Perang Bubat dan Kidung Sunda

Perang Bubat
Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada yang saat itu sedang melaksanakan Sumpah Palapa. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada tahun 1357 M.
Pernikahan Hayam Wuruk Peristiwa ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan raja Hayam Wuruk terhadap putri Citraresmi karena beredarnya lukisan putri Citraresmi di
Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, Sungging Prabangkara. Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Di mana Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit adalah keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal yang bersuamikan Rakeyan Jayadarma menantu Mahesa Campaka. Rakeyan Jayadarma sendiri adalah kakak dari Rakeyan Ragasuci yang menjadi raja di Kawali. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Di mana dalam Babad Tanah Jawi sendiri, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pajajaran.
Dengan demikian Prabu Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar putri Citraresmi. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Sebenarnya dari pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri keberatan, terutama dari Mangkubuminya sendiri, Hyang Bunisora Suradipati karena tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Suatu hal yang dianggap tidak biasa menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik karena saat itu Majapahit sedang melebarkan kekuasaan (diantaranya dengan menguasai Kerajaan Dompu di Nusatenggara).
Namun Maharaja Linggabuana memutuskan tetap berangkat ke Majapahit karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Maharaja Hayam Wuruk sebenarnya tahu akan hal ini terlebih lebih setelah mendengar dari Ibunya sendiri Tribhuwana Tunggadewi akan silsilah itu. Berangkatlah Maharaja Linggabuana bersama
rombongan ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat Kesalahpahaman Gajah Mada Mahapatih Gajah Mada (dalam tata negara sekarang disejajarkan dengan Perdana Menteri) menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat merupakan suatu tanda bahwa Negeri Sunda harus berada di bawah panji Majapahit sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah dia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta.
Gajah Mada mendapatkan jabatan Mahapatih atas karirnya militernya di Majapahit, beliau mengawali karirnya sebagai prajurit pada kesatuan pengawal kerajaan Bhayangkara yang merupakan pasukan elit Majapahit. Beliau mendesak Raja Hayam Wuruk untuk menerima Putri Citraresmi bukan sebagai pengantin tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Maharaja Hayam Wuruk sendiri bimbang atas permasalah itu karena Gajah Mada adalah Mahapatih (Perdana Menteri) yang diandalkan Majapahit saat itu.

Gugurnya Rombongan Pengantin
Kemudian terjadi Insiden perselisihan antara utusan dari Maharaja Linggabuana dengan Mahapatih Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Mahapatih Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit bukan karena undangan sebelumnya. Namun Mahapatih Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Maharaja Hayam Wuruk memberikan putusannya, Mahapatih Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke pesanggrahan Bubat dan mengancam Maharaja Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit.
Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Maharaja Linggabuana menolak tekanan itu, dan terjadilah peperangan yang tidak seimbang yang melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan yang besar dengan Maharaja Linggabuana dengan pasukan Balamati pengawal kerajaan yang berjumlah sedikit, bersama pejabat kerajaan dan para menteri yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Maharaja Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan serta Putri Citraresmi.
Maharaja Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali-yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan perikahan antara maharaja Hayam Wuruk dengan putri Citraresmi-untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi Pejabat Sementara Raja Negeri Sunda serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.
Namun akibat peristiwa Bubat ini (mungkin dalam dunia politik sekarang dikatakan Skandal Bubat), dikatakan dalam suatu catatan bahwa Hubungan Maharaja Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat mahapatih sampai wafatnya (1364). Sementara akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda. Sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah larangan menikah dengan pihak timur negeri Sunda
(Majapahit).

Sumber :Yoseph Iskandar, “Perang Bubat”, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.
Catatan: Kanjeng Gusti Putri ratu Dyah Phytaloka Citraresmi meninggal tidak dengan bunuh diri melainkan ikut bertempur dan berhasil melukai mahapatih Gajah mada, sehingga akibatnya pertempuran bertambah sengit, sebab Gajah Mada Berduel dengan sang Putri Dyah Phytaloka, meskipun akhirnya gugur, Sang Putri berhasil melukai Tubuh gajah mada dengan Keris Singa barong berlekuk 13 Keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri kerajaan tarumanegara, yang bernama, Prabu Jayasinga Warman. akibat luka itu, Gajah Mada menderita sakit yang tidak Bisa disembuhkan, dan akhirnya meninggal.

Sejarah Perang Bubat

Tanggal abad ke-14 M
Lokasi Bubat, Majapahit, (sekarang berada di Provinsi Jawa Timur, Indonesia)
Hasil kemenangan Majapahit
Casus belli Perselisihan antara Gajah Mada dan Linggabuana
Pihak yang terlibat
Kerajaan Majapahit Kerajaan Sunda
Gajah Mada, Hayam Wuruk ,Maharaja Linggabuana
Jumlah korban tak diketahui besar, termasuk Linggabuana dan Dyah Pitaloka

Perang Bubat adalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M. Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.

Rencana pernikahan
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.[rujukan?]

Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.

Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.

Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Kesalah-pahaman
Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan makksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Gugurnya rombongan Sunda
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

Kidung Sunda
Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali. Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tak memiliki nama. Namun patih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit (baca orang Jawa). Kemudian terjadi perang besar-besaran di Bubat, pelabuhan tempat berlabuhnya rombongan Sunda. Dalam peristiwa ini rombongan Kerajaan Sunda dibantai dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya bunuh diri.

Ringkasan
Pupuh I
Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.

Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.

Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.

Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.

Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini.Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)

Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong seorang raja berstatus raja vazal seperti Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.

Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.

Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepaken untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.

Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.

Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.

Pupuh II (Durma)
Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat dihindarkan.

Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.

Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepaken dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.

Pupuh III (Sinom)
Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.

Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.

Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).

Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip “Siwa dan Buddha” berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.

Analisis
Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat, meski kemungkinan besar tentunya bisa berdasarkan kejadian faktual.

Secara garis besar bisa dikatakan bahwa cerita yang dikisahkan di sini, gaya bahasanya lugas dan lancar. Tidak berbelit-belit seperti karya sastra sejenis. Kisahnya memadukan unsur-unsur romantis dan dramatis yang memikat. Dengan penggunaan gaya bahasa yang hidup, para protagonis cerita ini bisa hidup. Misalkan adegan orang-orang Sunda yang memaki-maki patih Gajah Mada bisa dilukiskan secara hidup, meski kasar. Lalu Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda bisa dilukiskan secara indah yang membuat para pembaca terharu.

Kemudian cerita yang dikisahkan dalam Kidung Sunda juga bisa dikatakan logis dan masuk akal. Semuanya bisa saja terjadi, kecuali mungkin moksanya patih Gajah Mada. Hal ini juga bertentangan dengan sumber-sumber lainnya, seperti kakawin Nagarakretagama, lihat pula bawah ini.

Perlu dikemukakan bahwa sang penulis cerita ini lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber lainnya. Seperti tentang wafat prabu Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, penulisannya berbeda dengan kakawin Nagarakretagama.

Kemudian ada sebuah hal yang menarik, nampaknya dalam kidung Sunda, nama raja, ratu dan putri Sunda tidak disebut. Putri Sunda dalam sumber lain sering disebut bernamakan Dyah Pitaloka.

Satu hal yang menarik lagi ialah bahwa dalam teks dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), Wandan (Banda, Maluku Tengah), Tanjungpura (Kabupaten Ketapang) dan Sawakung (Pulau Sebuku?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit di mana mereka harus membayar upeti. Tapi di Nagarakretagama, Madura juga tak disebut.

Penulisan
Semua naskah kidung Sunda yang dibicarakan di artikel ini, berasal dari Bali. Tetapi tidak jelas apakah teks ini ditulis di Jawa atau di Bali.

Kemudian nama penulis tidaklah diketahui pula. Masa penulisan juga tidak diketahui dengan pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, tetapi ini tidak bisa digunakan untuk menetapkan usia teks. Sebab orang Indonesia sudah mengenal senjata api minimal sejak datangnya bangsa Portugis di Nusantara, yaitu pada tahun 1511. Kemungkinan besar orang Indonesia sudah mengenalnya lebih awal, dari bangsa Tionghoa. Sebab sewaktu orang Portugis mendarat di Maluku, mereka disambut dengan tembakan kehormatan.

Beberapa cuplikan teks
Di bawah ini disajikan beberapa cuplikan teks dalam bahasa Jawa dengan alihbahasa dalam bahasa Indonesia. Teks diambil dari edisi C.C. Berg (1927) dan ejaan disesuaikan.

Gajah Mada yang dimaki-maki oleh utusan Sunda (bait 1. 66b – 1. 68 a.)

“Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami? Kita ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti? Sama seperti dari Nusantara. Kita lain, kita orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.
Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur.
Kedua mantrimu yang bernama Les dan Beleteng diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup.
Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!”

Raja Sunda yang menolak syarat-syarat Majapahit (bait 2.69 – 2.71)
jika engkau takut mati, datanglah segera menghadap Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan haturkan bukti kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan beliau sang Tuan Putri.
Maka ini terdengar oleh Sri Raja <Sunda> dan beliau menjadi murka: “Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri!”
“Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan ‘silau’ beta!”. Sang Tuan Patih juga marah, seakan-akan robek telinganya mendengarkan (kata-kata pedas orang Majapahit).

Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda yang telah tewas (bait 3.29 – 3. 33)

  • Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia, tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah. Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah menjadi mayat.
  • Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. Seakan-akan ia menyapa: “Sri Paduka, datanglah ke mari. Lihatlah kekasihnda (?), berbakti, Sri Baginda, datang ke tanah Jawa.
  • Yang senantiasa berada di pikiran ayah dan ibu, yang sangat mendambakannya, itulah alasannya mereka ikut datang. Sekarang jadinya malah seperti ini. Jika datang kemarin dulu, wahai Rajaku, mungkin <hamba> masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh sungguh kejamlah kuasa Tuhan!
  • Mari kita harap wahai Raja, supaya berhasil menikah, berdampingan di atas ranjang tanpa dihalang-halangi niat buruk. Berhasillah kemauan bapak dan ibu, keduanya.” Seakan-akan begitulah ia yang telah tewas menyapanya. Sedangkan yang disapa menjadi bingung dan merana.
  • Semakin lama semakin sakit rasa penderitaannya. Hatinya terasa gelap, beliau sang Raja semakin merana. Tangisnya semakin keras, bagaikan guruh di bulan Ketiga*, yang membuka kelopak bunga untuk mekar, bercampur dengan suara kumbang. Begitulah tangis para pria dan wanita, rambut-rambut yang lepas terurai bagaikan kabut.

nech…download cerita Dyah Pitaloka

46 Responses to Perang Bubat dan Kidung Sunda

  1. dildaar80 says:

    Menyangka Lembu Tal itu adalah perempuan karena nama ‘Lembu’ dimuka namanya adalah sangat keliru karena di naskah-naskah kuno banyak tokoh-tokoh Majapahit bernama awal ‘Lembu’ ternyata laki-laki contoh Lembu Sora, Lembu Peteng, Lembu Amiluhur dan seterusnya.
    Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.
    Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan. Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.
    Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singhasari membawa serta Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.
    Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.
    Berita di atas berlawanan dengan Nagarakretagama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya. Di antara berita-berita di atas, yang paling dapat dipercaya adalah Nagarakretagama karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365. Jadi, hanya selisih 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya.
    Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut Nagarakretagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.
    Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Pustaka Rajyarajya i Bhum Nusantara yang menyebut asal-usul R Wijaya dari Sunda ditulis ratusan tahun setelah runtuhnya Majapahit.
    Berbeda dengan Negarakertagama dan Prasasti Balawi yg ditulis beberapa tahun setelah wafatnya Dyah Wijaya yg menyebut memang Wijaya pribumi Jawa Timur. (gelar raden pas tahun itu belum ada/belum menjadi sebutan)
    Kalau Sanjaya dan Wijaya itu orang Sunda kenapa tdk dicandikan di daerah Sunda tetapi justru di Jawa Tengah dan Jawa Timur?
    Ada dua kemungkinan besar:
    1. Iya keduanya ada darah Sunda tetapi tidak sudi dicandikan di Jabar yg tidak menghormati mereka bahkan memusuhi. Bukti, ayah Raden Wijaya diracun justru oleh keluarga yg ingin tahtanya. Begitu pula permusuhan thd Sanjaya dlm cerita2 Parahiyangan.
    2. Memang mereka tidak berdarah Sunda.

    • collection80 says:

      Menurut beberapa literatur (prasasti, Karya sartra Kuno) bahwa pendiri Majapahit adalah Raden Wijaya , anak dari Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal, (terlepas penamaan dan gelar tersebut) dari kerajaan Singosari dan Kerajaan Sunda Galuh dan berdarah jawa dan sunda, kemudian Majapahit menguasai Nusantara kecuali Tanah Sunda , oleh karena itu candi – candi peninggalan Majapahit tidak ada di Tanah Sunda tetapi lebih banyak di Jawa Tengah, dan menurut catatan sejarah ,Candi2 di Jawa Timur kebanyakan adalah peninggalan dari leluhur Raden Wijaya yang berdarah Jawa (lihat Kerajaan Kediri, Singosari dan sebelumnya juga Kerajaan Sunda Galuh) klik disini ) dan lihat juga Silsilah wangsa Rajasa.
      Yang perlu dipertanyakan bahwa Mahapati Gajah mada mengeluarkan sumpah palapa (1336M) sedangkan waktu itu Majapahit dalam puncak kejayaannya menguasai Nusantara (Kecuali Sunda dan Madura)dan beberapa Negara Tetangga , Bagaimanakah perluasan Majapahit setelah Sumpah Palapa???, setelah perang Bubat (1357M) sampai Kematian Gajah Mada (1364M) dan sampai Runtuhnya Majapahit akibat serangan demak (1478M)???
      Ada dugaan Ambisi Politik Gajah Mada suram setelah kematian Dyah Pitaloka (perang Bubat)
      Sebagai referensi bahwa sampai runtuhnya Majapahit , Kerajaan Sunda dan Galuh (669-1482) tidak pernah terjamah oleh Majapahit, Kerajaan Suda Galuh runtuh oleh Kesultanan Banten dan digantikan menjadi Kerajaan Pajajaran

  2. dildaar80 says:

    Data yg sy sampaikan diatas, Negarakertagama (1360-an) dan Pararaton (1400-an) serta Prasasti Balawi (abad 14) menyebut bahwa Dyah Wijaya putra Pangeran Dyah Lembu Tal (laki-laki) adalah asli wangsa Rajasa/Jawa Timur.

    Prasasti dan data anda apa yg menyebut Wijaya orang Sunda? Tahun berapa ditulis?

  3. agus says:

    Fakta bahwa Raja Sunda mengirim putri Dyah Pitaloka kepada Raja Hayam Wuruk sudah cukup menyatakan bahwa Raja Sunda memang berniat menyerah kepada Raja Hayam Wuruk. Bahwa kemudian perang terjadi, bisa jadi memang merupakan siasat Raja Sunda untuk menghindari perang di negeri Sunda yang akan menyengsarakan rakyatnya, sehingga beliau memilih mengorbankan dirinya dengan bersiasat menyerahkan diri dan menjadikan putrinya sebagai upeti dan kemudian bertempur di Bubat. Sehingga dengan demikian Majapahit tidak perlu menyerang Tanah Sunda secara langsung untuk menaklukkan kerajaan Sunda.

    • budak garut says:

      jika majapahit berniat menyerang galeuh pastinya sejak pertama mengadakan invasi psti kerajaan galeuh lah yg akan diserang,atw di ajak bersekutu,tkrn secara geografis galeuh adalah kerajaan yg paling berdekatan dgn majapahit, faktanya hingga detik tersebut majapahit tdk prnh menjamah bumi sunda/bagian dr sunda(karna galeuh adalah sebahagian kecil dr wilayah padjajaran),jd terjadinya bubat adalah bukan kesalahan majapahit atw hayamuruk,tp itu mutlak kesalahan gajahmada…

      • baratketigo says:

        jangan sok tahu bung!Majapahit tdk pernah melakukan invasi ke tanah sunda karena ada pesan khusus dari Dyah Wijaya pada anak Turunnya Agar tdk menyerang tanah Sunda karena merupakan Tanah Leluhur Beliau!

    • Gallery80 says:

      suatu konspirasi…., boleh jadi

  4. yasir isnan san risana tunggawijaya says:

    Dyah wijaya bukan keturunan ken arok. Keturunan ken arok pupus terkena kutukan mpu Gandring. Dyah wijaya putra Kertanegara putra ranggawuni wishnu wardhana putra anusapati putra tunggul ametung. Ciung wanara putra Kebo dungkul putra ranggawuni wishnu wardhana putra anusapati putra tunggul ametung. Kebo dungkul menikah dengan ratu permas GALUH. Ciung wanara mendirikan galuh pakuan (padjadjaran). Tajimalela (adik Ciung wanara) mendirikan tembong agung parahyangan. Jadi, majapahit, pajajaran, parahyangan, berkakek-moyang dari singosari.

  5. fitrah says:

    jadi simpel aja sih masalahnya skrg, orang jawa gak pernah mikirin orang sunda karna orang jawa berpikiran luas dalam berbangsa dan bernegara dalam ikatan luas dalam kesatuan NKRI,sementara orang sunda sibuk mikirin orang jawa dari jaman sejarah sampai jaman sekarang dari yang terkecil sampai yg terbesar dari orang jawa di amati org sunda ,jadinya orang sunda belum bisa memimpin negara karna jangkauannya belum nusantara masih ngurusin orang jawa, itu aja sih masalahnya di era modern ini makanya jarang presiden gak ada dari orang sunda..

  6. Gallery80 says:

    Maaf mba fitrah…komentar Anda saya tidak tampilkan..

  7. budak garut says:

    tau kah anda yg manakah kerajaan sunda??
    perang bubat adalah perang majapahit dgn kerajaan galeuh,yg mana dikatakan majapahit adalah negara/kerajaan superior,
    mengingat sebab terjadinya perang sangat lah sulit,karna berbagai kepentingan dr penulis,tp kita skr lihatlah fakta,di bali pun ada sejarah tentang bubat,dan para sejawan pun mengecam tindakan khianat di bubat,dan bubat yg dimenangkan oleh majapahit bukan berarti itu kalahnya negri sunda,linggabuana adalah raja galeuh,tp beliU bukan simbol se utuh nya dari negeri sunda ataw padjajaran,jika memang keberangkatan linggabuana untuk berperang datang ke majapahit ,itu sangat mustahil,pertama kita lihat dr history,kerajaan sunda tidak prnh mengadakan invasi,kerajaan sunda adalah negri yg makmur tdk butuh sokongan dana/upeti dr manapun,kerjaan sunda tidal merasa di usik dan tersaingi oleh majapahit,karna kerajaan sunda adalah kerajaan paling maju,modern di dirgantara,selain itu kerajaan sunda menganggap majapahit adalah cucu nya,dan karna kerajaan2di negeri sunda bukan kerajaan yg gemar berperang dan haus akan kekuasaan sprti si gajah mada,dan jika memang niat akan berperang maka kerajaan galeuh psti akan membawa bala bantuan dr kerajaan sunda yg berpusat di bekasi dan bogor,dan msh banyak kerajaan2 kecil berkakuatan besar lainnya dinegeri padjajaran,dan pasti majapahit akan hancurlebur,da kekalahan linggabuana bukan lambang dari kekalahan dr negri sunda,dan patut diketahui sumpah palapa gajahmada tidak pernah tercapai hingga dia ajal,karna kerajaan sunda padjajaran tidak takluk apalagi kalah oleh majapahit,yg prnh kalah adalah kerajaan galeuh,itipun dikandang musuh dan dijebak oleh muslihat kerdil, perang bubat adalah bukti dr keteledoran raja di galeuh,karna terlalu percaya pd majapahit,dan perlu di ingat sekali lagi kerajaan galeuh adalah bukan kerajaan sunda/padjajaran,tapi kerajaan galeuh adalah salah satu bagian kecil dari kerajaan sunda/padjajaran,tp skt hati yg dirasakan oleh kerajaan galeuh merupakan sakit hati seluruh negeri padjajaran,namun krn kearifannya padjajaran pusat tidak mengadakan serangan balasan terhadap majapahit,
    dan hingga skr seluruh rakyat padjajaran yg mengalir getih sajati padjajaran, tidak akan prnh melupakan pengkhianatan,kekerdilan dan congkak nya pembantai di bubat…..

    • ach djadjang says:

      opo ae cak wes gak jamane bahas yg sdh jadi sejarah ms lalu…..kerja keras jujur istiqomah niscaya NKRI disegani bangsa2 manapun…OK gan

    • Eagle Fahri says:

      sebenarnya, pasca bubat, adiknya Dyah Pitaloka Citraresmi akan membalas kelakukan Gajahmada dengan rencana menantang perang tanding Gajahmada, akan tetapi dicegah oleh Prabu Bunisora Suradipati pejabat raja di Galuh… kebetulan juga datang utusan Raja Hayamwuruk yg difasilitasi Raja Bali datang ke Galuh untuk minta maaf atas kejadian yg tak disangka tjd di bubat dengan menyebut persaudaraan antara raja sunda dan raja majapahit.

  8. budak garut says:

    perlu anda ketahui,di tataran sund tidak terdapat banyak candi,knp????
    bukan karna majapahit kesal terhadap.sunda karna tidak mengakui kekuasaannya,krn tidak smw candi dibwt oleh majapahit,dan fakta pun menunjukan tanah sunda/padjajaran.memang tidak prnh dijajah oleh kerajaan atw negara manapun,
    kembali lagi tentang candi,knp di tanah sunda tidak terdapat banyak candi???
    karna para leluhur asli tanah sunda/padjaaran bukanlah penganut ajaran atw agama fil’rdy(agama hasil daya cipta manusia dalam hal ini budha atw hindu).
    para leuhur sunda /padjajaran semenjak dahulu kala jaman tarumanagara yg sebelumnya salakanagara yg sebelumnya salaka domas,yg sebelumnya athlantis,sudah memiliki agama/kepercayaan sendiri yaitu agama sunda,sunda wiwitan,dan tahukah anda sunda wiwitan tidak mebangun candi,tp dia membuat sebuah tempat bale2 dari batu pada dataran agak tinggi,yg di sebut dgn kabuyutan,jelaskan??sunda adalah bukan pemeluk agama hindu atw budha,makanya di tatar sunda/padjajaran tidak terdapat banyak candi,tapi banyak terdapat makam kabuyutan,pengertian makam disni adalah tempat
    wassalam…

  9. Raden wijarya adalah keturunan ken arok dan ken dedes(lihat silsilah keturunan ken arok dan ken dedes ) yang memang telah tertulis dalam ramalan Agung yang diterima sebagai wangsit oleh Mpu Loh Gawe. Masalah perang Bubat , itu sebuah kesalah pahaman secara Politis. Tapi di balik semua pemandangan yang memilukan itu ada unsur asmara yang terkandung di dalamnya. Sebagai Putri kedaton, Dyah Pitaloka merasa lebih baik mempertahankan cinta sucinya yang ditebusnya dg kematian daripada harus bersanding dengan seorang raja ( Hayam Wuruk),dimana kekasihnya ( Gajah Mada ) selalu ada diantara dirinya dan suaminya.Pertahanan kesucian cinta itu bersambut dengan emosional politik antara ayah / raja dan bala pasukannya dengan mahapatih Gajah Mada ( Yang dulu ketika Gajah Mada muda menjalin asmara dengan Pitaloka dihina oleh Raja Pajajaran, sehingga setelah Gajah Mada memiliki kekuasaan ingin membalas penghinaan itu melalui diplomasi pernikahan yang dimasukkan dalam area politik ). Dyah Pitaloka berhasil membuktikan kesucian cita dihadapan kekasihnya ( Gajah Mada ), yang membuat dua orang ksatriya, Gajah Mada dam Hayam Wuruk wafat dalam keadaan merana karena merasa kehilangan cinta dan cinta sejati.Hayam wuruk merana kehilangan cinta dan harapannya untuk bersanding dengan Dyah Pitaloka putri pujaannya, Gajah Mada merana dan ditebus dengan penyesalan seumur hidupnya karena kehilangan Cinta sejatinya. Hmmmm dua lelaki yang merana akibat cinta dari seorang Putri Utama Sang Dyah Pitaloka

  10. muhammad ridwan says:

    Perlu anda ketahui, peradaban orang sunda jauh lebih maju dari peradaban majapahit? Bukti terbaru dengan hasil riset gunung padang ( cianjur ) di sebutkan bahwa bangunan yg menyerupai pyramid itu umurnya jauh lebih tua di bandingkan pyramid yg ada di mesir? Apa lagi klo di bandingkan dengan candi yang ada di jawa tengah maupun jawa timur? Sundance ( bangsa sunda )tdk pernah dijajah maupun di jajah, karna bangsa sunda tu mempunyai semboayan silih asah, silih asih, silih asuh ( siliwangi ) gelar untuk raja padjadjaran sri baduga maharaja? Yang melekat di diri pribadi orang sunda? Dan orang sunda tuh tdk gila kekuasaan seperti hayam wuruk dan gajah mada?oleh karna itu knp orang sunda blum ada yang pernah menjabat presiden, terkecuali wakil presiden ada yang dari tanah sunda yaitu pak adam malik? Beliau asli orang sunda kelahiran sumedang ( sumedang merupakan kerajaan sunda penerus dari padjadjaran yg lebih d kenal sumedang larang )!

    • dildaar80 says:

      Iya deh…

      Yang melekat di diri pribadi orang sunda? Dan orang sunda tuh tdk gila kekuasaan seperti hayam wuruk dan gajah mada?oleh karna itu knp orang sunda blum ada yang pernah menjabat presiden, terkecuali wakil presiden ada yang dari tanah sunda yaitu pak adam malik?

      Logika pernyataan anda:
      Gajah Mada dan Hayam Wuruk gila kekuasaan. Semua orang majapahit (jawa) = Hayam Wuruk dan Gajah Mada yaitu gila kekuasaan.

      Orang Sunda belum ada yang pernah menjadi Presiden = orang Sunda tidak gila kekuasaan.

      Orang yang dari sukunya pernah menjadi Presiden = orang-orang itu gila kekuasaan.

    • Eagle Fahri says:

      umar wirahadikusuma

  11. agus sejagat says:

    koreksi wakil presiden dari Sumedang bukan Adam Malik. Adama Malik dari Sumatera (Minangkabau) alias Padang. Orang Sunda yang menjadi Wakil Presiden adalah Umar Wirahadikusumah asli urang Sumedang Larang.

  12. rift says:

    Majapahit adalah kerajaan bentuk pemerintahannya monarki absolut seperti halnya uni Soviet atau Jerman dimasa hitler. Hal tersebut bisa dilihat dari sifat invasionis seperti negara-negara penjajah lainnya yang memungkinkan tidak adanya kepuasan dalam menguasai bangsa lainya dengan dalih sumpah palapa. sedangkan Pajajaran bentuk pemerintahannya adalah perserikatan seperti amerika,malaysia dll. alasanya adalah dari namanya saja pa-jajar-an dalam bahasa sunda bisa diartikan berjajar/sejajar/berbaris,jadi logikanya jika orang berbaris maka tidak mungkin hanya ada satu orang saja. juga tidak mungkin ada yang lebih depan atau di belakang karena berjajar/sejajar. ditambah lagi siliwangi adalah gelar bagi rajanya silih wangi bisa diterjemahkan saling mewangikan bagaimana bisa saling kalau hanya ada seorang raja saja?
    peperangan bubat terjadi antara majapahit (negara adikuasa monarki absolut yang memiliki jajahan luas) dengan Galuh Pakuan (negara bagian perserikatan Pajajaran yang hanya memiliki luas wilayah sekitar Garut-Tasik-Ciamis) bisa dibayangkan sangat memalukannya peristiwa bubat ini. ibarat Manchester United berhasil dengan bangga mengalahkan club kelas tarkam yang tidak memakai sepatu di old trafford.

    • dildaar80 says:

      Sebenarnya tidak ada kebanggaan atau bukti bahwa Majapahit bangga mengalahkan Galuh Pakuan. Silakan akan cari, ada tidak prasasti atau naskah tulisan di masa Majapahit oleh pihak Majapahit/penulis Majapahit yg menceritakan soal Bubat.

      Yang banyak bercerita bahkan suka bercerita bahkan sumber data tentang Bubat berasal dari pihak non Majapahit dan ditulis setelah masa Majapahit. Kidung Sundayana dan Kidung Sunda ditulis oleh orang Bali. Carita Parahyangan dan Sumber2 Sunda lainnya-lah yg menceritakan soal Bubat.

      Tidak ada kebanggaan. Cari saja ada tdk blog2 orang2 keturunan Majapahit (Jawa) yg memulai menceritakan scr khusus soal Bubat? Umumnya, yg memulai bercerita itu orang Sunda.

      Itu tragedi. Namanya perjalanan suatu bangsa pasti ada sisi hitamnya.

  13. yg sy tahu majapahit sudah dua kali gagal mnyrg kerajan sunda lalu gjh mada memutuskan siasat licik sprt menaklukan patih kebo iwa dri bali,,gajah mada licik…trutama saat mengalahkan patih kebo iwa yg sakti mandera guna yg tdk bsa mati…tp kemudian mati dgn sendirinya krn ngasih tahu kelemahanya kpd gajahmada.

    • dildaar80 says:

      Tidak ada yg bilang bahwa Gajah Mada itu nabi atau orang suci sehingga dia lepas dari kesalahan dan keburukan. Yang perlu kita ingat ialah ia adalah seorang yang mempunyai cita-cita bahwa kepulauan di asia tenggara ini menjadi satu kesatuan politik. Itu saja.

      • Kujang Rompang says:

        BAGUUS.. PEMAKSAAN KEHENDAK! dengan MENGHALALKAN SEGALA CARA!!
        itulah realitas kebanyakan jawa yg sering kita lihat sampai saat ini. krn sesungguhnya sosok gajah mada adalah pahlawan dan panutan bagi kebanyakan jawa.
        tp sayang dimata kami gajah mada hanyalah pengecut licik!

      • Siti Sera says:

        gajah mada adalah orang yang sngat berambisus menghalalkan segala cara demi kekuasaan..

  14. balebatjanari says:

    Tunggu kabar selanjutnya tentang kejayaan tanah sunda, fakta sekarang sedang penelitian di gunung padang cianjur…!
    Dahsyatnya melebihi borobudur dan usianya menandingi pyramid mesir…!!
    Bukti sejarah sunda lebih adiluhung di banding majapahit.

    Sabar aja tunggu berita selanjutnya…
    Jangan terlalu banyak bicara…!

  15. balebatjanari says:

    Kidung sundayan di bali adalah bukti pengkhianat gajah mada dan lemahnya raja majapahit terhadap patihnya.

  16. Wonk Sintink says:

    Sejarah telah membuktikan tentang kebesaran Kerajaan Majapahit , nah apakah sekarang ini ada bukti yg bisa mengalahkan kebesaran Kerajaan Majapahit tsb. Bukti bukan cuma omong kosong doank

  17. blogzipper says:

    Perang Bubat Tidak Pernah terjadi, itu Hanya Rekayasa Politik Masa lalu, Baca ini : http://nationalgeographic.co.id/forum/topic-1857.html

  18. hilman says:

    bukan perang itu sih namanya…, tapi pembantaian! orang jawa klo berpikir sehat pasti mengakui itu

  19. Ryan Green says:

    Inilah kelemahan bangsa Indonesia.. Ingat saudara2ku.. Semboyan negara kita “Bhineka Tunggal Ika”.. Sejarah adalah sesuatu yang harus kita jadikan cermin,dimana kesalahan2 nenek moyang kita, saling bunuh demi ambisi, saling menjatuhkan demi nafsu duniawi, tidak boleh kita ulangi.. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya? Tanah sunda yang mulia, majapahit yang perkasa, bukankah itu adah bukti kekuasaan yang Maha Kuasa? Lihatlah apa yang terjadi ketika sebuah pohon tumbang? Tunas yang baru tumbuh dari batang yang telah mati.. Kerajaan2 gugur dan runtuh, kini berkibarlah merah putih yang menaungi bangsa ini dari sabang sampai merauke.. Belajarlah dari sejarah.. Jangan sampai takdir bangsa ini seperti perang bubat, Sunda, Jawa, ataupun suku2 bangsa lainnya jangan dijadikan rasis.. Setiap belahan nusantara adalah tanah yang mulia, warisan nenek moyang kita.. Bawalah warisan cita” ini dalam jalan kedamaian..

  20. jaka says:

    orang kalo di undang tuh wajib datang tp ko udh dtng bukan ny di sambut sebagai tamu, malah di suruh bertekuk lutut, sp jg yg mau. kalo emang mo nyerang ngapain jg bawa pasukan sedikit ini kan raja yg ngundang spy mempererat persaudaraan dasar patih arogan…!!!!!!

  21. purnama says:

    Ayo orang SUNDA yang sol musuhi Raja2 Jawa berarti memusuhi Raja Sunda sendiri…. Silahkan dibaca…….: PRABU GURU DHARMASIKSA, mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Beliau mempersiapkan RAKEYAN JAYADARMA, berkedudukan di Pakuan sebagai PUTRA MAHKOTA. Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3: RAKEYAN JAYADARMA adalah menantu MAHISA CAMPAKA di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan putrinya MAHISA CAMPAKA bernama DYAH LEMBU TAL. Mahisa Campaka adalah anak dari MAHISA WONGATELENG, yang merupakan anak dari KEN ANGROK dan KEN DEDES dari kerajaan SINGHASARI. Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal berputera SANG NARARYA SANGGRAMAWIJAYA atau lebih dikenal dengan nama RADEN WIJAYA (lahir di PAKUAN). Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Rakeyan Jayadarma mati dalam usia muda sebelum dilantik menjadi raja. Konon beliau diracun oleh saudara kandungnya sendiri. Akibatnya Dyah Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan, karena khawatir dengan keselamatan dirinya dan anaknya. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula JAKA SUSURUH dari PAJAJARAN yang kemudian menjadi Raja MAJAPAHIT yang pertama. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur. Jadi, sebenarnya, RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama, adalah penerus sah dari tahta Kerajaan Sunda yang ke-26.

  22. saifurroyya says:

    Sungging Prabangkara adalah seniman lukis pertama yang dikenal pada zaman Majapahit.

  23. Ari says:

    Majapahit dan sunda sama saja

  24. Putra luragung(jojos) says:

    Abad dan tahun tidak tercantum dalam hikayat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s