Imam Tanpa Bayangan – Tjan ID

Jilid 1 : Runtuhlah Tiam Cong Pay oleh pengkhianat

MALAM sunyi menyelimuti se!uruh puncak gunung Tiam Cong, angin berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan ranting serta dedaunan.

Seorang kakek tua diiringi seorang pemuda lambat-lambat berjalan menuju keatas puncak dibawah cahaya rembulan yang cerah.

Rupanya sianak muda itu merasa tidak sabar, seraya mendongak serunya:

“Ayah, berapa lama lagi jalan yang harus ditempuh?? kenapa siang ceng kan belum kelihatan juga?”

“Hoei-jie! cuma berjalan saja kok kau tidak sabaran” Tegur sang ayah sambil berhenti. “Bukankah di hari-hari biasa sering ku ajarkan kepadamu bahwa jadi seorang lelaki janganlah takut menemui kesulitan? Dimana bisa sabar, sabarlah selalu. Kau cuma jalan begini dekatpun kau tidak salbar bagaimana muogkin kau bisa lakukan perbuatan besar?”

“Tia sudah sudahlah, cuma karena urusan kecil kembali kau kuliahi diriku…”

“Hoei-jie !” kata kakek itu dengan wajah serius- “Tahun ini kau sudah genap berusia tujuh belas tahun, kau barus tahu bagaimana caranya menjaga diri, janganlah selalu menggantungkan ayahmu. Kau harus tahu suetu saat ayah bakal tinggatkan dirimu, coba kalau kau tidak tahu apa-apa bagaiman kau bisa lanjutkan hidupmu!”. Hoei-jie membungkam dan tundukkan kepalanya.

“Bocah ! kau harus tahu bahwa kita keluarga Pek adalah keturunan lelaki sejati yang tidak sudi tunduk kepada orang lain dan minta belas kasihan dari orang…..”

“Aku akan selalu ingat perkataanmu ayah, akan kuingat bahwa aku adalah keturunan keluarga Pek!”

Diluanya berkata begitu sementara dalam hati pikirnya:

“Tidak belajar Silatpun sama saja aku dapat menjadi seorang lelaki sejati, kenapa aku harus belajar silat ??”.

“Kau harus ingat pula” kembali kakek itu berkata, “Bahwa kau adalah putra sipedang penghancur sang surya Pek Tiang Hong, kau tidak beleh mencemarkan nama keluarga pek kita…”

“Aku tahu! aku adalah Pek In Hoei putra dari siPedang Penghancur Sang Surya Pek Tiang Hong salah satu dari Tiong-goan San Siok. Tiga Bintang Daratan Tiong-goan, selama hidup aku tidak akan melupakannya, tapi .. kenapa aku harus belajar silai ??

“Kali ini aku akan serahkan dirimu kepada ciangbun-jien, agar ia didik dirimu baik baik, tujuan yang terutama bukan lain ingin paksakan dirimu untuk merasakan kesunyian diatas gunung sehingga menciptakan suatu watak yang tenang bagi dirimu, nanti setelah berjumpa dengan Ciang-bun suhengmu, bersikaplah sewajarnya, jangan sampai dipandang rendah orang.”

“Soal ini aku mengerti”

“Nah, kalau begitu ayoh kita berangkat, mumpung sembahyang malam belum selesai kita masuk kekuil.”

Berbicara sampai disitu, laksana Kilat kakek itu bergerak kembali meneruskan perjalanannya.

Pek In Hoei angkat bahu, dengan perasaan apa boleh buat ia ikut dibelakang ayahnya.

Mendadak…….. terdengar bentakan keras berkumandang datang, tatkala Pek Tian Hong ayah dan anak dua orang hendak menyeberangi sebuah jembatan dari balik kegelapan muncul dua sosok bayangan manusia yang, menghalangi jalan pergi mereka.

“Siapa kalian? ” Bentak kedua orang berdandan too-jien itu. “Apa maksud kalian mendatangi Tiam Cong??”.

“Loohu adalah Pek Tian Hong I”.

Dua orang toojien itu segera memencarkan diri, seraya mempersiapkan senjata seru mereka hampir berbareng :

“Pedang sakti dilangit Selatan……..”.

“Hawa menembusi Tiam Ciang!” sambung Pek Tian Hong dengan cepat badannya bergerak diikuti cahaya pedang berkilauan menciptakan delapan titik cahaya tajam yang meletik diangkasa.

Kedua orang toojien itu melengak. akhirnya dengan penuh rasa hormat serunya kembali:

“Tecu sekalian menghunjuk hormat buat Susiok Couw”

“Ehmmmm, apakah Ciangbunjien ada didalam kuil ??” .

“Tengah malam nanti Ciangbun suhu baru akan selesai dari semedinya……….”

“Ooooouw, tidak aneH kalau penjagaan disekitar gunung malam ini begitu ketat.. .” Dalam pada itu Pek In Hoei telah loncat kesisi ayahnya, sambil memandang kedua orang toojien tadi tanyanya: “Tia apa yang telah terjadi ??”.

Ciangbun suhengmu sedang bersemedi,tengah malam nanti ia baru selesai dengan latihannya. aku lihat terpaksa kita harus menunggu sejenak!” kembali kakek itu berpaling dan tanyanya lagi:

Ciangbunjien bersemedi didalam gua belakang bukit ataukah didaiam kamar rahasia kuil

“Soal ini tecu kurang jelas !*

“Baiklah. mari kita menuju kekuil!” setelah merandek sejenak, ujarnya kembali “Apakah Hian Song ada didalam kuil??”.

“Hian Song serta Hian Pak susiok dua orang telah pergi melindungi keselamatan Ciangbun suhu!”.

“Hhmmmm ! baik baiklah jaga diri” kata Pek Tian Hong seraya mengangguk kepada In Hoei serunya, “Bocah, ayoh kita terangkat!”

Pek In Hoei tidak banyak bicara, diikutinya sang ayah meianjutkan perjalanan keatas gunung, baru saja mereka membelok pada satu sudut tebing mendadak lerdengar ledakan ditengah udara diikuti berkilauannya cahaya -merah yang sangat terang.

“Bocah, tak usah kuatir” bisik Pek Tian Hong sambil tepuk bahu putranya.” petasan adara itu adalah tanda peringatan kepada semua murid Tiam Cong-pay yang berjaga didalam hutan agar memberi jalan kepada kita”.

Sekarang Pek In Hoei baru tahu apa sebab toojien itu melepaskan petasan udara.

Dengan cepat mereka berdua lewati sebuah hutan song yang lebat dan tiba disebuah jalan batu yacg datar.

“Dari sini sampai kekiul Siang Cing Koan, perjalanan akan semakin mudah lagi ” kata
sang kakek.

Belum habis ia berkata tampak sesosok bayangan laksana kilat meluncur ke bawah.

“Susiok!” terdengari Toojicn itu berseru Sungguh kebetulan sekali kehadiran susiok pada malam ini.

“Hian Song, apa yang telah terjadi ??’ tegur Pek Tian hong dengan alis berkerut, Kenapa sikapmu gugup dan terburu2??’.

“Ketika semedi tadi ciangbun suheng telah muntah darah secara tiba-tiba, hingga kini keadaannya makin bertambah parah”

“Apa ?? Hian Ching, dia..”

Tanpa berpikir panjang lagi Tian Hong enjotkan badannya, laksana kiiat meluncur kedepan dan lenyap dibalik kegelapan.

Ditengah kesunyian terdengar suaranya ber kumandang datang dari tempat kejauhan : “Hoei jie, ikutilah suhengmu . Oooouw…” Pek !n Hoei menyahut, ia berpaling memandang sekejap wajah toosu itu selalu tanyanva” Hian Song suheng, kenapa cianghunjien muntah darah terus menerus??”.

Hian Song Toojien agak tertegun, kemudian jawabnya :

“Karena kurang cermat di dalam latihannya, awan murni dalam tubuh Cianbunjien telah mengalir kedalam urat sehingga mengakibat kan dia menemui jalan api menuju neraka”

“Lalu apa yang disebut jalan api menuju mereka ??”

Rupanya Hian Song Toojien tidak menyangka kalau Pek In Hoei bisa mengejutkan per- tanyaan seperti itu, ia melengak.

“Benarkah kau adalah putra dari Pek su- siok ??”.

“Kenapa?? aku adalah Pek !n Hoei. Suheng ! apakah kau lidak tahu.”.

“Susiok sudah ada enam belas tahun lama nya tak pernah mengunjungi Tiam Cong, pinto aku…”

“Aaaaaa, tidak aneh kalau kau curiga kepadaku” sela Pek In Hoei sambil tertawa. “Tahun ini aku baru berusia tujuh belas tahun. sudah tentu Suheng tidak ingat kepada ku lagi”.

Tatkala menyaksikan Pek In Hoei dapat lari bersanding disisinya sewaktu naik kepuncak, kembali Hian Song Toojien merasa tercengarg tegurnya :

“Sute. ilmu meringankan tububmu..”

“Ayah suruh aku belajar silat, tapi watak ku tidak suka melihat darah dan paling benci perbuatan yang mengandung unsur bunuh membunuh, maka aku tidak, sudi belajar ilmu pedang, sebaliknya untuk memenuhi desakan ayahku maka aku belajar ilmu meringankan tubuh”

“Kau tidak bisa main ilma pedang? “Hian Song makin keheranan, sambil garuk garuk kepalanya ia bergumam. “Sungguh aneh sekali, susiok tersohor didalam duria persilatan sebagai sipedang penghancur sang surya, sedang kau malah sama sekali tidak mengerti akap ilmu pedang.”

“Apa anehnya? tiap manusia punya cita cita yang berbeda lagi pula tabiatkupun berbeda, tcihadap ilmu silat aku memang t’dak genang tapi terhadap ilmu sastra aku suka sekali”.

“Lalu apa maksudmu naik kegunung ,”

Pek In Hoei tertawa getir.

“Ketika ayah melihat aku tak mau belajar Silat maka aku dibawa naik kegunung. ia mau serahkan aku kepada ciangbun toa suheng dan minta dia yang paksa aku untuk belajar silat, juslru karena persoalan inila hatiku jadi jengkel, eeei siapa tahu ciangbunjien mengalami jalan api menuju neraka . . . inilah yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba, sekarang aku tak usah belajar silat lagi.”

Dengan perasaan melegak Hian song Too tiang menatap wajih si anak muda itu tajam tajam.

“Apa jeleknya belajar silat ?” aku benar benar tak mengerti kenapa sute bisa punya pikiran demikian l”.

“Apa kebaikannya belajar itu suheng coba kau jawab”.

Kembali Hian Song Toojien dibikin melongo, termenung seijenak hio jawabnya:

“Belajar silat dapat menguatkan badan, dapat digunakan untuk membela din bahkan bisa angkat nama didalam dunia persilatan coba lihat seperti susiok, ia dengan mengandalkan ilmu pedang penghancur sang surya bersama sama Golok berontok rembulan dari Ling Lam. Ke Hong serta Bintang kejora menuding langit Koen Thian Bong dari Hoo Kok disebut sebagai Tiga Bintang dari daratan Tionggoan, betapa bangganya mereka, apa jeleknya belajar silat ?”.

Pek in Hoei tersenyum,

“Aku suka keadaan yang tenang, tiada ambisi dalam hatiku untuk menjagoi dunia persilatan. … bicara sampai disitu mendadak ia membungkam.

“Ayoh teruskan perkataanmu sute sebelum kau sebutkan faktor kejelekan apakah yang didapat seseorang yang belajar silat?”

“Seorang yang belajar silat dia akan terlibat dalam dendam sakit hati antara setsama orang kangouw, setiap hari hidupnya tidak tenang lagi pula harus merasakan penderitaan dikala berlatih, merasakan siksaan sera kesusahan yang banyak dalam badan, sekalipun akhirnya berhasil namun setiap saat bisa di bayangi pula keadaan jalan api menuju neraka seperti ciangbun sekarang Hian Song suheng caba kau jawab benar tidak perkataanku ini?”

Untuk beberapa saat lamanya Hian Song Toojien dibikin tertegun dan bungkam dalam seribu bahasa, lama sekali ia biru mendengus.

“Hmmm, kalau seseorang takut akan penderitaan, apa gunanya ia hidup dikolong langit ?”

Bicara sampai disitu toojien tersebut segera merpercepat larinya dan tinggalkan Pek In Hoei seorang diri di belakang.

Menyaksikan dirinya ditinggal seorang diri, Pek In Hoei teriawa getir dalam hati pikirnya :

“Siapa bilang aku takut menderita ?? justu aku berkata begini agar supaya ayah tidak paksa aku belajar silat lagi. Hmmmmm, kau tidak perdulikan aku, dianggapnya aku lantas takut??”.

Selangkah demi selangkah ia teruskan perjalanannya seorang diri naik keatas gunung.

Angin malam berhembus kencang membuat udara makin dingin, embun menyelimuti angkasa membuat baju serta sepatu sianak muda itu jadi basah dan lembab.

Memandang rembulan nun jauh disana di kelilingi oleh bintang yang bertaburan memanncarkan cahaya hitam. Pek In Hoei menghela napas panjang.

Malam begini indah sungguh, suatu saat yang tepat untuk membuat bait bait syair…

“Heeeeh… heeeeeh… heeee… sungguh romantis tindak tanduk saudara…” tiba terdengar jengekan tertawa dingin berkumandang datang dari arah depan.

Dengan cepat Pek in Hoei mendongak, terlihatlah seorang lelaki muda sambil bertolak pinggang berdiri dihadapannya, waktu itu ia sedang memandang kearahnya sambil menjengek sinis.

“Aku hendak naik kekuil Siang Ciang Koan” sahut sang anak muda sambil memandang bangunan megah jauh di belakang lelaki muda itu.

“Naik kekuil Siang Ciang Koan ? siapa kau ? mau apa datang kepartai Tiam Cong kami ?”.

“Kurang ajar, kenapa orang ini tak pakai aturan?” Pikir Pek in Hoei dengan alis berkerut tatkala dilihatnya sinar mata orang itu berputar tiada hentinya kembali ia membathin :

“Sinar mata orang ini tidak jujur, jelas me rupakan manusia licik, tapi siapakah dia ??”.

Ketika lelaki muda itu menyaksikan dandanan Pek In Hoei adalah seorang pelajar, sekalipun dalam hati curiga pertanyaan masih diajukan dengan ramah, siapa tahu sianak muda itu tidak mempcrdulikan dirinya hal ini membuat ia jadi naik pitam.

Wajahnya berubah hebat, ketika sinar matanya terbentur dengan matanya kembali ia tertegun, badannya mundur setengah langkah kebelakang. dengan rasa terperanjat pikirnya :

“Ternyata diapun seorang jago lihay yang punya tenaga Iweekang amat sempurna, cuma saja kepandaian tersebut tidak diperlihatkan.”

Laksana kilat pedangnya diloloskan dari dalam sarung sambil putar pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam ia lindungi dada sendiri.

Pek In Hoei sendiripun kaget melihat tingkah laku Orang itu, ia mundur selangkah kebelakang seraya berteriak ;

“Kau… kau… apa yang hendak kau lakukan ?”.

Kembali lelaki muda itu melengak, tapi dengan cepat ia mendengus.

“Hmmm. perduli kau benar benar punya kepandaian atau tidak, pokoknya kuhadiah kan dahulu sebuah tusukan !”.

Tangannya diayun, diiringi serentetan cahaya pedang ia tusuk jalan darah Hian Kie diatas dada Pek In Hoei,

Pemuda kita tak menyangka kalau ia bakal ditusuk, sambil barteriak buru-buru badannya loncat empat depa kesamping uutuk meloloskan diri dari maut.

Melihat ujung pedangnya mengenai sasaran kosong, lelaki muda itu maju lebih kedepan, dengan jurus Pekikan burung Hong menggertakkan Selat pedangnya laksana kilat meluncur kemuka.

Breeeet.. baju bagian dada Pek In Hoei kena dibabat sampai robek panjang,

“Eeeeei… eeei… apa yang hendak kamu lakukan…” Teriak sianak muda itu sambil loncat kesana kemari meioloskan diri dari babatan pedang lawan.

“Haaaa… haaaaa… haaaa…” lelaki itu tertawa keras. “Aku masih mengira kau punya kepandaian silat yang bisa diandaikan sehingga punya nyali anjing yang besar untuk menaiki Tiam cong, tak tahunya kamu adalah manusia goblok ! ini hari jangan harap kau bisa lolos dari ujung pedang aku orang she- Cia dalam keadaan hidup-hidup”

“Hey… aku tak pernah belajar silat, aku datang untuk mencari ciangbunjien…”‘

Cia Koen mendengus dingin, serangan pedangnya semakin gencar, laksana hembusan angin puyuh ia kurug tubuh Pek In Hoei dibawah cahaya pedangnya..

“Bangsat ! kalau kau punya nyali ayoh sekalian bunuh diriku” Teriak Pek In Hoei penuh kegusaran.

“Haaaaa… baaaaa… haaaaa… justu akan kusuruh kau saksikan kelihayan dari ilmu pedang Tiam Cong Pay kami !”

Segenap pakaian yang dikenakan Pek In Hoei telah robek dan hancur termakan sambaran pedang lawan, menerima penghinaan yang belum pernah dirasakan sepanjang hidupnya ini, dengan mendongkol ia berteriak lalu menerjang kearah ujung senjata tawan.

Rupanya Cia Koen tidak mengira kalau Pek In Hoei bisa bertindak begini, menyaksikan ia menubruk kedepan, pedangnya langsung didorong kemuka untuk menusuk perut sianak muda itu.

Disaat yang paling kritis itulah, tiba tiba terdengar suara bentakan keras berkumandang datang dari samping disusul munculnya sesosok bayangan manusia.

Bentakan itu keras bagaikan guntur membelah bumi, tatkala Pek in Hoei tertegun itulah sesulung angin puyuh menggulung tiba menghantam tubuhnya hingga terjengkang ke samping.

Taaang… percikan bunga api muncrat ke angkasa, pedang Cia Koen kena ditangkis dan hampir2 saja lepas dari cekalannya, ia jadi terperanjat, sambil mundur buru2 sinar mata nya berpaling kearah bayangan manusia tadi

Tampaklah secang toosu tua berwajah keren tahu2 sudah berdiri seram dihadapannya

“Suhu Dengan rasa kaget ia berseru.

“Binatang! kau mau berontak?” hardik toosu tua itu dengan gusarnya.

“Suhu ! kau. . . kau . . . “

“Manusia goblok!” maki toosu tua itu sambil perseni sebuah tempelengan keatas wajah Cia Koen. “Matamu sudah buta? masa-dengau susiok sendiripun tidak kenal?”

“Susiok? siapakah susiok tecu?”

“Hemmm ! saat ini sipedang Penghancur sang surya Pek Tian Hong susiok-couw mu ada dia tas gunung, apakah kau binatang tidak tahu kalau saudara itu adalah sauwya nya ?

“Susiok-couw ada diatas gunung?? lalu…”

“Ayoh cepat berlutut dan minta ampun kepada susiokmu ” bentak toosu tua itu lagi

Dengan tersipu2 Cia Koen simpan kembali pedangnya kedalam sarung, lalu sambil berlutut memberi hormat katanya :

“Siauw susiok harap kau suka maafkan tecu yang telah membuat kesalahan kepada dirimu barusan”

“Binatang!” terdengar toosu tua itu mendengus kembali. “Apa itu susiok cilik susiok gede? akan kuhukum dirimu dengan peraturan perguruan !”

“Dengan wajah serius tambahnya. “Barang siapa yang berani kurang ajar terhadap angkatan lebih tua dia harus ,dihukum mati, ayoh cepat berlutut untuk menerima hukuman”

Pada saat ini kendati rasa gusar dan mendongkol dalam hati Pek ln Hoei belum hilang, namun ia tidak tega menyaksikan Cia Koen dibunuh oleh toosu tua itu. Maka buru2 dicegahnya “Suheng. ampunilah jiwanya untuk kali ini. Kesalahan bukan terieiak pada dirinya saja, dia memang betul2 tidak kenal siapakah aku !”

Mendengar perkataan itu, toosu tua tadi lantas berseru kepada muridnya :

“Ayoh cepat berterima kasih kepada susiokmu atas pengampunannya”

“Susiok terima kasih atas pengampunanmu” Buru2 Cia Koen memberi hormat.

“Aku harap dikemudian hari janganlah kau bersikap begitu kasar terhadap orang yang baru kau temui, barang siapa yang bisa diampuni jiwanya ampunilah sebanyak mungkin l”

“Terima kasih atas nasehat dari susiok “

“Binatang, ayoh cepat enyah dari sini” hardik toosu tersehut.

Dengan pandangan mendendam dan benci Cia Koen melirik sekejap kearah Pek In Hoei lalu berlalu dari situ.

Melihat sinar mata orang itu, Pek ln Hoei kerutkan dahinya.

“Rupanya dia masih mendendam kepada ku, aku lihat jiwanya picik dan jelek sekali” pikirnya.

Dalam pada itu toosu tua tadi sudah masukkan kembali pedangnya kedaiam sarung, kepada sianak muda itu ujarnya

“Selamanya binatang itu selalu berbuat kasar dan berangasan, bilamana ia sudah berbuat kasar terhadap sute, harap kau jangan pikirkan didalam hati”.

Pek in Hoei berpaling, tatkala mcnjumpai sitoosu itu sudah tua, ia lantas menegur :

“Suheng, kau adalah……”

“Pinto adalah Hian Pak, sekarang susiok berada didaiam kuil, dia suruh aku datang kemari untuk mengundang sute masuk kedalam kuil.”

“Ooouw… . kirarya kau adalah Sam suheng, apa yang sedang diperbuat ayahku

“Ciangbunjin mengalami jalan api menuju neraka, dan muntah darah terus menerus, sekarang susiok sedang berusaha menolong jiwanya”

“Kalau begitu ayoh cepat kita kesana!” Hian Pak Tojien mengiakan, di bawah pimpinannya merekapun lantas berangkat kekuil Siang Ciang Koan.

Setelah melewati tembok tinggi masuklah mereka berdua kedalam ruangan kuil, suasana kuilitu terang benderang oleh cahaya lampu, duapuluh orang toosu duduk bersila dikedua belah samping ruangan, ketika menyaksikan Hian Pak serta Pek In Hoei berjalan masuk, dengan pandangan tercengang mereka sama-sama melirik sekejap namun tak seorang diantaranya buka suara maupun menunjukkan suatu gerak gerik.

Hian Pak Toojien mejabawa Pek In Hoei melewati halaman belakang dan tiba diujung bangunan, seraya menuding kearah sebuah lantai berbentuk barisan Pat-kwa ujarnya : “Disitulah suheng bersemedi, aaiii siapa sangka ia Menggeleng kepala dan menghela napas panjang.

Perlahan-lahan ia berjalan masuk kelantai berbentuk barisan Pat-kwa tadi, setelah melewati kedudukan Koen dan Soen mendadak tangannya menghantam keras ke muka.

Diiringi suara nyaring, sebuah batu besar gera bergeser kebelakang dan muncullah sebuah gua diatas permukaan tanah.

“Ciangbunjien ada didalam gua, sute mari ikut aku masuk kedalam !” Dengan mengikuti anak tangga yang menunjuk kebawah Pek In Hoei berjalan vnssulr -dalam gua, ampu lentera tampak- tergac- ng di.kedua belah dinding membuai suasana : lorong tersebut terang benderang.

“Bila kau telah berjumpa dengan susiokcouw, untuk sementara waktu lebih baik jangan kau ungkap peristiwa yang barusan jadi.”Pesan Hian Pak Tojen. “Sebab pada saat ini ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menolong jiwa Ciangbun suheng, sedikit kurang cermat bukan saja menggagalkan usahanya selama ini, bahkan….”

“Tentu soal itu aku mengerti, tak usah suheng kuatirkan !”

Hian Pak Toojien tidak banyak bicara lagi, ia dorong sebuah pintu rahasia dan berjalan masuk kedalam.

“Apakah Pek sute ada diluar?” tampak Hian Song Toojien munculkan diri dan menegur.

“Benar. Pek sute sudah datang bagaimana keadaan suheng ??

Hian Soog Toojien geleng kepala dan masuk kedalam.

Pek In Hoei ikut melangkah masuk kedalam ruangan, terlihat olehnya ayahnya sedang duduk bersila diatas tanah dengan wajah pucat dan keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Disisi Pek Tian Hong berbaring seorang toosu setengah baya dengan basab penuh tetesan darah, wajahnya pucat dan matanya terpejam rapat.

Suasana diliputi keheningan yang mecekam, lama sekali baru terdengar toosu setengah baya tadi mendehem dan menggeliat.

Pada saat itulah Pek Tian Hong membuka matanya melirik sekejap kearah putranya, kemudian memandang toojien setengah baya yang berada disisinya sambil menegur:

“Hian Cing, bagaimana perasaanmu ? Apa kau merasa rada baikkan ?”

Toojien itu buka matanya dan tertawa getir.

“Susiok Kiranya kaupun berada diatas gunung”

“Hian Cing l Apakah kau tidak dengarkan nasehatku dan menempuh bahaya untuk melatih ketiga buah jurus sakti itu

Hian Cing toojien menghela napas dan mengangguk, sambil bangun sahutnya;

“Sebenarnya Sutit hendak andalkan keteguhan hatiku untuk meliwati dua gerakan terakhir dan menguasai ketiga buah jurus sakti tersebut, siapa tahu mendadak aliran hawa murni dalam tubuhku menyabang, seandainya susiok tidak kebetulan datang kemari, aku …

“Sejak ciangbun Susiok Si Soat-Cu bersama sama ketua delapan partai besar lainnya lenyap dibukit gunung Cing-Shia, kendati tiga jurus sakti perguruan kita masih tetap tersimpan namun jurus kedelapan dan jurus kesembilan telah lenyap, hal ini menghancurkan kekuatan ilmu pedang itu sendiri yang mengakibatkan ilmu pedang tadi tak dapat menjagoi kolong langit lagi. . .”

la merandek sejsnak untuk tukar napas kemudian sambungnya;

Kalau tidak ilmu pedang penghancur sang surya dari partai Tiam Cong kami pasti akan menjadi ilmu tersakti di kolong jagat.

Hian Ceng Toojien tundukkan kepala dan membungkam dalam seribu bahasa, Pek Tian Hong menghela napas panjang katanya lagi:

“Kali ini sigolok perontok rembulan Ke Hong telah kirim surat kepaduku yang isinya mengatakan, ketika ia sedang mengunjungi seorang sahabatnya digunung Cing-Shia tanpa sengaja ia telah dapatkan sebuah pedang mustika yang mana mirip sekail dengan pedang sakti penghancur sang surya partai kita.”

Hian Cing Toojien berseru tertahan, ia angkat kepalanya dan menatap wajah Pek Tian Hong tajam tajam.

Hian Song serta Hian Pak pun sama sama menunjukan rasa kagetnya, mereka semua pusatkan perhatiannya kearah Pek tian Hong untuk menantikan penjelasan selanjutnya.

Kakek she Pek itu termenuig sebentaar, lalu katanya lagi

Berhubung berita ini datangnya sangat mendadak lagi pula sangat mengejutkan maka sebelum bertindak aku sudah pikirkan persoalan ini sangat lama. Empat puluh tahun berselang, supek bersama pedang mustika itu lenyap digunung Cing-Shia, demi keutuhan pedang mustika tadi bagi partai kita. maka sesudah mendengar kabar tersebut mau tak mau aku harus berangkai kegunung Cing-Shia untuk melihat keadaan”

“Susiok, kau memang sudah seharusnya pergi kesitu!” sela Hian cing dengan wajah serius.

“Benar. Aku memang seharusnya berangkat kegunung Cing-Shia tap sebelum berangkat kesitu aku memikirkan pula nasib Hoei-jie . “

Bicara sampai di sana kakek tua itu melirik seke’ap kearab Pek In Hoeii, tatkala dilihatnya pakaian yang dikenakan putranya hancur berantakan segera tanyanya:

“Hoei-jie, apa yang telah terjadi?”

“Aku ketika aku naik keatas gunung tadi telah terjadi sedikit salah paham dengan muridnya Hian Pak suheng”

“Hmmmm ! Selama ini kau tak pernah sudi belajar silat sekarang kau tentu bisa menyadari bukan betapa pentingnya belajar silat kalau kau tak bisa silat maka selamanya akan dianiaya orang!” la lirik sekejap kearah Hian Pak, lalu kepada Hian Cing Toojien katanya kembali ,.Aku terlalu memanjakan putraku, hal ini jadi membuat ia jadi terlalu menuruti watak sendiri, kupaksa dia belajar silat namun setiap kali ia selalu tolak perintahku dengan mengatakan belajar silat itu menimbulkan pertumahan darah. aaaaai …. karena itu aku tidak tega membiarkan dia seorang diri berada dirumah, sebelum aku berangkat kegunung Cing-Shia kubawa dia datang kemari; dengan harapan kau suka memaksanya belajar ilmu silat

Mendengar perkataan itu Hian Cing Toojien melirik sekejap kearah Pek In Hoei, lalu tersenyum.

Siauw sute punya bakat yang sangat baik untuk belajar silat, kenapa dia tolak permintaanmu Sungguh aneh sekali.”

Maka dari itu kau harus, baik baik mendidik dirinya, jangan terlalu menurut kemauannya, jangan dengarksn alasannya dan jangan dengarkan perdebatannya …

“Tapi ayah . . . setiap perkataan yang kuucapkan semuanya pakai aturan dan my suk diakal”

“Hramm Sudahlah, tak usah kau perlihatkan kelihaian debatmu ! Semuanya ini salahku kenapa dahulu terlalu biarkan kau belajar ilmu sastra sehingga akhirnya menjadikan kau seorang kutu buku !”

“Susiok, kau boleh legakan hatimu” sela Hian Cing sambil tersenyum. “Aku pasti akan berusaha keras mendidik siauw sute.”. “Baiklah kalau begitu aku titip putraku untuk sementara waktu, dalarn sebulan kemudian aku pasti sudah kembali kegunung Tiam Cong, semoga Ciangbunjien baik baik jaga diri dan cepat sehat kembali”

“Terima kasih atas bantuan susiok menyembubkan luka dalamku . . .”

Pek In Hoei tidak menyangka kplau ayahnya saat itu juga mau pergi, buru-buru teriaknya:

“Ayah kau hendak pergi” Pek Tian Hong mengangguk, “Hmmm, kau harus ingat baik baik perkataan yang kusampaikan padamu waktu ada di tengah jalan. janganlah kau anggap diatas gunung bagaikan dirumahmu sendiri.”

“Ayah Aku sudah bukan georang bocah, kau …”

“Aku merasa selalu berharap agar kau bersikap dewasa, janganlah turuti kemauan sendiri”

Bicara sampai disitu ia lantas loncat keluar dari ruangan, dalam sekejap mata banyangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan.

Malam makin kelam …. suasana makin sunyi ……. udara amat dingin membuat semua penghuni, dijagad terlelap dalam tidurnya dengan nyenyak.

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad itulah, tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia laksana kilat berkelebat kearah ruang kuil dan berhenti didepan pintu goa.

Memandang batu berbentuk barisan Patkwa itu ia tertawa dingin, dengan gampang orang itu loncat kesisi pintu gua dan menerobos masuk keruang bawah tanah. Sementara Itu Hian Cing Toojin yang ada dalam ruangan masih duduk bersila sambil mengatur pernapasan. Dengan gerakan lincah orang tadi menyelinap kedaiam ruangan, sinar buas tampak memancar keluar dari balik wajahnya yang kerudung.

Lama sekali ia berdiri didepan pintu sambil menatap tubuh Hian Cing Toojien yang ada didalam, tubuhnya perlahan2 bergerak makin mendekati pembaringan. “Hmmimm” tiba2 Hian Cing Totiang buka matanya dan mendengus.

Melihat ciangbunjien dari partai Tlam Cong ini mendusin, laksaca kilat orang berkerudung itu loncat kedepam sambil mengirim sebuah pukulan kearah dada lawan.

Hian Cing mengegos kesamping, bajunya dikebaskan kemuka mengunci datangnya ancaman.

Bruk! di tengah bentrokan keras, tubuh Hian Cing terdorong hingga jatuh keatas pembaringan, air mukanya berubah hebat, darah segar menetes keluar dari mulutnya.

Sementara itu orang berkerudung tadi pun kena didorong mundur oleh angin pukulan lawan sehingga terhuyung dua langkah kebelakang, airmukanya berubah, jengeknya sambil tertawa seram

“Luka dalammu belum sembuh, Heeeh …. heeeeh …. heeeeeh …. dengan adanya peristiwa ini, bukankah bantuan dari Pek Tian Hong tadi hanya sia2 belaka”

Seluruh tubuh Hian Cing Toojien tergetar keras, sepasang matanya melotot bulat2, sambil menatap wajah orang itu hardiknya

“Siapa kau?”

Orang berkerudung itu mundur kebelakang, pedangnya diloloskan dari sarung digetarkan dan menciptakan tiga kuntum bunga pedang.

“Haaaaaa? ilmu pedang Bunga terbang, kau adalah anggota perguruan Boe Liang Tiong ?”

“Heech . . . heaeeh …. heeeh …. sedikitpun tidak salah, aku adalah anggota perguruan Boe Liang Tiong dari propinsi Tiam Hay sebelah utara”. “Apa maksudmu datang kemari?”

“Enam puluh tahun berselang tujuh puluh orang anggota perguruan Boe Liang Tiong dibunuh habis dalam semalaman oleh Si Soat Cu, sekarang aku datang untuk menuntut balas!”

Air muka Hian Cing Toojien berubah hebat, keringat dingin sebesar kacang kedelai menetes keluar tiada hentinya, begitu tegang hati toosu ini sampai tangannyapun gemetar keras.

“Hmmm, coba bayangkan, sejak enam puluh tahun berselang nama perguruan Boe Liang Tiong lenyap dan Bu-lim, seluruh anggotanya hampir mati binasa semua, dendam sedalam lautan seperti ini kenapa tidak kubalas” suaranya makin lama semakin keras, akhirnya dengan nada penuh kebencian ujarnya lagi :

“Hutang darah bayar darah, dendam kesumat yang sudah terpendam selama enam puluh tahun lamanya akan kutuntut pada malam ini juga. Mulai besok pagi dalam dunia persilatan akan kehilangan nama partai Tiam Cong Pay, sejak kini dalam dunia Kangouw tidak akan ada lagi murid partai Tiam Cong yang berkelana.”

“Sungguh keji hatimu…” desis Hian Cing Totiang dengan badan gemetar keras.

“Hmmm. inilah yang dinamakan pembalasan dendam dengan cara apa ysng pernah kalian lakukan !”

Hian Cing Toojien mendengus dingin, tiba2 sepasang telapaknya menyambar kedepan, dengan segenap tenaga ia tubruk tubuh orang berkerudung itu.

Cahaya pedang berkelebat-lebat, diiringi jeritan ngeri yang menyayatkan hati tubuh Hian Cing Toojien roboh tercengkang diatas tanah, sepasang kakinya sebatas lutut tahu2 ditebas kutung oleh senjata lawan, darah berceceran seketika membasahi meluruh lantai

“Haaaaa& . . . haaaah….haaa…”

“Hian Cing Loo-too. kau tidak pernah menyangka bukan bakal mengalami nasib yang demikian mengenaskan ? Hmmmm tahukah kau siapa aku?”

Dengan badan gemetar keras per-lahan 2 Hian Cing Toojien angkat kepala dan memandang manusia berkerudung itu dengan sinar mata membenci.

Orang berkerudung itu tertawa lantang. tangannya meraba keatas wajah dan perlahan-lahan melepaskan kain kerudung itu.

Haaaa kau Jerit Hian Cing Toojiere, “Cia Koen kiranya kau”

“Heee…… heeee… kau tidak akan menyangka bukan?”

Hian Cing Tootiang merasakan hatinya seperti di tusuk2 dengan jarum, kembali ia muntah darah segar.

“Sepasang mata Hian Pak sute benar2 buta, ternyata ia terima kau sebagai muridnya!”

“Tutup mulut!” bentak Cia Keen, sinar matanya memancarkan napsu membunuh yang berkobar-kobar. “hey toosu tua hidung kerbau, sebelum ajalmu tiba kau harus tahu bahwa suhuku Go Kiam Lam adalah ketua dari perguruan Boe Liang Tiong, demi membalas dendam atas sakit hatinya selama enam puluh tahun ini, dia telah angkat setan tua itu sebagai gurunya, ini hari adalah saat kami untuk menumpas segenap anggota partai Tiam Cong”

Hian Cing Toojien tertawa sedih.

“Suhu .. suhu l” teriaknya dengan suara serak. “Karena belas kasihanmu tempo dulu kau telah mendatangkan bibit kehancuran bagi perguruan kita”

“Haaa…haa…. haa salah suhunu sisetan tua itu kenapa ia punya mata tak berbiji …”

Hian Cing Tootiang melotot bulat, kembali ia muntah darah segar, wajahnya semakin pucat.

Pada saat Itulah pintu rahasia kembali terbuka, Hian Pak Toojin dengan satu tangan? mencekal pedang tangan lain membawa sebutir batok kepala berjalan masuk kedalam ruangan.

“Koen-jie , bagaimana keadaannya?” tanya toojien itu dengan wajah penuh napsu membunuh.

“Toosu tua hidung kerbau ini sudah hampir mati “

Dalam pada itu Hian Cing Too tiang dengan sepasang mata merah membara memandang wajah Hian Pak tajam2, tatkala dilihatnya batok kepala yang berada dalam cekalan toosu tersebut, sambil kertak gigi pekiknya:

“Hian Pak, hatimu benar benar keji “Hmmm, aku bukan Hian Pak, aku ada Go Kiam Lam, cianbunjien ketujuh belas dari perguruan Boe-Liang Tiong !”

Dengan wajah yang sinis ia angkat batok kepala itu, kemudian sambungnya lebih jauh:

“Batok kepala ini adalab batok kepala iri Hian Song, nanti akupun akan tebas batok kepalamu kemudian bawa pulang batok kepala kalian kegunung Boe-Liang-San? Untuk menyembahyangi arwah dari anggota perguruan kami”

Hian Cing Toojien merasa sengat sedih hampir seluruh darahnya telah mengalir keluar. namun ia tetap mempertahankan diri untuk melototi musuhnya.

Hmmm. segenap anggota partai Tiam Cong bakal binasa semua terbunuh oleh jago2-jago lihay yang tehh kupersiapkan teilebih dahulu dari propinsi Tiam-Hay serta anggota perguruan seratus racun, sejak, kini partai Tiam Cong bakai lenyap dari Bulim !” kembali Go Kiam Lam berkata dengan nada dingin.

Baru saja ia selesai berkata, mendadak terdengar seruan kaget berkumandang dari luar pintu, diikuti munculnja sesosok bayangan manusia masuk kedalam ruangan.

Orang itu adalah Pek in Hoei, dengan sinar mata kaget dan terceogang ia saksikan pemandangan yang sangat mengerikan itu sepasang alisnya mengerut sedang mulutnya terkancing rapat.

Melihat kehadiran sianak muda itu. Go Kiam Lam segera mendengus dingin

“Hmmm, malam ini kaupun tak boleh ampuni jiwanya !”

“Sute, cepat malarikan diri” buru buru Hian Cing Toojien berteriak keras, “Ingat baik baik, kau harus membalas dendam bagi partai Tiam-Cong kita.”

Belum habis ia berkata, tiba tiba Go Kiam lam meloncat kedepan. Ditengah berkelebatnya cahaya pedang dada Hian Cing Tootiang itu ditusuk hingga tembus, darah muncrat keempat penjuru dan nyawa ketua partai Tiam Cong inipun melayang dari raganya.

Dua titik air mata jatuh menetes diatas pipi Pek In Hoei, ia tutup pintu ruangan kemudian lari keluar dari ruang rahasia tersebut.

“Engkau hendak lari kemana !” hardik Go Tuam Lam. “Koen-jie! Cepat kejar keparat cilik itu dan bunuh dirinya jangan tinggalkan seorang musuhpun diatas gunung ini”

Cla Kun menyahut, ia jejakan kakinya dan segera mengejar keluar dari ruangan.

Dalam pada itu Pek In Hoei yang telah berada diluar segera saksikan suatu pemandangan yang sangat mengerikan, dibawah sorotan cahaya lampu tampak mayat bergelimpangan dimana mana, jeritan ngeri berkumandang disana sini, darah segar, kutungan anggota badan menggenangi seluruh lantai suasana betul betul menyeramkan.

Pek In Hoei bergidik, bulu roma pada» bangun berdiri, tanpa berpikir panjang ia ari ke belakang kuil. Dia tahu, ini hari dengan menggunakan kesempatan dikala Hian Cing Toojien ketua dari partai Tiam-Cong mengalami penderita jalan api menuju neraka, anggota perguruan Boe Liang-Tiong bekerja sama dengan perguruan seratus Racun telah menyerang partai Tiam-Cong dan membasmi seluruh anggotanya.

Sambil berlari otaknya berputar terus, pikirnya:

“Seumpama aku bukan untuk pertama kali datang kegunung Tiarn-Cong dan malam ini aku tak bisa tidur mungkin akupun lelah mereka bunuh. sungguh mongerikan…”

Rupanya ketika ia diantar Hian Pak Toojien kekamarnya untuk tidur, secara lapat lapat ia dapat saksikan tingkah laku tosu itu rada gugup dan tidak tenang, wajahnya diliputi kebengisan dan kebuasan karena ingin tahu maka timbul niatnya untuk mengintip kelakuan toosu itu,

Tetapi sewaktu ia lari keluar dari halaman , bayangan toosu itu telah lenyap dari pandangan, maka terpaksa ia berjalan seorang diri dibawah sorotan cahaya remabulan serta hembusan arngin malam yang sejuk.

Makin jalan sianak muda ini semakin jauh meninggalkan tempatnya semula, ia masuki hutan bambu dan akhirnya tiba dibelakang bukit, dimana tubuhnya terperosok kedalam sebuah selokan hingga seluruh badannya basah kuyup.

Melihat bajunya basah, kembali sianak muda ini kekamarnya dengan maksud hendak ganti pakaian. Siapa tahu pada saat itulah ia saksikan jeritan lengking bergema dimana mana, suasana dalam kuil amat kacau, banyak toosu lari simpang siur menyelamatkan diri.

la jadi kaget, cepat cepat pemuda Itu lari kedalam kuil dan menuju keruang rahasia dimana Pek in Hoei semakin terperanjat lagi sebab dilihatnya pintu rahasia sudah bergeser dan terbuka lebar.

Tanpa berpikir panjang lagi masuklah ia kedalarn goa, dan dengan mata kepala sediri ia saksikan Hian Cing Toojien dibunuh serta dengar sendiri pula Cia Koen mernbeberkan rahasianya. Diam diam ia kertak gigi, pikirnya: Go Kiam Lam sungguh lihai, agar bisa membasmi seluruh anggota partai Tiam Cong ternyata ia sudi jadi anggota partai berdiam diri selama puluhan tahun lamanya

Sementara otaknya masih berputar, ia telah menuruni sebuah bukit dan menerobos, kedalam hutan bambu,

“Keparat cilik, kau hendak melarikan kemana!” bentakan nyaring berkumandang dari arah belakang. Cengan cepat ia berpaling, tampaklah. Cia Koen sambil mencekal pedang telah berada kurang lebih dua tombak dibelakangnya.

Ia jadi sangat terperanjat, tergopoh gopoh badannya menyusup kesebelah kiri dan masuk kedalam hutan.

Pada saat inilah dia baru merasakan manfaat dari ilmu meringankan tubuh yang dipaksakan ayahnya pada hari hari biasa, atau paling sedikit dia masih bisa mengandalkan kepandaian tersebut untuk meloloskan diri dari kejaran musuh.

Secara lapat lapat timbul rasa sesal dalam hatinya, ia menyesal kenapa tidak belajar ilmu pedang atau ilmu pukulan sehingga sekarang harus dikejar kejar orang seperti anjing.

Namun begitu terbayang akan mayat yang bergelimpangan diatas tanah serta genangan darah yang amis yang memuakkan, rasa sesal yang muncul dalam hatinya seketika juga lenyap tak berbekas. Sambaran angin pedang terasa mendesir dibelakang tubuhnya dengan gugup ia berguling2 kebelakang. Tampaklah Cia Koen sambil ayunkan pedang membentak keras

“Keparat cilik she Pek sekalipun kau lari keujung langitpun akan kukejar terus sampai ketangkap keadaan disekitar sini aku bih paham dari pada drimu, kau hendak lari kemann lagi??”

Suatu ingatan mendadak berkelebat dalam benak Pek In Hoei, pikirnya :

“Keadaan medan disekeliling sini aku memang tidak paham sekarang aku cuma bisa lari dengan mengandalkan lebatnya hutan ini sudah dilewati lalu tiba-tiba ia teringat akan selokan kecil diusana ia terjerumus tadi, hatinja jadi sangat girang, buru2 ia tentukan arah dan lari kemuka dengan kencangnya.

Pohon demi pohon dilewati dengan cepat semak demi semak diterobosi dengan seksama akhirnya sampailah Pek in Hoei ditepi selokan tersebut, tanpa banyak bicara ia jatuhkan diri keatas tanah dan menggelinding masuk kedalam selokan, seluruh tubuhnya dibenamkan kedalam air, hanya kepalanya saya yang muncul diatas permukaan air sambil memperhatikan keadaan disekeliling situ.

Bau asap berhembus datang membuat hidungnya amat pedas, memandang jilatan api yang berkobar membakar kuil Siang Cing Koan tak tahan air mala jatuh berlinang membasahi wajahnya, rasa dendam menyelimuti hatinya, sambil meremas kepalan gumamnya dengan penuh rasa benci : “Orang-orang itu harus dibunuh ! aku harus berangkat kegunung Cing Shia untuk msngabarkan peristiwa ini kepada ayah, aku harus basmi habis segenap anggota dari perguruan Boe Liang Tong!”

Terbayang pula akan mayat-mayat yang begelimpangan didepan kuil Siang Cing Koan, kembali ia tutupi wajahnya sambil berbisik :

“Membunuh orang ditengah malam buta, kemudian melepaskan api membakar mayat2 itu hingga musnah Oooh! Betapa kejinya perbuatan mereka

“Koen-jie tiba-tiba terdengar suara Go Kiam Lam berkumandang didalam hutan itu

“Koen-jle. kau ada dimana ? “

Pek In Hoei terperanjat, buru-buru ia benamkan kepalanya kedalam air hingga lenyap dari pandangan.

Baru saja ia tandukkan kepala, terdengar suara Cia Koen menyahut daii balik semak – disebelah kirinya :

“Suhu! aku berada disini” Mendengar orang she Cia itu berada hanya delapan depa dari sisinya, Pek In Hoei semakin terperanjat, buru2 ia tahan napas dan semakin menyembunyikan badan nya kedalam air.

Tampak Go Kiam Lam sambil mencekal pedang meloncati selokan tadi, ia bertanya kembali :

“Apa kerjamu duduk disana ??” “Aku sedang memeriksa jejak keparat cilik itu”

“Telur busuk! masa untuk menangkap seorang.keparat cilik yang tak bisa siiatpun kau tidak mampu, pekerjaan apa lagi yarg dapat kau lakukan”

“Disekeliling tempat ini tiada tempat yang bisa digunakan untuk menyembunyikan diri, lagipula air dalam selokan itu ada racunnya, tidak mungkin dia loncat kedalam sana, aku pikir cuma disekitar semak belukar itu saja ia dapat menyembunyikan diri, maka aku terus menerus memeriksa sekeliling tempat itu”

Perkataan tersebut sangat mengejutkan hati Pek In Hoei, hampir saja ia loucat keluar dari selokan tersebut, tapi setelah dipikirnya sejenak ia tetap tak berkutik dari tempat semula.

“Kenapa kau tidak punya pikiran untuk melepasksn api ditempat ini” Terdengar Go Kiam Lam berseru setelah berpikir sejenak. Setelah rerumputan disekeliling sini terbakar, triasa keparat cilik itu tidak akan lari keluar”

“Suhu, aku sudah berpikir hendak menggunakan api, tapi dengan demikian seluruh gunung Tiam Cong-san bakal musnah, pemandangan indahpun akan ikut punah “Hmmm ! justru aku pingin menghancur leburkan seluruh Tiam Cong Pay, perduli amat dengan pemandangan indah segala

Mendengar ancaman itu Pek In Hoei bergidik, batinya berdebar-debar keras pikirnya :

“Tadi mereka mengatakan air dalam selokan ini ada racunnya, terhadap ancaman itu aku tidak takut sebab kemungkinan benar mereka sengaja menggertak diriku Tapi sekarang mareka mau membakar gunung, seandainya hal ini benar-benar terjadi bukankah aku bakal mati terbakar

Sementara dia masih memikirkan cara untuk melarikan diri, terlihatlah jilatan api mulai berkobar disckeliling tempat itu “Haaah – . . . haaah . . .. . haaah … dengar Go Kiam Lam tertawa terbabak- balak. “Dendam kesumat yang telah kupendam selama enam puluh tahunpun akhirnya berhasil kubalas juga, sejak kini Langit selatan adalah daerah kekuasaan perguruan Liang Tiong kira”

“Suhu! kita masih punya seorang musuh tangguh yaitu sipedang Penghancur Sang surya Pek Tian Hong”

“Heeeh.. . heeeh .. . heeeh … dia tak mengikat tali permusuhan dengan orang2 kangouw, kau tak usah pikirkan itu lagi, sigolok perontok Rembulan dan si Bintang Kejora menuding Langit menghadapi dirinya. Muridku, ayoh berangkat”

Suaranya makin lama semakin jauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran, namun Pek In Hoei masih tetap membenamkan diri didalam selokan.

“Golok Perontok Rembulan si Bintang Kejora menuding langit ” gumamnya seorana diri “Aku harus pergi mencari ayah dan memberi tahukan peristiwa ini kepadanya”

( Bersambung kejilid 2 )

5 Responses to Imam Tanpa Bayangan – Tjan ID

  1. supriyanto siagian says:

    Bagus,tapi jilid 16 dst ? Mana

  2. muhammad ariefin says:

    jilid 16 mana gan ????……………..

  3. Audie kanonang says:

    Mantap tapi nda ada kelanjutan

  4. hasto says:

    Djilid 16 dimana……dimana………

  5. dani cool says:

    baguss mana lanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s