Trilogi Blambangan

Trilogi Blambangan 

TANAH SEMENANJUNG

Semenanjung Blambangan adalah semenanjung timur di Pulau Jawa dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Jawa bahkan Indonesia. Namun dalam sejarahnya Blambangan memang memiliki kisah-kisah unik yang terlepas dari pengaruh Mataram, sehingga seolah terpisah dari sejarah Jawa.

Semenanjung Blambangan kini lebih dikenal dengan sebutan Banyuwangi. Berbagai pengaruh masuk ke wilayah ini, sehingga membentuk Banyuwangi dalam warna budaya seperti sekarang. Pada zaman Bhree Wirabhumi negeri ini dipasok senjata dan sukarelawan oleh Cina untuk melawan pengaruh Majapahit. Maka tidak mustahil terjadi kontak budaya. Hubungan dekatnya dengan Bali pun membuat suatu kultur yang seolah bukan Jawa. Selain itu, sebagai kota pelabuhan terbesar nomor dua di Jawa Timur saat itu, Blambangan pasti tak luput dari jamahan pengaruh asing.

Wilayah ini—seperti juga wilayah-wilayah budaya lainnya—bisa tumbuh dan mengembangkan warna budaya karena sanggup membentuk suatu tata pemerintahan yang mapan, tak lepas dari pergulatan politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Masa lalu Blambangan kini tinggal mitos dan legenda, seperti juga masa lalu kerajaan-kerajaan lain di Jawa.

Salah satu tokoh legendaris yang punya realitas yang kuat dalam sejarah Blambangan, dan kini masih menjadi pujaan di wilayah itu, adalah Wong Agung Wilis, tokoh kisah ini.

GEMA DIUFUK TIMUR

Mentari tetap saja melayang. Karena janjinya pasti. Angin dan badai tetap juga berhembus menerpa bumi. Kehidupan berjalan terus. Semua… berjalan terus tanpa bisa dihalangi oleh siapa pun. Juga kehidupan. Peperangan tak bisa menghentikannya. Dia berjalan terus seperti roda ajaib yang tidak pernah berhenti. Walau mereka yang bernapas dan hidup, sudah sampai titik batas akhir.

Demikian pula Yistyani berjalan terus membawa luka dan duka. Bahunya sebelah kiri robek oleh tembakan Kompeni di Banyu Alit. Bahkan dalam perjalanan pulang ke Raung ini, dua pengawalnya tertembak mati. Tinggal dua orang lagi. Pedih dan perih dari luka yang tak terobati secara baik itu ia bawa terus berjalan. Menempuh jarak yang jauh. Melintasi belantara dan jurang-jurang, dan bukit-bukit.

Duka pun menusuk-nusuk hatinya sepanjang perjalanan. Duka kehilangan semua harta, kedudukan, dan cita-cita akibat perang. Bahkan yang nilainya lebih berharga dari semua itu, kehilangan suami, kekasih, dan sahabat-sahabatnya. Namun dengan kesadaran tinggi ia berusaha menindas semua duka itu. Ia harus mempertahankan semangat untuk tetap hidup dan sampai di Raung. Wilis, anaknya, sekarang menjadi pemimpin di Raung. Ia merasa perlu menjumpai anaknya itu.

Ia akan ceritakan semua pengalaman perang Blambangan ini sebagai pelajaran berharga.

Anaknya masih terlalu muda untuk menjadi seorang pemuka yang mampu memimpin suatu negara. Karena, itu pula ia harus menumpahkan segala pengetahuannya sebagai tambahan pesangon bagi anak itu. Seorang pemimpin tanpa pesangon cukup tak ubahnya katak dalam tempurung. Ah, jarak yang memisahkannya dengan Raung masih terlalu jauh.  

Dan itu harus dikalahkan dengan melewati banyak ketegangan dan bahaya. Yang telah dilewatinya membawa korban dua orang pengawalnya. Mati oleh tembakan laskar Madura yang ternyata menjaga ketat Hutan Kepanasan. Kini mereka harus berjalan ke barat untuk menghindar dari daerah yang dikuasai laskar Madura dan Kompeni. Tentunya mereka akan berhadapan dengan belantara yang mungkin saja belum pernah diinjak manusia. Pohon-pohon besar menjulang tinggi dan berdaun lebat. Sinar mentari tidak mampu menembus sela dedaunan. Dan bukan mustahil bila hutan itu merupakan sarang

BANYUWANGI

Roman sejarah Blambangan — berdirinya kota Banyuwangi! Perjuangan dan cinta yang menyatu. “Aku tidak menginginkan tahta Blambangan,” tegas Ayu Tunjung, “sebab aku tidak sudi bekerjasama dengan bangsa asing yang menginjak-injak pertiwiku.” Mas Ayu Tunjung memang memilih hidup sebagai rakyat biasa. Padahal, sebagai putri almarhum Prabu Mangkuningrat, dia lebih berhak atas tahta Blambangan dibanding Mas Ngalit, yang oleh VOC ditunjuk sebagai penguasa baru Blambangan. Bersama Rsi Ropo, satu-satunya putra Wong Agung Wilis yang masih hidup, Mas Ayu Tunjung memimpin kawula Blambangan yang tinggal tiga ribu jiwa itu untuk tetap menjaga hati mereka, agar tidak ikut terampas oleh kekuatan asing yang menjarahrayah Bumi Semenanjung. Nampaknya prahara masih akan datang. Di saat Ayu Tunjung dan Rsi Ropo baru mengecap kebahagiaan sebagai suami-istri, Mas Ngalit datang, dan dia sangat tergila-gila pada wanita cantik itu. Mas Ngalit bertekad untuk menjadikan Ayu Tunjung sebagai permaisurinya.

Bahkan, sebuah istana indah pun telah didirikannya bagi Ayu Tunjung di Banyuwangi — ibukota baru Blambangan yang berhasil dibangunnya dengan jalan berutang pada VOC.

Baca juga perang Paregreg dan Negara Kertagama membuka Fakta

Baca  Putu Praba Darana Trilogi Blambangan

 

This entry was posted in Cerita Silat, Putu Praba Darana, Silat Indonesia and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Trilogi Blambangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s