dan tiga puluh orang terjungkal muntah darah, sementara Hong-bi yang paling depan terduduk lemas dengan nafas tersegal-segal kalian mundur..! bentakan itu masih berisi muatan sin-kang luar biasa, dan empat puluh orang terjungkal lemas, pasukan itu mundur, dan yang tinggal didepan hanya tiga pimpinan yang terduduk lemas dan tujuh puluh orang yang tergeletak tewas.
Kwaa-han-bu menatap ketiga gadis yang cantik lagi sangat matang, karena umur ketiganya sudah menginjak tiga puluh tahun, Hong-bi yang berusaha menenangkan jantungnya yang bergetar hebat, memejamkan mata, dan demikian juga Bi-hong dan In-hong, setelah satu jam, keadaan mereka pun pulih kembali, namun tubuh mereka sudah lemas bahkan sangat haus kalian berikan air pada tiga pimpinan kalian ini! perintah Kwaa-han-bu, dua anak buahnya segera membawa tiga buah guci, dan ketiganya langsung minum sepuas-puasnya.
Pasukan itu bingung tidak tahu mau berbuat apa, karena dalam kurun waktu satu jam itu, mereka melihat tiga pimpinan mereka duduk dihadapan im- yang-sin-taihap, dan makin bingung ketiga mendengar perintah untuk memebrikan air minum pada tiga pimpinan.
In-hong menatap wajah Kwaa-han-bu dengan pandangan mesra, hilang niatnya untuk menentang Im-yang-sin-taihap setelah mendengar perintah im- yang-sin-taihap, yang menyuruh memberikan mereka minum, yang memang mereka sangat inginkan saat itu, Bi-suci! pasukan kedua akan sampai disini setelah siang! seorang anggota pasukan mengingatkan kalian tidak usah menyabung nyawa berhadapan dengan saya, karena dua pasukan kalian di belakang sudah bubar dan tidak ada lagi sahut Kwaa-han-bu tenang dan meyakinkan, semuanya melengak tidak percaya kamu bohong im-yang-sin-taihap! teriak wanita yang mengingatkan tadi siapa yang tidak percaya, boleh maju untuk menyertai tujuh puluh orang rekan kalian ini, sahut Kwaa-han-bu sambil memandang ke arah tujuh puluh mayat yang bergelimpangan.
Mendengar tantangan itu, sebagian besar mereka ciut nyalinya kalian diam dan jangan bergerak sebelum ada perintah! teriak Bi-hong, dan kemudian menatap wajah im-yang-sin-taihap taihap! benarkah apa yang kamu katakan!? saya tidak perlu apa yang kalian percayai, yang jelas saya sudah ingatkan, supaya kalian tidak berlaku nekad, bagi saya merubuhkan kalian semua tidaklah terlalu sulit, dan dalam sepuluh kali bentakan, saya akan dapat merobohkan kalian, namun tidak ! kenapa tidak taihap!? tanya Hong-bi penasaran karena kalian adalah perempuan yang bergelut dengan perasaan, dan itu membuat saya sungkan menjatuhkan tangan kejam! kenapa kami harus dibedakan taihap, walhal kami juga tergolong hek-to!? tanya Hong-bi jika seorang perempuan menjadi hek-to oleh keputusannya sendiri, maka tentu akan aku habisi dia, namun kalian ini hek-to dalam kumpulan yang banyak, yang jelas latar belakangnya hanya karena pasrah terikat pada golongan hek-to sahut Kwaa- han-bu, semuanya terdiam mendengar jawabah im- yang-sin-taihap, dan mencoba menjenguk kedalam hati masing-masing, apakah memang hek-to ini pilihan mereka!? dan ternyata memang benar, bahwa mereka hanya pasrah karena terlibat dan sebaiknya bubarlah kalian, karena Tung-kek-hek- te tidak ada lagi, sekarang kalian bebas, karena Ngo- ok-hengcia sudah tewas, dan satu dari subo kalian juga sudah tewas, dan yang dua melarikan diri ujar Kwaa-han-bu, semuanya terkejut dan juga, dua ratus lebih dari wanita, pada barisan yang dipimpin oleh subo kalian, sudah takluk dan mengikuti apa yang saya katakan! apa yang taihap katakan pada mereka!? tanya In- hong masih dengan nada lembut dan mesra aku katakan kepada mereka, untuk tidak lagi memasuki kota kibun, dan meninggalkan hek-te selama-lamanya, dan saya harap kalian juga berbuat hal yang sama sahut Kwaa-han-bu hmh jika demikian, kami juga akan menuruti kemauan taihap! sahut In-hong, kemudian dia menatap kedua rekannya dan bertanya bagaimana menurut kalian!? Bi-hong dan Hong-bi mengangguk, lalu Bi-hong berdiri kalian semua bubarlah, dan turuti apa yang dikatakan taihap, dan sejak hari ini, kita akan bebas menjalani hidup sendiri, dan juga ingat, bahwa kita tidak boleh tinggal di kota kibun! teriak Bi-hong, pasukan itu semua berdiri dan segera berangsur- angsur kembali ketimur.
terimakasih bahwa kalian bertiga dapat diajak konpromi. ujar Im-yang-sin-taihap kami juga ucapkan terimakasih atas kemurahan hati taihap, yang menahan tangan kepada kami kaum perempuan. sahut Bi-hong lalu hendak kemana lagi tujuan taihap!? tanya In- hong selanjutnya saya akan melanjutkan perjalanan kearah wilayah utara, dan berusaha untuk menaklukkan Pah-sim-sai-jin di Yuguan jawab Kwaa- han-bu taihap, kamu demikian mengistimewakan kami, dengan pemahaman yang tadi engkau sampaikan, dan itu membuat saya pribadi tersentuh ujar In-hong maksudnya bagaimana!? taihap..! terus terang sejak julukanmu saya dengar, telah membentuk sebuah perasaan sayang dan mesra kepadamu. sahut In-hong, dan perkataan ini membuat Hong-bi dan bi-hong merasa jengah dan malu, namun mereka juga ingin tahu apa reaksi dari Im-yang-sin-taihap.
kwaa-han-bu tersenyum, sehingga membuat ketiga wanita yang sudah kepincut cinta itu terpesona maksudmu, bahwa setelah mendengar julukanku engkau menginginkanku, bukankah begitu!? benar taihap dan aku cinta padamu. sahut In-hong langsung tanpa lagi malu-malu, kedua rekannya terkesima dan menatap wajah im-yang-sin-taihap, Kwaa-han-bu tersenyum makin membuat hati ketiga gadis itu kemencer siapakah nama kalian betiga !? saya Khu-in-hong, dan ini adalah Lauw-bi-hong dan satu lagi adalah Kao-hong-bi jawab In-hong In-hong, sejauh apakah keinginanmu itu menginginkan saya!? tanya Kwaa-han-bu, ketiganya saling pandang, dan In-hong merasa tersudut, dan mencoba menjenguk hatinya, pertanyaan itu terasa sulit dijawab, sehingga ia lama terdiam.
aku inginkan kamu selau berada disampingku. Jawa In-hong sambil menatap dalam wajah Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu tersenyum in-hong, dari jawabanmu itu tiada lain, kamu menginginkan penuntasan birahi yang kamu bentuk selama menghayalkan diriku ujar Kwaa-han-bu, ketiganya jadi melonggo, dan wajah mereka menjadi merah padam karena merasa jengah dan malu, dan yang lebih membuat mereka terperangah adalah, hilangnya Im-yang-sin-taihap dari hadapan mereka aku permisi dulu sam-cici, dan lain-kali semoga kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik, dan kalian sudah memiliki pasangan masing-masing.
Ketiganya terdiam dan menunduk, ketika mendengar suara yang dikirim dari jauh itu. pendekar itu mengharapkan mereka agar memilki pasangan in-hong, Bi-hong, aku pergi. ujar Kao-hong-bi sambil berkelabat dari tempat itu, kemudian Bi-hong juga meninggalkan In-hong, In-hong berdiri dan berjalan dengan pikiran berkecamuk, perkataan Im-yang-sin- taihap yang menilai jawabannya bahwa ia hanya butuh Im-yang-sin-taihap sekedar menuntaskan birahinya yang ia bentuk selama ini, benarkah demikian !? apakah tidak ada yang lain !? demikian pikirannya itu betanya-tanya.
Ang-in-kok (lembah awan merah) sebelah utara kota Yangsu, suasana sore demikian indah menakjubkan, awan merah yang berarak demikian tebal, sehingga membuat lembah itu bercorak temaram kemerahan, dua sejoli duduk menghadap mentari yang hendak turun keperaduannya, keremangan membuat suasana hati keduanya semakin syahdu berbinar gairah, sepasang sejoli adalah Yo-hun dan Siangkoan-lui-kim yang sedang menikmati bulan madu, dua bulan yang lalu mereka telah resmi menikah di bukit ayam, atas restu orang tua lui-kim.
Kebahagian terpancar dari binar mata kedua mempelai, yang tidak dapat dilukiskan dengan kata- kata, selama dua minggu mereka berada di bukit ayam, dan lalu mereka minta izin pada Siangkoan- taihap untuk melakukan perjalanan mengemban amanah sebagai pendekar, dan selama sebulan lebih mereka mengadakan perjalanan, dan sore itu mereka berada di Ang-in-kok sedang menikmati senja yang datang, diselingi canda cinta dan sayang dan gurauan manja.
Dengan kemesraan yang tidak kunjung padam, dua sejoli itu melewatkan malam di Ang-in-kok, dan ketika matahari terbit keduanya bangun, Lui-kim yang cantik menggeliat manja, sambil mengikat rambutnya yang awut-awutan, dengan gemas Yo-hun meremas lembut tubuh istrinya ihaih jerit Lui-kim manja menangkap tangan suaminya dan berdiri, kemudian Lui-kim dan Yo-hun bergandengan menuju sebuah sumber air, dan keduanya membersihkan diri dan saling memanjakan, setelah itu Lui-kim memanggang daging kelinci yang mereka dapatkan saat kembali dari sumber air.
Setelah menikmati daging panggang, sejenak mereka istirahat, dan tiba-tiba dua bayangan gesit muncul tiba-tiba, dan tidak lama beberapa orangpun pun muncul susul menyusul, sehingga tempat itu dikelilingi lima puluh orang lelaki, rata-rata berumur tiga puluhan, Ui-hai-liong-siang tetap bersikap tenang hehehe tidak dinyana naga betinanya luar biasa cantik. ujar lelaki tua sambil menatap nakal pada Lui- kim jaga sikapmu orangtua! jangan sampai sikap senonoh itu membuat kamu celaka. sahut Yo-hun dengan tajam dan tegas\ hahaha..hehehe Ui-hai-liong-siang, apakah yang kamu andalkan untuk menghadapi See-kwi-liong bentak lelaki itu jumawa Lelaki tua itu ternyata See-kwi-liong Liem-bouw pimpinan See-kek-hek-te, dan muridnya Cu-bun-ong, serta anak buahnya, mereka memang sedang mencari Ui-hai-liong-siang, karena telah mempecundangi anggotanya di beberapa kota, dan bahkan kota Yinchang dibanjiri anggota hekte yang mundur dari berbagai kota, karena terdesak oleh sepak terjang Ui-hai-liong-siang yang menjadi batu sandungan bagi hek-te di wilayah barat, dan oleh karena itu Liem-bouw mengumpulkan pimpinan operasi di seluruh kota untuk membicarakan perihal Ui-hai-liong-siang.
Dua bulan yang lalu, mereka berkumpul di lianbhutia lebih dari seratus orang saya dengar keadaan anggota kita menemui benturan dengan munculnya Ui-hai-liong-siang, dan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut! benar..suhu! lalu apa yang harus kita lakukan, sementara Ui-hai-liong-san memiliki ilmu yang tinggi, dan kalau cuman dihadapi empat puluh lima orang hek-te, bagi mereka tidak ada apa-apanya. sela seorang pimpinan cabang benar sekali suhu, dan terbukti bahwa seluruh teman kita di kota Nanning telah tewas ditangan Ui-hai-liong- san! sela yang lain Setelah mendengar penyampaian tersebut Liem-bouw berkata hmh kalau begitu saya ingin tanya, siapa diantara kalian yang tahu dimana sekarang Ui-hai-liong-siang!? terakhir yang saya dengar Ui-hai-liong-siang sedang berada dikota Nanning! sahut seorang pimpinan baiklah kalau begitu, sekarang kita pusatkan perhatian untuk melenyapkan Ui-hai-liong-siang, jadi besok, lima pimpinan cabang yang berhadir saat ini, semuanya menuju kota Nanning, dan langsung dibawah pimpinan saya dan cu-bun-ong sahut Liem- bouw baik suhu.. sahut mereka serempak Ketika mereka masuk kota Yangsu, anggota hek-te yang berada dikota itu melaporkan bahwa Ui-hai- liong-siang berada di Ang-in-kok, Liem-bouw segera mengajak rombongannya menuju Ang-in-kok, sehingga bertemulah dengan Ui-hai-liong-siang yang baru saja selesai makan daging panggang.
hahahha ternyata See-kwi-liong, pantas berlaku tidak senonoh. heh..! Ui-hai-liong-siang jangan berlagak tenang, kedatangan kami adalah untuk melenyapkan kalian dari muka bumi ini ! bentak Liem-bouw kesal karena tidak melihat sedikitpun dua musuhnya ini gentar, sementara meraka ada puluhan orang heh..see-kwi-liong, kalau tidak bawa anak buah, bagaimana kamu bisa unjuk gigi dihadapan kami!? balas Yo-hun badebah sialan ! apa kamu merasa bisa menandingi saya ! ciaat.! See-kwi-liong tidak bisa menahan marah, dan langsung menerjang dengan pukulan sakti, Yo-hun menyambutnya dengan keras blamm.. dua pukulan sakti beradu, membuat tempat itu bergetar, Liem-bouw undur lima langkah, sementara Yo-hun mundur dua langkah.
Liem-bouw terkejut, bahwa kekuatannya masih dibawah kekuatan lawan, hatinya sedikit bergetar, lalu berteriak memerintahkan anak buahnya menyerang, lima orang langsung merangsak maju, Ui- hai-liong-siang tidak kepalang tanggung, keduanya bergerak cepat menerobos keroyokan dengan pedang, ilmu thian-te-it-kiam dikeluarkan, suaranya bergemuruh bergelombang menyapuh keroyokan, dalam lima gebrakan, jerit kematian sudah terdengar susul menyusul, dan sepuluh anggota hek-te telah meregang nyawa dibabat pedang Liu-kim.
Liem-bouw tidak menyangka hal itu, dan merasa kecele, dia sendiri berada dibawah Yo-hun, dan walaupun dibantu oleh muridnya, hanya dapat mengimbangi yo-hun, rombongannya bagai tahu lunak di ujung pedang Lui-kim yang bergerak demikian cepat, bahkan pukulan pek-lek-jiu yang menderu bagai halilntar membuat keroyokan itu terpental porak-poranda, Liem-bouw dengan tidak malu-malu melarikan diri meninggalkan murid dan anak buahnya.
Cu-bun-ong yang juga tidak menduga akan ditinggalkan suhunya, makin tidak kuasa mengelak tekanan pedang Yo-hun sehingga crakk.aaaaaah terdengar jerit setinggi langit dari mulut Cu-bun-ong ketika betisnya kena bacok pedang Yo-hun hingga bunting.
Sementara pengeroyok Lui-kim berhamburan melarikan diri, setelah mendengar jeritan Cu-bun-ong , Ui-hai-liong-siang segera meninggalkan tempat itu, untuk mengejar See-kwi-liong, dan seminggu kemudian Ui-hai-liong-siang mendapatkan jejak see- kwi-liong menuju wilayah utara, Ui-hai-liong-siang terus mengikuti jejak see-kwi-liong, sejak peristiwa di Ang-in-kok, nama Ui-hai-liong-siang semakin terkenal, dan keadaan see-kek-hek-te kian melemah, karena tidak ada lagi pimpinan di Yinchang, dan akhirnya para anak buah see-kek-hek-te ambil jalan masing- masing.
Ketika Ui-hai-liong-siang sampai kota xining, keduanya memasuki sebuah likoan untuk istirahat dan makan, para pelayan sibuk melayani pengunjung yang hari itu cukup ramai, setelah memesan makanan Ui-hai-liong- siang mengambil tempat duduk disudut ruangan, dan disamping mereka ada tiga lelaki pedagang yang juga sedang bersantap, sambil makan ketiganya bercakap- cakap dua tahun terakhir ini kedaan tionggoan agak berubah! sela seorang lelaki berumur empat puluh tahun bermata juling maksudmu berubah bagaimana Lauw-bhok!? tanya seorang yang mukanya kayak kuda, dan agak kekuning-kuningan berumur empat puluh tahunan iya, jelaskanlah maksud perubahan yang kau katakan Lauw-bhok! sambung kawannya yang bernama Tan-peng ah.. kalian ini pura-pura tidak tahu apa bagaimana!? sahut Lauw-bhok benar kami tidak tahu maksud perubahan yang kamu katakan. ujar Tan-peng begini loh maksud saya tan-peng dan kui-kang! hmh bagaimana !? sela keduanya sambil mengehentikan suapan dan serius mendengarkan seminggu yang lalu, adik saya baru datang dari selatan, dan kalian tahu apa yang terjadi disana!? tidak kami tidak tahu. Jawab kedua rekannya serempak diselatan sudah hampir dua tahun, kehidupan masyarakatnya sudah kembali normal, penduduknya tidak lagi di kuasai oleh Lam-kek-hek-te oh-ya, alangkah baiknya kedaan mereka disana. sela Kui-kang benar, kehidupan mereka sangat nyaman setelah kemelut hek-te tidak lagi menyelimuti daerah mereka sahut Lauw-bhok dengan nada sedikit iri Lauw-bhok, kenapa wilayah selatan mengalami kondisi yang demikian baik, apa yang terjadi dengan lam-kek-hek-te!? tanya Tan-peng menurut cerita adik saya, bahwa dua tahun yang lalu she-taihap dari pulau kura-kura muncul dan mempreteli kekuatan lam-kek-hek-te! heh..! bukankah she-taihap sudah lama binasa !? seru Tan-peng heran she-taihap dari pulau kura-kura itu kan banyak Tan- peng, karena mereka memiliki induk yang banyak sahut Kui-kang hmh benar juga, lalu apakah kamu tahu siapa nama dan julukan she-taihap yang muncul itu!? tanya Tan-peng pada Lauw-bhok kata adik saya, nama she-taihap itu adalah Kwaa- han-bu, dan julukanya adalah Im-yang-sin-taihap, orangnya masih muda dan tampan berumur dua puluh tahun, dan ciri khasnya, katanya dibahunya selalu tersampir sabuk berwarna kuning sahut Lauw- bhok, sesaat mereka diam dan yang lebih hebatnya, bahwa Ngo-ok-heng-cia penguasa Lam-kek-hek-te telah tewas ditangan im- yang-sin-taihap. wah..luar biasa kalau begitu, sela keduanya serempak dan im-yang-sin-taihap sekarang berada di wilayah ditimur, dan katanya kondisi timur juga sudah berangsur-angsur membaik setelah im-kan-kok-sian-li- sam melarikan diri ke wilayah kita ini wah sungguh untung dua wilayah itu telah kembali normal gumam Kui-kang lirih jika itu perobahan yang kamu maksud Lauw-bhok memang benar! dua wilayah yakni selatan dan timur berubah kearah yang baik, sementara kita di utara akan semakin terpuruk! maksudmu terpuruk bagaimana Tan-peng!? tanya Lauw-bhok iya, kita semakin terpuruk, karena bos besarnya hek- te berada di wilayah kita, dan terbukti Im-kan-kok- sianli-sam melarikan diri kewilayah kita, dan tentunya akan mengadu pada Pah-sim-sai-jin. sahut Tan-peng, kedua rekannya manggut-manggut membenarkan dan bukan itu saja Lauw-bhok, keadaan barat juga saya dengar bergolak, dan pasukan hek-te disana terbentur dengan munculnya Ui-hai-liong-siang. ujar tan-peng lalu, bagaimana keadaan Yinchang sebagai pusat see-kek-hek-te!? sepertinya sama dengan Im-kan-kok-sianli-sam, yakni melarikan diri ke wilayah kita. heh..! bagaimana kamu tahu!? sela Kui-kang dua minggu yang lalu ketika saya sedang membuka dagangan dipasar, Lou-ma pimpinan hek-te dikota ini, dan tiga anak buahnya menagih pajak dagangan saya, dan berketepatan seorang kakek lewat, nah..
ketika melihat kekek itu, mereka segera menjura hormat, dan sepintas saya dengar ketika si kakek ditanya masalah see-kek-hek-te, kakek itu menjawab bahwa keadaan disana genting. lalu bagaimana kamu tahu bahwa kakek itu see- kwi-liong!? tanya Lauw-bhok saya tahu karena mereka memanggil kakek itu dengan Liem-suhu, dan juga kakek itu berkata kemungkinan dia dikejar oleh Ui-hai-liong-siang, dan menyuruh mereka supaya menghalangi sepasang pendekar itu sahut Tan-peng, Lauw-bhok dan Kui- kang terdiam, Yo-hun dan Lui-kim yang mendengar percakapan itu saling pandang.
Tan-peng..! bukankah Ui-hai-liong-siang itu, pertama didengar dari daerah utara ini, yang kalau tidak salah pertama muncul dari kota pantai di laut kining. benar Lauw-bhok, dan yang saya dengar juga, bahwa sepasang pendekar itu juga telah mempecundangi hek-te yang berada di sepanjang wilyah utara ini sampai kebarat, tapi tidak sampai mempreteli pimpinan anggota hek-te di tiap kota, sebagaimana yang mereka lakukan di wilyah barat, bahkan sampai membuat pimpinan see-kek-hek-te di yinchang lari tunggang langgang sahut Tan-peng kalau menurut ceritamu tadi Tan-peng, kemungkinan besar Ui-hai-liong-siang akan berada di wilayah utara untuk mengejar see-kwi-liong. sela Kui-kang hmh benar juga. sahut Tan-peng, dan tidak sengaja pandangannya beradu dengan Yo-hun yang sudah selesai makan dan serius ikut mendengarkan percakapan mereka, kemudian Tan-peng melihat Lui- kim, hatinya tergetar dan segera menunduk menatap kembali kepada kedua rekannya, dan menggerak- gerakkan kepalanya, dua rekannya membalik badan dan melihat Yo-hun dan Lui-kim.
maaf sam sicu, karena kalian bercerita di tempat umum, dan juga dengan tanpa bisik-bisik, jadi kami ikut mendengar sela Yo-hun tidak apa sicu, dan sepertinya sicu dan kouwnio bukan dari kota ini. sahut Lauw-bhok, sebelum Yo- hun menjawab tiba-tiba sepuluh orang hek-te memasuki likoan.
semua pendatang baru akan diperiksa dan ditanyai, jadi bagi orang pendatang segera berdiri ! teriak Lou- ma pimpinan hek-te di kota xining, beberapa orang berdiri dan lalu anak buahnya mendekati dan menanyakan identitas mereka kalau boleh tahu kenapa para pendatang diperiksa!? tanya Yo-hun berdiri, Lou-ma menatap Yo-hun ini situasi genting dan kami ingin semua pendatang diperiksa! dan kamu siapa !? sahut Lou-ma sambil mendekati Yo-hun dan Lui-kim saya Yo-hun dan istri saya ini Siangkoan lui-kim! jawab Yo-hun, Lou-ma menatap penuh curiga dan bertanya apakah kalian Ui-hai-liong-siang!? orang-orang menjuluki kami demikian, apakah kami yang kalian cari !? sahut Yo-hun, mendengar jawaban itu segera sepuluh orang itu mencabut pedang.
kalian harus kami tangkap ! bentak Lou-ma apa sebab kami ditangkap, dan bagaimana cara kalian hendak menangkap kami!? sahut Yo-hun tenang sial . ayo ringkus keduanya ! teriak Lou-ma, sembilan orang anak buahnya segera maju, namun Yo-hun menendang meja, sehingga meluncur melabrak mereka brakk.. meja itu hancur berkeping-keping dihantam pukulan dan bacokan para anak buah hek-te, tapi meja dan kursi susul menyusul terbang kearah mereka.
Setelah empat meja dan delapan kursi hancur, Yo-hun menerjang pengeroyok yang baru saja menagkis kursi terakhir, dan serangan itu luar biasa cepat, dan dalam tiga gebrakan, sepuluh orang itu terlempar kesana kemari, para pengunjung berserabutan menyingkir sejak para hek-te mencabut pedang, termasuk Lauw-bhok dan dua rekannya yang berdekatan dengan Ui-hai-liong-siang.
Louw-ma yang mukanya bengkak memar, kena hantam pukulan Yo-hun meringis-ringis kesakitan, Yo- hun mendekatinya dan mendudukkanya diatas meja dimana sekarang see-kwi-liong! bentak Yo-hun a..aku tidak tahu.. plak.. Yo-hun menampar pipi yang sudah bengkak itu, sehingga membuat Lou-ma mengerang-ngerang kesakitan dimana sekarang See-kwi-liong!? Yo-hun kembali bertanya di..dia tidak disini lagi. Jawab Lou-ma terbata-bata kemana See-kwi-liong pergi !? sela Lui-kim, dan sebelum Lou-ma menjawab, sebuah hawa pukulan menghantam Yo-hun, dan untungnya Yo-hun cekatan dan segera mengelak sambil melemparkan Lou-ma kearah datangnya pukulan, Lui-kim spontan segera menyambut hawa pukulan yang beruntun dan membuat dia bergeser setindak.
Di depan pintu Likoan telah berdiri lima orang, yang pertama adalah See-kwi-liong, dan empat yang yang lain adalah tiga penghuni pulau neraka, dan murid kelima Pah-sim-saijin Can-hang-bi, setelah tiga hari meninggalkan kota Xining, Liem-bouw lewat disebuah hutan, dan hidungnya mencium aroma daging panggang sehingga mengundang rasa laparnya.
See-kwi-liong melangkah memasuki hutan, dan mendekati sumber aroma yang menerbitkan selera itu, tapi pengintaiannya itu dipergoki seorang wanita yang tiba-tiba muncul dan menyerangnya, wanita itu adalah Toan-lin, pertempuran seru terjadi, dan baru dua puluh jurus, empat orang muncul heh.. ! hentikan pertempuran, kita orang sendiri ! teriak Can-hang-bi Toan-lin mengehentikan serangan, See-kwi-liong berhenti sambil mengatur nafasnya yang memburu, karena kuatnya serangan toan-lin cianpwe..see-kwi-liong! teriak Can-hang-bi sambil menjura, See-kwi-liong memperhatikan gadis yang memanggilnya cianpwe hmh.. ternyata kamu Hang-bi ! sahutnya sambil memperhatikan wajah ketiga orang yang bercat warna-warni itu apa ini see-kwi-liong pimpinan see-kek-hek-te!? tanya Ouw-ciong benar ciong-twako! jawab Can-hang-bi siapa mereka ini Hang-bi!? tanya See-kwi-liong heran mereka ini adalah penghuni pulau neraka, cianpwe! jawab Hang-bi pulau neraka !? seru Liem-bouw takjub benar cianpwe, saya adalah Ouw-ciong, dan dulu saya anggota Pak-kek-hek-te dan kedua teman saya ini adalah Toan-lin dan Pouw-eng yang juga dulunya anggota Tung-kek-hek-te. sela Ouw-ciong apakah maksudmu, kalian adalah utusan yang dulu dikirim mencari pulau es !? tanya See-kwi-liong benar cianpwe, dan kami tidak berhasil menemukan pulau es, tapi terdampar di pulau neraka sahut Ouw- ciong hmh pulau neraka juga tidak kalah uniknya dengan pulau es, dan apakah seranganmu tadi hasil yang kau dapatkan dipulau es!? ujar See-kwi-liong sambil bertanya kepada toan-lin benar cianpwe ! jawab Toan-lin hahahahaha luar biasa dahsyat serangan yang kamu lakukan, dan dua puluh jurus saya merasa tekanan yang begitu berat. puji See-kwi-liong lalu cianpwe mau kemanakah !? tanya Can-hang-bi sebelum ku jawab, apakah masih ada daging panggang yang kalian bakar! sahut see-kwi-liong ooh masih .. masih ada cianpwe, marilah kita makan bersama jawab Hang-bi, lalu merekapun kembali ketempat dimana mamangang daging kijang.
Sambil memakan daging panggang, see-kwi-liong berkata hmh sebenarnya aku ingin ke Yuguan untuk bertemu thian-te-ong apakah berhubungan dengan situasi yang kita hadapi sekarang ini cianpwe!? tanya Hang-bi yah terkait dengan situasi kita akhir-akhir ini jawab See-kwi-liong sebenaranya apa yang terjadi di barat cianpwe, melihat cianpwe sendiri tanpa anak murid tentu telah terjadi sesuatu dibarat. sela Hang-bi memang telah terjadi hal yang gawat di wilayah barat, karena munculnnya Ui-hai-liong-siang ! sahut See-kwi-liong apa yang dilakukan Ui-hai-liong-siang di sana cianpwe!? tanya Ouw-ciong sejak kemunculannya di barat, keadaan anggota hek-te terancam di tiap kota, lalu saya dan lima puluh pimpinan cabang di tiap kota mencari dan mendatanginya, namun ternyata keduanya memiliki ilmu yang tinggi, sehingga saya tidak bisa membendung keduanya, dan karena saya harus melaporkan hal ini pada thian-te-ong, maka saya berusaha menyelamatkan diri jawab see-kwi-liong sedikit merasa malu hmh kami juga diutus suhu Thian-te-ong untuk mencari mereka sela Hang-bi mereka maksudmu Ui-hai-liong-siang !? tanya See- kwi-liong benar, Ui-hai-liong-siang salah satunya jawab Hang- bi yang lainnya siapa !? yang lainnya adalah San-ji-liong dan Ui-hai-sian, dan San-ji-liong sudah berhasil kami tewaskan jawab Hang-bi.
hmh kalau begitu marilah kita kekota xining! sela See-kwi-liong ada apa dengan kota Xining, cianpwe!? tanya Hang- bi karena saya yakin Ui-hai-liong-siang akan mengikuti saya, dan kemungkinan besar dia akan melewati kota xining hmh..kalau begitu marilah kita kesana, dan kalau kita dapat menewaskan keduaanya, maka tinggal satu lagi tugas kita, mencari ui-hai-sian sela Ouw-ciong.
kemudian mereka berangkat menuju kota Xining, dan ketika sampai dikota xining, keributan di likoan yang membuat orang berkerumun di luar, menarik perhatian mereka, sehingga mereka mendekati likoan dan melihat kedalam likoan, Lou-ma sedang di tanyai Yo-hun, maka see-kwi-liong dan hang-bi menyerang bersamaan, dan pukulan itu dielakkan Yo-hun, sambil melempar Lou-ma kearah mereka, dan satu pukulan dibuyarkan lui-kim Lou-ma yang kena hawa pukulan sakti tidak dapat diselamatkan, karena dadanya remuk dan diapun tewas seketika, Yo-hun dan Lui-kim menatap kelima orang itu dengan waspada hmh.. ternyata see-kwi-liong yang menyelak, setelah mendapat bantuan dan berani unjuk gigi lagi sela Lui- kim tutup mulutmu perempuan berengsek! bentak See- kwi-liong sambil menerjang, terjangan See-kwi-liong diikuti oleh Toan-lin yang menyerang sambil berkata san-ji-liong sudah tewas, dan sekarang giliran Ui-hai- liong-siang! perkataan itu membuat Ui-hai-liong-siang terkejut San-ji-liong adalah dua cianpwe teman seperjalanan dalam mencari pusaka pulau es, dan keduanya dikatakan sudah tewas, dan sekarang giliran mereka, maka dengan rasa gemas Ui-hai-liong-siang menyambut serangan kedua lawannya keras lawan keras blaammm.. dua pukulan sakti beradu dan mebuat tempat itu laksana dilanda angin ribut dan bergetar, orang-orang yang berkerumun menjauhkan diri ketempat yang lebih aman untuk menonton peristiwa itu Lauw-bhok dan dua rekanya tidak ingin melewatkan peristiwa, dimana Ui-hai-liong-siang yang baru mereka bicarakan menghadapi gembong hek-te, setelah satu jam pertempuran satu lawan satu, Toan-lin yang berhadapan dengan Lui-kim hanya selisih sedikit, dan pertarungan berjalan seimbang, namun bagi See-kwi- liong yang memang kalah dari Yo-hun harus menerima tekanan berat dan desakan kuat, sehingga satu ketika tubuhnya terhempas ketanah, ketika dua buah pukulan pek-lek-jiu menghantam lambung dan bahunya, Ouw-ciong melompat dan menerjang Yo- hun.
Yo-hun dengan tenang menghadapi serangan luar biasa dan kuat dari Ouw-ciong, pertempuran yang tadi berada didalam likoan kini sudah berada diluar, karena Ui-hai-liong-siang berusaha terus mendesak lawannya keluar, pertempuran di ruang terbuka itu membuat orang yang menonton dari kejauah dengan jelas dapat melihat pertarungan itu, walaupun yang bertarung sudah merupakan empat bayangan yang bergerak cepat.
Yo-hun dan Liu-kim saling beradu punggung membendung serangan Toan-lin dan Ouw-ciong, yo- hun tidak ingin istrinya tiba-tiba dikeroyok, karena Yo- hun merasa bahwa perempuan yang satunya lagi yang wajahnya sama dicat warna-warni, tentu memiliki ilmu yang sama kuatnya dengan orang yang dilawannya.
Ouw-ciong ! bukankah mereka dua orang yang terdampar bersama kita di pulau neraka ? jadi cepat kalian tewaskan! sela Pouw-eng setelah mengingat- ingat, karena wajah keduanya serasa pernah ia lihat, Ouw-ciong dan Toan-lin memperhatikan kedua lawannya, dan merekapun ingat akan Yo-hun dan Lui- kim, Yo-hun dan Lui-kim yang mendengar perkataan Pouw-eng, langsung ingat dengan sebuah pulau, dimana mereka terdampar bersama tiga orang, dan tentunya tiga orang inilah anak buah hek-te yang terdampar bersama mereka.
Toan-lin dan ouw-ciong sesaat berhenti hmh.. ternyata kalian rupanya yang menjadi Ui-hai- liong-siang ! ujar Ouw-ciong dan kalian tiga orang hek-te rupanya, telah menjadi badut yang tidak lucu sahut Lui-kim, Toan-lin marah dan langsung menyerang Lui-kim, dan pertempuran pun dilanjutkan kembali, daya pertahanan dan daya serang Ui-hai-liong-siang sangat handal, sehingga Toan-lin dan Ouw-ciong tidak bisa berbuat banyak, bahkan mereka sibuk dengan serangan balasan Ui- hai-liong-siang.
Pouw-eng tidak sabar lagi melihat dua rekannya keteter juga ternyata, lalu dia memasuki pertempuran dan menyerang dari sisi lain, Ui-hai-liong-siang kini benar-benar diuji, suami istri itu mengerahkan daya serang ilmu pedang thian-te-it-kiam dan pukulan pek- lek-jiu yang mereka terima dari nelayan gundul.
Kedudukan ui-hai-liong-siang yang tidak berpisah, membuat daya pertahanan yang kokoh dan sulit untuk ditembus tiga penghuni pulau neraka, Ui-hai- liong-siang sudah tidak segencar tadi dalam memberikan serangan balasan, karena mereka terpusat untuk mempertahankan diri, tiga penghuni pulau neraka juga, sudah mengeluarkan seluruh kekuatan untuk merobohkan pertahanan Ui-hai-liong- siang, pertempuran sudah berjalan tiga jam, dan hari sudah menjelang sore, namun Ui-hai-liong-siang tetap mampu bertahan dari tekanan tiga lawan yang kuat itu.
Can-hang-bi segera turun tangan untuk membatu menekan pertahanan Ui-hai-liong-siang, dan kali ini Ui- hai-liong-siang makin tersudut, mereka hanya dapat bertahan dan tidak lagi dapat membalas serangan, dan mungkin hanya menunggu waktu mereka akan lengah atau kecapean, sampai seratus jurus Ui-hai- liong-siang pantas dipuji akan kekosenan ilmu yang mereka miliki, sejauh itu mereka masih bisa menghalau empat pedang yang yang mengincar mereka, dan menghalangi pukulan-pukulan dengan pek-lek-jiu yang bergemuruh bagai halilintar.
Dan ketika keadaan mereka sudah sangat payah kelelahan, sehingga sebuah tusukan dari Pouw-eng telah melukai pundak Yo-hun, tiba-tiba sebuah bayangan gesit melompat menerjang Pouw-eng, Pouw-eng tidak sempurna mengelak serangan yang tiba-tiba itu, sehingga hawa pukulan sakti yang menerpa tubuhnya membuat dia sempoyongan, dan hal ini sesaat membuat pertempuran berhenti.
Ui-hai-sian cianpwe, terimaksih telah membantu! teriak Yo-hun hehehe bukankah kamu pemuda yang ikut mencari pulau es. ujar orang yang ternyata Ui-hai-sian benar cianpwe, dan kedua wanita itu adalah yang cianpwe tenggelamkan saat berada ditengah laut sahut Yo-hun cih.. ternyata si kakek bangkotan yang bergelar Ui- hai-sian! dengus Toan-lin dengan marah, karena diingatkan betapa mereka bertiga diceburkan oleh kakek Tio-can waktu ditengah laut.
Toan-lin menyerang dan disusul Pouw-eng, Yo-hun memapaki serangan Pouw-eng dengan cepat, sehingga tidak jadi mengeroyok Ui-hai-sian, Ouw- ciong, Can-hang-bi menerjang Lui-kim, pertempuran jadi terbagi tiga, Yo-hun yang melihat istrinya di keroyok, mendesak pouw-eng kearah pertempuran Lui-kim dan setelah dekat, Yo-hun membagi serangan pada hang-bi, dan serangan yang luarbiasa itu sangat cepat dan tidak terduga, sehingga , crass.. bahu hang-bi terluka kena sabet pedang Yo-hun.
Melihat hal itu See-kwi-liong maju membantu, namun setelah Hang-bi luka dan See-kwi-liong yang memasuki pertempuran juga tidak banyak membantu, bahkan Toan-lin sudah mulai terdesak oleh serangan ui-hai-sian, dan hal itu membuat Ouw- ciong khawatir sehingga lengah, dan itu menjadi peluang bagi Lui-kim untuk menembus pertahanan Ouw-ciong dan melukai lengannya.
Ouw-ciong terkejut dan melompat jauh menghindarkan serangan susulan, dan takpelak serangan susulan itu dengan luarbiasa mengarah pada See-kwi-liong yang memang tidak sekuat Ouw-ciong, dan terlebih dia sudah luka dalam ringan, See-kwi- liong tidak menduga pedang Lui-kim telam menusuk dan merobek perutnya sehingga menganga , see-kwi- liong melenguh dan ambruk ketanah dan sesaat tubuhnya menggelepar dan akhirnya tewas.
Keadaan see-kwi-liong ini membuat Can-hang-bi terkejut, dan tambah terkejut ketika sabetan pedang Yo-hun mengarah kakinya, untungnya dia cepat mengelak mundur, namun pedang yo-hun tetap dapat menggores pahanya, Can-hang-bi meringis Sementara Toan-lin semakin terdesak, dan akhirnya diapun tak dapat lagi mengelak ketika senjata roda Ui-hai-sian merobek punggungnya, darah bersimbah dari punggungnya yang robek, keadaan yang beruntun itu membuat Pouw-eng ciut nyalinya, sehingga ia lengah dan tidak bisa mengelak ketika pukulan pek-lek-jiu plak..ahgkk pukulan Yo-hun menghantam bahunya hingga tulang bahunya remuk, Pouw-eng meringis kesakitan, namun dia masih dapat berdiri walaupun pukulan itu sempat mendorongnya dua tindak, Toan- lin yang didesak terus oleh Ui-hai-sian berusaha bertahan sekuat tenaga kali ini kita mundur dulu teriak Pouw-eng sambil melarikan diri, Can-hang-bi segera menyusul ke arah larinya Pouw-eng, dan Ouw-ciong melepas pukulan kearah ui-hai-sian dan memberikan kesempatan pada Toan-lin melompat melarikan diri, dan usaha itu berhasil, Toan-lin mendapat peluang dari desakan Ui- hai-sin, dan melompat melarikan diri, namun Ouw- ciong harus menerima juga pukulan pek-lek-jiu yang di lepaskan oleh Lui-kim dan menghantam lambungnya, Ouw-ciong terpapar kesamping, namun dia masih kuat untuk melompat menyusul Toan-lin dan lari menembus kegelapan malam.
Ui-hai-liong-siang tidak mengejar, karena hari juga sudah malam dan tubuh mereka juga sudah lelah, jadi mereka lebih memilih untuk istirahat, Lui-kim memeriksa luka di pundak suaminya koko, kamu terluka hebatkah!? tanya Lui-kim sambil memeriksa luka itu hanya luka ringan Kim-moi. tapi koko, lukanya bengkak menghitam. sahut Lui- kim cemas sepertinya pedang perempuan siluman itu beracun. sela Ui-hai-sian benar cianpwe. sahut Lui-kim semakin cemas sebaiknya bawa suamimu kedalam likoan, dan usahakan keluarkan racun dilukanya ! ujar Ui-hai-sian sambil masuk ke likoan dan meminta pada pelayan untuk segera menyiapkan makanan untuknya, Lui-kim memapah suaminya dan masuk kelikoan, dan meminta disediakan kamar cianpwe, kami keatas dulu ! ujar Lui-kim ya. aku disini saja karena perutku lapar dan haus sahut Ui-hai-sian Lui-kim memasuki kamar dan merebahkan Yo-hun di pembaringan, wajah Yo-hun sudah amat pucat, Lui- kim segera merobek luka itu, dan darah berwarna hitam pun keluar, Yo-hun merasa nanar dan berkeringat dingin, dan kemudian ia pingsan, Lui-kim merasa cemas, lalu dia buru-buru keluar memanggil pelayan dimana ada shinse disini !? tanya Lui-kim oh .. ada di luar pintu barat kota, dan rumahnya ada di sebuah lembah sekitar setengah jam perjalanan dari pintu gerbang. jawab pelayan Lui-kim segera masuk kembali, dan memapah Yo- hun, Lui-kim melompat dari loteng dan berlari cepat diatas atap perumahan menuju gerbang kota sebelah barat, tidak lama kemudian pondok tabib itu pun kelihatan dari jalan setapak, lui-kim menuruni lembah dan mendekati pondok.
Seorang kakek berumur enam puluh tahun lebih sedang duduk di sebuah batu didepan pondok sambil menumbuk obat-obatan lopek ! tolonglah suamiku yang sedang terluka. seru Lui-kim oh cepat, bawalah ia kedalam dan baringkan ! sahut kakek itu berdiri, dan segera mengikuti Lui-kim yang memapah suaminya masuk kedalam pondok, tabib yang dipanggil Bu-sinse itu memeriksa bahu Yo- hun, sesaat dia geleng-geleng kepala bagaimana pek-sinse !? parahkah luka suamiku !? tanya Lui-kim cemas hmh., luka ini sebenarnya mengandung racun yang berbahaya, namun sungguh suamimu ini kuat, sehingga racunnya tidak menyebar, dan ini mungkin karena hawa sakti yang ada pada tubuhnya yang berhawa sama dengan racun ini. apakah racun itu berhawa panas, pek-sinse !? tanya Lui-kim benar kouwnio. apakah suamiku dapat disembuhkan, pek-sinse !? ya, jika racun ini sudah dikeluarkan, dan untungnya sudah dirobek, hanya tinggal memberikan obat pembersih darah, dan bubuk pengering luka sahut Bu-sinse coba kamu rebus ramuan ini, sehingga airnya tinggal seperempat mangkok! perintah Bu-sinse pada Lui- kim, Lui-kim segera melakukannya, sementara bu- sinse mengambil bubuk ramuan lain, dan menggodoknya dengan air panas, kemudian bubuk hangat itu ditempelkan di atas luka dibahu Yo-hun.
Setelah air rebusan ramuan dibawa Lui-kim, lalu Bu- sinse meminumkanya pada Yo-hun, setengah jam kemudian Yo-hun sadar, lui-kim yang menungguinya tersenyum lega kim-moi bagimana dan dimana kita ini !? kita di pondok pek-sinse, Hun-ko, dan lukamu sudah diobati. sahut Lui-kim dengan senyum lembut apakah suamimu sudah siuman kouwnio !? tanya Bu-sinse dari luar pondok sudah pek-sinse. jawab Lui-kim, Yo-hun bangkit dan merasa sudah kuat, lalu mereka keluar menemui Bu- sinse yang sedang menumbuk ramuan di halaman pondok.
terimakasih pek-sinse, telah sudi menolong dan mengobati luka saya. ujar Yo-hun, Bu-sinse tersenyum tidak apa kongcu, berkat hawa yang ada pada tubuhmu, membuat racun itu berkurang daya serangnya, dan juga segera mendapat pengobatan sahut Bu-sinse pek-sinse, apakah artinya suamiku sudah bisa dibawa kembali !? sela Lui-kim sudah kouwnio, hanya meminum ramuan beberapa kali, suamimu akan sembuh. sahut Bu-sinse, lalu Bu- sinse masuk kedalam pondok dan membungkus ramuan secukupnya.
ini rebuslah seperti tadi, dan minumkan pada suamimu setiap hari, dan dalam tiga hari, kongcu akan pulih sedia kala ujar Bu-sinse sambil memberikan bungkusan ramuan, Lui-kim menerima bungkusan dan memberi tanda terimaksih kepada Bu- sinse, dan kemudian mereka pun meninggalkan pondok Bu-sinse kembali ke dalam kota.
Sesampai di likoan, segera keduanya istirahat kemana Ui-hai-sian, kim-moi !? tidak tahu Hun-ko, tadi saya tinggalkan dia sedang makan dibawah, mungkin dia sudah pergi atau sedang istirahat di kamar lain. sahut Lui-kim sekarang istirahat dan tidurlah koko! hmh.. baiklah . sahut Yo-hun sambil merebahkan badan, dan lui-kim juga merebhakan badan disamping suaminya, tubuhnya sangat lelah akibat pertempuran yang setengah hari lebih, dan sebentar saja Lui-kim sudah tertidur memeluk tangan suaminya.
Bagaimana dengan Ui-hai-sian, benarkah dia telah pergi !?, tidak, Ui-hai-sian setelah makan, ia menyewa kamar untuk melewatkan malam di kota Xining, lalu bagaimana Ui-hai-sian sudah sampai di kota xining ? Ui-hai-sian setelah melarikan diri dari pasukan yang dipimpin oleh Kao-hong-bi dan dua rekannya, Ui-hai- sian menuju kota Hailun, selama seminggu ia berada disana untuk mengintai pasukan Tung-kek-hek-te, namun sudah sekian lama, pasukan itu tidak pernah memasuki kota Hailun, dengan penasaran Ui-hai-sian kembali ketempat dimana dia dicegat oleh pasukan Tung-kek-hek-te, namun sepanjang perjalanan ke timur tidak ada lagi iring-iringan pasukan yang di temuinya, bahkan ketika melewati bukit batu, bau amis bangkai dari bawah jurang tercium, dan dia mencoba melihat kebawah dan tumpukan beberapa mayat bergelimpangan didasar jurang.
Ui-hai-sian lalu menyimpulkan, bahwa pasukan tung- kek-hek-te telah di pecundangi oleh im-yang-sin- taihap, dia tercenung dan semakin takjub pada kehebatan yang dimiliki pemuda dua puluh tahuanan itu, lalu Ui-hai-sian mempercepat larinya menuju kota Ki-bun, dan sesampai disana keadaan sunyi dan sepi, lalu ia mengintai kediaman Im-kan-kok-sianli-sam, namun tempat itu juga sepi.
Ui-hai-sian segera meninggalkan kota kibun, dan terus berlari cepat menuju wilayah utara, Ui-hai-sian hampir ditiap kota yang disinggahinya, penduduknya ia dapatkan berwajah cerah menyiratkan kelegaan. dan ketika sampai dikota Cangbu, Ui-hai sian istirahat disebuah likoan, likoan yang padat oleh tamu yang rata-rata wajah mereka cerah menyiratkan kegembiraan.
Disebuah meja, lima orang sedang bersantap penuh nikmat dan gembira sambil bercakap-cakap yang jelas tidak berapa lama lagi, kemelut yang menyelimuti Tionggoan akan sirna, dan kehidupan kita akan kembali normal, serta lepas dari tekanan hek-te benar Yap-twako, kita doakan saja semoga Im-yang- sin-taihap dapat menundukkan dan melenyapkan Pah-sim-sai-ji dan antek-anteknya. sungguh luar biasa apa yang dilakukan she-taihap dalam kurun waktu dua tahun ini memang betul, setelah selatan dibebaskan dari tekanan hek-te, kemudian wilayah timur, dan sekarang wilayah kita sahut yang lain yap-twako, bagaimana menurut penilaian dan pandangan twako, tentang Im-yang-sin-taihap dan Pah-sim-sai-jin !? Pah-sim-sai-jin memang luar biasa sakti, namun Im- yang-sin-taihap juga penuh kejutan, dan selaku she- taihap dari pulau kura-kura, hal itu memang dimaklumi. menurut Yap-twako, dapatkah Im-yang-sin-taihap mengalahkan Pah-sim-sai-jin !? untuk memastikan tentu kita tidak dapat, namun kalau saya rasa kemungkinannya, bahwa Im-yang- sin-taihap akan dapat mengalahkan Pah-sim-sai-jin. alasan dan dasar perkiraannya bagaimana Yap- twako!? tanya yang lain kita tahu sendiri sebenarnya para she-taihap, tidak kalah ketika kemunculan Pah-sim-sai-jin dulu, hanya karena bau apek yang dikeluarkan Pah-sim-sai-jin yang membuat para she-taihap kalah. lalu menurut twako, bagaimana Im-yang-sin-taihap menghadapi bau yang dikeluarkan Pah-sim-sai-jin!? saya sendiri dulu, menyaksikan bagaimana sabuk para she-taihap membuat Pah-sim-sai-jin lari tunggang langgang, dan tentunya Im-yang-sin-taihap sudah menyempurnakan ilmu sabuk itu, sehingga dia memakai ciri khas sabuk yang tersampir di bahunya. tapi Yap-sicu, kemungkinan itu masih belum dapat dijadikan alas an, bahwa Im-yang-sin-taihap akan dapat melenyapkan Pah-sim-sai-jin sela seorang yang berumur sepantaran dengan she-yap lima puluh tahun lebih kalau menurutmu kao-sicu sendiri, bagaimana !? kalau menurut saya, bahwa Im-yang-sin-taihap cendrung dapat mengalahkan pah-sim-sai-jin, dengan melihat kekuatan Im-yang-sin-taihap yang telah berhasil menewaskan Ngo-ok-hencia di selatan, dan juga melarikan dirinya Im-kan-kok-sianli-sam yang tinggal dua orang ke wilayah utara ini. maksudnya bagaimana Kao-twako!? dari situ saja, kita dapat mengukur betapa tingginya ilmu im-yang-sin-taihap, dan saya yakin, seandainya Pah-sim-sai-jin yang dikeroyok Ngo-ok-hengcia pasti pah-sim-sai-jin akan kalah. sahut she-Kao tapi masalahnya kao-twako, seperti diketahui bahwa Pah-sim-sai-jin mengeluarkan bau apek yang membuat para lawannya tidak berdaya. benar, namun yang saya sampaikan alasan pertama, bahwa Im-yang-sin-taihap akan mengalahkan Pah- sim-sai-jin. memang masih ada alasan kedua Kao-sicu!? tanya she-Yap benar, ada satu lagi alasan yang dapat saya jadikan sebagai dasar pemikiran. sahut she-Kao apakah itu Kao-twako!? alasan kedua, adalah berhasilnya Im-yang-sin-taihap mempecundangi ratusan pasukan Lam-kek-hek-te, dan ratusan pasukan Tung-kek-hek-te yang menyerangnya, dengan sendirian Im-yang-sin-taihap menghadapi pasukan yang laksana air bah itu, jadi hal itu menunjukkan betapa cerdiknya Im-yang-sin- taihap jawab she-Kao, semuanya manggur-manggut.
untuk menghadapi ratusan pasukan im-yang-sin- taihap mampu, apalagilah hanya menghadapi bau yang dikeluarkan Pah-sim-sai-jin hmh benar juga dasar pemikiran itu Kao-sicu ! sela she-Yap yang pasti, kita sama-sama mendoakan semoga im- yang-sin taihap berhasil disini, sebagaimana di selatan dan di timur sahut she-Kao, semuanya mengangguk membenarkan, dan kemudian pemilik likoan muncul dengan beberapa anak pengawalnya kalian terlalu banyak bicara, dan untuk itu kalian harus dihajar ! bentak pemilik likoan, dan memerintahkan sepuluh pengawalnya untuk menyerang kelima orang tamu itu, namun sebelum terjangan sepuluh pengawal sampai, tiba-tiba tubuh mereka terlempar kena hantam sebuah pukulan sakti yang datang dari arah samping, pemilik likoan terkejut, melihat anak buahnya jatuh centang perenang bergedebuk menimpa meja dan kursi, bagai durian jatuh jangan membuat ribut jika Ui-hai-sian sedang makan ! bentak Ui-hai-sin sambil melanjutkan makannya, pemilik likoan segera undur masuk kedalam, dan anak buahnya juga keluar sambil meringis kesakitan terimakasih Ui-hai-sian cianpwe! sela she-kao sambil menjura huh..! kalian memang cerita yang tidak berguna, dan hanya mengira-ngira ! maaf cianpwe, kalau mulutku kami terlalu lancang sahut she-Kao memang mulut kalian bicara tanpa piker, dan menaruh harap pada seorang yang tiada berguna! apa maksud cianpwe dengan berkata demikian!? tanya she-Kao heran, dan empat rekannya juga mengerinyitkan kening mendengar perkataan orang yang menyelamatkan mereka kalian hanya tahu muka dan tidak tahu ekor! sela Ui-hai-sian makin membuat bingung kelima orang itu kami benar tidak mengerti cianpwe. sahut she-Kao kalian mengatakan bahwa Im-yang-sin-taihap cerdik dengan mengalahkan ratusan pasukan, padahal yang membuat pasukan itu tidak berdaya adalah aku Ui- hai-sian ! ooh ! demikiankah cianpwe!? sela she-yap ya ! demikianlah kenyataannya. sahut Ui-hai-sian tapi cianpwe bagaimana bisa, kami tidak pernah mendengar nama cianpwe pada peristiwa itu. tanya she-Kao hal itu tidak kalian dengar, karena aku pemain dibalik layar dengan mengarahkan Im-yang-sin-taihap bertemu pasukan ditempat-tempat yang memudahkan bagi Im-yang-sin-taihap mengalahkan pasukan itu. jadi artinya, pemikiran dan strategi menghadapi pasukan adalah ide cianpwe sendiri secara diam-diam membantu Im-yang-sin-taihap !? benar, dan kalau tidak ada saya, apa mungkin Im- yang-sin-taihap yang bau kencur itu akan menaklukkan ratusan pasukan sahut Ui-hai-sian jumawa, dan kelima orang itu terdiam.
dan kalian menaruh harapan pada Im-yang-sin- taihap akan mengalahkan Pah-sim-sai-jin, dan itu adalah omong kosong ! ujar Ui-hai-sian, kelima orang itu saling pandang heran, karena mereka menangkap nada benci pada perkataan Ui-hai-sian terhadap Im- yang-sin-taihap.
bagi kami cianpwe, siapapun diantara cianpwe dan Im-yang-sin-taihap, atau bahkan pendekar lain yang berusaha melenyapkan tirani Pah-sim-sai-jin, kami mengucapkan rasa terimaksih yang tidak terhingga ujar she-Kao bangsat, apa kalian kira aku ini butuh terimakasih kalian !? bentak Ui-hai-sian, dan kelimanya semakin tidak mengerti akan sikap Ui-hai-sian maafkan kami Ui-hai-sian cianpwe, apa yang cianpwe lakukan hari ini, tidak akan kami lupakan betapa kami telah diselamatkan oleh cianpwe. sahut she-Yap huh kalian ini hanya orang lemah, yang bisa hidup kalu di topang oleh orang lain, enyah kalian dari hadapanku ! ujar Ui-hai-sian dengan wajah tidak senang dan bibir mencibir, kelima orang itu segera meninggalkan liokoan dengan keheranan, akan sikap Ui-hai-sian, Ui-hai hai sian kembali menikmati hidangannya dengan lahap, sikap Ui-hai-sian ini memang aneh dan culas, apa yang dilakukan oleh Im- yang-sin-taihap membuat dia takjub sekeligus iri, dan bahkan semakin tidak senang hatinya ketika mendengar Im-yang-sin-taihap di puji, dan dijadikan tumpuan harapan, sementara dia seorang juga tergolong sakti, dan puluhan tahun ia belajar sejak dari puncak himalaya sampai ke pulau es, namun walaupun demikian, dia tidak bisa menundukkan Im- yang-sin-taihap yang masih muda, dan nama im- yang-sin-taihap demikian terkenal dibandingkan dengan nama julukannya sendiri.
Ui-hai-sian menyelesaikan makannya, dan kemudian melanjutkan perjalanan cepat menuju kota Yuguan dimana Pak-kek-hek-te bermarkas, sekaligus tempat pimpinan tertinggi hek-te, Pah-sim-sai-jin, tujuannya hanya satu, bagaimana dan apa yang berlaku dengan Im-yang-sin-taihap jika bertemu dengan Pah-sim-sai- jin, namun sampai dua bulan perjalanannya, Ui-hai- sian tidak sedikitpun mengetahui keberadaan im- yang-sin-taihap, yang jelas sudah berada diutara, tapi berita Im-kan-kok-sianli-sam yang menuju Yuguan kerap kali ia dengar.
Setelah sampai di Yuguan, keadaan disana cendrung siaga, sebagaimana halnya ketika dia sampai di Kibun dulu, waktu Im-kan-kok-sianli-sam mengadakan usaha menghadapi Im-yang-sin-taihap, karena Ui-hai- sian tidak mendengar keberadaan Im-yang-sin-taihap, dia terus menelusuri kota selanjutnya, yang akhirnya sampai di kota Xining dimana pada saat pertempuran Ui-hai-liong-siang berlangsung seru, dan dia seperti pernah melihat Yo-hun tapi sudah lupa, lalu dia coba mengacaukan pertempuran dengan serangan jarak jauh, sehingga menghentikan pertempuran itu, bahkan ketika ia dipanggil Yo-hun dengan tambahan cianpwe pada julukannya membuat dia serasa dielus- elus, dan sebenarnya dia tidak akan melanjutkan pertempuran, jika tidak diserang oleh Toan-lin dan Pouw-eng.
Keesokan harinya, Ui-hai-liong-siang keluar dari kamar untuk makan, dan Ui-hai-sian ternyata sudah duduk di ruangan rumah makan sambil menunggu pesanan cianpwe ternyata bermalam disini, dan sekali lagi saya ucapkan terimaksih atas bantuan yang cianpwe berikan. seru Yo-hun sudahlah siang-taihap, bagaimana keadaan lukamu !? sahut Ui-hai-sian sudah baikan cianpwe. jawab Yo-hun kalau tidak keberatan cianpwe, bagaimana kalau kita duduk bersama, dan menikmati makan pagi. pinta Yo-hun ramah hmh. tidak mengapa, duduklah dan pesanlah makan kalian ! sahut Ui-hai-sian, lalu Ui-hai-liong- siang duduk dan Yo-hun memanggil pelayan untuk memesan makanan.
siapakah nama kalian siang-taihap !? tanya Ui-hai- sian saya Yo-hun cianpwe, dan istri saya ini Siangkoan lui- kim. jawab Yo-hun yo-hun, bagaimana kalian tahu bahwa aku adalah Ui-hai-sian !? sebenarnya saya hanya menebak ketika melihat cianpwe! lalu bagaimana bisa benar !? sebenarnya julukan cianpwe, sudah dua tahun yang silam kami dengar, dan itu pun perkiraan cianpwe San-ji-liong. sahut Yo-hun siapa san-ji-liong itu !? san-ji-liong adalah dua cianpwe yang bersama dengan kita ditengah laut waktu itu cianpwe! orang tua saat itu hanya lima orang, dua tosu, kemudian seorang pertapa, seorang wanita wanita tua, dan kemudian saya sendiri. benar cianpwe, dan cianpwe san-ji-liong adalah Cu- keng-in, lelaki pertapa, dan Khu-lam adalah salah seorang dari dua tosu sahut Yo-hun lalu, diamanakah San-ji-liong sekarang !? kami juga tidak tahu cianpwe, tapi apa yang dikatakan perempuan bermuka warna-warni waktu memulai pertempuran, merupakan kebenaran yang menyedihkan. sahut Yo-hun maksudmu bagaimana dengan kebenaran yang menyedihkan!? kata lawan kita semalam, yang ternyata adalah penghuni pulau neraka mengatakan, bahwa San-ji- liong sudah mereka tewaskan, dan hari itu giliran kami sahut Yo-hun.
kemudian pesanan pun datang dan dihidangkan, dan merekapun makan kalian selamat dari gulungan badai, tentunya kalian terdampar disebuah pulau yang banyak disana. benar cianpwe, kami sama-sama terdampar di pulau yang sama, dengan ketiga orang yang mukanya berwarna-warni itu, dan ternyata pulau itu adalah pulau neraka. hmh lalu selanjutnya bagaimana Yo-hun !? saya dan istri saya ini, segera meninggalkan pulau itu, karena hutannya banyak sekali ular belang, dan sampai kesebuah pulau yang berpenduduk para nelayan sahut Yo-hun dan kalau cianpwe sendiri, bagaimana !? tanya Yo- hun saya juga terdampar disebuah pulau yang tidak berpenduduk . berapa lama cianpwe tinggal di pulau itu !? tanya Lui-kim saya empat tahun berada disana, dan kemudian kembali kedaratan besar. jawab ui-hai-sian kalau kalian berapa lama di pulau orang nelayan itu ? kami sampai lima tahun di pulau itu cianpwe! jawab Lui-kim hmh terus kalian ini hendak kemanakah !? sebenarnya kami mengejar See-kwi-liong, dan ternyata dia datang sendiri menemui kami disini dengan rekan-rekannya penghuni pulau neraka itu, dan sekarang ia sudah tewas. sahut yo-hun maksudmu lelaki tua yang tewas kemarin !? benar cianpwe, dia adalah pimpinan see-kek-hek-te di Yinchang. sahut Yo-hun hmh apakah kalian akan juga memberantas Pah- sim-sai-jin !? tanya Ui-hai-sian tiba-tiba, suami istri itu saling pandang, sedikit heran mendengar pertanyaan bernada datar itu tentu cianpwe, bukankah seharusnya demikian, karena Pah-sim-sai-jin adalah akar dari tirani yang menyelimuti Tionggoan sahut Yo-hun apa yang kalian lakukan itu adalah sia-sia. maksud ciampwe sia-sia bagaimana !? tanya Yo-hun andaipun kalian berhasil, kalian tidak akan dielukan orang. kami tidak mengerti cianpwe! sela Lui-kim kalian telah berhasil membunuh See-kwi-liong pimpinan see-kek-hek-te, sementara ada seorang pendekar yang telah berhasil membunuh Ngo-ok- hengcia pimpinan Lam-kek-hek-te dengan seluruh pasukannya, kemudian pendekar itu membunuh semua pasukan Tung-kek-hek-te, dan bahkan membunuh salah seorang dari Im-kan-kok-sianli-sam, dan tentunya dia yang akan dielukan orang sahut Ui- hai-sian cianpwe, kami tidak perlu dielukan orang, dan saya merasa gembira bahwa ada pendekar yang sudah berhasil sejauh itu, siapakah gerangan pendekar itu cianpwe!? ujar Yo-hun dengan nada takjub, Ui-ha- sian wajahnya mengeras mendengar perkataan Yo- hun untuk apa bertindak, kalau hanya untuk menjadi nomor dua, lebih baik biarkan saja orang yang di elu- elukan yang bertindak. cianpwe, sepertinya cianpwe tidak menyukai pendekar itu. sela Lui-kim benar sekali Lui-kim, karena dia itu sombong dan keturunan orang sombong. siapakah pendekar yang sombong itu cianpwe!? tanya Lui-kim dia digelar orang Im-yang-sin-taihap im-yang-sin-taihap itu berasal darimana !? tanya Yo- hun dia dari pulau kura-kura eh .. artinya ia ada hubungan dengan she-taihap sela Lui-kim wah kalau dia sombong, tentu amat mencoreng nama she-taihap sela Yo-hun apakah cianpwe sudah bertemu dengan Im-yang-sin- taihap !? sudah, makanya saya tahu dia sombong. jawab Ui- hai-sian bagaimana, dan apa yang menyebabkan cianpwe menilai dia sombong !? tanya Yo-hun dengan nada penasaran saya mengajak dia pibu, namun dia tidak menggubris, malah terkesan mempermainkan aku orang tua sahut Ui-hai-sian rasanya tidak mungkin cianpwe, seorang she-taihap dan kenyataannya telah melepaskan tirani Pah-sim- sai-jin dari dua wilayah menyakiti hati cianpwe sela Yo-hun yo-hun, kadang kalau orang merasa tidak terkalahkan, akan bisa berlaku menyeleweng dan memandang remeh pada orang lain sahut Ui-hai-sian saya ingin bertemu dengan im-yang-sin-taihap itu, dan ingin juga mencoba kepandaiannya yang mengakibatkan dia berlaku tidak adil pada cianpwe sela Lui-kim penasaran, Yo-hun menatap istrinya dengan pandangan tidak setuju sudahlah, kalau menurut saya, menantang Pah-sim- sai-jin hanya memenatkan diri saja, karena orang sudah termakan dengan figur she-taihap, dan tidak ada lagi tempat bagi pendekar lain dihati orang-orang, jadi biarkan saja orang-orang itu berharap pada she- taihap, dan kita tengok apakah dia sanggup sendirian menghadapi Pah-sim-sai-jin ujar Ui-hai-sian sambil berdiri mau kemanakah cianpwe !? tanya Lui-kim aku rencana hari ini akan meninggalkan kota ini jawab Ui-hai-sian baiklah cianpwe, dan sekali lagi terimakasih atas semuanya sela Yo-hun sambil berdiri dan tersenyum, Ui-hai-sian mengangguk dan keluar dari likoan.
Ui-hai-sian kembali duduk dan meminum tehnya keterlaluan she-taihap itu! ujar Lui-kim, Yo-hun memandang Lui-kim terkejut, dan kemudian dengan nada lembut Yo-hun berkata Kim-moi, jangan terlalu cepat memberikan vonis pada seseorang, apalagi menyimpulkan dari kata seorang yang sakit hati. koko, Ui-hai-sian itu sudah mendekati umur tujuh puluh enam tahunan, dan orang muda tidak bisa menghargainya itu keterlaluan sahut Lui-kim kim-moi, kita ini sangat tahun, siapa dan bagaimana she-taihap dari pulau kura-kura selama ratusan tahun sudah berlalu !? benar, aku tahu Hun-ko, tapi tidak menjamin bahwa, satu dari keturunan mereka tidak menyeleweng dan merasa remeh pada orang sahut Lui-kim benar, bahwa tidak ada jaminan bahwa seorang dari she-taihap akan tetap adil dan bijak, namun Kim-moi, apakah menurutmu orang yang sudah membebaskan dua wilayah besar, yakni selatan dan timur akan berbuat tidak adil pada orangtua sela Yo-hun tapi koko, buktinya cianpwe Ui-hai-sian diremehkan oleh Im-yang-sin-taihap sahut Lui-kim tidak mau kalah.
kamu salah Kim-moi ! hmh bagimana saya salah Hun-ko!? kim-moi dengarlah ! orang yang demikian besar perhatiannya pada orang banyak, sebagaimana yang dilakukan oleh im-yang-sin-taihap, rasanya sulit diterima akan menyakiti hati cianpwe Ui-hai-sian lalu apakah menurut Hun-ko, Ui-hai-sian mengada- ada !? saya belum sampai pada penilaian itu, sebelum saya melihatnya sendiri, atau mendengar dari beberapa orang lain, yang sama penilaiannya dengan Ui-hai- sian bagaimana menurut Hun-ko mengenai cianpwe ui- hai-sian!? menurut saya Ui-hai-sian itu aneh dan sukar ditebak aneh bagaimana Hun-ko!? aneh, karena prisnsip tindakan yang diperbuatnya cendrung mengharapkan pamrih, setidaknya pujian dan nama besar, dan itu terlihat jelas pada ungkapannya tadi, seakan lepas tangan tentang tirani Pah-sim-sai-jin memang, tapi koko , buktinya dia membantu kita melawan penghuni pulau neraka yang jelas anteknya Pah-sim-sai-jin makanya saya katakan Kim-moi, bahwa Ui-hai-sian sulit ditebak, jadi tidak adil kita menilai Im-yang-sin- taihap dari pandangan Ui-hai-sian yang kita sendiri tidak kenal bagimana ke pribadiannya sahut Yo-hun, Lui-kim mengannguk membenarkan suaminya.
Can-hang-bi dan tiga penghuni pulau neraka, berhenti disebuah lembah setelah menjelang pagi bagimana, apa selanjutnya yang kita lakukan !? tanya Hang-bi kita tunggu beberapa hari, sambil kita intai saat Ui- hai-liong-siang dan Ui-hai-sian berpisah sahut Ouw- ciong tidak disangka, kedua orang yang sama terdampar dengan kita di pulau neraka, memiliki ilmu yang tangguh seperti itu. sela Toan-lin benar, entah di bagian pulau yang mana mereka mendapatkan ilmu itu. sahut Pouw-eng kemudian kakek tua bangkotan itu, juga tidak bisa dianggap remeh ujar Toan-lin, kemudian mereka terdiam dengan pikiran masing-masing tentang kekuatan musuh.
Setelah cukup istirahat Hang-bi dan tiga rekannya melanjutkan perjalanan, perjalanan cepat dilakukan, hingga tiga minggu kemudian mereka sampai di kota Lanzhou, ketika mereka memasuki kota, tiba-tiba Ma- tin-bouw muncul ternyata kalian di sini Bi-sumoi! tegurnya haiBouw-suheng! Ternyata kamu sahut Hang-bi Bouw-suheng, ada apakah !? tanya Hang-bi suhu menyuruh saya mencari kalian, dan mengajak kembali ke Yuguan. ada apa suheng, dan bukankah suheng ditugaskan suhu ke timur!? benar, namun ditengah perjalanan aku bertemu dengan Im-kan-kok-sianli-sam yang hendak menuju Yuguan jawab Tin-bouw apa yang terjadi, dan kenapa Thian-te-ong kita menyuruh kembali !? tanya Toan-lin keadaan kita saat ini genting sekali, oh..ya kemana Ciu-tong dan Liu-sam !? tanya Tin-bouw heran mereka sudah tewas ketika berhadapan dengan San-ji-liong jawab Hang-bi lalu bagaimana dengan San-ji-liong !? mereka juga sudah tewas. sahut Pouw-eng ada apa suheng, genting bagaimana maksudmu? sela Hang-bi kita sudah kehilangan kekuatan didua wilayah, yakni selatan dan timur, Ngo-ok-hengcia semuanya sudah tewas, sementara Im-kan-kok-sian-li tinggal dua orang, dan sekarang sudah berada di Yuguan hah..! bagaimana bisa demikian Bouw-suheng!? tanya Hang-bi terkejut hal ini adalah ulah dari im-yang-sin-taihap dari pulau kura-kura. sahut Tin-bouw kalau memang demikian halnya, kita hanya punya kekuatan di utara saja. sela Ouw-ciong maksud ciong-twako bagaimana!? tanya Tin-bouw maksudnya, bahwa tidak ada yang tersisa dari hek- te kecuali Yuguan, karena Yinchang juga sudah lepas, karena See-kwee-liong telah tewas sahut Ouw-ciong siapa yang menewaskannya!? tanya Tin-bouw terkejut yang menewaskannya adalah Ui-hai-liong-siang. sahut Pouw-eng aduh kalau begitu, marilah kita cepat menemui Thian-te-ong dan melaporkan kondisi yang amat buruk ini ujar Tin-bow, kemudian merekapun bergerak meninggalkan kota Lanzhou menuju Yuguan.
Kota He-hat perbatasan wilayah utara dan timur merupakan daerah yang ramai, berita tentang keadaan selatan dan timur sangat santer dikota itu, terlebih ketika sebulan yang lalu Im-kan-kok-sian-li melewati kota, maka semakin nyatalah bagi penduduk bahwa hek-te ditimur, telah runtuh oleh pendekar muda she-taihap dari pulau kura-kura yang berjulukan im-yang-sin-taihap, harapan besar muncul dibenak mereka, bahwa tidak berapa lama lagi, utara akan ketibaan giliran jika Im-yang-sin-taihap memasuki wilayah mereka, wajah mereka menyiratkan penantian dan harapan, akan munculnya pendekar bersabuk kuning, dan ingin melihat bagaimana perawakan pendekar yang dikabarkan amat tampan rupawan, dan sakti tiada terlawan.
Kwaa-han-bu memasuki kota He-hat, pendekar muda tampan berumur dua puluh satu tahun itu berjalan dengan santai dan tenang, wajahnya yang tampan penuh kelembutan bertatahkan senyum ramah yang menyejukkan, semua orang yang sibuk disepanjang jalan yang melihat Kwaa-han-bu sejenak mengehentikan kesibukannya, untuk melihat pemuda yang menghias harapan mereka selama beberapa bulan terakhir ini, bahkan ada beberapa orang yang yang segera mendekati Kwaa-han-bu she-taihap yang budiman ternyata anda sudah sampai, marilah istirahat dan singgah di kedai makanku, dan aku siangkoan-san ingin menjamu taihap sela lelaki berumur lima puluh tahun lebih terimakasih siangkoan-siok yang baik akan penawaran yang ramah ini sahut Kwaa-han-bu benar sekali im-yang-sin-taihap, mari singgahlah di kedai Siangkoan-twako untuk menerima penyambutan kami ala kadarnya. sela sorang lelaki lain berumur lima puluh tahun, kwaa-han-bu memandang tujuh lelaki yang sudah tergolong berumur yang menjura padanya, Kwaa-han-bu dengan senyum ramah mengangguk dan mengikuti siangkoan-san, dan diikuti enam orang yang lain, dan juga mata banyak orang yang berkerumun saat melihat kedatangannya, sesampai didalam kedai, orang-orang yang juga sedang makan berdiri dan Kwaa-han-bu melambaikan tangan kepada mereka.
Dua orang pelayan Siangkoan-san yang melihat bahwa Im-yang-sin-taihap memenuhi ajakan majikannya, segera menggabung empat meja dan melapnya dengan cekatan silahkan duduk taihap ! dan kalian siapkan serta hidangkanlah makanan kami beserta taihap perintah Siangkoan-san, segera dua orang pelayan itu dengan cekatan menyiapkan hidangan untuk delapan orang, dan dalam waktu yang tidak lama hidanganpun sudah tersedia diatas meja marilah kita makan dulu taihap ! ajak Siangkoan- san, lalu merekapun makan dengan lahapnya, jamuan itu memang mendadak dan sederhana, namun begitu bermakna dalam pandangan orang-orang disekitar kedai yang menyaksikannya.
Setelah selesai makan, dua pelayan itu sibuk kembali mengangkati piring bekas makan, dan membersihkan meja siankoan-siok dan para paman yang baik, jamuan ini sungguh membuat aku merasa terkesima dan terenyuh, dan saya ucapkan terimaksih banyak atas hal yang tiada diduga ini ujar Kwaa-han-bu she-taihap yang budiman ! dibilang mendadak benar juga, tapi sebenarnya taihap, kami sudah mewanti- wanti selama dua minggu ini, bahwa taihap akan lewat kota kami, dan kami bertujuh sudah sepakat kalau taihap lewat, akan kami jamu walaupun sederhana. sahut siangkoan-san terimakasih atas perhatian yang demikian besar, yang paman semua tunjukkan pada siauwte. hal yang kami lakukan taihap! tidaklah ada apa- apanya dibanding dengan apa yang telah taihap lakukan untuk kebaikan orang banyak sahut siangkoan-san benar sekali taihap, kami sudah mendengar apa yang terjadi diselatan dan di timur, dan pengaruhnya juga sudah kami rasakan, karena seluruh hek-te yang beroperasi disini sebulan lebih yang lalu, sudah meninggalkan kota bersama Im-kan-kok-sianli-sam sela Kam-liang seorang pedagan kain yang berseberangan dengan kedai Siangkoan-san ooh demikian kam-siok !? sela Kwaa-han-bu dengan wajah berseri benar sekali taihap, dan kenyataan itu sunguh membuat kami merasa lega dan bahagia. sahut Bu- hong pedagang perabotan yang ada disamping kedai siangkoan-san syukurlah kalau kota He-hat telah mengalami hal yang melegakan, sela Kwaa-han-bu dan itu semua tiada lain adalah berkat keberadaan dan kemunculan taihap, yang dengaan gigih menumpas tirani sejak dari Kaifeng sampai sekarang sampai di kota He-hat sela Siangkoan-san para paman yang baik, itu sudah menjadi amanah hidup saya, dan tiada lain tujuan saya adalah, bahwa saya dapat bermamfaat bagi orang lain, dan jika kenyataan bahwa saya dapat melegakan hati semua orang, besar syukur saya pada thian sahut Kwaa- han-bu terenyuh, ketujuh orang manggut-manggut selanjutnya paman, jika Im-kan-kok-sianli-sam sudah meninggalkan kota sebulan yang lalu yang tentunya menuju tempat pah-sim-sai-jin di Yuguan, maka sebaiknya saya juga akan bergegas kesana, dan semoga Thian membantu saya untuk menundukkan mereka. ujar Kwaa-han-bu kalau memang demikian maksud she-taihap, kami juga tidak menahan, dan pertemuan ini telah memberikan kepuasan bagi kami, karena telah dapat menjamu dan bercakap-cakap dengan taihap sahut Siankoan-san, lalu merekapun berdiri dan melepas Kwaa-han-bu meninggalkan kota He-hat.
Dua hari kemudian Kwaa-han-bu sampai disebuah bukit yang banyak di tumbuhi semak-semak yang panjang dan lebat, pemandangannya demikian lepas, angin yang berhembus kuat membuat padang semak itu bagaikan riak air telaga yang hijau, Kwaa-han-bu duduk menatap kelembah sambil menikmati gemerisik suara semak yang dipermainkan hembusan angin, kemudian Kwaa-han-bu membakar dendeng kering persediannya, dan tiba-tiba terdengar lantunan nyanyian diiringi petikan yang-khim Im -Yang merupakan dua berkah Ketetapan Thian yang tidak salah Bukit berpasangan dengan lembah Darat dan laut dua area yang indah Terang dan gelap dua bagian celah Hidup dan mati dua hal yang lumrah Sehat dijaga supaya sakit tida mudah Baik dijaga supaya jahat bisa dipilah kaya tidak lupa miskin tidak latah Riang tidak lalai sengsara tidak serapah Kwaa-han-bu yang menyimak bunyi nyanyian itu tiba- tiba membalas Sungguh kata-kata yang sarat makna Mengandung nilai ajaran bijaklaksana Im-Yang kehendak Thian maha sempurna Jalani sesuai aturan seimbanglah alam raya Setelah itu muncullah seorang kakek yang sudah amat tua, rias wajahnya lembut mengharukan, pandangannya teduh menyejukkan, dan dengan senyum yang ramah dan menyenangkan menyapa Kwaa-han-bu anak muda yang baik, siapakah namamu !? kakek yang bijak, namaku adalah Kwaa-han-bu. sabuk tersampir diatas bahu, kipas terselip dipengikat baju, kata-kata menunjukkan khazanah ilmu, tentulah ini Im-yang-sin-taihap dari sebuah pulau mendengar ungkapan itu kwaa-han-bu tersenyum menatap sang kakek benar sekali apa yang kakek duga , bahwa siauwte datang dari pulau kura-kura, lalu siapakah gerangan kakek yang bijaksana sahut Kwaa-han-bu aku adalah she-Kam jawab sikakek yang ternyata adalah koai-lojin kam-han-ki Kwaa-han-bu langsung berlutut dan menjura dalam sungguh siauwte tidak tahu diri, terimalah hormat dari siawte, pada sukongcouw yang bijak bestari Kam-han-ki tersenyum lembut Kwaa-han-bu berdirilah..! seru Koai-lojin, Kwaa-han- bu berdiri manut sekarang, keluarkan ilmu keluarga kam yang dirangkum oleh buyutmu Kim-khong-taihap! lalu Kwaa-han-bu mengeluarkan ilmu im-yang-bun-sin- im-hoat gerakan yang indah penuh seni, dengan melukis diudara diiringin suara gemerisik dalam setiap gerakan, gerakan itu begitu indah, rumit dan kokoh.
Koai-lojin sambil duduk serius memperhatikan seluruh gerakan ilmu yang dimainkan Kwaa-han-bu, dan matanya berbinar puas dan senyumnya merekah, Kwa-han-bu sampai setengah hari memperagakan ilmu im-yang-bun-sin-im-hoat, setelah Kwaa-han-bu selesai, Koai-lojin berkata sungguh indah dan kuat ilmu yang kamu peragakan Han-bu. petunjuk sukong-couw masih sangat saya harapkan. sahut Kwaa-han-bu tidak ada lagi yang ingin ditambahkan dari ilmu im- yang-bun-sim-im-hoat, kecuali senjatanya yakni sepasang mouwpit ujar Koai-lojin sambil memberikan dua buah mouwpit kepada kwaa-han-bu, Kwaa-han- bu menerima dua mouwpit itu sambil menjura Bu-ji ketahuilah, disamping kekuatan yang besar, seiring dengan tanggung jawab yang besar pula, maka jangan lupa anakku, bahwa amanah dipundakmu sesuai dengan apa yang kamu mampu tecu akan sedaya upaya untuk mengingat nasihat sukongcouw. sahut Kwaa-han-bu baiklah Bu-ji, sekarang kita berpisah, dan lanjutkanlah tugasmu, sungguh berbahagialah orang yang masih mampu menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sela Koai-lojin sambil berdiri dan melangkah kearah lembah meninggalkan Kwaa-han- bu, Kwaa-han-bu masih berlutut menunduk sampai Koai- lojin hilang di telan rerimbunan hutan, kemudian Kwaa-han-bu menuruni bukit dengan cepat, karena hari sudah sore, Kwaa-han-bu mengejar waktu, larinya yang bagai kilat, dan dalam waktu yang singkat Kwaa-han-bu sudah melintas dijalan setapak dengan kecepatan lari yang tetap gesit melintasi alam wilayah utara.
Dua minggu kemudian Kwaa-han-bu memasuki kota Pengbun saat matahari terbit, dan ketika Kwaa-han- bu melewati sebuah rumah, Kwaa-han-bu tertarik melihat seorang perempuan remaja yang cantik dan mungil berumur tiga belas tahun, sedang berlatih ilmu silat, hal yang membuat Kwaa-han-bu tertarik adalah jurus yang dikeluarkan oleh perempuan remaja itu, Kwaa-han-bu berhenti dan memperhatikan dengan serius jurus-jurus yang di mainkan, perempuan remaja itu terus bergerak demikian gesit dan mantap, dan ketika ia melihat Kwaa-han-bu, gadis remaja itu langsung menyerang Kwaa-han-bu.
pak-kek-hek-te mau meminta hajaran lagi, rasakan pukulan nonanmu ! bentaknya, Kwaa-han-bu sambil tersenyum lembut berkelit aku bukan pak-kek-hek-te nona kecil yang cantik. sahut Kwaa-han-bu, perempuan remaja itu terus mengejar dengan serangan-serangan yang dahsyat dan mantap, apa yang disaksikan Kwaa-han-bu dari seluruh gerakan gadis remaja itu semakin membuat Kwaa-han-bu penasaran, karena ilmu yang dikeluarkan oleh perempuan remaja itu menyerangnya adalah ilmu keluarganya yaitu im- yang-pat-hoat dan ketika berlatih tadi sepintas perempuan itu mengeluarkan in-coan-sin-yan dan kim-peng-hok-te-pat hebat..luar biasa sungguh tepat tiada cacat dan kurang. ujar Kwaa-han-bu memuji, perempuan remaja itu semakin kesal dan heran, karena jurusnya dipuji namun tidak sedikitpun mengenai pemuda yang juga mengelak seluruh serangannya dengan kim- peng-hok-te-pat Kemudian seorang wanita tiga puluh lima tahun keluar dari dalam rumah in-ji..! serunya dengan wajah pucat, karena melihat pertempuran yang berlangsung seru dan cepat, mendengar seruan itu, gadis kecil itu berhenti menyerang, dan Kwaa-han-bu juga berhenti dan menatap wanita cantik yang menyeru gadis remaja yang menyerangnya.
maafkan aku kouwnio karena telah mengganggu sepagi ini. ujar Kwaa-han-bu sambil menjura, wanita itu memandang pemuda tampan yang berlaku sopan dihadapannya In-ji, kenapa kamu bertempur dengan pemuda ini !? ibu, dia berdiri didepan halaman rumah kita, dan melihat aku sedang berlatih, tentu dia ini adalah anggota Pak-kek-hek-te. sahut gadis kecil itu maaf, aku bukanlah anggota pak-kek-hek-te, kouwnio. sela Kwaa-han-bu jika tidak, kenapa kamu mengintai rumah kami !? apa anggota pak-kek-hek-te dikota ini belum jera setelah kuhajar habis-habisan!?’ cibir gadis kecil itu tajam siapakah kamu anak muda !? tanya sang ibu saya Kwaa-han-bu, seorang perantau yang berkebetulan lewat, saya baru pagi ini masuk kota Pengbun. jawab kwaa-han-bu ramah bu..! aku tidak percaya, karena dia juga telah berhasil mencuri ilmu keluarga kita! apa maksudmu In-ji !? tanya sang ibu dia mengetahui semua gerakanku, dan juga mengeluarkan ilmu yang sama dengan apa yang aku gunakan menyerangnya! jawab sigadis kecil, sang ibu melihat Kwaa-han-bu dengan pandangan heran maaf bibi, justru karena hal itulah saya berhenti, dan tertarik ketika adik kecil ini mengeluarkan jurus yang juga saya miliki. sela Kwaa-han-bu Han-bu, saya ini tidak tahu ilmu silat, namun jika ada kesamaan ilmu diantara kamu dan putriku tentu ada sebabnya, jadi katakan kepada kami darimana kamu dapatkan ilmu yang kata kamu sama dengan ilmu putri saya benar sekali apa yang bibi katakana, dan saya juga ingin tahu sebab persamaan ilmu yang saya miliki dengan adik ini.. jika demikian katakanlah Han-bu, darimana kamu dapatkan ilmu kamu itu! bibi, ilmu saya juga adalah ilmu keluarga saya di pulau kura-kura hah..apakah engkau dari pulau kura-kura !? sela si ibu terkejut benar bibi, saya dari pulau kura-kura. ibu, kenapa ibu terkejut begitu ? tanya si gadis remaja jika engkau dari pulau-kura-kura maka kita ini keluarga, jadi mari masuk kedalam rumah. sahut sang ibu mengajak Kwaa-han-bu masuk, Kwaa-han- bu mengikuti perempuan dan anaknya memasuki rumah.
Han-bu, saya adalah Tan-cui-sian istri dari she-taihap Kwee-thian, dan ini anak kami Kwee-kim-in. ujar sang ibu yang ternyata adalah Tan-cui-sian, Kwaa- han-bu terkejut ohh..demikian ternyata, terimalah hormat saya bibi! sahut Kwaa-han-bu sambil menjura dalam Bu-ji, saya memang istri Kwee-thian, namun saya ini tidak pernah hidup dekat dengan keluarga besar dari she-taihap, karena saya menikah dengan ayahnya Kim-in ketika mereka sedang dalam menghadapi tirani Pah-sim-sai-jin, jadi saya tidak mengenal benar semua keluarga she-taihap. ujar Tan-cui-sian, Kwaa- han-bu manggut-manggut bibi, saya adalah cucu buyut dari Kwee-hong-in anak bungsu dari kim-khong-taihap hmh jadi jelaslah bagi kita, bahwa memang kalian adalah saudara seperguruan dan orang sendiri, In-ji ! kau minta maaf pada suhengmu, karena telah lancang melawannya. ah.. tidak bibi, bukan salah In-sumoi. suheng ! maafkan aku karena telah berlaku lancang tadi! seru Kim-in menjura, kwaa-han-bu tersenyum saya juga demikian sumoi. Sahut Kwaa-han-bu Kwaa-han-bu merasa terharu, bahwa ternyata masih ada saudaranya yang masih hidup, keturunan dari she-taihap pamannya Kwee-thian Han-bu, hendak kemanakah sebenarnya tujuanmu !? saya hendak ke Yuguan bibi. eh ..! bukankah Yuguan tempat pak-kek-hek-te yang langsung dipimpin oleh Pah-sim-sai-jin? benar bibi, dan oleh karena itu saya harus kesana untuk menundukkanya. hmh.. hal itu memang sudah satu kemestian bagi she-taihap, dan semoga kamu dapat menjalankan tugasmu dengan baik Bu-ji saya juga bercita-cita demikian ibu, melenyapkan pah-sim-sai-jin dan antek-anteknya dari muka bumi! sela Kim-in dengan nada semangat jadi suheng, kamu tidak sendirian karena ada aku yang akan membantu ujar Kim-in, Kwaa-han-bu tersenyum mendengar pernyataan yang penuh semangat itu tentu sumoi kalau kamu nanti sudah cukup kuat untuk melakukannya suheng umurku memang baru tiga belas tahun, namun aku sudah mampu menghajar anak buah pak- kek-hek-te di kota ini yang berani macam-macam. Bu-ji, adikmu mempelajari ilmu silat dari kitab yang ditinggalkan ayahnya ketika kembali ketimur, dan sejak berumur lima tahun Kim-ji sudah mulai mempelajarinya, saya sendiri tidak tahu bagaimana untuk mengajarinya, karena saya ini bukan ahli silat. bibi, saya sangat senang dengan pertemuan tidak diduga ini, dan kenyataan saya masih punya keluarga dan saudara membuat saya haru dan bahagia. jika demikian Bu-ji tinggallah sementara waktu disini, dan matangkanlah apa yang di kuasai adikmu Kim-in! itu sudah pasti bibi. ah benarkah suheng, suheng akan melatih dan menambah pelajaranku!? sela Kim-in dengan mata berbinar gembira.
benar sumoi, dan saya akan tinggal sementara waktu bersama bibi dan kamu sahut Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu serasa bahwa Kim-in memiliki hak yang sama akan warisan yang ada di pulau kura-kura, maka ia memiliki niat untuk berbagi dengan Kim-in selaku saudara yang masih hidup, dan sejak itu tinggallah Im-yang-sin-taihap bersama bibi dan sumoinya di Pengbun.
Kwaa-han-bu melatih Kim-in dan mematangkan ilmu yang sudah dipelajari oleh Kim-in, seperti enam ilmu ciptaan Kim-khong-taihap dari saripati ilmu keenam istrinya, dan juga ilmu im-yang-pat-hoat, hubungan yang demikian erat dan terikat membuat keduanya sangat dekat, Kim-in yang mungil sangat periang, namun bersahaja dan penurut, sementara Kwaa-han- bu yang tegas berkharisma membuat hubungan mereka saling menyayangi.
Tan-cui-sian sangat senang dan bahagia melihat anak dan keponakannya ini, dia tidak bisa memungkiri bahwa pribadi Kwee-thian yang berwibawa dan bersahaja menurun pada putrinya Kim-in walaupun Kim-in tidak pernah melihat ayahnya, bahkan Kwee- thian tidak tahu bahwa cui-sian istrinya mengandung anaknya ketika meninggalkan Cui-sian untuk kembali ketimur.
Dan kalau melihat pribadi Kwaa-han-bu, Tan-cui-sian makin takluk, betapa seluruh she-taihap merupakan keluarga ungulan lahiriyah maupun batiniyah, lahiriyahnya she-taihap adalah pendekar luar biasa, dengan segudang ilmu yang tiada tandingan, dan batiniyahnya juga she-taihap merupakan manusia- manusia bijak berkharisma dengan segudang pribudi yang tinggi dan agung, Tan-cui-sian merasa bersyukur bahwa Thian memilih dia menjadi ibu dari salah seorang she-taihap.
Waktu berjalan dengan cepat hingga tidak terasa satu tahun sudah kwaa-han-bu bersama bibi dan sumoinya , Kim-in sudah berumur empat belas tahun sementara kwaa-han-bu berumur dua puluh dua tahun, dan tujuh ilmu yang dikuasai oleh Kim-in sudah dimatangkan oleh Kwaa-han-bu, sehingga kim-in merasa sin-kang dan gin-kangnya betambah kuat berlipat-lipat, dan juga kwaa-han-bu telah mengajarkan ilmu siulian-tin-liong berupa ilmu daya tahan tempur dan ilmu goat-koan-sim-hang berupa ilmu menghilang suatu hari setelah latihan dibelakang rumah sumoi ! masih banyak lagi yang ingin saya bagi denganmu, sementara saya harus melanjutkan tugas keluarga kita meredam tirani pah-sim-sai-jin suheng, selama setahun ilmuku sudah dimatangkan dan juga ditambah oleh suheng, aku sangat berterimakasih suheng, benar tugas keluarga menanti, maka bawalah aku suheng bersamamu! sahut Kim-in, Kwaa-han-bu tersenyum lembut, hatinya merasa ungkapan nada kesatria itu lumrah, karena memang demikianlah karakter keluarganya dari dulu, dan juga disudut hatinya yang paling dalam tidak ingin berpisah dari sumoinya ini, namun dia harus tahu keputusan tertinggi ada pada bibinya sumoi, hal itu akan kita sampaikan pada bibi, dan tentu apa kata bibi maka itulah yang harus kita taati , bukan!? , ujar Kwaa-han-bu, Kim-in mengangguk tegas, lalu keduanya menghadap Tan-cui-sian bibi, sudah selama setahun saya menetap disini, sementara tugas untuk meredam tirani Pah-sim-sai-jin sepatutnya segera dilakukan, maka untuk itu bibi, saya akan melanjutkan dulu tugas yang tertunda ini. hmh Bu-ji, jika demikian halnya, tunaikanlah tugasmu itu, dan aku harap semoga Thian memberikan kemudahan bagimu untuk malaksanakannya jawab Tan-cui-sian dan juga ibu, saya harap ibu memperkenankan saya untuk menyertai suheng untuk menunaikan tugas yang sudah menjadi tugas keluarga itu. sela Kwee- kim-in, Tan-cui-sian memandang putrinya dan Kwaa- han-bu Bu-ji, menurutmu apakah adikmu sudah bisa diandalkan untuk tugas yang berbahaya itu !? tanya Tan-cui-sian bibi, sumoi sejak awal sudah bisa diandalkan, hmh jika demikian Bu-ji, hatiku lega dan harus kuakui memang kalian ini keturunan luarbiasa, maka Bu-ji kuserahkan adikmu ini dalam pengawasan dan tanggung jawabmu selama aku tidak bersamanya! amanat bibi akan ku pegang dan kugigit dengan gigi gerahamku. baiklah Bu-ji, kapan kalian akan berangkat !? jika diperkenankan saya dan sumoi akan berangkat besok lusa, baik berangkatlah kalian besok lusa, dan jaga adikmu dengan baik, ingat ! hanya kalian yang tersisa dari she-taihap, setelah apa yang dilakukan oleh Pah- sim-sai-jin. Ujar Tan-cui-sian, Kwaa-han-bu mengangguk, kemudian merekapun membersihkan diri dan makan siang.
Dikota Yuguan Pah-sim-sa-jin dan anggota pak-kek- hek-te sedang mengadakan pertemuan penting dan menegangkan, wajah Pah-sim-sai-jin yang burik semakin berkedut karena hatinya sedang jengkel, kedatangan im-kan-kok-sianli-sam yang bercerita mengenai keadaan yang dialami Tung-kek-hek-te membuat hatinya gelisah dan kesal, maka dia menyuruh Ma-tin-bouw mencari Liu-sam dan rombongan yang sedang mencari jejak musuh- musuhnya, Setelah Ma-tin-bouw pulang bersama Hang-bi dan ketiga penghuni pulau neraka, lalu mereka menghadap Pah-sim-sai-jin.
Hang-bi, dimana saudaramu yang lain!? tanya Pah- sim-sai-jin dengan sinar mata amarah kami telah berhasil menewaskan San-ji-liong suhu ! namun Ciu-tong dan Liu-sam juga ikut tewas. Jawab Can-hang-bi dengan hati getir bangsat, Ngo-ok-hengcia telah tewas, seorang dari im-kan-kok-sianli-san juga demikian, lalu tiga dari kalian juga sudah tewas. keluh pah-sim-sai-jin dengan gigi gemeretuk karena marahnya disamping itu juga suhu, saya ingin menyampaikan bahwa sahut Can-hang-bi dengan nada meragu apa yang ingin kamu sampaikan Hang-bi ? Tanya Lu-koai bahwa See-kwi-liong juga telah tewas di Xining oleh Ui-hai-liong-siang, dan kami hampir dapat membunuh sepasang pendekar itu, namun tiba-tiba muncul ui-hai- sian sehingga kami terdesak. mendengar laporan itu wajah yang tadinya jengkel menjadi marah saga, sehingga pegangan kursi remuk dan jadi tepung ditangan Pah-sim-sai-jin.
kumpulkan semua anggota didalam lianbhutia! ujar Lu-koai, Can-hang-bi dan Ma-tin-bouw segera bangkit dan melakukan yang diperintah, dan tidak berapa lama kemudian Hang-bi melaporkan bahwa semua anakbuah sudah berada di lianbhutia, kemudian Pah- sim-saijin dan Im-kan-kok bangkit dan menuju lianbhutia, disusul oleh tiga penghuni pulau neraka kalian dikumpulkan semua untuk persiapan menghadapi situasi genting dan menjengkelkan ini! ujar Lu-koai Thian-te-ong yang mulia, kami siap untuk hal apa saja untuk melakukan apa yang Thian-te-ong perintahkan ! sahut seorang murid kepala hmh..baiklah, kalian semua dengarlah, hek-te hari ini akan saya bubarkan! ujar Lu-koai, semuanya terkejut mendengar perkataan Pah-sim-sai-jin Thian-te-ong yang mulia, kenapa harus dibubarkan !? tanya Lou-si-sian Si-sian, hek-te hanya tinggal kota Yuguan, sementara yang lain sudah lenyap, jadi tidak mengapa hek-te lenyap dari tionggoan, namun hek-to harus tetap ada. jadi apa rencana rencana Thian-te-ong selanjutnya!? tanya Lu-eng-hwa rencana saya Eng-hwa adalah menyelamatkan pemeluk prinsip dari hek-te, yang sudah saya ditanamkan sejak dulu caranya bagaimana thian-te-ong !? sela Ouw-ciong caranya adalah memperluas daerah kelompok hek- to, jadi kepada sepuluh murid kepala dan lima puluh orang murid pertama, saya perintahkan untuk menyebar kemana saja di seluruh Tionggoan, dengan membawa lima belas orang rekan kalian, dan kalian bina kumpulan itu dengan nama lain, entah itu bajak laut, rampok, maling atau gerombolan penjahat dibalik nama bukoan atau piuwkiok, jadilah momok menakutkan dimana kalian berada! jawab Pah-sim- sai-jin lalu sisanya bagaimana suhu !? tanya Hang-bi dan tiga ratus sisanya, seratus orang ikut kamu, dan seratus orang ikut Ma-tin-bouw, terserah kalian mau menjadi momok dimana, dan yang seratus tetap dengan saya di sini. lalu, kami bagaimana Thian-te-ong !? tanya Lu-eng- hwa im-kan-kok-sianli-ji (dua bidadari dari lembah akhirat) dan tiga penghuni pulau neraka, tetap bersama saya, dan kita akan menghabisi Im-yang-sin- taihap, Ui-hai-sian maupun Ui-hai-liong-siang! lalau kapan rencana Thian-te-ong ini dilakukan tanya Lou-si-sian rencana ini akan dijalankan mulai besok, apakah kalian mengerti !? kami mengerti Thian-te-ong yang mulia. Jawab mereka serempak baguslah kalau begitu, jadi bubarlah kalian dan kemasi harta kalian! semua anggota pak-kek-hek-te bubar.
Keesokan harinya kota Yuguan berangsur-angsur sepi, Pah-sim sai-jin yang berumur empat puluh lima tahun, sudah menjalankan trik penyelamatan pemeluk prinsip hidup yang ditanamkannya selama ini, tiga malam berikutnya saat makan malam selesai Thian-te-ong, bukankah keputusan yang telah Thian- te-ong ambil, terkesan kita mengalah pada Im-yang- sin-taihap dengan membubarkan hek-te !? tidak Eng-hwa, karena keputusan saya itu, hanyalah untuk penyelamatan prinsip yang telah ditanam selama ini, hek-te dikatakan kalah jika memang kita telah di tewaskan oleh im-yang-sin-taihap. sahut Pah- sim-sai-jin lalu apa rencana Thian-te-ong untuk menghadapi kemunculan Im-yang-sin-taihap di kota ini !? jika dia datang maka hal itu yang saya tunggu- tunggu, karena saya ingin sekali melenyapkan dia dari muka bumi ini. namun dia sangat sakti Thian-te-ong! Si-sian, apakah menurutmu saya akan kalah dengan pemuda ingusan itu !? tanya Lu-koai mendelik marah, Lou-si-sian terdiam dengan hati ciut maksud saya bukan demikian Thian-te-ong, hanya saja saya ingin Thian-te-ong lebih mengenal musuh yang akan dihadapi hmh.. kalau begitu gambarkanlah pada saya kehebatan Im-yang-sin-taihap! im-yang sin-tai-hap, mampu mengalahakan keroyokan Ngo-ok-hengcia dan Im-kan-sianli-sam sahut Lou-si-sian.
dan kalian semua , jika masih hidup, maka kalian akan tewas jika melawanku, jadi Si-sian kamu tidak usah cemas, karena saya tidak akan kalah dari im- yang-sin-taihap sahut Pah-sim-sai-jin sambil tersenyum sinis, kelima orang itu terkesima mendengar jawaban Pah-sim-sai-jin jika demikian Thian-te-ong, lalu kenapa hek-te tidak dipertahankan !? sela Toan-lin karena tiga wilayah sudah runtuh dan tidak perlu kita menegakkan benang basah, tapi kita menegakkan benang baru dengan nama baru. sahut Pah-sim sai-jin. dan kelima rekannya manggut- manggut melihat ketepatan keputusan Pah-sim-sai-jin.
terus bagaimana kekuatan Ui-hai-liong-siang !? tanya Pah-sim-sai-jin tiba-tiba sambil menatap Ouw- ciong hmh seorang dari Ui-hai-liong-siang imbang dengan keroyokan dua orang dari kami. hmh terus bagaimana dengan Ui-hai-sian !? ui-hai sian akan kalah jika kami keroyok berdu, dia hanya setingkat diatas seorang dari kami. jawab Toan-lin jadi artinya im-yang-sin-taihap yang menjadi batu sandungan terbesar bagi kita, dan itu bagian saya. ujar Pah-sim-sai-jin tenang dan meyakinkan, sehingga membuat kelima rekanya lega.
Dua minggu setelah meninggalkan kota Yuguan, Can- hang-bi dan seratus anak buahnya sampai dikota Bao, pimpinan hek-te dikota itu adalah pemilik rumah bordir bernama Cu-jeng-ji, kedatangan Can-hang-bi disambut baik oleh Cu-jeng-ji, dan dijamu dengan sebuah pesta sungguh kunjungan dari Bi-suci membuat hatiku senang, tapi kenapa Bi-suci membawa anak buah yang banyak !? dengarlah ji-te, suhu Thian-te-ong telah memutuskan bahwa hek-te telah dibubarkan, namun hek-to tetap harus ditumbuh kembangkan kenapa hek-te dibubarkan thian-te-ong suci!? tanya Cu-jeng-ji heran karena hek-te di tiga wilayah sudah tidak ada lagi, dan semua anak buah di kota Yuguan telah dibagi enam puluh dua pimpinan, dan menyebar keseluruh Tionggoan apakah Bi-suci salah satu dari pimpinan yang disebar Thian-te-ong!? benar ji-te, saya membawahi seratus dari rekan- rekan kita ! jika demikian apa yang hendak suci lakukan !? saya akan menetap di kota Bao ini, jadi saya harap ji-te mendukung saya! tentu Bi-suci, saya akan mendukung dan kira-kira apa yang dapat saya bantu Bi-suci!? sektor apa saja yang kalian operasikan dikota ini !? hek-te yang beroperasi disini memiliki empat rumah bordir, enam pokoan dan delapan likoan. sahut Jeng- ji hmh kalau begitu saya akan mendirikan sebuah bukoan, jadi tempat yang mana bagian dari pinggir kota yang bagus menurutmu!? ujar Hang-bi, Jeng-ji diam sambil berpikir hmh menurut saya diluar gerbang utara ada sebuah lembah yang sangat bagus, kira-kira dua jam perjalanan dari gerbang kota kalau begitu, besok bawa kami kesana ! baik Bi-suci, dan malam ini marilah kita lewatkan malam dengan bersenang-senang! sahut jeng-ji tersenyum sambil mengedipkan mata hik..hik.. ide yang bagus ji-te, apa kamu siap dengan pesta yang akan kita adakan !? hehehe..hehehe, tentu Bi-suci. sahut jeng-ji sambil meraih jemari lembut Hang-bi, dan akhirnya pesta itu berpindah kekamar, dan pesta mesum pun berlangsung.
Keesokan harinya, jeng-ji membawa Hang-bi ke lembah sebelah gerbang utara, lembah itu sangat sejuk oleh tiupan angin yang berhembus dari sebuah danau yang luas, nama lembah itu adalah jim- kok (lembah unggas) hmh tempat yang bagus dan tepat. ujar Hang-bi, setelah puas melihat-lihat, kemudian merekapun kembali kekota.
Can-hang-bi mengumpulkan seratus anak buahnya kita akan bertempat di Jim-kok sebelah utara kota, jadi malam ini kalian rampok harta para hartawan dan toko yang menyediakan alat-alat bangunan yang ada dikota ini, untuk keperluan membangun tempat kita di lembah itu ! baik-suci jawab mereka serempak, dan malamnya merekapun bergerak menyatroni rumah hartawan atas petunjuk Jeng-ji, selama tiga hari keperluan untuk pembangunan itu pun didapatkan, lalu seratus orang dan dibantu oleh Jeng-ji serta rekan-rekannya membangun bukoan di Jim-kok.
Tiga bulan kemudian tempat kediaman itu pun selesai, Can-hang-bi mengadakan pesta memasuki tempat baru itu, Can-hang-bi menamakan tempat itu hong- houw-kok-bukoan (perguruan lembah ratu), sejak itu Hang-bi yang berumur tiga puluh tahun, menjadi guru besar mengajari seratus anak buahnya, dan selain belajar anak buahnya juga melakukan tindakan kejahatan, seperti merampok dan memerkosa.
Selama enam bulan keberadan Hong-houw-kok- bukoan, warga kota Bao makin sengsara berselimut cemas dan takut, beberapa lelaki muda yang tampan jadi incaran Hang-bi untuk dijadikan kelinci pemuas birahinya, dan orang-orang menjulukinya dengan biciong-bi-moli (setan cantik tak berperasaan) Sepuluh orang anak buah biciong-bi-moli memasuki desa Kang-hu sebelah utara kota Bao, sepuluh orang itu membuat onar dan merusak rumah dan mengambil paksa hasil panen, beberapa penduduk cepat melapor kepada Cia-peng yang menjadi jungcu, Cia-jungcu dulunya adalah seorang pendekar keturunan Kunlun-pai, sementara istrinya adalah Tang- siulan adalah keturunan dari ciangbujin Thaisan-pai.
Awalnya keduanya hidup sebagai pedagang di Yinchuan, namun setelah Pak-kek-hek-te menancapkan kekuasaan di Yinchuan, Cia-peng membawa kelurganya pindah kedesa Kang-hu dan hidup sebagai petani, dan karena keberadaan keluarga Cia didesa itu orang-orang hek-te yang beroperasi di kota Bao tidak bisa berlaku sewenang- wenang.
Cia-peng memiliki seorang anak gadis yang cantik menawan berumur delapan belas tahun bernama Cia- sian-li, Cia-sian-li bukan gadis lemah, dia mempelajari ilmu kunlun-pai dan thaisan-pai, Cia-sian-li adalah kembang desa, buah bibir para pemuda kampong, dan teman yang nyaman bagi gadis-gadis seusianya.
Ketika dua orang penduduk yang datang melaporkan kedatangan gerombolan yang mengacau, keluarga Cia baru saja selesai makan siang ada apa jiwi-sicu !? tanya Cia-peng menyambut keduanya di ruang tengah cia-taijin, rumah Ma-keng di rusak sepuluh orang pengacau, dan mengambil paksa hasil panen. Jawab salah seorang dari pelapor, Cia-sian-li yang mendengar itu diam-diam keluar rumah dan menuju tempat kejadian.
Sepuluh orang itu sedang mengeluarkan hasil panen dari dalam gudang pemilik rumah, mereka berhenti ketika sian-li muncul suheng ! ternyata dikampung ini ada bidadri aih cantiknya sela seorang diantara mereka kalau begini jadi kelonan, bisa dua minggu saya nggak mau keluar kamar sahut yang lain pengacau tengik ! bentak Cia-sian-li sambil bergerak menampar muka kedua orang yang ngomong bernada tidak senonoh itu plak..plak kedua orang itu tidak berdaya mengelak sehingga mulut mereka pecah mengeluarkan darah, karena keras dan pedasnya tamparan itu hehehehehehe, yang begini ini calon istri saya, ujar pimpinan rombongan itu sambil membasahkan bibirnya dengan ujung lidahnya cih.., kalian ini pengacau kurangajar rupanya, rasakan hajaran dari nonamu ! bentak Sian-li, dan dengan gesit ia menyerang pimpinan rombongan, pertempuran seru berlangsung dengan hebat, dan dalam lima puluh jurus, pimpinan rombongan itu terlempar dan ambruk ketanah dengan nafas sesak, karena pukulan Sian-li menghantam dadanya.
Melihat hal itu sembilan orang rekannya serempak menyerang mengeroyok Cia-sian-li, Cia-sian-li laksana burung walet bergerak diantara bayangan sembilan lawannya, tangannya yang lembut namun menyimpan tenaga dahsayt memukul dan merubuhkan sembilan orang itu, dan dalam waktu satu jam sembilan orang itu sudah roboh tidak berdaya, karena menderita luka dalam yang cukup parah.
Akhirnya sepuluh orang itu dengan tertatih-tatih keluar dari desa Kanghu, Cia-peng yang sudah berada disitu mendekati pemilik rumah bagaimana keadaanmu Ma-sicu !? syukurlah Cia-sioacia cepat bertindak taijin, sehingga kami dan keluarga tidak menerima perlakuan yang lebih kejam dari para pengecau itu sahut Ma-keng apakah kalian tahu siapa para pengacau itu !? tanya Cia-peng kepada orang-orang yang berkumpul disekitar tempat itu, seorang datang mendekat dan berkata cia-jungcu, sebaiknya kita hati-hati, sepuluh orang itu sepertinya gerombolan yang baru muncul di kota Bao yang bersarang di jim-kok. hmh kalau demikian mulai hari ini, kita siagakan diri kita dan perketat penjagaan kampong, dan untuk mengantisipasi beberapa peronda akan ditempatkan di ujung masuk desa sebelah kedatangan dari kota Bao ujar Cia-peng tegas, penduduk yang berkumpul mengangguk dan siap melaksanakan perintah jung-cu mereka yang baik hati lagi sakti.
Sementara sepuluh orang itu memaksakan diri untuk kembali ke jim-kok, sebagian dari mereka yang terluka parah, beberapa kali pingsan ditengah jalan, sehingga mereka harus berhenti, pimpinan rombongan yang paling parah bahkan mukanya sudah pucat kalian yang luka ringan, cepatlah melapor ke pada suci ! ujarnya, dua orang dari mereka yang luka ringan segera berlari cepat Keesokan harinya keduanya sampai ke Jim-kok, lalu keduanya menghadap kepada Can-hang-bi yang sedang bersenda gurau dengan Cu-jeng-ji ditaman maaf suci, kami mau melaporkan bahwa kami gagal mengobrak-abrik desa Kanghu hmh,kenapa gagal !? tanya Hang-bi dengan nada marah didesa Kanghu ternyata ada seorang gadis yang sakti, dan kami tidak berdaya melawannya. apa..!? kalian memasuki desa kanghu !? tanya Cu- jeng-ji benar twako ! jawab keduanya serempak hmh. desa itu memang dari dulu tidak bisa kami kuasai. gumam Jeng-ji lirih kenapa demikian ji-te !? tanya Hang-bi desa itu didiami she-Cia, dia seorang yang berilmu tinggi, dan juga sebagai kepada kampung. jawab Jeng-ji, Hang-bi menatap kedua orang yang melapor yang lain mana !? tanya Can-hang-bi heran delapan dari kami tidak bisa melanjutkan perjalanan, karena luka dalam yang parah, jadi kami diperintahkan oleh twako untuk mendahului. hmh kalau begitu, kamu ajak kawan-kawanmu untuk membawa mereka dari sana ! baik suci.. sahut keduanya sambil berdiri dan meninggalkan taman apa yang hendak suci lakukan!? tanya Jeng-ji mari kita ke desa Kang-hu! sahut Hang-bi ambil berkelabat dari taman, Jeng-ji pun menyusul dengan cepat.
Ketika keduanya hendak memasuki desa, mereka dicegat lima orang lelaki, Hang-bi tanpa basa-basi langsung menampar kelima orang itu, sehingga tewas seketika dengan kepala pecah, Can-hang-bi dan Jeng- ji memasuki desa, ditengah kampung lima orang peronda mencegat, dan dua orang dari mereka segera berlari kerumah Cia-jungcu Cia-taijin, dua orang sudah memasuki desa ! ujar orang itu, Cia-peng dan putrinya segera bergegas dan menuju ketengah desa, dan alangkah terkejutnya Cia-peng melihat sepuluh mayat sudah tergeletak, dan ditempat itu Hang-bi dengan berkacak pinggang menyambut kedatangan mereka sungguh biadab ! bentak Cia-sian-li dan langsung menyerang Hang-bi, pertempuran pun berlangsung, orang-orang kampung sudah berkumpul ditempat itu, sambil membawa obor, pertempuran antara Cia-sian-li dan Can-hang-bi berlangsung ketat, suara beradunya pukulan sakti membuat suasana sangat riuh dan bergegar, keduanya bergerak dengan ginkang yang luar biasa cepat dan gesit, seratus jurus sudah berlalu keadaan masih imbang.
hmh cukup lumayan ujar Hang-bi, dan kemudian ia meningkatkan daya serangnya, dan Cia-sian-li terkejut, ternyata lawannya sampai sejauh itu hanya menguji gerakannya, dan setelah komentar dikeluarkan, dan musuh mengeluarkan kepandaiannya, Sian-li langsung terdesak hebat, namun sekuat tenaga Sian-li bertahan, dia mengerahkan kehebatan ilmu pedangnya.
Cia-peng yang melihat keadaan putrinya yang terdesak hebat, langsung memasuki pertempuran, dengan masuknya Cia-peng, keadaan sedikit berimbang, keroyokan ayah dan anak itu demikian gencar, sehingga pertempuran semakin seru dan menegangkan, Jeng-ji menonton dengan takjub, dia melihat betapa sucinya tidak sedikitpun gugup menyambut keroyokan itu, dan bahkan seratus jurus kemudian, keadaan Cia-peng dan putrinya tidak dapat lagi membalas serangan, keduanya makin terkurung oleh kekuatan ilmu pedang hang-bi beng-cui-in-kiam dan satu ketika pundak Cia-peng sudah terluka kena sambar pedang Hang-bi, dan lengan Sian-li sudah berdarah tergores, dan tidak berapa lama lagi mereka akan ambruk.
Pada saat yang genting itu tiba-tiba Cia-hujin Tang- siulan memasuki pertempuran, dan ternyata nyonya itu juga luar biasa gesit, dengan masuknya cia-hujin, maka keadaan kembali seimbang, sesaat Can-hang-bi dikurung tiga serangan gencar, namun ilmu Can-hang- bi memang luar biasa, setelah lima puluh jurus Can- hang-bi kembali menguasai keadaan.
hikhik. inikah she-Cia yang kamu takutkan itu ji- te!? teriak Hang-bi benar suci, dan kalau suci dapat menundukkan mereka, anak gadisnya untukku, dan nyonya itu juga sangat menggairahkan. sahut Jeng-ji penuh rasa mesum melihat kedua wanita anak beranak itu, keluarga Cia berusaha menekan dan melancarkan serangan, tiga pedang berkelabat mencecar tubuh Can-hang-bi, namun hang-bi bergerak gesit menangkis ketiga pedang, dan bunga api berpijar dengan suara pedang yang menyakitkan telinga, Can- hang-bi mengeluarkan ilmu keng-lo-in-kiam dan daya serang keluarga Cia-peng dapat di tekan oleh pengaruh gaung pedang yang membuat konsentrasi lawan buyar.
keluarga jung-cu semakin terdesak dan tersudut, jurus pedang Hang-bi sangat luar biasa berpendar bergelombang menekan tiga keroyokan keluarga cia yang memiliki ilmu kunlunpai dan thaisan-pai, namun walaupun demikian kelarga Cia tidak mampu mengimbangi Biciong-bi-moli apalagi mengalahkannya, hanya karena keuletan keluarga cia tidak undur setapakpun untuk terus melawan.
Dan hal ini membuat Biciong-bi-moli harus mengerahkan seluruh kekuatan dan kepandaiannya, ketika pedang mengancam Cia-hujin dan sepertinya tusukan yang mengarah jantung itu akan menghabisi nyawa Cia-hujin, namun Hang-bi harus kecewa dan gagal, karena selarik pukulan sakti menghantam pedangnya, sehingga melenceng kesamping dan tubuhnya terlempar kebelakang sejauh dua meter.
Pertempuran sesaat berhenti, dan seorang gadis remaja muncul tiba-tiba, bibi, apakah keadaanmu baik-baik saja !? tanya gadis remaja cantik berumur empat belas tahun lebih itu berkat bantuanmu nak, aku baik-baik saja jawab Cia-hujin kenapa bibi berkelahi!? kedua orang itu datang hendak mengacau kampung. Jawab Cia-hu-jin Gadis remaja itu adalah she-taihap kwee-kim-in, Kim- in dan Kwaa-han-bu sudah tiga bulan meninggalkan Pengbun, dan dalam perjalanan itu Kwaa-han-bu menambah pelajaran kim-in, perjalanan mereka terkesan lambat karena mereka sering beristirahat dan berlatih.
perhatikan sumoi ! aku akan memperagakan intisari ilmu ciptaan kongcouw kita kim-khong-taihap. Ujar Kwaa-han-bu, Kim-in dengan antusias memperhatikan suhengnya, Kwaa-han-bu bergerak laksana menari dengan gerakan yang mantap dan kokoh, kemudian Kim-in meniru gerakan Kwaa-han-bu, otaknya yang cemerlang merekam semua gerakan suhengnya.
suheng ilmu apakah ini ? sepertinya beberapa bagian sama dengan enam ilmu yang sudah dipelajari. memang itu intisari dari enam ilmu tersebut, dan juga gabungan beberapa ilmu yang lain, seperti gerak kipas dan tenaga penggerak sabuk yang tersampir di pundak jawab Kwaa-han-bu, Kim-in dengan terpana dan pandangan berbinar senang, memulai lagi ilmu luar biasa itu, sambil bergerak lincah Kim-in bertanya apa nama ilmu ini suheng !? oleh kongcouw kita, ilmu ini dinamakan dengan im- yang-sian-sin-lie-hoat jawab Kwaa-han-bu.
Sejak itu Kwee-kim-in mulai melatih ilmu yang luarbiasa itu dengan semangat bernyala-nyala, Kwaa- han-bu amat senang melihat betapa sumoinya yang cantik ini memiliki kemauan dan keuletan yang luar biasa, hatinya demikian nyaman melihat semua gerak-gerik Kim-in, ada sesuatu yang hangat dalam hatinya ketika melihat senyuman Kwee-kim-in, rasa terpana tumbuh dalam hati Kwaa-han-bu, melihat semua yang dimilki sumoinya, dan juga Kim-in yang cantik menawan, merasa bahagia dan nyaman disamping suhengnya yang tampan rupawan penuh kharsima yang kuat.
Tiga bulan kemudian, Kwaa-han-bu dan Kwee-kim-in kemalaman disebuah hutan, dan ketika menatap kelembah, nampak atap-atap perumahan dibawah sana, dan keduanya merasa tertarik ketika melihat banyaknya cahaya obor ditengah kampong, kampung itu adalah kampung Kanghu yang sedang menghadapi bencana dari Can-hang-bi.
suheng, kira-kira apa yang terjadi dikampung itu!? tanya Kwee-kim-in, Kwaa-han-bu melihat kebawah mungkin mereka sedang menghadapi masalah, sumoi kalau begitu kita harus bantu suheng. benar sumoi, jadi turunlah kesana dan cepat kembali kesini apa suheng tidak ikut turun!? tidak sumoi, cepatlah turun supaya jangan terlambat! sahut Kwaa-han-bu, Kim-in langsung bergerak dan sudah menghilang dari bukit itu.
Dengan gerakan laksana kilat meluncur kearah lembah, dan dalam waktu hitungan menit Kim-in sudah sampai ketempat pertempuran, dan dengan cekatan Kwee-kim-in melancarkan sebuah pukulan im-yang-giok-hoat untuk menyelamatkan Cia-hujin, dan usaha itu berhasil dan telah menggagalkan serangan Hang-bi, bahkan melemparkan Hang-bi dua meter kebelakang.
Can-hang-bi dan Cu-jeng-ji terkejut melihat gadis remaja yang datang-datang telah menyelamatkan nyawa dan menghantam Hang-bi sehingga terlempar, keluarga Cia juga tidak kalah terkesimanya, apalagi cia-hujin yang disapa ramah sialan ternyata gadis ingusan! bentak Jeng-ji plak, mulut kenapa hanya berisi sumpah serapah! sahut Kim-in sambil menampar mulut Jeng-ji, Jeng-ji yang tidak menduga tamparan itu terkesima sambil meraba mulutnya yang bersimbah berdarah, karena dua giginya tanggal, Jeng-ji mengaduh-aduh sambil membekap mulutnya.
Can-hang-bi bahkan tidak melihat gerakan itu, dan tahu-tahu rekannya mengaduh-aduh siapakah kamu gadis kecil, dan apa hubunganmu dengan she cia itu !? tanya Can-hang-bi dengan hati bergetar cici.. namaku Kwee-kim-in, dan aku tidak punya hubungan dengan bibi ini, namun perihal keadilan tidak bicara hubungan, bukan ? kalian telah membuat kacau, dan itu tidak adil maka harus ditindak dan dihentikan. jawab Kwee-Kim-in kamu ngomong seenak perutmu, kamu masih kecil tahu apa kamu tentang keadilan! bentak Can-hang-bi kekakacauan yang cici lakukan dikampung ini, apakah itu adil atau tidak !? tutup mulutmu, aku bukan cicimu, dan jangan ceramahi aku! bentak Can-hang-bi gemas jika demikian, sebaiknya tinggalkan kampung ini. sahut Kwee-kim-in sial ! siapa kamu sehingga menyuruh aku ini dan itu ! bentak Can-hang-bi makin marah, dan bahkan ia langsung menyerang dengan pedang telanjang, Kim-in melengos kesamping dan mengirim totokan pada pergelangan tangan Hang-bi, Hang-bi terkejut dan berusaha menarik tangannya dengan merubah tusukan menjadi sabetan dari bawah keatas, dan memasukkan serangan susulan dengan tangan kiri, tapi luar biasa totokan Kwee-kim-in berubah jadi cengkraman hendak meremas kepalan tangan Can- hang-bi, Hang-bi segera melompat kebelakang, ketika merasakan hawa dingin dari cakar yang hendak meremas kepalannya.
Can-hang-bi merasa sudah aman namun dia kecele, tubuhnya yang melayang diserang dengan luarbiasa cepat, Hang-bi mengelak dengan kalang kabut, namun serangan itu bertubi-tubi, untungnya Hang-bi adalah murid Pah-sim-sai-jin yang sakti, untuk beberapa gebrakan yang menyudutkannya, sudah dapat ia kuasa kembali, dan menyerang Kim-in dengan ganas dan berbahaya Kim-in bergerak dengan ilmu kim-peng-hok-te-pat dengan indah dan gesit mengelak dan menyerang, gerakan yang banyak dari arah atas menuntut gin- kang yang tinggi, dan gin-kang Kim-in sangat luar biasa gesit dan ringan, sehingga serangan dari arah atas bertubi-tubi mencecar tubuh Hang-bi yang berlindung dengan ilmu pedagnya yang dahsyat.
adik pakailah pedangku ! teriak Cia-sian-li sambil melempar pedangnya, Kim-in menangkap pedang yang dilempar Sian-li, pedang itu diputar dan dimainkan dengan sangat cepat dan indah, pedang itu diputar dengan menggunakan jurus hong-lo-im-yang- kiam pertempuran senjatapun berlangsung seru dan cepat, Can-hang-bi merasa tekanan lawan mudanya semakin kuat, dengan tangan kosong saja gadis kecil ini dapat mendesaknya, apalagi sekarang sudah menyerang dengan pedang, pikirnya Setelah seratus jurus berlangsung, pedang Kim-in menyambar dan menggores perut Can-hang-bi, Hang- bi pucat pias dan berkeringat dingin, karena merasa nyeri pada perutnya, sambaran pedang Kim-in memang tipis, namun tetap membuat goresan panjang di perutnya, Hang-bi segera menyingkir menyelamatkan diri, Jeng-ji yang merasa ditinggal sendiri langsung lari tunggang langgang menyusul Hang-bi.
Tidak lama kemudian sang fajarpun muncul menandakan pagi sudah tiba siaw-lihap, terimakasih atas pertolongan dan mohon supaya siauw-lihap singgah dirumah kami. ujar Cia peng terimakasih paman, namun aku harus kembali karena suhengku ada di bukit sana dan menantiku. kalau begitu ajaklah suheng lihap untuk singgah dirumah kami, mohon kami jangan ditolak laihap! ujar Cia-peng dengan berharap baiklah paman, aku akan ajak suhengku untuk singgah dirumah paman, jadi izinkan aku sebentar kembali kebukit sana untuk memanggil suheng-ku! baiklah lihap dengan harap kami menunggu. sahut Cia-peng, kemudian Kwee-kim-in membalikkan tubuh dan kembali kearah bukit, Cia-peng dengan nada takjub membicarakan kehebatan Kim-in dengan beberapa sesepuh kampung yang ikut kerumahnya, sementara cia-hujin dan putrinya tidak lepas dari pembicaraan tentang siauw-lihap yang mencengangkan itu sambil mempersiapkan masakan besar.
Ketika matahari terbit Kwee-kim-in datang dengan Kwaa-han-bu, keduanya disambut Cia-peng dan empat orang sesepuh dan tiga orang perangkat desa pembantu Cia-peng, ketika melihat lelaki dihadapan mereka dengan ciri khas yang sudah membumi, sitampan dengan sabuk kuning tersampir di bahu, mereka semua terpana terlebih Cia-sian-li, ciri khas yang menjadi buah mimpinya, karena santernya pemuda yang ada dihadapannya ini, dan ketampanan ini membuat hatinya menggelepar hangat dan saying, muka Cia-sian-li langsung terasa panas merona merah dan dia tertunduk.
kalau kami tidak salah menduga, bukankah Im-yang- sin-taihap yang dihadapan kami ini!? ujar Cia-peng, Kwaa-han-bu tersenyum lembut benar sekali cuwi sicu. sahut Kwaa-han-bu cia-siok, apakah para paman kenal suhengku !? siauw-lihap, suhengmu memang tidak pernah jumpa dengan kami, namun julukan suhengmu sudah dikenal orang sejagad. jawab Cia-peng, Kwee-kim-in menatap Kwaa-han-bu suheng, ini Cia-siok jungcu desa ini. ujar Kwee-kim- in selamat bertemu cia-siok sapa Kwaa-han-bu menjura ah marilah kita masuk dan bicara dengan nyaman didalam. sahut Cia-peng mengajak tamunya masuk kedalam rumah.
she-taihap yang budiman, saya atas nama seluruh penduduk desa mengucapkan terimaksih, bahwa sumoi dari taihap telah menyelamatkan desa kami dari tindasan penjahat ah sudah merupakan tugas dan tanggung jawab kami untuk ikut membantu orang yang membutuhkan, lalu kalau boleh kami tahu, siapakah yang telah bertindak zalim pada penduduk desa ini Cia-siok!? she-taihap, baru-baru ini muncul sebuah gerombolan yang berdiam di Jim-kok, dan kemarin mereka datang hendak merampok hasil panen kami, dan anak kami Cia-sian-li dapat mengusirnya, tapi semalam pimpinannya datang dan membunuhi penduduk, kami sudah berusaha, namun kami tidak berdaya taihap. jawab Cia-peng hal yang tidak dapat dibanggakan taihap ! sela Cia- sian-li menunduk dengan nada kecil hati, Kwaa-han- bu menatap Cia-sian-li dan berkata Cia-siocia, setiap usaha untuk melenyapkan kezaliman patut dibanggakan, tidak kira apakah berhasil atau tidak, yang jelas niat itu yang menjadi acuan. tapi taihap, untuk melawan seorang perempuan yang menjadi pimpinan gerombolan itu, kami sekeluarga tidak berdaya ujar Cia-sian-li makin tidak puas dengan dirinya, dan dadanya bergelombang sesak karena kecewa.
Li-ji.., sikapmu ini sangat tidak tepat, benar bahwa kita tidak mampu menghadapi perempuan itu, tapi apakah harus menyalahkan diri sendiri ? maaf taihap akan sikap putriku. sela Cia-peng hahaha..hahaha tidak mengapa Cia-siok, rasa tidak puas pada diri sendiri memacu keinginan untuk berusaha meningkatkan kemampuan, Cia-siocia yang baik, aku tahu kenapa sikap ini muncul, namun ketahuilah, tidak seharusnya sikap ini muncul kepermukaan, cukuplah didalam hati saja sehingga menjadi sekam semangat untuk lebih maju. maafkan sikapku taihap, aku ini disamping lemah kekuatan juga lemah hati. kamu sungguh luar biasa cia-siocia puji Kwaa-han- bu membuat Cia-sian-li makin merona merah menunduk dalam aih kita kok jadi melantur kemana-mana, oh ya taihap setidaknya makanlah dulu disini karena kami sudah berniat menjamu taihap dan siauw-lihap sela Cia-peng mengalihkan pembicaraan baiklah cia-siok dan kami ucapkan terimaksih atas niat baik paman semua. Cia-sian-li dan ibunya kembali kedapur, untuk membantu para ibu-ibu yang sedang memasak, didapur Cia-sian-li lebih banyak termenung daripada bekerja, wajah Im-yang-sin-taihap menghiasi semua pandangannya, senyumnya yang memikat, tatapan matanya yang lembut, nada bicaranya yang ramah, Cia-hujin tidak mengalpakan apa yang terjadi pada anaknya yang sudah dewasa itu Li-ji.., Li-ji! seru Cia-hujin eh.ah..i..iya ibu, ada apa !? sahut Sian-li terbata-bata, Cia-hujin tersenyum sian-li anakku, tidak baik melamun saat kerja, sebaiknya kamu ketaman saja menghirup udara segar. baiklah ibu aku akan kebelakang . sahut Sian-li dengan senyum malu-malu.
Cia-sian-li duduk di sebuah kursi kayu sambil menikamati taman bunga miliknya, dua ekor kupu- kupu sedang bercanda diantara kembang yang tumbuh ditaman itu, pemandangan itu membuat Cia- siaan-li semakin masyhuk dengan lamunannya, dan dia tersadar ketika mendengar langkah halus mendekatinya, Cia-sian-li menoleh kebelakang, ternyata yang muncul adalah Kwee-kim-in wah bagus sekali taman ini Li-cici, apakah cici yang menatanya !? benar siauw-moi, kesinilah duduk disini! sahut Sian-li dengan senyum, Kim-in melangkah dan duduk disamping Sian-li In-moi..! apakah suhengmu yang menjagamu selama ini !? tidak cici, suheng baru setahun lebih bersama saya, kami bertemu ketika suheng datang kekota Pengbun. artinya kamu tidak tinggal di pulau-kura-kura. benar cici, saya dan ibu tinggal di kota Peng-bun. im-yang-sin-taihap she-Kwaa sementara kamu she- Kwee, tentu kamu keturunan dalam she-taihap benar cici, dan suheng adalah cucu buyut dari Kwee- hong-in anak bungsu dari kong-couw kami Kim- khong-taihap In-moi, berapakah sekarang umur im-yang-sin- taihap !? umur suheng dua puluh dua tahun, tapi kenapa cici tanyakan hal itu !? eh..ah.. tidak apa-apa. sahut Sian-li menyembunyikan rasa malunya akibat pertanyaan Kim-in hendak kemanakah tujuan kalian In-moi !? kami ingin menuntaskan tugas dan tanggung jawab keluarga kami menghadapi tirani Pah-sim-sai-jin kalian she-taihap memang keluarga luar biasa, dan ratusan tahun telah memenangkan hati setiap orang. kenapa cici berkata demikian !? saya juga tidak tahu, namun ayah dan ibu jika bercerita she-taihap penuh dengan rasa bangga, seakan dengan mengingat she-taihap tekanan batin akan tirani kejahatan lenyap saat itu juga, mengingat she-taihap laksana obat mujarrab yang amat melegakan, sehingga kadang saya berpikir apakah she-taihap itu titisan dewa. hik..hik kami bukanlah titisan dewa cici, kami juga adalah manusia biasa dan dari turunan manusia biasa. benar In-moi, manusia biasa yang luar biasa, dan kenyataan itu semakin jelas ketika terdengar selatan lepas dari kungkungan Lam-kek-hek-te, kemudian disusul timur lepas dari Tung-kek-hek-te, dan hati ini takluk ketika melihat kamu yang masih remaja dapat mengusir perempuan yang kami sekeluarga tidak mampu mengalahkannya. cici.. aku bisa membujuk suheng mengajari cici! hmh In-moi tidak ada keinginanku selain bisa menjadi bagian dari keluarga she-taihap. aku tidak mengerti cici, apakah maksud cici!? ah maaf In-moi aku telah banyak bicara. sahut Cia-sian-li dengan muka merona merah Li-ji ..! tiba-tiba Cia-hujin mendatangi mereka iya bu..! sahut Cia-sian-li menatap ibunya ah ternyata In-ji juga disini, marilah kita keruang makan, jamuan sudah dihidangkan! baik ibu, marilah In-moi! sahut Sian-li sambil mengajak Kwee-kim-in, lalu merakapun beranjak dari taman bunga dan menuju ruang makan.
Jamuan itu terasa menyenangkan, gelak tawa para sesepuh desa dan keluarga jung-cu terdengar lepas dan renyah, setelah jamuan selesai, Im-yang-sin- taihap hendak pamit untuk melanjutkan perjalanan cia-siok, terimakasih atas jamuan yang menyenangkan ini, dan sekarang kami hendak melanjutkan perjalanan! she-taihap yang budiman, satu kehormatan tiada terhingga kami sekeluarga khususnya dan desa Kanghu ini umumnya, dapat menjamu she-taihap, dan kami menyusun doa pada Thian semoga tugas-tugas she-taihap berhasil baik. terimakasih cia-siok. sahut im-yang-sin taihap, dan kemudian mereka berangkat meninggalkan desa Kang-hu, dan ketika berada di luar desa, Cia-sian-li berdiri sedang menunggu mereka cia-cici, ternyata cici ada disini, pantas tidak ada ketika kami mohon pamit ujar Kwee-kim-in, Cia-sian- li memaksa tersenyum benar in-moi, saya memang sengaja dan menunggu kalian disini sahut Cia-sian-li, Kwaa-han-bu melihat wajah cantik itu demikian sendu dan sepertinya habis menangis ada apakah cia-siocia!? tanya Kwaa-han-bu Bu-ko.. perubahan panggilan yang bernada mesra itu membuat Kwaa-han-bu terheyak terlebih mata yang sembab itu demikian jelas menunjukkan perasaan yang bergolak, Kim-in yang melihat keadaan sian-li berkata cici, mungkin cici hendak bicara dengan suheng, jadi suheng aku duluan kekota Bao baiklah sumoi, tunggu saya di kota Bao ! sahut Kwaa-han-bu, Kim-in berkelabat dengan cepat dan tinggallah Kwaa-han-bu dengan Cia-sian-li bu-ko, maafkan kelancanganku yang tidak mampu menahan diri, bahkan sudah menghalangi perjalanan koko. tidak mengapa Cia-moi, ada apakah !? Bu-ko, aku tidak akan malu mengakui apa yang kurasakan ini. ujar Sian-li menetap lembut wajah tampan didepannya Cia-moi, katakanlah apa yang ingin disampaikan. Bu-ko.., selama aku menginjak dewasa, keberadaan koko telah menyita perhatian dan tidurku, dan hati ini semakin bergolak dan melahirkan badai yang membuat aku tidak kuasa menahan luapan perasaan ini sahut Sian-li dengan nada sendu penuh getaran cinta, Kwaa-han-bu meraih jemari Cia-sian-li dan kontan tubuhnya bergetar laksana diserang demam, jemari itu terasa dingin, kakinya tidak kuasa menompang tubuhnya, sehingga Sian-li sempoyongan, tapi Kwaa-han-bu memeluk pundaknya dan membuat Cia-sian-li makin lemas,dan kepalanya direbahkan dipundak Kwaa-han-bu.
aku melihat gejolak perasaan yang indah berbinar itu Cia-moi, perasaan cinta yang ingin kamu utarakan saat ini sudah sampai pada hatiku lewat pandangan matamu. koko..hu..hu.. aku..akuhu..hu.. aku..cinta sekali padamu sejak julukanmu menghias mimpi-mimpiku, dan hari ini kamu muncul membuat aku hampir mau mati rasanya, karena kuatnya getaran ini mengaduk- aduk hati dan jantungku bisik Cia-sian-li sesugukan didada Kwaa-han-bu, pernyataan cinta yang unik dan luar biasa, letusan cinta yang tersimpan laksana lahar muncrat dari kepundan hatinya membuat Cia-sian-li terbakar tidak berdaya.
Dada Kwaa-han-bu basah oleh air mata Cia-sian-li koko, apakah pantas aku hidup disampingmu, apakah cinta ini ada lahan dibagian hatimu koko!? Li-moi., pantas tidak pantas tergantung bagaimana engkau menempatkan cinta yang kamu semai ini terhadap diriku. koko, apakah kamu juga cinta padaku !? tanya Cia- sian-li lembut, Kwaa-han-bu tersenyum lembut Li-moi, aku mencintai semua manusia, karena cinta adalah fitrah manusia. jawab Kwaa-han-bu, Cia-sian- li terdiam meresapi perkataan itu lalu dia berkata aku bersyukur jika aku termasuk bagian dari kecintaan itu, namun sebagai wanita aku ingin jadi bagian dari dirimu, dan sangat ingin melahirkan keturunanmu koko, dan aku ingin hidup hanya disampingmu dan mengurai kenangan hidup bersamamu! ujar Cia-sian-li dengan hati bergetar, Kwaa-han-bu mengangkat kepala Cia-sian-li dan menatap kedalam mata itu dan kemudian berkata Li-moi, aku juga menginginkan apa yang kamu inginkan, dan cukupkah itu untuk jadi kekuatan bagimu menungguku sampai tugas keluargaku cukup tuntas, dan aku akan kembali menemui Cia-siok untuk memintamu dari beliau cukup..sangat cukup koko, aku akan tegar dan bahkan rasanya jika matipun aku sudah puas dengan perkataan itu blepcup Kwaa-han-bu tiba-tiba mengecup dan melumat bibir Cia-sian-li, Sian-li merasa tubuhnya tersengat hantaman halilintar, tangannya memeluk leher Kwaa-han-bu dan menikamati lumatan bibir Kwaa-han-bu, Cia-sian-li membalas sepenuh hati, air matanya berderai tiada henti mengenyam kenikmatan yang tiada tara.
Li-moi sayang .. jodoh ditangan Thian, jika hubungan ini direstuiNya, maka aku akan datang lagi saying. koko, apapun keadaanmu, jika datang saat itu, maka kamu tahu bahwa aku cinta poadamu .. aku cinta padamu koko.. sahut Cia-sian-li mengecup bibir Kwaa-han-bu, dan kembali kedua insan itu berpilin dalam kemesraan yang dalam, kemudian Cia-sian-li melapas lumatan itu dengan nafas yang memburu berangkatlah sayang, aku akan menunggu. Bisik Cia-sian-li mesra, dan mata itu tidak lagi sendu tapi berbinar terang dan bahagia, Kwaa-han-bu tersenyum lembut aku berangkat sayang! sahut Kwaa-han-bu, lalu merekapun berpisah, Cia-sian-li memasuki desa dengan hati ringan, wajahnya penuh ceria dan senyumnya selalu menghias bibirnya yang basah dan indah.
Kwaa-han-bu sampai dikota Bao saat malam, ketika memasuki gerbang kota, Kim-in menyambutnya dengan senyuman manis suheng, sudahkah cici merasa nyaman ketika suheng tinggalkan? tanya Kim-in, Kwaa-han-bu tersenyum memandang Kim-in sepertinya sudah sumoi, kenapa kamu tanyakan hal yang tidak engkau mengerti !? hik..hik suheng, mungkin samar bagiku, tapi aku dapat melihat betapa cici sangat membutuhkanmu, sebagaimana aku juga butuh kepada suheng. oh..ya, bicara apa saja Li-moi kepadamu sumoi!? Li-cici hanya punya satu keinginan, bahwa dia menjadi bagian dari keluarga kita, dan aku juga ingin dia satu saat akan menjadi bagian dari kita wah jadi sumoi sudah tahu apa yang ingin disampaikan Li-moi. intinya aku tahu, namun kembangnya ini yang samar bagiku suheng ! hahha..haha, sumoiku yang cantik samar apa disamar-samarkan !? hik..hik.. ah sudahlah suheng, lalu selanjutnya kemanakah kita suheng !? kita cari penginapan dulu, dan besok kita lanjutkan perjalanan sahut Kwaa-han-bu, lalu keduanya pun memasuki likoan dan menyewa dua kamar untuk istirahat dan melewatkan malam.
Keesokan harinya, saat keduanya sedang berjalan- jalan di tengah kota she taihap. ! suara menyeru datang dari arah samping kanan, Im-yang-sin-taihap menoleh, dan seorang lelaki tua berumur enam puluh tahun melangkah mendekat ada apakah lopek !? tanya Kwaa-han-bu sambil menjura, lelaki tua itu tersenyum ramah saya Li-seng penjual rempah-rempah, dan saya sangat gembira dan bersykur bahwa she-taihap sudah sampai di kota ini. selamat bertemu Li-lopek atas sapaan yang ramah ini, dan adakah yang ingin lopek sampaikan !? marilah duduk diwarung saya taihap! ooh , kalau begitu marilah lopek! sahut Kwaa-han-bu dan kemudian mereka memasuki warung Li-seng taihap yang baik, bantulah kami penduduk kota ini ! apa yang dapat saya bantu kopek!? hek-te semakin merajalela setelah munculnya Biciong-bi-moli yang bersarang di Jim-kok, dan juga anak buah Biciong-bi-moli sangat telengas mengambil paksa harta-harta para penduduk baiklah lopek, dimanakah pimpinan hek-te dikota ini, paman !? pimpinan hek-te di kota ini adalah Cu-jeng-ji pemilik rumah bordil siang-hoa (bunga harum) hmh baiklah lopek, kami akan segera ketempat Cu- jeng-ji. sahut Kwaa-han-bu, kemudian pergilah Kwaa- han-bu dan Kwee-kim-in ketempat bordil, tukang pukul yang ada didepan bordil segera menyingkir ketika melihat Kwaa-han-bu mendekat kearah mereka, ciri khas pendekar luar biasa ini membuat mereka jerih untuk bertemu, para perempuan yang menatap jalanan dari tingkat atas menjerit-jerit manja dan penuh ajakan memanggil-manggil Kwaa- han-bu.
Kwaa-han-bu memasuki rumah bordil, dan seoarang pejaga dalam melihat mereka, dan kontan mukanya pucat setelah melihat gambaran tamu yang masuk ini, apes dah kalau begini, im-yang-sin-taihap sudah datang pikirnya, lalu ia menyelinap keluar dari belakang dan segera menyingkir, gundik dengan langkah gemulai mendekati silahkan kongcu, apakah kongcu ada yang berminat menikmati bunga peliharaanku, atau apakah wanita kecil ini mau kongcu jual !? ujar si gundik, Kwaa-han- bu menatap tajam gundik itu, sehingga membuat gundik itu merasa kecut dan pucat duduklah, aku mau bicara ! bentak Kwaa-han-bu, gundik itu duduk dengan wajah ketakutan dimana Cu-jeng-ji!? tanya Kwaa-han-bu su..sudah seminggu loya tidak ada disini. kemana dia, cepat katakan ! tanya Kwaa-han-bu dengan bentakan kuat loloya sedang berada di jim-kok. jawab si gundik dengan jantung hamper copot, karena terkejutnya, tiba-tiba Kwaa-han-bu dan Kwee-kim-in menghilang, dan tidak lama kemudian sudah berada di dekat pintu gerbang utara.
suheng, apa yang dilakukan perempuan-perempuan cantik itu didalam!? mereka itu orang-orang yang patut dikasihani, karena terpaksa berbuat hal yang memalukan sumoi. apa hal yang memalukan itu suheng!? mereka itu terpaksa menjadi penghibur dan pelayan nafsu laki-laki. apakah Cu-jeng-ji yang memaksa mereka suheng !? benar sumoi. hmh. cu-jeng-ji harus dikasih pelajaran keras, untuk tidak memamfaatkan wanita sedemikian hina gumam kim-in lirih, setelah siang hari Kwee-kim-in sampai di bukoan hong-houw-kok sementara Kwaa- han-bu mengintai, hal ini adalah latihan kedua bagi Kwee-kim-in untuk menangani sendiri keadaan setelah yang pertama di desa Kanghu.
Anak buah yang disiagakan terheran ketika melihat yang muncul adalah gadis remaja yang cantik menawan, dan membuat mereka memandang remeh nona kecil mari ikut dengan saya, dan kamu akan paman kasih sesuatu yang membuat kamu kegelian yang belum pernah kamu rasakan tentu maksudmu itu sesuatu yang kurangajar padaku, bukan? maka untuk itu kamu saya kasih pelajaran, plak..plakbukhegh.. dua tamparan Kim- in meremukkan kedua rahang orang ceririwis tadi, dan tubuhnya ambruk pingsan karena perutnya kena ujung sepatu Kwee-kim-in.
Hal yang tidak terduga itu membuat yang lain terkejut, dan serta merta langsung menyerang, Kwee- kim-in dengan tangan kosong menghadapi seratus orang dengan sin-tiauw-poh-chap-sha gerak dan pukulannya yang mengeluarkan hawa im-yang membuat pengeroyok porak poranda, dan sebagian mereka berusaha menjauh karena hawa yang berkesiur disekitar Kwee-kim-in sangat menyengat kulit, namun gerakan Kwee-kim-in luar biasa gesit dan gencar, sehingga beberapa dari meraka dalam waktu yang tidak lama sudah ambruk dengan tubuh menggigil atau kepanasan, dan dalam waktu satu jam, para pengeroyok tinggal lima orang, sementara yang lain sudah rebah dengan nafas memburu seperti ikan yang kekeringan air Can-hang-bi dan Jeng-ji segera menerjang, Kwee-kim- in yang siaga penuh mengelak luwes dan indah, kemudian membalas dengan sebuah tukikan tajam dengan kedua cakar yang mengarah kepala dua orang itu, Can-hang-bi berhasil mengelak, namun Jeng-ji menjerit setinggi langit ketika rambut dikepalanya tercabut paksa, kepalanya terasa panas nyerinya yang bersangatan, naasnya kepala itu dimasuki hawa yang sehingga darah yang menggumpal di bekas rambut yang tercabut laksana menggelegak mencair mengalir deras kewajahnya, nyeri dan panas membuat Jeng-ji mengeluh berkepanjangan karena kesakitan.
Can-hang-bi yang sudah jerih dengan gadis remaja ini, segera menyingkir dan melarikan diri dengan cepat, namun ditengah jalan menuju jalan setapak dia bertemu dengan Kwaa-han-bu yang sedang memanggang tujuh ekor unggas.
hendak kemanakah nona ? sepertinya anda buru- buru. tegur Kwaa-han-bu, melihat pemuda tampan rupawan bersabuk kuning hatinya tergetar disergap rasa takut apakah kamu im-yang-sin-taihap !? benar nona, dan tentunya nona adalah Biciong-bi- moli, bukan !? sahut Kwaa-han-bu, Can-hang-bi langsung menerjang Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu berkelit dan mengelak, Hang-bi menyerang bertubi- tubi, namun sampai lima puluh jurus tidak pernah menyentuh tubuh Im-yang-sin-taihap.
kemudian Im-yang-sin-taihap membalas dengan menyentil daun telinga Hang-bi, semakin kalang kabut Hang-bi menyerang dan ingin membalas karena gemas dan jengkel, namun sampai sejauh itu Can- hang-bi hanya merasakan kedua daun telinganya semakin nyeri dan panas, hatinya terhina karena dipermainkan sedemikian rupa, air matanya berderai karena menahan geram dalam hati, dan sakit perih dari kedua daun telinga yang rasanya sudah bengkak.
Im-yang-sin-taihap kenapa kamu hina aku seperti ini, huhuhu tanya Can-hang-bi tidak kuasa menahan tangis, karena hebatnya penghinaan yang ia rasakan bercampur nyeri yang tidak terhingga dari daun telinganya yang merah dan bengkak, Hang-bi terduduk dengan tangis sedih Biciong-bi-moli, kamu semakin cantik kalau menangis, kenapa yah ! sahut Kwaa-han-bu, Can- hang-bi terpana mendengar perkataan itu, dan serta merta mengangkat muka menatap wajah Kwaa-han- bu kamu tidak hanya mempermainkan aku dan menyakiti, tapi juga memperolok-olokku, huhu..hu… ujar Can-hang-bi semakin kuat tangisnya sudah kalau begitu, aku mau makan karena daging unggas panggang ini lumayan harum dan menerbitkan selera, dan kalau kamu mau jangan malu memintanya! sahut Kwaa-han-bu mengambil seekor daging panggang unggas, dan memakan dengan lahap dan nikmat.
Can-hang-bi menatap Kwaa-han-bu yang sedang menikmati makananya bolehkan aku pergi!? tanya Can-hang-bi dengan nada iba tidak ada yang melarangmu untuk pergi! benarkah, engkau tidak akan mencegahku !? kenapa aku harus mencegahmu Biciong..!? sahut Kwaa-han-bu.
aku ini adalah penjahat, dan tidak biasanya she- taihap membiarkan orang seperti saya hidup, apakah aku dimaafkan, kalau iya, kenapa engkau bersikap demikian padaku, apakah maksudmu !? tanya Can- hang-bi menatap dalam pada mata Kwaa-han-bu ingin menjenguk sesuatu yang ia sangat inginkan.
apa yang kamu tanyakan ini Biciong, tidak ada yang istimewa dalam dirimu, kamu hanya lewat, aku sapa dan kemudian kamu menyerang aku, lalu aku kasih pelajaran sedikit padamu, kamu merasa terhina dan menagis seperti anak kecil kehilangan mainan, aku lanjutkan pekerjaanku memakan daging panggangku dan mencoba menawarkan padamu, kamu bertanya apakah engkau boleh pergi, aku katakan tidak ada yang melarangmu. sahut Kwaa-han-bu tegas dan tajam.
Can-hang-bi merasa mukanya panas karena merasa malu, memang benar apa yang dikatakan im-yang- sin-taihap, lalu kenapa dia merasa kecewa bahwa dia tidak istimewa dimata sitampan ini, kenapa dia masih merasa layak untuk mendapatkan balasan cinta dari pemuda ini, tidak, sudah tepat memang bahwa dirinya tak layak, dia adalah burung gagak sementara Im-yang-sin-taihap adalah burung hong. sudahlah, untuk apa memikirkan pendekar ini, banyak lelaki yang takluk dalam pelukanku yang tidak kalah tampannya dari pendekar ini, pikir Can-hang-bi.
Kemudian Can-hang-bi berdiri dan melangkah menjauhi Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu benar-benar tidak menghalanginya, Can-hang-bi merasa gembira dan bergerak cepat menjauhi Kwaa-han-bu, sesampai dijalan besar menuju kota Bao, Can-hang-bi merasa hampa, wajah Kwaa-han-bu terbayang dibenaknya, Can-hang-bi terduduk dengan hati gelisah, jiwanya lemas dan marah pada diri sendiri, kenapa meninggalkan Kwaa-han-bu, sebagian hati Can-hang- bu sangat heran akan keadaannya, dia berusaha menepis bayangan Kwaa-han-bu, namun sampai beberapa kali keningnnya ia pukul-pukul tetap saja wajah Kwaa-han-bu menari dipelupuk matanya, dan membuat hatinya makin marah pada dirinya sendiri, puaskah hidupku menaklukkan lelaki tampan, nyamankah hidupku hanya sekedar menuntaskan birahi semata, kalau hanya itu kenapa aku kecewa tidak mendapatkan simpatinya, tidak..hidupku hanya akan nyaman jika aku dapat tempat dihatinya, ayomannya merupakan tatanan hidup bahagiaku, jika tidak lebih baiklah aku mati saja, pikir Can-hang-bi Can-hang-bi tiba-tiba memutar haluan dan kembali ketempat Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu sudah selesai makan dan sedang minum air ketika Can-hang-bi sampai ketempat itu eh, kamu Bi-ciong, ada apa, kenapa kamu kembali kesini ? tanya Kwaa-han-bu aku kan setan tanpa perasaan, yang banyak membuat makar pada kehidupan ini, dan bukankah tugasmu untuk melenyapkan orang sepertiku !? apakah itu artinya kamu minta saya lenyapkan !? ya lebih baiklah bagiku mati ditanganmu daripada aku hidup dengan kegelisahan yang menyesakkan ini apa yang kamu gelisahkan Bi-ciong, bukankah hidup ini sangat indah dari sisi kamu memandang !? entahlah, kemarin mungkin iya, namun hari ini rasanya hampa dan hambar, lenyapkanlah aku dengan tanganmu Im-yang-sin-taihap, aku ingin tanganmu itu yang menghabisi nyawaku, puas rasanya Im-yang-sin-taihap, puas rasanya setan ini meregang nyawa dihadapanmu Im-yang-sin-taihap. keluh Can-hang-bi dengan nada sesal, membuat heran Kwaa-han-bu.
Apa yang berlaku pada Can-hang-bi bisa saja terjadi, ketika panah asmara telak menancap dalam hati, dapat mengakibatkan hal aneh dan luar biasa, muncratnya darah cinta dari hati Can-hang-bi yang tertancap panah asmara, ketika muncul kehampaan dibenak Can-hang-bi yang meninggalkan Kwaa-han- bu, Can-hang-bi merasa ada yang tertinggal, ada yang kurang, ada yang tidak tepat, karena meninggalkan Kwaa-han-bu, kehangatan cinta muncul, namun berubah menjadi kemarahan pada diri sendiri, saat menyadari bahwa diri tidak layak dengan yang dicintai, timbullah keinginan supaya kejahatan diri dihukum sang pujaan hati, ingin mati dihadapan kekasih, meregang nyawa dibawah kakinya, sehingga nyawa dapat melayang sambil memeluk kaki orang yang dicintai.
kamu bukan setan, kamu hanya seorang manusia seperti aku, dan kamu bukan tanpa perasaan, terbukti kamu menangis karena merasa terhina, dan bahkan setelah engkau datang kembali kesini, betapa jelas kamu telah diamuk badai perasaanmu sendiri ujar Kwaa-han-bu oleh karena itu she-taihap, aku tidak tahan dengan badai rasa yang telah meluluh lantakkan relung batinku, dan tolong berikan aku kepuasan yang tidak lumrah dan tidak kumengerti ini, bunuhlah aku dengan tanganmu taihap, duhai taihap yang budiman pelipur hati yang gersang, tugasmu melenyapkan kejahatan merupakan kepuasan batin bagiku, jadi lakukanlah duhai she-taihap. ujar Can-hang-bi dengan linangan air mata yang mengucur deras.
aku tidak akan membunuhmu, pergilah Biciong ! sebelum sumoiku datang dan menghajarmu lagi! apakah gadis remaja itu sumoimu!? benar, apa kamu ingin berjumpa lagi dengan dia !? Kwaa-han-bu tersenyum mencoba melarutkan perasaan Can-hang-bu, namun bagi Can-hang-bi ungkapan Kwaa-han-bu diterima lain, Can-hang-bi merasa terpukul, betapa remehnya dia dimata pendekar ini, air matanya semakin deras mengalir dan sesugukan makin keras, hatinya hancur, kecewa dan terhina, dan ironisnya semua pergolakan hati itu dibungkus rasa sesal yang menyesakkan dan bahkan hatinya patah memerihkan.
lah..kok semakin keras tangisnya, dimana sikap Biciong mu nona, apakah selama ini kamu telah mengingkari nuranimu sendiri dengan mengeraskan hati ? aku tidak mengeraskan hati dan memang beginilah aku. tapi bukankah kamu mengeraskan hati melihat kejahatanmu dan kejahatan anak buahmu yang merampok, memperkosa dan menindas orang-orang lemah!? ujar Kwaa-han-bu, Can-hang-bi terdiam tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Kwaa-han- bu, dan memang dia tidak akan membantah, karena menurut hatinya yang sudah takluk, apapun yang dikatakan si tampan ini pasti benar.
Hati Can-hang-bi makin malu diingatkan akan hal kejahatannya, entah darimana datangnya rasa malu ini, sebagaimana tadi ia didera rasa kecewa, karena ternyata dia tidak istimewa dimata pendekar ini, dirinya berlumur nista dan dosa, sudah patut dia dilenyapkan, namun pendekar pujaan ini tidak mau menurunkan tangan, hatinya sedih, sedu sedannya makin keras, tangisnya makin pilu.
tai-hap, jika kamu tidak mau membunuhku, lalu aku harus bagaimana, apa yang harus kulakukan !? can- hang-bi merasa heran dengan perkataan yang spontan keluar dari mulutnya, dia terperangah dengan dirinya dapat menanyakan hal yang baru saja disampaikannya itu, darimana muncul perasaan bahwa im-yang-sin-taihap tempat berbagi masalahnya, Kwaa-han-bu menatap Can-hang-bi lembut membuat darah hang-bi tersirap, bahkan membuat sekujur tubuhnya terasa hangat.
Biciong! Kwaa-han-bu tiba-tiba membentak, dan kalimat bentakan ini terdengar sangat perih ditelinga Can-hang-bi, membuat sesak dadanya yang mendorong air matanya makin deras mengalir, dengan deraian air mata menatap Kwaa-han-bu engkau meminta apa yang harus kamu lakukan, namun apakah hati yang tega mengingkari hati nuraninya sendiri akan dapat menerimanya dan meresapinya sehingga melahirkan perbuatan- perbuatan baik !? huhu hu taihapoh taihap aku memang bodoh, dan aku ingin kau mengatakan sesuatu yang bisa kujadikan pegangan. wah apakah kamu serius biciong !? she-taihap tidak ada kata yang lebih patut digugui kecuali kata-kata orang yang dipercayai. sahut Can- hang-bi wah bagaimana bisa engkau mempercayai musuhmu biciong!? tanya Kwaa-han-bu, masih dengan sebutannya dan masih dengan nada tidak percaya.
taihap, aku orang yang tidak dapat memilih oleh karena keadaan, dan ironisnya aku terjebak, sementara jauh dalam lubuk hatiku aku tidak mau bermusuhan dengan siapapun. kita baru saja bertemu, lalu bagaimana kamu bisa mempercayaiku !? taihap, tidakkah cukup mempercayai seseorang dengan memandang keturunan orang itu !? tidak cukup biciong, sangat tidak cukup. lalu apakah tidak cukup mempercayai seseorang dengan hati nurani, salahkah kali ini aku mengikuti hati nuraniku, salahkah aku mempercayai orang yang kucintai, she-taihap aku cinta padamu, aku cinta padamu, hu..hu kenapa engkau permainkan aku sayang, dari awal kamu tentu sudah tahu betapa aku telah menyesali keadanku, kamu pasti tahu bahwa kembalinya aku kesini, aku bukan lagi bi-ciong, aku adalah Can-hang-bi ujar Can-hang-bi, Kwaa-han-bu tersenyum lembut tidak salah siocia mengikuti hati nurani, dan cinta mestilah ditopang rasa percaya terimakasih taihap, bahwa aku dapat menerima wejanganmu! aku belum memberi wejangan siocia ! uraian kata memang belum taihap, namun uraian makna, taihap telah mengajariku. oh ya, bolehkan siocia jelaskan yang disebut dengan wejangan dengan uraian makna !? taihap yang bijak nan rupawan, cara taihap memperlakukanku dari awal kita bertemu, disini satu hal yang saya dapatkan adalah, ikutilah hati nurani, bahkan untuk memahamkannya padaku, taihap telah berlaku tidak punya perasaan, dengan tidak mau tahu dengan perasaanku, sehingga tahulah aku betapa sungguh menyakitkan jika perasaan diabaikan, dan setelah aku mengikutinya, taihap merubah panggilanku dari Biciong menjadi nona, hatiku lega taihap, namun aku masih haus dan tolong taihap puaskan aku, dan jangan biarkan aku tersesat terus taihap, aku tidak ingin sesat selamanya, aku ingin dapat mengimbangi dirimu taihap, karena nuraniku berkata aku cinta padamu. waah..luar biasa, jika demikian siocia dengarlah perkataanku wanita itu laksana aliran sungai, jika ia tetap dalam batasannya, maka baiklah keadaannya, namun jika aliran sungai keluar dari batasannya, maka rusaklah keadaannya ujar Kwaa-han-bu, Can-hang-bi terdiam meresapi kata-kata itu, dia adalah contoh aliran sungai yang keluar dari batasannya, dan air sungai jika keluar dari batasan tentu banjirlah maksudnya, dan akan merusak apa yang ada disekitarnya, dan setelah merusak maka dia akan tinggal jadi payau yang tergenang, busuk sendiri dan akan menimbulkan jijik, karena menyakitkan pandangan, dan bahkan menjadi sarang penyakit.
taihap yang kusayang, kata-kata ini akan kuingat, dan aku akan berusaha menjadi air sungai yang jernih yang mengalir, dan satu saat aku berharap bahwa aku adalah aliran sungai bagimu, untuk tempatmu mandi dan berendam, yang dapat membuatmu sejuk dan nyaman. ujar Can-hang-bi, Kwaa-han-bu menatap lembut dan mesra wajah tirus nan cantik Can-hang-bi kwaa-han-bu satu saat, jika Thian kehendaki akan mandi di aliran sungai itu. taihap kekasihku, aliran itu akan berada di jim-kok sampai kehendak Thian memindahkannya kesebuah pulau. sahut Can-hang-bi, Keduanya diam dan hening suheng , aku sudah datang ! sela suara membuyarkan keheningan sumoi kesinilah, dan makan daging panggang unggas yang baru kupanggang! sahut Kwaa-han-bu, Kwee- kim-in yang sudah membuat puluhan orang tidak berdaya, sebagian besar tewas, dan hanya dua puluh orang yang hidup dengan luka dalam yang tidak ringan, lalu Kwee-kim-in kembali ketempat dimana ia meninggalkan suhengnya, dan ketika melihat suhengnya sedang bercakap-cakap dengaan seorang perempuan maka dari kejauhan ia menyapa suhengnya.
Kwee-kim-in datang mendekat dan melihat wajah perempuan yang jadi teman bercakap suhengnya, dan ternyata Can-hang-bi yang melarikan diri darinya, Kwee-kim-in mengambil empat daging panggang unggas cici apakah cici sudah makan !? tanya Kwee-kim- in, Can-hang-bi merasa terpana, betapa kata-kata itu seakan mereka tidak pernah bertempur, walhal baru satu jam yang lalu bahkan beberapa malam yang lalu mereka bertempur mati-matian aku belum makan she-taihap. jawan Can-hang-bi kalau begitu ambillah dua potong dan makanlah bersamaku cici ! ujar Kwee-kim-in tidak .. terimakasih cici.. jika tawaran suhengku cici tolak, lalu kenapa pula tawaranku cici tolak ? apakah kami ini tidak pantas cici !? ujar Kwee-kim-in, gugup Can-hang-bi mendengar perkataan gadis remaja yang luar biasa itu bu..bukan begitu maksudku she-taihap. nah..jika demikian, terimalah dua panggang unggas ini dan kawanilah adikmu ini makan sela Kwee-kim- in, terenyuh hati Can-hang-bi mendengar keakaraban yang luar biasa itu, matanya berkaca-kaca karena naiknya sedu sedan dihatinya, Can-hang-bi menatap Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu tersenyum mengangguk Can-hang-bi menerima daging panggang itu dan makan bersama Kwee-kim-in she-taihap, aku can-hang-bi mengucapkan terimakasih atas keramahan dan keakraban ini. demikian juga saya cici yang baik, bahwa cici memperkenankan keramahan kami sehingga membuat hati kami lega hu..hu..hu thian yang agung, alangkah mulia dan bijaksana Engkau yang telah menciptakan manusia unggulan seperti ini, Thian ikutkan aku dalam bagian ini ..hu..huhu Can-hang-bi tidak kuasa menahan tangis dan menjerit pada Thian akan luapan hatinya yang terkapar lemah karena merasa hina dihadapan dua orang luar biasa ini.
taihap yang baik, pertemuan ini hal terindah dan terbaik yang pernah kurasakan, dan aku akan hidup dengan kenangan ini. baiklah Bi-moi, kita berpisah dulu, dan semoga engkau baik dan sehat-sehat saja. terimakasih she-taihap, dan kalian juga hati-hatilah sahut Can-hang-bi, kemudian Kwaa-han-bu dan Kwee-kim-in meninggalkan tempat itu, untuk melanjutkan perjalanan menuju Yuguan tempat Pah- sim-sai-jin.
Ui-hai-liong-siang beristirahat di tengah hutan, dua bulan yang lalu mereka hendak memasuki kota Yuguan, namun karena kondisi tubuh Liu-kim yang hamil empat bulan, maka Yo-hun memutuskan untuk menunda urusan Pah-sim-sai-jin, sampai keadaan istrinya pulih, lalu merekapun melewati kota Yuguan terus menuju kearah timur, dan dua bulan sampailah mereka dihutan sebelah utara kota Bao Yo-hun sedang memasak nasi dan memanggang seekor kelinci, disampingnya Lui-kim istrinya sedang beristirahat sambil merebahkan tubuhnya, perutnya kelihatan sudah besar, lui-kim yang cantik sudah hamil enam bulan, wajahnya kelihatan berseri semakin cantik Hun-ko, jika kita mendapatkan sebuah kampung, bukankah sebaiknya kita menetap disana sampai anak kita lahir. benar Kim-moi, aku juga sudah berniat demikian. sahut Yo-hun dengan senyum lembut menatap istrinya bagimana Kim-moi , apakah anakku masih sering menendang-nendang !? tanya Yo-hun maesra hmh iya Hun-ko. sahut Lui-kim manja dan tersenyum bahagia, Yo-hun mendekati istrinya, dan mendekatkan kepalanya diatas perut Lui-kim anakku ! jangan nakal sama ibu! ih , koko ! aduh..hik..hik jerit Lui-kim karena tiba- tiba bayinya bergerak membuat perutnya kejang, namun dia tertawa merasakan bahagia akan gerakan makhluk baru pada perutnya anakmu semakin nakal koko! bisiknya mesra pada suaminya.
hahahaha kemesraan ini akan berakhir sampai disini, dan Ui-hai-liong-siang akan tinggal nama setelah suara tiba-tiba muncul tiga penghuni pulau neraka, dengan sigap Yo-hun berdiri dan membatu Lui-kim berdiri tiga penghuni pulau neraka, jangan dikira kami akan undur menghadapi kalian! sahut Yo-hun dengan tenang mencabut pedangnya, demikian pula Lui-kim tampak tenang dan tidak gentar mari Ciong-ko, kita habisi nyawa keduanya! teriak Toan-lin, dan menyerang hebat pada Lui-kim yang ia tahu dalam keadaan lemah, Lui-kim dengan gagah menngerakkan pedangnya menyambut serangan Toan-lin, dan Yo-hun juga sudah menyambut serangan Pouw-eng dan Ouw-ciong, gerakan pedang thian-te-it- kiam dari Yo-hun bergerak cepat laksana kilatan halilaintar sambar menyambar menekan pedang Ouw-ciong dan Pouw-eng suara beradunya pedang membuat percikan api yang menyilaukan dan menimbulkan suara dentangan yang menyakitkan telinga, Ouw-ciong dan Pouw-eng mengerahkan seluruh kekuatan, sehingga serangan mereka amat berbahaya, dan selalu mengintai kesempatan untuk menusuk dan menyambar tubuh Yo-hun, namun pendekar yang matang gembelengan itu bukan orang lemah, ilmu pek-lek-jiunya berkesiuran laksana halilintar menyambar dan menahan daya serangan dua lawannya, sementara Toan-lin yang satu lawan satu dengan Lui-kim berlangsung imbang dan hal ini karena Lui-kim kegesitannya tidak maksimal, dan juga tenaganya tidak di kerahkan sepenuhnya, hanya karena keluwesan ilmu pedang dan sambaran pek-lek-jiu membuat dia seimbang dengan toan-lin yang menyerang sepenuh kekuatan.
hal ini memang merugikan pihak Ui-hai-liong-siang, karena kondisi Lui-kim yang memang harus menjaga tubuhnya, Yo-hun selalu tidak lepas melirik keadaan istrinya dan selalu waspada, jangan sampai dua lawannya ini mengambil peluang menyerang istrinya, maka dia dengan ketegaran hati yang kokoh, mengurung kedua lawannya dengan kedua ilmunya yang sakti, pertempuran yang seimbang itu berlangsung cukup lama dan ternyata Toan-lin juga bukan tidak memamfaatkan situasi, daya tahan Lui- kim lebih lemah darinya, dan peluang inilah yang ditunggu-tunggu Toan-lin menunggu Lui-kim kehabisan tenaga dan kelelahan.
Saat sore sudah tiba, dan pertempuran sudah hampir setengah hari, maka saat yang ditunggu-tunggu pun datang, Lui-kim gerakannya semakin lambat dan nafasnya sudah memburu, dan sebuah sabetan kuat dan cepat mengancam lehernya, Lui-kim bergeser kebelakang sambil menangkis pedang, dan karena kekuatannya sudah lemah pedang ditangannya tidak kuasa dipegang hingga lepas, dan serangan susulan berupa sabetan kearah perut hendak menyambar, Lui- kim mencoba menjauh dan dia berhasil, namun pada serangan berikutnya yang berubah jadi tusukan yang mengarah dada, membuat Lui-kim kelabakan dan naasnya tubuhnya terhalang pohon.
Lui-kim memajamkan mata karena sudah tersudut lemah dan trang. pedang toan-lin lepas karena dihantam sebuah batu sebesar kepalan bayi, Toan-lin terkejut karena pedangnya yang dalam genggaman penuh kekuatan tenaga sakti terlepas begitu saja, hanya karena sebuah lemparan batu, dan membuat tangannya kejang dan kaku disergap hawa dingin Yo-hun saat melihat istrinya terpojok maka dengan nekat ia melompat kearah istrinya untuk berusaha menolong, sehingga ia membiarkan sebuah sabetan dari Ouw-ciong menggores pahanya, dan ternyara sebelum niatnya kesampaian sebuah batu menghantam pedang toan-lin hingga lepas dan Yo- hun meraih istrinya dari pohon dan menjauh kesamping kiri, sesaat pertempuran itu berhenti, dan disitu sudah hadir dua orang selain mereka yakni Im- yang-sin-tai-hap dan Kwee-kim-in, dengan sebuah lemparan Kwaa-han-bu telah menyelamatkan nyawa Lui-kim yang terancam, perawakan yang khas lelaki yang berdiri didepan mereka, membuat tengkuk tiga penghuni pulau neraka meremang.
wajah kalian kenapa dibuat seperti badut begitu !? tanya Kwee-kim-in, Ouw-ciong mendelik jengkel mendengar pertanyaan polos dari seorang gadis remaja itu, namun hatinya ciut jika melihat perawakan pemuda tampan dihadapannya terimakasih atas pertolongan im-yang-sin-taihap yang telah menyelamatkan istri saya ujar Yo-hun tiba-tiba menjura karena hatinya sudah yakin bahwa dihadapannya ini adalah she-taihap pendekar yang menggemparkan Tionggoan, kwaa-han-bu tersenyum twako yang baik, berilah obat ini pada istrimu untuk memulihkan tenaganya! sahut kwaa-han-bu sambil memberikan sebuah pel berwana kuning, Yo-hun segera menerima pel itu dan memberikannya pada Lui-kim cici ! kenapa kamu tidak menjawab aku !? tanya Kwee-kim-in sambil memandang Toan-lin dan Pouw- eng kamu tahu apa gadis kecil ! bentak Toan-lin, dan hatinya makin bergetar ketika Yo-hun menjura dan menyerukan nama im-yang-sin-taihap kalian ini siapakah, kenapa menyerang suami istri yang sedang beristirahat !? tanya Kwaa-han-bu sambil melihat panggang kelinci yang masih berada di atas perapian, bahkan sudah gosong ouw-ciong saling menatap dengan dua rekannya hmh jangan dikira kami takut padamu im-yang-sin- taihap! bentak Ouw-ciong sambil mendengus hehehe..hehehe , kalian ini aneh, seaneh muka kalian yang berwana warni, apakah tadi kalian takut padaku!? sahut Kwaa-han-bu cih siapa takut, jangan sombong kau im-yang-sin- taihap! teriak Toan-lin lalu kalian mau apa, mau melawanku !? tantang Kwaa-han-bu iya dan terimalah ini ! sahut Ouw-ciong sambil menyerang, Kwaa-han-bu bergeser sedikit dan menyentil pergelangan tangan Ouw-ciong aughh teriak Ouw-ciong sambil melepaskan pedangnya karena tangannya nyeri sakit sekali su-moi, hadapilah ketiga lawan kita ini ! ujar Kwaa- han-bu melompat mendekati Ui-hai-liong-siang, sementara Kwee-kim-in menyambut terjangan Toan- lin dan Pouw-eng yang hendak menyerang suhengnya yang hendak meninggalkan arena pertempuran.
Toan-lin dan pouw-eng terkesiap ketika dua tenaga sakti yang keluar dari telapak halus kecil dan mungil Kwee-kim-in menerpa tubuh mereka, Kwee-kim-in telah mengirimkan pukulan im-yang-giok-hoat, dan kemudian menyerang ketiga lawannya dengan Im- yang-tiauw-hoat, luar biasa indah dan kuatnya serangan yang banyak datang dari atas itu, tubuh Kim-in yang mungil hanya sepundak Toan-lin yang tinggi semampai, membuat kesan gesit dan cekatan disetiap gerakan jurus Kwee-kim-in.
Tiga penghuni pulau neraka mengerahkan segala kekuatan dan kemampuan membendung serangan yang harus diakui kuat dan mantap itu, lain lagi dengan hawa im-yang berkesiuran dari dua lengan dan dua kaki gadis remaja yang menakjubkan ini, tiga pedang penghuni pulau neraka mengurung Kwee- kim-in yang bertangan kosong, namun bagi she-taihap yang cantik ini sambaran tiga pedang yang dimainkan oleh ketiga orang sakti itu tidak membuat dia gugup.
Ilmunya im-yang-pat-hoat memang ilmu tangan kosong ciptaan bukek-siansu dan dengan level ilmu yang dimilkinya, senjata tidak lagi hal yang utama dalam pertempuran, tangannya yang penuh hawa sakti dengan mudah menyentil badan pedang sehingga melenceng terpental, dan sentilan-sentilan pada tiga pedang yang mengurungnya silih berganti terpental dan melenceng, bagi Ui-hai-liong-siang yang menonton pertandingan luar biasa itu berdecak kagum, dan takluk melihat gadis remaja yang merupakan sumoi im-yang-sin-taihap.
Tiga penghuni pulau neraka juga tidak habis piker, sudah lewat dua ratus jurus mereka mengeroyok gadis remaja bertangan kosong ini, namun mereka harus menelan kekecewaan karena ulet dan saktinya ilmu tangan kosong yang dikeluarkan Kwee-kim-in, hari sudah malam dan suatu ketika pedang Ouw- ciong menyerang dengan tusukan kearah dada Kwee- kim-in, dan pedang pouw-eng menyabet dari samping kanan sementara pedang Toan-lin meneyerang punggungnya dengan tusukan.
Kwee-kim-in tiba-tiba terbang ke atas, dan tanpa diduga menukik mencakar muka Ouw-ciong, Ouw- ciong berusaha bergeser kesamping dan bukprak bahu Ouw-ciong remuk dihantam tendangan kaki kiri Kwee-kim-in yang mengeluarkan hawa im, dan kibasan kaki kanan kim-in yang mengandung hawa yang bergerak setengah lingkaran diudara menghantam kepala Pouw-eng yang mendekat dessss. Ouw-ciong terjerembab ketanah, semetara Pouw-eng sempoyongan karena pandangannya nanar, kepalanya pening dan kemudian pouw-eng terduduk.
Toan-lin terkejut, dengan cepat menahan langkah dan melompat kebelakang, mukanya pucat melihat kedua rekannya yang pada gebrakan luar biasa itu membuat keduanya ambruk, Kwee-kim-in mendarat di atas tanah dengan ringan tanpa suara, Kwee-kim-in tidak menyerang lagi, karena toan-lin sudah terdiam dengan muka pucat, tiba-tiba Ouw-ciong meraih tubuh Pouw-eng dan melarikan diri, Toan-lin juga tidak mau ketinggalan, lalu melompat menyelamatkan diri.
Kwee-kim-in mendiamkan lawan yang melarikan diri, dan melangkah mendekati panggang kelinci yang sudah gosong sayang sekali sudah gosong, suheng ! sebentar aku mau berburu kelinci. Ujar Kwee-kim-in, lalu kim-in menghilang dari tempat itu.
Yo-hun segera menyalakan kembali api pemanggangannya, dan sebentar saja tempat itu pun terang she-taihap sekali lagi kami suami istri ucapkan terimakasih sudahlah twako, bukankah jamak kita saling tolong menolong, jadi legakan hatimu twako karena hal ini adalah sesuatu yang patut dan seharusnya, sahut Kwaa-han-bu bagaimana keadanmu cici !? tanya Kwaa-han-bu menatap Lui-kim tenagaku sudah pulih she-taihap, dan perutku hanya sangat lapar. jawab Lui-kim sambil senyum.
Setengah jam kemudian Kwee-kim-in sudah membawa daging kelinci yang sudah dikuliti dengan bersih dan direjang dengan sebuah bambu, hanya tinggal di kasih bumbu penyedap dan dipanggang dimana kamu kuliti kelinci itu sumoi !? di sebelah sana ada rumpun bambu yang dibawahnya mengalir sungai suheng, dan kelincinya kudapatkan dipinggir sungai itu, jadi sekalian saja kukuliti dengan sebilah sembilu. Kwee-Kim-in membagi api menjadi dua tumpukan, dan api yang menyala-nyala itu ditambah dengan ranting-ranting sehingga apinya semakin bernyala besar, sementara bekas api yang lain di jadikan bara, lalu Kwee-kim-in memanggang kelinci dan sambil mengoleskan bumbu penyedap she-taihap biarlah aku saja yang memanggang kelincinya! sela Yo-hun aku sajalah twako, twako dan cici istirahat saja, aduh .. mungkin cici sudah lapar sekali. sahut Kwee- kim-in biarkanlah sumoiku itu twako, dan sepertinya ada nasi twako, kalau cici lapar tidak mengapalah pelan- pelan mengunyah nasi, sambil menunggu panggang kelinci matang. sela Kwaa-han-bu benar sekali Kim-moi! sahut Yo-hun, dan segera mengambil nasi yang dari tadi siang sudah matang dan masih terasa hangat, Lui-kim mencoba menyuap nasi putih itu dengan perlahan.
Dan tidak berapa lama Kwee-kim-in merobek bagian kaki panggang kelinci yang sudah matang, dan meletakkannya diatas daun, lalu menyerahkannya pada Lui-kim, kemudian merekapun makan di terangi api yang bernyala besar, makan malam yang enak dan nikmat, Lui-kim makan dengan lahap, setelah selesai makan dan minum, Lui-kim mengantuk berat she-taihap maaf aku sangat mengatuk sekali. ujar Lui-kim ooh tidak mengapa cici, berbaring dan tidurlah. sahut Kwaa-han-bu cici boleh aku menemanimu tidur !? sela Kwee-kim- in tentu she-taihap, marilah kesini! sahut Lui-kim Yo-hun menyalakan tumpukan api lagi, didekat ditempat yang datar dan lembut tidur disanalah kim-moi dan she-taihap ! ujar Yo-hun, Lui-kim dan kim-moi melangkah ketempat yang ditunjuk Yo-hun.
taihap, pertemuan tidak terduga ini sangat membuat hatiku sangat senang dan bahagia, dan kenyataan bahwa she-tai-hap masih ada, merupakan anugrah Thian yang tiada terhingga twako terlalu melebihkan keluarga kami. sahut kwaa-han-bu senyum tidak ada yang dilebihkan dari she-taihap selama ratusan tahun, semua ungkapan yang keluar adalah kenyataan tidak terbantahkan taihap! ujar Yo-hun, kemudian sesaat hening oh-ya taihap, kenalkan namaku adalah Yo-hun, dan istriku adalah siangkoan-lui-kim, dan kalau tidak salah, bahwa aku mendengar nama im-yang-sin-taihap adalah Kwaa-han-bu wah .. darimana Hun-twako mengetahui namaku !? tanya Kwaa-han-bu sambil tersenyum aku mendengar dari seorang cianpwe yang berjulukan Ui-hai-sian ohh , orang tua itu ternyata. apakah taihap mengenal Ui-hai-sian!? tidak twako, kami hanya sekali bertemu, dan tidak kenal lebih dalam, dan apakah twako mengenal cianpwe itu !? kenal dalam juga tidak taihap, hanya kami bertemu saat pencarian pusaka pulau es, dan sama terdampar digulung badai besar, dan ternyata kami masih hidup dan bertemu lagi didaratan besar ooh, begitu . sahut Kwaa-han-bu manggut-manggut benar taihap, dan lucunya tiga orang lawan kami tadi, juga adalah termasuk orang bertemu dengan kami ditengah lautan, dan sama-sana terdampar pula dipulau yang sama. wah .. sedikit banyaknya ada ikatan emosional yang tumbuh diantara kalian yang mencari pusaka pulau es itu benar sekali taihap, namun prinsip tetaplah membedakan kami dengan ketiga orang itu sebanarnya siapakah tiga orang itu twako!? yang laki-laki adalah bekas murid Pah-sim-sai-jin, dan dua wanita itu bekas murid Im-kan-kok-sianli- sam lalu kenapa mereka bertiga mewarnai tubuh dan wajah mereka!? kalau hal itu aku sendiri tidak tahu taihap, memang kami sama terdampar di pulau neraka, dan sepertinya mereka menetap ditempat yang banyak ular belang itu, sementara saya dan Lui-kim keluar pulau neraka dan mencari pulau lain dekat pulau nelayan dan bagaimana dengan cianpwe ui-hai-sian!? cianpwe itu juga terdampar kesebuah pulau kosong, dan ada dua orang lagi diantara kami yang juga sama-sama dalam pencarian pusaka, yang juga hidup dan bertemu didaratan besar ini. siapakah mereka twako !? mereka juga adalah golongan cianpwe, dan setelah keluar dari laut kuining mereka dijuluki San-ji-liong, namun naas keduanya sudah tewas ditangan tiga orang penghuni pulau neraka tadi, bersama murid utama Pah-sim-sai-jin. cerita twako sangat menarik, dan kalau twako sendiri ketika keluar dari laut kuning, dijuluki apa oleh orang !? saya dan lui-kim dijuluki orang Ui-hai-liong-siang kalau taihap, tentu buyut luar dari kim-khong-taihap, bukan ! benar sekali twako, yang buyut dalam adalah sumoiku itu, namanya Kwee-kim-in putri dari paman Kwee-thian lalu kalau taihap sendiri!? saya adalah cucu buyut dari Kwee-hong-in putri bungsu dari Kim-khong-taihap. apakah hanya taihap berdua yang masih ada dari keturunan she-taihap!? entahlah twako, yang saya tahu awalnya hanya saya sendiri, karena mungkin twako sendiri tahu, bagaimana Pah-sim-sai-jin menumpas keluarga kami benar taihap, aku mendengar itu di lembah huai saat itu umurku masih delapan belas tahun, jadi Kwee- lihap bukan bertempat di pulau kura-kura. benar twako, sumoiku itu aku jumpai di kota Pengbun satu setengah tahun yang lalu. sahut Kwaa- han-bu, percakapan mereka sampai jauh larut malam, dan kemudian keduanya istirahat.
Keesokan harinya saat bangun, Kwee-kim-in sudah memasak makanan, sementara Kwaa-han-bu sedang mandi di sungai dibawah pohon bambu, dan saat matahari terbit Lui-kim bangun aih aku tidur tidak kira-kira she-taihap ! keluh Lui- kim ah.. tidak apa cici, suhengku bangunya dini hari, jadi aku harus bagun lebih awal. sahut Kwee-kim-in lalu sekarang dimana Im-yang-sin-taihap!? dia masih dibawah mungkin entah mencari apa. jawab Kwee-kim-in, tiba-tiba Kwaa-han-bu muncul membawa aneka buah yang nampak ranum suheng, banyak sekali buahnya, dimana dapat !? aku berkeliling disekitar hutan, dan menemukan banyak sekali buah-buahannya sumoi. Yo-hun bergerak dan bangun aih saya kesiangan.. celanya pada diri sendiri tidak apa twako, sekarang pergilah twako dan cici kesumber air, dan kami tunggu supaya kita makan bersama sahut Kwaa-han-bu, Yo-hun dan Lui-kim pergi kesumber air dan membersihkan diri, setelah itu merekapun makan bersama.
she-taihap, sungguh pertemuan ini sangat mengesankan hati kami, dan betapa kami rasakan keakraban yang luar biasa sela Lui-kim demikian juga kami cici, semoga keramahan dan keakraban ini bisa kita lakukan dimasa akan datang sahut Kwaa-han-bu baiklah twako dan soso, kami pamit dulu, dan jika rencana untuk berdiam sampai soso melahirkan, sebaiknya kota terdekat saja yakni kota Bao, dua minggu perjalanan dari sini benar taihap, dan kami akan menuju kekota itu. sahut Yo-hun, lalu Kwaa-han-bu dan Kwee-kim-in meninggalkan sepasang pendekar itu.
Ouw-ciong yang membawa lari Pouw-eng dan disusul Toan-lin berpacu untuk menjauhkan diri, selama lima hari mereka terus berlari, sementara keadaan Pouw- eng makin menghawatirkan, kepalanya yang kena tendangan yang berhawa yang merusak syarafnya, dan membuat ia sering mengeluh kesakitan dan kadang bersikap aneh, sikap anehnya adalah seharian dia terdiam memandang sesuatu dengan raut wajah mewek hendak menangis, pernah seharian ia memandang pedangnya dengan raut wajah yang menghibakan, hal ini membuat Toan-lin gemas dan marah pada Kwee-kim-in yang membuat rekannya menjadi gila seperti itu.
Setelah Ouw-ciong merasa bahunya sudah pulih, perjalanan semakin dipercepat, sehingga sebulan kemudian sampailah mereka ke Yuguan dan melaporkan hal yang mereka alami hmh dalam beberapa hari ini Im-yang-sin-taihap akan sampai ke kota ini, dan untuk itu kalian siagakan diri kalian untuk menangani sumoinya, dan Im-yang-sin-taihap sendiri biar aku yang menanganinya ujar Pah-sim-sai-jin baik Thian-te-ong, lalu bagaimana dengan seratus anak buah, apa yang mereka lakukan? mereka juga harus disiapkan untuk serangan permulaan. maksudnya bagaimana Thian-te-ong!? sebelum kita menghadapi Im-yang-sin-taihap dan sumoinya, seratus anak buah menyerang mereka dengan anak panah, jadi aturlah mereka disekeliling tempat kita ini dengan formasi dua puluh lima perpenjuru! jawab Pah-sim-sai-jin baik, kalau begitu thian-te ong sahut Lu-eng-hwa Seminggu kemudian Kwaa-han-bu dan Kwee-kim-in memasuki kota Yuguan yang sepi kenapa sepi suheng !? hmh.kita harus lebih waspada sumoi, jelas mereka sudah mengetahui kedatangan kita, dan sudah mempersiapkan penyambutan sahut Kwaa-han-bu, keduanya menelusuri jalan kota yang tidak berpenghuni sama sekali, dan ketika mereka sampai di sebuah bangunan yang indah dan megah dengan pagar tembok yang mengelilingi areal rumah yang berhalaman luas, Kwaa-han-bu meyakini bahwa tempat itu adalah kediaman Pah-sim-sai-jin pimpinan Pak-kek-hek-te, karena halaman luas itu ditata bagian lianbutia, dan telinganya yang tajam, sudah mengetahui bahwa banyak mata yang mengintai memperhatikan mereka.
Kwaa-han-bu dan Kwee-kim-in berdiri tegap didepan pintu gerbang sumoi, ambillah tiang bendera itu! perintah Kwaa- han-bu, Kwee-kim-in mencabut tiang bendera yang dipancang di pinggir gerbang, dan melepas benderanya, kemudian keduanya memasuki halaman bangunan Pah-sim-sai-jin, kenapa tidak menyambut dengan bertatap muka, keluarlah..! teriak Kwaa-han-bu sambil mengerahkan sin-kang pada suaranya dan tiba-tiba lima anak panah meluncur dari dua jurusan yakni dari belakang dan samping kanan, dengan gerakan mantap dan indah Kwee-kim-in memutar tongkat ditangannya menghalau semua anak panah, hingga patah dua dan tiga lalu jatuh ketanah, lima puluh orang sempat melepas anak panah sebelum terjungkal karena kuatnya teriakan Im-yang-sin- taihap, seratus orang yang bersiap melepas anak panah, semuanya lemas dan pingsan karena jantung mereka terguncang.
Pah-sim-sai-jin dan empat orang rekannya keluar hmh im-yang-sin-taihap, usahamu sejauh ini lumayan berhasil, tapi hari ini kamu berhadapan dengan saya, dan semua usahamu harus berhenti sampai disini! hahahahahaha, Pah-sim-sai-jin ! hampir lima belas tahun kamu berhasil menancapkan tirani di Tionggoan, dan hari ini engkau berhadapan dengan Im-yang-sin- taihap, dan tirani ini harus lenyap sampai disini! sahut Kwaa-han-bu tidak kalah lantangnya phuahcuh, im-yang-sin-taihap ! apakah dengan mengalahkan rekan-rekanku engkau kira akan dapat mengalahkanku, kamu ingat betapa keluargamu tidak berdaya dihadapanku! ujar Pah-sim-sai-jin hahhahaha.., yang aku ingat Pah-sim-sai-jin adalah, dimana engkau jadi permainan nenek buyutku, kamu diikat seperti ketupat tidak jadi dan dibuang kelaut! sahut Kwaa-han-bu, Pah-sim-sai-jin terheyak mati kutu, saat teringat dimana dia dipecundangi nenek Hong-in cuh..! jika kedatangan saya yang kedua ke pulau kura-kura, apa menurutmu nenek buyutmu masih dapat mengalahkanku !? tentu saja Pah-sim-sai-jin, kalau kamu tidak percaya, kesinilah biar aku menghajarmu sebagaimana nenek buyutku lakukan dulu tantang Kwaa-han-bu bangsat , phuah teriak Pah-sim-sai-jin naik darah, sambil meludah dia menerjang dan mengirim pukulan sakti, Im-yang-sin-taihap menyambut keras lawan keras blammm tempat itu bergetar bahkan sebuah bangunan disamping kanan rumah induk langsung rubuh karena pondasinya ambruk, empat rekan Pah- sim-sai-jin terkesiap menyaksikan hasil benturan yang luarbiasa dahsyat itu.
Im-yang-sin-taihap mundur dua langkah, sementara pah-sim-sai-jin mundur empat langkah, melihat kenyataan itu Pah-sim-sai-jin disergap rasa khawatir, namun hatinya dibesarkan, memang tenaga sakti dia akan selalu kalah dari she-taihap, namun dia memiliki ilmu pamungkas, yang dimana she-taihap tidak kuasa menahannya, lalu pah-sim-sai-jin mennyerang kembali dengan gesit dan cepat, bau apek pun mulai menyebar karena kuatnya pengerahan tenaga Pah- sim-sai-jin, Im-yang-sin-taihap mengeluarkan ilmu im- yang-sian-lie-hoat, sabuknya kali ini di pegang dan dimainkan sedemikian rupa, dan kekuatannya berlipat ganda karena terpusat pada satu ujung, kibasannya membuat getaran dahsyat yang dapat mencapai tubuh pah-sim saijin sejauh dua kali panjang sabuk.
She-taihap dulu tidak terpengaruh bau apek sepanjang sabuk yang sekarang dipakai kwaa-han- bu, apalagi sekarang jarak pertandingan itu dua kali lipat, Pah-sim-sai-jin tidak berdaya menembus getaran ujung sabuk, berkali-kali Pah-sim-sai-jin terlempar dihantam getaran sabuk, darimana saja ia hendak menyusup untuk mendekat, dia langsung terlempar dan lama-kelamaan nafasnya makin sesak.
Pah-sim-sai-jin tidak menduga betapa ilmu sabuk yang digunakan Im-yang-sin-taihap sekuat dan sehebat ini, tidak satupun ilmunya yang bisa diandalkan, dan sebaliknya im-yang-sin-taihap dengan santai mempermainkan tubuhnya diseberang sana, untungnya saja daya tahan tubuh Pah-sim-sai-jin sangat luar biasa, kulitnya memang sudah terasa nyeri karena hawa yang berganti-hanti menghantam tubuhnya.
Empat rekannya tidak bisa berbuat banyak, pertempuran didepan mereka bukan kelas mereka, tingkatan mereka masih jauh dibawah, namun melihat Thian-te-ong laksana seekor tikus dikurung dan dilemparkan hawa kibasan ujung sabuk, membuat hati mereka semakin ciut, Ouw-ciong menatap Kwee-kim-in yang berdiri tegap mengikuti pertempuran suhengnya, wajahnya yang cantik demikian tenang, matanya nampak begitu jeli memperhatikan setiap gerakan suhengnya, dia sudah mempelajari ilmu yang dimainkan oleh suhengnya, dan dia makin gembira melihat betapa suhengnya terkesan seakan memberikan petunjuk padanya sambil melawan Pah-sim-sai-jin.
bagaimana Im-kan-kok-sianli-ji, apakah sumoinya kita serang sekarang !? tanya Ouw-ciong benar, marilah kita serang, dan kalau kita bisa menundukkannya, tentu Im-yang-sin-taihap akan terpengaruh! sahut Lou-si-sian, lalu mereka menerjang Kwee-kim-in secara bersamaan, Kwee- kim-in yang melihat serangan yang mengarah padannya, segera melenting keudara sambil melepas pukulan im-yang-giok-hoat untuk menahan daya serangan lawan, dan disusul dengan serangan Im- yang-tiauw-hoat, gerakan jurus yang mengikut gerak rajawali itu, membuat empat lawannya bagai empat ekor ular yang mengelak dari sambaran dan cakaran Kwee-kim-in.
Dan ketika Kwee-kim-in menjejak tanah, gerak Im- yang-tiauw-hoat dilengkapi dengan sin-tiauw-poh- chap-sha bergerak ulet dan luar biasa kuat, tiga belas langkah rajawali itu membuat empat lawannya laksana menangkap bulu yang otomatis menjauh jika mereka bergerak, dan luarbiasanya ilmu langkah itu bukan hanya ilmu berkelit, tapi juga ilmu menyerang yang luar biasa.
Dan bahkan sesekali gerakan Kwee-kim-in berubah dengan terkaman Im-yang-houw-hoat, dan hal ini membuat empat lawannya terperangah, bahkan Toan-lin tidak berdaya mengelak ketika punggungnya kena cakar, dan meninggalkan guratan memenjang di punggungnya, rasanya sangat perih, terlebih hawa yang masuk adalah hawa yang Kwee-kim-in dengan seenaknya merubah-rubah gerakan ilmunya yang memang kaya jurus tingkat tinggi, bahkan sebuah sodokan im-yang-kang-hoat yang menggunakan siku menghantam kepala Ouw- ciong, hingga kepalanya pening dan membuat ia sempoyongan, dan satu saat tendangan Im-yang-ma- hoat menghantam lutut Pouw-eng, sehingga Pouw- eng roboh sambil menahan sakit yang memilin hatinya, dan bahkan Lou-si-sian terlempar empat tindak dengan kuda-kuda jebol, ketika dadanya dihantam pukulan im-yang-sian-hoat.
Kombinasi delapan jurus dari ilmu im-yang-pat-hoat benar-benar membuat empat lawanya kalang kabut dan terdesak hebat, ilmu yang kaya akan jurus-jurus tingkat tinggi itu membuat Kwee-kim-in laksana gadis remaja bermain empat balon, walaupun empat lawannya tergolong pesilat tangguh dan dedengkot dunia persilatan, empat lawannya makin habis akal, mereka hanya dapat bertahan menerima pukulan, sementara untuk mebalas mereka tidak pernahpun dapat peluang.
Tiga dan empat kali pukulan boleh saja mereka tahan, tapi kalau lebih mereka akhirnya akan bonyok juga, terlebih efek pukulan merusak peredaran darah, karena hawa yang berubah-ubah menghantam tubuh mereka, dan terbukti ketika satu saat pukulan im- yang-sian-hoat menghantam Lou-si-sian membuat dia terhempas memuntahkan darah segar, dan nafasnya megap-megap dan akhirnya berhenti karena nyawanya sudah berpisah dari tubuhnya.
Pah-sim-sai-jin yang terpuruk juga tidak berdaya, dengan amarah yang memuncak mengeluarkan ilmu pamungkasnya yakni hek-hoat-bo bau apek makin santer dan selarik cahaya hijau menggulung menghantam kedepan, ujung kibas terpental kebelakang dan tubuh Pah-sim-sai-jin menerjang dengan pukulan yang sama, sehingga jaraknya dengan Im-yang-sin-taihap semakin dekat, dan hawa apek makin menyengat, Im-yang-sin-taihap terpana dengan gerakan luarbiasa dan kuat itu, ia segera melompat dan mendekati sumoinya yang sedang bertempur, dengan sebuah gerakan indah Kwaa-han- bu menarik sumoinya sehingga melenting jauh keatas. trik luar biasa ini memang disengaja, karena Kwaa-han-bu sudah merasakan serangkum pukulan mengejarnya.
Dengan satu lompatan luar biasa kearah turunyya tubuh Kwee-kim-in yang melambung tinggi, Im-yang- sin-taihap lepas dari bahaya maut yang mengancamnya, dan naasnya Toan-lin yang sedang terpana melihat dua tubuh yang melayang tinggi, tak pelak dihantam pukulan hek-hoat-bo tubuh Toan-lin sesaat bergetar, kemudian berobah jadi kaca es dan akhirnya meledak berkeping-keping.
Ouw-ciong, Lu-eng-hwa segera menjauh ketika gerakan im-yang-sin-taihap tiba-tiba melayang kearah mereka, dan betapa mereka tercengang dan ngeri melihat kepingan tubuh Toan-lin yang laksana batu- batu pualam, Pah-sim-sai-jin tanpa menghiraukan kesadisan pukulannya menatap tajam pada Im-yang- sin-taihap yang mendarat jauh disebelah kanannya bersama Kwee-kim-in apa kamu masih ada nyali !? bentaknya dengan mata melotot penuh amarah, Im-yang-sin-taihap tidak dapat tidak harus mengakui betapa bahaya dan sadisnya pukulan yang dikeluarkan Pah-sim-sai-jin itukah ilmu yang dulu kau agulkan kepada she- taihap! tanya Kwaa-han-bu tenang hahahacuh..cuh. , apakah kamu jerih pemuda sial, baru kamu tahu betapa Thian-te-ong bukan bahan mainan! jawab Pah-sim-sai-jin jumawa, karena merasa diatas angin karena ilmunya yang luar biasa.
hahah..hahaha, Pah-sim-sai-jin ! jangan kira Im- yang-sin-taihap tidak mampu menundukkanmu ! hahahajangan menghibur diri she-taihap, andalan kalian cuma menjauh dariku dengan ilmu sabuk tengik itu! cela Pah-sim-sai-jin dengan wajah penuh tantangan, dan tubuhnya segera melayang menerjang, namun dia kecele karena tubuh Im-yang- sin-taihap lebih dulu menerjang dan mencengkram tangannya, Pah-sim-sai-jin terkejut melompat kebelakang, tetapi tubuh Im-yang-sin-taihap menghantam tengkuknya buk tak dapat Pah-sim- sai-jin menjaga keseimbangan, sehingga ia mencium tanah membuat hidungnya berdarah.
Pah-sim-sai-jin bangkit, namun Im-yang-sin-taihap sudah menyerangnya, Pah-sim-sai-jin masih bingung akan keganjilan luar biasa ini, karena kenapa tiba-tiba Im-yang-sin-taihap berani mendekatinya, dan sepertinya tidak terpangaruh apek yang dikeluarkan tubuhnya, terlebih hidungnya sudah berdarah yang otomatis bau yang menyengat akan membuat lawannya bangkis-bangkis dan sempoyongan, bahkan Pah-sim-sai-jin seperti tidak sadar karena gerakan Im- yang-sin-taihap mengeluarkan suara laksana gemerisik dedaunan yang melelapkan plak..plak..buk..buk..desss muka Pah-sim-sai-jin jadi bulan-bulanan pukulan Kwaa-han-bu yang luar biasa kuat kandungan sin-kangnya, kemudian disusul cakaran, tendangan, kepalan dan tamparan, sehingga membuat tubuh Pah-sim-sai-jin seperti bola basket yang dipermainkan, wajah Pah-sim-sai-jin sudah bersimbah darah, karena hidung, mulut dan telinganya sudah mengeluarkan darah, tubuh Pah-sim-sai-jin lelap dan lemah.
Ketika tubuh Pah-sim-sai-jin terlempar dan menghantam tembok, barulah dia sadar bahwa Im- yang-sin-taihap sebenarnya sudah menjadi dua, tubuhnya yang satu bergerak dengan jurus im-yang- pat-sin-im-hoat dikejauhan, sementara tubuh yang lain dengan gerakan yang sama mempermainkan tubuhnya.
Pah-sim-sai-jin berdiri, dan mengeluarkan bentakan toat-beng-hoat-sut, huhhah sehingga tubuh Im- yang-sin-taihap kadang muncul kadang tidak, dua ilmu halus berhadapan, Pah-sim-sai-jin makin mendekati tubuh Kwaa-han-bu dan pukulan hek-hoat- bo meluncur kuat kearah Im-yang-sin-taihap, Im- yang-sin-taihap berkelit kesamping dan memukul cahaya hijau yang mengiriskan itu dari samping, sehingga dua kekuatan menerpa rumah Pah-sim-sai- jin, dan tidak ayal rumah mewah itu meledak hancur porak-poranda.
Kali ini Kwaa-han-bu harus terdesak, karena gencarnya pukulan dahsayat hek-hoat-bo yang tidak bisa dilawan adu kambing, sehingga berkali-kali Im- yang-sin-taihap harus berkelit dulu baru memukul dari samping, supaya tenaga pukulan itu jika meledak jauh darinya, hal ini harus dilakukan Kwaa-han-bu sebab jika pukulan hek-hoat-bo tidak di geser dengan pukulan sakti, dan menghantam tempat kosong yang berdekatan dengannya maka bau apek akibat ledakan akan menyengat penciuamannya dan akan mengakibatkan dia terbangkis-bangkis, hal itu sangat berbahaya, karena kalau dia sudah bangkis maka sulitlah baginya menyelamatkan diri.
Im-yang-sin-taihap memeras pikiran untuk dapat memunahkan ilmu pukulan yang luar biasa dari Pah- sim-sai-jin, hampir setengah jam Im-yang-sin-taihap hanya mampu mengelak pukulan Pah-sim-sai-jin hahha..hahha, sudah tahu kamu sekarang, bagaimana kuatnya Thian-te-ong !? teriak Pah-sim- sai-jin merasa senang, melihat im-yang-sin-taihap hanya mengelak dari larik cahaya hijau yang dikeluarkannya.
Satu saat im-yang-sin-taihap mendapatkan trik jitu dalam pikirannya, maka ketika Im-yang-sin-taihap mengelak dan memukul pukulan hek-hoat-bo dari samping, tiba-tiba tubuh Im-yang-sin-taihap menghilang, dan bagai kilat lewat disisi Pah-sim-sai-jin crass.. Pah-sim-sai-jin terlempar kesamping, Pah-sim- sai-jin terperangah karena jakun dilehernya koyak dan urat lehernya putus disampar daun kipas Im- yang-sin-taihap yang sudah berada jauh sekitar sepuluh meter darinya.
Kemudian im-yang-sin-taihap kembali lagi mengeluarkan ilmu san-phak-eng-coan (mengirim bayangan menghantam gunung ) dimana tubuhnya menjadi dua, tubuh yang kedua melayang bagaikan kilat menerjang tubuh Pah-sim-saijin dalam rangakaian ilmu im-yang-pat-sim-im-hoat, suara gemerisikpun mulai mengalun, Pah-sim-sai-jin hendak memunahkan wujud kedua im-yang-sin-taihap dengan bentakan toat-beng-hoat-sut namun ketika suara itu keluar huhghhhahghhh karena suara itu tidak bulat dan tersamar, maka ilmu toat-beng-hoat- sut tidak bisa dikeluarkan, hal ini disebabkan luka pada jakunnya dan putusnya urat lehernya.
Wujud kedua Im-yang-sin-taihap tidak lagi menghilang, dan bahkan sudah gencar menghantam tubuh Pah-sim-sai-jin, kembali lagi hal yang serupa dialami Pah-sim-sai-jin, dimana tubuhnya dipermainkan ilmu im-yang-pat-sim-im-hoat, dan kali ini tubuhnya tidak seperti bola yang kemungkinan bisa terlempar jauh, tapi sekarang layaknya seperti adonan gandum yang menempel ditangan Im-yang- sin-taihap dipermainkan sesukanya, lebih setengah jam wujud kedua im-yang-sin-taihap mengobok-obok tubuh Pah-sim-sai-jin, hingga akhirnya menendangnya bagaikan bola hingga menghantam puing-puing reruntuhan rumah Pah-sim-sai-jin.
Pah-sim-sa-jin bagaikan seonggok daging matang tergeletak, karena tubuhnya merah kehijauan karena kuatnya hawa im-yang yang memasuki tubuhnya, namun ia masih hidup, dan berkali-kali ia muntah darah, yang keluar dari mulutnya, jakun dan urat lehernya, luar biasa aneh tubuh iblis yang satu ini, baik diluar maupun didalam tubuh pah-sim-sai-jin, sebenarnya sudah tidak layak diiisi nyawa, namun nyatanya, nyawa itu masih ada, seakan enggan untuk meninggalkan tubuh yang sudah matang luar dalam itu.
Pah-sim-sai-jin bangkit dan melompat melarikan diri, namun kasihan tubuh itu sempoyongan dan ambruk menimpa pagar beton, sehingga menimbulkan suara tulang patah dan remuk, namun tubuh tidak lazim itu tetap bangkit, dan kembali lagi melompat keluar pagar, dan kemudian jatuh terhempas lagi, lalu bangkit dan melompat lagi dan jatuh lagi, Pah-sim-sai- jin harus melompat karena hanya itu yang dapat dilakukanya, Pah-sim-sai-jin tidak bisa lagi untuk berdiri apalagi melangkahkan kakinya, Pah-sim-sai-jin melarikan diri seperti larinya kodok Im-yang-sin-taihap yang melihat usaha melarikan diri itu melihat saja, tanpa ada niat untuk menghentikan, karena prinsip she-taihap tidak boleh mendesak orang yang hendak melarikan diri, kedua she-taihap menonton saja melihat Pah-sim-sai-jin yang jatuh bangun dalam usaha melarikan diri itu, Lu-eng dan Ouw-ciong juga tidak mau ketinggalan, melihat Pah- sim-sai-jin meloncat hendak melarikan diri dan terjatuh menimpa pagar beton, mereka sudah melarikan diri tunggang langgang jauh meninggalkan Pah-sim-sai-jin yang jatuh bangun.
suheng, sepertinya tubuh Pah-sim-sai-jin itu tidak lumrah. kamu benar sumoi, dan itu sangat mengherankan dan membingungkan. apakah menurut suheng, Pah-sim-sai-jin dengan kondisi seperti akan bisa sembuh!? hati saya cendrung mengatakan, bahwa Pah-sim-sai- jin akan dapat sembuh sumoi karena melihat keganjilan tubuhnya. lalu apa yang kita lakukan suheng ? kalau dia kemungkinan besar akan sembuh, tentunya akan membuat kejahatan lagi. benar sumoi, dan jika kita bertemu kembali dengannya, semoga thian memberi petunjuk bagaimana memunahkan keganjilan itu sahut Kwaa- han-bu.
Sejak saat itu keadaan Tionggoan normal kembali, walaupun tidak sebersih pada masa kim-khong-taihap yang nyaris tidak ada kejahatan dan kumpulan kejahatan yang tumbuh, hal ini dapat dimaklumi, karena Pah-sim-sai-jin telah menyelamatkan generasi pemegang prinsip kejahatan, sebelum dihabisi oleh Im-yang-sin-taihap, dan ketika Im-yang-sin-taihap memasuki wilayah barat, kumpulan hek-te sudah tidak ada lagi, dan telah menjadi penjahat yang terselubung, atau mungkin bergabung dengan enam puluh pecahan pak-kek-hek-te yang menyebar diseluruh Tionggoan.
Im-yang-sin-taihap tetap berusaha untuk menyelidiki keberadaan hek-te diwilayah barat, sebagaimana ia lakukan pada wilayah selatan dan timur serta sebagian wilayah utara, namun Im-yang-sin-taihap tidak berhasil, hek-te memang sudah tidak ada sebagaimana kata Pah-sim-sai-jin, namun hek-to tetap ada, namun saat ini keberadaan mereka laksana api dalam sekam, hangatnya masih tetap ada, dan menghiasi perjalanan hidup dunia kangowu, dan yang jelas kemungkinan yang tidak bisa dinafikan, bahwa api dalam sekam itu bisa saja berkobar.
Im-yang-sin-taihap dan sumoinya, selama dua tahun menyusuri wilayah barat, sehingga ketika mereka sampai di pulau kura-kura umur Kwaa-han-bu sudah berumur dua puluh lima tahun lebih, dan Kwee-kim-in sudah menjadi gadis dewasa yang cantik luar biasa, berumur delapan belas tahun, sementara ilmu Im- yang-sian-lie-hoat sudah sempurna dikuasainya, dan sudah satu tahun mempelajari Im-yang-bun-sin-im- hoat dan hampir mencapai taraf kesempurnaan.
Sampai disini cerita im-yang-sin-taihap semoga ada mamfaat disamping sebagai hiburan bagi para pembaca yang budiman Rajakelana , 30 Mei 2012 Bagaimanakah dengan diri pah-sim-sai-jin ? , lalu bagaimana pula dengan penantian putri kepala desa kang-hu dan can-hang-bi yang berusaha menjadi aliran sungai di jim-kok, dan bagimanakah nasib ketiga gadis binal penghayal sitampan rupawan Im- yang-sin-taihap Kao-hong-bi dan dua saudari seperguruannya, tanda tanya yang beruntun ini akan terjawab pada serial berikutnya yang berjudul SAI-JIN-LU (KEMBALINYA SI MANUSIA RENDAH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s