Pendekar Pulau Neraka

Pendekar Pulau Neraka Karya Teguh S
Geger Rimba Persilatan

Matahari telah condong ke Barat. Sinarnya yang kemerahan tidak lagi menyengat. Burung-burung telah mulai kembali ke sarangnya masing-masing. Saat itu Badar yang berlari ke arah Selatan telah mencapai tepian pantai. Angin laut bertiup kencang di senja hari. Debur ombak menggemuruh menghantam batu-batu karang.

Badar berhenti berlari ketika matanya menatap kedepan, ke arah laut. Tampak sebuah pulau berwarna merah menyembul ke permukaan laut. Kelihatannya pulau itu sangat dekat dengan tempatnya berdiri sekarang. Badar tidak menyadari kalau sekaranq ia berada di Pesisir Pantai Selatan. Dan pulau yang terlihat itu adalah Pulau Neraka! Pulau yang sangat ditakuti oleh semua orang. Pulau yang aneh dan menyeramkan. Seluruh tanah, batu-batuan, dan pepohonan berwarna merah bagai terbakar. Saat Badar menoleh ke belakang, tampak para pengejarnya juga seperti ragu-ragu. Mereka tetap bergerak, namun tidak lagi berlari cepat. Hanya bergerak pelahan-lahan. Nama Pulau Neraka bukanlah nama asing bagi kaum rimba persilatan. Bahkan para nelayan di

sekitar Pesisir Pantai Selatan tidak ada yang berani mendekati pulau itu.

“Badar! Menyerahlah kau! Serahkan bayi itu padaku!” seru Rengganis seraya mendekat pelan-pelan “Jangan harap kau bisa menyentuh bayi ini, Rengganis!” sahut Badar seraya melangkah mundur dengan cepat.

Badar menoleh ke belakang. Tampak beberapa perahu nelayan tertambat di garis pantai. Tidak jauh dari sini, terlihat sebuah perkampungan nelayan. Beberapa orang nelayan tampak bergerombol, namun tidak ada yang berani mendekat. Mereka tahu kalau orang-orang yang berada di pantai sore-sore begini adalah para tokoh rimba persilatan. Bagi penduduk yang tidak peduli dengan dunia persilatan, hanya menyaksikan saja tanpa mau ikut terlibat.

Sementara Rengganis dan puluhan tokoh rimba persilatan terus melangkah pelahan-lahan mendekati Badar. Menghadapi begitu banyak tokoh yang memiliki kemampuan rata-rata di atasnya, bagi Badar tidaklah mungkin. Sedangkan kini tidak ada jalan lain untuk bisa lolos kecuali ke Pulau Neraka itu.

Dan ini sangat disadari Badar. Masuk ke Pulau Neraka, sama saja lolos dari mulut buaya lalu masuk ke kandang macan. Sebentar dilihatnya perahu itu, lalu pandangannya beralih pada orang-orang yang semakin dekat saja.

selengkapnya baca Pendekar Pulau Neraka dalam beberapa episode

About these ads
This entry was posted in Cerita Silat, Silat Indonesia, Teguh S and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pendekar Pulau Neraka

  1. Unang says:

    Kenapa dihp ga bisa didownload

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s