Dendam Iblis Seribu Wajah

Dendam Iblis Seribu Wajah

Tiada bintang, tiada rembulan, tiada suara apapun. Gelap…
Apa pun tidak terlihat, pegunungan yang senyap, di tengah malam yang pekat.
Tiba-tiba sekilas cahaya melintas di atas langit. Daerah pegunungan yang sunyi tersorot sekejap. Eh… apa itu? Sesosok bayangan hitam sedang merayap di tengah pegunungan! Apa yang sedang dilakukannya di tengah malam sesunyi ini?
Tidak ada seorang pun yang tahu. Yang terdengar hanya suara hembusan angin yang sepoi-sepoi diiringi suara nafas yang tersengal-sengal. Kedua macam suara itu lebih mirip keluhan yang tragis, membayangkan gelombang badai yang akan melanda dunia persilatan di kemudian hari.
Dari kilasan cahaya tadi, dapat terlihat bahwa usia orang itu paling banter baru menginjak dua belasan. Di atas kepalanya terdapat sedikit jambul, wajahnya bersih dan tampan. Dengan menggertakkan giginya, dia memanjat terus. Meski pun susah payah, tapi tampaknya tekad bocah ini keras juga. Sedikit demi sedikit dia merayap ke atas.
Pegunungan ini sangat terjal. Banyak terdapat batu-batu yang tajam. Belum lagi jurang yang dalam. Kalau melihat dari atas bebatuan yang runcing itu akan tampak bagai bilahan-bilahan pedang. Bocah itu rasanya tidak mengerti ilmu silat. Baru sampai pertengahan saja telapak tangannya sudah penuh dengan luka sehingga darah mengalir dengan deras. Bahkan pada tempat di mana tangannya bertumpu, terlihat bekas jejak darah yang ditinggalkannya. Betapa mengenaskan melihat kebulatan tekad bocah tersebut!
Tapi dia sama sekali tidak menyerah. Giginya digertakkan semakin erat. Ia sampai menggigit bibirnya sehingga berdarah. Dia mempertahankan diri sekuat kemampuannya.
Setindak demi setindak dia terus mendaki daerah alam yang berbahaya. Setiap waktu ada
saja kemungkinan maut mengintai. Didakinya terus pegunungan itu meskipun dia sendiri tidak tahu apakah dirinya masih sanggup atau tidak.
Angin pegunungan berhembus kencang, membuat pakaiannya yang sudah koyak di sana sini berkibaran. Terdengar suara dari kibaran bajunya yang terhempas-hempas. Dia tidak merasa kedinginan. Keringat menetes dengan deras di keningnya. Nafasnya semakin memburu.

Dia masih seorang bocah cilik. Dia juga tidak mempunyai tenaga seperti sebuah mesin.
Baru setengah perjalanan dia sudah merasakan tubuhnya letih sekali, urat-uratnya terasa seperti mengencang dan hampir putus. Namun demikian di dalam hatinya dia punya niat besar yang mendukung apa yang dilakukannya, perasaan gentarnya pun sirna dan tekadnya semakin membara.
Dia paham sekali bahwa masih banyak urusan yang harus diselesaikannya. Dia sadar masih panjang perjalanan hidup yang harus ditempuhnya. Tanpa memperdulikan segala bahaya yang mungkin akan dihadapinya, dia terus mendaki menuju puncak gunung tersebut. Sebetulnya, apa yang hendak dilakukannya?…….

download  Dendam Iblis Seribu Wajah

About these ads
This entry was posted in Cerita Silat, Khu lung, Silat Mandarin and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s