Goresan diSehelai Daun

Goresan diSehelai Daun

(Lanjutan Bu Kek Kang Sinkang)

@ Kkabeh

Pembunuh Berkedok Hitam

Lo Tong Bukan Suhu Khu Han-beng Yang Sebenarnya!

Sepotong kalimat sederhana ini berulang-ulang kali terngiang di kepala Tan Leng-ko. Tidak dapat dipungkiri lagi, Lo Tong merupakan penjaga sebenarnya dari salinan kitab-kitab silat itu, yang Tan Leng-ko tidak habis mengerti dengan kesaktian Lo Tong, kenapa ia rela hanya menjadi seorang kacung-buku? Jika ia berniat untuk menyusup masuk, dengan kesaktiannya ia dapat keluar-masuk memperoleh apa yang diingininya tanpa diketahui oleh seorangpun. Lalu urusan apa yang menahannya hingga ia tinggal bertahun-tahun di Lokyang Piaukiok? Lalu siapakah jati diri si naga sakti yang sebenarnya? Apakah ia juga termasuk salah satu penghuni Lokyang Piaukiok?

Pening Kepala Tan Leng-ko memikirkannya, hatinya terasa bimbang, mukanya semakin pucat. Terlampau banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya dan terlalu sedikit jawaban yang memuaskan hatinya.

Perlahan ia menarik napas dalam dalam mencoba menenangkan batin dan menghibur diri.
“Urusan ini, toh aku dapat mencoba bertanya langsung padanya. Sedangkan mengenai si naga sakti, bagaimanapun juga aku telah berhasil menangkap ekornya” gumamnya sendirian.

Bagaimanapun juga si naga sakti atau locianpwee yang tempo hari pernah ditemuinya di taman belakang toko buku itu tidak berbohong kepadanya ketika mengunakan istilah ‘kami’. Yaa, Bagaimanapun saktinya locianpwee itu, tidak mungkin ia memiliki ilmu memecah diri.

Pencurian kitab-kitab tujuh perguruan jelas tidak mungkin dapat dilakukan oleh hanya satu orang, seharusnya sedari dulu ia telah memikirkan hal ini. Seingat Tan Leng Ko penanggalan yang tercatat di punggung salinan kitab Kun-lun-pay Hui-liong Cap-sa-sik yang dilihatnya tempo hari di kamar Khu Han-beng, tidak terpaut terlalu lama dengan tanggalan yang tertera di salinan kitab Thay-kek-kun milik Butong-pay. Sedangkan lokasi ke dua tempat itu terlampau jauh, jelas pencurian kitab perguruan besar tersebut tidak dapat dilakukan hanya oleh satu orang, melainkan harus dilakukan oleh sekelompok orang, dan Lo Tong jelas merupakan salah satu dari kelompok mereka. Sekaligus juga merupakan buntut baginya untuk melihat kepala sinaga sakti.

Puas dengan analisanya, Tan Leng-ko menutup buku jurnal kerja yang dipegangnya. Tanpa ia sadari, tangannya berhenti bergerak ketika matanya membaca sesuatu yang sempat membuat mulutnya mengeluarkan suara tawa kecil.

Mendadak suara tawanya tenggelam ditelan desingan nyaring pedang yang sedang dicabut dari sarungnya. Sesosok bayangan manusia tampak berkelebatan masuk, dan dengan kecepatan bagaikan kilat menyerangnya dengan ganas!

Pedang orang itu bagaikan seekor ular beracun yang keluar dari liangnya langsung mematuk, menusuk ke dada Tan Leng-ko. Belum cahaya pedang yang berkelebat tiba, Tan Leng-ko dapat merasakan hawa dingin yang sangat tajam menyayat tubuhnya.

Tentu saja serangan mematikan itu membuat Tan Leng-ko terkejut, cepat ia menimpuk buku jurnal yang dipegangnya menyambut tusukkan pedang itu. Dalam sekejap buku kerja itu hancur berkeping-keping terkena hawa pedang. Tapi bukan lemparannya tidak berguna, sesaat hawa pedang tersebut melemah, memberi kesempatan yang cukup bagi Tan Leng-ko untuk menjatuhkan diri berguling kesamping.

Dengan gerakan kilat Tan Leng-ko melenting berdiri dan dengan tergesa-gesa ia bergeser menjauh beberapa tindak, hampir ia menabrak patung Mik Lik-bud yang terletak di samping rak lemari buku. Cepat ia menoleh, jarak diantara mereka cukup dekat sehingga ia dapat melihat sepasang mata yang memancar sinar licik lagi kejam tapi seperti juga keheranan di balik lelaki berkedok kain hitam yang membungkus kepala penyerangnya itu.

Sebelum Tan Leng-ko menempatkan diri di posisi yang lebih baik, kembali pedang orang itu berputar mengikuti gerak badannya. Ujung pedang lawan yang sangat tipis lagi tajam mengancam bit-kian-hiat, hiat-to mematikan di depan dada Tan Leng-ko. Serangan lawan selain cepat juga ganas sekali sehingga tiada tempo bagi Tan Leng-ko untuk menangkis mempertahankan diri. Melihat ujung pedang lawan mengancam dirinya, dengan sigap Tan Leng-ko menekuk pinggangnya ke belakang sehingga badannya seperti papan yang menggantung ditopang dengan kuda-kuda kakinya.
“Taak…!”

Serangan dahsyat yang disertai hawa pedang itu , dengan telak menghantam patung Buddha yang berada di belakangnya. Orang berkedok hitam itu terdengar seperti mendengus, ia menggerakkan pergelangan tangannya memacul ke bawah. Hati Tan Leng-ko berdesir, ia cukup memahami tidak akan pernah ada jurus pedang semacam itu. Gerakkan memacul seperti itu merupakan gerakkan pedang tanpa jurus yang lebih banyak didasari ‘bergerak sesuai dengan keadaan’!

Walau tenaga hentakkan pergelangan tangan bersifat lemah tapi dengan ketajaman pedang lawan sudah lebih dari cukup untuk membinasakan dirinya. Dalam perhitungan waktu yang lebih cepat daripada menuturkannya, Tan Leng-ko mengerahkan tenaga dikedua pahanya mendorong tubuhnya ke belakang hingga pundaknya menompang patung Mik Lik-bud yang setinggi dirinya. Meremang bulu kuduk Tan Leng-ko ketika ia dapat merasakan dinginnya pedang lawan ketika berkelebat disela-sela kedua kakinya. dengan sekuat tenaga, kaki kanannya cepat ia ayunkan ke atas mengancam modal tunggal diantara belahan paha lawannya. orang berkedok hitam itu memutar tubuh, kaki kirinya ditempatkan di belakang kaki kanan sedangkan pedangnya menebas ke kanan. Situasi menjadi terbalik, justru modal tunggal Tan Leng-ko yang sekarang terancam!

Tan Leng-ko menarik napas panjang sambil mengerahkan ginkang. Tendangan kakinya yang barusan tidak mengenai sasaran menimbulkan daya lenting yang mementalkan tubuhnya melengkung ke atas. Dengan dibantu kedua tangannya, ia menekan perut buncit patung Mik Lik-bud sehingga tubuhnya melayang berjungkir balik dengan kaki diatas. Mencelos hati Tan Leng-ko ketika merasakan goloknya melorot turun, terlepas dari sarungnya. Dia juga dapat merasakan hawa pedang lawan mengancam punggungnya.

Terdengar suara siulan nyaring ketika Tan Leng-ko meraih senjatanya yang melayang di udara sambil memutar tubuhnya menghantam goloknya ke batang pedang lawan dengan pengerahan tenaga sakti sedapatnya.
“Trang!”

Beradunya tenaga sakti, golok dan pedang membuat orang berkedok hitam itu terhuyung mundur sedangkan tubuh Tan Leng-ko mental menuju sudut langit kamar. Tan Leng-ko mengatur tubuhnya yang terapung, kedua kakinya menjejak pada sudut langit kamar, dengan tenaga tolakan ini tubuhnya berganti arah meluncur balik. Cahaya golok meluncur keluar dengan kecepatan luar biasa menebas ke depan. Segulung hawa dingin yang membeku berupa selapis kabut cahaya golok menerjang ke arah lawannya.

Serangan Tan Leng-ko selain tepat juga lebih ganas, diam diam lawannya merasa terperanjat ketika ia rasakan aliran darahnya serasa membeku, tubuhnya menggigil kedinginan. Sukar baginya untuk mempertahankan diri, sambil membentak dan mengerahkan tenaga sakti, cepat ia meloncat menghindar. Sekalipun serangan golok yang dilancarkan Tan Leng-ko tidak menemui sasaran, namun sudah cukup menggetarkan musuhnya yang amat tangguh. Ternyata ronce hitam di sarung pedang orang berkedok itu sudah terpapas putus!

Tan Leng-ko mendengus, sembari menggerakkan goloknya dengan serangan susulan yang berbahaya. Melihat Tan Leng-ko memburu tiba serta menyerang, orang itu tidak tinggal diam, pedang ditangannya memutar kencang, mengayun dari bawah menebas ke atas, dalam sekejap ke dua belah senjata tersebut sudah saling bentrokan satu sama lain.
“Traaang…traaang…!”

Terdengar dua kali suara dentingan nyaring, golok dan pedang sudah saling bersimpangan. Didalam bentrokkan pertama, kedua belah pihak sama sama bertarung seimbang. Dibentrokkan berikutnya, orang berkedok hitam itu nampak terhuyung tidak tahan menahan bacokan golok Tan Leng-ko yang disertai pengerahan tenaga sakti penuh.

Diruang kerja Khu Pek Sim yang tidak terlampau luas dalam waktu singkat berubah menjadi sebuah ajang pertempuran yang amat seru. Cahaya golok dan bayangan pedang sudah menyelimuti seluruh tubuh kedua orang itu yang bertarung diruang sempit sehingga orang lain sulit untuk menyaksikan jurus jurus serangan yang dipergunakan kedua orang itu dan langkah tubuh yang mereka gunakan. Orang berkedok itu tidak ingin menderita kerugian, ia menggunakan kelincahan tubuh dan keanehan jurus pedangnya untuk menyerang Tan Leng-ko. Tusukkan pedangnya yang disertai hawa dingin yang menyayat bergulung menyerang Tan Leng-ko bagaikan amukkan hempasan ombak yang saling menyusul tiada habisnya.

Tan Leng-ko kerepotan, ia harus mengakui keanehan jurus pedang lawan. Gerakkan orang itu tidak hanya menusuk atau menebas, bahkan meliputi gerakkan mengungkit, berubah arah menyerang lawan dari arah yang tidak terduga. Nampaknya hanya jurus Ouw Yang Ci-to yang dapat menandingi keanehan gerak pedang lawan tapi ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak akan menggunakannya lagi.

Ditengah seribu kerepotan, tiba-tiba Tan Leng-ko menemukan satu hal yang membuatnya kegirangan. Tubuhnya dirasakan jauh lebih ringan, ayunan goloknya membawa hawa dingin menusuk tulang yang mempengaruhi gerak tubuh lawannya. Tangan kirinya yang melakukan totokkan dan cengkraman mengandung hawa panas yang menghanguskan. Ia paham entah kenapa hawa liar Hek Pek Coa ditubuhnya, telah berhasil melebur dengan Hek Yang Pek Im Sinkangnya. Menyadari kemampuan tenaga saktinya diatas kemampuan lawan, Tan Leng-ko mengubah siasat dengan menerkam lawan sambil mengerahkan tenaga penuh mengadu senjata.
“Trangg!”

Kembali terdengar dentingan pedang beradu golok yang memekakkan. Tan Leng-ko menyeringai kesakitan ketika beberapa bunga api memercik mengenai punggung tangannya. Tapi dalam bentrokkan kali ini, si kedok hitam tak mampu menahan getaran tenaga sakti yang terpancar dari golok Tan Leng-ko. Pergelangan tangannya menjadi kaku dan linu walau ia sudah mempergunakan segenap kekuatan yang dimilikinya. Pedangnya terlepas dari genggaman dan mencelat ke udara. Tubuhnya cepat membalik, melenting ke pintu, jelas sekali ia berniat untuk kabur.

“Masakkan kubiarkan kau merat dari sini” gusar Tan Leng-ko.

Mendadak terdengar jeritan kaget dari pintu keluar. Terkesiap darah Tan Leng-ko ketika melihat kemunculan Giok Si disaat yang tidak menguntungkan. Orang berkedok hitam segera memanfaatkan situasi, tubuhnya berkelebat ke belakang tubuh Giok Si, jari tangan kanannya mengancam hiat-to mematikan di pelipis gadis malang itu yang tentu saja menjadi ketakutan.

“Tentu saja kau akan membiarkan kupergi dari sini” ujar orang itu dengan lembut setelah mengatur napasnya yang serabutan.

“Kuyakin kau tidak akan membunuh dia!”

Orang berkedok itu seperti tertegun. Sambil menganggukkan kepala ia memandang Tan Leng Ko dengan sorot kekaguman. Dengan nada memuji ia berkata:
“Kau sungguh seorang hebat!”

Giliran Tan Leng Ko yang melenggong. Ia benar benar heran karena ia tidak menyangka lawan akan memujinya.
“Apanya yang hebat?” tanyanya tak terasa.
“Nada ucapanmu membawa getar keyakinan tingkat tinggi. Aku bukan jenis yang mudah dipengaruhi orang tapi entah kenapa akupun ikut percaya bahwa aku tidak akan membunuhnya”

Kembali sorot matanya memancar kekaguman,
“Hanya orang hebat dan pintar yang mempunyai kemampuan seperti itu” terdengar pujiannya sekali lagi.

Dipuji sedemikian rupa membuat perasaan Tan Leng Ko jengah, mukanya memerah, ia sedikit salah tingkah. Kemarahannya tadi entah sudah menguap kemana.

“Kalau kuboleh tahu, kenapa aku tidak akan membunuhnya?” tanya orang itu dengan nada halus.

Melihat sikap orang itu yang melunak, Tan Leng Ko ikut melunakkan sikapnya dan dengan lembut menjawab:
“Karena kau datang berniat untuk membunuhku, bukan dia”

Orang berkedok hitam itu terlihat mengangguk sambil berdiam diri. Tapi tangannya tidak tinggal diam, tangan kirinya terlihat mencekeram leher Giok Si dengan kuat.
Telinga gadis itu yang belum sembuh kembali mengeluarkan darah segar, tenggorokkannya mengeluarkan suara tercekik.
“Krokk…krok!”

Muka Tan Leng Ko berubah hebat, cepat ia berseru:
“Kau boleh pergi, lepaskan dia!”

Dengan nada hambar orang berkedok itu berkata:
“Seperti yang barusan kau katakan, kudatang untuk membunuhmu. Jika tidak dapat menggunakan pedang, nampaknya aku harus menggunakan dia”
“oOo, kau hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengancamku, memintaku untuk membunuh diri?”

Orang berkedok hitam itu seperti menghela napas, ucapnya dengan tawar:
“Ada yang pernah bilang jalan pikiranku sangat ruwet, tak nyana kau dapat menerkanya dengan tepat”

Mendengar ucapan yang seperti ejekan itu, Tan Leng Ko melototinya sekejap. Ujarnya perlahan:
“Jika kau katakan aku seorang pintar, bukankah dengan membunuh diri aku mirip orang bodoh?”
“Kau lebih mirip seorang lelaki sejati. Sebab hanya seorang lelaki sejati yang bersedia berbuat bodoh untuk membela kaum yang lemah”

Tangan orang itu menggeser dari tenggorkan Giok Si, perlahan menyisir rambut gadis malang itu yang basah menggumpal lengket terkena darah yang mengucur tidak berhenti. Dengan nada gegetun, orang berkedok hitam itu berkata:
“Konon perempuan termasuk kaum yang lemah. Apalagi perempuan yang sudah terluka dan melemah kekurangan darah”

Diam diam hati Tan Leng Ko tersirap. Bukan karena ucapannya, tapi cara nada ucapannya. Hanya orang berbahaya yang dapat berkata dengan cara demikian. Menggunakan nada halus dan simpatik, yang membuat dirinya sukar membantah ucapannya. Dan yang membuat perasaan Tan Leng Ko benar benar terkejut, dia tidak dapat menyelami isi hati orang itu!

Orang itu benar benar tulus ketika memuji, benar benar memelas ketika gegetun. Meninggalkan kesan, orang itu menyukai hal yang baik dan membenci hal yang buruk. Tapi apa yang ia kerjakan sejauh ini bertentangan dengan nilai tersebut. Benar benar seorang lawan yang berbahaya!

“Jam berapa sekarang?”

Orang itu mengeluarkan seruan heran mendengar pertanyaan Tan Leng Ko yang tiba tiba dan tidak dapat ia duga arah pertanyaannya. Di luar dugaan justru perempuan dipelukkannya yang memberi penjelasan dengan gumaman memilukan tapi cukup jelas.
“Beberapa jam yang lalu, dia belum pernah mengenalku. Tentu saja ia enggan untuk membunuh diri demi seseorang yang baru dia kenalnya. Tidak mungkin ia mau mempedulikan nasibku. Apalagi aku hanya seorang pelacur yang sudah ludes modal kerjanya. Kedatanganku kemari sebetulnya untuk mati ditangannya. Ia enggan untuk melakukan, sungguh kebetulan jika kau hendak membunuhku”

Dengan nada terkejut orang itu bertanya kepada Tan Leng Ko:
“Benarkah ucapannya?”
“Benar!” tegas Tan Leng Ko.

Giok Si menatap Tan Leng Ko dengan terkejut. Ia tidak menyangka pemuda itu akan menjawab secepat dan setegas itu. Dengan pandangan nanar ia terus menatap Tan Leng Ko tanpa berkedip. Perlahan matanya mulai digenangi linangan air mata, bibirnya digigit kencang hingga berdarah, entah karena menahan sakit atau entah karena ia berduka.

Yang ditatap tidak tega, tapi sebelum Tan Leng Ko mengucapkan sesuatu, dengan gerakkan perlahan seperti takut melukai, orang berkedok hitam itu menolehkan kepala Giok Si kearahnya. Dengan lembut ia menghapus air mata yang menetes itu, ujarnya dengan halus:
“Satu hal kau salah. Jawabannya barusan yang tegas dan menyakitkan hatimu sebenarnya bertujuan untuk mengelabuiku. Jika dia tidak mempedulikan nasibmu, tentu dia telah menyerangku semenjak tadi. Dia tidak menyerang karena sangat memperhatikan nasibmu.”

Berubah hebat wajah Tan Leng Ko. Lawannya kali ini benar benar musuh yang paling menakutkan yang pernah ia jumpai seumur hidupnya.

“Kukabulkan permintaanmu!” seru Tan Leng Ko dengan muka pucat tapi dengan tekad bulat.

Orang berkedok hitam itu menatap Tan Leng Ko cukup lama, sebelum berkata:
“Kau akan membunuh diri?”
“Yaa! Aku akan membunuh diri”

Dengan nada kuatir, Giok Si menjerit parau:
“Kau tidak boleh…!”

Dengan cepat orang berkedok hitam menggerakkan jari tangan menutuk urat gagu mencegah Giok Si untuk menyelesaikan ucapannya.
“Ssstt! Ketika lelaki sejati sedang berbicara, seharusnya perempuan tidak ikut membuka mulut” ujar halus orang itu sambil meletakkan telunjuknya dibibir Giok Si.
Cepat orang itu menarik tangannya ketika melihat Giok Si berusaha menggigit. Sambil melirik ke jari tangannya, tiba-tiba orang itu berujar sambil tersenyum:
“melihat bentuknya yang panjang dan lunak, nampaknya kau gemar untuk memasukkannya ke dalam mulut”

Tan Leng-ko tidak tega melihat perubahan wajah Giok Si yang hatinya seperti tertusuk belati tajam. Tapi sebelum ia mengatakan sesuatu orang berkedok hitam itu mengalihkan perhatian kepadanya:
“Kutahu kau akan melakukannya. Kuyakin seorang lelaki sejati tidak mungkin membiarkan seorang perempuan terancam tanpa melindunginya. Walau terlihat bodoh, seorang lelaki sejati akan tetap melakukan apa yang harus dia lakukan. Seorang lelaki…”
“Sebelum kumati, maukah kau lakukan satu hal untukku” potong Tan Leng Ko tiba-tiba.
“Jika dapat kulakukan, tentu akan kulakukan” ujar orang itu dengan simpatik.
“Maukah kau tutup mulut! Ceramahmu tentang lelaki sejati membuat perutku mual”

Diluar dugaan orang itu terdengar tertawa kecil:
“Sebetulnya aku sendiripun merinding mengucapkannya.”

Tan Leng-ko tidak memperdulikan orang itu, ia menatap Giok Si dengan pandangan berduka yang juga menatapnya dengan linangan air mata. Dengan muka pucat Tan Leng-ko menggumam:
“Kau matilah dengan tenang, kujamin dia akan juga mati kubunuh. Lalu aku akan membunuh diri untuk menebus kematianmu”

Orang berkedok itu seperti terkejut mendengar perkataan Tan Leng-ko. Tapi setelah berpikir sebentar, ia menganggukkan kepala, katanya:
“Yaa, caramu memang lebih baik. Semua tewas jauh lebih baik daripada mati konyol sendirian”

Tan Leng-ko melotot kepadanya sekejap, kemudian ujarnya perlahan:
“Atau semuanya tetap hidup. Seperti kukatakan tadi. Kau pergi, dia bebas. Setiap saat kau boleh mencoba membunuhku lagi. Hanya perlu kuberitahu padamu, Tak lama lagi aku akan berangkat pergi ke Tiang-an, setiap saat kau boleh mencegatku dijalan untuk membunuhku”
“Kenapa kau mengatakan tujuan perjalananmu?” tanya orang berkedok itu heran.
“Kau bertujuan untuk membunuhku. Akupun berniat untuk membunuhmu” jawab Tan Leng-ko tawar.
“Hanya dengan mengatakan tujuanmu, kau tidak usah bersusah payah mencariku untuk membunuhku?”
“Benar!”

Orang berkedok itu kembali mengangguk setuju, ujarnya:
“Yaa, kau memang pintar. Hanya ada satu hal yang kau lupakan”
“Apa yang kulupakan?”
“Seorang pembunuh ketika berniat membunuh, jika tidak berhasil maka siap untuk dibunuh” kata orang berkedok itu sepatah demi sepatah.

Berubah hebat wajah Tan Leng-ko, bulu kuduknya merinding mendengar ucapan dingin orang itu. Sambil menghela napas ia bertanya:
“Jadi kau lebih memilih kita semua mati bersama”
“Benar!”

Tan Leng-ko menarik napas panjang, tidak ada kata kata lagi yang ia dapat ucapkan. Matanya beradu pandang dengan Giok Si yang menatapnya dengan pandangan yang ia sukar jelaskan. Tan Leng-ko merasa sedih, tapi ia tidak mempunyai jalan lain kecuali mengandalkan kepandaiannya. Tiba tiba teringat olehnya jurus ke tiga belas Ouw Yang Ci To yang baru beberapa hari dilatihnya. Jurus yang paling sukar yang pernah dilatihnya dan sebenarnya belum ia kuasai penuh. Jurus yang ketika dilancarkan bagaikan gulungan cahaya perak yang melesat pesat seperti petir menyambar, jurus golok terbang!

“Lagi lagi aku harus melanggar janji” keluh sedih Tan Leng-ko dalam hati. Ia pernah berjanji pada dirinya untuk tidak menggunakan Ouw Yang Ci To…janji yang sudah beberapa kali ia langgar. Dia lebih suka mati konyol ketimbang melanggar janji, tapi dia tidak dapat membiarkan Giok Si tewas ditangan orang berkedok hitam ini. Satu kali ia berbuat salah pada gadis itu, ia rasakan sudah terlampau banyak.

Perlahan ia mengatur pernapasannya, matanya menatap tajam leher lawannya yang terlihat sebagian dari tempat ia berdiri. Tenaga saktinya ia kerahkan penuh mengelilingi seluruh tubuhnya yang kemudian dia pusatkan di pergelangan tangannya.

Udara dingin semakin membeku, orang berkedok itu diam diam terkejut merasakan gulungan hawa kematian yang semakin menebal yang timbul dari golok Tan Leng-ko.
“Atau kita tidak usah mati bersama, jika..” ucapannya terputus.

Ia dapat merasakan keadaan Tan Leng-ko seperti anak panah yang ditarik kencang dibusurnya. Setiap saat dapat menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa dahsyatnya sehingga ia tidak berani sembarangan bergerak. Sedikit ototnya mengejang percuma, ia dapat menemui ajalnya.

“Jika apa?” tiba tiba Tan Leng-ko bertanya.

Orang berkedok itu diam diam menarik napas lega. Udara beku yang menyesakkan ia rasakan menyurut, berkurang banyak.
Ia dapat merasakan Tan Leng-ko telah mengendurkan saluran tenaga saktinya.
“Jika kau mau menjawab pertanyaanku dengan jujur” jawabnya.

Kening Tan Leng-ko berkerut,
“Apa yang hendak kau tanyakan?” tanyanya heran.
“Dua titik di punggung tanganmu, apakah kau baru baru ini digigit seekor ular?”

Tan Leng-ko melengak heran, diam diam ia terkejut mendengar pertanyaan yang dirasakan terlalu tepat baginya. Tak Terasa ia menggumam:
“Aneh, biasanya jarang sekali seorang lelaki memperhatikan punggung tangan seorang lelaki lain”
“Kau bicara ngawur apa?!” bentak sikedok hitam sambil mempererat cekikkannya sehingga Giok Si kesakitan. Cepat Tan Leng-ko menukas:
“Yaa, beberapa minggu yang lalu, aku pernah digigit seekor ular beracun yang aneh.
“Bagaimana bentuk ular itu?”
” Selain ekornya berbentuk pipih, cabang lidahnya juga tidak umum, yang satu berwarna hitam, dan yang satu lagi berwarna putih”
“Apakah ular Hek Pek Coa?” tanya orang itu dengan nada gemetar.
“Apakah ular itu Hek Pek Coa atau tidak, aku tidak tahu” jawab Tan Leng-ko semakin heran.
“Dimana kau digigit ular itu?” tanya sikedok hitam tanpa dapat menyembunyikan nada suaranya yang gembira.
“Kenapa kau menanyakan hal ini?” tanya Tan Leng-ko yang menjadi tertarik berbareng semakin terkejut.
“Jika kau sedang mencekik istriku tentu aku akan menjawab pertanyaanmu, sebaiknya kau jawab saja pertanyaanku” ancam sikedok hitam.

Melihat darah kental kembali merembes ke rambut Giok Si, Tan Leng-ko menghela napas:
“Di dekat sebuah goa di atas bukit belakang” Tan Leng-ko menjawab sekenanya.
“Apakah racun ular itu yang menyebabkan tubuhmu belang dua warna?”
“Yaa, kurasa demikian. Aku sendiri kurang tahu dengan jelas”

Sikedok hitam mendengus perlahan, jengeknya:
“Sudah kukatakan kau harus menjawab dengan jujur. Bukankah belang ditubuhmu disebabkan kau telah mempelajari sebuah ilmu?”

Tan Leng-ko terkesiap, kembali ia menghela napas:
“Jika kau mengetahui lebih jelas daripadaku, untuk apalagi kau tanyakan padaku?”
“Darimana kau memperoleh ilmu itu?” desak orang berkedok hitam itu.
“Ketika aku keracunan setelah dipatuk ular itu, seorang locianpwee sakti tiba tiba muncul di belakangku dan menyuruhku bersila. Ia menyuruhku untuk mengerahkan tenaga sakti dan mengikuti perintahnya. Aku yang setengah sadar keracunan, tentu saja mengikuti petunjuknya”
“Siapa dia, bagaimana rupanya?”
“Aku tidak tahu. Ketika kuterjaga dari pingsan, beliau sudah pergi. Aku pun belum mengucapkan terima kasih”

Orang berkedok hitam itu mendengus:
“Selain racun Hek Pek Coa, apakah belakangan ini kau terkena racun lain?”

Tan Leng-ko semakin heran, banyak pertanyaan menumpuk dibatinnya.
“Aku rasa tidak” akhirnya ia menjawab setelah termenung sejenak.
“Darimana kau tahu dengan pasti?”
“Sebab aku tidak merasakan kelainan di tubuhku”

Tak terasa orang berkedok hitam itu berseru keheranan:
“Aneh! Kenapa belang-belang ditubuhmu mendadak menghilang?”
“Aku sendiripun sedang keheranan. Kau harus percaya padaku. Aku benar benar tidak tahu”

Sepasang mata yang licik dari balik kedok hitam itu, menatap tajam Tan Leng-ko seperti mengukur kebenaran ucapannya. Tiba tiba ia mengeluarkan pertanyaan yang aneh:
“Kau tidak sendirian. Sebenarnya, aku pun juga sedang keheranan”
“Apa yang kau herankan” tanya Tan Leng-ko heran.
“Kenapa sedari tadi kau tidak pernah bertanya siapakah aku,kenapa hendak membunuhmu, kenapa aku bertanya macam macam padamu?”

Dengan nada dingin Tan Leng-ko menjawab:
“Ketika aku sedang mencekik binimu, tentu aku akan banyak bertanya… Sekarang aku tidak bertanya karena tidak yakin kau mau menjawab, lagipula..”
“Lagipula apa?”
“Sudah kukenali siapa dirimu”
“Kau kenali diriku?” tanya orang berkedok hitam itu dengan terkejut.

Tan Leng-ko mengangguk:
“Tidak kusalahkan kau jika berminat membunuhku. Hanya kusalahkan caramu berpakaian. Kau mengenakan pakaian hitam di siang hari, jika kau bukan pembunuh terbodoh yang pernah kujumpai, atau kau adalah Pek Kian Si yang memiliki dendam kesumat padaku hingga tidak sabar menunggu datangnya malam”

Orang berkedok hitam itu mengeluarkan tawa bernada dingin. Tiba-tiba ia melempar tubuh Giok Si ke arah Tan Leng-ko yang segera menangkapnya. Baru Tan Leng-ko hendak bergerak menyusul orang berkedok hitam itu, dua benda kenyal yang padat mendadak menekan tubuh Tan Leng-ko. Giok Si yang memeluk erat dirinya, menyembunyikan mukanya menangis tersedu-sedu di dada Tan Leng-ko yang bidang. Bau harum dari tubuh Giok Si membuat jantung Tan Leng-ko berdegup kecang, segera ia mengalihkan perhatiannya melirik ke pintu, sikedok hitam sudah menghilang entah kemana.

“Apakah kau dilukai olehnya?” tanya Tan Leng-ko dengan lembut.

Giok Si menggelengkan kepalanya perlahan, isak tangisnya semakin keras.
“Syukurlah, kalau kau tidak kurang apa” ujar Tan Leng-ko lega.

Tan Leng-ko membiarkan Giok Si menangis di dadanya. Ia cukup paham tiada manusia yang tidak pernah menangis, apalagi perempuan.

Menangis memang suatu perbuatan manusia yang bersifat rada ganjil. Ketika seorang bayi dilahirkan, tangisannya malah membuat orang tuanya tertawa. Ketika bayi itu sedang sakit, tangisannya dapat membuat orang tuanya menjadi sedih. Tapi tidak jarang tangisan rewel seorang bayi dapat menjengkelkan orangtuanya. Tiga tangisan dengan proses yang sama, anehnya dapat memancing tiga perasaan yang berbeda. Keanehannya malah bertambah, karena menangis juga dapat mengurangi perasaan tertekan.

Setelah puas menangis, Giok Si menarik kepalanya dengan tersipu-sipu, ia mendorong tubuh Tan Leng-ko perlahan seperti baru menyadari telah berada di pelukkannya.

“Benarkah ia Pek Kian Si yang telah melukai diriku?” tanyanya dengan muka masih memerah.
“Kurasa bukan”

Paras Giok Si yang tadinya keheranan berubah seperti memperoleh sebuah pengertian, ujarnya:
“Kau sengaja berkata demikian agar dia berlega hati, kau mencurigai orang yang salah. Apakah kau sudah mengetahui siapa dia sebenarnya?”

Tan Leng-ko menggeleng, ia hanya berkata:
“Aku tidak kenal dia, dan tidak mengerti kenapa ia ingin membunuhku. Hanya yang kuherankan bukan itu”
“Apa yang kau herankan?”
Tan Leng-ko tidak segera menjawab. Setelah termenung sejenak, ia menjawab perlahan:
“Tidak seharusnya ia pergi begitu cepat”

Giok Si tertawa, katanya:
“Dia sudah kau kalahkan, jika tidak merat kabur, lalu apa yang mesti ia lakukan. Dia kan tahu kau tidak mungkin mengundangnya minum arak”

Kali ini Tan Leng-ko tidak menjawab, matanya menggeridip seperti banyak yang ia pikirkan. Cukup lama keduanya terdiam.
“Sebenarnya ilmu apakah yang ditanya orang itu?” tanya Giok Si memecah keheningan.

Dengan menghela napas, Tan Leng-ko menjawab:
“Sebuah ilmu yang berguna untuk menawarkan racun khususnya racun Hek Pek Coa”
“Benarkah kau mempelajari ilmu itu dari seorang locianpwee atau kau hanya mengatakan demikian untuk menipunya”
“Kenapa kau menanyakan urusan ini?”
“Bukan tidak mungkin kau memperoleh ilmu ini dari sebuah kitab, jika demikian keadaanmu berbahaya sekali”
“Berbahaya?”

Dengan pandangan kuatir, Giok Si menjawab:
“Mungkin sekali dia akan berusaha menjebak kemudian menyiksamu untuk mendapatkan kitab itu, aku tidak ingin kau mengalami suatu kejadian yang buruk”

Dengan nada menghibur Tan Leng-ko berkata:
“jangan kau kuatir! Aku tidak memiliki kitab itu lagipula ada kitab atau tidak nampaknya orang berkedok itu telah bertekad untuk membunuhku”

Air mata kembali menggenang di kelopak mata Giok Si. Dengan bibir gemetar dia berkata:
“Saat ini, kau adalah satu satunya yang kuandalkan. Jika kau mati terbunuh, aku…”

Giok Si tidak dapat menahan dirinya lagi, ia menubruk tubuh Tan Leng-ko dan kembali menangis. Tan Leng-ko menghela napas, sekali lagi ia membiarkan Giok Si menangis di dadanya.
“Orang itu tak akan mampu membunuhku” hiburnya.

Sekali lagi dua benda kenyal menekan dada Tan Leng-ko dan mengacaukan pikirannya. Kembali ia mengalihkan perhatiannya ke ruang kerja Khu Pek Sim yang berantakkan seperti kapal pecah. Diam diam ia mengeluh menyaksikan buku jurnal kerja yang hancur berkeping-keping terkena hawa pedang. Ketika matanya menerawang ke patung Mik Lik Bud, hatinya bergidik melihat sebuah goresan menggaris miring di bagian dada sebelah kiri, di sekitar jantung.

Walau goresan itu tipis sekali, Tan Leng-ko mengerti tentu dalam sekali. Untung patung Mik Lik Bud itu terbuat dari kayu sehingga masih dapat tersenyum penuh dengan kedamaian.

ooo0000ooo
PAGI HARI CAKRAWALA CERAH.

Langit terlihat terang membiru bersih dari awan, angin lembut bertiup.
Di pagi hari yang cerah, udara yang biasanya dingin, tidak biasanya malah terasa sejuk menyegarkan. Anehnya, perasaan hati Tan Leng Ko justru sedang gundah. Ia sedang menunggu di luar pintu gerbang, menunggu Giok Si berganti pakaian. Entah kenapa, perempuan acap kali memerlukan tempo yang cukup lama untuk mengganti pakaian. Mungkin sama lamanya dengan lelaki ketika menggunakan kamar mandi terutama di pagi hari. Entah apa ada kegiatan lain yang mereka lakukan. Atau apa masing masing mempunyai kesibukan pribadi yang bersifat sebaiknya orang lain tidak perlu tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan?

Tan Leng-ko sedang menunggu sambil merenung. Berapa hari belakangan ini, boleh dibilang nasibnya lagi tidak mujur. Bukan saja seorang berkedok hitam berusaha membunuhnya, malah hampir berhasil mengajak mati bersama jika ia meneruskan niatnya membunuh Giok Si.

Ia tidak tahu siapa dan mengapa orang berkedok itu hendak membunuhnya. Yang ia tahu orang berkedok hitam itu jelas bukan Pek Kian Si. Ronce di sarung pedang Pek Kian Si sudah dicuri Giok Hui Yan, kalau toh sudah diganti, Tan Leng Ko tidak yakin diganti dengan warna hitam. Lagipula jurus pedang Pek Kian Si berbeda dengan serangan orang berkedok hitam itu. Jurus orang berkedok itu lebih ganas, telengas dan hawa pedangnya sudah mencapai dua jengkal tangan.

Ia sengaja menyebut nama Pek Kian Si untuk mengalihkan perhatian orang berkedok hitam itu, seperti ketika ia menyebut goa di bukit belakang. Ditinjau dari nada gembira orang itu, nampaknya orang berkedok itu akan berusaha mencari Hek Pek Coa disana. Orang itu tentu akan terbentur batunya jika bertemu dengan locianpwee sakti itu. Tapi dengan kepergian Khu Han Beng, Tan Leng Ko tidak begitu yakin beliau masih gentayangan di sana.

Siapa sebenarnya orang berkedok hitam itu? Dan kenapa ia mengenal dan mencari Hek Pek Coa? Kenapa ia dapat memastikan ia pernah mempelajari Hek Im Pek Yang Sinkang?
Tiba-tiba dahi Tan Leng Ko berkerut. Hanya dua cara untuk menjawab pertanyaan pertanyaan ini. Pertama, orang berkedok hitam itu berhubungan dengan locianpwee sakti itu. Tan Leng-ko menggeleng,
“Kemungkinan yang tidak terlalu mungkin” gumamnya.

Jika kelompok pencuri sakti itu hendak membunuhnya, cukup dengan satu jurus tentu akan berhasil dan tidak perlu mengenakan kedok segala. Tiba-tiba darah Tan Leng-ko berdesir. Hanya tersisa satu penjelasan yang masuk akal, tidak kecil kemungkinan orang itu mempunyai hubungan dengan Ngo Tok Kauw!

Hanya locianpwee sakti dan tentunya orang Ngo Tok Kauw yang dapat mengenali ilmu Hek Im Pek Yang Sinkang. Bahkan Giok Hui Yan dapat mengenali Hek Pek Coa, jelas tidak mengenal ilmu tersebut.

Yang Tan Leng Ko tidak habis pikir, bukankah Ngo Tok Kauw sudah habis terbantai oleh Mi Tiong Bun? Jika ternyata masih bersisa, lalu untuk apa berusaha membunuh dirinya yang tidak mempunyai perhitungan budi dan dendam dengan mereka? apa karena kebetulan ia mengenal dan berhubungan cukup dekat dengan putri ketua Mi Tiong Bun?

Diam-diam Tan Leng Ko mengeluh dalam hati. Tugasnya di Lok yang Piaukiok adalah mengajar para piasu, bukan mengisi teka teki yang saling menyilang. Pusing kepala Tan Leng Ko memikirkan hal ini, yang juga membuatnya puyeng kepalanya, Lo Tong yang sedang ditunggu-tunggunya ternyata tidak pulang! Sebenarnya hal ini memang masih dalam perhitungannya, yang diluar dugaannya adalah perilaku Giok Si yang memberatkan hatinya.

Untuk pertama kalinya dia merasakan tundingan, dan getokkan Hongnaynay lebih menyenangkan. Dia lebih menyukai omelan Hongnaynay ketimbang sikap Giok Si yang mengintil kemana dia melangkah.
Setelah ia menyelamatkan Giok Si dari sikedok hitam dan setelah menunjukkan sikap bersedia mati bersama, sikap Giok Si terhadap dirinya berubah seperti sikap seorang istri yang menghamba dan siap meladeni. Sikap ini yang membuatnya tidak tahan!

Malah dengan manja ia meminta Tan Leng Ko untuk menemani dirinya mencari locianpwee sakti yang pernah menolongnya di goa bukit belakang sana. Ketika ditanya untuk apa, Giok Si menjawab sudah berkali kali ia menjadi korban penganiayaan, ia ingin meminta kepada locianpwee sakti itu agar mengajarinya kepandaian membela diri.
“Lagipula kau memiliki kepandaian tinggi, sedikitnya aku harus menguasai semacam kepandaian” kata Giok Si sambil tertawa jengah.
“Aku dapat mengajarimu” kata Tan Leng Ko yang tidak paham arti ucapan Giok Si yang bermakna ganda.
Giok Si menolak secara halus, sambil menggeleng ia berkata:
“Seorang wanita tidak boleh terlalu tergantung kepada seorang lelaki. Sudah banyak hal yang kau lakukan untukku. Aku harus mempunyai kemampuan untuk berusaha sendiri”
“Bagaimana caramu untuk membujuknya untuk mengajarimu?” tanya Tan Leng Ko akhirnya tertarik ingin tahu.
“Jika dia seorang lelaki, tentu ada akalku untuk membujuknya”

Giok Si menghela napas sedih, lanjutnya perlahan:
“Tiada wanita yang bercita cita bekerja di tempat semacam Lampiun merah, tapi nyatanya aku telah bertahun tahun bekerja disana. Berbagai macam lelaki yang berdatangan kesana, sedikit banyak aku paham satu dua cara untuk membujuk mereka”

Tan Leng Ko ikut menghela napas, katanya kemudian:
“Yang kukuatirkan beliau tidak bersemayam di gua bukit belakang sana, siapa tahu ia hanya kebetulan lewat ketika menolongku”

Giok Si sedikit mengangguk, ujarnya:
“Walau kecil kemungkinannya, tapi sedikitnya aku harus mencoba”

Melihat tekad bulat Giok Si, Tan Lengko hanya dapat mengangkat bahu:
“Sudahlah, kau ganti pakaianmu dengan yang lebih ringkas. Kuantar kau ke gua di bukit belakang”

Bagaimanapun juga Tan Leng Ko tidak dapat membiarkan Giok Si pergi sendirian ke sana. Jika perhitungannya tepat, orang berkedok hitam itu tentu bergentayangan di gua bukit belakang dan selain melindungi Giok Si, ia ingin membuat perhitungan dengan orang itu.

Giok Si yang sedang ditunggu-tunggu Tan Leng Ko akhirnya muncul mengenakan celana singsat. Jubahnya yang berwarna merah jambu membungkus ketat tubuhnya yang padat. Lekukkan pinggulnya yang sempurna, pinggangnya yang kecil, postur tubuhnya yang tegak semampai, dan wajahnya yang cantik benar benar menunjukkan ia seorang wanita pilihan.

Melihat wajah Tan Leng Ko yang murung, Giok Si menghela napas:
“Dari sekian macam lelaki yang mengunjungi Lampiun Merah, tahukah kau jenis mana yang paling menyebalkan?”
Tan Leng Ko menatap heran Giok Si yang bicara tidak jelas juntrungannya.
“Yang gemar menunggak alias tidak bayar” jawab Tan Leng Ko hambar.
“Walau menyebalkan, tapi paling tidak jenis lelaki semacam ini berkunjung dengan niat melampiaskan hawa nafsu. Yang paling menyebalkan adalah jenis lelaki yang berkunjung kesana dikarenakan telah jatuh cinta pada wanita yang menemaninya”
“Bukankah hal itu merupakan hal yang baik”
“Pernahkah kau jatuh cinta?” tanya Giok Si sambil memandang Tan Leng Ko dengan tajam.

Tan Leng Ko tertegun, ia benar benar menyangka akan ditanya urusan semacam ini. Lama ia terdiam, tidak menjawab. Ia tidak mengangguk, juga tidak menggeleng.
“Ketika seorang lelaki benar benar jatuh cinta, umumnya perbuatannya tiada yang tepat, malah menjengkelkan. Kebanyakkan pebuatannya benar benar membuat muak wanita yang dicintainya”
“Kenapa kau membicarakan hal ini?” tanya Tan Leng Ko tidak tahan dan juga tidak paham.
“Karena aku baru menyadari satu hal. Ketika seorang wanita benar benar jatuh cinta, ternyata perbuatannya juga menjengkelkan dan membuat murung lelaki yang dicintainya” kata Giok Si dengan pandangan berkaca kaca.

Runyam perasaan Tan Leng Ko mendengarnya. Sekali lagi ia tidak menyangka perempuan ini berani bicara blak-blakan urusan semacam ini. Dengan mengeraskan hati ia berkata:
“Nampaknya kau salah paham. Ketika kukatakan siap mati bersamamu, hal ini disebabkan…”
“Disebabkan sikapmu memang demikian. Kepada orang yang tidak kau kenalpun kau akan bersikap demikian. Kupaham hal itu”
“Syukurlah jika kau memahami hal itu” kata Tan Leng Ko dengan lega.
“Apalagi kita baru saja kenal, tidak layak dan juga tidak pantas rasanya membicarakan urusan cinta”

Tan Leng-ko mengangguk setuju.
“Yaa, memang tidak…”
“Aku juga paham, seorang wanita seperti barang bekas yang tidak ada harganya lagi, sudah tidak patut membicarakan soal cinta” kata Giok Si dengan nada hambar.

Tenggelam hati Tan Leng Ko, cepat ia menelan ucapannya yang belum selesai. Apa yang mesti ia perbuat pada perempuan ini? Ia tidak dapat menyalahkan sikap wanita ini kepadanya. Giok Si kehilangan banyak boleh dibilang gara gara dirinya. Balutan di tangan wanita ini masih bernoda merah, rambut yang tergerai menutupi telinganya masih terlihat darah kering, salahkah ia jika mengagumi pria yang membela dan siap mati baginya? Tapi mungkinkah seorang wanita jatuh cinta dalam sekejap pada pria yang baru saja dikenalnya? Tan Leng-ko tidak dapat menjawab. Pengetahuannya mengenai kaum wanita memang tidak terlampau banyak.
“Maukah kau melupakan pembicaraan hal seperti ini?” pinta Tan Leng Ko akhirnya.
“Hal apa? aku sudah tidak ingat” kata Giok Si sambil memaksakan diri tersenyum manis. Susulan nada tertawanya sungguh menggiurkan. Kulit wajahnya seperti mengeluarkan sinar lembut ketika ia tertawa.

Tertawa juga Tan Leng Ko melihat watak wanita ini yang mudah menangis, dan mudah tertawa. Mengingatkan dirinya kepada Giok Hui Yan, tiba tiba timbul sebuah perasaan rindu yang ia sukar jelaskan.
“Ayuh, kubopong kau biar cepat sampai ke goa di bukit belakang sana” ujar Tan leng Ko mengusir pikirannya.
Giok Si merentangkan tangannya memeluk leher Tan Leng Ko yang memegang punggung dan menaruh tangan kanan diantara lekukkan kakinya. Deru angin kencang menerpa wajah Giok Si yang kemudian memejamkan mata. Hatinya sedikit ngeri melihat Tan Leng-ko meloncat ke atas dahan pohon yang cukup tinggi dan berlarian seperti berada di atas tanah datar saja.

Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di goa dimana Tan Leng Ko pernah melihat Khu Han Beng berlatih. Mau tidak mau, Tan Leng Ko teringat macam macam urusan. Ada beberapa hal yang menyenangkan Tan Leng Ko. Dengan kepergian Lo Tong membawa salinan kitab kitab pusaka, dia tidak usah menguatirkan perihal kitab kitab tersebut. Juga dia bisa lebih bebas bertindak karena sudah tiada rahasia segala yang perlu ia jaga, dan yang lebih penting Lok Yang Piukiok terhindar potensi malapetaka.

Setelah menurunkan Giok Si, Tan Leng Ko memandang sekitarnya. Kecuali alang alang yang sudah mati kedinginan, boleh dibilang tempat ini tidak berubah. Goa itu kelihatan gelap dan sepi sekali. Di mulut goa kelihatan kotor sekali, jelas bukan tempat yang layak untuk ditinggal seseorang. Seperti yang telah diduga Tan Leng Ko, goa ini bukan tempat bersemayam locianpwee yang sakti itu.
“Kresek…!”
Mendadak terdengar suara ranting berderak, cepat Tan Leng Ko mengerahkan tenaga sinkang sambil menoleh ke belakang. Nampak seekor beruang berjalan perlahan diantara semak semak dan memanjat sebuah pohon. Binatang itu berbulu putih, bercak hitam menodai di sekitar dua matanya, selain tidak terlihat ganas malah kelihatan lucu dan menggemaskan.
“Sudah lama aku tidak merasakan nikmatnya telapak kaki beruang” gumam Tan Leng Ko sambil menelan air liurnya. Tangannya memegang goloknya siap membunuh binatang itu.
“Jangan kau bunuh dia!” teriak Giok Si kuatir.
“Kenapa jangan?” tanya Tan Leng Ko heran.
“Selain buah buahan, aku menyukai binatang, tapi bukan untuk sarapan. Kau tidak boleh melukai binatang yang tidak bersalah padamu”
“Kau penyayang binatang?” seru Tan Leng Ko yang merasa aneh. Setahunya, binatang seperti beruang dimanfaatkan kegunaannya. Selain dagingnya dimakan, bulunya dapat dijadikan mantel pakaian. Gigi dan kukunya dapat dibuat kalung perhiasan yang dapat melambangkan kejantanan pembunuhnya. Banyak manfaat yang didapatkan dengan membunuh beruang itu, yang jelas ia tidak dapat melihat manfaat binatang itu jika disayang.
“Bukankah ia sangat menarik” kata Giok Si sambil menatap beruang itu dengan kagum.

Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, taring binatang itu kecil kecil, ia seperti menyeringai padanya ketika memakan pucuk daun bambu muda yang masih tersisa. Diam-diam Tan Leng Ko mengakui, binatang ini memang terlihat lucu dan mengemaskan. Jika berukuran kecil mungkin cocok menjadi boneka mainan anak kecil pikirnya.

Tidak ingin mengecewakan Giok Si, Tan Leng Ko membatalkan niatnya membunuh hewan itu. Dengan sikap waspada lalu ia memasuki goa gelap itu sendirian.

Setelah matanya terbiasa dengan sedikit pantulan cahaya dari luar, Tan Leng Ko dapat melihat goa itu ternyata tidak begitu dalam. Tidak ada yang luar biasa dengan kondisi goa itu selain lembab, baunya juga tidak sedap. Diam diam ia tertawa geli mengingat bau busuk di gang sempit toko buku Gu-Suko. Tempat bersemayam locianpwee sakti itu nampaknya tidak jauh dari bau tidak sedap. Entah itu suatu kebetulan atau suatu kegemaran?

Tiba tiba terdengar jeritan kaget Giok Si. Bagaikan kilat tubuh Tan Leng Ko melesat menuju ke arah jeritannya. Mata Tan Leng Ko membelalak kaget melihat seekor ular bersisik putih, kontras sekali dengan bola matanya yang merah, melingkar tidak jauh dari tubuh Giok Si yang menggeletak di tanah.
Melihat kedatangan Tan Leng Ko, ular itu mendongakkan kepalanya memandang curiga. Terdengar suara desis diiringi uap putih yang keluar dari mulut ular itu. Setengah badannya berdiri tegak, lidahnya keluar masuk dari rongga mulut yang berwarna hitam. Lidah yang bercabang hitam dan putih!

Tan Leng Ko pernah melihat ular sejenis ini, sejenis ular yang ujung ekornya pipih melebar walau ekor ular ini tersembunyi, tertutup daun daun bambu kering. Hanya ada satu hal yang dirasanya tidak beres, setahunya ular Hek Pek Coa merupakan jenis langka yang rasanya jarang diketemui berkeliaran di alam. Apakah ular ini terlepas dari rantainya? Apakah telah terjadi sesuatu di toko buku itu? Rasanya tidak mungkin dengan kesaktian locianpwee itu…Atau sinaga sakti itu dengan sengaja melepaskan Hek Pek Coa kembali ke habitatnya di alam dan kebetulan telah melepaskan ular itu di sekitar goa ini yang jarang dikujungi orang. Tan Leng Ko tertegun. Masakkan ucapannya yang ngawur kepada orang berkedok hitam itu ternyata sekarang menjadi kenyataan?

Tan Leng Ko tidak dapat berpikir lama lama lagi, cepat ia mencabut goloknya siap membunuh ular itu.
“Jangan kau bunuh dia” seru Giok Si dengan nada lemah sambil menggeliat kesakitan. Badannya dibagian sebelah kiri mengeluarkan asap tipis seperti terbakar sedangkan separuh tubuh lainnya seperti dibungkus lapisan es yang tebal.
Hati Tan leng Ko tenggelam melihat dua titik darah di punggung tangan kiri Giok Si yang masih terbalut. Lekas ia menggebah ular beracun itu yang menyelinap kabur, nampak ekornya yang mirip sirip ekor ikan menghilang disela sela semak belukar.

Dengan nada kuatir Tan Leng Ko memaksa Giok Si untuk bersila.
“Satukan hawa racun itu ke urat nadi Khi Hay, kemudian alirkan perlahan ke Hwee Tie” perintah Tan Leng Ko kedua tangannya ia tempelkan ke punggung wanita itu menyalurkan tenaga sinkang.
“ilmuu… itu…locianpweeee…Hek-Im…” igau Giok Si lemah.

Tan Leng Ko teringat dirinya yang juga melantur tidak keruan ketika terkena racun Hek Pek Coa. Lekas ia bertukas:
“Benar, ilmu locianpwee itu khusus untuk menawarkan racun ini. Sekarang kau harus mampu berkonsentrasi untuk mengikuti petunjukku”
Dengan susah payah Tan Leng Ko membantu mengalirkan hawa liar itu ke tiga puluh enam nadi penting di tubuh Giok Si. Hampir ia tidak dapat menguasai gelombang hawa panas dingin yang menerjang seperti hempasan badai mengamuk, untung sinkangnya sudah mendapat banyak kemajuan. Perlahan ia mmeberi petunjuk letak nadi yang diperlukan untuk menyalurkan racun tersebut.
Secara teratur ia mengalirkan hawa saktinya yang mengalir halus tapi kuat membimbing dan menguasai hawa liar itu. Sering kali Giok Si mengerang kesakitan, bibirnya kering pecah-pecah, kulit wajah kirinya yang halus mengelupas kepanasan. Beberapa kali erangan Entah sudah berapa ratusan kali hawa gabungan itu mengitari tubuh Giok Si. Tan Leng Ko baru menarik tangannya yang bergemetaran, mukanya juga pucat. Tidak sedikit tenaga saktinya yang berhamburan berlebihan. namun ia dapat menarik napas lega ketika mendengar suara dengkur Giok Si yang tertidur!

baru ia sadari hari telah menjelang malam. Tan Leng Ko membopong Giok Si pulang dengan diterangi bintang bintang yang banyak bertaburan di langit.

oooooOOOOOooooo
Sudah beberapa hari lamanya Mo Tian Siansu dan Khu Han Beng menempuh perjalanan. Mo Tian Siansu beranggapan daya tubuh Khu Han Beng tidak sekuat dirinya, maka boleh dibilang perjalanan mereka tidak cepat. Hari menjelang sore, pada saat mereka memasuki sebuah dusun kecil. Dahi Mo Tian Siansu berkerenyit ketika ia mendapati semua warung makan tutup, tidak ada yang buka. Selain itu juga ia rasakan kesunyian yang luar biasa, seperti mendadak dusun kecil ini ditinggalkan oleh penghuninya. Setelah kuda mereka menikung ke kanan, di deretan ketiga sebelah kanan, mereka melihat seorang nenek tua yang duduk di kursi goyang di depan rumah gubuknya. Menurut keterangan nenek tua tersebut, hari ini sedang diadakan perlombaaan kayuh perahu yang dihiasi sedemikian rupa hingga berbentuk seekor naga. Perlombaan itu diadakan untuk menghormati Sian Liong Kang, dewa naga penunggu sungai yang dipercayai sebagai pemberi berkah sekaligus pemberi petaka bagi penduduk yang tinggal di bentaran. Perayaan yang dilakukan setiap setahun sekali oleh penduduk setempat, tentu saja mengundang banyak pengunjung. Tidak heran dusun ini terasa sepi sekali.

Khu Han Beng menatap lekat-lekat, seperti tertarik terhadap nenek tua tersebut. Cukup lama percakapan antara nenek tua itu dengan Mo Tian Siansu, tapi tidak sekalipun bocah itu melihat nenek tua itu berkedip. Mata nenek tua itu juga nampak janggal. Selain bewarna kelabu keputihan, juga terlihat mati, tidak mengandung suatu perasaan. Sangat bertolak belakang dengan nada suaranya yang ramah.

“Kenapa kau sendiri tidak ikut menyaksikan keramaian?” tanya Khu Han Beng tak tahan.

Mendengar pertanyaan Khu Han Beng, muka Mo Tian Siansu berubah hebat, cepat ia meminta maaf pada nenek tua itu dan menegur murid keponakkannya.

Nenek tua tersebut mengeluarkan suara tawa kecil seperti menemukan sesuatu hal yang lucu. Katanya kemudian:

“Jika kau belum pernah melihat seorang buta, tentu belum pernah menyaksikan perayaan tersebut. Kenapa kau sendiri tidak ikut menyaksikan?”

Seperti menyadari akan satu hal, muka Khu Han Beng sedikit memerah. Dengan kikuk ia bertanya:

“Apakah suara keramaian yang lapat lapat terdengar dari kejauhan itu?”

“Yaa, memang suara itu”

Tiba-tiba nenek tua itu mengisyaratkan Khu Han Beng agar mendekat. Mo Tian Siansu mengerenyitkan alisnya. Ia tidak begitu mengerti kenapa nenek tua tersebut perlu berbisik kepada murid keponakannya. Ia juga tidak mengerti suara keramaian apa yang mereka maksud sebab ia tidak mendengar suara apapun. Yang lebih ia tidak habis mengerti, ternyata setelah dibisiki wajah Khu Han Beng terlihat lebih bingung dari dirinya.

Setelah pamitan, mereka menghela kuda, Khu Han Beng memimpin jalan menuju ke tepi sungai. Tak tahan Mo Tian Siansu bertanya:

“Darimana kau tahu tempat perayaan itu?”

Setelah termenung sejenak Khu Han Beng menjawab:

“Bukankah nenek tua itu telah berbisik padaku”

“Jika hanya arah petunjuk jalan, kau tentu tidak terlihat bingung seperti tadi” gumam Mo Tian Siansu.

“Sebab ia juga berkata satu hal yang aku tidak paham” ujar Khu Han Beng perlahan.

“Soal apa?”

“Nenek itu mengatakan ia telah buta dari semenjak kecil dan selama ini dapat hidup berbahagia. Ia ingin aku tidak melupakan hal itu”

Mau tidak mau Mo Tian Siansu ikut bingung, ia juga tidak mengerti maksud nenek tua tersebut.

“Ia berniat baik. Paling tidak, itu sebuah nasehat yang baik sekali” akhirnya ia berkata pelan.

oooooOOOOooooo

Tersungging sebuah senyum kecil di ujung bibir Mo Tian Siansu melihat kegembiraan Khu Han Beng ketika mata bocah itu berbinar binar menyaksikan keramaian. Namun kening bhiksu tua itu juga nampak berkerut, bagaimanapun juga seharusnya bocah yang dibesarkan di kota Lokyang yang termasuk kota besar tidak patut bereaksi seperti pertama kali melihat keramian. Tidak salah ucapan piasu she-Tan itu yang pernah mengatakan bocah ini jarang keluar kamar.

“Kegiatan perlombaan ini mirip dengan upacara kayuh perahu naga yang sering dilakukan di seluruh Tionggoan, rupanya baru pertama kali kau saksikan”

“Yaa, memang pertama kali bagiku” jawab Khu Han Beng likat.

Juga pengalaman pertama melihat nenek buta pikir Mo Tian Siansu tapi melihat bocah itu seperti malu, cepat ia mengajak Khu Han Beng berdiri di pinggir sungai yang becek dan berlumpur untuk menyaksikan perlombaan yang baru saja dimulai. Sekitar enam perahu besar yang berjajar memenuhi lebarnya sungai. Setiap perahu memuat sekitar dua puluh lima pasang pengayuh ditambah satu orang yang duduk dibelakang untuk mengemudi dan satu orang pemukul gendang yang duduk di bagian tengah.

“Nampaknya pemukul gendang mempunyai kegunaan lain, selain untuk memberi semangat” ujar Khu Han Beng dengan nada bergairah.

“Benar! dia malah dianggap jantung sekaligus pemimpinnya. Irama ketukkan gendangnya menentukan keseragaman kayuh yang menentukan lajunya kecepatan perahu” ujar Mo Tian Siansu menerangkan.

Khu Han Beng mengangguk, kemudian katanya:

“Kukira posisinya yang ditengah mempermudah pengayuh yang di depan maupun yang dibelakangnya untuk mendengar tabuhannya”

“Yaa, karena ia harus memperhitungkan arah dan kecepatan angin, derasnya arus sungai, dan perubahan riak air yang menentukan laju perahu otomatis mempengaruhi irama tabuhannya yang kadang cepat, kadang perlahan”

Selagi mereka asyik bercakap-cakap, nampak keenam perahu tersebut yang berjarak ketat satu sama lain sudah mendekati batas final. Tiba tiba terjadi satu kejadian yang diluar dugaan Khu Han Beng. Pengayuh pengayuh yang berada di perahu perahu yang tertinggal di belakang, beramai ramai menimpukki batu ke perahu yang berada di paling depan. Bahkan beberapa orang menggunakan galah bambu panjang untuk membalikkan perahu, malah ada yang menyerang pengayuh pengayuh di perahu calon pemenang.

Suara riuh dan tepuk tangan penonton membingungkan Khu Han Beng yang menonton. Perkelahian di tengah sungai sudah melibatkan keenam perahu peserta. Mereka tidak hanya menyerang perahu calon pemenang, mereka juga menyerang satu dengan yang lain. Dalam sekejap saja, sudah tiga perahu yang terbalik, beberapa puluh orang yang terlempar keluar dari perahu berteriak ketakutan, tergulung arus sungai yang deras dan dingin. Anehnya, para penonton di bentaran sungai seperti tidak berminat menolong mereka, malah melempari mereka yang tenggelam dengan kueh lemper yang dibungkus daun.

Khu Han Beng melirik susioknya sekejap dengan pandangan bertanya. Mo Tian Siansu menghela napas, kemudian katanya:

“Kau tentu heran, kenapa tidak ada yang menolong”

“Kuheran kenapa susiok tidak menolong mereka” gumam Khu Han Beng mengakui. Semestinya, sudah sepatutnya seorang bhiksu saleh dari Siaulimsi membantu orang yang sedang kesusahan. Dengan muka sedih, Mo Tian Siansu menjawab:

“Bukan aku tidak ingin, hanya aku tidak boleh menolong mereka”

“Kenapa?” tanya Khu Han Beng heran.

“Karena penduduk ditempat ini akan marah padaku jika kuturun tangan. Mereka beranggapan jika ada yang mati tenggelam maka hal ini sudah menjadi kehendak dewa naga yang memilih beberapa manusia sebagai tumbal”

“Bukankah orang orang yang malang itu, keluarga mereka sendiri?” tanya Khu Han Beng terkesiap.

“Benar! Tapi tradisi ini sudah berlangsung ribuan tahun lamanya. Tiada yang berani menolong walau kerabatnya sendiri. Tidak ada yang berani melanggar atau ikut campur melawan takdir yang sudah ditentukan”

“Pernah kubaca di sebuah kitab, jika kita melakukan hal yang benar seperti menolong orang, bukankah dapat tidak usah memperdulikan pendapat orang lain”

Mo Tian Siansu tersenyum mendengar uraian Khu Han Beng yang seperti bernada menyindir.

“Ucapan bagus! Tapi ada satu hal yang patut kau ketahui. Kau harus dapat menghargai kepercayaan orang lain walau bertentangan dengan kepercayaanmu. Kau tidak boleh melanggar kepercayaan orang lain secara paksa walau kau anggap kepercayaan mereka salah, bagaimanapun juga mereka mempunyai hak untuk salah”

Tiba tiba terdengar suara jeritan dan makian penonton, Khu Han Beng dan Mo Tian Siansu mengalihkan pandangan ke tengah sungai yang entah darimana telah muncul sebuah kapal berukuran besar yang melaju cepat melawan arus sehingga menimbulkan ombak besar yang membalikkan sisa perahu perlombaan. Mo Tian Siansu mengeluarkan seruan tertahan, tubuhnya mendadak mengapung ke sebuah pohon gundul yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tangannya mematahkan sebuah dahan kecil, dan ketika tubuhnya melayang turun jatuh ke sungai, kembali ia mematahkan potongan ranting kecil yang dengan cepat ia lemparkan ke permukaan air.

Ujung kakinya cepat menotol potongan ranting tersebut sebagai pijakkan sehingga kembali tubuhnya mengudara sejauh dua tumbak, mengarah kepada korban yang berjarak masih puluhan tombak dari dirinya, mereka berkutet dipermainkan arus sungai. Baru dua tiga kali lompat, Mo Tian Siansu menghentikan lompatannya. Tubuhnya terapung diatas ranting kecil, naik turun mengikuti riak air. Mulutnya menyeringai kesakitan, ia belum sehat benar dan telah memaksakan diri mengerahkan tenaga sakti yang ia rasakan menyusut banyak.

Tiba tiba matanya membelalak lebar ketika ia menyaksikan lima bayangan tubuh yang berkelebat cepat dari kapal laut itu menuju para korban. Seperti pemain akrobatik, dengan manis kaki mereka menutul dayung dayung pengayuh yang terlempar terapung. Ketika tubuh mereka berjungkir balik, tangan mereka meraih dayung tersebut yang kemudian digunakan untuk memukul permukaan air, dan menggunakan daya tolak pukulan untuk memantulkan tubuh mereka beberapa tombak mendekati para korban.

Tiga orang dari mereka, menggunakan dayung tersebut untuk mencungkil di ujung ujung, dan di bagian tengah perahu yang terbalik. Daya cungkil yang luarbiasa kuatnya mengangkat perahu panjang tersebut sekitar tiga kaki di udara, menumpahkan air yang memasukki perahu dan mendarat dengan posisi tepat seperti dibalikkan oleh tangan. Ketika perahu tersebut masih menumpahkan air, tubuh tiga orang tersebut sudah bergerak menuju perahu lain yang masih terbalik dan dengan gerakkan kilat mereka mengulang hal yang sama.

Sedangkan dua orang lain menggunakan dayung yang mereka pegang untuk mengungkit korban yang tenggelam, yang kemudian melayang persis ke perahu yang sudah tidak terbalik. Kecekatan mereka bekerja, ketepatan waktu dan keserasian kerja sama mereka belum lagi penggunaan tenaga yang pas benar benar merupakan suatu pertunjukkan kemampuan yang luar biasa. Mau tidak mau timbul kekaguman dihati Mo Tian Siansu, ia paham pekerjaan itu walau kelihatan mudah sebetulnya suatu perbuatan yang sukar sekali.

Ketika perahu tersebut sudah dalam keadaan terapung kembali, arus sungai telah merubah posisinya, toh mereka dapat memperhitungkannya dengan tepat, ungkitan para korban melayang ke perahu tersebut, mendarat dengan perlahan dan tidak ada satupun yang meleset. Dalam sekejap puluhan korban telah berhasil mereka selamatkan, tubuh lima orang itu menggunakan cara yang sama kembali melayang ke kapal berukuran besar tersebut. Mo Tian Siansu menghela napas, sambil menahan sakitnya ia mengerahkan ginkangnya, dibantu dengan potongan ranting kecil melayang turun di sebelah Khu Han Beng yang memandangnya dengan pandangan bertanya.

“Omitohud! Pinceng tidak tahu siapa mereka, hanya ginkang mereka sudah mencapai tingkatan tertinggi, tataran ‘lari diatas rumput'” Ujar Mo Tian Siansu dengan nada kagum.

Satu orang saja yang mencapai tingkatan itu sudah sukar dicari. Dari kapal tersebut malah muncul lima orang, entah dari golongan mana mereka? Matanya menatap kapal tersebut yang melaju cepat walau melawan arus melewati mereka. Posisi kapal tersebut jauh di tengah sungai sehingga Mo Tian Siansu tidak dapat melihat raut wajah mereka, hanya ia dapat melihat puluhan orang berdiri di ajungan kapal.

“Yang kuherankan, kenapa susiok mendadak berubah pikiran hendak menolong mereka?”

Sambil tersenyum Mo Tian Siansu menjawab:

“Yang hendak kutolong adalah korban yang jatuh disebabkan kapal itu. Korban tersebut tidak berhubungan dengan adat istiadat, maka wajib bagi kita untuk menolong”

Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian mengangguk menerima pendapat susioknya. Sambil ikut tersenyum ia berkata:

“Kukira mereka datang dari luar Tionggoan”

“Kenapa kau menduga begitu?” “Susunan layar di tiga tiang kapal tersebut seperti gambar yang pernah kulihat disebuah buku, jelas menunjukkan sebuah kapal laut. Lagipula mereka menolong semua orang, nampaknya mereka tidak mengetahui adat istiadat di daratan Tionggoan”

Mo Tian Siansu berseru kaget.

Perhitungan Khu Han Beng bukan tidak mungkin, apakah mereka rombongan dari Lamhaybun? Ditinjau dari kemampuan lima orang tersebut bukan hal yang tidak mungkin pikirnya dalam hati dengan jantung berdebar debar.

Ia menatap Khu Han Beng dengan kagum, ia benar benar tidak menyangka kecerdasan daya pikir bocah ini. Selain pintar, pengetahuan dari hasil baca bukunya juga luas. Yang dipandang, sedang memandang kapal laut tersebut dengan dahi berkerut.

“Ternyata memang benar ada” gumam Khu Han Beng dengan nada tertahan.

“Apanya yang ada?” tanya Mo Tian Siansu heran.

Khu Han Beng menatap susioknya sejenak, kemudian katanya perlahan:

“Kukira tadinya semua orang mempunyai mata berwarna malam, ternyata bukan sebuah dongeng mata seseorang mirip sehelai daun”

Mo Tian Siansu mengangguk sekenanya, ia tidak begitu mengerti ujung pangkal ucapan bocah itu yang terdengar janggal. Matanya beralih memandang Kapal laut tersebut yang berlayar kian menjauh sehingga terlihat semakin mengecil.

Yang Mo Tian Siansu dan Khu Han Beng tidak ketahui, ternyata di kapal laut itu pun terjadi sebuah percakapan.

“Tidak rendah ginkang hweesio tua itu” ujar si kurus pendek berkepala botak, salah satu dari lima orang yang menolong para korban.

“Ditilik dari pakaiannya tentu seorang tokoh Siaulimpay” terdengar suara merdu, berartikulasi menjawab. Sikurus pendek menatap siocianya yang masih berusia muda sekali, bertubuh tinggi semampai, berjari lentik, kulit tangannya putih halus kemerahan seperti memancarkan cahaya lembut. Sayang sebagian mukanya tertutup cadar, sebuah cadar yang berwarna hijau.

“Pantas, dia berkemampuan hebat”

“Yaa, memang lumayan” jawab gadis bercadar hijau itu tawar.

“Yaa, dibandingkan siocia, tentu saja kepandaiannya tidak berarti” Sigadis bercadar hijau yang dipanggil siocia oleh si kurus pendek seperti menghela napas, kemudian mengatakan sesuatu yang terdengar janggal:

“Justru bocah tanggung disampingnya itu yang mungkin harus diperhitungkan kemampuannya”

“Maksudmu? Masakkan bocah itu memiliki kepandaian yang lebih hebat dari Hweesio Siaulimpay?” tanya si kurus pendek dengan nada heran.

“Di pinggiran sungai becek dan basah, sepatu hweesio itupun nampak terciprat dan terendam lumpur justru sepatu bocah itu nampak masih bersih seperti baru disemir. Sepatunya tidak terendam becek melainkan ia dapat berdiri seenaknya di atas permukaan lumpur tanpa bergerak. Hanya ginkang yang sudah mencapai tataran ‘ringan tiada beban, lenggang tanpa rintang’ yang dapat melakukan hal itu. Suatu tingkatan yang lebih tinggi dari ‘lari diatas rumput’.”

Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan dengan menggumam perlahan:
“Benar benar diluar dugaanku, di Tionggoan ada yang sudah mencapai tataran ini, apalagi hanya seorang bocah. Sayang dia sedang menengok kesamping,aku tidak sempat melihat wajahnya”

Si kurus pendek cukup kenal sifat Siocianya yang hampir tidak pernah memuji orang. Jika bocah itu sampai dipuji, hal itu saja sudah diluar dari kebiasaan. Tak terasa ia menatap dengan terkesima. Siocianya terlihat termenung, keningnya berkerut, matanya yang mencerminkan kecerdasan yang luar biasa, nampak mencorong tajam. Sepasang mata yang bergemelapan indah seperti embun di atas daun yang tertimpa cahaya matahari. Sepasang mata yang berwarna hijau… mirip sehelai daun segar.

ooooo0000ooooo

MALAM HARI CAKRAWALA TIDAK CERAH.

Langit gelap diselimuti oleh awan, tidak nampak sinar bulan atau cahaya bintang yang biasanya bertaburan. Di pinggiran sebuah tebing batu yang menjulang tinggi, Mo Tian Siansu yang tertidur dalam posisi bersila, perlahan membuka matanya. Ia terbangun bukan disebabkan dinginnya angin malam yang berhembus kencang, melainkan ia terjaga dikarenakan mendengar suara isakkan tertahan. Dengan tatapan penuh kasih ia menatap Khu Han Beng yang berbaring tidur di sebelah api unggun.

Kebetulan wajah bocah itu menghadap ke arahnya, wajah yang biasanya mencerminkan keteguhan hati entah kenapa saat ini mengandung kesedihan hati. Mo Tian Siansu dapat melihat linangan air yang menetes dari mata bocah itu. Menyaksikan Khu Han Beng menangis di dalam tidurnya, rasa haru memenuhi rongga hati Mo Tian Siansu. Dalam beberapa hari mereka menempuh perjalanan, lebih dari satu kali Mo Tian Siansu mendengar Khu Han Beng mengigau dalam tidurnya. Kadang bocah ini menyebut yayanya, acap kali ia menyebut ayah ibunya di dalam mimpi. Pernah ia mencoba bertanya apa gerangan yang diimpikan oleh Khu Han Beng tapi bocah itu hanya diam saja, enggan menjawab. Walau bergaul belum cukup lama, Mo Tian Siansu cukup mengetahui bocah ini tidak gemar berbicara, tetapi ketika berbicara juga tidak mirip bicara seorang bocah! Teringat oleh Mo Tian Siansu ketika bermalam di pinggir sungai tempo hari, bocah itu seperti terpekur menatap bulan yang saat itu berbentuk sabit sambil menyantap bekal makanan.

“Apa yang sedang kau lamunkan?” tanya Mo Tian Siansu memecah keheningan.

Khu Han Beng menatap susioknya sejenak, kemudian menjawab:

“Aku sedang memikirkan satu hal yang kuanggap rada janggal”

“Hal apa?”

“Kadang bulan berbentuk purnama dan kadang berbentuk sabit seperti sekarang, kuheran apa yang menyebabnya berubah sedemikian rupa”

Diam diam Mo Tian Siansu terhenyak heran. Dia yang jauh lebih tua, lebih sering melihat perubahan itu malah tidak pernah berpikir mengenai hal itu.

“Omitohud! Pinceng tidak tahu apa penyebabnya tapi pinceng pikir, itulah kekuasaan Thian yang Maha Besar” jawab Mo Tian Siansu sedapatnya.

Khu Han Beng mengangguk tak acuh, mendadak matanya seperti mengeluarkan kilatan cahaya aneh. Ujarnya perlahan: “Mungkin bentuk bulan itu tidak berubah, hanya terlihat berbentuk sabit karena ditutupi oleh bayangan bumi itu sendiri yang berbentuk bulat”

“Darimana kau tahu bumi berbentuk bulat?” seru Mo Tian Siansu heran. Agak ragu Khu Han Beng menjawab: “Aku tidak tahu, hanya pernah kubaca sebuah kitab kuno yang menyatakan bumi seperti bagian telur yang kuning berbentuk bulat” “Omitohud! Permukaan bumi nan luas sekali, rasanya janggal sekali jika penulis kitab itu mengetahui bentuk bulat bumi seperti kuning telur”

“Yaa, isi kitab itu memang rada aneh. Malah ada halaman lain yang menyebutkan cara membuat alat untuk mendeteksi gempa”

“Apakah kitab itu ditulis oleh Zhang Heng?” tanya Mo Tian Siansu tertarik.

Khu Han Beng mengangguk, “Apakah ia sangat terkenal?” katanya berbalik tanya.

Tak terasa Mo Tian Siansu menarik napas dalam dalam, katanya:

“Dia adalah penasehat andalan kaisar di jaman dinasti Han. Walau sekarang tidak banyak orang yang mengenal namanya, tapi tidak sedikit orang yang telah ia selamatkan dari bencana gempa melalui alat buatannya”

Selesai berkata, Mo Tian Siansu menatap Khu Han Beng dengan tatapan kagum. Ia benar benar tidak menyangka bocah ini pernah membaca karya tulis Zhang Heng!

“Darimana kau peroleh kitab langka itu?”

“Kubeli dari sebuah toko buku” jawab Khu Han Beng singkat.

Igauan Khu Han Beng yang menggumam tidak jelas, menyadarkan Mo Tian Siansu dari renungannya. Tak terasa ia menarik napas dalam dalam sambil memerhatikan bulan yang telah menampakkan diri dan menerangi jagad raya dengan cahayanya yang lembut. Ia tahu dari posisi bulan yang miring, hari sudah menjelang subuh. Mo Tian Siansu merapatkan jubahnya, malam yang cerah di musim gugur, entah kenapa biasanya jauh lebih dingin dibanding malam yang berawan. Setelah menghela napas, kembali ia melirik ke wajah Khu Han Beng yang masih tertidur.

Nampak air mata bocah itu sudah mengering, terlihat bola matanya yang bergerak gerak cepat dibalik kelopaknya. Hanya raut wajahnya tetap tidak berubah, tetap seperti mengandung kedukaan yang dalam. Memang ada segelincir orang yang mampu menyembunyikan perasaan batinnya sehingga tidak terlihat di wajahnya. Hampir mustahil bagi orang lain untuk mengetahui apakah ia sedang marah, gembira, atau sedang sedih.

Semuda ini, Khu Han Beng sepertinya sudah mampu melakukan hal demikian. Hanya betapa pun hebatnya seseorang menguasai perubahan wajahnya, ekspresi wajah seseorang ketika sedang tidur tidak mungkin berbohong. Eskpresi wajah Khu Han Beng ketika sedang tidur dapat mencerminkan perasaan batin yang sebenarnya. Mo Tian Siansu yakin ada sesuatu beban yang menekan dibatin bocah ini.

“Entah apa yang disedihkan bocah ini” gumam Mo Tian Siansu dengan hati terenyuh. Ia sangat menyukai Khu Han Beng, sayang tidak banyak yang ia dapat lakukan. Bocah itu selain jarang berbicara dan jika berbicara juga membicarakan hal yang umum hampir tidak pernah menceritakan perihal pribadinya.

Entah kenapa, sedikitnya setiap kali ada kesempatan Mo Tian Siansu berusaha untuk menyenangkan Khu Han Beng. Ada perasaan kuat yang mendorongnya untuk melakukan hal itu. Semacam insting untuk melindungi, mungkin timbul dikarenakan tidak sepatutnya bocah semuda ini tidur dengan muka muram, bahkan napasnya semakin lama semakin memburu kencang. “Yaya!”jerit Khu Han Beng yang tiba tiba terjaga dari tidurnya.

Terkejut Mo Tian Siansu melihat wajah Khu Han Beng yang pucat dihiasi butiran-butiran keringat sebesar jagung. Cepat ia menenangkan Khu Han Beng dengan suara halus.

“Kau sedang bermimpi…Hanya sebuah mimpi buruk, tidak lebih”

Khu Han Beng menatap susioknya dengan pandangan nanar. Jantungnya berdegup kencang, disela-sela napasnya yang terengah-engah, ia berkata dengan nada parau:

“Aku…Aku bermimpi tentang yaya-ku”

Hatinya tidak tenang, dia seperti mempunyai firasat ganjil. Jika terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa kakeknya, bukan saja ia akan kehilangan satu satunya anggota keluarga yang ia miliki. Ia pun tidak akan pernah mengetahui asal usulnya. Apapun juga, ia harus segera menyusul yaya-nya ke Po-Ting. Baru saja ia ingin mengutarakan niatnya, mendadak terdengar suara gemuruh yang pekak, tanah yang didudukinya bergetar keras. Khu Han Beng merasa tubuhnya terombang ambing seakan-akan sedang berada di atas sebuah perahu. Tanah yang di dudukinya berguncang hebat. Sebuah celah yang cukup lebar melata bergerak cepat merekah seperti ular membelah tanah di sebelah kirinya.

“Awas!” teriak Mo Tian Siansu kuatir. Khu Han Beng merasakan angin dingin mendesir dari atas kepalanya, ia mendongakkan dengan mata membelalak. Dari pantulan api unggun terlihat batuan-batuan sebesar rangkulan tangan jatuh dengan cepat mengarah ke dirinya. Mo Tian Siansu cepat mengumpulkan tenaga mengerahkan Siau Thian Sinkang, tiba-tiba ia mengeluarkan seruan lirih. Betapa terkejut ketika ia menyadari aliran tenaga sinkangnya seperti tetesan air, tidak deras seperti biasanya. Ia tahu luka dalamnya yang belum sembuh benar mempengaruhi Sinkangnya. Ia telah merasakan Sinkangnya menyusut banyak ketika mencoba menolong nelayan yang tenggelam. Tapi kali ini, tenaganya seperti hilang, seperti tenggelam di lautan yang dalam. Sambil menggertak gigi, tidak hanya menggunakan tangan, Mo Tian Siansu menggunakan bahunya untuk mendorong bongkahan batu yang jaraknya tinggal satu kaki dari tubuh Khu Han Beng.
“Buumm!”

Gumpalan darah segar keluar dari mulut Mo Tian Siansu, tubuhnya terhuyung ke belakang. Usahanya menyelematkan Khu Han Beng berhasil, bongkahan batu itu bergeser menimpa tumpukkan api unggun, mengeluarkan dentuman suara keras dan memadamkan penerangan.

Khu Han Beng melompat bangun, mendekati Mo Tian Siansu yang duduk terengah dengan tubuh gemetaran.
“Seharusnya susiok tidak perlu melakukan hal itu. Aku dapat menyelamatkan diri” kata Khu Han Beng dengan nada menyesal.
“Pin…ceng tidak mungkin membiarkan kau terluka” serak Mo Tian Siansu sambil tersenyum kemudian terkulai roboh.

Khu Han Beng tertegun, ia tidak begitu mengerti kenapa susioknya pingsan hanya karena memukul sebongkah batu. Setelah menyenderkan tubuh Mo Tian Siansu disebuah batu besar, ia melirik sekejap pada sekitarnya yang porak poranda seperti digaruk oleh tangan raksasa. Dengan ringan ia berloncatan diantara serakan bongkahan batu batu memasuki hutan yang tidak terlalu jauh. Ia perlu mencari kayu bakar untuk penerangan, mengganti bekas api unggun yang terpuruk. Baru beberapa ranting ia kumpulkan, pendengarannya yang tajam menangkap suara lirih desingan pedang yang ditarik dari sarungnya.

Seseorang berkedok hitam menghunus sebilah pedang, menyerang dari atas pohon mengancam jantung Mo Tian Siansu. Dengan kecepatan luar biasa, Khu Han Beng mengerahkan ginkangnya secepat mungkin. Melihat seorang bocah yang entah muncul darimana tahu-tahu berdiri diantara Mo Tian Siansu dan pedangnya, orang berkedok hitam itu tidak menghentikan tusukkannya malah menambah kecepatan ayunan pedangnya sambil menjengek:

“Biar kau ikut mampus sekalian”

Khu Han Beng dengan tenang menatap ujung pedang lawan yang mengancam ke arah dadanya. Ketika ujung pedang tinggal sejengkal jari, tiba tiba dengan gerakkan yang mudah diikuti pandangan mata, jari telunjuk Khu Han Beng menjentik perlahan.

Tiba-tiba seruan kaget keluar dari mulut si kedok hitam, berbareng matanya melotot terkejut bercampur ketakutan.
“Ting…! Kraak…!”

Bukan saja jentikkan jari bocah itu sangat tepat, bahkan mengandung daya dorong balik yang kuat luar biasa. Pedang orang berkedok hitam itu patah puluhan keping banyaknya dan mencelat kemana-mana, malah ada beberapa keping yang menancap di tubuhnya.

Tangan kanannya patah terdorong balik secara paksa oleh arus tenaga balik yang sukar dilukiskan kekuatannya. Sisa gagang pedang ditangannya terlepas, menancap pada sebuah pohon. Mimpi pun orang kedok hitam itu tidak menyangka bakal menderita kekalahan dalam satu gebrakkan saja, kekalahan semacam ini benar-benar suatu kejadian yang aneh dan sama sekali diluar dugaannya,

“Kau.,..kau seharusnya tidak menguasai ilmu silat?!” seru orang berkedok hitam itu dengan tercengang, takut bercampur kesakitan.

Dia paham sekali walau pedangnya bukan pedang mustika tapi dibuat dari baja pilihan. Dia sendiri yang memimpin proses pembuatan pedang tersebut. Selain dia memakai tenaga pengrajin besi yang paling ahli, juga dia memerlukan 42,990 kati baja pilihan hanya untuk membuat sebilah pedang!

Bisa dibayangkan betapa bingung dan ngeri perasaan hatinya melihat pedangnya patah berkeping-keping hanya disebabkan sebuah jentikkan jari. Jentikkan jari itu selain tidak cepat juga bukan ditujukan kepada batang pedang, melainkan tepat pada ujung pedang yang sedang menusuk melebihi kecepatan terbangnya seekor burung!

Khu Han Beng tidak menjawab hanya menatap orang berkedok hitam itu dengan dingin. Dengan jeritan jeri orang berkedok hitam itu mengerahkan ginkang melarikan diri. Baru ia melompat beberapa tindak, ia menghentikan gerakannya. Meremang bulu kuduk tubuhnya ketika melihat Khu Han Beng mendadak sudah berdiri enam langkah tepat di hadapannya. Cepat ia membalikan tubuh dan berlari sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia, kembali ia melihat Khu Han Beng menghadangnya.
“Apa yang hendak kau lakukan? Apakah kau hendak membunuhku…kenapa kau hendak membunuhku?” tanya orang itu dengan suara gemetar ketakutan.

“Bukankah kau tadi hendak membunuh orang?” tanya Khu Han Beng tiba tiba.

“Be…benar! “

“Bukankah tadi kau tidak menerangkan sebabnya” Orang berkedok hitam itu terdiam, sambil memegang tangannya yang patah meringis kesakitan.

Dengan nada hambar Khu Han Beng melanjutkan:

“Tidak seharusnya kau bertanya padaku”

Orang berkedok hitam itu gelisah bukan main ketika Khu Han Beng mendekati dirinya. Ia paham sukar sekali untuk meloloskan diri, cepat ia berteriak:
“Mo Tian Siansu keracunan! Aku tahu cara mengobatinya”

Khu Han Beng menghentikan langkahnya, ia berpikir sejenak sebelum berkata:
“Darimana kau tahu ia keracunan?”
“Coba kau pikirkan. Tidak mungkin seorang bhiksu sakti dari Siaulimpay muntah darah, hanya gara gara memukul sebongkah batu. Ia terluka disebabkan tenaga saktinya telah menyusut hilang terkena racun”

Rupanya orang berkedok hitam itu turut menyaksikan peristiwa tersebut. Khu Han Beng mendongakkan kepala, hanya tebing di atas yang cocok menjadi tempat persembunyian orang berkedok ini hingga lolos dari pengamatannya. Entah bagaimana cara orang ini lolos dari bencana gempa tadi.

Setelah termenung beberapa saat. Katanya perlahan:
“Sebagai imbalan kau ingin kubebaskan pergi”
“Benar”

Keringat dingin keluar dari tubuh orang berkedok hitam ketika melihat Khu Han Beng termenung tidak segera menjawab. Dengan nada gemetar ia bertanya:
“Masakkan kau enggan menolongnya?”
“Yaa, sebetulnya aku tidak terlalu ingin”
“Kau…?” seru orang berkedok hitam itu dengan heran berbareng terkejut. Bocah ini berjalan bersama dengan bhiksu itu jelas mempunyai hubungan yang tidak biasa. Sungguh diluar dugaannya bocah semuda ini memiliki hati yang tega.

“Jika ia tewas, urusanku tentu lebih mudah” gumam Khu Han Beng tak terasa. Ia bukan tidak mau menolong Mo Tin Siansu, hanya jika susioknya tewas ia akan dapat segera menyusul yaya-nya ke Po-Ting.

Orang berkedok hitam itu paham, jika Mo Tian Siansu tewas, dilihat dari ketegaan bocah ini jangan harap dirinya bisa selamat.

“Bukankah barusan ia telah menyelamatkan dirimu” bujuknya mengingatkan.

“Aku dapat menyelamatkan diri. Sebetulnya, ia tidak perlu menolongku” sesal Khu Han Beng sambil menghela napas. Hal inilah yang menimbulkan pertentangan di batin Khu Han Beng. Jika ia menolong susioknya, tentu akan menyita waktu yang tidak sebentar. Lagipula perasaanya mengatakan makin lama ia mengulur waktu, kakeknya lebih banyak celakanya daripada selamat. Jika ia pergi menyusul yaya-nya, Mo Tian Siansu tentu akan tewas. Urusan mana yang lebih penting? Urusan yang menyangkut hubungan darah, atau kewajiban menolong? Lama ia termenung. Urusan ini benar benar menyulitkannya untuk mengambil keputusan.

Lama mereka terdiam. orang berkedok hitam itu menggunakan kesempatan untuk mengikat tangannya yang patah.
“Baik! Kau boleh menyembuhkannya” akhirnya Khu Han Beng memutuskan.

Badan orang berkedok hitam itu seperti mengendur lega. Beriringan mereka kembali ke tempat Mo Tian Siansu bersender. Dengan agak ragu, orang berkedok hitam itu bertanya:
“Darimana kutahu kau akan membiarkanku pergi setelah mengobatinya?”
“Kau tidak tahu”
“Kuingin kau bersumpah”

Khu Han Beng seperti mengeluarkan suara tertawa tertahan, katanya:
“Tak kusangka kau masih percaya dengan sumpah yang tiada harganya”
“Kuingin kau bersumpah mengatas namakan ibumu” kata orang berkedok hitam itu sepatah demi sepatah.

Mendadak raut wajah Khu Han Beng berubah hebat. Dengan dingin ia berkata:
“Kau tidak perlu mengobatinya, dan tidak usah pergi. Sebaiknya kau mati saja”
“Kau…kau… tidak perlu bersumpah, aku akan mengobatinya sekarang juga” tukas orang berkedok hitam itu dengan nada kuatir.

Cukup lama Khu Han Beng memandang orang berkedok hitam itu dengan penuh selidik, sebelum akhirnya ia mengangguk perlahan. Diam diam orang berkedok hitam menarik napas lega, lekas ia mengeluarkan sebuah toples kecil dari saku dalamnya dan menuangkan satu butir pil berwarna merah yang langsung dijejalkan kemulut Mo Tian Siansu.

Rona hitam di wajah Mo Tian Siansu perlahan menghilang walau masih terlihat pucat. Pernapasannya masih berat, setelah ditunggu sekian lama ia masih belum sadarkan diri.
“Kenapa kondisinya masih belum membaik?”
“Aku hanya mampu menawarkan racunnya. Untuk luka dalamnya yang parah, kau harus membawanya ke sepasang tabib di gunung Pek Hoa-san”

Khu Han Beng menimbang ucapan orang berkedok hitam itu,kemudian katanya:
“Buka kedok mukamu!”

Orang berkedok hitam nampak enggan melakukan. Katanya:
“Tiada yang istimewa di wajahku, kenapa kau ingin melihatnya?”

Mendadak Tubuh Khu Han Beng berkelebat, dalam sekejap tangannya memegang kedok hitam dan toples kecil berisi obat anti racun. Orang itu ternyata seorang pemuda, berwajah tampan, berbibir tipis hanya sorot matanya yang terkesan licik nampak jelalatan ketakutan berbareng terkejut.

“Aku tidak melihat sesuatu yang luar biasa di wajahmu, kenapa kau enggan kulihat wajahmu?”
“Dia tidak mengenal diriku” jerit pemuda itu dalam hati. Hatinya lega bukan main. Cepat ia menjawab:
“Apakah kau benar benar tertarik ingin tahu urusan pribadiku?”

Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian katanya:
“Semestinya aku bertanya padamu, kenapa kau ingin membunuhnya? Kenapa kau mengetahui ia terkena racun bukan luka disebabkan gempa? Tetapi saat ini aku memang tiada waktu untuk mengurusmu. Suatu waktu aku tentu akan mencarimu. Kau boleh meninggalkan tempat ini”

Kembali pemuda itu menarik napas lega, tak tahan mulutnya menyungging senyuman:
“Sampai mampus kau tidak bakal dapat mencariku” cemoohnya dalam hati.

Seperti memahami arti senyuman pemuda itu, Khu Han Beng menukas perlahan:
“Aku yakin dapat mencarimu”
“Kau tidak kenal diriku, tidak tahu dimana aku tinggal, bagaimana kau dapat mencariku” tanya pemuda itu tidak tahan.
“Sebab kau telah salah ucap”
“Apa yang salah kuucapkan?”
“Tidak semestinya kau mengatakan aku seharusnya tidak mengerti silat”
“Maksudmu?”
“Walau aku tidak mengenalmu, kuyakin kau mengenalku. Kau mengenalku tidak bisa silat makanya kau mengatakan kata ‘seharusnya’. Sedikit yang mengenalku tidak bisa silat, sedangkan aku jarang sekali keluar kamar. Ruang lingkup mencarimu sangat terbatas. Makanya kuyakin pasti dapat menemukanmu”

Kembali sinar mata orang itu megeluarkan cahaya ketakutan.
“aku tidak berbohong di Pek Hoa-san benar benar ada tabib itu…”
“Yaa, kutahu kau mengatakan yang sebenarnya”

Pemuda itu menatap Khu Han Beng sejenak. Dengan agak ragu ia bertanya:
“Maukah kau kembalikan barangku?”

Pemuda itu menangkap kedok hitam miliknya yang dilempar oleh Khu Han Beng.
“Seingatku, toples kecil itu juga aku yang punya”
“tentu kau salah ingat” kata Khu Han Beng lembut.

Dengan jantung berdegup, pemuda itu berkata:
“Yaa, kuyakin tentu terjatuh di tengah jalan, kumohon diri untuk mencarinya”

Khu Han Beng memandang pemuda itu menghilang di telan kegelapan malam. Perlahan ia menoleh ke arah Mo Tian Siansu. Ia harus lekas membawa susioknya ke gunung Pek Hoa-san.

Tiba-tiba ia tertegun, baru teringat olehnya dia tidak tahu lokasi gunung itu. Bagaimanapun juga ia kurang pengalaman, ia lupa bertanya pada pemuda itu. Dahinya berkerut, ia berpikir keras mencoba mengingat buku yang mengandung peta Tionggoan yang pernah dibacanya. Setelah mengira-ngira lokasinya sekarang, perasaannya mengatakan untuk menuju ke Pek Hoa-san ia harus menempuh arah ke Barat.

Khu Han Beng memandang langit yang kembali mendung gelap tanpa cahaya bulan maupun bintang yang bisa menunjukkan arah. Ia mulai mengomeli dirinya, tadi ia benar-benar tidak memperhatikan arah terbenamnya matahari. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Menunggu hingga datangnya pagi baru menempuh perjalanan? Ditilik dari kondisi Mo Tian Siansu yang parah, Khu Han Beng menyadari ia tidak boleh membuang waktu.

Mendadak ia membungkukkan badan memunguti beberapa potong pecahan pedang. Kedua tangannya meremas, kemudian memilin seperti menggenggam nasi lunak yang baru saja matang. Sungguh mengagumkan, potongan potongan pedang yang terbuat dari baja terlebur menjadi satu. Berbentuk seperti sebuah sendok makan dimana bagian ujung atasnya meruncing. Khu Han Beng memilih sebuah batu ukuran segenggam tangan yang tidak terlalu besar.

Kembali ia mengerahkan tenaga saktinya memapas dengan sisi tapak tangannya bagian atas permukaan batu hingga menjadi licin seperti telah dibilah oleh pedang tajam. Dari kantung makanannya, ia mengeluarkan sepotong daging kering dan mengeluarkan hawa yang-kang hingga lemak daging tersebut menetes dibagian licin permukaan batu. Dengan hati-hati ia meletakkan sendok baja itu diatas cairan lemak. Nampak sendok baja itu bergerak memutar perlahan kemudian berhenti. Khu Han Beng tersenyum senang, dari buku yang pernah dibacanya, ia paham ujung runcing yang melengkung dari sendok baja itu akan selalu menunjuk arah selatan.

Lekas ia memasukkan batu dan potongan baja itu ke sakunya dan memanggul tubuh Mo Tian Siansu hendak diletakkannya diatas pelana kuda. Lagi lagi ia tertegun, kembali ia kecolongan. Kedua tunggangannya telah menggeletak mati dengan leher tertembus pedang, nampak sisi lehernya jebol beruaran, berlobang sebesar mangkuk. Nampaknya pemuda itu seorang pembunuh yang berpengalaman. Sebelum membunuh korbannya, telah lebih dahulu menutup jalan keluar calon korbannya. Mulut Khu Han Beng bersuit nyaring yang menggetarkan tebing sekitarnya. Ia telah mengerahkan hawa murni untuk mengitari tubuhnya belasan kali, kemudian dengan memikul Mo Tian Siansu, tubuhnya melesat secepat terbang, hilang ditelan kegelapan malam menuju arah barat.

oooooOOOOooooo

Baca di wattpad

Bersambung