Pendekar Bunga Cinta

CHENG HWA LIB HIAP.
Pendekar Bunga Cinta .
Jilid 1 .

Mula-cerita: Mongolia yang pada mulanya dianggap sebagai Suatu negara kecil oleh pemerintah kerajaan Cina, kemudian ternyata justeru berhasil menjajah negeri cina; yakni pada permulaan abad ke-13 oleh seorang Khan yang bernama Temudsyin atau Jengis Khan (Khan/yang besar).
Alangkah dahsyatnya penyerbuan tentara berkuda bangsa Mongolia itu, sebanyak tidak kurang dari 20.000 orang prajurit pilihan dan dipimpin oleh seorang Khan yang ketangkasannya tiada taranya! Tembok besar Ban-lie yang dibangun untuk dijadikan pelindung negri cina, ternyata tidak dapat menahan penyerbuan tentara berkuda itu, yang ternyata sangat kejam, membunuh tentara cina yang menjadi musuh mereka, bahkan juga merampok rakyat jelata, membakar rumah-rumah dan memusnahkan kota yang mereka lalui sambil mereka perdengarkan pekik yang bergemuruh; sehingga sejarah mencatat sebagai suatu kekejaman yang tidak ada taranya atau tidak ada bandingannya; bahkan ditambah dengan ceritera dongeng bahwa Temudsyin atau Jengis Khan yang dilahirkan dengan segumpal darah beku di tangannya, mengakibatkan benar-benar dia menjadi seorang-orang yang haus darah, bahkan boleh dianggap sebagai iblis penyebar maut ! Ada empat orang puteranya Temudsyin atau Khan yang besar itu, di waktu dia sudah berhasil menjajah sebagian negeri cina.
Keempat putera Jengis Khan itu adalah Juji, Jagatai, Ogotai dan Tuli.
Pada waktu Temudsyin wafat selagi negeri Cina terbagi menjadi dua, maka Juji yang putera tertua telah berebut kekuasaan dengan putera kedua; sementara putera ketiga kelihatan acuh seperti juga dengan si bungsu Tuli.
Akan tetapi Ogotai ini yang kemudian menjadi raja oleh bantuan Tuli yang melakukan perang dalam membantu kakaknya dan oleh karena Tuli yang ramah dan berbudi luhur, ternyata sangat pandai bergaul di berbagi kalangan, bahkan dikalangan orang-orang cina sehingga Tuli sangat disukai tidak hanya oleh kawan, juga oleh pihak lawan.
Sehingga Kwee-Ceng’yang waktu itu bertugas menjaga perbatasan negeri cina sebelah selatan yang masih dikuasai oleh pihak pemerintah bangsa cina, telah mengangkat saudara dengan Tuli yang dalam tugas negara merupakan seorang musuh! Selagi negara berada dalam keadaan perang, belakangan Ogotai mendapat penyakit yang berat dan yang sukar disembuhkan.
Tuli yang sangat menyintai kakak yang ketiga itu, tidak bosan-bosan melakukan upacara sembayang dihadapan patung malaikat yang waktu itu di pujanya; bahkan dengan kerelaannya untuk mencari cara apapun asal Ogotai bisa sembuh dan meneruskan memegang kekuasaan yang saat itu sudah berhasil menguasai negeri cina.
Dengan bantuan seorang Mongolia, akhirnya Tuli berhasil juga menemukan obat dan ternyata Ogotai akhirnya sembuh dari penyakitnya.
Sudah tentu Ogotai merasa berhutang budi bahkan berhutang nyawa terhadap si bungsu yang sangat menyintai dia.
Selama hidupnya, Ogotai menjamin dan member kecukupan bagi jandanya Tuli berikut anak-anaknya; bahkan menjelang akhir hayatnya, Ogotai meninggalkan pesan supaya pimpinan kerajaan diserahkan kepada Mangu, putera pertama dari Tuli.
Akan tetapi, selekas Ogotai wafat, pimpinan kerajaan justeru dikuasai oleh permaisuri (lsterinya Ogotai) yang merasa tak puas dan tak menyetujui keputusan suaminya, yang membelakangi atau melupakan anak-anaknya sendiri.
Beberapa tahun lamanya permaisuri mengabaikan wasiat dan mengangkat diri menjadi ratu, menunggu puteranya cukup umur untuk meneruskan menjadi raja, yang akhirnya tahun 1246 kerajaan dipimpin puteranya yang bernama Kuyuk.
Belum cukup 3 tahun Kuyuk menjadi raja, 1248 dia telah wafat muda; dan terjadi sedikit kekacauan di kerajaan sebab permaisurinya ternyata mengambil alih lagi pucuk pemerintahan, dan untuk yang kedua kalinya mengangkat diri menjadi raja, mengakibatkan menteri-menteri yang tinggi kedudukannya mengadakan konperensi tingkat tinggi, yang harus mereka lakukan secara berulangkali bahkan secara rahasia, sebab takut pihak permaisuri yang kejam takut ikut mengetahui.
Akhirnya konperensi tingkat tinggi itu berhasil mengeluarkan keputusan mengangkat Mangu yang putera Tuli untuk menggantikan menjadi raja.
Peristiwa ini terjadi ditahun 1251, sehingga selama tiga tahun keadaan istana dan keadaan negara menjadi bertambah kacau selama permaisuri mengambil alih kekuasaan dan terjadi pertentangan dikalangan pejabat tinggi, sampai dikalangan rakyat jelata.
Dalam konperensi tingkat tinggi itu segala usaha memperjuangkan Mangu agar ditetapkan menjadi raja, yang paling berjasa ternyata adalah Kubilay, sehingga waktu di tahun 1259 sribaginda Mangu wafat, maka yang menerima tampuk kerajaan adalah Kubilay Khan yang juga merupakan cucu dari Jengis Khan.
Kubilay Khan menjadi raja di tahun 1260 sampai tahun 1294, cukup lama dan cukup waktu buat dia meneruskan cita-cita Jengis Khan, sehingga berhasil bangsa Mongolia menjajah diseluruh daratan negeri cina ! Dan Kubilay Khan ternyata pandai memerintah bahkan pandai bergaul dan menyelami adat kebiasaan orang-orang cina, berhasil dia mengamankan negara jajahannya dari berbagai keka cauan, sampai kemudian segala kerusakan-kerusakan akibat peperangan diperbaiki dan diperindah, mengakibatkan arus lalu lintas menjadi ramai dalam keadaan aman-tenteram, sedangkan bangsa cina sudah tidak merasa rendah diri lagi untuk bergaul dengan bangsa Mongol bahkan sudah banyak terjadi pernikahan antara dua suku bangsa itu tanpa adanya perbedaan.
Akan tetapi saat Kubilay Khan wafat di tahun 1294, penggantinya ternyata tidak mempunyai kemampuan memegang pemerintahan, bahkan mudah dihasut sehingga negeri cina kembali dilanda oleh berbagai kekacauan; baik yang berupa keganasan kaum perampok, maupun akibatnya terjadinya pertentangan di kalangan istana, terutama akibat adanya 13 pangeran yang saling bertentangan dan saling berlomba ingin menggantikan menjadi raja, meskipun harus dilakukan dengan cara-cara yang keji dan kejam, bahkan sampai membunuh sanak-saudara sendiri.
Dan ditengah kekacauan yang sedang melanda negeri cina itu, justeru muncul seorang pendekar perempuan gagah perkasa yang kemudian dikenal dengan nama “Tjeng-hwa Liehiap atau pendekar Bunga – Cinta ! -e-dwkz2%42hendra-e- SATU SEMENTARA itu di kota perbatasan Gan-bun-koan, berkuasa seorang gubernur yang arif-bijaksana, sehingga kota itu kelihatan aman dan tenteram; bahkan sampai didesa para kaum tani hidup tenang melakukan pekerjaannya- semua penduduk dari desa sampai ke kota tidak ada yang bermalasemalasan, semua rajin bekerja hidup dari hasil jerih-usaha mereka untuk memupuk keluarga- Di wajah mereka kelihatan semangat kegairahan bekerja, membanggakan hasil-karya mereka tanpa ada rasa iri.
Tidak ada waktu untuk bermalasemalasan yang dapat mendatangkan rasa iri menjurus ke arah tindakan sesat- Tak ada waktu untuk berjudi atau melakukan perbuatan.
maksiat, tak ada waktu untuk berpikiran jahat untuk melakukan perbuatan mencuri atau.
merampok, semua taat dengan hukum pemerintahan yang berlaku, juga taat pada hukum alam_ Kwee Su Liang adalah nama gubernur yang arif bijaksana itu, menjalankan tugasnya dengan adil serta penuh wibawa; disertai wataknya yang menyintai sesamanya- Adil tetapi keras dalam memberantas kejahatan, meskipun umur Kwee Su Liang masih cukup muda, baru tiga puluh tahun lebih- Namun dia menjadi contoh teladan yang baik bagi kaum.
pejabat pemerintah yang memegang kekuasaan, yang mengabdi untuk negara dan untuk rakyat jelata, disamping dia rajin bekerja demi kebahagiaan keluarganya, juga demi kebahagiaan masyarakat disekitarnya; rela membelakangi kepentingan sendiri.

Tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa Kwee Su Liang sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian silat dan pernah berkelana dikalangan rimba persilatan sebelum dia menjabat kedudukan gubernur, di perbatasan kota Gan-bun-koan adalah tempat kediamannya, Kwe Su Liang menetap dengan isterinya yang masih tetap cantik-jelita, Lie Gwat Hwa, yang juga mahir ilmu-silatnya.
Pasangan muda yang gagah perkasa dan hidup penuh bahagia ini, juga telah memiliki seorang anak laki-laki yang sudah berusia 10 tahun, yang mereka beri nama Bun San- Kecuali anak dan isterinya, dirumahnya Kwee Su Liang juga ikut menetap dua orang bibiknya yang sudah janda- Kwee hujin yang merupakan bibik-dalam dari Kwee Su Liang, memiliki seorang anak perempuan, Kwee Giok Cu yang waktu itu sudah berumur 11 tahun; dan Sie-hujin yang merupakan bibik-luar dari Kwee Su Liang, memiliki seorang anak perempuan, Sie Pek Lian yang waktu itu sudah berumur 12 tahun- Baik Kwee hujin maupun Sie hujin yang waktu itu umurnya sekitar 40 tahun, dua-duanya bukan merupakan perempuan lemah, akan tetapi juga memilliki kepandaian silat yang sakti; sehingga Kwee Gi ok-Cu maupun Sie Pek Lian menerima didikan ilmu silat- Pagi itu saat matahari bersinar cerah, disaat para petani baru saja.
mengalami mmsim.
panen, sehingga tugas pekerjaan mereka menjadi ringan, hanya menjaga dan.
merawat tanaman.
mereka agar tidak kekurangan mau pun kelebihan air, maka hari itu Kwee Su Liang mengajak puteranya berburu- Mereka mengajak belasan tentara berkuda sebagai pengawal dan membantu berburu, dan saat itu Kwee Su Liang menunggang kuda berbulu putih, tanpa memakai pakaian seragam sebagai pejabat pemerintah, namun kelihatan tampan dan gagah perkasa; membekal senjata berupa pedang dan anak panah.
Dengan menjalankan kudanya perlahan-lahan, berulang kali Kwee Su Liang memerlukan.
melirik puteranya, Kwee Bun San yang juga menunggang seekor kuda bulu coklat, ikut menjalankan kudanya perlahan-lahan disampingnya- Puteranya itu walau baru berumur 10 tahun lebih, namun kelihatan gagah dan memiliki sifat kalem, duduk tenang dipunggung kuda seperti seorang ahli dan ikut membawa senjata berupa sebatang pedang pendek,sebuah busur dan anak panah yang khusus berukuran kecil- Tanpa terasa berulang kali Kwee Su Liang tersenyum seorang diri, merasa bangga memiliki putera yang tampan dan gagah- Masih teringat oleh Kwee Su Liang, bahwa pagi tadi sebelum berangkat berburu, berulang kali isterinya memesan agar berhati-hati menjaga puteranya, sebab Kwee Bun San baru pertama kali itu diajak pergi memburu, apalagi yang diburu justeru merupakan binatang harimau yang terkenal galak dan buas- “Sebenarnya Bun jie masih terlalu kecil untuk diajak pergi memburu- Di hutan banyak sekali binatang buas–” Lie Gwat Hwa berusaha mencegah niat suaminya; namun Kwee Su Liang tertawa dan.
membelai isterinya, lalu berkata dengan kata-kata mesra membujuk; “Bun-jie telah cukup besar dan harus dapat mandiri, moayemoay jangan terlalu khawatir, dia harus belajar menghadapi kenyataan hidup dan harus tabah menghadapi berbagai macam ancaman bahaya- Lagipula aku yang mendampingi, mungkinkah aku membiarkan Bun-jie diterkam harimau?” “Ah, siangkong mengapa mengucapkan kata-kata yang mengerikan itu?” sahut Lie Gwat Hwa yang buru-buru menelusupkan kepalanya dibagian dada suaminya yang bidang- Meskipun dia merupakan seorang perempuan yang gagah-perkasa dan sering menghadapi ancaman bahaya maut, akan tetapi dalam menghadapi keluarga dan puteranya yang tercinta, Lie Gwat Hwa tak luput dari rasa cemas dari seorang ibu umumnya- Kadang-kadang bahkan dia berlaku lembut, begitu manja sehingga kadang-kadang dia berhasil membikin Kwee Su Liang lupa bahwa isterinya gagah-perkasa, bahkan pernah.
membunuh sesama manusia yang menjadi lawan atau musuhnya! Sementara itu Kwee Su Liang tertawa lagi, tetap sambil membelai rambut isterinya yang kepalanya berada didadanya dan selembut itu juga dia berkata: “Moayemoay, apakah kau lupa dahulu, selagi kau masih kecil; kita suka bermain di hutan, dan bahkan kita sering bersama-sama menunggang seekor kerbau yang cukup besar ?” Lie Gwat Hwa yang tetap cantik jelita, yang mukanya selalu cerah seperti sinar bulan yang sesuai dengan namanya; saat itu berulang berlaku.
manja- Dia memukul lembut bagian dada suaminya dengan sepasang kepalan tangannya yang kecil dan putih-halus kulitnya, sementara mukanya kelihatan berobah merah; tetapi sewaktu dilihatnya suaminya tetap perdengarkan suara tawa, maka Lie Gwat Hwa mencubit hidung suaminya, cukup keras dan cukup membikin suaminya berhenti tertawa, bahkan sempat berteriak mengaduh manja, tangannya masih memegang hidung yang bekas dicubitnya, berhasil membikin Lie Gwat Hwa ikut tertawa, menganggap perbuatan suaminya jenaka- Sekali lagi Kwee Su Liang tersenyum seorang diri selagi dia menjalankan kudanya perlahan.
mendampingi puteranya yang berhasil diajak berburu, dan teringat lagi dengan kenangan tempo dulu, selagi dia belu menjabat kedudukan sebagai gubernur di kota perbatasan, dan selagi dia berkelana dikalangan rimba persilatan, sampai akhirnya dia memperoleh Lie Gwat Hwa menjadi isterinya, padahal waktu itu Lie Gwat Hwa sejak kecil sudah ditunangkan dengan laki-laki lain, akan tetapi laki-laki itu kemudian tewas didalam.
suatu pertempuran, dan Kwee Su Liang berhasil merebut kasih sayang Lie Gwat Hwa.
Terlalu banyak kenangan tempo dulu yang saat itu sempat Kwee Su Liang pikirkan.
Terlalu banyak pengalaman penuh bahaya yang dia hadapi, namun kadang-kadang terasa nikmat dapat mengalami kehidupan sebagai seorang pendekar tanpa mendapat cidera, bahkan berhasil memperoleh seorang isteri yang cantik jelita dan gagah perkasa.
Tempo dulu, yang saat itu Kwee Su Liang sedang renungkan selagi dia melakukan perjalanan santai menuju tempat perburuan- Tempo dulu yang penuh dengan pengalaman pahit maupun pengalaman yang manis dulu yang kadang-kadang sesuatu yang perlu dirahasiakan, sebab hampir setiap orang memiliki rahasia hidup masingemasing yang kalau.
mungkin akan tetap dirahasiakan sampai di-akhir hayat, juga dia memiliki rahasia hati, juga isterinya, tentunya- Berulang kali Kwee Su Liang tersenyum seorang diri, teringat dengan rahasia hati yang disimpannya, dan teringat isterinya juga.
mmngkin.masih.menyimpan rahasia hati, yang selalu dirisaukan oleh Kwee Su Liang- Mengapa harus risau ? Dan Kwee Su Liang menambah senyumnya, teringat bahwa dia merasa risau sebab dia merasa cemburu, dan dia merasa cemburu sebab dia teringat dengan rahasia hatinya sendiri- Mungkinkah rahasia yang disimpan didalam hati isterinya, sama seperti rahasia yang dia simpan didalam hatinya 2 Hal inilah yang merisaukan dia, setiap saat, setiap waktu.
Dari dulu, sampai sekarang setelah mereka memperoleh seorang putera yang sudah beruur 10 tahun lagi ! Tanpa terasa mereka telah tiba di kaki gunung Touw-bok-san dimana terdapat sebuah hutan yang lebat dan liar, penuh binatang-binatang seperti harimau, kelinci, kijang, babi dan lain-lain binatang buruan- Yang diutamakan Kwee Su Liang adalah memburu harimau dan memburu kijang- Memburu harimau lebih menggembirakan hati, karena diliputi oleh suasana yang tegang- Kalau bertemu dengan harimau, para pengawal mengg iring dan mengurungnya, kemudian Kwee Su Liang akan menghadapi dengan sepasang tangan tanpa memakai senjata, membunuhnya dengan berbagai pukulan.
maut- Ini merupakan suatu latihan baginya, disamping kegembiraannya memperoleh kulit dan daging harimau- Akan tetapi bila harimau itu terlalu gesit sehingga tidak mungkin digiring apalagi dikurung oleh para pengawal, maka Kwee Su Liang akan menggunakan anak panahnya.
Sedangkan kijang mempunyai daging lezat, dan untuk memburu kijang, maka Kwee Su Liang memakai anak panah- Akan tetapi hari itu, sudah setengah harian.
mereka memburu, tapi hanya beberapa ekor kijang yang mereka peroleh, mereka belum:memperoleh harimau yang menghilang tidak kelihatan, suatu hal yang cukup mengherankan bagi Kwee Su Liang, sebab biasanya ditempat itu terdapat banyak harimau liar- Jelas Kwee Su Liang merasa kesal dan kecewa, akan tetapi Kwee Bun San yang baru pertama kali ini ikut berburu, kelihatan riang-gembira.
Pekerjaan.memburu itu merupakan suatu permainan yang menarik hati buat dia, terlebih bila menghadapi suasana tegang; sebab dua kali mereka pernah bertemu dengan ular-ular yang besar dan.
mengandung bisa, namun dengan cekatan para pengawal menggunakan panah dan menewaskan ular-ular itu- Mereka menguliti dan mengambil kulit-kulit ular itu yang berwarna indah
“Kita teruskan memasuki rimba belukar ini .
” akhirnya Kwee Su Liang mengajak putera dan rombongannya, sebab dia merasa penasaran belu.
memperoleh harimau; dan para perajurit menurut meskipun dengan hati resah, sebab hari sudah mulai senja sehingga mengingatkan mereka akan kegelapan didalam hutan yang belukar.
Kalau mereka tersesat, pasti kemalaman pulang, sedangkan Kwee Su Liang belum pernah melakukan pemburuan sampai malam apalagi kalau sampai menginap; sehingga sudah pasti akan merisa ukan orang-orang yang menunggu dirumah.
Selama memasuki hutan yang makin belukar lebat dengan berbagai tanaman liar, para pengawal bergerak dibagian depan, dibagian kiri dan kanan, juga dibagian belakang.
Mereka seringkali harus membabat berbagai rintangan yang merupakan pohon alang-alang yang liar dan berduri, bahkan juga menebang pohon-pohon yang tidak terlalu besar, untuk Kwee Su Liang berdua puteranya yang berjalan dibagian tengah para pengawal itu.
Sementara itu secara tiba-tiba kuda Kwee Su Liang mer ingkik dan menghentikan langkahnya.
Kwee Su Liang tersenyum karena dia sudah mengenal dengan watak kudanya, dan kuda itu pasti sudah mencium bau tajam dari seekor harimau.
Sesaat kemudian, benar-benar terdengar adanya auman seekor harimau, suatu suara aum yang keras yang menggetarkan rimba tempat mereka berada.
Tergetar hati Kwee Bun San yang ikut mendengarnya, lalu mendekati kudanya dengan tempat ayahnya, dan dia ikut turun dari kudanya selekas dilihatnya ayahnya turun, juga para pengawal.
Sepasang mata Kwee Bun San yang jernih tajam.
mengawasi sekitar tempat itu, mencari-cari asal suara au harimau itu terdengar, akan tetapi gema suara aum harimau itu seolah-olah terdengar disekeliling tempat mereka berada, sehingga sukar untuk menentukan dimana letak tempat harimau itu berada.
Para pengawal sudah persiapkan berbagai macam senjata yang mereka bawa, dan mereka mulai menyebar, menyelinap diantara semak belukar, berusaha mengurung harimau yang mereka duga sedang umpatkan diri di tempat yang lebat dengan tumbuh-tumbuhan alang-alang.
Mereka mengambil batu-batu dan menimpuk, juga membikin berbagi gerak suara dengan tombak dan berbagai senjata mereka.
Kemudian terdengar lagi suara aum harimau itu, lalu tiba-tiba kelihatan kepala seekor harimau yang amat besar.
Kwee Bun San ikut mengawasi dengan sepasang mata membelalak.
Itulah saat pertama dia melihat harimau hidup di alam bebas, bukan dalam keadaan mati atau dalam keadaan terkurung dalam.
kerangkeng.
Terasa jantungnya berdebar bertambah keras, bukan s ebab merasa takut, akan tetapi karena merasa tegang.
Dia sudah cukup digembleng oleh ayahnya untuk memiliki ketabahan, sehingga saat itu dia tidak merasa takut.
Betapapun besarnya harimau itu dan betapapun galaknya; akan tetapi dia berada di tempat yang banyak pengawal-pengawal; bahkan ayahnya berada didekatnya.
Ayah yang gagah-perkasa, pasti dengan mudah dapat memukul mati harimau itu.
Suatu kesempatan bagi dia melihat dan membuktikan kegagahan ayahnya, dan mempelajari gerakan-gerakan ayahnya untuk menghadapi harimau galak itu.
Akan tetapi, tiba-tiba dia terkejut sehingga dia bersuara tanpa terasa : “Dia membawa anak .
!!” demikian kata Kwee Bun San yang tidak dapat menahan kata-katanya, yang dia ucapkan keras-keras ketika dilihatnya kepala harimau itu menunduk waktu melenyapkan dirinya dalam semak-semak yang belukar; tapi sempat dilihatnya, mulut harimau itu menggigit bagian punggung seekor anak harimau, seperti seekor kucing yang membawa anaknya! Tidak ada kesempatan buat Kwee Su Liang mencegah puteranya bersuara karas-keras.
Harimau itu kaget dan mempercepat larinya, bahkan melompat jauh ke sebelah depan.
Seorang pengawal yang menjaga dibagian itu, berusaha mencegah dan berusaha mengusir supaya harimau itu kembali ke tempatnya semula, dengan menusukkan tombaknya.
Akan tetapi harimau yang besar itu menggerakan kaki depannya, menyepak dan berhasil membikin tombak pengawal itu patah menjadi dua; sedangkan pengawal itu robon terpelanting, dan harimau itu meneruskan lari.
Kwee Su Liang siapkan sebatang anak panah, diincarnya leher harimau itu; akan tetapi pada saat itu harimau menunda larinya, mengawasi kepada Kwee Su Liang: sehingga oleh geraknya panah Kwee Su Liang berobah sasaran sehingga yang kena dipanah adalah bagian perut dari anak-harimau yang sedang digigit oleh induk-harimau, Anak-harimau itu kelihatan berkelejat seperti meronta, sehingga lepas gigitan induk-harimau dan harimau yang besar itu melompat lari menghilang dengan meninggalkan anaknya yang kena di panah, tetapi sempat harimau itu meninggalkan bunyi suara aum bagaikan menyimpan dendam.
! Kwee Bun San lari mendekati anak harimau yang kena dipanah oleh ayahnya.
Dilihatnya anak-harimau itu rebah tewas berlumuran darah, dengan sepasang mata masih membelalak membentang.
“Ayah, mengapa ayah membunuh anaknya .
.
.
.
.
?” tanya Kwee Bun San selagi ayahnya datang mendekati; nada suaranya terdengar mengharukan dan menyesal merasa kecewa.
Kwee Su Liang memegang sebelah pundak anaknya, dan berkata perlahan : “Bukan maksud ayah hendak membunuh anaknya.
Tadi ayah mengincar bagian leher induk-harimau, tetapi secara mendadak induk harimau itu membalikkan kepala, mengawasi ayah sehingga sasarannya menjadi berobah, dan yang kena adalah anak harimau ini..
” Kwee Bun San terdiam tak bersuara, akan tetapi sepasang matanya merah menyimpan haru dan rasa kecewa; hilang seleranya untuk pemburuan, juga ayahnya.
Karena cuaca pun sudah berobah mulai gelap, maka Kwee Su Liang mengajak rombongannya pulang, membawa hasil buruan yang berupa 4 ekor kijang, ditambah anak harimau yang bernasib malang itu.
Ditengah perjalanan itu, mendadak mereka mendengar bunyi suara harimau lain, bunyi suara aum yang lebih keras dari aum induk harimau yang anaknya tewas kena dipanah, bunyi suara aum yang benar-benar sangat menggetarkan tempat disekeliling mereka berada, sehingga mengakibatkan semua kuda, juga kuda Kwee Su Liang terdiam berdiri gemetar, ikut menjadi ketakutan, bahkan ada beberapa ekor kuda yang meronta-ronta dan berdiri dengan kaki bagian belakang, merubuhkan penunggangnya.
Juga kuda tunggangan Kwee Bun San ikut berdiri dengan dua kaki belakang, meringkik ketakutan dan melompat jauh berlari-lari, membikin Kwee Bun San harus erat-erat memegang tali kendali dan ikut dibawa kabur oleh kuda itu, tanpa dia mampu mengendalikan atau menguasai kudanya yang mendadak menjadi liar.
“Bun-jie ! Bun-jie !!” Kwee Su Liang berteriak memanggil anaknya; namun untuk sejenak dia gugup, tak tahu apa yang harus dia perintahkan terhadap anaknya.
“Ayah ! Ayah !” Kwee Bun San ikut berteriak.
Semua pengawal menjadi bingung bahkan ada yang ikut menjadi ketakutan.
Kudanya jadi liar berusaha kabur simpang siur tak bisa dikuasai, lalu dengan mengerahkan ilmu lari cepat ia berusaha mengejar anaknya yang baru dibawa lari oleh kuda tunggangnya.
Akan tetapi waktu itu Kwee Bun San dan kudanya sama sekali sudah tidak kelihatan, sehingga Kwee Su Liang lari mengejar pada arah yang dilihatnya kuda itu kabur.
Terus dia mengejar memasuki hutan belantara yang lebat dan liar.
Sementara itu Kwee Bun San tetap berpegangan erat diatas punggung kuda tunggangannya, sehingga dia tidak sampai terjatuh; namun tetap dibawa lari tanpa arah tujuan menentu, sampai mendadak dari dalam semak-semak belukar muncul seekor harimau yang menghadang.
Seekor harimau yang jauh lebih besar kalau dibandingkan dengan induk harimau yang anaknya kena dipanah tadi, dan harimau besar itu berdiri menghadang dengan memperdengarkan bunyi suara aum yang menggetarkan, sehingga kuda Kwee Bun San berhenti dengan kaki gemetar ketakutan, bahkan terjatuh lemas tak bertenaga, sehingga Kwee Bun San buru buru lompat berdiri.
Menghadapi harimau yang begitu besar dan menyeramkan, untuk pertama kalinya Kwee Bun San merasa ketakutan, sehingga sepasang lututnya ikut tergetar.
Bulu bulu harimau itu putih panjang, dan Kwee Bun San merasa takut sebab saat itu dia berada sendirian; tanpa pengawal bahkan tanpa ayahnya disisi-nya.
Akan tetapi darah pendekar yang mengalir ditubuhnya, membikin dia bagaikan tanpa sadar telah menghunus pedang pendek bekalnya, yang dipegangnya erat-erat pada tangan kanannya, siap buat dia pakai membela diri kalau harimau itu menerkam dia ! Harimau berbulu putih itu berdiam mengawasi Kwee Bun San, sepasang matanya liar, sementara kaki bagian depan bergerak tak hentinya menggaruk-garuk tanah yang diinjaknya; sambil dia perdengarkan suara aum yang menyeramkan.
Sejenak hilang rasa takut Kwee Bun San, siap dia buat melakukan perlawanan, buat membela diri dari ancaman maut.
Sepasang kakinya bergerak memasang kuda-kuda, sesuai seperti yang telah diajarkan ayahnya; sampai kemudian teringat pada busur dan anak-panah yang dibawanya, sehingga terpikir olehnya bahwa sebaiknya dia menggunakan anak panah selagi ada kesempatan buat dia untuk mengatur persiapan.
Sebelah tangan kirinya bergerak perlahan-lahan, meraba busur dan anak panah yang berada dibagian punggungnya, sementara tangan kanannya tetap siap memegang pedang pendek, siap dia gunakan kalau secara mendadak harimau itu mendahulukan menyerang.
Sepasang mata Kwee Bun San tak pernah lepas memperhatikan setiap gerak harimau besar itu, selagi sebelah tangan kirinya meraba dan mengambil busur berikut anak panah, sampai kemudian berhasil dia melakukannya, lalu pedangnya dia gigit dibagian mulutnya, selagi tangan kanannya dia perlukan buat mempersiapkan busur berikut anak panah.
Siap sudah Kwee Bun San menarik tali busur, siap untuk melepaskan anak panah yang sasarannya dia incar pada sepasang mata harimau itu.
Harimau berbulu putih tidak kelihatan takut menghadapi seorang bocah, masih sebelah kaki depannya menggaruk-garuk tanah, lalu dia melangkah tambah mendekati, tenang langkah kakinya bagaikan dia bukan bermaksud menyerang atau menerkam Kwee Bun San.
Akan tetapi Kwee Bun San langsung melepaskan anak panahnya, menuju sasaran yang diincarnya.
Memang kecil ukuran anak panah itu, anak panah itu untuk digunakan oleh seorang bocah, bukan untuk seorang dewasa, akan tetapi mata anak panah itu tetap tajam dan terbungkus bahan timah, kalau tepat mencapai sasaran pada bagian antara sepasang mata harimau dan menembus kebagian kepala, memungkinkan harimau itu akan tewas.
Akan tetapi, harimau putih itu ternyata sangat gesit dan tangkas, kelihatan tenang tetapi cepat gerak sebelah kaki depan harimau itu.
Bergerak bukan untuk menghalau anak panah yang menyambar, sebaliknya bergerak mencengkeram anak panah itu.
Hebat, bagaikan seorang-orang yang menangkap anak panah yang sedang meluncur ! Sejenak Kwee Bun San berdiri terpukau mengawasi dengan sepasang mata membelalak kemudian sempat dilihatnya harimau itu membuang anak panahnya, lalu bergerak lagi tambah mendekati, membikin Kwee Bun San tersadar dan buru-buru membuang busur yang sudah tak ada gunanya buat dipakai, sebaliknya tangan kanannya kembali siap dengan sebatang pedang pendek.
“Pergi ! Hush, pergi !” Kwee Bun San berusaha mengusir atau menghalau harimau putih yang sedang melangkah mendekati dia.
Akan tetapi harimau putih itu membandel dan terus mendekati, membikin Kwee Bun San tambah erat memegang peda ngnya, bertekad hendak melawan harimau yang besar itu; sampai tiba-tiba dia yang mendahulukan menyerang, sebelum dia diserang oleh harimau itu.
Menyerang dengan sebuah tikaman pedang, memakai gerak tipu burung belibis menangkap ikan, seperti yang diajarkan ayahnya; menyerang mengarah bagian mata harimau.
Akan tetapi sekali lagi harimau putih itu mengangkat sebelah kaki depannya, menangkis dan menyampok sehingga pedang pendek itu menyeleweng, bahkan terlempar lepas dari pegangan Kwee Bun San; bahkan tubuhnya ikut terhuyung miring, dan sekali lagi sebelah kaki depan harimau itu bergerak dengan cepat bagaikan memukul, kena bagian leher Kwee Bun San, membikin bocah itu rebah terkulai tak sadar diri, pingsan kena tamparan harimau itu.
Harimau putih itu tidak menerkam juga tidak mencakar tubuh Kwee Bun San yang sudah rebah tidak sadar, sebaliknya dengan hidungnya harimau putih itu menciu, mengendus-endus muka Kwee Bun San, lalu dia membuka mulutnya lebar-lebar, mengigit lembut baju Kwee Bun San di bagian punggung, dan dibawanya bocah yang sedang pingsan itu.
Lambat perlahan gerak kaki harimau putih itu yang sedang membawa tubuh Kwee Bun San, sampai kemudian dia percepat langkah kakinya, dan berlari memasuki hutan belantara, lalu mendaki gunung Touw-bok san.

SEMENTARA itu Kwee Su Liang masih menghadapi kesukaran dalam mencari dan mengejar puteranya yang dibawa lari kuda, sampai kemudian Kwee Su Liang naik ke atas sebuah pohon yang cukup tinggi, mengawasi dan meneliti keseluruh tempat dia berada, sampai mendadak dia ikut mendengar bunyi suara aum harimau putih itu.
Dia turun dari atas pohon dan mendekati arah suara aum harimau tadi, sampai mendadak dia menemukan busur berikut pedang pendek milik puteranya, akan tetapi tidak dilihatnya puteranya, juga harimau itu; sehingga mendadak terasa pedih hati Kwee Su Liang, merasa yakin puteranya memperoleh cidera bahkan mungkin sudah tewas menjadi mangsa harimau ganas, dan mayat puteranya telah dilarikan oleh harimau itu.
Kemana?? “Bun-jiem.
!” Kwee Su Liang berteriak keras-keras, cemas tetapi penuh harap semoga puteranya berhasil menghindari ancaman harimau, dan sedang umpatkan diri entah dimana.
Akan tetapi, tak ada suara puteranya yang didengarnya, sehingga bertambah dia gelisah dan cemas; lalu dia melompat naik lagi ke atas pohon yang terdekat, dan sekali lagi dia mengerti, sehingga sempat dilihatnya harimau putih itu yang sedang berlari-lari dengan membawa tubuh puteranya yang tidak diketahui nasibnya.
(“Oh Tuhanm.
”) Kwee Su Liang mengeluh di dalam hati; tapi selekas itu juga dia lompat turun dari pohon dan berusaha mengejar harimau putih yang sedang mendaki gunung Touw bok san.
Pada saat itu, Kwee Su Liang melupakan semua pengawalnya, yang diingatnya cuma puteranya yang dia harapkan selamat nyawanya.
Segera Kwee Su Liang mengerahkan ilmu lari cepat “kyoh- siang-hui!” atau terbang di atas rumput; tubuhnya melesat bagaikan dia benar-benar terbang, sebab dengan caranya yang khas, dia lompat melesat dan sebelah kakinya ganti berganti menyentuh setiap pohon yang dilewatinya sehingga tubuhnya melesat lagi dengan sangat cepatnya.
Ketika tiba di bagian lereng gunung Touw bok san; saat itu hari sudah semakin bertambah senja, semakin menjadi gelap keadaan di sekelilingnya, sehingga semakin menambah kegelisa han hati Kwee Su Liang; sampai kemudian secara mendadak dia menemukan seekor harimau-putih itu dan sedang setengah-rebah tengkurap, sedangkan tubuh Kwee Bun San juga rebah di tanah, didekat mulut harimau itu, yang terdiam tengkurap tanpa bergerak, bagaikan tetap mengawasi Kwee Su Liang yang kian mendekati.
Dalam keadaan gugup dan cemas, Kwee Su Liang tidak sempat memperhatikan keadaan disekeliling tempat dia berada.
Dia menunda langkah kakinya, akan tetapi sepasang matanya tak lepas dari harimau putih itu, bagaikan dia khawatir bergerak mengagetkan harimau itu, yang kemungkinan akan menggigit puteranya.
Dalam keadaan seperti itu, Kwee Su Liang bahkan tidak menyadari adanya sesuatu bayangan putih yang bagaikan sedang umpatkan diri dibalik sebuah pohon yang cukup lebat.
Bayangan putih dibalik pohon itu bagaikan sedang memperhatikan segala gerak-gerik Kwee Su Liang, tanpa dia perdengarkan bunyi suara.
Sementara itu dengan gerak yang tenang Kwee Su Liang mempersiapkan diri; memasang kuda-kuda, dengan sebelah tangan kanannya memegang sebatang tombak bekas milik pengawalnya.
Diincarnya bagian leher harimau itu, diarahkannya tombaknya supaya jangan sampai nyasar dan kena tubuh puteranya sendiri seperti yang dia lakukan tadi dengan anak panah, yang mengakibatkan kena anak harimau; sedangkan harimau putih itu tetap diam setengah tengkurap bagaikan mendekam, tanpa bergerak meskipun dia melihat semua gerak Kwee Su Liang.
Tombak meluncur dengan amat pesatnya, yakin Kwee Su Liang bahwa tombaknya tidak akan meleset dari sasaran, apalagi menyentuh tubuh anaknya; akan tetapi bagaikan kena ilmu gaib secara mendadak tombak itu menyeleweng, merobah arah membikin Kwee Su Liang hampir perdengarkan pekik-suaranya, tetapi untungnya tombak itu menyeleweng dan menancap ditanah, bukan pada tubuh puteranya sendiri.
Mengapa bisa terjadi begitu ? Tak hentinya Kwee Su Liang tak habis berpikir.
Dia merasa begitu terkejut, dia merasa begitu heran, seumur hidupnya ia belum pernah dia menghadapi kejadian seperti itu, melepas tombak mengarah harimau yang mendekam tanpa bergerak, tetapi mendadak arah tombak yang meluncur bisa berobah arah.
Mungkinkah ia sedang berhadapan dengan seekor harimau-jejadian ? Dewa harimau malaikat penunggu gunung? Dan Kwee Bun San, apakah puteranya itu masih hidup, atau sudah mati? Segera Kwee Su Liang menyiapkan tenaga, mengerahkan ilmu ‘pek kong-ciang’ atau pukulan udara kosong; lalu dia lompat menerkam harimau itu menyertai pukulannya yang dahsyat.
Terasa telak kena pukulannya, tetapi bukan kena dibagian kepala harimau yang dituju; sebaliknya kena sesuatu benda yang cukup lunak tetapi kokoh-kuat, dan benda lunak itu ternyata telapak tangan seorang laki-laki tua yang memakai pakaian seperti orang desa, atau seorang petani; dengan kumis dan jenggot yang sudah putih semua.
Yakin Kwee Su Liang bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang tua sakti, yakin dia bahwa tombaknya tadi menyeleweng, juga hasil perbuatan orang tua sakti itu, yang pada mulanya sama sekali tidak terpikir olehnya akan adanya seseorang yang umpatkan diri disekitar tempat itu.
Dan orang tua yang sakti itu mendahulukan bertanya, selagi Kwee Su Liang belum mampu mengucap kata-kata : “Tay-jin; apa sebab anda hendak membunuh macan ini .
?” Diam-diam Kwee Su Liang merasa terkejut.
Jelas orang tua yang sakti itu sudah mengetahui tentang dirinya yang gubernur penguasa daerah itu, meskipun dia tidak memakai pakaian dinas.
Akan tetapi pada waktu itu perhatian Kwee Su Liang lebih dia utamakan terhadap puteranya yang masih rebah tidak bergerak.
Diliriknya dan diperhatikannya, sehingga dia yakin bahwa puteranya cuma pingsan, tidak mati.
Lega hatinya dan ganti dia mengawasi laki-laki tua yang sakti itu, akan tetapi oleh karena saat itu dianggapnya laki-laki tua itu berpihak atau membela harimau itu, maka dia lalu berkata : “Lo-jinkee, tidakkah anda melihatnya di-dekat harimau itu ada seorang bocah ? Bocah itu adalah anakku yang dibawa lari oleh harimau itu.
apakah tidak selayaknya kalau aku hendak membunuh
Terkejut Kwee Su Liang waktu mendengar perkataan itu.
Mungkinkah dia melepaskan putera tunggalnya? bagaimana dengan isterinya yang begitu menyayangi anaknya.
Yakin dia bahwa Lie Gwat Hwa pasti tidak akan menyetujui.
Seperti takut Kwee Su Liang memegang sebelah tangan anaknya erat—erat; bagaikan dia merasa takut untuk terlepas.
Dan kepada Lauw Tong Sun dia berkata : “Lauw 1o—cianpwee, bukan aku tak menyukai Bun—jie menuntut ilmu di bawah pengawasan Lauw 1o—cianpwee, tetapi terasa berat buatku berpisah dengan puteraku yang cuma satu-satunya.
Terlebih dengan ibunya anak ini, yang begitu menyintai, begitu menyayangi putera kami .
” Hilang senyum Lauw Tong Sun, dan orang yang sakti ini bahkan memerlukan menarik napas panjang; dia seperti merasa menyesal dan kecewa.
Sejenak dia berpikir, setelah itu baru ia berkata : “Tay-jin, kau harus menyadari kehendak sang dewata yang tak bisa dirobah oleh kita kaum manusia.
Perbuatan anda hari ini, rasanya akan mendatangkan mala petaka bagi anda dan teruta ma anak anda ini.
Merupakan syarat buat anak ini menghindarkan diri dari malapetaka itu, yakni dia akan ikut dengan aku, untuk selama waktu 5 tahun.
Dia akan menjadi muridku dan akan menjadi sahabat si putih yang sudah kehilangan anaknya, wajib anak anda menghibur si putih, pasti dia akan hidup merana.
Aku tidak memaksa dan sebaliknya aku hanya memberi jalan yang baik buat anda dan keluarga anda, apalagi pada saat mendatang, anda akan banyak melakukan perjalanan jauh meninggalkan rumah dan meninggalkan keluarga; alangkah baiknya bila putera anda dititipkan kepadaku “Maaf Lauw 1o—cianpwee.
Tak mungkin puteraku kulepaskan sebelum mendapat persetujuan dari ibunya.
” Sekali lagi Lauw Tong Sun memerlukan menarik napas panjang.
Kelihatan pedih hatinya waktu ia mengelus bagian kepala harimau berbulu putih yang berada disisinya, dan diajaknya harimau itu bicara : “Putih, kau harus terima kenyataan ini.
Memang tak ada makhluk didunia ini yang begitu mementingkan dirinya sendiri, selain dari manusia,” dan kepada Kwee Su Liang, maka Lauw Tong Sun menambahkan perkataannya: “Tay-jin bila memang sudah demikian keputusan anda, biarlah kita serahkan kepada takdir Illahi.
Begitu pun juga, si putih sewaktu—waktu dapat mengantar puteramu ketempatku.
Nah, selamat berpisah .
,” Lauw Tong Sun lalu melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat Kwee Su Liang berdua puteranya; sedangkan si putih mengikuti dengan langkah lesu dibagian belakang si kakek itu ! “Lo—pek, tunggu.
” tiba—tiba Kwee Bun San berteriak memanggil, dan bocah ini berlari—lari menyusul, lalu dia merangkul harimau putih itu yang menghentikan langkahnya bagaikan menunggu; dan harimau itu ikut—ikut menjilat tangan bahkan muka Kwee Bun San yang sedang membelai dia.
“Macan yang baik, sebaiknya kau ikut dengan aku .
” kata Kwee Bun San, terdengar mengharukan suaranya, bahkan ada sedikit air mata yang berlinang keluar.
Harimau putih itu perdengarkan suara gerengan tertahan, bagaikan dia ikut merasa terharu, akan tetapi waktu diketahuinya si kakek sudah meneruskan langkah kakinya maka harimau itu mengejar meninggalkan Kwee Bun San yang masih berdiri terdiam, dan bertambah banyak air-mata yang dikeluarkannya.
Kwee Su Liang mendekati puteranya, membelai bagian kepalanya dan perdengarkan suara tarikan napas panjang; menyadari betapa rasa kecewa dan rasa terharu dari puteranya.
“Hari sudah hampir malam, mari kita pulang sebab ibu cemas memikirkan.
” akhirnya Kwee Su Liang berkata kepada putranya; dan Kwee Bun San bagaikan tersentak waktu didengarnya kata—kata ‘ibu’.
Ya, ibu yang menyayangi dan ibu yang dia sayangi.
Ibu pasti akan ikut girang dan ikut merasa heran kalau dia menceritakan tentang pengalaman pertemuannya dengan harimau berbu1u—putih itu; pikir Kwee Bun San didalam hati, dan dia membiarkan ayahnya menuntun dia, hendak diajak pulang.
Ketika tiba ditempat kediamannya, Kwee Su Liang disambut rasa cemas oleh keluarganya, terlebih oleh isterinya.
Kemudian Kwee Su Liang dan puteranya menceritakan tentang pertemuan dengan si kakek Lauw Tong Sun, dihadapan Lie Gwat Hwa, juga dihadapan kedua bibinya yang ikut mendengarkan.
Mendengar cerita suaminya bahwa si kakek Lauw Tong Sun hendak mengambil puteranya untuk dijadikan murid, kelihatan pucat muka Lie Gwat Hwa.
Tidak ada kerelaan hatinya untuk melepas puteranya, akan tetapi dihadapan kedua bibiknya, Lie Gwat Hwa tidak mengucap apa apa.
Sementara itu, Sie hujin yang ibunya Sie Kim Lian, kelihatan berpikir lalu dia berkata: “Lauw Tong Sun.
Serasa pernah aku mendengar nama Lauw Tong Sun ini.
Ya aku ingat, dahulu ketika aku masih berkumpul dengan ayah; pernah ayahku menyebut nama ini sebagai salah seorang tokoh sakti yang tidak pernah mau mencampuri urusan dunia, hidup sebagai petani biasa diatas gunung Leng—san di Ciauw—1eng, ditapal batas propinsi Hok—kian.
Ada orang—orang yang menganggap Lauw Tong Sun memiliki ilmu kesaktian yang berasal dari golongan Siao—lim, akan tetapi yang dia robah dan bercampur baur dengan ilmu yang diciptakannya.
Siapa kira hari ini kalian bertemu dengan dia dan bahkan hendak mengambil Bun—jie sebagai murid.
Hemm.
” Sie hujin tidak melengkapi perkataannya: akan tetapi Kwee Su Liang yakin dari pandang mata bibiknya, bahwa bibiknya menganggap hal itu amat baik buat Kwee Bun San.
“orang yang dapat memelihara seekor harimau putih yang besar, tentu merupakan seorang yang memiliki kesaktian luar-biasa.
Tetapi aku sendiri belum pernah mendengar nama Lauw Tong Sunm” Kwee hujin ikut bicara; dan ibunya Kwee Giok Cu ini juga terkenal sakti ilmunya.
Malam harinya dan setelah berada berdua dengan suaminya didalam kamar, maka Lie Gwat Hwa menangis, mengeluarkan segala kekhawatirannya; membikin sejenak Kwee Su Liang menjadi bingung dan menghibur ; “E—eh, moay—moay mengapa menangism.
” tanyanya lembut—mesra; dan dirangkulnya isteri kesayangannya itu.
Lie Gwat Hwa makin terisak.
Sejenak dia lupa dengan jiwa pendekar yang dimilikinya, akan sebaliknya dia bersikap sebagai seorang yang lemah—1embut manja; sehingga dia menerima perlakuan yang mesra dari suaminya, maka dia jadi semakin terisak, menempatkan kepalanya dibagian dada suaminya yang bidang, sebuah tempat yang dia anggap paling aman didalam dunia ini dan diantara suara isak tangisnya dia berkata: “Siangkongm.
akum.
aku khawatir sekalim.
” Tambah erat Kwee Su Liang merangkul dan membelai rambut ikal isterinya; dan selembut itu juga dia berkata: “Apa yang moay—moay khawatirkan ? Tentang anak kita, Bun—jiem.
?” Lie Gwat Hwa mengangguk dan berkata dalam rangkulan suaminya: “Tentang kata kata Lauw Tong Sun 1o—cianpwee itu, dan tentang akan ada hukuman kalau anak kita tidak dibawanya.
Entah apa maksud perkataannya: akan tetapi aku benar-benar ngeri, siangkongm” Kwee Su Liang yang amat mencintai isterinya itu memerlukan mengecup sebelah pipi isterinya, menghibur dan berkata untuk menghilangkan rasa khawatir isterinya : “Apa yang harus ditakutkan bila aku di sini, moay—moay.
Kalau aku berada disini, siapakah yang akan berani mengganggu Bun—jie atau kita ? Disamping itu, moay—moay juga bukan merupakan seorang ibu yang boleh dipandang ringan, belum lagi kedua bibik yang dulu di kalangan rimba persilatan terkenal galak.
Siapa berani main—main hendak mengganggu anak kitam?” Terasa Lie Gwat Hwa terhibur mendengar perkataan suaminya, berbareng bangkit juga jiwa pendekar yang dimilikinya.
Adakah seorang—orang yang hendak coba-coba bermain gila dihadapannya ? Sejenak berkurang rasa khawatirnya, tetapi mendadak dia pun teringat dengan perkataan Lauw Tong Sun tentang suaminya yang katanya akan banyak melakukan perjalanan meningga lkan rumah: “Tetapi siang—kong, tentang kepergian siangkong seperti yang dikatakan olehm” Dan Kwee Su Liang buru-buru memutus perkataan isterinya: “Sudahlah moay—moay, tidak akan aku pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan kalian, itu cuma gertak belaka dari Lauw lo cianpwee yang menghendaki mengambil anak kita buat dijadikan muridnya.
Dianggapnya kita akan ketakutan kalau mendengar gertakannya itu.
” Akan tetapi, didalam hati Kwee Su Liang ikut merasa cemas dan ikut memikirkan perkataan Lauw Tong Sun.
Mungkinkah Lauw Tong Sun pandai meramalkan sesuatu yang bakal terjadi ? Sejenak jiwanya terasa bergetar, sehingga tanpa terasa dia mempererat rangkulannya bagaikan dia mencari tempat perlindungan kepada isterinya; isteri yang sangat dicintainya.
Percakapan mereka pun menjadi terhenti, sebab keduanya bagai sedang tenggelam dan membiarkan diri terbawa hanyut oleh kasih—mesra yang telah lama mereka cinta akan merupakan suatu kehancuran bila .
pikir Kwee Su Liang selagi saling—rangku1 dengan isterinya.
Dan, rahasia yang selama ini mereka simpan didalam hati sanubarinya, apakah merupakan rahasia hati yang untuk kesekian kalinnya menghantui hatinya.
Ia buru-buru mengusir rasa hati yang menjadi risau kalau dia teringat dengan rahasia hati.
Rahasia hati yang menjadi rahasia hidup isterinya, dan rahasia hatinya sendiri.
Alangkah lemah hatinya kalau dia menghadapi seorang perempuan, padahal dia merupakan seorang pendekar yang terkenal gagah perkasa, biasa menghadapi kekerasan dan biasa menentang maut.
Akan tetapi kalau berhadapan dengan seorang perempuan ?? Berulang lagi Kwee Su Liang teringat dengan kejadian lama, kejadian tempo dulu.
Akh mengapa justeru Lie Gwat Hwa yang berhasil dia persunting menjadi isterinya; isteri kesayangannya ? Mengapa bukan.
Akh, entah dimana dia sekarang.
Mungkin dia juga sudah menikah; mungkin dia juga sudah mempunyai anak.
Dan, satu demi satu bintang-bintang menghilang dari angkasa, bagaikan takut dan umpatkan diri di balik awan hitam.
Apalagi yang harus ditakuti ? Sunyi, yang begitu pedih.
Ada sedikit air mata yang berlinang di sepasang mata Kwee Su Liang, waktu dia teringat dengan kejadian tempo dulu; untung isterinya tidak terlihat.

ESOK PAGINYA selagi Kwee Su Liang baru saja selesai menghadapi sarapan bersama isterinya, datang seorang pelayan yang mengabarkan, bahwa di kantor sudah ditunggu utusan dari kota-raja; dari istana sri baginda maharaja !! Sejenak Kwee Su Liang terdiam mengawasi pelayan itu, lalu ganti mengawasi isterinya.
Jelas Kwee Su Liang merasa terkejut juga isterinya.
Tidak biasa pihak istana mengirim utusan langsung, buat dia yang berkedudukan diperbatasan kota.
Ada apakah gerangan? Serasa tidak pernah dia melakukan sesuatu kesalahan, daerah kekuasaan dalam keadaan aman tenteram.
Sebaliknya dibeberapa daerah lain justeru sering terjadi kekacauan, baik yang berkorupsi, perampok yang meraja-lela, di beberapa tempat lagi terdengar adanya perbuatan makar atau niat untuk melakukan berontak untuk melawan pemerintah yang berkuasa.
Daerah kekuasaan Kwee Su Liang memang berbatasan dengan negara Watzu, Tartar, dan Kwee Su Liang menyadari bahwa suku—bangsa Watzu sedang menyebar pengaruh, menyusun kekuatan.
Pengaruh suku—bangsa Watzu bahkan sudah menjalar sampai kebagian Asia—tengah, dekat dengan perbatasan dengan negara Iran, Persia; akan tetapi selama itu, Kwee Su Liang tak merasakan adanya sesuatu ancaman dari pihak suku—bangsa Watzu, tiada tanda—tanda bahwa mereka akan melakukan penyerangan memasuki wilayah negeri cina yang sedang dijajah oleh bangsa Mongolia.
Suasana kelihatan tenang, mengapa tiba—tiba datang utusan dari kota-raja, bahkan dari pihak istana kerajaan? Sementara itu Lie Gwat Hwa buru—buru menyediakan pakaian dinas suaminya, dan dia membantu suaminya ganti pakaian; setelah itu dengan hati risau Lie Gwat Hwa meninggalkan dia, buat menemui utusan yang sudah menunggu.
Setelah siap menerima utusan dari kota raja, maka Kwee Su Liang menjadi tambah terkejut, oleh karena yang datang ternyata adalah seorang menteri, bukan seorang utusan biasa; sehingga semakin bertambah yakin Kwee Su Liang tentang adanya sesuatu urusan yang sangat penting.
Menteri yang diutus oleh sri baginda raja, ternyata adalah menteri urusan kesejahteraan negara, Toan Teng Hong: sudah tua orangnya, sudah 80 tahun lebih umurnya dan sudah putih semua rambutnya, juga kumis dan jenggotnya yang tidak panjang.
Menteri Toan Teng Hong membawa sepucuk surat dari istana kerajaan, disamping itu menteri Toan Teng Hong menambahkan keterangannya secara lisan.
Ternyata di kota raja sedang terjadi sesuatu peristiwa yang menghebohkan.
Peristiwa itu bahkan merupakan peristiwa berdarah yang meminta korban nyawa manusia.
Dikatakan oleh menteri bahwa menteri pertahanan ikut tewas menjadi korban diantara banyaknya korban lain dari istana kerajaan.
Pelaku peristiwa pembunuhan itu pada mulanya tidak diketahui perbuatan siapa gerangan, akan tetapi korban keganasan yang luka—luka maupun yang tewas, ternyata terkena senjata rahasia berbentuk bunga ceng-hwa atau bunga cinta, yang mengandung bisa racun maut.
senjata rahasia berbentuk bunga Ceng hwa itu sudah tidak asing lagi buat orang-orang yang biasa berkelana di kalangan rimba persilatan, suatu senjata yang khas menjadi miliknya Ceng hwa liehiap Liu Giok—Ing !! Ya, Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, si pendekar bunga—cinta; dan baru semalam Kwee Su Liang teringat dengan kejadian lama.
Baru semalam, untuk yang kesekian kalinya dia mengalirkan air mata; terasa pedih, begitu pedih.
Dan satu demi satu bintang—bintang menghilang dari angkasa, bagaikan takut, dan umpatkan diri dibalik awan hitam.
Kwee Su Liang bagaikan ikut merasakan menghadapi suatu pertempuran antara Kwee Su Liang melawan si pendekar bunga—cinta Liu Giok Ing.
Takut menghadapi suatu pertempuran yang bakal dilakukan antara dua jago pedang kenamaan.
Mengapa mereka harus bertempur; kenapa ? Apa sebab benci tapi rindu ? Dan Kwee Su Liang menjadi lebih terkejut lagi; ketika diketahuinya dari menteri kesra Toan Teng Hong, bahwa Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing sebenarnya sudah menikah dengan pangeran Giok Lun yang bertempat kediaman di kota raja.
Sudah 10—tahun mereka menikah dan Kwee Su Liang tidak mengetahui, dia bahkan menganggap si pendekar bunga—cinta masih merana dan berkelana dikalangan rimba persilatan.
Dia bahkan masih memikirkan; masih merisaukan dan masih mengalirkan air mata, kalau dia teringat dengan kejadian lama.
Sementara itu menteri kesra menyambung pembicaraannya yang berhubungan dengan maksud kedatangannya : Nama Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing sudah tidak asing lagi di kota raja, dan sri baginda raja sudah mengetahui bahwa Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing adalah muridnya Touw—liong cuncia yang terkenal sangat gemar bergaul dengan Suku bangsa Biauw yang masih liar sehingga Touw—liong cuncia sangat pandai mengolah berbagi macam bisa racun, bahkan menguasai ilmu hitam yang berasal dari suku bangsa Biauwm.
” Jilid 2 AKAN tetapi, mengingat Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing sudah menikah dan menjadi isterinya pangeran Gin Lun, maka pada mulanya sri baginda raja tidak yakin kalau peristiwa pembunuhan itu dilakukan oleh Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing; sampai kemudian diterima laporan oleh sri baginda raja tentang Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing yang katanya telah melakukan penyerangan terhadap istana pangeran Gin Lun, sehingga terjadi pertempuran antara Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melawan pasukan pengawal istana pangeran Gin Lun, bahkan pangeran Gin Lun ikut bertempur dan mendapat cidera .
“Jelas sri baginda raja menjadi sangat marah waktu menerima laporan itu, apalagi waktu diterimanya bahwa Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing hendak melakukan makar, melawan pemerintah dengan mempergunakan pengaruh suaminya, Giok Lun Hoat—ong; menghasut suaminya supaya merebut kekuasaan dan mengangkat diri menjadi raja.
Sri baginda raja mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Giok Lun Hoat—ong dan isterinya, tetapi ternyata cuma Giok Lun Hoat—ong yang berhasil ditangkap dan ditahan, sedangkan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menghilang tanpa diketahui jejaknya .
” “ .
Kemudian sri baginda raja juga mengetahui tentang adanya sengketa antara Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing dan anda, Kwee tay—jin; sehingga sri baginda raja mengutus aku untuk datang di tempat anda, memerintah anda melakukan penangkapan terhadap Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing, dan membawanya ke kota—raja setelah anda berhasil melakukan tugas ini .
” Terbelalak sepasang mata Kwee Su Liang setelah menteri kersa Toan Teng Hong menyudahi perkataannya, jelas perintah raja tidak mungkin untuk dihindari oleh Kwee Su Liang.
Mengapa dia yang ditugaskan untuk menangkap Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing? Mengapa sri baginda ikut mengetahui tentang adanya sengketa antara dia dan Liu Giok Ing ? Sengketa apa ? Jelas ada seseorang yang telah berbicara atau memberitahu ‘sengketa’ itu kepada sri baginda raja, jelas seseorang itu telah menghasut sri baginda raja, entah siapa seseorang itu, dan entah berupa ‘sengketa’ apa yang di beritahukan kepada sri baginda raja I Untuk yang kesekian kalinya, terbayang lagi oleh Kwee Su Liang dengan kejadian lama, terbayang semua pengalamannya waktu tempo dulu; apakah nasib yang hendak mempertemukan lagi antara dia dan Liu Giok Ing, setelah lebih dari 10—tahun lamanya mereka terpisah? Dan, ah ! Mendadak Kwee Su Liang pun teringat dengan pertemuannya dan dengan pembicaraan si 0rang—tua sakti Lauw Tong Sun.
Apakah akan menjadi kenyataan atas ramalan yang diucapkan oleh orang itu? “Baiklah Toan tayjin, tolong beri kabar kepada sri baginda raja bahwa aku Kwee Su Liang menerima tugas yang diperintahkan.
Dalam waktu secepatnya aku akan berangkat.
akhirnya kata Knee Su Liang kepada menteri kesra Toan Teng Hong- Akan tetapi, selekas Knee Su Liang sudah berkumpul lagi dengan isterinya jelas tidak mmdah buat dia mengajak isterinya bicara- Haruskah dia mengatakan secara terus—terang tentang perintah sri baginda raja ? Haruskah dia memberitahukan bahna sri baginda raja.
memerintahkan dia menangkap Ceng-hwa lie hiap Liu Giok Ing ? Jelas Liu Gwat Hwa akan tertawa kalau suaminya mengatakan hal itu- Tana yang bukan wajar tertawa, tawa sebab Lie Gnat Hwa juga mengetahui tentang sengketa tempo dulu antara Knee Su Liang dan Liu Giok Ing ! Dan mengenai rahasia hati isterinya ? Untuk yang kesekian kalinya Knee Su Liang menjadi risau kalau dia teringat dan meraba—raba tentang rahasia hati isterinya! “Suko, setiap orang tentu.
memi1iki rahasia yang tersimpan dida1am.
hatinya-‘ itulah kata—kata Ceng—hna liehiap Liu Giok Ing yang sukar dilupakan oleh Knee Su Liang, disaat dahulu mereka cukup akrab bergaul- “Cuma orang yang bodoh yang mau.
melakukan ha1—hal yang bertentangan dengan hasrat hatinya-.
” dan inilah kata—kata Knee Su Liang yang pernah dia ucapkan dihadapan Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing- (“Giokimoay seharusnya aku girang mendengar kau sudah.
menikah dengan Giok Lun float-ong-.
-“) bisik Knee Su Liang dida1am.
hati; akan tetapi, mengapa terjadi peristiwa seperti yang diceritakan o1eh.
menteri kesra Toan Teng Hong- Kenapa? Jelas Knee Su Liang harus melakukan perjalanan meninggalkan ruah dan.
meningga1kan anak isterinya.
Bukan buat.
menangkap Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, akan tetapi untuk bertemu, untuk menanyakan dan untuk memperoleh penjelasan.
setelah itu ? Ya, setelah itu apa yang harus dia laporkan kepada sri baginda raja ? Hampir semalaman suntuk Knee Su Liang harus melakukan pembicaraan dengan isterinya, juga dengan kedua bibiknya, membicarakan tentang tugas yang dia terima dari sri baginda raja, akan tetapi tidak dia jelaskan tentang adanya senjata- rahasia ‘bunga cinta’, apalagi tentang Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing yang tidak dia sebut—sebut namanya, selagi dia bicara dengan isteri dan kedua bibiknya- Yang dia bicarakan justeru lebih banyak tentang hatinya yang merasa risau, karena harus meninggalkan isteri dan anaknya, di saat dia baru saja bertemu dan.
me1akukan pembicaraan dengan si kakek Lauw Tong Sun, “Akan terjadi ma1apetaka_” kata si kakek Lauw Tong Sun; “dan anda akan banyaktmelakukan perjalanan jauh meninggalkan rumah dan meninggalkan ke1uar.
-” (“Akh, mengapa begitu cepatnya ramalan itu menjadi suatu kenyataan_-?”) pikir Knee Su Liang didalam.
hati; dan tentang malapetaka itu? Benar—benar sangat merisaukan hati Knee Su Liang: sehingga berbalik isterinya yang harus menghibur dan membesarkan hati Knee Su Liang, juga kedua bibiknya yang berjanji akan.
memperketat melakukan penjagaan, selama Knee Su Liang tidak berada ditempat.
Maka terjadilah Knee Su Liang meninggalkan kota perbatasan Gan—bun—koan.
meninggalkan ruah dan meninggalkan isteri serta anaknya; juga meninggalkan kedua bibiknya dan kedua keponakannya, Knee Giok Cu dan Sie Pek Lian- Peristina apakah yang sebenarnya telah terjadi di kota raja 2? Biasanya, setiap malam tanggal limabelasan.
merupakan.
malam.
sang rembulan bersinar terang; akan tetapi malam itu rembulan kelihatan bersinar suram, agak gelap menyeramkan- Terlebih karena banyaknya asap dupa dan hio yang tertiup angin sepoi—sepoi dari hampir setiap rumah di kota raja; bagaikan menambah Suasana menjadi remang—remang menyeramkan- Kemudian cuaca pun ikut berobah.
menjadi hitam pekat, mendung menandakan hujan akan segera turun; sehingga tiada banyak orang yang keluar berkeluyuran sebaliknya mereka cepat—cepat pulang ke ruah.
masing+masing, bersiap—siap menghindar dari curahan air hujan yang hendak turun- Akan tetapi, sang hujan tak kunjung turun.
membasahi bumi meskipun.
malam kian bertambah larut, dan keadaan bertambah sepi sebab awan.
hitam masih tetap:menyelubungi kota raja bagaikan sang hujan se1a1u.
mengancam.
akan turun sewaktu—waktu- Tidak ada suara orang yang bernyanyi—nyanyi, tidak ada suara orang yang ber1a1u—1intas; cuma sisa suara burung malam dan burung hantu yang perdengarkan suara, menambahkan keadaan semakin jadi menyeramkan- Justeru disaat yang sedang sesunyi itu, disaat tiada sinar rembulan yang tertutup dengan gumpalan awan—awan hitam; maka secara tiba—tiba kesunyian itu terpecahkan karena terdengarnya pekik suara banyak orang, pekik suara dari orang—orang yang menjadi penghuni rumah menteri pertahanan dan keamanan Wie Kok Ceng, sebab ma1am.
itu.
menteri hankam.
Wie Kok Ceng tewas, menjadi korban keganasan yang kesekian kalinya senjata rahasia berbentuk bunga Ceng—hwa yang mengandung bisa racun.
maut !! Sudah cukup banyak nyawa yang menjadi korban keganasan senjata rahasia yang mengandung bisa racun itu, mmla pertama peristiwa itu terjadi dikalangan para pengawal istana kerajaan, disusul kemudian terhadap beberapa menteri yang terkenal setia terhadap raja dan negara; mereka semna tewas terkena senjata rahasia yang berbentuk bunga Ceng—hna, atau bunga cinta, namun tak ada seorang pun yang melihat pelakunya- Cua dikatakan.
memakai pakaian.
ma1am.
serba hitam dan serba ketat, tinggi langsing bentuk tubuhnya dan pesat cepat gerak tubuhnya, seolah—o1ah si pelaku itu dapat terbang di udara, tidak kena sasaran anak panah yang semakin bertambah ketat melakukan penjagaan, melindungi keselamatan sri baginda raja yang sewaktu—waktu ikut terancam nyawanya !!
Memang sudah tidak asing lagi buat orang—orang dikalangan rimba persilatan, bahwa senjata rahasia berbentuk bunga Ceng hwa itu merupakan senjata yang khas dari Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing; hal ini juga diketahui oleh orang—orang yang bertugas menjadi pengawal istana kerajaan, bahkan juga oleh sri baginda maharaja.
Lebih dari 10 tahun yang lalu, Ceng hwa liehiap Liu Giok>Ing pernah “mengacau” di kota raja, bahkan didalam istana kerajaan, dan kemudian liehiap Liu Giok Ing menikah dengan p angeran Giok Lun, dan sejak itu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing menghilang dari kalangan rimba persilatan.
oleh karenanya, sri baginda raja ikut meragukan, entah apa yang menyebabkan sehingga Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing mulai melakukan kegiatan lagi, bahkan melakukan pembunuhan terhadap para pengawal istana kerajaan; dan melakukan pembunuhan terhadap para menteri yang diketahui setia mengabdi terhadap raja dan negara.
Mungkinkah bukan Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing yang melakukannya, ataukah ada maksud tid ak baik dari pangeran Giok Lun yang kepingin melakukan perbuatan makar? Sri baginda maharaja merasa cukup bijaksana untuk segera tidak mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing, juga terhadap pangeran Giok Lun yang merupakan puteranya.
Sementara itu, Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing ikut menjadi terkejut ketika mendengar berita tentang peristiwa pembunuhan itu; padahal sesungguhnya bukan dia yang melakukannya.
Senjata rahasia berbentuk bunga ceng—hwa atau bunga—cinta, memang merupakan senjata rahasia yang khas menjadi milik dia.
Dengan sebatang pedang pusaka dan dengan senjata rahasia yang berbentuk bunga ceng—hwa itu, untuk banyak tahun lamanya dia berkelana dan merajalela dikalangan rimba-persilatan, sehingga berhasil dia memperoleh julukan sebagai Ceng-hwa liehiap.
Cuma sebuah nama julukan atau semacam ‘gelar’ dia pergunakan untuk segala perbuatannya yang mempertaruhkan nyawa, Cuma sebuah ‘gelar‘ buat ganti sekian banyaknya nyawa yang tewas sebagai korban pedang dan senjata—rahasia berbentuk bunga ceng—hwa.
Melulu untuk sebuah ‘gelar‘ dia bahkan harus menghadapi berbagai macam penderitaan dan kepedihan; suatu kepedihan yang terasa begitu menyakitkan hatinya, yang tak mudah dia lupakan selama hidupnya.
Setelah 10—tahun lamanya dia menikah dengan pangeran Giok Lun, dan Setelah 10—tahun lamanya dia menghilang dari segala kegiatan sebagai seorang pendekar; maka sekarang secara tiba-tiba ada seorang—orang lain yang meraja—1e1a memakai senjata—rahasia berbentuk bunga Ceng-hwa.
Dalam hati Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari adanya seseorang yang melakukan perbuatan itu, sengaja melakukan pembunuhan—pembunuhan memakai senjata rahasia yang khas menjadi miliknya, dengan maksud mencemarkan bahkan memfitnah dia.
Jelas bahwa orang—orang itu merupakan seorang musuh yang masih menyimpan dendam terhadap dia, tetapi siapakah orang-orang itu; siapa musuh itu? Sekilas Liu Giok Ing teringat dengan seseorang.
Seseorang yang pernah menyakitkan hatinya, begitu sakitnya sehingga dia bagaikan hidup merana untuk waktu yang cukup lama.
Seseorang yang pernah dia tempur, seseorang yang dia benci tetapi juga yang dia rindukan.
( “Liang-ko, mengapa kau begitu kejam2″) kata—kata ini terlalu sering dia ucapkan di dalam.
hati, dulu dan sekarang, Setelah 10—tahun lamanya dia menjadi isterinya pangeran Giok Lun, putera ketiga dari sri baginda maharaja yang saat itu sedang berkuasa.
Entah sudah berapa banyak air-mata yang dia keluarkan; meskipun kadang-kadang dia tersenyu kalau dia teringat lagi dengan Liang-ko yang dia benci dan yang dia rindukan.
Juga sekarang, Setelah dia menjadi mantu seorang raja, juga sekarang; selagi dia menghadapi peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang.
Seseorang yang sengaja memfitnah dia, yang berhasil membakar semangatnya; dan berhasil membikin dia penasaran.
Giok Lun Hoat-ong juga mendengar tentang adanya peristiwa yang menggegerkan itu; dan pangeran ini juga menyadari bahwa isterinya sedang difitnah oleh seseorang.
Difitnah; oleh karena pangeran ini tahu benar bahwa perbuatan keji itu bukan dilakukan oleh isterinya sebab isteri tersayang itu tidak pernah lepas dari rangkulannya; dan tidak pernah meninggalkan dia.
Sempat pangeran Giok Lun memperhatikan keadaan isterinya yang mendadak berobah, suka perlihatkan sikap marah—marah dan penasaran; Setelah diketahuinya tentang adanya peristiwa pembunuhan keji itu.
Sempat pangeran Giok Lun menyediakan waktu, pada waktu senja maupun pada waktu malam hari, buat menghibur isteri kesayangannya.
Dirangkulnya tak sudahnya dikecupnya sepasang pipi isteri kesayangannya, yang kulitnya putih bersih halus seperti batu pualam; bahkan dipangkuannya yang lalu membelai dengan berbagai kata dan perbuatan mesra.
Begitu besar kasih—sayangnya terhadap isterinya, yang tak mudah dia persunting dan dia peroleh.
Sepuluh tahun lebih dia menjadi suami dari Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing, yang dahulu terkenal sebagai ‘macan betina yang ga1ak’; tetapi yang begitu lemah lembut dan begitu manja Setelah mereka berada diranjang.
Lemah lembut manja, benarkah ini? Akh ! Kadang—kadang Giok Lun Hoat-ong meragukan.
Cuma didalam hati dan Cuma merupakan rahasia hati: sebab pangeran ini cukup mengetahui, ada lelaki lain yang berhasil ‘mencuri’ hati isterinya sebelum dia menjadi suaminya.
Dan rahasia hati itu tetap dia simpan didalam hatinya, sepuluh tahun mereka hidup menjadi suami isteri, sepuluh tahun Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing rela menyerahkan diri; tetapi mengapa selama 10 tahun itu tidak kelihatan sang bayi nongol buat bukti nyata kasih sayang mereka ?? Giok Lun Hoat ong merupakan putera salah seorang selir dari sri baginda maharaja yang sedang berkuasa.
Dalam buku pelajaran sejarah bangsa dan negara Cina dikelas es-em—pe, tidak disebutkan entah berapa banyak selir yang dimiliki oleh sri baginda maharaja ini, mungkin sampai puluhan disamping seorang permaisuri; tetapi menurut ceritera sana—sini, dari sekian banyaknya selir—se1ir itu, sri baginda maharaja mempunyai 13 orang putera.
Cap—sha tay po, kalau menurut istilah ki—dalang wayang-boneka yang di kelenteng toa-se-bio.
Dan ketiga belas orang pangeran ini, sudah tentu suaminya memiliki rahasia hidup masing—masing yang tidak akan mungkin diketahui orang, kalau rahasia hidup atau rahasia mati itu tidak mereka uraikan dihadapan seorang—orang yang tekun mencatat; sehingga di kemudian hari diketahui tentang mereka.
Ada yang bermaksud, dengan melakukan perbuatan makar, dan menyimpan dendam terhadap ayahnya sendiri, ada yang merindukan sang ibu tiri dan ada juga yang senang hidup menyendiri.
sebagai seorang putera—raja, meskipun Cuma dari seorang selir; Giok Lun Hoat-ong yang dalam urutan merupakan putera ketiga dari sri baginda maharaja, memperoleh pendidikan yang sempurna, mengerti ilmu surat, ilmu silat dan sedikit menggambar sehingga ada lukisan sketsa wajah—muka sang isteri tercinta yang sempat menghias kulit halaman muka buku—buku ceritera—silat.
Tentang isteri tersayang yang mahir ilmu-silatnya itu memang sudah diketahui Giok Lun Hoat-ong bahwa isterinya merupakan murid-tunggal dari Touw—1iong cuncia, seorang laki—laki yang tinggi ilmu dan hidup menyendiri dekat perbatasan Inlam, Tali; bahkan di bagian pedalaman, ditempat yang masih banyak dihuni oleh suku—bangsa Biauw yang liar, yang gemar makan daging orang.
Isteri tersayang yang cantik—jelita dan mahir ilmu-silatnya itu bahkan dikenal orang sebagai ‘macan betina yang galak’ disamping gelar ‘Ceng—hwa liehiap‘ atau pendekar bunga—cinta; dan isteri tersayang ini pernah menyebar maut dikalangan rimba-persilatan bahkan di kota—raja dan di dalam istana kerajaan.
Menyebar maut dikalangan orang—orang yang jahat; tetapi kalau menurut pengakuan isteri tersayang itu; dan Giok Lun Hoat-ong Cuma manggut—manggut mesra kalau mereka membicarakan lagi urusan itu.
Berdua, dalam kamar, akan tetapi, apakah ‘orang orang jahat’ itu tidak mempunyai sanak? Mungkin sang isteri tersayang lupa, waktu itu sebaliknya Giok Lun Hoat-ong tidak lupa dan tidak pernah melupakan, bahwa diantara sekian banyaknya ‘orang orang jahat’ itu, ada yang menyimpan dendam.
dan benci terhadap isteri kesayangannya.
Bahkan mungkin ada yang menyimpan rindu, seperti laki laki perkasa yang pernah ‘mencuri’ hati isterinya.
Dulu ! sekarang tibalah saatnya buat seorang ‘orang jahat’ itu untuk melakukan balas dendam terhadap isteri kesayangannya itu.
Balas dendam.
memakai Cara memfitnah, mencemarkan nama isterinya dan menyebar berita bahwa sang isteri tersayang bermaksud menggunakan pengaruh kedudukan suaminya, hendak melakukan perbuatan makar, menggulingkan pemerintah yang sekarang sedang berkuasa; dalam arti kata hendak menggeser bahkan mungkin membunuh ayah mertuanya ! Jelas Giok Lun Hoat ong harus cepat-cepat menghadap ayah tercinta, perlu memberikan penjelasan; tetapi Giok Lun Hoat ong tidak mudah untuk menemui sang ayah tercinta bahkan tak mudah memperoleh kesempatan buat menghadap, selalu ada rintangan dari pihak istana, rintangan yang sengaja diatur dan direncanakan pihak orang orang yang juga ikut dendam terhadap Giok Lun Hoat ong.
Dikatakannya sang ayah tercinta sedang sibuk, di istana bukan tempat melakukan kegiatan pemerintahan; tetapi sibuk entah ditempat selir yang keberapa ! Giok Lun Hoat ong pusing menghadapi masalah itu, tetapi dihadapan isteri tersayang, dia berusaha menghibur, selalu dia membelai dengan kata—kata dan perbuatan mesra, seperti pada senja itu selagi mereka berdua duduk di dalam ruangan yang berdekatan dengan taman bunga.
Untuk yang kesekalian kalinya; sempat Giok Lun Hoat-ong merangkul pinggang isterinya yang ramping; sempat dia memangku sang isteri tersayang, sempat dia mengecup pada bagian pipi, lalu pindah kebagian leher, dekat daun telinga sehingga sang isteri tersayang bergelinjang dan merengek manja, setelah itu baru Giok Lun Hoat-ong berkata : “Moay—moay, mengapa kau kelihatan muram? Apa yang sedang kau pikirkan .
” Begitu halus, begitu lembut Giok Lun Hoat-ong mengucap kata—kata, dan selembut itu juga dia membelai rambut ikal isteri kesayangannya, sehingga Sekilas Liu Giok Ing merasa bagaikan tersentak.
Hilang lenyap rasa gelinjang bekas kena sentuh dan kecup suaminya; dan begitu tiba-tiba ada sedikit air mata yang menggenang disepasang matanya yang biasanya bersinar jernih tajam.
Air mata yang untuk kesekian kalinya tak jemu-jemu membasahi mukanya.
Mengapa ? Pasti dan selalu suaminya akan menanya, tetapi tahukah suaminya apa sebab air-mata itu tak bosan—bosan membasahi mnkanya; tahukah suaminya untuk siapa air-mata itu dia keluarkan? Akh ! Suami yang malang dan suami tersayang.
“Moay—moay, mengapa kau mengeluarkan air-mata .
?” dan buru-buru Giok Lun Hoat ong mengeringkan air-mata itu memakai jari-jari tangannya: lembut mesra dia melakukannya, sehingga berhasil menambah derasnya air-mata itu keluar, untuk yang kesekian kalinya, berulang lagi seperti biasa.
Dan Giok Lun Hoat-ong cukup menyadari, cukup mengetahui.
Air—mata pertama yang isterinya keluarkan, merupakan air-mata yang isterinya keluarkan buat laki—laki yang pernah mencuri hati isterinya, dan yang masih tetap dikenang oleh isterinya, akibat kata—kata suaminya yang lembut-mesra, seperti yang pernah diucapkan oleh laki—laki pencuri hati itu yang sangat berkesan dihati isterinya.
Sedang air mata berikutnya Liu Giok Ing keluarkan buat suaminva yang begitu menyayangi dia, begitu mencintai, cumbu merayu; ingin memperoleh cinta kasih sepenuhnya.
Mungkinkah itu ?? “siang—kong, betapa aku tidak merasa risau, aku bahkan merasa marah dan penasaran karena perbuatan seorang yang sedang memfitnah aku.
Bukan kepada siang—kong aku marah—marah, dari itu maafkanm” Cepat-cepat Giok Lun Hoat-ong menutup mulut isterinya memakai jari tangannya, tidak dibiarkannya isterinya melengkapi perkataannya; lalu ganti dia yang berkata: “Moay—moay, aku dapat mengerti perasaan kau.
Esok pagi akan kuperintahkan Lim ciang—kun buat melakukan penyelidikan dan penangkapan terhadap si pelaku itu.
” Liu Giok Ing melepaskan diri dari rangkulan suaminya, pindah duduk dari atas pangkuan suaminya; memilih sebuah kursi yang letaknya berhadapan dengan suaminya itu.
“siang—kong, sesungguhnya aku bukan tidak menghargai ilmu kepandaian Lim.
ciangkun.
Akan tetapi seseorang yang melakukan perbuatan keji itu, pasti merupakan seseorang yang tinggi ilmu kepandaiannya.
siang—kong tentu menyadari betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh menteri hankam, seorang menteri yang mengatur pertahanan dan keamanan negara.
Rumahnya bahkan dijaga ketat, akan tetapi ternyata dia tewas.
Dari itu perkenankanlah siang—kong, perkenankanlah untuk sekali ini aku sendiri yang akan melakukan penyelidikan.
Hal ini perlu aku lakukan, bukan melulu buat kepentingan aku; tetapi kepentingan kita, sebelum sri baginda .
” dan mendadak Liu Giok Ing menghentikan perkataannya; tanpa suaminya mencegah untuk dia meneruskan perkataannya.
Tetapi, suami itu kelihatan menunduk lesu, dan ada air mata yang membasahi mukanya.
Kenapa?? Buru—buru Liu Giok Ing bangun lagi dari tempat duduknya, mendekati dan berlutut di dekat suaminya; dengan sepasang tangan berada diatas pangkuan sang suami: “siang—kong, mengapa siang—kong mengeluarkan air mata .
?
Ikut Liu Giok Ing mengeluarkan air mata.
Untuk yang kesekian kalinya, dia bagaikan kehilangan jiwa pendekar yang dimilikinya; menghadapi sang suami yang bersikap lemah lembut.
“Moay—moaym” Giok Lun Hoat—ong bersuara dan memerlukan menghapus air mata isteri kesayangannya, sebaliknya membiarkan air matanya sendiri yang masih membasah di mukanya; lalu dia meneruskan berkata: “mKalau aku memberikan perkenan, jelas moay-moay akan mengulang perbuatan seperti dulu, dan moay—moay akan pergi meninggalkan akum.
” Terisak menangis Liu Giok Ing waktu didengarnya perkataan suaminya, begitu lembut, begitu mesra; menyimpan rasa takut ditinggalkan.
Dan Liu Giok Ing menelungkupkan kepalanya diatas pangkuan suaminya, belakangan kepalanya.
Cukup jelas Liu Giok Ing mengetahui dan menyadari betapa besar kasih sayang suaminya terhadap dirinya.
suaminya tidak membolehkan dia hidup berkelana menyambung nyawa, suaminya takut dia mendapat cedera dan takut kehilangan dia, bahkan takut dia bakal bertemu lagi dengan laki-laki ‘pencuri—hati’ itu.
Tetapi tahukah suaminya bahwa dia masih menyimpan rasa benci tetapi rindu terhadap laki—1aki itu ?? Akh, suami yang malang !! Dan buru-buru Liu Giok Ing mengangkat kepalanya, sebelum air mata berikutnya sempat dia keluarkan; dia mengawasi muka suaminya dan dia berkata: “Siang—kong, meskipun tidak aku ucapkan, akan tetapi didalam hati aku sudah berjanji, bahwa aku tidak bakal meninggalkan kau, tidak bakal kembali hidup berkelana seperti dulu.
Aku Cuma minta perkenan supaya dibolehkan melakukan penyelidikan dan penangkapan terhadap manusia keji itu.
Aku Cuma keluar malam untuk melakukan penyelidikan setelah itu aku akan kembali lagi berada disini siangkong .
.
.
.
.
” “Jadi, moay-moay bukan bermaksud pergi lama meninggalkan rumah dan mening.
” “Tentu tidak, siangkong.
,.
” sahut Liu Giok Ing yang memutus perkataan suaminya, berhasil dia membikin suami itu merangkul lagi, mengecup lagi dan mengulang lagi dengan belaian kasih- mesra.
MEMANG cuma malam yang memungkinkan buat Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan penangkapan terhadap si pelaku pembunuhan keji itu, sebab si pembunuh tentu akan umpatkan diri diwaktu siang.
Akan tetapi, tetap bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah buat Liu Giok Ing menemukan jejak si pembunuh, apalagi menangkap basah selagi si pembunuh melakukan kejahatannya.
Liu Giok Ing bahkan harus menghindar dari petugas pemerintah yang mencurigai dia, dan yang diperintahkan mematai dia oleh sri baginda raja.
Jelas akan terjadi pertempuran antara pihak sendiri, andaikata pihak petugas pemerintah menemukan dia yang sedang berkeliaran diwaktu malam; jelas pihak pemerintah akan tambah mencurigai sebagai perbuatannya semua pembunuhan itu.
Oleh karenanya, Liu Giok Ing bahkan harus memakai tutup—muka dengan sehelai kain warna hitam diwaktu dia melakukan penyelidikan hendak menangkap si pembunuh yang hendak memfitnah dia.
Di malam pertama Liu Giok Ing mulai melakukan usahanya mencari jejak si pembunuh, yakni sesaat setelah dia bicara dengan suaminya; maka terasa sangat gelisah hati Giok Lun Hoat—ong yang melepas isterinya.
Gelisah dan cemas oleh karena dengan setulus- ikhlas dia menyintai isterinya.
Ingin dia memerintahkan Lim ciangkun buat membayangi dan memberikan perlindungan bagi isterinya, akan tetapi isteri tersayang itu justeru menertawakan Lim ciangkun; isteri tersayang itu mengatakan bahwa kemungkinan justeru dia yang harus melindungi Lim ciangkun, andaikata Lim ciangkun ditugaskan ikut mencari jejak si pembunuh.
“Bukan tandingan Lim ciangkun.
” kata isterinya sambil tertawa jenaka; waktu membicarakan tentang ilmu kepandaian si penjahat.
Dan perkataan isteri tersayang itu, sudah tentu menambah rasa cemas Giok Lun Hoat—ong, khawatir ka1au—kalau isterinya akan mendapat cidera diwaktu menghadapi penjahat itu.
Tetapi apa daya dan yang harus dilakukannya.
Isteri tersayang itu terkenal ‘keras—kepa1a’ kalau sudah membawakan peranan sebagai seorang pendekar; seorang jago—pedang yang tidak pernah mengenal rasa takut ! Kembali berulang Giok Lun Hoat—ong membayangkan kejadian lama, selagi dulu Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing belum.
menjadi isterinya.
Dua-kali pantatnya kena tendang ‘macan—betina yang galak’ itu.
Pertama kali pada waktu Giok Lun Hoat—ong menerima perintah dari ayahnya, sri baginda maharaja; buat menangkap ‘macan betina yang galak’ itu, yang waktu itu sedang mengacau di kota raja.
Giok Lun Hoat—ong menerima perintah tanpa mengenal rasa ‘takut‘ meskipun sudah dia ketahui betapa macan betina itu sangat galak.
Ikut Giok Lun Hoat—ong menyaksikan pasukannya mengepung ‘macan-betina yang galak’ itu, bahwa ikut Giok Lun Hoat—ong majukan diri, siap tempur melawan ‘macan betina yang liar’ itu.
Pakai pedang pusaka, dia waktu itu; tapi Cuma sekali sentuh, pedangnya hilang entah kemana dibawa terbang dan tahu-tahu pedang pusaka itu sudah berada di tangan kiri ‘macan- betina yang pandai terbang’ itu.
“Pedang yang bagus m.
!” macan—betina yang galak itu berkata jenaka; lalu seenaknya dia bawa pergi pedang—pusaka itu, membikin Giok Lun Hoat—ong marah—marah waktu itu.
Berteriak Giok Lun Hoat—ong berusaha mengejar ‘macan—betina yang maling pedang‘ itu.
Cepat—cepat lari ‘macan—betina yang maling‘ itu, dan cepat—cepat Giok Lun Hoat—ong berusaha mengejar, meninggalkan pasukannya; sisa dia sendirian yang masih terus melakukan pengejaran.
Sampai disuatu tempat yang sunyi, disebelah barat tembok kota—raja, ‘Macan betina yang maling pedang‘ itu duduk menunggu dia, duduk seenaknya diatas rumput menyandar dahan pohon beringin.
Ngome1- ngomel Giok Lun Hoat—ong, nuding—nuding pakai jari tangannya yang lurus tegak tetapi gemetar menahan rasa marah, waktu itu; tetapi ‘macan betina yang maling pedang‘ itu tenang—tenang bersenyum simpul dan mengunyah kwaci.
Bertambah marah Giok Lun Hoat—ong.
Menambah ngomel—ngomel dan menambah nuding—nuding, dan macan betina yang maling itu mencegah dengan menggoyang—goyang sebelah tangannya, sementara mulutnya perdengarkan suara menirukan bunyi suara cecak, lalu menambah dengan kata—kata : “Mau apa nguber nguber .
?” “Mau pedang .
!” cukup keras suara Giok Lun Hoat—ong berteriak, akan tetapi ‘macan galak’ itu berobah menjadi ‘macan jenaka’ : “Nih, ambil .
” katanya dan menyertai seberkas senyum jenaka- manja.
Buru-buru Giok Lun Hoat—ong melangkah tambah mendekati, kesandung sebelah kakinya pada akar pohon beringin yang tidak dilihatnya, terjerumus tubuhnya bagaikan ingin menerkam.
‘macan jenaka’ yang masih duduk tenang, dengan sebelah tangannya menyodorkan pedang pusaka.
Kaget pangeran Giok Lun yang muda dan sangat tamp an itu: takut dia menyentuh tubuh macan jenaka dan takut dia dianggap sebagai laki-laki yang tidak sopan.
Hampir dia berteriak memerintahkan macan jenaka itu cepat—cepat minggir menghindar jangan sampai kena dia terkam.
Tetapi sia-sia dan sepasang tangannya sudah merangkul.
Merangkul dahan pohon beringin sebab ‘macan jenaka’ itu sudah terbang entah kemana; tetapi tahu-tahu pantatnya kena tendang, dan “macan yang jenaka” itu menghilang, meninggalkan suara tawa yang merdu jenaka, tetap membawa lari pedang pusaka yang dicurinya tadi.
Itulah saat yang pertama kali Giok Lun-Hoat-ong kena tendang ‘macan betina yang galak” itu, dan yang kedua kali terjadi di rumah pangeran muda yang tampan itu; sebab diluar dugaan, ‘macan betina yang maling‘ itu datang ‘mengaduk-aduk’ rumah pangeran Giok Lun, bertempur dan melukai entah berapa banyak pasukan ‘sie-wie’ yang ditugaskan menjaga keselamatan rumah dan nyawa pangeran yang anak raja; namun yang tidak berdaya menghadapi dan mencegah niat ‘macan betina yang maling’ itu, yang katanya hendak bertemu dengan pangeran Giok Lun.
“Mau apa nguber—nguber ??” tanya pangeran Giok Lun, meminjam istilah ‘macan betina yang galak’ itu, waktu dibawah pohon beringin dulu.
“Eh, aku bukan nguber—nguber m.
” bantah macan betina yang galak itu, mengulang bersenyum jenaka seperti dulu.
“Mau apa nyari—nyari ?” Giok Lun Hoat—ong meralat pertanyaan marah suaranya, meskipun bernada menanya.
‘Macan betina yang jenaka’ itu menambah senyumnya, berobah menjadi ‘macan betina yang memikat’; berhasil membetot sebelah hati pangeran muda yang tampan itu, sampai terasa berguncang- guncang.
Akan tetapi cepat pangeran Giok Lun tersadar, waktu didengarnya suara ‘macan betina yang memikat’ itu berkata .
“Mau kembalikan pedang.
” dan sebelah tangan kiri ‘macan betina yang memikat’ itu memberikan pedang pangeran Giok Lun yang dahulu dia bawa lari.
“Tidak perlu .
” pangeran Giok-Lun seperti ngambek-ngambek; ogah menerima pedang pusaka yang hendak dikembalikan.
“Aku juga tidak perlu .
” kata ‘macan—betina yang memikat’ itu, lembut merdu suaranya dan tetap menyertai seberkas senyum yang memikat; namun berhasil membikin pangeran Giok Lun marah, merasa diejek, merasa dihina; terlebih sebab mendadak dia teringat bahwa dia pernah kena tendang pertama.
Cepat-cepat dia berkata, balas mengejek: “Ambil saja dan anggap saja sebagai tanda mata .
” “Tanda mata .
?” ulang macan betina yang memikat itu merasa tidak mengerti; berpikir dan hilang lenyap senyum.
yang menghias mukanya.
“Ya, tanda mata.
Buat aku lamar kau menjadi bini .
” Marah ‘macan betina yang memikat’ itu, berobah dia menjadi ‘macan betina yang galak’.
Disodoknya ke perut pangeran Giok Lun memakai tangan kirinya yang memegang pedang pusaka milik pangeran muda yang tampan itu.
Gerak tangan kiri itu seperti gerak ular belang melepas bisa, tetapi gerak tangan ini begitu lembut-lambat, sehingga tidak sukar buat pangeran Giok Lun menghindar, bahkan dia berhasil memegang pedang pusaka yang masih terbungkus dalam sarung, yang sedang mengarah bagian perut.
Tetapi, selekas sebelah tangan pangeran Giok Lun memegang pedang pusaka itu, maka secepat itu juga Liu Giok Ing melepaskan pegangannya, bagaikan dia sengaja mengembalikan pedang pusaka itu; lalu dia lompat hendak meninggalkan pangeran Giok-Lun.
Bertambah marah pangeran Giok Lun yang merasa kena tipu, berteriak dia keras—keras: “Tangkap dia .
!!” Meluruk semua pasukan sie—wie yang ada, Cuma mengurung, Cuma merintang; takut dekat—dekat, takut kena pedang kalau ‘macan- betina yang galak’ itu mengamuk—ngamuk lagi.
Sedangkan pangeran Giok Lun yang merasa penasaran, lompat tinggi dan jatuh memakai ilmu ‘burung belibis menyeberang pantai’.
Sedikit lewat dia hinggap berdiri membelakangi Liu Giok Ing yang lagi jalan tenang- tenang mau pulang, lalu sebelah kaki Liu Giok Ing menendang pantat pangeran itu yang dia anggap melintang di jalan.
Itulah saat yang kedua kali pangeran Giok Lun kena tendang ‘macan betina yang galak’ itu, yang sekarang menjadi isterinya.
seorang diri Giok Lun Hoat ong tersenyum karena teringat dengan kejadian tempo dulu, selagi dia duduk menunggu isterinya yang sedang keluar malam.
Kemana? Entah, dia juga tidak tahu.
Yang jelas isteri tersayang itu sedang mengejar seorang lelaki, seorang lelaki yang sedang menyebar maut dan memfitnah suaminya; seorang lelaki? Akh ! Buru buru Giok Lun Hoat ong menghapus rasa cemburu, karena mendadak dia teringat dengan ‘rahasia hati‘ yang disimpannya.
Rahasia hati’ tentang lelaki yang pernah ‘mencuri’ hati isterinya.
Dia menghapus rasa cemburu itu, sebab dia tahu lelaki itu sudah menikah, dan juga sudah mempunyai seorang anak yang umur 10—tahun lebih dan lelaki ‘pencuri hati’ istrinya sekarang bertugas jauh diperbatasan kota Gan—bun koan, yang berbatasan dengan orang—orang Manchuria ! Dan selagi pangeran Giok Lun terbawa hanyut dalam lamunan kejadian lama, maka tidak diketahui olehnya bahwa sejak tadi seorang pelayan perempuan berdiri menunggu dia.
Pelayan perempuan itu masih muda usianya, baru 16 tahun lebih sedikit, manis mukanya dan putih halus kulitnya; tubuhnya sedang tumbuh merangsang, terutama pada bagian badan yang membusung segar.
Siu Lan nama perawan yang bekerja sebagai pelayan itu.
Sejak tadi dia menunggu majikannya yang sedang ditinggal pergi oleh isterinya, sering dia mencuri lihat muka tampan sang pangeran yang masih kelihatan muda dan mendadak dia tersipu malu ketika pandangan matanya bertemu dengan pangeran Giok Lun yang sekilas melirik dia.
“Eh, Siu Lan.
Mengapa kau masih berdiri disitum?” tanya pangeran Giok Lun yang baru menyadari.
Cepat—cepat Siu Lan berlutut, seperti biasa sesuai dengan peraturan yang berlaku; menunduk dia tak berani mengangkat muka mengawasi sang pangeran, dan agak gemetar suaranya waktu dia berkata; “Ampun ong—ya.
Hamba masih menunggu perintah ong—ya.
Mungkin ong—ya masih membutuhkan sesuatu yang dapat hamba lakukan m.
” Sejenak pangeran Giok Lun terdiam mengawasi Siu Lan yang tugasnya sebagai pelayan, sempat dilihatnya Siu Lan melirik; begitu tajam lirikan matanya.
Dan, mulutnya yang karena gin—cu, benar—benar merangsang seperti mulut isterinya yang sudah seringkali dia gigit 1embut—mesra.
Tetapi akh ! Mengapa dia harus membiarkan diri terbawa hanyut oleh sebuah lirikan mata Siu Lan yang pelayan ? Tidak pernah dia memikirkan perempuan lain, dan sama sekali tidak pernah dia mempunyai niat buat membagi kasih-sayang kepada perempuan lain.
Cuma Giok Ing yang berhak menerima kasih sayangnya, Cuma Giok Ing yang dia cintai setulus hatinya.
Dia bahkan terkenang dan bagaikan terdengar lagi kata-kat a ayahnya yang pernah diucapkan dihadapannya: “Giok-jie, sudah kau pikirkan benar—benar tentang pilihan kau? Tidak kau menyadari siapa dia ?”
“Dia akan berobah menjadi seekor ‘macan betina yang jinak’, pie—he,” sahut pangeran Giok Lun yang sempat mengajak ayahnya bergurau, berhasil membikin sri baginda maharaja ikut bersenyum, Sementara pangeran Giok Lun berkata lagi : “Bagaikan dua batu pualam yang dipersatukan; pasti akan menghasilkan seorang anak yang berupa Giok>Giok !” Sekali lagi sri baginda maharaja ikut bersenyum.
menghadapi lagak-jenaka puteranya.
Akan tetapi setelah 10—tahun menikah dan sang Giok—Giok tak kunjung nongol; maka ganti ayahnya yang berkata : “Mana Giok—Giok yang kau harapkan ?” Terdiam pangeran Giok Lun menunduk malu dan ayahnya yang berkata lagi : “Mungkin isterimu mandul ! Ingin pangeran Giok Lun membantah, akan tetapi batal dia lakukan, sebab waktu itu dilihatnya ayahnya sedang marah- II marah.
Bukan marah-marah kepada sang putera yang ketiga akan tetapi marah—marah sebab salah seorang selirnya ketangkap basah, ada main dengan seorang sie—wie; seorang perwira pengawal istana ! “Kau harus cari bini muda !” ayahnya lagi yang berkata, masih bernada marah—marah; batal pangeran Giok Lun membantah meskipun mulutnya sudah terbuka, dan sang ayah lagi yang nyerobot bicara : “Ambil selir, sebanyak—banyaknya.
Kalau kurang di kota-raja, cari dipelosok kota dan di desa-desa!” “Cukup ! Aku masih sibuk dengan urusan lainm.
” dan ayahnya mengusir dia pulang, sebab ayahnya sedang sibuk mengurusi bini-bini yang tak terhitung banyaknya.
(“Cari selir, cari bini—muda.
He—he—hem”) kata pangeran Giok Lun didalam hati, dan tertawa juga didalam hati; teringat dengan kata—kata ayahnya, sebaliknya terlupa dengan Siu Lan yang masih berlutut, belum berani bangun sebelum.
mendapat perintah untuk bangun, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
“Eh, Siu Lan.
Tidak Siu Lan, aku tidak perlu apa—apa.
Silahkan kau istirahat sebab saya juga mau tidurm.
” dan pangeran Giok Lun melangkah lesu menuju ke kamar tidur.
Lesu sebab bakal tidur sendirian selagi isteri tersayang keluyuran.
Lembut perlahan Siu Lan bangun berdiri; lesu, dia masih berdiri waktu dilihatnya sang pangeran sudah memasuki kamar tidur.
Hasrat hatinya, ingin benar dia diajak tidur oleh sang pangeran; yang sejak lama dirindukan, dan sejak lama dia tunggu—tunggu supaya dia diambil menjadi selir.
Kenapa? Mengapa tak ada sedikit pun perhatian pangeran terhadap dirinya ? Kurang cantik atau kurang daya-tarik ? Akh ! menurut juru masak kepala, ‘kau cantik dan memiliki tubuh yang merangsang, Siu Lan .
‘ Atau karena nio-cu yang menyebabkan pangeran takut mengambil bini muda ? Nio-cu memang terkenal galak, sebab dulu biasa ngebelangsak dikalangan gelandangan; tidur diatas pohon pun jadi.
Sekarang nio-cu sudah menjadi isteri seorang pangeran, sudah hidup senang diatas kasur yang empuk hangat; mungkin dia bertambah galak diranjang, sebab dihadapan orang—orang kelihatannya nio-cu bersikap ramah, lembut, mesra terhadap suaminya.
(“Apa kelebihan nio-cu kalau dibanding dengan aku m.
?”) pikir Siu Lan didalam hati.
Aku bahkan bisa bikin anak, bukan seperti nio-cu yang mandul tidak pernah bisa bikin anak, meskipun sudah 10 tahun menikah ! Jelas Siu Lan merasa penasaran; masih dia berdiri diam didekat kamar tidur majikannya.
Ingin dia nekad membuka pintu kamar tidur maj ikannya dan membuka pakaiannya, supaya majikannya membuka mata, melihat betapa mulus tubuh yang dimilikinya.
Akan tetapi batal dia lakukan, takut dia pecat, bukan diajak tidur ! Tambah lesu langkah kaki Siu lan, waktu dia melangkah menuju tempatnya, diruangan sebelah belakang.
Dia melangkah lesu perlahan sambil menunduk, sehingga tidak diketahuinya bahwa diatas kaso ruah, sedang meringkuk seorang yang berpakaian serba hitam, juga memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam.
Seseorang yang meringkuk setengah rebah diatas kaso rumah, dibagian sudut yang gelap, tidak terlihat oleh Siu Lan bahkan tidak terlihat oleh petugas—petugas yang sedang meronda I Sementara itu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing keluyuran tanpa tujuan menentu.
Sengaja dia menunggu sampai keadaan sudah cukup larut dan cukup sunyi, lalu dia lompat melesat diatas genteng sebuah rumah yang cukup tinggi.
Yakin dia bahwa dia harus berlaku waspada, terhadap musuh yang dicarinya dan terhadap petugas negara yang meronda.
Angin malam yang sepoi—sepoi meniup lembut rambutnya yang dibungkus rapih membangkitkan semangat dan gairah, bahkan membangkitkan kenangan lama selagi dia biasa berkelana dikalangan rimba-persilatan.
Naluri seorang pendekar yang dimilikinya, kembali dikuasainya seperti 10—tahun yang lalu, waspada terhadap setiap gerak dan suara.
Sepuluh tahun dia hidup mengabdi sebagai seorang isteri, sepuluh—tahun dia dibelai oleh kasih—sayang suaminya; seorang pangeran yang tampan dan kaya—raya, anak dari seorang raja meskipun dari seorang selir.
Waktu masa—remaja dahulu, dia hidup begitu bebas, kadang—kadang seperti liar, mengikuti naluri hati remaja; setelah itu dia hidup bagaikan dalam kerangkeng didalam istana seorang pangeran.
Ternyata dia mampu mengendalikan diri, mampu menguasai dorongan hati dan bahkan berlaku sebagai seorang isteri yang bijaksana; meskipun kadang—kadang dia suka teringat dan mengenangkan kejadian lama.
Terasa bagaikan dalam.
mimpi kalau dia mengenangkan tempo dulu; kemudian di saat lain dia tersenyum seorang diri, kalau dia sedang berada didalam rangkulan suaminya.
Terasa dia begitu kecil, begitu lemah; kalau dia sedang hanyut dibelai kasih sayang suaminya.
Kadang—kadang dia bahkan bagaikan merasa kehilangan kepercayaan terhadap diri dan kemampuan sendiri, dia merasa bagaikan cuma suaminya yang mampu memberikan perlindungan baginya.
‘Tempat berlindung’ ! dia berkata seorang diri yang lalu dia bantah.
Lebih tepat sebagai tempat pelarian, bukan tempat pelindung.
Pelarian dari apa ? Dan, satu demi satu bintang-bintang menghilang dari angkasa.
‘Tempat pelarian .
‘ Memang tepat kalau dia mengatakan sebagai tempat pelarian.
Tempat pelarian didalam rangkulan seorang suami yang begitu menyintai dia.
“Suamiku yang malang .
.
.
.
.
.
.
” bisik Liu Giok Ing didalam hati, untuk yang kesekian kalinya, yang tak bosan—bosan di a lakukan.
Sama banyaknya seperti dia membisik: “Liang—ko, mengapa kau begitu kejamm?” Cinta memang aneh.
Tetapi, adakah seorang—orang yang dapat menghindar dari Cinta? “Tidak Giok moay.
Kita tidak dapat menghindar dari Cinta sebab cinta merupakan sebagian dari asal manusia dan cinta adalah bahan-alam yang diperintah oleh khayalm.
” Tersenyum Liu Giok Ing kalau dia teringat lagi dengan kata—kata Kwee Su Liang yang sudah berhasil ‘mencuri’ hatinya.
Padahal, siapakah Kwee Su Liang ?? Dan dia, si pendek ar bunga-Cinta yang juga terkenal sebagai ‘macan betina yang galak’.
Dia bahkan yang sudah membunuh ibunya Kwee Su Liang ! “Liang—kom.
” “Giok—moaym” “Kau tahu apa itu cintam.
?” “Kelemahan manusia yang tak dapat diberi ampun, itulah m.
” Cinta memang indah kalau pandai memupuknya, akan tetapi Cinta merupakan suatu kehancuran, kalau .
Ada air mata yang berlinang keluar kalau Liu Giok Ing teringat lagi dengan cinta.
Terasa sakit, begitu pedih.
Padahal dia bukan seorang yang lemah hati, dia sudah menerima ajaran dari gurunya yang terkenal keras hati.
Membunuh atau dibunuh; inilah yang bakal kau hadapi dalam.
menempuh hidup di alam nyata.
Sebab alam nyata sangat kejam ! “Alam nyata terlalu kejam; Liang—ko; aku lebih senang hidup di alam khayal, membayangkan .
” Ada bayangan hitam yang lompat melesat dari suatu sudut gelap, yang cukup jauh terpisah dari tempat Liu Giok Ing berada.
Gesit dan pesat gerak bayangan hitam itu, dan secepat itu juga Liu Giok Ing melesat menyusul meninggalkan alam khayal yang sedang dia bayangkan.
Sejenak Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing harus menunda niatnya buat mengejar bayangan itu, ketika dia tiba ditempat bekas bayangan itu melarikan diri.
Rumah menteri pertanian Siauw Cu Leng, dan ada pekik teriak yang didengar oleh Liu Giok Ing : “Tangkap si pembunuh! Kejar .
!” Jelas malam itu telah terjadi lagi peristiwa pembunuhan, dan menteri pertanian Siauw Cu Leng yang mendapat giliran.
seorang menteri yang sudah cukup tua usianya, seorang menteri yang terkenal setianya terhadap sri baginda raja yang sekarang sedang berkuasa! Tak dapat Liu Giok Ing menghindar dari suatu pertempuran yang harus dilaksanakan, pertempuran melawan petugas pengawal dirumah menteri pertanian Siauw Cu Leng, yang berhasil menemui dia selagi dia berdiri terpaku.
Sukar buat Liu Giok Ing memberikan penjelasan kepada para petugas pengawal yang sedang mengepung dia, sebab dia menyadari bahwa dia memang sedang dicurigai.
Dicurigai sebagai pelaku pembunuhan yang sedang meraja—lela di kota—raja ! Terpaksa Liu Giok Ing harus melakukan pertempuran itu, akan tetapi tidak ada niatnya untuk melukai orang—orang yang mengepung dia, apalagi membunuhnya.
Dia hanya bertempur buat mencari jalan menghindar dan melarikan diri dari tempat itu.
Pedang Ku—te kiam atau pedang besi hitam yang dipegangnya ditangan kirinya, tetap berada didalam sarung; dan dia gunakan pedang itu hanya untuk menangkis setiap serangan senjata orang—orang yang mengepung dia, sedangkan kepalan tangan kanannya menghantam setiap lawan yang berusaha mendekat atau merintangi dia.
Cukup beberapa orang yang dia hajar rebah terkulai, setelah itu terbuka kesempatan buat dia lompat keatas genteng rumah; lalu melesat lagi memilih arah bayangan hitam tadi menghilang.
Semakin marah dan semakin penasaran Liu Giok Ing menghadapi si pembunuh yang keji itu.
Terus dia melakukan pengejaran tanpa dia perhatikan arah yang ditempuhnya, entah kesebelah barat entah kesebelah selatan; sampai tahu—tahu dia berada diatas genteng ruahnya sendiri, rumah pangeran Giok-Lun! Ada suara ribut—ribut dihalaman rumahnya itu, suara teriak orang—orang ‘tangkap si-pembunuh‘ seperti yang didengarnya dirumah menteri pertanian tadi.
Keadaan dihalaman rumah itu kelihatan kacau balau karena banyaknya petugas yang sedang lari tanpa arah menentu, bergegas mencari si pembunuh yang tidak diketahui jejaknya; dan keadaan menjadi tambah kacau ketika Liu Giok Ing melesat turun ditengah-tengah mereka, sebab mereka langsung melakukan penyerangan sambil berteriak tambah keras ‘tangkap pembunuh.
‘ Terpaksa Liu Giok Ing harus menghalau setiap serangan yang dilakukan oleh orang—orangnya sendiri, tetapi Liu Giok Ing cepat menyadari, bahwa dia sedang memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam; sehingga orang—orang itu tidak mengenali dia.
“Tahan .
!” teriak Liu Giok Ing sambil dia melepaskan tutup muka yang dipakainya; sehingga perbuatannya itu mengakibatkan semua orang—orang menjadi kaget bercampur— heran.
(“Ternyata si pelaku pembunuhan adalah sang nyonya majikan, seperti berita yang pernah mereka dengar .
“) pikir orang—orang itu yang serentak terdiam tidak bersuara; terpaku dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, sampai Lim ciangkun yang memberitahukan, bahwa ada seseorang yang berusaha hendak membunuh pangeran Giok Lun.
Liu Giok Ing terkejut bagaikan disambar halilintar, dia lompat melesat meninggalkan Lim ciangkun tanpa mengucap apa—apa; dan dia tiba dikamar tidur, menemukan suaminya terluka dibagian sebelah kaki dan sebelah tangan, Sementara Siu Lan sibuk berusaha untuk menolong sang majikan.
“Siangkong m.
!!” Liu Giok berteriak dan melompat bagaikan hendak menerkam suaminya, berhasil membikin Siu Lan menjerit ketakutan, menganggap sang nio-cu mau membunuh majikannya; padahal Liu Giok Ing turut cemas melihat keadaan suaminya.
“Moay—moay, cepat kau kejar pembunuh keji itum.
!” kata pangeran Giok Lun selekas dilihatnya isterinya yang lompat memasuki kamar.
Nada suaranya marah bercampur penasaran, sedangkan sebelah tangannya masih memegang pedang pusaka; bekas dia gunakan buat bertempur melawan seseorang yang berusaha hendak membunuh dia.
“Tetapi siangkong terluka,” kata Liu Giok Ing yang sejenak menjadi ragu—ragu.
Terpaksa Liu Giok Ing tinggalkan suaminya.
Dia bahkan tidak sempat melihat luka yang diderita oleh suaminya; entah terkena senjata apa padahal pada sebelah tangan suaminya, ada dua butir senjata rahasia berbentuk bunga—cinta yang dipegangnya, senjata melukai sebelah kaki dan sebelah tangannya.

Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengejaran berdasarkan arah yang diberitahukan oleh Lim ciangkun dan Lim ciangkun bahkan ikut melakukan pengejaran, meskipun dia tertinggal sangat jauh oleh sang nio—cu; sebab saat itu Liu Giok Ing sedang mengerahkan ilmu lari cepat ‘pat—pou kan—sian’ atau delapan langkah mengejar dewa.
Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari bahwa tidak mudah buat dia melakukan pengejaran, sebab dia sudah ketinggalan waktu selama tadi dia bicara dengan suaminya; sedangkan si penjahat sudah melarikan diri.
Tetapi, disuatu saat secara mendadak dia diserang oleh senjata rahasia.
Telinganya yang memang sudah terlatih, dan sepasang matanya yang tajam; cepat mengetahui datangnya serangan gelap itu.
Dia berkelit dan menangkis memakai pedang ku—te kiam ditangan kirinya, yang masih tetap berada dida1am.
sarung.
Sempat Liu Giok Ing melihat adanya bayangan hitam yang lompat melesat, selagi dia menunda langkah kakinya sehabis berkelit dan menangkis serangan gelap.
Dengan gerak ‘yan—cu coan—in’ atau burung walet menembus angkasa, Liu Giok Ing melompat dengan melesat mengejar bayangan hitam itu; lalu dengan tiga kali lompatan dan tubuhnya jungkir balik diudara bebas; maka pada detik berikutnya dia telah menghadang arah lari bayangan hitam itu.
“Berhenti !” bentaknya, dan nada suaranya penuh wibawa, kembali seperti 10-tahun yang lalu, sementara sepasang kakinya siap memasang kuda-kuda, sedangkan tangan kiri siap dengan pedang ku—tie kiam, meskipun masih berada didalam sarungnya.
Bayangan hitam itu tertawa.
Dia tidak memakai tutup muka sehingga mudah dilihat oleh Liu Giok Ing bahwa orang itu adalah seorang laki—laki, yang seingatnya belum pernah dia temui dan tidak dia kenal.
“Liu Giok Ing, setelah sekian lamanya menunggu; ternyata malam ini aku berhasil ‘memancing’ kau keluar dari kerangkeng !” sepasang mata Liu Giok Ing bersinar tajam.
menyimpan rasa marah.
Dia meneliti, akan tetapi tetap dia merasa tidak kenal dengan laki—laki itu : “Siapa kau dan mengapa kau melakukan perbuatan keji dengan memfitnah aku ?” “Ha—ha—ha ! Liu Giok Ing.
Namamu dulu begitu menyemarak di kalangan rimba persilatanz sayang waktu itu aku belum mempunyai kesempatan untuk menghadapi kau.
Tetapi sekarang, setelah 10-tahun kau menghilang dan mendengar perkataan dari perkataan kamu, maka aku menganggap nama kau sebagai Ceng—hwa liehiap ternyata kosong belaka.
Apa arti senjata rahasia yang berbentuk bunga ceng—hwa itu? Bagiku hanya merupakan benda permainan belaka, sehingga sesungguhnya aku tidak mengerti, entah apa yang menyebabkan sehingga dengan senjata mainan itu kau berhasil menyemarak di kalangan rimba persilatan.
Aku bukan hendak memfitnah kau, Liu Giok Ing; aku cuma hendak memancing kau keluar membebaskan diri dari rangkulan suamimu.
Ketahuilah olehmu bahwa masih banyak orang yang menyimpan dendam terhadap kau.
juga aku, juga Gin Lun Hoat ong W” “Gin Lun Hoat—ong?” Liu Giok Ing bersuara tanpa terasa; berhasil sejenak memutus perkataan lelaki itu, dan lelaki itu tertawa sambil berkata : “Ha—ha—ha ! Liu Giok Ing, Liu Giok Ing.
Mengapa kau lupakan Gin Lun Hoat ong dan cuma teringat pada Giok Lan Hoat—ong ? Mengapa kau justeru memilih pangeran Giok Lun yang harus kau jadikan suami, bukan kau pilih pangeran Gin Lun yang lebih gagah dan lebih berbakat untuk menjadi raja? Dahulu pangeran Gin Lun ingin memilih kau buat dijadikan isterinya, buat menjadi calon seorang permaisuri raja; tetapi kau justeru memilih pangeran Giok Lun dan membiarkan pangeran Gin Lun menyimpan dendam.
terhadap kau, juga terhadap pangeran Giok Lun.
Sekarang sedang terbuka kesempatan buat pangeran Gin Lun yang bakal menggantikan jadi raja; menggantikan si tua yang sudah tidak berguna akan tetapi yang masih gila perempuan.
Pangeran Gin Lun sekarang sedang menyusun kekuatan dan menyebar pengaruh, juga didalam kalangan istana kerajaan; dan pangeran Gin Lun memerintahkan aku dan beberapa orang teman, buat membunuh orang orang yang dianggap masih setia terhadap raja sekarang yang sudah tua tidak berguna, termasuk suami kau; sedangkan terhadap kau, pangeran Gin Lun masih berbelas kasihan dan menyimpan rindu.
Kau masih akan diterima menjadi selir, kalau kau mau ikut berpihak dengan pangeran Gin Lun; sebaliknya kalau kau .
” “Teruskan.
!” kata Liu Giok Ing bagaikan menantang, sebab dilihatnya lelaki itu tidak meneruskan perkataannya; sementara itu didalam hati, terlalu banyak yang Liu Giok Ing sedang pikirkan.
“Kalau kau menolak, maut adalah menjadi bagian kau .
!” dan laki—laki itu menyudahi perkataannya, dengan menyert ai serangannya yang berupa tikaman memakai golok.
Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing berkelit menghindar, tetapi serangan lelaki itu ternyata saling—susul sebanyak, sebab dia sedang mengerahkan jurus ‘sin-liong jip-hay‘ atau naga-sakti bermain dilaut.
Lelaki itu menganggap dia sudah melakukan penyerangan yang serba cepat, juga gerak serangannya yang saling—susul amat gesit dan pesat; akan tetapi lawannya ternyata dapat bergerak gesit dan lincah, sebab Liu Giok Ing juga sedang mengerahkan ilmu ‘coan—hwa jiauw—sie’ menembus bunga, melihat pohon, suatu ilmu kelincahan tubuh.
Dengan ilmu ‘coan—hwa jiauw—sie’ atau menembus bunga, melibat pohon yang mengutamakan kelincahan tubuh itu, Liu Giok Ing berhasil berkelit menghindar dari tiga serangan golok yang datang saling susul.
Masih Liu Giok Ing belum.
mengeluarkan pedang ku—tie kiam yang tetap berada didalam sarungnya, meskipun diketahuinya bahwa laki—laki lawannya sedang merasa penasaran, dan mengulang serang golok yang saling menyusul, kali ini dengan menggunakan jurus ‘1ian-hoan sam—to’ atau tiga golok saling susul.
Tetapi Liu Giok Ing berlaku cepat dan gesit mengandalkan kelincahan tubuhnya, sehingga berhasil lagi dia menghindar dari serangan golok yang datang saling susul, membikin laki-laki lawannya menjadi semakin penasaran bahkan sampai perdengarkan pekik suara marah, setelah itu laki laki ini mengulang serangannya mengerahkan ilmu kim—kee co—siok atau ayam.
mas mematuk gabah, disambung dengan serangan memakai gerak tipu co—yu hong—goan atau dari kiri-kanan bertemu sumber, mengakibatkan goloknya menyambar seperti membabat dari arah sebelah kiri maupun dari arah sebelah kanan.
“Bagus !” seru Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing yang untuk sekilas berhasil dibikin sibuk; sekaligus berhasil membangkitkan semangat tempurnya seperti 10-tahun yang lalu.
Laki-laki yang tidak dikenal itu juga memperhebat serangannya; bahkan dia menyerang lagi secara berantai memakai goloknya, menggunakan jurus ‘lian—goan sam-ki’ atau tiga tikaman yang berantai.
Akan tetapi Liu Giok Ing tetap melawan dengan mengerahkan ilmu ‘toan—hwa jiauw—sie’ yang mengutamakan kelincahan tubuhnya; masih belum mau dia menggunakan pedang ku—tie kiam yang terkenal ampuh dan tajam, sampai dia merobah geraknya menggunakan ilmu ‘soan—hong sin hoat’ atau gerakan angin puyuh, yang mengakibatkan gerak tubuhnya semakin bertambah gesit dan pesat, seo1ah—o1ah berada disekitar lawan bahkan dua kali dia berhasil menendang pantat laki—laki lawannya, sempat membikin laki-laki itu berteriak mengaduh dan berteriak marah—marah : “sialan !” laki—laki itu berteriak marah.
“Dukk !” kena dia pukulan jurus ‘pek—poh sin—kun’ atau kepalan sakti seratus langkah.
Terasa sakit muka laki—laki itu, sedangkan tubuhnya berputar tanpa dapat dia kendalikan.
“sialan !” laki—laki itu berteriak kesakitan.
“Dukk ! Duk !” dua kali duk-duk, bukan duduk; sebab dua—dua kepalan Liu Giok Ing bekerja, menghantam dengan jurus ‘tong-cu cin-hiang’ atau kacung dewa bersembahyang.
Habis sudah daya perlawanan laki—laki itu; dia rubuh terjengkang rebah celentang dan dia tewas tanpa dia mampu berteriak’memaki ataupun menjerit kesakitan, sedangkan dibagian kepalanya membenam tiga butir senjata rahasia berbentuk bunga Ceng hwa ! Hampir—hampir Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang berteriak kaget.
waktu dilihatnya senjata berbentuk bunga cinta itu yang membikin laki—laki itu tewas.
Bukan dia yang melakukannya sebab dia memang tidak bermaksud membinasakan laki—laki itu yang hendak dia ajak bicara lagi, memaksa mencari keterangan.
Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing mengawasi arah sekelilingnya selagi dia setengah berlutut didekat mavat laki-laki itu, meneliti dan mencari arah datangnya serangan gelap tadi; dan berhasil dia melihat adanya sesuatu bayangan hitam yang sedang lari menjauhkan diri dari tempat itu.
“Kurang ajar .
!!” Liu Giok Ing bersuara memaki; bergerak pesat menyusul, melupakan laki—laki bekas lawannya yang sudah tewas.
Yakin Liu Giok Ing bahwa seseorang yang sedang dikejarnya itu memiliki ilmu yang begitu lebih tinggi dari pada laki-laki itu yang sudah tewas, terbukti orang itu berhasil melepas serangan gelap tanpa dia mengetahui kehadiran orang itu yang umpatkan diri.
Mengapa ? Mengapa orang itu harus umpatkan diri, mengapa orang itu bukan ikut bertempur ? Terlalu pesat dan terlalu cepat lari orang yang dikejarnya itu, dan Liu Giok Ing semakin penasaran dan semakin mengerahkan ilmu pat—pou kan sian atau delapan—langkah mengejar dewa.
Entah iblis, entah dewa; tetapi kali ini benar-benar Liu Giok Ing harus memeras tenaga buat melakukan pengejaran.
Terus orang itu melarikan diri, terus Liu Giok Ing melakukan pengejaran; tanpa menghiraukan mereka sekarang sudah keluar dari pintu perbatasan kota—raja disebelah selatan dan masih Liu Giok Ing melakukan pengejaran meskipun sudah jauh dia meninggalkan kota—raja ! -e-dwkz£++¢hend£a~e- SESAAT setelah Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengejaran terhadap seseorang yang melepas senjata berbentuk bunga-cinta; maka ditempat bekas terjadinya pertempuran tadi, datang rombongan orang orang yang naik kuda.
Sebanyak tiga belas orang semuanya.
seorang laki-laki berpakaian seragam perwira tentara kerajaan, yang agaknya merupakan pimpinan dari rombongan itu, lompat turun dari kudanya dan mendekati mayat laki—laki yang pecundang Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing.
Dua orang laki—laki lain, secara tiba—tiba muncul dari suatu sudut yang cukup jelas.
Kedua laki-laki yang baru muncul ini, tidak memakai pakaian seragam sebagai tentara kerajaan; tetapi mereka langsung mendekati perwira yang sedang meneliti mayat bekas pecundang liehiap Liu Giok Ing.
“Sie ciangkun, kami Ma Kong berdua Ma Kiang siap memberikan laporan .
” kata salah seorang dari kedua laki—laki yang baru muncul itu, sambil dia memberi hormat secara militer kepada si perwira yang dia sebut Sie ciangkun, atau panglima Sie; yang pangkatnya sebenarnya adalah kapten.
Kaptan Sie atau Sie ciangkun yang nama lengkapnya Sie Pek Hong, ikut berdiri sehabis begitu tadi dia jongkok; dan ikut memberi hormat secara militer, setelah itu baru dia berkata ; “Jie—wie Ma—heng; silahkan kalian bicara !” “sesuai dengan perintah dan sesuai dengan rencana; kami berdua sudah menunggu disini selagi Nie ciangkun berhasil membawa Liu Giok Ing ketempat ini, sampai mereka berdua bertempur lalu kelihatan jelas Nie ciangkun terdesak bakal kalah, sedangkan kami lalu melepaskan serangan gelap memakai senjata yang berbentuk bunga-cinta, sementara Liu Giok Ing mengejar Oey ciangkun yang sengaja melarikan diri menuju kota San hay koan.

Jilid 3 “BAGUS, akan tetapi apakah Nie ciangkun sempat bicara dengan Liu Giok Ing, sebelum dia tewas kena senjata kalian .
?” tanya ciang Sie Pek Hong yang perlihatkan senyumnya, menambah wajahnya semakin tampan meskipun umurnya sudah tiga—puluh tahun lebih; dan dia bersenyum sebab mengetahui rencananya telah dilaksanakan oleh para pembantunya, meskipun mereka harus mengorbankan nyawa seorang teman—sejawat! “Tidak akan kami membunuh Nie ciang—kun, kalau dia belum sempat bicara dengan Liu Giok Ing; sesuai seperti rencana dan perintah ciangkun .
.
.
.
.
” sahut Ma Kong yang kakaknya Ma Kiang; sedangkan umur mereka berdua, sedikit lebih tua dari umur Sie ciangkun.
“Ha—ha—ha .
!” Sie Pek Hong tertawa girang, lalu dia memanggil seorang pembantunya yang lain, seorang laki-laki yang sudah 40—tahun lebih umurnya.
“Thia—heng, apakah kau yakin bahwa Liu Giok Ing mengenali kau .
?” Sesuai dengan namanya Thio Hek; laki—1aki yang bertubuh tinggi penuh otot itu memiliki kulit yang agak hitam, akibat terlalu banyak kena sinar matahari atau mungkin akibat terlalu sering bermain api.
Suaranya seperti guntur waktu dia berkata : “Mungkin lupa, akan tetapi kalau aku membicarakan urusan tempo dulu; aku yakin dia pasti akan teringat .
” “Bagus kalau begitu.
” sahut Sie Pek Hong; lalu dia menghadapi semua anak—buahnya dan berkata lagi : “Sekarang kalian semua dengarkan baik—baik, kita atur rencana berikutnya.
” Semua orang mendengarkan rencana yang dibicarakan oleh ciangkun Sie Pek Hong; memperhatikannya benar—benar, kemudian semuanya menanggalkan pakaian militer yang mereka pakai, mengganti dengan pakaian lain, setelah selesai mengatur rencana mereka tinggalkan tempat itu, meninggalkan mayat Nie ciangkun yang juga sudah diganti pakaiannya.
Sementara itu; hari sudah mendekati subuh waktu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing memasuki kota San-hay koan dalam usahanya melakukan pengejaran.
Kota San hay koan yang letaknva disebelah selatan kota raja, merupakan tempat tinggalnya Gin Lun Hoat—ong; pute ra ke—5, dari sri baginda maharaja; juga dari seorang selir.
Saudara seayah dengan Giok Lun Hoat—ong, bukan seibu ! Bayangan hitam yang dikejar oleh liehiap Liu Giok Ing, ternyata benar—benar memasuki rumah pangeran Gin Lun yang mirip seperti istana, dan hal ini memang sudah diduga oleh liehiap Liu Giok Ing, setelah sempat dia mendengar keterangan yang diberikan lelaki pecundangnya yang tewas tadi ! Sesungguhnya liehiap Liu Giok Ing tak pernah menduga, bahwa Gin Lun Hoat—ong merupakan dalang dari si pelaku yang melakukan pembunuhan biadap, yang memfitnah nama dia; sebab pembunuhnya itu sengaja dipakai senjata rahasia berbentuk bunga ceng—hwa yang khas menjadi senjata rahasia yang biasa dia gunakan.
Dulu, sebelum dia menjadi isterinya pangeran Giok Lun.
Sehabis Liu Giok Ing mendengar keterangan yang diberikan oleh lelaki pecundangnya, sebenarnya dia ingin membicarakan kepada suaminya.
Ingin dia memberitahukan meskipun dia yakin bahwa suaminya takkan mempercayai keterangan itu.
Tidak mungkin pangeran Giok Lun mau melakukan perbuatan yang sekeji itu, dan tak mungkin pangeran Giok Lun mempunyai etikad melakukan pemberontakan terhadap ayahnya sendiri ! Sekarang, sesudah liehiap Liu Giok Ing mengejar bayangan hitam yang lari menghilang didalam istana pangeran Gin Lun; maka liehiap Liu Giok Ing bertekad hendak bertemu dan berbicara dengan pangeran Gin Lun.
Ingin dia untuk memaksanya supaya pangeran yang pengecut itu mengakui perbuatannya, dan kalau mungkin, ingin dia bawa pangeran itu menghadap kepada sri baginda raja agar ikut mengetahui kejadian yang sebenarnya, lalu memberikan hukuman terhadap pangeran Gin Lun.
Akan tetapi, kedatangan liehiap Liu Giok Ing ke istana Gin Lun itu bagaikan memang sudah diketahui, sudah siap ditunggu— tunggu; dan sudah tersedia perangkap buat dia ! Suasana dipenjagaan kelihatan tenang-tenang sewaktu Liu Giok Ing memasuki bagian halaman dari istana itu tanpa ada seseorang yang mengetahui.
Tetapi selekas itu juga, lalu terdengar pekik-teriak dari banyak orang, dan penuh petugas pengawal yang langsung mengurung dia rapat rapat ! “Tangkap pembunuh ! Tangkap pembunuh !” teriak para petugas itu; dan beberapa macam senjata tajam langsung digunakan buat menyerang Liu Giok Ing.
sejenak liehiap Liu Giok Ing terkejut menghadapi kejadian itu, akan tetapi kemudian dia menyadari tentang adanya perangkap yang memang sudah disediakan buat dia.
Jelas liehiap Liu Giok Ing bertambah marah terhadap pangeran Gin Lun, dan bertambah yakin dia tentang adanya etikad tidak baik dari pangeran Gin Lun, yang hendak melakukan pemberontakan, sekaligus hendak membunuh dia dan suaminya.
Mulai liehiap Liu Giok Ing mengamuk, menghunus pedang ku—tie kiam yang terkenal ampuh dan tajam; mengakibatkan banyak senjata dari petugas pengawal yang putus menjadi dua, menyusul kemudian mayat-mayat mulai bergelimpangan, disamping banyaknya petugas yang terluka parah terkena senjata pedang yang ampuh dan tajam itu.
seorang perwira yang sudah cukup tua usia dan sudah cukup lama mengabdi dengan setia kepada pangeran Gin Lun; menjadi marah waktu menyaksikan perbuatan liehiap Liu Giok Ing, sehingga dia berteriak memaki: “Liu Giok Ing, ternyata kau benar—benar seperti iblis yang haus darah.
Kau pembunuh pengecut di kota raja, dan kini kau menyebar maut didalam istana pangeran Gin-ong-.
E!” Sejenak liehiap Liu Giok Ing seperti terpukau waktu mendengar perkataan perwira yang cukup tua itu, yang kenal dengan nama Cia Tiong Gok, yang dulu pernah dia tempur, 10 tahun yang lalu I I “Cia lo ciangkun.
Bukan aku, sebaliknya Gin Lun Hoat ong yang sebenarnya merupakan .
—” “Tutup mulutmu, iblis keparat .
!” ciangkun Cia Tiong Gok memaki sebab naik darah; dan ciangkun tua ini bahkan mendahului menyerang memakai tombaknya, menggunakan jurus lt wie touw kang’ dengan sebatang galah menyeberang telaga.
Berulangkali tombak yang cukup panjang itu berusaha hendak menikam liehiap Liu-Giok’Ing, tetapi liehiap Liu Giok Ing selain berhasil menghindar berkelit, tidak melakukan perlawanan terhadap perwira yang cukup tua usianya i tu; sebaliknya pedang ku—tie kiam berulangkali berhasil melukakan beberapa petugas lain yang ikut mengepung dan ikut melakukan penyerangan.
Bertambah marah dan menjadi penasaran perwira Cia Tiong Gok yang tidak berhasil mencapai niatnya, masih seperti dulu; dan dia merobah gerak serangannya, memakai ilmu ‘hwee—tauw sie—an,’ memutar kepala, melihat gi1i—gili, dan gerak tombak itu kelihatan bertambah galak mencari sasaran dibagian kepala liehiap Liu Giok Ing.
Sementara itu, bayangan hitam yang tadi dikejar oleh liehiap Liu Giok Ing sempat menanggalkan dan menganti pakaian; lalu menghilang ditengah kesibukan orang orang yang hendak menangkap atau membunuh liehiap Liu Giok Ing ! Sebaliknya pangeran Gin Lun yang mengetahui kedatangannya Liu Giok Ing yang sedang mengamuk, ikut keluar dan ikut melihat; sehingga dia terlihat oleh liehiap Liu-Giok’Ing, meskipun nyonya muda yang perkasa itu sedang sibuk menghadapi serangan kepungan para petugas lain.
Semakin marah dan penasaran liehiap Liu Giok Ing yang sempat melihat kehadiran pangeran Gin Lun, ingin dia lompat menerkam dan mencekik mampus pangeran itu, namun tak mudah dia melaksanakan niatnya.
Maka terdengar pekik suara yang luar biasa kerasnya.
Pekik suara Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang meluap rasa benci dan rasa dendam.
seperti dulu, lebih dari 10 tahun yang dulu; waktu meluap rasa benci dan rindu terhadap si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang !! Sepasang tangan Ceng hwa liehiap Liu-Giok Ing kelihatan gemetar, juga jiwanya terasa bergetar sebab dia sedang mengerahkan tenaga Eng jiauw kang; tenaga kuku garuda yang luar biasa, sehingga waktu sepasang tangan itu bergerak, maka tombaknya ciangkun Cia Tiong Gok patah tiga, sementara sarung pedang ku—tie kiam ditangan kiri berhasil membikin tiga orang pengawal menjadi lumpuh.
Kemudian dengan suatu gerak yang indah dan pesat, tubuh liehiap Liu Giok Ing melesat tinggi dan jauh; sehingga dengan tiga kali gerak lompatan memakai landasan kepala manusia, maka berhasil dia berada di dekat tempat pangeran Gin Lun berdiri.
Akan tetapi, sejenak liehiap Liu Giok Ing berdiri seperti terpukau, tanpa dia mampu bersuara mengucap kata—kata; sebab dilihatnya disisi Gin Lun Hoat ong ikut berdiri seorang perempuan muda cantik dan gagah perkasa, Kang—lam liehiap Soh Sim Lan yang teman—baik Liu Goat Go, adiknya Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing.
Ya, Kang—lam liehiap Soh Sim Lan dara dari wilayah utara; yang namanya cukup menyemarak dikalangan rimba persilatan, yang kegagahannya pernah dia saksikan waktu dara yang perkasa itu tembus menjelajah kewilayah selatan.
Mengapa dara yang perkasa dan berjiwa pendekar itu sekarang berada di sisi pangeran Gin Lun? Mengapa dia kesudian membantu seorang manusia yang keji bahkan pengecut? Atau, mungkinkah Kang—lam liehiap sudah jadi isteri Gin Lun Hoat—ong ? Cuma sejenak Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing sempat berpikir, Cuma dua kali dia sempat menarik napas panjang bagaikan menyesal; setelah itu ciangkun Cia Tong Gok sudah mulai melakukan penyerangan memakai senjata golok, sebab ciangkun yang tua—usia ini sudah turut mengejar, menyimpan rasa marah dan penasaran, disamping merasa cemas memikirkan keselamatan sang pangeran.
Ciangkun Cia Tong Gok menyerang memakai senjata golok, sebagai pengganti senjata tombak yang telah patah menjadi tiga dan Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari bahwa ciangkun yang tua—usia itu memiliki ilmu silat golok golongan Pat-kwa to; disamping ilmu tombak Gak-hui yang sakti.
Serangan pertama yang dilakukan oleh perwira tua Cia Tong Gok memakai jurus ‘tay-san ap—teng’ atau gunung tay san menindih; golok yang tajam dan cukup berat itu bergerak dari arah atas menuju bagian bawah bagaikan angin membelah tubuh liehiap Liu Giok Ing.
Akan tetapi dengan berkelit kesamping, liehiap Liu Giok Ing berhasil menghindar dari serangan itu; bahkan sebelah kakinya bergerak menendang, kena lengan kanan ciangkun Cia Tong Gok yang sedang memegang golok, mengakibatkan golok itu terbang menghilang lepas dari pegangan, sementara ciangkun Cia Tong Gok meringis menahan rasa sakit.
Segera terdengar suara pekik halus dari Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang ikut melakukan penyerangan terhadap liehiap Liu Giok Ing; menyerang memakai pedang dan menggunakan jurus ‘dewi-cantik persembahkan buah—tho‘, menikam bagian dada.
“Soh sumoay, kau .
” liehiap Liu Giok Ing bersuara haru, tetapi harus cepat-cepat bergerak mundur kebelakang tiga langkah.
Terasa pedih hati liehiap Liu Giok Ing, sangat pedih.
Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang kakak seperguruan dari adiknya, yang teman akrabnya; sekarang ikut menyerang dia melulu sebab urusan pangeran Gin Lun.
Sekali lagi liehiap Liu Giok Ing harus menghindar dari serangan Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang menikam seperti tadi; Cuma jurusnya ganti memakai jurus ‘cia—bwe keng—hud’ atau mempersembahkan bunga untuk sang toapekong.
Tetapi pada saat itu 1o—ciangkun Cia Tong Gok menendang tanpa tahu liehiap Liu Giok ing; kena dibagian betis sehingga terasa sakit dan pedih.
sehingga bagaikan diluar kesadarannya, pedang ku—tie kiam bergerak dan berhasil membuntungkan sebelah kaki ciangkun tua yang sudah cukup lama mengabdi kepada Gin Lun Hoat—ong ! Berteriak pangeran Gin Lun sekeras—kerasnya.
Teriak haru dan teriak marah.
Dikarenakan melihat pengawalnya yang setia kehilangan sebelah kaki dan marah menganggap perbuatan Liu Giok Ing terlalu kejam ! Sekilas terpikir oleh pangeran Gin Lun, entah apa kesalahannya sehingga sang kakak-ipar itu memusuhi dia entah apa sebabnya sehingga sang kakak-ipar itu mengulang perbuatannya seperti 10—tahun yang lalu, membunuh dan mengacau kota—raja, bahkan didalam istana—kerajaan: untung ada ‘seorang’ yang memberi khabar kepadanya tentang malam itu sang kakak ipar akan mendatangi tempatnya, hendak membunuh dia I Sebatang pedang pusaka siap ditangan pangeran Gin Lun, ingin dia menyabung nyawa dengan sang kakak ipar yang galak dan kejam itu, akan tetapi perbuatannya didahului oleh Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang sudah menyerang terhadap sang kakak ipar itu.
Cuma sekali liehiap Liu Giok Ing menangkis serangan Kanglam liehiap Soh Sim.
Lan, menangkis memakai sarung pedang ku tie kiam.
Terdengar bunyi suara benturan yang cukup keras, lalu dua duanya tersentak mundur merasakan tenaga tekanan yang cukup besar, sedangkan liehiap Liu Giok Ing sengaja meminjam tenaga benturan tadi, buat dia langsung menjauhkan diri dari tempat itu.
Dengan gerak ‘tui—rek sam—cia’ dan dengan tiga kali lompatan memakai landasan kepala manusia; liehiap Liu Giok Ing menghilang dari halaman istana pangeran Gin Lun !
Ingin Ceng—hwa liehiap menangis setelah dia berhasil menghilang dari istana pangeran Gin Lun. Gagal segala usahanya yang hendak menangkap pangeran Gin Lun buat diajak menghadap kepada sri baginda maharaja, bahkan langkah kakinya timpang selagi dia melakukan perjalanan menuju kota raja, ingin pulang mengadu kepada sang suami yang besar kasih sayangnya terhadap dia. Tidak mungkin lagi buat Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menggunakan ilmu lari cepat buat menuju pulang, sebab matahari sudah nongol dan 1a1u—1intas sudah cukup ramai. Kemungkinan orang-orang akan menganggap dia gila, kalau dia lari timpang di jalan—raya ! Terpaksa Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing harus jalan kaki perlahan—lahan, seperti orang-orang lain; cuma bedanya langkah kakinya timpang bekas kena tendang ! -e~dwk%A++¢hend£a-9- “SIAO KOUWNIO, siapa nama kau dan apa keperluan kau datang menghadap ?” tanya menteri kehakiman Pauw Goan Leng, sambil dia mengawasi Siu Lan yang sedang berlutut. Sepasang mata menteri kehakiman yang tua usia sebenarnya masih mengantuk, akan tetapi wajah cantik dan tubuh merangsang yang dimiliki oleh Siu Lan, berhasil membikin sepasang mata itu kelihatan segar seperti disiram air. Sementara itu Siu Lan yang sedang berlutut dengan tubuh gemetar, bahkan mau menangis sebab menahan rasa takut, didalam hati dia merasa penasaran sebab menteri kehakiman memakai istilah ‘siao—kouwnio’ atau nona kecil, waktu bicara tadi. Tidakkah menteri yang tua tetapi kelihatan galak itu mengetahui, betapa dia memiliki tubuh yang segar dan sudah pandai bikin anak ? Akan tetapi, karena rasa takutnya itu, Siu Lan berkata dengan nada suara gemetaran : “Nama hamba Siu Lan; hamba bekerja sebagai pelayan dari pangeran Giok Lun.” “Teruskan !” bentak menteri kehakiman setengah keras, sementara sepasang matanya ogah meram, asyik menikmati bagian dada Siu Lan yang tiga empat; kalau menurut perkiraan dia. “Ampun tay—jin. Hamba terpaksa menghadap tay—jin pagi-pagi, sebab hamba perlu cepat—cepat balik lagi. Hamba tahu tay—jin masih ngantuk meskipun sepasang mata tay—jin ogah ditutup. Hamba ingin melaporkan tentang peristiwa mengerikan yang terjadi semalam…..” Kaget juga menteri kehakiman Pauw Goan Leng sampai kepalanya ikut geleng—ge1eng. Memang semalam tidurnya sudah terganggu karena adanya laporan tentang peristiwa pembunuhan dirumahnya menteri pertanian dan menteri pertanian itu tewas dibunuh oleh seorang yang menggunakan senjata rahasia berbentuk bunga- cinta. Buru—buru Pauw Goan Leng memerintahkan kepala polisi Hamutu buat melakukan pemeriksaan dan penyelidikan; bukan untuk menangkap sebab yakin sipembunuh sudah kabur. Kepala polisi Hamutu memang terkenal pandai menyelidik, sejak dulu waktu masih menetap digurun pasir Gobi, waktu dia sering mendapat tugas menyelidik onta-onta yang kabur lari; sampai kemudian dia tersesat diatas gunung Gobi, bertemu seorang tua sakti bertemu dengan onta yang lari. Dan dari orang tua yang sakti itu dia berhasil menambah ilmu, lalu pindah ke kota raja sebab bercita—cita ingin menjadi raja, tetapi untuk sementara dia cuma memperoleh kerja sebagai kepala polisi. Sesuai dengan perintah menteri kehakiman; tengah malam buta dia terpaksa buka mata, meninjau dan memeriksa berbagai macam bibit tanaman dirumah menteri pertanian sebab buat urusan pembunuhan sudah dia ketahui siapa pelakunya atau si pemilik senjata rahasia berbentuk bunga-cinta. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang cantik jelita dan pandai menyebar cinta; akan tetapi sukar didekati sebab galaknya seperti macan betina ! Bergegas Hamutu ingin buru—buru pulang, ingin buru—buru menyusun laporan; dua lembar sekaligus, yang satu buat menteri kehakiman dan yang satu lagi buat sri baginda maharaja; yang hendak dia serahkan sendiri, dengan harapan dia bakal menerima jasa dipungut mantu, supaya tambah cepat dia bisa menggantikan jadi raja. Akan tetapi, belum sempat dia mencapai rumah, sudah datang laporan lain yang mengatakan ada keributan dirumah pangeran Giok Lun. “Heh, berkelahi dia !” tanya Hamutu kepada pembantunya yang membawa laporan. “Iya …” sahut sang pembantu yang serba tangkas. “Lawan lelakinya , ..” “Bukan ! Lawan maling yang sudah berhasil melukai pangeran Giok Lun !” Bergegas Hamutu memimpin rombongannya pulang, bukan memeriksa dirumah pangeran Giok Lun, takut bertemu ‘macan betina yang galak’ ! Lupa Hamutu menulis surat laporan, sebab buru—buru dia naik ke atas tempat tidur, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. “Siangkoan sakit ?” tanya isteri Hamutu, lembut—mesra-manja suaranya. “Huuuuhh ! Habis nguber macan !” dan buru—buru Hamutu meram, kepingin buru—buru tidur tetapi kagak bisa pulas, mikirin macan betina yang cantik jelita tetapi galaknya kagak tahan. Akan tetapi; belum sempat Hamutu pulas tertidur; bininya sudah goyang—goyang ranjang membangunkan dia. Mau marah hamutu; tapi batal; sebab ada seorang cewek yang mencari dia; katanya. Bergegas Hamutu buru—buru turun dari atas ranjang; menuju kantor meskipun sepasang matanya masih meramrmeram, hampir membentur dinding tembok. Akan tetapi sepasang matanya itu cepat berobah menjadi melek-melek waktu dilihatnya Siu Lan yang Cari dia. “Mau apa ?” tanya Hamutu lembut-lembut mesra—mesra, tetapi ternyata Siu Lan datang membawa laporan tentang ‘macan betina yang galak‘, yang semalam membunuh orang katanya. Bergegas dan buru—buru Hamutu menarik sebelah tangan Siu Lan, untuk diajak menghadap menteri kehakiman; akan tetapi sempat membikin janji, ‘habis melapor, kita jalan-jalan dulu.‘ Bergegas dan buru—buru menteri kehakiman Pauw Goan Leng mengusap sepasang matanya, supaya tetap melek habis mengingat—ingat peristiwa semalam; sedangkan kepada Siu Lan lalu dia berkata, tetap dengan suara galak—galak lembut : “Hem bocah manis. Jangan kau anggap perbuatan main—main datang menghadap kepadaku, aku masih mengantuk; kalau kau mau tahu. Tetapi, coba kau ceritakan semuanya. Kalau cerita kau enak didengar, akan kuberi hadiah; sebaliknya kalau cerita kau menjengkelkan aku, akan kusimpan kau didalam kamar tahanan Tersenyum Siu Lan waktu mendengar perkataan menteri tua—tua keladi itu. Cukup manis senyumnya dan cukup bikin jantung laki laki tua itu goyang—goyang mau copot. “Ampun lo ya. Eh, tay jin. Tetapi semalam hamba menyaksikan sendiri perbuatan itu, perbuatan menyeramkan yang dilakukan oleh Hoat ong nio cu Liu Giok Ing …” Sekilas Pauw Goan Leng tersenyum waktu mendengar Siu Lan meralat ‘istilah’ lo-ya ( tuan—tua ), senang dia; dianggap belum tua. Akan tetapi segera dia menjadi kaget waktu Siu Lan menyebut nama Liu Giok Ing yang isteri Giok Lun Hoat-ong, yang dikatakan sebagai si pelaku dari perbuatan pembunuhan itu; terlebih ketika selanjutnya Siu Lan menceritakan tentang kejadian semalam. Dikatakannya bahwa Siu Lan melihat Ceng—hwa liehiap terbang memasuki kamar memakai kain warna hitam. Ditangannya sudah siap dengan pedang yang tajam; menerkam suaminya sehingga Siu Lan yang menjerit-meram ketakutan setelah itu Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing pergi lagi, kagak pulang pulang sebaliknya diterima berita dirumah menteri pertanian terjadi ribut—ribut dan menteri pertanian mati dibunuh. Pasti dilakukan oleh nio—cum” Siu Lan menambahkan dan menyudahi perkataannya. Sekilas sepasang mata Pauw Goan Leng meram—meram, cuma sekilas sebab dia merasa perlu berpikir; akan tetapi sayang membuang kesempatan melek—melek mengawasi tubuh Siu Lan. Setelah itu bergegas dia bangun dari tempat duduknya, dijinjingnya di bagian bawah pakaiannya yang gombrang gombrang lalu didekati Siu Lan yang masih berlutut, pegal tentunya bocah manis itu. Dituntunnya Siu Lan supaya bangun berdiri, lembut perlahan—lahan sampai dia bersenyum; sehingga berhasil dia menambah senyu Siu Lan yang kelihatan makin manis, makin mesra. Setelah itu, keras—keras dia berkata kepada Hamutu : “Tangkap bocah ini dan simpan didalam kamar, eh, kamar tahanan ‘I’ o Bergegas dan buru—buru Hamutu mematuhi perintah atasannya, ingin dia ganti meraih dan memegang sebelah tangan Siu Lan; akan tetapi batal dia lakukan sebab dibentak oleh atasannya. Terpaksa Hamutu menuntun Siu Lan memakai sebatang pedang yang dia pegang dan yang dipegang oleh Siu Lan. Jalan mereka iring— mengiring dan digiring oleh sepasukan polisi yang menjadi bawahannya Hamutu. Bergegas dan buru—buru menteri kehakiman Paow Leng segera meninggalkan kantor, menuju istana kerajaan hendak memberikan laporan kepada sri baginda maharaja. Bergegas dan buru—buru sri baginda maharaja meninggalkan selir kesayangannya, sebab ada laporan menteri kehakiman datang menghadap. Ngomel-ngomel sri baginda maharaja dihadapan menteri kehakiman Pauw Goan Leng, hampir-hampir Pauw Goan Leng lupa laporan yang hendak diberikan. Cuma sepotong-sepotong yang Pauw Goan Leng bisa ceritakan tentang kejadian semalam. sebab sri baginda raja tetap ngome1—ngomel tanpa dia dengar apa yang dilaporkan oleh Pauw Goan Leng sebab sepasang mata maharaja agung itu masih meramrmeram, menikmati belaian lembut mesra dari selir kesayangannya. Pauw Goan Leng cuma mendengar raja memerintahkan dia untuk menangkap pangeran Giok Lun juga bininya. Dua—duanya harus ditangkap. Memang tidak sukar menangkap pangeran Giok Lun setelah ada perintah dari sri baginda maharaja, tetapi untuk menangkap ‘macan—betina yang galak’, bisa tobat-tobat menteri kehakiman yang tua-tua keladi itu. “Eh, itu Siu Lan yang membawa laporan, apa benar-benar dia bocah manis … — ” tanya sri baginda maharaja yang agung; yang mendadak sepasang matanya me1ek—melek mengawasi Pauw Goan Leng. Kaget juga Pauw Goan Leng sebab secara mendadak sri baginda maharaja yang agung itu mengalihkan bahan pembicaraan. Agak takut dia melihat sri baginda raja yang melek—melek mengawasi, ada kesempatan buat dia untuk bicara; dan merocos dia bicara, selangit memberikan pujian tentang kecantikan Siu Lan. “He—he-he … !” tiga kali he sri baginda maharaja yang agung itu tertawa sebaliknya pangeran Giok Lun kaget dan bingung waktu pagi itu dia menerima kedatangan menteri kehakiman Pauw Goan Leng. Pangeran Giok Lun memang sedang bingung bahkan cemas. Semalaman suntuk dia tidak tidur, menunggu sang isteri tercinta yang keluar malamrmalam dan tidak pulang-pu lang. Lupa dia dengan sebelah kaki dan sebelah lengannya yang terluka; sebaliknya dia lebih memikirkan nasib sang isteri tercinta, takut kalau kalau sang isteri mendapat cedera. Lim ciangkun yang diminta mengikuti perjalanan isterinya, hanya berhasil menemukan mayat manusia yang tewas kena senjata rahasia berbentuk bunga—cinta. Siapa yang membunuh orang itu ? Mungkin isterinya, mungkin juga bukan isterinya, meskipun orang itu tewas terkena senjata rahasia yang biasanya digunakan oleh isterinya. Nah ! Senjata rahasia berbentuk bunga-cinta yang memang sedang dia risaukan, setelah dia mengetahui ada orang lain yang juga menggunakan senjata itu, yang bahkan sedang menyebar maut di kota raja, khususnya di istana kerajaan, Siapakah orang itu ? Senjata rahasia yang berbentuk bunga—cinta itu, bahkan hampir- hampir merenggut nyawa Giok Lun Hoat—ong; kalau dia tidak menyimpan obat yang khas buatan isterinya. Isteri kesayangan itu sekarang sedang mengejar si pelaku atau si penyebar maut itu, dan isteri kesayangan itu kagak pulang- pulang, meskipun sampai matahari nongol keluar. Kenapa ? Jelas dia memikirkan dan merisaukan, khawatir isteri kesayangannya mendapat cedera; sehingga sekali lagi dia memerintahkan Lim ciangkun mencari isterinya. Justeru selagi dia sedang risau dan bingung datang menteri kehakiman Pauw Goan Leng, dan menteri yang tua usia ini tidak langsung mengeluarkan Surat perintah penangkapan yang dia terima dari sri baginda maharaja, sebaliknya dia hanya mengatakan bahwa sri baginda maharaja memanggil sang pangeran dan isterinya buat menghadap. Bertambah bingung pangeran Giok Lun yang mengetahui maksud kedatangannya menteri kehakiman. Haruskah dia beritahukan bahwa isterinya belum pulang, bekas semalam pergi meninggalkan rumah ? Kemana ? Repot juga pangeran Giok>Lun; kemungkinan isterinya akan mendapat tambahan fitnah dianggap biasa keluyuran diwaktu malam sampai pagi belum pulang. “Pauw-heng, sesungguhnya aku sangat menyesal bahwa sekali ini aku tidak mungkin memenuhi panggilan hu—ong. Bukan sebab aku sengaja tidak mentaati panggilan hu—ong akan tetapi sesungguhnya isteriku sedang pergi dan belum pulang.” “Pergi kemana ?” tanya Pauw Goan Leng tanpa terasa, sebab tidak seharusnya dia berani melakukan pertanyaan semacam itu.
“Keluar kota !” sahut pangeran Giok Lun singkat, seperti merasa tersinggung. Sejenak hening tidak ada yang bicara; akan tetapi kepala menteri kehakiman itu mengangguk—angguk sambil dia perlihatkan senyumnya. Senyum.yang susah diartikan oleh pangeran Giok Lun. Mungkinkah menteri yang tua usia ini sudah mendengar perihal fitnah mengenai isterinya ? Atau mungkinkah menteri—kehakiman ini justeru ikut menduga atau menuduh isterinya yang melakukan pembunuhan—pembunuhan itu ? Disaat menteri-kehakiman Pauw G0an—Leng’membuka mulut hendak bicara, mendadak dia harus menunda sebab seorang pelayan datang membawa laporan, mengatakan Sui Lan pergi menghilang sejak pagi—pagi tadi. “Akh … !” pangeran Giok Lun bersuara tertahan cuma itu: lalu cepat—cepat dia perintahkan pelayan itu pergi tanpa dia perdulikan soal menghilangnya Sui Lan. Pikirannya sedang dia pusatkan terhadap persoalan isterinya dan urusan panggilan sang ayah yang begitu tiba—tiba. Sementara itu, menteri kehakiman Pauw—Goan Leng yang tadi batal bicara; kemudian dia mengeluarkan surat perintah yang dia terima dari sri baginda maharaja, sehingga sudah tentu pangeran Giok lun menjadi semakin bertambah kaget dan bingung. Tetapi seorang anak yang berbakti kepada ayahnya, lagipula dia merasa tidak bersalah; maka dengan tenangkan diri akhirnya dia ikut menteri kehakiman, untuk dibawa menghadap kepada sri baginda maharaja. Dilain pihak, dengan langkah kaki yang masih pincang, disaat hari sudah mulai malam; Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sedang menempuh perjalanan seorang diri, sudah hampir tiba di pintu kota raja sebelah selatan. Sejenak Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing berdiri diam.bersandar pada sebuah pohon beringin. Terlalu letih keadaan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing waktu itu; sepasang matanya redup, sayu dia mengurung diri dalam rangkulan suaminya, tidak pernah melakukan perjalanan yang sejauh itu; tidak membegal uang—saku sehingga tidak mungkin dia menyewa sebuah kereta kuda. Sepuluh tahun lebih dia tidak pernah berkecimpung lagi didalam kalangan rimba persilatan, bahkan sudah tidak dia perhatikan lagi. Sekarang, secara tiba-tiba dia harus berlari, melawan sekian banyak orang yang mengepung dia, bahkan Kanglam liehiap Soh Sim Lan ikut—ikut menentang dia, kenapa? Terasa pedih dan sakit hatinya kalau dia teringat lagi dengan kejadian itu, sehingga dendamnya terhadap pangeran Gin Lun menjadi kian bertambah; pangeran Gin Lun yang sudah memfitnah dia, dan pangeran Gin Lun yang menghasut orang orang yang memusuhi dia, termasuk Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang satu perguruan dengan adiknya, Liu Goat Go. “Moay-moay, dimana kau berada …?” Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing berkata perlahan; teringat dengan adiknya yang tidak dia ketahui jejaknya sehingga bertambah dia penasaran dengan Kanglam liehiap Soh-Sim Lan. Andaikata tadi mereka sempat bicara, ingin benar dia menanyakan perihal adiknya itu. Lesu bagaikan kehilangan gairah, liehiap Liu Giok Ing melangkah lagi hendak mencapai pintu kota raja; tetap timpang langkah kakinya, dan mendadak dia menunda lagi langkah kakinya, sebab telinganya yang memang sudah terlatih, mendadak mendengar suara yang tidak wajar. Segera Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing memusatkan alat pendengarannya, sehingga sesaat kemudian dia merasa yakin bahwa suara yang didengarnya adalah suara rintihan seseorang. Suara rintihan seseorang yang sedang menahan rasa sakit, dan seseorang itu adalah seorang laki—1aki. Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing meneliti lalu mendekati arah suara rintihan itu terdengar; sehingga dilain saat dia menemukan Lim ciangkun yang rebah terluka parah dekat sebuah selokan. “Lim ciangkun !” liehiap Liu Giok Ing bersuara kaget. “Nio—cu ..” Lim ciangkun bersuara lemah, terlalu parah luka yang dideritanya. “Lim ciangkun; mengapa kau terluka ?” tanya liehiap Liu Giok Ing, yang terpaksa harus setengah berlutut memeriksa luka perwira yang tugasnya sebagai pelindung dirumahnya. “Nio—cu, ong—ya ditangkap …” “Heh !” kaget liehiap Liu Giok Ing; dan bersusah payah Lim ciangkun menceritakan peristiwa yang terjadi. Siang tadi Lim ciangkun pulang sehabis sia-sia mencari liehiap Liu Giok Ing, akan tetapi dia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Giok Lun Hoat—ong sudah ditangkap oleh menteri kehakiman, berdasarkan perintah dari sri baginda maharaja. Lim ciangkun bergegas meninggalkan rumah; hendak mencari keterangan tempat ditahannya Giok Lun Hoat—ong, sampai kemudian diketahui olehnya bahwa pangeran itu ditahan didalam istana raja, dibagian bawah tanah. Kaget dan cemas Lim ciangkun sebab dia tidak berdaya buat memberikan pertolongan, dan dia menjadi lebih kaget lagi; ketika pihak istana-kerajaan sudah mengetahui bahwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengacauan dirumahnya pangeran Gin Lun, di kota San hay koan, sehingga liehiap Liu Giok Ing juga sedang dicari oleh pihak kerajaan untuk ditangkap ! Semakin Lim ciangkun menjadi kaget bahkan menjadi gugup, terlebih ketika ada seorang dari pihak istana kerajaan yang melihat dia; dan mengenali dia sebagai perwira yang bertugas dirumah Giok Lun Hoat—ong dan orang itu lalu memanggil kawan-kawan mereka, untuk menangkap Lim ciangkun dengan harapan mendapat jasa dari sri baginda maharaja. Dalam gugupnya Lim ciangkun melakukan perlawanan, sehingga semakin lama semakin banyak tentara—kerajaan yang mengepung dia; dan mereka bahkan berteriak ‘tangkap pembunuh’ setelah Lim.ciangkun melukai beberapa orang yang hendak menangkap dia. Terpaksa Lim ciangkun berlari-lari dan bertempur karena dia terus dikejar, sampai akhirnya dia terluka parah tetapi dia berhasil menghilang dari para pengejarnya; lalu sengaja dia menuju ke pintu kota raja sebelah selatan, bermaksud menunggu kedatangannya sang nio—cu, yang katanya sedang dalam perjalanan habis melakukan pembunuhan dirumahnya pangeran Gin Lun di kota San-hay koan ! Berhasil Lim ciangkun bertemu dengan isteri majikannya, dan berhasil Lim ciangkun menceritakan peristiwa itu; tetapi setelah itu dia mati dekat kaki isteri majikannya. Menangis liehiap Liu Giok Ing didekat mayat Lim ciangkun, menangis bukan buat yang mati; akan tetapi buat sang suami yang ikut menderita karena perbuatan dia. Jelas Gin Lun Hoat ong sudah memberikan laporan ke istana- kerajaan; dan yang membawa laporan itu tentu naik kuda; sehingga mendahului liehiap Liu Giok Ing yang jalan pincang- pincang. “Siangkong; oh siangkong … — ” liehiap Liu Giok Ing mengeluh diantara isak—tangisnya; untung tidak ada orang yang mendengarnya. Andaikata ada yang mendengar atau melihat, tentu dianggapnya bahwa Lim ciangkun yang tewas adalah suaminya liehiap Liu Giok Ing. Bertekad liehiap Liu Giok Ing mencari suaminya, tak perduli dia harus mempertaruhkan nyawa, tak perduli dia harus menyebar maut lagi!! Sekali ini dia akan berkelahi, untuk suami dan untuk dirinya sendiri. Sepasang matanya bersinar menyala waktu dia bangun berdiri, lalu didalam hati dia mengucap kata—kata ‘maaf’ kepada Lim ciangkun; sebab dia tidak bisa mengurus jenazah perwira yang setia itu; dan dia harus cepat—cepat berusaha menolong suaminya. -e~dwkz£++¢hend£a~9— MALAM SUDAH CUKUP waktu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing tiba di istana kerajaan, tetapi dia menjadi terkejut ketika melihat penjagaan yang begitu ketat; bagaikan sudah direncanakan bila dia bakal datang mengacau ketempat itu. Dengan gerak ‘yan—cu coan—in’ atau burung walet menembus angkasa, tubuh liehiap Liu Giok Ing lompat pesat mencapai bagian tembok halaman istana: dan sekali lagi dia lompat lalu hinggap pada sebuah pohon yang lebat, tanpa ada seorang petugas penjaga yang melihat dan mengetahui. Sejenak liehiap Liu Giok Ing terdiam berpikir, lupa dia dengan betisnya yang masih terasa sakit disebabkan bekas kena ditendang; sebaliknya sempat dia menikmati lembutnya belaian angin malam, yang bagaikan belaian tangan-tangan suaminya. Memang bakal repot kalau dia harus bertempur selagi dia belum berhasil menolong suaminya, dia harus mengatur siasat supaya kedatangannya jangan sampai diketahui oleh pihak tentara yang bertugas; setelah berhasil menolong sang suami, boleh dia berpesta menyebar maut !! Lompat lagi liehiap Liu Giok Ing keatas genteng yang terdekat, lalu pindah pada genteng yang tertinggi, dan pindah—pindah lagi sampai berhasil dia mencapai bagian belakang dari istana kerajaan yang besar dan luas itu, lalu dia mencari ruang dapur dan mulai dia melepas api; bukan di satu tempat, tetapi di beberapa tempat yang terpisah cukup jauh, dia melepas api membikin terjadinya kebakaran !! Ribut tentara—kerajaan yang bertugas menjaga, berteriak mereka ‘ada kebakaran’ dan 1ari—1ari berusaha memadamkan api. “Kebakaran dimana ?” tanya seorang perwira yang ‘nyelip’ keluar dari ce1a—cela daun pintu kamar salah satu selir raja. “Di dapur !” sahut seorang tentara yang gugup lari. “Kurang ajar !” perwira itu memaki; ingin masuk lagi kedalam kamar selir raja, akan tetapi batal dia lakukan ketika seorang tentara lain memberitahukan tentang adanya kebakaran. “Kebakaran dimana ?” tanya perwira itu marah—marah. “Di kandang kuda !” “Sialan !” tetapi buru—buru perwira itu lari menuju kandang kuda, takut kudanya terbakar. Dalam keadaan yang kacau—balau yang semacam itu, liehiap Liu Giok Ing berhasil melukai seorang tentara kerajaan, dan korban itu kemudian dia tarik—tarik mencapai sudut tempat yang cukup gelap. Dilepaskannya semua pakaian tentara itu yang lalu dia pakai; sehingga dilain saat liehiap Liu Giok Ing berobah menjadi seorang tentara, yang lari pincang-pincang diantara banyaknya tentara yang sedang lari—1ari. Akan tetapi, liehiap Liu Giok Ing bukan lari mendekati tempat kebakaran, sebaliknya lari ketempat penjara dibawah tanah, yang memang sudah dia ketahui letak tempatnya; sebab dulu pernah dia ubrak—abrik berantakan ! Ada sebuah lubang angin diantara sekian banyaknya lubang—angin yang berangka tulang-besi, akan tetapi pedang ku-tie kiam mudah saja membabat putus tulang—tu1ang besi itu, dan nyeplos masuk tubuh liehiap Liu Giok Ing kedalam ruangan penjara dibawah tanah; akan tetapi selekas itu juga kehadirannya diketahui oleh dua orang petugas penjaga penjara. “Eh, ngapain kau masuk dari lubang angin…” tanya salah seorang petugas penjara itu; menganggap liehiap Liu Giok Ing adalah tentara yang bertugas menjaga dibagian luar. Tanpa mengucap kata—kata, liehiap Liu Giok Ing ‘menyapu’ memakai pedang ku-tie kiam; sehingga bergelundungan jatuh dua kepala manusia yang mati penasaran ! Datang lagi dua orang petugas penjara yang sempat melihat kejadian itu, mereka berteriak kaget; tetapi cuma sempat Sekali menangkis pedang ku-tie kiam yang datang menyambar, lalu senjata mereka putus menjadi dua dan tulang iga mereka ikut putus, sehingga ajal menjadi bagian mereka. “Siangkong —++1—iiehiap—LiH—Gé9k—Jng—be£%e£iak—ha£u—ke%i ka imeay-meay——!” pangeran Giok Lun bersuara lemah tetapi girang; melihat kedatangan isteri tersayang yang selalu dia pikirkan, yang dia merasa cemas, khawatir isteri tersayang mendapat cedera. Sepasang mata liehiap Liu Giok Ing basah dengan air mata, melihat keadaan suaminya yang ikut menderita; lalu pedang ku-tie kiam.merusak pintu tempat tahanan, dan Liu Giok Ing masuk lalu merangkul dan menangis. “Siangkong, maafkan…” kata Liu Giok Ing diantara suara isak tangisnya, tetapi suaminya cepat—cepat memutus perkataannya: “Huuuuusssh, jangan menangis moay—moay.” dan pangeran Giok Lun membelai rambut isteri kesayangannya. “Siangkong, kita harus cepat—cepat lari dari sini …” kata liehiap Liu Giok Ing dalam rangkulan suaminya. Terdiam Giok Lun Hoat—ong tidak segera memberi jawaban, sehingga liehiap Liu Giok Ing melepas diri dari pelukan suaminya mengawasi dengan sepasang mata basah dan bersinar redup-haru. “Moay-moay, kakiku masih sakit, lukanya membengkak sehingga tidak mungkin aku bisa lari !” “Akan kugendong !” terlalu cepat liehiap Liu Giok Ing menjawab, dan dia bahkan langsung bangun berdiri, siap dengan bagian punggung buat tempat sang suami. “sebelah tanganku masih sakit, tak mungkin aku ikut bertempur.” “Siang-kong tidak perlu ikut berkelahim” Liu Giok Ing memaksa; sehingga pangeran Giok Lun bagaikan terpaksa, membiarkan diri digendong oleh ‘macan betina kesayangannya’ itu. Hilang rasa sakit pada sebelah kaki liehiap Liu Giok Ing yang bekas kena tendang; sebab dia menyadari bahwa dia harus menolong dan melindungi suaminya; terlalu pesat gerak tubuhnya waktu dia lompat keluar dari penjara dibawah tanah, bagaikan dia tidak merasa terintang meskipun harus menggendong sang suami. Tetapi, selekas dia berada dihalaman istana kerajaan, maka secepat itu juga dia dikurung dan dikepung oleh sejumlah tentara kerajaan. “Tangkap ! ada orang bongkar penjara..!” mereka berteriak- teriak; mengakibatkan beberapa orang perwira ikut melibatkan diri dalam pengepungan itu. “Siang—kong, berpeganglah yang erat…” bisik liehiap Liu Giok Ing dekat muka suaminya; sadar bahwa dia harus melakukan pertempuran yang berat. “Baik moayemoay, tetapi berhati-hatilah kau … ” Tersenyum liehiap Liu Giok Ing mendengar kata—kata suaminya, untuk yang kesekian kalinya, dia menyadari betapa suaminya menyintai dia, dan yang selalu mengharapkan mendapat cinta—kasih dia. Akan tetapi, cinta—kasih yang diharapkan oleh suaminya, sudahkah dia berikan ?
Sepuluh tahun mereka menikah dan menjadi suami—isteri, sepuluh-tahun suaminya memberikan kasih sayang yang begitu besar; tetapi mengapa dia masih tidak bisa melupakan laki—laki si ‘pencuri—hati’ ? Dan lelaki itu bahkan sudah melupakan dia, sudah menikah dan sudah mempunyai anak. Mengapa masih dia pikirkan, seolah—olah masih dia harapkan? Tak sempat liehiap Liu Giok Ing berpikir lama, sebab waktu itu dia harus sudah mulai mengamuk, membuka ‘jalan darah’ berusaha menerobos kepungan; ingin menyelamatkan suami tersayang. Dia suami tersayang. Mulai malam itu, mulai detik itu; Giok Lun Hoat-ong adalah suami tersayang, yang akan dia berikan semua cinta kasihnya, meskipun cuma sisa ! Gesit dan lincah gerak tubuh liehiap Liu Giok Ing yang mengamuk ditengah kepungan sekian banyaknya tentara kerajaan, juga Giok Lun Hoat ong ikut melakukan penyerangan dan pembelaan diri, memakai sebatang tombak yang berhasil dia rampas dari seorang tentara kerajaan; tetapi gerak pangeran itu sudah tentu tidak sebebas seperti dia berdiri diatas dua kakinya sendiri. Pedang ku—tie kiam yang terkenal ampuh dan tajam, berhasil membikin putus berbagai macam senjata yang kena menyentuh; mayat mayat semakin banyak yang bergelimpangan, di samping mereka yang terluka parah maupun ringan. Tetapi pasukan yang mengurung dan mengepung bukan menjadi berkurang, bahkan bertambah banyak; juga menteri kehakiman ikut—ikut mengirim bantuan berupa tenaga polisi yang membawa pentungan besi. “Siangkong, buang tombak yang kau pegang dan tutuplah erat-erat sepasang telinga siangkongm” sekali lagi liehiap Liu Giok Ing membisik dekat telinga suami tersayang. Meskipun pangeran Giok Lun tidak tahu dengan maksud isterinya, akan tetapi dia percaya penuh dengan kesaktian isterinya, maka itu dia menurut apa yang diminta isterinya, sehingga pada detik berikutnya terdengarlah suara pekik yang keras dari liehiap Liu Giok Ing, pekik suara yang dapat memecah perhatian orang-orang. Bertepatan dengan itu, sebelah tangan kiri liehiap Liu Giok Ing bergerak menyebar senjata rahasia berbentuk bunga—cinta; begitu cepat gerak tangan kirinya, sehingga suaminya tidak sempat melihat waktu isterinya meraup segenggam senjata rahasia itu dari kantong bajunya, lalu menyebarkan senjata— rahasia yang berbentuk bunga—cinta ke arah para—pengepung, sebab liehiap Liu Giok Ing bergerak menggunakan ilmu ‘memetik—daun menerbangkan-bunga’. Kemudian dengan mengerahkan tenaga Eng—jiauw kang, sebelah tangan kanan liehiap Liu Giok Ing yang memegang pedang ku—tie kiam tetapi yang sudah masuk kedalam sarung; bergerak bagaikan memukul udara kosong, tetapi mengakibatkan beberapa orang tentara terpental dengan mulut mengeluarkan darah-segar, bahkan tanah ikut kena tergempur berhamburan ! Menggunakan kesempatan pihak pengepung sedang terpukau ketakutan, maka dengan gerak ‘yan—cu coan—in’ atau burung—walet menembus angkasa tubuh liehiap Liu Giok Ing melesat keatas genting; menyusul kemudian tubuhnya melayang lompat kearah sebelah luar halaman istana, menggunakan ilmu ‘peng—see lok—gan’ atau burung-belibis hinggap di pasir, tanpa dia menghiraukan betapa derasnya hujan anak—panah yang lewat disekeliling tubuhnya, juga dibagian sebelah bawah, juga dibagian sebelah atas! Setelah berada dibagian luar halaman istana kerajaan, maka liehiap Liu Giok Ing mengerahkan ilmu ‘pat-pou kan—siang’ atau delapan langkah mengejar-dewa; kabur cepat cepat menuju arah sebelah selatan. “Kita selamat, siangkong…” kata liehiap Liu Giok Ing selagi dia masih lari ngos—ngosan; menggendong sang suami tersayang dibagian punggung, dan berhasil sudah dia melewati pintu kota raja sebelah selatan. “Hu uh…” sahut sang suami tersayang, terdengar lemah suaranya; akan tetapi bagaikan tersentak Liu Giok Ing, sewaktu dia merasakan seluruh tubuh suaminya seolah—olah menegang. “Siangkong, kau kenapa ….?” tanya Liu Giok Ing yang mendadak merasa cemas; tetapi sambil tetap lari. Sejenak suami tersayang itu tidak memberikan jawaban, sampai sesaat kemudian, barulah Liu Giok Ing mendengar perkataan suaminya. “Moay-moay tentu letih, sebaiknya kau istirahat dulu , .” Tersenyum liehiap Liu Giok Ing mendengar perkataan suaminya yang tidak menjawab pertanyaannya; sebaliknya memikirkan sang isteri yang nanti keletihan. Untuk yang kesekian kalinya, suami tersayang itu perlihatkan kasih sayangnya kepada isterinya; sehingga lupa Liu Giok Ing dengan rasa cemasnya tadi dan lupa juga dengan rasa letih yang sedang dia derita. Terlalu berat perjuangannya selama dua hari itu, dia bahkan tidak tidur, tidak makan; cuma minum air sungai waktu diperjalanan tadi. Dan yang lebih berat lagi, dia menderita kegoncangan jiwa akibat berbagai peristiwa yang terjadi begitu tiba—tiba. Urusan fitnah atas dirinya, urusan Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang ikut memusuhi dia, urusan pangeran Gin Lun yang menjadi dalang dari semua peristiwa itu, dan urusan suaminya yang ikut menderita; yang bahkan menjadi tahanan didalam penjara atas perintah ayahnya sendiri !! “Moay—moay, istirahatlah dulu. Akum” Sekali lagi liehiap Liu Giok Ing menjadi terisak waktu mendengar suara suaminya, yang tidak melengkapi kalimat perkataannya; hilang—lenyap semua yang dipikirkannya, sebaliknya kembali dihantui oleh rasa cemas. “Kenapa ? Apakah suaminya … ?” “Siangkong, kau kenapa…….halaman hilang….tdk dapat discan…….
SEMALAMAN SUNTUK Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing merangkul tubuh suaminya yang sudah menjadi mayat, yang tewas dipinggir jalan raya; dan kemudian mayat itu dibawa oleh liehiap Liu Giok Ing, berhasil menemukan sebuah rumah gubuk kecil didekat sawah. Tak hentinya liehiap Liu Giok Ing menangisi mayat suaminya, disertai dengan peluk cium yang tak bosan—bosan dia lakukan, bahkan sampai sejenak dia pulas tertidur, lalu menangis lagi dan tertidur lagi. Pagi harinya liehiap Liu Giok Ing tersentak bangun; sebab mendengar pekik teriak dari banyaknya suara orang-orang : “Tangkap ! Pembunuhnya ada disini !” Bagaikan seekor macan betina yang galak Liu Giok Ing lompat bangun dari sisi mayat suaminya, langsung keluar dari rumah gubuk yang kecil itu lalu dilihatnya ada belasan tentara kerajaan, yang sedang mendekati dan berusaha hendak mengurung rumah gubuk itu. Sepasang mata Liu Giok Ing bersinar menyala, menyimpan dendam sebab suaminya justeru mati ditangan tentara kerajaan. Segera terdengar pekik suaranya yang nyaring menggetarkan sekitar tempat itu; lalu tubuhnya lompat melesat mendekati tentara kerajaan itu, langsung mengamuk tanpa menggunakan pedang ku—tie kiam yang tetap berada didalam sarung, namun sepasang tangannya bagaikan menyimpan tenaga yang maha besar, sebab memang dia sedang mengerahkan ilmu Eng—jiauw kang, atau ilmu pukulan ‘cakar e1ang’ yang terkenal dahsyat dikalangan rimba persilatan. Dalam waktu yang cukup singkat, belasan tentara kerajaan itu rebah bergelimpangan menjadi mayat; sementara perhatian Liu Giok Ing pindah kepada rakyat jelata yang ikut berkumpul, sebab mereka mendengar suara ribut—ribut tentara yang hendak menangkap pembunuh; dan Liu Giok Ing yang jiwanya memang sedang terguncang, merasa begitu tertekan. Sehingga dia salah mengerti menganggap orang-orang itu hendak membawa lari mayat suaminya, sehingga sekali lagi dia mengamuk, mengakibatkan orang-orang itu berteriak mengatakan ‘ada orang gila ngamuk’ dan teriakan mereka itu justeru membangkitkan kemarahan Liu Giok Ing, sehingga semakin mengganas dia mengamuk ! Perbuatan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing saat itu, jelas dia lakukan diluar kesadarannya; dan semua perbuatannya itu, tanpa diketahuinya diintai oleh serombongan orang orang yang dipimpin oleh ciangkun Sie Pek Hong, perwira yang mengabdi pada pangeran Kim Lun di kota 0ei—kee tin, yang letaknya disebelah timur dari kota raja. Dahulu, lebih dari 10 tahun yang lalu, ciangkun Sie Pek Hong menjadi perwira yang mengabdi pada sri baginda maharaja di kota raja; tetapi dia pernah ketangkap basah ‘ada main’ dengan salah seorang selir sri baginda maharaja, sehingga dia kabur menyimpan dendam terhadap orang-orang yang memusuhi dia, termasuk pangeran Giok Lun! Kemudian Sie Pek Hong mengabdi pada pangeran Kim.Lun di kota Oei—kee tin, dan putera sri baginda raja yang ke delapan ini; memang menyimpan dendam.terhadap pangeran Giok Lun, sebab diam-diam dia menyintai liehiap Liu Giok Ing tetapi kalah serobot dengan sang kakak yang lain ibu itu. Setelah menerima Sie Pek Hong yang dijadikan perwira pada pasukan pelindung yang dimilikinya, dan setelah mengetahui bahwa Sie Pek Hong juga menyimpan dendam terhadap pangeran Giok Lun; maka mereka mengatur rencana hendak mencelakai pangeran Giok Lun, sekaligus mencelakai liehiap Liu Giok Ing. sementara itu, Sie Pek Hong yang memang pandai menghasut, berhasil membikin pangeran Kim.Lun berminat untuk melakukan perbuatan makar; ingin menjadi raja memakai Cara kekerasan, sebab dia mengetahui bahwa tidak ada kemungkinan kursi raja diwariskan kepada dia ! Jelas merupakan perbuatan Sie Pek Hong, yang sengaja melepas anak buah menyebar maut di kota—raja dan didalam istana kerajaan, dengan menggunakan senjata rahasia berbentuk bunga- cinta; sehingga liehiap Liu Giok Ing terkena fitnah dan ikut menyebar maut, bahkan sampai di kota San—hay koan, di tempat pangeran Gin Lun, sehingga terjadi salah mengerti antara pihak Gin Lun Hoat-ong dan Giok Lun Hoat-ong, disusul kemudian dengan tindakan sri baginda maharaja yang menangkap Giok Lun Hoat ong, mengakibatkan Giok Lun Hoat-ong tewas. Semua perbuatan yang dilakukan Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing, sudah tentu tak lepas dari pengawasan ciangkun Sie Pek Hong yang menyebar anak buahnya; dan betapa ciangkun merasa kagum waktu menyaksikan kegagahan liehiap Liu Giok Ing yang mengamuk di istana—kerajaan. Rencana semula yang hendak membunuh liehiap Liu Giok Ing, batal dia lakukan sebab ‘ngeri’ menghadapi ‘macan—betina yang galak‘; sebaliknya diam diam dia ‘jatuh cinta’ melihat kecantikan liehiap Liu Giok Ing, meskipun setelah 10 tahun liehiap itu menikah dan menjadi isteri pangeran Giok Lun. Sepuluh tahun yang lalu, ciangkun Sie Pek Hong memang berada di kota raja dan mengabdi sri baginda maharaja; akan tetapi selama itu dia belum pernah melihat kecantikan liehiap Liu Giok Ing dan tak pernah menyaksikan kegagahan ‘macan betina yang galak‘ itu. Cuma kabar—kabar angin yang mengatakan betapa cantiknya dan betapa gagahnya liehiap Liu Giok Ing. Sekarang, setelah dia melihat dengan sepasang matanya sendiri; amboi, kagak tahan dia dan gedebak—gedebuk jantungnya berontak mau copot, sehingga buru—buru dia membatalkan niat hendak membunuh, sebaliknya mengatur siasat ‘mengasah otak,’ ingin menangkap hidup kalau perlu membawa lari ‘macan betina yang janda’ itu, tanpa perduli Kim Lun Hoat-ong mengharap harap angin. -e~dwkzA++¢hend£a~e— Jilid 4 “JIE-WTE’MA CIANGKUN …!” dia berteriak memanggil Ma Kong berdua Ma Kiang, selekas dia merasa sudah menemukan ‘cara’ memberikan umpan buat ‘macan-betina yang dia rindukan’. “siap !” Ma Kong, Ma Kiang bersuara, selekas mereka sudah mendekati dan memberi hormat secara militer. “Tangkap macan betina itu….!” perintah ciangkun Sie Pek Hong. “Siap !” Ma Kong berdua Ma Kiang berbareng, dan berdiri tegak kagak bergerak. Ngeri disuruh nangkap macan galak. “Jalan!” Sie Pek Hong bersuara galak, melihat dua pembantunya berdiri mematung. “Ke mana .. ,?” sengaja Ma Kong menanya, menghambur waktu. “Tangkap macan betina itu!” “Ciangkun kagak ikut?” Ma Kiang yang berani menanya, sebab pernah ‘nyogok cewek’ buat atasannya itu. “Entar, aku nyusul belakangan !” “Sebaiknya ciangkun duluan, kami yang melindungi dari sebelah belakang.” Ma Kiang lagi bicara. “Kalian takut menghadapi macan betina itu?” sengaja Sie Pek Hong menanya, mengatasi rasa ngeri yang menghantui diri. “Bukan takut, tetapi tugas kami adalah melindungi ciangkun. Sukar mencari ganti kalau ciangkun mati, ciangkun seorang yang berbudi baik hati.” Ma Kong ikut ikutan bicara. “He he … !” dua kali he ciangkun Sie Pek Hong tertawa, merasa senang punya pembantu setia. Dua langkah dia berjalan maju dan berhenti lagi, teringat ingin ganti baju militer yang dipakainya, tetapi sayang tidak membawa bekal. Terpaksa ciangkun Sie Pek Hong maju lagi, perlahan-lahan, berlaku waspada bakal menghadapi ‘macan betina yang janda tetapi tetap galak‘. Ma Kong berdua Ma Kiang mengikuti, juga perlahan waspada langkah kaki mereka, siap kabur ! “Tok—tok tok.” ciangkun Sie Pek Hong mengetuk pintu, perlahan- lahan, bersenyum, selagi liehiap menangis—nangis didekat mayat suaminya. Merah menyala sepasang mata liehiap Liu Giok Ing, waktu dilihatnya ada tiga orang perwira yang berdiri didekat pintu rumah gubuk. Tanpa mengucap apa—apa, tubuhnya bergerak menggunakan ilmu ‘peng—see lok-gan’, terbang macam burung belibis pindah tempat, sementara kepalan tangan kanannya menyodok bagian perut ciangkun Sie Pek Hong menggunakan jurus ‘dewi cantik memberikan hadiah buah tho’. Kaget ciangkun Sie Pek Hong, akan tetapi cepat dia bergerak menggunakan jurus ‘mengganti ujut, berpindah tempat’, tubuhnya miring sedikit kesebelah kiri, sementara sebelah tangan- kanannya bergerak memakai ilmu ‘tek-seng ciu’, atau memetik— bintang, sebab tangan kanan sudah terbiasa ingin menjamah bagian yang tiga—lima. Sayangnya tubuh liehiap Liu Giok Ing meluncur terlalu cepat, hinggap ditanah dengan sepasang kaki siap kuda—kuda meskipun tubuh membelakangi Sie Pek Hong. Ma Kong berdua Ma Kiang yang sudah lebih dulu bergerak menyisi, sebab menduga bahwa liehiap Liu Giok Ing bakal ‘numpang lewat’ , sehingga nyaris mereka kena terjang. Setelah itu mereka melihat liehiap Liu Giok Ing berdiri membelakangi mereka. ‘Kesempatan …‘ pikir mereka; seperti sudah janji, dua bersaudara ini bergerak berbareng, membacok pakai dengan gerak tipu ‘tay-san ap—teng atau gunung tay—san menindih, ingin membelah empat tubuh liehiap Liu Giok Ing, lupa perintah menangkap hidup. Cuma sedikit liehiap Liu Giok Ing bergerak, tubuhnya melesat ke udara seperti ‘burung walet menembus angkasa’. Dua golok Ma Kong dan Ma Kiang, membenam ditanah bekas tempat Liu Giok Ing tadi berdiri seperti patung. Dua bersaudara ini masih nungging waktu tubuh liehiap Liu Giok Ing meluncur turun, dan sepasang kaki ‘macan betina yang hendak ditangkap’ itu bergerak menendang selagi tubuhnya masih berada diudara bebas, kena pantat—pantat Ma Kong dan Ma Kiang, mengakibatkan tubuh Ma Kong berdua Ma Kiang terjerumus ‘ngusruk’ tengkurap, kena cium ‘gituan’ punya kerbau ! Ngomel—ngome1 dua bersaudara Ma Kong dan Ma Kiang, selagi mereka berdua bangun berdiri dan mengusap—usap muka, sehingga waktu mereka bisa melek, sempat mereka melihat sang ciangkun sedang berkelahi melawan sang ‘macan betina yang sangat pintar nendang‘ itu ! “Hebat juga ciangkun kita …..” pikir Ma Kong berdua Ma Kiang; sebab sempat melihat, sarung—pedang dilawan dengan sarung—pedang, sedangkan pedang yang tajam dilawan dengan pedang yang tajam juga. Tangan kiri yang memegang sarung- pedang, selalu bergerak memakai jurus ‘tek-seng ciu’ selalu ingin menyentuh bagian yang tiga—lima; sedangkan tangan kanan memegang pedang tajam, bergerak silih berganti memakai Jurus ‘hiu hie liang pou’ atau ikan hiu menerjang gelombang, mencari sasaran dibagian pusar. Akan tetapi buru—buru ganti jurus kalau melihat pedangnya mau dibabat buntung; ganti memakai jurus ‘kie hwee siao-thian’ atau lepas api mau bakar langit, kepingin babat putus pembungkus kepala Liu Giok Ing. Liehiap Liu Giok Ing buru—buru melompat mundur dua langkah kebelakang, tetapi Sie—Pek Hong telah menyerang lagi memakai pedangnya, menggunakan jurus pek—wan hian-ko‘ atau monyet—putih persembahkan buah; lurus—lurus pedangnya bergerak menikam bagian pusar, akan tetapi buru—buru pedang itu menghilang kalau mau dibabat buntung. sebaliknya sarung pedang ditangan kiri Sie Pek Hong, menyusul bergerak memakai jurus ‘sian-wan cek—tho’ atau sun—go-kong nyolong buah-tho, sebab sarung-pedang itu mau nyontek bagian tiga—lima. Berteriak liehiap Liu Giok Ing marah—marah selagi mundur lagi tiga langkah kebelakang, sempat bikin Sie Pek Hong bengong ngawasin seperti terpukau; atau seperti sedang mikir—mikir, ‘repot juga kalau punya bini yang suka berteriak semacam itu‘. Untung Sie Pek Hong cepat tersadar, sebab sempat melihat sepasang tangan liehiap Liu Giok Ing berkepal seperti tegang. Yakin dia bahwa ‘macan—betina yang pintar menjerit’ itu sedang mengerahkan tenaga dalamnya, entah berdasarkan aliran atau golongan sebelah mana; tetapi ogah Sie Pek Hong diajak ngadu tenaga seperti itu, yang bisa bikin darah segar ngocor keluar. Dengan terburu—buru dia mundur kebelakang, habis sudah lupa yang tadi dia peroleh; lalu dia lompat tinggi-tinggi dan jauh seperti ‘burung gagak mencari perlindungan diatas pohon—pohon beringin’, tepat di saat liehiap Liu Giok Ing menyerang dengan menggunakan tenaga Eng—jiauw kang, mengakibatkan gempur berantakan tanah bekas tempat Sie Pek Hong tadi berdiri. Dan Sie Pek Hong harus buru—buru lompat lagi, turun mendekati tempat Ma Kong berdua Ma Kiang berdiri nonton; dan gerak lompat Sie Pek Hong tadi, memakai jurus ‘ho—lip kee-kun’ atau burung—bango hinggap di tempat anak-anak ayam. Gempur berantakan daun—daun pohon beringin bekas Sie Pek Hong tadi berlindung, dan buru—buru Sie Pek Hong ngomel terhadap Ma Kong berdua Ma Kiang : “Mengapa kalian cuma nonton …” “Bukan nonton, kami sedang berdiri untuk berjaga—jaga, siap melindungi kalau ciangkun terluka atau binasa …” sahut Ma Kiang yang buru—buru lari ke sebelah selatan; sebab dilihatnya gerak tangan liehiap Liu Giok Ing yang ingin menyerang lagi, dan Ma Kong ikut kabur ke sebelah utara sebab melihat adiknya mendahului kabur, sedangkan ciangkun Sie Pek Hong ikut kabur sambil dia berteriak : “Thio heng cepat keluar !” Keluar si tinggi hitam Thio Hek dari tempat semak—semak yang banyak pohon a1ang—alang, gatal sepasang kaki dan sepasang tangannya, sehingga ia merasa perlu menggaruk—garuk selagi dia mendekati liehiap Liu Giok Ing, disaat macan betina yang galak’ itu habis menggemur tanah—tanah yang lmmpur- “Eh, siao—kouwnio- Kau ada disini ?’ Thio Hek menyapa liehiap Liu Giok Ing, sengaja per1ihatkan.muka kaget dan heran, Terbelalak sepasang mata liehiap Liu Giok Ing mengawasi si tinggi hitam yang suaranya serak—serak basah seperti Louis Armstrong dan terpukau dia waktu.mendengar istilah ‘siao— kouwnio’ atau nona kecil- Siapa si tinggi hitam ini ?’ pikir liehiap Liu Giok Ing didalam hati, merasa tidak kenal : ‘Siapa kau ?” tanyanya dan bersikap galak- ‘Eh, Siao—kouwnio- Apakah kau benar—benar lupa dengan aku ? Aku adalah Thio si hitam-‘ “Thio Hek ?’ liehiap Liu Giok Ing’mengu1ang; menyebut nama- “Benar, Thio Hek yang du1u.mengabdi pelayan suhu, Touw—1iong cuncia diatas gunung Ouw bong—san !’ Teringat liehiap Liu Giok Ing dengan kejadian lama, dan terbayang lagi olehnya betapa si paman Thio Hekimemberikan kasih—sayangnya, sering dia diajak bermain, sering dia digendong dulu, waktu dia masih kecil- Dan sekarang, selagi dia merasa kehilangan kasih sayang suaminya, secara mendadak dia bertemu lagi dengan paman Thio yang menyayangi dia- Segera dia terisak:menangis didalam rangkulan si tinggi hitam.Thio Hek seperti dulu- “Thio Susiok, oh Thio susiok .–‘ “Ah, bocah.manis- Hengapa kau jadi begini, siao kouwnio- Mengapa kau harus berkelahi melawan orang-orang sendiri-” Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing bagaikan tidak mendengar perkataan Thio Hek, dia tetap terisak menangis didalam rangkulan lelaki tinggi hitam itu, membikin sempat Thio Hek membelai rambut yang hitam.ika1, yang masih dibungkus oleh kain penntup rambut, namun cukup banyak rambut yang nongol, kemudian ganti dia membelai bagian punggung liehiap Liu Giok Ing, tetapi batal dia.memnku1 dibagian pantat, seperti dulu- Setelah berkurang isak tangis liehiap Liu Giok Ing; maka Thio Hek berkata lagi, terdengar lembut, haru dalam telinga liehiap Liu Giok Ing, meskipun suara itu serak-serak basah! “Siao kouwnio, jangan kau menangis lagi, ingin kuperkenalkan kau dengan teman-teman yang kau tempur tadi- Setelah suhu tewas dan kita terpisah, aku hidup merantau tak:menentu, sampai aku bekerja.mengabdi pada pangeran Kim.Lun yang baik budi, mendampingi ciangkun Sie Pek Hong yang baik hati, alangkah baiknya kalau kauikut mengabdi pada pangeran Kim Lun dan kita berkumpul lagi, seperti dulu-‘
Liehiap Liu Giok Ing melepas diri dari rangkulan Thio Hek, bertepatan dengan kehadiran ciangkun Sie Pek Hong yang datang mendekati. “Liehiap, maafkan kejadian tadi. Aku telah berlaku tidak sopan sebab tidak menduga berhadapan dengan liehiap yang kenamaan.” kata Sie Pek Hong yang memberi hormat dan perlihatkan senyum. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing ikut memberi hormat. “Bukan ciangkun yang bersalah, sebaliknya aku yang telah bertindak diluar sadar sebab suamiku,” tak sanggup liehiap Liu Giok Ing melengkapi perkataannya, menyebut suaminya sudah mati, dan Sie Pek Hong yang ganti bicara lagi. “seperti dikatakan oleh Thio—heng tadi, kami merupakan pasukan dari kota Oei—kee tin. Pangeran Kim Lun ikut mendengar perihal peristiwa yang terjadi di kota raja, sehingga kami ditugaskan untuk menyelidiki dan kami berhasil memperoleh keterangan, bahwa pangeran Gin Lun yang menjadi dalang peristiwa itu, sehingga liehiap kena fitnah yang mengakibatkan Giok Lun ongya ikut jadi korban kena bencana. Kami bermaksud melaporkan kejadian ini kepada Kim.Lun Hoat ong, sehingga alangkah baiknya kalau liehiap ikut menghadap Kim Lun Hoat ong, setelah itu kita menyusun rencana buat liehiap melakukan balas dendam. Aku yakin Kim.Lun Hoat ong akan berpihak kepada liehiap, sebab Kim Lun Hoat ong lebih akrab dengan Giok Lun ong ya.” Sejenak liehiap Liu Giok Ing terdiam.mendengarkan perkataan Sie Pek Hong. Dia memang menyimpan dendam.terhadap Gin Lun Hoat ong yang hendak dia bunuh mati, dan dia memang telah menyadari bahwa tidak mndah buat dia melaksanakan niat itu selagi dia cuma sendirian. Akhirnya liehiap Liu Giok Ing menerima saran Sie Pek Hong, setelah Thio Hek juga turut membujuk. Dengan demikian liehiap Liu Giok Ing turut dalam rombongan Sie Pek Hong yang menuju ke kota Oei—kee tin, hendak menghadap pangeran Kim Lun, dekat perbatasan luar kota raja sebelah selatan, DENGAN MEMAKAI kuda—putih kesayangannya, si pendekar tanpa— bayangan Kwee Su Liang melakukan perjalanan seorang diri, jauh dari perbatasan kota Gan—bun koan yang berbatasan dengan suku-bangsa Watzu, Tartar; menuju kota—raja untuk memenuhi panggilan sri baginda maharaja. Perjalanan jarak—jauh yang harus dia tempuh melewati pegunungan dan hutan—belukar memberikan kesempatan buat Kwee Su Liang membayangkan lagi kejadian lama yang pernah dia alami, selagi dia menjelajah kalangan rimba persilatan sehingga berhasil dia memperoleh gelar ‘bo-im kiamhiap‘ atau pendekar pedang tanpa bayangan; berkat kelincahan dan kegesitan gerak tubuh, ditambah ilmu pedang ‘pek-ban kiam—hoat yang khusus diciptakan oleh gurunya, tayhiap Pek Ban Tong. Begitu cepat gerak ilmu pedang ‘pek-ban kiam:hoat’, sehingga sukar dilihat oleh mata, bagaikan gerak sejuta pedang! Kemudian Bo—im.kiamhiap Kwee Su Liang sempat teringat lagi dengan saat—saat waktu dia berkumpul bersama Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing. Bahu membahu berkelahi melawan musuh, bahu membahu menghadapi berbagai rintangan dan ancaman mara bahaya. Dalam melakukan pertempuran melawan musuh, ilmu silat mereka bahkan pedang—pedang mereka, dapat bersatu—padu bagaikan memiliki jiwa; akan tetapi dua—hati mereka, mengapa sukar bersatu meskipun setiap hari bertemu ? “Giok Ing terlalu keras kepala”, ini yang seringkali dikatakan oleh ‘hati kecil’ Kwee Su Liang, sukar dibantah oleh Kwee Su Liang ! ‘Su Liang terlalu tinggi hati‘, ini yang seringkali dikatakan oleh ‘hati kecil’ Liu Giok Ing, sukar dibantah oleh Liu Giok Ing. Dan, ayahnya Liu Giok Ing dibunuh oleh ibunya Kwee Su Liang ! Dan, ibunya Kwee Su Liang dibunuh oleh Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing ! Dan, satu demi satu bintang—bintang menghilang dari angkasa, bagaikan ketakutan, umpatkan diri waktu dua pendekar muda-perkasa ini saling berhadapan, berkelahi antara hidup dan mati. Saling mencari keadilan, katanya, saling melunaskan hutang—dendam ! “Alam nyata terlalu kejam, Liang—ko,” bisik Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, waktu sempat saling rangkul dengan Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang. Dalam suasana yang damai tentunya, dalam suasana mesra tentunya. Mesra, tanpa dua hati mereka ‘mau’ bersatu. Kenapa ? Dan mereka berkelahi lagi, mereka berbaik lagi; bahkan saling mengangkat saudara. Giokamoay, kau merupakan adik tersayang, kata Kwee Su Liang merangkul sang adik, sehabis mereka mengangkat saudara. “Liang-ko, kau merupakan kakak tersayang,” sahut Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing. Kemudian Bo—im.kiamhiap Kwee Su Liang menikah dengan Hui—thian liong-lie Lie Gwat Hwa si puteri naga terbang yang mahir ilmu ringan tubuh ‘1iok-tee hui heng’ yang pesat seperti terbang, dan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing hidup merana banjir air mata, tanpa setahu Kwee Su Liang ! ( ”Giok—moay, aku girang waktu mengetahui kau sudah menikah dengan pangeran Giok Lun.” ), untuk yang kesekian kalinya Kwee Su Liang berkata seorang diri, Cuma didalam hati. Akan tetapi, mengapa terjadi peristiwa seperti yang diceritakan oleh menteri kesra Toan Teng Hong. Kenapa ? ‘Mengapa kau harus menyebar maut lagi di kota raja ?’ Jelas Kwee Su Liang belu.mengetahui tentang adanya peristiwa pembunuhan dan si pelaku menggunakan senjata rahasia berbentuk bunga cinta, dan yang biasa menyebar ‘bunga cinta’ Cuma sang adik angkat yang ‘binal’. Akan tetapi ketika Bo—im kiamhiap Kwee Su Liang sudah tiba didekat perbatasan kota raja, maka didengarnya berita bahwa Liu Giok Ing mengacau dan menyebar maut di kota Sam hay koan, bahwa Giok Lun ditangkap kemudian ditolong oleh isterinya yang mengacau dan menyebar maut di istana kerajaan, kemudian hilang jejak Liu Giok Ing yang membawa lari suaminya. Semakin pusing Kwee Su Liang mendengar perbuatan sang adik angkat yang binal itu, kemana harus dia Cari ? Terpaksa dia menemui menteri kesra Toan Teng Hong, dan menteri yang tua usia itu, yang memang sudah tiba lebih dahulu di kota raja, menceritakan tentang kejadian Liu Giok Ing ‘membongkar penjara’ membawa lari suaminya. dan menteri Toan Teng Hong menambah keterangannya, mengatakan bahwa di luar kota raja, dekat pintu kota sebelah selatan, telah diketemukan belasan tentara kerajaan yang tewas. Ada dugaan bahwa mereka tewas akibat perbuatan Liu Giok Ing, terbukti didekat tempat kejadian itu, terdapat sebuah makam.darurat yang kemudian dibongkar, dan diketahui sebagai tempat makam jenazah Giok Lun Hoat ong, sehingga atas perintah sri baginda maharaja, maka jenazah Giok Lun Hoat ong sudah dipindah di—tempat pemakaman kerajaan di kota raja. ( “Ah Giokemoay, kau sekarang menjadi seorang janda yang sebatang kara …” ) Kwee Su Liang mengeluh didalam.hati, hampir mengeluarkan air mata. Dari tempat menteri kesra Toan Teng Hong kemudian Kwee Su Liang diperintahkan menghadap menteri kehakiman Pauw Goan Leng, akan tetapi tidak ada sesuatu tambahan keterangan apa apa yang dia peroleh, juga tentang Siu Lan yang datang melapor, tidak diberitahukan oleh menteri Pauw Goan Leng, sebaliknya menteri yang tua—tua keladi itu mengajak Kwee Su Liang menghadap sri baginda maharaja. Marah—marah sri baginda raja waktu menerima kedatangan menteri Pauw Goan Leng yang membawa Kwee Su Liang, sebab dia lagi asyik nonton ‘tari perut’ di dalam kamar selir yang ke enam belas. Ngomel-ngomel raja kepada menteri Pauw Goan Leng juga kepada Kwee Su Liang yang dia tahu pernah ‘berpacaran’ dengan liehiap Liu Giok Ing. “Mana macan—betina itu … !” tanya sri baginda maharaja, membentak. Menteri Pauw Goan Leng dan Kwee Su—Liang saling mengawasi, tidak tahu raja menanya kepada siapa. Akhirnya Pauw Goan Leng yang bicara : “Dia bukan lakinya si macan—betina …”
“Dia bukan lakinya si macan—betina …” “Aku tahu. Siapa bininya …” tanya raja; rusak bahan bicara. “Hui—thian 1iong—lie Gwat Hwa … “ “Haayaaa ! Batal kawin sama macan, ganti kawin sama naga …” Pusing raja memikirkan kehidupan orang-orang kalangan rimba- persilatan, dan pusing Kwee Su Liang yang mengabdi pada seorang raja yang Cuma ingat kawin; lebih pusing lagi waktu dia disuruh pulang, tetapi tetap diperintah menangkap macan betina, hidup atau mati ! Melamun Kwee Su Liang waktu keluar meninggalkan istana kerajaan, tetapi naluri hatinya menuntun dia melakukan perjalanan ke arah sebelah selatan; sehabis dia berpisah dengan menteri kehakiman Pauw Goan Leng. Kesebelah selatan, sebab disitu orang menemukan jenazahnya Giok Lun Hoat—ong waktu dimakamkan secara darurat. Pasti hasil kerja sang adik yang binal, pikir Kwee Su Liang yang membayangkan seorang diri Liu Giok Ing harus menggali lubang kuburan. Kemudian sempat Kwee Su Liang menanyakan keterangan kepada penduduk yang terdekat, berhasil dia mengetahui tentang adanya ‘perempuan sinting’ yang ngamuk—ngamuk menyebar maut, di kalangan tentara kerajaan; juga di kalangan rakyat yang sedang nonton waktu ‘perempuan sinting’ itu mau ditangkap. Mengeluh Kwee Su Liang atas perbuatan sang adik yang binal, tetapi bingung dia waktu didengarnya ‘perempuan sinting’ itu akhirnya pergi mengikuti serombongan tentara negeri sehabis mengubur jenazah yang ditangisi oleh ‘perempuan sinting’ itu. “Tentara negeri dari mana ?” tanya Kwee Su Liang; akan tetapi sia—sia sebab penduduk desa itu tidak mengerti tentang tanda-tanda kesatuan militer, entah dari mana kesatuan mana, entah dari batalyon mana. Terpaksa Kwee Su Liang meneruskan perjalanannya menuju ke arah selatan, tetap memakai kuda putih kesayangannya; dan bertamu dia di istana pangeran Gin Lun, sehingga sempat pangeran Gin Lun bercerita tentang liehiap Liu Giok Ing yang mengacau dan menyebar maut ditempat kediamannya, tanpa dia mengetahui entah apa kesalahannya. Lesu keadaan Kwee Su Liang waktu dia meninggalkan istana pangeran Gin Lun, tambah dia menyesali perbuatan liehiap Liu Giok Ing tanpa dia mengetahui kejadian yang sebenarnya; dan dia lebih menyesal lagi sebab dia tidak sempat bertemu dengan Kang-lam liehiap Soh Sim Lan, yang katanya pernah singgah di istana pangeran Gin Lun; bahkan ikut bertempur melawan liehiap Liu Giok Ing. ( ‘Mengapa harus terjadi begini …‘ ) Kwee Su Liang mengeluh didalam hati; merasa sangat penasaran bahwa sang adik yang binal jadi bertempur dengan Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang saudara seperguruan dengan Liu Goat Go, sedangkan Liu Goat Go adalah adik kandung Liu Giok Ing. Terpikir oleh Kwee Su Liang bahwa dia harus mencapai Liu Goat Go yang adiknya Liu Giok Ing, akan tetapi kemana dia harus mencari? Mencari Liu Goat Go sama sukarnya dengan mencari Liu Giok Ing, sehingga batal dia lakukan niatnya yang hendak mencari Liu Goat Go. Hanya dengan mengikuti naluri hatinya, dia larikan kudanya menuju ke arah sebelah timur, menuju Oei—kee tin tanpa melalui kota raja; akan tetapi melintas jalan lewat hutan belantara dan daerah pegunungan. Entah berapa hari sudah melakukan perjalanan itu dengan hati risau, Cuma dibeberapa tempat yang membawa kenangan lama dia berhenti beristirahat. Cuma kenangan lama yang bisa mendekatkan dia dengan sang adik yang binal, cuma kenangan lama yang bisa membikin dia tersenyum, akan tetapi kadang—kadang mengalirkan air mata. Terbayang lagi oleh Kwee Su Liang dengan saat—saat waktu sang adik yang binal itu marah-marah manja, ogah dibagi roti kering meskipun waktu itu hujan sedang lebat turun, selagi mereka meneduh ditempat yang sekarang Kwee Su Liang duduk seorang diri. “Kalau kau tidak mau makan, aku juga tidak mau makan,” kata Kwee Su Liang waktu itu dan sempat dia melirik sang adik yang binal, waktu sang adik yang binal itu sedang menelan air liur, mungkin merasa lapar tetapi diam tidak bicara. Ngambek-manja seperti biasa. “Cuma orang yang bodoh, yang mau melakukan hal—hal yang bertentangan dengan hasrat hatinya,” Kwee Su Liang yang bicara lagi waktu itu berhasil membikin sang adik yang binal jadi tersenyum: ujarnya : “Kau memang bodoh, kau merasa lapar tetapi kau tidak mau makan,” kata sang adik yang binal, mempertahankan sikap ngambek manja waktu itu. “Kau juga lapar tetapi kau tidak mau makan, sebaliknya kau ngambek marah,” mulai ngomel Kwee Su Liang waktu itu. “Tentu aku ngambek, tentu aku marah,” sahut sang adik yang binal. “Kenapa ?” “sebab kau tinggi hati !” “Dan kau keras kepala !” balas Kwee Su Liang. “Dan kau yang bodoh, mau melakukan hal—hal yang bertentangan dengan hasrat hati.” Terdiam Kwee Su Liang waktu itu. Berpikir dia seorang diri. “Mau melakukan hal—hal yang bertentangan dengan hasrat hati,” kalimat kata yang pernah dia ucapkan dan yang dikembalikan oleh sang adik yang manja dan binal itu. “Kalau kau tidak mau makan, aku juga tidak mau makan”, ini yang dikatakan oleh Kwee Su Liang kepada adik yang binal itu, mengapa bukan dia mengucap kata—kata yang sesuai dengan hasrat—hati : “Giok—moay, aku risau kalau melihat kau tidak mau makan; sebab aku cinta padamu.” “Ahk !” Kwee Su Liang membantah, sehabis sejenak dia membesarkan diri dibawa hanyut oleh alam-khayal. “Jangan coba mengharap terlalu banyak, jangan coba mengemis cinta, sudah untung dia mau berbaik, sudah untung dia mau mengangkat saudara,” bisik hati kecil Kwee Su Liang yang selalu merintang kalau Kwee Su Liang hendak menyentuh soal cinta, dan Kwe Su Liang selalu merasa takut kalau—kalau sang adik yang binal menolak kasihnya, sehingga tak berani dia menyatakan cintanya. Selalu dia menghadapi kesukaran buat mempersatukan hati mereka, selalu dia merasa jauh dan asing meskipun mereka sering berada berdekatan. Ada bunyi suara yang tidak wajar yang sempat didengar oleh Kwee Su Liang, setelah dia sadar dari alam khayal. Tersentak Kwee Su Liang bangun berdiri dari tempat dia beristirahat, semacam sebuah goa dekat tebing yang curam didaerah pegunungan yang sunyi. Hari sudah mendekati subuh ketika Kwee Su Liang meneliti keadaan disekitarnya, mencari asal bunyi suara itu terdengar, bunyi suara keluhan nyaring seorang—orang yang seperti sedang menderita kesakitan, kalau dia tidak salah duga. Berindap—indap Kwee Su Liang melangkahkan kakinya, sampai kemudian dia mempercepat ketika suara keluhan itu terdengar berulang. Ditepi sebuah jurang yang dalam, disitu Kwee Su Liang merasa bertambah jelas dia mendengar suara keluhan orang itu, seorang 1aki—laki, mungkin terjatuh kedasar jurang yang gelap tidak kelihatan sesuatu. Sengaja Kwee Su Liang perdengarkan pekik teriaknya, menghadap ke dasar jurang, setengah berlutut dia melakukannya. Tiada suara jawaban yang didengarnya, bahkan suara keluhan tadi menjadi terhenti, yakin Kwee Su Liang bahwa seorang itu mendengar pekik suaranya, akan tetapi tak sanggup memberikan jawaban. Pasti terluka parah orang itu dan dia merasa wajib memberikan pertolongan. Bersusah payah Kwee Su Liang merambat menuruni dasar jurang itu, meskipun dia pandai ilmu ‘pek hou yu chong’ atau cecak merambat ditembok, keadaan di dalam jurang itu amat gelap, hanya sedikit sinar bintang-bintang yang tinggi diangkasa, tiada bulan sedangkan matahari belum waktunya buat perlihatkan ujud. Akhirnya Kwee Su Liang berhasil menemukan sesosok tubuh manusia yang nyangkut di antara dahan pohon yang tinggi dan lebat, pohon yang tumbuh didasar jurang, dan sekali lagi Kwee Su Liang harus bersusah payah menolong orang itu yang memiliki tubuh tinggi besar, yang terluka parah bekas terbanting tergelincir jatuh.
Berhasil Kwee Su Liang membawa orang itu turun kedasar jurang, akan tetapi diantara sinar yang remang—remang, Kwee Su Liang terkejut karena merasa kenal dengan lelaki yang ditolongnya itu. Siapa? atau dimana ia pernah bertemu dengan lelaki itu? Lemah keadaan lelaki itu yang terluka parah banyak mengeluarkan darah, bekas dia jatuh terbanting, bahkan ada bagian-bagian tulang yang retak atau patah. Yakin Kwee Su Liang bahwa sudah tidak mungkin lagi buat lelaki itu menyambung hidup, akan tetapi mendadak Kwee Su Liang teringat; ya, teringat dan tak mungkin dia salah lagi, laki laki itu berkulit hitam. “Susiok, bukankah kau Thio … Thio susiok …” Laki-laki bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam itu memang Thio Hek, keadaannya sangat lemah disamping dia menderita rasa sakit; tak mampu dia menjawab pertanyaan penolongnya, cuma sepasang matanya lemah mengawasi, merasa bagaikan dia juga kenal dengan si penolong itu, akan tetapi dia yang sudah lupa. Meskipun merasa yakin tidak mungkin menolong nyawa Thio Hek, namun Kwee Su Liang merasa perlu mengajak bicara. Ihio—Hek adalah pelayan yang mengabdi pada Touw—1iong cuncia adalah liehiap Liu Giok Ing. Mengapa Thio Hek terjatuh, sebab dia memiliki ilmu meskipun dia bodoh, sering kali diganggu oleh sang adik yang binal selagi dulu mereka masih berkumpul diatas gunung 0uw—bong san. Dan teringat lagi Kwee Su Liang dengan kejadian tempo dulu. Dahulu dia sedang berkelana berdua liehiap Liu Giok Ing, lalu bertemu Liu Goat Go yang adiknya Liu Giok Ing, dan Liu Goat Go memberitahukan kakaknya, bahwa Touw—liong cuncia sedang sakit; sehingga buru—buru Liu Giok Ing menempuh perjalanan ke kota An—hui, jauh diperbatasan propinsi Inlam, Tali, ditempat yang banyak berkeliaran suku—bangsa Biauw. Waktu itu Kwee Su Liang tetap mendampingi liehiap Liu Giok Ing, dan sang macan-betina yang waktu itu belum.menjadi adiknya; ngambek—manja memaksa Kwee Su Liang turut mendaki gunung 0ew—bong san, bahkan turut menemui Touw liong cuncia yang gurunya liehiap Liu Giok Ing. Ternyata Waktu itu Touw—1iong cuncia sakit karena kena bisa-racun 1aba—laba dari India, yang dia terima sebagai hadiah dari temannya; dan Touw liong cuncia yang terkenal sebagai ‘si biang racun’, berhasil mengatasi penyakitnya, sehingga dengan lagak manja liehiap Liu Giok Ing perkenalkan Kwee Su Liang dihadapan gurunya : “Suhu, aku membawa seorang teman.” Touw—1iong cuncia kelihatan kaget sebab dia tahu, justeru ibunya Kwee Su Liang yang membunuh ayahnya Liu Giok Ing; sehingga untuk yang pertama kalinya terjadi pertempuran antara Kwee Su Liang melawan Liu Giok Ing, selekas Touw—1iong cuncia memberitahukan kepada Liu Giok Ing. Bertempur mereka diatas gunung Ouw bong san, dan Touw—1iong cuncia cuma bisa nonton sebab dia belu bisa bangun akibat kena bisa-racun 1aba—laba dari India, kemudian Thio Hek yang hitam bertubuh tinggi besar, ikut mengepung Kwee Su Liang, akan tetapi dua kali kena tendang sang ‘macan betina yang galak’, sebab liehiap Liu Giok Ing tidak mau dibantu da1am.menghadapi ‘musuh bebuyutan’ itu. Kabur Kwee Su Liang ngos—ngosan menyusuri gunung Ouw bong san, bahkan untuk waktu yang cukup lama dia umpatkan diri menghilangkan dari liehiap Liu Giok Ing, bukan sebab takut akan tetapi tidak mau dia berkelahi melawan ‘macan betina yang ga1ak’ itu; sebab waktu itu dia sedang setengah mati jatuh cinta kepada Liu Giok Ing, akan tetapi merasa belum.mendapat kesempatan buat menyatakan cintanya, sebaliknya dan tanpa diketahui oleh Kwee Su Liang, sejak saat itu liehiap Liu Giok Ing bagaikan merasa merana menyimpan benci tetapi rindu. Dan sekarang Kwee Su Liang menemukan Thio Hek yang terluka parah, sehingga dia memerlukan menyalurkan tenaga dalamnya, berhasil membikin ada sedikit kekuatan buat Thio Hek bicara, akan tetapi si tinggi hitam langsung ngomel—ngome1 waktu mengetahui bahwa yang menolong dia adalah ‘musuh bebuyutan’ dari sang siao kouwnio kesayangannya. Repot Kwee Su Liang akan tetapi berhasil dia memberikan suatu penjelasan kepada Thio Hek, bahwa sekarang dia sudah menjadi kakak angkat dari liehiap Liu Giok Ing, Sedangkan Thio Hek kemudian bercerita, bahkan sampai dia mengucurkan air—mata. Thio Hek dungu atau bodoh, akan tetapi dia merupakan seorang laki-laki yang jujur; dia memperoleh pekerjaan didalam istana pangeran Kim Lun, tugasnya dibagian dapur, cuci—piring dan belah—kayu. oleh karena kejujurannya itu, maka dia berkata sejujurnya waktu diajak bicara oleh ciangkun Sie Pek Hong, yang waktu itu sedang ‘ngontro1’ dapur mencari pelayan—sexy, sehingga diketahui oleh ciangkun Sie Pek Hong bahwa Thio Hek bekas pelayan Touw—liong cuncia yang sudah marhum, dan menjadi orang yang disayang oleh liehiap Liu Giok Ing. Waktu hendak melaksanakan rencana yang sudah disusun matang, maka Sie Pek Hong mengajak Thio Hek yang diangkat menjadi perwira katanya, dan diberikannya seperangkat pakaian dinas, sehingga Thio Hek jadi kegirangan merasa diri gagah perkasa. Dan dia menjadi lebih girang ketika diberitahukan hendak diajak menemui sang siao kouwnio yang katanya sudah menjadi isterinya Giok Lun Hoat ong di kota raja. Jelas tidak diketahuinya bahwa tugas Sie ciangkun adalah untuk membunuh sang siao kouwnio. Setelah bertemu dengan sang siao kouwnio, bertambah girang Thio Hek dan merasa sangat berterima kasih terhadap Sie ciangkun yang dianggap sangat besar budinya; tetapi Thio Hek menjadi sangat terkejut waktu Sie ciangkun minta bantuannya bicara dan membujuk supaya sang siao kouwnio mau jadi bininya Sie ciangkun, dan siao kouwnio itu bahkan disimpan di rumah Sie ciangkun, bukan diajak bertemu dengan Kim Lun Hoat ong seperti rencana semula yang dia beritahu. Sedangkan Thio Hek turut pindah bekerja di rumah Sie ciangkun, dibagian dapur, jadi tukang cuci piring dan belah kayu; balik asal ! Thio Hek jujur merasa tak keberatan ditugaskan jadi tukang cuci piring dan tukang belah kayu; akan tetapi dia ogah diperintah membujuk sang kouwnio, sehingga dua kali dia kena hukum cambuk yang dilakukan oleh Sie ciangkun; akan tetapi ketika yang ketiga kalinya dia hendak dihukum lagi, maka dia melakukan perlawanan, tanpa setahu sang siao kouwnio tentunya. Sudah tentu Thio Hek tidak sanggup melawan Sie ciangkun yang tinggi ilmunya, sehingga dia kabur akan tetapi dikejar Sie ciangkun yang membawa belasan anak buahnya. Terus Thio Hek diuber—uber meskipun dia sudah berteriak sambil dia lari, seperti anjing geladak yang kena pentung, sampai akhirnya dia terjatuh kedalam jurang dengan tubuh luka-luka; bekas kena pentung dan bacokan, ditambah lagi dia terbanting-banting Waktu jatuh ke da1am.jurang; akan tetapi menyangkut didahan pohon; berhasil ditemukan dan ditolong oleh Kwee Su Liang, akan tetapi nyawanya tetap melayang sehabis dia menceritakan semua yang diketahui, termasuk urusan pangeran Gin Lun dan pangeran Kim Lun, yang dia dengar dari pembicaraan Ma Kong berdua Ma Kiang. Jelas sudah bagi Kwee Su Liang tentang semua peristiwa yang dialami dan diderita oleh liehiap Liu Giok Ing. Jelas sang adik yang binal kena fitnah dan jelas semua perbuatan itu adalah Kim Lun Hoat—ong yang menjadi dalang, dibantu oleh ciangkun Sie Pek Hong yang biang keladi. Kasihan nasib sang adik yang binal itu, dan sang adik yang binal itu sekarang sedang dikurung didalami goa harimau ! Bertekad Bo im.kiamhiap Kwee Su Liang hendak menolong sang adik yang binal itu, tidak peduli dia harus menerjang bahaya, tidak peduli dia harus menyebar maut, seorang diri dia akan menyerbu kedalam istana pangeran Kim Lun, setelah itu baru memberikan laporan kepada sri baginda maharaja.
SETELAH tiba di kota Oei—kee tin, Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing merasa heran karena dia tidak langsung diajak menghadap kepada Kim.Lun Hoat—ong, sebaliknya ditempatkan dirumahnya Sie Pek Hong, akan tetapi sebelu dia sempat menanya, maka dikatakan oleh ciangkun yang banyak akalnya itu, bahwa selama berada da1am.keadaan berduka cita, sebaiknya liehiap Liu Giok Ing istirahat dulu dirumah ciangkun itu, untuk kemudian baru diajak menghadap sang pangeran. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menurut, terlebih setelah diketahui bahwa Thio Hek juga ikut dipindah tugasnya kerumah ciangkun Sie Pek Hong, ditempatkan dibagian dapur sebagai tukang cuci—piring dan belah-kayu; sehingga tidak banyak kesempatan buat liehiap Liu Giok Ing bertemu dan mengajak Thio Hek bicara. Da1am.suasana berduka—cita dan menyimpan dendam, terlalu banyak liehiap Liu Giok Ing harus berpikir, dan berusaha menyabarkan diri buat melakukan balas—dendam terhadap perbuatan pangeran Gin ong. Terlalu banyak air-mata yang dia keluarkan, kalau dia teringat dengan kasih sayang suaminya. ‘Suami yang ma1ang’, ini yang seringkali Liu Giok Ing ucapkan seorang diri didalam hati; selagi suaminya masih mendampingi. Tetapi setelah sekarang suaminya tewas, dia benar—benar merasakan kehilangan. Kehilangan orang yang menyintai dia dan kehilangan tempat dia bersandar, sehingga dia merasa sebatang kara. Memiliki seorang adik yang dia tidak ketahui jejaknya, Sedangkan lelaki yang pernah mencuri hatinya, sudah melupakan dia. Terasa terlalu sunyi, terlalu sepi, selagi dia merenungi nasibnya seorang diri. Cuma ciangkun Sie Pek Hong yang kadang- kadang menemani dia; mengajak dia bicara dengan menghibur, melimpahkan kata-kata manis mengandung harapan. Bukankah ciangkun Sie Pek Hong sudah menikah? Mengapa istrinya tidak diperkenalkan dan tidak ditemukan kepada dia? Sekilas terpikir oleh liehiap Liu Giok Ing tentang perwira yang baik hati itu, akan tetapi saat itu dia lebih cenderung memikirkan nasibnya sendiri, sehingga dia merasa tidak perlu memikirkan keadaan keluarga ciangkun Sie Pek Hong. Pagi hari itu, ciangkun Sie Pek Hong mengajak liehiap Liu Giok Ing menghadap kepada pangeran Kim Lun, ada yang ingin dibicarakan oleh pangeran itu, kata ciangkun Sie Pek Hong kepada liehiap Liu Giok Ing. Dan liehiap Liu Giok Ing merasa cukup kaget, ketika menemui sang pangeran dikelilingi oleh segenap perwira dan para pembantunya, ketika Kim Lun Hoat ong menerima kedatangan liehiap Liu Giok Ing. Kim.Lun Hoat ong menyadari tidak ada kemungkinan buat dia mengharapkan kedudukan menjadi raja, sebagai pengganti ayahnya yang sudah tua. Terlalu banyak saudara—saudaranya yang lebih pandai dan lebih banyak kesempatan menjadi ahliwaris; tetapi dia bertekad ingin menjadi raja, sehingga diam—diam.dia merencanakan perbuatan makar, ingin merebut pemerintahan dengan cara kekerasan. oleh karena itu Kim Lun Hoat ong merasa perlu menyusun kekuatan dan menyebar pengaruh, dan untuk maksud ini dia sengaja mengundang banyak orang dari kalangan rimba persilatan, khususnya dari golongan hitam yang mau mengabdi karena mengharapkan bayaran dan kedudukan; disamping Kim Lun Hoat—ong menyebar pengaruh dan menempatkan orang—orang kepercayaannya di kota-raja buat mempengaruhi sri baginda maharaja dan memperlemah kedudukan pertahanan serta mengacaukan keadaan keamanan, antara lain dengan Cara membunuhi pejabat pemerintahan yang dianggap setia terhadap sri baginda maharaja, menjadi perintah yang menentang gerakannya. Da1am.usaha menyebar pengaruh, Kim Lun Hoat—ong bahkan menghubungi pihak pemerintah kerajaan Tartar, atau negara Watzu yang berkedudukan disebelah barat daya negeri cina, bahkan juga mendekati pihak pemerintah kerajaan Jepang dibagian tenggara. Mengenai Liu Giok Ing, memang sejak lama Kim.Lun Hoat—ong sudah mendengar tentang kegagahannya dan kecantikannya, akan tetapi Kim.Lun Hoat—ong menjadi kecewa ketika kemudian diketahuinya Liu Giok Ing menikah dengan Giok Lun Hoat-ong yang merupakan salah seorang yang menentang niat Kim Lun Hoat—ong yang hendak merebut kekuasaan negara. Kemudian dengan siasat ciangkun Sie Pek Hong, maka dilakukan berbagai perbuatan pembunuhan dikota raja yang bahkan di dalam istana kerajaan, kemudian dengan menyebar fitnah sebagai perbuatan lie hiap Liu Giok Ing, sehingga menghasilkan tewasnya pangeran Giok Lun tanpa liehiap Liu Giok Ing mengetahui bahwa dalang perbuatan itu justeru adalah Kim Lun Hoat ong. Dipihak liehiap Liu Giok Ing, dia merasa terkejut ketika melihat sekian banyaknya perwira yang menemani Kim Lun Hoat ong, di saat dia menghadap buat memenuhi undangan pangeran itu. Sekilas terpikir oleh liehiap Liu Giok Ing bahwa pangeran Kim Lun merasa khawatir ka1au—kalau dia akan mengacau akan tetapi waktu itu liehiap Liu Giok Ing lebih terpengaruh sebab melihat diantara sekian banyaknya perwira yang mengabdi kepada Kim.Lun Hoat ong, kebanyakan merupakan orang-orang yang sudah dia kenal sebagai orang-orang dari kalangan rimba persilatan golongan hitam, seperti Toan—1o sin-koay Kong Tek Liang, si tongkat sakti yang pernah merajalela sebagai begal tunggal di wilayah propinsi Siamsay sebelah utara, kemudian ada seorang imam yang liehiap Liu Giok Ing cuma kenal dengan nama Kim Wan tauw-to, yang entah dari golongan agama apa akan tetapi yang diketahui memiliki tenaga raksasa sebab dia mahir ilmu ‘tay-lek kim—kong chiu’. Jelas Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing tidak menyadari bahwa adalah menjadi maksud Kim.Lun Hoat—ong yang hendak menyaksikan sendiri tentang kegagahan Liu Giok Ing, sehingga sengaja dia mengumpulkan perwira-perwira utama buat menghadiri pertemuan itu, ingin memberikan kesempatan kepada mereka buat ‘mencoba’ kemampuan Liu Giok Ing. Didepan Ceng—hwa liehiap Liu Gok Ing, sengaja Kim.Lun Hoat—ong mengucap kata-kata yang membakar semangat Liu Giok Ing buat melakukan balas dendam terhadap pangeran Gin Lun dan untuk maksud ini pangeran Kim Lun menugaskan sepasukan tentara berikut beberapa orang perwira, yang akan dipimpin oleh Liu Giok Ing dan secara menyamar melakukan penyerangan ke istana pangeran Gin Lun. Akan tetapi, seperti yang sudah direncanakan, maka Siamsay jie—liong Coa Keng dan Coa Beng yang diperintahkan melaksanakan tugas itu, perlihatkan sikap membangkang, merasa rendah diri melakukan tugas dibawah perintah liehiap Liu Giok Ing yang belum mereka ketahui tentang kemampuannya. Siamsay jie liong Coa Keng berdua Cba-Beng’merupakan lelaki muda yang menjadi keponakan murid Toanlo sin—koay Kong Tek Liang. Mereka memperoleh pekerjaan sebagai perwira muda yang mengabdi pada pangeran Kim.Lun berdasarkan bantuan dari Kong Tek Liang, sehingga pangeran Kim Lun belum pernah menyaksikan tentang kepandaian dua lelaki muda itu. Jelas merupakan suatu kesempatan buat pangeran Kim.Lun membuktikan kegagahan mereka, di samping kemampuan liehiap Liu Giok Ing yang belum.pernah dia lihat sendiri. “Kim Lun ong—ya, untuk membuktikan kegagahanku, sudah tentu aku bersedia melayani bertanding semua perwira yang ada disini,” liehiap Liu Giok Ing memaksa diri untuk bicara dan memakai suatu istilah ‘ong-ya‘, selagi dia membendung rasa marah melihat sikap dua laki—laki muda yang banyak lagak ini; dan kata-kata liehiap Liu Giok Ing itu, sudah tentu membangkitkan rasa tidak puas bagi ‘Toan lo sin—koay’ Kong Tek Liang, juga Si imam Kim Wan tauw-to, terlebih Siamsay jie liong Coa Keng berdua Coa Beng yang merasa ditantang langsung. Kim.Lun Hoat—ong perdengarkan suara tawa, meskipun didalam hati dia ikut merasa penasaran waktu mendengar kata-kata menantang dari liehiap Liu Giok Ing; segera dia memberikan persetujuan untuk dilakukan semacam pertandingan persahabatan, dan untuk maksud ini segera disiapkan ruangan latihan untuk dijadikan tempat melakukan ‘pie bu‘. Pertandingan ‘pie—bu’ itu dilakukan tanpa menggunakan senjata tajam, sehingga Siamsay jie—liong Coa Keng berdua Coa Beng mengerahkan ilmu ‘siam—say ciang—hoat’ yang khas dari golongan Siam-say sebelah utara; masing-masing bergerak dari sebelah kiri dan sebelah kanan liehiap Liu Giok Ing. Akan tetapi dengan pergunakan kegesitan dan kelincahan gerak tubuhnya, dengan mudah liehiap Liu Giok Ing dapat menghindar dan membebaskan diri dari serangan dua—saudara itu. Coa Keng yang kakak Coa Beng merasa gusar. Dengan gerak ‘poan—liong jiauw—po’ atau naga bertindak, dia bergerak cepat menyusul kearah samping kanan Liu Giok Ing, lalu dengan gerak ‘oiw-liong jiauw-cu‘ atau naga hitam melibat tiang, sepasang lengannya bergerak bagaikan ingin merangkul pinggang yang langsing dari Liu Giok Ing, sebab dia bermaksud menghancurkan tulang pinggang Liu Giok Ing. Akan tetapi, sekali lagi Liu Giok Ing bergerak dengan perlihatkan kelincahan gerak tubuhnya menghilangkan Coa Keng yang sedang menyerang, sebaliknya dengan jurus ‘sin chiu pa—houw atau tangan sakti menggempur macan, ditangkis serangan tangan Coa Beng yang ikut melakukan penyerangan, sehingga membikin Coa Beng berteriak kesakitan, sampai tiga langkah dia terdorong mundur kebelakang.
Untung bagi Coa Beng bahwa liehiap Liu Giok Ing tidak sempat meneruskan melakukan penyerangan, sebab Coa Keng sudah bergerak mengulang melakukan penyerangan, memakai gerak—tipu ‘tui-Chung bong—goat’ mendorong daun jendela ingin melihat bulan; sehingga sekali lagi liehiap Liu Giok Ing bergerak menghindar dari sepasang kepalan tangan Coa Keng, namun sebelah kaki Coa Keng kena dibagian betis sehingga Coa Keng ikut berteriak kesakitan seperti adiknya, bahkan sampai dia melangkah terpincang-pincang. Toan-lo sin—koay Kong Tek Liang berteriak seperti guntur, tubuhnya bergerak lompat mendekati liehiap Liu Giok Ing, sementara sebelah kepalan tangannya menghantam bagian kepala dengan gerak—tipu ‘tay—san ap—teng’ atau gunung tay-san menindih, sedangkan sebelah tangan kanannya ikut bergerak menyerang memakai gerak—tipu ‘ki—hwee siauw-hoan’ atau angkat—obor membakar langit; sehingga dengan demikian sekaligus dia dapat melakukan penyerangan memakai dua jurus maut. Akan tetapi, waktu dilihatnya Liu Giok Ing bergerak menghindar dengan perlihatkan kelincahan tubuhnya, maka Kong Tek Liong menendang memakai kakinya. “Bagus !” seru Liu Giok Ing, sementara tubuhnya dengan lincah dan kelihatan ringan, lompat tinggi sampai melewati kepala Kong Tek Liang, sehingga dua-lawan ini saling berdiri membelakangi, akan tetapi dengan cepat Toan-lo sin—koay Kong Tek Liang sudah memutar; disaat Liu Giok Ing juga ikut memutar tubuh. Lalu Kong Tek Liang melakukan dua serangan maut seperti tadi, akan tetapi kali ini mengarah bagian dada dan iga. Dua serangan maut secara berantai memakai jurus beng—houw kwie—san atau harimau galak pulang ke gunung, dan ‘sam yang kay-tay’ atau sembahyang permulaan tahun. sekali lagi Liu Giok Ing mengeluarkan suara memuji, sedangkan semangat tempurnya menjadi bangkit karena merasa menghadapi lawan yang cukup kuat. Dengan menggunakan gerak tipu ‘pek—pie leng wan‘ atau kera seratus tangan; Liu Giok Ing melakukan perlawanan menghalau setiap serangan Toan lo sin koay Kong Tek Liang, bahkan sepasang kakinya secara silih berganti sempat balas menendang; mengerahkan ilmu wan-yo 1ian—hoan tui’; atau tendangan berantai burung wanyo. Dengan ilmu menendang secara berantai itu, sempat Liu Giok Ing membikin lawannya repot harus menghindar, bahkan berhasil membikin tubuh Kong Tek Liang sampai bergulingan dilantai seperti keledai malas mandi di pasir, lalu secara tiba—tiba tubuhnya lompat melesat seperti ikan gabus meletik ( ‘lee—hie ta-teng‘ ), sementara dengan jurus ‘sin liong tam jiauw’ atau naga sakti perlihatkan kuku, maka ke sepuluh jari-jari tangannya tegang bagaikan cakar naga hendak mencengkeram bagian dada Liu Giok Ing, berhasil membikin Liu Giok Ing menghentikan serangan tendangannya, bahkan dia harus lompat mundur buat menghindar dari serangan lawan yang berlaku nekad I sekali lagi Toan-lo sin—koay Kong Tek Liang berteriak sekeras bunyi suara guntur, oleh karena untuk yang kesekian kalinya serangannya tidak mencapai sasaran; apalagi waktu liehiap Liu Giok Ing memperlihatkan jurus ilmu kesaktiannya yang berupa kbm eng 1iuhie’ atau kenari kuning bermain dicabang pohon yang—liu, sehingga terasa sukar buat Kong Tek Liang melakukan penyerangan, sebab gerak tubuh liehiap Liu Giok Ing amat pesat dan gesit. Siamsay jie liong Coa Keng berdua Coa Beng ingin bergerak membantu paman guru mereka, akan tetapi sekilas pandang mata mereka bertemu dengan Kim Lun Hoat—ong yang kelihatan seperti bersenyum.memuji kegagahan liehiap Liu Giok Ing; sehingga batal Coa Keng berdua Coa Beng memberikan bantuan buat mengepung liehiap Liu Giok Ing. Sementara itu Toan lo sin koay Kong Tek Liang merasa kecewa dan penasaran karena tidak dapat mengalahkan liehiap Liu Giok Ing. Baru sekarang dia menyadari betapa kegagahan dan kelincahan tubuh Liu Giok Ing sehingga dalam hati dia mengeluh sebab tidak mendapatkan kesempatan buat perlihatkan ilmu tongkatnya yang sakti, mengingat perjanjian dalam pie—bu itu tidak diperkenankan memakai senjata. Dua kali dia nyaris kena pukulan tangan liehiap Liu Giok Ing, dan berulangkali dia harus bergulingan menggunakan ilmu ‘keledai malas mandi dipasir’ buat menghindar dari tendangan kaki liehiap Liu Giok Ing; bahkan berulangkali sia—sia dia berusaha balas menendang sambil rebah bergulingan, atau hendak menangkap kaki liehiap Liu Giok Ing yang sedang menendang, menggunakan ilmu ‘tee-tong—kun’ selagi tubuhnya masih bergulingan dilantai. Kelihatannya bagaikan tidak ada kesempatan buat Kong Tek Liang bangkit berdiri, tetapi tak sia—sia pengalamannya yang puluhan tahun menjelajah dikalangan rimba persilatan. Walaupun umurnya sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi tubuhnya masih lincah dan gesit; sehingga disuatu saat Kong Teng Liang perdengarkan suara menggeram bagaikan seekor lembu-hutan, lalu tubuhnya lompat bangun dan menyeruduk badan liehiap Liu Giok Ing bagaikan lembu hutan yang mau pulang ke—goa, oleh karena dia bergerak memakai jurus ‘ya-gu—kwie-tong. Akan tetapi waktu liehiap Liu Giok Ing berkelit menyingkir, lalu sebelah tangannya liehiap Liu Giok Ing hendak memukul memakai gerak—tipu ‘ke—san pa houw, diantara gunung memukul harimau; maka sepasang tangan Kong Tek Liang bergerak bagaikan mengibas, menggunakan jurus kek—bok cong—po’ atau mengangkat kepala mengawasi gelombang, sehingga sempat Kong Tek Liang menangkis mengakibatkan tangan—tangan mereka saling bentur, membikin liehiap Liu Giok Ing terdorong kesamping, sedangkan tubuh Kong Tek Liang terjerumus hampir jatuh. Dengan demikian, dalam hal tenaga dalam ternyata liehiap Liu Giok Ing dapat menandingi Toan lo sin—koay Kong Tek Liang ! Bertepatan pada saat itu, Kim Lun Hoat ong berteriak perdengarkan suaranya, memerintah pie bu itu dihentikan, sebab pangeran itu merasa cukup sudah menyaksikan kegagahan liehiap Liu Giok Ing; tanpa pangeran itu menghiraukan Kim.Wan tauw—to perlihatkan muka tidak puas, sebab si imam belum mendapatkan giliran untuk mengadu kepandaian dengan liehiap Liu Giok Ing. Setelah menyudahi acara pie—bu itu, maka Kim Lun Hoat—ong mengajak liehiap Liu Giok Ing bicara; cuma ditemani oleh ciangkun Sie Pek Hong. Dalam pembicaraan itu mereka menyusun rencana buat melakukan penyerangan secara rahasia terhadap istana pangeran Gin Lun, tanpa pihak pangeran Gin Lun akan mengetahui bahwa penyerangan itu dilakukan oleh orang-orang dari pihak Kim.Lun Hoat ong. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menyetujui usul itu, oleh karena yang dia pikirkan adalah urusan membalas dendam suaminya yang tewas sebagai akibat dari perbuatan pangeran Gin Lun yang telah memfitnah dia. Akan tetapi, selagi rencana penyerangan terhadap istana pangeran Gin Lun belum sempat dilaksanakan; maka Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang sudah memasuki kota 0ei—kee tin; bahkan berhasil memperoleh keterangan bahwa liehiap Liu Giok Ing sudah mengabdi kepada Kim Lun Hoat—ong dan untuk sementara liehiap Liu Giok Ing masih berkediaman dirumah ciangkun Sie Pek—H0ng. Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang merasa sangat cemas memikirkan nasib sang adik yang binal, sebab dia cukup mengetahui tentang ciangkun Sie Pek Hong yang dahulu pernah melarikan diri dari kota raja, sebagai akibat perbuatan serong yang dilakukan terhadap salah seorang selir sri baginda maharaja. Jelas Sie Pek Hong merupakan seorang laki—laki perayu yang sangat berbahaya buat kaum wanita yang lemah ! Disamping itu, Kwee Su Liang juga sudah mengetahui tentang perbuatan Kim Lun Hoat ong yang telah memfitnah Liu Giok Ing, sehingga terjadi kesalahan mengerti antara pihak Liu Giok Ing dengan pihak pangeran Gin Lun, yang bahkan sampai terjadi pangeran Giok Lun tewas dan sang adik yang binal menjadi seorang janda muda. oleh karena itu Kwee Su Liang merasa perlu untuk bertemu dan mengajak bicara Liu Giok Ing, memberikan penjelasan agar salah mengerti itu jangan makin mendalam, sebab musuh yang sebenarnya adalah Kim Lun Hoat ong, yang didalam hal ini dibantu oleh ciangkun Sie Pek Hong! Waktu memasuki kota Oei—kee tin, sengaja Bo im kiamhiap Kwee Su Liang berpakaian semacam orang—orang yang biasa berkelana di kalangan rimba persilatan; tidak memakai pakaian dinas sebagai pejabat pemerintah. Dia bahkan sengaja memilih sebuah tempat penginapan yang letaknya tidak jauh terpisah dengan gedung tempat kediaman ciangkun Sie Pek Hong, yang kelihatannya dijaga ketat seperti tempat kediaman seorang jenderal. Malam sudah cukup larut Waktu Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang mendatangi gedung tempat kediaman ciangkun Sie Pek Hong. Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang bergerak cepat dan ringan bagaikan tidak meninggalkan bayangan, hingga tidak sukar buat dia melewati barisan penjagaan yang ketat hingga tanpa pihak yang bertugas menjaga mengetahui tentang kedatangannya. Akan tetapi untuk mengetahui dimana tepatnya tempat atau kamar yang dihuni oleh liehiap Liu Giok Ing ternyata tidak mudah buat Kwee Su Liang mengetahui. Bangunan gedung milik ciangkun Sie Pek Hong ternyata cukup besar dan luas, bahkan banyak terdapat ruangan dan kamar, sampai tiba—tiba ada dua orang peronda yang sempat melihat Kwee Su Liang yang sedang mengintai dekat jendela sebuah kamar. Dua orang peronda itu tidak memiliki ketabahan untuk melakukan penangkapan, tetapi mereka segera perdengarkan bunyi alat tabuhan mereka, sehingga dalam waktu sekejap terdengar suara ribut-ribut karena banyaknya tentara yang datang mendekati, siap dengan senjata mereka. Bu—im kiamhiap Kwee Su Liang merasa tidak ada gunanya bertempur dengan pihak tentara yang bertugas menjaga, sehingga dia melesat lompat keatas genteng hendak menghindari tempat itu. Akan tetapi dua bersaudara Ma Kong dan Ma Kiang ikut lompat naik ke atas genteng, bermaksud mengejar; sedangkan Ma Kiang bahkan melepas sebatang pisau mengarah bagian punggung Kwee Su Liang. Dengan sebuah sampokan memakai pedang yang masih berada didalam sarungnya, Kwee Su Liang menangkis pisau yang mengarah bagian punggungnya; sehingga pisau itu terlempar hilang entah kemana, kemudian sebelah kaki langsung menendang Ma Kong yang sedang terbang dan hinggap didekat dia, membuat tubuh Ma Kong yang cukup besar terlempar balik, melayang turun dari atas genteng. Ma Kiang berteriak marah melihat kakaknya menjadi pecundang sebelum terjadi perkelahian. Dia langsung menyerang memakai goloknya, bergerak bagaikan hendak membelah gunung tay-san; akan tetapi dengan mudah Kwee Su Liang berkelit menyingkir, membikin golok Ma Kiang membelah angin, sementara kaki kanan Kwee Su Liang bergerak menendang lagi dan kena bagian betis Ma Kiang, sehingga Ma Kiang roboh terguling diatas genteng, bahkan terus terguling sampai menyangkut dekat tiang kaso. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing ikut lompat keatas genteng, selekas diketahuinya ada seseorang yang datang mengacau. Tubuhnya bergerak lincah dan sangat ringan bagikan seekor burung walet menembus angkasa sedangkan sepasang kepalannya langsung menyerang Kwee Su Liang memakai jurus ‘tong cu cin hian’ (kacung-dewa sembahyang) akan tetapi sepasang kepalannya itu mendadak bagaikan berontak, ketika diantara sinar remang- remang dilihat orang yang diserangnya. “Moay—moay, aku …” ingin Kwee Su Liang mengucap kata—kata memberikan penjelasan tentang maksud kedatangannya, akan tetapi Liu Giok Ing mendadak marah sampai merah sepasang matanya. Kembali jiwa Liu Giok Ing berobah seperti dulu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Pemarah dan mudah tersinggung. Mengapa secara mendadak Kwee Su Liang muncul dihadapannya ? Pertanyaan ini yang sekilas menghantui dia, dan terpikir olehnya bahwa Kwee Su Liang yang bertugas jauh di perbatasan, pasti telah dipanggil oleh sri baginda raja, dipanggil dan ditugaskan buat menangkap dia. (“Kwee Su Liang, mengapa kau masih kesudian mengabdi kepada raja yang lalim itu?” ) liehiap Liu Giok Ing mengeluh di dalam hati, bagaikan merasa kecewa dan putus asa, sebab mendadak dia pun teringat dengan Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang kesudian mengabdi kepada pangeran Giok Lun. Jelas mereka yang dianggap kawan, bahkan yang dicintai; sekarang menantang dia. Dengan geraknya yang begitu cepat, tanpa sempat dilihat oleh seseorang; liehiap Liu Giok Ing menghunus pedang Ku tie kiam, lalu secepat itu juga dia menyerang Kwee Su Liang dengan suatu tikaman yang mengarah bagian hati, bagaikan seekor naga hendak merebut mutiara. “Moay—moay, tunggu …! Knee Su Liang berteriak dengan kaget selagi dia.me1ompat menghindar dari tikaman; tetapi liehiap Liu Giok Ing mengulang melakukan penyerangan bagaikan dia tidakrmendengar teriak suara Knee Su Liang- Knee Su Liang bergegas menghindar lagi, akan tetapi waktu dia hendak:mengucap kata—kata, sempat dilihatnya Ma Kong berdua Sie Pek Hong ikut.mendekati temat itu, sehingga dengan.mengerahkan ilmu ‘ho in sin—kang dia melampat menghilang bagaikan asap yang menghilang diudara, lalu pada lompatan berikutnya dia tinggalkan gedung tempat kediaman ciangkun Sie Pek Hong, tanpa dia.menghiraukan Sie Pek Hong berdua Ma Kong mengejar-
SEORANG diri didalam kamarnya liehiap Liu Giok Ing rebah tengkurap diranjang dan menangis. “Kwee Su Liang … Kwee Su Liang .. berulangkali dia menyebut nama itu perlahan. Kwee Su Liang yang sudah ‘mencuri’ hatinya; Kwee Su Liang yang dicintai, meskipun setelah menjadi isterinya pangeran Gin Lun dan Kwee Su Liang menikah dengan lain perempuan. Tetap Liu Giok Ing tidak bisa melupakan Kwee Su Liang, sebaliknya mengapa Kwee Su Liang mau menangkap dia, untuk memenuhi tugas perintah sri baginda yang lalim itu? Mengapa Kwee Su Liang terlalu kejam kepada yang mencintai ? Dan Liu Giok Ing mengalirkan air mata, menangis karena teringat dengan Kwee Su Liang, sekaligus dia pun teringat dengan almarhum suaminya, yang begitu besar kasih—sayangnya; namun yang dia anggap cua sebagai suatu tempat pelarian, tempat dia merana mengalirkan air mata. Sedangkan kasih sayang suaminya yang begitu besar, dia anggap sebagai kasih sayang seorang ayah yang menghibur dia. Betapa sekarang menyesalkan, menyesal bahwa dia tidak bisa menghapus bayang—bayang Kwee Su Liang, dan menyerahkan hatinya kepada suaminya. Sia—sia sekian lamanya dia menyimpan rasa—cinta terhadap Kwee Su Liang, sebab ternyata laki-laki itu sedikitpun tidak memikirkan dia. Memiliki kedudukan baik sebagai gubernur yang menguasai daerah perbatasan, memiliki seorang isteri yang cantik dan gagah-perkasa; sebaliknya dia yang sekian lamanya hidup bagaikan merana, kini bagaikan sebatang kara kehilangan suami. Justeru selagi liehiap Liu Giok Ing merasa sedih memikirkan nasibnya, maka tiba—tiba didengarnya ada seseorang yang mengetok pintu kamarnya. Dihapusnya air matanya yang membasahi mukanya, juga dirapihkannya rambutnya yang tadi dia biarkan lepas terurai; setelah itu dia membuka pintu dan mengetahui bahwa ciangkun Sie Pek Hong yang melakukannya. “Maaf; aku … aku tidak berhasil mengejar penjahat yang datang mengacau tadi, dan apakah liehiap tidak apa-apa ?” kata Sie Pek Hong, terdengar gugup suaranya. -e~dwkzA++¢hend£a~e— Jilid 5 SEJENAK liehiap Liu Giok Ing terdiam bagaikan terpukau. Selama beberapa hari tinggal menupang diruah ciangkun itu, memang telah dilihatnya betapa besar perhatian Sie Pek Hong terhadap dirinya, segala kebutuhannya tak pernah ada yang dilalaikannya, selalu diperlihatkannya sikap manis; bahkan kadang—kadang seperti berlebihan. Cua satu hal yang tidak dilakukan oleh ciangkun Sie Pek Hong, yakni memperkenalkan isterinya terhadap Liu Giok Ing. Mengapa ? Ini pernah Liu Giok Ing menanya didalam hatinya, akan tetapi lambat laun dia menyadari, bahwa diam—diam ciangkun itu mempunyai minat terhadap dirinya. Kini sekali lagi Sie Pek Hong perlihatkan perhatiannya dengan menyatakan rasa cemasnya, sehingga diamediam liehiap Liu Giok Ing menjadi terharu, oleh karena disaat yang seperti itu, dia memang sedang membutuhkan rasa kasih—sayang. Tanpa terasa, dia menunduk dan mengalirkan air—mata tak mampu mengucap apa-apa. “Giok-moay, mengapa kau mengeluarkan air—mata…?” tanya Sie Pek Hong, yang memberanikan diri memakai istilah ad ik; dan dia bahkan memberanikan diri memegang sepasang pundak liehiap Liu Giok Ing. Sekali lagi Liehiap Liu Giok Ing bagaikan terpukau ketika mendengar kata-kata Sie Pek Hong, yang memakai istilah Giok-moay. Berulang lagi dia teringat lagi dengan laki-laki yang telah berhasil mencuri hatinya, sehingga saat itu dia membiarkan sepasang pundaknya yang dipegang oleh Sie Pek Hong. Dalam khayalnya dia membayangkan seolah-olah Kwee Su Liang yang sedang memegang sepasang pundaknya. Akan tetapi, waktu Sie Pek Hong memegang dan mengangkat bagian mukanya, sehingga terlihat oleh liehiap Liu Giok Ing bahwa yang sedang berdiri dihadapannya adalah ciangkun Sie Pek Hong, maka secara mendadak Liu Giok Ing melangkah mundur memisah diri dari Sie Pek Hong. “Ciangkun, aku tidak apa-apa. Soal penjahat tadi, biarlah esok siang saja kita bicarakan, sebab malam ini aku ingin istirahat,” kata Liu Giok Ing. Secara halus dia menghendaki Sie Pek Hong meninggalkan dia. Dalam hati Sie Pek Hong merasa sangat kecewa, akan tetapi dia memang seorang laki-laki yang pandai merayu, sehingga menghadapi Liu Giok Ing yang dia ketahui kegagahannya seperti seekor macan betina, maka dia merasa perlu menyadarkan diri, dan dia bahkan sedang memikirkan sesuatu siasat buruk buat memperkosa Liu Giok Ing. Dengan perlihatkan muka manis Sie Pek Hong tinggalkan Liu Giok Ing, dan dia memerlukan memangggil Ma Kong berdua Ma Kiang, setelah itu dia memanggil seorang pelayan perempuan yang tugasnya dibagian dapur. Pada malam berikutnya liehiap Liu Giok Ing merasa gelisah berada seorang diri di—dalam.kamarnya. Sebab waktu makan—ma1am tadi, dia merasakan dadanya sering berdebar keras, bahkan jiwanya terasa bergetar. Seorang diri dia berusaha tenangkan diri, akan tetapi bayang2 suaminya kembali menghantui dia. Teringat lagi oleh liehiap Liu Giok Ing betapa lembut dan mesra suaminya membelai dia, pada bagian rambutnya, pindah ke—bagian belakang kepala dan ke bagian leher dekat daun—te1inga, yang merupakan bagian kelemahannya. Setelah itu, suaminya pasti akan memberikan sebuah kecupan yang hangat, sebuah kecupan dibagian pipi yang kemudian pindah kebagian bibirnya; sehingga Iiehiap Liu Giok Ing merasa terangsang dan ikut memberikan kecupan kepada suaminya, yang bahkan dia rangkul erat—erat. Tetapi kini setelah suaminya marhum, terasa betapa hidupnya, tiada lagi orang yang membelai dia mendambakan dia, dan membisikkan kata-kata merayu penuh kasih- sayang. Tanpa terasa, liehiap Liu Giok Ing menggigit bagian bibirnya, selagi dia membayangkan kecup-mesra dari suaminya yang sudah marhum, sehingga dia merasakan semakin berdebar pada bagian dadanya, bahkan sampai dia mengeluarkan sedikit peluh dibagian lehernya. Segera Liu Giok Ing membuka daun—jende1a kamar, membiarkan angin-malam.mu1ai masuk mengurangkan rasa panas yang sedang dia rasakan. Tidak disadari olehnya bahwa waktu itu sebenarnya dia sedang terpengaruh akibat obat perangsang ‘lian-hoan lo hap sie yang sengaja diberikan oleh ciangkun Sie Pek Hong, dicampur pada arak yang diminum oleh Liu Giok Ing, sehabis waktu bersantap—malam tadi. selagi berdiri didekat daun—jende1a kamar dan selagi merasakan lembutnya tiupan angin malam, maka ganti bayang2 bo—im kiamhiap Kwee Su Liang yang direnungkan oleh liehiap Liu Giok Ing. selagi masih akrab dan melakukan perjalanan sama—sama, Kwee Su Liang pernah menderita kena penyakit demam, waktu itu mereka sedang melakukan perjalanan didaerah pegunungan yang sunyi, tidak ada rumah penginapan dan tidak ada tabib buat mengobati penyakit Kwee Su Liang. Hanya ada sebuah kuil tua yang sudah tidak dirawat dan tidak dipergunakan lagi, sehingga ditempat itu mereka beristirahat dan berlindung dari serangan air hujan. Kwee Su Liang rebah dilantai beralas jerami kering dan berbantal bungkusan pakaian, selagi dia menderita penyakit demam seluruh tubuhnya menggigil sehingga rebahnya menjadi gelisah tidak tenang, sementara Iiehiap Liu Giok Ing bersusah payah menyalakan api, hendak membikin air panas buat minum Kwee Su Liang. Sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, Iiehiap Liu Giok Ing tidak pernah merasa cemas atau gelisah menghadapi ancaman bahaya maut, akan tetapi sebagai seorang perempuan yang hatinya sudah tercuri oleh Kwee Su Liang, waktu itu dia merasa cemas bahkan dia gugup, menghadapi kekasihnya yang sedang menggigil karena kedinginan. “Liang—ko…” dia bersuara setelah duduk dekat Kwee Su Liang yang rebah dilantai, selagi menunggu panasnya air yang sedang dia masak. Bo im kiamhiap Kwee Su Liang bagaikan tak sanggup mengucap kata—kata, meskipun dia mendengar suara Iiehiap Liu Giok Ing. Tubuhnya tetap menggigil dan ia bahkan perdengarkan suara bagaikan merintih, Cuma sepasang matanya yang lembut—sayu mengawasi Iiehiap Liu Giok Ing.
Tak kuasa Liu Giok Ing mengatasi rasa haru, dan air matanya Segera mengalir keluar sementara sebelah tangannya memegang muka Kwee Su Liang yang terasa begitu dingin sehingga tangan itu pindah ke bagian punggung. “Giok-moay …” akhirnya Kwee Su Liang sanggup bersuara, meskipun terdengar gemetar, dan dia tidak meneruskan perkataannya meskipun kelihatan dia ingin mengucap kata—kata lagi. “Liang—ko…” semakin Iiehiap Liu Giok Ing merasa terharu, dan semakin banyak air—matanya yang berlinang keluar, sehingga bagaikan tanpa sadar, dia ikut rebahkan diri, rebah sebelah tangannya sedang berusaha hendak merangkul tubuh Kwee Su Liang, supaya berkurang rasa dingin yang sedang diderita oleh Kwee Su Liang. “Giok-moay, mengapa kau mengeluarkan air—mata….?” tanya Kwee Su Liang selagi dirangkul oleh Liu Giok Ing. Mungkin sudah berkurang rasa-dinginnya, sehingga sanggup dia mengucap kata-kata yang sering dia ucapkan, kalau dia melihat liehiap Liu Giok Ing sedang risau dan mengeluarkan air—mata. “Liang—ko, kau sakit.., jangan kau tinggalkan aku . . . . . ..aku….” untuk yang kesekian kalinya tak ada kekuatan liehiap Liu Giok Ing buat mengucap kata “aku cinta padamu!”, dan bahkan tambah terisak menangis sehingga dia menelusupkan kepalanya dibagian dada Kwee Su Liang, bagaikan dia merasa aman dan terlindung berada didalam rangkulan laki-laki yang telah mencuri hatinya. “Giok-moay, aku Cuma kena serangan sakit demam ..” sahut Kwee Su Liang yang sempat membelai rambut sang adik yang binal, akan tetapi yang waktu itu sedang jinak berada di dalam rangkulannya. “Liang—ko apa kau…” sekali lagi Liu Giok Ing batal meneruskan perkataannya, padahal ingin dia menanya, apakah kau cinta padaku? “Tidak Giok—moay. Aku tidak apa apa…” sahut Kwee Su Liang, menganggap sang adik yang binal sedang merisaukan dia yang sedang kena serangan penyakit demam.sehingga menyimpang dari maksud pertanyaan Liu Giok Ing. Di dalam hati Liu Giok Ing merasa kecewa akan tetapi dia merasa terhibur ketika dirasakannya tangan Kwee Su Liang ikut merangkul dia sehingga untuk sesaat lamanya mereka berdua saling rangkul, Cuma saling-rangkul tanpa kecup-cium, akan tetapi cukup membikin Liu Giok Ing lupa dengan air yang sedang dimasaknya, sampai tempat masak air itu berbunyi hangus sebab kekeringan air. Dan bayang—bayang kasih—mesra itu sekarang menghantui liehiap Liu Giok Ing, selagi dia berada didalam pengaruh obat-perangsang lian-hoan lo—hiap sie; selagi suaminya sudah marhum dan Bo—im kiamhiap Kwee Su Liang bahkan memnsuhi dia, hendak menangkap dia membawa tugas dari sri baginda maharaja yang lalim. Cuma ciangkun Sie Pek Hong yang agaknya menyimpan rasa kasih- sayang buat dia, Cuma ciangkun Sie Pek Hong yang berada didekat dia, yang sewaktu—waktu mau membelai dan mencumbu dia; sayangnya ciangkun sudah menikah; sudah mempunyai isteri. Lesu 1angkah—kaki liehiap Liu Giok Ing waktu dia meninggalkan tempatnya didekat jendela, membiarkan daun jendela itu tetap membentang lebar; lalu dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, yang bahkan menambahkan dirinya bertambah gelisah. Ada bunyi suara yang tidak wajar diatas genteng ruah, yang sempat didengar oleh telinga liehiap Liu Giok Ing yang cukup terlatih. Dan bunyi suara yang tidak wajar itu, berhasil mengalahkan pengaruh pekerjaan obat-perangsang; sehingga lekas itu juga Liu Giok Ing bergerak menyambar pedang Ku—tie kiam yang dia tempatkan dibawah bantal, menyusul kemudian tubuhnya melesat keluar lewat daun jendela, dan pada gerak berikutnya dia sudah berada diatas genteng, melihat ada seorang asing yang memakai tutup muka dengan secarik kain berwarna hitam, yang waktu itu sudah bertempur melawan ciangkun Sie Pek Hong ! Terasa panas hati liehiap Liu Giok Ing yang Segera bangkit amarahnya, sebab dia yakin seorang yang memakai tutup muka hitam itu adalah Kwee Su Liang; dan Kwee Su Liang datang hendak menangkap dia ! Cuma itu yang terpikir oleh liehiap Liu Giok Ing, sehingga dia berteriak memaki dan langsung ikut menyerang Kwee Su Liang, yang dia kepung berdua ciangkun Sie Pek Hong. Seorang yang memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam itu, memang adalah Kwee Su Liang; dan Kwee Su Liang datang dapat disiasat ciangkun Sie Pek Hong yang sedang berada diatas genteng, didekat kamar Iiehiap Liu Giok—Ing, sebab ciangkun ini bermaksud hendak mengintai, ingin mengetahui keadaan Iiehiap Liu Giok Ing yang sedang kena pengaruh obat-perangsang. Ingin memasuki kamar Iiehiap Liu Giok Ing, kalau dilihatnya janda muda itu sedang terangsang; akan tetapi batal dan tak sempat dia melakukan niatnya, sebab Kwee Su Liang keburu datang dan Kwee Su Liang bahkan yang langsung menyerang, sehingga terpaksa dia harus melayani tanpa sempat dia bersuara, berteriak memanggil teman—teman. Maksud kedatangan Kwee Su Liang sebenarnya ingin mengajak Liu Giok Ing bicara, akan tetapi dia menjadi sangat marah waktu menemui ciangkun Sie Pek Hong yang sedang mengint ai kedalam kamar Liu Giok Ing; sebab dia memang sudah melihat tentang niat tidak baik dari ciangkun yang hendak merayu sang adik yang binal itu, yang keadaannya sedang dia risaukan. Akan tetapi Kwee Su Liang jadi mengeluh didalam hati waktu sang adik yang binal itu pun ikut menyerang dia, bahkan memaki, dan dia menjadi lebih mengeluh lagi, waktu dibagian bawah sudah berkumpul barisan pengawal yang mengetahui adanya pertempuran itu. Segera Kwee Su Liang perhebat serangannya terhadap ciangkun Sie Pek Hong, disamping berulangkali dia harus berkelit menghindar dari berbagai serangan Liu Giok Ing, dan dia bahkan berteriak kepada Liu Giok Ing. “GioknMOay; kau telah tertipu oleh mereka….,” cua itu yang sempat Kwee Su Liang ceritakan, sebab ciangkun Sie Pek Hong sudah ikut berteriak: “Tangkap mata—mata! Siapkan barisan tukang Panah…!” Dalam keadaan marah bercampur penasaran, Kwee Su Liang lompat kebagian bawah dan mengamuk dikalangan tentara yang sedang mempersiapkan barisan tukang—panah. sepasang kaki Kwee Su Liang ikut bergerak lincah sehingga dua—kali Ma Kong dan MB—Kiang kena tendang, membikin kedua perwira itu berteriak marah—marah dan mengepung lagi, tetap memakai golok—golok mereka. Jelas tidak mnngkin buat Kwee Su Liang mengajak bicara sang adik yang binal, sebaiknya dia harus menjebol kepungan pihak musuh yang demikian ketatnya; bagian punggungnya bahkan kena gebuk gagang—pedang Ku—tie kiam, waktu dia sedang memusatkan penyerangannya terhadap Ma Kong berdua Ma Kiang; sehingga Kwee Su Liang terjerumus kebagian depan, hampir terkena tikaman golok Ma Kiang. Melulu karena geraknya yang gesit dan tangkas, Kwee Su Liang berhasil mendahului memukul Ma Kiang memakai gagang pedangnya, mengakibatkan Ma Kiang terdorong mundur dan nyaris goloknya mencapai sasaran; dan Kwee Su Liang masih sempat menyampok golok Ma Kong memakai pedangnya, berhasil membikin golok Ma Kong terlempar lepas dari pegangan, akan tetapi waktu Kwee Su Liang memutar tubuh mengawasi Liu Giok Ing, maka terlihat pada bagian mulutnya mengeluarkan darah, akibat dia terkena pukulan Liu Giok Ing tadi. Bagaikan merasa terpengaruh karena melihat darah yang mengalir keluar dari mulut Kwee Su Liang, maka Liu Giok Ing membatalkan serangannya yang hendak menikam memakai pedang Ku tie kiam. Sejenak Liu Giok Ing terdiam.mengawasi, juga Kwee Su Liang ikut diam.mengawasi; akan tetapi ciangkun Sie Pek Hong telah menggunakan kesempatan itu dengan baik, membacok dengan gerak tipu tay-san ap—teng atau gunung tay-san menindih. Kwee Su Liang sangat terkejut bagaikan baru tersadar bahwa mereka sedang berada didalam gelanggang pertempuran, bergegas dia lompat mundur buat menghindar dari bacokan pedang ciangkun Sie Pek Hong; akan tetapi di luar dugaannya; ciangkun Sie Pek Hong justeru membarengi bergerak memakai tipu ‘Sun ciu twie coan’, atau mengikuti tangan sambil mendorong perahu, menendang kena tepat dibagian betis Kwee Su Liang, sehingga Kwee Su Liang rubuh terguling. Ma Kong berdua Ma Kiang ikut bergerak membacok Kwee Su Liang yang sedang rubuh terguling. akan tetapi dua bersaudara itu tidak berhasil mencapai niat mereka, meskipun sampai berulangkali mereka melakukannya; sebab tubuh Kwee Su Liang masih lincah bisa menghindar bahkan masih sanggup dia lompat berdiri dan dia melarikan diri, namun tiga—butir senjata rahasia berbentuk bunga cinta membenam dibagian paha dan betisnya sehingga dia rubuh lagi bahkan dia kena ditangkap hidup-hidup atas perintah ciangkun Sie Pek Hong. Dipihak Ceng—hwa Iiehiap Liu Giok Ing, dia bagaikan tidak sadar waktu dia menyerang Kwee Su Liang memakai senjata rahasia itu, dan masih sempat pula sekilas dilihatnya bahwa Kwee Su Liang mengawasi dia; setelah itu Kwee Su Liang dikepung rapat oleh sedemikian banyaknya tentara negri yang menangkap hidup-hidup, namun yang dalam.anggapan Liu Giok Ing bahwa saat itu Kwee Su Liang pasti sudah tewas.
Secara tiba—tiba Ceng—hwa Iiehiap Liu Giok Ing berteriak cukup keras akan tetapi terdengar begitu mengharukan; setelah itu dia rubuh pingsan lupa diri ! Ciangkun Sie Pek Hong bergerak cepat mendekati Iiehiap Liu Giok Ing, yang lalu dia bopong, diangkatnya tubuh yang pingsan itu memakai sepasang tangannya. Sempat ciangkun Sie Pek Hong memerintahkan membawa Kwee Su Liang ke dalam kamar tahanan sementara yang letaknya dibelakang rumah, setelah itu dia membawa Iiehiap Liu-Giok’Ing kekamar janda muda itu, yang kemudian dia rebahkan diatas ranjang. Sejenak ciangkun Sie Pek Hong mengawasi Iiehiap Liu Giok Ing yang masih lupa diri. Alangkah cantiknya dan betapa lamanya dia menyimpan rasa rindu, ingin meraba dan ingin menikmati tubuh yang merangsang itu. Baru sekarang dia mendapat kesempatan, akan tetapi saatnya agaknya tidak tepat, sebab kedatangan Kwee Su Liang yang mengacau. Sekilas ciangkun Sie Pek Hong kelihatan bersenyum seorang diri, lalu dia bangun berdiri dan menuang secangkir air teh yang memang terdapat didalam kamar Iiehiap Liu—Giok’Ing. Dari dalam kantong baju kemudian diambilnya sebungkus kecil obat perangsang itu didalam cangkir yang berisi air teh. Dia melangkah dan duduk ditepi ranjang mengawasi muka liehiap Liu Giok Ing yang rebah celentang dalam keadaan pingsan. Lembut tetapi sedikit gemetar sebelah tangannya waktu dia meraba muka yang halus dan putih itu, lalu pindah meraba kebagian leher. Keadaan liehiap Liu Giok Ing masih lemah dan terasa pening kepalanya, waktu dia siuman dan merasakan belaian lembut dari tangan ciangkun Sie Pek Hong; namun yang waktu itu dia anggap sebagai belaian mesra dari tangan suaminya, yang begitu besar kasih sayangnya. “Siangkong…” dia berbisik lemah membiarkan tangan ciangkun Sie Pek Hong yang masih membelai bagian lehernya, didekat daun—te1inga yang menjadi bagian kelemahannya. Giokamoay, kau minumlah air teh ini—‘ kata ciangkun Sie Pek Hong, dan sebelah tangannya pindah kebagian punggung Liu Giok Ing duduk buatiminum- Liehiap Liu Giok Ing membiarkan waktu punggungnya dipegang, dia bahkan menurut dan bergerak duduk; bagaikan tanpa sadar diminumnya air teh yang diberikan ciangkun Sie Pek Hong- Pikirannya sedang terpengaruh waktu didengarnya suara ciangkun Sie Pek Hong yang’menawarkan minum tadi akan tetapi pandangan.matanya kelihatan agak Samar, mengawasi mmka Sie Pek Hong yang dilihatnya bercampur antara mnka suaminya dan muka Knee Su Liang yang dia benci; tetapi yang telah mencuri hatinya- Sekali lagi dia membiarkan waktu tubuhnya direbahkan diatas ranjang: dan dia masih.membiarkan waktu tangan ciangkun Sie Pek Hong’membe1ai rambutnya yang masih tetap indah, sampai sekali lagi ciangkun Sie Pek Hong’membe1ai bagian belakang daun telinga. ‘Giok:moay, alangkah cantiknya kau—‘ kata Sie Pek Hong membisik lembut, sementara sebelah tangannya pindah.meraba ke belakang dada- Dalam keadaan terpengaruh kena obat perangsang, tubuh Liu Giok Ing menggeliat bagaikan bergelinjang saat menikmati rabaan tangan ciangkun Sie Pek Hong- Dibiarkannya waktu Sie Pek Hong’menciu.pipinya, dengan hangat dia ikut.mencium waktu bibir Sie Pek Hong menutup:mu1utnya; bahkan sepasang tangannya ikut merangkul tubuh Sie Pek Hong- ‘Siangkong, oh siangkong–,’ bagaikan.merintih Liu Giok Ing bersuara; tengge1am.di da1am.a1am bercinta dengan suaminya- Akan tetapi, selagi tangan—tangan tjiangkun Sie Pek Hong hendakrmelepaskan pakaiannya, secara.mendadak Liu Giok Ing teringat bahwa suaminya sudah.marhum; kemudian waktu sepasang matanya terbentang membuka, maka dia m enjadi sangat terkejut mendapati dirinya berada didalam rangkulan tjiangkun Sie Pek Hong- Bagaikan tersentak dia bergerak mendorong tubuh Sie Pek Hong sehingga tjiangkun Sie Pek Hong yang tidak siaga menjadi terpental jatuh dari tanpat ranjang- ‘Giok+moay -.-‘ tjiangkun Sie Pek Hong bersuara gemetar, selagi dia berusaha hendak bangun berdiri; sementara Iiehiap Liu Giok Ing juga sudah terduduk diatas ranjang, merah sepasang matanya mengawasi ciangkun Sie Pek Hong, menyimpan rasa dendam.dan.marah, disaming dia merasa malu. ‘Giok:moay, maafkan aku; akan tetapi aku sangat menyintai kau —‘ ciangkun Sie Pek Hong memberanikan bicara, selagi 1ambat—1ambat dia mendekati- ‘Cinta –.?‘ ulang Liu Giok Ing menunduk, sebab diamrdiam dia sedang berusaha mengatasi diri dari rasa terangsang akibat pengaruh obat ‘1ian hoan 1o—hap sie, ‘bukankah ciangkun sudah.mempunyai isteri -.-? Sejenak ciangkun Sie Pek Hong terdiam, berdiri mengawasi Iiehiap Liu Giok Ing; dalam hati dia merasa cemas, takut kalau Iiehiap Liu Giok Ing akan marah dan menyerang dia secara mendadak; akan tetapi waktu dilihatnya Iiehiap Liu Giok Ing masih menunduk, maka dia berkata : “Giok moay, kalau kau tidak bersedia dimadu, aku bersedia menceraikan isteriku—“ Liehiap Liu Giok Ing mengangkat mukanya mengawasi ciangkun Sie Pek Hong yang masih berdiri diam dihadapannya! “Ciangkun, begitu cepat kau memutuskan hendak menceraikan isterimu; selekas kau merasa jatuh—cinta dengan lain perempuan…” kata liehiap Liu Giok Ing yang harus mengatasi rasa marah sebab masih teringat olehnya akan kebaikan budi ciangkun Sie Pek Hong, yang telah bersedia menampung dia merasa sebatang-kara. “Tetapi Giok—moay, aku..,” Liehiap Liu Giok Ing memutus perkataan Sie Pek Hong memakai gerak sebelah tangannya, lalu ganti dia yang berkata lagi: “Sie ciangkun, sebaiknya kau tinggalkan aku. Aku ingin berada seorang diri….” Si ciangkun Sie Pek Hong meninggalkan kamar Liu Giok Ing. Dia merasa sangat kecewa akan tetapi dia tidak berputus-asa, akan dia usahakan cara lain buat dia memperoleh janda muda yang merangsang itu. -000- KEADAAN Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing masih dalam pengaruh obat perangsang ‘1ian—hoan lohap sie’, waktu ciangkun Sie Pek Hong sudah meninggalkan dia seorang diri dikamarnya. Secara mendadak Liu Giok Ing kemudian teringat lagi dengan Kwee Su Liang yang waktu itu sudah ditangkap dan ditahan. Terbayang lagi oleh liehiap Liu Giok Ing, betapa mesra waktu dahulu mereka berdua melakukan petualangan dikalangan rimba— persilatan; bagaikan dalam keadaan tidak sadar, Liu Giok Ing meninggalkan kamarnya menuju keruang penjara yang letaknya dibagian belakang dari gedung tempat kediaman ciangkun Sie Pek Hong. Para penjaga yang bertugas menjaga penjara itu dengan ketat, semuanya sudah kenal dengan liehiap Liu Giok Ing; sehingga membiarkan waktu liehiap Liu Giok Ing memasuki ruangan penjara, dan melihat Kwee Su Liang yang waktu itu sedang duduk dilantai, bersandar pada dinding batu dengan sepasang kaki dan tangan terbelenggu memakai rantai besi, sementara p akaiannya banyak yang robek bahkan penuh berluuran darah, bekas kena siksa selagi tadi dia melakukan perlawanan waktu ditangkap. Keadaan Kwee Su Liang tidak dalam pingsan, akan tetapi dia kelihatan lemah tidak bertenaga. Tiada suara keluhan maupun rintihan yang dia perdengarkan; bahkan sepasang sinar matanya merah menyala menyimpan rasa dendam.dan marah; dan sepasang mata itu cepat berobah menjadi sayu selekas dilihatnya kehadiran Liu Giok Ing yang berdiri diam diluar pintu kamar tahanan. Sementara itu Liu Giok Ing memerintahkan petugas penjara membiarkan dia berada seorang diri ditempat itu; dan sepasang sinar matanya ikut berobah sayu waktu dia mengawasi Kwee Su Liang. “Liangko…” Liu Giok Ing bersuara lembut perlahan; dan menunduk tak kuasa menatap sepasang mata Kwee Su Liang.
Sejenak Kwee Su Liang terdiam mengawasi sang adik yang binal itu, yang tidak meneruskan bicara. Akan tetapi Secara mendadak berulang lagi ‘penyakit lama’ yang menjadi kebiasaan Kwee Su Liang; kalau dia sedang marah—marah terhadap sang adik yang binal itu. “Sudah puas kau melihat keadaan aku?” Terdengar menyakitkan telinga waktu Kwee Su Liang mengucap kata—kata itu, sehingga lembut-lesu waktu Liu Giok Ing mengangkat muka, mengawasi laki—laki yang sudah mencuri hatinya dan yang selama sepuluh tahun lebih tidak pernah dia lihat. Ada sedikit air mata yang dia keluarkan, namun dia berusaha mengatasi diri dan berkata : “Liang ko; kau kelihatan gemuk ..” “Persetan ! Aku datang bukan untuk maksud itu !” Tetap terdengar menyakitkan telinga waktu Kwee Su Liang mengucap kata—kata itu berhasil membikin Liu Giok Ing menunduk lagi, sampai sesaat kemudian baru dia berkata : “Aku tahu. Kau datang hendak menangkap aku , , . kau kejam, Liang ko …” Bergerak tubuh Kwee Su Liang dari tempat dia duduk, bagaikan dia ingin mendekati tempat Liu Giok Ing yang berdiri di bagian luar dari pintu kamar—tahanan; akan tetapi mukanya meringis menahan rasa sakit dan dia berkata kepada Liu Giok Ing: “Kejam? Tidak moay, aku datang bukan untuk menan gkap kau, aku…akh.,.!” Tersentak dan terkejut Liu Giok Ing waktu dia mendengar suara Kwee Su Liang, yang mengeluh menahan rasa sakit. Dia mengawasi disaat Kwee Su Liang sedang menekan bagian dada memakai sebelah tangannya, lalu bagaikan tanpa sadar, pedang Ku—tie kiam.membabat putus kunci pintu kamar tahanan itu, dan dia menerobos masuk: “Liang-ko, kau….. II Tak kuasa Liu Giok Ing meneruskan perkataannya, sudah berulang lagi seperti dulu air—matanya cepat keluar kalau melihat Kwee Su Liang menderita sakit. “Aku tidak apa-apa, Giok—moay…” Kwee Su Liang berkata lembut perlahan-lahan, selagi dia melihat Liu Giok Ing mengalirkan air—mata seperti dulu; dan dia cepat cepat menyambung bicara : “Aku datang untuk memberitahukan kau, bahwa kau kena tipu muslihat Kim Lun Hoat—ong yang dibantu oleh ciangkun Sie Pek Hong. Mereka…..akh ….!” sekali lagi Kwee Su Liang menunda perkataannya, bagian dadanya terasa sesak, bekas kena siksa dan terlalu memikirkan keadaan sang adik yang binal. Di pihak liehiap Liu Giok Ing, dia kaget waktu mendengar perkataan Kwee Su Liang: tetapi dia sangat cemas ketika melihat keadaan Kwee Su Liang : “Liang—ko, kau …” cuma itu yang liehiap Liu Giok Ing ucapkan, tetapi pedang Ku—tie kiam yang tajam sekali lagi bekerja, memutuskan belenggu yang mengikat kaki dan tangan Kwee Su Liang. Bertepatan pada saat itu, ciangkun Sie Pek Hong menerobos masuk dengan dikawal oleh dua-saudara Ma Kong dan Ma Kiang, serta sepasukan tentara. “Giok-moay ! Apa yang kau lakukan disini ..?” tanya ciangkun Sie Pek Hong; tetapi dia menjadi sangat terkejut waktu dilihatnya belenggu yang mengikat Kwee Su Liang sudah lepas berantakan. Liehiap Lu Giok Ing bangun berdiri, sehabis tadi memeriksa keadaan Kwee Su Liang; tetapi secara mendadak dia merasakan tubuhnya bergetar, dan sepasang lututnya bagaikan tak bertenaga. Tidak disadarinya bahwa dia minum obat perangsang yang melampaui batas, dan dia telah berusaha mengatasi diri menahan rangsang, sehingga dia bagaikan kehabisan tenaga. Sementara itu Kwee Su Liang jadi terkejut waktu melihat keadaan Liu Giok Ing, disamping dia terkejut waktu melihat kedatangan ciangkun Sie Pek Hong. Tenaganya segera pulih selekas dia menyadari bahwa dia perlu melindungi sang adik yang binal. Dengan perdengarkan suara gerengan bagaikan seekor harimau yang terluka, tubuh Kwee Su Liang bergerak menyambar pedangnya yang tergeletak diatas lantai, dan secepat itu juga dia membabat lengan Sie Pek Hong, disaat ciangkun itu hendak meraih tubuh Liu Giok Ing yang sedang terhuyung hendak jatuh. “Giok-moay, kau kenapa … ?” tanya Kwee Su Liang, selekas dia berhasil meraih tubuh liehiap Liu Giok lng; sementara ciangkun Sie Pek Hong berkelit mundur dari serangan pedang, membatalkan niatnya yang hendak meraih tubuh Liu Giok Ing. Sementara itu liehiap Liu Giok Ing bagaikan kehilangan tenaganya, sehingga dia lemas bergantung dalam rangkulan Kwee Su Liang; dan Kwee Su Liang bergerak tangkas memanggul tubuh sang adik yang binal itu, disaat dia mendengar teriak suara Sie Pek Hong. “Tangkap dan bunuh mereka … !” teriak ciangkun Sie Pek Hong dalam marahnya; dan dia bahkan mendahului menyerang dengan suatu tikaman memakai pedangnya, bergerak dengan jurus ‘u1ar— belang melepas bisa’. Bo—im kiamhiap Kwee Su Liang sudah siap dengan sebelah tangan memegang pedang, dan juga yang sebelah tangan lagi dia gunakan buat memegang Liu Giok Ing yang dia gendong dibagian PunggUngnYa- Dengan suatu sampokan Kwee Su Liang bergerak ingin membabat pedang Sie Pek Hong yang sedang menikam; akan te tapi waktu Sie Pek Hong batal meneruskan penyerangannya, maka pedang Kwee Su Liang bergerak terus mencari sasaran terhadap Ma Kong yang sudah ikut mendekati. Gerak pedang Kwee Su Liang memakai jurus ‘am—in—koan-jit’ atau awan—ge1ap menutupi rembulan, menyapu bagian muka Ma Kong; sehingga Ma Kong ikut—ikut membatalkan diri menyerang Kwee Su Liang, dan pedang itu berputar terus mencari sasaran pada Ma Kiang yang juga ikut menyerang dengan sebuah tikaman, dan Ma Kiang tidak sempat menghindar dari benturan sebuah senjata, sehingga goloknya terlempar lepas dari pegangannya. Untung bagi Ma Kiang bahwa Kwee Su Liang tidak Sempat mengulang melakukan penyerangan, sebab Kwee Su Liang sudah langsung dikepung oleh sejumlah tentara; sehingga Kwee Su Liang harus mengamuk di dalam ruangan kamar tahanan yang tidak luas. “Giok moay …” bisik Kwee Su Liang yang merisaukan keadaan Liu Giok Ing, yang belum dia ketahui entah apa yang menyebabkan, sehingga sang adik yang binal itu mendadak kelihatan lemah tidak bertenaga. “Liang ko …”Liu Giok Ing ikut bersuara lemah, menandakan dia masih memiliki kesadaran; sehingga cukup menggirangkan bagi Kwee Su Liang. “Giok moay, berpeganglah yang erat …” Kwee Su Liang berkata lagi, siap hendak menerobos kepungan pihak musuh. “Liang ko, kau saja yang lari, Biarkan aku disini …” tetap lemah terdengar suara Liu Giok Ing. “Tidak Giok moay, aku akan melindungi kau dan aku perlu memberikan penjelasan kepada kau…” Tanpa menunggu Liu Giok Ing bersuara lagi, maka Kwee Su Liang mulai mengamuk, berusaha menerobos dari dalam kamar tahanan yang tidak luas; dan berhasil dia melakukannya namun pihak tentara tetap mengepung, meskipun sambil mereka bergerak mundur, sedangkan Sie Pek Hong tak hentinya berteriak memerintahkan pihak tentara jangan melepas tahanan mereka, dan memaksa Ma Kong berdua Ma Kiang ikut melakukan pengepungan. “Liang ko, penjelasan apa yang hendak kau berikan kepada ..?” tanya Liu Giok Ing dekat telinga Kwee Su Liang; lembut lemah suaranya akan tetapi bagi Kwee Su Liang dapat mengalahkan pekik suara Ma Kong dan Ma Kiang yang memerintahkan pihak tentara tambah rapat melakukan pengepungan. “Kau kena tipu mereka, Giok moay. Pangeran Kim Lun yang menjadi dalang perbuatan pembunuhan yang terjadi di kota raja, juga didalam istana kerajaan..” dan pedang Kwee Su Liang berhasil membabat putus tiga tombak tentara yang sedang menyerang. “Mengapa kau berkata begitu ? Bukankah pangeran Gin Lun yang menjadi dalang dari perbuatan itu…..?” tanya Liu Giok Ing yang merasa heran; namun tetap terdengar lemah suaranya
Tidak Giok moay. Bukan pangeran Gin Lun, akan tetapi justeru perbuatan pangeran Kim Lun yang dibantu oleh ciangkun Sie Pek Hong !” berhasil pedang Kwee Su Liang membabat putus sebelah daun telinga Ma Kong, membikin Ma Kong berteriak kesakitan, dan tempatnya diganti oleh adiknya, Ma Kiang. Sejenak Liu Giok Ing terdiam tidak bersuara, agaknya dia sedang memikirkan perkataan Kwee Su Liang, selagi Kwee Su Liang mengamuk dan mengerahkan jurus ‘hiu hie liang p0‘ atau ikan paus menerjang gelombang, berhasil membikin pihak pengepung bergerak mundur lagi, sampai mereka berada disuatu ruangan yang cukup besar dan luas. Akan tetapi, pihak pengepung ternyata semakin bertambah banyak; sebab datangnya bantuan dari istana pangeran Kim Lun berada, sejumlah tentara yang dipimpin oleh dua orang perwira muda; dibantu dengan Coa Keng berdua Coa Beng. Merasa ada harapan karena menganggap liehiap Giok Ing terluka, maka Coa Beng berdua Coa Keng ingin merebut jasa, mendekati Kwee Su Liang yang mereka serang secara berbareng, mengerahkan ilmu ‘siam-say ciang hoat’ yang khas dari golongan siam-say sebelah utara, masing-masing bergerak dari sebelah kiri dan kanan Kwee Su Liang. Akan tetapi dengan pergunakan kelincahan gerak tubuhnya, si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang secara mendadak bagaikan menghilang dari hadapan dua bersaudara Coa Keng dan Coa Beng, dan golok Coa Keng bahkan membenam ditubuh seorang tentara, tanpa Coa Keng dapat membatalkan gerak serangannya. Berteriak Coa Keng marah-marah, dan mengejar Kwee Su Liang yang waktu itu sedang dihadang dan diserang oleh dua orang perwira muda dari istana Kim Lun Hoat ong; namun sekali lagi Kwee Su Liang perlihatkan kelincahan tubuhnya, menghindar dari serangan Coa Keng beserta kedua orang perwira muda itu dari istana Kim.Lun Hoat ong, bahkan berhasil dia menendang Ma Kong yang ikut-ikut ingin membokong ! Pekik teriak suara Ma Kong yang kesakitan; berhasil mengalahkan pekik teriak Coa Keng yang tadi marah-marah, sementara Kwee Su Liang harus menghadapi ciangkun Sie Pek Hong yang ikut turun tangan, sebab merasa malu dengan Coa Keng berdua Coa Beng yang datang dari istana pangeran Kim Lun. “Liang ko, kau lepaskan aku, biar aku bantu kau dan kita ganyang mereka …” sempat Liu Giok Ing bicara karena melihat Kwee Su Liang repot bertempur seorang diri, bahkan sambil menggendong dia. “Tetapi Giok moay, keadaan kau …” “Tidak apa—apa, Liang ko. Aku cuma ..” tak mau Liu Giok Ing meneruskan perkataannya; padahal dia sudah menyadari, bahwa keadaannya yang lemah dan merasa diri terangsang, pasti pengaruh obat perangsang yang dia kena minum tanpa dia mengetahui. Pasti perbuatan ciangkun Sie Pek Hong ! Terasa tergetar jiwa Kwee Su Liang waktu dia mendengar perkataan sang adik yang binal. Teringat lagi dan terbayang lagi dia dengan kejadian tempo dulu, disaat mereka sama-sama menghadapi kepungan musuh. Dua pedang mereka dapat bersatu padu, menghalau musuh bagaikan tiada lawan yang berani merintangi mereka. Akan tetapi, da1am.keadaan lemah seperti sekarang, mungkinkah Liu Giok Ing dapat melakukannya ? “Liang ko, kau lepaskan aku ….” sekali lagi Liu Giok Ing mengulangi permintaannya. “Baik kau berhati-hatilah. Perkuat pertahanan tetapi biarkan aku yang melakukan penyerangan…” Kwee Su Liang memesan selagi dia mengendorkan pegangannya, membiarkan tubuh Liu Giok Ing merosot turun. Cukup gesit dan tangkas waktu liehiap Liu Giok Ing mencabut pedang Ku tie kiam dari dalam sarungnya, untuk sesaat dia bagaikan lupa dengan keadaannya yang masih lemah. Semangat tempurnya bangkit dan berhasil mengalahkan getaran rasa terangsang akibat pengaruh obat ‘lian hoan lo—hap sie’. Sengaja Liu Giok Ing perdengarkan pekik teriaknya yang nyaring memekak telinga; setelah itu pedang Ku tie kiam.mu1ai bergerak mencari sasaran; bukan untuk bertahan seperti yang dipesankan oleh Kwee Su Liang. Seperti sepuluh tahun yang lalu, sang adik kembali menjadi binal; memaksa Kwee Su Liang harus mengimbangi, sehingga dalam saat berikutnya, bergerak bersatu—padu sepasang pedang mereka bagaikan sejiwa dan sehati, sebab mereka sedang mengerahkan ilmu ‘siang kiam hiap kek’ atau sepasang pedang dari dua orang pendekar. Segera terdengar berbagai suara pekik teriak kesakitan, sebab banyaknya tubuh tentara negeri yang bergelimpangan terluka mau pun binasa, bahkan sebelah tangan kiri Coa Keng ikut putus. Pihak pengepung mulai bercerai-berai, mereka memisah diri dan lari menyingkir kalau melihat Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing mendekati mereka, dan mereka maju lagi kalau melihat pasangan yang gagah perkasa itu sedang mengejar rekan—rekan mereka. Coa Keng tewas waktu dia terlibat dalam suatu pertarungan singkat melawan pasangan yang gagah itu, Sedangkan Coa Beng tidak berdaya memberikan bantuan, sebab dilihatnya Ma Kong berdua Ma Kiang sudah mendahului lari terbirit—birit, bahkan ciangkun Sie Pek Hong ikut lari memasuki gedungnya. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing mengejar Sie Pek Hong yang hendak dia bunuh, sehingga Kwee Su Liang terpaksa harus mengikuti sang adik yang binal itu, namun berulangkali dia harus menangkis dan menghindar dari serangan anak panah, sebab barisan tentara telah mengerahkan pasukan panah, selekas mereka lihat pasangan yang gagah perkasa itu sedang mengejar ciangkun Sie Pek Hong. sebatang anak panah berhasil membenam dibagian paha liehiap Liu Giok Ing, selagi dia terus memusatkan perhatiannya kepada ciangkun Sie Pek Hong yang telah melarikan diri. Terpaksa liehiap Liu Giok Ing menunda pengejarannya terhadap ciangkun Sie Pek Hong. Setengah bersandar pada dinding tembok, dia berusaha mencabut anak—panah yang membenam dibagian pahanya; dan bertepatan pada saat itu Kwee Su Liang datang mendekati. “Giok-moay, kau terkena anak panah….?” Kwee Su Liang bertanya cemas; dan selekas itu juga dia merobek baju yang dipakainya, buat dia gunakan untuk membalut luka dibagian paha sang adik yang binal, yang bekas kena anak panah. Akan tetapi tepat selagi Kwee Su Liang berlutut dihadapan Liu Giok Ing, maka sebatang anak panah meluncur dan membenam dibagian punggungnya, tanpa dia sempat menghindar atau menangkis. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing berteriak marah ketika diketahuinya Kwee Su Liang ikut terkena anak panah, segera dia mengambil segenggam senjata rahasia berbentuk bunga- cinta, lalu dengan gerak ‘thian ie san—hwa’ atau air-hujan menyebar bagaikan bunga; sehingga bunga—bunga—cinta itu bertebaran bagaikan air-hujan yang tak mungkin dihindari, mencari sasaran terhadap pasukan—panah yang segera bergelimpangan. Bagaikan orang yang lupa diri, Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing kemudian meneruskan pengejarannya terhadap ciangkun Sie Pek Hong yang hendak dia bunuh mati; dan dia bagaikan lupa dengan Kwee Su Liang dibagian punggungnya masih membenam sebatang anak panah, sedangkan Kwee Su Liang juga ikut melakukan pengejaran, merasa cemas terhadap sang adik yang binal sehingga dia membiarkan bagian punggungnya yang masih membenam sebatang anak panah. Jelas bahwa anak—panah itu mengandung bisa-racun, sebab sempat Kwee Su Liang merasakan punggungnya nyeri bercampur gatal. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, dia berusaha menahan rasa sakit dan terus mengikuti liehiap Liu Giok Ing yang masih mengejar ciangkun Sie Pek Hong. Beberapa orang tentara pengawal ciangkun Sie Pek Hong berusaha merintang, akan tetapi liehiap Liu Giok Ing yang sedang lupa diri, mengganyang mereka sehingga berulang kali dia harus menyebar maut. Betapapun halnya, liehiap Liu Giok Ing masih dalam keadaan lemah sebagai akibat dari pengaruh obat perangsang ‘1ian—hoan lahap sie’. ditambah dia terkena sebatang anak panah yang mengandung bisa—racun dibagian betisnya. Langkah kakinya agak pincang dan tenaganya semakin berkurang sewaktu dia hendak melakukan penyerangan terhadap ciangkun Sie Pek Hong, setelah dia mengganyang habis barisan pengawal yang merintang tadi. Dipihak Kwee Su Liang, laki-laki ini juga merasa bagaikan kehabisan tenaga, akibat tadi dia kena siksa, setelah itu dia pun terkena sebatang anak—panah yang mengandung bisa racun. Ingin dia berusaha mencegah niat liehiap Liu Giok Ing yang hendak meneruskan melakukan pengejaran terhadap ciangkun Sie Pek Hong, namun saat itu tidak sempat dia bersuara, sebab sudah didahului oleh suara tawa seseorang. Tawa yang terdengar begitu menyeramkan, sehingga sejenak dia berdiri terdiam, juga liehiap Liu Giok Ing ikut diam.mendengarkan. Itulah suara tawa Kim Wan tauw-to si pendeta gadungan yang pada waktu itu ditemani ‘Toan lo sin—koay’ Kong Tek Liang yang membekal senjata berupa tongkat sakti. “Liu Giok Ing ! Dalam pie—bu aku tidak berhasil mengalahkan kau, akan tetapi sekarang kau boleh rasakan tongkatku … !” Toan lo sin—koay Kong Tek Liang memaki dan mendahului menyerang liehiap Liu Giok Ing; menyerang memakai tongkat—sakti dan memukul dengan gaya ‘tay—san ap teng’ atau gunung tay—san menindih. Ceng—hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari bahwa si tongkat—sakti Kong Tek Liang memiliki tenaga yang besar, sehingga tidak mau dia menangkis memakai pedang; menghindar dari adu tenaga selagi keadaannya terasa lemah, disamping dia meragukan bahwa pedang Ku-tie kiam akan mampu membabat putus tongkat—sakti Kong Tek Liang yang terkenal sakti. Dengan kelincahan tubuhnya, dia berusaha mengimbangi si tongkat sakti Kong Tek Liang, bergerak memakai jurus kimreng liuhie’ atau burung kenari bermain dipohon yang-Liu. Dipihak si tongkat—sakti Kong Tek Liang segera dia perlihatkan kemahirannya memakai ilmu “Thian-lo sin-koay hoat’, ilmu tongkat sakti dari langit yang terdiri dari 6 perubahan; dan tiap pecahan terdiri dari 8 jurus, sehingga jumlah semuanya menjadi 48 jurus ilmu pukulan tongkat-sakti yang sudah terkenal keampuhannya dikalangan rimba—persi1atan. Sementara itu tidak ada kesempatan buat Kwee Su Liang membantu sang adik yang binal; sebab dia segera dihadang oleh Kim.Wan tauw—to, tanpa si pendeta gadungan ini kelihatan membekal senjata, akan tetapi sempat dia memaki : “Bo—im.kiamrhiap Kwee Su Liang, ketahuilah olehmu bahwa sepuluh tahun yang lalu, adikku Kim Cin Jie pernah kau kalahkan setelah kau berdua Liu Giok Ing mengepung. Sebenarnya ingin aku melawan kalian berdua selagi hari ini sempat bertemu, akan tetapi temanku Tek Liang mempunyai dendmm terhadap Liu Giok Ing; sehingga perempuan itu menjadi bagian dia, dan aku kebagian kau!” Si pendeta gadungan Kim.Wan tauw to menyudahi perkataannya dan melakukan penyerangan terhadap Kwee Su Liang, bergerak memakai jurus ‘sin chiu pa houw’ atau tangan sakti menggempur macan. Dia memukul memakai sepasang kepalan tangannya yang kelihatan besar, akan tetapi lengan bajunya yang lebar berkibaran, juga memiliki tenaga pukulan yang sangat luar biasa sekali ! Menghadapi lawan yang tidak menggunakan senjata tajam, maka Kwee Su Liang juga tidak pergunakan pedangnya. Dengan geraknya yang masih Cukup lincah dan gesit, dia menghindar, sementara tangan kirinya yang masih memegang pedang yang berada didalam sarungnya; dia bergerak balas memukul menggunakan tipu ‘die—hwee siao nian’ atau angkat obor membakar langit. Berkat gerak yang gesit dan tangkas dari Kwee Su Liang itu, maka Kim Wan tauw to perdengarkan geram suara marah, namun dengan tabah hendak dia pukul lengan Kwee Su Liang yang sedang memukul dia, tapi Kwee Su Liang buru—buru menghindar tidak menghendaki mengadu tenaga, sebab Kwee Su Liang menyadari kelemahannya, sebaliknya dengan jurus ‘yu liong tam jiauw’ atau naga perlihatkan cakar, ganti telapak tangan kanan Kwee Su Liang yang bergerak menghajar dada Kim.Wan tauw to. “Bagus !” Kim.Wan tauw to bersuara memuji, dan tubuhnya yang tinggi besar, ternyata dapat bergerak lincah dan gesit, lompat mundur tiga langkah kebelakang; sehingga serangan Kwee Su Liang tidak berhasil mencapai sasaran ! Bo im kiam hiap Kwee Su Liang merasa penasaran karena serangannya tidak mencapai hasil dia bergerak maju dan mengulang melakukan penyerangan; bergerak memakai jurus ‘twie cang beng goat‘ atau membuka jendela mengawasi rembulan, sepasang tangannya bergerak saling menyusul melakukan serangan—serangan maut, namun selalu dia menghindar kalau dilihatnya pihak lawan hendak menangkis, sebab dia tetap menyadari kelemahannya yang tidak memungkinkan buat dia mengadu tenaga. Untuk sesaat kelihatan Kim.Wan tauw—to bagaikan terdesak menghadapi serangan yang bertubi—tubi dari lawannya. Dia bergerak menggunakan ilmu ‘tek seng ciu’ atau tangan memetik bintang, sebab berulangkali dia kepingin meraih tangan lawannya yang hendak dia bentur dengan tenaganya yang dahsyat, atau hendak dia pegang atau patahkan; tetapi kelincahan atau ketangkasan lawan yang sudah luka itu, ternyata tidak mudah buat Kim Wan tauw—to melaksanakan niatnya.
Dipihak Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, ternyata dia pun menghadapi kesukaran didalam menghadapi lawan kuat yang berupa ‘Toan—lo sin koay‘ Kong Tek Siang. Bagian pahanya yang bekas kena anak panah, mengakibatkan berkurang kelincahan tubuhnya; bahkan masih terasa nyeri dan gatal—gatal yang mengganggu perhatiannya, disamping dia pun memikirkan keadaan Kwee Su Liang yang dia ketahui dibagian punggungnya masih membenam sebatang anak panah. Lebih dari sepuluh tahun lamanya dia mengharapkan dapat bertemu lagi dengan laki laki yang telah mencuri hatinya itu. Akan tetapi, ketika baru sekejap mereka bertemu dan baru sekejap mereka sempat bicara berdua; keadaan mereka sekarang diancam oleh bahaya maut. Terasa begitu pedih hatinya, sehingga perhatiannya terhadap lawannya jadi semakin terganggu. Berulangkali kelihatannya liehiap Liu-Giok’Ing bagaikan terdesak, menghadapi serangan yang bertubi—tubi dari si tongkat—sakti Kong Tek Liang, yang masih memainkan jurus ‘thian—lo sin koay hoat’. Pedang Ku—tie kiam bagaikan tidak berdaya dan tidak mampu lagi memapas buntung tongkatnya Kong Tek Liang, yang ternyata kelihatan benar-benar ampuh; dan pedang Ku—tie kiam bahkan terlempar hampir lepas dari pegangan liehiap Liu Giok Ing, waktu sekali terjadi suatu benturan yang cukup keras yang tidak dapat dihindarkan oleh liehiap Liu Giok Ing. Sukar buat liehiap Liu Giok Ing buat mendekati tempat Kwee Su Liang yang sedang menghadapi Kim Wan tauwto, sehingga tidak memungkinkan buat mereka berdua menggunakan ilmu silat pedang ‘siang-kiam hiapkek; sebab kedua lawan mereka seo1ah—olah sudah mengetahui dan sengaja mencegah buat Liu Giok Ing saling berdekatan dengan Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang. Sementara itu pasukan tentara yang tadi mengepung; masih tetap berdiri siaga bagaikan siap hendak menangkap Liu Giok Ing atau Kwee Su Liang, sekiranya mereka bermaksud melarikan diri, sedangkan Ciangkun Sie Pek Hong juga kelihatan sibuk mengatur sisa anak buahnya; namun tak ada niatnya buat ikut mengepung Liu Giok Ing yang sedang ditempur oleh ‘toan lo sin koay’ Kong Tek Liang; ataupun mengepung Kwee Su Liang yang sedang berhadapan melawan Kim.Wan tauw to. Didalam hati dia masih mengharapkan supaya Liu Giok Ing jangan sampai tewas ditangan Kim.Wan touw to, sebab dia masih menyimpan rasa penasaran, ingin memiliki janda muda yang merangsang akan tetapi yang galak seperti macan betina. Ciangkun Sie Pek Hong kelihatan cemas ketika diketahuinya keadaan Liu Giok Ing dalam bahaya, dan dia tidak mampu bersuara untuk mencegah supaya ‘toan lo sin koay‘ Kong Tek Liang jangan membunuh Liu Giok Ing, sebab dia mengetahui bahwa si tongkat sakti merupakan tamu Kim.Lun Hoat ong yang dihormati, disamping itu dia pun tidak berani memasuki gelanggang pertempuran buat memberikan bantuan bagi Liu Giok Ing, sebab perbuatan seperti itu sudah merupakan perbuatan yang menentang Kim.Lun Hoat ong. Dalam keadaan bingung dan cemas itu, Ciangkun Sie Pek Hong mendadak melihat Liu Giok Ing kena ditendang oleh ‘toan lo sin koay‘ Kong Tek Liang. Hampir dia menjerit ketika dilihatnya tubuh Liu Giok Ing terpental, dan dia menjadi lebih terkejut ketika Liu Giok Ing jatuh terguling mendekati dia. Hilang lenyap niat dan maksudnya yang hendak menangkap Liu Giok Ing, saat itu dia bahkan ingin memberikan suatu pertolongan. Akan tetapi, secara mendadak tubuh liehiap Liu Giok Ing mencelat bangun seperti ikan gabus meletik; langsung memberikan sebuah tikaman maut memakai pedang Ku—tie kiam. Selagi menghadapi lawannya yang berupa tongkat—sakti Kong Tek Liang, agaknya liehiap Liu Giok Ing sempat melihat kehadirannya Ciangkun Sie Pek Hong; dendamnya meluap sehingga dia bagaikan membiarkan waktu pantatnya kena ditendang oleh Kong Tek Liang, sebab dengan menggunakan tenaga tendangan dari lawan itu, sempat Liu Giok Ing mendekati Ciangkun Sie Pek Hong yang lalu hendak dia tikam. Dalam kagetnya, untung Ciangkun Sie Pek Hong dapat bergerak cepat. Tubuhnya melesat melewati kepala sepasukan tentara yang berada dibagian belakangnya, dan dia terus kabur ke ruangan dalam dirumahnya yang besar dan luas itu; sebab dia sedang memikirkan suatu rencana lain. Liehiap Liu Giok Ing merasa sangat penasaran, dengan gerak ‘yan-cu coan—in’ atau burung walet menembus angkasa; dia melesat menyusul ke arah Ciangkun Sie Pek Hong lompat melarikan diri. Akan tetapi oleh karena tubuhnya yang sudah lemah dan bagian pahanya yang terluka bekas kena anak—panah, maka dia melayang sangat rendah dibagian atas kepala sepasukan tentara yang sedang siaga, sehingga bagian celananya kena ujung tombak dari beberapa orang tentara, sehingga celananya itu menjadi koyak dibeberapa bagian akan tetapi untung tidak sampai melukai dia. Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang sempat melihat gerak dan perbuatan liehiap Liu Giok Ing, sehingga dalam kagetnya dia pun ikut meninggalkan Kim.Wan tauw—to; lompat melesat menyusul sang adik yang binal, yang waktu itu sedang mengejar Ciangkun Sie Pek Hong. Dengan memakai gerak ‘pek wan hoan—sin’ atau monyet—putih jungkir—ba1ik, dengan cepat Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang berhasil mendekati sang adik yang binal, disaat liehiap Liu Giok Ing juga sudah berhasil mendekati Ciangkun Sie Pek Hong yang berlari—1ari sambil berlompatan. Akan tetapi disuatu saat lantai tempat liehiap Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang menginjakkan kaki-kaki mereka, secara mendadak bergerak terangkat dan membuka, sehingga tubuh—tubuh mereka tergelincir jatuh kedalam sebuah liang ! – 0 0-0 — SEMPAT Bo im kiamhiap Kwee Su Liang meraih lengan kiri Liu Giok Ing disaat tubuh—tubuh mereka tergelincir jatuh kedalam liang: bahkan sempat laki-laki itu merangkul sehingga tidak sampai terbanting tubuh—tubuh mereka waktu mencapai dasar liang yang sangat dalam. “Liang—ko, kita kena perangkap …” liehiap Liu Giok Ing bersuara lemah, selagi mereka berdua duduk didasar liang; sedangkan sepasang matanya seperti hampa mengawasi kebagian atas yang lantainya sudah menutup lagi, sehingga dalam sekejap keadaan dalam dasar liang itu menjadi gelap gulita. Kwee Su Liang kedengaran menarik napas seperti mengeluh, dan secara tiba—tiba liehiap Liu Giok Ing teringat, bahwa dibagian punggung Kwee Su Liang masih membenam sebatang anak panah; yang juga mengandung bisa racun, seperti sebatang anak panah yang tadi membenam dibagian pahanya, yang masih terasa nyeri bercampur gatal. “Liang—ko, dibagian punggungmu, masih membenam sebatang anak panah …,” liehiap Liu Giok Ing berkata, sambil sepasang tangannya meraba—raba; ingin berusaha menolong mencabut anak panah itu, dan yang kena dia raba justeru adalah bagian paha Kwee Su Liang. Sementara itu Kwee Su Liang memang sedang menghadapi kesukaran buat dia sendiri yang mencabut anak panah yang masih membenam dibagian punggungnya, oleh karena itu dia menurut dan memutar tubuhnya yang sedang duduk, selekas diketahuinya liehiap Liu Giok Ing hendak menolong dia. Terasa pedih hati liehiap Liu Giok Ing waktu sebelah tangannya telah berhasil memegang anak panah, dengan Sementara sebelah tangannya yang lain memegang bagian punggung 1aki—1aki yang telah ‘mencuri’ hatinya, yang sedemikian lamanya dia kenangkan dan rindukan. Dia yakin.
Dia yakin bahwa 1aki—1aki itu menderita sakit selagi anak panah itu dia cabut, dan rasa sakit itu bagaikan ikut dia rasakan sehingga ada sedikit air mata yang dia keluarkan, selagi dia mencabut anak panah itu, lalu secara tiba—tiba dia menempelkan mulutnya di bagian punggung Kwee Su Liang yang terluka menyedot dan mengeluarkan darah yang mengandung bisa racun. Kwee Su Liang merasa terkejut ketika bibir sang adik yang binal itu menempel di bagian punggungnya, akan tetapi dia menyadari bahwa darah yang mengandung bisa racun itu memang harus dikeluarkan, oleh karena itu dia mengerahkan tenaga kesaktiannya menyalurkan darahnya yang sedang disedot oleh mulut sang adik yang binal itu. Selagi berusaha menolong mengeluarkan darah yang mengandung bisa racun dibagian punggung Kwee Su Liang, keadaan liehiap Liu Giok Ing sebenarnya masih dalam terpengaruh bekas kena obat-perangsang ‘lian—hoan lohap sie‘. Jelas dia menjadi terangsang lagi selekas dia menyentuh tubuh 1aki—1aki yang sudah ‘mencuri’ hatinya itu; sehingga bagaikan tanpa sadar sepasang lengannya merangkul Kwee Su Liang, diwaktu bibirnya menempel dibagian punggung Kwee Su Liang yang terluka, darah mengandung bisa racun dan mengulang menyedot selagi tubuhnya rapat menyentuh bagian punggung Kwee Su Liang. Lebih dari sepuluh—tahun lamanya dia menyimpan rasa rindu, ingin bertemu dan ingin menyentuh lagi laki—laki yang didambakannya itu; sehingga dalam keadaan yang seperti itu, dia bagaikan melupakan segala galanya, melupakan bahwa keadaan mereka masih berada dalam ancaman bahaya maut sebab mereka masih berada didalam tahanan pihak musuh. Sementara itu Kwee Su Liang juga merasakan bergetar jiwanya, apalagi pada waktu ikut merasakan bagian dada yang lembut dari sang adik yang binal, yang kena menyentuh dibagian punggungnya. Terasa agak kacau pikirannya; meskipun waktu itu dia sedang memusatkan kesaktiannya buat mengeluarkan semua sisa darah yang mengandung bisa racun akibat kena anak panah. Kemudian diketahuinya oleh Kwee Su Liang bahwa sang adik yang binal itu sudah menghentikan perbuatannya, sudah tidak lagi menyedot darah dari bagian punggungnya; akan tetapi sang adik yang binal itu masih tetap merangkul bahkan terasa kepala sang adik masih menyentuh dibagian punggungnya, sehingga Kwee Su Liang menganggap sang adik itu sedang bersedih hati. secara tiba—tiba Kwee Su Liang teringat bahwa sang adik juga sedang kena keracunan bekas anak panah yang membenam dibagian pahanya. Jelas diketahui bahwa liehiap Liu Giok-Ing’be1um.meng eluarkan darah yang mengandung bisa racun, yang masih mengeram.dida1am tubuhnya; sebab liehiap Liu Giok Ing tak mungkin menghisap luka yang dia derita dibagian pahanya. Tidak mungkin untuk dia lakukan sendiri. Haruskah Kwee Su Liang yang melakukannya? Menghisap bagian paha yang luka bekas luka anak—panah itu? Merah muka Kwee Su Liang tetapi untung tidak mungkin dilihat oleh sang adik yang binal, selagi mereka berada ditempat yang gelap—gu1ita; dan terasa berdebar keras jantung Kwee Su Liang memukul. Namun dia memaksa diri dan berkata perlahan : “Giok-moay, kau juga terluka …” Liehiap Liu Giok Ing tidak segera bersuara memberikan jawaban, meskipun didengarnya pertanyaan Kwee Su Liang. Masih dia merangkul bagian punggung dari laki-laki yang telah ‘mencuri’ hatinya itu, masih dia menikmati rasa hangat bahkan sampai air matanya berlinang keluar, tanpa dia ingat dengan lukanya sendiri. Akan tetapi, mendadak dia bagaikan baru tersadar, dan jantungnya ikut kian berdebar; membayangkan kalau sampai Kwee Su Liang yang harus menghisap bagian pahanya yang terluka. “Liang—ko, aku tak apa—apa …” akhirnya dia berkata dengan suara perlahan; bahkan terdengar terlalu perlahan oleh Kwee Su Liang, akan tetapi cukup membuat Kwee Su Liang seperti tersentak, dan dia memutar tubuh sehingga dia duduk menghadapi sang adik yang binal, meskipun cuma secara samar nampak berpeta. “Giok moay; darah yang mengandung bisa—racun itu harus dikeluarkan ….” kata Kwee Su Liang; terdengar gemetar nada suaranya. “Tetapi aku tidak mungkin melakukannya ….,” sahut liehiap Liu Giok Ing; juga gemetar nada suaranya. Sejenak Kwee Su Liang terdiam tak bersuara, akan tetapi jantungnya semakin berdebar keras. Dia merasa ragu-ragu oleh karena luka yang diderita Liu Giok Ing justeru dibagian paha, sehingga melanggar kesopanan bila dia yang harus melakukannya, menghisap bagian paha itu untuk mengeluarkan darah yang mengandung bisa—racun. “Giok moay, akan berbahaya bagi keselamatan kau andaikata bisa racun itu tidak dikeluarkan. Bolehkah aku yang melakukannya..?” akhirnya Kwee Su Liang berkata; tetap perlahan dan agak gemetar nada suaranya. Ganti liehiap Liu Giok Ing yang terdiam tidak bersuara, mukanya merah merasa malu akan tetapi untungnya tidak terlihat oleh Kwee Su Liang, sebab keadaan ditempat itu yang cukup gelap; kepalanya menunduk sedangkan dadanya semakin terasa berdebar keras, dan Kwee Su Liang yang berkata lagi : “Giok moay, aku tahu perasaan kau; akan tetapi didalam hal ini, aku harap memaafkan. Kau telah menolong aku, mengeluarkan bisa racun dari luka dibagian punggungku; dari itu perkenankanlah aku lakukan buat menolong kau …,” “Liang—ko, kau lakukanlah , ..” akhirnya kata Liu Giok Ing, semakin perlahan suaranya dan dia bahkan bagaikan harus menahan napas. Kwee Su Liang menggeser tubuhnya, sebab dia harus agak rebah tengkurup waktu dia mulai menghisap sebelah paha Liu Giok Ing yang terluka bekas kena anak panah beracun, Sementara sepasang telapak tangannya agak menekan bagian paha sang adik yang binal itu. Terdengar Liu Giok Ing bersuara seperti mengeluh, waktu tengah-tengah Kwee Su Liang mulai menyentuh bagian paha dan dia seperti bergelinjang waktu merasakan bibir Kwee Su Liang yang hangat mulai menyentuh pahanya. Keadaan Liu Giok Ing waktu itu masih di dalam pengaruh obat perangsang lian hoan lohap sie sehingga dia merasa sangat menderita menahan gejolak napsu birahi, apalagi yang sedang menghisap bagian pahanya yang luka itu, adalah 1aki—1aki yang telah mencuri hatinya. Sanggup dia menahan rasa sakit pada luka yang dia derita; akan tetapi sukar buat dia mengatasi napsu birahi yang sedang merangsang, sehingga dia menggigit bibirnya keras-keras, Sementara sepasang tangannya meraba—raba untuk mencari sesuatu buat dia berpegang, sehingga bagaikan tanpa sadar, akhirnya sebelah tangannya menjamah rambut dikepala Kwee Su Liang yang berada dibagian pahanya. Dipihak Kwee Su Liang, laki—laki ini juga merasa seperti terangsang waktu sepasang tangannya mulai menyentuh bagian paha sang adik yang binal, yang sudah cukup lama dia kenal namun baru sekali itu dia berani menyentuh bagian paha Liu Giok Ing. Kemudian diapun merasakan kepalanya bagaikan dibelai oleh sang adik yang binal, sampai kemudian terasa rambutnya seperti dijambak erat erat, sehingga Kwee Su Liang menganggap sang adik yang binal itu sedang menahan rasa sakit. Suara napas Liu Giok Ing kemudian terdengar seperti memburu; Sementara bagian pinggulnya ikat bergerak tak menentu, akhirnya dia mengeluh seperti merintih : “Liang ko, oh Liang ko __ ‘1!
Kwee Su Liang terpaksa menunda perbuatannya yang sedang menghisap, berusaha mengeluarkan darah yang mengandung bisa racun; dia memerlukan mengawasi muka Liu Giok Ing, namun tak mnngkin dia dapat melihat jelas karena keadaan yang gelap. Terpikir oleh Kwee Su Liang bahwa sang adik yang binal merasa kesakitan, sehingga dia memerlukan bersuara menghibur: “Giok—moay, kuatkan hatimu, Sebentar lagi akan selesai…” ( Bersambung ke jilid 6 ) DAN Kwee Su Liang mengulang lagi perbuatannya, menghisap bagian paha Liu Giok Ing yang terluka, dan dia membiarkan waktu rambutnya dijambak semakin erat oleh sang adik yang binal itu. Akan tetapi ketika Kwee Su Liang merasa sudah selesai melakukan pertolongannya; ternyata Liu Giok Ing bagaikan tidak membiarkan Kwee Su Liang mengangkat mukanya laki laki itu dari bagian paha sang adik yang binal ! Sebelah tangan kiri liehiap Liu Giok Ing masih mendekap bagian belakang kepala Kwee Su Liang, sementara itu sebelah tangannya yang lain menelusup masuk kebagian dalam baju yang dipakai oleh Kwee Su Liang yang sudah banyak bagian yang terkoyak. Sejenak Kwee Lu Liang merasa curiga, selagi jantungnya Semakin berdebar keras, akan tetapi kemudian dirasakannya ada hawa panas dari telapak tangan sang adik yang binal itu yang ternyata sedang menyalurkan tenaga dalamnya, buat memulihkan tenaga Kwee Su Liang yang bekas kena gempur dan terlalu lelah keadaannya. Diam-diam Kwee Su Liang merasa terharu dengan perbuatan sang adik yang binal itu; yang ternyata sangat memperhatikan keadaannya. Dia berusaha tenangkan hati dan ikut mengerahkan kesaktiannya, buat menerima saluran tenaga yang diberikan oleh sang adik yang binal itu, sehingga tidak pernah Kwee Su Liang mendapat kesempatan buat mengucap kata—kata cinta; yang sedemikian lamanya dia pendam, meskipun dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Setelah liehiap Liu Giok Ing selesai menyalurkan tenaga dalamnya buat Kwee Su Liang, maka ganti Kwee Su Liang yang menyalurkan tenaga dalamnya buat memulihkan kesehatan liehiap Liu Giok Ing. Untuk sesaat Liu Giok Ing merasakan bagaikan dirangkul oleh laki—laki yang dia cintai, meskipun dengan Cara dia memunggungi Kwee Su Liang. Semakin terasa tergetar jiwa liehiap Liu Giok Ing, akan tetapi dia menyadari bahwa Kwee Su Liang sudah menjadi milik lain perempuan; sehingga tanpa terasa sekali lagi dia mengalirkan air mata. Sementara itu Kwee Su Liang kemudian mulai meneliti keadaan didalam liang itu, sambil kadang-kadang dia meraba—raba dibagian dinding batu maupun dibagian lantai yang merupakan bagian dasar dari liang itu; yang ternyata cukup lebar dan luas, namun tidak ditemui adanya jalan lain buat mereka keluar, kecuali melalui bagian atas yang sangat tinggi dan yang sudah tertutup oleh lantai bekas mereka terperangkap tadi. Bagian atas yang merupakan sebagai penutup dari liang itu, terlalu tinggi sehingga tidak mungkin perbuatan seseorang itu lompat naik, dan meskipun keadaan liang itu sedang membuka. Sedangkan ciangkun Sie Pek Hong agaknya sengaja hendak menyiksa Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang; membiarkan tawanan itu mati secara lambat tanpa diberikan makan maupun minum. Pada mulanya ciangkun Sie Pek Hong tidak mengetahui bahwa orang yang datang mengacau dirumahnya adalah Bo im kiamhiap Kwee Su Liang, akan tetapi kemudian dia diberitahukan oleh Kim.Wan tauw to, dan si pendeta gadungan ini bahkan menjelaskan bahwa Kwee Su Liang dahulu merupakan kekasih Liu Giok Ing; sehingga ciangkun Sie Pek Hong menjadi merasa cemburu dan ingin membunuh kedua tawanan itu, membiarkan mati kelaparan. Di pihak Liu Giok Ing, dia bagaikan merasa putus asa sehingga tak ada niatnya buat berusaha mencari kebebasan, meskipun dia membiarkan Kwee Su Liang yang sedang meraba—raba. Hatinya terasa sangat pedih, sehingga selama hidupnya, belum pernah dia berputus asa seperti saat itu; terasa hilang gairahnya untuk hidup. Hampa tak ada lagi orang yang menyayangi dia, karena suaminya sudah binasa; sedangkan laki—1aki yang telah ‘mencuri’ hatinya, menjadi miliknya perempuan lain. “Liang-ko , ..” akhirnya dia bersuara perlahan, merasa terharu melihat Kwee Su Liang yang masih mencari jalan hendak meloloskan diri; mungkin laki—laki itu sedang memikirkan isteri dan anaknya. “Giok—moay …” Kwee Su Liang ikut bersuara perlahan dan mendekati sang adik yang binal itu sedang duduk, seperti sedang bersemedhi. “Sia—sia kau berusaha, Liang—ko; rupanya kita bakal mati disini …” Sejenak Kwee Su Liang terdiam tak bersuara, dan dia duduk lagi didekat tempat Liu Giok Ing. “Giok—moay, biasanya kau yang lebih bersemangat. Selama kita masih bernapas, kau tidak pernah berputus—asa. Tetapi mengapa sekarang ….” Batal Kwee Su Liang melengkapi perkataannya, sebab didengarnya sang adik yang binal itu seperti terisak menangis; lalu ketika dia meraba—raba dan berhasil memegang sepasang tangan Liu Giok Ing, maka sang adik itu tiba—tiba merangkul dan tambah terisak menangis. “Liang-ko, oh Liang—ko …” “Giok moay, kau kenapa?” Kwee Su Liang menanya; akan tetapi Liu Giok Ing tidak menjawab, bahkan tambah dia terisak menangis, dan tambah erat sang adik merangkul. “Giok moay, kau tidak boleh berputus asa. Kita tidak boleh mati disini, selagi rasa penasaran dan dendam terhadap perbuatan orang yang memfitnah kau, belum sempat kita balas Bagaikan orang yang baru tersadar, tiba—tiba Liu Giok Ing melepaskan rangkulannya dan berkata : “Liang ko, tadi kau mengatakan bahwa daIang dari semua perbuatan fitnah itu adalah Kim Lun Hoat-ong; coba kau ceritakan lagi.” Kwee Su Liang tidak langsung memberikan jawaban kepada sang adik itu, sebaliknya dia memerlukan memegang lagi sebelah tangan Liu Giok Ing sambil dia menarik napas panjang; setelah itu baru dia berkata: “Pada mulanya aku juga tidak mengetahui tentang perbuatan Kim Lun Hoat—ong. Aku dipanggil oleh sri baginda raja untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan yang terjadi dikota-raja dan didalam istana kerajaan sedangkan sipelaku pembunuhan itu dituduhkan sebagai perbuatan kau, berhubung adanya senjata rahasia yang berbentuk bunga cinta. Kemudian aku mengetahui bahwa kau juga mengacau ditempat Gin Lun Hoat-ong sehingga benar—benar aku menjadi sangat heran dan dibingungkan oleh perbuatan kau mengapa kau harus melakukan pembunuhan- pembunuhan itu dan mengapa kau harus memusuhi Gin Lun Hoat-ong, sedangkan setahu aku, kabarnya kau telah menikah dan menjadi isteri dari pangeran Giok Lun. Aku harus mencari kau sampai secara diluar dugaan aku bertemu dengan Thio Hek…” “Thio susiok ….?” Liu Giok Ing memutus perkataan Kwee Su Liang, sebab dia seperti baru teringat dengan Thio Hek yang dia sebut sebagai paman Thio, atau Thio susiok; dan Kwee Su Liang membenarkan lalu dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Thio Hek, sampai kemudian Thio Hek wafat tetapi sempat membuka rahasia ciangkun Sie Pek Hong dan pangeran Kim Lun. Jelas liehiap Liu Giok Ing menjadi sangat terkejut waktu diketahuinya Thio Hek juga sudah ikut binasa. Semakin dia bertambah marah dan dendam terhadap ciangkun Sie Pek Hong, juga terhadap Kim Lun Hoat-ong. “Si keparat Sie Pek Hong dan Kim Lun Hoat—ong. Aku akan mati penasaran jika aku tidak membinasakan mereka … !” Liu Giok Ing memaki seperti menyupah; setelah itu dia menangis lagi, teringat dengan Thio Hek yang juga menyayangi dia, akan tetapi yang sekarang telah binasa. Bagaikan tanpa sadar, Sekali lagi liehiap Liu Giok Ing merangkul Kwee Su Liang, dan laki—1aki itu juga ikut merasa terharu, sehingga dia membelai rambut Liu Giok Ing yang sudah lepas terurai bekas melakukan pertempuran. Segera terbayang lagi Kwee Su Liang, betapa dahulu dia merindukan dapat merangkul sang adik yang binal dan besar kepala itu, sehingga kadang-kadang dia merasa tersiksa menyimpan rasa rindu, menganggap dia ‘bertepuk-sebelah—tangan’, karena dia merasa tidak pernah menerima cinta-kasih dari sang adik itu, yang bahkan sampai berulangkali dia tempur, karena adanya sisa dendam.Liu Giok Ing akibat perbuatan orang tua mereka. Kini selagi sama—sama menghadapi ancaman bahaya maut, selagi mereka berputus-asa merasa tiada harapan untuk melepas diri dari dalam liang itu, secara tiba—tiba Kwee Su Liang teringat lagi dengan pengalaman mereka, dan bagaikan tanpa sadar dia berkata dengan perlahan : “Giok—moay, mengapa kau begitu keras kepala … ?” Perlahan—lahan Liu Giok Ing melepaskan dirinya dari rangkulan Kwee Su Liang, dan dia berusaha untuk mengawasi muka laki-laki yang dicintainya itu, meskipun sukar buat dia melakukannya sebab keadaan didalam liang yang sangat gelap; setelah itu diapun ikut berkata perlahan: “Apa maksud kau, Liang—ko…..?” Kwee Su Liang diam seperti tak mampu memberikan jawaban, dia pun berusaha ingin melihat muka Liu Giok Ing, menerobos kegelapan didalam liang itu; kemudian terdengar dia menarik napas dan berkata : “Begitu lama kita berkelana bersama—sama, begitu sering kita mengalami ancaman mara—bahaya; akan tetapi kadang-kadang aku merasakan kau begitu jauh, bahkan kadang-kadang aku merasakan kau begitu membenci aku ….” “Tidak Liang—ko. Aku tak pernah membenci kau, tetapi …” terlalu cepat liehiap Liu Giok Ing memberikan jawaban; namun dia tidak melengkapi perkataannya, sebaliknya selekas itu juga dia tertunduk seperti merasa malu, meskipun Kwee Su Liang tidak melihat keadaannya. “Tetapi kenapa, Giok—moay m.?” ganti Kwee Su Liang yang menanya. “Tetapi justeru kau yang seperti tidak memperhatikan aku. Kau terlalu tinggi hati Liang ko …” Sekali lagi Kwee Su Liang menjadi terdiam bahkan diapun menunduk, tetapi dia berusaha menambahkan perkataannya : “Padahal aku sangat menyintai kau …” “Aku juga …” seperti tersentak Kwee Su Liang waktu didengarnya pengakuan sang adik yang binal itu. Sekilas dia teringat dengan kebiasaannya yang lama; lalu tiba—tiba dia berkata lagi : “Tetapi kau menikah dengan Giok Lun Hoat-ong …” “Dan kau menikah dengan Lie Gwat hwa.” sahut Liu Giok Ing; seperti dulu tak mau mengalah.
Sekali lagi Kwee Su Liang diam tak bersuara, juga Liu Giok Ing; sehingga keadaan menjadi hening, cuma suara napas mereka yang terdengar. Kemudian Kwee Su Liang yang terdengar berkata lagi : “Giok moay ..” “Liang ko , , .” sahut Liu Giok Ing lembut perlahan suaranya; terdengar mengharukan. “Kita bakal mati disini … II “Kau takut mati; Liang ko; atau kau . ,” batal Liu Giok Ing melengkapi perkataannya, sebab mendadak hatinya merasa pedih lagi; teringat dengan Lie Gwat Hwa dan menganggap Kwee Su Liang sedang memikirkan isterinya. “Aku bukan takut mati, Giok moay. Akan tetapi aku merasa penasaran, mengapa justeru baru sekarang aku mengetahui bahwa kau juga menyintai aku …” Ganti Liu Giok Ing yang meraba—raba dan mencari sepasang tangan Kwee Su Liang, yang lalu dia pegang erat—erat, baru dia berkata : “Liang ko; mungkin sudah merupakan nasib kita bahwa kita tidak mungkin menjadi suami isteri di alam nyata. Akupun menyadari bahwa kita bakal mati ditempat ini, karena itu aku mau mengeluarkan isi hatiku yang sekian lamanya aku simpan, tidak mungkin aku merebut kau, Liang ko: setelah aku mengetahui bahwa kau telah menikah dengan perempuan lain , , II – I “Giok moay .. ” cuma itu yang Kwee Su Liang ucapkan, dan buru-buru dia merangkul sang adik yang dikasihnya itu. Liehiap Liu Giok Ing membiarkan dirinya dirangkul oleh 1aki—1aki yang telah ‘mencuri’ hatinya itu, dan dia bahkan mempererat rangkulannya. seperti da1am.mimpi, liehiap Liu Giok Ing merasakan betapa hangatnya pelukan 1aki—laki yang sekian lamanya dia cintai. Dia memang masih terpengaruh oleh obat perangsang, sehingga dia yang mulai mencium Kwee Su Liang: dan Kwee Su Liang yang seperti kehilangan kesadaran telah mengimbangi perbuatan sang adik yang dikasihinya, sehingga untuk sesaat dia lupa dengan anak dan isterin ya, bahkan sempat melupakan keadaan mereka yang sedang diancam bahaya maut. – o 0-0- MATAHARI bersinar terik waktu esok harinya ciangkun Sie Pek Hong datang menghadap Kim.Lun Hoat ong, memberi laporan tentang liehiap Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang yang berada didalam liang perangkap. Kim.Lun Hoat-ong memang sudah mengetahui tentang peristiwa semalam yang terjadi ditempat ciangkun Sie Pek Hong, sebab dia sudah menerima laporan dari Kim Wan tauw—to berdua ‘toan-lo sin—koay’ Kong Tek Liang: dan Kim Lun Hoat ong memutuskan supaya membiarkan liehiap Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang tewas didalam liang itu sesuai seperti yang direncanakan Sie Pek Hong. Tidak mungkin untuk membiarkan Liehiap Liu Giok Ing tetap hidup. sebab si macan—betina yang galak itu pasti akan mengacau terus, sukar dibikin jinak apalagi untuk dijadikan bini. Juga Kwee Su Liang harus mati, sebab Kim Lun Hoat-ong sudah mengetahui bila Kwee Su Liang yang bertugas sebagai gubernur diperbatasan kota, sedang melakukan tugas dari sri baginda maharaja, buat melakukan penyelidikan tentang peristiwa pembunuhan yang terjadi di kota-raja dan di istana kerajaan; yang diduga sebagai perbuatannya ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing. Akan tetapi Kwee Su Liang yang memang diketahui berhubungan akrab dengan liehiap Liu Giok Ing, maka kemungkinan Kwee Su Liang sudah berhasil memperoleh keterangan tentang niat Kim Lun Hoat ong yang hendak mengadakan perbuatan makar, sehingga laki-laki itu harus dibikin mati !Atas saran si pendeta gadungan Kim Wan tauw to, kemudian Kim Lun Hoat ong mengirim seorang utusan keluar perbatasan kota disebelah barat, untuk menemui seorang rekannya yang mengabdi kepada pemerintah kerajaan Watzu, Tartar; sedangkan perintah mengacau didalam kota raja dan di kota San hay koan untuk sementara dihentikan, Kim Lun Hoat ong bertekad hendak mempercepat rencana gerakannya, sebelum pihak sri baginda maharaja mengetahui tentang niatnya itu; dia bahkan memerintahkan Kim Wan tauw to dan Kong Tek Liang, untuk secara terpisah menghubungi rekan-rekan mereka yang bakal diajak bekerja sama, dan memerintahkan ciangkun Sie Pek Hong berangkat ke kota Kam leng, buat menghubungi Seng-Lun Hoat ong yang katanya ingin mendukung gerangan Kim Lun Hoat ong. Dengan demikian ciangkun Sie Pek Hong menjadi ikut sibuk, mengatur bawahannya yang menjaga keamanan dirumahnya, sebab dia harus berangkat keluar kota. Dan ciangkun Sie Pek Hong bahkan melupakan isterinya, yang tidak sempat dia beritahukan tentang kepergiannya yang mendapat perintah dari Kim Lun Hong ong. Nama isterinya ciangkun Sie Pek Hong adalah The Eng Lian. Dahulu dia merupakan selir dari sri baginda maharaja, tetapi kemudian dia kena dirayu oleh ciangkun Sie Pek Hong; sehingga waktu ciangkun Sie Pek Hong harus melarikan diri dari kota raja, maka The Eng Lian mendampingi bahkan The Eng Lian yang membeayai keperluan hidup mereka, dengan menjual semua barang perhiasan yang pernah dia terima dari sri baginda maharaja; sampai kemudian ciangkun Sie Pek Hong diterima bekerja dan mengabdi pada Kim-Lun Hoat ong. Penderitaan The Eng Lian selama ikut Sie Pek Hong yang hidup dalam pelarian, kemudian menjadi tambah menderita karena ternyata suaminya tidak setia, sering menyeleweng dengan perempuan lain bahkan berani menyimpan selir dalam rumah. Berulangkali terjadi pertikaian antara The Eng Lian dengan suaminya, akan tetapi Sie Pek Hong dengan cara yang kejam seringkali memukul isterinya itu, membuat The Eng Lian sudah menyesali diri; karena tidak berdaya memberikan perlawanan. Kemudian diketahui juga oleh The Eng Lian, tentang suaminya yang mengajak Liu Giok Ing menumpang tinggal dirumah; sehingga diam-diam dia menyimpan dendam terhadap Liu Giok Ing. Akan tetapi berdasarkan laporan yang dia terima dari seorang pelayan yang setia, maka diketahuinya bahwa Liu Giok Ing adalah jandanya pangeran Giok Lun, dan Liu Giok Ing sebenarnya adalah seorang pendekar perempuan yang namanya sudah menyemarak dikalangan rimba persilatan. Hasyrat hatinya, ingin sekali The Eng Lian menemui liehiap Liu Giok Ing. Ingin dia ceritakan tentang kejahatan ciangkun Sie Pek Hong, bahkan tentang niat buruk dari Kim-Lun Hoat-ong yang dia ikut mengetahuinya, tetapi The Eng Lian sangat takut akan perbuatannya itu diketahui suaminya, dan dia merasa tidak mendapat kesempatan buat bertemu dengan Liu Giok Ing. Hari itu The Eng Lian mengetahui tentang suaminya yang pergi meninggalkan rumah, berangkat keluar kota membawa tugas dari Kim Lun Hoat-ong. Dengan bantuan pelayannya yang setia, The Eng Lian berusaha hendak bertemu dengan liehiap Liu Giok Ing, tetapi tetap dia harus berhati-hati, sebab barisan pengawal melakukan penjagaan secara ketat, disamping adanya dua bersaudara Ma Kong dan Ma Kiang. Tidak mudah The Eng Lian mencari liehiap Liu Giok Ing yang ternyata tidak ada dikamarnya; akan tetapi The Eng Lian kemudian menjadi terkejut, waktu diketahuinya liehiap Liu Giok Ing terperangkap didalam liang, bersama seorang laki-laki yang katanya Kwee Su Liang, si pendekar tanpa bayangan. Memang tidak banyak orang yang mengetahui tentang adanya liang-rahasia didalam ruah itu, yang kemudian dijadikan sebagai liang perangkap oleh ciangkun Sie Pek Hong. Mungkin cuma The Eng Lian berdua suaminya yang mengetahui; bahwa liang itu merupakan tembusan yang bisa menembus ke suatu daerah pegunungan, didekat perbatasan luar kota Oei-kee tin sebelah utara. Oleh karena The Eng Lian bertekad hendak bertemu dengan liehiap Liu Giok Ing, ingin membicarakan tentang kejahatan suaminya yang sudah dia benci dan menyimpan dendam sekian lamanya; maka The Eng Lian mengajak pelayannya meninggalkan rumah, menuju kedaerah pegunungan yang bisa menembus ke dalam liang rahasia itu. Kepergian The Eng Lian berdua pelayannya itu, sempat diketahui oleh Ma Kong berdua Ma Kiang, akan tetapi sudah tentu mereka tidak berani mencegah sebab tidak ada perintah dari majikan mereka, dan mereka bahkan tidak berani menanyakan tentang maksud kepergian nyonya-majikan itu. Secara diam-diam kemudian Ma Kong memerintahkan 3 orang anak buahnya, mengawasi The Eng Lian berdua pelayannya; sampai kemudian ketiga orang laki-laki itu menjadi bingung dan heran, sebab melihat tujuan The Eng Lian berdua pelayannya mencapai daerah pegunungan, bahkan menuruni sebuah tebing yang cukup curam.
Dipihak The Eng Lian yang melakukan perjalanan berdua pelayannya, secara mendadak dia mengetahui adanya tiga orang tentara yang menyamar yang sedang mengikuti perjalanannya. Sudah terlalu jauh dia meninggalkan rumah dan dia bahkan sudah hampir mencapai tempat tujuan, sehingga tidak mau membatalkan niatnya. Diaturnya rencana bersama pelayannya, lalu dengan secara tiba-tiba dia menghilang umpatkan diri, membiarkan pelayannya melakukan perjalanan seorang diri. Setelah diketahuinya ketiga tentara itu terus mengikuti pelayannya, maka The Eng Lian memilih jalan lain buat mencapai tempat tujuan. Ada sebuah besi-pelat yang dipakai buat penutup liang yang bisa menembus ke tempat Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang terperangkap, dan bersusah payah The Eng Lian menggeser besi penutup liang itu. Sukar buat The Eng Lian melakukannya, sebab dia bertenaga lemah tidak memiliki kepandaian ilmu-silat, namun dia bertekad melakukannya dan mengerahkan tenaganya yang ada. Diluar dugaan dan diluar tahu The Eng Lian, dia kena menyentuh beberapa bagian yang menonjol tertutup batu-batu gunung; kemudian waktu The Eng Lian sudah berhasil menggeser besi penutup liang itu, maka diapun harus bersusah-payah turun melewati anak-tangga yang sengaja dibikin dari bahan besi, yang ternyata sangat licin penuh lumut, sehingga tiba-tiba dia tergelincir dan terjatuh. Tubuh The Eng Lian terbanting dibagian dasar liang yang banyak terdapat batu-batu gunung, sehingga The Eng Lian jatuh sakit bahkan sebelah kakinya terkilir sehingga tidak mungkin lagi dia melangkah meneruskan perjalanannya dan terpaksa harus merangkak seperti menyeret tubuhnya, mengakibatkan dia semakin merasa sakit dan pedih, karena dalam liang itu ternyata penuh dengan batu-batu cadas yang tajam runcing, sehingga seluruh tubuhnya penuh luka-luka mengeluarkan darah. Bagian-bagian yang menonjol dan yang kena disentuh oleh The Eng Lian tadi, sebenarnya merupakan tempat curahan sumber air gunung. Dari celah-celah yang membuka kena disentuh oleh kaki The Eng Lian, kemudian mengalir air gunung yang lambat laun semakin besar dan semakin banyak mengeluarkan air; lalu tanah disekitar sumber mata-air itu menjadi bobol, mengeluarkan air yang sangat derasnya, dan semua air itu langsung masuk kedalam liang bekas tempat The Eng Lian masuk dan terjatuh. The Eng Lian menjadi sangat terkejut waktu secara mendadak merasakan tubuhnya basah dengan air, selagi dia merangkak hendak mencapai tempat tujuan. Kemudian dia menjerit ketakutan, waktu didengarnya suara gemuruh air yang dengan sangat cepatnya sedang mendatangi kearah dia. Sementara itu keadaan liehiap Liu Giok Ing sangat lemah sekali, menderita rasa lapar dan haus, dan disamping itu juga menderita sakit karena luka yang dia derita. Juga keadaan Kwee Su Liang serupa seperti liehiap Liu Giok Ing. Akan tetapi oleh karena mereka berada berdua; oleh karena mereka sempat melepas hasrat-cinta yang sekian lamanya terpendam dalam hati mereka. Dalam keadaan yang seperti itu, mereka rela menghadapi kematian; bahkan tak ingin mereka melepaskan rangkulannya, sampai secara sayup-sayup mereka mendengar pekik-suara seseorang, pekik suara seorang perempuan yang terdengar sedang dalam keadaan ketakutan. Sempat Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing saling mengawasi. Ada sedikit sinar yang menerobos dari sebelah utara, sehingga keduanya semakin menjadi bertambah heran, akan tetapi mereka bagaikan tidak berdaya untuk bergerak, sebab keadaan mereka yang sangat lemah tidak bertenaga, sampai kemudian mereka pun ikut mendengar suara gemuruh air yang sedang mendatangi. Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing menjadi sangat terkejut, mereka menduga pihak musuh ingin membunuh mereka, membiarkan mereka mati kelelap di air. Semakin erat Kwee Su Liang merangkul kekasihnya, juga Liu Giok Ing melakukan perbuatan yang sama; tetapi mereka sempat meraih pedangnya, bagaikan siap menghadapi ancaman binatang air yang buas, yang mungkin sengaja dilepaskan oleh pihak musuh. Waktu air mulai membasahi dan merendam tubuh mereka berdua yang rebah saling berangkulan, sempat Kwee Su Liang serta Liu Giok Ing kena minum air itu, tanpa mereka sengaja melakukannya sehingga rasa haus itu mendadak hilang, maka ada sedikit tenaga Kwee Su Liang serta Liu Giok Ing, dan mereka mulai berenang melawan arus air, meskipun tenaga mereka belum pulih semuanya. Kemudian Liu Giok Ing beserta Kwee Su Liang menjadi semakin terkejut, ketika mereka menemukan mayat seorang perempuan yang mengambang mengikuti arus air yang sangat deras; tetapi saat itu mereka tak sempat menghiraukan mayat itu, dan bersusah-payah mereka berenang sangat lambat melawan arus air, hendak mencapai pusat sinar yang secara samar-samar kelihatan masuk. Sementara itu air sudah semakin memenuhi liang tempat mereka berdua, sehingga hampir menyentuh bagian atas dari dinding liang; dan mereka tiba ditempat penutup liang, disaat air sudah mulai meluap tinggi sehingga tak perlu lagi mereka menaiki anak tangga. “Liang-ko, ternyata kita selamat …” Liu Giok Ing bersuara lemah, rebah beristirahat didekat sumber mata-air, tanpa menghiraukan tempat disekitarnya sudah mulai digenangi air yang meluap. “Ya, kita selamat …..” sahut Kwee Su Liang, juga lemah suaranya; namun dengan merangkak dia mengajak Liu Giok Ing menjauhi tempat itu, mencapai dataran yang lebih ting gi, khawatir air semakin banyak yang meluap. Matahari mulai membenam disebelah barat, waktu Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing bersusah payah berada didaerah pegunungan, didekat tempat bekas mereka keluar dari ruang perangkap. Tidak ada makanan yang mereka dapat makan, akan tetapi mereka sudah minu cukup, sehingga ada sedikit tenaga mereka buat jalan secara lambat-lambat, tetap sambil saling berpegangan tangan; sampai mendadak mereka menemukan mayat seorang perempuan; yang tewas dengan tubuh luka-lu ka bekas kena senjata tajam, serta dalam keadaan telanjang bekas diperkosa orang. Dari pakaian perempuan yang mereka temukan, Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing merasa yakin bahwa perempuan itu seorang pelayan, entah pelayan siapa dan entah perbuatan siapa, tidak diketahui oleh mereka berdua; akan tetapi Liu Giok Ing sangat marah karena melihat kaumnya telah dihina orang. Dia bertekad hendak segera mendatangi ketempat ciangkun Sie Pek Hong, buat melakukan balas dendam, akan tetapi Kwee Su Liang dapat membujuk, mengingat keadaan mereka sangat lemah, disamping pihak musuh terlalu banyak bahkan beberapa orang yang sakti ilmunya. oleh Kwee Su Liang kemudian disarankan, bahwa mereka berdua akan mengunjungi pangeran Gin Lun dikota San-hay koan, membentangkan semua niat buruk dari pangeran Kim.Lun; untuk kemudian mereka mengumpulkan tenaga menggempur pangeran Kim Lun; menggagalkan niat buruk pangeran itu dan sekaligus menangkapnya untuk dibawa menghadap kepada sri baginda maharaja. Sejenak Liu Giok Ing terdiam.mendengarkan sarannya Kwee Su Liang, dan sekilas dia teringat dengan pertemuannya pada Kanglam liehiap Soh Sim Lan, sehingga terpikir olehnya kalau-kalau ada hubungan yang erat antara Soh Sim Lan dengan pangeran Gin Lun, dan terpikir juga olehnya tentang nasibnva sendiri yang telah ditinggal mati oleh suaminya, Giok Lun Hoat Ong, sedangkan Kwee Su Liang tentu bakal kembali kepada anak dan isterinya. “Liang ko …” tiba-tiba Liu Giok Ing bersuara perlahan, dan air matanya ikut berlinang keluar, berhasil membikin Kwee Su Liang terkejut dan menanya : “Giok moay; mengapa kau mengeluarkan air mata …?” “Liang ko, Aku sebenarnya ingin mati bersama-sama kau …” sahut Liu Giok Ing yang semakin membikin Kwee Su Liang jadi bingung tidak mengerti. “Giok-moay, apa sebabnya kau berkata begitu…? tanya laki laki itu, yang memerlukan memegang sepasang tangan liehiap Liu Giok Ing; yang kelihatan semakin terisak menangis- FAku.malu, Liang ko- Malu kalau aku nanti bertemu dengan istrimu—‘ Sejenak Kwee Su Liang ikut terdiam, bagaikan dia baru teringat dengan anak dan istrinya, tetapi dia merangkul Liu Giok Ing erat-erat, lalu seperti membisik dia berkata didekat telinga kekasihnya- ‘Giok+moay,aku yakin aku bisa memberikan pengertian kepada Gwatemoay- Dia memang mengetahui bahwa hatiku tak mungkin melupai kau, meskipun aku telah.menikah dengan dia—,” Tambah erat Liu Giok Ing merangkul laki-laki yang dicintainya itu, dan tambah terisak dia menangis- Benar-benar dia menjadi bingung dan gelisah; sebab dia tidak menduga bahwa dia bakal hidup lagi, setelah dia merasa tiada kemungkinan buat meloloskan diri dari perangkap- Dia memang sungguh-sungguh.menyintai Kwee Su Liang, akan tetapi dia tidak mau mengorbankan Lie Gwat Hwa yang sudah menjadi isteri dari laki-laki yang dicintainya itu; apalagi mereka telah memunyai seorang anak- Dalam keadaan yang seperti itu; liehiap Liu Giok Ing merasa ingin mati supaya tak berpisah lagi dengan laki-laki yang dicintainya, tetapi Kwee Su Liang berhasil membujuknya, sehingga dia.menurut seperti yang disarankan Kwee Su Liang. Mereka terpaksa harus menunggu sampai malam, setelah itu Kwee Su Liang mendatangi temat dia.menginap buat.mengambil bungkusan pakaiannya, sekalian dia membeli seperangkat pakaian buat liehiap Liu Giok Ing, dan.mereka tinggalkan kota Oei-kee tin, tanpa mereka mengetahui bahwa dirumah ciangkun Sie Pek Hong sedang menghadapi kesibukan, sebab adanya air yang membikin keadaan rumah menjadi banjir, disamping mereka sedang kehilangan isterinya Sie Pek Hong yang pergi meninggalkan rumah, tanpa.mereka mengetahui bahwa The Eng Lian sudah binasa didalam liang-perangkap, sedangkan pelayannya ikut tewas sebagai korban keganasan anak buahnya Ma Kong.
Sementara itu, selama tiga hari Kwee Su Liang melakukan perjalanan menuju kota San hay koan, mendampingi liehiap Liu Giok Ing yang sekarang sudah dia anggap menjadi isterinya, sehingga sempat mereka memadu kasih selama melakukan perjalanan itu, akan tetapi selekas mereka tiba ditempat tujuan, sudah tentu dipihak istana Gin Lun Hoat ong menjadi sangat terkejut, hampir menjadi pertempuran andaikata Kwee Su Liang tidak berhasil memberikan penjelasan dan pengertian. Lo-ciangkun atau perwira-tua yang sebelah kakinya kena dibikin buntung oleh liehiap Liu Giok Ing, ternyata telah tewas membunuh diri, sehingga liehiap Liu Giok Ing ikut mengeluarkan air-mata menyesali akan perbuatannya. Sedangkan Gin Lun Hoat-ong yang ikut mendengarkan penjelasan dari Kwee Su Liang, merasa sangat terkejut dan penasaran ketika tahu siasat adu-domba yang dilakukan pihak Kim Lun Hoat-ong, yang sengaja telah memfitnah liehiap Liu Giok Ing dan hendak melakukan perbuatan makar melawan sri baginda maharaja. Pangeran Gin Lun kemudian menyadari bahwa perbuatannya liehiap Liu Giok Ing yang datang dikota oei kee tin, bukan maksud mengacau; sebaliknya justeru pangeran Gin Lun yang telah dihasut oleh pihak anak buahnya tjiangkun Sie Pek Hong, yang sengaja datang membawa kabar, mengatakan liehiap Liu Giok Ing hendak datang mengacau; sehingga pangeran Gin Lun telah mengatur persiapan memasang perangkap, sebab waktu pangeran Gin Lun menganggap benar-benar liehiap Liu Giok Ing yang menjadi pelaku peristiwa pembunuhan dikota-raj a, juga di istana tempat kediaman pangeran Gin Lun. Kemudian pangeran Gin Lun yang juga turut merasa menyesal dan ikut berduka-cita, ketika diketahuinya bahwa kakaknya, pangeran Giok Lun, ikut menjadi korban sehingga tewas akibat perbuatan fitnah yang dilakukan oleh pihak pangeran Kim Lun! Mengenai Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang sudah tidak ada lagi di kota San-hay koan, dikatakan oleh pangeran Gin Lun bahwa waktu itu Kanglam liehiap Soh Sim Lan hanya singgah, membawa pesanan dari pangeran Bok Lun buat disampaikan kepada pangeran Gin Lun. Waktu itu Kanglam liehiap Soh Sim Lan juga menjadi bingung waktu menghadapi perbuatan Liu Giok Ing, hasrat hatinya ingin benar dia melakukan penyelidikan, akan tetapi Kanglam liehiap Soh Sim Lan sedang sibuk, membawa tugas rahasia dari pangeran Bok Lun yang berkedudukan dikota Ceng-kang, sebab waktu itu pihak perampok bangsa Jepang sedang meraja-lela di sepanjang pesisir Tay-ciu, yang letaknya di sebelah timur kota Ceng kang. Gin Lun Hoat ong kemudian menyetujui usul Kwee Su Liang, untuk menggempur pihak Kim Lun Hoat ong dan berusaha menangkap untuk dibawa menghadap kepada sri baginda maharaja, tetapi untuk maksud itu, pangeran Gin Lun perlu menyusun tenaga, disamping siasat tersebut perlu juga harus diusahakan tenaga bantuan, mengingat pangeran Kim.Lun mempunyai para pembantu yang tinggi dan sakti ilmunya. Akhirnya diputuskan bahwa liehiap Liu Giok Ing ditugaskan untuk melatih para perwira yang bertugas di istana pangeran Gin Lun, sementara Kwee Su Liang akan berangkat ke kota-raja buat memberikan laporan kepada sri baginda maharaja; setelah itu Kwee Su Liang berjanji akan kembali berkumpul dengan liehiap Liu Giok Ing di kota San-hay koan, untuk bersama-sama mengganyang istana pangeran Kim Lun di kota Oei- kee tin. Kwee Su Liang yang memang sempat mengetahui kedatangannya pihak tentara negeri, segera mengenali perwira itu yang ternyata bernama Lim Su Kie. “Lim ciangkun, jangan biarkan ada kawanan perampok yang melarikan diri. Habiskan mereka semua …!” Kwee Su Liang ikut berteriak, membakar semangat pembantunya yang masih muda itu; sehingga Lim Su Kie menjadi bertambah girang dan bertambah semangat tempurnya menghadapi kawanan perampok yang ganas itu. Sementara itu, penduduk setempat yang juga ikut mengetahui bahwa gubernur mereka sedang bertempur menghadapi kawanan perampok, maka kaum laki-laki yang masih muda, ikut membantu memberikan perlawanan terhadap kawanan perampok; sehingga dalam sekejap kawanan perampok itu menjadi bercerai-berai, banyak yang berusaha hendak melarikan diri, namun tidak diberi kesempatan oleh pihak tentara negeri, maupun oleh penduduk yang sudah bangkit semangat perlawanan mereka. Dipihak Kwee Su Liang, dia ikut memperhebat serangannya, sehingga berhasil melumpuhkan dua orang pimpinan kawanan perampok yang sedang mengepung; dan kedua kawanan perampok itu lalu dibinasakan oleh serombongan tentara negeri. Pimpinan perampok yang bertubuh tinggi besar, yang tadi kena dilempar oleh Kwee Su Liang; terdengar berteriak marah ketika dilihatnya dua orang rekannya kena ditewaskan. Dengan tenaganya dahsyat, dia membacok Kwee Su Liang memakai goloknya yang berat; akan tetapi dengan lincah Kwee Su Liang berhasil menghindar dari bacokan itu, lalu dengan gerak tipuan ‘sin liong jip hay’ atau naga sakti terjun ke laut, dia menikam ke bagian dada lawannya yang tetap mencapai sasaran, sehingga perampok bertubuh tinggi besar itu rubuh tewas seketika ! Pihak kawanan perampok semakin menjadi berkecil hati, ketika tiga orang pemimpin mereka telah ditewaskan; mereka berusaha hendak melarikan diri, akan tetapi mereka tidak diberikan oleh pihak tentara negeri maupun oleh pihak penduduk yang telah bangkit kemarahannya, dan yang saat itu langsung dipimpin oleh gubernur mereka, Kwee Su Liang. Mayat-mayat kawanan perampok akhirnya habis tewas semuanya, tanpa ada seorang pun yang berhasil dengan melarikan diri; sedangkan Kwee Su Liang kemudian memerlukan memberi perintah kepada pihak tentara, untuk bantu memadamkan api yang sedang berkobar-kobar membakar rumah penduduk, serta memberikan pesan kepada ciangkun Lim Su Kie supaya berusaha mengamankan daerah setempat; setelah itu Kwee Su Liang buru-buru meneruskan perjalanannya, hendak menemui anak dan isterinya, oleh karena hatinya semakin menjadi cemas ketika Lim ciangkun memberitahukan bahwa gedung tempat kediamannya, sudah beberapa kali diserbu oleh kawanan perampok yang ternyata banyak rombongannya. Hari sudah mendekati magrib ketika Kwee Su Liang memasuki kota Gan-bun koan, dan dia langsung menuju gedung tempat kediamannya, yang kelihatan dijaga ketat oleh sepasukan pengawal bersenjata siap bagaikan keadaan perang. Kedatangan Kwee Su Liang sudah tentu disambut dengan gembira oleh para perwira, maupun oleh segenap tentara yang sedang bertugas dibawah perintah Kwee Su Liang, akan tetapi pada wajah mereka kelihatan jelas bahwa mereka dalam keadaan gugup dan cemas, menambah keadaan Kwee Su Liang semakin jadi bertambah gelisah.
Sementara itu, hui thian Hong lie Lie Gwat Hwa langsung menangis didalam rangkulan suaminya, juga Sie Kim Lian berdua Kwee Giok Cu yang kebenaran berada didekat bibik mereka, ikut terisak menangis. “Gwat moay, tenangkan hatimu dan ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi …” Kwee Su Liang berusaha menghibur isterinya, meskipun keadaannya sendiri sedang merasa gelisah dan cemas, karena dia tidak melihat kehadiran puteranya, juga kedua bibiknya. ‘Hui thian liong 1i‘ Gwat Hwa masih terisak menangis, waktu dia berusaha menceritakan kepada suaminya, tentang peristiwa yang telah terjadi selama suaminya sedang menjalankan tugas ke kota raja : “Malapetaka telah terjadi setelah siang-kong pergi; kawanan perampok bangsa Watzu secara mendadak memasuki kota dan melakukan perampokan; sehingga . , . sehingga ..” Kwee Su Liang merasa sangat tegang ketika isterinya seperti tidak sanggup meneruskan perkataannya. Bagaimana dengan keadaan puteranya dan kedua bibiknya ? “Teruskan, moay-moay …” akhirnya Kwee Su Liang berkata secara lembut, sambil dia membelai bagian kepala isterinya. “Anak kita; Siangkong; Bun jie. Dia, dia…” Bertambah kaget Kwee Su Liang, dan semakin dia menjadi merasa cemas. “Bun jie, kenapa dia moay-moay ?” “Setengah bulan yang lalu, siangkong, waktu pertama kali terjadi kawanan perampok melakukan penyerangan terhadap tempat kita, Bun jie mendadak hilang …” “Hilang ? Maksud moay-moay ditawan kawanan perampok atau ..,” tak sanggup Kwee Su Liang melengkapi kalimat pertanyaannya tidak ada kemampuannya untuk menyebut kata—kata ‘mati’ buat anaknya, Kwee Bun San ! “Waktu itu sedang terjadi pertempuran yang serba kacau; dengan secara mendadak datang seekor harimau putih yang besar, dan … dan …” “Harimau putih … ?” bagaikan tak sadar Kwee Su Liang mengulang perkataan isterinya; dan secara mendadak dia pun teringat dengan si kakek yang sakti, Lauw Tong Sun. Mungkinkah anaknya dibawa lari oleh harimau putih yang miliknya si kakek sakti itu? “Ada beberapa orang tentara yang melihat, bahwa Bun jie naik dibagian punggung harimau itu, dan harimau itu melarikan Bun jie; sedangkan Kwee subo, dia … dia matil.
Dipihak Kwee Su Liang, sesungguhnya Kwee Su Liang menghadapi lawan berat yang merupakan Kwan gwa ngo-houw, atau lima macan dari Kwan—gwa. Dahulu dia pernah mengalahkan kawanan berandal itu, hanya melulu karena dia didampingi oleh liehiap Liu Giok Ing; sehingga mereka mengerahkan ilmu sepasang pedang yang bersatu padu akan tetapi sekarang hanya seorang diri dia harus menghadapi lima macan yang tinggi ilmunya itu, serta merupakan orang-orang yang ganas dan kejam! Dengan mengandalkan ilmu silat pedang pek-bankiam-hoat” atau sejuta pedang, berhasil Kwee Su Liang menutup diri dari berbagai serangan pihak lawan yang mengepung akan tetapi terasa sukar buat dia melakukan serangan balasan, sebab pihak lawan secara silih berganti tak putusnya melakukan serangan secara gelombang. Sementara itu Kwee Su Liang juga merasa cemas memikirkan isterinya yang dirumah yang sedang menemani bibiknya yang terluka parah. Dia khawatir bahwa pihak berandal memecah tenaga dan melakukan penyerangan dirumahnya, sehingga sukar isterinya memberikan perlawanan, disamping harus melindungi sang bibik yang sedang terluka, dan melindungi kedua keponakan mereka, Sie Kim.Lian dan Kwee Giok Cu yang masih belum dewasa, meskipun mengerti ilmu silat. Da1am.memberikan perlawanan terhadap lima orang para pengepungnya, masih sempat Kwee Su Liang memperhatikan keadaan ciangkun Lim Su Kie. Pemuda itu memang gigih bertempur, meskipun dia sudah terluka dan beberapa kali kena ditendang, pemuda itu memang berhasil membinasakan dan mel ukai beberapa orang pasukan kawanan berandal, akan tetapi kawanan berandal itu sangat besar jumlahnya, sedangkan dipihak tentara negeri juga sudah banyak yang menjadi korban binasa atau terluka. Jelas Kwee Su Liang berada didalam keadaan gelisah dan cemas, selagi dia harus menghadapi pertempuran yang berat, yang sewaktu—waktu bisa membinasakan dia. Terasa dia sangat penasaran karena pihak berandal bangsa Watzu, ternyata sekarang sudah bekerja sama dengan pihak berandal bangsa cina: sedangkan pihak kota—raja ternyata tidak ada perhatian buat mengirimkan bala bantuan. Entah apa yang akan terjadi, kalau pihak tentara bangsa Watzu yang datang menyerang; sukar buat dia melakukan pertahanan tanpa adanya bala—bantuan dari kota raja. Selagi keadaan Kwee Su Liang dalam gelisah dan cemas serta diancam oleh bahaya maut, secara mendadak datang bantuan berupa dua orang pendekar perempuan, yang datang dengan naik kuda, akan tetapi langsung lompat turun dan memberikan bantuan kepada Kwee Su Liang. Sudah tentu Kwee Su Liang menjadi sangat girang dan bertambah semangat tempurnya, sebab dua pendekar perempuan yang memberikan bantuan itu, ternyata adalah Kanglam liehiap Soh Sim Lan berdua liehiap Liu Gwat Go yang adiknya Liu Giok Ing. (Bersambung ke jilid : 7) KANGLAM liehiap Soh Sim Lan melakukan perjalanan membawa tugas rahasia dari pangeran Bok Lun, yang berkedudukan di kota Ceng-kang; sebab waktu itu pihak perampok bangsa Jepang sedang merajalela disepanjang pesisir Tay—ciu. Dalam perjalanannya itu, sempat Kanglam liehiap Soh Sim Lan singgah ditempat pangeran Gin Lun, menyampaikan pesan dari pangeran Bok Lun; dan sempat dia dibikin penasaran oleh perbuatan liehiap Liu Giok Ing yang terpaksa harus dia tempur, disaat Giok Ing ingin membinasakan pangeran Gin Lun. Ingin Kanglam liehiap Soh Sim Lan melakukan penyelidikan, apa sebenarnya yang menyebabkan liehiap Liu Giok Ing melakukan pembunuhan—pembunuhan dikota raja bahkan juga didalam istana pangeran Gin Lun; akan tetapi Kanglam liehiap Soh Sim Lan tidak sempat melakukan penyelidikan itu, sebab dia mengetahui betapa pentingnya membawa tugas rahasia dari pangeran Bok Lun, karena adanya kerja sama yang berupa maksud tidak baik antara pihak kawanan bajak bangsa Jepang, dengan pihak seorang pangeran yang masih dia rahasiakan namanya. Kemudian secara kebenaran Kanglam liehiap Soh Sim Lan bertemu dengan Liu Gwat Go yang menjadi saudara—seperguruannya dan Liu Gwat Go ini justeru adalah adik kandung dari liehiap Liu Giok Ing. Maka diceritakan oleh Kanglam liehiap Soh Sim Lan kepada liehiap Liu Gwat Go, tentang perbuatan yang dilakukan oleh sang kakak, Liu Giok Ing. Pada mulanya sudah tentu Liu Gwat Go tidak percaya dengan keterangan yang didengarnya itu, akan tetapi kemudian dia menjadi ikut merasa penasaran. Dia ikut melakukan perjalanan bersama Kanglam liehiap Soh Sim Lan, ingin memberikan bantuan kepada pangeran Bok Lun; akan tetapi liehiap Liu Gwat Go menyarankan supaya singgah diperbatasan kota Gan—bun koan, buat menemui sipendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang dan menanyakan keterangan tentang liehiap Liu Giok Ing. “Mengapa harus menanyakan kepada dia… ?” tanya Kanglam liehiap Soh Sim.Lan yang merasa heran karena tidak mengerti maksud rekannya. “Sebab dulu dia merupakan pacarnya ci ci, sehingga mungkin dia mengetahui 1atar—belakang dari perbuatan Ci ci ini …” sahut liehiap Liu Gwat Go sambil bersenyum: dan berhasil membikin Kanglam liehiap Soh Sim Lan menyetujui usulnya buat bertemu dengan Kwee Su Liang. Akan tetapi, selekas mereka memasuki kota Gan—bun koan, mereka melihat adanya kawanan perampok bangsa Watzu yang sedang bertempur melawan tentara negeri. Sehingga mereka memerlukan mendekati dan mengetahui bahwa Kwee Su Liang sedang dikepung oleh lima—macan dari Kwan—Gwa, yang juga sudah dikenal oleh kedua wanita perkasa itu. Keadaan pertempuran sudah tentu menjadi berubah Setelah pihak Kwee Su Liang mendapat bantuan dari kedua wanita yang perkasa itu; bahkan Waktu yang singkat Kwee Su Liang berhasil membinasakan simacan ke empat Su—houw, sedangk an Kang Lam liehiap Soh Sim Lan kebagian simacan ke-tiga Sam—houw, dan liehiap Liu Gwat Go membinasakan simacan ke—lima Ngo—houw. Toa—houw berdua Jie—houw yang cerdik dan licik berhasil mendahului kabur, tanpa menghiraukan pihak tentara bangsa Watzu yang sedang diamuk oleh rombongannya Kwee Su Liang. Mereka bahkan kabur kearah lain bukan kembali kedaerah kekuasaan bangsa Watzu, sebab mereka merasa malu untuk bertemu lagi dengan pihak pemerintah negara Watzu! Setelah berhasil mengganyang kawanan berandal sehingga sisa hanya beberapa orang berandal yang berhasil kabur, maka Kwee Su Liang mengucap terima kasih kepada Kanglam Soh Sim.Lan berdua Liu Goat Go, dan Kwee Su Liang mengundang kedua pendekar wanita itu untuk singgah dirumahnya. Akan tetapi, selagi mereka dalam perjalanannya menuju tempat kediaman Kwee Su Liang, maka liehiap Liu Gwat Go telah menanyakan perihal Liu Giok Ing kepada Kwee Su Liang, dan Kwee Su Liang lalu menceritakan semuanya, kecuali bagian kisah-kasih yang dirahasiakan oleh Kwee Su Liang; sampai dikatakan olehnya bahwa waktu itu Liu Giok Ing sedang berada di kota San—hay koan ditempat pangeran Gin Lun. Maka jelas keadaannya bagi Kanglam liehiap Soh Sim Lan berdua liehiap Liu Gwat Go, tentang peristiwa fitnah yang dialami oleh Liu Giok Ing; dan liehiap Liu Gwat Go kemudian menyatakan hendak langsung menemui kakaknya, batal singgah dirumahnya Kwee Su Liang, tanpa Kwee Su Liang dapat memaksa. Terpaksa Kwee Su Liang membiarkan kedua pendekar wanita itu meninggalkan kota Gan—bun koan, tanpa dia mengetahui bahwa ditengah perjalanan Kanglam liehiap Soh Sim Lan juga berpisah dengan liehiap Liu Gwat Go, setelah mereka berjanji akan bertemu lagi ditempat pangeran Bok Lun, dan liehiap Liu Gwat Go akan mengajak kakaknya. Keadaan Kwee Su Liang kelihatan lesu tidak bersemangat, waktu dia melakukan perjalanan pulang sehabis mengganyang kawanan perampok. Lesu sebab secara mendadak dia teringat lagi dengan liehiap Liu Giok Ing yang dia tinggalkan di kota San—hay koan, sehingga berulang lagi dia merasakan rindu ingin bertemu, akan tetapi saat itu dia sedang dihadapi urusan kawanan perampok bangsa Watzu, serta anaknya yang masih hilang belum diketahui nasibnya. Waktu sudah tiba dirumahnya dan bertemu dengan isterinya, maka Kwee Su Liang menceritakan tentang peristiwa pertempuran tadi, juga tentang pertemuannya dengan kedua pendekar wanita yang memang sudah dikenal oleh ‘hui-thian liang-1i’ Lie Gwat Hwa isterinya Kwee Su Liang. “Mengapa mereka tidak singgah dulu ….?” tanya Lie Gwat Hwa yang kelihatan berpikir; mungkin teringat olehnya bahwa liehiap Liu Gwat Go memang pernah merasa tidak senang Waktu mengetahui Kwee Su Liang batal menikah dengan Liu Giok Ing. “Mereka sedang sibuk, terutama Kanglam liehiap Soh kouwnio yang sedang membantu pihak Bok Lun Hoat—ong, sebab ternyata bukan melulu kawanan berandal dari suku bangsa Watzu yang sedang mengganas didaratan negara kita, bahkan juga kawanan berandal bangsa Jepang sedang mengganas di sepanjang pesisir Tay ciu …. ” kata Kwee Su Liang yang memberikan penjelasan kepada isterinya. “Kita memiliki raja yang tak becus mengatur pemerintahan, bisanya cua menggilir selir …” sahut Lie Gwat Hwa yang merasa kecewa, namun sempat membikin sekilas Kwee Su Liang merasa panas—mukanya, sebab secara mendadak dia teringat lagi dengan liehiap Liu Giok Ing, yang seolah-olah sudah menjadi ‘selir’ nya ! Memang pernah terpikir oleh Kwee Su Liang, bahwa dia hendak memberitahukan isterinya tentang dia telah menjadikan Liu Giok Ing sebagai bini mudanya; akan tetapi secara mendadak dia dihadapkan dengan peristiwa kawanan perampok bangsa Watzu, serta tentang hilangnya anaknya dan tewasnya bibiknya, sehingga tidak ada kesempatannya buat dia membicarakan urusan Liu Giok Ing kepada isterinya. Akan tetapi Setelah kedatangannya diri Liu Gwat Go yang adiknya Liu Giok Ing, maka teringat lagi Kwee Su Liang dengan urusan ‘bini-muda’ itu; dan terpikir olehnya, mungkinkah isterinya akan kesudian dimadu ? Apakah dia dibolehkan mempunyai bini—muda? Apalagi dengan Liu Giok Ing yang pernah ditempur oleh isterinya, waktu dahulu isterinya membela Kwee Su Liang didalam urusan sengketa dendam.keluarga ! Sukar rasanya buat Kwee Su Liang memberikan pengertian kepada isterinya, meskipun dihadapan Liu Giok Ing pernah Kwee Su Liang mengatakan, bahwa tidak sukar buat dia bicara dengan isterinya. Sementara itu ‘hui—thian liong li‘ Lie Gwat Hwa yang tidak mengetahui tentang yang sedang dipikirkan oleh suaminya, untuk yang kesekian kalinya dia menyatakan rasa cemasnya tentang nasib anaknya yang tidak diketahui jejaknya. Ingin Lie Gwat Hwa yang mengajak sang suami buat mencari anak mereka, akan tetapi tugas negara ternyata sedang membutuhkan tenaga mereka: sehingga sampai sedemikian lamanya mereka tidak mempunyai kesempatan buat mencari jejak anak mereka. Kemudian tentang adanya Kwan gwa ngo—houw yang bergabung dengan pihak kawanan berandal bangsa Watzu, bukan melulu menjadi bahan pemikiran Kwee Su Liang; bahkan Lie Gwat Hwa ikut memikirkan. Mungkinkah perbuatan kawanan perampok itu didalangi oleh pihak pemerintah bangsa Watzu, yang sengaja hendak mengacau dinegeri cina? Keadaan menjadi sangat gawat bagi kota Gan bun koan, kalau sampai benar pihak pemerintah bangsa Watzu ingin melakukan penyerangan, selagi bantuan dari kota—raja belum kunjung tiba. Terpaksa malam itu juga Kwee Su Liang menulis surat lagi, berupa laporan buat sri baginda maharaja dan sekali lagi dia minta segera dikirimkan bala bantuan tentara. — oooco —
=====
SEBENARNYA sri baginda maharaja cukup arif dan bijaksana, tetapi sang baginda maharaja ini mempunyai kelemahan sebagai seorang laki laki, yaitu mudah tergoda oleh wanita cantik. Sudah ada 16 selir yang dimiliki oleh sri baginda maharaja itu disamping seorang permaisuri dan bini-bini muda lainnya; akan tetapi waktu menteri kehakiman Pauw Goan Leng membawakan dara jelita, maka sepasang mata sri baginda maharaja jadi melotot seperti mata seekor ikan koki yang ‘kegerahan’. Menteri kehakiman Pauw Goan Leng datang menghadap kepada sri baginda maharaja dengan membawa Siu Lan bekas babu Giok Lun Hoat-ong; maksud menteri tua-tua keladi itu hendak memberikan laporan tentang Siu Lan yang katanya mengetahui rahasia bekas majikannya, bahwa Giok Lun Hoat-ong dipengaruhi dan dihasut oleh isterinya, untuk melakukan perbuatan makar, Akan tetapi, segala perkataan menteri kehakiman Pauw Goan Leng yang sedang memberikan laporan, tidak didengarkan oleh sri baginda maharaja sebab raja-tua itu sedang terpesona mengawasi Siu Lan yang sedang jungging-berlutut. Masih muda umur Siu Lan, bahkan terlalu muda; akan tetapi dia menyadari bahwa dia memiliki tubuh yang merangsang. Pernah dia suatu hari merayu bekas majikannya, namun dia tidak berhasil oleh karena Giok Lun Hoat-ong terlalu setia terhadap isterinya. Kemudian dia dibawa menghadap kepada menteri kehakiman Pauw Goan Leng yang tua tua keladi yang langsung ‘bertekuk-lutut’ tanpa Siu Lan perlu merayu; sebaliknya Siu Lan ogah melayani sebab menteri Pauw Goan Leng sudah tua, sedang kedudukkannya ‘cuma’ jadi menteri, bukan pangeran. Sedikit nyentrik sudah cukup membikin menteri Pauw Goan Leng tidak berkutik, dan Siu Lan mengarang ceritera tentang bekas majikannya yang katanya hendak melakukan perbuatan makar; karena bujuk dan hasut Cheng-hwa Liehiap Liu Giok Ing. Akhirnya Siu Lan berhasil minta diajak menghadap kepada sri baginda maharaja, karena menteri Pauw Goan Leng merasa mempunyai kesempatan naik-pangkat dan naik-gaji. Tetapi, kerling dan lirikan sepasang mata Siu Lan yang tajam melebihi mata-pedang berhasil membikin sepasang mata sri baginda maharaja jadi melotot ogah ngedip, bahkan hatinya ikut meronta seperti mau copot, sedangkan sepasang lututnya terasa kegajahan sehingga hampir hampir sang maharaja ini ikut berlutut dihadapan Siu Lan, supaya dia bisa ‘ngadu’ hidung dengan si ‘Inem’ yang sexy. “Pangeran Giok Lun mau berontak …” kata menteri kehakiman Pauw Goan Leng yang memberikan laporan; dan sri baginda maharaja manggut-manggut bersenyum, bukan marah-marah. Sebab didalam hati dia sedang berpikir: hati siapa yang tidak ikut berontak, melihat bibir-merah yang segar seperti mengundang selera untuk digigitnya. “Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing pintar merayu dan pandai II menghasut suami … menteri Pauw Goan Leng menambahkan laporannya. “Persetan dengan si macan-betina yang galak itu…!” sri baginda maharaja menggerutu ngomel; sedangkan didalam hati dia berkata seorang diri: yang satu ini tentu tidak galak. Kecil- ramping bentuk tubuhnya, akan tetapi padat penuh liku-liku yang merangsang. “Macan-betina yang galak itu sekarang umpatkan diri didalam istana pangeran Gin Lun…” menteri Pauw Goan Leng yang menyambung laporannya, meskipun hatinya sedang ciut, takut Siu Lan direbut. “He-he he! kirim tentara, tangkap dia …?” sri baginda maharaja memberi perintah; akan tetapi buru-buru dia menambahkan perkataannya merasa ada yang lupa: ” …dan yang satu ini, siapa namanya…?” “Siu Lan …” sahut Siu Lan, mendahului menteri Pauw Goan Leng; selangit merdu suaranya; kalau menurut telinga sri baginda maharaja yang tuanya bersaing dengan menteri Pauw Goan Leng. “Nah, yang satu ini perlu ditahan sekarang perlu buat memberikan tambahan keterangan.. ,” Sri baginda maharaja menyudahi pembicaraannya dengan menteri Pauw Goan Leng dan menteri tua itu terpaksa pulang sendirian. Sakit hatinya, barang simpanannya diserobot oleh sang junjungan! Dayang dayang yang sudah pengalaman, segera menyadari bakal ketiban rejeki; ketika melihat kehadiran Siu Lan diistana sebelah kiri. Cepat-cepat mereka merubung membuka semua pakaian Siu Lan, perlu dimandi-in pakai 3 macam air kembang; digosok, disikat setelah itu disedu pakai air-susu; untuk kemudian diganti dengan pakaian dari bahan sutera yang tipis tipis, tembus pandang meskipun tujuh lapis. Tugas pertama yang harus dilakukan oleh Siu Lan, adalah numbuk- numbuk sepasang kaki sri baginda maharaja; akan tetapi gadis yang cantik merangsang ini ternyata memang pintar merayu, sehingga dalam waktu sehari-semalam dia berhasil membikin sri baginda maharaja kagak pulang-pulang ke tempat selir yang lain, dan pada malam berikutnya secara resmi Siu Lan dijadikan selir yang ke-17 atau yang termuda dari koleksi sri baginda maharaja! Dipihak menteri-kehakiman Pauw Goan Leng, segera dia menyusun sebuah surat perintah penangkapan terhadap diri Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang katanya sembunyikan diri didalam istana pangeran Gin Lun; dan menteri Pauw Goan Leng memerintahkan seorang perwira muda yang memimpin 30 orang tentara negeri buat melakukan penangkapan itu. Sudah tentu pangeran Gin Lun menjadi sangat terkejut, waktu diberitahukan tentang kedatangan pihak tentara negeri yang berusaha hendak menangkap liehiap Liu Giok Ing; sudah tentu pangeran itu tidak bersedia menyerahkannya, meskipun dia harus menentang perintah sri baginda maharaja yang menjadi ayahnya. Dipihak liehiap Liu Giok Ing yang mengetahui dirinya hendak ditangkap, dengan persetujuan pangeran Gin Lun maka dia pun terpaksa menyingkirkan diri; dengan mengatakan dia hendak menyusul Kwee Su Liang dikota perbatasan Gan bun koan ! Terpaksa tentara kerajaan itu kembali dan memberikan laporan kepada menteri-kehakiman Pauw Goan Leng, dengan mengarang cerita mengatakan mereka telah bertempur dengan liehiap Liu Giok Ing, namun si macan betina yang galak itu telah melarikan diri entah kabur ke mana ! Menteri kehakiman Pauw Goan Leng kemudian menyusul surat laporannya kepada sri baginda maharaja, namun sampai tujuh-belas hari dia tidak mendapat kesempatan ber temu dengan sri baginda maharaja, yang katanya lagi sakit pinggang. Sementara itu, si ‘Inem’ yang sekararg sudah resmi menjadi selir sri baginda maharaja; selain berhasil merayu raja yang tua-tua keladi itu, ternyata dia pun pandai memikat hati sri ratu yang menjadi permaisuri sri baginda maharaja, sehingga sri ratu ini merasa sayang kepada Siu Lan melebihi kasih sayang yang diberikannya kepada para selir yang lain. Jika berhadapan dengan sri ratu, maka Siu Lan bersikap rendah-diri, berlaku rajin merawat dan melayani segala keperluan sri ratu, dan pandai mengucap kata kata yang lembat manis; sehingga dengan cepat dia telah mendapat kepercayaan dari sri ratu, apa lagi dari sri baginda maharaja. Jelas Siu Lan yang sekarang sudah berbeda dengan Siu Lan yang dulu menjadi si inem, pakaiannya seluruhnya dari bahan sutera yang mahal harganya, dan dia bahkan selalu menggunakan berbagai macam alat kecantikan; sehingga semakin kelihatan kecantikannya dan semakin cepat sri baginda maharaja menderita sakit-pinggang meskipun dia sudah memperoleh 17 macam obat dari 17 sinshe istana-kerajaan. Dengan adanya sri baginda maharaja sering menderita sakit pinggang, maka sudah tentu tidak bisa memimpin sidang pemerintahan, sehingga surat permohonan dari Kwee Su Liang yang minta dikirimkan tentara bantuan, menjadi terbengkalai dan surat itu bahkan tidak ada yang berani membukanya, menunggu kehadirannya sri baginda maharaja. Para menteri yang setia sudah tentu menjadi sangat cemas dan gelisah, ketika mengetahui sri baginda maharaja sering menderita sakit pinggang; mereka cemas memikirkan kalau sri baginda maharaja akan wafat kena penyakit gempor. Sebaliknya para menteri yang berpihak dengan ke 16 pangeran, masing-masing menghasut supaya saling berlomba merebut kekuasaan; sebelum sri baginda maharaja menentukan siapa yang bakal menggantikan jadi raja. Dipihak Siu Lan yang baru menjadi selir, sudah tentu ikut menjadi resah dan gelisah, disamping dia merasa cemas bahwa dia bakal ditendang keluar istana, selekas sri baginda maharaja wafat. Sekilas terpikir oleh Siu Lan bahwa dia harus ‘mendekati’ dengan para pangeran yang ada didalam istana. Selalu dia merasa di-intai dan diperhatikan oleh para selir yang lain, yang selalu merasa iri hati; bahkan juga dari para bini-muda dan termasuk sri ratu yang dianggap sebagai perintang oleh Siu Lan. Salah satu selir yang merasa iri hati bahkan menyimpan dendam terhadap Siu Lan sudah tentu adalah selir yang ke 16; sebab selir ini merupakan selir kesayangan sri baginda maharaja sebelum kehadirannya Siu Lan yang menjadi selir yang ke 17. Selir yang ke 16 ini bernama Shiang Hwa, sebuah nama pemberian sri baginda maharaja yang nyimpan arti ‘seharum bunga mewangi’; sebab bau tubuh Shiang Hwa katanya seperti bau harumebunga. Shiang Hwa yang setiap hari harus mandi 17 kali dengan air kembang, memang cantik jelita, pendiam tidak banyak bicara akan tetapi pintar nyanyi, pintar nangis, pintar main kecapi dan pintar main-sandiwara alias pintar ‘ngibul’ dihadapan sri baginda maharaja. Umur Shiang Hwa baru 20 tahun sehingga merupakan selir yang termuda sebelum kedatangannya Siu Lan sekaligus merupakan yang tercantik pada waktu itu; akan tetapi menghadapi Siu Lan yang lirikan matanya memang maut disamping memiliki rayuan gombal yang bukan main, maka Shiang Hwa tidak berdaya melawan ulah si ‘Inem yang sexy’ itu. Jelas Shiang Hwa mempunyai dugaan bahwa Siu Lan tidak setulus hati menyerahkan diri kepada sri baginda maharaja, apalagi mencintai, sebab sri baginda maharaja sudah kakek-kakek. Jelas Shiang Hwa mempunyai dugaan bahwa Siu Lan menyimpan rahasia hati, seperti dia juga mempunyai rahasia hati; dan rahasia hati itu sudah tentu merupakan rahasia tentang sebuah hati yang sudah tercuri. Na, siapa yang telah mencuri hati Siu Lan, ini perlu diketahui oleh Shiang Hwa, untuk kemudian dia hendak melaporkan kepada sri baginda maharaja supaya Siu Lan dipupuk mental dan Shiang Hwa kembali menduduki tempat menjadi kesayangan sri baginda maharaja. Disamping Shiang Hwa, jelas masih ada selir atau selir lainnya yang merasa iri hati terhadap Siu Lan; dan mereka ini sudah tentu juga merasa iri hati terhadap Shiang Hwa. Jadi, saling menyimpan rasa iri hati sesama selir sri baginda maharaja itu, meskipun dalam pergaulan sehari hari mereka kelihatannya rukun saling tertawa dan saling bercanda. Sip Lun Hoat-ong atau pangeran yang ke sepuluh, yang usianya belum genap tiga puluh tahun; merupakan salah seorang pangeran yang belum kebagian tugas dari sri baginda maharaja, sehingga dia masih bebas keluyuran didalam istana. Memang dia kelihatan dimanja, disayang oleh sri baginda maharaja; sehingga terpikir oleh Sip Lun Hot ong dia mempunyai harapan bakal diangkat menjadi raja, kalau sang ayah masuk neraka. Tetapi kapan sang ayah itu mampus ? Terasa terlalu lama Sip Lun Hoat ong menunggu, kagak sabaran dia sebab ingin cepat-cepat menjadi raja. Akan tetapi, sudah pastikah dia yang bakal menggantikan jadi raja ? Ataukah sang ayah akan memilih pangeran yang lain? Bimbang hati Sip Lun Hoat-ong kalau dia teringat dengan kemungkinan lain pangeran yang bakal dipilih oleh sang ayah, sehingga diam diam Sip Lun Hoat-ong juga bermaksud hendak melakukan perbuatan makar, dan secara diam-diam pula dia telah menyediakan tenaga bayaran buat disuatu saat melakukan gerakan menggulingkan sang ayah dari ranjang, eh; dari pucuk pimpinan pemerintahan. Ada beberapa kelebihan Sip Lun Hoat-ong ini, kalau dibanding dengan beberapa pangeran yang lainnya. Kelebihannya ini antara lain tentang kebolehan tampangnya. Tampangnya yang mirip play-boy kelas super jetset alias kelas istana pintar ngoceh melepas rayuan-gombal; dan pintar bermain diranjang sehingga dia sering nyasar keatas ranjang ibu tiri alias para selir sri baginda maharaja. Sekilas pernah terpikir oleh Sip Lun Hoat-ong bahwa dia ingin coba-coba merayu sri ratu yang umurnya lebih tua dari ibunya; oleh karena dia menganggap bakal cepat menjadi raja kalau bisa membikin sri ratu jadi tergila-gila. Akan tetapi ternyata sri ratu sudah ‘dingin’ bahkan sudah beku seperti es yang membatu, sehingga sia-sia Sip Lun Hoat ong melepas rayuan gombal; namun berhasil juga dia memikat kucing belang yang piaraan sri ratu, yang jadi sering mengekor kalau Sip Lun Hoat-ong coba-coba memasuki kamar sri ratu. Mengenai sri baginda maharaja mengambil seorang selir baru yang bernama Siu Lan memang telah diketahui oleh Sip Lun Hoat ong; dan pangeran yang ‘play boy’ ini mengakui bahwa selir yang baru itu benar-benar memiliki muka dan potongan tubuh yang aduhai, tanpa dia mengetahui bahwa ‘orang baru’ itu sebenarnya merupakan bekas si `inem’ yang pernah bekerja pada Giok Lun Hoat-ong. Pernah sekali Sip Lun Hoat ong mengintai dan melihat Siu Lan, waktu Siu Lan berada seorang diri didalam kamarnya selagi Siu Lan membikin sulaman yang entah berbentuk apa.
=====
=====
Terasa seperti kegajahan sepasang lutut Sip Lun Hoat-ong yang mengawasi gerak sepasang tangan Siu Lan ditambah dengan pakaian yang tipis tipis yang menempel ditubuh si `inem’ yang sekarang sudah menjadi ‘nyonya-besar’; terasa seperti mau copot hati Sip Lun Hoat-ong yang terus berontak kagak betah diam, hampir- hampir sip Lun Hoat ong nekad hendak memasuki kamar itu, namun dia menyadari kepalanya bisa copot kalau dia berani memasuki kamar selir bapaknya disiang hari bolong terpaksa dia harus menunggu waktu malam dan selagi sinar bulan bersinar remang- remang. Akan tetapi kenyataannya setiap malam sri baginda maharaja masih betah ngumpet di kamar si Inem; sehingga Sip Lun Hoat ong kagak kebagian kesempatan buat ikut nyeplos kedalam kamar itu. Tiga bulan dia harus menunggu, dan selama tiga bulan itu sudah tentu dia merasa terlalu lama; bahkan selama tiga bulan dia mengintai buat mencari kesempatan, ternyata tiga kali dia kepergok oleh Shiang Hwa yang memang menyimpan rasa curiga, sehingga selama tiga kali itu Sip Lun Hoat-ong ‘nyasar’ memasuki kamar Shiang Hwa, bukan memasuki kamar Siu Lan. “Kalau kau berani coba-coba memasuki kamar kuntilanak itu, akan saya beritahu ayahmu; supaya kepala kau copot….” Shiang Hwa mengancam selagi dia berdua Sip Lun Hoat-ong sempat main cubit- cubitan. “E-eh, kalau kau berani mengadu, akan saya beritahukan kepada ayah bahwa kau sering nyubit-nyubit saya; dan saya bahkan mempunyai bukti menyimpan celana dalam…..” sahut Sip Lun Hoat-ong yang bersenyum simpul; dan melambaikan celana dalam Shiang Hwa yang warna merah-jambu bikin Shiang Hwa marah-marah manja dan menerkam seperti seekor lembu, maksudnya ingin merebut celana dalam yang dicuri oleh sang cowok komersil; namun Sip Lun Hoat-ong sangat tangkas bisa menyulap celana dalam itu menghilang, masuk kebagian dalam lengan baju yang potongan cut-brai. Shiang Hwa semakin jadi penasaran, dirangkulnya sang playboy kelas jetsets itu; akan tetapi waktu sang pangeran memberikan cup cup dicampur sedikit aji-no-moto Shiang Hwa langsung bertekuk lutut, lemas sepasang lututnya yang bukan lagi kegajahan. Repot Sip Lun Hoat ong yang harus mengangkat tubuh yang sudah terkulai itu direbahkan ditempat tidur; akan tetapi sang pangeran itu akhirnya mendapat tambahan 3 lembar celana dalam buat koleksi tabungannya yang sudah cukup banyak. Hobby. Pada suatu malam dan selagi sinar bulan nongol remang-remang, Sip Lun Hoat-ong mendapat kesempatan bertemu dengan Siu Lan; selagi si `inem’ yang ‘nyonya besar’ itu sedang duduk seorang diri didalam taman bunga. Dilihatnya oleh Sip Lun Hoat-ong bahwa saat itu sang kuntilanak, eh-sang bidadari sedang duduk melamun seorang diri; entah apa yang sedang diawasi, tetapi yang jelas bikin hati jadi tercuri. Berindap-indap Sip Lun Hoat-ong tambah mendekati, nengok-nengok takut ada yang pergoki; mengakibatkan sebelah kakinya nyangkut kena akar pohon kembang melati sehingga pangeran itu ngusruk dekat kaki sang bidadari. Kaget Siu Lan yang secara mendadak kejatuhan bulan, dan sepasang kakinya dipegang erat-erat bikin dia kagak bisa bangun dan kagak bisa lari; dan dia menjadi lebih kaget lagi waktu menyadari bahwa yang memegang sepasang kakinya itu, adalah seorang laki-laki muda yang tidak dikenalnya. Nunduk-nunduk Siu Lan ingin mengawasi muka laki-laki itu, membikin dia harus nungging-nungging melakukannya, ditambah sinking-sinking alias miring-miring; kalau kita minjam istilah Alstair Mclain yang bikin ceritera kapal perang Amerika diterjang telur pesawat terbang Jepang. Waktu muka lelaki itu dongak-dongak tanpa didongkrak, sempat hati Siu Lan berontak seperti nyepak-nyepak, entah ngajak ajojing atau entah ngajak ngibing. Yang jelas Siu Lan tetap nungging kagak bisa duduk lurus, selagi jiwanya merasa bergetar dan sepasang tangannya ikut gemetar; sehingga dua hidung mereka hampir nyerempat-nyerempet, seperti ngajak ‘cup-cup’. Didalam hati Siu Lan menilai, bahwa laki-laki itu masih muda dan seperti arjuna (kalau nginjam istilah Ku Lung seperti ‘Tong Tay Cu’, katanya); bibirnya tipis seperti bibir cewek, mukanya putih-klimis bukan model Sie Jin Kwie, senyumnya selangit dan sepasang matanya bersinar gemerlapan seperti bintang-bintang yang diatas sana, dan sinar mata yang ini benar benar bisa bikin jantung ngajak dang-dut. Nah, apa lagi yang mau dikata atau diketik, kalau dua hidung sudah mepet nyelekit, yang satu nungging-nungging yang lain oleng-oleng seperti ketiup angin, bikin dua hidung mereka gesek-gesek yang bukan digosok-gosok, malu-malu macan. Tetapi kurang ajarnya, hidung sang pangeran kena nyentuh di balik daun telinga Siu Lan; membikin jantungnya bukan lagi dangdut, tetapi terbalik menjadi dut-dang. “E-eh siapa kamu berani nyentuh-nyentuh hidung dengan aku …?” Siu Lan yang bersuara duluan; ngomel-ngomel walaupun suaranya seperti bisik-bisik. “Heh-heh …” Sip Lun tertawa dua kali heh; setelah itu buru-buru dia nyambung bicara: “… gini-gini aku ini adalah anakmu, meskipun cuma anak tiri , “Hi-hi …” ikut Siu Lan tertawa dua kali hi ; setelah itu baru dia berkata : “Hamil saja belum, koq tahu-tahu aku dianggap sudah punya anak yang segede gajah …” “Heh-heh heh …’; tiga kali ‘heh’ Sip Lun tertawa, bukan lagi cuma dua kali: bahkan tambah besar suaranya, selagi hatinya ikut terasa bertambah besar alias tambah berani mulai dia ngoceh, melepas rayuan gombal: “Kamu kan bini raja, dan aku anak raja; jadi antara kamu dan aku -. ,n “Hihi-hi …” Siu Lan memutus perkataan Sip Lun dengan tawa tiga kali ‘hi’; selagi merdu suaranya, kalau menurut yang dinilai oleh Sip Lun. Setelah itu, ganti Siu Lan yang bicara; “Antara kamu dan aku, ada dinding tembok yang jadi perintangm.” “Tetapi, dinding tembok itu ada jendelanya…” ganti Sip Lun yang memutus perkataan Siu Lan; berhasil membikin Siu Lan menambah tawa menjadi 5 x ‘hi’. Juga Sip Lun 5 kali ‘hi’. Setelah itu Siu Lan yang bicara lagi; “Nama kamu siapa sih… ?II IISj-p. . .II “E-eh, koq seenaknya …” “Bukan se-mau gue, tetapi benar-benar sip …” “Apanya yang sip …..?” II “Beres, semanis empedu .. “Idiiih hi-hi hi .. ,!” Siu Lan tertawa lagi, tiga kali ‘hi” plus tanda seru; artinya tambah keras suaranya tambah girang hatinya, merasa punya kesempatan bisa berkenalan dengan seorang pangeran yang anak raja, tetapi entah selir keberapa. “Kamu anak dari selir yang keberapa …?” Siu Lan menanya, ingin memperoleh ketegasan. “Bukan dari selir, tetapi dari bini muda…” sahut Sip Lun yang kelihatan bangga. Oh! bini muda yang keberapa -.- ?’ tanya Siu Lan; ikut girang dan bertambah besar hatinya- Lumayan kalau dari bini muda, kalau dari selir kagak ada harganya! Sementara itu Sip Lun tambah nyengir, karena merasa bertambah bangga: ‘Tiga belas —” ‘Buset ! ada berapa sih bini muda raja, disamping sri ratu dan 17 selir selir–?” kaget juga Siu Lan mendengar jawaban Sip Lun; ngeri, ingat angka 13 ! Sementara itu Sip Lun tambah nyengir dan berkata semau gue: ‘Mana kutahu.-.-‘ Sekali lagi Siu Lan tertawa- Selama hidupnya Siu Lan menganggap baru.malam.itu dia bisa tertawa girang, sebab selama menjadi si ‘inemf tidak pernah tertawa girang, juga setelah dia menjadi selir raja- Selagi dua-dua terdiam tidak bersuara.maka Sip Lun Hoat-ong bangun berdiri tidak lagi berlutut memegang sepasang kaki Siu Lan, akan tetapi dia duduk disisi sang bidadari yang menjadi ibu tiri, dan yang ingin dia pacari- ‘E-eh, ngapain kamu duduk disini ; aku kan ibu tirimu selir dari ayahmu, kalau ada yang ngintip, bisa berabe nanti —” “Heh-heh-heh kamu terlalu cantik, terlalu.mmda; tidak patut menjadi ibu tiriku, sebaiknya menjadi pacar — ‘ kata Sip Lun Hoat ong yang bahkan berani merangkul pinggang Siu Lan yang ramping- ‘E-eh, kamu koq jadi gitu —” Siu Lan berkata dan beringsut minggir, sambil berusaha melepaskan sepasang tangan Sip Lun yang sedang merangkul pinggangnya- Sementara itu Sip Lun kembali jadi nyengir- Lalu berusaha mengeluarkan rayuan gombal, meskipun dia patuh.menurut tidak merangkul pinggang Siu Lan: “Kamu terlalu cantik, bikin hatiku anjlok kagak bisa diam; bagaimana kalau kita jalan-jalan, lewat pintu belakang — ?’ “E-eh, kamu tidak takut sama ayahmu kalau ketahuan, kamu bisa diusir dan dipenggal –., sahut Siu Lan yang jadi bersenyum simpul, merasa tidak sukar membikin pangeran itu bertekuk lutut; akan tetapi sengaja Siu Lan jual ‘mahal’- Sip Lun.menggeser duduknya, supaya bertambah rapat dengan sang kuntilanak setelah itu dia merayu lagi : ‘Jangankan dipenggal-penggal, dicium.pun aku.meu- Dan kalau kita diusir, kita kabur berdua; okay –.?” Terbelalak sepasang meta Siu Lan mengawasi sang pangeran mmda itu, sementara di dalam hati terpikir olehnya, sejak kapan dalam cersil ada istilah ‘okay’? (sialan— !’) Siu Lan memaki didalam hati sedangkan kepada pangeran itu.meka dia berkata lagi: ‘Jangan lekas-lekas melepas rayuan gombal, kasdut —” Bertambah geregetan Sip Lun yang menghadapi sikap Siu Lan, biasanya rayuannya selangit maut; akan tetapi sekali ini kelihatannya kagak mempan- Berusaha dia tambah merayu: ‘Oh, Siu Lan.moay+moay; aku rindu padamu, setengah mati –‘ dan hidung Sip Lun nyerobot seperti ular kobra melepas bisa; akan tetapi Siu Lan sudah siaga, sehingga dengan gerak burung bango nunduk berhasil Siu Lan.membikin hidung Sip Lun nyasar nyium konde- Siu Lan bergegas bangun berdiri, menghadapi Sip Lun yang masih tertunduk: dan Siu Lan bahkan menolak pinggang seperti mau ngancam_ Akan tetapi dia kalah cepat dengan sepasang tangan Sip Lun, sebab sang pangeran itu sudah buru-buru merangkul karena menganggap Siu Lan.mau kabur- ‘Oh, Siu Lan.moay+moay; tega nian kau.mau kabur, selagi hatiku hancur luluh seperti bubur. Kalau kau kagak percaya, silahkan kau dongkel, pakai linggis atau pakai tusuk konde; sebab tusuk kondemu memang tajam, bikin hidungku sakit kena nyentuh tadi —” “Kasihan kagak tahan.meskipun cuma sedikit tertusuk —?’ Siu Lan.menanya sehabis sejenak dia bersenyum. “Mana tahan —!’ seru Sip Lun yang menarik tubuh Siu Lan, sehingga pinggang Siu Lan yang ramping kena disentuh oleh hidung sang pangeran yang nakal; bikin Siu Lan terasa nyelekit seperti digigit gajah, yang langsung memegang kepala sang pangeran, bukan untuk dijitak tetapi diraba-raba seperti dia sedang membelai kepala sang anak tiri yang manja- Eh, entah ada yang ngintip tuh… Siu Lan berkata seperti membisik- Janji dulu, dong .. II Sip Lun dongak nyengir. “Janji apa …?” tanya Siu Lan senyum. “Heh heh-heh … !” ooo(-)ooo SEJAK pertemuan mereka yang pertama kali itu, Sip Lun Hoat ong berdua Siu Lan sering kali membikin pertemuan yang berikutnya, dan yang selalu dilakukan pada waktu tengah malam selagi keadaan sudah sepi dan disaat sinar bulan remang-remang. Mula pertama pertemuan itu sudah tentu tidak dilanjutkan didalam kamar Siu Lan, akan tetapi belakangan berani Sip Lun menginap didalam kamar sang ibu tiri, dan umpatkan diri dikolong ranjang kalau ada pelayan yang datang kedalam kamar itu. Jelas sekali ini Sip Lun yang bertekuk lutut dihadapan Siu Lan, bukan seperti biasanya dia menghadapi cewek-cewek lain yang menjadi selirnya sri baginda maharaja. Sip Lun takut didupak oleh Siu Lan, sehingga dia pasti menurut meskipun diperintah memasuki laut lumpur. Juga Siu Lan merasa dimabuk cinta setelah dia menggauli pangeran yang muda dan yang seperti arjuna itu, akan tetapi Siu Lan cukup menyadari bahwa bukan melulu cinta yang dia perlukan sebaliknya kedudukannya didalam istana yang perlu dia perkuat. Selama cuma menjadi selir raja, sudah tentu Siu Lan bakal ‘didupak’ kalau raja itu nanti wafat, tentang siapa yang bakal ganti menjadi raja sudah tentu tidak diketahui oleh manusia
=====
Selama cuma menjadi selir raja, sudah tentu Siu Lan bakal ‘didupak’ kalau raja itu nanti wafat, tentang siapa yang bakal ganti menjadi raja sudah tentu tidak diketahui oleh manusia lain, kecuali oleh raja sendiri. Pernah Siu Lan menanya kepada sri baginda maharaja, tentang siapa gerangan kira-kira yang bakal menjadi raja, kalau sang kakek itu mampus. Dan Siu Lan mengajukan pertanyaan itu, sudah dengan bergurau manja, dan selagi ngusap-ngusap dada sang raja yang krempeng; sehingga batal sri baginda maharaja marah-marah kepada sang selir kesayangan, sebaliknya dia ikut ngusap-ngusap konde sang selir, yang licin dan mengkilap sehingga tidak ada lalat yang berani coba-coba hinggap. Sang baginda maharaja tidak memberikan jawaban secara langsung terhadap pertanyaan Siu Lan, sebaliknya dia tertawa dan menyebut tiga nama anaknya, yakni Gin Lun Hoat ong, Giok Lun Hoat ong yang sudah marhum, dan sibungsu Siao Lun Hoat ong. Bertekad hati Siu Lan yang mendengarkan jawaban sri baginda maharaja, meskipun pada saat itu sengaja dia perlihatkan senyum yang bisa membikin sri baginda maharaja jatuh ngusruk nungging- nungging alias sunking-sunking. Didalam hati Siu Lan merasa kecewa, sebab sri baginda maharaja tidak menyentuh dan tidak menyebut nama pangeran Sip Lun yang bakal menjadi calon raja; sehingga pada saat itu dia merasa sia-sia melakukan ‘pengorbanan’ terhadap pangeran Sip Lun. Siu Lan memang sudah mengetahui tentang tempat kediaman pangeran Gin Lun, meskipun dia belum pernah melihat orangnya. Telah pula didengar dari sas-sus, bahwa pangeran Gin Lun katanya sangat gagah perkasa, lebih gagah kalau dibanding dengan pangeran Giok Lun yang suaminya Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, namun kalah cakep kalau dibanding dengan pangeran yang sudah marhwm. Pangeran Giok Lun sudah marhum, sehingga calon raja cuma sisa dua orang; ini menurut kata sri baginda maharaja kepada Siu Lan. Entah dengan sungguh-sungguh sri baginda maharaja itu mengatakan, ataukah dia sedang bergurau; sukar buat Siu Lan mengetahui maksud hati yang sesungguhnya dari sikakek yang maharaja itu. Akan tetapi, sri baginda maharaja tidak bergurau dalam.mengucapkan kata-kata; apa lagi yang menyangkut soal negara, sehingga sekilas terpikir oleh Siu Lan, buat dia berusaha mendekati pangeran Gin Lun dan atau pangeran Siao Lun. Tentang tempat atau alamat pangeran Gin Lun, memang sudah diketahui oleh Siu Lan tinggal dia memikirkan cara untuk dia mendekati dan membikin pangeran yang calon raja jadi bertekuk lutut. Akan tetapi, mengenai pangeran yang bungsu, yang namanya Siao Lun; yang ini tidak diketahui oleh Siu Lan dimana tempat kediamannya, bahkan sri baginda sendiri tidak mengetahui sebab untuk waktu yang cukup lama pangeran yang bungsu itu menghilang tanpa jejak. Hanya sri ratu yang pernah mengatakan bahwa Siao Lun sedang mengikuti dewa belajar ilmu. Dilain pihak, perbuatan Siu Lan yang sering bermain pat-pat gelipat dengan pangeran Sip Lun; ternyata tidak lepas dari perhatian Shiang Hwa, yang memang sedang mencari-cari kesalahan Siu Lan, dengan cara melepas beberapa orang pelayannya buat mematai perbuatan Siu Lan, sehingga hari itu berhasil dia menerima laporan yang cukup membakar hati Shiang Hwa. Jelas Shiang Hwa menjadi marah-marah ketika mengetahui ‘kekasihnya’ main gila dengan cewek lain; akan tetapi akhirrya dia menyadari bahwa pangeran Sip Lun memang seorang play-boy yang sukar dikendalikan dan berbareng dia menjadi girang, oleh karena dia mendapat kesempatan buat menggulingkan kedudukan Siu Lan yang bakal didupak oleh sri baginda maharaja, kalau dia akan memberitahukan perbuatan kuntianak itu dihadapan sri baginda maharaja. Dimalam berikutnya, sekali lagi Shiang Hwa menerima laporan dari pelayannya yang mengatakan bahwa pangeran Sip Lun sedang berada didalam kamar Siu Lan, kembali Shiang Hwa merasa hatinya panas membara, ketika dia menerima laporan itu. Dia memang belum menemukan cara buat melaporkan kepada sri baginda maharaja, tentang Siu Lan yang main gila dengan pangeran Sip Lun; sekarang dia mendapat kesempatan buat mena ngkap basah perbuatan maksiat dua manusia itu. Tanpa berkata panjang lagi, maka Shiang Hwa mengajak pelayan yang membawa laporan, buat mendatangi kamar Siu Lan yang letaknya di istana pojok sebelah selatan; dan ketika telah mendekati tempat tujuan itu, Shiang Hwa tidak segera memasuki warung pojok itu, melainkan dia mengintai dari balik jendela sehingga hatinya terasa ikut bergerak bagaikan mengikuti irama dangdut, selagi yang didalam warung pojok asyik bergerak mengikuti irama dut dang. Meluap Shiang Hwa membendung rasa marah, dan membentak dia dengan suara yang cukup keras “Bagus perbuatan kalian berdua! saya membawa saksi mata yang ikut nonton dari sini, dan saya akan laporkan perbuatan kalian kepada sri baginda maharaja … !” Kaget Siu Lan yang berada didalam kamar seperti dia mendengar suara geleduk magrib, juga pangeran Sip Lun kaget dan ketakutan setengah mati, membayangkan kepala bakal mengucap good-bye dan berpisah dengan batang leher. Cepat-cepat pangeran Sip Lun menutupi kepalanya memakai selembar selimut, sehingga dia tidak sempat melihat waktu Shiang Hwa meninggalkan tempat dia mengintai didekat jendela sebaliknya Siu Lan tabahkan hatimu, eh; tabahkan hatinya buat mengawasi kearah daun jendela, sehingga sempat dia melihat bayangan Shiang Hwa yang berkelebat menghilang seperti hantu takut kesiangan. “Keledai dungu! tabahkan hatimu dan jangan kau berlaku sebagai pengecut..,.!” Siu Lan membentak pangeran Sip Lun, dan dia menarik selimut yang menutupi tubuhnya pangeran yang seperti arjuna itu; akan tetapi buru-buru dia menutup lagi tubuh sang play-boy itu, takut Shiang Hwa nanti ngintip lagi, sebab Sip Lun belum pakai celana. Sementara itu, pangeran Sip Lun berkata sambil dia nyengir kayak keledai digurun pasir. “Aku bukan takut dengan kuntianak itu, akan tetapi takut dengan pie-he yang pintar menggal kepala …” “Eh, berapa sih harga kepalamu …” Siu Lan menanya dengan nada suara mengejek. “Terlalu mahal, kagak mau aku jual .. ” pangeran Sip Lun menjawab pakai sulfaplus nyengir. “Uh, mana lebih mahal kalau dibanding dengan kepala kuntianak itu ..?” Siu Lan menanya lagi; tetap terdengar menyakiti telinga pangeran Sip Lun. “Jelas lebih mahal kepalaku …” sahut pangeran Sip Lun yang jadi ogah nyengir. “Nah, kita beli kepala dia .. ” Siu Lan berkata lagi; tegas nada suaranya, bukan seperti dia sedang bergurau. “Okay, biar aku yang beli; lengkap berikut tubuhnya …!” sahut pangeran Sip Lun yang jadi kegirangan; merasa belum bosan dengan bekas pacar lama. “Sialan mana! mana telingamu … !” Siu Lan memaki dan memerintah pangeran Sip Lun menyerahkan telinganya. “Eh! jangan dicopotin …!” pangeran Sip Lun berteriak ketakutan, meskipun sebenarnya dia tidak merasa sakit waktu sebelah telinganya ditarik oleh Siu Lan. “Bukan mau dicopotin, tetapi mau dibisikin … ” sahut Siu Lan, dan dia menyambung bisik-bisik yang memerlukan waktu lima belas menit; setelah itu dia menggigit telinga pangeran muda itu. Gergetan! Pangeran Sip Lun tertawa lima belas kali ‘he’, sehabis telinganya kena bisik-bisik yang nyelekit nyelekit seperti ketiup angin selatan, setelah itu terasa agak sakit seperti digigit tumbila. Setelah merasa cukup tertawa lima belas kali ‘he’, maka pangeran buru-buru lompat turun dari atas ranjang; akan tetapi buru-buru dia jongkok lagi. Lupa, belum pakai celana. Ganti Siu Lan yang tertawa enam-belas kali hi, dan buru-buru lompat turun dari atas ranjang; tetapi kagak lupa nyambar selimut. Sempat pangeran Sip Lun memakai pakaiannya, ketika Siu Lan nyelip kekamar mandi: setelah itu dia memberikan sekedar ‘cup-cup’ kepada Siu Lan; dan Siu Lan memberikan sekeping uang emas kepada pangeran Sip Lun lalu pangeran itu nyeplos-ngilang dari dalam kamar Siu Lan. Waktu sudah berada didalam.kamarnya sendiri, maka pangeran yang perkasa ini memanggil seorang budaknya, buat memerintahkan memanggil seorang pengawal pribadi yang bernama Liong A Liong. Liong A Liong itu dahulunya merupakan seorang anggota perampok ‘Liong-liong Ah’ atau persekutuan ‘Napas naga’ diatas gunung ‘Liong-liong Uh’ atau gunung Lima-naga. Persekutuan Napas-naga itu sudah habis semua berhenti napas, dijadikan sate-naga oleh liehiap Liu Gwat Ing berdua Kwee Su Liang, selagi kedua pendekar itu merajalela sambil pacaran, sekarang sisa Liong A-Liong yang pintar menggunakan senjata sepasang sumpit (‘chop- stick’ kalau nginjam istilah Ku Lung yang pintar bahasa Inggris ala Hongkong ). Saking pintarnya Liong A Liong menggunakan sepasang senjatanya yang istimewa itu, perutnya jadi gendut terokmok kebanyakan minyak babi; tetapi sepasang kakinya pintar nyepak seperti ekor naga yang kebut-kebutan, sebab Liong A Liong ternyata pintar kun tao ‘touw-tee-kun’, yang kalau diterjemahkan menjadi ‘rock’n roll’ alias lompat sambil guling- gulingan. Liong A Liong yang mengabdi kepada pangeran Sip Lun sehabis dia ngacir dari gunung Lima naga, merasa hidup senang; dapat gaji cukup, dapat cewek cukup dan sempat menggunakan sepasang sumpitnya karena makanan cukup banyak tersedia. Waktu tengah malam itu secara mendadak Liong A Liong dipanggil me nghadap oleh M alias sang majikan maka buru-buru dia datang menghadap tanpa dia lupa menyelipkan sepasang senjatanya yang bukan main. Dengan gaya James Bond masa cepat-cepat Liong A Liong menghadap M, sementara M dengan gaya seorang pimpinan anggota dinas rahasia, bicara bisik-bisik dengan Liong A Liong menandakan dia memberikan perintah yang berupa ‘top secret’, setelah itu pangeran Sip Lun memberikan uang emas yang tadi dia terima dari sang ibu tiri yang merangkap jadi kekasih. Senang hatinya ketika mendapat perintah rahasia itu, mengantongi sekeping uang emas dan membayangkan bakal ‘gelut’ melawan seorang selir yang aduhai. Langsung dia nyelip-nyelip mau nyeplos kekamar Shiang Hwa akan tetapi waktu dia melihat pintu kamar ditutup rapat dan dikunci dari sebelah dalam; maka sekilas Liong A Liong jadi berdiri ragu ragu setelah itu sepasang kakinya mulai nyepak- nyepak angin selagi mulutnya kemat-kemit seperti sedang membaca jampi akan tetapi pintu kamar itu tetap kagak dibuka sebab kakinya memang kagak nyentuh daun pintu. Akhirnya lembut-lembut dan perlahan Liong A Liong mengetuk daun pintu itu, sedangkan Siang Hwa yang berada didalam kamar, memang belum tidur sebab dia sedang memikirkan daya hendak melaporkan kejadian pangeran Sip Lun indehoy. Siang Hwa menganggap seorang pelayannya yang mengetuk pintu, dan pelayan itu tentu hendak menambahkan laporannya mengenai sang playboy yang bakal pulang pagi, sehingga buru-buru Shiang Hwa membuka pintu, namun sejenak dia berdiri mematung, lalu dia teringat dengan Liong A Liong yang pengawal pribadi dari pangeran Sip Lun, dan yang sepasang matanya sering kelilipan ngedip-ngedip kalau sedang mengawasi Siang Hwa. Sekilas terpikir oleh Shiang Hwa, bahwa Liong A Liong datang tentu membawa pesan dari pangeran Sip Lun; dan pesan itu tentunya berupa ‘minta ampun’ dan bakal menyertai rayuan gombal. Untuk kepastiannya, maka Siang Hwa menanya kepada Liong A-Liong: “Mau ngapain kamu datang tengah malam buta rata …?” Heh-heh — !’ tawa Liong.A Liong dua kali ‘heh’ belajar dari majikannya; setelah itu baru dia berkata- “— katanya nio-nio yang manggil saya, minta dipijit —” “Heh! kalau saya perlu dipijit, mana manggil kamu —!” sahut Shiang Hwa yang’marah+marah; merasa ogah dipijit oleh Liong.A Liong yang perutnya gendut, setelah itu dia bergegas hendak menutup pintu- Akan tetapi, pada saat itu Shiang Hwa kagak keburu.melakukan niatnya, sebab secara tiba-tiba nongol pangeran Sip Lun; dan sang play-boy buru-buru.membentak berlaku galak: ‘Bagus ya, kalian dua.manusia laknat melakukan perbuatan.maksiat didalam istana,–!’ dan sebuah tendangan maut langsung diarahkan oleh pangeran.muda ini, mengarah bagian antara sepasang paha Liong A Liong yang sedang berdiri melongo kebingungan- Kagak sempat Liong.A.Liong menghindar dari tendangan.maut itu, kagak sempat dia.mengucap apa-apa; namun semat dia berteriak
=====
‘Bagus ya, kalian dua manusia laknat melakukan perbuatan maksiat didalam istana,–!’ dan sebuah tendangan maut langsung diarahkan oleh pangeran.muda ini, mengarah bagian antara sepasang paha Liong A Liong yang sedang berdiri melongo kebingungan- Kagak sempat Liong.A Liong menghindar dari tendangan maut itu, kagak sempat dia mengucap apa-apa; namun sempat dia berteriak selangit selagi dia rubuh semaput. Shiang Hwa ikut menjerit kaget, ngacir dia memasuki kamarnya, akan tetapi kalah cepat dengan gerak pangeran Sip Lun sebab pangeran yang tangkas ini langsung menjambak rambut Shiang Hwa yang tubuhnya kemudian dilontarkan sehingga kepalanya menghantam dinding tembok mengakibatkan Shiang Hwa pingsan lupa diri- Secepat kilat pangeran Sip Lun kemudian melakukan pekerjaannya seperti yang direncanakan oleh dia berdua Siu Lan- Ditariknya tubuh Liong A Liong supaya masuk kedalam kamar, ditelanjangi setelah itu direbahkan diatas ranjang; juga tubuh Shiang Hwa ditelanjangi dan direbahkan diatas ranjang, setelah itu dengan tikaman pedang pangeran Sip Lun mengakhiri pekerjaannya. Pekik teriak Liong.A Liong yang selangit ditambah dengan pekik teriak Shiang Hwa; sudah tentu didengar oleh penghuni istana, para pelayan yang mula pertama datang mendekati, bertepatan pada waktu pangeran Sip Lun sedang membersihkan noda darah pada pedangnya yang tajam.mengkilap, dan para pelayan itu berteriak ketakutan waktu mereka melihat ada dua mayat telanjang yang membujur celentang diatas ranjang- Ikut mereka berteriak, sehingga sri baginda maharaja ikut menyaksikan keadaan mayat sang selir yang keenam.belas; sementara pangeran Sip Lun memberikan laporan bahwa dia menemukan kedua manusia itu sedang berbuat laknat, sehingga dia turun tangan membinasakan kedua manusia laknat itu! Tertawa sri baginda maharaja terkekeh-kekeh waktu didengarnya penjelasan dari pangeran Sip Lun, setelah itu dia memuji tindakan sang anak, yang katanya hendak diberi pangkat sebagai algojo; membikin pangeran Sip Lun jadi bercekat dan mengkerat hatinya sehingga buru2 dia menolak menyatakan keberatan menerima pangkat itu sebaliknya dia menghendaki diangkat menjadi ‘chief-hostess’ alias menteri urusan rumah tangga, yang ngatur para selir dan bini-bini raja; supaya jangan ada yang menyeleweng- Sekali lagi sri baginda maharaja terkekeh-kekeh dia tertawa, namun akhirnya dia menerima usul dari anaknya itu; sehingga malam itu juga pangeran Sip Lun secara resmi diangkat menjadi menteri urusan selir-selir dan bini-bini muda sri baginda maharaja. QOOOXXOOO DARI istana tempat kediaman pangeran Gin Lun, maka Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing berangkat menuju perbatasan kota Gan bun koan, hendak menemui si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang, yang menjadi pacarnya dan sekaligus dia anggap sebagai suaminya meskipun tidak secara resmi dia dijadikan bini muda- Berbagai macam pikiran dan bayang-bayang tentang kejadian lama, kembali mengganggu pendekar wanita yang perkasa ini; namun yang menghadapi kelemahan dalam hal menyinta dan cinta- Pedih dan sedih hatinya kalau dia teringat dengan pangeran Giok Lun yang suaminya, yang harus mati muda akibat perbuatan fitnah dari pihak pangeran Kim Lun. Pada mulanya seorang diri Liehiap Liu Giok Ing hendak mengacau didalam istana pangeran Kim Lun, sekaligus mencari kesempatan buat melakukan balas-dendam.terhadap kematian pangeran Giok Lun; tetapi akhirnya dia menyadari akan kekuatan pihak pengawal yang menjaga istana pangeran Kim Lun, ditambah dengan sekian banyaknya tokoh kenamaan dikalangan rimba-persilatan, yang bersedia mengabdi menjadi tenaga bayaran dari pangeran Kim Lun, disamping adanya ciangkun Sie Pek Hong yang tidakrmungkin dapat dilupakan oleh liehiap Liu Giok Ing- Ya, kapten Sie Ciangkun; laki-laki ini tak mungkin dilupakan oleh liehiap Liu Giok Ing, oleh karena laki-laki itu ternya ta merupakan laki-laki laknat yang hampir-2 berhasil menodai liehiap Liu Giok Ing, dengan.menggunakan berbagai macam cara yang keji sehingga terhadap laki-laki yang satu ini sudah tentu liehiap Liu Giok Ing menganggap sebagai musuh yang harus dia bunuh ! Panas hati liehiap Liu Giok Ing ketika dia teringat dengan Sie Ciangkun, disaat dia sedang meneruskan perjalanannya hendak menuju perbatasan kota Gan-bun koan; sambil dia memikirkan berbagai kejadian lama yang sangat merisaukan hatinya- Dalam melakukan perjalanan seorang diri itu, sudah tentu seringkali liehiap Liu Giok Ing jadi teringat juga dengan kejadian tempo dulu, selagi dia bersama-sama Kwee Su Liang merantau dan menjelajah dikalangan rimba persilatan. Banyak tempat yang dia lewati atau singgah, yang hampir selalu meninggalkan kesan yang tak mungkin dia lupakan selama hidupnya; dan sekarang, setelah lebih dari sepuluh-tahun lamanya kembali dia harus singgah ditempat yang sama, yang membawa kenangan lama itu- Jelas tak mudah liehiap Liu Giok Ing pulas tertidur ketika pada saat dia beristirahat dan.menginap disuatu tempat penginapan, yang selalu membikin dia teringat lagi dengan Kwee Su Liang; sementara Kwee Su Liang kini sedang berada di perbatasan kota Gan-bun koan, berkumpul dengan isteri dan anaknya. Apa yang harus Liu Giok Ing katakan kalau nanti dia bertemu dengan kekasih hati itu? dan apa atau bagaimana dia harus bersikap dihadapan Lie Gwat Hwa nanti? Mungkinkah Kwee Su Liang sudah memberitahukan kepada istrinya, bahwa dia sudah menerima Liu Giok Ing sebagai biniemuda? Merah muka liehiap Liu Giok Ing kalau dia teringat dengan perkataan ‘biniamuda’- Demi cintanya terhadap Kwee Su Liang, dia rela menjadi bini+muda dari laki-laki itu; akan tetapi apakah Lie Gwat Hwa rela mempunyai madu? Gelisah dan cemas Liu Giok Ing memikirkan istrinya Kwee Su Liang, mengakibatkan dia menjadi ragu-ragu buat meneruskan perjalanannya ke perbatasan kota Gan-Bun Koan, merasa malu untuk bertemu dengan ‘sangemadu’ itu ! Dan Kwee Su Liang? Mengapa laki-laki itu tidak cepat-cepat kembali seperti yang dia janjikan? Ada apakah gerangan yang terjadi di perbatasan kota Gan-bun koan? Pusing kepala Liu Giok Ing yang memikirkan masalah itu. Demikian pada.malam itu, ditempat penginapan liehiap Liu Giok Ing tidak dapat pulas tertidur; sampai tahu dia mendengar bunyi suara seseorang yang berada diatas genteng- Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sangat peka telinganya, dan yang sudah terlatih bersikap waspada; dengan cepat dia telah keluar melalui jendela kamarnya, siap dengan pedang Ku-tie kiam ditangan kiri, dan disaat berikutnya sempat dia melihat adanya tiga bayangan hitam yang sedang berlari menjauhi tempat penginapan itu- Oleh karena hendak mengetahui orang-orang yang telah mengintai kedalam kamar tidurnya, maka liehiap Liu Giok Ing cepat-cepat melakukan pengejaran. Mereka lari semakin jauh meninggalkan tempat penginapan, sampai dilain saat mereka tiba disuatu tepi sungai yang lebar dan panjang; dimana liehiap Liu Giok Ing menemukan ketiga orang yang dia kejar itu, yang sedang bertempur melawan seseorang yang memakai pakaian serba ringkas- Melihat adanya pertempuran, maka liehiap Liu Giok Ing tidak lekas-lekas mendekati- Dia mencari sesuatu tempat buat dia mengintai- Ketiga orang-orang tadi dikejar oleh liehiap Liu Giok Ing, ternyata memakai tutupjmuka dengan secarik kain warna hitam, dibagian bawah mata sampai menutup mulut mereka; sedangkan orang yang menjadi lawan.mereka, adalah seorang laki laki setengah baya yang umurnya kira-kira sudah mendekati 50 tahun- Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing tidak mungkin.mengenali ketiga orang-orang yang memakai tutup muka itu, dan diapun tidak kenal dengan laki laki setengah baya yang sedang bertempur itu; oleh karenanya dia tidak segera memberikan bantuan, sebaliknya dia diam memperhatikan jalannya pertempuran- Meskipun sedang dikepung oleh tiga orang lawan yang gesit dan mahir ilmu silatnya, ternyata laki laki setengah baya itu dapat melakukan perlawanan dengan baik memakai senjata yang aneh yakni sebatang huncwee (semacam pipa panjang) yang jelas kelihatan masih ada apinya, sebab didalam cuaca malam yang cukup gelap, anak api dari huncwee itu seringkali berhamburan keluar kalau senjata mereka saling bentur, memperlihatkan suatu pemandangan yang cukup menarik bagaikan bunga api- Jelas bahwa percikan anak api itu bukan merupakan sembarang api- Mereka yang pandai ilmu silat dan.mahir tenaga dalam, maka percikan anak api itu sudah tentu mempunyai daya pukul yang kuat, disamping dapat melukai kulit seseorang dan membakar pakaian yang terkena anak api itu. Namun demikian, oleh karena menghadapi tiga orang pengepung yang bukan merupakan sembarangan lawan, maka disaat berikutnya laki laki setengah baya itu kelihatan terdesak. Dipihak Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertempuran, akhirnya mengenali dari cara bersilat ketiga orang-orang yang memakai tutup muka itu; bahwa mereka adalah.murid+murid Kwan gwa sam-eng atau tiga garuda dari kota Kwan gwa. Jadi yang masih belum diketahui oleh liehiap Liu Giok Ing, siapakah sebenarnya laki laki setengah baya yang sedang bertempur itu? Sekilas liehiap Liu Giok Ing pun jadi teringat dengan Kwan gwa samreng, yang tempo dulu sering merajalela dikalangan rimba persilatan, menyebar maut secara biadab; sampai liehiap Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang bertemu dan bertempur melawan ketiga garuda dari Kwan gwa itu, yang berkesudahan ketiga garuda itu dibikin habis nyawa mereka, tanpa mereka mampu menyebar maut lagi! Konon disaat lelaki setengah baya itu kelihatan sudah sangat terdesak, maka liehiap Liu Giok Ing lompat keluar dari tempat dia mengintai, dan memasuki arena pertempuran- ‘Siapa kalian ..-!’ bentak liehiap Liu Giok Ing yang sedang merintang ketiga orang yang memakai tutup muka itu- “Ha-ha-ha —” tawa salah satu dari kedua orang itu yang menghadapi liehiap Liu Giok Ing; sementara yang seorang berhasil membebaskan diri dan meneruskan bertempur melawan si ‘kakek’ yang memakai senjata huncwee- Dan orang yang tertawa itu kemudian.meneruskan berkata: ‘— rupanya sipendekar penyebar cinta sudah cukup lama menonton, lalu memilih kita buat dijadikan lawan bermain cinta-.. !“ Ikut tertawa temannya yang mendengarkan perkataan itu sebaliknya meluap kemarahan liehiap Liu Giok Ing yang merasa diejek dan dihina. Gelarnya sebagai pendekar yang bersenjata bunga cinta disebut sebagai pendekar penyebar cinta; dan memilih lawan untuk bertempur, dikatakan memilih lawan untuk bermain cinta! Liehiap Liu Giok Ing berteriak marah-marah dan mengomel- ngomel yang saya kagak bisa terjemahkan disini, sebab ngocehnya pakai bahasa Kanton; akan tetapi sebelum dia lompat menyerang menggunakan gerak tipu macan betina ngebut anak, maka secara tiba-tiba dia merasakan adanya angin serangan dari arah sebelah belakang ! Dengan suatu gerak yang indah, liehiap Liu Giok Ing berhasil menghindar dari serangan yang membokong- Akan tetapi dia menjadi kaget waktu sempat melihat orang yang memakai tutup muka dengan kain hitam, menandakan mereka berkawan! Jelas bahwa Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing kena perangkap- Pertempuran yang tadi berlangsung ternyata hanya suatu permainan belaka, sehingga sekali lagi liehiap Liu Giok Ing harus berpikir, entah siapa sesungguhnya laki laki setengah baya yang kurang ajar itu! Akan tetapi, pada saat itu liehiap Liu Giok Ing tidak sempat berpikir lama, sebab lagi-lagi dia telah diserang; bahkan sekaligus oleh empat orang yang kemudian telah mengepung dan mengurung dari empat penjuru. Setelah sekarang saling berada berdekatan dan saling bertempur, maka liehiap Liu Giok Ing dapat membuktikan betapa berbahaya lelatu anak-api yang keluar berhamburan dari laki-laki setengah baya itu, yang bisa nyelekit nyelekit kalau kena kulit; setelah membakar baju liehiap Liu Giok Ing yang pada bolong sebab dibikin dari bahan yang serba tipis sehingga tak ubahnya seperti penggemar menghisap rokok ‘nyi-samrsu’-
=====
KECUALI lelatu anak api yang ganas berbahaya itu, ternyata asap yang mengepul keluar dari huncwee juga tidak kurang berbahayanya; sebab ternyata mengeluarkan bau yang tidak sedap, yang bisa bikin orang jadi ‘fly fly‘ seperti kena isap asap-ganja, yang bahkan terasa menyesakkan dada liehiap Liu Giok Ing. Kemudian liehiap Liu Giok Ing menyadari, bahwa ketiga laki laki yang memakai tutup muka itu tidak terpengaruh oleh bau asap huncwee, sebab hidung mereka terlindung atau tertutup dengan secarik kain. Sedangkan orang setengah baya yang memiliki huncwee itu, sudah tentu memiliki semacam obat untuk melawan bau asap hasil senjatanya yang istimewa itu. Dengan demikian maka teringat liehiap Liu Giok Ing dengan seseorang dari daratan barat Thibet, yang merajalela didaratan cina dan seseorang itu adalah See thian tok-ong Sila Ponchay, si biang racun dari barat! “Apakah kau yang bernama See-thian tok ong Sila Ponchay . , ?” tanya liehiap Liu Giok Ing yang ingin memperoleh sesuatu ketegasan. “ha ha ha ! ternyata kuntianak penyebar cinta ini mengetahui juga namaku . , ,!” Sila Ponchay tertawa dan berkata, yang secara tidak langsung telah membenarkan pertanyaan liehiap Liu Giok Ing; namun sengaja dia telah berkata secara mengejek, bahkan dengan memakai istilah ‘kuntianak’ yang sanggup membikin darah liehiap Liu Giok Ing menjadi bertambah ‘mendidih’ namun yang sekaligus menjadi terkejut. Justeru selagi liehiap Liu Giok Ing merasa terkejut karena tidak menduga bakal mendapat kesempatan bertemu dan bertempur melawan biang racun dari barat itu, maka Sila Ponchay telah menyerang lagi memakai senjatanya yang istimewa, dan pada waktu senjatanya itu yang kena ditangkis oleh pedang ‘Ku tie kiam’ maka ternyata pedang yang tajam dan ampuh itu sekali ini tidak berdaya memapas buntung huncwee yang istimewa itu sebaliknya justeru asap hitam jadi mengepul keluar, ditambah dengan percikan lelatu anak api yang semuanya mengarah ke Liu Giok Ing tanpa dapat dikendalikan. Benturan senjata yang tadi terjadi, telah pula mengakibatkan tenaga dalam Liu Giok—Ing jadi tergempur, disamping lagi—lagi serangan asap yang bau telah memasuki paru paru melewati hidungnya, meskipun Liu Giok-Ing dapat menghindar dari percikan lelatu anak api ! Adalah merupakan hal yang sangat mengherankan, bahwa Liu Giok Ing yang mahir tenaga dalam, dengan mudah telah tergempur meskipun oleh lawan yang memiliki tenaga besar. Adanya Liu Giok Ing yang tak kuasa melawan atau menahan gempuran itu, melulu oleh karena dia telah terkena asap racun yang keluar dari senjata lawannya, disamping tanpa dia menyadari, saat itu sebenarnya Liu Giok Ing sedang hamil; menyimpan benih dari si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang ! Disaat berikutnya, Liu Giok Ing diserang oleh musuh yang bersenjata golok. Dia tidak mau menangkis karena ragu—ragu dengan tenaganya yang mendadak sudah berkurang banyak, dari itu dengan gerak belibis putih terbang ke sawah dia lompat kesebelah kiri untuk menghindar, akan tetapi dia menjadi kaget, karena dia merasakan geraknya ikut menjadi sangat lambat, merasa hilang kegesitan dan kelincahan tubuhnya, sehingga lengan bajunya terkena tikaman golok dan robek. Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing menjadi sangat cemas. Dia menyadari bahwa dia sedang menghadapi lawan—lawan berat, disamping dia sudah terkena asap racun yang dapat melumpuhkan tubuhnya. Sia—sia dia berlaku nekad karena benar—benar tak kuasa lagi dia mengendalikan kemampuannya. Hanya di dalam hati dia berteriak, mengapa ajalnya secepat itu tiba, selagi dia hendak menyusul dan ingin bertemu dengan si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang, disamping dia belum mampu membalas dendam suaminya yang tewas karena fitnah ! Kemudian datang lagi serangan dari See—thian tok-ong Sila Poncay ! oleh karena merasa tidak mungkin berhasil menghindar buat berkelit dari serangan itu, maka dengan mengerahkan sisa tenaganya yang ada, liehiap Liu Giok Ing menangkis memakai pedang ‘Ku-tie-kiam’, sehingga terjadi lagi senjata mereka saling bentur, dengan akibat pedang Ku-tie-kiam terlempar lepas dari tangan liehiap Liu Giok Ing, sementara dari senjata See thian tok-ong Sila Ponchay kembali telah mengeluarkan percikan lelatu anak api serta asap hitam yang mengulak mengandung racun. Menyusul kemudian punggung liehiap Liu Giok Ing terkena serangan senjata gada besi dari seorang musuh lain, yang membikin liehiap Liu Giok Ing memuntahkan darah dari mulutnya, dan dia roboh lupa diri! oooo( -)oooo WAKTU kemudian Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing tersadar lagi, maka dia mendapatkan dirinya sedang duduk bersandar pada sebuah pohon; masih ditempat bekas pertempuran tadi, namun bekas lawannya sudah tak kelihatan, sebaliknya didekatnya dia melihat adanya seorang pendeta dari kuil Siao lim yang dia kenal bernama Lee-ceng taysu, dan seorang pendeta lagi yang kelihatannya masih muda usianya, namun yang dia tidak kenal dan yang bertubuh tinggi serta bermuka hitam. Namun demikian, Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing merasa yakin bahwa jiwanya sudah ditolong dengan kehadirannya Lee-ceng taysu berdua dari itu dalam keadaan yang masih lemah dia paksakan diri untuk bersenyum dan mengucap terima kasih. Kemudian Lee-ceng taysu memperkenalkan teman seperjalanannya yang katanya bernama Toan ho touwsu, seorang pendeta dari suku bangsa Biauw, berasal dari perbatasan propinsi Kui-ciu, Inlan (Tali). Sekilas Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing jadi terkejut, ketika dia mendengar nama Toan ho touwsu yang katanya bertempat kediaman di propinsi Kui ciu, Inlan (Tali); yang merupakan asal tempat kediaman Touw liong cuncia yang gurunya liehiap Liu Giok Ing, didalam hati liehiap Liu Giok Ing merasa yakin bahwa Touw—ho touwsu merupakan salah seorang pendata yang menyebar agama Llama yang pakaiannya memang berbeda dengan Lee ceng taysu yang dari kuil Siao-lim. Akan tetapi, nama Toan-ho touwsu tidak dikenal dan belum pernah didengar oleh liehiap Liu Giok Ing, sebaliknya Touw ho—touwsu yang bersahabat dengan Lee Ceng taysu, diluar tahu liehiap Liu Giok Ing ternyata pendeta itu memang kenal dengan Touw liong cuncia. sementara itu dikatakan oleh Lee ceng taysu, bahwa luka yang diderita oleh Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing sebagai akibat pertempurannya, adalah luka dibagian dalam bekas kena pukulan gada besi dan terkena asap beracun dari See thian tok-ong Sila ponchay. Dikatakan selanjutnya oleh Lee Ceng taysu, bahwa teman seperjalanannya telah memberikan obat kepada liehiap Liu Giok Ing akan tetapi obat itu bukanlah untuk menyembuhkan penyakit terkena bisa racun yang diderita liehiap Liu Giok Ing, melainkan sekedar untuk menghilangkan rasa sakit dan mencegah menjalarnya bisa racun yang masih mengeram dalam paru-paru liehiap Liu Giok Ing. Ada baiknya bila liehiap Liu Giok Ing terkena pukulan gada besi sehingga dia muntahkan darah, sehingga bagian dari bisa racun itu sudah keluar tanpa disengaja, tapi bisa racun yang masih mengeram didalam paru-paru, setiap waktu bisa mengakibatkan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing menjadi lumpuh yang sukar ditolong, disamping juga akan mempengaruhi benih bayi didalam kandungannya ! Sedih hati liehiap Liu Giok Ing bercampur terkejut, waktu dia mendengar keterangan dari pendeta Lee-ceng taysu dari kuil Siao-lim yang terkenal sakti ilmunya. Sedih karena dia menderita luka parah selagi dia hendak menyusul Kwee Su Liang, dan sebelum dia mampu melakukan balas dendam terhadap tewasnya suaminya. Apa yang harus dilakukannya kalau dia sampai menjadi lumpuh? Apalagi setelah diketahuinya bahwa dia sedang hamil, seperti yang telah dikatakan oleh Lee-ceng taysu. sementara itu Toan ho touwsu kemudian menambah kan keterangan yang sudah diberikan oleh Lee Ceng taysu bahwa dikota Lam yang, Toan ho touwsu mempunyai seorang sahabat yang bernama Liauw Tek Jin, seorang thabib bangsa cina yang pernah lama menetap di Kui ciu (Inlan), sehingga banyak dia belajar berbagai pengetahuan tentang bisa racun, baik yang berasal dari kotoran, binatang ataupun dari tumbuh— tumbuhan. Dianjurkan supaya liehiap Liu Giok Ing menemui si thabib Liauw Tek Jin, karena Toan-ho touwsu merasa yakin thabib itu dapat menolong liehiap Liu Giok Ing. Dengan hati terharu Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing sekali lagi mengucap terima kasih kepada dua pendeta yang telah menolong dia; kemudian oleh karena pendeta itu masih mempunyai urusan lain yang katanya sangat penting, maka liehiap Liu Giok Ing hanya disewakan sebuah kereta kuda, untuk dia segera berangkat ke kota Lam—yang. sementara itu, dipihak musuh yang mengepung Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, agaknya mereka merasa sangat penasaran, oleh karena disaat mereka hampir berhasil membinasakan si pendekar bunga cinta, mendadak datang dua orang pendeta sakti yang memaksa mereka melarikan diri. Mereka tidak dikejar, dari itu mereka tidak lari jauh. Mereka kehilangan jejak Liu Giok Ing, akan tetapi dari pengurus tempat Liu Giok Ing menginap, mereka mengetahui bahwa Liu Giok Ing telah datang mengambil pakaiannya, dan melakukan perjalanan memakai sebuah kereta kuda. Dengan seringkali menanya kepada orang—orang yang mereka temui disepanjang perjalanan, mereka terus melakukan pengejaran sampai kemudian mereka ikut memasuki kota Lam yang, namun tak mudah mereka menemukan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing. sementara itu, menurut catatan lama yang kertasnya sudah pada kuning hijau merah warnanya, dan yang menyangkut urusan tentang perkembangan partay—partay ilmu silat didaratan negeri cina — katanya golongan partay dari Siao—lim-sie dan partay Bu tong berasal dari satu aliran yang kemudian saling bertentangan. Asal mula pertentangan itu katanya disebabkan urusan kitab pelajaran ilmu silat hasil karya Tat—mo couwsu, seorang pendeta sakti yang hidupnya lebih banyak dibaktikan kepada sang Budha yang maha pengasih. Kemudian antara partai Ngo bie dan Kun lun juga pernah terjadi pertentangan dalam urusan pedang sakti, namun pertentangan antara dua golongan ini agaknya sudah dapat diredakan, terbukti adanya jalinan hubungan baik antara Tek seng sian jin dari golongan Kun lun, dengan Cay hong suthay dari golongan Ngo bie. sudah lama Cay hong suthay mengasingkan diri, menghindar segala urusan orang-orang rimba persilatan yang selalu memusingkan kepala. Akan tetapi berdasarkan pengalaman dan hubungan luas dimasa mudanya, maka meskipun dia telah hidup menyendiri, tapi masih banyak rekan—rekan seperjuangannya tempo dulu yang masih suka menyambangi, sehingga segala perkembangan dikalangan rimba persilatan banyak dia ketahui. Demikian pada hari itu, secara mendadak Cay hong suthay kedatangan tiga orang teman yang berupa Kun lun sam kiamhiap yang terdiri dari Lee Beng Yan, Lim Ceng Yio dan Song Thian Hui. Ketiga pendekar pedang dari Kun lun ini masih gemar keliaran dikalangan rimba persilatan, meskipun mereka sudah merupakan kakek-kakek, sehingga nama mereka seringkali disebut—sebut oleh -ki dalang— yang sering ‘nung—nung kweng’ dikelenteng toa se bio. Perjalanan Kun lun sam kiamhiap bertiga adalah dalam rangka urusan sarung tangan sakti Ciam hua giok siu, yang dahulu kala sering merajalela dengan ganasnya, dan senjata itu sekarang katanya digunakan oleh Koay—to ong Pek Tiong Thian, si biang hantu aneh yang kejam, yang bahkan telah berhasil membinasakan 3 persaudaraan Kim yang menjadi
=====
sekarang katanya digunakan oleh Koay-to ong Pek Tiong Thian, si biang hantu aneh yang kejam, yang bahkan telah berhasil membinasakan 3 persaudaraan Kim yang menjadi saudara seperguruan dari Cay hong suthay. sudah tentu Cay hong suthay menjadi sangat terkejut waktu menerima berita itu. Sepasang tangannya yang putih halus cepat-cepat meraih bunga-bunga tasbih yang mengalungi lehernya, sedang didalam hati dia memuji sang Budha, tak hentinya menyebut ‘om—to—hud’; berdoa supaya rasa dendam menghindar dari dirinya. Jelas ketiga persaudaraan Kim merupakan orang-orang dari golongan ‘ngo bie’, seperti juga Cay hong suthay; tetapi Kun lun sam—kiamhiap merupakan orang-orang ‘kun—lun’; tapi Sebagai bukti rasa setia kawan, ketiga pendekar dari ‘Kun—lun’ melakukan perjalanan hendak menuntut balas dendam terhadap diri Koay—lo ong Pek Tiok Thian. Memang, sejak dahulu kala telah terjadi pertentangan antara Pek Tiong Thian dari golongan Thiang pek pay dan Kun—lun pay sebenarnya merupakan hasil fitnah Pek Tiong Thian yang terkenal pintar menghasut. “Heran, mengapa sarung tangan Ciam—hua giok—siu milik Koay-hiap Jie Cu Lok bisa berada pada Pek Tiong Thian . . . . . ..?” gerutu Cay—hong suthay yang kelihatan berpikir, dan gerutunya itu cukup didengar oleh ketiga tamunya. “Benar. sarung tangan Ciam hua giok siu memang milik Koay-hiap Jie Cu Lok, akan tetapi sudah diberikan kepada II murid tunggalnya… Kiamhiap Sang Thian Hai yang terdengar memberikan penjelasan kepada Cay hong suthay, dan ternyata sanggup membikin muka bhiksuni tua itu jadi berobah merah, teringat dengan pengalaman tempo dulu. “Tayhiap Wei Beng Yam ?” Cay hong suthay bersuara perlahan. “Benar. Akan tetapi kami ragukan tindakan Wei Beng Yam yang kelihatannya erat hubungannya dengan Pek Tiong Thian.” Kiam-hiap Lim Ceng Yao yang ganti bicara, sambil dia mengawasi bhiksuni tua itu dengan sepasang matanya yang masih bersinar tajam. “sampai sejauh bagaimana hubungan baik antara tayhiap Wei Beng Yam dan Pek Tiong Thian, kalau menurut penilaian Lim heng?” Cay hong suthay bersuara menanya, terasa cepat tanpa dia menyadari, sementara nada suaranya jelas bahwa dia berada di pihak Wei Beng Yam. Sebagai saudara seperguruan yang tertua dan banyak mengetahui tentang hubungan baik yang pernah terjalin antara Cay—hong suthay dengan Wei Beng Yam, maka cepat—cepat Lee Beng Yan yang ganti bicara “Lepas dari persoalan hubungan baik antara Pek Tiong Thian dengan Wei Beng Yam, kami bermaksud mendaki gunung Thiang Pek—san buat minta keadilan kepada Hong Jin Eng, buat urusan ketiga persaudaraan Kim…” “Atau barangkali Lee-heng menghendaki siao moay yang turun gunung buat mencari Pek Tiong Thian ..?” kata Cay hong suthay; terlalu cepat tetapi tetap lembut terdengar nada suaranya. Mendengar nada suara Cay hong suthay, maka Kun lun sam—kiam—hiap merasa yakin bahwa biarawati itu sudah tersinggung perasaannya; meskipun dia sengaja memakai istilah ‘siao-moay’ sebagai kata ganti dirinya, seperti yang biasa terjadi diwaktu usia mereka masih sama—sama muda. Baik Lee Beng Yan maupun Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui, sejenak mereka jadi terdiam tidak memberikan jawaban. Ketiga persaudaraan Kim yang dikatakan tewas ditangan Pek Tiong Thian adalah orang-orang dari golongan Ngo bie pay, oleh karenanya memang sudah merupakan suatu ‘kewajiban’ bagi Cay hong suthay yang menyelesaikan urusan itu. Namun karena mengingat dengan persahabatan mereka, maka ketiga jago-jago Kun lun itu sudah menyediakan diri terlebih merekapun mengetahui tentang adanya hubungan baik antara Wei Beng Yam dengan Cay hong suthay, serta keadaan Cay—hong suthay yang sekarang sudah mengasingkan diri. Sejak masih merupakan bocah yang ingusan, Cay hong suthay memang bertetangga dengan Wei Beng Yam. Kemudian Cay hong suthay mengikuti gurunya jauh ke atas gunung Ngo bie san untuk belajar ilmu silat, sehingga kedua bocah itu menjadi terpisah. Wei Beng Yam adalah putera tunggal dari Wei Tan Wie, seorang pendekar perkasa yang pernah menjelajah rimba persilatan dengan sebatang pedang sakti dan sebuah cincin terbang (hui hian sin kiam). Kemudian Wai Tan Wie tewas tanpa Wei Beng Yam mengetahui siapa sebenarnya yang telah membinasakan ayahnya. Dalam usianya yang masih muda, Wei Beng Yam merantau melakukan penyelidikan, sampai dia bertemu dan menjadi murid tunggal dari Koayhiap Jie Cu Lok, dan keduanya menghilang dari pergaulan umum, sampai disuatu saat Wei Beng Yam muncul Sebagai seorang pendekar muda yang sakti. Sesuai dengan gelarnya, koayhiap Jie Cu Lok adalah seorang gagah yang aneh sepak terjangnya, mengakibatkan banyaknya pertentangan pendapat dikalangan orang-orang rimba persilatan, terlebih oleh mereka yang pernah menyaksikan betapa hebatnya ilmu ‘tay—yang sin jiauw’ atau tenaga cakar sakti, serta betapa ampuhnya sarung tangan Ciam hua-giok siu yang tak mempan kena berbagai macam senjata tajam ! Kebanyakan orang-orang gagah dari berbagai golongan, merasa ‘ogah’ perlihatkan sikap yang menentang jika mereka berhadapan koayhiap Jie Cu Lok, tetapi lain halnya jika mereka berhadapan dengan Wie Beng Yam yang masih muda usianya, sehingga didalam perantauan hendak mencari jejak musuh yang telah membinasakan ayahnya, maka Wie Beng Yam menghadapi banyak kesukaran dan rintangan, terlebih kalau orang mengetahui bahwa dia adalah muridnya koay hiap Jie Cu Lok, sehingga sering terjadi pertempuran akibat Wie Beng Yam tak kuasa membendung amarah ! Kemudian terjadi pertempuran antara Wie Beng Yam dan dara sakti Lian Cay Hong, bekas teman bermain selagi mereka merupakan bocah-bocah yang bertetangga, dan Sebagai kelanjutan persahabatan mereka, maka terjalin hubungan yang akrab dan mesra, namun berakhir dengan suatu derita bagi dara Lian Cay Hong, akibat terlalu banyaknya orang-orang yang menentang Wie Beng Yam, termasuk gurunya Lian Cay Hong sehingga dara sakti yang kehilangan kasih mesra itu untuk seterusnya tidak menikah, sebaliknya Wie Beng Yam kemudian menikah dengan anaknya Sin eng Kiu It yang bernama Kiu Siok Hwa, dan pasangan suami isteri yang perkasa itu kemudian menghilang dari kalangan rimba persilatan, sampai tiba—tiba Kun lun sam kiamhiap datang membawa berita tentang sarung tangan Tjiam hua giok siu yang biasanya tak pernah berpisah dari Wei Beng Yam ! Akan tetapi, kedatangan Kun lun sam kiamhiap hanya mengakibatkan mereka merasa kecewa, sebab mereka merasa menghadapi sikap yang acuh dari Cay hong suthay yang sudah mereka kenal sejak masih memakai nama Lian Cay Hong. Dua hari Setelah Kun lun sam kiamhiap meninggalkan gunung ngo bie san, maka Cay hong suthay yang biasanya hidup tenang mengabdi sang Buddha, keadaannya berobah diliputi rasa gelisah dan resah, bahkan sampai berulangkali Cay hong suthay harus menyebut ‘omi to hud’, oleh karena secara mendadak jiwanya bergetar dan hatinya ikut berguncang- guncang, teringat dengan ‘api lama‘ selagi dia memadu kasih dengan tayhiap Wei Beng Yam ! Berulangkali Cay hong suthay mengulang memuji sang Budha dengan menyebut ,o—mie to-hud’, tapi selalu dia gagal mengatasi rasa gelisah dan resah itu, sampai akhirnya Cay—hong suthay memanggil nenek Ong untuk bantu mengawasi dua bocah muridnya yang sedang mempelajari ilmu silat, setelah itu dia pergi meninggalkan gunung Ngo-bie san dengan tujuan hendak menemui Hong Jin Eng diatas gunung Thiang-pek san ! Setelah jauh meninggalkan gunung Cou—lay San maka Cay-hong suthay bertemu dengan si golok maut Go Bun Heng, seorang pemuda yang menjadi ahliwaris dari See gak hua kunbun golongan hurup Heng. Dahulu pendiri partay See gak hua kunbun adalah Pek see siansu atau orang tua sakti dari pasir putih. Pek see siansu mempunyai S orang murid yang kemudian saling bertentangan yang mengakibatkan mereka memisah diri dan saling membentuk kelompok, sehingga terjadi 5 Kelompok orang orang See gak hua kunbun yang dikemudian hari dikenal Sebagai golongan golongan hurup Heng, Hee, Thian; yakni berdasarkan nama-nama dari kelima orang murid yang saling bertentangan itu. Dalam pertemuan dan pembicaraan yang mereka laku kan, si golok maut Go Kun Heng menyebut nama Yap Seng Lim, seorang piauw-tauw terkemuka di wilayah selatan, membikin Cay hong suthay jadi teringat lagi dengan kejadian tempo dulu waktu dia masih muda. Akibat urusan Wei Beng Yam, maka dara Lian Cay hong pernah bertempur dengan piauwtauw Yap Seng Lim; padahal piauwsu kepala itu sangat dimalui dikalangan rimba persilatan, tidak melulu sebab kepandaian ilmu silatnya, tetapi juga karena sikapnya yang ramah tamah dan setia kawan. Dara Lian Cay hong bertempur melawan Yap Seng Lim, melulu sebab Yap Seng Lim sangat membenci Wei Beng Yam. “Apakah piauwtauw kenal siapa sebenarnya Wei Beng Yam .,.,?” tanya dara Lian Cay hong ditengah pertempuran yang sedang mereka lakukan. “Kenapa tidak?” sahut piauwtauw Yap Seng Lim, yang bahkan menyambung perkataannya “… aku bahkan kenal siapa gurunya, si pendekar gila Jie Cu Lok yang ternyata memang benar—benar orang sinting !” Dara Lian Cay Hong tertawa, tetap merdu suaranya meskipun pada waktu itu mereka sedang bertempur, Setelah itu berkata “Tetapi Wei Beng Yam adalah puteranya almarhum tayhiap Wei Tan Wie !” “siapa kau bilang ?” sahut piauwtauw Yap Seng Lim yang kaget setengah mati, sampai batal dia menyerang lawannya yang sedang bersenyum manis, bahkan dia lompat mundur tiga langkah kebelakang, takut kena sasaran pedang dara sakti itu. “Puteranya tayhiap Wei Tan Wie !” ulang dara Lian Cay Hong sambil menyertai seberkas senyum yang menawan hati, dan Yap Seng Lim sampai tertawa tak hentinya Setelah mendapat penjelasan, seterusnya hilang rasa bencinya terhadap Wei Beng Yam, bahkan bertiga mereka merupakan sahabat-sahabat yang akrab. Jelas bahwa waktu itu, melulu sebab salah mengerti akibat perbuatan koayhiap Jie Cu Lok, yang mengakibatkan seringkali orang-orang menjadi salah mengerti dengan Wei Beng Yam; dan sekarang Cay hong suthay mendengar berita dari si golok maut Go Bun Heng; bahkan bekas piauwsu tua Yap Seng Lim katanya berada di kota Lam yang, sedang menjadi tamu Cin wan piauwkiok, sebuah perusahaan pengangkutan yang dipimpin oleh seorang gagah bernama Ma Heng Kong yang menjadi sahabatnya Yap Seng Lim. Perjalanan jarak jauh yang ditempuh oleh Cay hong suthay, sesungguhnya telah membangkitkan kenangan lama sehingga berulang kali dia bersenyum, sambil pandangan matanya terpesona mengawasi sesuatu; dan dilain kesempatan kelihatan wajahnya muram, bahkan tanpa terasa dia sering berlinangkan butir-butir air mata. Pada kesempatan hendak mendaki gunung Tiang-pek san, maka Cay hong suthay memutuskan akan singgah di kota Lam-yang menyambangi piauwtauw Ma Heng Kong dari Cin wan piauwkiok, sekaligus ingin bertemu lagi dengan bekas piauwsu-tua Yap Seng Lim.
====
DISEBELAH barat dari kota Lam-yang terdapat sebuah perusahaan pengangkutan yang memakai merek Cin wan piauwkiok, yang dipimpin oleh seorang gagah bernama Ma Heng Kong yang menjadi sahabatnya bekas piauwsu tua Yap Seng Lim. Usia piauwtauw Ma Heng Kong waktu itu sudah 40 tahun lebih, perusahaannya berkembang baik dengan mendapat kemajuan pesat, sehingga dia memiliki banyak pembantu pembantu yang muda usia dan gajah perkasa, antara lain terdapat seorang pemuda yang bernama Cin Yam Hui yang sangat lincah dan gesit gerak tubuhnya. Waktu Cay hong suthay sudah memasuki kota itu dan sedang melewati sebuah daerah perdagangan yang ramai, tiba—tiba perhatian Cay hong suthay tertarik dengan adanya pertempuran yang dilakukan oleh seorang dara remaja melawan beberapa orang laki-laki yang sedang mengepung. Mula pertama perkelahian mereka saling tidak mengeluarkan senjata; akan tetapi waktu dara remaja itu kelihatan repot menghadapi para pengepungnya yang terdiri dari 7 orang laki—laki, maka dara remaja itu memakai pecut kuda yang dia jadikan senjata, sedangkan dipihak para pengepungnya telah menggunakan berbagai macam senjata tajam. Banyak orang yang sedang berbelanja atau berdagang menjadi ketakutan dan lari simpang siur; menambah keadaan menjadi kacau balau. Cay hong suthay mendekati tempat pertempuran dan menanyakan keterangan, sampai akhirnya dia mengetahui bahwa pangkal terjadinya pertempuran adalah karena beberapa orang laki laki itu yang mulai menggoda dara remaja itu. Disuatu saat Cay hong suthay melihat adanya seorang laki-laki yang juga hendak membokong dara remaja itu, sehingga tangan Cay hong suthay bergerak mengambil beberapa butir kacang tanah dalam keranjang tempat orang jualan, lalu dia menimpuk membikin laki-laki itu terkejut, dan dara remaja itu kemudian memecut memakai senjatanya yang istimewa, membikin laki-laki itu berteriak terkuing-kuing dan lari terbirit-birit dan yang lain juga ikut melarikan diri bahkan ada yang kecepirit, sebab mereka melihat datangnya serombongan orang—orang dari Cin wan piauw kiok, yang datang naik kuda serta membekal senjata, mirip seperti polisi yang hendak menangkap gerombolan kawanan pencopet. Ternyata orang—orang dari Cin wan piauw kiok itu sudah kenal dengan dara remaja yang bertempur tadi. Setelah saling berdekatan, kelihatan orang—orang dari Cin wan piauwkiok memberi hormat dan mengucap maaf; karena mereka terlambat datang sehingga tidak sempat memberikan bantuan bagi dara remaja itu. Sebaliknya dara remaja itu kelihatan bersikap acuh dan sombong, dengan perlihatkan senyum mengejek, Setelah itu dia mengikut orang—orang Cin—wan piauwkiok meninggalkan bekas pertempuran tadi. Diluar tahu Cay-hong suthay, perbuatannya yang membantu dara remaja tadi, tak lepas dari perhatian seseorang dan seseorang itu adalah seorang perempuan yang berpakaian sangat sederhana, seperti layaknya seorang pembantu rumah tangga alias si ‘inem’, berumur kira-kira sudah 40 tahun, dan saat itu yang sedang berbelanja membawa keranjang sayur. Si ‘Inem’ yang setengah baya itu mengawasi kepergian Cay hong suthay memakai sudut matanya, sambil dia menyertai seulas senyum dibibir, Setelah itu dia pun melangkahkan kakinya dan memasuki Cin—wan piauwkiok lewat pintu belakang, oleh karena dia adalah pembantu dibagian dapur dari perusahaan itu. Piauwtauw Ma Heng Kong memerlukan keluar menyambut waktu dia mendapat warta tentang datangnya seorang biarawati yang mencari dia; dan piauwtauw yang kenamaan itu tertawa girang meskipun dia tidak pernah menduga bakal kedatangan Cay hong suthay yang katanya sudah mengasingkan diri. Setelah dipersilahkan duduk diruangan tamu maka Cay hong suthay memberitahukan tentang pertemuannya dengan si golok maut Go Bun Heng, yang menyatakan bekas piauwsu tua Yap Seng Lim sedang berada dirumah piauwtauw Ma Heng Kong, sehingga dia sengaja datang menyambangi piauwtauw Ma—Heng Kong, sekaligus ingin bertemu dengan bekas piauwsu tua Yap Seng Lim, yang sudah belasan tahun tak pernah bertemu. Sementara itu piauwtauw Ma Heng Kong menambah tawanya, lalu mengatakan bahwa memang pernah lo piauwtauw Yap Seng Lim datang menyambangi dan menginap ditempatnya, namun pada saat itu ternyata sudah pergi lagi pulang ketempatnya di kota San hay koan. Cay hong suthay perlihatkan senyumnya, meskipun didalam hati sebenarnya dia merasa sedikit kecewa, karena tidak berhasil dia bertemu dengan lo piauwtauw Yap Sang Lim selanjutnya membicarakan urusan yang bertalian dengan kejadian tempo dulu, sampai pembicaraan mereka beralih dengan membicarakan urusan perkembangan perusahaan miliknya piauwtauw Ma Heng Kong, namun yang kurang menarik perhatian Cay hong—suthay, sebab dia memang sudah mengasingkan diri, sehingga lebih banyak Cay hong suthay hanya perlihatkan senyumannya namun dia menerima waktu Ma Heng Kong menawarkan tempat buat dia menginap dirumah piauwtauw yang ramah tamah itu. Cay hong suthay kemudian menanyakan tentang dara remaja yang tadi dilihatnya bertempur dan kemudian jalan bersama-sama dengan orang—orang Cin wan piauwkiok, sedangkan piauwtauw Ma Hang Kong memanggil dara remaja itu, yang ternyata bernama Ma Kim Hwa, seorang keponakan Ma Heng Kong yang baru datang dari kota lain. Dara Ma Kim Hwa merupakan seorang dara remaja yang haus dengan pelajaran ilmu silat. Adanya dia sering datang mengunjungi piauwtauw Ma Heng, adalah untuk dia belajar ilmu silat. Dia tidak tahu sampai dimana batas kemampuan pamannya, akan tetapi dia pun tidak sering mengeluh, menganggap sang paman sangat kikir dalam memberikan pelajaran, oleh karena dia yakin bahwa ilmu silatnya belum memadahi untuk dia menjagoi dikalangan rimba persilatan. Malam harinya, oleh karena mengetahui bahwa Cay-hong suthay menginap dirumah pamannya, maka dengan penuh per hatian dan harapan, Ma Kim Hwa menanyakan keterangan yang mendalam perihal Cay-hong suthay, sampai kemudian dia mendesak sang paman supaya dibicarakan agar dia diterima menjadi muridnya biarawati yang katanya sakti itu. Dipihak Cay-hong suthay, didalam kamarnya malam itu Cay-hong suthay tak dapat mudah tertidur. Pada kesempatan waktu makan malam tadi, perhatian biarawati ini tertuju kepada seorang pelayan perempuan yang menyiapkan hidangan. Dia seperti teringat kepada seseorang yang entah dimana dan siapa gerangan namanya. Tapi waktu dia menanya kepada Ma Heng Kong, maka dikatakan oleh piauwtauw itu, bahwa nama si pelayan perempuan itu adalah Lim Cay Nio, yang baru mulai bekerja sejak dua bulan yang lalu. Namun demikian, pikiran Cay hong suthay ingat terpengaruh, sehingga didalam kamar dia masih berpikir, sampai kemudian dia teringat bahwa perempuan yang bekerja menjadi si ‘Inem’ itu, adalah isteri seorang Pangeran di kota—raja yang sebelumnya namanya pernah menyemarak dikalangan rimba persilatan sebagai Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing ! Benar-benar Cay hong suthay merasa heran tidak mengerti, mengapa Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sudah menjadi istri seorang pangeran, sekarang bekerja di Cin-wan piauwkiok, bahkan menjadi seorang ‘inem’ ? (“ … , dan, akh ! Dia bahkan kelihatannya sedang hamil muda ….”) Cay-hong suthay berkata didalam hati; karena sempat dia tadi memperhatikan si ‘lnem’ yang istimewa itu. Terpikir oleh Cay-hong suthay, bahwa besok pagi terlebih dulu dia hendak mengajak piauwtauw Ma Heng Kong bicara. Ingin dia menanyakan, dengan pangeran yang mana gerangan Liu Giok Ing menikah; dan sesudah membicarakan hal itu baru dia hendak memberitahukan tentang adanya Cheng hwa liehiap dirumahnya piauwtauw Ma Heng—Kong. Begitu pandainya Liu Giok Ing menyamarkan diri, sehingga sepintas dia kelihatan bertambah tua; sehingga berhasil dia mengelabui piauwtauw Ma Heng Kong, seorang jago yang kenamaan yang namanya cukup menyemarak dikalangan rimba persilatan. Mungkinkah Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing sedang umpatkan diri ? Mengapa ? dan kenapa dia meninggalkan istana tempat suaminya ? Cay hong suthay merasa sangat penasaran, sehingga tidak sabar lagi buat dia menunggu sampai esok paginya; segera dia turun dari tempat tidurnya, niatnya hendak mendatangi kamar Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing buat dia menanyakan keterangan tanpa lain orang ikut mengetahui. Tetapi pada saat itu mendadak telinganya yang tajam mendengar adanya suara yang tidak wajar dekat jendela kamarnya ! “Siapa yang berada diluar jendela…?” sengaja Cay hong suthay menyapa dengan suara yang cukup keras, supaya didengar oleh seseorang yang berada diluar jendela kamarnya, akan tetapi tiada suara jawaban yang didengar oleh Cay hong suthay, Sebaliknya sempat dilihatnya sesuatu bayangan hitam yang lompat naik keatas genteng. Dengan geraknya yang sangat gesit dan ringan, Cay hong suthay membuka daun jendela dan lompat naik keatas genteng, sehingga sempat pula dilihatnya suatu bentuk tubuh yang kecil langsing yang sedang lari menjauh, dan Cay hong suthay yakin bahwa orang itu adalah dara Ma Kim Hwa ! Cay hong suthay membiarkan dara Ma Kim Hwa menghilang, Sebaliknya dengan langkah kaki yang tenang dia menuju kearah belakang hendak mencari kamarnya Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sedang menyamar menjadi seorang ‘inem’, lalu tiba—tiba dia dikejutkan dengan terdengarnya bunyi suara berbagai senjata yang saling bentur, menandakan telah terjadi suatu pertempuran. Dalam kagetnya Cay hong suthay lompat melesat kearah bunyi pertempuran itu, dan di lain saat dilihatnya ada beberapa orang pegawai piauwkiok yang sedang bertempur melawan beberapa orang yang semuanya memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam. Disuatu sudut Cay hong suthay melihat adanya piauwtiauw Ma Heng Kong bersama pemuda Cin Yam Hui, yang sedang berdiri dengan sikap siaga. Cay hong suthay kemudian mendekati tempat kedua orang itu berdiri. Dia menanyakan kalau-kalau Ma Heng Kong mengetahui siapa gerangan pihak yang datang menyerang itu. Akan tetapi piauwtauw Ma Heng Kong menggelengkan kepalanya. Dia bahkan menyatakan keheranannya disamping dia merasa sangat penasaran karena perusahaannya ada yang berani datang menyerang, sedangkan biasanya dia sangat dimalui dan tidak banyak mendapat rintangan selama dia mengurus perusahaan tersebut. Disaat piauw Ma Heng Kong sedang berpikir, tiba—tiba dia dikejutkan dengan adanya teriak suara seseorang yang memaki dia “Ma Heng Kong ! Lekas keluarkan simpananmu si kuntianak penyebar cinta Liu Giok Ing. Kami adalah murid-murid dari Kwan gwa sam eng yang hendak menuntut balas dendam , … !” Setelah selesai teriak suara itu, maka kelihatan berlompatan tiga orang yang juga memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam, dan mereka sudah langsung menyerang terhadap Ma Heng Kong. Piauwtauw Ma Heng Kong berkelit mundur, dan pemuda Cin Yam Hui mewakilkan dia untuk bertempur melawan dua orang yang baru datang itu, dan waktu seorang lagi telah mengulang lagi serangannya terhadap Ma Heng Kong, maka piauwtiauw itu menekan senjata orang itu memakai goloknya sambil dengan nada suara bengis dia berkata “Kau ulangi lagi perkataan kalian tadi…! demikian kata Ma Heng Kong yang ingin.mendapat ketegasan; oleh karena sesungguhnya dia menjadi sangat terkejut dan heran, ketika dia dituduh.menyimpan Liu Giok Ing yang namanya sudah tidak asing lagi baginya dan dia bahkan ikut mengetahui bahwa Liu Giok Ing telah menjadi isterinya pangeran Gin Lun di kota raja. “Kami menghendaki Liu Giok Ing untuk membalas dendam guru kami, dan kau telah menyembunyikan dia !” sahut orang itu sambil dia mengerahkan tenaga untuk:melepas tekanan pada senjatanya. “Kurang ajar ! Kau telah menuduh secara sembarangan !” bentak piauwtauw Ma HengeK0ng’dengan marah, namun didalam hati dia tambah terkejut.
===
Meskipun belum pernah bertemu muka, akan tetapi piauwtauw Ma Heng Kong sudah tidak asing lagi dengan nama Liu Giok Ing yang pernah menyemarak dikalangan rimba persilatan, mendampingi si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang, sehingga ada sebagian orang yang menyiarkan berita bahwa Liu Giok Ing merupakan pacarnya si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang, namun dilain saat ada yang menyebar beritanya bahwa antara Liu Giok Ing dengan Kwee Su Liang sebenarnya merupakan musuh turunan yang saling menyimpan dendam dan ingin saling membunuh. Kemudian diketahui pula oleh piauwtauw Ma Heng Kong tentang Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang menikah dengan Pangeran Giok Lun di kotaraja, sedangkan si pendekar tanpa bayangan juga telah menikah dengan Lie Gwat Hwa dan menjabat pangkat sebagai Gubernur yang berkuasa di perbatasan kota Gan bun koan; dan dua berita ini memang pernah membikin dia goyang— goyang kepala, namun dia tidak mau mencampuri urusan lain orang. Akan tetapi mengapa sekarang dia justeru dituduh telah ‘menyimpan’ bini orang ? Dan bini Pangeran itu bahkan katanya dia ‘simpan’ didalam rumahnya itu ? Dilain pihak, lawannya Ma Heng Kong telah berhasil melepaskan senjatanya dari tekanan goloknya Ma Heng Kong; setelah itu lawan ini mengulang serangannya, bergerak bagaikan seekor burung elang yang gesit; karena dia tak mau terulang senjatanya dibikin tidak berdaya lagi. Melihat Cara lawannya Ma Heng Kong bertempur, maka Cay hong suthay merasa yakin bahwa orang itu benar—benar merupakan muridnya Kwan gwa sam eng, atau tiga garuda dari Kwan gwa. Dahulu memang Cay hong suthay pernah bertempur melawan Kwan gwa sam eng yang terkenal ganas kejam, hanya dia tidak tahu entah ada permusuhan apa antara Kwan gwa sam eng dengan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, karena seperti yang tadi dikatakan bahwa kedatangan orang-orang yang menyerang Cin wan piauwkiok itu hendak membalas dendam Kwan gwa sam eng. Apakah Kwan—gwa sam eng sudah terkalahkan dan gugur ditangan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing? Kemudian lebih tidak diketahui lagi oleh Cay hong suthay, bahwa sebenarnya murid—muridnya Kwan gwa sam eng itu merupakan kaki tangan dari pangeran Kim Lun yang hendak melakukan perbuatan makar, atau hendak merebut kekuasaan Negara. Disamping menyimpan dendam pribadi oleh karena guru mereka dibinasakan oleh Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing berdua Bo—im kiamhiap Kwee Su Liang, maka ketiga muridnya Kwan gwa sam eng itu memang sedang melakukan tugas hendak membunuh Liu Giok Ing; sampai kemudian mereka dibantu oleh See thian tok ong Sila Ponchay, dan akhirnya mereka kehilangan jejak Liu Giok Ing didalam kota Lam yang. Akan tetapi berkat mereka dengan gigih terus berusaha, maka sempat mereka mengetahui bahwa Liu Giok Ing berdiam didalam rumah Ma Heng Kong, meskipun mereka tidak mengetahui bahwa Liu Giok Ing menyamar dan bekerja sebagai seorang ‘inem’. Berempat mereka tidak berani menyerbu kedalam rumah piauwtauw Ma Heng Kong sehingga mereka lalu memberikan laporan kepada Kim.Lun Hoat ong, dan Kim Lun Hoat—ong mengirimkan bala bantuan tanpa dapat menyertai ciangkun Sie Pek Hong yang kebenaran sedang menghadapi tugas lain. sementara itu waktu Cay hong suthay mengawasi kearah pertempuran yang dilakukan oleh pemuda Cin Yan Hui, maka dilihatnya dara Ma Kim Hwa sudah ikut terjun dalam pertempuran itu, membantu pemuda Cin Yam Hui, sedangkan dibagian lain kelihatan para piauwsu sedang sibuk menghadapi para penyerang yang sudah bertambah banyak, tidak kurang dari dua puluh orang ! Mau tidak mau, Cay hong suthay merasa wajib untuk memberikan bantuan bagi pihak Ma Heng Kong. Akan tetapi selagi dia bergegas hendak memasuki arena pertempuran, tiba—tiba terlihat adanya sesuatu tubuh orang yang melesat keatas tembok halaman, lalu dari tempat itu dia melepaskan beberapa senjata rahasia mengarah pihak orang-orang yang datang menyerang, sambil dia perdengarkan pekik teriaknya yang nyaring : “Kalian mencari Cheng hwa liehiap Liu—Giok Ing, aku berada disini !” ooo—0-ooo ORANG PERTAMA yang melihat kehadirannya liehiap Liu Giok Ing adalah Cay hong suthay. Dilihatnya waktu itu liehiap Liu Giok Ing memakai pakaian serba putih, dengan kepala memakai tudung lebar berikut cadar dari kain warna putih juga, membuat mukanya tidak terlihat nyata. Sehabis dia berteriak maka Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing tidak menyerbu ketempat pertempuran, sebaliknya dia lompat keluar tembok halaman; sedangkan orang-orang yang datang menyerang Cin wan piauwkiok serentak melakukan pengejaran. Pemuda Cin Yam Hui berdua dara Ma Kim Hwa merasa penasaran karena ditinggalkan 1awan—1awan mereka, sehingga mereka ikut melakukan pengejaran. sedangkan para piauwsu yang juga hendak ikut mengejar, telah dilarang oleh piauwtauw Ma Heng Kong. “Heran . , .apakah benar-benar liehiap Liu Giok Ing berada didalam rumahku …” gumam piauwtauw Ma Heng Kong waktu dia telah berada didekatnya Cay hong suthay. II “Dia memang berada disini … sahut Cay hong suthay sambil bersenyum, sehingga Ma Heng Kong jadi terpesona mengawasi, sementara Cay—hong suthay lalu menceritakan tentang pertemuan dengan Cheng-hwa lie hiap Liu Giok Ing pada waktu makan malam tadi, yang menyamar sebagai pembantu dapur. “Hayaa ! Kalau begitu aku telah berlaku kurang hormat terhadap dia . . . . ..,” kata piauwtauw Ma Heng Kong sambil dia membanting kaki, kelihatan sangat menyesal dan penasaran. Dengan mengucapkan kata kata yang menghibur, maka Cay hong suthay minta diantar ke kamarnya liehiap Liu Giok Ing, tapi mereka tidak lagi menemukan pakaian liehiap Liu Giok Ing yang sudah dibawa semua, melainkan ada sepucuk surat dari Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang ditujukan buat piauwtauw Ma Heng Kong. Dipihak Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing sebenarnya dia memang mengetahui bahwa pihak musuh terus membayangi dia. Dengan mengikuti bisikan hatinya, kemudian liehiap Liu Giok Ing menyamar dan melamar kerja sebagai pelayan pada Cin wan piauwkiok; dan oleh karena dia menyamar dengan cara yang cermat sebagai seorang perempuan setengah baya golongan tidak mampu, maka berhasil dia mengelabui piauwtauw Ma Heng Kong, bahkan Cay hong suthay tidak segera mengenali pada saat mereka bertemu. Dengan Cara penyamarannya dan bekerja di perusahaan pengangkutan Cin wan piauw kiok, maka untuk sementara Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing menjadi terhindar dari pihak musuh—musuhnya, padahal hampir setiap hari mengunjungi thabib Liauw Tek Jin untuk mengobati penyakitnya, yakni disaat dia sekalian keluar belanja keperluan dapur. Tetapi, diluar tahu liehiap Liu Giok Ing, adalah pihak musuh tidak berani melakukan penyerangan terhadap gedung piauwkiok yang dipimpin oleh Ma Heng Kong, sehingga mereka memerlukan minta bala bantuan dari Kim Lun Hoat—ong. Selama upatkan diri ditempat piauwtauw Ma Heng Kong, maka tanpa terasa kandungan liehiap Liu Giok Ing telah genap berusia 3 bulan, sehingga sudah mulai bisa dilihat oleh orang orang termasuk Cay hong suthay. Malam itu waktu Cin—wan piauwkiok diserang, sebenarnya liehiap Liu Giok Ing tak bermaksud perlihatkan diri sebab kesehatannya belum pulih benar. Dengan adanya Cay hong suthay, dia yakin bahwa pihak musuh tidak sukar untuk diusir pergi, tetapi kemudian dia teringat bahwa Cay—hong suthay sudah hidup mengasingkan diri, sehingga biarawati yang sakti itu pantang melakukan pembunuhan dan sudah tidak mau lagi mencampuri urusan orang-orang rimba persilatan, sehingga terpaksa Cheng hwa liehiap memperlihatkan diri, supaya dia tidak membikin susah pihak Cin wan piauwkiok. Demikian, setelah dia persiapkan diri dan tidak lupa menulis sepucuk surat buat piauw tauw Ma Heng Kong, maka dia muncul dan sengaja dia ‘mengajak’ pihak musuh supaya mereka tidak bertempur didalam tempatnya piauwtauw Ma Heng Kong. Disuatu tempat belukar yang jauh terpisah dari Cin—wan piauwkiok, maka Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing sengaja menunggu pihak musuh yang sedang mengejar, sehingga dilain saat terjadi dia bertempur melawan tiga orang musuh, sampai kemudian ditambah lagi dengan empat orang musuh yang ikut menyusul. Dengan tabah dan berlaku lincah Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing membiarkan dia dikepung pihak musuh dan dia mengerahkan ilmu ‘coan hwa—jiauw—sie’ (menembus bunga melihat pohon), suatu ilmu kelincahan tubuh yang sukar dicari tandingannya, sementara didalam hati dia merasa penasaran karena tidak dapat melihat kehadirannya See thia tok ong Sila Ponchay, sebab dia hendak membalas dendam terhadap si biang racun dari barat yang licik ! Akan tetapi, yang dia harapkan itu tidak kelihatan muncul, sebaliknya yang datang dan memasuki arena pertempuran adalah pemuda Cin Yam Hui berdua dara Ma Kim Hwa, sehingga pihak musuh memisah diri, empat orang mengepung pasangan muda mudi itu sedangkan tiga orang yang lainnya tetap menghadapi Liu Giok Ing; namun dilain saat muncul lagi rombongan musuh yang semuanya telah meninggalkan rumah piauwtauw Ma Heng Kong; dan semuanya telah ikut mengejar liehiap Liu Giok Ing yang hendak mereka bunuh mati. Kembali semangat tempur liehiap Liu Giok Ing menjadi bangkit lagi, seperti dulu selagi dia be1um.menikah dengan pangeran Giok Lun, dan saat itu dia bahkan melupakan kandungannya yang telah berusia tiga bulan. Dalam.menghadapi musuh yang belasan orang jumlahnya, dan yang semuanya memiliki ilmu yang cukup mahir, maka liehiap Liu Giok Ing berlaku bengis, sehingga meskipun dia dikepung, namun pihak dia justeru yang banyak melakukan penyerangan dengan pedang ‘Ku tie kiam’ yang terkenal ampuh serta kadang—kadang dia menyebar bunga—bunga cinta, yang mengakibatkan dalam sekejap telah ada beberapa tubuh yang bergelimpangan menjadi mayat atau terluka parah. Dilain kesempatan hanya sisa tiga orang musuh yang masih tetap bertahan melakukan pengepungan atas diri Liu Giok Ing; akan tetapi ketika Liu Giok Ing mengerahkan ilmu simpanannya yang terdiri dari 36 jurus dan yang dapat dipecah menjadi 3 bagian, maka sebagai hasilnya, dua musuh berteriak mengerikan dan rubuh tewas kena 13 kali tikaman dan bacokan pedang liehiap Liu Giok Ing, sedangkan yang seorang lagi berusaha hendak melarikan diri, namun kalah cepat, dengan melayangnya bunga-bunga cinta yang dilepas oleh liehiap Liu Giok Ing, sehingga sisa musuh itu pun ikut rebah tewas seketika. Disaat liehiap Liu Giok Ing hendak membantu pemuda Cin Yam Hui berdua Ma Kim Hwa yang masih bertempur dan dikepung oleh sejumlah musuh, maka mendadak dia mendengar suara tawa seseorang, lalu muncul See thian tok ong Sila Ponchay, yang bahkan memerlukan dan berkata dengan mengejek : “Aku sangka si kuntianak sudah masuk ke liang kubur, ternyata dia masih mampu bernapas bahkan membawa Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing menjadi sangat gusar waktu melihat musuh yang pernah mencelakai dia, sehingga batal dia yang hendak membantu pemuda Cin Yam Hui berdua dara Ma Kim Hwa, sebaliknya dengan suatu gerak ‘macan betina keluar dari goa’, dia melompat menerkam sementara pedangnya menyambar memakai gerak tipu ‘macan betina melihat tiang’.
=====
See thian tok-ong Sila Ponchay mengangkat senjatanya yang istimewa. Dengan mengerahkan tenaganya dia menangkis, mengakibatkan senjata mereka saling bentur dan dari senjatanya yang istimewa itu berhamburan asap disertai dengan percikan lelatu anak api, yang semuanya menyambar kearah Cheng Hwa liehiap Liu Giok Ing. Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing kali ini sudah siaga untuk menghadapi asap yang mengandung bisa racun itu, berkat pertemuannya dengan si thabib sakti Liauw Tek Jin; sehingga tanpa ragu—ragu dia membiarkan senjata mereka saling bentur. Akan tetapi, sebagai akibat mereka mengadu tenaga dalam, maka tubuh keduanya tergempur, saling mundur tiga langkah kebelakang ! “Hm …!” desis Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing, lalu dengan gesit dia mengulang serangannya, dengan suatu tikaman memakai gerak tipu ‘macan betina melepas mustika’; sedangkan See—thian tok ong Sila Ponchay sekarang melayani dengan kelincahan tubuh, tidak lagi saling mengadu kekuatan tenaga dalam. Berbagai macam ilmu silat yang berasal dari Thibet telah diperlihatkan oleh See thian—tok—ong Sila Ponchay, akan tetapi sekarang Cheng—hwa liehiap Liu Giok Ing dapat mengimbangi diri oleh karena dia tidak takut lagi dengan asap beracun dari senjata lawannya. Kecuali senjatanya yang istimewa itu, sekarang See thian tok—ong Sila Ponchay menggunakan juga telapak tangan kirinya buat melakukan berbagai serangan, dan ternyata dia memakai jurus—jurus semacam ilmu ‘tay—yang-sin-ciang’ (pukulan tangan-sakti) yang memang sudah dikenal dengan baik oleh liehiap Liu Giok Ing. Disuatu saat See—thian tok—ong Sila Ponchay bahkan menggunakan senjata rahasia berupa jarum—jarum halus yang juga mengandung bisa racun, sehingga dalam usahanya untuk menghindar dengan berkelit atau mengibas memakai lengan bajunya, maka mengakibatkan kedudukan mereka terpisah cukup jauh. Ketika telah kehabisan jarumnya, maka tiba—tiba See—thian tok—ong Sila Ponchay perdengarkan suara seruan yang aneh bagi pendengaran Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, setelah itu tubuh See thian tok ong Sila Ponchay mencelat tinggi hendak menerkam lawannya ! Telapak tangan kiri See thian tok ong Sila Ponchay merentang tegang bagaikan hendak mencakar, sedangkan senjatanya yang berupa huncwee yang istimewa disiapkan hendak memukul memakai gerak tipu ‘tay—san ap—teng’ atau gunung tay—san menindih. Liehiap Liu Giok Ing tidak gentar menghadapi ancaman serangan yang nekad dari lawannya. Tubuhnya lalu ikut terbang buat menyambuti lawan. Tenaga tangan dilawan dengan tenaga tangan, dan senjata mereka ikut saling bentur dengan kerasnya ! Kesudahannya tubuh liehiap Liu Giok Ing terpental jatuh dengan mulut mengeluarkan darah, sementara punggungnya terpukul dan pundak kirinya terluka kena senjata musuh dalam pertempuran yang serba cepat dan pedang ‘ku tie kiam’ sudah lepas dari tangan Liu Giok Ing, masih membenam didalam perut lawannya ! Dilain pihak, See thian tok ong Sila Ponchay terjatuh dengan perut masih membenam pedang lawannya. sementara darah segar sudah membasahi tubuh dan pakaiannya. Dengan wajah muka meringis menahan rasa sakit, See thian tok ong Sila Ponchay mengawasi musuhnya yang terduduk lemah dan terluka. See thian tok ong Sila Ponchay kemudian memaksa diri buat bangun berdiri, lalu dengan langkah kaki perlahan dia mendekati Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing. Senjata huncwee dia siapkan untuk melakukan serangan terakhir terhadap musuhnya yang dia anggap sudah tidak berdaya ! Cheng—hwa liehiap Liu Giok Ing masih sadar mengetahui bahwa maut sedang mendekati dia. Dengan sepasang tangan menekan tanah dia berusaha hendak berdiri, tetapi sia—sia percobaannya karena keadaannya yang sangat lemah. Waktu kemudian See thian tok—ong Sila—Ponchay sudah bertambah mendekati, maka sepasang tangan liehiap Liu Giok Ing meraba pinggangnya, mencabut dua batang pisau terbang atau hiu kim; lalu dengan mengerahkan sisa tenaganya, maka liehiap Liu Giok Ing melontarkan sepasang hui kiam itu yang terbang dan membenam didada sebelah kiri dan sebelah kanan See thian tok—ong Sila Ponchay sehingga sekali lagi See thian tok—ong Ponchay kelihatan meringis menahan rasa sakit, namun tubuhnya lemas dan kehabisan darah, dan dia terjatuh tewas didekat tempat liehiap Liu Giok Ing terduduk lemah. sekali lagi Liu Giok Ing sempat memperhatikan pertempuran yang dilakukan oleh muda mudi Cin Yam Hui berdua Ma Kim Hwa, meskipun seluruh tubuhnya merasa sangat lemas. Lalu dengan sinar mata yang samar sempat diketahuinya bahwa pasangan muda mudi itu juga telah berhasil mengalahkan musuh mereka yang kabur melarikan diri. Kedua muda mudi itu kemudian lari mendekati liehiap Liu Giok Ing yang mereka lihat terluka parah. “Kau ….?” kata dara Ma Kim Hwa waktu dilihatnya muka liehiap Liu Giok Ing yang dia kenal sebagai pelayan dirumah pamannya. Cheng—hwa liehiap Liu Giok Ing paksakan diri untuk bersenyum, meskipun dia harus menahan rasa sakit yang bukan kepalang. Akan tetapi waktu Ma Kim Hwa bermaksud mengajak dia pulang dengan memerintahkan pemuda Cin Yam Hui bantu mengangkat tubuh Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing: maka liehiap Liu Giok Ing secara tiba—tiba berkata; “Saya mendengar suara sesuatu mungkin masih ada musuh yang mengintai kita. Coba periksa disekitar tempat ini ….” Ma Kim Hwa berdua Cin Yam Hui bergerak memisah diri untuk memeriksa sekitar tempat itu, sementara liehiap Liu Giok Ing yang menggunakan kesempatan itu, telah bangun berdiri dengan mengerahkan sisa tenaga yang masih ada. Dengan susah payah kemudian liehiap Liu Giok Ing mencabut pedang Ku tie kiam, yang masih membenam diperut See thian—tok ong Sila Ponchay; dan dengan pedang itu kemudian dia menulis diatas tanah setelah itu dengan langkah kaki yang lemah dia berusaha pergi meninggalkan tempat itu, dengan membawa luka ditubuh, sekaligus luka dihati. Waktu kemudian Ma Kim Hwa berdua pemuda Cin Yam Hui kembali karena tidak menemukan seseorang maka dia tidak melihat ada liehiap Liu Giok Ing; sebaliknya diatas tanah terdapat pesan tulisan memakai ujung pedang; “Pulang ke Kuiciu.” “Pulang ke Kuiciu ?” ulang dara Ma Kim Hwa, lalu bagaikan baru menyadari, maka dia membanting kaki dan menyatakan penyesalannya. Adalah menjadi niatnya dia hendak mencari seseorang berilmu buat dia memperdalam pelajaran ilmu silat, dia tidak pernah menduga bahwa si pelayan memiliki ilmu sedemikian tingginya, sehingga dia telah membuang kesempatan dengan sia—sia, dan merasa sangat meny esal sekali. “Tetapi dirumah masih ada Cay hong suthay dari Ngo bie I! pay, mari kita pulang … ajak pemuda Cin Yam Hui bagaikan mengingatkan Ma Kim Hwa sehingga dilain saat keduanya berlari—lari untuk pulang ke Cin wan piauwkiok, dan menceritakan semua yang mereka ketahui kepada Ma Heng Kong dan Cay hong suthay yang sedang menunggu kedatangan mereka. oleh piauwtauw Ma Heng Kong kemudian dijelaskan kepada pasangan muda mudi itu, tentang siapa sebenarnya Cheng—hwa liehiap serta memperlihatkan juga surat peninggalan Liu Giok Ing yang mengucap terima kasih serta maaf yang sebesar-besarnya karena dia terpaksa umpatkan diri di Cn-wan piauwkiok, selama dia menderita luka dan sedang berobat. “Sayang dia tidak kembali ke tempat kita, sehingga aku tidak sempat belajar ilmu silatnya yang begitu sakti … II kata dara Ma Kim Hwa yang menyatakan penyesalannya. Cay—hong suthay yang turut mendengarkan perkataan itu, menjadi bersenyum dan berkata : “Kalau Ma kouwnio benar—benar ingin beIajar, tak susahnya II buat kau menyusul ke Kui—ciu …. Ma Kim Hwa berdiri terpesona mendengar perkataan Cay hong suthay. Pada mulanya adalah menjadi hasratnya, bahwa setelah gagal belajar dari liehiap Liu Giok Ing, maka dia bermaksud hendak belajar dengan Cay—hong suthay. Akan tetapi setelah dia mendengar perkataan itu, dengan mendadak dia batal mengajukan pertanyaan itu sebab dia bertekad hendak menyusul Cheng—hwa liehiap Liu Giok Ing ke Kui ciu, di Inlam, Tali. iti—Z X Z !i! SEMENTARA itu Bo im kiamhiap Kwee Su Liang yang merasa sia—sia menunggu kedatangan bala bantuan tentara dari kota raja, maka pada suatu hari dengan menyamar sebagai seorang penduduk desa, Kwee Su Liang melakukan penyelidikan memasuki daerah kekuasaan suku bangsa Watzu. Pada dusun pertama yang letaknya terdekat dengan perbatasan kota Gan—bun koan. Kwee Su Liang mempunyai seorang kenalan bangsa Watzu yang mempunyai kedudukan sebagai kepala desa, namanya In Kek See, yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun. Dengan menyamar sebagai seorang penduduk desa yang berpakaian sangat sederhana, Kwee Su Liang memasuki dusun itu tanpa mendatangkan rasa curiga pihak penduduk setempat akan tetapi sebaliknya Kwee Su Liang yang sudah setahun tidak pernah menemui kenalannya, menjadi agak heran ketika mendapati dusun itu sudah berubah, sangat berbeda dengan waktu dulu. Penduduk dusun itu sekarang kelihatan bertambah banyak, bahkan bercampur dengan orang orang cina yang menetap di dusun itu menandakan kedua negara itu sedang dalam suasana damai, tidak ada rasa permusuhan. Akan tetapi, suku bangsa cina yang menetap di dusun itu, kelihatannya bercampur dari berbagai daerah, ada yang berasal dari daerah Kanglam, bahkan ada yang dari propinsi Kwie say, yang letaknya sangat jauh terpisah dari perbatasan kota Gan bun koan. Kwee Su Liang langsung mendatangi rumah kepala desa In Kek See, dan hasrat hatinya ingin dia menanyakan keterangan tentang perkembangan di desa itu, terutama tentang banyaknya orang-orang cina yang berasal dari berbagai daerah itu yang benar—benar sangat mengherankan hatinya. Rumah kepala desa itu kelihatan sunyi bagaikan tidak ada penghuninya, meskipun lalu lintas dibagian depan rumah masih kelihatan cukup ramai, lalu dia mengetuk pintu yang ditutup. Sesaat kemudian Kwee Su Liang mendengar adanya suara langkah kaki seseorang dari bagian dalam rumah. Suara langkah kaki yang halus menandakan dari seorang perempuan, dan dilain saat daun pintu itu dibuka, lalu seorang perempuan muda berdiri berhadapan dengan Kwee Su Liang. Umur perempuan itu kira—kira baru 20 tahun lebih, bermuka cantik bahkan kelihatan genit. Dia perlihatkan senyum yang menawan, membikin sejenak Kwee Su Liang kelihatan seperti menjadi gugup gelisah, disamping dia merasa heran, sebab perempuan muda itu adalah orang cina, bukan suku bangsa Watzu ! “Maaf, apakah rumah ini masih menjadi miliknya In Kek See yang kedudukannya sebagai kepala desa …?” tanya Kwee Su Liang, khawatir kalau In Kek See sudah pindah rumah. Perempuan muda itu menambah senyumnya, dan halus merdu suaranya waktu dia memberikan jawaban : “Benar, akan tetapi dia sedang pergi….” Tetap Kwee Su Liang merasa gugup gelisah, meskipun perempuan muda itu sudah membenarkan pertanyaannya. Lirikan mata dan senyuman menawan dari perempuan muda itu, benar—benar membikin Kwee Su Liang bertambah gugup, disamping dia merasa heran entah ada hubungan apa antara ln Kek See dengan perempuan muda bangsa cina itu. “Isterinya In Kek See, apakah dia berada dirumah .. , .?” akhirnya Kwee Su Liang menanya lagi, masih merasa gugup sehingga lagaknya itu berhasil membikin perempuan itu bersenyum lagi, yang terasa semakin menawan bahkan merangsang, “Juga sedang pergi …” sahut perempuan muda itu singkat, tetapi senyum dan lirikan matanya, benar benar bisa membikin hati Kwee Su Liang berguncang—guncang berontak, seperti ngajak dangdut, sehingga untuk sesaat Kwee Su Liang jadi terdiam bagaikan tak sanggup mengucap kata kata, dan perempuan muda itu kemudian bicara lagi : “Kalau siangkong mau menunggu silahkan masuk . , .” “ … siangkong . , .” katanya, bukan main bikin hati Kwee Su Liang tambah anjlok seperti keluar dari rel. “Eh, oh … ” bertambah gugup gelisah keadaan Kwee Su Liang, tetapi waktu perempuan muda itu menyisi dan memberikan jalan buat Kwee Su Liang memasuki bagian dalam dari rumah itu, maka bagaikan tanpa sadar Kwee Su Liang melangkahkan kakinya dan dia bahkan masih seperti tak sadar waktu dia duduk diruangan tamu. “Eh, siao kouwnio pernah apa dengan In Kek See … ?” tanya Kwee Su Liang setelah dia duduk dan perempuan muda itu berdiri didekatnya, tetap gugup gelisah keadaan Kwee Su Liang; dan dia memakai istilah ‘siao kouwnio’ atau nona kecil, buat lawan istilah ‘siangkong’ atau baba yang digunakan perempuan muda tadi. Sementara itu perempuan muda itu menjadi tambah bersenyum yang menawan dan merangsang, sehingga sekilas Kwee Su Liang ingin menggigit mulut perempuan muda itu, yang kelihatan kecil dengan bibir merah membasah ! “Hi hi, siao kouwnio… ulang perempuan muda itu sambil dia tertawa dua kali hi yang entah dapat belajar dari mana; setelah itu buru—buru perempuan itu menambahkan perkataannya “…kalau siangkong menganggap aku sebagai bocah yang masih ingusan, apakah aku harus menganggap siangkong sebagai lo ya atau lo kung-kung …” dan dia tertawa lagi; terdengar manja bercampur jenaka: sehingga berhasil dia membikin Kwee Su Liang menjadi tersipu anjlok-anjlok yang bukan cuma satu kali anjlok, dan bertambah gugup waktu dia berkata “Eh, oh; maaf. Tetapi . , , . ” ( Bersambung ke jilid 9 )
=====
“NAMA saya, Sin Lan. Saya lebih senang kalau siangkong mau menyebut nama saya tanpa memakai embel—embel kouw—nio !” dan perempuan muda itu menunduk perlihatkan lagak malu—malu kucing. Akan tetapi lirikan matanya yang aduhai, membikin sukar Kwee Su Liang bernapas, sehingga napas itu bahkan sampai terdengar memburu seperti dia sedang dikejar kura—kura, “Tetapi, kouw-nio ….” “Akh !” perempuan muda itu memutus perkataan Kwee Su Liang, perlihatkan lagak manja yang bercampur merangsang ! “Eh, tetapi Lan moay …” “Nah, itu baru benar, saya jadi senang mendengarnya !” dan lincah manja Sin Lan bergerak memegang sebelah tangan Kwee Su Liang. Wajar perbuatannya seperti dia tidak memperhatikan keadaan Kwee Lu Liang yang waktu itu jadi bertambah gugup sehingga sepasang tangannya gemetar merasa kegajahan, dan tak mampu dia mencegah perbuatan Sin Lan, bahkan bertambah gugup suaranya waktu dia berkata lagi ; Lan—moay belu menjawab pertanyaan saya yang tadi |n “Pertanyaan apa ?” tanya Sin Lan merasa lupa, dan dia sengaja lupa mengangkat tangannya yang masih memegang sebelah tangan Kwee Su Liang. Lan moay pernah apa dengan In Kek-See ?” Kwee Su Liang mengulang pertanyaannya “Hi—hi …” tawa lagi Sin Lan, tetap dua kali ‘hi’ dan tetap tawa memikat, lalu dia meneruskan berkata. “… saya mantunya !” “Eeh, dari anak yang mana ?” “Hi-hi—hi …” tiga kali ‘hi’ Sin Lan menambah tawanya, dan menambah perlihatkan lagak manja yang merangsang; setelah itu baru dia menambahkan perkataannya ” .. sudah tentu dari anaknya yang pertama, masa dua-duanya …” dan tertawa lagi Sin Lan akan tetapi cepat—cepat dia tinggalkan Kwee Su Liang ke ruangan belakang; membiarkan Kwee Su Liang gugup gelisah, tetapi sempat berpikir. Mungkinkah puteranya In Kek See memasuki negeri cina dan membawa pulang bini orang cina ? Sebab setahu Kwee Su Liang, kedua puteranya In Kek See bertugas sebagai tentara pada pemerintah negara Watzu, dan tidak tinggal bersama-sama dengan ayah dan ibu mereka. Sementara itu Sin Lan kembali dengan membawa cangkir berikut teko berisi air teh hangat, tetap sambil dia menyertai senyum yang menawan; sedangkan langkah kakinya begitu lembut, dan pinggulnya bergerak aduhai selagi sepasang kakinya itu melangkah. Benar—benar membikin Kwee Su Liang pusing kepala, bagaikan dia belum pernah melihat wanita yang pintar niru-niru Semar jalan igel-igelan. “silahkan siangkong minum.” kata Sin Lan lembut perlahan selagi tangannya menuang air teh, tetapi lirikan matanya tak lepas dari muka Kwee Su Liang, sehingga tidak disadarinya waktu air teh meluap dari cangkir yang sangat kecil. “E-e-h !” Kwee Su Liang bersuara kaget, Sebab melihat air teh yang meluap membasahi meja, dan sebelah tangannya ikut bergerak memegang sebelah tangan Sin Lan yang sedang menuang air teh. Tangan yang berkulit putih halus terasa begitu lembut; dan jari jari tangan yang dihias dengan kuku—kuku runcing panjang warna merah seperti darah ayam. sekali lagi Sin Lan perdengarkan suara tawanya yang merdu dan memikat, dan dia berkata ; “E—e—h, siangkong ! Tangan Siao moay kenapa dipegang terus ?” Begitu manja Sin Lan bicara, begitu merdu suaranya, tetapi dia membiarkan sebelah tangannya yang masih dipegang oleh Kwee Su Liang dan laki laki itu tersipu malu bagaikan baru menyadari, sehingga buru—buru dia melepaskan pegangannya, tapi tak mampu mengucap apa-apa, membikin Sin Lan yang berkata lagi “silahkan siangkong minum, tetapi cuma air teh …” “Terima kasih .” sahut Kwee Su Liang, terdengar perlahan dan gemetar nada suaranya, sehingga dia merasa penasaran, mengapa justru perempuan itu yang lebih galak? Mengapa dia jadi gemetar? Juga sepasang tangan Kwee Su Liang kelihatan gemetar waktu dia mengangkat cangkir, sementara Sin Lan tetap berdiri sambil mengawasi dan perlihatkan senyumnya yang memikat dan merangsang, sempat Kwee Su Liang ikut mengawasi sesudah dia minum dari cangkir yang pertama. “Apakah In Kek See akan pergi lama….?” akhirnya Kwee Su Liang menanya; tetap terdengar perlahan suaranya. Sin Lan tetap memperlihatkan senyumnya yang memikat, dia tidak segera menjawab pertanyaan Kwee Su Liang, tetapi dengan langkah kaki yang aduhai dia mendekati Kwee Su Liang sehingga dia berdiri dibelakang laki laki itu, dan Secara tiba-tiba sepasang tangannya merangkul Kwee Su Liang dari bagian punggung. “Apakah Liang-ko merasa keberatan kalau menunggu berdua siao—moay … ?” dan muka Sin Lan berada terlalu dekat dengan muka Kwee Su Liang, bahkan merasa menyentuh hangat dan tercium bau pupur, tetapi Secara mendadak Kwee Su Liang menjadi tersentak. Dia memutar kepala mengawasi Sin Lan yang masih merangkul dan memperlihatkan senyum yang aduhai. “Liang-ko …” kata Sin Lan tadi, sehingga Kwee Su Liang menjadi tersentak kaget. Meskipun In Kek See mungkin sudah menceritakan kepada Sin Lan bahwa dia mempunyai seorang teman yang bernama Kwee Su Liang, namun Kwee Su Liang dan Sin Lan sekali pun memang belum pernah bertemu. Jadi, bagaimana mungkin Sin Lan bisa mengetahui bahwa dia sedang berhadapan dengan Kwee Su Liang, tanpa Kwee Su Liang memberitahukan namanya ? “Lan moay, dari siapa kau mengetahui namaku ?” tanya Kwee Su Liang yang masih merasa heran, sementara hatinya sedang berdebar keras mengajak dang—dut ! Sin Lan tidak segera memberikan jawaban, dia masih berdiri disebelah belakang Kwee Su Liang, dengan sepasang lengan masih merangkul; dan sebelah tangannya kemudian meraba bagian muka Kwee Su Liang sambil dia perlihatkan senyumnya yang memikat, setelah itu baru dia berkata ; “Liang ko, siapa yang tak kenal dengan kau yang menjadi gubernur penguasa kota Gan—bun koan? Nama kau bahkan sangat menyemarak dikalangan rimba persilatan dan siao—moay …” Secara begitu tiba-tiba dan selagi dia mengucap kata-kata; jari-jari tangan Sin Lan yang berkuku runcing hendak menggurat bagian leher Kwee Su Liang, tetapi bertepatan dengan itu, Kwee Su Liang sudah meronta melepaskan rangkulan Sin Lan, sebab dia merasa malu dirangkul dan diraba mukanya. Dengan demikian; Secara tidak disengaja Kwee Su Liang berhasil menghindar dari kuku-kuku Sin Lan yang hendak menggurat bagian mukanya, dan kuku-kuku itu padahal mengandung bisa racun yang memungkinkan Kwee Su Liang menjadi tewas ! Di pihak Sin Lan sudah tentu dia jadi penasaran sebab tak berhasil dia mencapai niatnya. Kwee Su Liang masih duduk walaupun sudah meronta melepas diri dari rangkulan, dan Sin Lan mengulang perbuatannya, merangkul Kwee Su Liang memakai sepasang lengannya. Waktu sekali lagi Kwee Su Liang meronta ingin melepaskan rangkulan Sin Lan, maka Kwee Su Liang jadi terkejut, Sebab dia merasakan Sin Lan mengerahkan tenaga hendak bertahan. Tenaga yang bukan sembarang tenaga, akan tetapi merupakan tenaga dalam yang disalurkan kepada sepasang lengannya, sehingga lengan itu terasa bergetar hangat, menandakan Sin Lan memiliki ilmu yang tidak dapat dianggap remeh ! Menyadari bahwa dia sedang terperangkap oleh musuh yang belum dikenalnya, maka tanpa ragu-ragu Kwee Su Liang mengerahkan tenaganya, melepaskan rangkulan Sin Lan bahkan tubuhnya yang sedang duduk, mendadak Iompat bangun sehingga pada saat berikutnya dia sudah berdiri menghadapi Sin Lan. Hilang senyum Sin Lan yang menghias di mukanya, sebaliknya sepasang matanya kelihatan bersinar menyimpan rasa marah. Terlalu cepat gerak sebelah tangannya waktu dia meraba dibagian pinggangnya yang ramping dan dilain saat ditangan kanannya dia telah memegang sebatang pisau belati yang tajam, lalu dengan pisau itu dia langsung bergerak menikam Kwee Su Liang, memakai jurus ‘dewi cantik persembahkan hadiah’. Kwee Su Liang berkelit menghindar dengan miringkan tubuhnya, membiarkan belati lewat dibagian sisinya; sempat dia mendengar suara angin serangan Sin Lan, menandakan benar—benar Sin Lan memiliki ilmu yang tidak boleh dianggap remeh. Kemudian waktu dengan tangan kirinya Kwee Su Liang hendak memegang lengan kanan Sin Lan, Sebab dia bermaksud hendak merampas pisau belati maka tangan kiri Sin Lan ikut bergerak hendak menyerang, mengarah muka yang hendak dia cakar dengan kuku-kuku yang runcing. Tangan kanan Kwee Su Liang ikut bergerak dan sekaligus dia berhasil memegang sepasang lengan Sin Lan. “siapa kau sebenarnya .. ,?” tanya Kwee Su Liang bernada galak, selagi sempat dia memegang sepasang lengan Sin Lan, akan tetapi Sin Lan tidak menjawab pertanyaan Kwee Su Liang, sebaliknya jari-jari tangan kirinya yang bebas bergerak, berusaha ingin menggurat bagian lengan Kwee Su Liang, sambil dia mengerahkan tenaganya hendak membebaskan diri dari pegangan tangan Kwee Su Liang. Kwee Su Liang mengetahui tentang niat Sin Lan yang hendak membebaskan diri, dan dia memang tidak bermaksud untuk seterusnya memegang tangan-tangan perempuan itu, sehingga dia membarengi mendorong dengan niat membenturkan tubuh Sin Lan pada dinding tembok, untuk membikin Sin Lan menjadi pingsan. Tubuh Sin Lan terdorong Secara tiba-tiba dan terlempar kearah dinding tembok, akan tetapi alangkah kagetnya Kwee Su Liang ketika melihat Sin Lan membikin gerakan jungkir balik kearah sebelah belakang sehingga tidak sampai dia terbanting membentur dinding tembok, sebaliknya dia berdiri dengan sepasang mata melotot marah—marah. Hilang lenyap lagaknya yang memikat dan merangsang, ganti cemberut kelihatan kejam seperti keponakannya kuntianak. Kembali Sin Lan mengerahkan tenaga dalamnya pada sepasang lengannya, selagi erat—erat dikatupnya kedua baris giginya sehingga terdengar berbunyi seperti lagi menggigit biji-jambu kelutuk sementara sepasang tangannya yang pada mulanya kelihatan halus-halus kulitnya, Samar-Samar menjadi kelihatan bersinar hitam kelabu, membikin Kwee Su Liang menjadi terkejut dan menyadari bahwa Sin Lan memiliki ilmu ‘tangan pasir besi’ yang sudah tidak asing lagi bagi Kwee Su Liang yang sudah cukup lama berkecimpung didalam dunia rimba persilatan. Dengan perdengarkan pekik teriak seperti kuntianak kehilangan anak, Secara mendadak Sin Lan menerkam dan menyerang dengan ke sepuluh jari-jari tangan merentang tegang, mengarah bagian perut dan bawah pusar ! Kwee Su Liang yang memang sudah berdiri siaga, menyadari bahwa dia tidak boleh main-main menghadapi Sin Lan yang muda cantik itu, namun yang memiliki ilmu tangan pasir besi. Terjangan Sin Lan sangat pesat dan dahsyat, disamping jari-jari tangan itu mengandung bisa racun maut yang bisa bikin usus Kwee Su Liang jadi berantakan. Selangkah Kwee Su Liang bergerak mundur kearah belakang, lalu secepat itu pula sebelah tangan mengibas memukul sepasang lengan Sin Lan, dengan gerak tipu ‘burung garuda mengibas ekor.’ Tidak sia-sia Kwee Su Liang mendapat gelar sebagai si pendekar tanpa bayangan, oleh karena geraknya benar—benar sangat gesit dan pesat bahkan sukar diduga pihak lawan, sehingga sepasang lengan Sin Lan kena dipukul yang membikin sekali lagi terdengar dia memekik keras, sekali ini karena merasa kesakitan dan bukan sebab penasaran, sehingga pekik teriak itu mirip seperti kuntianak yang dipecut oleh lakinya, sementara tubuhnya ikut mutar-mutar seperti titiran yang cuma tiga kali berputar tetapi tidak sampai dia terjatuh menandakan bahwa dia memang memiliki ilmu yang cukup tinggi, sebab kalau lain orang yang kena dikibas oleh ekor burung garuda, sudah pasti akan berputar tujuh keliling dan tubuhnya nyusruk terguling yang bukan lagi miring—miring alias sinking-sinking. selagi Sin Lan menerkam melakukan penyerangan yang seperti tadi, yakin dengan sepuluh jari-jari tangan terentang tegang, menerkam dengan gerak tipu ‘kuntianak merebut bayi’, mengarah bagian perut dan antara sepasang paha Kwee Su Liang. Dan sekali ini Kwee Su Liang lidak mundur Selangkah pun kebelakang, tetapi dia lompat cukup tinggi dan sebelah kakinya menendang bagian dada Sin Lan, kena dibagian yang lunak-lunak, bikin hati Kwee Su Liang ikut menjadi lunak namun cukup membikin sekali lagi Sin Lan berteriak kesakitan, sementara dimulutnya kelihatan sedikit keluar darah sehingga saat itu muka Sin Lan menjadi mirip seperti ‘drakula’ yang habis ngisap darah, dan waktu Sin Lan mengusap mulutnya itu, maka darah menjadi membasahi bibirnya sehingga bibirnya menjadi bertambah merah dan bertambah basah, membikin selera jadi ingin menjilat bibir yang merah basah dengan darah manusia ! Sin Lan jadi menggeram yang lebih mirip seperti bersuara merintih, selagi Kwee Su Liang nuding— nuding dan ngomel—ngomel ! “Siao-Kbuwnio, eh, siao-gongli, siapa sebenarnya kau ini . , , .?” “Hi hi hi-hi-hi-hiiii ….” Tertawa Sin Lan lima kali ‘hi’ dengan satu kali ‘hi’ panjang, seperti kuntianak yang takut kesiangan; dengan suara yang tidak lagi terdengar merdu, tetapi seperti suara kuda-betina dari kuningan yang kecil-kecil cabe rawit, kagak kalah dengan kuda betina dari besi. Ingin Sin Lan balas nuding-nuding dan balas ngomel- ngomel Sebab punya kaki pintar nendang, akan tetapi tak sempat Sin Lan ngomel meskipun sudah sempat dia nuding-nuding pakai sebatang jari tangannya yang runcing; Sebab dari arah depan rumah didengarnya suara seseorang yang menjerit manggil-manggil dia. “Silang! Silang! cepat kau keluar dan pulang …!” Turun lagi sebelah tangan Sin Lan yang dipakai buat nuding-nuding Kwee Su Liang, batal dia ngomel—ngomel akan tetapi sempat dia tertawa lagi seperti tadi, yakni lima kali ‘hi’ ditambah dengan satu kali panjang, setelah itu dia lompat melesat keluar meninggalkan Kwee Su Liang, bukan lagi dia jalan
=====
“Silang! Silang! cepat kau keluar dan pulang … Turun lagi sebelah tangan Sin Lan yang dipakai buat nuding-nuding Kwee Su Liang, batal dia ngomel-ngomel akan tetapi sempat dia tertawa lagi seperti tadi, yakni lima kali ‘hi’ ditambah dengan satu kali panjang, setelah itu dia lompat melesat keluar meninggalkan Kwee Su Liang, bukan lagi dia jalan igel—igelan seperti ‘wak Semar’. Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang goyang goyang kepala dan tersenyum seorang diri, membayangkan betapa cewek yang cakep dan merangsang tadi ternyata hanyalah seorang ‘gongli’; dia merasa tidak perlu mengejar ‘gongli’ Sebab takut ketahuan bini, sebaliknya Kwee Su Liang memasuki rumah In Kek See dengan lagak seorang detektip-bayaran yang sedang memeriksa rumah. Tidak berhasil Kwee Su Liang menemui In Kek See yang sahabatnya, meskipun Kwee Su Liang sudah memasuki kamar tidur dan memeriksa dikolong ranjang, sebaliknya waktu dia memeriksa diruangan dapur, ditemuinya sang nyonya rumah alias ‘Lady In‘ yang bukan lagi masak, akan tetapi lagi meringkuk diikat seperti ketupat. Kwee Su Siang menjadi sangat terkejut dan buru—buru mendekati, dia jongkok buat melepaskan tali-tali yang mengikat ketupat (maaf salah menterjemahkan, yang seharusnya ‘ba-cang’), sambil Kwee Su Liang berkata lembut lembut dan perlahan—lahan : “In hujin, ngapain anda disini .. ,?” Dan Kwee Su Liang ikut menjadi terharu bercampur marah, Sebab melihat In hujin atau nyonya In mukanya merah bercampur biru, bekas kena digebuk entah oleh siapa yang melakukannya, namun yang pasti bukan dilakukan oleh In Kek See, Sebab Kwee Su Liang tahu benar bahwa In Kek See punya jiwa lembut dan sopan, kagak pernah mukul bini. Nangis In hujin sengguk-sengguk selagi kepalanya oleng-oleng seperti ketiup angin, namun dia tetap duduk bersila dilantai, ogah ditolong dan diajak bangun berdiri, sehingga ikut Kwee Su Liang duduk dilantai, selagi dia mendengarkan nyonya In yang menangis sambil berkicau : “Oh, Kwee tayjin ngapain anda datang sekarang ? saya merasa lebih baik mati daripada disakiti…” dan nyonya In nangis lagi; tetapi punya telinga buat mendengarkan Kwee Su Liang yang ngoceh lagi “In hujin, apa sebenarnya yang telah terjadi, dimana gerangan In-heng … ?” “Uh u—u—u-h – ” In hujin menangis lima kali ‘u’ ditambah dua huruf ‘h’ yang nyelip dimana saja, tanpa In hujin mampu mengucap kata-kata sehingga Kwee Su Liang memerlukan mengambilkan secangkir air teh dingin, yang lalu diguyurkan kedalam perut nyonya In setelah itu baru nyonya bisa berkicau lagi: “Dua bulan mantu saya nginap disini, dua bulan dia membikin ulah tanpa dia takut kena tulah; cape hati saya melihat perbuatannya yang sering keluyuran dengan laki-laki lain, selagi anak saya masih bertugas tanpa saya mengetahui dimana tempatnya \\ “Bukankah kedua putera In hujin bertugas didalam istana kerajaan Watzu … ?” tanya Kwee Su Liang yang merasa heran, karena In hujin mengatakan dia tidak mengetahui dimana anaknya bertugas. “Pada mulanya mereka memang ditugaskan didalam istana itu, akan tetapi yang pertama; In Bong Ie kemudian dipindahkan ke negeri cina, katanya bekerja di istana Pangeran Kim Lun dan ….” Begitu cepat gerakan si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang yang mendorong tubuh In hujin yang sedang bicara sambil duduk bersila, namun dia tetap kalah cepat dengan melayangnya sebatang anak panah yang kecil bentuknya, yang membenam dibatang leher In hujin, sehingga In hujin tewas seketika tanpa dia mampu mengeluarkan pekik teriak. Lompat Kwee Su Liang bangun berdiri, merasa penasaran karena ada seseorang pembunuh yang melepas senjata rahasia tanpa dia mengetahui dan tak mampu melindungi In hujin. Setelah tangan Kwee Su Liang kemudian bergerak ke arah daun jendela, mengerahkan tenaga pukulan ‘pek—kong-ciang’ selagi lima jari tangannya terentang tegang; dan tenaga pukulan udara kosong itu berhasil membuat daun jendela hancur berantakan, lalu secepat itu juga Kwee Su Liang melesat ke luar lewat daun jendela itu, sambil memutar pedangnya yang masih berada dalam sarungnya, maksudnya untuk menghindar dari suatu serangan mendadak. Dilain kesempatan Kwee Su Liang telah berdiri dibagian halaman samping rumah, tapi tak dilihatnya adanya seseorang disekitar tempat itu, sebaliknya secara mendadak dia mendengar suara tawa Sin Lan yang mengikik seperti kuntianak habis minum darah, sehingga didalam hati Kwee Su Liang menuduh sebagai perbuatan Sin Lan yang telah membunuh In hujin, mertuanya sendiri ! “Perempuan laknat ,.,…!” Kwee Su Liang memaki cukup keras, tanpa dia perduli Sin Lan tidak mendengar suara makinya itu: sebaliknya dengan gerak yang indah dan ringan tubuhnya melesat naik ke atas genteng rumah, lalu dia mengawasi kearah suara Sin Lan tadi tertawa, namun selekas itu juga dia menjadi terkejut, sebab didepan rumah itu ternyata telah berkumpul sekian banyaknya orang—orang, merupakan penduduk setempat yang bercampur dengan beberapa orang pasukan tentara Watzu ! “Tangkap penjahat , , !” “Tangkap pembunuh . , . !” Terdengar pekik—teriak orang-orang yang berada didepan rumah in Kek See, oleh karena tentunya ada yang melihat Kwee Su Liang yang berdiri diatas genteng. Untuk sejenak Kwee Su Liang menjadi ragu—ragu berdiri diatas genteng rumah itu. Kalau dia turun pasti bakal melakukan pertempuran yang mengakibatkan adanya orang-orang yang terluka bahkan tewas, sehingga akan merupakan suatu permusuhan yang dia tanam dengan penduduk setempat, bahkan dengan pihak pemerintah bangsa Watzu; Sementara Sin Lan yang telah melakukan pembunuhan terhadap nyonya In, pasti akan berlaku cerdas dengan umpatkan diri ditengah tengah keramaian orang banyak, sehingga tidak mudah buat Kwee Su Liang menangkap. Disamping itu, Kwee Su Liang merasa yakin bahwa sukar untuk dia memberikan penjelasan kepada penduduk maupun anggota tentara Watzu, bahkan bukan dia yang telah melakukan pembunuhan terhadap diri nyonya In, sebaliknya adalah menjadi perbuatan Sin Lan; namun Sin Lan tentu sudah berhasil menghasut orang-orang itu dengan menuduh sebagai perbuatan Kwee Su Liang yang telah membunuh In hujin ! Akan tetapi, siapakah sebenarnya Sin Lan ini? Apakah sebenarnya dia istrinya In Bong Ie yang putranya In Kek See? Mengapa dia sampai hati dia membunuh ibu mertuanya sendiri ? Terasa sukar buat Kwee Su Liang mencari jawaban atas pertanyaan itu, namun dia yakin bahwa dibelakang Sin Lan, pasti ada seseorang yang mendalangi dan seseorang itu pasti Kim Lun Hoat ong, seperti yang nyonya In sebutkan tadi bahwa In Bong ditugaskan di istana pangeran Kim Lun Hoat—ong. Sementara itu tidak sempat buat Kwee Su Liang berpikir lama, oleh karena pada saat itu telah melompat lima orang laki laki yang bertubuh tinggi besar, dengan ditemani Sin Lan yang ternyata ikut melompat naik. Sekilas Kwee Su Liang menjadi girang saat melihat Sin Lan ikut lompat naik, ingin dia memberikan penjelasan kepada S orang laki-laki ini, dan sekaligus ingin dia menangkap Sin Lan hidup—hidup, untuk dipaksa mengakui perbuatannya. Tetapi, saat itu ternyata Kwee Su Liang tidak mempunyai kesempatan buat mengucap apa—apa, Sebab kelima orang laki-laki itu sudah langsung melakukan penyerangan secara bertubi-tubi, bahkan dalam sikap mengurung supaya Kwee Su Liang tidak mempunyai kesempatan buat melarikan diri ! Ternyata Kwee Su Liang harus melayani bertempur, namun tak ada niatnya buat melukai kelima orang laki-laki yang tidak dikenalnya itu, sebaliknya berulangkali dia berusaha mendekati Sin Lan yang hendak dia serang dan tangkap hidup—hidup, namun Sin—Lan memberikan perlawanan dengan berteriak menuduh Kwee Su Liang yang melakukan pembunuhan terhadap diri In hujin, dan Kwee Su Liang bahkan hendak memperkosa dirinya. Jelas muka Kwee Su Liang jadi berobah merah, menyimpan rasa malu bercampur marah, Sebab Sin Lan telah menuduh dengan menyebut namanya, bahkan kedudukannya sebagai gubernur penguasa kota perbatasan Gan bun koan, sehingga dalam sekejap dibagian bawah rumah ramai dibicarakan orang, tentang gubernur Kwee Su Liang yang tukang perkosa bini orang ! ANDAIKATA Bo-im kiamhiap Kwee Su—Liang mengetahui siapa sebenarnya Sin Lan, dan juga kelima orang laki-laki yang sedang mengepung dia, maka sudah pasti Kwee Su Liang tidak berlaku lunak. Mereka sebenarnya merupakan suatu komplotan yang telah membinasakan bibiknya Kwee Su Liang dan menculik salah seorang keponakannya si pendekar tanpa bayangan, dan pimpinan dari komplotan itu sebenarnya merupakan pasangan suami-isteri yang tidak diketahui namanya namun hanya dikenal dengan nama Hong-bie ceecu berdua Hong-bie niocu. Untuk mengetahui siapa gerangan nama Hong-bie ceecu serta isterinya, dua tokoh yang memimpin persekutuan Hong-bie pang; terpaksa kita harus beralih dan mengikuti kisah seorang pemuda yatim, yang kelak erat hubungannya dengan Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing, maupun dengan si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang. Tio Bun Wan adalah nama pemuda yatim piatu itu, oleh karena sejak kecil kedua orang tuanya telah binasa menjadi korban pembunuhan tanpa dia mengetahui siapa pelakunya; oleh karena pada waktu peristiwa pembunuhan itu terjadi, Tio Bun Wan sedang berada di kuil Siao lim buat menuntut ilmu. Dalam usia 18 tahun, Tio Bun Wan telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan mahir ilmu silatnya; serta memiliki suatu keistimewaan yang sukar dicari keduanya, oleh karena dia memiliki sepasang alis yang putih. Semenjak kecil Tio Bun Wan mengikuti Tek—ceng taysu dikuil Siao-lim diatas bukit See hong san, di propinsi Kwie—tang, sedikit diluar kota Sin hwee sebelah selatan, yang letaknya terpisah tak terlalu jauh dengan laut Leng teng yo dengan pantainya yang berpasir putih. Waktu itu fajar baru saja merekah, ketika Tio Bun Wan sedang menyusuri dataran luas yang berbukit- bukit. Tubuhnya bersimbah peluh bercampur debu, menandakan perjalanan yang ditempuhnya cukup jauh, tetapi kelihatannya pemuda itu tak merasa lelah, tenaganya cukup kuat buat meneruskan perjalanannya, berkat latihan dan pelajaran yang dimilikinya. Tio Bun Wan sedang melakukan perjalanan hendak mencari musuhnya, sepasang suami istri kejam yang bernama Gan Hong Bie dan Lie Bie Nio, setelah Tio Bun Wan diberitahu gurunya tentang kejadian yang telah membinasakan ayah dan ibunya. Tek ceng taysu melihat dan mengetahui bahwa muridnya yang satu ini tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang paderi, sebaliknya bagaikan sudah ditentukan oleh sang Dewata, bahwa Tio Bun Wan bakal mengamalkan ilmunya demi masyarakat luas, sehingga diberinya kesempatan buat sang murid melakukan balas dendam terhadap kedua orang musuhnya, yang sekaligus merupakan perbuatan amal mengenyahkan manusia laknat itu dari muka bumi ini. Namun demikian, perjalanan Tio Bun Wan dalam usaha hendak mencari kedua musuhnya itu, bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang mudah buat dia lakukan, terutama dia belum berpengalaman bahkan belum pernah melakukan perjalanan seorang diri, apalagi menjelajah dikalangan rimba persilatan yang lazim atau biasa terjadi dan berlaku hukum rimba yang kejam membunuh atau dibunuh! Baru tiga hari Tio Bun Wan meninggalkan tempat bersemayam gurunya, maka pemuda ini telah menemukan suatu peristiwa yang hampir saja merampas jiwanya. Hari itu Tio Bun Wan memasuki sebuah kota Pao-kee tin, suatu kota yang kecil tapi banyak penduduknya, dan ramai dari lalu lintas orang-orang yang melakukan perjalanan dan harus melewati kota itu. oleh karena hari sudah mendekati magrib, maka Tio Bun Wan mencari sebuah tempat penginapan, untuk dia beristirahat dan bermalam. Waktu Tio Bun Wan sedang menulis namanya pada buku tamu ditempat penginapan itu, maka sempat didengarnya percakapan di kalangan para tamu, tentang adanya peristiwa perampokan yang sering terjadi didalam kota Pao kee tin itu. Perhatian Tio Bun Wan ikut tertarik dengan peristiwa yang sedang dibicarakan itu, Setelah diantar masuk kedalam kamarnya, maka pemuda ini menanyakan keterangan lebih lanjut kepada pelayan yang mengantar dia. Dikatakan oleh pelayan itu, bahwa peristiwa perampokan di kota Pao-kee tin mulai terjadi sejak kira-kira setengah bulan yang lalu. Sebelum itu kota Pao—kee tin katanya merupakan sebuah kota yang cukup aman dan tenteram. Semalam penjahat itu katanya telah melakukan
=====
Dikatakan oleh pelayan itu, bahwa peristiwa perampokan di kota Pao-kee tin mulai terjadi sejak kira-kira setengah bulan yang lalu. Sebelum itu kota Pao—kee tin katanya merupakan sebuah kota yang cukup aman dan tenteram. Semalam penjahat itu katanya telah melakukan perampokan lagi, dan yang mendapat giliran adalah hartawan Liu yang letak rumahnya disebelah barat kota kecil itu. Penjahat yang melakukan perampokan itu katanya hanya terdiri dari satu orang, tetapi penjahat itu memiliki kepandaian silat yang mahir, terbukti pihak hartawan Liu sebenarnya mempunyai beberapa orang penjaga malam atau busu yang mahir ilmu silatnya, namun mereka tidak berdaya merintangi perbuatan penjahat itu, sebaliknya diantara para busu itu terdapat dua orang yang tewas dan empat orang terluka parah. “Bagaimana dengan pihak pejabat pemerintah, apakah tidak mengambil tindakan keamanan ,…?” tanya Tio Bun Wan. “Pihak pejabat pemerintah setempat sudah berusaha hendak menangkap penjahat itu, namun pihak tentara yang dikirim setelah ada laporan, Sudah tentu tidak dapat menangkap si penjahat yang tentunya Sudah menghilang. Sekarang pihak pejabat pemerintah telah mengatur penjagaan dibeberapa tempat, namun belum berhasil mereka menemukan si penjahat yang tidak dikenal rupanya, sebab didalam melakukan pekerjaannya, penjahat itu selalu memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam, dan si penjahat masih tetap merajalela, hampir setiap hari terjadi perkara perampokan atau perkosaan terhadap kaum wanita muda , . ,” “Perkosaan , .. ?” ulang Tio Bun Wan dengan suara perlahan; sedangkan didalam hati bangkit niatnya untuk menangkap si penjahat. Pelayan itu kemudian meninggalkan Tio Bun Wan, untuk mengambilkan air teh bagi tamunya yang baru datang itu. Pada waktu makan malam, Tio Bun Wan sengaja makan di ruang-tamu bercampur dengan para tamu-tamu lainnya, baik yang menginap ditempat penginapan itu, maupun yang datang melulu untuk bersantap, sebab rumah penginapan itu memang merangkap usaha sebagai rumah makan untuk umum. Waktu Tio Bun Wan baru mulai bersantap, perhatiannya mendadak tertarik dengan seorang laki—laki muda yang baru saja memasuki rumah penginapan itu. Laki—laki muda itu bertubuh tegap agak pendek bermuka agak hitam menyeramkan, dan kelihatan pemarah, terbukti dari cara dia memesan makanan wakiu dia telah memilih tempat duduk yang tidak terpisah jauh dengan tempat Tio Bun Wan. Dilihat dari cara berpakaian laki-laki itu dan bermuka hitam itu, maka Tio Bun Wan menduga bahw a pemuda itu bukan penduduk kota Poo—kee tin, disamping pemuda itu tentunya pandai ilmu silat dan memiliki tenaga yang besar. Waktu sedang menunggu makanan yang dipesannya, laki-laki muda bermuka hitam itu kelihatannya tidak sabar, duduknya selalu tidak tenang dan waktu pelayan datang membawakan arak melulu, maka dia membentak minta pesanannya dipercepat. Si pelayan kelihatan ketakutan mendapat perlakuan yang kasar dari tamunya yang satu itu. Pelayan itu terbongkok—bongkok di hadapan tamu yang galak itu, lalu dia buru—buru meninggalkan dan sampai lama tak muncul lagi, membikin tamu muda itu bertambah marah sampai dia berteriak-teriak dan memukul—mukul meja dengan kepelan tangannya. Perbuatan laki-laki muda bermuka hitam yang menimbulkan suara berisik itu, telah menarik perhatian banyak tamu lain, dan mendatangkan rasa tidak puasnya seorang dara remaja, bermuka cantik dengan rambut disanggul diatas kepala kemudian dikepang dua dan dibiarkan lepas kebagian bawah melalui sepasang pundaknya. Dara remaja yang cantik rupanya itu agaknya juga pandai ilmu silat, terbukti dengan cara dia berpakaian yang serba ringkas, menambah nyata kelihatan bentuk tubuhnya yang ramping, dan sebatang pedang kelihatan nempel dibagian punggungnya. Karena suara berisik yang mendatangkan rasa tidak puasnya, maka dara remaja itu mendekati tempat pemuda bermuka hitam itu duduk, lalu dengan suara nyaring dia membentak : “orang-hutan yang kurang ajar, mengapa kau bikin ribut ditempat ini … !” demikian bentak dara remaja itu dengan suara garang dan sepasang tangan bertolak pinggang. Muka laki laki muda bermuka hitam-hitam itu menjadi bertambah hitam, waktu dia mendengar bentakan tadi. Dia menengadah dan bersuara mengejek : “Hem …. ada kuntianak yang rupanya mau ngamuk Hampir semua tamu yang ikut mendengar perkataan itu menjadi tertawa, juga yang sedang membaca ceritera ini ikut jadi mesem yang seperti meringis. Akan tetapi ada sebagian tamu lain yang bergegas dan mereka bersiap—siap hendak menyingkir, karena menduga pasti akan terjadi suatu keributan, yang bisa mengakibatkan kena cangkir—cangkir yang melayang nyasar. Dara remaja itu yang agaknya juga seorang pemarah, Sudah tentu tidak dapat menerima kata—kata pemuda bermuka hitam itu. Secepatnya kilat tangan kanannya memukul kepala pemuda bermuka hitam yang masih duduk menengadah, seperti dia hendak numbuk lalat; tetapi dengan tidak kurang cepatnya, pemuda bermuka hitam itu menundukkan kepalanya, membikin kepalan tangan dara remaja itu Iewat di bagian atas kepala pemuda itu. Sudah tentu dara remaja yang pemarah itu menjadi penasaran karena pukulannya dapat dengan mudah dihindarkan oleh laki—laki muda bermuka hitam itu. Gerak yang cepat dari dara remaja pemarah itu, sukar dilihat oleh sembarangan orang, karena tahu-tahu dia telah menyiapkan pedangnya ditangannya, dan itu langsung dia gunakan untuk membacok, seperti ingin membelah gunung. Serangan dengan memakai senjata tajam itu benar—benar sangat diluar dugaan laki—laki muda bermuka hitam itu. Karena pada mulanya dia menganggap ‘enteng’ dara remaja yang berdiri dihadapannya, terbukti dia masih duduk meskipun dia Sudah dipukul. Dalam kagetnya, laki—laki muda bermuka hitam itu menekan meja dengan sepasang telapak tangannya, lalu tubuhnya melesat jauh memisah diri dari dara-pemarah yang menyerang dia; dengan gerak ‘yan—cu coan in‘ atau burung—walet menembus-angkasa, dara-pemarah itu ikut melesat mengejar untuk mengulang serangannya dengan suatu tikaman. Pemuda bermuka hitam itu tambah terkejut karena gerak yang gesit dari dara-remaja yang pemarah itu. Didekat tempat pemuda itu berdiri, kebenaran ada meja kosong yang tidak ada tamunya. Meja itu dia tendang terbalik dan merintang gerak dara-pemarah yang sedang lompat seperti mau menerkam, namun dengan tubuhnya yang ringan dan gesit, dara pemarah itu sempat menyentuh meja memakai ujung-kakinya, untuk kemudian dia bergerak lagi hendak menyerang pemuda bermuka hitam itu. Pemuda bermuka hitam itu yang memang merupakan seorang pemarah, sudah tentu tidak dapat membiarkan dirinya menjadi sasaran Serangan dara-pemarah itu. Dia Sekarang telah pula menyiapkan senjatanya yang berupa sepasang siang-kauw, atau sepasang tombak pendek-berkait yang bukan model tanjung kait; sehingga pada lain detik telah terjadi pertempuran memakai senjata tajam didalam ruangan-makan dari rumah penginapan itu. Dalam sekejap para tamu pada lari serabutan, khawatir terkena Serangan nyasar; terlebih waktu kemudian mangkok-mangkok pada ikut berterbangan kena terjangan sepasang insan—muda yang sedang diamuk darah-pendek. Dilain pihak, didalam hati sudah tentu Tio Bun Wan berpihak pada dara remaja itu, yang dia anggap sebagai kaum—lemah yang harus bertempur melawan seorang pemuda galak, dan pemuda bermuka hitam itu justeru sedang dia curigai sebagai si penjahat yang sedang melanda kota Poan kee-tin. Disuatu saat sebuah mangkok arak melayang jalan-jalan kearah Tio Pun Wan, terkena benturan senjata siang—kauw dari pemuda bermuka hitam. Mangkok arak itu dengan tenang ditangkap oleh Tio Bun Wan lalu dipakai untuk menimpuk kearah si pemuda bermuka hitam. Laki-laki muda bermuka hitam itu sempat melihat datangnya mangkok arak yang mengarah dia, seperti bola yang ditendang menuju gawang; sehingga dia lalu menangkis memakai senjatanya. Tetapi dari benturan itu dia menyadari bahwa pemuda yang menimpuk dia, memiliki tenaga yang terlatih, sehingga akibatnya tambah meluap kemarahannya, dan dia memaki dara pemarah yang sedang mengulang serangannya “Kuntianak ! Tidak kusangka kau mempunyai kehendak yang cuma berani membokong …!” Sudah tentu dara pemarah itu jadi naik pitam, dan dia memang sempat melihat gerak Tio Bun Wan yang menimpuk memakai mangkuk arak. Sejenak dia terpesona dengan wajah tampan dari Tio Bun Wan yang memiliki sepasang alis putih, namun yang dia tidak kenal. Dia menjadi naik pitam sebab lawannya memaki dia dengan istilah tak sopan. “orang hutan, kau benar—benar harus mampus. , ‘” seru dara pemarah itu sambil dia harus menghindar dari Serangan lawannya. Dilain pihak, Tio Bun Wan ikut menjadi gusar sebab dia memaki dan dianggap hanya berani membokong. Tangannya segera memegang pedang yang ditempatkan diatas meja, lalu dengan suatu lompatan yang ringan dia mendekati kancah pertempuran. “Kouwnio, biarkan aku yang melawan dia,,!” seru pemuda Tio Bun Wan yang tidak mau mengepung lelaki muda bermuka hitam itu. Dara pemarah itu tidak menghiraukan perkataan Tio Bun Wan, dia tetap melakukan penyerangan; sementara lelaki muda bermuka hitam itu kedengaran berkata dengan suara menghina “Bagus rupanya kau takut aku culik kekasihmu ! Mari kita bertempur diluar !” Sehabis mengucap demikian, maka laki-laki muda bermuka hitam itu melesat keluar dari dalam rumah penginapan itu. Pemuda Tio Bun Wan bertambah gusar dan bertambah yakin bahwa dia telah menemukan si penjahat, karena dia anggap pemuda bermuka hitam itu telah ‘terlepas’ bicara, mengatakan hendak menculik dara yang sedang ditempurnya. Mendahului gerak dara pemarah itu, maka Tio Bun Wan Sudah melesat keluar untuk menyusul laki—laki muda bermuka hitam itu yang bahkan langsung dia serang memakai jurus ‘ular belang melepas bisa’, berdasarkan salah satu dari ilmu ngo-heng—kun yang khas dari golongan Siaolim. Tio Bun Wan menyerang dengan suatu tikaman memakai pedangnya, akan tetapi waktu ujung pedang hendak mencapai sasaran dan laki laki muda bermuka hitam itu sedang bergegas hendak menghindar, maka Tio Bun Wan telah merubah cara penyerangannya, memakai ‘ular belang menebas ekor’, dan gerak pedangnya bagaikan hendak membedah tubuh dibagian perut lawannya, dari bagian bawah ke arah atas. Sudah tentu laki laki muda bermuka hitam itu sangat terkejut, karena perobahan gerak serangannya itu benar—benar diluar dugaannya. Dengan susah payah sempat juga dia lompat mundur, sehingga nyaris dia dari ancaman maut, namun secara tiba—tiba dara-pemarah itu sudah lompat menyusul, dan sedang menyerang dia dengan tikaman pedang. Dalam keadaan masih kaget bercampur marah, laki—laki muda bermuka hitam itu mengerahkan tenaganya, menangkis pedang dara pemarah yang menikam dia, sehingga terjadi benturan senjata yang keras, dan dara pemarah itu meringis kesakitan, bahkan hampir dia melepaskan pegangannya pada pedangnya; dan selagi dia berada dalam keadaan mati daya maka laki laki muda bermuka hitam itu telah menabas dia memakai gerak tipu ‘angin utara menyapu daun kering’. Disaat yang berbahaya bagi dara pemarah itu, maka Tio Bun Wan mengangkat pedangnya dan menangkis senjata yang sedang mengarah dara pemarah itu, hingga terjadi lagi suatu benturan yang keras, yang bahkan sampai mengeluarkan lelatu anak-api. “Maaf, aku terpaksa mengepung …” kata Tio Bun Wan; padahal dia sedang merasakan suatu benturan tenaga yang besar dari laki—laki muda bermuka hitam itu. “Bagus ! Kau masih berlagak sopan … !” maki laki laki muda bermuka hitam itu; sementara senjata ditangan kirinya menghajar kepala Tio Bun Wan. Tio Bun Wan berkelit dari serangan senjata lawannya, dan sambil berkelit kakinya turut bergerak menendang lengan kanan musuhnya, namun laki-laki muda bermuka hitam itu sempat menarik tangan kanannya, sehingga nyaris terkena tendangan. Tetapi bertepatan dengan itu, laki—laki muda bermuka hitam itu sekali lagi harus menangkis pedang si dara pemarah yang sudah
=====
Dalam keadaan masih kaget bercampur marah, laki-laki muda bermuka hitam itu mengerahkan tenaganya, menangkis pedang dara pemarah yang menikam dia, sehingga terjadi benturan senjata yang keras, dan dara pemarah itu meringis kesakitan, bahkan hampir dia melepaskan pegangannya pada pedangnya; dan selagi dia berada dalam keadaan mati daya maka laki laki muda bermuka hitam itu telah menabas dia memakai gerak tipu ‘angin utara menyapu daun kering’. Disaat yang berbahaya bagi dara pemarah itu, maka Tio Bun Wan mengangkat pedangnya dan menangkis senjata yang sedang mengarah dara pemarah itu, hingga terjadi lagi suatu benturan yang keras, yang bahkan sampai mengeluarkan lelatu anak-api. “Maaf, aku terpaksa mengepung …” kata Tio Bun Wan; padahal dia sedang merasakan suatu benturan tenaga yang besar dari laki-laki muda bermuka hitam itu. “Bagus ! Kau masih berlagak sopan … !” maki laki laki muda bermuka hitam itu; Sementara senjata ditangan kirinya menghajar kepala Tio Bun Wan. Tio Bun Wan berkelit dari serangan senjata lawannya, dan sambil berkelit kakinya turut bergerak menendang lengan kanan musuhnya, namun laki-laki muda bermuka hitam itu sempat menarik tangan kanannya, sehingga nyaris terkena tendangan. Tetapi bertepatan dengan itu, laki—laki muda bermuka hitam itu Sekali lagi harus menangkis pedang si dara pemarah yang Sudah ikut menyerang dia ! Dengan gesit dara—pemarah itu merobah gerak serangannya karena tak mau dia mengadu tenaga lagi dengan lawan yang bertenaga besar itu, dan waktu dia dibalas dengan suatu serangan, maka dara pemarah itu lompat sedikit menyamping, membiarkan senjata lawannya ditangkis oleh Tio Bun Wan, Sementara dari samping kiri itu dia menikam memakai pedangnya. Dengan dikepung oleh dua lawan yang kuat, sudah tentu laki-laki muda bermuka hitam itu kian bertambah marah, namun lambat-laun kelihatan dia menjadi pihak yang terdesak; terlebih karena dara lawannya telah berlaku cerdik, selalu menghindar dari benturan senjata, membiarkan Tio Bun Wan yang selalu menangkis, dan secara tiba-tiba dara pemarah itu menyerang dari sudut lain yang di luar dugaan. Pada suatu kesempatan yang diperolehnya, maka pemuda bermuka hitam itu cepat-cepat melarikan diri, dengan dikejar oleh dara pemarah yang menjadi lawannya, dan diikuti oleh Tio Bun Wan, namun laki-laki muda bermuka hitam itu dapat menghilang ditengah banyaknya orang orang yang sedang berlalu—lintas, membikin Tio Bun Wan berdua dara pemarah itu kembali ke tempat penginapan. Pengurus rumah penginapan menggerutu karena kerugian yang dia derita akibat adanya pertempuran tadi, tetapi waktu dia dibentak oleh dara pemarah itu, maka si pengurus rumah penginapan jadi takut, sebab dia telah mengetahui kegagahan dari dara pemarah itu. Dilain pihak, Tio Bun Wan kelihatan gelisah sebab dia ingin memberikan penggantian, tetapi waktu itu dia hanya mempunyai bekal yang sangat terbatas Sekali; merupakan uang sumbangan buat kuil Siao-lim yang gurunya berikan buat sekedar ongkos dia. Dengan muka berseri-seri dara pemarah itu kemudian mengajak Tio Bun Wan duduk; dan keduanya saling memperkenalkan diri, membikin Tio Bun Wan mengetahui nama dara pemarah itu adalah Ma Kim Hwa, keponakan piauwtauw Ma Heng Kong dari Cin-wan piauwkiok yang namanya Sudah menyemarak dikalangan rimba persilatan. “Pernah kau dengar tentang nama pamanku … -?” tanya dara Ma Kim Hwa, setelah dia memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman. “Tidak …” sahut Tio Bun Wan dengan suara yang perlahan seperti merasa malu-malu; lalu selekas itu juga dia menambahkan perkataannya ; “… baru pertama kali ini aku melakukan perjalanan, sehingga tidak ada yang aku ketahui tentang orang-orang gagah dikalangan rimba persilatan … – \\ Dara Ma Kim Hwa kelihatan seperti merasa kecewa, waktu dia mendengar Tio Bun Wan belum pernah mendengar nama pamannya yang dia anggap sangat cemerlang. Tetapi akhirnya dara pemarah itu dapat mengerti waktu Tio Bun Wan mengakui bahwa pemuda itu belum berpengalaman di kalangan rimba persilatan. “Pamanku sangat mahir ilmu silatnya,” dara Ma Kim Hwa yang berkata lagi, lalu menyambung dengan memberikan penjelasan tentang usaha pamannya yang katanya sangat ditakuti oleh berbagai kalangan kawanan perampok. Sementara itu Tio Bun Wan juga menerangkan bahwa ayah dan ibunya tewas karena perbuatan kejam dari sepasang suami isteri yang bernama Gan Hong Bie dan Lie B1e—Nio. “Aku tahu nama sepasang suami isteri itu. Mereka adalah ketua dari persekutuan Hong-bie pangm” kata Ma Kim Hwa yang sangat mengejutkan hati Tio Bun Wan; disamping dia merasa girang karena telah mulai menemui jejak musuhnya, sedangkan Ma Kim Hwa mengetahui tentang suami isteri itu, melulu sebab sering pamannya menceritakan pengalamannya di kalangan rimba persilatan. “Kenalkah Ma kouwnio dengan mereka berdua … ?” tanya Tio Bun Wan. “Hmm, aku tidak kenal dengan mereka, tetapi aku tahu mereka berselisih dengan pamanku, dan pamanku Sudah tentu tidak takut dengan mereka maupun dengan persekutuan mereka . , . ” “Mengapa dia berselisih dengan Ma 10 cianpwee ….?” Tio Bun Wan menanya lagi dengan penuh perhatian. “Setahu aku sebab mereka pernah bermaksud merampas kereta piauw yang dilindungi oleh perusahaan pamanku , ..” sahut Ma Kim Hwa yang perlihatkan senyumnya; selagi dia mengawasi sepasang alis—putih Tio Bun Wan, yang tidak pernah dia lihat dimiliki oleh lain pemuda. “Tahukah Ma kouwnio dengan tempat markas Hong-bie pang …?” Tio Bun Wan menanya sambil menunduk; merasa malu karena alisnya yang istimewa diawasi terus. “Hm. Pusat markas mereka aku tidak tahu, tetapi Hong-bie pang kelihatannya cepat tumbuh, hampir disetiap kota besar terdapat cabang persekutuan itu .” dara Ma Kim Hwa memberikan keterangan; sehingga membikin Tio Bun Wan berpikir, bahwa dia sedang menghadapi musuh yang ternyata sangat kuat dan besar pengaruhnya. “Dengan siapa kau belajar ilmu silat , ..?” tiba-tiba tanya Ma Kim Hwa karena melihat pemuda itu berdiam sambil menunduk, seperti sedang berpikir. Tio Bun Wan menengadah dan bersenyum, yang berhasil membikin hati Ma Kim Hwa seperti dibetot—betot; setelah itu baru Tio Bun Wan berkata “Dengan Tek-ceng Suhu di kuil Siau-lim.” “Oh…!” Ma Kim Hwa bersuara tanpa terasa, sebab dia kelihatan girang karena bertemu dengan seorang teman baru yang berasal golongan ‘Siao-lim’ yang namanya Sudah sangat menyemarak; lalu selekas itu juga dia berkata lagi “… aku sering mendengar beberapa nama yang berupa tokoh-tokoh dari golongan Siao lim, akan tetapi aku belum pernah mendengar perihal nama gurumu. Sekali waktu aku ingin datang menemui dan ingin minta pengajaran, sebab aku memang bermaksud hendak memperdalam ilmu .. , .” “Akh ! ilmu—silat kouwnio Sudah sangat mahir, dan Tek-ceng suhu tidak menerima murid perempuan .. ” “Hi-hi-hi …” Ma Kim Hwa tertawa tiga kali ‘hi’ entah dari mana dia belajar; padahal didalam hati dia merasa sedikit kecewa karena dikatakan Tek—ceng taysu tidak menerima murid perempuan, namun berbareng dia merasa girang dan bangga karena pemuda yang tampan itu telah memuji ilmu kepandaiannya. Untuk sesaat keduanya kelihatan terdiam, selagi masing-masing terbenam dengan pikiran mereka; lalu Ma Kim Hwa yang bersuara lagi “Eh, mengapa kau diam saja ….?” dan sebelah tangan dara Ma Kim Hwa menyentuh sebelah tangan pemuda Tio Bun Wan yang kebenaran berada diatas meja. “Eh, aku sedang memikirkan tentang Hong bie pang .” sahut Tio Bun Wan seperti merasa kaget; sebab dia sedang memikirkan pihak musuh yang telah membunuh ayah dan ibunya, dan sekaligus dia menjadi kaget karena sebelah tangannya dipegang oleh Ma Kim Hwa, sehingga untuk sejenak tangannya itu terasa seperti kegajahan. Sementara itu terdengar Ma Kim Hwa yang berkata lagi “Haaa, rupanya kau takut dengan mereka. Jangan kau pikirkan hal itu, aku nanti bantu kau … ,” Dara Ma Kim Hwa menunda perkataannya, selagi Tio Bun Wan mengawasi dia seperti membelalak, dan dara yang semula dianggap pemarah itu kemudian menuang arak untuk mengajak Tio Bun Wan minum, setelah itu baru dia menyambung perkataannya : “….esok pagi kemana tujuan kau …?” “Aku hendak ke dusun Lam—boan ceng untuk menyambangi makam orang—tua, setelah itu aku hendak mencari markas Hong—bie-pang ….” Dara Ma Kim Hwa terdiam berpikir, setelah itu baru dia berkata lagi “Letak dusun Lam-hong ceng tidak jauh terpisah dari kota Lam yang. Dikota itu menjadi tempat perusahaannya pamanku, Cin—wan piauwkiok, kau singgah ditempat pamanku dan kau beritahukan tempat tujuanmu setelah kau menyambangi makam orang-tuamu. Sementara ini aku harus ke kota Bok—kee tin, dan sesudah melakukan tugas itu aku akan singgah ditempat paman dan akan menyusul kau setelah aku mengetahui tujuanmu …” “Tetapi, Ma kouwnio … ” kata Tio Bun Wan yang terkejut dengan niat dara yang baru dikenalnya itu; namun dia tidak sempat bicara lebih lanjut, sebab dara Ma Kim Hwa telah mencegah “Kau jangan merintangi niatku yang hendak membantu kau, sebab itu berarti kau tidak menghargai persahabatan … ” Tio Bun Wan tak kuasa mengucap sesuatu, lagi-lagi dia terdiam berpikir; lalu akhirnya dia berkata: “Terima kasih atas perhatian Ma kouwnio
=====

cerita-silat.mywapblog.com/pendekar-bunga-cinta-cheng-hwa-lie-hiap
====