Pendekar Mabuk

Pendekar Mabuk dalam Bocah tanpa Pusar

Suto segera bertanya, “Bibi, apakah aku tadi habis tertidur?” tanyanya kepada Bidadari Jalang. Perempuan itu hanya mengangguk dengan senyum ceria. “Ya, kau lelah dan tidur cukup lama.” Gila Tuak berkata kepada Suto, sambil tersenyumsenyum dan mengusap-usap kepala Suto yang ditumbuhi rambut hitam yang cukup lebat.
“Sekarang sudah waktunya kau mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pendekar tanpa tanding, Suto.” “Pendekar tanpa tanding?” Suto berkerut dahi. “Jangan tanpa tanding, ah! Nanti aku tidak punya lawan. Lantas, untuk apa aku jadi pendekar kalau tidak
punya tandingannya?” Giia Tuak dan Bidadari Jalang terkekeh geli mendengar kebodohan yang polos dari anak itu. Maka, Bidadari Jalang pun berkata, “Bagaimana kalau kau menjadi pendekar cinta saja?” “Husy! Jangan bicara seperti itu pada anak kecil, Nawang!” sentak Gila Tuak. Tetapi pada saat itu ternyata Suto menyahut, “Aku mau. Aku mau jadi
pendekar cinta, Bi. Aku mau…!” “Hei, kenapa kau mau?!” sentak Gila Tuak lagi.
“Biar kekasihku banyak, hi hi hi…!” Suto tertawa cekikikan dengan malu. Bidadari Jalang pun tertawa geli, sedangkan Gila Tuak bersungut-sungut dalam gerutunya, “Dasar bocah sinting!” Gila Tuak dan Bidadari Jalang, dua tokoh sakti di rimba persilatan yang namanya cukup menggetarkan jiwa setiap orang itu kini siap mengembleng Suto.
Apakah yang akan terjadi kelak pada bocah itu? ………download di Gallery80

About these ads
This entry was posted in Cerita Silat, Silat Indonesia and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s