ISTANA TANPA BAYANGAN (BU ENG HU)

ISTANA TANPA BAYANGAN (BU ENG HU)
Oleh : Elfenan
Kisah ini menceritakan tentang teka-teki dari sebuah perkumpulan yang berada di lereng Thai-san. Perkumpulan yang mampu menjagoi seluruh kang-ouw ini hancur tanpa diketahui siapa pelakunya. Kehancuran Kim-liong-pay (Partai Naga Emas) menjadikan dunia kang-ouw seperti ayam kehilangan induknya, banyak terjadi persaingan dan kejahatan dimana-mana.
Apakah tunas-tunas muda Kim-liong-pay berhasil membangkitkan kerajaan tak terlihat itu? Misteri apakah yang ada di balik kehancurannya? Dan di mana kah letak BU ENG HU yang sedang dicari-cari banyak orang itu?
Saya mohon kritik, saran, cacian dan masukannya untuk para pembaca yang budiman!
Semoga bermanfaat…. Bu Beng Siaucai…
BAB 1 : ANCAMAN ANG-HONG-PAY
Hitam dan putih
Melingkar-lingkar saling berpadu
Ciptakan keserasian dan selalu bertumpu
Satu yang tidak berubah
Bahkan malah mengubah
Hitam dan putih
Saling menyatu
Menciptakan kehidupan indah
Dalam kehidupan manusia
Segalanya kosong dan tidak berarti
Tapi jangan disalahkan arti
Tidak berarti bukan kosong
Bahkan kadang-kadang mengisi kekosongan
Sebaliknya segala yang berarti adalah kosong
Menambah hidupnya hidup!
Terdengar suara merdu seorang pemuda berusia tujuh belas tahun sedang membaca puisi. Sambil manggut-manggut lagaknya seorang penyair besar tidak henti-hentinya mengulang puisi itu. Puisi yang entah siapa yang membuatnya itu tampak disukai oleh pemuda kecil itu. Badannya yang tegap tampak enak dipandang, dengan wajah lonjong hidung mancung dan dua mata yang bersinar lembut penuh kejujuran. Pakaian yang dipakai juga bagus dan bersih. Pakaian dari campuran sutra berwarna hijau muda itu sangat pas dengan warna kulitnya yang putih bersih. Rambutnya dibiarkan terurai sampai pundaknya. Ia terus membaca puisi itu sambil kadang-kadang berhenti dengan siulan merdu. Pemuda itu berjalan pelan di antara gang sempit di kota Taiyuan di propinsi Shansi. Setiap ia bertemu dengan orang-orang ia selalu menyapa ramah sambil menyungging senyum ramahnya. Hampir semua orang di kota Taiyuan itu mengenal pemuda itu, seorang pemuda putera pemilik gedung paling besar di kota Taiyuan. Mereka biasanya memanggil pemuda itu dengan ‘Song-kongcu atau Tuan muda Song’ anak tunggal dari Song-wangwe (Hartawan Song).
Kedermawanan pemuda itu tidak perlu ditanyakan lagi, karena hampir setiap seminggu dua kali ia akan pergi jalan-jalan keliling kota. Setiap tempat akan dikunjungi, kecuali tempat-tempat ‘kotor’, tentunya. Ketika berjalan dan ia menemukan kesusahan penduduk ia akan langsung membantu, makanya tidak heran kalau pemuda itu sangat disayang dan dihormati oleh penduduk sekitar. Sering ia ikut nimbrung dengan para pengemis mendengarkan cerita-cerita mereka yang menarik atau mendengarkan pengaduan mereka tentang kelakuan para pejabat yang rusak moralnya, atau bahkan mendengarkan cerita tentang dunia kang-ouw. Pokoknya pemuda yang baru menginjak masa remaja ini bisa dikatakan sangat supel dan pandai bergaul dengan siapa saja. Kalau sudah ke luar rumah, ia akan lama sekali kembalinya. Kalau sudah pulang, uang yang ada di dalam kantongnya akan segera ludes dibagi-bagikan kepada para pengemis atau penduduk yang membutuhkan.
Pagi-pagi sekali ia sedang berjalan menuju tempat berkumpulnya para pengemis dari Kay-pang (Perkumpulan Para Pengemis). Tempat itu berada di sebelah barat kota Taiyuan. Di sana akan ditemukan sebuah kelenteng kuno yang sudah rusak dan di kelenteng inilah para pengemis biasanya berkumpul. Kali ini kedatangannya seperti biasanya ingin mendengarkan cerita-cerita dari teman-temannya para pengemis. Sudah lama Song-kongcu atau nama lengkapnya Lie Yang bermarga Song bergaul dengan mereka. Dari mereka ia banyak mendapatkan cerita-cerita sekitar dunia kang-ouw dan orang-orang yang ada di luar propinsi Shansi, khususnya tentang kota raja. Orang tua Song Lie Yang tidak pernah membatasi pergaulan anaknya, hanya kadang-kadang menasehati untuk tidak bergaul dengan pemuda-pemuda kota yang kerjaannya hanya berfoya-foya saja. Dan juga untuk tidak membuat perkara dengan orang-orang kang-ouw, karena memang bahaya sekali baginya dan keluarganya. Ini tidak heran, karena keluarga Song sejak dahulu hanya seorang pelajar lemah yang tidak bisa silat. Termasuk Lie Yang juga tidak bisa bermain silat dan sebagai seorang pemuda lemah, namun karena ia terkenal dengan kedermawanan dan kebaikannya maka tidak ada orang yang memusuhinya, bahkan sebaliknya banyak ia mempunyai teman, baik orang-orang lemah sepertinya atau dari orang-orang kang-ouw murid Kay-pang.
Di depan kelenteng tua itu duduk belasan pengemis dengan diam. Dan ratusan pengemis lainnya berdiri di samping kelenteng dengan tongkat di tangan mereka, ada juga puluhan lainnya duduk di bawah pohon di samping kelenteng. Melihat banyaknya pengemis di tempat ini, Lie Yang terkejut juga. Tidak biasanya para pengemis bisa berkumpul dan terkumpul begitu banyaknya seperti hari ini. Apakah mereka sedang mengadakan pertemuan besar, beberapa kali Lie Yang bertanya pada dirinya tidak mengerti.
“Selamat pagi saudara semuanya !” sapanya dengan senyum ramah.
“Ah, Song-kongcu. Silahkan! Silahkan masuk!” terdengar suara yang berat dari salah satu pengemis.
Pengemis yang sudah berusia sekitar lima puluh tahun ini mengajak Lie Yang masuk ke kelenteng dan diikuti oleh pengemis lainnya. Di dalam kelenteng rusak itu terdapat api unggun kecil sebagai penghangat badan. Lalu mereka duduk melingkar menghadap api unggun.
“Ah, kenapa kongcu kelaur rumah di hari seperti ini? Terlalu berbahaya bagi kangcu!” kata pengemis itu dengan nada khawatir.
“Memangnya ada apa dengan hari ini, Sun-lopek (Paman Sun)?” tanya Lie yang heran dan tidak mengerti. Lalu ia menyapu ke wajah para pengemis yang terlihat pucat seperti sedang mengkhuwatirkan sesuatu.
“Akhir-akhir ini kami mengalami kemalangan. Banyak saudara kami yang tewas! Dan sepertinya mala petaka ini akan segera datang ke daerah ini!” jawab Sun-lopek dengan sedih. Wajahnya tampak tambah pucat.
“Apa yang terjadi dan siapakah yang membunuh saudara-saudara dari Kay-pang?” tanya lagi Lie Yang masih tidak mengerti.
“Tiga hari yang lalu kami mendapatkan sebuah peringatan dari Ang-hong-pay (Partai Tawon Merah) supaya kami menakluk dan bergabung dengan mereka. Mereka mengancam akan membinasakan siapa saja yang tidak mau takluk kepadanya. Seperti halnya yang mereka lakukan pada markas Kay-pang di kota raja beberapa waktu yang lalu. Lima hari kemarin markas Kay-pang di luar kota raja habis dibantai oleh segerombolan orang berkedok dari Ang-hong-pay. Ratusan pengemis tewas mengenaskan, termasuk beberapa tionglo (Tetua) Kay-pang, untung saja pangcu (Katua) kami bisa selamat dan sekarang bisa bersembunyi. Dan hari ini adalah hari terakhir untuk memberi jawaban kepada mereka, kalau kami menolak uluran tangan mereka, maka kami akan digempur seperti halnya dengan markas kami di kota raja.”
“Apakah dengan begitu banyaknya para pengemis, kalian tidak dapat mengalahkan mereka?” tanya lagi Lie Yang.
“Ah, jangan dikira dengan orang banyak seperti ini bisa mengalahkan pasukan Ang-hong-pay yang sudah terkenal akan kelihaian dan keganasannya. Markas Kay-pang yang ada di kota raja saja hancur, walaupun di sana ada pangcu, para tionglo dan ratusan anggota pengemis.”
Lalu dengan nafas berat Sun-lopek menjelaskan dengan detail pergerakan mereka kepada Lie Kang. Ang-hong-pay adalah salah satu partai besar yang misterius. Tidak ada orang yang tahu di mana markas utama partai ini. Partai ini muncul baru sekitar sepuluh tahun terakhir dan dalam sepuluh tahun ini namanya membumbung cepat. Hampir setiap orang kang-ouw tahu partai ini, atau paling sedikit pernah mendengar nama ini. Lebih-lebih ketika terjadi pengerusakan ketika dunia persilatan mengadakan pesta pemilihan bengcu lima tahun yang lalu. Banyak sekali para pendekar yang menjadi korban kekerasan dalam pertempuran sengit waktu itu. Walaupun begitu akhirnya Ang-hong-pay dapat dipukul mundur oleh para pendekar. Setelah kekalahannya ini mereka tidak pernah muncul lagi, sehingga keadaan menjadi tenang kembali.
Selama lima tahun keadaan kang-ouw mengalami ketenangan setelah pihak Ang-hong-pay berhasil dikalahkan. Tujuan mereka melakukan pengerusakan dan pembantaian waktu pemilihan bengcu dahulu adalah untuk mendapatkan kursi bengcu dan menguasai dunia persilatan. Setelah gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan dan selama lima tahun kemudian mereka menghilang begitu saja. Baru setahun lalu tiba-tiba mereka muncul kembali ke permukaan dengan gerakan yang lebih dahsyat dari pada yang dahulu. Kali ini mereka tidak lagi mendatangai langsung ke pesta-pesta besar, tapi mereka mendatangai beberapa perguruan kecil-besar dan beberapa partai kecil-besar untuk melakukan pembantaian atau balas dendam. Akibatnya banyak perguruan dan partai yang terpaksa menakluk kepada mereka. Diantara perguruan dan partai besar yang sudah dibantai oleh mereka karena tidak mau menakluk adalah Pek-tiauw-pay (Partai Rajawali Putih), Pek-houw-pay (Partai Harimau Putih), Perkampungan Kim-hoa-bwee (Bunga Bwee Emas), Go-bi-pay dan lain-lainnya. Sedangkan partai besar yang berhasil dikalahkan dan diikat janjinya adalah Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay. Dua partai besar ini dikalahkan dan berhasil memaksa mereka berjanji untuk tidak mencampuri urusan mereka dengan orang-orang kang-ouw yang lainnya. Sedangkan Siauw-lim-pay dan Kun-lun-pay belum didatangi, hanya baru diancam sehingga keadaan dua partai besar ini selalu tegang dan siap tempur. Adapun Kay-pang sebagai perkumpulan terbesar dan terbanyak anggotanya berhasil dipecah menjadi dua bagian. Cabang di propinsi Nan-king dan Ho-nan berhasil digagahi oleh Ang-hong-pay, hanya markas di kota raja sudah dikalahkan, walaupun Kay-pang di sana masih belum mengaku kalah. Sedangkan di cabang Kay-pang di propinsi Shansi baru mulai diancam.
Hampir semua perguruan, partai, dan perkumpulan baik dari golongan putih (Golongan Pendekar) atau hitam (Para Penjahat dan Perampok) sudah pernah disatroni oleh Ang-hong-pay, hanya satu partai yang tidak begitu tegang dan takut terhadap Ang-hong-pay. Partai itu adalah Pek-eng-pay (Partai Elang Putih) yang berada di puncak gunung Heng-san di Ho-nan. Partai ini bisa dibilang tidak pernah mencampuri urusan orang lain dan jarang terjun di dunia kang-ouw. Hanya saja banyak orang-orang kang-ouw yang segan dan tidak berani mengutik-utik partai Pek-eng-pay. Mungkin karena tempat partai itu terlalu tinggi dan menakutkan bagi kang-ouw atau karena mereka mengenal bahwa pangcu dari partai ini adalah salah satu murid dari pangcu partai besar Kim-liong-pay (Partai Naga Emas) yang ada di lereng gunung Thai-san sebelah timur. Apalagi dengan Kim-liong-pay, bahkan dengan pecahan dari partai ini saja pihak Ang-hong-pay tidak berani mengusik. Sayang, Kim-liong-pay yang ada di lereng gunung suci itu sudah lama
hancur sehingga partai seperti Ang-hong-pay berani meraja-lela seenaknya saja. Seandainya Kim-liong-pay masih ada kemungkinan partai inilah yang akan pertama kali menantangnya.
Partai Kim-liong-pay dikenal oleh kang-ouw sebagai raja-dirajanya parta-partai dan berbagai perguruan di Tiongkok. Semua partai persilatan tunduk dan menghormat kepada Kim-liong-pay, karena disamping ilmu silatnya yang terkenal paling hebat, juga keadilan dan kewibawaan partai ini. Sejak partai ini masih ada dunia kang-ouw selalu tenang, hampir setiap masalah dan pergolakan orang-orang kang-ouw bisa diatasi dengan baik oleh partai Kim-liong-pay. Melalui Kim-liong-pay Ji-sian (Dua Dewa dari Partai Naga Emas)-nya partai ini berhasil menyelesaikan semua permasalahan orang-orang kang-ouw dengan adil dan tegas. Hanya saat ini partai itu sudah tidak ada lagi, karena sudah belasan tahun partai itu hancur. Partai besar itu dahulu bermarkas di lereng gunung Thai-san yang diberi nama Kim-liong Sancung (Perkampungan Naga Emas). Hampir semua orang yang berada di perkampungan itu bisa bermain silat dengan bagus hingga perkampungan itu selalu tenang dan damai. Hingga pada suatu hari terjadi petaka besar, yaitu hampir seluruh penghuni perkampungan itu ditemukan tewas mengenaskan. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi di sana dan siapa yang melakukan pembantaian masal itu. Pangcu dari Kim-liong-pay yang waktu itu dijabat oleh Giok Bu juga tewas dan juga keluarganya. Kejadian itu membuat dunia kang-ouw benar-benar gempar, karena partai yang mereka hormati dan mereka anggap sebagai bengcu mereka terbantai tanpa diketahui siapa pelakunya. Sejak itu keadaan kang-ouw menjadi berubah, di sana sini selalu terjadi pertentangan antar sesama, tidak ada lagi pemisah dan pemimpinnya lagi. Hingga beberapa tahun kemudian muncul partai Ang-hong-pay yang mencoba merebut kendali kang-ouw, tapi dengan niat yang tidak baik. Partai ini mungkin bercita-cita ingin menjadi pemimpin orang-orang kang-ouw, tapi sayang jalan yang ditempuh salah dan malah membuat marah sebagian mereka. Sehingga tidak heran jika terjadi pergolakan pertentangan di mana-mana yang tidak ada ujung penyelesaiannya kecuali diujung pedang.
Kita kembali ke kisah cabang Kay-pang yang ada di propinsi Shansi. Cabang Kay-pang yang ada di propinsi Shansi dipimpin oleh seorang pengemis yang bernama Sun Kwe San atau Sun-lopek kalau yang memanggil adalah Lie Yang. Kehancuran markas mereka di kota raja sebenarnya membuatnya marah dan sakit hati, sayang mereka tidak tahu dimana markas Ang-hong-pay sehingga mereka tidak bisa menuntut balas. Dua hari setelah kejadian di kota raja, giliran Kay-pang cabang Shansi, Ho-nan dan Nan-king yang mendapatkan ancaman dari mereka. Sayang sekali sayang Kay-pang Ho-nan dan Nan-king sebelum berperang sudah mengaku kalah dan menakluk, hanya cabang Shansi yang masih bertahan. Para pengemis di cabang ini lebih memilih berperang habis-habisan dari pada menghianati perkumpulan dan janji mereka. Mereka tahu bahwa sudah tidak ada lagi bantuan yang bisa diandalakan, karena dunia kang-ouw sudah hampir ditaklukan oleh Ang-hong-pay yang tidak diketahui berapa kekuatan mereka sebenarnya. Tidak heran jika pagi itu mereka sudah berkumpul untuk siap bertempur mati-matian membela kehormatan mereka, walaupun di dalam hati mereka ada rasa takut. Lie Yang mendengar perkataan Sun Kay (Pengemis Sun) dengan berkali-kali geleng-geleng kepala dan meleletkan lidahnya. Kadang sampai kedua matanya tidak berkedip karena tegangnya.
“Sebaiknya kongcu pulang, aku takut terjadi apa-apa dengan kongcu kalau berada di sini. Aku sendiri tidak tahu akan bisa bertahan melawan mereka apa tidak? Sebaiknya kongcu sekarang pulang biar diantar teman-teman yang lain sampai rumah.” Kata Sun Kay setengah berharap dan khuwatir.
“Ah, ini salahku kenapa aku begitu lemah. Coba seandainya aku bisa silat, sudah tentu aku bisa membantu teman-teman lebih banyak lagi. Baiklah aku akan pulang, tapi Sun-lopek dan teman-teman harus berjanji untuk menang dan tetap hidup. Tidak boleh mati!” kata Lie Yang yang tahu dirinya tidak mampu membantu mereka. Ia kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri.
“Hahaha… baik! Kami akan berjanji untuk memenggal kepala penjahat itu sebanyak-banyaknya. Kita akan buktikan bahwa Kay-pang tidak muda direcoki oleh penjahat seperti mereka. Kalau aku bisa memenangkan pertarungan ini, kami akan datang ke rumah kongcu untuk berpesta minum arak sampai mabuk!” kata Sun Kay sudah tidak lagi diam. Sejak mendengar perkataan Lie Yang yang sederhana itu, darahnya bergejolak penuh semangat dan rasa takut tiba-tiba terhempas hilang.
Lie Yang hanya mengangguk sambil pamit pulang. Malam ini teman-temannya akan bertarung matia-matian membela kehormatan mereka. Entah ia dapat bertemu dengan mereka lagi apa tidak? Yang jelas ia hanya bisa berdoa semoga mereka mampu mengalahkan musuhnya.
“Cang Su kamu antar kongcu sampai ke rumahnya!” perintah Sun Kay kepada salah satu pengawalnya yang bernama Cang Su.
“Tidak, tidak usah repot-repot Sun-lopek! Aku bisa dan berani pulang sendiri, sebaiknya kalian mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kalau kalian tidak mampu mengalahkan musuh dengan kepandaian, maka otak adalah kepandaian utama manusia!” kata Lie Yang sambil mengedipkan matanya. Ia memberi senyuman berarti kepada teman-temannya.
“Terima kasih atas petunjuk kongcu! Baiklah, kami tidak akan memaksa. Hanya hati-hati di jalan!” hanya itu yang bisa dikakatan oleh Sun Kay kepada Lie Yang sebagai ucapan terima kasih atas pesannya yang berharga.
Sun Kay masih berdiri mematung sedangkan Lie Yang sudah menghilang diantara pohon. Sun Kay masih berdiri sambil memikirkan akal apa yang bisa digunakan untuk memukul mundur pengacau nanti. Tiba-tiba ia tersenyum sepertinya itu tanda bahwa ia telah menemukan akal yang sejak tad ia pikirkan.
<><><><><>-()-<><><><><>
II- Chapter dua; Si Merah dan Si Hitam
Malam itu begitu terasa mencekam. Sinar bulan tampak memancarkan cahayanya dengan terang. Bukannya suasana seperti itu sangat indah dan neyaman, malahan terasa seperti begitu menakutkan. Angin yang menghembuskan hawa dingin, tidak terasa sama sekali. Ratusan pengemis berdiri di depan kelenteng tua di luar kota Taiyuan. Ratusan lainnya berjongkok di rerumputan yang ada di dalam hutan. Puluhan lainnya berjaga di kejahuan. Mereka diam membisu. Tidak ada suara apapun yang terdengar dari mulut mereka, hanya suara pernafasan yang berat terdengar keras. Suara detak jantung yang semakin cepat karena rasa takut dan ngeri terdengar melagu seram. Di tempat ini benar-benar seram.
Di tempat lain di dalam sebuah gedung besar terlihat seorang pemuda yang tampak cemas mondar-mandir di dalam kamarnya. Berkali-kali ia mendesah berat serasa begitu berat beban pikirannya. Di bawah penerangan lilin Lie Yang tampak cemas, ia memikirkan keselamatan teman-temannya di luar. Lalu ia berjalan ke tempat tidurnya dan istirahat.
“Apapun yang terjadi, semuanya sudah digariskan! Sulit untuk membelokkan atau meluruskannya.”gumamnya sebelum memejamkan mata.
Di luar kota Taiyuan masih terasa sepi. Malam semakin larut tapi pasukan Ang-hong-pay belum juga datang. Tiba-tiba terdengar suara jeritan di dalam hutan memecah keheningan. Sebelum semuanya sadar apa yang telah terjadi di dalam sana, tiba-tiba dari dalam hutan sudah melayang turun puluhan manusia dengan pakaian hitam dan berkedok. Tanpa terasa kemenjing para pengemis naik turun karena rasa takutnya. Belum pernah mereka merasakan kehidupan yang begitu menakutkan sebelumnya. Di depan kelenteng tua sudah berdiri puluhan orang dengan pakaian hitam menyeramkan. Hanya dua mata mereka yang terlihat mencorong membetot sukma. Suasana tambah hening dan menakutkan. Pakaian mereka serba hitam, kecuali sebuah gambar di dada mereka yang berwarna merah darah. Jarak antara mereka dengan para pengemis cukup dekat sehingga mereka bisa melihat gambar ‘Tawon Merah’ di dada mereka.
“Inikah pasukan Ang-hong-pay yang telah membantai ratusan nyawa? Dan mereka hanya terdiri dari dua puluh lima orang sajakah? ” tenya Sun Kay pada dirinya sendiri. Tanpa terasa ia merasakan begitu ngeri suasana malam ini. Dan kadang-kadang ada rasa kagum juga terhadap mereka yang memiliki ilmu tinggi-tinggi.
“Siapakah yang menjadi pemimpin di sini?” tiba-tiba terdengar suara menyeramkan. Sesaat Sun Kay dengan kaget menoleh mencari suara itu datang dari mana. Suara itu terasa begitu dekat terdengar di telinganya.
“Apakah kamu tidak bisa melihat keberadaanku di sini?” ejek orang itu. Tanpa terasa bulu kuduknya meremang takut. Orang ini seperti iblis mengirim suara tapi tidak terlihat orangnya. Suara itu terdengar dari belakangnya, bukan dari depannya. Ia menoleh mencari orang itu apakah ada di belakangnya.
Lalu matanya melihat sosok yang berdiri di atas kelenteng. Pakaian yang dipakai berbeda dengan orang-orang yang ada di depannya. Pakaiannya berwarna merah semua menandakan bahwa orang ini mempunyai pangkat lebih tinggi dari pada dua puluh lima orang di depannya. Beberapa detik kemudian, bayangan merah itu menghilang. Wajah Sun Kay tambah pucat melihat ginkang pemimpin mereka ini. Ginkang yang hebat sekali. Sampai-sampai ia tidak tahu sejak kapan orang memakai pakaian merah itu pergi.
“Siapakah diantara kalian yang bernama Sun Kwe San ketua Kay-pang cabang Shansi?” terdengar suara lagi bertanya. Kali ini Sun Kay benar-benar gelagapan karena ia tidak bisa lagi menemukan dimana orang itu berada.
“Aku di sini! Apakah kamu tidak punya mata untuk melihat?” jengak setengah ejek orang itu. Suara itu terdengar dari dalam kelenteng yang kosong. Tidak lama kemudian, orang berbaju merah itu keluar.
“Berapa orangkah pemimpin berbaju hitam itu? Menakutkan sekali!” katanya di dalam hati.
“Akulah yang bernama Sun Kwe San!” jawab Sun Kay tegas dan lugas.
“Apakah kamu tahu untuk apakah kedatangan kami ke sini?” tanya orang berbaju merah itu.
“Kami tidak akan pernah bergabung dengan kalian! Lebih baik kami mati dengan terhormat dari pada kami dikutuk nenek moyang kami!” jawab Sun Kay.
“Hahaha… kalian begitu bodoh, lebih-lebih engkau Sun Kwe San! Kami datang bukan untuk mengajak kalian bergabung dengan kami, tapi ingin membantai kalian semuanya!” kata si baju merah membuat merinding para pengemis Kay-pang. Ketika menyebut kata-kata ‘membantai’ si baju merah itu mengeraskan sehingga terdengar dan bergema di mana-mana.
“Apakah kalian mampu membantai kami semuanya?” tantangnya berapi-api. Ia sudah melupakan lagi keraguan dan ketakutannya. Seperti seorang yang sedang kedinginan kalau bisa mendapatkan api akan terasa hangat dan panas. Seperti itulah jiwa Sun Kay. Tadinya ia ragu untuk bergebrak dengan si baju merah itu, tapi bicaranya yang terlalu menghina membuatnya marah.
“Hahaha… hanya cacing-cacing tanah seperti kalian kenapa kami tidak mampu?. Seandainya kalian bertambah sepuluh lipat lagi pun kami masih bisa membantai kalian semuanya.” Besar sekali omongan ini.
Kali ini Sun Kay sudah dibakar habis oleh lawannya sehingga tidak bisa mengontrol lagi jiwanya. “Bangsat, rasakan ini!”. Sambil berseru keras ia berlari ke arah si baju merah. Tongkat yang ada di tangannya dilemparkan ke arah bayangan merah di depannya. Kali ini ia langsung menggunakan jurus paling berbahaya Hui-tung (Tongkat Terbang) andalannya. Baru saja tongkat itu melayang menyerang dada si baju merah. Tiba-tiba saja tongkat itu membalik, seperti ada penghalang besi di depan si baju merah itu. Sebaliknya si baju merah hanya berdiri sambil memperlihatkan senyum sinis dan mengejak. Tongkat yang ia lemparkan kali ini menyerang balik ke arahnya sendiri. Ini baru namanya senjata makan tuan.
“Aih!!!” ia menjerit sambil menghindar dengan membuang dirinya ke samping kanan. Melihat tongkat terbang ketuanya ini para pengemis tanpa terasa semakin ketakutan. Mereka tidak bisa membantu ketuanya karena di sini hanya ketuannya saja yang mempunyai ilmu silat paling tinggi. Ketuanya kalah dengan mudah apalagi mereka. Untung saja tongkat itu bisa ia hindari sehingga ia tidak terkena gebukan tongkat itu. Ia berdiri dengan muka pucat melihat kemampuan lawannya itu. Tongkatnya yang sudah jatuh di tanah ia ambil lagi. Ia heran kenapa lawannya tidak segera menyerangnya malah masih berdiri sambil mengejek.
“Ah, begitu goblok dan bodoh kamu Sun Kay! Kenapa menggunakan kekerasan kalau masih ada jalan lain untuk menyelamatkan diri sendiri dan teman-temanmu!” katanya dengan nada sedih, padahal ia tidak bersedih.
“Permainan apa lagi yang ingin kamu lakukan?” tanyanya setengah membentak.
“Ah, hebat, hebat sekali! Sudah tidak ada kemampuan sedikitpun untuk melawan masih berani membentak-bentak. Tapi sayang sekali nyali yang begitu tinggi tidak disertai akal yang cerdas!”
“Bangsat, setan! Apakah kalian datang hanya ingin menghina kami yang lemah? Bunuh sekalian dari pada kami harus mendengarkan ocehanmu yang berbau busuk seperti kentut itu!”
“Hahaha… menarik, menarik sekali! Dengar baik-baik! Kami datang memang ingin membantai kalian, cuma sayang aku tidak tega melakukannya. Aku akan melepas dan tidak akan mengganggu kalian jika kamu mau menyerahkan Kim-liong Giok-ceng (Kemala Hijau Naga Emas) padaku!”
“Kim-liong Giok-ceng (Kemala Hijau Naga Emas)? Baru kali ini aku mendengar nama ini. Apakah kamu sudah gila mengatakan kalau aku mempunyai barang itu?” kata Sun Kay heran campur bingung. Ternyata kedatangan mereka untuk barang itu, bukan untuk membantai seperti apa yang dilakukan mereka terhadap partai-partai lainnya. Aneh sekali orang ini.
“Tidak usah berlagak pilon! Aku tahu kamu mempunyai barang itu. Sekarang serahkan barang itu dan aku akan membiarkan kalian semua hidup! Tapi kalau masih bandel, hmm. Jangan salahkan diriku jika tempat ini menjadi kuburan kalian!”
“Eh! Jangan mabuk. Benar-benar aku tidak mempunyai barang itu. Bahkan medengar namanya saja baru malam ini kudengar.” Jawab Sun Kay jujur.
Ia benar-benar tidak tahu apa itu Kim-liong Ceng-giok, bahkan baru malam ini ia mendengar nama barang itu.
“Baik! Jangan salahkan aku jika kugenangi tanah ini dengan darah kalian!” katanya yang diikuti dengan suara ‘sringgg, sringggg’ bunyi pedang dikeluarkan berbareng oleh dua lima orang berbaju hitam.
“Baik! Akan kukabukan impianmu!” jawab Sun Kay dengan didahului dengan terjangan mengadu nyawa. Baru saja ia meloncat satu langkah, ia sudah berhenti secara mendadak. Kakinya terasa tiba-tiba saja tidak bisa digerakkan. Seperti ada yang memegang atau yang menutuk urat nadi di pergelangan kedua kakinya. Benar-benar ia tidak bisa bergerak. Lalu ia memejamkan kedua matanya untuk menunggu ajal menjemput.
Tiba-tiba ia merasakan tongkat yang dipegangnya terlepas seperti ditarik seseorang. Beberapa menit kemudian ia mendengar suara ‘Bug-bag-big-bug” seperti suara tubuh terkena pukulan. Lalu terdengar pekik ngeri dari belakangnya. Sebenarnya ia tidak berharap melihat atau mendengar suara pekikan ngeri saudara-saudaranya, tapi apa dayanya saat ini. Tubuhnya tidak bisa digerakkan untuk segera menemui ajalnya.
Setelah itu tidak terdengar lagi suara jeritan. Suasana menjadi sepi dan hening. Hanya suara detak jantung yang terdengar sangat memburu. Dua matanya ia buka dan alangkah kagetnya ketika melihat orang berpakaian merah itu terlihat kedua matanya sepertinya melotot ke arahnya dengan seram. Dan ia melihat juga betapa mata semua orang beralih ke arahnya. Wajah teman-temannya tampak pucat seperti mayat. Apakah yang terjadi?. Selagi ia bertanya-tanya pada dirinya apa yang terjadi. Tiba-tiba matanya melihat tongkatnya itu melayang berputaran mengelilingi tubuhnya. Tongkatnya itu seperti hidup.
“Oh, apakah aku sudah gila atau mati?” katanya terkesiap dan meremang bulu kuduknya.
Tongkatnya itu melayang di udara sambil melenggok-lenggok menuju ke arah orang berpakaian merah itu. Dua mata orang berpakaian merah itu tampak melotot entah apa yang dipikirkannya itu. Ia semakin heran.
“Kenapa melotot seperti itu, apakah sudah bosan hidup?” tiba-tiba terdengar suara mengejek. Suara itu terdengar dari dalam tongkat. Apakah tongkatnya sudah menjadi arwah gentayangan sehingga mampu bicara?. Benar-benar tongkat menakutkan. Suara itu sulit ditentukan apakah suara orang muda atau tua, laki-laki atau perempuan.
Orang yang memakai pakaiawan berwarna merah itu tambah melotot dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak entah apa yang ditertawainya. “Locianpwe kumohon sudi menampakkan diri, jangan memperlakukan orang lemah seperti itu?” kata si merah setelah selesai tertawa. Ia ternyata baru sadar bahwa tongkat yang melayang-layang itu sebenarnya dikendalikan oleh seseorang berkepandaian tinggi dengan menggunakan semacam ilmu Menjerat Angin. Dilihatnya anak buahnya telah tergeletak malang melintang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia sudah tidak berani lagi membayangkan bagaimana kepandaian orang yang memainkan tongkat itu. Pikirannya hanya bergejolak bagaimana harus kabur. Tiba-tiba terdengar suara ‘duk’ tongkat yang melayang-layang itu jatuh. Sedangkan Sun Kay sudah bisa bergerak. Ia semakin kaget ketika membalikkan badan karena ia melihat dua puluh lima orang berpakaian hitam itu sudah roboh semuanya. Entah dengan ilmu apa orang itu bisa merobohkan lawannya begitu cepat?. Ngeri dan girang campur aduk dipikirannya.
“Apakah locianpwe masih tidak mau menampakkan diri?” seru si baju merah.
Suasana masih sepi tidak ada suara apapun, hanya suara angin yang terdengar menderu. Dingin. “Apakah kamu tidak bisa melihat keberadaanku di sini?” terdengar suara mengejek di mana-mana. Kali ini si baju merah yang dipermainkan seperti ia tadi mempermainkan Sun Kay. Jawabannya juga sama dengan jawaban si baju merah.
“Locianpwe, jangan main-main lagi!” tiba-tiba suara si baju merah meninggi agak tergetar karena mengekang rasa marahnya sehingga terdengar bergetar.
“Aku di sini! Apakah kamu tidak punya mata untuk melihat?” katanya meniru suara si baju merah.
Aneh sekali. Suara angin malah terdengar seperti lantunan suara yang sangat merdu. Membuat orang semakin nyaman, tidak tegang dan ngeri seperti tadi. Para pengemis tampak tiba-tiba tersenyum mendengar suara angin. Suara itu semakin tinggi bertambah menggema merdu. Si baju merah bukannya tambah senang seperti para pengemis Kay-pang, malah semakin beringasan.
“Kim-liong Hong-hoat-sut (Sihir Angin Naga Emas)!” teriak si baju merah setengah tercekik.
“Ternyata engkau mengenal juga ilmu ini. Kukira engkau seorang yang goblok! Aku ada di sini. Lihat baik-baik !” terdengar suara terbawa angin. Seketika si baju merah melihat sesosok memakai baju hitam seperti anak buahnya. Tapi baju itu bukan baju ringkas, malahan baju longgar dan besar. Baju itu berkibar-kibar tertiup angin. Sesosok hitam itu berdiri di atas pucuk pohon yang ada di depan kelenteng tua. Semua mata menyorot ke pucuk pohon itu. Luar biasa tingginya ginkang (Ilmu Meringan Tubuh) orang itu. Hanya dengan pucuk dedaunan di atas pohon ia mampu berdiri dengan anteng tanpa goyang. Sepertinya tubuh hitam itu hanya seenteng kapas, sehingga dedaunan itu tampak tidak terbebani. Lalu sesosok bayangan hitam itu melayang ke bawah tanpa menggerakkan kedua kaki atau badan lainnya sama sekali. Tubuhnya seperti melayang terbawa angin dan turun di atas tanah tanpa suara atau ada debu mengepul sama sekali.
“Bagaimana locianpwe bisa menggunakan ilmu Sin-hong Sin-kang (Tenaga Sakti Angin Sakti)? Siapakah sebenarnya locianpwe?” tanya si baju merah tiba-tiba ke sosok hitam itu.
“Mestinya aku yang bertanya dari mana kamu bisa ilmu itu juga? Yang muda mestinya menjawab pertanyaan yang tua, bukan sebaliknya. Itu namanya tidak sopan! Dan barang siapa tidak sopan kepada orang tua, maka hukumannya hanya MATI!” kata sosok hitam pelan membuat si merah tambah takut.
“Hm, jangan sok hebat di depanku? Memang ilmuku masih jauh dari pada hebat, namun dibelakangku masih ada yang lebih hebat daripada locianpwe kuasai dan miliki!” katanya tidak takut-takut lagi.
“Hahaha… luar biasa berani dan besar amat nyalimu, sayang sebentar lagi akan menjadi mayat seperti lima puluh anak buahmu!” kata sosok hitam pelan. Si merah mundur beberapa langkah. Ia benar-benar kaget dengan apa yang didengarnya. Ternyata anak buah yang dibawa oleh si merah tidak dua puluh lima, bahkan lima puluh pasukan dan mereka mati semua dalam sekejab saja, padahal lima puluh pasukannya adalah pasukan istimewa. Benar-benar ia ketakutan. Kali ini ia baru mengenal apa artinya takut. Lucu sekali wajahnya seandainya tampak.
Ia tahu bahwa ia toh akan mati saja. Makanya mumpung ia masih ada kesempatan, ia akan menggunakan kemampuannya dengan sebaik-baiknya. Lalu dengan jeritan hebat ia menyerang menggunakan ilmu Sin-hong Sin-kang yang sudah ia latih sampai tingkatan tiga. Lebih baik mati dari pada ia dipaksa membocorkan rahasia. Kali ini ia mencoba mengadu nasib. Melihat gerakan si merah ini para pengemis sampai terbelalak lebar. Si merah itu melayang menggunakan sin-kang (hawa saktinya) untuk menunggangi angin dan menggunakannya sebagai senjata menyerang lawan. Jarak antara si merah dengan sosok hitam hanya ada sepuluh langkah saja, sedangkan jarak mereka agak jauh. Sun Kay juga sudah mulai minggir. Hawa pukulan yang digunakan oleh si merah benar-benar hebat. Terdengar suara mendesih-desih hebat sampai kadang-kadang suara itu terdengar seperti suara gesekan pedang memekakkan telinga. Hawa yang dipantulkan juga membuat sebagian pengemis sampai mundur beberapa langkah. Angin yang menyambar mereka sangat menyakitkan.
Belum pernah mereka melihat pertandingan tenaga dalam seperti ini, bahkan Sun Kay yang sudah mempunyai banyak pengalaman pun sampai bengong hampir tidak percaya apa yang dilihatnya. Beberapa kali si merah menyerang dari jarak jauh menggunakan angin sebagai senjatanya. Kadang-kadang angin itu bisa berubah menjadi sebuah tangan yang menjulur panjang atau kadang-kadang menjadi setajam pedang, sehingga dengan tenaga dalam yang kuat dan menggunakan ketajaman angin ia bisa memotong kayu atau tubuh orang. Tapi anehnya pukulan-pukulannya tidak ada yang bisa mencapai tubuh lawannya. Nayatanya lawanya masih diam tidak bergoyang sedikit pun, bahkan tambah mencorong matanya.
Lalu ia semakin nekat. Ia lebih mendekat dengan bertubi-tubi melakukan pukulan sambil melayang-layang terbawa angin. Nyatanya bobotnya juga bisa seringan itu. Berkali-kali terdengar desiran angin seperti desiran pedang ketika angin pukulan si merah membacok ka arah lawan. Sosok hitam itu masih diam sambil menggendong dua tangannya di belakang. Setelah mendekat, si merah baru tahu bahwa lawan telah melindungi tubuhnya dengan angin yang membentuk prisai. Makanya pukulan dan sayatan hawa sinkangnya tidak bisa menembus lawan. Lalu dengan jeritan histeris ia menyerodok dengan menggunakan kepalanya ke arah tubuh sosok hitam di depannya. Kali ini ia sudah siap mati, karena ia tidak mampu melawan sosok hitam itu. Baru mendekat ia merasakan diterjang oleh gelombang dahsyat sinkang yang sangat hebat. Sinkang yang menyusup bersama diantara terjangan angin topan dan badai itu membuatnya ikut tergulung. Ia tersedot ke dalam angin yang sangat kencang. Tubuhnya berputar-putar mengikuti gelombang angin. Beberapa kali ia merasakan angin berhawa dingin dan panas dalam badai yang menggulung dirinya. Bajunya robek-robek hangus oleh singkang panas yang menyusut ke tubuhnya. Setelah itu ia tidak sadarkan diri karena terlalu lelah diombang-ambingkan di dalam gelombang angin puyuh yang menyakitkan. Hanya sekejap saja angin sudah tenang seperti biasa, sedangkan tubuh si merah tampak terkoyak-koyak hancur. Para amggota Kay-pang benar-benar terbengong melihat atraksi gratis ini. Sebelum mereka sadar dengan apa yang mereka lihat. Sosok hitam itu sudah melayang sambil membawa tubuh si merah yang lagi pingsan.
“Sun Kay – pangcu tolong jangan membikin susah para anggota Ang-hong-pay yang dalam keadaan pingsan itu. Besok pagi mereka akan segera siuman dan biarkan mereka pergi. Mereka telah kehilangan ilmu silat dan tenaga sakti. Mereka akan menjadi orang-orang biasa lagi!” terdengar suara berkali-kali menggema membuat para anggota Kay-pang tersadar. Setelah suara itu hilang, baru mereka bisa bernafas lega. Di tempat itu lalu terdengar suara ramai sekali. Ada yang bertanya-tanya siapa penolong mereka, atau tertawa karena mereka terbebas dari kematian dan lain-lainnya. Hanya Sun-pangcu yang diam dengan seribu pertanyaannya. Setelah menghela nafas panjang, lalu ia menyuruh anak buahnya untuk tidak mengusik tumpukan orang pingsan itu. Kali ini ia benar-benar tidak percaya ada orang mempunyai kemampuan seperti itu. Orang itu dengan mudah bisa menyetir dan mengendalikan angin menggunakan sinkangnya. Hanya sinkang yang sudah benar-benar sempurna saja yang mampu melakukan hal itu. Dan entah ilmu apa yang dimainkan oleh penyelamatnya. Mungkin ilmu sihir. Berkali-kali ia geleng-geleng kepala sambil meninggalkan tempat menyeramkan itu.
<><><><><>()<><><><><>
III- Chapter Tiga; Kim-liong-pay Ji-sian (Dua Dewa dari Partai Naga Emas)
Di tengah kota Taiyuan terdapat sebuah kedai besar yang menjual arak paling enak dan harum. Di dalam kedai lantai dua terdapat banyak orang minum arak sampai teler mengoce kesana-kemari. Orang di lantai dua itu semuanya adalah orang-orang Kay-pang. Bajunya tambal-tambal berwarna-warni, kecuali seorang saja yang mempunyai pakaian bagus dan rapi. Satu orang itu adalah seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun, ia tidak ikut minum hanya sebagai penyuguh saja. Pemuda itu bukan lain adalah Lie Yang yang sedang ikut pesta para anggota Kay-pang atas keselamatan hidup mereka tadi malam. Semuanya tampak teler, bahkan ada yang sampai pingsan tidak kuat minum. Sedangkan Sun Kay hanya cengar-cengir sambil menenggak arak beberapa kali. Ia sudah bercerita tentang kejadian tadi malam kepada Lie Yang. Ganjalan yang selalu mengusik hatinya semuanya hilang. Membuatnya kali ini benar-benar mabuk. Lie Yang yang tidak ikut minum hanya tersenyum ramah sambil geleng-geleng kepala melihat kelakukan orang-orang Kay-pang ini. Sejak bergaul dengan para anggota Kay-pang ia menjadi seorang pemuda yang mempunyai banyak pengetahuan tentang dunia kang-ouw, khususnya kejadian-kejadian akhir-akhir ini.
Tadi sebelum berpesta arak di kedai ini, Sun Kay sempat mengirim surat ke pangcu-nya yang ada di Siauw-lim-si. Ia juga sempat memikirkan apa yang ditanyakan oleh penjahat memakai baju merah tentang Giok yang katanya berada padanya. Sebelumnya ia benar-benar tidak tahu tentang Giok itu, namun setelah mengingat-ngingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Akhirnya ia bisa menemukan kebenaran tuduhan si merah tadi malam. Enam bulan yang lalu ketika melakukan perjalanan balik dari kota raja, ia sempat bertemu dengan seorang kakek-kakek. Orang tua yang rambutnya sudah beruban itu menitipkan sebuah kotak kepadanya. Katanya kotak kecil itu akan diambil dua bulan lagi setelah kakek itu selesai menyelesaikan masalahnya. Pertamanya ia tidak ada rasa curiga atau keinginan untuk membuka kotak titipan orang itu, namun setelah mengalami bencana tadi malam ia segera membuka kotak dari kayu itu. Ternyata memang benar di dalamnya ada sebuah Giok berwarna hijau dengan bentuk kotak persegi empat. Giok itu digambari sebuah kepala naga berwarna emas dan sisi lainnya gambar gunung yang menjulang tinggi. Selain dua gambar itu, gambar lainnya tidak ada.
Ia merasakan ada yang aneh dengan Giok ini, padahal dilihat dari bentuknya tampak biasa saja. Tapi kenapa Giok sederhana ini mau dirampas oleh Ang-hong-pay dan darimana mereka mengetahui bahwa Giok itu berada padanya, padahal ia sendiri tidak tahu apa isi kotak itu seandainya tidak terpaksa membukanya. Selain Giok itu, di dalam kotak kayu itu tidak terdapat barang lainnya. Kalau memikirkannya ia menjadi semakin bingung. Makanya ia langsung pergi ke rumah Lie Yang untuk mengajak berpesta. Ia ingin menghilangkan rasa pusing dikepalanya akibat memikirkan banyak perkara ini. Jalan satu-satunya adalah mabuk sampai benar-benar teler dan pingsan.
“Apakah benar besok Sun-lopek akan pergi ke Siauw-lim-si untuk menemui Kay Pang-pangcu di sana?” tanya Lie Yang kepada Sun Kay yang sudah mabuk berat.
“Benar! Apakah kongcu ingin titip sesuatu dalam perjalananku kali ini?” jawab Sun Kay yang ternyata masih sadar dan waras. Biasanya, memang Lie Yang selalu titip sesuatu kepada Sun Kay jika ia bepergian keluar kota. Dahulu pernah ia titip kepada Sun Kay untuk membelikannya beberapa buku ketika ia sedang melakukan perjalanan ke kota raja. Di sana buku pelajaran tentang, agama, filsafat, sejarah dan politik dapat ditemukan lebih banyak dari pada di kota Shan-si. Kadang-kadang Lie Yang menyuruh langsung beberapa pegawainya untuk membelikan beberapa keperluannya yang sulit didapat di kota Shansi.
“Bukan titip tapi mau ikut! Aku ingin melihat keindahan gunung Siong-san yang katanya indah, juga aku ingin menimbah beberapa ilmu pengetahuan tentang agama dan filsafat di sana!”
Sejenak Sun Kay berhenti dari minumnya mendengar permintaan Lie Yang. Dua matanya tampak melihat wajah Lie Yang dengan sorot mata yang tajam. Lalu ia menghembuskan nafas berat dan berkata. “Aih, apakah perjalananku kali ini sedang melancong? Kongcu tahukan kalau kondisi di luar sangat berbahaya? Kali ini entah apakah orang-orang Ang-hong-pay akan diam saja melihat anak buahnya dikalahkan? bukan maksudku melarang atau tidak mau mengajak kongcu untuk menemani menikmati indahnya gunung dan hutan di luar sana, cuman saat ini tidak memungkinkan dan sangat membahayakan. Apalagi…”
“Apalagi aku tidak bisa silat, begitu? Ah, paman Sun jangan terlalu mengkhawatirkan diriku. Sejak dahulu ingin sekali aku meluaskan pengetahuanku dengan melakukan perjalanan panjang. Menyebrangi hutan, pegunungan dan sungai. Apakah paman tidak bisa meluluskan permintaanku kali ini?” Lie Yang memohon.
“Masalahnya bukan saja kamu tidak bisa silat, namun perjalanan ke pegunungan Siong-san lumayan jauh dan bagaimana dengan orang tuamu nanti?”
“Itu gampang, paman! Aku bisa meminta izin kepada mereka, pasti diperbolehkan. Sedangkan masalah jalan jauh, itupun tidak menjadi halangan berat bagiku. Kalau memang paman terlalu mengkhawatirkan diriku, aku bisa mengajak dua pengawal pribadiku! Bagaimana menurutmu, paman?” kata Lie Yang sambil memicingkan mata kirinya.
Sun Kay diam sejenak. Ia sedang berpkir bagaiamana menjawab permintaan Lie Yang. Lalu tampak tangannya menggaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gagal. Ia kalah dan tidak bisa menjawab, karena ia tahu bahwa Lie Yang mempunyai watak ngotot dan keras kepala. Ia hanya bisa menghelai nafas panjang. Sambil berpikir, alangkah baiknya seandainya Lie Yang mempunyai sedikit kemampuan, mungkin perjalanannya akan menyenangkan bersama anak ini.
“Baiklah! Kongcu boleh ikut dengan syarat kalau kedua orang tua kongcu memperbolehkan. Oh, ya ada lagi, kongcu harus mentaati semua perintah dan permintaanku.” Akhirnya Sun Kay memilih mengalah dengan memberikan syarat berat kepada Lie Yang dengan harapan supaya pemuda itu tidak jadi ikut.
“Baik! Setelah dari sini, aku akan meminta izin kepada ayah dan ibu. Kapan kita bertemu dan berangkat?” kata Lie Yang tidak terduga-duga. Ia masih ngotot dan kelas kepala mau ikut.
“Besok pagi-pagi kita akan berangkat. Aku tunggu di tempat biasanya.” Kata Sun Kay lemas dan tidak berdaya.
Setelah berkata, ia lalu mulai minum lagi sampai benar-benar mabuk. Satu jam kemudian mereka sudah berpisah. Lie Yang berjalan cepat menuju gedungnya untuk meminta izin orang tuanya. Ia berharap kali ini bisa keluar untuk mencari pengalaman di luar kota. Sambil berjalan cepat, tidak henti-hentinya ia membayangkan keindahan gunung Siong-san dengan Siauw-lim-sie sebagai bangunan yang menancap di lerengnya.
<><><><><>()<><><><><>
“Tia-tia (Ayah), Lie Yang sudah tidak kecil lagi! Kumohon beri izin untuk melihat-lihat dunia luar untuk memperluas pengetahuan!” mohon Lie Yang kepada ayah-bundanya.
Ternyata tidak semudah bayangannya untuk minta persetujuan orang tuanya untuk ikut Sun Kay pergi ke Siauw-lim-sie. Sudah dari tadi ia memohon sampai merengek-rengek meminta persetujuan orang tuanya. Hartawan Song dan istrinya tampak duduk di kursi sambil melototi anaknya. Mereka tidak menyetujui keinginan anak semata wayangnya, karena tidak tega membiarkan anaknya yang lemah melakukan kesusahan. Apalagi kondisi dunia kang-ouw saat ini sedang tidak aman, banyak terjadi bunuh-membunuh. Seandainya Lie Yang bisa silat sekalipun mereka akan sangat berat membiarkan anaknya itu berkeliaran di luar. Hartawan berkali-kali melarang anaknya pergi. Tapi watak Lie Yang memang keras kepala tetap ngotot, bahkan ia mengancam orang tuanya akan tetap pergi walaupun dilarang.
“Apakah kamu akan menjadi anak durhaka yang sudah tidak lagi mengindahkan perkataan orang tua lagi? Kalau memang benar kamu sudah tidak mau mendengarkan perkataan orang tua lagi kamu boleh pergi dan selanjutnya kami tidak akan pernah mengakui anak lagi!” Hebat sekali perkataan hartawan Song ini, hingga tanpa sengaja kedua kaki Lie Yang tidak kuat menyangga berat tubuhnya. Ia terduduk lemas. Badannya tampak menggigil takut.
Sebenarnya hartawan Song tidak tega melukai hati anaknya dengan perkataan seperti itu, namun hanya perkataan itulah yang mampu mengekang kedua kaki Lie Yang untuk tidak pergi. Ia tahu bahwa anaknya adalah tipe anak yang sangat berbakti kepada orang tua, makanya tidak heran jika Lie Yang tidak bisa berkutik mendengar perkataan ayahnya ini.
“Ayah boleh bicara seperti itu, namun aku akan tetap duduk di sini terus sampai ayah meluluskan permintaanku ini. Aku tidak akan lama-lama meninggalkan ayah, hanya sekitar tiga bulan saja. Sudah lama aku ingin melihat dunia luar yang katanya indah dan meyenangkan.” Kata Lie Yang masih ngotot.
“Ah, dasar anak keras kepala! Begini jadinya kalau kamu terlalu banyak membaca buku dan bergaul dengan orang-orang kang-ouw yang tahunya hanya saling bunuh membunuh itu. Masalahnya umurmu masih terlalu kecil untuk pergi jauh, lagian engkau tidak bisa apa-apa!” omel ayahnya.
“Benar anakku. Dunia luar sana sangat keji dan menakutkan bagi seorang yang lemah seperti kita. Lebih baik engkau tunggu dua-tiga tahun lagi, mungkin kami akan meluluskan permintaanmu itu.” Kata ibunya juga.
Mendengar kata-kata ‘lemah’, ‘tidak bisa silat’ atau ‘tidak bisa apa-apa’ yang sering didengarnya. Membuat Lie Yang tambah marah dan penasaran. Kemarahannya hanya dilampiaskan dengan menggigit bibirnya sampai berdarah.
“Kalau memang begitu, aku bisa dikawal oleh paman Chi. Ayah-ibu, apakah aku pernah memohon kepada kalian sesuatu hal sampai seperti ini, hanya sekali ini saja! Kumohon luluskan permintaanku ini!” Liu Yang masih memohon.
Melihat kekerasan hati anaknya ini, hartawan Song hanya bisa menggeleng-nggeleng kepala saja. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali meluluskannya, walaupun dengan hati yang sangat berat. “Baiklah! tapi kamu harus dikawal oleh Chi Lam dan Sung Huan. Dan jangan sekali-kali ikut campur urusan kang-ouw, lebih baik kamu cepat-cepat pulang setelah menikmati pegunungan Song dan mendapatkan pelajaran dari para hwesio Siauw-lim-sie!”
Senang sekali hati Lie Yang mendengar permintaannya diluluskan. Lalu hartawan Song memanggil dua pengawal peribadinya, sekaligus merangkap sebagai ketua para pengawal keluarga Song. Dua orang ini mempunyai pengalaman yang cukup tentang dunia kang-ouw dan keahlian ilmu silat yang bisa diandalkan untuk menjaga anaknya. Setelah mereka datang, hartawan Song lalu memberitahu mereka untuk mengawal anaknya melancong ke gunung Song di barat dan memberi pesan kepada mereka. Selain dua pengawal Chi Lam dan Sung Huan, hartawan Song juga menambah satu pengiring untuk anaknya. Pengiring itu sudah berumur sekitar lima puluh tahun lebih, mukanya jelek sekali, namun pakaian tampak selalu bersih. Biasanya pengiring yang biasanya dipanggil paman Sam ini bekerja sebagai pembantu bersih-bersih dan pembantu pribadi Lie Yang ketika di rumah. Orang tua ini dapat membantu banyak keperluan Lie Yang dari memasak sampai memijatnya. Sudah lama sekali orang tua jelek ini bekerja sebagai pelayang di gedung Song. Mukanya yang burik tampak menyenangkan bagi Lie Yang, karena bagi pandangannya wajah seseorang tidak begitu penting, tapi hatilah yang penting. Orang tua yang sangat pendiam ini baik sekali terhadap Lie Yang, seperti keluarganya sendiri.
Mendengar pamannya Sam ikut dengannya, hati Lie Yang sangat senang. Apalagi ia pergi diiringi oleh dua penjaga pribadi ayahnya yang sangat menyenangkan. Dua penjaga pribadi Chi Lam dan Sung Huan juga orangnya sangat baik. Mereka adalah keluarga Lie Yang sendiri. Sudah lama ia menganggap setiap orang yang ada di dalma rumahnya, baik itu keluarga aslinya atau hanya pembantu rumahnya saja. Chi Lam mempunyai tampang yang sangat gagah, jeggotnya yang rapi menambah ketampanannya. Sedangkan Sung Huan mempunyai tampang yang kelihatan sangat bengis, namun ramah dan baik. Mereka adalah pegawai-pegawai yang sudah tidak diragukan lagi kehebatan dan kebaikannya.
Setelah mendapatkan bekal yang cukup dan pesan dari orang tuanya, akhirnya pagi-pagi sekali Lie Yang ditemani tiga pengawalnya melangkahkan kaki meninggalkan rumahnya. Orang tuanya mengantar kepergian anak tunggalnya dengan air mata yang mengalir deras, apalagi ibunya. Orang tua Lie yang yang sudah berumur tua hanya bisa mendoakan anaknya supaya dapat pulang dengan selamat dan tidak terjadi apa-apa di dalam perjalanan.
Sesampainya di kelenteng tua sebelah barat kota Taiyuan, mereka sudah disambut oleh Sun Kay. Mereka hanya berhenti sebentar saja, karena mereka langsung berangkat dengan menunggang kuda. Kali ini Sun Kay hanya sendirian tidak mengajak pengawalnya, sehingga mereka pergi hanya berlima saja. Sun Kay pergi ke Siauw-lim-sie bertujuan untuk melapor secara lengkap tentang masalahnya beberapa hari ini dan juga lebih-lebih menyangkut Giok yang ada di tangannya. Di Siauw-lim-sie sepekan lagi akan diadakan pembicaraan tentang masalah Ang-hong-pay, banyak tokoh kang-ouw yang akan datang ke sana. Baru tadi pagi Sun Kay mendapatkan undangan untuk menghadiri pertemuan ini. Sedangkan Lie Yang hanya ingin menikmati gunung Siong-san saja. Kuda yang ditunggangi oleh lima orang itu melaju dengan cepat seperti terbang saja, karena kuda yang mereka tumpangi adalah kuda-kuda bagus.
Setelah melakukan perjalanan tiga hari tiga malam, akhirnya sore hari pada hari ke empat, mereka sampai di kota Lok Yang (Luo Yang). Sebenarnya dengan berkuda mereka bisa sampai di gunung Siong-san lebih cepat lagi, namun Lie Yang mengajak teman-temannya untuk menikmati pemandangan pegunungan yang ada sepanjang luar kota Taiyuan sampai Lok Yang. Baru sampai di sini, Lie Yang sudah berhenti untuk mengajak teman-temannya menikmati pemandangan sungai Huang-ho. Pemandangan di sekitar Lo Yang sangat menakjubkan, tanahnya yang subur memancarkan aroma yang menyegarkan. Lama sekali mereka berhenti untuk menikmati pemandangan yang jarang mereka lihat, khususnya Lie Yang yang baru melihat pertama kalinya. Berkali-kali Sun Kay berbicara menerangkan tempat yang dilaluinya. Hampir bisa dikata dirinya saat ini seperti seorang pemandu para pelancong. Memang Sun Kay sejak mendapatkan undangan itu, ia tidak terburu-buru masuk ke Siong-san, namun kekhawatirannya membawa Giok yang sedang dicari Ang-hong-pay membuatnya tidak tenang.
“Wah-wah, indah sekali kota ini. Sepertinya kota ini lebih maju dari pada Taiyuan sendiri. Tanahnya subur dan perempuan-perempuannya tampak cantik-cantik. Betul tidak, paman Sam?” kata Lie Yang sambil tertawa renyah. Ia mengerling ke orang tua Sam yang ada di sampingnya. Pembantunya yang bernama Sam diam saja tidak menjawab perkataan kongcu-nya itu. Sebaliknya Sun Kay yang tidak ditanya tertawa mendegar perkataan pemuda baru besar ini.
Mereka berjalan pelan menuju kota Lok Yang, walaupun mereka menunggangi kuda. Lie Yang sangat senang sekali dan menikmati benar-benar perjalanannya. Matanya selalu berbinar-binar dengan senyum ramah campur ceriwis kalau melihat perempuan-perempuan cantik terlihat seperti benar-benar seorang ‘kongcu’.
Dua pengawal dan pembantunya yang sudah tua diam saja melihat kelakuan tuan mudanya itu, hanya kadang-kadang mereka siap dengan pedang di punggung kalau ada sesuatu yang terjadi dengan tuan mudanya. Setelah masuk ke dalam kota Lok Yang, mereka lalu mencari penginapan untuk beristirahat dan menukar kuda. Sebentar lagi akan malam, sehingga mereka cepat-cepat untuk mencari tempat istirahat.
Setelah mendapatkan kamar, mereka beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh. Besoknya mereka berjalan-jalan menikmati keindahan kota Lok Yang. Kadang-kadang mereka masuk ke beberapa restoran terkenal yang menyediakan makanan istimewa Lok Yang. Setelah puas menikmati pemandangan kota dan berbagai makanan khas Lok Yang, Sun Kay mengajak Lie Yang dan pengawal-pengawalnya untuk menemui ketua Kay Pang yang berada di kota ini. Ternyata markas Kay Pang yang ada di sini masih mengikut markas Kay Pang di kota raja. Mereka tidak mendapatkan tekanan dari Ang-hong-pay, mungkin karena Kay Pang yang ada di kota ini tidak begitu banyak dan berarti. Namun kedatangan Sun Kay kali ini terlambat untuk menemui ketua Kay Pang cabang Lok Yang, karena ketuanya itu sudah menuju ke Siong-san hari kemarin.
Selama melakukan perjalanan lima hari ini, mereka tidak menemukan halangan suatu apapun. Tidak menemui perampok di perjalanan, atau anak buah Ang-hong-pay sama sekali. Bisa dikatakan perjalanan pertama bagi Lie Yang kali ini tidak menemui sama sekali rintangan seperti apa yang dikhawatirkan oleh orang tuannya dan apa yang didengar dari orang banyak bahwa di dalam hutan banyak perampok dan orang jahat. Namun bagi Sun Kay, keadaan seperti ini semakin mencekam, sebab ia tidak tahu dititik mana akan terjadi mala petaka. Mereka baru sampai setengah perjalanan, sehingga kemungkinan untuk diganggu pihak jahat masih ada setengah kemungkinan lagi. Selama perjalanan ini, mereka juga tidak mendengar lagi pergerakan baru Ang-hong-pay dan ini malah membuatnya semakin ngeri dan takut. Melihat sepak terjang mereka belasan tahun yang lalu, ketika mereka kalah oleh para pendekar dan menghilang lama sekali, lalu bergerak kembali dengan gerakan lebih kejam dan menakutkan.
Hari ini mereka melihat banyak sekali orang-orang kang-ouw yang datang di Lok Yang, ini terlihat dari beberapa pendatang yang memakai beju ringkas dan berpedang. Mungkin mereka juga mendapatkan undangan dari Siauw-lim-sie seperti dirinya. Setelah bermalam sekali lagi, besok mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke atas gunung Siong-san.
“Ah, cantik sekali nona berbaju merah itu! Entah apakah aku bisa berkenalan apa tidak dengannya?” kata Lie Yang tahjub dengan kecantikan seorang pendatang baru di penginapan tempat ia beristirahat.
Kontan Sun Kay dan pengawal-pengawalnya melirik ke arah nona berbaju merah yang baru masuk penginapan. Mereka juga tahjub dengan kecantikan gadis yang umurnya bisa dikatakan kemungkinan tidak jauh dari Lie Yang. Mereka tidak mengira bahwa Lie Yang mempunyai mata yang begitu tajam sehingga bisa melihat keindahan lebih dahulu dari mereka. Gadis dan seorang laki-laki setengah umur itu sedang menghadap kasir penginapan, sepertinya mereka sedang mendaftar penginapan. Rombongan Lie Yang yang baru masuk melewati belakang dua pendatang baru itu. Dari jarak dekat, Lie Yang benar-benar mabuk oleh kecantikan gadis manis itu, sampai-sampai kedua kakinya tidak bisa digerakkan seperti ada kekuatan gaib yang menghentikannya. Terlalu dekat jarak antara Lie Yang dengan gadis baju merah itu sampai-sampai keharuman minyak dari si gadis tercium memabukkannya. Tiba-tiba ada tangan menyeretnya sehingga ia terpaksa berjalan meninggalkan gadis dan laki-laki setengah umur dengan caping lebar di kepalanya. Orang yang menariknya adalah Sun Kay.
“Kongcu sebaiknya jangan membuat ulah di sini, dua orang itu tampaknya orang-orang kang-ouw yang tidak bisa direcoki!” bisik Sun Kay lalu Lie Yang menganggukkan kepala tanpa bicara. Mereka masuk ke kamar masing-masing, hanya Sam si tua saja yang tidur satu kamar dengan Lie Yang.
Malam semakin larut dan sepi. Semua aktifitas di dalam penginapan ini sudah selesai. Semua orang masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat. Hampir semua kamar sudah tidak bercahaya lagi, hanya ada beberapa kamar saja yang masih terlihat sinar lilin remang-remang memancar keluar. Salah satunya adalah kamar yang berada paling ujung di sebelah dertan kanan. Kamar yang jaraknya hanya terpaut empat kamar dengan kamar Lie Yang tampak bercahaya. Sepertinya orang yang ada di dalam itu belum tidur. Di dalam kamar di bawah sinar lilin yang tampak remang-remang terlihat dua orang laki-laki setengah umur dan seorang gadis memakai baju berwarna merah. Gadis itu mempunyai wajah bulat telur, hidungnya mancung dengan dua mata yang memancarkan sinar seindah bintang kejora. Kulitnya yang kuning dan alisnya yang meliuk indah membuat orang yang memandangnya akan menelan ludah beberapa kali. Apalagi bibirnya yang mungil dan basah menantang akan membuat darah para lelaki menjadi mendidih. Laki-laki dan gadis yang baru berumur enam belas tahun yang tadi dilihat Lie Yang tampak sedang bercakap-cakap.
“Ayah, benarkah kabar angin bahwa Kim-liong Giok-ceng akan muncul di Siauw-lim-sie?” tanya gadis berbaju merah itu.
“Pasti benar! Kabar yang dibawa oleh mata-mata yang kusebarkan tidak mungkin meleset. She (Marga) Sun dari Kay Pang tidak mungkin berani menyembunyikan Giok itu setelah mengetahui tujuan penyerbuan Ang-hong-pay beberapa waktu yang lalu. Bisa dikatakan pasti ia akan mebawa Giok itu ke Siauw-lim-sie untuk diberikan kepada ketua Kay Pang pusat. Ah, alangkah senangnya seandainya aku bisa melihat lagi Giok-ceng yang sudah belasan tahun tidak terlihat itu!” kata si ayah kepada anaknya.
“Menurut ayah, apakah kemunculan Ang-hong-pay baru-baru ini ada hubungan khusus dengan Giok-ceng ini?” tanya lagi si gadis berbaju merah kepada ayahnya.
“Kemungkinan besar ada! Giok-ceng adalah lambang dari partai besar Kim-liong-pay sejak ratusan tahun dan lambang dari kepemimpinan dunia persilatan sejak ratusan tahun juga. Kemungkinan besar munculnya Ang-hong-pay untuk merebut Giok-ceng adalah untuk menarik semua orang-orang kang-ouw untuk mengakui kepemimpinannya.” Kata ayah gadis itu pelan.
“Tidak hanya itu, kemungkinan besar Ang-hong-pay mempunyai hubungan juga dengan Kim-liong-pay, karena pemimpin mereka bisa memainkan jurus khas dari perguruan Kim-liong di Perkampungan Naga Emas!” tiba-tiba terdengar suara orang menimpali perkataan laki-laki yang ada di dalam.
Mendengar jawaban ini, anak dan ayah yang ada di dalam kamar tidak menjadi kaget atau gugup. “Saudara yang ada di luar harap masuk! Tidak baik menguping pembicaraan orang lain.” Kata si ayah itu menjawab omongan orang di luar.
Si gadis beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju jendela dan membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Baru saja di buka, sesosok bayangan sudah lewat dari jendela itu dan seorang laki-laki memakai topeng emas berbentuk naga sudah berdiri di tengah-tengah kamar.
“Kau…kau siapa?” tanya si ayah kepada pendatang baru dengan agak terkejut ketika melihat topeng emas itu.
“Hujan adalah anugerah terbesar dari Tuhan dan membawa petaka bagi orang yang tidak bersyukur dan menentang kehendak Tuhan!” orang itu berkata seperti membaca puisi.
“Angin berhembus bagaikan tidak terasa, padahal ia adalah nyawa. Angin membawa petaka bagi orang yang tidak sayang kepada sesama!” si ayah juga berkata seperti sedang membaca puisi.
“Hahaha… ternyata sicu Hong Hou-hoat (Saudara Gagah Pelindung Hong/Angin) masih ingat dengan sajak ini? Padahal sudah belasan tahun tidak bertugas lagi!” kata laki-laki bertopeng emas sambil tertawa senang.
“Apakah munculnya sicu Uh Hou-hoat (Saudara gagah Pelindung Uh/Hujan) sebab Giok-ceng? Dan bagaimana kehidupan sicu akhir-akhir ini, baik-baik sajakah?” sambut Hong Hou-hoat.
Sebelum menjawab, Hong Hou-hoat mempersilahkan duduk kepada temannya dengan isyarat tangan. Puteri dari Hong Hou-hoat sejak tadi terheran-heran dan tidak mengerti apa yang mereka perbincangkan itu. Tapi ia diam saja.
“Kehidupanku saat ini masih diliputi mimpi, entah kapan aku akan bangun dari mimpi ini? Kedatanganku di sini memang berhubungan dengan Giok-ceng yang katanya akan muncul di Siauw-lim-sie. Entah kapan kita orang-orang tua ini akan hidup tentram setelah Kim-liong-pay hancur? Apakah sicu pernah ditemui oleh Jit Fu-hoat (Penasehat Jit/Matahari) ?” tanya Uh Hou-hoat.
“Benar sekali! Bukannya Jit Fu-hoat sudah tewas setelah terjadi petaka di Perkampungan Naga Emas belasan tahun lalu? Ada apakah sicu menanyakan hal ini?.”
“Jit Fu-hoat masih hidup, bahkan sempat menemuiku dan memberi perintah rahasia. Ah, mungkin waktu itu dia tidak sempat lagi menemui Hong Hou-hoat untuk menyampaikan perintah itu!”
“Perintah apakah yang diturunkan oleh Jit Fu-hoat kepada kita?” tanya Hong Hou-hoat.
Uh Hou-hoat melirik sebentar ke arah puteri Hong Hou-hoat sebelum menjawab pertanyaan Hong Hou-hoat. Sepertinya perintah yang akan disampaikan sangat rahasia sehingga bagi orang luar tidak boleh mendengarkannya.
“Uh Hou-hoat jangan khuwatir, dia puteri tunggalku. Pasti bisa menjaga rahasia kita, lagian ia bisa dikatakan sebagai anak murid Kim-liong-pay, walaupun tidak resmi.” Kata Hong Hou-hoat yang paham terhadap maksud lirikan rekannya.
“Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa heran, gadis sekecil dan semanis ini sudah mempunyai nama besar di dunia kang-ouw! Nama Ang-i-sianli (Dewi bebaju Merah) tidak berlebihan setelah melihat orangnya yang sedemikian cantik dan manisnya.” jawab Uh Hou-hoat sambil manggut-manggut.
“Ah, ternyata mata Uh Hou-hoat sangat tajam. Aneh, kalau Uh Hou-hoat sudah tahu tentang puteriku, berarti tahu juga tentang keadaanku?” tanya Hong Hou-hoat heran.
Memang partai yang paling rahasia dan aneh adalah Kim-liong-pay, partai ini mempunyai dua pelindung yang bekerja di luar. Dua pelindung ini memiliki kepandaian yang sudah sangat hebat dan bekerja sebagai pelindung dan utusan perdamaian dari Kim-liong-pay yang ada di lereng Thai-san. Walaupun dua pelindung ini selalu bekerja sama atau kadang-kadang memilki pekerjaan yang berbeda, namun dua pelindung ini tidak pernah saling mengenal antara satu dengan lainnya. Mereka hanya mengenal tanda pengenal masing-masing sebagai pelindung Angin dan Hujan dari Kim-liong-pay. Tanda pengenal ini pun hanya diketahui oleh ketua Kim-liong-pay. Selain ketua Kim-liong-pay, lainnya tidak mengetahui. Makanya tidak heran ketika terjadi mala petaka terhadap Kim-liong-pay, mereka tidak bisa bersatu untuk membantu atau menuntut balas terhadap mereka yang telah melakukan pembantaian di Perkampungan Naga Emas.
Makanya Hong Hou-hoat sampai heran mendengar pengakuan Uh Hou-hoat yang tahu tentang keadaan puterinya dan kalau sudah tahu tentang puterinya, kemungkinan ia tahu siapa ayahnya. Lebih aneh lagi sebenarnya bagaimana Jit Fu-hoat bisa mengetahui jati diri dari Uh Hou-hoat, bahkan dapat memerintahkannya. Padahal yang bisa memerintah Dua Pelindung dari Kim-liong-pay hanya ketuannya saja, itupun harus membawa Giok-ceng sebagai lambang ketua dan perintah terhadap bawahannya. Mereka memang sering bertugas sebagai utusan perdamaian dari Kim-liong-pay terhadap permasalahan-permasalahan dunia kang-ouw. Belasan tahun yang lalu nama mereka sebagai Kim-liong-pay Ji-sian (Dua Dewa dari Partai Naga Emas) sangat dihormati dan disegani oleh orang-orang kang-ouw. Ilmu dua orang inipun hanya selisih sedikit saja dengan ketuanya, makanya tidak heran jika mereka bisa malang melintang hebat di dunia kang-ouw.
“Siapa yang dapat menyangka kalau Yang Lu pangcu dari Pek-eng-pay (Partai Elang Putih) dengan julukan Ban-li-hui-eng (Si Elang Terbang Berlaksa Li) adalah Hong Hou-hoat dari Kim-liong-pay yang telah hancur. Sedangkan puterinya Yang Kwat Lin dengan julukan Ang-i-sianli (Dewi Berbaju Merah) adalah seorang puteri dari ketua partai besar Pek-eng-pay! Sebenarnya akupun tidak akan tahu kalau tidak diberi tahu oleh Jit Fu-hoat dan selanjutnya selalu memperhatikan sepak terjang kalian.” Kata Uh Hou-hoat mengusir penasaran di hati Yang-pangcu.
“Aku ingin tahu sesuatu, bagaimanakah Jit Fu-hoat tahu identitasku dan bisa memerintah Uh Hou-hoat dan diriku?” tanya Yang-pangcu yang agaknya bertambah bingung.
“Kenapa harus heran kalau ia membawa Giok-ceng dan memerintah dengan menggunakan Giok itu?”
“Bagaimana ia bisa membawa dan mendapatkan Giok-ceng? Dan sekarang Giok-ceng muncul tanpa pemegangnya!”
“Wah, sepertinya aku harus menceritakan semuanya dari awal kepada Hong Hou-hoat! Secara singkat saja, setelah terjadi pembantaian di Perkampungan Naga Emas belasan tahun yang lalu, yang dapat meloloskan diri dari perkampungan itu hanya Jit Fu-hoat seorang. Dia diselamatkan oleh Giok Kong kakek dari mendiang pangcu Giok Bu yang keluar dari pertapaannya setelah melihat pembantaian-pembantaian itu. Setelah menyelamatkannya, kakek Giok Kong memberikan Giok-ceng kepadanya untuk menemuiku dengan membawa perintah rahasia darinya. Setelah selesai memberi perintah, Jit Fu-hoat pergi dan tidak pernah menampakkan diri lagi hingga saat ini. Baru beberapa minggu yang lalu aku mendengar tentang munculnya Giok-ceng yang dijadikan perebutan oleh orang-orang kang-ouw. Sebelumnya memang diriku mendapatkan surat darinya untuk mencari Hong Hou-hoat dan menjelaskan semuanya. Ia juga memerintahkan kepada kita supaya tidak ikut merebutkan Giok-ceng yang saat ini berada pada Sun kay. Apakah sedikit penjelasanku ini dapat membuat Hong Hou-hoat mengerti?” tanya Uh Hou-hoat setelah selesai bercerita.
“Cukup jelas cerita Uh Hou-hoat, namun masih ada beberapa persoalan yang masih kurang jelas. Seperti kenapa Jit Fu-hoat melarang kita ikut merebutkan Giok-ceng yang sekarang berada di tangan Sun Kay? Dan apakah setelah memberi perintah itu Jit Fu-hoat tidak pernah menjelaskan apapun lagi?”
“Sejak memberi perintah itu, Jit Fu-hoat disamping tidak pernah menampakkan diri lagi, juga tidak menjelaskan secara mendetail tentang siapa pelaku pembantaian atau apa yang akan ia lakukan. Namun ada kemungkinan ia sedang melaksanakan perintah kakek Giok Kong yang lainnya. Kita hanya bisa menunggu, pasti suatu saat ia akan datang menemui kita! Masalah ia memberi perintah supaya kita tidak ikut melibatkan diri dalam perebutan Gik-ceng itupun belum jelas, namun menurut perkiraanku di balik perintah ini pasti ada sesuatu maksud. Walaupun kita tidak diperbolehkan melibatkan dalam perebutan, namun kita diperintahkan juga untuk selalu memperhatikan siapa sajakah yang ikut terlibat dalam perebutan Giok-ceng. Lebih-lebih Ang-hong-pay yang pertama kali mendengar tentang adanya Giok-ceng.”
“Sungguh memusingkan perintah kali ini! Apakah ada perintah lainnya untukku?”
“Jit Fu-hoat hanya memberi perintah kepada Hong Hou-hoat supaya tidak ikut merebut Giok-ceng dan lebih memperhatikan Ang-hong-pay, karena Hong Houh-hoat mempunyai banyak anggota. Sedangkan aku mempunyai pekerjaan lainnya. Suatu saat kalau ada apa-apa aku akan datang ke Ho-nan.”
“Oh ya, ada lagi yang ingin kukatakan sebelum pergi. Ini adalah permintaan dariku sendiri, bukan perintah dari Ji Fu-hoat. Kalau boleh, saat ini aku ingin melamar puteri Hong Hou-hoat untuk putera mendiang Giok Bu pangcu!”
“Apa putera mendiang Giok-pangcu selamat juga dalam peritiwa pembantaian itu?” tanya Yang pangcu kaget sekaligus senang mendengar kabar ini.
“Putera mendiang Giok-pangcu berhasil diselamatkan kakek buyutnya waktu terjadi peritiwa itu dan tugasku adalah menjaga dan melindunginya. Sudah waktunya ia mendapatkan jodoh yang pas dan aku bisa melihat bahwa nona Yang Kwat Lin adalah perempuan yang cocok dengan Giok-kongcu!”
“Hahaha… aku sendiri akan senang sekali kalau dapat mempunya mantu dari keturunan para naga dari Thai-san. Namun biarlah waktu yang akan menjawab apakah mereka berdua berjodoh apa tidak. Masalah seperti ini sangat sulit untuk menentukannya, karena selain masalah ini bersangkut paut dengan dua orang dan Lin-ji masih terlalu muda, juga berhubungan dengan CINTA! Apa artinya perjodohan atau ikatan suami istri tanpa jalinan kasih sayang dan cinta antara keduanya. Lagian aku belum pernah melihat bagaimana tampang Giok-kongcu, apakah segagah dan seganteng mendiang ayahnya!”
Mereka lalu tertawa terbahak-bahak. Bukan karena saking senangnya membicarakan masalah, tapi karena mereka melihat wajah Yang Kwat Lin tiba-tiba saja menjadi merah karena malu dan jengah. Ia bahkan menundukkan muka ketika ayahnya melihatnya. Sungguh sial bagi anak ini yang tanpa sengaja mendengarkan urusan perjodohannya pas dihadapannya. Biasanya Kwat Lin banyak omongnya dan termasuk gadis yang cerdik banyak akalnya, namun kali ini ia benar-benar tidak bisa ngomong dihadapan ayah dan Uh Hou-hoat. Sepertinya manusia bertopeng yang ada dihadapannya menimbulkan kewibawaan yang sangat besar, hingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sejak tadi ia hanya diam ikut mendengarkan pembicaraan ayahnya dengan orang yang memakai topeng emas ini. Berkali-kali ia merasa terkejut mendengar bahwa ayahnya adalah salah satu Pelindung Kim-liong-pay yang belasan tahun lalu sangat tersohor namanya. Padahal sejak kecil sampai besar, ia hanya tahu bahwa ayahnya adalah pemimpin Pek-eng-pay dan sebagai anak murid dari Kim-liong-pay saja. Tidak ada sama sekali di dalam otaknya membayangkan ayahnya adalah seorang Pelindung.
“Paman Uh Hou-hoat tidak adil!” katanya tiba-tiba dengan memonyongkan bibirnya.
“Apa yang tidak adil, Lin-ji?” tanya ayahnya heran melihat kelakuan anaknya ini.
“Habis ia tahu tentang keadaan ayah dan diriku, sedangkan kita tidak tahu sama sekali tentang dirinya, bahkan wajahnya saja ditutup topeng emas. Apakah ini bisa dinamakan adil? Terus ditambah bicara seenaknya tentang masalah yang berhubungan denganku, tanpa meminta persetujuanku dulu!” perkataan ini disambut gela tawa oleh kedua orang tua.
“Baiklah! Biar aku tidak dikatakan sebagai manusia yang tidak adil dan tahu diri, aku akan meminta persetujuanmu. Apakah kamu mau menikah dengan Giok-kongcu?” kata Uh Hou-hoat disela tertawanya.
“Mana yang bisa menerima lamaran seperti ini? Aku sendiri tidak tahu bagaimana orangnya, apakah ia seorang pemuda yang tampan, baik hati, kaya, pandai silat apa tidak, aku kan tidak tahu. Bagaimana aku bisa berdampingan dengan seorang yang belum pernah kukenal keperibadiannya, bahkan melihat pun belum.” Kata Kwat Lin yang mulai berkicau seperti burung tidak henti-henti.
“Ah, bagaimana ada seorang gadis sekecil ini bisa berbicara seperti nenek-nenek yang sudah kenyang garam kehidupan! Cocok sekali watakmu ini dengan Giok-kongcu! Aku yakin nanti kamu akan suka jika melihat kongcu!”
“Dimanakah sekarang Giok-kongcu berada Uh Hou-hoat?” tanya Yang pangcu sebelum puterinya berbicara lagi.
“Mungkin nanti di Siauw-lim-sie kalian akan bisa melihatnya!”
“Bagaimana kami bisa mengenalnya, kalau wajahnya saja belum pernah kami lihat?” kali ini Kwat Lin menimbrung lagi dengan pertanyaan.
“Ah, betul juga katamu nona manis! Terpaksa aku akan membuka topengku supaya kalian tidak mengatakan bahwa aku bukan orang yang adil dan dapat mengetahui di mana Giok-kongcu berada. Namun ada satu syarat yang harus kalian taati untuk dapat melihat wajah asliku dan Giok-kongcu, apakah kalian mau menerima syaratku?”
“Lihat dulu apa syaratnya, kalau syaratnya menguntungkan kami mau, namun kalau syarat itu merugikan, kami akan menolaknya!” jawab Kwat Lin sambil senyum-senyum. Uh Hou-hoat menjadi kagum atas kecerdasan dan kecerdikan Kwat Lin, nyatanya tidak saja parasnya yang cantik molek menggetarkan hati, namun kegagahan, kecerdikan, dan mulutnya yang nakal membuatnya terkagum-kagum. Senang sekali andai ia bisa mempersatukan Kwat Lin dengan Giok-kongcu yang bisa dikatakan mempunyai sifat yang sama.
“Syaratnya adalah kalau kalian bertemu denganku dan Giok-kongcu tidak boleh memperlihatkan bahwa kalian kenal dengan kami, kecuali Giok-kongcu memperkenalkan diri sendiri atau mau berkenalan dengan kalian. Ketika di Siauw-lim-sie nanti, kami akan memakai nama samaran, kalian harus memanggil kami sesuai nama samaran itu!”
Setelah menjelaskan syaratnya dan disetujui oleh Kwat Lin dan Yang-pangcu, lalu Uh Hou-hoat membuka pelan-pelan topeng emasnya. Setelah dibuka, lalu ditutup kembali.
“Apakah benar itu wajah paman yang sebenarnya?” tanya Kwat Lin ingin tahu.
“Benar! Kalau kalian melihatku di Siauw-lim-sie, kalian harus pura-pura tidak kenal, kecuali kalian bisa berkenalan dengan Giok-kongcu sendiri. Kali ini aku sendiri yang mengiring perjalanannya ke Siauw-lim-sie. Sepertinya pertemuan kita kali ini cukup di sini saja, semoga kita bisa bertemu lagi di gunung Siong-san nanti!”
Setelah berbicara ia lalu berdiri dan meloncat keluar kamar lewat jendela. Uh Hou-hoat tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk berbicara lagi.
“Ayah, apakah mendiang Giok-pangcu mempunyai wajah yang tampan?” tiba-tiba saja Kwat Lin bertanya mengagetkan ayahnya.
“Mendiang Giok-pangcu memang sangat tampan dan gagah, konon katanya nenek moyangnya berasal dari Persia. Badannya yang besar tegap dan gagah perkasa bisa dikatakan mendapatkan turunan dari Persia, sedangkan kulitnya yang putih halus mendapatkan darah dari China. Pokoknya dari tubuhnya terlihat benar kewibawaannya. Kalau memang benar Giok-kongcu yang dimaksud Uh Hou-hoat adalah putera kandungnya, kemungkinan besar tidak akan jauh dari mendiang ayahnya. Bukankah buah jatuh tidak akan jauh-jauh dari pohonnya?” jawab Yang-pangcu sepertinya bisa meraba isi hati anaknya.
“Hm, masak seperti itu. Bukankah aku anak ayah, kenapa begitu beda? Ayah begitu jelek bisa mempunyai puteri yang begitu cantik sepertiku.” Kata Kwat Lin mencoba menggoda ayahnya.
“Wah, dasar anak nakal! Anak macam apa ini berani mengejek dan menghina ayah sendiri. Ini malah membuatku senang, coba kalau kamu mirip ayah, entah bagaimana jadinya dengan wajahmu itu. Untung saja engkau lebih banyak mewarisi sifat mendiang ibumu!”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba wajah Yang-pangcu menjadi buram. “Ayah, maafkan aku yang telah mengingatkan kepada mendiang ibu. Bukan ayah saja yang rindu kepadanya, namun aku juga lebih rindu lagi!”. Setelah berkata Kwat Lin memeluk ayahnya dan menangis di dada ayahnya mengingat ibunya yang baru meninggal setahun yang lalu karena sakit. Suasana kamar itu dalam sekejab telah terasa sempit akibat hati yang terlalu sedih. Kamar itupun menjadi sepi dan sejam kemudian lilin padam. Kamar semakin sepi, termasuk suasana penginapan yang ikut sepi. Semua kamar terlihat gelap tanpa penerang, menandakan orangnya sudah tertidur nyenyak.
<><><><><>()<><><><><>
IV- Chapter Empat; Perebutan Giok-ceng
Pagi yang cerah menambah suasan baru bagi kehidupan. Semuanya terbangun untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Semuanya tampak mulai kerja. Tukang kuda bekerja menyisir rambut kuda peliharaannya. Tukang kuli bekerja mengangkuti barang-barang. Pelajar mulai bekerja menggunakan segenap pikirannya untuk belajar. Bagi nelayan, menjaring ikan atau memancingnya adalah sebuah pekerjaan. Bagi petani, pagi-pagi ke sawah, walaupun hanya sekedar melihat pekerjaannya kemarin hari adalah bekerja. Bagi sastrawan, menulis membuat puisi atau melamun pun adalah pekerjaan baginya. Burung berterbangan mencari makan untuk anak-anaknya adalah bekerja. Begitu indah kehidupan itu dilihat seandainya kita mau membuka sedikit mata dan mendengarkan menggunakan kedua telinga. Kita bisa melihat kehidupan yang mulai bergerak. Apakah bergeraknya mereka adalah hanya sekedar KEBETULAN?, tentunya tidak. Kalau kita mau menarik benang merah atau sedikit membuat contoh dari seorang tukang wayang, maka kita akan menemukan jawabannya. Semuanya gerakan dalam kehidupan manusia tidaklah KEBETULAN, di puncaknya ada namanya sang PENGGERAK atau PENGEMUDI. Seorang petani datang ke sawah untuk mencangkul, pada dasarnya hanya digerakkan oleh sesuatu yang tidak nampak.
Pertama-tama sang petani digerakkan oleh hatinya yang sedang dipenuhi oleh ratusan keinginan dan pemikiran. Keinginan dan pemikiran yang ada di benak sang petani itu siapa sebenarnya yang memberikan, apakah ia datang begitu saja? Tentunya tidak juga. Keinginan manusia yang banyak adalah SEBUAH PILIHAN! Ya ! SEBUAH PILIHAN yang diberikan oleh Tuhan. Siapa yang mampu memilihnya dengan baik, sesuai dengan kapasitas dirinya, kebaikan dirinya dan sesuai PILIHAN yang DISENANGI Tuhan, maka sudah bisa mencapai titik PENERANG. Kehidupannya sudah mendapatkan setitik KEBAIKAN, walaupun kebaikan itu sebenarnya tidak HAKIKI, atau kadang-kadang malah membuatnya sengsara, padahal kesengsaraan ini sama dengan KEBAIKAN tadi, yaitu bukan HAKIKI. Artinya ketika kita memilih salah satu dari KEINGINAN kita yang begitu banyak dan mendapatkan hasil berupa ENAK dan PAHIT, maka dua sifat itu bukan asal dari HASIL buah keinginan kita, tapi KEKOSONGAN belaka, karena BUAH asal dari keinginan kita akan terbayar nanti di lain kehidupan, yaitu di kehidupan ABADI bukan kehidupan SEMU dan PERMAINAN saat ini.
Sun Kay dan rombongannya sudah keluar dari penginapan setelah sarapan pagi. Mereka akan bernagkat pagi ini menju gunung Siong-san. Mereka naik kuda untuk mempercepat perjalanan menuju sana. Selain mereka, ada beberapa rombongan lain yang sudah mulai berjalan menuju puncak. Jarak antara Lok Yang dengan pegunungan Siong-san bisa ditempuh sekitar setengah hari dengan naik kuda yang berjalan santai seperti yang sedang dilakukan oleh rombongan Sun Kay. Memang pelan-pelan adalah kehendak Lie Yang sambil menikmati pemandangan hutan dan pegunungan. Sie Yang naik kuda dengan pelan jalannya, sambil membaca puisi yang pernah dihapalnya, kadang-kadang bacaannya disela-selai siulan merdu.
Puncak kesadaran adalah mengerti tentang Tuhan
Puncak kebodohan adalah mencaci Tuhan
Tahu boleh dikatakan
Namun tidak tahu jangan mengatakan tahu
Itulah kesesatan!
Nikmat hidup memang berdampingan
Lebih nikmat lagi tidak ada pembunuhan
Caci maki hilang menjadi kasih sayang dan puja-puji Tuhan
Sayang disayang manusia masih memiliki keegoan
Kesadaran tiba hidup disamping Tuhan
Alangkah enaknya mencicipi kenikmatan mistik Tuhan
Ia bersiul-siul sambil membaca puisi, sedangkan Sun Kay yang sedang mendengarkan puisi itu menjadi kebingungan. Berkali-kali ia mencoba memahami maksud kandungan puisi yang dinyanyikan oleh Lie Yang. “Apakah kamu tahu maksud puisi yang kau baca itu, kongcu?”, tanya Sun Kay tidak tahan lagi ingin tahu maksud puisi itu.
Lie Yang menghentikan kudanya. Ia menatap wajah Sun Kay yang sedang berkerut sepertinya menanggung kepusingan. Lalu ia menjalankan kudanya lagi.
“Puncak dari kesadaran hidup adalah mengerti hakikat Tuhan, siapa yang sudah mengerti maka dibayangannya hanya ada TUHAN. Ketika ia memandang ke pepohonan, maka di sana ia tampak dzat pembuat pepohonan itu. Ketika ia melihat sesamanya, maka di wajah sesamanya akan tampak dzat pencipta sesamanya termasuk dirinya. Lebih mudah lagi, ketika ia melihat apapun, maka yang terlihat adalah hakikat sang pencipta. Makanya ia tidak berani mencaci maki, menganiaya, merusak, bahkan membunuh apa yang diciptakan oleh Tuhan. Kalau ia mencaci maki, menganiaya, merusak, atau membunuh ciptaan Tuhannya, maka tandanya ia secara langsung menghina dan tidak menghormati ciptaan Tuhannya. Orang yang sudah tidak menghormati Tuhannya adalah sebodoh-bodohnya orang dan termasuk orang yang patut dihukum Tuhannya!” kata Lie Yang menjelaskan arti puisi yang dibacanya.
“Ah, membingungkan sekali filsafatmu itu, kongcu!” kata Sun Kay tambah bingung. Lie Yang tertawa renyah mendengar pengakuan polos Sun Kay ini.
“Suatu saat paman akan mengerti apa yang kukatakan tadi. Yang terpenting adalah siapa yang melakukan pengerusakan, pembantaian atau lain-lainnya adalah salah satu bentuk penghinaan terhadap penciptanya, karena manusia tidak bisa menciptkan makhluk lainnya.”
Mereka sudah memasuki sebuah hutan yang lebat sekitar tiga puluh kilo meter dari pegunungan Siong-san. Lie Yang masih tetap seperti tadi membaca puisi sambil bersiul-siul merdu. Namun kali ini tema yang dibaca bukan lagi tentang filsafat tinggi lagi, namun tentang percintaan.
Cinta itu datang menikam sanubari
Tertancap nikmat bagai manisnya madu di bibir bidadari
Dua mata adalah pangkal penyebabnya
Lalu merambat pelan-pelan ke dalam dada
Musim berganti, namun wajah tak kan lupa
Manisnya sang dewi menundukkan hati
Si baju merah nan cantik mata berseri
Apakah wajahmu bisa kutemui lagi?
Baru sedetik berpisah
Namun serasa sudah lama tidak berjumpa
Tiba-tiba paman Sam tertawa terbahak-bahak mengagetkan Lie Yang dan lain-lainnya. Tadi telinganya begitu geli mendengar puisi Lie Yang yang morat-marit, namun merujuk pada satu topik indah. Tanpa terasa ia tertawa lebar hingga yang lainnya berhenti dan memandangnya dengan wajah penasaran. Melihat teman-temannya berhenti dan sorot matanya mengandung teguran dan tanda tanya besar, segera paman Sam diam.
“Apa yang kamu tertawakan paman Sam? Apakah ada yang lucu dengan puisiku?” tanya Lie Yang dengan senyum. Bocah ini saja yang tidak tampak marah. Memang sejak kecil Lie Yang jarang sekali memperlihatkan marahnya. Ia lebih sering tersenyum, walaupun hatinya sedang jengkel atau marah.
“Tidak ada yang lucu dengan puisi kongcu, namun terasa geli aku yang sudah tua mendengarnya. Aku jadi ingat dahulu pernah jatuh cinta dengan anak tetangga, namun tidak diterima karena wajahku seburuk ini. Ketika kudengar puisi kongcu, entah mengapa aku teringat kisah cintaku di masa lalu itu. Membuatku tiba-tiba ingin tertawa karena begitu lucunya peristiwa puluhan tahun yang lalu!” mau tidak mau semua orang melengak mendengar penuturan paman Sam ini. Lalu tiba-tiba Sun kay tertawa terbahak-bahak mendengar cerita percintaan sebelah tangan ini. Sungguh kasihan kehidupan paman Sam dahulu.
Lie Yang tersenyum senang dan tahjub kepada orang tua ini yang ternyata punya jiwa romantis juga walaupun tampak buruk rupanya. “Apakah paman bisa tahu siapa yang kumaksud dengan si baju merah di dalam puisiku ini?”, tanya Lie Yang kepada pamannya Sam.
“Apakah nona baju merah di penginapan kemarin yang kongcu maksud?” jawab paman Sam sambil memicingkan mata sebelah kiri.
“Ternyata paman dapat menebak isi hatiku. Entah apakah aku bisa melihat wajah itu lagi apa tidak?” katanya senang.
“Apakah kongcu ingin aku menyampaikan rasa sayang dan cinta kongcu kepadanya seandainya kita bisa menemuinya di Siauw-lim-sie?” tanya paman Sam.
“Seorang laki-laki sejati harus berani mengutarakan isi hatinya sendiri, bukan bersembunyi di belakang bayangan orang lain!” jawab Lie Yang sambil membusungkan badannya meniru seorang jagoan tanpa tanding.
“Omongan bagus!” tiba-tiba terdengar suara seseorang menimbrung.
Semua mata beralih ke arah asal suara. Di samping kiri Lie Yang ada seorang laki-laki kerdil gemuk. Laki-laki dengan memakai baju terbuat dari kulit seekor serigala itu duduk di bawah pohon sambil bersendekap tenang. Rambutnya sudah hampir beruban semuanya, namun tubuhnya yang kecil pendek terlihat seperti masih bocah.
“Apakah locianpwe (Orang Tua Gagah) di sana adalah Thian-long-cu (Si Serigala Langit)?” tanya Sun Kay agak tergetar melihat kedatangan Thian-long-cu.
“Kalau sudah tahu kenapa tidak segera memberi hormat dan memberikan Giok-ceng yang kamu bawa!” jawab Thian-long-cu acuh tak acuh.
“Dari… dari mana locianpwe tahu kalau boanpwe (Aku Yang Rendah) saat ini membawa Giok-ceng?” tanya Sun Kay lagi kaget.
“Apakah kamu belum tahu keahlianku mengendus barang-barang istimewa?” jengek Thian-long-cu sambil berdiri.
“Hahaha…. Apakah locianpwe ini benar jelmaan siluman serigala sehingga mempunyai kemampuan mengendus yang begitu hebat?” tiba-tiba Lie Yang tidak sabar lagi untuk berkata sambil tertawa.
Pucat wajah Sun Kay mendengar omongan bocah ini. Lie Yang terlalu berani berbicara seperti itu di depan Thian-long-cu yang bisa dikatakan memang siluman serigala dari utara. Hakikatnya apa yang dikatakan oleh Lie Yang adalah biasa saja baginya, ia tidak merasa ada sesuatu yang menakutkan terhadap Thian-long-cu, karena memang ia tidak tahu siapa sebenarnya Thian-long-cu yang sepak terjangnya sangat ditakuti oleh setiap orang kang-ouw. Di utara sana ia menjadi raja dirajanya kaum sesat, namun orang tua kerdil ini jarang keluar dari batasan wilayahnya. Namun sekarang Sun Kay tidak mengerti kenapa orang ini sampai bisa kesasar ke tempat ini, apakah hanya secara kebetulan saja, atau memang tujuan utamanya ingin merebut Giok-ceng dari tangannya?.
“Siapakah namamu pemuda?” tanya Thian-long-cu kepada Lie Yang sambil berjalan tenang menghampirinya.
“Namaku Lie Yang she Song. Apakah keperluan locianpwe ke sini hanya ingin merampas Giok-ceng milik orang lain? Ataukah karena ingin mendatangi undangan Siauw-lim-sie?” tanya Lie Yang sambil tersenyum ceriwis.
“Song Lie Yang! Nama seorang pemuda pertama kali berani berbicara secara jujur dihadapanku. Kalau menurutmu apakah tujuan kedatanganku ke sini ini pemuda tampan?” Thian-long-cu sudah ada di samping dekat Lie Yang.
“Em, lebih baik aku turun dari kuda, rasanya tidak sopan kalau berbicara dengan locianpwe di atas kuda seperti ini!” kata Lie Yang tiba-tiba dan disambung tawa Thian-long-cu. Teman-teman lainya melengak heran atas kelakuan dua Lie Yang yang dianggap terlalu berani meladeni Thian-long-cu.
“Menurutku locianpwe bukan orang yang begitu rendah untuk merampas barang yang bukan menjadi hak locianpwe! Apalagi locianpwe sudah punya nama besar di dunia kang-ouw sebelah utara sana. Tentunya sudah merasakan apa itu ketenangan dan ketentraman, sehingga datang untuk membuat susah hidup sendiri!”
Kali ini yang melengak heran dan terkejut tidak hanya Sun Kay, paman Sam dan dua pengawalnya, namu Thian-long-cu juga menjadi terheran-heran atas ucapan pemuda yang sepertinya menembus hatinya. Memang sudah bertahun-tahun Thian-long-cu hidup di utara sebagai seorang tokoh ajaib yang aneh, ia pantang mengganggu hidup orang lain, namun tidak berpantangan membunuh orang lain kalau kehidupannya yang tentram diusik orang lain.
“Hebat! Hebat sekali ucapanmu anak muda! Kalau saat ini kamu menyebutku suhu (Guru) aku akan menerimamu menjadi murid tunggalku. Aku orang tua yang mempunyai pantangan mengambil murid, kali ini akan melanggarnya melihat ucapanmu itu! Coba katakan kepadaku kenapa kamu mengatakan tidak berhak merampas Giok-ceng?” kata Thian-long-cu senang.
“Maafkan kalau aku yang muda mengecewakanmu yang tua! Alangkah senangnya diriku kalau aku juga bisa menjadi muridmu, namun aku sudah tidak ingin berguru silat ke orang lain lagi. Aku sudah kapok, karena dahulu kakiku pernah bengkak-bengkak akibat berlatih kuda-kuda sehari penuh, sejak itulah aku tidak mau lagi belajar seperti itu lagi! Masalah berhak atau tidak, tentunya locianpwe tahu benar siapa sebenarnya pemilik asal Giok-ceng yang ingin diperebutkan oleh orang-orang kang-ouw?”
“Cukup jujur, namun sayang sekali aku tidak bisa memaksamu untuk menjadikanmu muridku! Memang dahulu Giok-ceng adalah lambang dari kekuasaan Kim-liong-pay yang dari ratusan tahun dipegang oleh ketua Kim-liong-pay di Perkampungan Naga Emas di lereng Thai-san. Secara tidak langsung, Giok-ceng ini adalah milik orang-orang Kim-liong-pay, namun setelah Kim-liong-pay hancur dan sudah tidak ada lagi ahli warisnya, secara langsung Giok-ceng ini menjadi milik setiap orang yang mendapatkannya. Giok-ceng tidak hanya sebagai lambang dari satu partai besar Kim-liong-pay saja, akan tetapi sebagai lambang bengcu (Pemimpin Rakyat) dunia kang-ouw seluruhnya tanpa kecuali. Siapa yang memegang Giok-ceng maka dia adalah bengcu bagi semua orang-orang kang-ouw yang harus ditaati semua perintah dan perkataannya, kalau tidak ia dinyatakan memberontak dan wajib dimusuhi oleh semua orang!”
Tanpa sengaja Thian-long-cu berkata secara blak-blakan menerangkan asal-usul Giok-ceng. Memang inilah yang dikehendaki oleh Lie Yang, karena ia ingin mengetahui dari mana asal Giok-ceng sebenarnya dan ternyata akalnya tercapai. Matanya berbinar-binar mendengar penuturan jujur orang ini. Senyuman Lie Yang semakin lebar.
“Bagaimana kalau ada orang yang ingin merebut Giok-ceng dari tangan seorang bengcu orang-orang kang-ouw?” tanya Lie Yang lagi.
“Orang itu adalah musuh bagi seluruh orang-orang kang-ouw! Hukumannya hanya MATI!” jawab Thian-long-cu tegas dan semangat, sedangkan Lie Yang tersenyum puas.
“Tunggu pemuda! Apa maksud pertanyaanmu ini? Dan kamu belum menjawab pertanyaanku tadi tentang sebab apa aku tidak berhak merampasnya?”. Tanya tiba-tiba Thian-long-cu yang sudah agak merasa ada kejanggalan dalam pertanyaan pemuda di hadapannya itu.
“Bukankah locianpwe sudah tahu jawabannya?!” tanya balik Lie Yang. Thian-long-cu diam sejenak, ia berfikir.
“Aha, baru kali ini aku bisa dipermainkan oleh pemuda yang masih hijau sepertimu Lie Yang! Selama ini belum pernah aku kalah terhadap orang lain, baik dalam pertandaingan silat maupun perdebadan dan saat ini aku dikalahkan oleh seorang pemuda hijau sepertimu!” Thina-long-cu tidak nyana bahwa ia dapat terjungkal oleh Lie Yang yang masih muda.
“Awas kongcu!” teriak Chi Lam mengingatkan. Namun teriakannya tidak dapat mencegah Lie Yang dari sergapan mendadak Thian-long-cu. Baik Sun Kay, Chi Lam, paman Sam, ataupun Sung Huan tidak bisa berbuat apa-apa kali ini ketika Lie Yang sudah berada di tangan Thian-long-cu dalam keadaan tertotok. Chi Lam, Sung Huan dan Sun Kay sudah mengeluarkan senjata mereka siap untuk bergebrak mati-matian melawan Thian-long-cu yang licik.
“Kalian boleh memilih, mau menyerahkan Giok-ceng atau aku akan mencekik pemuda ini baru membinasakan kalian semua!” ancam Thian-long-cu.
“Aku bisa menyelamatkan pemuda itu kalau kalian mau berjanji memberikan Giok-ceng kepadaku! Hik…hik..!” terdengar suara lain dari belakang Thian-long-cu. Mendengar suara ini, Thian-long-cu lalu membalikkan badan untuk melihat kedatangan orang ke tiga.
“Aha, ternyata si Bi-sianli (Bidadari Cantik) yang datang! Angin apakah yang membawa Wanita Cantik dari barat sampai ke sini?” tanya Thian-long-cu.
“Hm. Angin apakah yang membawa aku ke sini? Memangnya kamu saja yang hanya boleh ke sini?” jengek Bi-sianli atau Tok-sim Bi-sianli (Bidadari Cantik Berhati Racun) julukan lengkapnya.
Bi-sianli berjalan mendekati Thian-long-cu, sedangkan ia mundur beberapa tindak sampai dekat sebuah pohon yang sangat besar. Thian-long-cu lalu mendudukkan Lie Yang. Ia tidak berani lagi menggeretak Sun Kay untuk memberikan Giok-ceng kepadanya kalau di sisinya ada lawan keras. Sebenarnya tadi ia hanya menggeretak mereka saja, bukan benar-benar ingin membunuh Lie Yang, karena ia masih ingin mengambil Lie Yang sebagai muridnya dan juga mendapatkan Giok-ceng melalui gertakan sambalnya. Namun dua keinginanya ini tidak akan lagi dapat terleksana, karena adanya Bi-sianli di depannya. Terpaksa ia harus menggunakan kepandaian untuk mendapatkan Giok-ceng, walaupun harus meninggalkan calon muridnya.
“Ular! Ular!” tiba-tiba terdengar teriakan ngeri dan takut dari mulut paman Sam melihat ular yang ada di leher Bi-sianli. Semua orang melihat keadaan paman Sam yang tampak menggigil ketakutan sambil mundur beberapa tindak. Lalu ia berlari ketakutan menuju semak-semak. Memang ia paling takut terhadap ular. Kasihan sekali orang tua ini.
Memang tidak omong kosong kalau Bi-sianli sampai mendapatkan julukan seperti itu, wajahnya memang sangat cantik menggiurkan. Pakaian yang dipakai tampak sepertinya tidak lengkap, karena ada beberapa bagian tubuh pentingnya yang terlihat menonjol membuat orang tidak bisa bernafas. Rambutnya dibiarkan teruarai meliuk-liuk bagaikan ular. Di lehernya yang tampak putih menggetarkan sukma melingkar seekor ular berwarna kuning sebesar pergelangan tangannya. Kepala ular itu menjulur mendesih-desih seperti ingin bicara. Bi-sianli adalah tokoh tua walaupun masih tampak cantik yang menguasai dunia barat Tiongkok. Kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya tidak sebanding dengan kekejamannya, sehingga ia mendapatkan tambahan julukan Tok-sim (Barhati Racun). Selain keji, ia juga termasuk wanita binal, karena ia paling gemar terhadap laki-laki muda yang kuat. Konon dialah wanita satu-satunya yang berhasil menguasai suatu ilmu dari datuk wanita Kucing Betina lima ratus tahun yang lalu. Ilmu itu adalah ilmu menyerap hawa jantan dari tubuh seorang laki-laki lewat hubungan badan. Hawa sakti yang ada di dalam tubuh korbannya akan habis terhisab olehnya, sehingga membuat tubuh korbannya itu tewas dalam keadaan mengenaskan, karena tubuhnya akan mengering seperti kayu.
Cerita tentang kekejaman dan kehebatan Bi-sianli ini memang hampir tidak bisa dipercaya, karena tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya. Hanya di barat sana, ia sangat terkenal dan sangat ditakuti oleh orang-orang kang-ouw di sana. Sering kali di sana didapatkan pemuda tewas dalam keadaan mengering tanpa darah sama sekali. Tidak ada yang tahu apakah itu perbuatan Bi-sianli atau iblis lainnya, namun orang-orang di sana menyakini bahwa itu adalah akibat hisapan iblis Bi-sianli.
Kali ini ia berjalan sambil memandang tubuh Lie Yang yang tergeletak tertotok tanpa bisa bergerak. Sambil tersenyum manis, sepertinya ia ingin memakan bulat-bulat tubuh Lie Yang. “Kenapa senyum-senyum? Apakah ingin merampas pemuda itu dan menghisap hawa jantannya?”. Thian-long-cu bertanya sambil bersendakep merintangi Yan-siali untuk merampas calon muridnya.
“Hik…hik… apakah engkau cemburu? Sayang sekali, seandainya engkau tidak buruk rupa dan masih jantan mungkin aku lebih memilih engkau dari pada pemuda itu?”
Pucat wajah Sun Kay, Chi Lam dan Sung Huan mendengar perkataan seperti ini. Mereka tahu benar apa maksud Bi-sianli yang gemar pemuda-pemuda gagah seperti Lie Yang.
“Berani kamu menghina diriku di depan anak-anak kura ini? Kali ini jangan sebut diriku Thian-long-cu kalau tidak bisa membungkam mulutmu yang berdosa itu!” teriak gusar Thian-long-cu. Setelah membentak ia lalu menerjang Bi-sianli dengan pukulan hebat sekali. Berkali-kali ia menguik dan melolong seperti serigala yang sedang marah. Bunyi itu saja sudah mampu menggetarkan dada orang yang tidak punya sinkang hebat. Sun kay sampai terbengong-bengong melihat kedahsyatan serangan dua datuk sesat di depannya.
Pukulan-pukulan Thian-long-cu yang hebat ditangkis begitu saja oleh Bi-sianli. Akibat pertarungan hebat itu, daun-daun berguguran terkena hawa sinkang dua orang iblis dari utara dan barat. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, muncul dua manusia bertopeng dengan memakai jubah merah dengan lambang Tawon Merah di dadanya langsung menyerang Chi Lam dan Sung Huan. Beberpa detik kemudian terjadi pertempuran hebat antara dua pengawal Lie Yang melawan dua pendatang baru. Paman Sam yang sejak tadi sudah ketakutan semakin menggigil badannya. Kali ini ia melihat banyak orang sedang bertarung dalam keadaan melayang seperti terbang. Hampir ia pingsang melihat adegan seperti iblis ini. Mukanya tampak tambah hitam saking ngerinya. Sedangkan Sun kay semakin bingung melihat teman-temannya sudah bergebrak.
“Sun Kay cepat tolong Song kongcu dan bawa lari dahulu, kami akan menyusul kemudian!” teriak Chi Lam sambil mengerahkan sinkang menangkis sambaran pedang lawannya.
“Tringggg…!!!” terjadi adu pedang yang sangat hebat antara dia dan lawannya. Benturan pedang ini membuat dirinya mundur sampai lima langkah, sedangkan lawannya hanya mundur selangkah. Dadanya terasa begitu sesak. Karena bicara sehingga konsentrasinya terpecah, akibatnya ia bisa terkalahkan. Ia maju kembali sambil mengibaskan pukulan dari tangan kiri sedangkan tangan kanannya membacok ke arah kepala lawan. Beberapa detik kemudian sudah terjadi pertarungan hebat.
Sun Kay tidak menyia-nyiakan usaha teman-temannya. Ia langsung berlari menuju tempat Lie Yang untuk membebaskan dan mengajaknya lari. Baru ia berlari sepuluh langkah, di depannya sudah muncul seorang pendatang baru dengan memakai topeng dan baju berwarna merah seperti dua pendatang baru sebelumnya. Ia tahu bahwa orang di depannya adalah orang suruan dari Ang-hong-pay. Tidak banyak bicara ia lalu menyerang orang itu dengan lawannya. Tidak terelakkan lagi, terjadi pertandingan hebat antara dia dan orang Ang-hong-pay ini. Namun ia mendapatkan bahwa kepandaian orang ini tidak sama dengan orang yang pernah menyerbu ke tempatnya beberapa hari yang lalu. Melihat ini ia semakin gencar menyerang dan tidak pernah memberi kesempatan pada lawannya untuk menyerang balik kepadanya.
Sudah puluhan jurus ia menyerang dengan gencar namun sia-sia saja, lawannya bisa dikatakan selalu mematahkan serangannya. Kali ini tenaganya sudah terkuras habis hingga nafasnya tersengal-sengal berat, keadaannya sudah sangat payah. Dalam keadaan payah seperti ini, ia mulai kalap dan menyerang sekenannya. Ketika tongkatnya di sambetkan melintang di depan wajah lawannya, tiba-tiba saja tangannya sudah terkena cengkraman lawan dan dalam sekejap saja tongkatnya sudah pindah tangan. Sebelum ia tahu tentang apa yang terjadi, tangan kanannya yang sudah dicengkeram lawan ditarik maju dan dengan gerakan yang cepat langkah lawannya sudah maju ke depan dengan memberi sikutan ke uluh hatinya.
Tubuh Sun Kay jatuh ke tanah dalam keadaan pingsan. Di ujung bibirnya keluar darah merah yang kental. “Hanya punya kemampuan seperti ini saja sudah berani menghadang diriku!” Ejek orang berbaju merah itu. Sebentar kemudian ia sudah merabah baju Sun Kay dan menemukan sebuah buntalan kain dari dalam jubahnya. Setelah membuka ia mendapatkan Giok-ceng terbungkus rapi di dalam kain kuning. Sebentar saja orang itu tersenyum puas setelah ia berhasil mendapatkan Giok-ceng yang dicari-cari banyak orang.
“Dukkkkkkk!!!” tanpa menyadari sebuah pukulan mengenai tengkuknya sehingga membuatnya terjatuh dalam keadaan pingsan. Seorang gadis berpakaian merah berdiri sambil tersenyum mengejek di belakangnya. Setelah mengalahkan lawan dalam satu pukulan saja, ia lalu memungut Giok-ceng yang ada di kiri kakinya.
“Inikah Giok-ceng yang sedang diperebutkan oleh mereka?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Gadis itu bukan lain adalah Yang Kwat Lin yang baru saja tiba di tempat itu. Lalu matanya yang jeli memandang ke arah tubuh Lie Yang. Dua mata Lie Yang tampak melotot kepada Kwat Lin, walaupun tubuhnya tidak bis bergerak akibat tertutuk, namun dua matanya yang bundar masih bisa melihat semua kejadian. Termasuk melihat wajah Kwat Lin yang membuat hatinya menjadi bergetar saking senangnya.
“Nona cantik, serahkan Giok-ceng itu padaku!” tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya. Setelah mebalik ia bisa melihat seorang berpakaian merah dengan sulam emas di pinggir gambar Tawon Emas sudah berdiri di depannya. Kaget bukan main, ketika mengetahui ada orang bisa muncul tanpa dapat ia ketahui kapan datangnya.
“Lin Lin sebaiknya engkau tolong pemuda itu dan serahkan orang ini padaku!” tiba-tiba tedengar suara orang berkata di belakang orang berpakaian merah itu. Kali ini yang terkejut adalah orang berpakaian merah itu, sedangkan Kwat Lin atau Lin Lin tersenyum gembira. Lalu ia membalikkan tubuh berjalan menuju tempat Lie Yang berada.
Di belakang itu telah beridiri seorang dengan memakai topeng emas. Orang ini adalah ayah Lin Lin yang sudah bekerja sebagai salah satu Dewa Kim-liong-pay lagi. Kali ini kedatangannya tidak sendirian, tapi bersama dengan Uh Hou-hoat juga. Tadi ia bertemu di perjalanan dengan Uh hou-hoat dan memberi tahu bahwa ia mendapatkan perintah dari Jit Fu-hoat untuk melindungi Giok-ceng dari tangan dua datuk sesat dari utara dan barat. Namun kedatangannya di sini ternyata malah bertemu dengan pasukan merah dari Ang-hong-pay.
“Topeng Emas dari Kim-liong-pay!” teriak lirih orang berpakaian merah itu kaget.
“Hmm… sudah tahu masih berdiri di sini! Pergi!” jengek Yang-pangcu atau Hong Hou-hoat. Memang ciri utama yang bisa diperlihatkan Dua Pelindung Kimliong-pay kepada orang-orang kang-ouw adalah Topeng Emas dalam bentuk kepala naga, atau kadang-kadang orang-orang kang-ouw menyebut Kim-liong Ji-sian kalau dua-duanya datang bersamaan.
“Memangnya aku takut kepada cecenguk-cecenguk seperti kalian? Jangan dikira Ang-hong-pay takut kepada kalian yang sudah tidak punya rumah lagi…” belum habis perkataanya Yang pangcu sudah menyerang menggunakan jurus-jurus istimewa Kim-liong Jian-jiu-kun (Pukulan Seribu Tangan Naga Emas) dari Kim-liong-pay.
Dalam satu tempat itu sudah terjadi pertempuran hebat. Hutan yang sepi tadinya kali ini menjadi ramai, terdengar suara bentakan-benatakan dan suara nyaring beradunya pedang. Ternyata lawan Yang-pangcu memang hebat, bisa dikatakan seimbang dengannya. Apalagi lawannya juga bisa menggunakan beberapa jurus khas perguruan Naga Emas. Kim-liong Jian-jiu-kun (Pukulan Seribu Tangan Naga Emas) yang dipakai oleh Yang-pangcu sangat cocok dengan ilmu Kim-liong Bian-ciang-kun (Ilmu Pukulan Tangan Lunak Naga Emas) yang dimainkan oleh orang berbaju merah. Beberapa kali terjadi benturan tangan antara tangan Yang-pangcu dengan tangan lunak lawannya. Karena ilmu ini sama-sama ampuh dan muncul dari satu pokok perguruan, sehingga tidak terjadi pertentangan hebat. Malahan dua ilmu pukulan ini sepertinya saling mengisi ruang dan waktu antara lainnya tanpa dapat mengalahkan lainnya. Sehingga setelah puluhan jurus berlangsung, dua orang ini tidak ada yang terluka. Berbeda dengan dua pengawal Lie Yang yang sudah begitu payah, walaupun bisa melukai di beberapa tempat di tubuh lawan dengan pedang mereka. Ratusan jurus sudah mereka keluarkan dan antara mereka dan lawan sudah sama-sama payah dan kehabisan tenaga sehingga pertandingan semakin lama semakin renggang.
Adapun pertandingan antara Thian-long-cu dan Bi-sianli masih tampak seru, mereka tidak berani lagi memeprhatikan keadaan sekelilingnya, karena sekali konsentrasi mereka hilang maka nyawa akan melayang. Thian-long-sianli yang sudah terbakar oleh api amarah, tidak lagi mau mengaku kalah sebelum nyawanya melayang. Keinginannya untuk melindungi calon muridnya dan penghinaan Bi-sianli membuatnya ingin merenggut nyawa Bi-sianli. Maka tidak heran jika kali ini mereka benar-benar berkelahi mati-matian dan tidak mau mengalah sedikit pun.
“Dasar laki-laki ceriwis tidak tahu malu!” terdengar suara makian dari mulut Kwat Lin.
Aneh sekali dua orang muda ini, dalam keadaan yang begitu menegangkan masih saja mereka main-main. Apalagi Lie Yang yang baru saja dibebaskan dari tutukan oleh Kwat Lin bukannya berterima kasih dengan baik-baik, malahan dari mulutnya juga muncul puji-pujian atas kecantikan wajah Kwat Lin. Ia juga merayu Kwat Lin dengan puisi-puisi yang romantis sehingga membuat marah Kwat Lin. Saking marah dan malunya sampai-sampai Kwat Lin beberapa kali berhasil menampar muka Lie Yang sampai bengkak-bengkak. Dipukul bertubi-tubi oleh Kwat Lin bukannya Lie Yang mejadi marah dan merasa sakit malah tersenyum senang.
“Pukul lagi nona, aduh halus sekali tanganmu. Ingin sekali aku bisa menciumnya!” perkataan Lie Yang ini menambah marah Kwat Lin. Kali ini tidak hanya wajah dan mulutnya yang kena pukulan dan jotosan Kwat Lin, akan tetapi turun ke dada dan tubuh-tubuh lainnya.
“Nona aduh enak sekali tubuhku! Seperti dipijeti bidadari dari surga! Terus pukul nona. Aduh enaknya!” berkali-kali perkataan itu muncul dari mulut Lie Yang.
Entah berapa puluh kali Kwat Lin memukul tubuh Lie Yang sampai-sampai bajunya terkena debu sehingga warna hijauh pupus itu sudah berwarna coklat. Dalam keadaan masih rebah sambil tersenyum senang Kwat Lin masih memukul terus.
“Iyat! Dukkk!!!!!!” kali ini pukulan Kwat Lin tidak main-main lagi karena tidak berhasil menutup mulut Lie Yang yang malah mengadu-ngadu manja membuatnya jengah dan marah.
Sekali pukulan ini mengenai dada Lie Yang sampai dari ujung mulutnya keluar darah segar karena saking kerasnya Kwat Lin memukul. Lie Yang sampai pingsan mendapatkan pukulan berbahaya ini. Tiba-tiba Kwat Lin menjerit mendekati tubuh Lie Yang yang sudah pingsan itu. Disentuhnya urat nadi di pergelangan tangan Lie Yang dan ia mendapatkan bahwa nadi Lie Yang sudah tidak berdenyut lagi.
Kaget campur merasa bersalah ia memukul pemuda lemah sampai mati. Dengan gugup ia menundukkan kepalanya dan menaruhnya di atas dada Lie Yang untuk memeriksa apakah Lie Yang benar-benar mati. Benar saja ternyata detak jantung Lie Yang juga sudah berhenti. Pucat wajahnya melihat Lie Yang. Saking takut dimarahi oleh orang tuanya dan rasa bersalahnya sampai-sampai ia menitikkan air mata. Menangis.
“Maafkan aku Lie-twako (Kakak Lie)! Aku terlalu jahat sampai tega membunuhmu yang ternyata tidak bisa ilmu silat!” kata Kwat Lin sambil menangis sesegukan. Kwat Lin tahu nama Lie Yang karena tadi Lie Yang sudah bertanya namanya sambil memperkenalkan namanya. Ia memanggil Lie Yang denga sebutan ‘twako’ karena memang mengakui bahwa pemuda yang ia bunuh lebih tua sedikit dari umurnya, lagian ia berharap semoga arwah Lie Yang mau memaafkan perbuatannya.
“Namaku Yang Kwat Lin, semoga Lie twako bisa memafkanku dan tenang di alam sana!” Kwat Lin berkata lagi sambil menunduk melihat jelas wajah Lie Yang yang sudah dingin. Wajah Lie Yang tampak pucat dan biru akibat pukulan Kwat Lin. Setelah melihat lama sekali wajah Lie Yang tanpa sadar ada semacam rasa aneh di dalam hati Kwat Lin. Wajah Lie Yang memang bisa dikatakan sangat tampan, tidak heran kalau Kwat Lin setelah lama melihat wajah itu dari dekat menjadi semakin tahjub juga.
Kwat Lin masih memandang wajah Lie Yang tanpa berkedip. Setelah di dalam hatinya ada rasa bersalah dan kasihan, tiba-tiba di dalam hatinya muncul rasa suka kepada Lie Yang walaupun sudah terlambat. Memang Kwat Lin mempunyai sifat yang gampang tersentuh terhadap apa saja, maka tidak heran kalau saat ini timbul rasa sukanya juga.
Pertandingan antara dua pengawal Lie Yang melawan dua orang Ang-hong-pay masih berjalan seru walaupun sudah terlihat siapa yang sudah terluka parah. Tubuh dua orang Ang-hong-pay sudah begitu parah, walaupun begitu mereka masih mencoba bertahan. Tiba-tiba terdengar suara suitan keras dari orang Ang-hong-pay yang sedang melawan Yang-pangcu. Ternyata tidak hanya dua teman yang tidak kuat membendung kehebatan ilmu silat lawannya, namun dia juga tidak kuat bertahan melawan kesaktian Yang-pangcu sehingga ia bersuit sebagai tanda mengajak untuk melarikan diri. Sejak beberapa pukulannya tidak berhasil melumpuhkan lawan, Yang-pangcu sudah menggunakan ilmu lainnya yang hanya diajarkan oleh pangcu Kim-liong-pay kepada para pelindungnya, yaitu ilmu Kim-liong Bu-eng-kun (Pukulan Tanpa Wujud Naga Emas) yang mendasarkan pada hawa sinkang sejati dan kuat. Dengan ilmu inilah lawannya bisa didesak sampai mundur puluhan langkah.
Yang-pangcu paham tanda suitan ini, tanpa banyak mendesak lagi ia memberi peluang bagi lawannya untuk pergi, sedangkan dua teman lain orang Ang-hong-pay juga sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan lebat. Dua pengawal Lie Yang yang sudah kehabisan tenaga itu langsung terkulai pingsan setelah melihat lawannya lari. Luka dua pengawal itu tidak ringan, terdapat beberapa sayatan pedang di beberapa tubuh mereka.
“Ada apakah Lin Lin?” tanya ayahnya heran melihat anaknya menangis sesegukan.
“Aku telah membunuhnya, ayah!” jawab Kwat lin sambil berlari menubruk ayahnya. Ayahnya kaget juga mendengar pengakuan Lin Lin, namun lebih kaget lagi ia melihat anaknya menangis padahal setahunya Lin Lin jarang meneteskan air mata, kecuali ketika istrinya mati.
“Biar kulihat apakah benar orang muda itu telah mati!” kata ayahnya mencoba melihat sendiri apa benar pemuda itu sudah mati.
Yang-pangcu memeriksa tubuh Lie Yang yang sudah dingin. Tampak beberapa kali ia mengeleng-ngeleng kepala heran dan tidak paham bagaimana Lin Lin bisa membunuh pemuda ini. “Bagaimana ayah? Apakah benar ia sudah mati?” tanya Kwat Lin takut.
“Benar!” jawab ayahnya kelam. Sedangkan wajah Kwat Lin yang tadinya putih memerah tampak cantik, sekarang terlihat pucat mengandung kepedihan.
“Kenapa kamu membunuhnya Lin Lin?” tanya ayahnya ingin tahu penyebab kenapa anaknya sampai membunuh pemuda ini.
“Aku tidak tahu kalau dia tidak bisa silat sehingga satu pukulan saja telah merenggut nyawanya. Memang aku yang bersalah padanya ayah, tolong bunuh saja diriku untuk menebus kesalahanku ini!” kata Kwat Lin sedih.
“Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam kehidupannya, kenapa harus sampai menebus dangan nyawa segala! Sebab apakah engkau berani memukul pemuda lemah ini?” tanya Yang-pangcu masih ingin tahu.
“Tadi ia berkata dengan nada menghina terhadapku, sehingga aku marah dan memukulnya.” Jawab Kwat Lin pelan.
Yang-pangcu berdiri sambil menghela napas panjang. Wajahnya tampak kelam. Tiba-tiba ia menggerakkan tangan ke depan mengeluarkan pukulan dari ilmu Sin-hong Sin-kang (Tenaga Sakti Angin Sakti). Pukulannya ini menimbulkan sinkang yang dapat melebur memancar melalui jalur angin sehingga berhasil menolak serangan tiba-tiba dari Thian-long-cu. Untung ia tidak begitu tenggelam dalam kesedihan seperti yang dialami puterinya sehingga bisa mengetahui serangan licik lawan.
“Bless!!!” terdengar suara adu sinkang kuat yang membuat Yang-pangcu mundur tiga tindak begitu juga dengan Thian-long-cu.
“Siapa yang berani membunuh calon muridku?” jengak marah Thian-long-cu.
Di belakngnya berdiri Bi-sianli sambil tersenyum licik. Sebenarnya Thian-long-cu ketika bergebrak dengan Bi-sianli tadi juga mendengar percakapan Yang-pangcu dengan puterinya. Mukanya tambah merah mendengar calon muridnya mati di tangan seorang gadis kecil. Ia sendiri lalu menghentikan bertarungnya dan langsung menyerang ke arah tubuh Kwat Lin dengan serangan sinkang dari jarak jauh. Namun serangannya gagal akibat ditolak oleh sinkang lawan yang lebih tangguh.
“Apakah pemuda ini benar-benar calon muridmu?” tanya balik Yang-pangcu.
“Kalian telah membunuh calon muridku. Darah harus dibayar dengan darah!” baru saja ucapannya selesai ia sudah melejit menyerang Yang-pangcu. Kali ini ia tahu bahwa dihadapannya adalah tokoh hebat dari Kim-liong-pay sehingga dalam serangan pertama saja sudah memilih serangan yang paling hebat. Sebentar kemudian mereka sudah terlibat dalam pertarungan yang seru. Berkali-kali terdengar suara menggereng ala seriga. Paling berbahaya dari serangan Thian-long-cu adalah ilmu cakarannya yang mengandung racun. Sehingga Yang-pangcu tidak berani dekat-dekat dengan serigala tua ini. Yang-pangcu memilih menggunakan ilmu Sin-hong Sin-kang (Tenaga Sakti Angin Sakti) yang sudah dilatihnya sampai tingkatan ke lima.
“Thian-long-cu aku akan membantumu mencekik gadis pembunuh calon muridmu itu!” teriak Bi-sianli yang langsung melayang menerjang Kwat Lin. Kali ini Kwat Lin sudah siap sehingga dalam terjangan pertama ia bisa meloloskan diri dari pukulan lawannya. Dalam sekejap juga sudah terjadi pertarungan seru antara gadis muda yang cantik melawan wanita setengah baya namun cantik juga.
Tiba-tiba saja Bi-sianli meloncat ke belakang sekitar lima meter dari Kwat Lin. Setelah melihat lawannya walaupun masih kecil tapi mampu mengimbangi ilmunya. Ia lalu meloncat ke belakang untuk melontarkan pukulan jarak jauh yang jarang ia gunakan.
“Blukkkkk!!!!!!” terjadi sesuatu yang aneh.
Tubuh Lie Yang yang sudah tidak bernyawa itu tiba-tiba saja melayang menghalangi pukulan jarak jauh Bi-sianli. Melihat ada orang mati bisa melayang seperti ini kontan saja Bi-sianli menjerit lari ketakutan. Karena bagaimana pun juga ia masih dibilang seorang manusia yang tidak mungkin tidak mempunyai rasa takut melihat ada orang mati bisa melayang seperti terbang. Tubuh Lie Yang melayang tanpa bergerak seperti digerakkan oleh orang lain. Tubuh mayat Lie Yang yang terkena pukulan jarak jauh dari Bi-sianli terlempar menabrak tubuh Kwat Lin. Tanpa kontrol lagi tubuh Kwat Lin juga ikut terjatuh tertimpa mayat Lie Yang.
“Ah…ka…kau!” teriak Kwat Lin ngeri melihat mayat Lie Yang bisa melayang seperti hantu getayangan. Setelah berteriak ngeri seperti itu, tiba-tiba saja matanya tampak terasa gelap sehingga membuatnya terkulai pingsan.
Baru saja keduanya pingsan tidurkan diri. Dari belakang terdengar suara seseorang. “Hong Hou-hoat silakan bertahan dulu, aku akan mebawa dua pemuda ini ke tempat yang aman! Aku akan datang sebentar lagi!”. Belum selesai bicara, seorang laki-laki bertopeng emas lainnya sudah melayang dengan menggunakan ginkangnya yang tinggi menyambar dua tubuh Kwat Lin dan Lie Yang.
Sekitar setengah jam kemudian setelah dua tubuh muda-mudi itu hilang disambar orang bertopeng emas. Pertandingan antara Yang-pangcu dengan Thian-long-cu sudah mengendor dan selesai setelah Thian-long-cu melarikan diri. Yang-pangcu geleng-geleng kepala sambil melihat Thian-long-cu pergi secepat serigala. Lalu ia mencoba untuk mengobati tiga orang yang menggeletak tidak sadarkan diri. Setelah menunggu lama, ternyata Uh Hou-hoat tidak juga muncul, padahal sinar matahari mulai pudar ditelan kegelapan.
Lalu Yang-pangcu mengambil pedang Chi Lam dan menggores beberapa pesan untuk Uh Hou-hoat di beberapa batang pohon di tempat itu. Pohon yang ditulisi diikat dengan kain berwarna emas. Lalu ia mengangkat satu persatu tubuh tiga orang pingsan itu ke atas kuda yang masih ditambatkan di tempat itu. ia akan membawa tiga orang yang luka berat ini naik ke pegunungan Siong-san untuk meminta pertolongan perawatan di Siauw-lim-sie sambil menunggu kedatangan Uh Hou-hoat di sana.
<><><><><>()<><><><><>
V- Chapter Lima; Bie Hun Tok (Racun Pemabuk Sukma)
Terdengar suara air menetes dari dalam sebuah gua di dalam hutan pegunungan Siong-san. Gua itu panjang sekali sehinga suara tetesan air itu tidak sampai terdengar dari luar, namun suara tetesan itu terdengar merdu di dalam gua itu. saking dalamnya sampai gua itu bisa menembus ke dalam perut salah satu pegunungan Sing-san. Walaupun daerah gua ini jauh dari pusat Siauw-lim-sie, tetapi masih satu daerah dengan partai besar persilatn ini. Gua yang gelap itu mempunya dua lorong, satu lorong menembus ke belakang gunung yang dipenuhi jurang lebar dan sebuah lorong panjang dengan akhir buntu oleh batu. Di dalam lorong buntu yang hanya mempunya lebar dua meter ini terbujur dua tubuh seorang muda-mudi. Tubuh dua muda-mudi itu adalah Lie Yang dan Kwat Lin yang masih pingsan. Sudah lama sekali mereka masih belum sadar. Suara tetesan air yang terdengar dari tengah gua terdengar juga dari ruangan dimana tubuh Lie Yang dan Kwat Lin berada.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan seperti orang sedang kesakitan dari mulut Lie Yang. Ternyata Lie Yang yang tadinya dikatan telah mati saat ini masih hidup. Wajahnya tampak merah tidak pucat lagi. Aneh bin ajaib orang pemuda ini. Pernapasannya yang tadi sudah berhenti ternyata sudah normal kembali, malahan terdengar berdetak semakin cepat. Ia mencoba bangun setelah sadar dari kematian. Matanya melihat ruangan yang gelap, tidak bisa melihat apa pun. Tangannya meraba kesana-kemari dan ternyata tidak menemukan apa-apa hanya jerami kering dengan batu keras sebagai landasannya. Tiba-tiba saja ia seperti tersentak kaget ketika tangnnya merabah sesuatu yang lembut. Ia mencoba memberanikan diri dna ternyata ia meraba kaki Kwi Lan. Ia tidka tahu siapa yang tertidur rebah di sampingnya, hanya saja ia meraskan bau harum dari tubuh yang disentuhnya. Lalu ia meraba ke atas lagi dan tanpa sengaja tangannya meraba sesuatu yang kenyal. Bukan main kagetnya ketika ia menyentuh bagian penting Kwi Lan. Tangannya seperti terkena patukan lar sehingga buru-bur ia cabut.
“Seorang perempuan! Siapakah dia?” tanyanya sendiri.
Lalu ia mencoba meraba-raba tempat yang lain berharap mendapatkan sesuatu yang dicarinya. Akhirnya ia mendapatkan juga dua batu untuk membuat api. Dengan agak sempoyongan karena badannya sepertinya sangat lemah tidak bertenaga ia berjalan mengumpulkan jerami di pojok ruangan. Setelah terkumpul ia bisa mencoba membuat api lewat percikan api dari benturan dua batu itu. Entah berapa kali ia telah mencoba, namun selalu gagal. Lalu tiba-tiba saja ingat sesuatu di dalam kantong dompet uang yang ada di dalam bajunya. Di sana terselip sepotong kayu bambu seukuran jari tangan. Tiba-tiba ia tersenyum senang, karena bambu itu adalah semacam korek api pada zaman itu.
Setelah menyulut korek api itu akhirnya ia berhasil membuat api ungun yang dapat menerangi seisi ruangan. Ternyata di pojok ruangan yang lainnya ia mendapatkan tumpukan kayu kering yang sudah ditumpuk rapi. Di keempat ruangan itu juga ada obor sebagai penerang ruangan. Setelah memriksa dnegan jelas, ia mendapatkan bahwa ruangan ini ternyata tidak ada jalan keluarnya. Ruangan tertutup, walaupun ia bisa mendengar suara tetesan air, namun terhalang tembok.
Lalu ia menatap tubuh Kwat Lin yang tergolek di depannya. Ia kenal siapa gadis muda ini. Seorang gadis yang sudah diketahui namanya dan mendapatkan ruang khusus di dalam hatinya. Gadis yang cantik dan pandai ilmu silatnya. Wajah Kwat Lin juga tampak memerah. Wajah itu terlihat semakin cantik. Lalu tiba-tiba matanya menatap sebuah tulisan dari kepur di tembok belakang kepala Kwat Lin.
Lie Yang kalau kamu sudah bangun, sebaiknya berdiam dulu di dalam gua ini bersama Yang Kwat Lin. Jangan keluar sebelum racun kalian berdua hilang. Biarkan segalanya terjadi, ikuti kehendak kalian dan jangan cemas karena itulah penawar racun yang berdiam pada diri kalian. Kalau kalian melawan kehendak diri sendiri, maka racun itu akan menewaskan kalian berdua. Tidak ada obat penawar bagi racun ini kecuali mengikuti kehendak hati kalian.
Setelah sembuh, kalian boleh masuk ke ruangan sebelah dalam melalui obor yang berada di pojok ruangan. Di dalam ruangan dalam itu ada beberapa kitab ilmu silat yang sengaja kutinggalkan supaya kalian melatihnya dan baru boleh keluar dari gua ini.
Kami orang tua menyetujui perjodohan kalian dan jadilah suami-istri yang baik!
Uh Hou-hoat dan Hong Hou-hoat
Bingung juga Lie Yang setelah membaca tulisan itu, apalagi tulisan terakhir. Belum sempat ia menyelami maksud tulisan itu telinganya sudah mendengar suara rintihan dari mulut Kwat Lin. Sekuat tenaga Lie Yang mencoba menyeret tubuhnya mendekati tubuh Kwat Lin.
“Nona Lin, apakah kamu sudah sadarkan diri? Bagaimana keadaanmu saat ini?” tanya Lie Yang khuwatir. Lalu ia mencoba mengangkat kepala Kwat Lin yang masih merintih-rintih kesakitan.
Dua mata Kwat Lin terbuka pelan-pelan setelah Lie Yang berhasil memangkunya.
“Ka…u kau masih hidup?!!” tanya Kwat Lin kaget hampir menjerit ketakutan kalau mulutnya tidak ditutup oleh tangan Lie Yang.
“Jangan banyak bergerak dan bicara, lebih baik coba pulihkan dulu tenaga baru boleh bicara!” bisik Lie Yang ke telinga Kwat Lin.
Lalu Kwat Lin yang memang penurut mengikuti arahan Lie Yang tanpa bertanya atau bicara apapun. Kedua matanya terpecam mencoba mengerahkan sinkang dari tubuhnya. Namun usahanya gagal tanpa diketahui kenapa dan apa yang terjadi. Selain lemah karena tenaganya habis juga darahnya terasa panas membara.
“Bagaiman? Apakah bisa memulihkan tenaga?” tanya Lie Yang seperti orang berbisik saking lemahnya.
“Aneh! Tenagaku dalamku seperti hilang semuanya, tubuhku terasa begitu lemah!” jawab pelan Kwat Lin.
“Tempat apakah ini? Dan bagaiman kita bisa di sini? Dan bagaimana kamu bisa hidup kembali?” Kwat Lin meberondong pertanyaan kepada Lie Yang sambil mencoba duduk bersandar dinding gua.
“Entahlah! Aku sendiri tidak tahu tempat apakah ini dan siapa yang membawa kita ke sini. Hanya tulisan-tulisan di dinding itulah yang dapat kutemukan di tempat ini!” jawab Lie Yang sambil memejamkan mata.
Kwat Lin membaca tulisan itu dan tampak wajahnya semakin memerah entah apa yang dipikirkan bocah ini.
“Mungkin Uh Hou-hoat yang menulis tulisan ini. Sepertinya kita terkena racun dari iblis Bi-sianli tadi pagi! Entah racun apakah yang dapat membuat tenaga dalam menjadi musnah dan tanpa penawar itu?” kata Kwat Lin.
“Bagaimana menurut nona tentang tulisan terakhir itu?” tanya Lie Yang ingin tahu bagaiman pendapat Kwat Lin.
Tulisan yang dimaksud oleh Lie Yang adalah ‘Kami orang tua menyetujui perjodohan kalian dan jadilah suami-istri yang baik!’. Tambah merah wajah Kwat Lin mendengar pertanyaan Lie Yang.
“Lin-moi (Adik Lin) sebenarnya sejak pertama kali melihatmu, aku sudah tertarik kepadamu. Kalau persetujuan orang itu bisa kamu terima, alangkah senangnya diriku! Aku yakin perkataan terakhir ini mempunyai hubungan dengan tulisan di atasnya, bahkan kemungkinan mempunyai hubungan dengan racun yang mengeram di dalam diri kita.” kata Lie Yang mengerahkan kekuatannya untuk berbicara.
“Mungkin… kalau memang ayah dan Uh Hou-hoat memberi pesan dan persetujuan seperti itu mungkin ada baiknya aku menerimanya. Asalkan dengan syarat jika tulisan ini bukan dibuat oleh dua orang yang kuhormati ini, aku tidak sudi lagi menjadi istrimu!” perkataan ini terdengar pelan sebagai penyerahan segala jiwa Kwat Lin dan terasa tergetar. Maklum urusan pernikahan bagi seorang perempuan yang masih berumur enam belas tahun seperti Kwat Lin masih sangat tabu. Sehingga sangat malu ia berkata seperti itu.
Tidak perlu ditanya lagi kenapa Kwat Lin berani menerima begitu saja pernyataan dari tulisan di dinding itu. bukan lain karena sebenarnya sejak awal ia juga telah menaruh hati pada Lie Yang, begitu juga sebaliknya. Cinta tumbuh begitu cepat dan singkat di hati dua pemuda itu, padahal umur mereka baru belasan tahun. Memang benar apa yang dikatakan para pujangga, bahwa awal dari munculnya cinta adalah dari mata atau saling pandang memandang.
Senang sekali hati Lie Yang mendengar pengakuan Kwat Lin yang sudah tidak sabar ditunggunya. Seperti ada kekuatan dahsyat yang menarik Lie Yang sehingga tanpa dirasanya ia sudah mengesot ke arah Kwat Lin. Ditatapnya wajah yang bersemu merah dalam keadaan menunduk karena malu itu.
“Lin-moi aku Song Lie Yang bersumpah atas saksi Tuhan Yang Maha Suci, saat ini juga aku mengaku engkau Yang Swat Lin sebagai istri tercintaku. Apakah engaku menerima pengakuanku ini?” kata Lie Yang dengan lantang mengerahkan tenaga yang tersisa.
“Aku Yang Kwat Lin bersaksi kepada Tuhan Yang Maha Suci mengatakan bahwa mulai detik ini telah menjadi istri dari Song Lie Yang dengan resmi!” jawab Kwat Lin lantang juga.
“Hahaha…begitu ajaib keadaan kita ini. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa aku akan mendapatkan istri yang begini cantik dan menyenangkan sepertimu Lin-moi!” kata Lie Yang tertawa senang. Kwat Lin hanya tersenyum melihat kelakuan Lie Yang yang seperti anak kecil.
“Aduh…!!!!” tiba-tiba terdengar suara Lie Yang mengaduh kesakitan. Terasa badannya tiba-tiba saja dijalari hawa panas. Semua tubuhnya tampak memancarkan hawa panas yang membuat tubuhnya kegerahan. Kwat Lin tampak kaget dan khuwatir melihat Lie Yang mengaduh-ngaduh kesakitan sampai pemuda ini menggelinjang-ngelinjang seperti cacing kepanasan. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi merah membara.
“Apakah yang sakit Yang-twako? Di mana yang sakit?” tanya Kwat Lin terisak-isak tidak tega melihat suami barunya mengeliat-liat seperti itu.
“Panas! Panas… mo-moi!” teriak Lie Yang dengan parau.
“Aduh …!!! Badanku juga tiba-tiba panas! Panas…panas.. aduh…!!” tiba-tiba Kwat Lin terkulai mengeliat-liat kepanasan seperti Lie Yang.
Dua pemuda yang telah menjadi suami-istri secara ‘kebetulan dan mendadak’ itu menggelita-liat seperti orang kepanasan. Wajah dua pemuda itu tampak merah seperti kepiting rebus. Saking tidak tahannya menahan panas dari dalam tubuhnya, Lie Yang lalu merobek-robek bajunya sehingga dalam sekejab saja tubuh atasnya sudah telanjang dada. Kwat Lin juga mengerang-ngerang kepanasan, sampai bajunya juga tanpa diketahuinya sudah terkoyak-koyak. Sehingga tampak kulitnya yang putih memerah akibat hawa panas yang berlebihan. Beberap menit kemudian hawa panas yang baru menyerang mereka sudah berangsur-angsur menghilang, namun terjadi keanehan setelah hawa panas ini hilang. Terdengar rintihan halus dari dua pemuda itu.
Walaupun hawa panas sudah banyak hilang, namun masih menyiksa dua orang ini. Keajaiban yang baru datang itu adalah mereka merasakan kekuatan mereka menjadi bertambah sehingga mereka bisa duduk bersandar dinding. Tanpa sengaja tangan Lie Yang sudah menggenggam erat tangan Kwat Lin sambil menahan gerah. Lie Yang menoleh ke arah wajah istrinya yang tampak lebih cantik.
“Bagaimana keadaanmu Lin-moi? Apakah engkau merasakan ada yang aneh dengan tubuhmu?” tanya Lie Yang terbata-bata. Kwat Lin hanya menjawab dengan nafasnya yang semakin terdengar aneh. Nafasnya juga terasa semakin memburu. Ia memjamkan mata ketika meraskan tangan Kwat Lin meremasnya dan ia juga meremas tangan istrinya itu. Sekelebat maksud tulisan-tulisan yang ada di dinding berhasil ia pahami. Ternyata rasa aneh itu adalah keinginan untuk menyalurkan keinginan biologis yang biasa diperbuat oleh seorang yang sudah menjadi suami-istri. Racun yang dideritanya kemungkin semacam racun perangsang sehingga membuat orang terangsang.
Remasan tangan Lie Yang tidak hanya berkutit pada tangan Kwat Lin istrinya, namun lama kelamaan merambat ke atas. Lalu ia merebahkan tubuh Kwat Lin yang sedang empas-empis aneh. Kwat Lin menurut sambil memjamkan matanya. Pikirannya sudah tidak terkontrol lagi. Tiba-tiba ia merasakan ada benda basah menyentuh bibirnya. Ketika ia membuka mata, ia melihat bibir Lie Yang sudah mengecup bibirnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ciuman ini mendatangan rasa nikmat dan lega. Siksaan-siksaan rasa panasnya sepertinya hilang. Saat ini ia hanya merasakan rasa nikmat yang belum pernah diraskannya sebelumnya. Perlahan tapi pasti Lie Yang sudah membuka semua baju Kwan Lin dan menikmati tubuh istrinya.
Entah berapa lama sudah mereka tenggelam dalam lautan asmara yang menggelora seperti ombak lautan? Ruangan itu tampak sepi dan gelap, hanya suara desahan dua pemuda yang baru menikmati malam pertama saja terdengar menyenangkan. Setelah bermain asmara entah berapa jam, mereka lalu tertidur pulas tanpa pakaian sama sekali. Rasa lelah karena melawan racun dan melakukan hubungan jasmaniah membuat mereka benar-benar kelelahan sampai tertidur pulas.
<><><><><>()<><><><><>
Lie Yang terbangun dari tidur lelapnya. Api yang menerangi gua sudah padam tanpa bekas, menandakan bahwa ia dan Kwat Lin tidur cukup lama. Saking gelapnya, sampai tangan sendiri tidak terlihat. Namun ia merasakan badannya terasa segar dan bertenaga. Semua tenaganya sudah pulih dan rasa panas yang dideritanya tadi sudah hilang sama sekali. Lalu ia mencoba berjalan pelan mencari korek api dari bambu yang ditinggalkannya di sebelah pojok kiri ruangan. Sebentar kemudian ia telah mendapatkan korek api itu dan sambil meraba-raba ia mencoba mencari obor di pojok ruangan.
Setelah menyalakan obor, ruangan menjadi terang sehingga ia bisa melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Ia melihat Kwat Lin tertidur dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali, lama sekali ia terbelalak melihat tubuh yang halus itu. Lalu pandangannya beralih ke dirinya sendiri. Kali ini ia baru merasakan apa itu ‘malu’, karena dirinya juga berdiri dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali. Baru saja ia mau meraih bajunya yang ada di dekat tubuh istrinya, Kwat Lin sudah terbangun dengan sorot mata mengandung kekagetan.
“Aihh. Dasar tidak tahu malu!” tiba-tiba Kwat Lin menjerit sambil menutup matanya dengan telapak tangannya, ketika melihat tubuh Lie Yang.
“Hahaha… lihat dirimu sendiri, apakah engkau mau mencela dirimu sendiri?” jawab Lie Yang tertawa renyah melihat kelakuan Kwat Lin yang lucu.
Kwat Lin dengan gerkan reflek langsung mengambil bajunya dan memakai sekenanya dengan risih melihat mata suaminya menatapnya dengan buas. Sambil tertawa Lie Yang terus memandangi Kwat Lin. Setelah selesai memakai baju tiba-tiba saja sorot mata Kwat Lin menjadi tampak beringas. Ia marah melihat kelakuan Lie Yang seperti itu. lalu ia menyerang mencoba memukul ke arah dada Lie Yang.
“Eh, apakah engkau ingin membunuhku sekali lagi seperti kemarin?” tanya Lie Yang sambil tersenyum. Seketika tangan Kwat Lin menjadi lemas seperti tidak bertenaga. Memang sangat kasar sifat Kwat Lin, namun sekasar apapun seseorang, kalau sudah bisa dijinakkan akan menurut juga.
“Pakai dulu bajumu, kalau tidak aku tidak mau melihatmu barang sedikit pun!” kata Kwat Lin merajuk. Lalu ia membalikkan badannya menghadap tembok.
Lie Yang mengambil bajunya dan memakainya. Setelah selesai memakai, Kwat Lin sudah mau melihatnya. Kali ini Kwat Lin melihat Lie Yang dengan ngikik, entah apa yang ditertawakannya. Lie Yang juga ikut tertawa senang melihat Kwat Lin tidak cemberut marah lagi.
“Bagaimana keadaanmu sekarang, Lin-moi? Apakah engkau merasa lapar?” tanya Lie Yang yang sudah merasa lapar sejak tadi. Perutnya berkali-kali berkeruyuk seperti ayam jago sedang kelaparan.
Kwat Lin hanya menganggukkan kepala dan maju berjalan ke arah Lie Yang. Lalu ia memeluk Lie Yang dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. “Aku lapar, apa kita tidak bisa keluar mencari makanan?”.
“Lebih baik kita masuk ke ruangan dalam semoga di sana kita bisa menemukan makanan!” jawab Lie Yang sambil berharap ada makanan di dalam ruangan sebelah dalam.
Ia berjalan ke arah pojok sebelah kanan ruangan dan menggerakkan beebrapa kali obor, namun tetap tidak ada sesuatu yang berubah. Kwat Lin juga sudah mencoba obor-obor yang lainnya. Menurut pengetahuan Lie Yang yang pernah membaca beebrapa cerita tentang gua-gua rahasia, seharusnya salah satu obor itu bisa membuka pintu ruangan dalam. Namun usahanya gagal, beberapa kali ia memutar ke kanan dan kiri, bahkan mengangkat obor itu tetap ruangan tidak berubah sama sekali.
Ia mencoba meneliti keadaan obor-obor itu. diantara ke empat obor yang ada di ruangan itu, hanya satu obor yang tampak berbeda dengan lainnya. Seandainya ia tidak melihatnya dengan teliti, kemungkinan ia tidka akan bisa menemukan perbedaan itu. Satu obor yang ada di sebelah kanan di atas tempat tidurnya memiliki tempat obor bersegi empat, sedangkan lainnya hanya berbentuk bundar agak menyerupai segi empat. Bentuk segi empat pada tempat obor ini lebih sempurna dari pada lainnya. Lalu ia mencoba menekan tempat obor ke dalam, bukan memutar obornya saja. Tiba-tiba terdengar suara bergemuru seperti suara batu runtuh.
Tembok yang ada tulisannya tiba-tiba membelah jadi dua. Sambil membawa obor di tangan kanan dan tangan kirinya menggandeng Kwat Lin, ia memimpin memasuki ruangan dalam. Setelah ia masuk, tiba-tiba dinding yang membelah itu menutup kembali. Sambil membawa obor Lie Yang maju terus menelusuri lorong yang tampak panjang sekali. Lorong yang tadinya gelap setelah berjalan entah berapa lama, nyatanya semakin terang. Sepertinya ada cahaya matahari di ujung lorong ini, walaupun terlihat remang-remang.
“Panjang sekali terowongan gua ini! Apakah kita salah masuk?” kata Kwat Lin.
“Entahlah, kita lihat dulu ada apa di ujung terowongan sana! Sepertinya ada cahaya matahari.”
Lie Yang dan Kwat Lin maju terus menelusuri terowongan yang hanya mempunya lebar setengan meter itu. terlalau sempit untuk dilalui oleh dua orang dengan berjalan berdua, sehingga Kwat Lin hanya bisa berjalan di belakang Lie Yang. Berkali-kali terlintas rasa heran sekaligus bangga terhadap Lie Yang. Ia tidak mengira bahwa suaminya yang lemah tidak bisa silat mempunyai ketabahan dan keberanian seperti singa. Sedangkan dirinya yang sudah kenyang malang-melintang di dunia kang-ouw saja merasa ngeri. Sebenarnya Kwat Lin tidak tahu sosok manusia yang berjenis ‘laki-laki’ kalau sudah mempunyai tanggung- jawab dan perhitungan mantap, maka segalanya akan dijalani dengan berani. Apalagi kalau di dalam hati ‘laki-laki’ sudah muncul rasa ingin melindungi seorang yang di sayangi, maka medan apapun tidak akan membuatnya gentar atau takut.
Benar saja, setelah berada di ujung terowongan, mereka lalu membelok ke kiri dna di sanalah mereka mendapati ruangan yang sangat luas. Sepuluh lipat luasnya dari ruangan yang pernah mereka tempati sebelumnya. Ruangan itu mempunyai dua kamar sebesar ruangan di luar. Di ujung ruangan itu ada dua lorong yang sepertinya menghubungkan ke dunia luar. Lorong pertama terlihat ada cahaya matahari, sedangkan lorong ke dua terdengar suara air terjun. Cahaya yang dipantulkan dari lorong pertama dapat menerangi seluruh ruangan besar ini. Banyak sekali peralatan yang terdapat di ruangan ini, walaupun terlihat sudah lama tidak disentuh orang. Setelah memeriksa lorong pertama, Lie Yang mendapatkan bahwa di dalam lorong itu terdapat ruangan yang luas juga. Cahaya matahari ternyata keluar dari sela-sela dinding gua yang ada di atas. Tampak terlihat langit yang begitu indah. Cahaya matahari itu memancar dari sel-sela dinding atas gua yang hanya sebesar 20 cm dengan panjang sampai belasan meter. Di pojok-pojok dinding ruangan ini dihuni oleh sarang burung walet, ada puluhan sarang bergelantungan di tembok-tembok. Sarang-sarang itu dibuat di celah-celah dinding yang tidak terkena pantulan langsung cahaya matahari.
“Akhirnya kita bisa menemukan makanan yang enak!” kata Lie Yang girang.
“Mana?” tanya Kwat Lin tidak mengerti.
“Itu! Telur burung-burung itu dapat kita makan, juga air liurnya dapat kita jadikan sup sarang walet yang dapat menguatkan daya tubuh!” kata Lie Yang menjelaskan. Kwat Lin menjadi girang juga. Tiba-tiba perutnya terdengar berkeruyuk.
“Kamu di sini mengambil telur-telur burung itu yang sepertinya baru mulai musim bertelur, sedangkan aku akan memeriksa lorong ke dua!” kata Lie Yang dan meninggalkan Kwat Lin yang tampak sedang mencari akal bagaimana dapat mengambil telur-telur di sarang walet yang jauh dari jangkauannya.
Di lorong ke dua, tempatnya tida jauh berbeda dengan lorong pertama, namun di sini terdapat aliran air yang turun dari atas puncak gunung. Aliran air yang turun melalui celah-celah dinding gua cukup deras sehingga sampai menggenangi di dadar gua. Lorong ke dua ini bisa dikatakan sebagai tempat mandi. Di tempat ini banyak ditemui jamur-jamur yang bisa dimakan. Di beberapa celah dinding gua ini juga dapat ditemui sarang walet, bahkan lebih banyak dari gua ke dua. Mungkin karena gua ini lebih gelap dan ada airnya sehingga banyak burung walet lebih senang membuat sarang di tempat ini.
Setelah puas memeriksa dua gua, ia mencoba memeriksa dua kamar yang ada di dalam ruangan besar. Satu kamar kosong, tidak ada barang sedikitpu hanya kursi dari batu dan tempat tidur. Sebaliknya di kamar ke dua, banyak sekali ditemukan barang-barang, termasuk beberapa setail baju dari kain kasar yang masih baik. Ada beberapa buku di atas meja di tengah, sebentar kemudian Lie Yang sudah membuka-buka beberapa lembar dari lima buku itu. Ternyata buku itu ada buku ilmu silat yang sengaja ditinggalkan oleh Uh Hou-hoat kepada mereka. Lie Yang hanya sebentar saja membuka buku-buku itu dan meningglkannya, karena matanya melihat tulisan di tembok.
Hiduplah di tempat ini dengan tenang sambil mempelajari lima buku ilmu silat yang kutingglkan. Racun Bie Hun Tok (Racun Pemabuk Sukma) milik Bi-sianli sangat berbeda dengan racun yang lainnya. Walaupun sudah berhasil mengobati dengan berhubungan suami-istri, namun racun itu masih belum bisa ditawarkan secara bersih. Masih ada sisa racun yang mengerang di tubuh kalian, aku berharap kalian bisa mengobati sendiri dengan pelan-pelan dengan KETENANGAN dan OLAH RAGA melalui bersilat. Di tempat ini makanan bisa tercukupi untuk kalian dan jangan terlalu mengkhawatirkan keluargamu, karena kami berdua akan melindunginya.
Salam, Uh Hou-hoat dan Hong Hou-hoat.
Lie Yang menghela nafas panjang. Entah berapa lama ia akan berdiam diri di tempat ini. Apakah hanya karena mendapatkan racun saja, sehingga mereka harus berdiam di tempat sepi seperti ini. Begitulah ia berpikir dnabertanya-tanya pada dirinya sendiri. Termasuk siapa sebenarnya Uh Hou-hoat dan Hong Hou-hoat yang telah membantunya. Siapa sebenarnya istrinya, ia sendiri tidak begitu mengerti hakikatnya, namun rasa cinta dan kasih sayang tidak mengenal usia, waktu, setatus dan lain-lainnya. Cinta hanya mengenal apa artinya sebuah PENGORBANAN, TANGGUNG JAWAB, dan SALING MENGHORMATI. Setidaknya itulah yang sedikit dimengerti oleh Lie Yang untuk saat ini.
“Apa yang sedang engkau pikirkan, Yang-twako?” di pintu sudah berdiri Kwat Lin dengan sorot mata tajam.
“Tidak! Apakah engkau sudah mendapatkan telur-telur burung itu?” tanya Lie Yang sambil memaksakan dirinya untuk selalu tersenyum, padahal hatinya tidak tentram.
Kwat Lin membuka dua tangannya yang mengenggam beberapa telur burung walet. Lie Yang tertawa melihat telur-telur yang ada di genggaman Kwat Lin. Sedangkan Kwat Lin memonyongkan mulutnya seperti mengejek atau sedang jengkel karena ditertawai oleh Lie Yang.
“Cuma lima butir, mana bisa mengenyangkan perut kita berdua!?” kata Lie Yang yang lalu mengajak Kwat Lin masuk ke gua ke pertama.
“Habis sarangnya mereka begitu jauh, mana ginkangku bisa mencapai langit-langit gua sana?” kata Kwat Lin penasaran karena merasa disalahkan oleh Lie Yang.
“Sudah baik engkau bisa mendapatkan lima telur, kalau tidak kan lebih mengecewakan!” jawab Lie Yang sambil tertawa.
“Memangnya engkau bisa mendapatkan telur itu, walau sebutir saja. Dasar laki-laki tidak tahu diri. Sudah tidak mampu mengambil, masih mengolok-ngolok orang lain!” kata Kwat Lin merajuk.
Kwat Lin tanpa tidak langsung mengatakan bahwa Lie Yang adalah laki-laki lemah, namun sok hebat dan pandai.
“Maafkan aku kalau perkataanku tadi membuatmu marah! Baiklah, kalau engkau menganggap suamimu ini seorang yang lemah, maka laki-laki di dunia ini lebih lemah lagi. Apakah mau taruhan denganku?” kata Lie Yang sambil mengedip-ngedipkan mata kirinya.
“Bertaruh bagaimana?” tanya Kwat Lin.
“Bertaruh setiap telur mendapatkan ciuman sekali, bagaimana?” jawab Lie yang masih dengan bermain mata.
“Masakan kamu bisa terbang ke sana atau merayap seperti tokek? Baik! Aku akan mengganti setiap telur dengan apa yang engkau inginkan.” Jawabnya agak jengah. Ia sengaja tidak menjawab dengan kata-kata ‘mencium’ karena kata itu terlalu memalukan buatnya.
“Lihat baik-baik aku akan terbang seperti burung-burung walet itu!” kata Lie Yang dan tiba-tiba saja badannya melayang tanpa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Pucat wajah Kwat Lin melihat adegan mengejutkan seperti ini. Hampir ia tidak percaya bahwa Lie Yang yang dianggapnya sangat lemah, bahkan membunuh lalat saja tidak bisa, bisa terbang seperti burung. Mulutnya terkunci tidak bisa mengelurkan apa-apa, sedangkan matanya melotot seperti melihat setan.
Lie Yang melayang-layang dengan ginkang sempurna. Pelan-pelan ia memeriksa satu persatu sarang burung-burng walet dan mengambil telurnya satu-satu sehingga burung walet itu tidak kehilangan banyak telurnya. Lalu ia turun di hadapan Kwat Lin yang memandangnya dengan mata terbelalak lebar.
“Eh! Apa yang engkau lihat?” tegur Lie Yang kepada istrinya.
“Kamu..kamu…Yang-twako??!!” katanya terbata-bata seperti orang tercekik tidak mampu berbicara.
“Nanti aku jelaskan semuanya, yang terpenting adalah aku sudah bisa mengumpulkan tiga puluh lima telur, sekarang mana ganti ruginya?” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Kwat Lin menundukkan kepalanya saking malunya. Kwat Lin tidak bisa menjawab lagi permintaan Lie Yang.
“Ah, kalau kamu seperti itu bagaimana aku bisa menciummu. Kalau begitu tidak jadi saja!” kata Lie Yang pura-pura jengkel dan kecewa. Lalu ia meninggalkan Kwat Lin sendirian menyesali nasibnya.
Di ruangan tengah Lie Yang sudah mulai memasak telur-telur burung walet. Untung saja di gua yang besar ini terdapat juga alat masak yang lengkap, bahkan ada beberapa bumbu masakan. Tidak sia-sia Lie Yang belajar memasak dari beberapa pembantunya di rumah selama ini, sehingga menghadapi masalah hidup saat ini tidak begitu berat. Walaupun tidak ada berasa, dengan memakan telur dan beberapa jamur yang bisa diambil dari gua ke dua sangat cukup untuk mengisi perut dua orang. Sambil bersiul-siul dan membaca puisi seperti biasanya, ia memasak telur-telur burung dan jamur-jamuran. Sedangkan Kwat Lin masih tidak mau keluar dari gua pertama sejak tadi. Lie Yang heran sekali, kenapa Kwat Lin tidak juga keluar-keluar padahal masakannya hampir matang.
Ia meninggalkan masakannya menuju gua pertama untuk melihat apa yang dilakukan oleh Kwat Lin. Kwat Lin ternyata sedang menangis terisak-isak di atas batu pinggir gua. Lie Yang benar-benar tidak mengerti kenapa Kwat Lin menangis, padahal seingatnya ia tidak merasa menyakiti hatinya. Ia benar-benar tidak mengerti sebenarnya bagaimanakah hati seorang perempuan.
“Lin-moi, kenapa menangis, kalau aku punya salah engkau boleh memukulku sampai mampus!”
Kwat Lin diam saja tidak menjawab perkataan Lie Yang. Malahan ia semakin terisak sedih.
“Ada apakah Lin-moi, kenapa masih menangis? Kalau ada apa-apa bisa dibicarakan dengan baik-baik!”
“Apa salahku kepadamu, sehingga engkau berani mempermainkanku dan membohongiku?” isak Kwat Lin.
Lie Yang duduk di sampingnya sambil memegang pundaknya.
“Maafkan aku, Lin-moi. Bukan maksudku untuk membohongimu. Saat itu ada beberapa hal yang tidak mungkin dapat kujelaskan kepadamu. Kalau engkau masih penasaran denganku, engkau boleh bertanya dan aku tidak akan mengelak lagi!”
Kwat Lin melihat wajah Lie Yang dengan sungguh-sungguh seperti ingin menjenguk hati suaminya.
“Benarkah engkau tidak punya kemampuan apa-apa, sehingga dahulu sekali pukul saja engka sudah….?” tanyanya sambil memotong beberapa perkataannya yang sudah dapat dipahami oleh Lie Yan.
“Hakikatnya kita adalah manusia yang lemah, Lin-moi. Kalau orang bisa bersilat engkau anggap sebagai orang hebat, maka itu salah. Terus terang saja, sejak umur sepuluh tahun aku sudah diajari silat oleh seseorang yang sampai sekarang belum kuketahui siapa namanya atau bagaimana wajahnya. Memang semua orang yang mengenalku belum tahu tentang rahasia ini, engkau adalah orang pertama yang tahu tentang rahasiaku ini. Ayah-ibu atau teman-teman lainnya pun tidak tahu. Kenapa waktu itu aku bisa tidak melawan ketika engkau pukul, bukan karena aku ingin mempermainkanmu atau membohongimu. Aku sudah terlanjur berjanji kepada pengajarku untuk tidak menggunakan ilmu ini kalau tidak menghadapi keadaan yang sangat berbahaya. Bahkan kalau aku menggunakan kepandainku, aku dilarang mengeluarkannya secara terang-terangan. Kata pengajarku, bahwa kepandaianku baru boleh diperlihatkan kepada orang lain, ketika pengajarku memberi izin. Sampai sekarang pun sebenarnya aku masih belum diperkenankan untuk mengeluarkan kepandaianku kepada orang lain. Aku harus pandai-pandai menyembunyikan kepandaianku. Lan-moi, engkau harus tahu bahwa aku berani melanggar janjiku karena aku benar-benar percaya dan menghargaimu sebagai orang yang paling dekat denganku. Aku sangat sayang dan cinta padamu, Lan-moi!”
Kwat Lin bukannya malah diam atau senang mendengar penuturan Lie Yang, tangisannya malah lebih hebat dan menubruk ke arah Lie Yang. Sejenak mereka berpelukan. Lie Yang mengelus rambut Kwat Lin yang hitam legam dengan rasa sayang yang mendalam.
“Dan bagaimana dengan masalah dadamu tidak berdetak ketika kuperiksa dahulu, apakah itu bukan sengaja mempermainkan diriku?” tanya Kwat Lin masih dalam pelukan Lie Yang.
“Inilah kesalahanku padamu, Lin-moi. Waktu itu aku sengaja mematikan semua nadi dalam tubuhku sehingga detak jantungku secara otomatis berhenti berdetak sesaat. Berharap aku bisa melihat bagaimana reaksimu dan dapat mengenalmu lebih dekat. Ini pun tidak terlepas dari kasih sayangku padamu sejak pertama kali melihat dirimu di penginapan di kota Lok Yang. Maukah engkau memafkan kesalahanku ini, Lin-moi?”
Sesaat Kwat Lin merenggangkan pelukannya dan menatap senang wajah Lie Yang. Kali ini ia sudah tidak menangis bahkan tersenyum manis. Lie Yang juga tersenyum sambil mengelus-elus pipi kanan Kwat Lin. Lalu dengan punggung dua jari tengah tangan kanan ia mengelus hidung Kwat Lin. Tiba-tiba saja Kwat Lin mendekatkan mukanya dan mencium kedua pipi Lie Yang sambil berbisik, “Aku sayang dan cinta, Yang-twako!”.
“Perutku lapar sekali apa masakannya sudah matang?” tanya Kwat Lin setelah berbisik merdu membetot sukma Lie Yang.
“Hahaha…hampir lupa kalau aku juga sudah kelaparan! Ayo…!!! nanti setelah makan baru kita ngobrol yang lainnya!” ajak Lie Yang masuk ke dalam dan menikmati masakannya.
Mereka berlari menuju ruangan dalam yang sudah dinantikan oleh makanan yang enak. Sebentar kemudian mereka sudah bersantap sampai kenyang. Masakan Lie Yang benar-benar enak sampai mulut Kwat Lin tidak henti-hentinya memuji. Sambil main caplok sana-sini, Kwat Lin bertanya tentang dari mana Lie Yang bisa memasak maskan enak seperti ini. Lie Yang hanya menjawab dengan senyuman khasnya, senyuman yang dapat memabokkan iman perempuan termasuk Kwat Lin. Lalu ia menceritakan kisa masa kecilnya ketika belajar memasak dari para pelayan dapur dan ibunya.
“Yang-twako, apa yang ingin engkau bicarakan kepadaku?” tanya Kwat Lin yang sudah ingat perkataan Lie yang tadi. Sambil mengunyah makanan ia bertanya seperti itu, sehingga suaranya terdengar aneh di telinga Lie Yang. LIe Yang geleng-geleng kepala melihat kelakuan kanak-kanan istrinya.
“Aku ingin tanya tentang siapa sebenarnya orang yang menulis tulisan di tembok kemarin, barang kali engkau tahu atau kenal dua orang itu.”
“Oh..” jawabnya terputus oleh kunyahan makanan di mulutnya. Selesai menelan baru ia berkata melanjutkan perkatannya yang putus.
“Orang yang mempunyai julukan Hong Hou-hoat adalah ayahku yang bernama Yang Lu. Sedangkan Uh Hou-hoat adalah salah satu rekan ayah di dunia kang-ouw. Ayah dan paman Uh adalah Dua Pelindung dari Kim-liong-pay dengan julukan Kim-liong Ji-sian. Dahulu nama dua orang ini sangat terkenal, karena mereka disamping menjadi Dua Pelindung luar, juga menjadi Duta Perdamaian dari Kim-liong-pay untuk menyelesaikan masalah-masalah orang-orang kang-ouw. Baru setelah Kim-liong-pay hancur, dua sahabat itu berpisah lama sekali dan baru bertemu kemarin. Ayah sendiri setelah mengetahui Kim-liong-pay hancur, ia lalu mendirikan partai sendiri yang bernama Pek-eng-pay dan orang-orang kang-ouw hanya mengenal ayah sebagai ketua Pek-eng-pay dengan julukan Yang Lu-Ban-li-hui-eng (Si Elang Terbang Berlaksa Li), karena ginkangnya yang tinggi dan sempurna. Dua Duta Perdamaian ini selama malang-melintang di dunia kang-ouw belum pernah ada yang mengetahui wajah aslinya karena mereka bekerja di bawah topeng emas bergambar naga. Tentang paman Uh, aku tidak begitu kenal karena baru saja bertemu dengannya kemarin ketika aku menginap di Lok Yang.”
Lie Yang manggut-manggut mendengar penuturan istrinya. Sebaliknya Kwat Lin selalu mengawasi gerak-gerik suaminya dari anggukannya sampai suara pernapasannya.
“Ada apakah Yang-twako? Kenapa diam saja?!” tanya Kwat Lin heran.
“Aku hanya merasa ada yang aneh dengan ayahmu dan Uh Hou-hoat saja!” jawab Lie Yang masih penasaran.
“Apanya yang aneh?”
“Coba kamu ikut denganku ke kamar sana. engkau akan menemukan sesuatu yang aneh.” Kata Lie Yang langsung berdiri mengajak Kwat Lin ke kamar dimana terdapat tulisan dan lima buku teori ilmu silat.
Setelah sampai di dalam, Lie Yang menunjukkan tulisan yang tadi ia baca dan menunjukkan juga lima buku teori silat yang ada di atas meja. Setelah membaca tulisan di tembok itu, wajah Kwat Lin menjadi pucat. Ia pernah mendengar tentang racun Bie Hun Tok (Racun Pemabuk Sukma) di dunia barat. Baru ia tahu dan percaya bahwa memang di dunia ini ada racun yang sedemikian aenhnya. Maka tidak heran kalau mereka disuruh menjadi suami-istri karena pengobatannya hanya melakukan hubungan badan suami-istri.
“Apa yang engkau ketahui tentang Bie Hun Tok (Racun Pemabuk Sukma) ini, Lin-moi?” tanya Lie Yang yang sebenarnya bisa menebak bagaimana racun itu. namun ia ingin tahu lebih detail lewat pengetahuan luas istrinya. Tampak Kwat Lin menghela napas panjang mendengar pertanyaan saminya.
“Bie Hun Tok (Racun Pemabuk Sukma) adalah racun yang dimiliki oleh iblis perempuan dari barat Tok-sim Bi-sianli. Biasanya racun ini disebarkan melalu pukulan atau minuman untuk meracuni mangsanya dan lawannya. Dahulu ketika aku melakukan perantauan bersama ayah ke Tibet, pernah aku mendengar dongeng tentang sepak terjang iblis wanita di sana. Katanya iblis wanita ini paling suka dengan hawa laki-laki muda yang masih perjaka. Pernah iblis wanita ini menghisap sepuluh pendeta Lama yang masih muda sampai tubuhnya kering seperti kayu mati. Tidak hanya hawa murninya yang lenyap, bahkan darah, sum-sum dan nyawa sepuluh pendeta ini melayang. Akibatnya ia dikejar-kejar dan dicari oleh para pendeta Lama untuk menghilangkan mala petaka ini. Namun kelihaian iblis wanita Bi-sianli ternyata dapat menggagalkan usaha mereka. Sampai akhirnya pendeta Lama tidak berani mendekati iblis wanita ini lagi. Dulunya aku tidak percaya ada wanita mempunyai kekejian seperti iblis, namun setelah mengalami sendiri aku baru percaya bahwa di bumi ini ada orang seperti Bi-sianli dan racunnya yang mengerikan. Racun dan kecantikannya inilah yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya.”
“Sungguh sulit dipercaya, seandainya aku tidak mendapatkan pengalaman pahit ini! Dan sungguh ngeri sekali, seandainya aku tidak diselamatkan oleh dua locianpwe itu.” guman Lie Yang ngeri.
Lalu Lie Yang menunjukkan lima buku teori ilmu silat di atas meja kepada Kwat Lin. Kwat Lin tampak terkejut dan girang melihat lima buku teori silat ini.
“Benar-benar kehidupanku seperti mimpi saja. Buku teori silat ini adalah pelajaran silat tertinggi Kim-liong-pay, bahkan tiga buku yang ini sepengetahuanku hanya khusus diajarkan kepada para Penasehat dan Pelindung saja. Ayah yang termasuk salah satu Pelindung Kim-liong-pay saja belum pernah mengajari ke lima ilmu silat ini. Entah apakah maksud paman Uh memberikan lima buku silat tinggi ini kepada kita, apakah hanya untuk mengobati racun yang kita derita atau ada maksud lainnya?” kata Kwat Lin heran.
“Sebenarnya itulah yang ingin kutanyakan kepadamu, Lin-moi. Aku merasa aneh dengan semua ini, padahal aku tidak pernah mengenal ayahmu atau pada paman Uh. Aku benar-benar bingung, tidak habis mengerti apa yang mereka inginkan dan rencanakan?” kata Lie Yang tawar juga.
“Sebaiknya kita pelajari lima silat tingkat tinggi Kim-liong-pay ini, mungkin ada manfaatnya bagi kita. Lagian kita juga belum tahu di mana jalan keluar gua ini!” Kwat Lin berkata dengan semangat.
Lie Yang geleng-geleng kepala melihat sifat istrinya yang selalu berubah-ubah tidak menentu dan sulit menebaknya.
“Ada apa?” tanya Kwat Lin penasaran.
“Sebaiknya engkau saja yang mempelajari lima macam ilmu silat ini. Aku tidak mau mempelajari lima ilmu ini! Kali ini aku benar-benar pusing, sepertinya aku harus bertanya ke paman Uh atau ayah mertua!”
“Apakah engkau tidak mau memberitahu persoalan itu kepadaku?” tanya Kwat Lin heran melihat wajah Lie Yang tidak lagi tersenyum.
“Kali ini persoalannya sangat memusingkan. Aku tahu engkau saat ini adalah seorang yang paling dekat denganku, bisa dibilang setengah nyawaku. Namun persoalan ini aku kira bisa selesai kalau aku bertemu dua orang itu, atau bertemu pengajarku. Kali ini aku belum bisa memberitahu persoalanku ini, akan tetapi aku yakin sebentar lagi semuanya akan selesai.”
“Baiklah kalau begitu, aku percaya padamu. Aku ingin tanya sesuatu persoalan kepadamu, apakah kamu mau menjawabnya?” kata Kwat Lin.
“Apakah engkau ingin bertanya tentang kenapa aku tidak mau mempelajari lima ilmu ini, bukan?” kali ini mata kiri Lie Yang berkedip-kedip seperti biasanya kalau sudah merasakan kesenangan.
Kwat Lin menghela napas berat, entah apa yang ada dipikirannya.
“Memang engkau cacing di dalam perutku sehingga engkau tahu semua maksudku, sedangkan aku sama sekali tidak mengerti atau paham maksud dalam hatimu?!” kata Kwat Lin mengakui kebolehan suaminya.
Lie Yang tertawa renyah mendengar nafas berat istrinya. Sepertinya lagi kesal terhadapnya.
“Kenapa aku tidak mau mempelajari lima ilmu silat ini, karena persoalan ini berhubungan erat dengan persoalan yang ingin kutanyakan kepada dua locianpwe itu. Kali ini juga tidak bisa kujawab pertanyaanmu, sayang! Lain kali engkau akan tahu dengan tersendirinya. Sebenarnya aku masih harus memperdalam ilmu yang kupelajari dari pengajarku sehingga tidak mungkin aku mempelajari ilmu yang lainnya. Mungkin hanya itu yang bisa kuberi tahukan kepadamu. Walaupun begitu engkau jangan khuwatir, aku akan membantumu untuk mempelajari lima kitab ini sampai dapat menguasainya!”
“Buka lah lima buku itu, aku akan sedikit memberitahumu bagaimana cara menguasai lima ilmu ini dengan waktu yang sangat singkat!” Lie Yang menyambung lagi.
Kwat Lin benar-benar tidak mengerti apa maksud suaminya. Namun ia tetap menurut perintah suaminya.
“Tiga Ilmu ini adalah ilmu silat yang menitik beratkan kepada sinkang yang minimal sudah mendekati sempurna, sehingga bagi seseorang yang tidak mempunyai sinkang dan lwekang (tenaga dalam) cukup akan menyebabkan cidera ketika memaksa mempelajari tiga ilmu ini. Ilmu ini sebenarnya tidak hanya terdiri dari tiga kitab atau bagian saja, namun terdiri dari delapan kitab atau bagian yang saling berhubungan antara satu sama lainnya. Menurutku, lebih baik engkau jangan mempelajari tiga ilmu ini dulu sebelum sinkang dan lwekangmu cukup.” Kata Lie Yang memulai menerangkan tentang lima kitab peninggalan Uh Hou-hoat. Kwat Lin hanya diam dengan penuh pertanyaan dan kekaguman kepada suaminya.
“Ilmu Sin-hong Sin-kang (Tenaga Sakti Angin Sakti) adalah dasar dari tujuh ilmu lainnya. Untuk menguasai ke tujuh ilmu dahsyat ini, engkau harus menguasai dasarnya ini. Namun tidak mudah untuk menguasai ilmu dasarnya, kalau sinkang dan lwekangmu belum cukup. Kalau engkau bisa menguasai ilmu ini, engkau akan bisa mengontrol angin dengan sinkangmu dan memainkannya sesuka hati, engkau bisa menjadikan angin itu sebagi pukulan, pedang atau tumpangan untuk melayang-layang di udara. Selanjutnya buku ke dua ilmu Kim-liong Sin-hong Ciang-kun (Ilmu Pukulan Tangan Angin Sakti Naga Emas) adalah ilmu ke dua atau tingkatan ke dua. Di buku ini dijelaskan beberapa cara memainkan angin dengan menggunakan sinkang khas dalam bentuk pukulan. Dan buku ke tiga ilmu Kim-liong Hong-kiam-sut (Ilmu Pedang Angin Naga Emas) adalah buku yang menernagkan jurus-jurus dan tata cara melatih bagaimana menggunakan angin dalam bentuk pedang. Kalau kamu bisa memainkan jurus ini, dalam jarak sekitar lima langkah engkau bisa memotong kepala orang hanya dengan menggunakan angin sebagai senjata. Hebat bukan ilmu ini, namun sayang saat ini aku tidak ada mood untuk mempelajari ilmu-ilmu ini.” Lie Yang berhenti sejenak untuk bernapas dan melihat reaksi istrinya.
“Kalau ingin tanya sebaiknya engkau simpan dulu di dalam hati. Setelah aku menerangkan ke lima buku ini, baru engkau boleh bertanya kepadaku. Buku ke empat ilmu Kim-liong Sin-ciang-kun (Ilmu Pukulan Tangan Sakti Naga Emas) adalah ilmu pukulan biasa seperti pukulan-pukulan lainnya, namun gerakannya tidak sembarangan karena ilmu ini dasar dari isi dari ilmu Kim-liong Sin-hong Ciang-kun. Tanpa menguasai ini dulu, engkau akan kesulitan untuk menguasai dengan cepat Kim-liong Sin-hong Ciang-kun. Buku terakhir ilmu Kim-liong Jian-jiu-kun (Pukulan Seribu Tangan Naga Emas) adalah ilmu yang sangat unik. Karena pada dasarnya ilmu ini juga bukan lain adalah dasar atau isi dari Kim-liong Sin-hong Ciang-kun. Dua ilmu terakhir harus engkau kuasai dulu, baru mempelajari tiga ilmu lainnya. Ini adalah metode tercepat untuk menguasai semua ilmu yang ditinggalkan oleh paman Uh dan ayahmu. Sekarang engkau boleh bertanya!” Lie Yang selesai menerangkan lima buku teori silat ini.
“Sebenarnya aku hanya ingin tahu bagaimana engkau bisa mengetahui begitu banyak tentang lima ilmu khas Kim-liong-pay ini? Dan apakah tidak lebih baik saja aku mempelajari tiga ilmu pertama kalau memang dua ilmu terakhir adalah isinya?”
“Sudah kuduga bahwa engkau akan bertanya soal ini. Sebenarnya aku secara tidak sengaja mendapatkan pengetahuan ini, ketika aku dahulu pernah mendapatkan lima teori ini juga. Bahkan aku sudah hapal lima teori ilmu silat ini, hanya saja aku tidak tahu banyak tentang Kim-liong-pay dan baru sekarang aku tahu bahwa lima buku yang pernah kubaca itu adalah ilmu-ilmu khas dari Kim-liong-pay. Untuk pertanyaanmu yang ke dua, memang sepertinya dua ilmu ini tidak perlu lagi dipelajari, kalau nanti dipelajari lagi di tiga ilmu induknya. Jangan engkau menyala artikan seperti itu, dua ilmu ini disamping dapat mempercepat proses menguasai tiga ilmu induknya, juga dapat engkau jadikan tambahan penguasaan ilmu silatmu. Perlu engkau ketahui, bahwa tiga ilmu silat pertama dapat menghabiskan tenaga begitu banyak untuk dapat menggunakannya. Makanya sangat dianjurkan untuk tidak menggunakannya kecuali bertemu lawan tanding yang sangat hebat. Sedangkan menguasai dua ilmu terakhir, dapat dijadikan pegangan untuk melawan lawan yang tidak begitu berbahaya dan juga untuk melatih gerakan tiga ilmu pertama sehingga benar-benar mendarah daging. Dan antara dua ilmu terakhir dan tiga ilmu pertama terdapat perbedaan yang sangat nyata dan jelas ketika engkau mempelajari kedua-duanya. Untuk hari-hari ini lebih baik engkau melatih dua ilmu terakhir sambil menambah sinkang dan lwekang dengan banyak bersemadhi. Aku akan membantumu meningkatkan sinkang dan lwekang dalam tubuhmu dengan cepat, yaitu lewat pengoperan sinkang dan lwekang dariku.”
Bukan main senangnya Kwat lin mendengar keternagan dari suaminya ini. “Apakah dengan penyaluran sinkang dan lwekang darimu tidak membahayakan dan melemahkan sinkang dan lwekangmu sendiri?” tanya Kwat Lin khuwatir.
“Jangan khuwatir, aku mempunyai cara lain untuk memindah sinkang dan lwekang tanpa mengurangi sinkang dan lwekang dalam tubuhku atau mengganggu kesegaranku. Bahkan dalam penyaluran ini aku juga akan mendapatkan manfaat yang tidak sedikit.”
“Terima kasih atas petunjukknya, Yang-twako!” kata Kwat Lin bersyukur.
“Apakah hanya itu saja yang bisa engkau lakukan untuk berterima kasih kepadaku?” tanya Lie Yang sambil mengedipkan mata kirinya lagi.
“Terus aku harus bagaimana?” tanya Kwat Lin tidak tahu harus berbuat apa.
“Engkau bisa bersyukur melalui pelunasan hutangmu tadi, bahkan harus berbunga sepuluh kali lipat!” jawab Lie Yang dengan tersenyum licik. Kwat Lin menundukkan kepalanya malu dan jengah. Ia sudah bisa menebak kemana arah omongan suaminya, yaitu hutang ciuman tiga puluh lima kali.
“Baiklah! Ini aku sudah siap!” tiba-tiba Kwat Lin mendongakkan kepalanya mengagetkan Lie Yang. Kali ini Lie Yang yang kelabakan, karena tidak menduga bahwa istrinya akan mau dipermainkannya. Sungguh polos sifat istrinya ini. Gurauannya dianggap benaran. Mau tidak mau di dalam hati Lie Yang bersorak gembira. Siapa yang tidak ingin mencium seorang istri yang mempunyai kecantikan yang khas begitu. Apalagi masih muda baru mekar-mekarnya.
Kwat Lin tampak mendongakkan kepalanya sambil memejamkan dua matanya merasa malu dan ngeri. Ia sudah siap dicium oleh suaminya tiga puluh lima kali. Lie Yang menyeringai seperti setan penasaran, dua tangannya digosokkan seperti orang kedinginan.
“Yahhh! Kalau engkau menutup mata bagaimana aku bisa menikmati ciumanku. Buka dua matamu, engkau juga harus melihat bagaimana aku menciummu. Dan kenapa engkau mendongakkan muka seperti itu, apakah engkau hanya menghendaki kucium di wajahmu saja? Ah itu tidak enak tahu!” kata Lie Yang sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Memangnya aku harus bagaimana dan mau mencium di mana?” tanya Kwat Lin sambil menghentakkan kaki kirinya manja dan jengkel melihat kelakuan suaminya yang selalu mempermainkannya.
“Enaknya mencium di mana ya? Kayaknya kita harus mandi bersama dan engkau akan tahu dimana aku akan dapat mencium!” Lie Yang berkedip-kedip.
“Ih… apa engkau sudah tidak punya malu mau mandi berdua, kita kan berbeda jenis!” jawab Kwat Lin jengah.
“Apanya yang salah?! Kita toh sudah menjalin suami-istri dan mana ada orang yang melihat kalau kita mandi berdua di gua ini?” kata Lie Yang membalik. Kwat Lin diam dan tiba-tiba saja dengan gerakan cepat Lie Yang sudah melayang memeluk erat istrinya.
“Ihhhh!” teriak Kwat Lin dan diam tidak berdaya dalam pelukan suaminya. Tubuhnya rasanya menggigil ketika bibirnya sudah dicium mesra oleh suaminya sambil menghitung. Lalu dalam keadaan diam Kwat Lin sudah dipondong melayang masuk ke gua ke dua dan diajak mandi bersama. Berkali-kali terdengar jeritan manja dari mulut Kwat Lin dan suara hitungan dari mulut Lie Yang sambil tertawa cekikan penuh kemenangan.
Dua suami-istri muda-mudi yang mempunyai darah panas memang luar biasa ganasnya. Mereka akhirnya dapat hidup di gua bersama sambil mencoba memahami dan menyelami sifat masing-masing. Kesehariannya hanya berlatih dengan tekun di dalam gua dan kadang-kdang bermain-main bersama layaknya anak kecil. Mereka tidak tahu bahwa racun yang ada di tubuh mereka lama kelamaan menjadi hilang tanpa bekas, akibat beberapa hal yang tidak mereka kira-kira. Pertama karena mereka selalu berhubungan badan suami-istri, berlatih ilmu-ilmu silat tinggi dan makanan yang mereka makan mengandung obat dan dapat menambah daya sinkang dan lwekang mereka menjadi berlipat ganda dalam beberapa minggu saja. Jamur-jamuran dan telur burung walet yang mereka konsumsi setiap hari dapat mencuci bersih racun yang mengeram di dalam tubuh mereka. Bahkan tanpa diketahui oleh Kwat Lin keringat tubuhnya bisa mengeluarkan aroma harum. Sehingga dapat membuat Lie Yang tambah senang dan sayang. Kecantikannya juga menjadi lebih hebat dari sebelumnya.
Sedangkan Lie Yang tanpa diketahui ia dapat menyempurnakan semua ilmu-ilmu yang sedang ia pelajari dan tubuhnya dengan cepatnya dapat tumbuh lebih besar dan berotot. Tampak lebih gagah dengan kulit yang selalu kenyal. Dua suami-istri muda itu tidak tahu bahwa lamban laun tubuh dan ilmu silat mereka menjadi berubah meningkat sepuluh kali lipat dari sebelumnya. Sebaiknya kita beralih ke dunia luar dan kita tinggalkan suami-istri muda ini untuk sementara.
<><><><><>()<><><><><>
Thian-long-pay
Dunia kang-ouw gempar dengan munculnya sebuah partai baru persilatan. Partai itu disebut Thian-long-pay atau Partai Serigala Langit. Partai baru ini didirikan oleh datuk sesat dari utara Thian-long-cu. Sudah kita ketahui bahwa kedatangan Thian-long-cu ke selatan adalah untuk mencari Giok-ceng dan di sebuah hutan di bawah pegunungan Siong-san ia dapat menemukan barang yang diinginkan. Di sana ia bertempur melawan Bi-sianli dan Yang-pangcu sehingga ia kabur melarikan diri karena merasa kalah dengan Si Topeng Emas dari Kim-liong-pay itu. Sehingga ia tidak berhasil merebut Giok-ceng dari tangan lawan-lawannya. Kekalahannya membuatnya benar-benar kecewa dan menaruh dendam kepada setiap orang yang berada di situ, lebih-lebih Topeng Emas dan Bi-sianli.
Namun kehendak Tuhan tidak bisa ditebak dan kemujuran seseorang sulit diraba. Begitu juga dengan kondisi Thian-liong-cu yang dalam pelariannya tanpa sengaja menemukan Giok-ceng di tengah-tengah hutan. Giok-ceng yang sebelumnya dibawa Kwat Lin tanpa diketahui olehnya ternyata terjatuh di tengah hutan ketika Kwat Lin dan Lie Yang dilarikan oleh Uh Hou-hoat. Bukan main senangnya ia mendapatkan barang berharaga yang telah diperebutkan oleh banyak orang ini. Diam-diam ia lalu pulang ke utara dan mencari banyak pendukung di sana, karena memang kekuasaannya di sana sangat luas, sehingga dalam beberapa bulan kemudian ia sudah dapat mengumpulkan banyak pengikut. Para pengikut atau anak buahnya kebanyakan dari orang-orang jahat seperti perampok, bajak sungai dan laut.
Setelah mendapatkan pengikut banyak, ia lalu membuat sebuah markas di utara untuk menetap. Impiannya membuat markas besar yang nanti akan menjadi cikal bakal markas Thian-long-pay tercapai dengan cepat. Bahkan harta yang diperoleh dari hasil perampokan dan membajak di sungai atau laut oleh anak buahnya bisa ia kantongi. Untuk memperluas wilayah dan pengaruhnya, ia tidak segan-segan berani membantai penentangnya dan mencuri harta beberapa pegawai kerajaan. Bahkan ia berani memeras rakyat sehingga keadaan utara sampai ke kota raja menjadi kacau balau dalam sekejab. Dimana-mana terdengar suara ketakutan ketika mendengar nama Thian-long-pay.
Selama setahun pertama Thian-liong-cu tidak memperbolehkan anak buahnya mengaku sebagai anak buahnya ketika melakukan kejahatan. Baru setelah kekuasaannya sudah meluas, kekayaannya melimpah dan kekuatannya juga kuat. Ia baru mengumumkan munculnya partai baru di dunia kang-ouw lewat sepak terjang kajahatannya. Berkali-kali para pendekar mencoba mengehentikan sepak terjang Thian-long-pay yang dipimpin oleh datuk sesat utara Thian-long-cu selalu gagal dan sia-sia. Kekuatan Thian-long-pay sudah begitu kuatnya. Kejeniusannya dalam mengumumkan partainya sebelum benar-benar kuat memang patut diacungi jempol, apalagi ia tidak pernah menyinggung atau mengumumkan tentang Giok-ceng yang sudah berada di tangannya. Ini adalah kehebatan dan kecerdikan Thian-liong-cu, maka tidak heran kalau dia bisa menjadi datuk sesat di utara.
Ia juga tidak pernah menyuruh anak buahnya untuk menyinggung partai-partai besar lainnya, seperti Ang-hong-pay, Pek-eng-pay, Siauw-lim-pay, Kun-lun-pay, Kay pang, Bu-tong-pay, Go-bi-pay dan lain-lainnya. Thian-long-cu masih belum mau bentrok dengan partai-partai besar seperti mereka, karena kekuatan partainya masih belum cukup kuat untuk melawan mereka. Thian-long-cu lebih memilih mengalah kepada parta-partai besar itu. Baru setelah dua tahun berlalu dan kekuatan partaianya sudah dianggap kuat untuk melawan partai besar lainnya. Akhirnya ia dapat betenang dan tidak gentar dengan lawan siapa saja yang mencoba memusuhinya.
Setelah partainya sudah berumur tiga tahun, baru ia berani mengeluarkan undangan kepada seluruh orang kang-ouw untuk menghadiri ulang tahun partainya yang ke tiga. Sebenarnya dalam pesta besar ini ia ingin menunjukkan Giok-ceng kepada orang-orang kang-ouw dan memerintahkan kepada mereka untuk takluk kepada partainya. Kalau sudah dapat menguasai orang-orang kang-ouw atau dalam kata lainnya menjadi bengcu dunia persilatan, ia akan tenang karena memang itulah tujuan utamannya.
Persidangan para orang-orang kang-ouw dari aliran putih di Siauw-lim-sie tiga tahun yang lalu ternyata tidak membawa banyak hasil, karena Giok-ceng yang mestinya hadir di sana raip tidak ketahuan perginya. Orang-orang kang-ouw yang hadir di sana saat itu tidak menyangka bahwa Giok-ceng sudah berada di tangan Thian-long-cu dan akan ditunjukkan dalam ulang tahun ke tiga partainya.
Di sebuah kedai di kota Lok Yang duduk seorang pemuda berumur dua puluh tiga tahun memakai pakaian putih bersih sendirian. Pemuda itu sedang duduk sambil minum arak untuk menghangatkan badan di musim dingin seperti ini. Dua botol arak tergeletak kosong di atas mejanya. Tampaknya pemuda ini sudah begitu lama duduk di kedai itu, hingga isi dua botol arak sudah tidak tersisa lagi. Walaupun sudah meminum habis dua botol arak, tampak pemuda itu tidak ada gejala mabuk sama sekali. Seorang pemuda yang sangat kuat minumnya. Mungkin karena pemuda ini sudah terbiasa dengan arak atau memang lwekangnya dapat mengendalikan arak yang diminumnya sehingga sebanyak apapun ia minum, tetap tidak akan pernah mabuk. Kalau orang sudah mampu mengendalikan arak dengan lwekang dan sinkang di dalam tubuhnya, berarti pemuda ini benar-benar mempunyai keahlian sangat tinggi.
“Lo-peh (paman tua) tambah lagi araknya dua botol!” teriak pemuda itu kepada seorang pelayan tua.
“Baik! Tunggu sebentar kongcu!” kata pelayan itu tergopoh-gopoh masuk ke dalam untuk mengambil pesanan pemuda itu.
Setelah mendapatkan dua botol arak baru, ia segera meminumnya sambil bergumam ‘Arak enak!” berkali-kali. Baru saja ia menghabiskan satu botol arak barunya, dari pintu kedai makan sekaligus merangkap penginapan ini muncul tiga laki-laki berpakaian ringkas. Di belakang tiga orang ini muncul juga belasan orang dengan menghunus pedang.
“Orang muda, saatnya engkau menebus dosamu!” kata salah satu dari tiga pendatang.
Orang-orang yang berada di kedai ini sudah mulai menyingkrih dari sana. Mereka langsung pergi dari kedai tanpa banyak ngomong lagi. Sedangkan para pelayan sudah berlari masuk ke dalam rumah takut tersangkut masalah. Kedai yang tadinya ramai dalam beberapa detik sudah menjadi sunyi tidak ada orang lagi, kecuali pemuda berbaju putih dengan beberapa pendatang baru.
“Sudah lama kalian kutunggu di sini ternyata baru muncul! Kenapa kalian tidak mengajak sekalian pangcu kalian untuk mengantarkan kepala di sini!” jengak setengah mengejek pemuda itu.
“Bangsat! Jangan dikira kami tidak mampu menutup mulutmu yang bau itu!” sentak yang lainnya.
“Terlalu rendah tangan pangcu kami dilumuri darah kotormu yang tidak berharga!” satunya juga tidak mau kalah dengan teman-temannya.
“Hahaha…hanya kalian anak buah rendahan Thian-long-pay mau berulah di sini, apakah kalian ingin mengalami nasib yang sama dengan teman-teman kalian?” ejek si pemuda masih meminum arak.
“Hahaha… salut, salut sekali! Masih muda namun sudah memiliki bakat menjadi mayat penasaran!” jengek salah satu dari tiga orang itu lagi.
Tiga orang dari Thian-long-pay itu langsung mengurung pemuda berbaju putih itu yang masih enak menegak arak. Tiga orang ini biasanya dikenal oleh orang-orang kang-ouw sebagai Sam-thian-long (Tiga Serigala Langit dari Thian-long-pay). Tidak hanya saja namanya sudah terkenal, namun kehebatan ilmu orang ini sudah banyak dikenal oleh orang-orang kang-ouw. Tiga saudara kembar ini biasanya selalu mewakili pangcu Thian-long-pay untuk mengerjakan pekerjaannya di luar daerah kekuasaan Thian-long-pay. Baru saja mereka diutus pengcu mereka untuk membantu membinasakan seorang pemuda yang telah berani menghancurkan cabang partai mereka yang ada di Ho-nan, Nanking dan Santung. Tiga cabang ini hancur dilibas habis oleh seorang saja, yaitu pemuda yang saat ini ada dihadapan Sam-thian-long.
Tidak ada yang tahu sebab apa pemuda ini menghancurkan tiga markas mereka yang ada di cabang tiga propinsi ini. Karena puluhan orang anak buah Thian-long-pay yang menjaga tiga tempat ini tewas semuanya, hanya seorang saja yang dibiarkan hidup supaya bisa memberitahu ke markas Thian-long-pay di utara. Bahkan pemuda ini juga menantang pangcu Thian-long-pay untuk turun tangan sendiri melawannya melalui surat yang dikirimkannya lewat anak buah Thian-long-pay yang masih hidup.
Sudah sejak pagi pemuda ini menunggu kedatangan orang-orang Thian-long-pay di kedai tengah kota Lok Yang, namun baru sore hari mereka muncul.
Pemuda itu tiba-tiba berdiri tanpa bicara sepatah kata pun, sedang tangan kanannya merogoh saku bajunya untuk mengeluarkan uang dan ditaruh di atas meja. Lalu ia berjalan keluar kedai diikuti oleh Sam-thian-long di belakangnya. Tidak ada seorang pun yang berani memulai bergebrak melawan pemuda itu. hanya mata setiap anak buah Thian-long-pay tampak melotot gusar.
Setelah berada di luar kedai, ia lalu melayang seperti terbang. Gerakannya ini sangat cepat sehingga banyak anak buah Thian-long-pay terbengong-bengong. Lalu Sam-thian-long juga sudah melayang menggunakan ilmu peringan tubuh mengikuti pemuda itu yang sudah pergi duluan.
Di luar kota Lok Yang pemuda berbaju putih sudah berhenti dan berdiri tenang sambil menatap tiga orng kerdil dari Thian-long-pay. Hampir sepuluh menit pemuda itu menatap Sam-thian-long tanpa bicara, sepertinya ia ingin mengukur seberapa kekuatan Sam-thian-long yang tersohor.
“Kami orang-orang tua sudah berlaku murah hati kepadamu. Ada permusuhan apakah engkau dnegan kami sehingga berani mati membinasakan semua anak buah kami di Santung, Nanking dan Ho-nan?” tanya seorang Sam-thian-long yang berada di tengah.
“Bukan aku yang menghendaki permusuhan dengan pihak kalian, akan tetapi pihak kalian lah yang memulai dulu memusuhi pihak kami.” Jawab pemuda itu tidak berguming dari tempat berdirinya.
“Hm… kami saja tidak mengenal siapa kalian, bagaimana kami bermusuhan dengan pihakmu?” tanya tawar orang yang berada di tengah.
“Kalian mengenalnya, namun dengan sengaja mencoba bermain api dengan kami. Apa yang akan kalian lakukan seandainya ada segerombolan serigala berani membuat sarang di sebuah tempat yang kalian kuasai? Bukankah kalian akan menghancurkan sarang serigala itu?” kata pemuda itu dengan suara datar.
“Kami tidak pernah tahu bahwa tiga tempat itu ada dalam kekuasaan suatu golongan?” tampaknya Sam-thian-long mencoba untuk menghindar dari pertanyaan pemuda berbaju putih.
“Apakah kalian pernah kalian mendengar perkataan ini ‘Tawon merah terbang beribu-ribu li jauhnya, mencari bunga segar dan meninggalkannya sebagai bunga layu setelah menghisap sarinya.’ Dan perkataan ini ‘Segerombolan tawon merah terbang beribu-ribu li jauhnya merajai setiap tempat yang disinggahinya!’???” kata pemuda seperti seorang bersajak.
“Hahaha… ternyata Ang-hong-pay yang mendalangi semua ini! Walaupun begitu kami tidak akan mundur selangkah pun. Sebaliknya kalian harus mengganti nyawa puluhan anak buah Thian-long-pay.” Mereka lalu serempak menyerang pemuda berbaju putih.
Pemuda itu hanya mendengus tidak bergerak dari tempat berdirinya ketika Sam-thian-long menyerangnya. Dan meloncat ke atas ketika tubuh tiga lawannya sudah dekat dengannya. Berkali-kali pukulan dari tiga serigala itu mengenai tempat kosong. Ilmu peringan tubuh pemuda berbaju putih memang hebat sekali. Gerakannya memang seperti tawon merah terbang beribu-ribu li.
“Aku akan mengampuni jiwa kalian dengan syarat kalian mau bekerja sama dengan pihak Ang-long-pay!” kata pemuda berbaju putih sambil menghindari pukulan-ukulan Tiga Serigala Langit dengan ginkang tingginya.
Setelah lama tidak mendapatkan jawaban, malahan serangan Tiga Serigala Langit semakin gencar, mendadak ia mulai menyerang tidak menghindar seperti tadi.
“Baik! Jangan bilang panggil aku Ang-hong-cu (Si Tawon Merah) kalau tidak bisa mengalahkan kalian!” serempak ia mulai memainkan sebuah jurus yang dapat menangkis beberapa pukulan lawannya.
Julukannya Ang-hong-cu namun jurus yang dimainkannya bukan jurus seperti Tawon Merah, sangat beda dengan Tiga Serigala Langit yang jurus-jurusnya sangat mirip dengan julukannya. Cakaran dan gerengan ala serigala dengan disertai sinkang tinggi membuat daerah pertempuran semakin seram. Suara Tiga Serigala Langit benar-benar menyeramkan, seperti siluman. Seandainya lawannya bukan orang hebat, tentu sudah sejak tadi sudah mati kelenger. Gerengan ala serigala itu saja sudah bisa memekakkan telinga lawan, belum lagi ilmu cakaran mereka yang sangat berbahaya.
Namun ilmu yang dimainkan oleh Ang-hong-cu saat ini adalah ilmu yang sangat tinggi. Termasuk ilmu khas dari Kim-liong-pay yang memang mempunyai ilmu-ilmu hebat. Ilmu Kim-liong Jian-jiu-kun (Pukulan Seribu Tangan Naga Emas) sangat hebat sekali dimainkan oleh Ang-hong-cu. Sayang sekali gerakan Tiga Serigala langit yang bergabung bertiga juga memiliki ketangkasan yang luar biasa, sehingga dalam gebrakan ini mereka belum ada yang terluka. Lalu Tiga Serigala Langit mulai merubah gerakan mereka, kali ini mereka tidak lagi menyerang berbarengan dan secara acak lagi, namun mereka menyerang secara bergiliran sambil menggunakan langkah-langkah aneh sehingga membingungkan Ang-hong-cu.
Kali ini Ang-hong-cu benar-benar tidak menyangka bahwa Tiga Serigala Langit mempunyai ilmu sehebat ini. Pukulan disertai gerakan ginkang Ang-hong (Tawon-Merah) tidak bisa menerobos serangan lawannya. Sepertinya lawannya adalah bayangan dirinya yang selalu menguntilnya sambil menyerang. Lalu tiba-tiba lawannya merubah lagi gerakannya, kali ini mereka menyebar melingkar mengepung Ang-hong-cu. Gerakan mereka malah semakin hebat, sehingga benar-benar Ang-hong-cu tidak bisa keluar dari lingkaran kurungan Tiga Serigala Langit.
Ang-hongcu tidak salah kalau mengaku sebagai anggota Ang-hong-pay yang tersohor memiliki pengikut hebat-hebat. Dalam keadaan seperti ini terpaksa ia memainkan ilmu simpanannya yang sebenarnya jarang digunakan untuk bertempur. Kali ini ia harus menggunakan ilmu Sin-hong Sin-kang (Tenaga Sakti Angin Sakti) untuk mengalahkan tiga lawannya yang memiliki ilmu hebat. Setelah meloncat ke atas ia lalu mulai menggerakkan sinkang dari dalam tubuhnya. Setelah menjulurkan tangan menggerakkan beberapa jurus pukulan menyerang lawannya, dari dua tangannya keluar sinkang halus dan bergulung-gulung menyerang hebat lawannya. Sinkang itu lalu melebur dengan angin sehingga yang terlihat atau tampak hanya angin berbentuk pukulan yang menderu-deru. Di dalam pukulan berbentuk angin itu terkumpul sinkang hebat sehingga dapat melukai tubuh lawan dari jarak jauh.
Belum pernah selama hidup Tiga Serigala Langit mengalami pertempuran yang begitu hebatnya. Dalam mimpi pun mereka belum pernah melihat ilmu sedahsyat ini. Kali ini mereka benar-benar kewalahan sampai-sampai lingkaran yang mereka gerakkan buyar terkena serangan pukulan Ang-hong-cu. Beberapa detik saja salah satu Tiga Serigala Langit terkena pukulan jarak jauh Ang-hong-cu di dadanya sehingga ia mental beberapa meter dalam keadaan empas-empis.
“Bangsat!” teriak parau salah satu serigala langit melihat salah satu temannya terkapar sekarat.
Ang-hong-cu menjawab dengan serangannya lebih gencar lagi, bahkan merubah pukulan angin menjadi pedang angin. Kali ini Ang-hong-cu bergerak pada tingkatan ke tiga dari ilmu yang ia gunakan.
“Aih…!!!!!” jerit tertahan dari salah satu serigala langit terkena sayatan Pedang Angin di bahu kirinya.
Mereka semakin gencar menyerang Ang-hong-cu. Pukulan dan cakaran selalu berubah-rubah membuat Ang-hong-cu kelabakan. Mereka selalu berhasil menghindar sabetan dan pukulannya dan bahkan berani mendekatinya. Lalu Ang-hong-cu merubah lagi gerakannya dan terdengar angin menderu di sana sini membuat lawannya terombang-ambing oleh Angin Badai. Inilah tingkatan ke empat dan memasuki tingkatan ke lima dari ilmu yang dipakai oleh Ang-hong-cu. Hebat sekali ilmu ini hingga dapat mendorong ke sana-sini lawannya dan disertai pukulan-pukulan dan sayatan-sayatan pedang. Berkali-kali pukulan dan sayatan Pedang Angin mengenai tubuh lawan hingga terdengar jeritan mengerikan. Beberapa saat kemudian tiga lawannya sudah terkapar mandi darah dalam keadaan tidak bisa bergerak. Pukulan dan sayatan dari ilmu yang dimainkan oleh Ang-hong-cu tidak hanya membuat tubuh mereka tercabik-cabik, namun lebih berbahaya lagi luka dalam yang diterima oleh mereka. Karena pukulan dan sayatan dari ilmu itu hasil dari sinkang istimewa sehingga bisa masuk ke dalam tubuh lawannya.
Ang-hong-cu tampaknya terengah-engah akibat terlalu banyak menguras tenaga, akibat menggunakan ilmu Sin-hong Sin-kang. Setelah selesai istirahat ia lalu berjalan menuju tiga serigala yang masih rebah dengan keadaan empas-empis.
“Aku bisa membunuh kalian sekarang juga, namun aku tidak akan melakukannya. Kalian sampaikan peringatanku kepada Thian-long-cu untuk tidak lagi mencoba membuat cabang di daerah selatan dan segera bergabung dengan Ang-hong-pay, kalau tidak kami akan menggempur habis-habisan markas Thian-long-pay!” ancam Ang-hong-cu dan langsung pergi tanpa menghiraukan jawaban Tiga Serigala Langit.
<><><><><>()<><><><><>
Sore itu Ang-hong-cu sudah duduk kembali di kedai tengah kota Lok Yang untuk menikmati arak kesukaannya. Puas sekali kemarin ia bisa mengalahkan Tiga Serigala Langit yang sangat tersohor di kalangan kang-ouw. Ia tidak penasaran lagi kalau sampai tiga serigala itu bisa mempunyai nama yang sangat hebat di utara, karena memang ilmu tiga orang itu hebat sekali. Seandainya ia tidak menggunakan ilmu simpanannya, mungkin ia akan sulit mengalahkan mereka. Berkali-kali ia geleng-geleng kepala mengingat gerakan serempak mereka. Beberapa puluh tegukan arak tidak juga mdapat menghilangkan ingtannya mengenai pertarungan terhebatnya selama ini.
“Pantasan Thian-long-cu berani membuat partai kalau punya anak buah yang begitu hebat!” gumamnya sendirian.
Tiba-tiba dua matanya mencorong aneh dan tidak bergerak sama sekali. Bahkan gerakan meminumnya sampai berhenti di udara. Dua mata Ang-hong-cu melihat seorang gadis berumur sembilan belas tahun dengan pakaian serba merah berjalan di depannya. Gadis itu sangat cantik, kulitnya yang putih mulus tampak lebih mengkilap tertempa cahaya. Sungguh sempurna kecantikan gadis itu, hingga tidak hanya mata Ang-hong-cu yang jelalatan melihat kecantikan gadis di depannya itu. Semua orang yang sedang ada di kedai itu tampak melengak tidak bergerak melihat bidarai di tengah-tengah mereka. Angin yang menempa tubuh langsing gadis itu mengeluarkan aroma wewangian yang sulit dikatakan dari bunga apa. Aroma yang dapat membetot sukma para lelaki itu menyebar ke segenap kedai.
“Lo-peh, tolong buatkan seporsi makanan dan bawah ke kamar nomor dua!” kata gadis itu yang sedang membawa bingkisan besar di tangan kanannya.
“Baik nona!” jawab pelayan tua itu.
Gadis itu tertawa merdu mendengar jawaban pelayan tua yang seperti seorang sedang tersendak makanan di tenggorokan. Suara gadis itu benar-benar merdu sehingga membuat kalamenjing semua orang naik-turun tidak menentu.
“Nona cantik selamat sore! Bolehkah aku bertanya siapa nama nona?” tanya tiba-tiba Ang-hong-cu sudah tidak sabar lagi ingin berkenalan dengan gadis itu.
Sekilas gadis melihat ke arah Ang-hong-cu sambil tersenyum manis dan menjawab dengan suara merdu. “Namaku Ang-i-sianli (Dewi Berbaju Merah)!”.
Gadis itu lalu naik ke atas lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah sosok yang dikagumi oleh banyak orang masuk ke dalam kamar, suasana kedai yang tadi sepi menjadi ramai berisik. Banyak orang yang membicarakan sosok halus itu. Sedangkan Ang-hong-cu sampai terdiam membisu sepertinya sukmanya sudah melayang mengikuti tubuh gadis itu ke kamarnya.
“Aduh! Belum pernah selama ini kulihat gadis secantik dia. Ah, lihat saja nanti malam aku akan mendapatkannya!” pikir Ang-hong-cu sambil tersennyum licik.
Setengah jam kemudian ia pergi meninggalkan kedai dan malam mulai menghiasi kehidupan. Dalam perjalanannya ini tidak henti-hentinya pikiran Ang-hong-cu melayang-layang mengingat keindahan tubuh gadis berpakaian merah itu.
Gadis tadi bukan lain adalah Kwat Lin yang sudah keluar dari gua persembunyiannya. Sudah tiga tahun lamannya ia berdiam di sana bersama Lie Yang menikmati hari-harinya yang indah dan menyenangkan. Selama tiga tahun ini semuanya telah berubah, dari cara berpikirnya, keadaan tubuhnya dan ilmu silatnya. Semuanya ada kemajuan, bahkan lima buku yang ditinggalkan oleh Uh Hou-hoat sudah dikuasainya dengan sempurna. Lie Yang semakin hari semakin sayang kepada istrinya, hingga ia mengajarkan sebuah ilmu ginkang kepada istrinya.
Ilmu itu dapat membuat tubuh seseorang seringan kapas dengan mengandalkan ginkang tinggi dan istimewa. Selama di dalam gua itu, Lie Yang juga berhasil menguasai semua ilmu yang sedang ia pelajari dan sempurnakan. Bahkan saking jeniusnya anak muda ini, diumurnya yang ke dua puluh ia bisa menciptakan sebuah ilmu peringan tubuh yang lalu diajarkan kepada istrinya. Ilmu itu dinamakan Yan-bi Hi-hong (Walet Cantik Bermain dengan Angin) dan memang sengaja diciptakan khusus untuk istrinya. Sehingga dengan ilmu itu Kwat Lin bisa mengambil telur-telur walet yang berada di atas dinding gua tanpa alat pembantu lainnya. Ia bisa melayang ke atas tanpa menggerakkan badannya sedikit pun. Sekali-kali sebenarnya bukan karena tubuhnya sudah seringan kapas, namun sinkang istimewa yang dilatihnya selama ini dapat juga digunakan untuk membantu meringankan tubuhnya. Atas bantuan sinkang istimewanya, ia bisa memanfaatkan angin sebagai semacam tumpangan atau penggerak tubuhnya untuk terbang.
Mendapatkan ilmu yang istimewa seperti ini ia sangat senang sekali dan hampir setiap hari ia tekun mempelajari ilmu ini sampai-sampai ia bisa berkejaran dengan burung walet di udara. Setelah berhasil meyakinkan dan menyempurnakan semua ilmunya dan lebih-lebih sudah berhasil mengusir semua hawa racun di dalam tubuh mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar gua. Kali ini Lie Yang sudah tampak gagah dan dewasa sehingga tindak-tanduknya tambah tenang, walaupun sifatnya yang ceriwis tidak bisa dihilangkan.
Baru pagi tadi mereka sampai di penginapan sekaligus kedai di Lok Yang. Lie Yang yang memilih berdiam diri di dalam kamar melakukan semadhi seperti hari-hari biasanya. Selama tiga tahun di gua, ia lebih banyak melakukan semadhi kalau tidak sedang bergurau atau bermain-main dengan istrinya. Kekuatan sinkangnya saat ini entah sudah samapai tingkata bagaimana ia pun tidak mengetahui. Ia cuma tahu belajar dan belajar sesuai arahan pengajarnya. Kalau Lie Yang berdiam di dalam kamar, sedangkan Kwat Lin berkeliaran mengelilingi kota Lok Yang sambil membeli baju untuk dirinya dan suaminya. Sifatnya yang periang dan suka berpetualang tidak bisa juga dihilangkan. Dahulu ketika ia masih berada di dalam gua, seringkali ia merengek seperti anak kecil meminta keluar gua kepada suaminya, namun berkat kesabaran dan ketenangan Lie Yang akhirnya bisa mengontrol sifat istrinya.
Baru saja ia masuk ke dalam kamar ia sudah tertawa cekikikan sambil melempar baju yang ia bawa ke arah muka Lie Yang yang sedang bersemadhi. Kontan Lie Yang sampai terbangun dari semadhinya dan dua matanya meotot ke arah istrinya yang masih tertawa cekikikan sambil berjalan ke arah pembaringan.
“Kenapa engkau masih begini kekanak-kanakan?” tegur Lie Yang sambil melototkan matanya.
“Cik..cik…marah ya? Ala gitu saja marah, bagaimana nanti kalau sudah punya anak?” jawab Kwat Lin sambil menyandarkan tubuhnya ke dada Lie Yang.
Lie Yang diam saja tidak menjawab hanya terdengar suara pernapasannya sepertinya sangat berat.
“Apa Yang-twako marah kepadaku? Maaf ya kalau aku mengagetkanmu! Kalau mau menghukum, nih boleh Yang-twako menghukum!” kata Kwat Lin memelas dan menyodorkan pipi kanannya ke muka suaminya.
Selama tiga tahun ini hubungan mereka semakin lembut, hingga kalau Lie Yang mau menghukum kesalahan istrinya, seperti omongannya yang kurang sopan, masakannya kurang enak atau ketika diajar silat tidak juga bisa-bisa. Ia akan menghukum istrinya dengan sebuah ‘ciuman’ di pipi atau tempat lain. Maka tidak heran ketika Kwat Lin merasa bersalah, ia sudah boro-boro menyodorkan pipi kanannya yang tampak putih kemerah-merahan.
“Cupp!!” tiba-tiba Lie Yang menyodorkan bibirnya mencium pipi kanan istrinya.
“Lin-moi, umurmu sudah tua dan sebentar lagi engkau akan menjadi seorang ibu, sungguh tidak baik kelakuanmu ini kalau sampai dilihat orang lain atau ditiru anak-anak kita kelak!” tegur suaminya dan Kwat Lin menganggukkan kepala mentaati.
Memang saat ini Kwat Lin sedang hamil, baru dua bulan kandungannya dan sangat membahagiakannya. Sebenarnya mereka sudah sangat betah di dalam gua sana, namun karena usia kandungan Kwat Lin sudah mulai tua dan Lie yang tidak mau menyusahkan istrinya kalau nanti melahirkan, akhirnya mereka sepakat keluar untuk pulang ke Taiyuan dan menetap di sana bersama ayah-ibunya.
“Aih! Siapa yang sudah tua, umurku saja baru sembilan belas dan lihat tubuhku masih begitu indah belum terlihat seperti nenek-nenek! Apakah Yang-twako sudah salah lihat?” kata Kwat Lin yang lalu berjalan megal-megol di depan suaminya sambil tertawa cekikikan. Mau tidak mau Lie Yang akhirnya tersenyum juga melihat kelakuan istrinya yang benar-benar aneh dan keras kepala.
<><><><><>()<><><><><>
Malam itu di kamar dua suami-istri muda itu sudah gelap tidak ada sinar lampu lagi. Suasana di penginapan ini sudah begitu sepinya, hingga tidak ada suara apapun terdengar, hanya suara orang mendengkur di selingi igauan-igauan orang lelap tidur yang terdengar keras.
Tiba-tiba dari atas atap kamar mereka ada sesosok orang sedang membuka genteng rumah dengan sangat pelan. Lalu terjulur sebuah kayu bambu sebesar ibu jari. Tidak lama kemudia keluar asap dari kayu bambu itu memenuhi kamar Lie Yang dan Kwat Lin. Kamar itu akhirnya tampak lebih gelap sampai-sampai tidak terlihat lagi isi kamar itu.
Dari kamar itu terdengar suara batuk-batuk ramai sekali dan sepi. Sepertinya Lie Yang atau Kwat Lin sudah terlelap terkena asap pembius dari sesok orang di atas atap. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, sosok berbaju putih itu lalu turun dan masuk lewat jendela belakang. Ginkangnya hebat sekali hingga tidak terdengar suara sedikit pun. Setelah menyalakan lilin dan melihat ruangan kamar yang masih berkabut tiba-tiba orang itu menyeringai licik.
“Kali ini aku bisa menikmatimu, sayang!” kata orang berpakaian putih yang bukan lain adalah Ang-hong-cu.
Kedatangannya sebenarnya bermaksud jahat terhadap Kwat Lin yang tadi sore terkagum-kagum melihat kemolekan tubuh dan wajah Kwat Lin. Ang-hong-cu sebenarnya bisa dikatakan sebagai golongan seorang penjahat pemetik bunga atau pemerkosa wanita. Tidak heran kalau malam ini ia berani masuk ke kamar Kwat Lin dengan menggunakan asap tidurnya.
“Ahhh!!!” teriaknya tertahan. Ia tampak kaget ketika melihat kamar Kwat Lin kosong. Padahal tadi ia sudah mendengar suara Kwat Lin batuk-batuk seperti sudah terkena asap pembiusnya. Namun kali ini ia tidak habis mengerti kemana perginya orang yang sedang diharap-harapkannya itu.
“Yang-twako, sepertinya ada jai-ho-cat (Penjahat Pemetik Bunga) yang sedang kesasar ke dalam kamar kita! Dasar pemuda hidung belang tidak tahu malu! Kamar orang yang sudah besuami masih saja disatroni!” terdengar suara Kwat Lin terbawa angin masuk ke dalam kamar. Entah ada di mana orangnya?. Kaget bukan main Ang-hong-cu mendengar suara ini. Mukanya tampak kadang-kadang merah kadang-kadang pucat. Malu bukan kepalang si penjahat pemetik bunga ini mendnegar teguran dan hinaan Kwat Lin.
Tanpa berkata apa-apa lagi ia sudah meloncat keluar dan kabur. Pikirannya kali ini kusut dan kecewa karena tidak hanya mangsanya bisa meloloskan diri namun juga telah menghinannya. Ang-hong-cu melarikan diri dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya yang istimewa. Tampak tubuhnya meloncat-loncat dan kadang-kdang melayang seperti Tawon saja.
“Sobat, apakah begini sifat orang jantan setelah melakukan kesalahan!” terdengar suara orang dibelakangnya. Kaget tidak kepalang dirinya kali ini. Suara itu terdengar begitu dekat hingga tanpa sengaja bulu kuduknya berdiri ngeri. Ketika ia mencoba menengok ke belakang ia tidak melihat apa-apa. Ia tetap berlari menggunakan ilmu peringan tubuhnya, namun mendadak ia berhenti di udara ketika ia membalikkan mukanya ke depan.
Di depannya sudah berdiri atau tepatnya melayang dua orang. Satu laki-laki dan perempuan. Dua orang itu bukan lain adalah Lie Yang dan Kwat Lin. Hampir ia tidak percaya ada orang mempunyai ginkang sehebat ini. Dua orang muda-mudi itu tampak tersenyum mengejek kepadanya.
“Si…siapa sebenarnya kalian berdua?” tanyanya tergagap sambil turun ke tanah dan diikuti oleh Lie Yang dan Kwat Lin.
“Mestinya kami yang bertanya siapa sebenarnya saudara yang mengganggu tidur kami?” jawab Lie Yang sambil mencoba untuk tersenyum.
“Maaf kalau kali ini aku mengganggu tidur kalian. Aku kira tadi kedatanganku sangat dibutuhkan oleh nona Ang-i-sianli. Hahaha….!!!” kata Ang-hong-cu sambil tertawa latah. Ia sudah dapat menghilangkan rasa kaget dan ngerinya. Mendengar jawaban tidak sopan seperti ini, sejenak wajah Kwat Lin menjadi merah saking marahnya.
Untung tadi sore ia sudah menceritakan kepada suaminya tentang ada seorang pemuda yang memanggilnya ‘nona’, padahal ia sudah tidak nona-nona lagi dan mendadak Lie Yang mempunyai firasat buruk, sehingga sampai malam ia tidak tidur, hanya duduk bersemadhi seperti biasanya. Pada saat itulah telinganya yang sudah sangat tajam mendengar ada orang datang di atas kamarnya dan ia sudah siap.
“Bangsat! Ternyata tidak hanya kelakuanmu yang kotor, namun mulut dan hatimu juga busuk!” teriak Kwat Lin mau menyerang Ang-hong-cu namun dicegah oleh Lie Yang.
Ang-hong-cu hanya tertawa latah. Hakikatnya ia malah senang dikatakan mempunyai hati dan mulut yang busuk. Ia senang ternyata ada wanita cantik memujinya seperti itu.
“Saudara, sebaiknya engkau segera mengaku siapa sebenarnya dirimu dan apa maksudmu malam-malam mengganggu tidur kami suami-istri?” tanya Lie Yang masih dengan senyum khasnya.
Kwat Lin diam saja dengan muka cemberut sepertinya tidak senang dengan cara suaminya bertanya kepada ‘makhluk jahat’ ini. Hatinya sangat kesal melihat suaminya yang ia tahu sangat cerdik dan jenius, kenapa kali ini mendadak sangat bodoh. Padahal sudah jelas tujuan Ang-hong-cu ingin ‘memetik bunga’ yaitu dirinya.
“Oh? Aku kira Ang-i-sianli masih seorang nona, ternyata sudah bersuami. Maafkan aku hujin (Nyonya) kalau aku tidak tahu tentang persoalanmu. Tapi walaupun engkau sudah bersuami masih tetap harum memabukkanku. Hahahah….!!!” kata Ang-hong-cu tidak senonoh.
Mendengar perkataan Ang-hong-cu ini, bukannya Lie Yang marah malahan tersenyum. Sedangkan Kwat Lin sudah benar-benar tidak tahan lagi, seperti gunung api yang sudah tidak tahan meletuskan laharnya.
“Sayang!” kata Lie Yang berkali-kali sehingga membuat Ang-hong-cu tidak mengerti.
“Hahaha… sayang? Memang sayang sekali wanita begitu cantiknya berada di tangan seorang pemuda segoblog dirimu, saudara!” kata Ang-hong-cu sambil tertawa tidak ada henti-hentinya.
“Hahaha… sayang sekali seorang pemuda sepertimu tidak punya rasa malu sehingga selalu berbuat seenak perutnya! Aku ingin melihat apakah engkau benar-benar tidak punya ‘kemaluan’ hingga tidak punya malu?” kata Lie Yang yang sudah tidak lagi tersenyum seperti tadi, walaupun dalam mengucapkan perkataan ia tertawa.
Kali ini Kwat Lin baru tahu bahwa Lie Yang juga bisa bicara seperti itu padahal setahunya suaminya tidak pernah berkata yang seperti itu. lalu ia melihat wajah suaminya yang sepertinya sudah berubah, sorot matanya memancar aneh, sedang mulutnya sudah tidak tersenyum seperti biasanya. Ngeri sekali Kwat Lin melihat wajah suaminya yang sudah mulai berubah entah bagaimana. Nada suaranya juga sudah sedemikian beku dan datar seperti tidak mencerminkan lagu jiwa lagi.
Ang-hong-cu mendengarkan perkataan ini juga marah sekali sampai-sampai ia tidak bisa bicara. Belum pernah ia mendengar perkataan yang seperti itu.
“Bangsat! Aku akan bikin engkau mampus dan akan kutunggangi istrimu yang cantik ini biar engkau tahu bagaimana menyesalnya mengeluarkan perkataan itu!” teriak Ang-hong-cu lalu ia mulai menyerang Lie Yang.
Tiba-tiba dalam tubuh Lie Yang memancar hawa panas dan dingin sehingga membuat Kwat Lin minggir tidak bergerak. Benar-benar ia tidak paham bagaimana perasaan suaminya mendengar omongan Ang-hongcu. Sebenarnya sejak tadi ia ingin mencoba kemampuan Ang-hong-cu apakah sehebat bicaranya, namun ia tidak berani karena sejak pertama ia sudah dilarang.
Lie Yang diam saja tanpa menggeser tubuhnya, padahal pukulan Ang-hong-cu sudah begitu dekatnya. Baru sekitar satu jengkal pukulan Ang-hong-cu mau mendarat di dada Lie Yang tiba-tiba ia sudah merasakan hawa panas dan dingin memancar dari tubuh lawannya.
“Blangggggggg!!!!! Aihhhhhhhhhhhh!!!”
Tubuh Ang-hong-cu terpental sampai puluhan jengkal dengan jeritan menyayat hati. Padahal pukulannya tadi belum nyampai di tubuh Lie Yang. Kiranya hawa panas dan dingin yang memancar dari tubuh Lie Yang tidak hanya membuat sebuah prisai yang kuat, juga menyusup melalui tangan Ang-hong-cu dan menolak balik tenaganya hingga merusak semua organ di dalam tubuh Ang-hong-cu. Tampak Ang-hong-cu terbaring dengan tubuh tidak hidup atau mati. Walaupun ia hidup sebagian tubuhnya pasti sudah cacat sehingga ia akan menjadi seorang yang cacat dalam hidupnya. Setengah tenaganya buyar hingga tubuhnya tampak lemas dan dari mulutnya keluar darah merah tidak ada henti-hentinya.
“Hui-im Hong-sinkang (Tenaga Sakti Angin Api dan Dingin)!” katanya lirih.
“Hm, akhirnya engkau mengetahui juga ilmu ini. Aku tahu bahwa ilmu yang engkau gunakan didasarkan pada Sin-hong (Angin Sakti) sampai tingkatan ke lima. Kalau engkau tidak mau mengatakan siapa engkau sebenarnya, aku akan menelanjangimu dan membiarkan dirimu tidak hidup atau mati di sini, biar semua orang tahu bahwa orang yang paling jahat adalah sepertimu!” jengak keren Lie Yang mengerikan.
Kwat Lin berdiri dengan pucat melihat kedahsyatan ilmu suaminya dan kekejamannya. Benar-benar ia tidak mengerti kenapa sifat suaminya berubah padahal ia tahu suaminya adalah laki-laki yang paling lembut. Tidak terasa matanya mengalirkan air mata yang entah terasa pahit atau manis.
“A…aku…Ang..-hong..-cu bernama Kong..Lee. Mohon sembuhkan diriku, aku benar-benar menyesal atas kelakuanku padamu, sobat budiman!” jawab terbata-bata Nag-hong-cu.
“Hahaha… engkau benar-benar menjijikkan! Apakah engkau mempunyai hubungan dengan Ang-hong-pay?” Lie Yang masih ingin bertanya.
“Aku putera ke dua dari pangcu-Ang-hong-pay! Mohon saudara membebaskan penderitaan ini!” kata Ang-hong-cu takut setengah mati sehingga menjawab pertanyaan Lie Yang dengan jujur.
“Sudah kuduga sebelumnya, hanya orang-orang Ang-hong-pay yang mampu memainkan jurus Sin-hong Sin-kang! Aku bisa menyembuhkanmu, karena kejujuranmu, namun aku tetap akan melakukan satu hal untuk kelancanganmu atas mulutmu yang kotor!”
Lalu Lie Yang menjulurkan tangannya ke arah tubuh Ang-hong-cu. Tiba-tiba dari tangan Lie Yang memancar hawa dingin dan panas bergerak pelan-pelan ke tubuh Ang-hong-cu. Sebentar kemudian dua hawa sakti itu masuk ke dalam tubuh Ang-hong-cu, tampak tubuhnya kadang-kdang menggigil dan kepanasan. Dua puluh menit kemudian Lie Yang menurunkan tangannya.
Wajah Ang-hong-cu yang tadinya pucat seketika itu memerah dan tidur terpulas dengan enaknya. Lalu Lie Yang menarik tangan Kwat Lin pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan dengan tangan yang lain Lie Yang menggerakkan tenaga dalamnya untuk melucuti semua pakaian Ang-hong-cu sampai bugil. Mereka lalu meniggalkan tubuh bugil itu di tengah jalan begitu saja.
“Kenapa engkau melakukan pekerjaan yang begitu kejam terhadap Ang-hong-cu? Lebih baik dibunuh orang itu dari pada dilecehkan seperti itu!” kata Kwat Lin tidak senang melihat kelakuan suaminya.
“Sebenarnya aku juga tidak tega melakukan hal seperti itu kepadanya, namun aku lakukan juga karena memandang berbagai hal!” jawabnya sambil menghela napas berat.
“Apa?”
“Pertama aku hanya mengikuti firasat untuk mengalahkan dengan ilmuku tanpa kubisa mencegahnya. Ke dua karena aku benar-benar marah istriku yang baik dilecehkannya, itu sama halnya melecehkanku. Ke tiga aku sengaja berbuat begitu supaya ia insaf. Ke empat karena aku ingin melihat siapa sebenarnya dirinya dan ternyata dugaanku tidak meleset, walaupun ada beberapa hal lainnya yang belum kumengerti. Ke lima aku ingin menyembuhkan penyakit yang dideritanya akibat salah melatih ilmu Sin-hong Sin-kang, walupun ia sudah menguasai sampai tahapan ke lima. Semua itu tidak akan berarti apa-apa, malahan akan merugikan badannya!” jawab Lie Yang enteng.
Kwat Lin sampai bengong mendengar uraian Lie Yang yang begitu singkat namun begitu panjang kalau dipikirkan. Kali ini ia menjadi kagum atas sifat suaminya yang ternyata gagah dan sejati.
“Maafkan diriku!” tiba-tiba Kwat Lin meminta maaf kepada suaminya.
“Maaf?” tanya Lie Yang tidak mengerti kenapa istrinya meminta maaf.
“Aku sudah menduga yang tidak-tidak terhadapmu!”
Lie Yang tertawa atas kepolosan dan kejujuran istrinya.
“Makanya belajarlah memahamiku, kalau bukan engkau yang paling paham sifatku, terus siapa lagi?!” jawab Lie Yang sambil mentowel hidung istrinya.
Kwat Lin tertawa cekikikan dan Lie Yang tersenyum senang.
“Menurutku untuk akhir-akhir ini engkau jangan banyak ulah, apalagi mau berkelahi. Kasihan bayi dikandunganmu!” pesan Lie Yang sayang kepada istrinya.
Kwat Lin sampai terharu mendengar perhatian suaminya ini. Ia mengaggukkan kepalanya menyetujui pesan suaminya.
“Bolehkah aku tahu satu hal darimu, Yang-twako?”
“Tentang apa?”
“Kenapa firasatmu begitu aneh?”
“Entahlah! Sejak aku melatih ilmu Sin-hong Sin-kang sampai tahapan ke delapan, aku merasa ada yang aneh dengan batinku. Apalagi setelah aku berhasil mempelajari ilmu Jit-goat Hoat-lek Sin-kang (Hawa Sakti Sihir Matahari dan Bulan) dengan sempurna. Sepertinya aku sering mendapatkan sebuah isyarat atau tanda tanpa kuketahui datang dari mana. Seperti yang sering kurasakan untuk menyelidiki dan menghancurkan Ang-hong-pay, padahal aku tidak mempunyai permusuhan sama sekali dengan partai ini. Sepertinya ada sesuatu kejadian hebat yang akan muncul karena Ang-hong-pay di dunia kang-ouw sebentar lagi. Sekarang juga aku mempunyai firasat aneh tentang ilmu Sin-hong Sin-kang yang dipakai oleh para anak buah Ang-hong-pay, padahal sepengetahuan kita ilmu itu milik Kim-long-pay yang telah hancur dan yang aneh adalah sering kulihat ilmu Sin-hong Sin-kang dilatih oleh mereka dari sumber yang salah. Dan ada lagi, mengenai Giok-ceng yang diperebutkan oleh semua orang kang-ouw, sepertinya ada sesuatu intrik tersembunyi di dalamnya.”
“Wah…wah banyak sekali firasatmu, Yang-twako. Apakah engkau kuat menerima firasat-firasat itu?” kata Kwat Lin sambil cekikian merdu.
“Sudahlah! Suatu saat nanti kita akan segera tahu, kalau kita bisa bertemu dengan Dua Pelindung Kim-liong-pay!”
Setelah berbicara mereka lalu tidur. Lampu kamar sudah dimatikan.
<><><><><>()<><><><><>
VII- Chapter Ke Tujuh; Kakek Bu-eng-hu
Lie Yang dan Kwat Lin berjalan menelusuri hutan di selatan kota Taiyuan. Sudah seharian mereka berjalan dari kota Lok Yang untuk pulang ke Taiyuan. Perjalanan mereka cukup cepat karena mereka menggunakn ilmu peringan tubuh untuk mempercepat perjalanan mereka pulang ke rumah. Beberapa kali Kwat Lin harus dipondong suaminya karena Lie Yang sangat mengkhuwatirkan kandungan istrinya. Dalam perjalanan kali ini, Lie Yang tidak bisa menikmati banyak pemandangan yang dijumpainya karena terlalu terburu-buru.
Semalam ia mendapatkan firasat buruk tentang dua orang tuanya dan tentang Giok-ceng. Ketika ia sedang terlelap dalam tidurnya ia melihat wajah ayah-ibunya terbayang di hadapannya dengan muka pucat mengerikan. Ayahnya berkali-kali memanggilnya untuk segera pulang karena sudah sangat rindu kepadanya. Pagi-pagi sekali ia langsung mengajak istrinya untuk cepat-cepat pulang. Kali ini ia benar-benar takut dan khuwatir terhadap keadaan orang tuanya.
Ketika masuk ke kota Taiyuan ia melihat kota ini begitu sepi tidak seperti dahulu ketika ia masih kanak-kanak. Hanya beberapa orang saja yang tampak keluar rumah, bahkan anehnya penduduk yang melihat kedatangannya diam saja tidak menyapa, padahal mereka mengenalnya. Dulu tiga tahun yang lalu hampir semua orang yang melihatnya akan menyapanya senang. Namun kali ini mereka hanya memandang kepadanya dengan perasaan hampa atau seperti orang sedang menegur kepadanya lewat tatapan kosong.
Lalu ia mengajak istrinya untuk cepat-cepat ke rumahnya, karena hatinya benar-benar tidak tentram melihat kelakuan penduduk Taiyuan kepadanya.
Baru saja ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang rumahnya ia sudah dibentak oleh seseorang yang tidak terlihat.
“Siapa orang yang berani lancang masuk!” terdengar suara menggelegar dari pepohonan yang ada di samping gerbang.
“Ini aku Lie Yang!” jawabnya hampa.
“Ah, kongcu! Baru sekarang kongcu pulang?” terlihat sosok orang ke luar menyambut dirinya. Orang ini adalah pengawal peribadi ayahnya paman Chi.
“Ada apakah dengan ayah dan ibu, paman?” langsung saja Lie Yang bertanya tentang ayah dan ibunya.
“Sebaiknya kita masuk ke dalam!” paman Chi mengajak masuk Lie Yang.
Di dalam rumahnya terdengar isak tangis dari para pelayan. Rumahnya memang sangat sepi, hanya suara tangis pilu dari para pelayan terdengar mengerikan. Di tengah ruangan terlihat peti mati dan di samping peti itu duduk para pelayan sedang menangis.
“Siapakah yang meninggal, Paman Chi?” tanya Lie Yang kaget dan khuwatir.
Mendengar suara ini para pelayan semakin keras tangisnya. Ada juga langsung diam tidak mau bersuara walaupun menangis.
“Di sana adalah jenazah ibu kongcu yang baru tadi pagi meninggal setelah seminggu dapat bertahan menunggu kedatangan kongcu!” jawab pengawal Chi.
Lie Yang langsung berlari tanpa sengaja menggunakan ilmu peringan tubuhnya sehingga mengagetkan semua orang yang hadir di dalam. Mereka kaget, karena kongcu yang dahulu mereka kenal tidak bisa silat, namun kali ini mereka disuguhi atraksi gratis.
“Ibu…!” teriak Lie Yang pilu.
“Kenapa ibu meninggalkanku secepat ini? Apa ibu tidak mau menemui menantu dan cucumu?. Maafkan aku yang tidak menurut perkataanmu ibu!” kata Lie Yang benar-benar sedih. Tidak terasa lagi ia menangis seperti anak kecil. Kwat Lin mengelus-elus pundak suaminya.
“Paman dimana ayah?” tanya Lie Yang baru ingat ayahnya.
“Ayah kongcu sudah tiga hari tidak sadarkan diri dan sekarang ada di dalam kamarnya!”
Belum habis ucapan pamannya, ia sudah berlari atau melayang tidak merasakan bahwa ia menggunakan ginkangnya yang sudah mendarah daging.
“Ayah! Oh ayah! Maafkan anakmu yang tidak berbakti ini!” kata Lie Yang yang melihat ayahnya tergeletak belum sadarkan diri dalam keadaan pucat seperti mayat.
Lie Yang sudah duduk di samping ayahnya dna mencoba menyalurkan sinkangnya melalui persentuhan tangan. Setengah jam kemudian ayahnya sudah bisa membuka mata.
“Yang-ji, ah… senang sekali aku melihatmu kembali. Mungkin aku tidak akan hidup lama lagi, aku dapat bertahan hingga saat ini karena ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya!” kata ayahnya menguatkan diri.
“Ayah, jangan banyak bicara lagi! Sebaiknya engkau istirahat!” kata Lie Yang mencegah ayahnya menghamburkan kekuatan yang baru disalurkannya.
“Aku sudah tidak kuat lagi, anakku. Aku sudah terlalu tua untuk hidup lagi! Sia… siapakah gadis manis di sampingmu ini, Yang-ji?” Hartawan Song mencoba untuk tersenyum.
Lie Yang menyuruh istrinya untuk duduk di sampingnya. Sambil memegang tangan kanan ayahnya ia berkata.
“Namanya Yang Kwat Lin menantu ayah dan akan menjadi ibu dari cucu ayah!” jawab Lie Yang memperkenalkan istrinya kepada ayahnya.
“Senang sekali aku mendengar engkau sudah beristri, bahkan akan punya anak. Semoga hidupmu penuh bahagia dan berkah, anakku. Impianku ingin melihat engkau beristri sudah terkabulkan hari ini. Ayah bisa meninggalkanmu dengan tenang. Namun sayang…sayang…aku…tid..”
Tiba-tiba perkataan hartawan Song berhenti tanpa bisa meneruskan kata-katanya lagi untuk selamanya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan lagi, namun tidak kuat karena keburu meninggal dunia.
“Ayah…….!!!!!” teriak campur jerit Lie Yang. Ia menangis di atas dada ayahnya.
“Sudahlah, Yang-twako! Yang mati tidak akan pernah kembali lagi, lebih baik urus segera jasadnya!” hibur istrinya.
Jeritan Lie Yang tadi mengagetkan para pelayan sehingga membuat mereka berlari ke kamar dan mereka juga menangis menjerit ketika melihat tubuh tuannya sudah tidak bernyawa lagi. Pengawal Chi juga sudah ada di situ.
“Paman, tolong ceritakan siapa yang melakukan kebiadaban ini?!” tanya Lie Yang tanpa menengok ke arah pengawal Chi.
“Sejak kongcu menghilang dari hutan pegunungan Siong-san, banyak orang-orang kang-ouw baik dari golongan putih maupun hitam datang berduyun-duyun kemari. Mereka menuntut kongcu untuk menyerahkan Giok-ceng kepada mereka. Kami mencoba menjelaskan sebenarnya bahwa Giok-ceng tidak ada di sini, namun mereka memaksa hingga sering terjadi pertikaian di sini. Walaupun kami bisa menggagalkan usaha mereka dengan cara lembut dan kasar, tetap saja mereka tidak percaya. Lalu seminggu yang lalu, orang-orang Ang-hong-pay datang kemari dan memaksa kepada kami untuk memberi tahu dimana kongcu yang dikatakannya membawa Giok-ceng, mereka mengancam akan membunuh setiap yang hidup di sini kalau kita tidak mau memberitahu. Kedatangan mereka tidak terduga-duga dan membawa anak buah yang sangat lihai, sehingga kami tidak mampu membendung ketika terjadi bentrokan besar di sini. Sehingga banyak orang kita yang terluka parah atau tewas dalam pertempuran itu, termasuk ayah dan ibu kongcu yang tidak bisa silat. Seandainya tidak datang tiga orang penolong, kemungkinan semua orang di sini akan tewas dengan mengenaskan.” Cerita pengawal Chi.
Lie Yang tampak memejamkan kedua matanya seperti sedang membayangkan kejadian itu.
“Siapa tiga penolong itu?” tanya Lie Yang. Kali ini suaranya begitu datar. Kwat Lin sudah paham bahwa Lie Yang sudah mulai marah.
“Dua orang memakai topeng emas dan seorang kakek berambut putih.”
“Ayah dan Uh Hou-hoat dan entah siapa kakek berambut putih itu, Yang-twako?!” kata Kwat Lin.
“Kakek itulah pengajarku selama ini!” kata Lie Yang hampa.
“Kalau mereka tidak terlambat, kemungkinan orang-orang Ang-hong-pay tidak akan berhasil menyakiti seujung rambut pun penduduk rumah ini!” kata Lie Yang lagi.
Lalu ia diam membisu. Seperti seorang sedang termenung memikirkan sesuatu.
“Teman yang ada di atap sana, mengapa tidak juga masuk? Mau menunggu apa lagi, apakah menunggu kekerasan dariku?!” kata Lie Yang dengan nada datar.
“Maafkan kami kongcu, seharusnya sejak tadi kami masuk!” jawab seseorang di atas atap.
Sebentar kemudian di pintu sudah berdiri dua orang memakai topeng emas.
“Ayah!” teriak Kwat Lin sambil memeluk ayahnya.
Lie Yang yang sedang bersedih diam saja melihat kedatangan dua bertopeng emas, apalagi salah satunya adalah mertuanya.
“Maafkan kami yang terlambat…” kata Uh Hou-hoat yang sudah dipotong oleh Lie Yang.
“Sudahlah paman, takdir seseorang memang tidak bisa ditebak. Hidup dan mati adalah dua pilihan manusia. Menyesali kematian sama saja menyesali kehidupan. Aku hanya heran kenapa mereka menduga bahwa kami yang membawa Giok-ceng, padahal sejak kejadian perebutan di hutan pegunungan Siong-san, benda itu tidak lagi kami bawa?”
“Itulah kesalahan kami. Benda itu sebenarnya ada di tangan Thian-long-cu dan entah siapa yang mengabarkan benda itu berada di tangan kongcu. Ketika kami menyelidiki, ternyata yang menyebarkan bukan lain adalah Thian-long-cu sendiri.”
“Ah, licik benar orang tua sesat itu. Demi ingin mengangkangi sendiri Giok-ceng, ia tidak berat mengorbankan nyawa banyak orang!”
Setelah bicara ia lalu berdiri dan melangkahkan dua kakinya keluar kamar.
“Mau ke manakah engkau, Yang-twako?” tanya Kwat Lin heran, begitu juga yang lainnya.
“Paman Chi tolong bantu mengurusi jenazah ayah, aku mau menemui kakek di belakang rumah dulu!” Lie Yang melangkahkan kakinya tidak menghiraukan mata orang-orang menatapnya dengan heran.
“Benarkah bahwa ada seorang kakek berambut putih membantu kita kemarin?” tanya Uh Hou-hoat kepada pengawal Chi.
“Apakah ji-locianpwe tidak melihat kakek berjubah putih itu?” tanya balik.
“Sudahlah! Sebaiknya kita mengikuti kongcu barang kali kita bisa bertemu langsung dengan kakek yang ia maksudkan!” kata Yang-pangcu.
Tiga orang itu mengikuti Lie Yang yang sedang berjalan pelan menuju belakang rumahnya. Di belakang rumahnya terdapat lapangan yang sangat luas. Ada puluhan pohon besar di sana dan taman bunga yang sangat luas. Biasanya setiap malam Lie Yang belajar silat di antara taman-taman bunga ini.
Lie Yang berdiri sambil memandang pucuk salah satu dari pohon yang tumbuh di taman. Sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Pohon yang tumbuh di paling pojok taman itu sangat besar hingga terlihat seram sekali.
Tiga orang yang berdiri agak jauh dari Lie Yang terheran-heran melihat kelakuan Lie Yang. Sudah hampir satu jam mereka menanti datanganya kakek berambut putih yang pernah dikatakan oleh pengawal Chi, namun belum juga datang. Hingga malam hari mereka masih berdiri tanpa bicara sepatah kata pun. Lie Yang diam, mereka juga diam.
Akhirnya Yang-pangcu tidak sabar dengan kesunyian malam. Ia lalu bertanya kepada puterinya tentang masa tiga tahun mereka hidup bersama di dalam gua dan apakah mereka sudah menguasai lima buku teori silat yang ia tinggalkan di sana. Lalu Kwat Lin menceritakan semuanya dengan detail bagaimana mereka hidup di sana sampai bisa ke sini, termasuk tentang pertempuran Lie Yang melawan Ang-hong-cu.
“Apakah benar katamu bahwa kongcu memainkan ilmu Hui-im Hong-sinkang, tidakkah pendengaranmu salah?” tanya Yang-pangcu tidak percaya kepada puterinya.
“Masa aku salah mendengar? Sudah jelas bahwa Ang-hong-cu berteriak kaget sambil menyebut nama ilmu itu!” jawab Kwat Lin meyakinkan ayahnya.
“Apakah engkau melihat ciri khas ilmu yang dimainkan oleh suamimu, Li-ji?” tanya Uh- Hou-hoat.
“Ilmu itu mengandalkan sinkang hebat sekali. Hingga angin bisa digunakan untuk memperisai diri dari serangan lawan, bahkan angin itu berhawa sakti panas dan dingin. Aku sendiri tidak tahan terkena hawa sakti itu hingga minggir menjauh.”
“Benar! Seperti itulah ilmu Hui-im Hong-sinkang bahkan sepertinya sudah tingkatan tinggi sekali. Entah dari mana bocah itu belajar ilmu Sin-hong Sin-kang sampai tahap ke delapan, padahal sepengetahuanku hanya Giok-pangcu yang menguasai sampai tahapan ke delapan?” kata Uh Hou-hoat heran. Ia sendiri hanya bisa sampai tahapan ke lima, sedangkan Lie Yang yang dianggap lemah sudah mencapai tingkatan lebih tinggi darinya.
“Bahkan kalau tidak salah ia sekarang lagi menyempurnakan ilmunya Jit-goat Hoat-lek Sin-kang (Hawa Sakti Sihir Matahari dan Bulan)!”
“Apa?” tanya Uh Hou-hoat dan Yang-pangcu berbarengan.
“Kenapa?” tanya Kwat Lin tidak mengerti kenapa mereka sepertinya kaget mendengar ilmu itu.
“Apa mungkin, Hong Hou-hoat?” tanya Uh Hou-hoat kepada Yang-pangcu.
“Entahalah! Sulit mempercayainya dan mungkin juga!” jawabnya bingung.
“Sebenarnya ilmu apakah Jit-goat Hoat-lek Sin-kang itu, ayah?” tanya Kwat Lin masih tidak mengerti.
“Sebenarnya ilmu itu adalah salah satu ilmu yang sudah hilang di Perkampungan Naga Emas sejak ratusan tahun yang lalu. Setahuku hanya nenek moyang Perkampungan Naga Emas saja yang menguasai ilmu itu. Ilmu itu harus dipelajari sejak kecil dan harus mempunyai hati yang benar-benar suci dan bersih baru bisa mempelajarinya. Kalau hatinya tidak suci atau bersih, akan terjadi mala-petaka. Orang itu akan kemasukan hawa iblis yang mengerikan.” Kata Yang-pangcu.
“Dan untuk apakah ilmu itu sebenarnya dan bagaimana kedahsyatan ilmu itu?” tanya Kwat Lin lagi.
“Sulit diduga kedahsyatan ilmu ini, karena sudah ratusan tahun menghilang. Konon dengan ilmu inilah nenek moyang Perkampungan Naga Emas dapat menguasai Naga Emas yang muncul di kaki bukit Thai-san. Orang yang menguasai ilmu ini tidak hanya lwekang, sinkang, ilmu silat yang dapat maju dan sempurna tanpa batas, bahkan akan mempunyai firasat-fiarasat yang bisa merasakan sesuatu nasib yang akan terjadi. Bisa dikatakan orang ini akan mempunyai indra para dewa sehingga bisa merasakan sesuatu sebelum terjadi.” Kata Uh Hou-hoat.
“Pantas kemarin malam ia selalu bicara tentang firasat-firasat aneh yang selalu mengganggunya!” kata Kwat Lin termenung.
“Apakah benar ia sudah bisa merasakan suatau firasat aneh?” tanya Yang-pangcu terkaget-kaget mendengar penuturan puterinya.
“Sebelum tahu tentang kondisi ayah-ibunya, Yang-twako sebenarnya sudah merasakannya sebelumnya. Maka ia mengajakku ke sini dengan cepat dan rasa khuwatir!”
Dua orang tua bertopeng ini manggut-manggut walaupun masih belum begitu percaya dengan munculnya ilmu gaib dari Perkampungan Naga Emas.
“Ayah dan paman, aku ingin tanya sesuatu. Apakah benar Yang-twako adalah kongcu dari Perkampungan Naga Emas?”
Pertanyaan ini sebenarnya sudah disimpan sejak pertama kali bertemu dengan Lie Yang oleh Kwat Lin namun baru kali ini mengutarakannya.
“Ya!” hanya itu jawaban dari Yang-pangcu dan Kwat Lin puas.
Belum Kwat Lin melanjutkan pembicaraanya. Dua Topeng Emas sudah melayang mendekati Lie Yang yang sedang duduk di atas pucuk pohon bersama seorang kakek berpakaian putih dari kain kasar. Rambutnya yang riap-riap ditempa sinar bulan tampak menakutkan. Kakek itu sudah tampak tua sekali, umurnya mungkin sudah mendekati seratus tahun. Kakek itu tersenyum melihat dua topeng emas dan Kwat Lin datang.
“Cucuku, naiklah ke atas! Aku ingin melihat sudah sampai manakah tingkatan ginkangmu!” kata kakek itu pelan namun bisa didengar jelas oleh tiga orang di bawahnya.
Kwat Lin lalu melayang ke atas pucuk pohon dengan enteng, namun ia tidak berani duduk seperti apa yang dilakukan oleh suaminya dan kakek tua itu. Ia masih belum bisa menguasai ginkangnya. Tiba-tiba ia ingin muntah ketika melihat ke bawah. Pohon itu terasa sangat tinggi apalagi kandungannya terasa aneh.
“Jangan takut, cucuku! Ketakutan hanya akan menjauhkan engkau dari kesempurnaan ilmumu! Duduklah dengan tenang karena ketenangan adalah lembar tempat dudukmu!”
“Duduklah Lin-moi! Jangan takut, biarkan tubuhmu bebas terbang seperti walet dan seenteng hembusan angin yang bersemilir bebas!” kata Lie Yang sambil tersenyum.
Setelah mendengar perkataan kakek tua dan suaminya ia mencoba mengusir ketakutannya untuk jatuh. Kali ini ia mencoba berkosentrasi penuh dan hasilnya memang hebat. Ia bisa duduk dengan enak di atas pohon itu. Kakek itu sangat senang sekali melihat Kwat Lin sudah bisa memahami perkataannya. Tangan kanan Kwat Lin dipegang oleh Lie Yang sehingga semua ketakutannya hilang tanpa bekas. Kali ini ia hanya merasakan seperti duduk di atas rerumputan. Tidak merasa ngeri sama sekali.
“Kalian berdua boleh menanggalkan topeng kalian, aku ingin melihat wajah asli kalian!” perintah kakek tua itu sambil tersenyum.
Dua pelindung diam saja tidak menjawab, hanya mata mereka mencorong seperti menolak perintah kakek itu.
“Baiklah! Ternyata kalian masih mentaati sumpah kalian. Pernahkah kalian mendengar perkataan ini, ‘Naga emas muncul memberikan berkah bagi umat manusia, membebaskan kesengsaraan dengan tindak mulia, memberikan kesempatan untuk berbaik diri, mengampuni yang menyesali, menghukum yang bersalah. Itulah titah Naga Mulia!’” kakek itu berkata layaknya membaca puisi.
“Kami mentaati perintah Naga Emas, Naga Mulia!” jawab serentak Yang-pangcu dan Uh Hou-hoat sambil melepaskan topeng mereka.
Setelah terbuka, Lie Yang baru tahu wajah dua topeng emas yang terlihat tampan dan bersih.
“Ternyata paman Sam mempunyai wajah setampan ini!” kata Lie Yang sambil tersenyum kepada paman Sam yang sejak kecil melayaninya dan ternyata adalah Uh Hou-hoat adanya.
“Sekarang kalian semua dengarkan ceritaku! Aku ingin bercerita supaya hati kalian tidak penasaran terhadapku!”
“Apakah kakek akan bercerita tentang diriku juga?” tanya Lie Yang sedangkan kakek tua itu menjawab dengan anggukan kepala.
Semua orang diam mendengarkan cerita kakek tua itu.
“Ketahuilah kalian semua! Mungkin kalian penasaran siapa sebenarnya diriku yang tahu kunci semboyan seorang pangcu dari Kim-liong-pay. Delapan puluh tahun yang lalu aku pernah merasakan jabatan pangcu Kim-liong-pay dan lalu kuserahkan kepada anakku Giok Sin Lee dan dijabat cucuku Giok Bu dan sekarang aku akan menyerahkan jabatan ini kepada salah satu dari kalian!” hebat sekali omongan kakek ini.
Tanpa sengaja Dua Pelindung sampai kaget mendengar tentang diri kakek tua renta yang ternyata adalah salah satu dari ORANG SUCI dari Perkampungan Naga Emas. Peraturan Kim-liong-pay memang aneh, karena setiap anak murid Kim-liong-pay dari mulai menjabat pangcu, Fu-hoat, Hou-hoat akan segera masuk ke sebuah dunia yang bernama DUNIA ORANG-ORANG SUCI setelah mereka melepas jabatannya. Hanya beberapa orang saja yang bisa masuk ke dunia yang tidak diketahui dimana letak tempatnya itu, karena hanya orang-orang yang sudah terpilih mempunyai hati suci dan kesetiaan saja yang akan mendapatkan tempat mulia itu. tempat orang-orang suci atau dunia suci adalah tempat mengasingkan diri bagi mereka yang sudah melepas urusan duniawi. Mereka akan masuk dunia suci dan tidak akan pernah muncul ke dunia ramai. Kebanyakan orang-orang dari Perkampungan Naga Emas tidak ada yang tahu dimana tempat pengasingan orang-orang suci bagi mereka itu. Maka tidak heran kalau Dua Pelindung menjadi sedemikian kagetnya mendengar penuturan kakek tua yang tanpa sengaja mengatakan ia keluar dari tempat sucinya.
“Aku sengaja keluar dari tempatku, karena ada beberapa hal yang menggemparkan akan muncul di dunia kang-ouw. Mungkin kalian masih ingat bencana yang melanda Perkampungan Naga Emas belasan tahun yang lalu. Bencana yang bisa dikatakan paling hebat yang pernah kita terima, semua anggota Kim-liong-pay terbunuh tanpa diketahui siapa pelakunya, bahkan hingga saat ini. Sengaja aku muncul memang ingin mengusut siapa sebenarnya pembunuh-pembunuh anggota keluarga kita. Belasan tahun aku menyuruh Fu Hou-hoat untuk menyelidikinya, namun tidak juga ketemu. Hingga akhir-akhir ini aku bisa menemukan sedikit penerang. Kemungkinan bencana yang melanda perkampungan kita ada hubungannya dengan Ang-hong-pay, sebab akhir-akhir ini mereka menggunakan ilmu-ilmu khas Kim-liong-pay, seperti Sin-hong Sin-kang hingga tahapan ke lima, Kim-liong Sin-ciang-kun (Ilmu Pukulan Tangan Sakti Naga Emas), Kim-liong Jian-jiu-kun (Pukulan Seribu Tangan Naga Emas), Kim-liong Bian-ciang-kun (Ilmu Pukulan Tangan Lunak Naga Emas) dan lain-lainnya. Padahal Kim-liong-pay tidak pernah mengajarkan ilmu-ilmunya ke luar tempat.”
Kakek itu berhenti sebentar.
“Dahulu ketika terjadi bencana itu, aku sendiri datang terlambat sehingga tidak bisa menyelamatkan banyak orang, kecuali hanya putera cucuku Giok Bu dan beberapa penduduk Perkampungan Naga Emas. Mungkin kalian ingin bertanya kenapa aku sampai bisa berpendapat bahwa Ang-hong-pay mempunyai hubungan dengan bencana ini? Bukan lain karena waktu itu aku sempat bertarung dengan salah seorang pembunuh yang ternyata dapat memainkan ilmu-ilmu dari Perkampungan Naga Emas. Bahkan ilmu silat Sin-hong Sin-kang yang dimainkan oleh dua orang pembunuh sudah mencapai tahapan sampai ke delapan. Padahal di perkampungan kita hanya pangcu seorang saja yang bisa memainkan ilmu itu sampai tingkatan ke delapan. Makanya aku harap Dua Pelindung suka menyelidiki kasus ini secara tuntas dan kalau perlu bisa menggunakan anak buah Pek-eng-pay juga.”
Kakek tua berhenti bercerita. Ia menatap wajah setiap orang yang ada di situ.
“Sekarang aku akan menyerahkan kursi pangcu kepada Lie Yang dan semoga kalian bisa membantunya menyelesaikan misinya kali ini!” tidak ada yang menyangkal pernyataan kakek ini.
“Kakek, kenapa harus aku yang memegang pangcu Kim-liong-pay, padahal aku tidak begitu mengerti tentang Kim-liong-pay!” kata Lie Yang sepertinya tidak setuju dirinya ditunjuk menjadi pangcu Kim-liong-pay.
“Dengarkan baik-baik Lie Yang, cucuku! Saat ini engkau harus tahu segalanya tentang dirimu, bukankah tadi engkau memintanya? Ketahuilah sebenarnya engkau bukan she (marga) Song, tetapi Giok, seperti diriku. Jadi namamu bukan Song Lie Yang namun Giok Lie Yang karena engkaulah putera cucuku Giok Bu yang dahulu kuselamatkan. Sebab jalur keluarga inilah engkau menjadi pangcu Kim-liong-pay, juga karena saat ini engkau sudah menguasai ilmu Sin-hong Sin-kang sampai tahap ke sembilan yang belum pernah dikuasai oleh pangcu atau nenek moyangmu sebelumnya!”
“Sin-hong Sin-kang tingkatan ke sembilan? Apa benar ada tingkatan sampai ke sembilan, locianpwe?” tanya Uh Hou-hoat kaget karena selama menjadi Pelindung Kim-liong-pay belum pernah mendengar tingkatan ini.
“Nanti aku akan jelaskan tentang tingkatan ilmu Sin-hong Sin-kang. Lie Yang cucuku, apakah engkau masih tidak paham perkataan ayah angkatmu yang terputus? Orang tua itu sebenarnya ingin memberi tahu padamu tentang rahasia dirimu!”
Lie Yang masih diam tidak ada perasaan apapun yang tampak diwajahnya. Walaupun ia tampak berpikir, namun sulit menduga apa yang ia pikirkan.
“Engkau adalah satu-satunya anak cucu dari keluarga Giok yang paling jenius. Karena dalam usia dua puluh tahun engkau sudah mampu menguasai banyak ilmu, padahahal mestinya sulit dikuasai oleh nenek moyangmu. Engkaulah orang pertama yang mampu menguasai ilmu Sin-hong Sin-kang sampai tahapan ke sembilan dan ilmu gaib. Hampir semua ilmu khas lainnya mampu engkau kuasai dengan baik diusiamu yang masih muda. Kakekmu Giok Sin Lee saja saat ini masih belum menguasai ilmu gaib itu, hingga tidak kuperbolehkan keluar dari tempat suci. Bahkan kemungkinan suatu hari engkau akan bisa keluar masuk ke tempat itu tanpa dikenai peraturan seperti nenek moyangmu yang lain!”
“Baiklah, kek! Akan tetapi aku sendiri masih begitu bingung dengan keadaanku!” kata Lie Yang akhirnya menerima sebagai pangcu Kim-liong-pay.
“Dua Pelindungmu itu akan menerangkan tentang Kim-liong-pay dengan detail! Ketahuilah, bahwa ilmu Sin-hong Sin-kang tahapan ke sembilan adalah bukan ilmu tertinggi di dalam perguruan kita. Masih ada beberapa ilmu lainnya yang lebih dahsyat dari ilmu ini, termasuk ilmu gaib Jit-goat Hoat-lek Sin-kang. Di tempat suci sana masih ada beberapa jenis ilmu silat dari keluarga kita yang masih belum pernah dikeluarkan, karena selama ini belum ada yang berhasil menguasai ilmu-ilmu itu. Suatu hari nanti, kalau waktunya sudah tepat, engkau akan kuajak untuk masuk ke tempat suci untuk melatih ilmu-ilmu hebat itu. Namun dengan syarat engkau harus menjaga hatimu dari sifat dendam, benci, iri hari, dengki apalagi sombong. Kalau engkau bisa menghilangkan semua sifat itu di dalam hatimu, engkau akan kuajak ke tempat suci itu.”
“Sebelum aku pergi, ingat benar-benar perkataanku ini, cucuku! Suatu saat nanti hatimu akan mendapatkan cobaan yang sangat berat, kalau engkau bisa menghadapinya dengan sifat sucimu engkau akan kuajak masuk ke tempat suci atau Bu Eng Hu (Istana Tanpa Bayangan), sebaliknya kalau engkau gagal terhadap ujian ini maka kamu tidak akan bisa masuk ke tempat suci itu kecuali nanti sudah berumur enam puluh tahun, seperti nenek moyangmu yang lainnya. Sebaiknya engkau bertanya ke Dua Pelindungmu kalau engkau masih bingung dengan kabar memusingkan ini.”
Kakek Giok lalu melayang pergi tanpa permisi lagi. Semua orang tampak diam tidak bicara.
“Hati-hati dengan kelicikan orang-orang Ang-hong-pay! Kalian bisa memeriksa markasnya di Nanking, namun jangan terburu-buru.” Terdengar suara kakek Giok terbawa angin. Lalu hening dan sepi.
Lie Yang memecahkan keheningan mereka dengan meloncat sambil menarik tubuh Kwat Lin turun ke tanah. Lalu ia mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya. Di dalam rumah itu ia membantu pengawal Chi merawat jenazah ayah angkatnya. Setelah jenazah ayah angkatnya dimasukkan ke dalam peti pada malam itu. Lalu Lie Yang memberi penghormatan terakhir kepada dua orang tuanya yang telah membesarkannya sejak bayi. Berkali-kali ia menghaturkan terima kasih dan tidak bisa memberi apa-apa kepada mereka. Hatinya sebenarnya sangat menyesal kenapa hidupnya sepertinya hanya menjadikan dua orang tua yang membesarkannya menderita. Malam itu Lie Yang tidak tidur setelah memberi hormat terakhir kepada dua orang tuanya.
Malam itu ia mendengarkan cerita dari Uh Hou-hoat bagaimana ia bisa sampai diasuh oleh dua orang tua angkatanya hartawan Song dan mendengarkan cerita tentang Kim-liong-pay, termasuk peraturan-peraturannya.
Pagi harinya mereka melakukan penguburan dua jenazah ayah dan ibu Lie Yang yang diikuti oleh banyak penduduk. Setelah penguburan selesai banyak penduduk yang datang ikut berbela sungkawa atas meninggalnya hartawan kota Taiyuan. Selama seminggu Lie Yang dan Kwat Lin masih tinggal di rumahnya. Sedangkan Dua Pelindung ditugaskan untuk mengambil beberapa pusaka ketua yang wajib dibawah Lie Yang sebagai ketua Kim-liong-pay. Pusaka-pusaka itu adalah Kim-liong-ki (Panji Naga Emas), Kim-liong-tiap (Kartu Naga Emas) dan Kim-liong-kiam (Pedang Naga Emas). Hanya Giok-ceng saja yang masih berada di tangan Thian-long-cu. Kim-liong-tiap adalah kartu berbentuk lempengan emas bergambar naga berfungsi untuk Kim-liong-bit-leng (Perintah Rahasia Naga Emas) dan identitas seorang ketua Kim-liong-pay asli. Tiga kartu lempengan emas ini tidak akan pernah bisa dipalsukan, karena tiga lempengan emas ini mempunya banyak rahasia, kecuali seorang ketua, Penasehat dan pelindung yang lainnya tidak akan pernah tahu.
<><><><><>()<><><><><>
Selama seminggu Lie Yang menunggu kedatangan Dua Pelindung sambil mengajari ilmu silat kepada pengawal Chi Lam seorang karena pengawal Sung Huan meninggal dunia ketika terjadi penyerbuat orang-orang Ang-hong-pay dahulu. Selain pengawal Chi, Lie Yang juga mengajarkan ilmu silat kepada tiga pelayan perempuan yang ada di rumahnya untuk melindungi dan melayani keperluan istrinya. Ia sengaja mengajarkan kepada tiga pelayan itu agar bisa menjaga dan melayani keperluan istrinya kalau suatu saat ia meninggalkan rumah. Satu pengawal dan empat pelayan perempuan itu ia latih dengan ilmu-ilmu khusus seperti para Hou-hoat namun masih rendah kemampuannya dengan Hou-hoat asli.
Bahkan ia juga berani menambah sinkang mereka melalui penyaluran sinkang darinya. Sinkang yang dimilikinya tidak akan kurang karena disalurkan, malahan kemungkinan bisa bertambah. Cara yang digunakan dalam penyaluran sinkang untuk menambah dan mengurangi adalah diambil dari salah satu keistimewaan ilmu Sin-hong Sin-kang tahapan ke sembilan yang bernama Kim-liong Bu-hong-kun (Ilmu Pukulan Tanpa Angin Naga Emas). Keistimewaan ilmu ini bisa menghisap dan menempelkan sinkang seseorang kepadanya atau sebaliknya dari dirinya ke orang lain.
Sehingga dalam seminggu saja sinkang tiga orang yang diajarnya menjadi cukup kuat. Hanya silat mereka masih rendah, karena ilmu silat tidak bisa ditransfer seperti lwekang atau sinkang.
Seperti biasanya ia selain berbicara dengan istrinya atau mengajar ke tiga pembantunya, ia akan melakukan meditasi untuk menyempurnakan ilmu barunya Jit-goat Hoat-lek Sin-kang, walaupun ilmu ini bisa dilatihnya sampai tingkatan hampir sempurna, namun memperbaiki hati sangat diperlukan baginya. Ketika sedang semadhi inilah ia mendapatkan perasaan tidak enak lagi, kali ini sulit menentukan apa yang terjadi. Sepertinya nanti malam ia akan kedatangan tamu yang tidak diundang dan ia tidak tahu siapa pendatang ini.
Sore hari ketika ia selesai beremadhi, ia mengumpulkan para pembantu dan pengawalnya untuk memberitahukan adanya kemungkinan tidak enak di rumah ini nanti malam.
“Harap kalian nanti malam berdiam di kamar masing-masing atau berkumpul di ruang tengah. Jangan ada yang keluar rumah untuk malam ini. Aku mendapatkan firasat tidak enak untuk malam ini, kemungkinan akan datang tamu yang sulit ditentukan apa maksudnya. Kalau memang datang tamu tak diundang, harap kalian membiarkan saja. Saya sendiri yang akan menemui mereka.”
Setelah memberi pesan untuk tidak kegabah kalau ada apa-apa dan segera melapor. Setelah berkata begitu ia lalu membubarkan para pelayan dan penjaga supaya bekerja seperti biasanya.
Benar saja tengah malam yang sangat sepi, walaupun para anggota rumah sudah diperingati supaya tidak takut dan khuwatir, tampak mereka ketakutan juga ketika mengingat peritiwa beberapa minggu yang lalu. Tengah malam itu Lie Yang dan istrinya ada di ruang tengah sedang berbicara dan bercanda seperti bisanya. Tiba-tiba terdengar suara angin yang sangat aneh. Suara angin itu terdengar seperti lagu yang dapat menidurkan setiap orang. Lie Yang tahu apa maksud suara-suara yang dihasilkan oleh angin itu. Itulah sebuah sihir yang dapat dibawa oleh angin sehingga tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Tapi baginya sihir itu cukup kuat, sehingga membuatnya terkagum-kagum terhadap orang ini.
“Apa engkau mendengar suara angin itu, Lin-moi?” tanya Lie Yang kepada Kwat Lin sambil mengedipkan mata kirinya.
“Benar! Suara angin itu seperti lantunan lagu, membuatku ngantuk!” jawab istrinya dan Lie Yang benar-benar kagum terhadap keawasan mata batin istrinya.
“Itulah ciri-ciri ilmu Sin-liong Sin-kang pada tingkatan ke tujuh dengan nama Kim-liong Hong-hoat-sut (Sihir Angin Naga Emas)! Entah siapa orangnya yang mampu mengerahkan ilmu sehebat ini?” kata Lie Yang kepada istrinya.
“Kalau engkau mencoba mengusir pengaruh sihir itu dengan menggunakan sinkangmu, maka engkau akan semakin lemah dan akhirnya kalah. Karena ilmu sihir ini mempunyai daya tarik yang luar biasa kuatnya. Satu-satu jalan supaya tidak terganggu olehnya adalah melalui menikmati lantunan musiknya dengan mengimbangi sinkang yang dikeluarkan olehnya!”
Tampak Kwat Lin memejamkan matanya sepertinya ingin menikmati irama sihir yang dibawa angin.
“Istriku, sinkang orang ini lebih tinggi darimu! Apa engkau siap untuk mendapatkan singkang dan lweekang tambahan supaya sinkangnmu bertambah kuat dalam beberapa detik saja?” tanya Lie Yang kepada Kwat Lin namun istrinya tidak faham.
“Kalian bertiga coba ke sini!” perintah Lie Yang kepada tiga pelayan istrinya yang tadi sudah tidur karena tidak kuat menahan lantunan sihir. Suara Lie Yang itu membuat mereka tersadar dan mereka mendekat.
“Kalian boleh memegang tubuh hujin (nyonya) kalian dan terimalah sinkang dan lweekang baru yang akan memasuki tubuh kalian. Ingat jangan melawan walaupun sinkang dan lweekang ini kadang-kadang terasa sakit!” perintah Lie Yang yang ditaati oleh tiga pelayan.
Lalu Lie Yang menggunakan ilmu Kim-liong Bu-hong-kun untuk menangkap dan menyeret sinkang yang tersebar diudara melalui angin. Sinkang pengirim sihir dengan melalui angin itu langsung terseret ke arah Lie Yang dan disalurkan ke tubuh istrinya dan ketika pelayannya setelah disaringnya. Beberapa kali ia mendengar suara orang terkaget-kaget ketika sinkang pengirim sihir itu merosot tanpa bisa dikendalikannya lagi. Dalam waktu singkat saja wajah istri dan tiga pelayannya sudah berkeringat dan berwarna merah segar. Sepertinya mereka menikmati penambahan sinkang itu, sedangkan dari luar terdengar suara menjerit-jerit orang kasakitan karena sinkangnya merosot secara besar-besaran tanpa bisa dikendalikan lagi. Sedotan yang dilakukan oleh Lie Yang ternyata membuat pengirim sihir itu berteriak-teriak ngeri.
Lie Yang tersenyum mendengar jeritan-jeritan orang ini, bukan karena mengejeknya namun karena merasa lucu saja. Tiba-tiba sinkang yang ditariknya lebih kuat lagi, kali ini ia tersenyum lebih senang karena sinkang orang ke dua juga terkena sedotannya hingga terdengar jeritan orang lain. Jeritan itu semakin parau dan lemas. Lie Yang tidak tega mendengar jeritan dua orang ini. Setelah puas mendapatkan sinkang ‘curian’ dari musuh yang mau membuat onar di rumahnya, ia lalu melepaskannya. Sebentar kemudian ia melihat tubuh istrinya dan ketiga pelayannya tampak mengepul uap putih di ubun-ubun mereka.
“Sekarang kalian coba sinkang yang baru kalian dapatkan dengan menggunakan ginkang untuk mengikutiku ke luar!” ajak Lie Yang senang dan diturut oleh istri dan pelayan-pelayannya setelah bernapas sebentar.
Di luar rumah mereka melihat ada tiga orang memakai pakaian merah berkedok sedang terduduk lemas di bawah pohon. Para pengawalnya yang berjaga di depan rumah diam membiarkan mereka. Kagum sekali Lie Yang melihat pengawalnya yang ternyata sangat mentaati perintahnya untuk tidak melakukan apa-apa kalau ada tamu asing datang. Seorang sepertinya sedang memeriksa keadaan dua temannya yang teduduk dengan lemas tanpa tenaga sama sekali. Mereka kehabisan tenaga dalam dan tenaga murni mereka akibat disedot dari jauh oleh Lie Yang.
“Selamat datang sam-wi (Anda Bertiga) di rumah kami yang sederhana! Kalau boleh tahu ada keperluan apakah saudara bertiga masuk ke rumah kami?” tanya Lie Yang sambil menghormat.
“Apakah engkau yang bernama Song Lie Yang dan itu istrimu Yang Kwat Lin?” tanya salah seorang yang masih segar bugar, sedangkan dua orang temannya tampaknya tidak bisa bicara lagi.
“Benar! Apa yang bisa kami lakukan untuk tiga saudara sekalian?” jawab Lie Yang sambil tersenyum lembut.
“Kalau begitu serahkan segera Giok-ceng kepada kami! Kalau tidak? Hmmm!!” kata berbaju merah itu sambil melototkan matanya.
“Giok-ceng tidak berada di tanganku, seandainya Giok-ceng ada di tanganku pun tidak akan kuberikan kepada kalian, karena barang itu bukan milik Ang-hong-pay! Lebih baik kalian pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi, kalau tidak ingin mengalami hal yang sama seperti dua temanmu itu?!” kata Lie Yang lembut namun pedas.
“Jadi, engkau yang melukai dua saudaraku ini?” tanyanya penasaran. Tadi ia tidak habis mengerti mengapa sinkang dan lwekang teman-temannya tiba-tiba merosot tanpa sebab. Makanya ia tanya kepada Lie Yang.
“Sebenarnya bukan salahku kalau aku sedikit mengambil sinkang dua saudara itu, karena aku tidak bisa membiarkan mereka membuang-buang sinkang berharga!”
“Hahaha… semuda ini sudah begitu sombong ucapannya! Coba aku ingin lihat bagaimana engkau bisa menyedot sinkangku!” kata berbaju merah itu langsung menyerang Lie Yang dengan ilmu Sin-hong Sin-kang tingkatan ke dua dan tiga.
Lie Yang diam saja tidak bergerak dari tempat berdirinya. Lalu ia menggunakan tahapan ke sembilan untuk menyedot sinkang laki-laki berbaju merah itu. Padahal baru saja ia bergerak tiba-tiba ia merasa sinkangnya merosot hebat keluar. Lie Yang membalikkan atau membagi sinkang orang itu ke tubuh dua orang temannya yang sedang lemas kehabisan sinkang. Tiga orang itu tampak diam seperti patung dengan mata melotot tampak kaget dan heran kepada Lie Yang. Sinkang itu merosot tidak bisa diberhentikan, tubuhnya juga tidak bisa digerakkan seperti dikunci oleh kekuatan yang lebih kuat.
Setelah dua puluh menit berlalu, baru tiga orang itu merosot lemas karena sinkang mereka tiba-tiba lenyap entah ke mana larinya. Sebenarnya sinkang satu orang ini sudah dibagi oleh Lie Yang kepada dua temannya sehingga tiga orang itu sudah bisa berdiri lagi dengan muka pucat.
“Ilmu apakah yang engkau gunakan itu, anak muda?” tanya salah satu dari mereka penasaran ada ilmu bisa mengalahkan ilmu mereka dengan mudah.
“Coba tanyakan ke pangcu kalian pasti tahu!” jawab Lie Yang tidak mau membocorkan rahasianya.
“Baik! Kali ini kami tidak akan mengganggu kalian, tapi ingat lain kali kami akan datang lagi!”
“Bangsat! Mestinya kalian yang akan mampus di sini, seandainya suamiku tidak punya jiwa pengasih! Diberi hati masih banyak tingkah! Cih….!!!” teriak Kwat Lin.
“Mo-moi!” Lie Yang mengingatkan kekasaran istrinya.
“Maafkan aku, Yang-twako!” kata Kwat Lin sambil menunduk.
“Saudara sekalian! Hentikan dengan segera latihan-latihan ilmu Sin-hong Sin-kang kalian. Karena latihan yang kalian lakukan salah sehingga membuat perjalanan darah kalian sedikit demi sedikit akan tersumbat dan melukai diri kalian sendiri. Kalau kalian tidak percaya, apakah dada kiri kalian terasa sakit setelah bangun dari tidur?” kata Lie Yang memberitahu penyakit yang mereka derita.
“Bagaimana engkau tahu kalau kami punya sakit seperti itu, anak muda? Dan bagaiman mengobatinya?” tanya laki-laki yang lainnya sedangkan orang yang galak tadi diam-diam membenarkan perkataan Lie Yang.
“Aku bisa melihat dari cara kalian mengerahkan sin-kang istimewa Sin-hong Sin-kang yang terbalik, namun tidak mengurangi kehebatannya. Aku yakin bahwa ada bekas hitam di sekitar dada kalian, sebab jalan darah kalian mulai tersumbat. Sebelumnya aku juga pernah mengobati beberapa teman kalian, termasuk Ang-hong-cu putera dari pangcu kalian!”
“Benarkah bahwa engkau orangnya yang telah mengobati kongcu kami?” tanya yang satunya tidak percaya.
“Sudahlah! Kalian percaya atau tidak terserah? Kalian boleh coba obati dengan bersemadhi secara terbalik selama tiga bulan sebelum tidur, kalian akan segera sembuh! Sudahlah, kalian boleh pergi dan titip salamku kepada pangcu kalian! Katakan kepadanya jangan melakukan kejahatan lagi, kalau tidak Kim-liong-pay akan segera menghancurkan markas kalian!” kata Lie Yang lalu meninggalkan mereka sendirian.
Ia diikuti oleh istri dan pelayan-pelayannya masuk ke rumah dan tidak lagi menghiraukan apa yang akan dilakukan oleh tiga orang Ang-hong-pay selanjutnya. Yang terpenting ia sudah mencoba memberi kesempatan kepada mereka untuk insaf seperti apa yang tertulis dalam semboyan Kim-liong-pay. Seluruh anggota rumah akhirnya bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut dan khawatir lagi.
<><><><><>()<><><><><>
Kim-liong-bun
“Siauwte ucapkan selamat datang di Kim-liong-bun untuk Ji-loenghiong! Kalau siauwte boleh tahu, apa tujuan Ji-loenghiong ingin masuk ke Kim-liong San-cung!”
Hong Hou-hoat menoleh ke arah Uh Hou-hoat. Dua Pelindung Kim-liong-pay itu tidak mengerti bagaimana di gerbang masuk Perkampungan Naga Emas dijaga orang. Setahu Yang Hong Hou-hoat, sejak benjana belasan tahun lalu, gerbang pintu masuk ke perkampungan yang biasanya disebut Kim-liong-bun sudah tidak pernah dijaga lagi. Bahkan Perkampungan Naga Emas tidak seramai dulu. Walaupun Yang Hong Hou-hoat dulu tidak aktif lagi di Kim-liong-pay dan akhirnya mendirikan Pek-eng-pay, namun ia masih menempatkan dua mata-matanya di Perkampungan Naga Emas. Ia selalu mendapatkan informasi terbaru, termasuk banyaknya penghuni Perkampungan Naga Emas yang pindah. Sejak setahun yang lalu, menurut mata-mata yang disebarkannya, Perkampungan Naga Emas saat ini hanya dihuni oleh dua orang penduduk saja. Kim-liong-hu atau Istana Naga Emas dibiarkan kosong tanpa ada penghuninya sama sekali. Hanya kadang-kadang ada salah satu penduduk yang memebersihkan Istana tempat pemerintahan kerajaan kecil di lereng Thai-san itu. Istana itu dibiarkan kosong tanpa penghuni, baik manusia ataupun perabotan istana sekali pun hingga sekarang. Kali ini pertanyaan sederhana menggelitik hatinya. Siapa orang-orang ini?
Di depannya berdiri belasan orang yang dipimpin oleh seorang dengan pakaian berwarna kuning cerah dari kain sutera. Pemuda berpakaian kain dari sutera mahal itu yang bertanya kepada mereka. Yang Hong Hou-hoat dan Sam Uh Hou-hoat yang datang ke lereng Thai-san karena ingin mengambil beberapa pusaka Kim-liong-pay merasa benar-benar penasaran.
“Siapa kalian? Apa yang sedang kalian kerjakan di tempat ini?” tanya Sam Uh Hou-hoat kepada pemuda berbaju kuning itu.
Pemuda berbaju kuning itu tersenyum lalu menjura sekali lagi.
“Kami adalah penduduk Kim-liong San-cung! Kami ditugasi oleh kepala desa kami untuk menjaga gerbang desa Naga Emas.” Jawab pemuda berbaju kuning itu.
“Siapa pun yang ingin masuk ke Perkampungan Naga Emas wajib menjawab pertanyaan kami!” terdengar suara dari kejahuan.
Dua pelindung itu terkejut mendengar suara dari kejahuan itu. Orang yang berkata dari kejahuan itu menggunakan ilmu pengirim suara untuk mengantarkan perkataannya. Tidak banyak ornag mempunyai lweekang seperti itu. Hati dua pelindung itu digelitik oleh pertanyaan lainnya.
Seorang pemuda dengan memakai baju berwarna kuning muncul dari belakang mereka. Pemuda itu muncul dengan senyuman yang cerah.
“Benar! Siapa pun itu, bahkan lalat sekalipun! Karena sejak musim semi kemarin, Kim-liong-pay akan bangkit kembali. Kim-liong-pay akan merajai dunia kang-ouw kembali!” terdengar suara lainnya. Bahasa yang digunakan oleh laki-laki ini sangat kaku dan terbata-bata.
Dua Pelindung tua itu mendongakkan kepalanya ke sebuah pohon di samping mereka. Di sebuah dahan yang besar terlihat seorang laki-laki sedang tidur-tiduran enak sekali. Kalau Dua Pelindung tua itu melihat jelas wajahnya, mereka akan terkejut, karena wajah itu sedemikian berbedanya dengan wajah-wajah yang pernah dilihatnya. Pemuda itu mempunyai hidung sangat mancung, dua bola mata yang besar mencorong seperti naga dan kulit yang bercahaya terang. Namun pakaiannya tidak sehebat tampangnya, karena pakaiannya terlihat compang-camping. Pakaiannya hitam dengan tutup kepala yang dirasakan aneh. Tutup kepala itu mengingatkan kepada orang-orang Hui, bukan orang-orang Han (Orang Asli Tionggoan).
Dua Pelindung tua itu sangat kaget mendengar perkataan laki-laki di atas dahan itu. Kali ini pikiran Dua Pelindung itu seperti mengambang di langit. Tubuh mereka terasa diguyur air es.
“Siapa sebenarnya kalian ini? Apa maksud perkataanmu itu, anak muda?” tanya Yang Hong Hou-hoat penasaran.
“Kami adalah tuan rumah. Sebutkan nama dan tujuan, tuan-tuan. Kami akan pikirkan apakah Anda berdua diperbolehkan masuk Perkampungan Naga Emas.” Jawab lagi pemuda di atas dahan itu.
“Benar! Sebutkan nama, kalian berdua!” Terdengar jawaban lainnya. Seorang pemuda yang mengirim suara dari jarak jauh itu sudah berada di hadapan Dua Pelindung Yang Hong Hou-hoat dan Sam Uh Hou-hoat.
Belum lagi Dua Pelindung menjawab, pemuda yang sedang bermalas-malasan itu tiba-tiba meloncat dari dahan pohon. Pemuda tampan itu melakukan salto di udara tiga kali sebelum dua kakinya menyentuh tanah. Atraksi itu disambut keterkejutan Dua Pelindung.
Belum mereka menyadari sesuatu yang aneh, pemuda bertampang ‘asing’ itu tiba-tiba menyerang mereka. Serangan itu sedemikian cepat dan anehnya hingga ujung baju Sam Uh Hou-hoat hampir dapat digapainya. Dua Pelindung menghindar dengan cepat.
“Apa maksud kalian? Apakah ingin mengajak berkelahi?” Teriak Song Hong Hou-hoat gusar oleh prilaku gila pemuda di depannya.
Pemuda dengan pakaian compang-camping itu tersenyum mendengar teriakan Song Hong Hou-hoat. Pemuda itu maju tiga langkah sambil mengangkat kedua tangannya. Ia menjura dan diikuti oleh teman-teman lainnya.
“Selamat datang Kim-liong-pay Ji-sia! Semoga pertemuan ini menjadi berkah bagi Kim-liong-pay, khusunya kepada Giok-pangcu. Sudah lama Siauwte menunggu Ji-wi!”
Berubah air muka Dua Pelindung. Yang Hong Hou-hoat menoleh ke arah Sam Uh Hou-hoat. Tidak banyak orang mengetahui jati diri mereka. Seandainya mereka memakai topeng emasnya, mungkin hati mereka tidak akan dibelit penasaran seperti itu. Nyatanya mereka tidak memakai topeng kebanggaan itu. Bagaimana pemuda itu mengetahui kalau mereka adalah Dua Pelindung Kim-liong-pay?
“Siapa kalian sebenarnya?” Tanya Sam Uh Hou-hoat lebih penasaran lagi.
“Kami hanyalah para penjaga Kim-liong San-cung!” Jawab pemuda memakai pakaian compang-camping itu.
“Kalau kalian mengetahui siapa kami, kenapa kalian ‘tidak berlaku sopan’ seperti ini? Apa maksud kalian?” Tanya Sam Uh Hou-hoat sekali lagi.
“Maafkan kami yang berlaku tidak sopan terhadap Ji-sian! Kami hanya memenuhi perintah atasan.” Jawab salah satu dari dua pemuda yang memakai pakaian kuning.
“Siapa atasan kalian?” Tanya Yang Hong-hoat seketika.
“Jit Fu-hoat (Penasehat Matahari)!” Jawab cepat pemuda ketiga.
Dua Pelindung diam. Sekali lagi ada sesuatu yang menggelitik di hati mereka. Tiga pemuda di depannya juga memilih berdiam diri. Belasan pemuda di belakang tiga pemuda itu juga diam membeku.
“Apakah kalian murid Jit Fu-hoat dan diperintah menyambut kami?” Tanya Yang Hong-hoat.
“Bagaimana Ji-wi bisa mengetahui kalau kami adalah murid Jit Fu-hoat? Apakah ada yang khas dari ‘sambutan’ siauwte tadi?” Pemuda berpakaian compang-camping itu menyengir.
“Pantas! Ilmu yang engkau gunakan begitu hebat, anak muda. Dimana Jit Fu-hoat sekarang? Apakah ia tidak ikut menyambut kedatangan kam?i!” Sam Uh Hou-hoat gilirna bertanya.
“Maafkan kelancangan kami. Sudah satu minggu suhu ikut pergi dengan kakek Giok meninggalkan Perkampungan Naga Emas. Suhu hanya memberi perintah supaya kami menunggu kedatangan Giok-pangcu dan Dua Pelindung di tempat ini. Seandainya siauwte tidak dapat mengenal ilmu yang Ji-wi pakai, mungkin kami tidak akan mengenal siapa Ji-wi. Apakah Giok-pangcu tidak ikut bersama Ji-wi?”
“Sayang sekali, padahal kami ingin bertemu dengannya, sekaligus menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya. Giok-pangcu tidak bisa ikut, mungkin setelah masa berkabung selesai pangcu baru kemari. Siapa nama kalian, apakah kami tidak perlu mengetahui nama kalian?”
“Ah, begitu ternyata! Sampai lupa memperkenalkan diri kami. Nama siauwte Khoesarvi Syah atau bisa dipanggil Kho Sa. Sedangkan mereka bernama Kwee Kong dan Kim Yun Tai.” Pemuda berpakaian compang-camping memperkenalkan dirinya dan teman-temannya.
“Kho-e-sar-phi Sa-y? Nama apa ini? Apa engkau bukan orang Tionggoan?” Tanya Yang Hong Hou-hoat heran mendengar nama aneh itu.
Pemuda yang bernama Khoesarvi Syah atau Kho Sa itu tertawa lepas. Kelakuan pemuda ini memang aneh dan tidak mencerminkan kesopanan sama sekali. Kho Sa tertawa ketika Yang Hong hou-hoat menyebut namanya dengan susah. Namanya terdengar aneh di telinganya ketika disebut tadi.
“Siauwte berasal dari negeri Persia. Delapan belas tahun yang lalu, suhu datang ke Persia untuk menyelidiki kasus di balik hancurnya Kim-liong-pay. Di sanalah siauwte bertemu dengannya dan mengajariku ilmu silat. Sudah lima tahun siauwte hidup di Tionggoan dan telah belajar banyak di sini. Di sini sauwtie mendapatkan banyak teman dan saudara. Oh ya, sebaiknya kita masuk ke Perkampungan supaya enak siauwte menceritakannya dan membicarakan pesan suhu. Mari!!!”
Dua Pelindung menganggukkan kepala dan mengikuti langkah tiga pemuda di depannya. Belasan pemuda berjaga-jaga di belakang mereka. Kali ini pikiran Sam Uh Hou-hoat tiba-tiba melayang jauh sekali. Pertanyaan yang disimpannya belasan tahun tiba-tiba bisa dijawabnya dengan mudah. Dahulu ia pernah mempertanyakan kemana kepergian Jit Fu-hoat hingga bertahun-tahun lamanya itu. Belakangan ini baru diketahu bahwa Jit Fu-hoat pergi ke Persia. Sungguh tidak disangkanya. Kalau dilihat dari pekerjaan yang ia lakukan untuk Kim-liong-pay, maka pekerjaannya lebih mudah. Pergi ke negeri yang jauh lebih susah dan dari pada sekedar menjaga Lie Yang dan menyembunyikannya dari kejaran musuh.
Berbeda dengan Sam Uh Hou-hoat, Yang Hong-hoat berpikiran lain. Dalam perjalanannya pergi ke Perkampungan Naga Emas, dirinya lebih banyak diselimuti pertanyaan. Otaknya sepertinya tidak berjalan lagi, akibat banyak masalah yang belum ia pahami. Ia pernah mendengar cerita dari gurunya yang dahulu pernah menjabat menjadi Hong Hou-hoat juga. Gurunya itu bercerita bahwa nenek moyang keluarga Giok dahulu berasal dari Persia. Ilmu-ilmu yang digunakannya banyak bersumber dari Persia yang digabung dengan Tionggoan. Legenda dan cerita tentang keluarga Giok sangat hebat. Bahkan menurut cerita gurunya, nenek moyang keluarga Giok di Persia berketurunan bangsawan dan raja Persia. Golongan kelas pertama di Persia.
Sekarang di depannya muncul pemuda dari Persia dan menurut cerita pemuda itu, Jit Fu-hoat pergi merantau ke Persia selama bertahun-tahun. Sebenanrya apa maksud perantauan ini? Yang Hong Hou-hoat mencoba menelusuri beberapa benang merah, namun tidak mampu memutuskan apa yang sedang bergejolak di dalam hatinya. Apakah perantauan ini benar-benar ingin menyelidiki kasus kehancuran Kim-liong-pay? Apakah ada hubungannya antara Persia, nenek moyang keluarga Giok di Persia, hancurnya Kim-liong-pay dan kelompok yang membantai penduduk Perkampungan Naga Emas. Ia yakin, semua itu ada hubungannya.
“Sepertinya begitu…!” Katanya dalam hati.
<><><><><>()<><><><><>
Di tempat lain. Waktu yang bersamaan.
“Apa benar katamu?!!!” Bentak seorang laki-laki berumur 40-an.
“Kami tidak bohong. Dia mengatakannya sendiri. Ilmunyanya berada di atas kami.” Jawab salah satu dari tiga orang berpakaian merah itu. Muka mereka tampak pucat seperti mayat hidup.
“Hmmm!!!”
“Tidak mungkin! Mustahil!”
“Jelas sekali, Kim-liong-pay sudah habis sampai ke akar-akarnya. Bagaimana mungkin sekarang muncul seorang pemuda berani menggertak Ang-hong-pay. Bagaimana mungkin ada yang berhasil mempelajari ilmu Sin-hong Sin-kang sampai tingkatan sembilan selain atasan kita? Apa engkau tidak salah dengar?!!” Kata laki-laki itu masih tidak percaya dengan keterangan pasukannya.
“Sungguh mati kami mendengar dia menyebut ilmu itu. Dia menyebutnya Kim-liong Bu-hong-kun. Kami telah merasakan betapa dahsyatnya ilmu itu. Ilmu itu bisa menyerap sihir dan sin-kang kami.”
“Dari mana sebenarnya pemuda bernama Lie Yang itu memperoleh ilmu itu? Apa hubungannya dengan Kim-liong-pay?” Tanyanya sendiri.
“Sejak dulu sudah kukatakan untuk sesegera mungkin mencari Gik-ceng. Karena benda itulah kunci masuk ke Bu-eng-hu. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Para orang suci dari Bu-eng-hu telah muncul dan inilah kebodohan kalian tidak mempercayai perkataanku.” Terdengar suara dari ruangan dalam.
“Terus apa yang harus kita lakukan, kek? Apa kita akan mundur setelah bertahun-tahun bekerja keras?” Tanya laki-laki berpakaian abu-abu dari katun kasar itu.
“Kong Sie-ji, terlambat bukan berarti kalah! Menurut dugaanku, Giok-ceng tidak berada di tangan pemuda itu. Namun akan muncul akhir-akhir ini di utara. Bawa 10 pasukan Ang-i-hong (Tawon Berbaju Merah) dan pinjam ke kakakmu dua pasukan Cap-sian Pek-i-wi (Sepuluh Dewa Pengawal Berbaju Putih). Ditambah 100 pasukan Hek-i-hong (Tawon Berbaju Hitam). Samarkan setengahnya ke pesta Thian-long-pay di utara nanti. Di sanalah Giok-ceng akan muncul!”
“Terima kasih atas petunjuk kakek!” Kata laki-laki bernama Kong Sie itu.
Tidak ada jawaban dari orang yang dipanggilnya kakek itu. Baru saja ia mau berpikir, tiba-tiba ada pengawal masuk. “Kongcu, Siauw-kongcu telah kembali!” Kata pengawal itu melaporkan kedatangan seseorang.
“Suruh dia kemari!” Perintah Kong Sie.
Seorang pemuda masuk ke ruangan dengan muka masih terlihat pucat. Dua matanay tidak menyala seperti baisanya. Pemuda ini adalah Kong Lee yang beberapa minggu kemarin berhasil dilumpuhkan oleh Lie Yang. Jalannya terlihat seperti orang tidak semangat.
“Ada apa denganmu itu? Apakah mabuk lagi?” Tanya Kong Sie heran melihat anaknya seperti itu.
“Lwekang dan sinkangku habis! Aku harus membalas atas penghinaan ini! Aku akan memakan daging dan meminum darahnya! Aku akan sayat-sayat kulitnya dengan pelan-pelan!” Teriak Kong Lee sambil menghambur ke ayahnya. Ia menangis di bawah kedua kaki ayahnya. Tak henti-hentinya ia memaki-maki. Ayahnya bingung dengan keadaan anaknya itu.
“Apakah orang-orang Thian-long-pay yang melakukannya?” Tanya ayahnya sambil memandangi muka Kong Lee yang masih pucat.
“Mereka tidak ada apa-apanya bagiku. Seorang pemuda memakai ilmu Hui-im Hong-sinkang memusnakan semuanya. Aku telah cacat. Tidak bisa bermain silat lagi.”
Kong Sie memandang anaknya hampir tidak berkedip. Tidak sembarangan orang mampu mengimbangi ilmu ankanya itu. Apalagi seorang pemuda memakai ilmu simpanan mereka, ilmu Hui-im Hong-sinkang. Sungguh diluar dugaannya.
“Apa kau kenal dengan pemuda itu?” tanya Kong Sie. Anaknya menggelengkan kepalanya yang tertunduk kembali.
“Aku hanya tahu bahwa istrinya menyebut dirinya Ang-i-sianli.” Jawab Kong Lee lemas.
“Kongcu, dia adalah Lie Yang! Pemuda yang mengalahkan kami bertiga.” Tiba-tiba terdengar salah satu tiga anak buahnya bekata.
“Lie Yang?” Ulang Kong Lee.
Dua mata Kong Lee tiba-tiba menyala. Dua tangannya dikepalkan rapat-rapat. “Aku harus membalasnya!” Gumam Kong Lee dengan suara sangat pelan.
“Sebaiknya engkau istirahat dulu! Nanti aku bicarakan masalahmu ini di rapat para Tiong-lo dan para pangcu Ang-hong-pay.” Saran ayahnya.
“Tidak ayah! Beri kesempatan aku belajar ilmu Ang-bin Hong-ong (Raja Tawon Muka Merah)!”
“Apa engkau sudah gila! Ilmu itu sejak pangcu Ang-hong-pay generasi ke-2 belum ada yang berani melatinya. Kamu tahu akibatnya mempelajari ilmu gaib Ang-hong-pay itu? Mukamu akan berubah menjadi iblis setiap menggunakan ilmu itu.” Ujar Kong Sie dengan nada keras.
“Biarlah wajahku berubah bagaimanapun, asalkan aku bisa membalas penghinaan ini. Aku tidak akan menyesal, ayah! Kumohon kabulkanlah permintaanku ini!” Kong Lee merengek.
“Tidak!” Bentak ayahnya kokoh.
“Baik! Aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan mengadu nyawa dengan si Lie Yang itu.” Terdengar ucapan Kong Lee begitu keras sekeras hatinya. Ia pergi meninggalkan ayahnya yang berdiri termangu-mangu oleh kekerasan hati anaknya itu.
“Pengawal!” Teriaknya mengguntur.
Dua prajurit memakai baju hitam muncul dari balik pintu. Mereka membungkuk siap dengan perintah Kong Sie. “Bawa mereka ke Hong-ong-hiat (Gua Raja Tawon)!”. Perintah sudah dijatuhkan. Mengharap belas kasihan pun tidak mungkin.
Tiga prajurit memakai pakaian merah itu berdiri ketika dua prajurit berpakaian hitam menggirngnya. Tiga laki-laki itu berjalan di depan dengan kepala menunduk. Kesalahannya begitu berat. Di Ang-hong-pay, terdapat peraturan yang sangat ketat. Setiap anggota yang gagal dalam misinya, selalu mendapatkan hukuman berat. Mereka dibawa ke Hong-ong-hiat yang sudah diketahui betapa seremnya tempat itu. Gua itu berada di sebuah bukit dengan berjuta-juta Tawon bersarang di dalamnya. Sekali manusia masuk, maka tawon-tawon itu akan segera memangsanya. Tawon-tawon berwarna merah itu mempunyai kegemaran memakan daging manusia. Menghisap darah sampai habis baru memakannya berbarengan. Tawon-tawon itu sengaja dipelihara di dalam gua itu sebagai tempat hukuman bagi anggota Ang-hong-pay yang bersalah. Anehnya, tawon-tawon sebesar ibu jari kaki itu tidak pernah didapati keluar gua. Hampir tidak ada yang tahu bagaimana bentuk tawon-tawon itu. Kabar tentang tawon-tawon itupun hanya sebatas mulut ke mulut. Tidak ada yang tahu kecuali ornag buangan atas kesalahannya.
Setiap anggota Ang-hong-pay yang dibuang ke dalam gua itu, tidak akan dapat kembali keluar lagi menghirup udara sejuk. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam. Para penjaga hanya mendengar sebuah jeritan menyakitkan dari dalam, setelah itu gua akan hening kembali. Hanya kadang-kadang terdengar suara puluhan ribu Tawon mendengung dari dalam gua. Sungguh menyeramkan. Apalagi penjaga gua itu yang telah diketahui memiliki wajah bengis dan kepandaian setinggi langit. Tidak ada yang bisa keluar dari gua itu setelah masuk ke dalam Hong-ong-hiat.
<><><><><>()<><><><><>
Di tempat yang sama. Dua hari kemudian.
Di tengah hutan yang lebat. Ketika bulan bertengger terang di tengah malam. Sebuah bangunan kuno dipenuhi oleh puluhan, bahkan mungkin ratusan manusia dengan berbagai pakaian. Mulai hitam, merah, putih sampai kuning bersulam merah dan bersulam putih. Namun yang menjadi ciri khusus adalah sulaman bergambar Tawon itulah yang membuat merinding.
Di dalam ruangan tengah telah berkumpul puluhan orang. Di luar ada ratusan manusia berpakaian hitam, merah, dan putih menjaga dengan ketat gedung kuno itu. Tidak ada suara, hanya jeritan jangkrik yang sedang melagukan lagu ketakutan terdengar menyakitkan hati. Sepertinya jangkrik itu sedang mengalami ketakutan karena melihat betapa banyaknya manusia ada di sektarnya. Terdengar juga burung hantu menyuarakan kekhuwatirannya.
“Sepertinya kita sudah berkumpul semuanya.” Terdengar suara dari seorang laki-laki tua. Umurnya mungkin sudah 60-an. Mukanya sudah keriputan dan rambutnya sudah putih semuanya. Ia memakai pakaian berwarna kuning muda dengan sulaman seekor Tawon berwarna merah darah di dadanya. Jubahnya cukup besar. Ia duduk di sebuah kursi berwarna merah darah. Di bawahnya duduk berbaris puluhan laki-laki dengan usia berbeda-beda. Namun, yang paling aneh adalah ada tiga laki-laki berjubah putih sedang duduk di atas atap. Usianya sukar ditaksir, karena terlihat sudah begitu tua. Lebih tua dari laki-laki berpakain kuning yang duduk di singasana itu.
Melihat lambang yang tergambar di dada mereka. Bisa ditebak siapa sebenarnya mereka. Lambang Tawon Merah sangat familiar dan siapa pun tahu lambang apa itu. Kalau melihat lambang itu, orang kang-ouw akan segera lari terbirit-birit. Itulah lambang Ang-hong-pay yang saat ini menjadi hantu yang menakutkan bagi orang-ornag kang-ouw. Malam ini terjadi peristiwa besar dalam partai Ang-hong-pay. Rapat tahunan digelar. Semua anggota telah berkumpul, dari prajurit berpakaian hitam sampai pangcu Ang-hong-pay yang sudah berumur tua itu.
Sangat perlu diketahui siapa sebenarnya pangcu Ang-hong-pay itu. Pangcu Ang-hong-pay generasi ke-6 itu bernama Ciang Hong. Ia mempunyai tiga putra yang bernama Ku Tek, Hou Bu, dan Kong Sie. Diantara tiga putranya itu, Ku Tek yang memilki ilmu silat paling hebat. Bahkan terdengar kabar ilmunya melebihi ayahnya sangat jauh sekali. Ia juga paling banyak diselimuti misteri, karena sejak berumur 10 tahun, putra pertamanya ini sudah menghilang. Tidak ada orang yang tahu kemana perginya, kecuali keluarganya. Hanya saja, ia sering muncul dengan memakai topeng atau mengutus utusan ketika melakukan suatu urusan. Ketika terjadi pertemuan seperti ini, ia juga tidak menampakkan dirinya. Namun jangan dibilang ia tidak hadir di tempat itu. Hanya saja ia tidak menampakkan dirinya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui dimana ia bersembunyi, hanya suaranya saja yang kadang-kadang terdengar di jarak yang sangat dekat.
Kehadiarannya seperti setan. Tidak kelihatan wujudnya, namun orang yang ada di sekitarnya akan merasakan bahwa ia berada di tempat itu. Ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya tanpa diketahui orang lain. Sering ia mendatangi anggota Ang-hong-pay yang sudah mempunyai pangkat tinggi dan berbicara dengan mereka. Akan tetapi ia tidak memperlihatkan wujudnya. Hingga saat ini belum ada yang melihat wujud asli dari Ku Tek. Konon, menurut cerita, dia lah yang menguasai hampir seluruh ilmu peninggalan manusia gaib dari Ang-hong-pay. Tidak ada seorang pun yang berani dengan hantu yang satu ini. Di Ang-hong-pay ia dikenal sebagai Wakil pangcu Ang-hong-pay langsung. Semua perintahnya sama denagn perintah pangcu.
Putra keduanya tidak jauh berbeda dengan Ku Tek. Hou Bu memiliki ilmu yang jauh dari nalar manusia. Ia dapat menghilang di depan pandangan seseorang. Kadang ia muncul begitu saja di depan seseorang tanpa diketahui kapan datang dan perginya. Ilmunya katanya tidak dibwah kakaknya. Namun, yang ditakuti bukan ilmu menghilangnya. Akan tetapi kekejamannya membunuh orang tanpa belas kasihan sama sekali. Ia juga bertampang bengis, kasar dan keras. Di organisasi Ang-hong-pay ia mempunyai jabatan Wakil Cong Fu-hoat (Ketua Para Penasehat). Sekaligus ketua Cap-sian Pek-i-wi (Sepuluh Dewa Pengawal Berbaju Putih). Di termasuk salah satu dari Fu-hoat yang dimiliki oleh Ang-hong-pay.
Yang berbeda adalah putra ketiganya, yaitu Kong Sie. Putra ketiganya ini memiliki kemampuan paling rendah kalau dibandingkan dengan dua kakaknya. Kesenangannya mengumpulkan wanita menurun kepada putranya Kong Lee. Jabatannya di Ang-hong-pay adalah Wakil Cong Hou-hoat (Ketua Para Pelindung). Ketua pasukan 50 Ang-i-hong (Pasukan Tawon Berbaju Merah) dan pembawa 300 pasukan Hek-i-hong (Pasukan Tawon Berbaju Hitam). Selama hampir sepuluh tahun ini, dialah yang melakukan aksi teror di dunia kang-ouw. Namun selama sepuluh tahun ini, aksinya ini bisa dikatakan hanya ‘main-main’. Belum pernah ia menggerakkan kekuatan Ang-hong-pay yang sebenarnya. Namun kekuatan ‘yang belum sebenarnya’ itu menjadi hantu di siang hari bagi orang-orang kang-ouw.
Sudah puluhan perguruan dikuasainya. Mereka tidak dituntut banyak hal. Hanya dituntut untuk mengakui kepemimpinan Ang-hong-pay dan menyerahkan beberapa ilmu yang paling hebat yang dimiliki oleh perguruan tersebut. Hingga saat ini, belum ada yang tahu dimana markas sebenarnya Ang-hong-pay dan sudah berapa lama partai ini berdiri. Ang-hong-pay telah menjadi mimpi paling buruk dan selalu diselimuti misteri.
Dalam keorganisasian Ang-hong-pay dikenal ada enam Fu-hoat beserta Cong Fu-hoatnya dan enam Hou-hoat beserta Cong Hou-hoatnya. Di bawah para Fu-hoat dan Hou-hoat ada tiga lapis prajurit atau pasukan. Dari pasukan paling elit Cap-sian Pek-i-wi lalu 50 Ang-i-hong dan 300 pasukan Hek-i-hong. Pasukan lainnya adalah anggota biasa yang berjumlah lebih dari lima ratus prajurit. Anehnya, sulit menduga dimana letak ratusan anggota Ang-hong-pay itu.
Selain itu dalam organisasi Ang-hong-pay terdapat tiga Tiong-lo yaitu kakek-kakek tua yang sedang duduk di atas atap itu. Mereka adalah para orang tua yang sudah terbebas dari ikatan peraturan Ang-hong-pay, namun suara mereka masih dipertimbangkan. Bahkan tiga Tiong-lo ini bisa dikatakan sebagai pengawas dan sekaligus para guru para anggota khusus Ang-hong-pay. Mereka adalah para tetua manusia gaib di Ang-hong-pay.
“Hari ini, hari paling istimewa dan akan menjadi sejarah terbesar bagi semua anggota Ang-hong-pay. Sepuluh tahun kita telah menunggu hanya untuk hari ini. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Waktu yang lama untuk berubah menjadi tawon dewasa dan berbisa. Inilah hari kelahiran Ang-hong-pay yang sebenarnya. Mengumpulkan pasukan sebanyak saat ini tidak mudah. Untuk itu, selagi dunia kang-ouw diterpa badai kegelisahan dan ketakutan. Kita harus mampu membawa mereka ke pusaran yang lebih dahsyat. Mencuci otak dan mewarnai hati mereka, agar sewarna dengan otak dan hati kita. Kita merahkan hati mereka!” Terdengar pangcu Ang-hong-pay berkata.
Terdengar suara sambutan ramai dari para anggota Ang-hong-pay. Suara dengungan mirip suara ribuan tawon mengguncang ruangan itu. Itulah suara dari hasil latihan sin-kang istimewa Ang-hong-pay. Suara itu terdengar sampai belasan mil jauhnya. Beberapa anggota Ang-hong-pay tingkatan rendah sampai jatuh pingsan akibat telinganya mendengar suara itu. Beberapa burung hantu terbang menjauh. Suara jangkrik yang mendesah gelisah tiba-tiba tidak terdengar lagi. Suara riuh seperti gaungan gong itu hanya sebentar.
“Ha… haha… haha…! Hari ini aku sangat bahagia! Ilmu kalian telah mendapatkan kemajuan yang banyak!” Suara tawa pangcu Ciang Hong terdengar melata.
“Sebelum aku membagi tugas untuk kalian. Aku ingin mendengar kabar tentang Giok-ceng dan pemuda bernama Lie Yang itu??!! Apa ada diantara kalian yang bisa menjelaskan beberapa masalah ini!”
Baru saja pangcu Ciang Hong selesai berbicara. Seorang dari para anggota khusus berdiri. Sebelum ia berbicara, terlebih dulu ia memberi hormat dengan menaruh tangan kananya di dada sambil membungkuk. Setelah pangcu Ang-hong-pay memberi izin dengan mengulapkan tangan kanannya. Laki-laki yang bukan lain adalah Kong Sie itu bmenegakkan kembali kepalanya yang tertunduk menghormat.
Kong Sie lalu menceritakan semua apa yang telah diketahuinya. Mulai dari kegagalannya mendapatkan Giok-ceng di Taiyuan, kegagalannya di bawah Song-shan, di rumah hartawan Song sampai kegagagalan pasukannya oleh Lie Yang beberapa seminggu yang lalu. Selama tiga tahun ini misinya selalu gagal. Ia juga menceritakan munculnya Dua Pelindung Kim-liong-pay yang sudah lama menghilang. Ditambah kehebatan ilmu silat Lie Yang setelah menghilang tiga tahun lamanya.
“Menurut dugaan saya, salah satu dari Dua Pelindung Kim-liong-pay yang pernah muncul tiga tahun yang lalu adalah Yang-pangcu dari Pek-eng-pay. Karena istri Lie Yang yang bernama Yang Kwat Lin adalah putri pangcu Pek-eng-pay. Selain itu, saya ingin mendapatkan persetujuan dari pangcu dan wakil Fu Hou-hoat untuk meminjam dua pasukan putih. Pasukan putih ini akan melengkapi pasukan saya untuk merampas Giok-ceng yang akan muncul di utara. Menurut arahan Cong Tiong-lo, Giok-ceng akan muncul di pesta ulang tahun Thian-long-pay.” Kata Kong Sie terakhir. Semua oarang manggut-manggut mendengar uraian Kong Sie.
Selama lima belas tahun ini, bisa dikatakan dirinya sendiri yang menjalankan semua aksi teror kepada ornag-orang kang-ouw. Mulai dari pembakaran, penculikan sampai pembakaran beberapa partai kecil dan beberapa perguruan silat di Tionggoan. Ia dengan 50 pasukan merah dan 300 pasukan hitamnya menjadi hantu yang mengerikan. Maka, tidak heran kalau saat ini ia mempunyai kepentingan paling banyak untuk menguraikan masalahnya.
“Sejak dahulu aku sudah menduganya kalau Yang-pangcu adalah salah satu dari Kim-liong-pay Ji-sian. Apa sudah diketahui siapa lainnya?” Tanya pangcu Ang-hong-pay sambil berpikir.
“Saya masih belum mendapatkan titik terang untuk yang ini. Namun sudah saya tambah mata-mata di sekitar tempat tinggal Lie Yang.”
“Oh, ya. Tadi engkau mengatakan bahwa pemuda si Lie Yang itu mampu memainkan ilmu Sin-hong Sin-kang sampai tingkatan ke sembilan. Apa anak buahmu tidak salah dengar?”
“Sepertinya mereka tidak salah dengar, pangcu. Kong Lee juga mengalami hal serupa. Semua sin-kang dan lweekangnya terkuras habis. Bahkan Kong Lee lebih parah, ada beberapa nadinya yang terputus. Tubuhnya terbakar oleh sin-kang Panas yang tinggi. Di tubuhnya terdapat darah membeku oleh sin-kang Dingin. Bukti itu sudah membuktikan betapa dahsyatnya ilmu lawan Kong Lee. Aku menduga ilmu Sin-hong Sin-kang tingkat ke delapannya tidak di bawahku. Malah mungkin lebih hebat ilmu yang dimilikinya, kalau benar ia mampu menemukan teori tingkatan ke sembilan itu.”
Semua orang mendengarkan uraian Kong Sie dengan mata tak berkedip. Mereka dapat membayangkan betapa dahsyatnya ilmu yang dimiliki oleh Lie Yang. Bnayak diantara mereka yang terkejut mendengarkan uraian itu. Sebab selama ini, mereka hanya menegtahui tingkatan tertinggi ilmu Sin-hong Sin-kang adalah tingkatan ke delapan. Adapun sebagian lainnya mengalami gejolak lebih dahsyat. Mereka dapat menerka apa di balik semua itu.
“Kalau benar-benar ilmu yang dimainkan oleh anak muda itua dalah tingkatan ke sembilan, maka MANUSIA SUCI dari BU ENG HU sudah mulai bermunculan. Ini juga bisa menjadi bukti bahwa dongeng BU ENG HU benar-benar ada. Tidak sembarang orang tahu kalau ilmu Sin-hong Sin-kang mempunyai tingkatan sembilan. Teori silat tingkatan ke sembilan sebenarnya sudah lama hilang. Kalau sudah muncul seperti ini, maka hanya ada segelintir orang yang mampu menandinginya. Pasukan putih pun tidak akan mampu menandingi kemampuan pemuda ini.”
“Sifat Sin-hong Sin-kang sangat berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya. Sekuat apapun sin-kang dan lweekang anak itu, bagaimanapun tinggi ilmunya. Manusia tetap terbatas sifatnya. 10 pasukan merah dan dua pasukan putih sudah cukup untuk mengalahkan dan menghabiskan sin-kang dan lwekang yang dipakainya. Kalau masih merasa khawatir tidak mampu mengalahkan, biarlah pasukan putih dikerahkan setengahnya.” Terdengar suara dari atas genteng.
Pangcu Ang-hong-pay tampak diam sedang berpikir lalu kepalanya bergerak-gerak. “Buka pintunya!” Perintahnya secara tiba-tiba kepada pengawal yang berada di samping pintu. Pintu terbuka lebar-lebar.
“Sepertinya saudara dari Thian-liong-pay (Partai Naga Langit) sudah datang! Persilahkan saudara dari Thian-liong-pang masuk ke dalam!” Terdengar kembali suaranya memerintah.
Baru saja ia selesai berbicara sebuah kumpalan angin masuk ke dalam ruangan. Pusaran angin itu bergerak bagaikan penari latar yang genit. Meliuk-liuk indah menimbulkan pesona, mengggores hati, menggelitik keingin-tahuan dan membangkitkan gairah tahjub. Tiba-tiba angin bergulung-gulung itu lenyap tanpa menyisahkan apapun. Hanya lima orang dengan pakaian serba putih berdiri dengan angkuhnya. Mereka muncul dengan tiba-tiba. Tidak diketahui kapan masuknya. Sepertinya mereka adalah jelmaan kumpalan angin tadi. Muka mereka ditutupi dengan kain putih tebal. Hanya mata mereka terlihat bersinar-sinar cerah. Di dada mereka tampak gambar naga melingkar dengan menjulurkan lidah apinya dari benang emas. Jubah putih yang dipakai mereka sangat putih dan halus. Semua orang merasakan sesuatu pesona yang luar biasa hebatnya.
“Manusia Suci telah muncul, kami diutus oleh pangcu Thian-liong-pay pusat untuk mengambil alih pencarian Giok-ceng dan menghadapi Manusia Suci dari BU ENG HU. Tugas Ang-hong-pay hanya menguasai partai-partai dan perguruan-perguruan silat di Tionggoan. Rebut kembali kursi bengcu dan pimpin para pendekar Tionggoan untuk melakukan tujuan kita.” Terdengar suara dari balik cadar. Suara itu terdengar sangat keras di setiap telinga anggota Ang-hong-pay.
“Apakah kami berhadapan dengan Pek-sianli (Bidadari Putih)?” Tanya pangcu Ang-hong-pay diikuti degupan hati para anggota Ang-hong-pay lainnya.
“Salah! Apa yang kalian lihat hanyalah Ngo-eng Pek-sianli (Lima Bayangan Bidadari Putih). Tapi, bukan berarti Pek-sianli tidak ada. Tidak tampak bukan berarti tidak ada, karena ketidak-nampaan adalah bukti hakikat adanya!” Terdengar jawaban dari balik cadar. Setiap orang yang memakai cadar itu berbicara. Sehingga suara yang dihasilkan terdengar bergemuruh di mana-mana. Tidak jelas dimana letak suara itu. Siapa hakikatnya Pek-sianli tidak ada yang tahu.
Pucat wajah Kong Sie mendengar jawaban itu. Tidak hanya dia sendirian yang merasakan sesuatu perasaan aneh itu. Hampir seluruh anggota Ang-hong-pay merasakannya, termasuk pangcu Ang-hong-pay.
Pek-sianli dengan Ngo-eng Pek-sianli-nya dianggap satu pasukan paling khsusus di Thian-liong-pay pusat. Mereka mempunyai sejarah berabad-abad. Tidak ada yang tahu bagaimana hakikat wujud Pek-sianli. Apakah ia masih muda atau sudah tua. Kalau dihitung dari mulai munculnya Pek-sianli, maka bisa dikatakan ia sudah berumur dua abad lebih dan apakah ada manusia bisa bertahan hidup sampai selama itu? Ada yang mengatakan bahwa Pek-sianli sudah menjadi dewi kahyangan dan berumur abadi seperti Budha. Tidak pernah terdengar Pek-sianli mati atau kalah dalam suatu pertempuran, apalagi gagal dalam satu misi pentingnya.
Bulu kuduk setiap anggota meremang. Mereka merasakan betapa mengerikan melihat pasukan terelit itu.
“Apakah pangcu menolak?!” Terdengar sebuah pertanyaan menggema di setiap pojok ruangan.
Tidak ada jawaban. Sepertinya pangcu Ang-hong-pay lagi tidur.
“Apakah diantara kalian ada yang tidak terima pekerjaan ini kami ambil?” Tanya Pek-sianli sekali lagi.
“Kami senang dan merasa terhormat pekerjaan berat ini dipikul Pek-sianli. Kami akan melaksanakan perintah pusat dengan sebaik-baiknya!” Terdengar jawaban dari pangcu Ang-hong-pay. Semua anggota Ang-hong-pay mengikuti perkataan ketuanya dengan serempak.
“Hi… hi… hi…!!! Aku suka dengan kekompakan kaliaa, anak-anakku!” Terdengar suara tertawa keras.
Suara itu menggema dna menghilang bersama wujud Ngo-eng Pek-sianli. Setiap mata melotot hampir keluar bijinya. Lima manusia itu muncul dan pergi seperti angin saja. Sungguh menakutkan.
Sidang masih berjalan dengan pembagian tugas….
<><><><><>()<><><><><>
Bu-tek Siauw-sin-tong
Di sebuah ruangan yang gelap. Hanya kerlip obor yang terlihat menerangi wajah-wajah sejuk itu. Wajah-wajah tua dengan keriput di mana-mana. Ada lima orang tua di dalam ruangan itu. Mereka memakai pakaian putih dari kain kasar, namun bersih dan rapi. Jubah putih itu disulam dengan warrna keemasan berbentuk sebuah danau dan naga yang hanya terlihat kepalanya mendongak ke langit.
Lima orang yang sangat tua itu duduk melingkar beralas batu pualam berwarna hijau. Batu pualam itu akan bersinar benderang ketika bulan purnama tiba. Batu pualam itu mempunyai nilai mistik yang tidak bisa dinalar oleh otak manusia. Kemampuan lima manusia tua yang ada di atasnya itu tidak jauh dari nilai mistik yang dimiliki oleh pualam hijau itu. Lima orang yang sudah kakek-kakek itu terlihat begitu tenang.
“Sepertinya permainan mereka yang sebenarnya akan segera dimulai. Setelah puluhan tahun mereka tidak dapat mencari tempat ini. Kemana arah gerakan mereka yang sebenarnya? Bukankah membuat kerusuhan dengan kekuatan yang sebenarnya?” Terdengar suara prihatin dari serang dari mereka.
“Sepertinya begitu kenyataannya. Mereka tidak akan hanya membuat kerusuhan. Tujuan utama mereka sebenarnya akan benar-benar terlihat setelah membuat dunia kang-ouw morat-marit terlebih dahulu. Sayang, banyak orang tidak mengetahuinya!”
“Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua?”
“Tidak ada! Kita hanya duduk di luar lingkaran sambil menonton permainan mereka. Giok Lie Yang cukup untuk menggagalkan niat tidak baik mereka. Dia akan menjadi kepala naga dengan badan para pendekar sakti kang-ouw lainnya.”
“Hmmm. Aku melihat akan terjadi banjir darah nanti!”
Empat kakek tua lainnya mengangguk membenarkan.
“Setiap lima telunjuk ditunjukkan ke suatu kejahatan, maka akan ada satu diantaranya yang putus. Kejahatan akan selalu menuntut korban. Itu hukum Tao!”
Empat lainnya kembali mengangguk. Mereka diam sambil membenamkan pikirannya ke suatu dimensi yang berbeda-beda. Mereka ingin melihat pertunjukan ‘yang belum terjadi’ dengan mata batin masing-masing. Bagi lima kakek-kakek yang sudah memiliki batin dan ilmu yang sakti, pekerjaan ‘mengintip’ masa depan bukanlah pekerjaan yang sulit. Apalagi hati mereka sudah disucikan. Tidak ada dendam dan benci di hati mereka. Nafsu mereka telah padam. Mereka hidup seperti manusia setengah dewa yang sebentar lagi akan menjelma menjadi dewa-dewa yang hanya mempunyai kasih sayang tinggi.
<><><><><>()<><><><><>
“Twa-suheng, menurut keterangan Ji-enghiong Uh Hou-hoat dan Hong Hou-hoat kemarin, katanya Giok-pangcu telah berhasil menyakini ilmu Sin-hong Sin-kang tahapan ke sembilan, apa mungkin benar? Bukankah ilmu itu telah hilang selama hampir ratusan tahun lamanya. Tidak ada yang mengetahui dimana tempat teori ilmu itu berada.” Tanya seorang pemuda memakai jubah putih ke teman lainnya.
Mereka adalah Kho Sa, pemuda dari Persia, Kwee Kong dan Kim Yun Tai. Mereka sedang menjalankan perintah dari guru mereka, Jit Fu-hoat. Mereka diperintahkan untuk pergi ke kota Taiyuan membawa pesan untuk Giok-pangcu. Sedangkan Ji Hou-hoat (Dua Pelindung) tua menunggu di Perkampungan Naga Emas. Dua Pelindung itu mempunyai pekerjaan sendiri yang harus diselesaikan – memperbaiki Perkampungan, istana Kim-liong-pay dan memperbaharui organisasi Kim-liong-pay. Saat ini, mereka sedang menempuh perjalanan menuju kota Taiyuan. Mereka masih berada di luar kota.
“Kim sute, apakah suhu pernah berbicara tentang Bu-eng-hu kepadamu?” Kata Kho Sa.
“Pernah. Tapi, tidak banyak. Suhu hanya bercerita bahwa Bu-eng-hu adalah istana paling misterius di dunia ini. Di istana itu hidup orang-orang yang sudah disucikan hatinya. Ilmu mereka sangat tinggi. Lalu apa hubungannya?”
“Perlu kalian ketahui. Selain tempat untuk menyucikan diri. Bu-eng-hu juga adalah tempat beribadah. Istana itu juga tempat menyimpan beberapa barang antik, benda keramat dan pusaka yang disucikan dari Kim-liong-pay. Di tempat itu juga segala ilmu disimpan. Maka, jangan heran kalau teori ilmu Sin-hong Sin-kang tahapan ke sembilan muncul kembali. Menurut dongeng ayahku dulu, semua ilmu silat dari Persia disimpan rapi di dalam Bu-eng-hu. Bahkan setelah tumbangnya Syah lama di Persia dan menyelewengnya agama di Persia, banyak pusaka Persia yang dibawa ke Tionggoan dan disimpan di dalam Bu-eng-hu.”
“Jadi, tempat itu bukan sekedar dongeng saja?” Tanya Kwee Kong yang sejak tadi diam.
“Hahaha, Bu-eng-hu memang ada. Konon menurut dongeng, tempat itu adalah tempat bertapanya Naga Emas yang ditundukkan oleh Sabzavar Syah saudara kandung nenek moyangku yang bernama Syahrian Syah. Tempat itu berada di dimensi lain. Hanya orang yang sudah mensucikan dirinya yang bisa memasuki dan mengetahuinya.”
“Siapa Sabzavar Syah itu?” Tanya sekali lagi Kim Yun Tai.
“Sebaiknya, kita lanjutkan perjalan kita. Sore hari, kita sudah harus sampai di kota Taiyuan.” Kata Kho Sa tidak menjawab pertanyaan adik seperguruannya. Kho Sa lalu berdiri, berjalan ke arah kudanya yang sedang makan rumput dan menaikinya setelah melompat dengan ringannya. Dua adik seperguruannya itu mengikuti gerakannya tidak kalah cepat dan tangkasnya.
“Ya!” Teriak Kho Sa menyemangati kuda kesayangannya untuk berlari secepat mungkin. Dua adik seperguruannya mengikuti di belakangnya. Mereka berlomba dengan waktu.
Tiga pendekar muda itu melewati tengah hutan, tidak mengikuti jalan umum. Mereka memotong jalan dengan harapan supaya cepat sampai di kota Taiyuan. Bermacam-macam burung liar yang sedang menikmati kehidupannya berterbangan ketika mendengar teriakan-terikan tiga pemuda itu.
“Twa-suheng, siapa sebenarnya Sabzavar Syah itu?” Tanya ulang Kim Yun Tai ketika dekat dengan Kho Sa.
“Dia adalah Giok Kim Liong, leluhur keluarga Giok dan pendiri Kim-liong-pay. Sebaiknya kita harus cepat-cepat sampai di kota Taiyuan. Jangan banyak tanya!” Jawab Kho Sa.
Baru saja mereka sampai di pertengahan hutan di luar kota Taiyuan. Kho Sa tiba-tiba memberhentikan kudanya dengan tergesa-gesa.
“Ada apa suheng?” Tanya Kim Yun Tai sambil mendekatkan kudanya ke kuda Kho Sa.
“Ada yang aneh di depan sana.”
“Mana? Sepertinya tidak ada sesuatu!” Kata Kim Yun Tai lagi.
“Sute, dengarkan baik-baik sekitarmu!” Ujar Kwee Kong sambil menepuk pundak adik perguruannya itu.
“Apa engkau mendengar suara binatang di sini?” Tanya Kho Sa sambil menoleh ke Kim Yun Tai.
Kim Yun Tai mengenyitkan dahinya. Ia ingin membaca sesuatu. Membaca keadaan di sekitarnya. “Tidak ada suara binatang sama sekali. Apanya yang aneh? Sepertinya tidak ada yang aneh!”
Kho Sa menghela napas panjang. “Sute, kalau di dalam hutan tidak ada suara binatang sama sekali. Ini namanya aneh. Setidaknya ada tiga kemungkinan ketika di dalam hutan tidak terdengar suara binatang sama sekali; pertama, memang hutan ini tidak ada binatangnya dan ini tidak mungkin, karena tadi aku masih melihat banyak binatang dalam perjalanan. Ke dua, ada beberapa binatang yang membuat binatang lainnya pergi ketakutan. Ke empat, ada manusia di tempat ini selain kita bertiga.”
“Twa-suheng memang sangat cermat dalam melihat situasi. Sungguh salut!” Kata Kim Yun Tai.
Belum suara tawa Kim Yun Tai selesai, terdengar bentakan keras dari depan mereka. “Serahkan kuda-kuda kalian!”
Tiga orang laki-laki memakai baju sederhana tampak berdiri di depan mereka. Mereka muncul dari balik pohon. Melihat baju mereka, sepertinya mereka adalah para petani atau orang desa, karena baju yang dipakai oleh tiga lelaki itu adalah baju yang biasa dipakai oleh para petani. Tampak biasa, lusuh dan berlepotan lumpur. Namun, tidak cara mereka melangkah dan berbicara. Cara melangkah mereka terlihat sangat ringan dan aksen berbicara mereka sangat kasar.
“Siapa sebenarnya saudara sekalian? Kenapa meminta kuda-kuda kami?” Tanya Kho Sa masih dengan nada ramah.
“Tidak perlu banyak tanya. Cukup serahkan kuda yang kalian tunggangi. Kalau tidak, jangan salahkan kami kalau berlaku kasar.” Jawab salah satu dari mereka yang berada di tengah.
“Oh, perampok, ternyata!” Kata Kim Yun Tai dengan nada rendah.
“Oh ibu, ada perampok!” Terdengar suara lainnya. Suara itu terdengar seperti memelas dan sedih.
Kho Sa mengalihkan pandangannya ke atas. Di sebuah dahan di atas pohon di sampingnya duduk seorang laki-laki setengah umur. Laki-laki itu duduk dengan enaknya sambil mengipasi tubuhnya yang kepanasan.
“Orang ini sudah berada di sini, sungguh hebat ilmu peringan tubuhnya!” Kata Kho Sa dalam hatinya.
“Siapa berani ikut campur urusan kita? Siapa engkau orang cebol?” Tanya kasar salah satu laki-laki di depan Kho Sa itu.
Laki-laki yang sedang duduk di dahan pohon itu tersenyum memperlihatkan giginya. Tubuhnya memang terlihat sangat kecil. Mengingatkan pada tubuh pangcu Thian-long-pay yang kerdil.
“Oh ibu, ada perampok membentakku. Aku takut. Oh ibu, dia bertanya siapa aku. Apakah Bu-tek Siauw-sin-tong (Bocah Ajaib Tanpa Tanding) harus menjelaskan kepada mereka?” Kata laki-laki cebol yang mengakui dirinya adalah Bu-tek Siauw-sin-tong itu. Lagaknya sungguh aneh. Ketika berbicara, ia selalu menyebut ‘Oh ibu’. Wajahnya pun ditampakkan seperti orang ketakutan. Suaranya terdengar tersedat-sedat.
“Eh, turun kau bocah tengik! Kalau tidak kuhancurkan kepalamu biar menjadi hantu penunggu hutan ini.” Teriak laki-laki lainnya. Kho So dan dua adik seperguruannya diam saja. Ia ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Oh ibu, aku dicaci maki oleh perampok itu. Aku harus bagaimana? Tiga pemuda itu diam saja tidak membantuku. Apakah aku harus turun, oh ibu? Atau diam saja di sini?” Kata Bu-tek Siauw-sin-tong sambil menggoyang-ngoyangkan tangan dan kakinya.
“Sepertinya bocah itu sudah bosan hidup!” Kata laki-laki yang berada di kanan. Ia melangkah dengan ringannya. Seringan angin yang sedang berhembus menerpa wajah Kho Sa. Dua mata Kho Sa tiba-tiba menyala sebentar melihat langkah ringan itu.
Salah satu dari penghadang itu berhenti tepat di bawah Bu-tek Siauw-sin-tong. Laki-laki itu mengambil sebilah pedang yang ada di bungkusan kain yang dibawahnya. “Oh ibu, aku mau dibunuh. Takut!” Kata Bu-tek Siauw-sin-tong menggigil ketakutan ketika melihat pedang itu sudah dikeluarkan dari sarungnya.
“Turun kamu anak baik, atau kubelah tubuhmu!” Sekali lagi laki-laki itu berteriak dengan nada memerintah.
“Oh ibu, kalau aku turun, aku bakal dibelah dan disate oleh mereka. Lebih baik aku di sini saja, lebih aman, bukankah begitu ibu?”
“Hahahha.” Laki-laki di bawahnya tertawa mendengar omongan Bu-tek Siauw-sin-tong. Pedangnya bergerak datar dengan kecepatan sulit diikuti oleh mata. Sebelum semua orang mengerti apa yang sedang terjadi. Laki-laki itu sudah menghentakkan kakinya mundur ke tempat asalnya. Ilmu peringan tubuhnya tidak mungkin dibilang jelek. Kecepatannya seperti angin saja.
“Siapa sebenarnya orang-orang ini?” Tanya sekali lagi Kho Sa dalam dirinya sendiri.
“Terlalu banyak orang hebat di Tionggoan ini.” Sekali lagi kekagumannya muncul.
“Hahahaha, bocah tengik, kali ini engkau akan turun. Tidak bisa tidak!” Teriak laki-laki membawa pedang itu.
“Oh ibu, aku tidak akan turun kecuali pohon ini tumbang. Masa pohon ini akan tumbang oleh sabetan pedangnya?” Kata Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Hahahaha.” Terdengar suara ketawa tiga orang berpakaian petani itu.
Suara ketawa itu semakin keras dan mendengung-dengung seperti lebah. Lalu laki-laki yang berada di tengah menggerakkan tangan kanannya. Menggunakan lwe-kangnya, laki-laki berjenggot itu mengambil dedahuan yang ada di tanah. Akibatnya sebuah daun yang sudah kering melayang ke arah jari-jarinya. Daun berwarna coklat itu melayang-layang seperti ada dua kekuatan yang sedang saling tarik-menarik. Hanya sebentar saja daun kering itu diam melayang-layang. Secepat angin daun kering itu sudah melayang ke arah pohon yang sedang diduduki oleh Bu-tek Siauw-sin-tong.
Daun kering itu bersentuhan dengan pohon. Akibatnya, sungguh menakjubkan. Daun kering it menancap hampir setengahnya di pohon sebesar pelukan orang dewasa itu. Pohon itu tiba-tiba saja bergetar dan tumbang begitu saja. Bu-tek Siauw-sin-tong meloncat dan mengawang di udara. Sebelum kakinya menginjak tanah, Bu-tek Siauw-sin-tong bersalto tiga kali di udara. Pohon itu terbelah. Bukan akibat daun kering itu, namun akibat pedang yang di bawah laki-laki tidak dikenal itu. Potongan pohon itu sungguh menakjubkan. Entah bagaimana tajamnya pedang itu hingga bisa memotong kayu sebesar itu seperti memotong keju saja. Belahannya terlihat lembut.
“Oh ibu, tiga murid Kun-lun-pay itu sangat sombong. Berani memamerkan ilmu pedang mereka yang masih cetek kepada Bu-tek Siauw-sin-tong.” Terdengar Bu-tek Siauw-sin-tong menggerutu.
“Hahahahaha, sungguh tajam penglihatanmu, bocah tengik. Kalau begitu mari kita lihat, apa benar ucapan gombalmu itu? Lihat pedang!” Teriak laki-laki yang membawa pedang. Baru ucapan selesai, ia sudah menggerakkan pedangnya. Terdengar bunyi ‘Sring’ sekali dan ornagnya sudah menyerang dengan telak Bu-tek Siauw-sin-tong.
Bu-tek Siauw-sin-tong tertawa terbahak-bahak sambil menyebut ‘Oh ibu,’ terus menerus. Gerakan Bu-tek Siauw-sin-tong pun tidak kalah hebatnya dengan ilmu pedang murid Kun-lun-pay itu. Ketika dua orang itu sudha berada pada puncak pertarungan. Dua orang lainnya segera maju.
“Anak muda, serahkan kuda kalian. Kami tidak mempunyai cukup waktu banyak untuk meladenimu.” Kata salah satu dari dua orang itu.
“Maaf saudara, kami mempunyai urusan sendiri yang cukup mendesak. Saudara bisa membeli kuda di desa timur hutan ini. Aku rasa ilmu ringan saudara tidaklah jelek. Paling-paling sore hari sudah sampai di desa itu kalau berlari menggunakan gin-kang kalian.” Jawab Kho Sa tenang. Matanya sebelah kanan melirik ke arah pertempuran Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Setidaknya Bu-tek Siauw-sin-tong tidak akan kalah dengan orang itu.” Katanya dalam hati. Hatinya sudah merasa tenang.
“Sepertinya kalian tidak akan menyerahkan kuda kalian sebelum menjadi bangkai terlebih dahulu.” Teriak sala satu dari mereka dan segera menyerang Kho sa yang masih duduk di atas kuda. Kho Sa melompat dari atas kudanya menghindari pukulan lawannya.
“Suheng biar aku melawan yang satunya!” Teriak Kim Yun Tai sambil turun dari kudanya. Segera kemudian ia mengambur ke depan menyerang lawan satunya. Kwee Kong diam di atas kudanya. Ia tahu betul kemampuan Kho Sa dan Kim Yun Tai, sehinggai ia tidak khuatir sama sekali. Bahkan ia tersenyum ketika dua matanya melihat pertarungan Bu-tek Siauw-sin-tong yang konyol. Bocah Ajaib itu selalu menghindar dengan keistimewaan gin-kang-nya. Lawannya hingga kerepotan mengejar-ngejarnya. Pertarungannya itu lebih cocok disebut permainan petak umpet daripda pertarungan hidup-mati.
Kho Sa menggunakan ilmu Kim-liong Sin-ciang-kun (Ilmu Pukulan Tangan Sakti Naga Emas) untuk menghadapi lawannya. Sedangkan Kim Yun Tai menggunakan ilmu Kim-liong-kiam (Ilmu Pedang Naga Emas) karena lawannya menggunakan pedang.
Pertarungan di tiga tempat itu sungguh seru. Bocah Ajaib, Kho Sa dan Kim Yun Tai terlihat lebih santai menghadapi lawan-lawannya. Bagaimana pun juga mereka tidka ingin membunuh lawannya. Apalagi Bocah Ajaib yang terlihat lebih ingin mempermainkan lawannya. Lwannya itu terdengar mengumpat dan mencaci maki Bocah Ajaib terus menerus. Bocah Ajaib hanya bisa mentertawai lawannya.
“Oh ibu, aku bosan dengan lawanku ini. Apakah aku harus melumpuhkannya?” Kata Bocah Ajaib itu. “Oh ibu, aku mendapatkan ide bagus. Pasti akan menjadi permainan yang sangat menarik!”
Baru selesai ia bicara, dengan gerakan yang sulit diduga, Bocah Ajaib itu sudah berhasil meloloskan diri dari serangan lawan. Ia berlari ke arah sebuah pohon dengan kecepatan peringan tubuhnya.
“Kemana dia?” Tanya lawannya kehilangan Bocah Ajaib.
Belum sempat ia menyadari ada sesuatu yang ganjil. Dari balik pohon telah muncul Bocah Ajaib. Kali ini gerakannya lebih cepat. Belum sempat lawannya emnyadari kehadirannya, ia sudah berdiri membeku. Sebuh totokan mengunci seluruh gerakaan lawannya.
“Hahahaha, oh ibu, ini baru akan menyenangkan.” Setelah berbicara seperti itu menyentuh tubuh lawannya. Sepertinya ia takut kalau lawannya hanya pura-pura tertotok. Ia lalu menjalankan permainannya. Baju dan celana lawannya dicopotnya hingga meninggalkan celana dalam saja. Lawannya itu tidka bisa bergerak dan berbicara. Seandainya ia mampu berbicara, mungkin ia akan berteriak mengutuki Bocah Ajaib itu atas perilakunya yang konyol. Hanya dua mata lawannya itu yang tampak merah sepertinya ia ingin menyemburkan api.
Bocah Ajaib tertawa senang ketika berhasil menelanjangi lawannya. Tubuh tidka berdaya itu segera diangkatnya dan dilemparkan ke arah Kim Yun Tai yang sedang bertempur serunya. Dua orang itu segera terpisah oleh leparan orang itu. Tidak menyadari ada sesuatu yang licik. Lawan Kim Yun Tai menerima tubuh temannya yang telanjang itu. Baru saja ia berhasil menyentuh tubuh temannya, sebuha tangan pendek berhasil menyentuh kedua pundak tangannya. Dan ia hanya bisa berdiri mematung dengan dua bola mata hampir keluar. Tubuh temannya terjatuh ke tanah.
Ternyata Bocah Ajaib telah berhasil menotok lawan Kim Yun Tai. Seperti lawannya, Bocah Ajain ini juga melepaskan ikatan pakaian lawan Kim Yun Tai. Dua murid Kun-lun-pay telah ditelanjangi oleh Bocah Ajaib. Ia tertawa terbaha-bahak melihat dua tubuh telanjang itu. Kim Yun Tai dan Kwee Kong hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan aneh Bocah Ajaib itu.
“Cianpwee terima kasih telah menolong teecu! Sungguh kasihan dua orang itu, apa tidak kasihan mereka diperlakukans eperti itu?” Kata Kim Yun Tai sambil menghormat.
“Oh ibu, ternyata anak muda ini mempunyai hati yang sangat baik. Hatiku tersentuh.” Kata Bocah Ajaib itu sambil memperdengarkan tawanya. Ia lalu pergi menyelonong ke arah pertempuran Kho Sa.
“Oh ibu, biar kubantu anak baik yang satu itu.” Katanya dengan gerakan cepat. Tahu-tahu ia sudah berada di tengah pertempuran. Seperti seekor ular yang licin. Ia melengok-lengok di antara dua pertempuran Kho Sa dan lawannya. Kho Sa lalu mundur memberi ksempatan kepada Bocah Ajaib untuk meneruskan pertandingan.
“Oh ibu, anak muda itu benar-benar baik. Ia memberikan permainan ini kepadaku.”
“Oh ibu, sebaiknya kalian menerukan perjalanan. Bukankah kalian sore hari sudah harus sampai di kota Taiyuan? Biar tiga babi ini aku yang mengurusnya. Nanti sore kita bertemu di kota Taiyuan. Ada yang ingin kutanyakan kepada kalian.” Kata Bocah Ajaib itu sambil bertarung dengan lawab barunya.
“Akan kubunuh engkau Bocah tengik!” Teriak lawannya marah akrena merasa dipermainkan, apalagi melihat dua temannya dijahili sedemikian rupa.
Kho Sa hanya mengangguk dan melompat ke atas kudanya diikuti oleh Kim Yun Tai. Sesaat kemudian tiga pemuda itu sudah jauh dari pertandingan Bocah Ajaib dengan lawannya. Tampaknya lawannya yang satu ini memiliki ilmu silat di atas dua temannya. Walaupun begitu Bocah Ajaib masih bisa tertawa dan mepermainkan lawannya hingga menyumpah-nyumpah. Dengan gerakan cepat, kadang-kadang tangannya berhasil menampar pipi lawannya. Sekitar lima menit kemudian sebuah permainan dilakukannya. Kali ini, ia ingin mencopot pakaian lawannya di tengah-tengah pertarungan dan pekerjaan ini tidaklah sulit baginya. Gerakan lawannya semakin lama, semakin lamban akibat baju yang dipakainya sudah berhamburan ke sana kemari. Tubuhnya sudah setengah telanjang.
Sekitar setengah jam kemudian, ia menyudahi permainannya dengan menotok lawannya dan menelanjanginya. Tiga tubuh telanjang itu ditumpuk sedemikian rupanya hingga terlihat seperti orang yang mau berbuat mesum. Baju mereka dibawa pergi dan ditaruh di dahan-dahan pohon yang ada di hutan.
“Hahahaha, oh ibu, ada tiga laki-laki berbuat mesum. Oh ibu, Bu-tek Siauw-sin-tong tidak tega melihatnya!” Ujar Bu-tek Siauw-sin-tong dikejahuan. Tiga orang itu mengumpat tidak ada habis-habinya di dalam hati. Mereka ditinggal dalam keadaan tidak bisa bergerak di tengah hutan. Alangkah menakutkannya seandainya malam sudah tiba. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau di samping mereka ada harimau dan serigala. Mereka akan menjadi makanan mereka.
<><><><><>()<><><><><>
Arti Sebuah Ketenangan
“Siapa sebenarnya orang kerdil tadi? Sepertinya ilmu yang digunakan masih ada hubungan dengan perguruan kita?” Ujar Kim Yun Tai setelah duduk dikursi. Sejenak Kho Sa memperhatikan sekelilingnya. Terlalu ramai. Ada yang sedang enak menikmati makanan, mabuk, mengobrol santai sampai adu minum. Di kedai kota Taiyuan, mereka baru berhenti dari perjalanan jauh. Di kedai yang paling ramai pengunjung dan paling elit itulah mereka beristirahat.
“Hmmmm, aneh, kenapa sejak hancurnya Kim-liong-pay, ilmu-ilmunya berceceran di tengah jalan. Sungguh penasaran, sungguh penasaran, sungguh penasaran!” Kwee Kong menimpali dengan suara tertekan.
“Kalian bisa melihatnya. Ilmu yang digunakan Bocah Ajaib itu walaupun ada sedikit kesamaan dalam beberapa gerakannya, belum tentu itu milik perguruan kita. Pada hakikatnya, semua ilmu yang ada di dunia ini sama. Gerak yang diperlihatkan sama semuanya. Tinggal berapa ilmu yang telah kalian pahami. Berapa luas pengetahuan yang telah kalian ketahui. Ragamnya memang banyak. Intinya hanya satu. “ Kho Sa berbicara dengan nada santai. Dua bola matanya tidak henti-hentinya melirik kanan dan kiri.
“Apa maksud twa suheng?” Tanya Kim Yun Tai. Dua alinya tergerak ke atas.
“Sudah jelas. Gerakan yang dimainkan Bocah Ajaib itu belum tentu milik perguruan kita. Kalau pun iya, mungkin dahulu nenek moyangnya pernah mendapatkan pengajaran dari Sabzavar Syah. Bukankah dahulu Sabzavar memiliki ilmu yang maha luas. Bahkan konon menurut cerita orang tuaku, Sabzavar Syah akan mampu mengajarkan ilmu yang berbeda-beda kepada seribu muridnya dengan sumber yang sama. Sumbernya satu. Ia juga dikenal di daratan Persia sebagai titisan sang Mani, sang Nabi Agung Persi. Pengetahuannya tidak hanya dalam hal ilmu silat, namun ilmu lainnya Sabzavar Syar juga menguasai. Seperti ilmu perbintangan, pertabiban, arsitek dan ahli sihir. Ia dikenal sebagai seorang Guru Selamat dan pejalan tangguh. Seluruh daratan dan lautan pernah dijelajahinya. Ia hidup seperti dewa. Kalau melihat ini, sepertinya mungkin saja ilmu-ilmu itu berasal dari satu sumber.”
“Wou, sehebat itukah Sabzavar Syah!” Ada rasa bangga di hati Kim Yun Tai. Cerita tentang leluhur partai Kim-liong-pay baru sedikit yang ia ketahui. Dulu, gurunya tidak mau mengungkit sama sekali cerita tentang perguruannya. Gurunya hanya mengatakan, “kelak engkau akan mengetahuinya sendiri,”, ketika ia ingin tahu tentang sejarah perguruannya. Kho Sa ternyata sejarah hidup. Darinya ia bisa mendapatkan banyak pengetahuan. Kim Yun Tai manggut-manggut.
“Apakah…” Kim Yun Tai memutuskan perkataanya. Matanya melihat seorang wanita berpakaian putih dengan masuk kedai. Secara otomatis dua saudara seperguruannya mengikuti ekor dua matanya.
“Dimana kongcu lo-peh?” Tanya wanita itu tergesa-gesa.
Seorang pelayang tergopoh-gopoh menemui wanita itu. “Beliau ada di dalam dapur,”. Wanita itu tidak perlu menanti lama. “Beritahu beliau, di rumah sedang ada masalah! Hujin memintanya pulang segera!”
Baru saja pelayan tua itu mau pergi. Dari dalam sudah keluar seorang pemuda dengan memakai pakaian putih bersih. Wajahnya putih bercahaya. Seulas senyum di wajahnya tidak pernah hilang. Wajah ramah itu menyapa wanita di depannya.
“Ada apa, Shi Lan?” Tanya pemuda itu ramah. Dua matanya terlihat berkilauan ketika bertatapan dengan dua mata Kho Sa. Pemuda itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Kho Sa dan dua adik seperguruannya. Kho Sa menjawab dengan senyuman dan anggukan rama juga.
Wanita yang dipanggil Shi Lan itu juga ikut menoleh. Kalau dua mata pemuda itu bertabrakan dengan dua mata Kho Sa. Giliran dua mata jeli wanita itu yang bentrok dengan dua mata Kim Yun Tai. Kim Yun Tai Tersenyum hampar. Kwee Kong tersenyum melihat kelakuan adiknya.
Belum pernah dalam hidup Kho Sa dapat melihat wajah sedamai wajah pemuda di depannya itu. Tidak diragukan lagi. Ia tertarik dengan wajah tedu itu. Wajah damai. Wajah misterius yang pernah dilihatnya.
Shi Lan menjawab dengan suara berbisik. Wajahnya tampak serius. Sebaliknya, pemuda yang mendengarkannya tersenyum. Tidak ada muka emosi yang terlihat. Wajah itu seperti lautan saja. Tidak mudah menjenguk kedalamnnya.
Wanita dan pemuda itu segera berlalu. Ketika pemuda itu melewati di depan Kho Sa, ia berkata, “maaf kalau hidangannya membuat lama menunggu tiga saudara. Sebentar lagi makanan akan selesai. Mohon sabar!” Hati Kho Sa semakin kagum atas kesopanan pemuda itu.
“Tidak apa-apa saudara yang budiman. Kami akan menunggu.” Jawab Kho Sa sambil menrangkai dua kepalan di sepan dadanya. Menghormat.
“Kalau ada apa-apa, silahkan berbicara dengan paman Pek di sana! Saya minta undur diri dulu!”
“Silahkan sudara!” Kho Sa berdiri.
Pemuda itu pergi dengan seulas senyuman tertinggal dalam hati Kho Sa dan dua adik seperguruannya.
“Aneh,” Kata Kho Sa tiba-tiba.
“Ya, aneh,” Kata Kim Yun Tai juga.
“Benar, aneh,” Kwee Kong juga unjuk gigi.
“Apanya yang aneh menurutmu, Yun Tai-te?” Tanya Kho Sa ingin tahu.
“Wanita itu membuat jantungku meloncat-loncat!” Jawab Kim Yun Tai sambul berhamburan senyuman. Kho Sa dan Kwee Kong tertawa berderai.
“Kalau kamu, Kong-te?” Tanya Kho Sa kepada Kwee Kong.
Sebelum Kwee Kong menjawab, terlebih dauku ia tersenyum. “Aku merasakan ada hawa aneh yang muncul dari dalam tubuh adik Yun Tai.”
“Hawa apa itu, Kong-suheng? Jangan ngarang kamu?” Tanya Kim Yun Tai penasaran. Ia tahu, Kwee Kong jarang bergurau. Ia selalu serius.
“Hawa cinta!” Tiga orang itu tertawa terbahak-bahak.
“Kalau twa-suheng bagaimana?” Tanya Kim Yun Tai setelah kenyang tertawa. Ia tidak akan pernah berhenti bertanya, sebelum rasa penasaran di dalam hatinya terkuras habis.
“Apakah kalian tidak dapat melihat betapa ringan langkah wanita yang dipanggil Shi Lan tadi. Apalagi ketika dia berlari. Sebaliknya, langkah tuan mudanya itu terasa berat, namun dua matanya bercahaya seperti bintang. Hanya seorang yang sudah mempunyai tenaga dalam tinggi yang dapat mempunyai dua mata seperti itu. Apa kalian tidak merasa ada sesuatu yang tidak beres?”
“Mana aku sempat memperhatikan langkahnya, sedangkan dua mataku yang busuk ini selalu tersangkut di wajah yang mempesona!”
Tiga pemuda itu terdiam setelah tertawa habis-habisan. Beberapa saat kemudian, pelayan datang dengan membawa makanan yang tadi mereka pesan.
<><><><><>()<><><><><>
Gedung itu besar. Luas. Suara yang terdengar dari depan gedung itu sangat berisik. Di halaman gedung itu berdiri puluhan orang dengan bermacam-macam pakaian dan senjata. Tombak. Parang. Golok. Trisula. Pedang. Dan masih banyak lagi senjata-senjata lainnya yang aneh dan terlihat diluar pikir manusia.
Gedung yang didiami oleh Giok Lie Yang dan keluarganya sedang dikerumuni banyak orang. Hampir banyak orang kang-ouw yang merasa penasaran dengan cerita di luar. Semenjak tersiarnya kabar munculnya Giok Lie Yang dan istrinya, banyak orang-orang Kang-ouw yang berdatangan ke Taiyuan. Menurut cerita yang dibawa angin, Giok-ceng saat ini berada di tangan Giok Lie Yang. Entah kabar itu siapa yang menyiarkan. Tidak ada yang tahu. Tiba-tiba saja rumah Giok Lie Yang dikerumuni banyak orang. Mereka menuntut Giok Lie Yang untuk menyerahkan Giok-ceng sebagai lambang Bengcu lama yang telah belasan tahun hilang. Sekaligus simbol misteri yang menimbulkan mala petaka akhir-akhir ini.
Banyak orang yang sudah tahu, bahwa Giok-ceng adalah lambang misteri. Namun, mereka tidak tahu, apa misteri yang ada di dalam lambang itu. Misteri dalam misteri. Suatu keputusan yang sulit dijangkau. Sebuah rahasia yang masih misteri bagi semua orang.
“Sebanyak itukah orang-orang ingin tahu tentang Giok-ceng?” Tanya Lie Yang kepada seorang wanita muda disampingnya. Wanita itu bukan lain adalah Shi Lan yang berada di kedai tadi. Dua hari terakhir, ia memang sudah melakukan aktifitas sehari-harinya. Saat ini, semua pekerjaan orang tua angkatnya berada di pundaknya. Ia harus memikul beban berat itu, walaupun usianya masih muda. Dua buah kedai serta penginapan besar, peternakan kuda, toko-toko keramik dan pakaian, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang tidak ringan perlu segera ditanganinya. Dunianya semakin sibuk. Belasan pekerjaan besar itu perlu pencurahan pikiran yang tidak ringan. Biasanya, ia akan ikut mengawasi beberapa lahan bisnisnya, seperti yang telah dilakukannya di salah satu kedai di pinggir kota Taiyuan tadi.
“Banyak tokoh hitam yang berdatangan. Mereka sempat melukai paman Chi dan memaksa masuk rumah, menebang beberapa pohon dan merusak bunga Bwe kesukaan Hujin.” Cerita Shi Lan dengan mata berkilat-kilat.
“Tenangkan hatimu, Shi Lan! Jangan engkau biarkan kegelapan menguasaimu. Bunga Bwe bisa ditanam kembali, luka bisa disembukan, tapi hati dan pikiran yang dikuasai oleh kegelapan, mudah menimbulkan kerusakan yang berkepanjangan. Tidak akan ada habis-habisnya. Hakikatnya, seperti kuda liar, hati dan pikiran yang sudah terkuasai kegelapan susah ditundukkan. Berhati-hatilah. Mawas diri dan kontrollah dirimu sendiri, jangan malah dikontrol oleh kegelapan!”
Shi Lan menundukkan kepalanya. Api telah padam secara tiba-tiba. Ia tahu, bahwa seharusnya ia tidak berbicara seperti itu di depan Lie Yang. “Maaf kongcu, bukan maksudku berbicara seperti itu. Mungkin benar perkataan kongcu, bahwa hatiku telah terbelengguh oleh kegelapan. Terima kasih atas petuah kongcu.”
“Hmmm, Sudahlah. Sebaiknya kita harus mempercepat langkah kita. Aku takut mereka akan semakin gila!”
Shi Lan mengikuti langkah Lie Yang. Mereka menelusuri gang-gang kecil. Menerobos dan mengambil jalan terdekat untuk cepat sampai di rumah mereka. Tanpa bicara sepatah katapun.
Di tempat lain, Kho Sa dan dua saudaranya sedang menikmati makanan yang telah disajikan oleh pelayan tua. Beberapa saat kemudian ketika mereka sudah selesai makan, Kim Yun Tai terlebih dahulu memanggil pelayan tua atau pelayan Pek. Orang tua itu datang dengan menyeringai, padahal maksudnya adalah tersenyum. Mukanya yang putih akibat luka bakar membuat dirinya dipanggil Pek (Si Putih}. Sungguh buruk sekali muka itu. Tidak begitu sedap untuk dipandang. Seandainya salah satu temannya tidak meminta izin untuk berlibur, mungkin ia akan lebih senang berada di dalam dapur. Kerjaannya sebenarnya bukan sebagai pelayan, tapi seorang koki ulung. Wajahnya terbakar akibat kesalahannya belasan tahun yang lalu ketika sedang memasak. Mukanya tersiram minyak.
“Apakah paman bisa menunjukkan jalan dimana kediaman keluarga Song kepada kami?” Tanya Kim Yun Tai tidak bertele-tele lagi.
“Lah, tadi itu siapa yang kalian ajak bicara kalau bukan Giok-kongcu? Apakah kalian tidak mengenal kongcu kami? Rumahnya ada di tengah kota, berdekatan dengan kuil Budha.”
Tiga anak muda itu segera saling pandang. Hampir mereka tidak dapat mempercayai pendengaran mereka sendiri. “Maksud paman, tuan muda pemilik kedai tadi itu adalah Song-kongcu?” Tanya Kho Sa hampir melonjak girang. Akhirnya ia dapat bertemu dengan keluarga jauhnya. Dan sungguh tidak menyangka bahwa orang yang dikaguminya tadi adalah keluarganya yang ingin ditemuinya.
“Benar memang dia. Keluarga Song memang keluarga kaya raya. Belasan toko besar ia yang punya, bahkan dua kedai plus penginapan terbesar di kota ini miliknya. Apakah para kongcu sudah mendengar tentang kabar meninggalnya hartawan Song dan istrinya? Sungguh kasihan Song-kongcu, terkutuk benar para pembunuh itu. Tuhan juga tidak adil, kenapa orang sebaik mereka hanya diberi umur yang pendek. Seandainya umurku ini bisa menyebabkan hidupnya kembali nyawa mereka yang hilang, sungguh aku rela memberikannya.” Paman Pek berkata hampir menangis. Namun raut mukanya malah terlihat seperti orang tertawa. Sungguh aneh.
“Kalau begitu, kami akan segera berangkat! Sebelum malam datang.” Tiga anak muda itu segera mengemasi barang-barang mereka dengan agak tergesa-gesa. Mereka hanya mempunyai sedikit waktu. Ada banyak urusan yang ingin mereka selesaikan. Terlalu banyak malahan.
Baru saja mereka sampai di depan kedai, paman Pek terlihat berlari-lari sambil memanggil-manggil mereka. “Kongcu, berhenti sebentar! Ada yang ingin aku sampaikan.”
“Ada apa paman Pek?” Tanya Kim Yun Tai dengan seulas senyuman khasnya.
“Tadi aku lupa menyampaikan sesuatu, aku tadi mendengar pembicaraan nona Shi Lan dengan Song-kongcu. Kata Shi Lan, rumah kongcu sekarang ada masalah. Tolong bantu kongcu, sepertinya kalian orang-orang kang-ouw. Pasti bisa membantunya. Aku tidak ingin melihat kongcu mendapatkan musibah yang sama dengan orang tuanya.” Paman Pek berbicara dengan nafas tidak sempurna.
“Jangan khuatir paman Pek! Kami datang ke sini memang mau membantunya. Sebaiknya paman Pek segera kembali. Di dalam sana paman banyak dibutuhkan pengunjung.” Jawab Kim Yun Tai. Paman Pek sepertinya merasa nyaman dengan perkataan itu. Terdengar ia menghembuskan udara dari kerongkongannya dengan lega. Ia kembali ke kedai setelah mengucapkan kata terima kasih.
Tiga anak muda itu saling pandang satu sama lainnya. Mereka sangat paham apa arti pandangan masing-masing. “Kalau tidak salah dugaanku, orang-orang itu sudah mendahului kita.” Kata Kho Sa. Dia langsung melejit di atas tubuh kudanya diikuti oleh dua saudaranya. Mereka menaiki kuda dengan kecepatan penuh. Mencoba menggapai bayangan mereka, yang telah mendahului mereka.
<><><><><>()<><><><><>
“Cepat serahkan Giok-ceng kepadaku, anak muda!”
“Tidak!!! Serahkan padaku.”
“Jangan! Serahkan padaku.”
“Giok-ceng itu milik kami, karena kami yang pertama datang kemari! Serahkan kepadaku anak baik. Kalau tidak, kami tidak akan segan-segan lagi bertindak kasar.”
Berbagai suara teriakan terdengar sangat menjemukan. Itulah manusia. Selalu tidak mensyukuri apa yang dipunyai. Mereka cenderung pada dasar ketamakan kepada dunia. Sungguh malang nasib mereka itu.
Lie Yang berdiri diam. Tidak ada suara sedikit pun keluar dari mulutnya. Bahkan ekspresi wajahnya tidak terlihat sama sekali. Ia seperti tadi. Seperti tak ada masalah di depannya. Ia seperti menatap burung-burung yang sedang berkicau. Hanya sekejap saja ia tersenyum. Lalu hilang. Istrinya yang berada di sampingnya tampak lebih garang dan ketus. Seulas wajah sinis tampak jelas sekali.
“Apakah menurut kalian Giok-ceng itu sekarang ada di tanganku? Kalau memang ada, tidak sebaiknya kuberikan kepada kalian. Hanya yang berhak yang dapat memegangnya. Apakah kalian tahu, bahwa Giok-ceng selain lambang bengcu orang-orang kang-ouw, juga lambang pangcu partai Kim-liong-pay. Apalagi saat ini lambang baru untuk bengcu orang-orang kang-ouw telah ada. Buat apa lagi kalian merebutkan Giok-ceng yang tidak ada harganya itu. Kecuali untuk suatu kelompok saja.” Terdengar Lie Yang berbicara dengan suaranya yang berwibawa. Semua orang tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang sedang meraba-raba hati mereka. Rabaan itu sungguh terasa. Bahkan ada sebagian orang yang tiba-tiba saja dihantui perasaan aneh. Lebih aneh dari pada sekedar perasaan takut.
Sejenak ia berhenti bicara. Dan tiba-tiba ia menyambung, “apakah kalian mengaku lebih berhak dari pada para murid partai Kim-liong-pay?” Lie Yang menyentak dengan suara nyaring. Sebenarnya di dalam dadanya tidak ada rasa marah atau jengkel sama sekali. Ia hanya ingin menyadarkan orang-ornag di depannya. Sifat dasar manusia susah-susah mudah ditebak. Ia sengaja berbicara dengan suara keras setelah berbicara dengan suara lembut, itu bukan lain, hanya sebuah gertakan saja. Ia paham betul siapa yang sedang dihadapinya itu. Mereka kebanyakan hanya manusia-manusia yang perlu digertak untuk memunculkan sifat dasarnya. Ketakutan. Ketundukan. Kepatuhan. Tiga siafat itulah yang mendasari mereka. Mereka hanyalah manusia penakut, hakikatnya. Dan benar saja, beberapa orang terlihat menyempit nyalinya ketika mendengar bentakan itu.
Sambil mengamati satu per satu dari mereka. Ia bisa menduga, bahwa timbulnya asap pasti ada api. Ia hanya perlu menyingkap asapnya untuk melihat apinya. Apakah api itu besar apa kecil. Dan benar saja, seorang pria setengah baya dengan kumis melintang tiba-tiba meloncat ke depan. Ia menghadap Lie Yang. Hanya dua langkah di depannya.
“Hebat, hebat, hebat sekali omongmu anak muda! Siapa yang tidak tahu tentang semua itu. Kita semua tahu kalau Giok-ceng memang milik partai Kim-liong-pay. Dan siapa yang tidak tahu, kalau partai ini sudah hancur. Mana orang-orang Kim-liong-pay? Tidak ada! Semuanya telah habis. Semuanya mati. Semuanya musnah belasan tahun lalu. Kalau pemilik haknya sudah tidak ada, jadi untuk apa lagi kalau tidak diperebutkan. Betul tidak apa yang kukatakan ini saudara-saudara sekalian?!!”
“Betul!”
“Betul!!!” Teriak semua orang ramai. Mereka menjadi asap tebal kembali.
“Sekarang, aku nasihati dirimu. Jangan sok jago. Serahkan Giok-ceng dengan baik-baik kepada kami. Kami akan mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Kami dapat melakukan pibu untuk merebutkan giok-ceng dengan adil. Kamu boleh memilikinya, kalau mampu mengalahkan setiap utusan diantara kami. Kamu jangan mencari alasan yang tidak masuk akal, anak muda! Cepat, serahkan Giok-ceng kepadaku! Aku akan mengatur pertandingannya dengan adil.” Orang itu masih memaksa. Teriakan dan permintaan para orang-orang kang-ouw membuat gedung rumah Lie Yang sepertinya mau roboh.
Disaat genting itulah, sebuah gelombang suara yang sangat kaku terdengar. “Siapa tadi yang berani bilang partai Kim-liong-pay sudah hancur? Jangan kira Kim-liong-pay akan membiarkan orang-orang seenaknya menghina. Kami telah datang. Kami yang berhak atas Giok-ceng itu. Bubar semuanya!!! Hanya murid Kim-liong-pay yang berhak memegang pusakanya. Bukan kalian!!!”
Semua orang berpaling pada satu arah. Tepat di luar gedung. Di tengah pintu gedung. Tiga orang memakai jubah putih dengan sulaman naga emas berjalan. Mata mereka berkilat-kilat. Mereka adalah Kho Sa dan dua adik seperguruannya.
“Kami datang untuk mengembalikan kehormatan kami yang telah diinjak-injak selama belasan tahun. Kami datang memenuhi janji untuk menjaga kedamaian alam. Memelihara jantung untuk tetap berdetak. Mensucikan hati yang dikuasai oleh kegelapan.” Kali ini Kim Yun Tai yang angkat bicara. Mereka telah memakai topeng dari perak dengan ukiran naga dan memegang Kim-liong-ki (Panji Naga Emas).
Semua orang menengok. Melihat tiga orang memakai topeng itu, apalagi yang depan tinggi besar, beberapa orang sempat merasakan gelagat tidak enak. Mereka merasakan ada semacam ribuan semut sedang merayapi punggung mereka.
Bagaimana pun juga, hawa wibawa Kim-liong-pay masih tersisa. Banyak orang yang tahu benar, betapa hebatnya Kim-liong-pay, khususnya para orang-orang tua. Berbeda dengan Lie Yang, ia merasa bersyukur ada yang membantunya. Bukan karena ia merasa tidak mampu melakukan apapun sendiri, akan tetapi ia tidak mau menggunakan kekerasan untuk mengusir para tamunya. Ia tersenyum melihat kedatangan tiga orang di depannya itu. Tiga orang itu berjalan dengan santainya, beberapa orang menyingkir dan memberinya jalan hingga sampai di depan Lie Yang. Di samping pria setengah baya yang tadi berkoar-koar. Kali ini ia diam saja. Hanya wajahnya terlihat penasaran melihat kedatangan tiga orang bertopeng itu.
“Apa benar, kami menghadap Giok-kongcu?” Kata Kho Sa menghadap Lie Yang sambil menjura.
“Benar saudaraku, siap kalian sebenarnya, apa benar kalian murid Kim-liong-pay?” Jawab Lie Yang dengan senang hati.
“Sungguh bahagia, akhirnya kami bisa berhadapan dengan Giok-kongcu. Kami bersyukur atas selamatnya Giok-kongcu. Kami datang diutus guru kami Jit Fu-hoat dan Kim-liong-pay Ji-sian untuk datang kemari. Beberapa hari kemarin, mata-mata yang kami sebarkan di Nanking memberitahu kami, bahwa hari ini pasukan khusus Ang-hong-pay akan meneyerbu kemari. Ternyata kabar itu benar adanya, walaupun tidak seratus persen. Kami senang, Giok-kongcu dan keluarga tidak apa-apa.” Kata Kho Sa seakan berbisik.
“Mereka sudah mengirim utusannya tiga hari kemarin. Tiga utusan berjubah merah. Kalian jangan mengkhuatirkan kami. Lebih baik kita bicara nanti. Saya ingin tahu tentang misi yang saya perintahkan kepada Kim-liong-pay Ji-sian. Apakah telah dilaksanakan, atau bagaimana? Saudara, coba kalian selesaikan masalah hari ini, saya masih ingin identitasku jangan diperlihatkan. Belum waktunya.” Jawab Lie Yang dengan menggunakan ilmu pengirim suara. Kho Sa menganggukkan kepala. Ia tahu benar apa artinya perkataan Lie Yang. Dua saudaranya juga mendengar perkataan Lie Yang. Mereka tidak perlu dibilangin dua kali. Segera mereka berbalik dan menghadapi orang-orang kang-ouw yang mulai berisik berbicara sendiri-sendiri.
“Saudara-saudara sekalian, kami ucapkan banyak terima kasih atas usaha kalian untuk mendapatkan Giok-ceng kami. Para pendekar dan budiman mungkin sudah tahu, bahwa belasan tahun yang lalu, Kim-liong-pay tiba-tiba hilang dari dunia kang-ouw. Hancurnya Kim-liong-pay tidak diketahu siapa pelakunya, bahkan hingga saat ini.” Kho Sa mulai berbicara. Semua orang tiba-tiba diam mendengarkan. Suaranya yang keras dan agak kaku bukan menjadi halangan dirinya untuk berhenti.
“Sebenarnya, guru kami, Jit Fu-hoat telah mengejar para pengacau itu hingga ke Persia. Dan sebagian lainnya ada yang lari ke perbatasan barat dan ke daerah Nanking. Selama belasan tahun ini, jangan dikira kami berdiam saja dan tidak melakukan apa-apa. Kami telah melakukan penyelidikan selama belasan tahun. Bahkan usaha pencarian dan perebutan giok-ceng pun telah kami coba. Kalaupun kami belum mendapatkan giok-ceng hingga hari ini, ini bukan berarti tidak ada anak murid Kim-liong-pay yang tidak mampu melakukannya. Kami memang sengaja membiarkan giok-ceng manjadi perebutan. Kami ingin tahu siapa sebenarnya pelaku kejahatan yang sebenarnya. Karena salah satu alasan orang-orang itu menyerang perkampungan Naga Emas adalah untuk mendapatkan Giok-ceng.”
“Sampai hari ini, kami belum tahu apa yang mendasari mereka ingin mendapapatkan giok-ceng. Padahal, giok-ceng hanyalah sebuah lambang pangcu dan bengcu saja. Bukan sesuatu yang menyimpan misteri. Seperti apa yang tersiar di dunia kang-ouw akhir-akhir ini. Siapakah yang berkeinginan untuk mendapatkan giok-ceng, mereka akan menjadi musuh semua orang. Telah terbukti, hingga saat ini, bahwa satu-satunya partai yang berkeinginan memilki giok-ceng adalah Ang-hong-pay. Ini bisa jadi merekalah yang seharusnya bertanggung jawab atas hancurnya Kim-liong-pay. Mereka juga berani menghina Kim-liong-pay dengan menggunakan ilmu khas kami untuk berbuat kejahatan. Apakah kalian belum sadar, bahwa ada sesuatu intrik yang tersembunyi dari semua ini.”
“Apakah tidak ada yang lebih penting dari pada kerakusan kalian terhadap hak milik orang lain. Apakah kalian tidak mau bersatu, seperti dahulu, menuntaskan kejahatan dan menciptakan kedamaian!!!” Dua maat Kho Sa berkobar-kobar. Semua ornag merasakan hawa panas.
“Benar apa yang dikatakan suheng kami itu. Lihat dan dengarkanlah, berapa banyak kejahatan yang dilakukan oleh Ang-hong-pay? Seharusnya kita bersatu melawan mereka!!!” Kim Yun Tai berteriak dengan lancnag. Suaranya menggema.
“Buktikan dulu, apa kalian benar-benar dari Kim-liong-pay. Jangan-jangan hati kalian bertopeng seperti wajah kalian. Siapa yang tidak tahu, betapa banyak kejahatan Ang-hong-pay. Kami hanya perlu seseorang yang dapat dijadikan ketua bagi kami semuanya. Dua hari kemarin, bengcu kita ditemukan tewas tanpa diketahui pelakunya. Kami hanya ingin mendapatkan giok-ceng sebagai lambang bengcu yang baru. Kami akan mencari bengcu baru dengan giok-ceng sabagai lambangnya. Bukan yang lainnya.” Seseorang di tengah berteriak di tengah-tengah sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah golok.
“Betul! Buktikan dulu kebenaran kalian. Kalau kalian bukan orang-orang Kim-liong-pay yang asli, kalian juga tidak berhak untuk memilikinya.” Yang lainnay menambahi. Mereka semakin berani.
“Saudara, di saat seperti ini, diperlukan sebuah ketenangan. Di sana banyak ornag-orang yang ingin memancing ikan di air yang keruh. Diperlukan ketenangan untuk menggagalkan usaha jahat mereka.” Gelombang bisikan dengan ilmu pengirim suara terdengar di telinga Kho Sa dan dua adik seperguruannya. Suara itu milik Lie Yang.
“Saudara sekalian, seperti yang telah kukatakan sejak tadi. Masalah ini tidak akan ada titik ternagnya. Kecuali, tidak ada cara yang lebih tepat, hanya pibu penyelesaiannya. Siapa pun dia, boleh mencoba, baik yang merasa berhak atau pun tidak! Tiga saudara bertopeng ini, kita tidak tahu apakah benar mereka orang-orang Kim-liong-pay asli. Hanya dengan pibu, kita akan tahu kebenarannya.” Pria setengah baya yang ada di depan mulai berteriak kembali. Api mulai terlihat bercahaya lagi. Panasnya mengobarkan keberanian semua orang.
“Ya, pibu, pibu!!!”
“Pibu!!!”
“Setuju!!!”
Terdengar teriakan-teriakan dari tengah-tengah. Teriakan-teriakan itu beranak pinak. Banyak yang mulai ikut-ikutan. Banyak yang mulai panik juga. Kho Sa hanya bisa menghirup udara dengan berat. Dadanya sesak. Banyak ornag yang tidak paham tentang masalah itu. Usahanya akan sulit. Namun, ia mencoba untuk tenang, walaupun emosinya sudah berkobar-kobar. Ingin rasanya ia mencengkram dan merobek-robek mulut pria di sampingnya itu. Seandaianya ia tidak diabisiki Lie Yang terlebih dahulu, mungkin tangannya sudah bergerak. Bisikan Lie Yang adalah perintah pangcu. Tidak bisa disangkalnya.
“Hahahahahha….” Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa. Suara itu melengking tinggi. Bagi ornag yang tidak memiliki lweekang tinggi, langsung ambruk. Tidak kuat menahan getaran itu. Kho Sa menolehkan kepalahnya ek arah Lie Yang. Di matanya ada semacam kode khusus dan sebuah permintaan. Lie Yang menggeleng-geleng kepala. Itu perintah. Perintah untuk diam dan jangan bergerak. Ia pun diam.
“Apa yang kalian rebutkan? Semuanya goblok! Ada yang mengail ikan di kolam cetek mau-mau saja. Hanya orang tidak punya otak yang mau dikelabuhi orang lain.” Terdengar suara itu menyambung.
“Lebih baik kalian pulang ke rumah masing-masing. Kunci rumah dan jangan keluar. Ilmu cetek kalian tidak akan mampu menjaga giok-ceng! Giok-ceng tidak akan kalian dapatkan di tempat ini!” Terdengar lagi suara keras itu.
“Siapa itu?” Teriak pria di samping Kho Sa itu. Suaranya tidak kalah kerasnya. Lweekangnya sepertinya tidak jauh dari orang pertama itu.
“Mengembara ditemani pedang, berpijak pada kebenaran, menolong orang demi masa depan dan menghancurkan kejahatan demi keindahan dan ketentraman!”
Wajah pria itu tiba-tiba berubah warna. Terlihat pucat. Tampaknya ia tahu siapa sebenarnya orang itu. Ketakutannya tidak bisa disembunyikan lagi, bahkan mulutnya terkunci. Menyebut nama orang itu saja takut.
“Luar biasa tenaga dalam orang ini! Ternyata di sini ada orang seperti ini. Sungguh hebat!!!” Kata hati Lie Yang terkagun-kagum denagn tenaga dalam orang itu.
“Sungguh manusia yang tenang! Manusia yang telah matang ilmu dan jiwanya! Ia telah berhasil menjiwai sebuah ‘ketenangan’ dan ‘kebebasan’. Hebat, hebat, hebat!” Katanya lagi.
<><><><><>()<><><><><>
“Koko, siapa dia? Tenaga dalamnya luar biasa hebatnya. Apakah dia termasuk salah satu musuh Kim-liong-pay?” Tanya Kwat Lin kepada suaminya. Lie Yang menoleh dan tersenyum. Ia menggeleng tenang. “Aku tidak tahu, istriku!”
Kho Sa masih kadang-kadang melirik ke arah Lie Yang. Lalu ia menetapkan untuk mundur, sekaligus mengajak dua adik seperguruannya.
“Hebat, hebat, engkau akhirnya muncul di sini. Kawan lama, sebaiknya engkau keluar. Sudah 15 tahun kita tidak bertemu, ingin aku merasakan apakah engkau masih sehebat dulu. Keluarlah kawan lamaku!” Terdengar suara seseorang dari tengah-tengah kerumunan. Beberapa orang menyibak. Orang itu memakai pakaian parlente. Seperti seorang kongcu yang kaya raya. Kipas di tangannya yang berwarna keemasan ditudingkan ke arah atap rumah Lie Yang.
“Hahahaha… aku kira engkau sudah mati. Tidak nyana engkau keluar juga dari tempat persembunyianmu.” Terdengar suara lain menjawab.
“Hahahah… aku sengaja bersembunyi, karena aku tahu, saat seperti ini akan datang. Aku tahu engkau hebat. Untuk itu aku mengolah diri. Menyempurnakan segala yang kurang. Mengobati semua luka hingga hilang. Keluarlah! Apakah engkau masih selalu menghindar. Apakah kebiasaan lamamu tidak bisa hilang???”
“Ya, inilah kebiasaanku. Selalu malu, jika bertemu dengan banyak orang. Apalagi denganmu. Pelajaran 15 tahun yang lalu sudah cukup untukku. Bahkan lebih dari pada cukup. “
Mereka sepertinya sedang bercakap-cakap ringan. Padahal mereka sedang beradu kekuatan dengan suara. Beberapa orang menjerit dan jatuh pingsan. Telinga mereka berdarah. Ada yang terpaksa duduk dengan menahan gelombang suara itu sebisa mungkin. Mendengar ini, terpaksa Lie Yang membantu menyalurkan tenaga dalamnya ke istrinya yang hampir terduduk. Tiga pembantu dan paman Chi bahkan sudah terduduk menahan gelombang suara itu. Lie Yang dan beberapa orang di sampingnya menjadi marah atas ulah dua orang di depannya itu. Seandainya, Yun Tai tidak dipegang lengannya dan dibisiki oleh Kho Sa, mungkin orang pertama yang meloncat ke depan adalah dia. Bisikan kakaknya membuatnya harus berpikir seribu kali.
“Sam-cianpwee, harap berwelas asih terhadap yang lemah. Kasihan mereka yang terlukai oleh permainan Sam-cianpwee.” Akhirnya Lie Yang berbicara.
“Hahaha… welas asih bagaimana lagi, maksudmu? Aku kan hanya bicara dengan teman lama. Salah mereka sendiri masih mau berdiam diri di sini. Jangan salahkan kami! Kalau sekarang mereka tidak mau pergi, jangan salahkan kami!” Terdengar suara menjawab.
“Hahaha… ucapan betul! Uh, lebih baik kita pergi saja, di sini terlalu ramai!” Kata laki-laki berkipas itu. Sekali gerak, ia sudah berlari bagaikan melayang. Dari atas atap rumah Lie Yang melayang sebuah bayangan dengan cepat. Bayangan itu menghilang, hanya suara tawanya yang menggema yang masih terdengar menggaung-nggaung. Memantul dari suduk ke sudut, dari telinga satu ke lainnya. Merusak beberapa syaraf dan indra pendengaran seseorang yang tidak mempunyai cadangan kekuatan yang tinggi.
Lie Yang sampai menggelengkan kepala melihat kelakuan tidak sopan orang-orang itu. Dua matanya melihat banyak orang yang mendapatkan luka dalam akibat suara itu. “Sungguh sayang, punya ilmu setinggi itu digunakan untuk melukai orang-orang yang tidak mempunyai salah apa-apa!”
Lalu dengan diam-diam ia memejamkan mata sambil melempar hawa saktinya ke sekelilingnya. Orang-orang disekitarnya tidak dpat merasakan kehadiran hawa sakti itu. Mereka hanya merasakan bahwa tubuh mereka terasa segar dan bersemangat. Luka dalam yang di derita tiba-tiba hilang. Tanpa bekas.
Lie Yang melirikkan mata kananya ke arah Kho Sa. Bibirnya bergerak. Sebuah bisikan halus terdengar di telinga Kho Sa. Kho Sa mengangguk-nganggukkan kepala ketika mendengar bisikan itu. “Siap, pangcu!!!” Katanya berbisik menggunakan ilmu pengantar suara juga.
Lie Yang menganggukkan kepala juga. Isyarat itu hanya dimengerti dua orang itu. Kho Sa berbisik kepada dua adik seperguruannya.
“Saudara-saudara sekalian, tidak ada pesta yang tidak selesai. Untuk ahri ini, kami mohon saudara sekalian membubarkan diri. Kami tidak berani menjamin kalau Kim-tiok-kiam (Pedang Bambu Kuning) dan Giok-liong-to (Golok Naga Kemala) dari wisma keluarga Oiy kembali lagi!” Kho Sa mulai berbicara dengan nada menekan. Ada wibawa yang sangat besar di dalam suaranya itu.
Orang-orang yang tadinya sedang berpikir siapa dua manusia tadi. Tiba-tiba saja melengak kaget. Ada yang langsung keluar tanpa pamit. Ada yang masih berdiri tanpa rasa, hanya wajahnya terlihat pucat. Salah satunya adalah laki-laki setengah baya yang sejak dari tadi koar-koar. Sekarang ia berdiam seperti perawan yang ketakutan.
Sebentar kemudian orang-orang sudah bubaran. “Benarkah dua orang tadi adalah Kim-tiok-kiam dan Giok-liong-to yang sudah belasan tahun menghilang?” Banyak ornag yang bertanya-tanya tentang kebenaran omongan Kho Sa. “Benar tidaknya tidak perlu ditanyakan lagi, kita masih hidup perlu diyukuri!” Jawab lainnya.
Di depan Lie Yang hany ada sekitar sepuluh ornag yang masih berdiri. Namun, Li Yang tidak memandang ke arah sepuluh ornag di depannya. Ia sedang menatap sebuah pohon persik yang amat besar di depan rumahnya. Ada sesuatu di sana.
“Ada apa, suamiku?” Tanya Kwat Lin penasaran melihat ulah suaminya itu. Tiga pembantu, paman Chi, Kho Sa, Kim Yun Tai dan Kwee Kong ikut memandang ke arah sana.
Belum sempat Lie Yang menjawab. Puluhan senjata rahasia sudah melayang ke aranya. “Awas!!!!!!” Teriaknya sambil meraung dan menghambur ke depan. Pedang Kho Sa, Yun Tai, tiga pelayan, paman Chi, selendang Kwat Lin dan jubah Lie Yang berkibar. Bergerak-gerak laksana naga hidup. Senjata-senjata itu runtuh oleh saplokan pedang-pedang di tangan pendekar-pendekar terampil itu.
“Kalian tidak apa-apa?” Tanya Lie Yang mengkhuatirkan teman-temannya.
“Kami tidak apa-apa!!!” Jawab Kho Sa dan lainnya hampir berbarengan.
“Ang-hong-pay!!!” Kata Yun Tai ketika memungut salah satu jarum berwarna merah.
“Bangsat!!! Sungguh kejam!” Teriak Kho Sa.
“Jarum-jarum itu bukan dari arah pohon persik itu. Tapi dari balik tembok sebelahnya.” Lie Yang berkata. Ada sesuatu makna yang hebat di dalamnya. Seakan-akan ia ingin berkata, “untung bukan orang yang di balik pohon persik itu yang melempar senjata rahasia ini. Seandaianya dia, apa mungkin kita masih hidup!”
Sekitar sepuluh ornag yang ada di depan mereka tidaka da satu pun yang hidup. Semuanya mati mengenaskan. Belasan jarum merah menancap tepat di nadi-nadi penting mereka.
“Sungguh berat musuh yang kita hadapi ke depan! Tidak ada jalan lagi… tidak ada jalan lain lagi!” Lie Yang seperti sedang berbicara sendiri.
“Saudara Yun Tai, Kwe Kong dan paman Chi, tolong batu aku mengubur mayat-mayat itu! Kwat Lin, istriku, sebaiknya engkau masuk rumah bersama Shi Lan dan kalian berdua. Siapkan makanan untuk tiga tamu kita malam ini. Aku dan Kho Sa ada urusan sebentar!” Lie Yang menjejakkan kakinya. Tubuhnya seketika melayang ringan. Kho Sa mengikuti di belakangnya. Yun Tai dan Kwe Kong saling berpandangan.
“Luar biasa!” ucap Yun Tai hampir tidak percaya bisa melihat ilmu peringan tubuh yang sehebat itu. Keragu-raguannya sedikit mulai hilang. Tadi ia mengira, Lie Yang tidak mempunyai kehebatan yang tinggi. Dugaannya itu meleset. Hatinya menjadi tenang. Ia mulai bergerak dengan perasaan puas.
<><><><><>()<><><><><><>
“Saudara Kim-tiok-kiam, sepertinya ilmu Kim-tiok-kiam-sut-mu sudah mencapai tingkatan sempurna? Karena kesempurnaan inilah, sehingga engkau bisa sampai di sini.” Kata Giok-liong-to sambil memandang tahjub kepada potongan tubuh lelaki di depannya.
“Hahahaha… Oiy-kongcu, aku juga berani bertaruh kalau ilmu Giok-liong-to-sut-mu sudah mencapai taraf kesempurnaan juga. Kalau begitu, aku juga berani bertaruh, engkau adalah generasi wisma Oiy yang paling gemilang.” Kim-tiok-kiam menyahut sambil tertawa kencang. Tubuhnya yang disandarkan di pohon itu berguncang-guncang.
“Ya, itulah sebabnya aku sampai di sini juga. Sepertinya, cerita tahayul itu benar adanya. Kalau engkau sudah datang juga, mungkin juga Kim-ciang-cu (Si Tangan Kuning) dari wisma Han dan Bi-san-cu (Si Kipas Cantik) dari Jeng-hwa-lim (Hutan Seribu Bunga) akan segera menyusul.”
“Benar! Mereka sebenarnya sudah mendahuluiku. Aku menemukan jejak Kim-ciang-cu dan Bi-san-cu di beberapa tempat dalam perjalananku ke sini.”
“Eh, apa benar itu? Wah, wah, pasti hari-hari ini akan muncul sesuatu yang hebat! Eh, saudara Kim-tiok-kiam, bagaimana perjalananmu ke nergeri seberang sana? Apakah engkau bisa menceritakannya kepadaku hal-hal yang unik?” Giok-liong-to mendekat.
“Hahahah… aneh, engkau yang mempunyai kekayaan yang melimpah tidak mampu mengelilingi dunia sepertiku, sedangkan aku yang miskin ini mampu berkeliling ke tempat lain. Perjalananku, sungguh unik kali ini. Selama belasan tahun aku sudah mencapai sudut-sudut negara orang lain. Di Timur, yaitu Jepang, di sana aku dapat mengalahkan ratusan samurai. Lalu, di Barat, hal-hal membingungkan mulai kudapatkan. Hmm… sungguh penasaran. Di perbatasan Barat sana, banyak kutemukan jejak-jejak orang sakti. Di dalam suku-suku Kazak, Persia, Tibet, India dan Hmalaya. Wah, banyak sekali orang-orang sakti berkeliaran di sana. Bahkan ilmunya, aku yakin sangat jauh melampui di atasku. Di sanalah, aku dapat menyempurnakan ilmu pedangku. Lalu di Utara, aku berhasil mengalahkan ratusan pegulat dari Mongol dan Khitan. Yang unik lagi adalah, di Selatan. Di sebuah negeri bernama Thai, aku mendapatkan banyak pelajaran. Ilmu yang dipelajari mereka sangat unik. Di sana aku dapat menciptakan satu ilmu tangan kosong yang sangat aneh. Apa kamu ingin mencobanya? Hahahah…!”
“Wah, kalau aku tahu seperti itu, seharusnya aku dahulu ikut denganmu? Usul yang bagus, sudah lama aku tidak berolah raga. Generasi saat ini sungguh payah, hingga saat ini belum ada yang mampu megalahkan ilmu golokku ini! Terus, apa kebiasaanmu bertarung dan membunuh orang itu masih engkau lakukan?”
Tiba-tiba Kim-tiok-kiam menjadi diam. Ada sesuatu yang bergejolak di hatinya. “Itulah yang mengherankan, sesungguhnya, kebiasaan burukku dahulu hanyalah efek dari ilmu yang kupelajari. Di tingkatan ke lima ilmuku, ada tiga teorinya yang hilang, ketika kupaksakan untuk melatihnya tanpa kelengkapan teori, ilmu ini malah membuat pikiranku tidak waras. Untung ada seorang kakek-kakek di Barat sana yang dapat memberiku petunjuk. Selama lima tahun penuh aku bertempat tinggal di sana, dan di sanalah aku dapat mencapai tingkatan ke delapan. Saat ini, aku telah mampu mencapai tingkatan ke sebelas…”
“Ke sebelas? Apakah benar ada tingkatan sampai setinggi itu?” Giok-liong-to memotong ucapan Kim-tiok-kiam. Hatinya bergetar mendengar teman lamanya itu sudah mencapai tingkatan yang begitu tinggi.
“Sesungguhnya aku tidak yakin dengan hal itu, tapi menurut kakek yang baru kutemui lima bulan lalu. Ilmuku sudah sampai pada tingkatan ke sebelas, sebuah tingkatan tertinggi dan maha dahsyat.”
“Sungguh susah membayangkannya! Menurut cerita kakekku, ilmu pedangmu hanya mempunyai tingkatan sembilan, begitu juga yang lainnya. Bagaimana ini bisa terjadi? Tunggu… lalu kakek itu siapa, sehingga dapat memberi teori ilmu pedangmu yang hilang?”
“Itulah yang memusingkan. Setiap kutanya, kakek tua itu selalu menghindar. Ia hanya memintaku untuk datang ke sini. Membantu perguruan leluhurku, Kim-liong-pay. Katanya, semua ilmu yang kupelajari berasal dari ilmu-ilmu kim-liong-pay.”
“Hmmm, aneh… sungguh aneh! Akhir-akhir ini, ketika aku sedang bersemadi, aku sering merasakan getaran aneh, getaran itu sepertinya menyuruhku untuk ke tempat ini. Aku sungguh tidak tahu, hanya saja, menurut cerita leluhurku dahulu, getaran ini muncul akibat Giok-ceng sedang memanggil. Pernahkah engkau mendengar kisah ini?”
“Ya, kakek tua itu juga bilang seperti itu. Sungguh aneh! Dia bahkan bercerita panjang lebar tentang asal mula ilmu dari empat keluarga besar Tionggoan. Ilmu keluargaku, keluargamu, dan keluarga wisma Han dan keluarga perguruan Bi-san di Jeng-hwa-lim. Ilmu kita berasal dari satu aliran sebenarnya. Nenek moyang kita mendapatkannya dari seorang Kaisar Ilmu Silat, kakek itu memanggilnya Sabzavar. Konon, Sabzavar adalah orang Persia yang telah menguasai inti ilmu silat di dunia. Dialah pendiri Kim-liong-pay.”
“Oh, sungguh hebat manusia itu! Dan benarkah engkau juga merasakan getaran itu juga?”
“Ya, getaran itu dapat kurasakan ketika memegang pedangku ini!”
“Kalau begitu, dua saudara lama kita juga merasakannya…”
“Mereka akan merasakan getaran itu, kalau mereka telah mencapai tingkatan sempurna dalam ilmu mereka…”
“Apa maksudmu?”
“Getaran itu akan terasa, manakala ilmu yang dipelajari sampai pada taraf kesempurnaan. Kalau belum, getaran itu tidak akan terasa.”
“Oh, ya itulah yang terjadi sesungguhnya…”
Dua lelaki setengah baya itu terdiam sebentar. “Dia telah datang!” Kata Kim-tiok-kiam. Ia memandang ke arah samping kanannya. Di depannya sana, kegelapan sudah mengambil tempatnya. Hewan-hewan malam mulai bersumbar, hingar. Udara menjadi semakin dingin. Inginnya sampai menusuk tulang.
“Ya, suara senandungnya masih sama dengan dahulu…” Jawab Giok-liong-to setengah diam. Suara senandung yang sangat bersih itu mengalun meratapi udara. Menggesek-gesek dedaunan yang sudah tidak kelihatan warna hijauhnya itu.
“Dia masih seperti dahulu, tidak berubah…” Kata Kim-tiok-kiam sekali lagi.
Suara senandung itu semakin dekat. Semakin merdu dan renyah isinya.
Hidup itu ada…
Lalu kemana yang berada…???
Hidup itu maju…
Lalu siapa yang mundur…???
Manusia hidup untuk maju
Kemankah hidup yang kucari selama ini???
Apakah ia sedang tidur dengan sang kekasih.
Menemani di atas dipan empuk, seempuk awan putih
Oh, inilah yang kucari…
Menemui teman dalam mimpi…
Mencari musuh tak kunjung tergapai…
“Dia semakin gila!” Kata Giok-liong-to untuk kesekali lagi. Ada senyuman di balik kegelapan yang menutupinya.
Wahai, jiwa-jiwa yang terpanggil!
Di ujung sana ada tawon sedang buat kekacuan.
Ini saatnya engkau memenuhi kesetiaan.
“Hahaha… siapa yang bilang aku gila tadi? Apakah si pemuda tak pernah tua Giok-liong-to? Atau si jelek dan jorok Kim-tiok-kiam?” Tiba-tiba terdengar suara dari arah lain. Dari sebelah kiri Kim-tiok-kiam.
“Wah, ilmu menghilangnya masih tidak luntur, jangan-jangan pukulan hawa dinginnya semakin hebat juga!??” Ujar Giok-liong-to.
“O-o-o, ternyata benar si tampan dan si jelek sudah di sini. Sungguh aku takut kalian tidak akan datang!!! Hahahahha…”
“Wah, orang ini masih suka usil. Bagaimana dengan wisma Han? Apakah Han-twako sudah diberi cucu?” Sapa Kim-tiok-kiam sambil tertawa.
“Mana dia punya cucu, kalau istri saja belum punya! Hahhahaha…. Tidak seperti aku yang tahun ini tambah bini.”
Tiga sosok itu tertawa tergelak. “Engkau salah kalau mengira aku belum beristri. Setelah pertarungan lima belas tahun yang lalu, aku tidak hanya mendapatkan luka yang parah. Akan tetapi, istri yang cantik juga!” Laki-laki baru datang itu memperlihatkan cincin di jarinya.
“Benarkah? Wah, seharusnya kita rayakan dulu kabar baik ini. Kita minum dan makan sepuasnya baru melakukan pibu.” Giok-liong-to memicingkan matanya.
“Hahah… usul yang bagus! Aku akan menteraktir kalain sepuas mungkin. Apalagi, sebulan lagi, istriku akan melahirkan anakku yang ke lima!”
“Ha? Lima? Hebat kau!” Giok-ling-to tidak menyangka teman lamanya itu mendapatkan rizki yang begitu banyak. Tidak seperti dirinya yang punya istri banyak tapi baru dikaruniai seornag putra saja. Apalagi Kim-tiok-kiam yang memandang dua sahabatnya bergantian. Ada sesuatu yang bersinar redup di matanya. Ia tiba-tiba merasakan angin semakin dingin.
“Maaf, saudaraku Kim-tiok-kiam, bukan maksud kami mengingatkanmu luka 20 tahun yang lalu. Kami hanya terlalu senang, sehingga lupa dengan kejadian itu!” Kata lelaki baru datang itu.
“Tidak apa-apa saudara Han. Itu sudah lama berlalu. Aku senang dengan keadaan kalian. Bagaimana dengan urusan kita sekarang, apakah kita lakukan sekarang juga. Ataukah kita harus menunggu hingga bulan purnama datang?” Jawab Kim-tiok-kiam sambil tersenyum. Senyum yang terlalu dipaksakan.
“Kita masih punya waktu dua hari untuk menunggu bulan purnama muncul. Apalagi, si Kipas Cantik dari Jeng-hwa-lim belum datang. Sebaiknya kita minum-minum dulu. Sudah lama kita tidak bertemu. Kita gunakan waktu dua hari ini untuk bersenang-senang dulu. Bagimana, saudara Giok-liong-to dan kamu saudara Kim-tiok-kiam?”
“Usul yang bagus! Heran aku, kenapa wanita genit itu masih belum juga datang. Padahal biasanya ia selalu muncul lebih dulu.” Kata Giok-liong-to sepakat. Kim-tiok-kiam hanya mengangguk menyetujuinya.
Mereka lalu pergi dengan berjalan kaki. Seperti orang biasa. Tanpa menggunakan sedikit pun kekuatan mereka.
<><><><><>()<><><><><>
Binatang mulai mengeluarkan suaranya masing-masing. Bulan yang sedang tergantung di sudut cakrawala itu bersinar. Bersinar cukup terang sehingga dapat menerangi kegelapan. Walaupun belum sempurna ternagnya.
“Pangcu, sebenarnya siapakah orang-orang berjubah putih itu? Melihat pakaian mereka, sepertinya bukan orang-orang Ang-hong-pay!” Kata Kho Sa tanpa mengurangi berlarinya.
Lie Yang tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Dua matanya masih terarah ke depan. Lima berjubah yang sedang dibuntutinya sedang berlari cepat. Gerakan mereka sangat gesit. Sekali lompat puluhan langkah kaki biasa bisa dicapai. Ilmu peringan tubuh lima sosok berjubah di depannya itu pun tidak bisa dianggap remeh. Mereka melompat-lompat seperti tupai. Kadang-kadang mereka berhenti. Sepertinya mereka sedang menunggu Lie Yang dan Kho Sa yang masih jauh.
“Kalau bukan orang-orang Ang-hong-pay, mungkin ini adalah siasat orang lain untuk memancing harimau keluar dari sarangnya. Pangcu, sebaiknya kita kembali, aku tidak yakin dengan hal ini!!!” Kata Kho Sa ragu.
Lie Yang tetap tidak berbicara. Bahkan tiba-tiba saja ia memberi isyarat untuk berhenti menggunakan tangannya. Sejenak ia menoleh ke arah kiri dan berlindung di belakang pohon.
“Jangan khuatir! Semuanya sudah kupertimbangkan baik-baik. Sebenarnya, bukan lima sosok berjubah itu yang sedang kuincar. Ada satu sosok penting lainnya yang lebih berbahaya. Aku yakin, ilmu orang itu tidak dibawah Kim-liong-pay Ji-sian. Bahkan mungkin diatas mereka. Aku hanya ingin tahu, apakah dia lawan atau kawan!” Lie Yang berbisik. Kho Sa mengiyakan. Hatinya sedikit berdesir. Walaupun ia masih belum mengerti benar apa yang sedang berlaku di depannya. Ia tetap diam. Mengikuti perintah ketuanya.
Lima sosok berjubah itu berdiri berbaris rapi. Mereka diam tidak bergerak. Tiba-tiba dari atas pohon muncul begitu saja sosok berjubah putih juga. Sosok itu memakai tutup kepala seperti kerudung. Hanya dua matanya yang kelihatan mencorong. Sosok itu tinggi besar. Ia berdiri di depan lima sosok berjubah putih lainnya. Membelakangi mereka dengan menggendong dua tangannya di belakang.
“Engkau harus berhati-hati, Kho Sa. Jangan keluarkan hawa saktimu, orang itu akan tahu keberadaan kita!” Bisik Lie Yang menggunakan ilmu pengirim suara.
Kho Sa menganggukkan kepala. Sambil berlindung di belakang pohon mereka mengintai.
“Apakah pekerjaan kalian sudah diselesaikan?” Sosok berkerudung itu membuka suara dengan pertanyaan sangat sederhana.
“Sudah, pangcu! Hanya…”
“Hanya apa? Jawab! Apakah ada misi kalian yang gagal?” Sergap sosok berkerudung putih itu.
“Tidak, pangcu! Hanya menurut pengintaian kami selama ini, Giok-ceng tidak ada di rumah itu. Anak muda bernama Lie Yang itu sepertinya tidak bohong. Bahkan kami mendapatkan jejak Giok-ceng berada di tempat lain.” Jawab salah satu dari lima berjubah putih itu.
“Giok-ceng berada di tempat lain? Di mana?”
“Benar, pangcu! Kami berhasil mendapatkan informasi dari mata-mata di utara. Menurut mata-mata itu, Giok-ceng sekarang ada di tangan Thian-long-cu.”
“Thian-long-cu? Kalau sudah menemukan keberadaan Giok-ceng, kenapa tidak segera diambil?”
“Ini… kami mengalami ke…susahan, pangcu!” Nada orang itu sedikit lemah karena ketakutan.
“Jangan bertele-tele! Jawab! Kalau aku mau membunuh kalian, mudah saja. Cepat jawab!” Bentak sosok berkerudung itu.
Lima orang berjubah putih itu masih diam menata nafas. Tidak ada yang berani menjawab.
“Kenapa masih diam? Huh!! Dasar Ang-hong-pay tidak berguna.”
“Kami selalu dihalang-halangi oleh pihak Ngo-eng Pek-sianli. Belum lagi, menembus Thian-long-hu (Istana Serigala Langit) sungguh susah. Berbagai jebakan telah mereka siapkan. Khususnya ratusan serigala berkeliaran melindungi lembah serigala itu. Kami berlima sepertinya tidak akan cukup untuk menghadapi mereka.”
“Hmmm, itu karena kalian tidak berguna. Dasar Ngo-eng Pek-sianli. Selalu saja tidak mau bekerja sama denganku. Lalu, untuk apa mata-mata yang kalian sebarkan di sana itu?”
“Lima mata-mata yang kami sebarkan di sana telah mati. Mereka dapat diketahui identitasnya oleh pihak Thian-long-pay.”
“Hmmm, hebat juga Thian-long-cu! Siapa saja yang ada di sampingya?”
“Sebenarnya tidak ada yang kuat. Hanya saja, ia didukung oleh para perampok dan beberapa murid utamanya seperti Sam-thian-long (Tiga Serigala Langit), Tiat-jiau-long (Serigala Berkuku Besi) dan Thi-jiau-long (Serigala Bergigi Besi).”
“Baiklah! Aku bisa merabanya. Sepertinya aku sendiri yang harus mengerjakan pekerjaan kecil ini. Kalian tetap pada posisi di sini. Jangan sampai gagal lagi!”
“Siap, pangcu!” Kata mereka serempak.
“Siapa itu? Keluar!!!” Tiba-tiba sosok berkerudung itu membentak. Sekali tangannya bergerak lurus ke samping. Pohon di depannya meledak. Sebuah pukulan jarak jauh itu menghancurkan sebuah pohon sampai bercerai-berai.
“Hihihihi…!!! Ini aku, pangcu!” Tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu.
“Akhirnya engkau datang juga! Hmmm, aku tak perlu lagi menghamburkan tenaga dan waktu secara sia-sia.”
“Hihihihi…! Apakah pangcu lagi rindu kepadaku, sehingga ingin menemuiku! Aku di sini!”
“Hmmm, dasar nenek tua. Reot! Siapa bilang mau rindu-rinduan denganmu, hah? Cepat keluar!”
Hanya suara tertawa merdu yang keluar. Hingga dua mata sosok berkerudung putih itu membara.
“Siapa lagi yang datang itu, pangcu?” Tanya Kho Sa kepada Lie Yang di balik pohon. Sungguh tak disangkanya, ia bisa melihat banyak keganjilan di malam ini.
“Aku masih belum tahu, Kho Sa, mungkin…” Ucapan Lie Yang terputus. Tiba-tiba saja sebuah pusaran angin topan muncul di depannya. Beberapa detik kemudian, di depan sosok berkerudung itu telah berdiri enam sosok berpakaian putih. Enam sosok itu tidak terlihat sama sekali warna kulitnya. Karena semua tubuh mereka dibalut oleh kain putih. Kecuali dua mata mereka yang tampak berkilauan.
“Pek-sianli, kenapa engkau selalu mengganggu pekerjaan kami? Kalau engkau ingin mendapatkan kehormatan dari Pangcu pusat, jangan mengganggu anggota lainnya. Kita bersaing dengan adil untuk mendapatkan Giok-ceng!” Kata sosok berkerudung itu dengan bahasa lain. Bahasa yang mungkin hanya dipahami oleh sekelompok orang itu.
“Bahasa Persi????” Ucap Kho Sa tanpa sadar. Lie Yang menganggukkan kepala. Seperinya Lie Yang juga mengerti bahasa itu. Kho Sa mau bertanya lagi, namun Lie Yang memberinya isyarat untuk diam.
“Siapa yang mengganggumu? Aku tidak merasa melakukannya!” Pek-sianli, sosok bercadar itu maju selangkah.
“Apakah perbuatanmu menyamar sebagai utusan dari pusat itu bukan sebuah kesalahan? Siapa yang bekerja sama dengan Ang-hong-pay? Apakah kamu dengan murid-muridmu itu? Atau kami? Apalagi pekerjaanmu yang suka usil terhadap pasukanku? Apa itu tidak bisa dikatakan mengganggu??!!”
“Oh, jadi itu maksudmu aku dibilang pengganggu. Siapapun boleh dunk bekerja sama dengan Ang-hong-pay. Kamu melakukan itu, kami juga melakukannya. Itu sah-sah saja. Tentang anak buahmu itu, itu semua karena mereka tidak becus dalam melakukan penyamaran. Kemampuan mereka di bawah standar!”
“Kamu masih tidak merasa bersalah dalam hal ini. Baik, lihat nanti dalam sidang anggota nanti. Semua ini akan kulaporkan kepada pangcu pusat.”
“Hmmm, dasar anak ingusan!”
“Apa kamu bilang? Berani kamu menghinaku di sini?!!”
“Hmmm, anak kecil pun akan berani menghinamu. Kamu siapa? Kamu hanya anak kemarin sore saja. Jangan sok-sokan di tempat ini, apalagi di markas pusat nanti. Belum tentu engkau akan mampu hidup besok. Ingat, musuh paling berat kita sudah mulai muncul. Manusia Suci dari BU-eng-hu telah muncul. Apakah engkau mampu menandingi mereka. Padahal gurumu sendiri belum tentu dapat menandinginya.”
“Apa kamu bilang? Jadi kamu meragukan kemampuanku. Baik, jangan anggap aku lancang,”
Belum sempat ucapan itu selesai. Sebuah pukulan jarak jauh meluncur ke arah Pek-sianli. Pek-sianli hanya memutar lengannya. Dan pukulan itu segera memudar tanpa bekas.
“Hmmm, jadi kamu ingin bermain kekerasan anak muda.” Jengak Pek-sianli sudah mulai marah.
“Terserah anggapanmu. Engkau sudah keterlaluan menghinaku. Apalagi kesalahanmu yang terakhir, menghina guruku yang suci.”
Sosok berkerudung itu menyerang kembali. Kali ini ia sudah tidak lagi beradu tenaga sakti. Lebih dari pada itu, tenaga dalam dan adu kesaktian dipertontonkan. Akibat pertarungan yang hebat itu, pohon-pohon di sekitar sampai bergoyang. Debu berhamburan, melayang seperti hantu.
“Itu ilmu silat khas Persia, pangcu! Sepertinya mereka orang Persia. Kalau tidak salah, mereka pasti dari Thian-liong-pay pusat. Konon, menurut suhu, mereka bekerja sama dengan beberapa partai dan perguruan di Tionggoan. Ternyata, dugaan suhu tidak meleset.” Bisik Kho Sa.
“Lihat, Kho Sa, Pek-sianli itu memakai ilmu Ban-liong Sin-ciang (Pukulan Sakti Selaksa Naga). Lawannya akan kewalahan. Lihat, betapa jernihnya ilmu itu. Sayang, tenaga Yang milik Pek-sianli itu kurang memadai. Coba, seandanya dia mempunyai tenaga itu sedikit lagi, hanya dengan sepuluh jurus saja, lawannya itu akan jatuh di bawah angin olehnya.”
Kho Sa memandang muka Lie Yang tanpa berkedip. Bukan ke arah pertarungan di depan mereka. Sungguh, hati Kho Sa saat ini sedang terkesiap mendengar ucapan Lie Yang. Tak disangkanya, orang di sampingnya mempunyai wawasan yang lebih daripadanya.
“Apa benar ramalan kakek dulu tentang munculnya Kaisar Ilmu Silat. Manusia paling jenius yang akan mampu merajai orang-orang kang-ouw. Manusia yang diberi kelebihan oleh Tuhan. Dan manusia paling terhormat dan suci kelak. Titisan sang Mani Agung!!! Benarkah dia…?” Hati Kho Sa Berdetak lebih kencang. Sepertinya ia merasakan ada yang aneh dengan orang di sampingnya itu. Ia mencium keharuman istimewa. Dan baru kali ini ia merasakannya.
Tentang Ban-liong Sin-ciang, sungguh ia tidak banyak tahu. Ia hanya pernah mendengar gurunya dahulu menyebut ilmu itu. Ilmu yang dimiliki oleh para penjaga dan pengawal khusus Sang Syah yang Agung (Kaisar Persia). Dan kali ini dapat melihatnya. Sungguh persoalan yang rumit.
“Kenapa ilmu ini muncul di sini? Partai apa sebenarnya Thian-liong-pay itu? Sungguh rumit persoalannya kali ini.” Kata mata hati Kho Sa sekali lagi.
“Kenapa Pek-sianli selalu mengulang-ulang jurus itu? Kenapa dia tidak memakai jurus ke 11 sampai terakhir. Hmmm, bahaya, sungguh bahaya!!!” Tiba-tiba Lie Yang berucap lagi.
Hati Kho Sa bertambah terkesiap. “Mungkinkah…???” Ucapnya tanpa sengaja.
“Mungkinkah apa, Kho Sa?” Tanya Lie Yang tanpa harus menolehkan kepalanya.
“Tidak,” Jawabnya agak gugup. Keringat di kepalanya keluar. Sungguh, aura Lie Yang membuatnya harus gugup dan berkeringat. Wibawanya terasa menusuk-nusuk dadanya.
“Bahaya!” Ucap Lie Yang setengah tercekik.
Di depannya. Pek-sianli berhasil memukul dada lawannya. Lawannya itu terpental sampai puluhan meter. Serempak, lima sosok berjubah putih yang tadi diam menyerang Pek-sianli. Namun, hanya dengan kibasan tangan saja, lima sosok berjubah itu terpental.
“Hihihihi…, makanya jangan main-main denganku. Masih untung aku mengasihanimu. Kalau tidak? Apakah engkau mampu hidup saat ini.” Ancam Pek-sianli. Sosok berkerudung itu mencoba berdiri. Luka yang dideritanya sepertinya tidaklah ringan. Di pojok bibirnya keluar darah segar. Baru saja ia berhasil berdiri walaupun dengan keadan yang memprihatinkan. Darah segar langsung keluar dari mulutnya begitu banyak.
Pek-sianli tetap tertawa melihat musuhnya terjatuh kembali. Sambil memberi isyarat kepada anak buahnya. Ia melangkah pergi. Namun, langkahnya segera berhenti. Di depannya telah berdiri tiga orang laki-laki. Satu orang berpakaian compang-camping, satunya lagi berpakaian parlente dan terakhir berjubah dengan warna biru tua.
Melihat tiga orang di depannya. Tidak dipungkiri lagi. Hati Pek-sianli sedikit bergetar. Biasanya, telinganya selalu tajam. Dapat mendengar suara yang paling kecil pun. Namun, saat ini telinganya tidak dapat mendengar suara langkah kaki tiga pendatang baru itu. Apakah ada yang salah dengan telinganya saat ini, atau memang begitu hebat peringan tubuh tiga orang itu?
“Siapa kalian?!!!” Tanya Pek-sianli. Nadanya berubah mengancam.
Yang ditanya tetap dia. Beberapa lama mereka diam, bahkan Pek-sianli juga menutup mulutnya. Hanya sorot matanya yang terlihat tambah mengancam.
“Akhirnya, aku dapat menemukanmu di sini. Aku tidak perlu lagi mencarimu jauh-jauh ke Persia.” Jawab orang berpakaian parlente yang bukan lain adalah Si Giok-liong-to, Oiy-kongcu.
Kim-tiok-kiam pun menyahut, “Ya, aku pun tidak perlu mengulangi pengembaraanku ke Persia hanya untuk mencarinya. Benar kata kakek tua itu, kalau aku akan menemukanmu di Tionggoan. Kepulanganku kali ini tidak sia-sia. Tidak sia-sia juga aku percaya pada omongannya itu.”
“Aku juga ingin tahu, kata orang-orang, Pek-sianli itu bermuka jelek. Apa benar cerita itu?” Kim-ciang-cu berkata juga.
“Berani kalian menghina Pek-sianli? Apakah kalian sudah bosan hidup. Hmmm, sebut nama kalian, supaya aku dapat menuliskannya ditubuh kalian yang sudah menjadi mayat.”
“Sebenarnya engkau sudah mengenal kami. Hanya matamu yang sudah tua itu yang sudah tidak bisa melihat. Apalagi ingatanmu itu, aku kira tidak jauh bedanya dengan matamu itu. Akan sia-sia saja, kami menyebut nama, karena engkau bakalan tidak akan mengingatnya lagi.” Kim-tiok-kiam berseru dengan lantang. Tangan kanannya begitu erat memegang tongkatnya. Sepertinya ia sudah siap tempur.
“Hahaha…, baik! Tidak perlu aku menanya nama kalian lagi. Aku juga tidak perlu lagi repot-repot mengurus mayat kalian. Sebentar lagi kalian akan mati dan menjadi mayat tanpa nama!”
“Ngo-eng, kalian tunggu aku di tempat biasa. Biarkan aku bermain-main dengan tiga manusia tanpa nama itu!” Sambung Pek-sianli memerintah kepada lima pasukannya yang berbaris rapi di belakangnya.
“Baik pangcu!” Jawab mereka berbarengan. Lalu mereka meloncat berhamburan. Menghilang ditelan kegelapan dan rerimbunan pepohonan.
Baru saja Ngo-eng Pek-sianli menghilang. Tiga laki-laki yang berdiri tenang itu meloncat. Mereka mengelilingi Pek-sianli. Mereka diam. Tanpa gerakan. Hanya detak jantung mereka yang memburu kencang. Suara burung hantu mendesah tidak tenang. Angin mengalir deras. Udara berubah panas.
Tiba-tiba saja kayu bambu yang dipegang Kim-tiok-kiam melayang-layang di depannya. Bambu itu merekah. Cahaya berwarna kuning terbayang tajam di mata. Sebuah pedang bercahaya kuning muncul. Sangat indah. Bentuknya lurus. Tajam laksana maut.
“Selama sepuluh tahun ini, belum pernah aku mengeluarkan pedangku ini dari sarungnya. Pedangku ini belum pernah meminum darah secara langsung. Aku ingin dia meminum darahmu, sebagai tumbal dan pembalasan rasa sakit yang pernah dideritanya. Karena engkau, pedang ini harus berpisah dari tuannya, ayahku. Ingatkah engkau lima belas tahun yang lalu, ketika engkau membunuh Zang Ming? Malam ini adalah pembalasan untuk semua sakit hati yang pernah kuderita. Rasakan ini!”
Kim-tiok-kiam menyerang dengan pedang tipisnya. Serangannya tampak biasa. Serangan lurus. Lamban. Namun dibalik kelambanan itu terdapat hawa membunuh. Serangan lurus seperti itu sangat berbahaya. Karena yang menyerang adalah ahli pedang paling hebat. Bukan serangan anak kecil yang dapat dipatahakan dengan mudah. Serangan seperti itu bisa bercabang menjadi ribuan gerakan dan tipuan yang tidak akan dapat disangka-sangka.
Pek-sianli tidak sempat lagi menjawab. Sesunguhnya ia ingin menjawab. Tidak ada kesempatan untuknya menghindar lagi. Ia hanya boleh menyerang atau mati tertikam. Menghindar lebih berbahaya daripada memapaki serangan lawan. Dengan sekali teriakan ia maju selangkah ke depan. Di tangannya sudah tergenggam sebelah pedang juga.
Pedang itu memiliki keunikan yang khas. Pedang itu mempunyai bentuk seperti ular. Berlapis emas. Pedang itu juga lemas seperti ular. Namun, sekali tebas, baja yang begitu kuatnya pun akan patah. Ketajamannya seperti lirikan setan yang dapat meruntuhkan nyali harimau sekalipun.
Pek-sianli meloncat dan mengawang di udara seperti bidadari. Gerakannya seperti kilat. Begitu cepat. Sekali meloncat, mengawang, lalu bergerak memutar, melintir dan menyerang dengan seribu tusukan dan sabetan dalam hitungan detik. Kim-tiok-kiam hanya bisa menghindari amukan dahsyat itu. Tidak hanya itu, dari mulut Pek-sianli juga terdengar teriakan-teriakan aneh. Namun, kali ini lawannnya itu bukan anak kemarin sore yang mudah ditaklukan. Pemegang Pedang kuning itu seorang ahli pedang nomor satu. Di masa mudanya pernah sekali menebas kepala Ciangbujin (Ketua) Taishan-pay (Partai Taishan). Lantaran masalah sepele saja.
Dua manusia itu masih bertarung dengan dahsyatnya. Mereka beradu ilmu pedang di tingkatan tinggi. Kim-tiok-kiam menggunakan ilmu pedang khasnya Kim-tiok-kiam-sut. Sedangkan lawannya menggunakan ilmu pedang yang tidak kalah dahsyatnya. Ilmu pedang yang dimainkan lawannya itu sungguh aneh. Banyak gerakan yang tidak masuk akal. Setelah bermain selama puluhan jurus, dua orang itu tidak ada yang mengalah. Bahkan penyerangan satu sama lainnya diperkeras.
“Tring…!!!” Berkali-kali terjadi benturan antara keduanya. Percikan api berpijar. Membuat daerah pertempuran sepertinya menyala. Keteguhan dan keuletan Kim-tiok-kiam dalam memainkan pedang tidak bisa dirobohkan hanya dnegan kecepatan permaianan Pek-sianli dengan ribuan serangannya.
“Menurut pangcu, siapakah yang akan menang?” Bisik Kho Sa kepada Lie Yang. Lie Yang tampak menoleh. Lalu ia menggelengkan kepalanya.
“Susah menebaknya. Kalau diteruskan mungkin akan sama-sama robohnya. Ilmu pedang keduanya sudah pada puncak masing-masing. Belum lagi, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan yang saling mengisi. Misalnya, Kim-tiok-kiam dengan kekokohan dan keteguhannya, sedangkan Pek-sianli dengan kecepatan gerakannya.”
Kho Sa menggut-manggut. Pemahamannya tentang ilmu pedang mulai berkembang. “Menurut pangcu, kira-kira sudah berpa persenkah ilmu yang mereka kuasai?” Kho Sa masih mengejar dengan pertanan lain. Sepertinya ia memang sangat haus pengetahuan tentang ilmu pedang.
“Sudah kukatakan tadi. Ilmu mereka sudah mencapai puncak kesempurnaan. Bukan tidak mungkin, kalau pertarungan ini terus-menerus dilakukan, mungkin tiga hari baru akan selesai. Itu pun kedua-duanya akan mengalami luka yang sama seriusnya. Bukankah engkau ingin tahu ilmu apa yang mereka gunakan?” Lie Yang mengakhirinya dengan senyuman.
“Gila! Dia bisa membaca pikiranku sepertinya?” Teriak hati Kho Sa. Kho Sa menganggukkan kepala; terpaksa.
“Sepertinya engkau ingin mempelajari ilmu-ilmu itu? Aku tidak berjanji, tapi besok lusa, aku akan menunjukkan ilmu Pek-sianli itu kepadamu. Ilmu-ilmu yang dipakai oleh mereka sebenarnya milik Kim-liong-pay. Aku tidak mengerti, kenapa mereka dapat memainkannya?”
Lie Yang berhenti sejenak. Dua mata Kho Sa terbelalak lebar. Tidak disangkanya, ilmu-ilmu yang baru dilihatnya itu adalah milik perguruannya. Tidak pernah terlintas dipikirannya akan itu, apalagi akan mempelajari ilmu-ilmu dahsyat itu dari Lie Yang.
“Ilmu yang dipakai oleh Pek-sianli itu disebut Nu-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Amarah Naga). Tingkatan ilmu itu sampai sembilan. Barag siapa dapat menguasai ilmu itu sampai puncaknya. Dia akan mampu memainkan pedang secepat kilat dengan serangan seperti 100 orang memainkan pedang secara bersamaan. Permainan pedang itu kelebihannya terletak pada kecepatan dan daya serangannya yang terus menerus. Seperti orang kesurupan. Sedangkan Kim-tiok-kiam menggunakan ilmu pedang Kim-tiok-kiam-sut. Puncak tingkatan ilmu ini samai sebelas. Puncak maha dahsyat. Siapa yang bisa mencapai puncak ini, dia bakal mampu mengontrol sebila pedang tanpa menyentuhnya. Pedang itu akan dapat digerakkan sesuka hatinya. Bahkan, orang itu akan mampu memainkan ilmu pedang tanpa menggunakan pedangnya,”
“Memainkan ilmu pedang tanpa pedang?” Tanya Kho Sa balik hampir tidak percaya.
“Ya, seperti ilmu Sin-hong Sin-kang ditingkatan ke-tiga, Kim-liong Hong-kiam-sut.”
Lie Yang lalu diam. Baginya sudah cukup untuk menjelaskan kepada Kho Sa tentang dua ilmu pedang itu. Pertempuran di depannya semakin seru. Kilatan cahaya terpejar. Giok-liong-to dengan Kim-ciang-cu sudah menjauh dari lingkaran pertempuran. Lingkaran itu semakin lebar. Kim-tiok-kiam sudah tidak memegang pednagnya lagi. Pedangnya itu lebih sering bergerak sendiri. Terbang seperti mempunyai sepasang sayap dan hati saja. Bergerak dengan kontrolan Kim-tiok-kiam.
<><><><><>()<><><><><>
Kisah Terpendam
“Hmmm, apakah dengan ini engkau akan dapat mengalahkanku? Setinggi apapun ilmu yang kau pakai itu, tidak akan dapat melemahkan daya seranganku. Semakin engkau banyak menyerang, akan semakin tambah dahsyat ilmu yang kugunakan ini. Hihihihi… sayang sekali!” Pek-sianli masih bergerak dengan kecepatannya.
Ucapan itu seperti cabe yang pedas. Menambah nafsu membunuh Kim-liok-kiam. Gerakannya semakin dikukuhkan. “Iyaaaaaaaa!” Ia berteriak kencang. Segala daya dikerahkannya.
“Hihihi… engkau tidak akan dapat mengalahkanku! Semakin engkau mengeluarkan tenaga, semakin lemah daya tempurmu.” Teriak Pek-sianli.
“Cringgggg… cring…cring…!!!” Dua pedang itu melekat sebentar, lalu mengendur. Dan mereka sudah saling menjauh kembali dengan lompatan kijang.
“Hihihihi… sayang aku tidak punya kesempatan untuk meladeni kalian semuanya. Lain kali kita akan bermain-main lagi.” Tiba-tiba hanya terdengar gema saja. Sosok Pek-sianli tiba-tiba lenyap.
“Jangan dikejar saudara Kim-ciang-cu!” Teriak Kim-tiok-kiam kepada saudara lamanya itu.
“Lain kali aku akan menghabisinya!” Teriak Kim-ciang-cu gregetan karena musuh bebuyutannya menghilang di depannya begitu mudahnya.
“Dia lari karena tidak berani melawan kita bertiga.” Kata Giok-liong-to.
“Hahahah…!!!” Tiba-tiba saja Kim-tiok-kiam yang masih berdiri itu tertawa tergelak. Setelah tertawa dia diam. Tidak bergerak.
“Ada apa saudara Kim-tiok-kiam?” Tanya Giok-liong-to tidak mengerti apa yang lucu sehingga temannya itu tertawa begitu senangnya.
“Ahhhh…!!!” Teriak Giok-liong-to setelah menyentuh pundak temannya yang diam itu. “Ada apa?” Tanya Kim-ciang-cu lebih tidak mengerti lagi.
Belum sempat Giok-liong-to menjawab, tubuh Kim-tiok-kiam terjatuh. “Uwahhhhhhhh!!!” Ia muntah darah. Tubuhnya menggigil. Lalu, membeku dalam diam.
“Kenapa dia?” Kim-ciang-cu masih bertanya. Ia segera membantu Giok-liong-to mengangkat tubuh Kim-tiok-kiam untuk duduk. Setelah diraba-raba tubuhnya. Memang tidak ada luka yang tampak. Sungguh aneh. Kim-tiok-kiam pingsan dan muntah darah tanpa diketahui penyebabnya.
“Kim-tiok-kam-cianpwee terluka oleh pukulan Pek-sianli.” Segelombang suara lembut terdengar. Giok-liong-to dan Kim-ciang-cu menoleh berbarengan. Di belakang mereka sudah berdiri Lie Yang dengan tenangnya. Sedangkan Kho Sa baru keluar dari tempat persembunyiannya.
“Siapa engkau?” Tanya Kim-ciang-cu galak kepada Lie Yang.
“Ah, aku tahu siapa kamu. Engkau adalah anak muda yang tadi sore didatangi oleh oranag-orang Kang-ouw itu. Ya, engkau itu!” Kata Giok-liong-to setelah melihat wajah Lie Yang.
“Benar, cianpwee. Nama saya Lie Yang bermarga Giok. Kalau cianpwee tidak berkeberatan, biar boanpwee yang mencoba mengobati Kim-tiok-kiam-cianpwee.”
“Jangan engkau main-main, anak muda? Saudara kami ini terluka parah. Organ dalamnya terguncang. Tidak mudah mengobatinya. Hanya dengan tenaga dalam tingkat tinggi baru bisa mengobatinya.” Kata Giok-liong-to tanpa berkedip.
“Saya tidak main-main. Malahan, kalau cara penyembuhannya menggunakan cara seperti yang cianpwee katakan, luka Kim-tiok-kiam-cianpwee tidak akan sembuh. Bahkan malah semakin parah.”
Dua laki-laki di depan Lie Yang itu diam sejenak. Mereka saling melirik. “Baiklah, kami serahkan kepadamu temanku ini. Tapi ingat, kalau sampai lukanya bertambah parah, engkau akan menggantinya dengan nyawamu itu.” Kim-ciang-cu mengancam.
“Dengan senang hati, cianpwee!”
Lie Yang memulai dengan pengobatan. Baju luar dan dalam Kim-tiok-kiam cicopot terlebih dahulu. Dan dengan ilmu Sin-hong Sin-kang ia menotok beberapa titik nadi Kim-tiok-kiam dari jarak dua meter. Dengan tingkatan ke-sembilan dari ilmu itu, ia mengobati luka dalam yang diderita oleh Kim-tiok-kiam. Setelah selesai membuang unsur dingin di dalam tubuh Kim-tiok-kiam, Lie Yang lalu menggores dada Kim-tiok-kiam dengan pedang. Goresan itu untuk mengeluarkan darah hitam, darah yang sudah tercemar racun.
“Biarkan Kim-tiok-kiam-cianpwee istirahat. Tiga hari kemudian, beliau baru akan siuman. Menurut saran saya, sebaiknya Kim-tiok-kiam-cianpwee dibawa ke tempat yang aman. Kalau tidak keberatan, saya menawarkan rumah kami untuk tempat istirahat. Saya yakin, Sam-cianpwee baru datang dari tempat yang jauh.” Kata Lie Yang ramah setelah selesai mengobati.
“Hmmm, bagaimana Kim-ciang-cu?” Tanya Giok-liong-to kepada teman lamanya itu.
“Sebaiknya begitu, lagi pula kita masih harus mengejar perempuan iblis itu. Ingin aku mencincang tubuhnya itu.”
“Sebaiknya, Jin-cianpwee melupakan mengejar Pek-sianli.” Lie Yang berkata lagi.
“Kenapa, anak muda?” Tanya dua orang tua itu berbarengan. Mereka sudah mulai suka dengan keramahan Lie Yang.
“Kalau tidak salah lihat, Pek-sianli juga mengalami luka yang tidak ringan.”
“Bagaimana mungkin? Sedangkan di pedang saudara Kim-tiok-kiam sendiri tidak terlihat noda darahnya sedikit pun?” Tanya Giok-liong-to.
“Di pedang itu memang tidak akan ditemukan noda darah sedikit pun. Karena yang melukai tubuh Pek-sianli adalah hawa pedang itu. Hawa pedang dari ilmu yang dimainkan oleh Kim-tiok-kiam-cianpwee itu lebih tajam dari pedang aslinya. Hakkatnya, bukan pedangnya yang berbahaya, tapi hawa pedang itu sendiri. Nyawa pedang itulah yang melukai Pek-sianli.”
Dua orang tua itu saling menoleh. Mereka tidak menyangka bahwa ada anak muda yang dapat menguraikan rahasia pedang sedetail itu.
“Siapa sebenarnya engkau anak muda? Kelihatannya ilmu silatmu tidak rendah?” Tanya Giok-liong-to kagum.
“Sungguh memalukan ilmu silat saya, cianpwee. Sebaiknya kita cepat-cepat bawa Kim-tiok-kiam-cianpwee ke rumah kami. Lukanya akan semakin parah kalau terkena hawa dingin lagi.”
Diingatkan begitu, dua orang tua itu langsung bergerak. Dua orang itu paham bahwa Lie Yang dengan kata-katanya itu juga sedang menghindar. Semakin Lie Yang menghindari pertanyaan-pertanyaan mereka, dua orang tua itu semakin yakin akan kemampuan Lie Yang. Akhirnya, mereka tidak bertanya-tanya lagi hingga sampai di rumah Lie Yang.
<><><><><>()<><><><><>
Pagi itu, udara mengalir begitu sejuk. Sepertinya, kerusuhan sore kemarin tidak membuat kondisi rumah Lie Yang dan sekitarnya menjadi seram. Banyak para penduduk yang melewati rumah Lie Yang tanpa rasa takut. Di depan rumah Lie Yang pagi-pagi sekali, terdengar suara gerakan orang bersilat. Sudah hampir seminggu ini, hampir setiap pagi dan malam hari, tiga perempuan muda itu berlatih keras. Diajar langsung oleh Lie Yang dan istrinya. Kali ini, mereka berlatih ilmu pedang. Di depan tiga pelayan perempuan itu, ikut berlatih juga istri Lie Yang. Gerakan mereka sangat lembut, hampir-hampir bisa disebut menari. Gerakan ilmu silat itu didesain sesuai dengan keindahan dan kelembutan perempuan. Namun, di dalam keindahan dan kelembutan itu menyimpan ketajaman, kekerasan, dan kekuatan sebuah pedang.
Di dalam rumah Lie Yang, Giok-liong-to, Kim-ciang-cu dan tiga pendekar muda; Kho Sa, Kwee Kong dan Kim Yun Tai terbengong-bengong melihat gerakan empat bidadari yang sedang menari-nari di pelataran rumah itu.
“Ilmu pedang apa yang sedang dimainkan mereka itu, sungguh indah! Selama hidupku ini, baru kali ini aku melihat gerakan seindah itu.” Ujar Giok-liong-to setengah sadar.
“Ya, juga bagiku, ini pertama kalinya, aku melihat gerakan begitu feminim!” Sahut Kim-ciang-cu sambil manggut-manggut.
Tiga pendekar muda yang terbengong-bengong ikut menyahut dengan senyuman mereka. Apalagi Kim Yun Tai, hingga dua matanya tidak berkedip sekalipun.
“Alangkah indahnya gerakan Shi Lan Moi-moi!” Dua matanya berbinar-binar.
“Sejak kapan engkau memanggilnya dengan sebutan moi-moi?” Tanya Kho Sa sembari melirik adik seperguruannya itu.
“Mulai sekarang!”
“Kamu hanya berani di sini. Aku ingin mencoba, apakah engkau berani memanggilnya di depan hidungnya.” Kho Sa menantang.
Kim Yun Tai diam membeku. Memang benar. Ia hanya berani karena jauh.
“Paling-paling engkau akan berganti menyebutnya menjadi ‘nona’, bukan ‘moi-moi’!” Kho Sa tertawa tergelak.
“Saudara kecil, Yun Tai, engkau tidak akan pernah mendapatkan hati seorang perempuan tanpa keberanian. Seperti pertarungan, perlu tekad yang membaja dan keberanian, baru engkau memenagkan pertarungan itu!” Tiba-tiba Kim-ciang-cu ikut berkomentar.
“Betul itu, cianpwe!” Kho Sa bertepuk girang.
“Pertempuran dengan percintaan ada sedikit perbedaan. Engkau memerlukan pengorbanan juga. Engkau berani itulah pengorbananmu, karena dengan memaksakan kepada memberanikan diri, engkau telah melepaskan baju kegoanmu.” Giok-liong-to menambahi.
Semuanya diam. Merenungi perkataan itu. “Baik. Aku akan mencobanya!” Tiba-tiba Yun Tai berkata. Membuat semuanya tersentak. Ia juga mulai melangkah keluar. Entah apa yang ingin dilakukan oleh pendekar yang kadang-kadang angin-anginan itu.
<><><><><>()<><><><><>
“Giok-kongcu, selamat pagi, bolehkah aku ikut berlatih ilmu pedang???”
Lie Yang menghentikan hitungan perintahnya. “Selamat pagi, Yun-te! Kalau kamu mau, coba perlihatkan ilmu pedang yang telah engkau pelajari.”
“Shi Lan, boleh engkau mencoba-coba ilmu pedang Yun-te!” Perintah Lie Yang kepada Shi Lan.
“Aku, kongcu???” Tanya Shi Lan sambil menunjuk hidungnya. Ia tak menyangka kalau dirinya yang akan ditunjuk.
Lie Yang menganggukkan kepalanya dengan pasti. “Aku kira, engkau akan cocok jika ber-pibu dengan Yun-te. Bukankah begitu, Yun-te?”
Lie Yang melirik Yun Tai yang sedang menenangkan hatinya. “Gila, apa dia sudah tahu maksudku?” Bertanya-tanya hati Yun Tai.
Tiba-tiba ia ingat cerita Kho Sa tadi malam. Kho Sa pernah berkata, kalau Lie Yang bukan tipe manusia seperi umumnya. “… dia mungkin bisa membaca pikiran orang. Segala gerak hati makhluk di sampingnya tidak akan luput dari penglihatan dan pendengaran mata hatinya. Makanya, jangan pernah meremehkan ketua kita yang masih muda itu, …”
Shi Lan langsung meloncat dengan ringan di depan Yun Tai. Sambil menjura, ia menebarkan senyuman. “Yun-ko, mari!!!”
Yun Tai kebingungan, karena ia sendiri tidak membawa pedang. Sedangkan, di tangan Shi Lan sudah tergenggam pedang yang mengkilat-kilat. Yun Tai merasa ragu. Sungguh sial, akhirnya ia sendiri yang terkena batunya.
Lie Yang merasakan getaran keragu-raguan Yun Tai. Sambil mendesah dan melangkah beberapa langkah ke samping, dua tangannya disodorkan ke depan. Tenaga dalam tak nampak meluncur ke depan. Di samping tembok sebelah utara, di tumpukan kayu yang sudah tidak hijau lagi itu, meluncur begitu saja dua potong ke arahnya. Sepertinya, ada kekuatan seperti magnet yang dapat menarik potongan kayu dengan panjang setengah meter itu. Kayu bambu yang hanya sebesar pergelangan tangan itu melayang-layang di depan Lie Yang.
Tak terbendung, hati Yun Tai terkesiap dengan kejutan tak terduga itu. “Ilmu apakah itu?” Hati Yun Tai bertanya-tanya.
“Suatu saat nanti, engkau akan mampu melakukannya, Yun-te,” Lie Yang menyahut. Seakan-akan ia menjawab teka-teki di hati Yun Tai begitu saja. “Kalian gunakan kayu ini dulu.”
Yun Tai tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Sekali loncat, kayu di depan Lie Yang itu sudah berada di tangan kanannya. Begitu pun Shi Lan. Ia tak mau kalah dengan peringan tubuh Yun Tai.
Yun Tai dan Shi Lan sudah saling berhadapan. Dua mata sipit Yun Tai menyorot tangan kanan Shi Lan yang sedang memegang kayu. Kayu itu tadak ditarik lurus ke depan seperti para pemain pedang pada umumnya. Melainkan lurus ke bawah, seperti memegang golok. Di awal saja, Yun Tai sudah kebingungan menebak arah mana ujung pedang itu akan melesat.
“Lihat pedang, Yun-ko!” Tiba-tiba Shi Lan berteriak kencang. Gerakannya tak terduga. Terlalu cepat untuk sebuah permulaan. Yun Tai yang sedang menerka-nerka itu, akhirnya tidak mampu membendung serangan pertama yang mengagetkan itu. Ia hanya mampu menangkis semampunya. Gerakan badannya yang menghindar seadanya itu pun tidak mampu menghindari ujung kayu milik Shi Lan. Ujung kayu itu memang tertangkis, akan tetapi tetap dapat menyentuh pundak Yun Tai.
Yun Tai tidak mau dipermalukan untuk kedua kalinya. Ia hanya terbengong sebentar saja. Sesudah dapat menguasai diri dan perasaannya. Walaupun tidak seratus persen. Ia mulai melancarkan serangan balikan. Gencaran demi gencaran, jurus pilihan langsung dikeluarkan. Ia mampu menduga bahwa ilmu pednag Shi Lan tidak cetek. Dengan permulaan yang tak terduga-duga seperti tadi, ia bisa merasakan kemampuan khusus Shi Lan.
Begitu pun Shi Lan. Ia tahu, bagaimana hebatnya pemuda yang dihadapinya itu, walaupun cuma main-main saja. Ia tidak mau membuat pelatih mudanya itu malu. Pengalaman tempur sudah sering didapatinya, walaupun itu cuma latihan. Ia menjadi begitu bersemangat ketika melihat kelincahan Yun Tai. Gaya khas ilmu peringan tubuhnya yang didapatkan dari Lie Yang digunakan dengan sedemikian hebatnya. Nafasnya juga diatur. Perasannya disatukan dengan pednagnya.
“Pedang dan perasaan harus bersatu. Tanpa menyatukan dua hal itu, kalian tidak akan dapat memainkan ilmu pedang yang hebat. Gunakan mata hati pedang untuk melihat sasaran kosong. Pedang akan bergerak lincah, jika hati kalian terbebas dari nafsu ingin mengalahkan lawan. Yang terpenting, hilangkan nafsu ingin mengalahkan lawan, apalagi membunuh lawan. Ikuti nafas dan desah pedang itu sendiri. Maka, ruh pedang itu akan keluar begitu saja. Tangan, hati dan pedang akan menyatu menjadi gerakan tanpa batas.”
Shi Lan ingat pesan Lie Yang hari kemarin. Dan benar saja, ketika ia menggerakkan pedangnya dengan melepaskan beban pikiran, ia menjadi begitu lancar mengeluarkan jurus-jurusnya. Bahkan ia tak perlu mengingat jurus apa yang akan dikeluarkannya. Jurus itu mengalir. Sepertinya, ruh pedang telah muncul dan menuntunnya dengan begitu mudah.
Kali ini Yun Tai yang mengalami kepayahan, walaupun tak bisa dikatakan kalah. Belum pernah selama ini ia bertempur melawan ilmu pedang seperti yang dimainkan Shi Lan. Ilmu pedang itu gerakannya begitu cepat, bertenaga dan tidak melepaskan faktor keindahannya. Shi Lan seperti main akrobat. Setiap serangan, selalu saja Shi Lan mampu menggagalkan, sepertinya kayu yang dipegangnya itu mempunya mata juga.
Serangan Shi Lan selalu berbobot dan tak terduga-duga. Setiap serangannya bisa berubah menjadi puluhan serangan, bahkan mungkin ratusan kembangan jurus berbalik. Dan memang serangan Shi Lan selalu berubah-ubah.
Beberapa kali, Yun Tai harus mundur untuk menghindari serangan Shi Lan yang begitu hebat. “Terpaksa aku harus menggunakan Liong-bwee-kiamsut (Ilmu Pedang Ekor Naga)!”
Baru ia selesai berpikir. Dua kakinya dihentakkan. Ia meloncat, bukan ke depan, melainkan ke belakang. Shi Lan memburu dengan sangat bernafsu. Peluh di dahinya terlihat berkilauan. Seperti dua matanya yang tak pernah terpejam, berkilauan seperti mata elang yang sedang mengintai mangsanya. Hanya sedikit sekali Yun Tai mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan Lwekang. Dua tangannya dibentangkan seperti sayap rajawali. Kayu yang berada di tangan kanannya bergetar. Sambil berteriak nyaring, ia memapaki serangan Shi Lan. Delapan puluh persen tenaganya sudah dikeluarkan. Sudah puluhan jurus ia keluarkan. Kali ini ia mengeluarkan ilmu simpanannya.
Lie Yang tersenyum melihat perubahan Yun Tai. Istrinya Kwat Lan yang sudah ada di sampingnya ikut senang dengan perubahan itu. Giok-liong-to, Kim-ciang-cu dan dua saudara perguruannya pun sudah berada di luar lingkaran pibu. Mereka tampak serius melihat perkembangan itu. Gerakan Yun Tai menjadi bertambah cepat, walaupun masih kalah cepat gerakan Shi Lan. Tenaga dalamnya pun sudah seimbang.
“Pwaaakkkk!!!” Dua kayu saling tabrak dan bergetar. Seandainya kayu itu tidak diisi oleh lwekang mereka. Mungkin saja akan pecah berantakan. Setiap lowongan yang ada di dalam diri Shi Lan, hampir selalu bisa ditutup olehnya dengan gerakan-gerakan aneh. Hingga saat ini, Yun Tai belum bisa meraba setiap detik serangan lawan permainannya. Ia hanya dapat berkosentrasi melihat kedua pundak Shi Lan. Sambil merasakan getaran Sin-kang dan Lwekang-nya yang begitu memesona yang keluar dari dalam diri Shi Lan.
Alangkah herannya Yun Tai, ketika permainan itu sudah menghabiskan ratusan jurus, namun Shi Lan tidak menunjukkan rasa lelahnya. Pernapasannya masih teratur, hanya keringat di dahi dan bajunya saja yang terlihat seperti kehujanan. Ia sendiri sudah mulai lemah. Ilmu Liong-bwee-kiamsut terlalu berat untuknya. Hakikatnya, ia belum menguasai betul ilmu pedang itu. Walaupun, sudah hampir lima tahun ia melatihnya. Padahal ilmunya ini cukup hebat, namun belum mampu mengalahkan ilmu Shi Lan yang tampak sederhana itu.
Konon, ilmu pedang itu hanya diturunkan kepada pangcu Kim-liong-pay dan para penasehat Kim-liong-pay saja. Tak pernah ilmu ini dipakai oleh orang lain. Seperti halnya ilmu Sin-hong Sin-kang, ilmu khusus ketua Kim-liong-pay turun-temurun.
“Yaaaaa…” Tiba-tiba Shi Lan berteriak geregetan. Sejak dari tadi, ia belum pula sanggup mengalahkan Yun Tai. Semangatnya bertambah berkobar-kobar. Nafsu ingin mengalahkan sampai mau meledak lewat kepalanya. Rasanya ia ingin mengalahkan Yun Tai secepatnya, agar tidak memalukan pengajarnya. Ia ingin memberikan penghargaan kemenangan kepada Lie Yang. Dan inilah yang malah membuat gerakannya agak kacau.
Lie Yang melihat perubahan itu. Kepalanya bergerak seperti kecewa, walaupun tidak kecewa. Ia hanya merasa penasaran, bagaimana mungkin Shi Lan lupa dengan pesannya yang dikatakannya berkali-kali setiap berlatih itu.
“Lan-moi memang keras kepala, perasaan Yang-ko sudah bilang berkali-kali untuk berkosentrasi. Sungguh keras kepala!” Kwat Lin berucap begitu saja. Sepertinya ia bisa membaca gerakan kepala suaminya itu.
“Ambisinya untuk menang itulah yang membuatnya lemah. Engkau harus mengingatkan kesalahannya itu. Apalagi, ini adalah pibu dimana bukan tempat untuk menang dan kalah. Akan tetapi gimana saling memberi pengalaman baru antara satu sama lainnya.” Lie Yang menyahut ucapan istrinya tanpa menoleh.
“Lebih baik Yang-ko menyuruh mereka untuk mengakhiri permainan ini. Sebelum keras kepala Lan-moi beranak pinak. Aku tahu betul wataknya yang tidak mau mengalah itu. Sangat berbahaya terhadap saudara Yun.”
Lie Yang menganggukkan kepalanya sangat pelan. Sepertinya ia sepakat dengan istrinya. “Aku kira keras kepalanya tidak sekeras apa yang engkau miliki. Engkau lebih memusingkan dan susah diatur malahan.” Lie Yang tersenyum lebar.
“Aihh, memang benar aku keras kepala. Tapi, setidaknya aku masih mempunyai prinsip tidak akan pernah melawanmu, walaupun bagaimana pun kondisinya. Aku akan hanya dapat tunduk tenggelam dalam suaramu.”
“Hahahah… Memang benar pepatah mengatakan; Jika seorang pria dapat menguasai emosi seorang wanita, maka wanita tersebut akan melakukan apa saja demi pria itu.”
“Sungguh betul ucapan itu!” Kata Kwat Lin sambil menoleh ke arah suaminya.
Lie Yang akhirnya menoleh juga. Hanya sebentar saja. Sejak tadi ia mencari peluang untuk menghentikan dua pendekar muda yang sedang ber-pibu itu. Kali ini peluang itu datang. Tampaknya mereka sudah merasa kelelahan. Setelah saling bentrok dengan sangat ketat. Akhirnya mereka saling menjauh untuk mengisi paruh-paruh mereka dengan udara baru.
“Hentikan pertarungan kalian!” Lie Yang menjatuhkan perintah. Dua pendekar muda itu menoleh dan menganggukkan kepala. Walaupun sesungguhnya Shi Lan belum begitu puas. Akhirnya ia menurut juga.
“Bagaimana menurut Oiy-cianpwe dan Han-cianpwe dengan permainan ini?”
“Omongan kentut!” Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah. Semua orang berpaling untuk melihat siapa yang bicara itu. Wajah setengah tua Kim-tiok-kiam Tay Hiap tampak begitu pucat. Sambil menahan sakit ia berjalan tertatih-tatih. Semua orang tampak terkejut.
“Dasar! Apa kamu ingin cepat mati? Mana boleh orang berpenyakitan sepertimu seenaknya keluar kamar? Hah, apa kamu ingin kami menjadi pecundang dengan kekerasan kepalamu itu?” Oiy-cianpwe berteriak kecang melihat kenekatan teman karibnya itu.
“Kalau aku sudah ditakdirkan mati, mungkin sudah sejak dulu aku sudah mati. Berkali-kali kesempatan itu datang menagih kematianku. Tapi, jiwa ini milikku sendiri, tak akan ada yang bisa mengambilnya kecuali aku merelakannya,” Kim-tiok-kiam Tay Hiap berkata sambil memukul dadanya pelan. Segera batuk memaksanya untuk diam.
Karena batuk, hampir saja ia terjatuh. Namun untung, Oiy-cianpwe segera memapanya. “Sebenarnya apa sih yang engkau inginkan? Bukankah lebih baik engkau beristirahat. Lukamu masih belum sembuh betul. Apa engkau tidak mau membalas dendam?”
“Hawa ilmu pedang yang dimainkan oleh dua anak muda itu lah yang membuatku bangun. Hawa itu sungguh memikatku!” Jawabnya disela-sela batuknya yang semakin keras.
“Gila kau!” Kata Oiy-cianpwe. “Apa benar engkau dapat merasakannya?”
“Pasti!”
Wajah itu semakin pucat. Di pojok bibirnya menetes darah segar. Sambil menahan batuk yang seketika datang. Dua matanya mnyorot seperti elang. Raut wajah yang pucat pasi itu, hanya dua matanya yang terlihat seperti nyala api. Dua mata itulah yang paling ditakuti orang. Apalagi kalau sudah berubah merah membara. Dua mata itu pernah membakar hangus semangat pendekar-pendekar ternama puluhan tahun yang lalu. Kali ini dua mata itu hamper mmercikan api. Ketika melihat Shi Lan dan Yun Tai.
Dan dua mata itu tiba-tiba berbelok. Seperti ada kekuatan rahasia yang menariknya. Tatapannya sampai pada wajah teduh Lie Yang dan berpindah pada wajah cantik Kwat Lin. Lalu berpindah lagi ke orang-orang di depannya. Setiap orang dilihatnya tanpa luput.
“Siapa sebenarnya kalian? Apa mau kalian?” Kata-kata itu tiba-tiba terlontar keluar dari mulutnya begitu saja.
“Saudara, Kim-tiok-kiam, mereka, anak-anak muda, yang telah menyelamatkanmu.” Han-cianpwe membuka mulut. Ia melangkah dan menepuk pundak Kim-tiok-kiam Tay Hiap. Layaknya saudara sangat dekat.
“Mereka? Yya, benar, dia,” Matanya terbuka lebih lebar. Lalu melemah kembali setelah tatapan matanya membentur dua mata Lie Yang. Entah kenapa degupan jantungnya semakin kencang. Ia tak mengerti. Wibawa pemuda tak dikenalnya itu begitu kuat menguasainya.
“Shi Lan, tolong berikan pil ini kepada Kim-tiok-kiam Tay Hiap! Setidaknya ini akan membantu mempercepat penyembuhannya.” Lie Yang memerintah kepada Shi Lan yang diam. Ia mengambil pil berwarna kuning emas itu dari tangan Lie Lang. Hanya sebentar saja ia melihat pil sebesar isi kacang tanah itu.
“Obat apakah ini, Yang Tay Hiap?” Tanya Han-cianpwe ketika menerima pil itu. Baginya menanyakan obat apakah yang akan diberikan kepada saudara lamanya itu penting. Ia tak ingin memberikan racun kepada saudaranya. Menambah penyakit di dalam tubuh saudaranya.
“Pernakah Han-cianpwe mendengar Pil Naga Emas?” Lie Yang bertanya balik.
“Pil Naga Emas?” Alis mata sebelah kiri Han-cianpwe terangkat. Nadanya mempertanyakan. Ia tidak tahu. Atau mungkin sudah lupa.
“Konon, ratusan tahun yang lalu. Di sekitar gunung Thai-san tersiar sebuah dongeng. Konon, ada seorang manusia setengah dewa pernah membuat obat mujarab dari darah seekor naga yang didewakan. Darah suci naga itu didapatkannya dari pertarungannya selama berbulan-bulan lamanya. Obat dari darah naga itu dibuat menjadi tiga bentuk pil. Pil berwarna merah, konon menurut cerita, siapa yang bisa meminum pil ini tidak akan pernah mengalami ketuaan. Wajah akan tetap segar walaupun sudah berumur ratusan tahun. Pil berwarna putih, untuk menambah lwekang dan sinking. Siapa yang dapat meminum pil ini, akan dilipat-gandakan tenaga dalamnya. Dia akan mampu mendapatkan kekuatan ratusan tahun dari kekuatan naga. Lalu terakhir, pil berwarna kuning. Pil ini untuk mengobati segala penyakit dan racun. Pil berwarna kuning keemasan ini juga dapat menambah tenaga seseorang,” Oiy-cianpwe berhenti bercerita. Ceritanya sunggu singkat. Sambil menghirup udara. Ia melirik Lie Yang yang sedang tersenyum. Kwat Lin yang ada di sampingnya itu melihat ikut melihat suaminya. Mereka saling pandang sebentar.
Sambil mengangkat mukanya ke langit. Oiy-cianpwe mendesah sekali dan melihat setiap orang. Satu persatu. Hati setiap orang yang dipandanginya berdebar keras. Sepertinya mereka sudah mampu menebak arah pembicaraan Oiy-cianpwe yang selalu blak-blakan.
“Bukankah itu pil naga seperti yang diceritakan dongeng itu?” Tebakan setiap orang benar. Akhirnya Oiy-cianpwe akan bertanya ke Lie Yang.
“Hahahah… Dongeng itu pernah kudengar juga. Mungkin saja benar. Pil itu mungkin saja buatan dari darah naga suci di lereng gunung Thai-san.” Lie Yang menjawab sambil bergurau. Namun nada bicaranya terdenagr begitu serius di telinga setiap pendengarnya. “Kalau Kim-tiok-kiam Tay Hiap meminumnya. Nanti sore, aku jamin akan segera sembuh. Bahkan tenaga dalamnya akan segera kembali seratus persen dalam seminggu.”
“Baiklah. Aku akan meminumnya. Bawa kemari pil emas itu!” Kim-tiok-kiam Tay Hiap menepis semua keraguan yanga da di dalam dirinya. Oiy-cianpwe agak ragu memberikannya kepada saudaranya itu. “Cepet!” Teriaknya memaksa.
Setelah menelan pil berwarna kuning keemas-emasan itu. Kim-tiok-kiam Tay Hiap duduk sambil bermeditasi. Beberapa saat kemudian, dari atas kepalanya menguap uap berwarna kuning. Uapnya semakin tebal. Hampir semua orang yang melihatnya melotot tidak percaya. Wajah Kim-tiok-kiam Tay Hiap selalu berubah-ubah. Warna hitam, merah, kuning, cokelat, dan merah lagi telah dilaluinya. Saat ini wajahnya sudah tidak berwarna. Dan berubah lagi menjadi merah muda.
“Terima kasih anak muda atas pertolonganmu. Pil ini sungguh mujarab. Lihat, batukku sudah hilang. Dan aku merasa lebih segar,” Ucap Kim-tiok-kiam Tay Hiap setelah berdiri.
“Alangkah baiknya jika Kim-tiok-kiam Tay Hiap beristirahat dengan bermeditasi. Biar nanti para pelayan memasakkan sup gingseng untuk memperkuat daya tahan tubuh.” Ucap Lie Yang sambil mempersilahkan semuanya masuk rumah. Namun Kim-tiok-kiam Tay Hiap tetap bergeming di tempatnya. Ia diam, sedang tatapan matanya berpindah dari Lie Yang ke Shi Lan.
“Siapa namamu?” Tanyanya tiba-tiba. Sepertinya ia tidak merespon ucapan Lie Yang. “Apa kamu tuli?” Teriaknya, berang.
Shi Lan masih diam. Sejak tadi ia diam. Ada banyak hal yang sedang dipikirkannya. Khususnya ketakutannya melihat mata merah Kim-tiok-kiam Tay Hiap, walaupun saat ini tidak semerah tadi. Menurutnya, orang did epannya tidak pantas dipanggil Tay Hiap (Pendekar Sejati). Lebih tepat dipanggil iblis. Atau gelandnagan. Mukanya yang sangar. Badannya yang tinggi besar. Belum lagi dua matanya yang merah seperti api. Sungguh menakutkan. Belum lagi nada bicaranya yang selalu keras.
“Tecu Shi Lan,” Jawabnya hamper jatuh pingsan.
“Hmmm, dan kamu anak muda?” Tanyanya lagi. Kali ini pertanyaan itu ditujukan kepada Yun Tai. “Tecu Kim Yun Tai,” Yun Tai mengangkat kedua tangannya di depan dadanya.
“Dan kalian?” Ia menunjuk Kho Sa dan Kwee Kong yang tak membuka mulutnya sejak tadi. Mereka memang sepakat berdiam. Mereka tidak akan berani sembarangan berbicara di depan Lie Yang. Kecuali dengan izinnya.
“Tecu Kho Sa dan ini adik seperguruan tecu Kwee Kong.” Jawab Kho Sa sekalian mewakili adiknya memperkenalkan diri.
“Melihat logat dan wajahmu, kamu bukan orang Han (China). Orang mana dan siapa gurumu?” Tanya Kim-tiok-kiam Tay Hiap sekali lagi.
Kho Sa melirik Lie Yang. Lirikannya meminta persetujuan kepada Lie Yang. Lie Yang bisa membaca lirikan itu dan segera ia menganggukkan kepala. “Penglihatan Kim-tiok-kiam Tay Hiap sungguh awas! Salut. Tecu memang bukan orang Han, tapi orang Persia. Tecu dibimbing oleh Jit Fu-hoat Kim-liong-pay.”
“Ohhh, sebab itukah engkau kemarin memakai topeng naga?” Kim-tiok-kiam Tay Hiap masih mengejar dengan ekor pertanyaan. Gak akan berhenti samapi pertanyaan-pertanyaan di otaknya habis.
“Ya,” Jawab Kho Sa singkat.
“Sekarang giliranmu anak muda? Aku tahu engkau tidak memerlukan ucapan terima kasihku. Namun, perlu engkau ketahui. Kim-tiok-kiam selama hidup belum pernah mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada orang banyak. Seingatku hanya dua kali aku pernah mengucapkannya. Kedua kalinya kepadamu. Dan tidak sembarang orang kukasih ucapan itu. Aku tahu, banyak hal yang misterius di rumah ini, khususnya dari dalam dirimu. Aku ingin tahu banyak tentangmu. Kamu harus menceritakannya semuanya kepadaku. Kalau tidak, aku akan mengambil ucapan terima kasihku itu beserta nyawamu.”
Sungguh keren ucapannya itu. Tidak tanggung-tanggung. Selalu blak-blakan. Itulah cirri khas Kim-tiok-kiam Tay Hiap. Keras kepala dan mau seenaknya sendiri. Mau bunuh orang tak perlu alasan. Mau menolong orang tidak perlu mengungkit budi. Itulah dia. Lie Yang tetap tenang, walaupun semua orang merasakan hamper lenyap nyalinya. Bahkan Lie Yang masih tetap tersenyum.
“Tidak ada yang khusus dariku, Kim-tiok-kiam Tay Hiap. Biasanya aku dipanggil Yang Kongcu oleh penduduk sini. Kim-tiok-kiam Tay Hiap boleh memanggilnya seperti itu.”
“Apa mungkin orang biasa tanpa latar belakang yang agung bisa mempunyai pil naga? Kalau tidak salah dugaanku, pasti engkau memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Lebih tinggi dari apa yang bisa dikumpulkan dari anak-anak muda seusiamu yang ada di sini ini. Tidak sembarangan orang mempunyai ketenangan sepertimu.”
“Kim-tiok-kiam Tay Hiap terlalu menyanjung dan menilaiku terlalu tinggi.”
“Ini bukan sanjungan. Setidaknya ada empat perkara yang masih membingungkan. Engkau harus menjelaskannya kepadaku. Kalau tidak, sungguh demi iblis, aku akan menyobek mulutmu!” Tangan kanannnya sudah menggenggam erat pedangnya. Ini bukan sekedar ancaman, atau marahan, makian atau hardikan untuk kelinci. Ini ucapan dari kekerasan dan keingintahuan orang tua.
“Kalau memang Kim-tiok-kiam Tay Hiap ingin jawaban yang pasti. Apa boleh buat. Kita bisa membicarakannya berdua saja. Biarkan yang lainnya istirahat. Khusunya untuk istriku yang sedang mengandung.” Lie Yang melirik ke arah istrinya. Sambil melirik, ia mengirim suara dengan ilmu pengirim suara khasnya. “Kau ajak Shi Lan dan lainnya masuk. Buatkan amsakan yang enak untuk kami.”
Hanya dengan anggukan kepala saja. Kwat Lin mengajak tiga wanita yang selalu membantunya itu masuk. Sedangkan, Kho Sa juga diperintahkan untuk masuk. Perintah-perintah hanya dengan sorotan mata ini tidak luput dari pengamatan Kim-tiok-kiam Tay Hiap. Hatinya diguncang rasa penasaran. Ia juga akhirnya menyuruh dua saudara akrabnya untuk masuk. Beberapa saat saja, mereka sudah menghilang dari hadapan Lie Yang dan Kim-tiok-kiam Tay Hiap.
“Apa penjelasanmu tentang ini, anak muda?” Kim-tiok-kiam Tay Hiap membuka pembicaraan empat mata.
“Penjelasan apa lagi, Tay Hiap? Bukankah Tay Hiap belum mengajukan empat pertanyaan itu,”
“Kalau begitu aku tambah satu lagi pertanyaannya, menjadi lima.” Potongnya dengan wajah tetap datar dan angker.
“Hahaha, kenapa tidak sekalian pertanyaan-pertanyaan itu disimpan dan dilengkapkan menjadi seratus pertanyaan atau seribu?” Baru saat ini, Lie Yang ingin tertawa. Selama berminggu-minggu setelah keluar dari gua di bawa lereng gunung Shaolin. Begitu lucu orang tua yang dihadapinya saat ini. Ia tahu betapa keras watak orang tua yang ada di sampingnya itu. Berbuat semauanya sendiri. Pantas kalau banyak orang menanam ketakutan untuk orang tua yang sedang sakit ini.
“Engkau terlalu menghinaku, ank muda. Aku memang pernah engkau selamatkan. Namun, aku tak pernah paham istilah balas budi. Tak ada kamus istilah untuk itu.”
“Itu sudah kuketahui sejak awal, dan aku pun tahu kalau Tay Hiap hanya mengenal balas dendam. Balas dendam dan watak keras kepala itu hakikatnya hanyalah topeng. Topeng dari kekecewaan dan kesedihan yang pernah sampai pada hati Tay Hiap. Dan malahan, dua sifat itulah yang menyebabkan Tay Hiap tak pernah mampu menguasai jiwa pedang yang Tay Hiap pegang saat ini. Ilmu yang Tay Hiap pelajari puluhan tahun pun, tak pernah membuahkan hasil sampai tahap kesempurnaan. Jalan yang Tay Hiap tempuh salah.”
“Bajingan! Engkau mengataiku salah jalan? Berani engkau mengutukiku seperti itu, apakah engkau tahu siapa aku? Aku yakin, semua pendekar akan lari terkencing-kencing mendenagr namaku,”
“Ya, siapa yang tidak tahu dengan Kim-tiok-kiam Tay Hiap. Seorang yang dulunya selalu membela kebenaran, namun menyeleweng menjadi pembantai ratusan pendekar lantaran seorang wanita. Aku tahu betul siapa Tay Hiap. Bahkan seandainya aku disuruh menyebutkan siapa leluhur Tay Hiap, aku pasti mampu menyebutkannya.”
Kim-tiok-kiam Tay Hiap melengak mendengar uraian sederhana Lie Yang. Dua matanya membara. Otaknya hampir meledak berhamburan. “Lau Cu Kang, murid ke dua dari Sabzavar, leluhur keluarga Giok. Lau Cu Kang menetap bersama dengan istrinya Giok Mei Lan yang bukan lain adalah puteri dari Kaisar Ilmu Silat itu di Tibet. Di sana ia menjadi raja-diraja ilmu silat. Mengembangkannya menjadi ratusan variasi. Dari perguruan kecil dan keras itu, muncullah pendekar-pendekar seperti Lau Kiang lee, Lau Sam Poe, dan Lau Ren See. Lalu ilmu-ilmu silat, kegagahan dan kejujuran mereka hanya bisa bersembunyi ketakutan di dalam diri Tay Hiap. Sungguh akan merana, cianpwe Lau Ren See di alam baka itu kalau melihat keganasan dan kekerasan hati Tay Hiap.”
Berkeping-keping sudah hati Kim-tiok-kiam. Rahasia yang disembunyikannya telah terbongkar. Lie Yang hampir menelanjanginya. Ini baru awal penelanjangan sebuah riwayat kelam. Keluarga sendiri Lie Yang masih berhubungan dekat dengan keluarga Lau, ini rahasia. “Dari mana engkau tahu semua itu, anak muda?” Kim-tiok-kiam Tay Hiap tiba-tiba meraung setelah terdiam membisu.
“Apakah ini salah satu dari lima pertanyaan itu?”
“Anggap saja begitu?!” Ucapnya datar. Wajahnya benar-benar membara.
“Lo-cianpwe Lau Sam Poe yang menceritakan semuanya. Bahkan beliau mengajariku beberapa ilmu silat. Sudah bertahun-tahun orang tua suci itu mencarimu, Tay Hiap.
“Tak mungkin! Ini gila.” Serocohnya memungkiri perkataan Lie Yang. “Engkau jangan mengada-ngada, anak muda. Kakekku sudah meninggal sejak lama. Bahkan kuburannya masih ada di Tibet sana, bersanding dengan kuburan kedua orang tuaku.”
“Terserah, Tay Hiap mau percaya apa tidak. Kuburan di Tibet itu hanya semacam simbol saja,”
“Simbol? Sudah. Jangan teruskan igauanmu itu. Sumpah, seandainya engkau tak pernah menyelamatkanku. Aku pasti telah membunuhmu. Sekali lagi engkau menghinaku, aku akan cabut nyawamu. Sekarang, sebaiknya engkau jawab pertanyaanku yang lainnya,”
“Kenyataan Tay Hiap sombong sungguh benar. Padahal aku sendiri ingin menceritakan cerita yang tak pernah keluarga Tay Hiap dengar, bahkan siapa un tak pernah mendengarnya. Kenyataan Lo-cianpwe masih hidup itu nyata. Sekarang beliau sedang menyucikan diri di Istana Tanpa Bayangan. Pernakah Tay Hiap mendengar tempat itu?”
Lie Yang masih tetap berkata. Menyebut Bu Eng Hu adalah salah satu taktik jitu untuk membangkitkan minat raja pedang itu. Wajah laki-laki itu berubah secara tiba-tiba. Berkali-kali Kim-tiok-kiam merasakan hatinya bergetar oleh Lie Yang. Kali ini ia tak mampu lagi menahan emosinya untuk diam mendengarkan kelanjutan cerita Lie Yang. Ia diam untuk menunggu, namun Lie Yang tak juga mengeluarkan suara. Ia tetap menunggu. Namun sepertinya jiwa Lie yang telah melayang entah kemana.
“Siapa yang tak pernah mendengar nama paling mengetarkan itu. Tempat itulah, konon sebagai istananya para manusia setengah dewa. Menurut dongeng yang tersiar di dunia kang-ouw, istana itu dapat membuat penghuninya panjang umur. Jadi, benarkah bahwa kakekku masih hidup, anak muda? Dan bagaimana mungkin, kakek bisa di sana, bukankah tempat itu khusus untuk anak murid Kim-liong-pay saja, sedangkan kakekku tak pernah mengikatkan dirinya pada Kim-liong-pay?”
“Akhirnya Tay Hiap dapat menghapus sifat ego yang berdiam di dalam diri sendiri. Itu bagus. Setidaknya ini akan menjadi dasar kembalinya jiwa yang Tay Hiap miliki. Jiwa yang sedang takut oleh keganasan itu akan bersinar kembali. Lau Sin Ban ! Bukankah itu nama asli Lau Tay Hiap? Sejak saat ini, aku akan memanggil paman Lau kepadamu saja. Biarkan nama Kim-tiok-kiam menghilang untuk sementara, hingga muncul kembali dengan jiwa baru.”
“Terserah engkau, anak muda! Engkau benar kalau aku terlalu egois, kejam, ganas dan sebenarnya seorang penjahat besar. Engkau benar kalau semua itu bermula dari seorang wanita. Aku tak pernah menolak kenyataan itu, aku mengakuinya. Selama ini, aku hanya mau berlindung dengan kekerasan dan keganasan. Semua yang engkau katakana benar. Ini hanya sebuah pelarian dan semoga bukan pelarian selamanya,”
“Paman Lau, jadikan cinta itu untuk mencintai semuanya. Jangan biarkan rasa benci itu menempati sedikitpun tempatnya cinta. Kalau paman sudah mampu mencintai semuanya, pasti kekecewaan tak akan pernah menyapamu. Ini hanya pesanku untuk perjalanan paman yang masih sangat panjang,” Perkataan Lie Yang mulai melembut. Ada rasa tak enak terdengar dari nada bicaranya.
“Semoga, anak muda. Aku akan coba mengingatnya. Ceritakan tentang kakekku, anak muda. Dan apakah aku bisa bertemu dengannya?” Laki-laki yang sudah dipanggil ‘paman Lau’ oleh Lie Yang itu memotong. Nadanya mengiba, memohon dengan sangat.
Misteri Manusia Bejubah Putih
“Mungkin, suatu saat nanti dia akan menemuimu, Paman Lau. Lau Lo-cianpwe hanya memberi pesan, supaya paman Lau pergi ke gua Seribu Naga yang berada di puncak Tai-shan. Di sanalah, paman Lau akan mendapatkan petunjuk selanjutnya. Waktu yang ditetapkan adalah bulan purnama yang akan datang. Lau Lo-cianpwe hanya menitipkan pesan itu saja, selain memberi nasehat kepada paman Lau melalui mulutku ini.”
“Oh, baiklah kalau begitu. Bulan purnama yang akan datang, aku akan pergi ke sana. Anak muda, apa besok engkau bisa datang melihat pesta kami berempat?”
“Oh, tidak tahu paman. Menurutku, sebaiknya pesta itu ditunda pada bulan purnama di awal musim dingin. Menunggu kesembuhan luka paman dan mendapatkan petunjuk Lau Lo-cianpwe.”
“Tetapi, pesta pibu ini dilaksanakan setiap awal bulan di musm semi dan sudah ditunda lima tahun karena aku juga. Apakah aku akan menundanya lagi?”
“Aku kira Oiy dan Han cianpwe akan memahaminya. Aku yang akan berbicara dengan mereka. Untuk Bi-san-cu dari Jeng-hwa-lim, biar paman dan Ji-cianpwe (Dua Orang Gagah) yang memberitahukannya. Apalagi, besok kami akan segera pindah.”
“Pindah? Kemana?” Tanya Lu Tay Hiap agak kaget. Setidaknya ia mulai menyukai sesuatu yang aneh dalam diri Lie Yang.
Sebelum Lie Yang menjawabnya, wajahnya mendongak ke langit. Nafasnya terdengar berat. “Kim-liong San-cung (Perkampungan Naga Emas).”
“Kim-liong San-cung?”
“Ya, aku juga akan sekalian menjawab semua rasa penasaran paman Lau. Namun ada syaratnya? Entah paman akan dapat menepatinya apa tidak?”
Lie Yang melirik ke sampingnya. Lalu menghadap ke arah pohon Persik yang ada di pojok rumahnya itu.
“Katakan. Apa itu?” Akhirnya Lau Tay Hiap mengiyakan.
“Jangan katakan ke siapa pun tentang masalah ini.”
“Hanya itu saja? Kalau itu masalahnya, aku sanggup menjaganya.”
“Hmmm…” Tiba-tiba mata Lie Yang bercahaya aneh. Ia diam tak menyahut perkataan Lau Tay Hiap untuk jangka waktu yang agak lama.
“Ada apa, Lie Yang?” Tanya kemudian Lau Tay Hiap merasakan gelagat aneh. Ia sudah tidak menyebut Lie Yang dengan sebutan ‘anak muda’ seperti biasanya lagi. Menandakan bahwa ia tak meremehkan anak muda yang ada di depannya itu lagi. Dan mulai merasakan ada suatu hibungan dengan Lie Yang. Entah apa itu?
Baru saja Lau Tay Hiap selesai berucap. Terdengar desingan aneh dari arah depan. Tiba-tiba saja Lie Yang membentangkan dua lengannya. Ia sedikit bergeser menghalangi tubuh Lau Tay Hiap. Dan dengan kecepatan tak terduga, ia dapat memegang beberapa potong daun sebagai penyebab desingan halus itu. Tiga potong daun di telapak tangan kanan, dua digenggaman tangan kiri dan satu daun terjepit oleh giginya.
“Siapa berani macam-macam di depan hidung Kim-tiok-kiam, ha? Keluar!” Teriak Lau Tay Hiap berang. Lau Tay Hiap segera menghunuskan pedangnya. Hampir saja Lau Tay Hiap berlalu untuk mencari siapa penjahat licik yang berani membelakanginya itu. Ia berhanti ketika tanpa sengaja matanya melihat cahaya aneh memantul dari tubuh Lie Yang. Cahaya kuning senja yang sangat halus menyelimuti tubuh Lie Yang. Ketika Lau Tay Hiap mencoba melihatnya dengan teliti, baru ia dapat melihat sesuatu yang sangat mengejutkan. Tiga daun pohon Persik melayang-layang di depan dada Lie Yang.
Keadaan Lie Yang tak berubah. Ia diam dengan memejamkan dua matanya. Lau Tay Hiap merasa penasaran, apa yang sedang dilakukan oleh anak ini. Namun, ketika ia mencoba untuk maju sedikit ke depan Lie Yang. Ia merasakan gelombang dahsyat menghantamnya. Ia terjungkal tanpa perlawanan sama sekali.
“Gila! Ilmu apa ini? Sihir! Auwgh…” Teriaknya hingga tersumpal muntah darah.
Mendengar teriakan itu, Lie Yang membuka matanya dan hanya sekali lirik ia sudah tahu apa yang telah terjadi terhadap Lau Tay Hiap. Lau Tay Hiap terduduk sambil tersengal-sengal antara hidup dan mati. Luka yang masih belum sembuh kembali semakin parah akibat hantaman gelombang Sin-kang aneh.
“Hmmm..” Lie Yang bergumam sendiri. “Hanya Sin-hong Sin-kang tingkatan delapan yang mampu melawan lweekang dan sin-kang orang-orang ini. Ya, hanya Hui-im Hong-sinkang saja yang mampu membuat mereka melepaskan cengkeraman ini.” Ia menimbang-nimbang dengan ilmu apakah ia dapat melepaskan perisai tak terlihat itu. Ia memang mampu menahan sin-kang lawan tidak menembus badannya. Bahkan ia mampu menahan serangan senjata rahasia berupa tiga daun Persik yang siap membobol dadanya.
Ini pertama kalinya ia menggunakan ilmu barunya Jit-goat Hoat-lek Sin-kang yang baru dilatihnya sampai tingkatan ke-empat. Jit-goat Hoat-lek Sin-kang dapat digunakan untuk memperisai diri dari tajamnya Sin-kang, lwekang ataupun bahkan senjata tajam. Ini adalah salah satu ilmu tertinggi para orang suci. Tak sembarang orang mampu melatihnya. Setahunya, bahkan dialah satu-satunya orang yang mampu melatihnya tanpa harus menjadi orang suci. Atau pun hidup menyepi dan memutuskan semua tali nafsu. Hidup menyuci bersama alam yang hakikatnya suci juga.
“Semoga Sang Suci Abadi mengampuniku!” Sambil berdoa, ia mulai mengeluarkan ilmu Sin-Hong Sin-kang tingkatan kedelapan. Dengan pelan-pelan mengeluarkan hawa murni, ia juga mulai menggerakkan kedua tangannya. Diarapatkan dan ditarik ke belakang. Tiga daun di depan dadanya mulai berubah menjadi cokelat dan menjadi rapuh seiring sin-kang panas dari dalam tubuh Lie Yang keluar. Bahkan tiga daun itu akhirnya hancur menjadi abu karena kepanggang sin-kang panas Lie Yang. Seper-lima tenaganya sudah dikeluarkan, hingga di jitak Lie Yang menetes keringat sebesar biji kacang kedelai. Hanya dengan sekali hentakan, ia melemparkan tenaga dalam sekaligus hawa saktinya itu.
Di ujung sana terdengar teriakan menyayat hati. Hingga Kho Sa yang mempunyai pendengaran paling tajam keluar dari dalam rumah. Ia berhenti di depan pintu, ketika Lie Yang dengan pelan-pelan menghirup udara segar. Setelah Kho Sa keluar, dua adik seperguruannya; Kwee Kong dan Kim Yun Tai juga keluar. Bahkan Kwat Lin, istri Lie Yang dan tiga pembantunya pun ikut keluar.
“Bangsat, kuseset kulit kalian!” Kim Yun Tai tiba-tiba berteriak kencang. Pedang di tangannya sudah setenga dicabut dari sarungnya. Hampir ia ikut menempur lima orang berpakaian putih dengan topeng Tawon Merah. Dua diantaranya sudah mati karena kalah adu tenaga. Tiga diantaranya masih berdiri dengan pakaian tersumabr darah. Kho Sa menahan adik seperguruannya itu untuk menambah masalah.
“Biarkan Pangcu sendiri yang membereskannya. Sebaiknya kita membantu Kim-tiok-kiam Tay Hiap yang sedang terluka itu.” Sambil menahan marah, Kim Yun Tai pun mengikuti kakak seperguruannya membantu Lau Tay Hiap yang sedang pingsan. Shi Lan juga hampir mencak-mencak jika tidak dipaksa diam oleh Kwat Lin. Kwat Lin tahu betul betapa hebat ilmu Lie Yang dan tak perlu dikhuwatirkan. Malah, Kwat Lin membisiki tiga pembantunya sesuatu. “Kalian diamlah dan jangan berisik. Lihatlah, bagaimana Yang-ko menggunakan Ilmu Bi-kiam Ban-bin Kiam-sut tanpa menggunakan pedang.”
Tiga orang bertopeng merah itu menyerang Lie Yang yang masih dapat mengampuni mereka. Bahkan ia sempat mau menasehati mereka untuk menyerah dan mengaku siapa sebenarnya yang menyuruh mereka menyerang dirinya. Namun, nasehat itu dibalas dengan serangan bertubi-tubi. Serangan yang sangat kasar. Ilmu pedang yang dimainkan oleh tiga orang itu sebenarnya sudah lemah, hanya saja karena mereka menyerang bersamaan dan agak teratur, mereka dapat membuat Lie Yang sedikit kewalahan di awal penyerangan.
Ilmu Pedang Bi-kiam Ban-bin Kiam-sut sengaja dipilihnya untuk memperlihatkan kepada tiga pelayannya yang baru dididiknya, bahwa ilmu pedang yang mereka pelajari amatlah hebat. Lie Yang bahkan tak menggunakan pedang dalam pertarungan itu. Ia hanya menggunakan hawa saktinya untuk membentuk sebuah pedang kasat mata. Ilmu Sin-hong Sin-kang yang telah dikuasainya sampai tingkatan kesembilan dapat memudahkannya menggunakan sin-kang istimewa itu.
Setiap sentuhan pedang ‘tak terlihat’ itu membawa getaran yang amat kuat ke dalam hati lawannya. Getaran tak biasa inilah yang sesungguhnya sangat menyakitkan, bahkan lebih sakit dari pada akibat goresan pedang yang sebenarnya. Mereka tak mampu menghindari setiap sentuhan pedang Lie yang dengan pedang mereka sendiri. Setiap tebasan, selalu saja Lie Yang dapat menggores tubuh lawannya. Akibatnya, baju lawannya terkoyak-koyak.
Ilmu pedang yang dimainkan oleh Lie Yang tak kalah indahnya dengan apa yang dimainkan oleh Shi Lan tadi pagi. Bahkan keindahannya tak mengurangi keganasan serangannya. Setiap meluncur, pedang itu bisa saja membelok dan berubah arah kemana saja. Teorinya sangat memusingkan bagi lawan Lie Yang.
Setelah hampir 20 jurus telah dikeluarkan oleh Lie Yang. Ia ingin segera menyudahi permainannya itu. Ingin rasanya ia mengorek siapa dibalik kejadian ini. Dan siapa sebenarnya orang yang membantu mereka menyerangnya. Menurutnya, masih ada beberapa orang lagi yang masih berada di balik pohon Persik itu. Orang itulah yang membantu lima orang bertopeng itu beradu tenaga dalam lewat jarak jauh. Mungkin orang itu masih berada di sana dan sedang mengawasi dirinya disaat sedang bertempur. Orang itulah baru lawan seimbangnya.
“Bagaimana menurutmu dengan kemampuan kongcu? Apakah masih meragukanmu?” Tiba-tiba saja Shi Lan melontarkan kata-kata ke arah Kim Yun Tai yang sedang melewatinya. Kim Yun Tai langsung berhenti, sedang tubuh Lau Tay Hiap dibawa masuk oleh Kho Sa dan Kwee Kong. Sindiran itu bukan lain hanya sebuah jawaban dari keraguan Yun Tai atas kemampuan Lie Yang. Baru saja, Shi Lan mendengarnya tanpa sengaja dari obrolan Yun Tai dengan Kho Sa, dan Kwee Kong saat berada di kamar mereka.
Yun Tai diam tak menanggapi. Ia hanya bisa menikmati gerakan indah Lie Yang.
“Lihat, hanya dengan kurang lebih 20 gerakan, aku yakin kongcu akan mampu menyudahinya.” Shi Lan masih saja melanjutkan olok-olokannya. Bibirnya dimonyongkan. Betapa sinisnya Shi Lan.
“Sayang sekali, bibir seindah itu menyimpan bisa yang sangat mematikan,” Kata hati Yun Tai sambil melihat reaksi selanjutnya dari Shi Lan.
Benar saja apa yang ditebak oleh Shi Lan. Lie Yang mampu menguasai musuh-musuhnya hanya dengan 22 gerakan saja. Namun, sebelum Lie Yang mampu mengorek keterangan dari mulut tiga orang itu, mereka bunuh diri dengan menelan racun yang sudah tersimpan di dalam mulut mereka sendiri.
“Apa yang terjadi, Yang-ko?” Tanya Kwat Lin mendekat. Shi Lan dan dua pembantu lainnya pun ikut mendekat. Termasuk Yun Tai.
“Organisasi yang keji!” Kata Yun Tai sambil menatap Lie Yang. Lie Yang menunjuk ke mulut tiga mayat itu untuk menunjukkan ke istrinya. Kwat Lin langsung mengerti, apalagi setelah mendengar komentar Yun Tai.
“Ini tak bisa disalahkan. Keorganisasian mereka sungguh berbahaya. Sia-sia aku bermain dengan mereka. Bahkan gerakan mereka tak bisa kutebak. Aku tak dapat mengetahui asal perguruan atau organisasi dari mana mereka.” Lie Yang masih mencari-cari sesuatu dari lima mayat itu.
“Menurut dugaanku, mereka dikirim oleh Ang-hong-pay. Coba lihat topeng mereka bergambar apa dan warnanya,” Kwat Lin mencoba memberi sedikit kemungkinan. Namun cepat-cepat Lie Yang memotongnya.
“Sejak awal tadi aku juga menduga begitu, hanya saja ilmu yang mereka gunakan bukan seperti pasukan Merah Ang-hong-pay. Ini agak berbeda. Apakah ini termasuk pasukan khusus mereka? Kalau dilihat dari kehebatan mereka, tingkatan perorangan orang berpakain putih ini lebih hebat daripada pasukan merah Ang-hong-pay.”
“Atau mungkin saja mereka termasuk dari penasehat atau pelindung Ang-hng-pay,” Yun Tai ikut menerka-nerka.
“Bagaimana keadaan paman Lau, Kho Sa?” Tanya Lie Yang kepada Kho Sa yang baru datang.
“Paman Lau?” Kho Sa belum mengerti, bahkan yang lain pun sama.
“Maksudku Kim-tiok-kiam Tay Hiap. Kalian boleh memanggilnya Lau Tay Hiap atau dengan sebutan ‘paman’ saja. Apa lukanya parah?” Lie Yang membetulkan sekaligus memberitahu siapa yang dimaksud.
“Oh, keadaannya kurang begitu bagus. Luka dalamnya bertambah parah. Saat ini dia sedang diobati Kwee Kong setelah kuberi Pil Naga Emas lagi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi tadi, kongcu?”
“Bahaya tak akan pernah berakhir di tempat ini. Ketika aku dan paman Lau sedang berbicara serius, dari pohon Persik itu, dengan tiba-tiba kami diserang senjata rahasia. Senjata rahasia berhasil kami elakkan, namun tenaga dalam mereka membuat paman Lau terluka. Ah, ini salahku, coba aku tadi langsung menyerang mereka, mungkin ‘orang hebat’ itu bisa dimintai keterangan.”
“Maksud, kongcu, mereka menyerang selain dengan senjata tajam, juga menyerang menggunakan tenaga dalam dari jarak jauh? Dan masih ada yang berhasil lolos?” Sukar sekali Kho Sa membayangkan ada orang mampu menyerang hanya dengan menggunakan tenaga dalam jarak yang cukup jauh itu. Bahkan kalau ditanya apakah dia mampu, akan sulit menjawabnya. Apalagi orang itu berhasil melukai organ dalam Lau Tay Hiap. Sungguh sukar untuk membayangkannya.
Lie Yang hanya bisa menganggukkan kepala. Sebaliknya, mereka yang mendengarkannya menggelengkan kepala. “Lalu dengan senjata rahasia apa mereka menyerang, aku tak melihat ada senjata rahasia di sini. Apakah dengan jarum, seperti halnya kemarin itu?” Kali ini Yun Tai menggantikan Kho Sa bertanya.
“Dengan ini,” Lie Yang mengeluarkan daun Persik yang masih sempat dipegangnya. Daun Persik di tangannya tinggal satu. Lainnya dibuat untuk menotok lawannya ketika bertarung tadi.
“Tak mungkin!” Jawab Yun Tai. Ia benar-benar tak bisa memikirkan, bagaimana mungkin daun yang masih basah bisa digunakan untuk menyerang. Tiba-tiba Lie Yang menggerakkan tangannya dan daun itu melayang jauh. Daun Persik itu menancap di tiang kayu rumah. Hampir setengahnya.
“Bagi mereka yang sudah mempunyai kemampuan hebat, bukan tak mungkin hanya dengan daun saja bisa memenggal kepala orang. Bahkan mungkin bisa merobohkan ruma sekalipun.”
“Sekarang aku mempercayainya,” Yun Tai malu dengan perkataannya tadi. Ia merasa bahwa kemampuannya belum apa-apa. Apakah aku bisa mempunyai kemampuan seperti itu, tiba-tiba terpikirkan olehnya angan-angan itu.
“He… he… he… benar omongan itu. Aku tambahi keterangannya ya. Bahkan ada yang memakainya untuk mencopoti pakaian mangsanya.” Tiba-tiba ada suara menggema. Baru saja suara itu selesai, Lie Yang sudah melecit, melemparkan tubuhnya ke pohon Persik. Di dalam pohon Persik yang sangat rindang itu, Lie Yang dan orang yang mengirimkan suaranya itu bertarung dengan sengit.
“Jangan serang aku, dasar anak jadah!” Orang itu memaki-maki sambil menghindari pukulan Lie Yang. “Aku bukan orang-orang busuk itu. Aku ini anak Ibu, oh ibu!”
Bu-tek Siauw-sin-tong Saudara Lie Yang
Dan orang itu keluar dari dalam pohon Persik dengan tersengal-sengal akibat rentetan pukulan Lie Yang. Orang itu turun setelah bersalto di udara seperti burung, ringan sekali. Di punggungnya ada tubuh laki-laki tanpa baju. Tubuh bertelanjang dada itu dilemparkan begitu saja.
“Bukkkkkk!!!” Suaranya terdengar keras ketika tubuh itu menyentuh tanah. Tak ada suara aduan atau rintihan terdengar dari dalam mulut tubuh itu.
“Ahhhh….!!! Ih…..hh..!!” Kwat Lin dan tiga pelayannya menjerit karena melihat tubuh bertelanjang itu.
“Sial, gara-gara tubuh berat ini, aku kewalahan menghadapinya. Dasar anak bajingan! Oh ibu, anak itu kurang ajar benar!” Laki-laki cebol itu masih mengutuki Lie Yang. Ia mengumpat-umpat sambil berjingkrak-jingkrak gak karuan.
“Bu-tek Siauw-sin-tong?!!!” Teriak Kim Yun Tai hampir tak percaya. Bocah cebol itu memang bukan lain Bu-tek Siauw-sin-tong yang pernah membantu Kho Sa, Kwee Kong dan Kim Yun Tai di dalam hutan kemarin.
Bu-tek Siauw-sin-tong menengok agak terkejut.
“Oh ibu, ada yang mengenal namaku. Hahaha…. ternyata kalian, anak muda. Kita akhirnya bertemu kembali. He…he…” Bu-tek Siauw-sin-tong menyeringai.
“Cianpwee maafkan kami yang tak menyambut kedatanganmu dan salah paham terhdapmu,” Kho Sa cepat-cepat minta maaf atas kesalah-pahaman Lie Yang.
“Sudahlah, memandang rupa kalian berdua, aku maafkan kesalahan ini. Oh ibu, padahal Bu-tek Siauw-sin-tong kesini untuk membantu!” Katanya sambil berputar-putar mengitari Kho Sa dan Kim Yun Tai.
“Empat gadis itu kenapa pergi, apa yang mereka takutkan? Oh ibu, mereka takut terhadap Bu-tek Siauw-sin-tong!” Ia menyambung kembali omongnya sambil menghentak-hentakkan kaki kirinya seperti anak kecil.
Di bawah pohon Persik, Kwat Lin dan tiga pembantunya mengutuki perilaku Bu-tek Siauw-sin-tong. “Dasar orang gila, datang-datang buat masalah!” Kata Shi Lan tak henti-hentinya ikut mencerocos.
“Hujin (Nyonya), kemana perginya kongcu? Sepertinya di atas tak ada,” Shi Lan mencari-cari bayangan Lie Yang. Namun tak ada.
“Aku juga gak tahu,” Jawab Kwat Lin, bingung. “Yang-ko! Dimana engkau? Yang-koooooo!!!”
Kwat Lin berteriak-teriak. Shi Lan dan dua pelayan lainnya juga ikut memanggil.
“Kongcu!!!”
“Kongcu, dimana engaku?”
“Eihhh… jangan teriak-teriak begitu! Membuat telingaku tak nyaman tahu. Engkau cari-cari tak akan ketemu. Pemuda sialan tadi dibawa malaikat maut!” Teriak Bu-tek Siauw-sin-tong kencang.
“Apa???” Teriak Kwat Lin menghambur ke arah Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Apa kau bilang? Coba ketakan sekali lagi, kubeset mulutmu. Dasar kerdil udik!” Maki Kwat Lin.
“Hmmm… dibilangin dia pergi sama malaikat maut. Malaikat itu serba putih. Pakaian putih, wajah putih seperti awan yang cerah dan jenggotnya sangat panjang berwarna putih. Ia pergi dengannya entah kemana?” Jawab Bu-tek Siauw-sin-tong setengah berteriak.
Mendengar itu, dua mata Kwat Lin berputar. “Mungkinkah ia pergi bersama Orang Tua Suci atau buyut Giok?”
“Eih… kenapa engkau diam. Apa engkau tahu siapa malaikat itu?” Bu-tek Siauw-sin-tong mendekat sambil mengamat-ngamati wajah Kwat Lin.
“Sebenarnya siapakah malaikat maut yang cianpwee maksudkan itu?” Kho Sa bertanya, tak mengerti.
“Aku juga tidak tahu. Ilmu peringan tubuhnya luar biasa hebatnya. Sebanding dengan guruku. Sayang aku punya tujuan khusus ke sini, kalau tidak pasti aku akan membuntutinya. Ke liang lahat pun akan kukejar. Hehehhe..”
“Apa tujuanmu ke sini, apa hanya membawa masalah? Apa kalian berdua mengenal orang sinting ini?” Kwat Lin sudah tak mencemaskan lagi Lie Yang. Menurutnya, hanya salah satu dari Orang Tua Suci atau buyut Giok yang bisa mengajak Lie Yang pergi. Atau musuh?
“Apa hujin bisa menebak siapa orang itu?” Kho Sa bertanya sambil mendekati nyonya muda itu.
“Hanya beberapa orang yang mampu membangkitkan selera Yang-ko untuk pergi. Mungkin…” Ucapan Kwat Lin terputus. Ekor matanya meirik ke arah Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Hmmm dasar!” Dengus kesal Bu-tek Siauw-sin-tong. Ia merasa sedang diawasi.
“Katakan dulu apa tujuanmu kemari? Sehingga aku bisa mempertimbangkan jawaban itu bisa kuucapkan apa tidak,” Kata Kwat Lin dengan nada meninggi. Kegalakannya mulai muncul lagi.
“Kutu busuk!” Bu-tek Siauw-sin-tong mendengus sekali lagi. Memaki-maki tak karuan arahnya. “Aku mencari orang yang berhasil menguasai ilmu Sin-hong Sin-kang tingkatan kesembilan. Apa engkau tahu siapa dia?”
“Kenapa engkau mencari orang yang berhasil menyakinkan ilmu rahasia itu?” Kwat Lin masih bertanya. Nadanya bertambah kasar.
“Yeeee… berarti engkau tahu siapa orangnya. Horeee… akhirnya aku menemukannya. Anak baik. Anak cantik. Coba katakan kepada Bu-tek Siauw-sin-tong siapa dia?” Bu-tek Siauw-sin-tong meloncat-loncat seperti anak kecil. Ia mengitari tubuh Kwat Lin. Kwat Lin melototkan dua matanya.
“Dasar laki-laki cebol! Tadi memaki-maki, sekarang merayu-rayu. Tak akan kukatakan siapa orangnya, sebelum engkau mencium kakiku untuk minta maaf.”
Bu-tek Siauw-sin-tong berhenti berputar. Dua matanya berputaran. Dua tangannya ditaruh dipinggang. Lalu berjalan pelan sambil mengangkat tangan kananya ke kepala. Tangan kanannya itu digebukkan ke batok kepalanya berkali-kali.
“Baik! Aku akan meminta maaf kepadamu.” Jawabnya akhirnya. Ia meloncat ke depan Kwat Lin. Tiga pelayan Kwat Lin sudah siap untuk menerjang Bu-tek Siauw-sin-tong kalau bermain licik. Bahkan diam-diam Kho Sa dan Kim Yun Tai pun sudah sia-siap.
Namun, ketika Bu-tek Siauw-sin-tong sudah bersujud di depan Kwat Lin sambil benar-benar mencium kedua kaki Kwat Lin. Hati mereka dihinggapi rasa kasian terhadap Bocah Ajaib itu.
“Seandainya aku tak berjanji kepada guruku. Aku tak bakalan merendahkan diriku seperti ini. Bagaimana pun kecilnya bentuk tubuhku, aku tetap laki-laki sejati!” Kwat Lin merasa kasian terhadap Bu-tek Siauw-sin-tong. Ia merasa sudah keterlaluan terhadap orang tua yang berwajah kekanak-kanakan itu. Tiba-tiba ia ingin menaksir berapa umur sebenarnya Bu-tek Siauw-sin-tong. Mungkin sudah seumuran ayahnya atau paman-pamannya seandainya ia punya paman.
“Sungguh keterlaluan engkau, istriku. Tak seharusnya engkau seperti itu terhadap orang tua.” Tiba-tiba ada suara dari jauh menegur perilaku Kwat Lin.
Semua orang menoleh ke arah Lie Yang. Ia muncul dari pintu luar. Wajahnya terlihat begitu aneh. Baisanya wajahnya selalu dihiasi senyum atau datar tak ada ekspresi. Namun kali ini, wajah itu terasa beku. Ada garis-garis kesedihan di wajahnya. Ia berjalan sambil menggendong kedua tangannya di belakang. Ia berjalan sangat pelan. Seperti orang pemalas.
Ditegur seperti itu, Kwat Lin menunduk malu. “Hmmm… sudahlah. Sebaiknya engkau meminta maaf kepada cianpwee. Cianpwee aku juga berlaku salah terhadapmu. Membuatmu marah dan kesal lantaran langsung menyerangmu tanpa bertanya lagi. Aku dan istriku mohon maaf kepadamu.”
“Cianpwee semoga sudi memaafkan kongcu dan hujin!” Kho Sa juga memintakan maaf. Ia memahami karakter Lie Yang. Pasti ada sesuatu yang khusus terhadap Bu-tek Siauw-sin-tong sehingga Lie Yang sampai seperti itu. Apalagi Lie Yang tak hanya berucap. Ia juga menekuk kedua kakinya sampai ke tanah.
Bu-tek Siauw-sin-tong bangun dari sujudnya di hadapan Kwat Lin. Kwat Lin akhirnya ikut bersimpuh seperti suaminya.
“Aku akan memafkanmu, kalau engkau mau menyebutkan siapa orang itu? Jangan katakan engkau mempermainkanku. Aku tak akan memafkanmu.” Bu-tek Siauw-sin-tong akhirnya buka mulut. Dua tangannya dirapatkan di depan dadanya. Ia bersendekap sambil mengalihkan pandnagannya ke langit. Sangat sombong sekali gayanya.
“Kenapa cianpwee mencariku?” Lie Yang bertanya dan membuat kaget Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Engkau? Maksudnya engkau yang telah berhasil menyakinkan ilmu suci itu? Ah, tak mungkin. Jangan bergurau engkau, anak muda.” Bu-tek Siauw-sin-tong tak percaya.
“Cianpwee boleh mencobanya,”
“Baik!” Teriak Bu-tek Siauw-sin-tong cepat. Dan dia sudah mengangkat dua tangannya ke atas. “Jangan salahkan aku, anak muda jika engkau terluka.”
“Silahkan, cianpwee!”
Bu-tek Siauw-sin-tong berputar dengan gerakan sangat sukar dilihat pandnagan mata. Ia tak sekedar berputar, memutari tubuh Lie Yang. Ia juga mencercah tubuh Lie Yang dengan pukulan berantai. Pukulan itu terus meluncur dengan kekuatan berton-ton besi beratnya. Sekali hantam, pohon sebesar perut kerbau pasti tumbang. Bahkan jika dihantamkan ke batu sebesar kerbau bunting pun akan tercerai-berai.
Namun, ia tak mampu menyentuh tubuh Lie Yang. Kali ini, Lie Yang mengeluarkan tenaga hampir setengahnya dari dalam tubuhnya. Ia mengeluarkan dua ilmus ekaligus. Sungguh berat baginya. Ilmu Sin-hong Sin-kang tingkatan kedelapan dan kesembilan. Hawa panas dan dingin bergantian memantul dari dalam tubuhnya. Dan hawa sakti Bu-tek Siauw-sin-tong melorot pelan-pelan ke tubuhnya. Bahkan hawa sakti itu malah digunakannnya untuk memperisai dirinya. Hawa sakti Bu-tek Siauw-sin-tong diubahnya sebagai perisai dengan menggunakan ilmu barunya Jit-goat Hoat-lek Sin-kang. Tubuhnya berkeringat.
Semua orang yang memandang kejadian ini terbelalak kedua matanya. Shi Lan tak kuasa menutup mulutnya. Ia ingin menjerit melihat hal aneh itu. Ia tak melihat tubuh Bu-tek Siauw-sin-tong. Ia hanya melihat ada berderetan cahaya mengitari tubuh Lie Yang. Hanya Kho Sa dan Kwat Lin yang mampu melihat dengan jelas gerakan Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Ilmu setan apakah yang digunakan Bu-tek Siauw-sin-tong itu, hujian? Dan juga ilmu apa yang digunakan oleh kongcu itu?” Shi Lan akhirnya bertanya ke Kwat Lin yang amsih duduk. Ia tak akan bangun sebelum suaminya bangun.
“Itulah ilmu Sin-hong Sin-kang tingkatan paling sempurna. Entahlah kalau Bu-tek Siauw-sin-tong. Itu seperti ilmu Sin-hong Sin-kang juga, cuma berbeda. Entahlah.” Jawaban Kwat Lin sangat sederhana. Begitu juga dengan Shi Lan, Yun Tai juga tak sanggup untuk tak bertanya kepada Kho Sa.
“Benarkah itu ilmu Sin-hong Sin-kang tingkatan akhir, suheng?”
“Benar. Itu dia. Karakternya bisa menyerap sinkang lawan. Itulah Kim-liong Bu-hong-kun (Pukulan Tanpa Angin Naga Emas). Namun, hakikat ilmu itu sebenarnya belum keluar. Pukulannya belum dikeluarkan. Itu baru hawanya yang keluar, sehingga membuat lawan sepertinya kehilangan tenaga dan hawa saktinya. Semakin lawan mengeluarkan tenaga dan menyerang, ia akan semakin melemah, sedangkan yang pangcu akan semakin kuat. Setelah tenaga dan hawa sakti lawan tersedot habis, tenaga dan hawa sakti curian itu akan membalik menyerang pemiliknya sendiri. Di saat itulah pukulan tak berwujud mengalir. Menurut suhu, hawa pukulan itu ketika membalik akan mengantarkan hawa listrik. Memasuki badan lawan dan menjadikan tubuh lawan setengah hangus dan beku.” Kho Sa menjawabnya sambil tak henti-hentinya melirik wajah Lie Yang.
“Gila!” Ucap Yun Tai hampir tak percaya ada ilmu macam itu.
“Apa engkau bisa melihat gerakan Bu-tek Siauw-sin-tong?” Tanya Kho Sa kepada adik seperguruannya.
“Tidak dapat. Namun aku bisa melihat cahaya dan debu yang berputaran itu.”
“Coba engkau konsentrasikan pikiranmu. Engkau pusatkan semuanya ke pendengaranmu, setelah mendengar gerakan Bu-tek Siauw-sin-tong. Engkau alihkan ke matamu. Pusatkan semuanya ke kedua matamu.”
Kim Yun Tai mengikuti saran kakak seerguruannya. Ketika akhirnya ia mampu melihat gerakan Bu-tek Siauw-sin-tong. Hatinya bersorak gembira. Ia melihat sosok Bu-tek Siauw-sin-tong memukul terus-menerus tubuh Lie Yang. Bahkan ia mampu melihat aura kekuning-kuningan yang melindungi tubuh Lie Yang.
“Itu ilmu apa yang melindungi tubuh pangcu dari serangan bertubi-tubi Bu-tek Siauw-sin-tong?” Tanya lagi Kim Yun Tai kepada kakak seperguruannya.
“Engkau bisa melihatnya?”
Kim Yun Tai menjawab dengan anggukan kepala. Sedangkan Kho Sa menjawab dengan gelengan kepala. “Suheng, ilmu apakah yang dipakai oleh Bu-tek Siauw-sin-tong itu?”
Sekali lagi Kho Sa menggelengkan kepalanya dnegan terpaksa. Ia sendiri terheran-heran melihat gerakan super-cepat itu. Apalagi aura yang terpancar dari dalam tubuh Lie Yang. Tak pernah ia mendengar suhunya menceritakan ada ilmu seperti itu.
Di gelanggang pertempuran. Bu-tek Siauw-sin-tong semakin melemah serangannya. Sedangkan wajah Lie Yang sudah berubah kekuning-kuningan setelah melewati warna merah. Akhirnya Bu-tek Siauw-sin-tong menyerah dengan ambruk di tanah. Tubuhnya banjir pelu. Bajunya basah. Dadanya terasa panas hampir meledak. Suara tarikan nafasnya sungguh menakutkan.
“Oh ibu, apakah aku akan mati? Benar-benar ilmu tak ada tandingannya. Benar kata suhu, kalau ilmu ini mirip ilmu dedemit.” Nafasnya tak teratur.
Lie Yang membuka matanya. Baru saja dua matanya dibuka, ia tiba-tiba melambung tinggi. Badannya kali ini sudah terisi dengan hawa sakti. Badannya seperti balon yang terlalu banyak menyimpan udara, kapan saja bisa meledak.
“Cianpwee, buka semua titik nadi tubuhmu. Akan kukembalikan apa yang telah kupinjam.” Teriak Lie Yang sambil mengambang di udara. Layaknya burung.
Dengan gerakan masih cepat. Bu-tek Siauw-sin-tong mulai duduk bersila. Semua nadinya hampir seluruhnya terbuka. Ia sudah paham apa yang akan dilakukan oleh Lie Yang. Setelah masa di bawa alam sadar. Lie Yang langsung menukik ke bawah dan dengan tangan kanannya ia mengalirkan seluruh hawa sakti itu ke tubuh Bu-tek Siauw-sin-tong lewat kepalanya. Lie Yang berjungkir balik di atas kepala Bu-tek Siauw-sin-tong.
Proses pengembalian hawa sakti yang tersedot oleh Lie Yang sangat unik. Setelah melakukan proses pengembalian sekitar setengah jam. Lie Yang melempar tubuhnya ke udara lagi. Ia melakukan proses pengembalian terakhir sambil membantu membuka beberapa titik nadi yang tersumbat di dalam badan Bu-tek Siauw-sin-tong. Dan dengan sebuah pukulan halus di pundak Bu-tek Siauw-sin-tong ia berhasil membukanya.
Setelah semua proses selesai. Lie Yang bersalto di udara kembali dan akhirnya hinggap di atas tanah. Mukanya agak pucat. Sedangkan wajah Bu-tek Siauw-sin-tong terlihat sedikit bercahaya. Matanya terpejam. Seperti orang yang sedang tidur nyenyak.
“Apa Yang-ko baik-baik saja?” Tanya Kwat Lin kuatir ketika melihat wajah pucat suaminya.
“Tak apa-apa, istriku.” Jawabnya singkat. Ia lalu tersenyum.
“Orang Tua Cebol itu kenapa, Yang-ko?” Tanya Kwat Lin. Dari dalam nadanya terlihat masih tak senang dengan Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Apakah engkau masih marah terhadap cianpwee itu, istriku?” Lie Yang tersenyum. Tangan kanannya membelai rambut Kwat Lin.
“Aku hanya kesal saja dengannya. Habis ia menjengkelkan.”
Lie Yang tertawa mendengar jawaban istrinya itu. “Sudahlah. Orang tua itu memang gayanya seperti itu. Lihat, bagaimana ia telah menjadi kupu-kupu indah setelah merasakan menjadi kepompong.”
“Apa yang sedang dilakukannya itu sebenarnya?”
“Saat ini ia sedang menyempurnakan ilmunya. Menurutku, hanya dengan ilmu Sin-hong Sin-kang dua titik nadinya baru bisa dibuka. Dan dengan terbukanya dua titik nadi penting ini, ia akan dapat menyempurnakan ilmu pukulan saktinya itu.”
“Jadi, ia mencari Yang-ko hanya untuk meminta bantuan membukakan dua titik nadi itu?” Tanya kembali Kwat Lin.
“Ya. Kurang lebih itu dugaanku. Ilmu yang digunakannya masih sealiran dengan perguruan Kim-ling-pay. Makanya, setiap ilmu baru bisa sempurna hanya dengan berhubungan dengan ilmu lainnya. Penyempurna ilmu-ilmu itu ada pada ilmu lainnya.”
“Ouhhh!!!”
“Horeeeee… aku telah menguasainya. Hehhehe… terima kasih, Yang-ko!” Tiba-tiba Bu-tek Siauw-sin-tong berteriak kencang. Tubuhnya meluncur ke atas seperti anak panah. Setelah kakinya menginjak tanah, ia menari-nari tak karuan.
“Eittt… engkau memanggil aku apa tadi?” Tanya Lie Yang juga gembira.
“Yang-ko. Kenapa? Apa tak boleh?” Bu-tek Siauw-sin-tong berhenti menari. Tiba-tiba ia menjadi serius.
“Cianpwee, apa kata orang kalau engkau memanggilku seperti itu. Mana ada aturan di dunia ini, seorang kakak lebih muda dari adiknya puluhan tahun. Sekarang umur cianpwee berapa?”
Bu-tek Siauw-sin-tong menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Lalu dengan jari-jemarinya yang kecil-kecil ia mencoba menghitung. “Tak betul… tak betul… 40… juga tak betul… berapa ya?”
“Berapa cianpwee?” Kwat Lin ikut geli melihat tingkah laku Bu-tek Siauw-sin-tong. Ia bertanya lagi untuk membingungkannya. “Sepertinya umur Bu-tek Siauw-sin-tong baru 10 tahun.”
Semua orang tertawa geli mendengar ucapan Kwat Lin.
“Entahlah! Aku lupa dengan umurku. Anggap saja baru 10 tahun. Kalau begitu aku masih ingin minum susu. Hahahhahah….” Bu-tek Siauw-sin-tong tertawa terpingkal-pingkal. Tak karuan Lie Yang juga ikut tertawa.
“Bagaimana kalau kita mengangkat menjadi saudara angkat saja. Aku mau kita belima menjadi saudara angkat. Bagaimana?” Tiba-tiba Bu-tek Siauw-sin-tong menjadi orang yang sangat cerdas. Kebodohannya hilang. Begitu juga kebandelannya. Ia menunjuk Kho Sa dan Kim Yun Tai.
“Itu baik sekali. Baik. Aku menyetujuinya. Bagaimana denganmu Kho Sa dan Yun Tai?” Lie Yang menerima usul baik Bu-tek Siauw-sin-tong. Bu-tek Siauw-sin-tong tampak nyengar-nyengir.
“Awas kalian kalau tak mau. Aku potong rambut kalian biar jadi biksu sekalian.” Teriak Bu-tek Siauw-sin-tong ngawur.
“Terserah kongcu saja,”
“Kemana anak muda yang agak gendut yang bersama kalian itu?” Bu-tek Siauw-sin-tong bertanya kepada Kho Sa dan Yun Tai.
“Maksud cianpwee Kwee Kong?”
“Ya, Kwee Kong. Kita akan melakukan upacaranya sekarang juga. Aku tidak mau menunggu lama-lama. Menunggu itu sangat membosankan.”
“Dia sedang mengobati Kim-tiok-kiam Tay Hiap.” Jawab Lie Yang cepat.
“Kim-tiok-kiam? Sejak kapan bajingan tengik itu menjadi Tay Hiap (Pendekar). Tay Hiap kentut busuk. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Aku paling suka menginjak-nginjak kepalanya. Hahhah….”
“Cianpwee mengenalnya?” Kho Sa mencoba menebak-nebak apa hubungan orang cebol ini dengan raja pedang itu dahulu.
“Kami bermusuhan. Sering aku mengejeknya karena tak pernah mampu menyentuh bajuku. Sebaliknya aku selalu berhasil menjetak kepalanya. Pedang cacingnya itu masih dibawanya kan? Eh tunggu, engkau bilang dia sakit tadi? Apa benar?” Bu-tek Siauw-sin-tong berjingkrak-jingkrak senang. Orang tua cebol ini selalu bergerak. Tak pernah berhenti walaupun sejenak.
“Paman Lau habis bertarung dengan Pek-sianli.”
“Pek-sianli? Ya, ya, itu adalah dendam belasan tahun yang lalu. Ayahnya yang bernama Lau Ren See dan keluarganya dibantai oleh beberapa orang misterius. Semua pusaka dan kitab silat perguruannya raib beserta rumahnya. Rumahnya beserta isinya termasuk puluhan muridnya terbakar habis. Waktu itu, Lau Sin Ban, nama kecil Kim-liok-kiam dan Lau Sam Poe, kakeknya sedang berada di luar. Sebulan setelah musibah itu, Lau Sam Poe baru pulang dan baru saja mengetahui tentang keluarganya. Sejak itu, Lau yang masih muda dikirim ke Thaisan-pay untuk berguru di sana. Sedangkan kakeknya mengembara mencari siapa pelaku pembunuh keluarganya. Belakangan diketahui, bahwa salah satu pembunuhnya adalah Pek-sianli. Namun Pek-sianli hanyalah nama. Tak seorang pun pernah melihat bagaimana wujudnya.” Mungkin ini pembicaraan pertama Orang Tua Cebol itu. Semuanya mendengarkan tanpa berkedip. Sungguh teragis hidup Lau Tay Hiap.
“Padahal, ayahanya Lau Ren See, siapa yang tak menegnalnya. Kemampuannya memainkan pedang lebih hebat dari pada Cianbujin Thaisan-pay. Nama pengelananya dulu adalah Lau Zang Ming. Orang-orang kang-ouw barangkali cuma dapat mengingat nama itu. Konon, menurut cerita yang tersebar. Nama Zang Ming adalah nama saudara kembar Lau Ren See. Sosok saudara kembarnya itulah yang menjadi inspiratif perjalanan hidup Lau Ren See. Dan nama itu diharumkan oleh Lau Ren See.”
“Lalu bagaimana ceritanya, sampai Paman Lau terkenal sebagai pembantai paling sadis orang-orang kang-ouw?” Lie Yang ingin menggali pengetahuan Orang Tua Cebol di depannya itu. Sambil berjongkok, Orang Tua Cebol itu meneruskan ceritanya.
“Itu karena percintaannya dengan putri Cianbujin Taishan-pay. Setahuku, ini bermula atas kekecewaan Kim-liok-kiam terhadap gurunya sendiri, cianbujin Taishan-pay. Kata orang-orang, gurunya memancing Kim-tiok-kiam untuk mengeluarkan ilmu rahasia pedang keluarganya kepada putri gurunya itu. Karena kecewa atas cinta palsu putri gurunya. Ia mengajak duel gurunya sendiri untuk memperlihatkan secara terus terang ilmu keluarganya. Dan dalam duel antara guru-murid itulah cianbujin Taishan-pay terpenggal kepalanya. Sejak itu, Kim-tiok-kiam menjadi kutukan bagi setiap orang. Semua pendekar ingin membalaskan dendam atas kematian Cianbujin Taishan-pay. Dan pertarungan satu orang melawan ratusan orang pun tak terelakkan lagi. Dalam pertempuran dahsyat itulah Kim-tiok-kiam berhasil memenggal ratusan pendekar. Tiba-tiba saja namanya menjadi setan diantara setiap orang. Banyak pendekar yang merasa penasaran terhadap ilmu pedang keluarga Lau. Di sisi lain, orang-orang merasa ngeri dan ketakutan hanya lantaran mendengar namanya disebut. Saat ini dia muncul kembali setelah belasan tahun menghilang.” Orang Tua Cebol itu mengakhiri ceritanya dengan desahan berat.
Ceritu tentang Lau Tay Hiap sebenarnya sudah pernah didengar Lie Yang langsung dari kakek Lau sendiri. Ia ikut mendengarkan hanya untuk menghormati Orang Tua Cebol itu.
Setelah mengakhiri kisahnya itu. Bu-tek Siauw-sin-tong mengajak Lie Yang, Kho Sa dan Kim Yun Tai untuk melakukan ritual pengangkatan saudara angkat. Mereka termasuk juga menyebut nama Kwee Kong dalam ritual itu. Bu-tek Siauw-sin-tong menjadi saudara angkat tertua pertama, Lie Yang; kedua, Kho Sa; ketiga, Kwee Kong; keempat, dan Kim Yun Tai; kelima.
<><><><><>()<><><><><>
Perintah Rahasia Pangcu Kim-liong-pay
“Ko…!!!” Lie Yang, Kho Sa dan Kim Yun Tai memanggil Bu-tek Siauw-sin-tong dengan panggilan ‘kakak’ berbarengan. Mereka memberi selamat satu sama lainnya.
“Twa-ko, sejak tadi kami belum mengetahui nama aslimu. Bolehkah kami mengetahuinya?” Lie Yang berkata sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada.
“Hehehe… sebenarnya aku ingin menyembunyikan nama keluargaku. Sudah sejak ratusan tahun keluargaku tak pernah ikut campur masalah dunia kang-ouw. Mungkin tak akan pernah ada yang mengingatnya. Nama kecilku adalah Siuw Li bermarga The.” Bu-tek Siauw-sin-tong akhirnya mau menyebut namanya sendiri. Ketika menyebut nama keluarganya, dari nada suaranya sepertinya ada rasa bangga tersendiri baginya.
Semua manggut-manggut puas. Namun bagi Lie Yang, nama keluarga itu sepertinya agak familiar di telinganya. Tiba-tiba ia dapat mengingat sesuatu. Waktu masih kecil dulu ia pernah membaca sebuah catatan. Catatan itu berisi tentang silsilah keluarganya dan perguruan Kim-liong-pay. Tiba-tiba ada sesuatu yang menusuk-nusuk dadanya.
“Ada apa denganmu, Yang-te? Kenapa engkau diam saja.” Bu-tek Siauw-sin-tong menegur Lie Yang.
“Entahlah. Tiba-tiba aku jadi ingat buyut Giok Kong. Sebenarnya ada kabar tak enak berhubungan dengan buyut Giok Kong,” Lie Yang merasa tak enak untuk mengatakannya.
“Engkau memanggil Orang Tua Suci itu buyut, berarti engkau… ayaaaaa… betapa goblognya diriku ini. Hahahaha… aku senang sekali dapat menjadi saudara angkatmu, Yang-te. Ternyata engkaulah yang sering disebut guruku itu. Engkaulah keturunan terakhir keluarga Giok. Hahhah…” Bu-tek Siauw-sin-tong menari-nari lagi. Ia berputar-putar mengitari Lie Yang dan Kwat Lin.
“Yang-ko, tadi katanya ada kabar tak enak tentang buyut Giok Kong. Sebenarnya kabar apakah itu?” Kwat Lin menanyakan sesuatu yang tak dipikirkan oleh orang lain.
“Baru saja salah satu Orang Tua Suci Bu-eng-hu memberi kabar kalau buyut Giok Kong tel… ah… meni… nggal.”
Mendengar itu, Bu-tek Siauw-sin-tong segera berhenti mengitari Lie Yang. Tiba-tiba saja hawa pagi menjadi terasa begitu dingin. Hawa itu sangat menyesakkan dada. Lie Yang dilanda kesedihan untuk kedua kalinya. Dalam dua minggu ini, ada banyak orang yang disayang meninggalkannya. Kwat Lin juga merasakan sangat sedih. Ia ingat dua hari kemarin ketika kakek yang sudah sangat tua itu mengajarinya teori ilmu silat. Kakek tua itu kerap bercerita banyak tentang para pendekar dahulu.
Lie Yang kali ini benar-benar tak bisa menahan untuk tak meneteskan air mata. Sejak tadi ia sudah menahan air mata itu. Ia merasa bersala terhadap orang tua renta itu. Seandainya malam kemarin orang tua itu tak menyalurkan delapan puluh persen tenaga dalamnya. Mungkin orang tua itu tak akan meninggal secepat itu.
Ia ingat betul betapa kakek tua itu memberi pesan terakhirnya. “Sebaiknya engkau pindah dari rumah ini untuk sementara waktu. Tinggallah di Perkampungan Naga Emas dan dirikan kembali Kim-liong-pay untuk membasmi segala kemungkaran dan ketidak-adilan. Ketentraman dunia kang-ouw tergantung pada tiang-tiang Kim-liong-pay. Setelah aku tak bisa memberi bimbingan lagi. Akan ada Orang-Orang Tua Suci lainnya yang menggantikan tempatku. Jangan disesalkan apa yang telah terjadi. Kematian adalah awal kehidupan selanjutnya, cicitku….”
“Guru pasti sedih mendengar kabar ini. Seandainya tak ada Manusia Setengah Dewa itu, mungkin keluarga The tak bakalan ada. Aku kira engkau sudah tahu hubungan antara keluarga The dengan Giok Kong, Yang-te?” Bu-tek Siauw-sin-tong juga agak merasa terpukul. Biasanya ia selalu cerah. Kali ini matanya juga sembab.
“Istri buyut Giok Kong berasal dari keluarga The. Dan keluarga The secara turun-temurun telah menjadi penasehat Kim-liong-pay. The Kim Bwee nama istri buyut Giok Kong.”
Bu-tek Siauw-sin-tong manggut-manggut puas. Ia puas dengan pengetahuan silsilah keluarga yang diketahui oleh Lie Yang.
“Aku masih tak mengerti. Siapa sebenarnya pasukan putih itu. Diantara mereka bahkan ada yang bisa berbahasa Persia. Kalau dugaanku benar, mereka adalah sebuah partai rahasia yang bersekongkol dengan Ang-hong-pay. Tujuan utama mereka mencari Giok-ceng. Untuk apakah Giok-ceng bagi mereka sebenarnya?”
Tiba-tiba Lie Yang mencoba mengalihkan ke pembicaraan lainnya. Ia tak ingin kesedihan ini berlarut-larut menghantuinya. Ia masih mempunyai banyak urusan dan janji terhadap buyutnya yang belum terselesaikan. Ia tak mau buyutnya mengutukinya di alam baka.
“Ohooo, kita lupa dengan ‘tubuh setengah telanjang itu’? Aku kira kita bisa mendapatkan petunjuk di sana.” Bu-tek Siauw-sin-tong tiba-tiba melengak. Orang Tua Cebol yang sering pura-pura bodoh ini sebenarnya sangat cerdik dan jenius.
Semua orang menengok ke arah tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Kecuali para perempuan, Bu-tek Siauw-sin-tong, Lie Yang, Kho Sa dan Yun Tai mendekatinya. Bu-tek Siauw-sin-tong membalikkan tubuh itu yang tengkurap.
“Lihatlah, kira-kira itu tato apaan? Apakah itu bukan sebuah petunjuk,” Bu-tek Siauw-sin-tong menunjuk ke arah dada mayat yang bertato itu. Di dadanya itu ada sebuah gambar api menyala-nyala. Api itu berada dalam tungku yang sangat aneh. Api menyala itu dilihat sepintas seperti berbantuk gambar seekor burung.
“Burung api, kira-kira seperti itu gambarnya,” Kata Lie Yang.
“Tidak, seperti api di dalam tungku yang sedang menyala-nyala,” Kata Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Api itu seperti lidah naga,” Ucap Yun Tai.
“Aku melihatnya seperti burung, seperti apa yang dikatakan Yang-ko.” Kho Sa sepakat dengan Lie Yang.
“Apapun itu, kita belum tahu apa makna dibalik tato itu. Aku juga tak pernah tahu ada satu perguruan pun yang mempunyai lambang seperti itu. Biarkan kita cari sumbernya nanti. Sebaiknya kita beristirahat. Masih banyak lagi yang perlu kita bicarakan. Mari masuk ke dalam rumah.” Lie Yang mengajak saudara-saudaranya untuk masuk.
“Bagaimana dengan mayat ini, apakah akan dibiarkan begitu saja.” Kim Yun Tai bertanya. Ia merasa kasihan dengan mayat itu.
“Siapa suruh bunuh diri dengan meminum racun. Biarkan saja membusuk di situ tanpa kuburan. Hahaha…” Bu-tek Siauw-sin-tong sudah ngeluyur masuk.
“Adik ipar, apakah engkau punya makanan, aku lapar!” Bu-tek Siauw-sin-tong berteriak dari dalam rumah. Kwat Lin hanya menggerutu di dalam hati. Ia dan tiga pelayannya sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
“Shi Lan, tolong panggilkan paman Chi di belakang.” Lie Yang berteriak meminta.
“Baik kongcu!” Jawab Shi Lan dari dalam.
“Biarkan paman Chi yang menguburkannya. Sebaiknya kita beristirahat.” Ajak Lie Yang kepada dua saudara angkatnya.
Ketika Lie Yang baru masuk. Paman Chi tergopoh-gopoh menemuinya. Bajunya basah karena keringat. “Bagaimana paman Chi, apakah sudah ada kemajuan?” Tanya Lie Yang kepada orang sudah setengah umur itu. Sejak pagi tadi, ia menyuruh laki-laki gagah itu untuk berlatih ilmu pedang.
“Sepertinya tak ada kemajuan sama sekali, kongcu. Aku sudah tua.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Nanti sore aku akan melihat ketidak-majuan itu, paman. Oh ya, bisakah paman Chi membantu kami menguburkan mayat di depan rumah itu. Tadi sedikit ada kegaduhan lagi. Setelah mengubur, paman Chi bisa istirahat. Nanti tengah hari kita akan membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.”
“Oh,” Paman Chi langsung pergi. Di luar sana ia menggerutu. Bukan karena pekerjaan menguburkan mayat, namun penyerangan musuh yang terus-menerus itu.
“Kehidupan kang-ouw sungguh menakutkan. Bunuh-membunuh seenak hatinya. Nyawa yang berharga kenapa dibuat main-main seperti ini.” Ia mengomel sendirian.
<><><><><>()<><><><><>
“Saat ini tinggal Siauw-lim-sie yang tersisa! Tiashan-pay, Bu-tong-pay, Hoa-san-pay, Go-bi-pay, Pek-tiauw-pay, Pek-houw-pay dan Kim-hoa-bwee berantakan. Banyak tetuanya yang mati! Menurut kabar beberapa partai dan perguruan yang sudah hancur itu akan bergabung dengan Thian-long-pay untuk menggempur Ang-hong-pay. Hanya Kay-pang yang susah dilihat kemana mereka akan bergabung. Partai terbesar ini walaupun sudah berantakan, anggotanya tercecer tanpa pemimpin, namun masih bisa bangkit kembali kapan saja. Karena ketua Kay-pang masih ada. Ang-hong-pay memang hebat!”
“Kemungkinan Kay-pang akan berpihak kepada Siauw-lim-sie, melihat hubungan erat mereka. Kalau memang itu yang terjadi, setidaknya kang-ouw akan terpecah menjadi tiga; Siauw-lim-sie, Ang-hong-pay dan Thian-long-pay!” Kata Lie Yang sambil menarik alisnya ke atas. Kabar yang dibawa oleh Bu-tek Siauw-sin-tong sesuai dengan kabar yang didengarnya dari Kho Sa dan salah satu dari Orang Tua Suci tadi pagi. Dari kabar ini, ia bisa mengambil tindakan yang tepat.
“Kira-kira diantara dua partai besar itu, partai manakah yang akan dihantam duluan oleh Ang-hong-pay?” Lie Yang berkata lagi. Sangat pelan, hampir seperti orang mengigau.
Bu-tek Siauw-sin-tong, Kho Sa, Kwee Kong, Kim Yun Tai, Kwat Lin, tiga pelayan, dan paman Chi berpikir keras. Mereka terpengaruh oleh ketegangan yang sedang melanda dunia kang-ouw.
“Menurutku Ang-hong-pay akan segera menerjang Thian-long-pay dalam waktu dekat. Apa lagi, Thian-long-pay memegang benda yang sedang dicari-cari oleh Ang-hong-pay. Hanya saja, aku tak mengerti kenapa Thian-long-pay mengundurkan waktu pesta ulang tahun partai mereka sebulan lagi. Apakah ini sebuah siasat?” Kho Sa tak mampu memastikan beberapa persolan yang melanda dunia Kang-ouw.
“Itu sangat mungkin!” Kwat Lin sepertinya sepakat dengan Kho Sa.
“Ahhh, Tuhan Yang Agung! Suatu saat nanti, ketegangan ini akan segera berakhir!” Lie Yang mendesah resah.
“Yang-te, aku ingin tahu kemana arah Kim-liong-pay akan engkau bawa?” Bu-tek Siauw-sin-tong yang sebenarnya pintar benar-benar membuat ekspresi lawan bicaranya terperangah.
“Kita akan menjadi angin, hujan, dan bila perlu badai yang menghapus debu!” Lie Yang tersenyum melihat Bu-tek Siauw-sin-tong memikirkan kata-katanya. “Aku tak bisa katakan sekarang, Li-ko!”
“Lalu, kita akan memainkan peran yang bagaimana, aku sudah tak sabar lagi ingin membuka topeng Ang-hong-pay!” Bu-tek Siauw-sin-tong mencak-mencak.
“Ada satu hal yang belum pasti dalam perkiraanku? Kenapa Ang-hong-pay sangat ingin Giok-ceng?”
“Hmmm… aku kira hanya untuk koleksi saja. Lihat pedang dan tanda pengenal ketua beberapa partai hilang dicuri Ang-hong-pay. Bahkan kalau dugaanku tak meleset, Liong-ko (Buah Naga) mereka yang mencuri. Gara-gara buah itu hilang, aku dimarahin guru habis-habisan.”
“Liong-ko? Buah apa itu?” Tanya Kho Sa kepada Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Konon, menurut guruku, pohon itu hanya dapat ditemui di pegunungan berapi di negeri Hu-sang (Jepang). Pastinya aku tak tahu untuk apa buahnya. Lagian setahuku, pohon itu hanya berbuah 25 tahun sekali. Ngurusnya saja memusingkan, ia hanya mau tumbuh di tanah yang panas dan disiram dengan arak merah setiap sore. Sedikit pun tak boleh terkena air. Sekali terkena air, ia akan langsung mati. Aku menanamnya sampai ratusan batang, tapi yang berhasil hidup dan berbuah hanya satu. Wuahhhh memuakkan hidup harus mengurusi pohon aneh itu!”
Semua orang hanya bisa melongo. Teresona. Dan membayangkan bagaimana bentuk pohon aneh dengan buah yang diberi nama Buah Naga itu. Pastinya bukan buah sembarangan, bahkan Ang-hong-pay saja mencurinya.
“Buyut Giok Kong pernah menceritakan tentang pohon, bunga, jamur dan teratai yang bisa tumbuh subur di Bu-eng-hu. Tanaman-tanaman itu mempunyai keanehan dan dapat dijadikan obat mujarab untuk tubuh. Tanaman-tanaman itu tak bisa tumbuh di tempat lain, selain di Bu-eng-hu. Salah satu pohoh aneh itu adalah Pohon Naga. Aku yakin, pohon itu sengaja ditanam di tempat lain hanya sebagai percobaan. Kalau benar seperti itu, bagaimana mungkin Ang-hong-pay tahu?” Semua orang menatap serius wajah Lie Yang.
Seperti sulap, tiba-tiba saja di telapak tangan Lie Yang sudah ada sebutir biji aneh. Biji itu panjang menyerupai pedang bergerigi kecil-kecil. Warnanya putih seperti tulang. Biji yang sangat aneh.
“Ini adalah biji dari Liong-ko yang sudah kering! Buyut Giok Kong hanya meninggalkan lima biji kepadaku. Kalian semua akan mencoba kedahsyatan obat ini.”
Bu-tek Siauw-sin-tong cepat-cepat meraihnya. Pikiran cerdasnya melesit-lesit. Ada sesuatu yang aneh dengan perintah gurunya. Kalau buah itu bisa didapat dengan mudah di istana tak terlihat itu, kenapa gurunya susah-susah menyuruhnya mencari jejak siapa pencurinya dan mengambil kembali buah itu?
Bu-tek Siauw-sin-tong meneliti biji kering itu. Sepintas biji itu memang seperti kadal. Ia ingat betul bagaimana bentuk buah naga, warnanya hijau bergerigi, panjang hampir setengah meter, padahal pohonnya sangat pendek. Sekali lagi biji itu dilihatnya dengan puas, baru kali ini ia dapat melihat bijinya. Ia kira buahnya yang dapat diambil kasiatnya, ternyata yang penting adalah bijinya.
Selagi Lie Yang menunggu paman Chi mengambil arak merah. Ia meneruskan perkataanya, “setelah meminum arak yang dicampur dengan biji buah naga ini. Kalian akan dapat menambah kekebalan badan dan menambah hawa Yang di dalam tubuh kalian. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir kita berkumpul. Sebulan kemudian, kita akan berkumpul di Utara.” Lie Yang menatap satu per satu wajah yang menyiratkan pertanyaan dan kaget itu. Hanya wajah istrinya yang tampak biasa saja. Istrinya sudah tahu tentang rencananya itu.
“Aku akan membagi tugas untuk kalian. Kho Sa! Aku perintahkan engkau pergi menyelidiki Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay! Kim Yun Tai, kuperintahkan engkau menyelidiki Pek-tiauw-pay dan Pek-houw-pay di perbatasan Tibet. Kwee Kong, untukmu aku ingin engkau di sini menjaga paman Lau sampai sembuh. Sekiranya dia bisa sembuh dalam minggu-minggu ini, engkau bisa langsung pergi ke Utara. Lihat perkembangan Thian-long-pay! Dan kuperintahkan Bu-tek Siauw-sin-tong mengantar Kwat Lin dan rombongan termasuk para pelayan dan paman Chi pergi ke Perkampungan Naga! Apakah kalian sudah mengerti?”
Bu-tek Siauw-sin-tong, Kho Sa, Kwee Kong, Kim Yun Tai dan tiga pelayang menerima perintah itu. Ini pertama kalinya Lie Yang menggunakan perintah pangcu Kim-liong-pay. Di tangannya tergenggam tergenggam pelat emas, tanda ketua Kim-liong-pay. Dan dengan perintah ini, semua orang yang ada di sampingnya telah resmi menjadi anggota baru Kim-liong-pay. Mereka adalah anggota-anggota yang dipercayai Lie Yang.
“Bu-tek Siauw-sin-tong aku harap engkau segera menemuiku di Lok Yang minggu depan! Kita akan mencari markas Ang-hong-pay di Nan-king bersama-sama. Kho Sa, Kwee Kong dan Kim Yun Tai aku harap kita akan bertemu kembali di Utara setelah tugas ini selesai. Kita akan melihat bersama-sama bagaimana pesta ulang tahun Thian-long-pay itu.”
Selesai memberi perintah. Lie Yang menghancurkan biji buah naga itu dan dicampur dengan arak merah yang sudah disiapkan di atas meja. Ketika botol arak itu telah dicampur dengan biji aneh itu, tiba-tiba saja arak itu mengeluarkan uap hangat. Ketika disentuh, arak itu menjadi mendidih. Lie Ynag tersenyum melihat reaksi cepat arak itu. Sedangkan saudara-saudaranya hanya bisa bengong tak mengerti.
Lie Yang menuangkan arak itu di tiga belas gelas. Setiap orang mendapatkan bagian, termasuk Lau Tay Hiap yang belum siuman, Han Cianpwee dan Oiy Cianpwee yang sedang pergi. Han dan Oiy Cianpwee pergi mengejar seorang penyusup ketika Lie Yang sedang bentrok tadi pagi. Dua orang tua itu hanya meninggalkan pesan singkat di tembok belakang rumah saja. Hingga saat ini dua orang sakti itu belum pulang. Sebenarnya Kho Sa ingin menyusul mereka, cuma Lie Yang mencegahnya.
“Sebelum kita meminumnya, perlu diketahui bahwa di perut kita nanti akan terkumpul hawa panas yang sangat besar. Dengan sin-kang masing-masing, aku kira bisa menyebarkan hawa panas itu ke seluruh tubuh. Hawa panas ini akan menjadikan tubuh kita kuat!”
Lie Yang meminum duluan segelas arak itu. Setiap orang mengikutinya dengan seklai teguk habis. Hanya berselang beberapa detik saja, wajah setiap orang telah berubah merah membara.
Setiap orang tiba-tiba hening dengan meditasinya masing-masing. Hanya Lie Yang yang dengan cekatan membantu istrinya membuyarkan hawa panas di dalam perutnya. Setelah istrinya dapat mengontrol penambahan kekuatan itu, Lie Yang membantu tiga pelayan sekaligus dan paman Chi.
Untuk melebur hawa panas ke seluruh tubuh diperlukan sejam meditasi. Lie Yang pun akhirnya bisa tenang dengan meditasinya setelah membantu istrinya, tiga pelayan dan paman Chi.
<><><><><><>()<><><><><><>
“Istriku, jaga diri dan bayi kita baik-baik! Ingat pesan-pesanku. Kita akan bertemu kembali di Perkampungan Naga Emas bulan depan. Selamat tinggal!” Lie Yang meninggalkan istrinya yang sedang berdiri di depan pintu.
“Hati-hati, Yang-ko!” Kwat Lin melambaikan tangannya. Perpisahan untuk sementara ini sungguh menyakitkan. Selama hampir tiga tahun mereka bersama dan malam ini mereka berpisah untuk pertama kalinya. Bagaimanapun juga ia harus merelakan suaminya pergi.
Ditatapnya bayangan Lie Yang yang menghilang ditelan gelapnya malam. Lie Yang harus pergi malam itu juga. Ia sudah berpamitan kepada setiap orang siang tadi. Ia tahu istrinya tak menitikkan air mata ketika mengantarkan kepergiannya. Namun, ia tahu betapa berat iastrinya harus menanggung perpisahan ini. Ia juga merasakan beratnya berpisah.
Sambil melompat-lompat ringan di atas atap rumah penduduk ia mengingat kembali tujuannnya. Tujuannya adalah mencari Paman Sun yang sudah lama tak ditemuinya. Mungkin dari tokoh Kay-pang itu ia bisa mendapatkan kabar terbaru tentang sepak terjang Ang-hong-pay. Ia tahu dimana ia harus mencarinya. Hanya dua tempat yang bisa ia duga tempat paman Sun tinggal; Lok Yang dan Siauw-lim-sie.
Pakaiannya yang berwarna emas memancarkan kilauan indah ketika bulan menyinarinya. Pakaian yang dirancanag khusus untuk seorang ketua Kim-liong-pay ini mempunyai banyak keistimewaan. Pakaiannya memang sangat berat, 50 kati. Namun ia bisa merasakan kelembutan dan kelenturan pakaiannya. Pakaian ini tak bakalan bisa tembus pedang, panah ataupun kebakar api. Ketika memakai pakaian ini untuk latihan, ia bisa meningkatkan kemampuannya berkali-kali lipat. Bahkan keringanan tubuhnya saat ini tak terpengaruhi oleh berat bajunya. Ia tak merasakan beratnya sama sekali.
Lalu topeng emasnya yang lembut seeprti sutera. Ia bisa merasakan hangatnya topeng di wajahnya itu. Pedangnya yang baru dipegangnya terasa sangat dingin. Kim-liong-kiam (Pedang Naga Emas) yang tajam membuatnya benar-benar berbeda. Kim-liong-ki (Panji Naga Emas) dan Kim-liong-tiap (Kartu Naga Emas) yang ada di dalam bajunya sebelah dalam membuatnya benar-benar merasakan menjadi pangcu Kim-liong-pay. Ia bisa merasakan kekuatan leluhurnya memberi berkahnya kepadanya.
Ketika ia berada di tepi hutan paling Selatan desanya. Ia mendesah. Dengan satu gerakan lincah dan ringan ia naik ke atas pohon. Ia mengintai kesetiap penjuru arah angin. Telinganya yang terlatih tak mendengar suara apapun kecuali suara binatang malam. Seekor kuda hitam kekar seperti sedang tidur berdiri tak jauh darinya. Ia tetap diam. Ia ingin melihat apakah ada orang di sekitarnya.
Ia tersenyum ketika cuping telinga kuda itu bergerak-gerak. Kuda itu mendusin dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Hidung kuda itu bergerak-gerak mencari bau yang sangat familiar baginya.
Lie Yang tak tega mengerjai kudanya sendiri. Kuda hitam itu memang miliknya. Sengaja kuda itu ditambatkan di pinggir hutan untuk memudahkannya pergi malam-malam. Sore tadi, ia menyuruh paman Chi untuk membawa kuda kesayangannya itu ke tepi hutan ini. Kali ini kuda itu seperti hidup. Ia hampir meronta-ronta karena merasakan kehadiran Lie Yang.
“Kuda hebat! Engkau tahu juga kalau aku di sini!” Batin Lie Yang senang. Melihat keadaan kudanya pertama kali, ia sangat percaya bahwa tak ada orang di sekitar sini. Ia sangat paham dengan kudanya. Penciuman dan pendengaran kudanya itu snagat istimewa.
Sekali lompat ia sudah berdiri di atas tanah. Ia berjalan tenang sekali. Kudanya menyapanya dengan suaranya yang paling disukai Lie Yang. Ia merenggut tali kuda itu dan melompat di punggung kuda jantan itu. Sekali tarik tali kekangnya, kuda itu berlari sekencang angin. Kuda itu mendengus beberapa kali dan meringkih senang.
Kuda itu adalah hadiah terindah dari ayahnya hartawan Song. Saat itu ia baru berumur lima belas tahun. Kuda itu jauh-jauh dibeli dari Mongolia dalam. Waktu itu kudanya masih sangat muda sepertinya. Sejak ada kuda istimewa itu, para bandit dan pencuri seringkali terlihat di rumahnya. Kuda itu akan snagat mahal sekali jika dijual. Kalau dijadikan untuk pacuan kuda, akan mampu melawan ratusan kuda-kuda hebat.
Kuda itupun tak akan pernah mau dijamah setiap orang. Bahkan ayahnya pun tak bisa mengendalikan kuda itu. Setahunya hanya dirinya dan paman Chi yang bersahabat baik dengan kuda itu. Istrinya, Kwat Lin pun tak mampu menunggangi kuda hitam jelaga itu.
Kuda berpeluh darah ini biasa dipanggilnya Koai Ma (Kuda Siluman) karena tak bisa diatur sembarang orang. Koai-ma tak pernah mau minum air sejak kedatangannya di rumah Lie Yang. Dulu, ia hampir gila melihat kuda tangkas ini hampir mati lantaran selama seminggu tak mau minum. Hingga tetangganya yang pernah mengurusi kuda di gurun Gobi itu menyuruhnya memberi minum arak merah. Dan benar saja, Koai Ma minum arak sampai perutnya buncit. Lie Yang tersenyum mengingat kenangan dengan kudanya itu.
Ada satu persoalan tentang kudanya yang sampai saat ini tak dimengerti. Koai Ma tak pernah mau menyentuh kuda betina. Setiap ada kuda betina di sampingnya, selalu saja kuda itu menghindar, bahkan menyepak sampai terbanting. Lagian keanehan kudanya itu tak pernah mau dikekang dengan tali. Ia dibiarkan bebas di belakang rumah Lie Yang. Setiap sore hari, kuda pintar itu akan masuk sendiri ke dalam kandangnya. Ia baru bisa dikekang kalau Lie Yang sendiri yang memasangnya.
Sudah belasan mil ditempuh Lie Yang. Desanya sudah begitu jauh. Nafas Koai Ma masih teratur, tak ada tanda-tanda kelelahan terdengar dari nafasnya itu. Bahkan empat kakinya masih lincah dan kencang menapaki berbagai bentuk tanah, kadang becek, penuh batu atau melewati sungai kecil. Naik bukit atau masuk ke dalam hutan.
Kuda itu sepertinya mempunyai penglihatan yang sangat terang. Ia dapat membaca jalan dengan tepat. Lie Yang hanya membiarkan Koai Ma membawanya ke selatan. Ia bahkan sesungguhnya tak tahu begitu tepat jalan yang diambilnya. Ia hanya perlu mempercayakan petunjuk jalan kepada kuda kesayangannya.
“Koai Ma, apakah engkau tak capek berlari terus?” Lie Yang bertanya kepada kudanya. Ia begitu santai. Tak pernah ada di pikirannya pertanyaan apakah kudanya itu mampu mendengarkan perkataannya. Namun ia percaya kalau kudanya dapat mengerti setiap keinginannya.
Koai Ma malah mempercepat larinya. Ia meringkih berkali-kali seperti menjawab pertanyaan Lie Yang, bahwa ia masih sanggup berlari sekencang angin.
“Dasar, kuda edan! Jangan salahkan aku kalau engkau tiba-tiba roboh.” Lie Yang asyik mengobrol dengan kudanya. Kaoi Ma menjawab dengan ringkihan lagi.
Sebenanrya ia kasihan kepada Koai Ma. Beban tubuhnya sangatlah berat. Melihat ketangguhan kudanya itu, ia merasakan bangga juga. 120 kati berat yang ditanggung Koai Ma di punggungnya, namun kuda itu tak merasakannya. Sungguh luar biasa. Ingin rasanya ia bertanya, apa yang membuat Koai Ma menjadi sekuat itu. Apakah arak merah yang diminumnya setiap hari, ataukah cabe rawit yang dimakannya setiap pagi dan sore hari. Koai Ma memang aneh. Minumannya arak merah dan makanan kesukaannya adalah cabe rawit. Ia tak habis pikir ada hewan seaneh Koai Ma.
“Koai Ma, engkau berlarilah sesuka hati, kalau sudah lelah engkau boleh berhenti. Aku akan bermeditasi di atas punggungmu. Kalau ada bahaya engkau beritahu padaku ya?!”
Dan Koai Ma menjawab dengan ringkihan tiga kali. Larinya dipercepat lagi. Ini bukan pertama kali Lie Yang bermeditasi di atas kuda. Sering kali Lie Yang mengajak kudanya berlarian di hutan belakang rumahnya dan ia bermeditasi di atas punggungnya. Ia berjalan-jalan ke dalam hutan dengan kudanya dulu hanyalah alasannya untuk dapat bermeditasi tanpa diganggu orang lain. Rahasia belasan tahun tentang kemampuan bela dirinya hanyalah Koai Ma yang tahu. Sering kali ia berlatih dengan Koai Ma ilmu silat.
Di atas punggung Koai Ma Lie Yang benar-benar dalam keadaan setengah tidur. Dua matanya terpejam, pikirannya menjadi satu dan telingnya mampu mengintai segala penjuru. Saat bermeditasi seperti ini, telinganya akan sangat peka. Desahan napas seseorang akan dapat didengarnya.
Koai Ma tetap berlari dan berlari. Ia menuntun tuannya yang sudah menganggap saudara ke selatan. Koai Ma tahu apa yang diinginkan Lie Yang. Ke selatan, desa Lok Yang.
<><><><><><>()<><><><><><>
Badai di Siauw-lim-sie
Lie Yang meloncati pagar kuil Siauw-lim-sie. Tengah malam saat bulan dan bintang-bintang menampakkan diri. Hampir di setiap sudut anak murid Siauw-lim-sie menjaga dengan ketat. Kali ini Lie Yang membawa perlengkapan lengkap. Ilmu peringan tubuhnya menjadikan dirinya seperti angin dan bayangan setan. Ia tersenyum melihat dua anak murid Siauw-lim-sie terkantuk-kantuk menjaga pintu paling dalam.
Sudah seminggu ia di Lok Yang menunggu Bu-tek Siauw-sin-tong yang tak muncul-muncul menemuinya. Kemarin malam, ketika ia sedang memberi minum Koai Ma di kandang. Ia mendengar gerakan orang berpakaian serba putih. Ia menduga orang berpakaian seperti ninja itu adalah seorang pencuri. Ketika ia membuntuti orang itu sampai keluar desa, ia abru tahu ternyata orang itu termasuk anak buah Ang-hong-pay. Tak menyangka ia akan menemukan jejeak Ang-hong-pay di sini ia terus memburu. Di dalam sebuah hutan ada ratusan anak buah Ang-hong-pay berkumpul. Ada berwarna-warni pakaian mereka. Ada hitam, merah dan putih.
Di sana ia mendengar mereka akan menyerbu Siauw-lim-sie malam ini. Tujuannya ke Siauw-lim-sie adalah untuk memberi peringatan kepada pihak Siauw-lim-sie atas serbuan itu. Ia juga ingin mencari Sun Kay (Pengemis Sun). Di Lok Yang ia tak menemukan jejek Sun Kay. Firasatnya menuntunnya sampai ke sini.
Siauw-lim-sie sungguh luas. Lie Yang meloncat ke setiap atap pemondokan Siauw-lim-sie dengan hati-hati. Ia tahu betul sarang apa Siauw-lim-sie ini. Pendekar-pendekar besar dengan ilmu silat sedalam samudra ada di tempat ini. Sekali ia salah pijak, ia akan tertangkap. Ang-hong-pay saja harus menimang-nimang jika mau menyerang Siauw-lim-sie. Kalau diitung-itung, sepertinya ada dua ratusan pasukan yang akan dikerahkan Ang-hong-pay.
Dan ia tahu benar bagaimana kekuatan pasukan per-orangannya. Ia meloncat lagi dan berjalan dengan sangat hati-hati. Ilmu peringan tubuhnya memeang sudah sangat tinggi, walaupun begitu pendengaran orang yang sudah terlatih tetap akan dapat meangkap suaranya.
Ketika ia sampai di sebuah ujung pemondokan yang sangat panjang. Ia berhenti. Di depannya ada tiga orang sedang main catur. Tiba-tiba Lie Yang tersenyum. Salah satu dari tiga orang itu ia kenal. Sun Kay terlihat tertawa di sana. Dua orang di depan Sun Kay adalah seorang biksu yang sudah sangat tua. Mungkin sudah berumur 70 tahun. Dan di sampingnya seorang laki-laki berumur 50 tahun dengan pakaian pengemis menjadi lawan bermain catur biksu tua itu.
Tiba-tiba Lie Yang mendongakkan kepalanya ke langit. Di atas sana, nan jauh, bulan tampak indah. “Memang menyenangkan bermain catur di bawa sinar bulan purnama! Kwat Lin, apa yang sedang engkau lakukan malam ini? Apakah engkau sedang merindukanku?” Batin Lie Yang berkata merdu. Bibirnya tersumbul senyum tipis.
“Tuan, mari turun dan bermain catur bersama kami! Lihatlah indahnya bulan purnama itu!” Hampir saja Lie Yang terjatuh karena kaget. Pendengaran biksu tua itu sungguh menakjubkan. Isu tentang kehebatan Siauw-lim-sie benar-benar tak isapan jempol. Lie Yang tertawa renyah. Menyenangkan sekali tawaran itu.
Lie Yang turun dengan senang hati. “Terima kasih atas undangan, Siansu! Maaf kalau malam-malam yang indah Boanpwe (Aku yang rendah) mengganggu kesenangan, Siansu!”
“Duduklah, sianseng! Kita bermain catur bersama!” Biksu tua itu menatap Lie Yang. Sungguh lembut pancaran dua mata tua itu. Lie Yang melangkah dengan tenang ke padepokan kecil itu. Di dalam masih ada satu kursi dari batu yang kosong. Ia merasa kedatangannya sudah dirasakan oleh biksu tua ini.
“Sun Kay, bagaimana kabarmu? Ingatkah engkau denganku?” Sambil duduk di samping Sun Kay ia menyapanya. Sejenak Sun Kay mengekspresikan kekagetannya.
Sebenarnya, biksu tua itu lebih terkejut lagi dari pada kekagetan Sun Kay. Bahkan pengemis lainnya tak bisa menutupi kekagetannya. Dua orang itu kaget melihat jubah emas Lie Yang, apalagi topeng naganya. Biksu tua itu sepertinya menemukan penerang di antara kegelapan malam.
“Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya dan dimana, cianpwe? Aku tak bisa mengingatnya.” Sun Kay bertanya. Ia masih tak ingat kapan ia bertemu dengan Lie Yang. Memang saat ini suara Lie Yang telah diubah menjadi suara agak tua.
Dibalik topengnya Lie Yang tersenyum. Sopan santun yang dimiliki oleh Sun Kay masih ada. Itulah yang paling disukai dari peribadi Sun Kay. “Ingatkah dengan peristiwa tiga tahun yang lalu, ketika Sun Kay diserang anak buah Ang-hong-pay.”
“Ah, ingat. Apakah cianpwe adalah penolong kami itu?” Sun Kay tersenyum gembira.
“Ya, aku yang waktu itu memakai pakaian hitam kedodoran itu.” Lie Yang tertawa mengingat pakaiannya dulu. Pakaiannya dulu memang sangat besar. Sun Kay ikut tertawa juga. Lie Yang merasa geli ketika Sun Kay memanggilnya ‘cianpwe’. Coba kalau Sun Kay tahu tentang dirinya dengan sebenarnya. Pasti lebih lucuh lagi.
“Bolehkah boanpwe tahu siapa nama, Siansu dan Sianseng?” Lie Yang mengangkat dua tangannya menghormat.
“Beliau adalah Thian Hun Siansu, Kauwcu (Ketua Agama) Siauw-lim-sie dan Lau Pi bermarga Thio, pangcu Kay-pang!” Sun Kay memperkenalkan dua orang di depannya.
“Sungguh kebetulan boanpwe bisa bertemu dengan Sam-wi! Sebenarnya sudah lama sekali boanpwe ingin bertemu.”
“Ada urusan apakah sianseng mencari kami?” Thian Hun Siansu bertanya dengan nada sangat lembut sekali. “Dan siapakah sebenarnya sianseng?”
“Apakah siansu mengenal benda ini?” Lie Yang bertanya dengan mengangkat Kim-liong-ki. Thian Hun Siansu manggut-manggut begitu juga dengan pangcu Kay-pang yang sejak tadi diam.
“Boanpwe adalah pangcu Kim-liong-pay! Boanpwe datang ke sini untuk memberi peringatan kepada Siauw-lim-sie, bahwa Ang-hong-pay akan menyerbu tengah malam nanti.”
“Bagaimana mungkin Kim-liong-pay masih ada. Jangan engkau memalsukan diri di tempat ini. Ang-hong-pay tak akan mampu menyerang Siauw-lim-sie. Sudah puluhan kali mereka gagal!” Pangcu Kay-pang tiba-tiba angkat suara. Nadanya sangat meremehkan.
Mendengar ini, Lie Yang segera bangkit berdiri. Ia hanya ingin mengatakan itu. Percaya tak percaya, ia sudah menyampaikan peringatannya kepada Siauw-lim-sie. Baru saja ia berjalan lima langkah, telinganya yang terlatih mendengar dengungan aneh. Ia tahu apa itu. Ia segera membalikkan badan.
Ia mengeluarkan ilmu Sin-hong Sin-kang tingkatan kedelapan yang telah digabung dengan ilmu Jit-goat Hoat-lek Sin-kang. Gelas yang terbuat dari kayu bambu itu melayang di depannya. Gelas itu tak sampai menyentuh tubuhnya lantaran tertahan oleh Jit-goat Hoat-lek Sin-kang. Dan dengan tangan kanannya ia mengeluarkan ilmu Sin-hong Sin-kang tingkatan kedelapan. Setelah yakin ia berhasil melakukan sesuatu terhadap gelas itu. Ia lalu pergi dengan sekali loncatan setelah menyerahkan kembali ke pemiliknya.
Gelas kayu itu sampai di tangan pangcu Kay Pang. Di genggamannya gelas itu seharusnya tak apa-apa. Namun beberapa detik kemudian menjadi sangat aneh. Air di dalam gelas itu menjadi es. Wajah pangcu Kay Pang itu tiba-tiba pucat. Tak sembarangan orang bisa merubah air menjadi es. Hanya orang-orang khusus yang mempunyai sin-kang khusus yang bisa melakukannya. Air menjadi es inilah yang menjadikan hatinya terkesiap dan tak jadi mengejar Lie Yang. Thian Hun Siansu juga mencegah pangcu Kay-pang mengejarnya.
Setelah diletakkan di atas meja. Tak seberapa lama setelah es itu mencair, gelas kayu itu tiba-tiba saja hancur berantakan. Di atas meja itu hanya tersisa tumpahan air yang berwarna hitam. Gelas kayu itu hilang.
“Sin-kang luar biasa! Hawa sakti panas dan dinginya manusia bertopeng itu sudah berada di tingkatan sempurna. Hanya dengan mengerahkan hawa sakti api, ia bisa menghanguskan gelas kayu ini. Dan dengan hawa sakti dingin, ia mampu membekukan air. Luar biasa.” Thian Hun Siansu terkagum-kagum.
“Siansu, apakah benar orang itu ketua Kim-liong-pay?” Pangcu Kay-pang masih meragukan identitas Lie Yang sebagai ketua Kim-liong-pay. Thian Hun Siansu tersenyum.
“Aku sangat yakin! Ini akan menjadi jalan bagi kita untuk menentramkan dunia Kang-ouw. Hanya saja, siapakah identitas asli manusia bertopeng itu, pinceng tak tahu. Siapa pun dia, pasti sudah mempunyai banyak persiapan.”
“Mungkinkah kabar munculnya manusia setengah dewa itu benar?”
“Mungkin,” Sekali lagi Thian Hun Siansu tersenyum lembut. “Siapkan saudara-saudara kita untuk menyambut tamu agung Ang-hong-pay!”
Thian Hun Siansu beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin menyiapkan saudara-saudaranya. Pangcu Kay-pang dan Sun Kay mengikutinya dari belakang.
<><><><><><>()<><><><><><>
Lie Yang berada dalam hening meditasi. Baginya tak ada waktu tersia-sia tanpa mengolah kemampuannya. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan meditasi. Kakek buyutnya yang dulu tak diketahuinya telah mengajarkan banyak sekali cara meditasi. Bahkan di usianya yang ke 15 ia sudah mampu bermeditasi dengan berjalan. Kakinya memang bergerak, namun seluruh daya pikir dan hatinya bersatu di dalam meditasi diri.
Melalui meditasi, ia banyak mendapatkan manfaat. Ia bisa mempertajam daya pikir, membersihkan hati, menajamkan semua indra yang dimilikinya, bahkan ia bisa menambah sinkangnya. Sebab itulah, sinkang yang dilatihnya sejak kecil sudah berbuah banyak, apalagi setelah tubuhnya dialiri oleh sinkang 70 tahun kakek buyutnya itu. Sinkangnya berkembang pesat dan menjadi sinkang maha dahsyat.
Kali ini, waktu menunggu kedatangan para perusuh, ia tetap mencoba bermeditasi. Malam semakin larut, namun yang ia tunggu tak kunjung datang. Menurut pikirannya, anggota Ang-hong-pay mungkin baru bertindak tengah malam ini, namun dugaannya itu ternyata meleset. Hingga saat ini, pasukan merah itu tak kunjung juga muncul.
“Sepertinya, ada sesuatu yang tak beres,” Pikir Lie Yang.
Ia tak tahu. Sebenarnya, di tengah hutan dekat kuil Siauw-lim-sie sudah memercik api pertempuran. Pasukan Ang-hong-pay tanpa menyangka sesuatu sebelumnya tiba-tiba saja diserbu oleh sekelompok orang. Ada ratusan orang memakai pakaian cokelat mendadak menyerang mereka tanpa berkata apapun. Serangan tak disangka-sangka itu berkobar sedemikian besarnya hingga tak dapat ditahan lagi.
Jarak tempat pertempuran dua kelompok dunia persilatan itu dengan kuil Siauw-lim-sie ada sekitar lima mil jauhnya. Tak heran kalau Lie Yang tak mendengarnya. Berbeda dengan anak murid Siauw-lim-sie yang menjaga di jarak dekat pertempuran itu. Seorang anak murid berlari kencang menuju kuil untuk mengabarkan berita ke kuil. Sambil menyeka keringat, murid gundul itu menyampaikan berita pertempuran langsung ke hadapan Thian Hun Siansu langsung.
“Sepertinya ada pihak yang membatu kita, Siansu,” Kata Thio Pangcu kepada Thian Hun Siansu. “Apakah kita tak sebaiknya ikut turun tangan membantu mereka?”
“Sebaiknya memang begitu, Pinceng ingin melihat siapa sebenarnya para pemimpin Ang-hong-pay itu.”
Kali ini ketua Siauw-lim-sie langsung yang turun tangan. Biasanya semua urusan yang berhubungan dengan dunia persilatan ditangani oleh adik seperguruannya yang mengetuai murid Lo Han. Namun, tiga adik seperguurannya itu saat ini sedang sakit. Mereka mengalami luka dalam saat Siauw-lim-sie diserang oleh Ang-hong-pay tiga bulan yang lalu. Walaupun dipihak Siauw-lim-sie tak banyak jatuh korban, namun kerugian akibat bentrokan dulu membuat ketua kuil yang sudah tua itu harus bertindak sendirian.
Di depannya sudah berdiri berbaris seratus delapan pasukan Lo Han dan tiga puluh tujuh murid bukan dari golongan pendeta. Dan masih ada puluhan anggota Kay-pang yang memakai kantong tiga ke atas.
“Lima puluh empat murid Lo Han dan kalian semuanya ikut aku turun gunung. Sisanya tetap berjaga di sini!” Thian Hun Siansu memberi perintah tegas. Tak tanggung-tanggung. Hampir setengah murid Siauw-lim-sie diajakanya. Bahkan murid Siauw-lim-sie yang bukan pendeta diajaknya semuanya. Laporan yang diterimanya barusan sudah dipertibangkannya. Kalau pihak Ang-hong-pay berani membawa pasukannya sampai dua ratus lebih, penyernagan ini memang bukan main-main. Ia juga harus membawa lebih banyak lagi anak muridnya. Belum dihitung anggota Kay-pang dan orang-orang yang mendahuluinya menyerang Ang-hong-pay di bawah gunung sana.
“Menurut Siansu, siapakah pihak lawan Ang-hong-pay yang membantu kita ini? Apakah mereka anggota Kim-liong-pay ataukah anggota partai silat lainnya?” Sambil menuruni jalan setapak, Thio-pangcu bertanya.
“Aku belum begitu yakin, apakah mereka anggota Kim-liong-pay. Kita akan tahu secepatnya, siapa saudara-saudara yang membantu kita itu.” Jawab Thian Hun Siansu tanpa berhenti berjalan mengawali rombongan.
<><><><><><>()<><><><><><>
Lie Yang berlari sangat kencang. Saat berlari seperti ini, sungguh perasaanya begitu senang. Ia merasakan begitu bebas beraksi dan berekspresi. Selama berhari-hari ini, baru kali ini ia merasakan betapa nikmatnya menggemban amant nenk moyangnya. Melakukan semuanya untuk orang lain. Menolang orang lemah, meluruskan yang bengkok dan memberi kedamaian kepada semua orang.
Ingin ia sesegera mungkin sampai di gelanggang pertempuran dan melihat bagaimana sepak terjang Ang-hong-pay yang sebenarnya. Kalau bisa, ia tak perlu turun tangan. Ia tahu betul, di tempat ini ia hanay sendirian, tanpa pasukan dan teman. Tujuan utama perjalanannya kali ini sebenarnya ingin mencari teman dan mengumpulkan anggota Kim-liong-pay yang telah tercerai berai oleh pertumpahan darah puluhan tahun yang lalu.
Tiba-tiba saja ia merasakan ada sesuatu di depannya. Belum sempat ia menghentikan larinya, tiba-tiba saja di depannya muncul sosok memakai pakaian putih bersulam naga di depannya. Bukan main terkejutnya Lie Yang. Bukan hanya karena kemunculan orang berpakaian jubah putih secara tiba-tiba di depannya, akan tetapi ilmu peringan tubuh orang itu sungguh hebat. Apalagi pakaian dan topeng yang dipakainya sungguh mirip dengan pakaian yang dimilikinya. Topeng berwarna kuning emas itu sungguh sama dengan apa yang dipakainya saat ini.
Setelah berhenti di depan orang bertopeng itu. Ia merasakan ada yang aneh dengan sosok di depannya. Ia menaksir orang itu sebentar sebelum membuka mulut. Orang di depannya tak setinggi dirinya, rambutnya diiarkan terurai tanpa diikat. Ia tak membawa senjata, kecuali sebuah suling perak yang terlihat di pinggang kanannya.
“Siapa sebenarnya saudara, kenapa saudara menghalangi perjalananku?”
Sosok bertopeng naga masih diam. Tak menjawab. Bahkan badannya tak bergerak. Sorot matanya menatap rapat Lie Yang. Bahkan bola mata itu pun tak bergerak sama sekali. Mengerikan! Namun Lie Yang tak gentar seandainya orang di depannya adalah musuh.
“Sebaiknya engkau kembali. Tak akan ada pekerjaan untukmu di belakang sana!” Jawaban sosok bertopeng itu begitu datar. Sulit bagi Lie Yang untuk menentukan apakah nada itu adalah ucapan seorang teman atau musuh. Ia bahkan tak mengerti kenapa ia disuruh balik.
“Apa maksud saudara menyuruhku balik?”
“Tak perlu banyak tanya! Kembalilah. Atau engkau akan menjadi orang yang paling berdosa karena memiarkan banyak nyawa melayang dengan sia-sia,”
“Bukankah di belakang sana terjadi pertempuran?”
“Itu bukan apa-apa. Itu hanya umpan,”
“Hanya umpan?”
“Pernahkah engkau mendengar istilah memancing singa keluar dari huta?”
“Maksud saudara, pertempuran di belakang sana hanya umpan untuk memancing para pendekar Siauw-lim-sie keluar kuil?”
“Begitulah menurutku.”
“Lalu…”
“Tak ada waktu untuk berdebat, pangcu! Di belakang sana, saudara kita dari Kim-liong-pay tak akan kewalahan melawan anak buah Ang-hong-pay. Apalagi ada ratusan pendekar yang membantu. Ditambah puluhan anggota Pek-tiauw-pay. Ang-hong-pay tak akan mampu membendung badai besar itu.” Selesai berkata, sosok bertopeng itu bersalto belakang dan segera menghilang dari hadapan Lie Yang. Sebenarnya Lie Yang masih ingin bertanya, namun ia tak mampu mencegah kepergian sosok bertopeng itu.
“Sebaiknya aku kembali ke kuil Siauw-lim-sie saja,” Berpikir seperti itu ia lantas menggenjot kakinya berbalik arah.
Setelah Lie Yang pergi. Tiga sosok manusia bertopeng kelaur dari balik pohon. Sepertinya mereka sudah berada di balik sana sejak lama. “Pangcu kita terlalu muda,”
“Ya, tampaknya pengalamannya terlau cetek di dunia kang-ouw,” Kata satunya.
“Aku meragukan ilmunya juga, apakah ia benar-benar mampu memimpin Kim-liong-pay dan mengumpulkan anggota Kim-liong-pay yang telah tercerai-berai itu,” Lainnya merasa ragu.
“Bagaimanapun juga, di dalam dirinya mengalir darah biru. Darah bangsawan Tionggoan dan Persia. Darah biru itulah yang akan membangkitkan segala kekuatan di dalam dirinya. Darah biru itulah yang akan menuntunnya kelak menjadi manusia sempurna.”
“Kalau bukan kita yang mengajarinya dan menuntunnya, pangcu muda kita tak akan mampu membangun kembali Kim-liong-pay yang telah runtuh. Bukankah itu tugas kita bertujuh??!!!” Tiba-tiba muncul soosk lainnya.
“Lebih baik kita mengikutinya!” Ajak lainnya. Dan dengan kecepatan kaki, mereka sudah berlari mengejar bayangan Lie Yang.
Dalam perjalanan balik ke kuil Siauw-lim-sie, Lie Yang masih merasakan penasaran dengan sosok yang menemuinya itu. Tak henti-hentinya ia mencoba menebak siapa sosok manusia bertopeng itu.
“Topeng dan baju yang dipaainya sangat mirip dengan milikku. Apakah dia anggota Kim-liong-pay? Kalau memang benar, siapa sebenarnya dia?”
Tiba-tiba ia merasakan betapa rindunya ia dengan kakek buyutnya yang baru meninngal. Seandainya kakek buyutnya masih ada, mungkin ia bisa menanyakannya. Bahkan sampai saat ini ia masih belum bertemu dengan Dua Pelindung Kim-liong-pay. Sejak berpisah dua minggu yang lalu, ia belum mendapatkan kabar tentang mereka. Terakhir kali ia mendengar kabar mereka dari mulut Kho Sa, katanya Dua Pelindung sedang pergi menemui seseornag. Namun Kho Sa tak tahu siapa yang akan ditemui oleh Dua Pelindungnya. Semakin ia memikirkan hal-hal itu, ia semakin bingung dan tak mengerti.
“Sebenarnya, apa yang harus kulakukan?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul kembali. Dan entah berapa kali ia sudah bertanya kepada dirinya dengan pertanyaan itu.
“Mungkinkah orang itu yang ingin ditemui oleh Dua Pelindung?” Pikiran itu muncul dengan tiba-tiba ketika ia memikirkan keterlibatan Pek-tiauw-pay di tempat ini. Perguruan milik mertuanya itu pun ternyata ikut bergerak. Kalau begitu Dua Pelindung saat ini mungkin berada di tempat ini.
Bersambung ….
Sambungan Badai Di Siauw-lim-sie
Seperti halnya Lie Yang, sekeompok pendeta, anak murid Siauw-lim-sie dan anggota Kay Pang yang dipimpin oleh Thian Hun Siansu dan pangcu Kay Pang terkaget-kaget ketika perjalanan mereka dihalangi oleh seorang bertopeng. Namun, bukan Thian Hun Siansu yang bijaksana kalau tak mampu melihat kebenaran ucapan laki-laki di depannya. Seteah menimbang baik dan buruknya, Thian Hun Siansu membawa anak-murid Siauw-lim-sie dan anggota Kay Pang kembali lagi.
Sedang, pertempuran di lereng gunung Song benar-benar membawa petaka. Ada ratusan mayat bergelimpangan tanpa desahan napas lagi, ada puluhan orang dengan napas tersendat-sendat di ambang kematian dan ada yang masih tegar seperti harimau yang sangat ganas. Diantara mereka, terlihat pangcu Yang dengan desingan pedangnya yang menggila, mertua Lie Yang itu tampak garang kepada Ang-hong-pay.
Setiap ia berhasil mencengkram leher lawannya, ia selalu bertanya, “dimana ketuamu, suruh dia keluar melawanku!” Namun, musuhnya selalu tutup mulut sehingga membuat orang tua itu mengamuk habis-habisan. Di sampingnya, tiga sosok bertopeng melawan musuh mereka dengan santai. Mereka adalah manusia-manusia misterius yang pernah dimiliki oleh Kim-liong-pay saat ini. Bakat dan ilmu silat yang mereka miliki benar-benar sudah sangat tinggi. Setiap ayunan tangan, kaki dan bahkan gerakan baju mereka, membuat musuh terpental dengan luka sangat hebat.
Para pendekar yang dibawa oleh pangcu Yang memang sangat bertindak tak tanggung-tanggung. Dendam yang ada di dalam dada merekalah yang mengobarkan api panas, membakar tubuh mereka menjadi manusia setengah setan. Mereka adalah pendekar-pendekar yang keluarganya telah binasa oleh sepak terjang Ang-hong-pay, bahkan ada diantara mereka yang kehilangan keuarga dan perguruan silat mereka. Mereka disatukan oleh dendam kusumat dan tujuan utama menghancurkan Ang-hong-pay. Mereka bersatu dengan Pek-eng-pay untuk menghancurkan musuh mereka.
Di tempat lain, tak jauh dari tempat pertempuran itu, belasan orang dengan pasukan terpendam dan lebih elit melihat dengan senyum sinisnya. Mereka adalah inti dari Ang-hong-pay yang belum bergerak. Mereka hanya diam. Menunggu sesuatu yang sedang mereka tunggu-tunggu.
“Apakah pangcu ada di sini, Cong Fu-hoat ?”
“Pangcu bisa dimana saja. Tempat jelajahnya tak terbatas. Ia bisa kemana saja sesuai keinginannya!” Jawaban dari Cong Fu-hoat (Ketua Para Penasehat) itu sunggu terdengar biasa saja.
“Sebenarnya, apa yang kita tunggu di sini?”
“Kong Sie, jangan banyak tanya lagi! Apakah engkau tak mampu menebak apa yang kita tunggu saat ini? Ketergesa-gesahanmu itulah kegagalanmu selama ini. Andai engkau mampu bersabar dan berpikir, pasti engkau mampu menghancurkan Kay Pang dan Siauw-lim–sie yang hanya sebesar kuku kelingking itu. Bersabarlah dan lihatlah!”
Bergoak hati Kong Sie mendengar ucapan tajam itu. Ada rasa tak senang dengan Cong Fu-hoat yang selalu meremehkannya itu. Apalagi kalau Cong Fu-hoat membanding-bandingkan dengan sepak terjang Hou Bu atau Ku Tek saudaranya. Apalagi dua saudaranya itu tak pernah mendapatkan misi-misi penting Ang-hong-pay. Hanya dirinya yang seharusnya mendapatkan pujian atas pekerjaannya walaupun ada yang gagal dikerjakannya. Bukankah selama ini ia yang mengerjakannya semua pekerjaan Ang-hong-pay? Seharusnya ia mendapatkan pujian atas sepak terjangnya itu bukan penghinaan seperti ini. Seharusnya dirinya lah yang menggantikan ayahnya menjadi pangcu Ang-hong-pay?
“Bihhh, persetan dengan menunggu. Kali ini akan kugilas Kay Pang dan Siauw-lim-sie dan seanjutnya kuhancurkan Thian-long-pay supaya tak ada yang menghinaku lagi.” Katanya sendiri tanpa harus diucapkan.
“Siapa sebenarnya tiga bertopeng itu? Kalau seperti ini, kemungkinan operasi ini akan mengalami kegagalan lagi.” Pikir Cong Fu-hoat. Orang ini tak henti-hentinya bertanya tentang tiga bertopeng misterius di gelanggang pertempuran sana.
Orang keempat terpenting Ang-hong-pay ini memang pantas mendapatkan tempat tertinggi setelah tiga orang lainnya. Keahian strategi perang dan ilmu silat yang dimilikinya konon bisa disandingkan dengan Pangcu Ang-hong-pay yang misterius. Bahkan menurut kabar seharusnya dialah yang memimpin Ang-hong-pay. Ia terkenal dengan pikirannya yang bisa memandang sejauh mata elang.
Melihat pikirannya itu, sepertinya ia sangat akrab dengan istilah-istilah strategi peperangan panglima besar Sun Zu. “Bagaimana aku bisa yakin apabila aku tak mampu mengetahui siapa musuh-musuhku itu?” Kata hatinya lagi.
“Kong Sie, menurutmu siapa tiga orang bertopeng itu?” Akhirnya Cong Fu-hoat melontarkan gelagat di dalam pikirannya itu. Walaupun kenyataannya selama ini ia tahu kalau Kong Sie bukan orang yang pintar olah pikir.
“Kenapa Cong Fu-hoat menanyakan siapa tiga orang itu? Apakah penting mengetahui siapa tiga orang itu?”
Cong Fu-hoat mendesah resah. Jengkel dan bingung mengaduk-aduk hatinya. Ia mendesah resah. Buntu pikirannya saat ini. Ia diam tak mau menjawab jawaban yang berekor pertanyaan Kong Sie itu.
“Kenapa pangcu menyuruhku bekerja sama dengan orang ini? Dasar berotak kerbau!” Cong Fu-hoat menyumpah-nyumpah di dalam hatinya.
“Apakah mereka benar-benar berhubungan dengan Kim-liong-pay? Kalau benar, sungguh berbahaya sekali. Ang-hong-pay mulai membentur baja yang mulai membentuk senjata tajam. Suatu saat pedang itu akan menggores-gores Ang-hong-pay seandainya tak segera dihancurkan.”
Akhirnya, Cong Fu-hoat mengakhiri kemelut hati dan pikirannya. “Siapapun mereka, pasti mempunya asal-usul yang menyambung dengan Kim-liong-pay. Apalagi Si Elang Terbang Berlaksa Li bersama mereka. Aku harus berhati-hati. Operasi penting ini jangan sampai gagal lagi!”
“Kong Sie, bawa pasukan Cap-sian Pek-i-wi (Sepuluh Dewa Pengawal Berbaju Putih) dan Ang-i-hong menyusul Si Hou-hoat (Pelindung Ke-mepat) dan Ngo Hou-hoat (Pelindung Ke-Lima) ke markas Siauw-lim-sie.”
Kong Sie tak menyangka atas perintah yang tiba-tiba itu jadi kaget. Ia ingin bertanya namun Cong Fu-hoat memilih pergi dengan cepat setelah menjatuhkan perintahnya. Ia di sini sebenanrya hanya diperintahkan oleh Pangcu Ang-hong-pay untuk melihat saja. Sebab terjadi kekacauan di lereng gunung Song, ia harus keluar dari tempat pengintaiannya dan membantu membetulkan gerakan selanjutnya. Serbuan para pendekar itu pun bukan dari tujuan penyerbuan ke Siauw-lim-sie, itu adalah gerakan tak terkendali dan terpantau olehnya. Bahkan sebelumnya ia tak pernah menyangka akan mendapatkan serangan dari para pendekar lainnya. Sebelumnya ia telah memperkirakan akan dapat membumi-hanguskan Siauw-lim-sie.
Kong Sie membawa pasukannya menuju kuil Siauw-lim-sie di puncak sana. Ia sudah tak berpikir lagi kenapa Cong Fu-hoat menurunkan perintah membantu pasukan ke dua. Ia hanya menikmati penyerbuan dan menjarah semua isi Siauw-lim-sie.
Di depan kuil Siauw-lim-sie, kelompok yang dibawa oleh Thian Hun Siansu sedang berhadapan dengan pasukan kedua Ang-hong-pay. Pertemuan mereka tepat sekali sebelum kelompok Ang-hong-pay masuk ke dalam kuil. Upaya mereka sedikit mengalami rintangan oleh pasukan Lo Han yangs etengah ditinggalkan oleh Thian Hun Siansu.
Lie Yang yang baru sampai di tempat itu tak langsung menampakkan diri. Ia memilih untuk diam di pohon mengintai dan mencari-cari kesempatan untuk tampil. Namun, baru saja ia duduk di atas dahan sebuah pohon, ia mendapatkan kejutan untuk kedua kalinya. Empat orang bertopeng hadir di sampingnya. Bahkan di sampingnya juga telah hadir Uh Hou-hoat.
Badai Di Siauw-lim-sie (4)
“Uh Hou-hoat?” Hampir Lie Yang terjatu lantaran kaget. Bukan karena kehadiran merka yang secara tiba-tiba. Namun sapaan berupa deheman itu yang membuatnya terkejut. Ia tahu benar siapa yang berdehem itu. Sudah hampir sebulan lamanya Ji-sian tak menampakkan diri dan memberi laporan secara lengkap padanya. Terakhir ia hanya mendapatkan laporan dari Kho Sa bahwa mereka sedang menggalang kekuatan baru. Ia tak pernah menyangka bahwa di tempat inilah ia akan berkumpul dengan Ji-sian.
“Apa kabarmu, pangcu?” Sapaan sederhana segera dibuka Uh Hou-hoat. “Apakah tugas yang diberikan buyut Giok sudah terlaksana semuanya, paman?”
Lie Yang tak menjawab pertanyaan basa-basi itu. Baginya, terpentinga dalah mengetahui apa tugas yang diberikan oleh buyutnya itu. Ia berhak untuk mengetahui seluruh tugas itu. Apalagi sejak ia mengemban amanat menjadi ketua Kim-liong-pay, ia hanya mengetahui tujuh persen saja seluk-beluk Kim-liong-pay. Ia mennduga, masih ada beberapa bagian dari sisi Kim-liong-pay yang tak diketahuinya.
“Aku dan Hong Hou-hoat diberi tugas berbeda oleh kakek Giok. Aku mendapatkan tugas mencari asal-usul Ang-hong-pay, sedangkan Hong Hou-hoat merekrut ulang anggota Kim-liong-pay. Setelah tugas perekrutan ulang berhasil, kita akan mengadakan pesta besar untuk mewartakan kebangkitan Kim-liong-pay.”
Lie Yang mengangguk-nganggukan kepalanya. “Berhasilkah tugas-tugas itu?” Tanyanya lagi tanpa harus menghindarkan pandangannya dari percecokan antara Ang-hong-pay dengan pihak Siauw-lim-sie.
“Bisa dibilang berhasil. Buktinya adalah malam ini. Malam ini akan menjadi penentu langkah kita selanjutnya, pangcu. Aku berhasil membuntuti seorang dengan kemampuan sangat tinggi sampai sini. Orang itu kubuntuti jauh-jauh dari Nanking. Menurut informasi yang kuterima dari mata-mata anggota kita yang tersebar di mana-mana. Orang itu kemungkinan adalah ketua Ang-hong-pay,”
“Ketua Ang-hong-pay?” Ulang Lie Yang hampir tak percaya bahwa ketua Ang-hong-pay sampai turun ke medan tempur. Ini menjadi sesuatu yang seru. Setahunya, sejak beberapa tahun yang lalu, sosok ketua Ang-hong-pay adalah sosok yang sangat misterius. Konon, ketua yang dimiliki oleh Ang-hong-pay itu tak pernah turun tangan sendirian.
Kalau ia mengingat masalah itu, ia jadi sangsi, kekuatan apa yang dimiliki oleh Ang-hong-pay sampai sehebat itu. Baru keroco-keroconya yang turun tangan saja, dunia Kang-ouw sudah mendidih seperti itu. Tak bisa ia memikirkan betapa hebat sosok misterius itu. Bahkan sampai saat ini, ia belum mengetahui bagaimana ikatan struktural Ang-hong-pay yang sebenarnya. Kalau ia tak mengerti hal yang seremeh ini, jangan harap ia mampu memadamkan api yang sedang berkobar-kobar itu. Hakikatnya, ia harus tahu dulu seberapa kekuatan yang dimiliki Ang-hong-pay, baru ia dapat mengukur apakah usahanya berhasil apa tidak untuk menentramkan dunia Kang-ouw.
“Bagaimana sebenarnya struktural organisasi Ang-hong-pay, paman?”
“Hmmm… susah untuk menentukan bagaimana organisasi itu. Aku hanya tahu, di organisasi Ang-hong-pay ada tiga pasukan, mereka mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Kemampuan yang dipunyai setiap kelompok itu bias ditandai oleh baju yang mereka pakai. Hitam, merah dan putih.”
“Itu berarti, sistem organisasi mereka tak jauh dengan Kim-liong-pay?”
“Sepertinya begitu, namun ada beberapa pasukan yang sulit ditentukan identitasnya,”
“Oh, ya?”
“Ya, misalnya, pakaian hitam sebagai pasukan terendah dan pasukan berpakaian putih sebagai kekuatan inti. Pasukan berpakaian putih inilah yang susah untuk diperkirakan, karena corak yang dipakai mereka berbeda-beda antara satu sama lainnya.”
“Mungkinkah, pasukan putih yang dimilki oleh mereka masih terbagi sesuai kemampuan individual?”
“Itu yang ada dibenakku, pangcu!”
“Hmm… seminggu lalu aku berhasil bertemu dengan pasukan putih dengan kemampuan yang berbeda-beda. Bahkan diantara mereka ada yang berbahasa Persia. Apakah ini berarti, Ang-hong-pay berhubungan dengan negeri Persia?”
“Itulah yang selalu mengganjal dibenakku,”
“Paman, siapakah teman-teman yang Paman bawa ini?”
“Oh, ya, sampai aku pun lupa memperkenalkan saudara baru kita. Mereka adalah Jit-po-liong-ong (Tujuh Penjaga Raja Naga). Mereka bertuju akan selalu mengiringi kemana pun Pangcu pergi.”
Lie Yang memperhatikan tiga orang di sampingnya. “Pangcu, perkenalkan, saya Hong-po (Penjaga Angin)!” Sambil merangkap dua tangannya.
“Saya Lui-po (Penjaga Petir)!”
“Saya Hwi-po (Penjaga Api)!”
“Selamat bergabung saudara-saudara sekalian! Semoga kalian bisa membantuku untuk tugas suci Kim-liong-pay!”
Sungguh senang Lie Yang mendapatkan kekuatan baru ini. Hanya dengan melihat pancaran mata dan nada suara setiap anggota baru di depannya, ia sudah bisa menentukan seberapa lweekang mereka.
“Apakah diantara kalian ada yang merasa menemuiku sebelum ini?”
Pertanyaan yang begitu mudah itu membuat tiga sosok bertopeng di sampingnya agak kelabakan. Mereka tak tahu apa yang dimaksud oleh Lie Yang.
“Kalau begitu bukan kalian orangnya yang menemuiku di tengah hutan sana.” Melhat reaksi tiga sosok di sampingnya, ia tahu bahwa bukan salah satu dari mereka yang menemuinya itu.
“Aku kira Sui-po (Penjaga Air) yang menemui Pangcu!” Kata Uh Hou-hoat.
“Orang yang menemuiku di tengah hutan itu membawa seruling perak. Badannya setinggi diriku dan ketika berbicara, aksen suaranya selalu terdengar datar. Apakah benar orang itu Sui-po?”
“Sui-po memang begitu, ia memang memilki adat paling aneh. Ia bias menjadi apapun. Kadang pendiam, suka bergurau, keras kepala bahkan kasar. Namun dasarnya memang lembut dan seorang pemimpin yang bijaksana.” Ujar Uh Hou-hoat.
“Sui-po-heng memiliki ilmu silat paling tinggi diantara Jit-po-liong-ong. Ia juga memilki otak paling cemerlang diantara kami. Untuk itulah ia menjadi pemimpin kami.” Hong-po menambahi sedikit.
“Lalu, bagaimana aku bisa membedakan kalian, kalau pakaian dan postur tubuh kalian sama?” ini yang sangat mengganjal hati Lie Yang. Pakaian dan topeng mereka sama semuanya.
“Hahahaha… Pangcu tak perlu kuatir, kami memiliki senjata yang berbeda. Bahkan aku yakin, seandainya topeng yang melekat pada wajah kami itu dibuka, aku yakin Pangcu bakal kebingungan untuk membedakan kami.” Hong-po tertawa ceria. Lie Yang tersenyum. Setidaknya ia sudah mampu meraba kepribadian Hong-po.
“Dari cara kami bicara pun, pangcu bisa membedakan.” Kata Lui-po.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, pangcu?” Uh Hou-hoat mulai serius lagi setelah sejenak diam.
“Hmmm… kita tunggu sebentar lagi, paman! Belum waktunya kita turun tangan.”
“Baiklah, kami akan mematuhi perintah, pangcu!”
Jauh di depan mereka, anak-murid Siauw-lin-sie hampir bentrok lagi dengan Ang-hong-pay. Kali ini, Ang-hong-pay terlalu lembut dan lunak dengan Siauw-lim-sie. Tak seperti kemarin yang langsung menyerang dengan brutal. Pihak Ang-hong-pay masih memberi peluang kerja sama kepada pihak Siauw-lim-sie dan Kay Pang. Namun, Thian Hun Siansu dengan sabar dan lembut menolak uluran kerja sama itu. Setelah mendengar penolakan itu, pihak Ang-hong-pay yang dipimpin oleh Si Hou-hoat dan Ngo Hou-hoat segera bersiap-siap menyerang, namun seseorang muncul.
“Apa tak sebaiknya Ciangbujin memikirkan kembali apa yang kami minta itu?” Orang itu langsung angkat bicara. Nadanya seperti seorang sahabat yang sedang menasehati temannya saja. Ia tak datang sendirian, ia datang bersama tiga lainnya.
“Bergabung dengan kalian, sama saja bergabung dengan iblis. Lebih baik badan ini hancur-lebur, daripada menambahi kesesatan dan kejahatan di dunia kang-ouw!” Ketua Kay Pang menjawab dengan ketus.
“Hahaha… Pangcu Kay Pang ternyata benar-benar seorang pemberani dan pendekar besar! Sungguh hebat bukan main. Salut… salut…salut…” Kata Orang berjubah biru tua yang baru datang itu.
“Hmm… Bagaimana mungkin itu dinamakan ‘berani’, kalau hanya mengoceh tak karuan. Mulutnya memang besar, namun nyalinya hanya sebesar nyali tikus. Kalau tak ada para hwesio, mana mungkin ia bisa sesumbar seperti itu.” Orang kedua yang baru datang mengejek.
“Kau…” Saking marahnya, pangcu Kay Pang tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.
“Kita mempunyai tujuan yang berbeda. Sesuatu yang berbeda tak akan pernah bias menjadi satu warna.” Thian Hun Siansu berkata lembut.
“Warna yang berlainan jika dipadukan akan menghasilkan warna baru. Bisa indah, bahkan kadang jelek. Andai bisa menghasilakn lukisan yang indah, itu bagus! Namun, hasil warna yang jelek harus segera dihilangkan. Apalagi warna yang dapat merusak keindahan lukisan.” Tiba-tiba seseorang menyahut. Suara itu terbawa angin sampai bermil-mil. Walaupun sangat pelan bagaikan bisikan.
Terlihat secercah sinar emas sebentar. Tiba-tiba saja Lie Yang sudah berdiri di samping Thian Hun Siansu. Thian Hun Siansu manggut-manggut melihat kehadiran Lie Yang.
Beberapa orang Ang-hong-pay terbengong-bengong melihat kehadiran Lie Yang. Bahkan diantara mereka ada yang bergntar hebat melihat topeng yang dipake oleh Lie Yang. Orang itu memiliki alasan kaut untuk terguncang hatinya. Walaupun hanya sebentar saja.
“Selamat bertemu kembali, Sianseng!” Sapa Thian Hun Siansu ramah. Lie Yang hanya menjawab dengan menjura tanpa mengangkat suaranya.
“Hmmm… pantas, kalau kali ini Shiaw-lim-sie dan Kay Pang begitu tenang, ternyata membawa teman baru. Apakah Thian Hun Siansu tak mau mengenalkan siapa saudara itu…”
“Seharusnya pihak Ang-hong-pay sudah tahu siapa diriku ini. Pakaian yang kupakai dna pedang yang kubawa ini tak akan pernah terlupakan oleh angkatan tua dunia kang-ouw. Apalagi topeng emas yang kupakai ini?” Lie Yang menjawab dengan cepat.
“Aku memang tahu pakaian apa yang saudara pakai. Setahuku, sudah belasan berlalu, tak pernah kutemui ada orang memakai pakaian seperti itu lagi.”
“Hahaha… sungguh lucu. Apakah itu berarti pakaian ini tak boleh dipakai lagi? Apalagi kupakai! Sudah berkali-kali aku memberi peringatan dan keringanan kepada Ang-hong-pay, namun peringatanku selalu diabaikan. Kali ini jangan harap kami bisa memberi kemudahan itu lagi. Sebaiknya, kalian pergi dan jangan membuat perkara lagi di dunia kang-ouw!”
Tiga orang Ang-hong-pay malah tertawa mendengar ucapan Lie Yang itu. Mereka menganggap omongan Lie Yang hanya gertakan sambal saja. Ucapan yang sangat sombong. Padahal, mereka tak pernah tahu, bahwa Lie Yang bukan orang yang keras ataupun sombong seperti itu. Ia berbicara seperti itu hanay untuk mengimbangi kesombongan Ang-hong-pay dan memperlihatkan wibawa pangcu Kim-liuong-pay.
Tiga orang Ang-hong-pay yang sepertinya mempunyai kedudukan lebih tinggi itu masih tertawa. Bahkan tertawa tiga ornag itu semakin terpingkal-pingkal. Saat lengah itulah, Lie Yang dengan kecepatan gerakan tangannya mencabut pedangnya. Serangkuman hawa yang sangat dingin tiba-tiba saja mengincar rambut salah satu dari tiga orang itu.
Tak ada seorang pun yang bias melihat kecepatan gerakan tangan Lie Yang. Rambut ornag Ang-hong-pay yang paling depan itu terputus begitu saja. Tiba-tiba saja suara tertawa mereka berhenti, saat mereka menyadari bahwa rambut salah satu teman mereka terpangkas.
“Aku masih berlaku lembut kepada kalian untuk tak memotong tubuh kalian menjadi potongan kecil. Apakah Ang-hong-pay tak pernah mengajarkan anggotanya untuk berlaku sopan?”
Kecepatan dan keakuratan sabetan pedang Lie Yang membuat nyali banyak anggota Ang-hong-pay menciut. Mereka tak berani meremehkan Lie Yang. Apalagi gaya bicara dan karakter Lie Yang yang seperti itu. Karakternya benar-benar berbeda dari biasanya. Kalau dilihat dari dalam hatinya, sebenarnya Lie Yang bukan manusia yang suka menakut-nakuti ornag lain. Ini hanyalah tuntutan sebagai seorang pangcu, apalagi ia sangat diharapkan oleh buyutnya untuk merubah dunia kang-ouw. Andai ia berlaku sungkan-sungkanan, ia tak akan pernah bisa merubah keadaan.
Melihat teman mereka dilecehkan seperti itu, dua orang pimpinan lainnya segera melangkah ke depan. “Apa benar ucapanmu itu? Aku ingin merasakan bagaimana rasanya tubuhku terpotong-potong oleh pedangmu!” Salah satu dari dua orang itu menantang. Ditilik dari sikapnya, paling tidak orang bertubuh lebih pendek itu masih memilki jiwa kesatria. Lie Yang tersenyum dari dalam topengnya.
“Apa pangkatmu di Ang-hong-pay? Aku tak mau membuang-buang tenagaku hanya untuk manusia rendah!” Hebat sangat omongan Lie Yang ini. Ia sangat tahu, bagaimana manusia kang-ouw hidup. Mereka sangat pantang disebut ‘pengecut, manusia rendah, penjilat, anjing dan lain-lain dari kata-kata menghina. Tujuan utamanya hanya ingin mengetahui apa jabatan yang dipegang oleh lima orang di depannya itu. Seandainya ia meminta dengan halus, ia tahu semuanya bakal sia-sia saja.
“Siapa pun engkau, jangan harap engkau akan mendapatkan kelembutan dariku. Supaya engkau dapat menjawab pertanyaan Dewa Neraka, perlu engkau ketahui, aku adalah Si Hou-hoat dan mereka adalah pelindung Ang-hong-pay pertama, kedua, ketiga dan kelima. Orang yang engkau rendahkan itu adalah Sam Hou-hoat (Pelindung Ke-tiga)!” Sambil berkata seperti itu, Si Hou-hoat bergerak menerjang Lie Yang. Ji Hou-hoat (Pelindung Ke-Dua) sepertinya ingin mencegah, namun It Hou-hoat memberi isarat untuk membiarkannya.
“Tringggggg….” Suara adu pedang antara Si Hou-hoat dengan Lie Yang terdengar sangat keras. Bahkan bunga api berpijar akibat gesekan dua pedang itu. Lie Yang tak segera mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.
Si Hou-hoat sangat bernafsu untuk segera mengakhiri permainannya. Seluruh tenaganya tercurahkan dengan gerakan yang sangat gesit, ringan dan berbobot. Lie Yang hanya menghindar saja, berkali-kali ia meloncat mundur. Bahkan lingkaran perkelahian menjadi jauh akibat Lie Yang selalu menghindar terus-menerus. Ia tak pernah menyerang lawannya. Semakin ia menghindar, Si Hou-hoat semakin bernafsu untuk mengejar dan menghajar.
“Si Hou-hoat kali ini giliranku! Awas pedang…!” Lie Yang tiba-tiba saja berteriak keras memberi peringatan. Selama bertarung beberapa menit, ia sudah dapat menyelami inti ilmu pedang lawannya. Bahkan beberapa kelemahan bisa dilihatnya dengan jelas. Kali ini ia memulai dengan meloncat ke belakang. Suatu taktik yang aneh. Ia berteriak memberi peringatan, namun tubuhnya melakukan poksai ke belakang.
Baru saja kakin kirinya menyentuh tanah, sekali gencatan tubuhnya meluncur dengan deras ke depan. Pedang di tangan kanannya tiba-tiba saja sudah tercabut dari sarungnya.
Tubuhnya meluncur deras ke depan, bagaikan anak panah. Si Hou-hoat sekejap tak bisa mengerti apa yang harus dilakukan, ia hanya bisa menyerongkan pedangnya ke samping, membela udara di depannya. Namun, ia sekali lagi terkejut, karena tubuh Lie Yang tak ada di depannya. Bahkan sabetannya tak mampu menyentuh pedang Lie Yang. Ia berdiri terpaku. Tak mengerti bagaimana Lie Yang bsiua melakukan tipuan gerakan secepat itu.
Lie yang yang sedang berdiri di belakangnya tiba-tiba tertawa tergelak. Ia diam tak bergerak. Suaranya mendengung-dengung. Menghentak-hentak dada setiap orang yang hadir. Pucat wajah pangcu Kay Pang melihat gerakan yang baru didemontrasikan oleh Lie Yang tadi.
Tubuh Si Hou-hoat tiba-tiba saja ambruk. Tak ada darah sedikit pun yang menetes, namun tubuh itu tergeletak di tanah tak bergerak.
“Apa yang dilakukan orang itu? Iblis…!!!” Sam Hou-hoat bertanya pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tak mengerti bagaimana mungkin Si Hou-hoat bisa terkalahkan dengan semudah itu. Tak ada satu pun manusia di tempat itu yang mengerti bagaimana gerakan Lie Yang yang sebenanrya. Gerakan tubuhnya terlalu cepat untuk dua buah mata manusia.
Belum sempat orang menyadari sesuatu yang aneh. Ketika tawa Lie Yang berhenti, ia langsung saja menyerang meluncur ke depan para Pelindung Ang-hong-pay. Matanya berkilau-kilau seperti mata elang.
“Di mana ketua kalian, suruh dia keluar. Aku tahu dia ada di sini saat in! Kalau dia tak keluar, jangan harap diantara kalian ada yang bisa pulang dengan selamat!”
“Hmmm… apa dengan kemampuanmu, engkau mampu melawan kami? Ketua kami terlalu suci untuk menginjakkan kakinya di tempat ini!”
“Hahaha… engkau terlalu meremehkan kami! Cap-sian Pek-i-wi atasi orang itu!” kata Ngo Hou-hoat
Sepuluh orang berpakaian putih segera meloncat tanpa sungkan lagi. Mereka mengurung ketat Lie Yang. “Sudah kukatakan, tak akan ada manfaatnya! Bahkan kalian semuanya menyerangku sekaligus, dua tanganku akan masih sanggup menjewer telinga kalian masing-masing. Suruh keluar ketua kalian untuk bertaubat, baru aku akan memaafkan selembar nyawa kalian.”
Lie Yang berteriak sambil melempar Khikang (Gelombang Sakti) dan Lweekang-nya. Beberapa anak buah Ang-hong-pay yang tak mempunyai Lweekang memadai segera terhuyung-huyung dan terjatuh pingsan.
Ketika selesai berbicara, Lie yang segera melangkahkan kakinya, selangkah demi selangkah. Namun abru tiga langkah, sepuluh pasukan baju putih Ang-hong-pay segera memperketat pengepungan. Bahkan mereka tak sungkan-sungkan lagi segera menyerang Lie Yang. Sekali lagi Lie Yang tertawa keras. Sambil tertawa, ia mengepos tenaga Lweekang dan Sinkangnya sampai seperempat bagian. Ketika dua puluh tangan sepuluh orang bertopeng itu menempel di seluruh badannya, ia hanya diam saja. Dua puluh tangan itu penuh dengan lweekang dahsyat, apalagi mereka menggabungkan tenaga mereka. Dapat dibayangkan betapa hebatnya bentuk pukulan, totokan, ataupun dorongan dari mereka itu. Namun tubuh Lie Yang hanya bergetar sebentar. Tertawanya tetap menggelegar seperti guntur.
Betapa terkejutnya sepuluh orang itu, ketika mereka merasakan ada yang aneh dengan tubuh mereka. Mereka tak pernah menyadari dan mempertanyakan kenapa Lie Yang diam saja membeku ketika mereka menyerangnya. Seharusnya mereka menyadari sesuatu keanehan itu. Ketika mereka menyadari hal itu, mereka sudah terlambat menghindarinya.
Tenaga mereka mengalir deras tersedot oleh Lie Yang. Lie Yang memejamkan dua matanya, bersiap-siap untuk menampung tenaga dalam yangs egitu banyaknya. Ia mencoba menjadikan dirinya seperti lautan luas yang siap-siap menampung berapa pun banyaknya air.
“Bahaya!” Teriak Ngo Hou-hoat ketika baru menyadari ketidakberesan itu. Ia meloncat dengan gerakan cepat. Tangan kananya mengincar kepala Lie Yang. Sungguh berbahaya sekali bagi Lie Yang yang sedang memejamkan matanya.
“Curang!!!”
Munculnya Dedengkot Ang-hong-pay ( 1 ).
Belum sempat Ngo Hou-hoat menyentuh kepala Lie Yang, ia sudah terpental. Tangan kanannya terlihat tak bisa digerakkan, menggantung seperti sudah mati rasa. Ia merasa betapa sakit tangannya itu. Ia tak tahu kenapa tiba-tiba tangannya terasa kesemutan dan tak bisa digerakkan. Ketika ia menoleh ke arah pendatang, ia tak melihat bahwa pendatang itu pelakunya. Ia mencari-cari siapa pelaku yang berhasil mencederainya. Namun tak pernah menemukannya.
Ngo Hou-hoat mundur beberapa langkah. Bulu kuduknya terasa berdiri. Ia merasa di sekitarnya terdapat banyak orang hebat yang sedang bersembunyi. Ingin ia berteriak-teriak bertanya siapa pelaku yang membopongnya itu, namun mulutnya terasa terkunci juga.
“Goblog kau!” It Hou-hoat memarahi Ngo Hou-hoat. “Kau tahu, engkau terlalu gegabah! Apa kau tak melihat bahwa orang bertopeng itu lebih tinggi ilmunya dari pada dirimu. Bahkan kita berlima menyerang secara berbarengan pun tak akan pernah mampu mengalahkannya. Gunakan otakmu.” Bisiknya kepada Ngo Hou-hoat dan Ngo Hou-hoat hanya bisa diam sambil berfikir.
Ketika tatapannya sampai pada pendatang baru di samping Lie Yang. Ia merasa aneh sekali. Entah sejak kapan di samping orang itu sudah muncul pendatang baru. Ia memakai jubah putih dengan kembangan api yang sedang membara. Orang itu juga memakai topeng, namun topengnya berwarna merah agak kekuning-kuningan.
Dua orang itu tampaknya sedang adu tenaga dalam. Mereka tak bergerak. Tiba-tiba It Hou-hoat yang sedang melihat juga tersenyum. Bahkan ia tak hanya melihat dua orang di depannya, ia mengalihkan pandangannya ke arah rerimbunan pohon di belakang Lie Yang. Ia dapat merasakan ada orang paling penting di tempat itu.
Lie Yang terpaksa harus membuka kedua matanya. Ia tak mampu lagi memusatkan pikiranya. Pikirannya kacau. Ada yang sedang bermain-main ilmu hitam mengacaukan pikirannya. Ia bahkan dapat merasakan ada Sinkang mengancamnya. Sinkang itu mengalir dari arah belakangnya dan memecah menjadi dua bagian. Satu terus-menerus menggempur pertahanannya dan satunya berhasil mendesak pendatang pertama. Ketika Lie Yang melirikkan matanya, ia berhasil melihat dengan jelas siapa pendatang pertama itu. Bahkan dialah yang sedang ditunggu-tunggunya sejak kemarin. Dia adalah Bu-tek Siauw-sin-tong.
“Hmm…sungguh bahaya!” Katanya dalam hati. Ia dapat merasakan kesusahan Bu-tek Siauw-sin-tong yang sedang mengadu nyawa itu. Andai ilmu Bu-tek Siauw-sin-tong tak sempurna, nyawanya akan segera melayang. Tubuhnya benar-benar sedang mengalami gencetan hawa sinkang dari dua arah yang berbeda. Sinkang yang sangat kuat dari belakangnya terus-menerus menggencetnya, sedangkan sinkang dari manusia bertopeng merah di depannya itu juga menghantam dadanya.
Ingin rasanya Lie Yang menyelesaikan pekerjaanya. Namun, di saat ia mau melepaskan ikatan ilmunya itu, ia tak berhasil melakukannya. Tenaga dalam yang disedotnya sudah terlalu banyak, bahkan akibat banyaknya tenaga yang masuk ke dalam tubuhnya, musuh-musuhnya mengalami muntah darah dan pingsan. Ia merasakan efek lain di dalam tubuhnya, tak seperti biasanya, dimana ia mampu menampung segala sinkang bahkan menguras lwekang orang dan menyimpannnya dengan rapi di dalam tubuhnya. Kali ini ia tak mampu melakukannya. Tenaga dalam yang berhasil dicuri dari orang lain tak mampu dikendalikannya. Bahkan tenaga itu sepertinya memberontak dan berhasil melukai beberapa organ dalam Lie Yang.
Kali ini Lie Yang tak mengerti ia harus bagaimana. Kalau ia langsung menghentikan ikatan ilmunya, ada dua kemungkinan terburuk yang akan menimpanya. Pertama ia akan mengalami cidera dalam yang lebih parah dan mengalami hantaman sinkang dari belakang dirinya yang sedang mencoba menghajarnya itu. Bahkan kemungkinan lainnya bisa lebih parah, musuh-musuh yang sedang dilumpuhkannya itu tak hanya akan terluka lebih parah, bahkan nyawa mereka bisa melayang. Ini yang tak mau dilakukannya. Hakikatnya ia tak mau membunuh orang lain. Kalau ia bisa menginsafkan orang lain, kenapa ia mesti membunuhnya. Andai orang itu tak mampu diinsafkan, ada cara lain yang lebih halus bisa ditempuhnya, yaitu menghilangkan ilmu silat orang itu.
Ia benar-benar mengalami buntu. Pengalamanya di dunia kang-ouw memang cetek. Ia mengakui istilah itu. Walaupun ia mempunyai perbendaharaan ilmu sampai segudang. Puluhan ilmu silat sudha dikuasainya. Bahkan ia mampu menggubah ilmu sendiri di usianya yang sangat muda. Namun, tetap saja, ia harus merasa bingung dengan keadaan yang belum pernah didapatinya itu.
Sesaat kemudian, ia mulai memejamkan dua matanya lagi. Ia mencoba untuk berkonsentrasi, walaupun ia merasa sangat kesulitan. Suara mantra yang terdengar dari jauh benar-benar membuatnya hampir tak sadarkan diri. Tiba-tiba ia dapat mengingat petuah gurunya, yaitu buyutnya sendiri dahulu.
“Nikmati semua derita, seperti engkau menikmati udara yang dihempaskan oleh lautan lepas. Lupakan derita dan nikmati udara segar yang sedang menerpa wajahmu…”
Ia mencoba melupakan semuanya, termasuk kehuwatirannya kepada Bu-tek Siauw-sin-tong atau rasa bersalah kepada orang-orang Ang-hong-pay yang menyerangnya itu. Ia mulai mengikuti alunan mantra yang mengisi kekosongan udara. Ia tak mengikutinya karena sudah terpengaruh, namun ia mengikuti untuk menikmatinya dan menelusurinya sampai ke mulut orang yang membacanya.
Ketika ia sudah merasakan kebebasan di dalam hati dan pikirannya. Ia mulai menarik semua tenaga dalam yang meliar di dalam tubuhnya. Ia mulai membalikkan semua tenaga liar itu ke pemiliknya masing-masing. Tiba-tiba ia mendengar seseorang tertawa. Konsentrasinya hampir buyar saking hebatnya tenaga dalam orang itu.
Tenaga Khi-kang (Gelombang) milik orang itu benar-benar dahsyat. Hingga membuat bumi yang sedang dipijaknya benar-benar seperti bergoyang. Tawa itu bukan sekedar tawa biasa, di dalam gelombangnya menyimpan ilmu hitam yang dapat menjebol nafas orang yang mendengarnya.
“Amithaba!” Thian Hun Siansu bergumam. Ia bahkan tersentak. Apalagi ketika ia melihat murid-muridnya banyak yang terkapar tak sadarkan diri. Akhirnya ia pun mulai membaca doa dengan mengerahkan Khikang-nya juga. Suara bening dari Thian Hun Siansu itu berhasil mengimbangi suara tawa orang bertopeg merah itu. Ia bahkan dapat melihat bagaimana keadaan Lie Yang dan Bu-tek Siauw-sin-tong. Tak lama setelah Thian Hun Siansu mendedangkan doa, terdengar pula lantunan kecapi. Lantunan kecapi yang dimainkan entah siapa itu sangat merdu. Bahkan semua suara dan mantra-mantra yang mengisi udara segera hilang tak berbekas. Suara lantunan kecapi itu bahkan dapat membimbing Lie Yang sampai pada konsentrasi penuh.
Ketika ia sudah merasa segar, ia pun mulai melepaskan ikatan ilmu Sin-hong Sin-kang. Beberapa saat kemudian ia sudah berdiri di samping sosok bertopeng merah.
“Saudara, lepas!” Katanya sambil memegang bahu kiri si topeng merah.
“Hmm…” Dengus si topeng merah. Si topeng merah tak senang melihat Lie Yang sudah segar kembali. Mau tak mau ia harus melepaskan gencatan tenaga dalam kepada Bu-tek Siauw-sin-tong. Sentuhan tangan Lie Yang memang bukan sentuhan biasa, di dalamnya mengandung sengatan listrik. Bahkan ia tak sekedar menyentuh, Lie Yang juga mengincar titik penting yang ada di sekitar bahu kiri si topeng merah. Si topeng sangat menegrti ancaman itu.
Sambil mengepos semangat, si topeng merah juga mengibaskan bahunya. Gerakannya sangat tangkas ketika bergerak menjauhi Lie Yang. Lie Yang yang tak mau bentrok dulu pun membiarkan si topeg merah menjauh. Ia ingin memastikan keselamatan Bu-tek Siauw-sin-tong dulu.
Setelah terputus dari gencetan tenaga dalam, Bu-tek Siauw-sin-tong tampak begitu lemas. Andai ia tidak segera dipegangi oleh Lie Yang, mungkin Bu-tek Siauw-sin-tong sudah terjerembab di tanah. Suara nafasnya terdengar tak normal.
“Twa-ko, bagaimana keadaanmu?” Tanya Lie Yang sambil menyalurkan tenaga murninya melalui sentuhan tangan kanannya.
“Hahaha… aku baik-baik saja. Akhirnya Bu-tek Siauw-sin-tong kena bopongan orang lain. Yang-te, jangan sia-siakan tenaga murnimu. Lebih baik engkau bentu aku menangkap bedebah itu. Orang bertopeng merah itu masih belum apa-apa. Orang di belakang sanalah yang berbahaya.” Kata Bu-tek Siauw-sin-tong seperti suara nyamuk. Memang kata-katanya itu tak ada yang terpotong, namun untuk mengatakan itu, ia harus mengeluarkan tenaga sangat banyak.
“Aku sudah tahu, Twa-ko. Tapi, buatku yang terpenting adalah kesembuhanmu. Biarlah aku menyalurkan sedikit tenagaku dulu, sampai engkau dapat berdiri sendiri…”
“Jangan kau sia-siakan tenagamu. Dudukkan saja aku di bawah pohon itu. Aku akan sembuh sendiri. Sebagai seorang ketua partai besar, engkau harus lebih mementingkan kepentingan umum.”
“Apa engkau yakin, Twa-ko?”
“Yakin. Tak ada yang akan bisa mengambil nyawa Bu-tek Siauw-sin-tong. Bahkan dewa neraka yang mengambil pun tak akan mampu. Tak pernah Bu-tek Siauw-sin-tong kalah oleh orang lain.”
Lie Yang menganggukkan kepalanya. Walaupun ia tak melihat Bu-tek Siauw-sin-tong membuka dua matanya. Namun ia sangat yakin akan omongan saudara angkatnya itu.
“Baiklah. Aku akan meminta seseorang menjagamu.”
Sambil menggotong tubuh Bu-tek Siauw-sin-tong, Lie Yang memberi isyarat kepada tiga diantara Jit-po-liong-ong. “Hong, Lui, dan Hwi terima perintah!” Teriak Lie Yang.
Tiga penjaga yang sedang bersiap-siap di sebuah pohon itu segera turun. “Siap, pangcu!”
“Hahaha… tak ada gunanya engkau menambah teman. Toh, mereka tak akan dapat membantu apa-apa.” Si topeng merah mengomentari di tengah-tengah perintah Lie Yang.
“Hong, kuperintahkan engkau untuk menjaga Bu-tek Siauw-sin-tong!”
“Lui dan Hwi, kuturunkan ‘Sabda Naga Bermain Badai’ kepada kalian berdua! Sekalian perintahkan kepada semua anggota dan pasukan Kim-liong-pay untuk menjalankan perintahku.”
“Siap, pangcu!”
Baru saja mereka selesai bicara. Mereka sudah bergerak cepat memenuhi perintah Lie Yang. Hong-po langsung mengambil alih tubuh Bu-tek Siauw-sin-tong. Sedangkan, Lui-po mengambil tempat di samping Thian Hun Siansu. Dan Hwi-po menyalakan api isyarat kepada semua pasukan Kim-liong-pay yang dipendam untuk segera keluar.
Hanya dalam hitungan detik, dari empat arah angin muncul puluhan orang. Mereka semua memakai jubah berwarna kuning emas. Sambil membawa obor di setiap tangan mereka, daerah itu menjadi terang sekali. Setiap orang bisa melihat wajah orang lain. Pasukan Kim-liong-pay tak memakai topeng, namun senjata mereka bermacam-macam.
Lie Yang sampai tersentak melihat anggotanya itu. Ia tak pernah tahu, bagaimana sebenarnya pasukan terpendam Kim-liong-pay. Pasukan yang dilihatnya ini adalah sisa dari pasukan lama. Mereka adalah pasukan tua yang masih direkrut secara rahasia oleh Jit Fu-hoat (Penasehat Matahari) selama belasan tahun belakangan.
Sebenarnya, pasukan inilah yang akan ditemui Lie Yang di Lou Yang ini. Hatinya bangga melihat sorot mata mereka yang membara. Satu per satu dilihatnya. Ia merasakan ada api di mata mereka. Api dendam. Ia tahu betapa dahsyatnya api dendam di dada mereka.
“Hidup Kim-liong-pay! Hidup Sheng-jin Siansu (Guru Besar Orang Suci)! Hidup Pangcu Kim-liong-pay! Hidup Bu-eng-hu!”
“Hancurkan kegelapan! Hancurkan Ang-hong-pay! Bayar darah! Bayar darah! Bayar darah!”
Tiba-tiba pasukan Kim-liong-pay berteriak-teriak. Sepertinya mereka sangat yakin, bahwa yang menghancurkan Kim-liong-pay puluhan tahun silam adalah Ang-hong-pay.
“Siapa pun engkau, topeng merah. Lebih baik engkau menyerah dan memberitahuku dimana ketuamu berada sekarang? Tak ada manfaatnya engkau menyuruh pasukanmu untuk berperang. Mereka sudah tak bersemangat untuk saling membantai, mereka lebih takut terbantai. Ada ratusan pendekar di sini, kalian, Ang-hong-pay tak akan pernah mengalami kemenangan lagi.”
Lie Yang mulai berbicara dengan tenang, setelah ia berhenti sejenak. Ia ingin memberi kesempatan kepada Ang-hong-pay untuk menyerah. “Sebaiknya aku harus mencegah pertumpahan darah lebih banyak lagi…” Katanya dalam hati. Dan tekadnya itu sudah kuat untuk melindungi anggotanya berlumuran darah lagi, walaupun ia tahu anggotanya sangat haus darah.
Si Topeng Merah terlihat berekspresi aneh. Ia diam membisu. Seperti patung yang sangat meneyramkan. Sesaat kemudian ia berkata dengan suara yang sudah berubah, tak lagi tampak meremehkan. “Apa engkau sangat yakin dengan kekuatanmu yang sedikit itu bisa mengalahkan Ang-hong-pay? Melihat gayamu bicara, aku yakin engkau masih sangat muda. Orang muda selalu gampang emosi, sebagai pemimpin, mereka biasanya tak mempunyai banyak pengalaman. Akibatnya, tindakan yang sepeleh akan menghancurkan anggotanya.”
Lie Yang benar-benar terguncang. Ucapan itu sepertinya sangat tepat untuknya. Apa yang diucapkan oleh Si Topeng Merah, sepertinya sebuah nasihat yang sangat tulus. Ketika Lie Yang mencoba merenungkan ucapan itu, Si Topeng Merah tertawa terbahak-bahak. Ekspresinya berubah lagi.
“Aku tak yakin akan dapat menemukan orang paling aneh seperti dia lagi? Benar-benar tak bisa dipegang.” Lie Yang menimbang-nimbang, kata-kata apa yang patut dikeluarkan.
“Sudah jelas, engkau kalah besar, sok berkata bijaksana? Apa engkau sedang menunggu untuk digilas?”
“Anak muda, aku yakin sekali kali ini kalau engkau masih muda. Coba katakan padaku, apa yang engkau ketahui tentang kami?” Sorot mata Si Topeng Merah semakin tajam.
“Apa aku perlu mengatakannya di sini? Semua orang sudah tahu apa itu Ang-hong-pay.”
“Terus terang, aku suka dengan semangatmu. Aku juga mengakui kehebatan tenaga dalammu dan kecerdasanmu. Namun, pengalamnmu sungguh-sungguh cetek, anak muda.”
Tiba-tiba Si Topeng Merah bergerak menjauh dengan langkah pelan. Ia mendesah panjang, lalu berucap. “Engkau sebenarnya tak tahu dengan benar siapa lawanmu, siapa aku, dan apa itu ang-hong-pay, apalagi siapa mereka itu?”
Lie Yang tiba-tiba merasa gelisah, entah mengapa. Ia dapat melihat tingkah aneh Si Topeng Merah itu. Bahkan di saat diam, ia dapat merasakan ada sesuatu yang aneh dengannya. Belum lagi Lie Yang berucap, Si Topeng Merah sudah mendahuluinya.
“Baiklah. Kau suruh aku menyerah, jangan harap. Andai kau ingin pergi, engkau menghalangi pun tak akan bisa. Kita akan berjumpa lagi nanti. Pesta sudah usai di sini.” Suara itu masih menggema. Sungguh luar biasa, Si Topeng Merah dengan kecepatan sekedip mata saja sudah menghilang. Hanya jarak waktu yang sangat sedikit saja, Lie Yang mengikutinya. Saat Lie Yang dengan kecepatan peringan tubuhnya mengikuti bayangan merah di depannya, sebuah suara seluit terdengar sangat keras. Saat itulah peperangan pecah.
Lie Yang sudah menjauh. Ia hanya dapat mengingat reaksi tubuhnya untuk menaklukan Si Topeng Merah. Jalur keras akan ditempunya. Ia sangat ingin tahu tujuan utama Ang-hong-pay menyerang Siauw-lim-sie. Ia tahu, ia mampu memakasa Si Topeng Merah, walau harus menggunakan kekerasan, sebuah jalan yang sangat dibencinya.
Hanya berjarak sekitar dua mil dari lingkaran pertempuran, tiba-tiba saja Si Topeng Merah berhenti mendadak. Sambil berdiri dan menggendong kedua tangannya di belakang, ia diam angker. Lie Yang ikut berhenti dan diam. “Kenapa engkau masih mengikutiku, anak muda?” Kata Si Topeng Merah dengan suara tanpa ekspresi.
“Bukankah ini yang engkau inginkan dariku?” Di dalam hati, Lie Yang berkata lain. Ia baru sadar kemungkinan ini adalah pancingan Si Topeng Merah. Bahaya!
Namun, ia mencoba untuk tetap tenang. Ia sangat yakin dengan kemampuannya. Yakin dengan tenaga dalam puluhan tahun buyutnya yang mengendap didalam tubuhnya, bahwa ia bisa mengatasi lima seperti Si Topeng Merah.
“Begitukah menurutmu?” Ada nada meremehkan di dalamnya. Llau ia menyambung lagi. “Sejak kapan ketua Kim-liong-pay menjadi begitu pintar?”
Benar, ini jebakan! Kata hati Lie Yang. Baru saja ia menyadari. Dibelakangnya, ia merasakan ada seseorang. Ia diam tak mau menggerakkan badannya.
“Usaha kita gagal, tuan! Mereka dapat memukul mudur pasukan kita.” Orang di belakang Lie Yang berbicara. Tanpa basa-basi dan langsung.
Si Topeng Merah tak bereaksi. Ia tahu bahwa kabar ini sungguh tak baik. “Aku sudah menduganya,” Katanya. “Tapi, aku yakin, Ketua, akan mampu menemukan orang tua itu di belakang Siauw-lim-sie. Sejak lama, aku sudah bilang, di dalam Siauw-lim-sie tak akan ditemukan benda itu. Sudah lama, benda itu ada di tangan orang tua itu.”
Di tengah-tengah pembicaraan kelompok Si Topeng Merah itu, Lie Yang seperti orang bodoh. Ia tak dapat mengerti apa yang sedang mereka cari. Benda? Orang tua? Berarti tujuan utama Ang-hong-pay bukan untuk menghancurkan Siauw-lin-sie dan menguasai dunia persilatan? Llau apa tujuan utama mereka?.
“Kenapa engkau diam, anak muda? Kenapa engkau tak segera bertindak atau bertanya kepadaku?” Si Topeng Merah membuka obrolan kembali ke arah Lie Yang.
Lie Yang memaksakan dirinya untuk tersenyum. Senyum itu tak akan terlihat. Lalu ia mendongakkan kepalanya ke arah langit. “Sungguh indah malam ini,” Lie yang berguman. Suaranya sangat lemah. “Aku tak perlu memaksa kalau akhirnya engkau akan memberi tahu dengan sendirinya. Aku tak perlu bertanya-tanya lagi, kalau engkau sangat yakin bisa menutup mulutku untuk selamanya.”
“Ha ha ha. Kenapa engkau menjadi sangat putus asa, anak muda?” Orang di belakangnya berkata. Suaranya berbeda. Suara yang sangat lemah, walaupun terdengar sangat keras. Ia tahu di belakangnya ada tiga orang. Orang yang sangat hebat. Tenaga dalam mereka bisa ia rasakan. Kalau ia harus melawan tiga orang ini sekaligus, bersama Si Topeng Merah, ia tak yakin bisa memenangkannya. Apalagi keyakinan empat orang ini dapat mengalahkannya bisa dilihat dari bicara mereka yang tanpa rahasia.
“Aku heran. Bagaimana engkau bisa menjadi ketua Kim-liong-pay, padahal baru tiga tahun engkau menghilang?” Si Topeng Merah berkata. Terdengar ia snagat tahjub. “Begitu hebatkah Sheng-jin Bu-eng-hu itu, hingga ilmumu bisa sedahsyat itu.”
“Melihat omonganmu, sepertinya engkau sangat tahu tentang aku. Bahkan mungkin tentang Bu-eng-hu.”
“Hmm. Kalau aku tidak tahu tentang engkau, bagaimana aku bisa yakin memenangkan sebuah pertempuran. Sebagai seorang komandan perang, seharusnya ia tahu kekuatan diri sendiri dan memahami segala apa yang dimiliki lawan. Mengetahui kelemahan lawan, berarti menang, sebelum berperang.”
“Itu hebat. Aku sering membaca filosofi seperti itu, tapi tak nyana akan mendapatkan pengalaman seperti ini. Aku sangat yakin engkau tak begitu memahami Bu-eng-hu.” Lie Yang mulai dapat bersantai. Ia dapat menduga kalau ia tak akan dibopong dari belakang tanpa perintah Si Topeng Merah. Ia merasa lega, apalagi Si Topeng Merah sepertinya belum tahu kalau ia adalah keturunan terakhir keluarga Giok dan ketetapan ketua atas dasar jalur darah dan keahlian ilmu silat. Itu artinya Si Topeng Merah mencoba menyombong dna menakut-nakuti dengan filosofi kuno itu. Lie Yang ingin tertawa kalau memahami ini.
“Itulah buruan kami. Tempat itulah urusan kami. Kami hanya perlu mencari kunci untuk memasukinya dan mengambil semua apa yang dimiliki Bu-eng-hu.” Jawab Si Topeng Merah.
“Aku tahu kuncinya. Itu sangat mudah kuucapkan.” Kata Lie Yang sambil bergeser ke depan dengan pelan. Dugaanya benar. Si Topeng Merah dan tiga orang dibelakangnya bergerak. Si Topeng Merah sepertinya sangat kaget mendengar kata-kat Lie Yang. “Aku akan memberitahukan kepada kalian. Bu-eng-hu adalah tempat yang sangat mudah didatangi bagi orang-orang yang sudah berhati suci dan tulus. Hanya orang yang tak memikirkan tentang duniawi yang bisa memasukinya. Jadi, sucikan hati kalian jika mau memasukinya. Itu mudah bukan?” Kata-kat Lie Yang seperti sebuah ejekan di telinga mereka.
“Huff. Engkau kira kelenteng siauw-lim-sie itu tak bisa dimasuki oleh para perampok? Kami yakin bisa memasukinya tanpa sarat-sarat aneh itu. Jika kami sudah berhasil mendapatkan kuncinya.”
“Aku yakin engkau tak akan mampu mendapatkan kunci itu. Apalagi, ada kami yang merintangi. Kalau Ang-hong-pay hanya mengandalkan orang-orang berbaju putih itu, itu mustahil!”
Tiba-tiba empat orang di samping itu tertawa terbahak-bahak secara berbarengan. Lie Yang sangat heran. Apakah ada yang lucu dengan omongannya tadi.
“Ini namanya ada kodok yang hidupnya di dalam tempurung dan mengatakan bahwa dunia itu sekecil tempurung. Ha ha ha… Tuan, apakah perlu kita jelaskan kepada ketua ingusan ini kekuatan Ang-hong-pay yang sebenarnya?” Seseorang di belakangnya berbicara. Orang itu masih tertawa walaupun pelan.
“Sebaiknya begitu, kongcu. Bagaimana Ang-kongkong (Kakek Merah)?” Si Topeng Merah berkata sambil menggeleng-geleng kepalanya.
“Kalian bisa mengatakannya kepada anak muda sombong itu. Biar matanya melek, kalau kekuatan Kim-liong-pay tak sebanding dengan Ang-hong-pay.” Suara itu terdengar lebih serak dari sebelumnya.
Jadi orang yang hebat itu seorang kakek-kakek? Tanya hati Lie Yang.
“Asal engkau tahu, anak muda. Kekuatan yang kami kerahkan di sini ini bukan kekuatan inti. Anggota Ang-hong-pay yang engkau kalahkan tadi itu hanya sebagian dari Ang-hong-pay sayap kiri. Kami inilah sayap kanan dan orang yang ada di belakang kalian itu adalah mantan ketua Ang-hong-pay beserta cucu-cucunya. Itupun, mereka bukan orang yang sangat penting di dalam keangggotaan Ang-hong-pay. Belum lagi kalian akan menghadapi pasukan Kara Asman…”
“Kara Asman? Pasukan surga?” Potong Lie Yang.
“Engkau tahu memaknai bahasa itu dengan tepat, anak muda. Sepertinya engkau pernah mendengar pasukan itu sebenarnya. Sungguh tak kuduga informasi yang engkau dapat bisa sejauh itu.” Ada rasa kagum dalam diri Si Topeng Merah, ketika mengetahui Lie Yang dapat mengetahui pasukan rahasia itu. Apakah benar Lie Yang mengetahui pasukan itu? Sebenarnya Lie Yang sendiri kaget, sebab bahasa itu adalah bahasa Persia kuno. Sedikit ia tahu tentang pasukan seperti para malaikat itu. Pasukan yang gagah berani dan melegenda itu. Namun, ia meragukan apakah benar-benar pasukan itu yang dimaksud.
“Hmm. Engkau kira aku orang apa yang tak tahu siapa mereka. Bahasa Persia adalah bahasa keduaku untuk berhubungan dengan para Sheng-jin.”
“Aku hampir lupa, kalau engkau hasil didikan seorang Sheng-jin Bu-eng-hu.” Kata Si Topeng Merah. “Namun, sebentar lagi, semua informasi dan rahasia yang engkau ketahui malam ini tak akan berguna apa-apa.”
“Aku tahu itu. Bagaimanapun juga, takdir tak bisa memebritahukan apakah aku akan mati di sini saat ini, atau kalian yang akan tergolek tak bernyawa di sini.” Saat menuntaskan kata-katanya itu Lie Yang sudah bergerak dengan cepat. Hanya dalam hitungan detik saja, Si Topeng Merah sudah menyerang dengan cepatnya.
“Apakah engkau sangat yakin dengan kemampuanmu itu?” Si Topeng Merah berkata sambil mencera dengan pukulan-pukulan dahsyat. Walaupun begitu, Lie Yang amsih mampu menhan setiap serangannya. Ia bahkan dapat mengimbangi dengan mudah setiap perubahan dari gerakan cepat Si Topeng Merah.
“Kalau aku tak yakin, kenapa aku berani mengikutimu sampai ke tempat ini?”.
Di belakang Siauw-lim-sie, saat yang sama dengan pertarungan Lei Yang.
Kuil Siauw-lim-sie benar-benar jatuh ke tangan musuh. Belum pernah dalam sejarahnya, kuil yang melegenda ini diberangus penjahat. Ang-hong-pay memang benar-benar telah menjelma menjadi raksasa yang tak terkalahkan. Nyawa para biksu dan murid Siauw-lim-sie berserakana di tanah seperti sampah. Nyawa manusia yang berharga itu saat ini tak ada harganya. Bangunan yang mega itu pun dibakar dan segala isinya dijarah oleh kelompok Ang-hong-pay. Tak terkecuali buku-buku yang ada diperpustakaan kuil itu. Semua kitab silat dibawa kabur oleh pasukan Ang-hong-pay.
Di belakang kuil, berbaris ratusan orang dengan memakai topeng merah. Mereka menghadap ke sebuah gua yang ada di lereng di belakang kuil Siauw-lim-sie. Mereka diam membeku. Di depan ratusan orang itu, 5 orang dengan jubah merah bersulam gambar tawon berwarna emas berdiri angker. Dua diantara mereka memakai pakaian serba putih. Siapa kah mereka? Bukan lain, mereka lah yang diincar selama ini oleh Lie Yang dan saudara-saudaranya. Merekalah dedengkot Ang-hong-pay.
Ada apakah mereka berdiri diam tak bergerak di depan gua terlarang Siauw-lim-sie itu? Apa yang mereka cari sebenarnya?
“Orang tua, keluarlah! Kami tahu kalian ada di dalam.” Salah seorang diantara lima orang itu berbicara. Dia berbicara dengan tegas. Aksennya bahasanya snagat kuat dan berwibawa.
“Kenapa tidak kalian yang masuk ke dalam? Masuklah, gua ini tak pernah berpintu,” Ada jawaban dari dalam. Suara yang pelan tapi terdengar oleh semua orang.
“Kami adalah tamu. Seharusnya, engkau sebagai tuan rumah keluar dan menjamu kami,”
“Pangcu, kenapa tidak kita ratakan saja gua ini? Membuang waktu saja berbicara dengan orang ini.” Kata seseorang disebelahnya.
Orang yang dipanggil ‘Pangcu’ itu memberi isyarat dengan tangannya. Isyarat untuk diam.
“Kalian salah kalau mengatakan aku adalah tuan rumah di sini. Seperti kalian, aku juga tamu di tempat ini. Siapa pun boleh masuk ke dalam gua ini.”
“Oh begitu, baiklah kami akan masuk!” Baru saja si Pangcu itu menyelesaikan ucapannya. Lima orang itu sudah ada di dalam gua. Gerakan lima orang itu seperti angin. Begitu cepat.
“Begitu baru bagus. Siapa sebenanrya kalian? Ada perlu apa kalian denganku?”
“Orang tua, kami hanya ingin engkau menyerahkan buku Nabi Mani yang dititipkan dahulu kepadamu kepada kami.” Jawab Pangcu Ang-hong-pay.
“Ahaaa, sudah lama tak pernah ada orang yang menyinggung masalah ini. Maaf tuan-tuan, aku sendiri sudah lupa dimana aku menaruh buku-buku itu.”
Mata seseorang dari lima orang itu tiba-tiba berkilau. Dua mata yang mencorong bercahaya itu tampak lebih menyala lantaran gua yang begitu gelap. Saking gelapnya, satu sama lain pun tak bisa melihat. Hanya saja, pancaran sinkang setiap orang bisa dirasakan. bahkan lima orang itu pun bisa merasakan pancaran sinkang dari ‘orang tua’ itu.
“Orang tua, kami masih berlaku sopan kepadamu. Jangan banyak masalah. Cepat serahkan buku-buku itu!” Seorang lainnya berbicara. Suaranya sangat keras dengan logat yang sangat berbeda. Logat bahasanya sangat berat. Orang yang dipanggil ‘orang tua’ itu merasakan ada yang aneh dengan tamu yang satu ini. Pancaran sinkangnya paling rendah, namun melihat gaya bicaranya yang sangat percaya diri. Ia tahu, kalau malah orang ini yang lebih berbahaya dari empat orang lainnya. Seekor harimau akan lebih bahaya kalau tak memperlihatkan taring dan cakarnya, namun sekali terkam buruannya langsung tergelepar. Ini artinya, orang seperti ini bisa lebih bahaya daripada orang yang suka mempertunjukkan kehebatannya. Orang seperti ini tidak bisa diraba kemauan dan kekuatannya. Apalagi melihat kilatan matanya yang mencorong aneh. Ini saja sudah sangat janggal sekali.
“Sudah kubilang sejak tadi, aku lupa dimana aku menaruhnya. Umurku terlalu tua untuk mengingat-ingat masa 60 tahun yang lalu.”
“Itu kami tahu. Sebab engkau seumur dengan buyut kami, maka kami masih berlaku hormat kepadamu orang tua.” Jawab orang itu lagi.
Ia menyambung, “engkau sudah tua, buat apa lagi buku-buku nabi Mani itu. Apalagi engkau bukan pengikut Nabi Mani.”
“Lalu? Apakah kalian pengikut nabi Mani?” Tanya balik orang tua itu.
“Kami hanya ingin membawa balik ke Persia buku-buku itu,”
“Hahaa… jadi kalian jadi Persia? Sampai sejauh ini kalian ingin menghancurkan buku-buku Nabi Mani? Setelah kalian membantai para pengikut nabi Mani di Persia dan para penduduk Uighur?”
“Kami hanya melaksanakan perintah dari sang Syah orang tua.”
“Kalian sebut ini Perintah Sang Syah? Aku tidak percaya!”
“Engkau tak percaya? Sudahlah, kami sudah letih bersilat lidah denganmu. Cepat serahkan buku-buku itu.”
“Aku tahu apa yang kalain mau. Dan tak mungkin Sang Syah memerintahkan kepada kalian untuk mengejar pengikut Nabi Mani sampai ke daratan Tionggoan ini. Atau hanya untuk mencari sisa-sia buku-buku Nabi Mani. Kalian hanya ingin mendapatkan tiga lembar pusaka Sabzavar Syah itu bukan?”
“Jadi benar tiga lembar itu ada padamu? Cepat serahkan kepada kami!”
“Hahaha… akhirnya kalian membuka tujuan utama kalian. Aku yakin Sazvin belum menguasai ilmu Sheng-jin Sin-kun (Silat Sakti Orang Suci),”
Orang tua itu menyambung, “Melihat kilatan di matamu tadi, aku yakin engkau mempunya hubungan dekat dengan Sazvin.”
“Aku adalah murid pertamanya.”
“Hahaha… ini tambah konyol. Setahuku, dia tak pernah mau mengangkat murid. Dia terlalu pelit untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain, namun dia rakus dan punya ambisi besar untuk menguasai banyak ilmu. Sungguh tak sangka dia sekarang berbeda. Kenapa dia tak datang sendiri ke sini untuk mengambil tiga lembar pusaka itu? Apakah dia sudah sedemikian penakutnya, sehingga kalian yang disuruh menemuiku?”
“Orang tua, engkau mau menyerahkan buku-buku itu apa tidak? Jangan banyak bicara! Tak ada waktu lagi buat kami untuk berdiskusi denganmu.”
“Hahaha… sudah kukatakan sejak tadi, aku lupa menaruhnya dimana. Apakah di puncak gunung Himalaya atau di puncak gunung Thian-san. Selama 60 tahun ini, aku selalu berpindah-pindah tempat tuan-tuan. Lebih baik kalian cari di dua tempat itu. Pergilah!!!” Begitu santai orang tua itu berbicara. Padahal dia sudah diancam oleh lima orang di sampingnya. Bicaranya tetap pelan.
Tiba-tiba saja hawa di dalam gua menjadi semakin panas. Hawa panas keluar dari dalam tubuh orang yang mempunyai mata berkilat-kilat itu. Seorang diantara lima orang tiba-tiba meloncat mundur dan diikuti oleh tiga orang lainnya.
“Orang tua, jangan salahkan aku kalau berlaku kasar!” Orang bermata kilat itu tiba-tiba menyerang ke arah orang tua yang ada di depannya itu.
“Engkau terlalu sungkan tuan. Kenapa tidak sejak tadi berlaku keras kepadaku.” Orang tua itu hanya mengibaskan tangannya begitu santai. Namun akibatnya, sang penyerang terpental tiga langkah akibat kibasan itu.
“Hmmm… ”
Penebar Maut ( 1 ).
Hanya sebentar saja orang berpakaian serba putih itu berdiam. Beberapa detik kemudian dia sudah memulai dengan pukulan-pukulan ampuh. Bahkan, kini tak hanya kedua tangannya yang bergerak. Belasan tendangan sudah dukeluarkan. Namun, orang tua yang dihadapinya itu bukan anak kemaren sore. Dia adalah seorang yang sudah pernah merasakan pahit dan getirnya dunia Kang-ouw.
“Brakkk…. ” Sebuah pukulan orang berjubah putih itu mengenai batu. Kali ini orang tua itu hanya bisa menghindari setiap pukulan lawannya. Dia tahu benar, bahwa kontak badan dengan lawannya akan mengalami kefatalan.
“Ban-liong Sin-ciang (Pukulan Sakti Selaksa Naga),” Desis orang tua itu.
Walaupun tenaga dalam orang tua itu sudah sedemikian tingginya, namun ia tetap belum berani memapaki setiap serangan dari lawannya. Dengan kelincahan, orang itu menghindari setiap pukulan lawannya. Terkadang ia membalas dan mengincar beberapa nadi penting lawannya. Ia tahu benar, hanya dengan begitu ia dapat mengalahkan lawannya itu.
Namun, orang berjubah itu sepertinya tahu betul apa yang akan dilakukan oleh orang tua itu. Setiap gerakan orang tua itu sepertinya sudah terbaca oleh orang berjubah itu.
“Orang tua, lebih baik serahkan saja buku-buku itu kepadaku. Engkau orang tua tidak akan bisa mengalahkanku. Aku akan mampu menebak setiap gerakanmu.” Kata orang berjubah itu di tengah-tengah serangannya kepada orang tua itu.
“Jangan bilang engkau menguasai ilmu…” Kata orang tua itu meragu.
“Hahaha… ternyata engkau baru sadar, betapa hebatnya aku, orang tua.” Kata orang bertopeng itu melagak.
“Tuan, walaupun engkau mampu memainkan ilmu itu, bukan berarti engkau yang terhebat. Bahkan Sazvin pun bukan yang terhebat. Tak akan pernah dia mampu menguasai ilmu suci itu. Bahkan andai aku berikan tiga lembar catatan Sabzavar sekalipun, ia tak akan pernah mampu menguasai ilmu suci itu! Akan sia-sia semua yang engkau lakukan selama ini, tuan.” Kata orang tua itu dengan nada sedih.
“Orang tua, jangan banyak omong. Hanya serahkan saja buku-buku itu! ” Bentak orang bertopeng itu. Ia semakin marah.
“Tak ada faidahnya aku serahkan buku-buku itu kepada kalian!”
“Baik…” Jawab orang bertopeng itu. Lalu terdengar suara “Cring”, orang bertopeng itu telah mengeluarkan pedangnya. “Jangan salahkan aku jika bertindak kelewat batas!”
Orang bertopeng itu sudah menyerang orang tua. Gerakan orang bertopeng itu semakin gesit dan matang. Orang tua itu hanya bisa mengimbangi kegesitan orang bertopeng itu. Tak ada sedikit waktu pun untuk bernapas bagi orang tua itu. Dua orang itu bertarung dengan gerakan yang sudah matang. Tak ada satu sabetan pedang pun yang dapat menyentuh tubuh si tua, sebaliknya orang bertopeng itu semakin memperlama permainan pedangnya. Hakikatnya ia malah menikmati pertarungannya dengan si tua. Baru kali ini ia dapat merasakan lawan yang pas.
“Tak mungkin orang ini mampu menguasai ilmu setan itu. kalau benar ia mampu, sudah sejak tadi aku kalah melawannya..” Pikir orang tua itu. Dan permainan tangan kosongnya semakin matang. Sinkang yang sudah matang mengalir sempurna ke seluruh tubuhnya, hingga membuatnya semakin enteng.
“Sutee… kenapa tak kau habisi saja orang tua itu?” Tiba-tiba di dalam gua itu ada suara yang sangat pelan.
“Buk! Buk! Buk!” Terdengar tiga kali suara pukulan. Dan gua itu tiba-tiba jadi hening.
Sesosok orang tiba-tiba keluar dari dalam gua. Orang itu membawa tubuh orang tua yang sudah tak berdaya. Diikuti seorang lagi dengan muka dibalut kain putih. Wajahnya dari bawa mata sampai tenggoroan terbalut kain putih, tidak bertopeng seperti yang lainnya.
Orang tua yang tak bisa bergerak itu tak pernah tahu, sejak kapan di dalam gua itu telah muncul orang ketiga. Dan entah bagaimana hanya tiga kali pukulan jarak jauh, dia sudah terkalahkan. Manusia bagaimanakah orang yang membopongnya itu?
“Sudah kukatakan sejak dulu, jangan suka bermain-main, lakukan sesuatu dengan cepat, jangan berbelas kasian dan bunuh bagi orang yang tidak mau takluk!” Bentak orang berbalut kain itu.
“Maaf suheng, orang tua ini belum mau menyerahkan buku-buku itu,”
“Kalau tidak mau menyerahkan, kenapa tidak kau bunuh saja? Habis urusan!” Bentak lagi orang berbalut kain itu.
“Kalau aku bunuh, kita tak akan pernah mendapatkan buku-buku itu…”
“Kita masih ada Giok-ceng!” Orang itu tak henti-hentinya membentak adik seperguruannya sendiri.
Tiba-tiba tangan orang berbalut kain itu bergerak melintang, “Ngekk!!”. Orang tua yang ada di bawahnya itu sudah tak bernyawa lagi. Kepala orang tua itu sudah terpisah dengan tubuhnya. Banyak mata menyaksikan kelakuan orang berbalut kain jadi ngeri. Betapa kejam dan hebat tenaga dalam orang itu. Hanya sekali gerakan, dengan sinking dan lwekang secara berbarengan saja, orang itu mampu menyembelih tubuh orang tua itu.
Sebenarnya orang inilah yang banyak mengalirkan darah di Siauw-lim-sie. Entah berapa ratus biksu telah dibunuhnya. Orang ini mempunya ilmu peringan tubuh paling hebat diantara orang-orang berjubah putih. Tenaga dalamnya konon tak bisa ditaksir. Dia bisa datang dan pergi sesuka hati. Tak pernah ada orang berani merintangi. Datang dan pergi seperti angin saja.
Tiba-tiba si topeng putih yang tadi dimarahi berjongkok. Tangannya merabah-rabah tubuh orang tua di bawahnya.
“Buku-buku itu tak disimpannya! Aku sudah merabahinya sejak tadi. Sudahlah, kita ambil Giok-ceng sekarang!” Kata orang berbalut kain itu pelan.
“Di dalam gua?”
“Sudah kucari juga, tak ada di sana! Entah disimpan dimana sama orang tua ini. Mungkin benar di puncak gunung-gunung itu,” habis berkata, orang berbalut kain itu sudah tidak ada. Seperti setan, entah kapan dia pergi. Baru setelah orang itu pergi, orang-orang yang ada di situ bisa bernapas lega. Hanya beberapa menit kemudian, suasana di depan gua itu menjadi sepi. Mereka pergi dengan cepat, seperti kedatangan mereka.
“Kita terlambat, saudar-saudara,” Tiba-tiba ada orang yang bergumam pelan.
Entah sejak kapan juga, tiba-tiba sudah ada sembilan orang berjubah putih. Mereka memakai baju serba putih bersih, bahkan rambut mereka pun sudah putih.
“Mari kita bawa pulang tubuh suci ini, saudara-saudara!” Kata salah satu dari mereka. Dan mereka sudah menggotong potongan tubuh dan kepala orang tua yang masih hangat itu.
Dan keadaan di depan gua itu menjadi sepi seperti biasa. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hanya darah yang menggenang saja yang dapat menceritakan betapa pahitnya sebuah kehidupan.
Sesaat kemudian, sebuah alunan Khim terdengar mengalun sedih. Terdengar pula suara sedih mengikuti tiap petikan harpa itu.
Datang, bagaikan mengalirnya air
Pergi laksana siliran angin
Entah dari mana datangnya
Entah dimana tujuannya.
Lie Yang mendengus tidak senang. Ia bersalto sampai tiga kali di udara dan akhirnya turun di tanah, empat tombak dari si topeng merah.
“Apakah tuan-tuan ingin mengeroyok?” Tantangnya dengan suara datar. Ketenangannya sedikit digoyah oleh amarah.
Sejak tadi, sudah ratusan jurus dikeluarkan oleh Si Topeng Merah, namun sepertinya lawannya memang sangat tangguh, hingga Si Topeng Merah tidak mampu lagi berbuat apa-apa terhadap Lie Yang. Waktu yang lama itu membuat si Topeng Merah benar-benar kesal dan malu. Apalagi tiga orang yang berada di belakang si Topeng merah. Mereka menjadi tidak sabar untuk segera menghabisi Lie Yang yang telah banyak mengetahui rahasia Ang-hong-pay. Untuk itu, dua orang diantara mereka maju ke tangah-tengah pertempuran. Bahkan diantara mereka tidak segan-segan menggunakan racun dan senjata rahasia untuk menundukkan Lie Yang sesegara mungkin. Si Topeng Merah yang memang sudah merasah kalah dengan Lie Yang, begitu senang dengan turunnya tiga temannya itu. Dia tak lagi banyak bicara, dan segera semangat bertempurnya menderu-deru. Namun, yang dihadapi bukanlah orang biasa, hingga puluhan jurus pun berlalu, namun tiga orang itu tak mampu sama sekali mendesak Lie Yang.
Seorang yang dipanggil kakek Merah itu tidak senang juga melihat itu. Di saat Lie Yang sedang mencurahkan semua daya pikirnya kepada tiga lawannya, saat itu sebuah angin keras mengincar titik nadi penting yang ada di punggungnya. Hanya dengan menghindar dia bisa selamat dari serangan gelap musuhnya itu. Makanya dia sangat gusar melihat kelicikan lawan-lawannya itu. Mereka tak segan-segan lagi untuk menggunakan sifat liciknya untuk membunuhnya. Padahal dia tahu, kalau seorang yang dipanggil Kakek Merah itu adalah seorang yang sangat tua. Mestinya seorang tua seperti dia bisa berlaku adil dan bijaksana, bukan menggunakan akal licik untuk memenangkan sebuah pertarungan.
“Ha… ha.. ha.. bukannya engkau mampu menandingi kami, walaupun kami terjun bersama-sama, lagian aku tak pernah meminta untuk dibantu, mereka hanya ingin merasakan seberapa hebatnya seorang pangcu Kim-liong-pay.”
Mendengar perkataan itu, Lie Yang semakin gusar saja. “Untuk apa banyak bicara dengan mereka, aku harus membereskan mereka sesegera mungkin.” Berpikir seperti itu, dia langsung melejit sambil berteriak. “Baik, jaga serangan!”
Seper tiga bagian tenaga dalamnya telah dikeluarkan. Dan sambil melejit menyerang empat lawannya, ia sudah mengeluarkan ilmu rahasianya. Sebuah ilmu yang belum pernah dikeluarkannya selama ini. Ilmu gaib yang baru diturunkan oleh buyutnya sebelum meninggal. Ketika bergerak itu tiba-tiba dia ingat pesan buyutnya.
“Aku telah menyalurkan 70 tahun tenaga dalamku kepadamu. Dan sebuah ilmu yang tak bernama, ilmu ini hakikatnya tak mempunyai nama, karena nenek moyang kita menurunkan ilmu ini tanpa memberitahu apa nama ilmu ini. Ilmu ini harus dipelajari bersama penyaluran hawa murni dan tenaga dalam yang telah diturunkan secara turun-temurun dan tak putus dari geenrasi ke generasi. Sejak ilmu ini diturunkan turun-menurun dari nenek moyang kita, belum pernah ada yang menyempurnakannya, bahkan konon nenek moyang kita Sabzavar juga belum sempurnah menguasai ilmu ini. Sekarang, giliran engkau yang mempunyai tanggung jawab untuk menyempurnakannya, Yang- jie (Anak Yang). Aku yakin, suatu saat nanti kamu akan berhasil menemukan cara untuk menyempurnakan ilmu ini.”
Dan sejak itu dia bertekad untuk menyempurnakannya. Dan sangat ingin mencoba kehebatan ilmu ini. Apalagi dia melihat kakek yang akan dihadapinya sangat hebat kemampuannya. Mungkin sehebat kakek buyutnya.
“Yang-jie, ingat, jangan engkau sering-sering mempergunakan ilmu ini kalau tidak dalam keadaan genting. Ilmu ini hanya bisa digunakan selama tiga kali dalam jangka 20 tahun. Akibat mengeluarkan ilmu ini lebih dari tiga kali, engkau sendiri yang akan mengalami kerugian. Dulu, dua nenek moyangnmu mengalami kematian akibat terlalu banyak menggunakan ilmu ini. Ah, seandainya ilmu ini telah benar-benar sempurna, engkau boleh menggunakannya setiap saat.”
Dan sejak itu dia menyebut ilmu ini sebagai ‘Sheng-jin Sin-kang (Tenaga Sakti Orang Suci)’. Dia menganggap tak akan ada artinya lagi ilmu seperti Sin-hong Sin-kang ataupun Jit-goat Hoat-lek Sin-kang (Hawa Sakti Sihir Matahari dan Bulan) untuk melawan empat orang sakti itu. Karena, hakikatnya ilmu-ilmu itu sudah mereka ketahui, walaupun ilmu Jit-goat Hoat-lek Sin-kang belum mereka ketahui. Menghadapi mereka yang sudah berpengalaman, ia harus berlaku lebih hati-hati.
Dan tiba-tiba saja tubuh Lie Yang seperti mengeluarkan cahaya. Apalagi saat itu malam yang gelap. Sehingga tampak terlihat cukup jelas cahaya itu. Itulah penggabungan ilmu Jit-goat Hoat-lek Sin-kang dengan Sheng-jin Sin-kang. Serangan yang mendadak itu membuat empat orang lawannya menjadi kaget. Serangan melintang Lie Yang itu menerjang ke semua arah, empat orang lawannya mengeluarkan seruan kaget, saat menyadari ada hawa halus menerjang mereka. Apalagi Lie Yang juga menerjang ke arah mereka dengan tendangan beruntun ke arah orang tua. Ia berharap dengan serangan pertama dengan tenaga dalam lunak, dia mampu membuat mundur tiga orang lainnya, sehingga dia mampu fokus menyerang ke arah kakek itu dalam beberpa gerakan.
Serangan yang tiba-tiba itu membuat tiga orang itu tak mampu melakukan tindakan apa-apa. Selain cepat, hawa lunak itu sepertinya memencar dimana-mana dan mampu mengejar mereka kemana pun mereka menghindarinya. Otomatis mereka melawan tenaga Yin itu dengan tenaga dalam mereka sendiri. Dan inilah kesalahan mereka.
“Îyattttt…” Terdengar teriakan keras dari mulut tiga orang itu. Dan seperti layangan yang putus, mereka terseret oleh gelombang tenaga dalam lembut itu sampai tujuh tombak jauhnya.
Sedangkan Kakek Tua itu terlihat mundur sampai tiga langkah. Sepertinya dia kaget melihat tenaga dalam Lie Yang yang snagat hebat itu. “Berhenti!” Terikanya, ketika melihat Lie Yang sudah mau menyerangnya lagi.
Sebelum dia menlanjutkan bicaranya, sejenak Kakek Tua itu melirik ke tiga orang yang berada di samping kirinya. Tiga temannya itu tampak luka parah, dua yang lainnya tampak tidak bergerak. Namun, orang tua ini tahu kalau dua orang itu tidak mati, melainkan hanya pingsan dengan luka dalam yang tidak ringan. Sedangkan si Topeng Merah berusaha untuk duduk, namun tubuhnya tak mampu lagi, akhirnya ia hanay diam sambil terlentang. Darah keluar dari hidung, telinga dan mulutnya. Dia diam saja.
Dia sendiri meraskan dadanya sangat panas. Seumur hidupnya, baru kali ini dia mengalami kejadian ini. Sungguh heran dan ganjil.
“Tuan, sebaiknya engkau mundur. Anak muda itu bukan tandingan tuan. Tuan salah menilai anak muda itu!” Tiba-tiba Kakek Tua itu berkata. Ia sangat kuatir terhadap Topeng Merah. Perkataan orang tua ini tak ada seorang pun yang mendengar, karena ia bergumam menggunakan ilmu khusus yang hanya didengar oleh Si Topeng Merah saja.
“Baiklah kakek, aku serahkan orang ini kepadamu. Aku akan melapor kepada ketua tentang masalah ini. Kita semakin mendekati terhadap kebenaran legenda itu. Buktinya semakin nyata,” Kata si Topeng Merah. Dan dia mulai mencoba berdiri, namun tubuhna tak bisa digerakkan. Dia merasa bahwa seluruh nadi penting di dalam dirinya mati. Hanya untung dia masih mampu menjawab Kakek Tua dengan sisa tenaga dalamnya. Dia semakin heran, ada apa dengan tubuhnya ini. Dia tak merasakan sakit lagi seperti tadi, namun tubuhnya tak bisa digerakkan. Sungguh aneh.
“Anak muda, melihat gerakanmu, aku yakin mantan ketua Kim-long-pay Giok Sin Bu tak sebagus itu. Gerakan silatmu mengingatkan pada teman lamaku Giok Kang Lee. Hanya Kang Lee yang mampu menggunakan ilmu-ilmu perguruan Kim-liong sebaik engkau memainkannya. Apakah engkau kenal dengan Kang Lee?” Kakek Tua itu mulai membuka pembicaraannya.
Orang tua itu berbicara dengan nada seperti orang menasehati cucu-cucunya. Sangat percaya diri dan dengan intonasi yang ditata rapi. Dari ucapannya, Lie Yang mampu membaca seperti apa orang yang ada di depannya itu. Pasti dahulunya orang ini sangat penting di dalam organisasi Ang-hong-pay. Bukan sekedar mantan ketua saja. Ini berarti Lie Yang menghadapi orang yang sangat penting.
Lie Yang masih diam sedang berfikir. Namun, orang tua didepannya tak menunggu jawaban Lie Yang. Ia melanjutkan, “engkau pasti muridnya. Ini berarti Kang Lee telah menjadi orang suci sekarang. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya untuk membuktikan sebuah dongeng kuno itu. Di mana dia, anak muda?”
“Dongeng kuno?” Seperti kena magnet. Bibir Lie Yang tiba-tiba saja bertanya.
“Ya, dongeng kuno. Entah apakah gurumu itu sudah menceritakannya padamu apa belum,”
“Tuan salah, kalau bilang ilmu-ilmu yang kugunakan ini hasil pengajaran dari kakek Kang Lee. Beliau memang sudah menjadi orang suci sekarang, tapi buyut Giok Kong yang mengajari semua ilmuku,”
“Giok Kong? Dia masih hidup sekarang? Kamu bohong anak muda!!!” Ada nada aneh dalam ucapan orang tua ini. Lie Yang dapat menangkapan keanehan itu. Bahkan orang tua yang sejak tadi diam itu tiba-tiba bergerak maju ke depan.
“Ya, beliau masih segar bugar sampai sekarang,” Lie Yang ingin melihat reaksi orang tua di depannya itu.
“Kau berbohong anak muda!!! Mana mungkin orang tua itu masih hidup sampai sekarang? Umur manusia tak mungkin sampai melebihi seratus tahun. Tidak mungkin, tidak mungkin dongeng kuno itu benar!” Orang tua itu tiba-tiba terbatuk-batuk. Orang tua itu selalu menyebut tentang dongeng tua, entah apa itu. Ini membuat Lie Yang semakin bingung.
“Ini hanya akal-akalan Kang Lee saja. Tak mungkin itu terjadi. Tak mungkin!!! Keluarga Giok, terkutuk kalian semua!!!” Orang tua itu tiba-tiba berteriak dan tertawa. Tubuhnya bergetar aneh. Lie Yang melihat keanehan itu. “Akan kuhancurkan semua keluarga Giok. Bahkan siapa pun yang berhubungan dengan keluarga itu!!! Terkutuk kalian semua!!! Keluarga Giok terkutuk!!!”
Kali ini Lie Yang melihat dengan jelas apa yang terjadi di depannya. Orang tua yang ada di depannya tampak bercahaya aneh, wajahnya berubah putih lalu merah membara. Tubuhnya masih tampak bergetar. Dua matanya tampak melotot hampir keluar. Lie Yang benar-benar bingung. Keluarganya dicaci maki orang tua itu. Namun, entah mengapa ia tak merasakan emosi sedikit pun. Ia hanya heran mengapa kakek tua itu mengutuki keluarganya dan berubah seperti iblis. Sepertinya ada dendam terpendam antara keluarga Giok dengan keluarga kakek tua itu, tapi apa? Lie Yang tak pernah mendengar buyutnya bercerita tentang masalah keluarganya.
“Aku ingin melhiat sekali lagi ilmu yang engkau gunakan tadi anak muda, apakah bisa menandingi ilmuku ini. Bersiaplah!” Kakek Tua itu langsung bergerak menyerang Lie Yang tanpa sungkan-sungkan lagi. Kulitnya yang berubah merah dengan sinarnya yang merah itu tampak menakutkan. Entah aura ilmu apakah itu. Lie Ynag belum pernah mengetahui ada ilmu semacam ilmunya ini. Dan dia semakin bergairah melihat si Kakek Merah mempunyai ilmu sama anehnya dengan milknya.
Melihat keadaan itu, ia sudah menentukan sebuah pilihan. Sambil menguatkan tekadnya, ia salurkan tenagnya ke seluruh tubuhnya. Kali ini badannya terasa tegang. Ini pertarungan pertamanya melawan musuh paling kuat.
Dengan suara aneh dari mulutnya, kakek tua itu sudah menyerang Lie Yang. Sebelum serangan itu sampai pada Lie Yang, sebuah tenaga yang sangat kuat telah menerobos tubuhnya terlebih dahulu. Tenaga yang sangat kuat. Namun, ia tak bergetar sama sekali oleh terobosan tenaga dalam itu. Bahkan ia mampu membalikkan tenaga lawannya.
Dengan mengentakkan kaki kanannya, Lie Yang bergerak dengan gesit. Ia tidak menghindari terjangan Kakek Tua itu. Sebuah jari manis Kakek Tua itu hampir saja mengenai tenggorokannya. Namun, dengan kecepatan yang sulit dilukiskan oleh kata, ia sudah berhasil memegang tangan lawannya. Dan memutarnya dengan kekuatan yang sangat hebat. Namun, sungguh aneh dan ajaib. Baru bertindak setangah jalan, lawannya itu dapat meloloskan diri dari pegangannya yang kuat. Geraakan si Kakek Tua itu sangat aneh.
Ketika Lie Yang mengetahui lawannya telah berhasil lolos dari pegangannya. Ia sangat terkejut. Dan dalam sedetik saja, lawannya sudah berhasil mundur beberapa laangkah dari dirinya. Dan hanya sebentar saja, ketika Lie Yang sadar, lawannya sudah melayangkan sebuah pukulan lagi. Kali ini Lie Yang dibuat terkejut oleh lawannya sekali lagi. Lawannya itu menggunakan jurus yang sama dengan yang tadi. Namun ada sedikit perbedaan, tangan beserta jari-jari lawannya itu memancarkan sinar aneh.
Lie Yang melengak melihat keadaan itu. Ketika jari itu sudah mendekati wajahnya, Lie Yang baru tahu kalau, tangan lawannya itu sudah memakai semacam kaus tangan dari emas. Empat jari lawannya itu ditekukkan sedemikian rupa, hanya jari kelingking kanannya yang ditekuk membentuk sebuah gaetan aneh. Diujungnya itu sepertinya ada jarum kecil yang sangat tajam meruncing beberapa inci. Sungguh menakutkan.
Tak ayal lagi, Lie Yang menghindari ancaman itu. Ia membalik dan menyerang dada lawannya. Sekali lagi, keanehan gerakan muncul. Bukan malah lawannya menghindar suapaya dadanya tak terkena sodokan Lie Yang, malahan ia meneruskan jurusnya yang tadi ke arah tenggorokan Lie Yang. Lawannya itu hanya memutar tubuhnya sedikit supaya serangannya berhasil. Dan dengan tangan kirinya, ia menahan sodokan Lie Yang.
“Tingggggg”
Pijar api menyala. Wajah Lie Yang terkena serangan jari lawannya. Untung, wajahnya itu ditutupi oleh topeng, sehingga tak berhasil melukai wajahnya.
Lie Yang berhsasil mundur. Jantungnya berdetak keras. Hampir saja jiwanya melayang, andai topengnya itu tidak terbuat dari bahan yang kuat.
“Anak muda. Sungguh tak nyana, senjataku ini tak berhasil memecahkan kepalamu. Andai topeng itu tak engkau pakai, nyawamu sudah melayang sejak tadi. Heee…..” Kata si Kakek Tua itu mengejek.
“Hmmm…. tak urung topengku juga rusak lantaran serangnmu itu. “ Kata Lie Yang.
“Bagus Kakek Tua, aku sudah mampu melihat inti gerakanmu. Lihat saja setelah ini siapa yang akan tergolek di atas tanah!” Kata hati LieYang marah.
“Kali ini engkau tak akan lolos dari tanganku. Liht serangan!”
Kakek Tua itu sudah meneyerang lagi. Lie Yang menundukkan badannya rendah-rendah, dan badannya meluncur dengan cepat ke depan. Serangan selanjutnya dilakukan, keceptan gerakannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Karena ia sudah menggunakan ilmu ginkang tertingginya untuk dapat mengalahkan lawan.
“Ehhh…??” Kakek Tua itu tiba-tiba terkaget-kaget. Karena entah dengan ilmu apa, lawannya berhasil melewati kakinya. Lie Yang tidak menyambut serangan lawan, malah menjatuhkan tubuhnya di depan lawannya. Selanjutnya ia menerobos melewati kedua kaki lawannya. Saat lawannya itu berhenti sebentar, dua tangannya telah berhasil menyengkeram kedua kaki lawannya itu. Tak ayal, tubuh Kakek Tua itu terjatuh di tanah. Namun, hanya sebentar saja laawannya itu terkena tipuan dirinya itu, lawannya dengan gerakan gesit telah berhasil berdiri kembali.
Setelah mundur dan berdiri tegak. Kakek Tua itu tampak gusar oleh perbuatan Lie Yang. Lie Yang sangat senang dapat menjatuhkan lawannya dengan ginkang istimewanya itu.
“Orang Tua, coba tebak, andai aku tadi berlaku kasar apa nyawamu masih bis menempel dalam tubuh tuamu itu?” Kata Lie Yang mengancam dengan suara tegas. Seolah-olah ia ingin berkata, aku bisa membunuhmu dengan mudah.
“Apakah itu terhitung seorang laki-laki memakai cara rendah untuk menglahkan lawan?” Ucap si Kakek Tua itu gusar.
“Hmmmm… lalu apakah terhitung seorang laki-laki, engkau membopongku kemarin dengan ilmu sesatmu itu?” Tantang Lie Yang.
“Kau…kau… Baik! Kali ini aku tak akan memberi ampun lagi kepadamu.” Teriak Kakek Tua itu benar-benar gusar.
“Baik! Aku juga tak akan mengampunimu lagi, atas dosa-dosamu berlaku kejam terhadap para penghuni perkampungan Naga Emas dan keluarga Song!”
Baru saja selesai omongannya, Lie Yang menerjang lawannya. Kali ini benar-benar darahnya sudah naik. Ingin rasanya ia membunuh orang. Enth, baru kali ini ia merasakan gusar kepada orang lain. Dan jurus pilihan telah dimainkan. Bentrokan pertama sungguh aneh, Kakek Tua itu masih menggunakan jurus yang sama, seeprtinya ia tak mempunya jurus lainnya. Namun, ketika Lia Yang berhasil memtahakan jurus itu, jurus aneh lainnya baru keluar.
Namun jangan harap lawannya itu dapat menyentuh tubuh Lie Yang. Bahkan menyentuh ujung bajunya saja tak akan mampu. Keistimewaan ilmu Jit-goat Hoat-lek Sin-kang mulai tampak terlihat keistimewannya. Apalagi ia sudah mengurai Sheng-jin Sin-kang, sehingga dua ilmu sakti itu membentengi dirinya dari serangan luar. Baru dalam jarak setapak tangan dari tubuhnya, serangan lawan akan membalik sendiri. Secara otomatis, Lie Yang selalu berhasil dengan telak menahan, bahkan balik menyerang lawannya. Sepuluh jurus, dua puluh, lima puluh, seratus dan entah sampai kapan Lie Yang dan orang tua itu bertempur.
Walaupun hakikatnya Lie Yang berhasil mengungguli lawannya, namun tak mudah untuk dapat menembusi setiap jurus yang dipakai oleh lawannya itu. Sungguh sangat aneh, gerakan lawannya itu. Sampai tubuh dua orang itu dipenuhi keringat, bahkan mereka tak sadar bahwa pertandingan yang mereka lakukan sudah sangat lawan. Kali ini Lie Yang benar-benar mendapatkan teman berlatih sangat kuat. Dan memang baru untuk pertama kalinya, ia bertempur melawan orang sampai begitu lama.
Nafas lawannya terdengar sangat berat, sedangkan Lie Yang hanya merasa sedikit saja kecapean. Kalau dibilang secara benar, tenga Lie Yang masih begitu kuat. Lalu kenapa Lie Yang bisa tetap menjaga staminanya, sedangkan lawannya sudah hampir jatuh? Initak lain lantaran lawannya adalah seorang kakek tua dan dia juga dengan ilmunya, telah menyerap tenaga lawan. Sehingga ia berhasil menambah tenaganya sendiri, sedang lawannya berangsur-angsur tapi pasti kehilangan tenaganya. Inilah keistimewaan ilmu Sin-hong Sin-kang tahapan ke sembilan, Kim-liong Bu-hong-kun. Ilmu yang dapat menyeraptenaga lawan dan mengoper ke tubuh sendiri. Bisa dipakai untuk memperkuat sin-kang sendiri, atau dikumpulkan dan dibalikkan ke pemiliknya sendiri.
Namun, Lie Yang tak langsung menyedot secara banyak sin-kang lawannya. Kalau mau, ia sudah sejak tadi melakukannya, ia ingin melihat bagaimana kemampuan lawan yang sebenarnya. Karena lawannya itu mempunyai jurus-jurus yang sangat unik. Ia tertarik dengan jurus-jurusnya itu. Ia hanya mempunyai suatu firasat untuk melihat jurus-jurus beserta perubahannya saja, tak berkeinginan untuk mencuri jurus lawan. Andai mau, ia sudah mampu mencuri gerak dan membalikkan jurus itu ke lawannya. Bukankah ia termasuk orang terjenius? Bahkan sebenarnya ia mampu menghapal di luar kepala setiap gerak lawannya. Ia hanya mengikuti arahan firasatnya saja.
“Sudah saatnya…” Tiba-tiba ia bergumam mengikuti apa yang dirasakannya. Bahkan ia tak menghentikan barang sedikit pun gerakannya.
“Orang Tua, sepertinya engkau sudah kehabisan tenaga dan jurus. Apa perlu pertandingan ini masih diteruskan?” Dan secara mendadak di mundur menghindari serangan Kakek Tua itu. Dan berdiri mengawasi si Kakek dengan mata tak berkedip. Ia dapat melihat kakek itu benar-benar seperti lebih tua dari sebelumnya. Rambutnya yang tadi agak rapi, sekarang tampak awut-wutan, wajahnya yang tadi memancarkan cahaya aneh sudah tampak pucat. Nafas Si Kakek itu juga tampak memburu.
“Aku merasa kasihan terhadapmu, orang tua. Kenapa engkau yang sudah begini tua, tak menikmati hidup di masa tuamu, malah mencari penyakit buat diri sendiri? Apa yang engkau cari dalam hidupmu itu? Dendam? Sakit hati? Ataukah lawan tangguh? Atau ambisi sesaat?” Kata Lie Yang dengan suara tegas. Dua matanya tampak mencorong aneh.
Ketika kakek itu melihat dua mata itu, tiba-tiba dia tampak mundur, seperti kaget. Ia segera paham, bahawa lawannya tidak seperti yang dibayangkannya. Bahkan lebih misterius dan menakutkan. Selama hidup, ia belum pernah menemukan mata yang asalnya begitu tampak mudah diselami dan lembut itu, dalam sedetik saja bisa berubah mencorong menusuk hati. Pikiran kakek itu tiba-tiba kalut.
“Ambisi sesaat?” Tiba-tiba si Kakek mengulang kata Lie Yang yang terakhir itu. Suaranya sangat pelan. Namun, Lie Yang dapat mendengarkannya.
“Ya, ambisi hanya sesaat. Walaupun engkau punya ambisi yang sangat tinggi. Namun, apakah engkau mampu memenuhi ambisimu itu, ambisi itu hanya dorongan sesat dari nafsumu itu. Engkau tak akan pernah mampu memenuhi nafsumu itu selama hidupmu. Nafsumu itulah yang menuntunmu untuk tak bahagia! Begitu pun dendam, sakit hati dan rasa dengki. Itu hanya api yang akan menghancurkan hidupmu sendiri. Benahi hidupmu dan berjlanlah di jalan yang tepat sebelum terlambat!” Hebat sekali pertkataan Lie Yang ini. Benar-benar seperti belati yang menikm tepat di jantung si Kakek Tua itu.
Tubuh si Kakek itu tiba-tiba bergetar. Hampir jatuh. Dua matanya membeliak hampir keluar. Dari dua mata, lubang hidung dan dua lubang telingannya tiba-tiba keluar darah.
“Aku sudah musnah di tanganmu! Lihat suatu nanti, aku akan berhasil mengambil nyawamu! Hahhahaha….!” Tiba-tiba si Kakek itu berteriak dan berlalu dari Lie Yang. Lie Yang memeprdengarkan nafas berat. Walupun ia tak pernah menjatuhkan tangan berat ke lawannya itu, namun ia paham bahwa bagaimanapun luka yang diderita si Kakek itu karena dirinya. Kakek itu mengalami gempuran dari sinkang yang membalik dari dirinya sendiri. Sehingga luka ia mendapatkan luka dalam yang cukup parah.
Dari jauh ia mendengar bertlu-talu terikan si Kakek itu. “Dendam, ambisi, iri hati… benarkah? Haaa…. bohonggggg…..” Kakek itu sepertinya sudah menjadi gila.
Lie Yang masih mematung di tempatnya. Hampir saja ia membunuh orang lantaran dia gelap hati sebentar. Seandainya ia tak sadar, dia saat sepuluh gebrakan melawan si Kakek itu, mungkin ia sudah menurunkan tangan jahat terhadap si Kakek itu. Sekali lagi ia menarik nafas berat. Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan dari sampingnya. Ia melirik, satu tubuh orang itu bergerak-gerak, sedang lainnya masih tak sadarkan diri.
“Hmmmm… entah sejak kapan orang berbaju putih itu sudah pergi?” Katanya dalam hati. Lalu ia berjalan menghampiri orang itu. Ia menotok beberapa jalan darah orang itu. Dan mengambil obat dari dalam jubahnya. Ia meminumkan obat cair ke mulut dua orang itu. Setelah itu, tangannya bergerak di tubuh dua orang itu.
“Semoga dengan hilngnya ilmu silat orang ini, ia bisa sadar.” Katanya. Setelah memusnahkan tenaga dan ilmu silat dua orang itu. Sejak semula, ia bertekat lebih baik menghilangkan ilmu lawannya, dari pada membunuhnya. Mungkin bagi orang-orang yang paham ilmu silat, lebih baik mati dari pada kehilangan ilmu silatnya. Namun, menurut pandangan Lie Yang sendiri, lebih baik hidup tanp mempunyai ilmu silat, dari pada mempunyai ilmu silat tapi digunakan untuk berbuat kejahatan.
Ilmu silat diibaratkan sebuah alat bagai manusia. Ia bisa digunakan untuk unjuk kejahatan atau kebaikan. Namun, selagi alat itu dihilangkan dari orang jahat, ia akan dapat meruntuhkan semangat kejahatan orang itu, kecuali orang itu benar-benar dilahirkan sebagai iblis. Banyak kemungkinan, orang yang telah kehilangan ilmunya itu akan insaf. Dan ia sudah mencobanya kepada beberapa orang tiga tahun yang lalu. Dan ternyata berhasil.
Tak terasa, ia telah bertarung melawan si Kakek itu begitu lama. Hingga tanpa terasa sinar matahari terlihat memerah di langit. Ia mendongakkan kepalanya dan menggerakkan kakinya menuju ke Siauw-lim-sie untuk melihat bagaimana keadaan pertempuran tadi malam.
Ketika sesampainya di sana, darahnya segera mendidih lagi. Hawa amarahnya memuncak. Sambil menggertak giginya, ia memandangi banyak tubuh yang tergeletak tak bernyawa di sana. Tubuh-tubuh itu dibariskan rapi, ada sekitar empat ratus jiawa yang tewas dalam pertempuran kali ini. Paling banyak adalah para biksu dari Siauw-lim-sie.
Lalu ia menggerakkan kakiinya sekali lagi untuk melihat ke atas, ke dalam biara. Di dalam ada ratusan orang sedang merintih keasakitan, di sana ia melihat banyak orang-orangnya yang sedang membantu mengurusi orang-orang yang terluka.
Ia berdiri mematung sambil mengawasi beberapa anggotanya beserta anggota Kay-pang dan biksu yang masih sehat saling bantu-membantu mengobati teman-teman mereka yang terluka.
Tiba-tiba dari belakang ia mendengar ada orang berkata, “ Syukurlah, Pangcu tidak apa-apa.” Uh Hou-hoat ternyata yang berkata. Sedang disampingnya ada Hong Hou-hoat dan Tujuh Penjaga. Mereka tampak lega melihat ketua mereka selamat.
“Uh Hou-hoat, Hong Hou-hoat, Jit-po-liong-ong…. Siapa yang melakukan semua ini? Dan dimana kakak angkatku?”
Uh Hou-hoat maju ke depan. “Dia Bu-tek Siauw-sin-tong ada di dalam sedang diobati oleh Sheng-jin.”
“Sheng-jin siapa?” Tanya Lie Yang kaget karena setahunya buyutnya sudah tiada. Dan orang yang disebut Sheng-jin adalah ketua dari Bu-eng-hu. Namun, bukan berarti selain buyutnya, tak ada orang suci lainnya. Hakikatnya banyak sekali orang suci yang ada di dalam Bu-eng-hu, hanya saja mereka tak lagi menampakkan di dunia luar. Mereka hidup tenang di dalam Bu-eng-hu. Hanya buyutnya yang sering keluar Bu-eng-hu untuk menanam kebaikan di luar. Dan hanya dialah yang punya julukan Sheng-jin. Tiba-tiba ia dapat melihat sesuatu, namun ia masih ragu-ragu.
“Pangcu akan tahu sendiri,” jawab Uh Hou-hoat. Lalu ia meleset ke arah dalam tanpa menunggu dipersilahkan.
Mengintip Rahasia Tuhan ( 1 )
Di dalam sana. Ia melihat Sun Kai dan ketua Kay Pang tergeletak sedang diobati seorang tua. Dan Thian Hun Siansu ketua Siauw-lim-sie dan kakak angkatnya juga diobati oleh seorang tua, namun mereka dalam keadaan duduk semadhi. Ia melihat ada empat orang tua di sana, tiga diantaranya memkai pakaian serbah putih dengan rambut digelung berwarna putih semua. Tak salah, mereka adalah orang tua-orang tua dari Bu-eng-hu. Tiba-tiba seorang yang berpakaian abu-abu dengan rambut hitam-putih teruari panjang mendatangi Lie Yang.
“Pangcu, akhirnya kita bertemu!” Katanya sambil membungkuk sedikit. Lie Yang menahan orang tua itu.
Ketika Lie Yang berhasil melihat jelas wajah orang itu. Ia sangat terkejut, karena dua mata itu bersinar sangat tajam. Dua mata itu bisa dikatakan tak bisa membohongi, bahwa orang yang mempunyai mata itu mempunya sinkang sempurna.
“Bolehkah boanpwe tahu, siapakah locianpwe?” Kata Lie Yang.
“Tidak berani… tidak berani… tidak berani… hamba adalah Jit Fu-hoat.”
“Ah.. benarkah?” Hampir tak percaya Lie Yang mendengarnya. Sekali lagi ditatapnya wajah Jit Fu-hoat sekali lagi. Sungguh beruntung Kim-liong-pay dapat mempunyai manusia seperti ini. Dan akhirnya harapan Lie Yang untuk bertemu dengan penolongnya terkabulkan. Boleh dikata ia harus berterima kasih kepada Jit Fu-hoat, andai ia tak berhasil diselamatkan oleh Jit Fu-hoat dan dibawa lari untuk menemui buyutnya, mungkin ia juga tak akan bisa menikmati indahnya hidup.
Tiba-tiba saja ia menekuk lututnya. Ketika dua lututnya hampir sampai lantai, tubuhnya ditahan oleh Jit Fu-hoat. Sebuah tenaga sangat hebat menahannya. Namun, tenaga itu tetap kalah oleh sinkang Lie Yang yang hampir tak ada batasnya itu. Terpaksa Jit Fu-hoat membiarkan pangcu nya itu berlutut di depannya. Tak mampu ia menghalangi pangcunya itu.
“Pangcu, bangunlah! Untuk apa semua ini?” Kata Jit Fu-hoat.
“Sebagai anak manusia, boanpwe ucapkan banyak terima kasih atas budi Jit Fu-hoat Locianpwe yang sudi menolong bonpwe dahulu. Andai tak ada Jit Fu-hoat locianpwe, mungkin boanpwe sudah ikut binasa di lereng gunung…” Kata Lie Yang pelan.
Jit Fu-hoat benar-benar terharu. Walaupun Lie Yang sudah menjadi orang besar, bahkan membawahinya, namun ia masih merendah dan tak lupa akan sebuah budi.
“Tuhan yang Maha Suci masih memberi kesempatan kita hidup, itu patut disyukuri. Dan sebaiknya digunakan untuk menanam kebaikan. Tuhan yang Maha Suci hanya memberi cara lewat tanganku untuk menolongmu, pangcu. Semua itu adalah kehendakNya. Aku bukanlah apa-apa. Hanya sebuah alat. Bersyukurlah pada Tuhan yang Maha Suci itu!” Kata Jit Fu-hoat. “Bangunlah Pangcu!”
Dan Lie Yang akhirnya bangun setelah memberi hormatnya tiga kali. Jit Fu-hoat tersenyum melihat Lie Yang memakai topeng emas itu. “Pangcu terdahulu pasti sangat senang melihat anaknya sekarang telah tumbuh dewasa dan menjadi orang gagah seperti ini.”
“Oh ya, apakah engkau tak mau menyapa kakemu, pangcu? Sepertinya beliau sudah selesai mengobadi Thian Hun Siansu.”
“Kakek? Maksud Jit Fu-hoat….” Kata Lie Yang diputus oleh Jit Fu-hoat.
“Iya, beliau sebenarnya sudah lama turun gunung. Dan mencari informasi tentang gerakan Ang-hong-pay bersama-samaku selama hampir lima tahun lebih. Pangcu temui beliau!”
Dan Lie Yang bertindak ke arah orang yang ditunjuk ole Jit Fu-hoat itu. Saat ini, kakek Lie Yang itu sedang menyalurkan hawa murninya ke Thian Hun Siansu. Pengobatan tahap terakhir. Setelah berada di samping orang tua itu, ia diam mematung tak mau mengganggu. Beberapa menit kemudian dua tangan orang tua itu diturunkan dan dengan pelan-pelan dibuka kedua matanya.
“Kakek…” Kata Lie Yang sangat pelan. Lalu ia melorotkan lututnya ke lantai. Walaupun suara Lie Yang sangat pelan, namun terdengar juga. Kakek itu menoleh, dan seulas senyum terlihat. Lie Yang terbengong-bengong melihat wajah kakeknya itu. Sepertinya tak mungkin orang setua kakeknya mempunyai wajah seperti ini. Hakikatnya, wajah itu masih sangat muda. Bahkan seperti seusianya, tak tampak keriput sedikit pun. Hanya rambutnya saja yang tampak menunjukkan umurnya yang sudah tua.
Andai bukan Lie Yang yang melihat sendiri, ia tak akan percaya ada orang tua memiliki raut wajah masih muda begitu. Mungkin orang-orang akan menyebutnya siluman malahan. Kakeknya tampak manggut-manggut.
“Aku sangat bersyukur, kelurga Giok masih mempunyai penerus dan Kim-liong-pay masih bisa dibangkitkan lagi. Cucuku, jangan engkau taburi hatimu dengan dendam. Sebagai seorang anak manusia dan sebagai seorang pangcu sebuah perguruan besar. Engkau harus menanamkan dalam dirimu sifat kebaikan, kegagahan dan menepati janji. Gunakan apa yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Suci ini untuk menegakkan keadilan dan melakukan kebaikan.”
“Akan cucu ingat petuah kakek ini!”
“Bagus! Semoga sifatmu tidak mirip denganku atau ayahmu. Semoga engkau bisa mengikuti jejak buyutmu.”
Lie Yang heran, namun ia tetap diam.
“Waktu masih muda dulu, aku pernah melatih sebuah ilmu gaib mengawetkan tubuh. Bahkan tanpa sengaja makan sebuah buah yang dapat megawetkan wajah juga. Sehingga, wajahku masih tetap awet muda. Namun, lantaran salah belajar sebuah ilmu yang lain, rambutku ini berubah menjadi putih semua. Ahhhh… takdir tak bisa dirubah.”
Kali ini Lie Yang tahu tanpa bertanya apa sebab kakeknya itu awet muda. Dan semua orang pada kaget mendengar penuturan kakeknya itu. Penuturan itu akhirnya menjawab pertanyaan semua orang yang ada di situ.
“Cucuku, dalam perjalananmu sebagai ketua yang panjang ini. Engkau harus berhati-hati. Engkau harus punya ketegasan untuk berbuat terhadap lawan-lawanmu. Membunuh orang bukan sesuatu yang dosa, jika dengan membunuh ini engkau bisa memberikan kehidupan yang banyak kepada orang lain. Setiap orang tidak sama, maka janganlah bertindak sama terhadap setiap lawanmu. Engkau harus pandai melihat. Kalau lawan itu pantas diampuni maka ampunilah, namun jika lawan itu pantas untuk dibunuh, maka bunuhlah. Kakekmu ini bukan mengajarimu untuk membunuh, tapi pengalamanlah yang mengajari…”
Kakek itu berhenti sambil menatap setiap orang. Banyak wajah yang menyiratkan wajah kaget…. lalu ia meneruskan.
“Dahulu kakekmu ini pernah mengampuni dua jiwa manusia…. aihhh… tak tahunya sekarang malah menjadi biang keladi semuanya.”
“Jadi, kakek sudah tahu siapa biang keladi dari semua ini?” Potong Lie Yang.
Sang kakek hanya manggut-manggut. “Biarlah, suatu saat engkau akan tahu. Aku hanya penasaran pada satu perkara. Aku masih belum tahu siapa sebenarnya pengggerak utamanya. Kalau aku lihat, orang-orang yang engkau temui dalam waktu dekat-dekat ini masih termasuk ikan kecil. Ikan besarnya belum muncul, atau mungkin sudah muncul tapi tidak terlihat.”
“Siapakah maksud kakek orang yang kutemui akhir-akhir ini?”
“Apakah engkau habis bertarung melawan seorang dengan jurus seperti ini?” Sang kakek dengan gerakan cepat meragakan di hadapan Lie Yang. Lie Yang tampak kaget ketika melihat jurus itu.
“Bagaiman kakek bisa tahu?”
“Lihatlah topengmu yang terkena goresan senjatanya itu… Dahulu orang ini pernah kuampuni jiwanya. Namun, seperti yang engkau lihat, ia masih belum menyadari kesalahannya. Oh ya, aku ingin bertanya kepadamu? Kenapa topengmu sampai tergores oleh senjatanya itu. Padahal menurut pandanganku, dalam tiga gerakan saja engkau mampu mengalahkannya.”
“Cucu sendiri tidak tahu. Cucu merasakan ada sebuah firasat menjelaskan untuk melihat-lihat semua kepandaian orang tua itu. Cucu tidak dapat melihat tabir firasat itu dengan jelas.”
“Hmmm… sepertinya ilmu yang engkau latih ‘itu’ sudah mencapai tahapan ‘Mengintip Rahasia Tuhan’? Apakah benar?”
“Mendapatkan firasat-firasat seeprti itu membuatku selalu gelisah. Dan tidak nyaman.” Jawaban Lie Yang berputar ke soal lain. Hakikatnya dengan jawaban itu, ia ingin mengatakan bahwa memang benar ia sudah berhasil mencapai tahapan ‘Mengintip Rahasia Tuhan’.
“Hahahaha…. akhirnya, ilmu gaib itu akan ada yang menguasai selain nenek moyang kita Sabzavar. Buyutmu saja sudah berlatih lebih dari 60 tahun baru mencapai tahapan ini, namun engkau hanya memerlukan waktu kurang lebih 10 tahun saja. Sungguh engkau cucu yang paling jenius di keluarga kita. Hmmm… jangan lupa gunakan ilmu itu untuk sebaik-baiknya. Dan mungkin engkau belum terbiasa dengan keadaanmu itu. Bersabarlah cucuku….”
“Terima kasih, kek!”
“Baiklah! Kita akan membicarakan tentang masalah Ang-hong-pay dan perguruan kita. Mari ikut aku!”
Dan kakek itu sudah berdiri. Mulutnya tampak bergerak-gerak, sedang pandangannya dialihkan ke arah Thian Hun Siansu. Thian Hun Siansu tampak manggut-manggut. Mungkin mereka sedang melakukan pembicaraan menggunakan ilmu penyampai suara. Setelah selesi, kakek Kang Lee berjalan ke sudut rungan. Di sana ada sebuh alat petik Khim yang sangat tua. Setelah mengambil, entah dengan gerakan bagaimana, si kakek sudah pergi keluar ruangan. Lie Yang mengikuti di belakngnya, sedang di belakangnya para anggota Kim-liong-pay mengikuti. Entah kemana kakek Kang Lee akan membawa mereka pergi.
Di sebuah tempat tak jauh dari biara Siauw-lim-sie, Lie Yang duduk di sebuah batu sambil bersemadhi. Sudah sehari semalam ia melakukan semadhi. Air terjun yang mengalir dari atas menimpa dirinya. Ia tetap diam, tak bergerak seperti batu yang menancap kencang di bumi.
Belasan orang menjaga tanpa istirahat siang-malam di sekitar tempat itu. Mereka diam tidak bergerak juga. Saat ini, uap putih mengepul dari atas kepalanya. Wajahnya tampak bersinar kekuning-kuningan. Setiap air yang menimpa dirinya menjadi dingin, ada sebagian yang langsung menjadi butiran-butiran es.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Lie Yang ditempat itu? Saat ini, adalah saat kritis dalam hidupnya. Ilmu gaib yang dilatihnya sedang naik tahap. Untuk menyempurnakan tahapan tertentu dalam ilmunya ini, ia harus menyerap hawa dingin sebanyak-banyaknya. Maka tak heran kalau kali ini tubuhnya bisa mengeluarkan hawa yang sangat dingin. Dan ia harus dapt melakukan semadhi dalam keadaan tenang. Tanpa gangguan sedikit pun. Sekali ia terganggu, dirinya bakal tersesat. Bahkan bisa mencelakakan dirinya.
Namun, mungkin Tuhan masih sayang kepadanya. Sesaat kemudian Lie Yang tampak membuka kedua matanya. Dua mata itu mencorong seperti lampu. Lalu ia menutup kembali dua matanya, dan membukanya. Dua mata itu kembali terlihat bening dan tampak penuh hawa wibawa bagi yang melihatnya.
“Hmmm… syukur Tuhan masih sayang kepadaku…” Katanya pelan. Dan tiba-tiba dirinya melejit ke atas. Menerobos guyuran air dari atas.
“Blammmmmmm….” Air muncrat kemana-mana. Dan ketika cipratan itu bertebaran laksana hujan, air itu telah menjadi butiran-butiran es. Dan baru saja ia turun di atas tanah, ia telah disambut oleh banyak orang. Kakeknya, orang-orang suci dari Bu-eng-hu, Penasehat, Pelindung, tujuh pelindung, kakak angkatnya, dan beberapa anggota Kim-hong-pay lainnya. Mereka memberi selamat atas keberhasilan Lie Yang meningkatkan ilmu gaibnya.
“Terima kasih atas bantuan saudara-saudara. Tanpa kalian, mungkin akan sangat susah untuk menyempurnakan tahapan ke tiga ilmu gaibku ini.” Kata Lie Yang sambil memberi hormat kepada anggotanya.
“Cucuku, hari ini aku sangat senang sekali bisa melihat ada keluarga kita yang mampu menguasai ilmu ini. Doaku, semoga engkau berhasil menguasai sampai tingakatan paling sempurna ilmu ini. Dan aku sangat yakin, kalau engkau bisa sabar melatihnya sedikit demi sedikit, engkau akan segera berhasil menguasainya. Andai, engkau berhasil menguasainya, di dunia ini akan muncul kembali ‘Manusia Setengah Dewa’ seperti leluhur kita dahulu.” Kata kakeknya sambil maju setindak di depan Lie Yang. Tinggi harapannya terhadap cucunya itu.
“Dan sepertinya, sudah saatnya kita berpisah lagi. Segalanya sudah kuceritakan kepadamu. Dan apa yang kumiliki telah kuberikan kepadamu. Semoga kita bisa bertemu kembali. Jagalah sebaik-baiknya apa yang telah engkau dapatkan ini. Dan semoga engkau bisa berlaku bijaksana sebagai manusia seutuhnya.”
Lie Yang diam. Tak mampu berkata apa-apa. Dua matanya mengikuti punggung kakeknya yang telah jauh berlalu. Terlalu cepat kakeknya itu mengambil keputusn. Terlalu mendadak, sehingga ia hanya bisa diam. “Kek, terima kasih atas semuanya. Doakan semoga cucumu ini bisa berlaku sabar, bijaksana dan semoga bisa memimpin Kim-liong-pay sebaik-baiknya. ” Katanya menggunakan ilmu mengirim suara kepada kakeknya yang sudah jauh.
Sebentar kemudian, ia tampak memejamkan kedua matanya. Mukanya tampak serius menhadap ke langit.
“Hmmm… apa ini?” Kata batinnya. Entah mengapa ia merasakan ada sesuatu menuntunnya untuk melakukan sesutu. “Isyarat apa lagi ini?”
Ia tahu bahwa ilmu gaibnya yang telah sampai pada ‘Mengintip Rahasia Tuhan’ telah memperlihatkan sesuatu kepadanya. Sungguh sangat berat, mendapatkan anugerah yang begitu aneh seperti ini. Konon, ilmu seperti ini tak bisa dilatih, hanya seseorang yang istimewa yang bisa mendapatkannya. Dan ilmu seperti ini adalah anugerah yang sangat berat. Hanya para Nabi sebagai utusan Tuhan yang mempunyai.
Namun, ada yang mengatakan anugerah seperti ini bisa dilatih. Dan hanya seorang yang punya hati suci yang bisa melakukannya. Orang seperti Lie Yang ini, bisa dikata orang yang sangat istimewa. Karena dia tak hanya diberikan keistimewaan itu, juga melalui pembelajaran sejak kecil. Lie Yang adalah manusia pilihan. Sin Tong (Anak Ajaib) yang diberkati Tuhan.
Sore itu, setelah lama berbincang-bincang dengan para anggotanya. Setelah ia mendengar beberapa pendapat dari anggotan, ia telah menentukan sebuah pilihan. Ia akan merumuskan tujuan utama Kim-liong-pay bagi dunia kang-aouw. Sebenarnya, ia ingin merombak kembali semua keanggotaan Kim-liong-pay, namun banyak diantara anggota-anggotanya yang menolak usulan itu. Menurut mereka, lebih tepatnya Kim-liong-pay dirombak tahun depan, disaat musim semi. Seperti yang biasa dilakukan oleh Kim-liong-pay dahulu. Yaitu setiap tahun pada musim semi, akan diadakan rapat besar dan sekalian merayakan awal musim semi. Akhirnya Lie Yang mengikuti usul itu.
Tujuan utama prtainya adalah menolong orang-orang dari keadaan tidak menentu ini. Dan menghancurkan partai Tawon Merah. Lie Yang membagi tugas kepada setiap anggotanya. Separuh anggotanya akan diutus untuk balik ke perkampungan naga kuning untuk memperbaiki perkampungan. Pasukan elit ditugaskan untuk mencari dukungan dan menyatukan kekuatan Kang-ouw. Mereka ditugaskan untuk menghubungi perguruan-perguruan silat, partai-partai, para pendekar atau ahli silat yang tidak mau tunduk kepada ancaman Ang-hong-pay. Beberapa lainnya ditugaskan untuk melacak sarang Ang-hong-pay, yang sudah berhasil diraba oleh Penasehat dan kakeknya.
Sedangkan sisanya lagi, Penasehat, dua pelindung, dan Hong-po beserta belasan anggota elit lainnya mengikutinya ke Utara. Mendatangi pesta berdirinya pertai baru, yaitu Thian-long-pay. Menurut kabar mata-mata yang disebar di sana, Thian-long-pay telah mengundurkan waktu pestanya. Menurut mata-mata itu, Ketua Thian-long-pay akan melakukan upacara pernikahan sekaligus di dalam pesta berdirinya partainya itu. Kabar ini konon sangat menggemparkan dunia kang-ouw. Karena umur ketua itu sudah hmpir 60 tahun, namun baru menikah. Ini Lie Yang sudah tahu dan sudah pernah bertemu dengan ketua itu tiga tahun yang lalu. Dan menurut kabar, guru dan beberapa paman dari ketua Thian-long-pay akan datang.
Kabar ini juga sangat menggemparkan. Selama ini, belum pernah ada yang mendengar asal usul dari mana perguruan ketua itu. Menurut kabar, diundangnya guru ketua Thian-long-pay dan diundurkannya waktu pesta, tidak lain lantaran pihak Thian-long-pay telah mendapatkan ancaman oleh Ang-hong-pay. Sebab itulah ketua Thian-long-pay mengundang guru serta paman-paman gurunya.
Sebelum Lie Yang membubarkan pertemuan untuk pertama kalinya ini. Lie Yang banyak memberi pesan kepada segenap anggotanya untuk tidak melakukan kejahatan. Mereka harus mengutamakan keadilan, kebaikan, ketulusan, kesabaran, menepati janji dan keadilan. Rencananya besok pagi-pagi sekali, mereka akan melakukan perjalanan jauh itu. Secara berombongan.
Namun, malam-malam kemudian Lie Yang dengan ragu-ragu mendatangi kamar pelindung Hong Hou-hoat.
“Tuk… tukk…” Terdengar ketukan Lie Yang. “Ayah mertua, apakah sudah tidur?” Katanya kemudian. Diluar organisasi ia menyebut Hong Hou-hoat dengan sebutan ‘ayah mertua’. Namun ketika sedang berkumpul dan ia menjadi seorang pangcu, ia menyebut “Hong Hou-hoat’. Sebenarnya Lie Yang tidak enak membeda-bedakan penyebutan dalam kondisi berbeda-beda itu. Hanya lantaran pernah ditegur oleh orng tua itu, maka dengan terpaksa ia melakukannya. Ayah mertuanya dan pamannya yang menjadi Uh Hou-hoat sendiri menyuruhnya menyebut begitu. Seorng pangcu harus menjaga kewibawaannya di depan anggotan. Dan tidak sembarangan melakukan tindakan salah.
Tiba-tiba pintu dibuka dan ayah mertuanya menyuruhnya masuk. “Maaf ayah, anak Yang harus mengganggu engkau orang tua sebentar…”
“Tak perlu banyak peradatan anak Yang. Apakah engkau sudah beristirahat?” Tukasnya sambil menghidangkan secangkir teh kepada Lie Yang.
Dengan agak ragu-ragu Lie Yang berkata. “Sudah. Namun ditengah istirahat anak Yang mendapat sesuatu firasat.” Ayah mertuanya tampak kaget.
“Firasat lagi?” Tanyanya.
“Iya. Sepertinya malam ini anak Yang harus melakukan perjalanan sendiri menuju utara. Untuk inilah anak Yang ingin memperbincangkan kepada ayah.”
Sekali lagi Pangcu Yang Lu tampak kaget. “Apakah firasat ini ada hubungannya dengan perjalananmu malam-malam begini?”
“Betul. Anak yang harus pergi ke suatu tempat sebelum ke markas Thian-long-pay. Ini juga berkenaan dengan pembicaraan anak Yang dengan kakek tempo hari.”
“Hmm… kalau begitu, sebaiknya engkau berangkat sekarang. Lega lah hatimu, aku akan mengabarkan masalah ini kepada Uh Hou-hoat besok pagi. Kami akan menyusulmu besok dan bertemu di kota Goan-yang sehari sebelum acara dimulai.”
“Begitu juga bagus. Sekali lagi maaf, anak Yang harus merepotkan engkau orang tua.” Kata Lie Yang tak enak hati.
“Haaa… sudah kubilang jangan banyak berdat dan terlalu sungkan. Oh ya, apakah benar engkau mau melakukan perjalanan sendiri. Apa tak mau mengajak salah satu dari tujuh pelindungmu?”
“Tidak. Anak Yang harus melakukan sendiri perjalanan ini. Biar bisa melaksanakan beberapa perintah kakek dan firasat yang kurasakan saat ini.”
“Sebenarnya, firasat apakah yang sedang engkau rasakan itu?”
Tampak muka Lie Yang tiba-tiba saja agak termenung, memikirkan firasat yang dilihatnya itu. Lalu dengan suara pelan ia menjawab. “Anak Yang melihat sebuh danau yang sangat luas nan indah, namun mendung pekat terbentang di atas danau itu. Dan sebuah perumahan di sebuah lembah. Namun aneh, setiap pintu rumah itu terlihat gambar sebuah pedang pualam memencarkan sinar sangat indah. Di gagang pedang itu ada tulisan “It”.”
“Hmmm… terlalu banyak danau indah di dunia ini. Ini akan sangat rumit untuk menemukan makna yang tergantung dalam benakmu itu. Sedangkan sebuah pedang dengan tulisan ‘It’ digagangnya, itupun belum pernah kujumpai seorang memakainya di kalangan kang-ouw.”
“Apa ayah mertua pernah dengar Kiam-oh-kiong (Istana Danau Pedang) di Timur kota raja dan It-Kiam-Pang (Perkumpulan Pedang Tunggal) di Utara?” Tanya Lie Yang sambil tersenyum.
Namun, ayah mertuanya itu tampaknya tidak mengetahui tentang dua perkumpulan itu. Ayah mertuanya tampak gelengkan kepalanya sambil mengingat-ngingat sesuatu. Ia heran, pegalamanya di dunia kang-ouw begitu luas, namun kenapa dua nama itu saja tak diketahuinya. Sungguh membuat orang penasaran.
“Menurut kakek, nenek moyang dari dua perguruan itu masih mempunyai hubungan dekat dengan Kim-liong-pay. Pada zamannya buyut Giok Kong, dua keluarga Mao dan Li itu menjadi gerbang Timur dan Utara. Tempat mereka menjadi markas utama anggota Kim-liong-pay di Timur dan Utara. Bahkan menurut cerita kakek, Mao Sie Li sebagai ketua keluarga Kim-oh-kiong dan Li Kang sebagai ketua keluarga It-Kiam-Pang waktu itu, adalah adik seperguruan kakek.”
Yang Lu Ban-li-hui-eng tampak manggut-manggut. Karena baru hari ini dia mendengar cerita tentang saudara seperguruan Giok Kang Lee. Sebenarnya ia hanya tahu kalau orang suci Giok Kang Lee mempunyai enam saudara perguruan. Namun belum pernah mendengar siapa saja orang-orang itu. “Jadi, tujuanmu malam ini akan ke arah timur kota raja?”
Lie Yang menegaskan dengan manggut. “Mungkin ada sesuatu yang bakal terjadi di sana. Semoga keadaan di sana tidak seburuk apa yang kurasakan.”
“Ini baik juga engkau ke sana. Sudah waktunya perguruan Kim-liong dipersatukan kembali. Kita membutuhkan bantuan banyak orang gagah untuk menghancurkan Kim-liong-pay. Namun aku merasa aneh, kenapa selama ini belum pernah mendengar sepak terjang mereka?”
“Anak Yang sendiri kebingungan sewaktu mendengar cerita ini. Namun, menurut penuturan kakek, mereka sudah lama tidak terjun ke dunia ramai. Konon itu perintah dari buyut Kong.”
“Kenapa orang tua suci itu memerintahkan seperti itu? Sungguh aneh!”
Sambil tersenyum Lie Yang menjawab. “Itulah rahasia Tuhan!”
“Aih.. terlalu banyak Kim-liong-pay memendam rahasia. Membuat orang penasaran saja.”
Dan dua orang itu tiba-tiba tertawa. Entah dimana letak lucunya. Memang banyak sekali misteri yang belum terungkap tentang perguruan Kim-liong sendiri. Bahkan anggotanya saja tak mengetahui banyak tentang perguruannya. Konon, cara menerima murid utama perguruan Kim-liong pun sangat aneh. Sejak dahulu kala, pengajaran ilmu silat diajarkan langsung oleh keluarga Giok. Untuk murid anggota, biasanya diajar oleh keluarga Giok sendiri dan murid utamanya.
Untuk menerima murid utama, perguruan Giok sejak dahulu selalu menetapkan tujuh orang murid. Tidak boleh kurang atau lebih. Semunya dimasukkan kedalam keanggotaan partai. Namun tujuh muridu tama itu dibagi menjadi tiga kelompok dan mempunyai tugas yang berbeda-beda. Empat orang bekerja diluar markas utama dan mempunyai tugas khusus diluar. Sedangkan tiga orang membantu sang guru di dalam keorganisasian dan perguruan, sehingga dua kelompok bekerja di dalam markas. Tiga orang murid utama inilah yang membantu keluarga Giok mengajarkan ilmu silat ke seluruh anggota perguruan Kim-liong.
Lebih aneh lagi, untuk menerima murid, sang pangcu langsung mencari di luar keanggotaan. Biasanya pangcu akan mengembara selama satu sampai lima tahun untuk mencari empat murid itu dan mengajarkannya sesingkat mungkin. Maka tak heran kalau murid yang dicari adalah manusia-manusia jenius dan berbakat luar biasa. Jika seorang pangcu tak berhasil mendapatkan murid dalam waktu itu, beberapa tahun kemudian akan mengembara lagi, sampai mendapatkannya.
Sedang tiga murid lainnya biasanya diambil dari dalam anggota sendiri yang berbakat dan masuk seleksi. Biasanya hanya anak sendiri yang dimasukkan, kecuali anak itu tak punya bakat, sehingga hanya akan diajarkan ilmu secara sederhana, namun tidak dimasukkan menjadi tujuh murid utama.
Buyutnya mempunyai tujuh murid utama, yaitu Mao, Li, Kim, Giok Kang Lee, Giok Lin dan Giok Lan. Giok Lin dan Giok Lan adalah saudari kembar kakeknya Giok Kang Lee. Menurut penuturan kakeknya, dua saudarinya itu telah menghilang sejak remaja. Dua saudarinya itu pergi meninggalkan rumah dan tak pernh ada kabarnya lagi sejak kini. Yang lebih tragis adalah konon katanya penyebab perginya dua saudara kembar itu lantaran berebut seorang laki-laki. Kakek dan buyutnya sudah pernah mencari, bahkan menggunakan kekuatan Kim-liong-pay, namun sia-sia belaka. Hingga saat ini, hilangnya dua saudara kembar itu masih misteri.
Keluarganya memang unik. Entah itu berkah Tuhan atau sebuah ujian. Hampir setiap anggota keluarganya selalu melahirkan anak kembar. Kecuali dirinya. Dulu pernah buyutnya berbicara begini kepadanya.
“Semua keturunan Giok mempunyai saudara kembar, walaupun kadang sewaktu dilahirkan mati salah satunya. Hanya engkau yang dilahirkan seorang tunggal. Maka tak heran engkau mempunyai kejeniusan diatas rata-rata manusia. Sebab hakikatnya, otak dan tubuh dua manusia menjadi satu dalam dirimu.”
Namun apakah ada kejadian seperti itu. Hanya Tuhan yang tahu. Buyutnya punya saudara kembar tapi meninggal, kakaeknya punya saudari kembar tapi meninggal dan punya saudari yang kembar, sedang ayahnya juga punya saudarikembar yang meninggal waktu berumur lima tahun lantaran mengalami sakit aneh. Sedangkan dirinya, dilahirkan sendiri tanpa saudara kembar. Lebih aneh lagi, buyutnya itu mengakui dirinya sebagai murid penutup. Sebab sejak dahulu, buyutnya itu baru mempunyai enam murid utama dan dibalik keanehan ini tersimpan sebuh rahasia.
Setelah berbincang-bincang dengan ayah mertuanya. Lie Yang mohon pamit. Malam ini juga ia akan pergi. Waktu kentongan tiga tengah malam nanti, dia akan berangkat. Setelah masuk kamarnya, ia mulai mengemasi pakaian dan jubah pangcu Kim-liong-pay. Tidak lama kemudian, sebuah buntalan tak terlalu besar telah berada di pojok tempat tidurnya. Lalu ia duduk bersila dan bersemadhi sebelum ia melakukan perjalanan.
Tak terasa sudah dua hari melakukan perjalanan menggunakan ilmu berlarinya. Malam ketiga, Lie Yang telah sampai di luar kotanya Taiyuan. Seperti biasa, ia akan mengaso beberapa jam untuk memulihkan tenaga. Sehebat-hebatnya manusia, tetap akan merasakan lapar, dahaga, dan lelah. Begitu pun Lie Yang, walaupun tenaga dalamnya sudah mencapai rata-rata manusia.
Hanya untung, ia membawa banyak obat-obatan yang dapat menyegarkan tubuhnya. Sehingga ia tak memerlukan waktu banyak untuk mengaso. Ia ingin segera sampai di kota Siang Yang secepat mungkin. Walupun dalam perjalanan ini ia belum tahu jalan, namun ilmu perbintangannya sangat hebat. Ia bisa melihat mana arah utara, selatan, barat atau timur hanya dengan melihat bintang atau matahari.
Sebab itulah ia tak pernah salah menentukan arahnya. Ia hanya akan tanya ke beberapa penduduk yang dijumpainya di tegah jalan, kemanakah arah kota Siang Yang. Siang Yang berada di utara kota raja. Sebuah wilayah yang membatasi Mongolia dan Manchuria. Lie Yang akan melakukan perjalanan ke Utara. Namun ia belum tahu harus kemana setelah sampai di Siang Yang.
Bagi orang lain mengikuti sebuah isyarat yang tak masuk akal mungkin sangat aneh. Tapi baginya, ia meyakini kalau isyarat-isyarat itu akan menuntunnya terus ke sebuah tujuan. Buktinya adalah, sejak semula meninggalkan kota Louyang ia hanya tahu harus ke utara. Namun ditengah jalan, ia mendapatkan kejelasan, ia harus ke kota Siang Yang. Ia tahu perjalanan ke kota Siang Yang sangat jauh, bisa mencapai sebulan perjalanan kaki biasa. Kalau berkuda bisa dua puluh harian baru sampai. Itu pun harus ditempuh dengan cepat.
Namun, Lie Yang yakin, dengan ilmu meringan tubuhnya dan dengan melewati jaln air, ia bisa lebih cepat sampai tujuan. Setelah sampai di luar kota Taiyuan, selanjutnya ia akan melanjutkan perjalanan ke kota Sin Jia Chuang, kota paling dekat dengan ibu kota raja. Namun ia tak akan melewati ibu kota. Walaupun ada keinginan melihat-lihat kota raja, namun ia tahu saat ini belum saatnya untuk menikmati keramaian kota raja itu. Ia akan melakukan perjalanan ke arah timur, dan melalui laut, ia akan ke Siang Yang. Dengan begitu ia berharap dalam dua minggu ia sudah bisa sampai di Siang Yang.
Hari ke empat sore hari, ia sudah sampai kota Sinjia Chuang. Kota itu sangat ramai. Bahkan lebih ramai daripada kota Taiyuan. Ia hanya beristirahat semalam di kota itu, pagi-pagi kemudian ia dengan menunggang kuda sudah meneruskan perjalanan kembali ke arah pesisir timur. Pagi-pagi kemudian, ia baru sampai di dusun nelayan. Dari sini ia mulai bingung, lantaran tak menemukan sebuah kapal yang bisa mengantarkannya ke arah utara. Kebanyakan nelayan malah mencari ikan ke selatan atau ke timur laut.
Sambil beristirahat di sebuah penginapan kecil milik penduduk. Ia mencari informasi pelayaran ke utara. Sore hari ia keluar rumah untuk berjalan-jalan di pesisir pantai. Selama beberapa jam berada di dusun yang bernama Pek Hong ini, ia merasa sangat tenang. Penduduknya kelihatannya hidup rukun, damai, dan tenang. Apalagi penduduk pesisir sangat rama-rama, setiap berjumpa dengan penduduk, sudah pasti ia disapa dengan ramah.
“Andai orang-orang kota hidup seperti ini, alangkah indahnya dunia ini!” Tiba-tiba ia berkata. Ia teringat bagaimana kehidupan di kota. Sungguh berbeda sekali kalau dibndingkan. Sambil kakinya menyibak-nyibak pasir. Deburan ombak terdengar menggelegar. Namun gulungan ombak yang begitu besar itu setelah sampai bibir pantai segera sirna. Lie Yang melihatnya tertahjub-tahjub. Untuk pertama kalinya ia bisa lihat laut. Begitu indah, namun sangat menakutkan.
Tiba-tiba telinganya mendengar beberapa anak kecil berteriak-teriak gembira. Anak-anak penduduk pantai itu berlarian saling kejar-mengejar. Diiringi suara teriakan, sesekali suara ketawa ramai. Sungguh membuat hati Lie Yang menjadi berbunga-bunga. Ternyata ada dua anak kecil berlari paling depan memegang benang, diujung sana terlihat layang-layang kecil sedang melenggok-lenggok indah. Dua anak kecil berumur delapan tahunan itu berlari terus mendekati Lie Yang, sedang teman-temannya mengikuti dibelakangnya sambil bersorak gembira.
“Hi paman!” Sapa mereka sambil cekikikan renyah. Mereka melewati Lie Yang. Tiba-tiba Lie Yang ketawa gembira. “Heran, umurku masih begini muda tapi sudah dipanggil paman oleh mereka..hehe” Kepalanya geleng-geleng sambil melihat anak-anak itu lewat.
Ketika anak-anak itu sudah jauh. Di depannya terlihat seorang anak kecil. Kulitnya hitam pekat. Hanya dua mata sama sederetan gigi itu yang kelihatan putih mengkilat. Anak kecil itu meniup sesuatu. “Tuuuttttt…..tooooooooooott…..tiuttttt” Suara yang keluar sungguh jelek. Entah apa yang ditiupnya. Anak itu setelah meniup tampak berkerut mukanya, sehingga tampak lebih jelek mukanya.
“Adik, mainan apa yang kamu tiup itu? Boleh kakak melihatnya?” Kata Lie Yang ketika melihat suara yang dihasilkan sungguh tak sedap ditelinga.
Anak kecil hitam itu berhenti. Dua matanya dialihkan ke arah Lie Yang. Sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang putih mengkilap, ia sodorkan mainannya ke Lie Yang. Lie Yang segera berjongkok dan mengambil barang itu.
“Kerang terompet. Coba paman tiup.” Katanya. Sekali lagi Lie Yang pengen ketawa dengn sebutan ‘paman’ oleh anak-anak pesisir ini.
Sebelum Lie Yang meniup, ia melihat dulu bentuk kerang yang aneh itu. Memang bentuknya mirip kerang namun lebih besar dan panjang. Anehnya, ada tiga lubang di bagian punggung kerang itu. Kalau dilihat bukan mirip kerang tapi seruling, namun lebih kecil. Lie Yang segera tahu, mungkin ini sebuah karang yang sudah dibentuk seperti seruling atau terompet dengan ujung pertama sempit dan yang lain lebar. Namun yang aneh lagi, kerang ini sungguh halus dan warnanya yang sudah hitam kecoklat-coklatan itu menambah keanehannya. Setelah mengamati sebentar, ia mulai menaruh ujung yang sempit dari kerang itu ke mulutnya.
“Ngiuingggggggggggggggggg…”
Suara itu mengalun sangat keras. Membuat anak kecil itu tiba-tiba mundur sempoyongan. Mukanya tampak berubah tambah menghitam. Lie Yang sangat kaget mendengar suara yang dihasilkan oleh kerang itu. Saking semangat dan senangnya, sampai lupa kalau waktu meniup ia menggunakan tenaga yang berlebihan. Hanya untung ia tidak menambahi lagi sehingga menimbulkan suara lebih keras lagi. Ia hanya reflek ketika mengeluarkan tenaganya itu, lantaran ketika bibirnya baru menyentuh mulut kerang itu, tiba-tiba ada hawa sangat dingin menjalar ke bibirnya. Saking kagetnya sampai ia harus menggeluarkan tenaga dalamnya.
Sebentar kemudian dilihatnya anak kecil yang sudah menjauh tiga langkah di depannya itu. “Maaf dik, kakak mengagetkanmu,” Katanya sambil tersenyum. Tiba-tiba dilihatnya anak kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Lie Yang bingung apa maksud anak kecil itu.
“Suara setan… suara setan… kerang itu buat paman saja. Saya gak mau lagi dengan kerang terompet itu.” Kata anak kecil itu tiba-tiba. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Lie Yang.
Lie Yang terbengong-bengong mendengar kata anak kecil itu. Ketika sadar ia sudah berteriak, “Adik, dari mana engkau dapat kerang ini? Benarkah ini untuk kakak?”
“Dari laut. Hadiah buat paman.” Tegas sekali kata anak kecil itu. Selagi Lie Yang geleng-geleng tak habis pikir kenapa anak kecil itu berkata begitu, anak kecil itu sudah hilang ditelan kejauhan.
Lie Yang termenung. Sorot matanya dialihkan ke laut. Senyum segera merkah di bibirnya. Dua matanya berbinar-binar. Lalu ditatapnya sekali lagi kerang terompet ditangannya itu. Ia tak habis pikir, kenapa ada aliran dingin di dalam terompet itu. Lalu dicoba kembali ditiupnya kerang mungil itu. Ia masih merasakan dingin diujung bibirnya, bahkan semakin kuat aliran dingin itu terasa.
“Tooootttttttttt….” Tiba-tiba terdengar suara. Namun berbeda dengan suara pertama tadi. Ia semakin bingung, lantaran cara meniup kerang ini begitu berbeda dengan cara meniup seruling. Lantaran tak mengeluarkan tenaga besar, suara itu hanya terdengar pelan. Kalah dengan suara deburan ombak. Hanya saja Lie Yang dapat mendengar suara itu dengan jelas. Perbedaanya pun terdengar sangat jelas.
Sekali lagi Lie Yang mencoba meniup. Setiap tiupan, jari-jari tangannya dirahkan berbeda untuk menutupi tiga lubang di punggung kerang itu. Kenyataannya memang berbeda suara yang dihasilkan oleh tiupannya. Walaupun ia masih belum bisa melagukan sebuah lagu, namun ia sudah bisa menandai perbedaan yang dihasilkan oleh tiupannya. Melalui jari-jarinya ia bisa membedakan suara yang dihasilkan oleh tiupannya. Namun ia hanya menemukan beberapa perbedaan saja. Dan ketika perbedaan-perbedaan itu dijadikan satu lagu, ternyata tak dapat menghasilkan sebuah lagu seperti seruling.
Lama sekali Lie Yang mencoba meniup-niup karang itu. Hingga akhirnya memisahkan bibirnya dengan karang itu. Sambil menarik nafas panjang ucapnya. “Sungguh aneh kerang ini? Cara bagaimana saya bisa meniupnya dengan benar. Apakah memang kerang ini hanya bisa mengeluarkan suara panjang?”
Setelah dipikir-pikir. Tidak ketemu juga jawabannya. Akhirnya kakinya berjalan menelusuri pantai ke arah selatan. Sekitar lima li kemudian sudah tampak kampung lain. Tiba-tiba wajahnya tampak berbinar-binar. Ia melihat sebuah perahu besar sedang berlabuh.
“Sepertinya bukan kapal nelayan?” Gumamnya sendiri sambil mendekat ke arah kapal.
Dilihatnya seorang lelaki berumuran lima puluh tahun sedang duduk di ujung kapal. Dua matanya tampak terpejam. Sepertinya ia sedang tidur. Lie Yang pura-pura terbatuk-batuk. Ia senang lantaran akalnya berhasil. Tiba-tiba lelaki itu membuka kedua matanya dan dialihkan ke arah Lie Yang. Sorot mata itu tampak seperti sorot mata nelayan-nelayan pada umumnya. Menampakkan ketenangan dan kejujuran.
“Maaf paman, saya mengganggu waktu istirahatmu.” Kata Lie Yang sambil menjura.
“Ada yang bisa kubantu, anak muda?” Kata lelaki itu, suaranya tampak lembut. Tidak tampak diwajahnya terlihat gusar atau terganggu. Malahan ada senyuman diwajahnya.
“Bolehkah saya tanya, kira-kira kapal ini akan berlayar ke arah mana?”
Lie Yang bisa melihat kalau ujung kapal itu mengarah ke utara. Menurut dugaannya, andai kapal ini tidak berjalan ke utara, mungkin memang berhenti di sini.
“Kapal ini akan ke daratan Manchuria.”
“Manchuria?”
“Iya, kami mau mengirim barang dagangan ke sana. Rencananya nanti malam kita akan berangkat…”
“Apa tidak berhenti sama sekali, paman?” Potong Lie Yang.
“Mungkin berhenti di pesisir Ling Sie, namun hanya beberapa jam saja. Ada yang bisa kubantu, anak muda?”
“Ooo.. kalau boleh saya ingin menumpang kapal paman ini. Tujuanku ke kota Siang Yang. Bagaimana paman?”
“Hmmm… nanti malam engkau ke sini lagi. Saya akan bicarakan dengan tuan besar… semoga beliau mau memberi izin kepadamu, anak muda.”
“Terima kasih paman!” Kata Lie Yang sambil menjura.
Lalu Lie Yang meninggalkan tempat itu untuk pergi ke penginapannya. Malam kemudian dia sudah kembali ke tempat itu. Dilihatnya banyak orang lalu lalang sambil membawa barang masuk ke kapal. Namun ia masih belum melihat orang setengah umur itu. Ia berdiri sambil menanti orang itu. Sejam kemudian dilihatnya orang tua itu. Ia berjalan dari dalam desa bersama seorang berumuran sekitar 40 tahunan. Orang itu memakai pakaian biru bersih. Sepertinya dialah orang yang dimaksud ‘tuan besar’ oleh orang itu.
Lie Yang berjalan mendekat. “Selamat malam paman!” Sapanya sambil menjura.
“Tuan, inilah anak muda yang kubicarakan tadi.” Kata orang setengah umur itu kepada orang berpakaian biru itu.
“Siapa engkau, anak muda?” Tanya orang berpakaian biru itu dengan suara ramah.
“Saya she Giok bernama Lie Yang. Kalau boleh saya ingin menumpang kapal paman ke Siang Yang.”
“Kebetulan kami akn berlabuh di pesisir Ling Sie untuk beli sesuatu di sana. Baiklah, engkau boleh ikut kami.”
“Terima kasih, paman!”
Lie Yang mengikuti mereka ke kapal. Di dalam perjalanan, mereka sangat ramah. Ternyata mereka berasal dari Nanking. Pemilik kapal itu bernama Lie Kong Hua, seorang sudagar kaya di kota Nanking. Sedangkan orang tua setengah umur itu kepala pelayarannya, bernama Kang Ming bermarga Su.
“Lie Yang, kalau kami tidak salah, engkau pasti orang rimba persilataan?” Tanya saudagar Lie.
“Boleh dikatakan begitu, paman. Saya sendiri baru mulai terjun di dunia Kang Ouw.”
“Aih… sungguh berbahaya menjadi orang-orang Kang ouw. Apalagi menjadi orang biasa sepertiku. Tiap hari, kerjaan orang-orang Kang Ouw cuma saling bunuh membunuh. Tidak ada habis-habisnya. Andai aku gak mempunyai kekayaan cukup dan memberi upeti kepada kelompok-kelompok Kang Ouw, mungkin sejak dahulu aku dan keluargaku sudah habis.”
“Itu memang sudah takdirnya begitu, paman. Ilmu silat itu seperti pisau atau api. Sebuah alat yang bisa diselewengkan, tergantung siapa pemegangnya. Terus terang paman, keluargaku juga habis dibunuh oleh orang-orang kang ouw. Bahkan satu desa di bantai habis.”
“Ahh? Sungguh menyedihkan kisah hidupmu, Lie Yang. Tapi syukur engkau masih bisa selamat sehingga bisa membalas dendam untuk keluargamu itu…”
“Saya ng paman, saya bukan orang yang mendedam. Sejak kecil, saya diajarkan bahwa seseorag akan mati, dengan jalannya sendiri-sendiri. Kalau saya harus mendendam dan membalas sakit hati, lalu apakah dendam mendedam ini akan hilang? Bukankah kalau saya membunuh musuhku, maka keturunannya juga akan balas dendam kepadaku… kalau terus menerus begini, kapan akan selesai urusan baalas dendam? Bukankah lebih baik harus ada yang mengalah?”
“Ahh.. sungguh mulia hatimu. Namun, apakah benar-benar engkau tidak merasa sakit hati melihat keluargamu dibantai orang? Apakah mereka tidak mati penasaran kalau dendam itu tidak dibalas?”
“Saya kira setiap manusia mempunyai rasa itu, paman. Tapi saya takut kena karma lantaran membunuh orang, meskipun orang itu berhak untuk dibunuh. Biarlah, dengan jalan ini, segala kesalahan keluargaku diampuni Tuhan Yang Maha Suci.”
Saudagar Lie tampak manggut-manggut. Matanya menerawang ke atas, bintang-bintang bertebaran di atas sana. Sungguh indah dan menakjubkan. Tak terasa, sudah sehari dua malam Lie Yang melakukan perjalanan laut. Banyak sekali pengalaman yang didapat oleh Lie Yang dari saudagar Lie. Baik tentang dunia kang ouw atau cerita-cerita kuno. Ternyata, saudagar Lie tidak hanya mahir dalam perdagangan, pengalamannya tentang dunia kang ouw juga sangat luas. Sungguh beruntung sekali Lie Yang bertemu dengan orang itu.
Pagi-pagi kemudian merek sudah sampai di pesisir Ling Sie. Lie Yang meneruskan perjalanan ke arah barat dengan berjalan kaki. Menggunakan ginkang istimewanya, ia yakin biasa sampai kota Siang Yang hanya sehari semalam saja. Sore hari itu ia sampai di sebuah hutan yang sangat lebat. Dia kebingungan untuk menentukan arah. Lantaran terlalu lebat hutan itu, juga tidak ditemukannya jalan setapak yang biasa dilewati orang. Akhirnya ia menentukan untuk beristirahat dulu, barang kali besok ia bisa bertemu orang di tempat ini.
Lalu ia mencoba mengumpulkan kayu kering untuk membuat api. Sambil duduk di bawah pohon, segera ia pejamkan kedua matanya. Sesaat kemudian ia sudah dalam keadaan hening.
Pek-houw-eng (Pendekar Harimau Putih) ( 1 )
“… Bagaimana kalau kakek sudah tiada? Ahh… Tuhan.. perkenankan aku menjumpainya…” Kata seorang anak kecil berumuran belasan tahun.
Anak kecil itu berlari dengan dada naik turun tak menentu. Suara nafasnya terdengar memburu. Bukit terjal dengan pepohonan yang lebat itu diterjangnya tanpa takut bahaya. Tampaknya anak belasan itu punya tekad yang sangat besar.
Ketika baru saja dia menuruni sebuah batu yang sangat besar. Terdengar suara meraung keras.
“Ah.. mati aku kali ini…ada suara macan begini dekat.” Katanya pelan sambil berhenti. Dua matanya yang menyorot tajam tambak bercahaya. Dilihat dari ini, ia tak takut dengan suara itu, walaupun ada rasa kuatir di dalam dada kecilnya.
“Ngaummmmmmmm…”
Suara itu semakin dekat. Dan dia sudah mendengar ada gemeresek suara di dalam semak-semak di depannya.
“Harimau putih?” Cetusnya kaget ketika melihat sosok putih yang sangat besar. Anak itu bukannya takut malah sepertinya tampak gembira. Sungguh aneh.
Namun, sikap riangnya segera sirna ketika melihat dua mata merah milik harimau itu. Harimau itu tampaknya tidak seramah yang dia pikirkan. Dan harimau itu mengaum semakin keras. Sambil mendekat setapak demi setapak. Jalannya begitu gagah.
Tanpa terasa anak kecil itu mundur. Rasa beraninya sirna begitu saja ketika melihat muka harimau yang tampak begitu garang.
“Pek-how Heng (Saudara Harimau Putih) jangan mendekat! Berhenti di situ! Berhenti!” Tiba-tiba anak kecil itu berteriak kencang. Namun, harimau itu tetap berjalan ke depan sambil berputaran. Harimau itu bahkan sudah merendahkan tubuhnya siap menerkam.
“Ngaummmmmmm….Ngerrrrrr..” Suara itu penuh wibawa.
Dan harimau itu meloncat menerjang si anak kecil. “Brettt…” Walaupun anak kecil itu bisa menghindar, namun sebagian baju di bahunya terkoyak juga. Dan sebagian kulitnya terkena cakaran harimau itu.
“Kukatakan berhenti, kau!” Teriak anak kecil itu sambil menggeser tubuhnya. Ternyata ilmu peringan tubuh anak itu lumayan bagus. Andai tidak bisa ilmu meringankan tubuh, mungkin sejak dari tadi ia sudah tergeletak menjadi mayat.
Harimau itu tampaknya tak mau kalah. Suara aumannya semakin keras. Bahkan gerakan memutarnya semkin cepat dan lincah. Anak kecil itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
Sebuah lempengan terbuat dari emas murni. Lempengan di tangannya itu diangsurkan ke depan. “Berhenti kau!” Anehnya, tiba-tiba saja gerakan harimau itu berhenti total. Ketika melihat usahanya meghentikan harimau itu berhasil. Tersirat rasa bangga dan senyum di ujung bibir si anak kecil itu. Secepat kilat, ia bergerak dan melejit ke atas punggung si Harimau putih itu.
Harimau putih itu tampak mau meronta. Namun sekali lagi, dengan nada seperti seorang penguasa besar, anak kecil itu berkata. “ Berhenti! Atau engkau minta dihukum?! Bawa aku ke tempat kakek! Cepat!”
Tiba-tiba harimau itu berhenti bergerak dan mengaum keras. Setelah itu meloncat membawa anak kecil itu.
“Bagus! Lebih kencang lagi!” Kata anak itu sambil tertawa binal.
Anak kecil itu entah dibawa kemana. Harimau itu berlari sangat kencang. Sepertinya sudah tahu bahwa dia tak boleh mencelakai tuan yang ada di punggungnya. Harimau cerdik itu mencari jalanan yang baik-baik. Sekitar tiga jam kemudian, harimau itu telah berhenti di tengah-tengah hutan bambu. Didepan sana terlihat sebuah tebing yang sangat tinggi, ternyata hutan bambu itu ada dibelakang tebing dan di tengah celah gunung. Di depan sana juga terlihat sebuah gua. Harimau itu berjalan kembali dengan sangat pelan. Sungguh aneh prilaku harimau itu.
Setelah sampai di mulut gua. Harimau itu berhenti. Dan mengaum keras tiga kali berturut-turut. Suaranya begitu keras hampir menggetarkan seluruh gua. Anak kecil itu segera turun.
“Pek-how Heng, di sinikah kakek bertempat tinggal?” Tanya anak kecil itu kepada makhluk berbulu putih itu.
Harimau putih itu sepertinya paham dengan omongan anak kecil itu. Segera ia manggut-manggut. “Pek-how Heng, engkau boleh pergi. Aku akan ke dalam sendiri menemui kakek!”
Dan tak perlu menunggu jawaban dari si harimau putih. Anak kecil itu sudah melangkahkan kakinya ke dalam gua. Tak ada keraguan sama sekali di dalam benaknya. Gua itu tampak gelap, semakin ke dalam semakin gelap. Terdengar suara tetesan air dari batu-batu di atas.
“Blessssssssssssss…!!!”
Terdengar suara gesekan udara. Dan pasir-pasir berhamburan menerpa anak kecil itu, hingga terjengkang ke belakang.
“Ahh… a… apa ini?” Kata anak itu terbatah-batah kaget. Ia bangun berdiri sambil mengebutkan debu-debu yang ada dibajunya. Baru saja selesai berdiri tegak, ia mendengar ada suara baju dari arah sampingnya. Tampaknya ada orang yang sedang mengerahkan ginkangnya keluar gua.
“Siapa itu? Apakah kakek?” Teriaknya…
Tak ada sautan, bahkan suara kibaran baju itu hilang. Anak kecil itu yakin, ada orang yang sedang melewatinya. Ia mendengar jelas suara itu.
“Aneh…” Katanya. Dan anak kecil itu langsung membalikkan badannya berlari ke arah mulut gua. Baru lima langkah ia berlari, ia mendengar suara desahan yang cukup lemah. “Ah… akhirnya…!!!”
Suara sangat lemah itu membuat anak kecil itu berhenti melangkah. “…How Jiaw-kang (Ilmu Cakar Harimau)…” Orang itu tampak berbicara tak jelas.
“Ka… kakek…” Tiba-tiba orang itu mendengar suara kecil di belakangnya. “Siapa?” Ia membentak tanpa menoleh.
“Aku.. aku Pek Kun Bu..kek. Putra Pek Goan Cun… cucu kakek..” Jawab anak kecil itu agak ragu.
Orang berjubah abu-abu itu menoleh. Dan melihat seorang anak laki-laki kecil berumur belasan sedang sujud di belakngnya.
Tiba-tiba orang berbaju abu-abu yang dipanggil anak kecil yang bernama Kun Bu itu tertawa tergelak-gelak. “Bagus! Goan Cun punya anak yang berbakat baik!” Katanya selesai tertawa tergelak-gelak.
“Anak Kun Bu… serahkan kepadaku golok pusaka keluaga kita!” Katanya kepada anak kecil itu.
Kun Bu segera mengambil dari balik bajunya sebuah golok dan segera diserahkan kepada orang itu. Orang itu pun menerima dan mencabut dari sarungnya. Namun, orang itu tampak tertegun ketika melihat di golok itu ada bercak merah seperti darah yang telah kering.
“Cucuku… apa yang terjadi dengan orang tuamu?” Tiba-tiba orang berpakaian abu-bau tu bertanya.
Namun, anak kecil itu tidak segera menjawab. Hanya terdengar suara sesegukan. Kelihatanya anak itu sedang menangis. “Ayah… pergi… “ Terdengar anak kecil itu menjawab dengan suara lemah.
“Pergi?”
“Sebulan yang lalu, ayah didatangi tiga orang berpakaian putih dan terjadi pertengkaran dengan mereka…” Kata anak itu.
“Siapa mereka?”
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. Ialalu berkata. “Ayah mampu mengusir mereka, namun tiba-tiba keesokannya ayah pergi entah kemana setelah melihat ibu mengalami sakit yang aneh. Menurut paman Cha, ibu terkena racun dan ayah pergi mencari obatnya… selama setengah bulan ayah tidak kembali.”
“Hmmm”
Anak itu melanjutkan, “ … Ibu semakin parah kondisinya, hingga suatu pagi aku menemukan sebuah bungkusan kecil di dalam kamar. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah surat dari ayah dan sebotol obat untuk ibu. “
“Apa yang dikatakan ayahmu di dalam surat itu?” Tanya orang tua itu.
“Di dalam surat itu, ayah cuma menyuruh aku menemui kakek untuk menyerahkan golok pusaka itu.”
Orang tua itu tampak diam. Lalu ia tampak menekan-nekan sarung pedang itu. Tiba-tiba saja ada sesuatu jatuh dari dalam sarung golok itu. Orang tua itu mengambilnya.
Ternyata barang itu adalahsebuah surat yang dilipat-lipat sangat kecil. Orang tua itu tampak keluar gua untuk mencari cahaya dan membacanya.
“Kun Bu… kemari!” Orang tua itu memanggil anak kecil itu. Anak kecil itu bangkit dan berjalan mendekat. “Apakah akhir-akhir ini ayahmu pernah bercerita tentang Ang-hong-pay?”
“Ang-hong-pay?” Anak kecil itu tampak berpikir. Lanjutnya, “Ayah tak pernah menyinggung masalah itu… cuma anak Bu pernah dengar dari orang-orang Ang-hong-pay telah banyak menghancurkan partai-partai di Tionggoan.”
Orang tua itu tampak manggut-mangut. “Bagaiman dengan ibumu sekarang?”
“Ibu tampak sudah membaikan setelah minum obat yang diberikan ayah. Kakek, apakah ayah baik-baik saja?”
“Semoga dia baik-baik saja. Sebaiknya kita segera harus pergi ke tempat pamanmu. Aku kawatir ada yang sedang terjadi juga di sana… aku punya firasat tidak enak.” Setelah berucap. Kakek itu tampak besiul keras tiga kali. Siulannya sangat keras. Tak lama kemudian terdengar auman keras tiga kali. Dan harimau yang baru ditumpangi oleh anak kecil itu datang.
“Kau naiklah. Biar kakek menggunakan ginkang biar perjalanan kita cepat sampai.”
“Baik, kek!” Kun Bu langsung meloncat ke punggung harimau.
“Bagus!” Kata si kakek ketika melihat ketangkasan cucunya itu meloncat. “ah, sayang, Kun Bu. Andai Tiauw-heng ada di sini, mungkin kita bisa lebih cepat melakukan perjalanan ini.”
“Memang ada apa dengan Rajawali sakti itu, kek?”
“Rajawali itu pergi mencari tuan baru.” Jawab si kakek sambil melirik cucunya yang tampak gagah di punggung harimau.
“Ayo balapan dengan kakek?!” Tantang si kakek tiba-tiba.
“Haha… kakek pasti kalah! Tiauw-heng ayo kita kalahkan kakek!” Teriak si Kun Bu. Dan mereka memulai berlari.
Kun Bu tampak gembira, begitu pun kakeknya. Harimau itu memang berlari sangat kencang, seperti mengerti apa yang dimau oleh Kun Bu. Sedangkan kakeknya mengimbangi dengan ginkang tingkat tinggi.
“Aihh… sudah lama aku tidak merasa segembira ini. Waktu begitu cepat berrlalu, namun sakit hati masih belum hilang.” Kata si Kakek dalam hati. Dan saat itu juga pikirannya melayang.
Dua belas tahun sudah si kakek itu menghilang diantara orang-orang Kang-ouw. Mungkin sudah tak ada yang mengingatnya lagi. Nama Pek-houw-eng (Pendekar Harimau Putih) dahulu sangat terkenal di dataran Tionggoan atau Bhutan. Sepak terjangnya banyak membawa manfaat bagi banyak orang. Orang-orang banyak yang menyebutnya Pek-houw Tayhiap (Seorang Gagah seperti Harimau Putih). Sebutan itu lantaran dirinya sering menaiki harimau putihnya. Kemana pun ia melangkah, pasti harimau itu mengikutinya.
Hingga sepak terjangnya hilang dari ingatan orang-orang kang-aouw. Ia memutuskan untuk memperdalam dan menyempurnakan ilmunya. Hakikatnya, dahulu kala, hanya seorang saja yang mampu mengalahkannya. Orang itu lah yang menjadikan dirinya menghilang untuk mengasah ilmunya kembali. Ia ingin mengambil apa yang pernah diambil dari orang yang mengalahkannya itu. Sebuah HARGA DIRI!
———————-
Di sebuah kedai kota kecil di perbatasan Tiongkok dengan Buthan. Kota kecil itu dinamai Kota Wei. Seorang pemuda dengan capil yang terbuat dari anyaman jerami sedang menikmati hidangannya. Pemuda itu tampak begitu lahap memakan soup ayam. Kota itu dinamai Wei lantaran dahulu penghuni pertama adalah seorang panglima besar pada dinasti banyak kerajaan. Panglima itu konon mampu merobohkan seekor beruang dengan sekali hantam. Hingga dia hidup di tempat itu, perbatasan antara Bhutan sangat aman. Kota itu tak pernah terjadi perampokan, pencurian, atau pertikaian. Hingga suatu masa, dimana Panglima Wei meninggal.
Daerah kota Wei yang tentram terjadi pertikaian. Orang Han dengan Bhutan tak bisa rukun, mereka saling bertikai. Hingga suatu hari muncul seorang pemuda bermarga Pek. Konon, pemuda itu masih berdarah ningrat Tiongkok dan Bhutan. Daerah Wei menjadi tentram kembali. Hingga bertahun-tahun. Dan keturunan keluarga Pek menjadi masyhur lantaran nenek moyang mereka berhasil menyelesaikan pertikaian antara orang Han dan Bhutan.
Sejak ratusan tahun yang lalu. Walaupun, yang memerintah bukan dari keluarga Pek, namun seperti mempunyai wibawa, keluarga Pek mempunyai peranan penting di perbatasan Bhutan. Hingga sekarang, keturunan Pek masih mempunyai peranan penting dalam sebuah kebijakan yang diambil oleh pemerintah setempat.
Keluarga Pek dihormati dan disanjung tinggi di perbatasan bukan lantaran nenek moyang mereka yang berdarah ningrat antara Bhutan dan Tiongkok. Lebih jauh lagi, lantaran mereka terkenal mempunyai ilmu silat paling tinggi dan mempunyai perguruan yang sangat besar di sana. Bahkan, perguruan itu sekarang dikenal sebagai salah satu partai di dunia Kang-ouw. Ada dua partai yang berdiri dari keluarga Pek, yaitu Partai Rajawali Putih dan Harimau Putih.
Harimau Putih berada di daerah Bhutan. Sedangkan partai Rajawali Putih berada di daerah perbatan Tiongkok. Dua partai itu baru muncul belasan tahun yang lalu, namun anggotanya mencapai puluhan ribu dan telah menyebar diberbagai daerah, baik di Tiongkok maupun di Bhutan.
Pendiri partai-partai itu adalah saudara kandung. Dan menurut, desas-desus, mereka sejak kecil sudah tak akur. Walaupun begitu, mereka tidak pernah saling bentrok antar partai. Mereka hanya bersaing dalam hal ilmu silat.
Pemuda yang memakai capil dengan pakaian seperti seorang petani muda itu adalah Kim Yun Tai. Dia ditugaskan untuk mencari infrmasi tentang dua partai diperbatasan Barat Daya Tiongkok itu. Sore hari dia baru saja sampai dari perjalanan jauhnya.
Kim Yun Tai sepertinya memang sudah kelaparan, sampai dua mangkuk mie dan satu mangkuk soup ayam dihabiskannya.
“Memang benar kata penduduk di sini kalau makanan kedai ini memang tak ada duanya.” Katanya pelan. Bola matanya berbinar-binar karena puas.
Kedai ini sudah terkenal sebagsai kedai terbaik. Walaupun tidak begitu besar. Makannya yang begitu lezat membuat kedai ini setiap harinya selalu ramai. Semua tempat duduk akan selalu penuh, bahkan akan ada yang rela mengantri di luar.
“Ah, untung masih ada tempat duduk yang kosong di sana.” Tiba-tiba terdengar suara merdu datang dari arah pintu. Sejenak matanya dialihkan ke arah datangnya suara tadi. Seorang perempuan muda dengan pakaian ringkas mendatanginya. Perempuan muda itu membawa buntalan besar. Sebuah pedang tersoreng keluar dari buntalannya itu.
Semua tempat duduk sepertinya sudah penuh tinggal satu kursi di depan Kim Yun Tai yang masih kosong. Ia tahu perempuan muda itu akan mendatangi tempat kosong di depannya itu.
“Tuan, bolehkah aku duduk di sini?” Tanya perempuan muda itu sambil menghormat.
“Silahkan, nona!” Jawab Kim Yun Tai sambil menenggak arak.
“Dari Tiongkok timur?” tanya perempuan muda itu. Sepertinya dia kaget dengan logat Kim Yun Tai yang ketara ketimurannya.
“Iya. Perkenalkan marga Kim, nama Yun Tai!” Kata Kim Yun Ta memeprkenalkan dirinya.
“Ah, sesama orang Timur tak perlu bosa-basi. Aku dari marga Sim, dilahirkan dengan nama Ren Li. Namun banyak orang memanggilku dengan Li Li.” Jawab perempuan muda bernama Ren Li itu.
Setelah memperkenlkan diri, perempuan muda itu segera memanggil pelayan dan memesan makanan.
“Saudara Kim, kalau boleh tahu ada bisnis apa hingga angin membawa Saudara ke barat ini?” Li Li mengerling. Tatapannya matanya begitu menggoda. Sejenak Yun Tai terpaku. Ia tak habis pikir, gadis yang seumuran dirinya ini sepertinya begitu dewasa ketika tersenyum. Dan tatapan matanya itu seperti mempunyai aura lain. Kewibawaan!
“Ahh, tentunya bukan seorang pembisnis, juga bukan seorang yang ingin berpelesiran.” Jawaban ini sebenarnya hanya sebuah logika.
“Hihihihi… kalau begitu seorang pemburu!” Li Li tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kananya.
“Pemburu harta karun!” Bisik Yun Tai tiba-tiba.
Li Li mendekatkan mukanya ke arah Yun Tai. “Saudara, kalau mau harta karun, aku bisa membagi harta di dalam buntalanku ini.” Bisik Li Li.
Si Yun Tai sepertinya tak mau kalah. Wajahnya di dekatkan kembali hingga ia bisa mencium bau wangi yang keluar dari muka gadis itu. “Buat apa seorang laki-laki hidup, kalau tak ada tantangan!”
Dan gadis itu tertawa. Yun Tai juga tertawa. “Benar. Ucapan bagus saudara! Mari bersulang!” Kata Li Li yang mengerti penolakan Kim Yun Tai.
Sambil bersulang minum arak. Li Li berkata, “saudara, kenapa engkau tidak bertanya aku mau ke mana atau dari mana?!”
“Saudari Li Li, kenapa aku harus tanya kalau engkau akan memberi tahukan?” Kata Yun Tai sambil mengedipkan matanya.
“Kalau aku tak mau memberitahukan?”
“Aku hidup di dunia ini sudah punya urusan terlalu banyak, sepertinya tak perlu lagi mencari urusan yang lain.”
“Ah, begitu rupanya!” Li Li tersenyum dan lanjutnya, “aku sendiri baru datang dari barat. Sudah lima tahun aku meninggalkan Tiongok, mengikuti guruku mencari obat-obatan.”
“Aha, jadi saudari seorang tabib rupanya?”
“Tidak bisa dikatakan seperti itu. Masih tahap belajar!” Jawab Li Li sambil menenggak air teh yang telah disugukan oleh pelayan.
“Saudari, aku harus segera berangkat. Nanti malam aku harus sudah sampai di kota Peng An.” Kata Yun Tai setelah selesai makan.
“Baru saja kita bertemu sudah berpisah. Ah, baiklah, sepertinya saudara sedang memburu waktu!”
“Kalau kita ada jodoh pasti bertemu kembali.” Kim Yun Tai menegrlingkan matanya dan segera mengangkat buntalannya.
“Suadara, selamat jalan!” Kata Li Li sambil ikut bangkit.
“Mohon pamit. Saudari!”
Mereka berpisah. Setelah membayar di kasir, Kim Yun Tai segera keluar dari kedai itu. Ia membeli seekor kuda jempolan dan menaikinya dengan buru-buru. Langit mulai gelap.
Kim Yun Tai melarikan kudanya dengan kencang. Angin terasa kasar di musim panas. Jalanan yang dilaluinya terlihat terang meski tanpa penerang obor. Cukup dengan penerang dari cahaya rembulan di tengah bulan Agustus Kim Yun Tai dapat melewati jalanan tanpa rintangan.
Tengah malam ia sudah sampai di desa Ping An. Desa Ping An adalah desa paling ujung Tiongkok. Desa ini dijadikan batasan antara Tiongkok dan Bhutan. Seebtulnya tidak betul Ping An disebut desa, lebih tepatnya kota. Lantaran banyak penghuni dan begitu luas. Bahkan kalau diukur, penduduknya lebih banyak dan lebih luas wilahnya dibanding Kota Wei.
Walaupun sudah tengah malam, namun kehidupan desa Ping An masih ramai. Masih terlihat orang berlalu-lalang di jalan-jalan dan terlihat pula beberapa penjual makanan kecil menjajalkan dagangannya. Setelah sampai, tanpa bertanya-tanya lagi ia pun pergi ke sudut desa. Di sana ada sebuah penginapan yang sudah lama diketahuinya. Bahkan dahulu dia pernah menginap di tempat itu.
“Paman apakah kamar nomor tujuh di atas sudah ada yang menempati?” Setelah masuk ke penginapan. Ia langsung bertanya ke kasir.
“Ah, kebetulan sekali kongcu (tuan muda) datang, semua kamar sudah penuh tinggal kamar itu yang masih kosong.” Jawab kasir setengah umur itu.
“Tolong siapkan kamar itu untukku, paman. Oh ya, sekalian air hangat untuk mandi. Badan terasa pegal, sudah 2 hari belum mandi. He he..”
“Silahkan tunggu di situ sebentar, kongcu.” Kata kasir itu. Setelah itu dia memnaggil kacungnya dan memberi tahukan segala kebutuhan Kim Yun Tai.
Tengah malam sekali. Sehabis membersihkan badan dan memakai baju barunya. Kim Yun Tai sudah duduk di atas ranjangnya. Seperti hari-hari biasanya, ia akan bermedetasi sambil mengistirahatkan tubuhnya yang telah lelah itu.
Dia tahu, sejak meminum obat yang diberikan oleh Lie Yang. Tenaga dalamnya semakin hari, semakin bertambah kuat. Bahkan dirasakan beberapa hawa murninya bisa dikontrol dengan mudah. Hanya saja, beberapa urat nadi pentingnya belum tertembus, andai dua urat nadi terpentingnya sudah tertembusi, mungkin ia bisa menyelesaikan tingkatan ilmu pedang barunya.
Di tengah keheningannya. Tiba-tiba telinganya mendengar suara gerakan manusia di atas atap kamarnya. Kamarnya yang sudah gelap, tak membatasi penglihatannya terhadap jendela kamar yang telah terbuka. Beberapa detik kemudian, terdengar suara gerakan di depannya. Suara gerakan manusia yang memasuki kamarnya. Dia tetap diam tak bergerak.
“Maling paling hebat ada di sini!” Tiba-tiba ada orang berkata.
“Orang paling tampan ada di sini!” Jawab Kim Yun Tai.
“Kongcu, semua informasi yang dibutuhkan telah kudapatkan.” Kata orang itu kemudian. Ternyata apa yang dikatakan pertama kali hanyalah sebuah kode. Orang itu berkata sangat pelan.
Tak lama kemudian Kim Yun Tai turun dari atas ranjangnya dan menyalahkan penerang. Setelah kamar mendapatkan cahaya yang cukup. Kim Yun Tai mempersilahkan tamunya untuk duduk di bangku yanga da di tengah kamar. Dia pun ikut duduk di depan orang itu.
“Saudara Lie bagaiamana keadaanmu?” Tanyanya sambil menungkan teh untung tamunya itu.
“Keadaanku tak berubah kongcu. Ah, sudah begitu lama kita tak bertemu. Hampir lima tahun kita tak bersua.”
“Hahah… apakah saudara Lie masih suak usil seperti dahulu? Kita memang tidak berubah, hanya umur yang bertambah. Selama lima tahun ini aku mendapatkan banyak tugas oleh suhu. “ Jawab Kim Yun Tai.
“Kongcu, kedatanganmu agak terlambat,” Kata orang itu tiba-tiba. Tamunya itu tiba-tiba saja menjawab dengan topik yang lain.
“Apa ada sesuatu kejadian di daerah ini?” Kim Yun Tai agak melengak.
“Kalau diceritakan terlalu panjang. Tapi… sepertinya aku harus menceritakannya kepadamu kongcu,”
“Hmmm… apa ini berhubungan dengan Tawon Merah?”
“Sebagian besar iya. Besok akan ada upacara penguburan masal di Lembah Rajawali Putih.”
“Mereka sudah beraksi?”
“Lebih dari beraksi! Ratusan anak murid perguruan Rajawali Putih telah dibantai. Bahkan setiap binatang yang hidup di lembah itu tak ada satu pun yang dibiarkan hidup.”
“Saudara Lie, tolong ceritakan mulai awal. Aku ingin tahu sedetail mungkin peritiwa itu terjadi.”
“Sudah kukatakan kongcu. Ceritanya terlalu panjang. Pendek ceritanya begini.” Orang itu tampak berhenti sebelum bercerita. Bagi beberapa orang, mungkin meneritakan sesuatu adalah paling mudah. Namun, entah mengapa orag ini begitu tampak susah menceritakan peritiwa itu.
“Sebenarnya, sudah sejak lima tahun yang lalu pihak Tawon Merah telah mengutus utusannya untuk negosiasi dengan pihak Rajawali Putih. Namun, waktu itu, pihak Rajawali Putih selalu menolak bekerja sama dengan Tawon Merah. Berbagai upaya dilakukan oleh Tawon Merah untuk menarik partai Rajawali Putih bekerja sama.” Sambungnya kemudian.
“Pada mulanya mereka hanya menggertak, namun usaha mereka gagal. Hingga beberapa tahun kemudian mereka tak pernah mendatangi Lembah Rajawali Putih. Baru setahun yang lalu mereka mendatangi ketua partai Rajawali Putih kembali. Namun, hasilnya tetap sama. Bahkan ketua partai berhasil mengusir mereka.” Orang itu berhenti. Tampak sekali kalau orang itu memendam sesuatu.
Kim Yun Tai tampak diam tidak mengusik orang itu. Membiarkan orang itu bercerita. “Hingga beberapa bulan kemarin, sekelompok orang memakai baju putih mendatangi Lembah Rajawali kembali. Mereka memberi jatah waktu pertengahan bulan Agustus ini untuk segera menakluk. Pada saat itu, suasana menjadi kacau lantaran ketua partai tidak ada di tempat.” Lanjutnya kembali.
“Ha?” Kata Kim Yun Tai tiba-tiba.
“Iya, Ketua Partai sedang pergi jauh. Dan sudah hampir setengah tahun tidak kembali. Menurut desas-desus, ketua pergi mencari Rajawali Putih yang telah lama hilang. Konon burung itu pergi untuk menjaga suatu tempat disimpannya pusaka dan buku kungfu Rajawali Putih yang sudah lama hilang. Pusaka itu berhubungan langsung dengan asal mula nenek moyang ketua partai.” Sampai di sini, orang itu tampak menitikan air mata. Sungguh aneh.
“Jadi orang-orang Tawon Merah sudah datang kembali dengan pembantaian masal?” Tanya Kim Yun Tai heran. Dari ceritanya agak begitu janggal. Sebab baru besok malam 15 Agustus. Mestinya orang-orang Tawon Merah baru datang besok malam dan dirinya belum terlambat untuk membantu.
“Bukan Tawon Merah yang datang kemarin malam. Tapi… “ Orang itu berhenti sejanak. “Li.. ma Ra .. cun dari Pu.. lau Se .. tan!” Orang itu menyebut dengan nada terputus-putus. Tampak badannya bergetar. Entah gemetar lantaran takut atau marah. Sulit untuk menduganya.
“Hmmm” Tak ada tanggapan dari Kim Yun Tai. Anak muda ini walaupun banyak pengalaman, tapi tidak tahu juga siapa Lima Racun dari Pulau Setan itu.
Tiba-tiba dua mata Kim Yun Tai berkilat, setelah melihat orang di depannya meneguk teh. Tampaknya memang antara takut dan cemas. “Apakah ada hubungan antara saudara Lie dengan Lima Setan itu? Tanya Kim Yun Tai tiba-tiba. Orang di depannya tiba-tiba melotot.
“Ahhh… kalau diceritakan sungguh panjang ceritanya.” Kata orang itu. Nafasnya tampak berat. Ada sesuatu yang mengganjal di hati orang itu.
“Baiklah. Itu mungkin urusan pribadi saudara Lie. Aku siap membantu kalau memang saudara Lie memerlukan. Untuk sekarang, aku lebih tertarik dengan orang-orang Tawon Merah. Bagaimana pun juga aku harus menyelesaikan misiku.” Kata Kim Yun Tai sambil menepuk bahu orang yang dipanggilnya saudara Lie itu.
“Lalu, bagaimana dengan orang-orang Haimau Putih, bukankah mereka masih keluarga dengan Rajawali Putih?” Tiba-tiba Kim Yun Tai mengalihkan ke arah topik lain.
“ Menurut informasi yang kudapat, ketua Harimau Putih menghilang beberapa bulan yang lalu. Tak ada yang tahu ke mana ketua itu pergi. Hanya saja di sana, Tawon Merah tak ada kabarnya.”
“Aneh!” Kata Kim Yu Tai tiba-tiba.
“Aneh?”
“Ya, bagaimana tidak? Kalau orang-orang Tawon Merah pernah mendatangi Lembah Rajawali Putih, seharusnya mereka juga pernah mendatangi perkampungan Harimau Putih. Menurut saudara Lie, apakah mungkin orang-orang Tawon Merah belum mendatangi perkampungan Harimau Putih?”
“Kalau menurut dugaanku, mereka telah mendapatkan ancaman juga, Cuma seperti Lembah Rajawali Putih, pangcu mereka tidak ada, sehingga mereka masih memberi waktu kepada mereka hingga pangcu mereka datang.”
“Ini aneh lagi. Setahuku orang-orang Tawon Merah sangat berutal. Walaupun tindakan pembunuhan di Lembah Rajawali Putih tidak dilakukan oleh mereka. Apakah kejadian ini tak ada hubungannya dengan mereka?”
Perkataan Kim Yun Tai ini membuat si Lie terdiam tak bisa menjawab. Entah mengapa, kejadian itu menjadikannya begitu kecil hati. Padahal dia adalah salah satu orang kang ouw yang sangat terkenal dewasa ini. Siapa orang yang dipanggil saudara Lie itu sebenarnya? Nanti akan diterangkan dibelakang.
Setelah tak ada yang perlu disampaikan lagi. Si Lie itu akhirnya minta undur diri. Kim Yun Tai tak perlu lagi menghalangi ornag itu. Dia tahu, mungin ada sesuatu yang perlu dilakukan oleh orang itu. Setelah merenung sebentar, ia lalu beranjak ke atas tempat tidurnya lagi. Melanjutkan meditasi. Besok dia akan melakukan sesuatu misi yang sangat berbahaya. Dia memerlukan energy dan hawa murni yang banyak.
Pagi-pagi sekali Kim Yun Tai sudah keluar penginapan. Pakaiannya sangat bagus seperti seorang pemuda dari keluarga kaya raya. Sambil bersiul-siul ia menikmati udara yang begitu sejuk. Di musim panas, pagi hari adalah keadaan yang paling baik untuk keluar atau beristirahat. Malam hari udara akan sangat gerah, banyak orang tak bisa tidur, sehingga pagi-pagi adalah waktu yang tepat untuk tidur.
Namun, banyak orang tahu, pagi hari adalah waktu bukan untuk malas-malasan. Banyak orang keluar pagi-pagi untuk mencari makan. Penduduk desa ini kebanyakan adalah petani, sehingga tak begitu aneh kalau di pagi ahri yang sejuk ini, Kim Yun Tai banyak menemui penduduk yang keluar rumah untuk menggarap sawahnya.
Walaupun tak jauh dari desa ini, di Lembah Rajawali Putih, telah terjadi pembantaian, namun aktifitas penduduk desa ini masih tampak normal. Seperti tak ada apa-apa.
Kim Yun Tai berjalan-jalan dengan santai sampai di luar desa. Di luar desa, sawah tetap tampak hijau walaupun di musim panas. Pengairan di daerah ini cukup baik, sehingga tak perlu menunggu air hujan. Yang menjadi musuh petani hanya hama tanaman. Kim Yun Tai mencari duduk di bawah sebuah pohon. Beberapa saat kemudian, dua matanya menangkap beberapa orang berlari sangat cepat. Ilmu peringan tubuh orang-orang itu sangat tinggi.
“Sungguh aneh, di pagi yang sejuk begini, kenapa kutemui orang-orang aneh seperti itu?” Gumamnya seorang diri. Dilihat dari bentuk orang yang berlarian itu tampak aneh. Ada empat orang yang antara satu dengan lainnya berbeda. Ada yang pendek, jangkung, gemuk dan kurus. Mereka berlari kejar mengejar.
Cong Fu-hoat Vs Ci-sian Kongcu ( 1 )
Orang-orang aneh itu membuat Kim Yun Tai menjadi penasaran. Setelah orang terakhir hampir tak terlihat. Ia memutuskan untuk mengikuti orang-orang itu. Lalu, dengan gerakan yang sangat indah, Kim Yun Tai menjejalkan kakinya dan meloncat-loncat. Ia berlari mengejar orang-orang aneh itu.
Ilmu peringan tubuh Kim Yun Tai telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Beberapa menit kemudian, ia sudah melihat orang-orang aneh yang dikejarnya itu. Ternyata arah yang diambil oleh orang-orang aneh itu ke arah desa. Setelah mereka memasuki desa, tampak mereka melompati atap rumah warga. Kim Yun Tai mengambil jarak agak jauh sehingga mereka tak merasa diikuti.
Beberapa menit kemudian, tampak orang-orang itu telah berhenti di sebuah gang sepi. Kim Yun Tai terpaksa berhenti di atas atap sambil mengawasi mereka. Dia baru sadar dimana dia berada, ketika orang-orang itu telah berjalan ke depan. Ternyata, Kim Yun Tai berada di atas atap penginapannya. Orang-orang itu tampak masuk ke dalam penginapan yang ditempatinya. Sungguh aneh!
Sebelum Kim Yun Tai turun dari atap penginapan. Ia sudah melihat orang-orang itu keluar lagi. Mereka tampak tergesa-gesa kelaur penginapan dan berlari ke arah selatan penginapan. Kim Yun Tai mengikuti mereka terus.
“Apa yang mereka cari?” Tanyanya dalam hati.
Tak lama kemudian, Kim Yun Tai melihat mereka berhenti di sebuah kedai kecil. Ia mendengar salah satu dari mereka tiba-tiba tertawa. Ia pun turun dari atas atap sebuah rumah dan dengan santai mengikuti orang-orang itu memasuki kedai itu.
Empat orang aneh itu tampak mendekati sebuah meja di paling pojok. Di sana duduk seorang laki-laki berumuran lima puluhan. Wajahnya tampak terkejut ketika melihat ada orang mendatanginya. Walaupun begitu, roman wajah itu hanya sekilas saja memperlihatkan perubahannya. Sedetik kemudian, wajah itu telah berubah seperti orang yang sedang mabuk.
“Hong-siang Touw (Kaisar Pencuri) tak perlu lagi banyak adat. Lebih baik diam di tempat dan jangan mencoba untuk melarikan diri lagi!” Seorang yang bertubuh pendek tiba-tiba berkata. Dan disambut gelak tawa oleh tiga teman lainnya.
Orang yang diajak bicara tampak diam saja. Orang itu masih tetap menikmati araknya. Tampaknya seperti orang yang sedang mabuk berat.
Satu diantara empat orang yang bertubuh gendut tiba-tiba duduk di depan orang yang disebut Kaisar Pencuri itu. Setelah duduk, tampa orang itu mengawasi si Kaisar.
“Aku ingin lihat, apa di mukamu itu ada topengnya?” Kata si gendut sambil mencoba menyentuh wajah si Kaisar itu.
Orang yang disebut Kaisar Pencuri itu tetap diam sambil menenggak araknya. Tak menghiraukan gerakan si gendut itu.
“Kata orang-orang, Kaisar Pencuri tak pernah memperlihatkan wajah aslinya. Aku ingin lihat apa benar wajah tampan ini adalah sebuah topeng?” Kata si gendut lagi sambil meraba-raba wajah orang di depannya. Bahkan ia tampak menggaruk wajah orang itu.
“Ji-twako (Saudara ke-Dua), sepertinya memang itu wajah asli Maling Sialan ini!” Kata si cebol. Si cebol maju dan ikut memperhatikan wajah orang yang disebut Kaisar Maling itu.
“Hong-siang Touw serahkan Hok-liong Cu (Mustika Naga) itu keapda kami dan kami akan membiarkanmu pergi!” Kata si Kurus tiba-tiba. Sambil mendekati orang yang berlagak mabuk itu.
Tak ada reaksi apapun. Orang itu masih dengan enaknya menenggak araknya. Dua matanya tampak terpejam seperti sedang menikmati enaknya minuman yang sedang ditenggaknya itu.
Tiba-tiba saja, dari arah pintu masuk seseorang. Orang itu berlari masuk ke dalam kedai. Tampaknya sangat terburu-buru. Orang itu berlari menuju tempat paling sudut di kedai itu. Di sana duduk tujuh orang memakai pakaian cokelat berbintik hitam. Pendatang itu tiba-tiba menyerahkan sesuatu kepada salah satu dari tujuh orang itu. Setelah menyerahkan, si pendatang itu langsung pergi. Beberapa detik kemudian, orang yang diserahi sesuatu itu tampak tertawa terbahak-bahak.
“Bagus! Mereka sudah datang!” Katanya kemudian setelah selesai tertawa. Tak lama kemudian, mereka sedang berbisik-bisik. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Keempat orang aneh melihat kejadian aneh itu. Mereka merasa mendongkol oleh ulah orang yang sedang tertawa itu.
“Apakah kalian tahu siapa mereka?” Tiba-tiba ada suara bertanya. Keempat orang aneh itu tampak terkejut. Mereka balik menoleh ke arah asal suara. Tak lain adalah si Hong-siang Touw.
“Apa maksudmu?” Tanya si Gendut.
“Aku tahu kalian ingin melakukan sesuatu. Melihat mata kalian yang sedang berkilat-kilat itu, sepertinya kalian tidak puas dengan orang-orang di sana. Aku tanya, apakah kalian tahu siapa mereka?” Jawab orang yang disebut Hong-siang Touw itu sambil menikmati minumannya.
“Tak perlu tahu mereka siapa. Bahkan, andai Dewa Neraka pun harus bisa berlaku sopan kepada kami.” Jawab si Kurus. Hampir saja ia melangkah ingin memperlihatkan kepalannya. Namun si Gendut memberi isyarat untuk diam.
“Kami tak ada urusan dengan mereka. Kami mempunyai urusan denganmu. Sekali lagi kami tanya, diamana engkau simpan Mustika Naga itu?” Kata si Gendut.
“Hahaha… apakah kalian takut dengan mereka?” Si Hong-siang Touw mendekatkan wajahnya sambil berbisik.
Tiba-tiba si Kurus tertawa melata. Pertanyaan itu sungguh menggelikan baginya. “Kami lima racun tak pernah takut dengan apapun. Kamu jangan mengada-ngada!”
Kim Yun Tai di yang telah duduk di samping mereka melengak. Tak disangkanya kalau pagi ini ia akan bertemu dengan lima racun. Walaupun, ia belum tahu tentang mereka, namun kalau dilihat dari usia dan kegesitan ginkang mereka. Mereka termasuk orang-orang yang susah direcoki dan diajak bercanda. Sejenak ia melirik ke arah orang-orang yang ada di pojok sana. Tampaknya mereka tenang-tenang saja. Walaupun suara ketawa si Kurus begitu keras, tapi mereka tampak tak ada masalah.
“Hmm.. jangan dikira air yang tenang tak ada ikannya… sungguh berbahaya, malah mungkin ada buayanya… “ Pikir Kim Yun Tai. Dan tampaklah dia tersenyum sambil menenggak tehnya.
Sekali lagi ia melirik ke arah orang yang disebut Kaisar Pencuri itu. Dan dua matanya bertepatan dengan sorot mata orang itu. Bertepatan sekali orang itu sedang melirik ke arahnya. Bahkan tampak orang itu tersenyum ke arahnya. Kim Yun Tai tampak gelisah.
“Mata itu tampak begitu cerdik!” Serunya dalam hati sekali lagi sambil menghindari sorot mata itu.
“Bangsat! Kurang ajar! Siapa yang melakukan ini?” Tiba-tiba terdengar suara hardikan di tempat pojok sana. Orang-orang gempar. Kim Yun Tai melengok ke arah sana. Terkejutkah dia ketika melihat dua diantara tujuh orang itu terguling dari kursinya dan sedang terkejang-kejang. Teman-temannya mengerubutinya. Di sana tampak seorang pelayan sedang dicengkeram oleh salah seorang dari tujuh orang itu.
“Katakan siapa yang memberimu racun?” Bentak orang itu kepada si pelayan.
“Tu… an ammm puni hamba, hamba tidak tahu…” Sebuah pukulan melayang dan nyawa pelayan itu sudah melayang jauh.
Tiba-tiba terdengar si Kurus tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… Hanya tujuh nyamuk saja. Perlu apa dipusingkan!” Dengan kata-kata ini, sepertinya ia ingin mengakui bahwa dirinya lah yang telah meracuni orang-orang itu.
“Apa kau bilang? Jadi kalian yang menaruh racun dimkanan kami?” Terdengar teriakan dari sana. Tiga orang diantara mereka sudah mengerubuti si Kurus. Si Kurus tampak tenang-tenang saja.
“Cepat serahkan obat penawarnya!” Kata salah satu diantara tiga orang itu. Tiga ornag itu sudah mencabut pedang mereka untuk beradu sabetan. Melihat ada orang mau bersitegang, banyak orang di dalam kedai itu yang mulai keluar menyingkir. Tak lama kemudian, kedai itu sudah kosong. Hanya ada beberapa ornag yang amsih duduk di dalam sambil melihat tontonan gratis di dalamnya.
“Jangan salah sangka, sejak dua puluh tahun yang lalu. Kami Lima Racun tak pernah membuat obat penawar untuk racun kami. Orang mencicipi racun kami, kami tak ada urusan lagi untuk mengobatinya. Ha ha ha..”
“Kalau begitu kami terpaksa… “ Jawab salah satu dari tiga orang itu.
“Tunggu!” Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari sana. Tiga orang itu tampak berhenti total. Sambil menggertak gigi mereka menahan pedang mereka.
“Tuan, sebenarnya ada persengketaan apakah kalian dengan kami, sehingga menurunkan tangan jahat kepada saudara kami? Sepertinya kami tak pernah mengusik kalian!” Orang yang bicara itu bertanya sambil mendatangi tempat si Kurus. Ternyata orang yang berbicara itu masih tampak muda. Namun suaranya tampak sudah tua dan sangat nyaring. Wajahnya tampan dengan kumis berwarna hitam. Dan tubuhnya tampak tinggi melebihi orang rata-rata. Kalau berjalan mempunyai irama sendiri.
“Orang-orang menyebutku Si Kurus Suka Mengusik Orang. Hahha…. “ Jawab si Kurus sambil terus tertawa terbahak-bahak.
“Ooo… Kiranya kalian bangsa orang yang suka merecoki orang!” Kata orang itu. Sejak tadi ia terus tersenyum. Namun kali ini senyum di wajahnya tiba-tiba hilang. “Apa benar, Tuan tak punya obat penawar racun itu?”
“Coba saja engkau cari sendiri!” Kata si Kurus. Nadanya tampak menantang.
“Tak berani… tak berani!” Kata orang itu dan ia sudah ternyum kembali.
“Aneh orang itu. Bicara dengan begitu santai. Selalu tersenyum dan sedetik menghilang dan tersenyum kembali. Apa maksud orang itu?” Pikir Kim Yun Tai.
Orang itu tampak kembali ke arah tempat duduknya semula. Sepertinya benar-benar takut untuk menyambut tantangan si Setan Kurus. Setelah sampai di mejanya, ia segera mengambil bungkusan yang ada di atas meja. Begitu bungkusan diangkat. Keanehan terjadi. Dua temannya yang semula tergeletak di lantai tiba-tiba saja bangkit dan berdiri.
“Apa kalian tidak apa-apa?” Terdengar dia bertanya.
“Terima kasih Kongcu!” Jawab dua orang itu berbarengan.
“Mari kita pergi! Sudah tak ada urusan lagi di tempat ini!” Katanya sambil berjalan keluar. Teman-teman lainnya sepertinya tak membangkang perkataannya itu. Mereka mengikuti orang yang dipanggilnya Kongcu itu.
Si Racun Kurus terbengong-bengong melihat perbuatan orang itu. Bahkan Tiga Racun, si Kaisar Pencuri bahkan Kim Yun Tai pun tak paham maksud orang-orang itu. Tampaknya mereka benar-benar takut dengan Lima Racun. Anehnya, dua diantara mereka sudah jelas terkena racun, bagaimana bisa sembuh secepat itu. Bahkan Lima Racun itu pun tah tahu harus bagaiman. Mereka hampir tak percaya kalau racun mereka bisa diobati secepat itu.
“Tunggu!” Tiba-tiba si Gemuk berteriak.
Orang-orang berpakaian cokelat itu berhenti pas di pintu.
“Ada petunjuk apa lagi tuan-tuan kepada kami?” Sambut Kongcu itu sambil menoleh ke belakang.
“Apa segampang itu kalian pergi, huh?” Kata si Kurus cepat.
“Haha… terus terang Tuan. Kami sudah mengalah kepada kalian. Kami masih ada kesibukan yang lain. Maaf kami tidak bisa berlama-lama dengan kalian!” Kata Kongcu itu dan ia pun melanjutkan jalannya. Namun, baru saja ia berjalan dua langkah. Di depannya sudah berdiri si Kurus. Sungguh cepat gerakan si Kurus ini. Si Gendut pun telah berdiri di samping si Kurus.
Teman-teman si Kongcu itu telah menghunus pedang mereka. “Jangan bergerak!” Teriak si Kongcu itu. Dan mereka telah menyarungkan pedang mereka kembali.
“Obat apa yang kalian gunakan untuk menyembuhkan racun kami?” Tanya si Gendut.
Sambil tersenyum. Si Kongcu itu menjawab, “Bukannua kalian tak mengurusi tentang obat penawar racun kalian. Kenapa kalian menelan ludah sedniri?”
Baru selesai menjawab. Tiba-tiba tangan si Kurus sudah bergerak cepat. Pengennya menampar mulut si Kongcu itu. Namun, entah sejak kapan, si Kongcu itu menghilang dari hadapan mereka. Tamparan itu jatuh di tempat kosong. Belum selesai si Kurus menarik tangannya. Ia telah merasakan ada sesuatu yang sangat sejuk menyelinap di balik ketiaknya. Semuanya telah terlambat.
“Kalian terlalu merendahkan orang lain. Aku telah memberi muka pada kalian lantaran masih melihat muka guru kalian. Tapi, nyatanya kalian tak menyadarinya. Kalau aku tidak memberi adat kalian, guru kalian akan menertawakanku.”Kata si Kongcu itu. Nada suaranya sangat menekan. Senyum di wajahnya sudah sirna.
“Hmm… liat serangan!” Jawab si Gendut. Ia tak mau menyudahi begitu saja. Tubuhnya sudah membalik dan menyerang si Kongcu yang berdiri di belakangnya itu.
Namun, hanya beberapa gerakan saja. Si Kongcu itu mengelak dengan gesitnya. Ketika si Gendut sadar bahwa usahanya gagal. Ia sudah berubah gerakannya lagi. Badannya melejit dan menyerang terus si Kongcu itu. Tampaknya si Kongcu hanya mengelak tanpa membalas serangan si Gendut. Si Gendut menunjukkan kepalannya yang sangat dahsyat itu. Mereka terus saling menyerang dan bertahan hingga tanpa sadar mereka telah bertarung di depan kedai. Sedangkan si Kurus masih tetap berdiri mematung.
Dua diantara Lima Racun yang tadi diam udah bergerak menuju si Kurus. Mereka menjamah tubuh si Kurus yang mematung. Hanya tampak dua matanya yang melotot dan bergerak-gerak entah apa yang dirasakannya.
“Dia telah terkena sebuah totokan istimewa!” Kata salah satu dari dua racun itu. Mereka telah berusaha membebaskan totokan di tubuh si Kurus tapi gagal. Mereka tetap berusaha. Sedangkan pertarungan si Gendut dengan si Kongcu bertambah sengit. Bahkan si Gendut telah emngeluarkan senjatanya, sebuah kayu sedepa yang berwarna hitam pekat. Tampaknya senjatanya itu sangat beracun. Si Kongcu pun tampak mengikuti pertarungan itu dengan sengit, ia sudah melakukan balasan serangan.
“Bagus! Tak kusangka si Tua Beracun telah menurunkan semua kepandaiannya kepada kalian!” Teriak si Kongcu di tengah-tengah perkelahiannya. Sesaat setelah ia berteriak. Terdengar suara teriakan di tengah perkelahian itu.
Si Gendut terlihat terpental hingga jatuh ke tanah. Senjatanya terlepas. Ia bangun, namun hampir terjatuh lagi. Tampakanya luka yang dideritanya tak ringan. Begitu ia sudah bangun, tampak berkelebat dua bayangan melewatinya.
“Ber… Uekkkkk….“ Ucapannya terputus. Ia muntah darah. Setelah muntah tiba-tiba ia merasa keseimbangannya goyah dan ia terjatuh lagi tak sadarkan diri.
Dua bayangan itu adalah dua Racun yang sedang menyerang si Kongcu. Begitu si Kongcu merasakan ada serangan baru. Ia sudah berjaga dan terjadilah pertarungan kembali.
“Bagus!” Teriak si Kongcu di tengah pertarungannya. Tampaknya ia begitu bersemangat. Anehnya, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut dua lawannya. Melawan dua orang dengan tangan kosong, tampaknya ia tak begitu sesibuk melawan si Gendut tadi.
“Blammm…” Si Kongcu tidak menghindari ketika dua tangan milik si Racun jangkung dan Cebol mengenai pundaknya. Anehnya, bukan si Kongcu yang terdorong ke belakang. Malahan, dua Racun Jangkung dan Cebol yang terlihat mental ke belakang. Muka mereka tampak kurang sedap dipandang.
Dua Racun tampak diam membeku sambil memegang dada masing-masing. Sorot mata mereka penuh tanda tanya. Siapa sebenarnya orang yang sedang mereka hadapi itu.
“Hmm… Guru kalian saja tak akan berani memperlihatkan muka setiap bertemu aku. Apalagi kalian murid si Tua Beracun itu yang masih bau kencur! Kalau tidak pergi, apa perlu kutendang bokong kalian satu-satu?” Jengak si Kongcu. Kali ini ia memperlihatkan wajah yang sangat kasar. Mukanya tampak memerah lantaran marah.
Anehnya. Dua Racun itu tak mau juga pergi. Mereka diam tak bersuara. Dua mata mereka tampak melotot tak berkedip. Si Kongcu melangkah maju. Namun, baru setengah tindakan. Sebuah bayangan hitam menghadang di depannya.
“Tampaknya, ilmu Ci Swat-im Kun (Ilmu Jari Inti Salju) Kongcu sudah meningkat!” Terdengar suara serak dari depan si Kongcu itu.
“Hmm… aku kira siapa! Tak tahunya engkau Racun Tua! Apakah hari ini engkau akan membela murid-muridmu itu?” Seulas senyum tersungging di bibir si Kongcu itu.
Orang baru datang itu melangkah ke arah Kongcu. Langkahnya agak terpincang-pincang.
“Aihh… sungguh hari ini aku merasa bersalah terhadapmu, Kongcu! Murid-murid murtad ini telah membuatmu gusar. Engkau bunuh pun aku si tua ini tak akan mempermasalahkannya.” Orang yang baru datang itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
Terdengar suara Kongcu tertawa. “Tampaknya keadaanmu semakin menyedihkan. Sebenarnya apa yang mereka lakukan kepadamu?”
“Apakah Kongcu tak bisa melihat kakiku yang telah cacat ini? Ini… ini hasil karya mereka!” Kata si Racun Tua. Sambil ditengoknya murid-muridnya yang berdiri seperti patung.
Si Kongcu itu segera melihat kaki orang tua yang ada di depannya itu. Ternyata sebelah kanan kaki orang tua itu sudah tidak ada. Orang yang tampak sudah berantakan itu semakin tidak jelas. Namun, anehnya, orang tua itu bisa berdiri dengan enteng hanya dengan satu kakinya. Gerakannya juga masih ringan. Orang tidak akan menyangka kalau orang tua itu hanya berjalan dengan satu kaki kalau tidak melihatnya dengan jeli. Jubahnya yang panjang sampai menyentuh tanah itu telah menutupi kakiknya yang hilang.
“Kalau aku tahu begini, sudah sejak semula kuhancurkan batok kepala mereka.” Sambut si Kongcu gusar.
“Ah, Kongcu tak perlu repot-repot. Sudah hampir lima tahun ini aku mencari anak kura-kura ini. Andai aku sendiri tak berjanji kepada seseorang, mungkin sudah sejak semula juga sudah kucabut nyawa mereka. Biarlah urusan ini kami guru dan murid yang menyelesaikan.” Omongan orang tua ini tampak tegas. Ia pun sudah meloncat ke dekat si Racun Jangkung dan Cebol.
Dan dengan gerakan yang sangat cepat, orang tua itu telah membuka totokan dua muridnya itu. “Su… hu..!” Kata si Cebol sambil menyorot mundur sempoyongan. Muka mereka tampak merah lantaran takut.
“Dimana Bu-ceng Tok-cu (Si Racun Tak Berperasaan), kakak tertua kalian?!” Tanya orang tua itu sambil mengangkat tangan kanannya. Wajahnya tampak begitu gusar. Si Cebol dan Jangkung tampak ketakutan. Mereka menyurut mundur, kaki mereka tampak gemetar.
“Twa-tok (Racun Tertua) pergi menemui Cong Fu-hoat dari Ang-hong-pay…”
“Aku tanya dimana dia? Bukan kemana dia pergi?!!!” Potong orang tua itu. Tangannya diayunkan dan terdengar suara ‘plok’ tiga kali beruntun. Si Cebol sampai terjungkal lantaran kena tamparan gurunya.
“Itu… itu… “ Si Cebol tak bisa menjawab. Ucapannya terputus lantaran gurunya terus menerus menamparnya. Hakikatnya memang dia tidak tahu dimana kakak seperguruannya itu.
“Baiklah, sekarang bawa kakak ke- 2 dan ke- 3 kalian balik ke Ti-tok (Telaga Racun). Tunggu aku di sana dan jangan kemana-mana. Kalau sampai kalian berani meninggalkan tempat itu… jangan salahkan aku jika nyawa kalian melayang.” Sehabis berkata si orang tua itu dengan gerakan yang cepat telah membekali pukulan pada tubuh empat muridnya itu. Si Cebol dan si Jangkung sampai terlempar akibat pukulan itu.
“Ingat! Ditubuh kalian telah tertanam racun. Setahun kemudian aku akan pergi ke Telaga Beracun untuk menyembuhkan kalian. Jangan kemana-mana! Cepat pergi!” Ancam orang tua itu.
Si Cebol dan si Jangkung langsung saja mengangkat kakinya pergi. Mereka memondong kakak seperguruan mereka masing-masing. Setelah murid-muridnya menjauh. Orang tua itu tampak menengadahkan kepalanya ke atas.
“Aih… inilah karma yang telah kudapat!” Gumamnya hampir tak terdengar. Tiba-tiba terdengar suara tertawa. Orang tertawa itu si Kongcu yang mempunyai penampilan tampan itu.
“Racun tua, hatimu sedemikin risau sampai aku ingin tertawa melihatnya. Ha ha ha… Aku tahu dimana orang-orang Ang-hong-pay itu berada. Kalau mau ikut, mungkin bisa bertemu murid murtadmu itu!” Kata Kongcu itu. “Sudah lama kita tak bersua, aku juga ingin mendengar cerita sedihmu itu. Barangkali dengan bercerita, kesusahan dalam hatimu akan sirna!” Lanjutnya sambil menatap si Racun Tua.
“Aihh, berapa kali aku orang tua ini berhutang budi kepadamu. Bagaimana aku bisa membalasnya kalau engkau selalu baik terhadap orang tua ini!” Jawab si Racun Tua.
“Nah, itulah dirimu… selalu mengungkit-ngungkit masalah lama… selalu menghitung dendam dan budi. Hidup itu dijalani bukan dihitung-hitung!”
“Tapi,”
“Mau jalan apa tidak? Kalau tidak mau tak perlu banyak bicara di sini.”
“Baiklah… “
Racun Tua itu pun terpaksa mengikuti si Kongcu. Tak ada alasan untuk menolak ajakan teman lamanya itu. Sambil berjalan mereka saling bercerita. Dahulu sekitar empat puluh tahun yang lalu, ketika mereka masih muda, mereka hidup di daerah Utara. Orang tua si Kongcu itu dari golongan ningrat Tiongkok yang mengasingkan diri di sebuah daerah di Utara. Sedangkan orang tua itu adalah kacung dari keluarga si Kongcu itu. Pada suatu hari, keluarga si Kongcu itu dilanda musibah. Semua penghuni dibantai habis oleh sekelompok perampok. Namun, si Kongcu dan si kacung itu bisa selamat.
Beberapa tahun kemudian mereka mengembara bersama dan akhirnya menemukan guru masing-masing. Dan berpisah selama puluhan tahun. Puluhan tahun kemudian mereka telah memiliki nama di dunia kang-ouw. Namun, hubungan kongcu dan kacung itu semakin dekat dan seperti saudara sendiri. Konon, sejak lama keluarga si Racun Tua telah bekerja pada keluarga si Kongcu. Dan di dalam dirinya telah terbekas hutang budi yang sangat dalam. Maka tak heran jika si Racun Tua selalu mengungkit masalah budi.
Si Kongcu termasuk tiga manusia kang-ouw yang punya wajah awet muda. Dua orang lainnya adalah kakek Lie Yang dan Bi-yan-cu (Si Walet Cantik) dari Jeng-hwa-lim (Hutan Seribu Bunga). Tiga orang ini konon sudah berumur delapan puluh tahun lebih, namun wajah mereka masih tampak seperti pemuda dan pemudi berumuran belasan tahun. Mereka mengalami keajaiban alam lantaran memakan buah ajaib enam puluh tahun yang lalu. Cerita tentang tiga orang ajaib ini sudah diketahui oleh banyak orang, namun tak banyak orang yang benar-benar melihat tiga orang ajaib itu. Lantaran mereka sudah menghilang lama dari dunia kang-ouw dan tak pernah terdengar kabarnya lagi.
Namun, hari ini dua diantara tiga manusia ajaib telah muncul. Kalau orang-orang tahu, akan terjadi kegemparan. Apakah yang terjadi hingga tiga manusia ajaib ini memunculkan diri dalam dunia kang-ouw lagi. Sulit untuk menduganya.
Kita kembali ke Kim Yun Tai yang sejak tadi mengikuti kejadian di dalam dan di luar kedai itu. Sejak pertama mendapatkan misi dari Lie Yang, ia telah diberi pesan untuk tidak ikut campur dengan masalah selain dari misinya. Untuk inilah ia diam saja tak ikut campur masalah mereka. Namun, ketika telinganya mendengar disebutnya Ang-hong-pay, ia tertarik juga. Akhirnya ia ikut meninggalkan kedai itu. Rombongan itu pergi setelah masing-masing mengambil kuda mereka dari kandang kuda di samping rumah makan itu.
Tampaknya, mereka tidak begitu terburu-buru. Mereka menunggangi kuda dengan pelan dan sambil mengobrol. Yun Tai mengikuti dari arah samping dengan berjalan agak cepat. Ia tetap menjaga jarak. Ia terus mengikuti rombongan itu hingga keluar desa ke arah barat desa. Baru saja ia keluar desa, ia telah merasakan bahwa ada orang lain yang mengikuti dari arah belakangnya. Namun, ketika ia berhenti dan menoleh, ia tak mendapati adanya keganjilan. Apakah dirinya salah dengar suara gemersek di belakangnya itu? Atau kah, orang yang mengikutinya mempunyai ilmu ginkang lebih tinggi dari nya.
“Aneh, tak kan pernah salah…” Katanya dalam hati sambil tetap menguntit rombongan itu.
Setelah beberapa kali ia berhenti dan menoleh ke belakang, kadang melirik sedikit, namun tak pernah ia dapati ada sosok yang mengikutinya. Akhirnya, ia pun mencoba membiarkan semuanya berlalu sambil tetap waspada.
Tak lama kemudian, rombongan itu sudah berhenti di sebuah tempat. Di sana, rombongan itu berhenti di sebuah taman bunga. Di jauh sana, ia tak bisa melihat lagi ada apa, karena setelah taman bebungaan, terdapat pohon-pohon aneh yang sangat rimbun. Ketika dilihat dengan seksama, pepohonan itu ternyata ditanam dengan menggunakan barisan tertentu. Jangan harap ada orang biasa yang bisa melaluinya dengan mudah.
Orang-orang itu turun dari kuda masing-masing. Lalu dengan berjalan kaki, mereka menelusuri taman itu dengan pelan. Tampak rombongan itu mengikuti setiap langkah dari si Kongcu itu. Tak berapa lama kemudian rombongan itu sudah tak terlihat lagi. Kim Yun Tai memandangi kepergian rombongan itu dengan terbengong-bengong. Ia menyadari kalau dirinya tak paham akan barisan dari bunga-bunga itu. Ia hanya mengutuki dirinya yang tak berguna sambil tetap berdiri di pinggiran taman.
Ia tak habis pikir, bagaiman para Racun, Ang-hong-pay dan rombongan yang dibuntuti itu bias masuk ke dalam taman itu. Hampir sepertanak nasi ia berusaha berpikir untuk memecahkan barisan bunga itu, tapi tak dapat juga menemukan celah dimana letak jalan yang aman.
Tiba-tiba terdengar suara baju berkibar dibelakangnya. Ia menoleh ke belakang. Terbengong-bengong ia melihat siapa yang berada di belakangnya itu.
“Kenapa saudara? Tak bisa masuk?” kata orang itu sambil tersenyum manis. Suaranya merdu seperti alunan suara Khim dimainkan dengan lagu cinta.
“Saudari Li… !!!” Kata Kim Yun Tai kaget.
Ia terkaget lantaran tak mendengar suara kedatangan si nona itu. Ini menunjukkan kalau ilmu meringankan tubuh si nona ini lebih tinggi dari dirinya.
Li Li mendekatkan tubuhnya. Ia berdiri di samping kanan Kim Yun Tai. Angin kencang menghempaskan bau harum dari arahnya. Sejenak Kim Yun Tai tertegun tak bisa berkata apa-apa. Rambutnya yang dibiarkan teruari memanjang berkibar-kibar, sungguh indah!.
“Sejak kapan saudari Li berada di sini?” Tanya Kim Yun Tai mencoba melunakkan suasana.
Li Li menoleh ke arahnya dan menjawab. “Baru tadi pagi tadi aku sampai. Kalau aku tak mendengar ada orang membicarakan masalah di sini, mungkin aku tak akan kemari. Tadi malam, selagi mau tidur, aku mendengar ada orang bicara kalau Perguruan Rajawali Putih tertimpa musibah, maka aku pun cepat-cepat kemari.” Sampai di sini, wajah yang mengulum senyum itu tampak berduka.
“Apakah saudari Li punya hubungan khusus dengan Perguruan Rajawali Putih?” Tiba-tiba Kim Yun Tai membuka pertanyaan lagi setelah melihat kedukaan si nona.
Li Li menghelai nafas panjang-panjang dan katanya, “beberapa tahun yang lalu, aku dan guruku pernah singgah di tempat ini dan tinggal di Perguruan Rajawali Putih selama setahun lebih. Mereka adalah keluarga yang hangat dan baik hati. Hubunganku sejak itu sudah sangat dekat dengan mereka, apalagi Nyonya keluarga Pek yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri.”
Kim Yun Tai hanya manggut-manggut. “Entah bagaimana cara memasuki taman ini?” Gumamnya kemudian.
“Itu gampang sekali… “ Jawab Li Li cepat.
“Bagaimana kalau kita masuk ke dalam?” Ajak Kim Yun Tai kepada nona itu.
“Tunggu dulu, aku masih menunggu seseorang.” Katanya sambil melirikkan matanya ke arah Kim Yun Tai.
“Saudari masih bawa teman kemari?”
“Bukan, tetapi teman saudara Kim!”
“Ha?” Kim Yun Tai terperanjat dan bingung.
“Bukankah sewaktu saudara kemari membawa teman dibelakang saudara?” Tanya si Nona.
“Ini… ini…” Kim Yun Tai gelagapan. “Bukannya orang yang dibelakangku sejak dari penginapan saudari Li?” lanjutnya kemudian.
Kali ini si Nona yang dibuat tertegun. “Sebelum saudara sampai di sini, aku sudah sampai duluan. Aku melihat orang itu mengikuti suadara, karena jarak orang itu dengan saudara begitu dekat, makanya kuduga itu teman saudara. Namun, begitu saudara berjalan mendekat ke sini, orang itu sudah menghilang dibalik pohon Song itu.”
“Ah, sungguh tak nyana, telingaku sudah begitu tuli hingga tak mendengar ada orang membuntuti diriku. Kalau orang itu ingin berbuat jahat, mungkin badan ini sudah tidak bernyawa lagi.”
“Mungkin karena saudara terlalu mencurahkan panca indra ke arah rombongan tadi, sehingga tak merasakan dikuntiti orang. Apalagi orang itu mempunya ilmu peringan tubuh yang lebih tinggi dari saudara.”
“Siapakah orang itu kalau begitu? Dan apa tujuan dia mengikuti aku sampai di sini dan menghilang?” Kata Kim Yun Tai. Si nona pun hanya menggelengkan kepala. Beberapa detik kemudian mereka dikagetkan oleh gerakan orang yang tiba-tiba meloncat dari arah belakang mereka. Orang itu meloncati mereka dan masuk ke arah taman. Tak berapa lama kemudian sosok itu menghilang di antara rerimbunan bunga-bunga di taman itu.
“Tahukah saudara dengan orang itu?” Tanya si Li Li setelah terkaget.
“Hanya bisa menduga 50 persen siapa dia!” Tiba-tiba Kim Yun Tai tersenyum. Senyumnya penuh kemisteriusan.
“Menilik gerak orang itu dan bagaimana dia bisa mengenal jalan dari barisan bunga itu, mestinya orang itu masih anggota dari Perguruan Rajawali. Apakah bukan ketua dari perguruan rajawali sendiri yang datang tadi?” Kata si Li Li.
“Aku kira bukan. Orang lain. Orang itu menunjukkan kekhasannya dalam meringankan tubuh. Orang itu tampak berputar tiga kali setelah turun dari loncatannya baru setelah itu berlari. Gerak seperti itu hanya satu orang di dunia ini yang punya. Sekarang aku yakin 100 persen orang itu yang datang. Dan aku tahu kenapa dia tidak menemuiku.” Kata Kim Yun Tai kemudian.
“Apakah bukan si Hong-siang Touw?” si Nona itu tampak mengulum senyum juga. Dua matanya berputar-putar seperti telah menemukan sesuatu. Kim Yun Tai diam tak menjawab. Namun, dilihat dari senyumnya saat ini, ia sepertinya ingin menjawab, bahwa si nona itu benar dengan jawabannya itu.
“Mari masuk!” Kata si Nona itu tiba-tiba. Kim Yun Tai pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti si Nona. Tiap nona itu melangkah, tentu ia mengikutinya. Ternyata taman bunga itu sangat luas. Butuh hampir setengah jam baru sampai di luar taman bunga itu. Mereka berhenti di ujung taman lagi, namun tak ada tanaman bunga lagi, hanya ada rerumputan yang hijau. Di ujung sana terlihat perumahan. Itu lah perumahan para anggota Perguruan Rajawali Putih. Perumahan itu diapit oleh dinding gunung yang sangat tinggi. Memang tak ada jalan kecuali melewati taman bunga itu. Mungkin hanya itu lah jalan satu-satunya menuju ke perumahan itu.
Tiba-tiba mereka mendengar alunan suara Kim. Suara itu mengalun melengking-lengking. Suaranya bagaikan tangisan.
“Ah, siapakah yang memainkan Kim ini! Nadanya terasa sedih begini.” Si Nona berkata.
“Mari kita lihat!” Sahut Kim Yun Tai sambil melangkahkan kakinya ke sana.
Sesampainya di perkampungan. Di tengah perkampungan yang diapit perumahan itu telah berdiri ratusan orang. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok.
Ketika melihat satu kelompok yang berpakaian merah dan putih itu. Kim Yun Tai merasakan tengkuk di belakang kepalanya itu terasa dingin. Apalagi ketika melihat ada ratusan di kelompok lain yang berpakain putih juga. Ia tahu bahwa mereka adalah tuan rumah. Mereka sedang memakai pakaian berkabung. Di depan mereka ada belasan kotak mayat. Pemandangan ini membuatnya semakin terasa aneh. Macam-macam perasaan terasa di dadanya saat ini. Campur aduk.
Kelompok lain berada di depannya. Mereka adalah kelompok si Kongcu. Semua orang mematung. Tak ada suara sama sekali. Suara Kim semakin meninggi, mengalun datar dan naik. Nadanya tak pasti. Namun, nada itu sepertinya sedang meraba hati tiap orang. Kim Yun Tai dan si Nona berbaur dengan kelompok si Kongcu. Mereka berdiri di belakang kelompok si Kongcu.
Mata Kim Yun Tai menyipit. Dilihatnya orang yang memainkan Kim itu. Seorang berpakain putih. Wajah ditutup dengan kain. Memakai tutup kepala agak lebar. Di belakangnya berdiri dua gadis yang sangat putih. Bisa dibilang gadis-gadis cantik yang sulit dicari di dunia ini. Mereka berada di depan rombongan tuan rumah. Melihat tubuh yang ramping dari si pemian Kim itu, Kim Yun Tai bisa menebak seratus persen dia seorang perempuan. Namun, dia tak bisa menebak berapa umur orang itu. Mungkin, dia adalah istri Pangcu dari Perguruan.
“Apakah dia istri dari Pangcu?” Tanya Kim Yun Tai kepada si Nona dengan suara rendah.
Si Nona yang dari tadi diam menoleh. Dan menyahut, “Bukan,”
Dia berhenti sejenak.
“Perempuan yang duduk di belakang orang itu. Dia istri Pangcu. Sedang anak perempuan yang berada di kelompok Ang-hong-pay itu putri mereka.”
Matanya melihat seorang perempuan duduk di belakang pemain Kim itu. Tepatnya berada di tengah-tengah dua gadis berwajah pualam. Melihat mata perempuan berumur empat puluhan itu, ia tahu bahwa perempuan itu sedang marah. Tak ada kesedihan terlihat diwajahnya. Kim Yun Tai terkagum-kagum dengan wajah-wajah anggota Perkampungan ini yang tampak berani. Tak ada satu pun yang sedang menapakkan kesedihan. Bahkan, wajah seorang bocah berumur lima tujuh tahunan tampak terlihat berani. Tangan bocah itu tampak mengepal dan berdiri dengan gagah di samping istri Pangcu Perkampungan.
“Apakah bocah itu putra Pangcu?” Tanya si Kim.
Si Nona tampak menggelengkan kepalanya. “Tidak tahu! Setahuku, Pangcu hanya mempunyai seorang putri yang waktu aku masih berada di sini masih berumur tujuh-delapan tahunan.”
Tiba-tiba alunan Kim berhenti. Suasana menjadi sepi. Hening. Hanya hembusan angin terasa sangat dingin. Suara angin yang menggesek dedaunan terdengar lain dari yang lain.
“Cong Fu-hoat, apakah tak kau lepaskan juga gadis itu?” Tiba-tiba terdengar suara serak dari pemegang alat musik Kim.
“Ha ha ha… kami tak akan menyakiti gadis ini. Kami hanya menjadikannya tanggungan suapaya Pangcu segera keluar.” Jawab seorang berjubah putih yang sedang memegang pergelangan tangan putri Pangcu Rajawali Putih.
“Kalau sejak kemarin Pangcu ada di sini, apakah kalian bisa seenaknya membunuh anggota kami? Kami sudah katakan, bahwa Pangcu sedang bepergian.” Terdengar jawaban balik dari si nyonya.
“Hmm… sudah berbulan-bulan kami menyelidiki, tak pernah kami mendapatkan informasi bahwa Pangcu sedang keluar. Aku berani bertaruh, dia pasti sedang menyembunyikan diri!”
Gemrutuk suara gigi si Nyonya mendengar perkataan itu.
“Hmmm… baiklah, jangan menyalahkanku kalau lagu yang akan kupetik saat ini tak selembut petikan tadi!” Si pemain Kim berkata dan dia sudah memulai lagi dengan petikan Kim Nya.
Kali ini lagunya tidak lagi sedih. Nadanya terdengar keras. Namun aneh, tiap petikan seperti tikaman pedang. Kelompok Ang-hong-pay tiba-tiba mundur. Ada belasan anggota mereka yang terjungkal. Bagi pemain Kim yang sudah mempunyai sin-kang tinggi. Musik bisa dijadikan alat membunuh yang sangat sadis. Gelombang musik yang lembut akan menjadi setajam pedang. Dia bisa membunuh orang tanpa melukai tubuh.
Cong Fu-hoat yang tadi berdiri dengan tenang, tiba-tiba saja bergetar. Ia tersungkur mundur. Tangannya yang menyekal putri Pangcu itu terlepas. Hanya sedetik saja lengan itu terlepas. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh si pemain Kim. Dengan gerakan yang sulit dilihat oleh mata, dan dengan jarak yang jauh. Pemain Kim itu sudah berhasil memondong putri Pangcu itu.
Cong Fu-hoat terbengong-bengong di tempatnya ketika melihat si gadis sudah berada di pondongan si Pemain Kim itu. Tampaknya, gadis itu juga terluka oleh suara Kim itu. Dengan perlahan si Pemain Kim mendudukkan si gadis dan menyaluri tenaga murni ke dalam tubuhnya. Sejenak kemudian si gadis sudah bisa berdiri sendiri. Gadis itu berdiri dipeluk ibunya.
“Ha ha ha… Cong Fu-hoat, coba kalau Cui-beng Pat-im (8 Suara Sakti Pencabut Nyawa) itu dimainkan sampai tuntas. Aku berani bertaruh, kalian tidak akan pernah bisa meninggalkan tempat ini. Apakah kalian masih tidak merasakan bahwa kalian hanya Tawon lemah yang hanya mendekati perapian?” Terdengar suara dari arah kelompok lain. Orang yang berbicara itu adalah si Kongcu yang sejak tadi berdiri melihat saja.
Mendengar disebut ilmu Cui-beng Pat-im (8 Suara Sakti Pencabut Nyawa) mau tak mau si Cong Fu-hoat terkaget juga. Ilmu yang sangat menakutkan. Ilmu sadis yang sudah lama hilang dari dunia kang-ouw. Konon, puluhan tahun yang lalu ada seorang gembong iblis yang mempunyai ilmu ini. Ratusan pendekar mati karena mendengar ilmu ini. Dengan ilmu ini, gembong iblis itu bisa mempengaruhi lawan dan bahkan menjadikan gila. Mendengar suara Kim nya, kalau tak cacat, gila pasti mati. Namun, setelah terjadi bentrokan berkali-kali, ilmu ini menghilang bersama dengan gembong iblis itu. Hingga saat ini, cerita itu seperti tahayul.
“Hi hi hi… itu baru permulaan ilmu Cui-beng Pat-im. Kalau tidak sangat terpaksa, aku tak akan pernah memainkan ilmu iblis itu. Seandanya mau, mungkin kalian sudah menjadi gila oleh suara itu.” Kata si Pemain Kim.
“Baik! Kami akui kami terjatuh ditanganmu.” Kata si Cong Fu-hoat. “Tapi, aku masih penasaran dengannya. Aku ingin melihat apakah ocehan dia itu lebih kuat daripada kepalanku?”
Ia menuding si Kongcu dengan mata membara. Ini sebuah tantangan ditujukan kepada si Kongcu. Cong Fu-hoat mungkin lebih panas oleh sindiran si Kongcu daripada sekedar kekalahannya.
“Mari!!! Aku ingin melihat sendiri kehebatan dari Cong Fu-hoat dari Ang-hong-pay!!!” Si Kongcu sudah meloncat di tengah-tengah arena. Dia berdiri dengan gagahnya sambil menatap Cong Fu-hot tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gentarnya.
Cong Fu-hoat yang berbadan tinggi besar pun meloncat. Loncatanya sangat ringan. Ketika kakinya turun di tanah, tak ada debu yang berhamburan. Gingkang sempurna!
“Sebelum pertarungan ini dilakukan, ingin kutanyakan satu hal kepadamu, anak muda!”
Tiba-tiba si kongcu tertawa terbahak-bahak. Suaranya mengguntur. Mendengar dirinya disebut, ‘anak muda’ meledaklah tawanya. Kim Yun Tai yang berada di belakang anggota Si Kongcu pu ikut tertawa terkekeh-kekeh.
“Apa yang engkau ketawakan?” Tanya Cong Fu-hoat dengan kilatan mata yang tidak senang.
“Apakah ini pertanyaanmu?” Si Kongcu bertanya balik.
“Iya!” Jawab Cong Fu-hoat. Padahal hakikatnya bukan ini yang ingin ditanyakannya.
“Aku tertawa karena engkau menyebut diriku ‘anak muda’. Padahal, seharusnya engkau menyebut diriku ‘kakak’. Sedikitnya, paling tidak aku lebih tua sekitar sepuluh sampai dua puluh tahun darimu.”
Mendengar ucapan ini, mau tak mau, Cong Fu-hoat terhenyak juga. Ini gurauan atau dia sedang mepermainkanku, katanya dalam hati.
Dia sendiri paling tidak sudah berumur di atas kepala lima. Bagaimana dia percaya?. Dia pun tak menjawab atau berbicara sepatah kata pun. Sorotan matanya melihat si Kongcu dari ijung kaki sampai kepala.
“Tidak percaya?!!” Tanya si Kongcu. Namun, Cong Fu-hoat diam saja. “Pernahkah engkau mendengar Tiga Manusia Abadi?”
Cong Fu-hoat terhenyak. Orang-orang yang tidak tahu siapa si Kongcu pun ikut terkaget. Bahkan tuan rumah pun ikut terkejut.
“Jadi, engkau ingin mengatakan bahwa dirimu salah satu dari Tiga Manusia Abadi?” Kata Cong Fu-hoat sambil tertawa berderai.
“Kalau tidak salah, Si Walet Jelek pun sudah berada di sini. Bahkan mungkin juga Giok Kang Lee sudah tiba di sini!” Si Kongcu menyebut teman-temannya seenaknya saja. Bahkan Si Walet Cantik diubah menjadi Walet Jelek. Sungguh membuat orang ingin ketawa.
Ketika menyebutkan nama-nama orang itu. Entah mengapa susasan menjadi sepi. Tak ada yang berucap pun. Tiba-tiba terdengar desahan. Entah dari mana desahan keras itu.
“Aihh, mulutmu masih saja suka usil. Menyebut sebutan orang seenaknya saja. Apa pengen ditampar lagi?” Tiba-tiba terdengar suara sangat serak. Entah dari mana arah suara itu.
Si Kongcu tertawa terbahak-bahak. “Mulutku adalah harimauku. Suka-sukaku berucap. Kalau tidak kusebut seperti itu, kamu tak akan menampakkan diri!”
Tak ada jawaban lagi. Suasana hening. “Si Walet Jelek sudah pergi! Apakah masih penasaran denganku?” Kata si Kongcu.
Cong Fu-hoat tertawa. “Konon, katanya ke tiga dari Manusia Abadi disebut Ci-sian Kongcu. Ilmu yang paling ditakuti adalah Ci Swat-im Kun (Ilmu Jari Inti Salju). Sepertinya, aku ingin mencoba bagaimana dinginnya jarimu itu!”
“Tunggu dulu! Sejak dulu, aku punya peraturan sendiri tiap bertarung. Tak akan bertarung tanpa ada alasan! Tak akan bertarung tanpa ada barang taruhan!”
“Bagus! Ternyata Ci-sian Kongcu yang tersohor pun masih mempunyai seni bertarung!” kata Cong Fu-hoat sambil tertawa terkekeh-kekeh. Lanjutnya kemudian, “Kata-katamu yang menyebut kami, ‘Tawon yang menyergap perapian’ itu saja sudah pantas menjadi bumbu pertentangan dengan kami! Apalagi, mengganggu urusan kami dengan pihak Perguruan Rajawali Putih!”
Ia terdiam sejenak. “Apakah itu tidak lebih dari cukup sebagai alasan buat kita menjadi musuh!”
“Baik! Alasan yang cukup dimaklumi! Namun, aku masih ingin mendengar pertaruhan apa yang engkau berikan untuk yang menang dan yang kalah!”
“Jika aku kalah, engkau boleh berbuat apapun terhadapku, sesukamu! Tapi, kalau engkau yang kalah, cukup sayat mukamu itu sebagai pertaruhan hari ini!”
Perkataan ini bagaiakan guntur disiang hari. Sungguh mengagetkan! Bagaimana mungkin ada orang mempertaruhkan hal seperti itu. Tapi, si Kongcu adalah orang yang sudah makan garam di dunia kang-ouw cukup lama. Sudah paham bagaimana kejinya dunia kang-ouw. Sambil menarik nafas, ia menjawab. “Baik. Aku akan menyayat wajahku dan undur diri dari kang-ouw jika kalah dalam pibu ini. Tapi, satu hal penting, jika engkau kalah, engkau harus menyerahkan satu orang untukku!”
Orang-orang pun tak kalah terkejutnya. Siapakah yang diminta oleh si Kongcu itu! Sungguh pertaruhan yang aneh.
“Tinggal sebutkan! Aku akan berikan. Jika aku masih punya tenaga, siapapun orang itu, aku akan mencarinya. Kemana pun dia menghilang, aku akan dapat menemukannya untukmu!”
“Bagus! Engkau tak perlu repot-repot mencari, karena orang itu ada di sini! Aku ingin dia!” Ujung jari si Kongcu menunjuk orang yang berada di belakang Cong Fu-hoat. Seorang berpakaian hitam dengan muka hitam legam. Dia adalah murid tertua dari Orang Tua Beracun, sahabat si Kongcu.
Murid tertua itu pun terkaget-kaget. Tak nyana dirinya yang bakal jadi barang taruhan. Orang itu pun mau pergi, baru saja kakinya bergeser sedikit. Terdengar suara bentakan keras!
“Berhenti! Selangkah engkau bergeser dari tempatmu, bangkaimu yang akan kuserahkan kepadanya!”
Cong Fu-hoat tampak marah! Ia sendiri yakin dapat memenangkan pertarungan ini. Tapi Murid dari Racun Tua itu sudah ketakutan. Seakan, ia tidak yakin bahwa dirinya akan memenangkan dalam pertempuran ini.
Cong Fu-hoat yang angkuh mana mau dikatakan kalah. Entah kenapa, murid si Orang Tua Beracun itu tak berkutik setelah dibentak. Dia diam ditempat dengan sorot mata tak pasti.
“Silahkan!” Kata Cong Fu-hoat mempersilahkan si Kongcu untuk membuka gerakan dulu. Namun, si Kongcu mematung di Cong Fu-hoat. Hanya tangan kananya saja yang bergerak ke langit, sedang tangan kirinya ditekuk dibelakang punggung. Pembukaan yang aneh!
Melihat gerakan tangan aneh itu Cong Fu-hoat sudah tahu kalau lawannya sudah siap. Ia pun tak malu lagi menyerang. Sambil mengepos semangat dan melancarkan sepertiga dari tenaganya ia menyerang.
Dengan gerakan kaki meliuk-liuk seperti ular Cong Fu-hoat menyerang. Kepalannya diluruskan seperti gerakan sangat biasa. Jubahnya mengibar.
Terjadi keanehan. Kepalan itu sampai pada perut si Kongcu. Tak berubah! Bahkan kedua tangan si Kongcu tak membuat tangkisan. Namun, dengan gerakan cepat si Kongcu mundur. Sepertinya si Kongcu ingin membiarkan lawannya menjamah perutnya sedikit. Ia pun sudah siap dengan tenaga Khi untuk menahan tinjuan lawannya.
Benar juga. Cong Fu-hoat tiba-tiba terpental kebelakang. Namun, dengan cepat ia sudah menyerang kembali dengan pukulan dahsyat ke arah kepala si Kongcu. Kali ini si Kongcu mengelak. Namun, kedua tangannya tetap seperti semula.
Berkali-kali si Kongcu hanya menggunakan ilmu meringan tubuhnya untuk menghindar. Cong Fu-hoat ternyata tak mampu menjamah sedikit pun tubuh si Kongcu. Cong Fu-hoat kalah gesit.
Setelah bergebrak belasan jurus. Tiba-tiba gerakan Cong Fu-hoat berubah. Kali ini, ia menambahkan macam-macam cengkraman dalam serangannya.
“Bagus! Puluhan tahun yang lalu aku kalah dengan ilmu Liong Jiaw-kang (Ilmu Cakar Naga) ini! Aku ingin lihat sempurna mana dengan ilmu yang pernah diperagakan si Giok Kang Lee!!”
Setelah melihat lawannya menggunakan ilmu Liong Jiaw-kang. Ia pun segera merubah juga posisinya. Kali ini ia tak lagi menghindar saja. Bahkan menangkis dan menyerang lawan. Ia tahu bahwa ilmu Liong Jiaw-kang bukan ilmu sembarangan. Walaupun ilmu ini dilatih tidak sempurna, tetap masih berbahaya.
“Hmmm… “ Ia bergumam. Ia merasakan keanehan dan ada yang lain.
“Kenapa corak dan perubahan dari ilmu ini berubah? Apakah orang-orang Ang-hong-pay sudah mengubahnya?” Tiba-tiba terbesit pertanyaan di otak si Kongcu.
Dahulu pernah ia bertarung dengan kakek Lie Yang corak dan perubahan tidak seperti sekarang. Ia bahkan selama puluhan tahun ini mengasa ilmunya untuk mengungguli ilmu Liong Jiaw-kang. Itu karena dahulu pernah dikalahkan oleh kakek Lie Yang tiga kali dengan hanya beberapa gerakan saja.
Walaupun ilmu Liong Jiaw-kang tidak dimainkan dengan tenaga dalam yang sangat besar. Tetap saja masih berbahaya. Bahkan ia melihat ada gerakan tambahan yang sangat ganas. Tiap cengkraman dan cakaran selalu menuja sasaran yang sangat bahaya dan tak terduga-duga. Maka tak heran kalau dia pun bingung dan agak terkejut dengan ganasnya serangan.
Ketika sedang berfikir seperti ini. Daya konsentrasi si Kongcu menurun. Ia segera mengembalikan konsentrasinya dan melihat dengan teliti tiap gerakan lawannya. Namun, kelemahan si Kongcu yang hanya beberapa detik itu digunakan sebaik-baiknya oleh Cong Fu-hoat.
Sebaliknya, Cong Fu-hoat tidak memandang rendah pada lawannya. Bahkan ia sangat mantab dengan gerakannya. Ketika ia melihat peluang kelemahan lawan. Ia segera menggunakan. Dengan ganas sebuah cakaran diarahkan ke arah tenggorokan lawannya.
Namun, si Kongcu pun sengan cepat bisa menutupi kelemahannya. Dengan telunjuk carinya ia menutuk perglangan tangan lawannya. Sedang tangan kirinya menyodok uluh hati lawannya. Namun, dengan gesit Cong Fu-hoat mengelakkan sodokan di dadanya. Tapi membiarkan tangan kanannya terkena ketukan jari si Kongcu. Ia mungkin berfikir lebih baik terkena ketukan dari pada pukulan telak di dada. Namun, dugaannya salah. Si Kongcu dijuluki Pangeran Jari Inti Salju. Dan ilmu totokan jarinya ini yang sangat berbahaya.
“Tukkk…”
Terdengar suara aneh dari pergelangan tangannya. Totokan itu mengenai tulang pergelangan tangannya. Rasanya sakit dan dingin. Sebelah kanan tangannya tak mampu lagi digerakan. Disaat ia merasakan sakit di pergelangan tangannya itu, sebuah tendangan lawan mengenai perutnya. Gerakan yang sangat cepat. Dan tak terduga-duga.
Cong Fu-hoat menjerit. Tubuhnya terjengang ke belakang. Terjatuh ditanah. Wajahnya memucat. Si Kongcu tertawa terbahak-bahak.
“Seharusnya engkau biarkan dadamu terkena pukulanku. Karena pukulan itu hanya sebuah serangan palsu dan tak bertenaga. Engkau lupa bahwa tanganku ini bisa sekeras besi, setajam pedang dan sedingin inti es.” Katanya setelah tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa engkau lupakakan julukanku?!!” Lanjut si Kongcu.