Api di Bukit Menoreh

Api di Bukit Menoreh (S H Mintardja) yang terdiri dari 396 episod , Novel Silat Indonesia yang mungkin terpanjang saat ini.

Serial Api Di Bukit Menoreh Agung Sedayu adik Untara, tokoh utama Pasukan Pajang yang berjuang melawan sisa pengikut Arya Penangsang yang bergerilya. Ayahnya adalah salah seorang Tokoh Olah Kanuragan yang sepuh, masih dikenal baik Gurunya Kiai Gringsing. Ilmu ayahnya diwarisi tidak matang oleh Pamannya Widura (Adik ibunya) dan oleh Untara, dan Ilmu lengkap ayahnya justru ditemukannya secara tidak sengaja ketika untuk pertama kalinya Pati Geni memperdalam ilmunya di gua dekat kampungnya, Jati Anom.Api di Bukit Menoreh merupakan cerita silat dengan latar belakang sejarah menjelang berakhirnya kerajaan Pajang dan berdirinya Kerajaan Mataram. Cerita Silat bersambung ini sangat menarik. Diceritakan bagaimana Agung Sedayu yang penakut akhirnya seiring mesu diri dan bimbingan dari gurunya akhirnya berubah menjadi ahli kanuragan yang mumpuni, yang bahkan dari matanya mampu memancarkan sinar sangat panas yang mampu menembus perisai ilmu kebal lawan-lawannya. Jumlah bukunya ada + 389.

Berikut ini cuplikan awal ceritanya:

SEKALI_SEKALI terdengar petir bersambung di udara.
Setiap kali suaranya menggelegar memenuhi lereng Gunung Merapi. Hujan diluar seakan2 tercurah dari langit. Agung Sedayu masih duduk menggigil diatas amben bambu. Wajahnya menjadi kian pucat. Udara sangat dingin dan suasana sangat mencemaskan.

“ Aku akan berangkat “ tiba2 terdengar suara kakaknya,Untara dengan nada rendah. Agung Sedayu mengangkat wajahnya yang pucat. Dengan suara gemetar ia berkata“ Jangan, jangan kakang berangkat sekarang”

“Tak ada waktu“ sahut kakaknya “sisa2 laskar Arya Penangsang yang tidak mau melihat kenyataan menjadi gila dan liar. Aku harus menghubungi paman Widura di Sangkal Putung. Kalau tidak, korban akan berjatuhan. Anak2 Paman Widura akan mati tanpa arti. Serangan itu akan datang demikian tiba- tiba”…….

dan seterusnya sampai akhir episode 396

“…….Sejenak kemudian, maka pertempuranpun segera membakar halaman rumah Pangeran Ranapati itu. Orang bertubuh tinggi besar itu masih mencoba untuk bergabung dengan ketiga orang kawannya untuk melawan Rara Wulan.

Demikianlah, maka pertempuran itupun berlangsung dengan sengitnya. Keempat orang itu benar-benar tidak mengira, bahwa mereka akan berhadapan dengan seorang perempuan yang berilmu tinggi. Seorang perempuan yang selama berada di rumah itu diperlakukan sebagai seorang budak yang tidak berharga. Namun ketika ia bangkit, maka ternyata ia memiliki bekal yang nggegirisi.

Empat orang itu adalah empat orang terbaik dari para pengikut Pangeran Ranapati. Karena itu, maka mereka harus menjaga harga diri mereka, agar mereka tidak dipermalukan oleh perempuan. Apalagi hanya seorang saja. Pertempuran itupun terdengar dari halaman belakang. Orang-orang yang menyingkir kebelakang itu tidak mendengar teriakan-teriakan sebagaimana yang mereka bayangkan akan mereka dengar. Tetapi yang mereka dengar justru pertempuran yang semakin lama menjadi semakin sengit.

Teriakan-teriakan dan hen-takan-hentakan dari kedua belah pihak. Empat orang laki-laki dan seorang perempuan. “Aku akan melihat, apa yang telah terjadi -berkata salah seorang dari mereka.” “Aku ikut,” sahut yang lain.

Ternyata beberapa orang telah mengikutinya. Mereka ingin melihat apa yang telah terjadi di halaman depan. Orang-orang itupun terkejut. Mereka melihat keempat orang terbaik dari para pengikut Pangeran Ranapati itu tengah bertempur dengan garangnya. Mereka berloncatan menyerang berturut-turut seperti arus banjir bandang yang datang dari segala arah. Tetapi pertahanan Rara Wulan benar-benar sangat kokoh.

Serangan keempat lawannya itu tidak segera mampu menembus pertahanannya. Namun sebaliknya justru serangan-serangan Rara Wulanlah yang mulai menyentuh sasarannya. Kakinya sekali-sekali terayun mendatar menampar kening. Namun kemudian kedua kakinya itu terjulur menghentak dada.

Satu persatu keempat orang itu mengalami kesakitan, sehingga mulut merekapun setiap kali menyeringai menahan sakit. Sejenak orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi termangu-mangu . Namun setiap kali mereka menyaksikan kawan-kawan mereka terlempar dan terbanting jatuh. Sekali-sekali terdengar keluhan panjang. Tetapi sekalisekali yang terdengar adalah umpatan kasar.

“Luar biasa,” desis seorang diantara mereka yang menyaksikan pertempuran itu. Tamat

selengkapnya lihat Daftar Buku Karya SM Mintardja (Api di Bukit Menoreh 396 episode dan lainnya ) untuk download

About these ads
This entry was posted in Cerita Silat, SH Mintardja, Silat Indonesia and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s