8 Linkaran Dewa

8 Linkaran Dewa
@ Pahlawan

Jika ingin membaca Bab Sebelumnya di sini

BAB 25:
XI-HAI-SAN-KUI MERASAKAN KEDASYATAN SHEN-TA-LEK-LINGQUAN.
Dara sakti, Coa Lie Sian yang bernyali harimau, mulai menyelidiki keberadaan lima manusia iblis yang menyebar maut di

kota Wu-Hou-Ci. Ia dengan mudah dapat menduga, iblis yang sedang merajalela itu berjumlah lebih dari empat orang

apabila dilihat dari lukaluka pada tubuh kurbannya. Sebagian tertebas semacam golok yang tajamnya menggiriskan tepat

pada bagian lehernya, ini pasti perbuatan Si Setan Samurai Ya-Kun-Ta. Sedangkan yang dadanya berlubang besar dan

kehilangan jantung, dapat diduga dengan jelas adalah kurban keganasan Xi-Hai- San-Kui (Tiga Iblis Pantai barat).

Tetapi ada lagi yang tidak kalah mengerikan dibandingkan dengan ciri-ciri korban lainnya, yang ini tubuhnya masih

utuh dan kelihatan segar, tetapi kepala bagian belakang tepat di tempat xiao-nao (cerebellum atau otak kecil) seperti

dicungkil dari luar, sehingga berlubang. Iblis yang satu ini memiliki cara menggerakan pedang yang unik, aneh tetapi

lihai sekali. Sepertinya mereka berlima saling bersaing untuk membuktikan manakah yang lebih kejam dan pihak manakah

yang paling banyak menyikat korbannya. Melihat betapa mayatmayat berserakan dimana-mana yang dibiarkan membusuk

begitu saja membuat darah pendekar wanita ini mendidih. Hatinya yang sejak semula dibakar cemburu menjadi seperti api

yang disulut dengan minyak, menjadi semakin murka dan dengan ginkang yang disebut Buyingzi (tanpa bayangan), Lie Sian

melesat cepat ke arah ujung utara kota Wu-Hou-Ci.
Semakin dekat dengan ujung utara kota, semakin sunyi keadaannya. Terdapat hutan lebat yang berwarna kehitam-hitaman

memisahkan Wu-Hou-Ci dari teluk Bohai. Hutan tropis yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar rimbun, ular-ular

berbisa, dan binatang buas menjadi momok yang menakutkan bagi penduduk Wu- Hou-Ci. Tersebar cerita rakyat bahwa hutan

ini banyak dihuni oleh iblis-iblis gentayangan yang setiap hari dan bulan tertentu selalu mengambil korban. Dari

pinggiran kota di sebelah utara tidak jauh dari hutan lebat, Lie Sian mendengar suara seperti orang sedang mengadu

cengkerik. Suara membentak-bentak, teriakan-teriakan tegang, dan keluhan menunjukkan bahwa aduan itu berjalan ramai

dan menegangkan. Lie Sian dengan waspada mendekati, hatinya menjadi semakin tertarik karena tiga orang yang sedang

mengadu “cengkerik” itu memiliki perawakan yang luar-biasa aneh.
Usia mereka bertiga rata-rata dapat dikatakan sudah tua, dilihat dari warna rambutnya yang sudah putih seperti kapur

dan tulang punggungnya yang setengah bongkok. Kakek pertama berwajah merah kehitaman demikian juga kedua tangannya.

Tubuhnya jangkung dengan roman wajah kaku seperti orang berduka berhias sorot mata ganas bagai kodok gila. Kakek

kedua, berpostur tinggi besar.
Tangannya lebih panjang dari ukuran tangan orang normal. Karena tubuhnya setengah bongkok, sehingga apabila ia

berjalan benar-benar seperti gorilla raksasa.
Giginya putih mengkilat dengan empat taringnya sedikit lebih menonjol dari gigi taring manusia normal. Dari

celah-celah giginya yang tampak kuat itu masih meleleh darah segar.
Sekali-kali lidahnya keluar dari bibirnya yang tebal untuk menjilat darah yang meleleh keluar dari mulutnya. Tidak

hentinya ia mengunyah dengan nikmatnya benda berwarna merah di mulutnya sambil kelopak matanya melek merem.
Matanya merah beringas seperti mata hantu yang selalu haus darah segar. Kakek ketiga tidak menunjukkan tanda-tanda

jahat, karena wajahnya seperti selalu mewek dan nampak lucu.
Yang mengherankan kulitnya berwarna kekuningan seperti orang terserang sakit kuning. Matanya selalu berputar dan

gerakan gesit menunjukkan betapa cerdik kakek ketiga ini. Kedua saudaranya boleh bangga dengan kepandaiannya yang di

atas kakek ketiga ini, tetapi kedua sudara tuanya itu akan berpikir tujuhkali untuk berani berurusan dengannya karena

kecerdikannya yang luar-biasa.
“Yi-Hung-Wa (kodok merah nomer satu) … ayo sikat kupingnya … sodok pantatnya … Hung-Wa … nah … gitu … ha…ha…ha…lihat

si kodok tengik San-Huang-Wa (kodok kuning nomer dua) sempoyongan seperti San-Kui (Setan ketiga) lagi sakit perut…

he…he…he…rasakan sekarang … kodok licik!!” “Yi-Kui (Iblis nomer satu)….!!! Jagomu, Yi-Hung-wa, itu licik seperti

hatimu … San-Huang-Wa baru saja terlepas dari sodokan maut Er-He-Wa dan jalannya masih sempoyongan, eeh…secara licik

jagomu mengambil kesempatan di tengah kesempitan mengempur kuda-kudanya … sungguh licik … licik …Huang-Wa ayo bangun

… labrak balik Hung-Wa … ayo …ayo…!!! Lie Sian sangat tertarik, segera ia juga turut berjongkok di samping kakek yang

paling lucu mukanya, San-Kui. Sebentar-sebentar kakek ini setengah mewek, manakala kodoknya terpelanting sambil

mengeluarkan darah segar karena sodokan hebat dari kodok milik kakek jangkung yang berwarna merah kehitaman, tetapi

di lain saat ia melompat-lompat kegirangan sambil melontarkan benda berwarna merah segar ke arah kodoknya yang

berhasil menggigit leher kodok yang berwajah hitam pucat. Ketika Lie Sian mengamati “Hadiah” khusus yang dilontarkan

oleh ketiga kakek itu, seketika seperti berhenti debar jantung Lie Sian dan matanya terbelalak kengerian.
“Oh Thian … benda itu …. Iih…. Bukankah itu jan…tung … manusia yang masih segar… Oh, Thian …. Sungguh kekejaman yang

tiada taranya …. Aduh ….
Huaaak….!!!” Lie Sian sekuatnya berusaha menahan isi perutnya yang merangsek dan menggeliat hebat ingin menumpahkan

keluar seluruh isinya. Hal ini tidaklah mengherankan, karena manusia manakah yang sanggup memandang hal-hal yang

mengerikan terpapar persis di depan matanya, karena benda merah segar itu ternyata jantung manusia yang masih nampak

segar dan terlihat masih berdenyut lemah. Tidak terasa Lie Sian menyeret kakinya surut ke belakang. Segera ia

memejamkan kedua matanya dan menggerakan hawa saktinya untuk melindungi dadanya yang terguncang hebat oleh

perasaannya. Bagaimanapun Lie Sian adalah seorang gadis muda, sehingga naluri kewanitaannya yang lembut memberikan

reaksi alamiah melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu. Langkah kakinya menjadi surut ke belakang, dan matanya

terbelalak memandang tiga kakek yang seperti iblis itu.
“Siapakah kalian bertiga ….!!!” Katanya setengah berbisik.
“He..he…he… jantung segar dari perawan muda akan membuat Yi-hung-wa menjadi sehat, kuat, dan perkasa …

he..he…he…he…jangan pergi dulu obat kuatku!!! He…he…he…jangan takut dan kecewa, bahkan berbanggalah karena jantungmu

yang segar dan berdenyut begitu kuat akan menjadi obat kuat bagi YiKui, orang nomer satu Xi-Hai-San-Kui. ”

“Xi-Hai-San-Kui … jadi kalianlah tiga iblis yang sedang mengganas itu!!!” Walaupun Lie Sian sudah dapat menduga

sebelum, tidak ayal ia terkejut juga melihat perawakan dan kekejaman mereka.
“He … he … benar … benar … kami bertiga dijuluki Xi-Hai-San-Kui … berbanggalah, karena jantungmu terpilih menjadi

obat kuat yang hebat bagiku, Yi- Kui … nah … serahkanlah … !!” Tangan Yi-Kui tiba-tiba mulur seperti ular, kukunya

panjang berwarna merah tua sudah meluncur bagai anak panah ke arah dada pendekar wanita ini.
“Iii h ……. Tangan menjijikan … enyahlah …!!!” Dengan perasaan jijik, Lie Sian menyampok tangan yang bisa mulur sambil

menggerakan Hou-Jiu- Yang sinkang (yang sinkang dari ilmu rajawali api).
“Wuuuss … des!!!” Yi-Kui merasakan betapa panasnya tenaga sakti yang menghalau tangan mulurnya.
Tidak terasa ia melompat kaget sambil memeriksa kuku-kuku beracun kebanggaannya.
“Aya … berduri juga obat kuatku ini, semakin mengilar aku … serahkan jantungmu…!!!” “Yi-Kui … perlahan dulu … dia

tadi duduk di sampingku, berarti ia menghadiahkan jantungnya kepadaku ….!!” Seru San-Kui “Sontoloyo …. Bicara tidak

karuan … jelas-jelas ia tadi bersorak kegirangan mendukung Er-He-Wa, berarti ia sengaja datang mengantar jantung

untuk Er-He- Wa!!” Suara San-Kui bergetar hebat karena didorong hawa iblis yang sudah terlatih puluhan tahunnya

lamanya. Lie Sian yang belum pulih kesadarannya menjadi sesak nafas dan isi dadanya terguncang hebat. Dalam keadaan

limbung dan setengah nanar, Lie Sian melihat kakek yang seperti gorilla ganas ini melayang sambil mengulurkan

tangannya yang panjang ke arah dadanya.
“Huaaaarrr … tunduklah!!! …. serahkan jantungmu dengan sukarela supaya tidak ada setetespun darah tercecer sia-sia …

!!!” Dua tombak sebelum dua lengan panjang itu menyentuh dadanya, Lie Sian keburuh sadar, sambil berseru nyaring ia

berkelebat cepat sekali bagai sebuah bayangan menghindar dari dua tangan yang berbau amis memuakkan.
“Jantungku terlalu berharga untukmu, hai iblis buduk …..!!!!” Er-Kui menjadi terbelalak menyaksikan calon korbannya

tahu-tahu sudah berekelebat hilang dari hadapannya dengan gerakan yang sungguh di luar dugaannya. Ia memandang Lie

Sian yang sudah berpindah tempat dengan mata terbelalak dan air-liur menetes deras. Matanya memandang Lie Sian

seperti seekor binatang buas yang melihat makanan lezat dan menggiurkan berdiri persis di depannya. Kini ia bergerak

lebih terencana, kedua tangannya membentuk cengkraman bergerak susul-menyusul dengan menimbulkan angin berbau busuk.
“Kali ini … engkau harus kutangkap hidup-hidup dan kunikmati jantungmu secuil demi secuil selagi dalam keadaan hidup

… aauuup … akan sangat segar dan lezat … hiaaattt….!!!” Hampir saja Lie Sian tidak kuasa menahan isi perutnya yang

bergejolak hebat karena bau yang luar-biasa busuk keluar dari angin pukulan kedua tangan manusia gorilla itu. Karena

keadaannya sangat berbahaya, Lie segera mengerahkan ilmu Hongchi Chuangdi (suling merah membelah bumi) ciptaan

mahaguru Shongka Lang dari Tibet yang diturunkan oleh kakek angkatnya, Xiao Guihun Kao Tuan Qing kepadanya. Dengan

gerakan yang disebut Zhuan-Yan Liu-xia Shan (berkelebat di balik gunung) salah satu jurus terhebat dari ilmu Buyingzi

(tanpa bayangan), Lie Sian dengan mudah dapat menghindari serangan mendadak Er-Kui (Iblis kedua), sambil memukul

balik dengan Huo Jiu Liu Quan (enam jurus rajawali api).
“Ayaa… tulang bagus … tulang bagus … membungkus jantungnya yang berdenyut luar-biasa hebat … cocok untuk

menyempurnakan ilmuku. He…he…he … serahkan jantungmu!!” Habis berkata demikian, kembali Er-Kui menjulurkan tangannya,

dengan gerakan seperti gorilla beringas ia menyerang bertubi-tubi ke satu arah: Dada Lie Sian.
Mulutnya menyerengai seperti gorilla memperlihatkan taringnya. Dari celah-celah mulut yang menyeringai itu

menetes-netes air liurnya. Gerakannya luar-biasa ganas.
Jangan dikira ia tidak mampu bergerak cepat! Walaupun tubuhnya tinggi besar dengan kedua lengan tidak lumrah manusia,

tetapi gerakannya gesit seperti kera dan ringan sekali dan membawa angin menderu-deru. Lie Sian tidak berani

memandang enteng iblis ini, dengan cekatan ia sudah mengeluarkan suling merahnya dan dengan Hongchi Chuangdi (suling

merah membelah bumi), ilmu khas kakek angkatnya, Xiao Guihun (Siluman cilik), ia menyerang balik Er-Kui. Iblis kedua

dari XI-HAISAN- KUI (Tiga Iblis Pantai barat) menjadi terkejut menghadapi serangan Lie Sian. Tubuh dara muda itu

berkelbat-klebat seperti tidak pernah menginjak bumi, sangat cepat dan sulit dicandak. Suling merah di tangannya

bergerak membentuk awan terbungkus kilatan-kilatan merah yang sebentar membungkus tubuhnya dan mendadak menyusut

tahu-tahu sudah nylonong dekat sekali dengan lehernya.
“Babo … babo … bukankah ini Hongchi Chuangdi … apamukah si keparat jahanam Xiao Guihun, Siluman cilik yang bisanya

cuma main petak umpet itu!!!!” “Tutup mulutmu … gorilla edan!!! Dengarlah … Hari ini nonamu, cucu Xiao Guihun, akan

menyeret jiwa anjingmu menghadap roh-roh gentayangan yang jantungnya telah kau ganjang dan kau berikan kepada kodok

piaraanmu sebagai makanan … hmm … Gorilla hantu … mampuslah kau … hiaaaaaaaaaaaaaaaaaattt!!!” “Plak … plak …

blaaaaar…!!!” Terjadilah pertempuran yang bukan main dasyat dan hebatnya. Hongchi (suling merah) di tangan Lie Sian

dengan berani menutul, menotok, menggebuk tangan kasar Er-Kui menimbulkan suara seperti dua benda tajam yang saling

digesekan.
Suara gesekan-gesekan tajam inilah yang merangsang bangunnya hawa sakti mujijat yang disebut khie-sinkang dari

Shen-Ta-Lek-Ling-Quan yang bergerak dari pusar terus ke seluruh peredaran hawa murni di seluruh tubuh dara sakti ini.

Er-Kui menjadi penasaran sekali, semakin hebat ia menyerang, semakin hebat pula dara itu menyerang balik dengan

gerakan dan jurus-jurus yang luar-biasa hebatnya.
Sampai-sampai matanya menjadi silau mengikuti gerakan gadis berbaju hijau ini.
“Setan perempuan … tuyul keparat … berani benar engkau bermain-main dengan Er-Kui … !!” Kini Er-Kui benar-benar marah

tidak ketulungan, nafsunya untuk menikmati jantung segar seketika pudar dan berganti dengan hawa membunuh yang

membakar dadanya. Dadanya menjadi sesak dan nafasnya memburuh karena desakan hawa amarah dan rasa penasaran di dalam

dadanya. Lebih dari limapuluh tahun lamanya ia malang-melintang di dunia Wulin tanpa menemui tandingan yang berarti.

Ditakuti lawan dan disegani kawan, tetapi hari ini, ia benar-benar dibuat murka hanya oleh seorang gadis muda belia

yang tidak terkenal di dunia persilatan dengan pengalaman yang tidak bisa dibandingkan dengan dirinya.
Menyadari bahwa pendekar wanita ini tidak bisa dibuat main-main, ia mulai mengeluarkan jurus-jurus simpanannya. Ia

merangkapkan kedua tangannya di bawah perut, dalam waktu sekejab, hampir seluruh tubuhnya berubah menjadi kehitaman

terutama bagian tangannya. Terdengar suara: “Kletak … kletak … sssssstttttttt….!!” Begitu kedua tangannya digosokkan

satu dengan lain, sedetik kemudian, asap hitam mengepul menyelubungi kedua tangannya membentuk lingkaran yang

berputar cepat. Asap hitam itu seperti tersedot oleh kedua telapak tangannya, sekonyong-konyong ia membuka mulutnya

dan … “Hooosssss…!!!” keluarlah pekikan seperti gorilla murka. Suara pekikan itu hebat sekali mengakibatkan ruas

arena seperti digempur oleh amukan binatang buas. Lie Sian merasakan sekali arus khiekang yang dasyat bukan main

menyeruak menghantam pusat tenaga sakti di dalam tubuhnya.
“Huaaaarrrrrrrrrrrrrrrr…..!!!!” Lie Sian segera menyambut serangan ini dengan Liu Quan Huo Jiu (enam jurus rajawali

api), ilmu maha dasyat ciptaan manusia aneh dari Tienshan: Tienshan guai gu lao (orang tua aneh dari Tienshan).

Selama ini Lie Sian belum pernah menggunakan ilmu ini dengan sepenuh hati karena perhatiannya tercurah penuh pada

Shen-Ta-Lek-Ling-Quan. Namun setelah ia memperlajari duabelas sutra tulisan Shen Du di lonceng tua, yang mengupas

rahasia menghimpun Di-zhen-bo (sejenis gelombang Seismic) dan Cha-yin-bo (semacam gelombang ultrasonic) menghadap

sang Buddha, dara sakti ini akhirnya berhasil menguasahi inti sejati dari Shen-Ta-Lek- Ling-Quan. Penguasaan inti

sejati Shen-Ta-Lek-Ling-Quan membuat mata bathin Lie Sian dapat melihat sangat jelas sifat, nature, dan rahasia

kehebatan ilmu Liu Quan Huo Jiu.
“Huo Jiu zhan chi gao fei (Kibasan maut rajawali sakti) … !!! Uap hitam yang tiba-tiba mennyeruak seperti ular ke

arah dada Lie Sian disambut tangan kiri terbuka. Sedangkan tangan kanan yang meluncur bagaikan kepak rajawali sakti

itu secara mendadak menggibas datangnya serangan dasyat itu.
TIdak ayal lagi dua ilmu yang bermuatan tenaga sakti panas membara bertemu di udara sehingga menimbulkan suara

menggelegar memekakkan telinga.
“Blaar … blaar … wus …blaaaar!!!!” “ayaaa……!!!” Belum hilang rasa terkejut Er-Kui, tiba-tiba ia melihat berkelebatnya

sinar merah dekat sekali dengan jidatnya sebelah kiri. Ia kelabakan karena sinar merah itu mengeluarkan bunyi yang

kecil saja tetapi jantungnya seperti ditekan, ditusuk, dan diaduk-aduk oleh kekuatan magis yang tidak nampak. Kontan

ia menjadi murka tidak tertahankan, segera dengan kecepatan kilat ia mengeluarkan senjatanya yang berbentuk untaian

sembilan kodok hitam terbuat dari baja hitam yang beracun jahat.
“Traaang …!!!” Ketika Hungchi (suling merah) yang mengandung hawa sakti Liu Quan Huo Jiu sepenuhnya, bertemu dengan

He-kang-Wa-Kiam (Pedang Katak baja hitam) di tangan Er-Kui, iblis ini terkejut sekali karena ia merasakan desakan

hawa sakti pendekar wanita ini menggempur balik senjatanya, dan ia seperti menyentuh suling membarah dengan titik

didih yang tinggi sekali. Asap berbau busuk akibat terbakarnya racun dari tubuh pedang Er-Kui membuat Lie Sian harus

mencelat sejauh dua tombak untuk menghindari hawa beracun yang berbahaya.
“Iii h… racun katak hitam dari pulau neraka!!! Dasar iblis jahat … tidak hanya jiwanya kotor dan berbau busuk,

senjatanya juga kotor, jahat, dan berbau busuk. Iih … tidak tahu malu, sudah tua masih masih berlagak sakti

mandraguna, padahal dirinya sendiri sebenarnya bernyali tikus … penakut … sehingga memakai segala macam ilmu bercaun,

senjata beracun untuk menyembunyikan dirinya sendiri dari rasa takut … dasar iblis bernyali tikus.” “Keparat..!!!

Siluman perempuan bermulut lancang … apa dan siapa yang dapat membuat Er-Kui takut … siapa yang berani mengatakan

Er-Kui itu pengecut … kubeset dadanya … kuhirup darahnya…Kau perempuan gila, buah dadamu yang lagi ranum itu akan

kucopot dan kutelan bulat-bulat ….!!” Kaki gemetar, gigi taringnya gemretak, dan rambutnya setengah berdiri. Iblis

kedua ini murka bukan main, sehingga menjadi beringas. Hawa pembunuhan dengan cara-cara yang sangat mengerikan telah

terlukis begitu sempurna dalam pikirannya.
“Hi … hi … hi … gertak gorilla tua … bertaring lapuk … bagiku … engkau tidak lebih dari kodok tua yang tidak ada

bobotnya ….!!!” Er-Kui tidak dapat menahan lagi kemarahannya, dengan meraung sejadi-jadinya ia menyerang Lie Sian

dengan segenap kekuatan dan kehebatannya. Ia benar-benar menjadi sangat berbahaya. Matanya mendelik berwarna merah,

dan mulutnya mengeluarkan suara seperti gorilla. Sambil memukul-mukul dadanya sendiri ia melabrak Lie Sian

sejadi-jadinya.
“Huaaaaarrrrr ……. Kuremukan tulang-tulangmu … kusayat-sayat dagingmu … perempuan siluman …Grrrrrrrrrr

….woaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrr!!!!!!!!!!” Sementara itu, beberapa pasang mata menyaksikan jalannya pertempuran dasyat

itu dengan penuh ketegangan dan cemas.
“Shia enghiong … pendekar wanita itu shicieku (kakak seperguruanku), namanya: Coa Lie Sian. Walaupun aku lebih tua

mungkin empat atau lima tahun darinya, ia tetap shicie karena bukan saja ia murid pertama yang mewarisi seluruh ilmu

shifuku, tetapi sekaligus ia cucu angkat guruku Kao Tuan Qing shifu, yang sangat dikasihinya. Menurut shifu, ilmu

shicie sudah sulit diukur tingginya, tetapi … lihatlah … bukankah ia masih muda sekali …. Aah …Kalau ia dikeroyok

tiga iblis itu, aku tidak bisa tinggal diam … apa nanti kata shifu …. Shia enghiong, kita harus membantunya.” “Lin

Guniang, harus kuakui, shiciemu yang masih muda belia itu memiliki kesaktian yang hebat sekali, bagaimana aku dengan

ilmuku yang masih rendah dapat memberi bantuan? Melawan satu saja dari XI-HAI-SAN-KUI (Tiga Iblis Pantai barat),

belum tigapuluh jurus, aku sudah dibuat tidak berdaya dan nyaris jantungku menjadi santapan Yi-Kui kalau saja engkau

dan pasukanmu tidak keburu mengacaukan perhatian iblis-iblis itu.” “Shia enghiong … kita melihat dulu perkembangannya

… apabila shicieku dikeroyok dan ia tidak bisa melawan, bagaimanapun aku sebagai shimei akan merasa berdosa apabila

tidak menolong sebisanya. Saat ini, apabila penglihatanku tidak salah, shicie masih bisa mengatasi iblis nomer dua

itu.” Mereka adalah si Golok Tiga Jurus Sia Kok Sin, murid Taishanbai yang mengepalai pasukan khusus untuk

mengamat-amati gerakan E-Liuyu Gong. Sedangkan gadis berpakaian ringkas itu adalah Lin Sui Lan, adik panglima Lin Nan

Thao. Perlu diingat, setelah Lin Sui Lan terkena pukulan tangan pasir hitam di tangan Heishou Gaiwang, ia berhasil

diselamatkan jiwanya oleh Sin Zhitou Yaowang. Tabib sakti ini merawat Sui Lan di rumah sahabatnya: Kho Tuan Qing di

pondok hutan bambu dekat kota Xining di propinsi Qinghai. Kho Tuan Qing tertarik dengan bakat Lin Sui Lan, sehingga

ia mengambilnya menjadi muridnya. Kurang lebih tiga-tahun dara ini digembleng oleh kakek Kho Tuan Qing sehingga

menjadi pendekar wanita yang berilmu tinggi.
“Yi-Kui … tampaknya Er-Kui terpancing emosinya oleh gadis siluman yang berilmu bukan main itu. Sangat berbahaya …

kita harus terjun untuk meringkus gadis itu … kita habisi secepatnya, agar tidak menjadi ancaman di kemudian hari !!”

“San-Kui … engkau benar …. ayo, kita maju berbareng …!!” “Er-Kui … jangan dilahap sendiri jantung segar dan mudah …

bagi-bagi … darahnya juga berharga sekali … aku bagian dada … Yi-Kui bagian kepala … dan kau … bagian bawah …

bukankah itu sudah adil!!” “Adil ketiak makmu …. !!! Semenjak dahulu engkau selalu mencari menang sendiri dengan akal

busuk …!!! Aku sudah kesal dan bekerja keras untuk mendapatkan obat kuat yang jarang terdapat ini … mulut busuk

berkoar seenaknya … dasar iblis tengik…!!” “Ayaaa … tidak usah banyak omong … bunuh dulu gadis siluman ini, kemudian

baru kita berpikir untuk saling berbagi …!!!” Ngeri juga Lie Sian mendengar ocehan San-Kui, si iblis ketiga. Bicara

kakek ini rileks, penuh percaya diri, tetapi sekaligus menusuk perasaannya sebagai seorang gadis. Tidak terasa

berdiri bulu-kuduk di tengkuk dara perkasa ini. Lie Sian tidak menyadari perasaan ngeri, ciut dan kalut inilah yang

dikehendaki San-Kui, si iblis paling cerdik, menyerang jiwanya terlebih dahulu.
Jikalau jiwa Lie Sian sudah dicengkram kuat oleh perasaan-perasaan seperti itu, maka ia tidak akan dapat

mengembangkan ilmunya dengan baik. Terlebih-lebih, Khie-Sinkang yang menggabungkan inti tenaga khiekang dan hawa

sakti sinkang sangat membutuhkan konsentrasi tinggi. Shen-Ta-Lek-Ling-Quan menjadi ilmu silat ajaib dan sangat unik

dan sulit dipecahkan karena ilmu jenis ini tidak didasarkan pada gerakan, melainkan ketajaman, keindahan, dan

kegaiban hawa sakti yang dihasilkan dari daya sedot dan daya mengikat suara yang tersembunyi di dalam semua unsur

“chi” di perut bumi dan sinkang yang bergerak disekitarnya. Sinkang yang bergerak lembut dapat ditangkap, di kat, dan

diramu oleh Shen-Ta-Lek-Ling-Quan menjadi khie-sinkang yang hebatnya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dan dari

situasi inilah tercipta gerakan-gerakan atau jurus-jurus silat yang luar-biasa lihai dan dasyatnya.
Pikiran Lie Sian dalam sekejab terpengaruh oleh ucapan San-Kui, sehingga terciptalah gambaran-gambaran yang

mengerikan dalam angan-angannya. Hal ini tidak menguntungkan Lie Sian sendiri. Tidak terasa Lie Sian mendekapkan

kedua tangan ke arah dadanya, dan matanya setengah terbelalak , seperti orang melihat pemandangan yang sangat

mengerikan dan mengguncangkan jiwanya. Pada saat seperti inilah, serangan bergelombang dan bergulung susul-menyusul

bagaikan badai mengamuk dari XI-HAI-SAN-KUI (Tiga Iblis Pantai barat) menghantam Lie Sian dari tiga penjuru. Serangan

dari tiga iblis itu teramat dasyat, begitu cepat, sehingga tidak ada seorang yang bagaimanapun saktinya dapat

menyelamatkan jiwa Lie Sian.
“Celaka … seru Lin Sui Lan dan Shia Kok Sin hampir berbareng …!!!” Keadaan Lie Sian benar-benar sangat berbahaya. Dua

detik sebelum gelombang serangan itu memporak-porandakan tubuhnya, sekonyong-konyong terdengar orang memanggil

namanya: “Lie Sian Mei-mei ………………….!!!!” Panggilan itu diteriakkan begitu rupa, sehingga dalam sedetik Lie Sian

tersadar, detik kedua dengan Buyingzi (tanpa bayangan), dengan gerakan yang disebut Tong-Yi-he-kuang-Feng (menyatukan

diri dengan angin), Lie Sian mandah saja tubuhnya dihantam oleh tiga gelombang dasyat, tetapi … “Ilmu siluman apa ini

….???” Tubuhnya seperti balon kosong dan ringan yang membal sana-sini, begitu serangan tiga orang hampir mengena

dirinya. Memang gerakan Tong-Yi-he-kuang-Feng terlambat seperdelapan jurus, sehingga tidak urung pinggul sebelah

kirinya terserempet pukulan Yi-Kui.
“Aaah … sungguh berbahaya Xi-Hai-San-Kui ini … nyaris….nyaris … melayang jiwaku … iblis ketiga itu berbahaya … aku

harus berhati-hati menghadapinya.“ “Suara itu … hmm … itu pasti si Tuyul sakti, pendekar mata keranjang … mengapa ia

menyusulku kemari … laki-laki gila perempuan … aku benci, muak …ia sudah dekat sekali dengan tempat ini … aduh …

sialan benar si Yi-Kui … pukulannya menimbulkan rasa gatal-gatal dan pedih.” Lie Sian melihat pinggul kirinya, ia

tidak melihat ada tanda-tanda terluka, tetapi nyeri, gatal, dan terasa panas. Mata gadis ini mencorong marah! Dengan

sedikit menggigit bibirnya, ia berdiri bertolak-pinggang.
“Sekarang … jangan harap kalian kodok tua sudah mau mampus dapat berbuat curang lagi … majulah … aku, Coa Lie Sian,

tidak akan mundur setapakpun sebelum memusnahkan tiga gembong iblis Xi-Hai-San-Kui dari dunia persilatan!!”

“Ho..ho..ho…ho…sudah mau jadi bangkai masih berani berlagak di depan Xi-Hai- San-Kui . Jangan harap dapat hidup

barang seminggu setelah terkena racun Yingyang dushe (racun ular ying-yang).” “Yingyang dushe (racun ular

ying-yang)???? … celaka?” “Ho … ho … ho … engkau mengenal juga Yingyang dushe yang keganasannya tidak dapat

disangsikan lagi … Nah, sebelum racun itu menyerang jantungmu, lebih baik serahkanlah dengan sukarela … hitung-hitung

berbuat kebaikan bagi orang tua…!!” Lie Sian segera menutup jalan darah di sekitar luka di pinggulnya. Tangannya

bekerja dengan cepat melakukan totokan satu jari dengan pengerahan hawa sakti Cha-yin-bo (semacam gelombang

ultrasonic). Sehingga untuk sementara, racun itu berhenti hanya di sekitar luka itu saja. Selesai melakukan itu, Lie

Sian menatap ketiga iblis dengan pandangan yang luar-biasa tajam. Mata itu mencorong tajam karena pengerahkan tenaga

sakti mujijat yang disebut Di-zhen-bo (sejenis gelombang Seismic) dan Cha-yin-bo (semacam gelombang ultrasonic).

Tubuhnya bergetar lembut yang menghasilkan suara seperti nada-nada tinggi yang hanya dapat ditangkap ketajamannya

oleh orang yang dituju.
Pada saat seperti ini, semua unsur kedua hawa sakti ajaib di sekujur tubuh Lie Sian di luar dan di dalam bergerak

membentuk ¬Ben-chu-zi-wu-xian (garis longitudinal) yang bergerak dari kiri ke kanan, setelah itu berkumpul dalam satu

titik dengan Wei-Xian ( garis latitudinal atau paralel) yang bergerak dari atas ke bawah, saat itulah tercipta

gelombang tinggi rendah yang bermuatan kekuatan yang dasyatnya tidak terperihkan lagi. Sedetik kemudian, Lie Sian

bergerak seperti bidadari menari-nari di atas tanggatangga nada, indah … dan sangat menakjubkan … tetapi sangat

cepat, sulit diikuti oleh pandangan mata biasa. Pada kilatan waktu selanjutnya, sekonyong-konyong Lie Sian melakukan

gerakan seperti memtik harpa dengan tangan kanan mengarah ke atas, sedangkan tangan kirinya seperti menyentil ke arah

Xi-Hai-San- Kui .
“Si iiiuuuuuutttt ….!!!!” Ketiga manusia iblis itu secara tiba-tiba merasakan adanya gelombang kecil meluncur menuju

kesuluruh lubang hawa di sekujur tubuh mereka bertiga.
Gelombang itu tiba-tiba melebar seperti angin puting beliung yang menghantam begitu dasyat langsung di pusat hawa

sakti di bagian yang paling dalam sekali.
Secara otomatis mereka bertiga menggerakkan sinkangnya untuk melawan. Inilah kesalahan mereka, karena

Shen-Ta-Lek-Ling-Quan pada tingkat seperti Lie Sian justru dapat menunggangi gerakan sinkang yang daya geraknya

bagaimanapun halusnya tetap menghasilkan gelombang bunyi. Gelombang bunyi inilah yang disambut oleh ilmu mujijat yang

disebut DEWA MEMUKUL LONCENG untuk menggedor balik dan menjadikan pusat hawa sakti lawan sebagai lonceng yang

dihentakkan begitu dasyat oleh “Tangan maut” yang disebut Di-zhen-bo dan Chayin- bo. Tidak dapat dicegah, dalam waktu

yang terlalu singkat, tiba-tiba terdengar pekikan panjang seperti auman binatang buas yang kesakitan:

“Aaaaaaaaaahhhhhhhhh ……………………………….. Shen … Ta … Ling … Quan … sia … pa …kah … kau??” Darah muncrat-muncrat dari

celah-celah hidung, mata, telinga, dubur, mata mereka … keadaan ketiga manusia iblis itu sangat mengerikan. Bahkan

yang sungguh mengerikan, darah juga keluar dari pori-pori mereka walaupun tidak terlalu banyak.
Untung Lie Sian belum memiliki hasrat membunuh mereka bertiga, karena ia berkepentingan mengorek keterangan

keberadaan: Ya-Kun-Ta dan manusia iblis satunya lagi yang melakukan pembunuhan di di kota Wu-Hou-Ci.
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan dengan Lie Sian melancarkan jurus Shen-yanzou-Konghou (Dewa memetik harpa),

seorang pemuda berbaju putih sederhana, berperawakan tegap, berwajah tenang, dengan sinar mata tajam bagai anak dewa

sudah berdiri dekat dengan Lie Sian. Ia berkata kepada diri sendiri.
“Lie Sian Mei-mei ….Wow … ¡!! … bukankah itulah untaian khie-sinkang mujijat yang disebutkan menurut cerita sebagai

Di-zhen-bo dan Cha-yin-bo. Benar-benar … luar-biasa ajaib dan dasyat….!!!” “Tuyul mata keranjang … aku benci … aku

benci dirimu … ada apa engkau datang ke tempat ini?? Di sini tidak ada perempuan jalang yang dapat kau goda dan rayu

… hayo menggelinding jauh …!!!” “Sian Mei … urusan kita, lebih baik kita tundah terlebih dahulu … itu lihat, tiga

iblis tua hendak melarikan diri …!!!” “Yi-Kui … angin besar, ayo kita cepat tinggalkan tempat ini sebelum gadis itu

menyerang lagi … “ San-Kui yang cerdik sudah mengetahui, mereka bertiga sudah terluka dalam, dan tidak mungkin dapat

melanjutkan pertarungan melawan gadis sakti itu. Dengan langkah yang berat ketiga iblis itu ngloyor pergi dari tempat

itu.
“San-Kui … kita semua terluka dalam … dan kurasakan luka-dalam ini hebat sekali … sampai pori-pori di sekujur tubuhku

juga mengalir darah. Aduh … luar-biasa hebat ilmu gadis itu … kita harus segera mencoba mengobati diri.” “Yi-Kui …

benar, gadis itu hebat sekali ilmunya … tetapi tidak usah kuatir, ia tidak akan berani membunuh kita karena ia

membutuhkan obat anti- Yingyang dushe (racun ular ying-yang).” “Hei … jangan coba-coba lari dari tangan nonamu …

siapakah yang menyuruh engkau ngloyor pergi?” “Er-Kui … jalan terus … jangan digubris wanita berbahaya itu … dan

lihat, bukankah kehadiran pemuda berbaju putih tidak kita ketahui atau kita rasakan. Ia pasti memiliki kepandaian

tidak dibawah gadis itu. Coba perhatikan, bukankah beberapa kali gadis itu menyebutnya “Tuyul”, berarti pemuda itu

memiliki kepandaian yang istimewa, sampai gadis sakti itu menjulukinya demikian. AKu tidak yakin apabila namanya

memang tuyul.” “Perempuan siluman … engkau memukul kami dengan Shen-Ta-Lek-Ling-Quan … ada hubungan apakah antara

engkau dengan Sim Hong Long??” “Sudah jangan bicara ngaco-belo tidak karuan … hidupmu sudah berada ujung tanganku …

aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan pendekar sakti Sim Hong Long … sudah jangan banyak mulut, ayo katakan di

mana dua iblis lainnya yang berlomba membinasakan banyak pendekar di kota Wu-Hou-Ci.” “Engkau sombong sekali … umurmu

tinggal enam hari karena racun Yingyang dushe (racun ular ying-yang … he..he…he…aku tahu engkau ingin memeras kami

agar mengeluarkan obat pemunah racun itu … he…he…he… jangan bermimpi.” “Sian Mei … betulkah engkau terkena Yingyang

dushe (racun ular ying-yang)?” Yang Jing, pemuda itu, terkejut bukan kepalang mendengar Lie Sian terkena racun

luar-biasa jahat itu.
“Kalau ya … lantas engkau mau apa … senang? Susah? Atau apa? Mengapa engkau masih memikirkan soal mati atau hidupku …

bukankah lebih baik engkau memikirkan kekasihmu itu … yang kau …pe … di warung bakmi itu?” “pe …apa “pe”???” “Gadis

siluman yang kau pe ….” Lie Sian menatap Yang Jing dengan pandangan marah, tetapi matanya menjadi panas karena

air-matanya nyaris menetes. Cepatcepat ia berpaling ke arah lain.
“Sian Mei … apa maksudmu? Gadis siluman yang diwarung bakmi yang ku pe … apa itu “pe”?” Yang Jing menjadi serba

susah.
Sementara itu, tiga iblis pantai barat itu dengan tenang ngloyor pergi dan begitu sampai di hutan, mereka segera

berlari secepat mereka dapat walaupun dengan nafas yang tersendat-sendat.
“Sian Mei … apakah aku berbuat kesalahan besar, sehingga engkau tidak mau menemuiku lagi … coba jelaskan, mungkin

terdapat kesalah-pahaman di antara kita. Siapakah gadis siluman yang kau maksudkan itu dan yang telah ku “pe …” itu?”

“Tuyul mata keranjang … jangan dikira aku tidak melihat betapa engkau mempunyai teman baru yang cantik jelita,

sehingga tidak memikirkan teman lama, entah masih hidup atau sudah mati, bahkan … gadis siluman itu telah kau pe ….

Pe ….?” Yang Jing menunggu sambil menatap wajah Lie Sian yang ayu rupawan. Pada waktu entah kebetulan atau tidak,

sinar bulan yang mulai menggantikan peran matahari yang mulai terbenam memancar begitu sempurna pada wajah Lie Sian.
Sehingga Yang Jing melihat kecantikan, keagungan, dan keindahan wajah ayu Lie Sian … sampai-sampai ia melongo saking

takjubnya.
“Hei … apa yang terjadi dengan wajahku sehingga menatapku seperti orang tolol … !!” “Sian Mei … wajahmu … wajahmu

…!!!” “Ada apakah dengan wajahku??!!” Tidak terasa Lie Sian meraba wajahnya, sehingga lengan bajunya agak sedikit

melorot ke dekat siku. Tangan kirinya yang tidak tertutup kain lengan itu, dengan naluri kegadisannya ia meraba atau

lebih tepat mengelus wajahnya sendiri untuk mengetahui ada apa pada wajahnya.
Gerakan ini semakin menambah keindahan wajah yang luar-biasa cantiknya.
Melihat ini, Yang Jing benar-benar terpesona. Hatinya berdebar-debar tidak karuan … baru kali ini ia merasakan

debaran jantung yang sangat aneh.
“Hei … tuyul mata keranjang … ada apakah dengan wajahku?” “Sian Mei … wajahmu … wajahmu ….!!!” “Wajahmu … wajahmu …

apa …??” Yang Jing tiba-tiba tersenyum .
“Senyum … senyum … i hh… ada apa dengan wajahku … mengapa engkau tersenyum?” “Sian Mei … katakan dulu apa yang kau

dengan dengan kata-kata “pe” baru nanti kuberi tahu soal wajahmu.” “Sialan … !! bukankah gadis siluman telah kau pe …

pe …luk waktu di warung bakmi?” “Ha…ha…ha….” Kontan Yang Jing terpingkal –pingkal mendengar ini. Ia tertawa

terbahak-bahak sambil menutup wajah dengan tangannya sambil melihat Lie Sian dari celah-celah jari-jemari tangannya.
Melihat ini, Lie Sian menjadi salah paham. Ia mengira Yang Jing mentertawakannya … mempertawakan perasaan hatinya …

mempertawakan dirinya. Hatinya menjadi hancur dan perasaan pedih menusuk jantung begitu dalam. Air-matanya

menetesnetes membasahi wajahnya yang cantik jelita itu, kemudian tetesan air-mata itu berubah menjadi tangisan yang

memiluhkan hati. Yang Jing tidak melihat dengan jelas hal ini, karena Lie Sian segera memalingkan wajahnya ke arah

hutan di mana tiga manusia iblis itu melarikan diri. Tanpa berkata sepatah-katapun, ia berkelebat lenyap dengan

mengerahkan Tong- Yi-he-kuang-Feng (menyatukan diri dengan angin) sekuatnya. Yang Jing seketika terkesiap karena ia

mendengar keluhan Lie Sian yang disertai tangisan memiluhkan hati. Tangisan itu mendesah terbawa angin sehingga

tertangkap oleh telinga Tianpin-Er. Betapa terkejutnya Yang Jing ketika meliuhat Lie Sian berkelebat memasuki hutan

yang merupakan pintu gerbang rahasia E-Liu Kong.
“Sian Mei-mei … jangan mengejar ke hutan itu … tunggu dulu … Sian Mei-mei ….tunggu!!! … Aduh … mengapa ia menangis

begitu memiluhkan? Apakah yang sedang terjadi dengan dirinya? Aduh celaka … bukankah ia terkena racun Yingyang dushe

(racun ular ying-yang) … Sian Mei………….!!!!”.
BAB 26: SUMUR MAUT.
Kepahitan dan kepedihan hati acapkali membuat seseorang kehilangan potensi berpikir secara optimal. Dorongan perasaan

yang terluka menyebabkannya tidak memikirkan lagi baik atau buruk keputusan hidup yang diambilnya. Bukan kemampuan

berpikir cemerlang yang menjadi motor pengambilan sebuah keputusan, melainkan keinginan untuk melampiaskan perasaan

menindih hatinya itulah yang menjadi raja, tuan, dan adrenalin untuk berbuat sesuatu.
Demikian juga dengan Lie Sian, ia menangkap keliru makna Yang Jing tertawa. Ia menterjemahkan tertawa pemuda sakti

yang mencintainya itu dengan ukuran perasaannya yang sudah terluka akibat cemburu. Dengan tidak mengambil peduli

panggilan Yang Jing, ia mengepos ilmu gingkang Buyingzi (tanpa bayangan), dengan gerakan yang disebut

Tong-Yi-he-kuang-Feng (menyatukan diri dengan angin), dengan segenap kekuatannya. Perlu diketahui Buyingzi pada waktu

itu adalah ratunya ilmu gingkang. Di sepanjang sejarah Wulin, hampir-hampir tidak ada gingkang yang dapat menandingi

ilmu yang satu ini. Buyingzi semakin menjadi-jadi kehebatannya setelah Lie Sian menguasahi hawa sakti mujijat

Di-zhen-bo dan Cha-yin-bo yang menjadi dasar kedasyatan Shen-Ta- Lek-Ling-Quan. Tidak diketahui secara pasti siapakah

pencipta Buyingzi, konon, menurut desas-desus kalangan tua dunia persilatan, Sima Huang, si Pendekar suling merah,

itu sendiri yang menciptakan ilmu gingkang ajaib ini. Dan entah dengan cara bagaimana Kho Tuan Qing yang berjuluk

Xiao Guihun (Siluman cilik), kakek angkat Lie Sian, dapat menguasahi Buyingzi dan Hungchi (suling merah), sampai

waktu itu tetap merupakan sebuah misteri. Xiao Guihun, pendekar aneh, yang malang-melintang di daerah utara hampir

tidak menemukan tanding, disegani kawan dan ditakuti lawan karena Buyingzi dan Hongchi Chuangdi (suling merah

membelah bumi) ini juga.
Yang Jing yang terlambat satu gerakan, tidak dapat memperpendek jarak, bahkan terasa olehnya bahwa ia tidak mungkin

dapat menyusul Lie Sian yang bergerak seperti bayangan, sangat cepat, dan gerakannya luar-biasa hebat seperti tubuh

dan bayangannya saling berkejar-kejaran.
“Lie Siaaaann …. …. …. !!!!! Tunggu … … … !!!!!” Lie Sian walaupun bergerak secepat bayangan, tetapi ia masih dapat

mendengar dengan jelas panggilan Yang Jing. Tetapi ia bukannya berhenti, sebaliknya ia justru menambah tenaganya.

Jangan harap seorang jago silat biasa dapat melihat berkelebatnya bayangan gadis berbaju hijau ini. Yang Jing sendiri

menjadi terkejut mendapati Lie Sian dapat menyempurnakan Buyingzi dalam waktu yang begitu cepat. Lambat-laun Yang

Jing akhirnya tertinggal di belakang, dan akhirnya kehilangan jejak Lie Sian, karena gadis sakti ini menghilang

begitu saja seperti ditelan bumi. Dengan perasaan gelisah, sedih, penasaran, dan kuatir karena melihat Lie Sian terus

masuk ke dalam hutan lebat bahkan semakin dekat dengan daerah berbahaya, Markas E-Liuyu Gong.
“Lie Sian … ada apakah dengan dirimu, mengapa perangaimu berubah begitu rupa.
Aku tahu, engkau tidak membenciku … sorot matamu masih tetap sama seperti dulu ketika memandangku … tetapi mengapa

matanya yang terbuka seperti bintang itu berkilat-kilat menahan kemarahan dan kesedihan yang hebat? Sian Mei-mei …

apakah engkau tidak mengerti perasaanku terhadapmu??” Dengan gerakan gontai Yang Jing memasuki hutan lebat yang

sangat ditakuti oleh penduduk di sekitar daerah itu. Ia seperti melangkah biasa, tetapi sebenarnya, ia sedang

mengerahkan ilmunya yang disebut: Shen De Bu Fu Tui Dong Yang (Langkah Dewa Mendorong Samudra). Sepertinya ia tidak

bergerak , padahal seluruh hawa sakti di tubuhnya telah disatukan dengan arus Chi yang bergerak secara abadi – ia

berada di dalam status wu wei Yüeh ming bu sa ching (tidak bertindak, tidak memiliki seperti

Candraprabhabodhisattva). Kakinya bergerak aneh melakukan Chinshih lu (Jalan batu dan tulang) melangkah menurut

gerakan arus Chi yang tidak kelihatan. Sedikit demi sedikit tubuhnya mulai diselimuti dengan sinar perak tipis.
Inilah yang disebut bergerak menurut rahasia ketenangan, kosong, bermuara ke arah gerakan angin. Seolah ia

betul-betul tidak bergerak, hanya diam di tempat, namun terdengar suara seperti gerakan angin di selah-selah daun.
“Kong men quan! Menyusup ke pintu gerbang kekosongan, … Yu men quan, menyatu dengan gerakan alam, angin, dan chi.”

Kali ini Yang Jing membuat gerakan seperti seekor belut di pusaran air, tubuhnya nampak diam, namun terdengar suara,

“Wus…sst…wus….” Dalam waktu tiga kali kejaban mata, ia sudah bergerak jauh sekali ke arah yang ditempuh oleh Lie

Sian.
Sementara itu, XI-HAI-SAN-KUI (Tiga Iblis Pantai barat) tidak menyadari bahwa dara sakti yang barusan membuat mereka

kebat-kebit hampir celaka, membayangi mereka dalam jarak tidak kurang dari lima tombak.
“Yi-Kui, apakah kamu yakin dara siluman itu menyerang kita dengan Shen-Ta-Lek- Ling-Quan? Apakah ia memiliki hubungan

khusus dengan Sim Hong Long.
Bukankah pendekar itu bersama dengan jendral Zheng Yen An telah dikeroyok habis oleh lebih dari empat-puluh datuk

sakti dan terpukul dari belakang oleh Wang Hong Seng dengan Rong-ling-Cui-Quan (Ilmu pukulan pelebur sukma). Bukankah

seluruh keturunan kedua orang berbahaya ini telah terbabat habis bersama dengan lenyapnya kitab rahasia

Shen-Ta-Lek-Ling-Quan yang dipertahankan Sim Hong Long kerahasiaannya sampai mati? Sungguh penasaran … bagaimana

tahu-tahu ilmu ini dapat dikuasahi sampai tingkat yang begitu rupa oleh seorang gadis muda? Sungguh penasaran …

penasaran …. kita yang lama malang-melintang di dunia kangouw, harus melarikan diri dari seorang gadis yang masih

hijau.” “Hijau kentutmu!!! Er-Kui … coba pikir pakai otak … kalau ia masih hijau, tidak mungkin ia dapat menguasahi

Shen-Ta-Lek-Ling-Quan sampai ke tingkat begitu dasyat. Aku sudah mendengar dari Si Srigala Pencabut Nyawa Wang Hong

Sen, Shen-Ta-Lek-Ling-Quan bukanlah sejenis ilmu yang dapat dipelajari dengan mudah.
Walaupun kita bertiga mewarisi kitabnya, belum tentu dengan jenis otak seperti otak Er-Kui dapat mengerti … dasar

kera gila, omong seenak perutnya sendiri!!!” “San-Kui, kalau otakku dogol seperti otak busukmu yang licik, masakan

aku dapat menguasahi ilmu jauh lebih tinggi dan lihai darimu.” “Ho … ho … ho … kera dogol … jangan dipikir karena

ilmumu lebih tinggi dariku berarti engkau dapat mengalahkanku … mau coba … mau uji … ayolah … akan kubuat tanganmu

yang terlalu panjang itu membusuk … !!!” “Sudah … sudah … ayo kita segera menyembuhkan luka dalam yang tidak ringan

karena ilmu gadis maut itu. Tidak kusangka, akibat Shen-Ta-Lek-Ling-Quan yang dilancarkan gadis itu, sampai-sampai

bukan lagi keringat yang menetes tetapi darah … ya, darah segar. Jantungku terguncang oleh sebuah kekuatan dasyat

yang tidak dapat ditahan oleh hawa sakti yang sudah kulatih berpuluh-puluh tahun lamanya.
Bahkan hawa sakti yang kukerahkan seperti ditunggangi oleh tangan siluman yang luar-biasa hebatnya … babo … babo …

sungguh berbahaya gadis itu.” Yi-Kui, orang tertua dari Xi-Hai-San-Kui, berkeluh-kesah sambil menahan perasaan nyeri

di bagian dada dan telinganya. Mukanya pucat, tampak loyoh, dan langkahnya setengah terseret. Sungguhpun demikian,

matanya mencorong ganas menahan marah.
“Yi-Kui, inilah akibatnya apabila kita terlalu memandang rendah lawan … belum sempat kita melancarkan ilmu-ilmu

simpanan sudah harus menelan pil pahit. Dan yang lebih memalukan … kita harus me … la…ri..kan…diri. Aku bersumpah …

akan kukuliti, kuhisap darahnya, dan kukeluarkan isi perutnya … !!!” Bergemeretak gigi-gigi Er-Kui menahan kemarahan

dan dendam.
Tidak beberapa lama, mereka sampai di daerah hutan yang banyak ditumbuhi oleh pohon palem dan bambu kuning.

Pohon-pohon bambu dan palem itu seperti ditanam menurut sistem tertentu. Dari semua arah dan jalanan yang diambil

mereka tidak menunjukkan perbedaan. Semua serba sama!! Lie Sian yang mengikuti mereka dari belakang tidak terasa

tersenyum.
“Hmm … rahasia barisan ribuan bambu dan pohon-pohon palem!!! Wow … kelihatannya jauh lebih hebat dari barisan Yousing

Xing (barisan bintang) ciptaan kakek Kho Tuan Qing dan lebih ruwet dari jalan setapak menuju tempat pertapaan shifu

Tienshan guai gu lao (orang tua aneh dari Tienshan) di Rongzhan Pubu (air terjun permadani). Hmm … untung aku dapat

mengikuti mereka, sehingga tidak perlu susah-susah mencari pemecahan barisan ini. Harus diakui Si siucai keparat itu

memiliki otak iblis yang hebat dan penuh strategi. Barisan ini saja sudah menunjukkan, pemuda setan itu pasti ahli

siasat perang yang jenius. Kurasa, para pendekar dan pasukan panglima Gan Bu Tong yang mau menyantroni tempat ini,

akan menemui kesulitan besar sebelum sampai di markas E-Liuyu Gong. Aku berani menduga, di balik barisan ini

tersembunyi alat-alat jebatan yang dapat membunuh banyak orang, karena kelihatannya barisan ini diciptakan sebagai

benteng alam yang melindungi E-Liuyu Gong … sungguh hebat dan berbahaya.!!” Dengan hati-hati sambil mengerahkan

seluruh indra perasaannya, Lie Sian terus membayangi ketiga manusia iblis itu yang juga terus bergerak masuk ke

tengah hutan. Tiba-tiba Lie Sian mendengar gerakan kaki dari arah dalam hutan di sebelah utara, barat dan timur.

Gerakan tiga orang ke arah Xi-Hai-San-Kui ringan seperti tidak menimbulkan suara samasekali.
Lie Sian segera mengerti, tiga orang yang akan muncul itu jelas jago-jago silat yang kepandaiannya sudah tinggi

sekali. Lie Sian terkesiap juga, karena tiga orang yang sedang berlari secepat terbang itu, memiliki gingkang di atas

jago-jago silat pernah ia temui.
“Hmm … ilmu mereka pasti tidak di bawah Xi-Hai-San-Kui. Sepertinya, tidak berada di bawah Sakhya Yongsang. Yang dari

arah utara dalam itu, lebih hebat lagi, siapakah mereka ini?” Belum sempat Lie Sian menduga siapakah gerangan mereka

bertiga, tahu-tahu tiga orang itu sudah berdiri berhadapan dengan Xi-Hai-San-Kui. Yang berdiri di sebelah kanan

tampak meloloskan pedang panjang yang masih berlumuran darah segar.
Berkilat mata Lie Sian menatap orang ini. Segera ia dapat menduga, orang itu pastilah: Ya-Kun-Ta atau Yakirata, datuk

sesat dari Jepang, guru dari Miyoko.
Alisnya tinggi dan miring ke atas hampir bersentuhan dengan pilipis bagian atas.
Matanya sipit, bersinar sadis seperti kucing. Samurainya dipakai sebagai tongkat dan digerakkan seenaknya walaupun

senjata itu berkilau-kilau saking tajamnya.
Yang luar-biasa, tanah yang tersentuh ujung samurai itu membentuk lubang-lubang kecil yang halus lingkarannya dengan

jarak yang nyaris sama antara satu lubang dengan lubang lainnya. Lie Sian memperhatikan lubang-lubang dengan dahi

berkernyit. Diam-diam ia terkejut, karena hanya orang yang sudah mencapai ilmu pedang yang sulit diukur tingginya

yang dapat berbuat seperti itu. Gelombang hawa sakti yang disalurkan dalam tubuh samurai itu mendesir-desir bagai

sembiluh tajamnya. Mata Lie Sian bersinar membarah menahan hawa amarah yang sudah naik sampai ke ubun-ubunnya, karena

ia seperti melihat puluhan kepala pendekar terbabat habis oleh tajamnya samurai itu.
“Hmm … manusia binatang!!! … jangan harap engkau dapat lari dari tanganku!!” Kata Lie Sian dalam hatinya sambil

menahan geram.
Yang berdiri di sebelah kiri juga seperti bukan orang Tionggoan. Tarikan dagunya lebih kaku dari orang Han, matanya

tajam seperti mata musang. Tidak terlalu lebar, tetapi tidak sesipit mata Ya-Kun- Ta. Di punggungnya tampak sebuah

pedang yang berukir empat huruf kuno berwarna merah darah: San-Fang-Biao-Jian (Pedang Kerajaan). Ujung pedang ini

berwarna keemasan, sedangkan bagian tubuh pedang bersinar seperti darah. Wajah orang ini ramah, tetapi sorot matanya

tajam menusuk.
“Dengan ujung pedang itulah xiao-nao (cerebellum atau otak kecil) para pendekar tercungkil keluar … pedang orang itu

bergerak seperti menusuk dan mencungkil bagaikan pedang algojo kerajaan yang melaksanakan penghakiman. Apakah orang

ini yang bernama Kim-Jung-Ho, seorang pendekar pedang dari Korea yang kelihaiannya menggetarkan?” Orang yang muncul

dari utara-dalam adalah seorang tinggi kurus. Pada kepalanya yang botak terhias ikat kepala dengan hiasan sebuah

tengkorak bayi. Tengkorak bayi itu tampak mengerikan karena dari mulutnya masih terlihat jelas darah yang sudah mulai

mengering, sepertinya ia baru saja menghisap darah kurbannya. Kedua lengannya telanjang, kesepuluh jarinya memiliki

kuku-kuku berwarna merah kehitaman dan runcing-panjang. Ia muncul di tempat itu seperti siluman terbang dan membawah

bau amis yang memuakkan. Lie Sian mengerling ke arah orang yang seperti tengkorak hidup ini.
“iih … orang ini seperti tengkorak iblis saja. Matanya liar seperti setan. Dari cara ia memandang saja sudah

kelihatan: iblis yang satu ini kejamnya bukan main.
Siapakah dia gerangan? Jelas ia orang Khitan. Mungkin iblis inilah yang berjuluk Iblis Tengkorak Darah, seorang tokoh

silat nomer satu dan paling ditakuti di Khitan, namanya: Supuyan. Hmm … aku ingat, Xin- Long twako terluka oleh

serangan anak panah dari Yibasan, panglima perang Khitan yang lihai. Menurut berita yang tersiar santer, Yibasan

murid tunggal Supuyun ini.” “Xi-Hai-San-Kui tampaknya terluka dalam … kelihatannya bukan luka-luka ringan!! Binatang

liar macam apakah yang sanggup melukai Xi-Hai-San-Kui sedemikian rupa … ha…ha..ha..ha…!!!!” “Tutup bacotmu,

Yakunta!!! … kami terluka bukan berarti kami telah terjungkal dan keok …!!” “Habis terluka dengan cara bagaimana …

masa tidak terjungkal … kalau tidak terjungkal, mengapa dari pori-pori merembes darah segar?” Yakunta berbicara

sambil matanya yang seperti kucing itu menyorot seperti menembus di balik pakaian Xi-Hai-San-Kui. Mulutnya

menyeringai setengah mengejek.
“Binatang macam itu … apakah lehernya lebih keras dari batu ini?” Sehabis berkata demikian, dengan kecepatan yang

luar-biasa hebatnya, samurainya berkelebat seperti siluman menyergap, dan tahu-tahu batu sebesar tubuh manusia dewasa

terpotong-potong menjadi tujuh bagian dengan irisan yang rapi tanpa menimbulkan sempalan-sempalan kecil.
“Ai ih … sergapan samurai yang mengerikan … pantas, para pendekar dibuat tidak berdaya karena jurus serangan ini

tidak memiliki kembangan yang berarti, langsung pada sasaran dengan kecepatan dan tenaga sakti yang bukan main … aku

harus berhati-hati menghadapi samurai itu.” Berdebar juga hati Lie Sian melihat gerakan samurai yang luar-biasa

dasyatnya.
Seperti guntur, begitu meledak, apa yang dekat dengan seketika hancur berkepingkeping.
Demikian juga dengan samurai di tangan Yakunta, begitu berkelebat, tujuh atau delapan tebasan sudah terjadi hampir

bersamaan saking cepatnya. Yang lebih mengejutkan, semua tebasan itu selalu mengarah pada tempat yang sama.
“Yakunta … engkau boleh saja menyombongkan ketajaman samuraimu, tetapi aku berani tanggung, sebelum engkau sempat

mengayunkan samuraimu, kedasyatan ilmu siluman itu tahu-tahu sudah menghantarkan nyawamu ke tempat nenek moyangmu

tanpa engkau sempat menyadarinya!!!” “Puaaah… omongan tahi kerbau!!!” “Xi-Hai-San-Kui … siapakah orang itu …

tampaknya engkau terluka bukan karena ilmu pedang atau senjata lainnya, seperti tenaga sakti yang dihantarkan lewat

gelombang aneh yang dasyat sehingga sanggup memporak-porandakan sinkangmu???” Iblis tengkorak Darah sambil berkata

demikian, ia beranjak mendekati Xi-Hai-San- Kui.
“iih … ilmu apakah yang dipergunakan orang itu, datuk sakti darimanakah ….???” “Supuyan … matamu yang seperti mata

jerangkong itu tajam juga. Dan otakmu yang banyak terisi otak segala macam bayi ternyata hebat juga … memang kami

terluka bukan oleh senjata … tetapi oleh serangan ilmu … Shen-Ta-Lek-Ling-Quan …!!!” Seketika Supuyun melompat ke

belakang saking terkejutnya. Bibirnya bergetar mengulang perkataan San-Kui.
“Shen-Ta-Lek-Ling-Quan …!!! Shen-Ta-Lek-Ling-Quan …!!! Bukankah ilmu itu sudah terkubur bersama Sim Hong Long?”

Bagaimana bisa terjadi? Siapakah tokoh itu? “Tokoh… tokoh … datuk …datuk …apa? Dia bukan seorang tokoh besar atau

datuk tua-rentah seperti dirimu … babo … babo … setan keparat!!! Dengan baik-baik … dia itu … seorang gadis

muda-belia … ya, gadis muda belia … babo …babo … keparat jahanam!!!” Yi-Kui berkata dengan mulut menggeram-geram

saking jengkel, marah, tetapi sekaligus penasaran.
Supuyan tidak kalah terkejutnya. Tiba-tiba ia menengadah ke atas … dari kerongkongannya keluar suara lengkingan,

seperti suara setan kubur. Lengkingan itu digerakkan dengan ilmu hitam yang kuat sekali, sehingga terdengar sampai di

tempat jauh seperti lolongan srigala malam. Mendadak!! Lengkingan itu terhenti di tengah jalan, dan lehernya seperti

tercekik oleh suara yang macet di dalam.
Terdengar suara suling yang gelombang suranya seperti mendesak balik suara lengkingan Supuyan. Mata Supuyan seketika

menjadi menyalah. Mendadak ia menggerakkan kedua tangannya yang terlanjang ke arah tempat Lie Sian bersembunyi.
“Kuntilanak keparat … keluarlah kau …. !!!!” Lie Sian yang tidak suka mendengar lolongan setan kubur , memutar balik

ilmu hitam yang menyelubungi khiekang yang digerakkan Supuyun dengan Hongchi Chuangdi (suling merah membelah bumi).

Dengan langkah tenang, Lie Sian keluar dari balik rimbunan pohon bambu. Wajahnya yang cantik-jelita itu tersenyum,

sehingga terlihat deretan giginya yang berjajar rapi seperti mutiara. Matanya bergerak-gerak lincah seperti

mentertawakan enam orang badut tua.
“Aku tidak suka suara lolonganmu … seperti suara jerangkong … bukankah suara suling lebih enak didengar … hi … hi ….

Xi-Hai-San-Ku … jangan harap engkau dapat lepas lagi dari cengkraman tangan nonamu. Dan …juga … samurai tumpul tiada

guna … dan pedang karatan … juga harus berurusan denganku karena lengkingan para pendekar dari dalam kubur memintaku

mengirim nyawa kalian juga.” Wajah Yakunta menjadi merah padam karena samurai yang mengangkat namanya setinggi langit

di negerinya, Jepang, dibilang tumpul tiada guna. Matanya terlihat semakin menyipit, dan sinarnya berkeredepan

memancarkan kemarahan yang meluap-luap.
“Gadis sombong … jangan harap engkau dapat berbuat banyak menghadapi samuraiku … sreeeeeeeeeeeeeeeeett….!!!” Dalam

saat yang tidak dapat dicegah oleh siapapun saking cepatnya, samurai yang tajamnya menggiriskan sudah menyabet

berkilat-kilat, entah berapa sabetan, persis pada leher Lie Sian. Beberapa dim sebelum bibir samurai itu mencium

lehernya yang putih mulus bagai sutra itu, tahu-tahu ia sudah berkelebat lenyap. Yakunta hampir tidak mempercayai

peristiwa yang terjadi di depannya. Dengan jelas ia melihat gadis itu tidak mungkin dapat menghindar dari sebetan

samurainya, karena ia sudah bergerak beberapa jurus terlebih dahulu dibanding dengan gerakan gadis itu. Ia melonjak

heran, dan sejenak menghentikan samurainya. Matanya menatap Lie Sian yang berdiri di sebelah kirinya sambil tersenyum

seperti gadis lugu yang tidak mengerti bahaya. Tetapi matanya, membuat darah Yakunta mendidih, karena jelas sekali

mata itu seperti mengejek.
“Sudah kukatakan samuraimu itu tumpul, kehilangan kemampuan bergerak cepat, loyo … dan tentu saja … tidak berguna

sama sekali … hi…hi…hi…lebih baik pulang saja ke Jepang membantu nenekmu memotong ayam daripada membuat onar di

negeriku … tetapi ….aaah …kukira sudah terlambat … aku sudah bersumpah untuk mengambil nyawa anjingmu …!!!” “Keparat

… anjing betina … kukuliti hidup-hidup kau!!!” Kini Yakunta menyerang dengan mengerahkan ilmu-ilmu simpanannya. Sinar

samurainya berkelebat-klebat seperti bianglala yang susul-menyusul dan bergelombang padat. Lie Sian tidak berani

bermain-main lagi, segera ia memainkan ilmunya Huo Jiu Liu Quan (enam jurus rajawali api) di tangan kiri, sedangkan

tangan kanannya yang memegang suling merah bergerak dengan Hongchi Chuangdi (suling merah membelah bumi). Tentu saja

Lie Sian tidak bersedia membenturkan suling kesayangannya dengan samurai di tangan Yakunta. Oleh Sebab itu, setiap

ada kesempatan, tangan kirinya yang berisi hawa sakti Huo Jiu (rajawali api), menyampok kejaran samurai itu seperti

rajawali sakti mengepak sayapnya. Yakunta merasakan, setiap kali samurai berdekatan dengan tangan kiri gadis itu, ia

merasakan dirus hawa panas yang bergelombang. Samurainya seperti dilebur di dalam tungku api, sehingga ia merasakan

gagangnya seperti barah api. Tangan kiri gadis itu sukar dicandak, bergerak aneh memainkan jurus-jurus yang

luar-biasa hebatnya. Sedangkan tangan kanan yang memegang suling merah memainkan ilmu silat yang hebatnya tidak

ketulungan. Sinar merah dari suling itu mencuat-cuat seperti berupaya membelah bumi tempat Yakunta berpijak. Dalam

beberapa detik, Yakunta terdesak hebat, ia tidak kuasa memegang gagang samurainya, karena ia merasakan tangannya

sudah mulai melepuh. Dilain pihak, Lie Sian pun tidak begitu mudah mengalahkan raja samurai ini karena

serangan-serangan samurai itu berbahaya dan lihai. Sedikit saja ia terlena oleh kilatan sinar samurai, ia akan segera

menghadapi malapetaka.
Menyadari gadis muda itu memiliki kesaktian yang langka, tenaga sakti yang bukan main dasyatnya, Yakunta sedikitpun

tidak berani ayal. Yakunta memainkan samurainya dengan hati-hati. Ia menghindari sebisanya pukulan-pukulan tangan

kiri Lie Sian yang berkelebat-kelbat seperti rajawali api yang sedang menunjukkan kekuatannya. Samurainya mulai

diarahkan bukan kepada satu sasaran lagi, melainkan ke pelbagai tempat yang berbahaya. Gerakan samurainya kini

bergulunggulung menerbitkan desingan-desingan dingin yang menggiriskan hati. Kedua tangan datuk dari Jepang menyatu

dengan gagang samurainya. Tubuhnya agak setengah membungkuk dengan kaki pada posisi terbuka lebar. Bagitu ia melihat

Lie Sian berkelebat dengan suling merahnya, ia berusaha mendahului serangan itu dengan cara memulti-gandakan

serangan. Begitu Lie Sian menyerangnya dengan satu pukulan, ia mendahului dengan empat atau lima kali serangan yang

semuanya mematikan.
“Si ing … syaaat….syaat … siiingg…!!” Serangan yang bukan main dasyat ini disebut: Bun Bu Ryo Do (sastra dan wushu

menyatu dalam pedang). Gerakannya hampir selaras dengan ilmu Hong In Bun Hoat, bedanya ilmu ini menyatukan kekerasan

dan kelembekan. Rahasia ilmu sastra kaum samurai disalurkan dalam wujud serangan pedang. Kadang-kadang seperti

mencoret-coret di tanah, tetapi pada saat lain seperti melukis di udara. Hawa serangan kadangkadang sangat dasyat

membuat jantung kebat-kebit, tetapi pada saat lain begitu lembek, seperti kehabisan hawa sakti. Ilmu samurai ini

diciptakan oleh seorang tokoh pandai dari Jepang, Taira Tadanori, yang berkelana sampai di dekat Yunani dan

mempelajari gerakan ular-beludak dan kharakter ular ganas ini.
Ular beludak yang terkenal indah, tetapi ganas bukan main, memberi ilham baginya untuk menciptakan Bun Bu Ryo Do.
“Bun Bu Ryo Do …!!!” Lie Sian dibuat tercengang oleh ilmu samurai yang kelihatan indah bukan main.
Selagi ia terpesona inilah, tahu-tahu … “Si ing. …. Wuuus …..!!” “Ayaaa …. Sungguh lihai dan berbahaya …. !!!” Seru

Lie Sian terkejut bukan kepalang, karena lehernya hanya selisih setengah dim saja dari ujung samurai yang berwarna

kekuningan itu. Hampir saja kepalanya dibuat terpisah dari lehernya. Seketika keringat dingin membasahi dahinya.
Lie Sian memperhatikan Bun Bu Ryo Do yang dimainkan oleh Yakunta. Ia tertarik sekali, indah, mempesona, tetapi dasyat

tidak mengenal ampun.
“Hmm … seandainya Tuyul Sakti itu berada di sini … tentu aku akan dapat mempelajari ilmu ini … akan sangat indah

kalau kumainkan dengan suling merahku … tapi … tuyul gila perempuan itu … sudah melupakan aku … aah…!!” “Aduh … !!!”

Karena melamun, hanya sekedipana mata, tahu-tahu pundak sebelah kirinya terserempet samurai dan terasa pedih. Lie

Sian mengeluh karena pundaknya menjadi ngilu. Lie Sian sadar bahwa ia tidak boleh terlena oleh gerakan samurai di

tangan lawan.
Segera Lie Sian mengepos Buyingzi untuk menghindari serangan bertubi-tubi yang sulit diduga arahnya itu. Ia tidak

mengerti mengapa jalan pikirannya menjadi kacau-balau begitu berhadapan dengan samurai di tangan Yakunta. Segera ia

menggerakkan hawa mujijat Di-zhen-bo dan Cha-yin-bo untuk mengusir rasa pening yang tiba-tiba menyerang. Namun betapa

terkejutnya Lie Sian, karena rasa pening itu sepertinya lebih cepat menyergap sebelum hawa mujijat itu sempat

dibangkitkan. Sejenak ia melompat sejauh tiga tombak untuk menghindari serangan samurai.
Ia berdiri tegak dengan suling merah dilintangkan di depan dadanya. Rasa pening sepertinya sudah hampir tidak dapat

dikontrol lagi. Tetapi ia berdiri tegak dengan sorot mata yang berkobar-kobar.
“Yakunta … berhati-hatilah … sepertinya ia hendak ….” “He … he …he …. Engkau salah, ia sudah terjatuh di tanganku …

ini menandakan bahwa aku, Yakirata, masih berada di atas Xi-Hai-San-Kui … he…he…he… dara cantik itu akan menjadi

milikku!!” Dengan wajah tersenyum seperti iblis, Yakunta dengan samurai digenggam dengan kedua tangannya mendekati

Lie Sian. Matanya terbukan lebar, dan mulutnya sedikit terbuka. Jakunnya bergerak-gerak seperti ia menelan air-ludah

berkali-kali. Memang datuk yang satu ini adalah datuk pemetik bunga. Tidak peduli istri orang, wanita sedang

mengandung, nenek –nenek sekalipun, apabila nafsunya sudah bangkit, ia tidak akan mempedulikan bagaimana keadaan dan

kondisi calon korbannya, asal mereka itu perempuan, ia akan memerkosanya.
Sejak tadi, begitu Lie Sian muncul, nafsunya sudah bangkit. Dadanya berdebardebar, dan air-liurnya mengalir hampir

tidka bisa dikendalikannya. Selama ia malang-melintang di Jepang, sampai dikejar-kejar oleh seantero pendekar samurai

di Jepang sehingga melarikan diri ke Tionggoan, ia tidak pernah melihat seorang gadis yang memiliki kecantikan yang

menyilaukan seperti Lie Sian. Polos, bebas, dan berilmu tinggi. Seketika ia bertekad untuk memiliki gadis ini apapun

yang terjadi.
Sementara itu Lie Sian menyadari racun Yingyang dushe (racun ular ying-yang) mulai bekerja. Racun ini bekerja lambat,

tetapi memiliki kekuatan yang mematikan.
Lie Sian merasakan gatal-gatal di pinggulnya sebelah kiri semakin menjadi-jadi.
“Aah … racun Yingyang dushe (racun ular ying-yang) sudah mulai mengganggu jalan darahku… sungguh celaka … Yakunta

kelihatannya juga dapat mencium gelagat tidak beres dalam diriku.” Begitu Yakunta menyerang kembali dengan sodokan

gagang samurainya, Lie Sian berkelit sambil kembali melesat sejauh tiga tombak dari datuk samurai ini untuk berpikir

dan mencari jalan keluar mengatasi racun Yingyang dushe.
“Kalau kutotok pinggul sebelah kiri, maka bagian sebelah badanku akan tidak lumpuh seketika … aaah … itu bukan jalan

terbaik.” Pada detik yang paling berbahaya bagi Lie Sian, tiba-tiba ia teringat perkataan kakek angkatnya, Xiauw

Guiyun Kho Tuan Qing: “Ha…ha…ha… dara bengal, kuntilanak cilik, suling buntut itu yang akan kau pakai sebagai taruhan

…. Dan kau katakan itu lebih bagus yang barang taruhanku? Kamu tahu atau tidak, sulingku ini terbuat dari tanduk

menjangan merah yang hanya ada di kutub utara, sudah berumur ratusan tahun. Dengan memegang suling ini, kau akan

tahan segala macam racun, dan juga bisa dipakai menyembuhkan segala bentuk keracunan. Memiliki suara yang tiada

bandingnya, karena ia dibuat oleh seorang ahli suling, Sima Huang.” Tersenyum juga Lie Sian teringat perkataan Kakek

angkatnya ketika pertama kali berjumpa.
“Hi …hi … hi … aku … berada di samping kakek siluman itu hidup begitu menyenangkan dan serba menggembirakan .. “ Kini

Lie Sian berusaha menjaga jarak dengan Yakunta sambil mencari kesempatan untuk menyedot racun Yingyang dushe dengan

Hongchi (suling merah).
“Hmm … sialan!! Bagaimana aku bisa menyedot racun keparat yang terletak di pinggulku di depan iblis-iblis tua ini,

terutama iblis samurai itu matanya membuat aku merasa jijik … aduh sialan betul … bagaimana ini?” Melihat Lie Sian

hanya berusaha menghindar dan mulutnya setengah meringis, San-Kui segera dapat menduga apa sesungguhnya yang sedang

terjadi.
“Ha … ha …. Ha …. Yakunta … Yakunta … sungguh lucu … sungguh menggelikan … !!” “Apa yang lucu …. Siapa yang

menggelikan …. Jaga mulutmu, San-Kui, kalau tidak ingin samuraiku merobek-robek isi perutmu yang berbau busuk

itu.!!!” “San-Kui … apa … yang lucu?” Yi-Kui juga terheran-heran mengapa San-Kui tibatiba tertawa terbahak-bahak.
“Yang menggelikan itu Yankunta, mengaku si gadis siluman itu sudah tidak berdaya menghadapinya dan merasa dirinya

lebih tinggi dari kita, padahal … ha…ha…ha… sungguh lucu … melawan gadis yang sudah terkena racun Yingyang dushe

(racun ular ying-yang) dari tangan Yi-Kui, gadis yang sudah pening dan pusing keliling, eeeh … samurai tumpul itupun

masih belum dapat menjatuhkannya … bukankah ini sangat lucu dan menggelikan ….!!!” Seketika wajah Yakunta menjadi

merah-padam karena malu. Sebentar kemudian berubah menjadi pusat. Sebentar ia menatap Lie Sian yang sedang mencari

akal untuk menggosok-gosok pinggungnya dengan suling Hongchi, dan di saat lain memandang samurainya seperti orang

sedang bermimpi.
“Ho … ho … ho … Yakunta mundurlah, sekarang tiba giliranku meringkus gadis itu sebelum matahari terbenam, karena kita

semua harus menghadiri pertemuan penting dengan pangeran Zhu Wen Yang dan si Iblis Tua, Wang Hong Sen. Makin cepat

kita meringkus gadis itu … semakin baik, kalau perlu kita saling adu cepat menangkap kelinci cantik itu untuk kita

serahkan kepada pangeran … tentu saja ia akan senang sekali daripada siang dan malam memimpikan calon mantu jendral

Gan Bing, puteri yang berbau harum itu … yang ini kecantikannya tidak kalah secuilpun dengan puteri Namita yang

sedang digandrungi pangeran … ayolah.” Bagaikan srigala-srigala ganas yang sedang berebut mangsa, keenam datuk sesat

itu melesat ke arah Lie Sian yang sedang “menyimpan” Hong Chi di balik celananya, tepat di bagian pinggul kirinya.

Tentau saja Lie Sian menjadi kelabakan. Tidak mungkin ia dapat menghindari serangan dari enam penjuru itu dalam

keadaan tangan kanannya “terjepit” pinggul kirinya. Sebelum Lie Sian berbuat sesuatu, tiba-tiba sebuah bayangan putih

menyambar tubuhnya dengan kecepatan yang hebat bukan main.
“Hei …. !!!!! siapa berani bermain-main dengan kami …. Keparat, bosan hidup.” Seru San-Kui terkejut, karena munculnya

bayangan putih itu tidak dirasakan sama sekali oleh mereka berenam, tahu-thau sudah menyambar tubuh Lie Sian

terhindar dari sergapan mereka.
Enam datuk sesat itu terkesiap ketika serangan mereka mengenahi tempat kosong.
Seorang pemuda tampan sederhana berbaju putih mangkak berdiri sambil memeluk gadis calon korban mereka dengan tangan

kanan. Sinar mata pemuda itu bagai anak dewa, mencorong tajam dan mengeluarkan perbawa yang luar-biasa berpengaruh.
“Enam orang tua dari kalangan atas persilatan … ramai-ramai mengeroyok seorang gadis mudah yang sudah terluka akibat

serangan curang dari Xin-Hai-San-Kui ….
Sungguh tidak patut dihargai … sungguh memalukan.” Xi-Hai-San-Kui mundur tiga langkah melihat kedatangan pemuda ini.
“Ho … pemuda misterius ini lagi … kayaknya ia lebih sakti dari gadis siluman itu. Yi-Kui … Er-Kui … sementara ini

mari kita tidak berurusan dengan pemuda itu … luka-luka kita perlu disembuhkan, mari kita segera kembali ke benteng,

mungkin si Iblis Tua, Wang Hong Sen, dapat dibuat sadar dengan luka-luka kita bahwa seorang pewaris pendekar sakti

Sim Hong Long sudah muncul dengan Shen-Ta-Lek-Ling- Quan. Dan Yi-Kui … coba engkau perhatikan wajah pemuda itu?” “Ada

apa dengan wajah pemuda itu San-Kui?” “Peras otakmu yang dogol seperti kodok gila itu … bukankah ia mirip dengan

jendral Zheng Yen …??” “San-Kui … bukan hanya otakmu seperti kucing, matamupun jeli seperti mata binatang gurun … ya,

betul, terutama sorot matanya … seperti jendral sakti itu bangkit dari kuburan dan ingin menuntut balas … wah … ayo

kita segera kembali ke benteng, biar tiga orang tekebur menelan pil pahit dulu.!!” Sementara itu Lie Sian segera

bersyukur Yang Jing datang tepat pada waktunya. Ia marah kepada pemuda ini, tetapi di hati kecilnya, ia ingin pemuda

ini segera datang terutama pada saat ia menghadapi bahaya. Lie Sian merasakan betapa tangan yang kuat itu mendekapnya

dengan kokoh seperti ia tidak ingin melepaskannya lagi.
Ia merasakan betapa tangan itu sedikit gemetar dan jantung pemuda itu berdegup lebih kencang. Dengan lembut dan penuh

kasih sayang tangan Yang Jing seperti mengelus kepalanya, seperti ia menemukan kembali sebuah permata berharga yang

selama ini ia cari-cari. Begitu ia menatap, wajah yang tampan itu berhias senyum … senyum yang sama … senyum yang

selalu Lie Sian terima ketika masih tinggal di goa Baigongdian, Lie Sian menundukkan kepalanya, dan rambutnya panjang

lembut itu seolah membelasi wajah Yang Jing.
“Jing Koko … kau lagi … !!!” Dalam beberapa detik perasaan lembut menguasahi hatinya sehingga Lie Sian menaruh

kepalanya di dada Yang Jing yang bidang dan kokoh kuat itu. Ia merasa tenang … sangat tenang … dan begitu aman … rasa

aman yang bercampur bahagia menyatu di dalam hatinya membuatnya tersenyum sambil meneteskan airmata.
Ia sadar betapa ia merindukan Yang Jing siang dan malam … betapa ia merasakan kehambaran yang menyiksa begitu

berpisah dengan pemuda ini. Tidak terasa hanya dalam sekilasan waktu, Lie Sian tersenyum dengan kedua mata terpejam.

Ia benar-benar sadar bahwa pemuda ini telah mengisi hatinya sepenuhnya.
Tetapi beberapa saat kemudian, ia segera mengangkat kepalanya kembali.
Perasaan marah, kecewa, cemburu, dan masgul menguasahi hatinya lagi. Masih segar dalam pandangan matanya betapa Yang

Jing saling berpelukan … lama … dan … lama sekali dengan seorang wanita cantik, tinggi semampai, dengan berambut

begitu indah. Bibir wanita itu mungil, dan berbentuk indah. Wajahnya agung bagaikan seorang putri. Dan begitu ia

melihat dirinya sendiri, yang ia dapati betapa ia hanya seorang gadis gunung … tidak seagung gadis itu. Seketika,

perasaan sedih dan marah … serta … cemburu semakin berkobar merasuki jiwanya. Segera ia menyentakkan tubuhnya dengan

keras sampai ia hampir jatuh karena pinggulnya masih terasa sakit, walaupun jalan darah di tubuhnya sudah lancar

kembali. Ia mencabut Hongchi dari pinggulnya. Suling itu bersinar lebih merah dari sebelumnya.
“Tuyul mata-keranjang … lepaskan aku … mengapa kau lagi yang datang … mengapa … apakah engkau hendak menghina dan

menertawakan wajahku, mulutku, mataku, rambutnya yang tidak seindah bidadarimu di warung bakmi itu? … lepaskan … ayo

lepaskan …. !!!” “Aaah …Lie Sian Mei-mei … mengapa harus begitu? sabarlah … lupakan dulu persoalan kita, coba lihat

itu, enam datuk yang berbahaya agaknya hendak menyerang kembali.” “Pergilah dari hadapanku … aku tidak ingin engkau

menyakiti hatiku lagi … sudah cukup … sudah cukup … pergilah … Wahai Zheng Yang Jing, pendekar Bayangan Dewa … aku

Coa Lie Sian … … aku … aku .. hanyalah gadis liar, gadis gunung … aah … sudahlah … biarlah aku menghadapi persoalanku

sendiri dengan ujung Hongchi yang sangat setia menemaniku?” Dengan air-mata bercucuran, Lie Sian kini menyerang:

Yakunta, Datuk samurai dari Jepang dengan ilmu samurainya yang hebat, Bun Bu Ryo Do (samurai sastra dan silat); Datuk

nomer satu dari Korea: Kim-Jung-Ho, seorang pendekar pedang dari Korea yang kelihaiannya menggetarkan. Ilmu pedang

yang disebut Zai-Feng-WuDao (Menari di atas angin) sukar dihadapi oleh siapapun pada jaman itu. Dan, Supuyan, si

Iblis Tengkorak Darah. Iblis ini memiliki tiga andalan ilmu yang membuat namanya menjulang tinggi di Khitan.
Ilmunya yang pertama disebut Xue-ye-guge-tu-le-diyu-huo (Tengkorak darah menyebar api neraka), ilmu memainkan

ronce-ronce yang ujungnya dipasang tengkorak bayi. Ilmu ini berdasarkan Yang-sinkang dan diramu dengan racun dan ilmu

gaib khas bangsa Khitan. Sepuluh jari tangan yang berkuku runcing menjadi pasangan ronce-roncenya dan menjadi senjata

yang sukar sekali dilawan. Begitu ia memainkan ilmu ini, hawa disekitarnya akan berselimut kabut hitam beracun yang

dapat membakar saluran darah di paru-paru lawannya.
Ilmu kedua dinamakan: Xueye-guge-qiequ-yu (tengkorak darah mencuri mustika), ilmu totok yang memiliki delapan belas

gerakan. Totokan-totokan yang semuanya mengarah kepada delapan belas jalan mematikan. Gerakannya lambat, tetapi

begitu mendekati sasaran akan berubah cepat sambil mengeluarkan hawa sinkang beracun yang disalurkan lewat sepuluh

jari di tangannya.
Ilmu ketika disebut: Xue-ye-guge-chang-zhiming-gequ (tengkorak darah menyanyikan lagu elmaut). Ilmu yang paling

ditakuti oleh lawannya. Ilmu yang berdasarkan kehebatan khiekang ini seperti lolongan srigala naik-turun,

tinggirendah, mengalunkan lagu elmaut. Bau amis seketika akan keluar dari mulutnya, bau inilah yang menyelinap dalam

lengkingan suara itu kemudian mendesak jaringan otak lawan, sehingga lawannya seketika mati dengan mata mendelik.
Lie Sian kini tidak hanya menggerakan tenaga sakti Huo Jiu (rajawali api), tetapi memainkan ilmu silat ciptaan

Tienshan guai gu lao (orang tua aneh dari Tienshan), gurunya. Huo Jiu Liu Quan (enam jurus rajawali api) yang

memiliki enam jurus ini sudah lama sekali tidak muncul di dunia persilatan, kini, tahu-tahu dimainkan oleh seorang

dara muda dengan kematangan yang mendekati kesempurnaan ilmu penciptanya sendiri.
Karena dorongan rasa benci dan jijik terhadap Yakunta, gadis sakti yang sedang marah dan sakit hati ini mengarahkan

jurusnya yang pertama yang disebut Huo Jiu caijian Shan (rajawali api membelah gunung) sehebat-hebatnya ke arah

Yakunta.
“Huo Jiu caijian Shan … hiaaaaaaaaaaaaaaatt ….. !!!!” Yakunta terkejut bukan kepalang, karena dari kedua tangan gadis

itu sekonyongkonyong mengeluarkan daya dorong yang panas sekali ke arah tiga bagian berbahaya dalam tubuhnya. Tubuh

gadis itu menyambar-nyambar dengan mengembangkan kedua tangannya bagaikan rajawali yang sedang murka. Yakunta dalam

terkejutnya segera memainkan ilmu samurai andalannya: Bun Bu Ryo Do (samurai sastra dan silat). Dengan gerakan

seperti melukis di udara, ia menyambut serangan Huo Jiu caijian Shan sambil mengeluarkan bunyi mendesis tidak

henti-hentinya.
“Bun Bu Ryo Do … hhuu … hhu….!!!” Lie Sian yang sudah mengenal kehebatan ilmu ini tidak ambil peduli lagi dengan

segala macam keindahan yang diperlihatkan, dengan reaksi datar dan tanpa ekspressi, tahu-tahu tangan kirinya

menyampok laju samurai dengan pengerahan Huo-Jiu pada tingkat puncak yang dimilikinya. Yakunta merasakan betapa

gagang samurai yang dipegang dengan kedua tangannya seperti bergetar, dan arus hawa sakti bergulung-gulung seperti

api membakar “membelah” tangannya. Dengan keringat menetes-netes bagaikan ketel menguap, Yakunta mempertahankan

samurainya dengan sekuatnya, tetapi belum sempat ia melakukan reaksi yang sewajarnya, tangan kanan Lie Sian sudah

mengancam pelipisnya. Tangan kanan yang digerakkan bersamaan dengan melayangnya tubuh gadis yang seperti rajawali

itu, tidak mungkin dapat dihindari lagi oleh Yakunta, karena gerakan gadis itu yang dilakukan dengan Buyingzi, jauh

lebih cepat dari reaksi reflek Yakunta.
“Plak … plak … plak … ayaaaaaaaa…..!!!” Terdengar suara “plak” sebanyak tiga kali dan terjadi begitu cepatnya,

tahu-tahu tubuh Yakunta sudah melayang jatuh dekar si Iblis Tengkorak Darah yang segera memapaki tubuh melayang itu

dengan tangan kirinya. Yakunta jatuh terembab dengan pundak kirinya terbakar hangus. Tetapi yang hebat, ia dapat

mempertahankan samurai dan pelipis kirinya dari ancaman maut gadis cantik itu.
Tubuhnya bergetar menahan nyeri dan luka bakar yang ia tahu bukan luka ringan.
Sungguhpun demikian, ia tidak tampak menyerah. Segera ia hendak merangsek lagi, tetapi belum ia sempat beranjak,

Supuyan, si Iblis tengkorak darah mencegahnya.
“Yakunta … perlahan dulu … kukira gadis itu sudah tahu titik kunci kelemahan ilmumu. Dengarlah … “ Supuyan terlihat

berbisik di telinga Yakunta, dan begitu selesai ia berbicara, Iblis berkepala botak dengan ikat kepala tengkorak bayi

meringis ini menoleh ke arah Lie Sian. Matanya berkilat: “Hmm … gadis liar … cobalah ilmuku ….!!!!” Dari mulut

Supuyun tiba-tiba keluar lengkingan yang menyerupai lolongan srigala malam. Makin lama lama makin tinggi dan mengalun

naik-turun menusuk-nusuk jantung. Bau amis yang sangat memuakkan menyeruak bersamaan dengan gelombang bunyi itu ke

arah Lie Sian berdiri. Tetapi … aha … yang diserang malah tersenyum manis sekali. Dengan tenang ia mengeluarkan

suling merahnya, menaruh satu lubangnya pada bibirnya yang segera membentuk kuncup yang indah sekali. Dalam waktu

sedetik, berkumandang nyanyian indah: Chi Re Jiang Shan Li (Hembusan angin musim semi membawa aroma harum bunga-bunga

dan rumput).
Namun di balik keindahan nada lagu ini, ternyata bermuatan hawa sakti mujijat Dizhen-bo dan Chayin- bo.
Supuyan menjadi mencelat saking terkejutnya, dan dari mulutnya mendesis: “Shen … ta … lek … ling …. Quan …. Apakah

hubunganmu dengan Sim Hong Long …Aaah …” Belum habis ia berkata-kata, dari mulutnya menyembur darah segar “Huaak …

keparat!!!” Kesalahan besar yang dibuat Supuyan ialah menyerang Lie Sian dengan ilmu yang berdasarkan khiekang.

Walaupun ilmu Xue-ye-guge-chang-zhiming-gequ (tengkorak darah menyanyikan lagu elmaut) andalannya sangat hebat dan

ditakuti banyak lawan, justru ilmu ini menjadi makanan empuk shen-ta-lek-ling-Quan. Supuyan belum sempat bertempur,

belum sempat mengadakan aduk kesaktian yang sebenarnya dengan Lie Sian harus terluka karena serangan ilmu yang

dibalikkan oleh Lie Sian dengan hawa sakti mujijat Di-zhen-bo dan Cha-yin-bo.
“Ayo … kerjakan!!” katanya setengah berbisik ke arah Yakunta dan Kim Jong Ho.
Mendadak ketiga datuk itu melesat cepat menuju ke arah Xi-Hai-San-Kui, benteng E-Liuyu Gong.
“Hei … jangan lari …!!!” Lie Sian tanpa berpikir panjang mengejar mereka. Ia menjadi sedikit bingung karena yang

dikejar memecah diri ke arah tiga arah. Yang Jing yang semenjak tadi terpukul bathinnya melihat sikap Lie Sian ke

arahnya menjadi terkejut melihat Lie Sian mengejar Yakunta yang mengambil kiri E-Liuyu Gong.
“Sian Mei-mei … jangan mengejar …!!!” Tetapi mana mau Lie Sian mendengar Yang Jing karena ia sudah bersumpah untuk

mengambil nyawa Xi-Hai-San-Kui, Yakunta, dan Kim Jong Ho karena mereka membinasakan banyak pendekar secara sadis.

Selain itu ia memang berkeinginan untuk melabrak E-Liuyu Gong untuk membalas kematian Shi Xin Long yang dianggap

binasa.
Kembali Lie Sian berlari secepat terbang. Tetapi yang dikejar tahu-tahu sudah menghilang di jalan menikung yang

ditumbuhi tumbuhan bambu yang lebat sekali.
Lie Sian tidak mengambil pusing segera ia memasuki tempat itu juga. Mendadak ia terkesiap, karena begitu ia menikung

ke arah rimbunan bambu ia itu, tiba-tiba ia merasakan kakinya menginjak tempat kosong. Ia tidak sempat menarik

kakinya, karena ia bergerak sangat cepat, sehingga gerakan kaki kiri dan kanan hampir tidak memiliki perbedaan waktu

yang signifikan, tahu-tahu tubuhnya …. Melayang di tempat kosong. Ia terkejut dan berusaha untuk mencari pegangan,

tetapi ia melihat makin kedalam lubang tempat ia terperosok semakin lebar. Lie Sian menjadi panik sehingga

mengeluarkan jeritan yang disertai Khie-Sinkang berkumandang jauh sekali.
Yang Jing yang sedang berusaha mengejar Lie Sian menjadi terkejut. Berdasarkan sumber jeritan yang keluar dari mulut

Lie Sian, ia melesar ke tempat itu. Ia berhati-hati karena tibatiba bentuk jalan di depan berubah menikung dengan

situasi yang mencurigakan. Dengan perlahan ia melewati jalan setapak yang menikung dan banyak ditumbuhi pohon-pohon

bambu itu. Ketika ia menikung, ia melihat suling merah milik Lie Sian tergeletak di jalan setapak di depannya.

Hatinya seketika mencelos.
“Apakah yang terjadi dengan Lie Sian?” Dengan mengerakkan hawa saktinya, Yang Jing berteriak memanggil Lie Sian “Lie

Siaaaaaaannnn ……!!!!!!” Tetapi suaranya seperti ditelan oleh kegelapan hutan. Hatinya menjadi gelisah, karena hari

mulai malam, dan hutan itu begitu padat oleh pohon bambu. Yang Jing berpikir keras. Ia duduk bersila di bawah

rimbunan bambu. Dengan menggerakkan ilmu Shen De Bu Fu Tui Dong Yang (Langkah Dewa Mendorong Samudra) ia berusaha

mencari gerakan arus Chi yang terkuak oleh gerakan Lie Sian. Ia merasakan gelombang suara yang kecil sekali yang

sepertinya disampai oleh … Lie Sian … dari dalam … perut bumi dekat dengan tempat ia menemukan suling Merah milik Lie

Sian.
“Lie Sian terjebak … dan terperosok ke suatu tempat yang kurasakan berada di sekitar ini.” Segera Yang Jing bangkit,

dan perlahan-lahan kembali ke jalan setapak itu. Dengan mengerakkan ilmunya Shen De Bu Fu Tui Dong Yang, Yang Jing

menggeliat seperti belut dan menengkurap seperti naga. Tubuhnya yang tengkurap itu merayap begitu ringan, seolah-olah

ia sedang meniti pada garis-garis arus Chi yang tidak kelihatan di tempat ia berpijak. Sedikit demi sedikit tubuhnya

mulai diselimuti dengan sinar perak tipis. Mata Yang Jing yang tajam segera melihat, tempat ia merangkak itu ternyata

kosong.
“Aah … benar … lapisan tanah di jalan setapak itu adalah buatan, dan memang dipersiapkan untuk menjebak Lie Sian

dengan cara menyesatkan Lie Sian dengan barisan pohon-pohon bambu.” Dengan mengepos ilmunya, Yang Jing berusaha

menyatukan dirinya dengan arus chi yang meluncur deras bagaikan benang-benang gaib ke arah sebuah lubang yang

tertutup lapisan tanah yang tipis sekali. Begitu sampai di tempat itu, Yang Jing segera memilinmilin bajunya dan di

sambung dengan pohon-pohon bambu, ia mulai merayap turun ke dalam lubang itu. Semakin kedalam semakin melebar, dan

semakin gelap keadaannya. Tetapi sungguh tidak menguntungkan keadaan Yang Jing, ternyata bambu-bambu yang ia pakai

tidak juga panjang untuk dipakai sebagai tali menuruni lubang perut bumi itu. Dengan mengambil keputusan cepat, Yang

Jing segera melayang ke atas dengan maksud mengambil lagi ruas-ruas bambu. Tetapi sebelum maksudnya tercapai,

tiba-tiba ia mendengar tawa nyaring dari atas.
Mengikuti suara itu, ratusan obor sudah menerangi lubang di mana Yang Jing sedang menggelantung .
“Ha …ha…ha….Tianpin-Er … Tianpin-Er … dengan tulus hati aku menawarkan untuk pengangkatan saudara dengan ku, dan akan

hidup mulai di sampingku sebagai adik angkat calon kaisar dinasti Ming yang baru, engkau malah memilih jalan hidup

yang lain … ha…ha…ha… dan kini engkau menggelantung bagai seekor kera. Tahukah engkau berapa dalam sumur itu?” Yang

Jing mengenal baik suara ketawa itu. Itulah suara pangeran Zhu Wen Yang.
Zhu Wen Yang mengambil sebuah batu sebesar kepala manusia, kemudian dilemparkan ke dalam lubang itu. Yang Jing

melihat batu itu meluncur … tetapi lama sekali, dan jatuhnya hampir tidak menimbulkan bunyi apabila ditangkap dengan

mata biasa.
“Tianpin-Er … kekasih hatimu mungkin sudah menjadi seonggok daging yang hancur di dasar sumur itu … percuma engkau

berusaha mencari apalagi menyelamatkan. Kini dengarlah saranku … ini kesempatan baik yang perlu kau pikir dengan

waras.
Aku tahu siapakah engkau adanya … siapa ayahmu dan siapa ibumu. Ayahmu telah mengkhianati ayahku, kaisar yang sah.

Tetapi sudahlah, aku tidak ingin mengungkit-ungkit sejarah busuk. Aku akan membiarkan engkau pergi hidup-hidup

apabila engkau bersedia mengelupas sedikit kulit lehermu yang terdapat lima tahi lalat berwarna hitam kemerah-merahan

dan membentuk Hong- Xin-Yue (bulan sabit merah) hasil lukisan ibumu yang ahli membuat tatto itu.” “Xhu Wen Yang … aku

tidak memiliki kata-kata lain lagi bagimu … dan aku juga tidak begitu bodoh melukai diriku sendiri dengan menguliti

leherku sendiri … pergilah … aku tahu Lie Sian masih hidup di dasar lubang ini.” “Ha…ha…ha … tidak ada seekor

mahlukpun dapat hidup begitu masuk ke lubang itu. Selain dalam, lubang itu terbuat dari batu alam, dindingnya adalah

batu-batu gunung yang tebalnya lebih dari limapuluh kaki … bagaimana, apakah engkau ingin hidup … mata dengan tubuh

hancur luluh?” “Zhu Wen Yang perbuatlah apa yang engkau mau … aku menyudahi basah-basih tiada guna manusia semacam

dirimu.” Zhu Wen Yang menjadi marah bukan kepalang. Dalam lubuk hatinya, ia ingin mengangkat Yang Jing menjadi

pembantunya karena kepintaran dan kehebatan ilmu pemuda itu. Selain itu, ia membathin, Yang Jing lah pemuda

satu-satunya yang pernah ia jumpai yang memiliki hal-hal banyak yang tidak dapat ia tandingi. Hatinya menjadi benci

karena iri. Ia lebih baik melenyapkan pendekar muda itu apabila tidak bersedia membantunya. Timbul kebencian yang

makin hari makin besar apabila mengenang bagaimana Yang Jing dapat mengalahkannya dalam sebuah pertarungan ilmu

silat.
Melihat sikap Yang Jing sangat menyakiti hatinya, Zhu Wen Yang tiba-tiba memberi aba-aba kepada ratusan prajurit yang

datang bersamanya.
“Lenyapkan pemuda busuk itu … lempari dengan batu sampai mati … setelah itu harus kembali ke markas, karena besok

menjelang subuh kita mengadakan menyerbu besar ke ibukota Peking … bunuh pemuda gila itu sebagai korban pertama

baginya hancurnya pemerintahan Yongle si keparat.” Begitu mendengar perintah Zhu Wen Yang, ratusan prajurit itu

menghujani Yang Jing dengan batu-batu sebesar kepala manusia. Ratusan batu dengan berbagai ukuran bagaikan

dirontokkan dari langit meluruk ke arah Yang Jing menimbulkan suara yang bergemuruh dasyat sekali.
Yang Jing melihat ratusan batu itu menerjang deras ke arah dirinya. Ia segera mengerti jiwanya berada dalam ancaman

maut. Dengan cepat Yang Jing mengambil keputusan untuk menggerakkan ilmu Shen De Bu Fu Tui Dong Yang pada tingkat

yang paling akhir yang disebut: Yuan Jin Wuzhi (seperti ulat memasuki kehampaan). Ia tidak melawan luncuran batu itu

dengan pukulan atau dorongan, bahkan sebaliknya ia membiarkan dirinya menyatu dengan kekuatan meluncur batubatu itu.

Dirinya betul-betul seperti seekor ulat yang lunak dan elastis. Kemanapun meluncur, ia seperti ulat yang mandah saja

ditekuk, dihempas, digulung, dan dipontang-pantingkan oleh luncuran batu-batu itu. Saat itulah Yang Jing betul-betul

bergerak menjadi satu dengan gerakan arus gerakan batu yang hebat dan susu-menyusul. Tubuh Yang Jing yang bergerak

luwes dan elastis itu berpindah-pindah, dari satu batu ke arah batu yang lain. Walaupun ia tidak urung mengalami

luka-luka yang mengeluarkan banyak darah di sekujur tubuhnya, tetapi batu-batu itu tidak cukup kuat untuk menembus

kekuatan lembek dari Yuan Jin Wuzhi.
Beberapa saat kemudian, Yang Jing merasakan tubuhnya menyentuh di sebuah tanah datar. Ia berdiri tepat di batu yang

ke tujuh satu, batu terakhir yang membawa dirinya ke bawah.
Ia menghela nafas panjang melihat betapa banyak luka gores dan lebam yang diakibatkan oleh batubatu itu. Tetapi ia

juga bersyukur karena dengan adanya batu-batu itu ia memiliki tempat untuk mendarat di dasar lubang dengan selamat.
Lubang sumur itu gelap gulita. Hampir-hampir matanya tidak dapat melihat sesuatu.
Tetapi ia masih dapat mendengar tarikan nafas dua orang tidak jauh dari tempat ia berdiri. Yang satu berat, dan yang

lainnya ringan.
BAB 27: RAHASIA BESAR TERKUAK DI SUMUR MAUT.
Hawa sakti Shen De Bu Fu Tui Dong Yang membuat tubuh Yang Jing seperti berselaput sinar perak tipis. Dengan hawa

sakti yang mendesir-desir di seluruh tubuhnya ini, Yang Jing dapat menangkap hampir setiap unsur gerak dan gelombang

di sekitarnya yang tidak dapat ditangkap oleh indra manusia secara normal. Arus Chi yang tersibak akibat benda-benda

yang jatuh dari atas, bergerak berputar secara gaib membentuk “ci xing bo lang” (gelombang magnetik). Karena sifat

Shen De Bu Fu Tui Dong yang mengikuti setiap gerak dan gelombang yang menyentuhnya, membuat Yang Jing dapat merasakan

di dalam kegelapan bahwa selain dua tarikan nafas yang tidak jauh dari tempatnya, ia juga dapat merasakan adanya

ribuan bendabenda lembut, licin, dan berlendir bergerak-gerak seperti tangan-tangan halus yang menggapai-gapai ke

langit.
“Itu bukan benda mati, tetapi ribuan benda hidup yang bergerak terus menerus.
Sebagian badannya bergerak di dalam perut bumi, sedangkan sebagian lainnya muncul di permukaan. Gerakan mereka lembut

seperti tidak memiliki tulang belulang. Di tengah-tengah gerakkan yang ditimbulkan oleh mereka, arus Chi mengalir

begitu kuat . Apakah itu? Di manakah Lie Sian dan tarikan nafas siapakah itu?” Yang Jing tidak berani gegabah

mereaksi apa yang ia rasakan. Perlahan-lahan ia mengambil sikap bersila sambil memutar badannya dengan gerakan Yuan

Jin Wuzhi (seperti ulat memasuki kehampaan). Putaran tubuhnya bergerak selaras dengan gerakan halus lembut dari

ribuan binatang di sumur itu, begitu halus, lembut dan hampir tidak menyertakan gerakan otot dan tulangnya. Mukanya

menghadap persis ke arah benda-benda hidup di depannya. Ia memejamkan matanya, mulailah ia membangkitkan seluruh

indra perasaannya menuju ke puncak kekosongan yang disebut: Liuxia-shen ti, can yu ling hun (meninggalkan tubuh,

menyisahkan roh).
Pada kondisi seperti ini, Yang Jing berada dalam status kosong, seluruh gerakan mekanik: seperti otot, tulang,

urat-syaraf, dsbnya dalam status “mati sirih”, tetapi “Fo jiao de di gan jue” (perasaan sang Buddha), perasaan yang

bekerja seperti “Xin zhang yan jing” (mata hati) seperti menggantikan kerja indera lainnya. Dalam status seperti ini,

pikiran Yang Jing masih bekerja normal: “Aaah … ada sesosok tubuh, dengan tarikan nafas halus, berada dalam

“bungkusan” ribuan tangan-tangan halus, licin, dan berlendir itu, tepat berada di tengah-tengah. Aaah … tarikan

nafasnya mulai tersumbat oleh sesuatu dan kini kudengar hanya detak jantungnya yang tersisa. Aku harus bergerak

cepat, sebelum terlambat. Aaaah … jangan-jangan itu Lie Sian yang ditangkap oleh ribuan tangantangan binatang licin

itu pada saat jatuh.” Dengan perlahan-lahan Yang Jing menarik Hai she linjin (ular laut berisisik emas) yang

disebutdisebut di dunia kangouw sebagai Zhenli-zhengyi Xiangzheng (Lambang kebenaran dan keadilan dunia persilatan)

dari balik bajunya. Bagitu dicabut keluar, Hai She Linjin memancarkan sinar emas di kegelapan. Yang Jiang hanya

membutuhkan waktu sedetik menggunakan sinar suling itu, karena pada saat yang sukar dihitung dengan waktu cepatnya,

tahu-tahu tubuhnya melesat bagaikan sinar sinar hitam sambil menyabetkan tubuh suling itu tepat di bagian bawah dari

tangan-tangan yang sedang membungkus sesosok tubuh itu. Terdengar suara: “Craaaaassss …. Blep…blep ….bleeep…!!!!”

Yang Jing sangat terkejut, karena begitu sulingnya membabat “ribuan tangantangan itu” muncratlah lapisan lendir yang

berbau harum tetapi memuakkan.
Seketika sesosok tubuh yang disambarnya meluncur jatuh. Ia tidak berhasil menangkap tubuh itu disebabkan lapisan

lendir yang memiliki tingkat kelicinan yang maha tinggi seperti selimut membungkus tubuh itu. Yang Jing terkesiap,

namun ia tidak bisa mempikir panjang lagi. Dengan mengambil keputusan kilat, sambil menggerakan ilmu Shen De Bu Fu

Tui Dong Yang dengan jurus yang disebut: tui-jili- liang, qie-qu-neng-liang (Mendorong kekuatan, mencuri energi),

kembali Tianpin-Er meluncur seperti belut berenang di permukaan lumpur yang licin, ia bukan menangkap tubuh itu,

melainkan mendorong ke atas, setelah itu seperti ia meminjam “kelicinan” lendir yang menyelubungi tubuh itu, tangan

kirinya berputar dari atas ke bawah, kemudian di kuti dengan tangan kanan yang berputar kebalikan dari tangan kiri,

dari bawah ke atas; sedangkan tubuhnya melengkung seperti naga melibas mangsanya. Pemandangan yang luar-biasa

terjadi, tubuh itu seperti bergerak berputar sebentar dari bawah ke atas, kemudian balik dari atas ke bawah, dan

meluncur begitu cepat mengikuti tubuh yang melengkung seperti naga itu menjauh ribuan-ribuan tangan yang sepertinya

turut terjulur untuk merebut kembali tubuh yang hampir menjadi santapan lezat selama beberapa hari.
Yang Jing segera menggerakkan Yang Sinkang untuk mengeringkan lendir-lendir licin dari tubuh itu. Beberapa saat

kemudian, ia sudah mendudukkan orang itu dengan posisi bersila, kemudian Yang Jing menyalurkan hawa saktinya ke

bagian Gong-Xu – lubang hawa atau kekosongan. Tianpin-Er bekerja luar-biasa cepat, seperti ia mengejar sesuatu yang

membuatnya gelisah dan panic, yaitu: kematian.
Keringatnya menetes-netes deras, karena ia mengepos tiga bagian lebih dari hawa saktinya untuk membuat naluri

kehidupan orang bangkit kembali dan tidak sampai putus nafasnya. Begitu Yang Jing menerima reaksi sedikit saja dari

orang itu, walaupun amat-sangat lemah, Yang Jing menjadi sedikit lega, karena berarti ia berhasil membangkitkan

naluri kehidupannya.
Kira-kira waktu sepeminuman teh, Yang Jing melakukan Nao-Min-ang, Xin-an-ben, yaitu seluruh beban dalam diri orang

itu yang mempengaruhi hubungan antara hawa murni di dalam dian-tan dengan guang-sudu (percepatan sinar) yang berada

di yuzou (alam semesta ) dikosongkan dengan cara memompa semua kekuatan sinkang, gwakang, ataupun khiekang dengan

guang-sudu.
Entah berapa lama hal ini dilakukan oleh Yang Jing, tahu-tahu lamat-lamat sinar matahari mulai menerobos dari lubang

atas sumur maut ini.
“Apakah orang ini Lie Sian … pasti Lie Sian adanya … karena bentuk tubuh dan kepalanya sama persis … pasti … pasti …

kalau bukan, habis di manakah Lie Sian saat ini?” Yang Jing membuka matanya, dan perasaannya memang tidak salah,

orang itu ternyata adalah: Lie Sian. Wajah darah ini pucat pasih, seperti ia mengalami ketakutan hebat sehingga

kehilangan kemampuan memakai kepandaiannya. Ia tidak terluka parah, yang berbahaya adalah arus daya tarik bumi yang

mengguncang isi dadanya. Tampaknya ia pingsan karena perasaan jijik dan ngeri.
Tianpin-Er melirik sejenak, ia menjadi lega melihat nafasnya dara yang dicintainya terlihat mulai normal.
“Lie Sian Mei-mei … kasihan kau … kelihatan kau mengalami guncangan dan rasa terkejut, ngeri, dan jijik begitu hebat

…. “ Yang Jing mengurut-ngurut kepala Lie Sian, dan tidak beberapa lama, dara perkasa ini mulai sadar.
“Di manakah aku …. ??” Lie Sian masih menunjukkan rasa ngeri dan jijik, sehingga wajahnya pucat sekali, tangannya

gemetar dan bibirnya bergetar hebat. Ia mencoba berdiri untuk melarikan diri dari tempat itu, tetapi yang ia lihat

hanya dinding batu berwarna hijau tua mendekati hitam. Ketika ia menengok ke tengah-tengah sumur ia melihat bangkai

benatang seperti belut berwarna hijau mudah berserakan di mana-mana seperti barusan dihantam badai. Lendir-lendir

yang berwarna bening kehijauan muncratmuncrat membasahi dinding sumur, dan menetes-netes seperti kristal-kristal

hijau.
Segera Lie Sian menutup kepalanya dengan kedua tangannya. Masih segar di benaknya, ketika ia terperosok masuk sebuah

lubang.
“Aduh celaka …. !!!” Teriaknya ketika ia menyadari kedua kakinya sudah masuk ke sebuah lubang besar.
Tubuhnya meluncur deras seperti disedot oleh kekuatan maha dasyat dari perut bumi. Semakin kedalam, dirasakan olehnya

semakin besar sumur itu. Tidak ubahnya seperti mulut naga tenganga. Keadaannya gelap gulita … ia tidak bisa melihat

apa-apa di sekitarnya, bahkan tangannya sendiri tidak dapat dilihatnya.
Ia heran, mengapa ia tidak kunjung jatuh. Ia sudah bersiap diri, apapun yang terjadi ia harus mempertahankan

hidupnya.
“Oh Thian … haruskah aku mati dengan cara seperti ini? Jing Koko … tentu tidak dapat menemukan tubuhku ….

Oooooohhh!!!” Ketika daya luncurnya semakin deras, Lie Sian mengerti bahwa sebentar lagi tubuhnya akan hancur-lebur

tidak berbentuk lagi. Tidak terasa air-matanya mengucur. Ia masih mendengar teriakan Yang Jing memanggil namanya:

“Lie Siaaaaaaannnn ………………….!!!!” Lie Sian berusaha membalas, tetapi mulutnya seperti tersumpal oleh daya hisap sumur

itu. Karuan saja ia menjadi panic dan pening seketika.
“Jing Koko … selamat tinggal … aku mencintaimu … !!!!” Saat ia berkata begitu, tubuhnya meluncur luar-biasa deras,

sehingga mau-tidak mau Lie Sian menutup kedua matanya. Dalam kegelapan pekat di perut bumi itu, Lie Sian pasrah …

karena ia sudah tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan tubuhnya lagi. Semakin deras … meluncur bagai meteor

jatuh … tiba-tiba: “ Jlaaaaaaaap ………………………………………!!!” Lie Sian terkejut sekali, ia bukan jatuh pada tanah atau batu

sehingga tubuh hancur luluh, sebaliknya ia jatuh pada permukaan yang kenyal, lembek, dingin , dan …..
licin sekali. Begitu licinnya, sehingga pada saat ia berdiri, ia sudah terjatuh kembali.
“Iii hh …. Apa ini … berlendir dan berbau .. … … iiih….bergerak-gerak …. Aduh … celaka … tangannya mulai meraba-raba

… aduh … ii ihhh…” Lie Sian menjadi nekad, ia menggapai sebuah “tangan” di antara mereka yang sudah memeluk dadanya,

ketika ia mengangkat dan mendekatkan pada mukanya, ia menjadi terkejut, panik dan takut bukan kepalang. Karena

samar-samar ia melihar sepasang mata bening terbuka, dan dari bawah mata itu, ia melihar lidahnya berwarna merah

menjilat matanya. Seketika Lie Sian menjadi pingsan!!! Mengenang pengalamannya semalam, Lie Sian menjadi bergedik.
“Iiih … binatang apa itu?” “Sian Mei-mei … tenanglah … binatang-binatang licin dan menjijikkan itu secara tidak

langsung telah menyelamatkan jiwamu dari maut. Mereka seperti cacingcacing raksasa yang keluar pada saat tertentu di

tengah malam. Lie Sian … syukurlah … Thian masih mempertemukan kita di tempat ini, di dalam sumur, seperti yang

pernah kita alami di Jurang curam dekat Baigongdian. Lie Sian … aku bahagia.” Yang Jing merasa terharu dan bahagia

sehingga membuatnya meneteskan airmata.
Ia menatap Lie Sian dengan penuh kasih sayang. Kasih yang keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.
Lie Sian menoleh ke belakang, dan melihat Yang Jing tersenyum sambil meneteskan air-mata. Lie Sian tercengang!

Matanya terbelalak menatap Yang Jing, dan sepertar mengucek-ngucek matanya dengan kedua tangannya. Mulutnya sedikit

terbuka.
“Sian Mei-mei … ini aku Yang Jing ..!!” “Jing Koko … !!” Entah tenaga apa yang menggerakkan Lie Sian, karena

tiba-tiba ia menubruk Yang Jing sambil menangis tersedu-sedu. Yang Jing membiarkan air-mata Lie Sian membasahi

bahunya, ia mengelus punggung dara yang sangat ia kasihi itu dengan segenap perasaannya.
“Lie Sian … tenanglah … hal-hal yang mengerikan dan yang membuatmu terguncang sudah berlalu. Jangan menyalahkan

cacing-cacing raksasa itu … bagaimanapun juga, merekalah yang menyelamatkanmu dari malapetaka.” “Jing Koko …. kau

lagi … kau lagi yang menyelamatkan aku … ?? Mengapa …?” Yang Jing menatapa Lie Sian dengan penuh kasih sayang. Jelas

sekali sinar matanya tampak begitu lembut penuh pengertian.
“Lie Sian Mei-mei … kau bertanya, “mengapa ….? Karena aku tidak ingin kehilangan dirimu … kalau kau binasa di sumur

ini, akupun akan menunggui jenasahmu di tempat ini. Merawatnya, dan menemanimu …” “Betulkah … …. Sungguh aneh … aneh

…??” “Apakah yang aneh, Sian Mei?” “Jing Ko … bagiku itu aneh … bukankah selama kita berpisah, engkau sudah merasakan

bahwa aku bukankah seorang yang begitu berarti bagimu? Engkau sudah memiliki seorang teman wanita yang mengasihimu,

sangat cantik-jelita, dan tampak begitu agung mempesona … dan … kau … pun … mencintainya, bukan? Kalau tidak, tidak

mungkin engkau memeluknya begitu mesra … dan … lama sekali.” Kembali Yang Jing tersenyum.
“Sian Mei … tentu saja aku mencintai wanita itu. Tentu saja ia cantik jelita … dan aku bangga memiliki dia …” Lie

Sian melepaskan diri dari pelukan Yang Jing, dan dengan tubuh bergemetaran … ia mundur-mundur dengan mata terbelalak

dan tergenang oleh air-mata.
“Aaah … Jing Koko … begitu tega kau mengeluarkan perkataan demikian kepadaku … aku …!!” Yang Jing mendekati dan

memegang tangan Lie Sian . Ia menggenggamnya eraterat ..
“Lie Sian Mei-mei … tentu saja aku mencintai wanita itu dan bangga memiliki dia, karena ia adalah enci kandungku

sendiri, yang bernama Zheng Yang Mi.” “Bohong …!!! Kau membohongiku … kau tuyul mata keranjang yang pandai menipu …

kau bohong … !!!” Lie Sian menarik tangannya dari genggaman Yang Jing, dengan air-mata yang mengucur deras ia

menjerit.
“Kau bohoooooong!!” “Jing Koko … mengapa engkau membohongiku … sepanjang kita hidup berdua di Goa Baigongdian, tidak

pernah sekalipun engkau menyinggung-nyinggung memiliki seorang enci yang begitu cantik-jelita …. Jing Koko … katakan

bahwa kau bohong bukan … ya, kau membohongiku …!!” “Nono Lie Sian, Zheng Xiong di (Sobat she Zheng) tidak berbohong

…. !!!” Tiba-tiba mereka berdua mendengar suara serak dari sebuah goa yang ada di sumur maut itu. Yang Jing sudah

mendengar elahan nafas berat semalam, namun ia tidak menaruh perhatian sepenuhnya karena pikiran dan tenaganya

dipusatkan untuk menyelamatkan jiwa Lie Sian dari ancaman kematian.
Orang itu keluar dari goa. Tubuhnya kurus, tampak menderita sekali, tetapi kelihatan gagah dan tidak ada tanda-tanda

menyerah kepada keadaan. Melihat orang ini, Yang Jing segera dapat mengenalinya.
“Paman Gan Bing ….!!!!” “Ha…ha…ha…. Zheng Di xiong, tidak di sangka-sangka, kita dapat berkumpul di sumur maut ini

…ha….ha….ha… dulu kita sama-sama menyelamatkan jiwa Yongle Huang-di (kaisar Yongle), kini … di tempat ini, kita harus

berpikir bagaimana menyelamatkan negara dari rongrongan iblis-iblis itu …ha….ha…ha…!!!” Jendral Gan Bing yang

dicandak seperti tikus tiada daya oleh tangan sakti Si Singa Pencabut Nyawa Wang Hong Sen, ternyata dimasukkan ke

dalam sumur maut ini.
Rupa mereka sengaja ingin menamatkan riwayatnya di dalam sumur yang tidak memiliki jalan keluar ini.
“Nona, Zheng dixiong tidak berbohong … sama sekali tidak berbohong. Wanita cantik-jelita yang bernama Zheng Yang Mi

atau dulunya dikenal sebagai Lie Chuang Mu adalah encinya yang pertama. Mari kita duduk di dalam goa itu supaya tidak

mencium bau wangi yang memuakkan akibat darah cacing-cacing raksasa itu … marilah …dengarlah ceritaku.” Mereka

bertiga memasuki sebuah goa yang terletak di pinggir sumur. Tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil.

Kelihatan bersih dan terawat baik. Di dindingnya banyak terdapat coretan-coretan dan gambar-gambar.
“Paman Gan Bing ternyata tidak menyia-nyiakan waktu … kelihatan ilmu dan strategi perang paman maju pesat. Hmm …

sebuah ilmu perang yang hebaat ….” “Zheng Di-Xiong …. Itu hanyalah corat-coret jendral tua yang sedang bermimpi

memimpin pasukan besar untuk menghancurkan para pembrontak.” Begitu masuk, Lie Sian menjadi lega karena goa itu

ternyata cukup besar, kering, dan berhawa segar.
Terdapat air yang menetes dari celah-celah batu, jernih sekali, rasanya juga segar. Yang mengherankan, di tempat itu

terdapat tiga buah gentong air yang berukuran besar-besar terbuat dari tanah liat. Lie Sian tanpa segan-segan lagi

mengisi gentong-gentong itu dengan air.
“Jing Ko … kau dan paman Gan jangan masuk ke situ ….!!” Lie Sian menunjuk sebuah celah di dinding batu yang agak

menjorok ke dalam.
“Sian Mei … ada apakah??” Lie Sian berbisik, “Ini urusan wanita, laki-laki tidak boleh tahu ….” Ia mengambil dua

gentong berisi air penuh dan sebentar bayangannya tidak kelihatan lagi. Jendral Gan Bing hanya tersenyum. Jendral

gagah perkasa ini mengetahui apa yang sedang dilakukan Lie Sian di balik dinding batu.
“Jing Er (anak Jing) sambil menunggu Lie Sian mari kita mempersiapkan makanan untuk mengisi perut.” “Mempersiapkan

makanan? Apa yang dapat kita peroleh di tempat ini paman?” “Kalau kita tidak dapat memperoleh apa-apa di tempat ini

untuk mempertahankan hidup, habis dengan cara bagaimana aku, jendral tua, ini dapat hidup? Jing Er … di tempat ini

kita perlu membuang segala perasaan jijik atau aneh soal makanan, karena yang ada hanya: jamur-jamur yang banyak

tumbuh di bawah pancuran air itu dan cacing-cacing raksasa yang akan muncul dalam saat tertentu di waktu malam sedang

mencapai gelap-gelapnya. Kalau kita sedang mujur ada kera, ular, atau burung yang lagi ke sasar ke tempat ini.” “Kera

… ular … burung …??” Dengan cara bagaimanakah mereka sampai di tempat ini? Kalau ular, mungkin dapat masuk ke tempat

ini melalui perlbagai cara termasuk dari mulut sumur ini. Tetapi burung atau kera … aaah …. Tidak mungkin mereka

merayap atau terbang dari bibir sumur yang kecil dan tertutup oleh lapisan tanah walaupun tipis. Pasti ada jalan

keluar lainnya … Paman Gan, kita perlu mencari jalan itu.” “Aya … paman sudah memikirkan soal itu selama lebih dari

tiga bulan, tapi … sudahlah untuk sementara kita perlu mengisi perut kita dulu, dan mendengar ceritaku, baru kita

mulai mencari jalan bagaimana keluar dari sumur maut ini.” Jendral Gan Bing mengambil sebuah tempat mirip baskom yang

terbuat dari batu.
Buatannya kasar tetapi dapat dipergunakan untuk memasak. Dengan wajah berseri ia memetik beberapa jamur yang

bertelinga lebar berwarna putih kecoklatan. Akar jamur itu berwarna putih bersih seperti salju dan berukuran lebih

besar dari telinga atau kelopak jamur itu sendiri. Tangan Jendral perang itu mulai bekerja dengan kamur-jamur itu. Ia

menyisihkan akarnya, dan mengumpulkan kelopak atau kuncup jamur yang berbentuk aneh.
“Jing Er … kita tidak akan pernah menikmati makanan jamur jenis ini lagi suatu saat ketika kita sudah keluar dari

sumur ini. Jenis jamur apa ini paman tidak tahu, tetapi rasanya luar-biasa berbeda, gurih, enak, dan meningkatkan

daya tahan kita terhadap pelbagai penyakit. Paman tidak pernah makan akarnya, takur keracunan … akarnya lebih aneh

dari kelopaknya, berwarna putih seperti terlapisi semacam selimut lembut putih seperti salju.” “Paman Gan Bing …

kehebatan jamur ini terletak pada akarnya.” Jendral Gan Bing dan Tianpin-Er menoleh ke arah Lie Sian yang berujar

setelah keluar dari celah batu. Yang Jing menjadi terpesona, karena baru kali ini ia melihat Lie Sian dalam keadaan

yang luar-biasa cantiknya. Matanya berbinar-binar hidup bagaikan sinar bintang, bibirnya tersenyum merah, sehingga

kelihatan deretan giginya. Gigi dan bibir itu menciptakan keharmonisan yang sangat mempesona.
Rambutnya yang dibiarkan terurai basah itu membuat wajahnya tampak lebih menonjol, begitu rupawan. Tidak terasa Yang

Jing melongo melihat Lie Sian.
“Jing Koko … mengapa mulutmu menjadi seperti itu … hei ….!!!!” Yang Jing terkejut sekali, ketika Lie Sian

mendorongnya ke belakang.
“Jing Koko … mengapa menatapku seperti menatap setan kuntilanak … apakah wajahku mengerikan … ayo katakan ada apa??”

“Sian Mei … kau … kau …?”” “Kau … kau …apa? Paman Gan, ada apakah dengan diriku, apakah aku kelihatan aneh?” Jendral

Gan Bing tertawa terbahak-bahak, sampai perutnya bergoyang-goyang.
Seketika Lie Sian menjadi pucat dan hampir menangis melihat tingkah laku dua orang laki-laki di depannya itu.
“Lie Sian … paman tidak bisa memberitahukan … coba tanya Jing Er (anak Jing)” “Jing Koko … ada apakah … mengapa

engkau menatapku terus-menerus seperti itu … i h mengerikan … mulutmu sampai mlongo seperti orang linglung.” “Sian

Mei … kau muncul dari balik batu itu seperti … bi..da..da..ri … kau can … tik sekali.” Kini Lie Sian yang tersentak

kaget. Sampai matanya melotot lebih lebar lagi.
Tianpin-Er malah semakin terpesona memandang mata yang melotot itu. Lie Sian sendiri juga merasa heran, mengapa

secara mendadak ia begitu gembira, sangat bahagia … dan semua yang ada di sekitarnya kelihatan hidup dan mempesona.
“Jing Koko … engkau jangan berolok-olok … kita sudah pernah hidup berdua di tempat yang nyaris sama dengan tempat ini

walaupun di sini seperti neraka sedangkan goa Baigongdian seperti surga yang hilang. Tidak pernah engkau berkata

seperti itu kepadaku … Jing Koko … jangan bersenda-gurau keterlaluan … ingat urusan kita masih belum selesai.” “Ha …

ha … ha … persoalan anak muda … acapkali membuat kepala jadi pusing ….!!” “Lie Sian … tadi engkau mengatakan

kehebatan jamur ini terletak pada akarnya, benarkah itu? Apakah engkau tahu jenis jamur seperti ini?” “Paman, jamur

ini disebut “Long-Gen-Mogu” (Jamur akar naga).” “Long-Gen-Mogu … ? “ Kini perhatian Jendral Gan Bing beralih pada

akar-akar jamur yang selama ini selalu ia buang.
Tangannya memungut satu di antaranya, kemudian dicium dan di makan mentah-mentah.
“Long-Gen-Mogu … konon menurut cerita yang beredar di kalangan istana … akarnya terasa manis dan beberapa saat

setelah makan, perut terasa hangat dan semua penyakit yang bersarang di dalam tubuh sembuh dalam waktu tiga minggu.”

“Bukan hanya itu paman, akar jamur ini membuat hawa murni di dalam Dian-tan bergerak lebih kuat. Sehingga kita dapat

bertahan dalam cuaca yang bagaimanapun dinginnya. Akar itu dimakan dalam keadaan segar, sedangkan kelopak jamurnya

kita masak menjadi makanan yang istimewa. Bolehkah aku memasaknya paman, karena aku memiliki bumbu-bumbu istimewa

yang kusimpan dalam buntalan pakaian. Hi …hi…hi… paman pasti pasti terkejut kalau kukatakan bumbu-bumbu itu berasal

dari dapur rahasia Yongle Huang-di di Baigongdian.” “Benarkah itu Lie Sian?” Lie Sian mengangguk sambil tersenyum.

Sambil melirik ke arah Yang Jing, Lie Sian meninggalkan tempat itu menuju ke ruang yang dipakai oleh Jendral Gan Bing

sebagai dapur. Dengan cekatan ia mulai meramu jamur-jamur menurup resep yang ia pelajari. Resep hasil olahan koki

istana kekaisaran yang tentu saja istimewa.
Tidak beberapa lama tercium bau harum yang menggelitik lubang hidung jendral dan Yang Jing. Tiba-tiba terdengar

suara: “Kruuuuk ……!!” Tianpin-Er terkejtu dan malu karena suara itu keluar dari perutnya sendiri.
“Ha … ha …. Ha … cacing-cacing dalam perutnya sudah mulai menagih janji Jing- Er.” Tidak beberapa lama Lie Sian

muncul sambil membawa tempat makanan yang terbuat dari batu. Akar-akar jamur yang masih segar di letakkan di

tengah-tengah, sedangkan kelopak jamur yang sudah dimasak mengelilingi akar-akar itu.
Lie Sian mengeluarkan dua buah mangkok terbuat dari batu giok warna hijau mudah dari dalam buntalannya. Sebentar ia

melirik ke arah Yang Jing dan jendral Gan Bing silih berganti. Ia memang sengaja mengambil dua buah mangkok dari goa

Baigongdian, satu untuknya sendiri, sedangkan satunya lagi untuk Yang Jing.
TetapI ia menjadi bingung, karena jendral Gan Bing adalah orang yang lebih tua dari Yang Jing.
“Aya Lie Sian … jangan kuatir soal mangkok yang cocok untukku … coba perhatikan apa yang kupegang ini?” Seperti orang

bermain sulap, jendral Gan Bing mengeluarkan sebuah mangkok terbuat dari emas berbentuk burung hong. Mangkok itu

seperti terlihat sudah tua sekali, tetapi ukirannya sangat indah dan memiliki gaya yang hebat.
“Wow … sebuah mangkok yang hebat …!!” “Harus kuakui, mangkok ini berharga sekali. Aku menemukannya di dalam goa,

tergeletak di dekat pancuran air. Aku menduga, sebelum aku berada di sini, ada orang lain lagi yang pernah menghuni

goa ini. Tetapi yang aneh, kalau ia masih hidup, aku pasti sudah bertemu. Tetapi, apabila ia sudah mati, mengapa aku

tidak menemukan jenazahnya?” “Wah … kalau memikirkan soal sejarah mangkok itu, masakan istimewa ini akan menjadi

dingin dan tidak enak lagi untuk dinikmati.” Sambil berkata demikian, Lie Sian mengambil masakan itu dengan sumpitnya

dan diberikan kepada jendral Gan Bing. Biasanya ia selalu mengisi mangkok Yang Jing terlebih dahulu, sebelum

mangkoknya. Tetapi kali ini tidak demikian. Ia membiarkan saja Yang Jing yang seolah sedang menunggu. Rupanya Lie

Sian tidak melakukan kebiasaan di Baigongdian lagi. Yang Jing sekejab melirik ke arah Lie Sian, kemudian ia hendak

mengambil makanan. Dengan perlahan ia mengulurkan sumpitnya, tetapi sebelum sumpit itu sampai, Sumpit di tangan Lie

Sian sudah mendahuluinya dan mengambil akar-akar jamur dan mengisi mangkok Yang Jing sampai munjung.
“Sian-Er … masakanmu hebat … baru kali ini aku orang tua menikmati makanan begini lezat.” Selagi mereka bertiga

sedang menikmati makanan, tiba-tiba Yang Jing dan Lie Sian terkesiap, karena telinga mereka jelas mendengar orang

memanggil-manggil nama Yang Jing. Suara itu jelas suara seorang wanita.
“Jing Di …. Jing Di …. Apakah engkau mendengar suaraku?” “Paman Gan, itu suara enciku Yang Mi.” Yang Jing melirik ke

arah Lie Sian. Wajah Lie Sian menunjukkan roman sedih.
“Itu suara kekasih hatimu … bukan??” Tiba-tiba, mereka mendengar suara orang tertawa terbahak-bahak. Suara ketawa itu

melengking-lengking karena digerakkan dengan arus tenaga khiekang yang dasyat.
“Ha … ha …. Ha ….ha ….. perempuan busuk, wanita pengkhianat … engkau layak mampus di dasar sumur itu menyusul yang

lain. Lie Chuang Mu … catat dalam hatimu, siapa saja yang mengkhianati perjuangan pangeran mahkota Zhu Wen Yang,

hukumannya adalah kematian … Hiaaaat ….. craaas …. Bret!!!” Terdengar seperti terpotongnya sebatang pohon, kemudian

suara itu disusul dengan jeritan nyaring dan sesosok tubuh meluncur dengan derasnya ke arah sumur maut.
“Aaaaahhh …… Jing Di … enci menyusulmu adikku …. !!!” Suara itu memiluhkan hati. Suara yang dirasa bernada penyesalan

dan kesedihan mendalam. Lie Sian dan Yang Jing seketika terkesiap. Mereka berdua berdiri hampir bersamaan, tetapi Lie

Sian melesat mendahului Yang Jing, karena tangan Yang Jing ditahan oleh jendral Gan Bing.
“Jing Er … “ Tianpin-Er menoleh ke arah jendral Gan. Jendral itu menggelengkan kepalanya.
“Biarlah Lie Sian yang menolong encimu … percayalah pada paman … “ Lie Sian tidak berani ayal, karena suara itu

menyentuh perasaan hatinya yang terdalam. Dengan mengepos semangatnya, ia melakukan sebuah jurus dari ilmu ginkang

Buyingzi yang disebut: Mo-de-mai-fu-yin-ying (menyergap bayangan iblis), tubuhnya berkelebat lenyap di balik halimun

yang menutup lubang sumur. Dengan mempergunakan dinding sumur ia melesat sambil menyambar tubuh Yang Mi yang meluncur

sangat deras bagaikan dilempar oleh kekuatan setan.
“Hiaaaat ….. kena …. !!!!” Lie Sian berhasil menyambar tubuh Yang Mi yang pontang-panting menahan deras luncuran

akibat daya tarik bumi yang terpusat di sumur maut itu. Walaupun masih dalam keadaan sadar, tidak urung wajah Yang Mi

pucat pasih dan nafasnya memburuh.
Sambil merubah gerakannya menjadi “Kuo-zhan- yi, meng-ji- di-qiu” (mengembangkan sayap, memukul bumi), Lie Sian

memondong tubuh Yang Mi melakukan gerakan berpusing yang luar-biasa cepat, sambil ujung kakinya menutulnutul dinding

sumur. Terdengar suara: “Cap … cap … cap …cap … cap … cap …. Cap … Huuuup!!” Akhirnya Lie Sian berhasil mendarat

dengan selamat walaupun, jarak Yang Mi terjatuh dengan daya tarik perut bumi dan dipengaruhi oleh bobot tubuhnya

membuat Lie Sian harus menyelamatkan diri dengan cara menggelinding sambil kemudian melempar kembali tubuh Yang Mi ke

atas setinggi dua tombak, dan diterima kembali dengan kedua kakinya sementara kedua tangannya menyangga bumi.
“Ayaaa … seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu yang hebat … aku Zheng Yang Mi patut berlutut mengucapkan terima

kasih, karena inkong telah mengembalikan selembar nyawaku.” Serta merta Yang Mi berlutut di depan Lie Sian yang tentu

saja menjadi bingung dan kikuk.
“Enci Yang Mi … jangan begitu … aku Coa Lie Sian, tidak layak menerima itu.” “Coa Lie Sian … engkau Lie Sian … Lie

Sian, dara perkasa yang telah mengisi hati Jing di, adikku, betulkah itu?” Lie Sian tercengang mendengar perkataan

Yang Mi. Sejenak ia tidak sanggup berkata-kata, bingung dan bingung … sambil menarik nafas dalam-dalam, Lie Sian

memberanikan diri bertanya kepada wanita cantik yang tampak begitu agung.
“Enci Yang Mi … benarkah engkau kakak kandung tuyul … eeh … maksudku kakak kandung Tianpin-Er?” “Lie Sian … tentu

saja benar … apakah Jing Di tidak pernah mengatakannya kepadamu? Aduh … Lie Sian betapa cantiknya dirimu dan betapa

mulianya hatimu … pantas … pantas … pantas …. “ “Apanya yang pantas Enci … ?” “Pantas adikku dibuat tidak bisa tidur

nyenyak, tidak bisa menikmati hidup dengan tentram sebelum menemukan dirimu … hmm … pilihan adikku … benar-benar

luar-biasa, tetapi … adikku, tanpa sepengetahuannya telah ditu …” Yang Mi tidak sempat melanjutkan kata-katanya

karena, Lie Sian keburuh memotong bicaranya.
“Iiih … Enci … ada-ada saja … Enci ssst … jangan keras-keras … !!!” “Jadi she – mu itu Coa dan bernama Lie Sian ….?”

Lie Sian menjadi heran, karena ia melihat wajah Yang Mi seperti orang berduka, dan matanya menerawang menembus dunia

lain yang penuh dengan misteri.
Jiwanya menjerit keras: “Oh … Thian … bagaimana aku dapat mengatakan rahasia ini kepada Yang Jing dan Lie Sian.” “Lie

Sian … bolehkah akau bertanya sesuatu kepadamu?” “Silahkan Enci …” “Apakah kau … sungguh-sungguh mencintai adikku?”

Lie Sian adalah seorang dara yang masih murni hati dan jiwanya, tetapi ia juga seorang yang keras hati. Ia tidak akan

malu-malu mengatakan apa yang sebenarnya berkecamuk dalam hatimu, apalagi perasaannya terhadap Yang Jing.
Walaupun selama ini, ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada pemuda sakti itu, tetapi ia yakin Yang Jing

mengetahuinya seperti ia mengetahui perasaan pemuda itu kepadanya. Dengan sinar mata tajam dan jernih dan di arahkan

ke sepasang mata Yang Mi yang juga mencorong seperti orang ingin melihat sesuatu dengan lebih jelas, Lie Sian

menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
“Enci, Lie Sian, gadis dusun dan bodoh ini memang mencintai Jing Koko dengan sepenuh hati …” Lunglai seketika tubuh

Yang Mi, sampai ia hampir tidak mampu berdiri lagi.
“Oh, Thian … apa dayaku … bagaimana ini?” Pikirannya terus bekerja mengatakan hal-hal yang sama dan sulit untuk

dimengerti.
“Lie Sian … apakah engkau yakin bahwa engkau she Coa … “ Lie Sian menjadi heran mendengar pertanyaan Yang Mi. Hatinya

menjadi berdebardebar tidak karuan. Timbul pertanyaan dalam hatinya: “Betulkah aku ini bukan she Coa, kalau bukan

siapakah aku ini sebenarnya?” Sebelum Lie Sian sempat menjawab, tiba-tiba melayang dua bayangan di depan mereka

berdua, siapa lagi kalau bukan jendral Gan Bing dan Tianpin-Er.
“Bukan … bukan she Coa … Nona Lie Sian bukan she Coa.” Bagaikan disambar geledek Lie Sian sampai mencelat ke arah

dinding sumur dengan posisi kepala lebih dahulu. Tubuhnya meluncur cepat sekali, karena pada waktu itu secara tidak

sadar Lie Sian mencelat dengan gerakan Tong-Yi-he-kuang- Feng (menyatukan diri dengan angin).
“Sian Mei … !!!” Terasa copot denyut nadi Yang Jing melihat Lie Sian meluncur ke arah dinding sumur, tanpa membuang

waktu, Yang Jing secepat kilat bereaksi dengan salah satu ilmu delapan dewa yang disebut: Jiuguishen cheng ying zihe

na xinling (Dewa mabuk mengejar bayangan mengambil roh). Bagaikan bayangan oleng melesat lebih cepat dari gerakan Lie

Sian, tahu-tahu Yang Jing telah menahan arus luncuran Lie Sian dengan tangan kanannya, dan membiarkan kepala gadis

itu menggedor dadanya.
“Sian Mei … tenanglah … mari kita meminta penjelasan jendral Gan Bing. Aku yakin, jendral yang bijaksana itu tidak

berkata sembarangan, pasti terdapat misteri besar di balik perkataannya.” “Sian Zhi (anak Sian) … maafkanlah paman.

Paman terlalu terburuh mafsu sehingga mengagetkanmu. Mari kita kembali ke goa, karena tiba saatnya rahasia ini harus

kubeberkan di tempat ini, tempat yang tepat supaya nama mendiang jendral besar Zheng Yen An dan pendekar sakti Sim

Hong Long dapat dibersihkan. Inilah tugasku …. !!!” “Nona Yang Mi … sebelum aku memberi penjelasan, maukah kau

melepaskan sanggul rambutmu, dan biarlah rambutmu terurai bebas. Di balik dinding sebelah kiri terdapat pakaian

wanita berwarna kuning, kenakanlah.” Walaupun Yang Mi diliputi oleh perasaan heran, ia menurut perkataan jendral tua

itu. Segera ia pergi ke balik balik dinding batu dimana ia menemukan satu stel pakaian wanita warna kuning. Ia

mengenakan pakaian itu, ukurannya tepat.
Kemudian ia melepaskan sanggulnya dan membiarkan rambutnya terurai bebas.
Beberapa saat kemudian ia telah muncul kembali menjadi seorang wanita yang tidak asing lagi di mata Yang Jing.
“Aah … bukankah … ia seperti …. Seperti ….??” Yang Jing tidak berani meneruskan perkataannya. Karena hatinya menjadi

berdebar-debar, karena ia teringat bahwa encinya Yang Mi memiliki saudara kembar.
“Jing Er … teruskan jangan ragu-ragu … seperti siapakah encimu ini?” “Oh … thian …betulkah … ia seperti Gan Juen Ai

Cici.” “Tepat sekali!!, memang ia mirip dengan Ai zhi, puteri angkatku, karena ia adalah saudara kembarnya.” “Aaaaah

…. !!!!” Semua yang berteriak “Aaah” hampir bersamaan. Yang Mi segera berlari mendekati Yang Jing, ia memeluk Ynag

Jing erat-erat … “Jing di … perasaanku benar … huk …huk …huk … perasaanku mengatakan bahwa Juen Ai yang mengangkat

saudara denganmu itu adalah adik kembarku, berarti ia betul-betul encimu … enci kandungmu sendiri … bukan enci angkat

… oh Thian … terima kasih … huk …huk … “ Yang Mi menangis tersedu-sedu di dada Yang Jing. Air-matanya membanjir

seperti bendungan jebol. Gunung es yang menyelimuti jiwanya sehingga menjadikannya wanita yang kehilangan perasaan

dan rela menjadi pengikut pangeran Zhu Wen Yang agar dapat memiliki kesempatan membunuh musuh besarnya, Wang Hong

Sen. Tetapi ia tidak memiliki kesempatan itu, karena musuhnya itu memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia.
“Dengarlah baik-baik …. “ Jendral Gan Bing mulai bertutur.
DI jaman kekuasaan kaisar Jian Wen, terdapat tiga orang sakti yang mengangkat saudara sehidup semati. Mereka adalah:

Jendral besar Zheng Yen An, pendekar sakti Sim Hong Long, dan pendekar sakti Wang Hong Sen. Mereka bertiga dikenal

sebagai pentolan dunia persilatan yang berilmu tinggi. Zheng Yen An menjadi jendral karena selain ilmu silatnya

tinggi, ia juga seorang arsitek perang yang hebat.
Pendekar sakti Sim Hong Long diangkat oleh dunia persilatan dari pelbagai kalangan baik golongan hitam atau putih

sebagai bengcu dan berhak memegang Zhenli-zhengyi Xiangzheng (Lambang kebenaran dan keadilan dunia persilatan).
Sedangkan pendekar sakti Wang Hong Sen diangkat menjadi koksu negara. Tetapi pengangkatan tiga saudara itu tidak

berjalan sesuai dengan harapan Zheng Yen An dan Sim Hong Long, karena didapati Wang Hong Sen memberi nasihat-nasihat

yang menyesatkan kepada kaisar, sehingga ia berlaku sewenang-wenang dan banyak menyengsarakan rakyat. Wang Hong sen

memang sejak semula tidak menyukai jendral Yen An, karena kedekatan jendral ini dengan selir kaisar tua Zhu Yuan

Ciang, yaitu Putri Fung. Seorang selir yang berasal dari Korea.
Wang Hong Sen membenci Putri Fung karena ia adalah orang Korea. Jendral Zheng Yen An diam-diam melindungi putri Fung

karena ia adalah ibu kandung kaisar kita sekarang, kaisar Yongle. Secara diam-diam, Wang Hong Sen mempengaruhi

tokoh-tokoh atas dunia persilatan, termasuk ketua-ketua partai besar seperti Shaolinshi, Kunlunbai, Hoashanbai,

Gobiebai, Taishanbai, dan lain-lain dengan cara menfitnah. Wang Hong Sen pada waktu itu dikenal sebagai pendekar

sakti yang berjiwa patriot yang berhati bersih, sehingga perkataannya didengar oleh tokoh-tokoh persilatan.
Wang Hong Sen mengirim surat ke seluruh jajaran partai dan para pendekar yang isinya menjelaskan bahwa jendral Zheng

Yen An berencana untuk memberontak dan membunuh kaisar Jian Wen. Cap kekaisaran yang menjadi lambang keabsahan

seorang kaisar telah lenyap dari istana dan disembunyikan oleh jendral Zheng Yen An. Bencu Sim Hong Long, demikian

menurut surat Wang Hong sen, bersengkongkol dengan jendral Zhen Yen An. Sebenarnya tujuan Wang Hong Sen menghabisi

hidup Sim Hong Long, karena ia menghendaki sebuah kitab kuno, yaitu: Shen-Ta-Lek-Ling-Quan.
Seratus hari sebelum kaisar Jian Wen dijatuhkan oleh pamannya, Yong Le, di Nanking, Wang Hong Sen mengundang dua

saudara angkatnya ke puncak Wudangshan untuk membicarakan situasi negara sehubungan dengan pembrontakan yang disulut

oleh paman kaisar Jian Wen, Yaitu: Zhu Di, kaisar Yongle sekarang. Dua saudara angkat ini segera naik ke puncak

Wudangshan.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa beberapa jam setelah mereka naik ke puncak Wudangshan, para datuk persilatan

mengepung rumah jendral Zheng Yen An. Istrinya yang sedang mengandung tua itu dikeroyok lebih dari enam datuk sesat

dipimpin oleh seorang iblis wanita yang bernama Liang Cien Hauw, berjuluk Wan-du-wushu (wanita penyihir seribu

racun). Kedua putri Zheng Yen An, Yang Mi dan Yang Ai, dilarikan oleh inang pengasuh mereka kemudian diserahkan ke

alam tangan pendekar dari Emeishan. Sementara itu, ada perasaan tidak enak mencekam hati kedua saudara angkat itu.

Atas kesepakatan bersama, Zheng Yen An meneruskan perjalanan ke Wudangshan, tetapi Sim Hong Long kembali ke rumah

jendral Zheng Yen An. Rumah Yen An telah dilalap api, mengakibatkan Sim Hong Long menjadi panic. Segera ia

mengerahkan khiekangnya memanggil nama ibumu. Dalam keadaan sekarat, ibumu yang bersembunyi di kandang kuda berhasil

mengirim isyarat melalui gelomabg khiekang dari sisa kekuatannya kepada pendekar Sim Hong Long. pendekar yang baik

hati ini melesat cepat menuju ke kandang kuda. Ia menemukan ibumu sedangkan melukis tattoo di bagian leher bayi merah

yagn abru saja dilahirkannya. Dengan satu jarinya yang berisi hawa sinkang terakhir ia melukis sebuah tatto seperti

lima tahi lalat berwarna hitam kemerah-merahan dan membentuk Hong-Xin-Yue (bulan sabit merah). Akau tidak tahu

rahasia dibalik tatto itu. Tetapi aku mengetahui, sebelum ibumu menghembuskan nafasnya, ia meminta Sim Hong Long

menyerahkan anak ini kepada tukang penjaga kuburan Zhang Sanfeng (Tio Sam Hong), yaitu Lie A Sang.
Sim Hong Long melarikan bayi laki-laki yang masih merah itu ke puncak Wudangshan. Perasaannya menjadi tidak enak bila

mengingat saudarannya, Zheng Yen An yang mendaki puncak Wudangshan seorang diri. Ketika ia tiba di Wudangshan, dengan

cepat ia menemui penjaga kuburan dan menyerahkan bayi laki-laki , putra Zheng Yen An, secara rahasia ke tangan Lie A

Sang. Setelah ia meninggalkan pesan-pesan rahasia kepada Lie A Sang, Sim Hong Long menyusul suadara angkatnya di

puncak lain di Wudangshan. Dari jauh ia melihat pertempuran sedang berlangsung antara jendral Zheng Yen An yang

dikeroyok oleh datuk-datuk persilatan. Walaupun ia dikeroyok oleh lebih dari empat-puluh datuk sesat, tetapi tidak

ada tandatanda ia terdesak. Sim Hong Long juga melihat tempat itu dikepung oleh ratusan tentara kerajaan dan para

pendekar yang dipimpin oleh ketua-ketua partai. Melihat para datuk tampaknya mulai terdesak oleh serangan-serangan

jendral sakti itu, ketua shaolinbai Hong-Sin Taysu, guru Wan-Shou Hwesio (Paderi tangan seribu) salah satu dari Budi

san mowang dan Sung San Taysu, melabrak Yen An dibantu dengan Wang Hong Sen sendiri. Pendekar Sim Hong Long menjadi

murka, ia terjun ke dalam pertempuran, sehingga Wang Hong Sen dan Hong-Sin Taysu dibuat kebat-kebit oleh

serangan-serangan dasyat kedua pendekar sakti itu.
Wang Hong Sen melihat dengan jelas bahwa kedua bekas saudara angkatnya itu tidak mungkin dikalahkan dengan mudah, ia

melakukan siasat licik. Ia meminta Wan-du-wushu (wanita penyihir seribu racun) menyebar racun ganas di sekitar medan

pertempuran. Asap beracun yang berwarna hitam itu membubung tinggi seperti kabut, kedua pendekar itu harus membagi

hawa saktinya, sebagian untuk melawan keroyokan para datuk sesat dibantu oleh ketua-ketua partai persilatan terutama

ketua Shaolinbai yang paling lihai, Hong-Sin-Taysu. Dalam keadaan yang paling kritis, secara mendadak Wang Hong Sen

melancarkan dua ilmu pamungkasnya: Qian-Long-Lijin-di (naga hijau menaklukan bumi) dan Kai-Kong-Qi- Cuan-Hun (membuka

hawa, membuang sukma). Zheng Yen An tidak pernah menduga bahwa secara diam-diam Wang Hong Sen mempelajari ilmu iblis

yang paling ditakuti di dunia persilatan. Dua ilmu golongan hitam yang paling ganas.
Zheng Yen An yang hanya memapu mempergunakan tiga bagian dari tenaganya menghadapi dua ilmu ini, akhirnya ambruk

dengan darah berhamburan. Sebelum ia menghembuskan nafasnya, ia meninggalkan pesan kepada Sim Hong Long perihal

bayinya laki-laki agar dijodohkan dengan cucu perempuan Sim Hong Long.
“Aah … jadi Jing Koko sudah ditunangkan dengan cucu perempuan pendekar Sim Hong Long?” Lie Sian bertanya dengan suara

serak. Sementara itu Yang Jing menjadi pucat dan jantungnya berdebar-debar gelisah ketika jendral Gan Bing

menyebutkan bahwa ayahnya telah menjodohkannya dengan cucu perempuan cucu pendekar sakti : Sim Hong Long.
Tetapi Jendral Gan Bing tidak menjawab pertanyaan Lie Sian, ia terus melanjutkan ceritanya.
Selain itu jendral Zheng Yen An juga menjelaskan bahwa cap lambang keabsahan seorang kaisar telah disimpan di tempat

rahasia untuk diserahkan kepada Zhu Di, yaitu paman kaisar Jian Wen yang telah berhasil menumbangkan Jian Wen dari

kekuasaan. Tetapi, kaisar Yong Le akan selalu dianggap kaisar tidak sah dan palsu, sebelum ia dapat membuktikan

dengan adanya cap kerajaan di tangannya – Cap kerajaan itu dibuat pada masa kekaisaran Tiongkok yang pertama oleh

seorang penasihat agung yang bernama Li Si. Terbuat dari batu jade tua dengan tulisan: Shou ming yu tian/Ji shou yong

chang (Menerima mandat dari langit, panjang usia dan makmur selamanya).
Ketua partai-partai besar menjadi terkejut ketika melihat Wang Hong Sen menguasahi ilmu iblis yang pernah menumpahkan

banyak darah kaum pendekar di jaman dinanti Han. Hong-Sin-Taysu menjadi sadar bahwa ia telah termakan siasat licik

Wang Hong Sen sehingga turut menumpahkan darah jendral pembela rakyat yang dicintai ole rakyat Tiongkok. Ia menjadi

menyesal sehingga merobek jubahnya menjadi dua, setekah itu mengundurkan diri dari Shaolinbai dan mengasingkan diri.
Tetapi kabar terakhir, ia mati karena terbunuh oleh muridnya yang tertua: Wan-Shou Hwesio (Paderi tangan seribu).
Sementara itu, Sim Hong Long juga mengalami nasib yang sama. Ia dikeroyok oleh banyak sekali pesilat-pesilata tangguh

dari golongan sesat. Tetapi bagaimanapun mereka mengeroyok pendekar ini, tidak ada satu pukulanpun dapat mendarat di

tubuhnya. Ia masih terlalu tangguh untuk para datuk sesat itu. Melihat ini, kembali Wang Hong Sen dibantu oleh wanita

beracun: Wan-du-wushu (wanita penyihir seribu racun) menerjang dasyat. Ia tidak segan-segan lagi menyerang Sim Hong

Long dengan ilmunya yang amat mengerikan: Qian-Long-Lijin-di (naga hijau menaklukan bumi) dan Kai-Kong-Qi-Cuan-Hun

(membuka hawa, membuang sukma). Tetapi sungguh mengejutkan Wang Hong Sen, walaupun tenaga sakti Sim Hong Long

tersedot hampir habis oleh dua ilmu itu, namun tubuh pendekar ini meliuk-liuk seperti karet yang lemas, tidak

bertenaga, tetapi luar-biasa lentur, sehingga sukar dicandak. Diam-diam Sim Hong Long mencatat dalam hatinya dua ilmu

dasyat yang sukar dilawan dari Wang Hong Sen.
Wang Hong Sen menjadi marah sekali, ia memberikan tanda kepada wanita beracun yang menjadi pembela setianya untuk

menyerang Sim Hong Long dengan racun “Da-po-sheng-jing-du” (racun pemecah syaraf). Sekali melihat warna dan bau bubuk

di tangan wanita itu, Sim Hong Long segera sadar, ia sedang berhadapan dengan ahli racun yang pandai. Tetapi karena

Sim Hong Long memegang suling Hai-xi-linjin, racun ganas itu tidak begitu ampuh lagi. Wang Hong Sen menjadi bertambah

murka melihat Sim Hong Long tetap sulit untuk dijatuhkan. Pertempuran bertambah seru dan kelihatan Sim Hong Long

bertambah segar karena pengaruh ilmunya yang sudah mencapai titik yang sempurna: Khip-thih-Ying-quan. Sedang

pertempuran berjalan seru dan menegangkan, tiba-tiba wajah Sim Hong Long menjadi pucat pasih. Apakah yang terjadi? Ia

melihat menantunya yang sedang mengandung beberapa bulan diseret oleh seseorang ke arah medan pertempuran.
Ia melihat seorang yang muka dan gerakannya seperti gorila menjambak rambut anak perempuannya itu. Orang yang seperti

gorila itu adalah Er-Kui, salah seorang dari Xi-Hai-San- Kui. Melihat ini Wang Hong Sen tertawa terbahak-bahak saking

senangnya. Ia mendesak pendekar itu untuk menyerahkan kitab Shen-Ta-Lek-Ling- Quan. Tetapi Sim Hong Long mengatakan:

biarpun Wang Hong Sen membunuh menantu perempuannya yang ia tahu sedang mengandung keturunan keluarga Sim,

sekali-kali ia tidak akan pernah sudi menyerahkan kitab itu. Dengan wajah menyeringai seperti wajah iblis sendiri, ia

meminta Sim Hong Long memilih satu diantara dua: menerima satu kali pukulan darinya tanpa menyerang, atau menantu

perempuannya yang dihancur-luluhkan dengan pukulan Wang Hong Sen. Akhirnya, Sim Hong Long memilih untuk menerima satu

kali pukulan.
Sungguh tidak dinyana oleh para pendekar dan ketua-ketua partai besar Wang Hong Sen yang selama ini dikenal sebagai

pendekar pembela kebenaran dan berhati bersih melakukan hal yang sangat memalukan. Dan mereka menjadi lebih terkejut,

ketika Wang Hong Sen memukul Sim Hong Long dengan ilmu yang paling mengerikan dan yang pernah menjadi momok dunia

persilatan seratus tahun yang lampau, yaitu: Rong-ling-Cui-Quan (Ilmu pukulan pelebur sukma). Wang Hong Sen

mengarahkan pukulan yang berisi ilmu Rong-ling-Cui-Quan (Ilmu pukulan pelebur sukma) ke arah dada Sim Hong Long. Sim

Hong Long jatuh terkapar dengan hampir seluruh syaraf hancur luluh. Tubuhnya bersimbah darah, dan jatuh seperti

seonggok daging yang tidak memiliki tulang-belulang lagi. SIm Hong Long tidak menyadari setelah ia terpukul jatuh,

tangan kiri Wang Hong Sen tanpa diketahui oleh siapapun, pada saat yang hampir bersamaan, juga menyerang uluh hati

anak menantunya.
Perempuan yang sedang mengandung itu seketika jatuh lunglai seperti orang yang sudah mati. “Mayat” Sim Hong Long dan

anak perempuannya ditinggalkan begitu saja oleh Wang Hong Sen dan pengikutnya. Para pendekar juga tidak dapat berbuat

apa-apa karena mereka telah menanda-tangani plakat yang berisi perintah kaisar Jian Wen untuk membasmi pembrontak

Zheng Yen An dan Bengcu Sim Hong Lopng sampai ke akar-akarnya. Mereak juga pergi begitu saja. Sementara itu, hal

sangat mengerikan terjadi, mayat jendral Zheng Yen An dibacok sana-sini oleh prajurit-prajurit kerajaan sehingga

hampir tidak menyerupai mayat seorang anak manusia lagi.
Tetapi Tuhan masih maha murah, sebelum Sim Hong Long menghembus nafas terakhirnya, ia melihat seorang sahabat sedang

berjalan seorang diri menuju ke arah dia tergeletak. Orang itu adalah Laksana Zheng He. Ia memeriksa anak menantu Sim

Hong Long, ternyata ibu yang malang itu sudah tidak dapat tertolong lagi. Segera laksamana Zheng He menolong bayi

yang masih dalam kandungannya keluar sebelum orok itu kekurangan “Yang-qi” (oxigen) yang dapat mengakibatkan sistem

kerja otaknya rusak. Dengan keahliannya ia berhasil mengeluarkan bayi itu dari rahim ibunya.
Seorang bayi perempuan, yang sehat. Ibu sang orok itu masih sempat membuka matanya dan melihat anak perempuannya

menangis. Ibu anak ini menyebutkan sebuah nama sebelum ia terkulai roboh tidak bangun lagi, yaitu: Sim Lie Sian.
“Aaaah …..!!!!!” Suara “aaaah” keras sekali dan dikeluarkan dari tiga mulut hampir bersamaan, yaitu mulut Yang Jing,

Yang Mi dan Lie Sian. Seketiak Lie Sian dan Yang Jing tersenyum dengan wajah kemerahan tetapi dengan sinar mata yang

aneh. Lie Sian sebaliknya, ia mengucurkan air-mata sambil memanggil: “ibu … kasihan kau … kucatat dalam hatiku siapa

yang menganiaya dan membinasakannya … kongkong … aku sungguh kongkongku yang gagah perkasa dan sakti. Aku cucumu

bersumpah untuk membalaskan sakti hatimu … akan kubuktikan di dunia persilatan bahwa Kongkong adalah seorang pendekar

yang bersih hatinya.” “Sian Mei … jadi kau bukan she Coa melainkan she Sim … oh, Thian betapa lega hatiku … “ Seru

Yang Mi sambil merangkul Lie Sian dan mencium pipi dara cantikjelita itu.
Begitulah peristiwa yang mencoreng nama para pendekar dan menimbulkan kesedihan dan penyesalan yang dalam di dunia

persilatan. Bagaimanakah Yang Ai dapat berubah menjadi Gan Juen Ai? Pada waktu itu aku masih berpangkat panglima.

Sudah sejak dari semula aku tidak menyetujui pembasmian keluarga jendral Zheng Yen An dan kup berdarah untuk membunuh

atasanku. Secara diam-diam aku melindungi pendekar dari Emeishan yang membawa dua anak kembar menuju ke puncak

Hong-Yun-Zui- Jia (puncak Awan Merah). Tetapi sungguh tidak terduga, begitu banyak para oendekar dan patriot terhasut

oleh fitnah yang dikarang oleh Wang Hong Sen, sehingga pembersihan itu benar-benar dilakukan oleh mereka. Di

tengah-tengah berkecamuknya orang-orang yang haus darah itu, pendekar Emeishan ini menjadi kalut, sehingga pada waktu

ia melarikan diri, seorang di antara anak kembar itu terlempar akibat pukulan seorang penjahat. Anak perempuan jatuh

tepat di depan kaki kuda yang sedang kutunggangi. Dengan segera kusambar anak perempuan dan kusembunyikan di sebuah

dusun. Anak itu kuserahkan kepada inang pengasuh keluarga Gan yang sangat setia dan dapat dipercaya penuh. Sejak hari

itu, anak perempuan itu kuberi nama She Gan, seperti she keluargaku dan kuberi nama Juen Ai.
Jendral Gan Bing mengakiri ceritanya dengan mengatakan: “Yang Mi … ketika aku bertemu denganmu pertama kali, pada

saat engkau mengaku bernama Lie Chuang Mu, aku sudah dapat menduga bahwa engkau adalah saudara kembar putri angkatku:

Gan Juen Ai, yang sebenarnya bernama: Zheng Yen Ai. Dari bentuk tubuh dan gerak-gerikmu yang tidak berbeda jauh

dengan ibumu, aku sudah sadar betul bahwa engkau adalah keturunan jendral Zheng Yen An yang sangat kukagumi jiwa

kepahlawanannya.” “Jing Di … demikian juga, ketika engkau mampir di rumahku dan malakukan pibu.
Aku sudah mulai curiga … jangan-jangan engkau keturunan jendral Zheng Yen An, sebab cara engkau bersilat, walaupun

ilmumu berbeda dengan ilmu mendiang ayahmu, tetapi cara engkau bersilat nyaris sama.” “Sedangkan engkau Sian-er,

sangat mudah sekali mengenalimu sebagai cucu pendekar besar Sim Hong Long … ha …. Ha …. Ha …..” “Apakah itu paman?”

“Asalmu dari Tienshanbai, dan cucu ketua partai: Shi De Yuan. Ingat, laksamana Zheng menitipkanmu di sana. Berarti

engkau bukan cucu asli Shi De Yuan, tetapi cucu terakhir keturunan keluarga Sim yang berhasil diselamatkan oleh

laksamana Zheng He dan disembunyikan di Tienshanbai. Dan Jangan lupa, engkaulah pewaris tunggal Shen-Ta-Lek-Ling-quan

dari kakekmu sendiri: Sim Hong Long …. Ha…ha… ha…ha…dan …. Yang lebih penting lagi, Sim Lie Sian adalah tunangan

Zheng Yang Jing ….ha….ha….ha…h…sungguh menggembirakan …. Sungguh menggembirakan …” “Sekarang, ada tiga tugas yang

harus kita selesaikan dengan cepat. Pertama mencari jalan keluar dari sumur maut ini. Kedua: Mencari cap kekaisaran

untuk diserahkan kepada kaisar Yongle sesuai dengan pesan jendral Zheng Yen An.
Ketiga: Menyelamatkan negara dari ancaman pembrontakan yang didukung oleh banyak suku-suku liar.” “Masih ada sat u

lagi paman …!!” Lie Sian langsung berseru dengan mata kocak.
“apa itu Sian-Er?” “Mencari musuh-musuh keluarga Zheng dan Sim terutama: Wang Hong sen dan Liang Cien Hauw yang

berjuluk Wan-du-wushu.” Sejak hari itu, antar Lie Sian dan Yang Jing menjadi semakin dekat. Lie Sian juga sangat

dekat dengan Yang Mi yang masih suka melamun sendirian, walaupun tidak lagi menjadi gunung es seperti sebelum. Pada

hari ketiga, pagi-pagi sekali, Yang Jing datang menghadap jendral Gan Bing.
“Paman, anak sesuatu yang hendak kutanyakan. Apakah Paman tidak terlalu lelah pagi ini?” “Jing Er … kebetulan engkau

sudah bangun, paman sedang berpikir keras untuk mencari jalan bagaimana keluar dari tempat ini secepatnya. Sekitar

pagi buta tadi, paman melihat sinar-sinar obor beriringan seperti keluar dari benteng ini. Menurut perhitunganku,

hari ini mereka menuju ke Peking untuk melakukan penyerangan besar-besar. Ah…aku kuatir sekali … Aapakah Tong zhi …

sanggup mengatasi gelombang pembrontakan berskala besar ini?” “Paman, Jing … juga sedang memikirkan jalan keluar yang

mungkin. Tiga hari yang lalu paman pernah berkata bahwa apabila kita untung, kita dapat menikmati daging ular, monyet

, atau burung. Bukankah begitu paman.” “Benar … memang apakah hubungannya?” “Biren (aku yang rendah) berpikir, kalau

binatang-binatang itu dapat masuk, berarti mereka juga dapat keluar. Apakah paman berhasil menangkap mereka?” “Dari

empat kesempatan, hanya sekali paman berhasil menangkap seekor ular kembang yang besar. Tentu saja ular itu akhirnya

lari ke sini.” Jendral Gan Bing menunjuk pada perutnya sambil tersenyum.
“Paman, berarti sisanya telah keluar dari tempat ini bukan? Apakah paman ingat kira-kira dimanakah mereka

menghilang?” Sejenak jendral Gan Bign berpikir keras.
“Ya .. benar … sungguh mengherankan…” Sambil berpikir, jendral Gan Bing branjak keluar goa. Langkahnya menuju ke

tempat di mana ribuan cacing-cacing raksasa keluar di waktu malam.
“Betul … betul … aneh … mengapa selama ini aku tidak berpikir. Betul Jing-Er, mereka menghilang di sekitar tempat

ini. Tetapi Jing Er (anak Jing) … paman sudah mengobrak-abrik tempat ini dan terus mencari lebih dari tiga bulan,

tetapi tidak ada tanda-tanda jalan keluar yang kau maksudkan.” “Paman … satu lagi pertanyaan: bagaimana keadaan sumur

ini ketika hujan deras turun?” “Tidak ada masalah, kita tetap aman tanpa terganggu oleh air hujan betapapun derasnya.

Goa ini cukup aman dan hangat untuk tempat berlindung dan berteduh.” “Apakah paman pernah memikirkan ke mana

mengalirnya air hujan itu.” “Plook…Plok ….!!!” “Paman ada apakah? “ Yang Jing keheranan melihat Jendral Gan Bing

memukul jidatnya sampai duakali sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Tianpin- Er tersenyu geli karena ia

melihat tanda telapak tangan jendral Gan persis di jidatnya yang lebar.
“Aha … betapa bodohnya aku … mengapa aku tidak memperhatikan mengalirnya air. Betul, selama lebih dari tiga bulan aku

berada di sini mengapa sumur ini tidak pernah tergenang oleh air hujan … kemana larinya air itu? Walaupun ada hujan

dengan curah yang tinggi, tetap air hujan dapat menghilang dalam waktu yang sangat cepat.” Mata Tianpin-Er bercahaya

mendengar keterangan jendral Gan Bing.
BAB 28: GURITA CINCIN BIRU.
Jendral Gan Bing bersama Tianpin-Er memeriksa secara teliti tanah di mana cacing-cacing raksasa itu muncul. Lebih

dari dua kali giliran jaga mereka memeriksa batu-batu, tanah, dan celah-celah yang sekiranya ada jalan keluar yang

dipakai oleh jenis binatang kera, burung, ular dan juga dipakai jalan terobos oleh air hujan.
“Jing-Er, paman sudah berkerja siang-malam selama lebih dari tiga bulan mencari jalan keluar dari sumur ini, tetapi

sungguh sangat disesalkan, paman tidak melihat tanda-tanda ke arah itu. Sumur ini berdinding batu gunung yang

tebalnya sulit diduga, dan sepertinya terpisah dari kehidupan manusia lainnya. Bagi paman, terkubur di sumur ini

selamanya, sekali-kali paman tidak akan menyesal, tetapi paman sangat menguatirkan keslamatan kaisar. Bu Tong masih

terlalu muda mengerti dunia politik kotor dan jahat, sehingga paman tidak yakin Bu Tong dapat mengatasi serangan Zhu

Wen Yang.” Yang Jing tidak begitu menaruh perhatian pada perkataan jendral Gan karena matanya tertuju pada air yang

mengalir dari celah-celah batu yang terletak di tengah-tengah goa. Pikirannya seperti turut mengalir dengan aliran

air. Ia mengikuti air itu mengalir dan begitu sampai di celah-celah batu yang berjarak kira-kira enam kaki dari asal

air itu keluar, aliran air itu terputus. Kening Yang Jing berkernyit, karena air itu berhenti di celah batu yang

dipakai oleh Lie Sian dan Yang Mi sebagai kamar mandi. Dan yang membuat Yang Jing heran adalah walaupun

bergentong-gentong air telah dipakai oleh dua orang gadis itu untuk mandi, tetapi tidak ada tandatanda air

menggenangi goa. Kemanakah air itu mengalir pergi? Ia mendekati celah batu yang berdaun lebar. Batu itu berbentuk

seperti dinding yang menjorok di tengah goa, sehingga apabila dilihat dari jauh sepertinya goa itu berhenti sampai di

situ saja. Tianpin-Er mendekati celah batu itu. Tangannya mulai mengetok-ngetok batu yang berbentuk dinding itu.

Tetapi ia tidak mendengar adanya perbedaan suara.
“Tidak mungkin air itu naik ke dinding … yang betul … air itu mengalir ke bawah dinding batu ini. Apabila air itu

mengalir … berarti terdapat suatu yang lebih rendah dari sumur ini.
Tetapi, sumur ini berkedalaman lebih dari sembilan-ratus tujuh sembilan kaki, apakah mungkin ada tempat yang lebih

rendah dari sumur ini. Kalau itu betul, kemungkinan sumur ini terletak di atas sebuah gunung.” “Paman, gunung apakah

yang terletak dekat teluk Bohai?” “Bohai-shan!!! Gunung ini terjadinya disebabkan gerakan ekstrem arus hawa panas

dari dalam perut bumi. Jing Er, konon, ratusan tahun yang lalu menurut catatan sejarah, tanah pegunungan dekat teluk

Bohai mengalami penurunan dan pergeseran struktur yang diakibatkan oleh arus hawa panas dari perut bumi yang

ditimbulkan oleh minyak panas di bawah tanah, yang disebut: Xin-Sheng-Dai Shang-sheng Nuan-Liu (Cenozoic Thermal atau

masa panas bumi yang menutup di setiap 65-m tahun). Pergeseran tanah yang diakibatkan oleh panas bumi itu membentuk

sebuah gunung. “ “Aaaah … apakah sumur ini tercipta karena arus uap atau cairan panas yang mengalir deras ke arah

lautan, dan meninggalkan jejak seperti ini? Berarti ada celah atau lubang ke arah tempat yang lebih rendah dari sumur

ini … apakah …!!!” “Ayaaa … betul … ada celah atau lubang yang menuju ke arah lautan … besar … benar … menuju ke

lautan … aah … lautan.” “Jing Koko … coba kemari!!” Sekonyong-konyong Lie Sian berseru memanggil.
Yang Jing di kuti oleh Jendral Gan Bing melesat memasuki ruang di balik dinding batu dimana Lie Sian sedang berdiri

menghadap tembok seperti matanya dapat melihat apa yang ada di balik dinding batu itu, sedangkan Yang Mi

memperhatikannya seperti orang pikun yang kebingungan.
“Sian Mei-mei … ada apa?” “Ssst … Jing Di … sepertinya Sian Mei sedang memusatkan pendengarannya. Aku tidak tahu apa

yang ia dengar.” “Jing Koko … aku mendengar suara air yang menghantam dinding batu ini di sebelah dalam secara

terus-menerus, tetapi di kuti oleh daya sedot balik yang maha kuat. Dua gelombang dasyat itu saling kejar: yang satu

menggempur sedangkan yang satunya lagi menyedot. Kedua gelombang itu membuat daya gempur yang tidak terukur kuatnya,

sedangkan daya sedotnya …. Aaah …. Sukar dilukiskan. Aku merasakan getaran-getaran bunyi yang bermuatan tenaga alam

yang bukan main hebat dan dasyatnya. Dan … sayub-sayub aku seperti mendengar suara air …. Ya … air … bukan air

mengalir tetapi seperti badai!!!!” Segera Yang Jing berbuat hal yang sama. Ia menggerakkan hawa sakti Ba Quanzi Shen

(Delapan Lingkaran Dewa), yang disebut: Shen Ba-Zhuan-Zi De Zi-Tai (Posisi delapan lingkaran Dewa). Ilmu yang telah

mencapai puncak kesempurnaannya ketika Yang Jing menguasahi sifat hawa sakti Xin-yin-liu-he-quan ini membuat perasaan

dan kekuatan bathin Yang Jing menjadi sangat peka. Posisi demikian dinamakan mendekati: Zhui-fengli Min-Gan-Xing

(puncak ketajaman kepekaan).
Beberapa saat kemudian, ia melompat mundur dengan dada sesak. Bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu,

tetapi untuk beberapa saat ia tidak mampu berujar. Dengan terpatah-patah akhirnya ia dapat berkata: “Sian Mei …

mundurlah dari dinding batu itu … sepertinya akan adai badai yang amat-dasyat. Badai yang berasal air laut yang

sedang murka!” “Iiih …. Pantas … getarannya menimbulkan gelombang suara yang bukan main!!” Lie Sian seketika mencelat

mundur menjauhi dinding batu itu.
“Paman, rupanya akan terjadi badai yang bergerak dari arah Terusan Liaodong, kemudian bermuara luar-biasa dasyat ke

arah teluk Bohai. Di tempat ini, angin badai yang berhembus dari Huang-Hai (Laut Kuning) bertemu dengan badai dari

Terusan Liaodong Hai-wan, mengakibatkan badai di teluk Bohai menjadi sangat mengerikan.” “Jing Er, bagaimana engkau

bisa memastikan adanya badai di lautan besar terjadinya seperti itu?” “Paman, menurut shifuku, di jaman kekaisaran

mula-mula, terjadi malapetaka besar di rimba persilatan yang ditimbulkan oleh seorang manusia iblis yang berilmu

tinggi.
Banjir darah terjadi di mana-mana. Sebulan sebelum peristiwa itu terjadi, shifuku yang tidak pernah kukenali wajahnya

berujar, “ Tai Ping Yang memiliki anak, Huang-Hai Huang-Hai berjumpa Liaodong Hai-wan Huang-Hai membawa golok naga

Laiodong Hai-Wan menyandang pedang langit Bohai tercerai berai ….
“Aku merasakan terdapat dua gelombang dasyat yang datang susul-menyusul dari dua arah yang berlawanan. Yang satu

lebih kuat dari yang lainnya, dan kemudian menyatu, menjadi kekuatan dasyat dan rupanya menuju ke daerah teluk

Bohai.” “Jing Di … apakah sebagian gelombang badai itu akan menghantam dinding batu tebal itu?” “Enci … sekarang

masih belum, tetapi akan menghantam sumur ini. Melihat kondisi sumur ini yang menurut analisaku lubang atas berada di

atas sebuah gunung, sedangkan kakinya berada beberapa kaki di bawah laut, badai itupun tidak akan sanggup

menghancurkan sumur batu ini karena letak dan ketebalannya. Jikalau itu terjadi, benteng Zhu Wen Yang di teluk Bohai

ini akan habis terpapras oleh kekuatan dasyat gelombang pasang air laut, tetapi sumur ini akan tetap berdiri kokoh.”

“Jing di … sebelum badai itu terjadi, apakah ada kemungkinan kita dapat berbuat sesuatu terhadap dinding batu itu

untuk mencari jalan keluar?” “Apakah yang ada dalam pemikiran enci, sepertinya enci sedang menduga adanya jalan

keluar dari tempat ini?” “Sepertinya Jing Di. Beberapa hari ini enci berpikir bahwa dari semua dinding batu yang

mengelilingi sumur ini, kita tidak mungkin mendaki ke atas, karena Zhu Wen Yang telah memoles dinding batu itu dengan

minyak buaya yang licin. Sehingga jalan keluar lewat atas , tidaklah mungkin. Sedangkan dinding dekat ‘tempat’ mandi

terdapat pancuran air tawar yang segar, seperti air sungai yang mengalir dari sebuah hutan. Perlu kita ingat, teluk

Bohai ini adalah perpanjangan tangan dari Huang-Ho. Jadi … dinding batu yang menghadap ke lautan besar tidaklah

setebal dinding batu yang lain. Hal ini bisa terjadi karena fushi (Korosi karena chemical reaction dari air laut).

Kalau kita bisa menjebol dinding batu yang menerima air dari Huang-Ho, maka kemungkinan ada jalan tembus menuju hutan

dekat Huang-Hai (Laut Kuning). Sedangkan di bawah tanah tempat kita berdiri sampai ke dinding batu itu, terdapat

lapisan lumpur yang tebal dan dalam. Lapisan lumpur itulah yang dipakai Jalan oleh cacing-cacing raksasa keluar-masuk

ke tempat ini. Cacing-cacing itu adalah cacing laut, jadi lapisan lumpur itu mungkin sebagian terdiri dari lumpur

sungai yang mengendap, tetapi juga bercampur dengan lumpur dari laut Kuning.
Jadi terdapat dua jalan keluar, pertama lewat lapisan lumpur; dan kedua menjebol dinding batu.” “Enci, kalau dinding

batu itu jebol, maka hempasan angin yang membawa air laut akan menghantam sumur ini. Jutaan kubik air akan seperti

dilontarkan oleh tangan setan dan seketika dapat merenggut nyawa kita menghadap Giam-Lo-Ong … hi… hi…hi…!!” Lie Sian

menyahut dengan kelakar yang mengandung analisa berpikir yang hebat.
“Ayaaa … Sian Mei … kau benar … air laut itu seketika akan membinasakan kita … hmm … mengapa aku tidak memikirkan

kemungkinan itu?” “Ha …ha…ha… aku tahu … aku tahu … aku mengerti sekarang…mengapa selama ini aku begitu goblok ….

Ha…ha…ha…!!” Mereka bertiga menjadi heran melihat jendral Gan Bing tertawa terpingkal-pingkal.
“Ada apakah paman? Apa yang paman mengerti??” Yang Jing dengan setengah heran bertanya.
“Ho … ho … ho … bagaimanapun juga pikiran sebagai jendral perang tetap melekat dalam benakku. Jing-Er, apakah engkau

pernah membaca kisah tentang jendral Han Xin dari Huaiyin (Propinsi Jiangshu di jaman sekarang) yang dijebak di

lubang ular oleh Xiao He Zong-Li (perdana mentri Xiao He) dan Nii Huang Lu (permaisuri Lu). Dinasti Han nyaris lumat

karena hilangnya jendral yang ahli strategi ini. Tetapi tiba-tiba dalam saat yang kritis bagi dinasti Han, jendral

muncul dengan pasukan besar dan menghancurkan pembrontakan. Ha … ha …. Ha…. Aku, Gan Bing, ….
Dalam darahku mengalir kesetiaan terhadap dinasti Ming yang dipimpin oleh Huang-di Yongle (kaisar Yongle), aku … akan

muncul seperti jendral Han Xin … ha …. Ha….. ha…..!!” “Paman, bagaimanakah cara jendral Han Xin keluar dari lubang

ular itu?” “Dia ikut jadi ular … tentu saja ikut-ikut jadi ular … baru dia bisa keluar-masuk lubang ular seenak

perutnya … ha … ha …ha…. Bukankah ini lucu tetapi luar-biasa pandai?!” “Paman, bagaimana jendral itu bisa menjadi

ular? Apakah ia penjelmaan siluman ular?” Tanya Lie Sian terperanjat dan merinding bulu kuduknya.
“Bukan … bukan … bukan … bukan siluman ular … tetapi ia mempelajari cara dan strategi ular-ular berbisa itu, mengapa

sampai bisa masuk dan keluar lubang seperti sumur ini seenaknya, padahal ia sudah menyelidiki lebih dari tiga bulan

dan … tidak melihat adanya tanda-tanda jalan keluar.” “Aaah … aku mengerti sekarang … ayaaa … benar juga …. !!!

Jendral itu sangat hebat dan jendral Gan Bing juga hebat…. Hi … hi … hi … mengelikan, tetapi luarbiasa pandai.” Kini

Lie Sian yang tertawa terpingkal-pingkal.
“Sian Mei … ii h …. Mengapa tertawa terpingkal-pingkal … apa yang lucu dan bagaimana kita bisa keluar dari sumur

ini?” Yang Mi sampai berdiri mlongo melihat jendral Gan Bing dan Lie Sian tertawa terpingkal-pingkal.
“Enci Yang Mi, tentu saja kita harus berubah menjadi cacing-cacing menjijikkan itu.
Baru kita bisa keluar-masuk sumur keparat ini seenaknya. Bukankah begitu paman Gan Bing?” “Ha … ha …. Ha …. Keturunan

Sim Hong Long memang berotak hebat … betulbetul, kita semua harus menjadi cacing-cacing raksasa itu.!” Tianpin-Er

tersenyum: “Mi Cici, kita perlu menemukan cara cacing-cacing itu masuk dan keluar dari sumur maut ini, tentu harus

melalui terowongan lumpur di bawah tanah ini yang menuju ke suatu tempat dekat antara Huang-Ho dan Huang-Hai (laut

kuning). Di Sumur ini ada cacing raksasa yang datang dan pergi seenaknya … ada terowongan yang tertutup lumpur tebal

…. Ada air yang mengalir bening dan segar … dan air yang kita pakai begitu banyak, tetapi hilang begitu saja tanpa

berbekas.
Jadi air itu juga datang seenaknya, dan pergi juga dengan seenak perutnya juga ; tentu saja kita bukan air … juga

bukan sebangsa cacing yang bisa ngloyor keluar-masuk terowongan berlumpur, tetapi kita bisa memakai air dan

cacing-cacing itu untuk mengantarkan kita keluar dari sumur ini.” “Aha … pikiran empat orang dipadu menjadi satu …

hasilnya … luar-biasa!!! Aku jendral tua, benar-benar kagum melihat orang-orang muda seperti kalian yang memiliki

cara berpikir yang hebat … hebat … hebat … nah, sekarang tinggal pelaksanaannya.” “Paman, kita harus melakukannya

dengan cepat sebelum badai tiba. Malam ini, sebelum bulan tertutup awan tebal ia akan bersinar terang. Saat itulah

cacingcacing raksasa itu muncul. Begitu mereka muncul kita harus sudah berkumpul disekitar tempat itu tanpa melakukan

gerakan sama sekali. Aku akan menjebol dinding batu itu. Begitu jebol, air yang dihantarkan oleh ombak laut akan

masuk ke sumur ini dalam jumlah besar dan meluncur deras … tentu saja ke arah tempat yang rendah … terowongan

berlumpur itu. Saat itulah, cacing-cacing itu akan kembali masuk saluran itu dengan gerakan yang cepat. Saat itulah

kita turut “terjun” dan membiarkan tubuh kita terbawa oleh cacing-cacing raksasa itu. Biarlah cacing raksasa itu

membuka jalan berlumpur bagi kita.” “Iiih … !!!” “Aaaah … mengerikan … !!!” “Itulah jalan satu-satunya yang harus

kita tempuh daripada binasa di tempat seperti ini.” Tianpin-Er berbicara dengan suara yang bergetar-getar menahan

keharuan hatinya.
Ia dapat mengerti perasaan Yang Mi dan Lie Sian sebagai seorang gadis, terutama Lie Sian yang sedikit banyak trauma

karena “belaian” tangan-tangan halus, licin, berlendir yang telah menyelamatkan nyawanya dari kematian mengerikan.
Malam itu gelap-gulita. Lie Sian merapatkan tubuhnya lekat-lekat di bahu Yang Jing sebelah kanan.
Tangannya yang halus itu menggenggam jari-jari Tianpin-Er seperti hendak mengalirkan perasaan hatinya.
“Jing Koko … apakah kita akan terpisahkan lagi oleh keadaan? Koko … aku … tidak ingin itu terjadi lagi.” “Sian Mei …

akupun juga tidak ingin itu terjadi lagi. Sangat sulit mencari jejakmu … dan lagi engkau sangat pandai bermain

petak-umpet dan larimu …. Aduh … minta ampun … hei! Aku sampai lupa, tampaknya engkau sudah mempelajari Di-zhen-bo

dan Cha-yin-bo, itu berarti engkau sudah menguasahi Dua belas pintu menghimpun hawa sakti. … itu … berarti … Sim Lie

Sian sudah berhasil menemukan duabelas sutera tulisan Shen-Du. Ha … ha …. Ha ….mata si Tuyul edan pasti tidak salah …

betulkan Mei-mei?” “Biarpun aku tidak bicara … tuyul macam dirimu mana bisa tidak melihat … Koko … itu kebetulan. Aku

bersembunyi dari Bu-Di-San-Mowang di sebuah kubah yang tertutup oleh lumut dan rumput-rumput liar. Aku menjadi heran

ketika secara kebetulan suling merahku membentur tubuh kubah itu, aku mendengar suara dengung yang lembut. Ketika

kuteliti dengan teliti, ternyata kubah itu adalah sebuah lonceng kuno raksasa, dan di tubuh lonceng bagian dalam,

kutemukan duabelas sutera tulisan Shen-Du. Kupelajari itu di dalam lonceng, karena penulisnya menghendakiku berlatih

di dalam lonceng. Beberapa hari setelah itu, begitu kugerahkan hawa sakti dari ajaran duabelas sutra itu, terjadi

ledakan yang luarbiasa dasyat. Tubuh lonceng raksasa itu hancur berkeping-keping karea gelombang hawa sakti

Di-zhen-bo dan Cha-yin-bo yang kulancarkan. Begitulah Koko … iih … mengapa matamu melotot seperti siluman … i ih …

menyalah lagi.” “Sian Mei … coba gerakan dua hawa sakti itu perlahan-lahan ke arah tanganku.
Tambahkan tenagamu sedikit demi sedikit dan dobraklah tenaga sakti Ba Quanzi Shen (Delapan Lingkaran Dewa) yang

kulancarkan. Apakah kau sudah siap!” “koko, jurus yang mana ?” “Jangan menggerakkan Xuan-Li zhi-ming (Melodi

kematian), tetapi Zhi-ming Shu-qin Zhen-dong Tian-tang (Harpa maut mengguncangkan nirwana).” “Jing Koko … apakah …

kau tidak keliru … bukankah itu jurus pamungkas dari Shen-Ta-Lek-Ling-Quan? … Koko, tahukah engkau bahwa hawa sakti

Di-zhen-bo dan Cha-yin-bo bukan dasyatnya, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada dirimu … Koko … betulkah itu?” “Sian

Mei … jangan ragu-ragu karena Ba Quanzi Shen (Delapan Lingkaran Dewa) dengan jurus yang dinamakan

Shen-xi-ju-ba-zhi-zhu-diao (dewa memainkan delapan melodi) dapat mengikuti Zhi-ming Shu-qin Zhen-dong Tian-tang

dengan baik. Mereka tidak akan saling menggempur, tetapi saling memanfaatkan. Kita mainkan dengan pengerahkan tenaga

sakti secara perlahan-lahan. Ayolah … Meimei … !!!” Sepasang pendekar yang dikenal dunia persilatan sebagai “Sepasang

Bayangan Dewa” ini mulai bersilat. Dua hawa mujijat Di-zhen-bo dan Cha-yin-bo yang sudah melebur dan bersenyawa di

dalam ilmu Shen-Ta-Lek-Ling-Quan membuat tubuh dara sakti ini seperti bercak-bercak tangga nada yang seluruh

gerakannya menimbulkan suara seperti suara tiupan suling, tetapi di lain saat berubah seperti harpa, dan seterusnya.

Di tengah-tengah kegelapan, arus hawa sakti yang melingkar-lingkar itu kadang terlihat seperti sinar keputih-putihan,

tetapi dalam sekejab berubah menjadi merah.
Tianpin-Er yang melihat Lie Sian sudah mulai bergerak, ia segera menyambutnya dengan ilmu terdasyat dari delapan

jurus Lingkaran Dewa yang disebut: Ba Quanzi Shen. Mulailah ia memainkan ilmu terhalus dari Ba Quanzi Shen, tetapi

memiliki titik lebur yang paling tinggi: menghantam di dalam, melebur segala sesuatu dari dalam tanpa merusak

luarnya. Hawa sakti mujijat yang diselimuti oleh Neng-yuan (energi-maut) bergerak melingkar-lingkar membentuk

bersitan-bersitan sinar kuning lembut.
“Sian Mei … sekarang …!!!!” Begitu Yang Jing berseru memberi peringatan kepada Lie Sian, kedua bayangan kedua sejoli

itu mendadak melesat dengan kecepatan yang tidak terperihkan menimbulkan suara seperti lengkingan-lengkingan seperti

suara harpa dari tempat yang jauh.
Jendral Gan Bing dan Yang Mi yang melihat sinar-sinar yang menceruat saling “peluk” dan “menelikung” menjadi

terpesona.
“Hmm … pasangan pendekar sakti yang tiada duanya di Jianghu … ilmu yang mereka peragakan adalah jenis ilmu silat yang

paling langkah dan tidak pernah terlihat lagi di dunia persilatan … aku yakin, subo Kim-Jiu-sin-niko (Nikouw sakti

telapak emas) pun tidak akan sanggup melawan satu saja di antara mereka.
“Aduh … Thian, sepertinya aku melihat lagi dua orang sakti: Zheng Yen An dan Sim Hong Long hidup lagi. Yang Jing

betul-betul tidak berbeda dengan ayahnya, walaupun pembawaan Yang Jing lebih tenang dan halus, sedangkan jendral

Zheng Yen An, gagah perkasa dan agak kasar sifatnya. Tetapi dua-duanya membawa wibawa yang sangat kuat. Sedangkan Sim

Lie Sian, memiliki gaya bersilat yang nyaris sama dengan pendekar sakti Sim Hong Long. Tampaknya, kedua orang ini

memiliki ilmu silat yang tingkat kesempurnaannya tidak di bawah jendral Zheng Yen An dan Sim Hong Long sendiri. Dapat

kubayangkan betapa Hong Siang akan sangat senang mendengar keturunan dua orang yang sangat dipercayanya itu ternyata

masih ada … dan berjiwa patriot sejati.!!!” Disebut pibu tidak terlalu tepat, disebut main-main juga melenceng jauh

dari kenyataan. Dua hawa sakti itu bukan saling menghancurkan tetapi saling peluk, membelai, dan menari-nari tetapi

dengan kekuatan mujijat yang dan kecepatan yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Salin itu, keduanya

memperlihat tingkat seni bersilat yang luar-biasa tingginya. Shen-xi-ju-ba-zhi-zhu-diao (dewa memainkan delapan

melodi) mengantarkan suara rendah, seperti senar-senar harpa bagian atas, sedangkan Zhi-ming Shu-qin Zhen-dong

Tian-tang (Harpa maut mengguncangkan nirwana) menghantarkan bunyi yang kadang-kadang sedang, tetapi dalam sekejab

berubah tinggi-rendah dan meliuk-liuk seperti senar-senar biola yang dipetik oleh seorang yang maha ahli. Setiap kali

terjadi benturan, terdengar bukan seperti letupan melainkan nada-nada suara yang terpecah-pecah menjadi delapan jenis

yang berbeda-beda. “Pertarungan” dua jenis ilmu tingkat maha tinggi ini semakin luar-biasa ketika Lie Sian dan Yang

Jing mulai menggerakan tenaga sakti lebih dari setengah bagian. Tubuh mereka seketika berubah menjadi gulungan sinar

yang berpadu menjadi satu. Getaran Khie-sinkang mencapai titik sentuh yang disebut Zui-gao Pin-li (frekwensi tinggi),

yaitu bunyi tidak dapat lagi ditangkap oleh indra telinga, namun menggetarkan sukma. Karena khiekang yang dilahirkan

oleh kedua ilmu ini berisi sinkang, maka menceruat kemana-mana kekuatan dasyat yang sanggup menghancurkan titik

sasaran dalam bentuk Zhi-ming Neng-liang(Energi yang berkekuatan luar-biasa dasyat).
Sepasang pendekar itu tidak menyadari betapa jendral Gan Bing dan Yang Mi sampai mencelat ke sana kemari untuk

mencari perlindungan dari seraut energi maut yang mengguncangkan isi perut, dada, dan hawa sakti di dalam dian-tan

mereka seperti di aduk-aduk. Keduanya berusaha menutup telinga mereka, tetapi getaran Zhi-ming Neng-liang tidak

menyerang melalui telinga, tetapi melalui getaran apa saja yang ada di pusat hidup dalam diri mereka. Zhi-ming

Neng-liang seperti seekor naga gaib yang tidak memiliki tubuh tetapi terkandung pengaruh dan daya serang tidak dapat

ditahan. Karuan saja kedua orang, terutama jendral Gan Bing menjadi menderita sekali dan hampir tidak tahan karena

isis dadanya rasa mau meledak. Dalam keadaan yang berbahaya itu, tiba-tiba Yang Mi mengeluarkan jeritan nyaring dan

dari telapak tangannya menyeruat uap berwarna kekuningan.
Inilah ilmu tunggal warisan dari pertapa sakti Kim-Jiu-sin-niko (Nikouw sakti telapak emas) yang disebut: Jin-shou

mengji -di (tangan emas menggedor bumi). Pukulan ini hebat bukan main ….
“Hiaaat …… berhentilah kalian …. !!!!” “Cuuus … blaar …. !!!!” Lontaran ilmu pukulan Jin-shou mengji -di

mengakibatkan Yang Jing dan Lie Sian sadar bahwa tenaga yang mereka pergunakan telah mencapai titik yang sangat

berbahaya. Dengan cepat mereka menarik kembali ilmu dan tenaga mereka, tetapi sepuluh bagian tidak dapat ditarik lagi

karena keburuh pukulan Jin-shou mengji –di sudah mendarat dan menggempur dengan hebatnya.
“Enci … aah …. !!!!!” Keduanya menjerit nyaring ketika melihat tubuh Yang Mi limbung seperti tubuh yang ditinggalkan

tengkoraknya, dan dari mulut gadis perkasa ini, remang-remang Yang Jing dapat melihat, ia memuntahkan darah segar

dari mulutnya.
“Enci … enci …. Aduh … celaka …. Kita telah mencelakannya. Sian Mei coba periksa keadaan Paman Gan, dan aku akan

menolong Enci Mi secepatnya.
“Enci … maafkan adikmu yang tidak tahu diri ini … bagaimana keadaan Enci … dimanakah yang terasa sakit??” Yang Jing

mengguncang-guncang tubuh Yang Mi yang seperti tanpa tengkorak dan otot lagi itu. Dengan nafas terengah-engah, Yang

Mi membuka matanya, dan dari mulutnya yang berkelotan darah itu terlihat ia tersenyum.
“Jing Di … dadaku terguncang … tapi aku tidak apa-apa. Enci tahu, engkau tidak bermaksud mencelakakan encimu dan

paman Gan, tetapi main-mainmu dengan Lie Sian membahayakan jiwa paman Gan. Untung kau dan Lie Sian segera sadar dan

dengan cepat menarik ilmu dan tenagamu walaupun tidak semuanya dapat kau tarik kembali dan itulah yang akhirnya

menghantam isi dadaku. Jing Di … kau dan Lie Sian mewarisi ilmu-ilmu langkah yang dasyatnya bukan kepalang. Mungkin

ayah kita sendiri dan paman Sim Hong Long juga bukan tandingan kalian lagi, tetapi … engkau harus pandai-pandai

mempergunakan ilmu itu untuk maksud-maksud dan tujuan yang baik. Encimu tidak apa-apa …. Paman Gan juga tidak apa-apa

karena ia keburu pingsan sebelum ilmu kalian menghancurkan isi dada dan otaknya.
Sedangkan aku, begitu melihat daya serang balik yang berlipat-lipat kekuatannya dari ilmu Jin-shou mengji –di, segera

aku menarik semua aliran hawa sakti, sehingga keadaanku lemas, kosong, dan tidak memiliki energi sama sekali. Inilah

ilmu Shou-sou Ji-Rou (mengerutkan otot) warisan subo Kim-Jiu-sin-niko. Dengan ilmu ini aku selamat dari kematian

walaupun isi dadaku sedikit terguncang.” “Shou-Suo Ji-Rou … menurut Zhongyue San-Laoshen, ilmu itu adalah ilmu

simpanan pendekar sakti Sim Hong Long??? “ “Benar Jing Di … ilmu ini memang ilmu simpanan pendekar Sim Hong Long yang

diwariskan kepada Subo. Karena ilmu inilah, walaupun tubuh pendekar itu sudah dua-pertiga-bagian rusak, tetapi ia

masih dapat bertahan hidup sampai laksamana Zheng He menemukannya.” “Enci … ada hubungan apakah antara Sim Hong Long

Taihiap dengan Kim-Jiu-sinniko?” “Jing Di … subo sebenarnya adalah … nenek Sim Lie Sian … yang rela memilih hidup

sebagai seorang pertapa daripada melihat suaminya mengangkat saudara dengan Wang Hong Sen. Aku tidak tahu ada

peristiwa apa antara keluarga subo dengan Sim Hong Long. Menurut subo, ia menentang keras pengangkatan saudara itu

karena telah jauh-jauh hari sebelum ayah kita, Sim Hong Long shifu, dan Wang Hong Sen mengangkat saudara

sehidup-semati, subo telah mengetahui bahwa Wang Hong Sen berhati palsu dan berbahaya.” “Aaaah … jadi … Lie Sian

adalah Sun-Ni ( cucu dalam) Kim-Jiu-sin-niko, dan pendekar sakti Sim Hong Long itu adalah shifu enci juga.” “Benar …

!!” “Enci Mi-Mi … oh, Thian yang maha adil … benarkah itu? Betulkah subomu yang berjuluk Kim-Jiu-sin-niko itu Zu-Mu

(nenek) ku?” Yang Mi tersenyum di tengah kegelapan setelah melihat Lie Sian dan jendral Gan Bing tahu-tahu sudah

berdiri di sampingnya.
“Sian Di-mei (adik ipar Sian) … aku berkata yang sebenarnya. Aku tidak memberitahukan sebelumnya kepadamu karena Subo

tidak ingin kelompok Wang Hong Sen mencelakakan dirimu begitu mengetahui bahwa engkau keturunan terakhir pendekar Sim

Hong Long dan sekaligus cucu dalam Kim-Jiu-sin-niko. Subo mengatakan, biarlah Lie Sian tinggal di tempat yang aman di

Tienshanbai sampai dewasa.” “Mi Cici … aduh betapa inginnya aku berjumpa dengan Zhu-Mu … hmmm … akan sangat

berbahagia … Jing Koko, ternyata aku masih memiliki keluarga, aku tidak sebatang kara..!!” Tidak terasa

berlinang-linang mata Lie Sian mendengar kenyataan ini. Ia dapat merasakan betapa besar kasih orang-tua itu

terhadapnya sehingga mau menjauhkan dirinya hanya sekedar supaya cucunya ini terhindar dari ancaman tangan

musuh-musuhnya. Bahkan, nama aslinya saja sudah dihapus dari sejarah hidupnya dan berganti dengan nama julukan yang

dikenal di dunia persilatan sebagai pederi wanita yang berilmu tinggi.
Malam semakin larut, kegelapan kini benar-benar berkuasa di dalam sumur maut itu. Yang Mi, Lie Sian, dan Jendral Gan

Bing berdiri berjajar di di dekat lokasi dimana cacing raksasa itu muncul. Mereka betul-betul seperti patung yang

menyeramkan karena dari sampai kaki mereka seperti bersilimut lumpur yang masih basah. Dengan sengaja mereka

melumpuri tubuh dengan lumpur, karena mereka tidak menghendaki binatang yang seperti cacing raksasa itu dapat mencium

kahadiran mereka.
Sedangkan Tianpin-Er berdiri menghadap ke dinding batu sumur maut yang diperkirakan berada di tebing curam dan

menghadap persis ke arah Laut Kuning.
Dari matanya bergerak sinar seperti perak, dengan pandangan lurus ke arah dinding itu. Beberapa saat kemudian, Yang

Jing mendengar kibasan-kibasan lembut dari dalam tanah seperti tabir-tabir yang terbuat dari lumpur tebal terkuak.

Dari dari tempat yang dipenuhi lumpur iut bergerak binatang besar yang menyerupai cacing, perlahan tetapi kuat bukan

main, sehingga lapisan lumpur yang tebal itu tidak kuasa menahan terjangan tubuh yang mengeluarkan lendir berwarna

kebiruan yang licin.
Suara gerakan itu makin lama makin jelas.
“bleeep …. Bleeep …. Bleeepp…!!!” Beberapa saat kemudian, begitu sinar bulan menerobos bibir sumur maut, binatang itu

menerobos keluar dan … dalam waktu sekejab ia telah muncul di permukaan tanah sambil mengembangkan cacing-cacing

raksasa yang bergerak-gerak seperti seribu tangan yang menggapai-gapai ke arah bulan. Begitu binatang yang memiliki

tangan seperti cacing-cacing itu mengembang lebar bagai kelopak bunga teratai, tiba-tiba Yang Jing mendesis.
“Ba …. Quan …. zi …. .Shen….. (8 lingkaran dewa) ………!!!” Mendadak Ia seperti bersilat dengan sebuah ilmu yang

mengandung delapan sifat dan kharakter yang berbeda-beda. Dari tubuhnya yang disaput oleh lumpur itu menyeruak

gelombang kekuatan sakti dan seketika lumpur-lumpur yang terlepas bergerak menjadi delapan macam bentuk. Tiba-tiba

terdengar suara menggaung keluar dari sekujur tubuhnya yang berada dalam posisi naga sendekap. Bunyi gaung dasyat itu

segera diikuti dengan menyeruaknya kekuatan sakti yang menghantam dinding batu sumur itu. Kejadian itu begitu cepat,

sehingga binatang yang sedang mengembangkan tangan-tangannya yang seperti cacing itu belum sempat mereaksi, tahu-tahu

sebagian besar tangannya telah berada dalam cengkraman empat manusia. Ia berusaha berkutet, tetapi … belum sempat

maksudnya tercapai, mendadak … dinding batu sumur maut yang dihantam Yang Jing itu runtuh dan bagaikan diterjang oleh

badai pasang, tiba-tiba entah berapa kubik air menerjang sumur maut itu. Kontan binatang itu mungsret dan membetotkan

tubuhnya masuk ke dalam lorong yang penuh dengan lumpur dengan kecepatn yang bukan main.
“Buuuuur …… !!!!” Bunyi air yang bergemuruh seperti jutaan binatang buas saling terjang tercurah ke dalam lorong yang

tertutup lumpur itu. Binatang itu seperti ketakutan begitu merasakan percikan air laut, maka dengan sekuat tenaganya

ia meluncur ke dalam lumpur seperti dikejar setan air sambil membawa empat manusia yang bergelantungan.
“Sian Mei … Li Cici .. paman Gan Bing, rapatkan tubuh … serapat mungkin. Jangan melawan jeratan binatang yang seperti

ketakutan menghadapi air laut ini, biarlah ia membawa kita kemana ia mau …. !!!” Yang Berseru sambil tangannya

memeluk pinggang Lie Sian erat-erat seperti tidak ingin melepaskannya lagi.
“Hiaaat …. Huuuuuup…..huuup…..huup…..huup…..!!!” Mereka menahan nafas kuat-kuat begitu tubuhnya meluncur cepat sekali

kebawah sumur, makin lama makin dalam dan gelap luar-biasa. Diam-diam jendral Gan Bing bersyukur telah makan

Long-Gen-Mogu (Jamur akar naga) sebanyak-banyaknya sebelum terjun ke dalam lorong lumpur ini. Karena berkat khasiat

akar Long-Gen- Mogu (Jamur akar naga), hawa murni dalam tubuhnya mengalir lebih cepat dan kuat; dan lebih hebat lagi,

tubuhnya tahan terhadap hawa dingin, padahal suhu lumpur yang bercampur di lorong ini dingin bukan main.
“Ah … Sim Lie Sian benar-benar gadis yang pandai. Karena sarannya itulah semua telah mengisi perut bukan dengan

makanan yang lain, tetapi dengan akar Long- Gen-Mogu (Jamur akar naga). Hmm … gadis hebat … gadis pandai.!!” Jendral

Gan Bing cerocos terus dalam hatinya memuji kewaspadaan dan kepandaian Sim Lie Sian.
Terowongan lumpur tidak diketahui pasti berapa kaki panjangnya, karena keempat orang itu tidak mengukur panjangnya.

Binatang itu dapat bergerak luar-biasa cepat ketika berada di dalam lumpur, sehingga air pasang yang menerjang sumur

maut belum sempat menyentuh tubuhnya, ia telah terlebih dahulu sampai di tempat luas yang penuh dengan …. Air.
Begitu menembus air, empat orang itu baru merasakan terjangan air yang meluncur mengejar binatang itu. Tidak ayal

lagi, gelombang besar terjadi seperti angin puyuh meniup dari permukaan air. Air menerjang bergulung-gulung dan

menghantam bintang yang masih “memeluk” empat manusia.
Sungguh lihai, binatang itu bukannya menghindar, tetapi meluncur ke bawa air yang lebih dalam, sehingga gulungan air

itu hanya menerjang bagian permukaan sambil memuncrat air yang menghantam tebing.
Yang Jing segera membuka matanya. Pertama-tama ia melihat Lie Sian, Yang Mi, dan jendral Gan Bing dalam posisi kepala

di bawah persis di sampingnya, mereka juga telah membuka mata. Begitu Yang Jing melihat binatang yang “memeluk”

mereka, seketika ia terkejut, karena binatang itu bukanlah cacing-cacing yang berjumlah banyak, melainkan seekor

gurita yang bukan main besarnya. Matanya berwarna biru, dan sekujur tubuhnya penuh dengan lingkaran-lingkaran seperti

cincin berwarna biru. Kulit tubuhnya berwarna kekuningan. Ketika jendral Gan Bing melihat wujud binatang ini, ia

memberi isyarat kepada Yang Jing dengan gerakan tangan yang membentuk tulisan yang berbunyi: “Lan-quan-zhang-yu …

(gurita cincin biru atau Hapalochlaena lunulata) … “ Seketika ketiga orang lainnya menjadi terkejut dan agak kuatir

karena Lan-quanzhang- yu dengan ukuran seperti yang ini besarnya tidak pernah tercatat dalam sejarah. Gurita jenis

ini paling berbahaya karena tubuhnya mengandung racun yang sangat jahat. Kini kedua mata binatang raksasa itu menatap

empat orang yang dipeluknya erat-erat. Mulutnya seperti menyeringai. Dengan perlahan, ia menarik tubuh Lie Sian ke

arah mulutnya, perlahan, tetapi gerakannya kuat.
Lie Sian tidak mandah begitu saja tubuhnya dicium oleh binatang itu. Segera ia mencabut suling merahnya. Ia tidak

takut racun binatang itu, kerena suling merah di tangannya membuatnya tahan racun. Sementara itu, Yang Jing, Yang Mi

dan jendral Gan Bing tidak tinggal diam. Dari empat arah mereka menyerang binatang itu. Tangan Kiri Yang Jing yang

memegang Hai-Shi-Linjin membuat gerakan berputar sambil menusukkan suling aneh itu ke arah mulut binatang itu.

Sedangkan Yang Mi menggedor kepala binatang itu disusul sodokan ujung kaki Gan Bing tepat mengenahi mulut binatang

itu. Karuan saja ia berkelejotan menahan sakit.
Lie Sian menyerang dengan cara yang berbeda, ia tidak mengarahkan suling ke arah tubuh, tetapi dengan gerakan cepat

sekali, walaupun masih terhalang oleh air, ia melakukan totokan-totokan ke arah pangkal belalai-belalai yang melilit

mereka berempat. Di serang dengan cara demikian dengan cepat dan dalam waktu bersamaan, membuat gurita itu kewalahan.

Seperti binatang yang kesakitan ia melepaskan mangsanya, kemudian ngloyor pergi menjauhi mereka.
Akhirnya dengan bersusah payah, mereka berhasil keluar dari dalam air. Tepat seperti dugaan Yang Mi, mereka ternyata

terdampar di hutan yang terletak di pantai dalam Laut Kuning yang masih di sekitar teluk Bohai.
“Cuwi, kita perlu membagi tugas … aku dengan Mi-Er (Anak Mi) segera menuju ke ibukota Peking dengan menyamar untuk

mengatur pasukan dari sayap kiri. Para pembrontak pasti berpikir bahwa pasukan sayab kiri bukan ancaman lagi karena

kehilangan jendralnya. Sehingga mereka akan berkonstrasi pada sayap kanan yang dipimpin oleh jendral Zhu Da. Pada

saat mereka menyerbu sayap kanan itulah aku dan pasukan sayap kiri akan menghantam balik pasukan pembrontak.

Sedangkan, Yang Jing dan Lie Sian perlu bergerak cepat untuk menghubungi Bu Tong agar mengurungkan niatnya menyerbu

benteng E-liuyu Gong di teluk Bohai, dan sekaligus mencegah para pendekar menyerbu benteng itu. Biarkan benteng itu

kosong!!!” “Baiklah paman …!!!” Ketika Yang Mi akan berpisah dengan Yang Jing, tiba-tiba ia berlari balik ke arah

Yang Jing dan Lie Sian.
“Jing Di … Sian-di-mei … encimu memiliki dua-buah permintaan … berjanjilah engkau akan memenuhinya…” “Aah .. Mi Cici

… mengapa perlu janji-janji segala. Semua permintaan enciku yang cantik jelita ini, di-mei (adik ipar)mu ini pasti

akan berusaha memenuhinya.” “Janji … ?” “Enci … aku berjanji … katakankah!!!” “Jing-di … Di-Mei … apabila engkau

bentrok dengan seorang misterius yang berlengan tunggal, janganlah engkau mencelakainya. Bahkan, secara diam-diam

lindungilah dia …. !!” “Enci!!! Apakah yang kau maksudkan pemuda misterius yang menyantroni kita di hutan Jinxi?”

Yang Mi menganggukkan kepalanya.
“Mengapa enci? Bukankah ia murid orang yang telah menghancurkan keluarga kita dan keluara Lie Sian?” “Jing Di … aku

mengenal dia dengan baik, dan tahu siapakah dia sesungguhnya. Ia bukan musuh … bahkan ia berdiri di pihak kaum

pendekar. Percayalah … dia dikenal oleh kaum pendekar sebagai Rase Muka Seribu.” “Rase Muka Seribu …. ??” “Jing Koko

… seperti kita pernah mendengar julukan itu … di mana ya??” “Benar Sian mei, kita pernah mendengar julukan itu

disebut-sebut oleh Han Ren Ming tosu , anak murid Lu Bing Couwsu dan Liang Ie Cinjin dari Kunlunshan.” “Ya … benar …

i ih … otak tuyulmu masih tajam sekali!!!” “Jadi Rase Muka Seribu itu adalah seorang pendekar yang bekerja untuk Zhu

Wen Yang.” “Bukan Jing Di, ia benar murid Wang Hong Sen dan menjadi adik seperguruan pangeran Zhu Wen Yang, tetapi

sifat dan jiwa berbeda sekali, karena ia berasal dari kalangan pendekar yang berhati putih. Jika kalian bertemu

dengannya, katakan bahwa aku menuju ke kota raja Peking untuk membantu jendral Gan Bing.” “Baiklah Cici … aku pegang

dengan teguh permintaan Cici. Terus apakah yang kedua?” “Jing-Er … sebelum bertemu dengan Hongsiang, carilah dahulu

cap kerajaan yang petanya dilukis oleh ibu kita di lehermu, mintalah Di-Mei untuk menggambar ulang, kemudian ambillah

cap kerajaan itu dan berikan kepada kaisar Yongle. Itulah pesan ayah … yang disampaikan melalui shifu Sim Hong Long.

Apakah engkau sanggup?” Setelah berkata demikian, Yang Mi berkelebat cepat menyusul jendral Gan Bing menuju ke kota

Raja Peking. Sedangkan Tianpin-Er dan Lie Sian berkelebat lenyap bagaikan bayangan dewa ke arah yang berbeda.
Mari kita melihat peristiwa hebat yang sedang terjadi di sebuah hutan yang berjarak tigapuluh lie dari kotaraja

Peking. Sebuah bayangan hitam berkelebat cepat menuju tengah hutan. Ia seperti tergesahgesah sehingga menggerakkan

ilmu ginkang sepenuhnya. Matanya mencorong bagaikan mata harimau. Tangan kanannya buntung sehingga meninggalkan

lengan yang kosong berkibar-kibar dihempas oleh angin. Mukanya tertutup oleh kulit ari binatang yang tpis sekali,

sehingga mencetak bentuk wajahnya yang tampan dan gagah. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai walaupun seutas

tali merah berbentuk ronce melingkar di dahi sampai belakang kepalanya.
Begitu sampai di tengah hutan ia segera menuju ke sebuah pohon besar yang rindang, di mana menanti dua orang tosu.
“Jiwi laoshifu, maafkan biren (aku yang rendah) yang datang terlambat. Apakah Lu Bing Couwsu dan Liang Ie Cinjin

dalam keadaan baik-baik?” “Sahabat Jian-Mian-Hu-Li (rase muka seribu) … kami berdua sangat menguatirkan keslamatan

sicu, karena sicu berada di tengah srigala-srigala iblis yang berbahaya dan berkepandaian seperti setan … aaah …

pinto sangat kuatir … pinto kuatir … ayaa.” “Jiwi laoshifu, biren mempertaruhkan nyawa yang tidak berharga ini demi

menghambakan diri kepada kebenaran dan keadilan. Biren tidak memandang bulu, siapapun yang menjujung tinggi kebenaran

adalah sahabat biren, tetapi yang menghambakan diri pada kejahatan adalah musuh biren.” “Sicu, bagaimana perkembangan

akhir-akhir ini?” “JIwi Laoshifu, dua hal penting yang hendak biren sampaikan. Pertama: pangeran Zhu Wen Yang segera

menyerbu ibu kota Peking. Pasukan kerajaan dari sayap kanan yang dipimpin oleh jendral Zhu Da akan dihancurkan

terlebih dahulu prajurit-prajurit terlatih yang berasal suku-suku di luar tembok besar, yang terbesar adalah suku

Mongol. Mereka akan dikonsentrasikan untuk menghancurkan kekuatan jendral Zhu Da. Penyerangan ini memiliki kekuatan

dua lapis, lapis pertama adalah pasukan dari sukusuku di luar tembok besar, lapis kedua adalah edengkot iblis yang

muncul dari arah Teluk Bohai, berjumlah paling sedikit enampuluh orang.
Mereka berkepentingan melenyapkan jendral Zhu Da, ayah-mertua kaisar Yongle, untuk melumpuhkan sayap kanan kekuatan

militer kota-raja. Mereka beranggapan kekuatan sayap kiri yang dikomandoi oleh jendral Gan Bing praktis lumpuh karena

tidak ada arsitek perangnya.” “Sungguh berbahaya sekali!! Kemudian bagaimana sicu?” “Sedangkan pasukan besar yang

dipimpin oleh jendral Lin Jing Long akan mengambil alih kekuasaan dari tangan kaisar Yongle dengan darah. Sedangkan

pangeran Zhu Wen Yang yang dibantu oleh shifuku Wang Hong Sen, nenek iblis Liang Cien Hauw yang berjuluk

Wan-du-wushu, dan Bu-di-san-mowang, akan membinasakan kaisar dan para pendekar yang melindunginya.” “Aaah …. ….

Celaka …celaka …siapakah yang sanggup melawan iblis-iblis itu.
Pinto tidak mengetahui di manakah si naga sakti lengan tunggal dan lihiap Hsing Li Fong, si Dewa pembabat rumput, dan

pemuda sakti yang dikenal sebagai Tianpin-Er, pendekar bayangan Dewa.
Mereka terpencar-pencar tanpa diketahui rimbanya.” “Laoshifu menyebutkan Naga Sakti lengan Tunggal?? Siapakah nama

pendekar itu?” “DIa bernama Shi De Hu, seeorang pendekar yang berilmu luar-biasa tinggi dari Tienshanbai.” “Aaaah …

De Hu …!!!” Tidak terasa Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu) menghela-nafas panjang sambil menyebutkan nama De Hu

berulang-ulang.
Mereka bertiga tidak menyadari bahwa pertemuaan mereka diperhatikan dengan seksama oleh sepasang mata. Yang sepasang

mencorong bagaikan naga sakti yang sedang mengincar mangsanya, sedangkan sepasang lainnya: jernih, mengkilat, dan

bercahaya tajam.
“Sicu, keadaan kotaraja berada dalam ancaman yang sangat berbahaya karena Jendral Gan Bing yang dikenal sebagai

arsitek perang yang hebat telah diculik, atau mungkin telah dibinasakan oleh pangeran Zhu Wen Yang. Di lain sisi,

keslamatan kaisar Yongle juga berada dalam keadaan seperti telur di ujung tanduk, karena kali ini yang meninginkan

nyawanya adalah iblis-iblis yang memiliki kepandaian yang sukar dicari tandingannya. Pinto dan ketua-ketua partai

persilatan, sekalipun digabung menjadi satu, juga tidak dapat menandingi mereka. Hanya Zhongyue San- Laoshen yang

dapat mengatasi mereka. Tetapi ketiga orang tua itu sudah cuci tangan, dan menyerahkan tugas maha berat ini ke pundak

Tianpin-Er, Shi De Hu, dan Hsing Li Fong.” “Sicu, apakah yang kedua …?” “Laoshifu … ternyata jendral sakti Zheng Yen

An meninggalkan beberapa keturunan … dan mereka telah muncul di dunia persilatan ….!!” Begitu mendengar keterangan

ini, ketua Kunlunbai dan sutenya, Lu Bing Couwsu dan Liang Ie Cinjin, terkejut setengah mati. Wajahnya pucat dan

sinar matanya menyinarkan kesedihan yang luar-biasa.
“Ah … kesalahan kita para ketua partai persilatan dan para pendekar pada umumnya … ternyata harus menghadapi

akibatnya. Bangkai yang berada di dunia persilatan akhirnya akan terkuak juga. Pinto sudah sadar bahwa keturunan

jendral sakti Zheng Yen An yang namanya dilumpuri oleh kenistaan akibat fitnah yang dilontarkan oleh si Singa

Pencabut Nyawa, Wang Hong Sen, akhirnya menyeret dunia persilatan melakukan penghakiaman secara tidak adil

terhadapnya harus mau menghadapi kesalahannya dengan jantan. Aya … berita ini sangat menggembirakan tetapi sekaligus

menyedihkan karena sekali lagi, dunia persilatan akan menghadapi kesulitan besar karena Wang Hong Sen pasti tidak

akan tinggal diam. Dia akan berusaha mengubur bau bangkai busuk dengan sekuat tenaganya.” Lu Bing Couwsu dan Liang Ie

Cinjin menjadi sangat gundah walaupun sinar matanya menyinarkan kegembiraan yang sulit ditafsirkan artinya.
Mendadak, sebuah benda berwarna hijau meluncur deras ke arah Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu). Benda ringan itu

meluncur seperti panah dengan kecepatan fantastis. Dengan sigap Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu) menangkap benda

itu yang ternyata selembar daun.
“Wang Hong Sen agaknya mencium gerakanmu … berhati-hatilah … hatiku sedih … tetapi aku tidak berdaya.” Begitu usai

membaca tulisan pada selembar daun itu, tiba-tiba melayang seseorang dan tanpa tedeng aling-aling langsung menyerang

Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu) dengan dasyatnya. Gerakannya cepat sekali, sehingga mukanya tidak dapat dikenal

saking cepatnya ia bergerak. Sedangkan dari kedua tangannya, menyeruak gumpalan-gumpalan hawa sakti yang bukan main

hebatnya.
Melihat gelagat yang berbahaya, dengan spontan ketua Kunlunbai dan sutenya turut menyerang orang itu. Tetapi walaupun

dikerubuti tiga orang yang berilmu tinggi, dengan seenaknya orang itu membagi-bagi pukulan dan tendangan seperti

seorang guru menghajar murid-muridnya yang tidak becus bersilat.
“Plaak … plaak … des … des …. !!!” Begitu enaknya, pukulan tangannya yang terbuka itu menghajar muka dua tokoh nomer

satu dari Kunlun dan Si Rase Muka Seribu. Walaupun dua orang guru besar dari Kunlun itu berusaha membalas serangan,

tetapi serangannya selalu kandas di tengah jalan, karena tahu-tahu tangan orang misterius itu sudah mampir terlebih

dahulu ke muka dan kepalanya. Tidak sampai tiga puluh jurus, kedua tokoh Kunlunbai sudah muntah darah karena daya

gempur dan pengaruh gelombang pukulan hawa sakti orang itu.
“Tosu … tosu … tidak becus memainkan ilmu silat Kunlun yang sudah ratusan tahun …. Masih punya muka menjadi ketua dan

wakil ketua … sungguh menjengkelkan … sungguh menggemaskan … patut dibinasakan. Bersiaplah …. !!!” Begitu selesai

berujar, orang itu segera melancarkan serangan yang hebatnya bukan kepalang. Melihat keadaan yang sangat berbahaya,

Jian-Mian-Hu-Li menjadi nekad.
“Jangan membunuh kedua laocianpwe itu … mereka adalah pejuang-pejuang yang tenaganya dibutuhkan oleh bangsa dan

negara … berhenti!!!” Selesai berkata demikan, Jian-Mian-Hu-Li mengeluarkan senjata andalannya: pecut

Jit-kheng-tok-choa (ular pelangi tujuh racun). Pecut di tangan pemuda bertopeng ini dimainkan secara istimewa.

Gerakan pecut itu bagaikan lidah-lidah api yang memagut ke pelbagai arah. Tetapi orang itu hanya berdiri membelakangi

, tanpa menunjukkan ekpressi terkejut atau takut. Ia membiarkan saja pecut itu mendekat, dan begitu sudah mencapai

jarak kurang dari satu dengan tubuhnya, tiba-tiba ia melakukan gerakan seperti Lohan menggeliat, satu gerakan ilmu

silat Lohan dari biara Shaolin, tetapi dimainkan cara yang sederhana dan luar-biasa sekali hebatnya. Sepertinya ia

betul-betul ahli dalam ilmu ini.
“Hu … pecut yang tidak berguna …!!!” Sekali renggut, pecut itu sudah berada di tangannya. Dan yang membuat tiga orang

itu terkejut, pecut yang terkenal sukar diputuskan sekalipun dengan golok tajam, menjadi hangus terbakar di tangan

kanan orang itu.
“Iiih … itu Fo-shao-xiang (Buddha membakar dupa) … siapakah orang itu? Ilmunya sudah sempurna … jelas itu ilmu silat

biara Shaolin yang dimainkan oleh seorang yang betul-betul ahli.” Sepasang sejoli yang sedang memperhatikan jalannya

pertempuran dari tempat tersembunyi itu yang bukan lain adalah Shi De Hu dan Hsing Li Fong menjadi sangat tertarik.

Li Fong terperanjat ketika orang itu mempergunakan Fo-shao-xiang (Buddha membakar dupa) untuk menghancurkan pecut

Jit-kheng-tok-choa (ular pelangi tujuh racun).
Berhadapan dengan orang ini, si Rase Muka seribu tidak ubahnya seperti seekor laron yang sedang berhadapan dengan

api. Orang luar-biasa ini memakai jubah longgar seperti potongan seorang hwesio tetapi berwarna hitam. Gerakan orang

ini luar-biasa cepatnya, seperti bayangan setan yang menyambar-nyambar mengeluarkan hawa maut yang mematikan.
Pada saat Rase Muka Seribu terheran-heran, orang itu tiba-tiba melayang ke arahnya dengan kedua tangan terbuka. Dari

jari-jarinya keluar suara mencicit seperti tikus terjepit.
“Celaka …. !!!” De Hu dan Li Fong berseru hampir berbareng sambil keduanya melayang sambil menggerakan ilmunya.
“Plak …. Des….Blaaaar..!!!” “Hmm … Shenlong-zhai-kongmen (Dewa Naga dalam kehampaan) dan kai xinguan (Buddha membuka

guci sakti)!! Ilmu dari Tienshan dan Si Guci Sakti, Wang Ming Mien … siapakah kalian!!!” Orang itu mundur selangkah

begitu tangannya bertemu dengan dengan tangan De Hu dan Li Fong. Kedua pendekar sakti itu tidak menjawab, melainkan

menatap wajah orang itu yang tertutup dengan rambut putih yang awut-awutan seperti orang gila. Dengan mendengus

seperti keledai, orang itu kemudian menerjang De Hu dan Li Fong dengan dasyatnya. Kini ia tidak seperti main-main

lagi, tetapi menyerang dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya. Angin pukulannya menderu-deru menyesakkan dada, dan

menimbulkan rasa penih yang tidak tertahankan.
“Mei-mei … berhati-hatilah … ilmu orang ini bukan main hebatnya.” “Koko … aku yakin sumber ilmu orang ini tidak jauh

dari biara Shaolin … tetapi selain Zhongyue San Laoshen, tidak ada tingkatan tua yang dapat menguasahi ilmu-ilmu

biara itu sesempurna orang ini.” “penglihatan dan analisamu itu benar Mei-mei (dinda) … bagaimanapun juga kita tidak

bisa menggempurnya dengan gabungan ilmu-ilmu kita karena kita tidak memiliki permusuhan apa-apa dengannya.” Segera De

Hu dan Li FOng menyambut gempuran orang tua kosen itu. Segera pertempuran dasyat terjadi antara orang misterius itu

dengan dua pendekar sakti itu.
Ilmu orang itu memang hebat. Limapuluh jurus kemudian, mendadak … orang itu berhenti menyerang … kedua telinganya

ditutup dengan kedua tangannya. Ada apa? Ternyata terdengar suara seperti seruling tetapi melengking-lengking tinggi.
Wajah orang itu berubah, seperti orang mengeluh karena duka yang teramat dalam, ia melengking pilu mengikuti suara

seperti suling itu dan meninggalkan Shi De hu dan Hsing Li Fong yang terheran-heran melihat tingkah-laku orang itu.
“Hu Koko … ia seperti orang yang kehilangan ingatan. Pikiran dan perasaannya agaknya di kat dan dikendalikan oleh

bunyi seperti seruling itu. Ilmunya hebat … tidak di bawah tingkat Zhong-Yue- San Lao-Shen … tetapi seperti ada

sesuatu yang tidak wajar terjadi dalam hidupnya … “.
BAB 29: ORANG SAKTI YANG ANEH.
“Siancai … siancai … kiranya si naga sakti lengan tunggal Shi taihiap dan lihiap Hsing Li Fong … syukur … syukur …

kita dapat berjumpa dalam waktu yang sangat tepat. Perkenalkan ini sahabat pinto … Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka

Seribu).” Seru Lu Bing Couwsu dengan wajah gembira.
“Laoshifu Lu Bing Couwsu, maafkan kami berdua yang nguping pembicaraan Laoshifu dengan saudara Jian-Mian-Hu-Li secara

lancang tanpa diundang.” “Apakah sicu berdua baik-baik saja setelah beradu tenaga dengan orang tua kosen yang penuh

misteri itu?” “Laoshifu … kami tidak menderita apa-apa … orang-tua itu sungguh sangat langka ilmunya … begitu matang

… dan memiliki hawa sakti yang sudah sulit diukur lagi dalamnya … Apakah Laoshifu berdua mengenal siapakah orang tua

itu karena tampaknya ia marah dan berduka karena sebab-sebab tertentu terhadap shifu berdua?” “Pinto tidak

mengenalnya … tetapi … suaranya … suaranya … seperti tidak asing bagi telinga pinto … aah … siapakah dia … ilmunya

luar-biasa mujijat. Caranya bergerak seperti para Laocianowe dari Zhongyue, dan amat mirip dengan gerakgerik Baipan

Siansu. Aaah … sungguh memalukan dan membuat pinto berduka.
Semua yang diucapkan oleh Laocianpwe itu benar, pinto patut merasa malu menjabat ketua partai sebesar Kunlunbai

dengan kepandaian yang cetek . Pinto gagal mempelajari ilmu-ilmu Kunlun yang sudah ratusan tahun usianya. Bahkan

harus pinto akui, mungkin tidak sampai sepuluh persen yang dapat pinto kuasai …..
siancai … siancai … orangtua sakti itu benar … pinto patut binasa …. ia benar … pinto harus mencari seorang Kunlun

sejati yang dapat mempelajari ilmu-ilmu Kunlunbai, apabila tidak demikian riwayat kebesaran Kunlunbai akan segera

punah di tangan pinto yang tidak berkepandaian ini … aya … !!!” Lu Bing Couwsu menarik nafas panjang-panjang,

wajahnya berkerut-kerut menyiratkan kesedihan mendalam. Sedangkan Liang Ie Cinjin menundukkan kepala seperti orang

merenungkan sesuatu.
“Suheng … jangan menyalahkan diri sendiri, karena keadaan ini shifu kita sendiri yang menghendaki.
Apakah suheng masih ingat, setelah peristiwa terbunuhnya jendral Zheng Yen An dan pendekar sakti Sim Hong Long, shifu

pulang ke Kunlun dengan keadaan yang tidak seperti biasanya. Tepat di depan pintu gerbang perguruan, shifu merobek

jubah ketua dan menggunduli rambutnya sendiri. Shifu berkata: “Pinto menumpahkan darah orang yang tidak berdosa.

Pinto mengotori nama besar Kunlunbai. Bersekutu dengan puluhan datuk sesat dan si jahat Wang Hong Sen, pinto turut

mengeroyok dan membunuh kedua pahlawan yang dicintai rakyat. Siapakah yang jahat? Pinto dan para ketua partai aliran

putih atau … jendral Zheng Yen An dan pendekar sakti Sim Hong Long? Siancai … siancai … pinto mnejerumuskan Kunlunbai

dalam dosa yang maha besar … pinto tidak patut menjabat ketua partai lagi … pinto patut binasa..!!!” “Suheng … sejak

saat itu, shifu kerap-kali bertingkah-laku aneh. Setiap hari berkata, “Ilmu pinto tidak dapat dibandingkan seujung

rambutpun dengan salah satu pendekar sakti itu. Hanya melalui siasat licik Wang Hong Sen dan keroyokan para

tokoh-tokoh sakti saja kedua pendekar budiman itu dapat dibinasakan … oh … sungguh sangat memalukan … sungguh

memalukan. Pinto sebagai ketua partai sebesar Kunlunbai, tetapi ilmu-ilmu sejati Kunlun hampir musnah gara-gara

kebodohan dan kepicikan pinto … sungguh menyesal … sungguh menyesal.” “Suheng, tidak terlalu lama setelah shifu

mengeroyok jendral Zheng Yen An dan pendekar sakti Sim Hong Long, shifu mengundurkan diri dari dunia persilatan dan

menyerahkan jabatan ketua partai kepadamu tanpa mewariskan ilmu-ilmu Kunlunbai kepada kita. Ia menebus dosa di

Jian-Shan (puncak pedang) sampai hari ini. Tidak ada seorangpun mengetahui apakah shifu masih hidup atau sudah mati.”

“Sute … pinto yakin shifu masih hidup, karena acapkali pinto merasakan shifu mendatangi ruang kitab pada malam hari.

Pinto yakin shifu masih hidup karena hanya shifulah yang dapat menggunakan Zai-Jiu-zhu-Xiao-Shi (menghilang di balik

sembiln pilar) ketika mendatangi kamar kitab-kitab. Aku harus menemui shifu agar shifu mau mewariskan ilmu-ilmunya

kepada Han San Tung, murid kita yang baru berusia lima tahun tetapi bertulang bersih dan berbakat. Ah … sute … itu

urusan Kunlunbai, kita bisa selesaikan setelah urusan negara ini.” “ Sicu … Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu),

apakah sicu mengenal orang tua sakti itu?” “Sedikit sekali … ia seorang tokoh yang penuh rahasia. Dapat disebut salah

satu sesepuh dunia persilatan. Usianya sudah tua sekali … jauh lebih tua dari Laoshifu berdua … bahkan lebih tua dari

tokoh tua persilatan saat ini. Laocianpwe itulah yang mengirimkan pesan kepada biren melalui goresan selembar daun.

Biren mengenal sedikit orang-tua yang penuh rahasia itu, kerena secara tidak langsung biren pernah menerima

petunjuk-petunjuk beberapa ilmu darinya. Tentang siapakah dia, sungguh menyesal biren tidak mengetahui sama sekali.

Datang dan perginya bagaikan asap.
Tidak ada yang tahu dari aliran mana ilmu silatnya, karena gerakan yang dipakainya begitu seenaknya, sederhana,

hampir-hampir tidak seperti gerakan silat, tetapi dasyatnya bukan kepalang. Kakek inilah yang paling ditakuti oleh

Wan-Shou Heshou (Paderi Tangan seribu) seorang dari Budi-san-mowang. Begitu mencium tanda-tanda kehadiran kakek ini,

Wan Shou Heshou akan berusaha menyembunyikan diri.” “Aya … kalau ia berdiri sebagai musuh, kita akan menghadapi

persoalan yang sukar untuk diselesaikan dengan sederhana, karena kita berhadapan dengan seorang lawan yang luar-biasa

hebat.” Shi De Hu berkata dengan lirih sambil tangannya mengenggam erat-erat telapak tangan Hsing Li Fong seolah ia

sedang mengukur kekuatannya sendiri.
“Siancai … mari kita lupakan dulu perihal siapakah gerangan Laocianpwe yang sakti tetapi aneh itu.
Keadaan negara membutuhkan pertolongan orang-orang pandai dalam waktu cepat, kita hanya memiliki sedikit waktu untuk

menyelamatkan kekaisaran Ming. Tentu Shi Taihiap sudah mendengar keterangan sicu Jian-Mian- Hu-Li (Rase Muka Seribu)

betapa bala tentara Zhu Wen Yang sudah bergerak ke berbagai sasaran yang berbeda-beda. Serangan rahasia, cepat dan

mematikan di arahkan ke kotaraja Peking. Serangan kali ini benar-benar telah dipersiapkan dengan matang. Jendral Gan

Bing telah dibereskan terlebih dahulu, dan dibawah ke teluk Bohai; akibatnya Pasukan Berkuda Panglima Gan Bu Tong

yang dijuluki Jue-Mi Dang-Bing Shi-Gong-Jian (Pasukan Rahasia Panah Elmaut) akan terkonsentrasi penuh ke teluk Bohai.

Memang pinto mendengar panglima Gan Bu Tong memiliki pasukan istimewa yang keberadaannya tidak menentu dan gerakannya

tidak dapat diduga. Pasukan ini memiliki strategi perang dan skill yang luar-biasa, karena terdiri dari

pendekarpendekar berilmu tinggi dan terlatih dengan ilmu perang secara hebat oleh tangan trampil panglima Gan yang

dibantu oleh calon istrinya: Putri Namita.
Pasukan ini kabarnya tidak pernah gagal apabila bergerak. Pasukan rahasia ini kabarnya disebut Long Dui-wu-yin-ying

(Pasukan Naga Bayangan). Tetapi, apabila Gan Bu Tong terpancing sehingga mengerahkan tenaga sepenuhnya ke arah teluk

Bohai, dalam waktu sekejab mereka akan tinggal nama saja, karena teluk Bohai akan segera tergenang oleh badai laut

Kuning. Ah … sungguh hebat pangeran pembrontak itu … pinto tidak menyangka ia begitu pandai strategi perang !!” Lu

Bing Couwsu mengeluh seperti onta yang melahirkan anak. Wajahnya nampak jauh lebih tua dari sebelumnya.
“Seandainya jendral besar Zheng Yen An dan saudara angkatnya pendekar sakti Sim Hong Long masih hidup, tentu mereka

akan dapat menyelesaikan kemelut ini … aya … siancai … siancai … pinto sungguh malu, karena Kunlunbai juga terseret

sehingga turut menumpahkan darah jendral dan pendekar sakti yang bersih hatinya itu … aya …. aya ….. !!!!” “Lao

shifu, sudahlah … mari kita memeras otak untuk menemukan cara yang terbaik menyelamatkan negara dan jiwa kaisar

Yongle dari tangan pembrontak-pembrontak jahat itu.” “Siancai … sicu Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu) … benar.

Menurut pendapat pinto, keslamatan kaisar yang paling penting. Oleh sebab itu, apabila Shi Taihiap dan Hsing Lihiap

tidak berkeberatan, pinto meminta, kiranya jiwi berdua dapat pergi ke kota raja untuk melindungi kaisar dari serangan

para datuk-datuk iblis.
Kemungkinan besar, pangeran Zhu Wen Yang, Wang Hong Sen, dan Budi-sanmowang sendiri berada dalam serangan ini. Apakah

jiwi bersedia?” “Jiwi Laoshifu, sebenarnya boanpwe sedang melakukan perjalanan ke arah Markas Pangeran Zhu Wen Yang

di Teluk Bohai karena boanpwe hendak menjumpai adik boanpwe, Tianpin-Er, di sana. Tetapi mendengar keterangan dari

Jian-Mian-Hu-Li, rasanya boanpwe harus merubah haluan karena keslamatan kaisar Yongle berada dalam bahaya. … hmm …

pesan dari orang-tua misterius untuk Jian-Mian-Hu-Li, menurutku bukanlah sekedar main-main … penyamaran

Jian-Mian-Hu-Li sudah terbongkar. Orang-tua itu pasti tokoh persilatan tingkat atas yang jati dirinya tidak mau

dikenal oleh orang. Dari bobot ilmunya yang seperti itu, tidaklah mungkin ia berbuat iseng.” “De Hu … aaah … maksudku

Shi Taihiap …” “Aah … Jian-Mian-Hu-Li, apakah kita pernah bertemu sehingga sicu dapat mengetahui namaku? Rasanya

suaramu ketika memanggil namaku tadi tidak terasa asing di telingaku …??” “Aah .. tidak … tidak … mungkin ini kali

pertama kita bertemu … maafkan kelancanganku memanggil nama besarmu begitu saja.” “Di-xiong (saudara) … nama besar

adalah kosong … aku lebih suka dipanggil Shi De Hu … tanpa embel-embel taihiap, karena nama itu pemberian shifuku

ketika ia menyelamatkan aku dari kematian pada saat ibu yang melahirkanku binasa di tangan orang jahat. Bagiku nama

Shi De Hu adalah sebuah mustika … pusaka … wasiat … yang sangat berharga, warisan Shi De Yuan Ta Shifu, di mana

didalamnya terkandung amanat yang dibungkus dengan darah … ya … darah … darah shifuku yang telah terbunuh secara

menyedihkan. Selama Shi De Hu masih hidup, Lan Wukui Chu Dunglin Si Iblis Biru harus bertanggung-jawab atas

tertumpahnya darah shifuku.” Sementara De Hu sedang berbicara dengan Si Rase Muka Seribu, Li Fong menyentil ujung

tangan De Hu dengan jari kelingkingnya seraya memberi isyarat.
De Hu menganggukan kepalanya sedikit menyatakan bahwa iapun mengerti.
“Hu Koko, agaknya kita tidak sendirian di hutan ini … tempat ini sudah dikepung oleh ratusan pasukan pembrontak.

Kira-kira lima li dari tempat ini, mereka telah bergerak dengan posisi Quan-Zi-Men (Gerbang melingkar), gerakan

mereka cepat dan sigap, pertanda, mereka bukan pasukan sembarangan.” “Hmm … Fong Mei … sudah semakin sempurna hawa

sakti yang mengalir dalam tubuhmu, sehingga dari jarak begitu jauh, jauh-jauh Fong Mei sudah dapat mendengarnya.

Tampaknya kita tidak perlu sungkan-sungkan lagi kali ini, karena perang adalah perang … perang harus dibayar dengan

darah … hmm … apa boleh buat …!!” Baru habis De Hu berkata demikian, sekonyong-konyong di tempat itu telah muncul

duabelas pendeta Lama berbaju merah, dua orang pertapa seperti bangsa Nepal, Hoashan It-Mokiam, dan seorang lagi yang

menjadi pemimpin pasukan ini: Bailei Xin Bazhang. Dua pertapa bangsa Nepal itu tampaknya bukan orang sembarangan.
Sorot mata mereka masing-masing berpengaruh kuat. Yang kurus memakai jubah putih, sedangkan yang tinggi besar

mengenakan jubah hitam. Inilah dua pertapa yang dikenal dengan julukan Tian-Shi -Xin-Mo (Malaikat berhati iblis):

Abhyudita dan Abhinava.
Masing-masing memegang tasbih yang berbeda warna. Bailei Xin Bazhang berdiri persis di belakang kedua pertapa ini,

sepertinya ia mencoba menyembunyikan perasaan jerihnya terhadap Hsing Li Fong di belakang punggung kedua pertapa yang

diandalkan kesaktiannya. Tetapi walau bagaimanapun juga ia tidak dapat menyembunyikan perasaan jerihnya pada saat

pikirannya melayang kembali kepada Honghua Laomo dan Toat Beng Laomo yang binasa dengan tubuh hancur luluh dihantam

gelombang pukulan gadis cantik-jelita yang berdiri dengan mata mencorong seperti mata elang itu.
“Cuwi telah terkepung oleh dua-ratus lebih pasukan Tar-tar yang membantu perjuangan pangeran mahkota Zhu Wen Yang

merebut kekuasaan dari tangan kaisar palsu Yongle. Apabila cuwi bersedia menyerah dan dengan sukarela membantu

perjuangan pangeran Zhu Wen Yang, maka nyawa cuwi akan diampuni oleh yang mulia pangeran mahkota. Dan kau … murid

Wang Thaikam yang durhaka … mata-mata musuh yang tidak tahu malu … jangan kau pikir pangeran Zhu dan gurumu tidak

mengetahui pengkhianatanmu. Sejak dua-bulan yang lalu, gerakanmu sudah diketahui oleh pangeran. Tetapi dengan sengaja

pangeran membiarkanmu bebas untuk dipakai alat penunjuk jalan yang membawa kami kepada pimpinan sejati gerakan

pendekar yang menjadi pelindung Yongle, si keparat. Tidak dinyana … sungguh tidak dinyana …. Ha … ha … ha …. Ternyata

jantung gerakan pendekar dipimpin hanya oleh dua tosu bau dari Kunlunshan … sayang … sayang … nyawa kalian bertiga

tidak berharga di mata pangeran, sehingga harus dibinasakan.
Jangan bermimpi untuk dapat menyelamatkan Kaisar gadungan, Yongle. Semua pertahanan sudah kami kuasahi. Pasukan

jendral Gan Bing praktis sudah tidak ada artinya lagi, karena jendralnya mungkin sudah menjadi isi perut

cacing-cacing tanah di perut bumi Bohai. Sedangkan pasukan panglima Gan Bu Tong … he … he … he… sebentar lagi akan

berperang melawan amukan badai Laut Kuning … sedangkan gerakan perlindungan kaisar yang diatur melalui pertemuan

Zhongyue segera lumpuh karena pemimpinnya sudah berada di tangan kami saat ini: Lu Bing Couwsu dan Liang Ie Cinjin.

Jikalau jiwi totiang tidak mau menyerah dan membantu pangeran mahkota, bukan saja hari ini akan binasa di tempat ini,

tetapi juga … Kunlunbai akan dibumi hanguskan. Inilah amanat dari pangeran mahkota yang cuwi totiang perlu

mengetahuinya.!!!” Sekali lirik, Li Fong sudah mengetahui pasukan yang sudah dekat dan mengambil jarak kurang dari

tiga ratus tombak terdiri dari bangsa Tartar yang terkenal sebagai pasukan yang sangat kejam dan pandai berperang,

bernyali harimau, dan tidak mengenal arti takut.
“Hmm … Bailei Xin Bazhang, berani unjuk lidah … tetapi tidak berani perlihatkan kepandaian … buntut diperlihatkan …

kepala disembunyikan di balik ketiak orangorang asing. Apakah dengan mengandalkan pasukan asing, dua-belas kerbau

merah, dua kakek pikun, dan satunya lagi sepertinya pengemis kudisan yang matanya jelalatan seperti Jai-hoa-cat ,

engkau dapat berbuat seenaknya saja di Tionggoan … Huh … jangan bermimpi … hari ini engkau lagi sial, karena nonamu

sedang sebal hati … mungkin hatiku masih memiliki welas asih terhadap manusia semacam dirimu, tetapi tanganku …

mungkin tanganku tidak akan mengenal ampun lagi. Ayo majulah … kerahkan semua tikus-tikus Tar-tar dan pasukan

kokobelukmu … !!!” “He … he…he… Bailei Xin Bazhang, bagaimana kalau yang satu ini engkau serahkan kepadaku, karena

aku ahli menaklukan jenis yang seperti ini … he … he … he… nona merah yang maha cantik, mari, bermain-main denganku

barang sejenak untuk berkenalan.” “Hoashan-It-Mokiam … berhati-hatilah, ia bukan wanita sembarangan … !!” Bisik

Bailei Xin Bazhang.
Hoashan-It-Mokiam yang terkenal gila perempuan ini sudah maju sebelum menunggu persetujuan Bailei-Xin-Bazhang, karena

ia sudah tidak dapat menahan nafsunya. Tubuh dan wajah Hsing Li Fong yang mempesona, hampir tiada bandingnya,

mengguncangkan jiwanya sehingga membuat nafasnya setengah terengah. Wajah yang sangat elok berhias hidung dan bibir

yang luar-biasa indahnya, sudah membuat laki-laki hamba nafsu ini mabok kepayang.
Dengan gaya yang dibuat-buat gagah, ia mengambil jarak lebih dekat dengan gadis perkasa ini. Kira-kira terpaut tiga

tombak dari Li Fong, Ci Hok berhenti, dan cuping hidungnya kembang kempis karena ia mencium bau harum khas seorang

gadis yang terpancar dari tubuh Li Fong. Kontan mata manusia berhati busuk ini menjadi merem-melek seperti kera naik

berahi.
“Aduh … harumnya … bukan main … benar-benar wanita pilihan yang cocok mendampingi Hoashan It-Mokiam.” Semakin lebar

senyum Li Fong mendengar perkataan orang berambut awut-awutan ini, tetapi sinar matanya berkilat seperti mengeluarkan

barah api, putih kemilau.
Tetapi senyum Li Fong ini diterima secara salah oleh Tan Ci Hok. Ia bukannya mundur, melainkan malah semakin berani.

Ia mengira Li Fong menyukai perkataannya. Li Fong bukannya marah melainkan tersenyum luar-biasa manis.
Giginya yang putih mengkilat berderet rapi itu terlihat sedikit, menambah daya pesona.
“Oh … begitukah? Majulah kalau memang engkau hendak mengajak nonamu berkenalan … !!” Dengan senyum yang luar-biasa

manis, Li Fong berjalan santai mendekati Hoashan-It-Mokiam. De Hu diam-diam sangat kuatir akan nasib orang yang

dipanggil Hoashan-It-Mokiam. Ia tahu betul, apabila Li Fong sudah tersenyum sedemikian rupa, berarti ia dalam keadaan

marah.
“Lao-kui (setan tua) berdoalah, karena sebentar lagi nonamu akan menolong jiwa busukmu terlepas dari tubuh-tuamu yang

berbau tidak sedap!!” “Mokiam … berhati-hatilah … wanita ini sangat lihai dan berbahaya.” Seru Bailei Xin Bazhang

sekali lagi.
“Jangan kuatir, serahkan saja bidadari merah ini kepadaku.” Dengan bernafsu, Hoashan-It-Mokiam Tan Ci Hok sudah

merangsek ke depan dengan melayangkan totokan-totokan ke arah dada, paha, dan leher Li Fong dengan cara yang sangat

kurang-ajar sekali sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“Gadis cantik … gadis cantik … he..he…he… sungguh sayang apabila kulitnya sampai tergores pedang … he …he … hmm …

harum … harum … membuat jantungnya terasa ingin copot!!” Melihat serangan kotor ini, rasa kasihan di dada De Hu sirna

seketika, dan berubah menjadi kemarahan. Otomatis tenaga mujijat Shenlong-Qiangxing-Kongmen (Dewa naga mendobrak

pintu kehampaan) bangkit, membuat mata pemuda perkasa ini bersinar bagaikan naga sakti. Dari lengan tunggalnya

seperti diselimuti oleh sinar berwarna ungu muda. Inilah hawa sakti perpaduan ilmu pendekar besar Shi Kuang Ming dan

sang arsitek ilmu silat Zhang Sanfeng yang telah mencapi puncak kehebatannya setelah sifat-sifat liarnya diubah

menjadi hawa sakti yang luar-biasa oleh inti hawa Xinyin- liu-he-quan sebagai perekat yang mengawinkan kedua ilmu

dasyat itu. Shi De Hu dan Hsing Li Fong telah berhasil melebur ilmu-ilmu sakti mereka berdua pada puncak

kedasyatannya di hutan bambu di tepi danau Qinghai.
Dengan bibir berkemik-kemik melayangkan ilmu semacam Song-Yin-Ju-Li (mengirim suara dari jauh), De Hu berkata kepada

Li Fong.
“Fong Mei-Mei … orang itu berilmu tinggi, tetapi jiwanya kotor … bantulah Hoashanbai menjaga keharuman namanya …

Yan-xin-kuo-tie-shou (sembunyikan hati, ulurkan tangan besi).” “Baiklah Hu Koko … Yan-xin-kuo-tie-shou.” Sambil

mengelak dari totokan-totokan Hoashan It-Mokiam, Li Fong berdiri tegak dengan sikap Jie-Di-Pu-Sa (Buddha mengelus

bumi) sepertinya ia mau menyambut totokan-totokan yang datang ke tiga jurusan itu dengan belaian. Sampai-sampai

Hoashan-It-Mokiam meleletkan lidah melihat keindahan gerakan yang semakin menonjolkan kecantikannya. Tentu saja ia

semakin girang karena mengira Li Fong menyambut dengan senang hati bagian dada, paha, dan lehernya disentuh olehnya.
Hatinya berdegup dan nafasnya memburuh kencang menahan gejolak hatinya yang tidak tertahankan. Seperti anjing yang

dicekik nafsu berahi, Tan Ci Hok bergerak menyambut belaian lembut dan mempesona itu. Tetapi itu berlangsung hanya

beberapa detik lamanya, karena pada detik selanjutnya tiba-tiba ia mendengar suara gesekan seperti batu tersayat oleh

benda yang luar-biasa tajam mengarah pada siku sebelah kirinya. Kejadiannnya berlangsung begitu cepat, ia ingin

menarik serangannya dan mencoba menangkis, tetapi ia jauh kalah cepat, karena tahu-tahu: “Cus … kreeek ….!!! Aduuuuhh

…..!!!” Ia mencelat dengan muka pucat pasih karena tangan kirinya tahu-tahu lumpuh sebatas siku. Ketika ia melirik ke

arah siku kirinya, ia melihat bekas dua telunjuk jari kecil tetapi menimbulkan bekas seperti dicetak oleh ahli tattoo

terkemuka.
“Shou …. zhang …. fo …. xiao ….To (Jurus buddha memotong pohon To), …. Ada hubungan apakah engkau dengan Pengemis

Tangan Kilat, pangeran Hsing Yi Tung …..???!!!” “Jangan menyebut-nyebut nama kongkongku dengan mulutmu yang kotor ….
Manusia semacam dirimu tidak memiliki harga, tidak memiliki bobot, jiwa dan tubuh sama-sama berbau busuk patut

dilenyapkan dari Wulin … bersiaplah untuk menanggung akibat dari perbuatanmu yang kutahu pasti banyak merusak kaum

wanita. Manusia jenis dirimulah inilah yang sangat kubenci … majulah !!!” “Keparat … perempuan jahanam … rasakan

Shou-qiang-zhang (telapak elmaut).” Hoashan-It-Mokiam dengan murka menyerang Li Fong dengan ilmu pedang tunggalnya

sambil melancarkan pukulan beracun Shou-qiang-zhang. Ilmu orang berambut jambrik ini memang tidak bisa dianggap

enteng. Ilmu pedang Hoashanbai benar-benar telah dikuasahi dengan matang dan semakin berbahaya karena ilmu ini telah

dicampur dengan ilmu-ilmu hitam dari berbagai aliran. Pedangnya mengkeluarkan suara mencicit-cicit dan bergerak cepat

membentuk hamparan sinar hitam yang berbau amis. Hampir segala lini telah dibungkus rapat dengan sinar pedangnya,

sehingga seekor lalatpun akan sulit untuk melepaskan diri dari kepungan pedang yang berubah berlapis-lapis saking

cepatnya digerakkan.
“Lihai … lihai … dan ganas sekali!!!” Li Fong mendesis sambil mengelak dari serangan.
Melihat cara bersilat Hoashan-It-Mokiam, Bailei Xin Bazhang menjadi sedikit lega.
Karena jelas sekali Li Fong dibuat hampir tidak berdaya bahkan tidak sempat untuk membalas serangan. Tetapi mana bisa

mata Bailei Xin Bazhang melihat apa yang sedang dilakukan oleh Li Fong. Sama sekali Li Fong tidak terdesak, melainkan

ia sedang memainkan Lao Fo Yikai Yun (Buddha Tua menghalau awan). gerakan tangan kanan seperti Buddha memberi berkat,

sedangkan tangan kirinya di taruh di dadanya.
Gerakannya sempoyongan seperti terdesak dan kewalahan.
Bailei Xin Bazhang tertawa terbahak-bahak.
“Mokiam … habisi gadis keparat itu … makin semakin cepat semakin baik.!! “Oho … sayang kalau dihabisi begitu saja …

sebentar ia akan menjadi milikku yang terkasih …. Ha… ha…ha… sungguh sangat beruntung aku hari ini!!!” Tian-Shi

-Xin-Mo (Malaikat berhati iblis) mendengus gusar mendengar ocehan Hoashan-It-Mokiam.
“Manusia bodoh … tidak berguna dan layak mampus …. tidak tahu jiwanya berada di ujung maut, masih ngoceh tidak

karuan. Hmm … Abhinava, aku berani bertaruh … tidak lebih dari sejurus lagi, manusia tidak tahu malu itu akan

mampus!!” Mata Abhinava berkilat-kilat menatap jalannya pertarungan. Hou jie (Jakun) pertapa Nepal ini bergerak

naik-turun seperti orang tersihir.
“Siapa bilang sejurus … Abhyudita, coba lihat! Bukankah ia sedang memainkan Lao Fo Yikai Yun (Buddha Tua menghalau

awan). Babo … babo … luar-biasa sempurna dan dasyat. Jauh lebih hebat dari si pengemis degil, Hsing Yi Tung. Iiih …

mampus sudah pengemis berambut jambrik itu!!!” Mata kedua pertapa Nepal itu memang lihai. Li Fong yang sedang

memainkan Lao Fo Yikai Yun terlihat seperti terkepung tidak berdaya. Tetapi, bagi mata kedua pertapa Nepal itu,

bukannya Li Fong yang terancam bahaya maut, melainkan Tan Ci Hok. Yang lebih celaka, ia terancam kematian, tetapi

tidak melihat, tidak menyadari, bahkan merasa berada di atas angin.
Tiba-tiba terdengar teriakan: “Aha ….!!!! Teriakan keras itu berasal dari mulut pertapa Nepal itu hampir bersamaan.
Seruan “aha” itu seperti harmoni dengan gerakan Li Fong. Sebab mendadak di tengah-tengah kepungan sinar pedang, Tan

Ci Hok merasa hawa halus runcing menusuk ke arah dadanya. Mula-mula berdiameter kecil saja seperti ujung sumpit,

tetapi dalam waktu cepat berubah menjadi gulungan tenaga sakti yang menghempas seperti angin topan menyapu awan. Ia

sangat panik saking terkejutnya karena hempasan pukulan Li Fong seperti tangan setan yang mengobrak-abrik isi

dadanya. Karuan permainan pedangnya menjadi kacau balau karena ia berusaha menutup dadanya dengan sabetan pedang.

Tetapi … sebelum pedang itu dapat berbuat sesuatu, hamparan pukulan Li Fong sudah mendarat di dadanya yang

mengakibatkan ia terjungkal dengan darah segar muncrat-muncrat.
“ayaaaa …. Huaaaaaak … ke..pa…rat… jahanam …. Huaaak!!!” Keadaan Tan Ci Hok sangat mengerikan. Dengan sempoyongan ia

berdiri, tangan kanan yang memegang pedang terhunus itu bergetar hebat. Darah meleleh deras dari mulutnya sehingga

membasahi baju depannya. Matanya melotot seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dengan nekad ia meraung

keras sambil menerjang Li Fong dengan dasyat: “Xue-yao, Ling-kei (darah dituntut, jiwa diserahkan) …. Serahkan

nyawamu !!!!” Ujung pedangnya bergetar-getar membentuk serangan menusuk kemudian melingkar-lingkar berupa sinar

kehitaman, sedangkan tangan kirinya digerakkan sekuatnya membentuk cakar beruang. Serangan nekad ini luar-biasa

berbahaya, karena seantero kekuatannya dikerahkan dengan tidak mempedulikan lagi mati atau hidupnya. Tujuannya hanya

satu: membunuh atau terbunuh.
“Hmm … ingin menuntut darahku sambil menyerahkan nyawa. Jurus bunuh-diri yang tidak bisa dianggap remeh … baik

kuterima pemberian nyawamu.” Li Fong berpikir cepat begitu melihat Ci Hok bermaksud mengadu nyawa.
“Fo-tan-zi-po-huai-Yun (Selimut Buddha mengacau awan) … !!!” Li Fong mendesis lirih sambil kembali tangan kirinya

bergerak lurus ke depan dan tangan kanannya melingkari leher bagian belakang. Pedang meluncur ke arah jantung dara

perkasa ini, sedangkan tangan kirinya menyusul ke arah ubunubunnya.
Li Fong menatap serangan itu tanpa berkedip bahkan tidak bergeser dari tempat di mana ia berdiri. Begitu jarak pedang

itu terpisah hanya satu guratan pedang dari dadanya, tiba-tiba tangan kirinya yang semula lurus ke depan bergerak

seperti menyongsong turunnya langit. Gerakan tangan kiri ini kacau-balau tetapi menimbulkan hawa panas yang

bergulung-gulung. Seketika serangan Tan Ci Hok terhenti di tengah jalan dan matanya tidak dapat dibuka karena arus

gelombang panas itu seperti sinar las listrik menyengat dari batas dadanya kemudian meluncur ke atas kepalanya.
Karuan saja ia menjadi gelagapan dan tidak dapat meneruskan serangan. Serangan bunuh-diri yang terhenti beberapa

detik sudah cukup bagi Li Fong untuk melayangkan jurus Fo-tan-zi-po-huai-Yun (Selimut Buddha mengacau awan). Tangan

kanannya yang melingkar di leher belakang tiba-tiba meluncur dengan gerakan luar-biasa aneh. Entah apa yang terjadi

tahu-tahu telapak tangan dara perkasa itu sudah bersarang di sekitar pelipis Tan Ci Hok.
“Ayaaa … Fo-tan-zi-po-huai-Yun … aduh … mati aku …. Ilmu itu sungguh indah, penuh rahasia dan kejutan, dan sangat

dasyat daya serangnya … Babo…babo … lihai sekali jurus itu … waaaaa … mampus sudah si Hoashan-It-Mokiam … sungguh

hebat … sungguh hebat … ha … ha…. Ha… dara perkasa … dara perkasa … akan sangat menyenangkan menjadi lawanku

bertarung.!!” Bersamaan dengan habisnya ucapan Abhyudita, salah seorang dari Tian-Shi Xin Mo (Malaikat berhati

iblis), tubuh Hoashan-It-Mokiam jatuh tersungkur di depan Li Fong tanpa sempat mengeluarkan jeritan. Di pelipis

kirinya terlihat hamparan biru kemerahan.
“Wah … sudah mampus?? Baru beberapa gebrakan sudah mampus … pengemis busuk tiada guna … ha…ha…ha… biar sekalian

mampus saja. Mana bisa pengemis buduk macam dirinya disejajarkan dengan jago sejati dari Hoashanbai. Ilmunya

secuilpun tidak dapat dibandingkan dengan si tua bangka Hong Ming Tosu. Ilmunya Bu Yidong Tu (pedang tanpa gerak)

sukar dipecahkan, gerakannya seperti siluman.
Seperti tidak bergerak, tetapi tahu-tahu sudah mencium leherku berkali-kali. Mana bisa pengemis degil ini

disendengkan dengan si Hong Ming Tosu … lebih baik mampus saja orang tiada guna seperti dirinya itu.” “Eeeh … gadis

gila, bukankah kau baru saja memainkan Fo-tan-zi-po-huai-Yun (Selimut Buddha mengacau awan), jurus ketujuh dari Lao

Fo Yikai Yun (Buddha Tua menghalau awan) … berani bertaruh mata Abhinava tidak pernah salah dalam melihat … he … he

…!!” Li Fong tidak menjawab pertanyaan Abhinava, walaupun sedetik ia dibuat terkejut melihat pertapa Nepal itu dapat

mengenal ilmunya hanya sekali melihat saja. Li Fong tidak menggubris Abhinava karena mata gadis perkasa ini sedang

memandang tajam ke arah Bailei Xin Bazhang yang sedang berbisik-bisik dengan seorang panglima pasukan Tar-tar. Dari

gerak-geriknya sepertinya ia sedang mengatur siasat licik.
Setelah itu, panglima bangsa Tar-tar itu bersiut nyaring … dalam waktu sekelebatan kuda, pasukan Tar-tar itu yang

berjumlah ratusan orang itu bergerak mendekat dengan formasi Fan zhuan shan, gun dong hu (membalik gunung, menggulung

danau). Seperti bayang-bayang iblis, pasukan Tar-tar dengan senjata telanjang bergerak cepat tanpa mengeluarkan

teriakan atau sepatah-kata. Keadaan begitu mencekam, sebab tidak sampai lima kelebatan kuda, lima pendekar itu sudah

terkepung dalam jarak yang relatif dekat.
“Formasi Fan zhuan shan, gun dong hu … aah … sute … kita tidak boleh binasa semua di tempat ini! Harus ada yang

selamat untuk menggalang gerakan pendekar melindungi negara dari rongrongan bangsa asing yang membonceng kekuatan

pasukan pangeran Zhu Wen Yang.” Laoshifu Lu Bing Couwsu tampak mengeluh.
Wajahnya diselimuti mendung.
“Suheng, hidup kita di tangan Thian … kalau Thian menghendaki kita binasa hari ini, di manapun kita berada, kita

pasti binasa. Tetapi apabila Thian tidak menghendakinya, bagaimanapun hebat formasi pasukan asing ini, tetap mereka

tidak akan sanggup merenggut nyawa kita.” Liang Ie Cinjin berkata lirih dengan mata yang mencorong tajam tanpa ada

tanda-tanda ketakutan maupun putus-asa.
“Sute, pandangan dan imanmu jauh lebih kuat dari yang kumiliki. Jauh-jauh pinto sudah mengetahui, sutelah yang lebih

cocok menyandang ketua Kunlunbai daripada pinto.” “Jiwi Lao shifu, silahkan keluar dari tempat ini, cayhe akan

mencoba membuka jalan darah!!” “Jian-Mian-Hu-Li, jangan membuang nyawa sia-sia … kita semua perlu keluar dengan

selamat dari kepungan pasukan Tar-tar itu … pasti ada jalan keluar ….
Pasti ada pertolongan … siancai…siancai!” Sementara itu, sehabis menamatkan riwayat hidup Hoashan It-Mokiam Tan Ci

Hok, Li Fong tersenyum sinis ke arah Bailei Xin Bazhang.
“Hmm … manusia rendah Bailei Xin Bazhang mau mengandalkan keroyokan pasukan asing untuk melenyapkan kami berlima … hm

… cobalah … kami setapakpun tidak akan mundur … !!!” “Eeit … eit …. Weleh … weleh … tahan dulu, tahan dulu … jangan

menganggu kesenangan Tian-Shi -Xin-Mo (Malaikat berhati iblis). Belum apa-apa … sudah mulai menggerakkan pasukan …

itu namanya goblok … ya … goblok …. !!!” Pertapa Nepal berjubah hitam, Abhinava, sambil ngomel-ngomel dan mata

melotot mendekat ke arah Bailei Xin Bazhang.
“Biar kami bertanding dulu dengan gadis gila itu … Enak saja main serobot serang.
Apa kamu menganggap Tian-Shi -Xin-Mo (Malaikat berhati iblis) dua orang gila yang sudah tidak becus apa-apa??” “Tapi

… tapi … Sadhu Abhinava (orang suci Abhinava) …. Bukan itu maksudnya, … tetapi kita harus membereskan

pentolan-pentolan pelindung kaisar Yongle secepat mungkin, kemudian kita bergabung dengan pasukan lain menggempur

pertahanan pasukan jendral Zhu-Da di istana Peking, demikian perintah Wang Thaikam.” “Oho … oho … biarkan gadis gila

itu bertarung melawanku dulu, sisanya … terserah apa maumu!!!” “Bedebah … main serobot … biar dia melayaniku dengan

ilmunya … !!” Abhyudita, si iblis putih, menyeletuk dengan tarikan muka tidak senang.” “Enak saja … ia harus

melawanku terlebih dahulu … ingin kulihat apakah ia sanggup menahan ilmu: hiule Dhaakeko pa’aaR (Bahasa Nepal: Salju

menutup pegunungan) . Hei Nona … apakah engkau berani melawan salah satu di antara kami berdua? Kalau memang engkau

punya nyali pilih saja aku, Abhyudita … tetapi, apabila ilmumu tidak tiga tingkat di atas si Gembel Busuk, Hsing Yi

Tung …. Hmmm …. Aku akan kecewa!!!!” “Abhyudita … tahan sebentar, gadis itu harus mencoba ilmuku: aadile rukh Dhalyo

(Bahasa Nepal: Badai merontokkan daun-daun) terlebih dahulu … tapi … eeh Nona muda, apakah ilmumu lebih tinggi dari

si Gembel Busuk, Hsing Yi Tung?” Panas perut Li Fong mendengar Kongkongnya di panggil si Gembel Busuk. Sekali

berkelebat, darah sakti berbaju merah ini sudah berdiri tegak berhadapan dengan Tian-Shi -Xin-Mo (Malaikat berhati

iblis), Abhyudita dan Abhinava.
“Tian-Shi-Xin-Mo, majulah kalian berdua … jangan dikira aku, cucu Hsing Yi Tung, yang kalian panggil si Gembel Busuk

gentar menghadapi segala macam resi tua dari Nepal. Risiharu guphaamaa basera tapassyaa garthe (Bahasa Nepal:

seharusnya seorang Resi tinggal di goa-goa pertapaan dan merenungkan kebajikan), eeeh … kalian sebaliknya, justru

membantu penjahat-penjahat bermoral rendah seperti Srigala tua Wang Hong Sen dan Bu-Di-San-Mowang. Majulah …!!!”

“Weleh …weleh … gadis sombong, sembarangan ngomong. Siapkah membantu dan siapakah dibantu? Ho … ho … betulkah engkau

menghendaki kami maju berdua? Hmm … kalau engkau dapat melayani kami barang enampuluh jurus … babo … babo … aku si

tua bangka, matipun itu lebih menyenangkan …. Abhinava ayolah!!!” Sehabis berkata demikian, kedua pertapa itu sudah

melayang ringan dengan kecepatan yang bukan main. Gerakannnya membawa dua kekuatan yang berbeda sifat. Dari arah

samping kiri, Abhinava melayangkan ilmunya yang sangat terkenal di daerah Nepal, Tibet, sampai India, yaitu hiule

Dhaakeko pa’aaR (Bahasa Nepal: Salju menutup pegunungan). Tubuhnya seperti bumi yang berputar pada porosnya cepat

sekali sambil mengelilingi Abhyudita. Benar-benar hebat ilmu pertapa Nepal yang satu ini.
Tubuh yang sedang berputar cepat itu dalam tempo singkat telah terbungkus oleh salju bercampur es membentuk angin

puting beliung, dingin, dan membekuhkan segala hal. Gelombang angin dingin ini melebar mencapai diameter limabelas

kaki. Karuan saja, prajurit-prajurit yang kebetulan berdiri tidak jauh dari radius angin dingin itu seketika menjerit

dan mati seketika dengan tubuh kaku kebiruan.
“Aaah …. Menjauh dari pertempuran !!!! Cepat … cepat …. !!!!” Bailei Xin Bazhang berteriak-teriak dalam bahasa

Tar-tar . Ia sendiri sudah mencelat ke belakang menjauhi pertempuran itu.
Sementara itu dari dalam angin dingin itu, Abhyudita juga tidak tinggal diam.
Ilmunya yang paling dasyat: : aadile rukh Dhalyo (Bahasa Nepal: Badai merontokkan daun-daun). Dari arah tubuh yang

dikelilingi oleh salju itu, menceruak sinar-sinar kuning mengkilat. Apa saja yang tersentuh sinar ini, akan rontok

seperti terkelupas dari tempatnya.
Shi De Hu tertegun melihat ilmu aneh yang dilancarkan oleh kedua pertapa Nepal itu. Sejenak jantungnya berdebar

kencang. Ia merasakan kehebatan daya lebur kedua ilmu sejati pertapa sakti itu. Sungguhpun demikian ia tidak berani

turun tangan sebelum melihat tanda-tanda Li Fong terancam bencana. Ia mengetahui persis sifat Li Fong, oleh sebab itu

ia berdiam diri, tetapi diam-diam ia telah menggerakkan hawa mujijat Shenlong-Qiangxing-Kongmen (Dewa naga mendobrak

pintu kehampaan) lebih dari separohnya untuk menolong Li Fong apabila dibutuhkan.
Li Fong terkesiap, tetapi ia tidak berani ayal, segera ia memainkan ilmunya Fo Bo bao Feng Yu (Buddha menabur hujan

badai), salah satu dari tiga ilmu pamungkas Telapak Buddha. Kedua tangannya yang bertemu persis di depan dadanya

mengarah lurus ke langit. Sekedipan mata kemudian, Li Fong menundukkan kepalanya seperti orang sedang memberi hormat

kepada alam semesta.
Dan pada waktu itu, serangan kedua pertapa itu sudah berjarak satu tombak dengan dirinya. Tiba-tiba, dengan gerakan

tidak dapat di kuti dengan pandangan mata, Li Fong sudah melayang menyongsong serangan itu dengan posisi tidak

berubah tetapi berputar cepat sekali. tubuhnya seperti Buddha melayang sambil melingkar.
“Hiaaaat …..!!!!!!” Dari dalam gerakan yang seperti Buddha melayang sambil melingkar itu menyeruak serangkum tenaga

mujijat yang hampir tidak menimbulkan bunyi saking terpusatnya hawa sakti dari ilmu ini. Tetapi begitu kedua tubuh

ketiga orang ini sudah melebur menjadi satu, sekonyong-konyong terdengar bunyi benturan yang maha hebat di udara.
“BLAAAAAAARRRRRRRRRRRRR!!!!!!” “Hiiiaaaaatt!!!” Terdengar suara kedua pertapa itu seperti menyambut.
Kembali terjadi benturan dua-kali lebih kuat dari yang pertapa “BLAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!!!!” Pohon-pohon

tumbang bahkan ada yabng terbelah-belah. Potongan-potongan sebesar kepala kerbau terlempar dan daya luncur yang

luar-biasa hebat ke segala penjuru mata angin. Tidak ampun lagi mereka yang ilmu silatnya setengah-setengah menjadi

korban.
Keadaan menjadi kacau balau.
“Aduh … aaah….aaah… ngok!!” Jeritan kematian tidak dapat dihindarkan terjadi di kalangan prajurit Tar-tar.
“Aduh celaka … mereka menggerakkan ilmu siluman ………. Minggii r … menjauuuuh…” Seru seorang panglima perang Tar-tar.
Seperti ada tangan raksasa yang melayang jatuh dari langit dan menggempur bumi dengan luar-biasa dasyat. Tanah di

sekitarnya menjadi porak-poranda seperti dihantam badai dari atas dan membentuk seperti corong tengkurap, lebar dan

dalam – inilah akibat dari pengerahan Fo Bo bao Feng Yu (Buddha menabur hujan badai) yang sudah mencapai titik

leburnya.
Beberapa saat kemudian, suasana menjadi sepi.
Semua yang berkumpul di tempat ini menjadi terkejut, karena tempat di mana terjadi pertempuran itu sudah berlubang

besar. Ketika mereka melihat ke bawah, tampak Li Fong berdiri masih dengan posisi yang sama, tetapi pita merah yang

mengikat rambutnya terlepas entah kemana, sehingga rambut dara sakti ini terurai dan berkibar-kibar. Pada dahinya

terdepat tiga mutiara bening menetes perlahan, kedua pipinya merah seperti delima. Matanya mencorong tajam sekali

membuat siapa saja tidak tahan menatap sepasang mata indah itu. Dua tombak dari dirinya, Abhyudita dan Abhinava

berdiri berhadapan dengan sepasang mata mencorong bagaikan mata harimau. Kedua wajahnya dibasahi oleh keringat.
“Ayaa…engkau cucu si Gembel Busuk, ternyata ilmu jauh lebih hebat dari dia!!” “Aku tidak kecewa … aku tidak

kecewa…!!” Sehabis berkata demikian, kedua orang itu menahan kedua dadanya dan mukanya tampak menahan nyeri yang

hebat.
“Jiwi memiliki ilmu yang sangat hebat, boanpwe (aku yang rendah) kagum ….maafkan, apakah jiwi masih ingin melanjutkan

pertempuran yang tiada guna ini?” “Tiada guna … ha … ha … ha … engkau mengira pertempuran ini tiada guna? … engkau

keliru … engkau keliru bocah sakti … justru pertempuran inilah yang akan menyempurnakan kedua ilmu-ilmu kami berdua.”

“Maafkan, aku tidak mengerti!!!” “He … he … he … engkau tidak mengerti … mungkin tiga atau empat tahun lagi baru

engkau akan mengerti. Sekarang kami pergi ….!” “Abhinava tunggu sebentar!!” Seru Abhyudita sebelum si Iblis putih

melayang pergi “Aku mempunyai pesan: Berhati-hatilah dengan Budi-san-Wang … ilmu ketiga iblis itu sudah meningkat

jauh. Satu saja di antara mereka, sukar untuk dilawan. Di dunia ini, mungkin hanya si Singa Pencabut Nyawa Wang Hong

Sen yang sanggup melawan mereka. Tetapi apabila mereka maju bertiga, aku tidak yakin Wang Hong Sen dapat mengatasinya

… sekali lagi, berhati-hatilah.” Sehabis berkata demikian, kedua pertapa Nepal itu berlayang naik dan bermaksud

meninggalkan tempat itu dengan cepat. Tetapi belum sempat mereka pergi, sekonyong-konyong dari dalam hutan terdengar

suara melengking nyaring.
“Tahan langkahmu … Tian-Shi -Xin-Mo (Malaikat berhati iblis) …!!” Suara itu nyaring mendirikan bulu roma, dingin,

seperti burung hantu di tengah malam. Beberapa saat kemudian, tempat itu dipenuhi oleh aroma bunga yang tajam.
“Budi San-Mowang …aaah…!!!!” Kedua pertapa Nepal terhenti langkahnya Begitu mencium bau bunga itu, yang tidak lain

adalah bunga Siang, Shi De Hu seketika bereaksi. Hawa sakti berdesir-desir dengan dasyat dan cepat. Hawa amarah

memenuhi dadanya, yang mengakibatkan hampir saja hawa sakti Shenlong-Qiangxing-Kongmen (Dewa naga mendobrak pintu

kehampaan) menjadi liar. Sinar mata pemuda ini mencorong sangat tajam bagaikan Naga Murka.
“Lan … Wu … Kui … (Iblis Halimun Biru) … pembunuh shifu ….!!!” “Tian-Shi -Xin-Mo (Malaikat berhati iblis) … apakah

engkau dua pertapa tidak tahu malu lagi, sudah berjanji kini akan mengingkarinya?? Bukankah engkau akan bergabung

dengan Budi San-Mowang apabila ada seorang jagao Tionggoan berhasil menahan kedua ilmu gabungan itu? Bukankah hari

ini engkau menjadi pecundang gadis muda yang belum punya nama di Wulin? Ho … ho … kita akan menjadi Budi Wu-Mowang

(Lima Iblis Tanpa Tanding) dan bukan lagi Budi San- Mowang.” Suara kedua itu kasar, tetapi mengandung kekuatan

khiekang dan sinkang yang bukan main. Perbawanya hebat sekali, membuat jantung seperti digedor.
Tidak sampai seteguk the, tiba-tiba di tempat itu sudah berdiri tiga manusia yang luar-biasa perawakan dan

penampilannya. Inilah: BU-DI-SAN-MOWANG Shi De Hu sudah tidak dapat bertahan lagi, hawa mujijat Shenlong-Qiangxing-

Kongmen sudah menguasahinya. Kini matanya benar-benar mencorong luar-biasa tajam. Dengan mengerahkan tenaga sakti

ini, ia bermaksud menyongsong ketiga manusia iblis itu. Tetapi ia menjadi terkejut, karena ia tidak kuasa

menggerakkan tubuhnya, bahkan hawa sakti Shenlong-Qiangxing-Kongmen seperti tunduk di bawah pengaruh tangan yang

menahan bahu kirinya yang buntung. Ketika ia menoleh, ia melihat seorang pemuda berbaju putih sederhana dan seorang

gadis cantik-jelita berdiri persisi di belakangnya.
“Jing Di … Aaaah … kau!!”.
BAB 30: BERTEMUNYA MUSUH BEBUYUTAN.
De Hu dibuat terkejut bukan kepalang, karena ia melihat sorot mata Yang Jing mencorong begitu tajam, dalam, dan penuh

wibawa. Memiliki daya magis yang begitu lembut sehingga gerakan Shenlong-Qiangxing-Kongmen yang meletup-letup karena

pengaruh hawa amarah di dadanya mendekam. Seperti naga sakti mendekam di depan tuannya. Inilah luar-biasa, karena

hampir tidak ada seorang ahli silat dari manapun tercatat dalam sejarah dunia persilatan yang sanggup menundukkan

kehebatan Xing Long guan Shandong Quan (naga sakti membuka goa), yang sangat ditakuti oleh mendiang Chu Jung, nenek

moyang si Iblis Biru Chu Dung Lin, apalagi Shenlong-Qiangxing-Kongmen, ilmu silat maha tinggi ciptaan dua dedengkot

Wulin: Zhang San Feng dan Shi Kuang Ming.
Sejenak De Hu tidak sanggup berkata apa-apa, hanya memandang Tianpin-Er seperti orang tersihir. Akhirnya dengan

menarik nafas panjang ia berkata: “Jing Di … aku harus membinasakan Lan-Wu-Kui Chu Dung Lin … kalau tidak hari ini

kapan lagi, ini merupakan panggilan hidup dan kewajibanku sebagai murid Tienshanbai … Jing Di …. Aku harus membuat

perhitungan dengan iblis itu … harus … harus …!!!!!” “Hu Ko … aku mengerti perasaanmu. Tetapi … hendaklah jangan

menggerahkan ilmu kedua Taishifu (Maha Guru) Zhang San Feng dan Shi Kuang Ming berdasarkan hawa amarah. Kedua ilmu

yang telah digabungkan menjadi ilmu putih yang hebat bukan main itu akan menjadi ilmu iblis yang mengerikan dan sulit

untuk ditanggulangi apabila kekuasaan angkara murka membelenggu jiwa dan pikiran Hu Ko.” “Jing Di … kau benar … aah

aku sampai lupa pesan Lie Pek-pek soal ini. Terus bagaimana aku bisa menempur iblis itu dengan hati tanpa dendam dan

amarah?” “Hu Ko jadikan Nengyuan sebagai Wu-chi Chiao-Yu (seorang komandan yang ditempatkan di garis terdepan) untuk

memimpin tenaga mujijat Shenlong-Qiangxing- Kongmen ke puncak kehebatannya. Sembunyikan Nu-Huo (amarah) di balik Tao-

Chi (mencuri gerakan dari sesuatu yang tidak tampak), kedepankan Nengyuan yang tersembunyi di dalam Chi yang tidak

kelihatan, direntangkan menjadi energi maut yang bergerak seperti Ts’ai-yin pu-yang (menangkap Ying mengisi kembali

Yang) – Inilah intisari Xin-yin-liu-he-quan. Dengan demikian, Nu-Huo tidak menguashi hati Hu Koko.” “Aha … engkau

hebat adikku … aku mengerti maksudmu.” Sehabis berkata demikian, De Hu dengan sinar mata berkilat berseru: “Lan Wukui

Chu Dunglin …. ….. ….. …… !!!!! Suara De Hu yang dikerahkan khiekang yang luar-biasa dasyat langsung menusuk

pendengaran Si Iblis Biru yang sedang berdiri bagaikan iblis bangkit dari kubur.
Seketika ia melesat bagai kilat, dan tahu-tahu sudah berdiri di depan De Hu dengan sikap yang menakutkan.
“Bocah bosan hidup … siapakah kau … apakah kau memiliki sesuatu yang kau andalkan, sehingga berani berkoar di depan

Lan-Wu-Kui ?? !! Suara Si Iblis biru ini benar-benar serem, dan orang dapat merasakan hawa kematian tersiar seolah

menjadi bayangan tetap dimana iblis ini berada. Tangan elmaut sudah terasa, begitu dingin dan menggiriskan hati. Mata

yang bersinar biru tua dari balik cadar biru yang dipakainya membuat ia betul-betul seperti siluman yang membawa

kematian.
“Lan-Wu-Kui dengarlah, Apakah engkau masih punya nyali untuk memburuh dan membinasakan semua penerus pendekar sakti

Shi Kuang Ming …..!!!” suara De Hu dingin, datar, tetapi berwibawa.
“RUAAAAARRRRRR … pemuda keparat … berani benar engkau berbicara lancang seperti itu!!!!” Lan Wu Kui melolong seperti

setan yang tertikam tengkuknya, memiluhkan, seperti roh penasaran yang tersayat-sayat nasibnya.
“Ruuaaaarrr ….. sebelum kuhabisi nyawamu … !!!! sebelum kuhirup darahmu …. !!!! katakan siapa dan dimana penerus Shi

Kuang Ming?” “Engkau telah membunuh shifuku, Shi De Yuan …. Kalau aku membiarkanmu tetap hidup, aku, Shi De Hu tidak

pantas menjadi manusia lagi. Akulah penerus pendekar Besar Shi Kuang Ming sekaligus maha guru Zhang San Feng …. Nah,

lakukan apa maumu??” “Ha …. Ha … ha … huk …huk…. Ruaaaaaaaaaaaaar …. Penerus Shi Kuang Ming dan Zhang San Feng …

bagus … bagus …. Mampuslah!!!!!” Dengan suara seperti tangisan yang menggiriskan sanubari, Lan Wu Kui meraung marah.
Seketika arena itu dipenuhi dengan aroma bunga Siang tajam dan mengandung daya pembius yang kuat ketika Lan Wu Kui

mulai menggerakkan ilmunya. Jauh-jauh para prajurit Tartar sudah mengetahu apa yang akan terjadi apabila si Iblis

Biru ini beraksi. Entah sejak kapan mereka sudah mengenahkan penutup mulut dan telinga dengan sebuah masker yang

terbuat dari lapisan halus binatang laut sejenis uburubur yang dikeringkan.
Lan Wu Kui melesat sambil mengirimkan serangan yang dasyatnya bukan alangkepalang.
Rupanya iblis ini telah memperdalam ilmunya selama ini sehingga mencapai tingkat yang jauh sekali dibandingkan dengan

tiga tahun yang lalu.
“Lan-Wu-Duan-Dong-Mai (Halimun biru mendobrak jalan darah) …. !!!!!!! Ia melakukan gerakan yang aneh sekali, karena

ia seperti membiarkan tubuhnya digeluti oleh halimun biru yang jauh-jauh sudah menjadi selubung di seketar ia

berdiri. Dalam beberapa detik kemudian, terdengar suara seperti angin bertiup dari lubang kecil yang ke atas, tetapi

tiba-tiba berbalik turun sambil mengirimkan serangan yang hebat bukan main.
Terdengar suara “srat … srat … srat” yang susul-menyusul dengan daya pemusnah yang sulit diduga kekuatannya. Terlihat

halus, tetapi orang yang terserempet hawanya saja, kulitnya tersayat-sayat dan mengeluarkan darah kebiru-biruan.
Melihat serangan telengas dan ganas ini, De Hu tidak berani ayal lagi, ia segera melakukan Cang- Long-Wo-Hu (Naga

bersembunyi, harimau mendekam) sambil mengerahkan ilmu Tienshan Mizong Quan (Jurus mengacau awan dari Tienshan).
Ilmu ini telah menjadi ciri khas yang membedakan Shi De Hu dengan enam pendekar Tienshan lainnya. Tetapi tingkat dan

keistimewaan ilmu ini sudah berubah jauh sekali dibandingkan dengan tiga tahun lalu.
“Sembunyikan Nu-Huo … kedepankan Nengyuan yang tersembunyi di dalam Chi … seperti Ts’ai-yin pu-yang (menangkap Ying

mengisi kembali Yang) …” De Hu setengah berbisik mengulang inti pokok Xin-yin-liu-he-quan, untuk mengendalikan hawa

mujijat yang berderas cepat, berlapis-lapis di sekitar Dian-tan terus menyeruat menyatu dalam satu wujud. Inilah hawa

sakti dari ilmu Shenlong-Qiangxing-Kongmen yang telah mencapai puncak kehebatannya.
Dengan sigap De Hu menyambut serangan Lan-Wu-Kui dengan tangan kanan terbuka. Lengan jubah panjang yang menutup

tangan kirinya yang buntung bergulung-gulung di udara mengeluarkan deburan-deburan suara yang menghebohkan. Sedangkan

tangan kanannya terbuka lebar menyambut serangan lawannya. Tidak dapat dicegah lagi, terjadi pertemuan dua tenaga

sakti.
“BLAAAAAAARRRR …. ….. PLAAK … PLAAAK … DEEEES!!!!!!” Luar-biasa akibatnya, tempat disekitar pertempuran menjadi

porak-poranda. Daundaun dan cabang-cabang pohon berhamburan kemana-mana tidak tahan menahan benturan dua tenaga sakti

itu. Lan-Wu-Kui terpelanting sampai dua tombak lebih sedangkan De Hu terdorong dua langkah. Ia tidak terluka, tetapi

isi dadanya terguncang hebat. Diam-diam ia mengakui, Lan-Wu-Kui bukan sembarang orang.
Lan-Wu-Kui menatap De Hu dengan mata setengah terpejam. Ia terkejut melihat pemuda buntung itu dapat menahan

serangannya tanpa terluka sedikitpun bahkan dapat membuatnya terpelanting. Ini hebat!! “Hmm … sinkang dari Xing Long

guan Shandong Quan (naga sakti membuka goa) … Pemuda ini telah menguasahi ilmu silat Shi Kuang Ming. Babo … babo …

babo … Pemuda ini seperti penjelmaan Shi Kuang Ming sendiri …. Bangsat..!!!! Ia harus kulenyapkan … apabila tidak, ia

akan menjadi duri yang berbahaya.” Lan Wu Kui berkata sendiri. Dengan geram ia menerjang lagi.
“LAN-WU JIE-XUE …. Halimun biru membekukan darah ….!!!!!!!!!” Melihat serangan yang didahului oleh hempasan gelombang

berwarna biru … dingin … membekukan, De Hu tidak berani main-main, sebab sinar biru itu berwujud benda-benda runcing

yang memiliki daya serang yang menggiriskan.
“Xin-Long-Bai-Wei … naga sakti mengelebatkan ekor ….!!!” De Hu menyambut sambil berkata lirih.
Kaki kiri De Hu menjulur lurus rata dengan tanah, sedangkan kaki kanannya ditekuk sedemikian rupa dengan jarak dua

dim dari dahinya. Matanya mencorong penuh hawa sakti. Dalam waktu sekedipan mata saja, Naga Sakti Lengan Tunggal ini

sudah melejit seperti seekor naga menangkap gulungan-gulungan es di puncak Kunlun.
“Plaaak …. Bleeees …hiaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttt…..!!!!” Kini pertempuran berubah menjadi ketat dan keduanya berubah

menjadi bayangan yang saling kejar, gigit, dorong, dan makin lama makin cepat. Benturan tenaga sakti tingkat tinggi

beradu dan menimbulkan getaran-getaran yang dapat menghancurkan apa saja yang dekat dengan medan pertempuran. Makin

lama, mereka semakin menjauh dari tempat itu.
Xin-Long-Bai-Wei yang terdiri dari tujuh Bing-Tuan dengan seratus satu satu jurus itu adalah sayap kiri Xing Long

guan Shandong Quan (naga sakti membuka goa).
Pendekar besar Shi Kuang mIng tidak menyebut tujuh jurus tetapi tujuh bing-tuan (semacam formasi perang yang

dilakukan oleh banyak prajurit). Memang tepat, kerena Gerakan De Hu lebih mirip dengan pasukan naga sakti yang

melejit-lejit dengan kekuatan serangan yang bukan alang-kepalang dasyatnya. Hebat bukan main!! Tubuh De Hu sebentar

kelihatan di udara, tetapi tiba-tiba menghilang dari hadapan mata karena daya lejitnya bukan main cepatnya. Tahu-tahu

ia sudah mendekam di tempat yang berbeda-beda sehingga sukar diduga kemana arah serangan si Naga Sakti ini.
Sedangkan LAN-WU JIE-XUE yang dikerahkan oleh si Bilis Biru adalah sayap kanan ilmu Lan Wu Po Huai Gu Ge (Halimun

biru menghancurkan tulang). Akhirakhir ini, setelah menjadi salah satu pentolan Budi-San-Mowang, ia berlatih keras

untuk menutup kelemahan-kelemahan yang ditinggalkan oleh Chu Jung serta meningkatkan Xi-Sinkang (Sinkang yang berdaya

sedop), sekaligus mewujudkan motifnya untuk menjadi orang nomer satu mengalahkan kedua rekannya. Ia berhasil membawa

ilmu iblis yang pernah sangat ditakuti oleh kalangan persilatan ini pada tingkat pamungkas.
Setiap tahun, ketiga iblis ini selalu mengadakan pibu untuk mengukur kepandaian masing-masing. Hampir tiga hari tiga

malam mereka bertempur, hampir terlihat bahwa dalam hal tenaga sakti Sima Dekun unggul sedikit dibandingkan dengan

Lan-Wu-Kui dan Wan-Shou Hwesio (Paderi tangan seribu).
Tetapi soal kecepatan dan keganasan ilmu, Lan-Wu-Kui masih setingkat lebih tinggi dari Sima Dekun dan Wan-Shou Hwesio

(Paderi tangan seribu).
Tidak mengherankan, ketika dua ilmu ini bertemu seperti bertemunya naga sakti dengan siluman ular dari puncak

Chomolungma atau Sagarmatha. Dasyat, mengerikan, dan mendirikan bulu-roma. Hawa beracun biru menderu-deru membuat

radius tiga tombak udara di sekitarnya seperti berada di istana pulau es. Memang ilmu ini diciptakan oleh dedengkot

iblis, Chu Jung, di puncak Sagarmatha (Mount Everest). Sebuah ilmu iblis yang terdiri dari sembilan Mi-Ma-Quan (Jurus

Rahasia) dengan sembilan puluh empat jurus yang semuanya mengandung hawa maut yang mematikan. Tujuh rahasia titik

jalan darah maut menjadi incaran ilmu ini. Jangankan terkena langsung gempuran ilmu ini, tersengat hawanya saja,

pesilat kelas atas dapat seketika roboh binasa dengan darah membeku dan berubah menjadi biru tua.
Pertarungan maha dasyat ini membuat prajurit Tartar dan kaum pendekar semakin mundur menjauh. Semua mata terbelalak

menatap jalan pertempuran itu. De Hu yang sedang memainkan Xin-Long-Bai-Wei bersilat begitu luar-biasa hebat.
Gempuran Lan-Wu-Jie-Xue seperti bertemu dengan moncong naga sakti yang sekali telan amblas tidak berbekas. Seketika

sepasang mata di balik topeng tengkorak itu berkilat-kilat dan berubah menjadi semakin biru. Sebentar-bentar ia

mendengus sambil melancarakan jurus demi jurus ilmu Lan-Wu-Jie-Xue.
“Huuui …. Hui …. Hui ….!!!” Terdengar lengkingan seperti tangisan iblis kubur keluar dari kerongkongan si Iblis biru

ini. Ini pertanda bahwa ia sudah marah sekali.
Hawa saktinya mulai tersalur merata di seluruh sendi-sendi gerakan silatnya. Ia menambah kekuatan hawa sakti beracun

lebih dari delapan per sembilan bagian.
Kini awan biru tua seluruhnya berkumpul di kedua lengan, dan kakinya.
“Hmm … Lan-Wu-Kui sepertinya menyimpan ilmu pamungkasnya … ia menunggu saat yang tepat. Iblis ini semakin dasyat

ilmunya dan semakin beracun saja. Sekali lengah, tamatlah riwayatku…!!” De Hu berpikir.
“Pendekar Tienshan, engkau harus mampus …. Darahmulah ynag akan memuaskan arwah nenak moyang keluarga Chu … !!!!”

Sementara itu, Sima Dekun dan Wan-Shou Hwesio (Paderi tangan seribu) ngomelngomel tidak karuan: “Manusia gila …

manusia edan … meladeni anak muda dalam situasi seperti ini.
Jika bertanding terus seperti ini, sampai tiga hari tiga malam juga tidak akan selesai karena jelas sekali kekuatan

pemuda buntung itu tidak di bawah Dunglin.” “Wan Shou, kita tidak memiliki banyak waktu, si Tua itu sudah berangkat

ke istana Peking, ayo kita habisi pemuda buntung itu. Suruh panglima tolol itu menyerbu dengan pasukan.” Baru selesai

berbicara, Sima Dekun dan Wan-shou Hwesio langsung menyerbu ke medan pertempuran.
“Curang … !!!!” Li Fong dan Lie Sian menjerit hampir berbareng. Li Fong melesat cepat sampai mengirimkan pukulan.

Sedangkan Lie Sian langkahnya tertahan, karena tangan Yang Jing sudah menahan bahunya, sehingga ia tidak jadi

menyerbu.
“Lie Sian Mei-mei …tahan sebentar, coba lihat, pemuda yang bersenjata pecut itu juga turut membantu Hu Ko.” “Hu Di …

aku datang !!!!” Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu) dengan cepat turut menyambut serangan Sima Dekun dan Wan-Shou

Hwesio.
“Plaaak … Des …ougggggh!!!!” Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu) yang kebetulan menyambut serangan Sima Dekun, entah

apa yang terjadi, sebelum serangan mendarat, tiba-tiba ia seperti menghantam dinding karet yang tebal yang

mengeluarkan daya tolak yang sepadan dengan kekuatan gempuran yang ia lancarkan. Tidak dapat dicegah lagi tubuhnya

melayang seperti daun kering dengan darah muncrat-muncrat keluar dari mulutnya.
“Aaah ….!!!” Isi dadanya tergempur hebat sekali oleh kekuatan balik yang timbul dari hawa sakti Sima Dekun yang

luar-biasa dasyat. Sebelum semua orang tahu apa yang terjadi, tahu-tahu sesosok tubuh melayang dan menyambut tubuh

Jian-Mian-Hu-Li (Rase Muka Seribu) yang meluncur deras ke arah batu besar yang terbungkus lumut berwarna hitam.
“Aah … E-Qiangjie (jubah buaya) yang mujijat …. !!” Yang Jing berkata lirih sambil memeriksa keadaan

Jian-Mian-Hu-Li.” “Isi dadanya terguncang sangat hebat … Hmmm … E-Qiangjie … apakah tokoh nomer satu Budi-San-Mowang

itu paman Sima Dekun? Sebab, menurut Kongkong hanya paman Sima Dekun seorang yang berhasil menguasahi ilmu itu.” Yang

Jing segera menotok jalan darah penting di sekitar dada Jian-Mian-Hu-Li.
Muka pemuda yang tertutup oleh topeng tipis itu tampak mengeluarkan keringat sebesar kacang.
“Twako … bagaimana keadaanmu?” “Tianpin-Er … terima kasih, kukira aku tidak apa-apa, hanya dadaku terasa sesak akibat

ilmu aneh Sima Dekun.” “Twako … apakah twako yang berjuluk Jian-Mian-Hu-Li?” “Hmm …” Jian-Mian-Hu-Li menganggukkan

kepalanya.
“Twako … Enciku berpesan agar twako dapat menyusul enciku ke kota raja Peking, ia berada bersama dengan Jendral Gan

Bing.” “Tianpin-Er … siapakah encimu itu?” “Twako mengenalnya sebagai Lie Chuang Mu …” Mendengar nama Lie Chuang Mu

disebut, seketika Jian-Mian-Hu-Li bagnkit berdiri sambil menatap Yang Jing lekat-lekat.
“Tianpin-Er, demi Thian … katakan, apakah dia masih hidup? Dimanakah kamu bertemu? Bagaimanakah keadaannya? Ada

hubungan apakah engkau dengan dia?” Yang Jing tersenyum menghadapi hujan pertanyaan Jian-Mian-Hu-Li.
“Twako … ia sehat-sehat saja. Ia enci kandungku … twako pergilah ke istana Peking, karena tenagamu dibutuhkan di

sana.” “Tetapi aku tidak bisa membiarkan De Hu bertempur sendirian … !!!” “Percayalah Hu Koko tidak akan kalah … !!!”

“Tianpin-Er … namamu bukan nama kosong … berhati-hatilah dengan suhengku Zhu Wen Yang, karena ia menaruh dendam yang

aneh terhadap dirimu. Aku pergi dulu…!!!” Kita mundur sepeminuman teh ke belakang. Li Fong menyambut serangan Wan-

Shou Hwesio dengan tangan kirinya sambil menggerakan salah jurus Telapak Buddha yang disebut: Feng-Yun-Duan-Di (Angin

dan awan merobek bumi).
Serangan ini sepertinya lembut, tetapi begitu berjumpa dengan sepasang tangan yang berbuluh lebat, tangan paderi

tangan seribu, akibatnya hebat sekali: “Hiaaat …. BLAAAAAR …..!!!!” Li Fong tidak berhenti di situ, ia juga

menggerakkan tangan kanannya menghantam gempuran Sima Dekun yang sudah meluncur dekat dengan punggung belakang De Hu.
“Manusia curang rasakan …. Hiaaaaaat ….. Des ….. ayaaaaaa!!!!!” Dekun dan Wan-Shou Hwesio sama-sama terkejut, ketika

seorang gadis luar-biasa jelita berdiri tegak dengan sinar mata berbinar-binar mengeluarkan cahaya berkilat.
Wajah jelita itu berhiasa senyum yang bukan main manis dan indahnya membuat Wan-Shou Hwesio yang gila nafsu itu

bergetar-getar jiwanya.
“Phui … mengandalkan … Feng-Yun-Duan-Di (Angin dan awan merobek bumi) ciptaan si Guci sakti Wang Ming Mien untuk

menahan Budi-San-Mowang … ha… ha…ha… tidak jelek … sungguh tidak jelek … he …he… sayang waktunya tidak tepat!!!”

“Dekun … jangan keburu-buruh … yang seperti ini, pinto tidak pernah berjumpa … bagaimana pinto bisa membiarkannya

lewat begitu saja?” “Jangan banyak cerewet … nafsumu yang seperti kerbau gila ditahan dulu, urusan kota-raja Peking

jauh lebih penting, ayo …. Itu coba dengan seruling si tua sudah melengkinglengking memanggil!!!” “Dunglin … lainkali

dilanjutkan, ayo kita pergi!!!!” “Babo … babo … keparat …. !!!!” Begitu selesai berbicara, Budi-San-Mowang secara

serempak menyerang De Hu dengan kecepatan, gempuran, dan tenaga yang tiga kali lebih hebat dari serangan solo si

Iblis Biru. Li Fong menjerit.
“Hu Koko … PU-SHA-CHENG-LONG-BA-DI (Buddha menunggang naga menahan bumi)….!!!” Seketika De Hu mendekam dengan posisi

tubuh sejajar dengan tanah, sedangkan Li Fong berdiri dengan separoh kaki kirinya mengarah ke langit. Kedua tangannya

menjulur ke depan.
“PU-SHA-CHENG-LONG-BA-DI …… !!!” “SAN-MOWANG-ZHENG-DI (Tiga iblis menaklukan bumi …. !!!!” Bumi seakan-akan

terguncang begitu kedua ilmu yang dikerahkan oleh lima manusia sakti bertemu. Terjadi ledakan yang luar-biasa dasyat.
“BLAAAAAARRRR …..!!!!!!!!!!!” Seketika tempat itu dipenuhi oleh batu-batu yang bertebaran ke mana-mana dan

menimbulkan gulungan debu yang menjulang ke atas tingginya lebih dari tujuh kaki dari permukaan tanah. Beberapa saat

kemudian, suasan menjadi sunyi …De Hu dan Li Fong masih pada posisi yang sama, tetapi tampak kaki De Hu amblas ke

bumi sampai di atas lututnya dan tergeser mundur dua langkah. Sehingga tanah tempat ia berdiri terdapat lobang

memanjang. Sedangkan Budi-San-Mowang sudah lenyap begitu pula dua pertapa Nepal.
De Hu menjadi panasaran, segera ia bergerak hendak mengejar “Jangan lari … !!!” “Hu Ko … tahan dulu, … !!”

“Perhatikan baik-baik, pasukan Tar-tar itu sudah mulai bergerak. Mereka bergerak dari belakang membentuk formasi

Quan-Zi-Men (Gerbang melingkar). Sangat tidak menguntungkan apabila kita berurusan dengan tiga iblis itu pada saat

seperti ini.
Lihat, kini ratusan pasukan itu terbagi dalam dua-belas formasi masing-masing dipimpin oleh seorang pendeta Lama

berbaju merah. Tampaknya mereka berkepentingan membinasakan dua orang Laocianpwe dari Kunlunbai yang menjadi pemimpin

gerakan para pendekar melindungi kaisar dan negara.” Yang Jing berbicara sambil matanya tidak berkedip memandang

gerakan pasukan Tar-tar.
“Hu Suheng, kini mereka mulai menyerbu dengan formasi Shi’er-Tian-Men … berbahaya … sekarang dapat dipastikan mereka

berjumlah tigaratus-enampuluh lebih.” “Lie Sian shimei, kau sudah ditemukan kembali … gadis bengal!!!” De Hu melihat

Lie Sian sudah memegang Hongchi (suling merah berlubang delapan). Suling pusaka pemberian Xiao Guihun dipegang di

tangan kirinya. Tetapi jangan dipikir Lie Sian sembarangan memegang, sama sekali tidak demikian. Isi dalam ilmu

Shen-Ta-Lek-Ling-Quan yang disebut: Di-zhen-bo (sejenis gelombang Seismic) dan Cha-yin-bo (semacam gelombang

ultrasonic) sudah mendesir-desir melalui delapan lubang Hongchi menimbulkan getaran-getaran halus yang bukan main.
“Sian Mei … jangan membunuh orang … !!” “Jing Ko … ini perang … bagaimana aku tidak … ???” “Sian Mei … !!” Lie Sian

menoleh ke arah Yang Jing. Hatinya berdebar, karena sorot mata Yang Jing seperti menembus hatinya. Sinar mata yang

berpengaruh kuat sekali dan membawa ketetapn yang tidak dapat dibantah.
“Bagaimana kalau membuat orang-orang jahat itu tidak dapat berperang lagi??” “Contohnya …?” “Ya, lihat saja sebentar

… aku janji tidak akan mengambil nyawa orang … tetapi aku akan mengirim orang-orang Tartar ini pulang dengan hormat …

dengan hormat … hi … hi … hi ….!!” “Sian Mei … jangan main-main dengan nyawa orang …!!” “Mana bisa nyawa orang dibuat

mainan, melihat saja tidak pernah …!!” Yang Jing tersenyum melihat Lie Sian cengar-cengir sambil matanya bersinar

menyimpan rahasia yang susah ditebak kemana jalan pikiran gadis sakti ini.
Tianpin-Er tahu betul, sekali tangan yang putih halus bagai sutra itu bergerak, akibatnya akan sangat hebat. Ratusan

orang ini akan dibuat malang-melintang dan berserakan di mana-mana sebagai mayat-mayat yang masih utuh tubuhnya.
“Fong Sao-zi (kakak ipar Fong) … mari kita membuat orang-orang Tartar itu pulang dengan hormat … !!” “Lie Sian … dara

bengal … jangan main-main, aku tidak mengerti apa maksudmu?” Lie Sian mendekati Li Fong dan memandangnya lekat-lekat.

Dua dara cantik berdiri berhadapan, postur tubuhnya hampir sama. Yang berbaju merah: cantik, serius, dan membawa

keagungan yang menghanyutkan. Sedangkan yang berbaju hijau, Lie Sian: sangat cantik, terkesan kocak, agak galak, dan

polos seperti kertas putih. De Hu dan Yang Jing memasang telinga tajam-tajam untuk mencoba mengetahui rencana “jahat”

apakah yang ada di balik gadis bengal itu pikir mereka.
Bibir yang merah basah dan berbentuk indah itu tidak bergerak. Tetapi sejenak kemudian, Lie Sian dan Li Fong tertawa

terbahak-bahak sampai Li Fong yang biasanya serius itu dibuat tertawa lepas sambil memegang perutnya.
“hi … hi … hi … dasar gadis bengal … tetapi …. Hi … hi … itu baik juga …. Dan … hi … hi … aku setuju, ayolah kita

buat mereka pulang dengan hormat.” Ketika itu formasi Shi’er-Tian-Men di depan dan Quan-Zi-Men (Gerbang melingkar) di

belakang sudah terbentuk, sekonyong-konyong tampak kembali bayangan Budi- San-Mowang kemudian melesat lenyap lagi

bagai siluman-siluman kubur, begitu juga Tian-Shi -Xin-Mo (Malaikat berhati iblis): Abhyudita dan Abhinava turut

lenyap dari tempatnya.
“Bailei Xin Bazhang … binasakan mereka … kau dan pasukanmu ditunggu di kota raja … kalau gagal, habisi nyawamu

sendiri atau engkau menjadi santapan buayabuaya di teluk Bohai!!!” Entah siapa yang berbicara itu, suaranya bermuatan

khiekang yang luar-biasa hebat. Pucat seketika wajah Bailei Xin Bazhang mendengar ucapan Budi-San- Mowang. Tidak

menunggu waktu lebih lama, ia segera melompat ke atas kudanya, sambil memberi aba-aba dengan suara yang menggelegar:

“Serbu … binasakan mereka semua … jangan ada yang tersisa..!!!” Bagaikan gemuruh air bah, pasukan Tar-tar yang

gagah-berani, kejam tidak mengenal ampun, dan sangat hebat di medan perang menyerbu dengan ganasnya.
Bagaikan srigala-srigala ganas yang melihat makanan empuk, mereka bergerak rapi, tangkas, dengan formasi yang

membingungkan. Duabelas titik menjadi target serangan tigaratus enampuluh lebih pasukan yang terlatih oleh seorang

arsitek perang yang mumpuni.
Tetapi mereka sama-sekali tidak menyadari, kali ini, target serangan mereka tidak seempuk yang mereka bayangankan.

Tujuh pendekar ini, memiliki kepandaian tinggi, apalagi Tianpin-Er, Sim Lie Sian, Shi De Hu dan Hsing Li Fong.

Sedangkan tiga pendekar lainnya, sudah berpengalaman soal medan perang, sehingga dengan tidak gentar sedikitpun

mereka menyambut serbuan pasukan liar itu dengan senjata terhunus.
Bersambung ==== sampai disini http://indozone.net/literatures/chapter/7957/