Pendekar Binal

Seri Pendekar Binal (Jue Dai Shuang Jiao) :Khulung Disadur Oleh Gan KL

Pendekar Binal

Kang Hong, setiap orang yang bertelinga di dunia Kangouw (kelana) niscaya pernah mendengar nama “si mahacakap” ini, begitu pula nama Yan Lamthian, si jago pedang nomor satu di dunia persilatan.
Setiap insan persilatan yang bermata tentu juga berhasrat melihat wajah Kang Hong yang mahacakap serta ingin menyaksikan ilmu pedang Yan Lam-thian yang tiada bandingannya di kolong langit ini.
Setiap orang pun tahu bahwa tiada seorang gadis di dunia ini yang sanggup menahan senyuman Kang Hong dan juga tiada jago silat yang mampu melawan pedang sakti Yan Lamthian.
Semua orang percaya bahwa pedang Yan Lam-thian sanggup mencabut nyawa seorang panglima di tengah-tengah pasukannya dan dapat membelah seutas rambut menjadi dua, sedangkan senyuman Kang Hong mampu menghancurluluhkan hati setiap orang perempuan.
Akan tetapi pada saat itulah lelaki yang paling cakap di dunia ini justru sedang lari terbirit-birit demi seorang perempuan

Bakti Binal

“Tapi sebabnya kau bunuh dia kan juga lantaran diriku. Kau tidak suka melihat aku digoda
dia, dari sini pun kelihatan bahwa engkau tetap sangat baik padaku.” Si baju belacu lantas bergelak tertawa.
So Ing berkedip-kedip bingung, tanyanya kemudian, “Apa yang kau tertawakan?” Mendadak orang itu berhenti tertawa dan menjawab, “Terus terang kukatakan padamu bahwa sudah lama tak kupikirkan dirimu lagi. Walaupun aku tidak sudi berbuat hal-hal yang rendah seperti membongkar urusan pribadi orang lain atau memberi laporan gelap segala, siapa pun yang kau sukai aku pun tidak ambil pusing.”
So Ing memandangnya lekat-lekat sejenak, katanya kemudian, “Jika begitu, mengapa engkau menculik orang yang kusukai?” “Alasannya selekasnya pasti akan kau ketahui,” jengek orang itu. “Sekarang apakah kau ingin menjenguk dia?” “Mengapa tidak?” jawab So Ing. “Baik, ikutlah padaku,” kata si baju belacu.
Ketika melihat So Ing datang bersama si baju belacu, bahkan tampaknya kedua orang ini sudah kenal lama, tentu saja Siau-hi-ji terkejut dan heran. Dengan gusar ia berteriak, “Sesungguhnya siapakah orang gila ini? Kau kenal dia? Kalian kawan lama?”
Melihat Siau-hi-ji digantung orang di pohon, So Ing menghela napas gegetun, ucapnya sambil menyengir, “He, orang pintar nomor satu di dunia, mengapa kau berubah jadi begini?” Dengan gusar Siau-hi-ji menjawab, “Lantaran aku tidak menyangka orang ini adalah orang gila, tindak tanduknya membuat orang bingung.”
“Soalnya kau tidak tahu siapa dia,” ujar So Ing. “Jika kutahu perlukah kutanya kau?” tukas Siau-hi-ji. “Dia juga murid Gui Bu-geh, murid yang paling tinggi ilmu silatnya,” tutur So Ing. “Bilamana nama ‘Busiang-so-beng’ (setan Bu-siang menagih nyawa) Gui Moa-ih disebut, orang Kangouw mana yang tidak ketakutan. Maka tidaklah heran jika kau pun tertipu olehnya.”
Siau-hi-ji melenggong sejenak, ia menghela napas panjang, lalu berkata, “Jadi dia pun murid Gui Bu-geh? Wah, tampaknya aku benar-benar ketemu setan.” “Jika benar sudah ketemu setan, lalu apa yang hendak kau katakan lagi?” jengek Gui Moaih atau Gui si baju belacu. Siau-hi-ji mencibir, jawabnya, “Kata-kata sih tidak ada, yang ada cuma kentut, kau mau membaunya tidak?” Seorang kalau digantung terjungkir dengan kaki di atas dan kepala di bawah, maka wajahnya saja sudah tampak lucu, kini dia mencibir pula, tentunya tambah menggelikan kelihatannya.
So Ing tidak tahan, ia mengikik geli. Sekali pun Gui Moa-ih juga sedang mendongkol, demi melihat lagak Siau-hi-ji yang kocak itu, hampir saja ia pun tertawa. Segera ia berpaling dan melototi So Ing, tanyanya, “Inikah orang yang kau sukai?”
Jika perempuan lain, biarpun dalam hati sangat suka juga pasti tidak enak untuk mengaku
terus terang. Tapi So Ing tidak kikuk dan tidak menunduk, ia menjawab dengan tegas, “Betul.” “Kusangka penilaianmu tentu sangat tinggi, siapa tahu yang kau sukai adalah si tolol yang sinting ini,” ejek Gui Moa-ih.
“Kau anggap dia ini si tolol sinting, aku justru bilang dia ini ksatria sejati, seorang pahlawan gagah berani,” kata So Ing dengan tertawa. “Pahlawan? Ksatria? …. Hehe!” jengek Gui Moa-ih. “Coba jawab, jika seorang digantung terjungkir di pohon, adakah yang tahan dan bahkan masih sanggup tertawa dan berseloroh seperti dia?” tanya So Ing.

Bahagia Binal
Gui Moa-ih pikir diri sendiri memang tidak mungkin tahan seperti Siau-hi-ji, tapi ia menjadi gusar dan mendamprat, “Kau sudah terpikat oleh bocah ini,
dengan sendirinya segalanya kau puji.”
“Dia memang hebat dan harus dipuji, kalau tidak …kalau tidak masa aku sampai terpikat olehnya?!” Gui Moa-ih jadi melengak dan kikuk sendiri, katanya, “Ucapan begini pun dapat tercetus dari mulutmu?”
“Mengapa aku tidak berani mengucapkan isi hatiku sendiri? Ini kan bukan sesuatu yang memalukan? Jika main sembunyi-sembunyi, diam-diam makan dalam menyukai seorang, tapi tidak berani mengutarakannya, cara beginilah baru memalukan dan menggelikan …. Betul tidak?”
Wajah Gui Moa-ih yang pucat kekuning-kuningan itu jadi merah jengah juga, segera ia menjengek pula, “Tapi meski kau menyukai dia, rasanya belum tentu dia suka padamu.”
“Yang penting aku suka padanya, apakah dia juga suka padaku atau tidak bukan soal, kau tidak perlu ikut khawatir,” kata So Ing.
“Hm, kau ….” Gui Moa-ih bermaksud mencemoohkannya, tapi tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

Seri Pendekar Binal (Jue Dai Shuang Jiao) : unduh di Gallery 80
Pendekar Binal
Bakti Binal
Bahagia Binal

About these ads
This entry was posted in Cerita Silat, Gan KL, Khu lung, Silat Mandarin and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s