Pedang Hati Suci

Pedang Hati Suci
Karya Yin Yong
Saduran Gan KL

Tapi demi melihat harta mestika yang menyilaukan mata itu, para orang Kang-ouw sudah lupa daratan, jangankan cuma seorang Tihu, biarpun raja yang datang juga tidak mereka gubris lagi. Mereka masih tetap saling berebut dengan mati2an.
Maka seluruh ruangan kelenteng itu penuh terserak harta mestika yang kemilauan, ada mutiara mestika, ada emas-intan, ada batu permata, jamrud, merah delima, ada biru safir, ya, mungkin juga ada koh-i-noor………………..
Perajurit2 yang dibawa datang oleh Leng Dwe-su itu juga manusia, dan manusia mana yang tidak ngiler akan harta karun seperti itu? Keruan saya tanpa komando perajurit2 itu ikut berebut, bahkan perwiranya juga tidak mau ketinggalan.
Keadaan menyadi makin kacau, Jik Tiang-hoat lagi berebut harta mestika itu, Ban Ka juga lagi berebut, malahan tuan besar Leng Dwe-su akhirnya juga tak tahan oleh rangsangan harta karun yang memangnya telah dicari sekian lamanya itu. Ia kuatir kehabisan, segera iapun ikut berebut.
Tik Hun melihat diantara orang2 Kang-ouw yang berebut harta karun itu terdapat pula Ong Siau-hong dan Hoa Tiat-kan.
Dan sekali sudah saling berebut, dengan sendirinya saling hantam dan sekali saling hantam sudah tentu ada yang terluka dan terbinasa. Anehnya, dalam pertarungan sengit itu, akhirnya mendadak ada orang menubruk keatas patung Budha emas itu, patung itu dirangkul terus di-gigit2 seperti anjing gila. Ada yang menggunakan kepalanya untuk membentur patung dan ada yang meng-gosok2kan mukanya.
Tik Hun sangat heran, andaikan orang2 itu sudah buta pikiran oleh harta karun itu juga tidak perlu sampai gila sedemikian rupa.
Dan memang betul, orang2 itu memang sudah gila, mata mereka merah membelalak, mereka saling genjot, saling gigit dan betot. Mereka telah berubah seperti segerombol binatang buas atau anying gila.
Tiba2 Tik Hun paham duduknya perkara: “Ya, tentu diatas harta mestika itu telah dilumasi racun yang sangat lihay oleh raya yang menyimpannya dahulu”.
Tik Hun tidak sudi menyaksikan lebih jauh kelakuan manusia gila yang memuakkan itu, segera ia tinggal pergi. Ia membawa Khong-sim-jay dengan menunggang kuda terus menuju jauh kearah barat sana. Ia hendak mencari suatu tempat yang sunyi untuk mendidik Khong-sim-jay agar kelak menjadi seorang manusia yang berguna, seorang manusia baru.
Akhirnya ia sampai dilembah salju diperbatasan Tibet dahulu itu. Saat itu lagi hujan salju dengan lebatnya, tapi ia dapat mencapai gua yang dahulu.
Se-konyong2 dari jauh dilihatnya didepan gua itu telah berdiri seorang gadis jelita. Itulah Cui Sing adanya!.

Dengan muka ber-seri2 Cui Sing berlari memapak sambil berseru: “Sudah sekian lamanya aku menunggumu Tik-toako! Aku yakin akhirnya engkau pasti akan kembali ke sini. Selama ini aku…… aku tidak pernah meninggalkan lembah ini!”.

Sesudah kedua muda-mudi itu saling berhadapan, Tik Hun pegang erat2 kedua tangan Cui Sing sambil memandang Khong-sim-jay dalam pangkuannya itu dengan tersenyum.

Karya Yin Yong : Saduran Gan KL

1. Medali Wasiat-(Xia Ke Xing)/ Kisah Para Pendekar (Hiap Kek Heng)
2. Si Kangkung Pendekar Lugu
3. Pedang Hati Suci Soh Sim Kiam
4. Pendekar Negeri Tayli (Thian Liong Pat Poh)

 

This entry was posted in Cerita Silat, Gan KL, Silat Mandarin, Yin Yong and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s