Empat Pendekar Ciremai

4 Pendekar Ciremai

Keluarga Liem Boen di Krawang mengutus Bu Beng dan Chuan Chin untuk mengantar surat tantangan berpibu kepada Louw Liong San karena telah mencelakai putra mereka, Liem Boen Bie. Louw Liong San marah, kedua utusan itu disiksa dengan dipotong hidung dan telinganya.

Babah Louw Liong San merupakan tuan tanah di daerah sekitar Cirebon. Ia sangat dekat dengan pihak kumpeni karena jasanyalah Bajing Ireng berhasil ditangkap pihak Belanda.

Siang itu, rumah Wong Kun Lun diobrak abrik para pendekar bayaran atas perintah pihak kumpeni. Rumah babah Wong disita karena akan dijadikan hadiah bagi Babah Louw. Terpaksa Babah Wong dan putrinya Mei Ling pergi meninggalkan rumah yang dimilikinya itu, ke tempat lain, mencari tempat tinggal baru.

Tiga pendekar cilik, Kinong, Kataran dan Mang Pi’i tiba di daerah Sunyaragi, Cerbon. Mereka turun gunung menuju Kandanghaur. Baru saja mereka tuntaskan belajar ilmu silat kepada Ki Denggol dan Ki Luncup di pegunungan Ciremai.

Ditengah perjalanan, mereka bertiga bertemu dengan Ki Sancang dan Ki Cupang, dua orang seniman topeng monyet yang sedang bersedih karena sang monyetnya meninggal. Akhirnya Kinong Cs bersepakat membantu kedua orang tua itu mengamen. Mang Pi’i yang badannya kurus dan bergigi tonggos kini mesti berakting dengan menjadi seorang waria.

Kidang Talun, pendekar cilik si keris kembar, selalu berusaha membalaskan dendam atas kematian Wadul Angkara dan Dewi Seriti, orang tuanya yang mati dibunuh oleh Ki Denggol dan Ki Luncup.

Kinong dan Kataran terkena racun yang dimasukkan Kidang Talun ke dalam nasi yang mereka makan.

Mang Pi’i dengan jurus bebeknya berhasil mengalahkan Kidang Talun, sayang, ia berhasil kabur. Kesedihan Mang Pi’i berakhir ketika ia mengetahui Ki Secang dan ki Cupang berhasil mengobati kedua saudaranya yang terkena racun Kidang Talun, Kinong dan Kataran.

Perjalanan Wong Kun Lun bersama putrinya, Mei Ling dalam mencari daerah tinggal baru sampai ke daerah Kandanghaur.

Sementara di dalam benteng Kandanghaur, Karta dan Ranti sedang menghitung hari, menanti penuh kerinduan akan putra mereka, Kataran yang telah 3 tahun memperdalam ilmu silat di gunung Ciremai.

Latihan silat diantara pendekar di dalam Kandanghaur terus berjalan dengan giat guna memperhebat perlawanan mereka melawan pihak kumpeni.

Pihak Kandanghaur, hari itu bertambah kuat dengan masuknya babah Wong Kun Lun dan putrinya, Mei Ling. Atas jaminan Roijah, istri Parmin si pendekar Jaka Sembung, babah Wong dan Mei Ling kini menjadi bagian dari keluarga besar Kandanghaur.

Karisidenan malam itu menjadi heboh atas kedatangan putra residen yang telah meninggal, Thomas. Sang putra tiri sang residen nyatanya masih hidup. Ia datang bersama paman Petrus, yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri.

Petrus adalah pacar sang nyonya residen di masa lampau. Demi mendapatkan sang nyonya, tuan residen beberapa tahun yang lalu telah menyiksa dan menghancurkan wajah Petrus. Tuan residen menyangka Petrus telah mati, nyatanya masih hidup. Bahkan anak tirinya sendiri yang dibunuh, ternyata kini ia datang kembali.

Malam itu, karisidenan bermandikan darah. Tuan residen akhirnya tewas di tangan Jaka Sembung. Petrus dan nyonya residen, sepasang kekasih di masa lalu, orang tua kandung dari si Thomas, mereka harus menghembuskan nafas terakhirnya di tangan tuan residen.

Thomas atas permintaan orang tuanya sebelum meninggal, ia dititipkan kepada Jaka Sembung, kini ia bergabung dengan Kinong, Kataran dan Mang Pi’i. Mereka berempat kelak akan dikenal sebagai 4 Pendekar Ciremai.

Selesai pula tugas rahasia Ki Secang dan Ki Cupang yang terpaksa menyamar jadi pengamen demi menjaga keselamatan 3 pendekar muda dari gunung Ciremai itu hingga ke Kandanghaur.

Bagaimana dengan Kidang Talun? Akhirnya sang bocah menyadari keadaan orang tuanya, Wadul Angkara dan Dewi Seriti yang merupakan sepasang pendekar dari golongan hitam. Berkat kesadaran yang ia telah dapatkan, kini ia bersahabat dengan 4 Pendekar Ciremai.

Mereka semua melanjutkan perjalanan menuju benteng pertahanan perjuangan di Kandanghaur. Sementara itu, Jaka Sembung bersama Awom melanjutkan penyelidikan ke pihak kumpeni di selatan Cerbon.

Bagaimana dengan rencana pibu antara keluarga Louw melawan keluarga Liem dari Krawang? Bagaimana nasib babah Wong Kun Lun selanjutnya? … download di Gallery 80

Category: Books , Genre:  Comics & Graphic Novels, Author: Djair, Jilid:9, Halaman: 528, Penerbit: UP Rosita, Tahun: 1976

About these ads
This entry was posted in Cerita Silat, Silat Indonesia and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s