Wanita Iblis (Kuntilanak)

Wanita Iblis (Kuntilanak)

Tiba di muka pintu, segera ia mendorong pintunya. Kritt… pintu terentang lebar-lebar dan hai…! Seketika mendeliklah mata pemuda itu. Rambunya berdiri tegak dan mulut menganga tak dapat berkata apa-apa. Apa yang disaksikan dalam bilik ruangan itu, benar-benar membuatnya terlongong-longong seperti patung.
Ruang bilik kosong melompong. Yang ada hanya… sepasang peti mati berjajar berdampingan…! “Suhu….!” serentak menjeritlah Siu-lam seraya lari menubruk kedua peti mati itu.
Pecahlah tangisnya tersedu sedang air matanya membanjir…. Setelah beberapa waktu menumpahkan air mata, agak tenanglah hatinya. Dan mulailah ia mengadakan analisa: “Suhu seorang tokoh yang memiliki kepandaian sakti.
Namanya menggetarkan dunia persilatan. Subo (ibu guru) juga seorang pendekar wanita yang termasyhur. Senjata rahasia Kim-lian-hoa, disegani di seluruh wilayah Kanglam.
Andaikata diserang oleh beberapa tokoh silat kelas satu, beliau tentu masih dapat menyelamatkan diri atau lolos. Ah, mungkin dalam kedua peti mati itu bukan terisi jenazah suhu dan subo.”
Memikir sampai di sini, tergeraklah pikirannya. Diam-diam segera ia salurkan tenaga dalam hendak membuka tutup peti mati.
“Jangan!” sekonyong-konyong terdengar gemerincing suara melengking macam butir mutiara tertumpah di dalam tampi. Merdu tetapi bernada dingin.
Cepat Siu-lam berpaling. Entah kapan, tahu-tahu di belakangnya tegak seorang dara cantik. Rambutnya terurai lepas sampai ke bahu. Pakaiannya serba putih.
Sekalipun kecantikan dara itu menyolok sekali tetapi dalam tempat dan suasana seperti saat itu, dan kemunculannya secara misterius tanpa sedikitpun mengeluarkan suara, mau tak mau membuat hati Siu-lam berdebar keras.
“Siapa kau? Mengapa tengah malam buta kau datang kemari dan menangis seperti anak kecil?” tegur dara itu dengan dingin. Sama sekali tak mau ia memandang Siu-lam.Kepalanya menunduk.
“Aku murid Ciu Pwe lo-enghiong. Namaku Pui Siu….” “Sudahlah, aku tak menanyakan namamu!” tukas dara baju putih itu. Siu-lam kerutkan dahi, ujarnya: “Bolehkah aku melihat apa isi kedua peti mati itu?”
“Tak perlu!” sahut si dara tetap bernada dingin, “Yang satu berisi jenazah Ciu Pwe loenghiong.
Dan yang satu jenazah isterinya.”
Seketika menggeloralah darah Siu-lam, bentaknya: “Benarkah itu?”
Dengan wajah tetap sedingin salju, dara itu menyahut tawar. “Kalau tak percaya, bukalah sendiri.”
Sekali kerahkan tenaga, Siu-lam mengungkap tutup peti mati sebelah kiri. Ia menyulut orek. Seketika ruangan itu menjadi terang. Dilihatnya di depan tengah kedua peti mati itu terdapat sebuah meja knaap. Di atas meja masih terdapat sisa batang lilin. Segera disulutnya lilin itu sehingga ruang semakin terang benderang.
Berpaling ke belakang, dilihatnya wajah dara itu masih menampil kehambaran. Ia tegak di sisinya diam mematung.
Siu-lam berpaling lagi melihat ke dalam peti mati. Tampak setampang wajah seorang tua berjenggot putih, tersembul di atas sosok tubuh yang terbungkus kain putih. Bagi Siulam suami isteri Ciu Pwe itu bukan melainkan sebagai guru, pula merupakan orang tuanya yang kedua. Sudah tentu cepat ia dapat mengenali wajah guru yang dicintainya.

Karya dan Saduran SD LIONG :

Panji Tengkorak Darah
Kuda Besi
Bila Pedang Berbunga Dendam
Panji Sakti – SD Liong
Wanita Iblis (Dulu judulnya Kuntilanak)
Pendekar Laknat – Dewa Lembah Penasaran/Pendekar 3 Zaman
Si Rase Kemala (Giok Hou Ko Kiam)/Istana Seratus Bunga
Payung Sengkala
Kelelawar Hijau (Lanjutan Payung Sengkala)
Pendekar Blo’on
Blo’on Cari Jodoh

This entry was posted in Cerita Silat, SD Liong, Silat Mandarin and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s