Cerita Silat

ASR Search Engine

 

Nusantara Store

Para Pembaca, Penggemar, Cuwi, Pendekar yang budiman……
Blog ini saya buat secara gratis, dan banyak sumber dan hampir semua yang saya dapatkan juga secara gratis , dengan atau tanpa seizin yang empunya (mohon maaf karena di DL di situs gratis) dan dipublikasikannya juga secara gratis alias bebas copy-paste, dengan maksud untuk mengingatkan saya sewaktu masih kecil yang senang sekali membaca cerita silat, oleh karena itu, cersil yang saya telah muat (walaupun hanya berupa cuplikan2) berarti saya sudah membacanya kembali sampai tamat.
Untuk memudahkan Para Pembaca, Penggemar, Pendekar yang budiman membacanya sampai tamat , silahkan di downoad kembali di Gallery80, atau situs lainnya atau di Gallery silat (baca sinopsis langsung download) ,sangat tidak efektif dan efisien kalo membacanya di blog ini sampai tamat.
Penyusunan judul cerita berdasarkan kategori Pengarang dan asal negeri cerita (Indonesia, Mandarin, Jepang , Korea) dalam terbitan serial, lepas ataupun saduran. Continue reading

Posted in Cerita Silat | Tagged , , , , , , , | 1 Comment

Kisah Sun Go Kong Dalam Novel Klasik Tiongkok Shi You Ji

Wu Ch’eng-en (th. 1500 – 1582), kelahiran Shan-yang, Huai-an (sekarang propinsi Kiangsu, Tiongkok) adalah seorang penulis novel dan puisi terkenal pada dinasti Ming (1368-1644) menuliskan suatu kisah perjalanan berdasarkan cerita perjalanan Hsuan-tsang / Tang Zhang dari bukunya Ta-T’ang Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan Ke Barat semasa Dinasti T’ang Agung), yang kemudian menjadi terkenal dengan legenda Kera Sakti Sun Wu-khung (Sun Go-kong atau Sun Hou-zi) dengan judul Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan Ke Barat).  

Hsi-yu-chi diterbitkan pertama kali pada tahun 1592, 10 tahun setelah kematian Wu Ch’eng-en.

Cerita legenda Catatan Perjalanan Ke Barat tersebut terdiri dari 100 bab yang dapat dibagi atas tiga bagian utama : 

Bagian pertama dari tujuh bab menceritakan kelahiran Sun Go-kong dari sebutir telur batu dan memiliki kekuatan maha sakti yang tiada tandingannya sehingga mengacaukan kahyangan yang kemudian diturunkan dari kahyangan dan dikurung oleh Buddha Sakyamuni di dalam Wu-hsing-shan (Gunung Lima Unsur Alam) sambil menunggu pembebasannya oleh seorang bhikshu yang akan melakukan perjalanan ke Barat mengambil kitab suci.

 Bagian kedua berisi lima bab yang berkaitan dengan sejarah Hsuan-tsang dan tugas utamanya dalam melakukan perjalanan ke Barat.

Sedangkan bagian ketiga yang berisi 88 bab sisanya menceritakan keseluruhan perjalanan Hsuan-tsang/Tang Zhang dengan ketiga muridnya..

Legenda ini mencerminkan kehidupan manusia pada umumnya. Hal ini dapat ditemukan pada karakteristik para tokohnya.

1.Sun Go Kong mewakili manusia dengan keegoisan, kebencian, mudah marah, kesombongan, dan pikiran yang liar.

2. Chu Pa Chie (Cu Pat Kai) mewakili manusia dengan berbagai keinginan dan keserakahan duniawi, seperti rakus akan makanan, genit suka menggoda wanita cantik (gila wanita), menginginkan kedudukan tinggi dan gila harta benda.

3.Sha Ho Shang (Wu Ching) mewakili manusia dengan karakter lemah yang membutuhkan dukungan dari orang lain, lamban dalam berpikir, sulit menghapal sesuatu (sutra Kitab Suci), dan kebodohan batin.

Jadi mereka bertiga melambangkan Lobha, Dosa, dan Moha ( Keserakahan, Kebencian dan Kegelapan / Kebodohan Bathin )

4. Sedangkan Bhiksu suci Hsuan Tsang / Tang Zhang mewakili manusia yang telah terbebas dari penderitaan dan tercerahkan, memiliki keteguhan hati di dalam ajaran Buddha, Teguh dalam memegang sila, dan setia didalam Jalan Tengah dan berjuang keras demi kebahagiaan makhluk lain.

5. Kuda Putih tunggangan Bhiksu mewakili ajaran.

Cerita legenda kera sakti adalah dongeng mengenai perilaku manusia yang mengandung filsafat tingkat tinggi serta nasehat dan pengajaran supaya mudah dimengerti dan dipahami. Yang ini merupakan kisah nyata bhiksu tersebut yang memotivasi kita bahwa semua kesuksesan membutuhkan PERJUANGAN.

Perjuangan Biksu Kecil, Tang Zhang

Ini adalah kisah tentang seorang biksu kecil yang sejati. Pada zaman dinasti Tang, di sebuah kuil hiduplah seorang biksu kecil. Sejak kecil ia sudah menjadi biksu di kuil itu. Setiap pagi, begitu bangun tidur biksu kecil ini harus segera mulai menimba air menyapu halaman.

Seusai pelajaran pagi, dia masih harus pergi ke kota yang terletak di bawah bukit belakang kuil untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari untuk kuil itu. Setelah membeli barang yang dibutuhkan, dan tanpa adanya waktu luang dia masih harus mengerjakan sejumlah pekerjaan. Kemudian ia masih membaca kitab suci hingga larut malam.

Demikianlah kegiatannya setiap hari, setiap pagi dan senja mendengar suara gendang dan lonceng pagi di kuil hingga 10 tahun berlalu sudah. Suatu ketika, akhirnya biksu kecil mendapat sedikit waktu luang. Kemudian ia segera berbincang-bincang bersama dengan biksu kecil lainnya. Akhirnya dia mendapati bahwa semua orang ternyata hidupnya begitu santai.

Hanya dia seorang yang selalu sibuk setiap hari. Tugas membaca dan pekerjaan dari kepala biara kepadanya selalu yang paling berat. Dia tidak habis mengerti lalu bertanya pada kepala biara. Mengapa semua orang hidupnya lebih santai daripada saya? Mengapa tidak ada orang yang menyuruh mereka membaca kitab suci atau bekerja? Sedangkan saya harus bekerja tiada henti? Kepala biara hanya menundukkan kepala komat kamit memberi tanda Buddha dan tersenyum tidak menjawab.

Pada siang hari, biksu kecil ini pergi ke kota yang terletak di bawah bukit belakang membeli sekantong beras. Dalam perjalanan pulang sambil memanggul beras tiba di pintu belakang kuil, dan tampak di sana kepala biara sedang menunggunya. Kepala biara membawanya ke pintu depan kuil. Kemudian kepala biara duduk istirahat memejamkan mata. Biksu kecil tidak mengerti maksud kepala biara, akhirnya dia berdiri menunggu di samping.

Biksu kecil terus menunggu dan menunggu. Mentari sudah hampir terbenam, tiba-tiba di depan jalan muncul beberapa bayangan biksu kecil. Beberapa biksu kecil ini termenung sesaat melihat kepala biara. Kepala biara membuka matanya dan bertanya pada mereka. Pagi-pagi saya meminta kalian pergi membeli garam. Jalan di depan ini begitu dekat dan rata. Kenapa kalian baru kembali sekarang? Biksu-biksu kecil ini saling berpandangan, kemudian menjawab, “Kepala biara, dalam perjalanan kami tertawa bercanda dan menikmati pemandangan, akhirnya sekarang baru sampai. Lagi pula selama 10 tahun ini memang begitu, kan!”

Lalu kepala biara bertanya pada biksu kecil yg berdiri di samping, “kamu ke kota yang terletak di bawah bukit belakang membeli beras, jalannya berliku-liku dan jauh, harus menapaki bukit dan lembah, bahkan harus membawa beras yang berat. Kenapa waktu kamu kembali lebih awal daripada mereka?

Biksu kecil menjawab, “setiap hari dalam perjalanan saya selalu ingin cepat pergi cepat kembali. Lagipula saya berjalan harus sangat hati-hati karena memanggul barang yang berat di atas pundak, dan lama kelamaan jalannya semakin mantap dan cepat. Selama 10 tahun ini saya sudah terbiasa, dalam hati hanya ada satu tujuan tiada lagi jalanan.”

Setelah mendengarnya kepala biara lalu berkata pada semua biksu kecil. “Jalanan sudah rata. Tetapi hati tidak terpusat pada tujuan. Hanya dengan berjalan di atas jalanan yang berliku, baru bisa menempa tekad seseorang.”

Biksu kecil inilah akhirnya menjadi “xuan zhuang fa shi” (bhiksu agung dalam Budhisme). Oleh karena tempaan sejak kecil sehingga dalam perjalanannya ke barat yang serba sulit dan bahaya untuk mengambil kitab suci itu, membuat hatinya bisa selalu bersinar menuntut cahaya Dharma ( Kebenaran Universal ). Jadi, jalan yang berliku dan sulit, bukanlah halangan untuk mencapai tujuan. Sebuah tekad dan kemauan, baru merupakan kunci sukses atau gagal.

Jadi Sun Go Kong adalah salah satu tokoh utama dalam salah satu novel klasik Tiongkok “Shi You Ji” “Perjalanan ke Barat” karya Wu Cheng-en pada masa Dinasti Ming yang kemudian populer selama berabad2 lamanya baik di dalam maupun di luar Tiongkok. Dalam novelnya itu, Wu terlihat lebih menekankan tokoh Sun Go Kong daripada tokoh sejarah asli Pendeta Xuan Zang (Tang San-zhang/Tong Sam-Cong) dapat dilihat dari penokohan Pendeta Tong sebagai seorang yang baik hati namun lemah dan pengecut. Padahal dalam sejarah aslinya, Pendeta Tong mengadakan ekspedisi sendirian yang dapat membuktikan ketegarannya. Walaupun di tengah jalan ia bertemu dengan seorang teman bernama Shih Pan Tuo, namun temannya itu kemudian melarikan diri ketika mereka menemui kesulitan. Kesulitan yang dimaksud adalah perampokan oleh bandit2 di tengah jalan. Saya di suatu kesempatan menyimak tayangan tentang Pendeta Tong di channel Discovery. Oleh Discovery, Pendeta Tong difilmkan sedang dikejar2 oleh para bandit berparas Asia Tengah sebelum akhirnya sampai ke India dalam satu penggal cerita.

Riwayat Sun Go Kong dalam novel secara sekilas adalah tinggi badan 1.33 meter, pada umur 320 tahun ia menuju Gunung Hua Guo, menjadi dewa dengan gelar “Qi Tian Da Sheng” pada umur 357 tahun. 180 tahun kemudian, karena suka membangkang, ia dihukum ditimpa di bawah Gunung Wuzhi selama 500 tahun. Setelah itu, ia berguru kepada Pendeta Tong dan menjalankan perintah untuk mengawal Pendeta Tong mengambil kitab suci ke India. Ia dikisahkan adalah perwujudan dari sebuah kera batu.

Segi Indentitas Sun Go kong

Sun Go kong Memiliki Kekuatan Luar biasa, Bisa mengakut sebuah benda seberat 6750 Kg (13.500 jīn). Memiliki kecepatan tinggi jika terbang, dapat menjelajah 108,000 li (54,000 kilometers ) dalam satu lompatan. dan mengetahui 72 transformasi binatang benda dan sebagainya. Rambutnya memiliki kekuatan magis yang luar biasa, Ia juga dapat memerintah angin.

Dalam perkembangannya, karena Sun Go Kong terkenal akan kesaktiannya, muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. 

Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. 

Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul “Gu Yue Du Jing”, ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha. 

Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng. 

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en. 

Akhirnya giliran saya mengemukakan pendapat pribadi. Menurut saya, walaupun Ramayana adalah cerita lebih awal daripada Shi You Ji, namun mengatakan Sun Go Kong adalah sama dengan Hanoman adalah suatu pendapat yang tidak seluruhnya benar. Kepopuleran Ramayana yang merupakan legenda agama Hindu di Tiongkok juga tidak terbukti karena agama Hindu tidak pernah menyebar ke Tiongkok seperti halnya di Indonesia. Sun Go Kong juga bukan ciptaan dari Wu sebenarnya, karena di masa sebelumnya, Dinasti Song Selatan, telah ada dikisahkan Sun Go Kong dalam buku “Da Tang San Zang Qu Jing Shi Hua”. Bila tetap harus mengatakan Sun adalah Hanoman, maka darimana pula munculnya tokoh Zhu Ba Jie (Ti Pat Khai) ? Wu adalah seorang sastrawan dan seorang sastrawan selalu berkarya berdasarkan ilham yang muncul waktu itu.

 Ada orang yang menyatakan bahwa Sun Go Kong adalah tokoh nyata yang pernah hidup di dunia dengan ditemukannya makam Sun Go Kong. 

Makam dengan nama Sun Go Kong memang ditemukan di Kabupaten Shunchang, Provinsi Fujian, diperkirakan berasal dari zaman Ming, sesuai dengan masa ditulisnya novel Perjalanan ke Barat. Namun kera sakti dipastikan hanya sebuah tokoh mitos dan legenda yang dipopulerkan oleh Wu Cheng-en. Sun Go Kong dikategorikan sebagai dewa kategori ke-4, yakni dewa-dewi yang berasal dari tokoh legendaris. 

Segi sejarah dan legenda 

Sun Go Kong, adalah tokoh mitologi. Jadi tidak ada seorang tokoh Sun Go Kong benar-benar hidup di dunia. Pendeta Tong pergi mengambil kitab suci ke India sendirian. Ia pernah didampingi seorang lainnya, namun karena dihadang oleh sekelompok perampok, orang itu kemudian tidak berani menemaninya sampai ke India. Mengenai perampok ini, Discovery pernah mengilustrasikan dalam klip video seorang Pendeta Tong berlari2 dikejar sekelompok penjahat di perjalanan. 

Sun Go Kong muncul cuma dalam novel Perjalanan Ke Barat yang ditulis oleh Wu Cheng-en di zaman Ming. Darimana pula Wu Cheng-en mendapat ilham tentang Sun Go Kong? Ada 2 versi tentang ini, ada sastrawan yang yakin bahwa Sun Go Kong diadopsi dari karakter Hanoman.  

Ada pula yang meyakini Sun Go Kong adalah diilhami oleh karakter Wu Zi Qi yang juga tokoh mitologi di zaman Da Yu, Dinasti Xia. Da Yu terkenal akan jasanya menjinakkan banjir di Tiongkok pada tahun 2200 SM. Wu Zi Qi ini berwujud seperti kera. Inilah yang dianggap orang-orang menjadi ilham Wu Cheng-en untuk menciptakan karakter Sun Go Kong yang berwujud kera itu

Posted in Film Silat Mandarin, Silat Mandarin | Tagged , , , | Leave a comment

Hero

Hero (bahasa Tionghoa: 英雄; pinyin: yīng xióng; terjemahan bahasa Indonesia: Pahlawan) adalah sebuah film yang disutradarai Zhang Yimou dan dirilis pertama kali di Tiongkok pada 24 Oktober 2002. Ia merupakan film paling mahal dan paling sukses dalam sejarah perfilman Tiongkok.

Poster versi AS.

Film ini juga meraih kesuksesan besar ketika ditayangkan di Amerika Serikat. Ia menjadi film dengan penghasilan terbesar dalam minggu pertama rilisnya di sana (US$ 18 juta) dan tetap berada di peringkat pertama pada minggu berikutnya sebelum jatuh ke posisi 4 pada minggu ketiga. Film ini juga membukukan rekor sebagai film berbahasa asing dengan penerimaan tiket terbesar di Amerika Serikat.

Hero adalah film bergenre wuxia (silat). Ia dibintangi Jet Li sebagai sang pahlawan tanpa nama (Nameless). Sebuah kelompok pembunuh dimainkan oleh Maggie Cheung (Flying Snow), Tony Leung Chiu Wai (Broken Sword), Donnie Yen (Long Sky), dan Zhang Ziyi (Moon). Chen Daoming berperan sebagai target mereka, sang Kaisar Qin.

Film ini diset pada Masa Negeri-negeri Berperang (Warring States Period). Ia bercerita tentang percobaan pembunuhan terhadap Kaisar Qin oleh pendekar-pendekar legendaris yang ingin membalaskan dendam mereka karena telah menaklukkan negeri mereka.

Sang kaisar membela dirinya dengan mengatakan bahwa dengan mempersatukan Tiongkok maka rakyat Tongkok akan mempunyai sistem tulis yang satu dan seragam. Pada akhir filmnya, sang Raja disebut bernama Ying Zheng, yang pada 221 SM memang benar-benar mempersatukan Tiongkok dan menjadi kaisar pertamanya, Qin Shi Huang (hidup tahun 259-210 SM; berkuasa tahun 246-210 SM).

Film ini adalah upaya pertama Zhang Yimou pada genre ini, dan ia menggunakan striktur yang sangat unik. Versi-versi kejadian-kejadian dalam film tersebut yang saling bertentangan diceritakan oleh tokoh-tokoh yang berbeda, dalam struktur yang mengingatkan kita pada Rashomon karya Akira Kurosawa (1950). Setiap bagian menggunakan skema warna yang erbeda tergantung sang narator, mirip seperti bagaimana seluruh hal menjadi berwarna hijau dalam The Matrix; film-film Zhang sering menampilkan skema warna yang sangat tepat.

Film ini mempunyai struktur yang tragis; keenam tokoh utamanya akhirnya sadar bahwa persatuan Tiongkok bergantung pada keputusan dan kelakuan mereka sendiri. Rasa tanggung jawab patriotis ini bertentangan dengan keinginan pribadi untuk membalaskan dendam, dan dengan hubungan mereka antara satu sama lain. Pada akhirnya, film ini mempunyai akhir seperti sebuah tragedi klasik.

Lokasi syuting

  • Lembah Jiuzhaigou, Sichuan utara.
Posted in Film Silat Mandarin | Tagged | Leave a comment

Empat Pendekar Ciremai

4 Pendekar Ciremai

Keluarga Liem Boen di Krawang mengutus Bu Beng dan Chuan Chin untuk mengantar surat tantangan berpibu kepada Louw Liong San karena telah mencelakai putra mereka, Liem Boen Bie. Louw Liong San marah, kedua utusan itu disiksa dengan dipotong hidung dan telinganya.

Babah Louw Liong San merupakan tuan tanah di daerah sekitar Cirebon. Ia sangat dekat dengan pihak kumpeni karena jasanyalah Bajing Ireng berhasil ditangkap pihak Belanda.

Siang itu, rumah Wong Kun Lun Continue reading

Posted in Cerita Silat, Silat Indonesia | Tagged , | Leave a comment

Imam Tanpa Bayangan

Imam Tanpa Bayangan
Karya : TJAN I.D.
Bagian I 20 Jilid : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 ,16,17,18,19,20 
Bagian II 51 Jilid:

Jilid 1 : Runtuhlah Tiam Cong Pay oleh pengkhianat

MALAM sunyi menyelimuti se!uruh puncak gunung Tiam Cong, angin berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan ranting serta dedaunan.
Seorang kakek tua diiringi seorang pemuda lambat-lambat berjalan menuju keatas puncak dibawah cahaya rembulan yang cerah. Continue reading

Posted in Cerita Silat, Silat Mandarin, Tjan ID | 1 Comment

Adventure of Chor Lau Heung

Adventure of Chor Lau Heung – Pendekar Harum – Chu Lu Xiang

Petualangan seorang pendekar bernama Chor Lau Heung bersama 3 sahabat wanitanya: Su Rong Rong, Li Hong Xiu dan Song Tian Er. Mereka berempat akan mendatangi perayaan ulang tahun sahabat baik Chor Lau Heung yang berulang tahun. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan gadis misterius yang membawa pedang pusaka giok hitam, bernama Sang Xiao Jing.

Dari sana, petualangan dimulai dan membawa mereka berlima terlibat dalam perseteruan 2 keluarga pendekar. Continue reading

Posted in Cerita Silat, Film Silat Mandarin | Tagged , , | 5 Comments

Sword Stained With The Royal Blood

Sword Stained With The Royal Blood
 Bi Xue Jian , Crimson Sabre

Yuan Cheng Zi (Yen Cheng Chen). Ayahnya, komandan dinasti Ming. Ketika ayahnya dihukum mati secara tidak adil oleh Kaisar Chong Zen, Yang Cheng Chen disembunyikan dan tumbuh besar di gunung Hoasan. Disana ia mempelajari ilmu silat langsung dibawah bimbingan tetua Mu Ren Qing.
Ketika usai mempelajari ilmu Hoasan, ia turun gunung dan memasuki dunia persilatan, dengan tujuan utamanya membalas dendam kematian ayahnya. Continue reading

Posted in Cerita Silat, Film Silat Mandarin | Tagged , , | Leave a comment

Benteng Mataram – Ki Ageng Mangir

Benteng Mataram – Ki Ageng Mangir

Ki Wanabaya sebagai Ki Ageng Mangir muda menerima wasiat dari leluhurnya untuk membangun kembali kejayaan Majapahit dengan berbekal tombak pusaka Ki Baru Klinthing.

Tanah perdikan Mangir terus berkembang pesat. Perkembangan tanah perdikan itu tak pernah lepas dari pengamatan para prajurit kerajaan Mataram, mengingat selama ini Ki Wanabaya tak pernah mau menghadap Panembahan Senapati, sang raja Mataram. Ada kekuatiran bahwa suatu saat tanah perdikan Mangir tersebut akan memberontak dan menjadikan dirinya sebagai kerajaan tersendiri. Continue reading

Posted in Film Silat Indonesia, Silat Indonesia | Tagged , | 1 Comment