Liong Theng Kiam Hui

Liong Theng Kiam Hui – Pahlawan-Pahlawan Laut Selatan

Jilid 1 …..
Hiruk Pikuk Dilautan Masa itu musimnya pohon-pohon bok-bian (kapuk randu) berbunga. Pohon itu digelari orang sebagai pohon pahlawan. Kalau ada lain pohon yang tumbuh didekatnya, pohon bok-bian akan tumbuh terus, sampai melampaui pohon tetangganya itu, barulah dia berhenti tumbuh. Demikian cerita orang.
Bunganya nan merah segar, menyilaukan tapi sedap dipandang mata. Kala itu seperti ada lomba-kecantikan disepanjang tepi sungai Se-kiang yang dipagari dengan barisan pohon bok-bian. Didalam permukaan air sungai nan hijau bening seperti cahaya zamrud itu, berkacalah sang bunga dalam kecantikannya yang gilang gemilang. Disana sini para anak gembala mengiring kerbaunya pulang sambil membawakan nyanyian seruling dipetang hari.
Sang surya sudah menuju ketempat peristirahatannya dibalik gunung. Cakrawala mulai berselimut kegelapan. Lapat-lapat terdengarlah suara tiupan seruling diudik sungai.
Sebuah perahu kecil mendayung pelahan-lahan menuju kehulu. Tukang perahunya seorang tua yang tengah mendayung diburitan. Sebentar-sebentar mulutnya berseru ; “Iya ….. iya”, seorang diri berholopis-kuntul-baris mengatur gerak dayungannya. Dibagian tengah, duduk seorang muda antara 18-19 tahun. Dialah yang meniup seruling itu. Parasnya cakap, sikapnya gagah dan memiliki perbawa.
Sehabis meniup seruling, pemuda itu kedengaran mengoceh sendirian seperti orang mabuk. Tapi yang nyata dia berseri girang, entah apa yang digirangkannya itu. Haripun makin gelap, namun perahu itu tak memasang lampu, hanya terus berlayar dibawah rembulan remang.
Ketika perahu mendayung sampai ditikungan muara, ada sebuah perahu besar meluncur datang. Selain besar, perahu itu dihias mewah sekali, macam kepunyaan golongan pembesar tinggi. Pada lampu teng (lampion) yang memancar gilang gemilang itu, terdapat tulisan huruf besar “Soh”. Si pemuda kerutkan keningnya melihat itu.
“Entah pembesar mana yang masih lupa daratan ini. Aiii, separoh daerah Biksan sudah diduduki penjajah, baginda sudah bunuh diri di Bwe-san, tapi dia masih gila-gilaan begitu macam !” kedengaran mulut si pemuda bersungut-sungut.
“Kongcu kau lihat huruf tanda tay-haksu (menteri kerajaan) itu bukan ?” “Pak tua, jangan panggil aku kongcu. Jaman sekarang masakkan masih gila sebutan kongcu-kongcuan ! Namaku Tay Bok, panggil saja aku begitulah !” sahut si pemuda.
Si Tukang perahu tertawa. Dia mendayung menghampiri perahu pembesar itu. Melihat itu, orang-orang yang berada didalam perahu si pembesar sama menjerit-jerit marah. Tapi si tukang perahu tua dan si pemuda tak menghiraukan dan majukan perahunya pelahan-pelahan.
Beberapa orang diperahu besar itu segera mengambil galah panjang untuk mencongkel perahu pak tua. Keadaan menjadi hiruk pikuk.
Ditengah suasana rebut-ribut itu, dari bagian tengah perahu besar itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri ; “Thaythay ………., ampunilah ………., jangan menyelomot aku dengan sumpit api itu ………., aduh ! aku tentu mati !” Nada jeritan itu seperti dari seorang anak perempuan. Si pemudapun mendengar jelas dan tergerakklah hatinya. Kebetulan pada saat itu, awak perahu yang mau mencongkel tadi sudah gerakkan galahnya kebawah sembari memaki-maki. “Keparat, biar kau dimakan ikan !” Si pemuda tertawa dingin. Membarengi berbangkit, cepat dia sambar galah itu, terus enjot tubuhnya loncat naik keatas galah itu. Batang galah itu hanya sebesar mulut mangkuk besarnya dank arena lamanya menjadi licin, si pemuda itupun bergontai-gontai tubuhnya tak dapat berdiri anteng. Namun tetap tak jatuh.
Penyerang tadipun heran sendiri. Digerak-gerakkan galah itu kian kemari dengan kedua tangan supaya si pemuda terpeleset jatuh sembari mulutnya berteriak-teriak ; “Ada penjahat mengacau !” Dua orang bertubuh kokoh kekar, muncul dari tengah perahu besar. Orang-orang tadi cepat menunding kebawah dan berseru kalang kabut ; “Itu dianya ….., itu dianya !” Si pemuda tak menghiraukan ribut-ribut itu. Dia berindap-indap menyusur keatas.
Saking takutnya orang yang mencekal galah itu, sudah lantas loncat kedalam air.
“Sahabat dari golongan mana ? Ini perahu keluarga Soh tay-hak-su. Apa maksudmu ini ?” teriak kedua orang gagah tadi. Malah salah seorang sudah timpukkan beberapa batang piau kearah si pemuda.
Pemuda itu tenang-tenang saja. Tangannya diputar untuk menyambar piau-piau itu.
Melihat itu pucatlah kedua orang tadi.
“Sahabat, beritahukan namamu. Kami berdua bernama Lim Li dan Kui Go-I dari persilatan Hudsan !” mereka berseru.
Kini pemuda itu naik keatas geladak perahu si pembesar. Beberapa anak perahu yang tadi begitu garang, sekarang sama mundur teratur. Dengan acuh tak acuh menyahutlah si pemuda ; Maaf, cayhe belum pernah mendengar nama-nama macam itu !” Orang she Lim dan Kui tadi terbeliak. Mereka adalah tukang poh-piau yang bertugas mengawal perahu besar itu. Meskipun tahu bagaimana kepandaian si anak muda tadi, tapi karena melihat pemuda itu tak mirip dengan orang gagah, kedua poh-piau itu cepat mencabut golok, tanyanya ; “Mau apa engkau naik kemari ?” “Dalam pemerintah, nama Soh tay-haksu tak begitu baik. Tadi ada suara jeritan, cayhe hendak mengetahuinya !” Sahut si pemuda sambil tertawa.
Tepat pada kata-kata itu diucapkan, ditengah ruang kapal kembali terdengar suara jerit rintihan yang ngeri.
“Harap tiunke turun !” seru kedua jagoan itu sembari gerakkan senjatanya. Tapi si pemuda bahkan melangkah maju.
“Tadi cayhe begitu susah payah naik kemari, sudah tentu tak adil disuruh turun begitu saja !” Orang yang beraja dihati (sombong), “Lihat golok !” seru Lim dan Kui sembari berbareng menyerang.
Si pemuda itu bergerak dengan cepat. Lengan bajunya yang kiri dikebutkan untuk melibat golok Kui Go-i, sedang dengan dua buah jari tangan kanan dijepitnya golok Lim Li.
Sekali sentak, kedua jagoan pengawal perahu itu segera kecemplung disungai. Mereka menjerit-jerit.
Kawanan anak perahu yang ternyata adalah hamba sabaya, sama pucat ketakutan. Dari ruang kapal, muncul seorang wanita setengah tua, serunya ; “Hai ! mengapa ramai-ramai ! apa tidak tahu kalau thaythay sedang mengadili orang ! Ayoh ….., jangan ribut lagi, awas ! nanti kusuruh bawa kekantor gi-bun …..!” Sekali loncat, pemuda itu sudah menobros masuk keruang perahu. Wanita tadi kaget dan mendamprat ; “Siapa yang kurang ajar ini ?” “Ho ….., kau turut main-main dalam air sana !” Sahut si pemuda sembari gerakkan tangan. Suatu sinar merah berkilat, entah benda apa, tahu-tahu si wanita itu mendeprok.
Menyusul si tangan pemuda menggeliat, maka tubuh wanita itupun melayang jatuh kedalam sungai.
Kejadian itu hanya berlangsung dalam sekejap mata, sehingga orang-orang masih sama melongo. Seorang thaythay (Nyonyah besar) yang berbada gemuk dan berpakaian mentereng, cepat menjerit-jerit ; “Mana orang-orang …..! mana orang-orang !” Tampak oleh pemuda itu bahwa ruangan situ dihias dengan mewahnya. Tapi yang menarik perhatian, ditengah ruangan itu terdapat seonggok api yang membara. Pada musim bunga bok-bian berkembang hawa udara cukup hangat, mengapa perlu pakai api ? Tapi pada lain saat, darah si pemuda menjadi naik demi melihat pemandangan disitu. Selain thaythay tadi, disitu terdapat lagi seorang gadis berumur 15-an tahun yang bertubuh kurus, tengah menyurutkan badan dengan menangis. Didalam perapian itu, terdapat sebatang sumpit yang membara merah. Sedang pada lengan gadis itu, tampak bekas luka kebakar. Cepat sekali si pemuda dapat merangkai apa yang terjadi disitu.
“Apa-apaan ini ?” Tanyanya dengan berkerut alis.
Saat itu ada beberapa hamba lelaki yang menobros masuk keruang situ. Tapi karena mereka kenal kelihaian si pemuda, jadi tak berani berbuat apa-apa. Diantara orang-orang yang masuk itu, terdapat seorang yang menjadi kepala pengurus rumah tangga. Dia coba memberi penjelasan kepada si pemuda. “Harap hohan maklum, bahwa hari ini thaythay sudah kehilangan seuntai mutiara. Kemungkinan besar budak inilah yang mengambilnya, maka kini dia sedang diperiksa !” Kalau tadi si budak perempuan itu hanya menangis saja, kini kedengaran membantah keras ; “Aku tak mencurinya …..! aku tak mencurinya !” Si pemuda berpaling. Dilihatnya walaupun rupa si budak muda itu tak keruan dan pucat kurus, tapi cukup cantik. Dari sikap bicaranya, rasanya ia boleh dipercaya.
“Bagaimana cara memeriksanya, menyiksa dengan supit panas ?” Tanya si pemuda sembari maju menghampiri. Dipegangnya lengan gadis bujang yang seolah-olah tinggal tulang terbungkus kulit saja, lalu ditariknya kemuka si thaythay tadi, tanyanya ; “Ini kau yang membakarnya bukan ?” Memang pada lengan yang tinggal tulang itu, tampak tergores tiga buah luka terbakar.
Bujang gadis itu makin deras air matanya. Thaythay gemuk itu, bukan lain adalah isteri Soh tay-haksu. Dagingnya yang sedemikian gemuknya itu adalah hasil kenikmatannya hidup bersenang-senang. Biasanya dia sangat garang, tapi kali ini tergetar juga nyalinya.
“Soh Hok ….., usir dia pergi ! Soh Hok ….., lekas panggil kausu (tukang pukul) !” Jeritnya.
Soh Hok, adalah si pengurus rumah tangga tadi. Tersipu-sipu dia membungkuk badan memberitahu ; “Hujin …..! kedua kausu itu sudah dilempar kedalam air !” “Ja, memang aku yang melemparnya !” si pemuda nyelutuk dengan busungkan dada.
Saking kerasnya sang tubuh menggigil, thaythay gemuk itu jatuhkan diri kedalam kursi. Bergemerutukan mulut si Sok Hok hendak berkata-kata, tapi si pemuda membentaknya ; “Jangan banyak mulut, siapa berani rewel, akan kusuruh mandi didalam sungai !” Suasana disitu menjadi hening, tiada seorangpun yang berani bercuit.
“Siapa namamu ?” tanya si pemuda dengan nada lembut kepada si bujang gadis itu.
“Aku dipanggil Siau Bwe !” sahutnya dengan ketakutan.
“Siao Bwe, kau she apa ?” tanya si pemuda.
Siao Bwe gugup, sahutnya terputus-putus ; “She ….., she …..” “Hohan , Siao Bwe, she Au. Ketika ayahnya menjualnya kepada hujin, dia masih kecil.” sambung si pengurus rumah tadi.
“Siao Bwe, aku bernama Tay Bok. Jangan takut kepada wanita ini. Apa dia sering memukulmu ?” kata si pemuda.
Siao Bwe tidak menjawab dengan mulut, tapi menyingkap celananya. Pahanya terdapat sebuah bekas luka terbakar. Si pemuda menggeram, dia deliki mata kepada si nyonya besar yang terlunglai dikursi itu. Menghampiri keperapian, dijemputnya sumpit api, lalu diberikan kepada Siao Bwe, katanya ; “Kau dibegitukan, sekarang balaslah !” “Aku ………., mana berani ?” Siao bwe terkejut menyurutkan tangannya.
“Takut apa ?” Tanpa disadari, Siao Bwe sambuti sumpit itu. Melihat batang besi yang merah membara itu, menjeritlah si nyonya gemuk, terus pingsan. Si pemuda tertawa gelak, lalu mengajak Siao bwe ; “Ayoh …..! kuantarkan kau pulang kerumahmu !” Kata itu bersambut dengan hiruk pikuk seruan gegap gempita diluar ; “Jangan lepaskan bajak itu ! Jangan lepaskan bajak itu !” Tay Bok terperanjat. Baru dia mengintai sedikit keluar, “Wuutt.” sebatang anak panah menyambar disisi mukanya. Cepat-cepat dia surutkan kepalanya lagi. “Siapa yang melapor pada pembesar ?” tanyanya dengan murka. Tapi tiada setan yang menjawab, karena sewaktu dia melongok tadi, diam-diam si Soh Hok telah menyeret thaythay nya bersembunyi kelain tempat.
Siao Bwe menangis ketakutan, katanya terisak-isak ; “Kongcu …..! bagaimana ini ? Kalau sampai tertangkap thaythay, jiwaku pasti melayang !” Si pemuda menghibur dengan gagahnya ; “Jangan kuatir !” Dilihatnya dalam ruang situ, hanya terdapat sebuah jalanan keluar, ialah pintu tadi. Tanpa banyak membuang waktu lagi, ditariknya tangan Siao Bwe, dengan berseru keras ditimpukkannya sumpit api itu keluar.
“Aduhhh ……….!” demikian ada beberapa orang menjerit diluar. Kembali Tay Bok bersuit panjang, lalu mundur selangkah, siap untuk menyerbu keluar. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada tempat api, dia memperoleh akal. Ditendangnya tempat api itu keluar.
Kali ini, betul-betul timbul panik. Diluar sana, riuh rendah orang mengaduh dan merintih, diselingi dengan suara “blang-blung” senjata dan tubuh orang kecemplung di air.
“Siao Bwe …..! lucu tidak ?” tanya si pemuda.
Sejak masih kecil Siao Bwe sudah dijual ayahnya menjadi budak keluarga pembesar she Soh itu. Hinaan dan makian sudah kenyang diterimanya. Beberapa saat tadi, diapun baru menerima siksaan diselomoti sumpit dibakar. Dia bagaikan mimpi bertemu dengan pemuda yang ganteng dan gagah itu. Kagumnya bukan kepalang, maka apa yang ditanyakan si pemuda tadi dia hanya mengiakan saja.
Beratus-ratus serdadu pemerintah yang mengepung digeladak itu, sama menjerit-jerit demi ada hujan api tadi. Seperti yang dikatakan si pemuda, permainan itu memang lucu, tapi kelucuan itu berobah menjadi kepanikan. Geladak terbakar dan asap bergulung-gulung masuk kedalam ruang perahu.
“Celaka, kalau tak lekas-lekas keluar, kita pasti kebakar hangus disini !” kata Tay Bok. Begitu enak dia mengucap kata-katanya itu, seolah-olah kawanan serdadu yang mengepung diluar itu dianggap sebagai lempung saja.
Dan memang dia buktikan ucapannya itu. Tapi begitu loncat keluar, dua atau tiga batang golok segera menyambutnya. Tay Bok terkejut, cepat dia merabah pinggangnya, dan mencabut sebuah benda berkilat-kilat merah yang bukan lain adalah sebatang ruyung. Warna ruyung (djwan-pian) itu merah tua. Begitu dibuat menangkis, dua-tiga batang golok musuh tadi segera terlilit.
“Lepas …..! seru Tay Bok seraya menarik. Seperti biasanya, dia yakin tentu dapat menarik senjata dan orangnya. Tapi kali ini benar-benar dia tersentak kaget. Bukan saja tarikannya itu tak berhasil, malah dirasanya ada sebuah tenaga membenturnya.
Tay Bok cepat turunkan tangannya, “Plak ..!” ruyungnya menjulur menghantam lantai geladak. Dalam gumpalan asap, tampak ada seorang lelaki tinggi kurus, loncat menghindari sabetan ruyungnya itu. Dengan memutar golok, orang itu menghadang jangan sampai dia (Tay Bok) keluar.
Perahu besar itu dinding dan lantainya dilumuri smeer oli, kayunyapun kering, maka begitu dijilat api, sukar diatasi. Lidah api menjulur masuk keruangan, sedang asapnya sudah bergulung-gulung meniup kedalam. Saking cemasnya, Siao Bwe sudah pingsan. Apa boleh buat, Tay Bok terpaksa memanggulnya. Ruyung merah dilemparkan lurus-lurus sehingga hampir tiga meteran panjangnya, lalu ditusukkan kewuwungan diatas, “braak !” pecahlah dinding wuwungan itu menjadi sebuah lubang seluas satu setengah meter. Sekali kaki dienjot, dalam gerak it-ho-jong-thian (burung ho menobros langit), Tay Bok loncat keatas. Tapi selagi tubuhnya masih melayang diudara, kembali si kurus menghantamkan goloknya.
Tay Bok murka sekali. Dengan gunakan cian-kin-tui (tindihan seribu kati) dia meluncur turun keatap ruang tengah yang sudah terbakar itu. Benar dia dapat lolos dari serangan golok, tapi tak urung pakaiannya kena terjilat api. Dilihatnya, disekeliling perahu besar itu sudah penuh dikepung dengan perahu-perahu kecil yang berisi anak serdadu. Begitu melihat Tay Bok muncul segera dihujani anak panah.
Kalau seorang diri, sudah tentu pemuda Tay Bok tak jeri. Tapi dia memanggul Siao Bwe, jadi agak kurang leluasa. Tapi dia tak mempunyai banyak waktu untuk mengeluh.
Sembari memutar ruyung untuk melindungi diri, dia loncat turun kegeladak. Tapi lagi-lagi si kurus sudah memburu datang dan menyerang dengan dahsyat.
Tay Bok cukup luas pergaulannya dalam kalangan persilatan, maka dia heran mengapa ada seorang kurus memusuhinya. “Siapakah cunke ini ?” tanyanya.
Si kurus terkesiap dan mendongak kemuka. Ketika saling berpandangan, Tay Bok terkejut. Begitu kurus muka orang itu, hingga tulang pipi dan rahangnya sama menonjol.
Sepasang matanya berkilat-kilat.
“Orang she The, serahkan jiwamu !” tiba-tiba si kurus membentak sembari mulai menyerang lagi.
Tay Bok heran si kurus tahu she-nya, tapi diapun tak berani betrayal. Sembari menangkis, dia berkisar kesamping. Tapi si kurus lebih cekat, membarengi orang berkisar dia sudah turunkan golok menyerang lagi. Tay Bok tak mau terlibat lama-lama dalam pertempuran itu. Pakaiannya yang terbakar tadipun mengenai kulitnya. Dengan bersuit panjang, dia enjot tubuhnya melayang kesebuah perahu kecil. Lima-enam serdadu yang berada diperahu itu, segera disabat jatuh dengan ruyung. Habis itu dia bersuit panjang beberapa kali.
Sekonyong-konyong diantara puluhan perahu serdadu pemerintah itu, tampak sebuah perahu kecil mendayung dengan lajunya, itulah tukang perahu tua yang ditumpangi Tay Bok tadi. Beberapa perahu kecil serdadu dicongkel terbalik. Lihai juga pak tua itu.
“Kongcu ..! jangan takut, aku datang !” serunya. Tay Bok cepat loncat pindah keperahu pak tua. Tapi suatu pemandangan ngeri yang tak terduga terjadi ! Sebatang anak panah telah menancap ditenggorokan pak tua yang gagah berani itu. Dia menggelepar rubuh tak bernyawa lagi. Tay Bok pilu dan gusar. Berpaling kearah datangnya anak panah, kiranya itulah si kurus yang berbuat.
Situasi Tay Bok jauh lebih baik dari ketika diatas perahu besar tadi. Serdadu-serdadu yang naik perahu-perahu kecil itu terpisah jauh dan hanya berkaok-kaok, sedang si kurus yang berada paling dekat pun tak berani gegabah mendekati rapat-rapat. Sementara Siao Bwe pun sudah tersadar.
“Kongcu …! jangan hiraukan diriku, larilah lekas, mereka berjumlah banyak !” “Siao Bwe .., jangan takut, kau belum kenal siapa orang she The ini !” sahut Tay Bok.
“Ooohh ! jadi kongcu orang she The ?” tanya Siao Bwe separoh mengingat-ngingat.
Sudah tentu Tay Bok tak mempunyai waktu luang untuk bercakap-cakap, dia bertanya apakah Siao Bwe bisa berenang.
“Berenang, adalah permainanku …..!” “Bagus ! kita ada jalan !” tukas Tay Bok. Dilihatnya para pengepungnya yang berjumlah banyak itu tak berani turun tangan. Sedang si kurus tadi, entah kemana perginya.
Cepat dia kisiki Siao Bwe ; “Begitu kukebutkan ruyung, kau harus lekas menyelam kedalam air !” Dala saat itu, kawanan serdadu makin bertambah jumlahnya. Ada seorang apsir dengan berseru keras, melepaskan anak panah. Tay Bok gerakkan ruyungnya dan “Bluung !” Siao Bwe cepat loncat kedalam air.
Tay Bok sentakkan ruyungnya keatas lagi, tangkainya dibuat mengetuk geladak perahu, lalu dengan meminjam tenaga ketukan itu, dia melambung keudara sembari hantamkan ruyungnya kesana-sini. Belasan serdadu kecemplung. Anehnya, tubuh-tubuh mereka tak pernah muncul kepermukaan air, sampikan riak gelombang saja tak tanpak.
“Plung” hilang lenyap ! Kawan-kawan mereka hanya berteriak-teriak saja, tapi tak berani mengejar.
Ternyata Tay Bok seorang jago berenang jempolan. Dia dibesarkan diatas lautan.
Didalam air dia tetap terang seperti diatas bumi. Tiga tombak jauhnya, tampak Siao Bwe merabah-rabah batu padas. Sekali enjot tubuhnya, nona itu berenang menghampiri. Rupanya tadi ia kebingungan, maka begitu melihat Tay Bok ia segera mencekali lengan si pemuda dengan girangnya. Tay Bok ajak si nona berenang kemuka. Lama sekali baru mereka muncul kepermukaan air. Perahu besar si pembesar yang terbakar tadi, sudah jauh jaraknya.
“Siao Bwe …! Kau takut tidak ?” Tanya Tay Bok ketika sudah naik kedarat.
Siao Bwe pesuti pakaian dan rambutnya yang basah. Dengan sinar mata yang penuh kebahagiaan, menyahutlah ia ; “Takut ? Selama kau ada …! Aku tak kenal takut.” Tay Bok tertawa. Diam-diam dia masih memikirkan siapa tokoh kurus, yang bukan saja mengetahui she-nya, rupanya tahu juga ruyungnya itu disebut ‘Liong kau pian’ (ruyung naga). Tentunya orang kurus itu tahu siapa dirinya itu, tapi mengapa dia tetap memusuhi dan membinasakan pak tua tukang perahu itu ? Ah, biarlah nanti dia tanyakan kepada ayahnya.
Pada lain saat, Tay Bok merogoh segenggam perak, lalu diangsurkan kepada Siao Bwe, katanya ; “Ambillah ini …! pulanglah kepada ayahmu ! mereka tak nanti dapat mengejarmu !” Siao Bwe menampik, ia balas bertanya ; “Kongcu ! kau hendak kemana ?” “Bagi seorang laki-laki, empat penjuru langit itu adalah rumah, aku suka kemana, kesitulah aku pergi !” “Kalau begitu, aku ikut kemana kongcu pergi !” Lemah tubuh si Siao Bwe, tapi garang tegas ucapannya. Tay Bok menatapnya, tapi dia tak tahu apa yang dipikirkan gadis bekas budak itu. Memang, dia digembleng dalam asuhan keperwiraan. Menolong yang lemah, membasmi yang jahat, adalah sudah meresap disanubarinya. Menolong seorang gadis lemah macam Siao Bwe, adalah jamak lumrah baginya. Dalam beberapa hari dia tentu akan sudah melupakan peristiwa itu. Tapi tidak demikian dengan Siao Bwe.
Sejak kecil dijadikan budak keluarga Soh, tak pernah Siao Bwe mendapat simpati orang. Ia merasa dirinya seorang budak yang rendah. Bahwa pertama kali itu ia mendapat perhatian besar dari seorang pemuda gagah, telah membuatnya merenung. Dalam buaian impian remajanya, ia ukir pribadi Tay Bok sebagai malaikat penolongnya. Ia tetap akan mengikuti malaikat pelindungnya itu.
“Siao Bwe …! mengapa kau ingin ikut aku berkelana ? Apa kau tak takut bahaya ?” Siao Bwe seperti diguyur air dingin …..! Ja, memang tadi ia keliwatan sekali.
Siapakah dirinya itu ? Masa ia setimpal berdampingan dengan seorang kongcu. Namun ia tetap pantang menyerah. “Kongcu …! apakah dirumahmu tiada memelihara bujang ?” Tay Bok tertawa nyaring, ujarnya ; “Apa kau tahu rumahku itu bekerja apa ?” “Dimisalkan jadi perampok atau bajak laut sekalipun, aku suka menjadi bujangmu !” sahut Siao Bwe dengan tegas.
“Benar, memang kami bajak laut !” tukas Tay Bok, “Sekalipun kau suka, juga tak boleh. Harap kau jaga dirimu baik-baik !” “Kong ……….!” Belum Siao Bwe lanjutkan kata-katanya, Tay Bok sudah loncat pergi.
Hati Siao Bwe hendak mengejar, tapi kakinya serasa terpaku. Dengan memegangi perakan tadi, ia berdiri terlongong-longong. Sampai lama, lama sekali ia tetap berdiri seperti patung, hanya mulutnya tak henti-hentinya mengigau ; ‘The kongcu …..! orang she The ……….!’ Keesokan harinya ketika jalanan sudah ramai orang, barulah ia tersadar. Jadi semalam suntuk ia terpaku berdiri disitu, seperti kehilangan semangat. Setelah menyingkap rambutnya yang kusut masai, ia menjadi bingung tak tahu hendak pergi kemana. Tiba-tiba terkilas sesuatu ingatan. Setelah menanyakan jalan pada orang, ia segera lintasi sungai menuju kebarat.
Kemana gerangan perginya gadis yang bernasib malang itu ? untuk sementara kita tinggalkan dulu. Mari kami ajak pembaca mengikuti perjalanan pemuda gagah berani yang menggunakan nama Tay Bok atau Kayu Besar itu. Dia menuju keutara. Kira-kira sepuluhan li jauhnya, dia memasuki sebuah kota kecil. Tiba di sebuah pintu rumah gedung besar yang terletak diujung kota kecil itu, dia merandek. Dideburnya pintu itu.
Tengah malam mendebur pintu, sudah tentu hiruk sekali suaranya. Tapi anehnya, pintu itu tertutup, seolah-olah penghuninya tak mendengar.
‘Keparat…, lagi-lagi mabuk ini !’ bersungut Tay Bok. Dia mundur dua langkah, lalu enjot tubuhnya keatas tembok, dari situ dia menekan ruyungnya lalu berjumpalitan masuk kedalam.
Didalam ruangan situ, terang sekali penerangannya. Jadi mustahil kalau tiada orangnya. Pintu didupaknya, baru saja melangkah masuk, hidungnya sudah tersampok bau arak. Tiga-empat orang tengah rebahkan kepalanya diatas meja.
“Haaii …! kau pemabuk ….., ayoh bangun !” serunya keras-keras. Dengan lwekang yang dimilikinya, rasanya orang tentu pekak mendengar teriakkan Tay Bok itu. Tapi nyatanya orang-orang itu tetap tak bergerak. Hal yang tak wajar itu, cepat diketahui Tay Bok. Dia menghampiri untuk memeriksanya, ‘Astaga …!’ keluhnya dengan kaget, terus putar tubuhnya menempel ditembok.
Adalah pada detik dia memutar tubuh tadi, sebuah badik sudah menancap ditembok, terpisah dari kepalanya hanya 3 dim saja. Dan berbareng itu, sesosok bayangan melesat keluar. ‘Setan !’ itulah perawakan si kurus yang pernah bertempur diperahu kemarin. Cepat Tay Bok keluar mengejarnya, tapi pembunuh gelap itu sudah menghilang. Kembali kedalam ruangan, dia periksa lagi beberapa orang yang tengkurep diatas meja tadi. Tulang punggung masing-masing terdapat lubang tusukan badik. Jadi tanpa sempat berteriak lagi, orang-orang itu sudah putus jiwanya.
Keheranan Tay Bok makin menjadi. Beberapa korban itu, adalah orang-orang ayahnya yang berkepandaian tinggi. Mengapa begitu mudah saja dibinasakan ? Kalau pembunuhan itu si kurus yang melakukan, rasanya tak masuk diakal. Dalam pertempuran itu, dia cukup ketahui nilai kepandaian si kurus itu. Adakah seorang mata-mata lihai yang menyelundup kedalam rumahnya situ ? Sampai sekian saat, Tay Bok belum dapat menarik kesimpulan. Dicabutnya badik yang menancap ditembok tadi. Badik itu mengkilap tajam, terbuat daripada baja pilihan. Pada tangkainya terdapat ukiran dua buah huruf yang jaraknya agak berjauhan, huruf ‘Siong’ dan huruf ‘Pek’. Tak kenal Tay Bok akan musuh-musuh keluarganya yang memakai nama begitu. Dia ambil putusan untuk lekas-lekas pulang menanyakan ayahnya. Badik disimpan, setelah ganti pakaian, tanpa memadamkan lampunya dia terus loncat keluar menuju ketimur.
Dua hari kemudian, dia sudah tinggalkan wilayah Kwitang masuk ke Hokkian. Tepat pada saat itu, baginda Cong Ceng dari kerajaan Beng, bunuh diri digunung Bwe-san, dan tentara Ceng masuk ke wilayah Tiong-goan. Hok Ong mengangkat diri menjadi Kaisar Beng, berkedudukan di kotaraja Lam-keng (Nan-king). Keadaan dikedua propinsi Kwitang dan Hokkian, masih belum tertekan kaki penjajah.
Begitu masuk ke propinsi Hokkian, Tay Bok lalu membeli seekor kuda. Dengan itu, dia menempuh perjalanan sampai semalam suntuk. Menjelang terang tanah, tibalah dia disebuah teluk lautan. Teluk itu pelik sekali letaknya, karena diapit oleh dua buah gunung.
Orang yang tak paham peta bumi, tentu akan mengiranya sebagai bagian gunung yang menjulur kelaut, padahal disitu terdapat sebuah teluk.
Tay Bok tinggalkan kudanya, dengan gunakan ilmu lari cepat dia mendaki. Tak berapa lama kemudian, dia sudah menurun ke gunung sebelah sana yang menghadap kelaut. Disitu dia berhenti lalu bersuit keras beberapa kali. Sembari menggendong tangan, dia mondarmandir menunggu papakan perahu. Tapi sampai sekian lama hingga matahari sudah keluar, tetap tiada sebuah perahu yang kelihatan datang. Tay Bok mulai kesal dan curiga. Matanya berkilat-kilat memandang kesekeliling teluk ditu.
‘Celaka, tentu ada apa-apa yang tidak beres ini !’ serunya sembari mencabut ruyung liong-kau-piannya, terus menuju kekaki gunung.
Benar juga, dibawah sebuah karang yang menonjol kelaut, setombak jauhnya, tampak ada tiga buah perahu kecil. Tapi para anak buahnya, sudah sama terhampar tak bernyawa.
Cara kematian mereka, sama semua. Pada punggungnya terdapat tusukan badik.
Meluap kemarahan Tay Bok. Ruyung naga diombang-ambingkan dua putaran, mulutnya sumbar-sumbar ; ‘kawanan tikus buduk, kalau mau cari perkara mengapa tak berhadapan muka dengan yang dimaukan, tapi membunuhi orang-orang yang tak bersalah ?’ Wajah pemuda itu merah membara, pertanda dia memang marah sekali. Sekonyongkonyong dari balik gunung benda melayang kearah perutnya. Tay Bok tak menjadi gugup.
‘Plak…!’ badik itu disabetnya dengan ruyung. Tapi tiba-tiba dibelakang serasa ada angin menyambar. Karena tak sempat menghindar lagi, terpaksa dia gunakan gerak tiat-pian-kio (jembatan besi), tubuhnya dibuang menelungkup kemuka. ‘Creeet’ punggungnya serasa disambar angina dingin dan sebatang badik menancap ditepi pesisir sana. Punggung bajunya pun tergurat robek.
Mau tak mau Tay Bok bercekat. Dalam sekejap mata dapat melepaskan badik dari muka dan belakang, sungguh suatu kepandaian yang belum pernah dia saksikan. Untuk melindungi diri dari setiap kemungkinan, dia memutar ruyung seraya berseru ; ‘Tikus buduk, apa kau berani keluar bertempur dengan siaoya sampai 300 jurus ?’ Suatu suara yang nadanya menyeramkan, kedengaran menyahut ; ‘Kami berada disini, kau sendiri yang tak dapat melihat, mengapa marah-marah ?’ Menurut arah suara itu, Tay Bok melihat dua orang kurus sedang berdiri dibawah sebuah karang yang penuh pakis (lumut). Pakaian mereka sama dengan warna pakis itu, hijau lumut. Mereka sandarkan tubuhnya pada batu gunung. Dan yang mengherankan, wajah dan perawakan keduanya itu, seperti pinang dibelah dua, sampai-sampai Tay Bok tak dapat membedakan manakah yang pernah bertempur dengan dia beberapa malam yang lalu itu.
Tapi sebagai pemuda, darah Tay Bok masih panas. Dia mencentikkan sebuah jari tangan kiri dan, ‘sring …! sring …! dua bintik sinar berkilat melayang kemuka. ‘Tetamu datang tak disambut, itu kurang menghormat !’ serunya.
Jalannya senjata rahasia itu, agak aneh. Tidak meluncur lurus, tapi berbilak-biluk kekiri kanan dengan pesatnya. Kedua orang kurus itu saling mengicupkan mata, lalu samarsamar mencabut goloknya. Beda dengan kebanyakan golok, golok mereka itu dua belah matanya tajam semua. Golok diputar menjadi lingkaran sinar untuk menyampok piau Tay Bok tadi.
‘Pernah apa kau dengan The Ci-liong ? Mengapa kau memakai senjata pusakanya Liong-kau-pian dan pandai menggunakan ilmu timpukan ou-tiap-piau (piau berbentuk kupukupu) ?’ seru mereka.
‘Ho …! kiranya benar dugaanku itu. Mereka memang musuh-musuh ayahku !’ demikian pikir Tay Bok. Sebagai pemimpin dari angkatan laut perompak yang terdiri dari belasan perahu besar, sudah tentu ayahnya itu mempunyai musuh-musuh. Tay Bok ambil putusan untuk menghajar mereka, agar mereka jangan memandang rendah pada kelurganya.
Serentak dia pasang kuda-kuda dalam tiau-bhe-poh, lalu berseru ; ‘Siao-ya ini adalah putera toa-ya mu itu. Kalau kalian mempunyai ~rekening~ , tagih saja padaku, jangan main bunuh orang-orang yang tak berdosa, itu perbuatan anjing namanya !’ Tay Bok menduga, dua orang kurus itu tentu akan marah, maka diapun siap dalam gerakkan permainan liong-kau-pian-hwat. Tapi diluar dugaan, bukan saja mereka tak marah, malah begitu keduanya saling berpandangan dengan yang satu berseru ‘toako’ dan yang lalu memanggil ‘hengte’ mereka lalu menangis tersedu-sedan.
Sudah tentu Tay Bok tak mengerti. Sejak dalam perjalanan kedua orang kurus itu selalu menguntitnya dan membunuhi anak buah ayahnya, jadi tentunya musuh ! Tapi mengapa mereka menangis ? Kalau saja mau, saat itu dia (Tay Bok) dapat membokong mereka. Tay Bok seorang pemuda perwira, haram dia melakukan perbuatan rendah itu.
Puas menangis, kedua orang kurus itu lalu mengusap matanya, dengan masih bernada isak, mereka berseru ; ‘Allah maha murah, kiranya kau ini puteranya The Tji-liong. Hutang ayah, anak yang membayar, itulah sudah selayaknya !’ Seperti babi buta, mereka menerjang maju tanpa menurut gerak ilmu silat. Tay Bok bersiap-siap. Benar juga, ketika hanya terpisah dua meteran, mereka kembangkan permainan ilmu golok. Dua buah lingkaran sinar menyerang Tay Bok dari kanan dan kiri. Dahsyatnya bukan kepalang.
‘Bagus !’ seru Tay Bok sambil mundur selangkah. Dia kelit serangan Lian-hoan-samto (golok berantai) dari musuh sebelah kanan. Liong-kau-pian dijentikkan lurus kemuka untuk menyapu perut lawan yang menyerang dari sebelah kiri. Itulah yang disebut tay-nau-tang-hay (mengaduk-ngaduk laut timur), jurus yang istimewa dari ilmu pian Liong-kau-pian-hwat.
Karena Tay Bok menghindar, si kurus sebelah kanan tadi menabas angin. Tubuhnya agak menurun maju, tangannya menjulur kemuka. Tapi secepat kilat, dia lanjutkan goloknya untuk menyapu dada lawan. Sementara si kurus sebelah kiripun berkelit dari serangan pian, lalu robah gerakkannya dalam jurus tiau-thian-it-tjut-hian (sebatang tiang menjanggah langit), menyerang sebelah bawah. Yang satu menyerang dada, yang lain menyapu kaki. Benar-benar suatu pasangan ilmu golok yang harmonis (serasi).
Tay Bok terkesiap. Dia seperti sudah pernah mendengar tentang ilmu permainan golok serupa itu. Tapi dalam saat-saat genting itu, dia tak berkesempatan untuk mengingat-ingat lagi. Begitu tangkai ruyung ditusukkan ketanah, dia enjot tubuhnya melayang sampai satu tombak tingginya. Tapi kedua orang kurus itu, lihai juga. Mereka berbareng taburkan empat batang badik keudara.
Dalam kedudukannya melayang di udara, sudah tentu Tay Bok sukar untuk menghindar dari taburan dua pasang badik yang datangnya dari kanan kiri. Untuk menangkisnya, juga sudah tak keburu. Tay Bok cepat ambil putusan. Dia gunakan gerakkan tjian-kin-tui untuk meluncur turun. Memang tepat sekali tindakannya itu. Karena baru tubuhnya menurun, empat batang badik itu sudah menyambar dan saling berselisihan diudara.
Ah, terlambat sedikit saja, tubuhnya pasti akan berbias empat buah lubang darah ! Kini Tay Bok tak berani memandang ringan lawan. Begitu dia menginjak tanah, terus lompat kesamping. Disitu dia putar Liong-kau-pian untuk melindungi diri. Kedua orang kurus itu menyerang lagi. Sinar golok mereka bagaikan hujan salju. Tay Bok sibuk menangkis kekanan, menghalau kekiri, setempo juga loncat menghindar. Permukaan pesisir yang sunyi tenang dipagi hari, dikacaukan dengan gentak terjang telapak kaki tiga orang jago. Dalam beberapa kejab saja, pertempuran sudah berjalan dua-tiga puluh jurus.
Melihat itu, giranglah kedua orang kurus itu. Mengira kalau si anak muda benar-benar terperosok dalam lumpur pasir, mereka saling berseru ; ‘Toa-ko majulah !’ …, ‘Heng-te majulah !’ Tapi demi mereka maju menabas, Tay Bok kedengaran tertawa keras. Sekonyongkonyong dia tendangkan kedua kakinya kepada musuh. Kaki yang berlepotan lumpur pasir itu, berhamburan laksana butir-butir senjata rahasia. ‘Ayaaa …, celaka …!’ kedua orang kurus itu mengeluh. Yang menyerang dari sebelah kiri, rupanya lebih tangkas. Secepat kilat dia tendangkan kakinya keatas untuk berjumpalitan menghindar. Tapi yang dari sebelah kanan, agak lambat. Matanya serasa pedas tak dapat dibuka. ‘Wuuut !, wuut !’ dua buah tendangan lawan masih dia dapat mengelit, tapi tendangan berikutnya telah dapat mengenai pantat dan memaksanya terpental sampai beberapa tindak jauhnya, mendeprok diatas pesisir.
‘Ah …! Mengapa kita tak tahu akan ilmu hi-boh-thui keluarga The !’ rintihnya sembari menangis. Hi-boh-thui, ilmu tendangan dalam ombak. Saudaranya segera menghampiri, lalu memanggulnya terus dibawa lari. Sembari lari, mulut si kurus itu berseru ; ‘Anak keparat …! Ingatlah ! kasih tahu ayahmu bahwa kami berdua masih hidup, pasti akan menuntut balas. Kalau tak dapat mencincang keluarga The, kami bukan orang she Ko !’ Sebenarnya Tay Bok hendak membiarkan begitu saja. Tapi serta mendengar orang sumbar-sumbar begitu, dia loncat memburu dengan gerak yan-tjin-sam-djo-tjin (burung wallet tiga kali menyiak air). Dia timpukkan empat batang on-tiap-piau. Disebelah muka sana terdengar suara orang mengaduh kesakitan. Tentulah salah seorang dari si kurus itu terkena.
Melihat mereka lari tunggang langgang, Tay Bok tak mau mengejar lagi. Apalagi menilik kepandaian mereka itu hanya setingkat dengan dirinya, jadi tak perlu dihiraukan.
Hanya yang diherankan, mengapa mereka berdua begitu mendendam sekali kepada ayahnya.
Untuk ini, biarlah dia tanyakan kepada ayahnya saja. Cepat dia naik keatas perahu, membuang mayat-mayat kedalam laut, menaikkan layar, lalu berlayar ketengah lautan.
Pada lain saat, Tay Bok mengambil sebuah lokan (siput atau keong laut) besar dan ditiupnya. Ternyata terompet lokan itu, berkumandang jauh sekali suaranya. Dalam jarak sepuluh li, suaranya dapat didengar. Dua kali Tay Bok meniupnya keras-keras dan tak lama kemudian tampak dua buah perahu majang (perahu kecil untuk tangkap ikan) mendatangi.
Demi melihat Tay Bok, dua orang anak buah itu berjingkrak-jingkrak ; ‘Hai …, kita akan mendapat ganjaran, tonya justru sedang cari siaoya !’ Mereka lempar sebuah kait bertali kearah perahu Tay Bok. Dan merapatlah kedua perahu itu.
‘Perahu berlabuh dimana ? Dipesisir terbit peristiwa, mengapa kalian tak mengetahui ?’ tanya Tay Bok demi loncat pindah ke perahu orang tadi.
Kedua orang itu terkesiap, sahutnya ; ‘Peristiwa apa ? Armada kita berada disekitar pulau Hengte, dalam tiga jam kita akan dapat mencapai kesana !’ Kedua orang itu segera memerintahkan anak buahnya mengembangkan layar. Habis itu mereka memandang Tay Bok dengan cengar-cengir ketawa riang.
‘Apa-apaan kalian mengawasi aku begitu rupa ?’ bentak tay Bok karena merasa risi.
‘Kongcu ….., kabar girang sekalilah !’ kedua orang itu tertawa mengekeh.
‘Apanya yang digirangkan ?’ ‘Kami tak berani mengatakan ?’ Watak Tay Bok suka berterus terang. Dia benci orang yang berbelit-belit. Cepat dicekiknya bahu kedua orang bawahannya itu dan diguncang-guncangkan ; ‘Ayuh …! bilang tidak ?’ Kedua orang tegap itu berkuik-kuik kesakitan dan tersipu-sipu mengiakan ; ‘Ya …,ya, kami akan bilang !’ Setelah Tay Bok melepaskan cekikkannya, barulah orang itu menerangkan ; ‘Thaythay mendapat tamu seorang nona yang dubilah cantiknya. Thaythay suruh kami mencari kongcu, tapi kalau ketemu tak boleh bilang apa-apa !’ Tay Bok tertawa gelak-gelak, ujarnya ; ‘Ya …, memang mamah sih suka begitubegituan.
Sebelum urusan besar selesai, mengapa seorang tay-tianghu (lelaki sejati) memikir urusan perjodohan ?’ Dengan menggendong tangan, dia mondar-mandir digeladak perahu. Perahu melaju dengan lancarnya dilaut yang tenang dan tak lama kemudian tampaklah segunduk tanah nonjol. Itulah pulau Hengte-to. Masuk kedalam teluknya, tampak ada dua buah kapal yang panjangnya hampir limapuluh tombak, berlabuh diteluk situ. Tiang besar dan ruangan tengah kapal itu, dihias dan dicat warna warni yang indah sekali. Kapal yang disebelah muka, terpancang sebuah bendera besar segi tiga. Dasarnya berwarna hitam, ditulisi sebuah huruf warna merah yang berbunyi ‘The’.
Belum merapat dekat, Tay Bok sudah loncat keatas rantai sauh kapal itu. Dari situ dia menyusur keatas kapal. Rantai sauh itu sepuluh tombak panjangnya, tapi Tay Bok dapat berjalan dengan tenangnya. Sorak sorai dan tepuk tangan terdengar riuh rendah diempat penjuru. Tay Bok lambaikan tangannya selaku membalas pujian anak buahnya itu.
Mendengar ramai-ramai itu, dua orang wanita, seorang setengah umur dan seorang gadis, yang berada didalam ruang tengah kapal itu segera menyingkap kain jendela untuk melongok keluar. ‘Itulah Som-ji !’ kata si wanita setengah umur kepada si gadis, siapa mengiakan dengan merah kemalu-maluan.
‘Som-ji, kau sudah pulang !’ serunya.
‘Yah, aku hendak mohon tanya tentang suatu hal !’ kata Tay Bok kepada si brewok yang ternyata adalah ayahnya, The Tji-liong. Dia adalah pemimpin bajak yang besar sekali pengaruhnya ditiga lautan Hokkian, Ciatkang dan Kwitang. Dia memiliki belasan kapal macam kaliber kapal yang berlabuh diteluk Hengte-to itu.
Semasa pemerintah baginda Cong Ceng, dia pernah mendapat panggilan amnesti oleh kepala daerah Hokkian, Sim Yu-liong. Tapi karena kerajaan Beng kalut, dia terpaksa kembali kelaut menjadi perompak. Tay Bok, putera The Tji-liong itu, sebenarnya bernama The Som.
Dialah yang pada jaman belakangan ini dikenal orang sebagai The Seng-kong atau Coxinga ! ‘Som-ji, jangan tanyakan lain-lain urusan dulu, mamahmu sudah beberapa hari menunggumu, ayoh …,lekas menemuinya sana !’ The Tji-liong tertawa girang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s