Alunan Pedang Hati

Alunan Pedang Hati
Penulis: FiksiFantasiAdi
Adalah aturan dari sebuah kerajaan besar yang bernama Negeri Meanda, bahwa apabila pemimpin tertinggi kerajaan dipegang oleh seorang wanita yang belum bersuami, maka ia tidak dapat berjodoh dengan seorang lelaki dari golongan rakyat biasa.
Dulu, ketika Ratu Naila memimpin Negeri Meanda, wanita itu memilih meninggalkan tahtanya demi membentuk rumah tangga bersama dengan lelaki yang dicintainya. Lelaki yang berasal dari rakyat jelata.
Kini, Ratu Delana dihadapkan pada dilema yang sama seperti yang pernah dihadapi oleh Ratu Naila. Akankah Ratu Delana meninggalkan tahta kerajaan demi orang yang dicintainya?
Prolog
Alunan Pedang Hati adalah cerita pada sebuah kerajaan dimana kekuasaan berada di ujung tajamnya sebilah mata pedang. Kekuasaan didasarkan atas ketangguhan dari para petarung-petarung pedang yang dimiliki. Siapa yang memiliki petarung-petarung yang kuat, dialah yang akan berkuasa.
Melalui ketangguhan para petarung-petarung pedang yang dimiliki penguasa, kedamaian diwujudkan melalui jalan kekerasan. Kekerasan digunakan untuk membendung dan menghapus segala permusuhan. Ketenangan dan kedamaian akhirnya tercipta dibalik tekanan dan ancaman.
Namun demikian, tidak selamanya kekerasan mampu mempertahankan ketenangan dan kedamaian. Tidak selamanya pihak yang tertindas akan tinggal diam dan bertahan dalam belenggu ancaman dan tekanan.
Para pendekar pedang yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang pada sesama manusia berusaha meruntuhkan tirani kekuasaan demi mewujudkan kedamaian sejati. Berusaha mencapai kedamaian walau harus menenpuh jalan yang berliku dan penuh pengorbanan.
Mampukah cinta yang mengalir pada tajamnya mata pedang menghapus belenggu kekerasan? Ataukah justru melahirkan tekanan dan ancaman baru terhadap kedamaian?
* * * * * * * * * * * * * *
“Alunan Pedang Hati adalah cerita tentang suka dukanya atau pasang surutnya perjalanan hidup para pendekar pedang yang tengah diliputi rasa cinta terhadap seseorang, yang juga tengah berusaha menegakkan keadilan”.
Seseorang yang mampu mempergunakan pedang dengan baik, dalam cerita ini disebut dengan petarung. Jadi, kalau dalam cerita ini menyebutkan kata “petarung” untuk menyebutkan seseorang, maka orang itu adalah seorang pendekar yang mahir menggunakan pedang. Saya tidak menggunakan kata pendekar, jadi kata pendekar ini saya ganti dengan petarung. Harap maklum.
Cerita ini terjadi pada jaman dulu kala. Jaman selagi belum ada teknologi seperti kendaraan bermotor, telekomunikasi digital, komputer, senjata api dan lain-lain. Hanya mengenal kuda dan kereta kuda sebagai sarang transpostasi. Telah mengenal kertas dan alat tulis sederhana, tapi tidak mengenal pengiriman pesan berupa surat yang dikirimkan menggunakan burung atau binatang. Surat dibawa oleh manusia yang berperan sebagai pengantar surat.
Tidak mengenal mesiu. Jadi tidak akan dijumpai senjata api atau senapan dan meriam. Tidak ada telepon, televisi dan radio, juga tidak ada listrik. Tapi bukan juga jaman primitif. Anggap saja seperti jaman kerajaan tempo dulu.
Cerita ini terjadi pada sebuah dunia antah berantah. Dunia yang tidak ada secara nyata dalam kehidupan kita. Dunia cerita yang hanya ada dalam imajinasi atau dunia yang tercipta berdasarkan hayalan saja. Alam fiktif lebih tepatnya.
Pengantar Cerita
Kerajaan adalah penguasa wilayah yang biasanya menguasai atas tiga hingga lima kota. Di bawah penguasaan kerajaan, kota-kota dalam suatu kerajaan juga menjadi penguasa wilayah yang lebih kecil atas desa-desa di sekitar kota tersebut.
Berbeda halnya dengan sebuah Negeri. Negeri adalah penguasa wilayah besar yang ukuran wilayahnya mencakup paling sedikit dua kerajaan. Atau dengan kata lain, Negeri akan terbentuk dari dua kerajaan yang bergabung menjadi satu. Negeri tidak hanya terbentuk dari penggabungan saja, dengan menjatuhkan dan menguasai kerajaan lain, sebuah kerajaan dapat mendaulatkan dirinya menjadi sebuah Negeri.
Negeri Meanda adalah kerajaan yang berada di pesisir laut Warabi yang memiliki wilayah kekuasaan sebesar gabungan lebih dari delapan kerajaan. Negeri Meanda adalah kerajaan besar yang diperhitungkan dan ditakuti oleh kerajaan-kerajaan maupun Negeri-negeri lain di sekitarnya.
Kerajaan Grandia dan Kerajaan Tanukus adalah dua kerajaan yang berbatasan langsung dengan Negeri Meanda dipesisir laut Warabi. Kedua kerajaan itu kini telah menjadi bagian dari kekuasaan Negeri Meanda. (Kalau pernah membaca cerita Pewaris Terakhir dan Pejuang-Pejuang Cinta di facebook saya, kedua kerajaan itu dulunya berdiri sendiri).
Pemimpin tertinggi Negeri Meanda pada saat ini berada di tangan Ratu Delana. Ratu Delana adalah seorang gadis yang pada saat cerita ini dimulai telah berusia 19 tahun. Ratu Delana diangkat menjadi Ratu menggantikan ayahnya ketika dia berusia 18 tahun.
Raja Zaulan, ayah dari Ratu Delana, meninggalkan tahta kerajaan karena tewas terbunuh setahun yang lalu. Pelaku pembunuhan atas Raja Zaulan, hingga saat ini masih tidak diketahui.
Sebelum Negeri Meanda dipimpin oleh Raja Zaulan, Negeri Meanda dipimpin oleh Raja Reiji. Raja Reiji dengan Raja Zaulan bersaudara sepupu. Keduanya adalah cucu dari Ratu Naila.
Ratu Naila adalah pemimpin tertinggi pertama di Negeri Meanda yang berjenis kelamin wanita. Ratu Delana kemudian menjadi orang kedua dari golongan wanita yang memimpin Negeri Meanda. Naila menjadi Ratu di usia yang lebih muda dibanding Delana, 16 tahun.
Raja Zaulan menjadi pemimpin Negeri Meanda setelah berhasil menghentikan pertikaian berdarah antara dua kakak beradik Raja Reiji dan Reila. Pertikian antara kakak beradik Reiji dan Reila bermula ketika Reila berusaha menjatuhkan kepimpinan Raja Reiji yang dianggap begis, kejam dan arogan. Reila menilai bahwa rakyat Meanda hidup dalam kesengsaraan selama masa pemerintahan Raja Reiji.
Pertikaian antara Reiji dan Reila berlangsung sengit selama beberapa tahun lamanya. Keduanya menggunakan jalan kekerasan dengan saling membunuh pengikut mereka satu sama lain. Bukan hanya kedua kubu yang bertikai saja yang menjadi korban, tapi rakyat Negeri Meanda juga terkena imbasnya. Pembunuhan terjadi di sana-sini tanpa memandang terlibat dan tidaknya dalam pertikaian. Selain upaya untuk saling menjatuhkan, jalannya roda pemerintahan akhirnya menjadi terabaikan. Negeri Meanda akhirnya berada dalam kekacauan dan keterpurukan.
Demi mengatasi kekacauan, dengan menggunakan cara kekerasan pula, Zaulan muncul sebagai penengah dalam perseteruan antara Reiji dan Reila. Sebagai pihak yang berusaha menengahi, Zaulan ternyata mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak dan rakyatnya untuk memimpin Negeri Meanda.
Zaulan akhirnya dinobatkan menjadi Raja Negeri Meanda menggantikan Reiji ketika dia berhasil mengalahkan kedua kubu yang saling bertikai. Oleh Raja Zaulan, Reiji dan Reila diasingkan ke tempat terpencil yang terisolir dari keramaian sebagai hukuman karena telah mendatangkan kesengsaraan bagi rakyat Meanda.
Mengingat jasa yang pernah diberikan oleh Reiji dan Reila pada Negeri Meanda dan demi meredakan perseteruan lanjutan di kemudian hari, pengikut terbaik dari kedua kubu yang memiliki kemampuan khusus dalam pemerintahan, mendapat kepercayaan oleh Raja Zaulan untuk berpartisipasi dalam roda pemerintah Negeri Meanda.
Semenjak saat itulah Negeri Meanda mengenal adanya kelompok khusus yang mendampingi raja memimpin Negeri Meanda. Kelompok khusus itu disebut dengan fraksi. Beberapa orang perwakilan dari Fraksi Reiji dan Reila mendapat tempat khusus di pemerintahan Raja Zaulan untuk bersama-sama membuat keputusan penting demi berlangsungnya pemerintahan Negeri Meanda yang kuat.
Pertemuan Agung Dewan Kerajaan Negeri Meanda kini tidak hanya dihadiri oleh orang-orang dari pihak yang berkuasa saja, Fraksi Reiji dan Fraksi Reila juga mendapatkan tempat untuk mengabdikan diri mereka bagi kesejahteraan dan kemakmuran Negeri Meanda. Dengan perubahan sistem pemerintahan ini, persaingan antara kedua fraksi yang bertentangan akhirnya menjadi persaingain yang sehat yang berujung pada kemajuan Negeri Meanda.
Delapan tahun kepemimpinannya, atau dua setengah tahun sebelum Raja Zaulan tewas terbunuh, Negeri Meanda berada dalam kemakmuran. Namun, dibalik kemakmuran yang diperoleh tersebut, isu mengenai terangkatnya kembali pertikaian berdarah antara fraksi Reiji dan Fraksi Reila, mulai merebak di masyarakat. Isu tersebut mulai memanas setelah terjadinya pembunuhan-pembunuhan secara misterius yang menimpa pada orang-orang penting tertentu. Lebih sering menimpa pada pengikut Fraksi Reiji dan Fraksi Reila.
Pelaku pembunuhan secara misterius tersebut, diduga didalangi oleh masing-masing kedua Fraksi yang dulunya pernah bertikai tersebut. Raja Zaulan menduga, pelaku pembunuhan itu dilakukan oleh petarung-petarung bayaran. Dilakukan oleh petarung-petarung terbaik yang memang dibayar untuk melakukan pembunuhan secara sembunyi-sembunyi.
Kepanikan di masyarakat atas kemunculan para pembunuh bayaran tersebut semakin menjadi-jadi setelah Reiji dan Reila sama-sama terbunuh di pengasingan mereka. Walaupun keduanya terbunuh tidak terjadi pada saat yang bersamaan, namun peristiwa ini semakin meresahkan karena para pembunuh bayaran semakin menjadi sosok yang menakutkan bagi siapa saja.
Ternyata, bukan hanya menimpa pada kedua Fraksi yang bertikai saja, namun aksi sadis para pembunuh bayaran tersebut diduga telah melebar pada sisi kehidupan lainnya. Orang-orang penting tertentu di kalangan masyarakat biasa, ternyata juga menjadi korban pembunuhan.
Demi menghentikan merajalelanya tingkah para pembunuh bayaran tersebut, satu tahun sebelum kematiannya, Raja Zaulan menunjuk tiga orang petarung terbaiknya untuk menjadi penyelidik atas petarung tertentu yang diduga sebagai pelaku pembunuh bayaran. Tidak hanya menyelidiki saja, petarung yang ditunjuk Raja Zaulan tersebut, juga sekaligus mendapat kepercayaan untuk langsung memberikan hukuman terhadap petarung yang diyakini memang berperan sebagai pembunuh bayaran atas peristiwa kematian dari seseorang.
Tiga orang petarung terbaik yang dipercaya oleh Raja Zaulan sebagai penyelidik dan pemberi hukuman tersebut kemudian dinobatkan namanya menjadi BANTAI. Selama setengah tahun setelah adanya Bantai, isu pertikaian menggunakan pembunuh bayaran tersembunyi antara Fraksi Reila dan Fraksi Reiji mereda. Pembunuhan-pembunuhan secara diam-diam terhadap orang-orang tertentu telah menjadi jauh berkurang. Bantai dianggap berhasil meredam tingkah para pembunuh bayaran yang membabibuta membunuh siapa saja berdasar keinginan pengguna jasanya. Kekuatan Bantai milik Raja Zaulan mulai diakui kehebatannya oleh masyarakat luas. Bantai menjadi tokoh idola dan idaman bagi para petarung lainnya.
Walaupun berhasil meredakan ketegangan antar dua Fraksi yang bertikai dan pembunuh bayaran, namun kehadiran Bantai tersebut memunculkan masalah baru di Negeri Meanda. Kehebatan para Bantai dalam pertarungan dijadikan ajang untuk menguji kekuatan para petarung lainnya. Keributan di tengah masyarakat, mulai diciptakan oleh petarung-petarung tertentu demi memancing Bantai keluar dari istana untuk menghadapinya.
Menjelang hari kematian Raja Zaulan, dua Bantainya telah terbunuh dalam aksi meredakan kerusuhan di masyarakat yang disebabkan oleh petarung yang tidak bertanggung jawab. Dalam rangkaian penunjukkan petarung terbaik yang akan dinobatkan menjadi Bantai pengganti yang telah terbunuh, Raja Zaulan justru terbunuh secara misterius di tempat kediamannya.
Ratu Delana akhirnya dinobatkan menjadi pemimpin Negeri Meanda menggantikan ayahnya. Demi mengungkap kematian ayahnya, dan demi meredakan kekacauan akibat petarung-petarung yang berniat menguji kemampuan Bantai, Ratu Delana akhirnya menobatkan lima orang petarung terbaik yang terpercaya untuk menjadi Bantai.
Oleh Ratu Delana, kelima Bantai tersebut kemudian mendapat tempat terhormat sebagai orang yang diberikan keleluasaan besar dalam menegakkan keadilan. Lima Bantai tidak hanya dijadikan penyelidik dan pelaksana hukuman mati atas para tersangka tertentu, namun Bantai juga digunakan oleh Ratu Delana sebagai orang yang dipercaya untuk mengatasi masalah tertentu yang dianggap mengganggu dan terjadi di lingkungan masyarakat Negeri Meanda.
Kesohoran akan kehebatan kemampuan Bantai tidak hanya merebak di kalangan rakyat Negeri Meanda saja, namun menyebar pada kerajaan dan negeri lainnya. Petarung-petarung terbaik dari berbagai penjuru daerah akhirnya berdatangan ke Negeri Meanda untuk beradu kekuatan dengan Bantai Negeri Meanda. Pertarungan mereka itu hanya ditujukan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat diantara mereka.
Bantai yang memiliki kebebasan untuk bertindak berdasarkan pertimbangannya sendiri, diyakini oleh Fraksi Reiji dan Reila sebagai jabatan yang sangat menguntungkan terhadap kepentingan tertentu. Kedua Fraksi tersebut akhirnya diduga berlomba untuk menempatkan petarung-petarung terbaiknya untuk menjadi seorang Bantai.
Untuk mendapatkan tempat menjadi Bantai, Bantai yang telah ada berusaha disingkirkan oleh kedua Fraksi tersebut. Tidak hanya mendapat ancaman dari petarung lainnya, kelima Bantai Meanda harus menghadapi persaingan diantara petarung terbaik yang akan ditempatkan menggantikan mereka. Bantai akhirnya dihadapkan pada ujian-ujian besar terhadap keselamatan mereka sendiri.
Setelah satu tahun memimpin Negeri Meanda, pada saat cerita Alunan Pedang Hati ini dimulai, Ratu Delana kini kehilangan dua Bantainya dan tengah berusaha menunjuk petarung terbaik lainnya untuk dijadikan Bantai.
Dengan demikian, “Alunan Pedang Hati Episode 1. Rivari, Bantai Ternoda”, dimulai.
Episode 1. Rivari, Bantai Ternoda
Bagian 1. Pencalonan
Sore hari di Mewata. Ibukota kerajaan dari Negeri Meanda tengah berselimutkan gerimis tipis.
Di tengah rintik-rintik hujan, derap langkah tidak seirama delapan orang lelaki semakin mendekati gerbang Istana Mewata. Tidak peduli pada pada jubah mereka yang semakin basah, tidak peduli pada pandangan kagum warga kota Mewata yang berdiri kaku di pinggir jalan yang mereka lintasi, delapan orang itu terus melangkah penuh percaya diri.
Warga kota yang masih berada di tengah jalan yang akan dilintasi delapan orang itu, segera menyingkir ke sisi jalan. Warga diam sejenak menantikan kedelapan orang berjubah berlalu. Tidak ada satupun warga yang berani menjadi penghalang. Mereka semua merasa gentar akan aura kebesaran orang-orang berjubah tersebut.
Di akhir iring-iringan delapan lelaki, tiga kereta bak terbuka yang ditarik oleh kuda, bergerak perlahan mengikuti. Di dalam masing-masing bak kereta yang dapat terlihat isinya dari luar tersebut, terbujur tubuh tidak bernyawa yang tertutup oleh kain.
Diantara delapan lelaki yang melintas, enam diantaranya menggunakan seragam yang sama. Mengenakan baju tebal hitam kemerahan berlapiskan jubah bertudung berwarna gelap abu-bau tua. Di pinggang mereka terselip pedang panjang yang sama pula. Mereka yang berseragam yang sama ini adalah Pasukan Khusus Istana Mewata. Pasukan penegak keadilan, pasukan penjaga pertahanan dan keamanan terbaik milik Negeri Meanda.
Seorang di antara tiga orang yang melangkah paling depan, orang yang diapit oleh dua anggota Pasukan Khusus Istana Mewata, walaupun mengenakan jubah yang sama dengan yang lainnya, namun pakaian di dalamnya sedikit berbeda. Warna dasar bajunya sama dengan yang lainnya, hitam kemerahan. Namun, baju itu dihiasi pernah-pernik garis-garis merah mencolok yang membuat pakaiannya lebih mewah dari yang lainnya. Memiliki pangkat lebih tinggi dari lainnya. Pedang yang terselip di pingganggnya pun berbeda.
Orang yang berbeda itu adalah seorang Bantai. Dia adalah orang yang ditunjuk dan dinobatkan langsung oleh pemimpin tertinggi Negeri Meanda, orang yang mendapatkan kepercayaan yang besar untuk mengemban tugas khusus dalam menegakkan keadilan di Negeri Meanda.
Pemimpin tertinggi Negeri Meanda hanya akan memberikan jabatan dan gelar Bantai pada seseorang, jika seseorang itu memiliki kekuatan, kemampuan dan ketangguhan dalam pertarungan yang terbaik dari yang terbaik. Karena gelar Bantai tersebut hanya akan diberikan pada petarung yang terkuat di Negeri Meanda, maka Bantai menjadi simbol kekuatan Negeri Meanda.
Di belakang dari tiga orang yang melangkah paling depan, berjalan seorang diri lelaki termuda dari delapan lelaki lainnya. Walaupun mengenakan jubah abu tua gelap yang sama dengan yang lainnya, namun lelaki termuda itu tidak mengenakan pakaian seragam kebesaran Pasukan Khusus Istana Mewata. Dia mengenakan pakaian biasa sebagaimana layaknya warga kota lainnya.
Lelaki termuda itu menjadi perhatian kedua dari segenap masyarakat kota Mewata yang berdiri berjejer di pinggir jalan menyaksikan pasukan penegak keadilan itu kembali ke istana. Lelaki termudia itu menjadi daya tarik kedua setelah Sang Bantai yang melangkah di depannya.
Kehadiran lelaki muda diantara pasukan terbaik milik Istana Mewata itu, dipertanyakan oleh orang-orang yang melihatnya. Mengapa lelaki itu bisa bersama dengan pasukan yang dikenal memiliki kemampuan terbaik dari yang terbaik? Apakah lelaki itu memiliki kemampuan yang hebat setara dengan kemampuan anggota pasukan khusus? Warga kota bertanya-tanya tentang siapa dirinya.
Lelaki termuda itu bernama Rivari. Baru sebulan yang lalu dia berusia 17 tahun. Wajah tampan yang putih bersih terkesan dingin walau tampak masih kekanak-kanakan. Pandangan matanya yang tajam dan awas menyiratkan bahwa dirinya adalah orang yang penuh kehati-hatian. Karena tidak menggunakan tudung jubahnya, rambut halus hitam lurus panjang hingga mencapai pundak terlihat jatuh rapi tergerai.
Di tengah derap langkah delapan orang pasukan penegak keadilan tersebut melintasi jalan kota Mewata menuju salah satu gerbang samping Istana Mewata, mata tajam Rivari menangkap pergerakan seorang gadis yang tiba-tiba mendekat ke arahnya. Gadis itu tiba-tiba saja menyeruak dari kerumunan warga kota Mewata yang tengah terkagum dengan penampilan pasukan yang lewat.
Setelah berdiri persis di pinggir jalan berhadapan langsung dengan Rivari, mata kecil gadis muda itu mencari-cari diantara pasukan. Dia berusaha mengenali wajah-wajah pasukan satu demi satu, mencari wajah dari orang yang ia kenali.
Tidak mendapatkan apa yang dia cari, si gadis melempar pertanyaan. “Kakak? Mana kakakku?”
Pergerakan rombongan pasukan khusus terhenti. Lelaki paling kiri yang melangkah di depan Rivari, menolehkan kepala balik bertanya pada si gadis. “Siapa kakakmu?”
“Ajara.”
“Dia tewas terbunuh. Tubuhnya ada di belakang. Di dalam kereta,” beritahu lelaki yang bertanya tadi dengan nada datar tanpa belas kasihan. Lelaki yang memberitahu ini adalah pemimpin dari rombongan pasukan khusus.
Rivari terdiam beberapa saat memandang wajah gadis yang tiba-tiba berubah dalam sekejab. Dari mulutnya yang terbuka, matanya yang membesar, wajah gadis itu menunjukkan bahwa dia merasa sangat terkejut. Antara percaya dan tidak.
“Kami akan membawanya ke istana terlebih dahulu untuk dilaporkan. Kau bisa mengambil jenazahnya nanti.” Pemimpin pasukan kemudian memberi isyarat agar rombongannya melanjutkan perjalanan mereka lagi.
“Dia tewas karena berada di tempat yang salah. Terkurung seorang diri diantara kawanan penjahat,” beritahu Rivari sembari mulai melangkah.
“Tidaaaak!” jerit sang gadis melengking tinggi diiringi dengan tangisan yang memilukan. Sang gadis tidak peduli dengan apa yang berusaha diberitahukan oleh Rivari, dia berlari menuju bagian terbelakang dari iring-iringan pasukan yang kembali dari tugasnya menumpas kejahatan. “Kakaaak.”
Jika beberapa langkah yang lalu Rivari menemukan gadis yang menangisi kematian kakaknya, semakin mendekati gerbang istana, kini ia menemukan tawa bahagia seorang anak kecil yang menyambut kembalinya sang ayah.
Ditemukan kemudian wanita muda yang melambaikan tangan pada seorang anggota pasukan lainnya. Hampir semua dari anggota pasukan yang bersama Rivari, mendapatkan sambutan dari orang-orang tertentu.
Rivari miris dengan keadaannya. Apakah ada orang yang menantikanku kembali? tanya Rivari dalam hati. Tidak ada. Tidak pernah ada orang yang menantiku kembali selama ini.
Rombongan pasukan khusus terus berlalu hingga memasuki gerbang depan samping kanan Istana Mewata. Mereka kemudian disambut oleh Pasukan Pengawal Istana. Setelah berbaris rapi menanti sejenak di tempat yang ditentukan, mereka disambut oleh seorang pejabat tinggi pada jajaran Pasukan Keamanan Negeri Meanda.
Setelah mendapatkan pemeriksaan sejenak dari pejabat tinggi itu, setelah memberikan laporan singkat, pasukan yang baru datang tersebut membubarkan dirinya.
Sebagian anggota pasukan khusus tersebut terus memasuki istana karena mereka bertempat tinggal di dalam lingkungan istana. Tiga orang lainnya, melangkah menuju keluar istana. Rivari termasuk orang yang pergi menuju luar istana.
Rivari melangkah menuju rumah sewaannya yang berada tidak jauh dari luar pagar istana. Rumah petakan berbentuk panggung empat pintu dengan empat penghuni yang mendiaminya. Salah satu petakannya adalah tempat kediaman Rivari semenjak tiga bulan yang lalu. Petakan kecil yang dalamnya terbagi atas tiga sekat yang memisahkan ruang tamu, kamar tidur dan dapur. Kamar kecil dan kamar mandi terletak pada bangunan yang terpisah di belakang rumah petakannya.
Ketika melewati pagar rumah petakannya, Rivari menemukan seorang lelaki berseragam pasukan khusus tanpa jubah tengah duduk di teras depan rumahnya. Pasukan Khusus Istana Mewata hanya mengenakan jubahnya jika tengah melakukan tugas. Jubah yang membawa simbol keadilan.
Lelaki tegap kekar yang duduk di teras rumah Rivari itu adalah orang yang mengajak Rivari untuk menjadi anggota Pasukan Khusus Istana Mewata. Dia adalah salah satu pemimpin kelompok dari lima kelompok pasukan khusus, satu dari lima kelompok pasukan khusus yang akan mendampingi tugas dari lima Bantai yang dimiliki oleh Istana Mewata.
Walaupun bentuk matanya terlihat agak sipit, pandangan lelaki berusia 28 tahun tersebut terlihat garang dan tajam. Wajah kerasnya walaupun terkesan sanggar, namun tetap menunjukkan ketampanan dan kedewasaannya. Dia bernama Jantaka. Pemimpin kelompok lima Pasukan Khusus Istana Mewata.
Melihat dari duduknya, ternyata Jantaka menanti Rivari datang kembali dari tugasnya. Melihat Rivari telah datang, Jantaka segera berdiri dari duduknya.
Rivari berhenti melangkah ketika ia tiba di hadapan Jantaka. “Ada sesuatu yang Tuan inginkan dari saya?” tanyanya.
Jantaka menggelengkan kepala.
Karena tidak ada yang dibicarakan, Rivari terus melangkah. Melewati tubuh Jantaka begitu saja.
“Aku pikir, tiga kali melaksanakan tugas bersama Bantai, akan cukup bagimu untuk mengerti tentang apa yang akan kau lakukan nanti jika kau sudah menjadi seorang Bantai,” ucap Jantaka seraya membalikkan tubuhnya untuk menghadap pada Rivari yang telah berada di belakangnya.
“Bantai tidak lebih dari seorang pembunuh,” jawab Rivari dingin. Ketika menjawab, dia berhenti melangkah tanpa membalikkan tubuhnya. Jantaka tetap berada di belakang Rivari.
“Kau salah.”
“Itulah yang saya lihat, Tuan. Memiliki kesempatan untuk membawa tersangka dalam keadaan hidup, tapi mereka justru langsung membunuhnya. Itulah yang saya lihat selama saya mengikuti mereka,” bantah Rivari.
Jantaka menggaruk kepalanya walau tidak merasa ada yang gatal. “Berarti, Bantai yang kau ikuti itu, adalah Bantai yang tidak bertanggung jawab.”
“Tanggung jawabnya adalah menjatuhkan hukuman. Bantai-bantai itu telah melaksanakan tugasnya dengan baik,” sangkal Rivari lagi.
“Tidak. Tidak hanya sekedar menjatuhkan hukuman. Bantai bukan hanya sekedar ditugaskan untuk membunuh orang yang diduga sebagai pelaku tindak kejahatan. Bantai adalah penegak keadilan. Aku harap, kau tidak menjadi Bantai seperti apa yang kau lihat itu.”
Rivari tidak lagi mau menaggapinya. Dia langsung masuk ke dalam rumah.
Jantaka hanya bisa mendesah. Dia tetap dingin seperti biasanya, tanggap Jantaka dalam hati. Dia hanya tahu membunuh. Akan sulit untuk meyakinkan Ratu jika sikapnya seperti ini.
Jantaka segera meninggalkan tempat kediaman Rivari. Jantaka kembali menuju ke istana.
Keesokan paginya di Istana Mewata.
Atas pemberitahuan dari dayang bahwa pemimpin tertinggi Negeri Meanda ingin berbicara dengannya, Jantaka menanti Ratu Delana di sebuah taman kecil di antara tempat kerja keseharian pemimpin Negeri Meanda dengan Balai Agung. Menanti di tengah perjalanan sang Ratu dari rumah kediamannya menuju Balai Agung Istana Mewata.
Setiap pagi hari, sebelum melakukan aktifitas lainnya, Ratu Delana akan memimpin pertemuan dengan para petinggi Istana Mewata di Balai Agung. Pertemuan yang dihadiri oleh pemimpin tertinggi dengan para kepala bagian dari berbagai bidang tersebut akan membahas segala hal mengenai jalannya roda pemerintahan. Sebagai anggota Dewan Agung Kerajaan, kedua fraksi yang mendampingi kepemimpinan Ratu, Fraksi Reiji dan Fraksi Reila, turut hadir mengikuti jalannya pertemuan tersebut.
Sebagai ketua kelompok satuan yang ada di Pasukan Khusus, Jantaka tidak termasuk dalam jajaran petinggi Istana Mewata. Dia tidak dapat mengikuti pertemuan rutin pemerintahan negeri tersebut.
Karena Ratu Delana memperkirakan masalah tentang Bantai akan dibicarakan dalam pertemuannya pagi ini, Ratu ingin mendapatkan keterangan dari Jantaka terlebih dahulu mengenai perkembangan Bantai yang diusulkan Jantaka. Oleh karena itulah, Ratu Delana meminta Jantaka untuk menantinya di luar Balai Agung sebelum ia mengikuti pertemuan rutin pemerintahan negeri.
Ratu Delana kini berusia 19 tahun. Wanita berparas cantik jelita ini dinobatkan menjadi pemimpin tertinggi Negeri Meanda setahun yang lalu. Ratu Delana menjadi pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya setelah sang ayah tewas terbunuh di rumah kediamannya sendiri.
Kematian ayah Ratu Delana, Raja Zaulan, hinggi kini menyimpan misteri yang besar di lingkungan Istana Mewata. Dalam penjagaan dan pengawalan yang sedemikian ketat, sang raja justru bisa terbunuh dalam sekejab. Dugaan yang diyakini oleh Ratu Delana, ayahnya terbunuh oleh orang dekatnya sendiri, orang yang bekerja di lingkungan Istana Mewata. Walau menyakini bahwa pelaku pembunuhan raja adalah pekerja istana yang berada di sekitarnya, namun wanita berambut hitam panjang halus berkilau itu tidak juga dapat mengungkapnya hingga saat ini.
Begitu Jantaka melihat Ratu Delana melangkah ke arahnya, Jantaka menyambutnya dengan terlebih dahulu memberikan penghormatan dengan membungkukkan badannya setengah badan.
“Bagaimana dengan orang yang kau usulkan? Apakah telah siap untuk ditetapkan sebagai calon Bantai?” tanya Ratu Delana.
“Dia masih belum mengerti, Yang Mulia. Masih dibutuhkan beberapa tugas lagi sebagai bahan pelajaran tambahan untuknya,” jawab Jantaka.
Ratu Delana mendesah. “Aku sudah mengatakan, bakal calon yang kau usulkan itu terlalu muda. Dia tidak akan bisa mengerti dengan mudah. Lagipula, orang yang tidak banyak memiliki pengalaman, akan mudah terbawa emosinya dalam membuat keputusan.”
“Yang Mulia Ibunda Suri Naila diangkat menjadi Ratu ketika beliau berusia 16 tahun, Yang Mulia.” Jantaka berusaha mengingatkan Ratu Delana atas sejarah kepemimpinan Negeri Meanda di masa lalu. Mengingatkan tentang sejarah kepemimpinan Ratu Naila ketika memimpin Negeri Meanda, tiga pemimpin sebelum Ratu Delana menjadi pemimpin.
“Itu lain cerita. Naila adalah keturunan raja. Dia anak tunggal. Berapa pun usianya, jika pemimpin negeri ini tengah kosong, dia bisa naik tahta. Lagipula dia telah dilibatkan ayahnya semenjak dia kecil. Semua orang mengetahui dan mengakui kepandaiannya,” bantah Ratu Delana.
“Yang Mulia Baginda Keina menjadi Raja di usia 20 tahun, Yang Mulia. Tahta Raja telah kosong sebelum beliau dilahirkan.” Jantaka mengingatkan sekali lagi akan sejarah kepemimpinan Negeri Meanda. Ratu Naila meninggalkan tahta kerajaan ketika ia memilih menikah dengan seorang rakyat biasa, meninggalkan tahta sebelum penggantinya dilahirkan.
Ratu Delana terdiam sejenak. Argumentasi bawahannya, kali ini dirasa ada benarnya. Raja Keina tidak segera diangkat menjadi Raja karena Dewan Agung Kerajaan menilai Keina belum siap untuk memimpin Negeri Meanda.
Disimpulkan oleh Ratu Delana, Jantaka bermaksud untuk menekankan pertimbangan pada sisi kemampuan yang dimiliki seseorang, bukan dari sisi usia.
“Baiklah. Bisa saja usia tidak menjadi halangan untuk dipertimbangkan. Tapi aku tetap mengatakan, perbandinganmu itu tidak tepat. Bisa saja kalau Naila sudah tidak ada, dalam usia berapa pun dan tanpa memiliki kemampuan sebagai pemimpin pun, Keina bisa langsung menjadi Raja menggantikan Naila. Dia penerus tahta. Sementara Bantai, Bantai adalah orang yang ditunjuk dan diberi kepercayaan langsung olehku. Dia membawa nama baikku, nama baik Ratu. Simbol kekuatan Negeri Meanda. Aku tidak mau mempertaruhkan nama baikku pada orang yang tidak bisa aku percaya,” jelas Ratu Delana.
“Ampunkan hamba, Yang Mulia. Dari tiga kali pengalaman Rivari mengikuti misi mendampingi ketiga Bantai yang ada, dia hanya melihat para Bantai itu membunuh lawannya tanpa memberi kesempatan untuk diadili. Hal inilah yang hamba duga menjadi penyebab kenapa hamba mengatakan kalau Rivari masih belum bisa mengerti tentang bagaimana tugas Bantai yang sebenarnya,” jelas Jantaka.
“Jadi kau menyimpulkan kalau Bantai yang aku miliki sekarang ini, adalah orang yang tidak bisa memutuskan dengan benar?” tanya Ratu Delana ketus.
“Hamba tidak membenarkan prasangka anda tersebut, Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud demikian,” bantah Jantaka. “Tapi mohon dipertimbangkan, apa yang dilakukan oleh ketiga Bantai tersebut menjadi contoh yang tidap tepat untuknya.”
“Tiga kali kesempatan yang aku berikan pada Rivari untuk turut serta bersama Bantai, adalah tiga tugas menghadapi musuh negeri ini yang dianggap tidak bisa diadili hidup-hidup. Wajar kalau para Bantai itu hanya akan membunuh mereka.”
Jantaka akhirnya mengalah. “Bisa dimengerti, Yang Mulia.”
“Usia Rivari tetap bisa menjadi permasalahan baginya. Kedewasaannya menjadi pusat perhatian. Banyak yang meragukan kemampuan dan kematangannya sebagai penegak keadilan. Sementara itu, dua calon lain yang telah diusulkan, telah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi Bantai. Aku tidak bisa berlama-lama menunda dua kekosongan Bantai itu hanya demi menunggu pembuktian bahwa Rivari lebih layak dibanding yang lainnya.”
“Anda bisa mengangkat salah satunya terlebih dahulu. Satu tempat lainnya menyusul,” usul Jantaka.
Ratu Delana tiba-tiba berang. “Beraninya kau memberikan usulan selancang itu padaku?!”
Jantaka segera menundukkan badan. “Ampunkan hamba, Yang Mulia.”
Ratu Delana masih menunjukkan kekesalahannya pada Jantaka. “Tidak tahukah kau, dua petarung lain selain Rivari itu berasal dari dua fraksi yang berbeda?! Tidak sadarkah kau, kedua fraksi itu telah memiliki masing-masin satu Bantai diantara lima tempat yang ada? Aku tidak bisa memilih salah satu dari keduanya. Pilihan bagiku adalah mengangkat keduanya atau tidak sama sekali!”
Jantaka tidak berani lagi berkata-kata. Sekali lagi dia hanya bisa membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada Ratu Delana. Jantaka tidak begitu memahami siasat politik Ratu Delana dalam menghadapi dua fraksi yang mendampingi jalannya pemerintahannya.
Semenjak Raja Zaulan, ayah Ratu Delana mengubah sistem pemerintahan Negeri Meanda, pemimpin tertinggi dari pewaris tahta raja tidak lagi memegang kekuasaan mutlak atas Negeri Meanda. Dewan Agung Kerajaan, yang semula berfungsi sebagai penasehat dan menjadi pengukur dan penilai arif dan bijaksananya setiap keputusan Raja atau Ratu, kini memiliki kekuatan untuk menolak keputusan maupun kebijakan dari penguasa.
Oleh Raja Zaulan, anggota Dewan Agung Kerajaan tidak lagi berisikan orang-orang yang dipercaya oleh Raja atau Ratu dan perwakilan dari kalangan masyarakat tertentu yang ditunjuk, tapi berisikan perwakilan dari dua kelompok pengikut dari pewaris tahta kerajaan yang pernah menjadi penguasa di Negeri Meanda. Kedua kelompok itu adalah Fraksi Reiji dan Fraksi Reila. Dua kubu yang bertikai memperebutkan tahta kerajaan sebelum Raja Zaulan menjadi Raja.
Keberadaan dua Fraksi di dalam pemerintahan Negeri Meanda, membawa pengaruh dalam kepemimpinan Ratu Delana. Pendapat dan pertimbangan kedua Fraksi itu dapat mempengaruhi jalannya pemerintahan. Bahkan, mereka bisa menjatuhkan kepemimpinan Ratu Delana jika Ratu Delana menjalankan pemerintahan Negeri Meanda secara tidak benar.
“Kau harus segera bisa membuktikan padaku, Rivari memang benar-benar layak mengisi salah satu dari dua tempat Bantai yang kosong,” pinta Ratu Delana.
“Secara kemampuan dan kekuatannya dalam bertarung, Rivari adalah pilihan yang terbaik. Dia akan menjadi Bantai yang terkuat dari yang pernah dimiliki Negeri Meanda. Hamba berani mengusulkannya pada anda karena hamba yakin dengan apa yang ia miliki ini.”
“Bagaimana dengan loyalitasnya? Sebagian pihak mengatakan padaku kalau Rivari adalah pembunuh bayaran. Kau harus menguji kesetiaannya. Aku tidak mau setelah dia menjadi Bantai nanti, dia masih menerima tawaran untuk menjadi pembunuh bayaran,” pinta Ratu Delana lagi.
“Sejauh yang hamba lihat, dia hanya membutuhkan alasan, Yang Mulia. Dia membunuh seseorang bukan berdasarkan atas keinginannya sendiri. Menurut hamba, kemampuannya itu jika digunakan untuk kepentingan anda, akan ia gunakan hanya untuk perintah anda saja.”
“Jadi dia membunuh hanya berdasar perintah dari orang lain?” tanya Ratu Delana.
“Begitulah, Yang Mulia.”
“Jadi dia hanya tahu membunuh saja?” kejar sang Ratu.
“Untuk sementara ini, dari apa yang diperlihatkan oleh Bantai yang diikutinya, dia hanya tahu tugas Bantai adalah untuk membunuh saja. Inilah yang menyebabkan hamba menilai pelajaran untuknya sebagai Bantai, masih belum cukup.”
Ratu Delana merenung sejenak. Masih terlihat gurat kekhawatirannya walaupun Jantaka telah berulang kali memaksanya untuk menerima pencalonan Rivari menjadi Bantai di Negeri Meanda.
“Baiklah. Entah keyakinanmu itu bermanfaat untukku atau tidak, aku tidak bisa memperhitungkannya. Kalau memang Rivari layak menjadi Bantai, buktikan pada orang lain bahwa dia memang layak. Aku akan menanti hasilnya darimu untuk membuat keputusan selanjutnya.” Setelah mendesah berat, Ratu Delana menerima pertimbangan Jantaka. “Aku akan memberinya satu kesempatan lagi. Kesempatan terakhir. Aku akan memberikan tugas untuknya. Tidak sebagai pendamping. Dia akan bertindak selaku Bantai bersamamu. Bersiaplah untuk menerima tugas.”
Jantaka menundukkan badannya dalam-dalam untuk memberikan penghormatan pada Ratu Delana.
Semenjak Bantai Kelima Negeri Meanda tidak ada, kelompok lima Pasukan Khusus Istana Mewata yang dipimpin oleh Jantaka telah lama tidak mendapatkan tugas dari Ratu. Kini mereka akan melaksanakan tugas setelah lama berdiam diri dan akan melakukannya bersama dengan seorang algojo baru. Sepertinya, tugas mereka nanti, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Walau Ratu Delana masih memberi kesempatan untuk Rivari, namun dalam hatinya Jantaka masih merasa ragu. Apakah Rivari bisa membuktikan dirinya layak menjadi Bantai?
Bagian 2. Pembagian Tugas
Setelah bertemu Ratu Delana, Jantaka melangkah menuju tempat kerjanya, tempat dimana Pasukan Khusus Istana Mewata kelompok lima selalu berkumpul. Di tengah perjalanan menuju ruang kerjanya itu, Jantaka bertemu dengan lelaki yang kemarin memimpin pasukan khusus yang ditugaskan bersama Rivari.
“Apakah kau masih bersikeras mengusulkan Rivari sebagai Bantai pada Baginda Ratu?” tanya Gasani. Gasani adalah ketua kelompok satu Pasukan Khusus Istana Mewata. Kelompok pasukan yang biasanya selalu mendampingi tugas dari Bantai Pertama, Raguka.
“Masih. Bagiku dia adalah petarung yang terb
aik. Dia tidak bisa dibiarkan berkeliaran bebas di negeri ini membunuh siapa saja mengikuti kehendak orang yang membayarnya. Anak itu harus diamankan oleh istana. Apalagi kalau dia sampai menjadi orang yang harus dihadapi oleh Bantaimu. Aku tidak yakin kalian akan bisa menghadapinya,” jawab Jantaka
Gasani menggelengkan kepala. “Aku tidak yakin dengan apa yang kau katakan itu. Aku meragukan kemampuannya.”
“Kau meragukannya karena kau tidak tahu bagaimana kemampuannya yang sebenarnya,” ucap Jantaka penuh keyakinan. “Aku sudah tahu tentangnya. Aku bukan hanya mendengar tentang ceritanya saja. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dia menghadapi petarung yang telah membunuh Bantai Kelima. Dia anak yang luar biasa.”
“Iya. Baiklah. Aku tidak menyalahkan keyakinanmu itu. Cerita tentangnya memang menunjukkan kalau anak itu menyimpan kekuatan yang besar,” ujar Gasani sembari menganggukkan kepala.
“Bisa kau bayangkan bagaimana kalau anak justru dimanfaatkan oleh fraksi tertentu. Anak itu bisa memberikan masalah bagi Baginda Ratu. Masalah besar buat kita juga,” peringat Jantaka.
“Kau harus berhati-hati dengan kata-katamu itu. Jangan sembarang menyebut tentang fraksi lain begitu saja,” tegur Gasani.
Jantaka menolehkan kepala kiri dan kanan. “Aku tahu. Dan aku percaya padamu. Kau pengikut setia Baginda Ratu.”
Gasani sedikit tergelak. “Justru aku yang meragukanmu. Bantaimu dulu adalah pengikut fraksi Reiji. Kau seharusnya tunduk pada fraksi itu.”
Jantaka tersenyum lebar sembari menggelengkan kepala. “Bagiku, Baginda Ratu adalah penguasa yang harus dipatuhi. Fraksi lain hanya mencari keuntungan saja di balik kekuasaan Baginda Ratu.”
“Ah, sudahlah. Aku tidak mau membicarakan masalah fraksi. Aku lebih suka membahas calon Bantaimu,” elak Gasani. “Seharusnya kau mencari orang lain untuk diusulkan menjadi Bantai. Simpan Rivari dalam susunan kelompok pasukanmu sampai dia siap untuk diusulkan.”
“Dia lebih layak menjadi Bantai!” tegas Jantaka dengan penuh keyakinan.
Gasani menggelengkan kepala. Mendesah. “Berpikirlah sedikit politis. Kau bisa menyusahkan dirimu sendiri kalau hanya berpikiran pendek seperti itu.”
“Aku hanya tidak rela kalau Rivari dimanfaatkan oleh orang lain. Itu saja.”
Kembali Gasani mendesah. Terpaksa menerima ketegasan sikap Jantaka. “Bukan aku menyangkal cerita tentang kehebatannya, tapi aku masih tidak bisa mengukur kemampuan yang dimiliki oleh Rivari. Kekuatannya tidak pernah terlihat. Anak itu hanya diam saja ketika menjalankan tugasnya bersamaku.”
“Dia memang diperintahkan untuk mengikuti saja. Hanya mempelajari apa yang kalian lakukan,” bela Jantaka.
“Dia bahkan tetap diam ketika anggota kami dikepung oleh musuh. Membiarkan anggotaku terbunuh di hadapannya. Apakah hal itu termasuk tugas yang diberikan untuknya?” tanya Gasani dengan senyum sinis.
Jantaka diam tak berdaya menolak apa yang dikatakan oleh Gasani. Salah satu anggota dari pasukan khusus kelompoknya Gasani tewas karena dibiarkan oleh Rivari bertarung sendiri. Seseorang yang bernama Ajara. “Maafkan atas kesalahpahaman itu. Aku akan memberikan teguran untuknya. Semoga dia tidak melakukan kesalahan itu lagi.”
Kedua lelaki itu kemudian terdiam sejenak. Pandangan keduanya melayang bebas mengamati suasana pagi di Istana Mewata. Suasana penuh kesibukan para pekerja istana di sekitar komplek pekerja istana yang berada di belakang dari komplek kediaman keluarga raja.
“Jika nanti Rivari ditugaskan bersamaku lagi, aku akan mengabaikan kehadirannya. Lebih baik dia dianggap tidak ada. Berhati-hatilah jika kau yang ditugaskan bersamanya. Aku khawatir dia akan membiarkan semua anggotamu terbunuh oleh musuhmu,” pesan Gasani sambil berlalu meninggalkan Jantaka.
Kembali Jantaka hanya bisa terdiam menerima prasangka Gasani tersebut. Pandangan miring terhadap Rivari telah sering dia dengar. Jantaka selama ini berusaha menepis pandangan buruk tersebut. Tapi, jika Gasani yang mengatakannya, Jantaka harus mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Gasani. Gasani adalah teman baik Jantaka, orang yang bisa dipercaya.
Jantaka masih diam merenung. Mempertimbangkan tentang kemungkinan Ratu Delana akan memerintahkannya untuk melaksanakan tugas bersama Rivari. Apakah mungkin Rivari nanti akan membiarkan anggota kelompoknya terbunuh di hadapannya begitu saja?
Pertemuan rutin di pagi hari dengan pemimpin tertinggi Negeri Meanda bersama jajaran petinggi kerajaan, telah berlangsung di Balai Agung. Berbagai masalah mengenai perkembangan kerajaan telah diperbincangkan satu demi satu dan telah mendapatkan keputusan untuk ditindak lanjuti.
Tibalah saatnya membicarakan masalah keamanan kerajaan yang pembahasannya lebih dipusatkan pada permasalahan tentang Bantai.
“Berdasar laporan dari kelompok satu yang diutus bersama dengan Bantai Pertama, Raguka, satu orang anggota pasukan khusus telah menjadi korban, Yang Mulia,” lapor Tandika, Kepala Pasukan Khusus Istana Mewata. Tandika adalah orang yang memimpin lima ketua kelompok yang ada di satuan pasukan khusus tersebut. Tandika adalah atasan dari Jantaka dan Gasani.
“Berikan penghargaan tertinggi atas nama Ratu untuk prajurit yang gugur dalam melaksanakan tugasnya itu,” tanggap Ratu Delana dengan cepat.
“Baik, Yang Mulia. Kami akan mempersiapkannya dan akan diberikan pada saat pemakamannya, siang ini juga. Tapi, dalam peristiwa kematiannya. Menurut laporan yang hamba dapatkan, Rivari layak untuk dipersalahkan, Yang Mulia,” lanjut Tandika.
Langsung menyalahkan Rivari? benak Ratu Delana terkejut. “Apa kesalahannya?” tanya sang Ratu.
“Rivari telah membiarkan begitu saja anggota pasukan khusus tersebut tewas menghadapi lawan yang jumlahnya tidak sebanding dengannya. Dia tewas karena Rivari tidak memberikan bantuan padanya saat dia terdesak,” jawab Tandika.
“Apakah kau sudah mempertanyakan pada Rivari bahwa jumlah musuh yang dihadapi oleh anggota pasukan khususmu itu mampu dia hadapi juga?” tanya sang Ratu lagi.
“Tentu saja dia memiliki kemampuan. Rivari adalah calon Bantai. Seharusnya dia memberikan bantuan, Yang Mulia,” bantah Tandika.
“Iya, seharusnya. Tapi apa gunanya membantu jika dia juga tidak mampu menghadapi lawannya? Satu orang yang tewas akan lebih baik dibandingkan dua,” balas Ratu Delana.
Tandika terdiam merenung sejenak. Pernyataan Ratu Delana tersebut terasa tidak masuk akal baginya. Apakah salah memberikan pertolongan pada teman sendiri? Siapa tahu keduanya justru bisa selamat.
Kepala Pasukan Keamanan Negeri Meanda, orang yang menjadi pemimpin dari Pasukan Khusus, juga hanya bisa diam memperhatikan apa yang dibicarakan Ratu Delana dengan Tandika. Orang itu menyimpulkan dalam hatinya, Ratu begitu melindungi Rivari.
Semenjak awal Rivari diusulkan menjadi Bantai oleh Jantaka tiga bulan yang lalu, Kepala Pasukan Keamanan Negeri Meanda yang bernama Hawari itu, merasa bahwa Ratu Delana begitu tertarik dengan apa yang diceritakan oleh jantaka tentang Rivari. Kini, dengan pembelaannya di hadapan Tandika, Hawari semakin merasa yakin bahwa Ratu Delana memang telah menaruhkan minatnya yang besar bagi Rivari untuk menjadi Bantai Kelima.
Hawari juga pernah mendengar cerita tentang Rivari sebelum mendapat penjelasan lebih lanjut dari Jantaka. Petarung muda itu dianggap memiliki kemampuan bertarung setingkat dengan kemampuan Bantai Pertama Negeri Meanda. Tapi, Hawari berusaha menolaknya. Rivari bukanlah pilihan yang tepat untuk menjadi seorang Bantai.
“Menurut hamba, Yang Mulia. Sikap Rivari itu menunjukkan ketidak setia kawanannya terhadap teman seperjuangannya sendiri. Hamba meragukan pencalonannya menjadi Bantai,” ujar Tandika setelah terdiam beberapa saat.
“Aku juga meragukannya. Tidak ada yang memaksa kalau anak itu harus menjadi Bantai. Kau tidak perlu khawatir dengan keputusanku. Aku bisa mempertimbangkannya dengan baik,” tegas Ratu Delana.
“Hamba hanya mengkhawatirkan anggota pasukan hamba, Yang Mulia. Jika peristiwa pembiaran ini terjadi lagi, maka pasukan khusus akan berkurang jumlahnya dengan pesat,” sesal Tandika.
“Apakah kau menjadi khawatir karena kau tidak bisa mencari anggota pengganti? Apa saja yang kau lakukan selama ini kalau kau membiarkan anggotamu terus berkurang?” tanya Ratu Delana dengan ketusnya.
Tandika segera menundukkan kepalanya memohon pengampunan. “Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud membiarkannya. Anggota pengganti telah dipersiapkan. Jumlah yang tepat selalu tersedia. Pasukan khusus tidak akan kekurangan anggota.”
Ratu Delana hanya bisa menggelengkan kepala sambil memandang berkeliling pada para bawahannya yang duduk bersila di hadapan kursi kebesarannya. Hanya anggota Dewan Agung Kerajaan saja yang mendapatkan kursi sebagai tempat untuk duduk di ruang pertemuan terbesar di Balai Agung. Dewan Agung Kerajaan menempati barisan kursi pada lantai yang sedikit lebih rendah dari singgasana Pemimpin Tertinggi Negeri Meanda. Semua kursi-kursi kebesaran itu, menghadap pada lantai terbuka yang lebih rendah lagi dimana para petinggi kerajaan Negeri Meanda duduk berbaris rapi menghadap pada sang Ratu.
Wanita muda berparas cantik dengan dandanan terbaik khusus bagi orang istimewa itu tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Kenapa mereka selalu mempermasalahkan permasalahan yang tidak jadi masalah? Ratu Delana merasa tidak habis pikir.
“Yang Mulia.” Akhirnya Hawari angkat bicara. Kepala Pasukan Keamanan Negeri adalah pejabat tertinggi dari seluruh kepala pasukan yang bergerak dalam bidang penegakan keadilan dan keamanan di Negeri Meanda. “Rivari telah diusulkan menjadi orang yang akan dicalonkan untuk menjadi Bantai. Kemampuannya tidak hamba ragukan. Rivari memang memiliki kemampuan untuk menjadi Bantai. Tapi, berdasarkan hasil dari tugasnya yang terakhir ini, hamba justru meragukan sikapnya. Apa yang dilakukannya, seharusnya mendapat perhatian untuk ditiindaklanjuti dengan tegas. Apakah hal itu terjadi karena Rivari memiliki kesulitan untuk bekerja secara berkelompok? Jika benar bahwa dia tidak bisa bekerja secara kelompok, pencalonannya sebagai Bantai akan gugur, Yang Mulia. Bantai harus bisa bekerja dengan kelompok pasukan pendampingnya.”
“Apakah kau telah memeriksanya untuk ditindaklanjuti dengan tegas?” tanya Ratu Delana dengan mata membesar pada Hawari.
“Rivari akan menjalani pemeriksaannya siang ini, Yang Mulia,” jawab Hawari.
“Jika kau belum memeriksanya, jangan berikan kesimpulan penilaianmu itu ke hadapanku!” bentak sang Ratu kesal.
“Maafkan atas kelancangan hamba ini, Yang Mulia.”
“Tapi kau tidak akan hanya memeriksanya saja, kau bisa melihat hasil ujiannya nanti. Aku akan memberikan Rivari sebuah tugas untuk menguji apakah dia memang layak untuk dicalonkan atau tidak. Aku akan mengutusnya untuk bertindak sebagai Bantai atas penyelidikan lanjutan terhadap pelaku pembunuhan Bantai Keempat,” titah sang Ratu terucap keras dan tegas.
Tandika terkejut. “Menghadapi Bunkaja, Yang Mulia?”
“Iya. Menghadapi orang yang memimpin perguruan pedang Bintang Laut di wilayah Barat negeri ini,” jawab Ratu Delana.
“Bukti-bukti Bunkaja sebagai pelaku atas pembunuhan Bantai Keempat masih belum cukup, Yang Mulia. Belum saatnya Bantai diturunkan untuk menghadapinya,” beritahu Hawari.
“Aku tidak menugaskan Rivari untuk menjatuhkan hukuman pada Bunkaja! Rivari aku tugaskan untuk mendapatkan bukti-bukti tambahan. Lagipula Rivari belum menjadi Bantai. Memang belum saatnya masalah ini ditangani oleh Bantai. Ada yang salah dengan keputusanku?”
“Tidak, Yang Mulia. Tidak ada yang salah dengan keputusan anda. Hanya saja, mohon dipertimbangkan kembali. Bintang Laut bukanlah kelompok perguruan kecil. Perguruan itu telah banyak menghasilkan para perampok laut yang ternama. Jika salah menangani mereka, para nelayan di pesisi laut wilayah barat, wilayah Tanukus dan wilayah Grandia akan terkena dampaknya, Yang Mulia,” saran Hawari.
“Tugasnya hanya untuk mencari bukti. Bukan untuk membuat masalah. Kalaupun terjadi masalah, apakah aku akan membiarkannya saja? Selama ini, para perampok laut yang dihasilkan oleh perguruan itu telah merepotkan negeri ini. Kalian tidak becus menjaga keamanan negeri ini. Kenapa masalah para perampok laut itu tidak juga kunjung bisa ditangani hingga sekarang?”
“Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba telah berusaha keras menghadapi ulah para perampok laut itu. Tapi kebanyakan dari mereka, seperti pada perampok laut Kamaran, mereka dilindungi oleh kerajaan di seberang laut. Mengusik Kamaran, sama dengan mengusik kerajaan mereka.” Hawari justru memperingatkan Ratu Delana.
“Baik. Aku akan membicarakannya dengan Raja kerajaan Laska. Kalau memang kerajaan itu menghalangi upayaku untuk menjamin keamanan negeri ini, kerajaan itu harus kita hadapi dengan kekerasan,” ancam Ratu Delana.
“Menghadapi kerajaan itu melalui perang laut, Yang Mulia?” tanya Kepala Pasukan Perang Negeri Meanda. Pasukan Perang adalah pasukan yang berbeda dari pasukan penegak keadilan dan keamanan. Pasukan Perang adalah pasukan yang hanya ditugaskan untuk menghadapi peperangan besar dan permasalahan yang membutuhkan jumlah pasukan yang besar untuk penyelesaiannya.
“Iya. Siapkan saja armadamu. Tunjukkan pada mereka bahwa mereka tidak seharusnya meremehkan negeri ini,” titah sang Ratu.
“Kerajaan itu memberikan keuntungan yang besar bagi kita dalam perdagangan, Yang Mulia. Peperangan bukanlah cara yang terbaik,” saran dari Kepala Pertukaran dan Perdagangan.
Ratu Delana mencibir. “Kalau begitu, relakan saja para nelayan kita tertindas oleh ulah para perampok laut yang dilindungi oleh kerajaan yang telah memberikan keuntungan itu. Jangan lagi kalian salahkan aku kalau aku tidak memperhatikan nasib rakyat di pesisir laut Warabi.”
“Baiklah, Yang Mulia.” Hawari akhrinya mengalah. “Hamba akan berusaha keras menjamin keamanan para nelayan dan pedagang kita yang menggunakan Laut Warabi. Para perampok laut itu memang tidak bisa dibiarkan leluasa bertindak sesuka hatinya. Kami akan menindak mereka yang mengganggu keamanan negeri ini. Tidak peduli apakah mendapatkan perlindungan dari kerajaan lain atau tidak. Kami akan menumpasnya.”
Ratu Delana bersungut sendiri. Merasa semakin kesal pada bawahannya. “Seharusnya kalian melakukan hal itu sedari dulu.”
“Apakah penugasan Rivari untuk mencari keterangan pada Bunkaja akan tetap dilaksanakan, Yang Mulia?” tanya Tandika.
“Mengenai hal itu, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Perintahkan agar Rivari menangani masalah ini dengan cermat tanpa menimbulkan masalah yang berlanjut pada masalah lainnya,” jawab Hawari pada pada Tandika.
“Menurut saya, Tuan. Rivari bukanlah pilihan yang terbaik untuk menghadapi perguruan Bintang Laut. Masalah ini terlalu serius untuk dihadapi oleh orang yang belum berpengalaman. Masalahnya bisa melebar,” jelas Tandika pada Hawari.
“Jadi kau meragukan kemampuan Rivari? Tidak masalah! Kalau dia tidak bisa melakukan tugasnya dengan benar, akan bisa disimpulkan dengan mudah. Rivari memang diragukan untuk menjadi Bantai! Aku tidak perlu repot-repot lagi memikirkan pencalonannya. Dan kalian tidak perlu membicarakannya lagi,” ujar Ratu Delana. “Ada masalah lagi?”
“Tidak, Yang Mulia.” Serempak Tandika dan Hawari menjawabnya.
“Selanjutnya, mengenai hasil temuan dari Raguka tentang pelaku pembunuhan atas ayahku. Aku akan mengirimkan Bantai Ketiga untuk menelusurinya ke daerah pegunungan Langka di Wilayah Grandia. Aku memerintahkan pada Hajiri untuk secepatnya diberangkatkan,” titah sang Ratu. Raguka adalah Bantai Pertama Negeri Meanda.
“Bukankah menelusuri pelaku pembunuhan atas Yang Mulia Baginda Raja Zaulan merupakan tugas utama dari Bantai Pertama, Yang Mulia?” tanya Tandika.
“Aku menginginkan permasalahan pembunuhan ayahku cepat dituntaskan. Aku ingin masalah ini ditanggapi secepatnya. Bantai Pertama baru pulang dari tugasnya, dan dia terlalu sering meninggalkan istana. Aku memerintahkan agar Raguka menanti untuk beberapa waktu di dalam istana. Menjaga rumah. Bantai Kedua aku tugaskan ke wilayah Selatan untuk menangani kasus pencurian gudang persediaan makanan negeri.”
“Hajiri akan menelusuri pelaku pembunuhan di wilayah Grandia sementara Kancara akan menuju selatan? Apakah tidak sebaiknya di tukar, Yang Mulia? Kancara menuju Grandia sementara Hajiri menuju Selatan?” saran Tandika.
“Tidak!” Ratu Delana tetap bersikeras pada keputusannya. “Calon Bantai Sagala akan ditugaskan bersama Kancara ke selatan. Calon Bantai Hansora akan diberangkatkan bersama dengan Hajiri ke Grandia. Itu perintahku!”
Serta merta Hawari membesarkan matanya karena terkejut.
Bantai Kedua yang kini dipegang oleh Kancara, adalah orang pilihan dari Fraksi Reiji. Calon Bantai Sagala, adalah petarung yang dicalonkan oleh Fraksi Reila.
Sementara itu, Hajiri sebagai Bantai Ketiga, adalah petarung terbaik milik Fraksi Reila. Calon Bantai yang akan ditugaskan bersama Hajiri adalah Hansora. Hansora adalah petarung yang dicalonkan oleh Fraksi Reiji.
“Yang Mulia. Maafkan kelancangan hamba. Menurut hamba, anda benar-benar tertukar, Yang Mulia,” bantah Tandika.
“Kenapa? Kenapa kalau tertukar? Apakah kalian tidak menginginkan adanya kerjasama diantara fraksi?” tanya Ratu Delana setelah memperhatikan para bawahannya tampak terkejut atas keputusannya.
“Hanya untuk menghindari kesalahpahaman, Yang Mulia,” sahut Tandika sambil menundukkan kepalanya.
“Kesalahpahaman seperti apa?” tantang Ratu Delana.
“Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya terjadi musibah pada calon Bantai. Musibah ini bisa menimbulkan mempermasalahkan yang lebih lanjut lagi. Permasalahan di antara Fraksi.”
“Itu tergantung sikap dari fraksi. Kalaupun menjadi permasalahan, semua itu bukan urusanmu! Aku yang akan mempertanggungjawabkannya pada semua Fraksi!” bentak Ratu Delana pada Tandika. “Dengan penukaran ini, aku berharap Bantai-Bantaiku bisa saling bekerjasama antara satu dengan yang lainnya. Bukankah kalian tadi ingin melihat bagaimana Bantai-Bantaiku bekerja secara kelompok? Ini akan menjadi pembuktian bagi mereka. Bukan hanya Bantai, tapi juga bagi Calon Bantai.”
“Mohon dipertimbangan lagi, Yang Mulia.” Tandika tetap ingin membantah. “Bantai memiliki kebebasan untuk membunuh siapa saja tanpa bisa dipersalahkan. Hamba mengkhawatirkan nasib para Calon Bantai.”
“Tidak masalah. Kalian jangan terlalu berlebihan. Walaupun berbeda fraksi, tapi kita adalah satu. Kita semua adalah warga Negeri Meanda. Kita semua harus bisa bekerjasama. Kami tidak akan mencelakai sesama rakyat Meanda,” Ketua perwakilan Fraksi Reiji angkat bicara. “Bukan begitu?” tanyanya kemudian pada Ketua perwakilan Fraksi Reila.
Orang yang ditanya, orang yang duduk pada sisi sebelah kiri dari singgasana Ratu Delana, menganggukkan kepala. Ketua Fraksi Reila itu menyetujui pendapat dari orang yang duduk di sisi sebelah kanan Ratu Delana. “Turuti perintah pemimpin negeri ini. Kalian tidak berhak membantahnya.”
“Rivari akan menghadapi Bunkaja. Kancara akan menghadapi pelaku pencurian gudang persediaan makanan di wilayah selatan. Hajiri melanjutkan hasil temuan dari Raguka. Semuanya harus bisa melaksanakan tugasnya dengan benar!” simpul Ratu Delana.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Tandika dengan tegas. Sebagai Kepala Pasukan Khusus Istana Mewata, Tandika adalah perpanjangan tangan dari Ratu Delana untuk menghubungkan sang Ratu dengan para Bantainya. Walaupun Bantai memiliki hubungan yang dekat dengan Ratu, tapi Tandika dibutuhkan oleh Ratu Delana untuk pengaturan tugas dan mengatur segala keperluan Bantai dalam melakukan tugasnya.
“Ingatkan pada Hajiri. Jangan kembali jika dia tidak mendapatkan hasil apapun terhadap apa yang telah aku perintahkan padanya. Aku ingin mengusut tuntas pelaku pembunuhan atas ayahku! Aku tidak akan membiarkan mereka semua berkeliaran bebas di negeriku ini!”
Hawari dan Tandika saling berpandangan. Keduanya menilai, untuk hal yang satu ini, Ratu Delana akan selalu bersemangat dan menaruh perhatian khusus. Ratu Delana begitu menginginkan agar pelaku pembunuhan atas Raja Zaulan segera terungkap. Walau begitu, hingga satu tahun berlalu, kasus ini tidak kunjung dapat diselesaikan.
Bagi Ratu Delana, walaupun menginginkan kasus pembunuhan atas ayahnya segera terungkap, tapi dia tidak peduli siapapun pelaku atas pembunuhan tersebut. Tidak penting baginya, yang paling penting adalah bisa mengetahui apa yang menjadi alasan hingga ayahnya harus dibunuh.
Jika yang diinginkan adalah kursi kepemimpinan atas Negeri Meanda, jika Putri Raja Zaulan sendiri yang akan naik tahta menggantikannya, maka tujuan menjadi pemimpin tersebut tidak bisa dijadikan alasan.
Ratu Delana berusaha untuk berpikir keras. Sampai saat ini, pembunuhan atas Raja Zaulan terlihat hanya seperti pembunuhan terhadap orang biasa. Tewasnya Raja Zaulan tidak berdampak apapun pada susunan pemerintahan Negeri Meanda. Kedua fraksi yang dulunya berhasil ditundukkan oleh Raja Zaulan, tetap tunduk dan mengabdi pada Ratu Delana. Tidak terlihat tanda-tanda pengkhianatan walau kedua fraksi tersebut dicurigai menjadi dalang atas pembunuhan Raja Zaulan.
Ratu Delana tidak habis pikir. Apa yang diinginkan mereka terhadap kematian ayah? Apa yang diinginkan mereka terhadapku? Aku harus mengetahuinya!
Bagian 3. Musuh yang Harus Dihadapi
Usai mengikuti pertemuan pagi bersama dengan pemimpin negeri, Hawari kembali ke ruang kerjanya. Kepala Pasukan Keamanan Negeri Meanda yang berambut ikal pendek itu melangkah tergesa meninggalkan Balai Agung. Tubuhnya yang tinggi besar melintas cepat diantara para pekerja istana yang berlalu lalang di sekitar komplek pekerja istana.
Sebagai pemimpin dari semua pemimpin pasukan yang ditugaskan untuk menjaga keamanan, pengawalan dan penegakkan keadilan, Hawari adalah orang yang paling dihormati dan disegani. Semua orang yang berpapasan dengannya, memberi hormat padanya. Terlebih dengan pasukan yang berada di bawah tanggung jawab Hawari, seperti Pasukan Khusus Istana Mewata, Pasukan Pengawal Istana Mewata dan Pasukan Pengawal Keluarga Raja, semua tunduk padanya.
Hari telah menjelang siang ketika pertemuan pagi antara petinggi kerajaan dengan pemimpin negeri usai. Beberapa keputusan yang dibuat oleh Ratu Delana, sebagian meresahkan pikiran Hawari. Oleh karena itu, ia tergesa untuk segera tiba di ruang kerjanya mempersiapkan apa yang harus ia lakukan terhadap apa yang telah diputuskan Ratu.
Setibanya Hawari di ruang kerjanya, kantor yang berada di sisi kanan Istana Mewata, dua orang lelaki ternyata telah menanti kedatangannya. Kedua orang yang menanti itu berpakaian sama, pakaian seragam berwarna hitam kemerahan. Dari seragam pasukan berwarna hitam kemerahan tersebut menandakan bahwa kedua orang itu adalah bagian dari Pasukan Khusus Istana Mewata.
“Aku bermaksud memanggilmu. Tapi, baguslah kalau kau sudah berada di sini. Ayo, ikut aku masuk ke dalam ruang kerjaku,” ujar Hawari ketika berhadapan dengan Batura, dengan salah satu dari dua orang yang menanti kedatangannya.
Orang yang bersama Batura menanti kedatangan Hawari adalah orang kepercayaan Batura. Batura sendiri adalah ketua kelompok dua pasukan khusus, kelompok pasukan yang dikhususkan untuk mendampingi tugas dari Bantai Kedua.
“Mungkin nanti Tandika akan memanggilmu. Baginda Ratu telah memberikan tugas untuk Bantai Kedua. Sebelum kau bertemu dengan Tandika, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu,” beritahu Hawari ketika tiba di ruang kerjanya, ruangan khusus bagi Kepala Keamanan Negeri Meanda.
“Telah lama kami tidak mendapatkan tugas, Tuan. Terasa melegakan juga akhirnya. Kami sudah bosan berdiam diri di istana,” sahut Batura.
Hawari memberikan senyum singkat pada Batura sebelum melanjutkan bicaranya. “Kancara akan ditugaskan untuk menyelesaikan kasus pencurian bahan makanan di gudang penyimpanan persediaan pangan negeri di wilayah selatan. Kau akan pergi bersama Kancara untuk mendampinginya.”
Batura langsung mendesah. “Aakh. Masalah pencurian itu adalah masalah yang rumit menurut saya, Tuan. Sepertinya kami akan pergi dalam waktu yang tidak sebentar.”
“Sepertinya begitu,” tanggap Hawari dengan senyum iba yang lebih terkesan seperti mengejek. “Aku tidak mengetahui alasan Baginda Ratu memberikan tugas seperti itu pada Kancara. Sepertinya dia ingin mengeluarkan Bantai itu keluar dari istana dalam waktu yang lama. Mungkin Baginda Ratu telah muak melihatnya karena Kancara sudah terlalu lama berdiam diri di istana.”
Batura dan seorang anggota kepercayaannya saling berpandangan sejenak. Keduanya menyeringai tidak jelas.
“Ambil hikmahnya saja. Kami akan menikmati liburan yang panjang di luar istana,” ujar Batura kemudian dengan nada bicara penuh kepasrahan.
“Sepertinya kalian tidak akan bisa bersantai-santai seperti itu. Calon Bantai Sagala akan ikut mendampingi Kancara,” beritahu Hawari lagi.
Bayangan akan menjalani tugas dengan santai seakan sirna dari bayangan Batura ketika mendengar bahwa ada pendamping dari Fraksi yang berbeda yang akan ikut bersama mereka. Hawari dan Batura adalah pengikut setia Fraksi Reiji. “Bukannya Sagala adalah petarung yang dicalonkan oleh Fraksi Reila?”
Hawari mengangguk. “Aku juga tidak mengerti apa yang diinginkan Baginda Ratu. Beliau memasangkan Bantai dengan Calon Bantai tidak pada tempatnya. Juga memberikan tugas yang tidak seharusnya.”
“Bantai lainnya juga mendapat tugas yang tidak tepat dengan didampingi oleh Calon Bantai yang berbeda?” tanya Batura untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar dari Hawari.
Sambil duduk menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran Kepala Pasukan Keamanan Negeri, Hawari memberikan penjelasan selanjutnya. “Raguka diminta berdiam di istana untuk sementara waktu. Hajiri ditugaskan untuk melanjutkan hasil penelusuran Raguka. Menelusuri masalah pembunuhan atas Baginda Raja Zaulan. Kelompok tiga itu akan menyertakan Hansora bersama mereka. Mereka akan menelusurinya ke gunung Langka di Wilayah Grandia.”
Kening Batura mengerut. “Kenapa bisa seperti itu? Semua mencurigai bahwa Fraksi Reila yang bertanggung jawab atas pembunuhan Raja Zaulan. Kenapa justru orang-orang dari Fraksi Reila yang diutus untuk mengusutnya?”
Hawari angkat bahu. “Sudah aku katakan kalau aku tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Baginda Ratu. Baginda Ratu seperti mengabaikan kecurigaan pada Fraksi Reila. Seolah memberi kesempatan bagi Fraksi Reila untuk mencari jalan keluar dari tuduhan.”
“Mungkin Baginda Ratu ingin menyingkirkan Calon Bantai yang diusulkan oleh Fraksi-Fraksi, Tuan. Memuluskan jalan bagi Rivari untuk naik menjadi Bantai,” simpul orang kepercayaannya Batura, orang yang bernama Tamanda.
Hawari menggelengkan kepala. Hawari tidak menyetujui kesimpulan tersebut. “Jika kedua calon Bantai dari fraksi memang ingin disingkirkan, memasangkannya dengan Bantai dari penganut Fraksi yang berbeda, adalah cara yang tidak tepat karena mudah ditebak. Aku yakin Baginda Ratu tidak memiliki niat seperti itu. Fraksi juga akan bermasalah jika penyingkiran seperti itu dilakukan menggunakan kesempatan yang diberikan ini. Masalah yang muncul akan dapat dilihat dengan jelas. Terlalu berbahaya.”
Tamanda melirik Batura. Tamanda bisa menerima alasan dari Hawari. Dia tidak ingin memberikan sanggahan. Tamanda melirik Batura karena menduga Batura tidak mungkin bisa menerima pemikiran Hawari tersebut.
“Saya tidak berani menjamin bahwa Sagala akan aman bersama kami, Tuan. Hansora juga tidak bisa dijamin keselamatannya. Kami akan bertindak tegas pada Sagala jika Hansora mengalami nasib buruk bersama Bantai lainnya,” niat Batura terucap dengan tegas.
“Apapun yang terjadi pada Hansora, kalian jangan bertindak macam-macam terhadap Sagala,” ancam Hawari.
Batura terpana sejenak memandang Hawari. Menghembuskan napas keras kemudian untuk menerima larangan atasannya. “Baiklah. Kalau memang harus seperti itu, kami bisa menahan diri, Tuan. Tapi jika Sagala bertindak di luar batas, apakah kami akan membiarkannya begitu saja?”
“Apapun yang dilakukan oleh Sagala, kalian jangan sampai mengusiknya. Tugas ini merupakan ujian bagi semua Bantai dan Fraksi. Baginda Ratu ingin pembuktian dari kita bahwa kita bisa bekerjasama dengan baik dengan Fraksi lain. Semua ini gara-gara Rivari,” resah Hawari.
“Kenapa lagi dengan Rivari, Tuan?” tanya Tamanda.
“Kau tidak mendengar berita tentang anak itu? Tentang kematian seorang anggota pasukan khusus dari kelompok satu?” tanya Hawari pada Tamanda.
Tamanda mengangguk. “Dengar, Tuan. Rivari membiarkan Ajara terkepung oleh musuh hingga tewas terbunuh.”
“Gara-gara Rivari yang dianggap tidak bisa bekerjasama itu, semua kena getahnya. Semua diuji kekompakkannya. Oleh karena itulah, Bantai dan Calon Bantai dipasangkan dengan Fraksi yang berbeda.”
Tamanda terangguk-angguk. Mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Hawari.
“Hansora akan celaka. Saya yakin, Tuan. Kalau memang penelusuran Hajiri itu ditujukan untuk memeriksa kelompok petarung Gunung Langka, Hajiri akan menghadapi masalah yang besar jika kelompok petarung itu tidak bisa diajak bekerjasama. Akan terjadi pertarungan yang sengit karena kelompok itu memiliki petarung-petarung yang kuat. Kalau sudah terjadi hal seperti itu, Fraksi Reila memiliki alasan yang kuat jika Hansora mengalami musibah,” ujar Batura setelah diam merenung beberapa saat.
“Aku juga berpikir begitu,” sahut Hawari cepat. “Ada benarnya Baginda Ratu mengistirahatkan Raguka. Kondisi Raguka dan pasukan pendampingnya tidak dalam keadaan yang terbaik untuk berurusan dengan kelompok Gunung Langka. Dan ada benarnya juga bukan Kancara yang diutus ke gunung Langka. Kalian hanya akan membuat suasananya semakin memanas karena membawa tudingan bahwa Fraksi Reila memanfaatkan kelompok itu. Hajiri adalah pilihan terbaik. Tapi entah masih menjadi yang terbaik jika memasangkan Hajiri dengan Hansora. Aku juga tidak mengerti.”
“Apa memang Fraksi Reila telah memanfaatkan kelompok petarung Gunung Langka, Tuan?” tanya Tamanda pada Hawari.
“Hanya dugaan!” bantah Batura cepat sebelum Hawari menjawabnya.
“Tidak jelas dan tidak beralasan, menurutku. Semua itu hanya isu yang dihembuskan oleh Raguka pada Baginda Ratu. Seperti ingin memanaskan hubungan antara Fraksi Reila dengan Fraksi Reiji. Seperti mengadu domba,” resah Hawari.
Batura menggelengkan kepala setelah membayangkan hal yang diresahkan Hawari. “Raguka terlalu berbahaya. Orang itu juga sulit disingkirkan. Kalau benar isu yang dibuat oleh Raguka ini ingin membuat memanasnya hubungan Fraksi, jika Hansori bisa disingkirkan karena penugasan ke gunung Langka, permusuhan antar Fraksi benar-benar akan terangkat Tuan.”
“Oleh karena itu kau jangan terpancing untuk bertindak semberono terhadap Sagala. Kau harus berhati-hati. Musibah pada Sagala, akan semukin memperuncing masalah diantara Fraksi. Dan menurutku, Hansora akan baik-baik saja. Fraksi Reila harus menjaga mukanya di hadapan Baginda Ratu,” jelas Hawari pada Batura.
Batura kemudian terdiam merenungkannya. Diam-diam dia mulai mengakui kecerdasan Ratu Delana dalam membuat keputusan penugasan terhadap Bantai dan calon-calon Bantai. Fraksi-fraksi dipaksa harus bekerja ekstra hati-hati, harus bisa menunjukkan loyalitas yang besar pada Ratu.
Menugaskan Hajiri yang mengikuti Fraksi Reila pada kasus yang dicurigai didalangi oleh Fraksi Reila sendiri, dengan keikutsertaan Hansora yang berasal dari Fraksi Reiji, membuat Hajiri harus bekerja secara penuh. Bekerja serius menghadapi kelompok Gunung Langka. Jika tidak, Hansora bisa celaka. Kalau sampai Hansora celaka, Fraksi Reila akan dipermalukan sendiri karena musibah tersebut. Fraksi itu akan semakin terdesak posisinya di Dewan Agung Kerajaan.
Untuk beberapa saat, Hawari juga diam merenung. Karena Batura masih diam merenung, suasana kantor Kepala Pasukan Keamanan Negeri Meanda menjadi senyap.
“Saya tidak mengerti, kenapa Bantai Keempat dan Bantai Kelima selalu menjadi tempat pertumpahan darah. Tidak ada petarung yang bisa bertahan lama di tempat itu. Masih menjadi calon saja, mereka harus berjuang antara hidup dan mati,” tutur Tamanda menghentikan kesunyian di ruang kerja Kepala Pasukan Keamanan Negeri Meanda.
“Karena kedua tempat dari Bantai yang kosong itu penting bagi peta kekuatan Baginda Ratu,” jawab Hawari.
“Penting bagi kita juga, Tuan.” sahut Batura mengingatkan.
“Iya. Selama kedua Bantai itu diisi oleh petarung yang berasal dari pilihan orang-orang kepercayaannya Baginda Ratu, beliau semakin kuat dan bebas menekan kekuatan yang dimiliki fraksi-fraksi,” ujar Hawari.
Hawari menerawang sejenak sebelum melanjutkan bicaranya. “Tampaknya, Baginda Ratu tidak ingin menyerahkan kedua Bantai itu diisi oleh orang-orang dari Fraksi. Sepertinya kau benar, Batura. Calon-calon dari fraksi sepertinya ingin disingkirkan oleh Baginda Ratu. Tapi aku tidak yakin mereka akan bisa disingkirkan. Baginda Ratu bisa dipersalahkan jika terjadi musibah pada kedua Calon Bantai yang diusulkan oleh fraksi.”
“Apakah Baginda Ratu memang terkesan lebih memilih Rivari menjadi Bantai Kelima, Tuan?” tanya Tamanda lagi pada Hawari.
Hawari menganggukkan kepala. “Baginda Ratu terlihat begitu melindungi Rivari. Kesalahan Rivari tidak dianggap sama sekali olehnya. Bahkan Rivari dipercaya melakukan tugas sendiri.”
“Kalau memang sudah seperti ini, kalau memang Bantai Keempat dan Kelima itu penting, seharusnya Bantai Keempat yang dulu sudah ada, tidak perlu disingkirkan. Sekarang justru jadi masalah bagi kita untuk mendapatkan tempat itu kembali,” sesal Batura.
Hawari mendesah. “Bantai Keempat itu diragukan kesetiaannya. Omongannya tidak bisa dipegang. Orang itu pantas disingkirkan. Tapi memang, Bantai Keempat selalu mendatangkan masalah bagi kita. Sekarang pun bisa menjadi masalah.”
Batura terkejut. “Masalah apalagi, Tuan?”
“Rivari sekarang ditugaskan untuk mengusut pelaku pembunuhan atas Bantai Keempat.”
Batura semakin terkejut mendengar jawaban Hawari. “Kita tidak boleh membiarkannya, Tuan. Rivari bisa menuntun masalah ini pada kita.”
Hawari menggelengkan kepala. “Tapi menurutku, tidak akan menjadi masalah untuk sementara. Bunkaja bukanlah orang yang tepat untuk menelusuri masalah itu. Bunkaja tidak ada hubungannya dengan pembunuh Bantai Keempat. Bunkaja justru bisa menjadi masalah bagi Rivari jika Rivari salah bertindak. Bintang Laut bukanlah perguruan kecil.”
Batura tiba-tiba tersenyum lebar. “Sepertinya, mengarahkan kasus itu pada Bunkaja membawa hasil yang bermanfaat bagi kita, Tuan. Saya yakin Bintang Laut akan membuat masalah besar untuk Rivari. Kalau Rivari bermasalah lagi, dia bisa gugur dengan sendiri dari pencalonan Bantai.”
“Iya. Semoga saja.” Hawari setuju. “Tapi, Jantaka bukanlah orang yang mudah dihadapi. Rivari bisa aman jika tetap berada bersama Jantaka. Walaupun Jantaka tidak pandai dalam berpolitik, tapi pengalaman selama ini menunjukkan bahwa Jantaka tidak bisa diusik begitu saja. Rivari menjadi Calon Bantai yang diperhitungkan karena Jantaka yang mengusulkannya.”
“Jika Jantaka tidak bisa diusik, berarti Rivari yang harus benar-benar ditargetkan. Anak itu harus disingkirkan sebelum dia membuat masalah yang lebih besar, Tuan” usul Tamanda.
Walau mengangguk, Hawari membantah, “menurutku, tidak mudah. Rivari adalah petarung yang kuat. Dia bisa menaklukkan Lamaka. Artinya, Rivari lebih hebat dari Bantai Kelima yang sebelumnya yang dibunuh oleh Lamaka. Dan sebelum itu, Rivari telah membunuh pedagang kaya di Wilayah Timur Meanda yang tengah dikawal oleh petarung-petarung dari kelompok petarung aliran Matahari.”
“Sepertinya Rivari memang bukan petarung sembarangan. Raguka saja masih tidak berdaya menghadapi petarung-petarung dari Kelompok Aliran Matahari. Dia lebih kuat dari Bantai Pertama kalau begitu,” nilai Tamanda.
Walau Rivari diakui sebagai petarung yang sulit dihadapi, Batura masih bisa tersenyum. “Sekuat apapun dia, anak itu masih bisa disingkirkan. Masih ada cara untuk menghadapinya. Benar begitu, Tuan?”
“Iya, aku tahu. Tapi cara itu adalah cara terakhir. Terlalu beresiko jika digunakan untuk menyingkirkan Rivari yang belum bisa dipastikan menjadi Bantai. Rivari memang harus disingkirkan. Kita harus menunggu saat yang tepat. Kita juga harus berhati-hati karena Baginda Ratu menaruh perhatian yang besar pada Rivari. Baginda Ratu bisa menghancurkan kita kalau kita ceroboh menghadapi Rivari,” pesan Hawari.
Batura dan Tamanda menganggukkan kepala.
Ketiga orang penganut Fraksi Reiji itu melanjutkan perbincangan mereka dengan santai. Tidak ada pembicaraan serius. Mereka bercanda, masih bisa tertawa-tawa. Kemudian ketiganya berangkat bersamaan menuju tempat acara pemakaman seorang anggota Pasukan Khusus Istana Mewata yang tewas melaksanakan tugas bersama dengan Bantai Pertama. Pemakaman Ajara.
Di suatu tempat, di luar Istana Mewata keesokan harinya.
Rivari melangkah seorang diri menuju kediamannya setelah usai makan siang di sebuah rumah makan di sekitar pasar timur Mewata. Rumah makan yang agak jauh dari rumahnya.
Ketika Rivari semakin mendekati rumah petakannya, langkah kakinya terhenti. Plak! Gumpalan tanah lembek mendarat telak di pipi kirinya. Sekali lagi, plak! Kali ini berhambur menghantam bahu kiri Rivari.
Suara teriakan seorang wanita melengking tinggi terdengar. “Anggota pasukan yang pergi bersamamu mengatakan kalau kau membiarkan kakakku mati di hadapanmu! Kenapa kau lakukan itu pada temanmu sendiri?!”
Rivari menghapuskan sisa tanah yang menutup mata kirinya. Dengan kedua matanya, dia menemukan gadis yang membentaknya. Dia menemukan di tangan kanan gadis itu telah tergenggam segumpalan tanah lembek yang siap ia lemparkan lagi.
Gadis itu adalah gadis yang ditemui oleh Rivari dua hari yang lalu ketika Rivari kembali ke Mewata. Gadis yang menanti kakaknya kembali dari tugas bersama Bantai Pertama. Adik dari Ajara.
“Sudah aku katakan padamu, kakakmu berada di tempat yang salah. Dia telah terkepung. Dia terbunuh karena dia tidak mampu bertahan,” jelas Rivari dengan nada kalimat yang datar.
“Tapi dia bersamamu! Kau seharusnya melawan semua musuhnya itu bersamamu! Tapi kau membiarkannya melawan mereka seorang diri!” bentak si gadis penuh amarah.
“Aku tidak ditugaskan untuk melindunginya. Dia memang harus berjuang sendiri.”
“Keparat!” Sambil mengutuk, gadis itu melemparkan gumpalan tanah yang berada dalam genggamannya. Tanah lembek yang ternyata bercampur dengan kotoran ternak.
Plak! Gumpalan tanah lembek itu mendarat di dagu Rivari. Sebagian menyentuh bibirnya.
“Hei! Hei! Hei! Hentikan!” Seorang lelaki berlari dengan cepat berusaha menahan niat si gadis yang akan melemparkan tanah yang ia bawa dalam ember di tangan kirinya. “Kau bisa celaka jika memperlakukannya seperti ini!”
Si gadis tetap berang. “Aku tidak takut!”
Plak! Lemparan gumpalan tanah terakhir mengenai tubuh Rivari lagi sebelum Jantaka sempat menangkap pergelangan tangan si gadis.
“Aku bilang, hentikan!” bentak Jantaka keras. Bentakan keras yang membuat si gadis terperanjat takut. “Tidak tahukah kau kalau dia adalah seorang calon Bantai. Kau hanya akan menjadi mayat jika melemparinya lagi!”
Si gadis hanya bisa menangis ketika Jantaka merebut ember penuh berisikan tanah yang banyak mengandung air dari tangannya. Jantaka menumpahkan seluruh isi ember ke tanah, kemudian melempar jauh-jauh ember si gadis.
Rivari hanya membersihkan tanah yang menutup pandangan dan mulutnya saja. Selebihnya, kotoran itu tetap ia biarkan begitu saja menempel di tubuhnya. “Sudah aku katakan padamu, kakakmu berada di tempat yang salah.”
Jantaka termangu sejenak menatap Rivari. Setelah berkata-kata, Rivari melangkahkan kakinya yang tadi terhenti. Rivari tidak melakukan apapun pada gadis yang melemparinya dengan kotoran.
Dia tidak marah? Hati Jantaka bertanya sendiri. Sambil geleng kepala, Jantaka kemudian berusaha mengejar langkah Rivari yang semakin dekat menuju rumahnya. Si gadis telah pergi mengambil ember yang dilemparkan oleh Jantaka. Kemudian gadis itu pergi entah kemana lagi.
“Dia adiknya Ajara,” beritahu Jantaka.
Rivari tidak berkomentar karena ia telah mengetahuinya semenjak pertama kali bertemu dengan gadis yang melemparinya itu. Rivari terus melangkahkan kakinya.
“Dia tinggal bersama kakak dan bibinya di kota ini. Dia sudah tidak memiliki orang tua lagi. Bibinya juga sudah tua. Ajara menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin karena itulah, Ayana marah padamu. Maafkan atas apa yang dia lakukan padamu. Aku harap kau bisa memaklumi kesedihannya,” jelas Jantaka lebih lanjut.
Oh, namanya Ayana. Rivari tidak memberi tanggapan apapun terhadap kalimat prihatin Jantaka. Sikapnya begitu dingin.
“Alasanmu membiarkan Ajara menghadapi lawannya seorang diri, masih bisa dibenarkan oleh Tandika dan Hawari. Mereka bisa memaklumimu. Baginda Ratu juga merasa lega. Tapi, alasanmu itu membuat kelompok satu marah besar padamu. Kau membongkar kebiasaan buruk mereka.” Jantaka terpaksa berbicara sendiri karena Rivari tidak berkata apapun padanya.
Kemarin Rivari dipanggil untuk dimintai pertanggungjawaban pada Tandika dan Hawari atas apa yang ia lakukan terhadap Ajara. Jantaka mengetahui jawaban Rivari karena Ratu Delana membicarakan apa yang dilaporkan kemudian oleh Tandika atas pertanggungjawaban Rivari.
“Memang, menghabisi lawan yang sudah menyerah kalah, bukanlah tindakan yang benar. Tapi terkadang, tindakan seperti itu diperlukan juga untuk membasmi kejahatan. Membasmi sampai benar-benar habis hingga tidak ada lagi yang bisa melawan,” lanjut Jantaka.
“Saya tidak akan menghadapi orang yang tidak termasuk dari apa yang diperintahkan pada saya. Apalagi jika masalahnya telah selesai. Saya tidak akan melakukan apapun.”
“Iya, aku tahu prinsipmu itu. Aku mendukungmu. Menurutku, tidak salah jika kau tetap terus berpegang pada prinsip seperti itu. Tapi, aku peringatkan kepadamu. Prinsipmu itu harus kau abaikan untuk suatu waktu. Bukan satu atau dua orang yang menginginkan kematianmu, tapi banyak pihak, pihak yang bahkan terorganisasi dengan baik. Kematianmu telah diincar untuk menghentikanmu menjadi Bantai.”
Rivari menggelengkan kepala. “Sudah semenjak dulu saya yakin dengan apa yang saya percaya itu, Tuan. Sudah semenjak kecil saya terancam oleh kematian, menjadi orang yang diburu. Tapi hingga sekarang, saya masih hidup.”
“Jangan berlagak sombong, Rivari! Musuhmu kali ini bukanlah kelompok sembarangan. Aku menduga mereka adalah kelompok yang membunuh Baginda Raja. Mereka mengincarmu karena mereka sepertinya telah mengetahui keinginan Baginda Ratu terhadapmu.”
“Apa yang Baginda Ratu inginkan dari saya, Tuan?” tanya Rivari.
“Baginda Ratu menaruh harapan besar padamu untuk mengungkap pelaku pembunuh Baginda Raja. Itulah sebabnya beliau bersikeras menjadikanmu Bantai. Bersiaplah jika sewaktu-waktu kau diangkat menjadi Bantai olehnya. Bersiaplah menghadapi musuh besarmu, musuh yang diperkirakan adalah musuh besar yang mengancam keamanan negeri ini dan kedaulatan Baginda Ratu.”
Rivari terdiam. Terbayang dibenaknya akan cerita mengenai tewasnya Raja Zaulan. Tewas terbunuh di kamar peristirahatannya yang dijaga ketat oleh banyak pengawal. Kamar yang masih dalam keadaan pintu dan jendela yang terkunci rapat dari dalam. Terbunuh tanpa diketahui kapan saatnya dan tanpa meninggalkan jejak. Seolah-olah tampak seperti bunuh diri. Tapi bukan bunuh diri jika senjata yang melukainya tidak bisa ditemukan.
Musuh seperti itukah yang akan aku hadapi nanti? Sepertinya Tuan Jantaka benar. Kelompok pembunuh seperti itu, bukanlah musuh yang mudah untuk dihadapi. Dan apakah sekarang aku ingin dibunuh oleh mereka karena aku akan ditugaskan untuk mengungkap kejahatan mereka? Tiba-tiba Rivari merasa cemas akan nasibnya sendiri.
Catatan pinggiran (bukan merupakan bagian dari cerita)
Ratu Delana adalah pemimpin tertinggi Negeri Meanda.
Dewan Agung Kerajaan Negeri Meanda terdiri atas tiga kelompok perwakilan, yaitu: Perwakilan Fraksi Reiji, Perwakilan Fraksi Reila dan Perwakilan Rakyat Negeri Meanda yang ditunjuk oleh Ratu.
Hawari adalah Kepala Pasukan Keamanan Negeri Meanda. Membawahi seluruh Pasukan Keamanan yang terdiri atas Pasukan Keamanan Negeri, Pasukan Keamanan Wilayah, Pasukan Keamanan Kota, Pasukan Keamanan Desa.
Selain pasukan keamanan, Hawari juga memimpin seluruh pasukan pengawal yang terdiri atas Pasukan Pengawal Keluarga Raja dan Pasukan Pengawal Istana. Pasukan Pengawal Istana sendiri terbagi atas Istana Mewata, Istana Atara, Istana Grandia dan Istana Tanukus.
Selain pasukan keamanan dan pasukan pengawal, Hawari menjadi atasan dari Kepala Pasukan Khusus Istana Mewata dan lima Bantai.
Pasukan Khusus Istana Mewata dipimpin oleh Tandika. Pasukan ini terbagi atas lima kelompok sebagai pendamping tugas dari lima Bantai.
Gasani adalah ketua kelompok satu yang mendampingi Bantai Pertama, Raguka.
Batura adalah ketua kelompok dua yang mendampingi Bantai Kedua, Kancara.
Ketua kelompok tiga belum disebutkan namanya, sebagai kelompok yang mendampingi Bantai Ketiga, Hajiri.
Ketua kelompok empat juga belum disebutkan namanya, sebagai pendamping dari Bantai Keempat yang hingga kini belum terisi.
Jantaka adalah ketua kelompok lima yang mendampingi Bantai Kelima yang juga masih lowong.
Calon Bantai yang diusulkan untuk mengisi kekosongan Bantai Keempat dan Kelima adalah Sagala, Hansora dan Rivari.
Bagian 4. Hal yang Ditakuti
Satu hari setelah diputuskan oleh Ratu Delana, kelompok tiga Pasukan Khusus Istana Mewata berangkat meninggalkan istana menuju wilayah Grandia. Kelompok itu terdiri dari tujuh orang anggota pasukan khusus dan seorang ketua kelompok. Kelompok pasukan khusus itu akan mengampingi tugas dari Bantai Ketiga Hajiri dan Calon Bantai Hansora.
Dengan menunggangi kuda, kesembilan orang itu akan menempuh perjalanan selama enam hari menuju Gunung Langka, wilayah yang berada di sebelah barat laut Negeri Meanda. Wilayah Grandia dulunya adalah kerajaan kecil yang berdiri sendiri. Oleh Reila, kakak dari Raja Reiji, kerajaan Grandia ditundukkan untuk menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Negeri Meanda.
Negeri Meanda terdiri atas tujuh wilayah. Wilayah tengah, timur, barat, selatan, utara, Tanukus dan Grandia. Masing-masing wilayah memiliki pemimpin sendiri-sendiri. Pemimpin wilayah disebut Kepala Wilayah. Kepala Wilayah memimpin kepala-kepala kota dan desa di wilayahnya. Kepala Kota selain memimpin kota, juga menjadi koordinator dari kepala-kepala desa di sekitar kotanya. Hanya sebatas mengkoordinir saja, Kepala Kota tidak membawahi Kepala Desa.
Jika dua hari yang lalu Hajiri diberangkatkan, kemarin adalah giliran kelompok dua Pasukan Khusus Istana Mewata yang pergi meninggalkan istana. Kelompok pasukan khusus yang dipimpin oleh Batura itu akan mendampingi Bantai Kedua Kancara dan Calon Bantai Sagala menuju wilayah selatan Negeri Meanda. Kelompok itu akan mengusut pelaku pencurian bahan makanan yang tersimpan di Gudang Penyimpanan Pangan Negeri.
Hari ini, Rivari berangkat bersama Jantaka menuju wilayah barat Negeri Meanda. Rivari akan menempuh perjalanan selama lima hari menuju kota Erai, kota di ujung paling barat dari kaki pegunungan Eganori.
Matahari baru saja berangkat naik ketika kelompok lima pasukan khusus itu mulai meninggalkan istana. Kelompok yang berjumlah delapan orang itu, melangkah keluar gerbang sisi kiri istana dengan menuntun kuda mereka. Mereka akan menunggangi kuda mereka setelah melewati kawasan kota yang padat penduduknya.
Setelah melewati kawasan kota Mewata yang padat penduduk, ketika hendak menunggangi kuda, kelompok pasukan khusus tersebut dikejutkan oleh teriakan seorang gadis di kejauhan.
“Bantai tidak tahu diri! Mau pergi kemana lagi kau?!”
Serentak seluruh kepala yang mendengar teriakan lantang sang gadis, semua berpaling untuk mencari tahu pemilik suara tersebut. Bukan hanya kelompok pasukan saja, tapi warga di sekitar mereka pun turut mencari tahu.
“Hah? Gadismu itu tidak mau membiarkanmu pergi begitu saja?” kekeh Jantaka pada Rivari setelah menemukan sumber teriakan. “Apa yang sudah kau lakukan padanya hingga dia mengejarmu seperti ini?”
Rivari angkat bahu. Remaja putih tampan itu enggan menjawab pertanyaan Jantaka.
“Mungkin karena membiarkan kakaknya terbunuh,” sahut seorang anggota pasukan khusus yang menyertai kepergian Jantaka dan Rivari. Orang yang bernama, Niweya.
“Kalian semua akan terbunuh olehnya! Kalian akan dibunuh oleh Bantai yang tidak bertanggung jawab itu!” ancam Ayana dengan keras pada anggota pasukan khusus.
Jantaka semakin terperangah. Geleng-geleng kepala kemudian.
“Heh! Hati-hati dengan ucapanmu, Nona. Kau bisa celaka jika menjelekkannya seperti itu. Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya seorang pasukan khusus yang terdekat dengan Ayana berdiri. Orang yang bernama Arosan.
“Kalian semua akan dibunuh olehnya. Sebelum kalian dibunuh, sebaiknya kalian membunuhnya! Aku berharap orang itu mati!” teriak Ayana lagi dengan keras walaupun orang yang berbicara dengannya persis di dekatnya.
“Uh, menakutkan,” gumam seorang anggota pasukan khusus yang lain lagi, Verjiras. “Tidak mungkin kami membunuhnya. Kami juga tidak akan terbunuh olehnya.”
Kali ini kedua mata Ayana melotot. “Kalau Bantai itu tidak mati juga, aku akan menunggunya kembali. Aku yang akan membunuhnya!”
Sontak seluruh anggota pasukan khusus terkesima. Serempak mereka menggelengkan kepala.
Tanggapan Rivari berbeda dengan orang-orang yang bersamanya. Ah, gadis itu akan menungguku kembali? Rivari membesarkan perasaannya. Akhirnya, ada juga orang yang menunggu kedatanganku.
“Iya, baiklah. Aku akan membawanya kembali hidup-hidup padamu. Kau bisa menyelesaikan urusanmu dengannya nanti,” janji Jantaka pada Ayana . Kemudian lelaki berwajah keras yang juga tampan tersebut, memberi isyarat pada anggotanya untuk segera pergi meninggalkan Mewata. “Ayo! Kita harus segera pergi.”
Rombongan pasukan itu kemudian melesat meninggalkan Ayana yang masih menggerutu begitu saja. Mereka tidak lagi memedulikan apa yang diteriakkan Ayana dari kejauhan.
Bukan tidak memedulikan sebenarnya. Hanya menunda. Ketika rombongan itu beristirahat untuk makan siang, apa yang dilakukan Ayana menjadi topik pembicaraan mereka.
“Kau harus berhati-hati, Rivari. Perempuan di Mewata tadi, bisa menjadi ancaman serius untukmu,” ujar Verjiras mengingat Rivari pada Ayana. “Dia menakutkan sekali. Dia bisa membunuhmu.”
Anggota pasukan kelompok Jantaka yang lainnya, tersenyum mendengar peringatan Verjiras tersebut. Ancaman Ayana sama sekali tidak dianggap serius oleh mereka. Justru menjadi bahan lelucon.
Jantaka juga ikut tersenyum. “Musuhmu bertambah satu lagi, Rivari. Semakin lama semakin banyak jadinya.”
Rivari tidak memberikan tanggapan apapun. Dia tetap tenang dengan sikapnya. Walaupun tenang, tapi ada satu hal yang mengusik perasaannya. Kalau memang Ayana menantinya kembali ke Mewata, maka Ayana akan menjadi orang pertama yang menyambut kedatangan Rivari.
“Setelah dia menjadi Bantai, dia akan dihormati, Tuan,” ujar Arosan. “Tidak ada orang yang berani meremehkannya. Adik Ajara itu mungkin akan bertekuk lutut pada Rivari.”
Jantaka mengangguk dengan senyum lebar setengah tertawa.
“Hanya saja, pengalaman selama ini menunjukkan bahwa tidak pernah ada seorang petarung pun yang bisa bertahan lebih dari enam bulan menjadi Bantai Kelima. Aku harap, Rivari tidak mengalami nasib yang sama seperti pendahulunya,” harap Kiraga, anggota pasukan khusus kelompok lima yang paling tua.
Seluruh anggota pasukan khusus terdiam sejenak. Perubahan arah pembicaraan oleh Kiraga itu mengejutkan yang lainnya. Serentak mereka kemudian menatap Rivari. Menanti tanggapan.
Rivari tetap diam, tidak berkata-kata. Walau tidak mengatakan apapun, mata tajamnya melirik pada Kiraga. Bantai Kelima tidak pernah bertahan lebih dari enam bulan. Hal ini coba diingat oleh Rivari di kepalanya.
“Iya. Bukan hanya Bantai Kelima, Bantai Keempat juga tidak pernah ada yang bertahan lebih dari enam bulan. Pemilihan terhadap calon Bantainya pun, nyaris selalu terjadi pertumpahan darah,” ujar Jantaka memperkuat pernyataan Kiraga. “Kedua gelar Bantai itu selalu menjadi rebutan. Bahkan Raja Zaulan sampai ikut tewas karena konflik dua Bantai itu.”
Pembicaraan menjadi lebih serius kemudian. Tujuh orang anggota pasukan khusus, tidak lagi bercanda. Walau ikut memperhatikan, Rivari tetap diam seribu kata.
“Bagaimana dengan Hansora dan Sagala? Apakah kedua calon Bantai dari Fraksi itu memiliki kemungkinan terpilih menjadi Bantai, Tuan?” tanya Niweya pada Jantaka. Hanya pada Jantaka seluruh anggota pasukan khusus tersebut memanggil dengan sebutan Tuan.
“Kalau dilihat dari perhatian Baginda Ratu, Rivari lebih diharapkan untuk menjadi Bantai Kelima. Aku tidak tahu dengan Bantai Keempat. Apakah salah satu dari kedua calon dari Fraksi itu nanti akan diseleksi oleh Baginda Ratu? Aku tidak bisa memperkirakannya,” jawab Jantaka.
“Ada kemungkin kedua calon dari Fraksi itu akan disingkirkan secara paksa oleh Baginda Ratu,” sahut Arosan. “Isu yang saya dengar, mengatakan seperti itu, Tuan.”
“Menurutku, bukan Baginda Ratu yang akan menyingkirkannya. Dan bukan hanya pada Hansora dan Sagala saja, Rivari juga terancam akan disingkirkan secara paksa oleh pihak lain. Ancaman terhadap calon Bantai diperkirakan telah menjadi serius. Aku mendengar bocoran dari Rantaris tentang pihak yang berupaya menyingkirkan semua calon Bantai itu,” beritahu Jantaka. Rantaris adalah ketua kelompok empat Pasukan Khusus Istana Mewata.
“Terhadap semua calon Bantai?” ulang Gohiras, lelaki besar berkulit hitam yang sedari tadi diam mendengarkan.
Jantaka mengganguk. “Untuk sementara, aku tidak bisa mengatakan pada kalian pihak mana yang sudah dicurigai akan menyingkirkan calon Bantai tersebut. Tapi. Aku memperingatkan kalian semua. Sebagai anggota kelompokku, kalian harus waspada. Aku harap kalian juga harus berhati-hati. Menurut dugaan, bukan hanya Rivari saja yang diancam akan dibunuh. Kita semua juga terancam sebenarnya, khususnya kelompok lima dan kelompok empat. Kita semua bisa menjadi korban karena pemilihan calon Bantai kali ini.”
Wajah-wajah yang berdiskusi tampak semakin tegang. Dari lima kelompok Pasukan Khusus Istana Mewata, hanya kelompok dua dan kelompok tiga saja yang kepemimpinannya dipegang oleh orang-orang perwakilan dari Fraksi. Kelompok satu, empat dan lima, semuanya dipimpin oleh orang-orang kepercayaan Ratu Delana.
“Sepertinya Fraksi ingin menguasai seluruh Bantai dan seluruh kelompok pasukan khusus. Tapi saya tidak takut, Tuan. Kita pernah melewati semua ancaman selama ini. Kita bahkan bisa membuktikan bahwa kita bisa bertahan walaupun Bantai selalu berganti. Kita akan tetap bertahan, Tuan,” ucap Kiraga penuh keyakinan.
“Iya. Kita memang bisa bertahan selama ini. Kita terbukti sanggup bertahan. Walaupun begitu, jangan sampai membuat kita lengah. Kita tetap harus waspada,” tegas Jantaka.
Serentak anggota pasukan khusus menganggukkan kepala. “Baik, Tuan.”
“Bagaimana dengan pasukan khusus kelompok satu, Tuan?” tanya Niweya tiba-tiba. “Apakah kelompok itu akan membawa masalah bagi kita? Ataukah hanya pada Rivari saja?”
Seorang anggota pasukan lainnya tergelak mendengar pertanyaan Niweya. “Mereka memang biangnya masalah. Tidak ada kelompok pasukan khusus lain yang tidak bermasalah dengan mereka. Aku pikir, Rivari hanya kena sial saja ketika bersama mereka.”
“Iya. Mereka memang telah bermasalah dengan Rivari. Aku pikir, masalah itu tidak akan mempengaruhi kita,” jawab Jantaka atas pertanyaan Niweya padanya.
“Kelompok itu bermasalah karena mereka merasa bahwa mereka adalah yang terkuat. Memang terkuat sebenarnya. Tuan Raguka adalah Bantai yang terkuat untuk saat ini. Hanya dia yang tetap bertahan menjadi Bantai selama bertahun-tahun semenjak awal adanya Bantai. Tapi saya tidak menyukai sikap mereka. Terlalu sombong dan besar kepala,” ungkap Arosan.
“Wajar saja kalau mereka menjadi sombong dan besar kepala. Apalagi Baginda Ratu juga memberikan perhatian khusus. Mereka seperti dilindungi. Mereka semakin bertingkah jadinya,” sahut Verjiras.
“Selama ini tidak ada yang berani mengungkap tabiat buruk mereka. Ternyata Rivari berani mengungkapnya. Salut. Anak ini bisa dipercaya. Berani mengungkap kebenaran,” ujar Kiraga dengan senyum tak jelas pada Rivari.
Jantaka ikut tersenyum. Sambil mengangguk, Jantaka teringat kembali apa yang menjadi alasan bagi Rivari membiarkan Ajara tewas terbunuh di hadapannya sendiri.
Ketika itu, Raguka ditugaskan menelusuri bukti-bukti yang mengarah pada pelaku pembunuhan atas Raja Zaulan bersama Rivari. Ketika menjalani tugasnya, Raguka menemui halangan. Orang yang dimintai keterangan, tidak dapat diajak bekerjasama.
Karena tidak dapat diajak bekerjasama, cara kekerasan digunakan. Keterangan akhirnya di dapat setelah Raguka bersama dengan pasukan khusus kelompok satu menundukkan lawannya secara paksa, dengan cara pertarungan.
Menurut Rivari, setelah keterangan didapat, seharusnya kelompok itu segera kembali ke istana dan membiarkan musuh yang sudah tidak berdaya tersebut. Harus dibiarkan karena mereka sudah tidak dibutuhkan dan bukan menjadi tujuan lagi.
Tapi, kelompok itu memilih membunuh semua lawan yang telah menyerah tersebut satu demi satu. Sama seperti yang dilakukan anggota lainnya, sebelum membunuh, Ajara dengan penuh kesombongan menantang musuh yang telah bertekuk lutut untuk beradu kekuatan dengannya. Tidak tanggung, Ajara menantang sekaligus dua orang lawannya.
Tiba-tiba, secara tidak terduga, lawan mereka justru bangkit memberikan perlawanan karena tidak mampu menahan hinaan. Musuh sudah tidak berpikir panjang lagi. Lebih baik mati melawan daripada menyerah, dihina dan dibunuh pada akhirnya.
Perlawanan musuh secara membabi buta tersebut ternyata merepotkan pasukan khusus. Raguka yang awalnya juga membiarkan anggota kelompok satu menindas musuhnya, harus turun tangan kembali ketika pasukan pendampingnya terlihat terdesak.
Persis seperti yang dikatakan oleh Rivari, karena terdesak, Ajara terpisah dari anggota lainnya. Ajara bahkan terlepas dari jangkauan Raguka. Ajara terkepung sendiri pada akhirnya.
Rivari yang sedari semula tidak sekalipun mencabut pedangnya, tetap tidak melakukan apapun pada musuh yang dihadapi kelompok satu walaupun Ajara persis di dekatnya. Tidak mendapat bantuan dari siapapun, tiga orang musuh yang sebelumnya dihina olehnya, berhasil membunuh Ajara.
Ratu Delana memutuskan bahwa Rivari tidak dapat dipersalahkan atas kematian Ajara. Bahkan, kelompok satu mendapat hukuman kedisiplinan atas tindakan semena-mena mereka.
Setelah cukup beristirahat, rombongan Pasukan Khusus Istana Mewata bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Sebelum berangkat kembali, Jantaka menyempatkan diri untuk berbicara empat mata dengan Rivari.
“Seperti yang diperingatkan oleh Tandika, tugas kita ini bukanlah tugas yang mudah. Kita akan berhadapan dengan sebuah perguruan besar. Perguruan yang memiliki jumlah murid yang banyak. Kalaupun kita unggul dalam kemampuan, tapi jumlah mereka harus kita perhitungkan,” beritahu Jantaka.
“Kalau begitu, kita tidak perlu menghadapinya dengan kekerasan, Tuan.”
Jantaka merenung sejenak. Jantaka mengingat apa yang dilakukan Ayana pada Rivari beberapa hari yang lalu. Jantaka percaya bahwa Rivari tidak akan bertindak gegabah. Rivari memiliki kesabaran yang tinggi.
“Kalau hanya Bunkaja seorang, sebenarnya tugas kita ini mudah untuk diselesaikan. Yang menjadi masalah adalah murid-muridnya. Kekerasan mungkin tidak bisa kita hindari jika murid-murid perguruan itu menghalangi kita.”
“Bagaimana kalau saya sendiri yang menghadapi Bunkaja, Tuan?” tanya Rivari. “Saya bisa langsung berhadapan dengannya tanpa direpotkan oleh murid-murid perguran itu.”
Jantaka mendesah kecewa. “Aku tahu kemampuanmu, Rivari. Kau memang hebat dan aku percaya kau bisa melakukannya. Tapi. Bantai tidak diperkenankan menyelesaikan tugasnya sendiri. Sebenar apapun alasannya, Bantai tidak boleh melakukan apapun tanpa didampingi oleh pasukan khusus. Itu adalah aturan yang harus kau taati.”
Ganti Rivari yang kecewa. “Iya. Anda pernah menjelaskannya seperti itu. Saya mengerti, Tuan. Tapi, saya masih tidak mengerti kenapa harus ada aturan seperti itu?”
Jantaka menarik napasnya dalam-dalam. “Pasukan pendamping akan menjadi bukti bahwa Bantai tidak bertindak semena-mena. Kalaupun yang bertindak semena-mena itu adalah pasukan pendampingnya sendiri, selama Bantai tidak menghadapi lawannya seorang diri, Bantai tidak bisa dipersalahkan. Seperti yang terjadi pada kelompok satu yang kau ikuti dulu. Bantai tidak akan disalahkan.”
“Jadinya, Pasukan khusus yang dipersalahkan?” tanya Rivari.
“Iya. Oleh karena itulah kenapa kelompok satu marah besar padamu. Padahal, Gasani adalah teman baikku. Dia menyatakan tidak terima atas laporanmu,” resah Jantaka.
“Tapi itulah yang mereka lakukan. Apa yang saya katakan, itulah yang terjadi,” tegas Rivari.
“Iya. Hanya saja, mereka tidak menyangka bahwa kau adalah orang yang jujur. Mereka tidak mengira bahwa kau tidak mau terlibat bersama aksi mereka. Gasani tidak menduga bahwa kau tidak bersedia melakukan apapun hingga anggotanya tewas karena ulah mereka sendiri.”
Rivari merenung sejenak sebelum bertanya lagi. “Jika menurut ketua kelompok pasukan khusus, Bantai telah melakukan kesalahan, apakah Bantai itu bisa dipersalahkan?”
“Iya. Tentu saja. Ketua kelompok menjadi pengawas bagi Bantai. Itulah sebabnya Bantai dilarang bekerja sendiri.”
“Ketua kelompok bisa menjatuhkan Bantai kalau begitu?”
Jantaka mengangguk. “Itu jika dia berani melaporkan.”
Rivari ikut menganggukkan kepala. Sepertinya, dia mulai mengerti. Tapi, tiba-tiba kemudian, Rivari memandang jantaka lekat-lekat.
Jantaka merasa was-was. “Apalagi?”
“Jika Bantai melakukan kesalahan, karena ketua kelompok pendamping terbunuh, kesalahan Bantai itu tidak akan bisa diungkap pada akhirnya,” simpul Rivari. Senyumnya mengembang sinis pada Jantaka. Rivari berpikir, jika dia melakukan kesalahan, sebaiknya Jantaka disingkirkan saja agar kesalahannya tidak dilaporkan.
Tanpa Rivari duga, Jantaka justru balas memberikan senyum sinis pada Rivari. “Bantai akan dipersalahkan karena kembali tanpa pasukan pendamping. Terlebih jika tanpa ketua kelompok pasukan khusus. Bantai akan bermasalah besar di hadapan Baginda Ratu.”
Rivari terpana menatap Jantaka. Berarti, apapun yang terjadi, ketua kelompok pasukan khusus harus diutamakan keselamatannya. Jika tidak, Bantai akan dipersalahkan.
“Oleh karena itulah, ketua kelompok pasukan khusus biasanya dekat dengan Bantai-nya. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Walaupun Bantai tidak tunduk pada ketua kelompok, tapi Bantai membutuhkan ketua kelompok sebagai ukuran keberhasilan kerjanya.” Jantaka tersenyum lebar lagi. “Kalaupun aku lebih lemah darimu, kau tidak bisa semena-mena terhadapku. Aku ditugaskan untuk membantumu sekaligus mengawasimu.”
Rivari tidak berkutik pada Jantaka. Tugas seorang Bantai ternyata lebih berat dibanding tugas menjadi pembunuh bayaran. Selama menjadi pembunuh bayaran, bagi Rivari, tinggal membunuh, tugas langsung selesai. Ternyata berbeda dengan Bantai. Rivari mulai menyadari bahwa Bantai bukanlah bertugas hanya untuk sekedar membunuh saja. Bantai harus dapat mempertanggunjawabkan apa yang dilakukannya dan mempertanggungjawabkan atas keselamatan orang-orang yang bersamanya.
“Jadi atas kematian Ajara, apakah Bantai bisa dipersalahkan juga?” tanya Rivari kemudian.
“Bisa dipersalahkan jika Gasani menyatakan bahwa musibah itu terjadi akibat kelalaian Bantai. Tapi Gasani ternyata justru menyalahkanmu. Dan ternyata lagi, Baginda Ratu tidak bersedia menyalahkanmu. Baginda Ratu lebih mendukung tindakanmu. Akhirnya, Gasani sendiri yang dipersalahkan.”
Rivari menganggukkan kepala. Ternyata Ratu Delana cukup bijaksana.
Rivari belum pernah bertemu dengan Ratu Delana. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sosok pemimpin tertinggi Negeri Meanda itu. Rivari hanya mendengar, perempuan itu memiliki kepandaian yang tinggi. Setahun Ratu Delana memimpin, Negeri Meanda berada dalam keadaan kemakmuran walau kedamaian dan keamanan terusik oleh pertikaian karena pertarungan antar petarung demi membuktikan siapa petarung yang terkuat.
“Sebenarnya, seluruh Bantai dekat dengan Baginda Ratu. Bantai jarang bisa dipersalahkan begitu saja. Baginda Ratu memperlakukan Bantai-Bantai dengan baik demi menjaga loyalitas mereka,” beritahu Jantaka. “Satu waktu nanti, kau pasti akan bertemu langsung dengan beliau. Tapi sebelum itu, kau harus memahami dulu aturan perilaku di Istana Mewata.”
Setelah mengatakannya, Jantaka memandang Rivari dengan pandangan serius, sangat serius. Mendapat pandangan serius tersebut, Rivari menjadi bingung sendiri. Rivari menduga, seperti ada hal yang dikhawatirkan oleh Jantaka padanya.
“Aku tidak bermaksud mengancammu. Menurut banyak orang, aturan perilaku Istana Mewata lebih menakutkan dibandingkan tajamnya mata pedang,” lanjut Jantaka.
Rivari terkesima.
“Selama ini, sudah banyak calon pekerja istana yang mundur sendiri ketika berada dalam masa-masa pembelajaran tata aturan perilaku istana. Mereka mundur karena merasa tidak kuat menghadapi aturan istana,” beritahu Jantaka lagi.
“Terlalu ketat?”
Jantaka mengangguk. “Terlalu ketat dan banyak. Cukup memusingkan untuk bisa memahaminya sekaligus. Ada satu aturan yang paling penting yang harus kau ingat baik-baik. Ketika berhadapan dengan Baginda Ratu, walaupun diminta berbicara dengannya, jangan pernah sekalipun memandang wajahnya.”
Rivari memandang Jantaka penuh selidik. “Jadi Tuan tidak mengetahui bagaimana wajah Baginda Ratu?”
“Tidak boleh memandang bukan berarti tidak boleh melirik. Tentu saja kami bisa melihat wajahnya. Hanya sebatas melirik. Dan itupun harus berhati-hati agar tidak tertangkap basah oleh beliau.”
“Jika ketahuan?”
“Bukan hanya pada Baginda Ratu, menatap langsung wajah pembesar istana adalah penghinaan. Jabatan di lingkungan istana sangat besar pengaruhnya. Orang-orang menjadi lebih dihargai karena jabatannya. Istana membuat aturan seperti itu demi menghargai para pejabat tinggi negeri. Mereka menjadi orang-orang yang benar-benar harus dihormati dan disegani. Jabatan menjadi hal yang paling berharga. Itulah sebabnya, penghinaan terhadap pembesar istana bisa menjadi kesalahan terbesar yang bisa membawa kematian.”
Rivari terdiam melongo. Hanya dengan memandang wajah saja bisa menyebabkan kematian? Sebegitu menakutkankah?
Ternyata, bukan hanya ancaman pembunuhan atas dirinya saja yang menjadi kekhawatiran Rivari. Aturan istana bahkan bisa menjadi hal yang menakutkan juga.
berambung ??

Sumber wattpad