Renjana Pendekar (Ming Jian Feng Liu)

Seri Renjana Pendekar (Ming Jian Feng Liu) , Karya Khu Lung – Gan KL

 
Imbauan Pendekar

Jut Tun totiang dan Thian-in taysu kedua-duanya menerima surat dari Ji Pwe-giok. Dalam surat itu, dia menyatakan bahwa Ang Lian-hoa adalah orang yang lebih cocok untuk menjadi Bengcu, Ang Lian-hoa juga menerima sepucuk surat dari Ji Pwe-giok yang mengatakan Ji Pwe-giok tidak mempunyai cukup kemampuan untuk memimpin dunia persilatan dan lebih baik menghabiskan waktunya bersama istri-istrinya.

Maka Ang Lian-hoa menjadi Bengcu yang baru dan Cia Thian-pi menjadi penasehatnya. Kedua-duanya adalah orang-orang muda yang pandai dan bijaksana. Dengan mereka sebagai pemimpin, dunia persilatan menjadi aman.

Beberapa tahun kemudian, dunia persilatan menjadi damai. Orang-orang yang tinggal di kota Kunming sering melihat seorang muda yang tampan dengan tiga orang wanita cantik berjalanjalan sambil tersenyum di sepanjang danau Thian-ci.

Seorang lelaki mempunyai tiga orang istri cantik sungguh sangat luar biasa, tidak banyak orang yang beruntung sekalipun hanya untuk mendapatkan seorang istri cantik. Tapi orangorang juga menyadari betapa banyak air mata, keringat dan darah yang mengalir sebelum impian indah itu terwujud. Tetapi, sesuatu yang lebih indah bahkan terjadi, yaitu masing-masing istri menggendong bayi yang lucu dan saling bergurau dengan gembira.

Tentu saja mereka adalah Ji Pwe-giok, Lim Tay-ih, Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji.

 

 

Renjana Pendekar

Melihat si nona tertawa girang, Pwe-giok juga bergembira. Tapi bila teringat kepada nasibnya sendiri, sakit hati ayah belum terbalas, iblis itu masih memalsu dan menyamar sebagai “Ji Hong-ho” gadungan dengan komplotan jahatnya sehingga segenap kawan Kangouw sama tertipu, sebaliknya dirinya harus berjuang sendirian, entah kapan intrik musuh baru dapat terbongkar. Untuk bisa hidup tenang dan gembira untuk makan bubur yang di masak anak dara ini, mungkin harus menunggu sampai pada penjelmaan yang akan datang. Selagi Pwe-giok termenung, tiba-tiba Lui-ji menegur, “He, Sicek…. mengapa engkau menangis?!”

Cepat Pwe-giok mengusap matanya yang basah, jawabnya dengan tertawa, “Ah, anak bodoh, Sicek sudah tua, mana bisa menangis. Karena asap maka keluar air mata.”

Lui-ji termangu sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa, “Sicek, masa kau anggap dirimu sudah tua? Jika Sacek tidak menyuruhku agar panggil Sicek padamu, sebenarnya lebih tepat kalau ku panggil Siko (kakak ke empat) padamu.”

Pwe-giok memandangi wajah si nona yang berseri itu dan tak dapat menjawab. Entah manis, entah kecut, entah getir, sukar untuk dijelaskan….


Seri Renjana Pendekar (Ming Jian Feng Liu) :
Imbauan Pendekar
Renjana Pendekar

This entry was posted in Cerita Silat, Gan KL, Khu lung, Silat Mandarin and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s